Penjelasan tentang perbedaan tingkat jiwa-jiwa manusia dalam akal
بَيَانُ تَفَاوُتِ ٱلنُّفُوسِ فِي ٱلْعَقْلِ
Penjelasan tentang perbedaan tingkat jiwa-jiwa manusia dalam akal.
قَدِ
ٱخْتَلَفَ ٱلنَّاسُ فِي تَفَاوُتِ ٱلْعَقْلِ، وَلَا مَعْنَى لِلِٱشْتِغَالِ
بِنَقْلِ كَلَامِ مَنْ قَلَّ تَحْصِيلُهُ، بَلِ ٱلْأَوْلَى وَٱلْأَهَمُّ
ٱلْمُبَادَرَةُ إِلَى ٱلتَّصْرِيحِ بِٱلْحَقِّ.
Manusia telah berbeda pendapat tentang adanya perbedaan tingkat akal. Tidak ada
gunanya menyibukkan diri dengan menukil perkataan orang yang sedikit
pemahamannya. Bahkan yang lebih utama dan lebih penting adalah segera
menjelaskan kebenaran secara tegas.
وَٱلْحَقُّ
ٱلصَّرِيحُ فِيهِ أَنْ يُقَالَ: إِنَّ ٱلتَّفَاوُتَ يَتَطَرَّقُ إِلَى
ٱلْأَقْسَامِ ٱلْأَرْبَعَةِ سِوَى ٱلْقِسْمِ ٱلثَّانِي، وَهُوَ ٱلْعِلْمُ
ٱلضَّرُورِيُّ بِجَوَازِ ٱلْجَائِزَاتِ وَٱسْتِحَالَةِ ٱلْمُسْتَحِيلَاتِ.
Kebenaran yang jelas dalam masalah ini ialah bahwa perbedaan tingkat itu
terdapat pada keempat bagian akal, kecuali bagian kedua, yaitu ilmu daruri
tentang bolehnya hal-hal yang mungkin dan mustahilnya hal-hal yang mustahil.
فَإِنَّ
مَنْ عَرَفَ أَنَّ ٱلِٱثْنَيْنِ أَكْثَرُ مِنَ ٱلْوَاحِدِ عَرَفَ أَيْضًا
ٱسْتِحَالَةَ كَوْنِ ٱلْجِسْمِ فِي مَكَانَيْنِ، وَكَوْنِ ٱلشَّيْءِ ٱلْوَاحِدِ
قَدِيمًا حَادِثًا، وَكَذَا سَائِرَ ٱلنَّظَائِرِ، وَكُلَّ مَا يُدْرِكُهُ
إِدْرَاكًا مُحَقَّقًا مِنْ غَيْرِ شَكٍّ.
Sebab orang yang mengetahui bahwa dua lebih banyak daripada satu, tentu juga
mengetahui mustahilnya satu benda berada di dua tempat, dan mustahilnya satu
hal sekaligus bersifat qadim dan baru, demikian pula semua hal yang serupa,
serta semua yang dipahaminya dengan pemahaman yang pasti tanpa keraguan.
وَأَمَّا
ٱلْأَقْسَامُ ٱلثَّلَاثَةُ فَٱلتَّفَاوُتُ يَتَطَرَّقُ إِلَيْهَا.
Adapun tiga bagian lainnya, maka perbedaan tingkat dapat terjadi padanya.
أَمَّا
ٱلْقِسْمُ ٱلرَّابِعُ، وَهُوَ ٱسْتِيلَاءُ ٱلْقُوَّةِ عَلَى قَمْعِ ٱلشَّهَوَاتِ،
فَلَا يَخْفَى تَفَاوُتُ ٱلنَّاسِ فِيهِ، بَلْ لَا يَخْفَى تَفَاوُتُ أَحْوَالِ
ٱلشَّخْصِ ٱلْوَاحِدِ فِيهِ.
Adapun bagian keempat, yaitu dominasi kekuatan akal dalam menundukkan syahwat,
maka perbedaan tingkat manusia dalam hal ini sangat jelas. Bahkan perbedaan
keadaan pada satu orang yang sama dalam hal ini pun jelas.
وَهَذَا
ٱلتَّفَاوُتُ يَكُونُ تَارَةً لِتَفَاوُتِ ٱلشَّهْوَةِ، إِذْ قَدْ يَقْدِرُ
ٱلْعَاقِلُ عَلَى تَرْكِ بَعْضِ ٱلشَّهَوَاتِ دُونَ بَعْضٍ، وَلَكِنَّهُ غَيْرُ
مَقْصُورٍ عَلَيْهِ.
