Penjelasan Tentang Ilmu yang Merupakan Fardu ‘Ain.

 اَلْبَابُ الثَّانِي فِي الْعِلْمِ الْمَحْمُودِ وَالْمَذْمُومِ وَأَقْسَامِهِمَا وَأَحْكَامِهِمَا.

Bab kedua tentang ilmu yang terpuji dan yang tercela, serta pembagian dan hukum-hukum keduanya.

وَفِيهِ بَيَانُ مَا هُوَ فَرْضُ عَيْنٍ وَمَا هُوَ فَرْضُ كِفَايَةٍ، وَبَيَانُ أَنَّ مَوْقِعَ الْكَلَامِ وَالْفِقْهِ مِنْ عِلْمِ الدِّينِ إِلَى أَيِّ حَدٍّ هُوَ، وَتَفْضِيلُ عِلْمِ الْآخِرَةِ.

Di dalamnya terdapat penjelasan tentang mana ilmu yang merupakan fardu ‘ain dan mana yang merupakan fardu kifayah, penjelasan tentang sampai di mana kedudukan ilmu kalam dan fikih dalam ilmu agama, serta penjelasan tentang keutamaan ilmu akhirat.

بَيَانُ الْعِلْمِ الَّذِي هُوَ فَرْضُ عَيْنٍ.

Penjelasan tentang ilmu yang merupakan fardu ‘ain.

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ.

Rasulullah bersabda, “Menuntut ilmu adalah kewajiban atas setiap muslim.”

وَقَالَ أَيْضًا صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: اطْلُبُوا الْعِلْمَ وَلَوْ بِالصِّينِ.

Dan beliau juga bersabda, “Tuntutlah ilmu walaupun sampai ke negeri Cina.”

وَاخْتَلَفَ النَّاسُ فِي الْعِلْمِ الَّذِي هُوَ فَرْضٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ، فَتَفَرَّقُوا فِيهِ أَكْثَرَ مِنْ عِشْرِينَ فِرْقَةً.

Orang-orang berbeda pendapat tentang ilmu yang wajib atas setiap muslim, sehingga mereka terpecah dalam hal itu menjadi lebih dari dua puluh golongan.

وَلَا نُطِيلُ بِنَقْلِ التَّفْصِيلِ، وَلٰكِنْ حَاصِلُهُ أَنَّ كُلَّ فَرِيقٍ نَزَّلَ الْوُجُوبَ عَلَى الْعِلْمِ الَّذِي هُوَ بِصَدَدِهِ.

Kami tidak akan memperpanjang dengan memindahkan rincian perbedaan itu, tetapi intinya adalah bahwa setiap golongan menetapkan kewajiban itu pada ilmu yang sedang mereka tekuni.

فَقَالَ الْمُتَكَلِّمُونَ: هُوَ عِلْمُ الْكَلَامِ، إِذْ بِهِ يُدْرَكُ التَّوْحِيدُ، وَيُعْلَمُ بِهِ ذَاتُ اللَّهِ سُبْحَانَهُ وَصِفَاتُهُ.

Maka para ahli kalam berkata, “Yang dimaksud adalah ilmu kalam, karena dengannya tauhid dipahami, dan dengan ilmu itu zat Allah Subhanahu wa Ta‘ala serta sifat-sifat-Nya diketahui.”

وَقَالَ الْفُقَهَاءُ: هُوَ عِلْمُ الْفِقْهِ، إِذْ بِهِ تُعْرَفُ الْعِبَادَاتُ وَالْحَلَالُ وَالْحَرَامُ، وَمَا يُحَرَّمُ مِنَ الْمُعَامَلَاتِ وَمَا يَحِلُّ.

Para ahli fikih berkata, “Yang dimaksud adalah ilmu fikih, karena dengannya ibadah, halal dan haram, serta muamalah yang diharamkan dan yang dibolehkan dapat diketahui.”

وَعَنَوْا بِهِ مَا يَحْتَاجُ إِلَيْهِ الْآحَادُ دُونَ الْوَقَائِعِ النَّادِرَةِ.

Yang mereka maksud ialah perkara-perkara yang dibutuhkan oleh individu, bukan kejadian-kejadian langka.

وَقَالَ الْمُفَسِّرُونَ وَالْمُحَدِّثُونَ: هُوَ عِلْمُ الْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ، إِذْ بِهِمَا يُتَوَصَّلُ إِلَى الْعُلُومِ كُلِّهَا.

Para ahli tafsir dan ahli hadis berkata, “Yang dimaksud adalah ilmu Al-Kitab dan As-Sunnah, karena dengan keduanya seluruh ilmu dapat dicapai.”

وَقَالَ الْمُتَصَوِّفَةُ: الْمُرَادُ بِهِ هٰذَا الْعِلْمُ.

Para sufi berkata, “Yang dimaksud adalah ilmu ini,” yaitu ilmu mereka.

فَقَالَ بَعْضُهُمْ: هُوَ عِلْمُ الْعَبْدِ بِحَالِهِ وَمَقَامِهِ مِنَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ.

