Dalil-Dalil Akal

فِي الشَّوَاهِدِ الْعَقْلِيَّةِ

Tentang dalil-dalil rasional.

اِعْلَمْ أَنَّ الْمَطْلُوبَ مِنْ هٰذَا الْبَابِ مَعْرِفَةُ فَضِيلَةِ الْعِلْمِ وَنَفَاسَتِهِ.

Ketahuilah bahwa yang dimaksud dalam bab ini adalah mengetahui keutamaan ilmu dan kemuliaannya.

وَمَا لَمْ تُفْهَمِ الْفَضِيلَةُ فِي نَفْسِهَا وَلَمْ يَتَحَقَّقِ الْمُرَادُ مِنْهَا، لَمْ يُمْكِنْ أَنْ تُعْلَمَ وُجُودُهَا صِفَةً لِلْعِلْمِ أَوْ لِغَيْرِهِ مِنَ الْخِصَالِ.

Selama makna keutamaan itu sendiri belum dipahami dan maksud darinya belum dipastikan, maka tidak mungkin diketahui keberadaannya sebagai sifat bagi ilmu atau bagi sifat-sifat lainnya.

فَلَقَدْ ضَلَّ عَنِ الطَّرِيقِ مَنْ طَمِعَ أَنْ يَعْرِفَ أَنَّ زَيْدًا حَكِيمٌ أَمْ لَا، وَهُوَ بَعْدُ لَمْ يَفْهَمْ مَعْنَى الْحِكْمَةِ وَحَقِيقَتَهَا.

Sungguh telah tersesat dari jalan orang yang ingin mengetahui apakah Zaid itu bijaksana atau tidak, padahal ia sendiri belum memahami makna hikmah dan hakikatnya.

وَالْفَضِيلَةُ مَأْخُوذَةٌ مِنَ الْفَضْلِ، وَهُوَ الزِّيَادَةُ.

Kata faḍīlah diambil dari kata faḍl, yang berarti kelebihan.

فَإِذَا تَشَارَكَ شَيْئَانِ فِي أَمْرٍ، وَاخْتَصَّ أَحَدُهُمَا بِمَزِيدٍ، يُقَالُ: فَضَلَهُ، وَلَهُ الْفَضْلُ عَلَيْهِ، مَهْمَا كَانَتْ زِيَادَتُهُ فِيمَا هُوَ كَمَالُ ذٰلِكَ الشَّيْءِ.

Apabila dua hal sama-sama memiliki suatu sifat, lalu salah satunya memiliki tambahan pada sifat itu, maka dikatakan bahwa ia lebih utama darinya, dan ia memiliki kelebihan atasnya, selama tambahan itu berada pada sesuatu yang menjadi kesempurnaan bagi hal tersebut.

كَمَا يُقَالُ: الْفَرَسُ أَفْضَلُ مِنَ الْحِمَارِ، بِمَعْنَى أَنَّهُ يُشَارِكُهُ فِي قُوَّةِ الْحَمْلِ، وَيَزِيدُ عَلَيْهِ بِقُوَّةِ الْكَرِّ وَالْفَرِّ، وَشِدَّةِ الْعَدْوِ، وَحُسْنِ الصُّورَةِ.

Sebagaimana dikatakan, “Kuda lebih utama daripada keledai,” artinya karena kuda sama-sama memiliki kekuatan untuk membawa beban, tetapi lebih unggul darinya dalam kekuatan menyerang dan lari, kecepatan berlari, serta keindahan bentuk.

فَلَوْ فُرِضَ حِمَارٌ اخْتَصَّ بِسِلْعَةٍ زَائِدَةٍ، لَمْ يُقَلْ: إِنَّهُ أَفْضَلُ، لِأَنَّ تِلْكَ زِيَادَةٌ فِي الْجِسْمِ، وَنُقْصَانٌ فِي الْمَعْنَى، وَلَيْسَتْ مِنَ الْكَمَالِ فِي شَيْءٍ.

Seandainya ada seekor keledai yang memiliki tambahan dalam ukuran tubuhnya, tidaklah dikatakan bahwa ia lebih utama, karena itu hanyalah tambahan pada tubuh, tetapi kekurangan pada makna, dan sama sekali bukan termasuk kesempurnaan.

وَالْحَيَوَانُ مَطْلُوبٌ لِمَعْنَاهُ وَصِفَاتِهِ، لَا لِجِسْمِهِ.

Seekor hewan dicari karena makna dan sifat-sifatnya, bukan karena tubuhnya semata.

