Adab-Adab Lahiriah Dalam Membaca Al-Qur’an
اَلْبَابُ الثَّانِي فِي ظَاهِرِ آدَابِ التِّلَاوَةِ، وَهِيَ عَشَرَةٌ.
Bab kedua tentang adab-adab lahiriah dalam tilawah, dan
jumlahnya ada sepuluh.
اَلْأَوَّلُ
فِي حَالِ الْقَارِئِ، وَهُوَ أَنْ يَكُونَ عَلَى الْوُضُوءِ، وَاقِعًا عَلَى
هَيْئَةِ الْأَدَبِ وَالسُّكُونِ، إِمَّا قَائِمًا وَإِمَّا جَالِسًا،
مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ، مُطْرِقًا رَأْسَهُ، غَيْرَ مُتَرَبِّعٍ وَلَا
مُتَّكِئٍ وَلَا جَالِسٍ عَلَى هَيْئَةِ التَّكَبُّرِ، وَيَكُونُ جُلُوسُهُ
وَحْدَهُ كَجُلُوسِهِ بَيْنَ يَدَيِ أُسْتَاذِهِ.
Yang pertama ialah tentang keadaan orang yang membaca, yaitu
hendaknya ia dalam keadaan berwudu, berada pada sikap yang menunjukkan adab dan
ketenangan, baik berdiri maupun duduk, menghadap kiblat, menundukkan kepalanya,
tidak duduk bersila, tidak bersandar, dan tidak duduk dengan gaya orang yang
sombong. Hendaknya duduknya ketika sendirian seperti duduknya di hadapan
gurunya.
وَأَفْضَلُ
الْأَحْوَالِ أَنْ يَقْرَأَ فِي الصَّلَاةِ قَائِمًا، وَأَنْ يَكُونَ فِي
الْمَسْجِدِ، فَذٰلِكَ مِنْ أَفْضَلِ الْأَعْمَالِ.
Keadaan yang paling utama ialah membaca di dalam salat dalam
posisi berdiri, dan berada di masjid; karena itu termasuk amalan yang paling
utama.
فَإِنْ
قَرَأَ عَلَى غَيْرِ وُضُوءٍ، وَكَانَ مُضْطَجِعًا فِي الْفِرَاشِ، فَلَهُ أَيْضًا
فَضْلٌ، وَلٰكِنَّهُ دُونَ ذٰلِكَ.
Jika ia membaca tanpa wudu dan dalam keadaan berbaring di
atas kasur, maka itu juga tetap memiliki keutamaan, namun kedudukannya berada
di bawah yang demikian.
قَالَ
اللَّهُ تَعَالَىٰ: ﴿ٱلَّذِينَ يَذْكُرُونَ ٱللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَىٰ
جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ ٱلسَّمَاوَاتِ وَٱلْأَرْضِ﴾.
Allah Ta‘ālā berfirman: “(Yaitu) orang-orang yang mengingat
Allah sambil berdiri, duduk, dan berbaring miring, dan mereka memikirkan
tentang penciptaan langit dan bumi.”
فَأَثْنَى
عَلَى الْكُلِّ، وَلٰكِنْ قَدَّمَ الْقِيَامَ فِي الذِّكْرِ، ثُمَّ الْقُعُودَ،
ثُمَّ الذِّكْرَ مُضْطَجِعًا.
Maka Allah memuji semuanya, tetapi mendahulukan keadaan
berdiri dalam berzikir, kemudian duduk, lalu berzikir dalam keadaan berbaring.
قَالَ
عَلِيٌّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: مَنْ قَرَأَ الْقُرْآنَ وَهُوَ قَائِمٌ فِي
الصَّلَاةِ، كَانَ لَهُ بِكُلِّ حَرْفٍ مِائَةُ حَسَنَةٍ.
‘Alī رضي
الله عنه berkata: “Barang siapa membaca Al-Qur’an dalam keadaan berdiri
di dalam salat, maka baginya pada setiap huruf seratus kebaikan.”
وَمَنْ
قَرَأَهُ وَهُوَ جَالِسٌ فِي الصَّلَاةِ، فَلَهُ بِكُلِّ حَرْفٍ خَمْسُونَ
حَسَنَةً.
“Dan barang siapa membacanya dalam keadaan duduk di dalam
salat, maka baginya pada setiap huruf lima puluh kebaikan.”
وَمَنْ
قَرَأَهُ فِي غَيْرِ صَلَاةٍ وَهُوَ عَلَى وُضُوءٍ، فَخَمْسٌ وَعِشْرُونَ حَسَنَةً.
“Dan barang siapa membacanya di luar salat dalam keadaan
berwudu, maka baginya dua puluh lima kebaikan.”
وَمَنْ
قَرَأَهُ عَلَى غَيْرِ وُضُوءٍ، فَعَشْرُ حَسَنَاتٍ.
“Dan barang siapa membacanya tanpa wudu, maka baginya
sepuluh kebaikan.”
وَمَا
كَانَ مِنَ الْقِيَامِ بِاللَّيْلِ فَهُوَ أَفْضَلُ، لِأَنَّهُ أَفْرَغُ
لِلْقَلْبِ.
Adapun yang berupa berdiri pada malam hari, maka itu lebih
utama, karena lebih membuat hati kosong untuk fokus.
قَالَ
أَبُو ذَرٍّ الْغِفَارِيُّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: إِنَّ كَثْرَةَ السُّجُودِ
بِالنَّهَارِ، وَإِنَّ طُولَ الْقِيَامِ بِاللَّيْلِ أَفْضَلُ.
Abu Dzar al-Ghifārī رضي الله عنه berkata:
“Sesungguhnya memperbanyak sujud di siang hari dan memanjangkan berdiri pada
malam hari adalah lebih utama.”
اَلثَّانِي
فِي مِقْدَارِ الْقُرْآنِ.
Yang kedua ialah tentang kadar bacaan Al-Qur’an.
وَلِلْقُرَّاءِ
عَادَاتٌ مُخْتَلِفَةٌ فِي الِاسْتِكْثَارِ وَالِاخْتِصَارِ.
Para pembaca Al-Qur’an memiliki kebiasaan yang beragam dalam
memperbanyak atau meringkas bacaan.
فَمِنْهُمْ
مَنْ يَخْتِمُ الْقُرْآنَ فِي الْيَوْمِ وَاللَّيْلَةِ مَرَّةً، وَبَعْضُهُمْ
مَرَّتَيْنِ، وَانْتَهَىٰ بَعْضُهُمْ إِلَىٰ ثَلَاثٍ.
Di antara mereka ada yang mengkhatamkan Al-Qur’an sekali
dalam sehari semalam, sebagian dua kali, dan ada pula yang sampai tiga kali.
وَمِنْهُمْ
مَنْ يَخْتِمُ فِي الشَّهْرِ مَرَّةً.
Dan di antara mereka ada yang mengkhatamkan sekali dalam
sebulan.
وَأَوْلَىٰ
مَا يُرْجَعُ إِلَيْهِ فِي التَّقْدِيرَاتِ قَوْلُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَنْ قَرَأَ الْقُرْآنَ فِي أَقَلَّ مِنْ ثَلَاثٍ لَمْ
يَفْقَهْهُ.
Patokan yang paling layak dijadikan rujukan dalam penentuan
kadar ialah sabda Rasulullah صلى
الله عليه وسلم: “Barang siapa membaca Al-Qur’an dalam waktu kurang dari tiga
hari, ia tidak akan memahaminya.”
وَذٰلِكَ
لِأَنَّ الزِّيَادَةَ عَلَيْهِ تَمْنَعُهُ التَّرْتِيلَ.
Hal itu karena menambah di atas kadar tersebut
menghalanginya dari tartil.
وَقَدْ
قَالَتْ عَائِشَةُ رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَىٰ عَنْهَا لَمَّا سَمِعَتْ رَجُلًا
يَهْذُرُ الْقُرْآنَ هَذْرًا: إِنَّ هٰذَا مَا قَرَأَ الْقُرْآنَ وَلَا سَكَتَ.
Dan ‘Āisyah رضي الله تعالى عنها ketika mendengar seorang laki-laki membaca
Al-Qur’an dengan tergesa-gesa, berkata: “Orang ini tidak membaca Al-Qur’an dan
juga tidak diam.”
وَأَمَرَ
النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عُمَرَ رَضِيَ
اللَّهُ عَنْهُمَا أَنْ يَخْتِمَ الْقُرْآنَ فِي كُلِّ سَبْعٍ.
Dan Nabi صلى
الله عليه وسلم memerintahkan Abdullah bin Umar رضي الله عنهما untuk mengkhatamkan
Al-Qur’an setiap tujuh hari.
وَكَذٰلِكَ
كَانَ جَمَاعَةٌ مِنَ الصَّحَابَةِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ يَخْتِمُونَ
الْقُرْآنَ فِي كُلِّ جُمُعَةٍ، كَعُثْمَانَ، وَزَيْدِ بْنِ ثَابِتٍ، وَابْنِ
مَسْعُودٍ، وَأُبَيِّ بْنِ كَعْبٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ.
Demikian pula sekelompok sahabat رضي الله عنهم mengkhatamkan
Al-Qur’an setiap Jumat, seperti ‘Utsmān, Zaid bin Tsābit, Ibnu Mas‘ūd, dan Ubay
bin Ka‘b رضي
الله عنهم.
فَفِي
الْخَتْمِ أَرْبَعُ دَرَجَاتٍ: الْخَتْمُ فِي يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ، وَقَدْ كَرِهَهُ
جَمَاعَةٌ، وَالْخَتْمُ فِي كُلِّ شَهْرٍ.
Maka dalam khatam ada empat tingkatan: khatam dalam sehari
semalam, dan ini telah dibenci oleh sebagian ulama, serta khatam setiap bulan.
