Tentang kilasan-kilasan dalil bagi akidah
اَلْفَصْلُ الثَّالِثُ مِنْ كِتَابِ قَوَاعِدِ الْعَقَائِدِ فِي لَوَامِعِ الْأَدِلَّةِ لِلْعَقِيدَةِ الَّتِي تَرْجَمْنَاهَا بِالْقُدْسِ.
Fasal ketiga dari Kitab Kaidah-Kaidah Akidah, tentang kilasan-kilasan dalil
bagi akidah yang telah kami ringkaskan di Baitul Maqdis.
فَنَقُولُ:
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيمِ.
Maka kami berkata: Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
اَلْحَمْدُ
لِلَّهِ الَّذِي مَيَّزَ عِصَابَةَ السُّنَّةِ بِأَنْوَارِ الْيَقِينِ، وَآثَرَ
رَهْطَ الْحَقِّ بِالْهِدَايَةِ إِلَى دَعَائِمِ الدِّينِ، وَجَنَّبَهُمْ زَيْغَ
الزَّائِغِينَ وَضَلَالَ الْمُلْحِدِينَ، وَوَفَّقَهُمْ لِلِاقْتِدَاءِ بِسَيِّدِ
الْمُرْسَلِينَ، وَسَدَّدَهُمْ لِلتَّأَسِّي بِصَحْبِهِ الْأَكْرَمِينَ، وَيَسَّرَ
لَهُمُ اقْتِفَاءَ آثَارِ السَّلَفِ الصَّالِحِينَ.
Segala puji bagi Allah yang telah membedakan golongan Ahlusunah dengan cahaya
keyakinan, mengutamakan kelompok yang benar dengan petunjuk menuju tiang-tiang
agama, menjauhkan mereka dari penyimpangan orang-orang yang sesat dan kesalahan
orang-orang yang menyimpang dari kebenaran, memberi mereka taufik untuk
mengikuti penghulu para rasul, membimbing mereka untuk meneladani para sahabat
beliau yang mulia, dan memudahkan mereka untuk mengikuti jejak para salaf
saleh.
حَتَّى
اعْتَصَمُوا مِنْ مُقْتَضَيَاتِ الْعُقُولِ بِالْحَبْلِ الْمَتِينِ، وَمِنْ سِيَرِ
الْأَوَّلِينَ وَعَقَائِدِهِمْ بِالْمَنْهَجِ الْمُبِينِ.
Sehingga mereka berpegang teguh, dalam menghadapi tuntutan-tuntutan akal, pada
tali yang kokoh, dan dalam mengikuti perjalanan hidup serta akidah orang-orang
terdahulu, pada jalan yang terang.
فَجَمَعُوا
بِالْقَوْلِ بَيْنَ نَتَائِجِ الْعُقُولِ وَقَضَايَا الشَّرْعِ الْمَنْقُولِ.
Lalu mereka memadukan, dalam pernyataan mereka, antara hasil-hasil akal dan
ketetapan-ketetapan syariat yang dinukil.
وَتَحَقَّقُوا
أَنَّ النُّطْقَ بِمَا تُعُبِّدُوا بِهِ مِنْ قَوْلِ: لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ
مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللهِ، لَيْسَ لَهُ طَائِلٌ وَلَا مَحْصُولٌ إِنْ لَمْ
تَتَحَقَّقِ الْإِحَاطَةُ بِمَا تَدُورُ عَلَيْهِ هٰذِهِ الشَّهَادَةُ مِنَ
الْأَقْطَابِ وَالْأُصُولِ.
Mereka meyakini bahwa pengucapan kalimat yang diperintahkan sebagai ibadah,
yaitu “Lā ilāha illallāh Muhammadur Rasūlullāh”, tidak memiliki faedah dan
hasil bila tidak disertai pemahaman menyeluruh terhadap pokok-pokok dan
dasar-dasar yang menjadi poros kesaksian ini.
وَعَرَفُوا
أَنَّ كَلِمَتَيِ الشَّهَادَةِ عَلَى إِيجَازِهَا تَتَضَمَّنُ إِثْبَاتَ ذَاتِ
الْإِلٰهِ، وَإِثْبَاتَ صِفَاتِهِ، وَإِثْبَاتَ أَفْعَالِهِ، وَإِثْبَاتَ صِدْقِ
الرَّسُولِ.
Mereka mengetahui bahwa dua kalimat syahadat, meskipun singkat, mencakup
penetapan zat Tuhan, penetapan sifat-sifat-Nya, penetapan
perbuatan-perbuatan-Nya, dan penetapan kebenaran rasul.
وَعَلِمُوا
أَنَّ بِنَاءَ الْإِيمَانِ عَلَى هٰذِهِ الْأَرْكَانِ، وَهِيَ أَرْبَعَةٌ،
وَيَدُورُ كُلُّ رُكْنٍ مِنْهَا عَلَى عَشَرَةِ أُصُولٍ.
Mereka mengetahui bahwa bangunan iman berdiri di atas rukun-rukun ini, yaitu
empat rukun, dan setiap rukun berputar pada sepuluh pokok.
اَلرُّكْنُ
الْأَوَّلُ فِي مَعْرِفَةِ ذَاتِ اللهِ تَعَالَى، وَمَدَارُهُ عَلَى عَشَرَةِ
أُصُولٍ، وَهِيَ الْعِلْمُ بِوُجُودِ اللهِ تَعَالَى وَقِدَمِهِ وَبَقَائِهِ،
وَأَنَّهُ لَيْسَ بِجَوْهَرٍ وَلَا جِسْمٍ وَلَا عَرَضٍ، وَأَنَّهُ سُبْحَانَهُ
لَيْسَ مُخْتَصًّا بِجِهَةٍ وَلَا مُسْتَقِرًّا عَلَى مَكَانٍ، وَأَنَّهُ يُرَى،
وَأَنَّهُ وَاحِدٌ.
Rukun pertama adalah tentang mengenal zat Allah Ta‘ala. Rukun ini berporos pada
sepuluh pokok, yaitu pengetahuan tentang adanya Allah Ta‘ala, qadim-Nya,
kekal-Nya, bahwa Dia bukan jauhar, bukan jisim, dan bukan pula ‘aradh, bahwa
Dia Mahasuci dari keterikatan pada arah dan dari bersemayam di tempat, bahwa
Dia dapat dilihat, dan bahwa Dia Maha Esa.
اَلرُّكْنُ
الثَّانِي فِي صِفَاتِهِ، وَيَشْتَمِلُ عَلَى عَشَرَةِ أُصُولٍ، وَهُوَ الْعِلْمُ
بِكَوْنِهِ حَيًّا عَالِمًا قَادِرًا مُرِيدًا سَمِيعًا بَصِيرًا مُتَكَلِّمًا،
مُنَزَّهًا عَنْ حُلُولِ الْحَوَادِثِ، وَأَنَّهُ قَدِيمُ الْكَلَامِ وَالْعِلْمِ
وَالْإِرَادَةِ.
Rukun kedua adalah tentang sifat-sifat-Nya. Rukun ini mencakup sepuluh pokok,
yaitu pengetahuan bahwa Dia Maha Hidup, Maha Mengetahui, Maha Kuasa, Maha
Berkehendak, Maha Mendengar, Maha Melihat, Maha Berfirman, Mahasuci dari tempat
terjadinya hal-hal baru, dan bahwa kalam, ilmu, serta kehendak-Nya bersifat
qadim.
اَلرُّكْنُ
الثَّالِثُ فِي أَفْعَالِهِ تَعَالَى، وَمَدَارُهُ عَلَى عَشَرَةِ أُصُولٍ، وَهِيَ
أَنَّ أَفْعَالَ الْعِبَادِ مَخْلُوقَةٌ لِلَّهِ تَعَالَى، وَأَنَّهَا
مُكْتَسَبَةٌ لِلْعِبَادِ، وَأَنَّهَا مُرَادَةٌ لِلَّهِ تَعَالَى، وَأَنَّهُ
مُتَفَضِّلٌ بِالْخَلْقِ وَالِاخْتِرَاعِ، وَأَنَّ لَهُ تَعَالَى تَكْلِيفَ مَا
لَا يُطَاقُ، وَأَنَّ لَهُ إِيلَامَ الْبَرِيءِ، وَلَا يَجِبُ عَلَيْهِ رِعَايَةُ
الْأَصْلَحِ، وَأَنَّهُ لَا وَاجِبَ إِلَّا بِالشَّرْعِ، وَأَنَّ بَعْثَةَ
الْأَنْبِيَاءِ جَائِزَةٌ، وَأَنَّ نُبُوَّةَ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثَابِتَةٌ مُؤَيَّدَةٌ بِالْمُعْجِزَةِ.
Rukun ketiga adalah tentang perbuatan-perbuatan Allah Ta‘ala. Rukun ini
berporos pada sepuluh pokok, yaitu bahwa perbuatan-perbuatan hamba diciptakan
oleh Allah Ta‘ala, bahwa perbuatan itu diusahakan oleh para hamba, bahwa
semuanya dikehendaki oleh Allah Ta‘ala, bahwa Dia berbuat karunia dengan
penciptaan dan pengadaan, bahwa Dia Ta‘ala berhak membebani sesuatu yang tidak
sanggup dipikul, bahwa Dia berhak menyakiti orang yang tidak bersalah, bahwa
tidak wajib bagi-Nya menjaga yang paling maslahat, bahwa tidak ada kewajiban
kecuali berdasarkan syariat, bahwa pengutusan para nabi adalah mungkin, dan
bahwa kenabian Nabi kita Muhammad صلى الله عليه وسلم adalah tetap dan dikuatkan oleh mukjizat.
اَلرُّكْنُ
الرَّابِعُ فِي السَّمْعِيَّاتِ، وَمَدَارُهُ عَلَى عَشَرَةِ أُصُولٍ، وَهِيَ
إِثْبَاتُ الْحَشْرِ وَالنَّشْرِ، وَسُؤَالُ مُنْكَرٍ وَنَكِيرٍ، وَعَذَابُ
الْقَبْرِ، وَالْمِيزَانُ، وَالصِّرَاطُ، وَخَلْقُ الْجَنَّةِ وَالنَّارِ،
وَأَحْكَامُ الْإِمَامَةِ، وَأَنَّ فَضْلَ الصَّحَابَةِ عَلَى حَسَبِ
تَرْتِيبِهِمْ، وَشُرُوطُ الْإِمَامَةِ.
