Ilmu Mukasyafah dan Ilmu Muamalah

 فَالْقِسْمُ الْأَوَّلُ: عِلْمُ الْمُكَاشَفَةِ، وَهُوَ عِلْمُ الْبَاطِنِ، وَذٰلِكَ غَايَةُ الْعُلُومِ.

Bagian pertama adalah ilmu mukasyafah, yaitu ilmu batin, dan itulah puncak segala ilmu.

فَقَدْ قَالَ بَعْضُ الْعَارِفِينَ: مَنْ لَمْ يَكُنْ لَهُ نَصِيبٌ مِنْ هٰذَا الْعِلْمِ أَخَافُ عَلَيْهِ سُوءَ الْخَاتِمَةِ.

Sebagian orang arif berkata, “Siapa yang tidak memiliki bagian dari ilmu ini, aku khawatir ia akan mengalami akhir hidup yang buruk.”

وَأَدْنَى نَصِيبٍ مِنْهُ التَّصْدِيقُ بِهِ وَتَسْلِيمُهُ لِأَهْلِهِ.

Bagian paling rendah dari ilmu ini adalah membenarkannya dan menyerahkannya kepada ahlinya.

وَقَالَ آخَرُ: مَنْ كَانَ فِيهِ خَصْلَتَانِ لَمْ يُفْتَحْ لَهُ بِشَيْءٍ مِنْ هٰذَا الْعِلْمِ: بِدْعَةٌ أَوْ كِبْرٌ.

Orang lain berkata, “Siapa yang memiliki dua sifat, tidak akan dibukakan baginya sedikit pun dari ilmu ini: bid‘ah atau kesombongan.”

وَقِيلَ: مَنْ كَانَ مُحِبًّا لِلدُّنْيَا أَوْ مُصِرًّا عَلَى هَوًى لَمْ يَتَحَقَّقْ بِهِ، وَقَدْ يَتَحَقَّقُ بِسَائِرِ الْعُلُومِ.

Dan dikatakan, “Siapa yang mencintai dunia atau terus-menerus mengikuti hawa nafsu, ia tidak akan sampai kepada hakikat ilmu ini, meskipun mungkin ia menguasai ilmu-ilmu lainnya.”

وَأَقَلُّ عُقُوبَةِ مَنْ يُنْكِرُهُ أَنَّهُ لَا يَذُوقُ مِنْهُ شَيْئًا.

Hukuman yang paling ringan bagi orang yang mengingkarinya adalah bahwa ia tidak akan merasakan sedikit pun darinya.

وَيُنْشِدُ عَلَى قَوْلِهِ: وَارْضَ لِمَنْ غَابَ عَنْكَ غَيْبَتُهُ، فَذَاكَ ذَنْبٌ عِقَابُهُ فِيهِ.

Lalu dibacakan syair: “Terimalah bahwa orang yang tidak hadir darimu, ketidakhadirannya itulah hukumannya; sebab dosa itu telah terdapat dalam hukumannya sendiri.”

وَهُوَ عِلْمُ الصِّدِّيقِينَ وَالْمُقَرَّبِينَ، أَعْنِي عِلْمَ الْمُكَاشَفَةِ.

Ilmu ini adalah ilmu orang-orang shiddiq dan orang-orang yang didekatkan kepada Allah, yakni ilmu mukasyafah.

فَهُوَ عِبَارَةٌ عَنْ نُورٍ يَظْهَرُ فِي الْقَلْبِ عِنْدَ تَطْهِيرِهِ وَتَزْكِيَتِهِ مِنْ صِفَاتِهِ الْمَذْمُومَةِ.

Ilmu mukasyafah adalah cahaya yang tampak dalam hati ketika hati itu dibersihkan dan disucikan dari sifat-sifatnya yang tercela.

وَيَنْكَشِفُ مِنْ ذٰلِكَ النُّورِ أُمُورٌ كَثِيرَةٌ كَانَ يَسْمَعُ مِنْ قَبْلُ أَسْمَاءَهَا، فَيَتَوَهَّمُ لَهَا مَعَانِيَ مُجْمَلَةً غَيْرَ مُتَّضِحَةٍ، فَتَتَّضِحُ إِذْ ذَاكَ.

Dari cahaya itu tersingkap banyak hal yang sebelumnya hanya didengar nama-namanya, lalu orang hanya membayangkan makna-makna global yang belum jelas, kemudian pada saat itu semuanya menjadi jelas.

حَتَّى تَحْصُلَ الْمَعْرِفَةُ الْحَقِيقِيَّةُ بِذَاتِ اللَّهِ سُبْحَانَهُ، وَبِصِفَاتِهِ الْبَاقِيَاتِ التَّامَّاتِ، وَبِأَفْعَالِهِ.

Sampai akhirnya diperoleh pengenalan yang hakiki terhadap zat Allah Subhanahu wa Ta‘ala, sifat-sifat-Nya yang kekal dan sempurna, serta perbuatan-perbuatan-Nya.

وَبِحِكْمَتِهِ فِي خَلْقِ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ، وَوَجْهِ تَرْتِيبِهِ لِلْآخِرَةِ عَلَى الدُّنْيَا.

Juga terhadap hikmah-Nya dalam menciptakan dunia dan akhirat, serta bagaimana Dia menata akhirat berdasarkan dunia.

وَالْمَعْرِفَةُ بِمَعْنَى النُّبُوَّةِ وَالنَّبِيِّ، وَمَعْنَى الْوَحْيِ، وَمَعْنَى الشَّيْطَانِ، وَمَعْنَى لَفْظِ الْمَلَائِكَةِ وَالشَّيَاطِينِ.

Dan juga pengenalan terhadap makna kenabian dan nabi, makna wahyu, makna setan, serta makna lafaz malaikat dan setan-setan.

وَكَيْفِيَّةِ مُعَادَاةِ الشَّيَاطِينِ لِلْإِنْسَانِ، وَكَيْفِيَّةِ ظُهُورِ الْمَلَكِ لِلْأَنْبِيَاءِ، وَكَيْفِيَّةِ وُصُولِ الْوَحْيِ إِلَيْهِمْ.

Juga bagaimana setan-setan memusuhi manusia, bagaimana malaikat menampakkan diri kepada para nabi, dan bagaimana wahyu sampai kepada mereka.

وَالْمَعْرِفَةُ بِمَلَكُوتِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ، وَمَعْرِفَةُ الْقَلْبِ، وَكَيْفِيَّةُ تَصَادُمِ جُنُودِ الْمَلَائِكَةِ وَالشَّيَاطِينِ فِيهِ، وَمَعْرِفَةُ الْفَرْقِ بَيْنَ لَمَّةِ الْمَلَكِ وَلَمَّةِ الشَّيْطَانِ.

Juga pengenalan terhadap kerajaan langit dan bumi, pengenalan terhadap hati, bagaimana pasukan malaikat dan setan saling berbenturan di dalamnya, serta mengetahui perbedaan antara ilham malaikat dan bisikan setan.

وَمَعْرِفَةُ الْآخِرَةِ وَالْجَنَّةِ وَالنَّارِ وَعَذَابِ الْقَبْرِ وَالصِّرَاطِ وَالْمِيزَانِ وَالْحِسَابِ.

Dan juga pengetahuan tentang akhirat, surga, neraka, azab kubur, shirath, mizan, dan hisab.

وَمَعْنَى قَوْلِهِ تَعَالَى: {اقْرَأْ كِتَابَكَ كَفَىٰ بِنَفْسِكَ الْيَوْمَ عَلَيْكَ حَسِيبًا}.

Juga makna firman Allah Ta‘ala, “Bacalah kitabmu. Cukuplah dirimu sendiri pada hari ini sebagai penghitung atasmu.”

وَمَعْنَى قَوْلِهِ تَعَالَى: {وَإِنَّ الدَّارَ الْآخِرَةَ لَهِيَ الْحَيَوَانُ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ}.

Dan makna firman Allah Ta‘ala, “Sesungguhnya negeri akhirat itulah kehidupan yang sebenarnya, seandainya mereka mengetahui.”

وَمَعْنَى لِقَاءِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ، وَالنَّظَرِ إِلَى وَجْهِهِ الْكَرِيمِ، وَمَعْنَى الْقُرْبِ مِنْهُ، وَالنُّزُولِ فِي جِوَارِهِ.

Juga makna perjumpaan dengan Allah ‘Azza wa Jalla, memandang wajah-Nya yang mulia, makna kedekatan dengan-Nya, dan berdiam di sisi-Nya.

وَمَعْنَى حُصُولِ السَّعَادَةِ بِمُرَافَقَةِ الْمَلَإِ الْأَعْلَى وَمُقَارَنَةِ الْمَلَائِكَةِ وَالنَّبِيِّينَ.

Dan makna diperolehnya kebahagiaan dengan menyertai golongan tertinggi, para malaikat, dan para nabi.

وَمَعْنَى تَفَاوُتِ دَرَجَاتِ أَهْلِ الْجِنَانِ، حَتَّى يَرَى بَعْضُهُمْ بَعْضًا كَمَا يُرَى الْكَوْكَبُ الدُّرِّيُّ فِي جَوْفِ السَّمَاءِ.

Juga makna perbedaan derajat para penghuni surga, hingga sebagian mereka melihat sebagian yang lain sebagaimana bintang yang bersinar terang terlihat di tengah langit.

إِلَى غَيْرِ ذٰلِكَ مِمَّا يَطُولُ تَفْصِيلُهُ.

Dan masih banyak hal lain yang jika dirinci akan sangat panjang.

إِذْ لِلنَّاسِ فِي مَعَانِي هٰذِهِ الْأُمُورِ بَعْدَ التَّصْدِيقِ بِأُصُولِهَا مَقَامَاتٌ شَتَّى.

Karena manusia, setelah membenarkan pokok-pokok perkara ini, memiliki tingkatan yang beragam dalam memahami makna-maknanya.

فَبَعْضُهُمْ يَرَى أَنَّ جَمِيعَ ذٰلِكَ أَمْثَالٌ، وَأَنَّ الَّذِي أَعَدَّهُ اللَّهُ لِعِبَادِهِ الصَّالِحِينَ مَا لَا عَيْنٌ رَأَتْ، وَلَا أُذُنٌ سَمِعَتْ، وَلَا خَطَرَ عَلَى قَلْبِ بَشَرٍ، وَأَنَّهُ لَيْسَ مَعَ الْخَلْقِ مِنَ الْجَنَّةِ إِلَّا الصِّفَاتُ وَالْأَسْمَاءُ.

Sebagian mereka berpendapat bahwa semua itu hanyalah perumpamaan, dan bahwa apa yang Allah siapkan bagi hamba-hamba-Nya yang saleh adalah sesuatu yang tidak pernah dilihat mata, tidak pernah didengar telinga, dan tidak pernah terlintas di hati manusia, serta bahwa apa yang diketahui makhluk tentang surga hanyalah sifat-sifat dan nama-namanya saja.