Perbedaan ini kadang terjadi karena perbedaan kekuatan syahwat. Sebab orang
berakal terkadang mampu meninggalkan sebagian syahwat, tetapi tidak mampu
meninggalkan sebagian yang lain. Namun perbedaan ini tidak terbatas pada sebab
itu saja.
فَإِنَّ
ٱلشَّابَّ قَدْ يَعْجِزُ عَنْ تَرْكِ ٱلزِّنَا، وَإِذَا كَبِرَ وَتَمَّ عَقْلُهُ
قَدَرَ عَلَيْهِ، وَشَهْوَةُ ٱلرِّيَاءِ وَٱلرِّيَاسَةِ تَزْدَادُ قُوَّةً
بِٱلْكِبَرِ لَا ضَعْفًا.
Seorang pemuda mungkin tidak mampu meninggalkan zina. Namun ketika ia telah tua
dan akalnya semakin sempurna, ia mampu meninggalkannya. Sedangkan syahwat riya
dan cinta kedudukan justru bertambah kuat seiring bertambahnya usia, bukan
melemah.
وَقَدْ
يَكُونُ سَبَبُهُ ٱلتَّفَاوُتَ فِي ٱلْعِلْمِ ٱلْمُعَرِّفِ لِغَائِلَةِ تِلْكَ
ٱلشَّهْوَةِ.
Terkadang sebabnya adalah perbedaan dalam ilmu yang menjelaskan bahaya dari
syahwat tersebut.
وَلِهَذَا
يَقْدِرُ ��لطَّبِيبُ عَلَى ٱلِٱحْتِمَاءِ عَنْ بَعْضِ ٱلْأَطْعِمَةِ ٱلْمُضِرَّةِ، وَقَدْ لَا يَقْدِرُ مَنْ يُسَاوِيهِ فِي ٱلْعَقْلِ عَلَى ذَلِكَ إِذَا لَمْ يَكُنْ طَبِيبًا، وَإِنْ كَانَ يَعْتَقِدُ عَلَى ٱلْجُمْلَةِ أَنَّ فِيهِ مُضَرَّةً.
Karena itu, seorang dokter mampu menahan diri dari sebagian makanan yang
berbahaya, sedangkan orang lain yang setara dengannya dalam akal mungkin tidak
mampu melakukan itu apabila ia bukan seorang dokter, walaupun secara umum ia
percaya bahwa makanan itu berbahaya.
لَكِنْ
إِذَا كَانَ عِلْمُ ٱلطَّبِيبِ أَتَمَّ كَانَ خَوْفُهُ أَشَدَّ، فَيَكُونُ
ٱلْخَوْفُ جُنْدًا لِلْعَقْلِ وَعُدَّةً لَهُ فِي قَمْعِ ٱلشَّهَوَاتِ وَكَسْرِهَا.
Akan tetapi, apabila ilmu seorang dokter lebih sempurna, maka rasa takutnya
lebih kuat. Maka rasa takut itu menjadi tentara bagi akal dan alat baginya
dalam menundukkan serta mematahkan syahwat.
وَكَذَلِكَ
يَكُونُ ٱلْعَالِمُ أَقْدَرَ عَلَى تَرْكِ ٱلْمَعَاصِي مِنَ ٱلْجَاهِلِ، لِقُوَّةِ
عِلْمِهِ بِضَرَرِ ٱلْمَعَاصِي.
Demikian pula, seorang alim lebih mampu meninggalkan maksiat daripada orang
jahil, karena kuatnya pengetahuannya tentang bahaya maksiat.
وَأَعْنِي
بِهِ ٱلْعَالِمَ ٱلْحَقِيقِيَّ دُونَ أَرْبَابِ ٱلطَّيَالِسَةِ وَأَصْحَابِ
ٱلْهَذَيَانِ.
Yang saya maksud adalah alim yang sejati, bukan para pemakai jubah kebesaran
dan bukan pula orang-orang yang banyak omong kosong.
فَإِنْ
كَانَ ٱلتَّفَاوُتُ مِنْ جِهَةِ ٱلشَّهْوَةِ لَمْ يَرْجِعْ إِلَى تَفَاوُتِ
ٱلْعَقْلِ.
Jika perbedaan itu berasal dari sisi syahwat, maka hal itu tidak kembali kepada
perbedaan akal.