Sebagian mereka berkata, “Yang dimaksud ialah pengetahuan seorang hamba tentang keadaannya dan kedudukannya di sisi Allah ‘Azza wa Jalla.”

وَقَالَ بَعْضُهُمْ: هُوَ الْعِلْمُ بِالْإِخْلَاصِ وَآفَاتِ النُّفُوسِ وَتَمْيِيزِ لَمَّةِ الْمَلَكِ مِنْ لَمَّةِ الشَّيْطَانِ.

Sebagian yang lain berkata, “Yang dimaksud ialah ilmu tentang ikhlas, penyakit-penyakit jiwa, dan kemampuan membedakan ilham malaikat dari bisikan setan.”

وَقَالَ بَعْضُهُمْ: هُوَ عِلْمُ الْبَاطِنِ، وَذٰلِكَ يَجِبُ عَلَى أَقْوَامٍ مَخْصُوصِينَ هُمْ أَهْلُ ذٰلِكَ، وَصَرَفُوا اللَّفْظَ عَنْ عُمُومِهِ.

Sebagian lagi berkata, “Yang dimaksud ialah ilmu batin.” Menurut mereka, ilmu ini wajib atas kelompok tertentu yang memang menjadi ahlinya, dan mereka memalingkan lafaz hadis itu dari keumumannya.

وَقَالَ أَبُو طَالِبٍ الْمَكِّيُّ: هُوَ الْعِلْمُ بِمَا يَتَضَمَّنُهُ الْحَدِيثُ الَّذِي فِيهِ مَبَانِي الْإِسْلَامِ، وَهُوَ قَوْلُهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: بُنِيَ الْإِسْلَامُ عَلَى خَمْسٍ، شَهَادَةِ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ... إِلَى آخِرِ الْحَدِيثِ.

Abu Thalib Al-Makki berkata, “Yang dimaksud adalah ilmu tentang apa yang terkandung dalam hadis yang menjelaskan dasar-dasar Islam, yaitu sabda Nabi , ‘Islam dibangun di atas lima perkara: persaksian bahwa tidak ada tuhan selain Allah...’ sampai akhir hadis.”

لِأَنَّ الْوَاجِبَ هٰذِهِ الْخَمْسُ، فَيَجِبُ الْعِلْمُ بِكَيْفِيَّةِ الْعَمَلِ فِيهَا وَبِكَيْفِيَّةِ الْوُجُوبِ.

Karena yang wajib ialah lima perkara tersebut, maka wajib pula mengetahui cara mengamalkannya dan cara kewajibannya.

وَالَّذِي يَنْبَغِي أَنْ يُقْطَعَ بِهِ الْمُحَصِّلُ وَلَا يَسْتَرِيبَ فِيهِ مَا سَنَذْكُرُهُ.

Pendapat yang seharusnya diyakini secara pasti oleh orang yang teliti dan tidak diragukan adalah apa yang akan kami sebutkan berikut ini.

وَهُوَ أَنَّ الْعِلْمَ كَمَا قَدَّمْنَاهُ فِي خُطْبَةِ الْكِتَابِ يَنْقَسِمُ إِلَى عِلْمِ مُعَامَلَةٍ وَعِلْمِ مُكَاشَفَةٍ.

Yaitu bahwa ilmu, sebagaimana telah kami jelaskan dalam pendahuluan kitab ini, terbagi menjadi ilmu muamalah dan ilmu mukasyafah.

وَلَيْسَ الْمُرَادُ بِهٰذَا الْعِلْمِ إِلَّا عِلْمَ الْمُعَامَلَةِ.

Dan yang dimaksud dalam pembahasan ini hanyalah ilmu muamalah.

وَالْمُعَامَلَةُ الَّتِي كُلِّفَ الْعَبْدُ الْعَاقِلُ الْبَالِغُ الْعَمَلَ بِهَا ثَلَاثَةٌ: اعْتِقَادٌ وَفِعْلٌ وَتَرْكٌ.

Muamalah yang dibebankan kepada seorang hamba yang berakal dan balig untuk diamalkan ada tiga: keyakinan, perbuatan, dan meninggalkan.

فَإِذَا بَلَغَ الرَّجُلُ الْعَاقِلُ بِالِاحْتِلَامِ أَوِ السِّنِّ ضُحْوَةَ نَهَارٍ مَثَلًا، فَأَوَّلُ وَاجِبٍ عَلَيْهِ تَعَلُّمُ كَلِمَتَيِ الشَّهَادَةِ وَفَهْمُ مَعْنَاهُمَا، وَهُوَ قَوْلُ: لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ، مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ.

Apabila seorang laki-laki yang berakal menjadi balig karena mimpi basah atau karena usia, misalnya pada waktu dhuha, maka kewajiban pertama atasnya adalah mempelajari dua kalimat syahadat dan memahami maknanya, yaitu ucapan: “Lā ilāha illallāh, Muḥammadur Rasūlullāh.”

