Amalan Amalan Batin dalam Tilawah (2)

ثَانِيهَا أَنْ يَكُونَ مُقَلِّدًا لِمَذْهَبٍ سَمِعَهُ بِالتَّقْلِيدِ وَجَمَدَ عَلَيْهِ، وَثَبَتَ فِي نَفْسِهِ التَّعَصُّبُ لَهُ بِمُجَرَّدِ الِاتِّبَاعِ لِلْمَسْمُوعِ مِنْ غَيْرِ وُصُولٍ إِلَيْهِ بِبَصِيرَةٍ وَمُشَاهَدَةٍ، فَهٰذَا شَخْصٌ قَيَّدَهُ اعْتِقَادُهُ عَنْ أَنْ يُجَاوِزَهُ، فَلَا يُمْكِنُهُ أَنْ يَخْطُرَ بِبَالِهِ غَيْرُ اعْتِقَادِهِ، فَصَارَ نَظَرُهُ مَوْقُوفًا عَلَىٰ مَسْمُوعِهِ، فَإِنْ لَمَعَ بَرْقٌ عَلَىٰ بُعْدٍ وَبَدَا لَهُ مَعْنًى مِنَ الْمَعَانِي الَّتِي تُبَايِنُ مَسْمُوعَهُ حَمَلَ عَلَيْهِ شَيْطَانُ التَّقْلِيدِ حَمْلَةً، وَقَالَ: كَيْفَ يَخْطُرُ هٰذَا بِبَالِكَ وَهُوَ خِلَافُ اعْتِقَادِ آبَائِكَ؟ فَيَرَىٰ أَنَّ ذٰلِكَ غُرُورٌ مِنَ الشَّيْطَانِ، فَيَتَبَاعَدُ مِنْهُ وَيَحْتَرِزُ عَنْ مِثْلِهِ.

Yang kedua ialah bahwa ia menjadi seorang yang taklid kepada suatu mazhab yang didengarnya secara taklid, lalu membeku di atasnya, dan di dalam dirinya telah tertanam fanatisme terhadapnya semata-mata karena mengikuti apa yang didengar, tanpa sampai kepadanya melalui bashirah dan penyaksian. Orang seperti ini telah dibatasi oleh keyakinannya sendiri sehingga tidak mampu melampauinya. Karena itu, ia tidak dapat membayangkan dalam benaknya selain keyakinannya itu. Pandangannya pun terhenti pada apa yang ia dengar. Jika sekilas tampak baginya sesuatu yang jauh dan muncul suatu makna yang berbeda dengan apa yang ia dengar, maka setan taklid menyerangnya seraya berkata, “Bagaimana hal ini terlintas dalam benakmu, padahal itu bertentangan dengan keyakinan nenek moyangmu?” Lalu ia mengira bahwa itu hanyalah tipuan setan, sehingga ia menjauhinya dan berhati-hati dari yang semisal itu.

وَلِمِثْلِ هٰذَا قَالَتِ الصُّوفِيَّةُ: إِنَّ الْعِلْمَ حِجَابٌ، وَأَرَادُوا بِالْعِلْمِ الِاعْتِقَادَاتِ الَّتِي اسْتَمَرَّ عَلَيْهَا أَكْثَرُ النَّاسِ بِمُجَرَّدِ التَّقْلِيدِ، أَوْ بِمُجَرَّدِ كَلِمَاتٍ جَدَلِيَّةٍ حَرَّرَهَا الْمُتَعَصِّبُونَ لِلْمَذَاهِبِ وَأَلْقَوْهَا إِلَيْهِمْ.

Karena hal semacam inilah sebagian kaum sufi berkata, “Ilmu itu adalah hijab.” Yang mereka maksud dengan ilmu ialah keyakinan-keyakinan yang dipegang kebanyakan orang semata-mata karena taklid, atau semata-mata karena ungkapan-ungkapan debat yang disusun oleh orang-orang fanatik terhadap mazhab-mazhab, lalu dilemparkan kepada mereka.

فَأَمَّا الْعِلْمُ الْحَقِيقِيُّ الَّذِي هُوَ الْكَشْفُ وَالْمُشَاهَدَةُ بِنُورِ الْبَصِيرَةِ، فَكَيْفَ يَكُونُ حِجَابًا وَهُوَ مُنْتَهَى الْمَطْلَبِ؟

Adapun ilmu yang hakiki, yaitu kasyf dan musyahadah dengan cahaya bashirah, bagaimana mungkin ia menjadi hijab, padahal ia adalah puncak tujuan pencarian?

وَهٰذَا التَّقْلِيدُ قَدْ يَكُونُ بَاطِلًا فَيَكُونُ مَانِعًا، كَمَنْ يَعْتَقِدُ فِي الِاسْتِوَاءِ عَلَى الْعَرْشِ التَّمَكُّنَ وَالِاسْتِقْرَارَ.

Taklid ini bisa jadi batil, sehingga menjadi penghalang; seperti orang yang meyakini bahwa istiwa’ di atas Arsy berarti menetap dan berdiam.

فَإِنْ خَطَرَ لَهُ مَثَلًا فِي الْقُدُّوسِ أَنَّهُ الْمُقَدَّسُ عَنْ كُلِّ مَا يَجُوزُ عَلَىٰ خَلْقِهِ، لَمْ يُمْكِنْهُ تَقْلِيدُهُ مِنْ أَنْ يَسْتَقِرَّ ذٰلِكَ فِي نَفْسِهِ.

Jika terlintas dalam benaknya bahwa Al-Quddūs adalah Zat yang disucikan dari segala sesuatu yang boleh terjadi pada makhluk-Nya, maka taklid yang ia pegang tidak akan mampu menanamkan makna itu ke dalam dirinya.

وَلَوِ اسْتَقَرَّ فِي نَفْسِهِ لَانْجَرَّ إِلَىٰ كَشْفٍ ثَانٍ وَثَالِثٍ، وَلَتَوَاصَلَ.

Kalau saja makna itu menetap dalam dirinya, niscaya ia akan terbawa kepada kasyf yang kedua dan ketiga, dan hal itu akan terus berlanjut.

وَلٰكِنَّهُ يَتَسَارَعُ إِلَىٰ دَفْعِ ذٰلِكَ عَنْ خَاطِرِهِ لِمُنَاقَضَتِهِ تَقْلِيدَهُ بِالْبَاطِلِ.

Akan tetapi ia segera menolak hal itu dari pikirannya karena ia bertentangan dengan taklid batil yang dipegangnya.

وَقَدْ يَكُونُ حَقًّا، وَيَكُونُ أَيْضًا مَانِعًا مِنَ الْفَهْمِ وَالْكَشْفِ، لِأَنَّ الْحَقَّ الَّذِي كُلِّفَ الْخَلْقُ اعْتِقَادَهُ لَهُ مَرَاتِبُ وَدَرَجَاتٌ، وَلَهُ مَبْدَأٌ ظَاهِرٌ وَغَوْرٌ بَاطِنٌ، وَجُمُودُ الطَّبْعِ عَلَى الظَّاهِرِ يَمْنَعُ مِنَ الْوُصُولِ إِلَى الْغَوْرِ الْبَاطِنِ كَمَا ذَكَرْنَاهُ فِي الْفَرْقِ بَيْنَ الْعِلْمِ الظَّاهِرِ وَالْبَاطِنِ فِي كِتَابِ قَوَاعِدِ الْعَقَائِدِ.

Kadang-kadang ia benar, namun tetap menjadi penghalang bagi pemahaman dan kasyf; karena kebenaran yang diperintahkan kepada makhluk untuk meyakininya memiliki tingkatan dan derajat. Ia memiliki permulaan yang tampak dan kedalaman batin yang tersembunyi. Pembekuan tabiat pada sisi lahir menghalangi seseorang mencapai kedalaman batin, sebagaimana telah kami sebutkan dalam perbedaan antara ilmu lahir dan ilmu batin dalam كتاب قواعد العقائد.

ثَالِثُهَا أَنْ يَكُونَ مُصِرًّا عَلَىٰ ذَنْبٍ، أَوْ مُتَّصِفًا بِكِبْرٍ، أَوْ مُبْتَلًى فِي الْجُمْلَةِ بِهَوًى فِي الدُّنْيَا مُطَاعٍ، فَإِنَّ ذٰلِكَ سَبَبُ ظُلْمَةِ الْقَلْبِ وَصَدَئِهِ، وَهُوَ كَالْخَبَثِ عَلَى الْمِرْآةِ، فَيَمْنَعُ جَلِيَّةَ الْحَقِّ مِنْ أَنْ تَتَجَلَّىٰ فِيهِ، وَهُوَ أَعْظَمُ حِجَابٍ لِلْقَلْبِ، وَبِهِ حُجِبَ الْأَكْثَرُونَ.

Yang ketiga ialah bahwa ia terus-menerus melakukan dosa, atau memiliki sifat sombong, atau secara umum telah tertimpa hawa nafsu dunia yang ditaati. Sebab hal itu mengakibatkan gelap dan berkaratnya hati. Ia laksana kotoran pada cermin yang menghalangi kenyataan kebenaran untuk menampakkan diri padanya. Itulah hijab paling besar bagi hati, dan dengannya kebanyakan manusia terhalang.

وَكُلَّمَا كَانَتِ الشَّهَوَاتُ أَشَدَّ تَرَاكُمًا كَانَتْ مَعَانِي الْكَلَامِ أَشَدَّ احْتِجَابًا، وَكُلَّمَا خَفَّ عَنِ الْقَلْبِ أَثْقَالُ الدُّنْيَا قَرُبَ تَجَلِّي الْمَعْنَىٰ فِيهِ.

Semakin kuat penumpukan syahwat, semakin terhalang pula makna-makna kalam. Dan semakin ringan beban-beban dunia dari hati, semakin dekat pula tersingkapnya makna di dalamnya.

