Penjelasan Akidah Ahlus Sunnah dalam Dua Kalimat Syahadat

 كِتَابُ قَوَاعِدِ الْعَقَائِدِ، وَفِيهِ أَرْبَعَةُ فُصُولٍ

Kitab Kaidah-Kaidah Akidah, dan di dalamnya terdapat empat pasal.

اَلْفَصْلُ الْأَوَّلُ فِي تَرْجَمَةِ عَقِيدَةِ أَهْلِ السُّنَّةِ فِي كَلِمَتَيِ الشَّهَادَةِ الَّتِي هِيَ أَحَدُ مَبَانِي الْإِسْلَامِ.

Pasal pertama tentang penjelasan akidah Ahlus Sunnah dalam dua kalimat syahadat, yang merupakan salah satu fondasi Islam.

فَنَقُولُ وَبِاللَّهِ التَّوْفِيقُ: الْحَمْدُ لِلَّهِ الْمُبْدِئِ الْمُعِيدِ، الْفَعَّالِ لِمَا يُرِيدُ، ذِي الْعَرْشِ الْمَجِيدِ، وَالْبَطْشِ الشَّدِيدِ، الْهَادِي صَفْوَةَ الْعَبِيدِ إِلَى الْمَنْهَجِ الرَّشِيدِ وَالْمَسْلَكِ السَّدِيدِ.

Maka kami berkata, dan hanya dengan Allah lah taufik: segala puji bagi Allah Yang memulai dan mengembalikan, Yang Maha Melakukan apa yang Dia kehendaki, Pemilik Arasy yang mulia, yang hukuman-Nya sangat keras, yang memberi petunjuk kepada para hamba pilihan menuju jalan yang lurus dan manhaj yang benar.

اَلْمُنْعِمِ عَلَيْهِمْ بَعْدَ شَهَادَةِ التَّوْحِيدِ بِحِرَاسَةِ عَقَائِدِهِمْ عَنْ ظُلُمَاتِ التَّشْكِيكِ وَالتَّرْدِيدِ، السَّالِكِ بِهِمْ إِلَى اتِّبَاعِ رَسُولِهِ الْمُصْطَفَى وَاقْتِفَاءِ آثَارِ صَحْبِهِ الْأَكْرَمِينَ، الْمُكْرَمِينَ بِالتَّأْيِيدِ وَالتَّسْدِيدِ.

Yang telah melimpahkan nikmat kepada mereka setelah persaksian tauhid dengan menjaga akidah mereka dari gelapnya keraguan dan kebimbangan, yang menuntun mereka kepada mengikuti Rasul-Nya yang terpilih dan menelusuri jejak para sahabatnya yang mulia, yang dimuliakan dengan pertolongan dan keteguhan.

اَلْمُتَجَلِّي لَهُمْ فِي ذَاتِهِ وَأَفْعَالِهِ بِمَحَاسِنِ أَوْصَافِهِ الَّتِي لَا يُدْرِكُهَا إِلَّا مَنْ أَلْقَى السَّمْعَ وَهُوَ شَهِيدٌ.

Yang menampakkan diri bagi mereka dalam zat dan perbuatan-Nya melalui indahnya sifat-sifat-Nya, yang tidak dapat dipahami kecuali oleh orang yang benar-benar mendengarkan dengan kesadaran penuh.

اَلْمُعَرِّفِ إِيَّاهُمْ أَنَّهُ فِي ذَاتِهِ وَاحِدٌ لَا شَرِيكَ لَهُ، فَرْدٌ لَا مِثْلَ لَهُ، صَمَدٌ لَا ضِدَّ لَهُ، مُنْفَرِدٌ لَا نِدَّ لَهُ.

Yang memperkenalkan kepada mereka bahwa Dia dalam zat-Nya Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya, tunggal, tidak ada yang serupa dengan-Nya, tempat bergantung, tidak ada lawan bagi-Nya, menyendiri, tidak ada tandingan bagi-Nya.

وَأَنَّهُ وَاحِدٌ قَدِيمٌ لَا أَوَّلَ لَهُ، أَزَلِيٌّ لَا بِدَايَةَ لَهُ، مُسْتَمِرُّ الْوُجُودِ لَا آخِرَ لَهُ، أَبَدِيٌّ لَا نِهَايَةَ لَهُ، قَيُّومٌ لَا انْقِطَاعَ لَهُ، دَائِمٌ لَا انْصِرَامَ لَهُ.

Dan bahwa Dia Maha Esa, qadim, tidak ada permulaan bagi-Nya, azali, tidak ada awal bagi-Nya, terus ada, tidak ada akhir bagi-Nya, abadi, tidak ada penghabisan bagi-Nya, tegak sendiri, tidak ada putus bagi-Nya, terus-menerus, tidak ada lenyap bagi-Nya.

لَمْ يَزَلْ وَلَا يَزَالُ مَوْصُوفًا بِنُعُوتِ الْجَلَالِ، لَا يُقْضَى عَلَيْهِ بِالِانْقِضَاءِ وَالِانْفِصَالِ بِتَصَرُّمِ الْآبَادِ وَانْقِرَاضِ الْآجَالِ، بَلْ هُوَ الْأَوَّلُ وَالْآخِرُ وَالظَّاهِرُ وَالْبَاطِنُ، وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ.

Dia senantiasa dan akan terus disifati dengan sifat-sifat keagungan. Tidak ditetapkan bagi-Nya kebinasaan dan keterputusan dengan berlalunya zaman-zaman dan habisnya masa-masa. Bahkan Dia adalah Yang Awal, Yang Akhir, Yang Zhahir, dan Yang Batin, dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.

التَّنْزِيهُ

وَأَنَّهُ لَيْسَ بِجِسْمٍ مُصَوَّرٍ، وَلَا جَوْهَرٍ مَحْدُودٍ مُقَدَّرٍ، وَأَنَّهُ لَا يُمَاثِلُ الْأَجْسَامَ وَلَا فِي التَّقْدِيرِ وَلَا فِي قَبُولِ الِانْقِسَامِ.

Dan bahwa Dia bukan tubuh yang berbentuk, bukan pula substansi yang terbatas dan terukur. Dia tidak menyerupai benda-benda, baik dalam ukuran maupun dalam kemungkinan terbagi-bagi.

وَأَنَّهُ لَيْسَ بِجَوْهَرٍ، وَلَا تَحُلُّهُ الْجَوَاهِرُ، وَلَا بِعَرَضٍ، وَلَا تَحُلُّهُ الْأَعْرَاضُ، بَلْ لَا يُمَاثِلُ مَوْجُودًا، وَلَا يُمَاثِلُهُ مَوْجُودٌ، لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَلَا هُوَ مِثْلَ شَيْءٍ.

Dan bahwa Dia bukan substansi, substansi pun tidak menempati-Nya; bukan pula aksiden, aksiden pun tidak menempel pada-Nya. Bahkan Dia tidak menyerupai sesuatu yang ada, dan tidak ada sesuatu pun yang menyerupai-Nya. Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya, dan Dia pun bukan seperti sesuatu.