فَإِذَا فَهِمْتَ هٰذَا لَمْ يَخْفَ عَلَيْكَ أَنَّ الْعِلْمَ فَضِيلَةٌ إِنْ أَخَذْتَهُ بِالْإِضَافَةِ إِلَى سَائِرِ الْأَوْصَافِ، كَمَا أَنَّ لِلْفَرَسِ فَضِيلَةً إِنْ أَخَذْتَهُ بِالْإِضَافَةِ إِلَى سَائِرِ الْحَيَوَانَاتِ.

Jika engkau telah memahami hal ini, maka tidak akan samar bagimu bahwa ilmu adalah suatu keutamaan apabila engkau menilainya dibandingkan dengan sifat-sifat lainnya, sebagaimana kuda memiliki keutamaan apabila dibandingkan dengan hewan-hewan lainnya.

بَلْ شِدَّةُ الْعَدْوِ فَضِيلَةٌ فِي الْفَرَسِ، وَلَيْسَتْ فَضِيلَةً عَلَى الْإِطْلَاقِ.

Bahkan kecepatan berlari adalah suatu keutamaan pada kuda, namun bukan keutamaan secara mutlak.

وَالْعِلْمُ فَضِيلَةٌ فِي ذَاتِهِ وَعَلَى الْإِطْلَاقِ مِنْ غَيْرِ إِضَافَةٍ، فَإِنَّهُ وَصْفُ كَمَالِ اللَّهِ سُبْحَانَهُ، وَبِهِ شَرُفَتِ الْمَلَائِكَةُ وَالْأَنْبِيَاءُ.

Sedangkan ilmu adalah keutamaan pada dirinya sendiri dan secara mutlak, tanpa perlu dibandingkan dengan yang lain, karena ilmu merupakan sifat kesempurnaan Allah Subhanahu wa Ta‘ala, dan dengannya para malaikat dan para nabi menjadi mulia.

بَلِ الْكَيِّسُ مِنَ الْخَيْلِ خَيْرٌ مِنَ الْبَلِيدِ، فَهِيَ فَضِيلَةٌ عَلَى الْإِطْلَاقِ مِنْ غَيْرِ إِضَافَةٍ.

Bahkan kuda yang cerdas lebih baik daripada yang dungu. Maka kecerdasan itu adalah keutamaan secara mutlak tanpa perlu dibandingkan.

وَاعْلَمْ أَنَّ الشَّيْءَ النَّفِيسَ الْمَرْغُوبَ فِيهِ يَنْقَسِمُ إِلَى مَا يُطْلَبُ لِغَيْرِهِ، وَإِلَى مَا يُطْلَبُ لِذَاتِهِ، وَإِلَى مَا يُطْلَبُ لِغَيْرِهِ وَلِذَاتِهِ جَمِيعًا.

Ketahuilah bahwa sesuatu yang berharga dan diinginkan itu terbagi menjadi: sesuatu yang dicari karena yang lain, sesuatu yang dicari karena dirinya sendiri, dan sesuatu yang dicari sekaligus karena dirinya sendiri dan karena yang lain.

فَمَا يُطْلَبُ لِذَاتِهِ أَشْرَفُ وَأَفْضَلُ مِمَّا يُطْلَبُ لِغَيْرِهِ.

Sesuatu yang dicari karena dirinya sendiri lebih mulia dan lebih utama daripada sesuatu yang dicari karena yang lain.

وَالْمَطْلُوبُ لِغَيْرِهِ الدَّرَاهِمُ وَالدَّنَانِيرُ، فَإِنَّهُمَا حَجَرَانِ لَا مَنْفَعَةَ لَهُمَا.

Yang dicari karena yang lain ialah dirham dan dinar, karena keduanya hanyalah dua benda seperti batu yang tidak memiliki manfaat pada dirinya sendiri.

وَلَوْلَا أَنَّ اللَّهَ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى يَسَّرَ قَضَاءَ الْحَاجَاتِ بِهِمَا، لَكَانَا وَالْحَصْبَاءُ بِمَثَابَةٍ وَاحِدَةٍ.

Seandainya Allah Subhanahu wa Ta‘ala tidak memudahkan pemenuhan kebutuhan dengan keduanya, niscaya keduanya sama saja dengan kerikil.

وَالَّذِي يُطْلَبُ لِذَاتِهِ فَالسَّعَادَةُ فِي الْآخِرَةِ، وَلَذَّةُ النَّظَرِ إِلَى وَجْهِ اللَّهِ تَعَالَى.

