Keutamaan Menuntut Ilmu

 فَضِيلَةُ التَّعَلُّمِ

Keutamaan belajar.

أَمَّا الْآيَاتُ فَقَوْلُهُ تَعَالَى: {فَلَوْلَا نَفَرَ مِنْ كُلِّ فِرْقَةٍ مِنْهُمْ طَائِفَةٌ لِيَتَفَقَّهُوا فِي الدِّينِ}.

Adapun ayat-ayat, maka di antaranya adalah firman Allah Ta‘ala, “Maka mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama.”

وَقَوْلُهُ عَزَّ وَجَلَّ: {فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ}.

Dan firman-Nya ‘Azza wa Jalla, “Maka bertanyalah kepada orang-orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui.”

وَأَمَّا الْأَخْبَارُ فَقَوْلُهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَطْلُبُ فِيهِ عِلْمًا سَلَكَ اللَّهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ.

Adapun hadis-hadis, maka di antaranya adalah sabda Nabi , “Barang siapa menempuh suatu jalan untuk mencari ilmu di dalamnya, niscaya Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga.”

وَقَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنَّ الْمَلَائِكَةَ لَتَضَعُ أَجْنِحَتَهَا لِطَالِبِ الْعِلْمِ رِضًى بِمَا يَصْنَعُ.

Dan Nabi bersabda, “Sesungguhnya para malaikat benar-benar meletakkan sayap-sayap mereka bagi penuntut ilmu karena ridha terhadap apa yang ia lakukan.”

وَقَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لَأَنْ تَغْدُوَ فَتَتَعَلَّمَ بَابًا مِنَ الْعِلْمِ خَيْرٌ مِنْ أَنْ تُصَلِّيَ مِائَةَ رَكْعَةٍ.

Dan Nabi bersabda, “Sungguh jika engkau pergi pada pagi hari lalu mempelajari satu bab ilmu, itu lebih baik daripada engkau salat seratus rakaat.”

وَقَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: بَابٌ مِنَ الْعِلْمِ يَتَعَلَّمُهُ الرَّجُلُ خَيْرٌ لَهُ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا.

Dan Nabi bersabda, “Satu bab ilmu yang dipelajari seseorang lebih baik baginya daripada dunia dan segala isinya.”

وَقَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: اطْلُبُوا الْعِلْمَ وَلَوْ بِالصِّينِ.

Dan Nabi bersabda, “Tuntutlah ilmu walaupun sampai ke negeri Cina.”

وَقَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ.

Dan Nabi bersabda, “Menuntut ilmu adalah kewajiban atas setiap muslim.”

وَقَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: الْعِلْمُ خَزَائِنُ، مَفَاتِيحُهَا السُّؤَالُ، أَلَا فَاسْأَلُوا، فَإِنَّهُ يُؤْجَرُ فِيهِ أَرْبَعَةٌ: السَّائِلُ، وَالْعَالِمُ، وَالْمُسْتَمِعُ، وَالْمُحِبُّ لَهُمْ.

Dan Nabi bersabda, “Ilmu itu adalah perbendaharaan, dan kunci-kuncinya adalah pertanyaan. Maka bertanyalah, karena dalam hal itu ada pahala bagi empat golongan: orang yang bertanya, orang alim, orang yang mendengarkan, dan orang yang mencintai mereka.”

وَقَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لَا يَنْبَغِي لِلْجَاهِلِ أَنْ يَسْكُتَ عَلَى جَهْلِهِ، وَلَا لِلْعَالِمِ أَنْ يَسْكُتَ عَلَى عِلْمِهِ.

Dan Nabi bersabda, “Tidak sepantasnya orang yang bodoh diam atas kebodohannya, dan tidak sepantasnya orang alim diam atas ilmunya.”

وَفِي حَدِيثِ أَبِي ذَرٍّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: حُضُورُ مَجْلِسِ عَالِمٍ أَفْضَلُ مِنْ صَلَاةِ أَلْفِ رَكْعَةٍ، وَعِيَادَةِ أَلْفِ مَرِيضٍ، وَشُهُودِ أَلْفِ جَنَازَةٍ.

Dan dalam hadis Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu disebutkan, “Menghadiri majelis seorang alim lebih utama daripada salat seribu rakaat, menjenguk seribu orang sakit, dan menghadiri seribu jenazah.”

فَقِيلَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، وَمِنْ قِرَاءَةِ الْقُرْآنِ؟

Lalu ditanyakan, “Wahai Rasulullah, bagaimana dengan membaca Al-Qur’an?”

فَقَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: وَهَلْ يَنْفَعُ الْقُرْآنُ إِلَّا بِالْعِلْمِ؟

Maka beliau bersabda, “Bukankah Al-Qur’an hanya akan bermanfaat dengan ilmu?”

وَقَالَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ: مَنْ جَاءَهُ الْمَوْتُ وَهُوَ يَطْلُبُ الْعِلْمَ لِيُحْيِيَ بِهِ الْإِسْلَامَ فَبَيْنَهُ وَبَيْنَ الْأَنْبِيَاءِ فِي الْجَنَّةِ دَرَجَةٌ وَاحِدَةٌ.

Dan beliau ‘alaihis-shalatu was-salam bersabda, “Barang siapa didatangi kematian sementara ia sedang menuntut ilmu untuk menghidupkan Islam dengannya, maka antara dia dan para nabi di surga hanya ada satu derajat.”

وَأَمَّا الْآثَارُ فَقَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا: ذَلَلْتُ طَالِبًا فَعَزَزْتُ مَطْلُوبًا.

Adapun atsar-atsar, maka Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata, “Aku dahulu hina sebagai pencari ilmu, lalu aku menjadi mulia ketika dicari.”

