Cara bertahap menuju bimbingan dan susunan tingkatan keyakinan
اَلْفَصْلُ
الثَّانِي فِي وَجْهِ التَّدْرِيجِ إِلَى الْإِرْشَادِ وَتَرْتِيبِ دَرَجَاتِ
الِاعْتِقَادِ
Pasal kedua tentang cara bertahap menuju bimbingan dan
susunan tingkatan keyakinan.
اِعْلَمْ
أَنَّ مَا ذَكَرْنَاهُ فِي تَرْجَمَةِ الْعَقِيدَةِ يَنْبَغِي أَنْ يُقَدَّمَ
إِلَى الصَّبِيِّ فِي أَوَّلِ نَشْوِهِ، لِيَحْفَظَهُ حِفْظًا، ثُمَّ لَا يَزَالُ
يَنْكَشِفُ لَهُ مَعْنَاهُ فِي كِبَرِهِ شَيْئًا فَشَيْئًا.
Ketahuilah bahwa apa yang telah kami sebutkan dalam
penjelasan akidah, seharusnya diberikan kepada anak kecil pada awal masa
pertumbuhannya, agar ia menghafalnya dengan baik. Kemudian maknanya akan terus
tersingkap baginya sedikit demi sedikit ketika ia dewasa.
فَابْتِدَاؤُهُ
الْحِفْظُ، ثُمَّ الْفَهْمُ، ثُمَّ الِاعْتِقَادُ وَالْإِيقَانُ وَالتَّصْدِيقُ
بِهِ.
Tahap awalnya adalah hafalan, kemudian pemahaman, lalu
keyakinan, kepastian, dan pembenaran terhadapnya.
وَذٰلِكَ
مِمَّا يَحْصُلُ فِي الصَّبِيِّ بِغَيْرِ بُرْهَانٍ.
Semua itu dapat terjadi pada anak kecil tanpa memerlukan
dalil rasional.
فَمِنْ
فَضْلِ اللَّهِ سُبْحَانَهُ عَلَى قَلْبِ الْإِنْسَانِ أَنْ شَرَحَهُ فِي أَوَّلِ
نَشْوِهِ لِلْإِيمَانِ مِنْ غَيْرِ حَاجَةٍ إِلَى حُجَّةٍ وَبُرْهَانٍ.
Termasuk karunia Allah Subhanahu wa Ta‘ala kepada hati
manusia adalah bahwa Dia melapangkannya pada awal pertumbuhannya untuk menerima
iman tanpa perlu hujah dan dalil.
وَكَيْفَ
يُنْكَرُ ذٰلِكَ، وَجَمِيعُ عَقَائِدِ الْعَوَامِّ مَبَادِيهَا التَّلْقِينُ
الْمُجَرَّدُ وَالتَّقْلِيدُ الْمَحْضُ؟
Bagaimana mungkin hal itu diingkari, padahal seluruh akidah
orang awam pada awalnya terbentuk hanya melalui talqin semata dan taklid murni?
نَعَمْ،
يَكُونُ الِاعْتِقَادُ الْحَاصِلُ بِمُجَرَّدِ التَّقْلِيدِ غَيْرَ خَالٍ عَنْ
نَوْعٍ مِنَ الضَّعْفِ فِي الِابْتِدَاءِ، عَلَى مَعْنَى أَنَّهُ يَقْبَلُ
الْإِزَالَةَ بِنَقِيضِهِ لَوْ أُلْقِيَ إِلَيْهِ.
Benar, keyakinan yang diperoleh hanya melalui taklid pada
awalnya tidak lepas dari sejenis kelemahan, dalam arti ia masih mungkin
tergeser oleh lawannya jika lawan itu disampaikan kepadanya.
فَلَا
بُدَّ مِنْ تَقْوِيَتِهِ وَإِثْبَاتِهِ فِي نَفْسِ الصَّبِيِّ وَالْعَامِّيِّ
حَتَّى يَتَرَسَّخَ وَلَا يَتَزَلْزَلَ.
Karena itu, keyakinan itu harus diperkuat dan ditetapkan
dalam jiwa anak kecil dan orang awam, hingga ia menjadi kokoh dan tidak goyah.
وَلَيْسَ
الطَّرِيقُ فِي تَقْوِيَتِهِ وَإِثْبَاتِهِ أَنْ يُعَلَّمَ صَنْعَةَ الْجَدَلِ
وَالْكَلَامِ، بَلْ يَشْتَغِلُ بِتِلَاوَةِ الْقُرْآنِ وَتَفْسِيرِهِ وَقِرَاءَةِ
الْحَدِيثِ وَمَعَانِيهِ.
Cara untuk menguatkan dan meneguhkannya bukanlah dengan
mengajarinya seni debat dan ilmu kalam, tetapi dengan menyibukkannya membaca
Al-Qur’an dan tafsirnya, mempelajari hadis dan makna-maknanya.
وَيَشْتَغِلُ
بِوَظَائِفِ الْعِبَادَاتِ، فَلَا يَزَالُ اعْتِقَادُهُ يَزْدَادُ رُسُوخًا بِمَا
يَقْرَعُ سَمْعَهُ مِنْ أَدِلَّةِ الْقُرْآنِ وَحُجَجِهِ، وَبِمَا يَرِدُ عَلَيْهِ
مِنْ شَوَاهِدِ الْأَحَادِيثِ وَفَوَائِدِهَا، وَبِمَا يَسْطَعُ عَلَيْهِ مِنْ
أَنْوَارِ الْعِبَادَاتِ وَوَظَائِفِهَا، وَبِمَا يَسْرِي إِلَيْهِ مِنْ
مُشَاهَدَةِ الصَّالِحِينَ وَمُجَالَسَتِهِمْ وَسِيمَاهُمْ وَسَمْتِهِمْ فِي
الْخُضُوعِ لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَالْخَوْفِ مِنْهُ وَالِاسْتِكَانَةِ لَهُ.
Dan ia juga disibukkan dengan berbagai ibadah. Dengan
demikian, keyakinannya terus bertambah kokoh melalui apa yang mengetuk
pendengarannya dari dalil-dalil Al-Qur’an dan hujah-hujahnya, melalui apa yang
datang kepadanya dari hadis-hadis dan faedah-faedahnya, melalui cahaya-cahaya
ibadah dan tugas-tugasnya yang tampak, serta melalui apa yang meresap kepadanya
dari melihat orang-orang saleh, duduk bersama mereka, melihat tanda-tanda
mereka, mendengar ucapan mereka, dan menyaksikan keadaan mereka dalam tunduk
kepada Allah ‘Azza wa Jalla, takut kepada-Nya, dan merendahkan diri kepada-Nya.
فَيَكُونُ
أَوَّلُ التَّلْقِينِ كَإِلْقَاءِ بَذْرٍ فِي الصَّدْرِ، وَتَكُونُ هٰذِهِ
الْأَسْبَابُ كَالسَّقْيِ وَالتَّرْبِيَةِ لَهُ، حَتَّى يَنْمُوَ ذٰلِكَ الْبَذْرُ
وَيَقْوَى وَيَرْتَفِعَ شَجَرَةً طَيِّبَةً، رَاسِخَةً أَصْلُهَا ثَابِتٌ
وَفَرْعُهَا فِي السَّمَاءِ.
Maka talqin pertama itu seperti melemparkan benih ke dalam
dada. Sedangkan sebab-sebab tadi seperti menyiram dan memeliharanya, sampai
benih itu tumbuh, menguat, dan menjelma menjadi pohon yang baik, berakar kokoh,
dengan cabang yang menjulang ke langit.
وَيَنْبَغِي
أَنْ يُحْرَسَ سَمْعُهُ مِنَ الْجَدَلِ وَالْكَلَامِ غَايَةَ الْحِرَاسَةِ،
فَإِنَّ مَا يُشَوِّشُهُ الْجَدَلُ أَكْثَرُ مِمَّا يُمَهِّدُهُ، وَمَا يُفْسِدُهُ
أَكْثَرُ مِمَّا يُصْلِحُهُ.
Dan pendengarannya harus dijaga sekuat-kuatnya dari debat
dan ilmu kalam, sebab apa yang dikacaukan oleh perdebatan lebih banyak daripada
apa yang diperjelas olehnya, dan apa yang dirusaknya lebih banyak daripada apa
yang diperbaikinya.
بَلْ
تَقْوِيَتُهُ بِالْجَدَلِ تُضَاهِي ضَرْبَ الشَّجَرَةِ بِالْمِدَقَّةِ مِنَ
الْحَدِيدِ رَجَاءَ تَقْوِيَتِهَا بِأَنْ تَكْثُرَ أَجْزَاؤُهَا، وَرُبَّمَا
يُفَتِّتُهَا ذٰلِكَ وَيُفْسِدُهَا، وَهُوَ الْأَغْلَبُ.
Bahkan menguatkan akidah dengan debat itu seperti memukul
pohon dengan palu besi dengan harapan agar ia kuat karena bagian-bagiannya
bertambah banyak, padahal justru pukulan itu dapat menghancurkannya dan
merusaknya, dan inilah yang lebih sering terjadi.
وَالْمُشَاهَدَةُ
تَكْفِيكَ فِي هٰذَا بَيَانًا، فَنَاهِيكَ بِالْعِيَانِ بُرْهَانًا.
Pengamatan nyata sudah cukup menjadi penjelasan bagimu dalam
masalah ini. Cukuplah fakta yang terlihat sebagai bukti.
فَقِسْ
عَقِيدَةَ أَهْلِ الصَّلَاحِ وَالتُّقَى مِنْ عَوَامِّ النَّاسِ بِعَقِيدَةِ
الْمُتَكَلِّمِينَ وَالْمُجَادِلِينَ، فَتَرَى اعْتِقَادَ الْعَامِّيِّ فِي
الثَّبَاتِ كَالطَّوْدِ الشَّامِخِ لَا تُحَرِّكُهُ الدَّوَاهِي وَالصَّوَاعِقُ،
وَعَقِيدَةَ الْمُتَكَلِّمِ الْحَارِسِ اعْتِقَادَهُ بِتَقْسِيمَاتِ الْجَدَلِ
كَخَيْطٍ مُرْسَلٍ فِي الْهَوَاءِ تُفَيِّئُهُ الرِّيَاحُ مَرَّةً هٰكَذَا
وَمَرَّةً هٰكَذَا.
Bandingkanlah akidah orang-orang saleh dan bertakwa dari
kalangan awam dengan akidah para ahli kalam dan para pendebat. Niscaya engkau
akan melihat bahwa akidah orang awam itu kukuh seperti gunung yang menjulang,
tidak digoyahkan oleh bencana dan petir. Sedangkan akidah ahli kalam yang
menjaga keyakinannya dengan pembagian-pembagian debat itu seperti benang yang
terulur di udara, yang digoyang-goyangkan angin ke satu arah lalu ke arah lain.
إِلَّا
مَنْ سَمِعَ مِنْهُمْ دَلِيلَ الِاعْتِقَادِ فَتَلَقَّفَهُ تَقْلِيدًا، كَمَا
تَلَقَّفَ نَفْسَ الِاعْتِقَادِ تَقْلِيدًا، إِذْ لَا فَرْقَ فِي التَّقْلِيدِ
بَيْنَ تَعْلِيمِ الدَّلِيلِ أَوْ تَعَلُّمِ الْمَدْلُولِ، فَتَلْقِينُ الدَّلِيلِ
شَيْءٌ، وَالِاسْتِدْلَالُ بِالنَّظَرِ شَيْءٌ آخَرُ بَعِيدٌ عَنْهُ.
Kecuali orang yang mendengar dari mereka dalil akidah lalu
ia menerimanya secara taklid, sebagaimana ia menerima pokok akidah itu sendiri
secara taklid. Sebab tidak ada perbedaan dalam taklid, apakah ia diajari dalil
atau diajari kesimpulannya. Men-talqin dalil itu satu hal, sedangkan
beristidlal dengan perenungan adalah hal lain yang jauh berbeda.
ثُمَّ
الصَّبِيُّ إِذَا وَقَعَ نَشْؤُهُ عَلَى هٰذِهِ الْعَقِيدَةِ، إِنِ اشْتَغَلَ
بِكَسْبِ الدُّنْيَا لَمْ يَنْفَتِحْ لَهُ غَيْرُهَا، وَلٰكِنَّهُ يَسْلَمُ فِي
الْآخِرَةِ بِاعْتِقَادِ أَهْلِ الْحَقِّ، إِذْ لَمْ يُكَلِّفِ الشَّرْعُ
أَجْلَافَ الْعَرَبِ أَكْثَرَ مِنَ التَّصْدِيقِ الْجَازِمِ بِظَاهِرِ هٰذِهِ
الْعَقَائِدِ.
Kemudian, apabila seorang anak tumbuh di atas akidah ini
lalu sibuk mencari dunia, maka tidak akan terbuka baginya lebih dari itu. Namun
ia tetap selamat di akhirat dengan akidah أهل الحق, karena syariat tidak
membebani orang-orang Arab Badui yang kasar lebih dari sekadar pembenaran yang
tegas terhadap zahir akidah-akidah ini.
فَأَمَّا
الْبَحْثُ وَالتَّفْتِيشُ وَتَكَلُّفُ نَظْمِ الْأَدِلَّةِ فَلَمْ يُكَلَّفُوهُ
أَصْلًا.
Adapun penelitian, pengusutan, dan susah payah menyusun
dalil-dalil, maka mereka sama sekali tidak dibebani dengannya.
وَإِنْ
أَرَادَ أَنْ يَكُونَ مِنْ سَالِكِي طَرِيقِ الْآخِرَةِ، وَسَاعَدَهُ
التَّوْفِيقُ، حَتَّى اشْتَغَلَ بِالْعَمَلِ وَلَازَمَ التَّقْوَى وَنَهَى
النَّفْسَ عَنِ الْهَوَى، وَاشْتَغَلَ بِالرِّيَاضَةِ وَالْمُجَاهَدَةِ،
انْفَتَحَتْ لَهُ أَبْوَابٌ مِنَ الْهِدَايَةِ تَكْشِفُ عَنْ حَقَائِقِ هٰذِهِ
الْعَقِيدَةِ بِنُورٍ إِلٰهِيٍّ يُقْذَفُ فِي قَلْبِهِ بِسَبَبِ الْمُجَاهَدَةِ،
تَحْقِيقًا لِوَعْدِهِ عَزَّ وَجَلَّ، إِذْ قَالَ: {وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا
لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ}.
Dan jika ia ingin menjadi penempuh jalan akhirat, lalu
taufik membantunya sehingga ia sibuk dengan amal, menekuni takwa, menahan jiwa
dari hawa nafsu, serta sibuk dengan latihan jiwa dan mujahadah, maka akan
terbuka baginya pintu-pintu hidayah yang menyingkap hakikat-hakikat akidah ini
dengan cahaya ilahi yang dilemparkan ke dalam hatinya karena mujahadah, sebagai
realisasi janji Allah ‘Azza wa Jalla, ketika Dia berfirman, “Dan orang-orang
yang bersungguh-sungguh di jalan Kami, pasti akan Kami tunjukkan kepada mereka
jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar bersama orang-orang yang
berbuat ihsan.”
وَهُوَ
الْجَوْهَرُ النَّفِيسُ الَّذِي هُوَ غَايَةُ إِيمَانِ الصِّدِّيقِينَ
وَالْمُقَرَّبِينَ، وَإِلَيْهِ الْإِشَارَةُ بِالسِّرِّ الَّذِي وَقَرَ فِي صَدْرِ
أَبِي بَكْرٍ الصِّدِّيقِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، حَيْثُ فَضُلَ بِهِ الْخَلْقَ.
Itulah permata yang berharga, yang merupakan puncak iman
para shiddiqin dan orang-orang yang didekatkan kepada Allah. Kepada hal itulah
isyarat ditujukan dengan “rahasia yang menetap di dada Abu Bakar Ash-Shiddiq
radhiyallahu ‘anhu”, yang dengannya ia lebih utama daripada manusia lain.
وَانْكِشَافُ
ذٰلِكَ السِّرِّ، بَلْ تِلْكَ الْأَسْرَارِ، لَهُ دَرَجَاتٌ بِحَسَبِ دَرَجَاتِ
الْمُجَاهَدَةِ، وَدَرَجَاتِ الْبَاطِنِ فِي النَّظَافَةِ وَالطَّهَارَةِ عَمَّا
سِوَى اللَّهِ تَعَالَى، وَفِي الِاسْتِضَاءَةِ بِنُورِ الْيَقِينِ.
Tersingkapnya rahasia itu, bahkan rahasia-rahasia itu,
memiliki tingkatan-tingkatan sesuai tingkatan mujahadah, sesuai keadaan batin
dalam kebersihan dan kesuciannya dari selain Allah Ta‘ala, serta sesuai kadar
penerangannya dengan cahaya yakin.
وَذٰلِكَ
كَتَفَاوُتِ الْخَلْقِ فِي أَسْرَارِ الطِّبِّ وَالْفِقْهِ وَسَائِرِ الْعُلُومِ،
إِذْ يَخْتَلِفُ ذٰلِكَ بِاخْتِلَافِ الِاجْتِهَادِ وَاخْتِلَافِ الْفِطْرَةِ فِي
الذَّكَاءِ وَالْفِطْنَةِ.
Hal itu seperti perbedaan manusia dalam memahami
rahasia-rahasia kedokteran, fikih, dan seluruh ilmu lainnya, karena perbedaan
itu memang mengikuti perbedaan kesungguhan dan perbedaan fitrah dalam
kecerdasan dan ketajaman akal.
وَكَمَا
لَا تَنْحَصِرُ تِلْكَ الدَّرَجَاتُ فَكَذٰلِكَ هٰذِهِ مَسْأَلَةٌ.
Dan sebagaimana tingkatan-tingkatan itu tidak terbatas,
demikian pula halnya dalam masalah ini.
فَإِنْ
قُلْتَ: تَعَلُّمُ الْجَدَلِ وَالْكَلَامِ مَذْمُومٌ كَتَعَلُّمِ النُّجُومِ، أَوْ
هُوَ مُبَاحٌ أَوْ مَنْدُوبٌ إِلَيْهِ؟
Jika engkau bertanya, “Apakah mempelajari debat dan ilmu
kalam itu tercela seperti mempelajari ilmu nujum, ataukah ia mubah, atau bahkan
dianjurkan?”
فَاعْلَمْ
أَنَّ لِلنَّاسِ فِي هٰذَا غُلُوًّا وَإِسْرَافًا فِي الطَّرَفَيْنِ.
Maka ketahuilah bahwa manusia dalam hal ini berlebihan dan
melampaui batas pada dua ujung yang berlawanan.
فَمِنْ
قَائِلٍ إِنَّهُ بِدْعَةٌ أَوْ حَرَامٌ، وَأَنَّ الْعَبْدَ إِنْ لَقِيَ اللَّهَ
عَزَّ وَجَلَّ بِكُلِّ ذَنْبٍ سِوَى الشِّرْكِ خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَنْ يَلْقَاهُ
بِالْكَلَامِ.
Ada yang berkata bahwa ilmu kalam itu bid‘ah atau haram, dan
bahwa jika seorang hamba bertemu Allah ‘Azza wa Jalla dengan membawa setiap
dosa selain syirik, itu lebih baik baginya daripada bertemu-Nya dengan membawa
ilmu kalam.
وَمِنْ
قَائِلٍ إِنَّهُ وَاجِبٌ وَفَرْضٌ، إِمَّا عَلَى الْكِفَايَةِ أَوْ عَلَى
الْأَعْيَانِ، وَأَنَّهُ أَفْضَلُ الْأَعْمَالِ وَأَعْلَى الْقُرُبَاتِ، فَإِنَّهُ
تَحْقِيقٌ لِعِلْمِ التَّوْحِيدِ وَنِضَالٌ عَنْ دِينِ اللَّهِ تَعَالَى.
Dan ada pula yang berkata bahwa ia wajib dan fardu, baik
fardu kifayah maupun fardu ‘ain, dan bahwa ia adalah amal paling utama serta
bentuk kedekatan tertinggi kepada Allah, karena ia dianggap sebagai penegasan
ilmu tauhid dan perjuangan membela agama Allah Ta‘ala.
وَإِلَى
التَّحْرِيمِ ذَهَبَ الشَّافِعِيُّ وَمَالِكٌ وَأَحْمَدُ بْنُ حَنْبَلٍ
وَسُفْيَانُ وَجَمِيعُ أَهْلِ الْحَدِيثِ مِنَ السَّلَفِ.
Yang berpendapat bahwa ia haram adalah Asy-Syafi‘i, Malik,
Ahmad bin Hanbal, Sufyan, dan seluruh ahli hadis dari kalangan salaf.
قَالَ
ابْنُ عَبْدِ الْأَعْلَى رَحِمَهُ اللَّهُ: سَمِعْتُ الشَّافِعِيَّ رَضِيَ اللَّهُ
عَنْهُ يَوْمَ نَاظَرَ حَفْصًا الْفَرْدَ، وَكَانَ مِنْ مُتَكَلِّمِي
الْمُعْتَزِلَةِ، يَقُولُ: لَأَنْ يَلْقَى اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ الْعَبْدُ
بِكُلِّ ذَنْبٍ مَا خَلَا الشِّرْكَ بِاللَّهِ خَيْرٌ مِنْ أَنْ يَلْقَاهُ
بِشَيْءٍ مِنْ عِلْمِ الْكَلَامِ.
Ibnu ‘Abdil-A‘la rahimahullah berkata, “Aku mendengar
Asy-Syafi‘i radhiyallahu ‘anhu pada hari ketika ia berdebat dengan Hafsh
Al-Fard — yang termasuk mutakallim dari kalangan Mu‘tazilah — berkata: ‘Sungguh
seorang hamba bertemu Allah ‘Azza wa Jalla dengan membawa setiap dosa selain
syirik itu lebih baik baginya daripada bertemu-Nya dengan membawa sesuatu dari
ilmu kalam.’”
وَلَقَدْ
سَمِعْتُ مِنْ حَفْصٍ كَلَامًا لَا أَقْدِرُ أَنْ أَحْكِيَهُ.
“Dan sungguh aku telah mendengar dari Hafsh ucapan yang aku
tidak sanggup untuk menukilkannya.”
وَقَالَ
أَيْضًا: قَدِ اطَّلَعْتُ مِنْ أَهْلِ الْكَلَامِ عَلَى شَيْءٍ مَا ظَنَنْتُهُ
قَطُّ، وَلَأَنْ يُبْتَلَى الْعَبْدُ بِكُلِّ مَا نَهَى اللَّهُ عَنْهُ مَا عَدَا
الشِّرْكَ خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَنْ يَنْظُرَ فِي الْكَلَامِ.
Beliau juga berkata, “Aku telah melihat pada ahli kalam
sesuatu yang tidak pernah aku sangka sebelumnya. Dan sungguh seorang hamba
ditimpa dengan seluruh hal yang dilarang Allah selain syirik itu lebih baik
baginya daripada ia menekuni ilmu kalam.”
وَحَكَى
الْكَرَابِيسِيُّ أَنَّ الشَّافِعِيَّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ سُئِلَ عَنْ شَيْءٍ
مِنَ الْكَلَامِ فَغَضِبَ، وَقَالَ: سَلْ عَنْ هٰذَا حَفْصَ الْفَرْدِ
وَأَصْحَابَهُ، أَخْزَاهُمُ اللَّهُ.
Al-Karabisi meriwayatkan bahwa Asy-Syafi‘i radhiyallahu
‘anhu pernah ditanya tentang sesuatu dari ilmu kalam, lalu beliau marah dan
berkata, “Tanyakanlah tentang ini kepada Hafsh Al-Fard dan teman-temannya.
Semoga Allah menghinakan mereka.”
وَلَمَّا
مَرِضَ الشَّافِعِيُّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ دَخَلَ عَلَيْهِ حَفْصُ الْفَرْدِ،
فَقَالَ لَهُ: مَنْ أَنَا؟
Ketika Asy-Syafi‘i radhiyallahu ‘anhu sakit, Hafsh Al-Fard
masuk menemuinya dan berkata, “Siapakah aku?”
فَقَالَ:
حَفْصُ الْفَرْدِ، لَا حَفِظَكَ اللَّهُ وَلَا رَعَاكَ حَتَّى تَتُوبَ مِمَّا
أَنْتَ فِيهِ.
Maka beliau menjawab, “Engkau adalah Hafsh Al-Fard. Semoga
Allah tidak menjagamu dan tidak memeliharamu sampai engkau bertobat dari apa
yang sedang engkau tekuni.”
وَقَالَ
أَيْضًا: لَوْ عَلِمَ النَّاسُ مَا فِي الْكَلَامِ مِنَ الْأَهْوَاءِ لَفَرُّوا
مِنْهُ فِرَارَهُمْ مِنَ الْأَسَدِ.
Beliau juga berkata, “Seandainya manusia mengetahui apa yang
ada dalam ilmu kalam berupa hawa nafsu, niscaya mereka akan lari darinya
sebagaimana lari dari singa.”
وَقَالَ
أَيْضًا: إِذَا سَمِعْتَ الرَّجُلَ يَقُولُ: الِاسْمُ هُوَ الْمُسَمَّى أَوْ
غَيْرُ الْمُسَمَّى، فَاشْهَدْ بِأَنَّهُ مِنْ أَهْلِ الْكَلَامِ وَلَا دِينَ لَهُ.
Beliau juga berkata, “Apabila engkau mendengar seseorang
berkata, ‘Nama itu adalah yang dinamai’ atau ‘bukan yang dinamai’, maka
saksikanlah bahwa ia termasuk ahli kalam dan tidak memiliki agama.”
قَالَ
الزَّعْفَرَانِيُّ: قَالَ الشَّافِعِيُّ: حُكْمِي فِي أَصْحَابِ الْكَلَامِ أَنْ
يُضْرَبُوا بِالْجَرِيدِ وَيُطَافَ بِهِمْ فِي الْقَبَائِلِ وَالْعَشَائِرِ،
وَيُقَالَ: هٰذَا جَزَاءُ مَنْ تَرَكَ الْكِتَابَ وَالسُّنَّةَ وَأَخَذَ فِي
الْكَلَامِ.
Az-Za‘farani berkata, Asy-Syafi‘i berkata, “Hukumku terhadap
ahli kalam adalah mereka dipukul dengan pelepah kurma dan diarak berkeliling di
tengah kabilah-kabilah dan عشائر,
lalu dikatakan: ‘Inilah balasan orang yang meninggalkan Al-Kitab dan Sunnah
lalu menekuni ilmu kalam.’”
وَقَالَ
أَحْمَدُ بْنُ حَنْبَلٍ: لَا يُفْلِحُ صَاحِبُ الْكَلَامِ أَبَدًا، وَلَا تَكَادُ
تَرَى أَحَدًا نَظَرَ فِي الْكَلَامِ إِلَّا وَفِي قَلْبِهِ دَغَلٌ.
Ahmad bin Hanbal berkata, “Ahli kalam tidak akan pernah
beruntung, dan hampir tidak engkau jumpai seseorang yang menekuni ilmu kalam
kecuali di dalam hatinya ada kerusakan.”
وَبَالَغَ
فِي ذَمِّهِ حَتَّى هَجَرَ الْحَارِثَ الْمُحَاسِبِيَّ مَعَ زُهْدِهِ وَوَرَعِهِ
بِسَبَبِ تَصْنِيفِهِ كِتَابًا فِي الرَّدِّ عَلَى الْمُبْتَدِعَةِ.
Beliau sangat keras mencelanya sampai-sampai meninggalkan
Al-Harits Al-Muhasibi, padahal ia seorang yang zuhud dan wara‘, hanya karena
Al-Muhasibi menyusun kitab untuk membantah ahli bid‘ah.
وَقَالَ
لَهُ: وَيْحَكَ، أَلَسْتَ تَحْكِي بِدْعَتَهُمْ أَوَّلًا ثُمَّ تَرُدُّ
عَلَيْهِمْ؟ أَلَسْتَ تَحْمِلُ النَّاسَ بِتَصْنِيفِكَ عَلَى مُطَالَعَةِ
الْبِدْعَةِ وَالتَّفَكُّرِ فِي تِلْكَ الشُّبُهَاتِ، فَيَدْعُوهُمْ ذٰلِكَ إِلَى
الرَّأْيِ وَالْبَحْثِ؟
Ahmad berkata kepadanya, “Celaka engkau! Bukankah engkau
terlebih dahulu menceritakan bid‘ah mereka lalu baru membantahnya? Bukankah
dengan tulisanmu itu engkau mendorong manusia untuk mempelajari bid‘ah dan
memikirkan syubhat-syubhat itu, sehingga hal itu justru mengajak mereka kepada
pendapat-pendapat dan pembahasan?”
وَقَالَ
أَحْمَدُ رَحِمَهُ اللَّهُ: عُلَمَاءُ الْكَلَامِ زَنَادِقَةٌ.
Ahmad rahimahullah berkata, “Para ahli kalam adalah zindik.”
وَقَالَ
مَالِكٌ رَحِمَهُ اللَّهُ: أَرَأَيْتَ إِنْ جَاءَهُ مَنْ هُوَ أَجْدَلُ مِنْهُ،
أَيَدَعُ دِينَهُ كُلَّ يَوْمٍ لِدِينٍ جَدِيدٍ؟
Malik rahimahullah berkata, “Bagaimana jika datang kepada
seorang ahli kalam orang yang lebih pandai berdebat darinya? Apakah ia akan
meninggalkan agamanya setiap hari untuk agama yang baru?”
يَعْنِي
أَنَّ أَقْوَالَ الْمُتَجَادِلِينَ تَتَفَاوَتُ.
Maksudnya, pendapat-pendapat para pendebat itu selalu
berubah-ubah.
وَقَالَ
مَالِكٌ رَحِمَهُ اللَّهُ أَيْضًا: لَا تَجُوزُ شَهَادَةُ أَهْلِ الْبِدَعِ
وَالْأَهْوَاءِ.
Malik rahimahullah juga berkata, “Kesaksian ahli bid‘ah dan
pengikut hawa nafsu tidak diterima.”
فَقَالَ
بَعْضُ أَصْحَابِهِ فِي تَأْوِيلِهِ: إِنَّهُ أَرَادَ بِأَهْلِ الْأَهْوَاءِ
أَهْلَ الْكَلَامِ عَلَى أَيِّ مَذْهَبٍ كَانُوا.
Sebagian muridnya menafsirkan ucapan itu bahwa yang dimaksud
dengan pengikut hawa nafsu adalah para ahli kalam, dari mazhab mana pun mereka.
وَقَالَ
أَبُو يُوسُفَ: مَنْ طَلَبَ الْعِلْمَ بِالْكَلَامِ تَزَنْدَقَ.
Abu Yusuf berkata, “Barang siapa mencari ilmu melalui kalam,
ia akan menjadi zindik.”
وَقَالَ
الْحَسَنُ: لَا تُجَادِلُوا أَهْلَ الْأَهْوَاءِ، وَلَا تُجَالِسُوهُمْ، وَلَا
تَسْمَعُوا مِنْهُمْ.
Al-Hasan berkata, “Janganlah kalian berdebat dengan ahli
hawa nafsu, jangan duduk bersama mereka, dan jangan mendengarkan mereka.”
وَقَدِ
اتَّفَقَ أَهْلُ الْحَدِيثِ مِنَ السَّلَفِ عَلَى هٰذَا.
Seluruh ahli hadis dari kalangan salaf sepakat dalam hal
ini.
وَلَا
يَنْحَصِرُ مَا نُقِلَ عَنْهُمْ مِنَ التَّشْدِيدَاتِ فِيهِ.
Ancaman-ancaman keras yang dinukil dari mereka tentang
masalah ini tidak dapat dihitung satu per satu.
وَقَالُوا:
مَا سَكَتَ عَنْهُ الصَّحَابَةُ، مَعَ أَنَّهُمْ أَعْرَفُ بِالْحَقَائِقِ
وَأَفْصَحُ بِتَرْتِيبِ الْأَلْفَاظِ مِنْ غَيْرِهِمْ، إِلَّا لِعِلْمِهِمْ بِمَا
يَتَوَلَّدُ مِنْهُ مِنَ الشَّرِّ.