وَبَعْضُهُمْ يَرَى أَنَّ بَعْضَهَا أَمْثَالٌ، وَبَعْضَهَا يُوَافِقُ حَقَائِقَهَا الْمَفْهُومَةَ مِنْ أَلْفَاظِهَا.

Sebagian yang lain berpendapat bahwa sebagian dari perkara-perkara itu merupakan perumpamaan, dan sebagian lainnya sesuai dengan hakikat yang dipahami dari lafaz-lafaznya.

وَكَذٰلِكَ يَرَى بَعْضُهُمْ أَنَّ مُنْتَهَى مَعْرِفَةِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ الِاعْتِرَافُ بِالْعَجْزِ عَنْ مَعْرِفَتِهِ.

Demikian pula, sebagian mereka berpendapat bahwa puncak mengenal Allah ‘Azza wa Jalla adalah mengakui ketidakmampuan untuk mengenal-Nya.

وَبَعْضُهُمْ يَدَّعِي أُمُورًا عَظِيمَةً فِي الْمَعْرِفَةِ بِاللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ.

Dan sebagian yang lain mengklaim hal-hal besar dalam pengenalan kepada Allah ‘Azza wa Jalla.

وَبَعْضُهُمْ يَقُولُ: حَدُّ مَعْرِفَةِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ مَا انْتَهَى إِلَيْهِ اعْتِقَادُ جَمِيعِ الْعَوَامِّ، وَهُوَ أَنَّهُ مَوْجُودٌ، عَالِمٌ، قَادِرٌ، سَمِيعٌ، بَصِيرٌ، مُتَكَلِّمٌ.

Dan sebagian lagi berkata, “Batas mengenal Allah ‘Azza wa Jalla hanyalah sebatas keyakinan umum orang awam, yaitu bahwa Dia ada, berilmu, berkuasa, mendengar, melihat, dan berbicara.”

فَنَعْنِي بِعِلْمِ الْمُكَاشَفَةِ أَنْ يَرْتَفِعَ الْغِطَاءُ حَتَّى تَتَّضِحَ لَهُ جَلِيَّةُ الْحَقِّ فِي هٰذِهِ الْأُمُورِ اتِّضَاحًا يَجْرِي مَجْرَى الْعِيَانِ الَّذِي لَا شَكَّ فِيهِ.

Yang kami maksud dengan ilmu mukasyafah adalah terangkatnya tabir, sehingga hakikat kebenaran dalam perkara-perkara ini menjadi jelas baginya dengan kejelasan yang menyerupai penyaksian langsung yang tidak mengandung keraguan.

وَهٰذَا مُمْكِنٌ فِي جَوْهَرِ الْإِنْسَانِ، لَوْلَا أَنَّ مِرْآةَ الْقَلْبِ قَدْ تَرَاكَمَ صَدَؤُهَا وَخُبْثُهَا بِقَاذُورَاتِ الدُّنْيَا.

Hal ini mungkin dalam hakikat diri manusia, seandainya cermin hati tidak dipenuhi oleh karat dan kotoran akibat najis-najis dunia.

وَإِنَّمَا نَعْنِي بِعِلْمِ طَرِيقِ الْآخِرَةِ الْعِلْمَ بِكَيْفِيَّةِ تَصْقِيلِ هٰذِهِ الْمِرْآةِ عَنْ هٰذِهِ الْخَبَائِثِ الَّتِي هِيَ الْحِجَابُ عَنِ اللَّهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى، وَعَنْ مَعْرِفَةِ صِفَاتِهِ وَأَفْعَالِهِ.

Yang kami maksud dengan ilmu jalan akhirat adalah ilmu tentang bagaimana memoles cermin ini dari segala kotoran yang menjadi penghalang dari Allah Subhanahu wa Ta‘ala, serta dari mengenal sifat-sifat dan perbuatan-perbuatan-Nya.

وَإِنَّمَا تَصْفِيَتُهَا وَتَطْهِيرُهَا بِالْكَفِّ عَنِ الشَّهَوَاتِ، وَالِاقْتِدَاءِ بِالْأَنْبِيَاءِ صَلَوَاتُ اللَّهِ وَسَلَامُهُ عَلَيْهِمْ فِي جَمِيعِ أَحْوَالِهِمْ.

Penyucian dan pembersihannya hanya dapat dilakukan dengan menahan diri dari syahwat serta meneladani para nabi, semoga salawat dan salam Allah tercurah kepada mereka, dalam seluruh keadaan mereka.

فَبِقَدْرِ مَا يَنْجَلِي مِنَ الْقَلْبِ وَيُحَاذِي بِهِ شَطْرَ الْحَقِّ يَتَلَأْلَأُ فِيهِ حَقَائِقُهُ.

Sejauh mana hati menjadi jernih dan menghadap kepada sisi kebenaran, sejauh itu pula hakikat-hakikat kebenaran bercahaya di dalamnya.

وَلَا سَبِيلَ إِلَيْهِ إِلَّا بِالرِّيَاضَةِ الَّتِي يَأْتِي تَفْصِيلُهَا فِي مَوْضِعِهَا، وَبِالْعِلْمِ وَالتَّعْلِيمِ.

Dan tidak ada jalan menuju hal itu kecuali dengan latihan jiwa yang rinciannya akan dijelaskan pada tempatnya, serta dengan ilmu dan pengajaran.

وَهٰذِهِ هِيَ الْعُلُومُ الَّتِي لَا تُسَطَّرُ فِي الْكُتُبِ، وَلَا يَتَحَدَّثُ بِهَا مَنْ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِ بِشَيْءٍ مِنْهَا إِلَّا مَعَ أَهْلِهِ، وَهُوَ الْمُشَارِكُ فِيهِ عَلَى سَبِيلِ الْمُذَاكَرَةِ وَبِطَرِيقِ الْأَسْرَارِ.

Inilah ilmu-ilmu yang tidak dituliskan di dalam kitab-kitab, dan orang yang Allah anugerahi sesuatu darinya tidak membicarakannya kecuali kepada ahlinya, yaitu orang yang turut berbagi di dalamnya melalui saling mengingatkan dan dengan jalan rahasia.

وَهٰذَا هُوَ الْعِلْمُ الْخَفِيُّ الَّذِي أَرَادَهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِقَوْلِهِ: إِنَّ مِنَ الْعِلْمِ كَهَيْئَةِ الْمَكْنُونِ، لَا يَعْلَمُهُ إِلَّا أَهْلُ الْمَعْرِفَةِ بِاللَّهِ تَعَالَى.

Inilah ilmu tersembunyi yang dimaksud oleh Nabi  dalam sabdanya, “Sesungguhnya sebagian ilmu itu seperti sesuatu yang tersimpan, yang tidak diketahui kecuali oleh orang-orang yang mengenal Allah Ta‘ala.”

فَإِذَا نَطَقُوا بِهِ لَمْ يَجْهَلْهُ إِلَّا أَهْلُ الِاغْتِرَارِ بِاللَّهِ تَعَالَى.

Apabila mereka mengungkapkannya, maka yang mengingkarinya hanyalah orang-orang yang tertipu terhadap Allah Ta‘ala.

فَلَا تَحْقِرُوا عَالِمًا آتَاهُ اللَّهُ تَعَالَى عِلْمًا مِنْهُ، فَإِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ لَمْ يَحْقِرْهُ إِذْ آتَاهُ إِيَّاهُ.

Karena itu, janganlah kalian meremehkan seorang alim yang Allah Ta‘ala beri sebagian ilmu ini, sebab Allah ‘Azza wa Jalla tidak meremehkannya ketika memberinya ilmu tersebut.

وَأَمَّا الْقِسْمُ الثَّانِي، وَهُوَ عِلْمُ الْمُعَامَلَةِ، فَهُوَ عِلْمُ أَحْوَالِ الْقَلْبِ.

Adapun bagian kedua, yaitu ilmu muamalah, maka ia adalah ilmu tentang keadaan-keadaan hati.

أَمَّا مَا يُحْمَدُ مِنْهَا فَكَالصَّبْرِ، وَالشُّكْرِ، وَالْخَوْفِ، وَالرَّجَاءِ، وَالرِّضَا، وَالزُّهْدِ، وَالتَّقْوَى، وَالْقَنَاعَةِ، وَالسَّخَاءِ، وَمَعْرِفَةِ الْمِنَّةِ لِلَّهِ تَعَالَى فِي جَمِيعِ الْأَحْوَالِ.

Adapun keadaan hati yang terpuji, maka di antaranya adalah sabar, syukur, takut, harap, ridha, zuhud, takwa, qana‘ah, dermawan, dan menyadari karunia Allah Ta‘ala dalam seluruh keadaan.

وَالْإِحْسَانِ، وَحُسْنِ الظَّنِّ، وَحُسْنِ الْخُلُقِ، وَحُسْنِ الْمُعَاشَرَةِ، وَالصِّدْقِ، وَالْإِخْلَاصِ.

Juga ihsan, berbaik sangka, akhlak yang baik, pergaulan yang baik, kejujuran, dan keikhlasan.

فَمَعْرِفَةُ حَقَائِقِ هٰذِهِ الْأَحْوَالِ وَحُدُودِهَا وَأَسْبَابِهَا الَّتِي بِهَا تُكْتَسَبُ، وَثَمَرَتِهَا وَعَلَامَتِهَا، وَمُعَالَجَةُ مَا ضَعُفَ مِنْهَا حَتَّى يَقْوَى، وَمَا زَالَ حَتَّى يَعُودَ، مِنْ عِلْمِ الْآخِرَةِ.

Maka mengetahui hakikat keadaan-keadaan ini, batas-batasnya, sebab-sebab yang dengannya ia dapat diperoleh, buahnya, tanda-tandanya, serta cara mengobati yang lemah darinya hingga menjadi kuat, dan yang telah hilang hingga kembali lagi, semua itu termasuk ilmu akhirat.