وَكَذَلِكَ قَالَ ابْنُ أَبِي مُلَيْكَةَ رَحِمَهُ اللَّهُ: مَا رَأَيْتُ مِثْلَ ابْنِ عَبَّاسٍ، إِذَا رَأَيْتَهُ رَأَيْتَ أَحْسَنَ النَّاسِ وَجْهًا، وَإِذَا تَكَلَّمَ فَأَعْرَبَ النَّاسِ لِسَانًا، وَإِذَا أَفْتَى فَأَكْثَرَ النَّاسِ عِلْمًا.

Demikian pula Ibnu Abi Mulaikah rahimahullah berkata, “Aku tidak pernah melihat orang seperti Ibnu ‘Abbas. Jika engkau melihatnya, engkau akan melihat manusia yang paling bagus wajahnya. Jika ia berbicara, maka ia adalah manusia yang paling fasih lisannya. Dan jika ia berfatwa, maka ia adalah manusia yang paling luas ilmunya.”

وَقَالَ ابْنُ الْمُبَارَكِ رَحِمَهُ اللَّهُ: عَجِبْتُ لِمَنْ لَمْ يَطْلُبِ الْعِلْمَ كَيْفَ تَدْعُوهُ نَفْسُهُ إِلَى مَكْرُمَةٍ.

Ibnu Al-Mubarak rahimahullah berkata, “Aku heran kepada orang yang tidak menuntut ilmu, bagaimana mungkin jiwanya mengajaknya kepada kemuliaan.”

وَقَالَ بَعْضُ الْحُكَمَاءِ: إِنِّي لَا أَرْحَمُ رِجَالًا كَرَحْمَتِي لِأَحَدِ رَجُلَيْنِ: رَجُلٍ يَطْلُبُ الْعِلْمَ وَلَا يَفْهَمُ، وَرَجُلٍ يَفْهَمُ الْعِلْمَ وَلَا يَطْلُبُهُ.

Sebagian ahli hikmah berkata, “Aku tidak merasa iba kepada siapa pun seperti ibaku kepada dua orang: seorang yang mencari ilmu tetapi tidak memahaminya, dan seorang yang memahami ilmu tetapi tidak mencarinya.”

وَقَالَ أَبُو الدَّرْدَاءِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: لَأَنْ أَتَعَلَّمَ مَسْأَلَةً أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ قِيَامِ لَيْلَةٍ.

Abu Ad-Darda’ radhiyallahu ‘anhu berkata, “Sungguh aku mempelajari satu masalah lebih aku cintai daripada salat malam semalam suntuk.”

وَقَالَ أَيْضًا: كُنْ عَالِمًا، أَوْ مُتَعَلِّمًا، أَوْ مُسْتَمِعًا، وَلَا تَكُنِ الرَّابِعَ فَتَهْلِكَ.

Ia juga berkata, “Jadilah orang alim, atau pelajar, atau pendengar, dan jangan menjadi yang keempat, nanti engkau binasa.”

وَقَالَ عَطَاءٌ: مَجْلِسُ عِلْمٍ يُكَفِّرُ سَبْعِينَ مَجْلِسًا مِنْ مَجَالِسِ اللَّهْوِ.

‘Atha’ berkata, “Satu majelis ilmu dapat menghapus pengaruh tujuh puluh majelis dari majelis-majelis senda gurau.”

وَقَالَ عُمَرُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: مَوْتُ أَلْفِ عَابِدٍ قَائِمِ اللَّيْلِ صَائِمِ النَّهَارِ أَهْوَنُ مِنْ مَوْتِ عَالِمٍ بَصِيرٍ بِحَلَالِ اللَّهِ وَحَرَامِهِ.

‘Umar radhiyallahu ‘anhu berkata, “Kematian seribu ahli ibadah yang bangun malam dan berpuasa siang lebih ringan daripada kematian seorang alim yang mengetahui halal dan haram Allah dengan baik.”

وَقَالَ الشَّافِعِيُّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: طَلَبُ الْعِلْمِ أَفْضَلُ مِنَ النَّافِلَةِ.

Asy-Syafi‘i radhiyallahu ‘anhu berkata, “Menuntut ilmu lebih utama daripada ibadah sunnah.”

وَقَالَ ابْنُ عَبْدِ الْحَكَمِ رَحِمَهُ اللَّهُ: كُنْتُ عِنْدَ مَالِكٍ أَقْرَأُ عَلَيْهِ الْعِلْمَ، فَدَخَلَ الظُّهْرُ، فَجَمَعْتُ الْكُتُبَ لِأُصَلِّيَ.

Ibnu ‘Abdil Hakam rahimahullah berkata, “Aku pernah berada di sisi Malik untuk membacakan ilmu kepadanya. Lalu masuk waktu zuhur, maka aku mengumpulkan kitab-kitab untuk salat.”

فَقَالَ: يَا هَذَا، مَا الَّذِي قُمْتَ إِلَيْهِ بِأَفْضَلَ مِمَّا كُنْتَ فِيهِ إِذَا صَحَّتِ النِّيَّةُ.

Maka Malik berkata, “Wahai orang ini, apa yang engkau bangkit untuk melakukannya itu tidak lebih utama daripada apa yang sedang engkau kerjakan, jika niatnya benar.”

وَقَالَ أَبُو الدَّرْدَاءِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: مَنْ رَأَى أَنَّ الْغُدُوَّ إِلَى طَلَبِ الْعِلْمِ لَيْسَ بِجِهَادٍ فَقَدْ نَقَصَ فِي رَأْيِهِ وَعَقْلِهِ.

Abu Ad-Darda’ radhiyallahu ‘anhu berkata, “Barang siapa memandang bahwa pergi pada pagi hari untuk menuntut ilmu bukan termasuk jihad, maka sungguh ia telah berkurang dalam pandangan dan akalnya.”