Penjelasan tentang hakikat akal dan pembagiannya.
بَيَانُ
حَقِيقَةِ ٱلْعَقْلِ وَأَقْسَامِهِ
Penjelasan tentang hakikat akal dan pembagiannya.
ٱعْلَمْ
أَنَّ ٱلنَّاسَ ٱخْتَلَفُوا فِي حَدِّ ٱلْعَقْلِ وَحَقِيقَتِهِ، وَذَهَلَ
ٱلْأَكْثَرُونَ عَنْ كَوْنِ هَذَا ٱلِٱسْمِ مُطْلَقًا عَلَى مَعَانٍ مُخْتَلِفَةٍ،
فَصَارَ ذَلِكَ سَبَبَ ٱخْتِلَافِهِمْ.
Ketahuilah bahwa manusia berbeda pendapat tentang definisi akal dan hakikatnya.
Kebanyakan mereka lalai bahwa nama ini digunakan secara umum untuk beberapa
makna yang berbeda. Maka hal itulah yang menjadi sebab perbedaan pendapat
mereka.
وَٱلْحَقُّ
ٱلْكَاشِفُ لِلْغِطَاءِ فِيهِ أَنَّ ٱلْعَقْلَ ٱسْمٌ يُطْلَقُ بِٱلِٱشْتِرَاكِ
عَلَى أَرْبَعَةِ مَعَانٍ، كَمَا يُطْلَقُ ٱسْمُ ٱلْعَيْنِ مَثَلًا عَلَى مَعَانٍ
عِدَّةٍ.
Kebenaran yang menyingkap tabir dalam masalah ini ialah bahwa akal adalah
sebuah nama yang digunakan secara musytarak untuk empat makna, sebagaimana
kata ‘ain misalnya digunakan untuk beberapa makna.
وَمَا
يَجْرِي هَذَا ٱلْمَجْرَى فَلَا يَنْبَغِي أَنْ يُطْلَبَ لِجَمِيعِ أَقْسَامِهِ
حَدٌّ وَاحِدٌ، بَلْ يُفْرَدُ كُلُّ قِسْمٍ بِٱلْكَشْفِ عَنْهُ.
Sesuatu yang keadaannya seperti ini tidak sepatutnya dicari satu definisi yang
mencakup seluruh bagiannya. Akan tetapi, setiap bagian harus dijelaskan secara
tersendiri.
فَٱلْأَوَّلُ
ٱلْوَصْفُ ٱلَّذِي يُفَارِقُ ٱلْإِنْسَانُ بِهِ سَائِرَ ٱلْبَهَائِمِ، وَهُوَ
ٱلَّذِي ٱسْتُعِدَّ بِهِ لِقَبُولِ ٱلْعُلُومِ ٱلنَّظَرِيَّةِ وَتَدْبِيرِ
ٱلصَّنَائِعِ ٱلْخَفِيَّةِ ٱلْفِكْرِيَّةِ.
Makna pertama adalah sifat yang dengannya manusia berbeda dari seluruh hewan.
Dengan sifat itulah manusia siap menerima ilmu-ilmu teoritis dan mengatur
berbagai keterampilan yang halus dan bersifat pemikiran.
وَهُوَ
ٱلَّذِي أَرَادَهُ ٱلْحَارِثُ بْنُ أَسَدٍ ٱلْمُحَاسِبِيُّ حَيْثُ قَالَ فِي حَدِّ
ٱلْعَقْلِ: إِنَّهُ غَرِيزَةٌ يَتَهَيَّأُ بِهَا إِدْرَاكُ ٱلْعُلُومِ
ٱلنَّظَرِيَّةِ، وَكَأَنَّهُ نُورٌ يُقْذَفُ فِي ٱلْقَلْبِ بِهِ يَسْتَعِدُّ
لِإِدْرَاكِ ٱلْأَشْيَاءِ.
Inilah yang dimaksud oleh al-Harits bin Asad al-Muhasibi ketika beliau berkata
dalam mendefinisikan akal: “Akal adalah suatu tabiat bawaan yang dengannya
seseorang siap untuk memahami ilmu-ilmu teoritis. Seakan-akan ia adalah cahaya
yang dilemparkan ke dalam hati, yang dengannya hati siap untuk memahami
berbagai hal.”
وَلَمْ
يُنْصِفْ مَنْ أَنْكَرَ هَذَا وَرَدَّ ٱلْعَقْلَ إِلَى مُجَرَّدِ ٱلْعُلُومِ
ٱلضَّرُورِيَّةِ، فَإِنَّ ٱلْغَافِلَ عَنِ ٱلْعُلُومِ وَٱلنَّائِمَ يُسَمَّيَانِ
عَاقِلَيْنِ بِٱعْتِبَارِ وُجُودِ هَذِهِ ٱلْغَرِيزَةِ فِيهِمَا مَعَ فَقْدِ
ٱلْعُلُومِ.
Orang yang mengingkari hal ini dan mengembalikan akal hanya kepada sekadar
ilmu-ilmu yang bersifat daruri, sungguh tidak berlaku adil. Sebab orang yang
lalai dari ilmu dan orang yang sedang tidur tetap disebut berakal, karena
adanya tabiat bawaan ini pada keduanya, walaupun ilmu-ilmu itu tidak sedang
tampak pada mereka.
وَكَمَا
أَنَّ ٱلْحَيَاةَ غَرِيزَةٌ بِهَا يَتَهَيَّأُ ٱلْجِسْمُ لِلْحَرَكَاتِ
ٱلِٱخْتِيَارِيَّةِ وَٱلْإِدْرَاكَاتِ ٱلْحِسِّيَّةِ، فَكَذَلِكَ ٱلْعَقْلُ
غَرِيزَةٌ بِهَا تَتَهَيَّأُ بَعْضُ ٱلْحَيَوَانَاتِ لِلْعُلُومِ ٱلنَّظَرِيَّةِ.
