Amalan-Amalan Batin dalam Tilawah (1)

اَلْبَابُ الثَّالِثُ فِي أَعْمَالِ الْبَاطِنِ فِي التِّلَاوَةِ، وَهِيَ عَشَرَةٌ.

Bab ketiga tentang amalan-amalan batin dalam tilawah, dan jumlahnya ada sepuluh.

فَهْمُ أَصْلِ الْكَلَامِ، ثُمَّ التَّعْظِيمُ، ثُمَّ حُضُورُ الْقَلْبِ، ثُمَّ التَّدَبُّرُ، ثُمَّ التَّفَهُّمُ، ثُمَّ التَّخَلِّي عَنْ مَوَانِعِ الْفَهْمِ، ثُمَّ التَّخْصِيصُ، ثُمَّ التَّأَثُّرُ، ثُمَّ التَّرَقِّي، ثُمَّ التَّبَرِّي.

Memahami inti kalam, kemudian mengagungkannya, kemudian menghadirkan hati, kemudian tadabbur, kemudian pemahaman, kemudian menyingkirkan penghalang-penghalang pemahaman, kemudian pengkhususan, kemudian keterpengaruhan, kemudian peningkatan, kemudian berlepas diri.

فَالْأَوَّلُ فَهْمُ عَظَمَةِ الْكَلَامِ وَعُلُوِّهِ، وَفَضْلِ اللَّهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَىٰ، وَلُطْفِهِ بِخَلْقِهِ فِي نُزُولِهِ عَنْ عَرْشِ جَلَالِهِ إِلَىٰ دَرَجَةِ إِفْهَامِ خَلْقِهِ.

Maka yang pertama ialah memahami kebesaran kalam dan ketinggiannya, serta keutamaan Allah سبحانه وتعالى dan kelembutan-Nya kepada makhluk-Nya dalam menurunkan kalam itu dari ‘Arsy keagungan-Nya ke tingkat yang dapat dipahami oleh makhluk-Nya.

فَلْيَنْظُرْ كَيْفَ لَطُفَ بِخَلْقِهِ فِي إِيصَالِ مَعَانِي كَلَامِهِ الَّذِي هُوَ صِفَةٌ قَدِيمَةٌ قَائِمَةٌ بِذَاتِهِ إِلَىٰ أَفْهَامِ خَلْقِهِ، وَكَيْفَ تَجَلَّتْ لَهُمْ تِلْكَ الصِّفَةُ فِي طَيِّ حُرُوفٍ وَأَصْوَاتٍ هِيَ صِفَاتُ الْبَشَرِ.

Maka hendaklah ia memperhatikan bagaimana Allah berlemah lembut kepada makhluk-Nya dalam menyampaikan makna-makna kalam-Nya, yang merupakan sifat yang qadim dan berdiri pada Dzat-Nya, ke dalam pemahaman makhluk-Nya. Dan bagaimana sifat itu menampakkan diri kepada mereka melalui susunan huruf-huruf dan suara-suara, yang merupakan sifat-sifat manusia.

إِذْ يَعْجِزُ الْبَشَرُ عَنْ الْوُصُولِ إِلَىٰ فَهْمِ صِفَاتِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ إِلَّا بِوَسِيلَةِ صِفَاتِ نَفْسِهِ.

Karena manusia tidak mampu mencapai pemahaman tentang sifat-sifat Allah عز وجل kecuali melalui perantara sifat-sifat dirinya sendiri.

وَلَوْلَا اسْتِتَارُ كُنْهِ جَلَالِ كَلَامِهِ بِكِسْوَةِ الْحُرُوفِ، لَمَا ثَبَتَ لِسَمَاعِ الْكَلَامِ عَرْشٌ وَلَا ثَرَىٰ، وَلَتَلاَشَىٰ مَا بَيْنَهُمَا مِنْ عَظَمَةِ سُلْطَانِهِ وَسُبُحَاتِ نُورِهِ.

Seandainya hakikat keagungan kalam-Nya tidak terselubung oleh pakaian huruf-huruf, niscaya tidak akan tegak bagi pendengaran kalam itu langit maupun bumi, dan akan lenyaplah apa yang di antara keduanya dari keagungan kekuasaan-Nya dan pancaran-pancaran cahaya-Nya.

وَلَوْلَا تَثْبِيتُ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ لِمُوسَىٰ عَلَيْهِ السَّلَامُ، لَمَا أَطَاقَ لِسَمَاعِ كَلَامِهِ، كَمَا لَمْ يُطِقِ الْجَبَلُ مَبَادِيَ تَجَلِّيهِ، حَيْثُ صَارَ دَكًّا.

Seandainya Allah عز وجل tidak meneguhkan Musa عليه السلام, niscaya ia tidak akan sanggup mendengar kalam-Nya, sebagaimana gunung pun tidak sanggup menahan permulaan penampakan-Nya ketika gunung itu hancur luluh.

وَلَا يُمْكِنُ تَفْهِيمُ عَظَمَةِ الْكَلَامِ إِلَّا بِأَمْثِلَةٍ عَلَىٰ حَدِّ فَهْمِ الْخَلْقِ.

Dan tidak mungkin menjelaskan kebesaran kalam kecuali dengan perumpamaan-perumpamaan sesuai kadar pemahaman makhluk.

وَلِهٰذَا عَبَّرَ بَعْضُ الْعَارِفِينَ عَنْهُ فَقَالَ: إِنَّ كُلَّ حَرْفٍ مِنْ كَلَامِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ فِي اللَّوْحِ الْمَحْفُوظِ أَعْظَمُ مِنْ جَبَلِ قَافٍ.

Karena itu sebagian para ‘arif mengungkapkannya dengan berkata: “Sesungguhnya setiap huruf dari kalam Allah عز وجل di Lauh Mahfuzh lebih besar daripada Gunung Qaf.”

وَإِنَّ الْمَلَائِكَةَ عَلَيْهِمُ السَّلَامُ لَوِ اجْتَمَعُوا عَلَى الْحَرْفِ الْوَاحِدِ أَنْ يُقِلُّوهُ مَا أَطَاقُوهُ حَتَّىٰ يَأْتِيَ إِسْرَافِيلُ عَلَيْهِ السَّلَامُ، وَهُوَ مَلَكُ اللَّوْحِ، فَيَرْفَعَهُ فَيُقِلُّهُ بِإِذْنِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَرَحْمَتِهِ، لَا بِقُوَّتِهِ وَطَاقَتِهِ، وَلٰكِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ طَوَّقَهُ ذٰلِكَ وَاسْتَعْمَلَهُ بِهِ.

Dan sesungguhnya seandainya para malaikat عليهم السلام berkumpul untuk memikul satu huruf saja, mereka tidak akan sanggup melakukannya sampai datanglah Israfil عليه السلام, yaitu malaikat Lauh, lalu ia mengangkatnya dan memikulnya dengan izin Allah عز وجل dan rahmat-Nya, bukan dengan kekuatan dan kemampuannya. Akan tetapi Allah عز وجل membebaninya dengan itu dan mempergunakannya untuk hal itu.

وَلَقَدْ أَتْلَقَ بَعْضُ الْحُكَمَاءِ فِي التَّعْبِيرِ عَنْ وَجْهِ اللُّطْفِ فِي إِيصَالِ مَعَانِي الْكَلَامِ، مَعَ عُلُوِّ دَرَجَتِهِ، إِلَىٰ فَهْمِ الْإِنْسَانِ وَتَثْبِيتِهِ مَعَ قُصُورِ رُتْبَتِهِ، وَضَرَبَ لَهُ مَثَلًا لَمْ يَقْصُرْ فِيهِ.

Salah seorang الحكيم pernah sangat baik mengungkapkan sisi kelembutan dalam menyampaikan makna-makna kalam, padahal kedudukannya tinggi, kepada pemahaman manusia dan meneguhkannya walaupun derajat manusia rendah. Ia pun membuat suatu perumpamaan yang tidak kurang dalam menjelaskannya.

وَذٰلِكَ أَنَّهُ دَعَا بَعْضُ الْمُلُوكِ حَكِيمًا إِلَىٰ شَرِيعَةِ الْأَنْبِيَاءِ عَلَيْهِمُ السَّلَامُ، فَسَأَلَهُ الْمَلِكُ عَنْ أُمُورٍ فَأَجَابَ بِمَا لَا يَحْتَمِلُهُ فَهْمُهُ.