وَأَنَّهُ لَا يَحُدُّهُ الْمِقْدَارُ، وَلَا تَحْوِيهِ الْأَقْطَارُ، وَلَا تُحِيطُ بِهِ الْجِهَاتُ، وَلَا تَكْتَنِفُهُ الْأَرَضُونَ وَلَا السَّمَاوَاتُ.

Dan bahwa Dia tidak dibatasi oleh ukuran, tidak diliputi oleh penjuru-penjuru, tidak dilingkupi oleh arah-arah, serta tidak dikelilingi oleh bumi maupun langit.

وَأَنَّهُ مُسْتَوٍ عَلَى الْعَرْشِ عَلَى الْوَجْهِ الَّذِي قَالَهُ، وَبِالْمَعْنَى الَّذِي أَرَادَهُ، اسْتِوَاءً مُنَزَّهًا عَنِ الْمُمَاسَّةِ وَالِاسْتِقْرَارِ وَالتَّمَكُّنِ وَالْحُلُولِ وَالِانْتِقَالِ.

Dan bahwa Dia beristiwa di atas Arasy dengan cara yang Dia firmankan dan dengan makna yang Dia kehendaki, suatu istiwa yang disucikan dari sentuhan, bertempat, menetap, menempati, dan berpindah.

لَا يَحْمِلُهُ الْعَرْشُ، بَلِ الْعَرْشُ وَحَمَلَتُهُ مَحْمُولُونَ بِلُطْفِ قُدْرَتِهِ وَمَقْهُورُونَ فِي قَبْضَتِهِ.

Arasy tidak memikul-Nya. Bahkan Arasy dan para pemikulnya sendirilah yang dipikul oleh kelembutan kuasa-Nya dan ditundukkan dalam genggaman-Nya.

وَهُوَ فَوْقَ الْعَرْشِ وَالسَّمَاءِ وَفَوْقَ كُلِّ شَيْءٍ إِلَى تُخُومِ الثَّرَى، فَوْقِيَّةً لَا تَزِيدُهُ قُرْبًا إِلَى الْعَرْشِ وَالسَّمَاءِ كَمَا لَا تَزِيدُهُ بُعْدًا عَنِ الْأَرْضِ وَالثَّرَى.

Dia di atas Arasy, di atas langit, dan di atas segala sesuatu sampai ke lapisan tanah yang paling bawah, dengan ketinggian yang tidak menjadikan-Nya lebih dekat kepada Arasy dan langit, sebagaimana tidak pula menjadikan-Nya lebih jauh dari bumi dan tanah.

بَلْ هُوَ رَفِيعُ الدَّرَجَاتِ عَنِ الْعَرْشِ وَالسَّمَاءِ، كَمَا أَنَّهُ رَفِيعُ الدَّرَجَاتِ عَنِ الْأَرْضِ وَالثَّرَى.

Bahkan Dia Mahatinggi derajat-Nya di atas Arasy dan langit, sebagaimana Dia juga Mahatinggi derajat-Nya di atas bumi dan tanah.

وَهُوَ مَعَ ذٰلِكَ قَرِيبٌ مِنْ كُلِّ مَوْجُودٍ، وَهُوَ أَقْرَبُ إِلَى الْعَبْدِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيدِ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ شَهِيدٌ.

Dan meskipun demikian, Dia dekat dengan setiap yang ada. Dia lebih dekat kepada hamba daripada urat lehernya, dan Dia menjadi saksi atas segala sesuatu.

إِذْ لَا يُمَاثِلُ قُرْبُهُ قُرْبَ الْأَجْسَامِ، كَمَا لَا تُمَاثِلُ ذَاتُهُ ذَاتَ الْأَجْسَامِ.

Karena kedekatan-Nya tidak menyerupai kedekatan benda-benda, sebagaimana zat-Nya juga tidak menyerupai zat benda-benda.

وَأَنَّهُ لَا يَحُلُّ فِي شَيْءٍ، وَلَا يَحُلُّ فِيهِ شَيْءٌ، تَعَالَى عَنْ أَنْ يَحْوِيَهُ مَكَانٌ، كَمَا تَقَدَّسَ عَنْ أَنْ يَحُدَّهُ زَمَانٌ.

Dan bahwa Dia tidak menempati sesuatu, dan tidak ada sesuatu pun yang menempati-Nya. Mahatinggi Dia dari diliputi tempat, sebagaimana Mahasuci Dia dari dibatasi oleh waktu.

بَلْ كَانَ قَبْلَ أَنْ خَلَقَ الزَّمَانَ وَالْمَكَانَ، وَهُوَ الْآنَ عَلَى مَا عَلَيْهِ كَانَ.

Bahkan Dia telah ada sebelum menciptakan waktu dan tempat, dan Dia sekarang tetap sebagaimana adanya sejak dahulu.

وَأَنَّهُ بَائِنٌ عَنْ خَلْقِهِ بِصِفَاتِهِ، لَيْسَ فِي ذَاتِهِ سِوَاهُ، وَلَا فِي سِوَاهُ ذَاتُهُ.

Dan bahwa Dia terpisah dari makhluk-Nya dengan sifat-sifat-Nya. Tidak ada selain-Nya di dalam zat-Nya, dan tidak ada zat-Nya di dalam selain-Nya.

وَأَنَّهُ مُقَدَّسٌ عَنِ التَّغَيُّرِ وَالِانْتِقَالِ، لَا تَحُلُّهُ الْحَوَادِثُ وَلَا تَعْتَرِيهِ الْعَوَارِضُ.

Dan bahwa Dia Mahasuci dari perubahan dan perpindahan. Hal-hal baru tidak menempel pada-Nya, dan kejadian-kejadian tidak menimpa-Nya.

بَلْ لَا يَزَالُ فِي نُعُوتِ جَلَالِهِ مُنَزَّهًا عَنِ الزَّوَالِ، وَفِي صِفَاتِ كَمَالِهِ مُسْتَغْنِيًا عَنْ زِيَادَةِ الِاسْتِكْمَالِ.

Bahkan Dia senantiasa dalam sifat-sifat keagungan-Nya suci dari lenyap, dan dalam sifat-sifat kesempurnaan-Nya tidak membutuhkan tambahan untuk menjadi lebih sempurna.

وَأَنَّهُ فِي ذَاتِهِ مَعْلُومُ الْوُجُودِ بِالْعُقُولِ، مَرْئِيُّ الذَّاتِ بِالْأَبْصَارِ نِعْمَةً مِنْهُ وَلُطْفًا بِالْأَبْرَارِ فِي دَارِ الْقَرَارِ، وَإِتْمَامًا مِنْهُ لِلنَّعِيمِ بِالنَّظَرِ إِلَى وَجْهِهِ الْكَرِيمِ.

