Keutamaan Mengajarkan Ilmu
فَضِيلَةُ التَّعْلِيمِ
Keutamaan mengajar.
أَمَّا
الْآيَاتُ فَقَوْلُهُ عَزَّ وَجَلَّ: {وَلِيُنْذِرُوا قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُوا
إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُونَ}.
Adapun ayat-ayat, maka di antaranya adalah firman Allah
‘Azza wa Jalla, “Dan agar mereka memberi peringatan kepada kaumnya apabila
mereka telah kembali kepadanya, agar mereka waspada.”
وَالْمُرَادُ
هُوَ التَّعْلِيمُ وَالْإِرْشَادُ.
Yang dimaksud dengan ayat ini adalah mengajar dan memberi
petunjuk.
وَقَوْلُهُ
تَعَالَى: {وَإِذْ أَخَذَ اللَّهُ مِيثَاقَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ
لَتُبَيِّنُنَّهُ لِلنَّاسِ وَلَا تَكْتُمُونَهُ}.
Dan firman Allah Ta‘ala, “Dan ingatlah ketika Allah
mengambil perjanjian dari orang-orang yang telah diberi Kitab: hendaklah kamu
benar-benar menjelaskannya kepada manusia dan jangan kamu menyembunyikannya.”
وَهُوَ
إِيجَابٌ لِلتَّعْلِيمِ.
Ini adalah kewajiban untuk mengajar.
وَقَوْلُهُ
تَعَالَى: {وَإِنَّ فَرِيقًا مِنْهُمْ لَيَكْتُمُونَ الْحَقَّ وَهُمْ يَعْلَمُونَ}.
Dan firman Allah Ta‘ala, “Dan sesungguhnya sebagian dari
mereka benar-benar menyembunyikan kebenaran, padahal mereka mengetahuinya.”
وَهُوَ
تَحْرِيمٌ لِلْكِتْمَانِ.
Ini adalah pengharaman atas menyembunyikan ilmu.
كَمَا
قَالَ تَعَالَى فِي الشَّهَادَةِ: {وَمَنْ يَكْتُمْهَا فَإِنَّهُ آثِمٌ قَلْبُهُ}.
Sebagaimana firman Allah Ta‘ala tentang persaksian, “Dan
barang siapa menyembunyikannya, maka sungguh hatinya berdosa.”
وَقَالَ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَا آتَى اللَّهُ عَالِمًا عِلْمًا إِلَّا
وَأَخَذَ عَلَيْهِ مِنَ الْمِيثَاقِ مَا أَخَذَ عَلَى النَّبِيِّينَ أَنْ
يُبَيِّنُوهُ لِلنَّاسِ وَلَا يَكْتُمُوهُ.
Dan Nabi ﷺ
bersabda, “Allah tidak memberikan ilmu kepada seorang alim kecuali Dia
mengambil darinya perjanjian sebagaimana Dia mengambil perjanjian dari para
nabi, yaitu agar mereka menjelaskannya kepada manusia dan tidak
menyembunyikannya.”
وَقَالَ
تَعَالَى: {وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلًا مِمَّنْ دَعَا إِلَى اللَّهِ وَعَمِلَ
صَالِحًا}.
Dan Allah Ta‘ala berfirman, “Siapakah yang lebih baik
perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah dan beramal saleh.”
وَقَالَ
تَعَالَى: {ادْعُ إِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ
الْحَسَنَةِ}.
Dan Allah Ta‘ala berfirman, “Serulah ke jalan Tuhanmu dengan
hikmah dan nasihat yang baik.”
وَقَالَ
تَعَالَى: {وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ}.
Dan Allah Ta‘ala berfirman, “Dan Dia mengajarkan kepada
mereka Al-Kitab dan hikmah.”
وَأَمَّا
الْأَخْبَارُ فَقَوْلُهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَمَّا بَعَثَ
مُعَاذًا رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ إِلَى الْيَمَنِ: لَأَنْ يَهْدِيَ اللَّهُ بِكَ
رَجُلًا وَاحِدًا خَيْرٌ لَكَ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا.