Mereka berkata, “Apa yang didiamkan oleh para sahabat —
padahal mereka paling mengenal hakikat-hakikat dan paling fasih dalam menyusun
lafaz — tidak lain karena mereka mengetahui keburukan yang akan lahir darinya.”
وَلِذٰلِكَ
قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: هَلَكَ الْمُتَنَطِّعُونَ،
هَلَكَ الْمُتَنَطِّعُونَ، هَلَكَ الْمُتَنَطِّعُونَ.
Karena itulah Nabi ﷺ bersabda, “Binasalah orang-orang yang
berlebih-lebihan, binasalah orang-orang yang berlebih-lebihan, binasalah
orang-orang yang berlebih-lebihan.”
أَيْ
الْمُتَعَمِّقُونَ فِي الْبَحْثِ وَالِاسْتِقْصَاءِ.
Yakni orang-orang yang terlalu dalam meneliti dan
menyelidiki secara berlebihan.
وَاحْتَجُّوا
أَيْضًا بِأَنَّ ذٰلِكَ لَوْ كَانَ مِنَ الدِّينِ لَكَانَ أَهَمَّ مَا يَأْمُرُ
بِهِ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَيُعَلِّمُ طَرِيقَهُ
وَيُثْنِي عَلَيْهِ وَعَلَى أَرْبَابِهِ.
Mereka juga berdalil bahwa seandainya ilmu kalam itu bagian
dari agama, tentu ia akan menjadi perkara paling penting yang diperintahkan
Rasulullah ﷺ,
yang beliau ajarkan caranya, dan yang beliau puji beserta para ahlinya.
فَقَدْ
عَلَّمَهُمُ الِاسْتِنْجَاءَ، وَنَدَبَهُمْ إِلَى عِلْمِ الْفَرَائِضِ وَأَثْنَى
عَلَيْهِمْ، وَنَهَاهُمْ عَنِ الْكَلَامِ فِي الْقَدَرِ وَقَالَ: أَمْسِكُوا عَنِ
الْقَدَرِ.
Padahal beliau telah mengajarkan kepada mereka cara
istinja’, menganjurkan mereka mempelajari ilmu faraidh dan memuji para ahlinya,
tetapi beliau melarang mereka berbicara tentang qadar dan bersabda, “Tahanlah
diri kalian dari membicarakan qadar.”
وَعَلَى
هٰذَا اسْتَمَرَّ الصَّحَابَةُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ، فَالزِّيَادَةُ عَلَى
الْأُسْتَاذِ طُغْيَانٌ وَظُلْمٌ، وَهُمُ الْأُسْتَاذُونَ وَالْقُدْوَةُ، وَنَحْنُ
الْأَتْبَاعُ وَالتَّلَامِذَةُ.
Dan di atas prinsip inilah para sahabat radhiyallahu ‘anhum
terus berjalan. Maka menambah sesuatu di atas apa yang diajarkan guru adalah
sikap melampaui batas dan kezaliman. Mereka adalah para guru dan teladan,
sedangkan kita hanyalah pengikut dan murid.
وَأَمَّا
الْفِرْقَةُ الْأُخْرَى فَاحْتَجُّوا بِأَنَّهُمْ قَالُوا: إِنَّ الْمَحْذُورَ
مِنَ الْكَلَامِ إِنْ كَانَ هُوَ لَفْظَ الْجَوْهَرِ وَالْعَرَضِ وَهٰذِهِ
الِاصْطِلَاحَاتِ الْغَرِيبَةِ الَّتِي لَمْ تَعْهَدْهَا الصَّحَابَةُ رَضِيَ
اللَّهُ عَنْهُمْ، فَالْأَمْرُ فِيهِ قَرِيبٌ.
Adapun kelompok yang lain, mereka berdalil dengan
mengatakan: jika yang dilarang dari ilmu kalam itu hanyalah penggunaan istilah
“jauhar” dan “‘aradh” serta istilah-istilah asing lain yang tidak dikenal para
sahabat radhiyallahu ‘anhum, maka urusannya dekat dan ringan.
إِذْ
مَا مِنْ عِلْمٍ إِلَّا وَقَدْ أُحْدِثَتْ فِيهِ اصْطِلَاحَاتٌ لِأَجْلِ
التَّفْهِيمِ، كَالْحَدِيثِ وَالتَّفْسِيرِ وَالْفِقْهِ.
Karena tidak ada satu ilmu pun kecuali telah diadakan di
dalamnya istilah-istilah baru demi memudahkan pemahaman, seperti ilmu hadis,
tafsir, dan fikih.
وَلَوْ
عُرِضَ عَلَيْهِمْ عِبَارَةُ النَّقْضِ وَالْكَسْرِ وَالتَّرْكِيبِ
وَالتَّعْدِيَةِ وَفَسَادِ الْوَضْعِ، إِلَى جَمِيعِ الْأَسْئِلَةِ الَّتِي
تُورَدُ عَلَى الْقِيَاسِ، لَمَا كَانُوا يَفْقَهُونَهُ.
Seandainya dihadapkan kepada para sahabat istilah-istilah
seperti “naqdh”, “kasr”, “tarkib”, “ta‘diyah”, dan “fasad al-wadh‘” serta
seluruh pertanyaan yang biasa diajukan atas qiyas, niscaya mereka pun tidak
akan memahaminya.
فَإِحْدَاثُ
عِبَارَةٍ لِلدَّلَالَةِ بِهَا عَلَى مَقْصُودٍ صَحِيحٍ كَإِحْدَاثِ آنِيَةٍ عَلَى
هَيْئَةٍ جَدِيدَةٍ لِاسْتِعْمَالِهَا فِي مُبَاحٍ.
Maka mengadakan istilah baru untuk menunjukkan makna yang
benar itu seperti membuat bejana dengan bentuk baru untuk digunakan dalam
perkara yang mubah.
وَإِنْ
كَانَ الْمَحْذُورُ هُوَ الْمَعْنَى، فَنَحْنُ لَا نَعْنِي بِهِ إِلَّا مَعْرِفَةَ
الدَّلِيلِ عَلَى حُدُوثِ الْعَالَمِ وَوَحْدَانِيَّةِ الْخَالِقِ وَصِفَاتِهِ،
كَمَا جَاءَ فِي الشَّرْعِ، فَمِنْ أَيْنَ تُحَرَّمُ مَعْرِفَةُ اللَّهِ تَعَالَى
بِالدَّلِيلِ؟
Dan jika yang dikhawatirkan adalah maknanya, maka yang kami
maksud darinya tidak lain hanyalah mengetahui dalil tentang haditsnya alam,
keesaan Sang Pencipta, dan sifat-sifat-Nya, sebagaimana telah datang dalam
syariat. Lalu dari mana pengenalan kepada Allah Ta‘ala melalui dalil bisa
diharamkan?
وَإِنْ
كَانَ الْمَحْذُورُ هُوَ التَّشَعُّبَ وَالتَّعَصُّبَ وَالْعَدَاوَةَ
وَالْبَغْضَاءَ وَمَا يُفْضِي إِلَيْهِ الْكَلَامُ، فَذٰلِكَ مُحَرَّمٌ، وَيَجِبُ
الِاحْتِرَازُ عَنْهُ، كَمَا أَنَّ الْكِبْرَ وَالْعُجْبَ وَالرِّيَاءَ وَطَلَبَ
الرِّيَاسَةِ مِمَّا يُفْضِي إِلَيْهِ عِلْمُ الْحَدِيثِ وَالتَّفْسِيرِ
وَالْفِقْهِ، وَهُوَ مُحَرَّمٌ يَجِبُ الِاحْتِرَازُ عَنْهُ، وَلٰكِنْ لَا
يُمْنَعُ مِنَ الْعِلْمِ لِأَجْلِ أَدَائِهِ إِلَيْهِ.
Dan jika yang dikhawatirkan adalah bercabang-cabangnya
perdebatan, fanatisme, permusuhan, kebencian, dan berbagai akibat buruk yang
ditimbulkan oleh ilmu kalam, maka semua itu memang haram dan wajib dihindari,
sebagaimana sombong, ujub, riya, dan mencari kepemimpinan juga bisa ditimbulkan
oleh ilmu hadis, tafsir, dan fikih. Semua itu haram dan wajib dihindari. Akan
tetapi, ilmu itu sendiri tidak dilarang semata-mata karena dapat mengantarkan
kepada hal tersebut.
وَكَيْفَ
يَكُونُ ذِكْرُ الْحُجَّةِ وَالْمُطَالَبَةُ بِهَا وَالْبَحْثُ عَنْهَا
مَحْظُورًا، وَقَدْ قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: {قُلْ هَاتُوا بُرْهَانَكُمْ}.
Bagaimana mungkin menyebutkan hujah, menuntut hujah, dan
menelitinya dianggap terlarang, padahal Allah Ta‘ala telah berfirman,
“Katakanlah: Datangkanlah burhan kalian.”
وَقَالَ
عَزَّ وَجَلَّ: {لِيَهْلِكَ مَنْ هَلَكَ عَنْ بَيِّنَةٍ وَيَحْيَىٰ مَنْ حَيَّ
عَنْ بَيِّنَةٍ}.
Dan Allah ‘Azza wa Jalla berfirman, “Agar orang yang binasa
binasa dengan bukti yang nyata dan orang yang hidup tetap hidup dengan bukti
yang nyata.”
وَقَالَ
تَعَالَى: {هَلْ عِنْدَكُمْ مِنْ سُلْطَانٍ بِهٰذَا}، أَيْ حُجَّةٍ وَبُرْهَانٍ.
Dan Allah Ta‘ala berfirman, “Apakah kalian mempunyai hujah
tentang ini?” maksudnya: bukti dan dalil.
وَقَالَ
تَعَالَى: {قُلْ فَلِلَّهِ الْحُجَّةُ الْبَالِغَةُ}.
Dan Allah Ta‘ala berfirman, “Katakanlah: maka milik Allah
hujah yang sempurna.”
وَقَالَ
تَعَالَى: {أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِي حَاجَّ إِبْرَاهِيمَ فِي رَبِّهِ} إِلَى
قَوْلِهِ: {فَبُهِتَ الَّذِي كَفَرَ}، إِذْ ذَكَرَ سُبْحَانَهُ احْتِجَاجَ
إِبْرَاهِيمَ وَمُجَادَلَتَهُ وَإِفْحَامَهُ خَصْمَهُ فِي مَعْرِضِ الثَّنَاءِ
عَلَيْهِ.
Dan Allah Ta‘ala berfirman, “Tidakkah engkau melihat orang
yang berdebat dengan Ibrahim tentang Tuhannya…” hingga firman-Nya, “Maka
terdiam dan bingunglah orang yang kafir itu,” padahal Allah menyebut hujah
Ibrahim, perdebatan beliau, dan pembungkaman beliau terhadap lawannya dalam
rangka memuji beliau.
وَقَالَ
عَزَّ وَجَلَّ: {وَتِلْكَ حُجَّتُنَا آتَيْنَاهَا إِبْرَاهِيمَ عَلَىٰ قَوْمِهِ}.
Dan Allah ‘Azza wa Jalla berfirman, “Dan itulah hujah Kami
yang Kami berikan kepada Ibrahim untuk menghadapi kaumnya.”
وَقَالَ
تَعَالَى: {قَالُوا يَا نُوحُ قَدْ جَادَلْتَنَا فَأَكْثَرْتَ جِدَالَنَا}.
Dan Allah Ta‘ala berfirman, “Mereka berkata: Wahai Nuh,
sungguh engkau telah mendebat kami dan terlalu banyak mendebat kami.”
وَقَالَ
تَعَالَى فِي قِصَّةِ فِرْعَوْنَ: {وَمَا رَبُّ الْعَالَمِينَ} إِلَى قَوْلِهِ:
{أَوَلَوْ جِئْتُكَ بِشَيْءٍ مُبِينٍ}.
Dan Allah Ta‘ala berfirman dalam kisah Fir‘aun, “Dan apakah
Tuhan semesta alam itu?” hingga firman-Nya, “Bagaimana jika aku datang kepadamu
dengan sesuatu yang nyata?”
وَعَلَى
الْجُمْلَةِ، فَالْقُرْآنُ مِنْ أَوَّلِهِ إِلَى آخِرِهِ مُحَاجَّةٌ مَعَ
الْكُفَّارِ.
Secara umum, Al-Qur’an dari awal hingga akhir berisi hujah
dan dialog terhadap orang-orang kafir.
فَعُمْدَةُ
أَدِلَّةِ الْمُتَكَلِّمِينَ فِي التَّوْحِيدِ قَوْلُهُ تَعَالَى: {لَوْ كَانَ
فِيهِمَا آلِهَةٌ إِلَّا اللَّهُ لَفَسَدَتَا}.
Pokok dalil para ahli kalam dalam tauhid adalah firman Allah
Ta‘ala, “Seandainya pada langit dan bumi ada tuhan-tuhan selain Allah, niscaya
keduanya akan rusak.”
وَفِي
النُّبُوَّةِ: {وَإِنْ كُنْتُمْ فِي رَيْبٍ مِمَّا نَزَّلْنَا عَلَىٰ عَبْدِنَا
فَأْتُوا بِسُورَةٍ مِنْ مِثْلِهِ}.
Dan dalam masalah kenabian, dalilnya adalah firman-Nya, “Dan
jika kalian ragu terhadap apa yang Kami turunkan kepada hamba Kami, maka
datangkanlah satu surah yang semisal dengannya.”
وَفِي
الْبَعْثِ: {قُلْ يُحْيِيهَا الَّذِي أَنْشَأَهَا أَوَّلَ مَرَّةٍ}.
Dan dalam masalah kebangkitan, dalilnya adalah firman-Nya,
“Katakanlah: Yang akan menghidupkannya adalah Zat yang pertama kali
menciptakannya.”
إِلَى
غَيْرِ ذٰلِكَ مِنَ الْآيَاتِ وَالْأَدِلَّةِ.
Dan masih banyak ayat serta dalil lainnya.
وَلَمْ
تَزَلِ الرُّسُلُ صَلَوَاتُ اللَّهِ عَلَيْهِمْ يُحَاجُّونَ الْمُنْكِرِينَ
وَيُجَادِلُونَهُمْ.
Para rasul, semoga salawat Allah tercurah kepada mereka,
senantiasa berhujah terhadap para pengingkar dan berdebat dengan mereka.
قَالَ
تَعَالَى: {وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ}.
Allah Ta‘ala berfirman, “Dan debatlah mereka dengan cara
yang paling baik.”
فَالصَّحَابَةُ
رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ أَيْضًا كَانُوا يُحَاجُّونَ الْمُنْكِرِينَ
وَيُجَادِلُونَ، وَلٰكِنْ عِنْدَ الْحَاجَةِ.
Para sahabat radhiyallahu ‘anhum pun berhujah terhadap para
pengingkar dan berdebat, tetapi mereka melakukannya hanya ketika ada kebutuhan.
وَكَانَتِ
الْحَاجَةُ إِلَيْهِ قَلِيلَةً فِي زَمَانِهِمْ، إِذْ لَمْ تَكُنِ الْبِدْعَةُ
تَظْهَرُ فِي ذٰلِكَ الزَّمَانِ.
Kebutuhan terhadap hal itu sedikit pada masa mereka, karena
bid‘ah belum tampak menyebar pada zaman itu.
وَأَوَّلُ
مَنْ سَنَّ دَعْوَةَ الْمُبْتَدِعَةِ بِالْمُجَادَلَةِ إِلَى الْحَقِّ عَلِيُّ
بْنُ أَبِي طَالِبٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، إِذْ بَعَثَ ابْنَ عَبَّاسٍ رَضِيَ
اللَّهُ عَنْهُمَا إِلَى الْخَوَارِجِ، فَكَلَّمَهُمْ.
Orang pertama yang membuka cara mengajak ahli bid‘ah kepada
kebenaran melalui debat adalah ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, ketika
ia mengutus Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma kepada kaum Khawarij, lalu Ibnu
‘Abbas berdialog dengan mereka.
فَقَالُوا:
مَا تَنْقِمُونَ عَلَى إِمَامِكُمْ؟
Maka Ibnu ‘Abbas berkata, “Apa yang kalian kecam dari imam
kalian?”
قَالُوا:
قَاتَلَ وَلَمْ يَسْبِ وَلَمْ يَغْنَمْ.
Mereka menjawab, “Ia berperang tetapi tidak menawan dan
tidak mengambil ghanimah.”
فَقَالَ:
ذٰلِكَ فِي قِتَالِ الْكُفَّارِ، أَرَأَيْتُمْ لَوْ سَبَيْتُ عَائِشَةَ رَضِيَ
اللَّهُ عَنْهَا فِي سَهْمِ أَحَدِكُمْ، أَكُنْتُمْ تَسْتَحِلُّونَ مِنْهَا مَا
تَسْتَحِلُّونَ مِنْ مَلَكِكُمْ وَهِيَ أُمُّكُمْ فِي نَصِّ الْكِتَابِ؟
Maka Ibnu ‘Abbas berkata, “Itu berlaku dalam perang melawan
orang kafir. Bagaimana pendapat kalian jika aku menawan ‘Aisyah radhiyallahu
‘anha dan memasukkannya ke bagian salah seorang dari kalian, apakah kalian akan
menghalalkan darinya apa yang kalian halalkan dari budak milik kalian, padahal
dia adalah ibu kalian menurut nash Al-Qur’an?”
فَقَالُوا:
لَا.
Mereka menjawab, “Tidak.”
فَرَجَعَ
مِنْهُمْ إِلَى الطَّاعَةِ بِمُجَادَلَتِهِ أَلْفَانِ.
Lalu dengan perdebatan itu, dua ribu orang dari mereka
kembali kepada ketaatan.
وَرُوِيَ
أَنَّ الْحَسَنَ نَاظَرَ قَدَرِيًّا فَرَجَعَ عَنِ الْقَدَرِ.
Diriwayatkan bahwa Al-Hasan pernah berdebat dengan seorang
Qadari, lalu orang itu meninggalkan paham qadarnya.
وَنَاظَرَ
عَلِيُّ بْنُ أَبِي طَالِبٍ كَرَّمَ اللَّهُ وَجْهَهُ رَجُلًا مِنَ الْقَدَرِيَّةِ.
Dan ‘Ali bin Abi Thalib karramallahu wajhah pernah berdebat
dengan seorang dari kalangan Qadariyyah.
وَنَاظَرَ
عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ يَزِيدَ بْنَ عُمَيْرَةَ فِي
الْإِيمَانِ.
Dan ‘Abdullah bin Mas‘ud radhiyallahu ‘anhu pernah berdebat
dengan Yazid bin ‘Umairah tentang iman.
قَالَ
عَبْدُ اللَّهِ: لَوْ قُلْتُ إِنِّي مُؤْمِنٌ لَقُلْتُ إِنِّي فِي الْجَنَّةِ.
Abdullah berkata, “Seandainya aku berkata bahwa aku seorang
mukmin, berarti aku telah mengatakan bahwa aku berada di surga.”
فَقَالَ
لَهُ يَزِيدُ بْنُ عُمَيْرَةَ: يَا صَاحِبَ رَسُولِ اللَّهِ، هٰذِهِ زَلَّةٌ
مِنْكَ.
Maka Yazid bin ‘Umairah berkata kepadanya, “Wahai sahabat
Rasulullah, ini adalah ketergelinciran darimu.”
وَهَلِ
الْإِيمَانُ إِلَّا أَنْ تُؤْمِنَ بِاللَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ
وَرُسُلِهِ وَالْبَعْثِ وَالْمِيزَانِ، وَتُقِيمَ الصَّلَاةَ وَالصَّوْمَ
وَالزَّكَاةَ؟
“Bukankah iman itu tidak lain kecuali engkau beriman kepada
Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para rasul-Nya, hari kebangkitan,
dan mizan, lalu engkau menegakkan salat, puasa, dan zakat?”
وَلَنَا
ذُنُوبٌ، لَوْ عَلِمْنَا أَنَّهَا تُغْفَرُ لَنَا لَعَلِمْنَا أَنَّنَا مِنْ
أَهْلِ الْجَنَّةِ، فَمِنْ أَجْلِ ذٰلِكَ نَقُولُ: إِنَّا مُؤْمِنُونَ، وَلَا
نَقُولُ: إِنَّا مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ.
“Kita memiliki dosa. Seandainya kita mengetahui bahwa
dosa-dosa itu diampuni bagi kita, tentu kita mengetahui bahwa kita termasuk أهل الجنة.
Karena itulah kita mengatakan: kita adalah mukmin, tetapi kita tidak
mengatakan: kita termasuk penghuni surga.”
فَقَالَ
ابْنُ مَسْعُودٍ: صَدَقْتَ، وَاللَّهِ إِنَّهَا مِنِّي زَلَّةٌ.
Maka Ibnu Mas‘ud berkata, “Engkau benar. Demi Allah, itu
adalah ketergelinciran dariku.”
فَيَنْبَغِي
أَنْ يُقَالَ: كَانَ خَوْضُهُمْ فِيهِ قَلِيلًا لَا كَثِيرًا، وَقَصِيرًا لَا
طَوِيلًا، وَعِنْدَ الْحَاجَةِ لَا بِطَرِيقِ التَّصْنِيفِ وَالتَّدْرِيسِ
وَاتِّخَاذِهِ صِنَاعَةً.
Karena itu, yang tepat dikatakan ialah: keterlibatan mereka
dalam hal ini sedikit, bukan banyak; singkat, bukan panjang; dan dilakukan
ketika ada kebutuhan, bukan dengan cara menulis kitab, mengajarkan, dan
menjadikannya sebagai profesi.
فَيُقَالُ:
أَمَّا قِلَّةُ خَوْضِهِمْ فِيهِ فَإِنَّهُ كَانَ لِقِلَّةِ الْحَاجَةِ إِذْ لَمْ
تَكُنِ الْبِدْعَةُ تَظْهَرُ فِي ذٰلِكَ الزَّمَانِ.
Maka dijawab: adapun sedikitnya mereka membahas hal itu,
karena kebutuhan terhadapnya memang sedikit, sebab bid‘ah belum menampakkan
diri pada masa itu.
وَأَمَّا
الْقِصَرُ، فَقَدْ كَانَتِ الْغَايَةُ إِفْحَامَ الْخَصْمِ وَاعْتِرَافَهُ
وَانْكِشَافَ الْحَقِّ وَإِزَالَةَ الشُّبْهَةِ، فَلَوْ طَالَ إِشْكَالُ الْخَصْمِ
أَوْ لِجَاجُهُ لَطَالَ لَا مَحَالَةَ إِلْزَامُهُمْ.
Adapun singkatnya perdebatan mereka, karena tujuannya
hanyalah membungkam lawan, membuatnya mengakui, menampakkan kebenaran, dan
menghilangkan syubhat. Jika syubhat lawan memanjang atau keengganannya terus
berlanjut, tentu hujah mereka juga akan memanjang.
وَمَا
كَانُوا يَقْدِرُونَ قَدْرَ الْحَاجَةِ بِمِيزَانٍ وَلَا مِكْيَالٍ بَعْدَ
الشُّرُوعِ فِيهَا.
Setelah mulai berdebat, mereka tidak menakar kebutuhan itu
dengan timbangan atau takaran tertentu.
وَأَمَّا
عَدَمُ تَصَدِّيهِمْ لِلتَّدْرِيسِ وَالتَّصْنِيفِ فِيهِ، فَهٰكَذَا كَانَ
دَأْبُهُمْ فِي الْفِقْهِ وَالتَّفْسِيرِ وَالْحَدِيثِ أَيْضًا.
Adapun tidak adanya mereka menjadikannya sebagai bidang
pengajaran dan penulisan, maka demikian pula kebiasaan mereka dalam fikih,
tafsir, dan hadis pada awalnya.
فَإِنْ
جَازَ تَصْنِيفُ الْفِقْهِ وَوَضْعُ الصُّوَرِ النَّادِرَةِ الَّتِي لَا تَتَّفِقُ
إِلَّا عَلَى النُّدُورِ، إِمَّا ادِّخَارًا لِيَوْمِ وُقُوعِهَا وَإِنْ كَانَ
نَادِرًا، أَوْ تَشْحِيذًا لِلْخَوَاطِرِ، فَنَحْنُ أَيْضًا نُرَتِّبُ طُرُقَ
الْمُجَادَلَةِ لِتَوَقُّعِ وُقُوعِ الْحَاجَةِ بِثَوَرَانِ شُبْهَةٍ أَوْ
هَيَجَانِ مُبْتَدِعٍ، أَوْ لِتَشْحِيذِ الْخَاطِرِ، أَوْ لِادِّخَارِ الْحُجَّةِ
حَتَّى لَا يَعْجِزَ عَنْهَا عِنْدَ الْحَاجَةِ عَلَى الْبَدِيهَةِ
وَالِارْتِجَالِ، كَمَنْ يُعِدُّ السِّلَاحَ قَبْلَ الْقِتَالِ لِيَوْمِ
الْقِتَالِ.
Maka jika dibolehkan menyusun kitab fikih dan membuat
gambaran-gambaran masalah langka yang hampir tidak pernah terjadi, baik untuk
disimpan jika suatu saat terjadi meskipun jarang, atau untuk menajamkan
pikiran, maka kami juga menyusun cara-cara perdebatan untuk menghadapi
kemungkinan adanya kebutuhan jika muncul syubhat atau bangkit seorang ahli
bid‘ah, atau untuk menajamkan pikiran, atau untuk menyiapkan hujah agar tidak
lemah ketika dibutuhkan secara spontan, seperti orang yang menyiapkan senjata
sebelum perang untuk hari peperangan.
فَهٰذَا
مَا يُمْكِنُ أَنْ يُذْكَرَ لِلْفَرِيقَيْنِ.
Maka inilah yang dapat disebutkan bagi kedua golongan itu.
فَإِنْ
قُلْتَ: فَمَا الْمُخْتَارُ عِنْدَكَ فِيهِ؟
Jika engkau berkata, “Lalu apakah pendapat yang terpilih
menurutmu dalam hal ini?”
فَاعْلَمْ
أَنَّ الْحَقَّ فِيهِ أَنَّ إِطْلَاقَ الْقَوْلِ بِذَمِّهِ فِي كُلِّ حَالٍ، أَوْ
بِحَمْدِهِ فِي كُلِّ حَالٍ، خَطَأٌ، بَلْ لَا بُدَّ فِيهِ مِنْ تَفْصِيلٍ.
Maka ketahuilah bahwa yang benar dalam hal itu adalah:
menilai ilmu kalam secara mutlak tercela dalam setiap keadaan, atau secara
mutlak terpuji dalam setiap keadaan, keduanya adalah keliru. Yang benar adalah
harus ada perincian.
فَاعْلَمْ
أَوَّلًا أَنَّ الشَّيْءَ قَدْ يَحْرُمُ لِذَاتِهِ، كَالْخَمْرِ وَالْمَيْتَةِ.
Ketahuilah terlebih dahulu bahwa sesuatu terkadang haram
karena zatnya sendiri, seperti khamar dan bangkai.
وَأَعْنِي
بِقَوْلِي لِذَاتِهِ أَنَّ عِلَّةَ تَحْرِيمِهِ وَصْفٌ فِي ذَاتِهِ، وَهُوَ
الْإِسْكَارُ وَالْمَوْتُ.
Yang aku maksud dengan “karena zatnya” ialah bahwa sebab
keharamannya adalah sifat yang ada pada zatnya sendiri, yaitu memabukkan dan
kematian.
وَهٰذَا
إِذَا سُئِلْنَا عَنْهُ أَطْلَقْنَا الْقَوْلَ بِأَنَّهُ حَرَامٌ، وَلَا
يُلْتَفَتُ إِلَى إِبَاحَةِ الْمَيْتَةِ عِنْدَ الِاضْطِرَارِ، وَإِبَاحَةِ
تَجَرُّعِ الْخَمْرِ إِذَا غَصَّ الْإِنْسَانُ بِلُقْمَةٍ وَلَمْ يَجِدْ مَا
يُسِيغُهَا سِوَى الْخَمْرِ.
Jika kita ditanya tentang hal ini, maka kita menjawab secara
mutlak bahwa ia haram. Kita tidak melihat kepada bolehnya bangkai saat darurat,
atau bolehnya meneguk khamar jika seseorang tersedak makanan dan tidak
menemukan sesuatu untuk menelannya selain khamar.
وَإِلَى
مَا يَحْرُمُ لِغَيْرِهِ، كَالْبَيْعِ عَلَى بَيْعِ أَخِيكَ الْمُسْلِمِ فِي
وَقْتِ الْخِيَارِ، وَالْبَيْعِ وَقْتَ النِّدَاءِ، وَكَأَكْلِ الطِّينِ،
فَإِنَّهُ يَحْرُمُ لِمَا فِيهِ مِنَ الْإِضْرَارِ.
Dan ada sesuatu yang haram karena sebab di luar dirinya,
seperti menjual di atas jual beli saudaramu yang muslim ketika masih dalam masa
khiyar, berjual beli saat azan Jumat, dan seperti memakan tanah, karena hal itu
haram disebabkan mudarat yang ada padanya.
وَهٰذَا
يَنْقَسِمُ إِلَى مَا يَضُرُّ قَلِيلُهُ وَكَثِيرُهُ، فَيُطْلَقُ الْقَوْلُ
عَلَيْهِ بِأَنَّهُ حَرَامٌ، كَالسُّمِّ الَّذِي يَقْتُلُ قَلِيلُهُ وَكَثِيرُهُ.
Yang seperti ini terbagi menjadi dua. Pertama, sesuatu yang
sedikit maupun banyaknya sama-sama membahayakan. Maka kita menyebutnya haram
secara mutlak, seperti racun yang membunuh baik sedikit maupun banyak.
وَإِلَى
مَا يَضُرُّ عِنْدَ الْكَثْرَةِ، فَيُطْلَقُ الْقَوْلُ عَلَيْهِ بِالْإِبَاحَةِ،
كَالْعَسَلِ، فَإِنَّ كَثِيرَهُ يَضُرُّ بِالْمَحْرُورِ، وَكَأَكْلِ الطِّينِ.
Kedua, sesuatu yang membahayakan hanya jika berlebihan. Maka
kita menyebutnya mubah secara mutlak, seperti madu, karena banyaknya bisa
membahayakan orang yang panas tubuhnya, dan juga seperti memakan tanah.
وَكَأَنَّ
إِطْلَاقَ التَّحْرِيمِ عَلَى الطِّينِ وَالْخَمْرِ، وَالتَّحْلِيلِ عَلَى
الْعَسَلِ، الْتِفَاتٌ إِلَى أَغْلَبِ الْأَحْوَالِ.
Seakan-akan penetapan haram secara mutlak pada tanah dan
khamar, serta halal secara mutlak pada madu, didasarkan pada keadaan yang
paling غالب.
فَإِنْ
تَصَدَّى شَيْءٌ تَقَابَلَتْ فِيهِ الْأَحْوَالُ، فَالْأَوْلَى وَالْأَبْعَدُ عَنِ
الِالْتِبَاسِ أَنْ يُفَصَّلَ.
Jika ada sesuatu yang keadaannya saling berhadapan seperti
ini, maka yang lebih utama dan lebih jauh dari kekaburan adalah menjelaskannya
secara terperinci.
فَنَعُودُ
إِلَى عِلْمِ الْكَلَامِ وَنَقُولُ: إِنَّ فِيهِ مَنْفَعَةً وَفِيهِ مَضَرَّةً.
Maka kita kembali kepada ilmu kalam dan berkata:
sesungguhnya di dalamnya ada manfaat dan ada mudarat.
فَهُوَ
بِاعْتِبَارِ مَنْفَعَتِهِ فِي وَقْتِ الِانْتِفَاعِ حَلَالٌ أَوْ مَنْدُوبٌ
إِلَيْهِ أَوْ وَاجِبٌ، كَمَا يَقْتَضِيهِ الْحَالُ.
