Penjelasan Tentang Ilmu Yang Merupakan Fardu Kifayah
بَيَانُ الْعِلْمِ الَّذِي هُوَ فَرْضُ كِفَايَةٍ
Penjelasan tentang ilmu yang merupakan fardu kifayah.
اِعْلَمْ
أَنَّ الْفَرْضَ لَا يَتَمَيَّزُ عَنْ غَيْرِهِ إِلَّا بِذِكْرِ أَقْسَامِ
الْعُلُومِ.
Ketahuilah bahwa kewajiban tidak dapat dibedakan dari
selainnya kecuali dengan menjelaskan macam-macam ilmu.
وَالْعُلُومُ
بِالْإِضَافَةِ إِلَى الْغَرَضِ الَّذِي نَحْنُ بِصَدَدِهِ تَنْقَسِمُ إِلَى
شَرْعِيَّةٍ وَغَيْرِ شَرْعِيَّةٍ.
Ilmu, ditinjau dari tujuan yang sedang kita bahas, terbagi
menjadi ilmu syar‘i dan ilmu non-syar‘i.
وَأَعْنِي
بِالشَّرْعِيَّةِ مَا اسْتُفِيدَ مِنَ الْأَنْبِيَاءِ صَلَوَاتُ اللَّهِ
عَلَيْهِمْ وَسَلَامُهُ.
Yang aku maksud dengan ilmu syar‘i adalah ilmu yang
diperoleh dari para nabi, semoga salawat dan salam Allah tercurah kepada
mereka.
وَلَا
يُرْشِدُ الْعَقْلُ إِلَيْهِ مِثْلَ الْحِسَابِ، وَلَا التَّجْرِبَةُ مِثْلَ
الطِّبِّ، وَلَا السَّمْعُ مِثْلَ اللُّغَةِ.
Ilmu syar‘i itu bukan sesuatu yang ditunjukkan oleh akal
seperti ilmu hitung, bukan pula sesuatu yang ditunjukkan oleh pengalaman
seperti ilmu kedokteran, dan bukan pula sesuatu yang diperoleh melalui
pendengaran seperti bahasa.
فَالْعُلُومُ
الَّتِي لَيْسَتْ بِشَرْعِيَّةٍ تَنْقَسِمُ إِلَى مَا هُوَ مَحْمُودٌ، وَإِلَى مَا
هُوَ مَذْمُومٌ، وَإِلَى مَا هُوَ مُبَاحٌ.
Adapun ilmu-ilmu yang bukan syar‘i terbagi menjadi yang
terpuji, yang tercela, dan yang mubah.
فَالْمَحْمُودُ
مَا يَرْتَبِطُ بِهِ مَصَالِحُ أُمُورِ الدُّنْيَا كَالطِّبِّ وَالْحِسَابِ.
Ilmu yang terpuji ialah yang berkaitan dengan kemaslahatan
urusan dunia, seperti ilmu kedokteran dan ilmu hitung.
وَذٰلِكَ
يَنْقَسِمُ إِلَى مَا هُوَ فَرْضُ كِفَايَةٍ وَإِلَى مَا هُوَ فَضِيلَةٌ وَلَيْسَ
بِفَرِيضَةٍ.
Ilmu yang terpuji itu terbagi lagi menjadi yang merupakan
fardu kifayah dan yang merupakan keutamaan, tetapi bukan kewajiban.
أَمَّا
فَرْضُ الْكِفَايَةِ فَهُوَ عِلْمٌ لَا يُسْتَغْنَى عَنْهُ فِي قِوَامِ أُمُورِ
الدُّنْيَا، كَالطِّبِّ إِذْ هُوَ ضَرُورِيٌّ فِي حَاجَةِ بَقَاءِ الْأَبْدَانِ.
Adapun fardu kifayah ialah ilmu yang tidak dapat
ditinggalkan untuk tegaknya urusan dunia, seperti ilmu kedokteran, karena ia
sangat diperlukan untuk menjaga kelangsungan tubuh manusia.
وَكَالْحِسَابِ،
فَإِنَّهُ ضَرُورِيٌّ فِي الْمُعَامَلَاتِ وَقِسْمَةِ الْوَصَايَا وَالْمَوَارِيثِ
وَغَيْرِهَا.
Demikian pula ilmu hitung, karena ia diperlukan dalam
transaksi, pembagian wasiat, warisan, dan lain-lain.
وَهٰذِهِ
هِيَ الْعُلُومُ الَّتِي لَوْ خَلَا الْبَلَدُ عَمَّنْ يَقُومُ بِهَا حَرِجَ
أَهْلُ الْبَلَدِ.
Inilah ilmu-ilmu yang apabila suatu negeri kosong dari orang
yang menanganinya, maka seluruh penduduk negeri itu akan berdosa.
وَإِذَا
قَامَ بِهَا وَاحِدٌ كَفَى، وَسَقَطَ الْفَرْضُ عَنِ الْآخَرِينَ.
Dan apabila telah ada satu orang yang menanganinya, maka hal
itu sudah mencukupi dan gugurlah kewajiban dari yang lain.
فَلَا
يَتَعَجَّبْ مِنْ قَوْلِنَا إِنَّ الطِّبَّ وَالْحِسَابَ مِنْ فُرُوضِ
الْكِفَايَاتِ.
Maka janganlah merasa heran dengan pernyataan kami bahwa
ilmu kedokteran dan ilmu hitung termasuk fardu kifayah.
فَإِنَّ
أُصُولَ الصَّنَائِعِ أَيْضًا مِنْ فُرُوضِ الْكِفَايَاتِ، كَالْفِلَاحَةِ
وَالْحِيَاكَةِ وَالسِّيَاسَةِ، بَلِ الْحِجَامَةِ وَالْخِيَاطَةِ.
Sebab pokok-pokok profesi juga termasuk fardu kifayah,
seperti pertanian, tenun, politik atau pemerintahan, bahkan juga bekam dan
menjahit.
فَإِنَّهُ
لَوْ خَلَا الْبَلَدُ مِنَ الْحَجَّامِ تَسَارَعَ الْهَلَاكُ إِلَيْهِمْ،
وَحَرِجُوا بِتَعْرِيضِهِمْ أَنْفُسَهُمْ لِلْهَلَاكِ.
Karena jika suatu negeri tidak memiliki tukang bekam,
niscaya kebinasaan akan cepat menimpa mereka, dan mereka berdosa karena
membiarkan diri mereka menuju kebinasaan.
فَإِنَّ
الَّذِي أَنْزَلَ الدَّاءَ أَنْزَلَ الدَّوَاءَ، وَأَرْشَدَ إِلَى اسْتِعْمَالِهِ،
وَأَعَدَّ الْأَسْبَابَ لِتَعَاطِيهِ.
Sesungguhnya Zat yang menurunkan penyakit juga menurunkan
obat, menunjukkan cara penggunaannya, dan menyiapkan sebab-sebab untuk
memperolehnya.
فَلَا
يَجُوزُ التَّعَرُّضُ لِلْهَلَاكِ بِإِهْمَالِهِ.
Karena itu, tidak boleh membiarkan diri menuju kebinasaan
dengan mengabaikannya.
وَأَمَّا
مَا يُعَدُّ فَضِيلَةً لَا فَرِيضَةً فَالتَّعَمُّقُ فِي دَقَائِقِ الْحِسَابِ
وَحَقَائِقِ الطِّبِّ وَغَيْرِ ذٰلِكَ مِمَّا يُسْتَغْنَى عَنْهُ، وَلٰكِنَّهُ
يُفِيدُ زِيَادَةَ قُوَّةٍ فِي الْقَدْرِ الْمُحْتَاجِ إِلَيْهِ.
Adapun yang termasuk keutamaan, bukan kewajiban, ialah
mendalami rincian-rincian halus dalam ilmu hitung, hakikat-hakikat kedokteran,
dan ilmu-ilmu lain yang sebenarnya tidak mutlak dibutuhkan, tetapi memberikan
tambahan kekuatan dalam kadar yang dibutuhkan.