كُلُّ
يَوْمٍ جُزْءٌ مِنْ ثَلَاثِينَ جُزْءًا.
Yaitu setiap hari satu bagian dari tiga puluh bagian.
وَكَأَنَّهُ
مُبَالَغَةٌ فِي الِاقْتِصَارِ، كَمَا أَنَّ الْأَوَّلَ مُبَالَغَةٌ فِي
الِاسْتِكْثَارِ.
Hal itu seperti bentuk berlebihan dalam meringkas,
sebagaimana yang pertama merupakan bentuk berlebihan dalam memperbanyak.
وَبَيْنَهُمَا
دَرَجَتَانِ مُعْتَدِلَتَانِ: إِحْدَاهُمَا فِي الْأُسْبُوعِ مَرَّةً،
وَالثَّانِيَةُ فِي الْأُسْبُوعِ مَرَّتَيْنِ تَقْرِيبًا.
Di antara keduanya ada dua tingkatan yang pertengahan: yang
pertama sekali dalam sepekan, dan yang kedua kira-kira dua kali dalam sepekan.
وَالْأَحَبُّ
أَنْ يَخْتِمَ خَتْمَةً بِاللَّيْلِ وَخَتْمَةً بِالنَّهَارِ.
Yang lebih disukai ialah ia mengkhatamkan satu kali pada
malam hari dan satu kali pada siang hari.
وَيَجْعَلَ
خَتْمَهُ بِالنَّهَارِ يَوْمَ الِاثْنَيْنِ فِي رَكْعَتَيِ الْفَجْرِ أَوْ
بَعْدَهُمَا.
Dan hendaknya ia menjadikan khatam siangnya pada hari Senin
dalam dua rakaat fajar atau sesudah keduanya.
وَيَجْعَلَ
خَتْمَهُ بِاللَّيْلِ لَيْلَةَ الْجُمُعَةِ فِي رَكْعَتَيِ الْمَغْرِبِ أَوْ
بَعْدَهُمَا.
Dan hendaknya ia menjadikan khatam malamnya pada malam Jumat
dalam dua rakaat magrib atau sesudah keduanya.
لِيَسْتَقْبِلَ
أَوَّلَ النَّهَارِ وَأَوَّلَ اللَّيْلِ بِخَتْمَتِهِ.
Agar ia menyambut awal siang dan awal malam dengan
khatamnya.
فَإِنَّ
الْمَلَائِكَةَ عَلَيْهِمُ السَّلَامُ تُصَلِّي عَلَيْهِ إِنْ كَانَتْ خَتْمَتُهُ
لَيْلًا حَتَّىٰ يُصْبِحَ، وَإِنْ كَانَ نَهَارًا حَتَّىٰ يُمْسِيَ.
Karena para malaikat عليهم السلام mendoakannya jika
khatamnya pada malam hari hingga pagi, dan jika pada siang hari hingga sore.
فَتَشْمَلُ
بَرَكَتُهُمَا جَمِيعَ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ.
Maka keberkahan keduanya mencakup seluruh malam dan siang.
وَالتَّفْصِيلُ
فِي مِقْدَارِ الْقِرَاءَةِ أَنَّهُ إِنْ كَانَ مِنَ الْعَابِدِينَ السَّالِكِينَ
طَرِيقَ الْعَمَلِ فَلَا يَنْبَغِي أَنْ يَنْقُصَ عَنْ خَتْمَتَيْنِ فِي
الْأُسْبُوعِ.
Adapun rincian kadar bacaan ialah: jika ia termasuk ahli
ibadah yang menempuh jalan amal, maka tidak sepatutnya kurang dari dua khatam
dalam seminggu.
وَإِنْ
كَانَ مِنَ السَّالِكِينَ بِأَعْمَالِ الْقَلْبِ وَضُرُوبِ الْفِكْرِ، أَوْ مِنَ
الْمُشْتَغِلِينَ بِنَشْرِ الْعِلْمِ، فَلَا بَأْسَ أَنْ يَقْتَصِرَ فِي
الْأُسْبُوعِ عَلَىٰ مَرَّةٍ.
Jika ia termasuk orang yang menempuh jalan dengan amalan
hati dan beragam perenungan, atau termasuk orang yang sibuk menyebarkan ilmu,
maka tidak mengapa ia membatasi diri dalam seminggu hanya sekali.
وَإِنْ
كَانَ نَافِذَ الْفِكْرِ فِي مَعَانِي الْقُرْآنِ، فَقَدْ يَكْتَفِي فِي الشَّهْرِ
بِمَرَّةٍ، لِكَثْرَةِ حَاجَتِهِ إِلَىٰ كَثْرَةِ التَّرْدِيدِ وَالتَّأَمُّلِ.
Jika ia tajam pikirannya dalam makna-makna Al-Qur’an,
mungkin cukup baginya sekali dalam sebulan, karena besarnya kebutuhannya untuk
mengulang-ulang dan merenungkan.
اَلثَّالِثُ
فِي وَجْهِ الْقِسْمَةِ.
Yang ketiga ialah tentang cara pembagian.
أَمَّا
مَنْ خَتَمَ فِي الْأُسْبُوعِ مَرَّةً فَيُقَسِّمُ الْقُرْآنَ سَبْعَةَ أَحْزَابٍ،
فَقَدْ حَزَّبَ الصَّحَابَةُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ أَحْزَابًا.
Adapun orang yang mengkhatamkan sekali dalam sepekan, maka
ia membagi Al-Qur’an menjadi tujuh hizb; para sahabat رضي الله عنهم pun telah membaginya
menjadi beberapa hizb.
فَرُوِيَ
أَنَّ عُثْمَانَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ كَانَ يَفْتَتِحُ لَيْلَةَ الْجُمُعَةِ
بِالْبَقَرَةِ إِلَى الْمَائِدَةِ، وَلَيْلَةَ السَّبْتِ بِالْأَنْعَامِ إِلَى
هُودٍ، وَلَيْلَةَ الْأَحَدِ بِيُوسُفَ إِلَىٰ مَرْيَمَ، وَلَيْلَةَ الِاثْنَيْنِ
بِطٰهٰ إِلَى طٰسٓمٓ مُوسَىٰ وَفِرْعَوْنَ، وَلَيْلَةَ الثُّلَاثَاءِ
بِالْعَنْكَبُوتِ إِلَىٰ صٓ، وَلَيْلَةَ الْأَرْبِعَاءِ بِالتَّنْزِيلِ إِلَى
الرَّحْمٰنِ، وَيَخْتِمُ لَيْلَةَ الْخَمِيسِ.
Diriwayatkan bahwa ‘Utsmān رضي الله عنه biasa memulai malam
Jumat dengan Surah Al-Baqarah sampai Al-Mā’idah, malam Sabtu dengan Al-An‘ām
sampai Hūd, malam Ahad dengan Yūsuf sampai Maryam, malam Senin dengan Ṭāhā
sampai Ṭasīm Mūsā dan Fir‘aun, malam Selasa dengan Al-‘Ankabūt sampai Ṣād,
malam Rabu dengan At-Tanzīl sampai Ar-Raḥmān, dan ia mengkhatamkan pada malam
Kamis.
وَابْنُ
مَسْعُودٍ كَانَ يُقَسِّمُهُ أَقْسَامًا لَا عَلَىٰ هٰذَا التَّرْتِيبِ.
Ibnu Mas‘ūd membaginya ke dalam bagian-bagian yang tidak
mengikuti urutan ini.
وَقِيلَ:
أَحْزَابُ الْقُرْآنِ سَبْعَةٌ: فَالْحِزْبُ الْأَوَّلُ ثَلَاثُ سُوَرٍ،
وَالْحِزْبُ الثَّانِي خَمْسُ سُوَرٍ، وَالْحِزْبُ الثَّالِثُ سَبْعُ سُوَرٍ،
وَالرَّابِعُ تِسْعُ سُوَرٍ، وَالْخَامِسُ إِحْدَىٰ عَشْرَةَ سُورَةً،
وَالسَّادِسُ ثَلَاثَ عَشْرَةَ سُورَةً، وَالسَّابِعُ الْمُفَصَّلُ مِنْ قٓ إِلَىٰ
آخِرِهِ.
Dikatakan bahwa hizb-hizb Al-Qur’an ada tujuh: hizb pertama
tiga surah, hizb kedua lima surah, hizb ketiga tujuh surah, hizb keempat
sembilan surah, hizb kelima sebelas surah, hizb keenam tiga belas surah, dan
hizb ketujuh ialah al-Mufashshal dari Qāf sampai akhir.
فَهٰكَذَا
حَزَّبَهُ الصَّحَابَةُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ، وَكَانُوا يَقْرَؤُونَهُ
كَذٰلِكَ.
Demikianlah para sahabat رضي الله عنهم membaginya, dan
mereka pun membacanya dengan cara seperti itu.
وَفِيهِ
خَبَرٌ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَهٰذَا قَبْلَ
أَنْ تُعْمَلَ الْأَخْمَاسُ وَالْأَعْشَارُ وَالْأَجْزَاءُ، فَمَا سِوَىٰ هٰذَا
مُحْدَثٌ.
Dalam hal itu ada riwayat dari Rasulullah صلى الله عليه وسلم.
Ini terjadi sebelum dibuat pembagian menjadi lima, sepuluh, dan juz-juz; maka
selain itu adalah perkara baru.
اَلرَّابِعُ
فِي الْكِتَابَةِ.
Yang keempat ialah tentang penulisan.
يُسْتَحَبُّ
تَحْسِينُ كِتَابَةِ الْقُرْآنِ وَتَبْيِينُهُ.
Disunnahkan memperindah tulisan Al-Qur’an dan membuatnya
jelas.