فَالْقَلْبُ مِثْلُ الْمِرْآةِ، وَالشَّهَوَاتُ مِثْلُ الصَّدَإِ، وَمَعَانِي الْقُرْآنِ مِثْلُ الصُّوَرِ الَّتِي تَتَرَاءَىٰ فِي الْمِرْآةِ.

Maka hati itu seperti cermin, syahwat seperti karat, dan makna-makna Al-Qur’an seperti bayangan-bayangan yang tampak pada cermin.

وَالرِّيَاضَةُ لِلْقَلْبِ بِإِمَاطَةِ الشَّهَوَاتِ مِثْلُ تَصْقِيلِ الْجِلَاءِ لِلْمِرْآةِ.

Melatih hati dengan menyingkirkan syahwat itu laksana memoles dan mengkilapkan cermin.

وَلِذٰلِكَ قَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِذَا عَظَّمَتْ أُمَّتِي الدِّينَارَ وَالدِّرْهَمَ نُزِعَ مِنْهَا هَيْبَةُ الْإِسْلَامِ، وَإِذَا تَرَكُوا الْأَمْرَ بِالْمَعْرُوفِ وَالنَّهْيَ عَنِ الْمُنْكَرِ حُرِمُوا بَرَكَةَ الْوَحْيِ.

Karena itu beliau صلى الله عليه وسلم bersabda: “Apabila umatku mengagungkan dinar dan dirham, akan dicabut dari mereka kewibawaan Islam. Dan apabila mereka meninggalkan amar ma‘ruf nahi munkar, mereka akan diharamkan dari keberkahan wahyu.”

قَالَ الْفُضَيْلُ: يَعْنِي حُرِمُوا فَهْمَ الْقُرْآنِ.

Al-Fuḍail berkata: “Maksudnya, mereka diharamkan dari pemahaman Al-Qur’an.”

وَقَدْ شَرَطَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ الْإِنَابَةَ فِي الْفَهْمِ وَالتَّذْكِيرِ، فَقَالَ تَعَالَىٰ: ﴿تَبْصِرَةً وَذِكْرَىٰ لِكُلِّ عَبْدٍ مُنِيبٍ﴾، وَقَالَ عَزَّ وَجَلَّ: ﴿وَمَا يَتَذَكَّرُ إِلَّا مَنْ يُنِيبُ﴾، وَقَالَ تَعَالَىٰ: ﴿إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُولُو الْأَلْبَابِ﴾.

Allah عز وجل mensyaratkan inābah dalam pemahaman dan peringatan. Dia berfirman: “Sebagai penjelasan dan peringatan bagi setiap hamba yang kembali (kepada-Nya).” Dia juga berfirman: “Dan tidaklah mengambil pelajaran kecuali orang yang kembali kepada-Nya.” Dan Dia berfirman: “Sesungguhnya yang dapat mengambil pelajaran hanyalah orang-orang berakal.”

فَالَّذِي آثَرَ غُرُورَ الدُّنْيَا عَلَىٰ نَعِيمِ الْآخِرَةِ، فَلَيْسَ مِنْ ذَوِي الْأَلْبَابِ، وَلِذٰلِكَ لَا تَنْكَشِفُ لَهُ أَسْرَارُ الْكِتَابِ.

Maka orang yang lebih mengutamakan tipuan dunia daripada kenikmatan akhirat bukanlah termasuk orang-orang berakal. Karena itu rahasia-rahasia Kitab tidak akan tersingkap baginya.

رَابِعُهَا أَنْ يَكُونَ قَدْ قَرَأَ تَفْسِيرًا ظَاهِرًا، وَاعْتَقَدَ أَنَّهُ لَا مَعْنَىٰ لِكَلِمَاتِ الْقُرْآنِ إِلَّا مَا تَنَاوَلَهُ النَّقْلُ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ وَمُجَاهِدٍ وَغَيْرِهِمَا، وَأَنَّ مَا وَرَاءَ ذٰلِكَ تَفْسِيرٌ بِالرَّأْيِ، وَأَنَّ مَنْ فَسَّرَ الْقُرْآنَ بِرَأْيِهِ فَقَدْ تَبَوَّأَ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ، فَهٰذَا أَيْضًا مِنَ الْحُجُبِ الْعَظِيمَةِ.

Yang keempat ialah bahwa ia telah membaca tafsir zahir, lalu meyakini bahwa tidak ada makna bagi kata-kata Al-Qur’an kecuali apa yang dinukil dari Ibnu ‘Abbās, Mujāhid, dan selain keduanya; dan bahwa apa yang di luar itu adalah tafsir bi ar-ra’y; dan bahwa siapa yang menafsirkan Al-Qur’an dengan pendapatnya sendiri maka ia telah menyiapkan tempat duduknya di neraka. Ini juga termasuk hijab yang besar.

وَسَنُبَيِّنُ مَعْنَىٰ التَّفْسِيرِ بِالرَّأْيِ فِي الْبَابِ الرَّابِعِ، وَأَنَّ ذٰلِكَ لَا يُنَاقِضُ قَوْلَ عَلِيٍّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: إِلَّا أَنْ يُؤْتِيَ اللَّهُ عَبْدًا فَهْمًا فِي الْقُرْآنِ، وَأَنَّهُ لَوْ كَانَ الْمَعْنَىٰ هُوَ الظَّاهِرَ الْمَنْقُولَ لَمَا اخْتَلَفَتِ النَّاسُ فِيهِ.

Dan kami akan menjelaskan makna tafsir bi ar-ra’y pada bab keempat, dan hal itu tidak bertentangan dengan ucapan ‘Ali رضي الله عنه: “Kecuali jika Allah memberi seorang hamba pemahaman dalam Al-Qur’an.” Seandainya makna itu hanya makna zahir yang dinukil, niscaya manusia tidak akan berselisih tentangnya.

اَلسَّابِعُ: التَّخْصِيصُ، وَهُوَ أَنْ يُقَدِّرَ أَنَّهُ الْمَقْصُودُ بِكُلِّ خِطَابٍ فِي الْقُرْآنِ، فَإِنْ سَمِعَ أَمْرًا أَوْ نَهْيًا قَدَّرَ أَنَّهُ الْمَنْهِيُّ وَالْمَأْمُورُ، وَإِنْ سَمِعَ وَعْدًا أَوْ وَعِيدًا فَكَمِثْلِ ذٰلِكَ، وَإِنْ سَمِعَ قَصَصَ الْأَوَّلِينَ وَالْأَنْبِيَاءِ عَلِمَ أَنَّ السَّمَرَ غَيْرُ مَقْصُودٍ، وَإِنَّمَا الْمَقْصُودُ لِيُعْتَبَرَ بِهِ وَلِيَأْخُذَ مِنْ تَضَاعِيفِهِ مَا يَحْتَاجُ إِلَيْهِ.

Yang ketujuh ialah pengkhususan, yaitu ia membayangkan bahwa dirinya sendirilah yang dimaksud oleh setiap khithab dalam Al-Qur’an. Jika ia mendengar perintah atau larangan, hendaklah ia menganggap dirinya sebagai yang dilarang dan yang diperintah. Jika ia mendengar janji atau ancaman, maka demikian pula. Jika ia mendengar kisah-kisah orang terdahulu dan para nabi, ia tahu bahwa tujuan penceritaan bukanlah sekadar kisah, melainkan agar diambil pelajaran darinya dan agar ia mengambil dari bagian-bagiannya apa yang ia perlukan.

فَمَا مِنْ قِصَّةٍ فِي الْقُرْآنِ إِلَّا وَسِيَاقُهَا لِفَائِدَةٍ فِي حَقِّ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأُمَّتِهِ، وَلِذٰلِكَ قَالَ تَعَالَىٰ: ﴿مَا نُثَبِّتُ بِهِ فُؤَادَكَ﴾.

Tidak ada satu pun kisah dalam Al-Qur’an melainkan susunannya mengandung manfaat bagi Nabi صلى الله عليه وسلم dan umatnya. Karena itu Allah Ta‘ālā berfirman: “Dengan itulah Kami meneguhkan hatimu.”

فَلْيُقَدِّرِ الْعَبْدُ أَنَّ اللَّهَ ثَبَّتَ فُؤَادَهُ بِمَا يَقُصُّهُ عَلَيْهِ مِنْ أَحْوَالِ الْأَنْبِيَاءِ وَصَبْرِهِمْ عَلَى الْإِيذَاءِ وَثَبَاتِهِمْ فِي الدِّينِ لِانْتِظَارِ نَصْرِ اللَّهِ تَعَالَىٰ.

Maka hendaklah seorang hamba membayangkan bahwa Allah meneguhkan hatinya dengan apa yang diceritakan kepadanya tentang keadaan para nabi, kesabaran mereka atas gangguan, dan keteguhan mereka di atas agama dalam menanti pertolongan Allah Ta‘ālā.

وَكَيْفَ لَا يُقَدِّرُ هٰذَا وَالْقُرْآنُ مَا أُنْزِلَ عَلَىٰ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِرَسُولِ اللَّهِ خَاصَّةً، بَلْ هُوَ شِفَاءٌ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ وَنُورٌ لِلْعَالَمِينَ؟

Dan bagaimana mungkin ia tidak membayangkan hal ini, padahal Al-Qur’an yang diturunkan kepada Rasulullah صلى الله عليه وسلم bukanlah khusus bagi Rasulullah semata, melainkan ia adalah penyembuh, petunjuk, rahmat, dan cahaya bagi seluruh alam?

وَلِذٰلِكَ أَمَرَ اللَّهُ تَعَالَى الْكَافَّةَ بِشُكْرِ نِعْمَةِ الْكِتَابِ، فَقَالَ تَعَالَىٰ: ﴿وَاذْكُرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَمَا أَنْزَلَ عَلَيْكُمْ مِنَ الْكِتَابِ وَالْحِكْمَةِ يَعِظُكُمْ بِهِ﴾.

Karena itu Allah Ta‘ālā memerintahkan seluruh manusia untuk mensyukuri nikmat Kitab. Dia berfirman: “Dan ingatlah nikmat Allah atas kalian serta apa yang telah Dia turunkan kepada kalian berupa Kitab dan hikmah; Dia memberi pelajaran kepada kalian dengannya.”