وَإِنْ
كَانَ مِنْ جِهَةِ ٱلْعِلْمِ، فَقَدْ سَمَّيْنَا هَذَا ٱلضَّرْبَ مِنَ ٱلْعِلْمِ
عَقْلًا أَيْضًا، فَإِنَّهُ يُقَوِّي غَرِيزَةَ ٱلْعَقْلِ، فَيَكُونُ ٱلتَّفَاوُتُ
فِيمَا رَجَعَتِ ٱلتَّسْمِيَةُ إِلَيْهِ.
Dan jika perbedaan itu berasal dari sisi ilmu, maka kita memang telah menamai
jenis ilmu ini sebagai akal juga. Sebab ilmu itu menguatkan tabiat bawaan akal.
Maka perbedaan itu tetap termasuk dalam hal yang dinamai akal.
وَقَدْ
يَكُونُ بِمُجَرَّدِ ٱلتَّفَاوُتِ فِي غَرِيزَةِ ٱلْعَقْلِ، فَإِنَّهَا إِذَا
قَوِيَتْ كَانَ قَمْعُهَا لِلشَّهْوَةِ لَا مَحَالَةَ أَشَدَّ.
Terkadang perbedaan itu juga terjadi semata-mata karena perbedaan dalam tabiat
bawaan akal itu sendiri. Sebab apabila tabiat itu lebih kuat, maka kemampuannya
menundukkan syahwat pasti lebih besar.
وَأَمَّا
ٱلْقِسْمُ ٱلثَّالِثُ، وَهُوَ عُلُومُ ٱلتَّجَارِبِ، فَتَفَاوُتُ ٱلنَّاسِ فِيهَا
لَا يُنْكَرُ، فَإِنَّهُمْ يَتَفَاوَتُونَ بِكَثْرَةِ ٱلْإِصَابَةِ وَسُرْعَةِ
ٱلْإِدْرَاكِ.
Adapun bagian ketiga, yaitu ilmu-ilmu pengalaman, maka perbedaan manusia di
dalamnya tidak dapat diingkari. Sebab mereka berbeda dalam banyaknya ketepatan
dan cepatnya pemahaman.
وَيَكُونُ
سَبَبُهُ إِمَّا تَفَاوُتًا فِي ٱلْغَرِيزَةِ، وَإِمَّا تَفَاوُتًا فِي
ٱلْمُمَارَسَةِ.
Sebabnya bisa karena perbedaan dalam tabiat bawaan, atau karena perbedaan dalam
latihan dan pengalaman.
فَأَمَّا
ٱلْأَوَّلُ، وَهُوَ ٱلْأَصْلُ أَعْنِي ٱلْغَرِيزَةَ، فَٱلتَّفَاوُتُ فِيهِ لَا
سَبِيلَ إِلَى جَحْدِهِ.
Adapun yang pertama, yakni yang menjadi asal, yaitu tabiat bawaan, maka tidak
ada jalan untuk mengingkari adanya perbedaan di dalamnya.
فَإِنَّهُ
مِثْلُ نُورٍ يُشْرِقُ عَلَى ٱلنَّفْسِ وَيَطْلُعُ صُبْحُهُ، وَمَبَادِئُ
إِشْرَاقِهِ عِنْدَ سِنِّ ٱلتَّمْيِيزِ، ثُمَّ لَا يَزَالُ يَنْمُو وَيَزْدَادُ
نُمُوًّا خَفِيَّ ٱلتَّدَرُّجِ حَتَّى يَتَكَامَلَ بِقُرْبِ ٱلْأَرْبَعِينَ سَنَةً.
Akal itu seperti cahaya yang memancar ke atas jiwa dan terbit fajarnya.
Awal-awal pancarannya muncul ketika usia tamyiz. Kemudian ia terus tumbuh dan
bertambah dengan pertumbuhan yang halus dan bertahap, hingga menjadi sempurna
mendekati usia empat puluh tahun.
وَمِثَالُهُ
نُورُ ٱلصُّبْحِ، فَإِنَّ أَوَائِلَهُ تَخْفَى خَفَاءً يَشُقُّ إِدْرَاكُهُ، ثُمَّ
يَتَدَرَّجُ إِلَى ٱلزِّيَادَةِ حَتَّى يَكْمُلَ بِطُلُوعِ قُرْصِ ٱلشَّمْسِ.
Perumpamaannya adalah cahaya pagi. Sesungguhnya permulaannya begitu samar
sehingga sulit ditangkap, kemudian bertambah sedikit demi sedikit sampai
sempurna dengan terbitnya bulatan matahari.