Dan bahwa zat-Nya diketahui keberadaannya dengan akal, dan zat-Nya akan dilihat dengan mata sebagai nikmat dan kelembutan dari-Nya bagi orang-orang baik di negeri yang kekal, serta sebagai penyempurna kenikmatan dengan memandang wajah-Nya yang mulia.

الْحَيَاةُ وَالْقُدْرَةُ

وَأَنَّهُ تَعَالَى حَيٌّ قَادِرٌ جَبَّارٌ قَاهِرٌ، لَا يَعْتَرِيهِ قُصُورٌ وَلَا عَجْزٌ، وَلَا تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلَا نَوْمٌ، وَلَا يُعَارِضُهُ فَنَاءٌ وَلَا مَوْتٌ.

Dan bahwa Dia Ta‘ala Maha Hidup, Maha Kuasa, Mahaperkasa, dan Maha Mengalahkan. Tidak ada kelemahan dan ketidakmampuan yang menimpa-Nya, tidak mengantuk dan tidak tidur, serta tidak ada kefanaan dan kematian yang menghalangi-Nya.

وَأَنَّهُ ذُو الْمُلْكِ وَالْمَلَكُوتِ وَالْعِزَّةِ وَالْجَبَرُوتِ، لَهُ السُّلْطَانُ وَالْقَهْرُ وَالْخَلْقُ وَالْأَمْرُ، وَالسَّمَاوَاتُ مَطْوِيَّاتٌ بِيَمِينِهِ، وَالْخَلَائِقُ مَقْهُورُونَ فِي قَبْضَتِهِ.

Dan bahwa Dia adalah Pemilik kerajaan, alam malakut, kemuliaan, dan kekuasaan yang agung. Milik-Nya kekuasaan, penundukan, penciptaan, dan perintah. Langit-langit tergulung dalam tangan kanan-Nya, dan seluruh makhluk ditundukkan dalam genggaman-Nya.

وَأَنَّهُ الْمُنْفَرِدُ بِالْخَلْقِ وَالِاخْتِرَاعِ، الْمُتَوَحِّدُ بِالْإِيجَادِ وَالْإِبْدَاعِ، خَلَقَ الْخَلْقَ وَأَعْمَالَهُمْ، وَقَدَّرَ أَرْزَاقَهُمْ وَآجَالَهُمْ.

Dan bahwa Dia sendirilah yang mencipta dan mengadakan, tunggal dalam mewujudkan dan mencipta dari ketiadaan. Dia menciptakan makhluk dan amal-amal mereka, serta menetapkan rezeki-rezeki dan ajal-ajal mereka.

لَا يَشُذُّ عَنْ قَبْضَتِهِ مَقْدُورٌ، وَلَا يَعْزُبُ عَنْ قُدْرَتِهِ تَصَارِيفُ الْأُمُورِ، لَا تُحْصَى مَقْدُورَاتُهُ، وَلَا تَتَنَاهَى مَعْلُومَاتُهُ.

Tidak ada satu makhluk pun yang keluar dari genggaman-Nya, dan tidak ada perubahan-perubahan keadaan yang luput dari kekuasaan-Nya. Makhluk yang mampu Dia ciptakan tidak terhitung, dan pengetahuan-Nya tidak berkesudahan.

الْعِلْمُ

وَأَنَّهُ عَالِمٌ بِجَمِيعِ الْمَعْلُومَاتِ، مُحِيطٌ بِمَا يَجْرِي مِنْ تُخُومِ الْأَرَضِينَ إِلَى أَعْلَى السَّمَاوَاتِ.

Dan bahwa Dia Maha Mengetahui seluruh yang diketahui, meliputi segala sesuatu yang terjadi dari batas paling bawah bumi hingga langit tertinggi.

وَأَنَّهُ عَالِمٌ لَا يَعْزُبُ عَنْ عِلْمِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي السَّمَاءِ.

Dan bahwa Dia Maha Mengetahui, tidak ada seberat zarrah pun di bumi dan di langit yang luput dari pengetahuan-Nya.

بَلْ يَعْلَمُ دَبِيبَ النَّمْلَةِ السَّوْدَاءِ عَلَى الصَّخْرَةِ الصَّمَّاءِ فِي اللَّيْلَةِ الظَّلْمَاءِ.

Bahkan Dia mengetahui gerak semut hitam di atas batu yang keras pada malam yang gelap.

وَيُدْرِكُ حَرَكَةَ الذَّرِّ فِي جَوِّ الْهَوَاءِ.

Dan Dia mengetahui gerakan partikel kecil yang beterbangan di udara.

وَيَعْلَمُ السِّرَّ وَأَخْفَى، وَيَطَّلِعُ عَلَى هَوَاجِسِ الضَّمَائِرِ وَحَرَكَاتِ الْخَوَاطِرِ وَخَفِيَّاتِ السَّرَائِرِ، بِعِلْمٍ قَدِيمٍ أَزَلِيٍّ، لَمْ يَزَلْ مَوْصُوفًا بِهِ فِي أَزَلِ الْآزَالِ، لَا بِعِلْمٍ مُتَجَدِّدٍ حَاصِلٍ فِي ذَاتِهِ بِالْحُلُولِ وَالِانْتِقَالِ.

Dia mengetahui yang rahasia dan yang lebih tersembunyi darinya, dan mengetahui bisikan-bisikan hati, gerak-gerik lintasan pikiran, serta rahasia-rahasia terdalam, dengan ilmu yang qadim dan azali. Dia senantiasa disifati dengannya sejak azali, bukan dengan ilmu baru yang muncul dalam zat-Nya melalui penempatan atau perpindahan.

الْإِرَادَةُ

وَأَنَّهُ تَعَالَى مُرِيدٌ لِلْكَائِنَاتِ، مُدَبِّرٌ لِلْحَادِثَاتِ، فَلَا يَجْرِي فِي الْمُلْكِ وَالْمَلَكُوتِ قَلِيلٌ أَوْ كَثِيرٌ، صَغِيرٌ أَوْ كَبِيرٌ، خَيْرٌ أَوْ شَرٌّ، نَفْعٌ أَوْ ضَرٌّ، إِيمَانٌ أَوْ كُفْرٌ، عِرْفَانٌ أَوْ نُكْرٌ، فَوْزٌ أَوْ خُسْرَانٌ، زِيَادَةٌ أَوْ نُقْصَانٌ، طَاعَةٌ أَوْ عِصْيَانٌ، إِلَّا بِقَضَائِهِ وَقَدَرِهِ وَحِكْمَتِهِ وَمَشِيئَتِهِ.

Dan bahwa Dia Ta‘ala berkehendak atas seluruh yang ada, mengatur semua yang baru terjadi. Maka tidak ada yang berlangsung dalam kerajaan dan malakut, sedikit atau banyak, kecil atau besar, baik atau buruk, manfaat atau mudarat, iman atau kufur, pengenalan atau pengingkaran, kemenangan atau kerugian, bertambah atau berkurang, taat atau maksiat, kecuali dengan keputusan-Nya, takdir-Nya, hikmah-Nya, dan kehendak-Nya.