Rukun keempat adalah tentang perkara-perkara sam‘iyyat. Rukun ini berporos pada
sepuluh pokok, yaitu penetapan adanya kebangkitan dan pengumpulan, pertanyaan
Munkar dan Nakir, azab kubur, mizan, shirath, penciptaan surga dan neraka,
hukum-hukum imamah, bahwa keutamaan para sahabat sesuai urutan mereka, dan
syarat-syarat imamah.
فَأَمَّا
الرُّكْنُ الْأَوَّلُ مِنْ أَرْكَانِ الْإِيمَانِ فِي مَعْرِفَةِ ذَاتِ اللهِ
سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى، وَأَنَّ اللهَ تَعَالَى وَاحِدٌ، وَمَدَارُهُ عَلَى
عَشَرَةِ أُصُولٍ.
Adapun rukun pertama dari rukun-rukun iman, yaitu tentang mengenal zat Allah سبحانه وتعالى
dan bahwa Allah Ta‘ala Maha Esa, maka ia berporos pada sepuluh pokok.
اَلْأَصْلُ
الْأَوَّلُ: مَعْرِفَةُ وُجُودِهِ تَعَالَى.
Pokok pertama: mengetahui adanya Allah Ta‘ala.
وَأَوَّلُ
مَا يُسْتَضَاءُ بِهِ مِنَ الْأَنْوَارِ وَيُسْلَكُ مِنْ طَرِيقِ الِاعْتِبَارِ
مَا أَرْشَدَ إِلَيْهِ الْقُرْآنُ، فَلَيْسَ بَعْدَ بَيَانِ اللهِ سُبْحَانَهُ
بَيَانٌ.
Hal pertama yang dijadikan cahaya penerang dan jalan renungan adalah apa yang
telah ditunjukkan oleh Al-Qur’an. Tidak ada penjelasan setelah penjelasan Allah
سبحانه.
وَقَدْ
قَالَ تَعَالَى: أَلَمْ نَجْعَلِ الْأَرْضَ مِهَادًا وَالْجِبَالَ أَوْتَادًا
وَخَلَقْنَاكُمْ أَزْوَاجًا وَجَعَلْنَا نَوْمَكُمْ سُبَاتًا وَجَعَلْنَا
اللَّيْلَ لِبَاسًا وَجَعَلْنَا النَّهَارَ مَعَاشًا وَبَنَيْنَا فَوْقَكُمْ
سَبْعًا شِدَادًا وَجَعَلْنَا سِرَاجًا وَهَّاجًا وَأَنْزَلْنَا مِنَ
الْمُعْصِرَاتِ مَاءً ثَجَّاجًا لِنُخْرِجَ بِهِ حَبًّا وَنَبَاتًا وَجَنَّاتٍ
أَلْفَافًا.
Allah Ta‘ala berfirman: “Bukankah Kami telah menjadikan bumi sebagai hamparan,
dan gunung-gunung sebagai pasak, dan Kami menciptakan kalian
berpasang-pasangan, dan Kami menjadikan tidur kalian sebagai istirahat, dan
Kami menjadikan malam sebagai pakaian, dan Kami menjadikan siang sebagai waktu
untuk mencari penghidupan, dan Kami membangun di atas kalian tujuh yang kokoh,
dan Kami menjadikan pelita yang sangat terang, dan Kami menurunkan dari awan
air yang tercurah deras, agar Kami tumbuhkan dengan air itu biji-bijian,
tumbuh-tumbuhan, dan kebun-kebun yang rimbun.”
وَقَالَ
تَعَالَى: إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمٰوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ
وَالنَّهَارِ وَالْفُلْكِ الَّتِي تَجْرِي فِي الْبَحْرِ بِمَا يَنْفَعُ النَّاسَ
وَمَا أَنْزَلَ اللهُ مِنَ السَّمَاءِ مِنْ مَاءٍ فَأَحْيَا بِهِ الْأَرْضَ بَعْدَ
مَوْتِهَا وَبَثَّ فِيهَا مِنْ كُلِّ دَابَّةٍ وَتَصْرِيفِ الرِّيَاحِ
وَالسَّحَابِ الْمُسَخَّرِ بَيْنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ
يَعْقِلُونَ.
Dan Allah Ta‘ala berfirman: “Sesungguhnya pada penciptaan langit dan bumi,
pergantian malam dan siang, kapal-kapal yang berlayar di laut membawa apa yang
bermanfaat bagi manusia, air yang Allah turunkan dari langit lalu dengan itu
Dia menghidupkan bumi setelah matinya, Dia menyebarkan di bumi itu segala jenis
hewan, pengisaran angin, dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi,
sungguh terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berakal.”
وَقَالَ
تَعَالَى: أَلَمْ تَرَوْا كَيْفَ خَلَقَ اللهُ سَبْعَ سَمٰوَاتٍ طِبَاقًا
وَجَعَلَ الْقَمَرَ فِيهِنَّ نُورًا وَجَعَلَ الشَّمْسَ سِرَاجًا وَاللهُ
أَنْبَتَكُمْ مِنَ الْأَرْضِ نَبَاتًا ثُمَّ يُعِيدُكُمْ فِيهَا وَيُخْرِجُكُمْ
إِخْرَاجًا.
Dan Allah Ta‘ala berfirman: “Tidakkah kalian memperhatikan bagaimana Allah
menciptakan tujuh langit berlapis-lapis, dan Dia menjadikan bulan di dalamnya
sebagai cahaya dan menjadikan matahari sebagai pelita, dan Allah menumbuhkan
kalian dari bumi sebagai suatu pertumbuhan, kemudian Dia akan mengembalikan
kalian ke dalamnya dan mengeluarkan kalian darinya dengan sebenar-benarnya.”
وَقَالَ
تَعَالَى: أَفَرَأَيْتُمْ مَا تُمْنُونَ أَأَنْتُمْ تَخْلُقُونَهُ أَمْ نَحْنُ
الْخَالِقُونَ، إِلَى قَوْلِهِ: لِلْمُقْوِينَ.
Dan Allah Ta‘ala berfirman: “Maka tidakkah kalian memperhatikan air mani yang
kalian pancarkan? Apakah kalian yang menciptakannya atau Kami yang
menciptakan?” hingga firman-Nya: “bagi orang-orang yang memerlukannya.”
فَلَيْسَ
يَخْفَى عَلَى مَنْ مَعَهُ أَدْنَى مَسْكَةٍ مِنْ عَقْلٍ، إِذَا تَأَمَّلَ
بِأَدْنَى فِكْرَةٍ مَضْمُونَ هٰذِهِ الْآيَاتِ، وَأَدَارَ نَظَرَهُ عَلَى
عَجَائِبِ خَلْقِ اللهِ فِي الْأَرْضِ وَالسَّمٰوَاتِ وَبَدَائِعِ فِطْرَةِ
الْحَيَوَانِ وَالنَّبَاتِ، أَنَّ هٰذَا الْأَمْرَ الْعَجِيبَ وَالتَّرْتِيبَ
الْمُحْكَمَ لَا يَسْتَغْنِي عَنْ صَانِعٍ يُدَبِّرُهُ وَفَاعِلٍ يُحْكِمُهُ
وَيُقَدِّرُهُ.
Tidak samar bagi orang yang masih memiliki sedikit saja akal, apabila ia
merenungkan kandungan ayat-ayat ini walau dengan pemikiran yang sederhana, dan
mengarahkan pandangannya pada keajaiban ciptaan Allah di bumi dan langit serta
keindahan penciptaan hewan dan tumbuhan, bahwa perkara yang menakjubkan dan
susunan yang sangat rapi ini tidak mungkin tidak membutuhkan pencipta yang
mengaturnya, pelaku yang menyusunnya dengan kokoh dan menentukannya.
بَلْ
تَكَادُ فِطْرَةُ النُّفُوسِ تَشْهَدُ بِكَوْنِهَا مَقْهُورَةً تَحْتَ تَسْخِيرِهِ
وَمُصَرَّفَةً بِمُقْتَضَى تَدْبِيرِهِ.
Bahkan fitrah jiwa hampir-hampir bersaksi bahwa semua itu tunduk di bawah
penguasaan-Nya dan berjalan menurut pengaturan-Nya.
وَلِذٰلِكَ
قَالَ اللهُ تَعَالَى: أَفِي اللهِ شَكٌّ فَاطِرِ السَّمٰوَاتِ وَالْأَرْضِ.
Karena itu Allah Ta‘ala berfirman: “Apakah ada keraguan tentang Allah, Pencipta
langit dan bumi?”
وَلِهٰذَا
بُعِثَ الْأَنْبِيَاءُ صَلَوَاتُ اللهِ عَلَيْهِمْ لِدَعْوَةِ الْخَلْقِ إِلَى
التَّوْحِيدِ لِيَقُولُوا: لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ، وَمَا أُمِرُوا أَنْ
يَقُولُوا: لَنَا إِلٰهٌ وَلِلْعَالَمِ إِلٰهٌ.
Karena itulah para nabi diutus, semoga salawat Allah tercurah kepada mereka,
untuk mengajak manusia kepada tauhid, agar mereka mengucapkan: “Tiada tuhan
selain Allah.” Mereka tidak diperintahkan untuk mengatakan: “Kami punya tuhan
dan alam pun punya tuhan.”
فَإِنَّ
ذٰلِكَ كَانَ مَجْبُولًا فِي فِطْرَةِ عُقُولِهِمْ مِنْ مَبْدَإِ نُشُوئِهِمْ
وَفِي عُنْفُوَانِ شَبَابِهِمْ.
Sebab hal itu memang telah tertanam dalam fitrah akal mereka sejak awal
pertumbuhan mereka dan pada masa puncak kekuatan mereka.
وَلِذٰلِكَ
قَالَ عَزَّ وَجَلَّ: وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَ السَّمٰوَاتِ وَالْأَرْضَ
لَيَقُولُنَّ اللهُ.
Karena itu Allah عز وجل
berfirman: “Sungguh jika engkau bertanya kepada mereka siapa yang menciptakan
langit dan bumi, niscaya mereka akan menjawab: Allah.”
وَقَالَ
تَعَالَى: فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا، فِطْرَتَ اللهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ
عَلَيْهَا، لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللهِ، ذٰلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ.