وَأَمَّا
الْمَذْمُومُ فَعِلْمُ السِّحْرِ وَالطَّلَسْمَاتِ وَعِلْمُ الشَّعْبَذَةِ
وَالتَّلْبِيسَاتِ.
Adapun yang tercela ialah ilmu sihir, jimat-jimat dan
azimat, ilmu sulap, dan tipu daya.
وَأَمَّا
الْمُبَاحُ مِنْهُ فَالْعِلْمُ بِالْأَشْعَارِ الَّتِي لَا سَخَفَ فِيهَا،
وَتَوَارِيخِ الْأَخْبَارِ، وَمَا يَجْرِي مَجْرَاهُ.
Adapun yang mubah ialah pengetahuan tentang syair-syair yang
tidak mengandung kebodohan, sejarah-sejarah, dan hal-hal yang sejenis
dengannya.
أَمَّا
الْعُلُومُ الشَّرْعِيَّةُ وَهِيَ الْمَقْصُودَةُ بِالْبَيَانِ فَهِيَ مَحْمُودَةٌ
كُلُّهَا.
Adapun ilmu-ilmu syar‘i, yang menjadi tujuan utama
penjelasan ini, semuanya terpuji.
وَلٰكِنْ
قَدْ يَلْتَبِسُ بِهَا مَا يُظَنُّ أَنَّهَا شَرْعِيَّةٌ وَتَكُونُ مَذْمُومَةً،
فَتَنْقَسِمُ إِلَى الْمَحْمُودَةِ وَالْمَذْمُومَةِ.
Akan tetapi, terkadang tercampur dengannya hal-hal yang
disangka syar‘i padahal tercela. Maka ilmu-ilmu itu pun dapat dibagi menjadi
yang terpuji dan yang tercela.
أَمَّا
الْمَحْمُودَةُ فَلَهَا أُصُولٌ وَفُرُوعٌ وَمُقَدِّمَاتٌ وَمُتَمِّمَاتٌ، وَهِيَ
أَرْبَعَةُ أَضْرُبٍ.
Adapun ilmu syar‘i yang terpuji, ia memiliki pokok-pokok,
cabang-cabang, pendahuluan-pendahuluan, dan penyempurna-penyempurna. Semuanya
terbagi menjadi empat macam.
الضَّرْبُ
الْأَوَّلُ: الْأُصُولُ، وَهِيَ أَرْبَعَةٌ: كِتَابُ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ،
وَسُنَّةُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَإِجْمَاعُ
الْأُمَّةِ، وَآثَارُ الصَّحَابَةِ.
Macam yang pertama ialah pokok-pokok. Pokok-pokok itu ada
empat: Kitab Allah ‘Azza wa Jalla, Sunnah Rasulullah ﷺ, ijmak umat, dan atsar para sahabat.
وَالْإِجْمَاعُ
أَصْلٌ مِنْ حَيْثُ إِنَّهُ يَدُلُّ عَلَى السُّنَّةِ، فَهُوَ أَصْلٌ فِي
الدَّرَجَةِ الثَّالِثَةِ.
Ijmak disebut pokok karena ia menunjukkan kepada Sunnah.
Maka ia adalah pokok pada tingkat yang ketiga.
وَكَذٰلِكَ
الْأَثَرُ، فَإِنَّهُ أَيْضًا يَدُلُّ عَلَى السُّنَّةِ، لِأَنَّ الصَّحَابَةَ
رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ قَدْ شَاهَدُوا الْوَحْيَ وَالتَّنْزِيلَ، وَأَدْرَكُوا
بِقَرَائِنِ الْأَحْوَالِ مَا غَابَ عَنْ غَيْرِهِمْ عِيَانُهُ.
Demikian pula atsar para sahabat, karena ia juga menunjukkan
kepada Sunnah. Sebab para sahabat radhiyallahu ‘anhum telah menyaksikan wahyu
dan turunnya syariat, serta memahami melalui petunjuk-petunjuk keadaan apa yang
tidak disaksikan langsung oleh selain mereka.
وَرُبَّمَا
لَا تُحِيطُ الْعِبَارَاتُ بِمَا أُدْرِكَ بِالْقَرَائِنِ.
Terkadang ungkapan kata-kata tidak mampu mencakup apa yang
dipahami melalui isyarat-isyarat keadaan.
فَمِنْ
هٰذَا الْوَجْهِ رَأَى الْعُلَمَاءُ الِاقْتِدَاءَ بِهِمْ وَالتَّمَسُّكَ
بِآثَارِهِمْ.
Dari sisi inilah para ulama memandang perlunya meneladani
mereka dan berpegang pada atsar-atsar mereka.
وَذٰلِكَ
بِشَرْطٍ مَخْصُوصٍ عَلَى وَجْهٍ مَخْصُوصٍ عِنْدَ مَنْ يَرَاهُ، وَلَا يَلِيقُ
بَيَانُهُ بِهٰذَا الْفَنِّ.
Akan tetapi, hal itu dengan syarat khusus dan cara tertentu
menurut orang yang memandangnya demikian, dan penjelasannya tidak cocok dibahas
dalam bidang ini.
الضَّرْبُ
الثَّانِي: الْفُرُوعُ، وَهُوَ مَا فُهِمَ مِنْ هٰذِهِ الْأُصُولِ لَا بِمُوجَبِ
أَلْفَاظِهَا، بَلْ بِمَعَانٍ تَنَبَّهَ لَهَا الْعُقُولُ.
Macam yang kedua ialah cabang-cabang, yaitu apa yang
dipahami dari pokok-pokok tersebut bukan semata-mata melalui lafaznya, tetapi
melalui makna-makna yang dipahami oleh akal.
فَاتَّسَعَ
بِسَبَبِهَا الْفَهْمُ حَتَّى فُهِمَ مِنَ اللَّفْظِ الْمَلْفُوظِ بِهِ غَيْرُهُ.
Dengan itu, pemahaman menjadi luas sehingga dari satu lafaz
yang diucapkan dapat dipahami makna lain yang tidak disebutkan secara langsung.
كَمَا
فُهِمَ مِنْ قَوْلِهِ عَلَيْهِ السَّلَامُ: لَا يَقْضِي الْقَاضِي وَهُوَ
غَضْبَانُ، أَنَّهُ لَا يَقْضِي إِذَا كَانَ خَائِفًا أَوْ جَائِعًا أَوْ
مُتَأَلِّمًا بِمَرَضٍ.
Sebagaimana dipahami dari sabda Nabi ﷺ, “Seorang hakim tidak
boleh memutuskan perkara dalam keadaan marah,” bahwa ia juga tidak boleh
memutuskan perkara dalam keadaan takut, lapar, atau menderita sakit.
وَهٰذَا
عَلَى ضَرْبَيْنِ.
Cabang-cabang ini terbagi menjadi dua macam.
أَحَدُهُمَا
يَتَعَلَّقُ بِمَصَالِحِ الدُّنْيَا، وَيَحْوِيهِ كُتُبُ الْفِقْهِ،
وَالْمُتَكَفِّلُ بِهِ الْفُقَهَاءُ، وَهُمْ عُلَمَاءُ الدُّنْيَا.
Yang pertama berkaitan dengan kemaslahatan dunia. Hal ini
dibahas dalam kitab-kitab fikih, dan yang mengelolanya adalah para fuqaha;
mereka adalah ulama dunia.
وَالثَّانِي
مَا يَتَعَلَّقُ بِمَصَالِحِ الْآخِرَةِ، وَهُوَ عِلْمُ أَحْوَالِ الْقَلْبِ
وَأَخْلَاقِهِ الْمَحْمُودَةِ وَالْمَذْمُومَةِ، وَمَا هُوَ مَرْضِيٌّ عِنْدَ
اللَّهِ تَعَالَى وَمَا هُوَ مَكْرُوهٌ.
Yang kedua berkaitan dengan kemaslahatan akhirat, yaitu ilmu
tentang keadaan hati, akhlak-akhlaknya yang terpuji dan tercela, serta apa yang
diridhai Allah Ta‘ala dan apa yang dibenci-Nya.