Jika dilihat dari sisi manfaatnya pada waktu ketika manfaat
itu dibutuhkan, maka ia bisa menjadi mubah, sunnah, atau wajib, sesuai keadaan.
وَهُوَ
بِاعْتِبَارِ مَضَرَّتِهِ فِي وَقْتِ الِاسْتِضْرَارِ وَمَحَلِّهِ حَرَامٌ.
Dan jika dilihat dari sisi mudaratnya pada waktu serta
tempat yang membawa kepada kerusakan, maka ia menjadi haram.
أَمَّا
مَضَرَّتُهُ فَإِثَارَةُ الشُّبُهَاتِ وَتَحْرِيكُ الْعَقَائِدِ وَإِزَالَتُهَا
عَنِ الْجَزْمِ وَالتَّصْمِيمِ، فَذٰلِكَ مِمَّا يَحْصُلُ فِي الِابْتِدَاءِ،
وَرُجُوعُهَا بِالدَّلِيلِ مَشْكُوكٌ فِيهِ، وَيَخْتَلِفُ فِيهِ الْأَشْخَاصُ.
Adapun mudaratnya, ialah menimbulkan syubhat, mengguncang
keyakinan, dan memalingkannya dari kepastian dan keteguhan. Hal ini sering
terjadi pada tahap awal, dan pengembaliannya lagi melalui dalil tidak selalu
pasti, serta berbeda pada tiap orang.
فَهٰذَا
ضَرَرُهُ فِي الِاعْتِقَادِ الْحَقِّ.
Inilah mudaratnya terhadap akidah yang benar.
وَلَهُ
ضَرَرٌ آخَرُ فِي تَأْكِيدِ اعْتِقَادِ الْمُبْتَدِعَةِ لِلْبِدْعَةِ
وَتَثْبِيتِهِ فِي صُدُورِهِمْ، بِحَيْثُ تَنْبَعِثُ دَوَاعِيهِمْ وَيَشْتَدُّ
حِرْصُهُمْ عَلَى الْإِصْرَارِ عَلَيْهِ.
Ia juga memiliki mudarat lain, yaitu semakin menguatkan
keyakinan ahli bid‘ah terhadap bid‘ah mereka dan meneguhkannya di dalam dada
mereka, sehingga dorongan-dorongan mereka bangkit dan keinginan mereka untuk
tetap bersikeras menjadi semakin kuat.
وَلٰكِنْ
هٰذَا الضَّرَرُ بِوَاسِطَةِ التَّعَصُّبِ الَّذِي يَثُورُ مِنَ الْجَدَلِ.
Akan tetapi, mudarat ini terjadi melalui fanatisme yang
timbul dari perdebatan.
وَلِذٰلِكَ
تَرَى الْمُبْتَدِعَ الْعَامِّيَّ يُمْكِنُ أَنْ يَزُولَ اعْتِقَادُهُ بِاللُّطْفِ
فِي أَسْرَعِ زَمَانٍ، إِلَّا إِذَا كَانَ نَشْؤُهُ فِي بَلَدٍ يَظْهَرُ فِيهَا
الْجَدَلُ وَالتَّعَصُّبُ.
Karena itu engkau melihat bahwa ahli bid‘ah dari kalangan
awam masih mungkin hilang keyakinan bid‘ahnya dengan pendekatan lembut dalam
waktu yang cepat, kecuali jika ia tumbuh di suatu negeri yang di sana
perdebatan dan fanatisme telah menyebar.
فَإِنَّهُ
لَوِ اجْتَمَعَ عَلَيْهِ الْأَوَّلُونَ وَالْآخِرُونَ لَمْ يَقْدِرُوا عَلَى
نَزْعِ الْبِدْعَةِ مِنْ صَدْرِهِ.
Sebab jika seluruh orang terdahulu dan terkemudian berkumpul
menghadapi orang seperti itu, mereka tidak akan mampu mencabut bid‘ah dari
dadanya.
بَلِ
الْهَوَى وَالتَّعَصُّبُ وَبُغْضُ خُصُومِ الْمُجَادِلِينَ وَفِرْقَةِ
الْمُخَالِفِينَ يَسْتَوْلِي عَلَى قَلْبِهِ وَيَمْنَعُهُ مِنْ إِدْرَاكِ الْحَقِّ.
Bahkan hawa nafsu, fanatisme, kebencian kepada lawan debat,
dan permusuhan terhadap kelompok yang berbeda telah menguasai hatinya dan
menghalanginya dari memahami kebenaran.
حَتَّى
لَوْ قِيلَ لَهُ: هَلْ تُرِيدُ أَنْ يَكْشِفَ اللَّهُ تَعَالَى لَكَ الْغِطَاءَ
وَيُعَرِّفَكَ بِالْعِيَانِ أَنَّ الْحَقَّ مَعَ خَصْمِكَ، لَكَرِهَ ذٰلِكَ
خِيفَةَ أَنْ يَفْرَحَ بِهِ خَصْمُهُ.
Sampai-sampai jika dikatakan kepadanya, “Maukah engkau jika
Allah Ta‘ala menyingkap tabir bagimu dan memperlihatkan dengan nyata bahwa
kebenaran ada pada pihak lawanmu?” niscaya ia akan membencinya, karena takut
lawannya bergembira karenanya.
وَهٰذَا
هُوَ الدَّاءُ الْعُضَالُ الَّذِي اسْتَطَارَ فِي الْبِلَادِ وَالْعِبَادِ، وَهُوَ
نَوْعُ فَسَادٍ أَثَارَهُ الْمُجَادِلُونَ بِالتَّعَصُّبِ، فَهٰذَا ضَرَرُهُ.
Inilah penyakit kronis yang telah tersebar di negeri-negeri
dan di tengah manusia. Ia adalah sejenis kerusakan yang dibangkitkan oleh para
pendebat melalui fanatisme. Maka inilah mudaratnya.
وَأَمَّا
مَنْفَعَتُهُ فَقَدْ يُظَنُّ أَنَّ فَائِدَتَهُ كَشْفُ الْحَقَائِقِ
وَمَعْرِفَتُهَا عَلَى مَا هِيَ عَلَيْهِ، وَهَيْهَاتَ، فَلَيْسَ فِي الْكَلَامِ
وَفَاءٌ بِهٰذَا الْمَطْلَبِ الشَّرِيفِ.
Adapun manfaatnya, orang mungkin mengira bahwa faedahnya
adalah menyingkap hakikat-hakikat dan mengenalnya sebagaimana adanya. Jauh dari
itu. Ilmu kalam tidak mampu memenuhi tuntutan mulia tersebut.
وَلَعَلَّ
التَّخْبِيطَ وَالتَّضْلِيلَ فِيهِ أَكْثَرُ مِنَ الْكَشْفِ وَالتَّعْرِيفِ.
Bahkan mungkin kekacauan dan penyesatan di dalamnya lebih
banyak daripada penyingkapan dan penjelasannya.
وَهٰذَا
إِذَا سَمِعْتَهُ مِنْ مُحَدِّثٍ أَوْ حَشَوِيٍّ رُبَّمَا خَطَرَ بِبَالِكَ أَنَّ
النَّاسَ أَعْدَاءُ مَا جَهِلُوا.
Jika engkau mendengar ucapan ini dari seorang ahli hadis
atau orang yang dangkal, mungkin terlintas dalam pikiranmu bahwa manusia
memusuhi apa yang tidak mereka ketahui.
فَاسْمَعْ
هٰذَا مِمَّنْ خَبَرَ الْكَلَامَ ثُمَّ قَلَاهُ بَعْدَ حَقِيقَةِ الْخِبْرَةِ،
وَبَعْدَ التَّغَلْغُلِ فِيهِ إِلَى مُنْتَهَى دَرَجَةِ الْمُتَكَلِّمِينَ،
وَجَاوَزَ ذٰلِكَ إِلَى التَّعَمُّقِ فِي عُلُومٍ أُخَرَ تُنَاسِبُ نَوْعَ
الْكَلَامِ، وَتَحَقَّقَ أَنَّ الطَّرِيقَ إِلَى حَقَائِقِ الْمَعْرِفَةِ مِنْ
هٰذَا الْوَجْهِ مَسْدُودٌ.
Maka dengarkanlah ucapan ini dari orang yang telah
benar-benar mengalami ilmu kalam, lalu membencinya setelah merasakan hakikat
pengalaman itu, setelah menyelami sampai puncak derajat para mutakallimin,
bahkan melampaui itu dengan mendalami ilmu-ilmu lain yang sejenis dengan ilmu
kalam, lalu meyakini bahwa jalan menuju hakikat ma‘rifat dari arah ini adalah
tertutup.
وَلَعَمْرِي
لَا يَنْفَكُّ الْكَلَامُ عَنْ كَشْفٍ وَتَعْرِيفٍ وَإِيضَاحٍ لِبَعْضِ
الْأُمُورِ، وَلٰكِنْ عَلَى النُّدُورِ فِي أُمُورٍ جَلِيَّةٍ تَكَادُ تُفْهَمُ
قَبْلَ التَّعَمُّقِ فِي صَنْعَةِ الْكَلَامِ.
Demi umurku, ilmu kalam tidak sepenuhnya kosong dari fungsi
menyingkap, memperkenalkan, dan menjelaskan sebagian perkara. Akan tetapi itu
jarang, dan biasanya hanya pada perkara-perkara yang jelas, yang hampir bisa
dipahami tanpa harus mendalami seni ilmu kalam.
بَلْ
مَنْفَعَتُهُ شَيْءٌ وَاحِدٌ، وَهُوَ حِرَاسَةُ الْعَقِيدَةِ الَّتِي
تَرْجَمْنَاهَا عَلَى الْعَوَامِّ، وَحِفْظُهَا عَنْ تَشْوِيشَاتِ الْمُبْتَدِعَةِ
بِأَنْوَاعِ الْجَدَلِ.
Bahkan manfaatnya hanya satu, yaitu menjaga akidah yang
telah kami terjemahkan untuk orang awam dan melindunginya dari gangguan ahli
bid‘ah melalui macam-macam debat.
فَإِنَّ
الْعَامِّيَّ ضَعِيفٌ يَسْتَفِزُّهُ جَدَلُ الْمُبْتَدِعِ وَإِنْ كَانَ فَاسِدًا،
وَمُعَارَضَةُ الْفَاسِدِ بِالْفَاسِدِ تَدْفَعُهُ.
Karena orang awam itu lemah, dan debat ahli bid‘ah dapat
menggoyahkannya meskipun debat itu rusak. Maka menghadapi kebatilan dengan
bantahan yang sepadan dapat menolaknya.
وَالنَّاسُ
مُتَعَبَّدُونَ بِهٰذِهِ الْعَقِيدَةِ الَّتِي قَدَّمْنَاهَا، إِذْ وَرَدَ
الشَّرْعُ بِهَا لِمَا فِيهَا مِنْ صَلَاحِ دِينِهِمْ وَدُنْيَاهُمْ، وَأَجْمَعَ
السَّلَفُ الصَّالِحُ عَلَيْهَا.
Manusia diperintahkan untuk berpegang dengan akidah yang
telah kami sebutkan ini, karena syariat datang membawanya, di dalamnya terdapat
perbaikan agama dan dunia mereka, dan salaf saleh telah bersepakat atasnya.
وَالْعُلَمَاءُ
يَتَعَبَّدُونَ بِحِفْظِهَا عَلَى الْعَوَامِّ مِنْ تَلْبِيسَاتِ الْمُبْتَدِعَةِ،
كَمَا تَعَبَّدَ السَّلَاطِينُ بِحِفْظِ أَمْوَالِهِمْ عَنْ تَهَجُّمَاتِ
الظَّلَمَةِ وَالْغُصَّابِ.
Para ulama beribadah kepada Allah dengan menjaga akidah itu
pada orang awam dari tipu daya ahli bid‘ah, sebagaimana para penguasa
berkewajiban menjaga harta manusia dari serangan orang-orang zalim dan para
perampas.
وَإِذَا
وَقَعَتِ الْإِحَاطَةُ بِضَرَرِهِ وَمَنْفَعَتِهِ، فَيَنْبَغِي أَنْ يَكُونَ
كَالطَّبِيبِ الْحَاذِقِ فِي اسْتِعْمَالِ الدَّوَاءِ الْخَطِرِ، إِذْ لَا
يَضَعُهُ إِلَّا فِي مَوْضِعِهِ، وَذٰلِكَ فِي وَقْتِ الْحَاجَةِ وَعَلَى قَدْرِ
الْحَاجَةِ.
Apabila mudarat dan manfaatnya telah diketahui, maka
perlakuannya harus seperti dokter ahli dalam menggunakan obat yang berbahaya:
ia tidak meletakkannya kecuali pada tempatnya, pada saat dibutuhkan, dan sesuai
kadar kebutuhan.
وَتَفْصِيلُهُ
أَنَّ الْعَوَامَّ الْمُشْتَغِلِينَ بِالْحِرَفِ وَالصَّنَائِعِ يَجِبُ أَنْ
يُتْرَكُوا عَلَى سَلَامَةِ عَقَائِدِهِمُ الَّتِي اعْتَقَدُوهَا، مَهْمَا
لُقِّنُوا الِاعْتِقَادَ الْحَقَّ الَّذِي ذَكَرْنَاهُ.
Perinciannya adalah bahwa orang-orang awam yang sibuk dengan
pekerjaan dan kerajinan harus dibiarkan berada di atas keselamatan akidah
mereka yang telah mereka yakini, selama mereka telah ditalqinkan akidah yang
benar sebagaimana telah kami sebutkan.
فَإِنَّ
تَعْلِيمَهُمُ الْكَلَامَ ضَرَرٌ مَحْضٌ فِي حَقِّهِمْ، إِذْ رُبَّمَا يُثِيرُ
لَهُمْ شَكًّا وَيُزَلْزِلُ عَلَيْهِمُ الِاعْتِقَادَ، وَلَا يُمْكِنُ الْقِيَامُ
بَعْدَ ذٰلِكَ بِالْإِصْلَاحِ.
Karena mengajarkan ilmu kalam kepada mereka adalah mudarat
murni bagi mereka. Sebab hal itu mungkin membangkitkan keraguan dan
menggoncangkan keyakinan mereka, sementara setelah itu sulit untuk
memperbaikinya kembali.
وَأَمَّا
الْعَامِّيُّ الْمُعْتَقِدُ لِلْبِدْعَةِ فَيَنْبَغِي أَنْ يُدْعَى إِلَى الْحَقِّ
بِالتَّلَطُّفِ لَا بِالتَّعَصُّبِ، وَبِالْكَلَامِ اللَّطِيفِ الْمُقْنِعِ
لِلنَّفْسِ الْمُؤَثِّرِ فِي الْقَلْبِ، الْقَرِيبِ مِنْ سِيَاقِ أَدِلَّةِ
الْقُرْآنِ وَالْحَدِيثِ، الْمَمْزُوجِ بِفَنٍّ مِنَ الْوَعْظِ وَالتَّحْذِيرِ،
فَإِنَّ ذٰلِكَ أَنْفَعُ مِنَ الْجَدَلِ الْمَوْضُوعِ عَلَى شَرْطِ
الْمُتَكَلِّمِينَ.
Adapun orang awam yang telah meyakini bid‘ah, maka ia harus
diajak kepada kebenaran dengan kelembutan, bukan dengan fanatisme; dengan
ucapan yang halus, meyakinkan jiwa, berpengaruh pada hati, dekat dengan gaya
dalil-dalil Al-Qur’an dan hadis, serta dicampur dengan nasihat dan peringatan.
Sebab itu lebih bermanfaat daripada debat yang dibangun di atas aturan para
mutakallimin.
إِذِ
الْعَامِّيُّ إِذَا سَمِعَ ذٰلِكَ اعْتَقَدَ أَنَّهُ نَوْعُ صَنْعَةٍ مِنَ
الْجَدَلِ، تَعَلَّمَهَا الْمُتَكَلِّمُ لِيَسْتَدْرِجَ النَّاسَ إِلَى
اعْتِقَادِهِ.
Karena orang awam, apabila mendengar debat seperti itu, akan
mengira bahwa itu hanyalah salah satu seni debat yang dipelajari oleh ahli
kalam untuk menjerat manusia kepada keyakinannya.
فَإِنْ
عَجَزَ عَنِ الْجَوَابِ قَدَّرَ أَنَّ الْمُجَادِلِينَ مِنْ أَهْلِ مَذْهَبِهِ
أَيْضًا يَقْدِرُونَ عَلَى دَفْعِهِ.
Jika ia tidak mampu menjawab, ia akan beranggapan bahwa para
pendebat dari mazhabnya juga tentu mampu membantah lawan itu.
فَالْجَدَلُ
مَعَ هٰذَا وَمَعَ الْأَوَّلِ حَرَامٌ، وَكَذٰلِكَ مَعَ مَنْ وَقَعَ فِي شَكٍّ،
إِذْ يَجِبُ إِزَالَتُهُ بِاللُّطْفِ وَالْوَعْظِ وَالْأَدِلَّةِ الْقَرِيبَةِ
الْمَقْبُولَةِ، الْبَعِيدَةِ عَنْ تَعَمُّقِ الْكَلَامِ.
Maka berdebat dengan orang awam jenis ini, demikian pula
dengan orang awam sebelumnya, adalah haram. Begitu juga dengan orang yang
terjatuh dalam keraguan; keraguannya harus dihilangkan dengan kelembutan,
nasihat, dan dalil-dalil yang dekat dan dapat diterima, yang jauh dari
pendalaman ilmu kalam.
وَاسْتِقْصَاءُ
الْجَدَلِ إِنَّمَا يَنْفَعُ فِي مَوْضِعٍ وَاحِدٍ، وَهُوَ أَنْ يُفْرَضَ
عَامِّيٌّ اعْتَقَدَ الْبِدْعَةَ بِنَوْعِ جَدَلٍ سَمِعَهُ، فَيُقَابَلَ ذٰلِكَ
الْجَدَلُ بِمِثْلِهِ، فَيَعُودَ إِلَى اعْتِقَادِ الْحَقِّ.
Pendalaman debat hanya bermanfaat pada satu keadaan saja,
yaitu jika seorang awam meyakini bid‘ah karena suatu debat yang didengarnya,
lalu debat itu dihadapi dengan yang semisalnya sehingga ia kembali kepada
keyakinan yang benar.
وَذٰلِكَ
فِي مَنْ ظَهَرَ لَهُ مِنَ الْأُنْسِ بِالْمُجَادَلَةِ مَا يَمْنَعُهُ عَنِ
الْقَنَاعَةِ بِالْمَوَاعِظِ وَالتَّحْذِيرَاتِ الْعَامِّيَّةِ، فَقَدِ انْتَهَى
هٰذَا إِلَى حَالَةٍ لَا يَشْفِيهِ مِنْهَا إِلَّا دَوَاءُ الْجَدَلِ، فَجَازَ
أَنْ يُلْقَى إِلَيْهِ.
Itu berlaku pada orang yang telah begitu akrab dengan debat
sehingga ia tidak lagi puas dengan nasihat dan peringatan umum. Orang seperti
ini telah sampai pada keadaan yang tidak dapat diobati kecuali dengan “obat”
debat. Maka boleh baginya diajarkan itu.
وَأَمَّا
فِي بِلَادٍ تَقِلُّ فِيهَا الْبِدْعَةُ، وَلَا تَخْتَلِفُ فِيهَا الْمَذَاهِبُ،
فَيُقْتَصَرُ فِيهَا عَلَى تَرْجَمَةِ الِاعْتِقَادِ الَّذِي ذَكَرْنَاهُ، وَلَا
يُتَعَرَّضُ لِلْأَدِلَّةِ، وَيُتَرَبَّصُ وُقُوعُ شُبْهَةٍ، فَإِنْ وَقَعَتْ
ذُكِرَ بِقَدْرِ الْحَاجَةِ.
Adapun di negeri yang sedikit bid‘ahnya dan tidak banyak
perbedaan mazhab di dalamnya, maka cukup diajarkan penjelasan akidah yang telah
kami sebutkan, tanpa masuk kepada dalil-dalil terperinci. Kemudian ditunggu
jika suatu syubhat muncul. Jika muncul, maka dijawab sesuai kadar kebutuhan.
فَإِنْ
كَانَتِ الْبِدْعَةُ شَائِعَةً، وَكَانَ يُخَافُ عَلَى الصِّبْيَانِ أَنْ
يُخْدَعُوا، فَلَا بَأْسَ أَنْ يُعَلَّمُوا الْقَدْرَ الَّذِي أَوْدَعْنَاهُ
كِتَابَ الرِّسَالَةِ الْقُدْسِيَّةِ، لِيَكُونَ ذٰلِكَ سَبَبًا لِدَفْعِ
تَأْثِيرِ مُجَادَلَاتِ الْمُبْتَدِعَةِ إِنْ وَقَعَتْ إِلَيْهِمْ.
Jika bid‘ah telah tersebar dan dikhawatirkan anak-anak akan
tertipu olehnya, maka tidak mengapa mereka diajarkan kadar yang telah kami
letakkan dalam Kitab Ar-Risalah Al-Qudsiyyah, agar hal itu menjadi
sebab menolak pengaruh debat ahli bid‘ah jika sampai kepada mereka.
وَهٰذَا
مِقْدَارٌ مُخْتَصَرٌ، وَقَدْ أَوْدَعْنَاهُ هٰذَا الْكِتَابَ لِاخْتِصَارِهِ.
Itu adalah kadar yang ringkas, dan kami telah memasukkannya
ke dalam kitab ini karena ringkasnya.
فَإِنْ
كَانَ فِيهِ ذَكَاءٌ وَتَنَبَّهَ بِذَكَائِهِ لِمَوْضِعِ سُؤَالٍ، أَوْ ثَارَتْ
فِي نَفْسِهِ شُبْهَةٌ، فَقَدْ بَدَتِ الْعِلَّةُ الْمَحْذُورَةُ وَظَهَرَ
الدَّاءُ، فَلَا بَأْسَ أَنْ يُرَقَّى مِنْهُ إِلَى الْقَدْرِ الَّذِي ذَكَرْنَاهُ
فِي كِتَابِ الِاقْتِصَادِ فِي الِاعْتِقَادِ، وَهُوَ قَدْرُ خَمْسِينَ وَرَقَةً.
Jika pada diri anak itu ada kecerdasan, lalu dengan
kecerdasannya ia memperhatikan tempat-tempat yang menimbulkan pertanyaan, atau
timbul dalam dirinya suatu syubhat, maka berarti penyebab yang dikhawatirkan
telah muncul dan penyakitnya telah tampak. Dalam keadaan ini, tidak mengapa ia
dinaikkan kepada kadar yang telah kami sebutkan dalam Kitab Al-Iqtishad
fi al-I‘tiqad, yaitu sekitar lima puluh lembar.
وَلَيْسَ
فِيهِ خُرُوجٌ عَنِ النَّظَرِ فِي قَوَاعِدِ الْعَقَائِدِ إِلَى غَيْرِ ذٰلِكَ
مِنْ مَبَاحِثِ الْمُتَكَلِّمِينَ.
Dan di dalamnya tidak ada keluar dari pembahasan pokok-pokok
akidah kepada pembahasan lain yang biasa dimasuki oleh para ahli kalam.
فَإِنْ
أَقْنَعَهُ ذٰلِكَ كُفَّ عَنْهُ، وَإِنْ لَمْ يُقْنِعْهُ ذٰلِكَ فَقَدْ صَارَتِ
الْعِلَّةُ مُزْمِنَةً وَالدَّاءُ غَالِبًا وَالْمَرَضُ سَارِيًا، فَلْيَتَلَطَّفْ
بِهِ الطَّبِيبُ بِقَدْرِ إِمْكَانِهِ، وَلْيَنْتَظِرْ قَضَاءَ اللَّهِ تَعَالَى
فِيهِ، إِلَى أَنْ يَنْكَشِفَ لَهُ الْحَقُّ بِتَنْبِيهٍ مِنَ اللَّهِ
سُبْحَانَهُ، أَوْ يَسْتَمِرَّ عَلَى الشَّكِّ وَالشُّبْهَةِ إِلَى مَا قُدِّرَ
لَهُ.
Jika kadar itu sudah cukup baginya, maka berhentilah sampai
di situ. Namun jika belum memuaskannya, maka berarti penyakit itu sudah menjadi
kronis, penyakitnya telah dominan, dan wabahnya telah menjalar. Maka
“dokter”-nya harus bersikap lembut semampunya, lalu menunggu keputusan Allah
Ta‘ala tentang dirinya, sampai kebenaran tersingkap baginya dengan peringatan
dari Allah Subhanahu wa Ta‘ala, atau ia tetap berada dalam keraguan dan syubhat
hingga apa yang telah ditetapkan baginya.
فَالْقَدْرُ
الَّذِي يَحْوِيهِ ذٰلِكَ الْكِتَابُ وَجِنْسُهُ مِنَ الْمُصَنَّفَاتِ هُوَ
الَّذِي يُرْجَى نَفْعُهُ.
Maka kadar yang termuat dalam kitab tersebut dan kitab-kitab
sejenis itulah yang diharapkan manfaatnya.
فَأَمَّا
الْخَارِجُ مِنْهُ فَقِسْمَانِ.
Adapun yang melampaui batas itu, maka terbagi menjadi dua
bagian.
أَحَدُهُمَا
بَحْثٌ عَنْ غَيْرِ قَوَاعِدِ الْعَقَائِدِ، كَالْبَحْثِ عَنِ الِاعْتِمَادَاتِ
وَعَنِ الْأَكْوَانِ وَعَنِ الْإِدْرَاكَاتِ وَعَنِ الْخَوْضِ فِي الرُّؤْيَةِ،
هَلْ لَهَا ضِدٌّ يُسَمَّى الْمَنْعَ أَوِ الْعَمَى، وَإِنْ كَانَ فَذٰلِكَ
وَاحِدٌ هُوَ مَنْعٌ عَنْ جَمِيعِ مَا لَا يُرَى، أَوْ ثَبَتَ لِكُلِّ مَرْئِيٍّ
يُمْكِنُ رُؤْيَتُهُ مَنْعٌ بِحَسَبِ عَدَدِهِ، إِلَى غَيْرِ ذٰلِكَ مِنَ
التُّرَّهَاتِ الْمُضِلَّاتِ.
Bagian pertama adalah pembahasan tentang hal-hal di luar
pokok-pokok akidah, seperti pembahasan tentang الاعتمادات, الأكوان, الإدراكات,
dan masuk terlalu jauh dalam persoalan ru’yah: apakah ia memiliki lawan yang
disebut “al-man‘” atau “al-‘ama”, dan jika demikian apakah itu satu larangan
untuk seluruh yang tidak terlihat, ataukah لكل شيء yang mungkin dilihat
ada “man‘” tersendiri sesuai jumlahnya, dan selain itu dari omong kosong yang
menyesatkan.
وَالْقِسْمُ
الثَّانِي زِيَادَةُ تَقْرِيرٍ لِتِلْكَ الْأَدِلَّةِ فِي غَيْرِ تِلْكَ
الْقَوَاعِدِ، وَزِيَادَةُ أَسْئِلَةٍ وَأَجْوِبَةٍ، وَذٰلِكَ أَيْضًا
اسْتِقْصَاءٌ لَا يَزِيدُ إِلَّا ضَلَالًا وَجَهْلًا فِي حَقِّ مَنْ لَمْ
يُقْنِعْهُ ذٰلِكَ الْقَدْرُ، فَرُبَّ كَلَامٍ يَزِيدُهُ الْإِطْنَابُ
وَالتَّقْرِيرُ غُمُوضًا.
Bagian kedua adalah menambah penegasan bagi dalil-dalil itu
di luar pokok-pokok tadi, serta menambah banyak pertanyaan dan jawaban. Ini pun
merupakan pendalaman yang berlebihan, yang dalam kasus orang yang tidak puas
dengan kadar tadi, hanya menambah kesesatan dan kebodohan. Sebab ada banyak
pembicaraan yang justru semakin panjang dan semakin ditegaskan malah semakin
membuatnya kabur.
وَلَوْ
قَالَ قَائِلٌ: الْبَحْثُ عَنْ حُكْمِ الْإِدْرَاكَاتِ وَالِاعْتِمَادَاتِ فِيهِ
فَائِدَةُ تَشْحِيذِ الْخَوَاطِرِ، وَالْخَاطِرُ آلَةُ الدِّينِ كَالسَّيْفِ آلَةُ
الْجِهَادِ، فَلَا بَأْسَ بِتَشْحِيذِهِ، كَانَ كَقَوْلِهِ: لَعِبُ الشِّطْرَنْجِ
يُشَحِّذُ الْخَاطِرَ فَهُوَ مِنَ الدِّينِ أَيْضًا.
Seandainya ada orang berkata, “Membahas hukum-hukum الإدراكات
dan الاعتمادات
itu ada faedahnya, yaitu menajamkan pikiran. Dan pikiran adalah alat agama
sebagaimana pedang adalah alat jihad. Maka tidak mengapa menajamkannya,” maka
ucapan itu seperti mengatakan, “Bermain catur menajamkan pikiran, maka ia juga
bagian dari agama.”
وَذٰلِكَ
هَوَسٌ.
Itu hanyalah kegilaan pikiran.
فَإِنَّ
الْخَاطِرَ يَتَشَحَّذُ بِسَائِرِ عُلُومِ الشَّرْعِ، وَلَا يُخَافُ فِيهَا
مَضَرَّةٌ.
Karena pikiran dapat diasah dengan ilmu-ilmu syariat yang
lain, dan di sana tidak dikhawatirkan adanya mudarat seperti itu.
فَقَدْ
عَرَفْتَ بِهٰذَا الْقَدْرِ الْمَذْمُومَ وَالْقَدْرَ الْمَحْمُودَ مِنَ
الْكَلَامِ، وَالْحَالَ الَّتِي يُذَمُّ فِيهَا، وَالْحَالَ الَّتِي يُحْمَدُ
فِيهَا، وَالشَّخْصَ الَّذِي يَنْتَفِعُ بِهِ، وَالشَّخْصَ الَّذِي لَا يَنْتَفِعُ
بِهِ.
Dengan penjelasan ini, engkau telah mengetahui kadar yang
tercela dan kadar yang terpuji dari ilmu kalam, keadaan ketika ia dicela,
keadaan ketika ia dipuji, orang yang dapat mengambil manfaat darinya, dan orang
yang tidak mendapat manfaat darinya.
فَإِنْ
قُلْتَ: مَهْمَا اعْتَرَفْتَ بِالْحَاجَةِ إِلَيْهِ فِي دَفْعِ الْمُبْتَدِعَةِ،
وَالْآنَ قَدْ ثَارَتِ الْبِدَعُ وَعَمَّتِ الْبَلْوَى وَأَرْهَقَتِ الْحَاجَةُ،
فَلَا بُدَّ أَنْ يَصِيرَ الْقِيَامُ بِهٰذَا الْعِلْمِ مِنْ فُرُوضِ
الْكِفَايَاتِ، كَالْقِيَامِ بِحِرَاسَةِ الْأَمْوَالِ وَسَائِرِ الْحُقُوقِ
كَالْقَضَاءِ وَالْوِلَايَةِ وَغَيْرِهِمَا.
Jika engkau berkata, “Selama engkau mengakui adanya
kebutuhan terhadap ilmu kalam untuk menolak ahli bid‘ah, dan sekarang bid‘ah
telah bangkit, bala’ telah menyebar, dan kebutuhan telah mendesak, maka tentu
mempelajari ilmu ini harus menjadi fardu kifayah, seperti halnya menjaga harta
dan hak-hak lainnya seperti القضاء,
pemerintahan, dan semisalnya.”
وَمَا
لَمْ يَشْتَغِلِ الْعُلَمَاءُ بِنَشْرِ ذٰلِكَ وَالتَّدْرِيسِ فِيهِ وَالْبَحْثِ
عَنْهُ لَا يَدُومُ، وَلَوْ تُرِكَ بِالْكُلِّيَّةِ لَانْدَرَسَ.
