Memahami Al-Qur’an Dan Menafsirkannya Dengan Pendapat Sendiri Tanpa Riwayat
اَلْبَابُ الرَّابِعُ فِي فَهْمِ الْقُرْآنِ وَتَفْسِيرِهِ بِالرَّأْيِ مِنْ غَيْرِ نَقْلٍ.
Bab keempat tentang memahami Al-Qur’an dan menafsirkannya
dengan pendapat sendiri tanpa riwayat.
لَعَلَّكَ
تَقُولُ: عَظَّمْتَ الْأَمْرَ فِيمَا سَبَقَ فِي فَهْمِ أَسْرَارِ الْقُرْآنِ،
وَمَا يَنْكَشِفُ لِأَرْبَابِ الْقُلُوبِ الزَّكِيَّةِ مِنْ مَعَانِيهِ.
Barangkali engkau berkata: “Engkau telah mengagungkan urusan
sebelumnya tentang memahami rahasia-rahasia Al-Qur’an dan makna-makna yang
tersingkap bagi para pemilik hati yang bersih.”
فَكَيْفَ
يُسْتَحَبُّ ذٰلِكَ، وَقَدْ قَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَنْ
فَسَّرَ الْقُرْآنَ بِرَأْيِهِ فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ؟
Lalu bagaimana itu bisa dianjurkan, padahal Rasulullah صلى الله عليه
وسلم bersabda: “Barang siapa menafsirkan Al-Qur’an dengan
pendapatnya sendiri, maka hendaklah ia menyiapkan tempat duduknya di neraka”?
وَعَنْ
هٰذَا شَنَّعَ أَهْلُ الْعِلْمِ بِظَاهِرِ التَّفْسِيرِ عَلَى أَهْلِ التَّصَوُّفِ
مِنَ الْمُقَصِّرِينَ الْمَنْسُوبِينَ إِلَى التَّصَوُّفِ، فِي تَأْوِيلِ
كَلِمَاتٍ فِي الْقُرْآنِ عَلَىٰ خِلَافِ مَا نُقِلَ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ
وَسَائِرِ الْمُفَسِّرِينَ، وَذَهَبُوا إِلَىٰ أَنَّهُ كُفْرٌ.
Karena hal inilah para ulama zahir mengecam keras sebagian
kaum sufi yang lalai dan hanya dinisbatkan kepada tasawuf, ketika mereka
menakwilkan kata-kata dalam Al-Qur’an dengan cara yang bertentangan dengan apa
yang dinukil dari Ibnu ‘Abbās dan para mufassir lainnya. Bahkan mereka
berpendapat bahwa hal itu adalah kekafiran.
فَإِنْ
صَحَّ مَا قَالَهُ أَهْلُ التَّفْسِيرِ، فَمَا مَعْنَىٰ فَهْمِ الْقُرْآنِ سِوَى
حِفْظِ تَفْسِيرِهِ؟
Jika benar apa yang dikatakan para ahli tafsir itu, lalu apa
arti memahami Al-Qur’an selain menghafal tafsirnya?
وَإِنْ
لَمْ يَصِحَّ ذٰلِكَ، فَمَا مَعْنَىٰ قَوْلِهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:
مَنْ فَسَّرَ الْقُرْآنَ بِرَأْيِهِ فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ؟
Dan jika itu tidak benar, lalu apa makna sabda beliau صلى الله عليه
وسلم: “Barang siapa menafsirkan Al-Qur’an dengan pendapatnya
sendiri, maka hendaklah ia menyiapkan tempat duduknya di neraka”?
فَاعْلَمْ
أَنَّ مَنْ زَعَمَ أَنْ لَا مَعْنَى لِلْقُرْآنِ إِلَّا مَا تُرْجِمُهُ ظَاهِرُ
التَّفْسِيرِ، فَهُوَ مُخْبِرٌ عَنْ حَدِّ نَفْسِهِ، وَهُوَ مُصِيبٌ فِي
الْإِخْبَارِ عَنْ نَفْسِهِ، وَلٰكِنَّهُ مُخْطِئٌ فِي الْحُكْمِ بِرَدِّ
الْخَلْقِ كَافَّةً إِلَىٰ دَرَجَتِهِ الَّتِي هِيَ حَدُّهُ وَمَحَطُّهُ.
Ketahuilah bahwa orang yang mengira tidak ada makna
Al-Qur’an kecuali yang diterjemahkan oleh tafsir zahir, sesungguhnya ia sedang
mengabarkan batas dirinya sendiri. Ia benar dalam mengabarkan tentang dirinya,
tetapi keliru ketika menghukumi seluruh makhluk agar dikembalikan ke
derajatnya, yaitu batas dan tempat berhentinya sendiri.
بَلِ
الْأَخْبَارُ وَالْآثَارُ تَدُلُّ عَلَىٰ أَنَّ فِي مَعَانِي الْقُرْآنِ
مُتَّسَعًا لِأَرْبَابِ الْفَهْمِ.
Bahkan berita-berita dan atsar-atsar menunjukkan bahwa di
dalam makna-makna Al-Qur’an terdapat keluasan bagi para pemilik pemahaman.
قَالَ
عَلِيٌّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: إِلَّا أَنْ يُؤْتِيَ اللَّهُ عَبْدًا فَهْمًا فِي
الْقُرْآنِ.
‘Ali رضي
الله عنه berkata: “Kecuali jika Allah memberi seorang hamba pemahaman
dalam Al-Qur’an.”
فَإِنْ
لَمْ يَكُنْ سِوَى التَّرْجَمَةِ الْمَنْقُولَةِ، فَمَا ذٰلِكَ الْفَهْمُ؟
Jika tidak ada selain terjemahan yang dinukil itu, lalu apa
arti pemahaman tersebut?
وَقَالَ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنَّ لِلْقُرْآنِ ظَهْرًا وَبَطْنًا وَحَدًّا
وَمَطْلَعًا.
Beliau صلى
الله عليه وسلم bersabda: “Sesungguhnya Al-Qur’an memiliki bagian luar, bagian
dalam, batas, dan tempat terbit.”
وَيُرْوَىٰ
أَيْضًا عَنْ ابْنِ مَسْعُودٍ مَوْقُوفًا عَلَيْهِ، وَهُوَ مِنْ عُلَمَاءِ
التَّفْسِيرِ، فَمَا مَعْنَى الظَّهْرِ وَالْبَطْنِ وَالْحَدِّ وَالْمَطْلَعِ؟
Dan diriwayatkan pula dari Ibnu Mas‘ūd secara mauqūf,
padahal beliau termasuk ulama tafsir. Lalu apa makna bagian luar, bagian dalam,
batas, dan tempat terbit itu?
وَقَالَ
عَلِيٌّ كَرَّمَ اللَّهُ وَجْهَهُ: لَوْ شِئْتُ لَأَوْقَرْتُ سَبْعِينَ بَعِيرًا
مِنْ تَفْسِيرِ فَاتِحَةِ الْكِتَابِ.
‘Ali كرّم
الله وجهه berkata: “Seandainya aku mau, niscaya aku akan memuat tujuh
puluh unta dengan tafsir Surah Al-Fātiḥah.”
فَمَا
مَعْنَاهُ؟ وَتَفْسِيرُ ظَاهِرِهَا فِي غَايَةِ الِاقْتِصَارِ.
Apa maknanya? Padahal tafsir zahirnya sangat ringkas.
وَقَالَ
أَبُو الدَّرْدَاءِ: لَا يَفْقَهُ الرَّجُلُ حَتَّىٰ يَجْعَلَ لِلْقُرْآنِ
وُجُوهًا.
Abu ad-Dardā’ berkata: “Seseorang tidak benar-benar memahami
sampai ia menjadikan Al-Qur’an memiliki berbagai wajah makna.”
وَقَدْ
قَالَ بَعْضُ الْعُلَمَاءِ: لِكُلِّ آيَةٍ سِتُّونَ أَلْفَ فَهْمٍ، وَمَا بَقِيَ
مِنْ فَهْمِهَا أَكْثَرُ.
Sebagian ulama berkata: “Pada setiap ayat ada enam puluh
ribu pemahaman, bahkan yang tersisa dari pemahamannya lebih banyak lagi.”
وَقَالَ
آخَرُونَ: الْقُرْآنُ يَحْوِي سَبْعَةً وَسَبْعِينَ أَلْفَ عِلْمٍ وَمِائَتَي
عِلْمٍ، إِذْ كُلُّ كَلِمَةٍ عِلْمٌ، ثُمَّ يَتَضَاعَفُ ذٰلِكَ أَرْبَعَةَ
أَضْعَافٍ، إِذْ لِكُلِّ كَلِمَةٍ ظَاهِرٌ وَبَاطِنٌ وَحَدٌّ وَمَطْلَعٌ.
Sebagian yang lain berkata: “Al-Qur’an mencakup tujuh puluh
tujuh ribu ilmu dan dua ratus ilmu, karena setiap kata adalah ilmu. Kemudian
itu berlipat empat kali, sebab setiap kata memiliki zahir, batin, batas, dan
tempat terbit.”
وَتَرْدِيدُ
رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمٰنِ
الرَّحِيمِ، عِشْرِينَ مَرَّةً، لَا يَكُونُ إِلَّا لِتَدَبُّرِهِ بَاطِنَ
مَعَانِيهَا.
Pengulangan Rasulullah صلى الله عليه وسلم terhadap bacaan “بِسْمِ اللَّهِ
الرَّحْمٰنِ الرَّحِيمِ” sebanyak dua puluh kali tidak lain
kecuali karena tadabbur beliau terhadap makna-makna batinnya.
وَإِلَّا
فَتَرْجَمَتُهَا وَتَفْسِيرُهَا ظَاهِرٌ لَا يَحْتَاجُ مِثْلُهُ إِلَىٰ تَكْرِيرٍ.
Kalau tidak begitu, terjemahan dan tafsir zahirnya jelas,
dan tidak membutuhkan pengulangan seperti itu.
وَقَالَ
ابْنُ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: مَنْ أَرَادَ عِلْمَ الْأَوَّلِينَ
وَالْآخِرِينَ فَلْيَتَدَبَّرِ الْقُرْآنَ.
Ibnu Mas‘ūd رضي الله عنه berkata: “Barang siapa menginginkan ilmu
orang-orang terdahulu dan orang-orang kemudian, maka hendaklah ia mentadabburi
Al-Qur’an.”
وَذٰلِكَ
لَا يَحْصُلُ بِمُجَرَّدِ تَفْسِيرِ الظَّاهِرِ.
Hal itu tidak akan didapat hanya dengan tafsir zahir semata.
وَبِالْجُمْلَةِ،
فَالْعُلُومُ كُلُّهَا دَاخِلَةٌ فِي أَفْعَالِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ
وَصِفَاتِهِ، وَفِي الْقُرْآنِ شَرْحُ ذَاتِهِ وَأَفْعَالِهِ وَصِفَاتِهِ،
وَهٰذِهِ الْعُلُومُ لَا نِهَايَةَ لَهَا.
Secara umum, seluruh ilmu tercakup dalam perbuatan dan
sifat-sifat Allah عز وجل.
Di dalam Al-Qur’an terdapat penjelasan tentang Dzat-Nya, perbuatan-Nya, dan
sifat-sifat-Nya. Ilmu-ilmu ini tidak ada akhirnya.