وَلَا
بَأْسَ بِالنُّقَطِ وَالْعَلَامَاتِ بِالْحُمْرَةِ وَغَيْرِهَا، فَإِنَّهَا
تَزْيِينٌ وَتَبْيِينٌ وَصَدٌّ عَنِ الْخَطَإِ وَاللَّحْنِ لِمَنْ يَقْرَؤُهُ.
Tidak mengapa memberi titik dan tanda dengan warna merah
atau selainnya, karena itu menjadi hiasan, penjelas, dan penghalang dari
kesalahan serta salah baca bagi orang yang membacanya.
وَقَدْ
كَانَ الْحَسَنُ وَابْنُ سِيرِينَ يُنْكِرَانِ الْأَخْمَاسَ وَالْعَوَاشِرَ
وَالْأَجْزَاءَ.
Al-Ḥasan dan Ibnu Sīrīn dahulu mengingkari penandaan lima
bagian, sepuluh bagian, dan juz-juz.
وَرُوِيَ
عَنِ الشَّعْبِيِّ وَإِبْرَاهِيمَ كَرَاهَةُ النُّقَطِ بِالْحُمْرَةِ وَأَخْذِ
الْأُجْرَةِ عَلَىٰ ذٰلِكَ، وَكَانُوا يَقُولُونَ: جَرِّدُوا الْقُرْآنَ.
Diriwayatkan dari asy-Sya‘bī dan Ibrāhīm bahwa mereka tidak
menyukai pemberian titik berwarna merah dan mengambil upah atas hal itu. Mereka
biasa berkata: “Buatlah Al-Qur’an tetap polos.”
وَالظَّنُّ
بِهٰؤُلَاءِ أَنَّهُمْ كَرِهُوا فَتْحَ هٰذَا الْبَابِ، خَوْفًا مِنْ أَنْ
يُؤَدِّيَ إِلَىٰ إِحْدَاثِ زِيَادَاتٍ، وَحَسْمًا لِلْبَابِ، وَتَشَوُّقًا إِلَىٰ
حِرَاسَةِ الْقُرْآنِ عَمَّا يَطْرُقُ إِلَيْهِ تَغْيِيرًا.
Dan yang diduga dari mereka ialah bahwa mereka tidak
menyukai pembukaan pintu ini, karena khawatir akan mengantarkan kepada
penambahan-penambahan baru, untuk menutup pintu itu sejak awal, dan demi
menjaga Al-Qur’an dari perubahan yang mungkin menyentuhnya.
وَإِذَا
لَمْ يُؤَدِّ إِلَىٰ مَحْظُورٍ، وَاسْتَقَرَّ أَمْرُ الْأُمَّةِ فِيهِ عَلَىٰ مَا
يَحْصُلُ بِهِ مَزِيدُ مَعْرِفَةٍ، فَلَا بَأْسَ بِهِ، وَلَا يُمْنَعُ مِنْ ذٰلِكَ
كَوْنُهُ مُحْدَثًا.
Apabila hal itu tidak mengantarkan kepada perkara terlarang,
dan urusan umat telah stabil dengannya sehingga menghasilkan tambahan
pengetahuan, maka tidak mengapa; dan keberadaannya sebagai hal baru tidaklah
menghalangi.
فَكَمْ
مِنْ مُحْدَثٍ حَسَنٍ، كَمَا قِيلَ فِي إِقَامَةِ الْجَمَاعَاتِ فِي التَّرَاوِيحِ
إِنَّهَا مِنْ مُحْدَثَاتِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ وَأَنَّهَا بِدْعَةٌ
حَسَنَةٌ.
Betapa banyak perkara baru yang baik, sebagaimana dikatakan
tentang penegakan salat berjamaah dalam tarawih bahwa itu termasuk perkara baru
dari ‘Umar رضي
الله عنه dan itu adalah bidah yang baik.
إِنَّمَا
الْبِدْعَةُ الْمَذْمُومَةُ مَا يُصَادِمُ السُّنَّةَ الْقَدِيمَةَ أَوْ يَكَادُ
يُفْضِي إِلَىٰ تَغْيِيرِهَا.
Adapun bidah yang tercela ialah yang menentang sunnah yang
telah ada atau hampir-hampir mengantarkan kepada perubahan terhadapnya.
وَبَعْضُهُمْ
كَانَ يَقُولُ: أَقْرَأُ مِنَ الْمُصْحَفِ فِي الْمُنَقَّطِ، وَلَا أُنَقِّطُهُ
بِنَفْسِي.
Sebagian mereka berkata: “Aku membaca dari mushaf yang sudah
bertitik, dan aku tidak memberi titiknya sendiri.”
وَقَالَ
الْأَوْزَاعِيُّ عَنْ يَحْيَى بْنِ أَبِي كَثِيرٍ: كَانَ الْقُرْآنُ مُجَرَّدًا
فِي الْمَصَاحِفِ، فَأَوَّلُ مَا أُحْدِثَ فِيهِ النُّقَطُ عَلَى الْبَاءِ
وَالتَّاءِ، وَقَالُوا: لَا بَأْسَ بِهِ فَإِنَّهُ نُورٌ لَهُ.
Al-Awzā‘ī meriwayatkan dari Yaḥyā bin Abī Katsīr: “Al-Qur’an
dahulu masih polos dalam mushaf. Maka yang pertama kali diadakan padanya ialah
titik pada huruf bā’ dan tā’. Mereka berkata: tidak mengapa, karena itu menjadi
cahaya baginya.”
ثُمَّ
أُحْدِثَ بَعْدَهُ نُقَطٌ كِبَارٌ عِنْدَ مُنْتَهَى الْآيِ، فَقَالُوا: لَا بَأْسَ
بِهِ، يُعْرَفُ بِهِ رَأْسُ الْآيَةِ.
Kemudian setelah itu diadakan titik-titik besar di akhir
ayat. Mereka berkata: tidak mengapa, karena dengan itu diketahui akhir ayat.
ثُمَّ
أُحْدِثَ بَعْدَ ذٰلِكَ الْخَوَاتِمُ وَالْفَوَاتِحُ.
Lalu setelah itu diadakan tanda-tanda penutup dan pembuka.
قَالَ
أَبُو بَكْرٍ الْهُذَلِيُّ: سَأَلْتُ الْحَسَنَ عَنْ تَنْقِيطِ الْمَصَاحِفِ
بِالْأَحْمَرِ، فَقَالَ: وَمَا تَنْقِيطُهَا؟ قَالَ: يُعْرِبُونَ الْكَلِمَةَ
بِالْعَرَبِيَّةِ، قَالَ: أَمَّا إِعْرَابُ الْقُرْآنِ فَلَا بَأْسَ بِهِ.
Abu Bakr al-Hudzalī berkata: “Aku bertanya kepada al-Ḥasan
tentang pemberian titik merah pada mushaf, lalu ia berkata: ‘Apa yang dimaksud
dengan pemberian titik itu?’ Aku menjawab: ‘Mereka memberi harakat pada
kata-kata dengan tanda bahasa Arab.’ Ia berkata: ‘Adapun pemberian harakat pada
Al-Qur’an, maka tidak mengapa.’”
وَقَالَ
خَالِدُ الْحَذَّاءُ: دَخَلْتُ عَلَى ابْنِ سِيرِينَ فَرَأَيْتُهُ يَقْرَأُ فِي
مُصْحَفٍ مُنَقَّطٍ، وَقَدْ كَانَ يَكْرَهُ النُّقَطَ.
Khālid al-Ḥaddā’ berkata: “Aku masuk menemui Ibnu Sīrīn,
lalu aku melihatnya membaca dari mushaf yang sudah bertitik, padahal ia dahulu
tidak menyukai titik.”
وَقِيلَ
إِنَّ الْحَجَّاجَ هُوَ الَّذِي أَحْدَثَ ذٰلِكَ، وَأَحْضَرَ الْقُرَّاءَ حَتَّىٰ
عَدُّوا كَلِمَاتِ الْقُرْآنِ وَحُرُوفَهُ، وَسَوَّوْا أَجْزَاءَهُ، وَقَسَّمُوهُ
إِلَىٰ ثَلَاثِينَ جُزْءًا وَإِلَىٰ أَقْسَامٍ أُخَرَ.
Dikatakan bahwa al-Ḥajjāj-lah yang mengadakan hal itu, lalu
ia menghadirkan para qari’ hingga mereka menghitung kata-kata Al-Qur’an dan
huruf-hurufnya, menyusun bagian-bagiannya, dan membaginya menjadi tiga puluh
juz serta pembagian-pembagian lainnya.
اَلْخَامِسُ:
التَّرْتِيلُ هُوَ الْمُسْتَحَبُّ فِي هَيْئَةِ الْقُرْآنِ، لِأَنَّا سَنُبَيِّنُ
أَنَّ الْمَقْصُودَ مِنَ الْقِرَاءَةِ التَّفَكُّرُ، وَالتَّرْتِيلُ مُعِينٌ
عَلَيْهِ.
Yang kelima: tartil adalah hal yang dianjurkan dalam membaca
Al-Qur’an, karena kami akan menjelaskan bahwa tujuan membaca ialah bertafakur,
dan tartil membantu hal itu.
وَلِذٰلِكَ
نَعَتَتْ أُمُّ سَلَمَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قِرَاءَةَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَإِذَا هِيَ تَنْعَتُ قِرَاءَةً مُفَسَّرَةً حَرْفًا
حَرْفًا.
Karena itu Ummu Salamah رضي الله عنها pernah menggambarkan
bacaan Rasulullah صلى
الله عليه وسلم, dan ternyata yang ia gambarkan adalah bacaan yang jelas, huruf
demi huruf.