“Dan jika para ulama tidak menyibukkan diri menyebarkannya,
mengajarkannya, dan menelitinya, maka ia tidak akan lestari. Seandainya
ditinggalkan sama sekali, tentu ia akan hilang.”
وَلَيْسَ
فِي مُجَرَّدِ الطِّبَاعِ كِفَايَةٌ لِحَلِّ شُبَهِ الْمُبْتَدِعَةِ مَا لَمْ
يُتَعَلَّمْ، فَيَنْبَغِي أَنْ يَكُونَ التَّدْرِيسُ فِيهِ وَالْبَحْثُ عَنْهُ
أَيْضًا مِنْ فُرُوضِ الْكِفَايَاتِ، بِخِلَافِ زَمَنِ الصَّحَابَةِ رَضِيَ
اللَّهُ عَنْهُمْ، فَإِنَّ الْحَاجَةَ مَا كَانَتْ مَاسَّةً إِلَيْهِ.
“Dan tabiat manusia semata tidak cukup untuk memecahkan
syubhat ahli bid‘ah tanpa pembelajaran. Maka mengajarkannya dan membahasnya
juga seharusnya menjadi fardu kifayah, berbeda dengan zaman para sahabat
radhiyallahu ‘anhum, karena pada masa itu kebutuhan terhadapnya belum
mendesak.”
فَاعْلَمْ
أَنَّ الْحَقَّ أَنَّهُ لَا بُدَّ فِي كُلِّ بَلَدٍ مِنْ قَائِمٍ بِهٰذَا
الْعِلْمِ مُسْتَقِلٍّ، يَدْفَعُ شُبَهَ الْمُبْتَدِعَةِ الَّتِي ثَارَتْ فِي
تِلْكَ الْبَلْدَةِ، وَذٰلِكَ يَدُومُ بِالتَّعْلِيمِ.
Maka ketahuilah bahwa yang benar adalah: di setiap negeri
memang harus ada orang yang berdiri teguh dalam ilmu ini secara mandiri, untuk
menolak syubhat ahli bid‘ah yang muncul di negeri itu. Dan hal ini berlangsung
melalui pengajaran.
وَلَكِنْ
لَيْسَ مِنَ الصَّوَابِ تَدْرِيسُهُ عَلَى الْعُمُومِ كَتَدْرِيسِ الْفِقْهِ
وَالتَّفْسِيرِ.
Akan tetapi, bukanlah sikap yang benar menjadikannya
pelajaran umum seperti fikih dan tafsir.
فَإِنَّ
هٰذَا مِثْلُ الدَّوَاءِ، وَالْفِقْهَ مِثْلُ الْغِذَاءِ، وَضَرَرَ الْغِذَاءِ لَا
يُحْذَرُ، وَضَرَرَ الدَّوَاءِ مَحْذُورٌ لِمَا ذَكَرْنَا فِيهِ مِنْ أَنْوَاعِ
الضَّرَرِ.
Karena ilmu kalam itu seperti obat, sedangkan fikih seperti
makanan. Bahaya makanan biasanya tidak ditakutkan, tetapi bahaya obat perlu
diwaspadai karena berbagai macam mudarat yang telah kami sebutkan.
فَالْعَالِمُ
الَّذِي يَنْبَغِي أَنْ يُخَصَّ بِتَعْلِيمِ هٰذَا الْعِلْمِ مَنْ فِيهِ ثَلَاثُ
خِصَالٍ.
Maka orang yang pantas dikhususkan untuk mengajarkan ilmu
ini ialah orang yang memiliki tiga sifat.
إِحْدَاهَا
التَّجَرُّدُ لِلْعِلْمِ وَالْحِرْصُ عَلَيْهِ، فَإِنَّ الْمُحْتَرِفَ يَمْنَعُهُ
الشُّغْلُ عَنِ الِاسْتِتْمَامِ وَإِزَالَةِ الشُّكُوكِ إِذَا عَرَضَتْ.
Pertama, mengkhususkan diri untuk ilmu dan sangat
bersungguh-sungguh padanya, karena orang yang memiliki kesibukan profesi lain
akan terhalangi oleh kesibukannya dari menyempurnakan pembahasan dan
menghilangkan keraguan-keraguan yang muncul.
الثَّانِيَةُ
الذَّكَاءُ وَالْفِطْنَةُ وَالْفَصَاحَةُ، فَإِنَّ الْبَلِيدَ لَا يَنْتَفِعُ
بِفَهْمِهِ، وَالْفَدْمَ لَا يَنْتَفِعُ بِحِجَاجِهِ، فَيُخَافُ عَلَيْهِ مِنْ
ضَرَرِ الْكَلَامِ، وَلَا يُرْجَى فِيهِ نَفْعُهُ.
Kedua, kecerdasan, ketajaman pikiran, dan kefasihan. Sebab
orang yang tumpul tidak akan mendapatkan manfaat dari pemahamannya, dan orang
yang lemah lisannya tidak akan mendapatkan manfaat dari kemampuan berhujahnya.
Maka dikhawatirkan ia justru terkena bahaya ilmu kalam dan tidak diharapkan
manfaatnya.
الثَّالِثَةُ
أَنْ يَكُونَ فِي طَبْعِهِ الصَّلَاحُ وَالدِّيَانَةُ وَالتَّقْوَى، وَلَا تَكُونُ
الشَّهَوَاتُ غَالِبَةً عَلَيْهِ.
Ketiga, hendaknya dalam tabiatnya ada kesalehan,
keberagamaan, dan takwa, serta syahwat tidak menguasainya.
فَإِنَّ
الْفَاسِقَ بِأَدْنَى شُبْهَةٍ يَنْخَلِعُ عَنِ الدِّينِ، فَإِنَّ ذٰلِكَ يَحُلُّ
عَنْهُ الْحِجْرَ وَيَرْفَعُ السَّدَّ الَّذِي بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْمَلَاذِّ،
فَلَا يَحْرِصُ عَلَى إِزَالَةِ الشُّبْهَةِ، بَلْ يَغْتَنِمُهَا لِيَتَخَلَّصَ
مِنْ أَعْبَاءِ التَّكْلِيفِ، فَيَكُونُ مَا يُفْسِدُهُ مِثْلُ هٰذَا
الْمُتَعَلِّمُ أَكْثَرَ مِمَّا يُصْلِحُهُ.
Sebab orang fasik akan terlepas dari agama hanya dengan
syubhat yang paling kecil. Syubhat itu akan melepaskan penghalang baginya dan
mengangkat dinding yang ada antara dirinya dan kenikmatan duniawi. Karena itu
ia tidak sungguh-sungguh berusaha menghilangkan syubhat, bahkan memanfaatkannya
untuk melepaskan diri dari beban taklif. Maka murid seperti ini akan lebih
banyak dirusak oleh ilmu kalam daripada diperbaiki olehnya.
وَإِذَا
عَرَفْتَ هٰذِهِ الِانْقِسَامَاتِ اتَّضَحَ لَكَ أَنَّ هٰذِهِ الْحُجَّةَ
الْمَحْمُودَةَ فِي الْكَلَامِ إِنَّمَا هِيَ مِنْ جِنْسِ حُجَجِ الْقُرْآنِ، مِنَ
الْكَلِمَاتِ اللَّطِيفَةِ الْمُؤَثِّرَةِ فِي الْقُلُوبِ الْمُقْنِعَةِ
لِلنُّفُوسِ، دُونَ التَّغَلْغُلِ فِي التَّقْسِيمَاتِ وَالتَّدْقِيقَاتِ الَّتِي
لَا يَفْهَمُهَا أَكْثَرُ النَّاسِ، وَإِذَا فَهِمُوهَا اعْتَقَدُوا أَنَّهَا
شَعْوَذَةٌ وَصِنَاعَةٌ تَعَلَّمَهَا صَاحِبُهَا لِلتَّلْبِيسِ، فَإِذَا قَابَلَهُ
مِثْلُهُ فِي الصَّنْعَةِ قَاوَمَهُ.
Jika engkau telah memahami semua pembagian ini, maka akan
jelas bagimu bahwa hujah yang terpuji dalam ilmu kalam hanyalah yang sejenis
dengan hujah-hujah Al-Qur’an, yaitu ucapan-ucapan halus yang berpengaruh pada
hati dan meyakinkan jiwa, bukan tenggelam dalam pembagian-pembagian dan
perincian-perincian yang tidak dipahami oleh kebanyakan manusia. Dan bila
mereka memahaminya, mereka mengira bahwa itu hanyalah sulap kata-kata dan
keahlian retorika yang dipelajari pemiliknya untuk mengelabui. Lalu jika ia dihadapi
oleh orang lain yang memiliki keahlian yang sama, ia akan ditandingi.
وَعَرَفْتَ
أَنَّ الشَّافِعِيَّ وَكَافَّةَ السَّلَفِ إِنَّمَا مَنَعُوا عَنِ الْخَوْضِ فِيهِ
وَالتَّجَرُّدِ لَهُ لِمَا فِيهِ مِنَ الضَّرَرِ الَّذِي نَبَّهْنَا عَلَيْهِ.
Dan engkau pun akan tahu bahwa Asy-Syafi‘i dan seluruh salaf
hanya melarang menekuni ilmu kalam dan mengkhususkan diri padanya karena
bahaya-bahaya yang telah kami jelaskan.
وَأَنَّ
مَا نُقِلَ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا مِنْ مُنَاظَرَةِ
الْخَوَارِجِ، وَمَا نُقِلَ عَنْ عَلِيٍّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ مِنَ
الْمُنَاظَرَةِ فِي الْقَدَرِ وَغَيْرِهِ، كَانَ مِنَ الْكَلَامِ الْجَلِيِّ
الظَّاهِرِ، وَفِي مَحَلِّ الْحَاجَةِ، وَذٰلِكَ مَحْمُودٌ فِي كُلِّ حَالٍ.
Dan engkau akan tahu bahwa apa yang dinukil dari Ibnu ‘Abbas
radhiyallahu ‘anhuma tentang debatnya dengan kaum Khawarij, dan yang dinukil
dari ‘Ali radhiyallahu ‘anhu tentang debatnya mengenai qadar dan selainnya,
semuanya termasuk kalam yang jelas dan terang, dilakukan pada tempat kebutuhan,
dan itu terpuji dalam setiap keadaan.
نَعَمْ،
قَدْ تَخْتَلِفُ الْأَعْصَارُ فِي كَثْرَةِ الْحَاجَةِ وَقِلَّتِهَا، فَلَا
يَبْعُدُ أَنْ يَخْتَلِفَ الْحُكْمُ لِذٰلِكَ.
Benar, zaman-zaman bisa berbeda dalam banyak atau sedikitnya
kebutuhan terhadap hal itu, maka tidak mustahil hukumnya pun berbeda karenanya.
فَهٰذَا
حُكْمُ الْعَقِيدَةِ الَّتِي تُعُبِّدَ الْخَلْقُ بِهَا، وَحُكْمُ طَرِيقِ
النِّضَالِ عَنْهَا وَحِفْظِهَا.
Maka inilah hukum akidah yang manusia dibebani untuk
meyakininya, dan hukum cara membelanya serta menjaganya.
فَأَمَّا
إِزَالَةُ الشُّبْهَةِ وَكَشْفُ الْحَقَائِقِ وَمَعْرِفَةُ الْأَشْيَاءِ عَلَى مَا
هِيَ عَلَيْهِ، وَإِدْرَاكُ الْأَسْرَارِ الَّتِي يُتَرْجِمُهَا ظَاهِرُ أَلْفَاظِ
هٰذِهِ الْعَقِيدَةِ، فَلَا مِفْتَاحَ لَهُ إِلَّا الْمُجَاهَدَةُ وَقَمْعُ
الشَّهَوَاتِ وَالْإِقْبَالُ بِالْكُلِّيَّةِ عَلَى اللَّهِ تَعَالَى
وَمُلَازَمَةُ الْفِكْرِ الصَّافِي عَنْ شَوَائِبِ الْمُجَادَلَاتِ.
Adapun menghilangkan syubhat, menyingkap hakikat-hakikat,
mengetahui segala sesuatu sebagaimana adanya, dan memahami rahasia-rahasia yang
diterjemahkan oleh lafaz-lafaz lahiriah akidah ini, maka tidak ada kuncinya
kecuali mujahadah, menundukkan syahwat, menghadap sepenuhnya kepada Allah
Ta‘ala, serta terus-menerus menekuni pikiran yang jernih dari kotoran
perdebatan.
وَهِيَ
رَحْمَةٌ مِنَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ تَفِيضُ عَلَى مَنْ يَتَعَرَّضُ
لِنَفَحَاتِهَا بِقَدْرِ الرِّزْقِ وَبِحَسَبِ التَّعَرُّضِ وَبِحَسَبِ قَبُولِ
الْمَحَلِّ وَطَهَارَةِ الْقَلْبِ.
Itu adalah rahmat dari Allah ‘Azza wa Jalla yang mengalir
kepada siapa saja yang membuka diri terhadap hembusannya, sesuai kadar rezeki,
sesuai kadar kesungguhan, sesuai kemampuan wadah untuk menerima, dan sesuai
kesucian hati.
وَذٰلِكَ
الْبَحْرُ الَّذِي لَا يُدْرَكُ غَوْرُهُ وَلَا يُبْلَغُ سَاحِلُهُ.
Dan itulah lautan yang tidak dapat dijangkau kedalamannya
dan tidak dapat dicapai pantainya.
مَسْأَلَةٌ
فَإِنْ
قُلْتَ: هٰذَا الْكَلَامُ يُشِيرُ إِلَى أَنَّ هٰذِهِ الْعُلُومَ لَهَا ظَوَاهِرُ
وَأَسْرَارٌ، وَبَعْضُهَا جَلِيٌّ يَبْدُو أَوَّلًا، وَبَعْضُهَا خَفِيٌّ
يَتَّضِحُ بِالْمُجَاهَدَةِ وَالرِّيَاضَةِ وَالطَّلَبِ الْحَثِيثِ وَالْفِكْرِ
الصَّافِي وَالسِّرِّ الْخَالِي عَنْ كُلِّ شَيْءٍ مِنْ أَشْغَالِ الدُّنْيَا
سِوَى الْمَطْلُوبِ، وَهٰذَا يَكَادُ يَكُونُ مُخَالِفًا لِلشَّرْعِ، إِذْ لَيْسَ
لِلشَّرْعِ ظَاهِرٌ وَبَاطِنٌ وَسِرٌّ وَعَلَنٌ، بَلِ الظَّاهِرُ وَالْبَاطِنُ
وَالسِّرُّ وَالْعَلَنُ وَاحِدٌ فِيهِ.
Jika engkau berkata, “Ucapan ini menunjukkan bahwa ilmu-ilmu
ini memiliki sisi lahir dan rahasia, sebagian darinya jelas sejak awal, dan
sebagian lain tersembunyi lalu menjadi jelas dengan mujahadah, latihan jiwa,
pencarian yang sungguh-sungguh, pikiran yang jernih, dan batin yang kosong dari
seluruh kesibukan dunia selain tujuan yang dicari. Padahal hal ini hampir
tampak bertentangan dengan syariat, karena syariat tidak memiliki lahir dan
batin, rahasia dan yang tampak; bahkan lahir, batin, rahasia, dan yang tampak
dalam syariat itu satu.”
فَاعْلَمْ
أَنَّ انْقِسَامَ هٰذِهِ الْعُلُومِ إِلَى خَفِيَّةٍ وَجَلِيَّةٍ لَا يُنْكِرُهُ
ذُو بَصِيرَةٍ، وَإِنَّمَا يُنْكِرُهُ الْقَاصِرُونَ الَّذِينَ تَلَقَّفُوا فِي
أَوَائِلِ الصِّبَا شَيْئًا وَجَمَدُوا عَلَيْهِ، فَلَمْ يَكُنْ لَهُمْ تَرَقٍّ
إِلَى شَأْوِ الْعُلَاءِ وَمَقَامَاتِ الْعُلَمَاءِ وَالْأَوْلِيَاءِ.
Maka ketahuilah bahwa pembagian ilmu-ilmu ini menjadi yang
samar dan yang jelas tidak diingkari oleh orang yang memiliki bashirah. Yang
mengingkarinya hanyalah orang-orang yang dangkal, yang menelan sesuatu pada
awal masa mudanya lalu membeku di atasnya, sehingga mereka tidak naik kepada
derajat yang tinggi dan maqam para ulama serta para wali.
وَذٰلِكَ
ظَاهِرٌ مِنْ أَدِلَّةِ الشَّرْعِ.
Hal itu jelas dari dalil-dalil syariat.
قَالَ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنَّ لِلْقُرْآنِ ظَاهِرًا وَبَاطِنًا
وَحَدًّا وَمُطَّلَعًا.
Nabi ﷺ
bersabda, “Sesungguhnya Al-Qur’an itu memiliki lahir, batin, batas, dan titik
pandang yang lebih tinggi.”
وَقَالَ
عَلِيٌّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ وَأَشَارَ إِلَى صَدْرِهِ: إِنَّ هٰهُنَا
لَعُلُومًا جَمَّةً لَوْ وَجَدْتُ لَهَا حَمَلَةً.
Ali radhiyallahu ‘anhu berkata sambil menunjuk ke dadanya,
“Sesungguhnya di sini ada ilmu-ilmu yang banyak, seandainya aku menemukan
orang-orang yang mampu memikulnya.”
وَقَالَ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: نَحْنُ مَعَاشِرَ الْأَنْبِيَاءِ أُمِرْنَا
أَنْ نُكَلِّمَ النَّاسَ عَلَى قَدْرِ عُقُولِهِمْ.
Dan Nabi ﷺ
bersabda, “Kami, para nabi, diperintahkan untuk berbicara kepada manusia sesuai
kadar akal mereka.”
وَقَالَ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَا حَدَّثَ أَحَدٌ قَوْمًا بِحَدِيثٍ لَمْ
تَبْلُغْهُ عُقُولُهُمْ إِلَّا كَانَ فِتْنَةً عَلَيْهِمْ.
Dan Nabi ﷺ
bersabda, “Tidaklah seseorang berbicara kepada suatu kaum dengan perkataan yang
akal mereka tidak mampu menjangkaunya, kecuali hal itu akan menjadi fitnah bagi
mereka.”
وَقَالَ
اللَّهُ تَعَالَى: {وَتِلْكَ الْأَمْثَالُ نَضْرِبُهَا لِلنَّاسِ وَمَا
يَعْقِلُهَا إِلَّا الْعَالِمُونَ}.
Allah Ta‘ala berfirman, “Dan permisalan-permisalan itu Kami
buat untuk manusia, tetapi tidak ada yang memahaminya kecuali orang-orang yang
berilmu.”
وَقَالَ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنَّ مِنَ الْعِلْمِ كَهَيْئَةِ الْمَكْنُونِ
لَا يَعْلَمُهُ إِلَّا الْعَالِمُونَ بِاللَّهِ تَعَالَى.
Dan Nabi ﷺ
bersabda, “Sesungguhnya sebagian ilmu itu seperti sesuatu yang tersembunyi,
tidak mengetahuinya kecuali orang-orang yang mengenal Allah Ta‘ala.”
إِلَى
آخِرِ الْحَدِيثِ، كَمَا أَوْرَدْنَاهُ فِي كِتَابِ الْعِلْمِ.
Sampai akhir hadis, sebagaimana telah kami sebutkan dalam
Kitab Ilmu.
وَقَالَ
بَعْضُ السَّلَفِ: مَا جَاءَنَا عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ قَبِلْنَاهُ عَلَى الرَّأْسِ وَالْعَيْنِ، وَمَا جَاءَنَا عَنِ
الصَّحَابَةِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ فَنَأْخُذُ مِنْهُ وَنَتْرُكُ، وَمَا
جَاءَنَا عَنِ التَّابِعِينَ فَهُمْ رِجَالٌ وَنَحْنُ رِجَالٌ.
Sebagian salaf berkata, “Apa yang datang kepada kami dari
Rasulullah ﷺ
kami terima dengan penuh penghormatan. Apa yang datang kepada kami dari para
sahabat radhiyallahu ‘anhum, maka kami ambil sebagiannya dan kami tinggalkan
sebagiannya. Adapun yang datang kepada kami dari para tabi‘in, maka mereka
adalah orang-orang, dan kami pun orang-orang.”
وَإِنَّمَا
فُضِّلَ الصَّحَابَةُ لِمُشَاهَدَتِهِمْ قَرَائِنَ أَحْوَالِ رَسُولِ اللَّهِ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَاعْتِلَاقِ قُلُوبِهِمْ أُمُورًا أُدْرِكَتْ
بِالْقَرَائِنِ، فَسَدَّدَهُمْ ذٰلِكَ إِلَى الصَّوَابِ مِنْ حَيْثُ لَا يَدْخُلُ
فِي الرِّوَايَةِ وَالْعِبَارَةِ، إِذْ فَاضَ عَلَيْهِمْ مِنْ نُورِ النُّبُوَّةِ
مَا يَحْرُسُهُمْ فِي الْأَكْثَرِ عَنِ الْخَطَإِ.
Para sahabat hanya menjadi lebih utama karena mereka
menyaksikan berbagai petunjuk keadaan Rasulullah ﷺ, dan hati mereka terikat dengan berbagai
perkara yang dipahami melalui petunjuk-petunjuk itu. Hal itu menuntun mereka
kepada kebenaran dari sisi-sisi yang tidak tercakup dalam riwayat dan ungkapan,
sebab mereka mendapat limpahan cahaya kenabian yang dalam kebanyakan keadaan
menjaga mereka dari kesalahan.
وَإِذَا
كَانَ الِاعْتِمَادُ عَلَى الْمَسْمُوعِ مِنَ الْغَيْرِ تَقْلِيدًا غَيْرَ
مَرْضِيٍّ، فَالِاعْتِمَادُ عَلَى الْكُتُبِ وَالتَّصَانِيفِ أَبْعَدُ.
Jika bersandar kepada apa yang didengar dari orang lain saja
merupakan bentuk taklid yang kurang diridhai, maka bersandar kepada kitab-kitab
dan karangan-karangan semata tentu lebih jauh lagi.
بَلِ
الْكُتُبُ وَالتَّصَانِيفُ مُحْدَثَةٌ، لَمْ يَكُنْ شَيْءٌ مِنْهَا فِي زَمَنِ
الصَّحَابَةِ وَصَدْرِ التَّابِعِينَ.
Bahkan kitab-kitab dan karya tulis itu adalah perkara baru.
Tidak ada satu pun darinya pada masa para sahabat dan awal masa para tabi‘in.
وَإِنَّمَا
حَدَثَتْ بَعْدَ سَنَةِ عِشْرِينَ وَمِائَةٍ مِنَ الْهِجْرَةِ، وَبَعْدَ وَفَاةِ
جَمِيعِ الصَّحَابَةِ وَجُمْلَةِ التَّابِعِينَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ، وَبَعْدَ
وَفَاةِ سَعِيدِ بْنِ الْمُسَيِّبِ وَالْحَسَنِ وَخِيَارِ التَّابِعِينَ.
Semua itu baru muncul setelah tahun seratus dua puluh
Hijriah, setelah wafatnya seluruh sahabat dan banyak tabi‘in radhiyallahu
‘anhum, juga setelah wafatnya Sa‘id bin Al-Musayyib, Al-Hasan, dan orang-orang
terbaik dari kalangan tabi‘in.
بَلْ
كَانَ الْأَوَّلُونَ يَكْرَهُونَ كُتُبَ الْأَحَادِيثِ وَتَصْنِيفَ الْكُتُبِ،
لِئَلَّا يَشْتَغِلَ النَّاسُ بِهَا عَنِ الْحِفْظِ وَعَنِ الْقُرْآنِ وَعَنِ
التَّدَبُّرِ وَالتَّذَكُّرِ.
Bahkan orang-orang terdahulu membenci penulisan hadis dan
penyusunan kitab-kitab, agar manusia tidak sibuk dengannya hingga lalai dari
hafalan, dari Al-Qur’an, dari tadabbur, dan dari mengambil pelajaran.
وَقَالُوا:
احْفَظُوا كَمَا كُنَّا نَحْفَظُ.
Mereka berkata, “Hafalkanlah sebagaimana kami dahulu
menghafal.”
وَلِذٰلِكَ
كَرِهَ أَبُو بَكْرٍ وَجَمَاعَةٌ مِنَ الصَّحَابَةِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ
تَصْحِيفَ الْقُرْآنِ فِي مُصْحَفٍ، وَقَالُوا: كَيْفَ نَفْعَلُ شَيْئًا مَا
فَعَلَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ؟
Karena itulah Abu Bakar dan sekelompok sahabat radhiyallahu
‘anhum pada awalnya tidak menyukai penghimpunan Al-Qur’an ke dalam satu mushaf,
dan mereka berkata, “Bagaimana kita melakukan sesuatu yang tidak dilakukan oleh
Rasulullah ﷺ?”
وَخَافُوا
اتِّكَالَ النَّاسِ عَلَى الْمَصَاحِفِ، وَقَالُوا: نَتْرُكُ الْقُرْآنَ
يَتَلَقَّاهُ بَعْضُهُمْ مِنْ بَعْضٍ بِالتَّلْقِينِ وَالْإِقْرَاءِ، لِيَكُونَ
هٰذَا شُغْلَهُمْ وَهَمَّهُمْ.
Mereka khawatir manusia akan bergantung kepada
mushaf-mushaf. Mereka berkata, “Kita biarkan Al-Qur’an diterima sebagian dari
sebagian yang lain melalui talaqqi dan pengajaran langsung, agar itu menjadi
kesibukan dan perhatian utama mereka.”
حَتَّى
أَشَارَ عُمَرُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ وَبَقِيَّةُ الصَّحَابَةِ بِكِتَابَةِ
الْقُرْآنِ، خَوْفًا مِنْ تَخَاذُلِ النَّاسِ وَتَكَاسُلِهِمْ، وَحَذَرًا مِنْ
أَنْ يَقَعَ نِزَاعٌ فَلَا يُوجَدَ أَصْلٌ يُرْجَعُ إِلَيْهِ فِي كَلِمَةٍ أَوْ
قِرَاءَةٍ مِنَ الْمُتَشَابِهَاتِ.
Hingga ‘Umar radhiyallahu ‘anhu dan para sahabat lainnya
memberi isyarat agar Al-Qur’an ditulis, karena takut manusia menjadi lemah dan
malas, serta khawatir akan timbul perselisihan lalu tidak ditemukan satu pokok
rujukan pada suatu kata atau bacaan dari ayat-ayat yang mutasyabih.
فَانْشَرَحَ
صَدْرُ أَبِي بَكْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ لِذٰلِكَ، فَجُمِعَ الْقُرْآنُ فِي
مُصْحَفٍ وَاحِدٍ.
Maka lapanglah dada Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu untuk itu,
lalu Al-Qur’an dikumpulkan dalam satu mushaf.
وَكَانَ
أَحْمَدُ بْنُ حَنْبَلٍ يُنْكِرُ عَلَى مَالِكٍ فِي تَصْنِيفِهِ الْمُوَطَّأَ،
وَيَقُولُ: ابْتَدَعَ مَا لَمْ تَفْعَلْهُ الصَّحَابَةُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ.
Ahmad bin Hanbal pernah mengingkari Malik karena penyusunan
kitab Al-Muwaththa’, dan berkata, “Ia mengada-adakan sesuatu yang
tidak dilakukan oleh para sahabat radhiyallahu ‘anhum.”
وَقِيلَ:
أَوَّلُ كِتَابٍ صُنِّفَ فِي الْإِسْلَامِ كِتَابُ ابْنِ جُرَيْجٍ فِي الْآثَارِ
وَحُرُوفِ التَّفَاسِيرِ عَنْ مُجَاهِدٍ وَعَطَاءٍ وَأَصْحَابِ ابْنِ عَبَّاسٍ
رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ بِمَكَّةَ.
Dikatakan bahwa kitab pertama yang disusun dalam Islam
adalah kitab Ibnu Juraij tentang atsar dan bagian-bagian tafsir, dari Mujahid,
‘Atha’, dan murid-murid Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhum di Makkah.
ثُمَّ
كِتَابُ مَعْمَرِ بْنِ رَاشِدٍ الصَّنْعَانِيِّ بِالْيَمَنِ، جَمَعَ فِيهِ سُنَنًا
مَأْثُورَةً نَبَوِيَّةً.
Kemudian kitab Ma‘mar bin Rasyid Ash-Shan‘ani di Yaman, yang
menghimpun sunnah-sunnah Nabi yang diriwayatkan.
ثُمَّ
كِتَابُ الْمُوَطَّأِ بِالْمَدِينَةِ لِمَالِكِ بْنِ أَنَسٍ، ثُمَّ جَامِعُ
سُفْيَانَ الثَّوْرِيِّ.
Setelah itu kitab Al-Muwaththa’ di Madinah
karya Malik bin Anas, lalu Jami‘ karya Sufyan Ats-Tsauri.
ثُمَّ
فِي الْقَرْنِ الرَّابِعِ حَدَثَتْ مُصَنَّفَاتُ الْكَلَامِ، وَكَثُرَ الْخَوْضُ
فِي الْجَدَلِ، وَالْغَوْصُ فِي إِبْطَالِ الْمَقَالَاتِ.
Kemudian pada abad keempat muncullah kitab-kitab ilmu kalam,
dan manusia banyak terjun ke dalam perdebatan serta mendalami pembatalan
pendapat-pendapat lawan.
ثُمَّ
مَالَ النَّاسُ إِلَيْهِ وَإِلَى الْقَصَصِ وَالْوَعْظِ بِهَا، فَأَخَذَ عِلْمُ
الْيَقِينِ فِي الِانْدِرَاسِ مِنْ ذٰلِكَ الزَّمَانِ.
Lalu manusia condong kepadanya, juga kepada kisah-kisah dan
nasihat-nasihat dengan kisah-kisah itu, sehingga ilmu yakin mulai pudar sejak
masa itu.
فَصَارَ
بَعْدَ ذٰلِكَ يُسْتَغْرَبُ عِلْمُ الْقُلُوبِ وَالتَّفْتِيشُ عَنْ صِفَاتِ
النَّفْسِ وَمَكَائِدِ الشَّيْطَانِ، وَأَعْرَضَ عَنْ ذٰلِكَ إِلَّا الْأَقَلُّونَ.
Sesudah itu, ilmu tentang hati, meneliti sifat-sifat jiwa,
dan menelusuri tipu daya setan menjadi sesuatu yang dianggap aneh, dan tidak
ada yang memperhatikannya kecuali sedikit orang.
فَصَارَ
يُسَمَّى الْمُجَادِلُ الْمُتَكَلِّمُ عَالِمًا، وَالْقَاصُّ الْمُزَخْرِفُ
كَلَامَهُ بِالْعِبَارَاتِ الْمُسَجَّعَةِ عَالِمًا.
Maka akhirnya orang yang suka berdebat dan ahli kalam
disebut alim, dan pencerita yang menghiasi ucapannya dengan kalimat-kalimat
bersajak juga disebut alim.
وَهٰذَا
لِأَنَّ الْعَوَامَّ هُمُ الْمُسْتَمِعُونَ إِلَيْهِمْ، فَكَانَ لَا يَتَمَيَّزُ
لَهُمْ حَقِيقَةُ الْعِلْمِ مِنْ غَيْرِهِ.
Hal itu karena orang-orang awamlah yang mendengarkan mereka,
sehingga hakikat ilmu tidak tampak berbeda bagi mereka dari selainnya.
وَلَمْ
تَكُنْ سِيرَةُ الصَّحَابَةِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَعُلُومُهُمْ ظَاهِرَةً
عِنْدَهُمْ، حَتَّى كَانُوا يَعْرِفُونَ بِهَا مُبَايَنَةَ هٰؤُلَاءِ لَهُمْ.
Dan perjalanan hidup serta ilmu para sahabat radhiyallahu
‘anhum tidak tampak jelas bagi mereka, sehingga mereka tidak mampu mengetahui
melalui itu betapa jauhnya orang-orang ini dari para sahabat.