وَفِي
الْقُرْآنِ إِشَارَةٌ إِلَىٰ مَجَامِعِهَا.
Dan di dalam Al-Qur’an ada isyarat kepada himpunan-himpunan
ilmu itu.
وَالْمَقَامَاتُ
فِي التَّعَمُّقِ فِي تَفْصِيلِهِ رَاجِعَةٌ إِلَىٰ فَهْمِ الْقُرْآنِ.
Sedangkan kedudukan-kedudukan dalam pendalaman rinciannya
kembali kepada pemahaman Al-Qur’an.
وَمُجَرَّدُ
ظَاهِرِهِ التَّفْسِيرُ لَا يُشِيرُ إِلَىٰ ذٰلِكَ.
Adapun sekadar zahir tafsirnya tidak menunjukkan semua itu.
بَلْ
كُلُّ مَا أَشْكَلَ فِيهِ عَلَى النُّظَّارِ، وَاخْتَلَفَتْ فِيهِ الْخَلَائِقُ
فِي النَّظَرِيَّاتِ وَالْمَعْقُولَاتِ، فَفِي الْقُرْآنِ إِلَيْهِ رُمُوزٌ
وَدَلَالَاتٌ، عَلَيْهَا يَخْتَصُّ أَهْلُ الْفَهْمِ بِدَرْكِهَا.
Bahkan segala sesuatu yang menjadi problem bagi para
peneliti, dan diperselisihkan oleh makhluk dalam soal-soal teoritis dan
rasional, di dalam Al-Qur’an terdapat simbol dan petunjuk kepadanya, dan hanya
ahli pemahaman yang khusus dapat menangkapnya.
فَكَيْفَ
يَفِي بِذٰلِكَ تَرْجَمَةُ ظَاهِرِهِ وَتَفْسِيرُهُ؟
Lalu bagaimana mungkin terjemahan zahir dan tafsirnya saja
cukup untuk hal itu?
وَلِذٰلِكَ
قَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: اقْرَءُوا الْقُرْآنَ وَالْتَمِسُوا
غَرَائِبَهُ.
Karena itulah Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda: “Bacalah
Al-Qur’an dan carilah keajaiban-keajaibannya.”
وَقَالَ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي حَدِيثِ عَلِيٍّ كَرَّمَ اللَّهُ وَجْهَهُ:
وَالَّذِي بَعَثَنِي بِالْحَقِّ نَبِيًّا، لَيَفْتَرِقَنَّ أُمَّتِي عَنْ أَصْلِ
دِينِهَا وَجَمَاعَتِهَا عَلَى اثْنَتَيْنِ وَسَبْعِينَ فِرْقَةً، كُلُّهَا
ضَالَّةٌ مُضِلَّةٌ، يَدْعُونَ إِلَى النَّارِ، فَإِذَا كَانَ ذٰلِكَ فَعَلَيْكُمْ
بِكِتَابِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ، فَإِنَّ فِيهِ نَبَأَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ،
وَنَبَأَ مَا يَأْتِي بَعْدَكُمْ، وَحُكْمَ مَا بَيْنَكُمْ.
Beliau صلى
الله عليه وسلم dalam hadis yang dinisbatkan kepada ‘Ali كرّم الله وجهه bersabda: “Demi Zat
yang mengutusku dengan kebenaran sebagai nabi, sungguh umatku akan terpecah
dari pokok agama dan jamaahnya menjadi tujuh puluh dua golongan, semuanya sesat
lagi menyesatkan, mengajak ke neraka. Jika demikian, maka berpeganglah kalian
pada Kitab Allah عز وجل,
karena di dalamnya ada berita tentang orang-orang sebelum kalian, berita
tentang apa yang akan datang sesudah kalian, dan keputusan tentang apa yang
terjadi di antara kalian.”
مَنْ
خَالَفَهُ مِنَ الْجَبَابِرَةِ قَصَمَهُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ، وَمَنْ ابْتَغَى
الْعِلْمَ فِي غَيْرِهِ أَضَلَّهُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ.
Barang siapa menentangnya dari kalangan para penguasa zalim,
Allah عز وجل
akan mematahkannya. Dan barang siapa mencari ilmu pada selainnya, Allah عز وجل
akan menyesatkannya.
وَهُوَ
حَبْلُ اللَّهِ الْمَتِينُ، وَنُورُهُ الْمُبِينُ، وَشِفَاؤُهُ النَّافِعُ،
وَعِصْمَةٌ لِمَنْ تَمَسَّكَ بِهِ، وَنَجَاةٌ لِمَنْ اتَّبَعَهُ.
Al-Qur’an adalah tali Allah yang kokoh, cahaya-Nya yang
terang, penyembuh-Nya yang bermanfaat, perlindungan bagi orang yang berpegang
kepadanya, dan keselamatan bagi orang yang mengikutinya.
لَا
يَمُوجُ فَيَقُومُ، وَلَا يَزِيغُ فَيَسْتَقِيمُ، وَلَا تَنْقَضِي عَجَائِبُهُ،
وَلَا يَخْلَقُهُ كَثْرَةُ التَّرْدِيدِ.
Ia tidak bergelora lalu berdiri, tidak menyimpang lalu
menjadi lurus, keajaiban-keajaibannya tidak akan habis, dan ia tidak menjadi
usang karena sering diulang-ulang.
اَلْحَدِيثُ.
Itulah hadisnya.
وَفِي
حَدِيثِ حُذَيْفَةَ لَمَّا أَخْبَرَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ بِالِاخْتِلَافِ وَالْفِرْقَةِ بَعْدَهُ قَالَ: فَقُلْتُ: يَا رَسُولَ
اللَّهِ، فَمَاذَا تَأْمُرُنِي إِنْ أَدْرَكْتُ ذٰلِكَ؟
Dalam hadis Hudzaifah, ketika Rasulullah صلى الله عليه وسلم
memberitahunya tentang perbedaan dan perpecahan setelah beliau, Hudzaifah
berkata: “Maka aku bertanya: Wahai Rasulullah, apa yang engkau perintahkan
kepadaku jika aku mengalami hal itu?”
فَقَالَ:
تَعَلَّمْ كِتَابَ اللَّهِ وَاعْمَلْ بِمَا فِيهِ، فَهُوَ الْمَخْرَجُ مِنْ ذٰلِكَ.
Beliau bersabda: “Pelajarilah Kitab Allah dan amalkanlah apa
yang ada di dalamnya, karena itulah jalan keluar dari semua itu.”
قَالَ:
فَأَعَدْتُ عَلَيْهِ ذٰلِكَ ثَلَاثًا، فَقَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
ثَلَاثًا: تَعَلَّمْ كِتَابَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَاعْمَلْ بِمَا فِيهِ،
فَفِيهِ النَّجَاةُ.
Hudzaifah berkata: “Lalu aku mengulang pertanyaan itu
kepadanya tiga kali, dan beliau صلى الله عليه وسلم menjawab tiga kali: ‘Pelajarilah Kitab
Allah عز وجل
dan amalkanlah apa yang ada di dalamnya, karena di dalamnya ada keselamatan.’”
وَقَالَ
عَلِيٌّ كَرَّمَ اللَّهُ وَجْهَهُ: مَنْ فَهِمَ الْقُرْآنَ فَسَّرَ بِهِ جُمَلَ
الْعِلْمِ.
‘Ali كرّم
الله وجهه berkata: “Barang siapa memahami Al-Qur’an, maka ia menafsirkan
dengannya keseluruhan ilmu.”
أَشَارَ
بِهِ إِلَىٰ أَنَّ الْقُرْآنَ يُشِيرُ إِلَىٰ مَجَامِعِ الْعُلُومِ كُلِّهَا.
Beliau memberi isyarat bahwa Al-Qur’an menunjukkan himpunan
seluruh ilmu.
وَقَالَ
ابْنُ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا فِي قَوْلِهِ تَعَالَىٰ: ﴿وَمَنْ يُؤْتَ
الْحِكْمَةَ فَقَدْ أُوتِيَ خَيْرًا كَثِيرًا﴾، يَعْنِي الْفَهْمَ فِي الْقُرْآنِ.
Ibnu ‘Abbās رضي الله عنهما berkata tentang firman Allah Ta‘ālā:
“Barang siapa diberi hikmah, sungguh ia telah diberi kebaikan yang banyak,”
maksudnya ialah pemahaman dalam Al-Qur’an.
وَقَالَ
عَزَّ وَجَلَّ: ﴿فَفَهَّمْنَاهَا سُلَيْمَانَ وَكُلًّا آتَيْنَا حُكْمًا
وَعِلْمًا﴾.
Allah عز وجل
berfirman: “Maka Kami berikan pemahaman tentangnya kepada Sulaiman, dan kepada
masing-masing Kami berikan hukum dan ilmu.”
سَمَّىٰ
مَا آتَاهُمَا عِلْمًا وَحُكْمًا، وَخَصَّ مَا انْفَرَدَ بِهِ سُلَيْمَانُ
بِالتَّفَطُّنِ لَهُ بِاسْمِ الْفَهْمِ، وَجَعَلَهُ مُقَدَّمًا عَلَى الْحُكْمِ
وَالْعِلْمِ.
Allah menamai apa yang Dia berikan kepada keduanya sebagai
ilmu dan hukum. Sedangkan yang khusus diberikan kepada Sulaiman berupa
ketajaman memahaminya dinamai dengan pemahaman, dan dijadikan mendahului hukum
dan ilmu.
فَهٰذِهِ
الْأُمُورُ تَدُلُّ عَلَىٰ أَنَّ فِي فَهْمِ مَعَانِي الْقُرْآنِ مَجَالًا رَحْبًا
وَمُتَّسَعًا بَالِغًا، وَأَنَّ الْمَنْقُولَ مِنْ ظَاهِرِ التَّفْسِيرِ لَيْسَ
مُنْتَهَى الْإِدْرَاكِ فِيهِ.
Hal-hal ini menunjukkan bahwa dalam memahami makna-makna
Al-Qur’an terdapat ruang yang luas dan keluasan yang besar, dan bahwa apa yang
dinukil dari tafsir zahir bukanlah batas akhir pemahaman di dalamnya.
فَأَمَّا
قَوْلُهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَنْ فَسَّرَ الْقُرْآنَ بِرَأْيِهِ،
وَنَهْيُهُ عَنْهُ، وَقَوْلُ أَبِي بَكْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: أَيُّ أَرْضٍ
تُقِلُّنِي وَأَيُّ سَمَاءٍ تُظِلُّنِي إِذَا قُلْتُ فِي الْقُرْآنِ بِرَأْيِي؟
إِلَىٰ غَيْرِ ذٰلِكَ مِمَّا وَرَدَ فِي الْأَخْبَارِ وَالْآثَارِ فِي النَّهْيِ
عَنْ تَفْسِيرِ الْقُرْآنِ بِالرَّأْيِ، فَلَا يَخْلُو إِمَّا أَنْ يَكُونَ
الْمُرَادُ بِهِ الِاقْتِصَارُ عَلَى النَّقْلِ وَالْمَسْمُوعِ وَتَرْكُ
الِاسْتِنْبَاطِ وَالِاسْتِقْلَالِ بِالْفَهْمِ، أَوِ الْمُرَادُ بِهِ أَمْرًا
آخَرَ.