Sebagaimana hidup adalah suatu tabiat bawaan yang dengannya tubuh siap
melakukan gerakan-gerakan pilihan dan berbagai penangkapan inderawi, demikian
pula akal adalah tabiat bawaan yang dengannya sebagian hewan, yakni manusia,
siap menerima ilmu-ilmu teoritis.
وَلَوْ
جَازَ أَنْ يُسَوَّى بَيْنَ ٱلْإِنْسَانِ وَٱلْحِمَارِ فِي ٱلْغَرِيزَةِ
وَٱلْإِدْرَاكَاتِ ٱلْحِسِّيَّةِ، فَيُقَالَ: لَا فَرْقَ بَيْنَهُمَا إِلَّا أَنَّ
ٱللَّهَ تَعَالَى بِحُكْمِ إِجْرَاءِ ٱلْعَادَةِ يَخْلُقُ فِي ٱلْإِنْسَانِ
عُلُومًا وَلَيْسَ يَخْلُقُهَا فِي ٱلْحِمَارِ وَٱلْبَهَائِمِ.
Seandainya boleh menyamakan manusia dan keledai dalam tabiat bawaan dan
penangkapan inderawi, lalu dikatakan: “Tidak ada perbedaan antara keduanya
selain bahwa Allah Ta‘ala, menurut kebiasaan yang berlaku, menciptakan
ilmu-ilmu pada manusia dan tidak menciptakannya pada keledai dan hewan-hewan
lain,”
لَجَازَ
أَنْ يُسَوَّى بَيْنَ ٱلْحِمَارِ وَٱلْجَمَادِ فِي ٱلْحَيَاةِ، وَيُقَالَ: لَا
فَرْقَ، إِلَّا أَنَّ ٱللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يَخْلُقُ فِي ٱلْحِمَارِ حَرَكَاتٍ
مَخْصُوصَةً بِحُكْمِ إِجْرَاءِ ٱلْعَادَةِ.
maka boleh pula menyamakan keledai dengan benda mati dalam hal hidup, dan
dikatakan: “Tidak ada perbedaan, selain bahwa Allah ‘Azza wa Jalla menciptakan
pada keledai gerakan-gerakan tertentu menurut kebiasaan yang berlaku.”
فَإِنَّهُ
لَوْ قُدِّرَ ٱلْحِمَارُ جَمَادًا مَيِّتًا، لَوَجَبَ ٱلْقَوْلُ بِأَنَّ كُلَّ
حَرَكَةٍ تُشَاهَدُ مِنْهُ فَٱللَّهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى قَادِرٌ عَلَى
خَلْقِهَا فِيهِ عَلَى ٱلتَّرْتِيبِ ٱلْمُشَاهَدِ.
Sebab seandainya keledai dianggap sebagai benda mati yang tidak hidup, tentu
harus dikatakan bahwa setiap gerakan yang tampak darinya, Allah Subhanahu wa
Ta‘ala berkuasa untuk menciptakannya padanya sesuai urutan yang terlihat.
وَكَمَا
وَجَبَ أَنْ يُقَالَ: لَمْ تَكُنْ مُفَارَقَتُهُ لِلْجَمَادِ فِي ٱلْحَرَكَاتِ
إِلَّا بِغَرِيزَةٍ ٱخْتُصَّ بِهَا عُبِّرَ عَنْهَا بِٱلْحَيَاةِ، فَكَذَا
مُفَارَقَةُ ٱلْإِنْسَانِ ٱلْبَهِيمَةَ فِي إِدْرَاكِ ٱلْعُلُومِ ٱلنَّظَرِيَّةِ
بِغَرِيزَةٍ يُعَبَّرُ عَنْهَا بِٱلْعَقْلِ.
Dan sebagaimana wajib dikatakan bahwa perbedaannya dari benda mati dalam hal
gerak hanyalah karena suatu tabiat bawaan khusus yang disebut kehidupan,
demikian pula perbedaan manusia dari hewan dalam memahami ilmu-ilmu teoritis
adalah karena suatu tabiat bawaan yang disebut akal.
وَهُوَ
كَٱلْمِرْآةِ ٱلَّتِي تُفَارِقُ غَيْرَهَا مِنَ ٱلْأَجْسَامِ فِي حِكَايَةِ
ٱلصُّوَرِ وَٱلْأَلْوَانِ بِصِفَةٍ ٱخْتُصَّتْ بِهَا وَهِيَ ٱلصَّقَالَةُ.
Akal itu seperti cermin yang berbeda dari benda-benda lain dalam kemampuan
memantulkan bentuk dan warna, karena memiliki sifat khusus, yaitu kejernihan
dan kilapnya.
وَكَذَلِكَ
ٱلْعَيْنُ تُفَارِقُ ٱلْجَبْهَةَ فِي صِفَاتٍ وَهَيْئَاتٍ بِهَا ٱسْتَعَدَّتْ
لِلرُّؤْيَةِ.
Demikian pula mata berbeda dari dahi karena memiliki sifat-sifat dan keadaan
tertentu yang membuatnya siap untuk melihat.
فَنِسْبَةُ
هَذِهِ ٱلْغَرِيزَةِ إِلَى ٱلْعُلُومِ كَنِسْبَةِ ٱلْعَيْنِ إِلَى ٱلرُّؤْيَةِ،
وَنِسْبَةُ ٱلْقُرْآنِ وَٱلشَّرْعِ إِلَى هَذِهِ ٱلْغَرِيزَةِ فِي سِيَاقِهَا
إِلَى ٱنْكِشَافِ ٱلْعُلُومِ لَهَا كَنِسْبَةِ نُورِ ٱلشَّمْسِ إِلَى ٱلْبَصَرِ.