وَقَالَ
ابْنُ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا: لَأَنْ أَقْرَأَ الْبَقَرَةَ وَآلَ
عِمْرَانَ أُرَتِّلُهُمَا وَأَتَدَبَّرُهُمَا، أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ أَنْ أَقْرَأَ
الْقُرْآنَ هَذْرَمَةً.
Ibnu ‘Abbās رضي الله عنهما berkata: “Bacaku terhadap Al-Baqarah dan
Āli ‘Imrān secara tartil dan dengan merenungkannya lebih aku sukai daripada
membaca Al-Qur’an secara tergesa-gesa.”
وَقَالَ
أَيْضًا: لَأَنْ أَقْرَأَ إِذَا زُلْزِلَتْ وَالْقَارِعَةُ أَتَدَبَّرُهُمَا،
أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ أَنْ أَقْرَأَ الْبَقَرَةَ وَآلَ عِمْرَانَ تَهْذِيرًا.
Ia juga berkata: “Bacaku terhadap ‘Idzā Zulzilatil’ dan
‘Al-Qāri‘ah’ dengan merenungkannya lebih aku sukai daripada membaca Al-Baqarah
dan Āli ‘Imrān dengan cepat dan tergesa-gesa.”
وَسُئِلَ
مُجَاهِدٌ عَنْ رَجُلَيْنِ دَخَلَا فِي الصَّلَاةِ، فَكَانَ قِيَامُهُمَا وَاحِدًا
إِلَّا أَنَّ أَحَدَهُمَا قَرَأَ الْبَقَرَةَ فَقَطْ، وَالْآخَرَ الْقُرْآنَ
كُلَّهُ، فَقَالَ: هُمَا فِي الْأَجْرِ سَوَاءٌ.
Mujāhid ditanya tentang dua orang yang masuk ke dalam salat,
lalu berdirinya sama, hanya saja salah satunya membaca Al-Baqarah saja,
sedangkan yang lain membaca seluruh Al-Qur’an. Ia menjawab: “Keduanya sama
dalam pahala.”
وَاعْلَمْ
أَنَّ التَّرْتِيلَ مُسْتَحَبٌّ لَا لِمُجَرَّدِ التَّدَبُّرِ، فَإِنَّ
الْأَعْجَمِيَّ الَّذِي لَا يَفْهَمُ مَعْنَى الْقُرْآنِ يُسْتَحَبُّ لَهُ فِي
الْقِرَاءَةِ أَيْضًا التَّرْتِيلُ وَالتُّؤَدَةُ، لِأَنَّ ذٰلِكَ أَقْرَبُ إِلَى
التَّوْقِيرِ وَالِاحْتِرَامِ، وَأَشَدُّ تَأْثِيرًا فِي الْقَلْبِ مِنَ
الْهَذْرَمَةِ وَالِاسْتِعْجَالِ.
Ketahuilah bahwa tartil itu dianjurkan bukan semata-mata
karena tadabbur. Bahkan orang non-Arab yang tidak memahami makna Al-Qur’an pun
dianjurkan untuk tartil dan tenang ketika membaca, karena itu lebih dekat
kepada penghormatan dan pemuliaan, serta lebih kuat pengaruhnya di dalam hati
daripada membaca tergesa-gesa.
اَلسَّادِسُ:
الْبُكَاءُ، وَالْبُكَاءُ مُسْتَحَبٌّ مَعَ الْقِرَاءَةِ.
Yang keenam: menangis. Menangis dianjurkan ketika membaca.
قَالَ
رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: اتْلُوا الْقُرْآنَ
وَابْكُوا، فَإِنْ لَمْ تَبْكُوا فَتَبَاكَوْا.
Rasulullah صلى
الله عليه وسلم bersabda: “Bacalah Al-Qur’an dan menangislah; jika kalian tidak
menangis, maka buatlah diri kalian seakan-akan menangis.”
وَقَالَ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَمْ يَتَغَنَّ
بِالْقُرْآنِ.
Beliau صلى
الله عليه وسلم bersabda: “Bukan termasuk golongan kami orang yang tidak
melagukan Al-Qur’an.”
وَقَالَ
صَالِحُ الْمَرِّيُّ: قَرَأْتُ الْقُرْآنَ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الْمَنَامِ، فَقَالَ لِي: يَا صَالِحُ، هٰذِهِ
الْقِرَاءَةُ، فَأَيْنَ الْبُكَاءُ؟
Ṣāliḥ al-Marrī berkata: “Aku membaca Al-Qur’an di hadapan
Rasulullah صلى
الله عليه وسلم dalam mimpi, lalu beliau berkata kepadaku: ‘Wahai Ṣāliḥ, bacaan
seperti inilah, lalu di mana tangisnya?’”
وَقَالَ
ابْنُ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا: إِذَا قَرَأْتُمْ سَجْدَةَ سُبْحَانَ
فَلَا تُعَجِّلُوا بِالسُّجُودِ حَتَّىٰ تَبْكُوا، فَإِنْ لَمْ تَبْكِ عَيْنُ
أَحَدِكُمْ فَلْيَبْكِ قَلْبُهُ.
Ibnu ‘Abbās رضي الله عنهما berkata: “Jika kalian membaca ayat sajdah
dari Surah Subḥān, jangan segera sujud sampai kalian menangis. Jika mata salah
seorang dari kalian tidak menangis, maka hendaklah hatinya yang menangis.”
وَإِنَّمَا
طَرِيقُ تَكَلُّفِ الْبُكَاءِ أَنْ يُحْضِرَ قَلْبَهُ الْحُزْنَ، فَمِنَ الْحُزْنِ
يَنْشَأُ الْبُكَاءُ.
Sesungguhnya jalan untuk memaksakan tangis ialah
menghadirkan kesedihan dalam hati; dari kesedihan itulah muncul tangis.
قَالَ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنَّ الْقُرْآنَ نَزَلَ بِحُزْنٍ، فَإِذَا
قَرَأْتُمُوهُ فَتَحَازَنُوا.
Beliau صلى
الله عليه وسلم bersabda: “Sesungguhnya Al-Qur’an diturunkan dengan suasana
sedih, maka apabila kalian membacanya, tampakkanlah kesedihan.”
وَوَجْهُ
إِحْضَارِ الْحُزْنِ أَنْ يَتَأَمَّلَ مَا فِيهِ مِنَ التَّهْدِيدِ وَالْوَعِيدِ
وَالْمَوَاثِيقِ وَالْعُهُودِ، ثُمَّ يَتَأَمَّلُ تَقْصِيرَهُ فِي أَوَامِرِهِ
وَزَوَاجِرِهِ، فَيَحْزَنُ لَا مَحَالَةَ وَيَبْكِي.
Cara menghadirkan kesedihan ialah dengan merenungi ancaman,
janji ancaman, ikatan-ikatan, dan perjanjian-perjanjian yang ada di dalam
Al-Qur’an, lalu merenungi pula kekurangannya dalam menjalankan perintah dan
menjauhi larangan-Nya; maka ia pasti akan sedih dan menangis.
فَإِنْ
لَمْ يُحْضِرْهُ حُزْنٌ وَلَا بُكَاءٌ كَمَا يَحْضُرُ أَرْبَابَ الْقُلُوبِ
الصَّافِيَةِ، فَلْيَبْكِ عَلَىٰ فَقْدِ الْحُزْنِ وَالْبُكَاءِ، فَإِنَّ ذٰلِكَ
أَعْظَمُ الْمَصَائِبِ.
Jika kesedihan dan tangis tidak hadir padanya sebagaimana
hadir pada para pemilik hati yang bersih, maka hendaklah ia menangisi hilangnya
kesedihan dan tangis itu, karena hal tersebut termasuk musibah yang paling
besar.
اَلسَّابِعُ
أَنْ يُرَاعِيَ حَقَّ الْآيَاتِ، فَإِذَا مَرَّ بِآيَةِ سَجْدَةٍ سَجَدَ.
Yang ketujuh ialah hendaknya ia menjaga hak-hak ayat.
Apabila ia melewati ayat sajdah, maka hendaknya ia sujud.
وَكَذٰلِكَ
إِذَا سَمِعَ مِنْ غَيْرِهِ سَجْدَةً سَجَدَ إِذَا سَجَدَ التَّالِي.
Demikian pula jika ia mendengar orang lain membaca ayat
sajdah, hendaklah ia sujud ketika pembaca sujud.
وَلَا
يَسْجُدُ إِلَّا إِذَا كَانَ عَلَى طَهَارَةٍ.
Dan ia tidak sujud kecuali jika dalam keadaan suci.
وَفِي
الْقُرْآنِ أَرْبَعَ عَشْرَةَ سَجْدَةً، وَفِي الْحَجِّ سَجْدَتَانِ، وَلَيْسَ فِي
صٓ سَجْدَةٌ.
Di dalam Al-Qur’an ada empat belas sajdah, dan dalam Surah
al-Ḥajj ada dua sajdah, sedangkan dalam Surah Ṣād tidak ada sajdah.
وَأَقَلُّهُ
أَنْ يَسْجُدَ بِوَضْعِ جَبْهَتِهِ عَلَى الْأَرْضِ.
Yang paling minimal ialah ia sujud dengan meletakkan dahinya
di atas الأرض.
وَأَكْمَلُهُ
أَنْ يُكَبِّرَ فَيَسْجُدَ، وَيَدْعُوَ فِي سُجُودِهِ بِمَا يَلِيقُ بِالْآيَةِ
الَّتِي قَرَأَهَا.
Yang paling sempurna ialah ia bertakbir lalu sujud, dan
berdoa dalam sujudnya dengan doa yang sesuai dengan ayat yang dibacanya.