Dan Allah Ta‘ala berfirman: “Maka hadapkanlah wajahmu kepada agama dengan
lurus; itulah fitrah Allah yang telah Dia ciptakan manusia di atasnya. Tidak
ada perubahan pada ciptaan Allah. Itulah agama yang lurus.”
فَإِذًا
فِي فِطْرَةِ الْإِنْسَانِ وَشَوَاهِدِ الْقُرْآنِ مَا يُغْنِي عَنْ إِقَامَةِ
الْبُرْهَانِ.
Jadi, pada fitrah manusia dan petunjuk-petunjuk Al-Qur’an terdapat sesuatu yang
sudah cukup tanpa memerlukan penegakan dalil rasional.
وَلٰكِنَّا
عَلَى سَبِيلِ الِاسْتِظْهَارِ وَالِاقْتِدَاءِ بِالْعُلَمَاءِ النُّظَّارِ
نَقُولُ: مِنْ بَدَاهَةِ الْعُقُولِ أَنَّ الْحَادِثَ لَا يَسْتَغْنِي فِي
حُدُوثِهِ عَنْ سَبَبٍ يُحْدِثُهُ، وَالْعَالَمُ حَادِثٌ، فَإِذًا لَا يَسْتَغْنِي
فِي حُدُوثِهِ عَنْ سَبَبٍ.
Akan tetapi, sebagai bentuk penguatan dan mengikuti jejak para ulama pemikir,
kami berkata: termasuk perkara yang jelas bagi akal adalah bahwa sesuatu yang
baru tidak mungkin ada tanpa sebab yang mengadakannya. Alam ini adalah baru.
Maka, alam ini tidak mungkin ada tanpa sebab yang mengadakannya.
أَمَّا
قَوْلُنَا: إِنَّ الْحَادِثَ لَا يَسْتَغْنِي فِي حُدُوثِهِ عَنْ سَبَبٍ،
فَجَلِيٌّ.
Adapun pernyataan kami bahwa sesuatu yang baru tidak bisa tidak membutuhkan
sebab dalam keberadaannya, maka itu jelas.
فَإِنَّ
كُلَّ حَادِثٍ مُخْتَصٌّ بِوَقْتٍ يَجُوزُ فِي الْعَقْلِ تَقْدِيرُ تَقْدِيمِهِ
وَتَأْخِيرِهِ.
Sebab setiap yang baru terikat pada suatu waktu tertentu, padahal menurut akal
mungkin saja dibayangkan ia terjadi lebih awal atau lebih akhir.
فَاخْتِصَاصُهُ
بِوَقْتِهِ دُونَ مَا قَبْلَهُ وَمَا بَعْدَهُ يَفْتَقِرُ بِالضَّرُورَةِ إِلَى
الْمُخَصِّصِ.
Maka keterkhususannya pada waktu tertentu, bukan pada waktu sebelumnya atau
sesudahnya, pasti membutuhkan pihak yang menentukan.
وَأَمَّا
قَوْلُنَا: الْعَالَمُ حَادِثٌ، فَبُرْهَانُهُ أَنَّ أَجْسَامَ الْعَالَمِ لَا
تَخْلُو عَنِ الْحَرَكَةِ وَالسُّكُونِ، وَهُمَا حَادِثَانِ، وَمَا لَا يَخْلُو
عَنِ الْحَوَادِثِ فَهُوَ حَادِثٌ.
Adapun pernyataan kami bahwa alam ini baru, maka buktinya adalah bahwa
benda-benda alam tidak lepas dari gerak dan diam, sedangkan keduanya adalah
baru. Dan apa saja yang tidak lepas dari hal-hal baru, maka ia pun baru.
فَفِي
هٰذَا الْبُرْهَانِ ثَلَاثُ دَعَاوَى.
Dalam dalil ini terdapat tiga pernyataan pokok.
اَلْأُولَى
قَوْلُنَا: إِنَّ الْأَجْسَامَ لَا تَخْلُو عَنِ الْحَرَكَةِ وَالسُّكُونِ،
وَهٰذِهِ مُدْرَكَةٌ بِالْبَدِيهَةِ وَالِاضْطِرَارِ، فَلَا يَحْتَاجُ فِيهَا
إِلَى تَأَمُّلٍ وَافْتِكَارٍ.
Yang pertama adalah pernyataan kami bahwa benda-benda tidak lepas dari gerak
dan diam. Hal ini diketahui secara langsung dan pasti, sehingga tidak
memerlukan perenungan dan pemikiran lagi.
فَإِنَّ
مَنْ عَقَلَ جِسْمًا لَا سَاكِنًا وَلَا مُتَحَرِّكًا كَانَ لِمَتْنِ الْجَهْلِ
رَاكِبًا، وَعَنْ نَهْجِ الْعَقْلِ نَاكِبًا.
Sebab orang yang membayangkan adanya suatu benda yang tidak diam dan tidak pula
bergerak, berarti ia telah menaiki punggung kebodohan dan menyimpang dari jalan
akal.
اَلثَّانِيَةُ
قَوْلُنَا: إِنَّهُمَا حَادِثَانِ.
Pernyataan kedua adalah bahwa gerak dan diam itu keduanya baru.
وَيَدُلُّ
عَلَى ذٰلِكَ تَعَاقُبُهُمَا وَوُجُودُ الْبَعْضِ مِنْهُمَا بَعْدَ الْبَعْضِ.
Hal ini ditunjukkan oleh silih bergantinya keduanya dan adanya salah satunya
setelah yang lain.
وَذٰلِكَ
مُشَاهَدٌ فِي جَمِيعِ الْأَجْسَامِ، مَا شُوهِدَ مِنْهَا وَمَا لَمْ يُشَاهَدْ.
Hal itu dapat disaksikan pada seluruh benda, baik yang tampak maupun yang tidak
tampak.
فَمَا
مِنْ سَاكِنٍ إِلَّا وَالْعَقْلُ قَاضٍ بِجَوَازِ حَرَكَتِهِ، وَمَا مِنْ
مُتَحَرِّكٍ إِلَّا وَالْعَقْلُ قَاضٍ بِجَوَازِ سُكُونِهِ.
Tidak ada sesuatu yang diam kecuali akal menetapkan kemungkinan bergeraknya.
Dan tidak ada sesuatu yang bergerak kecuali akal menetapkan kemungkinan
diamnya.
فَالطَّارِئُ
مِنْهُمَا حَادِثٌ لِطُرُوِّهِ، وَالسَّابِقُ حَادِثٌ لِعَدَمِهِ.
Maka yang datang kemudian dari keduanya adalah baru karena kemunculannya, dan
yang mendahului pun baru karena sebelumnya tidak ada.
لِأَنَّهُ
لَوْ ثَبَتَ قِدَمُهُ لَاسْتَحَالَ عَدَمُهُ، عَلَى مَا سَيَأْتِي بَيَانُهُ
وَبُرْهَانُهُ فِي إِثْبَاتِ بَقَاءِ الصَّانِعِ تَعَالَى وَتَقَدَّسَ.
Sebab jika terbukti qadimnya, maka mustahil ia tiada, sebagaimana nanti akan
dijelaskan dan dibuktikan dalam penetapan kekekalan Sang Pencipta Ta‘ala dan
Mahasuci.
اَلثَّالِثَةُ
قَوْلُنَا: مَا لَا يَخْلُو عَنِ الْحَوَادِثِ فَهُوَ حَادِثٌ.
Pernyataan ketiga adalah bahwa segala sesuatu yang tidak lepas dari hal-hal
baru, maka ia pun baru.
وَبُرْهَانُهُ
أَنَّهُ لَوْ لَمْ يَكُنْ كَذٰلِكَ لَكَانَ قَبْلَ كُلِّ حَادِثٍ حَوَادِثُ لَا
أَوَّلَ لَهَا.
Buktinya, jika tidak demikian, maka sebelum setiap yang baru akan ada hal-hal
baru yang tidak mempunyai permulaan.
وَلَوْ
لَمْ تَنْقَضِ تِلْكَ الْحَوَادِثُ بِجُمْلَتِهَا لَمْ تَنْتَهِ النُّوبَةُ إِلَى
وُجُودِ الْحَادِثِ الْحَاضِرِ فِي الْحَالِ.
Dan jika seluruh hal-hal baru itu belum selesai berlalu, maka giliran tidak
akan sampai kepada adanya sesuatu yang baru yang hadir sekarang.
وَانْقِضَاءُ
مَا لَا نِهَايَةَ لَهُ مُحَالٌ.
Selesainya sesuatu yang tidak berujung adalah mustahil.
وَلِأَنَّهُ
لَوْ كَانَ لِلْفَلَكِ دَوَرَاتٌ لَا نِهَايَةَ لَهَا لَكَانَ لَا يَخْلُو
عَدَدُهَا عَنْ أَنْ تَكُونَ شَفْعًا أَوْ وَتْرًا أَوْ شَفْعًا وَوَتْرًا
جَمِيعًا أَوْ لَا شَفْعًا وَلَا وَتْرًا.
Dan karena jika langit memiliki putaran yang tidak berhingga, maka jumlahnya
pasti tidak lepas dari kemungkinan genap, ganjil, sekaligus genap dan ganjil,
atau tidak genap dan tidak ganjil.
وَمُحَالٌ
أَنْ يَكُونَ شَفْعًا وَوَتْرًا جَمِيعًا أَوْ لَا شَفْعًا وَلَا وَتْرًا.
Dan mustahil ia sekaligus genap dan ganjil, atau tidak genap dan tidak ganjil.
فَإِنَّ
ذٰلِكَ جَمْعٌ بَيْنَ النَّفْيِ وَالْإِثْبَاتِ، إِذْ فِي إِثْبَاتِ أَحَدِهِمَا
نَفْيُ الْآخَرِ، وَفِي نَفْيِ أَحَدِهِمَا إِثْبَاتُ الْآخَرِ.
Karena itu berarti menggabungkan penafian dan penetapan sekaligus. Menetapkan
salah satunya berarti menafikan yang lain, dan menafikan salah satunya berarti
menetapkan yang lain.
وَمُحَالٌ
أَنْ يَكُونَ شَفْعًا، لِأَنَّ الشَّفْعَ يَصِيرُ وَتْرًا بِزِيَادَةِ وَاحِدٍ.
Dan mustahil jumlah itu genap, karena jumlah genap akan menjadi ganjil dengan
tambahan satu.