Adapun hadis-hadis, maka di antaranya adalah sabda Nabi ﷺ
ketika mengutus Mu‘adz radhiyallahu ‘anhu ke Yaman, “Sungguh jika Allah memberi
petunjuk kepada satu orang saja melalui dirimu, itu lebih baik bagimu daripada
dunia dan segala isinya.”
وَقَالَ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَنْ تَعَلَّمَ بَابًا مِنَ الْعِلْمِ
لِيُعَلِّمَ النَّاسَ أُعْطِيَ ثَوَابَ سَبْعِينَ صِدِّيقًا.
Dan Nabi ﷺ
bersabda, “Barang siapa mempelajari satu bab ilmu untuk diajarkan kepada
manusia, ia diberi pahala tujuh puluh orang yang sangat benar.”
وَقَالَ
عِيسَى صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَنْ عَلِمَ وَعَمِلَ وَعَلَّمَ
فَذَلِكَ يُدْعَى عَظِيمًا فِي مَلَكُوتِ السَّمَاوَاتِ.
Dan Nabi Isa ‘alaihis-salam berkata, “Barang siapa berilmu,
beramal, dan mengajar, maka ia disebut orang besar di kerajaan langit.”
وَقَالَ
رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِذَا كَانَ يَوْمُ
الْقِيَامَةِ يَقُولُ اللَّهُ سُبْحَانَهُ لِلْعَابِدِينَ وَالْمُجَاهِدِينَ:
ادْخُلُوا الْجَنَّةَ.
Dan Rasulullah ﷺ bersabda, “Apabila hari kiamat tiba, Allah Subhanahu wa Ta‘ala
berfirman kepada para ahli ibadah dan para mujahid, ‘Masuklah kalian ke dalam
surga.’”
فَيَقُولُ
الْعُلَمَاءُ: بِفَضْلِ عِلْمِنَا تَعَبَّدُوا وَجَاهَدُوا.
Maka para ulama berkata, “Dengan keutamaan ilmu kami, mereka
dapat beribadah dan berjihad.”
فَيَقُولُ
اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ: أَنْتُمْ عِنْدِي كَبَعْضِ مَلَائِكَتِي، اشْفَعُوا
تُشَفَّعُوا.
Maka Allah ‘Azza wa Jalla berfirman, “Kalian di sisi-Ku
seperti sebagian malaikat-Ku. Berilah syafaat, niscaya syafaat kalian
diterima.”
فَيَشْفَعُونَ
ثُمَّ يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ.
Maka mereka pun memberi syafaat, kemudian mereka masuk
surga.
وَهَذَا
إِنَّمَا يَكُونُ بِالْعِلْمِ الْمُتَعَدِّي بِالتَّعْلِيمِ، لَا الْعِلْمِ
اللَّازِمِ الَّذِي لَا يَتَعَدَّى.
Hal ini hanya terjadi pada ilmu yang manfaatnya meluas
melalui pengajaran, bukan ilmu yang terbatas pada diri sendiri dan tidak
meluas.
وَقَالَ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ لَا يَنْتَزِعُ
الْعِلْمَ انْتِزَاعًا مِنَ النَّاسِ بَعْدَ أَنْ يُؤْتِيَهُمْ إِيَّاهُ، وَلَكِنْ
يَذْهَبُ بِذَهَابِ الْعُلَمَاءِ.
Dan Nabi ﷺ
bersabda, “Sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla tidak mencabut ilmu begitu saja
dari manusia setelah Dia memberikannya kepada mereka, tetapi Dia
menghilangkannya dengan wafatnya para ulama.”
فَكُلَّمَا
ذَهَبَ عَالِمٌ ذَهَبَ بِمَا مَعَهُ مِنَ الْعِلْمِ، حَتَّى إِذَا لَمْ يَبْقَ
إِلَّا رُؤَسَاءُ جُهَّالٌ، إِنْ سُئِلُوا أَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ،
فَيَضِلُّونَ وَيُضِلُّونَ.