وَلَيْسَ يَجِبُ عَلَيْهِ أَنْ يُحَصِّلَ كَشْفَ ذٰلِكَ لِنَفْسِهِ بِالنَّظَرِ وَالْبَحْثِ وَتَحْرِيرِ الْأَدِلَّةِ.

Ia tidak wajib memperoleh pemahaman mendalam tentang itu bagi dirinya melalui penelaahan, penelitian, dan penyusunan dalil-dalil.

بَلْ يَكْفِيهِ أَنْ يُصَدِّقَ بِهِ وَيَعْتَقِدَهُ جَزْمًا مِنْ غَيْرِ اخْتِلَاجِ رَيْبٍ وَاضْطِرَابِ نَفْسٍ.

Cukuplah baginya untuk membenarkannya dan meyakininya dengan pasti tanpa keraguan dan kegoncangan jiwa.

وَذٰلِكَ قَدْ يَحْصُلُ بِمُجَرَّدِ التَّقْلِيدِ وَالسَّمَاعِ مِنْ غَيْرِ بَحْثٍ وَلَا بُرْهَانٍ.

Hal itu dapat diperoleh hanya dengan taklid dan mendengar, tanpa penelitian dan tanpa pembuktian rasional.

إِذِ اكْتَفَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ أَجْلَافِ الْعَرَبِ بِالتَّصْدِيقِ وَالْإِقْرَارِ مِنْ غَيْرِ تَعَلُّمِ دَلِيلٍ.

Sebab Rasulullah telah mencukupkan bagi orang-orang Arab pedalaman yang kasar hanya dengan pembenaran dan pengakuan, tanpa mempelajari dalil.

فَإِذَا فَعَلَ ذٰلِكَ فَقَدْ أَدَّى وَاجِبَ الْوَقْتِ.

Apabila ia telah melakukan itu, maka ia telah menunaikan kewajiban pada saat itu.

وَكَانَ الْعِلْمُ الَّذِي هُوَ فَرْضُ عَيْنٍ عَلَيْهِ فِي الْوَقْتِ تَعَلُّمَ الْكَلِمَتَيْنِ وَفَهْمَهُمَا.

Dan ilmu yang merupakan fardu ‘ain baginya pada waktu itu ialah mempelajari dua kalimat tersebut dan memahaminya.

وَلَيْسَ يَلْزَمُهُ أَمْرٌ وَرَاءَ هٰذَا فِي الْوَقْتِ.

Pada saat itu, tidak ada kewajiban lain atasnya selain itu.

بِدَلِيلِ أَنَّهُ لَوْ مَاتَ عَقِيبَ ذٰلِكَ مَاتَ مُطِيعًا لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ غَيْرَ عَاصٍ لَهُ.

Dalilnya, jika ia meninggal segera setelah itu, maka ia meninggal dalam keadaan taat kepada Allah ‘Azza wa Jalla, bukan dalam keadaan durhaka kepada-Nya.

وَإِنَّمَا يَجِبُ غَيْرُ ذٰلِكَ بِعَوَارِضَ تَعْرِضُ، وَلَيْسَ ذٰلِكَ ضَرُورِيًّا فِي حَقِّ كُلِّ شَخْصٍ، بَلْ يَتَصَوَّرُ الِانْفِكَاكُ.

Kewajiban-kewajiban selain itu hanya muncul karena sebab-sebab baru yang datang. Dan hal itu tidak mesti berlaku bagi setiap orang, bahkan mungkin saja tidak terjadi.

وَتِلْكَ الْعَوَارِضُ إِمَّا أَنْ تَكُونَ فِي الْفِعْلِ، وَإِمَّا فِي التَّرْكِ، وَإِمَّا فِي الِاعْتِقَادِ.

Sebab-sebab baru itu bisa terjadi dalam bentuk perbuatan, atau dalam bentuk meninggalkan sesuatu, atau dalam bentuk keyakinan.

أَمَّا الْفِعْلُ فَبِأَنْ يَعِيشَ مِنْ ضُحْوَةِ نَهَارِهِ إِلَى وَقْتِ الظُّهْرِ، فَيَتَجَدَّدُ عَلَيْهِ بِدُخُولِ وَقْتِ الظُّهْرِ تَعَلُّمُ الطَّهَارَةِ وَالصَّلَاةِ.

Adapun yang berkaitan dengan perbuatan, misalnya seseorang hidup dari waktu dhuha hingga waktu zuhur, maka dengan masuknya waktu zuhur wajib atasnya mempelajari bersuci dan salat.

فَإِنْ كَانَ صَحِيحًا، وَكَانَ بِحَيْثُ لَوْ صَبَرَ إِلَى وَقْتِ زَوَالِ الشَّمْسِ لَمْ يَتَمَكَّنْ مِنْ تَمَامِ التَّعَلُّمِ وَالْعَمَلِ فِي الْوَقْتِ، بَلْ يَخْرُجُ الْوَقْتُ لَوِ اشْتَغَلَ بِالتَّعَلُّمِ، فَلَا يَبْعُدُ أَنْ يُقَالَ: الظَّاهِرُ بَقَاؤُهُ، فَيَجِبُ عَلَيْهِ تَقْدِيمُ التَّعَلُّمِ عَلَى الْوَقْتِ.