وَقَالَ عَزَّ وَجَلَّ: ﴿لَقَدْ أَنْزَلْنَا إِلَيْكُمْ كِتَابًا فِيهِ ذِكْرُكُمْ أَفَلَا تَعْقِلُونَ﴾، وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الذِّكْرَ لِتُبَيِّنَ لِلنَّاسِ مَا نُزِّلَ إِلَيْهِمْ، كَذٰلِكَ يَضْرِبُ اللَّهُ لِلنَّاسِ أَمْثَالَهُمْ.

Dan Dia عز وجل berfirman: “Sungguh Kami telah menurunkan kepada kalian sebuah Kitab yang di dalamnya terdapat peringatan kalian. Maka tidakkah kalian berakal?” Dan: “Kami turunkan kepadamu Adz-Dzikr agar engkau menjelaskan kepada manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka.” Demikianlah Allah membuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia.

وَاتَّبِعُوا أَحْسَنَ مَا أُنْزِلَ إِلَيْكُمْ مِنْ رَبِّكُمْ، هٰذَا بَصَائِرُ لِلنَّاسِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِقَوْمٍ يُوقِنُونَ، هٰذَا بَيَانٌ لِلنَّاسِ وَهُدًى وَمَوْعِظَةٌ لِلْمُتَّقِينَ.

Dan ikutilah sebaik-baik apa yang diturunkan kepadamu dari Rabbmu. Ini adalah cahaya-cahaya penjelas bagi manusia, petunjuk dan rahmat bagi kaum yang yakin. Ini adalah penjelasan bagi manusia, petunjuk, dan pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa.

وَإِذَا قَصَدَ بِالْخِطَابِ جَمِيعَ النَّاسِ فَقَدْ قَصَدَ الْآحَادَ، فَهٰذَا الْقَارِئُ الْوَاحِدُ مَقْصُودٌ، فَمَا لَهُ وَلِسَائِرِ النَّاسِ؟

Apabila khithab itu ditujukan kepada seluruh manusia, maka khithab itu juga ditujukan kepada setiap individu. Maka pembaca yang seorang ini pun menjadi sasaran khithab tersebut; lalu apa urusannya dengan orang-orang lain?

فَلْيُقَدِّرْ أَنَّهُ الْمَقْصُودُ.

Maka hendaklah ia membayangkan bahwa dirinya-lah yang dimaksud.

قَالَ اللَّهُ تَعَالَىٰ: ﴿وَأُوحِيَ إِلَيَّ هٰذَا الْقُرْآنُ لِأُنْذِرَكُمْ بِهِ وَمَنْ بَلَغَ﴾.

Allah Ta‘ālā berfirman: “Dan diwahyukan kepadaku Al-Qur’an ini agar dengannya aku memberi peringatan kepada kalian dan kepada siapa pun yang sampai kepadanya.”

قَالَ مُحَمَّدُ بْنُ كَعْبٍ الْقُرَظِيُّ: مَنْ بَلَغَهُ الْقُرْآنُ فَكَأَنَّمَا كَلَّمَهُ اللَّهُ.

Muḥammad bin Ka‘b al-Quraẓī berkata: “Barang siapa yang telah sampai kepadanya Al-Qur’an, seolah-olah Allah telah berbicara langsung kepadanya.”

وَإِذَا قَدَّرَ ذٰلِكَ لَمْ يَتَّخِذْ دِرَاسَةَ الْقُرْآنِ عَمَلَهُ، بَلْ يَقْرَؤُهُ كَمَا يَقْرَأُ الْعَبْدُ كِتَابَ مَوْلَاهُ الَّذِي كَتَبَهُ إِلَيْهِ لِيَتَأَمَّلَهُ وَيَعْمَلَ بِمُقْتَضَاهُ.

Jika ia membayangkan hal itu, ia tidak akan menjadikan sekadar mempelajari Al-Qur’an sebagai pekerjaannya, melainkan ia membacanya sebagaimana seorang hamba membaca surat dari tuannya yang dikirim kepadanya agar ia merenunginya dan mengamalkan isi kandungannya.

وَلِذٰلِكَ قَالَ بَعْضُ الْعُلَمَاءِ: هٰذَا الْقُرْآنُ رَسَائِلُ أَتَتْنَا مِنْ قِبَلِ رَبِّنَا عَزَّ وَجَلَّ بِعُهُودِهِ، نَتَدَبَّرُهَا فِي الصَّلَوَاتِ، وَنَقِفُ عَلَيْهَا فِي الْخَلَوَاتِ، وَنُنَفِّذُهَا فِي الطَّاعَاتِ وَالسُّنَنِ الْمُتَّبَعَاتِ.

Karena itu sebagian ulama berkata: “Al-Qur’an ini adalah surat-surat yang datang kepada kita dari sisi Rabb kita عز وجل dengan perjanjian-perjanjian-Nya. Kita mentadabburinya dalam salat, kita merenunginya di saat-saat sepi, dan kita melaksanakannya dalam ketaatan dan sunnah-sunnah yang diikuti.”

وَكَانَ مَالِكُ بْنُ دِينَارٍ يَقُولُ: مَا زَرَعَ الْقُرْآنُ فِي قُلُوبِكُمْ يَا أَهْلَ الْقُرْآنِ، إِنَّ الْقُرْآنَ رَبِيعُ الْمُؤْمِنِ كَمَا أَنَّ الْغَيْثَ رَبِيعُ الْأَرْضِ.

Mālik bin Dīnār berkata: “Apa yang telah ditanam Al-Qur’an di dalam hati kalian, wahai ahli Al-Qur’an? Sesungguhnya Al-Qur’an adalah musim semi bagi orang beriman, sebagaimana hujan adalah musim semi bagi bumi.”

وَقَالَ قَتَادَةُ: لَمْ يُجَالِسْ أَحَدٌ هٰذَا الْقُرْآنَ إِلَّا قَامَ بِزِيَادَةٍ أَوْ نُقْصَانٍ، قَالَ تَعَالَىٰ: ﴿هُوَ شِفَاءٌ وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ وَلَا يَزِيدُ الظَّالِمِينَ إِلَّا خَسَارًا﴾.

Qatādah berkata: “Tidaklah seseorang duduk bersama Al-Qur’an melainkan ia bangkit dengan tambahan atau kekurangan.” Allah Ta‘ālā berfirman: “Ia adalah penyembuh dan rahmat bagi orang-orang beriman, dan tidak menambah bagi orang-orang zalim kecuali kerugian.”

اَلثَّامِنُ: التَّأَثُّرُ، وَهُوَ أَنْ يَتَأَثَّرَ قَلْبُهُ بِآثَارٍ مُخْتَلِفَةٍ بِحَسَبِ اخْتِلَافِ الْآيَاتِ، فَيَكُونَ لَهُ بِحَسَبِ كُلِّ فَهْمٍ حَالٌ وَوَجْدٌ يَتَّصِفُ بِهِ قَلْبُهُ مِنَ الْحُزْنِ وَالْخَوْفِ وَالرَّجَاءِ وَغَيْرِهِ.

Yang kedelapan: keterpengaruhan, yaitu hatinya terpengaruh oleh kesan-kesan yang berbeda-beda sesuai perbedaan ayat-ayat. Maka sesuai dengan setiap pemahaman, terdapat keadaan dan rasa yang mewarnai hatinya, seperti sedih, takut, berharap, dan selainnya.

وَمَهْمَا تَمَّتْ مَعْرِفَتُهُ كَانَتِ الْخَشْيَةُ أَغْلَبَ الْأَحْوَالِ عَلَىٰ قَلْبِهِ، فَإِنَّ التَّضْيِيقَ غَالِبٌ عَلَىٰ آيَاتِ الْقُرْآنِ، فَلَا يَرَىٰ ذِكْرَ الْمَغْفِرَةِ وَالرَّحْمَةِ إِلَّا مَقْرُونًا بِشُرُوطٍ يَقْصُرُ الْعَارِفُ عَنْ نَيْلِهَا.

Betapa pun sempurna pengetahuannya, yang paling dominan pada hatinya ialah rasa takut. Sebab nuansa pembatasan lebih banyak mendominasi ayat-ayat Al-Qur’an. Maka ia tidak melihat penyebutan ampunan dan rahmat kecuali selalu disertai syarat-syarat yang tidak sanggup dicapai oleh orang yang berilmu.

كَقَوْلِهِ عَزَّ وَجَلَّ: ﴿وَإِنِّي لَغَفَّارٌ﴾ ثُمَّ أَتْبَعَ ذٰلِكَ بِأَرْبَعَةِ شُرُوطٍ: ﴿لِمَنْ تَابَ وَآمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا ثُمَّ اهْتَدَىٰ﴾.

Seperti firman-Nya عز وجل: “Dan sesungguhnya Aku Maha Pengampun,” lalu disertai empat syarat: “bagi orang yang bertobat, beriman, beramal saleh, lalu mendapat petunjuk.”

وَقَوْلِهِ تَعَالَىٰ: ﴿وَالْعَصْرِ ۝ إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ ۝ إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ﴾، ذَكَرَ أَرْبَعَةَ شُرُوطٍ.

Dan firman-Nya Ta‘ālā: “Demi masa. Sungguh manusia benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman, beramal saleh, saling menasihati dalam kebenaran, dan saling menasihati dalam kesabaran.” Di sini disebutkan empat syarat.

وَحَيْثُ اقْتَصَرَ ذَكَرَ شَرْطًا جَامِعًا، فَقَالَ تَعَالَىٰ: ﴿إِنَّ رَحْمَتَ اللَّهِ قَرِيبٌ مِنَ الْمُحْسِنِينَ﴾، فَالْإِحْسَانُ يَجْمَعُ الْكُلَّ.

Dan ketika disingkat, disebutkan satu syarat yang mencakup semuanya. Allah Ta‘ālā berfirman: “Sesungguhnya rahmat Allah dekat dengan orang-orang yang berbuat ihsan.” Maka ihsan mencakup semuanya.