Yaitu bahwa seorang raja memanggil seorang الحكيم kepada syariat para nabi عليهم السلام. Raja itu bertanya kepadanya tentang beberapa perkara, lalu ia menjawab dengan jawaban yang tidak mampu dipikul oleh pemahamannya.

فَقَالَ الْمَلِكُ: أَرَأَيْتَ مَا تَأْتِي بِهِ الْأَنْبِيَاءُ إِذَا ادَّعَتْ أَنَّهُ لَيْسَ بِكَلَامِ النَّاسِ، وَأَنَّهُ كَلَامُ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ، فَكَيْفَ يَطِيقُ النَّاسُ حَمْلَهُ؟

Maka raja berkata: “Tidakkah engkau lihat apa yang dibawa para nabi, jika mereka mengaku bahwa itu bukan perkataan manusia, melainkan perkataan Allah عز وجل? Lalu bagaimana manusia sanggup memikulnya?”

فَقَالَ الْحَكِيمُ: إِنَّا رَأَيْنَا النَّاسَ لَمَّا أَرَادُوا أَنْ يُفْهِمُوا بَعْضَ الدَّوَابِّ وَالطَّيْرِ مَا يُرِيدُونَ مِنْ تَقْدِيمِهَا وَتَأْخِيرِهَا وَإِقْبَالِهَا وَإِدْبَارِهَا، وَرَأَوْا الدَّوَابَّ يَقْصُرُ تَمْيِيزُهَا عَنْ فَهْمِ كَلَامِهِمْ الصَّادِرِ عَنْ أَنْوَارِ عُقُولِهِمْ، مَعَ حُسْنِهِ وَتَزْيِينِهِ وَبَدِيعِ نَظْمِهِ، نَزَلُوا إِلَىٰ دَرَجَةِ تَمْيِيزِ الْبَهَائِمِ.

Maka sang الحكيم menjawab: “Kami melihat bahwa ketika manusia hendak membuat sebagian hewan dan burung memahami apa yang mereka inginkan darinya, baik tentang memajukannya, mengundurkannya, menghadapkannya, atau membelakanginya, mereka mendapati bahwa daya pembedaan hewan-hewan itu tidak cukup untuk memahami perkataan mereka yang keluar dari cahaya akal mereka, meskipun perkataan itu indah, terhias, dan sangat baik susunannya. Maka mereka turun ke tingkat pemahaman hewan.”

وَأَوْصَلُوا مَقَاصِدَهُمْ إِلَىٰ بَوَاطِنِ الْبَهَائِمِ بِأَصْوَاتٍ يَضَعُونَهَا لَائِقَةً بِهِمْ مِنَ النَّقْرِ وَالصَّفِيرِ وَالْأَصْوَاتِ الْقَرِيبَةِ مِنْ أَصْوَاتِهَا، لِكَيْ يَطِيقُوا حَمْلَهَا.

Dan mereka menyampaikan maksud-maksud mereka ke dalam batin hewan-hewan dengan suara-suara yang mereka buat sesuai bagi mereka, berupa ketukan, siulan, dan suara-suara yang mirip suara hewan itu, agar hewan-hewan mampu memikulnya.

وَكَذٰلِكَ النَّاسُ يَعْجِزُونَ عَنْ حَمْلِ كَلَامِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ بِكُنْهِهِ وَكَمَالِ صِفَاتِهِ.

Demikian pula manusia tidak mampu memikul kalam Allah عز وجل dengan hakikatnya dan kesempurnaan sifat-sifatnya.

فَصَارُوا بِمَا تَرَاجَعُوا بَيْنَهُمْ مِنَ الْأَصْوَاتِ الَّتِي سَمِعُوا بِهَا الْحِكْمَةَ، كَصَوْتِ النَّقْرِ وَالصَّفِيرِ الَّذِي سَمِعَتْ بِهِ الدَّوَابُّ مِنَ النَّاسِ.

Maka mereka menggunakan suara-suara yang saling dipertukarkan di antara mereka, yang dengannya mereka memahami hikmah, seperti suara ketukan dan siulan yang dengannya hewan-hewan memahami manusia.

وَلَمْ يَمْنَعْ ذٰلِكَ مَعَانِيَ الْحِكْمَةِ الْمَخْبُوءَةَ فِي تِلْكَ الصِّفَاتِ مِنْ أَنْ شَرُفَ الْكَلَامُ بِشَرَفِهَا وَعَظُمَ لِتَعْظِيمِهَا، فَكَانَ الصَّوْتُ لِلْحِكْمَةِ جَسَدًا وَمَسْكَنًا، وَالْحِكْمَةُ لِلصَّوْتِ نَفْسًا وَرُوحًا.

Namun hal itu tidak menghalangi makna-makna hikmah yang tersembunyi dalam sifat-sifat itu dari kenyataan bahwa kalam menjadi mulia karena kemuliaannya dan agung karena pengagungannya; maka suara bagi hikmah bagaikan jasad dan tempat tinggal, sedangkan hikmah bagi suara bagaikan jiwa dan ruh.

فَكَمَا أَنَّ أَجْسَادَ الْبَشَرِ تُكَرَّمُ وَتُعَزُّ لِمَكَانِ الرُّوحِ، فَكَذٰلِكَ أَصْوَاتُ الْكَلَامِ تَشْرُفُ لِلْحِكْمَةِ الَّتِي فِيهَا.

Sebagaimana jasad manusia dimuliakan dan diagungkan karena adanya ruh, demikian pula suara-suara kalam menjadi mulia karena hikmah yang terkandung di dalamnya.

وَالْكَلَامُ عَلَى الْمَنْزِلَةِ رَفِيعُ الدَّرَجَةِ، قَاهِرُ السُّلْطَانِ، نَافِذُ الْحُكْمِ فِي الْحَقِّ وَالْبَاطِلِ.

Kalam itu, dari segi kedudukannya, tinggi derajatnya, perkasa kekuasaannya, dan berlaku putusannya atas yang benar maupun yang batil.

وَهُوَ الْقَاضِي الْعَدْلُ وَالشَّاهِدُ الْمَرْتَضَىٰ، يَأْمُرُ وَيَنْهَىٰ، وَلَا طَاقَةَ لِلْبَاطِلِ أَنْ يَقُومَ قُدَّامَ كَلَامِ الْحِكْمَةِ كَمَا لَا يَسْتَطِيعُ الظِّلُّ أَنْ يَقُومَ قُدَّامَ شُعَاعِ الشَّمْسِ.

Ia adalah hakim yang adil dan saksi yang diridai; ia memerintah dan melarang. Kebatilan tidak mampu berdiri di hadapan kalam hikmah, sebagaimana bayang-bayang tidak mampu berdiri di hadapan sinar matahari.

وَلَا طَاقَةَ لِلْبَشَرِ أَنْ يُنْفِذُوا غَوْرَ الْحِكْمَةِ، كَمَا لَا طَاقَةَ لَهُمْ أَنْ يُنْفِذُوا بِأَبْصَارِهِمْ ضَوْءَ عَيْنِ الشَّمْسِ.

Dan manusia tidak sanggup menembus kedalaman hikmah, sebagaimana mereka pun tidak sanggup menembus dengan pandangan mereka cahaya matahari.

وَلٰكِنَّهُمْ يَنَالُونَ مِنْ ضَوْءِ عَيْنِ الشَّمْسِ مَا تَحْيَا بِهِ أَبْصَارُهُمْ، وَيَسْتَدِلُّونَ بِهِ عَلَىٰ حَوَائِجِهِمْ فَقَطْ.

Akan tetapi mereka hanya memperoleh dari cahaya matahari apa yang menghidupkan penglihatan mereka, dan dengan itu mereka hanya dapat mengetahui keperluan-keperluan mereka.

فَالْكَلَامُ كَالْمَلِكِ الْمَحْجُوبِ الْغَائِبِ وَجْهُهُ النَّافِذُ أَمْرُهُ، وَكَالشَّمْسِ الْغَزِيرَةِ الظَّاهِرَةِ مَكْنُونُ عُنْصُرِهَا، وَكَالنُّجُومِ الزَّهْرَةِ الَّتِي قَدْ يُهْتَدَىٰ بِهَا مَنْ لَا يَقِفُ عَلَىٰ سَيْرِهَا.

Maka kalam itu seperti seorang raja yang terhalang, wajahnya tidak tampak namun perintahnya berlaku; seperti matahari yang melimpah cahayanya, sementara hakikat unsurnya tersembunyi; dan seperti bintang-bintang cemerlang yang menjadi petunjuk bagi orang yang tidak mengetahui jalannya.