Jika ia sehat dan keadaannya demikian sehingga apabila ia menunggu sampai matahari tergelincir, ia tidak akan sempat menyelesaikan belajar dan beramal dalam waktunya, bahkan waktu akan habis jika ia baru belajar saat itu, maka tidak jauh kemungkinan untuk dikatakan bahwa secara lahiriah ia diperkirakan tetap hidup, sehingga wajib baginya mendahulukan belajar sebelum waktu masuk.

وَيُحْتَمَلُ أَنْ يُقَالَ: وُجُوبُ الْعِلْمِ الَّذِي هُوَ شَرْطُ الْعَمَلِ بَعْدَ وُجُوبِ الْعَمَلِ، فَلَا يَجِبُ قَبْلَ الزَّوَالِ.

Dan mungkin pula dikatakan bahwa kewajiban mempelajari ilmu yang menjadi syarat amal itu datang setelah kewajiban amal itu sendiri datang, sehingga ia tidak wajib sebelum tergelincir matahari.

وَهٰكَذَا فِي بَقِيَّةِ الصَّلَوَاتِ.

Demikian pula pada salat-salat yang lain.

فَإِنْ عَاشَ إِلَى رَمَضَانَ تَجَدَّدَ بِسَبَبِهِ وُجُوبُ تَعَلُّمِ الصَّوْمِ، وَهُوَ أَنَّ وَقْتَهُ مِنَ الصُّبْحِ إِلَى غُرُوبِ الشَّمْسِ، وَأَنَّ الْوَاجِبَ فِيهِ النِّيَّةُ وَالْإِمْسَاكُ عَنِ الْأَكْلِ وَالشُّرْبِ وَالْوِقَاعِ، وَأَنَّ ذٰلِكَ يَتَمَادَى إِلَى رُؤْيَةِ الْهِلَالِ أَوْ شَاهِدَيْنِ.

Apabila ia hidup sampai Ramadan, maka karena itu wajib baginya mempelajari puasa, yaitu bahwa waktunya dari terbit fajar sampai terbenam matahari, dan bahwa yang wajib di dalamnya adalah niat serta menahan diri dari makan, minum, dan hubungan badan, dan bahwa hal itu berlangsung sampai terlihat hilal atau ada dua saksi.

فَإِنْ تَجَدَّدَ لَهُ مَالٌ، أَوْ كَانَ لَهُ مَالٌ عِنْدَ بُلُوغِهِ، لَزِمَهُ تَعَلُّمُ مَا يَجِبُ عَلَيْهِ مِنَ الزَّكَاةِ.

Jika ia memiliki harta baru, atau memang telah memiliki harta ketika balig, maka wajib baginya mempelajari apa yang wajib atasnya dalam zakat.

وَلٰكِنْ لَا يَلْزَمُهُ فِي الْحَالِ، إِنَّمَا يَلْزَمُهُ عِنْدَ تَمَامِ الْحَوْلِ مِنْ وَقْتِ الْإِسْلَامِ.

Namun hal itu tidak wajib baginya saat itu juga, melainkan wajib ketika genap satu tahun sejak ia masuk Islam.

فَإِنْ لَمْ يَمْلِكْ إِلَّا الْإِبِلَ لَمْ يَلْزَمْهُ إِلَّا تَعَلُّمُ زَكَاةِ الْإِبِلِ، وَكَذٰلِكَ فِي سَائِرِ الْأَصْنَافِ.

Jika ia tidak memiliki harta selain unta, maka ia hanya wajib mempelajari zakat unta. Demikian pula pada jenis-jenis harta lainnya.

فَإِذَا دَخَلَ فِي أَشْهُرِ الْحَجِّ لَمْ يَلْزَمْهُ الْمُبَادَرَةُ إِلَى عِلْمِ الْحَجِّ، مَعَ أَنَّ فِعْلَهُ عَلَى التَّرَاخِي، فَلَا يَكُونُ تَعَلُّمُهُ عَلَى الْفَوْرِ.

Apabila ia telah memasuki bulan-bulan haji, maka tidak wajib baginya segera mempelajari ilmu haji, karena pelaksanaannya sendiri bersifat tidak harus segera, sehingga mempelajarinya pun tidak wajib seketika.

وَلٰكِنْ يَنْبَغِي لِعُلَمَاءِ الْإِسْلَامِ أَنْ يُنَبِّهُوهُ عَلَى أَنَّ الْحَجَّ فَرْضٌ عَلَى التَّرَاخِي عَلَى كُلِّ مَنْ مَلَكَ الزَّادَ وَالرَّاحِلَةَ إِذَا كَانَ هُوَ مَالِكًا.

Akan tetapi, para ulama Islam seharusnya mengingatkannya bahwa haji itu wajib secara tidak harus segera bagi setiap orang yang memiliki bekal dan kendaraan, apabila ia memang memilikinya.