فَمَا شَاءَ كَانَ، وَمَا لَمْ يَشَأْ لَمْ يَكُنْ.

Apa yang Dia kehendaki pasti terjadi, dan apa yang tidak Dia kehendaki tidak akan terjadi.

لَا يَخْرُجُ عَنْ مَشِيئَتِهِ لَفْتَةُ نَاظِرٍ وَلَا فَلْتَةُ خَاطِرٍ.

Tidak keluar dari kehendak-Nya kedipan mata seorang yang memandang dan tidak pula lintasan mendadak dalam hati.

بَلْ هُوَ الْمُبْدِئُ الْمُعِيدُ، الْفَعَّالُ لِمَا يُرِيدُ، لَا رَادَّ لِأَمْرِهِ، وَلَا مُعَقِّبَ لِقَضَائِهِ.

Bahkan Dia adalah Yang memulai dan mengembalikan, Yang Maha Melakukan apa yang Dia kehendaki, tidak ada yang dapat menolak perintah-Nya dan tidak ada yang dapat menggugat keputusan-Nya.

وَلَا مَهْرَبَ لِعَبْدٍ عَنْ مَعْصِيَتِهِ إِلَّا بِتَوْفِيقِهِ وَرَحْمَتِهِ، وَلَا قُوَّةَ لَهُ عَلَى طَاعَتِهِ إِلَّا بِمَشِيئَتِهِ وَإِرَادَتِهِ.

Tidak ada tempat lari bagi seorang hamba dari maksiatnya kecuali dengan taufik dan rahmat-Nya, dan tidak ada kekuatan baginya untuk taat kecuali dengan kehendak dan iradah-Nya.

فَلَوِ اجْتَمَعَ الْإِنْسُ وَالْجِنُّ وَالْمَلَائِكَةُ وَالشَّيَاطِينُ عَلَى أَنْ يُحَرِّكُوا فِي الْعَالَمِ ذَرَّةً أَوْ يُسَكِّنُوهَا دُونَ إِرَادَتِهِ وَمَشِيئَتِهِ لَعَجَزُوا عَنْ ذٰلِكَ.

Seandainya manusia, jin, malaikat, dan setan berkumpul untuk menggerakkan satu zarrah di alam ini atau mendiamkannya tanpa iradah dan kehendak-Nya, niscaya mereka tidak akan mampu.

وَأَنَّ إِرَادَتَهُ قَائِمَةٌ بِذَاتِهِ فِي جُمْلَةِ صِفَاتِهِ، لَمْ يَزَلْ كَذٰلِكَ مَوْصُوفًا بِهَا، مُرِيدًا فِي أَزَلِهِ لِوُجُودِ الْأَشْيَاءِ فِي أَوْقَاتِهَا الَّتِي قَدَّرَهَا.

Dan bahwa iradah-Nya berdiri pada zat-Nya sebagai salah satu dari sifat-sifat-Nya. Dia senantiasa disifati dengannya. Dia menghendaki sejak azali adanya segala sesuatu pada waktu-waktu yang telah Dia tentukan.

فَوُجِدَتْ فِي أَوْقَاتِهَا كَمَا أَرَادَهَا فِي أَزَلِهِ، مِنْ غَيْرِ تَقَدُّمٍ وَلَا تَأَخُّرٍ.

Lalu segala sesuatu itu ada pada waktunya sebagaimana Dia kehendaki sejak azali, tanpa lebih cepat dan tanpa tertunda.

بَلْ وَقَعَتْ عَلَى وَفْقِ عِلْمِهِ وَإِرَادَتِهِ مِنْ غَيْرِ تَبَدُّلٍ وَلَا تَغَيُّرٍ.

Bahkan semuanya terjadi sesuai dengan ilmu dan iradah-Nya, tanpa perubahan dan tanpa pergantian.

دَبَّرَ الْأُمُورَ لَا بِتَرْتِيبِ أَفْكَارٍ وَلَا تَرَبُّصِ زَمَانٍ، فَلِذٰلِكَ لَمْ يَشْغَلْهُ شَأْنٌ عَنْ شَأْنٍ.

Dia mengatur segala urusan bukan dengan susunan pikiran dan bukan pula dengan menunggu waktu. Karena itulah satu urusan tidak menyibukkan-Nya dari urusan yang lain.

السَّمْعُ وَالْبَصَرُ

وَأَنَّهُ تَعَالَى سَمِيعٌ بَصِيرٌ، يَسْمَعُ وَيَرَى، لَا يَعْزُبُ عَنْ سَمْعِهِ مَسْمُوعٌ وَإِنْ خَفِيَ، وَلَا يَغِيبُ عَنْ رُؤْيَتِهِ مَرْئِيٌّ وَإِنْ دَقَّ.

Dan bahwa Dia Ta‘ala Maha Mendengar lagi Maha Melihat. Dia mendengar dan melihat. Tidak ada sesuatu yang terdengar luput dari pendengaran-Nya, meskipun sangat samar. Tidak ada sesuatu yang terlihat luput dari penglihatan-Nya, meskipun sangat kecil.

وَلَا يَحْجُبُ سَمْعَهُ بُعْدٌ، وَلَا يَدْفَعُ رُؤْيَتَهُ ظَلَامٌ.

Jarak tidak menghalangi pendengaran-Nya, dan kegelapan tidak menghalangi penglihatan-Nya.

يَرَى مِنْ غَيْرِ حَدَقَةٍ وَأَجْفَانٍ، وَيَسْمَعُ مِنْ غَيْرِ أَصْمِخَةٍ وَآذَانٍ، كَمَا يَعْلَمُ بِغَيْرِ قَلْبٍ، وَيَبْطِشُ بِغَيْرِ جَارِحَةٍ، وَيَخْلُقُ بِغَيْرِ آلَةٍ، إِذْ لَا تُشْبِهُ صِفَاتُهُ صِفَاتِ الْخَلْقِ، كَمَا لَا تُشْبِهُ ذَاتُهُ ذَوَاتَ الْخَلْقِ.

Dia melihat tanpa biji mata dan kelopak. Dia mendengar tanpa lubang telinga dan telinga. Sebagaimana Dia mengetahui tanpa hati, berbuat tanpa anggota tubuh, dan mencipta tanpa alat. Sebab sifat-sifat-Nya tidak menyerupai sifat-sifat makhluk, sebagaimana zat-Nya tidak menyerupai zat-zat makhluk.

الْكَلَامُ

وَأَنَّهُ تَعَالَى مُتَكَلِّمٌ، آمِرٌ نَاهٍ، وَاعِدٌ مُتَوَعِّدٌ، بِكَلَامٍ أَزَلِيٍّ قَدِيمٍ قَائِمٍ بِذَاتِهِ، لَا يُشْبِهُ كَلَامَ الْخَلْقِ.

Dan bahwa Dia Ta‘ala Maha Berfirman, memerintah, melarang, memberi janji, dan memberi ancaman, dengan kalam yang azali, qadim, berdiri pada zat-Nya, dan tidak menyerupai perkataan makhluk.