فَهُوَ مِفْتَاحُ الْخَزَائِنِ النَّفِيسَةِ، وَشَرَابُ الْحَيَاةِ الَّذِي مَنْ شَرِبَ مِنْهُ لَمْ يَمُتْ، وَدَوَاءُ الْأَسْقَامِ الَّذِي مَنْ سُقِيَ مِنْهُ لَمْ يَسْقَمْ.

Ia adalah kunci bagi perbendaharaan-perbendaharaan yang berharga, minuman kehidupan yang barang siapa meminumnya tidak akan mati, dan obat bagi segala penyakit yang barang siapa diberi minum darinya tidak akan sakit.

فَهٰذَا الَّذِي ذَكَرَهُ الْحَكِيمُ نُبْذَةٌ مِنْ تَفْهِيمِ مَعْنَى الْكَلَامِ، وَالزِّيَادَةُ عَلَيْهِ لَا تَلِيقُ بِعِلْمِ الْمُعَامَلَةِ، فَيَنْبَغِي أَنْ يُقْتَصَرَ عَلَيْهِ.

Apa yang disebutkan sang الحكيم itu hanyalah secuil penjelasan tentang makna kalam. Adapun menambah-nambahinya tidak cocok dengan ilmu muamalah, maka sepatutnya cukup sampai di situ.

اَلثَّانِي: التَّعْظِيمُ لِلْمُتَكَلِّمِ.

Yang kedua: mengagungkan Dzat yang berfirman.

فَالْقَارِئُ عِنْدَ الْبِدَايَةِ بِتِلَاوَةِ الْقُرْآنِ يَنْبَغِي أَنْ يَحْضُرَ فِي قَلْبِهِ عَظَمَةُ الْمُتَكَلِّمِ، وَيَعْلَمَ أَنَّ مَا يَقْرَؤُهُ لَيْسَ مِنْ كَلَامِ الْبَشَرِ.

Maka orang yang membaca ketika memulai tilawah Al-Qur’an hendaknya menghadirkan di dalam hatinya kebesaran Dzat yang berfirman, dan mengetahui bahwa apa yang dibacanya bukanlah perkataan manusia.

وَأَنَّ فِي تِلَاوَةِ كَلَامِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ غَايَةَ الْخَطَرِ، فَإِنَّهُ تَعَالَىٰ قَالَ: ﴿لَا يَمَسُّهُ إِلَّا الْمُطَهَّرُونَ﴾.

Dan sesungguhnya dalam membaca kalam Allah عز وجل terdapat puncak kehati-hatian, karena Allah Ta‘ālā berfirman: “Tidak menyentuhnya kecuali orang-orang yang disucikan.”

وَكَمَا أَنَّ ظَاهِرَ جِلْدِ الْمُصْحَفِ وَوَرَقِهِ مَحْرُوسٌ عَنْ ظَاهِرِ بَشَرَةِ اللَّامِسِ إِلَّا إِذَا كَانَ مُتَطَهِّرًا، فَبَاطِنُ مَعْنَاهُ أَيْضًا بِحُكْمِ عِزِّهِ وَجَلَالِهِ مَحْجُوبٌ عَنْ بَاطِنِ الْقَلْبِ إِلَّا إِذَا كَانَ مُتَطَهِّرًا عَنْ كُلِّ رِجْسٍ وَمُسْتَنِيرًا بِنُورِ التَّعْظِيمِ وَالتَّوْقِيرِ.

Sebagaimana bagian luar sampul mushaf dan halamannya dijaga agar tidak tersentuh langsung oleh kulit orang yang menyentuhnya kecuali jika ia suci, demikian pula batin maknanya, karena keagungan dan kemuliaannya, tertutup dari batin hati kecuali jika hati itu suci dari segala kotoran dan bercahaya dengan cahaya pengagungan dan penghormatan.

وَكَمَا لَا يَصْلُحُ لِمَسِّ جِلْدِ الْمُصْحَفِ كُلُّ يَدٍ، فَلَا يَصْلُحُ لِتِلَاوَةِ حُرُوفِهِ كُلُّ لِسَانٍ، وَلَا لِنَيْلِ مَعَانِيهِ كُلُّ قَلْبٍ.

Sebagaimana tidak setiap tangan layak menyentuh kulit mushaf, demikian pula tidak setiap lisan layak melafalkan huruf-hurufnya, dan tidak setiap hati layak meraih makna-maknanya.

وَلِمِثْلِ هٰذَا التَّعْظِيمِ كَانَ عِكْرِمَةُ بْنُ أَبِي جَهْلٍ إِذَا نُشِرَ الْمُصْحَفُ غُشِيَ عَلَيْهِ، وَيَقُولُ: هُوَ كَلَامُ رَبِّي، هُوَ كَلَامُ رَبِّي.

Karena pengagungan semacam inilah, ‘Ikrimah bin Abī Jahl, ketika mushaf dibentangkan, beliau pingsan, lalu berkata: “Ini adalah kalam Rabbku, ini adalah kalam Rabbku.”

فَتَعْظِيمُ الْكَلَامِ تَعْظِيمُ الْمُتَكَلِّمِ.

Maka mengagungkan kalam berarti mengagungkan yang berfirman.

وَلَنْ تَحْضُرَهُ عَظَمَةُ الْمُتَكَلِّمِ مَا لَمْ يَتَفَكَّرْ فِي صِفَاتِهِ وَجَلَالِهِ وَأَفْعَالِهِ.

Dan kebesaran Dzat yang berfirman tidak akan hadir dalam dirinya selama ia tidak merenungkan sifat-sifat-Nya, keagungan-Nya, dan perbuatan-perbuatan-Nya.

فَإِذَا حَضَرَ بِبَالِهِ الْعَرْشُ وَالْكُرْسِيُّ وَالسَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ وَمَا بَيْنَهُمَا مِنَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ وَالدَّوَابِّ وَالْأَشْجَارِ، وَعَلِمَ أَنَّ الْخَالِقَ لِجَمِيعِهَا وَالْقَادِرَ عَلَيْهَا وَالرَّازِقَ لَهَا وَاحِدٌ.

Apabila di dalam pikirannya hadir ‘Arsy, Kursi, langit dan bumi, serta apa yang di antara keduanya berupa jin, manusia, hewan melata, dan pepohonan; dan ia mengetahui bahwa pencipta semuanya itu, yang Mahakuasa atasnya, dan yang memberi rezeki kepadanya, adalah satu.

وَأَنَّ الْكُلَّ فِي قَبْضَةِ قُدْرَتِهِ مُتَرَدِّدُونَ بَيْنَ فَضْلِهِ وَرَحْمَتِهِ وَبَيْنَ نِقْمَتِهِ وَسَطْوَتِهِ، إِنْ أَنْعَمَ فَبِفَضْلِهِ، وَإِنْ عَاقَبَ فَبِعَدْلِهِ.

Dan ia mengetahui bahwa semuanya berada dalam genggaman kekuasaan-Nya, bergerak di antara karunia dan rahmat-Nya, serta azab dan kekuatan-Nya. Jika Dia memberi nikmat, maka itu karena karunia-Nya; dan jika Dia menghukum, maka itu karena keadilan-Nya.

وَأَنَّهُ الَّذِي يَقُولُ: هَؤُلَاءِ إِلَى الْجَنَّةِ وَلَا أُبَالِي، وَهَؤُلَاءِ إِلَى النَّارِ وَلَا أُبَالِي، وَهٰذِهِ غَايَةُ الْعَظَمَةِ وَالتَّعَالِي.

Dan Dia-lah yang berfirman: “Mereka ini ke surga, dan Aku tidak peduli; dan mereka ini ke neraka, dan Aku tidak peduli.” Inilah puncak keagungan dan ketinggian.

فَبِالتَّفَكُّرِ فِي أَمْثَالِ هٰذَا يَحْضُرُ تَعْظِيمُ الْمُتَكَلِّمِ، ثُمَّ تَعْظِيمُ الْكَلَامِ.

Dengan merenungkan hal-hal semacam ini, hadir pengagungan terhadap yang berfirman, kemudian pengagungan terhadap kalam.

اَلثَّالِثُ: حُضُورُ الْقَلْبِ وَتَرْكُ حَدِيثِ النَّفْسِ.

Yang ketiga: hadirnya hati dan meninggalkan bisikan-bisikan batin.

قِيلَ فِي تَفْسِيرِ: ﴿يَا يَحْيَىٰ خُذِ الْكِتَابَ بِقُوَّةٍ﴾: أَيْ بِجِدٍّ وَاجْتِهَادٍ.