Hubungan tabiat bawaan ini dengan ilmu adalah seperti hubungan mata dengan
penglihatan. Dan hubungan Al-Qur’an serta syariat dengan tabiat bawaan ini
dalam mengantarkannya kepada tersingkapnya ilmu adalah seperti hubungan cahaya
matahari dengan penglihatan.
فَهَكَذَا
يَنْبَغِي أَنْ تُفْهَمَ هَذِهِ ٱلْغَرِيزَةُ.
Demikianlah seharusnya tabiat bawaan ini dipahami.
ٱلثَّانِي
هِيَ ٱلْعُلُومُ ٱلَّتِي تَخْرُجُ إِلَى ٱلْوُجُودِ فِي ذَاتِ ٱلطِّفْلِ
ٱلْمُمَيِّزِ بِجَوَازِ ٱلْجَائِزَاتِ وَٱسْتِحَالَةِ ٱلْمُسْتَحِيلَاتِ.
Makna kedua adalah ilmu-ilmu yang muncul dalam diri anak yang sudah mumayyiz
tentang bolehnya hal-hal yang mungkin dan mustahilnya hal-hal yang mustahil.
كَٱلْعِلْمِ
بِأَنَّ ٱلِٱثْنَيْنِ أَكْثَرُ مِنَ ٱلْوَاحِدِ، وَأَنَّ ٱلشَّخْصَ ٱلْوَاحِدَ لَا
يَكُونُ فِي مَكَانَيْنِ فِي وَقْتٍ وَاحِدٍ.
Seperti pengetahuan bahwa dua lebih banyak daripada satu, dan bahwa satu orang
tidak mungkin berada di dua tempat pada waktu yang sama.
وَهُوَ
ٱلَّذِي عَنَاهُ بَعْضُ ٱلْمُتَكَلِّمِينَ حَيْثُ قَالَ فِي حَدِّ ٱلْعَقْلِ:
إِنَّهُ بَعْضُ ٱلْعُلُومِ ٱلضَّرُورِيَّةِ، كَٱلْعِلْمِ بِجَوَازِ ٱلْجَائِزَاتِ
وَٱسْتِحَالَةِ ٱلْمُسْتَحِيلَاتِ.
Inilah yang dimaksud oleh sebagian ahli kalam ketika mereka berkata dalam
mendefinisikan akal: “Akal adalah sebagian ilmu-ilmu daruri, seperti
pengetahuan tentang bolehnya hal-hal yang mungkin dan mustahilnya hal-hal yang
mustahil.”
وَهُوَ
أَيْضًا صَحِيحٌ فِي نَفْسِهِ، لِأَنَّ هَذِهِ ٱلْعُلُومَ مَوْجُودَةٌ
وَتَسْمِيَتُهَا عَقْلًا ظَاهِرٌ.
Pendapat ini juga benar pada dirinya, karena ilmu-ilmu itu memang ada, dan
penamaannya sebagai akal pun jelas.
وَإِنَّمَا
ٱلْفَاسِدُ أَنْ تُنْكَرَ تِلْكَ ٱلْغَرِيزَةُ، وَيُقَالَ: لَا مَوْجُودَ إِلَّا
هَذِهِ ٱلْعُلُومُ.
Akan tetapi yang rusak adalah jika tabiat bawaan itu diingkari, lalu dikatakan
bahwa yang ada hanyalah ilmu-ilmu ini saja.
ٱلثَّالِثُ
عُلُومٌ تُسْتَفَادُ مِنَ ٱلتَّجَارِبِ بِمَجَارِي ٱلْأَحْوَالِ، فَإِنَّ مَنْ
حَنَّكَتْهُ ٱلتَّجَارِبُ وَهَذَّبَتْهُ ٱلْمَذَاهِبُ يُقَالُ إِنَّهُ عَاقِلٌ فِي
ٱلْعَادَةِ.
Makna ketiga adalah ilmu-ilmu yang diperoleh dari pengalaman melalui berbagai
keadaan yang dialami. Sesungguhnya orang yang telah dimatangkan oleh pengalaman
dan diperhalus oleh berbagai perjalanan hidup, menurut kebiasaan disebut
sebagai orang yang berakal.
وَمَنْ
لَا يَتَّصِفُ بِهَذِهِ ٱلصِّفَةِ فَيُقَالُ إِنَّهُ غَبِيٌّ غِمْرٌ جَاهِلٌ،
فَهَذَا نَوْعٌ آخَرُ مِنَ ٱلْعُلُومِ يُسَمَّى عَقْلًا.
Adapun orang yang tidak memiliki sifat ini, maka ia disebut bodoh, dangkal, dan
jahil. Maka ini adalah jenis lain dari ilmu yang disebut akal.
ٱلرَّابِعُ
أَنْ تَنْتَهِيَ قُوَّةُ تِلْكَ ٱلْغَرِيزَةِ إِلَى أَنْ يَعْرِفَ عَوَاقِبَ
ٱلْأُمُورِ، وَيَقْمَعَ ٱلشَّهْوَةَ ٱلدَّاعِيَةَ إِلَى ٱللَّذَّةِ ٱلْعَاجِلَةِ،
وَيَقْهَرَهَا.
Makna keempat adalah ketika kekuatan tabiat bawaan itu sampai pada tingkat
mampu mengetahui akibat-akibat dari berbagai urusan, lalu mengekang syahwat
yang mengajak kepada kenikmatan yang segera, dan menundukkannya.