فَلَيْسَ بِصَوْتٍ يَحْدُثُ مِنَ انْسِلَالِ هَوَاءٍ أَوِ اصْطِكَاكِ أَجْرَامٍ، وَلَا بِحَرْفٍ يَنْقَطِعُ بِإِطْبَاقِ شَفَةٍ أَوْ تَحْرِيكِ لِسَانٍ.

Maka kalam-Nya bukan suara yang timbul karena hembusan udara atau benturan benda-benda, dan bukan pula huruf yang terputus karena rapatnya bibir atau gerak lidah.

وَأَنَّ الْقُرْآنَ وَالتَّوْرَاةَ وَالْإِنْجِيلَ وَالزَّبُورَ كُتُبُهُ الْمُنَزَّلَةُ عَلَى رُسُلِهِ عَلَيْهِمُ السَّلَامُ.

Dan bahwa Al-Qur’an, Taurat, Injil, dan Zabur adalah kitab-kitab-Nya yang diturunkan kepada para rasul-Nya ‘alaihimus-salam.

وَأَنَّ الْقُرْآنَ مَقْرُوءٌ بِالْأَلْسِنَةِ، مَكْتُوبٌ فِي الْمَصَاحِفِ، مَحْفُوظٌ فِي الْقُلُوبِ، وَأَنَّهُ مَعَ ذٰلِكَ قَدِيمٌ قَائِمٌ بِذَاتِ اللَّهِ تَعَالَى، لَا يَقْبَلُ الِانْفِصَالَ وَالِافْتِرَاقَ بِالِانْتِقَالِ إِلَى الْقُلُوبِ وَالْأَوْرَاقِ.

Dan bahwa Al-Qur’an dibaca dengan lisan, ditulis di mushaf-mushaf, dihafal dalam hati, namun bersama itu semua ia tetap qadim dan berdiri pada zat Allah Ta‘ala, tidak menerima keterpisahan dan perpecahan dengan berpindah ke dalam hati dan lembaran-lembaran.

وَأَنَّ مُوسَى صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَمِعَ كَلَامَ اللَّهِ بِغَيْرِ صَوْتٍ وَلَا حَرْفٍ، كَمَا يَرَى الْأَبْرَارُ ذَاتَ اللَّهِ تَعَالَى فِي الْآخِرَةِ مِنْ غَيْرِ جَوْهَرٍ وَلَا عَرَضٍ.

Dan bahwa Musa ‘alaihis-salam mendengar kalam Allah tanpa suara dan tanpa huruf, sebagaimana orang-orang yang berbuat baik akan melihat zat Allah Ta‘ala di akhirat tanpa berupa substansi atau aksiden.

وَإِذَا كَانَتْ لَهُ هٰذِهِ الصِّفَاتُ كَانَ حَيًّا عَالِمًا قَادِرًا مُرِيدًا سَمِيعًا بَصِيرًا مُتَكَلِّمًا، بِالْحَيَاةِ وَالْقُدْرَةِ وَالْعِلْمِ وَالْإِرَادَةِ وَالسَّمْعِ وَالْبَصَرِ وَالْكَلَامِ، لَا بِمُجَرَّدِ الذَّاتِ.

Dan karena Dia memiliki sifat-sifat ini, maka Dia hidup, mengetahui, berkuasa, berkehendak, mendengar, melihat, dan berfirman dengan sifat hidup, kuasa, ilmu, iradah, pendengaran, penglihatan, dan kalam, bukan sekadar dengan zat semata.

الْأَفْعَالُ

وَأَنَّهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى لَا مَوْجُودَ سِوَاهُ إِلَّا وَهُوَ حَادِثٌ بِفِعْلِهِ، وَفَائِضٌ مِنْ عَدْلِهِ عَلَى أَحْسَنِ الْوُجُوهِ وَأَكْمَلِهَا وَأَتَمِّهَا وَأَعْدَلِهَا.

Dan bahwa tidak ada sesuatu pun selain-Nya kecuali ia baru dengan perbuatan-Nya, dan tercurah dari keadilan-Nya dengan bentuk yang paling baik, paling sempurna, paling lengkap, dan paling adil.

وَأَنَّهُ حَكِيمٌ فِي أَفْعَالِهِ، عَادِلٌ فِي أَقْضِيَتِهِ، لَا يُقَاسُ عَدْلُهُ بِعَدْلِ الْعِبَادِ، إِذِ الْعَبْدُ يُتَصَوَّرُ مِنْهُ الظُّلْمُ بِتَصَرُّفِهِ فِي مُلْكِ غَيْرِهِ.

Dan bahwa Dia Mahabijaksana dalam perbuatan-Nya, adil dalam keputusan-Nya. Keadilan-Nya tidak dapat dibandingkan dengan keadilan hamba, sebab seorang hamba mungkin saja berbuat zalim dengan bertindak pada milik orang lain.

وَلَا يُتَصَوَّرُ الظُّلْمُ مِنَ اللَّهِ تَعَالَى، فَإِنَّهُ لَا يُصَادِفُ لِغَيْرِهِ مُلْكًا حَتَّى يَكُونَ تَصَرُّفُهُ فِيهِ ظُلْمًا.

Adapun kezaliman tidak mungkin dibayangkan pada Allah Ta‘ala, karena Dia tidak menjumpai milik siapa pun selain-Nya sehingga tindakan-Nya di dalamnya dapat disebut zalim.

فَكُلُّ مَا سِوَاهُ مِنْ إِنْسٍ وَجِنٍّ وَمَلَكٍ وَشَيْطَانٍ وَسَمَاءٍ وَأَرْضٍ وَحَيَوَانٍ وَنَبَاتٍ وَجَمَادٍ وَجَوْهَرٍ وَعَرَضٍ وَمُدْرَكٍ وَمَحْسُوسٍ حَادِثٌ اخْتَرَعَهُ بِقُدْرَتِهِ بَعْدَ الْعَدَمِ اخْتِرَاعًا، وَأَنْشَأَهُ إِنْشَاءً بَعْدَ أَنْ لَمْ يَكُنْ شَيْئًا.

Maka segala sesuatu selain-Nya, baik manusia, jin, malaikat, setan, langit, bumi, hewan, tumbuhan, benda mati, substansi, aksiden, sesuatu yang dapat dipahami, atau yang dapat diindra, semuanya adalah baru. Allah mengadakannya dengan kuasa-Nya setelah sebelumnya tidak ada, dan menciptakannya setelah sebelumnya bukan apa-apa.

إِذْ كَانَ مَوْجُودًا وَحْدَهُ وَلَمْ يَكُنْ مَعَهُ غَيْرُهُ، فَأَحْدَثَ الْخَلْقَ بَعْدَ ذٰلِكَ إِظْهَارًا لِقُدْرَتِهِ، وَتَحْقِيقًا لِمَا سَبَقَ مِنْ إِرَادَتِهِ، وَلِمَا حَقَّ فِي الْأَزَلِ مِنْ كَلِمَتِهِ، لَا لِافْتِقَارِهِ إِلَيْهِ وَحَاجَتِهِ.