وَهُوَ
الَّذِي يَحْوِيهِ الشَّطْرُ الْأَخِيرُ مِنْ هٰذَا الْكِتَابِ، أَعْنِي جُمْلَةَ
كِتَابِ إِحْيَاءِ عُلُومِ الدِّينِ.
Ilmu inilah yang dibahas dalam bagian akhir kitab ini, yaitu
keseluruhan kitab Ihya’ ‘Ulum ad-Din.
وَمِنْهُ
الْعِلْمُ بِمَا يَتَرَشَّحُ مِنَ الْقَلْبِ عَلَى الْجَوَارِحِ فِي عِبَادَاتِهَا
وَعَادَاتِهَا، وَهُوَ الَّذِي يَحْوِيهِ الشَّطْرُ الْأَوَّلُ مِنْ هٰذَا
الْكِتَابِ.
Dan termasuk di dalamnya adalah ilmu tentang apa yang
memancar dari hati kepada anggota badan dalam ibadah-ibadah dan
kebiasaan-kebiasaannya. Inilah yang dibahas pada bagian awal kitab ini.
وَالضَّرْبُ
الثَّالِثُ: الْمُقَدِّمَاتُ، وَهِيَ الَّتِي تَجْرِي مِنْهُ مَجْرَى الْآلَاتِ،
كَعِلْمِ اللُّغَةِ وَالنَّحْوِ.
Macam yang ketiga ialah pendahuluan-pendahuluan, yaitu
ilmu-ilmu yang berfungsi sebagai alat, seperti ilmu bahasa dan nahwu.
فَإِنَّهُمَا
آلَةٌ لِعِلْمِ كِتَابِ اللَّهِ تَعَالَى وَسُنَّةِ نَبِيِّهِ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.
Karena keduanya merupakan alat untuk memahami Kitab Allah
Ta‘ala dan Sunnah Nabi-Nya ﷺ.
وَلَيْسَتِ
اللُّغَةُ وَالنَّحْوُ مِنَ الْعُلُومِ الشَّرْعِيَّةِ فِي أَنْفُسِهِمَا،
وَلٰكِنْ يَلْزَمُ الْخَوْضُ فِيهِمَا بِسَبَبِ الشَّرْعِ.
Bahasa dan nahwu bukanlah ilmu syar‘i pada dirinya sendiri,
tetapi mempelajarinya menjadi perlu karena alasan syariat.
إِذْ
جَاءَتْ هٰذِهِ الشَّرِيعَةُ بِلُغَةِ الْعَرَبِ، وَكُلُّ شَرِيعَةٍ لَا تَظْهَرُ
إِلَّا بِلُغَةٍ، فَيَصِيرُ تَعَلُّمُ تِلْكَ اللُّغَةِ آلَةً.
Sebab syariat ini datang dengan bahasa Arab, dan setiap
syariat hanya dapat tampak melalui suatu bahasa. Maka mempelajari bahasa itu
menjadi alat.
وَمِنَ
الْآلَاتِ عِلْمُ كِتَابَةِ الْخَطِّ، إِلَّا أَنَّ ذٰلِكَ لَيْسَ ضَرُورِيًّا،
إِذْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أُمِّيًّا.
Termasuk alat pula ialah ilmu menulis. Namun, hal itu tidak
mutlak diperlukan, karena Rasulullah ﷺ adalah seorang yang ummi, tidak menulis.
وَلَوْ
تُصُوِّرَ اسْتِقْلَالُ الْحِفْظِ بِجَمِيعِ مَا يُسْمَعُ لَاسْتُغْنِيَ عَنِ
الْكِتَابَةِ، وَلٰكِنَّهُ صَارَ بِحُكْمِ الْعَجْزِ فِي الْغَالِبِ ضَرُورِيًّا.
Seandainya daya hafal mampu mencukupi untuk menyimpan
seluruh yang didengar, tentu penulisan tidak diperlukan. Akan tetapi, karena
kelemahan manusia pada umumnya, penulisan menjadi sesuatu yang diperlukan.
الضَّرْبُ
الرَّابِعُ: الْمُتَمِّمَاتُ، وَذٰلِكَ فِي عِلْمِ الْقُرْآنِ.
Macam yang keempat ialah penyempurna-penyempurna, dan ini
terdapat dalam ilmu Al-Qur’an.
فَإِنَّهُ
يَنْقَسِمُ إِلَى مَا يَتَعَلَّقُ بِاللَّفْظِ، كَتَعَلُّمِ الْقِرَاءَاتِ
وَمَخَارِجِ الْحُرُوفِ.
Ilmu Al-Qur’an terbagi kepada yang berkaitan dengan lafaz,
seperti mempelajari qiraat dan makhraj huruf.
وَإِلَى
مَا يَتَعَلَّقُ بِالْمَعْنَى، كَالتَّفْسِيرِ، فَإِنَّ اعْتِمَادَهُ أَيْضًا
عَلَى النَّقْلِ، إِذِ اللُّغَةُ بِمُجَرَّدِهَا لَا تَسْتَقِلُّ بِهِ.
Dan terbagi pula kepada yang berkaitan dengan makna, seperti
tafsir. Sebab tafsir juga bergantung pada riwayat, karena bahasa semata tidak
cukup untuk memahaminya.
وَإِلَى
مَا يَتَعَلَّقُ بِأَحْكَامِهِ، كَمَعْرِفَةِ النَّاسِخِ وَالْمَنْسُوخِ،
وَالْعَامِّ وَالْخَاصِّ، وَالنَّصِّ وَالظَّاهِرِ.
Dan juga terbagi kepada yang berkaitan dengan
hukum-hukumnya, seperti mengetahui nasikh dan mansukh, umum dan khusus, nash
dan zahir.
وَكَيْفِيَّةِ
اسْتِعْمَالِ الْبَعْضِ مِنْهُ مَعَ الْبَعْضِ، وَهُوَ الْعِلْمُ الَّذِي يُسَمَّى
أُصُولَ الْفِقْهِ، وَيَتَنَاوَلُ السُّنَّةَ أَيْضًا.
Serta mengetahui cara menggunakan satu dalil dengan dalil
lainnya. Inilah ilmu yang disebut usul fikih, dan ia juga mencakup Sunnah.
وَأَمَّا
الْمُتَمِّمَاتُ فِي الْآثَارِ وَالْأَخْبَارِ، فَالْعِلْمُ بِالرِّجَالِ
وَأَسْمَائِهِمْ وَأَنْسَابِهِمْ، وَأَسْمَاءِ الصَّحَابَةِ وَصِفَاتِهِمْ.
Adapun penyempurna dalam atsar dan riwayat ialah ilmu
tentang para perawi, nama-nama mereka, nasab mereka, nama-nama para sahabat,
dan sifat-sifat mereka.
وَالْعِلْمُ
بِالْعَدَالَةِ فِي الرُّوَاةِ، وَالْعِلْمُ بِأَحْوَالِهِمْ لِيُمَيَّزَ
الضَّعِيفُ مِنَ الْقَوِيِّ، وَالْعِلْمُ بِأَعْمَارِهِمْ لِيُمَيَّزَ الْمُرْسَلُ
مِنَ الْمُسْنَدِ، وَكَذٰلِكَ مَا يَتَعَلَّقُ بِهِ.
Juga ilmu tentang keadilan para perawi, keadaan-keadaan
mereka agar dapat dibedakan yang lemah dari yang kuat, serta ilmu tentang usia
mereka agar dapat dibedakan hadis mursal dari hadis musnad, dan hal-hal lain
yang berkaitan dengannya.
فَهٰذِهِ
هِيَ الْعُلُومُ الشَّرْعِيَّةُ، وَكُلُّهَا مَحْمُودَةٌ، بَلْ كُلُّهَا مِنْ
فُرُوضِ الْكِفَايَاتِ.
Inilah ilmu-ilmu syar‘i, dan semuanya terpuji. Bahkan
semuanya termasuk fardu kifayah.
فَإِنْ
قُلْتَ: لِمَ أَلْحَقْتَ الْفِقْهَ بِعِلْمِ الدُّنْيَا؟
Jika engkau bertanya, “Mengapa engkau memasukkan fikih ke
dalam ilmu dunia?”