وَتَفَاوُتُ
نُورِ ٱلْبَصِيرَةِ كَتَفَاوُتِ نُورِ ٱلْبَصَرِ، وَٱلْفَرْقُ مُدْرَكٌ بَيْنَ
ٱلْأَعْمَشِ وَبَيْنَ حَادِّ ٱلْبَصَرِ.
Perbedaan cahaya mata hati itu seperti perbedaan cahaya penglihatan mata.
Perbedaan antara orang yang rabun dan orang yang tajam penglihatannya dapat
dirasakan dengan jelas.
بَلْ
سُنَّةُ ٱللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ جَارِيَةٌ فِي جَمِيعِ خَلْقِهِ بِٱلتَّدْرِيجِ فِي
ٱلْإِيجَادِ، حَتَّى إِنَّ غَرِيزَةَ ٱلشَّهْوَةِ لَا تَظْهَرُ فِي ٱلصَّبِيِّ
عِنْدَ ٱلْبُلُوغِ دَفْعَةً وَبَغْتَةً، بَلْ تَظْهَرُ شَيْئًا فَشَيْئًا عَلَى
ٱلتَّدْرِيجِ، وَكَذَلِكَ جَمِيعُ ٱلْقُوَى وَٱلصِّفَاتِ.
Bahkan sunnatullah ‘Azza wa Jalla berlaku pada seluruh ciptaan-Nya dengan
proses bertahap dalam mewujudkannya. Sampai-sampai tabiat syahwat pada anak
tidak muncul ketika balig secara sekaligus dan mendadak, tetapi muncul sedikit
demi sedikit secara bertahap. Demikian pula seluruh kekuatan dan sifat.
وَمَنْ
أَنْكَرَ تَفَاوُتَ ٱلنَّاسِ فِي هَذِهِ ٱلْغَرِيزَةِ فَكَأَنَّهُ مُنْخَلِعٌ عَنْ
رِبْقَةِ ٱلْعَقْلِ.
Barang siapa mengingkari perbedaan manusia dalam tabiat bawaan ini, maka
seakan-akan ia telah melepaskan diri dari ikatan akal.
وَمَنْ
ظَنَّ أَنَّ عَقْلَ ٱلنَّبِيِّ صَلَّى ٱللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِثْلُ عَقْلِ
آحَادِ ٱلسَّوَادِيَّةِ وَأَجْلَافِ ٱلْبَوَادِي فَهُوَ أَخَسُّ فِي نَفْسِهِ مِنْ
آحَادِ ٱلسَّوَادِيَّةِ.
Dan siapa yang mengira bahwa akal Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sama
seperti akal orang-orang awam dari penduduk pedesaan dan orang-orang badui yang
kasar, maka dirinya sendiri lebih rendah daripada orang-orang awam itu.
وَكَيْفَ
يُنْكَرُ تَفَاوُتُ ٱلْغَرِيزَةِ، وَلَوْلَاهُ لَمَا ٱخْتَلَفَ ٱلنَّاسُ فِي
فَهْمِ ٱلْعُلُومِ، وَلَمَا ٱنْقَسَمُوا إِلَى بَلِيدٍ لَا يَفْهَمُ
بِٱلتَّفْهِيمِ إِلَّا بَعْدَ تَعَبٍ طَوِيلٍ مِنَ ٱلْمُعَلِّمِ، وَإِلَى ذَكِيٍّ
يَفْهَمُ بِأَدْنَى رَمْزٍ وَإِشَارَةٍ، وَإِلَى كَامِلٍ تَنْبَعِثُ مِنْ نَفْسِهِ
حَقَائِقُ ٱلْأُمُورِ بِدُونِ ٱلتَّعْلِيمِ.
Bagaimana mungkin perbedaan tabiat bawaan itu diingkari, padahal jika tidak ada
perbedaan itu, niscaya manusia tidak akan berbeda dalam memahami ilmu. Mereka
tidak akan terbagi menjadi orang lamban yang tidak paham walau telah diajari
kecuali setelah guru bersusah payah dalam waktu lama, lalu orang cerdas yang
memahami dengan isyarat dan kode yang sangat ringan, dan orang yang sempurna
yang hakikat-hakikat berbagai perkara memancar dari dirinya sendiri tanpa
pengajaran.
كَمَا
قَالَ تَعَالَى: يَكَادُ زَيْتُهَا يُضِيءُ وَلَوْ لَمْ تَمْسَسْهُ نَارٌ، نُورٌ
عَلَى نُورٍ.
Sebagaimana Allah Ta‘ala berfirman: “Hampir-hampir minyaknya itu bercahaya
walaupun tidak disentuh api; cahaya di atas cahaya.”