Setiap kali seorang alim wafat, hilang pula ilmu yang ada
padanya, hingga apabila tidak tersisa kecuali para pemimpin yang bodoh, jika
mereka ditanya, mereka berfatwa tanpa ilmu; lalu mereka sesat dan menyesatkan.
وَقَالَ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَنْ عَلِمَ عِلْمًا فَكَتَمَهُ أَلْجَمَهُ
اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِلِجَامٍ مِنْ نَارٍ.
Dan Nabi ﷺ
bersabda, “Barang siapa mengetahui suatu ilmu lalu menyembunyikannya, Allah
akan mengekangnya pada hari kiamat dengan kekang dari api.”
وَقَالَ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: نِعْمَ الْعَطِيَّةُ وَنِعْمَ الْهَدِيَّةُ
كَلِمَةُ حِكْمَةٍ تَسْمَعُهَا فَتَطْوِي عَلَيْهَا، ثُمَّ تَحْمِلُهَا إِلَى أَخٍ
لَكَ مُسْلِمٍ تُعَلِّمُهُ إِيَّاهَا، تَعْدِلُ عِبَادَةَ سَنَةٍ.
Dan Nabi ﷺ
bersabda, “Sebaik-baik pemberian dan sebaik-baik hadiah adalah satu kalimat
hikmah yang engkau dengar lalu engkau menjaganya, kemudian engkau membawanya
kepada saudaramu sesama muslim dan mengajarkannya kepadanya; itu sebanding
dengan ibadah selama setahun.”
وَقَالَ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: الدُّنْيَا مَلْعُونَةٌ، مَلْعُونٌ مَا
فِيهَا، إِلَّا ذِكْرَ اللَّهِ سُبْحَانَهُ وَمَا وَالَاهُ، أَوْ مُعَلِّمًا أَوْ
مُتَعَلِّمًا.
Dan Nabi ﷺ
bersabda, “Dunia itu terlaknat, dan terlaknat pula apa yang ada di dalamnya,
kecuali zikir kepada Allah Subhanahu wa Ta‘ala dan segala yang mengiringinya,
atau orang yang mengajar, atau orang yang belajar.”
وَقَالَ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنَّ اللَّهَ سُبْحَانَهُ وَمَلَائِكَتَهُ
وَأَهْلَ سَمَوَاتِهِ وَأَرْضِهِ، حَتَّى النَّمْلَةَ فِي جُحْرِهَا، وَحَتَّى
الْحُوتَ فِي الْبَحْرِ، لَيُصَلُّونَ عَلَى مُعَلِّمِ النَّاسِ الْخَيْرَ.
Dan Nabi ﷺ
bersabda, “Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta‘ala, para malaikat-Nya, para
penghuni langit dan bumi-Nya, sampai semut di dalam sarangnya, bahkan ikan di
laut, benar-benar mendoakan orang yang mengajarkan kebaikan kepada manusia.”
وَقَالَ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَا أَفَادَ الْمُسْلِمُ أَخَاهُ فَائِدَةً
أَفْضَلَ مِنْ حَدِيثٍ حَسَنٍ بَلَغَهُ فَبَلَّغَهُ.
Dan Nabi ﷺ
bersabda, “Seorang muslim tidak memberikan manfaat kepada saudaranya yang lebih
utama daripada suatu hadis yang baik yang sampai kepadanya lalu ia sampaikan
lagi.”
وَقَالَ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: كَلِمَةٌ مِنَ الْخَيْرِ يَسْمَعُهَا
الْمُؤْمِنُ فَيُعَلِّمُهَا وَيَعْمَلُ بِهَا خَيْرٌ لَهُ مِنْ عِبَادَةِ سَنَةٍ.