وَكَيْفَ
يَعُوزُ مَا لَا نِهَايَةَ لَهُ وَاحِدٌ؟
Bagaimana mungkin sesuatu yang tak berhingga kekurangan satu?
وَمُحَالٌ
أَنْ يَكُونَ وَتْرًا، إِذِ الْوَتْرُ يَصِيرُ شَفْعًا بِوَاحِدٍ، فَكَيْفَ
يَعُوزُهَا وَاحِدٌ مَعَ أَنَّهُ لَا نِهَايَةَ لِأَعْدَادِهَا؟
Dan mustahil pula jumlah itu ganjil, karena jumlah ganjil akan menjadi genap
dengan tambahan satu. Maka bagaimana mungkin ia kekurangan satu padahal
bilangannya tidak berhingga?
وَمُحَالٌ
أَنْ يَكُونَ لَا شَفْعًا وَلَا وَتْرًا، إِذْ لَهُ نِهَايَةٌ.
Dan mustahil pula ia tidak genap dan tidak ganjil, karena hal itu hanya berlaku
bagi sesuatu yang memiliki batas tertentu.
فَتَحَصَّلَ
مِنْ هٰذَا أَنَّ الْعَالَمَ لَا يَخْلُو عَنِ الْحَوَادِثِ، وَمَا لَا يَخْلُو
عَنِ الْحَوَادِثِ فَهُوَ إِذًا حَادِثٌ.
Maka hasil dari semua ini adalah bahwa alam tidak lepas dari hal-hal baru, dan
apa yang tidak lepas dari hal-hal baru berarti ia juga baru.
وَإِذَا
ثَبَتَ حُدُوثُهُ كَانَ افْتِقَارُهُ إِلَى الْمُحْدِثِ مِنَ الْمُدْرَكَاتِ
بِالضَّرُورَةِ.
Apabila kebaruan alam telah terbukti, maka kebutuhannya kepada yang
mengadakannya menjadi sesuatu yang diketahui secara pasti.
اَلْأَصْلُ
الثَّانِي: الْعِلْمُ بِأَنَّ اللهَ تَعَالَى قَدِيمٌ لَمْ يَزَلْ أَزَلِيًّا،
لَيْسَ لِوُجُودِهِ أَوَّلٌ، بَلْ هُوَ أَوَّلُ كُلِّ شَيْءٍ وَقَبْلَ كُلِّ
مَيِّتٍ وَحَيٍّ.
Pokok kedua: mengetahui bahwa Allah Ta‘ala itu qadim, senantiasa azali,
keberadaan-Nya tidak mempunyai permulaan. Bahkan Dia adalah yang pertama
sebelum segala sesuatu, sebelum setiap yang mati dan yang hidup.
وَبُرْهَانُهُ
أَنَّهُ لَوْ كَانَ حَادِثًا وَلَمْ يَكُنْ قَدِيمًا لَافْتَقَرَ هُوَ أَيْضًا
إِلَى مُحْدِثٍ، وَافْتَقَرَ مُحْدِثُهُ إِلَى مُحْدِثٍ، وَتَسَلْسَلَ ذٰلِكَ
إِلَى مَا لَا نِهَايَةَ.
Buktinya, jika Dia baru dan bukan qadim, maka Dia juga memerlukan yang
mengadakan. Yang mengadakan-Nya pun memerlukan yang mengadakan, dan hal itu
akan berantai tanpa batas.
وَمَا
تَسَلْسَلَ لَمْ يَتَحَصَّلْ، أَوْ يَنْتَهِيَ إِلَى مُحْدِثٍ قَدِيمٍ هُوَ
الْأَوَّلُ.
Sesuatu yang berantai tanpa akhir tidak akan pernah terwujud, kecuali berhenti
pada satu pengada yang qadim, yang menjadi permulaan.
وَذٰلِكَ
هُوَ الْمَطْلُوبُ الَّذِي سَمَّيْنَاهُ صَانِعَ الْعَالَمِ وَمُبْدِئَهُ
وَبَارِئَهُ وَمُحْدِثَهُ وَمُبْدِعَهُ.
Itulah yang kita maksud, yang kita namakan sebagai Pencipta alam, Pengadanya
pertama kali, Pembentuknya, Pengadanya, dan Penciptanya tanpa contoh
sebelumnya.
اَلْأَصْلُ
الثَّالِثُ: الْعِلْمُ بِأَنَّهُ تَعَالَى مَعَ كَوْنِهِ أَزَلِيًّا أَبَدِيًّا
لَيْسَ لِوُجُودِهِ آخِرٌ، فَهُوَ الْأَوَّلُ وَالْآخِرُ وَالظَّاهِرُ
وَالْبَاطِنُ، لِأَنَّ مَا ثَبَتَ قِدَمُهُ اسْتَحَالَ عَدَمُهُ.
Pokok ketiga: mengetahui bahwa Dia Ta‘ala, sekalipun azali dan abadi, tidak
memiliki akhir bagi keberadaan-Nya. Maka Dia adalah Yang Awal, Yang Akhir, Yang
Zahir, dan Yang Batin. Sebab apa yang telah tetap qadimnya mustahil menjadi
tiada.
وَبُرْهَانُهُ
أَنَّهُ لَوِ انْعَدَمَ لَكَانَ لَا يَخْلُو إِمَّا أَنْ يَنْعَدِمَ بِنَفْسِهِ
أَوْ بِمُعْدِمٍ يُضَادُّهُ.
Buktinya, jika Dia bisa tiada, maka tidak lepas dari dua kemungkinan: tiada
dengan sendirinya atau karena ada sesuatu yang meniadakannya dan berlawanan
dengannya.
وَلَوْ
جَازَ أَنْ يَنْعَدِمَ شَيْءٌ يُتَصَوَّرُ دَوَامُهُ لَجَازَ أَنْ يُوجَدَ شَيْءٌ
يُتَصَوَّرُ عَدَمُهُ بِنَفْسِهِ.
Andaikan boleh sesuatu yang dibayangkan kekal menjadi tiada, maka boleh pula
sesuatu yang dibayangkan tiada menjadi ada dengan sendirinya.
فَكَمَا
يَحْتَاجُ طُرُوءُ الْوُجُودِ إِلَى سَبَبٍ، فَكَذٰلِكَ يَحْتَاجُ طُرُوءُ
الْعَدَمِ إِلَى سَبَبٍ.
Sebagaimana munculnya wujud membutuhkan sebab, demikian pula munculnya
ketiadaan membutuhkan sebab.
وَبَاطِلٌ
أَنْ يَنْعَدِمَ بِمُعْدِمٍ يُضَادُّهُ، لِأَنَّ ذٰلِكَ الْمُعْدِمَ لَوْ كَانَ
قَدِيمًا لَمَا تُصُوِّرَ الْوُجُودُ مَعَهُ.
Dan batil bahwa Dia tiada karena sesuatu yang meniadakan dan berlawanan
dengan-Nya. Sebab, andaikan yang meniadakan itu qadim, tentu wujud tidak
mungkin dibayangkan bersamanya.
وَقَدْ
ظَهَرَ بِالْأَصْلَيْنِ السَّابِقَيْنِ وُجُودُهُ وَقِدَمُهُ، فَكَيْفَ كَانَ
وُجُودُهُ فِي الْقِدَمِ وَمَعَهُ ضِدُّهُ؟
Padahal dengan dua pokok sebelumnya telah jelas adanya Allah dan qadim-Nya.
Maka bagaimana mungkin wujud-Nya yang qadim itu bersamaan dengan adanya lawan
yang meniadakan-Nya?
فَإِنْ
كَانَ الضِّدُّ الْمُعْدِمُ حَادِثًا كَانَ مُحَالًا، إِذْ لَيْسَ الْحَادِثُ فِي
مُضَادَّتِهِ لِلْقَدِيمِ حَتَّى يَقْطَعَ وُجُودَهُ بِأَوْلَى مِنَ الْقَدِيمِ
فِي مُضَادَّتِهِ لِلْحَادِثِ حَتَّى يَدْفَعَ وُجُودَهُ، بَلِ الدَّفْعُ أَهْوَنُ
مِنَ الْقَطْعِ، وَالْقَدِيمُ أَقْوَى وَأَوْلَى مِنَ الْحَادِثِ.
Jika lawan yang meniadakan itu sesuatu yang baru, maka itu mustahil. Sebab yang
baru, dalam perlawanannya terhadap yang qadim hingga dapat memutus wujud-Nya,
tidaklah lebih layak daripada yang qadim dalam perlawanannya terhadap yang baru
hingga dapat menolak wujudnya. Bahkan menolak itu lebih ringan daripada
memutuskan, dan yang qadim lebih kuat serta lebih utama daripada yang baru.
اَلْأَصْلُ
الرَّابِعُ: الْعِلْمُ بِأَنَّهُ تَعَالَى لَيْسَ بِجَوْهَرٍ يَتَحَيَّزُ، بَلْ
يَتَعَالَى وَيَتَقَدَّسُ عَنْ مُنَاسَبَةِ الْحَيِّزِ.
Pokok keempat: mengetahui bahwa Dia Ta‘ala bukanlah jauhar yang menempati
ruang. Bahkan Dia Mahatinggi dan Mahasuci dari kesesuaian dengan ruang.
وَبُرْهَانُهُ
أَنَّ كُلَّ جَوْهَرٍ مُتَحَيِّزٍ فَهُوَ مُخْتَصٌّ بِحَيِّزِهِ، وَلَا يَخْلُو
مِنْ أَنْ يَكُونَ سَاكِنًا فِيهِ أَوْ مُتَحَرِّكًا عَنْهُ، فَلَا يَخْلُو عَنِ
الْحَرَكَةِ أَوِ السُّكُونِ.
Buktinya, setiap jauhar yang menempati ruang pasti terkhusus pada ruangnya, dan
tidak lepas dari keadaan diam di dalamnya atau bergerak darinya. Maka ia tidak
lepas dari gerak atau diam.
وَهُمَا
حَادِثَانِ، وَمَا لَا يَخْلُو عَنِ الْحَوَادِثِ فَهُوَ حَادِثٌ.
Sedangkan keduanya adalah baru, dan apa yang tidak lepas dari hal-hal baru
berarti ia juga baru.
وَلَوْ
تُصُوِّرَ جَوْهَرٌ مُتَحَيِّزٌ قَدِيمٌ لَكَانَ يُعْقَلُ قِدَمُ جَوَاهِرِ
الْعَالَمِ.