فَاعْلَمْ
أَنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ أَخْرَجَ آدَمَ عَلَيْهِ السَّلَامُ مِنَ التُّرَابِ،
وَأَخْرَجَ ذُرِّيَّتَهُ مِنْ سُلَالَةٍ مِنْ طِينٍ وَمِنْ مَاءٍ دَافِقٍ.
Maka ketahuilah bahwa Allah ‘Azza wa Jalla menciptakan Adam
‘alaihis-salam dari tanah, dan mengeluarkan keturunannya dari sari pati tanah
liat dan air yang terpancar.
فَأَخْرَجَهُمْ
مِنَ الْأَصْلَابِ إِلَى الْأَرْحَامِ، وَمِنْهَا إِلَى الدُّنْيَا، ثُمَّ إِلَى
الْقَبْرِ، ثُمَّ إِلَى الْعَرْضِ، ثُمَّ إِلَى الْجَنَّةِ أَوْ إِلَى النَّارِ.
Lalu Dia mengeluarkan mereka dari sulbi ke rahim, dari rahim
ke dunia, kemudian ke kubur, lalu ke tempat perhitungan, lalu ke surga atau ke
neraka.
فَهٰذَا
مَبْدَؤُهُمْ، وَهٰذِهِ غَايَتُهُمْ، وَهٰذِهِ مَنَازِلُهُمْ.
Itulah permulaan mereka, itulah tujuan akhir mereka, dan
itulah tempat-tempat persinggahan mereka.
وَخَلَقَ
الدُّنْيَا زَادًا لِلْمَعَادِ، لِيَتَنَاوَلَ مِنْهَا مَا يَصْلُحُ لِلتَّزَوُّدِ.
Allah menciptakan dunia sebagai bekal untuk kembali ke
akhirat, agar manusia mengambil darinya apa yang layak dijadikan bekal.
فَلَوْ
تَنَاوَلُوهَا بِالْعَدْلِ لَانْقَطَعَتِ الْخُصُومَاتُ، وَتَعَطَّلَ الْفُقَهَاءُ.
Seandainya mereka mengambilnya dengan adil, niscaya
perselisihan akan terputus dan para fuqaha tidak lagi dibutuhkan.
وَلٰكِنَّهُمْ
تَنَاوَلُوهَا بِالشَّهَوَاتِ، فَتَوَلَّدَتْ مِنْهَا الْخُصُومَاتُ.
Akan tetapi, mereka mengambil dunia dengan mengikuti hawa
nafsu, sehingga muncullah perselisihan.
فَمَسَّتِ
الْحَاجَةُ إِلَى سُلْطَانٍ يَسُوسُهُمْ، وَاحْتَاجَ السُّلْطَانُ إِلَى قَانُونٍ
يَسُوسُهُمْ بِهِ.
Maka timbullah kebutuhan kepada seorang penguasa yang
mengatur mereka, dan penguasa itu memerlukan aturan untuk mengatur mereka.
فَالْفَقِيهُ
هُوَ الْعَالِمُ بِقَانُونِ السِّيَاسَةِ وَطَرِيقِ التَّوَسُّطِ بَيْنَ الْخَلْقِ
إِذَا تَنَازَعُوا بِحُكْمِ الشَّهَوَاتِ.
Seorang fakih adalah orang yang mengetahui hukum-hukum
pengaturan dan cara menjadi penengah di antara manusia ketika mereka berselisih
karena dorongan hawa nafsu.
فَكَانَ
الْفَقِيهُ مُعَلِّمَ السُّلْطَانِ وَمُرْشِدَهُ إِلَى طُرُقِ سِيَاسَةِ الْخَلْقِ
وَضَبْطِهِمْ، لِيَنْتَظِمَ بِاسْتِقَامَتِهِمْ أُمُورُهُمْ فِي الدُّنْيَا.
Maka seorang fakih menjadi pengajar penguasa dan penunjuk
jalan baginya dalam mengatur dan menertibkan manusia, agar urusan dunia mereka
menjadi tertata melalui ketertiban itu.
وَلَعَمْرِي
إِنَّهُ مُتَعَلِّقٌ أَيْضًا بِالدِّينِ، لٰكِنْ لَا بِنَفْسِهِ، بَلْ بِوَاسِطَةِ
الدُّنْيَا، فَإِنَّ الدُّنْيَا مَزْرَعَةُ الْآخِرَةِ، وَلَا يَتِمُّ الدِّينُ
إِلَّا بِالدُّنْيَا.
Demi umurku, fikih memang berkaitan juga dengan agama,
tetapi tidak secara langsung; melainkan melalui dunia. Sebab dunia adalah
ladang akhirat, dan agama tidak akan sempurna kecuali dengan dunia.
وَالْمُلْكُ
وَالدِّينُ تَوْأَمَانِ، فَالدِّينُ أَصْلٌ وَالسُّلْطَانُ حَارِسٌ.
Kerajaan atau kekuasaan dan agama itu kembar. Agama adalah
pokok, sedangkan penguasa adalah penjaga.
وَمَا
لَا أَصْلَ لَهُ فَمَهْدُومٌ، وَمَا لَا حَارِسَ لَهُ فَضَائِعٌ.
Sesuatu yang tidak memiliki pokok akan runtuh, dan sesuatu
yang tidak memiliki penjaga akan hilang.
وَلَا
يَتِمُّ الْمُلْكُ وَالضَّبْطُ إِلَّا بِالسُّلْطَانِ، وَطَرِيقُ الضَّبْطِ فِي
فَصْلِ الْحُكُومَاتِ بِالْفِقْهِ.
Kekuasaan dan ketertiban tidak akan sempurna kecuali dengan
penguasa, dan jalan untuk mewujudkan ketertiban dalam memutuskan sengketa
adalah dengan fikih.
وَكَمَا
أَنَّ سِيَاسَةَ الْخَلْقِ بِالسُّلْطَنَةِ لَيْسَتْ مِنْ عِلْمِ الدِّينِ فِي
الدَّرَجَةِ الْأُولَى، بَلْ هِيَ مُعِينَةٌ عَلَى مَا لَا يَتِمُّ الدِّينُ
إِلَّا بِهِ، فَكَذٰلِكَ مَعْرِفَةُ طَرِيقِ السِّيَاسَةِ.
Sebagaimana mengatur manusia dengan kekuasaan bukanlah ilmu
agama pada tingkat pertama, tetapi ia membantu terlaksananya sesuatu yang
tanpanya agama tidak sempurna, demikian pula pengetahuan tentang cara mengatur
manusia.
فَمَعْلُومٌ
أَنَّ الْحَجَّ لَا يَتِمُّ إِلَّا بِبَذْرَقَةٍ تَحْرُسُ مِنَ الْعَرَبِ فِي
الطَّرِيقِ.
Diketahui bahwa haji tidak akan sempurna kecuali dengan
pengawal yang melindungi dari gangguan orang-orang Arab di perjalanan.
وَلٰكِنَّ
الْحَجَّ شَيْءٌ، وَسُلُوكَ الطَّرِيقِ إِلَى الْحَجِّ شَيْءٌ ثَانٍ، وَالْقِيَامَ
بِالْحِرَاسَةِ الَّتِي لَا يَتِمُّ الْحَجُّ إِلَّا بِهَا شَيْءٌ ثَالِثٌ،
وَمَعْرِفَةُ طُرُقِ الْحِرَاسَةِ وَحِيَلِهَا وَقَوَانِينِهَا شَيْءٌ رَابِعٌ.
Akan tetapi, haji itu sendiri adalah satu hal, menempuh
jalan menuju haji adalah hal kedua, menjalankan penjagaan yang tanpanya haji
tidak sempurna adalah hal ketiga, dan mengetahui cara-cara penjagaan,
taktik-taktiknya, serta aturan-aturannya adalah hal keempat.
وَحَاصِلُ
فَنِّ الْفِقْهِ مَعْرِفَةُ طُرُقِ السِّيَاسَةِ وَالْحِرَاسَةِ.
Kesimpulan dari ilmu fikih adalah mengetahui cara-cara
pengaturan dan penjagaan.