Adapun yang dicari karena dirinya sendiri ialah kebahagiaan di akhirat dan kenikmatan memandang wajah Allah Ta‘ala.

وَالَّذِي يُطْلَبُ لِذَاتِهِ وَلِغَيْرِهِ فَكَسَلَامَةِ الْبَدَنِ.

Sedangkan yang dicari karena dirinya sendiri dan karena yang lain sekaligus ialah seperti kesehatan badan.

فَإِنَّ سَلَامَةَ الرِّجْلِ مَثَلًا مَطْلُوبَةٌ مِنْ حَيْثُ إِنَّهَا سَلَامَةٌ لِلْبَدَنِ عَنِ الْأَلَمِ، وَمَطْلُوبَةٌ لِلْمَشْيِ بِهَا وَالتَّوَصُّلِ إِلَى الْمَآرِبِ وَالْحَاجَاتِ.

Misalnya kesehatan kaki, ia dicari karena merupakan kesehatan badan dari rasa sakit, dan juga dicari agar dapat digunakan berjalan serta mencapai keperluan dan kebutuhan.

وَبِهٰذَا الِاعْتِبَارِ إِذَا نَظَرْتَ إِلَى الْعِلْمِ رَأَيْتَهُ لَذِيذًا فِي نَفْسِهِ، فَيَكُونُ مَطْلُوبًا لِذَاتِهِ.

Dengan pertimbangan ini, jika engkau memandang ilmu, engkau akan melihat bahwa ilmu itu nikmat pada dirinya sendiri, sehingga ia dicari karena dirinya sendiri.

وَوَجَدْتَهُ وَسِيلَةً إِلَى دَارِ الْآخِرَةِ وَسَعَادَتِهَا، وَذَرِيعَةً إِلَى الْقُرْبِ مِنَ اللَّهِ تَعَالَى، وَلَا يُتَوَصَّلُ إِلَيْهِ إِلَّا بِهِ.

Dan engkau juga akan mendapati bahwa ilmu adalah sarana menuju negeri akhirat dan kebahagiaannya, serta jalan untuk mendekat kepada Allah Ta‘ala, dan hal itu tidak dapat dicapai kecuali dengan ilmu.

وَأَعْظَمُ الْأَشْيَاءِ رُتْبَةً فِي حَقِّ الْآدَمِيِّ السَّعَادَةُ الْأَبَدِيَّةُ، وَأَفْضَلُ الْأَشْيَاءِ مَا هُوَ وَسِيلَةٌ إِلَيْهَا.

Perkara yang paling agung kedudukannya bagi manusia adalah kebahagiaan yang abadi, dan perkara yang paling utama adalah yang menjadi sarana menuju kebahagiaan itu.

وَلَنْ يُتَوَصَّلَ إِلَيْهَا إِلَّا بِالْعِلْمِ وَالْعَمَلِ، وَلَا يُتَوَصَّلُ إِلَى الْعَمَلِ إِلَّا بِالْعِلْمِ بِكَيْفِيَّةِ الْعَمَلِ.

Dan kebahagiaan itu tidak akan dapat dicapai kecuali dengan ilmu dan amal, sedangkan amal tidak dapat dicapai kecuali dengan ilmu tentang cara beramal.

فَأَصْلُ السَّعَادَةِ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ هُوَ الْعِلْمُ، فَهُوَ إِذَنْ أَفْضَلُ الْأَعْمَالِ.

Maka pokok kebahagiaan di dunia dan akhirat adalah ilmu. Dengan demikian, ilmu adalah amalan yang paling utama.

وَكَيْفَ لَا، وَقَدْ تُعْرَفُ فَضِيلَةُ الشَّيْءِ أَيْضًا بِشَرَفِ ثَمَرَتِهِ؟

Bagaimana mungkin tidak demikian, padahal keutamaan suatu perkara juga dapat diketahui dari kemuliaan hasilnya?

وَقَدْ عَرَفْتَ أَنَّ ثَمَرَةَ الْعِلْمِ الْقُرْبُ مِنْ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَالِالْتِحَاقُ بِأُفُقِ الْمَلَائِكَةِ، وَمُقَارَنَةُ الْمَلَإِ الْأَعْلَى.

Dan engkau telah mengetahui bahwa buah dari ilmu ialah kedekatan kepada Tuhan semesta alam, bergabung dengan cakrawala para malaikat, dan menyertai golongan yang tertinggi.