فَإِذَا
حَصَلَتْ هَذِهِ ٱلْقُوَّةُ سُمِّيَ صَاحِبُهَا عَاقِلًا، مِنْ حَيْثُ إِنَّ
إِقْدَامَهُ وَإِحْجَامَهُ بِحَسَبِ مَا يَقْتَضِيهِ ٱلنَّظَرُ فِي ٱلْعَوَاقِبِ،
لَا بِحُكْمِ ٱلشَّهْوَةِ ٱلْعَاجِلَةِ.
Apabila kekuatan ini telah dimiliki, pemiliknya disebut orang yang berakal,
karena tindakan maju dan mundurnya didasarkan pada pertimbangan akibat-akibat
yang akan terjadi, bukan menurut dorongan syahwat yang segera.
وَهَذِهِ
أَيْضًا مِنْ خَوَاصِّ ٱلْإِنْسَانِ ٱلَّتِي بِهَا يَتَمَيَّزُ عَنْ سَائِرِ
ٱلْحَيَوَانِ.
Ini juga termasuk kekhususan manusia yang dengannya ia berbeda dari seluruh
hewan lainnya.
فَٱلْأَوَّلُ
هُوَ ٱلْأَسُّ وَٱلسِّنْخُ وَٱلْمَنْبَعُ.
Makna pertama adalah dasar, akar jenis, dan sumbernya.
وَٱلثَّانِي
هُوَ ٱلْفَرْعُ ٱلْأَقْرَبُ إِلَيْهِ.
Makna kedua adalah cabang yang paling dekat kepadanya.
وَٱلثَّالِثُ
فَرْعُ ٱلْأَوَّلِ وَٱلثَّانِي، إِذْ بِقُوَّةِ ٱلْغَرِيزَةِ وَٱلْعُلُومِ
ٱلضَّرُورِيَّةِ تُسْتَفَادُ عُلُومُ ٱلتَّجَارِبِ.
Makna ketiga adalah cabang dari makna pertama dan kedua, karena dengan kekuatan
tabiat bawaan dan ilmu-ilmu daruri, ilmu-ilmu pengalaman dapat diperoleh.
وَٱلرَّابِعُ
هُوَ ٱلثَّمَرَةُ ٱلْأَخِيرَةُ وَهُوَ ٱلْغَايَةُ ٱلْقُصْوَى.
Makna keempat adalah buah yang terakhir, dan itulah tujuan tertinggi.
فَٱلْأَوَّلَانِ
بِٱلطَّبْعِ، وَٱلْآخِرَانِ بِٱلِٱكْتِسَابِ.
Dua yang pertama bersifat alami, sedangkan dua yang terakhir diperoleh melalui
usaha.
وَلِذَلِكَ
قَالَ عَلِيٌّ كَرَّمَ ٱللَّهُ وَجْهَهُ:
Karena itu, Ali karamallahu wajhah berkata:
رَأَيْتُ
ٱلْعَقْلَ عَقْلَيْنِ ... فَمَطْبُوعٌ وَمَسْمُوعٌ
Aku melihat akal itu ada dua macam ... akal bawaan dan akal hasil pendengaran.
وَلَا
يَنْفَعُ مَسْمُوعٌ ... إِذَا لَمْ يَكُ مَطْبُوعٌ
Akal yang didengar tidak bermanfaat ... apabila tidak ada akal bawaan.
كَمَا
لَا تَنْفَعُ ٱلشَّمْسُ ... وَضَوْءُ ٱلْعَيْنِ مَمْنُوعٌ
Sebagaimana matahari tidak bermanfaat ... bila cahaya mata terhalang.
وَٱلْأَوَّلُ
هُوَ ٱلْمُرَادُ بِقَوْلِهِ صَلَّى ٱللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَا خَلَقَ
ٱللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ خَلْقًا أَكْرَمَ عَلَيْهِ مِنَ ٱلْعَقْلِ.
Makna pertama itulah yang dimaksud dalam sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa
sallam: “Allah ‘Azza wa Jalla tidak menciptakan makhluk yang lebih mulia di
sisi-Nya daripada akal.”
وَٱلْأَخِيرُ
هُوَ ٱلْمُرَادُ بِقَوْلِهِ صَلَّى ٱللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِذَا تَقَرَّبَ
ٱلنَّاسُ بِأَبْوَابِ ٱلْبِرِّ وَٱلْأَعْمَالِ ٱلصَّالِحَةِ فَتَقَرَّبْ أَنْتَ
بِعَقْلِكَ.
Makna yang terakhir itulah yang dimaksud dalam sabda Nabi shallallahu ‘alaihi
wa sallam: “Apabila manusia mendekatkan diri dengan berbagai pintu kebajikan
dan amal-amal saleh, maka mendekatlah engkau dengan akalmu.”
وَهُوَ
ٱلْمُرَادُ بِقَوْلِ رَسُولِ ٱللَّهِ صَلَّى ٱللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِأَبِي
ٱلدَّرْدَاءِ رَضِيَ ٱللَّهُ عَنْهُ: ٱزْدَدْ عَقْلًا تَزْدَدْ مِنْ رَبِّكَ
قُرْبًا.
Dan itulah yang dimaksud dalam sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
kepada Abu ad-Darda’ radhiyallahu ‘anhu: “Tambahkanlah akalmu, niscaya engkau
akan bertambah dekat kepada Tuhanmu.”
فَقَالَ:
بِأَبِي أَنْتَ وَأُمِّي، وَكَيْفَ لِي بِذَلِكَ؟
Maka ia berkata: “Demi ayah dan ibuku sebagai tebusanmu, bagaimana caranya aku
dapat melakukan itu?”