Dalam tafsir firman: “Wahai Yahya, ambillah Kitab itu dengan kuat,” dikatakan: maksudnya dengan kesungguhan dan usaha yang sungguh-sungguh.

وَأَخْذُهُ بِالْجِدِّ أَنْ يَكُونَ مُتَجَرِّدًا لَهُ عِنْدَ قِرَاءَتِهِ، مُنْصَرِفَ الْهِمَّةِ إِلَيْهِ عَنْ غَيْرِهِ.

Mengambilnya dengan sungguh-sungguh ialah dengan mengosongkan diri khusus untuknya ketika membacanya, dan memusatkan perhatian kepadanya, bukan kepada yang lain.

وَقِيلَ لِبَعْضِهِمْ: إِذَا قَرَأْتَ الْقُرْآنَ تُحَدِّثُ نَفْسَكَ بِشَيْءٍ؟ فَقَالَ: أَوَ شَيْءٌ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنَ الْقُرْآنِ حَتَّىٰ أُحَدِّثَ بِهِ نَفْسِي؟

Pernah ditanyakan kepada sebagian mereka: “Apakah ketika engkau membaca Al-Qur’an engkau berbicara dengan dirimu tentang sesuatu?” Ia menjawab: “Adakah sesuatu yang lebih aku cintai daripada Al-Qur’an sampai aku sibuk berbicara tentang yang lain dengan diriku?”

وَكَانَ بَعْضُ السَّلَفِ إِذَا قَرَأَ آيَةً لَمْ يَكُنْ قَلْبُهُ فِيهَا أَعَادَهَا ثَانِيَةً.

Sebagian salaf apabila membaca satu ayat dan hatinya belum hadir pada ayat itu, ia mengulanginya lagi.

وَهٰذِهِ الصِّفَةُ تَتَوَلَّدُ عَمَّا قَبْلَهَا مِنَ التَّعْظِيمِ.

Sifat ini lahir dari sifat sebelumnya, yaitu pengagungan.

فَإِنَّ الْمُعَظِّمَ لِلْكَلَامِ الَّذِي يَتْلُوهُ يَسْتَبْشِرُ بِهِ وَيَسْتَأْنِسُ، وَلَا يَغْفُلُ عَنْهُ.

Karena orang yang mengagungkan kalam yang dibacanya akan bergembira dengannya dan merasa akrab dengannya, dan tidak lalai darinya.

فَفِي الْقُرْآنِ مَا يَسْتَأْنِسُ بِهِ الْقَلْبُ إِنْ كَانَ التَّالِي أَهْلًا لَهُ، فَكَيْفَ يَطْلُبُ الْأُنْسَ بِالْفِكْرِ فِي غَيْرِهِ وَهُوَ فِي مُتَنَزَّهٍ وَمُتَفَرَّجٍ؟

Di dalam Al-Qur’an terdapat sesuatu yang dapat membuat hati merasa akrab jika pembacanya memang layak untuk itu. Lalu bagaimana ia mencari keakraban dengan memikirkan selainnya, padahal ia sedang berada di taman dan tempat bersantai?

وَالَّذِي يَتَفَرَّجُ فِي الْمُتَنَزَّهَاتِ لَا يَتَفَكَّرُ فِي غَيْرِهَا.

Orang yang bersantai di taman-taman tidak memikirkan yang lain.

فَقَدْ قِيلَ: إِنَّ فِي الْقُرْآنِ مَيَادِينَ وَبَسَاتِينَ وَمَقَاصِيرَ وَعَرَائِسَ وَدَيَابِيجَ وَرِيَاضًا وَخَانَاتٍ.

Sebab telah dikatakan: di dalam Al-Qur’an ada medan-medan, kebun-kebun, kamar-kamar, pengantin-pengantin, kain-kain indah, taman-taman, dan ruang-ruang.

فَالْمِيمَاتُ مَيَادِينُ الْقُرْآنِ، وَالرَّاءاتُ بَسَاتِينُ الْقُرْآنِ، وَالْحَاءاتُ مَقَاصِيرُهُ، وَالْمُسَبِّحَاتُ عَرَائِسُ الْقُرْآنِ، وَالْحَامِيمَاتُ دَيَابِيجُ الْقُرْآنِ، وَالْمُفَصَّلُ رِيَاضُهُ، وَالْخَانَاتُ مَا سِوَىٰ ذٰلِكَ.

Maka surah-surah yang diawali huruf mim adalah medan-medan Al-Qur’an, yang diawali huruf ra’ adalah kebun-kebun Al-Qur’an, yang diawali huruf ha’ adalah kamar-kamarnya, surah-surah musabbihat adalah para pengantin Al-Qur’an, surah-surah ha-mim adalah kain-kain indah Al-Qur’an, al-Mufashshal adalah taman-tamannya, dan yang selain itu adalah ruang-ruangnya.

فَإِذَا دَخَلَ الْقَارِئُ الْمَيَادِينَ وَقَطَفَ مِنَ الْبَسَاتِينِ، وَدَخَلَ الْمَقَاصِيرَ وَشَهِدَ الْعَرَائِسَ، وَلَبِسَ الدَّيَابِيجَ، وَتَنَزَّهَ فِي الرِّيَاضِ، وَسَكَنَ غُرَفَ الْخَانَاتِ، اسْتَغْرَقَهُ ذٰلِكَ وَشَغَلَهُ عَمَّا سِوَاهُ، فَلَمْ يَعْزُبْ قَلْبُهُ وَلَمْ يَتَفَرَّقْ فِكْرُهُ.

Apabila pembaca memasuki medan-medan itu dan memetik dari kebun-kebun itu, memasuki kamar-kamar itu dan menyaksikan para pengantin itu, mengenakan kain-kain indah itu, bersantai di taman-taman itu, dan tinggal di kamar-kamar ruang itu, maka hal itu akan menyelimutinya dan menyibukkannya dari selain itu, sehingga hatinya tidak menghilang dan pikirannya tidak tercerai-berai.

اَلرَّابِعُ: التَّدَبُّرُ، وَهُوَ وَرَاءَ حُضُورِ الْقَلْبِ.

Yang keempat: tadabbur, dan itu berada setelah hadirnya hati.

فَإِنَّهُ قَدْ لَا يَتَفَكَّرُ فِي غَيْرِ الْقُرْآنِ، وَلٰكِنَّهُ يَقْتَصِرُ عَلَىٰ سَمَاعِ الْقُرْآنِ مِنْ نَفْسِهِ، وَهُوَ لَا يَتَدَبَّرُهُ.

Sebab bisa jadi ia tidak memikirkan selain Al-Qur’an, tetapi ia hanya membatasi diri pada mendengar Al-Qur’an dari dirinya sendiri, sementara ia tidak mentadabburinya.

وَالْمَقْصُودُ مِنَ الْقِرَاءَةِ التَّدَبُّرُ.

Dan tujuan membaca ialah tadabbur.

وَلِذٰلِكَ سُنَّ التَّرْتِيلُ فِي الظَّاهِرِ لِيَتَمَكَّنَ مِنَ التَّدَبُّرِ بِالْبَاطِنِ.

Karena itulah disunnahkan tartil secara lahir agar seseorang dapat meneguhkan tadabbur secara batin.

قَالَ عَلِيٌّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: لَا خَيْرَ فِي عِبَادَةٍ لَا فِقْهَ فِيهَا، وَلَا فِي قِرَاءَةٍ لَا تَدَبُّرَ فِيهَا.

‘Ali رضي الله عنه berkata: “Tidak ada kebaikan dalam ibadah yang tidak disertai pemahaman, dan tidak pula dalam bacaan yang tidak disertai tadabbur.”

وَإِذَا لَمْ يَتَمَكَّنْ مِنَ التَّدَبُّرِ إِلَّا بِتَرْدِيدٍ فَلْيُرَدِّدْ، إِلَّا أَنْ يَكُونَ خَلْفَ إِمَامٍ.

Dan jika ia tidak mampu bertadabbur kecuali dengan mengulang-ulang bacaan, maka hendaklah ia mengulanginya, kecuali jika ia berada di belakang imam.

فَإِنَّهُ لَوْ بَقِيَ فِي تَدَبُّرِ آيَةٍ، وَقَدِ اشْتَغَلَ الْإِمَامُ بِآيَةٍ أُخْرَىٰ، كَانَ مُسِيئًا، مِثْلَ مَنْ يَشْتَغِلُ بِالتَّعَجُّبِ مِنْ كَلِمَةٍ وَاحِدَةٍ مِمَّنْ يُنَاجِيهِ عَنْ فَهْمِ بَقِيَّةِ كَلَامِهِ.