هٰذَا فِي الْآخِرَةِ.

Ini adalah di akhirat.

وَأَمَّا فِي الدُّنْيَا فَالْعِزُّ وَالْوَقَارُ، وَنُفُوذُ الْحُكْمِ عَلَى الْمُلُوكِ، وَلُزُومُ الِاحْتِرَامِ فِي الطِّبَاعِ.

Adapun di dunia, maka buah ilmu ialah kemuliaan dan kewibawaan, berlakunya pengaruh bahkan atas para raja, serta adanya penghormatan yang tertanam dalam tabiat manusia.

حَتَّى إِنَّ أَغْبِيَاءَ التُّرْكِ وَأَجْلَافَ الْعَرَبِ يُصَادِفُونَ طِبَاعَهُمْ مَجْبُولَةً عَلَى التَّوْقِيرِ لِشُيُوخِهِمْ لِاخْتِصَاصِهِمْ بِمَزِيدِ عِلْمٍ مُسْتَفَادٍ مِنَ التَّجْرِبَةِ.

Bahkan orang-orang Turki yang bodoh dan orang-orang Arab yang kasar pun mendapati tabiat mereka secara naluri terdorong untuk menghormati para orang tua mereka, karena mereka memiliki tambahan ilmu yang diperoleh dari pengalaman.

بَلِ الْبَهِيمَةُ بِطَبْعِهَا تُوَقِّرُ الْإِنْسَانَ لِشُعُورِهَا بِتَمْيِيزِ الْإِنْسَانِ بِكَمَالٍ مُجَاوِزٍ لِدَرَجَتِهَا.

Bahkan hewan secara naluriah menghormati manusia karena merasakan bahwa manusia memiliki keistimewaan kesempurnaan yang melampaui tingkatnya.

هٰذِهِ فَضِيلَةُ الْعِلْمِ مُطْلَقًا، ثُمَّ تَخْتَلِفُ الْعُلُومُ كَمَا سَيَأْتِي بَيَانُهُ، وَتَتَفَاوَتُ لَا مَحَالَةَ فَضَائِلُهَا بِتَفَاوُتِهَا.

Itulah keutamaan ilmu secara umum. Kemudian ilmu-ilmu itu berbeda-beda sebagaimana nanti akan dijelaskan, dan tentu saja keutamaan-keutamaannya pun berbeda sesuai dengan perbedaannya.

وَأَمَّا فَضِيلَةُ التَّعْلِيمِ وَالتَّعَلُّمِ فَظَاهِرَةٌ مِمَّا ذَكَرْنَاهُ.

Adapun keutamaan mengajar dan belajar, maka hal itu sudah jelas dari apa yang telah kami sebutkan.

فَإِنَّ الْعِلْمَ إِذَا كَانَ أَفْضَلَ الْأُمُورِ، كَانَ تَعَلُّمُهُ طَلَبًا لِلْأَفْضَلِ، فَكَانَ تَعْلِيمُهُ إِفَادَةً لِلْأَفْضَلِ.

Karena jika ilmu adalah perkara yang paling utama, maka mempelajarinya berarti mencari yang paling utama, dan mengajarkannya berarti memberikan sesuatu yang paling utama.

وَبَيَانُهُ أَنَّ مَقَاصِدَ الْخَلْقِ مَجْمُوعَةٌ فِي الدِّينِ وَالدُّنْيَا.

Penjelasannya adalah bahwa tujuan-tujuan makhluk terkumpul pada urusan agama dan dunia.

وَلَا نِظَامَ لِلدِّينِ إِلَّا بِنِظَامِ الدُّنْيَا.

Dan agama tidak akan tertata kecuali dengan tertatanya dunia.

فَإِنَّ الدُّنْيَا مَزْرَعَةُ الْآخِرَةِ، وَهِيَ الْآلَةُ الْمُوَصِّلَةُ إِلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ لِمَنْ اتَّخَذَهَا آلَةً، وَمَنْزِلٌ لِمَنْ لَا يَتَّخِذُهَا مُسْتَقَرًّا وَوَطَنًا.

Sesungguhnya dunia adalah ladang akhirat. Dunia merupakan alat yang mengantarkan kepada Allah ‘Azza wa Jalla bagi orang yang menjadikannya sebagai alat, dan menjadi tempat singgah bagi orang yang tidak menjadikannya sebagai tempat tinggal tetap dan tanah air.

وَلَيْسَ يَنْتَظِمُ أَمْرُ الدُّنْيَا إِلَّا بِأَعْمَالِ الْآدَمِيِّينَ.