حَتَّى رُبَّمَا يَرَى الْحَزْمَ لِنَفْسِهِ فِي الْمُبَادَرَةِ.

Dengan demikian, barangkali ia memandang lebih hati-hati bagi dirinya untuk segera melaksanakannya.

فَعِنْدَ ذٰلِكَ إِذَا عَزَمَ عَلَيْهِ لَزِمَهُ تَعَلُّمُ كَيْفِيَّةِ الْحَجِّ.

Maka ketika itu, apabila ia telah bertekad untuk menunaikannya, wajib baginya mempelajari tata cara haji.

وَلَمْ يَلْزَمْهُ إِلَّا تَعَلُّمُ أَرْكَانِهِ وَوَاجِبَاتِهِ دُونَ نَوَافِلِهِ.

Ia tidak wajib mempelajari selain rukun-rukun dan kewajiban-kewajibannya, bukan amalan-amalan sunnahnya.

فَإِنْ فَعَلَ ذٰلِكَ نَفْلًا فَعِلْمُهُ أَيْضًا نَفْلٌ، فَلَا يَكُونُ تَعَلُّمُهُ فَرْضَ عَيْنٍ.

Jika ia mempelajari amalan-amalan sunnah itu, maka ilmunya pun sunnah, sehingga mempelajarinya tidak termasuk fardu ‘ain.

وَفِي تَحْرِيمِ السُّكُوتِ عَنِ التَّنْبِيهِ عَلَى وُجُوبِ أَصْلِ الْحَجِّ فِي الْحَالِ نَظَرٌ يَلِيقُ بِالْفِقْهِ.

Adapun mengenai haramnya diam tanpa memberi peringatan tentang wajibnya pokok haji saat itu, maka dalam hal ini ada pembahasan yang layak dikaji dalam fikih.

وَهٰكَذَا التَّدَرُّجُ فِي عِلْمِ سَائِرِ الْأَفْعَالِ الَّتِي هِيَ فَرْضُ عَيْنٍ.

Demikian pula bertahapnya kewajiban dalam ilmu tentang seluruh amalan lain yang termasuk fardu ‘ain.

وَأَمَّا التُّرُوكُ فَيَجِبُ تَعَلُّمُ عِلْمِ ذٰلِكَ بِحَسَبِ مَا يَتَجَدَّدُ مِنَ الْحَالِ.

Adapun perkara-perkara yang harus ditinggalkan, maka mempelajari ilmunya wajib sesuai dengan keadaan yang terus muncul.

وَذٰلِكَ يَخْتَلِفُ بِحَالِ الشَّخْصِ.

Hal itu berbeda-beda sesuai keadaan masing-masing orang.

إِذْ لَا يَجِبُ عَلَى الْأَبْكَمِ تَعَلُّمُ مَا يُحَرَّمُ مِنَ الْكَلَامِ، وَلَا عَلَى الْأَعْمَى تَعَلُّمُ مَا يُحَرَّمُ مِنَ النَّظَرِ، وَلَا عَلَى الْبَدَوِيِّ تَعَلُّمُ مَا يُحَرَّمُ الْجُلُوسُ فِيهِ مِنَ الْمَسَاكِنِ.

Karena orang bisu tidak wajib mempelajari apa yang haram dari perkataan, orang buta tidak wajib mempelajari apa yang haram dari pandangan, dan orang pedalaman tidak wajib mempelajari apa yang haram diduduki dari rumah-rumah atau tempat tinggal.

فَذٰلِكَ أَيْضًا وَاجِبٌ بِحَسَبِ مَا يَقْتَضِيهِ الْحَالُ.

Maka hal ini pun wajib sesuai dengan tuntutan keadaan.

فَمَا يُعْلَمُ أَنَّهُ يَنْفَكُّ عَنْهُ لَا يَجِبُ تَعَلُّمُهُ، وَمَا هُوَ مُلَابِسٌ لَهُ يَجِبُ تَنْبِيهُهُ عَلَيْهِ.

Sesuatu yang diketahui tidak akan dialaminya tidak wajib dipelajari, sedangkan sesuatu yang sedang ia alami wajib diberi penjelasan kepadanya.

كَمَا لَوْ كَانَ عِنْدَ الْإِسْلَامِ لَابِسًا لِلْحَرِيرِ، أَوْ جَالِسًا فِي الْغَصْبِ، أَوْ نَاظِرًا إِلَى غَيْرِ ذِي مَحْرَمٍ، فَيَجِبُ تَعْرِيفُهُ بِذٰلِكَ.

Misalnya, ketika masuk Islam ia sedang memakai sutra, atau duduk di tempat rampasan, atau memandang orang yang bukan mahram, maka wajib diberi tahu tentang hal itu.

وَمَا لَيْسَ مُلَابِسًا لَهُ، وَلٰكِنَّهُ بِصَدَدِ التَّعَرُّضِ لَهُ عَلَى الْقُرْبِ، كَالْأَكْلِ وَالشُّرْبِ، فَيَجِبُ تَعْلِيمُهُ.