Karena jika ia tetap tenggelam dalam tadabbur satu ayat, sementara imam sudah membaca ayat lain, maka ia telah berbuat tidak baik; seperti orang yang sibuk takjub pada satu kata dari orang yang sedang bermunajat kepadanya sehingga ia tidak memahami sisa perkataannya.

وَكَذٰلِكَ إِنْ كَانَ فِي تَسْبِيحِ الرُّكُوعِ وَهُوَ مُتَفَكِّرٌ فِي آيَةٍ قَرَأَهَا إِمَامُهُ، فَهٰذَا وَسْوَاسٌ.

Demikian pula, jika ia sedang membaca tasbih rukuk sementara pikirannya sibuk pada ayat yang dibaca imamnya, maka itu adalah waswas.

فَقَدْ رُوِيَ عَنْ عَامِرِ بْنِ عَبْدِ قَيْسٍ أَنَّهُ قَالَ: الْوَسْوَاسُ يَعْتَرِينِي فِي الصَّلَاةِ. فَقِيلَ: فِي أَمْرِ الدُّنْيَا؟ فَقَالَ: لِأَنْ تَخْتَلِفَ فِي الْأَسِنَّةِ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ ذٰلِكَ، وَلٰكِنْ يَشْتَغِلُ قَلْبِي بِمَوْقِفِي بَيْنَ يَدَيِ رَبِّي عَزَّ وَجَلَّ، وَأَنِّي كَيْفَ أَنْصَرِفُ.

Diriwayatkan dari ‘Āmir bin ‘Abd Qays bahwa ia berkata: “Waswas menggangguku dalam salat.” Dikatakan kepadanya: “Tentang urusan dunia?” Ia menjawab: “Jika aku harus beradu tombak, itu lebih aku sukai daripada hal itu; tetapi hatiku sibuk dengan keadaanku berdiri di hadapan Rabbku عز وجل, dan dengan bagaimana aku akan pulang.”

فَعُدَّ ذٰلِكَ وَسْوَاسًا، وَهُوَ كَذٰلِكَ، فَإِنَّهُ يُشْغِلُهُ عَنْ فَهْمِ مَا هُوَ فِيهِ.

Maka hal itu dianggap sebagai waswas, dan memang demikian, karena hal itu menyibukkannya dari memahami apa yang sedang ia kerjakan.

وَالشَّيْطَانُ لَا يَقْدِرُ عَلَىٰ مِثْلِهِ إِلَّا بِأَنْ يَشْغَلَهُ بِمُهِمٍّ دِينِيٍّ، وَلٰكِنْ يَمْنَعُهُ بِهِ عَنِ الْأَفْضَلِ.

Setan tidak mampu mengganggunya dengan cara semacam itu kecuali dengan membuatnya sibuk dengan perkara agama, tetapi dengan itu ia dihalangi dari yang lebih utama.

وَلَمَّا ذُكِرَ ذٰلِكَ لِلْحَسَنِ قَالَ: إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ عَنْهُ فَمَا اصْطَنَعَ اللَّهُ ذٰلِكَ عِنْدَنَا.

Ketika hal itu disebutkan kepada al-Hasan, ia berkata: “Jika kalian benar dalam menyandarkan hal itu kepadanya, maka Allah tidak menjadikan itu pada kami.”

وَيُرْوَىٰ أَنَّهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَرَأَ: ﴿بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيمِ﴾، فَرَدَّدَهَا عِشْرِينَ مَرَّةً.

Diriwayatkan bahwa beliau صلى الله عليه وسلم membaca “Bismillāhir-Raḥmānir-Raḥīm” lalu mengulanginya dua puluh kali.

وَإِنَّمَا رَدَّدَهَا صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِتَدَبُّرِهِ فِي مَعَانِيهَا.

Dan beliau صلى الله عليه وسلم mengulanginya hanya karena tadabburnya terhadap makna-maknanya.

وَعَنْ أَبِي ذَرٍّ قَالَ: قَامَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِنَا لَيْلَةً، فَقَامَ بِآيَةٍ يُرَدِّدُهَا، وَهِىَ: ﴿إِنْ تُعَذِّبْهُمْ فَإِنَّهُمْ عِبَادُكَ وَإِنْ تَغْفِرْ لَهُمْ﴾.

Dari Abu Dzar, ia berkata: Rasulullah صلى الله عليه وسلم pernah shalat malam bersama kami. Beliau berdiri pada satu ayat yang beliau ulang-ulang, yaitu: “Jika Engkau mengazab mereka, maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba-Mu; dan jika Engkau mengampuni mereka...”

وَقَامَ تَمِيمُ الدَّارِيُّ لَيْلَةً بِهٰذِهِ الْآيَةِ: ﴿أَمْ حَسِبَ الَّذِينَ اجْتَرَحُوا السَّيِّئَاتِ﴾.

Tamim ad-Dārī pernah menghabiskan satu malam dengan ayat ini: “Apakah orang-orang yang melakukan kejahatan itu menyangka...”

وَقَامَ سَعِيدُ بْنُ جُبَيْرٍ لَيْلَةً يُرَدِّدُ هٰذِهِ الْآيَةَ: ﴿وَامْتَازُوا الْيَوْمَ أَيُّهَا الْمُجْرِمُونَ﴾.

Sa‘īd bin Jubair pernah menghabiskan malam dengan mengulang-ulang ayat ini: “Dan berpisahlah kamu pada hari ini, wahai orang-orang yang berdosa.”

وَقَالَ بَعْضُهُمْ: إِنِّي لَأَفْتَتِحُ السُّورَةَ فَيُوقِفُنِي بَعْضُ مَا أَشْهَدُ فِيهَا عَنِ الْفَرَاغِ مِنْهَا حَتَّىٰ يَطْلُعَ الْفَجْرُ.

Sebagian mereka berkata: “Sungguh aku memulai suatu surah, lalu sebagian yang kusaksikan di dalamnya menghentikanku dari menyelesaikannya hingga fajar terbit.”

وَكَانَ بَعْضُهُمْ يَقُولُ: آيَةٌ لَا أَتَفَهَّمُهَا وَلَا يَكُونُ قَلْبِي فِيهَا لَا أَعُدُّ لَهَا ثَوَابًا.

Sebagian mereka berkata: “Satu ayat yang tidak kupahami dan hatiku tidak hadir padanya, aku tidak menganggap ada pahala bagiku darinya.”

وَحُكِيَ عَنْ أَبِي سُلَيْمَانَ الدَّارَانِيِّ أَنَّهُ قَالَ: إِنِّي لَأَتْلُو الْآيَةَ فَأُقِيمُ فِيهَا أَرْبَعَ لَيَالٍ أَوْ خَمْسَ لَيَالٍ، وَلَوْلَا أَنِّي أَقْطَعُ الْفِكْرَ فِيهَا مَا جَاوَزْتُهَا إِلَىٰ غَيْرِهَا.

Diceritakan dari Abu Sulaimān ad-Dārānī bahwa ia berkata: “Sungguh aku membaca satu ayat lalu aku menetap padanya selama empat malam atau lima malam. Seandainya aku tidak memutuskan pikiranku padanya, aku tidak akan beranjak darinya ke ayat lain.”

وَعَنْ بَعْضِ السَّلَفِ أَنَّهُ بَقِيَ فِي سُورَةِ هُودٍ سِتَّةَ أَشْهُرٍ يُكَرِّرُهَا وَلَا يَفْرُغُ مِنَ التَّدَبُّرِ فِيهَا.

Dari sebagian salaf diriwayatkan bahwa ia tinggal bersama Surah Hūd selama enam bulan, mengulang-ulangnya dan belum selesai bertadabbur di dalamnya.

وَقَالَ بَعْضُ الْعَارِفِينَ: لِي فِي كُلِّ جُمُعَةٍ خَتْمَةٌ، وَفِي كُلِّ شَهْرٍ خَتْمَةٌ، وَفِي كُلِّ سَنَةٍ خَتْمَةٌ، وَلِي خَتْمَةٌ مُنْذُ ثَلَاثِينَ سَنَةً مَا فَرَغْتُ مِنْهَا بَعْدُ، وَذٰلِكَ بِحَسَبِ دَرَجَاتِ تَدَبُّرِهِ وَتَفْتِيشِهِ.