وَذَلِكَ
مِثْلُ ٱلْأَنْبِيَاءِ عَلَيْهِمُ ٱلسَّلَامُ، إِذْ يَتَّضِحُ لَهُمْ فِي
بَوَاطِنِهِمْ أُمُورٌ غَامِضَةٌ مِنْ غَيْرِ تَعَلُّمٍ وَلَا سَمَاعٍ،
وَيُعَبَّرُ عَنْ ذَلِكَ بِٱلْإِلْهَامِ.
Itu seperti para nabi ‘alaihimus salam, ketika di dalam batin mereka menjadi
jelas berbagai perkara yang samar tanpa belajar dan tanpa mendengar dari orang
lain. Hal itu diungkapkan dengan istilah ilham.
وَعَنْ
مِثْلِهِ عَبَّرَ ٱلنَّبِيُّ صَلَّى ٱللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَيْثُ قَالَ:
إِنَّ رُوحَ ٱلْقُدُسِ نَفَثَ فِي رُوعِي: أَحْبِبْ مَنْ أَحْبَبْتَ فَإِنَّكَ
مُفَارِقُهُ، وَعِشْ مَا شِئْتَ فَإِنَّكَ مَيِّتٌ، وَٱعْمَلْ مَا شِئْتَ
فَإِنَّكَ مَجْزِيٌّ بِهِ.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga mengungkapkan hal yang serupa ketika
beliau bersabda: “Sesungguhnya Ruhul Qudus telah meniupkan ke dalam hatiku:
cintailah siapa yang engkau cintai, karena engkau pasti akan berpisah
dengannya; hiduplah sesukamu, karena engkau pasti akan mati; dan beramallah
sesukamu, karena engkau akan dibalas dengannya.”
وَهَذَا
ٱلنَّمَطُ مِنْ تَعْرِيفِ ٱلْمَلَائِكَةِ لِلْأَنْبِيَاءِ يُخَالِفُ ٱلْوَحْيَ
ٱلصَّرِيحَ ٱلَّذِي هُوَ سَمَاعُ ٱلصَّوْتِ بِحَاسَّةِ ٱلْأُذُنِ وَمُشَاهَدَةُ
ٱلْمَلَكِ بِحَاسَّةِ ٱلْبَصَرِ.
Bentuk pengenalan dari malaikat kepada para nabi seperti ini berbeda dari wahyu
yang tegas, yaitu mendengar suara dengan indera telinga dan melihat malaikat
dengan indera penglihatan.
وَلِذَلِكَ
أَخْبَرَ عَنْ هَذَا بِٱلنَّفْثِ فِي ٱلرُّوعِ، وَدَرَجَاتُ ٱلْوَحْيِ كَثِيرَةٌ،
وَٱلْخَوْضُ فِيهَا لَا يَلِيقُ بِعِلْمِ ٱلْمُعَامَلَةِ، بَلْ هُوَ مِنْ عِلْمِ
ٱلْمُكَاشَفَةِ.
Karena itu beliau mengungkapkannya dengan istilah “ditiupkan ke dalam hati”.
Tingkatan-tingkatan wahyu itu banyak. Membahasnya secara mendalam tidak sesuai
dalam ilmu muamalah, melainkan termasuk dalam ilmu mukasyafah.
وَلَا
تَظُنَّنَّ أَنَّ مَعْرِفَةَ دَرَجَاتِ ٱلْوَحْيِ تَسْتَدْعِي مَنْصِبَ ٱلْوَحْيِ،
إِذْ لَا يَبْعُدُ أَنْ يَعْرِفَ ٱلطَّبِيبُ ٱلْمَرِيضَ دَرَجَاتِ ٱلصِّحَّةِ،
وَيَعْلَمَ ٱلْعَالِمُ ٱلْفَاسِقُ دَرَجَاتِ ٱلْعَدَالَةِ، وَإِنْ كَانَ خَالِيًا
عَنْهَا.
Janganlah engkau menyangka bahwa mengetahui tingkatan-tingkatan wahyu menuntut
seseorang harus memiliki kedudukan kenabian. Sebab tidak mustahil seorang
dokter mengenal keadaan orang sakit dan mengetahui tingkatan-tingkatan
kesehatan. Dan seorang alim yang fasik dapat mengetahui tingkatan-tingkatan
keadilan, meskipun ia sendiri kosong darinya.
فَٱلْعِلْمُ
شَيْءٌ، وَوُجُودُ ٱلْمَعْلُومِ شَيْءٌ آخَرُ.