Urusan dunia tidak akan teratur kecuali dengan pekerjaan manusia.

وَأَعْمَالُهُمْ وَحِرَفُهُمْ وَصَنَائِعُهُمْ تَنْحَصِرُ فِي ثَلَاثَةِ أَقْسَامٍ.

Pekerjaan, profesi, dan keterampilan mereka terbatas pada tiga bagian.

أَحَدُهَا أُصُولٌ لَا قِوَامَ لِلْعَالَمِ دُونَهَا، وَهِيَ أَرْبَعَةٌ: الزِّرَاعَةُ، وَهِيَ لِلْمَطْعَمِ.

Pertama, pokok-pokok yang tanpanya dunia tidak dapat tegak. Pokok itu ada empat: pertanian, yaitu untuk makanan.

وَالْحِيَاكَةُ، وَهِيَ لِلْمَلْبَسِ.

Tenun-menenun, yaitu untuk pakaian.

وَالْبِنَاءُ، وَهُوَ لِلْمَسْكَنِ.

Bangunan, yaitu untuk tempat tinggal.

وَالسِّيَاسَةُ، وَهِيَ لِلتَّأْلِيفِ وَالِاجْتِمَاعِ وَالتَّعَاوُنِ عَلَى أَسْبَابِ الْمَعِيشَةِ وَضَبْطِهَا.

Dan politik atau pemerintahan, yaitu untuk mempersatukan, menghimpun, dan bekerja sama dalam sebab-sebab kehidupan serta mengaturnya.

الثَّانِي مَا هِيَ مُهَيِّئَةٌ لِكُلِّ وَاحِدَةٍ مِنْ هٰذِهِ الصَّنَائِعِ وَخَادِمَةٌ لَهَا، كَالْحِدَادَةِ، فَإِنَّهَا تَخْدِمُ الزِّرَاعَةَ وَجُمْلَةً مِنَ الصَّنَائِعِ بِإِعْدَادِ آلَاتِهَا.

Kedua, pekerjaan yang mempersiapkan dan melayani masing-masing dari industri-industri pokok tersebut, seperti pandai besi, karena ia melayani pertanian dan banyak industri lain dengan menyediakan alat-alatnya.

كَالْحَلَاجَةِ وَالْغَزْلِ، فَإِنَّهُمَا يَخْدِمَانِ الْحِيَاكَةَ بِإِعْدَادِ عَمَلِهَا.

Seperti pengolahan kapas dan pemintalan, karena keduanya melayani tenun-menenun dengan menyiapkan bahan kerjanya.

الثَّالِثُ مَا هِيَ مُتَمِّمَةٌ لِلْأُصُولِ وَمُزَيِّنَةٌ، كَالطَّحْنِ وَالْخَبْزِ لِلزِّرَاعَةِ، وَكَالْقَصَّارَةِ وَالْخِيَاطَةِ لِلْحِيَاكَةِ.

Ketiga, pekerjaan yang menyempurnakan pokok-pokok itu dan memperindahnya, seperti menggiling dan memanggang bagi pertanian, serta seperti mencuci kain dan menjahit bagi tenun-menenun.

وَذٰلِكَ بِالْإِضَافَةِ إِلَى قِوَامِ أَمْرِ الْعَالَمِ الْأَرْضِيِّ مِثْلُ أَجْزَاءِ الشَّخْصِ بِالْإِضَافَةِ إِلَى جُمْلَتِهِ.

Hal itu, bila dilihat dari segi tegaknya urusan dunia yang bersifat bumi, sama seperti bagian-bagian tubuh manusia bila dibandingkan dengan keseluruhannya.

فَإِنَّهَا ثَلَاثَةُ أَضْرُبٍ أَيْضًا: إِمَّا أُصُولٌ كَالْقَلْبِ وَالْكَبِدِ وَالدِّمَاغِ.

Bagian-bagian tubuh itu juga ada tiga macam: bisa berupa pokok, seperti jantung, hati, dan otak.

وَإِمَّا خَادِمَةٌ لَهَا كَالْمَعِدَةِ وَالْعُرُوقِ وَالشَّرَايِينِ وَالْأَعْصَابِ وَالْأَوْرِدَةِ.

Atau berupa pelayan bagi bagian pokok itu, seperti lambung, urat, pembuluh nadi, saraf, dan pembuluh darah.