Karena sebelumnya hanya Dia yang ada, dan tidak ada sesuatu pun bersama-Nya. Lalu Dia menciptakan makhluk sesudah itu untuk menampakkan kuasa-Nya, merealisasikan apa yang telah didahului oleh iradah-Nya, dan menampakkan apa yang telah tetap secara azali dari kalimat-Nya, bukan karena kebutuhan-Nya kepada makhluk dan bukan karena memerlukannya.

وَأَنَّهُ مُتَفَضِّلٌ بِالْخَلْقِ وَالِاخْتِرَاعِ وَالتَّكْلِيفِ، لَا عَنْ وُجُوبٍ، وَمُتَطَوِّلٌ بِالْإِنْعَامِ وَالْإِصْلَاحِ، لَا عَنْ لُزُومٍ.

Dan bahwa Dia memberi karunia dengan mencipta, mengadakan, dan membebani taklif, bukan karena suatu kewajiban atas-Nya. Dia juga memberi nikmat dan memperbaiki, bukan karena sesuatu yang mengharuskan-Nya.

فَلَهُ الْفَضْلُ وَالْإِحْسَانُ وَالنِّعْمَةُ وَالِامْتِنَانُ، إِذْ كَانَ قَادِرًا عَلَى أَنْ يَصُبَّ عَلَى عِبَادِهِ أَنْوَاعَ الْعَذَابِ، وَيَبْتَلِيَهُمْ بِضُرُوبِ الْآلَامِ وَالْأَوْصَابِ، وَلَوْ فَعَلَ ذٰلِكَ لَكَانَ مِنْهُ عَدْلًا، وَلَمْ يَكُنْ مِنْهُ قَبِيحًا وَلَا ظُلْمًا.

Maka milik-Nya keutamaan, kebaikan, nikmat, dan karunia. Sebab Dia mampu menumpahkan berbagai jenis azab kepada hamba-hamba-Nya dan menguji mereka dengan macam-macam rasa sakit dan penyakit. Seandainya Dia melakukan itu, tentu itu adalah keadilan dari-Nya, dan bukan keburukan atau kezaliman.

وَأَنَّهُ عَزَّ وَجَلَّ يُثِيبُ عِبَادَهُ الْمُؤْمِنِينَ عَلَى الطَّاعَاتِ بِحُكْمِ الْكَرَمِ وَالْوَعْدِ، لَا بِحُكْمِ الِاسْتِحْقَاقِ وَاللُّزُومِ لَهُ، إِذْ لَا يَجِبُ عَلَيْهِ لِأَحَدٍ فِعْلٌ، وَلَا يُتَصَوَّرُ مِنْهُ ظُلْمٌ، وَلَا يَجِبُ لِأَحَدٍ عَلَيْهِ حَقٌّ.

Dan bahwa Dia ‘Azza wa Jalla memberi pahala kepada hamba-hamba-Nya yang beriman atas ketaatan-ketaatan mereka berdasarkan kemurahan dan janji-Nya, bukan berdasarkan hak yang wajib atas-Nya atau kewajiban yang mengikat-Nya. Sebab tidak ada satu pun tindakan yang wajib atas-Nya untuk siapa pun, tidak mungkin kezaliman disandarkan kepada-Nya, dan tidak ada hak siapa pun yang wajib dipenuhi-Nya.

وَأَنَّ حَقَّهُ فِي الطَّاعَاتِ وَجَبَ عَلَى الْخَلْقِ بِإِيجَابِهِ عَلَى أَلْسِنَةِ أَنْبِيَائِهِ عَلَيْهِمُ السَّلَامُ، لَا بِمُجَرَّدِ الْعَقْلِ.

Dan bahwa hak-Nya dalam bentuk ketaatan menjadi wajib atas makhluk karena Dia sendiri yang mewajibkannya melalui lisan para nabi-Nya ‘alaihimus-salam, bukan semata-mata karena akal.

وَلٰكِنَّهُ بَعَثَ الرُّسُلَ، وَأَظْهَرَ صِدْقَهُمْ بِالْمُعْجِزَاتِ الظَّاهِرَةِ، فَبَلَّغُوا أَمْرَهُ وَنَهْيَهُ وَوَعْدَهُ وَوَعِيدَهُ، فَوَجَبَ عَلَى الْخَلْقِ تَصْدِيقُهُمْ فِيمَا جَاءُوا بِهِ.

Akan tetapi, Dia mengutus para rasul dan menampakkan kebenaran mereka melalui mukjizat-mukjizat yang nyata. Lalu mereka menyampaikan perintah-Nya, larangan-Nya, janji-Nya, dan ancaman-Nya. Karena itu, wajib atas makhluk membenarkan mereka dalam apa yang mereka bawa.

مَعْنَى الْكَلِمَةِ الثَّانِيَةِ، وَهِيَ الشَّهَادَةُ لِلرُّسُلِ بِالرِّسَالَةِ

وَأَنَّهُ بَعَثَ النَّبِيَّ الْأُمِّيَّ الْقُرَشِيَّ مُحَمَّدًا صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِرِسَالَتِهِ إِلَى كَافَّةِ الْعَرَبِ وَالْعَجَمِ وَالْجِنِّ وَالْإِنْسِ.

Dan bahwa Dia telah mengutus Nabi yang ummi dari Quraisy, Muhammad , dengan risalah-Nya kepada seluruh bangsa Arab, bangsa non-Arab, jin, dan manusia.

فَنَسَخَ بِشَرِيعَتِهِ الشَّرَائِعَ إِلَّا مَا قَرَّرَهُ مِنْهَا.

Lalu Dia menghapus dengan syariat beliau seluruh syariat sebelumnya, kecuali apa yang beliau tetapkan darinya.

وَفَضَّلَهُ عَلَى سَائِرِ الْأَنْبِيَاءِ، وَجَعَلَهُ سَيِّدَ الْبَشَرِ.

Dan Dia melebihkannya atas seluruh nabi serta menjadikannya pemimpin seluruh manusia.

وَمَنَعَ كَمَالَ الْإِيمَانِ بِشَهَادَةِ التَّوْحِيدِ، وَهُوَ قَوْلُ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ، مَا لَمْ تَقْتَرِنْ بِهَا شَهَادَةُ الرَّسُولِ، وَهُوَ قَوْلُكَ: مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ.

Dan Allah tidak menjadikan iman sempurna hanya dengan syahadat tauhid, yaitu ucapan “Lā ilāha illallāh”, kecuali bila disertai dengan syahadat kerasulan, yaitu ucapanmu “Muhammadur Rasulullah.”

وَأَلْزَمَ الْخَلْقَ تَصْدِيقَهُ فِي جَمِيعِ مَا أَخْبَرَ عَنْهُ مِنْ أُمُورِ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ.