Sedangkan sesuatu yang belum sedang ia alami, namun sangat dekat kemungkinan akan ia hadapi, seperti makan dan minum, maka wajib diajarkan kepadanya.

حَتَّى إِذَا كَانَ فِي بَلَدٍ يُتَعَاطَى فِيهِ شُرْبُ الْخَمْرِ وَأَكْلُ لَحْمِ الْخِنْزِيرِ، فَيَجِبُ تَعْلِيمُهُ ذٰلِكَ وَتَنْبِيهُهُ عَلَيْهِ.

Sehingga jika ia berada di negeri yang biasa terdapat minum khamar dan makan daging babi, maka wajib diajarkan hal itu dan diperingatkan tentangnya.

وَمَا وَجَبَ تَعْلِيمُهُ وَجَبَ عَلَيْهِ تَعَلُّمُهُ.

Apa yang wajib diajarkan kepadanya, maka wajib pula atasnya untuk mempelajarinya.

وَأَمَّا الِاعْتِقَادَاتُ وَأَعْمَالُ الْقُلُوبِ فَيَجِبُ عِلْمُهَا بِحَسَبِ الْخَوَاطِرِ.

Adapun keyakinan-keyakinan dan amalan-amalan hati, maka pengetahuannya wajib sesuai dengan lintasan-lintasan yang muncul.

فَإِنْ خَطَرَ لَهُ شَكٌّ فِي الْمَعَانِي الَّتِي تَدُلُّ عَلَيْهَا كَلِمَتَا الشَّهَادَةِ، فَيَجِبُ عَلَيْهِ تَعَلُّمُ مَا يَتَوَصَّلُ بِهِ إِلَى إِزَالَةِ الشَّكِّ.

Jika timbul padanya keraguan terhadap makna yang ditunjukkan oleh dua kalimat syahadat, maka wajib baginya mempelajari apa yang dapat menghilangkan keraguan itu.

فَإِنْ لَمْ يَخْطُرْ لَهُ ذٰلِكَ، وَمَاتَ قَبْلَ أَنْ يَعْتَقِدَ أَنَّ كَلَامَ اللَّهِ سُبْحَانَهُ قَدِيمٌ، وَأَنَّهُ مَرْئِيٌّ، وَأَنَّهُ لَيْسَ مَحَلًّا لِلْحَوَادِثِ، إِلَى غَيْرِ ذٰلِكَ مِمَّا يُذْكَرُ فِي الْمُعْتَقَدَاتِ، فَقَدْ مَاتَ عَلَى الْإِسْلَامِ إِجْمَاعًا.

Jika hal itu tidak pernah terlintas padanya, lalu ia meninggal sebelum meyakini bahwa kalam Allah Subhanahu wa Ta‘ala itu qadim, bahwa Allah dapat dilihat, dan bahwa Dia bukan tempat bagi hal-hal yang baru, serta perkara-perkara lain yang disebutkan dalam pembahasan akidah, maka ia meninggal dalam keadaan Islam menurut ijmak.

وَلٰكِنْ هٰذِهِ الْخَوَاطِرَ الْمُوجِبَةَ لِلِاعْتِقَادَاتِ بَعْضُهَا يَخْطُرُ بِالطَّبْعِ، وَبَعْضُهَا يَخْطُرُ بِالسَّمَاعِ مِنْ أَهْلِ الْبَلَدِ.

Akan tetapi, lintasan-lintasan yang menuntut pembahasan keyakinan ini, sebagiannya muncul secara alami, dan sebagiannya muncul karena mendengar dari penduduk negeri.

فَإِنْ كَانَ فِي بَلَدٍ شَاعَ فِيهِ الْكَلَامُ، وَتَنَاطَقَ النَّاسُ بِالْبِدَعِ، فَيَنْبَغِي أَنْ يُصَانَ فِي أَوَّلِ بُلُوغِهِ عَنْهَا بِتَلْقِينِ الْحَقِّ.

Jika ia berada di negeri yang di sana pembicaraan teologis tersebar dan orang-orang membicarakan bid‘ah, maka sejak awal balig ia harus dijaga dari hal itu dengan cara diajari kebenaran.

فَإِنَّهُ لَوْ أُلْقِيَ إِلَيْهِ الْبَاطِلُ لَوَجَبَتْ إِزَالَتُهُ عَنْ قَلْبِهِ، وَرُبَّمَا عَسُرَ ذٰلِكَ.

Sebab jika kebatilan telah lebih dahulu ditanamkan kepadanya, maka wajib menghilangkannya dari hatinya, dan hal itu terkadang sulit.

كَمَا أَنَّهُ لَوْ كَانَ هٰذَا الْمُسْلِمُ تَاجِرًا وَقَدْ شَاعَ فِي الْبَلَدِ مُعَامَلَةُ الرِّبَا، وَجَبَ عَلَيْهِ تَعَلُّمُ الْحَذَرِ مِنَ الرِّبَا.