وَإِمَّا مُكَمِّلَةٌ لَهَا وَمُزَيِّنَةٌ كَالْأَظْفَارِ وَالْأَصَابِعِ وَالْحَاجِبَيْنِ.

Atau berupa penyempurna dan penghias baginya, seperti kuku, jari-jari, dan kedua alis.

وَأَشْرَفُ هٰذِهِ الصَّنَائِعِ أُصُولُهَا، وَأَشْرَفُ أُصُولِهَا السِّيَاسَةُ بِالتَّأْلِيفِ وَالِاسْتِصْلَاحِ.

Yang paling mulia dari semua industri itu adalah pokok-pokoknya. Dan yang paling mulia dari pokok-pokok itu adalah pemerintahan, dengan fungsi mempersatukan dan memperbaiki.

وَلِذٰلِكَ تَسْتَدْعِي هٰذِهِ الصِّنَاعَةُ مِنَ الْكَمَالِ فِيمَنْ يَتَكَفَّلُ بِهَا مَا لَا تَسْتَدْعِيهِ سَائِرُ الصَّنَائِعِ.

Karena itu, profesi ini menuntut kesempurnaan pada orang yang memegangnya yang tidak dituntut oleh profesi-profesi lainnya.

وَلِذٰلِكَ يَسْتَخْدِمُ لَا مَحَالَةَ صَاحِبُ هٰذِهِ الصِّنَاعَةِ سَائِرَ الصُّنَّاعِ.

Karena itu pula, orang yang memegang profesi ini pasti memanfaatkan seluruh profesi lainnya.

وَالسِّيَاسَةُ فِي اسْتِصْلَاحِ الْخَلْقِ وَإِرْشَادِهِمْ إِلَى الطَّرِيقِ الْمُسْتَقِيمِ الْمُنْجِي فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ عَلَى أَرْبَعِ مَرَاتِبَ.

Pemerintahan dalam memperbaiki manusia dan membimbing mereka menuju jalan lurus yang menyelamatkan di dunia dan akhirat itu berada pada empat tingkatan.

الْأُولَى، وَهِيَ الْعُلْيَا، سِيَاسَةُ الْأَنْبِيَاءِ عَلَيْهِمُ السَّلَامُ، وَحُكْمُهُمْ عَلَى الْخَاصَّةِ وَالْعَامَّةِ جَمِيعًا فِي ظَاهِرِهِمْ وَبَاطِنِهِمْ.

Tingkatan pertama, dan ini yang tertinggi, adalah pemerintahan para nabi ‘alaihimus-salam, yaitu kekuasaan mereka atas kalangan khusus dan umum semuanya, baik pada lahir maupun batin mereka.

وَالثَّانِيَةُ الْخُلَفَاءُ وَالْمُلُوكُ وَالسَّلَاطِينُ، وَحُكْمُهُمْ عَلَى الْخَاصَّةِ وَالْعَامَّةِ جَمِيعًا، وَلٰكِنْ عَلَى ظَاهِرِهِمْ لَا عَلَى بَاطِنِهِمْ.

Tingkatan kedua adalah para khalifah, raja, dan penguasa, yang kekuasaannya mencakup kalangan khusus dan umum semuanya, tetapi hanya atas lahir mereka, bukan batin mereka.

وَالثَّالِثَةُ الْعُلَمَاءُ بِاللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَبِدِينِهِ، الَّذِينَ هُمْ وَرَثَةُ الْأَنْبِيَاءِ، وَحُكْمُهُمْ عَلَى بَاطِنِ الْخَاصَّةِ فَقَطْ.

Tingkatan ketiga adalah para ulama yang mengenal Allah ‘Azza wa Jalla dan agama-Nya, yang merupakan pewaris para nabi. Kekuasaan mereka hanya atas batin kalangan khusus.

وَلَا يَرْتَفِعُ فَهْمُ الْعَامَّةِ عَلَى الِاسْتِفَادَةِ مِنْهُمْ، وَلَا تَنْتَهِي قُوَّتُهُمْ إِلَى التَّصَرُّفِ فِي ظَوَاهِرِهِمْ بِالْإِلْزَامِ وَالْمَنْعِ وَالزَّجْرِ.

Pemahaman orang awam tidak terangkat untuk dapat mengambil manfaat dari mereka secara sempurna, dan kekuatan para ulama tidak sampai pada mengatur lahir manusia dengan kewajiban, larangan, dan pencegahan.

وَالرَّابِعَةُ الْوُعَّاظُ، وَحُكْمُهُمْ عَلَى بَوَاطِنِ الْعَوَامِّ فَقَطْ.