Dan Dia mewajibkan makhluk untuk membenarkan beliau dalam segala hal yang beliau kabarkan tentang urusan dunia dan akhirat.

وَأَنَّهُ لَا يُتَقَبَّلُ إِيمَانُ عَبْدٍ حَتَّى يُؤْمِنَ بِمَا أَخْبَرَ بِهِ بَعْدَ الْمَوْتِ.

Dan bahwa iman seorang hamba tidak diterima sampai ia beriman kepada apa yang beliau kabarkan tentang perkara-perkara setelah mati.

وَأَوَّلُ ذٰلِكَ سُؤَالُ مُنْكَرٍ وَنَكِيرٍ، وَهُمَا شَخْصَانِ مُهَيْبَانِ هَائِلَانِ، يُقْعِدَانِ الْعَبْدَ فِي قَبْرِهِ سَوِيًّا ذَا رُوحٍ وَجَسَدٍ، فَيَسْأَلَانِهِ عَنِ التَّوْحِيدِ وَالرِّسَالَةِ، وَيَقُولَانِ لَهُ: مَنْ رَبُّكَ؟ وَمَا دِينُكَ؟ وَمَنْ نَبِيُّكَ؟

Dan yang pertama dari itu adalah pertanyaan dua malaikat Munkar dan Nakir. Mereka adalah dua sosok yang menggetarkan dan menakutkan. Keduanya mendudukkan hamba di dalam kuburnya dalam keadaan ruh dan jasadnya dikembalikan, lalu menanyainya tentang tauhid dan risalah. Mereka berkata kepadanya, “Siapa Tuhanmu? Apa agamamu? Dan siapa nabimu?”

وَهُمَا فَتَّانَا الْقَبْرِ، وَسُؤَالُهُمَا أَوَّلُ فِتْنَةٍ بَعْدَ الْمَوْتِ.

Keduanya adalah penguji kubur, dan pertanyaan keduanya adalah fitnah pertama setelah kematian.

وَأَنْ يُؤْمِنَ بِعَذَابِ الْقَبْرِ، وَأَنَّهُ حَقٌّ، وَحُكْمُهُ عَدْلٌ عَلَى الْجِسْمِ وَالرُّوحِ عَلَى مَا يَشَاءُ.

Dan bahwa seseorang beriman kepada azab kubur, bahwa azab itu benar adanya, dan bahwa hukum itu berlaku dengan adil atas jasad dan ruh sesuai kehendak Allah.

وَأَنْ يُؤْمِنَ بِالْمِيزَانِ ذِي الْكِفَّتَيْنِ وَاللِّسَانِ، وَصِفَتُهُ فِي الْعِظَمِ أَنَّهُ مِثْلُ طَبَقَاتِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ.

Dan bahwa seseorang beriman kepada timbangan yang memiliki dua daun timbangan dan lidah penunjuk, yang dalam kebesarannya seperti lapisan langit dan bumi.

تُوزَنُ الْأَعْمَالُ بِقُدْرَةِ اللَّهِ تَعَالَى، وَالصَّنْجُ يَوْمَئِذٍ مَثَاقِيلُ الذَّرِّ وَالْخَرْدَلِ، تَحْقِيقًا لِتَمَامِ الْعَدْلِ.

Amal-amal akan ditimbang dengan kuasa Allah Ta‘ala. Pada hari itu, timbangan mencapai ukuran ذرّة dan biji sawi, sebagai bentuk sempurnanya keadilan.

وَتُوضَعُ صَحَائِفُ الْحَسَنَاتِ فِي صُورَةٍ حَسَنَةٍ فِي كِفَّةِ النُّورِ، فَيَثْقُلُ بِهَا الْمِيزَانُ عَلَى قَدْرِ دَرَجَاتِهَا عِنْدَ اللَّهِ بِفَضْلِ اللَّهِ.

Lembaran-lembaran kebaikan diletakkan dalam rupa yang indah pada daun cahaya, lalu timbangan menjadi berat karenanya sesuai derajatnya di sisi Allah, dengan karunia Allah.

وَتُطْرَحُ صَحَائِفُ السَّيِّئَاتِ فِي صُورَةٍ قَبِيحَةٍ فِي كِفَّةِ الظُّلْمَةِ، فَيَخِفُّ بِهَا الْمِيزَانُ بِعَدْلِ اللَّهِ.

Dan lembaran-lembaran keburukan dilemparkan dalam rupa yang buruk pada daun kegelapan, lalu timbangan menjadi ringan karenanya, dengan keadilan Allah.

وَأَنْ يُؤْمِنَ بِأَنَّ الصِّرَاطَ حَقٌّ، وَهُوَ جِسْرٌ مَمْدُودٌ عَلَى مَتْنِ جَهَنَّمَ، أَحَدُّ مِنَ السَّيْفِ وَأَدَقُّ مِنَ الشَّعْرَةِ.

Dan bahwa seseorang beriman bahwa shirath itu benar adanya. Ia adalah jembatan yang dibentangkan di atas Jahannam, lebih tajam daripada pedang dan lebih halus daripada rambut.

تَزِلُّ عَلَيْهِ أَقْدَامُ الْكَافِرِينَ بِحُكْمِ اللَّهِ سُبْحَانَهُ فَتَهْوِي بِهِمْ إِلَى النَّارِ، وَتَثْبُتُ عَلَيْهِ أَقْدَامُ الْمُؤْمِنِينَ بِفَضْلِ اللَّهِ تَعَالَى، فَيُسَاقُونَ إِلَى دَارِ الْقَرَارِ.

Kaki orang-orang kafir akan tergelincir di atasnya dengan ketentuan Allah Subhanahu wa Ta‘ala, lalu menjatuhkan mereka ke dalam neraka. Sedangkan kaki orang-orang beriman akan diteguhkan di atasnya dengan karunia Allah Ta‘ala, lalu mereka digiring ke negeri yang kekal.

وَأَنْ يُؤْمِنَ بِالْحَوْضِ الْمَوْرُودِ، حَوْضِ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، يَشْرَبُ مِنْهُ الْمُؤْمِنُونَ قَبْلَ دُخُولِ الْجَنَّةِ وَبَعْدَ جَوَازِ الصِّرَاطِ.

Dan bahwa seseorang beriman kepada telaga yang didatangi, yaitu telaga Muhammad , yang darinya orang-orang beriman minum sebelum masuk surga dan setelah melewati shirath.

مَنْ شَرِبَ مِنْهُ شَرْبَةً لَمْ يَظْمَأْ بَعْدَهَا أَبَدًا.

Barang siapa minum darinya sekali minum, maka ia tidak akan haus selamanya setelah itu.

عَرْضُهُ مَسِيرَةُ شَهْرٍ، وَمَاؤُهُ أَشَدُّ بَيَاضًا مِنَ اللَّبَنِ، وَأَحْلَى مِنَ الْعَسَلِ، حَوْلَهُ أَبَارِيقُ عَدَدُهَا بَعَدَدِ نُجُومِ السَّمَاءِ.