مِثْلَ
أَنْ يَقْرَأَ قَوْلَهُ تَعَالَىٰ: ﴿خَرُّوا سُجَّدًا وَسَبِّحُوا بِحَمْدِ
رَبِّهِمْ وَهُمْ لَا يَسْتَكْبِرُونَ﴾، فَيَقُولَ: اللَّهُمَّ اجْعَلْنِي مِنَ
السَّاجِدِينَ لِوَجْهِكَ، الْمُسَبِّحِينَ بِحَمْدِكَ، وَأَعُوذُ بِكَ أَنْ
أَكُونَ مِنَ الْمُسْتَكْبِرِينَ عَنْ أَمْرِكَ أَوْ عَلَىٰ أَوْلِيَائِكَ.
Misalnya ia membaca firman-Nya Ta‘ālā: “Mereka menyungkur
sujud dan bertasbih dengan memuji Rabb mereka, sedangkan mereka tidak
menyombongkan diri,” lalu ia berdoa: “Ya Allah, jadikanlah aku termasuk
orang-orang yang sujud kepada wajah-Mu, yang bertasbih dengan memuji-Mu, dan
aku berlindung kepada-Mu agar tidak menjadi orang yang menyombongkan diri dari
perintah-Mu atau atas para wali-Mu.”
وَإِذَا
قَرَأَ قَوْلَهُ تَعَالَىٰ: ﴿وَيَخِرُّونَ لِلْأَذْقَانِ يَبْكُونَ وَيَزِيدُهُمْ
خُشُوعًا﴾، فَيَقُولَ: اللَّهُمَّ اجْعَلْنِي مِنَ الْبَاكِينَ إِلَيْكَ،
الْخَاشِعِينَ لَكَ.
Dan jika ia membaca firman-Nya Ta‘ālā: “Dan mereka
tersungkur atas dagu-dagu mereka sambil menangis, dan itu menambah kekhusyukan
mereka,” maka ia berdoa: “Ya Allah, jadikanlah aku termasuk orang-orang yang
menangis kepada-Mu dan yang khusyuk kepada-Mu.”
وَكَذٰلِكَ
كُلُّ سَجْدَةٍ.
Demikian pula pada setiap sajdah.
وَيُشْتَرَطُ
فِي هٰذِهِ السَّجْدَةِ شُرُوطُ الصَّلَاةِ مِنْ سَتْرِ الْعَوْرَةِ،
وَاسْتِقْبَالِ الْقِبْلَةِ، وَطَهَارَةِ الثَّوْبِ وَالْبَدَنِ مِنَ الْحَدَثِ
وَالْخَبَثِ.
Dalam sajdah ini disyaratkan syarat-syarat salat, yaitu
menutup aurat, menghadap kiblat, dan suci pakaian serta badan dari hadas dan
najis.
وَمَنْ
لَمْ يَكُنْ عَلَى طَهَارَةٍ عِنْدَ السَّمَاعِ فَإِذَا تَطَهَّرَ سَجَدَ.
Barang siapa tidak dalam keadaan suci ketika mendengar, maka
apabila ia telah bersuci hendaklah ia sujud.
وَقَدْ
قِيلَ فِي كَمَالِهَا إِنَّهُ يُكَبِّرُ رَافِعًا يَدَيْهِ لِتَحْرِيمِهِ، ثُمَّ
يُكَبِّرُ لِلْهُوِيِّ لِلسُّجُودِ، ثُمَّ يُكَبِّرُ لِلِارْتِفَاعِ، ثُمَّ
يُسَلِّمُ، وَزَادَ زَائِدُونَ التَّشَهُّدَ.
Dan dikatakan bahwa kesempurnaannya ialah ia bertakbir
sambil mengangkat kedua tangannya sebagai takbir pembuka, lalu bertakbir untuk
turun ke sujud, lalu bertakbir ketika bangkit, kemudian salam, dan sebagian
ulama menambahkan tasyahhud.
وَلَا
أَصْلَ لِهٰذَا إِلَّا الْقِيَاسُ عَلَى سُجُودِ الصَّلَاةِ، وَهُوَ بَعِيدٌ،
فَإِنَّهُ وَرَدَ الْأَمْرُ فِي السُّجُودِ، فَلْيُتَّبَعْ فِيهِ الْأَمْرُ،
وَتَكْبِيرَةُ الْهُوِيِّ أَقْرَبُ بِالْبِدَايَةِ، وَمَا عَدَا ذٰلِكَ فَفِيهِ
بُعْدٌ.
Tidak ada dasar bagi ini selain qiyas kepada sujud salat,
dan itu jauh; sebab perintah memang datang tentang sujud, maka hendaknya
diikuti sebagaimana perintah itu. Takbir ketika turun ke sujud lebih dekat
kepada permulaan, sedangkan selain itu masih jauh.
ثُمَّ
الْمَأْمُومُ يَنْبَغِي أَنْ يَسْجُدَ عِنْدَ سُجُودِ الْإِمَامِ، وَلَا يَسْجُدَ
لِتِلَاوَةِ نَفْسِهِ إِذَا كَانَ مَأْمُومًا.
Kemudian makmum hendaknya sujud ketika imam sujud, dan tidak
sujud karena bacaannya sendiri jika ia sedang menjadi makmum.
اَلثَّامِنُ
أَنْ يَقُولَ فِي مُبْتَدَأِ قِرَاءَتِهِ: أَعُوذُ بِاللَّهِ السَّمِيعِ
الْعَلِيمِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ، ﴿رَبِّ أَعُوذُ بِكَ مِنْ هَمَزَاتِ
الشَّيَاطِينِ وَأَعُوذُ بِكَ رَبِّ أَنْ يَحْضُرُونِ﴾، وَلْيَقْرَأْ: قُلْ
أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ وَسُورَةَ الْحَمْدِ لِلَّهِ، وَلْيَقُلْ عِنْدَ
فَرَاغِهِ مِنَ الْقِرَاءَةِ: صَدَقَ اللَّهُ تَعَالَىٰ وَبَلَّغَ رَسُولُ اللَّهِ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، اللَّهُمَّ انْفَعْنَا بِهِ وَبَارِكْ لَنَا
فِيهِ، الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ الْحَيَّ
الْقَيُّومَ.
Yang kedelapan ialah hendaknya pada permulaan bacaannya ia
mengucapkan: “Aku berlindung kepada Allah Yang Maha Mendengar lagi Maha
Mengetahui dari setan yang terkutuk,” serta, “Wahai Rabbku, aku berlindung
kepada-Mu dari bisikan-bisikan setan dan aku berlindung kepada-Mu, wahai
Rabbku, agar mereka tidak mendekatiku.” Hendaklah ia membaca “Qul a‘ūdzu
birabbin-nās” dan Surah Al-Ḥamdillāh, lalu ketika selesai membaca hendaknya ia
berkata: “Allah Ta‘ālā telah benar, dan Rasulullah صلى الله عليه وسلم telah menyampaikan.
Ya Allah, berilah kami manfaat dengannya dan berkatilah kami di dalamnya.
Segala puji bagi Allah Rabb semesta alam. Aku memohon ampun kepada Allah Yang
Maha Hidup lagi Maha Berdiri Sendiri.”
وَفِي
أَثْنَاءِ الْقِرَاءَةِ إِذَا مَرَّ بِآيَةِ تَسْبِيحٍ سَبَّحَ وَكَبَّرَ، وَإِذَا
مَرَّ بِآيَةِ دُعَاءٍ وَاسْتِغْفَارٍ دَعَا وَاسْتَغْفَرَ، وَإِنْ مَرَّ
بِمَرْجُوٍّ سَأَلَ، وَإِنْ مَرَّ بِمُخَوِّفٍ اسْتَعَاذَ، يَفْعَلُ ذٰلِكَ
بِلِسَانِهِ أَوْ بِقَلْبِهِ، فَيَقُولُ: سُبْحَانَ اللَّهِ، نَعُوذُ بِاللَّهِ،
اللَّهُمَّ ارْزُقْنَا، اللَّهُمَّ ارْحَمْنَا.
Di tengah-tengah bacaan, jika ia melewati ayat tasbih,
hendaklah ia bertasbih dan bertakbir. Jika melewati ayat doa dan istighfar,
hendaklah ia berdoa dan memohon ampun. Jika melewati ayat yang berisi harapan,
hendaklah ia memohon. Jika melewati ayat yang menakutkan, hendaklah ia
berlindung. Ia melakukannya dengan lisan atau dengan hati. Maka ia berkata:
“Mahasuci Allah, kami berlindung kepada Allah, ya Allah berilah kami rezeki, ya
Allah rahmatilah kami.”
قَالَ
حُذَيْفَةُ: صَلَّيْتُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ،
فَابْتَدَأَ سُورَةَ الْبَقَرَةِ، فَكَانَ لَا يَمُرُّ بِآيَةِ رَحْمَةٍ إِلَّا
سَأَلَ، وَلَا بِآيَةِ عَذَابٍ إِلَّا اسْتَعَاذَ، وَلَا بِآيَةِ تَنْزِيهٍ إِلَّا
سَبَّحَ.
Hudzaifah berkata: “Aku salat bersama Rasulullah صلى الله عليه
وسلم, lalu beliau memulai Surah Al-Baqarah. Beliau tidak melewati
ayat rahmat melainkan memohon, tidak melewati ayat azab melainkan berlindung,
dan tidak melewati ayat pensucian melainkan bertasbih.”