Ilmu adalah satu hal, sedangkan terwujudnya sesuatu yang diketahui adalah hal
lain.
فَلَا
كُلُّ مَنْ عَرَفَ ٱلنُّبُوَّةَ وَٱلْوِلَايَةَ كَانَ نَبِيًّا وَلَا وَلِيًّا،
وَلَا كُلُّ مَنْ عَرَفَ ٱلتَّقْوَى وَٱلْوَرَعَ وَدَقَائِقَهُمَا كَانَ تَقِيًّا.
Maka tidak setiap orang yang mengetahui kenabian dan kewalian menjadi nabi atau
wali. Dan tidak setiap orang yang mengetahui takwa, wara‘, dan
rincian-rinciannya menjadi orang yang bertakwa.
وَٱنْقِسَامُ
ٱلنَّاسِ إِلَى مَنْ يَتَنَبَّهُ مِنْ نَفْسِهِ وَيَفْهَمُ، وَإِلَى مَنْ لَا
يَفْهَمُ إِلَّا بِتَنْبِيهٍ وَتَعْلِيمٍ، وَإِلَى مَنْ لَا يَنْفَعُهُ
ٱلتَّعْلِيمُ أَيْضًا وَلَا ٱلتَّنْبِيهُ، كَٱنْقِسَامِ ٱلْأَرْضِ إِلَى مَا
يَجْتَمِعُ فِيهِ ٱلْمَاءُ فَيَقْوَى فَيَتَفَجَّرُ بِنَفْسِهِ عُيُونًا، وَإِلَى
مَا يَحْتَاجُ إِلَى ٱلْحَفْرِ لِيَخْرُجَ إِلَى ٱلْقَنَوَاتِ، وَإِلَى مَا لَا
يَنْفَعُ فِيهِ ٱلْحَفْرُ وَهُوَ ٱلْيَابِسُ.
Pembagian manusia menjadi orang yang sadar sendiri lalu memahami, orang yang
tidak memahami kecuali dengan peringatan dan pengajaran, dan orang yang tidak
bermanfaat baginya pengajaran maupun peringatan, adalah seperti pembagian
tanah. Ada tanah yang air berkumpul di dalamnya lalu menguat dan memancar
sendiri menjadi mata air. Ada tanah yang membutuhkan penggalian agar airnya
keluar ke saluran-saluran. Dan ada tanah yang tidak berguna digali, yaitu tanah
yang kering.
وَذَلِكَ
لِٱخْتِلَافِ جَوَاهِرِ ٱلْأَرْضِ فِي صِفَاتِهَا، فَكَذَلِكَ ٱخْتِلَافُ
ٱلنُّفُوسِ فِي غَرِيزَةِ ٱلْعَقْلِ.
Hal itu disebabkan oleh perbedaan hakikat tanah dalam sifat-sifatnya. Demikian
pula perbedaan jiwa-jiwa manusia dalam tabiat bawaan akal.
وَيَدُلُّ
عَلَى تَفَاوُتِ ٱلْعَقْلِ مِنْ جِهَةِ ٱلنَّقْلِ مَا رُوِيَ أَنَّ عَبْدَ ٱللَّهِ
بْنَ سَلَامٍ رَضِيَ ٱللَّهُ عَنْهُ سَأَلَ ٱلنَّبِيَّ صَلَّى ٱللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ فِي حَدِيثٍ طَوِيلٍ، فِي آخِرِهِ وَصْفُ عِظَمِ ٱلْعَرْشِ، وَأَنَّ
ٱلْمَلَائِكَةَ قَالَتْ: يَا رَبَّنَا، هَلْ خَلَقْتَ شَيْئًا أَعْظَمَ مِنَ
ٱلْعَرْشِ؟
Di antara dalil naqli tentang perbedaan tingkat akal adalah riwayat bahwa
Abdullah bin Salam radhiyallahu ‘anhu pernah bertanya kepada Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam dalam sebuah hadis yang panjang. Pada bagian akhirnya
disebutkan gambaran besarnya ‘Arsy, dan bahwa para malaikat berkata: “Wahai
Tuhan kami, adakah Engkau menciptakan sesuatu yang lebih besar daripada ‘Arsy?”
قَالَ:
نَعَمِ ٱلْعَقْلُ.
Allah berfirman: “Ya, yaitu akal.”
قَالُوا:
وَمَا بَلَغَ مِنْ قَدْرِهِ؟
Mereka bertanya: “Sejauh mana ukurannya?”