وَيَدُلُّ
عَلَى ذٰلِكَ مَا رُوِيَ مُسْنَدًا: لَا يُفْتِي النَّاسَ إِلَّا ثَلَاثَةٌ:
أَمِيرٌ، أَوْ مَأْمُورٌ، أَوْ مُتَكَلِّفٌ.
Yang menunjukkan hal itu adalah riwayat yang bersanad:
“Tidak boleh berfatwa kepada manusia kecuali tiga golongan: seorang pemimpin,
atau orang yang diperintah olehnya, atau orang yang memberatkan diri.”
فَالْأَمِيرُ
هُوَ الْإِمَامُ، وَقَدْ كَانُوا هُمُ الْمُفْتِينَ، وَالْمَأْمُورُ نَائِبُهُ،
وَالْمُتَكَلِّفُ غَيْرُهُمَا، وَهُوَ الَّذِي يَتَقَلَّدُ تِلْكَ الْعُهْدَةَ
مِنْ غَيْرِ حَاجَةٍ.
Yang dimaksud dengan amir adalah imam atau
pemimpin. Dahulu merekalah yang berfatwa. Sedangkan ma’mur adalah
wakilnya, dan mutakallif adalah selain keduanya, yaitu orang
yang memikul tanggung jawab itu tanpa adanya kebutuhan.
وَقَدْ
كَانَ الصَّحَابَةُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ يَحْتَرِزُونَ عَنِ الْفُتْيَا،
حَتَّى كَانَ يُحِيلُ كُلُّ وَاحِدٍ مِنْهُمْ عَلَى صَاحِبِهِ.
Para sahabat radhiyallahu ‘anhum dahulu sangat berhati-hati
dalam berfatwa, sampai masing-masing dari mereka sering mengarahkan penanya
kepada sahabat yang lain.
وَكَانُوا
لَا يَحْتَرِزُونَ إِذَا سُئِلُوا عَنْ عِلْمِ الْقُرْآنِ وَطَرِيقِ الْآخِرَةِ.
Akan tetapi, mereka tidak bersikap demikian jika ditanya
tentang ilmu Al-Qur’an dan jalan menuju akhirat.
وَفِي
بَعْضِ الرِّوَايَاتِ بَدَلَ الْمُتَكَلِّفِ الْمُرَائِي.
Dalam sebagian riwayat, kata al-mutakallif diganti
dengan al-murā’ī.
فَإِنَّ
مَنْ تَقَلَّدَ خَطَرَ الْفُتْيَا وَهُوَ غَيْرُ مُتَعَيِّنٍ لِلْحَاجَةِ، فَلَا
يَقْصِدُ بِهِ إِلَّا طَلَبَ الْجَاهِ وَالْمَالِ.
Sebab orang yang memikul bahaya fatwa padahal tidak dituntut
oleh kebutuhan, biasanya tidak menginginkannya kecuali demi kedudukan dan
harta.
فَإِنْ
قُلْتَ: هٰذَا إِنِ اسْتَقَامَ لَكَ فِي أَحْكَامِ الْجِرَاحَاتِ وَالْحُدُودِ
وَالْغَرَامَاتِ وَفَصْلِ الْخُصُومَاتِ، فَلَا يَسْتَقِيمُ فِيمَا يَشْتَمِلُ
عَلَيْهِ رُبْعُ الْعِبَادَاتِ مِنَ الصِّيَامِ وَالصَّلَاةِ، وَلَا فِيمَا
يَشْتَمِلُ عَلَيْهِ رُبْعُ الْعَادَاتِ مِنَ الْمُعَامَلَاتِ مِنْ بَيَانِ
الْحَلَالِ وَالْحَرَامِ.
Jika engkau berkata, “Penjelasan ini mungkin tepat dalam
hukum-hukum luka, hudud, ganti rugi, dan pemutusan sengketa, tetapi tidak tepat
pada bagian ibadah seperti puasa dan salat, dan juga tidak tepat pada bagian
kebiasaan dalam muamalah seperti penjelasan halal dan haram.”
فَاعْلَمْ
أَنَّ أَقْرَبَ مَا يَتَكَلَّمُ الْفَقِيهُ فِيهِ مِنَ الْأَعْمَالِ الَّتِي هِيَ
أَعْمَالُ الْآخِرَةِ ثَلَاثَةٌ: الْإِسْلَامُ، وَالصَّلَاةُ، وَالزَّكَاةُ،
وَالْحَلَالُ وَالْحَرَامُ.
Maka ketahuilah bahwa hal-hal yang paling dekat dengan
pekerjaan akhirat yang dibahas oleh seorang fakih adalah empat perkara: Islam,
salat, zakat, serta halal dan haram.
فَإِذَا
تَأَمَّلْتَ مُنْتَهَى نَظَرِ الْفَقِيهِ فِيهَا، عَلِمْتَ أَنَّهُ لَا يُجَاوِزُ
حُدُودَ الدُّنْيَا إِلَى الْآخِرَةِ.
Jika engkau merenungi batas akhir perhatian seorang fakih
dalam perkara-perkara itu, engkau akan mengetahui bahwa pembahasannya tidak
melampaui batas dunia menuju akhirat.
وَإِذَا
عَرَفْتَ هٰذَا فِي هٰذِهِ الثَّلَاثَةِ فَهُوَ فِي غَيْرِهَا أَظْهَرُ.
Jika engkau telah memahami hal ini pada perkara-perkara
tersebut, maka pada selainnya hal itu lebih jelas lagi.
أَمَّا
الْإِسْلَامُ فَيَتَكَلَّمُ الْفَقِيهُ فِيمَا يَصِحُّ مِنْهُ وَفِيمَا يَفْسُدُ
وَفِي شُرُوطِهِ، وَلَيْسَ يَلْتَفِتُ فِيهِ إِلَّا إِلَى اللِّسَانِ.
Adapun Islam, maka seorang fakih membahas apa yang sah
darinya, apa yang rusak darinya, dan syarat-syaratnya. Dalam hal ini, ia hanya
memperhatikan lisan.
وَأَمَّا
الْقَلْبُ فَخَارِجٌ عَنْ وِلَايَةِ الْفَقِيهِ، لِعَزْلِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَرْبَابَ السُّيُوفِ وَالسُّلْطَنَةِ عَنْهُ، حَيْثُ
قَالَ: هَلَّا شَقَقْتَ عَنْ قَلْبِهِ؟
Adapun hati, maka ia berada di luar wilayah kekuasaan fakih,
karena Rasulullah ﷺ
telah memisahkan urusan hati dari kewenangan para pemegang pedang dan
kekuasaan, ketika beliau bersabda, “Mengapa engkau tidak membelah hatinya?”
لِلَّذِي
قَتَلَ مَنْ تَكَلَّمَ بِكَلِمَةِ الْإِسْلَامِ مُعْتَذِرًا بِأَنَّهُ قَالَ
ذٰلِكَ مِنْ خَوْفِ السَّيْفِ.
Sabda itu beliau ucapkan kepada orang yang membunuh
seseorang yang telah mengucapkan kalimat Islam, dengan alasan bahwa orang itu
mengucapkannya hanya karena takut pedang.
بَلْ
يَحْكُمُ الْفَقِيهُ بِصِحَّةِ الْإِسْلَامِ تَحْتَ ظِلَالِ السُّيُوفِ، مَعَ
أَنَّهُ يَعْلَمُ أَنَّ السَّيْفَ لَمْ يَكْشِفْ لَهُ عَنْ نِيَّتِهِ، وَلَمْ
يَدْفَعْ عَنْ قَلْبِهِ غِشَاوَةَ الْجَهْلِ وَالْحَيْرَةِ.
Bahkan seorang fakih menetapkan sahnya Islam seseorang
meskipun diucapkan di bawah bayang-bayang pedang, padahal ia tahu bahwa pedang
tidak menyingkap niat orang itu dan tidak menghilangkan dari hatinya selubung
kebodohan dan kebingungan.