Adapun sabda beliau صلى الله عليه وسلم tentang larangan
menafsirkan Al-Qur’an dengan pendapat, serta ucapan Abu Bakr رضي الله عنه: “Bumi mana yang akan
menanggungku dan langit mana yang akan menaungiku jika aku berbicara tentang
Al-Qur’an dengan pendapatku?” dan selain itu yang datang dalam berbagai berita
dan atsar tentang larangan menafsirkan Al-Qur’an dengan pendapat, maka hal itu
tidak lepas dari dua kemungkinan: atau yang dimaksud ialah membatasi diri pada
riwayat dan yang didengar serta meninggalkan istinbat dan kemandirian dalam
memahami, atau yang dimaksud ialah perkara lain.
وَبَاطِلٌ
قَطْعًا أَنْ يَكُونَ الْمُرَادُ بِهِ أَنْ لَا يَتَكَلَّمَ أَحَدٌ فِي الْقُرْآنِ
إِلَّا بِمَا يَسْمَعُهُ، لِوُجُوهٍ.
Jelas batal jika yang dimaksud ialah bahwa tidak boleh
seseorang berbicara tentang Al-Qur’an kecuali dengan apa yang ia dengar, karena
beberapa alasan.
أَحَدُهَا:
أَنَّهُ يُشْتَرَطُ أَنْ يَكُونَ ذٰلِكَ مَسْمُوعًا مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَمُسْنَدًا إِلَيْهِ، وَذٰلِكَ مِمَّا لَا يُصَادِفُ
إِلَّا فِي بَعْضِ الْقُرْآنِ.
Pertama, karena disyaratkan bahwa itu harus didengar dari
Rasulullah صلى
الله عليه وسلم dan disandarkan kepada beliau, sementara hal itu hanya didapati
pada sebagian Al-Qur’an saja.
فَأَمَّا
مَا يَقُولُهُ ابْنُ عَبَّاسٍ وَابْنُ مَسْعُودٍ مِنْ أَنْفُسِهِمَا فَيَنْبَغِي
أَنْ لَا يُقْبَلَ، وَيُقَالَ: هُوَ تَفْسِيرٌ بِالرَّأْيِ، لِأَنَّهُمْ لَمْ
يَسْمَعُوهُ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَكَذٰلِكَ
غَيْرُهُمْ مِنَ الصَّحَابَةِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ.
Kalau begitu, apa yang dikatakan Ibnu ‘Abbās dan Ibnu Mas‘ūd
dari diri mereka sendiri tidak boleh diterima, dan dikatakan sebagai tafsir bi
ar-ra’y, sebab mereka tidak mendengarnya dari Rasulullah صلى الله عليه وسلم;
demikian pula para sahabat lainnya رضي الله عنهم.
وَالثَّانِي:
أَنَّ الصَّحَابَةَ وَالْمُفَسِّرِينَ اخْتَلَفُوا فِي تَفْسِيرِ بَعْضِ
الْآيَاتِ، فَقَالُوا فِيهَا أَقْوَالًا مُخْتَلِفَةً لَا يُمْكِنُ الْجَمْعُ
بَيْنَهَا، وَسَمَاعُ جَمِيعِهَا مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ مُحَالٌ.
Kedua, para sahabat dan mufassir berbeda dalam menafsirkan
sebagian ayat. Mereka mengemukakan pendapat-pendapat yang berbeda dan tidak
mungkin digabungkan, sedangkan mendengar semuanya dari Rasulullah صلى الله عليه
وسلم adalah mustahil.
وَلَوْ
كَانَ الْوَاحِدُ مَسْمُوعًا لَرُدَّ الْبَاقِي، فَتَبَيَّنَ عَلَى الْقَطْعِ
أَنَّ كُلَّ مُفَسِّرٍ قَالَ فِي الْمَعْنَىٰ بِمَا ظَهَرَ لَهُ بِاسْتِنْبَاطِهِ.
Kalau yang benar hanya satu yang didengar, tentu yang lain
harus ditolak. Maka jelaslah bahwa masing-masing mufassir berbicara sesuai apa
yang tampak baginya melalui istinbat.
حَتَّىٰ
قَالُوا فِي الْحُرُوفِ الَّتِي فِي أَوَائِلِ السُّوَرِ سَبْعَةَ أَقْوَالٍ
مُخْتَلِفَةً لَا يُمْكِنُ الْجَمْعُ بَيْنَهَا.
Bahkan mereka mengatakan tentang huruf-huruf di awal surah
ada tujuh pendapat yang berbeda dan tidak mungkin digabungkan.
فَقِيلَ:
إِنَّ الرَّا أَحْرُفٌ مِنَ الرَّحْمٰنِ، وَقِيلَ: إِنَّ الْأَلِفَ اللَّهُ
وَاللَّامَ لَطِيفٌ وَالرَّاءَ رَحِيمٌ، وَقِيلَ غَيْرُ ذٰلِكَ، وَالْجَمْعُ
بَيْنَ الْكُلِّ غَيْرُ مُمْكِنٍ، فَكَيْفَ يَكُونُ الْكُلُّ مَسْمُوعًا؟
Ada yang mengatakan bahwa “الر” adalah huruf-huruf dari “الرَّحْمٰن”.
Ada yang mengatakan alif adalah Allah, lām adalah Laṭīf, dan rā’ adalah Raḥīm.
Ada pula yang mengatakan selain itu. Menggabungkan semuanya tidak mungkin. Lalu
bagaimana mungkin semuanya disebut sebagai sesuatu yang didengar?
وَالثَّالِثُ:
أَنَّهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَعَا لِابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ
عَنْهُمَا وَقَالَ: اللَّهُمَّ فَقِّهْهُ فِي الدِّينِ وَعَلِّمْهُ التَّأْوِيلَ.
Ketiga, beliau صلى الله عليه وسلم mendoakan Ibnu ‘Abbās رضي الله عنهما dan berkata: “Ya
Allah, berilah dia pemahaman dalam agama dan ajarkanlah kepadanya ta’wil.”
فَإِنْ
كَانَ التَّأْوِيلُ مَسْمُوعًا كَالتَّنْزِيلِ وَمَحْفُوظًا مِثْلَهُ، فَمَا
مَعْنَىٰ تَخْصِيصِهِ بِذٰلِكَ؟
Jika ta’wil itu sama seperti tanzil, didengar dan dihafal
sebagaimana tanzil, lalu apa arti pengkhususannya dengan doa itu?
وَالرَّابِعُ:
أَنَّهُ قَالَ عَزَّ وَجَلَّ لِعِلْمِهِ الَّذِي يَسْتَنْبِطُونَهُ مِنْهُمْ،
فَأَثْبَتَ لِأَهْلِ الْعِلْمِ اسْتِنْبَاطًا، وَمَعْلُومٌ أَنَّهُ وَرَاءَ
السَّمَاعِ.
Keempat, Allah عز وجل berfirman tentang ilmu yang mereka
istinbatkan darinya, maka Dia menetapkan bagi para ahli ilmu kemampuan
istinbat. Dan jelas bahwa itu berada di luar sekadar mendengar.
وَجُمْلَةُ
مَا نَقَلْنَاهُ مِنَ الْآثَارِ فِي فَهْمِ الْقُرْآنِ يُنَاقِضُ هٰذَا الْخَيَالَ.
Keseluruhan atsar yang kami nukil tentang pemahaman
Al-Qur’an bertentangan dengan anggapan sempit ini.
فَبَطَلَ
أَنْ يُشْتَرَطَ السَّمَاعُ فِي التَّأْوِيلِ، وَجَازَ لِكُلِّ وَاحِدٍ أَنْ
يَسْتَنْبِطَ مِنَ الْقُرْآنِ بِقَدْرِ فَهْمِهِ وَحَدِّ عَقْلِهِ.
Maka batal anggapan bahwa dalam ta’wil harus ada teks yang
didengar. Setiap orang boleh melakukan istinbat dari Al-Qur’an sesuai kadar
pemahaman dan batas akalnya.
وَأَمَّا
النَّهْيُ فَيَنْزِلُ عَلَىٰ أَحَدِ وَجْهَيْنِ.
Adapun larangan, maka ia dibawa kepada salah satu dari dua
wajah.
أَحَدُهُمَا:
أَنْ يَكُونَ لَهُ فِي الشَّيْءِ رَأْيٌ وَإِلَيْهِ مَيْلٌ مِنْ طَبْعِهِ
وَهَوَاهُ، فَيَتَأَوَّلَ الْقُرْآنَ عَلَىٰ وَفْقِ رَأْيِهِ وَهَوَاهُ،
وَلِيَحْتَجَّ عَلَىٰ تَصْحِيحِ غَرَضِهِ، وَلَوْ لَمْ يَكُنْ لَهُ ذٰلِكَ
الرَّأْيُ وَالْهَوَىٰ لَمَا لَاحَ لَهُ مِنَ الْقُرْآنِ ذٰلِكَ الْمَعْنَىٰ.
Pertama, seseorang memiliki pendapat tertentu dan cenderung
kepadanya karena watak dan hawanya, lalu ia menakwilkan Al-Qur’an sesuai
pendapat dan hawa nafsunya, untuk dijadikan hujah bagi pembenaran tujuannya.
Seandainya ia tidak memiliki pendapat dan hawa seperti itu, niscaya makna
tersebut tidak akan tampak baginya dari Al-Qur’an.
وَهٰذَا
تَارَةً يَكُونُ مَعَ الْعِلْمِ، كَالَّذِي يَحْتَجُّ بِبَعْضِ آيَاتِ الْقُرْآنِ
عَلَىٰ تَصْحِيحِ بِدْعَتِهِ وَهُوَ يَعْلَمُ أَنَّهُ لَيْسَ الْمُرَادُ
بِالْآيَةِ ذٰلِكَ، وَلٰكِنَّهُ يُلَبِّسُ بِهِ عَلَىٰ خَصْمِهِ.
Hal ini kadang dilakukan dengan pengetahuan, seperti orang
yang berhujah dengan sebagian ayat Al-Qur’an untuk membenarkan bidahnya,
padahal ia tahu bahwa ayat itu bukan bermaksud demikian; tetapi ia menipukan
lawannya dengan itu.
وَتَارَةً
يَكُونُ مَعَ الْجَهْلِ، وَلٰكِنْ إِذَا كَانَتِ الْآيَةُ مُحْتَمِلَةً فَيَمِيلُ
فَهْمُهُ إِلَى الْوَجْهِ الَّذِي يُوَافِقُ غَرَضَهُ، وَيُرَجِّحُ ذٰلِكَ
الْجَانِبَ بِرَأْيِهِ وَهَوَاهُ، فَيَكُونُ قَدْ فَسَّرَ بِرَأْيِهِ، أَيْ
رَأْيُهُ هُوَ الَّذِي حَمَلَهُ عَلَىٰ ذٰلِكَ التَّفْسِيرِ.
Kadang pula dilakukan karena kebodohan. Bila ayat itu
mengandung banyak kemungkinan makna, ia condongkan pemahamannya kepada sisi
yang cocok dengan tujuannya, lalu ia menguatkan sisi itu dengan pendapat dan
hawa nafsunya. Maka ia telah menafsirkan dengan pendapatnya; yakni
pendapatnyalah yang mendorongnya kepada tafsir itu.
وَلَوْلَا
رَأْيُهُ لَمَا كَانَ يَتَرَجَّحُ عِنْدَهُ ذٰلِكَ الْوَجْهُ.
Seandainya bukan karena pendapatnya, sisi itu tidak akan
tampak lebih kuat baginya.