فَإِذَا
فَرَغَ قَالَ مَا كَانَ يَقُولُ صَلَوَاتُ اللَّهِ وَسَلَامُهُ عِنْدَ خَتْمِ
الْقُرْآنِ: اللَّهُمَّ ارْحَمْنِي بِالْقُرْآنِ، وَاجْعَلْهُ لِي إِمَامًا
وَنُورًا وَهُدًى وَرَحْمَةً، اللَّهُمَّ ذَكِّرْنِي مِنْهُ مَا نَسِيتُ،
وَعَلِّمْنِي مِنْهُ مَا جَهِلْتُ، وَارْزُقْنِي تِلَاوَتَهُ آنَاءَ اللَّيْلِ
وَأَطْرَافَ النَّهَارِ، وَاجْعَلْهُ لِي حُجَّةً، يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ.
Apabila selesai, hendaklah ia membaca doa yang dibaca oleh
beliau صلى
الله عليه وسلم ketika mengkhatamkan Al-Qur’an: “Ya Allah, rahmatilah aku
dengan Al-Qur’an, jadikanlah ia bagiku sebagai pemimpin, cahaya, petunjuk, dan
rahmat. Ya Allah, ingatkanlah aku darinya apa yang telah aku lupa, ajarkanlah
kepadaku darinya apa yang tidak aku ketahui, rezekikanlah kepadaku untuk
membacanya pada waktu-waktu malam dan ujung-ujung siang, dan jadikanlah ia
bagiku sebagai hujjah, wahai Rabb semesta alam.”
اَلتَّاسِعُ
فِي الْجَهْرِ بِالْقِرَاءَةِ، وَلَا شَكَّ فِي أَنَّهُ لَا بُدَّ أَنْ يَجْهَرَ
بِهِ إِلَىٰ حَدٍّ يَسْمَعُ نَفْسَهُ، إِذِ الْقِرَاءَةُ عِبَارَةٌ عَنْ تَقْطِيعِ
الصَّوْتِ بِالْحُرُوفِ، وَلَا بُدَّ مِنْ صَوْتٍ، فَأَقَلُّهُ مَا يَسْمَعُ
نَفْسَهُ، فَإِنْ لَمْ يَسْمَعْ نَفْسَهُ لَمْ تَصِحَّ صَلَاتُهُ.
Yang kesembilan ialah tentang mengeraskan bacaan. Tidak
diragukan lagi bahwa bacaan harus dikeraskan sampai tingkat yang dapat didengar
oleh dirinya sendiri, karena bacaan hakikatnya adalah memotong suara dengan
huruf-huruf, dan itu memerlukan suara. Maka yang paling minimal ialah suara
yang dapat ia dengar sendiri; jika ia tidak mendengar suaranya sendiri,
salatnya tidak sah.
فَأَمَّا
الْجَهْرُ بِحَيْثُ يَسْمَعُ غَيْرَهُ فَهُوَ مَحْبُوبٌ عَلَىٰ وَجْهٍ،
وَمَكْرُوهٌ عَلَىٰ وَجْهٍ آخَرَ.
Adapun mengeraskan bacaan sampai terdengar oleh orang lain,
maka ia disukai dari satu sisi dan dibenci dari sisi yang lain.
وَيَدُلُّ
عَلَى اسْتِحْبَابِ الْإِسْرَارِ مَا رُوِيَ أَنَّهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ قَالَ: فَضْلُ قِرَاءَةِ السِّرِّ عَلَىٰ قِرَاءَةِ الْعَلَانِيَةِ
كَفَضْلِ صَدَقَةِ السِّرِّ عَلَىٰ صَدَقَةِ الْعَلَانِيَةِ.
Yang menunjukkan dianjurkannya bacaan pelan ialah riwayat
bahwa beliau صلى
الله عليه وسلم bersabda: “Keutamaan bacaan secara sirr dibandingkan bacaan
terang-terangan seperti keutamaan sedekah secara sirr dibandingkan sedekah
terang-terangan.”
وَفِي
لَفْظٍ آخَرَ: الْجَاهِرُ بِالْقُرْآنِ كَالْجَاهِرِ بِالصَّدَقَةِ، وَالْمُسِرُّ
بِهِ كَالْمُسِرِّ بِالصَّدَقَةِ.
Dalam lafaz lain: “Orang yang mengeraskan Al-Qur’an seperti
orang yang mengeraskan sedekah, dan orang yang membacanya pelan seperti orang
yang bersedekah secara sembunyi.”
وَفِي
الْخَبَرِ الْعَامِّ: يُفَضَّلُ عَمَلُ السِّرِّ عَلَى الْعَلَانِيَةِ سَبْعِينَ
ضِعْفًا.
Dan dalam riwayat umum disebutkan bahwa amal tersembunyi
lebih utama daripada amal terang-terangan tujuh puluh kali lipat.
وَكَذٰلِكَ
قَوْلُهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: خَيْرُ الرِّزْقِ مَا يَكْفِي،
وَخَيْرُ الذِّكْرِ الْخَفِيُّ.
Demikian pula sabda beliau صلى الله عليه وسلم: “Sebaik-baik rezeki
adalah yang mencukupi, dan sebaik-baik zikir adalah yang tersembunyi.”
وَفِي
الْخَبَرِ: لَا يَجْهَرْ بَعْضُكُمْ عَلَى بَعْضٍ فِي الْقِرَاءَةِ بَيْنَ
الْمَغْرِبِ وَالْعِشَاءِ.
Dan dalam riwayat disebutkan: “Janganlah sebagian kalian
saling mengeraskan bacaan atas sebagian yang lain antara Magrib dan Isya.”
وَسَمِعَ
سَعِيدُ بْنُ الْمُسَيِّبِ ذَاتَ لَيْلَةٍ فِي مَسْجِدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عُمَرَ بْنَ عَبْدِ الْعَزِيزِ يَجْهَرُ
بِالْقِرَاءَةِ فِي صَلَاتِهِ وَكَانَ حَسَنَ الصَّوْتِ.
Suatu malam Sa‘īd bin al-Musayyib mendengar di Masjid
Rasulullah صلى
الله عليه وسلم ‘Umar bin ‘Abdil-‘Azīz mengeraskan bacaan dalam salatnya, dan
ia memang bagus suaranya.
فَقَالَ
لِغُلَامِهِ: اذْهَبْ إِلَىٰ هٰذَا الْمُصَلِّي فَمُرْهُ أَنْ يُخْفِضَ صَوْتَهُ.
Lalu ia berkata kepada pelayannya: “Pergilah kepada orang
yang salat itu dan suruh ia merendahkan suaranya.”
فَقَالَ
الْغُلَامُ: إِنَّ الْمَسْجِدَ لَيْسَ لَنَا، وَلِلرَّحْلِ فِيهِ نَصِيبٌ.
Pelayan itu berkata: “Masjid ini bukan milik kita, dan para
musafir pun memiliki bagian di dalamnya.”
فَرَفَعَ
سَعِيدٌ صَوْتَهُ وَقَالَ: يَا أَيُّهَا الْمُصَلِّي، إِنْ كُنْتَ تُرِيدُ اللَّهَ
عَزَّ وَجَلَّ بِصَلَاتِكَ فَاخْفِضْ صَوْتَكَ، وَإِنْ كُنْتَ تُرِيدُ النَّاسَ
فَإِنَّهُمْ لَنْ يُغْنُوا عَنْكَ مِنَ اللَّهِ شَيْئًا.
Maka Sa‘īd meninggikan suaranya dan berkata: “Wahai orang
yang salat, jika engkau menghendaki Allah عز وجل dengan salatmu, maka
rendahkanlah suaramu; dan jika engkau menghendaki manusia, maka mereka tidak
akan memberi manfaat apa pun kepadamu dari (azab) Allah.”
فَسَكَتَ
عُمَرُ بْنُ عَبْدِ الْعَزِيزِ وَخَفَّفَ رَكْعَتَهُ، فَلَمَّا سَلَّمَ أَخَذَ
نَعْلَيْهِ وَانْصَرَفَ، وَهُوَ يَوْمَئِذٍ أَمِيرُ الْمَدِينَةِ.
Maka ‘Umar bin ‘Abdil-‘Azīz pun diam dan meringankan
rakaatnya. Ketika selesai salam, ia mengambil sandalnya dan pergi, padahal saat
itu ia adalah gubernur Madinah.
وَيَدُلُّ
عَلَى اسْتِحْبَابِ الْجَهْرِ مَا رُوِيَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَمِعَ جَمَاعَةً مِنْ أَصْحَابِهِ يَجْهَرُونَ فِي صَلَاةِ
اللَّيْلِ، فَصَوَّبَ ذٰلِكَ.
Yang menunjukkan dianjurkannya bacaan keras ialah riwayat
bahwa Nabi صلى
الله عليه وسلم mendengar sekelompok sahabatnya mengeraskan bacaan dalam salat
malam, lalu beliau membenarkannya.
وَقَدْ
قَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِذَا قَامَ أَحَدُكُمْ مِنَ اللَّيْلِ
يُصَلِّي فَلْيَجْهَرْ بِالْقِرَاءَةِ، فَإِنَّ الْمَلَائِكَةَ وَعُمَّارَ
الدَّارِ يَسْتَمِعُونَ قِرَاءَتَهُ وَيُصَلُّونَ بِصَلَاتِهِ.
Beliau صلى
الله عليه وسلم bersabda: “Jika salah seorang dari kalian bangun pada malam
hari untuk salat, maka hendaklah ia mengeraskan bacaan; karena para malaikat
dan penghuni rumah mendengarkan bacaannya dan ikut salat bersama salatnya.”
وَمَرَّ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِثَلَاثَةٍ مِنْ أَصْحَابِهِ رَضِيَ اللَّهُ
عَنْهُمْ مُخْتَلِفِي الْأَحْوَالِ، فَمَرَّ عَلَىٰ أَبِي بَكْرٍ رَضِيَ اللَّهُ
عَنْهُ وَهُوَ يُخَافِتُ، فَسَأَلَهُ عَنْ ذٰلِكَ، فَقَالَ: إِنَّ الَّذِي
أُنَاجِيهِ هُوَ يَسْمَعُنِي.