 

وَأَمَّا مَا يُذَمُّ فَخَوْفُ الْفَقْرِ، وَسَخَطُ الْمَقْدُورِ، وَالْغِلُّ، وَالْحِقْدُ، وَالْحَسَدُ، وَالْغِشُّ، وَطَلَبُ الْعُلُوِّ، وَحُبُّ الثَّنَاءِ، وَحُبُّ طُولِ الْبَقَاءِ فِي الدُّنْيَا لِلتَّمَتُّعِ، وَالْكِبْرُ، وَالرِّيَاءُ، وَالْغَضَبُ، وَالْأَنَفَةُ، وَالْعَدَاوَةُ، وَالْبَغْضَاءُ، وَالطَّمَعُ، وَالْبُخْلُ، وَالرَّغْبَةُ، وَالْبَذَخُ، وَالْأَشَرُ، وَالْبَطَرُ، وَتَعْظِيمُ الْأَغْنِيَاءِ، وَالِاسْتِهَانَةُ بِالْفُقَرَاءِ، وَالْفَخْرُ، وَالْخُيَلَاءُ، وَالتَّنَافُسُ، وَالْمُبَاهَاةُ، وَالِاسْتِكْبَارُ عَنِ الْحَقِّ، وَالْخَوْضُ فِيمَا لَا يَعْنِي، وَحُبُّ كَثْرَةِ الْكَلَامِ، وَالصَّلَفُ، وَالتَّزَيُّنُ لِلْخَلْقِ، وَالْمُدَاهَنَةُ، وَالْعُجْبُ، وَالِاشْتِغَالُ عَنْ عُيُوبِ النَّفْسِ بِعُيُوبِ النَّاسِ، وَزَوَالُ الْحُزْنِ مِنَ الْقَلْبِ، وَخُرُوجُ الْخَشْيَةِ مِنْهُ، وَشِدَّةُ الِانْتِصَارِ لِلنَّفْسِ إِذَا نَالَهَا الذُّلُّ، وَضَعْفُ الِانْتِصَارِ لِلْحَقِّ، وَاتِّخَاذُ إِخْوَانِ الْعَلَانِيَةِ عَلَى عَدَاوَةِ السِّرِّ، وَالْأَمْنُ مِنْ مَكْرِ اللَّهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى فِي سَلْبِ مَا أَعْطَى، وَالِاتِّكَالُ عَلَى الطَّاعَةِ، وَالْمَكْرُ، وَالْخِيَانَةُ، وَالْمُخَادَعَةُ، وَطُولُ الْأَمَلِ، وَالْقَسْوَةُ، وَالْفَظَاظَةُ، وَالْفَرَحُ بِالدُّنْيَا، وَالْأَسَفُ عَلَى فَوَاتِهَا، وَالْأُنْسُ بِالْمَخْلُوقِينَ، وَالْوَحْشَةُ لِفِرَاقِهِمْ، وَالْجَفَاءُ، وَالطَّيْشُ، وَالْعَجَلَةُ، وَقِلَّةُ الْحَيَاءِ، وَقِلَّةُ الرَّحْمَةِ.

Adapun keadaan-keadaan hati yang tercela, maka di antaranya adalah takut miskin, membenci ketetapan takdir, dengki tersembunyi, dendam, hasad, curang, mencari kedudukan tinggi, senang dipuji, suka hidup lama di dunia untuk bersenang-senang, sombong, riya, marah, angkuh, permusuhan, kebencian, tamak, bakhil, rakus, berlebih-lebihan dalam kemewahan, kesombongan karena nikmat, berlaku pongah, mengagungkan orang-orang kaya, meremehkan orang-orang miskin, membanggakan diri, berlagak angkuh, berlomba-lomba untuk menang, saling bermegah-megahan, menyombongkan diri terhadap kebenaran, membicarakan hal-hal yang tidak berguna, suka banyak bicara, congkak, berhias untuk dipandang manusia, bermudah-mudahan dalam urusan agama demi menyenangkan orang lain, ujub, sibuk dengan cacat orang lain hingga lalai dari cacat diri sendiri, hilangnya kesedihan dari hati, keluarnya rasa takut kepada Allah dari hati, sangat membela diri ketika dihina, lemah dalam membela kebenaran, menjadikan persaudaraan lahiriah di atas permusuhan batiniah, merasa aman dari makar Allah Subhanahu wa Ta‘ala dalam dicabutnya nikmat yang telah diberikan, bersandar kepada amal ketaatan, tipu daya, pengkhianatan, muslihat, panjang angan-angan, keras hati, kasar tabiat, bergembira dengan dunia, bersedih atas hilangnya dunia, merasa tenteram dengan makhluk, merasa asing saat berpisah dari mereka, bersikap keras, ceroboh, tergesa-gesa, sedikit rasa malu, dan sedikit kasih sayang.

فَهٰذِهِ وَأَمْثَالُهَا مِنْ صِفَاتِ الْقَلْبِ مَغَارِسُ الْفَوَاحِشِ وَمَنَابِتُ الْأَعْمَالِ الْمَحْظُورَةِ.

Semua itu dan yang semisal dengannya termasuk sifat-sifat hati yang menjadi tempat tumbuhnya perbuatan-perbuatan keji dan sumber tumbuhnya amal-amal yang terlarang.

وَأَضْدَادُهَا، وَهِيَ الْأَخْلَاقُ الْمَحْمُودَةُ، مَنْبَعُ الطَّاعَاتِ وَالْقُرُبَاتِ.

Lawan dari sifat-sifat itu, yaitu akhlak-akhlak yang terpuji, adalah sumber lahirnya ketaatan dan pendekatan diri kepada Allah.

فَالْعِلْمُ بِحُدُودِ هٰذِهِ الْأُمُورِ وَحَقَائِقِهَا وَأَسْبَابِهَا وَثَمَرَاتِهَا وَعِلَاجِهَا هُوَ عِلْمُ الْآخِرَةِ.

Maka ilmu tentang batas-batas perkara-perkara ini, hakikat-hakikatnya, sebab-sebabnya, buah-buahnya, dan cara mengobatinya, adalah ilmu akhirat.

وَهُوَ فَرْضُ عَيْنٍ فِي فَتْوَى عُلَمَاءِ الْآخِرَةِ.

Dan ilmu itu merupakan fardu ‘ain menurut fatwa para ulama akhirat.

فَالْمُعْرِضُ عَنْهَا هَالِكٌ بِسَطْوَةِ مَلِكِ الْمُلُوكِ فِي الْآخِرَةِ، كَمَا أَنَّ الْمُعْرِضَ عَنِ الْأَعْمَالِ الظَّاهِرَةِ هَالِكٌ بِسَيْفِ سَلَاطِينِ الدُّنْيَا بِحُكْمِ فَتْوَى فُقَهَاءِ الدُّنْيَا.

Orang yang berpaling darinya akan binasa karena hukuman Raja segala raja di akhirat, sebagaimana orang yang berpaling dari amalan-amalan lahiriah akan binasa oleh pedang para penguasa dunia berdasarkan fatwa fuqaha dunia.

فَنَظَرُ الْفُقَهَاءِ فِي فُرُوضِ الْعَيْنِ بِالْإِضَافَةِ إِلَى صَلَاحِ الدُّنْيَا، وَهٰذَا بِالْإِضَافَةِ إِلَى صَلَاحِ الْآخِرَةِ.

Perhatian para fuqaha terhadap fardu ‘ain ditinjau dari segi tertibnya urusan dunia, sedangkan pembahasan ini ditinjau dari segi keselamatan akhirat.

وَلَوْ سُئِلَ فَقِيهٌ عَنْ مَعْنًى مِنْ هٰذِهِ الْمَعَانِي، حَتَّى عَنِ الْإِخْلَاصِ مَثَلًا، أَوْ عَنِ التَّوَكُّلِ، أَوْ عَنْ وَجْهِ الِاحْتِرَازِ عَنِ الرِّيَاءِ، لَتَوَقَّفَ فِيهِ.

Seandainya seorang fakih ditanya tentang salah satu dari makna-makna ini, bahkan tentang ikhlas misalnya, atau tentang tawakal, atau tentang cara menjaga diri dari riya, niscaya ia akan terdiam dan kesulitan menjawabnya.

مَعَ أَنَّهُ فَرْضُ عَيْنِهِ الَّذِي فِي إِهْمَالِهِ هَلَاكُهُ فِي الْآخِرَةِ.

Padahal itulah fardu ‘ain atas dirinya, yang jika ia abaikan, ia akan binasa di akhirat.

وَلَوْ سَأَلْتَهُ عَنِ اللِّعَانِ وَالظِّهَارِ وَالسَّبْقِ وَالرَّمْيِ لَسَرَدَ عَلَيْكَ مُجَلَّدَاتٍ مِنَ التَّفْرِيعَاتِ الدَّقِيقَةِ الَّتِي تَنْقَضِي الدُّهُورُ وَلَا يُحْتَاجُ إِلَى شَيْءٍ مِنْهَا.

Tetapi jika engkau bertanya kepadanya tentang li‘an, zhihar, perlombaan, dan memanah, niscaya ia akan menguraikan kepadamu berjilid-jilid rincian yang halus, yang waktu berabad-abad pun bisa habis untuk itu, padahal hampir tidak ada yang membutuhkannya.

وَإِنِ احْتِيجَ لَمْ تَخْلُ الْبَلْدَةُ عَمَّنْ يَقُومُ بِهَا، وَيَكْفِيهِ مَؤُونَةَ التَّعَبِ فِيهَا.

Kalaupun ilmu itu dibutuhkan, suatu negeri biasanya tidak kosong dari orang yang dapat menanganinya, sehingga beban kesusahannya telah cukup ditanggung oleh orang lain.

فَلَا يَزَالُ يَتْعَبُ فِيهَا لَيْلًا وَنَهَارًا، وَفِي حِفْظِهِ وَدَرْسِهِ يَغْفُلُ عَمَّا هُوَ مُهِمٌّ فِي نَفْسِهِ فِي الدِّينِ.

Akan tetapi, ia terus bersusah payah mempelajarinya siang dan malam, dan dalam hafalan serta pelajarannya itu ia lalai dari perkara yang sebenarnya penting bagi dirinya dalam agama.

وَإِذَا رُوجِعَ فِيهِ قَالَ: اشْتَغَلْتُ بِهِ لِأَنَّهُ عِلْمُ الدِّينِ وَفَرْضُ الْكِفَايَةِ.

Jika ditegur tentang hal itu, ia berkata, “Aku menyibukkan diri dengannya karena ini adalah ilmu agama dan termasuk fardu kifayah.”

وَيُلَبِّسُ عَلَى نَفْسِهِ وَعَلَى غَيْرِهِ فِي تَعَلُّمِهِ.

Dengan demikian, ia menipu dirinya sendiri dan juga menipu orang lain dalam proses belajarnya.

وَالْفَطِنُ يَعْلَمُ أَنَّهُ لَوْ كَانَ غَرَضُهُ أَدَاءَ حَقِّ الْأَمْرِ فِي فَرْضِ الْكِفَايَةِ، لَقَدَّمَ عَلَيْهِ فَرْضَ الْعَيْنِ، بَلْ قَدَّمَ عَلَيْهِ كَثِيرًا مِنْ فُرُوضِ الْكِفَايَاتِ.

Orang yang cerdas mengetahui bahwa seandainya tujuannya benar-benar untuk menunaikan hak perintah dalam fardu kifayah, niscaya ia akan mendahulukan fardu ‘ain atasnya, bahkan akan mendahulukan banyak fardu kifayah lain yang lebih penting.

فَكَمْ مِنْ بَلْدَةٍ لَيْسَ فِيهَا طَبِيبٌ إِلَّا مِنْ أَهْلِ الذِّمَّةِ، وَلَا يَجُوزُ قَبُولُ شَهَادَتِهِمْ فِيمَا يَتَعَلَّقُ بِالْأَطِبَّاءِ مِنْ أَحْكَامِ الْفِقْهِ.

Betapa banyak negeri yang tidak memiliki dokter kecuali dari kalangan ahlu dzimmah, padahal kesaksian mereka tidak boleh diterima dalam perkara-perkara fikih yang berkaitan dengan kedokteran.

ثُمَّ لَا نَرَى أَحَدًا يَشْتَغِلُ بِهِ.

