Keutamaan Ilmu #3
وَقَالَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ: مَنْ أُوتِيَ الْقُرْآنَ فَرَأَى أَنَّ أَحَدًا أُوتِيَ خَيْرًا مِنْهُ فَقَدْ حَقَّرَ مَا عَظَّمَ اللَّهُ تَعَالَى
Dan beliau ﷺ bersabda: Barang siapa telah diberi Al-Qur’an, lalu ia memandang bahwa ada seseorang yang diberi sesuatu yang lebih baik darinya, maka sungguh ia telah meremehkan apa yang telah Allah Ta‘ala agungkan.
وَقَالَ فَتْحُ الْمَوْصِلِيُّ رَحِمَهُ اللَّهُ: أَلَيْسَ الْمَرِيضُ إِذَا مُنِعَ الطَّعَامَ وَالشَّرَابَ وَالدَّوَاءَ يَمُوتُ؟
Fath al-Mawṣilī رحمه الله berkata: Bukankah orang sakit apabila dicegah dari makanan, minuman, dan obat, ia akan mati?
قَالُوا: بَلَى
Mereka menjawab: Benar.
قَالَ: كَذَلِكَ الْقَلْبُ إِذَا مُنِعَ عَنْهُ الْحِكْمَةُ وَالْعِلْمُ ثَلَاثَةَ أَيَّامٍ يَمُوتُ
Ia berkata: Demikian pula hati, apabila dihalangi darinya hikmah dan ilmu selama tiga hari, maka ia akan mati.
وَلَقَدْ صَدَقَ
Dan sungguh ia telah berkata benar.
فَإِنَّ غِذَاءَ الْقَلْبِ الْعِلْمُ وَالْحِكْمَةُ
Sesungguhnya makanan hati adalah ilmu dan hikmah.
وَبِهِمَا حَيَاتُهُ
Dan dengan keduanya itulah kehidupan hati.
كَمَا أَنَّ غِذَاءَ الْجَسَدِ الطَّعَامُ
Sebagaimana makanan jasad adalah makanan lahiriah.
وَمَنْ فَقَدَ الْعِلْمَ فَقَلْبُهُ مَرِيضٌ
Barang siapa kehilangan ilmu, maka hatinya sakit.
وَمَوْتُهُ لَازِمٌ
Dan kematiannya adalah keniscayaan.
وَلَكِنَّهُ لَا يَشْعُرُ بِهِ
Namun ia tidak menyadarinya.
إِذْ حُبُّ الدُّنْيَا
Karena cinta kepada dunia,
وَشُغْلُهُ بِهَا أَبْطَلَ إِحْسَاسَهُ
dan kesibukannya dengannya telah menghilangkan rasa dan kesadarannya,
كَمَا أَنَّ غَلَبَةَ الْخَوْفِ
sebagaimana kuatnya rasa takut
قَدْ تُبْطِلُ أَلَمَ الْجِرَاحِ فِي الْحَالِ
dapat menghilangkan rasa sakit luka pada saat itu,
وَإِنْ كَانَ وَاقِعًا
padahal luka itu benar-benar ada.
فَإِذَا حَطَّ الْمَوْتُ عَنْهُ أَعْبَاءَ الدُّنْيَا
Maka apabila kematian telah melepaskan darinya beban-beban dunia,
أَحَسَّ بِهَلَاكِهِ
ia pun merasakan kebinasaannya,
وَتَحَسَّرَ تَحَسُّرًا عَظِيمًا
dan menyesal dengan penyesalan yang sangat besar,
ثُمَّ لَا يَنْفَعُهُ
namun penyesalan itu tidak lagi bermanfaat baginya.
وَذَلِكَ كَإِحْسَاسِ الْآمِنِ خَوْفَهُ
Yang demikian itu seperti rasa takut yang dirasakan orang aman,
وَالْمُفِيقِ مِنْ سُكْرِهِ
dan seperti orang yang sadar dari mabuknya,
بِمَا أَصَابَهُ مِنَ الْجِرَاحَاتِ
terhadap luka-luka yang menimpanya,
فِي حَالَةِ السُّكْرِ أَوِ الْخَوْفِ
pada saat mabuk atau ketakutan.
فَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ يَوْمِ كَشْفِ الْغِطَاءِ
Maka kami berlindung kepada Allah dari hari tersingkapnya tabir.
فَإِنَّ النَّاسَ نِيَامٌ
Karena sesungguhnya manusia itu sedang tidur,
فَإِذَا مَاتُوا انْتَبَهُوا
dan apabila mereka mati, barulah mereka terjaga.
وَقَالَ الْحَسَنُ رَحِمَهُ اللَّهُ: يُوزَنُ مِدَادُ الْعُلَمَاءِ بِدِمَاءِ الشُّهَدَاءِ
Al-Ḥasan رحمه الله berkata: Tinta para ulama akan ditimbang dengan darah para syuhada,
فَيَرْجَحُ مِدَادُ الْعُلَمَاءِ بِدِمَاءِ الشُّهَدَاءِ
maka tinta para ulama lebih berat daripada darah para syuhada.