Dan Nabi ﷺ
bersabda, “Satu kalimat kebaikan yang didengar seorang mukmin lalu ia
mengajarkannya dan mengamalkannya lebih baik baginya daripada ibadah selama
setahun.”
وَخَرَجَ
رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ يَوْمٍ فَرَأَى
مَجْلِسَيْنِ؛ أَحَدُهُمَا يَدْعُونَ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ وَيَرْغَبُونَ
إِلَيْهِ، وَالثَّانِي يُعَلِّمُونَ النَّاسَ.
Suatu hari Rasulullah ﷺ keluar lalu melihat dua majelis; yang satu
berdoa kepada Allah ‘Azza wa Jalla dan berharap kepada-Nya, sedangkan yang
kedua mengajarkan manusia.
فَقَالَ:
أَمَّا هَؤُلَاءِ فَيَسْأَلُونَ اللَّهَ تَعَالَى، فَإِنْ شَاءَ أَعْطَاهُمْ
وَإِنْ شَاءَ مَنَعَهُمْ.
Maka beliau bersabda, “Adapun mereka ini, mereka memohon
kepada Allah Ta‘ala; jika Dia menghendaki, Dia memberi mereka, dan jika Dia
menghendaki, Dia menahan mereka.”
وَأَمَّا
هَؤُلَاءِ فَيُعَلِّمُونَ النَّاسَ، وَإِنَّمَا بُعِثْتُ مُعَلِّمًا.
“Sedangkan mereka ini mengajarkan manusia, dan sesungguhnya
aku diutus sebagai seorang pengajar.”
ثُمَّ
عَدَلَ إِلَيْهِمْ وَجَلَسَ مَعَهُمْ.
Kemudian beliau berpaling kepada mereka dan duduk bersama
mereka.
وَقَالَ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَثَلُ مَا بَعَثَنِي اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ
بِهِ مِنَ الْهُدَى وَالْعِلْمِ كَمَثَلِ الْغَيْثِ الْكَثِيرِ أَصَابَ أَرْضًا.
Dan Nabi ﷺ
bersabda, “Perumpamaan petunjuk dan ilmu yang Allah ‘Azza wa Jalla utus aku
dengannya adalah seperti hujan lebat yang menimpa tanah.”
فَكَانَتْ
مِنْهَا بُقْعَةٌ قَبِلَتِ الْمَاءَ فَأَنْبَتَتِ الْكَلَأَ وَالْعُشْبَ
الْكَثِيرَ.
Di antara tanah itu ada bagian yang menerima air lalu
menumbuhkan rerumputan dan tanaman yang banyak.
وَكَانَتْ
مِنْهَا بُقْعَةٌ أَمْسَكَتِ الْمَاءَ فَنَفَعَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ بِهَا
النَّاسَ، فَشَرِبُوا مِنْهَا وَسَقَوْا وَزَرَعُوا.
Dan di antaranya ada bagian yang menahan air, lalu Allah
‘Azza wa Jalla memberi manfaat kepada manusia dengannya; maka mereka minum
darinya, memberi minum, dan bercocok tanam.
وَكَانَتْ
مِنْهَا طَائِفَةٌ قِيعَانٌ لَا تُمْسِكُ مَاءً وَلَا تُنْبِتُ كَلَأً.
Dan di antaranya ada bagian yang berupa tanah tandus, yang
tidak menahan air dan tidak pula menumbuhkan rumput.
فَالْأَوَّلُ
ذَكَرَهُ مَثَلًا لِلْمُنْتَفِعِ بِعِلْمِهِ، وَالثَّانِي ذَكَرَهُ مَثَلًا
لِلنَّافِعِ، وَالثَّالِثُ لِلْمَحْرُومِ مِنْهُمَا.
Yang pertama beliau sebutkan sebagai perumpamaan bagi orang
yang mengambil manfaat dari ilmunya. Yang kedua sebagai perumpamaan bagi orang
yang memberi manfaat. Dan yang ketiga bagi orang yang terhalang dari keduanya.