وَهَكَذَا مَنْ يَتَصَفَّحُ الْقُرْآنَ مِنْ أَوَّلِهِ إِلَىٰ آخِرِهِ.

Demikian pula orang yang menelusuri Al-Qur’an dari awal sampai akhir.

وَمَنْ فَهِمَ ذٰلِكَ فَجَدِيرٌ بِأَنْ يَكُونَ حَالُهُ الْخَشْيَةَ وَالْحُزْنَ.

Barang siapa memahami hal itu, maka layaklah keadaannya dipenuhi rasa takut dan sedih.

وَلِذٰلِكَ قَالَ الْحَسَنُ: وَاللَّهِ مَا أَصْبَحَ الْيَوْمَ عَبْدٌ يَتْلُو الْقُرْآنَ يُؤْمِنُ بِهِ إِلَّا كَثُرَ حُزْنُهُ وَقَلَّ فَرَحُهُ، وَكَثُرَ بُكَاؤُهُ وَقَلَّ ضِحْكُهُ، وَكَثُرَ نَصَبُهُ وَشُغْلُهُ وَقَلَّتْ رَاحَتُهُ وَبَطَالَتُهُ.

Karena itulah al-Hasan berkata: “Demi Allah, tidaklah pada hari ini seorang hamba bangun lalu membaca Al-Qur’an dan beriman kepadanya kecuali bertambah kesedihannya, berkurang kegembiraannya, bertambah tangisnya, berkurang tawanya, bertambah lelah dan kesibukannya, serta berkurang istirahat dan kelengahannya.”

وَقَالَ وَهْبُ بْنُ الْوَرْدِ: نَظَرْنَا فِي هٰذِهِ الْأَحَادِيثِ وَالْمَوَاعِظِ، فَلَمْ نَجِدْ شَيْئًا أَرَقَّ لِلْقُلُوبِ وَلَا أَشَدَّ اسْتِجْلَابًا لِلْحُزْنِ مِنْ قِرَاءَةِ الْقُرْآنِ وَتَفَهُّمِهِ وَتَدَبُّرِهِ.

Wahb bin al-Ward berkata: “Kami meneliti hadis-hadis dan nasihat-nasihat ini, dan tidak kami dapati sesuatu yang lebih lembut bagi hati dan lebih kuat menarik kesedihan daripada membaca Al-Qur’an, memahaminya, dan mentadabburinya.”

فَتَأَثُّرُ الْعَبْدِ بِالتِّلَاوَةِ أَنْ يَصِيرَ بِصِفَةِ الْآيَةِ الْمَتْلُوَّةِ، فَعِنْدَ الْوَعِيدِ وَتَقْيِيدِ الْمَغْفِرَةِ بِالشُّرُوطِ يَتَضَاءَلُ مِنْ خِيفَتِهِ كَأَنَّهُ يَكَادُ يَمُوتُ.

Keterpengaruhan hamba oleh tilawah ialah bahwa ia menjadi seakan-akan mencerminkan sifat ayat yang dibacanya. Ketika membaca ancaman dan pembatasan ampunan dengan syarat-syarat, ia menjadi sangat kecil karena takut, seakan-akan hampir mati.

وَعِنْدَ التَّوَسُّعِ وَوَعْدِ الْمَغْفِرَةِ يَسْتَبْشِرُ كَأَنَّهُ يَطِيرُ مِنَ الْفَرَحِ.

Dan ketika mendengar kelapangan dan janji ampunan, ia bergembira seakan-akan terbang karena bahagia.

وَعِنْدَ ذِكْرِ اللَّهِ وَصِفَاتِهِ وَأَسْمَائِهِ يَتَطَأْطَأُ خُضُوعًا لِجَلَالِهِ وَاسْتِشْعَارًا لِعَظَمَتِهِ.

Dan ketika disebut nama, sifat, dan keagungan Allah, ia menunduk karena khusyuk kepada keagungan-Nya dan merasakan kebesaran-Nya.

وَعِنْدَ ذِكْرِ الْكُفَّارِ مَا يَسْتَحِيلُ عَلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ، كَذِكْرِهِمْ لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَلَدًا وَصَاحِبَةً، يُغَضُّ صَوْتَهُ وَيُكْسَرُ فِي بَاطِنِهِ حَيَاءً مِنْ قُبْحِ مَقَالَتِهِمْ.

Dan ketika disebut kaum kafir yang menisbahkan kepada Allah عز وجل sesuatu yang mustahil bagi-Nya, seperti menisbahkan kepada Allah عز وجل anak dan istri, suaranya direndahkan dan batinnya remuk karena malu terhadap buruknya ucapan mereka.

وَعِنْدَ وَصْفِ الْجَنَّةِ يَنْبَعِثُ بِبَاطِنِهِ شَوْقًا إِلَيْهَا.

Dan ketika surga digambarkan, batinnya bergerak penuh kerinduan kepadanya.

وَعِنْدَ وَصْفِ النَّارِ تَرْتَعِدُ فَرَائِصُهُ خَوْفًا مِنْهَا.

Dan ketika neraka digambarkan, tubuhnya bergetar ketakutan terhadapnya.

وَلَمَّا قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِابْنِ مَسْعُودٍ: اقْرَأْ عَلَيَّ، قَالَ: فَافْتَتَحْتُ سُورَةَ النِّسَاءِ، فَلَمَّا بَلَغْتُ: ﴿فَكَيْفَ إِذَا جِئْنَا مِنْ كُلِّ أُمَّةٍ بِشَهِيدٍ وَجِئْنَا بِكَ عَلَىٰ هٰؤُلَاءِ شَهِيدًا﴾ رَأَيْتُ عَيْنَيْهِ تَذْرِفَانِ بِالدَّمْعِ، فَقَالَ لِي: حَسْبُكَ الْآنَ.

Dan ketika Rasulullah صلى الله عليه وسلم berkata kepada Ibnu Mas‘ūd: “Bacakan kepadaku,” ia berkata: “Maka aku memulai Surah an-Nisā’. Ketika aku sampai pada firman-Nya: ‘Maka bagaimana jika Kami datangkan dari setiap umat seorang saksi dan Kami datangkan engkau atas mereka sebagai saksi,’ aku melihat kedua mata beliau mengalirkan air mata. Lalu beliau berkata kepadaku: ‘Cukup sampai di sini.’”

وَهٰذَا لِأَنَّ مُشَاهَدَةَ تِلْكَ الْحَالَةِ اسْتَغْرَقَتْ قَلْبَهُ بِالْكُلِّيَّةِ.

Hal itu karena penyaksian keadaan tersebut telah sepenuhnya menyerap hatinya.

وَلَقَدْ كَانَ فِي الْخَائِفِينَ مَنْ خَرَّ مُغْشِيًا عَلَيْهِ عِنْدَ آيَاتِ الْوَعِيدِ، وَمِنْهُمْ مَنْ مَاتَ فِي سَمَاعِ الْآيَاتِ.

Di antara orang-orang yang takut ada yang jatuh pingsan ketika mendengar ayat-ayat ancaman, dan di antara mereka ada yang mati ketika mendengarkan ayat-ayat itu.

فَمِثْلُ هٰذِهِ الْأَحْوَالِ يُخْرِجُهُ عَنْ أَنْ يَكُونَ حَاكِيًا فِي كَلَامِهِ.

Keadaan semacam ini mengeluarkannya dari sekadar menjadi orang yang hanya menuturkan kata-kata.

فَإِذَا قَالَ: إِنِّي أَخَافُ إِنْ عَصَيْتُ رَبِّي عَذَابَ يَوْمٍ عَظِيمٍ، وَلَمْ يَكُنْ خَائِفًا، كَانَ حَاكِيًا.

Maka jika ia berkata, “Sesungguhnya aku takut jika aku mendurhakai Rabbku akan azab hari yang besar,” padahal ia tidak takut, maka ia hanyalah penutur.

وَإِذَا قَالَ: عَلَيْكَ تَوَكَّلْنَا وَإِلَيْكَ أَنَبْنَا وَإِلَيْكَ الْمَصِيرُ، وَلَمْ يَكُنْ حَالُهُ التَّوَكُّلَ وَالْإِنَابَةَ، كَانَ حَاكِيًا.

Dan jika ia berkata, “Kepada-Mu kami bertawakal, kepada-Mu kami kembali, dan kepada-Mu tempat kembali,” padahal keadaannya tidak bertawakal dan tidak kembali kepada Allah, maka ia hanyalah penutur.

وَإِذَا قَالَ: وَلَنَصْبِرَنَّ عَلَىٰ مَا آذَيْتُمُونَا، فَلْيَكُنْ حَالُهُ الصَّبْرَ أَوِ الْعَزِيمَةَ عَلَيْهِ حَتَّىٰ يَجِدَ حَلَاوَةَ التِّلَاوَةِ.

Dan jika ia berkata, “Sungguh kami akan bersabar atas apa yang kalian ganggu kepada kami,” maka hendaknya keadaannya benar-benar sabar atau kuat bertekad untuk bersabar, hingga ia merasakan manisnya tilawah.

فَإِنْ لَمْ يَكُنْ بِهٰذِهِ الصِّفَاتِ وَلَمْ يَتَرَدَّدْ قَلْبُهُ بَيْنَ هٰذِهِ الْحَالَاتِ، كَانَ حَظُّهُ مِنَ التِّلَاوَةِ حَرَكَةَ اللِّسَانِ مَعَ صَرِيحِ اللَّعْنِ عَلَىٰ نَفْسِهِ فِي قَوْلِهِ تَعَالَىٰ: ﴿أَلَا لَعْنَةُ اللَّهِ عَلَى الظَّالِمِينَ﴾، وَفِي قَوْلِهِ تَعَالَىٰ: ﴿كَبُرَ مَقْتًا عِنْدَ اللَّهِ أَنْ تَقُولُوا مَا لَا تَفْعَلُونَ﴾، وَفِي قَوْلِهِ عَزَّ وَجَلَّ: ﴿وَهُمْ فِي غَفْلَةٍ مُعْرِضُونَ﴾، وَفِي قَوْلِهِ: ﴿فَأَعْرِضْ عَنْ مَنْ تَوَلَّىٰ عَنْ ذِكْرِنَا وَلَمْ يُرِدْ إِلَّا الْحَيَاةَ الدُّنْيَا﴾، وَفِي قَوْلِهِ تَعَالَىٰ: ﴿وَمَنْ لَمْ يَتُبْ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ﴾، إِلَىٰ غَيْرِ ذٰلِكَ مِنَ الْآيَاتِ.