Sebagaimana jika muslim ini seorang pedagang, sementara di negerinya transaksi riba telah tersebar, maka wajib baginya mempelajari cara menghindari riba.

وَهٰذَا هُوَ الْحَقُّ فِي الْعِلْمِ الَّذِي هُوَ فَرْضُ عَيْنٍ، وَمَعْنَاهُ الْعِلْمُ بِكَيْفِيَّةِ الْعَمَلِ الْوَاجِبِ.

Inilah pendapat yang benar tentang ilmu yang merupakan fardu ‘ain, yaitu ilmu tentang tata cara melaksanakan amal yang wajib.

فَمَنْ عَلِمَ الْعِلْمَ الْوَاجِبَ وَوَقْتَ وُجُوبِهِ فَقَدْ عَلِمَ الْعِلْمَ الَّذِي هُوَ فَرْضُ عَيْنٍ.

Maka siapa yang mengetahui ilmu yang wajib dan waktu kewajibannya, berarti ia telah mengetahui ilmu yang merupakan fardu ‘ain.

وَمَا ذَكَرَهُ الصُّوفِيَّةُ مِنْ فَهْمِ خَوَاطِرِ الْعَدُوِّ وَلَمَّةِ الْمَلَكِ حَقٌّ أَيْضًا، وَلٰكِنْ فِي حَقِّ مَنْ يَتَصَدَّى لَهُ.

Apa yang disebutkan oleh para sufi tentang memahami bisikan musuh, yaitu setan, dan ilham malaikat, juga benar, tetapi hal itu berlaku bagi orang yang memang sedang menghadapinya.

فَإِذَا كَانَ الْغَالِبُ أَنَّ الْإِنْسَانَ لَا يَنْفَكُّ عَنْ دَوَاعِي الشَّرِّ وَالرِّيَاءِ وَالْحَسَدِ، فَيَلْزَمُهُ أَنْ يَتَعَلَّمَ مِنْ عِلْمِ رُبْعِ الْمُهْلِكَاتِ مَا يَرَى نَفْسَهُ مُحْتَاجًا إِلَيْهِ.

Jika yang umum terjadi adalah bahwa manusia tidak lepas dari dorongan kepada keburukan, riya, dan hasad, maka wajib baginya mempelajari dari ilmu bagian Rub‘ al-Muhlikat apa yang ia lihat dirinya memerlukannya.

وَكَيْفَ لَا يَجِبُ عَلَيْهِ، وَقَدْ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ثَلَاثٌ مُهْلِكَاتٌ: شُحٌّ مُطَاعٌ، وَهَوًى مُتَّبَعٌ، وَإِعْجَابُ الْمَرْءِ بِنَفْسِهِ.

Bagaimana mungkin hal itu tidak wajib atasnya, padahal Rasulullah telah bersabda, “Ada tiga perkara yang membinasakan: kikir yang ditaati, hawa nafsu yang diikuti, dan kekaguman seseorang terhadap dirinya sendiri.”

وَلَا يَنْفَكُّ عَنْهَا بَشَرٌ.

Tidak ada manusia yang benar-benar terbebas dari perkara-perkara itu.

وَبَقِيَّةُ مَا سَنَذْكُرُهُ مِنْ مَذْمُومَاتِ أَحْوَالِ الْقَلْبِ كَالْكِبْرِ وَالْعُجْبِ وَأَخَوَاتِهَا تَتْبَعُ هٰذِهِ الثَّلَاثَ الْمُهْلِكَاتِ.

Dan sisa perkara yang akan kami sebutkan berupa keadaan hati yang tercela seperti sombong, ujub, dan yang semisalnya, semuanya mengikuti tiga perkara yang membinasakan ini.

وَإِزَالَتُهَا فَرْضُ عَيْنٍ.

Menghilangkannya adalah fardu ‘ain.

وَلَا يُمْكِنُ إِزَالَتُهَا إِلَّا بِمَعْرِفَةِ حُدُودِهَا، وَمَعْرِفَةِ أَسْبَابِهَا، وَمَعْرِفَةِ عَلَامَاتِهَا، وَمَعْرِفَةِ عِلَاجِهَا.

Dan tidak mungkin menghilangkannya kecuali dengan mengetahui batas-batasnya, sebab-sebabnya, tanda-tandanya, dan cara pengobatannya.

فَإِنَّ مَنْ لَا يَعْرِفُ الشَّرَّ يَقَعُ فِيهِ.

Karena orang yang tidak mengetahui keburukan akan jatuh ke dalamnya.

وَالْعِلَاجُ هُوَ مُقَابَلَةُ السَّبَبِ بِضِدِّهِ.

Pengobatan itu ialah menghadapkan sebab kepada lawannya.

وَكَيْفَ يُمْكِنُ دُونَ مَعْرِفَةِ السَّبَبِ وَالْمُسَبَّبِ؟

Bagaimana hal itu mungkin tanpa mengetahui sebab dan akibatnya?