وَقَالَ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِذَا مَاتَ ابْنُ آدَمَ انْقَطَعَ عَمَلُهُ
إِلَّا مِنْ ثَلَاثٍ: عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ...
Dan Nabi ﷺ
bersabda, “Apabila anak Adam meninggal dunia, terputuslah amalnya kecuali dari
tiga perkara: ilmu yang dimanfaatkan...”
وَقَالَ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: الدَّالُّ عَلَى الْخَيْرِ كَفَاعِلِهِ.
Dan Nabi ﷺ
bersabda, “Orang yang menunjukkan kepada kebaikan adalah seperti pelakunya.”
وَقَالَ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لَا حَسَدَ إِلَّا فِي اثْنَتَيْنِ: رَجُلٌ
آتَاهُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ حِكْمَةً فَهُوَ يَقْضِي بِهَا وَيُعَلِّمُهَا
النَّاسَ، وَرَجُلٌ آتَاهُ اللَّهُ مَالًا فَسَلَّطَهُ عَلَى هَلَكَتِهِ فِي
الْخَيْرِ.
Dan Nabi ﷺ
bersabda, “Tidak ada iri yang dibenarkan kecuali pada dua perkara: seseorang
yang Allah ‘Azza wa Jalla beri hikmah, lalu ia memutuskan dengannya dan
mengajarkannya kepada manusia; dan seseorang yang Allah beri harta, lalu Dia
memberinya kemampuan untuk menghabiskannya dalam kebaikan.”
وَقَالَ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: عَلَى خُلَفَائِي رَحْمَةُ اللَّهِ.
Dan Nabi ﷺ
bersabda, “Semoga rahmat Allah tercurah kepada para khalifahku.”
قِيلَ:
وَمَنْ خُلَفَاؤُكَ؟
Ditanyakan, “Siapakah para khalifahmu itu?”
قَالَ:
الَّذِينَ يُحْيُونَ سُنَّتِي وَيُعَلِّمُونَهَا عِبَادَ اللَّهِ.
Beliau menjawab, “Yaitu orang-orang yang menghidupkan
sunnahku dan mengajarkannya kepada hamba-hamba Allah.”
وَأَمَّا
الْآثَارُ فَقَدْ قَالَ عُمَرُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: مَنْ حَدَّثَ حَدِيثًا
فَعُمِلَ بِهِ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ مَنْ عَمِلَ ذَلِكَ الْعَمَلَ.
Adapun atsar-atsar, maka ‘Umar radhiyallahu ‘anhu berkata,
“Barang siapa menyampaikan suatu hadis lalu diamalkan, maka baginya pahala
seperti pahala orang yang mengamalkan perbuatan itu.”
وَقَالَ
ابْنُ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا: مُعَلِّمُ النَّاسِ الْخَيْرَ
يَسْتَغْفِرُ لَهُ كُلُّ شَيْءٍ حَتَّى الْحُوتُ فِي الْبَحْرِ.
Dan Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata, “Orang yang
mengajarkan kebaikan kepada manusia dimintakan ampun oleh segala sesuatu,
hingga ikan di laut.”
وَقَالَ
بَعْضُ الْعُلَمَاءِ: الْعَالِمُ يَدْخُلُ فِيمَا بَيْنَ اللَّهِ وَبَيْنَ
خَلْقِهِ، فَلْيَنْظُرْ كَيْفَ يَدْخُلُ.
Sebagian ulama berkata, “Seorang alim masuk sebagai
perantara antara Allah dan makhluk-Nya, maka hendaklah ia memperhatikan
bagaimana ia masuk.”
وَرُوِيَ
أَنَّ سُفْيَانَ الثَّوْرِيَّ رَحِمَهُ اللَّهُ قَدِمَ عَسْقَلَانَ فَمَكَثَ لَا
يَسْأَلُهُ إِنْسَانٌ.
Diriwayatkan bahwa Sufyan Ats-Tsauri rahimahullah datang ke
‘Asqalan, lalu ia tinggal di sana, namun tidak ada seorang pun yang bertanya
kepadanya.