Jika ia tidak memiliki sifat-sifat tersebut dan hatinya tidak berpindah di antara keadaan-keadaan itu, maka bagiannya dari tilawah hanyalah gerakan lisan, disertai kutukan yang jelas atas dirinya sendiri dalam firman-Nya Ta‘ālā: “Ketahuilah, laknat Allah atas orang-orang zalim,” dan dalam firman-Nya Ta‘ālā: “Amat besar kemurkaan di sisi Allah bahwa kalian mengatakan apa yang tidak kalian kerjakan,” dan dalam firman-Nya عز وجل: “Sedang mereka berada dalam kelalaian lagi berpaling,” dan dalam firman-Nya: “Maka berpalinglah engkau dari orang yang berpaling dari peringatan Kami dan tidak menginginkan kecuali kehidupan dunia,” dan dalam firman-Nya Ta‘ālā: “Barang siapa tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang zalim,” dan ayat-ayat selain itu.

وَكَانَ دَاخِلًا فِي مَعْنَىٰ قَوْلِهِ عَزَّ وَجَلَّ: ﴿وَمِنْهُمْ أُمِّيُّونَ لَا يَعْلَمُونَ الْكِتَابَ إِلَّا أَمَانِيَّ﴾، يَعْنِي التِّلَاوَةَ الْمُجَرَّدَةَ، وَقَوْلِهِ عَزَّ وَجَلَّ: ﴿وَكَأَيِّنْ مِنْ آيَةٍ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ يَمُرُّونَ عَلَيْهَا وَهُمْ عَنْهَا مُعْرِضُونَ﴾، لِأَنَّ الْقُرْآنَ هُوَ الْمُبَيِّنُ لِتِلْكَ الْآيَاتِ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ، وَمَهْمَا تَجَاوَزَهَا وَلَمْ يَتَأَثَّرْ بِهَا كَانَ مُعْرِضًا عَنْهَا.

Ia termasuk dalam makna firman-Nya عز وجل: “Dan di antara mereka ada orang-orang yang buta huruf, yang tidak mengetahui Kitab kecuali angan-angan kosong,” yakni tilawah semata-mata, serta firman-Nya عز وجل: “Dan betapa banyak tanda-tanda di langit dan bumi yang mereka lalui, sedangkan mereka berpaling darinya.” Karena Al-Qur’an adalah penjelas bagi tanda-tanda itu di langit dan bumi. Selama ia melewatinya tanpa terpengaruh olehnya, berarti ia berpaling darinya.

وَلِذٰلِكَ قِيلَ: إِنَّ مَنْ لَمْ يَكُنْ مُتَّصِفًا بِأَخْلَاقِ الْقُرْآنِ فَإِذَا قَرَأَ الْقُرْآنَ نَادَاهُ اللَّهُ تَعَالَىٰ: مَالَكَ وَلِكَلَامِي؟ وَأَنْتَ مُعْرِضٌ عَنِّي! دَعْ عَنْكَ كَلَامِي إِنْ لَمْ تَتُبْ إِلَيَّ.

Karena itu dikatakan: barang siapa tidak bersifat dengan akhlak Al-Qur’an, lalu ketika ia membaca Al-Qur’an Allah Ta‘ālā menyerunya: “Apa urusanmu dengan kalam-Ku, sedangkan engkau berpaling dari-Ku? Tinggalkanlah kalam-Ku jika engkau belum bertobat kepada-Ku.”

وَمَثَلُ الْعَاصِي إِذَا قَرَأَ الْقُرْآنَ وَكَرَّرَهُ مَثَلُ مَنْ يُكَرِّرُ كِتَابَ الْمَلِكِ فِي كُلِّ يَوْمٍ مَرَّاتٍ، وَقَدْ كُتِبَ إِلَيْهِ فِي عِمَارَةِ مَمْلَكَتِهِ وَهُوَ مُشْتَغِلٌ بِتَخْرِيبِهَا، وَمُقْتَصِرٌ عَلَىٰ دِرَاسَةِ كِتَابِهِ، فَلَعَلَّهُ لَوْ تَرَكَ الدِّرَاسَةَ عِنْدَ الْمُخَالَفَةِ لَكَانَ أَبْعَدَ عَنِ الِاسْتِهْزَاءِ وَاسْتِحْقَاقِ الْمَقْتِ.

Perumpamaan orang yang durhaka ketika membaca Al-Qur’an dan mengulang-ulangnya adalah seperti orang yang setiap hari berkali-kali mengulang surat raja, padahal kepadanya telah ditulis tentang membangun kerajaannya sementara ia sibuk merobohkannya, dan ia hanya membatasi diri pada mempelajari surat itu. Mungkin saja seandainya ia meninggalkan pembelajaran saat ia menyelisihi isi surat, itu lebih jauh dari sikap mengejek dan lebih layak terhindar dari kemurkaan.

وَلِذٰلِكَ قَالَ يُوسُفُ بْنُ أَسْبَاطٍ: إِنِّي لَأَهِمُّ بِقِرَاءَةِ الْقُرْآنِ فَإِذَا ذَكَرْتُ مَا فِيهِ خَشِيتُ الْمَقْتَ فَأَعْدِلُ إِلَى التَّسْبِيحِ وَالِاسْتِغْفَارِ.

Karena itu Yusuf bin Asbath berkata: “Sungguh aku ingin membaca Al-Qur’an, lalu ketika aku mengingat apa yang ada di dalamnya, aku takut kepada kemurkaan. Maka aku beralih kepada tasbih dan istighfar.”

وَالْمُعْرِضُ عَنِ الْعَمَلِ بِهِ أُرِيدَ بِقَوْلِهِ عَزَّ وَجَلَّ: ﴿فَنَبَذُوهُ وَرَاءَ ظُهُورِهِمْ وَاشْتَرَوْا بِهِ ثَمَنًا قَلِيلًا ��َبِئْسَ مَا يَشْتَرُونَ﴾.

Orang yang berpaling dari mengamalkannya termasuk yang dimaksud dalam firman-Nya عز وجل: “Maka mereka melemparkannya ke belakang punggung mereka dan menjualnya dengan harga yang sedikit. Maka buruk sekali apa yang mereka beli.”

وَلِذٰلِكَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: اقْرَءُوا الْقُرْآنَ مَا ائْتَلَفَتْ عَلَيْهِ قُلُوبُكُمْ وَلَانَتْ لَهُ جُلُودُكُمْ، فَإِذَا اخْتَلَفْتُمْ فَلَسْتُمْ تَقْرَءُونَهُ.

Karena itu Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda: “Bacalah Al-Qur’an selama hati kalian bersatu karenanya dan kulit kalian menjadi lembut karenanya. Jika kalian berselisih, berarti kalian tidak membacanya.”

وَفِي بَعْضِهَا: فَإِذَا اخْتَلَفْتُمْ فَقُومُوا عَنْهُ.

Dalam sebagian riwayat disebutkan: “Jika kalian berselisih, maka tinggalkanlah ia.”

قَالَ اللَّهُ تَعَالَىٰ: ﴿الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَعَلَىٰ رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ﴾.

Allah Ta‘ālā berfirman: “(Yaitu) orang-orang yang apabila disebut Allah, hati mereka gemetar; dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, ayat-ayat itu menambah iman mereka; dan kepada Rabb mereka mereka bertawakal.”

وَقَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنَّ أَحْسَنَ النَّاسِ صَوْتًا بِالْقُرْآنِ الَّذِي إِذَا سَمِعْتَهُ يَقْرَأُ رَأَيْتَ أَنَّهُ يَخْشَى اللَّهَ تَعَالَىٰ.

Beliau صلى الله عليه وسلم bersabda: “Sesungguhnya manusia yang paling baik suaranya dalam membaca Al-Qur’an ialah orang yang ketika engkau mendengarnya membaca, engkau melihat bahwa ia takut kepada Allah Ta‘ālā.”

وَقَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لَا يُسْمَعُ الْقُرْآنُ مِنْ أَحَدٍ أَشْهَىٰ مِمَّنْ يَخْشَى اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ.

Beliau صلى الله عليه وسلم bersabda: “Tidaklah Al-Qur’an didengarkan dari seseorang dengan lebih nikmat daripada dari orang yang takut kepada Allah عز وجل.”

يُرَادُ لِاسْتِجْلَابِ هٰذِهِ الْأَحْوَالِ إِلَى الْقَلْبِ وَالْعَمَلِ بِهِ، وَإِلَّا فَالْمُؤْنَةُ فِي تَحْرِيكِ اللِّسَانِ بِحُرُوفِهِ خَفِيفَةٌ.

Yang dimaksud ialah menarik keadaan-keadaan itu ke dalam hati dan mengamalkannya. Jika tidak, maka beban menggerakkan lisan dengan huruf-hurufnya itu ringan saja.

وَلِذٰلِكَ قَالَ بَعْضُ الْقُرَّاءِ: قَرَأْتُ الْقُرْآنَ عَلَىٰ شَيْخٍ لِي ثُمَّ رَجَعْتُ لِأَقْرَأَ ثَانِيًا، فَانْتَهَرَنِي وَقَالَ: جَعَلْتَ الْقُرْآنَ عَلَيَّ عَمَلًا! اذْهَبْ فَاقْرَأْ عَلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ، فَانْظُرْ بِمَاذَا يَأْمُرُكَ وَبِمَاذَا يَنْهَاكَ.