Namun demikian, kita tidak melihat seorang pun yang bersungguh-sungguh mempelajarinya.

وَيَتَهَاتَرُونَ عَلَى عِلْمِ الْفِقْهِ، لَا سِيَّمَا الْخِلَافِيَّاتِ وَالْجَدَلِيَّاتِ.

Sebaliknya, mereka saling berebut pada ilmu fikih, khususnya masalah-masalah khilafiyah dan perdebatan.

وَالْبَلَدُ مَشْحُونٌ مِنَ الْفُقَهَاءِ بِمَنْ يَشْتَغِلُ بِالْفُتْيَا وَالْجَوَابِ عَنِ الْوَقَائِعِ.

Padahal negeri itu sudah penuh dengan para fuqaha yang menangani fatwa dan menjawab persoalan-persoalan yang terjadi.

فَلَيْتَ شِعْرِي كَيْفَ يُرَخِّصُ فُقَهَاءُ الدِّينِ فِي الِاشْتِغَالِ بِفَرْضِ كِفَايَةٍ قَدْ قَامَ بِهِ جَمَاعَةٌ، وَإِهْمَالِ مَا لَا قَائِمَ بِهِ؟

Maka sungguh aku heran, bagaimana para fuqaha agama membolehkan sibuk dengan fardu kifayah yang sudah ditangani banyak orang, sementara mereka mengabaikan hal yang tidak ada seorang pun yang menanganinya?

هَلْ لِهٰذَا سَبَبٌ إِلَّا أَنَّ الطِّبَّ لَيْسَ يَتَيَسَّرُ الْوُصُولُ بِهِ إِلَى تَوَلِّي الْأَوْقَافِ وَالْوَصَايَا وَحِيَازَةِ مَالِ الْأَيْتَامِ وَتَقَلُّدِ الْقَضَاءِ وَالْحُكُومَةِ وَالتَّقَدُّمِ بِهِ عَلَى الْأَقْرَانِ وَالتَّسَلُّطِ بِهِ عَلَى الْأَعْدَاءِ؟

Adakah sebabnya selain karena ilmu kedokteran tidak memudahkan seseorang untuk memperoleh pengelolaan wakaf dan wasiat, menguasai harta anak yatim, menjabat sebagai hakim dan penguasa, unggul atas rekan-rekannya, serta berkuasa atas lawan-lawannya?

هَيْهَاتَ هَيْهَاتَ، قَدِ انْدَرَسَ عِلْمُ الدِّينِ بِتَلْبِيسِ عُلَمَاءِ السُّوءِ.

Alangkah jauhnya, alangkah jauhnya! Sungguh ilmu agama telah pudar karena tipuan para ulama yang buruk.

فَاللَّهُ تَعَالَى الْمُسْتَعَانُ، وَإِلَيْهِ الْمَلَاذُ فِي أَنْ يُعِيذَنَا مِنْ هٰذَا الْغُرُورِ الَّذِي يُسْخِطُ الرَّحْمَٰنَ وَيُضْحِكُ الشَّيْطَانَ.

Maka Allah Ta‘ala-lah tempat memohon pertolongan, dan kepada-Nya tempat berlindung agar Dia melindungi kita dari tipuan ini, yang membuat Allah Yang Maha Pengasih murka dan setan tertawa.

وَقَدْ كَانَ أَهْلُ الْوَرَعِ مِنْ عُلَمَاءِ الظَّاهِرِ مُقِرِّينَ بِفَضْلِ عُلَمَاءِ الْبَاطِنِ وَأَرْبَابِ الْقُلُوبِ.

Sesungguhnya orang-orang wara‘ dari kalangan ulama lahiriah dahulu mengakui keutamaan ulama batin dan para pemilik hati yang hidup.

كَانَ الْإِمَامُ الشَّافِعِيُّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ يَجْلِسُ بَيْنَ يَدَيْ شَيْبَانَ الرَّاعِي كَمَا يَقْعُدُ الصَّبِيُّ فِي الْمَكْتَبِ، وَيَسْأَلُهُ كَيْفَ يَفْعَلُ فِي كَذَا وَكَذَا.

Imam Asy-Syafi‘i radhiyallahu ‘anhu pernah duduk di hadapan Syaiban Ar-Ra‘i seperti seorang anak kecil duduk di tempat belajar, dan ia bertanya kepadanya tentang bagaimana ia harus berbuat dalam perkara ini dan itu.

فَيُقَالُ لَهُ: مِثْلُكَ يَسْأَلُ هٰذَا الْبَدَوِيَّ؟

Lalu dikatakan kepadanya, “Orang sepertimu bertanya kepada orang badui ini?”

فَيَقُولُ: إِنَّ هٰذَا وُفِّقَ لِمَا أَغْفَلْنَاهُ.

Maka beliau menjawab, “Sesungguhnya orang ini diberi taufik pada sesuatu yang kami lalaikan.”

وَكَانَ أَحْمَدُ بْنُ حَنْبَلٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ وَيَحْيَى بْنُ مَعِينٍ يَخْتَلِفَانِ إِلَى مَعْرُوفٍ الْكَرْخِيِّ، وَلَمْ يَكُنْ فِي عِلْمِ الظَّاهِرِ بِمَنْزِلَتِهِمَا، وَكَانَا يَسْأَلَانِهِ.

Ahmad bin Hanbal radhiyallahu ‘anhu dan Yahya bin Ma‘in juga pernah mendatangi Ma‘ruf Al-Karkhi, padahal dalam ilmu lahiriah ia tidak setingkat dengan keduanya, tetapi mereka tetap bertanya kepadanya.

وَكَيْفَ لَا، وَقَدْ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَمَّا قِيلَ لَهُ: كَيْفَ نَفْعَلُ إِذَا جَاءَنَا أَمْرٌ لَمْ نَجِدْهُ فِي كِتَابٍ وَلَا سُنَّةٍ؟ فَقَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: سَلُوا الصَّالِحِينَ، وَاجْعَلُوهُ شُورَى بَيْنَهُمْ.

Dan bagaimana mungkin tidak demikian, padahal Rasulullah  pernah ditanya, “Bagaimana kami harus berbuat jika datang kepada kami suatu perkara yang tidak kami temukan dalam Kitab maupun Sunnah?” Maka beliau  menjawab, “Tanyalah orang-orang saleh dan jadikanlah hal itu musyawarah di antara mereka.”

وَلِذٰلِكَ قِيلَ: عُلَمَاءُ الظَّاهِرِ زِينَةُ الْأَرْضِ وَالْمُلْكِ، وَعُلَمَاءُ الْبَاطِنِ زِينَةُ السَّمَاءِ وَالْمَلَكُوتِ.

Karena itu, dikatakan: “Ulama lahiriah adalah perhiasan bumi dan kerajaan, sedangkan ulama batin adalah perhiasan langit dan alam malakut.”

وَقَالَ الْجُنَيْدُ رَحِمَهُ اللَّهُ: قَالَ لِي السَّرِيُّ شَيْخِي يَوْمًا: إِذَا قُمْتَ مِنْ عِنْدِي فَمَنْ تُجَالِسُ؟

Al-Junaid rahimahullah berkata, “Pada suatu hari, guruku As-Sari berkata kepadaku: ‘Jika engkau telah pergi dari sisiku, dengan siapa engkau akan duduk?’”

قُلْتُ: الْمُحَاسِبِيَّ.

Aku menjawab, “Al-Muhasibi.”

فَقَالَ: نَعَمْ، خُذْ مِنْ عِلْمِهِ وَأَدَبِهِ، وَدَعْ عَنْكَ تَشْقِيقَهُ الْكَلَامَ وَرَدَّهُ عَلَى الْمُتَكَلِّمِينَ.

Ia berkata, “Ya, ambillah ilmunya dan adabnya, dan tinggalkanlah cara berlebih-lebihannya dalam ilmu kalam serta bantahannya terhadap para mutakallimin.”

ثُمَّ لَمَّا وَلَّيْتُ سَمِعْتُهُ يَقُولُ: جَعَلَكَ اللَّهُ صَاحِبَ حَدِيثٍ صُوفِيًّا، وَلَا جَعَلَكَ صُوفِيًّا صَاحِبَ حَدِيثٍ.

Kemudian ketika aku berpaling, aku mendengarnya berkata, “Semoga Allah menjadikanmu seorang ahli hadis yang bersifat sufi, dan jangan menjadikanmu seorang sufi yang baru kemudian menjadi ahli hadis.”

أَشَارَ إِلَى أَنَّ مَنْ حَصَّلَ الْحَدِيثَ وَالْعِلْمَ ثُمَّ تَصَوَّفَ أَفْلَحَ، وَمَنْ تَصَوَّفَ قَبْلَ الْعِلْمِ خَاطَرَ بِنَفْسِهِ.

Ia memberi isyarat bahwa orang yang telah memperoleh hadis dan ilmu kemudian menempuh jalan tasawuf akan beruntung, sedangkan orang yang bertasawuf sebelum berilmu berarti mempertaruhkan dirinya.

فَإِنْ قُلْتَ: فَلِمَ لَمْ تُورِدْ فِي أَقْسَامِ الْعُلُومِ الْكَلَامَ وَالْفَلْسَفَةَ، وَتُبَيِّنْ أَنَّهُمَا مَذْمُومَانِ أَوْ مَحْمُودَانِ؟

Jika engkau bertanya, “Mengapa engkau tidak memasukkan ilmu kalam dan filsafat dalam pembagian ilmu serta menjelaskan apakah keduanya tercela atau terpuji?”

فَاعْلَمْ أَنَّ حَاصِلَ مَا يَشْتَمِلُ عَلَيْهِ عِلْمُ الْكَلَامِ مِنَ الْأَدِلَّةِ الَّتِي يُنْتَفَعُ بِهَا، فَالْقُرْآنُ وَالْأَخْبَارُ مُشْتَمِلَةٌ عَلَيْهَا.

Maka ketahuilah bahwa seluruh dalil dalam ilmu kalam yang memang bermanfaat sebenarnya telah terkandung dalam Al-Qur’an dan hadis-hadis.

وَمَا خَرَجَ عَنْهُمَا فَهُوَ إِمَّا مُجَادَلَةٌ مَذْمُومَةٌ، وَهِيَ مِنَ الْبِدَعِ، كَمَا سَيَأْتِي بَيَانُهُ.

Adapun yang keluar dari keduanya, maka ia hanyalah perdebatan tercela, dan itu termasuk bid‘ah, sebagaimana nanti akan dijelaskan.

وَإِمَّا مُشَاغَبَةٌ بِالتَّعَلُّقِ بِمُنَاقَضَاتِ الْفِرَقِ لَهَا، وَتَطْوِيلٌ بِنَقْلِ الْمَقَالَاتِ الَّتِي أَكْثَرُهَا تُرَّهَاتٌ وَهَذَيَانَاتٌ، تَزْدَرِيهَا الطِّبَاعُ وَتَمُجُّهَا الْأَسْمَاعُ.