Lebarnya sejauh perjalanan satu bulan. Airnya lebih putih daripada susu dan lebih manis daripada madu. Di sekelilingnya terdapat bejana-bejana sebanyak bintang-bintang di langit.

فِيهِ مِيزَابَانِ يَصُبَّانِ فِيهِ مِنَ الْكَوْثَرِ.

Di dalamnya ada dua pancuran yang mengalirkan air dari Al-Kautsar.

وَأَنْ يُؤْمِنَ بِالْحِسَابِ، وَتَفَاوُتِ النَّاسِ فِيهِ، إِلَى مُنَاقَشٍ فِي الْحِسَابِ، وَإِلَى مُسَامَحٍ فِيهِ، وَإِلَى مَنْ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ بِغَيْرِ حِسَابٍ، وَهُمُ الْمُقَرَّبُونَ.

Dan bahwa seseorang beriman kepada hisab, serta perbedaan keadaan manusia di dalamnya. Ada yang dihisab secara rinci, ada yang dipermudah, dan ada pula yang masuk surga tanpa hisab, yaitu orang-orang yang didekatkan.

فَيَسْأَلُ اللَّهُ تَعَالَى مَنْ شَاءَ مِنَ الْأَنْبِيَاءِ عَنْ تَبْلِيغِ الرِّسَالَةِ، وَمَنْ شَاءَ مِنَ الْكُفَّارِ عَنْ تَكْذِيبِ الْمُرْسَلِينَ، وَيَسْأَلُ الْمُبْتَدِعَةَ عَنِ السُّنَّةِ، وَيَسْأَلُ الْمُسْلِمِينَ عَنِ الْأَعْمَالِ.

Maka Allah Ta‘ala akan menanyai siapa yang Dia kehendaki dari kalangan para nabi tentang penyampaian risalah, menanyai siapa yang Dia kehendaki dari kalangan orang-orang kafir tentang pendustaan mereka terhadap para rasul, menanyai para ahli bid‘ah tentang sunnah, dan menanyai kaum muslimin tentang amal-amal mereka.

وَأَنْ يُؤْمِنَ بِإِخْرَاجِ الْمُوَحِّدِينَ مِنَ النَّارِ بَعْدَ الِانْتِقَامِ، حَتَّى لَا يَبْقَى فِي جَهَنَّمَ مُوَحِّدٌ بِفَضْلِ اللَّهِ تَعَالَى، فَلَا يُخَلَّدُ فِي النَّارِ مُوَحِّدٌ.

Dan bahwa seseorang beriman kepada keluarnya orang-orang yang bertauhid dari neraka setelah mereka menerima pembalasan, hingga tidak tersisa seorang pun yang bertauhid di Jahannam, dengan karunia Allah Ta‘ala. Maka tidak ada seorang muwahhid pun yang kekal di dalam neraka.

وَأَنْ يُؤْمِنَ بِشَفَاعَةِ الْأَنْبِيَاءِ، ثُمَّ الْعُلَمَاءِ، ثُمَّ الشُّهَدَاءِ، ثُمَّ سَائِرِ الْمُؤْمِنِينَ عَلَى حَسَبِ جَاهِهِمْ وَمَنْزِلَتِهِمْ عِنْدَ اللَّهِ تَعَالَى.

Dan bahwa seseorang beriman kepada syafaat para nabi, kemudian para ulama, kemudian para syuhada, lalu seluruh orang beriman sesuai dengan kedudukan dan derajat mereka di sisi Allah Ta‘ala.

وَمَنْ بَقِيَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ شَفِيعٌ أُخْرِجَ بِفَضْلِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ، فَلَا يُخَلَّدُ فِي النَّارِ مُؤْمِنٌ، بَلْ يُخْرَجُ مِنْهَا مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنَ الْإِيمَانِ.

Dan siapa pun dari kaum mukminin yang masih tersisa dan tidak memiliki pemberi syafaat, ia akan dikeluarkan dengan karunia Allah ‘Azza wa Jalla. Tidak ada seorang mukmin pun yang kekal dalam neraka, bahkan akan dikeluarkan darinya orang yang di dalam hatinya ada seberat zarrah dari iman.

وَأَنْ يَعْتَقِدَ فَضْلَ الصَّحَابَةِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَتَرْتِيبَهُمْ، وَأَنَّ أَفْضَلَ النَّاسِ بَعْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَبُو بَكْرٍ، ثُمَّ عُمَرُ، ثُمَّ عُثْمَانُ، ثُمَّ عَلِيٌّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ.

Dan bahwa seseorang meyakini keutamaan para sahabat radhiyallahu ‘anhum serta urutan mereka, dan bahwa manusia yang paling utama setelah Nabi adalah Abu Bakar, kemudian ‘Umar, kemudian ‘Utsman, lalu ‘Ali radhiyallahu ‘anhum.

وَأَنْ يُحْسِنَ الظَّنَّ بِجَمِيعِ الصَّحَابَةِ، وَيُثْنِيَ عَلَيْهِمْ كَمَا أَثْنَى اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ وَرَسُولُهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَيْهِمْ أَجْمَعِينَ.

Dan bahwa seseorang berbaik sangka kepada seluruh sahabat serta memuji mereka sebagaimana Allah ‘Azza wa Jalla dan Rasul-Nya memuji mereka semuanya.

فَكُلُّ ذٰلِكَ مِمَّا وَرَدَتْ بِهِ الْأَخْبَارُ وَشَهِدَتْ بِهِ الْآثَارُ.

Semua itu termasuk perkara yang telah datang dengannya hadis-hadis dan disaksikan oleh atsar-atsar.

فَمَنِ اعْتَقَدَ جَمِيعَ ذٰلِكَ مُوقِنًا بِهِ، كَانَ مِنْ أَهْلِ الْحَقِّ وَعِصَابَةِ السُّنَّةِ، وَفَارَقَ رَهْطَ الضَّلَالِ وَحِزْبَ الْبِدْعَةِ.

Barang siapa meyakini seluruh hal itu dengan penuh keyakinan, maka ia termasuk أهل الحق dan golongan sunnah, serta telah berpisah dari kelompok kesesatan dan partai bid‘ah.

فَنَسْأَلُ اللَّهَ كَمَالَ الْيَقِينِ وَحُسْنَ الثَّبَاتِ فِي الدِّينِ لَنَا وَلِكَافَّةِ الْمُسْلِمِينَ بِرَحْمَتِهِ، إِنَّهُ أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ، وَصَلَّى اللَّهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى كُلِّ عَبْدٍ مُصْطَفًى.

Maka kami memohon kepada Allah kesempurnaan keyakinan dan keteguhan yang baik dalam agama, bagi kami dan seluruh kaum muslimin, dengan rahmat-Nya. Sesungguhnya Dia adalah Yang Maha Penyayang di antara semua yang penyayang. Dan semoga Allah melimpahkan salawat kepada junjungan kami Muhammad dan kepada setiap hamba pilihan-Nya.