وَلٰكِنَّهُ
مُثِيرٌ عَلَى صَاحِبِ السَّيْفِ، فَإِنَّ السَّيْفَ مُمْتَدٌّ إِلَى رَقَبَتِهِ،
وَالْيَدَ مُمْتَدَّةٌ إِلَى مَالِهِ.
Akan tetapi, hukum itu hanya ditujukan kepada pemegang
pedang, karena pedang telah terhunus ke leher orang itu dan tangan telah siap
mengambil hartanya.
وَهٰذِهِ
الْكَلِمَةُ بِاللِّسَانِ تَعْصِمُ رَقَبَتَهُ وَمَالَهُ مَا دَامَ لَهُ رَقَبَةٌ
وَمَالٌ، وَذٰلِكَ فِي الدُّنْيَا.
Ucapan dengan lisan itulah yang melindungi leher dan
hartanya selama ia masih memiliki leher dan harta, dan itu berlaku di dunia.
وَلِذٰلِكَ
قَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أُمِرْتُ أَنْ أُقَاتِلَ النَّاسَ
حَتَّى يَقُولُوا لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ، فَإِذَا قَالُوهَا فَقَدْ عَصَمُوا
مِنِّي دِمَاءَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ.
Karena itulah Nabi ﷺ bersabda, “Aku diperintahkan untuk
memerangi manusia sampai mereka mengucapkan ‘Lā ilāha illallāh’. Jika mereka
telah mengucapkannya, maka mereka telah melindungi dariku darah dan harta
mereka.”
جَعَلَ
أَثَرَ ذٰلِكَ فِي الدَّمِ وَالْمَالِ.
Beliau menjadikan pengaruh ucapan itu pada darah dan harta.
وَأَمَّا
الْآخِرَةُ فَلَا تَنْفَعُ فِيهَا الْأَمْوَالُ، بَلْ أَنْوَارُ الْقُلُوبِ
وَأَسْرَارُهَا وَإِخْلَاصُهَا.
Adapun di akhirat, harta tidak bermanfaat. Yang bermanfaat
di sana adalah cahaya hati, rahasia-rahasianya, dan keikhlasannya.
وَلَيْسَ
ذٰلِكَ مِنَ الْفِقْهِ، وَإِنْ خَاضَ الْفَقِيهُ فِيهِ كَانَ كَمَا لَوْ خَاضَ فِي
الْكَلَامِ وَالطِّبِّ، وَكَانَ خَارِجًا عَنْ فَنِّهِ.
Dan hal itu bukan bagian dari fikih. Jika seorang fakih
membahasnya, maka ia seperti orang yang membahas ilmu kalam atau kedokteran; ia
telah keluar dari bidangnya.
وَأَمَّا
الصَّلَاةُ فَالْفَقِيهُ يُفْتِي بِالصِّحَّةِ إِذَا أَتَى بِصُورَةِ الْأَعْمَالِ
مَعَ ظَاهِرِ الشُّرُوطِ، وَإِنْ كَانَ غَافِلًا فِي جَمِيعِ صَلَاتِهِ مِنْ
أَوَّلِهَا إِلَى آخِرِهَا، مَشْغُولًا بِالتَّفَكُّرِ فِي حِسَابِ مُعَامَلَاتِهِ
فِي السُّوقِ إِلَّا عِنْدَ التَّكْبِيرِ.
Adapun salat, maka seorang fakih memberi fatwa bahwa salat
itu sah jika bentuk amalan lahiriahnya dilakukan dengan memenuhi syarat-syarat
lahiriahnya, meskipun orang itu lalai sepanjang salatnya dari awal hingga
akhir, dan pikirannya sibuk memikirkan hitung-hitungan transaksi di pasar,
kecuali ketika takbir.
وَهٰذِهِ
الصَّلَاةُ لَا تَنْفَعُ فِي الْآخِرَةِ، كَمَا أَنَّ الْقَوْلَ بِاللِّسَانِ فِي
الْإِسْلَامِ لَا يَنْفَعُ.
Salat semacam ini tidak bermanfaat di akhirat, sebagaimana
ucapan Islam dengan lisan saja tidak bermanfaat di akhirat.
وَلٰكِنَّ
الْفَقِيهَ يُفْتِي بِالصِّحَّةِ، أَيْ أَنَّ مَا فَعَلَهُ حَصَلَ بِهِ امْتِثَالُ
صِيغَةِ الْأَمْرِ، وَانْقَطَعَ بِهِ عَنْهُ الْقَتْلُ وَالتَّعْزِيرُ.
Akan tetapi, seorang fakih tetap memfatwakan sah, artinya
dengan perbuatan itu bentuk perintah telah ditunaikan, dan dengan itu gugurlah
ancaman hukuman bunuh atau ta‘zir atas dirinya.
فَأَمَّا
الْخُشُوعُ وَإِحْضَارُ الْقَلْبِ الَّذِي هُوَ عَمَلُ الْآخِرَةِ، وَبِهِ
يَنْفَعُ الْعَمَلُ الظَّاهِرُ، فَلَا يَتَعَرَّضُ لَهُ الْفَقِيهُ.
Adapun kekhusyukan dan kehadiran hati, yang merupakan amalan
akhirat dan yang menjadikan amalan lahiriah itu bermanfaat, maka seorang fakih
tidak membahasnya.
وَلَوْ
تَعَرَّضَ لَهُ لَكَانَ خَارِجًا عَنْ فَنِّهِ.
Kalau ia membahasnya, berarti ia telah keluar dari bidang
ilmunya.
وَأَمَّا
الزَّكَاةُ فَالْفَقِيهُ يَنْظُرُ إِلَى مَا يَنْقَطِعُ بِهِ مُطَالَبَةُ
السُّلْطَانِ.
Adapun zakat, maka seorang fakih melihat pada apa yang
dengannya gugur tuntutan penguasa.
حَتَّى
إِنَّهُ إِذَا امْتَنَعَ عَنْ أَدَائِهَا فَأَخَذَهَا السُّلْطَانُ قَهْرًا حَكَمَ
بِأَنَّهُ بَرِئَتْ ذِمَّتُهُ.
Bahkan jika seseorang menolak menunaikannya lalu penguasa
mengambilnya secara paksa, sang fakih memutuskan bahwa tanggungannya telah
gugur.
وَحُكِيَ
أَنَّ أَبَا يُوسُفَ الْقَاضِي كَانَ يَهَبُ مَالَهُ لِزَوْجَتِهِ آخِرَ
الْحَوْلِ، وَيَسْتَوْهِبُ مَالَهَا إِسْقَاطًا لِلزَّكَاةِ.
Dikisahkan bahwa Abu Yusuf, sang qadhi, pernah menghadiahkan
hartanya kepada istrinya pada akhir haul, lalu meminta kembali harta istrinya,
dengan tujuan menggugurkan zakat.
فَحُكِيَ
ذٰلِكَ لِأَبِي حَنِيفَةَ رَحِمَهُ اللَّهُ، فَقَالَ: ذٰلِكَ مِنْ فِقْهِهِ.
Hal itu lalu diceritakan kepada Abu Hanifah rahimahullah,
maka ia berkata, “Itu termasuk kefakihannya.”
وَصَدَقَ،
فَإِنَّ ذٰلِكَ مِنْ فِقْهِ الدُّنْيَا، وَلٰكِنْ مَضَرَّتُهُ فِي الْآخِرَةِ
أَعْظَمُ مِنْ كُلِّ جِنَايَةٍ، وَمِثْلُ هٰذَا هُوَ الْعِلْمُ الضَّارُّ.
Dan ia benar, sebab itu memang termasuk fikih dunia. Akan
tetapi, bahayanya di akhirat lebih besar daripada semua kejahatan. Ilmu semacam
inilah yang disebut ilmu yang membahayakan.
وَأَمَّا
الْحَلَالُ وَالْحَرَامُ، فَالْوَرَعُ عَنِ الْحَرَامِ مِنَ الدِّينِ، وَلٰكِنَّ
الْوَرَعَ لَهُ أَرْبَعُ مَرَاتِبَ.
Adapun perkara halal dan haram, maka sikap wara‘ terhadap
yang haram adalah bagian dari agama. Akan tetapi, wara‘ itu memiliki empat
tingkatan.