فَقَالَ:
ٱجْتَنِبْ مَحَارِمَ ٱللَّهِ تَعَالَى، وَأَدِّ فَرَائِضَ ٱللَّهِ سُبْحَانَهُ،
تَكُنْ عَاقِلًا، وَٱعْمَلْ بِٱلصَّالِحَاتِ مِنَ ٱلْأَعْمَالِ، تَزْدَدْ فِي
عَاجِلِ ٱلدُّنْيَا رِفْعَةً وَكَرَامَةً، وَتَنَلْ فِي آجِلِ ٱلْعُقْبَى بِهَا
مِنْ رَبِّكَ عَزَّ وَجَلَّ ٱلْقُرْبَ وَٱلْعِزَّ.
Beliau bersabda: “Jauhilah hal-hal yang diharamkan Allah Ta‘ala, dan
tunaikanlah kewajiban-kewajiban Allah Subhanahu, niscaya engkau menjadi orang
yang berakal. Kerjakanlah amal-amal saleh, niscaya engkau akan bertambah tinggi
dan mulia di dunia yang segera ini, dan di akhirat nanti engkau akan memperoleh
kedekatan dan kemuliaan dari Tuhanmu ‘Azza wa Jalla.”
وَعَنْ
سَعِيدِ بْنِ ٱلْمُسَيَّبِ أَنَّ عُمَرَ وَأُبَيَّ بْنَ كَعْبٍ وَأَبَا هُرَيْرَةَ
رَضِيَ ٱللَّهُ عَنْهُمْ دَخَلُوا عَلَى رَسُولِ ٱللَّهِ صَلَّى ٱللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ، فَقَالُوا: يَا رَسُولَ ٱللَّهِ، مَنْ أَعْلَمُ ٱلنَّاسِ؟
Dari Sa‘id bin al-Musayyab, bahwa Umar, Ubay bin Ka‘b, dan Abu Hurairah
radhiyallahu ‘anhum masuk menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,
lalu mereka bertanya: “Wahai Rasulullah, siapakah manusia yang paling berilmu?”
فَقَالَ
صَلَّى ٱللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ٱلْعَاقِلُ.
Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Orang yang berakal.”
قَالُوا:
فَمَنْ أَعْبَدُ ٱلنَّاسِ؟
Mereka bertanya: “Lalu siapakah manusia yang paling banyak ibadahnya?”
قَالَ:
ٱلْعَاقِلُ.
Beliau menjawab: “Orang yang berakal.”
قَالُوا:
فَمَنْ أَفْضَلُ ٱلنَّاسِ؟
Mereka bertanya: “Lalu siapakah manusia yang paling utama?”
قَالَ:
ٱلْعَاقِلُ.
Beliau menjawab: “Orang yang berakal.”
قَالُوا:
أَلَيْسَ ٱلْعَاقِلُ مَنْ تَمَّتْ مُرُوءَتُهُ، وَظَهَرَتْ فَصَاحَتُهُ، وَجَادَتْ
كَفُّهُ، وَعَظُمَتْ مَنْزِلَتُهُ؟
Mereka bertanya: “Bukankah orang yang berakal itu ialah orang yang sempurna
kehormatannya, tampak kefasihannya, dermawan tangannya, dan tinggi
kedudukannya?”
فَقَالَ
صَلَّى ٱللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: {وَإِنْ كُلُّ ذَٰلِكَ لَمَّا مَتَاعُ
ٱلْحَيَاةِ ٱلدُّنْيَا وَٱلْآخِرَةُ عِنْدَ رَبِّكَ لِلْمُتَّقِينَ}.
Maka beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Dan semua itu hanyalah
kesenangan kehidupan dunia, sedangkan akhirat di sisi Tuhanmu adalah untuk
orang-orang yang bertakwa.”
إِنَّ
ٱلْعَاقِلَ هُوَ ٱلْمُتَّقِي، وَإِنْ كَانَ فِي ٱلدُّنْيَا خَسِيسًا ذَلِيلًا.
Sesungguhnya orang yang berakal ialah orang yang bertakwa, walaupun di dunia ia
hina dan rendah.
قَالَ
صَلَّى ٱللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي حَدِيثٍ آخَرَ: إِنَّمَا ٱلْعَاقِلُ مَنْ
آمَنَ بِٱللَّهِ وَصَدَّقَ رُسُلَهُ وَعَمِلَ بِطَاعَتِهِ.
Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam hadis lain: “Sesungguhnya
orang yang berakal hanyalah orang yang beriman kepada Allah, membenarkan para
rasul-Nya, dan beramal dengan ketaatan kepada-Nya.”
وَيُشْبِهُ
أَنْ يَكُونَ أَصْلُ ٱلِٱسْمِ فِي أَصْلِ ٱللُّغَةِ لِتِلْكَ ٱلْغَرِيزَةِ
وَكَذَلِكَ فِي ٱلِٱسْتِعْمَالِ.
Tampaknya, asal penggunaan nama ini dalam bahasa memang untuk tabiat bawaan
tersebut, dan demikian pula dalam pemakaian umum.
وَإِنَّمَا
أُطْلِقَ عَلَى ٱلْعُلُومِ مِنْ حَيْثُ إِنَّهَا ثَمَرَتُهَا، كَمَا يُعْرَفُ
ٱلشَّيْءُ بِثَمَرَتِهِ، فَيُقَالُ: ٱلْعِلْمُ هُوَ ٱلْخَشْيَةُ، وَٱلْعَالِمُ
مَنْ يَخْشَى ٱللَّهَ تَعَالَى.
Nama itu kemudian digunakan untuk ilmu-ilmu karena ilmu-ilmu itu adalah
buahnya, sebagaimana sesuatu dikenal melalui buahnya. Maka dikatakan: “Ilmu
adalah rasa takut kepada Allah,” dan “orang berilmu adalah orang yang takut
kepada Allah Ta‘ala.”
