Postingan

Menampilkan postingan dengan label VIIII. Adab Membaca Al Qur'an

Memahami Al-Qur’an Dan Menafsirkannya Dengan Pendapat Sendiri Tanpa Riwayat

اَلْبَابُ الرَّابِعُ فِي فَهْمِ الْقُرْآنِ وَتَفْسِيرِهِ بِالرَّأْيِ مِنْ غَيْرِ نَقْلٍ . Bab keempat tentang memahami Al-Qur’an dan menafsirkannya dengan pendapat sendiri tanpa riwayat. لَعَلَّكَ تَقُولُ: عَظَّمْتَ الْأَمْرَ فِيمَا سَبَقَ فِي فَهْمِ أَسْرَارِ الْقُرْآنِ، وَمَا يَنْكَشِفُ لِأَرْبَابِ الْقُلُوبِ الزَّكِيَّةِ مِنْ مَعَانِيهِ . Barangkali engkau berkata: “Engkau telah mengagungkan urusan sebelumnya tentang memahami rahasia-rahasia Al-Qur’an dan makna-makna yang tersingkap bagi para pemilik hati yang bersih.” فَكَيْفَ يُسْتَحَبُّ ذٰلِكَ، وَقَدْ قَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَنْ فَسَّرَ الْقُرْآنَ بِرَأْيِهِ فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ؟ Lalu bagaimana itu bisa dianjurkan, padahal Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda: “Barang siapa menafsirkan Al-Qur’an dengan pendapatnya sendiri, maka hendaklah ia menyiapkan tempat duduknya di neraka”? وَعَنْ هٰذَا شَنَّعَ أَهْلُ الْعِلْمِ بِظَاهِرِ التَّفْسِيرِ عَلَى أَهْلِ التَّصَوُّفِ مِنَ الْمُقَص...