وَتَارَةً
قَدْ يَكُونُ لَهُ غَرَضٌ صَحِيحٌ فَيَطْلُبُ لَهُ دَلِيلًا مِنَ الْقُرْآنِ،
وَيَسْتَدِلُّ عَلَيْهِ بِمَا يَعْلَمُ أَنَّهُ مَا أُرِيدَ بِهِ.
Kadang ia memiliki tujuan yang benar, lalu ia mencari dalil
dari Al-Qur’an untuknya, dan berhujah dengan sesuatu yang ia tahu bukanlah
maksud ayat itu.
كَمَنْ
يَدْعُو إِلَى الِاسْتِغْفَارِ بِالْأَسْحَارِ، فَيَسْتَدِلُّ بِقَوْلِهِ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: تَسَحَّرُوا فَإِنَّ فِي السُّحُورِ بَرَكَةً،
وَيَزْعُمُ أَنَّ الْمُرَادَ بِهِ التَّسَحُّرُ بِالذِّكْرِ، وَهُوَ يَعْلَمُ
أَنَّ الْمُرَادَ بِهِ الْأَكْلُ.
Seperti orang yang mengajak kepada istighfar pada waktu
sahur, lalu ia berhujah dengan sabda Nabi صلى الله عليه وسلم: “Makan sahurlah
kalian, karena dalam sahur ada keberkahan,” dan ia mengaku bahwa yang dimaksud
ialah bersahur dengan zikir, padahal ia tahu bahwa yang dimaksud adalah makan.
وَكَالَّذِي
يَدْعُو إِلَى مُجَاهَدَةِ الْقَلْبِ الْقَاسِي فَيَقُولُ: قَالَ اللَّهُ عَزَّ
وَجَلَّ: ﴿اذْهَبْ إِلَىٰ فِرْعَوْنَ إِنَّهُ طَغَىٰ﴾، وَيُشِيرُ إِلَىٰ قَلْبِهِ
وَيُومِئُ إِلَىٰ أَنَّهُ الْمُرَادُ بِفِرْعَوْنَ.
Atau seperti orang yang mengajak berjihad melawan hati yang
keras, lalu ia berkata: Allah عز وجل
berfirman: “Pergilah kepada Fir‘aun, sesungguhnya ia telah melampaui batas,”
lalu ia menunjuk ke hatinya dan memberi isyarat bahwa Fir‘aun itulah yang
dimaksud.
وَهٰذَا
الْجِنْسُ قَدْ يَسْتَعْمِلُهُ بَعْضُ الْوَعَّاظِ فِي الْمَقَاصِدِ الصَّحِيحَةِ
تَحْسِينًا لِلْكَلَامِ وَتَرْغِيبًا لِلسَّامِعِ، وَهُوَ مَمْنُوعٌ.
Jenis ini kadang dipakai sebagian para penceramah untuk
tujuan yang benar, demi memperindah ucapan dan mendorong pendengar. Namun hal
itu tetap dilarang.
وَقَدْ
تَسْتَعْمِلُهُ الْبَاطِنِيَّةُ فِي الْمَقَاصِدِ الْفَاسِدَةِ لِتَغْرِيرِ
النَّاسِ وَدَعْوَتِهِمْ إِلَىٰ مَذْهَبِهِمُ الْبَاطِلِ، فَيُنَزِّلُونَ
الْقُرْآنَ عَلَىٰ وَفْقِ رَأْيِهِمْ وَمَذْهَبِهِمْ عَلَىٰ أُمُورٍ يَعْلَمُونَ
قَطْعًا أَنَّهَا غَيْرُ مَرَادَةٍ بِهِ.
Kaum batiniyah pun kadang memakainya untuk tujuan rusak,
untuk memperdaya manusia dan mengajak mereka kepada mazhab batil mereka. Mereka
menurunkan ayat-ayat Al-Qur’an sesuai pendapat dan mazhab mereka pada
perkara-perkara yang mereka ketahui pasti bukan makna yang dimaksud olehnya.
فَهٰذِهِ
الْفُنُونُ أَحَدُ وَجْهَيِ الْمَنْعِ مِنَ التَّفْسِيرِ بِالرَّأْيِ، وَيَكُونُ
الْمُرَادُ بِالرَّأْيِ الرَّأْيَ الْفَاسِدَ الْمُوَافِقَ لِلْهَوَىٰ دُونَ
الِاجْتِهَادِ الصَّحِيحِ.
Inilah salah satu dari dua bentuk larangan menafsirkan
dengan pendapat. Yang dimaksud dengan pendapat di sini adalah pendapat rusak
yang mengikuti hawa nafsu, bukan ijtihad yang benar.
وَالرَّأْيُ
يَتَنَاوَلُ الصَّحِيحَ وَالْفَاسِدَ، وَالْمُوَافِقُ لِلْهَوَىٰ قَدْ يُخَصَّصُ
بِاسْمِ الرَّأْيِ.
Sebab kata “pendapat” mencakup yang benar dan yang salah,
tetapi yang mengikuti hawa nafsu sering dikhususkan dengan nama “pendapat” itu.
وَالْوَجْهُ
الثَّانِي: أَنْ يَتَسَارَعَ إِلَىٰ تَفْسِيرِ الْقُرْآنِ بِظَاهِرِ
الْعَرَبِيَّةِ مِنْ غَيْرِ اسْتِظْهَارٍ بِالسَّمَاعِ وَالنَّقْلِ فِيمَا
يَتَعَلَّقُ بِغَرَائِبِ الْقُرْآنِ، وَمَا فِيهِ مِنَ الْأَلْفَاظِ الْمُبْهَمَةِ
وَالْمُبَدَّلَةِ، وَمَا فِيهِ مِنَ الِاخْتِصَارِ وَالْحَذْفِ وَالِإِضْمَارِ
وَالتَّقْدِيمِ وَالتَّأْخِيرِ.
Wajah kedua ialah tergesa-gesa menafsirkan Al-Qur’an hanya
dengan ظاهر
bahasa Arab tanpa menguatkannya dengan pendengaran dan riwayat dalam hal-hal
yang berkaitan dengan keunikan-keunikan Al-Qur’an, serta lafaz-lafaz yang samar
dan yang diganti, juga yang mengandung pemadatan, penghapusan, penyembunyian,
pendahuluan, dan pengunduran.
فَمَنْ
لَمْ يُحْكِمْ بِظَاهِرِ التَّفْسِيرِ، وَبَادَرَ إِلَى اسْتِنْبَاطِ الْمَعَانِي
بِمُجَرَّدِ فَهْمِ الْعَرَبِيَّةِ، كَثُرَ غَلَطُهُ، وَدَخَلَ فِي زُمْرَةِ مَنْ
يُفَسِّرُ بِالرَّأْيِ.
Barang siapa tidak menguasai tafsir zahir, lalu bersegera
istinbat makna hanya dengan pemahaman bahasa Arab, maka kesalahannya akan
banyak, dan ia masuk ke dalam golongan orang yang menafsirkan dengan pendapat.
فَالنَّقْلُ
وَالسَّمَاعُ لَا بُدَّ مِنْهُ فِي ظَاهِرِ التَّفْسِيرِ أَوَّلًا لِيُتَّقَىٰ
بِهِ مَوَاضِعُ الْغَلَطِ، ثُمَّ بَعْدَ ذٰلِكَ يَتَّسِعُ التَّفَهُّمُ
وَالِاسْتِنْبَاطُ.
Maka riwayat dan pendengaran itu wajib dalam tafsir zahir
terlebih dahulu agar dengan itu dapat dijaga dari tempat-tempat kesalahan.
Setelah itu barulah pemahaman dan istinbat menjadi luas.
وَالْغَرَائِبُ
الَّتِي لَا تُفْهَمُ إِلَّا بِالسَّمَاعِ كَثِيرَةٌ، وَنَحْنُ نَرْمُزُ إِلَىٰ
جُمَلٍ مِنْهَا لِيُسْتَدَلَّ بِهَا عَلَىٰ أَمْثَالِهَا، وَيُعْلَمَ أَنَّهُ لَا
يَجُوزُ التَّهَاوُنُ بِحِفْظِ التَّفْسِيرِ الظَّاهِرِ أَوَّلًا، وَلَا مَطْمَعَ
فِي الْوُصُولِ إِلَى الْبَاطِنِ قَبْلَ إِحْكَامِ الظَّاهِرِ.
Perkara-perkara langka yang hanya dipahami dengan riwayat
itu banyak. Kami hanya akan memberi isyarat kepada sebagian darinya agar dapat
dijadikan petunjuk bagi yang semisal, dan agar diketahui bahwa tidak boleh
meremehkan حفظ
tafsir zahir terlebih dahulu. Tidak ada harapan mencapai makna batin sebelum
mengokohkan makna zahir.
وَمَنْ
ادَّعَىٰ فَهْمَ أَسْرَارِ الْقُرْآنِ وَلَمْ يُحْكِمِ التَّفْسِيرَ الظَّاهِرَ،
فَهُوَ كَمَنْ يَدَّعِي الْبُلُوغَ إِلَىٰ صَدْرِ الْبَيْتِ قَبْلَ مُجَاوَزَةِ
الْبَابِ، أَوْ يَدَّعِي فَهْمَ مَقَاصِدِ التُّرْكِ مِنْ كَلَامِهِمْ وَهُوَ لَا
يَفْهَمُ لُغَةَ التُّرْكِ.
Barang siapa mengaku memahami rahasia-rahasia Al-Qur’an
padahal belum menguasai tafsir zahir, maka ia seperti orang yang mengaku telah
sampai ke bagian tengah rumah sebelum melewati pintunya, atau seperti orang
yang mengaku memahami maksud orang Turki dari perkataan mereka padahal tidak
memahami bahasa Turki.
فَظَاهِرُ
التَّفْسِيرِ يَجْرِي مَجْرَىٰ تَعْلِيمِ اللُّغَةِ الَّتِي لَا بُدَّ مِنْهَا
لِلْفَهْمِ.
Tafsir zahir itu bagaikan pengajaran bahasa yang memang
dibutuhkan untuk memahami.
وَمَا
لَا بُدَّ فِيهِ مِنَ السَّمَاعِ فُنُونٌ كَثِيرَةٌ، مِنْهَا الْإِيجَازُ
بِالْحَذْفِ وَالِإِضْمَارِ.
Hal-hal yang memerlukan riwayat itu banyak macamnya, di
antaranya pemadatan makna melalui penghapusan dan penyembunyian.
كَقَوْلِهِ
تَعَالَىٰ: ﴿وَآتَيْنَا ثَمُودَ النَّاقَةَ مُبْصِرَةً فَظَلَمُوا بِهَا﴾،
مَعْنَاهُ: آيَةً مُبْصِرَةً، فَظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ بِقَتْلِهَا.
Seperti firman-Nya Ta‘ālā: “Dan Kami beri kaum Tsamūd seekor
unta sebagai tanda yang jelas, lalu mereka menzaliminya,” maksudnya ialah:
tanda yang jelas, lalu mereka menzalimi diri mereka sendiri dengan membunuhnya.
فَالنَّاظِرُ
إِلَىٰ ظَاهِرِ الْعَرَبِيَّةِ يَظُنُّ أَنَّ الْمُرَادَ بِهِ أَنَّ النَّاقَةَ
كَانَتْ مُبْصِرَةً وَلَمْ تَكُنْ عَمْيَاءَ، وَلَمْ يَدْرِ بِمَاذَا ظَلَمُوا
غَيْرَهُمْ أَوْ أَنْفُسَهُمْ.