Atau sekadar ribut-ribut dengan bergantung pada kontradiksi-kontradiksi antar golongan, serta memperpanjang pembahasan dengan mengutip berbagai pendapat yang kebanyakannya hanya omong kosong dan ucapan yang tak bermakna, yang ditolak oleh tabiat sehat dan dibenci oleh pendengaran.

وَبَعْضُهَا خَوْضٌ فِيمَا لَا يَتَعَلَّقُ بِالدِّينِ، وَلَمْ يَكُنْ شَيْءٌ مِنْهُ مَأْلُوفًا فِي الْعَصْرِ الْأَوَّلِ، وَكَانَ الْخَوْضُ فِيهِ بِالْكُلِّيَّةِ مِنَ الْبِدَعِ.

Sebagian lagi adalah pembahasan terhadap hal-hal yang tidak berkaitan dengan agama, yang pada masa generasi pertama sama sekali tidak dikenal, dan membahasnya secara keseluruhan termasuk bid‘ah.

وَلٰكِنْ تَغَيَّرَ الْآنَ حُكْمُهُ، إِذْ حَدَثَتِ الْبِدْعَةُ الصَّارِفَةُ عَنْ مُقْتَضَى الْقُرْآنِ وَالسُّنَّةِ، وَنَبَعَتْ جَمَاعَةٌ لَفَّقُوا لَهَا شُبَهًا، وَرَتَّبُوا فِيهَا كَلَامًا مُؤَلَّفًا.

Akan tetapi, sekarang hukumnya berubah, karena telah muncul bid‘ah yang memalingkan manusia dari tuntunan Al-Qur’an dan Sunnah, dan muncullah sekelompok orang yang menyusun syubhat untuknya dan menata ucapan-ucapan terstruktur untuk membelanya.

فَصَارَ ذٰلِكَ الْمَحْذُورُ بِحُكْمِ الضَّرُورَةِ مَأْذُونًا فِيهِ، بَلْ صَارَ مِنْ فُرُوضِ الْكِفَايَاتِ، وَهُوَ الْقَدْرُ الَّذِي يُقَابَلُ بِهِ الْمُبْتَدِعُ إِذَا قَصَدَ الدَّعْوَةَ إِلَى الْبِدْعَةِ.

Maka perkara yang semula terlarang itu menjadi dibolehkan karena kebutuhan darurat, bahkan menjadi termasuk fardu kifayah, yaitu sebatas ukuran yang diperlukan untuk menghadapi ahli bid‘ah apabila ia mengajak kepada bid‘ahnya.

وَذٰلِكَ إِلَى حَدٍّ مَحْدُودٍ سَنَذْكُرُهُ فِي الْبَابِ الَّذِي يَلِي هٰذَا إِنْ شَاءَ اللَّهُ تَعَالَى.

Dan hal itu hanya sampai pada batas tertentu, yang akan kami sebutkan pada bab berikutnya, insyaallah.

وَأَمَّا الْفَلْسَفَةُ فَلَيْسَتْ عِلْمًا بِرَأْسِهَا، بَلْ هِيَ أَرْبَعَةُ أَجْزَاءٍ.

Adapun filsafat, maka ia bukan satu ilmu yang berdiri sendiri, melainkan terdiri dari empat bagian.

أَحَدُهَا الْهِنْدَسَةُ وَالْحِسَابُ، وَهُمَا مُبَاحَانِ كَمَا سَبَقَ.

Bagian pertama adalah geometri dan ilmu hitung, dan keduanya hukumnya mubah, sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya.

وَلَا يُمْنَعُ عَنْهُمَا إِلَّا مَنْ يُخَافُ عَلَيْهِ أَنْ يَتَجَاوَزَ بِهِمَا إِلَى عُلُومٍ مَذْمُومَةٍ.

Keduanya tidak dilarang kecuali bagi orang yang dikhawatirkan akan melampaui dari keduanya kepada ilmu-ilmu yang tercela.

فَإِنَّ أَكْثَرَ الْمُمَارِسِينَ لَهُمَا قَدْ خَرَجُوا مِنْهُمَا إِلَى الْبِدَعِ.

Karena kebanyakan orang yang mendalaminya justru berpindah darinya kepada bid‘ah.

فَيُصَانُ الضَّعِيفُ عَنْهُمَا لَا لِعَيْنِهِمَا، كَمَا يُصَانُ الصَّبِيُّ عَنْ شَاطِئِ النَّهْرِ خِيفَةَ عَلَيْهِ مِنَ الْوُقُوعِ فِي النَّهْرِ.

Karena itu, orang yang lemah dijauhkan dari keduanya, bukan karena keduanya buruk pada zatnya, tetapi seperti seorang anak dijauhkan dari tepi sungai karena dikhawatirkan jatuh ke dalamnya.

وَكَمَا يُصَانُ حَدِيثُ الْعَهْدِ بِالْإِسْلَامِ عَنْ مُخَالَطَةِ الْكُفَّارِ خَوْفًا عَلَيْهِ، مَعَ أَنَّ الْقَوِيَّ لَا يُنْدَبُ إِلَى مُخَالَطَتِهِمْ.

Dan seperti seorang yang baru masuk Islam dijauhkan dari pergaulan dengan orang-orang kafir karena dikhawatirkan atas dirinya, meskipun orang yang kuat tidaklah dilarang untuk bergaul dengan mereka.

الثَّانِي الْمَنْطِقُ، وَهُوَ بَحْثٌ عَنْ وَجْهِ الدَّلِيلِ وَشُرُوطِهِ، وَوَجْهِ الْحَدِّ وَشُرُوطِهِ، وَهُمَا دَاخِلَانِ فِي عِلْمِ الْكَلَامِ.

Bagian kedua adalah logika, yaitu pembahasan tentang bentuk dalil dan syarat-syaratnya, serta definisi dan syarat-syaratnya. Semua itu masuk ke dalam ilmu kalam.

الثَّالِثُ الْإِلٰهِيَّاتُ، وَهُوَ بَحْثٌ عَنْ ذَاتِ اللَّهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَصِفَاتِهِ، وَهُوَ دَاخِلٌ فِي الْكَلَامِ أَيْضًا.

Bagian ketiga adalah metafisika atau ketuhanan, yaitu pembahasan tentang zat Allah Subhanahu wa Ta‘ala dan sifat-sifat-Nya, dan ini juga masuk ke dalam ilmu kalam.

وَالْفَلَاسِفَةُ لَمْ يَنْفَرِدُوا فِيهَا بِنَمَطٍ آخَرَ مِنَ الْعِلْمِ، بَلِ انْفَرَدُوا بِمَذَاهِبَ بَعْضُهَا كُفْرٌ وَبَعْضُهَا بِدْعَةٌ.

Para filsuf tidak memiliki metode ilmu tersendiri dalam bidang ini, tetapi mereka hanya menyendiri dengan sejumlah mazhab yang sebagian di antaranya kufur dan sebagian lainnya bid‘ah.

وَكَمَا أَنَّ الِاعْتِزَالَ لَيْسَ عِلْمًا بِرَأْسِهِ، بَلْ أَصْحَابُهُ طَائِفَةٌ مِنَ الْمُتَكَلِّمِينَ وَأَهْلِ الْبَحْثِ وَالنَّظَرِ، انْفَرَدُوا بِمَذَاهِبَ بَاطِلَةٍ، فَكَذٰلِكَ الْفَلَاسِفَةُ.

Sebagaimana Mu‘tazilah bukanlah suatu ilmu yang berdiri sendiri, tetapi hanyalah sekelompok ahli kalam dan peneliti yang menyendiri dengan mazhab-mazhab batil, demikian pula para filsuf.

وَالرَّابِعُ الطَّبِيعِيَّاتُ، وَبَعْضُهَا مُخَالِفٌ لِلشَّرْعِ وَالدِّينِ وَالْحَقِّ، فَهُوَ جَهْلٌ وَلَيْسَ بِعِلْمٍ حَتَّى نُورِدَهُ فِي أَقْسَامِ الْعُلُومِ.

Bagian keempat adalah ilmu-ilmu alam. Sebagiannya bertentangan dengan syariat, agama, dan kebenaran, maka itu adalah kebodohan, bukan ilmu, sehingga tidak layak dimasukkan ke dalam pembagian ilmu.

وَبَعْضُهَا بَحْثٌ عَنْ صِفَاتِ الْأَجْسَامِ وَخَوَاصِّهَا وَكَيْفِيَّةِ اسْتِحَالَتِهَا وَتَغَيُّرِهَا، وَهُوَ شَبِيهٌ بِنَظَرِ الْأَطِبَّاءِ.

Sebagian lainnya adalah pembahasan tentang sifat-sifat benda, kekhususan-kekhususannya, serta cara perubahan dan peralihannya, dan itu mirip dengan kajian para dokter.

إِلَّا أَنَّ الطَّبِيبَ يَنْظُرُ فِي بَدَنِ الْإِنْسَانِ عَلَى الْخُصُوصِ مِنْ حَيْثُ يَمْرَضُ وَيَصِحُّ، وَهُمْ يَنْظُرُونَ فِي جَمِيعِ الْأَجْسَامِ مِنْ حَيْثُ تَتَغَيَّرُ وَتَتَحَرَّكُ.

Perbedaannya, dokter meneliti tubuh manusia secara khusus dari sisi sehat dan sakitnya, sedangkan mereka meneliti semua benda dari sisi perubahan dan geraknya.

وَلٰكِنْ لِلطِّبِّ فَضْلٌ عَلَيْهِ، وَهُوَ أَنَّهُ مُحْتَاجٌ إِلَيْهِ.

Akan tetapi, kedokteran lebih utama daripadanya, karena kedokteran dibutuhkan.

وَأَمَّا عُلُومُهُمْ فِي الطَّبِيعِيَّاتِ فَلَا حَاجَةَ إِلَيْهَا.

Adapun ilmu-ilmu mereka dalam bidang alam, maka tidak ada kebutuhan yang mendesak terhadapnya.

فَإِذَنْ، الْكَلَامُ صَارَ مِنْ جُمْلَةِ الصَّنَائِعِ الْوَاجِبَةِ عَلَى الْكِفَايَةِ، حِرَاسَةً لِقُلُوبِ الْعَوَامِّ عَنْ تَخَيُّلَاتِ الْمُبْتَدِعَةِ.

Dengan demikian, ilmu kalam menjadi salah satu keahlian yang wajib secara kifayah, yaitu untuk menjaga hati orang-orang awam dari khayalan-khayalan ahli bid‘ah.

وَإِنَّمَا حَدَثَ ذٰلِكَ بِحُدُوثِ الْبِدَعِ، كَمَا حَدَثَتْ حَاجَةُ الْإِنْسَانِ إِلَى اسْتِئْجَارِ الْبَذْرَقَةِ فِي طَرِيقِ الْحَجِّ بِحُدُوثِ ظُلْمِ الْعَرَبِ وَقَطْعِهِمُ الطَّرِيقَ.