Andaikan dibayangkan adanya jauhar yang menempati ruang namun qadim, niscaya
qadimnya unsur-unsur alam pun dapat dibenarkan.
فَإِنْ
سَمَّاهُ مُسَمٍّ جَوْهَرًا وَلَمْ يُرِدْ بِهِ الْمُتَحَيِّزَ كَانَ مُخْطِئًا
مِنْ حَيْثُ اللَّفْظِ لَا مِنْ حَيْثُ الْمَعْنَى.
Bila ada orang menamai Allah sebagai “jauhar” namun tidak bermaksud dengan itu
sesuatu yang menempati ruang, maka ia salah dari sisi istilah, bukan dari sisi
makna yang ia maksud.
اَلْأَصْلُ
الْخَامِسُ: الْعِلْمُ بِأَنَّهُ تَعَالَى لَيْسَ بِجِسْمٍ مُؤَلَّفٍ مِنْ
جَوَاهِرَ.
Pokok kelima: mengetahui bahwa Dia Ta‘ala bukanlah jisim yang tersusun dari
unsur-unsur.
إِذِ
الْجِسْمُ عِبَارَةٌ عَنِ الْمُؤَلَّفِ مِنَ الْجَوَاهِرِ.
Sebab jisim adalah sesuatu yang tersusun dari jauhar-jauhar.
وَإِذَا
بَطَلَ كَوْنُهُ جَوْهَرًا مَخْصُوصًا بِحَيِّزٍ بَطَلَ كَوْنُهُ جِسْمًا، لِأَنَّ
كُلَّ جِسْمٍ مُخْتَصٌّ بِحَيِّزٍ وَمُرَكَّبٌ مِنْ جَوْهَرٍ.
Jika telah batal anggapan bahwa Dia adalah jauhar yang terkhusus dengan ruang,
maka batallah pula anggapan bahwa Dia adalah jisim. Sebab setiap jisim terikat
dengan ruang dan tersusun dari jauhar.
فَالْجَوْهَرُ
يَسْتَحِيلُ خُلُوُّهُ عَنِ الِافْتِرَاقِ وَالِاجْتِمَاعِ وَالْحَرَكَةِ
وَالسُّكُونِ وَالْهَيْئَةِ وَالْمِقْدَارِ، وَهٰذِهِ سِمَاتُ الْحُدُوثِ.
Jauhar mustahil lepas dari perpisahan, pertemuan, gerak, diam, bentuk, dan
ukuran. Semua itu adalah tanda-tanda kebaruan.
وَلَوْ
جَازَ أَنْ يُعْتَقَدَ أَنَّ صَانِعَ الْعَالَمِ جِسْمٌ لَجَازَ أَنْ يُعْتَقَدَتِ
الْإِلٰهِيَّةُ لِلشَّمْسِ وَالْقَمَرِ أَوْ لِشَيْءٍ آخَرَ مِنْ أَقْسَامِ
الْأَجْسَامِ.
Seandainya boleh diyakini bahwa Pencipta alam adalah jisim, maka boleh pula
diyakini ketuhanan pada matahari, bulan, atau sesuatu yang lain dari jenis
benda-benda.
فَإِنْ
تَجَاسَرَ مُتَجَاسِرٌ عَلَى تَسْمِيَتِهِ تَعَالَى جِسْمًا مِنْ غَيْرِ إِرَادَةِ
التَّأْلِيفِ مِنَ الْجَوَاهِرِ كَانَ ذٰلِكَ غَلَطًا فِي الِاسْمِ مَعَ
الْإِصَابَةِ فِي نَفْيِ مَعْنَى الْجِسْمِ.
Jika ada orang berani menamai Allah Ta‘ala sebagai jisim tanpa bermaksud bahwa
Dia tersusun dari jauhar-jauhar, maka itu adalah kesalahan dalam istilah,
meskipun benar dalam meniadakan makna jisim yang sebenarnya.
اَلْأَصْلُ
السَّادِسُ: الْعِلْمُ بِأَنَّهُ تَعَالَى لَيْسَ بِعَرَضٍ قَائِمٍ بِجِسْمٍ أَوْ
حَالٍّ فِي مَحَلٍّ، لِأَنَّ الْعَرَضَ مَا يَحِلُّ فِي الْجِسْمِ.
Pokok keenam: mengetahui bahwa Dia Ta‘ala bukanlah ‘aradh yang melekat pada
jisim atau menempati suatu tempat, karena ‘aradh adalah sesuatu yang bertempat
pada jisim.
فَكُلُّ
جِسْمٍ فَهُوَ حَادِثٌ لَا مَحَالَةَ، وَيَكُونُ مُحْدِثُهُ مَوْجُودًا قَبْلَهُ،
فَكَيْفَ يَكُونُ حَالًّا فِي الْجِسْمِ وَقَدْ كَانَ مَوْجُودًا فِي الْأَزَلِ
وَحْدَهُ وَمَا مَعَهُ غَيْرُهُ، ثُمَّ أَحْدَثَ الْأَجْسَامَ وَالْأَعْرَاضَ
بَعْدَهُ؟
Setiap jisim pasti baru, dan yang mengadakannya sudah ada sebelumnya. Maka
bagaimana mungkin Allah menempati jisim, padahal Dia telah ada sejak azali
seorang diri tanpa sesuatu pun bersama-Nya, kemudian setelah itu Dia
menciptakan jisim-jisim dan ‘aradh-‘aradh?
وَلِأَنَّهُ
عَالِمٌ قَادِرٌ مُرِيدٌ خَالِقٌ كَمَا سَيَأْتِي بَيَانُهُ، وَهٰذِهِ
الْأَوْصَافُ تَسْتَحِيلُ عَلَى الْأَعْرَاضِ، بَلْ لَا تُعْقَلُ إِلَّا
لِمَوْجُودٍ قَائِمٍ بِنَفْسِهِ مُسْتَقِلٍّ بِذَاتِهِ.
Dan karena Dia adalah Maha Mengetahui, Maha Kuasa, Maha Berkehendak, dan Maha
Pencipta, sebagaimana akan dijelaskan nanti. Sifat-sifat ini mustahil ada pada
‘aradh. Bahkan sifat-sifat itu hanya dapat dipahami pada sesuatu yang ada
dengan sendirinya dan berdiri sendiri dengan zatnya.
وَقَدْ
تَحَصَّلَ مِنْ هٰذِهِ الْأُصُولِ أَنَّهُ مَوْجُودٌ قَائِمٌ بِنَفْسِهِ لَيْسَ
بِجَوْهَرٍ وَلَا جِسْمٍ وَلَا عَرَضٍ.
Dari pokok-pokok ini telah jelas bahwa Allah itu ada, berdiri sendiri, bukan
jauhar, bukan jisim, dan bukan pula ‘aradh.
وَأَنَّ
الْعَالَمَ كُلَّهُ جَوَاهِرُ وَأَعْرَاضٌ وَأَجْسَامٌ، فَإِذًا لَا يُشْبِهُ
شَيْئًا وَلَا يُشْبِهُهُ شَيْءٌ، بَلْ هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ الَّذِي لَيْسَ
كَمِثْلِهِ شَيْءٌ.
Dan bahwa seluruh alam terdiri dari jauhar, ‘aradh, dan jisim. Maka Allah tidak
menyerupai sesuatu apa pun, dan tidak ada sesuatu pun yang menyerupai-Nya.
Bahkan Dia adalah Yang Maha Hidup, Maha Berdiri Sendiri, yang tidak ada sesuatu
pun yang serupa dengan-Nya.
وَأَنَّى
يُشْبِهُ الْمَخْلُوقُ خَالِقَهُ، وَالْمَقْدُورُ مُقَدِّرَهُ، وَالْمُصَوَّرُ
مُصَوِّرَهُ؟
Bagaimana mungkin makhluk menyerupai Penciptanya, yang diatur menyerupai
Pengaturnya, dan yang dibentuk menyerupai Pembentuknya?
وَالْأَجْسَامُ
وَالْأَعْرَاضُ كُلُّهَا مِنْ خَلْقِهِ وَصُنْعِهِ، فَاسْتَحَالَ الْقَضَاءُ
عَلَيْهِ بِمُمَاثَلَتِهِ وَمُشَابَهَتِهِ.
Semua jisim dan ‘aradh adalah ciptaan dan buatan-Nya. Maka mustahil menetapkan
adanya keserupaan dan kemiripan antara Dia dengan ciptaan-Nya.
اَلْأَصْلُ
السَّابِعُ: الْعِلْمُ بِأَنَّ اللهَ تَعَالَى مُنَزَّهُ الذَّاتِ عَنِ
الِاخْتِصَاصِ بِالْجِهَاتِ.
Pokok ketujuh: mengetahui bahwa zat Allah Ta‘ala Mahasuci dari keterikatan
dengan arah-arah.
فَإِنَّ
الْجِهَةَ إِمَّا فَوْقُ وَإِمَّا أَسْفَلُ وَإِمَّا يَمِينٌ وَإِمَّا شِمَالٌ
أَوْ قُدَّامٌ أَوْ خَلْفٌ.
Karena arah itu tidak lepas dari atas, bawah, kanan, kiri, depan, atau
belakang.
وَهٰذِهِ
الْجِهَاتُ هُوَ الَّذِي خَلَقَهَا وَأَحْدَثَهَا بِوَاسِطَةِ خَلْقِ الْإِنْسَانِ.
Arah-arah ini adalah sesuatu yang Dia sendiri ciptakan dan adakan melalui
penciptaan manusia.
إِذْ
خَلَقَ لَهُ طَرَفَيْنِ، أَحَدُهُمَا يَعْتَمِدُ عَلَى الْأَرْضِ وَيُسَمَّى
رِجْلًا، وَالْآخَرُ يُقَابِلُهُ وَيُسَمَّى رَأْسًا.
Dia menciptakan bagi manusia dua ujung: salah satunya bertumpu di bumi dan
disebut kaki, sedangkan yang lain berhadapan dengannya dan disebut kepala.
فَحَدَثَ
اسْمُ الْفَوْقِ لِمَا يَلِي جِهَةَ الرَّأْسِ، وَاسْمُ السُّفْلِ لِمَا يَلِي
جِهَةَ الرِّجْلِ.
Maka lahirlah istilah “atas” untuk sesuatu yang berada ke arah kepala, dan
istilah “bawah” untuk sesuatu yang berada ke arah kaki.