قَالَ:
هَيْهَاتَ لَا يُحَاطُ بِعِلْمِهِ، هَلْ لَكُمْ عِلْمٌ بِعَدَدِ ٱلرَّمْلِ؟
Allah berfirman: “Sungguh jauh, ilmunya tidak dapat diliputi. Apakah kalian
mengetahui jumlah butiran pasir?”
قَالُوا:
لَا.
Mereka menjawab: “Tidak.”
قَالَ
ٱللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ: فَإِنِّي خَلَقْتُ ٱلْعَقْلَ أَصْنَافًا شَتَّى كَعَدَدِ
ٱلرَّمْلِ، فَمِنَ ٱلنَّاسِ مَنْ أُعْطِيَ حَبَّةً، وَمِنْهُمْ مَنْ أُعْطِيَ
حَبَّتَيْنِ، وَمِنْهُمْ مَنْ أُعْطِيَ ٱلثَّلَاثَ وَٱلْأَرْبَعَ، وَمِنْهُمْ مَنْ
أُعْطِيَ فَرَقًا، وَمِنْهُمْ مَنْ أُعْطِيَ وَسْقًا، وَمِنْهُمْ مَنْ أُعْطِيَ
أَكْثَرَ مِنْ ذَلِكَ.
Allah ‘Azza wa Jalla berfirman: “Sesungguhnya Aku menciptakan akal dalam
berbagai tingkatan yang beragam sebanyak jumlah pasir. Di antara manusia ada
yang diberi satu biji, ada yang diberi dua biji, ada yang diberi tiga dan
empat, ada yang diberi satu faraq, ada yang diberi satu wasq, dan ada pula yang
diberi lebih dari itu.”
فَإِنْ
قُلْتَ: فَمَا بَالُ أَقْوَامٍ مِنَ ٱلْمُتَصَوِّفَةِ يَذُمُّونَ ٱلْعَقْلَ
وَٱلْمَعْقُولَ؟
Jika engkau bertanya: “Mengapa ada sebagian kaum sufi yang mencela akal dan
hal-hal rasional?”
فَٱعْلَمْ
أَنَّ ٱلسَّبَبَ فِيهِ أَنَّ ٱلنَّاسَ نَقَلُوا ٱسْمَ ٱلْعَقْلِ وَٱلْمَعْقُولِ
إِلَى ٱلْمُجَادَلَةِ وَٱلْمُنَاظَرَةِ بِٱلْمُنَاقَضَاتِ وَٱلْإِلْزَامَاتِ،
وَهِيَ صَنْعَةُ ٱلْكَلَامِ.
Maka ketahuilah bahwa sebabnya ialah karena manusia telah memindahkan nama akal
dan hal yang rasional kepada perdebatan dan perbantahan dengan
sanggahan-sanggahan serta pemaksaan argumentasi, dan itulah seni ilmu kalam.
فَلَمْ
يَقْدِرُوا عَلَى أَنْ يُقَرِّرُوا عِنْدَهُمْ أَنَّكُمْ أَخْطَأْتُمْ فِي
ٱلتَّسْمِيَةِ، إِذْ كَانَ لَا يَنْمحِي عَنْ قُلُوبِهِمْ بَعْدَ تَدَاوُلِ
ٱلْأَلْسِنَةِ بِهِ وَرُسُوخِهِ فِي ٱلْقُلُوبِ، فَذَمُّوا ٱلْعَقْلَ
وَٱلْمَعْقُولَ، وَهُوَ ٱلْمُسَمَّى بِهِ عِنْدَهُمْ.
Mereka tidak mampu menetapkan kepada orang-orang itu bahwa kalian telah keliru
dalam penamaan, karena istilah itu sudah terlanjur tersebar di lisan-lisan
manusia dan tertanam di dalam hati mereka. Maka mereka pun mencela akal dan
hal-hal rasional, padahal yang mereka maksud adalah sesuatu yang dinamai
demikian menurut pemahaman orang-orang itu.
فَأَمَّا
نُورُ ٱلْبَصِيرَةِ ٱلَّتِي بِهَا يُعْرَفُ ٱللَّهُ تَعَالَى وَيُعْرَفُ صِدْقُ
رُسُلِهِ، فَكَيْفَ يُتَصَوَّرُ ذَمُّهُ وَقَدْ أَثْنَى ٱللَّهُ تَعَالَى
عَلَيْهِ؟
Adapun cahaya mata hati yang dengannya Allah Ta‘ala dikenal dan kebenaran para
rasul-Nya diketahui, maka bagaimana mungkin ia dibayangkan untuk dicela,
padahal Allah Ta‘ala sendiri telah memujinya?