Tingkatan keempat adalah para pemberi nasihat, dan pengaruh mereka hanya pada batin orang-orang awam.

فَأَشْرَفُ هٰذِهِ الصَّنَائِعِ الْأَرْبَعِ بَعْدَ النُّبُوَّةِ إِفَادَةُ الْعِلْمِ وَتَهْذِيبُ نُفُوسِ النَّاسِ عَنِ الْأَخْلَاقِ الْمَذْمُومَةِ الْمُهْلِكَةِ، وَإِرْشَادُهُمْ إِلَى الْأَخْلَاقِ الْمَحْمُودَةِ الْمُسْعِدَةِ، وَهُوَ الْمُرَادُ بِالتَّعْلِيمِ.

Maka yang paling mulia dari empat profesi ini setelah kenabian adalah memberikan ilmu, membersihkan jiwa manusia dari akhlak-akhlak tercela yang membinasakan, dan membimbing mereka kepada akhlak-akhlak terpuji yang membawa kebahagiaan. Inilah yang dimaksud dengan mengajar.

وَإِنَّمَا قُلْنَا: إِنَّ هٰذَا أَفْضَلُ مِنْ سَائِرِ الْحِرَفِ وَالصَّنَائِعِ، لِأَنَّ شَرَفَ الصَّنَائِعِ يُعْرَفُ بِثَلَاثَةِ أُمُورٍ.

Kami mengatakan bahwa ini lebih utama daripada semua profesi dan industri lainnya, karena kemuliaan suatu profesi diketahui melalui tiga hal.

إِمَّا بِالِالْتِفَاتِ إِلَى الْغَرِيزَةِ الَّتِي بِهَا يُتَوَصَّلُ إِلَى مَعْرِفَتِهَا، كَفَضْلِ الْعُلُومِ الْعَقْلِيَّةِ عَلَى اللُّغَوِيَّةِ، إِذْ تُدْرَكُ الْحِكْمَةُ بِالْعَقْلِ، وَاللُّغَةُ بِالسَّمْعِ، وَالْعَقْلُ أَشْرَفُ مِنَ السَّمْعِ.

Pertama, dengan memperhatikan kemampuan dasar yang dengannya profesi itu diketahui, seperti keutamaan ilmu-ilmu rasional atas ilmu-ilmu kebahasaan, karena hikmah dipahami dengan akal, sedangkan bahasa dipahami dengan pendengaran, dan akal lebih mulia daripada pendengaran.

وَإِمَّا بِالنَّظَرِ إِلَى عُمُومِ النَّفْعِ، كَفَضْلِ الزِّرَاعَةِ عَلَى الصِّيَاغَةِ.

Kedua, dengan melihat luasnya manfaat, seperti keutamaan pertanian atas kerajinan emas.

وَإِمَّا بِمُلَاحَظَةِ الْمَحَلِّ الَّذِي فِيهِ التَّصَرُّفُ، كَفَضْلِ الصِّيَاغَةِ عَلَى الدِّبَاغَةِ، إِذْ مَحَلُّ أَحَدِهِمَا الذَّهَبُ، وَمَحَلُّ الْآخَرِ جِلْدُ الْمَيْتَةِ.

Ketiga, dengan memperhatikan objek yang menjadi tempat pengolahan, seperti keutamaan kerajinan emas atas penyamakan kulit, karena objek yang satu adalah emas, sedangkan objek yang lain adalah kulit bangkai.

وَلَيْسَ يَخْفَى أَنَّ الْعُلُومَ الدِّينِيَّةَ، وَهِيَ فِقْهُ طَرِيقِ الْآخِرَةِ، إِنَّمَا تُدْرَكُ بِكَمَالِ الْعَقْلِ وَصَفَاءِ الذَّكَاءِ.

Tidaklah samar bahwa ilmu-ilmu agama, yaitu pemahaman jalan menuju akhirat, hanya dapat diperoleh dengan kesempurnaan akal dan kejernihan kecerdasan.

وَالْعَقْلُ أَشْرَفُ صِفَاتِ الْإِنْسَانِ، كَمَا سَيَأْتِي بَيَانُهُ، إِذْ بِهِ تُقْبَلُ أَمَانَةُ اللَّهِ، وَبِهِ يُتَوَصَّلُ إِلَى جِوَارِ اللَّهِ سُبْحَانَهُ.