فَاسْتَمَرَّ
عَلَيْهِمُ اسْمُ الْعُلَمَاءِ، وَتَوَارَثَ اللَّقَبَ خَلَفٌ عَنْ سَلَفٍ،
وَأَصْبَحَ عِلْمُ الْآخِرَةِ مَطْوِيًّا، وَغَابَ عَنْهُمُ الْفَرْقُ بَيْنَ
الْعِلْمِ وَالْكَلَامِ إِلَّا عَنِ الْخَوَاصِّ مِنْهُمْ.
Maka nama “ulama” terus melekat pada mereka, dan gelar itu
diwarisi oleh generasi belakang dari generasi sebelumnya. Sementara ilmu
akhirat menjadi tertutup, dan hilang dari mereka perbedaan antara ilmu dan ilmu
kalam, kecuali dari kalangan khusus saja.
كَانُوا
إِذَا قِيلَ لَهُمْ: فُلَانٌ أَعْلَمُ أَمْ فُلَانٌ؟ يَقُولُونَ: فُلَانٌ أَكْثَرُ
عِلْمًا، وَفُلَانٌ أَكْثَرُ كَلَامًا.
Dahulu jika dikatakan kepada mereka, “Si fulan lebih berilmu
atau si fulan?” mereka menjawab, “Si fulan lebih banyak ilmunya, dan si fulan
lebih banyak bicaranya.”
فَكَانَ
الْخَوَاصُّ يُدْرِكُونَ الْفَرْقَ بَيْنَ الْعِلْمِ وَبَيْنَ الْقُدْرَةِ عَلَى
الْكَلَامِ.
Dengan demikian, orang-orang khusus memahami perbedaan
antara ilmu dan sekadar kemampuan berbicara.
هٰكَذَا
ضَعُفَ الدِّينُ فِي قُرُونٍ سَالِفَةٍ، فَكَيْفَ الظَّنُّ بِزَمَانِكَ هٰذَا،
وَقَدِ انْتَهَى الْأَمْرُ إِلَى أَنَّ مُظْهِرَ الْإِنْكَارِ يُسْتَهْدَفُ
لِنِسْبَتِهِ إِلَى الْجُنُونِ، فَالْأَوْلَى أَنْ يَشْتَغِلَ الْإِنْسَانُ
بِنَفْسِهِ وَيَسْكُتَ.
Demikianlah agama menjadi lemah pada masa-masa yang telah
lalu. Maka bagaimana lagi dugaanmu terhadap zamanmu ini, ketika keadaan telah
sampai pada titik bahwa orang yang menampakkan pengingkaran justru menjadi
sasaran tuduhan gila? Maka yang lebih utama adalah seseorang menyibukkan diri
dengan dirinya sendiri dan diam.
وَمِنْهَا
أَنْ يَكُونَ شَدِيدَ التَّوَقِّي مِنْ مُحْدَثَاتِ الْأُمُورِ، وَإِنِ اتَّفَقَ
عَلَيْهَا الْجُمْهُورُ.
Dan di antara tanda ulama akhirat ialah bahwa ia sangat
berhati-hati terhadap perkara-perkara baru dalam agama, meskipun mayoritas
orang sepakat atasnya.
فَلَا
يَغُرَّنَّهُ إِطْبَاقُ الْخَلْقِ عَلَى مَا أُحْدِثَ بَعْدَ الصَّحَابَةِ رَضِيَ
اللَّهُ عَنْهُمْ.
Janganlah kesepakatan manusia terhadap sesuatu yang
diada-adakan setelah masa para sahabat radhiyallahu ‘anhum menipunya.
وَلْيَكُنْ
حَرِيصًا عَلَى التَّفْتِيشِ عَنْ أَحْوَالِ الصَّحَابَةِ وَسِيَرِهِمْ
وَأَعْمَالِهِمْ، وَمَا كَانَ فِيهِ أَكْثَرُ هَمِّهِمْ.
Hendaklah ia sangat bersemangat meneliti keadaan para
sahabat, perjalanan hidup mereka, amal-amal mereka, dan apa yang paling
menyibukkan perhatian mereka.
أَكَانَ
فِي التَّدْرِيسِ وَالتَّصْنِيفِ وَالْمُنَاظَرَةِ وَالْقَضَاءِ وَالْوِلَايَةِ
وَتَوَلِّي الْأَوْقَافِ وَالْوَصَايَا وَأَكْلِ مَالِ الْأَيْتَامِ وَمُخَالَطَةِ
السَّلَاطِينِ وَمُجَامَلَتِهِمْ فِي الْعِشْرَةِ؟
Apakah kesibukan terbesar mereka pada mengajar, menulis
kitab, berdebat, menjadi hakim, memegang jabatan, mengelola wakaf, mengurus
wasiat, memakan harta anak yatim, bergaul dengan para penguasa, dan bersikap
manis kepada mereka dalam pergaulan?
أَمْ
كَانَ فِي الْخَوْفِ وَالْحُزْنِ وَالتَّفَكُّرِ وَالْمُجَاهَدَةِ وَمُرَاقَبَةِ
الظَّاهِرِ وَالْبَاطِنِ وَاجْتِنَابِ دَقِيقِ الْإِثْمِ وَجَلِيلِهِ، وَالْحِرْصِ
عَلَى إِدْرَاكِ خَفَايَا شَهَوَاتِ النُّفُوسِ وَمَكَائِدِ الشَّيْطَانِ، إِلَى
غَيْرِ ذٰلِكَ مِنْ عُلُومِ الْبَاطِنِ؟
Ataukah perhatian mereka terbesar ada pada rasa takut,
kesedihan, tafakur, mujahadah, pengawasan lahir dan batin, menjauhi dosa-dosa
yang halus maupun yang besar, serta sungguh-sungguh mengetahui rahasia syahwat
jiwa dan tipu daya setan, dan selain itu dari ilmu-ilmu batin?
وَاعْلَمْ
تَحْقِيقًا أَنَّ أَعْلَمَ أَهْلِ الزَّمَانِ وَأَقْرَبَهُمْ إِلَى الْحَقِّ
أَشْبَهُهُمْ بِالصَّحَابَةِ وَأَعْرَفُهُمْ بِطَرِيقِ السَّلَفِ، فَمِنْهُمْ
أُخِذَ الدِّينُ.
Ketahuilah dengan pasti bahwa orang yang paling berilmu pada
suatu zaman dan paling dekat kepada kebenaran ialah yang paling menyerupai para
sahabat dan paling mengenal jalan salaf. Dari merekalah agama ini diambil.
وَلِذٰلِكَ
قَالَ عَلِيٌّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: خَيْرُنَا أَتْبَعُنَا لِهٰذَا الدِّينِ.
Karena itu Ali radhiyallahu ‘anhu berkata, “Yang terbaik di
antara kita adalah yang paling mengikuti agama ini.”
لَمَّا
قِيلَ لَهُ: خَالَفْتَ فُلَانًا.
Ucapan itu beliau katakan ketika ada yang berkata kepadanya,
“Engkau telah menyelisihi si fulan.”
فَلَا
يَنْبَغِي أَنْ يَكْتَرِثَ بِمُخَالَفَةِ أَهْلِ الْعَصْرِ فِي مُوَافَقَةِ أَهْلِ
عَصْرِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.
Maka tidak patut seseorang terlalu peduli dengan perbedaan
orang-orang sezamannya, selama ia justru sesuai dengan orang-orang pada masa
Rasulullah ﷺ.
فَإِنَّ
النَّاسَ رَأَوْا رَأْيًا فِيمَا هُمْ فِيهِ لِمَيْلِ طِبَاعِهِمْ إِلَيْهِ،
وَلَمْ تَسْمَحْ أَنْفُسُهُمْ بِالِاعْتِرَافِ بِأَنَّ ذٰلِكَ سَبَبُ الْحِرْمَانِ
مِنَ الْجَنَّةِ، فَادَّعَوْا أَنَّهُ لَا سَبِيلَ إِلَى الْجَنَّةِ سِوَاهُ.
Karena manusia telah mengambil suatu pendapat dalam perkara
yang mereka jalani itu karena tabiat mereka cenderung kepadanya. Dan jiwa
mereka tidak rela mengakui bahwa hal tersebut bisa menjadi sebab terhalang dari
surga. Maka mereka pun mengklaim bahwa tidak ada jalan menuju surga selain
jalan itu.
وَلِذٰلِكَ
قَالَ الْحَسَنُ: مُحْدَثَانِ أُحْدِثَا فِي الْإِسْلَامِ: رَجُلٌ ذُو رَأْيٍ
سَيِّئٍ زَعَمَ أَنَّ الْجَنَّةَ لِمَنْ رَأَى مِثْلَ رَأْيِهِ، وَمُتْرَفٌ
يَعْبُدُ الدُّنْيَا، لَهَا يَغْضَبُ وَلَهَا يَرْضَى وَإِيَّاهَا يَطْلُبُ،
فَارْفُضُوهُمَا إِلَى النَّارِ.
Karena itu Al-Hasan berkata, “Ada dua perkara baru yang
diada-adakan dalam Islam: seorang yang berpendapat buruk lalu mengira bahwa
surga hanya untuk orang yang berpendapat seperti dirinya, dan seorang yang
hidup mewah lalu menyembah dunia; untuk dunia ia marah, untuk dunia ia ridha,
dan dunia itulah yang ia cari. Maka tolaklah keduanya menuju neraka.”
وَإِنَّ
رَجُلًا أَصْبَحَ فِي هٰذِهِ الدُّنْيَا بَيْنَ مُتْرَفٍ يَدْعُوهُ إِلَى
دُنْيَاهُ، وَصَاحِبِ هَوًى يَدْعُوهُ إِلَى هَوَاهُ، وَقَدْ عَصَمَهُ اللَّهُ
تَعَالَى مِنْهُمَا، يَحِنُّ إِلَى السَّلَفِ الصَّالِحِ، يَسْأَلُ عَنْ
أَفْعَالِهِمْ، وَيَقْتَفِي آثَارَهُمْ، مُتَعَرِّضٌ لِأَجْرٍ عَظِيمٍ، فَكَذٰلِكَ
كُونُوا.
Dan sesungguhnya seseorang yang hidup di dunia ini di antara
orang mewah yang mengajaknya kepada dunianya dan pengikut hawa nafsu yang
mengajaknya kepada hawa nafsunya, lalu Allah Ta‘ala menjaganya dari keduanya,
kemudian ia merindukan salaf saleh, bertanya tentang amal-amal mereka, dan
mengikuti jejak mereka, maka ia sedang menjemput pahala yang besar. Maka
jadilah kalian seperti itu.
وَقَدْ
رُوِيَ عَنِ ابْنِ مَسْعُودٍ مَوْقُوفًا وَمُسْنَدًا أَنَّهُ قَالَ: إِنَّمَا
هُمَا اثْنَتَانِ: الْكَلَامُ وَالْهُدَى، فَأَحْسَنُ الْكَلَامِ كَلَامُ اللَّهِ
تَعَالَى، وَأَحْسَنُ الْهُدَى هُدَى رَسُولِ اللَّهِ تَعَالَى صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.
Diriwayatkan dari Ibnu Mas‘ud secara mauquf dan marfu‘ bahwa
ia berkata, “Sesungguhnya perkara itu ada dua: ucapan dan petunjuk. Maka
sebaik-baik ucapan adalah firman Allah Ta‘ala, dan sebaik-baik petunjuk adalah
petunjuk Rasulullah Ta‘ala ﷺ.”
أَلَا
وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الْأُمُورِ، فَإِنَّ شَرَّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا،
وَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ، وَإِنَّ كُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ.
“Ingatlah, jauhilah perkara-perkara baru yang diada-adakan,
karena seburuk-buruk perkara adalah yang diada-adakan, dan setiap perkara yang
diada-adakan adalah bid‘ah, dan setiap bid‘ah adalah kesesatan.”
أَلَا
لَا يُطَوِّلَنَّ عَلَيْكُمُ الْأَمَدُ فَتَقْسُوَ قُلُوبُكُمْ، أَلَا كُلُّ مَا
هُوَ آتٍ قَرِيبٌ، أَلَا إِنَّ الْبَعِيدَ مَا لَيْسَ بِآتٍ.
“Ingatlah, jangan sampai masa terasa panjang bagi kalian
hingga hati kalian menjadi keras. Ingatlah, setiap yang pasti datang itu dekat.
Ingatlah, yang jauh itu hanyalah apa yang tidak akan datang.”
وَفِي
خُطْبَةِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: طُوبَى لِمَنْ
شَغَلَهُ عَيْبُهُ عَنْ عُيُوبِ النَّاسِ، وَأَنْفَقَ مِنْ مَالٍ اكْتَسَبَهُ مِنْ
غَيْرِ مَعْصِيَةٍ، وَخَالَطَ أَهْلَ الْفِقْهِ وَالْحِكَمِ، وَجَانَبَ أَهْلَ
الزَّلَلِ وَالْمَعْصِيَةِ.
Dalam khutbah Rasulullah ﷺ disebutkan, “Berbahagialah orang yang
disibukkan oleh aib dirinya sendiri dari aib-aib manusia, dan yang menafkahkan
sebagian hartanya yang diperoleh tanpa maksiat, bergaul dengan ahli fikih dan
ahli hikmah, serta menjauhi orang-orang yang tergelincir dan ahli maksiat.”
طُوبَى
لِمَنْ ذَلَّ فِي نَفْسِهِ، وَحَسُنَتْ خَلِيقَتُهُ، وَصَلَحَتْ سَرِيرَتُهُ،
وَعَزَلَ عَنِ النَّاسِ شَرَّهُ.
“Berbahagialah orang yang merendah dalam dirinya, baik
akhlaknya, baik batinnya, dan menjauhkan keburukannya dari manusia.”
طُوبَى
لِمَنْ عَمِلَ بِعِلْمِهِ، وَأَنْفَقَ الْفَضْلَ مِنْ مَالِهِ، وَأَمْسَكَ
الْفَضْلَ مِنْ قَوْلِهِ، وَوَسِعَتْهُ السُّنَّةُ، وَلَمْ يَعْدُهَا إِلَى
بِدْعَةٍ.
“Berbahagialah orang yang mengamalkan ilmunya, menginfakkan
kelebihan hartanya, menahan kelebihan ucapannya, dicukupi oleh sunnah, dan
tidak melampauinya kepada bid‘ah.”
وَكَانَ
ابْنُ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ يَقُولُ: حُسْنُ الْهُدَى فِي آخِرِ
الزَّمَانِ خَيْرٌ مِنْ كَثِيرٍ مِنَ الْعَمَلِ.
Ibnu Mas‘ud radhiyallahu ‘anhu berkata, “Baiknya petunjuk
pada akhir zaman lebih baik daripada banyak amal.”
وَقَالَ:
أَنْتُمْ الْيَوْمَ فِي زَمَانٍ خَيْرُكُمْ فِيهِ الْمُسَارِعُ فِي الْأُمُورِ،
وَسَيَأْتِي بَعْدَكُمْ زَمَانٌ يَكُونُ خَيْرُهُمْ فِيهِ الْمُتَثَبِّتُ
الْمُتَوَقِّفُ، لِكَثْرَةِ الشُّبُهَاتِ.
Ia juga berkata, “Kalian hari ini berada dalam suatu zaman
yang orang terbaik di dalamnya adalah yang cepat bertindak dalam urusan. Dan
akan datang setelah kalian suatu zaman yang orang terbaik di dalamnya adalah
yang berhati-hati dan menahan diri, karena banyaknya syubhat.”
وَقَدْ
صَدَقَ، فَمَنْ لَمْ يَتَوَقَّفْ فِي هٰذَا الزَّمَانِ، وَوَافَقَ الْجَمَاهِيرَ
فِيمَا هُمْ عَلَيْهِ، وَخَاضَ فِيمَا خَاضُوا فِيهِ، هَلَكَ كَمَا هَلَكُوا.
Dan sungguh ia benar. Siapa yang pada zaman ini tidak
menahan diri, lalu mengikuti mayoritas manusia dalam apa yang mereka jalani,
dan terjun dalam apa yang mereka tekuni, maka ia akan binasa sebagaimana mereka
binasa.
وَقَالَ
حُذَيْفَةُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: أَعْجَبُ مِنْ هٰذَا أَنَّ مَعْرُوفَكُمُ
الْيَوْمَ مُنْكَرُ زَمَانٍ قَدْ مَضَى، وَأَنَّ مُنْكَرَكُمُ الْيَوْمَ مَعْرُوفُ
زَمَانٍ قَدْ أَتَى، وَإِنَّكُمْ لَا تَزَالُونَ بِخَيْرٍ مَا عَرَفْتُمُ الْحَقَّ
وَكَانَ الْعَالِمُ فِيكُمْ غَيْرَ مُسْتَخَفٍّ بِهِ.
Hudzayfah radhiyallahu ‘anhu berkata, “Yang lebih
mengherankan daripada ini ialah bahwa apa yang kalian anggap makruf hari ini
adalah mungkar pada masa yang telah lalu, dan apa yang kalian anggap mungkar
hari ini adalah makruf pada masa yang akan datang. Dan kalian akan tetap dalam
kebaikan selama kalian mengenali kebenaran dan selama orang alim di tengah
kalian tidak diremehkan.”
وَلَقَدْ
صَدَقَ، فَإِنَّ أَكْثَرَ مَعْرُوفَاتِ هٰذِهِ الْأَعْصَارِ مُنْكَرَاتٌ فِي
عَصْرِ الصَّحَابَةِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ.
Dan sungguh ia benar, sebab kebanyakan hal yang dianggap
makruf pada zaman-zaman ini merupakan kemungkaran pada zaman para sahabat
radhiyallahu ‘anhum.
إِذْ
مِنْ غُرَرِ الْمَعْرُوفَاتِ فِي زَمَانِنَا تَزْيِينُ الْمَسَاجِدِ
وَتَنْجِيدُهَا، وَإِنْفَاقُ الْأَمْوَالِ الْعَظِيمَةِ فِي دَقَائِقِ
عِمَارَاتِهَا، وَفَرْشُ الْبُسُطِ الرَّفِيعَةِ فِيهَا.
Di antara hal yang paling menonjol yang dianggap baik pada
zaman kita adalah menghias masjid-masjid, memperindah bangunannya, menghabiskan
harta yang besar untuk rincian pembangunannya, dan membentangkan
hamparan-hamparan yang mewah di dalamnya.
وَلَقَدْ
كَانَ يُعَدُّ فَرْشُ الْبَوَارِي فِي الْمَسْجِدِ بِدْعَةً، وَقِيلَ إِنَّهُ مِنْ
مُحْدَثَاتِ الْحَجَّاجِ.
Padahal dahulu membentangkan tikar di dalam masjid saja
dianggap bid‘ah, dan dikatakan bahwa itu termasuk hal baru yang dibuat oleh
Al-Hajjaj.
فَقَدْ
كَانَ الْأَوَّلُونَ قَلَّمَا يَجْعَلُونَ بَيْنَهُمْ وَبَيْنَ التُّرَابِ
حَاجِزًا.
Orang-orang terdahulu jarang sekali menaruh pembatas antara
diri mereka dan tanah.
وَكَذٰلِكَ
الِاشْتِغَالُ بِدَقَائِقِ الْجَدَلِ وَالْمُنَاظَرَةِ مِنْ أَجَلِّ عُلُومِ
أَهْلِ الزَّمَانِ، وَيَزْعُمُونَ أَنَّهُ مِنْ أَعْظَمِ الْقُرُبَاتِ، وَقَدْ
كَانَ مِنَ الْمُنْكَرَاتِ.
Demikian pula sibuk dengan rincian debat dan perdebatan
dianggap sebagai ilmu yang paling mulia oleh manusia zaman ini, dan mereka
mengira bahwa itu termasuk bentuk pendekatan diri yang paling agung, padahal
dahulu ia termasuk kemungkaran.
وَمِنْ
ذٰلِكَ التَّلْحِينُ فِي الْقُرْآنِ وَالْأَذَانِ.
Dan termasuk hal itu adalah melagukan Al-Qur’an dan azan
secara berlebihan.
وَمِنْ
ذٰلِكَ التَّعَسُّفُ فِي النَّظَافَةِ وَالْوَسْوَسَةُ فِي الطَّهَارَةِ،
وَتَقْدِيرُ الْأَسْبَابِ الْبَعِيدَةِ فِي نَجَاسَةِ الثِّيَابِ، مَعَ
التَّسَاهُلِ فِي حِلِّ الْأَطْعِمَةِ وَحُرْمَتِهَا، إِلَى نَظَائِرِ ذٰلِكَ.
Termasuk pula bersikap berlebihan dalam kebersihan, waswas
dalam bersuci, memperkirakan sebab-sebab yang jauh tentang najisnya pakaian,
sementara mereka bermudah-mudahan dalam urusan halal dan haram makanan, dan
hal-hal lain yang semisal itu.
وَلَقَدْ
صَدَقَ ابْنُ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ حَيْثُ قَالَ: أَنْتُمْ الْيَوْمَ
فِي زَمَانٍ الْهَوَى فِيهِ تَابِعٌ لِلْعِلْمِ، وَسَيَأْتِي عَلَيْكُمْ زَمَانٌ
يَكُونُ الْعِلْمُ فِيهِ تَابِعًا لِلْهَوَى.
Dan sungguh benar Ibnu Mas‘ud radhiyallahu ‘anhu ketika
berkata, “Kalian hari ini berada pada zaman yang hawa nafsu tunduk kepada ilmu.
Dan akan datang kepada kalian suatu zaman di mana ilmu justru tunduk kepada
hawa nafsu.”
وَقَدْ
كَانَ أَحْمَدُ بْنُ حَنْبَلٍ يَقُولُ: تَرَكُوا الْعِلْمَ وَأَقْبَلُوا عَلَى
الْغَرَائِبِ، مَا أَقَلَّ الْعِلْمَ فِيهِمْ، وَاللَّهُ الْمُسْتَعَانُ.
Ahmad bin Hanbal berkata, “Mereka telah meninggalkan ilmu
dan beralih kepada hal-hal aneh. Betapa sedikit ilmu pada mereka. Dan Allah-lah
tempat memohon pertolongan.”
وَقَالَ
مَالِكُ بْنُ أَنَسٍ رَحِمَهُ اللَّهُ: لَمْ تَكُنِ النَّاسُ فِيمَا مَضَى
يَسْأَلُونَ عَنْ هٰذِهِ الْأُمُورِ كَمَا يَسْأَلُ النَّاسُ الْيَوْمَ، وَلَمْ
يَكُنِ الْعُلَمَاءُ يَقُولُونَ: حَرَامٌ وَلَا حَلَالٌ، وَلٰكِنْ أَدْرَكْتُهُمْ
يَقُولُونَ: مُسْتَحَبٌّ وَمَكْرُوهٌ.
Malik bin Anas rahimahullah berkata, “Dahulu manusia tidak
bertanya tentang perkara-perkara seperti yang mereka tanyakan hari ini. Dan
para ulama tidak biasa mengatakan, ‘Ini haram’ atau ‘ini halal’, tetapi aku
mendapati mereka mengatakan, ‘Ini dianjurkan’ dan ‘ini dibenci’.”
وَمَعْنَاهُ
أَنَّهُمْ كَانُوا يَنْظُرُونَ فِي دَقَائِقِ الْكَرَاهَةِ وَالِاسْتِحْبَابِ،
فَأَمَّا الْحَرَامُ فَكَانَ فُحْشُهُ ظَاهِرًا.
Maknanya adalah bahwa mereka memperhatikan rincian-rincian
tentang makruh dan mustahab, sedangkan perkara haram sudah sangat jelas
keburukannya.
وَكَانَ
هِشَامُ بْنُ عُرْوَةَ يَقُولُ: لَا تَسْأَلُوهُمُ الْيَوْمَ عَمَّا أَحْدَثُوهُ
بِأَنْفُسِهِمْ، فَإِنَّهُمْ قَدْ أَعَدُّوا لَهُ جَوَابًا، وَلٰكِنْ سَلُوهُمْ
عَنِ السُّنَّةِ فَإِنَّهُمْ لَا يَعْرِفُونَهَا.
Hisyam bin ‘Urwah berkata, “Janganlah kalian hari ini
bertanya kepada mereka tentang hal-hal yang mereka ada-adakan sendiri, karena
mereka sudah menyiapkan jawaban untuknya. Akan tetapi, tanyalah mereka tentang
sunnah, karena mereka tidak mengetahuinya.”
وَكَانَ
أَبُو سُلَيْمَانَ الدَّارَانِيُّ رَحِمَهُ اللَّهُ يَقُولُ: لَا يَنْبَغِي لِمَنْ
أُلْهِمَ شَيْئًا مِنَ الْخَيْرِ أَنْ يَعْمَلَ بِهِ حَتَّى يَسْمَعَ بِهِ فِي
الْأَثَرِ، فَيَحْمَدَ اللَّهَ تَعَالَى إِذَا وَافَقَ مَا فِي نَفْسِهِ.
Abu Sulaiman Ad-Darani rahimahullah berkata, “Tidak
sepatutnya orang yang diberi ilham suatu kebaikan langsung mengamalkannya
sampai ia mendengarnya dalam atsar. Lalu ia memuji Allah Ta‘ala jika ilham itu
sesuai dengan apa yang ada dalam dirinya.”
وَإِنَّمَا
قَالَ هٰذَا لِأَنَّ مَا قَدْ أُبْدِعَ مِنَ الْآرَاءِ قَدْ قَرَعَ الْأَسْمَاعَ
وَعَلِقَ بِالْقُلُوبِ، وَرُبَّمَا يُشَوِّشُ صَفَاءَ الْقَلْبِ فَيُتَخَيَّلُ
بِسَبَبِهِ الْبَاطِلُ حَقًّا، فَيَحْتَاطُ فِيهِ بِالِاسْتِظْهَارِ بِشَهَادَةِ
الْآثَارِ.
Ia mengatakan itu karena berbagai pendapat yang diada-adakan
telah terdengar oleh telinga dan melekat di hati, dan terkadang mengacaukan
kejernihan hati, sehingga kebatilan dibayangkan sebagai kebenaran. Maka
seseorang harus berhati-hati dengan menguatkan dirinya melalui kesaksian atsar.
وَلِهٰذَا
لَمَّا أَحْدَثَ مَرْوَانُ الْمِنْبَرَ فِي صَلَاةِ الْعِيدِ عِنْدَ الْمُصَلَّى،
قَامَ إِلَيْهِ أَبُو سَعِيدٍ الْخُدْرِيُّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ فَقَالَ: يَا
مَرْوَانُ، مَا هٰذِهِ الْبِدْعَةُ؟
Karena itulah ketika Marwan membuat mimbar pada salat Id di
tempat salat, Abu Sa‘id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu berdiri menegurnya dan
berkata, “Wahai Marwan, bid‘ah apa ini?”
فَقَالَ:
إِنَّهَا لَيْسَتْ بِبِدْعَةٍ، إِنَّهَا خَيْرٌ مِمَّا تَعْلَمُ، إِنَّ النَّاسَ
قَدْ كَثُرُوا فَأَرَدْتُ أَنْ يَبْلُغَهُمُ الصَّوْتُ.
Marwan menjawab, “Ini bukan bid‘ah. Ini lebih baik daripada
yang engkau ketahui. Manusia sudah banyak, dan aku ingin agar suara sampai
kepada mereka.”
فَقَالَ
أَبُو سَعِيدٍ: وَاللَّهِ لَا تَأْتُونَ بِخَيْرٍ مِمَّا أَعْلَمُ أَبَدًا،
وَاللَّهِ لَا صَلَّيْتُ وَرَاءَكَ الْيَوْمَ.
Abu Sa‘id berkata, “Demi Allah, kalian tidak akan pernah
membawa sesuatu yang lebih baik daripada apa yang aku ketahui. Dan demi Allah,
aku tidak akan salat di belakangmu hari ini.”
وَإِنَّمَا
أَنْكَرَ ذٰلِكَ عَلَيْهِ لِأَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ كَانَ يَتَوَكَّأُ فِي خُطْبَةِ الْعِيدِ وَالِاسْتِسْقَاءِ عَلَى
قَوْسٍ أَوْ عَصًا، لَا عَلَى الْمِنْبَرِ.
Ia mengingkari hal itu karena Rasulullah ﷺ pada khutbah Id dan
istisqa’ biasa bersandar pada busur atau tongkat, bukan pada mimbar.
وَفِي
الْحَدِيثِ الْمَشْهُورِ: مَنْ أَحْدَثَ فِي دِينِنَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ
رَدٌّ.
Dalam hadis yang masyhur disebutkan, “Barang siapa
mengada-adakan dalam urusan agama kami sesuatu yang bukan darinya, maka ia
tertolak.”
وَفِي
خَبَرٍ آخَرَ: مَنْ غَشَّ أُمَّتِي فَعَلَيْهِ لَعْنَةُ اللَّهِ وَالْمَلَائِكَةِ
وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ.
Dalam riwayat lain disebutkan, “Barang siapa menipu umatku,
maka عليه
laknat Allah, para malaikat, dan seluruh manusia.”
قِيلَ:
يَا رَسُولَ اللَّهِ، وَمَا غِشُّ أُمَّتِكَ؟
Ditanyakan, “Wahai Rasulullah, apakah yang dimaksud menipu
umatmu?”
قَالَ:
أَنْ يَبْتَدِعَ بِدْعَةً يُحْمَلُ النَّاسُ عَلَيْهَا.
Beliau menjawab, “Yaitu seseorang membuat bid‘ah, lalu
manusia diarahkan atau dibebani untuk mengikutinya.”
وَقَالَ
رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنَّ لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ
مَلَكًا يُنَادِي كُلَّ يَوْمٍ: مَنْ خَالَفَ سُنَّةَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَمْ تَنَلْهُ شَفَاعَتُهُ.
Rasulullah ﷺ
bersabda, “Sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla memiliki seorang malaikat yang
berseru setiap hari: ‘Barang siapa menyelisihi sunnah Rasulullah ﷺ,
maka ia tidak akan mendapatkan syafaat beliau.’”
وَمِثَالُ
الْجَانِي عَلَى الدِّينِ بِإِبْدَاعِ مَا يُخَالِفُ السُّنَّةَ بِالنِّسْبَةِ
إِلَى مَنْ يُذْنِبُ ذَنْبًا، مِثَالُ مَنْ عَصَى الْمَلِكَ فِي قَلْبِ دَوْلَتِهِ
بِالنِّسْبَةِ إِلَى مَنْ خَالَفَ أَمْرَهُ فِي خِدْمَةٍ مُعَيَّنَةٍ.
Perumpamaan orang yang mencederai agama dengan
mengada-adakan sesuatu yang menyelisihi sunnah jika dibandingkan dengan orang
yang hanya melakukan satu dosa, seperti orang yang mendurhakai raja di pusat
kerajaannya dibandingkan dengan orang yang hanya melanggar perintahnya dalam
satu tugas tertentu.
وَذٰلِكَ
قَدْ يُغْفَرُ لَهُ، فَأَمَّا فِي قَلْبِ الدَّوْلَةِ فَلَا.
Pelanggaran yang kedua itu mungkin masih bisa diampuni,
tetapi pelanggaran yang dilakukan di pusat negara tidak demikian.
وَقَالَ
بَعْضُ الْعُلَمَاءِ: مَا تَكَلَّمَ فِيهِ السَّلَفُ فَالسُّكُوتُ عَنْهُ جَفَاءٌ،
وَمَا سَكَتَ عَنْهُ السَّلَفُ فَالْكَلَامُ فِيهِ تَكَلُّفٌ.
Sebagian ulama berkata, “Apa yang dibicarakan oleh salaf,
maka diam darinya adalah sikap kasar. Dan apa yang didiamkan oleh salaf, maka
berbicara tentangnya adalah memaksakan diri.”
وَقَالَ
غَيْرُهُ: الْحَقُّ ثَقِيلٌ، مَنْ جَاوَزَهُ ظَلَمَ، وَمَنْ قَصَرَ عَنْهُ عَجَزَ،
وَمَنْ وَقَفَ مَعَهُ اكْتَفَى.