Orang yang hanya melihat zahir bahasa Arab akan menyangka
bahwa yang dimaksud ialah unta itu “mubṣirah” dalam arti dapat melihat, bukan
buta; padahal ia tidak tahu dengan apa mereka menzalimi orang lain atau diri
mereka sendiri.
وَقَوْلُهُ
تَعَالَىٰ: ﴿وَأُشْرِبُوا فِي قُلُوبِهِمُ الْعِجْلَ بِكُفْرِهِمْ﴾، أَيْ حُبَّ
الْعِجْلِ، فَحُذِفَ الْحُبُّ.
Firman-Nya Ta‘ālā: “Dan mereka disusupkan ke dalam hati
mereka anak sapi itu karena kekufuran mereka,” maksudnya ialah cinta kepada
anak sapi; maka kata “cinta” dihapus.
وَقَوْلُهُ
عَزَّ وَجَلَّ: ﴿إِذًا لَأَذَقْنَاكَ ضِعْفَ الْحَيَاةِ وَضِعْفَ الْمَمَاتِ﴾،
أَيْ ضِعْفَ عَذَابِ الْأَحْيَاءِ وَضِعْفَ عَذَابِ الْمَوْتَىٰ، فَحُذِفَ
الْعَذَابُ وَأُبْدِلَ الْأَحْيَاءُ وَالْمَوْتَىٰ بِذِكْرِ الْحَيَاةِ
وَالْمَوْتِ.
Firman-Nya عز وجل:
“Kalau begitu, tentu Kami akan merasakan kepadamu dua kali lipat kehidupan dan
dua kali lipat kematian,” maksudnya ialah dua kali lipat azab bagi orang hidup
dan dua kali lipat azab bagi orang mati. Kata “azab” dihapus, dan diganti
dengan penyebutan hidup dan mati.
وَكُلُّ
ذٰلِكَ جَائِزٌ فِي فَصِيحِ اللُّغَةِ.
Semua itu diperbolehkan dalam bahasa yang fasih.
وَقَوْلُهُ
تَعَالَىٰ: ﴿وَاسْأَلِ الْقَرْيَةَ الَّتِي كُنَّا فِيهَا وَالْعِيرَ الَّتِي
أَقْبَلْنَا فِيهَا﴾، أَيْ أَهْلَ الْقَرْيَةِ وَأَهْلَ الْعِيرِ، فَالْأَهْلُ
فِيهِمَا مَحْذُوفٌ مُضْمَرٌ.
Firman-Nya Ta‘ālā: “Tanyakanlah kepada negeri tempat kami
berada dan kafilah tempat kami datang darinya,” maksudnya ialah penduduk negeri
dan penduduk kafilah. Kata “penduduk” pada keduanya dihapus dan disembunyikan.
وَقَوْلُهُ
عَزَّ وَجَلَّ: ﴿ثَقُلَتْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ﴾ مَعْنَاهُ خَفِيَتْ
عَلَىٰ أَهْلِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ، وَالشَّيْءُ إِذَا خَفِيَ ثَقُلَ،
فَأُبْدِلَ اللَّفْظُ بِهِ وَأُقِيمَ فِي مَقَامِهِ، وَأُضْمِرَ الْأَهْلُ
وَحُذِفَ.
Firman-Nya عز وجل:
“Sangat berat di langit dan bumi” maknanya ialah tersembunyi dari penduduk
langit dan bumi. Sesuatu yang tersembunyi dianggap berat; maka lafaz itu
digunakan menggantikannya, menempati posisinya, sedangkan “penduduk”
dihilangkan dan disembunyikan.
وَقَوْلُهُ
تَعَالَىٰ: ﴿وَتَجْعَلُونَ رِزْقَكُمْ أَنَّكُمْ تُكَذِّبُونَ﴾، أَيْ شُكْرَ
رِزْقِكُمْ.
Firman-Nya Ta‘ālā: “Dan kalian menjadikan rezeki kalian
bahwa kalian mendustakan,” maksudnya ialah: syukur atas rezeki kalian.
وَقَوْلُهُ
عَزَّ وَجَلَّ: ﴿وَآتِنَا مَا وَعَدْتَنَا عَلَىٰ رُسُلِكَ﴾، أَيْ عَلَىٰ
أَلْسِنَةِ رُسُلِكَ، فَحُذِفَتِ الْأَلْسِنَةُ.
Firman-Nya عز وجل:
“Dan berilah kami apa yang telah Engkau janjikan kepada kami melalui
rasul-rasul-Mu,” maksudnya ialah melalui lisan para rasul-Mu; maka kata
“lisan-lisan” dihapus.
وَقَوْلُهُ
تَعَالَىٰ: ﴿إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ﴾، أَرَادَ الْقُرْآنَ
وَمَا سَبَقَ لَهُ ذِكْرٌ.
Firman-Nya Ta‘ālā: “Sesungguhnya Kami menurunkannya pada
malam Lailatul Qadar,” yang dimaksud ialah Al-Qur’an dan apa yang telah disebut
sebelumnya.
وَقَالَ
عَزَّ وَجَلَّ: ﴿حَتَّىٰ تَوَارَتْ بِالْحِجَابِ﴾، أَرَادَ الشَّمْسَ وَمَا سَبَقَ
لَهَا ذِكْرٌ.
Allah عز وجل
berfirman: “Hingga ia (matahari) bersembunyi di balik tabir,” yang dimaksud
ialah matahari dan apa yang telah disebut sebelumnya tentangnya.
وَقَوْلُهُ
تَعَالَىٰ: ﴿وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ مَا نَعْبُدُهُمْ
إِلَّا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَىٰ﴾، أَيْ يَقُولُونَ: مَا
نَعْبُدُهُمْ.
Firman-Nya Ta‘ālā: “Dan orang-orang yang mengambil pelindung
selain Dia berkata: ‘Kami tidak menyembah mereka kecuali agar mereka
mendekatkan kami kepada Allah sedekat-dekatnya’,” maksudnya ialah mereka
mengatakan: “Kami tidak menyembah mereka.”
وَقَوْلُهُ
عَزَّ وَجَلَّ: ﴿فَمَا هٰؤُلَاءِ الْقَوْمِ لَا يَكَادُونَ يَفْقَهُونَ حَدِيثًا﴾
مَعْنَاهُ: لَا يَفْقَهُونَ حَدِيثًا يَقُولُونَ: مَا أَصَابَكَ مِنْ حَسَنَةٍ
فَمِنَ اللَّهِ، فَإِنْ لَمْ يُرِدْ هٰذَا كَانَ مُنَاقِضًا لِقَوْلِهِ: ﴿قُلْ
كُلٌّ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ﴾.
Firman-Nya عز وجل:
“Maka mengapa kaum ini hampir-hampir tidak memahami pembicaraan?” maknanya
ialah mereka tidak memahami ucapan: “Apa yang menimpamu dari kebaikan maka dari
Allah.” Jika makna itu tidak demikian, niscaya bertentangan dengan firman-Nya:
“Katakanlah: semuanya dari sisi Allah.”
وَسَبَقَ
إِلَى الْفَهْمِ مِنْهُ مَذْهَبُ الْقَدَرِيَّةِ.
Dari ayat itu pun, secara langsung, terlintas pemahaman
mazhab Qadariyah.
وَمِنْهَا
الْمَنْقُولُ الْمُنْقَلِبُ كَقَوْلِهِ تَعَالَىٰ: ﴿وَطُورِ سِينِينَ﴾، أَيْ طُورِ
سَيْنَاءَ.
Di antaranya adalah lafaz yang dinukil namun terbalik,
seperti firman-Nya Ta‘ālā: “Demi Ṭūr Sīnīn,” maksudnya adalah Ṭūr Sinai.
وَ﴿سَلَامٌ
عَلَى آلِ يَاسِينَ﴾، أَيْ عَلَى إِلْيَاسَ، وَقِيلَ: إِدْرِيسَ، لِأَنَّ فِي
حَرْفِ ابْنِ مَسْعُودٍ: سَلَامٌ عَلَى إِدْرَاسِينَ.
Dan firman-Nya: “Salam sejahtera atas keluarga Yāsin,”
maksudnya atas Ilyās; ada juga yang mengatakan atas Idrīs, karena dalam mushaf
Ibnu Mas‘ūd tertulis: “Salam atas Idrāsīn.”
وَمِنْهَا
الْمُكَرَّرُ الْقَاطِعُ لِوَصْلِ الْكَلَامِ فِي الظَّاهِرِ، كَقَوْلِهِ عَزَّ
وَجَلَّ: ﴿وَمَا يَتَّبِعُ الَّذِينَ يَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ شُرَكَاءَ إِنْ
يَتَّبِعُونَ إِلَّا الظَّنَّ﴾.
Di antaranya ialah pengulangan yang memutus hubungan kalimat
pada zahirnya, seperti firman-Nya عز وجل: “Dan tidaklah orang-orang yang mereka
seru selain Allah itu mengikuti sekutu-sekutu. Mereka tidak mengikuti kecuali
dugaan.”
وَقَوْلُهُ
عَزَّ وَجَلَّ: ﴿قَالَ الْمَلَأُ الَّذِينَ اسْتَكْبَرُوا مِنْ قَوْمِهِ
لِلَّذِينَ اسْتُضْعِفُوا لِمَنْ آمَنَ مِنْهُمْ﴾ مَعْنَاهُ: لِلَّذِينَ
اسْتُضْعِفُوا مَنْ آمَنَ مِنْهُمْ.
Dan firman-Nya عز وجل: “Berkatalah para pembesar yang
menyombongkan diri dari kaumnya kepada orang-orang yang ditindas, kepada orang
yang beriman di antara mereka,” maknanya ialah: kepada orang-orang yang
ditindas, yaitu orang yang beriman di antara mereka.
وَمِنْهَا
الْمُقَدَّمُ وَالْمُؤَخَّرُ، وَهُوَ مَظِنَّةُ الْغَلَطِ.
Di antaranya ialah yang didahulukan dan yang diakhirkan, dan
itu menjadi tempat rawan kesalahan.
كَقَوْلِهِ
عَزَّ وَجَلَّ: ﴿وَلَوْلَا كَلِمَةٌ سَبَقَتْ مِنْ رَبِّكَ لَكَانَ لِزَامًا
وَأَجَلٌ مُسَمًّى﴾، مَعْنَاهُ: وَلَوْلَا الْكَلِمَةُ وَأَجَلٌ مُسَمًّى لَكَانَ
لِزَامًا.
Seperti firman-Nya عز وجل: “Dan sekiranya tidak
ada kalimat yang telah lebih dahulu dari Rabbmu, niscaya itu menjadi keharusan
dan waktu yang ditentukan,” maknanya ialah: seandainya bukan karena kalimat itu
dan waktu yang ditentukan, niscaya itu menjadi keharusan.
وَلَوْلَاهُ
لَكَانَ نَصْبًا كَاللِّزَامِ.
Dan kalau bukan karena itu, niscaya ia akan menjadi beban
yang melekat seperti keharusan itu.
وَقَوْلُهُ
تَعَالَىٰ: ﴿يَسْأَلُونَكَ كَأَنَّكَ حَفِيٌّ عَنْهَا﴾، أَيْ يَسْأَلُونَكَ
عَنْهَا كَأَنَّكَ حَفِيٌّ بِهَا.