Karena itu sebagian qari’ berkata: “Aku pernah membaca Al-Qur’an kepada seorang syaikh, lalu aku kembali untuk membaca lagi. Ia membentakku dan berkata: ‘Engkau menjadikan Al-Qur’an sebagai beban bagiku! Pergilah dan bacalah di hadapan Allah عز وجل, lalu lihatlah apa yang Dia perintahkan kepadamu dan apa yang Dia larang darimu.’”

وَبِهٰذَا كَانَ شُغْلُ الصَّحَابَةِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ فِي الْأَحْوَالِ وَالْأَعْمَالِ.

Dengan inilah kesibukan para sahabat رضي الله عنهم tertuju kepada keadaan-keadaan dan amalan-amalan.

فَمَاتَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ عِشْرِينَ أَلْفًا مِنَ الصَّحَابَةِ لَمْ يَحْفَظِ الْقُرْآنَ مِنْهُمْ إِلَّا سِتَّةٌ، اخْتُلِفَ فِي اثْنَيْنِ مِنْهُمْ.

Rasulullah صلى الله عليه وسلم wafat dengan meninggalkan dua puluh ribu sahabat, dan tidaklah di antara mereka yang hafal Al-Qur’an kecuali enam orang, dan ada perbedaan pada dua orang di antaranya.

وَكَانَ أَكْثَرُهُمْ يَحْفَظُ السُّورَةَ وَالسُّورَتَيْنِ، وَكَانَ الَّذِي يَحْفَظُ الْبَقَرَةَ وَالْأَنْعَامَ مِنْ عُلَمَائِهِمْ.

Kebanyakan mereka menghafal satu atau dua surah, sedangkan yang menghafal Al-Baqarah dan Al-An‘ām termasuk ulama mereka.

وَلَمَّا جَاءَ وَاحِدٌ لِيَتَعَلَّمَ الْقُرْآنَ، فَانْتَهَىٰ إِلَىٰ قَوْلِهِ عَزَّ وَجَلَّ: ﴿فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ ۝ وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ﴾، قَالَ: يَكْفِينِي هٰذَا وَانْصَرَفَ، فَقَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: انْصَرَفَ الرَّجُلُ وَهُوَ فَقِيهٌ.

Ketika datang seorang laki-laki untuk belajar Al-Qur’an, lalu ia sampai pada firman-Nya عز وجل: “Maka barang siapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah, niscaya ia akan melihatnya. Dan barang siapa mengerjakan kejahatan seberat zarrah, niscaya ia akan melihatnya,” ia berkata, “Cukuplah ini bagiku,” lalu ia pun pergi. Maka beliau صلى الله عليه وسلم bersabda: “Laki-laki itu pergi dalam keadaan faqih.”

وَإِنَّمَا الْعَزِيزُ مِثْلُ تِلْكَ الْحَالَةِ الَّتِي مِنَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ بِهَا عَلَىٰ قَلْبِ الْمُؤْمِنِ عَقِيبَ فَهْمِ الْآيَةِ.

Sesungguhnya yang mulia adalah keadaan semacam itu, yaitu keadaan yang dianugerahkan Allah عز وجل kepada hati seorang mukmin setelah memahami ayat.

فَأَمَّا مُجَرَّدُ حَرَكَةِ اللِّسَانِ فَقَلِيلُ الْجَدْوَىٰ، بَلِ التَّالِي بِاللِّسَانِ الْمُعْرِضُ عَنِ الْعَمَلِ جَدِيرٌ بِأَنْ يَكُونَ هُوَ الْمُرَادَ بِقَوْلِهِ تَعَالَىٰ: ﴿وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَىٰ﴾، وَبِقَوْلِهِ عَزَّ وَجَلَّ: ﴿كَذٰلِكَ أَتَتْكَ آيَاتُنَا فَنَسِيتَهَا وَكَذٰلِكَ الْيَوْمَ تُنْسَىٰ﴾، أَيْ تَرَكْتَهَا وَلَمْ تَنْظُرْ إِلَيْهَا وَلَمْ تَعْبَأْ بِهَا.

Adapun sekadar gerakan lisan, manfaatnya kecil. Bahkan pembaca dengan lisan yang berpaling dari amal sangat layak menjadi orang yang dimaksud dalam firman-Nya Ta‘ālā: “Dan barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya kehidupan yang sempit, dan Kami akan mengumpulkannya pada hari Kiamat dalam keadaan buta,” serta firman-Nya عز وجل: “Demikianlah ayat-ayat Kami telah datang kepadamu, lalu engkau melupakannya; dan demikian pula pada hari ini engkau dilupakan,” yakni engkau meninggalkannya, tidak memandangnya, dan tidak mempedulikannya.

فَإِنَّ الْمُقَصِّرَ فِي الْأَمْرِ يُقَالُ إِنَّهُ نَسِيَ الْأَمْرَ.

Karena orang yang lalai terhadap suatu perintah dikatakan telah melupakan perintah itu.

وَتِلَاوَةُ الْقُرْآنِ حَقَّ تِلَاوَتِهِ هُوَ أَنْ يَشْتَرِكَ فِيهِ اللِّسَانُ وَالْعَقْلُ وَالْقَلْبُ.

Tilawah Al-Qur’an yang sebenar-benarnya ialah apabila lisan, akal, dan hati ikut serta di dalamnya.

فَحَظُّ اللِّسَانِ تَصْحِيحُ الْحُرُوفِ بِالتَّرْتِيلِ، وَحَظُّ الْعَقْلِ تَفْسِيرُ الْمَعَانِي، وَحَظُّ الْقَلْبِ الِاتِّعَاظُ وَالتَّأَثُّرُ بِالِانْزِجَارِ وَالِائْتِمَارِ.

Bagian lisan ialah membenarkan huruf-huruf dengan tartil, bagian akal ialah menafsirkan makna, dan bagian hati ialah mengambil pelajaran dan terpengaruh dengan larangan maupun perintah.

فَاللِّسَانُ يُرَتِّلُ، وَالْعَقْلُ يُتَرْجِمُ، وَالْقَلْبُ يَتَّعِظُ.

Maka lisan melantunkan, akal menerjemahkan, dan hati mengambil pelajaran.

اَلتَّاسِعُ: التَّرَقِّي، وَأَعْنِي بِهِ أَنْ يَتَرَقَّىٰ إِلَىٰ أَنْ يَسْمَعَ الْكَلَامَ مِنَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ لَا مِنْ نَفْسِهِ.

Yang kesembilan: peningkatan, yang saya maksud ialah ia naik hingga mendengar kalam itu dari Allah عز وجل, bukan dari dirinya sendiri.

فَدَرَجَاتُ الْقِرَاءَةِ ثَلَاثٌ، أَدْنَاهَا أَنْ يُقَدِّرَ الْعَبْدُ كَأَنَّهُ يَقْرَؤُهُ عَلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَاقِفًا بَيْنَ يَدَيْهِ وَهُوَ نَاظِرٌ إِلَيْهِ وَمُسْتَمِعٌ مِنْهُ، فَيَكُونُ حَالُهُ عِنْدَ هٰذَا التَّقْدِيرِ السُّؤَالَ وَالتَّمَلُّقَ وَالتَّضَرُّعَ وَالِابْتِهَالَ.

Tingkatan-tingkatan bacaan ada tiga. Yang paling rendah ialah seorang hamba membayangkan seakan-akan ia membaca di hadapan Allah عز وجل, berdiri di hadapan-Nya, sementara Dia melihat kepadanya dan mendengarnya. Maka keadaan dirinya dalam bayangan itu ialah memohon, merendah, berdoa dengan sangat, dan bermunajat.

الثَّانِيَةُ أَنْ يَشْهَدَ بِقَلْبِهِ كَأَنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يَرَاهُ وَيُخَاطِبُهُ بِأَلْطَافِهِ وَيُنَاجِيهِ بِنِعَمِهِ وَإِحْسَانِهِ، فَمَقَامُهُ الْحَيَاءُ وَالتَّعْظِيمُ وَالْإِصْغَاءُ وَالْفَهْمُ.

Tingkatan kedua ialah ia menyaksikan dengan hatinya seakan-akan Allah عز وجل melihatnya dan berbicara kepadanya dengan kelembutan-Nya serta bermunajat kepadanya dengan nikmat dan ihsan-Nya. Maka kedudukannya ialah malu, mengagungkan, menyimak, dan memahami.

الثَّالِثَةُ أَنْ يَرَىٰ فِي الْكَلَامِ الْمُتَكَلِّمَ وَفِي الْكَلِمَاتِ الصِّفَاتِ، فَلَا يَنْظُرُ إِلَىٰ نَفْسِهِ وَلَا إِلَىٰ قِرَاءَتِهِ، وَلَا إِلَىٰ تَعَلُّقِ الْإِنْعَامِ بِهِ مِنْ حَيْثُ إِنَّهُ مُنْعَمٌ عَلَيْهِ، بَلْ يَكُونُ مَقْصُورَ الْهَمِّ عَلَى الْمُتَكَلِّمِ، مَوْقُوفَ الْفِكْرِ عَلَيْهِ، كَأَنَّهُ مُسْتَغْرِقٌ بِمُشَاهَدَةِ الْمُتَكَلِّمِ عَنْ غَيْرِهِ.

Tingkatan ketiga ialah ia melihat dalam kalam itu Sang Pembicara, dan dalam kata-kata itu sifat-sifat-Nya. Ia tidak melihat dirinya, tidak melihat bacaannya, dan tidak melihat hubungan nikmat kepadanya dari sisi bahwa ia diberi nikmat. Sebaliknya, seluruh perhatian terfokus pada Sang Pembicara, pikirannya tertambat kepada-Nya, seakan-akan ia tenggelam dalam menyaksikan Sang Pembicara dan berpaling dari selain-Nya.