حَتَّى
إِنَّ النَّمْلَةَ الَّتِي تَدِبُّ مُنَكَّسَةً تَحْتَ السَّقْفِ تَنْقَلِبُ
جِهَةُ الْفَوْقِ فِي حَقِّهَا تَحْتًا، وَإِنْ كَانَ فِي حَقِّنَا فَوْقًا.
Bahkan seekor semut yang berjalan terbalik di bawah langit-langit, arah yang
“atas” baginya menjadi “bawah”, meskipun menurut kita itu adalah atas.
وَخَلَقَ
لِلْإِنْسَانِ الْيَدَيْنِ، وَإِحْدَاهُمَا أَقْوَى مِنَ الْأُخْرَى فِي
الْغَالِبِ، فَحَدَثَ اسْمُ الْيَمِينِ لِلْأَقْوَى، وَاسْمُ الشِّمَالِ لِمَا
يُقَابِلُهُ.
Dan Dia menciptakan bagi manusia dua tangan. Salah satunya umumnya lebih kuat
daripada yang lain. Maka lahirlah istilah “kanan” untuk yang lebih kuat, dan
“kiri” untuk yang berlawanan dengannya.
وَتُسَمَّى
الْجِهَةُ الَّتِي تَلِي الْيَمِينَ يَمِينًا، وَالْأُخْرَى شِمَالًا.
Arah yang berada di sisi kanan disebut kanan, dan yang satunya disebut kiri.
وَخَلَقَ
لَهُ جَانِبَيْنِ يُبْصِرُ مِنْ أَحَدِهِمَا وَيَتَحَرَّكُ إِلَيْهِ، فَحَدَثَ
اسْمُ الْقُدَّامِ لِلْجِهَةِ الَّتِي يَتَقَدَّمُ إِلَيْهَا بِالْحَرَكَةِ،
وَاسْمُ الْخَلْفِ لِمَا يُقَابِلُهَا.
Dan Dia menciptakan bagi manusia dua sisi. Dengan salah satunya manusia melihat
dan bergerak ke arahnya. Maka lahirlah istilah “depan” untuk arah yang dituju
dalam gerak, dan istilah “belakang” untuk arah yang berlawanan dengannya.
فَالْجِهَاتُ
حَادِثَةٌ بِحُدُوثِ الْإِنْسَانِ.
Jadi arah-arah itu baru, muncul dengan munculnya manusia.
وَلَوْ
لَمْ يُخْلَقِ الْإِنْسَانُ بِهٰذِهِ الْخِلْقَةِ، بَلْ خُلِقَ مُسْتَدِيرًا
كَالْكُرَةِ، لَمْ يَكُنْ لِهٰذِهِ الْجِهَاتِ وُجُودٌ أَلْبَتَّةَ.
Seandainya manusia tidak diciptakan dengan bentuk seperti ini, tetapi
diciptakan bulat seperti bola, niscaya arah-arah tersebut sama sekali tidak
akan ada.
فَكَيْفَ
كَانَ فِي الْأَزَلِ مُخْتَصًّا بِجِهَةٍ وَالْجِهَةُ حَادِثَةٌ؟
Maka bagaimana mungkin Allah pada azal terikat dengan suatu arah, padahal arah
itu sendiri baru?
وَكَيْفَ
صَارَ مُخْتَصًّا بِجِهَةٍ بَعْدَ أَنْ لَمْ يَكُنْ لَهُ؟
Dan bagaimana mungkin Dia kemudian menjadi terikat dengan arah, padahal
sebelumnya tidak demikian?
أَبِأَنْ
خَلَقَ الْعَالَمَ فَوْقَهُ؟
Apakah karena Dia menciptakan alam di atas-Nya?
وَيَتَعَالَى
عَنْ أَنْ يَكُونَ لَهُ فَوْقٌ، إِذْ تَعَالَى أَنْ يَكُونَ لَهُ رَأْسٌ،
وَالْفَوْقُ عِبَارَةٌ عَمَّا يَكُونُ جِهَةَ الرَّأْسِ.
Mahatinggi Dia dari memiliki “atas”, sebab Mahatinggi Dia dari memiliki kepala,
sedangkan “atas” hanyalah istilah bagi sesuatu yang berada di arah kepala.
أَوْ
خَلَقَ الْعَالَمَ تَحْتَهُ؟
Ataukah karena Dia menciptakan alam di bawah-Nya?
فَتَعَالَى
عَنْ أَنْ يَكُونَ لَهُ تَحْتٌ، إِذْ تَعَالَى عَنْ أَنْ يَكُونَ لَهُ رِجْلٌ،
وَالتَّحْتُ عِبَارَةٌ عَمَّا يَلِي جِهَةَ الرِّجْلِ.
Mahatinggi Dia dari memiliki “bawah”, sebab Mahatinggi Dia dari memiliki kaki,
sedangkan “bawah” hanyalah istilah bagi sesuatu yang berada di arah kaki.
وَكُلُّ
ذٰلِكَ مِمَّا يَسْتَحِيلُ فِي الْعَقْلِ.
Semua itu mustahil menurut akal.
وَلِأَنَّ
الْمَعْقُولَ مِنْ كَوْنِهِ مُخْتَصًّا بِجِهَةٍ أَنَّهُ مُخْتَصٌّ بِحَيِّزٍ
اخْتِصَاصَ الْجَوَاهِرِ، أَوْ مُخْتَصٌّ بِالْجَوَاهِرِ اخْتِصَاصَ الْعَرَضِ.
Karena makna yang dapat dipahami dari keterikatan pada arah ialah: terikat pada
ruang seperti jauhar, atau terikat pada jauhar seperti ‘aradh.
وَقَدْ
ظَهَرَ اسْتِحَالَةُ كَوْنِهِ جَوْهَرًا أَوْ عَرَضًا، فَاسْتَحَالَ كَوْنُهُ
مُخْتَصًّا بِالْجِهَةِ.
Padahal telah jelas mustahilnya Allah menjadi jauhar atau ‘aradh. Maka mustahil
pula Dia terikat dengan arah.
وَإِنْ
أُرِيدَ بِالْجِهَةِ غَيْرُ هٰذَيْنِ الْمَعْنَيَيْنِ كَانَ غَلَطًا فِي الِاسْمِ
مَعَ الْمُسَاعَدَةِ عَلَى الْمَعْنَى.
Jika yang dimaksud dengan arah bukan dua makna tersebut, maka itu hanya
kesalahan dalam istilah, meskipun mungkin dapat diterima dari sisi makna yang
dimaksud.
وَلِأَنَّهُ
لَوْ كَانَ فَوْقَ الْعَالَمِ لَكَانَ مُحَاذِيًا لَهُ.
Dan karena jika Allah berada di atas alam, niscaya Dia sejajar dengannya.
وَكُلُّ
مُحَاذٍ لِجِسْمٍ فَإِمَّا أَنْ يَكُونَ مِثْلَهُ أَوْ أَصْغَرَ مِنْهُ أَوْ
أَكْبَرَ.
Setiap sesuatu yang sejajar dengan benda pasti salah satu dari tiga
kemungkinan: sama besarnya, lebih kecil, atau lebih besar.
وَكُلُّ
ذٰلِكَ تَقْدِيرٌ مُحْوِجٌ بِالضَّرُورَةِ إِلَى مُقَدِّرٍ، وَيَتَعَالَى عَنْهُ
الْخَالِقُ الْوَاحِدُ الْمُدَبِّرُ.
Semua itu adalah ukuran yang pasti membutuhkan penentu. Mahatinggi Sang
Pencipta Yang Esa lagi Maha Mengatur dari hal semacam itu.
فَأَمَّا
رَفْعُ الْأَيْدِي عِنْدَ السُّؤَالِ إِلَى جِهَةِ السَّمَاءِ فَهُوَ لِأَنَّهَا
قِبْلَةُ الدُّعَاءِ.
Adapun mengangkat tangan ketika berdoa ke arah langit, hal itu karena langit
adalah kiblat doa.
وَفِيهِ
أَيْضًا إِشَارَةٌ إِلَى مَا هُوَ وَصْفٌ لِلْمَدْعُوِّ مِنَ الْجَلَالِ
وَالْكِبْرِيَاءِ، تَنْبِيهًا بِقَصْدِ جِهَةِ الْعُلُوِّ عَلَى صِفَةِ الْمَجْدِ
وَالْعَلَاءِ، فَإِنَّهُ تَعَالَى فَوْقَ كُلِّ مَوْجُودٍ بِالْقَهْرِ
وَالِاسْتِيلَاءِ.
Di dalamnya juga terdapat isyarat kepada sifat Dzat yang diseru, yaitu
keagungan dan kebesaran, sebagai penegasan bahwa maksud menuju arah ketinggian
adalah untuk menunjukkan sifat kemuliaan dan keluhuran. Sesungguhnya Dia Ta‘ala
berada di atas segala yang ada dengan kekuasaan mutlak dan penguasaan.
اَلْأَصْلُ
الثَّامِنُ: الْعِلْمُ بِأَنَّهُ تَعَالَى مُسْتَوٍ عَلَى عَرْشِهِ بِالْمَعْنَى
الَّذِي أَرَادَ اللهُ تَعَالَى بِالِاسْتِوَاءِ، وَهُوَ الَّذِي لَا يُنَافِي
وَصْفَ الْكِبْرِيَاءِ، وَلَا يَتَطَرَّقُ إِلَيْهِ سِمَاتُ الْحُدُوثِ
وَالْفَنَاءِ.
Pokok kedelapan: mengetahui bahwa Allah Ta‘ala beristiwa di atas Arasy-Nya
dengan makna yang Allah Ta‘ala kehendaki dari istiwa, yaitu makna yang tidak
bertentangan dengan sifat kebesaran-Nya dan tidak dimasuki oleh tanda-tanda
kebaruan dan kebinasaan.
وَهُوَ
الَّذِي أُرِيدَ بِالِاسْتِوَاءِ إِلَى السَّمَاءِ، حَيْثُ قَالَ فِي الْقُرْآنِ:
ثُمَّ اسْتَوَى إِلَى السَّمَاءِ وَهِيَ دُخَانٌ.
Dan itulah makna yang dimaksud dengan istiwa kepada langit, ketika Allah
berfirman dalam Al-Qur’an: “Kemudian Dia menuju kepada langit, sedang langit
itu masih berupa asap.”