فَإِنَّ
ٱلْخَشْيَةَ ثَمَرَةُ ٱلْعِلْمِ، فَتَكُونُ كَٱلْمَجَازِ لِغَيْرِ تِلْكَ
ٱلْغَرِيزَةِ، وَلَكِنْ لَيْسَ ٱلْغَرَضُ ٱلْبَحْثَ عَنِ ٱللُّغَةِ.
Sebab rasa takut itu adalah buah dari ilmu. Maka penamaan itu menjadi seperti
makna majazi bagi selain tabiat bawaan tersebut. Akan tetapi, tujuan pembahasan
ini bukanlah meneliti persoalan bahasa.
وَٱلْمَقْصُودُ
أَنَّ هَذِهِ ٱلْأَقْسَامَ ٱلْأَرْبَعَةَ مَوْجُودَةٌ، وَٱلِٱسْمُ يُطْلَقُ عَلَى
جَمِيعِهَا، وَلَا خِلَافَ فِي وُجُودِ جَمِيعِهَا إِلَّا فِي ٱلْقِسْمِ
ٱلْأَوَّلِ، وَٱلصَّحِيحُ وُجُودُهَا بَلْ هِيَ ٱلْأَصْلُ.
Maksudnya, keempat pembagian ini memang ada, dan nama akal digunakan untuk
semuanya. Tidak ada perselisihan tentang adanya semua itu, kecuali pada bagian
pertama. Pendapat yang benar adalah bahwa ia ada, bahkan itulah asalnya.
وَهَذِهِ
ٱلْعُلُومُ كَأَنَّهَا مُضَمَّنَةٌ فِي تِلْكَ ٱلْغَرِيزَةِ بِٱلْفِطْرَةِ،
وَلَكِنَّهَا تَظْهَرُ فِي ٱلْوُجُودِ إِذَا جَرَى سَبَبٌ يُخْرِجُهَا إِلَى
ٱلْوُجُودِ، حَتَّى كَأَنَّ هَذِهِ ٱلْعُلُومَ لَيْسَتْ بِشَيْءٍ وَارِدٍ
عَلَيْهَا مِنْ خَارِجٍ، وَكَأَنَّهَا كَانَتْ مُسْتَكِنَّةً فِيهَا فَظَهَرَتْ.
Ilmu-ilmu ini seakan-akan telah termuat di dalam tabiat bawaan itu secara
fitri. Namun ia muncul dalam wujud apabila ada sebab yang mengeluarkannya
menjadi tampak. Seolah-olah ilmu-ilmu ini bukanlah sesuatu yang datang
kepadanya dari luar, melainkan memang telah tersembunyi di dalamnya lalu
tampak.
وَمِثَالُهُ
ٱلْمَاءُ فِي ٱلْأَرْضِ، فَإِنَّهُ يَظْهَرُ بِحَفْرِ ٱلْبِئْرِ وَيَجْتَمِعُ
وَيَتَمَيَّزُ بِٱلْحِسِّ، لَا بِأَنْ يُسَاقَ إِلَيْهَا شَيْءٌ جَدِيدٌ.
Perumpamaannya seperti air di dalam tanah. Air itu muncul dengan penggalian
sumur, lalu berkumpul dan dapat ditangkap oleh indera, bukan karena ada sesuatu
yang baru dialirkan ke sana.
وَكَذَلِكَ
ٱلدُّهْنُ فِي ٱللَّوْزِ، وَمَاءُ ٱلْوَرْدِ فِي ٱلْوَرْدِ.
Demikian pula minyak dalam biji almond, dan air mawar dalam bunga mawar.
وَلِذَلِكَ
قَالَ تَعَالَى: وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِنْ بَنِي آدَمَ مِنْ ظُهُورِهِمْ
ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلَى أَنْفُسِهِمْ.
Karena itu Allah Ta‘ala berfirman: “Dan ingatlah ketika Tuhanmu mengambil dari
anak cucu Adam, dari sulbi mereka, keturunan mereka, dan Allah menjadikan
mereka bersaksi atas diri mereka sendiri.”
أَلَسْتُ
بِرَبِّكُمْ قَالُوا بَلَى.
“Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Benar.”
فَٱلْمُرَادُ
بِهِ إِقْرَارُ نُفُوسِهِمْ لَا إِقْرَارُ ٱلْأَلْسِنَةِ، فَإِنَّهُمْ ٱنْقَسَمُوا
فِي إِقْرَارِ ٱلْأَلْسِنَةِ حَيْثُ وُجِدَتِ ٱلْأَلْسِنَةُ وَٱلْأَشْخَاصُ إِلَى
مُقِرٍّ وَإِلَى جَاحِدٍ.
Yang dimaksud dengan itu adalah pengakuan jiwa mereka, bukan pengakuan lisan.
Sebab ketika lisan dan pribadi mereka benar-benar ada di dunia, mereka terbagi
menjadi yang mengakui dan yang mengingkari.
وَلِذَلِكَ
قَالَ تَعَالَى: وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَهُمْ لَيَقُولُنَّ ٱللَّهُ.
Karena itu Allah Ta‘ala berfirman: “Dan sungguh jika engkau bertanya kepada
mereka, ‘Siapakah yang menciptakan mereka?’ pasti mereka akan menjawab,
‘Allah.’”
مَعْنَاهُ
إِنِ ٱعْتَبَرْتَ أَحْوَالَهُمْ شَهِدَتْ بِذَلِكَ نُفُوسُهُمْ وَبَوَاطِنُهُمْ.
Maknanya ialah, jika engkau memperhatikan keadaan mereka, niscaya jiwa dan
batin mereka bersaksi akan hal itu.