وَهٰذِهِ دَرَجَةُ الْمُقَرَّبِينَ، وَمَا قَبْلَهَا دَرَجَةُ أَصْحَابِ الْيَمِينِ، وَمَا خَرَجَ عَنْ هٰذَا فَهُوَ دَرَجَاتُ الْغَافِلِينَ.

Ini adalah derajat orang-orang yang didekatkan. Yang sebelumnya adalah derajat golongan kanan. Adapun yang keluar dari itu adalah derajat orang-orang yang lalai.

وَعَنِ الدَّرَجَةِ الْعُلْيَا أَخْبَرَ جَعْفَرُ بْنُ مُحَمَّدٍ الصَّادِقُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ: وَاللَّهِ لَقَدْ تَجَلَّى اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ لِخَلْقِهِ فِي كَلَامِهِ وَلٰكِنَّهُمْ لَا يُبْصِرُونَ.

Tentang derajat tertinggi ini, Ja‘far bin Muḥammad aṣ-Ṣādiq رضي الله عنه mengabarkan, katanya: “Demi Allah, sungguh Allah عز وجل telah menampakkan diri kepada makhluk-Nya dalam kalam-Nya, tetapi mereka tidak melihat.”

وَقَالَ أَيْضًا، وَقَدْ سَأَلُوهُ عَنْ حَالَةٍ لَحِقَتْهُ فِي الصَّلَاةِ حَتَّىٰ خَرَّ مُغْشِيًا عَلَيْهِ، فَلَمَّا سُرِّيَ عَنْهُ قِيلَ لَهُ فِي ذٰلِكَ، فَقَالَ: مَا زِلْتُ أُرَدِّدُ الْآيَةَ عَلَىٰ قَلْبِي حَتَّىٰ سَمِعْتُهَا مِنَ الْمُتَكَلِّمِ.

Dan beliau juga berkata, ketika ditanya tentang keadaan yang menimpanya dalam salat hingga ia jatuh pingsan, lalu setelah sadar ditanya tentang hal itu, ia menjawab: “Aku terus mengulang-ulang ayat itu dalam hatiku sampai aku mendengarnya dari Sang Pembicara.”

فَبِهَا لَمْ يَثْبُتْ جِسْمِي لِمُعَايَنَةِ قُدْرَتِهِ، فَفِي مِثْلِ هٰذِهِ الدَّرَجَةِ تَعْظُمُ الْحَلَاوَةُ وَلَذَّةُ الْمُنَاجَاةِ.

Maka pada saat itu tubuhku tidak mampu bertahan karena menyaksikan kekuasaan-Nya. Dalam derajat semacam inilah manisnya dan nikmatnya munajat menjadi sangat besar.

وَلِذٰلِكَ قَالَ بَعْضُ الْحُكَمَاءِ: كُنْتُ أَقْرَأُ الْقُرْآنَ فَلَا أَجِدُ لَهُ حَلَاوَةً حَتَّىٰ تَلَوْتُهُ كَأَنِّي أَسْمَعُهُ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَتْلُوهُ عَلَىٰ أَصْحَابِهِ، ثُمَّ رُفِعْتُ إِلَىٰ مَقَامٍ فَوْقَهُ كُنْتُ أَتْلُوهُ كَأَنِّي أَسْمَعُهُ مِنْ جِبْرِيلَ عَلَيْهِ السَّلَامُ يُلْقِيهِ عَلَىٰ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، ثُمَّ جَاءَ اللَّهُ بِمَنْزِلَةٍ أُخْرَىٰ فَأَنَا الْآنَ أَسْمَعُهُ مِنَ الْمُتَكَلِّمِ بِهِ، فَعِنْدَهَا وَجَدْتُ لَهُ لَذَّةً وَنَعِيمًا لَا أَصْبِرُ عَنْهُ.

Karena itulah sebagian hukama berkata: “Dahulu aku membaca Al-Qur’an namun tidak merasakan manisnya, sampai aku membacanya seakan-akan aku mendengarnya dari Rasulullah صلى الله عليه وسلم yang membacakannya kepada para sahabat beliau. Lalu aku dinaikkan ke kedudukan yang lebih tinggi darinya: aku membacanya seakan-akan aku mendengarnya dari Jibril عليه السلام yang menyampaikannya kepada Rasulullah صلى الله عليه وسلم. Kemudian Allah memberiku kedudukan lain; sekarang aku mendengarnya dari Sang Pembicara sendiri. Ketika itulah aku mendapatkan darinya kenikmatan dan kelezatan yang tidak sanggup kutinggalkan.”

وَقَالَ عُثْمَانُ وَحُذَيْفَةُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا: لَوْ طَهُرَتِ الْقُلُوبُ لَمْ تَشْبَعْ مِنْ قِرَاءَةِ الْقُرْآنِ.

Utsmān dan Ḥudzaifah رضي الله عنهما berkata: “Seandainya hati-hati itu suci, niscaya ia tidak akan pernah kenyang dari membaca Al-Qur’an.”

وَإِنَّمَا قَالُوا ذٰلِكَ لِأَنَّهَا بِالطَّهَارَةِ تَتَرَقَّىٰ إِلَىٰ مُشَاهَدَةِ الْمُتَكَلِّمِ فِي الْكَلَامِ.

Mereka mengatakan hal itu karena dengan kesucian hati, ia naik kepada penyaksian Sang Pembicara dalam kalam.

وَلِذٰلِكَ قَالَ ثَابِتُ الْبُنَانِيُّ: كَابَدْتُ الْقُرْآنَ عِشْرِينَ سَنَةً وَتَنَعَّمْتُ بِهِ عِشْرِينَ سَنَةً.

Karena itulah Tsābit al-Bunānī berkata: “Aku bersungguh-sungguh bersama Al-Qur’an selama dua puluh tahun, dan aku menikmati manisnya selama dua puluh tahun.”

وَبِمُشَاهَدَةِ الْمُتَكَلِّمِ دُونَ مَا سِوَاهُ يَكُونُ الْعَبْدُ مُتَمَثِّلًا لِقَوْلِهِ عَزَّ وَجَلَّ: ﴿فَفِرُّوا إِلَى اللَّهِ﴾، وَلِقَوْلِهِ: ﴿وَلَا تَجْعَلُوا مَعَ اللَّهِ إِلٰهًا آخَرَ﴾.

Dengan menyaksikan Sang Pembicara tanpa selain-Nya, hamba itu menjadi benar-benar menjalankan firman-Nya عز وجل: “Maka berlarilah kepada Allah,” dan firman-Nya: “Janganlah kalian menjadikan tuhan lain bersama Allah.”

فَمَنْ لَمْ يَرَهُ فِي كُلِّ شَيْءٍ فَقَدْ رَأَىٰ غَيْرَهُ.

Barang siapa tidak melihat-Nya dalam segala sesuatu, maka ia sebenarnya telah melihat selain-Nya.

وَكُلُّ مَا الْتَفَتَ إِلَيْهِ الْعَبْدُ سِوَى اللَّهِ تَعَالَىٰ تَضَمَّنَ الْتِفَاتُهُ شَيْئًا مِنَ الشِّرْكِ الْخَفِيِّ.

Segala sesuatu yang menjadi perhatian hamba selain Allah Ta‘ālā mengandung sedikit unsur syirik tersembunyi.

بَلِ التَّوْحِيدُ الْخَالِصُ أَنْ لَا يَرَىٰ فِي كُلِّ شَيْءٍ إِلَّا اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ.

Bahkan tauhid yang murni ialah bahwa ia tidak melihat dalam segala sesuatu kecuali Allah عز وجل.

اَلْعَاشِرُ: التَّبَرِّي، وَأَعْنِي بِهِ أَنْ يَتَبَرَّأَ مِنْ حَوْلِهِ وَقُوَّتِهِ وَالِالْتِفَاتِ إِلَىٰ نَفْسِهِ بَيْنَ الرِّضَا وَالتَّزْكِيَةِ.

Yang kesepuluh: berlepas diri. Yang saya maksud ialah ia berlepas diri dari daya dan kekuatannya sendiri, serta dari memandang dirinya sendiri dalam keadaan ridha dan memuji diri.

فَإِذَا تَلَا بِآيَاتِ الْوَعْدِ وَالْمَدْحِ لِلصَّالِحِينَ فَلَا يَشْهَدْ نَفْسَهُ عِنْدَ ذٰلِكَ، بَلْ يَشْهَدُ الْمُوقِنِينَ وَالصِّدِّيقِينَ فِيهَا، وَيَتَشَوَّفُ إِلَىٰ أَنْ يُلْحِقَهُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ بِهِمْ.

Apabila ia membaca ayat-ayat janji dan pujian bagi orang-orang saleh, hendaklah ia tidak melihat dirinya pada saat itu. Sebaliknya, ia melihat orang-orang yang yakin dan para siddiqin di dalamnya, dan ia berharap Allah عز وجل menyertainya bersama mereka.

وَإِذَا تَلَا آيَاتِ الْمَقْتِ وَذَمِّ الْعُصَاةِ وَالْمُقَصِّرِينَ شَهِدَ عَلَىٰ نَفْسِهِ هُنَاكَ، وَقَدَّرَ أَنَّهُ الْمُخَاطَبُ خَوْفًا وَإِشْفَاقًا.

Dan apabila ia membaca ayat-ayat murka dan celaan terhadap orang-orang durhaka dan orang-orang yang lalai, hendaklah ia menganggap dirinya sendiri yang sedang diajak berbicara di sana, dengan rasa takut dan khawatir.

وَلِذٰلِكَ كَانَ ابْنُ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا يَقُولُ: اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْتَغْفِرُكَ لِظُلْمِي وَكُفْرِي.

Karena itulah Ibnu ‘Umar رضي الله عنهما berkata: “Ya Allah, aku memohon ampun kepada-Mu atas kezaliman dan kekufuranku.”

فَقِيلَ لَهُ: هٰذَا الظُّلْمُ، فَمَا بَالُ الْكُفْرِ؟

Lalu dikatakan kepadanya: “Ini tentang kezaliman, lalu bagaimana dengan kekufuran?”