فَقَالَ:
اكْرُوا لِي لِأَخْرُجَ مِنْ هَذَا الْبَلَدِ، هَذَا بَلَدٌ يَمُوتُ فِيهِ
الْعِلْمُ.
Lalu ia berkata, “Sewakanlah untukku kendaraan agar aku
keluar dari negeri ini. Ini adalah negeri tempat ilmu mati.”
وَإِنَّمَا
قَالَ ذَلِكَ حِرْصًا عَلَى فَضِيلَةِ التَّعْلِيمِ وَاسْتِبْقَاءِ الْعِلْمِ بِهِ.
Ia mengatakan itu karena sangat menginginkan keutamaan
mengajar dan menjaga agar ilmu tetap lestari dengannya.
وَقَالَ
عَطَاءٌ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: دَخَلْتُ عَلَى سَعِيدِ بْنِ الْمُسَيَّبِ وَهُوَ
يَبْكِي، فَقُلْتُ: مَا يُبْكِيكَ؟
Dan ‘Atha’ radhiyallahu ‘anhu berkata, “Aku masuk menemui
Sa‘id bin Al-Musayyib, sementara ia sedang menangis. Maka aku bertanya, ‘Apa
yang membuatmu menangis?’”
قَالَ:
لَيْسَ أَحَدٌ يَسْأَلُنِي عَنْ شَيْءٍ.
Ia menjawab, “Tidak ada seorang pun yang bertanya kepadaku
tentang sesuatu.”
وَقَالَ
بَعْضُهُمْ: الْعُلَمَاءُ سُرُجُ الْأَزْمِنَةِ، كُلُّ وَاحِدٍ مِصْبَاحُ
زَمَانِهِ، يَسْتَضِيءُ بِهِ أَهْلُ عَصْرِهِ.
Sebagian mereka berkata, “Para ulama adalah pelita sepanjang
zaman. Setiap orang dari mereka adalah lampu bagi masanya, yang dengannya
penduduk zamannya memperoleh cahaya.”
وَقَالَ
الْحَسَنُ رَحِمَهُ اللَّهُ: لَوْلَا الْعُلَمَاءُ لَصَارَ النَّاسُ مِثْلَ
الْبَهَائِمِ.
Al-Hasan rahimahullah berkata, “Seandainya tidak ada para
ulama, niscaya manusia akan menjadi seperti binatang ternak.”
أَيْ:
أَنَّهُمْ بِالتَّعْلِيمِ يُخْرِجُونَ النَّاسَ مِنْ حَدِّ الْبَهِيمِيَّةِ إِلَى
حَدِّ الْإِنْسَانِيَّةِ.
Artinya, dengan pengajaran mereka mengeluarkan manusia dari
batas kebinatangan menuju batas kemanusiaan.
وَقَالَ
عِكْرِمَةُ: إِنَّ لِهَذَا الْعِلْمِ ثَمَنًا.
‘Ikrimah berkata, “Sesungguhnya ilmu ini memiliki harga.”
قِيلَ:
وَمَا هُوَ؟
Ditanyakan, “Apakah itu?”
قَالَ:
أَنْ تَضَعَهُ فِيمَنْ يُحْسِنُ حَمْلَهُ وَلَا يُضَيِّعُهُ.
Ia menjawab, “Yaitu engkau meletakkannya pada orang yang
mampu membawanya dan tidak menyia-nyiakannya.”
وَقَالَ
يَحْيَى بْنُ مُعَاذٍ: الْعُلَمَاءُ أَرْحَمُ بِأُمَّةِ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ آبَائِهِمْ وَأُمَّهَاتِهِمْ.
Yahya bin Mu‘adz berkata, “Para ulama lebih penyayang
terhadap umat Muhammad ﷺ
daripada ayah dan ibu mereka sendiri.”
قِيلَ:
وَكَيْفَ ذَلِكَ؟
Ditanyakan, “Bagaimana bisa demikian?”