Hal ini hanya muncul karena munculnya bid‘ah, sebagaimana munculnya kebutuhan manusia untuk menyewa pengawal dalam perjalanan haji karena kezhaliman orang-orang Arab dan perampokan mereka di jalan.

وَلَوْ تَرَكَ الْعَرَبُ عُدْوَانَهُمْ لَمْ يَكُنِ اسْتِئْجَارُ الْحُرَّاسِ مِنْ شُرُوطِ طَرِيقِ الْحَجِّ.

Seandainya orang-orang Arab meninggalkan gangguan mereka, maka menyewa pengawal tentu tidak menjadi syarat dalam perjalanan haji.

فَلِذٰلِكَ لَوْ تَرَكَ الْمُبْتَدِعُ هَذَيَانَهُ لَمَا افْتُقِرَ إِلَى الزِّيَادَةِ عَلَى مَا عُهِدَ فِي عَصْرِ الصَّحَابَةِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ.

Demikian pula, seandainya ahli bid‘ah meninggalkan omong kosongnya, niscaya tidak diperlukan tambahan di luar apa yang sudah dikenal pada masa para sahabat radhiyallahu ‘anhum.

فَلْيَعْلَمِ الْمُتَكَلِّمُ حَدَّهُ مِنَ الدِّينِ، وَأَنَّ مَوْقِعَهُ مِنْهُ مَوْقِعُ الْحَارِسِ فِي طَرِيقِ الْحَجِّ.

Karena itu, seorang ahli kalam hendaknya mengetahui batas kedudukannya dalam agama, dan bahwa posisinya di dalam agama seperti posisi penjaga di jalan haji.

فَإِذَا تَجَرَّدَ الْحَارِسُ لِلْحِرَاسَةِ لَمْ يَكُنْ مِنْ جُمْلَةِ الْحَاجِّ.

Apabila seorang penjaga hanya sibuk menjaga, maka ia tidak termasuk rombongan haji itu sendiri.

وَالْمُتَكَلِّمُ إِذَا تَجَرَّدَ لِلْمُنَاظَرَةِ وَالْمُدَافَعَةِ، وَلَمْ يَسْلُكْ طَرِيقَ الْآخِرَةِ، وَلَمْ يَشْتَغِلْ بِتَعَهُّدِ الْقَلْبِ وَصَلَاحِهِ، لَمْ يَكُنْ مِنْ جُمْلَةِ عُلَمَاءِ الدِّينِ أَصْلًا.

Demikian pula seorang ahli kalam, apabila ia hanya sibuk berdebat dan membantah, tidak menempuh jalan akhirat, dan tidak menyibukkan diri dengan memelihara dan memperbaiki hati, maka ia sama sekali tidak termasuk ulama agama.

وَلَيْسَ عِنْدَ الْمُتَكَلِّمِ مِنَ الدِّينِ إِلَّا الْعَقِيدَةُ الَّتِي شَارَكَهُ فِيهَا سَائِرُ الْعَوَامِّ، وَهِيَ مِنْ جُمْلَةِ أَعْمَالِ ظَاهِرِ الْقَلْبِ وَاللِّسَانِ.

Pada diri seorang ahli kalam, tidak ada bagian dari agama selain akidah yang juga dimiliki oleh seluruh orang awam, dan itu pun termasuk amalan lahiriah hati dan lisan.

وَإِنَّمَا يَتَمَيَّزُ عَنِ الْعَامِّيِّ بِصَنْعَةِ الْمُجَادَلَةِ وَالْحِرَاسَةِ.

Ia hanya berbeda dari orang awam dalam keterampilannya berdebat dan berjaga.

فَأَمَّا مَعْرِفَةُ اللَّهِ تَعَالَى وَصِفَاتِهِ وَأَفْعَالِهِ وَجَمِيعُ مَا أَشَرْنَا إِلَيْهِ فِي عِلْمِ الْمُكَاشَفَةِ، فَلَا يَحْصُلُ مِنْ عِلْمِ الْكَلَامِ.

Adapun pengenalan kepada Allah Ta‘ala, sifat-sifat-Nya, perbuatan-perbuatan-Nya, dan seluruh perkara yang telah kami isyaratkan dalam ilmu mukasyafah, maka semua itu tidak dapat diperoleh melalui ilmu kalam.

بَلْ يَكَادُ أَنْ يَكُونَ الْكَلَامُ حِجَابًا عَلَيْهِ وَمَانِعًا عَنْهُ.

Bahkan ilmu kalam hampir-hampir menjadi penghalang dan tabir dari tercapainya ilmu itu.

وَإِنَّمَا الْوُصُولُ إِلَيْهِ بِالْمُجَاهَدَةِ الَّتِي جَعَلَهَا اللَّهُ سُبْحَانَهُ مُقَدِّمَةً لِلْهِدَايَةِ، حَيْثُ قَالَ تَعَالَى: {وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا، وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ}.

Jalan untuk sampai kepadanya hanyalah dengan mujahadah, yang Allah Subhanahu wa Ta‘ala jadikan sebagai pendahuluan bagi hidayah, sebagaimana firman-Nya: “Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh di jalan Kami, pasti akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar bersama orang-orang yang berbuat baik.”

فَإِنْ قُلْتَ: فَقَدْ رَدَدْتَ حَدَّ الْمُتَكَلِّمِ إِلَى حِرَاسَةِ عَقِيدَةِ الْعَوَامِّ عَنْ تَشْوِيشِ الْمُبْتَدِعَةِ، كَمَا أَنَّ حَدَّ الْبَذْرَقَةِ حِرَاسَةُ أَقْمِشَةِ الْحَجِيجِ عَنْ نَهْبِ الْعَرَبِ، وَرَدَدْتَ حَدَّ الْفَقِيهِ إِلَى حِفْظِ الْقَانُونِ الَّذِي بِهِ يَكُفُّ السُّلْطَانُ شَرَّ بَعْضِ أَهْلِ الْعُدْوَانِ عَنْ بَعْضٍ، وَهَاتَانِ رُتْبَتَانِ نَازِلَتَانِ بِالْإِضَافَةِ إِلَى عِلْمِ الدِّينِ.

Jika engkau berkata, “Engkau telah menurunkan kedudukan ahli kalam menjadi sekadar penjaga akidah orang awam dari gangguan ahli bid‘ah, sebagaimana pengawal hanya menjaga barang-barang para jamaah haji dari perampokan orang Arab, dan engkau juga menurunkan kedudukan fakih menjadi sekadar penjaga hukum yang dipakai penguasa untuk menahan kejahatan sebagian orang terhadap sebagian lainnya. Padahal dua kedudukan ini terlihat rendah bila dibandingkan dengan ilmu agama.”

وَعُلَمَاءُ الْأُمَّةِ الْمَشْهُورُونَ بِالْفَضْلِ هُمُ الْفُقَهَاءُ وَالْمُتَكَلِّمُونَ، وَهُمْ أَفْضَلُ الْخَلْقِ عِنْدَ اللَّهِ تَعَالَى، فَكَيْفَ تُنَزِّلُ دَرَجَاتِهِمْ إِلَى هٰذِهِ الْمَنْزِلَةِ السَّافِلَةِ بِالْإِضَافَةِ إِلَى عِلْمِ الدِّينِ؟

“Padahal ulama umat yang masyhur dengan keutamaannya adalah para fuqaha dan mutakallimin, dan mereka adalah makhluk terbaik di sisi Allah Ta‘ala. Lalu bagaimana engkau merendahkan derajat mereka sampai ke tingkat serendah ini dalam kaitannya dengan ilmu agama?”

فَاعْلَمْ أَنَّ مَنْ عَرَفَ الْحَقَّ بِالرِّجَالِ حَارَ فِي مَتَاهَاتِ الضَّلَالِ.

Maka ketahuilah bahwa siapa yang mengenal kebenaran melalui tokoh-tokoh manusia, ia akan tersesat dalam lorong-lorong kesesatan.

فَاعْرِفِ الْحَقَّ تَعْرِفْ أَهْلَهُ إِنْ كُنْتَ سَالِكَ طَرِيقَ الْحَقِّ.

Kenalilah kebenaran, niscaya engkau akan mengenali siapa ahlinya, jika engkau benar-benar menempuh jalan kebenaran.

وَإِنْ قَنِعْتَ بِالتَّقْلِيدِ وَالنَّظَرِ إِلَى مَا اشْتُهِرَ مِنْ دَرَجَاتِ الْفَضْلِ بَيْنَ النَّاسِ، فَلَا تَغْفُلْ عَنِ الصَّحَابَةِ وَعُلُوِّ مَنْصِبِهِمْ.

Jika engkau puas dengan taklid dan hanya melihat apa yang terkenal di tengah manusia sebagai derajat keutamaan, maka janganlah engkau lalai dari para sahabat dan tingginya kedudukan mereka.

فَقَدْ أَجْمَعَ الَّذِينَ عَرَّضْتُ بِذِكْرِهِمْ عَلَى تَقَدُّمِهِمْ، وَأَنَّهُمْ لَا يُدْرَكُ فِي الدِّينِ شَأْوُهُمْ، وَلَا يُشَقُّ غُبَارُهُمْ.

Semua orang yang telah kusebut secara sindiran itu sepakat bahwa para sahabat lebih dahulu dan lebih utama, dan bahwa kedudukan mereka dalam agama tidak akan terkejar dan tidak akan mampu disamai.

وَلَمْ يَكُنْ تَقَدُّمُهُمْ بِالْكَلَامِ وَالْفِقْهِ، بَلْ بِعِلْمِ الْآخِرَةِ وَسُلُوكِ طَرِيقِهَا.

Keutamaan mereka bukanlah karena ilmu kalam dan fikih, tetapi karena ilmu akhirat dan penempuhan jalan akhirat itu.

وَمَا فَضَلَ أَبُو بَكْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ النَّاسَ بِكَثْرَةِ صِيَامٍ وَلَا صَلَاةٍ وَلَا بِكَثْرَةِ رِوَايَةٍ وَلَا فَتْوَى وَلَا كَلَامٍ، وَلٰكِنْ بِشَيْءٍ وَقَرَ فِي صَدْرِهِ.

Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu tidaklah lebih utama daripada manusia lain karena banyaknya puasa, salat, riwayat, fatwa, ataupun debat, melainkan karena sesuatu yang menetap di dalam dadanya.

كَمَا شَهِدَ لَهُ سَيِّدُ الْمُرْسَلِينَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.

Sebagaimana hal itu disaksikan oleh penghulu para rasul .

فَلْيَكُنْ حِرْصُكَ فِي طَلَبِ ذٰلِكَ السِّرِّ، فَهُوَ الْجَوْهَرُ النَّفِيسُ وَالدُّرُّ الْمَكْنُونُ.

Maka hendaklah kesungguhanmu tertuju untuk mencari rahasia itu, karena itulah permata yang berharga dan mutiara yang tersembunyi.

وَدَعْ عَنْكَ مَا تَطَابَقَ أَكْثَرُ النَّاسِ عَلَيْهِ وَعَلَى تَفْخِيمِهِ وَتَعْظِيمِهِ لِأَسْبَابٍ وَدَوَاعٍ يَطُولُ تَفْصِيلُهَا.