الْأُولَى:
الْوَرَعُ الَّذِي يُشْتَرَطُ فِي عَدَالَةِ الشَّهَادَةِ، وَهُوَ الَّذِي
يَخْرُجُ بِتَرْكِهِ الْإِنْسَانُ عَنْ أَهْلِيَّةِ الشَّهَادَةِ وَالْقَضَاءِ
وَالْوِلَايَةِ، وَهُوَ الِاحْتِرَازُ عَنِ الْحَرَامِ الظَّاهِرِ.
Tingkatan pertama adalah wara‘ yang disyaratkan dalam
keadilan kesaksian. Yaitu wara‘ yang apabila ditinggalkan, seseorang keluar
dari kelayakan untuk menjadi saksi, hakim, dan pemegang jabatan. Wara‘ ini
berupa menjaga diri dari perkara haram yang tampak jelas.
الثَّانِيَةُ:
وَرَعُ الصَّالِحِينَ، وَهُوَ التَّوَقِّي مِنَ الشُّبُهَاتِ الَّتِي يَتَقَابَلُ
فِيهَا الِاحْتِمَالَاتُ.
Tingkatan kedua adalah wara‘ orang-orang saleh, yaitu
menjauhi perkara-perkara syubhat yang kemungkinan-kemungkinannya saling
berhadapan.
قَالَ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: دَعْ مَا يَرِيبُكَ إِلَى مَا لَا يَرِيبُكَ.
Nabi ﷺ
bersabda, “Tinggalkanlah apa yang meragukanmu menuju apa yang tidak
meragukanmu.”
وَقَالَ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: الْإِثْمُ حَزَازُ الْقُلُوبِ.
Dan Nabi ﷺ
bersabda, “Dosa adalah sesuatu yang mengusik hati.”
الثَّالِثَةُ:
وَرَعُ الْمُتَّقِينَ، وَهُوَ تَرْكُ الْحَلَالِ الْمَحْضِ الَّذِي يُخَافُ مِنْهُ
أَدَاؤُهُ إِلَى الْحَرَامِ.
Tingkatan ketiga adalah wara‘ orang-orang bertakwa, yaitu
meninggalkan perkara halal murni yang dikhawatirkan akan menyeret kepada yang
haram.
قَالَ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لَا يَكُونُ الرَّجُلُ مِنَ الْمُتَّقِينَ
حَتَّى يَدَعَ مَا لَا بَأْسَ بِهِ مَخَافَةَ مِمَّا بِهِ بَأْسٌ.
Nabi ﷺ
bersabda, “Seseorang tidak akan termasuk golongan orang-orang bertakwa sampai
ia meninggalkan sesuatu yang tidak mengapa dilakukan, karena takut terjatuh
kepada sesuatu yang mengandung bahaya.”
وَذٰلِكَ
مِثْلُ التَّوَرُّعِ عَنِ التَّحَدُّثِ بِأَحْوَالِ النَّاسِ خِيفَةَ
الِانْجِرَارِ إِلَى الْغِيبَةِ.
Contohnya ialah bersikap wara‘ dengan tidak membicarakan
keadaan orang lain, karena takut terseret ke dalam ghibah.
وَالتَّوَرُّعِ
عَنْ أَكْلِ الشَّهَوَاتِ خِيفَةَ مِنْ هَيَجَانِ النَّشَاطِ وَالْبَطَرِ
الْمُؤَدِّي إِلَى مُقَارَفَةِ الْمَحْظُورَاتِ.
Dan juga bersikap wara‘ dengan menahan diri dari memuaskan
syahwat makanan, karena takut bangkitnya dorongan berlebihan dan kesombongan
yang dapat menyeret kepada melakukan hal-hal terlarang.
الرَّابِعَةُ:
وَرَعُ الصِّدِّيقِينَ، وَهُوَ الْإِعْرَاضُ عَمَّا سِوَى اللَّهِ تَعَالَى
خَوْفًا مِنْ صَرْفِ سَاعَةٍ مِنَ الْعُمُرِ إِلَى مَا لَا يُفِيدُ زِيَادَةَ
قُرْبٍ عِنْدَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ، وَإِنْ كَانَ يَعْلَمُ وَيَتَحَقَّقُ
أَنَّهُ لَا يُفْضِي إِلَى حَرَامٍ.
Tingkatan keempat adalah wara‘ orang-orang shiddiq, yaitu
berpaling dari segala sesuatu selain Allah Ta‘ala, karena takut menggunakan
satu saat dari umurnya untuk sesuatu yang tidak menambah kedekatan kepada Allah
‘Azza wa Jalla, meskipun ia mengetahui dengan yakin bahwa hal itu tidak sampai
membawa kepada yang haram.
فَهٰذِهِ
الدَّرَجَاتُ كُلُّهَا خَارِجَةٌ عَنْ نَظَرِ الْفَقِيهِ إِلَّا الدَّرَجَةَ
الْأُولَى، وَهُوَ وَرَعُ الشُّهُودِ وَالْقَضَاءِ، وَمَا يَقْدَحُ فِي
الْعَدَالَةِ.
Semua tingkatan ini berada di luar perhatian seorang fakih,
kecuali tingkatan pertama, yaitu wara‘ yang berkaitan dengan kesaksian,
peradilan, dan hal-hal yang merusak keadilan.
وَالْقِيَامُ
بِذٰلِكَ لَا يَنْفِي الْإِثْمَ فِي الْآخِرَةِ.
Menjalankan wara‘ pada tingkat ini saja tidak serta-merta
menghilangkan dosa di akhirat.
قَالَ
رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِوَابِصَةَ: اسْتَفْتِ
قَلْبَكَ وَإِنْ أَفْتَوْكَ، وَإِنْ أَفْتَوْكَ.
Rasulullah ﷺ
bersabda kepada Wabishah, “Mintalah fatwa kepada hatimu, meskipun orang-orang
telah memberimu fatwa, meskipun orang-orang telah memberimu fatwa.”
وَالْفَقِيهُ
لَا يَتَكَلَّمُ فِي حَزَازَاتِ الْقُلُوبِ وَكَيْفِيَّةِ الْعَمَلِ بِهَا، بَلْ
فِيمَا يَقْدَحُ فِي الْعَدَالَةِ فَقَطْ.
Seorang fakih tidak berbicara tentang kegelisahan hati dan
bagaimana mengamalkannya, tetapi hanya berbicara tentang hal-hal yang
mencederai keadilan.
فَإِنَّ
جَمِيعَ نَظَرِ الْفَقِيهِ مُرْتَبِطٌ بِالدُّنْيَا الَّتِي بِهَا صَلَاحُ طَرِيقِ
الْآخِرَةِ.
Sebab seluruh perhatian seorang fakih berkaitan dengan
dunia, yang dengannya jalan menuju akhirat menjadi tertata.
فَإِنْ
تَكَلَّمَ فِي شَيْءٍ مِنْ صِفَاتِ الْقَلْبِ وَأَحْكَامِ الْآخِرَةِ، فَذٰلِكَ
يَدْخُلُ فِي كَلَامِهِ عَلَى سَبِيلِ التَّطَفُّلِ.
Kalaupun ia berbicara tentang sebagian sifat hati dan
hukum-hukum akhirat, maka hal itu masuk dalam pembicaraannya hanya sebagai
tambahan yang tidak menjadi bidang utamanya.
كَمَا
قَدْ يَدْخُلُ فِي كَلَامِهِ شَيْءٌ مِنَ الطِّبِّ وَالْحِسَابِ وَالنُّجُومِ
وَعِلْمِ الْكَلَامِ، وَكَمَا تَدْخُلُ الْحِكْمَةُ فِي النَّحْوِ وَالشِّعْرِ.
Sebagaimana kadang-kadang masuk pula dalam pembicaraannya
sesuatu dari ilmu kedokteran, ilmu hitung, ilmu perbintangan, dan ilmu kalam,
sebagaimana hikmah juga dapat masuk ke dalam nahwu dan syair.