قَالَ:
لِأَنَّ آبَاءَهُمْ وَأُمَّهَاتِهِمْ يَحْفَظُونَهُمْ مِنْ نَارِ الدُّنْيَا،
وَهُمْ يَحْفَظُونَهُمْ مِنْ نَارِ الْآخِرَةِ.
Ia menjawab, “Karena ayah dan ibu mereka menjaga mereka dari
api dunia, sedangkan para ulama menjaga mereka dari api akhirat.”
وَقِيلَ:
أَوَّلُ الْعِلْمِ الصَّمْتُ، ثُمَّ الِاسْتِمَاعُ، ثُمَّ الْحِفْظُ، ثُمَّ
الْعَمَلُ، ثُمَّ نَشْرُهُ.
Dan dikatakan, “Awal ilmu adalah diam, kemudian
mendengarkan, kemudian menghafal, kemudian mengamalkan, lalu menyebarkannya.”
وَقِيلَ:
عَلِّمْ عِلْمَكَ مَنْ يَجْهَلُ، وَتَعَلَّمْ مِمَّنْ يَعْلَمُ مَا تَجْهَلُ.
Dan dikatakan, “Ajarkan ilmumu kepada orang yang tidak
mengetahui, dan belajarlah dari orang yang mengetahui apa yang engkau tidak
ketahui.”
فَإِنَّكَ
إِذَا فَعَلْتَ ذَلِكَ عَلِمْتَ مَا جَهِلْتَ، وَحَفِظْتَ مَا عَلِمْتَ.
Karena jika engkau melakukan hal itu, engkau akan mengetahui
apa yang sebelumnya tidak engkau ketahui, dan engkau akan menjaga apa yang
telah engkau ketahui.
وَقَالَ
مُعَاذُ بْنُ جَبَلٍ فِي التَّعْلِيمِ وَالتَّعَلُّمِ، وَرَأَيْتُهُ أَيْضًا
مَرْفُوعًا: تَعَلَّمُوا الْعِلْمَ، فَإِنَّ تَعَلُّمَهُ لِلَّهِ خَشْيَةٌ،
وَطَلَبَهُ عِبَادَةٌ، وَمُدَارَسَتَهُ تَسْبِيحٌ، وَالْبَحْثَ عَنْهُ جِهَادٌ،
وَتَعْلِيمَهُ مَنْ لَا يَعْلَمُهُ صَدَقَةٌ، وَبَذْلَهُ لِأَهْلِهِ قُرْبَةٌ.
Mu‘adz bin Jabal berkata tentang mengajar dan belajar — dan
aku juga melihatnya diriwayatkan secara marfu‘ — “Pelajarilah ilmu, karena
mempelajarinya karena Allah adalah rasa takut kepada-Nya, mencarinya adalah
ibadah, mempelajarinya bersama-sama adalah tasbih, menelitinya adalah jihad,
mengajarkannya kepada orang yang belum mengetahuinya adalah sedekah, dan
memberikannya kepada orang yang berhak menerimanya adalah pendekatan diri
kepada Allah.”
وَهُوَ
الْأَنِيسُ فِي الْوَحْدَةِ، وَالصَّاحِبُ فِي الْخَلْوَةِ، وَالدَّلِيلُ عَلَى
الدِّينِ، وَالْمُصَبِّرُ عَلَى السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ، وَالْوَزِيرُ عِنْدَ
الْأَخِلَّاءِ، وَالْقَرِيبُ عِنْدَ الْغُرَبَاءِ، وَمَنَارُ سَبِيلِ الْجَنَّةِ.
Ilmu adalah teman dalam kesendirian, sahabat dalam khalwat,
penunjuk kepada agama, penghibur dalam kesenangan dan kesusahan, penolong di
tengah para sahabat, kawan dekat di tengah orang-orang asing, dan pelita jalan
menuju surga.