وَأَكْثَرُ مَا ذَكَرْنَاهُ فِي رُبْعِ الْمُهْلِكَاتِ مِنْ فُرُوضِ الْأَعْيَانِ، وَقَدْ تَرَكَهُ النَّاسُ كَافَّةً اشْتِغَالًا بِمَا لَا يَعْنِي.

Sebagian besar yang kami sebutkan dalam seperempat bahasan tentang perkara-perkara yang membinasakan termasuk fardu ‘ain, tetapi semua orang telah meninggalkannya karena sibuk dengan hal-hal yang tidak penting.

وَمِمَّا لَا يَنْبَغِي أَنْ يُبَادَرَ فِي إِلْقَائِهِ إِلَيْهِ، إِذَا لَمْ يَكُنْ قَدِ انْتَقَلَ عَنْ مِلَّةٍ إِلَى مِلَّةٍ أُخْرَى، الْإِيمَانُ بِالْجَنَّةِ وَالنَّارِ وَالْحَشْرِ وَالنَّشْرِ، حَتَّى يُؤْمِنَ بِهِ وَيُصَدِّقَ.

Di antara perkara yang tidak perlu segera disampaikan kepadanya, jika ia tidak baru berpindah dari satu agama ke agama lain, adalah keimanan kepada surga, neraka, kebangkitan, dan pengumpulan manusia, hingga ia benar-benar beriman dan membenarkannya.

وَهُوَ مِنْ تَتِمَّةِ كَلِمَتَيِ الشَّهَادَةِ، فَإِنَّهُ بَعْدَ التَّصْدِيقِ بِكَوْنِهِ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ رَسُولًا يَنْبَغِي أَنْ يَفْهَمَ الرِّسَالَةَ الَّتِي هُوَ مُبَلِّغُهَا.

Hal itu termasuk penyempurna dua kalimat syahadat, karena setelah membenarkan bahwa beliau ‘alaihis-shalatu was-salam adalah seorang rasul, seseorang seharusnya memahami risalah yang beliau sampaikan.

وَهِيَ أَنَّ مَنْ أَطَاعَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَلَهُ الْجَنَّةُ، وَمَنْ عَصَاهُمَا فَلَهُ النَّارُ.

Yaitu bahwa siapa yang menaati Allah dan Rasul-Nya, maka baginya surga, dan siapa yang mendurhakai keduanya, maka baginya neraka.

فَإِذَا انْتَبَهْتَ لِهٰذَا التَّدَرُّجِ عَلِمْتَ أَنَّ الْمَذْهَبَ الْحَقَّ هُوَ هٰذَا.

Jika engkau memperhatikan tahapan ini, maka engkau akan mengetahui bahwa pendapat yang benar adalah ini.

وَتَحَقَّقْتَ أَنَّ كُلَّ عَبْدٍ هُوَ فِي مَجَارِي أَحْوَالِهِ فِي يَوْمِهِ وَلَيْلَتِهِ لَا يَخْلُو مِنْ وَقَائِعَ فِي عِبَادَتِهِ وَمُعَامَلَاتِهِ عَنْ تَجَدُّدِ لَوَازِمَ عَلَيْهِ.

Dan engkau akan yakin bahwa setiap hamba, dalam perjalanan keadaannya siang dan malam, tidak lepas dalam ibadah dan muamalahnya dari munculnya kewajiban-kewajiban baru atas dirinya.

فَيَلْزَمُهُ السُّؤَالُ عَنْ كُلِّ مَا يَقَعُ لَهُ مِنَ النَّوَادِرِ.

Karena itu, ia wajib bertanya tentang setiap kejadian yang menimpanya, meskipun jarang terjadi.

وَيَلْزَمُهُ الْمُبَادَرَةُ إِلَى تَعَلُّمِ مَا يُتَوَقَّعُ وُقُوعُهُ عَلَى الْقُرْبِ غَالِبًا.

Dan ia wajib segera mempelajari apa yang biasanya diperkirakan akan segera terjadi dalam waktu dekat.

فَإِذَا تَبَيَّنَ أَنَّهُ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ إِنَّمَا أَرَادَ بِالْعِلْمِ الْمُعَرَّفِ بِالْأَلِفِ وَاللَّامِ فِي قَوْلِهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ، عِلْمَ الْعَمَلِ الَّذِي هُوَ مَشْهُورُ الْوُجُوبِ عَلَى الْمُسْلِمِينَ لَا غَيْرُ، فَقَدِ اتَّضَحَ وَجْهُ التَّدَرُّجِ وَوَقْتُ وُجُوبِهِ.

Maka jika telah jelas bahwa yang dimaksud oleh beliau dengan kata al-‘ilm yang menggunakan alif-lam dalam sabdanya, “Menuntut ilmu adalah kewajiban atas setiap muslim,” ialah ilmu amal yang memang terkenal kewajibannya atas kaum muslimin dan bukan selain itu, maka jelaslah cara bertahapnya dan waktu kewajibannya.

وَاللَّهُ أَعْلَمُ.

Dan Allah lebih mengetahui.