وَإِنْ
ذُمَّ فَمَا ٱلَّذِي بَعْدَهُ يُحْمَدُ؟
Jika ia dicela, lalu apa lagi setelah itu yang patut dipuji?
فَإِنْ
كَانَ ٱلْمَحْمُودُ هُوَ ٱلشَّرْعُ، فَبِمَ عُلِمَ صِحَّةُ ٱلشَّرْعِ؟
Jika yang dipuji adalah syariat, maka dengan apa kebenaran syariat itu
diketahui?
فَإِنْ
عُلِمَ بِٱلْعَقْلِ ٱلْمَذْمُومِ ٱلَّذِي لَا يُوثَقُ بِهِ، فَيَكُونُ ٱلشَّرْعُ
أَيْضًا مَذْمُومًا.
Jika kebenaran syariat diketahui dengan akal yang dicela dan tidak dapat
dipercaya itu, maka syariat pun berarti ikut tercela.
وَلَا
يُلْتَفَتُ إِلَى مَنْ يَقُولُ: إِنَّهُ يُدْرَكُ بِعَيْنِ ٱلْيَقِينِ وَنُورِ
ٱلْإِيمَانِ لَا بِٱلْعَقْلِ.
Tidak perlu diperhatikan orang yang berkata: “Hal itu diketahui dengan عين اليقين
dan cahaya iman, bukan dengan akal.”
فَإِنَّا
نُرِيدُ بِٱلْعَقْلِ مَا يُرِيدُهُ بِعَيْنِ ٱلْيَقِينِ وَنُورِ ٱلْإِيمَانِ،
وَهِيَ ٱلصِّفَةُ ٱلْبَاطِنَةُ ٱلَّتِي يَتَمَيَّزُ بِهَا ٱلْآدَمِيُّ عَنِ
ٱلْبَهَائِمِ، حَتَّى أَدْرَكَ بِهَا حَقَائِقَ ٱلْأُمُورِ.
Karena yang kami maksud dengan akal adalah apa yang ia maksud dengan عين اليقين
dan cahaya iman, yaitu sifat batin yang dengannya manusia berbeda dari hewan,
sehingga dengan itu ia mampu memahami hakikat berbagai perkara.
وَأَكْثَرُ
هَذِهِ ٱلتَّخْبِيطَاتِ إِنَّمَا ثَارَتْ مِنْ جَهْلِ أَقْوَامٍ طَلَبُوا
ٱلْحَقَائِقَ مِنَ ٱلْأَلْفَاظِ، فَتَخَبَّطُوا فِيهَا لِتَخَبُّطِ ٱصْطِلَاحَاتِ
ٱلنَّاسِ فِي ٱلْأَلْفَاظِ.
Sebagian besar kekacauan ini muncul karena kebodohan suatu kaum yang mencari
hakikat dari lafaz-lafaz, lalu mereka menjadi bingung karenanya, disebabkan
kekacauan istilah-istilah manusia dalam penggunaan lafaz.
فَهَذَا
ٱلْقَدْرُ كَافٍ فِي بَيَانِ ٱلْعَقْلِ، وَٱللَّهُ أَعْلَمُ.
Kadar penjelasan ini sudah cukup dalam menerangkan akal. Dan Allah Maha
Mengetahui.
تَمَّ
كِتَابُ ٱلْعِلْمِ بِحَمْدِ ٱللَّهِ تَعَالَى وَمِنِّهِ، وَصَلَّى ٱللَّهُ عَلَى
سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى كُلِّ عَبْدٍ مُصْطَفًى مِنْ أَهْلِ ٱلْأَرْضِ
وَٱلسَّمَاءِ.
Selesailah Kitab Ilmu dengan pujian kepada Allah Ta‘ala dan dengan karunia-Nya.
Semoga Allah melimpahkan salawat kepada junjungan kita Muhammad dan kepada
setiap hamba pilihan dari penduduk bumi dan langit.
يَتْلُوهُ
إِنْ شَاءَ ٱللَّهُ تَعَالَى كِتَابُ قَوَاعِدِ ٱلْعَقَائِدِ، وَٱلْحَمْدُ لِلَّهِ
وَحْدَهُ أَوَّلًا وَآخِرًا.
Setelah ini, insya Allah Ta‘ala, akan dilanjutkan dengan Kitab Kaidah-Kaidah
Akidah. Segala puji bagi Allah semata, pada awal dan akhir.