يَرْفَعُ
اللَّهُ بِهِ أَقْوَامًا، فَيَجْعَلُهُمْ فِي الْخَيْرِ قَادَةً سَادَةً هُدَاةً،
يُقْتَدَى بِهِمْ، أَدِلَّةً فِي الْخَيْرِ، تُقْتَصُّ آثَارُهُمْ، وَتُرْمَقُ
أَفْعَالُهُمْ.
Dengan ilmu, Allah mengangkat derajat suatu kaum, lalu
menjadikan mereka pemimpin-pemimpin dalam kebaikan, tokoh-tokoh panutan,
pembimbing-pembimbing yang diikuti, penunjuk jalan kepada kebaikan; jejak
mereka diikuti dan perbuatan mereka diperhatikan.
وَتَرْغَبُ
الْمَلَائِكَةُ فِي خُلَّتِهِمْ، وَبِأَجْنِحَتِهَا تَمْسَحُهُمْ.
Para malaikat senang bergaul dengan mereka, dan dengan
sayap-sayapnya mereka mengusap mereka.
وَكُلُّ
رَطْبٍ وَيَابِسٍ لَهُمْ يَسْتَغْفِرُ، حَتَّى حِيتَانُ الْبَحْرِ وَهَوَامُّهُ،
وَسِبَاعُ الْبَرِّ وَأَنْعَامُهُ، وَالسَّمَاءُ وَنُجُومُهَا.
Segala yang basah dan yang kering memohonkan ampun untuk
mereka, sampai ikan-ikan di laut dan hewan-hewan kecilnya, binatang buas di
darat dan hewan ternaknya, juga langit dan bintang-bintangnya.
لِأَنَّ
الْعِلْمَ حَيَاةُ الْقُلُوبِ مِنَ الْعَمَى، وَنُورُ الْأَبْصَارِ مِنَ
الظُّلْمَةِ، وَقُوَّةُ الْأَبْدَانِ مِنَ الضَّعْفِ.
Karena ilmu adalah kehidupan hati dari kebutaan, cahaya
penglihatan dari kegelapan, dan kekuatan badan dari kelemahan.
يَبْلُغُ
بِهِ الْعَبْدُ مَنَازِلَ الْأَبْرَارِ وَالدَّرَجَاتِ الْعُلَى.
Dengan ilmu, seorang hamba mencapai kedudukan orang-orang
saleh dan derajat-derajat yang tinggi.
وَالتَّفَكُّرُ
فِيهِ يُعْدَلُ بِالصِّيَامِ، وَمُدَارَسَتُهُ بِالْقِيَامِ.
Memikirkannya sebanding dengan puasa, dan mempelajarinya
bersama-sama sebanding dengan salat malam.
بِهِ
يُطَاعُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ، وَبِهِ يُعْبَدُ، وَبِهِ يُوَحَّدُ، وَبِهِ
يُمَجَّدُ.
Dengan ilmu, Allah ‘Azza wa Jalla ditaati; dengan ilmu pula
Dia disembah, ditauhidkan, dan diagungkan.
وَبِهِ
يُتَوَرَّعُ، وَبِهِ تُوصَلُ الْأَرْحَامُ، وَبِهِ يُعْرَفُ الْحَلَالُ
وَالْحَرَامُ.
Dengan ilmu, seseorang bersikap wara‘; dengan ilmu pula
silaturahim disambung, dan halal serta haram diketahui.
وَهُوَ
إِمَامٌ، وَالْعَمَلُ تَابِعُهُ.
Ilmu itu adalah pemimpin, sedangkan amal mengikutinya.
يُلْهَمُهُ
السُّعَدَاءُ، وَيُحْرَمُهُ الْأَشْقِيَاءُ.
Orang-orang yang berbahagia diberi ilham untuk meraihnya,
sedangkan orang-orang celaka dihalangi darinya.
نَسْأَلُ
اللَّهَ تَعَالَى حُسْنَ التَّوْفِيقِ.
Kita memohon kepada Allah Ta‘ala taufik yang baik