Dan Nabi صلى
الله عليه وسلم pernah melewati tiga orang sahabatnya رضي الله عنهم dalam keadaan yang
berbeda-beda. Beliau melewati Abu Bakr رضي الله عنه ketika ia membaca
pelan, lalu beliau menanyakan hal itu kepadanya. Ia menjawab: “Sesungguhnya
Dzat yang aku bermunajat kepada-Nya mendengar aku.”
وَمَرَّ
عَلَىٰ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ وَهُوَ يَجْهَرُ، فَسَأَلَهُ عَنْ ذٰلِكَ،
فَقَالَ: أُوقِظُ الْوَسْنَانَ وَأَزْجُرُ الشَّيْطَانَ.
Beliau melewati ‘Umar رضي الله عنه ketika ia mengeraskan
bacaan, lalu beliau menanyakannya. Ia menjawab: “Aku membangunkan orang yang
mengantuk dan mengusir setan.”
وَمَرَّ
بِبِلَالٍ وَهُوَ يَقْرَأُ آيَاتٍ مِنْ هٰذِهِ السُّورَةِ وَآيَاتٍ مِنْ هٰذِهِ
السُّورَةِ، فَسَأَلَهُ عَنْ ذٰلِكَ، فَقَالَ: أَخْلِطُ الطَّيِّبَ بِالطَّيِّبِ.
Beliau melewati Bilal ketika ia membaca beberapa ayat dari
surah ini dan beberapa ayat dari surah itu, lalu beliau menanyakannya. Bilal
menjawab: “Aku mencampur yang baik dengan yang baik.”
فَقَالَ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: كُلُّكُمْ قَدْ أَحْسَنَ وَأَصَابَ.
Maka beliau صلى الله عليه وسلم bersabda: “Kalian semua telah berbuat baik
dan tepat.”
فَالْوَجْهُ
فِي الْجَمْعِ بَيْنَ هٰذِهِ الْأَحَادِيثِ أَنَّ الْإِسْرَارَ أَبْعَدُ عَنِ
الرِّيَاءِ وَالتَّصَنُّعِ، فَهُوَ أَفْضَلُ فِي حَقِّ مَنْ يَخَافُ ذٰلِكَ عَلَىٰ
نَفْسِهِ.
Cara menggabungkan hadis-hadis ini ialah bahwa bacaan pelan
lebih jauh dari riya’ dan pamer, sehingga lebih utama bagi orang yang khawatir
hal itu pada dirinya sendiri.
فَإِنْ
لَمْ يَخَفْ، وَلَمْ يَكُنْ فِي الْجَهْرِ مَا يُشَوِّشُ الْوَقْتَ عَلَى مُصَلٍّ
آخَرَ، فَالْجَهْرُ أَفْضَلُ، لِأَنَّ الْعَمَلَ فِيهِ أَكْثَرُ، وَلِأَنَّ
فَائِدَتَهُ أَيْضًا تَتَعَلَّقُ بِغَيْرِهِ.
Jika ia tidak khawatir demikian, dan dalam bacaan keras
tidak ada sesuatu yang mengganggu waktu salat orang lain, maka bacaan keras
lebih utama; karena amal padanya lebih banyak, dan manfaatnya juga berkaitan
dengan orang lain.
فَالْخَيْرُ
الْمُتَعَدِّي أَفْضَلُ مِنَ اللَّازِمِ.
Karena kebaikan yang manfaatnya meluas lebih utama daripada
yang hanya kembali kepada diri sendiri.
وَلِأَنَّهُ
يُوقِظُ قَلْبَ الْقَارِئِ، وَيَجْمَعُ هَمَّهُ إِلَى الْفِكْرِ فِيهِ، وَيَصْرِفُ
إِلَيْهِ سَمْعَهُ.
Karena bacaan keras membangunkan hati pembaca, mengumpulkan
perhatiannya untuk memikirkan ayat-ayatnya, dan mengarahkan pendengarannya
kepadanya.
وَلِأَنَّهُ
يَطْرُدُ النَّوْمَ فِي رَفْعِ الصَّوْتِ، وَلِأَنَّهُ يَزِيدُ فِي نَشَاطِهِ
لِلْقِرَاءَةِ وَيُقَلِّلُ مِنْ كَسَلِهِ.
Karena suara yang lebih tinggi mengusir kantuk, dan karena
itu menambah semangat untuk membaca serta mengurangi kemalasannya.
وَلِأَنَّهُ
يَرْجُو بِجَهْرِهِ تَيْقِظَ نَائِمٍ فَيَكُونُ هُوَ سَبَبَ إِحْيَائِهِ.
Karena dengan bacaannya yang keras ia berharap ada orang
tidur yang terbangun, sehingga ia menjadi sebab hidupnya orang itu.
وَلِأَنَّهُ
قَدْ يَرَاهُ بَطَّالٌ غَافِلٌ فَيَنْشَطُ بِسَبَبِ نَشَاطِهِ وَيَشْتَاقُ إِلَى
الْخِدْمَةِ.
Karena mungkin saja orang yang malas lagi lalai melihatnya,
lalu menjadi bersemangat karena semangatnya dan terdorong untuk berkhidmat.
فَمَتَىٰ
حَضَرَهُ شَيْءٌ مِنْ هٰذِهِ النِّيَّاتِ فَالْجَهْرُ أَفْضَلُ.
Maka kapan pun hadir padanya salah satu dari niat-niat ini,
maka bacaan keras lebih utama.
وَإِنِ
اجْتَمَعَتْ هٰذِهِ النِّيَّاتُ تَضَاعَفَ الْأَجْرُ.
Dan jika niat-niat ini berkumpul, maka pahala menjadi
berlipat ganda.
وَبِكَثْرَةِ
النِّيَّاتِ تَزْكُو أَعْمَالُ الْأَبْرَارِ وَتَتَضَاعَفُ أُجُورُهُمْ.
Dengan banyaknya niat, amal para orang baik menjadi makin
bernilai dan pahala mereka berlipat.
فَإِنْ
كَانَ فِي الْعَمَلِ الْوَاحِدِ عَشْرُ نِيَّاتٍ كَانَ فِيهِ عَشْرُ أُجُورٍ.
Jika dalam satu amal ada sepuluh niat, maka di dalamnya ada
sepuluh pahala.
وَلِهٰذَا
نَقُولُ: قِرَاءَةُ الْقُرْآنِ فِي الْمَصَاحِفِ أَفْضَلُ، إِذْ يَزِيدُ فِي
الْعَمَلِ النَّظَرُ وَتَأَمُّلُ الْمُصْحَفِ وَحَمْلُهُ، فَيَزِيدُ الْأَجْرُ
بِسَبَبِهِ.
Karena itu kami mengatakan bahwa membaca Al-Qur’an di mushaf
lebih utama, sebab dalam amal itu bertambah pula unsur melihat, merenungi
mushaf, dan membawanya, sehingga pahala bertambah karenanya.
وَقَدْ
قِيلَ: الْخَتْمَةُ فِي الْمُصْحَفِ بِسَبْعٍ، لِأَنَّ النَّظَرَ فِي الْمُصْحَفِ
أَيْضًا عِبَادَةٌ.
Dikatakan: khatam dengan melihat mushaf bernilai tujuh,
karena melihat mushaf juga merupakan ibadah.
وَخَرَقَ
عُثْمَانُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ مُصْحَفَيْنِ لِكَثْرَةِ قِرَاءَتِهِ مِنْهُمَا.
‘Utsmān رضي
الله عنه sampai merobek dua mushaf karena terlalu sering membaca
darinya.
فَكَانَ
كَثِيرٌ مِنَ الصَّحَابَةِ يَقْرَأُونَ فِي الْمَصَاحِفِ، وَيَكْرَهُونَ أَنْ
يَمُرَّ يَوْمٌ وَلَمْ يَنْظُرُوا فِي الْمُصْحَفِ.
Banyak sahabat dahulu membaca dari mushaf dan tidak suka
jika sehari berlalu tanpa mereka melihat mushaf.
وَدَخَلَ
بَعْضُ فُقَهَاءِ مِصْرَ عَلَى الشَّافِعِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ فِي
السَّحَرِ، وَبَيْنَ يَدَيْهِ مُصْحَفٌ، فَقَالَ لَهُ الشَّافِعِيُّ: شَغَلَكُمُ
الْفِكْرُ عَنِ الْقُرْآنِ، إِنِّي لَأُصَلِّي الْعَتَمَةَ وَأَضَعُ الْمُصْحَفَ
بَيْنَ يَدَيَّ فَمَا أُطْبِقُهُ حَتَّىٰ أُصْبِحَ.
Seorang faqih dari Mesir masuk menemui asy-Syafi‘i رضي الله عنه
pada waktu sahur, sementara di hadapannya ada mushaf. Maka asy-Syafi‘i berkata
kepadanya: “Pikiran kalian telah menyibukkan kalian dari Al-Qur’an. Sungguh aku
salat Isya dan meletakkan mushaf di hadapanku, lalu aku tidak menutupnya sampai
pagi.”
اَلْعَاشِرُ:
تَحْسِينُ الْقِرَاءَةِ وَتَرْتِيلُهَا بِتَرْدِيدِ الصَّوْتِ مِنْ غَيْرِ
تَمْطِيطٍ مُفْرِطٍ يُغَيِّرُ النَّظْمَ، فَذٰلِكَ سُنَّةٌ.
Yang kesepuluh ialah memperindah bacaan dan mentartilkannya
dengan mengulang-ulang suara tanpa pemanjangan berlebihan yang merusak susunan
lafaz; itu adalah sunnah.