Sebagian orang ‘arif berkata: “Bagiku ada satu khatam setiap pekan, satu khatam setiap bulan, dan satu khatam setiap tahun. Dan ada satu khatam lagi yang telah aku jalani selama tiga puluh tahun dan belum selesai sampai sekarang.” Semua itu sesuai dengan tingkatan tadabbur dan penelaahannya.

وَكَانَ هٰذَا أَيْضًا يَقُولُ: أَقَمْتُ نَفْسِي مَقَامَ الْأُجَرَاءِ، فَأَنَا أَعْمَلُ مِيَاوَمَةً وَمُجَامَعَةً وَمُشَاهَرَةً وَمُسَانَهَةً.

Orang ini juga berkata: “Aku menempatkan diriku seperti pekerja upahan; aku bekerja harian, mingguan, bulanan, dan tahunan.”

اَلْخَامِسُ: التَّفَهُّمُ، وَهُوَ أَنْ يَسْتَوْضِحَ مِنْ كُلِّ آيَةٍ مَا يَلِيقُ بِهَا، إِذِ الْقُرْآنُ يَشْتَمِلُ عَلَىٰ ذِكْرِ صِفَاتِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ، وَذِكْرِ أَفْعَالِهِ، وَذِكْرِ أَحْوَالِ الْأَنْبِيَاءِ عَلَيْهِمُ السَّلَامُ، وَذِكْرِ أَحْوَالِ الْمُكَذِّبِينَ لَهُمْ، وَأَنَّهُمْ كَيْفَ أُهْلِكُوا، وَذِكْرِ أَوَامِرِهِ وَزَوَاجِرِهِ، وَذِكْرِ الْجَنَّةِ وَالنَّارِ.

Yang kelima: pemahaman mendalam, yaitu ia hendaknya menjelaskan dari setiap ayat apa yang sesuai dengannya, karena Al-Qur’an mencakup penyebutan sifat-sifat Allah عز وجل, perbuatan-perbuatan-Nya, keadaan para nabi عليهم السلام, keadaan orang-orang yang mendustakan mereka dan bagaimana mereka dibinasakan, perintah-perintah dan larangan-larangan-Nya, serta penyebutan surga dan neraka.

أَمَّا صِفَاتُ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ فَكَقَوْلِهِ تَعَالَىٰ: ﴿لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ﴾، وَكَقَوْلِهِ تَعَالَىٰ: ﴿الْمَلِكُ الْقُدُّوسُ السَّلَامُ الْمُؤْمِنُ الْمُهَيْمِنُ الْعَزِيزُ الْجَبَّارُ الْمُتَكَبِّرُ﴾.

Adapun sifat-sifat Allah عز وجل, seperti firman-Nya Ta‘ālā: “Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat,” dan seperti firman-Nya Ta‘ālā: “Yang Maha Meraja, Yang Mahasuci, Yang Mahasejahtera, Yang Maha Memberi Keamanan, Yang Maha Memelihara, Yang Mahaperkasa, Yang Mahaperkasa memaksa, Yang Mahabesar.”

فَلْيَتَأَمَّلْ مَعَانِيَ هٰذِهِ الْأَسْمَاءِ وَالصِّفَاتِ، لِيَنْكَشِفَ لَهُ أَسْرَارُهَا، فَتَحْتَهَا مَعَانٍ مَدْفُونَةٌ لَا تَنْكَشِفُ إِلَّا لِلْمُوَفَّقِينَ.

Maka hendaklah ia merenungkan makna-makna nama-nama dan sifat-sifat ini agar tersingkap baginya rahasia-rahasianya, sebab di baliknya ada makna-makna tersembunyi yang tidak tersingkap kecuali bagi orang-orang yang diberi taufik.

وَإِلَيْهِ أَشَارَ عَلِيٌّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ بِقَوْلِهِ: مَا أَسَرَّ إِلَىٰ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ شَيْئًا كَتَمَهُ عَنْ النَّاسِ إِلَّا أَنْ يُؤْتِيَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ عَبْدًا فَهْمًا فِي كِتَابِهِ، فَلْيَكُنْ حَرِيصًا عَلَىٰ طَلَبِ ذٰلِكَ الْفَهْمِ.

Dan kepada hal itu ‘Ali رضي الله عنه memberi isyarat dengan ucapannya: “Tidak ada sesuatu pun yang disampaikan secara rahasia kepada Rasulullah صلى الله عليه وسلم yang beliau sembunyikan dari manusia, kecuali Allah عز وجل memberi seorang hamba pemahaman dalam Kitab-Nya. Maka hendaklah ia bersungguh-sungguh mencari pemahaman itu.”

وَقَالَ ابْنُ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: مَنْ أَرَادَ عِلْمَ الْأَوَّلِينَ وَالْآخِرِينَ فَلْيُثَوِّرِ الْقُرْآنَ.

Ibnu Mas‘ūd رضي الله عنه berkata: “Barang siapa menginginkan ilmu orang-orang terdahulu dan orang-orang kemudian, maka hendaklah ia menggali Al-Qur’an.”

وَأَعْظَمُ عُلُومِ الْقُرْآنِ تَحْتَ أَسْمَاءِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَصِفَاتِهِ، إِذْ لَمْ يُدْرِكْ أَكْثَرُ الْخَلْقِ مِنْهَا إِلَّا أُمُورًا لَائِقَةً بِأَفْهَامِهِمْ، وَلَمْ يَعْثُرُوا عَلَىٰ غَوَائِرِهَا.

Dan ilmu-ilmu terbesar dari Al-Qur’an terdapat pada nama-nama Allah عز وجل dan sifat-sifat-Nya, karena kebanyakan makhluk tidak memahami darinya kecuali hal-hal yang sesuai dengan pemahaman mereka, dan mereka tidak sampai kepada kedalaman-kedalamannya.

وَأَمَّا أَفْعَالُهُ تَعَالَىٰ فَكَذِكْرِهِ خَلْقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَغَيْرِهَا، فَلْيَفْهَمِ التَّالِي مِنْهَا صِفَاتِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَجَلَالَهُ، إِذِ الْفِعْلُ يَدُلُّ عَلَى الْفَاعِلِ فَتَدُلُّ عَظَمَتُهُ عَلَىٰ عَظَمَتِهِ.

Adapun perbuatan-perbuatan-Nya Ta‘ālā, seperti penyebutan penciptaan langit dan bumi serta selain keduanya, maka hendaknya pembaca memahami darinya sifat-sifat Allah عز وجل dan keagungan-Nya, karena perbuatan menunjukkan pelakunya, dan keagungan perbuatan menunjukkan keagungan pelakunya.

فَيَنْبَغِي أَنْ يُشَاهِدَ فِي الْعَقْلِ الْفَاعِلَ دُونَ الْفِعْلِ.

Maka hendaknya ia menyaksikan dalam akalnya Sang Pelaku, bukan hanya perbuatannya.

فَمَنْ عَرَفَ الْحَقَّ رَآهُ فِي كُلِّ شَيْءٍ، إِذْ كُلُّ شَيْءٍ فَهُوَ مِنْهُ وَإِلَيْهِ وَبِهِ وَلَهُ، فَهُوَ الْكُلُّ عَلَى التَّحْقِيقِ.

Barang siapa mengenal Yang Haq, ia akan melihat-Nya pada setiap sesuatu, karena segala sesuatu berasal dari-Nya, kembali kepada-Nya, dengan-Nya, dan untuk-Nya. Dialah segalanya pada hakikatnya.

وَمَنْ لَا يَرَاهُ فِي كُلِّ مَا يَرَاهُ فَكَأَنَّمَا مَا عَرَفَهُ.

Dan barang siapa tidak melihat-Nya pada setiap apa yang ia lihat, seakan-akan ia belum mengenal-Nya.

وَمَنْ عَرَفَهُ عَرَفَ أَنَّ كُلَّ شَيْءٍ مَا خَلَا اللَّهَ بَاطِلٌ، وَأَنَّ كُلَّ شَيْءٍ هَالِكٌ إِلَّا وَجْهَهُ، لَا أَنَّهُ سَيَبْطُلُ فِي ثَانِي الْحَالِ، بَلْ هُوَ الْآنَ بَاطِلٌ إِنِ اعْتُبِرَ ذَاتُهُ مِنْ حَيْثُ هُوَ، إِلَّا أَنْ يُعْتَبَرَ وُجُودُهُ مِنْ حَيْثُ إِنَّهُ مَوْجُودٌ بِاللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَبِقُدْرَتِهِ، فَيَكُونُ لَهُ بِطَرِيقِ التَّبَعِيَّةِ ثَبَاتٌ، وَبِطَرِيقِ الِاسْتِقْلَالِ بُطْلَانٌ مَحْضٌ.