Akal adalah sifat manusia yang paling mulia, sebagaimana nanti akan dijelaskan, karena dengan akal amanat Allah diterima, dan dengan akal pula dapat dicapai kedekatan dengan Allah Subhanahu wa Ta‘ala.

وَأَمَّا عُمُومُ النَّفْعِ فَلَا يُسْتَرَابُ فِيهِ، فَإِنَّ نَفْعَهُ وَثَمَرَتَهُ سَعَادَةُ الْآخِرَةِ.

Adapun luasnya manfaat, tidak ada keraguan di dalamnya, karena manfaat dan buahnya adalah kebahagiaan akhirat.

وَأَمَّا شَرَفُ الْمَحَلِّ فَكَيْفَ يَخْفَى، وَالْمُعَلِّمُ مُتَصَرِّفٌ فِي قُلُوبِ الْبَشَرِ وَنُفُوسِهِمْ؟

Adapun kemuliaan objeknya, bagaimana mungkin hal itu samar, padahal seorang pengajar berurusan dengan hati dan jiwa manusia?

وَأَشْرَفُ مَوْجُودٍ عَلَى الْأَرْضِ جِنْسُ الْإِنْسِ، وَأَشْرَفُ جُزْءٍ مِنْ جَوَاهِرِ الْإِنْسَانِ قَلْبُهُ.

Makhluk paling mulia di bumi adalah jenis manusia, dan bagian paling mulia dari unsur-unsur manusia adalah hatinya.

وَالْمُعَلِّمُ مُشْتَغِلٌ بِتَكْمِيلِهِ وَتَجْلِيَتِهِ وَتَطْهِيرِهِ وَسِيَاقَتِهِ إِلَى الْقُرْبِ مِنَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ.

Seorang pengajar disibukkan dengan menyempurnakan, menjernihkan, membersihkan, dan mengarahkan hati itu kepada kedekatan dengan Allah ‘Azza wa Jalla.

فَتَعْلِيمُ الْعِلْمِ مِنْ وَجْهٍ عِبَادَةٌ لِلَّهِ تَعَالَى، وَمِنْ وَجْهٍ خِلَافَةٌ لِلَّهِ تَعَالَى.

Maka mengajarkan ilmu, dari satu sisi adalah ibadah kepada Allah Ta‘ala, dan dari sisi lain adalah kekhalifahan dari Allah Ta‘ala.

وَهُوَ مِنْ أَجَلِّ خِلَافَةِ اللَّهِ.

Dan itu termasuk bentuk kekhalifahan yang paling agung dari Allah.

فَإِنَّ اللَّهَ تَعَالَى قَدْ فَتَحَ عَلَى قَلْبِ الْعَالِمِ الْعِلْمَ الَّذِي هُوَ أَخَصُّ صِفَاتِهِ.

Karena Allah Ta‘ala telah membuka pada hati seorang alim ilmu, yang merupakan sifat-Nya yang paling khusus.

فَهُوَ كَالْخَازِنِ لِأَنْفَسِ خَزَائِنِهِ.

Maka ia bagaikan penjaga bagi perbendaharaan Allah yang paling berharga.

ثُمَّ هُوَ مَأْذُونٌ لَهُ فِي الْإِنْفَاقِ مِنْهُ عَلَى كُلِّ مُحْتَاجٍ إِلَيْهِ.

Kemudian ia diberi izin untuk membelanjakan darinya kepada setiap orang yang memerlukannya.

فَأَيُّ رُتْبَةٍ أَجَلُّ مِنْ كَوْنِ الْعَبْدِ وَاسِطَةً بَيْنَ رَبِّهِ سُبْحَانَهُ وَبَيْنَ خَلْقِهِ، فِي تَقْرِيبِهِمْ إِلَى اللَّهِ زُلْفَى، وَسِيَاقَتِهِمْ إِلَى جَنَّةِ الْمَأْوَى؟

Lalu kedudukan apa yang lebih agung daripada seorang hamba menjadi perantara antara Tuhannya Yang Mahasuci dan makhluk-Nya, dalam mendekatkan mereka kepada Allah dengan sedekat-dekatnya dan menggiring mereka menuju surga tempat kembali?

جَعَلَنَا اللَّهُ مِنْهُمْ بِكَرَمِهِ، وَصَلَّى اللَّهُ عَلَى كُلِّ عَبْدٍ مُصْطَفًى.

Semoga Allah menjadikan kita termasuk golongan itu dengan kemurahan-Nya. Dan semoga Allah melimpahkan salawat kepada setiap hamba pilihan-Nya.