Yang lain berkata, “Kebenaran itu berat. Siapa yang
melampauinya, ia zalim. Siapa yang kurang darinya, ia lemah. Dan siapa yang
berhenti bersama kebenaran, ia telah cukup.”
وَقَالَ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: عَلَيْكُمْ بِالنَّمَطِ الْأَوْسَطِ الَّذِي
يَرْجِعُ إِلَيْهِ الْعَالِي وَيَرْتَفِعُ إِلَيْهِ التَّالِي.
Nabi ﷺ
bersabda, “Peganglah jalan pertengahan, yang orang di atas akan kembali
kepadanya dan orang di bawah akan naik menuju kepadanya.”
وَقَالَ
ابْنُ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا: الضَّلَالَةُ لَهَا حَلَاوَةٌ فِي
قُلُوبِ أَهْلِهَا.
Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata, “Kesesatan itu
memiliki rasa manis dalam hati para pengikutnya.”
قَالَ
اللَّهُ تَعَالَى: {وَذَرِ الَّذِينَ اتَّخَذُوا دِينَهُمْ لَعِبًا وَلَهْوًا}.
Allah Ta‘ala berfirman, “Biarkanlah orang-orang yang
menjadikan agama mereka sebagai permainan dan senda gurau.”
وَقَالَ
تَعَالَى: {أَفَمَنْ زُيِّنَ لَهُ سُوءُ عَمَلِهِ فَرَآهُ حَسَنًا}.
Dan Allah Ta‘ala berfirman, “Maka apakah orang yang dihiasi
keburukan amalnya sehingga ia melihatnya baik?”
فَكُلُّ
مَا أُحْدِثَ بَعْدَ الصَّحَابَةِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ مِمَّا جَاوَزَ قَدْرَ
الضَّرُورَةِ وَالْحَاجَةِ فَهُوَ مِنَ اللَّعِبِ وَاللَّهْوِ.
Maka segala sesuatu yang diada-adakan setelah para sahabat
radhiyallahu ‘anhum, yang melampaui kadar kebutuhan dan keperluan mendesak,
termasuk permainan dan senda gurau.
وَحُكِيَ
عَنْ إِبْلِيسَ لَعَنَهُ اللَّهُ أَنَّهُ بَثَّ جُنُودَهُ فِي وَقْتِ الصَّحَابَةِ
رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ، فَرَجَعُوا إِلَيْهِ مَحْسُورِينَ، فَقَالَ: مَا
شَأْنُكُمْ؟
Dikisahkan dari Iblis, semoga Allah melaknatnya, bahwa ia
mengirim pasukannya pada masa para sahabat radhiyallahu ‘anhum, lalu mereka
kembali kepadanya dalam keadaan gagal. Ia bertanya, “Ada apa dengan kalian?”
قَالُوا:
مَا رَأَيْنَا مِثْلَ هٰؤُلَاءِ، مَا نُصِيبُ مِنْهُمْ شَيْئًا، وَقَدْ
أَتْعَبُونَا.
Mereka menjawab, “Kami belum pernah melihat yang seperti
mereka. Kami tidak berhasil memperoleh apa pun dari mereka, dan mereka telah
melelahkan kami.”
فَقَالَ:
إِنَّكُمْ لَا تَقْدِرُونَ عَلَيْهِمْ، قَدْ صَحِبُوا نَبِيَّهُمْ وَشَهِدُوا
تَنْزِيلَ رَبِّهِمْ، وَلٰكِنْ سَيَأْتِي بَعْدَهُمْ قَوْمٌ تَنَالُونَ مِنْهُمْ
حَاجَتَكُمْ.
Maka Iblis berkata, “Kalian tidak akan mampu terhadap
mereka. Mereka telah menemani nabi mereka dan menyaksikan turunnya wahyu Tuhan
mereka. Akan tetapi, setelah mereka akan datang kaum yang terhadap mereka
kalian akan mendapatkan apa yang kalian inginkan.”
فَلَمَّا
جَاءَ التَّابِعُونَ بَثَّ جُنُودَهُ، فَرَجَعُوا إِلَيْهِ مُنْكَسِينَ،
فَقَالُوا: مَا رَأَيْنَا أَعْجَبَ مِنْ هٰؤُلَاءِ، نُصِيبُ مِنْهُمُ الشَّيْءَ
بَعْدَ الشَّيْءِ مِنَ الذُّنُوبِ، فَإِذَا كَانَ آخِرُ النَّهَارِ أَخَذُوا فِي
الِاسْتِغْفَارِ، فَيُبَدِّلُ اللَّهُ سَيِّئَاتِهِمْ حَسَنَاتٍ.
Lalu ketika datang masa tabi‘in, ia mengirim lagi
pasukannya. Mereka kembali dengan tertunduk dan berkata, “Kami belum pernah
melihat yang lebih menakjubkan daripada mereka. Kami memang berhasil membuat
mereka jatuh sedikit demi sedikit dalam dosa, tetapi ketika petang tiba mereka
mulai beristigfar, lalu Allah mengganti dosa-dosa mereka dengan kebaikan.”
فَقَالَ:
إِنَّكُمْ لَنْ تَنَالُوا مِنْ هٰؤُلَاءِ شَيْئًا لِصِحَّةِ تَوْحِيدِهِمْ
وَاتِّبَاعِهِمْ سُنَّةَ نَبِيِّهِمْ، وَلٰكِنْ سَيَأْتِي بَعْدَ هٰؤُلَاءِ قَوْمٌ
تَقَرُّ أَعْيُنُكُمْ بِهِمْ، تَلْعَبُونَ بِهِمْ لَعِبًا، وَتَقُودُونَهُمْ
بِأَزِمَّةِ أَهْوَائِهِمْ كَيْفَ شِئْتُمْ، إِنِ اسْتَغْفَرُوا لَمْ يُغْفَرْ
لَهُمْ، وَلَا يَتُوبُونَ فَيُبَدِّلَ اللَّهُ سَيِّئَاتِهِمْ حَسَنَاتٍ.
Maka Iblis berkata, “Kalian tidak akan bisa mendapatkan
apa-apa dari mereka karena lurusnya tauhid mereka dan kuatnya mereka mengikuti
sunnah nabi mereka. Akan tetapi, sesudah mereka akan datang kaum yang membuat
mata kalian sejuk. Kalian akan mempermainkan mereka habis-habisan dan menuntun
mereka dengan tali hawa nafsu mereka sesuka kalian. Jika mereka beristigfar,
mereka tidak akan diampuni, dan mereka tidak bertobat sehingga Allah mengganti
dosa-dosa mereka dengan kebaikan.”
قَالَ:
فَجَاءَ قَوْمٌ بَعْدَ الْقَرْنِ الْأَوَّلِ، فَبَثَّ فِيهِمُ الْأَهْوَاءَ
وَزَيَّنَ لَهُمُ الْبِدَعَ، فَاسْتَحَلُّوهَا وَاتَّخَذُوهَا دِينًا، لَا
يَسْتَغْفِرُونَ اللَّهَ مِنْهَا وَلَا يَتُوبُونَ عَنْهَا، فَسُلِّطَ عَلَيْهِمُ
الْأَعْدَاءُ وَقَادُوهُمْ أَيْنَ شَاءُوا.
Lalu ia berkata, “Maka datanglah suatu kaum setelah generasi
pertama. Iblis menebarkan hawa nafsu di tengah mereka dan menghiasi bid‘ah bagi
mereka, lalu mereka menghalalkannya dan menjadikannya sebagai agama. Mereka
tidak beristigfar kepada Allah darinya dan tidak bertobat darinya. Maka
musuh-musuh dikuasakan atas mereka dan menuntun mereka ke mana saja yang
diinginkan.”
فَإِنْ
قُلْتَ: مِنْ أَيْنَ عَرَفَ قَائِلُ هٰذَا مَا قَالَهُ إِبْلِيسُ، وَلَمْ
يُشَاهِدْ إِبْلِيسَ وَلَمْ يُحَدِّثْهُ بِذٰلِكَ؟
Jika engkau bertanya, “Dari mana orang yang menceritakan
kisah ini mengetahui apa yang dikatakan Iblis, padahal ia tidak melihat Iblis
dan Iblis pun tidak menceritakannya kepadanya?”
فَاعْلَمْ
أَنَّ أَرْبَابَ الْقُلُوبِ يُكَاشَفُونَ بِأَسْرَارِ الْمَلَكُوتِ تَارَةً عَلَى
سَبِيلِ الْإِلْهَامِ بِأَنْ يَخْطُرَ لَهُمْ عَلَى سَبِيلِ الْوُرُودِ عَلَيْهِمْ
مِنْ حَيْثُ لَا يَعْلَمُونَ.
Maka ketahuilah bahwa para pemilik hati terkadang
disingkapkan kepada mereka rahasia-rahasia alam malakut melalui ilham, yaitu
dengan terlintasnya makna-makna kepada mereka sebagai sesuatu yang datang
kepada mereka dari arah yang tidak mereka ketahui.
وَتَارَةً
عَلَى سَبِيلِ الرُّؤْيَا الصَّادِقَةِ.
Dan terkadang hal itu datang melalui mimpi yang benar.
وَتَارَةً
فِي الْيَقَظَةِ عَلَى سَبِيلِ كَشْفِ الْمَعَانِي بِمُشَاهَدَةِ الْأَمْثَالِ،
كَمَا يَكُونُ فِي الْمَنَامِ.
Dan terkadang pula dalam keadaan sadar, melalui
tersingkapnya makna-makna dengan menyaksikan permisalan-permisalan, sebagaimana
hal itu terjadi dalam mimpi.
وَهٰذَا
أَعْلَى الدَّرَجَاتِ، وَهِيَ مِنْ دَرَجَاتِ النُّبُوَّةِ الْعَالِيَةِ، كَمَا
أَنَّ الرُّؤْيَا الصَّادِقَةَ جُزْءٌ مِنْ سِتَّةٍ وَأَرْبَعِينَ جُزْءًا مِنَ
النُّبُوَّةِ.
Dan ini adalah derajat yang paling tinggi. Ia termasuk
derajat-derajat kenabian yang luhur, sebagaimana mimpi yang benar merupakan
satu bagian dari empat puluh enam bagian kenabian.
فَإِيَّاكَ
أَنْ يَكُونَ حَظُّكَ مِنْ هٰذَا الْعِلْمِ إِنْكَارَ مَا جَاوَزَ حَدَّ قُصُورِكَ.
Karena itu, jangan sampai bagianmu dari ilmu ini hanyalah
mengingkari apa yang melampaui batas kekuranganmu.
فَفِيهِ
هَلَكَ الْمُتَحَذْلِقُونَ مِنَ الْعُلَمَاءِ الزَّاعِمُونَ أَنَّهُمْ أَحَاطُوا
بِعُلُومِ الْعُقُولِ.
Dalam hal itulah binasa orang-orang yang sok cerdas dari
kalangan ulama, yang mengira bahwa mereka telah menguasai seluruh ilmu akal.
فَالْجَهْلُ
خَيْرٌ مِنْ عَقْلٍ يَدْعُو إِلَى إِنْكَارِ مِثْلِ هٰذِهِ الْأُمُورِ
لِأَوْلِيَاءِ اللَّهِ تَعَالَى.
Maka kebodohan lebih baik daripada akal yang mendorong
kepada pengingkaran perkara-perkara seperti ini terhadap para wali Allah
Ta‘ala.
وَمَنْ
أَنْكَرَ ذٰلِكَ لِلْأَوْلِيَاءِ لَزِمَهُ إِنْكَارُهُ لِلْأَنْبِيَاءِ، وَكَانَ
خَارِجًا عَنِ الدِّينِ بِالْكُلِّيَّةِ.
Dan siapa yang mengingkari hal itu pada para wali, maka ia
akan terjerumus kepada pengingkaran atas para nabi, dan akhirnya keluar dari
agama secara keseluruhan.
قَالَ
بَعْضُ الْعَارِفِينَ: إِنَّمَا انْقَطَعَ الْأَبْدَالُ فِي أَطْرَافِ الْأَرْضِ
وَاسْتَتَرُوا عَنْ أَعْيُنِ الْجُمْهُورِ، لِأَنَّهُمْ لَا يُطِيقُونَ النَّظَرَ
إِلَى عُلَمَاءِ الْوَقْتِ، لِأَنَّهُمْ عِنْدَهُمْ جُهَّالٌ بِاللَّهِ تَعَالَى،
وَهُمْ عِنْدَ أَنْفُسِهِمْ وَعِنْدَ الْجَاهِلِينَ عُلَمَاءُ.
Sebagian orang arif berkata, “Sesungguhnya para abdal
tersebar di berbagai penjuru bumi dan bersembunyi dari pandangan umum, karena
mereka tidak sanggup memandang para ulama zaman itu. Sebab menurut mereka, para
ulama itu sebenarnya bodoh tentang Allah Ta‘ala, meskipun di mata mereka
sendiri dan di mata orang-orang bodoh, mereka dianggap ulama.”
وَقَالَ
صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لَوْ تَعْلَمُونَ مَا أَعْلَمُ لَضَحِكْتُمْ
قَلِيلًا وَلَبَكَيْتُمْ كَثِيرًا.
Dan beliau صلى
الله عليه وسلم bersabda: “Seandainya kalian mengetahui apa yang aku ketahui,
niscaya kalian akan sedikit tertawa dan banyak menangis.”
فَلَيْتَ
شِعْرِي إِنْ لَمْ يَكُنْ ذَلِكَ سِرًّا مُنِعَ مِنْ إِفْشَائِهِ لِقُصُورِ
الْأَفْهَامِ عَنْ إِدْرَاكِهِ أَوْ لِمَعْنًى آخَرَ، فَلِمَ لَمْ يَذْكُرْهُ
لَهُمْ؟ وَلَا شَكَّ أَنَّهُمْ كَانُوا يُصَدِّقُونَهُ لَوْ ذَكَرَهُ لَهُمْ.
Maka aku ingin tahu, jika hal itu bukanlah suatu rahasia yang dilarang untuk
diungkapkan karena keterbatasan pemahaman manusia dalam mencernanya, atau
karena makna lain, lalu mengapa beliau tidak menyebutkannya kepada mereka?
Tidak diragukan lagi bahwa mereka pasti akan membenarkannya jika beliau
menyebutkannya kepada mereka.
وَقَالَ
ابْنُ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا فِي قَوْلِهِ عَزَّ وَجَلَّ: اللَّهُ
الَّذِي خَلَقَ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ وَمِنَ الْأَرْضِ مِثْلَهُنَّ يَتَنَزَّلُ
الْأَمْرُ بَيْنَهُنَّ: لَوْ ذَكَرْتُ تَفْسِيرَهُ لَرَجَمْتُمُونِي.
Dan Ibnu Abbas رضي
الله عنهما berkata mengenai firman Allah عز وجل: “Allah-lah yang
menciptakan tujuh langit dan dari bumi pun semisal itu; perintah Allah turun di
antara semuanya.” Seandainya aku menyebutkan tafsirnya, niscaya kalian akan
merajamku.
وَفِي
لَفْظٍ آخَرَ: لَقُلْتُمْ إِنَّهُ كَافِرٌ.
Dalam lafaz lain disebutkan: niscaya kalian akan berkata, “Sesungguhnya dia
kafir.”
وَقَالَ
أَبُو هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ: حَفِظْتُ مِنْ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وِعَاءَيْنِ، أَمَّا أَحَدُهُمَا فَبَثَثْتُهُ، وَأَمَّا
الْآخَرُ فَلَوْ بَثَثْتُهُ لَقُطِعَ هَذَا الْحُلْقُومُ.
Dan Abu Hurairah رضي
الله عنه berkata: Aku telah menghafal dari Rasulullah صلى الله عليه وسلم
dua wadah ilmu. Adapun salah satunya telah aku sebarkan, sedangkan yang satu
lagi, jika aku sebarkan, niscaya tenggorokan ini akan dipotong.
وَقَالَ
صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَا فَضَلَكُمْ أَبُو بَكْرٍ بِكَثْرَةِ صِيَامٍ
وَلَا صَلَاةٍ، وَلَكِنْ بِسِرٍّ وَقَرَ فِي صَدْرِهِ، رَضِيَ اللهُ عَنْهُ.
Dan beliau صلى
الله عليه وسلم bersabda: “Abu Bakar tidak mengungguli kalian dengan banyaknya
puasa dan salat, tetapi dengan suatu rahasia yang menetap di dalam dadanya.” رضي الله عنه.
وَلَا
شَكَّ فِي أَنَّ ذَلِكَ السِّرَّ كَانَ مُتَعَلِّقًا بِقَوَاعِدِ الدِّينِ غَيْرَ
خَارِجٍ مِنْهَا، وَمَا كَانَ مِنْ قَوَاعِدِ الدِّينِ لَمْ يَكُنْ خَافِيًا
بِظَوَاهِرِهِ عَلَى غَيْرِهِ.
Dan tidak diragukan bahwa rahasia itu berkaitan dengan pokok-pokok agama, bukan
sesuatu yang keluar darinya. Apa pun yang termasuk pokok-pokok agama, pada sisi
lahiriahnya tidaklah tersembunyi bagi selain beliau.
وَقَالَ
سَهْلُ التُّسْتَرِيُّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ: لِلْعَالِمِ ثَلَاثَةُ عُلُومٍ:
عِلْمٌ ظَاهِرٌ يَبْذُلُهُ لِأَهْلِ الظَّاهِرِ، وَعِلْمٌ بَاطِنٌ لَا يَسَعُهُ
إِظْهَارُهُ إِلَّا لِأَهْلِهِ، وَعِلْمٌ هُوَ بَيْنَهُ وَبَيْنَ اللهِ تَعَالَى
لَا يُظْهِرُهُ لِأَحَدٍ.
Dan Sahl at-Tustari رضي
الله عنه berkata: Seorang alim memiliki tiga macam ilmu: ilmu lahir yang
ia berikan kepada ahli lahir; ilmu batin yang tidak layak ia tampakkan kecuali
kepada ahlinya; dan ilmu yang berada antara dirinya dengan Allah Ta‘ala, yang
tidak ia tampakkan kepada seorang pun.
وَقَالَ
بَعْضُ الْعَارِفِينَ: إِفْشَاءُ سِرِّ الرُّبُوبِيَّةِ كُفْرٌ.
Dan sebagian orang arif berkata: Menyingkap rahasia rububiyah adalah kekufuran.
وَقَالَ
بَعْضُهُمْ: لِلرُّبُوبِيَّةِ سِرٌّ لَوْ أُظْهِرَ لَبَطَلَتِ النُّبُوَّةُ،
وَلِلنُّبُوَّةِ سِرٌّ لَوْ كُشِفَ لَبَطَلَ الْعِلْمُ، وَلِلْعُلَمَاءِ بِاللهِ
سِرٌّ لَوْ أَظْهَرُوهُ لَبَطَلَتِ الْأَحْكَامُ.
Dan sebagian mereka berkata: Rububiyah memiliki rahasia; jika ia ditampakkan,
niscaya kenabian menjadi batal. Kenabian pun memiliki rahasia; jika ia
disingkap, niscaya ilmu menjadi batal. Dan para ulama yang mengenal Allah
memiliki rahasia; jika mereka menampakkannya, niscaya hukum-hukum menjadi
batal.
وَهَذَا
الْقَائِلُ إِنْ لَمْ يُرِدْ بِذَلِكَ بُطْلَانَ النُّبُوَّةِ فِي حَقِّ
الضُّعَفَاءِ لِقُصُورِ فَهْمِهِمْ، فَمَا ذَكَرَهُ لَيْسَ بِحَقٍّ، بَلِ
الصَّحِيحُ أَنَّهُ لَا تَنَاقُصَ فِيهِ، وَأَنَّ الْكَامِلَ مَنْ لَا يُطْفِئُ
نُورُ مَعْرِفَتِهِ نُورَ وَرَعِهِ، وَمِلَاكُ الْوَرَعِ النُّبُوَّةُ.
Apabila orang yang mengatakan hal itu tidak bermaksud bahwa batalnya kenabian
itu hanya berlaku menurut pandangan orang-orang lemah karena keterbatasan
pemahaman mereka, maka ucapannya itu tidak benar. Yang benar adalah tidak ada
pertentangan di dalamnya. Orang yang sempurna ialah orang yang cahaya
ma‘rifatnya tidak memadamkan cahaya wara‘nya. Pokok wara‘ adalah kenabian.
مَسْأَلَةٌ:
فَإِنْ قُلْتَ هَذِهِ الْآيَاتُ وَالْأَخْبَارُ يَتَطَرَّقُ إِلَيْهَا
تَأْوِيلَاتٌ، فَبَيِّنْ لَنَا كَيْفِيَّةَ اخْتِلَافِ الظَّاهِرِ وَالْبَاطِنِ،
فَإِنَّ الْبَاطِنَ إِنْ كَانَ مُنَاقِضًا لِلظَّاهِرِ فَفِيهِ إِبْطَالُ
الشَّرْعِ، وَهُوَ قَوْلُ مَنْ قَالَ إِنَّ الْحَقِيقَةَ خِلَافُ الشَّرِيعَةِ،
وَهُوَ كُفْرٌ، لِأَنَّ الشَّرِيعَةَ عِبَارَةٌ عَنِ الظَّاهِرِ، وَالْحَقِيقَةَ
عِبَارَةٌ عَنِ الْبَاطِنِ.
Masalah: Jika engkau berkata, ayat-ayat dan berita-berita ini dapat dimasuki
berbagai takwil, maka jelaskanlah kepada kami bagaimana bentuk perbedaan antara
lahir dan batin. Sebab, jika batin bertentangan dengan lahir, maka itu berarti
membatalkan syariat. Itulah ucapan orang yang mengatakan bahwa hakikat
bertentangan dengan syariat, dan itu adalah kekufuran. Karena syariat adalah
ungkapan tentang yang lahir, sedangkan hakikat adalah ungkapan tentang yang
batin.
وَإِنْ
كَانَ لَا يُنَاقِضُهُ وَلَا يُخَالِفُهُ فَهُوَ هُوَ، فَيَزُولُ بِهِ
الِانْقِسَامُ، وَلَا يَكُونُ لِلشَّرْعِ سِرٌّ لَا يُفْشَى، بَلْ يَكُونُ
الْخَفِيُّ وَالْجَلِيُّ وَاحِدًا.
Dan jika batin itu tidak bertentangan dan tidak pula menyelisihi lahir, berarti
ia adalah hal yang sama, sehingga pembagian itu menjadi hilang. Dengan
demikian, syariat tidak lagi memiliki rahasia yang tidak boleh diungkapkan,
melainkan yang tersembunyi dan yang tampak menjadi satu.
فَاعْلَمْ
أَنَّ هَذَا السُّؤَالَ يُحَرِّكُ خَطْبًا عَظِيمًا وَيَنْجَرُّ إِلَى عُلُومِ
الْمُكَاشَفَةِ، وَيَخْرُجُ عَنْ مَقْصُودِ عِلْمِ الْمُعَامَلَةِ، وَهُوَ غَرَضُ
هَذِهِ الْكُتُبِ.
Ketahuilah bahwa pertanyaan ini menggerakkan persoalan yang sangat besar dan
menyeret pembicaraan kepada ilmu mukasyafah. Hal itu keluar dari tujuan ilmu
muamalah, yang menjadi maksud penulisan kitab-kitab ini.
فَإِنَّ
الْعَقَائِدَ الَّتِي ذَكَرْنَاهَا مِنْ أَعْمَالِ الْقُلُوبِ، وَقَدْ
تُعُبِّدْنَا بِتَلْقِينِهَا بِالْقَبُولِ وَالتَّصْدِيقِ بِعَقْدِ الْقَلْبِ
عَلَيْهَا، لَا بِأَنْ يُتَوَصَّلَ إِلَى أَنْ يَنْكَشِفَ لَنَا حَقَائِقُهَا،
فَإِنَّ ذَلِكَ لَمْ يُكَلَّفْ بِهِ كَافَّةُ الْخَلْقِ.
Sebab akidah-akidah yang telah kami sebutkan termasuk amal-amal hati. Kita
dibebani untuk menerimanya, membenarkannya, dan mengikat hati padanya; bukan
untuk sampai pada tersingkapnya hakikat-hakikat itu bagi kita. Karena hal
seperti itu tidak dibebankan kepada seluruh makhluk.
وَلَوْلَا
أَنَّهُ مِنَ الْأَعْمَالِ لَمَا أَوْرَدْنَاهُ فِي هَذَا الْكِتَابِ، وَلَوْلَا
أَنَّهُ عَمَلٌ ظَاهِرُ الْقَلْبِ لَا عَمَلُ بَاطِنِهِ لَمَا أَوْرَدْنَاهُ فِي
الشَّطْرِ الْأَوَّلِ مِنَ الْكِتَابِ.
Kalau bukan karena ia termasuk amal, niscaya kami tidak akan mencantumkannya
dalam kitab ini. Dan kalau bukan karena ia merupakan amal lahiriah hati, bukan
amal batiniahnya, niscaya kami tidak akan memasukkannya pada bagian pertama
kitab ini.
وَإِنَّمَا
الْكَشْفُ الْحَقِيقِيُّ هُوَ صِفَةُ سِرِّ الْقَلْبِ وَبَاطِنِهِ، وَلَكِنْ إِذَا
انْجَرَّ الْكَلَامُ إِلَى تَحْرِيكِ خَيَالٍ فِي مُنَاقَضَةِ الظَّاهِرِ
لِلْبَاطِنِ، فَلَا بُدَّ مِنْ كَلَامٍ وَجِيزٍ فِي حَلِّهِ.
Adapun penyingkapan yang sejati adalah sifat rahasia hati dan batinnya. Namun
karena pembicaraan ini menyeret bayangan pikiran kepada dugaan adanya
pertentangan antara lahir dan batin, maka perlu ada penjelasan singkat untuk
menyelesaikannya.
فَمَنْ
قَالَ إِنَّ الْحَقِيقَةَ تُخَالِفُ الشَّرِيعَةَ أَوِ الْبَاطِنَ يُنَاقِضُ
الظَّاهِرَ فَهُوَ إِلَى الْكُفْرِ أَقْرَبُ مِنْهُ إِلَى الْإِيمَانِ.
Barang siapa mengatakan bahwa hakikat menyelisihi syariat, atau batin
bertentangan dengan lahir, maka ia lebih dekat kepada kekufuran daripada kepada
keimanan.
بَلِ
الْأَسْرَارُ الَّتِي يَخْتَصُّ بِهَا الْمُقَرَّبُونَ بِدَرْكِهَا، وَلَا
يُشَارِكُهُمُ الْأَكْثَرُونَ فِي عِلْمِهَا، وَيَمْتَنِعُونَ عَنْ إِفْشَائِهَا
إِلَيْهِمْ، تَرْجِعُ إِلَى خَمْسَةِ أَقْسَامٍ.
Akan tetapi, rahasia-rahasia yang hanya dapat dipahami oleh orang-orang yang
didekatkan kepada Allah, yang kebanyakan manusia tidak ikut mengetahuinya, dan
yang karena itu mereka menahan diri untuk tidak mengungkapkannya kepada orang
banyak, semuanya kembali kepada lima macam.
الْقِسْمُ
الْأَوَّلُ أَنْ يَكُونَ الشَّيْءُ فِي نَفْسِهِ دَقِيقًا، تَكِلُّ أَكْثَرُ
الْأَفْهَامِ عَنْ دَرْكِهِ، فَيَخْتَصُّ بِدَرْكِهِ الْخَوَاصُّ، وَعَلَيْهِمْ
أَنْ لَا يُفْشُوهُ إِلَى غَيْرِ أَهْلِهِ، فَيَصِيرُ ذَلِكَ فِتْنَةً عَلَيْهِمْ
حَيْثُ تَقْصُرُ أَفْهَامُهُمْ عَنِ الدَّرْكِ.
Bagian pertama: sesuatu itu pada dirinya sendiri sangat halus, sehingga
kebanyakan akal tidak mampu menjangkaunya. Hanya kalangan khusus yang dapat
memahaminya. Mereka wajib tidak mengungkapkannya kepada orang yang bukan
ahlinya, sebab hal itu dapat menjadi fitnah bagi mereka karena pemahaman mereka
tidak sanggup mencapainya.
وَإِخْفَاءُ
سِرِّ الرُّوحِ وَكَفُّ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ
بَيَانِهِ مِنْ هَذَا الْقِسْمِ، فَإِنَّ حَقِيقَتَهُ مِمَّا تَكِلُّ الْأَفْهَامُ
عَنْ دَرْكِهِ، وَتَقْصُرُ الْأَوْهَامُ عَنْ تَصَوُّرِ كُنْهِهِ.
Termasuk bagian ini adalah dirahasiakannya hakikat ruh dan sikap Rasulullah صلى الله عليه
وسلم yang tidak menjelaskannya. Sebab hakikat ruh adalah sesuatu
yang akal lemah untuk memahaminya, dan khayalan pun tidak sanggup membayangkan
hakikatnya.
وَلَا
تَظُنَّنَّ أَنَّ ذَلِكَ لَمْ يَكُنْ مَكْشُوفًا لِرَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَإِنَّ مَنْ لَمْ يَعْرِفِ الرُّوحَ فَكَأَنَّهُ لَمْ
يَعْرِفْ نَفْسَهُ، وَمَنْ لَمْ يَعْرِفْ نَفْسَهُ فَكَيْفَ يَعْرِفُ رَبَّهُ
سُبْحَانَهُ؟
Janganlah engkau mengira bahwa hal itu tidak tersingkap bagi Rasulullah صلى الله عليه
وسلم. Sebab, siapa yang tidak mengenal ruh, seakan-akan ia tidak
mengenal dirinya sendiri. Dan siapa yang tidak mengenal dirinya, bagaimana
mungkin ia mengenal Tuhannya Yang Mahasuci?
وَلَا
يَبْعُدُ أَنْ يَكُونَ ذَلِكَ مَكْشُوفًا لِبَعْضِ الْأَوْلِيَاءِ وَالْعُلَمَاءِ
وَإِنْ لَمْ يَكُونُوا أَنْبِيَاءَ، وَلَكِنَّهُمْ يَتَأَدَّبُونَ بِآدَابِ
الشَّرْعِ فَيَسْكُتُونَ عَمَّا سَكَتَ عَنْهُ.
Tidak mustahil hal itu juga tersingkap bagi sebagian wali dan ulama, meskipun
mereka bukan nabi. Akan tetapi, mereka beradab dengan adab syariat, sehingga
mereka diam terhadap apa yang didiamkan oleh syariat.
بَلْ
فِي صِفَاتِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ مِنَ الْخَفَايَا مَا تَقْصُرُ أَفْهَامُ
الْجَمَاهِيرِ عَنْ دَرْكِهِ، وَلَمْ يَذْكُرْ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْهَا إِلَّا الظَّوَاهِرَ لِلْأَفْهَامِ مِنَ الْعِلْمِ
وَالْقُدْرَةِ وَغَيْرِهِمَا، حَتَّى فَهِمَهَا الْخَلْقُ بِنَوْعِ مُنَاسَبَةٍ
تَوَهَّمُوهَا إِلَى عِلْمِهِمْ وَقُدْرَتِهِمْ، إِذْ كَانَ لَهُمْ مِنَ
الْأَوْصَافِ مَا يُسَمَّى عِلْمًا وَقُدْرَةً، فَيَتَوَهَّمُونَ ذَلِكَ بِنَوْعِ
مُقَايَسَةٍ.
Bahkan dalam sifat-sifat Allah عز وجل terdapat hal-hal yang sangat samar, yang
tidak dapat dijangkau oleh pemahaman kebanyakan manusia. Rasulullah صلى الله عليه
وسلم tidak menyebutkan darinya kecuali hal-hal yang secara lahir
dapat dipahami, seperti ilmu, kuasa, dan selain keduanya, agar manusia dapat
memahaminya melalui semacam kesesuaian yang mereka bayangkan dengan ilmu dan
kuasa mereka sendiri. Sebab mereka memiliki sifat yang juga disebut ilmu dan
kuasa, maka mereka pun membayangkannya dengan suatu bentuk perbandingan.