Dan barang siapa mengenal-Nya, ia mengetahui bahwa segala sesuatu selain Allah adalah batil, dan bahwa segala sesuatu binasa kecuali wajah-Nya. Bukan berarti ia akan menjadi batil pada saat berikutnya, melainkan ia sekarang ini pun batil jika dilihat hakikat dirinya semata-mata, kecuali jika keberadaannya dipandang dari sisi bahwa ia ada dengan Allah عز وجل dan dengan kekuasaan-Nya. Maka baginya, melalui jalan ketergantungan, ada ketetapan; sedangkan melalui jalan kemandirian, ia adalah kebatilan murni.

وَهٰذَا مَبْدَأٌ مِنْ مَبَادِئِ عِلْمِ الْمُكَاشَفَةِ.

Ini adalah salah satu permulaan dari ilmu mukāsyafah.

وَلِهٰذَا يَنْبَغِي إِذَا قَرَأَ التَّالِي قَوْلَهُ عَزَّ وَجَلَّ: ﴿أَفَرَأَيْتُمْ مَا تَحْرُثُونَ ۝ أَفَرَأَيْتُمْ مَا تُمْنُونَ ۝ أَفَرَأَيْتُمُ الْمَاءَ الَّذِي تَشْرَبُونَ ۝ أَفَرَأَيْتُمُ النَّارَ الَّتِي تُورُونَ﴾ أَلَّا يَقْصُرَ نَظَرُهُ عَلَى الْمَاءِ وَالنَّارِ وَالْحَرْثِ وَالْمَنِيِّ.

Karena itu, apabila pembaca membaca firman-Nya عز وجل: “Maka apakah kamu memperhatikan apa yang kamu tanam? Maka apakah kamu memperhatikan apa yang kamu mani? Maka apakah kamu memperhatikan air yang kamu minum? Maka apakah kamu memperhatikan api yang kamu nyalakan?” janganlah pandangannya berhenti pada air, api, tanaman, dan mani semata.

بَلْ يَتَأَمَّلُ فِي الْمَنِيِّ وَهُوَ نُطْفَةٌ مُتَشَابِهَةُ الْأَجْزَاءِ، ثُمَّ يَنْظُرُ فِي كَيْفِيَّةِ انْقِسَامِهَا إِلَى اللَّحْمِ وَالْعَظْمِ وَالْعُرُوقِ وَالْعَصَبِ، وَكَيْفِيَّةِ تَشَكُّلِ أَعْضَائِهَا بِالْأَشْكَالِ الْمُخْتَلِفَةِ مِنَ الرَّأْسِ وَالْيَدِ وَالرِّجْلِ وَالْكَبِدِ وَالْقَلْبِ وَغَيْرِهَا.

Tetapi hendaklah ia merenungkan mani itu, padahal ia hanyalah setetes air yang bagian-bagiannya serupa. Kemudian ia melihat bagaimana ia terbagi menjadi daging, tulang, urat, dan saraf, dan bagaimana anggota-anggotanya terbentuk dalam beragam bentuk, seperti kepala, tangan, kaki, hati, dan selainnya.

ثُمَّ إِلَىٰ مَا ظَهَرَ فِيهَا مِنَ الصِّفَاتِ الشَّرِيفَةِ مِنَ السَّمْعِ وَالْبَصَرِ وَالْعَقْلِ وَغَيْرِهَا.

Kemudian ia memperhatikan sifat-sifat mulia yang tampak padanya, seperti pendengaran, penglihatan, akal, dan selainnya.

ثُمَّ إِلَىٰ مَا ظَهَرَ فِيهَا مِنَ الصِّفَاتِ الْمَذْمُومَةِ مِنَ الْغَضَبِ وَالشَّهْوَةِ وَالْكِبْرِ وَالْجَهْلِ وَالتَّكْذِيبِ وَالْمُجَادَلَةِ.

Lalu ia memperhatikan sifat-sifat tercela yang tampak padanya, seperti marah, syahwat, sombong, kebodohan, mendustakan, dan membantah.

كَمَا قَالَ تَعَالَىٰ: ﴿أَوَلَمْ يَرَ الْإِنْسَانُ أَنَّا خَلَقْنَاهُ مِنْ نُطْفَةٍ فَإِذَا هُوَ خَصِيمٌ مُبِينٌ﴾.

Sebagaimana firman-Nya Ta‘ālā: “Dan tidakkah manusia itu melihat bahwa Kami menciptakannya dari setetes mani, lalu tiba-tiba dia menjadi penantang yang nyata?”

فَلْيَتَأَمَّلْ هٰذِهِ الْعَجَائِبَ لِيَتَرَقَّىٰ مِنْهَا إِلَىٰ عَجَبِ الْعَجَائِبِ، وَهُوَ الصِّفَةُ الَّتِي مِنْهَا صَدَرَتْ هٰذِهِ الْأَعَاجِيبُ.

Maka hendaklah ia merenungkan keajaiban-keajaiban ini agar dari situ ia naik menuju keajaiban dari segala keajaiban, yaitu sifat yang darinya muncul keajaiban-keajaiban ini.

فَلَا يَزَالُ يَنْظُرُ إِلَى الصُّنْعَةِ فَيَرَى الصَّانِعَ.

Ia pun terus memandang ciptaan itu sampai ia melihat Sang Pencipta.

وَأَمَّا أَحْوَالُ الْأَنْبِيَاءِ عَلَيْهِمُ السَّلَامُ، فَإِذَا سَمِعَ مِنْهَا كَيْفَ كُذِّبُوا وَضُرِبُوا وَقُتِلَ بَعْضُهُمْ، فَلْيَفْهَمْ مِنْهُ صِفَةَ الِاسْتِغْنَاءِ لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ عَنِ الرُّسُلِ وَالْمُرْسَلِ إِلَيْهِمْ، وَأَنَّهُ لَوْ أَهْلَكَ جَمِيعَهُمْ لَمْ يُؤَثِّرْ فِي مُلْكِهِ شَيْئًا.

Adapun keadaan para nabi عليهم السلام, apabila ia mendengar bagaimana mereka didustakan, dipukul, dan sebagian mereka dibunuh, hendaklah ia memahami darinya sifat Allah عز وجل yang Maha tidak membutuhkan para rasul dan orang-orang yang diutus kepada mereka, serta bahwa seandainya Allah membinasakan seluruh mereka, hal itu tidak akan berpengaruh sedikit pun pada kerajaan-Nya.

وَإِذَا سَمِعَ نُصْرَتَهُمْ فِي آخِرِ الْأَمْرِ، فَلْيَفْهَمْ قُدْرَةَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَإِرَادَتَهُ لِنُصْرَةِ الْحَقِّ.

Dan apabila ia mendengar pertolongan kepada mereka pada akhir urusan, hendaklah ia memahami kekuasaan Allah عز وجل dan kehendak-Nya untuk menolong kebenaran.

وَأَمَّا أَحْوَالُ الْمُكَذِّبِينَ كَعَادٍ وَثَمُودَ وَمَا جَرَىٰ عَلَيْهِمْ، فَلْيَكُنْ فَهْمُهُ مِنْهُ اسْتِشْعَارَ الْخَوْفِ مِنْ سَطْوَتِهِ وَنِقْمَتِهِ.

Adapun keadaan orang-orang yang mendustakan, seperti ‘Ād dan Tsamūd serta apa yang menimpa mereka, maka hendaknya pemahamannya darinya menumbuhkan rasa takut akan kekuasaan dan pembalasan-Nya.

وَلْيَكُنْ حَظُّهُ مِنْهُ الِاعْتِبَارَ فِي نَفْسِهِ، وَأَنَّهُ إِنْ غَفَلَ وَأَسَاءَ الْأَدَبَ وَاغْتَرَّ بِمَا أَمْهَلَ، فَرُبَّمَا تُدْرِكُهُ النِّقْمَةُ وَتَنْفُذُ فِيهِ الْقَضِيَّةُ.

Dan hendaknya bagi dirinya ia mengambil pelajaran, yaitu bahwa jika ia lalai, buruk adab, dan tertipu oleh penangguhan yang diberikan kepadanya, boleh jadi azab akan menimpanya dan ketetapan itu akan berlaku atasnya.