وَلَيْسَ
ذٰلِكَ إِلَّا بِطَرِيقِ الْقَهْرِ وَالِاسْتِيلَاءِ، كَمَا قَالَ الشَّاعِرُ:
Hal itu tidak lain kecuali dalam makna penguasaan dan penaklukan, sebagaimana
dikatakan oleh seorang penyair:
قَدِ
اسْتَوَى بِشْرٌ عَلَى الْعِرَاقِ ... مِنْ غَيْرِ سَيْفٍ وَدَمٍ مُهْرَاقِ
“Bisyr telah berkuasa atas Irak, tanpa pedang dan tanpa darah yang tertumpah.”
وَاضْطُرَّ
أَهْلُ الْحَقِّ إِلَى هٰذَا التَّأْوِيلِ، كَمَا اضْطُرَّ أَهْلُ الْبَاطِنِ
إِلَى تَأْوِيلِ قَوْلِهِ تَعَالَى: وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَ مَا كُنْتُمْ.
Ahlulhaq terpaksa menakwil demikian, sebagaimana kaum yang memahami makna batin
juga terpaksa menakwil firman Allah Ta‘ala: “Dan Dia bersama kalian di mana
saja kalian berada.”
إِذْ
حُمِلَ ذٰلِكَ بِالِاتِّفَاقِ عَلَى الْإِحَاطَةِ وَالْعِلْمِ.
Sebab ayat itu, menurut kesepakatan, dipahami dalam makna meliputi dan
mengetahui.
وَحُمِلَ
قَوْلُهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: قَلْبُ الْمُؤْمِنِ بَيْنَ
إِصْبَعَيْنِ مِنْ أَصَابِعِ الرَّحْمٰنِ، عَلَى الْقُدْرَةِ وَالْقُوَّةِ.
Dan sabda Nabi صلى
الله عليه وسلم: “Hati seorang mukmin berada di antara dua jari dari jari-jari
ar-Rahman,” dipahami dalam makna kekuasaan dan kekuatan.
وَحُمِلَ
قَوْلُهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: الْحَجَرُ الْأَسْوَدُ يَمِينُ اللهِ
فِي أَرْضِهِ، عَلَى التَّشْرِيفِ وَالْإِكْرَامِ.
Dan sabda Nabi صلى
الله عليه وسلم: “Hajar Aswad adalah tangan kanan Allah di bumi-Nya,” dipahami
dalam makna pemuliaan dan penghormatan.
لِأَنَّهُ
لَوْ تُرِكَ عَلَى ظَاهِرِهِ لَلَزِمَ مِنْهُ الْمُحَالُ.
Karena jika dibiarkan pada makna lahiriahnya, niscaya akan mengharuskan sesuatu
yang mustahil.
فَكَذٰلِكَ
الِاسْتِوَاءُ لَوْ تُرِكَ عَلَى الِاسْتِقْرَارِ وَالتَّمَكُّنِ لَلَزِمَ مِنْهُ
كَوْنُ الْمُتَمَكِّنِ جِسْمًا مُمَاسًّا لِلْعَرْشِ، إِمَّا مِثْلَهُ أَوْ
أَكْبَرَ مِنْهُ أَوْ أَصْغَرَ.
Demikian pula istiwa, jika dipahami sebagai menetap dan menempati, niscaya akan
mengharuskan bahwa yang menempati itu adalah jisim yang bersentuhan dengan
Arasy, entah sama besar dengannya, lebih besar darinya, atau lebih kecil.
وَذٰلِكَ
مُحَالٌ.
Semua itu mustahil.
وَمَا
يُؤَدِّي إِلَى الْمُحَالِ فَهُوَ مُحَالٌ.
Dan apa yang mengantarkan kepada sesuatu yang mustahil, maka ia pun mustahil.
اَلْأَصْلُ
التَّاسِعُ: الْعِلْمُ بِأَنَّهُ تَعَالَى مَعَ كَوْنِهِ مُنَزَّهًا عَنِ
الصُّورَةِ وَالْمِقْدَارِ، مُقَدَّسًا عَنِ الْجِهَاتِ وَالْأَقْطَارِ، مَرْئِيٌّ
بِالْأَعْيُنِ وَالْأَبْصَارِ فِي الدَّارِ الْآخِرَةِ دَارِ الْقَرَارِ.
Pokok kesembilan: mengetahui bahwa Allah Ta‘ala, sekalipun Mahasuci dari bentuk
dan ukuran, serta Mahasuci dari arah dan penjuru, tetap dapat dilihat dengan
mata dan penglihatan di negeri akhirat, negeri yang kekal.
لِقَوْلِهِ
تَعَالَى: وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ نَاضِرَةٌ إِلَى رَبِّهَا نَاظِرَةٌ.
Hal ini berdasarkan firman Allah Ta‘ala: “Wajah-wajah pada hari itu
berseri-seri, kepada Tuhannya mereka melihat.”
وَلَا
يُرَى فِي الدُّنْيَا، تَصْدِيقًا لِقَوْلِهِ عَزَّ وَجَلَّ: لَا تُدْرِكُهُ
الْأَبْصَارُ وَهُوَ يُدْرِكُ الْأَبْصَارَ.
Dan Dia tidak dapat dilihat di dunia, sebagai pembenaran terhadap firman-Nya عز وجل:
“Penglihatan-penglihatan tidak dapat mencapai-Nya, sedangkan Dia mencapai
segala penglihatan.”
وَلِقَوْلِهِ
تَعَالَى فِي خِطَابِ مُوسَى عَلَيْهِ السَّلَامُ: لَنْ تَرَانِي.
Dan juga berdasarkan firman Allah Ta‘ala kepada Musa عليه السلام: “Engkau tidak akan
melihat-Ku.”
وَلَيْتَ
شِعْرِي كَيْفَ عَرَفَ الْمُعْتَزِلِيُّ مِنْ صِفَاتِ رَبِّ الْأَرْبَابِ مَا
جَهِلَهُ مُوسَى عَلَيْهِ السَّلَامُ؟
Aku ingin tahu, bagaimana seorang Mu‘tazili bisa mengetahui tentang sifat-sifat
Tuhan segala tuan sesuatu yang tidak diketahui oleh Musa عليه السلام?
وَكَيْفَ
سَأَلَ مُوسَى عَلَيْهِ السَّلَامُ الرُّؤْيَةَ مَعَ كَوْنِهَا مُحَالًا؟
Dan bagaimana Musa عليه
السلام meminta untuk melihat Allah, padahal menurut mereka hal itu
mustahil?
وَلَعَلَّ
الْجَهْلَ بِذَوِي الْبِدَعِ وَالْأَهْوَاءِ مِنَ الْجَهَلَةِ الْأَغْبِيَاءِ
أَوْلَى مِنَ الْجَهْلِ بِالْأَنْبِيَاءِ صَلَوَاتُ اللهِ عَلَيْهِمْ.
Barangkali menisbatkan kebodohan kepada para pengikut bid‘ah dan hawa nafsu
yang bodoh dan dungu lebih layak daripada menisbatkannya kepada para nabi,
semoga salawat Allah tercurah kepada mereka.
وَأَمَّا
وَجْهُ إِجْرَاءِ آيَةِ الرُّؤْيَةِ عَلَى الظَّاهِرِ فَهُوَ أَنَّهُ غَيْرُ
مُؤَدٍّ إِلَى الْمُحَالِ.
Adapun alasan memahami ayat tentang ru’yah menurut makna lahirnya ialah karena
hal itu tidak mengantarkan kepada kemustahilan.
فَإِنَّ
الرُّؤْيَةَ نَوْعُ كَشْفٍ وَعِلْمٍ، إِلَّا أَنَّهَا أَتَمُّ وَأَوْضَحُ مِنَ
الْعِلْمِ.
Sebab, ru’yah adalah sejenis penyingkapan dan pengetahuan, hanya saja ia lebih
sempurna dan lebih jelas daripada sekadar ilmu.
فَإِذَا
جَازَ تَعَلُّقُ الْعِلْمِ بِهِ وَلَيْسَ فِي جِهَةٍ، جَازَ تَعَلُّقُ الرُّؤْيَةِ
بِهِ وَلَيْسَ بِجِهَةٍ.
Apabila ilmu boleh berkaitan dengan Allah sementara Dia tidak berada pada suatu
arah, maka ru’yah pun boleh berkaitan dengan-Nya meskipun Dia tidak berada pada
suatu arah.
وَكَمَا
يَجُوزُ أَنْ يَرَى اللهُ تَعَالَى الْخَلْقَ وَلَيْسَ فِي مُقَابَلَتِهِمْ، جَازَ
أَنْ يَرَاهُ الْخَلْقُ مِنْ غَيْرِ مُقَابَلَةٍ.
Sebagaimana Allah Ta‘ala boleh melihat makhluk tanpa berada di hadapan mereka,
maka makhluk pun boleh melihat-Nya tanpa adanya saling berhadapan.
وَكَمَا
جَازَ أَنْ يُعْلَمَ مِنْ غَيْرِ كَيْفِيَّةٍ وَلَا صُورَةٍ، جَازَ أَنْ يُرَى
كَذٰلِكَ.
Dan sebagaimana Allah boleh diketahui tanpa kaifiyah dan tanpa bentuk, demikian
pula Dia boleh dilihat tanpa kaifiyah dan tanpa bentuk.
اَلْأَصْلُ
الْعَاشِرُ: الْعِلْمُ بِأَنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ وَاحِدٌ لَا شَرِيكَ لَهُ،
فَرْدٌ لَا نِدَّ لَهُ، انْفَرَدَ بِالْخَلْقِ وَالْإِبْدَاعِ، وَاسْتَبَدَّ
بِالْإِيجَادِ وَالِاخْتِرَاعِ.
Pokok kesepuluh: mengetahui bahwa Allah عز وجل itu Esa, tidak ada
sekutu bagi-Nya, tunggal, tidak ada tandingan bagi-Nya. Dia sendiri dalam
penciptaan dan pengadaan, dan hanya Dia yang berkuasa dalam mewujudkan dan
menciptakan.
لَا
مِثْلَ لَهُ يُسَاهِمُهُ وَيُسَاوِيهِ، وَلَا ضِدَّ لَهُ فَيُنَازِعُهُ
وَيُنَاوِيهِ.