وَقَالَ ابْنُ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: عَلَيْكُمْ بِالْعِلْمِ قَبْلَ أَنْ يُرْفَعَ
Ibnu Mas‘ūd رضي الله عنه berkata: Wajib atas kalian menuntut ilmu sebelum ia diangkat.
وَرَفْعُهُ مَوْتُ رُوَاتِهِ
Dan pengangkatannya adalah wafatnya para perawinya.
فَوَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ
Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya,
لَيَوَدَّنَّ رِجَالٌ قُتِلُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ شُهَدَاءَ
sungguh orang-orang yang terbunuh di jalan Allah sebagai syuhada,
أَنْ يَبْعَثَهُمُ اللَّهُ عُلَمَاءَ
akan berharap agar Allah membangkitkan mereka sebagai ulama,
لِمَا يَرَوْنَ مِنْ كَرَامَتِهِمْ
karena kemuliaan yang mereka lihat pada para ulama.
فَإِنَّ أَحَدًا لَمْ يُولَدْ عَالِمًا
Sesungguhnya tidak ada seorang pun yang terlahir sebagai orang alim,
وَإِنَّمَا الْعِلْمُ بِالتَّعَلُّمِ
melainkan ilmu itu diperoleh dengan belajar.
وَقَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا: تَذَاكُرُ الْعِلْمِ بَعْضَ لَيْلَةٍ
Ibnu ‘Abbās رضي الله عنهما berkata: Saling mengingatkan ilmu pada sebagian malam
أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ إِحْيَائِهَا
lebih aku cintai daripada menghidupkan malam dengan ibadah semata.
وَكَذَلِكَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ
Demikian pula diriwayatkan dari Abu Hurairah رضي الله عنه,
وَأَحْمَدَ بْنِ حَنْبَلٍ رَحِمَهُ اللَّهُ
dan dari Ahmad bin Hanbal رحمه الله.
وَقَالَ الْحَسَنُ فِي قَوْلِهِ تَعَالَى: {رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً}
Al-Ḥasan berkata tentang firman Allah Ta‘ala: “Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat”,
إِنَّ الْحَسَنَةَ فِي الدُّنْيَا هِيَ الْعِلْمُ وَالْعِبَادَةُ
bahwa kebaikan di dunia adalah ilmu dan ibadah,
وَفِي الْآخِرَةِ هِيَ الْجَنَّةُ
dan kebaikan di akhirat adalah surga.
وَقِيلَ لِبَعْضِ الْحُكَمَاءِ: أَيُّ الْأَشْيَاءِ تُقْتَنَى؟
Ada yang bertanya kepada seorang ahli hikmah: Apakah sesuatu yang paling layak dimiliki?
قَالَ: الْأَشْيَاءُ الَّتِي إِذَا غَرِقَتْ سَفِينَتُكَ سَبَحَتْ مَعَكَ
Ia menjawab: Sesuatu yang apabila kapalmu tenggelam, ia tetap berenang bersamamu,
يَعْنِي الْعِلْمَ
yang dimaksud adalah ilmu.
وَقِيلَ أَرَادَ بِغَرَقِ السَّفِينَةِ هَلَاكَ بَدَنِهِ بِالْمَوْتِ
Dan dikatakan bahwa tenggelamnya kapal itu maksudnya adalah binasanya tubuh dengan kematian.
وَقَالَ بَعْضُهُمْ: مَنْ اتَّخَذَ الْحِكْمَةَ لِجَامًا اتَّخَذَهُ النَّاسُ إِمَامًا
Sebagian mereka berkata: Barang siapa menjadikan hikmah sebagai kendali dirinya, niscaya manusia menjadikannya pemimpin.
وَمَنْ عُرِفَ بِالْحِكْمَةِ لَاحَظَتْهُ الْعُيُونُ بِالْوَقَارِ
Dan siapa yang dikenal dengan hikmah, pandangan mata akan memandangnya dengan kewibawaan.
وَقَالَ الشَّافِعِيُّ رَحِمَهُ اللَّهُ: مِنْ شَرَفِ الْعِلْمِ
Imam asy-Syāfi‘ī رحمه الله berkata: Di antara kemuliaan ilmu adalah
أَنَّ كُلَّ مَنْ نُسِبَ إِلَيْهِ وَلَوْ فِي شَيْءٍ حَقِيرٍ فَرِحَ
bahwa setiap orang yang dinisbatkan kepadanya, walau dalam perkara kecil, akan merasa bangga,
وَمَنْ رُفِعَ عَنْهُ حَزِنَ
dan siapa yang dicabut darinya, ia akan bersedih.
وَقَالَ عُمَرُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: يَا أَيُّهَا النَّاسُ عَلَيْكُمْ بِالْعِلْمِ
‘Umar رضي الله عنه berkata: Wahai manusia, wajib atas kalian menuntut ilmu.
فَإِنَّ لِلَّهِ سُبْحَانَهُ رِدَاءً يُحِبُّهُ
Sesungguhnya Allah Subḥānahu memiliki selendang (kemuliaan) yang Dia cintai.