Firman-Nya Ta‘ālā: “Mereka bertanya kepadamu seakan-akan
engkau benar-benar mengetahui rahasianya,” maksudnya ialah mereka bertanya
kepadamu tentangnya seakan-akan engkau sangat mengetahui tentangnya.
وَقَوْلُهُ
عَزَّ وَجَلَّ: ﴿لَهُمْ مَغْفِرَةٌ وَرِزْقٌ كَرِيمٌ﴾، ﴿كَمَا أَخْرَجَكَ رَبُّكَ
مِنْ بَيْتِكَ بِالْحَقِّ﴾، فَهٰذَا الْكَلَامُ غَيْرُ مُتَّصِلٍ، وَإِنَّمَا هُوَ
عَائِدٌ إِلَى الْقَوْلِ السَّابِقِ: ﴿قُلِ الْأَنْفَالُ لِلَّهِ وَالرَّسُولِ﴾.
Firman-Nya عز وجل:
“Bagi mereka ada ampunan dan rezeki yang mulia,” “Sebagaimana Rabbmu
mengeluarkanmu dari rumahmu dengan benar,” maka kalimat ini tidak bersambung
secara lahir. Sesungguhnya ia kembali kepada firman sebelumnya: “Katakanlah:
harta rampasan itu milik Allah dan Rasul.”
كَمَا
أَخْرَجَكَ رَبُّكَ مِنْ بَيْتِكَ بِالْحَقِّ، أَيْ فَصَارَتْ أَنْفَالُ
الْغَنَائِمِ لَكَ إِذْ أَنْتَ رَاضٍ بِخُرُوجِكَ وَهُمْ كَارِهُونَ، فَاعْتَرَضَ
بَيْنَ الْكَلَامِ الْأَمْرُ بِالتَّقْوَىٰ وَغَيْرِهِ.
Maksudnya: “Sebagaimana Rabbmu mengeluarkanmu dari rumahmu
dengan benar,” maka harta rampasan perang itu menjadi milikmu, karena engkau
rela keluar sedangkan mereka membencinya. Di antara kalimat-kalimat itu disela
oleh perintah takwa dan selainnya.
وَمِنْ
هٰذَا النَّوْعِ قَوْلُهُ عَزَّ وَجَلَّ: ﴿حَتَّىٰ تُؤْمِنُوا بِاللَّهِ وَحْدَهُ﴾
إِلَّا قَوْلَ إِبْرَاهِيمَ لِأَبِيهِ.
Dan termasuk jenis ini firman-Nya عز وجل: “Hingga kalian
beriman kepada Allah saja,” kecuali ucapan Ibrahim kepada ayahnya.
وَمِنْهَا
الْمُبْهَمُ، وَهُوَ اللَّفْظُ الْمُشْتَرَكُ بَيْنَ مَعْنَيَيْنِ، مِنْ كَلِمَةٍ
أَوْ حَرْفٍ.
Di antaranya ialah lafaz yang samar, yaitu lafaz yang مشتركة
antara dua makna, baik dari kata maupun dari huruf.
أَمَّا
الْكَلِمَةُ فَكَالشَّيْءِ وَالْقَرِينِ وَالْأُمَّةِ وَالرُّوحِ وَنَظَائِرِهَا.
Adapun kata, seperti “sesuatu”, “qarin”, “umat”, “ruh”, dan
yang sejenis dengannya.
قَالَ
اللَّهُ تَعَالَىٰ: ﴿ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا عَبْدًا مَمْلُوكًا لَا يَقْدِرُ
عَلَىٰ شَيْءٍ﴾، أَرَادَ بِهِ النَّفَقَةَ مِمَّا رَزَقَ.
Allah Ta‘ālā berfirman: “Allah membuat perumpamaan seorang
hamba sahaya yang tidak mampu atas sesuatu apa pun,” yang dimaksud ialah nafkah
dari rezeki yang diberikan.
وَقَوْلُهُ
عَزَّ وَجَلَّ: ﴿وَضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا رَجُلَيْنِ أَحَدُهُمَا أَبْكَمُ لَا
يَقْدِرُ عَلَىٰ شَيْءٍ﴾، أَيْ الْأَمْرَ بِالْعَدْلِ وَالِاسْتِقَامَةِ.
Dan firman-Nya عز وجل: “Allah membuat perumpamaan dua orang
lelaki; salah satunya bisu, tidak mampu atas sesuatu apa pun,” maksudnya ialah
perintah kepada keadilan dan kelurusan.
وَقَوْلُهُ
عَزَّ وَجَلَّ: ﴿فَإِنِ اتَّبَعْتَنِي فَلَا تَسْأَلْنِي عَنْ شَيْءٍ﴾، أَرَادَ
بِهِ مِنْ صِفَاتِ الرُّبُوبِيَّةِ، وَهِيَ الْعُلُومُ الَّتِي لَا يَحِلُّ
السُّؤَالُ عَنْهَا حَتَّىٰ يَبْتَدِئَ بِهَا الْعَارِفُ فِي أَوَانِ
الِاسْتِحْقَاقِ.
Firman-Nya عز وجل:
“Jika engkau mengikutiku, maka janganlah engkau menanyakan sesuatu kepadaku,”
maksudnya ialah sifat-sifat rububiyyah, yaitu ilmu-ilmu yang tidak halal
ditanyakan sampai orang yang arif memulainya pada waktunya yang tepat.
وَقَوْلُهُ
عَزَّ وَجَلَّ: ﴿أَمْ خُلِقُوا مِنْ غَيْرِ شَيْءٍ أَمْ هُمُ الْخَالِقُونَ﴾، أَيْ
مِنْ غَيْرِ خَالِقٍ.
Firman-Nya عز وجل:
“Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatu, atau apakah mereka yang menciptakan?”
maksudnya ialah tanpa pencipta.
فَرُبَّمَا
يُتَوَهَّمُ بِهِ أَنَّهُ يَدُلُّ عَلَىٰ أَنَّهُ لَا يُخْلَقُ شَيْءٌ إِلَّا مِنْ
شَيْءٍ.
Kadang hal itu disangka menunjukkan bahwa tidak ada sesuatu
yang diciptakan kecuali dari sesuatu.
وَأَمَّا
الْقَرِينُ فَكَقَوْلِهِ عَزَّ وَجَلَّ: ﴿وَقَالَ قَرِينُهُ هٰذَا مَا لَدَيَّ
عَتِيدٌ أَلْقِيَا فِي جَهَنَّمَ كُلَّ كَفَّارٍ﴾، أَرَادَ بِهِ الْمَلَكَ
الْمُوَكَّلَ بِهِ.
Adapun “qarin”, seperti firman-Nya عز وجل: “Dan qarinnya
berkata: ‘Inilah yang ada padaku dan siap sedia.’ (Lalu dikatakan:)
‘Lemparkanlah ke dalam Jahanam setiap orang yang sangat ingkar’,” yang dimaksud
ialah malaikat yang ditugaskan kepadanya.
وَقَوْلُهُ
تَعَالَىٰ: ﴿قَالَ قَرِينُهُ رَبَّنَا مَا أَطْغَيْتُهُ وَلٰكِنْ كَانَ﴾، أَرَادَ
بِهِ الشَّيْطَانَ.
Dan firman-Nya Ta‘ālā: “Qarin-nya berkata: ‘Wahai Rabb kami,
aku tidak menyesatkannya, tetapi...’” yang dimaksud ialah setan.
وَأَمَّا
الْأُمَّةُ فَتُطْلَقُ عَلَىٰ ثَمَانِيَةِ أَوْجُهٍ.
Adapun kata “umat”, maka ia digunakan dalam delapan makna.
الْأُمَّةُ
الْجَمَاعَةُ كَقَوْلِهِ تَعَالَىٰ: ﴿وَوَجَدَ عَلَيْهِ أُمَّةً مِنَ النَّاسِ
يَسْقُونَ﴾.
Umat bermakna kelompok, seperti firman-Nya Ta‘ālā: “Dan ia
mendapati di sana sekumpulan orang sedang memberi minum.”
وَأَتْبَاعُ
الْأَنْبِيَاءِ كَقَوْلِكَ: أُمَّةُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.
Dan bermakna para pengikut para nabi, seperti perkataanmu:
umat Muhammad صلى
الله عليه وسلم.
وَرَجُلٌ
جَامِعٌ لِلْخَيْرِ يُقْتَدَىٰ بِهِ كَقَوْلِهِ تَعَالَىٰ: ﴿إِنَّ إِبْرَاهِيمَ
كَانَ أُمَّةً قَانِتًا لِلَّهِ﴾.
Dan bermakna seorang lelaki yang menghimpun kebaikan dan
menjadi teladan, seperti firman-Nya Ta‘ālā: “Sesungguhnya Ibrahim adalah umat,
lagi taat kepada Allah.”
وَالْأُمَّةُ
الدِّينُ كَقَوْلِهِ عَزَّ وَجَلَّ: ﴿إِنَّا وَجَدْنَا آبَاءَنَا عَلَىٰ أُمَّةٍ﴾.
Dan umat bermakna agama, seperti firman-Nya عز وجل:
“Sesungguhnya kami mendapati nenek moyang kami berada di atas suatu umat.”
وَالْأُمَّةُ
الْحِينُ وَالزَّمَانُ كَقَوْلِهِ عَزَّ وَجَلَّ: ﴿إِلَىٰ أُمَّةٍ مَعْدُودَةٍ﴾،
وَقَوْلِهِ عَزَّ وَجَلَّ: ﴿وَادَّكَرَ بَعْدَ أُمَّةٍ﴾.
Dan umat bermakna masa dan waktu, seperti firman-Nya عز وجل:
“Hingga waktu yang terbatas,” dan firman-Nya عز وجل: “Dan ia ingat
setelah beberapa waktu.”
وَالْأُمَّةُ
الْقَامَةُ، يُقَالُ: فُلَانٌ حَسَنُ الْأُمَّةِ، أَيْ الْقَامَةِ.
Dan umat bermakna postur tubuh, dikatakan: “Si Fulan bagus
umatnya,” maksudnya posturnya.
وَأُمَّةُ
رَجُلٍ مُنْفَرِدٌ بِدِينٍ لَا يُشَارِكُهُ فِيهِ أَحَدٌ، قَالَ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: يُبْعَثُ زَيْدُ بْنُ عَمْرِو بْنِ نُفَيْلٍ أُمَّةً وَحْدَهُ.
Dan umat bermakna seorang lelaki yang sendirian dalam agama
yang tidak disertai seorang pun, sebagaimana sabda Nabi صلى الله عليه وسلم:
“Zaid bin ‘Amr bin Nufail akan dibangkitkan sendirian sebagai satu umat.”
وَالْأُمَّةُ
يُقَالُ: هٰذِهِ أُمَّةُ زَيْدٍ، أَيْ أُمُّ زَيْدٍ.
Dan umat juga bermakna: “Ini adalah umat Zaid,” maksudnya
ibu Zaid.
وَالرُّوحُ
أَيْضًا وَرَدَ فِي الْقُرْآنِ عَلَىٰ مَعَانٍ كَثِيرَةٍ، فَلَا نُطِيلُ
بِإِيرَادِهَا.