فَتَلَا قَوْلَهُ عَزَّ وَجَلَّ: ﴿إِنَّ الْإِنْسَانَ لَظَلُومٌ كَفَّارٌ﴾.

Maka ia membaca firman-Nya عز وجل: “Sesungguhnya manusia benar-benar sangat zalim lagi sangat kufur.”

وَقِيلَ لِيُوسُفَ بْنِ أَسْبَاطٍ: إِذَا قَرَأْتَ الْقُرْآنَ بِمَاذَا تَدْعُو؟ فَقَالَ: بِمَاذَا أَدْعُو؟ أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ مِنْ تَقْصِيرِي سَبْعِينَ مَرَّةً.

Dan ditanyakan kepada Yusuf bin Asbath: “Jika engkau membaca Al-Qur’an, dengan apa engkau berdoa?” Ia menjawab: “Dengan apa aku berdoa? Aku memohon ampun kepada Allah عز وجل atas kekuranganku tujuh puluh kali.”

فَإِذَا رَأَىٰ نَفْسَهُ بِصُورَةِ التَّقْصِيرِ فِي الْقِرَاءَةِ كَانَ رُؤْيَتُهُ سَبَبَ قُرْبِهِ.

Jika ia melihat dirinya dalam gambaran kekurangan saat membaca, maka penglihatannya itu menjadi sebab kedekatannya.

فَإِنَّ مَنْ شَهِدَ الْبُعْدَ فِي الْقُرْبِ لُطِفَ بِهِ فِي الْخَوْفِ حَتَّىٰ يَسُوقَهُ الْخَوْفُ إِلَىٰ دَرَجَةٍ أُخْرَىٰ فِي الْقُرْبِ وَرَاءَهَا.

Karena barang siapa menyaksikan jauh di dalam dekat, maka ia dilayani dengan kelembutan dalam rasa takut, hingga rasa takut itu menuntunnya ke derajat kedekatan yang lain di belakangnya.

وَمَنْ شَهِدَ الْقُرْبَ فِي الْبُعْدِ كَرَّبَهُ بِالْأَمْنِ الَّذِي يُفْضِي بِهِ إِلَىٰ دَرَجَةٍ أُخْرَىٰ فِي الْبُعْدِ أَسْفَلَ مِمَّا هُوَ فِيهِ.

Dan barang siapa menyaksikan dekat di dalam jauh, maka ia malah diperdaya oleh rasa aman yang menjerumuskannya ke derajat lain dari jauhnya, lebih rendah daripada keadaan yang sedang ia alami.

وَمَهْمَا كَانَ مُشَاهِدًا نَفْسَهُ بِعَيْنِ الرِّضَا صَارَ مَحْجُوبًا بِنَفْسِهِ.

Selama ia menyaksikan dirinya dengan mata keridaan, ia akan terhijab oleh dirinya sendiri.

فَإِذَا جَاوَزَ حَدَّ الِالْتِفَاتِ إِلَىٰ نَفْسِهِ وَلَمْ يُشَاهِدْ إِلَّا اللَّهَ تَعَالَىٰ فِي قِرَاءَتِهِ، كُشِفَ لَهُ سِرُّ الْمَلَكُوتِ.

Apabila ia melampaui batas memandang dirinya sendiri dan tidak melihat dalam bacaannya kecuali Allah Ta‘ālā, maka tersingkaplah baginya rahasia alam malakut.

قَالَ أَبُو سُلَيْمَانَ الدَّارَانِيُّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: وَعَدَ ابْنُ ثَوْبَانَ أَخًا لَهُ أَنْ يُفْطِرَ عِنْدَهُ، فَأَبْطَأَ عَلَيْهِ حَتَّىٰ طَلَعَ الْفَجْرُ، فَلَقِيَهُ أَخُوهُ مِنَ الْغَدِ، فَقَالَ لَهُ: وَعَدْتَنِي أَنْ تُفْطِرَ عِنْدِي فَأَخْلَفْتَ.

Abu Sulaimān ad-Dārānī رضي الله عنه berkata: Ibnu Tsawbān pernah menjanjikan kepada saudaranya untuk berbuka di rumahnya, tetapi ia terlambat sampai terbit fajar. Keesokan harinya saudaranya menemuinya lalu berkata: “Engkau telah berjanji akan berbuka di tempatku, tetapi engkau mengingkari janji.”

فَقَالَ: لَوْلَا مِيعَادِي مَعَكَ مَا أَخْبَرْتُكَ الَّذِي حَبَسَنِي عَنْكَ، إِنِّي لَمَّا صَلَّيْتُ الْعَتَمَةَ قُلْتُ: أُوتِرُ قَبْلَ أَنْ أَجِيءَكَ، لِأَنِّي لَا أَأْمَنُ مَا يُحْدِثُ مِنَ الْمَوْتِ، فَلَمَّا كُنْتُ فِي الدُّعَاءِ مِنَ الْوِتْرِ رُفِعْتُ إِلَىٰ رَوْضَةٍ خَضْرَاءَ فِيهَا أَنْوَاعُ الزَّهْرِ مِنَ الْجَنَّةِ، فَمَا زِلْتُ أَنْظُرُ إِلَيْهَا حَتَّىٰ أَصْبَحْتُ.

Ia berkata: “Seandainya bukan karena janji yang aku punya denganmu, aku tidak akan menceritakan apa yang menahanku darimu. Ketika aku selesai salat Isya, aku berkata: ‘Aku akan salat witir sebelum datang kepadamu, karena aku tidak aman dari apa yang bisa dibawa oleh kematian.’ Ketika aku berada dalam doa witir, aku diangkat ke sebuah taman hijau yang di dalamnya ada berbagai macam bunga dari surga. Aku terus memandangnya hingga pagi.”

وَهٰذِهِ الْمُكَاشَفَاتُ لَا تَكُونُ إِلَّا بَعْدَ التَّبَرِّي عَنِ النَّفْسِ وَعَدَمِ الِالْتِفَاتِ إِلَيْهَا وَإِلَىٰ هَوَاهَا.

Dan mukāsyafah semacam ini tidak terjadi kecuali setelah berlepas diri dari النفس, tidak menoleh kepadanya dan kepada hawa nafsunya.

ثُمَّ تَتَخَصَّصُ هٰذِهِ الْمُكَاشَفَاتُ بِحَسَبِ أَحْوَالِ الْمُكَاشِفِ، فَحَيْثُ يَتْلُو آيَاتِ الرَّجَاءِ وَيَغْلِبُ عَلَىٰ حَالِهِ الِاسْتِبْشَارُ تَنْكَشِفُ لَهُ صُورَةُ الْجَنَّةِ فَيُشَاهِدُهَا كَأَنَّهُ يَرَاهَا عِيَانًا.

Kemudian mukāsyafah ini menjadi khusus sesuai keadaan orang yang mendapat mukāsyafah. Ketika ia membaca ayat-ayat harapan dan keadaan hatinya didominasi kegembiraan, maka tersingkaplah baginya gambaran surga, dan ia menyaksikannya seakan-akan melihatnya langsung.

وَإِنْ غَلَبَ عَلَيْهِ الْخَوْفُ كُوشِفَ بِالنَّارِ حَتَّىٰ يَرَىٰ أَنْوَاعَ عَذَابِهَا.

Dan jika rasa takut mendominasi dirinya, ia disingkapkan tentang neraka hingga ia melihat berbagai macam azabnya.

وَذٰلِكَ لِأَنَّ كَلَامَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ يَشْتَمِلُ عَلَى السَّهْلِ اللَّطِيفِ وَالشَّدِيدِ الْعَسُوفِ وَالْمَرْجُوِّ وَالْمُخَوِّفِ، وَذٰلِكَ بِحَسَبِ أَوْصَافِهِ إِذْ مِنْهَا الرَّحْمَةُ وَاللُّطْفُ وَالِانْتِقَامُ وَالْبَطْشُ.

Itu karena kalam Allah عز وجل mencakup yang mudah dan lembut, yang keras dan berat, yang diharapkan dan yang menakutkan, sesuai dengan sifat-sifat-Nya; di antaranya rahmat, kelembutan, pembalasan, dan kekuatan.

فَبِحَسَبِ مُشَاهَدَةِ الْكَلِمَاتِ وَالصِّفَاتِ يَتَقَلَّبُ فِي اخْتِلَافِ الْحَالَاتِ، وَبِحَسَبِ كُلِّ حَالَةٍ مِنْهَا يَسْتَعِدُّ لِلْمُكَاشَفَةِ بِأَمْرٍ يُنَاسِبُ تِلْكَ الْحَالَةَ وَيُقَارِبُهَا.

Maka berdasarkan penyaksian terhadap kalimat-kalimat dan sifat-sifat itu, ia berpindah di antara keadaan-keadaan yang berbeda. Dan sesuai dengan setiap keadaan, ia bersiap untuk mukāsyafah dengan sesuatu yang sesuai dan mendekati keadaan tersebut.

إِذْ يَسْتَحِيلُ أَنْ يَكُونَ حَالُ الْمُسْتَمِعِ وَاحِدًا وَالْمَسْمُوعُ مُخْتَلِفًا، إِذْ فِيهِ كَلَامُ رَاضٍ وَكَلَامُ غَضْبَانَ، وَكَلَامُ مُنْعِمٍ وَكَلَامُ مُنْتَقِمٍ، وَكَلَامُ جَبَّارٍ مُتَكَبِّرٍ لَا يُبَالِي، وَكَلَامُ حَنَّانٍ مُتَعَطِّفٍ لَا يُهْمِلُ.

Karena mustahil keadaan pendengar itu satu, sedangkan yang didengar berbeda-beda; sebab di dalamnya ada kalam Dzat yang ridha dan kalam Dzat yang murka, kalam Dzat yang memberi nikmat dan kalam Dzat yang membalas, kalam Dzat yang Mahaperkasa lagi Mahabesar yang tidak peduli, dan kalam Dzat yang penuh kasih lagi penyayang yang tidak mengabaikan.