Tinggalkanlah apa yang disepakati kebanyakan manusia untuk dibesarkan dan diagungkan, karena banyak sebab dan dorongan yang panjang penjelasannya.

فَلَقَدْ قَبَضَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ آلَافٍ مِنَ الصَّحَابَةِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ، كُلُّهُمْ عُلَمَاءُ بِاللَّهِ، أَثْنَى عَلَيْهِمْ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.

Rasulullah  wafat meninggalkan ribuan sahabat radhiyallahu ‘anhum, dan semuanya adalah orang-orang yang mengenal Allah, yang dipuji oleh Rasulullah .

وَلَمْ يَكُنْ فِيهِمْ أَحَدٌ يُحْسِنُ صَنْعَةَ الْكَلَامِ، وَلَا نَصَبَ نَفْسَهُ لِلْفُتْيَا مِنْهُمْ أَحَدٌ إِلَّا بِضْعَةَ عَشَرَ رَجُلًا.

Di antara mereka tidak ada seorang pun yang menekuni seni ilmu kalam, dan tidak ada yang menempatkan dirinya untuk berfatwa kecuali belasan orang saja.

وَلَقَدْ كَانَ ابْنُ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا مِنْهُمْ، وَكَانَ إِذَا سُئِلَ عَنِ الْفُتْيَا يَقُولُ لِلسَّائِلِ: اذْهَبْ إِلَى فُلَانٍ الْأَمِيرِ الَّذِي تَقَلَّدَ أُمُورَ النَّاسِ وَضَعَهَا فِي عُنُقِهِ.

Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma termasuk di antara mereka. Jika ia ditanya tentang fatwa, ia berkata kepada si penanya, “Pergilah kepada si fulan, sang pemimpin yang telah memikul urusan manusia di lehernya.”

إِشَارَةً إِلَى أَنَّ الْفُتْيَا فِي الْقَضَايَا وَالْأَحْكَامِ مِنْ تَوَابِعِ الْوِلَايَةِ وَالسُّلْطَنَةِ.

Hal itu sebagai isyarat bahwa fatwa dalam perkara-perkara hukum dan sengketa merupakan bagian yang mengikuti kekuasaan dan pemerintahan.

وَلَمَّا مَاتَ عُمَرُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ ابْنُ مَسْعُودٍ: مَاتَ تِسْعَةُ أَعْشَارِ الْعِلْمِ.

Ketika ‘Umar radhiyallahu ‘anhu wafat, Ibnu Mas‘ud berkata, “Telah mati sembilan persepuluh ilmu.”

فَقِيلَ لَهُ: أَتَقُولُ ذٰلِكَ وَفِينَا جِلَّةُ الصَّحَابَةِ؟

Lalu dikatakan kepadanya, “Apakah engkau mengatakan demikian, padahal masih ada para sahabat besar di tengah kami?”

فَقَالَ: لَمْ أُرِدْ عِلْمَ الْفُتْيَا وَالْأَحْكَامِ، إِنَّمَا أُرِيدُ الْعِلْمَ بِاللَّهِ تَعَالَى.

Maka ia menjawab, “Aku tidak bermaksud ilmu fatwa dan hukum-hukum, melainkan ilmu tentang Allah Ta‘ala.”

أَفَتَرَاهُ أَرَادَ صَنْعَةَ الْكَلَامِ وَالْجَدَلِ؟

Apakah menurutmu yang ia maksud adalah seni ilmu kalam dan perdebatan?

فَمَا بَالُكَ لَا تَحْرِصُ عَلَى مَعْرِفَةِ ذٰلِكَ الْعِلْمِ الَّذِي مَاتَ بِمَوْتِ عُمَرَ تِسْعَةُ أَعْشَارِهِ؟

Lalu mengapa engkau tidak bersungguh-sungguh untuk mengenal ilmu yang sembilan persepuluhnya mati dengan wafatnya ‘Umar itu?

وَهُوَ الَّذِي سَدَّ بَابَ الْكَلَامِ وَالْجَدَلِ، وَضَرَبَ ضَبِيعًا بِالدِّرَّةِ لَمَّا أَوْرَدَ عَلَيْهِ سُؤَالًا فِي تَعَارُضِ آيَتَيْنِ فِي كِتَابِ اللَّهِ، وَهَجَرَهُ وَأَمَرَ النَّاسَ بِهَجْرِهِ.

Padahal dialah yang menutup pintu ilmu kalam dan debat, serta memukul Shabigh dengan cambuk ketika orang itu mengajukan pertanyaan tentang pertentangan dua ayat dalam Kitab Allah. Ia menjauhinya dan memerintahkan orang-orang untuk menjauhinya.

وَأَمَّا قَوْلُكَ: إِنَّ الْمَشْهُورِينَ مِنَ الْعُلَمَاءِ هُمُ الْفُقَهَاءُ وَالْمُتَكَلِّمُونَ، فَاعْلَمْ أَنَّ مَا يُنَالُ بِهِ الْفَضْلُ عِنْدَ اللَّهِ شَيْءٌ، وَمَا يُنَالُ بِهِ الشُّهْرَةُ عِنْدَ النَّاسِ شَيْءٌ آخَرُ.

Adapun ucapanmu bahwa ulama yang terkenal adalah para fuqaha dan mutakallimin, maka ketahuilah bahwa apa yang dengannya diperoleh keutamaan di sisi Allah adalah satu hal, sedangkan apa yang dengannya diperoleh ketenaran di sisi manusia adalah hal lain.

فَلَقَدْ كَانَتْ شُهْرَةُ أَبِي بَكْرٍ الصِّدِّيقِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ بِالْخِلَافَةِ، وَكَانَ فَضْلُهُ بِالسِّرِّ الَّذِي وَقَرَ فِي قَلْبِهِ.

Ketenaran Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu adalah karena kekhalifahannya, tetapi keutamaannya terletak pada rahasia yang menetap di dalam hatinya.

وَكَانَتْ شُهْرَةُ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ بِالسِّيَاسَةِ، وَكَانَ فَضْلُهُ بِالْعِلْمِ بِاللَّهِ الَّذِي مَاتَ تِسْعَةُ أَعْشَارِهِ بِمَوْتِهِ، وَبِقَصْدِهِ التَّقَرُّبَ إِلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ فِي وِلَايَتِهِ وَعَدْلِهِ وَشَفَقَتِهِ عَلَى خَلْقِهِ، وَهُوَ أَمْرٌ بَاطِنٌ فِي سِرِّهِ.

Ketenaran ‘Umar radhiyallahu ‘anhu adalah karena politik dan kepemimpinannya, tetapi keutamaannya terletak pada ilmu tentang Allah yang sembilan persepuluhnya mati bersama wafatnya, dan pada niatnya untuk mendekatkan diri kepada Allah ‘Azza wa Jalla dalam kepemimpinan, keadilan, dan kasih sayangnya kepada makhluk. Semua itu adalah perkara batin yang tersembunyi dalam rahasianya.

فَأَمَّا سَائِرُ أَفْعَالِهِ الظَّاهِرَةِ فَيُتَصَوَّرُ صُدُورُهَا مِنْ طَالِبِ الْجَاهِ وَالِاسْمِ وَالسُّمْعَةِ وَالرَّاغِبِ فِي الشُّهْرَةِ.

Adapun perbuatan-perbuatan lahiriahnya yang lain, secara lahir dapat saja dilakukan oleh orang yang mencari kedudukan, nama, popularitas, dan ketenaran.

فَتَكُونُ الشُّهْرَةُ فِيمَا هُوَ الْمُهْلِكُ، وَالْفَضْلُ فِيمَا هُوَ سِرٌّ لَا يَطَّلِعُ عَلَيْهِ أَحَدٌ.

Dengan demikian, ketenaran bisa berada pada sesuatu yang membinasakan, sedangkan keutamaan sejati berada pada rahasia yang tidak diketahui seorang pun.

فَالْفُقَهَاءُ وَالْمُتَكَلِّمُونَ مِثْلُ الْخُلَفَاءِ وَالْقُضَاةِ وَالْعُلَمَاءِ، وَقَدِ انْقَسَمُوا.

Para fuqaha dan mutakallimin itu seperti para khalifah, para hakim, dan para ulama; mereka pun terbagi-bagi.

فَمِنْهُمْ مَنْ أَرَادَ اللَّهَ سُبْحَانَهُ بِعِلْمِهِ وَفُتْيَاهُ وَذَبِّهِ عَنْ سُنَّةِ نَبِيِّهِ، وَلَمْ يَطْلُبْ بِهِ رِيَاءً وَلَا سُمْعَةً.

Di antara mereka ada yang menghendaki Allah Subhanahu wa Ta‘ala dengan ilmunya, fatwanya, dan pembelaannya terhadap Sunnah Nabi-Nya, serta tidak mencari riya dan popularitas dengan itu.

فَأُولٰئِكَ أَهْلُ رِضْوَانِ اللَّهِ تَعَالَى، وَفَضْلُهُمْ عِنْدَ اللَّهِ لِعَمَلِهِمْ بِعِلْمِهِمْ، وَلِإِرَادَتِهِمْ وَجْهَ اللَّهِ سُبْحَانَهُ بِفَتْوَاهُمْ وَنَظَرِهِمْ.

Mereka itulah orang-orang yang memperoleh keridaan Allah Ta‘ala, dan keutamaan mereka di sisi Allah terletak pada pengamalan ilmu mereka dan pada niat mereka yang menghendaki wajah Allah dalam fatwa dan pemikiran mereka.

فَإِنَّ كُلَّ عِلْمٍ عَمَلٌ، فَإِنَّهُ فِعْلٌ مُكْتَسَبٌ، وَلَيْسَ كُلُّ عَمَلٍ عِلْمًا.

Karena setiap ilmu yang diamalkan adalah suatu perbuatan yang diusahakan, tetapi tidak setiap perbuatan disebut ilmu.

وَالطَّبِيبُ يَقْدِرُ عَلَى التَّقَرُّبِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى بِعِلْمِهِ، فَيَكُونُ مُثَابًا عَلَى عِلْمِهِ مِنْ حَيْثُ إِنَّهُ عَامِلٌ لِلَّهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى بِهِ.

Seorang dokter pun dapat mendekatkan diri kepada Allah Ta‘ala dengan ilmunya, sehingga ia diberi pahala atas ilmunya, karena ia mengamalkannya untuk Allah Subhanahu wa Ta‘ala.

وَالسُّلْطَانُ يَتَوَسَّطُ بَيْنَ الْخَلْقِ لِلَّهِ، فَيَكُونُ مَرْضِيًّا عِنْدَ اللَّهِ سُبْحَانَهُ وَمُثَابًا، لَا مِنْ حَيْثُ إِنَّهُ مُتَكَفِّلٌ بِعِلْمِ الدِّينِ، بَلْ مِنْ حَيْثُ هُوَ مُتَقَلِّدٌ بِعَمَلٍ يَقْصِدُ بِهِ التَّقَرُّبَ إِلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ بِعِلْمِهِ.