فِطْرَةَ
ٱللَّهِ ٱلَّتِي فَطَرَ ٱلنَّاسَ عَلَيْهَا، أَيْ كُلُّ آدَمِيٍّ فُطِرَ عَلَى
ٱلْإِيمَانِ بِٱللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ، بَلْ عَلَى مَعْرِفَةِ ٱلْأَشْيَاءِ عَلَى
مَا هِيَ عَلَيْهِ، أَعْنِي أَنَّهَا كَٱلْمُضَمَّنَةِ فِيهَا لِقُرْبِ
ٱسْتِعْدَادِهَا لِلْإِدْرَاكِ.
“Itulah fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu,”
maksudnya setiap manusia diciptakan di atas fitrah iman kepada Allah ‘Azza wa
Jalla, bahkan di atas kesiapan untuk mengenal segala sesuatu sebagaimana
adanya. Maksud saya, pengetahuan itu seakan-akan telah termuat di dalam fitrah
itu karena dekatnya kesiapan untuk menangkapnya.
ثُمَّ
لَمَّا كَانَ ٱلْإِيمَانُ مَرْكُوزًا فِي ٱلنُّفُوسِ بِٱلْفِطْرَةِ ٱنْقَسَمَ
ٱلنَّاسُ إِلَى قِسْمَيْنِ: إِلَى مَنْ أَعْرَضَ فَنَسِيَ، وَهُمُ ٱلْكُفَّارُ،
وَإِلَى مَنْ أَجَالَ خَاطِرَهُ فَتَذَكَّرَ، فَكَانَ كَمَنْ حَمَلَ شَهَادَةً
فَنَسِيَهَا بِغَفْلَةٍ ثُمَّ تَذَكَّرَهَا.
Kemudian karena iman itu tertanam dalam jiwa secara fitri, manusia terbagi
menjadi dua golongan: golongan yang berpaling lalu lupa, dan mereka itulah
orang-orang kafir; dan golongan yang menggerakkan pikirannya lalu ingat
kembali, maka keadaannya seperti orang yang pernah membawa suatu kesaksian
kemudian melupakannya karena lalai, lalu mengingatnya kembali.
وَلِذَلِكَ
قَالَ عَزَّ وَجَلَّ: لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَ، وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُو
ٱلْأَلْبَابِ، وَٱذْكُرُوا نِعْمَةَ ٱللَّهِ عَلَيْكُمْ وَمِيثَاقَهُ ٱلَّذِي
وَاثَقَكُمْ بِهِ، وَلَقَدْ يَسَّرْنَا ٱلْقُرْآنَ لِلذِّكْرِ فَهَلْ مِنْ
مُدَّكِرٍ.
Karena itu Allah ‘Azza wa Jalla berfirman: “Agar mereka mengambil pelajaran,”
“dan agar orang-orang yang berakal mengambil pelajaran,” “ingatlah nikmat Allah
atas kalian dan perjanjian-Nya yang telah Dia ikat dengan kalian,” dan “sungguh
Kami telah mudahkan Al-Qur’an untuk pelajaran, maka adakah orang yang mau
mengambil pelajaran?”
وَتَسْمِيَةُ
هَذَا ٱلنَّمَطِ تَذَكُّرًا لَيْسَ بِبَعِيدٍ، فَكَأَنَّ ٱلتَّذَكُّرَ ضَرْبَانِ.
Menyebut pola seperti ini sebagai tadzakkur atau mengingat
kembali bukanlah sesuatu yang jauh dari makna. Seakan-akan ingatan kembali itu
ada dua macam.
أَحَدُهُمَا
أَنْ يَذْكُرَ صُورَةً كَانَتْ حَاضِرَةَ ٱلْوُجُودِ فِي قَلْبِهِ، لَكِنْ غَابَتْ
بَعْدَ وُجُودٍ آخَرَ.
Yang pertama ialah seseorang mengingat suatu gambaran yang sebelumnya pernah
hadir dalam hatinya, lalu menghilang setelah sebelumnya ada.
وَٱلْآخَرُ
أَنْ يَذْكُرَ صُورَةً كَانَتْ مُضَمَّنَةً فِيهِ بِٱلْفِطْرَةِ.
Yang kedua ialah seseorang mengingat suatu gambaran yang telah termuat dalam
dirinya secara fitri.
وَهَذِهِ
حَقَائِقُ ظَاهِرَةٌ لِلنَّاظِرِ بِنُورِ ٱلْبَصِيرَةِ، ثَقِيلَةٌ عَلَى مَنْ
يَسْتَرُوحُ إِلَى ٱلسَّمَاعِ وَٱلتَّقْلِيدِ دُونَ ٱلْكَشْفِ وَٱلْعِيَانِ.
Ini adalah hakikat-hakikat yang jelas bagi orang yang memandang dengan cahaya
mata hati. Akan tetapi, hal ini terasa berat bagi orang yang hanya bersandar
pada mendengar dan taklid, tanpa penyingkapan dan penyaksian langsung.
وَلِذَلِكَ
تَرَاهُ يَتَخَبَّطُ فِي مِثْلِ هَذِهِ ٱلْآيَاتِ وَيَتَعَسَّفُ، وَفِي تَأْوِيلِ
ٱلتَّذَكُّرِ بِإِقْرَارِ ٱلنُّفُوسِ أَنْوَاعًا مِنَ ٱلتَّعَسُّفَاتِ.
Karena itu engkau melihat orang seperti itu kebingungan dalam memahami
ayat-ayat semacam ini dan bersikap memaksakan diri. Dalam menafsirkan makna
mengingat kembali sebagai pengakuan jiwa pun ia menempuh berbagai bentuk
pemaksaan makna.
وَيَتَخَايَلُ
إِلَيْهِ فِي ٱلْأَخْبَارِ وَٱلْآيَاتِ ضُرُوبٌ مِنَ ٱلْمُنَاقَضَاتِ، وَرُبَّمَا
يَغْلِبُ ذَلِكَ عَلَيْهِ حَتَّى يَنْظُرَ إِلَيْهَا بِعَيْنِ ٱلِٱسْتِحْقَارِ
وَيَعْتَقِدَ فِيهَا ٱلتَّهَافُتَ.