Ruh juga datang dalam Al-Qur’an dengan banyak makna, tetapi
kami tidak akan memanjangkannya dengan menyebutkannya.
وَكَذٰلِكَ
قَدْ يَقَعُ الْإِبْهَامُ فِي الْحُرُوفِ، مِثْلَ قَوْلِهِ عَزَّ وَجَلَّ:
﴿فَأَثَرْنَ بِهِ نَقْعًا فَوَسَطْنَ بِهِ جَمْعًا﴾.
Demikian pula bisa terjadi ketidakjelasan pada huruf-huruf,
seperti firman-Nya عز وجل:
“Lalu mereka menerbangkan debu karenanya. Lalu mereka menyerbu di tengah
kumpulan.”
فَالْهَاءُ
الْأُولَىٰ كِنَايَةٌ عَنْ الْحَوَافِرِ وَهِيَ الْمُورِيَاتُ، أَيْ أَثَرْنَ
بِالْحَوَافِرِ نَقْعًا.
Maka ha’ pertama adalah kinayah bagi kuku-kuku kuda, yaitu
yang memercikkan api; maksudnya mereka menimbulkan debu dengan kuku-kuku itu.
وَالثَّانِيَةُ
كِنَايَةٌ عَنِ الْإِغَارَةِ وَهِيَ الْمُغِيرَاتُ صُبْحًا، فَوَسَطْنَ بِهِ
جَمْعًا.
Sedangkan yang kedua adalah kinayah bagi penyerbuan, yaitu
para penyerang pada waktu pagi; maka mereka menyerbu di tengah kumpulan.
جَمَعَ
الْمُشْرِكُونَ فَأَغَارُوا بِجَمْعِهِمْ.
Kaum musyrik berkumpul, lalu mereka menyerbu dengan kumpulan
mereka.
وَقَوْلُهُ
تَعَالَىٰ: ﴿فَأَنْزَلْنَا بِهِ الْمَاءَ﴾ يَعْنِي السَّحَابَ، ﴿فَأَخْرَجْنَا
بِهِ مِنْ كُلِّ الثَّمَرَاتِ﴾ يَعْنِي الْمَاءَ، وَأَمْثَالُ هٰذَا فِي
الْقُرْآنِ لَا تُنْحَصَرُ.
Firman-Nya Ta‘ālā: “Lalu Kami turunkan dengannya air,”
maksudnya ialah awan; dan firman-Nya: “Lalu Kami keluarkan dengannya segala
buah-buahan,” maksudnya ialah air. Contoh seperti ini di dalam Al-Qur’an tidak
terhitung.
وَمِنْهَا
التَّدْرِيجُ فِي الْبَيَانِ، كَقَوْلِهِ عَزَّ وَجَلَّ: ﴿شَهْرُ رَمَضَانَ
الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ﴾.
Di antaranya ialah penyampaian bertahap dalam penjelasan,
seperti firman-Nya عز وجل:
“Bulan Ramadan, yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an.”
إِذْ
لَمْ يَظْهَرْ بِهِ أَنَّهُ لَيْلٌ أَوْ نَهَارٌ، وَبَانَ بِقَوْلِهِ عَزَّ
وَجَلَّ: ﴿إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُبَارَكَةٍ﴾، وَلَمْ يَظْهَرْ بِهِ
أَيُّ لَيْلَةٍ، فَظَهَرَ بِقَوْلِهِ تَعَالَىٰ: ﴿إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي
لَيْلَةِ الْقَدْرِ﴾.
Karena dengan ayat itu belum jelas apakah malam atau siang.
Lalu menjadi jelas dengan firman-Nya عز وجل: “Sesungguhnya Kami menurunkannya pada
malam yang diberkahi,” namun belum jelas malam apa. Maka menjadi terang dengan
firman-Nya Ta‘ālā: “Sesungguhnya Kami menurunkannya pada malam Lailatul Qadar.”
وَرُبَّمَا
يُظَنُّ فِي الظَّاهِرِ الِاخْتِلَافُ بَيْنَ هٰذِهِ الْآيَاتِ.
Kadang pada zahirnya tampak perbedaan di antara ayat-ayat
ini.
فَهٰذَا
وَأَمْثَالُهُ مِمَّا لَا يُغْنِي فِيهِ إِلَّا النَّقْلُ وَالسَّمَاعُ.
Hal ini dan yang semisalnya tidak dapat dijelaskan kecuali
dengan riwayat dan pendengaran.
فَالْقُرْآنُ
مِنْ أَوَّلِهِ إِلَىٰ آخِرِهِ غَيْرُ خَالٍ عَنْ هٰذَا الْجِنْسِ، لِأَنَّهُ
أُنْزِلَ بِلُغَةِ الْعَرَبِ، فَكَانَ مُشْتَمِلًا عَلَىٰ أَصْنَافِ كَلَامِهِمْ
مِنْ إِيجَازٍ وَتَطْوِيلٍ وَإِضْمَارٍ وَحَذْفٍ وَإِبْدَالٍ وَتَقْدِيمٍ
وَتَأْخِيرٍ، لِيَكُونَ ذٰلِكَ مُفْحِمًا لَهُمْ وَمُعْجِزًا فِي حَقِّهِمْ.
Maka Al-Qur’an dari awal hingga akhir tidak lepas dari jenis
ini, karena ia diturunkan dengan bahasa Arab. Ia mencakup aneka ragam gaya
bahasa mereka: ringkas, panjang, penyembunyian, penghapusan, penggantian,
pendahuluan, dan pengunduran, agar hal itu mematahkan argumen mereka dan
menjadi mukjizat bagi mereka.
فَكُلُّ
مَنْ اكْتَفَىٰ بِفَهْمِ ظَاهِرِ الْعَرَبِيَّةِ وَبَادَرَ إِلَىٰ تَفْسِيرِ
الْقُرْآنِ وَلَمْ يَسْتَظْهِرْ بِالسَّمَاعِ وَالنَّقْلِ فِي هٰذِهِ الْأُمُورِ،
فَهُوَ دَاخِلٌ فِي مَنْ فَسَّرَ الْقُرْآنَ بِرَأْيِهِ.
Maka siapa pun yang cukup dengan pemahaman zahir bahasa Arab
lalu tergesa menafsirkan Al-Qur’an dan tidak memperkuatnya dengan pendengaran
dan riwayat dalam perkara-perkara ini, maka ia termasuk orang yang menafsirkan
Al-Qur’an dengan pendapatnya.
مِثْلَ
أَنْ يَفْهَمَ مِنَ الْأُمَّةِ الْمَعْنَى الْأَشْهَرَ مِنْهَا فَيَمِيلَ طَبْعُهُ
وَرَأْيُهُ إِلَيْهِ، فَإِذَا سَمِعَهُ فِي مَوْضِعٍ آخَرَ مَالَ بِرَأْيِهِ
إِلَىٰ مَا سَمِعَهُ مِنْ مَشْهُورِ مَعْنَاهُ، وَتَرَكَ تَتَبُّعَ النَّقْلِ فِي
كَثِيرٍ مِنْ مَعَانِيهِ.
Seperti ketika ia memahami dari kata “umat” makna yang
paling terkenal lalu tabiat dan pendapatnya condong kepadanya. Jika kemudian ia
mendengarnya pada tempat lain, ia cenderung dengan pendapatnya kepada makna
yang ia dengar yang lebih masyhur, dan meninggalkan penelusuran riwayat dalam
banyak maknanya.
فَهٰذَا
مَا يُمْكِنُ أَنْ يَكُونَ مِنْهُ مَنْهِيًّا عَنْهُ، دُونَ التَّفَهُّمِ
لِأَسْرَارِ الْمَعَانِي كَمَا سَبَقَ.
Inilah yang mungkin dilarang darinya, bukan pemahaman atas
rahasia-rahasia makna sebagaimana telah disebutkan sebelumnya.
فَإِذَا
حَصَلَ السَّمَاعُ بِأَمْثَالِ هٰذِهِ الْأُمُورِ عُلِمَ ظَاهِرُ التَّفْسِيرِ،
وَهُوَ تَرْجَمَةُ الْأَلْفَاظِ، وَلَا يَكْفِي ذٰلِكَ فِي فَهْمِ حَقَائِقِ
الْمَعَانِي.
Jika telah diperoleh pendengaran tentang hal-hal semacam
ini, maka diketahui tafsir zahir, yaitu terjemahan lafaz-lafaznya. Namun itu
tidak cukup untuk memahami hakikat-hakikat makna.
وَيُدْرَكُ
الْفَرْقُ بَيْنَ حَقَائِقِ الْمَعَانِي وَظَاهِرِ التَّفْسِيرِ بِمَثَلٍ.
Perbedaan antara hakikat makna dan tafsir zahir dapat
dipahami dengan sebuah contoh.
وَهُوَ
أَنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ قَالَ: ﴿وَمَا رَمَيْتَ إِذْ رَمَيْتَ وَلٰكِنَّ
اللَّهَ رَمَىٰ﴾، فَظَاهِرُهُ تَفْسِيرٌ وَاضِحٌ، وَحَقِيقَةُ مَعْنَاهُ غَامِضٌ،
فَإِنَّهُ إِثْبَاتٌ لِلرَّمْيِ وَنَفْيٌ لَهُ، وَهُمَا مُتَضَادَّانِ فِي
الظَّاهِرِ مَا لَمْ يُفْهَمْ أَنَّهُ رَمْيٌ مِنْ وَجْهٍ وَمَا لَمْ يَرْمِ مِنْ
وَجْهٍ.
Yaitu bahwa Allah عز وجل berfirman: “Bukan engkau yang melempar
ketika engkau melempar, tetapi Allah-lah yang melempar.” Zahirnya adalah tafsir
yang jelas, sedangkan hakikat maknanya samar. Sebab di situ ada penetapan
melempar dan penafian melempar sekaligus, dan keduanya tampak bertentangan
selama tidak dipahami bahwa itu disebut melempar dari satu sisi dan tidak
melempar dari sisi lain.
وَمِنَ
الْوَجْهِ الَّذِي لَمْ يَرْمِ رَمَاهُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ.
Dan dari sisi yang ia tidak melempar, Allah عز وجل-lah
yang melempar.
وَكَذٰلِكَ
قَالَ تَعَالَىٰ: ﴿قَاتِلُوهُمْ يُعَذِّبْهُمُ اللَّهُ بِأَيْدِيكُمْ﴾، فَإِذَا
كَانُوا هُمْ الْمُقَاتِلِينَ كَيْفَ يَكُونُ اللَّهُ سُبْحَانَهُ هُوَ
الْمُعَذِّبَ؟ وَإِنْ كَانَ اللَّهُ تَعَالَىٰ هُوَ الْمُعَذِّبَ بِتَحْرِيكِ
أَيْدِيهِمْ، فَمَا مَعْنَىٰ أَمْرِهِمْ بِالْقِتَالِ؟
Demikian pula Allah Ta‘ālā berfirman: “Perangilah mereka,
niscaya Allah mengazab mereka dengan tangan kalian.” Jika mereka adalah para
pejuang, bagaimana mungkin Allah سبحانه menjadi yang mengazab? Dan jika Allah
Ta‘ālā yang mengazab dengan menggerakkan tangan mereka, lalu apa arti
perintah-Nya untuk berperang?