Seorang penguasa juga menjadi perantara di antara manusia karena Allah, sehingga ia menjadi orang yang diridhai dan diberi pahala di sisi Allah Subhanahu wa Ta‘ala, bukan karena ia memikul ilmu agama, tetapi karena ia memegang suatu amal yang dengannya ia bermaksud mendekatkan diri kepada Allah ‘Azza wa Jalla berdasarkan ilmunya.

وَأَقْسَامُ مَا يُتَقَرَّبُ بِهِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى ثَلَاثَةٌ: عِلْمٌ مُجَرَّدٌ، وَهُوَ عِلْمُ الْمُكَاشَفَةِ، وَعَمَلٌ مُجَرَّدٌ، وَهُوَ كَعَدْلِ السُّلْطَانِ مَثَلًا وَضَبْطِهِ لِلنَّاسِ، وَمُرَكَّبٌ مِنْ عَمَلٍ وَعِلْمٍ، وَهُوَ عِلْمُ طَرِيقِ الْآخِرَةِ، فَإِنَّ صَاحِبَهُ مِنَ الْعُلَمَاءِ وَالْعُمَّالِ جَمِيعًا.

Perkara-perkara yang dengannya seseorang mendekatkan diri kepada Allah Ta‘ala ada tiga macam: ilmu murni, yaitu ilmu mukasyafah; amal murni, seperti keadilan penguasa dan pengaturannya terhadap manusia; dan gabungan antara amal dan ilmu, yaitu ilmu jalan akhirat, karena pemiliknya termasuk ulama sekaligus orang-orang yang beramal.

فَانْظُرْ إِلَى نَفْسِكَ، أَتَكُونُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فِي حِزْبِ عُلَمَاءِ اللَّهِ وَعُمَّالِ اللَّهِ تَعَالَى، أَوْ فِي حِزْبَيْهِمَا، فَتَضْرِبَ بِسَهْمِكَ مَعَ كُلِّ فَرِيقٍ مِنْهُمَا؟

Maka perhatikanlah dirimu sendiri: apakah pada hari kiamat engkau akan termasuk dalam golongan ulama Allah, golongan para pengamal untuk Allah, ataukah engkau akan memperoleh bagian bersama dua golongan itu sekaligus?

فَهٰذَا أَهَمُّ عَلَيْكَ مِنَ التَّقْلِيدِ لِمُجَرَّدِ الِاشْتِهَارِ.

Perkara ini lebih penting bagimu daripada sekadar bertaklid karena ketenaran.

كَمَا قِيلَ: خُذْ مَا تَرَاهُ، وَدَعْ شَيْئًا سَمِعْتَ بِهِ، فِي طُلْعَةِ الشَّمْسِ مَا يُغْنِيكَ عَنْ زُحَلٍ.

Sebagaimana dikatakan: “Ambillah apa yang engkau lihat sendiri, dan tinggalkan sesuatu yang hanya engkau dengar. Pada terbitnya matahari ada yang telah mencukupimu dari bintang Zuhal.”

عَلَى أَنَّا سَنَنْقُلُ مِنْ سِيرَةِ فُقَهَاءِ السَّلَفِ مَا تَعْلَمُ بِهِ أَنَّ الَّذِينَ انْتَحَلُوا مَذَاهِبَهُمْ ظَلَمُوهُمْ، وَأَنَّهُمْ مِنْ أَشَدِّ خُصَمَائِهِمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ.

Selain itu, kami akan menukil dari perjalanan hidup para fuqaha salaf hal-hal yang akan membuatmu tahu bahwa orang-orang yang mengaku mengikuti mazhab mereka sebenarnya telah menzalimi mereka, dan bahwa merekalah termasuk musuh terbesar mereka pada hari kiamat.

فَإِنَّهُمْ مَا قَصَدُوا بِالْعِلْمِ إِلَّا وَجْهَ اللَّهِ تَعَالَى.

Sebab para ulama salaf itu tidak mencari ilmu kecuali demi wajah Allah Ta‘ala.

وَقَدْ شُوهِدَ مِنْ أَحْوَالِهِمْ مَا هُوَ مِنْ عَلَامَاتِ عُلَمَاءِ الْآخِرَةِ، كَمَا سَيَأْتِي بَيَانُهُ فِي بَابِ عَلَامَاتِ عُلَمَاءِ الْآخِرَةِ.

Dari keadaan mereka telah tampak hal-hal yang merupakan tanda-tanda ulama akhirat, sebagaimana akan dijelaskan nanti dalam bab tanda-tanda ulama akhirat.

فَإِنَّهُمْ مَا كَانُوا مُتَجَرِّدِينَ لِعِلْمِ الْفِقْهِ، بَلْ كَانُوا مُشْتَغِلِينَ بِعِلْمِ الْقُلُوبِ وَمُرَاقِبِينَ لَهَا.

Mereka tidak hanya menekuni ilmu fikih semata, tetapi mereka juga sibuk dengan ilmu hati dan selalu mengawasi keadaan hati mereka.

وَلٰكِنْ صَرَفَهُمْ عَنِ التَّدْرِيسِ وَالتَّصْنِيفِ فِيهِ مَا صَرَفَ الصَّحَابَةَ عَنِ التَّصْنِيفِ وَالتَّدْرِيسِ فِي الْفِقْهِ، مَعَ أَنَّهُمْ كَانُوا فُقَهَاءَ مُسْتَقِلِّينَ بِعِلْمِ الْفُتْيَا، وَالصَّوَارِفُ وَالدَّوَاعِي مُتَيَقَّنَةٌ، وَلَا حَاجَةَ إِلَى ذِكْرِهَا.

Akan tetapi, yang menghalangi mereka dari mengajar dan menulis dalam ilmu hati itu adalah sebab-sebab yang sama yang dahulu menghalangi para sahabat dari menulis dan mengajar fikih, padahal mereka adalah para fuqaha yang mandiri dalam ilmu fatwa. Sebab-sebab dan dorongan-dorongan itu sudah jelas, sehingga tidak perlu dirinci lagi.

 


وَنَحْنُ الْآنَ نَذْكُرُ مِنْ أَحْوَالِ فُقَهَاءِ الْإِسْلَامِ مَا تَعْلَمُ بِهِ أَنَّ مَا ذَكَرْنَاهُ لَيْسَ طَعْنًا فِيهِمْ، بَلْ هُوَ طَعْنٌ فِيمَنْ أَظْهَرَ الِاقْتِدَاءَ بِهِمْ مُنْتَحِلًا مَذَاهِبَهُمْ، وَهُوَ مُخَالِفٌ لَهُمْ فِي أَعْمَالِهِمْ وَسِيَرِهِمْ.

Sekarang kami akan menyebutkan beberapa keadaan para fuqaha Islam, agar engkau mengetahui bahwa apa yang telah kami sebutkan bukanlah celaan terhadap mereka, melainkan celaan terhadap orang yang menampakkan diri seolah-olah mengikuti mereka dan mengaku bermazhab dengan mazhab-mazhab mereka, padahal ia menyelisihi mereka dalam amal dan perjalanan hidup mereka.

فَالْفُقَهَاءُ الَّذِينَ هُمْ زُعَمَاءُ الْفِقْهِ وَقَادَةُ الْخَلْقِ، أَعْنِي الَّذِينَ كَثُرَ أَتْبَاعُهُمْ فِي الْمَذَاهِبِ، خَمْسَةٌ: الشَّافِعِيُّ، وَمَالِكٌ، وَأَحْمَدُ بْنُ حَنْبَلٍ، وَأَبُو حَنِيفَةَ، وَسُفْيَانُ الثَّوْرِيُّ، رَحِمَهُمُ اللَّهُ تَعَالَى.

Para fuqaha yang menjadi pemimpin fikih dan panutan manusia — yakni orang-orang yang banyak pengikutnya dalam mazhab-mazhab — ada lima: Asy-Syafi‘i, Malik, Ahmad bin Hanbal, Abu Hanifah, dan Sufyan Ats-Tsauri, semoga Allah Ta‘ala merahmati mereka.

وَكُلُّ وَاحِدٍ مِنْهُمْ كَانَ عَابِدًا، وَزَاهِدًا، وَعَالِمًا بِعُلُومِ الْآخِرَةِ، وَفَقِيهًا فِي مَصَالِحِ الْخَلْقِ فِي الدُّنْيَا، وَمُرِيدًا بِفِقْهِهِ وَجْهَ اللَّهِ تَعَالَى.

Masing-masing dari mereka adalah ahli ibadah, zuhud, berilmu tentang ilmu-ilmu akhirat, fakih dalam kemaslahatan manusia di dunia, dan menjadikan wajah Allah Ta‘ala sebagai tujuan dalam fikihnya.

فَهٰذِهِ خَمْسُ خِصَالٍ، اتَّبَعَهُمْ فُقَهَاءُ الْعَصْرِ مِنْ جُمْلَتِهَا عَلَى خَصْلَةٍ وَاحِدَةٍ، وَهِيَ التَّشْمِيرُ وَالْمُبَالَغَةُ فِي تَفَارِيعِ الْفِقْهِ.

Maka ini ada lima sifat. Para fuqaha masa kini mengikuti mereka dari seluruh sifat itu hanya dalam satu sifat saja, yaitu bersungguh-sungguh dan berlebihan dalam memperinci cabang-cabang fikih.

لِأَنَّ الْخِصَالَ الْأَرْبَعَ لَا تَصْلُحُ إِلَّا لِلْآخِرَةِ، وَهٰذِهِ الْخَصْلَةُ الْوَاحِدَةُ تَصْلُحُ لِلدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ إِنْ أُرِيدَ بِهَا الْآخِرَةُ، قَلَّ صَلَاحُهَا لِلدُّنْيَا.

Sebab empat sifat yang lain hanya bermanfaat untuk akhirat, sedangkan satu sifat ini dapat bermanfaat untuk dunia dan akhirat, jika dengannya memang dimaksudkan akhirat, meskipun manfaatnya bagi dunia lebih kecil.

شَمَّرُوا لَهَا، وَادَّعَوْا بِهَا مُشَابَهَةَ أُولٰئِكَ الْأَئِمَّةِ، وَهَيْهَاتَ أَنْ تُقَاسَ الْمَلَائِكَةُ بِالْحَدَّادِينَ.

Mereka pun bersungguh-sungguh dalam hal itu dan mengklaim dengannya telah menyerupai para imam tersebut. Padahal, amat jauhlah bila malaikat hendak disamakan dengan para tukang besi.

فَلْنُورِدِ الْآنَ مِنْ أَحْوَالِهِمْ مَا يَدُلُّ عَلَى هٰذِهِ الْخِصَالِ الْأَرْبَعِ، فَإِنَّ مَعْرِفَتَهُمْ بِالْفِقْهِ ظَاهِرَةٌ.

Maka sekarang marilah kami sebutkan sebagian keadaan mereka yang menunjukkan empat sifat itu, karena pengetahuan mereka tentang fikih sudah jelas.