قَالَ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: زَيِّنُوا الْقُرْآنَ بِأَصْوَاتِكُمْ.
Beliau صلى
الله عليه وسلم bersabda: “Hiasilah Al-Qur’an dengan suara kalian.”
وَقَالَ
عَلَيْهِ السَّلَامُ: مَا أَذِنَ اللَّهُ لِشَيْءٍ إِذْنَهُ لِحُسْنِ الصَّوْتِ
بِالْقُرْآنِ.
Beliau عليه
السلام bersabda: “Allah tidak memberi izin kepada sesuatu sebagaimana
Dia memberi izin kepada suara yang indah ketika membaca Al-Qur’an.”
وَقَالَ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَمْ يَتَغَنَّ
بِالْقُرْآنِ.
Beliau صلى
الله عليه وسلم bersabda: “Bukan termasuk golongan kami orang yang tidak
melagukan Al-Qur’an.”
فَقِيلَ:
أَرَادَ بِهِ الِاسْتِغْنَاءَ، وَقِيلَ: أَرَادَ بِهِ التَّرَنُّمَ وَتَرْدِيدَ
الْأَلْحَانِ بِهِ، وَهُوَ أَقْرَبُ عِنْدَ أَهْلِ اللُّغَةِ.
Dikatakan bahwa yang dimaksud ialah merasa cukup; dan
dikatakan pula bahwa yang dimaksud ialah melantunkannya dengan irama dan
mengulang-ulang lagu dengannya, dan inilah yang lebih dekat menurut ahli
bahasa.
وَرُوِيَ
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ لَيْلَةً
يَنْتَظِرُ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا، فَأَبْطَأَتْ عَلَيْهِ، فَقَالَ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَا حَبَسَكِ؟
Diriwayatkan bahwa pada suatu malam Rasulullah صلى الله عليه
وسلم menunggu ‘Āisyah رضي الله عنها, namun ia terlambat datang kepadanya. Maka
beliau صلى
الله عليه وسلم bertanya: “Apa yang menahanmu?”
قَالَتْ:
يَا رَسُولَ اللَّهِ، كُنْتُ أَسْتَمِعُ قِرَاءَةَ رَجُلٍ مَا سَمِعْتُ أَحْسَنَ
صَوْتًا مِنْهُ.
Ia menjawab: “Wahai Rasulullah, aku sedang mendengarkan
bacaan seorang lelaki yang belum pernah aku dengar suara seindah suaranya.”
فَقَامَ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَتَّىٰ اسْتَمَعَ إِلَيْهِ طَوِيلًا، ثُمَّ
رَجَعَ فَقَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: هٰذَا سَالِمٌ مَوْلَىٰ أَبِي
حُذَيْفَةَ، الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي جَعَلَ فِي أُمَّتِي مِثْلَهُ.
Maka beliau صلى الله عليه وسلم pun berdiri hingga mendengarkannya cukup
lama, lalu kembali dan bersabda: “Itu adalah Sālim maula Abū Ḥudzaifah. Segala
puji bagi Allah yang telah menjadikan di dalam umatku semisal dia.”
وَاسْتَمَعَ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيْضًا ذَاتَ لَيْلَةٍ إِلَىٰ عَبْدِ اللَّهِ
بْنِ مَسْعُودٍ، وَمَعَهُ أَبُو بَكْرٍ وَعُمَرُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا،
فَوَقَفُوا طَوِيلًا، ثُمَّ قَالَ: مَنْ أَرَادَ أَنْ يَقْرَأَ الْقُرْآنَ غَضًّا
طَرِيًّا كَمَا أُنْزِلَ، فَلْيَقْرَأْهُ عَلَىٰ قِرَاءَةِ ابْنِ أُمِّ عَبْدٍ.
Beliau صلى
الله عليه وسلم juga pernah mendengarkan bacaan Abdullah bin Mas‘ūd pada suatu
malam, bersama Abu Bakr dan ‘Umar رضي الله عنهما. Mereka berdiri cukup lama, lalu beliau
bersabda: “Barang siapa ingin membaca Al-Qur’an secara segar dan lembut
sebagaimana diturunkan, maka hendaklah ia membacanya dengan bacaan Ibnu Umm
‘Abd.”
وَقَالَ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِابْنِ مَسْعُودٍ: اقْرَأْ عَلَيَّ.
Beliau صلى
الله عليه وسلم bersabda kepada Ibnu Mas‘ūd: “Bacakan kepadaku.”
فَقَالَ:
يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَقْرَأُ عَلَيْكَ وَعَلَيْكَ أُنْزِلَ؟
Ia berkata: “Wahai Rasulullah, apakah aku membacakan
kepadamu, padahal kepadamu-lah ia diturunkan?”
فَقَالَ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنِّي أُحِبُّ أَنْ أَسْمَعَهُ مِنْ غَيْرِي.
Beliau صلى
الله عليه وسلم bersabda: “Aku senang mendengarnya dari selain diriku.”
فَكَانَ
يَقْرَأُ، وَعَيْنَا رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
تَفِيضَانِ.
Maka ia pun membaca, sementara kedua mata Rasulullah صلى الله عليه
وسلم berlinang air mata.
وَاسْتَمَعَ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَىٰ قِرَاءَةِ أَبِي مُوسَىٰ، فَقَالَ:
لَقَدْ أُوتِيَ هٰذَا مِنْ مَزَامِيرِ آلِ دَاوُدَ.
Beliau صلى
الله عليه وسلم juga mendengarkan bacaan Abu Mūsā, lalu bersabda: “Orang ini
benar-benar telah diberi bagian dari seruling-seruling keluarga Dāwūd.”
فَبَلَغَ
ذٰلِكَ أَبَا مُوسَىٰ، فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، لَوْ عَلِمْتَ أَنَّكَ
تَسْمَعُ لَحَبَّرْتُهُ لَكَ تَحْبِيرًا.
Berita itu sampai kepada Abu Mūsā, lalu ia berkata: “Wahai
Rasulullah, seandainya aku tahu bahwa engkau mendengar, niscaya aku akan
memperindahnya untukmu seindah-indahnya.”
وَرَأَىٰ
هَيْثَمُ الْقَارِئُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي
الْمَنَامِ، فَقَالَ: أَنْتَ الْهَيْثَمُ الَّذِي تُزَيِّنُ الْقُرْآنَ
بِصَوْتِكَ؟
Heitsam al-qāri’ melihat Rasulullah صلى الله عليه وسلم
dalam mimpi, lalu beliau bersabda: “Apakah engkau Heitsam yang menghiasi
Al-Qur’an dengan suaramu?”
قُلْتُ:
نَعَمْ.
Aku menjawab: “Ya.”
قَالَ:
جَزَاكَ اللَّهُ خَيْرًا.
Beliau bersabda: “Semoga Allah membalasmu dengan kebaikan.”
وَفِي
الْخَبَرِ: كَانَ أَصْحَابُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
إِذَا اجْتَمَعُوا أَمَرُوا أَحَدَهُمْ أَنْ يَقْرَأَ سُورَةً مِنَ الْقُرْآنِ.
Dalam riwayat disebutkan: para sahabat Rasulullah صلى الله عليه
وسلم jika berkumpul, mereka menyuruh salah seorang di antara mereka
membaca satu surah dari Al-Qur’an.
وَقَدْ
كَانَ عُمَرُ يَقُولُ لِأَبِي مُوسَىٰ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا: ذَكِّرْنَا
رَبَّنَا.
‘Umar pernah berkata kepada Abu Mūsā رضي الله عنهما: “Ingatkan kami
kepada Rabb kami.”
فَيَقْرَأُ
عِنْدَهُ حَتَّىٰ يَكَادُ وَقْتُ الصَّلَاةِ أَنْ يَتَوَسَّطَ، فَيُقَالُ: يَا
أَمِيرَ الْمُؤْمِنِينَ، الصَّلَاةَ الصَّلَاةَ، فَيَقُولُ: أَوَلَسْنَا فِي
صَلَاةٍ؟
Maka Abu Mūsā membaca di hadapannya hingga hampir
pertengahan waktu salat. Lalu dikatakan: “Wahai Amirul Mukminin, salat, salat.”
Ia menjawab: “Bukankah kita sedang berada dalam salat?”
إِشَارَةً
إِلَىٰ قَوْلِهِ عَزَّ وَجَلَّ: ﴿وَلَذِكْرُ ٱللَّهِ أَكْبَرُ﴾.
Itu sebagai isyarat kepada firman-Nya عز وجل: “Dan sungguh,
mengingat Allah itu lebih besar.”
وَقَالَ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَنْ اسْتَمَعَ إِلَىٰ آيَةٍ مِنْ كِتَابِ
اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ كَانَتْ لَهُ نُورًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ.
Beliau صلى
الله عليه وسلم bersabda: “Barang siapa mendengarkan satu ayat dari Kitab Allah
عز وجل,
maka ayat itu akan menjadi cahaya baginya pada hari Kiamat.”
وَفِي
الْخَبَرِ: كُتِبَ لَهُ عَشْرُ حَسَنَاتٍ.
Dan dalam riwayat disebutkan: dicatat baginya sepuluh
kebaikan.
وَمَهْمَا
عَظُمَ أَجْرُ الِاسْتِمَاعِ، وَكَانَ التَّالِي هُوَ السَّبَبَ فِيهِ، كَانَ
شَرِيكًا فِي الْأَجْرِ، إِلَّا أَنْ يَكُونَ قَصْدُهُ الرِّيَاءَ وَالتَّصَنُّعَ.
Dan betapa pun besar pahala orang yang mendengarkan, apabila
pembaca menjadi sebab terjadinya hal itu, maka ia ikut mendapat bagian pahala,
kecuali jika niatnya adalah riya’ dan berpura-pura.