وَكَذٰلِكَ إِذَا سَمِعَ وَصْفَ الْجَنَّةِ وَالنَّارِ وَسَائِرَ مَا فِي الْقُرْآنِ، فَلَا يُمْكِنُ اسْتِقْصَاءُ مَا يُفْهَمُ مِنْهُ، لِأَنَّ ذٰلِكَ لَا نِهَايَةَ لَهُ.

Demikian pula jika ia mendengar gambaran surga dan neraka serta seluruh apa yang ada dalam Al-Qur’an, maka tidak mungkin membatasi secara penuh apa yang dipahami darinya, karena hal itu tidak berujung.

وَإِنَّمَا لِكُلِّ عَبْدٍ بِقَدْرِ رِزْقِهِ.

Setiap hamba hanya memperoleh sesuai kadar rezekinya.

فَلَا رَطْبَ وَلَا يَابِسَ إِلَّا فِي كِتَابٍ مُبِينٍ.

Tidak ada yang basah dan tidak ada yang kering melainkan tertulis dalam Kitab yang nyata.

قُلْ: لَوْ كَانَ الْبَحْرُ مِدَادًا لِكَلِمَاتِ رَبِّي لَنَفِدَ الْبَحْرُ قَبْلَ أَنْ تَنْفَدَ كَلِمَاتُ رَبِّي، وَلَوْ جِئْنَا بِمِثْلِهِ مَدَدًا.

Katakanlah: “Seandainya lautan menjadi tinta untuk كلمات Rabbku, niscaya habislah lautan itu sebelum habis كلمات Rabbku, walaupun Kami datangkan tambahan sebanyak itu.”

وَلِذٰلِكَ قَالَ عَلِيٌّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: لَوْ شِئْتُ لَأَوْقَرْتُ سَبْعِينَ بَعِيرًا مِنْ تَفْسِيرِ فَاتِحَةِ الْكِتَابِ.

Karena itu ‘Ali رضي الله عنه berkata: “Seandainya aku mau, niscaya akan kukandangkan tujuh puluh unta dengan tafsir Surah Al-Fatihah.”

فَالْغَرَضُ مِمَّا ذَكَرْنَاهُ التَّنْبِيهُ عَلَىٰ طَرِيقِ التَّفْهِيمِ لِيَنْفَتِحَ بَابُهُ، فَأَمَّا الِاسْتِقْصَاءُ فَلَا مَطْمَعَ فِيهِ.

Maksud dari apa yang telah kami sebutkan ialah memberi isyarat pada jalan pemahaman agar pintunya terbuka. Adapun pembahasan sampai tuntas, maka tidak ada harapan untuk mencapainya.

وَمَنْ لَمْ يَكُنْ لَهُ فَهْمُ مَا فِي الْقُرْآنِ وَلَوْ فِي أَدْنَى الدَّرَجَاتِ، دَخَلَ فِي قَوْلِهِ تَعَالَىٰ: ﴿وَمِنْهُمْ مَنْ يَسْتَمِعُ إِلَيْكَ حَتَّىٰ إِذَا خَرَجُوا مِنْ عِنْدِكَ قَالُوا لِلَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ مَاذَا قَالَ آنِفًا﴾.

Barang siapa tidak memiliki pemahaman terhadap apa yang ada dalam Al-Qur’an, walaupun pada tingkatan yang paling rendah, ia termasuk dalam firman-Nya Ta‘ālā: “Dan di antara mereka ada yang mendengarkanmu, sampai apabila mereka keluar dari sisimu mereka berkata kepada orang-orang yang diberi ilmu: ‘Apa yang baru saja ia katakan tadi?’”

أُولٰئِكَ الَّذِينَ طَبَعَ اللَّهُ عَلَىٰ قُلُوبِهِمْ، وَالطَّابَعُ هِيَ الْمَوَانِعُ الَّتِي سَنَذْكُرُهَا فِي مَوَانِعِ الْفَهْمِ.

Mereka itulah orang-orang yang Allah telah menutup hati mereka. Dan penutup itu adalah penghalang-penghalang yang akan kami sebutkan dalam pembahasan penghalang-penghalang pemahaman.

وَقَدْ قِيلَ: لَا يَكُونُ الْمُرِيدُ مُرِيدًا حَتَّىٰ يَجِدَ فِي الْقُرْآنِ كُلَّ مَا يُرِيدُ، وَيَعْرِفَ مِنْهُ النُّقْصَانَ مِنَ الْمَزِيدِ، وَيَسْتَغْنِيَ بِالْمَوْلَىٰ عَنِ الْعَبِيدِ.

Dan telah dikatakan: seorang murid tidak akan menjadi benar-benar murid hingga ia menemukan dalam Al-Qur’an segala yang ia kehendaki, mengetahui darinya kekurangan dari tambahan, dan merasa cukup dengan Maula daripada para hamba.

اَلسَّادِسُ: التَّخَلِّي عَنْ مَوَانِعِ الْفَهْمِ، فَإِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ مُنِعُوا عَنْ فَهْمِ مَعَانِي الْقُرْآنِ لِأَسْبَابٍ وَحُجُبٍ أَسْدَلَهَا الشَّيْطَانُ عَلَىٰ قُلُوبِهِمْ، فَعَمِيَتْ عَلَيْهِمْ عَجَائِبُ أَسْرَارِ الْقُرْآنِ.

Yang keenam: mengosongkan diri dari penghalang-penghalang pemahaman. Sebab kebanyakan manusia terhalang dari memahami makna-makna Al-Qur’an karena sebab-sebab dan tirai-tirai yang dijulurkan setan di atas hati mereka, sehingga butalah atas mereka keajaiban-keajaiban rahasia Al-Qur’an.

قَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لَوْلَا أَنَّ الشَّيَاطِينَ يَحُومُونَ عَلَىٰ قُلُوبِ بَنِي آدَمَ، لَنَظَرُوا إِلَى الْمَلَكُوتِ.

Beliau صلى الله عليه وسلم bersabda: “Seandainya setan-setan tidak mengelilingi hati anak Adam, niscaya mereka akan memandang alam malakut.”

وَمَعَانِي الْقُرْآنِ مِنْ جُمْلَةِ الْمَلَكُوتِ، وَكُلُّ مَا غَابَ عَنِ الْحَوَاسِّ وَلَمْ يُدْرَكْ إِلَّا بِنُورِ الْبَصِيرَةِ فَهُوَ مِنَ الْمَلَكُوتِ.

Makna-makna Al-Qur’an termasuk bagian dari alam malakut. Segala sesuatu yang tidak tampak oleh indra dan tidak dapat ditangkap kecuali dengan cahaya bashirah, maka ia termasuk alam malakut.

وَحُجُبُ الْفَهْمِ أَرْبَعَةٌ.

Penghalang-penghalang pemahaman itu ada empat.

أَوَّلُهَا أَنْ يَكُونَ الْهَمُّ مُنْصَرِفًا إِلَىٰ تَحْقِيقِ الْحُرُوفِ بِإِخْرَاجِهَا مِنْ مَخَارِجِهَا.

Pertama, perhatian hanya tertuju kepada melafalkan huruf-huruf dengan benar dari makhrajnya.

وَهٰذَا يَتَوَلَّىٰ حِفْظَهُ شَيْطَانٌ وُكِّلَ بِالْقُرَّاءِ لِيَصْرِفَهُمْ عَنْ فَهْمِ مَعَانِي كَلَامِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ.

Hal ini dijaga oleh setan yang ditugaskan kepada para pembaca untuk memalingkan mereka dari memahami makna-makna kalam Allah عز وجل.

فَلَا يَزَالُ يَحْمِلُهُمْ عَلَىٰ تَرْدِيدِ الْحَرْفِ، يُخَيِّلُ إِلَيْهِمْ أَنَّهُ لَمْ يَخْرُجْ مِنْ مَخْرَجِهِ.

Ia terus-menerus mendorong mereka untuk mengulang huruf, sambil membayangkan kepada mereka seakan-akan huruf itu belum keluar dari makhrajnya.

فَهٰذَا يَكُونُ تَأَمُّلُهُ مَقْصُورًا عَلَىٰ مَخَارِجِ الْحُرُوفِ، فَأَنَّىٰ تَنْكَشِفُ لَهُ الْمَعَانِي؟ وَأَعْظَمُ ضِحْكَةٍ لِلشَّيْطَانِ مَنْ كَانَ مُطِيعًا لِمِثْلِ هٰذَا التَّلْبِيسِ.

Maka renungannya hanya terbatas pada makhraj huruf-huruf. Lalu dari mana makna-makna akan tersingkap baginya? Dan yang paling menggelikan bagi setan ialah orang yang menaati tipu daya semacam ini.