وَكَانَ
سُفْيَانُ الثَّوْرِيُّ، وَهُوَ إِمَامٌ فِي عِلْمِ الظَّاهِرِ، يَقُولُ: إِنَّ
طَلَبَ هٰذَا لَيْسَ مِنْ زَادِ الْآخِرَةِ.
Sufyan Ats-Tsauri, yang merupakan imam dalam ilmu lahiriah,
berkata, “Mencari ilmu semacam ini bukan termasuk bekal akhirat.”
كَيْفَ
وَقَدِ اتَّفَقُوا عَلَى أَنَّ الشَّرَفَ فِي الْعِلْمِ الْعَمَلُ بِهِ؟
Bagaimana mungkin tidak demikian, padahal mereka sepakat
bahwa kemuliaan ilmu terletak pada pengamalannya?
فَكَيْفَ
يُظَنُّ أَنَّهُ عِلْمُ الظِّهَارِ وَاللِّعَانِ وَالسَّلَمِ وَالْإِجَارَةِ
وَالصَّرْفِ؟
Lalu bagaimana mungkin disangka bahwa ilmu yang paling mulia
itu adalah ilmu tentang zhihar, li‘an, salam, ijarah, dan sharf?
وَمَنْ
تَعَلَّمَ هٰذِهِ الْأُمُورَ لِيَتَقَرَّبَ بِهَا إِلَى اللَّهِ تَعَالَى فَهُوَ
مَجْنُونٌ.
Barang siapa mempelajari perkara-perkara ini untuk
mendekatkan diri kepada Allah Ta‘ala, maka ia adalah orang yang tidak memahami
hakikat.
وَإِنَّمَا
الْعَمَلُ بِالْقَلْبِ وَالْجَوَارِحِ فِي الطَّاعَاتِ، وَالشَّرَفُ هُوَ تِلْكَ
الْأَعْمَالُ.
Sesungguhnya amal yang utama adalah amal hati dan anggota
badan dalam ketaatan, dan kemuliaan itu terletak pada amal-amal tersebut.
فَإِنْ
قُلْتَ: لِمَ سَوَّيْتَ بَيْنَ الْفِقْهِ وَالطِّبِّ، إِذِ الطِّبُّ أَيْضًا
يَتَعَلَّقُ بِالدُّنْيَا وَهُوَ صِحَّةُ الْجَسَدِ، وَذٰلِكَ يَتَعَلَّقُ بِهِ
أَيْضًا صَلَاحُ الدِّينِ، وَهٰذِهِ التَّسْوِيَةُ تُخَالِفُ إِجْمَاعَ
الْمُسْلِمِينَ؟
Jika engkau berkata, “Mengapa engkau menyamakan fikih dengan
kedokteran, padahal kedokteran juga berkaitan dengan dunia, yaitu kesehatan
tubuh, dan kesehatan tubuh itu juga berkaitan dengan baiknya agama? Lagi pula,
penyamaan ini bertentangan dengan ijmak kaum muslimin.”
فَاعْلَمْ
أَنَّ التَّسْوِيَةَ غَيْرُ لَازِمَةٍ، بَلْ بَيْنَهُمَا فَرْقٌ، وَأَنَّ
الْفِقْهَ أَشْرَفُ مِنْهُ مِنْ ثَلَاثَةِ أَوْجُهٍ.
Maka ketahuilah bahwa penyamaan itu tidak mutlak. Bahkan,
antara keduanya ada perbedaan, dan fikih lebih mulia daripada kedokteran dari
tiga sisi.
أَحَدُهَا:
أَنَّهُ عِلْمٌ شَرْعِيٌّ، إِذْ هُوَ مُسْتَفَادٌ مِنَ النُّبُوَّةِ، بِخِلَافِ
الطِّبِّ فَإِنَّهُ لَيْسَ مِنْ عِلْمِ الشَّرْعِ.
Pertama, fikih adalah ilmu syar‘i, karena ia diambil dari
kenabian, berbeda dengan kedokteran yang bukan termasuk ilmu syariat.
وَالثَّانِي:
أَنَّهُ لَا يَسْتَغْنِي عَنْهُ أَحَدٌ مِنْ سَالِكِي طَرِيقِ الْآخِرَةِ
أَلْبَتَّةَ، لَا الصَّحِيحُ وَلَا الْمَرِيضُ.
Kedua, tidak ada seorang pun yang menempuh jalan akhirat
yang dapat meninggalkannya, baik orang sehat maupun orang sakit.
وَأَمَّا
الطِّبُّ فَلَا يَحْتَاجُ إِلَيْهِ إِلَّا الْمَرْضَى، وَهُمُ الْأَقَلُّونَ.
Adapun kedokteran, ia hanya dibutuhkan oleh orang-orang
sakit, dan mereka adalah kelompok yang lebih sedikit.
وَالثَّالِثُ:
أَنَّ عِلْمَ الْفِقْهِ مُجَاوِرٌ لِعِلْمِ طَرِيقِ الْآخِرَةِ، لِأَنَّهُ نَظَرٌ
فِي أَعْمَالِ الْجَوَارِحِ، وَمَصْدَرُ أَعْمَالِ الْجَوَارِحِ وَمَنْشَؤُهَا
صِفَاتُ الْقُلُوبِ.
Ketiga, ilmu fikih berdekatan dengan ilmu jalan akhirat,
karena ia memandang amalan-amalan anggota badan, sedangkan sumber dan asal
amalan anggota badan adalah sifat-sifat hati.
فَالْمَحْمُودُ
مِنَ الْأَعْمَالِ يَصْدُرُ عَنِ الْأَخْلَاقِ الْمَحْمُودَةِ الْمُنْجِيَةِ فِي
الْآخِرَةِ، وَالْمَذْمُومُ يَصْدُرُ مِنَ الْمَذْمُومِ.
Amal yang terpuji lahir dari akhlak yang terpuji yang
menyelamatkan di akhirat, sedangkan amal yang tercela lahir dari akhlak yang
tercela.
وَلَيْسَ
يَخْفَى اتِّصَالُ الْجَوَارِحِ بِالْقَلْبِ.
Tidaklah samar hubungan anggota badan dengan hati.
وَأَمَّا
الصِّحَّةُ وَالْمَرَضُ فَمَنْشَؤُهُمَا صَفَاءٌ فِي الْمِزَاجِ وَالْأَخْلَاطِ،
وَذٰلِكَ مِنْ أَوْصَافِ الْبَدَنِ لَا مِنْ أَوْصَافِ الْقَلْبِ.
Adapun sehat dan sakit, asalnya adalah keseimbangan pada
tabiat dan cairan tubuh, dan itu termasuk sifat badan, bukan sifat hati.
فَمَهْمَا
أُضِيفَ الْفِقْهُ إِلَى الطِّبِّ ظَهَرَ شَرَفُهُ، وَإِذَا أُضِيفَ عِلْمُ
طَرِيقِ الْآخِرَةِ إِلَى الْفِقْهِ ظَهَرَ أَيْضًا شَرَفُ عِلْمِ طَرِيقِ
الْآخِرَةِ.
Karena itu, apabila fikih dibandingkan dengan kedokteran,
tampaklah kemuliaan fikih. Dan apabila ilmu jalan akhirat dibandingkan dengan
fikih, tampak pula kemuliaan ilmu jalan akhirat.
فَإِنْ
قُلْتَ: فَصِّلْ لِي عِلْمَ طَرِيقِ الْآخِرَةِ تَفْصِيلًا يُشِيرُ إِلَى
تَرَاجِمِهِ، وَإِنْ لَمْ يُمْكِنِ اسْتِقْصَاءُ تَفَاصِيلِهِ.
Jika engkau berkata, “Jelaskanlah kepadaku ilmu jalan
akhirat secara terperinci yang menunjukkan judul-judul pokoknya, meskipun tidak
mungkin merinci seluruh detailnya.”
فَاعْلَمْ
أَنَّهُ قِسْمَانِ: عِلْمُ مُكَاشَفَةٍ وَعِلْمُ مُعَامَلَةٍ.
Maka ketahuilah bahwa ilmu jalan akhirat itu ada dua macam:
ilmu mukasyafah dan ilmu muamalah.