Lalu dalam hadis-hadis dan ayat-ayat itu terbayang olehnya berbagai macam
pertentangan. Bahkan terkadang hal itu sangat menguasainya sampai ia
memandangnya dengan mata meremehkan dan meyakini adanya kerancuan di dalamnya.
وَمِثَالُهُ
مِثَالُ ٱلْأَعْمَى ٱلَّذِي يَدْخُلُ دَارًا فَيَعْثُرُ فِيهَا بِٱلْأَوَانِي
ٱلْمَصْفُوفَةِ فِي ٱلدَّارِ، فَيَقُولُ: مَا لِهَذِهِ ٱلْأَوَانِي لَا تُرْفَعُ
مِنَ ٱلطَّرِيقِ وَتُرَدُّ إِلَى مَوَاضِعِهَا؟
Perumpamaannya seperti seorang buta yang masuk ke dalam sebuah rumah, lalu ia
tersandung oleh bejana-bejana yang tersusun di dalam rumah itu. Maka ia
berkata: “Mengapa bejana-bejana ini tidak disingkirkan dari jalan dan
dikembalikan ke tempatnya?”
فَيُقَالُ
لَهُ: إِنَّهَا فِي مَوَاضِعِهَا، وَإِنَّمَا ٱلْخَلَلُ فِي بَصَرِكَ.
Lalu dikatakan kepadanya: “Semuanya sudah berada di tempatnya. Kerusakan itu
hanya ada pada penglihatanmu.”
فَكَذَلِكَ
خَلَلُ ٱلْبَصِيرَةِ يَجْرِي مَجْرَاهُ، وَأَطَمُّ مِنْهُ وَأَعْظَمُ، إِذِ
ٱلنَّفْسُ كَٱلْفَارِسِ وَٱلْبَدَنُ كَٱلْفَرَسِ، وَعَمَى ٱلْفَارِسِ أَضَرُّ مِنْ
عَمَى ٱلْفَرَسِ.
Demikian pula kerusakan mata hati berjalan dengan cara yang serupa, bahkan
lebih berat dan lebih besar. Sebab jiwa itu seperti penunggang, sedangkan badan
seperti tunggangan. Kebutaan penunggang lebih berbahaya daripada kebutaan
tunggangan.
وَلِمُشَابَهَةِ
بَصِيرَةِ ٱلْبَاطِنِ لِبَصِيرَةِ ٱلظَّاهِرِ قَالَ ٱللَّهُ تَعَالَى: مَا كَذَبَ
ٱلْفُؤَادُ مَا رَأَى.
Karena adanya kemiripan antara penglihatan batin dan penglihatan lahir, Allah
Ta‘ala berfirman: “Hati itu tidak mendustakan apa yang telah dilihatnya.”
وَقَالَ
تَعَالَى: وَكَذَٰلِكَ نُرِي إِبْرَاهِيمَ مَلَكُوتَ ٱلسَّمَاوَاتِ وَٱلْأَرْضِ.
Dan Allah Ta‘ala berfirman: “Dan demikianlah Kami memperlihatkan kepada Ibrahim
kerajaan langit dan bumi.”
وَسُمِّيَ
ضِدُّهُ عَمًى، فَقَالَ تَعَالَى: فَإِنَّهَا لَا تَعْمَى ٱلْأَبْصَارُ وَلَٰكِنْ
تَعْمَى ٱلْقُلُوبُ ٱلَّتِي فِي ٱلصُّدُورِ.
Lawan dari penglihatan itu disebut kebutaan. Maka Allah Ta‘ala berfirman:
“Karena sesungguhnya bukan mata itu yang buta, tetapi yang buta ialah hati yang
ada di dalam dada.”
وَقَالَ
تَعَالَى: وَمَنْ كَانَ فِي هَٰذِهِ أَعْمَى فَهُوَ فِي ٱلْآخِرَةِ أَعْمَى
وَأَضَلُّ سَبِيلًا.
Dan Allah Ta‘ala berfirman: “Barang siapa di dunia ini buta, maka di akhirat ia
akan lebih buta dan lebih tersesat jalannya.”
وَهَذِهِ
ٱلْأُمُورُ ٱلَّتِي كُشِفَتْ لِلْأَنْبِيَاءِ بَعْضُهَا كَانَ بِٱلْبَصَرِ
وَبَعْضُهَا كَانَ بِٱلْبَصِيرَةِ، وَسُمِّيَ ٱلْكُلُّ رُؤْيَةً.
Hal-hal yang disingkapkan kepada para nabi itu sebagian diperoleh dengan
penglihatan mata, dan sebagian lagi diperoleh dengan penglihatan batin.
Semuanya disebut dengan istilah melihat.
وَبِٱلْجُمْلَةِ،
مَنْ لَمْ تَكُنْ بَصِيرَتُهُ ٱلْبَاطِنَةُ ثَاقِبَةً لَمْ يَعْلَقْ بِهِ مِنَ
ٱلدِّينِ إِلَّا قُشُورُهُ وَأَمْثِلَتُهُ دُونَ لُبَابِهِ وَحَقَائِقِهِ.
Kesimpulannya, siapa yang mata batinnya tidak tajam, maka dari agama tidak akan
melekat padanya kecuali kulit-kulit luarnya dan gambaran-gambarannya saja,
bukan inti dan hakikatnya.
فَهَذِهِ
أَقْسَامُ مَا يَنْطَلِقُ ٱسْمُ ٱلْعَقْلِ عَلَيْهَا.
Maka inilah pembagian dari hal-hal yang dinamai akal.