وَلَوْ
ذَكَرَ مِنْ صِفَاتِهِ مَا لَيْسَ لِلْخَلْقِ مِمَّا يُنَاسِبُهُ بَعْضَ
الْمُنَاسَبَةِ شَيْءٌ لَمْ يَفْهَمُوهُ، بَلْ لَذَّةُ الْجِمَاعِ إِذَا ذُكِرَتْ
لِلصَّبِيِّ أَوِ الْعِنِّينِ لَمْ يَفْهَمْهَا إِلَّا بِمُنَاسَبَةٍ إِلَى
لَذَّةِ الْمَطْعُومِ الَّذِي يُدْرِكُهُ، وَلَا يَكُونُ ذَلِكَ فَهْمًا عَلَى
التَّحْقِيقِ.
Kalau disebutkan kepada mereka sifat-sifat Allah yang pada makhluk tidak ada
sesuatu pun yang dapat menjadi pendekat maknanya, niscaya mereka tidak akan
memahaminya. Bahkan kenikmatan hubungan suami istri, apabila dijelaskan kepada
anak kecil atau orang impoten, ia tidak akan memahaminya kecuali dengan
mengaitkannya pada kenikmatan makanan yang telah ia kenal. Itu pun bukanlah
pemahaman yang sebenarnya.
وَالْمُخَالَفَةُ
بَيْنَ عِلْمِ اللهِ تَعَالَى وَقُدْرَتِهِ وَعِلْمِ الْخَلْقِ وَقُدْرَتِهِمْ
أَكْثَرُ مِنَ الْمُخَالَفَةِ بَيْنَ لَذَّةِ الْجِمَاعِ وَالْأَكْلِ.
Perbedaan antara ilmu dan kuasa Allah Ta‘ala dengan ilmu dan kuasa makhluk jauh
lebih besar daripada perbedaan antara kenikmatan hubungan suami istri dengan
kenikmatan makan.
وَبِالْجُمْلَةِ
فَلَا يُدْرِكُ الْإِنْسَانُ إِلَّا نَفْسَهُ وَصِفَاتِ نَفْسِهِ، مِمَّا هِيَ
حَاضِرَةٌ لَهُ فِي الْحَالِ أَوْ مِمَّا كَانَتْ لَهُ مِنْ قَبْلُ، ثُمَّ
بِالْمُقَايَسَةِ إِلَيْهِ يَفْهَمُ ذَلِكَ لِغَيْرِهِ، ثُمَّ قَدْ يُصَدِّقُ
بِأَنَّ بَيْنَهُمَا تَفَاوُتًا فِي الشَّرَفِ وَالْكَمَالِ.
Singkatnya, manusia tidak memahami selain dirinya sendiri dan sifat-sifat
dirinya, baik yang sedang hadir padanya saat ini maupun yang pernah ia alami
sebelumnya. Kemudian dengan membandingkannya kepada dirinya itulah ia memahami
hal itu pada selain dirinya. Lalu ia mungkin membenarkan bahwa di antara
keduanya terdapat perbedaan dalam kemuliaan dan kesempurnaan.
فَلَيْسَ
فِي قُوَّةِ الْبَشَرِ إِلَّا أَنْ يُثْبِتَ لِلهِ تَعَالَى مَا هُوَ ثَابِتٌ
لِنَفْسِهِ مِنَ الْفِعْلِ وَالْعِلْمِ وَالْقُدْرَةِ وَغَيْرِهَا مِنَ
الصِّفَاتِ، مَعَ التَّصْدِيقِ بِأَنَّ ذَلِكَ أَكْمَلُ وَأَشْرَفُ، فَيَكُونُ
مُعْظَمُ تَحْرِيمِهِ عَلَى صِفَاتِ نَفْسِهِ لَا عَلَى مَا اخْتَصَّ الرَّبُّ
تَعَالَى بِهِ مِنَ الْجَلَالِ.
Tidak ada kemampuan manusia selain menetapkan bagi Allah Ta‘ala apa yang juga
ia ketahui ada pada dirinya, seperti perbuatan, ilmu, kuasa, dan sifat-sifat
lainnya, sambil membenarkan bahwa semua itu pada Allah jauh lebih sempurna dan
lebih mulia. Dengan demikian, kebanyakan penggambarannya kembali kepada
sifat-sifat dirinya sendiri, bukan kepada keagungan khusus yang hanya dimiliki
oleh Tuhan Ta‘ala.
وَلِذَلِكَ
قَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لَا أُحْصِي ثَنَاءً عَلَيْكَ، أَنْتَ
كَمَا أَثْنَيْتَ عَلَى نَفْسِكَ.
Karena itu beliau صلى
الله عليه وسلم bersabda: “Aku tidak mampu menghitung pujian untuk-Mu. Engkau
sebagaimana Engkau memuji diri-Mu sendiri.”
وَلَيْسَ
الْمَعْنَى أَنِّي أَعْجِزُ عَنِ التَّعْبِيرِ عَمَّا أَدْرَكْتُهُ، بَلْ هُوَ
اعْتِرَافٌ بِالْقُصُورِ عَنْ إِدْرَاكِ كُنْهِ جَلَالِهِ.
Maknanya bukan bahwa aku tidak mampu mengungkapkan apa yang telah aku pahami,
melainkan pengakuan akan keterbatasan dalam menjangkau hakikat keagungan-Nya.
وَلِذَلِكَ
قَالَ بَعْضُهُمْ: مَا عَرَفَ اللهَ بِالْحَقِيقَةِ سِوَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ.
Karena itu sebagian mereka berkata: Tidak ada yang benar-benar mengenal Allah
secara hakiki selain Allah عز وجل
sendiri.
وَقَالَ
الصِّدِّيقُ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ: الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي لَمْ يَجْعَلْ
لِلْخَلْقِ سَبِيلًا إِلَى مَعْرِفَتِهِ إِلَّا بِالْعَجْزِ عَنْ مَعْرِفَتِهِ.
Dan ash-Shiddiq رضي
الله عنه berkata: Segala puji bagi Allah yang tidak menjadikan bagi
makhluk jalan untuk mengenal-Nya kecuali dengan mengakui ketidakmampuan untuk
mengenal-Nya.
وَلْنَقْبِضْ
عِنَانَ الْكَلَامِ عَنْ هَذَا النَّمَطِ، وَلْنَرْجِعْ إِلَى الْغَرَضِ، وَهُوَ
أَنَّ أَحَدَ الْأَقْسَامِ مَا تَكِلُّ الْأَفْهَامُ عَنْ إِدْرَاكِهِ، وَمِنْ
جُمْلَتِهِ الرُّوحُ، وَمِنْ جُمْلَتِهِ بَعْضُ صِفَاتِ اللهِ تَعَالَى.
Marilah kita tahan pembicaraan tentang corak ini dan kembali kepada tujuan
semula, yaitu bahwa salah satu bagiannya adalah sesuatu yang akal manusia lemah
untuk memahaminya. Termasuk di dalamnya ruh, dan termasuk pula sebagian sifat
Allah Ta‘ala.
وَلَعَلَّ
الْإِشَارَةَ إِلَى مِثْلِهِ فِي قَوْلِهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنَّ
لِلَّهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى سَبْعِينَ حِجَابًا مِنْ نُورٍ، لَوْ كَشَفَهَا
لَأَحْرَقَتْ سُبُحَاتُ وَجْهِهِ كُلَّ مَنْ أَدْرَكَهُ بَصَرُهُ.
Barangkali isyarat kepada hal semacam ini terdapat dalam sabda beliau صلى الله عليه
وسلم: “Sesungguhnya Allah سبحانه وتعالى memiliki tujuh puluh hijab dari cahaya.
Jika hijab-hijab itu disingkap, niscaya sinar-sinar wajah-Nya akan membakar
setiap sesuatu yang dijangkau oleh pandangan-Nya.”
الْقِسْمُ
الثَّانِي مِنَ الْخَفِيَّاتِ الَّتِي تَمْتَنِعُ الْأَنْبِيَاءُ وَالصِّدِّيقُونَ
عَنْ ذِكْرِهَا مَا هُوَ مَفْهُومٌ فِي نَفْسِهِ، لَا تَكِلُّ الْفَهْمُ عَنْهُ،
لَكِنَّ ذِكْرَهُ يَضُرُّ بِأَكْثَرِ الْمُسْتَمِعِينَ، وَلَا يَضُرُّ
بِالْأَنْبِيَاءِ وَالصِّدِّيقِينَ.
Bagian kedua dari hal-hal tersembunyi yang para nabi dan shiddiqin menahan diri
untuk menyebutkannya adalah sesuatu yang pada dirinya dapat dipahami, akal
tidak lemah untuk memahaminya, tetapi penyebutannya membahayakan kebanyakan
pendengar, meskipun tidak membahayakan para nabi dan shiddiqin.
وَسِرُّ
الْقَدَرِ الَّذِي مُنِعَ أَهْلُ الْعِلْمِ مِنْ إِفْشَائِهِ مِنْ هَذَا الْقِسْمِ.
Rahasia takdir yang para ulama dilarang untuk menyingkapkannya termasuk dalam
bagian ini.
فَلَا
يَبْعُدُ أَنْ يَكُونَ ذِكْرُ بَعْضِ الْحَقَائِقِ مُضِرًّا بِبَعْضِ الْخَلْقِ،
كَمَا يَضُرُّ نُورُ الشَّمْسِ بِأَبْصَارِ الْخَفَافِيشِ، وَكَمَا تَضُرُّ
رِيَاحُ الْوَرْدِ بِالْجُعَلِ.
Tidaklah mustahil bahwa penyebutan sebagian hakikat justru membahayakan
sebagian makhluk, sebagaimana cahaya matahari membahayakan penglihatan
kelelawar, dan sebagaimana aroma bunga mawar membahayakan kumbang kotoran.
وَكَيْفَ
يَبْعُدُ هَذَا وَقَوْلُنَا إِنَّ الْكُفْرَ وَالزِّنَا وَالْمَعَاصِيَ
وَالشُّرُورَ كُلَّهُ بِقَضَاءِ اللهِ تَعَالَى وَإِرَادَتِهِ وَمَشِيئَتِهِ حَقٌّ
فِي نَفْسِهِ، وَقَدْ أَضَرَّ سَمَاعُهُ بِقَوْمٍ إِذْ أَوْهَمَ ذَلِكَ عِنْدَهُمْ
أَنَّهُ دَلَالَةٌ عَلَى السَّفَهِ وَنَقِيضِ الْحِكْمَةِ وَالرِّضَا بِالْقَبِيحِ
وَالظُّلْمِ؟
Bagaimana hal itu dianggap jauh, padahal ucapan kita bahwa kekafiran, zina,
maksiat, dan seluruh keburukan semuanya terjadi dengan qadha, iradah, dan
kehendak Allah Ta‘ala adalah benar pada dirinya; namun mendengarnya telah
membahayakan sebagian orang, karena hal itu menimbulkan dugaan pada mereka
bahwa itu menunjukkan kebodohan, lawan dari hikmah, kerelaan terhadap
keburukan, dan kezaliman?
وَقَدْ
أَلْحَدَ ابْنُ الرَّاوَنْدِيِّ وَطَائِفَةٌ مِنَ الْمَخْذُولِينَ بِمِثْلِ ذَلِكَ.
Bahkan Ibnu ar-Rawandi dan sekelompok orang yang terhinakan telah menjadi sesat
karena perkara semacam ini.
وَكَذَلِكَ
سِرُّ الْقَدَرِ لَوْ أُفْشِيَ لَأَوْهَمَ عِنْدَ أَكْثَرِ الْخَلْقِ عَجْزًا،
إِذْ تَقْصُرُ أَفْهَامُهُمْ عَنْ إِدْرَاكِ مَا يُزِيلُ ذَلِكَ الْوَهْمَ
عَنْهُمْ.
Demikian pula rahasia takdir, jika diungkapkan, niscaya akan menimbulkan kesan
kelemahan di benak kebanyakan manusia, karena pemahaman mereka tidak sanggup
menjangkau apa yang dapat menghilangkan kesan salah itu dari diri mereka.
وَلَوْ
قَالَ قَائِلٌ إِنَّ الْقِيَامَةَ لَوْ ذُكِرَ مِيقَاتُهَا وَأَنَّهَا بَعْدَ
أَلْفِ سَنَةٍ أَوْ أَكْثَرَ أَوْ أَقَلَّ لَكَانَ مَفْهُومًا، وَلَكِنْ لَمْ
يُذْكَرْ لِمَصْلَحَةِ الْعِبَادِ وَخَوْفًا مِنَ الضَّرَرِ، فَلَعَلَّ الْمُدَّةَ
إِلَيْهَا بَعِيدَةٌ فَيَطُولُ الْأَمَدُ، وَإِذَا اسْتَبْطَأَتِ النُّفُوسُ
وَقْتَ الْعِقَابِ قَلَّ اكْتِرَاثُهَا، وَلَعَلَّهَا كَانَتْ قَرِيبَةً فِي
عِلْمِ اللهِ سُبْحَانَهُ، وَلَوْ ذُكِرَتْ لَعَظُمَ الْخَوْفُ وَأَعْرَضَ
النَّاسُ عَنِ الْأَعْمَالِ وَخَرِبَتِ الدُّنْيَا، فَهَذَا الْمَعْنَى لَوِ
اتَّجَهَ وَصَحَّ فَيَكُونُ مِثَالًا لِهَذَا الْقِسْمِ.
Seandainya ada orang berkata: jika waktu terjadinya kiamat disebutkan, bahwa ia
akan datang setelah seribu tahun, atau lebih, atau kurang, tentu hal itu dapat
dipahami. Namun ia tidak disebutkan demi kemaslahatan hamba dan karena khawatir
timbul mudarat. Boleh jadi jaraknya masih jauh sehingga masa penantian menjadi
panjang. Jika jiwa-jiwa menganggap waktu azab masih lama, maka perhatian mereka
menjadi kecil. Dan boleh jadi pula kiamat itu dekat dalam ilmu Allah سبحانه.
Jika waktunya disebutkan, niscaya rasa takut akan sangat besar, orang-orang
berpaling dari berbagai pekerjaan, dan dunia menjadi rusak. Jika makna ini
dapat diterima dan benar, maka ia menjadi contoh bagi bagian ini.
الْقِسْمُ
الثَّالِثُ أَنْ يَكُونَ الشَّيْءُ بِحَيْثُ لَوْ ذُكِرَ صَرِيحًا لَفُهِمَ وَلَمْ
يَكُنْ فِيهِ ضَرَرٌ، وَلَكِنْ يُكَنَّى عَنْهُ عَلَى سَبِيلِ الِاسْتِعَارَةِ
وَالرَّمْزِ لِيَكُونَ وَقْعُهُ فِي قَلْبِ الْمُسْتَمِعِ أَغْلَبَ، وَلَهُ
مَصْلَحَةٌ فِي أَنْ يُعَظَّمَ وَقْتُ ذَلِكَ الْأَمْرِ فِي قَلْبِهِ.
Bagian ketiga: sesuatu itu andaikan disebutkan secara terang-terangan akan
dapat dipahami dan tidak mengandung bahaya. Akan tetapi, ia diungkapkan dengan
kiasan dan simbol, agar pengaruhnya lebih kuat di dalam hati pendengar, dan
agar muncul kemaslahatan berupa pengagungan perkara itu di dalam hatinya.
كَمَا
لَوْ قَالَ قَائِلٌ: رَأَيْتُ فُلَانًا يُقَلِّدُ الدُّرَّ فِي أَعْنَاقِ
الْخَنَازِيرِ، فَكَنَّى بِهِ عَنْ إِفْشَاءِ الْعِلْمِ وَبَثِّ الْحِكْمَةِ إِلَى
غَيْرِ أَهْلِهَا.
Misalnya seseorang berkata: “Aku melihat si fulan mengalungkan mutiara pada
leher-leher babi.” Dengan ungkapan itu ia mengisyaratkan penyebaran ilmu dan
penaburan hikmah kepada orang yang bukan ahlinya.
فَالْمُسْتَمِعُ
قَدْ يَسْبِقُ إِلَى فَهْمِهِ ظَاهِرُ اللَّفْظِ، وَالْمُحَقِّقُ إِذَا نَظَرَ
وَعَلِمَ أَنَّ ذَلِكَ الْإِنْسَانَ لَمْ يَكُنْ مَعَهُ دُرٌّ وَلَا كَانَ فِي
مَوْضِعِهِ خِنْزِيرٌ تَفَطَّنَ لِدَرْكِ السِّرِّ وَالْبَاطِنِ، فَيَتَفَاوَتُ
النَّاسُ فِي ذَلِكَ.
Pendengar biasa mungkin akan lebih dahulu memahami makna lahir dari lafaz
tersebut. Tetapi orang yang mendalam ilmunya, jika ia memperhatikan dan tahu
bahwa orang itu tidak membawa mutiara dan tidak pula ada babi di tempat itu,
maka ia akan sadar untuk menangkap rahasia dan makna batinnya. Dengan demikian,
manusia berbeda-beda dalam hal ini.
وَمِنْ
هَذَا قَالَ الشَّاعِرُ: رَجُلَانِ خَيَّاطٌ وَآخَرُ حَائِكٌ، مُتَقَابِلَانِ
عَلَى السِّمَاكِ الْأَعْزَلِ، لَا زَالَ يَنْسُجُ ذَاكَ خِرْقَةَ مُدْبِرٍ،
وَيَخِيطُ صَاحِبُهُ ثِيَابَ الْمُقْبِلِ.
Termasuk dalam hal ini adalah ucapan seorang penyair: “Dua orang, yang satu
penjahit dan yang lain penenun, saling berhadapan di atas as-Simak al-A‘zal.
Yang satu terus menenun kain bagi yang pergi, dan temannya menjahit pakaian
bagi yang datang.”
فَإِنَّهُ
عَبَّرَ عَنْ سَبَبٍ سَمَاوِيٍّ فِي الْإِقْبَالِ وَالْإِدْبَارِ بِرَجُلَيْنِ
صَانِعَيْنِ.
Sesungguhnya ia mengungkapkan suatu sebab langit yang berkaitan dengan datang
dan perginya sesuatu dengan dua sosok pekerja.
وَهَذَا
النَّوْعُ يَرْجِعُ إِلَى التَّعْبِيرِ عَنِ الْمَعْنَى بِالصُّورَةِ الَّتِي
تَتَضَمَّنُ عَيْنَ الْمَعْنَى أَوْ مِثْلَهُ.
Jenis ini kembali kepada pengungkapan makna melalui gambaran yang memuat makna
itu sendiri atau sesuatu yang serupa dengannya.
وَمِنْهُ
قَوْلُهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنَّ الْمَسْجِدَ لَيَنْزَوِي مِنَ
النُّخَامَةِ كَمَا تَنْزَوِي الْجِلْدَةُ عَلَى النَّارِ.
Termasuk di dalamnya sabda beliau صلى الله عليه وسلم: “Sesungguhnya masjid itu menyusut karena
ludah, sebagaimana kulit menyusut di atas api.”
وَأَنْتَ
تَرَى أَنَّ سَاحَةَ الْمَسْجِدِ لَا تَنْقَبِضُ بِالنُّخَامَةِ، وَمَعْنَاهُ
أَنَّ رُوحَ الْمَسْجِدِ كَوْنُهُ مُعَظَّمًا، وَرَمْيُ النُّخَامَةِ فِيهِ
تَحْقِيرٌ لَهُ، فَيُضَادُّ مَعْنَى الْمَسْجِدِيَّةِ مُضَادَّةَ النَّارِ
لِاتِّصَالِ أَجْزَاءِ الْجِلْدَةِ.
Engkau tentu melihat bahwa halaman masjid secara fisik tidak menyusut karena
ludah. Maknanya adalah bahwa ruh masjid terletak pada kehormatannya, sedangkan
membuang ludah di dalamnya merupakan penghinaan kepadanya. Maka hal itu
berlawanan dengan makna kemasjidan, sebagaimana api berlawanan dengan sambungan
bagian-bagian kulit.
وَكَذَلِكَ
قَوْلُهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَمَا يَخْشَى الَّذِي يَرْفَعُ
رَأْسَهُ قَبْلَ الْإِمَامِ أَنْ يُحَوِّلَ اللهُ رَأْسَهُ رَأْسَ حِمَارٍ؟
Demikian pula sabda beliau صلى
الله عليه وسلم: “Tidakkah takut orang yang mengangkat kepalanya sebelum imam,
bahwa Allah akan mengubah kepalanya menjadi kepala keledai?”
وَذَلِكَ
مِنْ حَيْثُ الصُّورَةِ لَمْ يَكُنْ قَطُّ وَلَا يَكُونُ، وَلَكِنْ مِنْ حَيْثُ
الْمَعْنَى هُوَ كَائِنٌ، إِذْ رَأْسُ الْحِمَارِ لَمْ يَكُنْ بِحَقِيقَتِهِ
لِكَوْنِهِ وَشَكْلِهِ، بَلْ بِخَاصِّيَّتِهِ وَهِيَ الْبَلَادَةُ وَالْحُمْقُ.
Hal itu dari sisi bentuk lahiriah tidak pernah terjadi dan tidak akan terjadi.
Tetapi dari sisi makna, itu benar-benar terjadi. Sebab kepala keledai bukanlah
disebut demikian karena keberadaan dan bentuknya semata, melainkan karena sifat
khususnya, yaitu kebodohan dan kedunguan.
وَمَنْ
رَفَعَ رَأْسَهُ قَبْلَ الْإِمَامِ فَقَدْ صَارَ رَأْسُهُ رَأْسَ حِمَارٍ فِي
مَعْنَى الْبَلَادَةِ وَالْحُمْقِ، وَهُوَ الْمَقْصُودُ دُونَ الشَّكْلِ الَّذِي
هُوَ قَالَبُ الْمَعْنَى.
Orang yang mengangkat kepalanya sebelum imam, sungguh kepalanya telah menjadi
kepala keledai dalam makna kebodohan dan kedunguan. Itulah yang dimaksud, bukan
bentuk fisik yang hanya merupakan wadah dari makna.
إِذْ
مِنْ غَايَةِ الْحُمْقِ أَنْ يَجْمَعَ بَيْنَ الِاقْتِدَاءِ وَبَيْنَ
التَّقَدُّمِ، فَإِنَّهُمَا مُتَنَاقِضَانِ.
Sebab puncak kedunguan adalah menggabungkan antara mengikuti dan mendahului,
padahal keduanya saling bertentangan.
وَإِنَّمَا
يُعْرَفُ أَنَّ هَذَا السِّرَّ عَلَى خِلَافِ الظَّاهِرِ إِمَّا بِدَلِيلٍ
عَقْلِيٍّ أَوْ شَرْعِيٍّ.
Diketahui bahwa rahasia ini berbeda dari makna lahir, baik dengan dalil akal
maupun dalil syariat.
أَمَّا
الْعَقْلِيُّ فَأَنْ يَكُونَ حَمْلُهُ عَلَى الظَّاهِرِ غَيْرَ مُمْكِنٍ،
كَقَوْلِهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: قَلْبُ الْمُؤْمِنِ بَيْنَ
إِصْبَعَيْنِ مِنْ أَصَابِعِ الرَّحْمَنِ.
Adapun dalil akal, yaitu ketika memaknai lafaz sesuai zahirnya tidak mungkin
dilakukan, seperti sabda beliau صلى الله عليه وسلم: “Hati orang mukmin berada di antara dua
jari dari jari-jari ar-Rahman.”
إِذْ
لَوْ فَتَّشْنَا عَنْ قُلُوبِ الْمُؤْمِنِينَ لَمْ نَجِدْ فِيهَا أَصَابِعَ،
فَعُلِمَ أَنَّهَا كِنَايَةٌ عَنِ الْقُدْرَةِ الَّتِي هِيَ سِرُّ الْأَصَابِعِ
وَرُوحُهَا الْخَفِيُّ، وَكُنِّيَ بِالْأَصَابِعِ عَنِ الْقُدْرَةِ لِأَنَّ ذَلِكَ
أَعْظَمُ وَقْعًا فِي تَفَهُّمِ تَمَامِ الِاقْتِدَارِ.
Sebab, jika kita memeriksa hati orang-orang mukmin, tentu kita tidak akan
menemukan jari-jari di dalamnya. Maka diketahui bahwa itu adalah kiasan tentang
kekuasaan, yang merupakan rahasia jari-jari dan ruh tersembunyinya. Jari-jari
dijadikan kiasan bagi kekuasaan karena ungkapan itu lebih kuat pengaruhnya
dalam memberikan pemahaman tentang kesempurnaan kuasa.
وَمِنْ
هَذَا الْقَبِيلِ فِي كِنَايَتِهِ عَنِ الِاقْتِدَارِ قَوْلُهُ تَعَالَى: إِنَّمَا
قَوْلُنَا لِشَيْءٍ إِذَا أَرَدْنَاهُ أَنْ نَقُولَ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ.
Termasuk jenis ini dalam pengungkapan tentang kuasa adalah firman Allah Ta‘ala:
“Sesungguhnya perkataan Kami terhadap sesuatu apabila Kami menghendakinya
hanyalah berkata kepadanya: ‘Jadilah!’ maka jadilah ia.”
فَإِنَّ
ظَاهِرَهُ مُمْتَنِعٌ، إِذْ قَوْلُهُ كُنْ إِنْ كَانَ خِطَابًا لِلشَّيْءِ قَبْلَ
وُجُودِهِ فَهُوَ مُحَالٌ، إِذِ الْمَعْدُومُ لَا يَفْهَمُ الْخِطَابَ حَتَّى
يَمْتَثِلَ، وَإِنْ كَانَ بَعْدَ الْوُجُودِ فَهُوَ مُسْتَغْنٍ عَنِ التَّكْوِينِ.
Sebab makna lahiriahnya mustahil. Jika kata “Jadilah” itu merupakan khitab
kepada sesuatu sebelum ia ada, maka itu mustahil, karena sesuatu yang belum ada
tidak dapat memahami perintah untuk kemudian melaksanakannya. Dan jika khitab
itu setelah sesuatu itu ada, maka ia sudah tidak memerlukan lagi penciptaan.
وَلَكِنْ
لَمَّا كَانَتْ هَذِهِ الْكِنَايَةُ أَوْقَعَ فِي النُّفُوسِ فِي تَفْهِيمِ
غَايَةِ الِاقْتِدَارِ عُدِلَ إِلَيْهَا.
Akan tetapi, karena kiasan ini lebih berpengaruh dalam jiwa untuk memberikan
pemahaman tentang puncak kekuasaan, maka dipilihlah ungkapan itu.
وَأَمَّا
الْمُدْرَكُ بِالشَّرْعِ فَهُوَ أَنْ يَكُونَ إِجْرَاؤُهُ عَلَى الظَّاهِرِ
مُمْكِنًا، وَلَكِنْ يُرْوَى أَنَّهُ أُرِيدَ بِهِ غَيْرُ الظَّاهِرِ، كَمَا
وَرَدَ فِي تَفْسِيرِ قَوْلِهِ تَعَالَى: أَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً
فَسَالَتْ أَوْدِيَةٌ بِقَدَرِهَا الْآيَةَ، وَأَنَّ مَعْنَى الْمَاءِ هَهُنَا
هُوَ الْقُرْآنُ، وَمَعْنَى الْأَوْدِيَةِ هِيَ الْقُلُوبُ، وَأَنَّ بَعْضَهَا
احْتَمَلَ شَيْئًا كَثِيرًا وَبَعْضَهَا قَلِيلًا وَبَعْضَهَا لَمْ يَحْتَمِلْ.
Adapun yang diketahui melalui syariat ialah ketika pemaknaan lahirnya masih
mungkin, namun diriwayatkan bahwa yang dimaksud adalah selain makna lahir
tersebut. Seperti yang disebutkan dalam tafsir firman Allah Ta‘ala: “Dia
menurunkan air dari langit, lalu mengalirlah lembah-lembah menurut ukurannya,”
bahwa yang dimaksud dengan air di sini adalah Al-Qur’an, sedangkan
lembah-lembah adalah hati. Sebagian hati menampung banyak, sebagian sedikit,
dan sebagian lagi tidak dapat menampung sama sekali.
وَالزَّبَدُ
مِثْلُ الْكُفْرِ وَالنِّفَاقِ، فَإِنَّهُ وَإِنْ ظَهَرَ وَطَفَا عَلَى رَأْسِ
الْمَاءِ فَإِنَّهُ لَا يَثْبُتُ، وَالْهِدَايَةُ الَّتِي تَنْفَعُ النَّاسَ
تَمْكُثُ.
Buih itu seperti kekufuran dan kemunafikan. Walaupun ia tampak dan mengapung di
permukaan air, ia tidak akan menetap. Sedangkan petunjuk yang bermanfaat bagi
manusia akan tetap tinggal.
وَفِي
هَذَا الْقِسْمِ تَعَمَّقَ جَمَاعَةٌ، فَأَوَّلُوا مَا وَرَدَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ
الْمِيزَانِ وَالصِّرَاطِ وَغَيْرِهِمَا، وَهُوَ بِدْعَةٌ، إِذْ لَمْ يُنْقَلْ
ذَلِكَ بِطَرِيقِ الرِّوَايَةِ، وَإِجْرَاؤُهُ عَلَى الظَّاهِرِ غَيْرُ مُحَالٍ،
فَيَجِبُ إِجْرَاؤُهُ عَلَى الظَّاهِرِ.
Dalam bagian ini, sekelompok orang telah melampaui batas. Mereka menakwil
perkara-perkara akhirat seperti mizan, shirath, dan lainnya. Itu adalah bid‘ah,
karena penakwilan seperti itu tidak dinukil melalui riwayat, dan memaknainya
sesuai lahirnya tidak mustahil. Karena itu, ia wajib dipahami menurut makna
lahirnya.
الْقِسْمُ
الرَّابِعُ أَنْ يُدْرِكَ الْإِنْسَانُ الشَّيْءَ جُمْلَةً، ثُمَّ يُدْرِكَهُ
تَفْصِيلًا بِالتَّحْقِيقِ وَالذَّوْقِ بِأَنْ يَصِيرَ حَالًا مُلَابِسًا لَهُ،
فَيَتَفَاوَتُ الْعِلْمَانِ، وَيَكُونُ الْأَوَّلُ كَالْقِشْرِ وَالثَّانِي
كَاللُّبَابِ، وَالْأَوَّلُ كَالظَّاهِرِ وَالثَّانِي كَالْبَاطِنِ.
Bagian keempat: seseorang memahami suatu hal secara global, kemudian
memahaminya secara rinci melalui pembuktian dan pengalaman rasa, dengan cara
hal itu menjadi keadaan yang benar-benar dialaminya. Maka dua pengetahuan itu
berbeda tingkatnya. Yang pertama seperti kulit, dan yang kedua seperti inti.
Yang pertama seperti lahir, dan yang kedua seperti batin.
وَذَلِكَ
كَمَا يَتَمَثَّلُ لِلْإِنْسَانِ فِي عَيْنِهِ شَخْصٌ فِي الظُّلْمَةِ أَوْ عَلَى
الْبُعْدِ، فَيَحْصُلُ لَهُ نَوْعُ عِلْمٍ، فَإِذَا رَآهُ بِالْقُرْبِ أَوْ بَعْدَ
زَوَالِ الظَّلَامِ أَدْرَكَ تَفْرِقَةً بَيْنَهُمَا، وَلَا يَكُونُ الْأَخِيرُ
ضِدَّ الْأَوَّلِ بَلْ هُوَ اسْتِكْمَالٌ لَهُ.
Hal itu seperti seseorang melihat sosok dalam gelap atau dari kejauhan,
sehingga ia memperoleh sejenis pengetahuan. Ketika ia melihatnya dari dekat
atau setelah gelap hilang, ia menyadari perbedaan antara keduanya. Pengetahuan
yang kedua itu bukan lawan dari yang pertama, melainkan penyempurna baginya.