فَمَنْ طَلَبَ بَابًا مِنَ الْعِلْمِ
Maka siapa yang menempuh satu pintu ilmu,
رَدَاهُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ بِرِدَائِهِ
Allah عز وجل akan memakaikannya selendang tersebut.
فَإِنْ أَذْنَبَ ذَنْبًا اسْتَعْتَبَهُ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ
Jika ia melakukan dosa, Allah memberinya kesempatan bertaubat tiga kali,
لِئَلَّا يَسْلُبَهُ رِدَاءَهُ ذَلِكَ
agar selendang itu tidak dicabut darinya,
وَإِنْ تَطَاوَلَ بِهِ ذَلِكَ الذَّنْبُ حَتَّى يَمُوتَ
meskipun dosa itu terus berlanjut hingga ia meninggal.
وَقَالَ الْأَحْنَفُ رَحِمَهُ اللَّهُ: كَادَ الْعُلَمَاءُ أَنْ يَكُونُوا أَرْبَابًا
Al-Aḥnaf رحمه الله berkata: Hampir saja para ulama itu menjadi seperti para tuan.
وَكُلُّ عِزٍّ لَمْ يُوَطَّدْ بِعِلْمٍ فَإِلَى ذُلٍّ مَصِيرُهُ
Dan setiap kemuliaan yang tidak ditegakkan dengan ilmu, ujungnya adalah kehinaan.
وَقَالَ سَالِمُ بْنُ أَبِي الْجَعْدِ: اشْتَرَانِي مَوْلَايَ بِثَلَاثِمِائَةِ دِرْهَمٍ وَأَعْتَقَنِي
Sālim bin Abī al-Ja‘d berkata: Tuanku membeliku dengan tiga ratus dirham lalu memerdekakanku.
فَقُلْتُ: بِأَيِّ شَيْءٍ أَحْتَرِفُ؟
Aku berkata: Dengan apa aku harus mencari penghidupan?
فَاحْتَرَفْتُ بِالْعِلْمِ
Maka aku memilih ilmu sebagai pekerjaanku.
فَمَا تَمَّتْ لِي سَنَةٌ
Tidak genap setahun,
حَتَّى أَتَانِي أَمِيرُ الْمَدِينَةِ زَائِرًا
hingga Amir Madinah datang mengunjungiku,
فَلَمْ آذَنْ لَهُ
namun aku tidak mengizinkannya masuk.
وَقَالَ الزُّبَيْرُ بْنُ أَبِي بَكْرٍ: كَتَبَ إِلَيَّ أَبِي بِالْعِرَاقِ
Az-Zubair bin Abī Bakr berkata: Ayahku menulis surat kepadaku dari Irak:
عَلَيْكَ بِالْعِلْمِ
Wajib atasmu menuntut ilmu.
فَإِنَّكَ إِنِ افْتَقَرْتَ كَانَ لَكَ مَالًا
Jika engkau miskin, ilmu akan menjadi hartamu.
وَإِنِ اسْتَغْنَيْتَ كَانَ لَكَ جَمَالًا
Dan jika engkau kaya, ilmu akan menjadi perhiasanmu.
وَحُكِيَ ذَلِكَ فِي وَصَايَا لُقْمَانَ لِابْنِهِ
Hal itu juga diriwayatkan dalam wasiat Luqman kepada putranya,
قَالَ: يَا بُنَيَّ جَالِسِ الْعُلَمَاءَ
Ia berkata: Wahai anakku, duduklah bersama para ulama,
وَزَاحِمْهُمْ بِرُكْبَتَيْكَ
dan desaklah mereka dengan lututmu (bersungguh-sungguhlah mendekat),
فَإِنَّ اللَّهَ سُبْحَانَهُ يُحْيِي الْقُلُوبَ بِنُورِ الْحِكْمَةِ
karena sesungguhnya Allah menghidupkan hati dengan cahaya hikmah,
كَمَا يُحْيِي الْأَرْضَ بِوَابِلِ السَّمَاءِ
sebagaimana Dia menghidupkan bumi dengan hujan yang deras.
وَقَالَ بَعْضُ الْحُكَمَاءِ: إِذَا مَاتَ الْعَالِمُ بَكَاهُ الْحُوتُ فِي الْمَاءِ
Sebagian ahli hikmah berkata: Apabila seorang alim wafat, ikan-ikan di air menangisinya,
وَالطَّيْرُ فِي الْهَوَاءِ
dan burung-burung di udara pun menangisinya.
وَيُفْقَدُ وَجْهُهُ وَلَا يُنْسَى ذِكْرُهُ
Wajahnya hilang, tetapi namanya tidak pernah dilupakan.
وَقَالَ الزُّهْرِيُّ رَحِمَهُ اللَّهُ: الْعِلْمُ ذَكَرٌ
Az-Zuhrī رحمه الله berkata: Ilmu itu bersifat mulia dan kuat.
وَلَا تُحِبُّهُ إِلَّا ذُكْرَانُ الرِّجَالِ
Dan tidak mencintainya kecuali laki-laki sejati (orang-orang yang berjiwa kuat).