فَحَقِيقَةُ
هٰذَا يُسْتَمَدُّ مِنْ بَحْرٍ عَظِيمٍ مِنْ عُلُومِ الْمُكَاشَفَاتِ لَا يُغْنِي
عَنْهُ ظَاهِرُ التَّفْسِيرِ.
Hakikat ini diambil dari lautan yang sangat luas dari
ilmu-ilmu mukāsyafah, yang tidak dapat digantikan oleh tafsir zahir.
وَهُوَ
أَنْ يُعْلَمَ وَجْهُ ارْتِبَاطِ الْأَفْعَالِ بِالْقُدْرَةِ الْحَادِثَةِ،
وَيُفْهَمَ وَجْهُ ارْتِبَاطِ الْقُدْرَةِ بِقُدْرَةِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ،
حَتَّىٰ يَنْكَشِفَ بَعْدَ إِيضَاحِ أُمُورٍ كَثِيرَةٍ غَامِضَةٍ صِدْقُ قَوْلِهِ
عَزَّ وَجَلَّ: ﴿وَمَا رَمَيْتَ إِذْ رَمَيْتَ وَلٰكِنَّ اللَّهَ رَمَىٰ﴾.
Yaitu mengetahui bagaimana hubungan perbuatan dengan daya
yang baru ada, dan memahami bagaimana hubungan daya itu dengan kekuasaan Allah عز وجل,
hingga setelah dijelaskan banyak perkara yang samar, tampaklah kebenaran
firman-Nya عز وجل:
“Bukan engkau yang melempar ketika engkau melempar, tetapi Allah-lah yang
melempar.”
وَلَعَلَّ
الْعُمْرَ لَوْ أُنْفِقَ فِي اسْتِكْشَافِ أَسْرَارِ هٰذَا الْمَعْنَىٰ وَمَا
يَرْتَبِطُ بِمُقَدِّمَاتِهِ وَلَوَاحِقِهِ لَانْقَضَى الْعُمْرُ قَبْلَ
اسْتِيفَاءِ جَمِيعِ لَوَاحِقِهِ.
Barangkali jika umur dihabiskan untuk menyingkap rahasia
makna ini dan hal-hal yang terkait dengan pendahuluan dan akibat-akibatnya,
niscaya umur itu akan habis sebelum seluruh rincian lanjutannya selesai.
وَمَا
مِنْ كَلِمَةٍ مِنَ الْقُرْآنِ إِلَّا وَتَحْقِيقُهَا مُحْوِجٌ إِلَىٰ مِثْلِ
ذٰلِكَ.
Tidak ada satu kata pun dari Al-Qur’an kecuali penjelasan
hakikatnya membutuhkan hal semacam itu.
وَإِنَّمَا
يَنْكَشِفُ لِلرَّاسِخِينَ فِي الْعِلْمِ مِنْ أَسْرَارِهِ بِقَدْرِ غَزَارَةِ
عُلُومِهِمْ وَصَفَاءِ قُلُوبِهِمْ وَتَوَفُّرِ دَوَاعِيهِمْ عَلَى التَّدَبُّرِ
وَتَجَرُّدِهِمْ لِلطَّلَبِ.
Rahasia-rahasianya hanya akan tersingkap bagi orang-orang
yang kokoh dalam ilmu sesuai kadar keluasan ilmu mereka, kejernihan hati
mereka, besarnya dorongan mereka untuk bertadabbur, dan pengosongan diri mereka
untuk mencari.
وَيَكُونُ
لِكُلِّ وَاحِدٍ حَدٌّ فِي التَّرَقِّي إِلَىٰ دَرَجَةٍ أَعْلَىٰ مِنْهُ.
Setiap orang memiliki batas dalam naik menuju derajat yang
lebih tinggi darinya.
فَأَمَّا
الِاسْتِيفَاءُ فَلَا مَطْمَعَ فِيهِ.
Adapun mencapai seluruhnya, maka tidak ada harapan untuk
itu.
وَلَوْ
كَانَ الْبَحْرُ مِدَادًا وَالْأَشْجَارُ أَقْلَامًا، فَأَسْرَارُ كَلِمَاتِ
اللَّهِ لَا نِهَايَةَ لَهَا، فَتَنْفَدُ الْأَبْحُرُ قَبْلَ أَنْ تَنْفَدَ
كَلِمَاتُ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ.
Seandainya laut menjadi tinta dan pepohonan menjadi pena,
maka rahasia-rahasia kalimat-kalimat Allah tidak berakhir. Lautan akan habis
sebelum kalimat-kalimat Allah عز وجل
habis.
فَمِنْ
هٰذَا الْوَجْهِ تَتَفَاوَتُ الْخَلْقُ فِي الْفَهْمِ بَعْدَ الِاشْتِرَاكِ فِي
مَعْرِفَةِ ظَاهِرِ التَّفْسِيرِ، وَظَاهِرُ التَّفْسِيرِ لَا يُغْنِي عَنْهُ.
Dari sisi inilah makhluk berbeda-beda dalam pemahaman
setelah mereka sama-sama mengetahui tafsir zahir, sedangkan tafsir zahir itu
tidak mencukupi sebagai penggantinya.
وَمِثَالُهُ
فَهْمُ بَعْضِ أَرْبَابِ الْقُلُوبِ مِنْ قَوْلِهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ فِي سُجُودِهِ: أَعُوذُ بِرِضَاكَ مِنْ سَخَطِكَ، وَأَعُوذُ
بِمُعَافَاتِكَ مِنْ عُقُوبَتِكَ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْكَ، لَا أُحْصِي ثَنَاءً
عَلَيْكَ، أَنْتَ كَمَا أَثْنَيْتَ عَلَىٰ نَفْسِكَ.
Contohnya ialah pemahaman sebagian pemilik hati dari sabda
beliau صلى
الله عليه وسلم dalam sujudnya: “Aku berlindung dengan keridaan-Mu dari
kemurkaan-Mu, dan dengan afiat-Mu dari hukuman-Mu, dan aku berlindung kepada-Mu
dari-Mu. Aku tidak mampu menghitung pujian atas-Mu. Engkau sebagaimana Engkau
memuji diri-Mu sendiri.”
أَنَّهُ
قِيلَ لَهُ: اسْجُدْ وَاقْتَرِبْ، فَوَجَدَ الْقُرْبَ فِي السُّجُودِ، فَنَظَرَ
إِلَى الصِّفَاتِ فَاسْتَعَاذَ بِبَعْضِهَا مِنْ بَعْضٍ.
Karena kepadanya dikatakan: “Sujudlah dan mendekatlah.” Maka
ia mendapati kedekatan dalam sujud, lalu memandang kepada sifat-sifat, dan
berlindung dengan sebagian sifat dari sebagian yang lain.
فَإِنَّ
الرِّضَا وَالسَّخَطَ وَصْفَانِ.
Sebab rida dan murka adalah dua sifat.
ثُمَّ
زَادَ قُرْبُهُ، فَانْدَرَجَ الْقُرْبُ الْأَوَّلُ فِيهِ، فَرَقِيَ إِلَى
الذَّاتِ، فَقَالَ: أَعُوذُ بِكَ مِنْكَ.
Kemudian kedekatannya bertambah, lalu kedekatan pertama
masuk ke dalamnya, sehingga ia naik kepada Dzat, dan berkata: “Aku berlindung
kepada-Mu dari-Mu.”
ثُمَّ
زَادَ قُرْبُهُ بِمَا اسْتَحْيَا بِهِ مِنَ الِاسْتِعَاذَةِ عَلَىٰ بَسَاطِ
الْقُرْبِ، فَالْتَجَأَ إِلَى الثَّنَاءِ فَأَثْنَىٰ بِقَوْلِهِ: لَا أُحْصِي
ثَنَاءً عَلَيْكَ.
Kemudian kedekatannya bertambah lagi karena rasa malunya
untuk berlindung di atas hamparan kedekatan. Maka ia berlindung kepada pujian,
lalu memuji dengan ucapan: “Aku tidak mampu menghitung pujian atas-Mu.”
ثُمَّ
عَلِمَ أَنَّ ذٰلِكَ قُصُورٌ، فَقَالَ: أَنْتَ كَمَا أَثْنَيْتَ عَلَىٰ نَفْسِكَ.
Kemudian ia mengetahui bahwa itu pun masih kekurangan, lalu
berkata: “Engkau sebagaimana Engkau memuji diri-Mu sendiri.”
فَهٰذِهِ
خَوَاطِرُ تَنْفَتِحُ لِأَرْبَابِ الْقُلُوبِ، ثُمَّ لَهَا أَغْوَارٌ وَرَاءَ
هٰذَا، وَهُوَ فَهْمُ مَعْنَى الْقُرْبِ وَاخْتِصَاصُهُ بِالسُّجُودِ، وَمَعْنَى
الِاسْتِعَاذَةِ مِنْ صِفَةٍ بِصِفَةٍ وَمِنْهُ بِهِ.
Inilah lintasan-lintasan yang terbuka bagi para pemilik
hati. Di balik itu ada kedalaman yang lain, yaitu memahami makna kedekatan dan
kekhususannya pada sujud, serta makna berlindung dari satu sifat dengan sifat
lain, dan darinya kepada-Nya.
وَأَسْرَارُ
ذٰلِكَ كَثِيرَةٌ، وَلَا يَدُلُّ تَفْسِيرُ ظَاهِرٍ عَلَيْهَا.
Rahasia-rahasia itu banyak, dan tafsir zahir tidak
menunjukkan semuanya.
وَلَيْسَ
اللَّفْظُ هُوَ مُنَاقِضًا لِظَاهِرِ التَّفْسِيرِ، بَلْ هُوَ اسْتِكْمَالٌ لَهُ
وَوُصُولٌ إِلَىٰ لُبَابِهِ عَنْ ظَاهِرِهِ.
Lafaz itu tidak bertentangan dengan tafsir zahir. Justru ia
menyempurnakannya dan sampai kepada inti hakikatnya melalui zahirnya.
فَهٰذَا
مَا نُورِدُهُ لِفَهْمِ الْمَعَانِي الْبَاطِنَةِ، لَا مَا يُنَاقِضُ الظَّاهِرَ،
وَاللَّهُ أَعْلَمُ.
Inilah yang kami kemukakan untuk memahami makna-makna batin,
bukan sesuatu yang menentang zahir. Allah-lah Yang Maha Mengetahui.
تَمَّ
كِتَابُ آدَابِ التِّلَاوَةِ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ،
وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَىٰ مُحَمَّدٍ خَاتَمِ النَّبِيِّينَ، وَعَلَىٰ
كُلِّ عَبْدٍ مُصْطَفًىٰ مِنْ كُلِّ الْعَالَمِينَ، وَعَلَىٰ آلِ مُحَمَّدٍ
وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ.
Telah selesai Kitab Adab-Adab Tilawah. Segala puji bagi
Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Muhammad
penutup para nabi, kepada setiap hamba pilihan dari seluruh alam, kepada
keluarga Muhammad dan para sahabatnya. Semoga Allah memberkahi mereka.
يَتْلُوهُ
إِنْ شَاءَ اللَّهُ تَعَالَىٰ كِتَابُ الْأَذْكَارِ وَالدَّعَوَاتِ، وَاللَّهُ
الْمُسْتَعَانُ لَا رَبَّ سِوَاهُ.
Akan menyusul, insya Allah Ta‘ālā, Kitab Zikir-Zikir dan
Doa-Doa. Hanya Allah tempat memohon pertolongan, tidak ada Rabb selain Dia.