فَكَذَلِكَ
الْعِلْمُ وَالْإِيمَانُ وَالتَّصْدِيقُ، إِذْ قَدْ يُصَدِّقُ الْإِنْسَانُ
بِوُجُودِ الْعِشْقِ وَالْمَرَضِ وَالْمَوْتِ قَبْلَ وُقُوعِهِ، وَلَكِنْ
تَحَقُّقُهُ بِهِ عِنْدَ الْوُقُوعِ أَكْمَلُ مِنْ تَحَقُّقِهِ قَبْلَ الْوُقُوعِ.
Demikian pula ilmu, iman, dan pembenaran. Seseorang mungkin membenarkan adanya
cinta, sakit, dan kematian sebelum ia mengalaminya. Namun kepastian
pengetahuannya tentang hal itu ketika benar-benar terjadi jauh lebih sempurna
daripada kepastian sebelumnya.
بَلْ
لِلْإِنْسَانِ فِي الشَّهْوَةِ وَالْعِشْقِ وَسَائِرِ الْأَحْوَالِ ثَلَاثَةُ
أَحْوَالٍ مُتَفَاوِتَةٌ وَإِدْرَاكَاتٌ مُتَبَايِنَةٌ.
Bahkan manusia dalam syahwat, cinta, dan keadaan-keadaan lainnya memiliki tiga
keadaan yang berbeda dan tiga bentuk pemahaman yang berlainan.
الْأَوَّلُ
تَصْدِيقُهُ بِوُجُودِهِ قَبْلَ وُقُوعِهِ.
Pertama, pembenarannya terhadap keberadaan hal itu sebelum terjadi.
وَالثَّانِي
عِنْدَ وُقُوعِهِ.
Kedua, ketika hal itu terjadi.
وَالثَّالِثُ
بَعْدَ تَصَرُّفِهِ.
Ketiga, setelah keadaan itu berlalu.
فَإِنَّ
تَحَقُّقَكَ بِالْجُوعِ بَعْدَ زَوَالِهِ يُخَالِفُ التَّحَقُّقَ قَبْلَ
الزَّوَالِ، وَكَذَلِكَ مِنْ عُلُومِ الدِّينِ مَا يَصِيرُ ذَوْقًا فَيَكْمُلُ،
فَيَكُونُ ذَلِكَ كَالْبَاطِنِ بِالْإِضَافَةِ إِلَى مَا قَبْلَ ذَلِكَ، فَفَرْقٌ
بَيْنَ عِلْمِ الْمَرِيضِ بِالصِّحَّةِ وَبَيْنَ عِلْمِ الصَّحِيحِ بِهَا.
Sesungguhnya pengetahuanmu tentang lapar setelah lapar itu hilang berbeda
dengan pengetahuanmu sebelum hilangnya lapar itu. Demikian pula, dalam
ilmu-ilmu agama ada yang berubah menjadi rasa pengalaman, lalu menjadi
sempurna. Maka itu menjadi seperti batin dibandingkan dengan keadaan
sebelumnya. Karena itu, ada perbedaan antara pengetahuan orang sakit tentang
sehat dan pengetahuan orang sehat tentang sehat.
فَفِي
هَذِهِ الْأَقْسَامِ الْأَرْبَعَةِ تَتَفَاوَتُ الْخَلْقُ، وَلَيْسَ فِي شَيْءٍ
مِنْهَا بَاطِنٌ يُنَاقِضُ الظَّاهِرَ، بَلْ يُتِمُّهُ وَيُكَمِّلُهُ كَمَا
يُتِمُّ اللُّبُّ الْقِشْرَ، وَالسَّلَامُ.
Dalam empat bagian ini manusia berbeda-beda tingkatnya. Tidak ada pada satu pun
darinya batin yang bertentangan dengan lahir. Bahkan batin itu melengkapinya
dan menyempurnakannya, sebagaimana inti menyempurnakan kulit. Selesai.
الْخَامِسُ
أَنْ يُعَبَّرَ بِلِسَانِ الْمَقَالِ عَنْ لِسَانِ الْحَالِ، فَالْقَاصِرُ
الْفَهْمِ يَقِفُ عَلَى الظَّاهِرِ وَيَعْتَقِدُهُ نُطْقًا، وَالْبَصِيرُ
بِالْحَقَائِقِ يُدْرِكُ السِّرَّ فِيهِ.
Bagian kelima: sesuatu diungkapkan dengan bahasa ucapan untuk menggambarkan
bahasa keadaan. Orang yang dangkal pemahamannya berhenti pada makna lahir dan
menganggapnya sebagai ucapan sungguhan. Sedangkan orang yang tajam pandangannya
terhadap hakikat memahami rahasia di dalamnya.
وَهَذَا
كَقَوْلِ الْقَائِلِ: قَالَ الْجِدَارُ لِلْوَتَدِ لِمَ تَشُقُّنِي؟ قَالَ سَلْ
مَنْ يَدُقُّنِي، فَلَمْ يَتْرُكْنِي وَرَائِيَ الْحَجَرُ الَّذِي وَرَائِي.
Ini seperti ucapan seseorang: “Dinding berkata kepada pasak: mengapa engkau
membelahku? Pasak menjawab: tanyalah kepada orang yang memukulku; ia tidak
membiarkanku karena batu yang ada di belakangku.”
فَهَذَا
تَعْبِيرٌ عَنْ لِسَانِ الْحَالِ بِلِسَانِ الْمَقَالِ.
Ini adalah ungkapan tentang bahasa keadaan dengan bahasa ucapan.
وَمِنْ
هَذَا قَوْلُهُ تَعَالَى: ثُمَّ اسْتَوَى إِلَى السَّمَاءِ وَهِيَ دُخَانٌ فَقَالَ
لَهَا وَلِلْأَرْضِ ائْتِيَا طَوْعًا أَوْ كَرْهًا قَالَتَا أَتَيْنَا طَائِعِينَ.
Termasuk dalam hal ini adalah firman Allah Ta‘ala: “Kemudian Dia menuju kepada
langit, sedang langit itu masih berupa asap, lalu Dia berfirman kepadanya dan
kepada bumi: datanglah kalian berdua dengan patuh atau terpaksa. Keduanya
menjawab: kami datang dengan patuh.”
فَالْبَلِيدُ
يَفْتَقِرُ فِي فَهْمِهِ إِلَى أَنْ يُقَدِّرَ لَهُمَا حَيَاةً وَعَقْلًا
وَفَهْمًا لِلْخِطَابِ، وَخِطَابًا هُوَ صَوْتٌ وَحَرْفٌ تَسْمَعُهُ السَّمَاءُ
وَالْأَرْضُ، فَتُجِيبَانِ بِحَرْفٍ وَصَوْتٍ وَتَقُولَانِ: أَتَيْنَا طَائِعِينَ.
Orang yang tumpul pemahamannya merasa perlu membayangkan bahwa langit dan bumi
memiliki hidup, akal, dan kemampuan memahami khitab, serta ada ucapan berupa
suara dan huruf yang didengar oleh langit dan bumi, lalu keduanya menjawab
dengan huruf dan suara: “Kami datang dengan patuh.”
وَالْبَصِيرُ
يَعْلَمُ أَنَّ ذَلِكَ لِسَانُ الْحَالِ، وَأَنَّهُ إِنْبَاءٌ عَنْ كَوْنِهِمَا
مُسَخَّرَتَيْنِ بِالضَّرُورَةِ وَمُضْطَرَّتَيْنِ إِلَى التَّسْخِيرِ.
Sedangkan orang yang tajam pandangannya mengetahui bahwa itu adalah bahasa
keadaan, dan bahwa hal itu merupakan pemberitahuan tentang tunduknya keduanya
secara pasti serta keterpaksaan keduanya untuk tunduk kepada pengaturan Allah.
وَمِنْ
هَذَا قَوْلُهُ تَعَالَى: وَإِنْ مِنْ شَيْءٍ إِلَّا يُسَبِّحُ بِحَمْدِهِ.
Termasuk pula firman Allah Ta‘ala: “Tidak ada sesuatu pun melainkan bertasbih
dengan memuji-Nya.”
فَالْبَلِيدُ
يَفْتَقِرُ فِيهِ إِلَى أَنْ يُقَدِّرَ لِلْجَمَادَاتِ حَيَاةً وَعَقْلًا
وَنُطْقًا بِصَوْتٍ وَحَرْفٍ حَتَّى يَقُولَ: سُبْحَانَ اللهِ، لِيَتَحَقَّقَ
تَسْبِيحُهُ.
Orang yang tumpul memahaminya dengan mengandaikan bahwa benda-benda mati
memiliki hidup, akal, dan ucapan berupa suara dan huruf, sehingga mereka
mengucapkan “Subhanallah” agar tasbih mereka dianggap nyata.
وَالْبَصِيرُ
يَعْلَمُ أَنَّهُ مَا أُرِيدَ بِهِ نُطْقُ اللِّسَانِ، بَلْ كَوْنُهُ مُسَبِّحًا
بِوُجُودِهِ، وَمُقَدِّسًا بِذَاتِهِ، وَشَاهِدًا بِوَحْدَانِيَّةِ اللهِ
سُبْحَانَهُ.
Sedangkan orang yang tajam pandangannya mengetahui bahwa yang dimaksud bukanlah
ucapan lisan, melainkan bahwa keberadaannya sendiri merupakan tasbih, hakikat
dirinya sendiri merupakan pensucian, dan ia menjadi saksi atas keesaan Allah سبحانه.
كَمَا
يُقَالُ: وَفِي كُلِّ شَيْءٍ لَهُ آيَةٌ تَدُلُّ عَلَى أَنَّهُ الْوَاحِدُ.
Sebagaimana dikatakan: “Pada setiap sesuatu terdapat tanda bagi-Nya yang
menunjukkan bahwa Dia Maha Esa.”
وَكَمَا
يُقَالُ: هَذِهِ الصَّنْعَةُ الْمُحْكَمَةُ تَشْهَدُ لِصَانِعِهَا بِحُسْنِ
التَّدْبِيرِ وَكَمَالِ الْعِلْمِ، لَا بِمَعْنَى أَنَّهَا تَقُولُ أَشْهَدُ
بِالْقَوْلِ، وَلَكِنْ بِالذَّاتِ وَالْحَالِ.
Dan sebagaimana dikatakan: “Karya yang sempurna ini bersaksi bagi pembuatnya
atas bagusnya pengaturan dan sempurnanya ilmu,” bukan dalam arti ia mengucapkan
“aku bersaksi” secara lisan, tetapi dengan zat dan keadaannya.
وَكَذَلِكَ
مَا مِنْ شَيْءٍ إِلَّا وَهُوَ مُحْتَاجٌ فِي نَفْسِهِ إِلَى مُوجِدٍ يُوجِدُهُ
وَيُبْقِيهِ وَيُدِيمُ أَوْصَافَهُ وَيُرَدِّدُهُ فِي أَطْوَارِهِ، فَهُوَ
بِحَاجَتِهِ يَشْهَدُ لِخَالِقِهِ بِالتَّقْدِيسِ، يُدْرِكُ شَهَادَتَهُ ذَوُو
الْبَصَائِرِ دُونَ الْجَامِدِينَ عَلَى الظَّوَاهِرِ.
Demikian pula, tidak ada sesuatu pun melainkan ia pada dirinya membutuhkan
Pencipta yang mengadakannya, memeliharanya, menjaga sifat-sifatnya tetap ada,
dan mengaturnya dalam berbagai keadaannya. Dengan kebutuhannya itu, ia bersaksi
bagi Penciptanya dengan penyucian. Kesaksian ini dipahami oleh orang-orang yang
memiliki mata hati, bukan oleh orang-orang yang kaku pada makna lahir.
وَلِذَلِكَ
قَالَ تَعَالَى: وَلَكِنْ لَا تَفْقَهُونَ تَسْبِيحَهُمْ.
Karena itu Allah Ta‘ala berfirman: “Akan tetapi kalian tidak memahami tasbih
mereka.”
وَأَمَّا
الْقَاصِرُونَ فَلَا يَفْقَهُونَ أَصْلًا، وَأَمَّا الْمُقَرَّبُونَ
وَالْعُلَمَاءُ الرَّاسِخُونَ فَلَا يَفْقَهُونَ كُنْهَهُ وَكَمَالَهُ، إِذْ
لِكُلِّ شَيْءٍ شَهَادَاتٌ شَتَّى عَلَى تَقْدِيسِ اللهِ سُبْحَانَهُ
وَتَسْبِيحِهِ، وَيُدْرِكُ كُلُّ وَاحِدٍ بِقَدْرِ عَقْلِهِ وَبَصِيرَتِهِ،
وَتَعْدَادُ تِلْكَ الشَّهَادَاتِ لَا يَلِيقُ بِعِلْمِ الْمُعَامَلَةِ.
Adapun orang-orang yang dangkal, mereka sama sekali tidak memahaminya.
Sedangkan orang-orang yang didekatkan kepada Allah dan para ulama yang kokoh
ilmunya, mereka pun tidak dapat memahami hakikat terdalam dan kesempurnaannya.
Sebab, setiap sesuatu memiliki berbagai macam kesaksian tentang penyucian dan
tasbih kepada Allah سبحانه.
Masing-masing orang memahaminya menurut kadar akal dan mata hatinya.
Menyebutkan seluruh jenis kesaksian itu tidak sesuai dengan ruang lingkup ilmu
muamalah.
فَهَذَا
الْفَنُّ أَيْضًا مِمَّا يَتَفَاوَتُ أَرْبَابُ الظَّوَاهِرِ وَأَرْبَابُ
الْبَصَائِرِ فِي عِلْمِهِ، وَتَظْهَرُ بِهِ مُفَارَقَةُ الْبَاطِنِ لِلظَّاهِرِ.
Bidang ini juga termasuk sesuatu yang membuat perbedaan antara orang-orang yang
hanya berpegang pada lahir dan orang-orang yang memiliki mata hati dalam
pengetahuannya. Melalui bidang ini tampaklah perbedaan batin dari lahir.
وَفِي
هَذَا الْمَقَامِ لِأَرْبَابِ الْمَقَامَاتِ إِسْرَافٌ وَاقْتِصَادٌ.
Dalam persoalan ini, para pemilik berbagai pendirian ada yang berlebih-lebihan
dan ada yang bersikap pertengahan.
فَمِنْ
مُسْرِفٍ فِي رَفْعِ الظَّوَاهِرِ انْتَهَى إِلَى تَغْيِيرِ جَمِيعِ الظَّوَاهِرِ
وَالْبَرَاهِينِ أَوْ أَكْثَرِهَا، حَتَّى حَمَلُوا قَوْلَهُ تَعَالَى:
وَتُكَلِّمُنَا أَيْدِيهِمْ وَتَشْهَدُ أَرْجُلُهُمْ، وَقَوْلَهُ تَعَالَى:
وَقَالُوا لِجُلُودِهِمْ لِمَ شَهِدْتُمْ عَلَيْنَا قَالُوا أَنْطَقَنَا اللهُ
الَّذِي أَنْطَقَ كُلَّ شَيْءٍ، وَكَذَلِكَ الْمُخَاطَبَاتُ الَّتِي تَجْرِي مِنْ
مُنْكَرٍ وَنَكِيرٍ وَفِي الْمِيزَانِ وَالصِّرَاطِ وَالْحِسَابِ وَمُنَاظَرَاتِ
أَهْلِ النَّارِ وَأَهْلِ الْجَنَّةِ فِي قَوْلِهِمْ: أَفِيضُوا عَلَيْنَا مِنَ
الْمَاءِ أَوْ مِمَّا رَزَقَكُمُ اللهُ، زَعَمُوا أَنَّ ذَلِكَ كُلَّهُ بِلِسَانِ
الْحَالِ.
Di antara mereka ada yang berlebih-lebihan dalam meniadakan makna lahir sampai
mengubah seluruh makna lahir dan dalil-dalil, atau kebanyakannya. Sampai-sampai
mereka memaknai firman Allah Ta‘ala: “Tangan-tangan mereka akan berbicara
kepada Kami dan kaki-kaki mereka akan bersaksi,” dan firman-Nya: “Mereka
berkata kepada kulit-kulit mereka: mengapa kalian bersaksi atas kami?
Kulit-kulit itu menjawab: Allah yang menjadikan segala sesuatu dapat berbicara
telah menjadikan kami berbicara,” demikian pula dialog-dialog Munkar dan Nakir,
perkara mizan, shirath, hisab, serta percakapan antara penghuni neraka dan
penghuni surga dalam ucapan mereka: “Limpahkanlah kepada kami air atau sebagian
rezeki yang telah Allah berikan kepada kalian,” semuanya mereka anggap sebagai
bahasa keadaan belaka.
وَغَلَا
آخَرُونَ فِي حَسْمِ الْبَابِ، مِنْهُمْ أَحْمَدُ بْنُ حَنْبَلٍ رَضِيَ اللهُ
عَنْهُ، حَتَّى مَنَعَ تَأْوِيلَ قَوْلِهِ: كُنْ فَيَكُونُ، وَزَعَمُوا أَنَّ
ذَلِكَ خِطَابٌ بِحَرْفٍ وَصَوْتٍ يُوجَدُ مِنَ اللهِ تَعَالَى فِي كُلِّ لَحْظَةٍ
بِعَدَدِ كَوْنِ مُكَوَّنٍ.
Sebagian yang lain terlalu berlebih dalam menutup pintu takwil, di antaranya
Ahmad bin Hanbal رضي
الله عنه, sampai beliau melarang takwil terhadap firman “Kun fayakun”.
Mereka beranggapan bahwa itu adalah khitab dengan huruf dan suara yang
diciptakan oleh Allah Ta‘ala pada setiap saat sebanyak jumlah makhluk yang
diwujudkan.
حَتَّى
سَمِعْتُ بَعْضَ أَصْحَابِهِ يَقُولُ: إِنَّهُ حَسَمَ بَابَ التَّأْوِيلِ إِلَّا
لِثَلَاثَةِ أَلْفَاظٍ: قَوْلُهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: الْحَجَرُ
الْأَسْوَدُ يَمِينُ اللهِ فِي أَرْضِهِ، وَقَوْلُهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ: قَلْبُ الْمُؤْمِنِينَ بَيْنَ إِصْبَعَيْنِ مِنْ أَصَابِعِ
الرَّحْمَنِ، وَقَوْلُهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنِّي لَأَجِدُ نَفَسَ
الرَّحْمَنِ مِنْ جَانِبِ الْيَمِينِ.
Bahkan aku mendengar sebagian pengikutnya berkata: beliau menutup pintu takwil
kecuali pada tiga lafaz, yaitu sabda Nabi صلى الله عليه وسلم: “Hajar Aswad adalah
tangan kanan Allah di bumi-Nya,” sabda beliau: “Hati orang-orang mukmin berada
di antara dua jari dari jari-jari ar-Rahman,” dan sabda beliau: “Sungguh aku
mendapatkan hembusan ar-Rahman dari arah kanan.”
وَمَالَ
إِلَى حَسْمِ الْبَابِ أَرْبَابُ الظَّوَاهِرِ.
Orang-orang yang berpegang pada lahir cenderung menutup pintu ini.
وَالظَّنُّ
بِأَحْمَدَ بْنِ حَنْبَلٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّهُ عَلِمَ أَنَّ الِاسْتِوَاءَ
لَيْسَ هُوَ الِاسْتِقْرَارَ، وَالنُّزُولَ لَيْسَ هُوَ الِانْتِقَالَ،
وَلَكِنَّهُ مَنَعَ مِنَ التَّأْوِيلِ حَسْمًا لِلْبَابِ وَرِعَايَةً لِصَلَاحِ
الْخَلْقِ.
Sangkaan yang baik terhadap Ahmad bin Hanbal رضي الله عنه adalah bahwa beliau
mengetahui bahwa istiwa bukan berarti bersemayam secara fisik, dan nuzul bukan
berarti berpindah tempat. Akan tetapi beliau melarang takwil demi menutup pintu
itu dan demi menjaga kemaslahatan manusia.
فَإِنَّهُ
إِذَا فُتِحَ الْبَابُ اتَّسَعَ الْخَرْقُ وَخَرَجَ الْأَمْرُ عَنِ الضَّبْطِ
وَجَاوَزَ حَدَّ الِاقْتِصَادِ، إِذْ حَدُّ مَا جَاوَزَ الِاقْتِصَادَ لَا
يَنْضَبِطُ، فَلَا بَأْسَ بِهَذَا الزَّجْرِ، وَيَشْهَدُ لَهُ سِيرَةُ السَّلَفِ.
Sebab, jika pintu itu dibuka, kerusakan akan meluas, urusan akan keluar dari
kendali, dan melampaui batas pertengahan. Batas dari sesuatu yang telah
melampaui pertengahan itu tidak mudah dikendalikan. Maka tidak mengapa adanya
larangan keras semacam ini, dan perjalanan hidup para salaf mendukungnya.
فَإِنَّهُمْ
كَانُوا يَقُولُونَ: أَمِرُّوهَا كَمَا جَاءَتْ.
Karena mereka dahulu berkata: “Biarkanlah nash-nash itu sebagaimana datangnya.”
حَتَّى
قَالَ مَالِكٌ رَحِمَهُ اللهُ لَمَّا سُئِلَ عَنِ الِاسْتِوَاءِ: الِاسْتِوَاءُ
مَعْلُومٌ، وَالْكَيْفِيَّةُ مَجْهُولَةٌ، وَالْإِيمَانُ بِهِ وَاجِبٌ،
وَالسُّؤَالُ عَنْهُ بِدْعَةٌ.
Sampai Malik رحمه
الله ketika ditanya tentang istiwa berkata: “Istiwa itu diketahui,
kaifiyahnya tidak diketahui, beriman kepadanya itu wajib, dan bertanya tentang
bagaimana caranya adalah bid‘ah.”
وَذَهَبَتْ
طَائِفَةٌ إِلَى الِاقْتِصَادِ، وَفَتَحُوا بَابَ التَّأْوِيلِ فِي كُلِّ مَا
يَتَعَلَّقُ بِصِفَاتِ اللهِ سُبْحَانَهُ، وَتَرَكُوا مَا يَتَعَلَّقُ
بِالْآخِرَةِ عَلَى ظَوَاهِرِهَا، وَمَنَعُوا التَّأْوِيلَ فِيهِ، وَهُمُ
الْأَشْعَرِيَّةُ.
Ada pula sekelompok yang menempuh jalan pertengahan. Mereka membuka pintu
takwil pada semua yang berkaitan dengan sifat-sifat Allah سبحانه, tetapi membiarkan
segala hal yang berkaitan dengan akhirat tetap pada makna lahirnya, dan
melarang takwil di dalamnya. Mereka adalah golongan Asy‘ariyah.
وَزَادَ
الْمُعْتَزِلَةُ عَلَيْهِمْ حَتَّى أَوَّلُوا مِنْ صِفَاتِهِ تَعَالَى
الرُّؤْيَةَ، وَأَوَّلُوا كَوْنَهُ سَمِيعًا بَصِيرًا، وَأَوَّلُوا الْمِعْرَاجَ
وَزَعَمُوا أَنَّهُ لَمْ يَكُنْ بِالْجَسَدِ، وَأَوَّلُوا عَذَابَ الْقَبْرِ
وَالْمِيزَانَ وَالصِّرَاطَ وَجُمْلَةً مِنْ أَحْكَامِ الْآخِرَةِ، وَلَكِنَّهُمْ
أَقَرُّوا بِحَشْرِ الْأَجْسَادِ، وَبِالْجَنَّةِ وَاشْتِمَالِهَا عَلَى
الْمَأْكُولَاتِ وَالْمَشْمُومَاتِ وَالْمَنْكُوحَاتِ وَالْمَلَاذِّ
الْمَحْسُوسَةِ، وَبِالنَّارِ وَاشْتِمَالِهَا عَلَى جِسْمٍ مَحْسُوسٍ يُحْرِقُ
بِحَرْقِ الْجُلُودِ وَيُذِيبُ الشُّحُومَ.
Golongan Mu‘tazilah melangkah lebih jauh dari mereka. Mereka menakwil ru’yah
sebagai salah satu sifat Allah Ta‘ala, menakwil sifat-Nya sebagai Maha
Mendengar dan Maha Melihat, menakwil peristiwa mi‘raj dan menganggap bahwa itu
tidak terjadi dengan jasad, menakwil azab kubur, mizan, shirath, dan sejumlah
hukum akhirat. Namun mereka tetap mengakui kebangkitan jasad, surga beserta
adanya makanan, bau-bauan, pasangan, dan kenikmatan-kenikmatan yang dapat
dirasakan, serta neraka beserta adanya benda nyata yang membakar kulit dan
melelehkan lemak.
وَمِنْ
تَرَقِّيهِمْ إِلَى هَذَا الْحَدِّ زَادَ الْفَلَاسِفَةُ، فَأَوَّلُوا كُلَّ مَا
وَرَدَ فِي الْآخِرَةِ، وَرَدُّوهُ إِلَى آلَامٍ عَقْلِيَّةٍ وَرُوحَانِيَّةٍ
وَلَذَّاتٍ عَقْلِيَّةٍ، وَأَنْكَرُوا حَشْرَ الْأَجْسَادِ، وَقَالُوا بِبَقَاءِ
النُّفُوسِ، وَأَنَّهَا تَكُونُ إِمَّا مُعَذَّبَةً وَإِمَّا مُنَعَّمَةً
بِعَذَابٍ وَنَعِيمٍ لَا يُدْرَكُ بِالْحِسِّ، وَهَؤُلَاءِ هُمُ الْمُسْرِفُونَ.
Setelah sampai pada batas itu, para filsuf melangkah lebih jauh lagi. Mereka
menakwil semua yang datang tentang akhirat dan mengembalikannya kepada
penderitaan akal dan ruhani serta kenikmatan akali. Mereka mengingkari
kebangkitan jasad dan berpendapat bahwa jiwa-jiwa tetap ada, lalu menjadi
either disiksa atau diberi nikmat dengan azab dan nikmat yang tidak dapat
ditangkap oleh indra. Mereka inilah orang-orang yang berlebih-lebihan.
وَحَدُّ
الِاقْتِصَادِ بَيْنَ هَذَا الِانْحِلَالِ كُلِّهِ وَبَيْنَ جُمُودِ
الْحَنَابِلَةِ دَقِيقٌ غَامِضٌ، لَا يَطَّلِعُ عَلَيْهِ إِلَّا الْمُوَفَّقُونَ
الَّذِينَ يُدْرِكُونَ الْأُمُورَ بِنُورٍ إِلَهِيٍّ لَا بِالسَّمْعِ.
Batas pertengahan antara seluruh pelonggaran ini dan kekakuan kaum Hanabilah
adalah sesuatu yang sangat halus dan samar. Tidak ada yang dapat mengetahuinya
kecuali orang-orang yang diberi taufik, yang memahami segala sesuatu dengan
cahaya ilahi, bukan semata-mata dengan mendengar riwayat.
ثُمَّ
إِذَا انْكَشَفَتْ لَهُمْ أَسْرَارُ الْأُمُورِ عَلَى مَا هِيَ عَلَيْهِ نَظَرُوا
إِلَى السَّمْعِ وَالْأَلْفَاظِ الْوَارِدَةِ، فَمَا وَافَقَ مَا شَاهَدُوهُ
بِنُورِ الْيَقِينِ قَرَّرُوهُ، وَمَا خَالَفَ أَوَّلُوهُ.
Kemudian, apabila rahasia berbagai perkara telah tersingkap bagi mereka
sebagaimana adanya, mereka melihat kepada dalil sam‘i dan lafaz-lafaz yang
datang. Apa yang sesuai dengan apa yang mereka saksikan melalui cahaya
keyakinan, mereka tetapkan. Dan apa yang menyelisihinya, mereka takwil.
فَأَمَّا
مَنْ يَأْخُذُ مَعْرِفَةَ هَذِهِ الْأُمُورِ مِنَ السَّمْعِ الْمُجَرَّدِ فَلَا
يَسْتَقِرُّ لَهُ فِيهَا قَدَمٌ، وَلَا يَتَعَيَّنُ لَهُ مَوْقِفٌ.
Adapun orang yang mengambil pengetahuan tentang perkara-perkara ini hanya dari
riwayat semata, maka kakinya tidak akan kokoh di dalamnya dan ia tidak akan
memiliki pendirian yang pasti.
وَالْأَلْيَقُ
بِالْمُقْتَصِرِ عَلَى السَّمْعِ الْمُجَرَّدِ مَقَامُ أَحْمَدَ بْنِ حَنْبَلٍ
رَحْمَةُ اللهِ.
Dan sikap yang paling layak bagi orang yang hanya berpegang pada riwayat semata
adalah posisi Ahmad bin Hanbal رحمه الله.
وَالْآنَ
فَكَشْفُ الْغِطَاءِ عَنْ حَدِّ الِاقْتِصَادِ فِي هَذِهِ الْأُمُورِ دَاخِلٌ فِي
عِلْمِ الْمُكَاشَفَةِ، وَالْقَوْلُ فِيهِ يَطُولُ، فَلَا نَخُوضُ فِيهِ.
Adapun sekarang, menyingkap tabir tentang batas pertengahan dalam
persoalan-persoalan ini termasuk dalam ilmu mukasyafah, dan pembicaraannya akan
panjang, maka kita tidak akan masuk lebih jauh ke dalamnya.
وَالْغَرَضُ
بَيَانُ مُوَافَقَةِ الْبَاطِنِ لِلظَّاهِرِ وَأَنَّهُ غَيْرُ مُخَالِفٍ لَهُ،
فَقَدِ انْكَشَفَ بِهَذِهِ الْأَقْسَامِ الْخَمْسَةِ أُمُورٌ كَثِيرَةٌ.
Tujuan kita hanyalah menjelaskan kesesuaian antara batin dan lahir, dan bahwa
batin itu tidak bertentangan dengannya. Dengan lima bagian ini, banyak hal
telah menjadi jelas.
وَإِذَا
رَأَيْنَا أَنْ نَقْتَصِرَ بِكَافَّةِ الْعَوَامِّ عَلَى تَرْجَمَةِ الْعَقِيدَةِ
الَّتِي حَرَّرْنَاهَا، وَأَنَّهُمْ لَا يُكَلَّفُونَ غَيْرَ ذَلِكَ فِي
الدَّرَجَةِ الْأُولَى، إِلَّا إِذَا كَانَ خَوْفُ تَشْوِيشٍ لِشُيُوعِ
الْبِدْعَةِ، فَيُرَقَّى فِي الدَّرَجَةِ الثَّانِيَةِ إِلَى عَقِيدَةٍ فِيهَا
لَوَامِعُ مِنَ الْأَدِلَّةِ مُخْتَصَرَةً مِنْ غَيْرِ تَعَمُّقٍ.
Jika kita memandang cukup membatasi seluruh orang awam pada terjemahan akidah
yang telah kami susun, dan bahwa mereka pada tingkat pertama tidak dibebani
lebih dari itu, kecuali jika dikhawatirkan terjadi kekacauan karena tersebarnya
bid‘ah, maka pada tingkat kedua mereka dinaikkan kepada akidah yang di dalamnya
terdapat kilasan-kilasan dalil secara ringkas tanpa pendalaman.
فَلْنُورِدْ
فِي هَذَا الْكِتَابِ تِلْكَ اللَّوَامِعَ، وَلْنَقْتَصِرْ فِيهَا عَلَى مَا
حَرَّرْنَاهُ لِأَهْلِ الْقُدْسِ، وَسَمَّيْنَاهُ الرِّسَالَةَ الْقُدْسِيَّةَ فِي
قَوَاعِدِ الْعَقَائِدِ، وَهِيَ مُودَعَةٌ فِي هَذَا الْفَصْلِ الثَّالِثِ مِنْ
هَذَا الْكِتَابِ.
Maka dalam kitab ini akan kami sebutkan kilasan-kilasan itu, dan kami akan
membatasinya pada apa yang telah kami susun untuk penduduk Baitul Maqdis, yang
kami namai “Ar-Risalah al-Qudsiyyah fi Qawa‘id al-‘Aqa’id”, dan ia ditempatkan
dalam fasal ketiga dari kitab ini.