Tidak ada yang serupa dengan-Nya yang dapat menyamai dan menandingi-Nya, dan
tidak ada lawan bagi-Nya yang dapat membantah dan menentang-Nya.
وَبُرْهَانُهُ
قَوْلُهُ تَعَالَى: لَوْ كَانَ فِيهِمَا آلِهَةٌ إِلَّا اللهُ لَفَسَدَتَا.
Bukti atas hal itu adalah firman Allah Ta‘ala: “Seandainya pada keduanya ada
tuhan-tuhan selain Allah, niscaya keduanya akan rusak.”
وَبَيَانُهُ
أَنَّهُ لَوْ كَانَا اثْنَيْنِ وَأَرَادَ أَحَدُهُمَا أَمْرًا، فَالثَّانِي إِنْ
كَانَ مُضْطَرًّا إِلَى مُسَاعَدَتِهِ كَانَ هٰذَا الثَّانِي مَقْهُورًا عَاجِزًا،
وَلَمْ يَكُنْ إِلٰهًا قَادِرًا.
Penjelasannya adalah: jika ada dua tuhan, lalu salah satunya menghendaki suatu
perkara, maka yang kedua jika terpaksa harus membantunya, berarti tuhan kedua
itu dikuasai dan lemah, sehingga ia bukan tuhan yang berkuasa.
وَإِنْ
كَانَ قَادِرًا عَلَى مُخَالَفَتِهِ وَمُدَافَعَتِهِ، كَانَ الثَّانِي قَوِيًّا
قَاهِرًا، وَالْأَوَّلُ ضَعِيفًا قَاصِرًا، وَلَمْ يَكُنْ إِلٰهًا قَادِرًا.
Dan jika yang kedua mampu menentang dan menolak kehendaknya, maka yang kedua
menjadi kuat dan mengalahkan, sedangkan yang pertama menjadi lemah dan tidak
berdaya, sehingga yang pertama pun bukan tuhan yang berkuasa.
اَلرُّكْنُ
الثَّانِي: الْعِلْمُ بِصِفَاتِ اللهِ تَعَالَى، وَمَدَارُهُ عَلَى عَشَرَةِ
أُصُولٍ.
Rukun kedua: mengetahui sifat-sifat Allah Ta‘ala, dan rukun ini berporos pada
sepuluh pokok.
اَلْأَصْلُ
الْأَوَّلُ: الْعِلْمُ بِأَنَّ صَانِعَ الْعَالَمِ قَادِرٌ، وَأَنَّهُ تَعَالَى
فِي قَوْلِهِ: وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ، صَادِقٌ.
Pokok pertama: mengetahui bahwa Pencipta alam itu Maha Kuasa, dan bahwa Dia
Ta‘ala benar dalam firman-Nya: “Dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu.”
لِأَنَّ
الْعَالَمَ مُحْكَمٌ فِي صَنْعَتِهِ، مُرَتَّبٌ فِي خِلْقَتِهِ.
Sebab alam ini sangat rapi dalam pembuatannya dan tersusun dalam penciptaannya.
وَمَنْ
رَأَى ثَوْبًا مِنْ دِيبَاجٍ حَسَنَ النَّسْجِ وَالتَّأْلِيفِ، مُتَنَاسِبَ
التَّطْرِيزِ وَالتَّطْرِيفِ، ثُمَّ تَوَهَّمَ صُدُورَ نَسْجِهِ عَنْ مَيِّتٍ لَا
اسْتِطَاعَةَ لَهُ، أَوْ عَنْ إِنْسَانٍ لَا قُدْرَةَ لَهُ، كَانَ مُنْخَلِعًا
عَنْ غَرِيزَةِ الْعَقْلِ، وَمُنْخَرِطًا فِي سِلْكِ أَهْلِ الْغَبَاوَةِ
وَالْجَهْلِ.
Barang siapa melihat kain sutra yang indah tenunannya, susunannya, sulamannya,
dan pinggirannya, lalu membayangkan bahwa tenunan itu berasal dari orang mati
yang tidak memiliki kemampuan, atau dari manusia yang tidak punya daya, maka ia
telah terlepas dari fitrah akal dan masuk dalam golongan orang-orang bodoh dan
dungu.
اَلْأَصْلُ
الثَّانِي: الْعِلْمُ بِأَنَّهُ تَعَالَى عَالِمٌ بِجَمِيعِ الْمَوْجُودَاتِ،
وَمُحِيطٌ بِكُلِّ الْمَخْلُوقَاتِ، لَا يَعْزُبُ عَنْ عِلْمِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ
فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي السَّمَاءِ، صَادِقٌ فِي قَوْلِهِ: وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ
عَلِيمٌ.
Pokok kedua: mengetahui bahwa Allah Ta‘ala mengetahui seluruh yang ada dan
meliputi seluruh makhluk. Tidak tersembunyi dari ilmu-Nya sebesar zarrah pun di
bumi maupun di langit. Dia benar dalam firman-Nya: “Dan Dia Maha Mengetahui
segala sesuatu.”
وَمُرْشِدٌ
إِلَى صِدْقِهِ بِقَوْلِهِ تَعَالَى: أَلَا يَعْلَمُ مَنْ خَلَقَ وَهُوَ
اللَّطِيفُ الْخَبِيرُ.
Dan Dia sendiri menunjukkan kebenaran hal itu dengan firman-Nya: “Apakah tidak
mengetahui Allah yang menciptakan, padahal Dia Maha Halus lagi Maha
Mengetahui?”
أَرْشَدَكَ
إِلَى الِاسْتِدْلَالِ بِالْخَلْقِ عَلَى الْعِلْمِ، بِأَنَّكَ لَا تَسْتَرِيبُ
فِي دَلَالَةِ الْخَلْقِ اللَّطِيفِ وَالصُّنْعِ الْمُزَيَّنِ بِالتَّرْتِيبِ،
وَلَوْ فِي الشَّيْءِ الْحَقِيرِ الضَّعِيفِ، عَلَى عِلْمِ الصَّانِعِ
بِكَيْفِيَّةِ التَّرْتِيبِ وَالتَّرْصِيفِ.
Allah membimbingmu untuk menjadikan penciptaan sebagai dalil atas ilmu-Nya.
Sebab engkau tidak meragukan bahwa ciptaan yang halus dan hasil karya yang
dihiasi dengan susunan yang rapi, meskipun pada sesuatu yang kecil dan lemah,
menunjukkan bahwa pembuatnya mengetahui tata cara penyusunan dan penataannya.
فَمَا
ذَكَرَهُ اللهُ سُبْحَانَهُ هُوَ الْمُنْتَهَى فِي الْهِدَايَةِ وَالتَّعْرِيفِ.
Maka apa yang disebutkan oleh Allah سبحانه itulah puncak petunjuk dan penjelasan.
اَلْأَصْلُ
الثَّالِثُ: الْعِلْمُ بِكَوْنِهِ عَزَّ وَجَلَّ حَيًّا.
Pokok ketiga: mengetahui bahwa Allah عز وجل itu Maha Hidup.
فَإِنَّ
مَنْ ثَبَتَ عِلْمُهُ وَقُدْرَتُهُ ثَبَتَ بِالضَّرُورَةِ حَيَاتُهُ.
Sebab siapa yang tetap baginya ilmu dan kuasa, maka secara pasti tetap pula
baginya kehidupan.
وَلَوْ
تُصُوِّرَ قَادِرٌ وَعَالِمٌ فَاعِلٌ مُدَبِّرٌ دُونَ أَنْ يَكُونَ حَيًّا،
لَجَازَ أَنْ يُشَكَّ فِي حَيَاةِ الْحَيَوَانَاتِ عِنْدَ تَرَدُّدِهَا فِي
الْحَرَكَاتِ وَالسَّكَنَاتِ.
Andaikan dapat dibayangkan adanya sesuatu yang berkuasa, mengetahui, bertindak,
dan mengatur namun tidak hidup, maka boleh pula diragukan kehidupan hewan
ketika bergerak dan diam.
بَلْ
فِي حَيَاةِ أَرْبَابِ الْحِرَفِ وَالصَّنَائِعِ.
Bahkan kehidupan para pelaku kerajinan dan pekerjaan pun akan dapat diragukan.
وَذٰلِكَ
انْغِمَاسٌ فِي غَمْرَةِ الْجَهَالَاتِ وَالضَّلَالَاتِ.
Semua itu adalah tenggelam dalam lautan kebodohan dan kesesatan.
اَلْأَصْلُ
الرَّابِعُ: الْعِلْمُ بِكَوْنِهِ تَعَالَى مُرِيدًا لِأَفْعَالِهِ.
Pokok keempat: mengetahui bahwa Allah Ta‘ala berkehendak terhadap
perbuatan-perbuatan-Nya.
فَلَا
مَوْجُودَ إِلَّا وَهُوَ مُسْتَنِدٌ إِلَى مَشِيئَتِهِ، وَصَادِرٌ عَنْ
إِرَادَتِهِ.
Tidak ada sesuatu pun yang ada melainkan bersandar kepada kehendak-Nya dan
keluar dari iradah-Nya.
فَهُوَ
الْمُبْدِئُ الْمُعِيدُ وَالْفَعَّالُ لِمَا يُرِيدُ.
Dialah Yang Memulai, Yang Mengembalikan, dan Maha Berbuat apa yang Dia
kehendaki.
وَكَيْفَ
لَا يَكُونُ مُرِيدًا، وَكُلُّ فِعْلٍ صَدَرَ مِنْهُ أَمْكَنَ أَنْ يَصْدُرَ
مِنْهُ ضِدُّهُ؟
Bagaimana mungkin Dia tidak berkehendak, padahal setiap perbuatan yang keluar
dari-Nya mungkin saja keluar lawannya?
وَمَا
لَا ضِدَّ لَهُ أَمْكَنَ أَنْ يَصْدُرَ مِنْهُ ذٰلِكَ بِعَيْنِهِ قَبْلَهُ أَوْ
بَعْدَهُ.
Dan sesuatu yang tidak memiliki lawan, tetap mungkin saja muncul dari-Nya lebih
dahulu atau lebih kemudian daripada waktu terjadinya.
وَالْقُدْرَةُ
تُنَاسِبُ الضِّدَّيْنِ وَالْوَقْتَيْنِ مُنَاسَبَةً وَاحِدَةً.
Kekuasaan memiliki keterkaitan yang sama terhadap dua hal yang berlawanan dan
dua waktu yang berbeda.
فَلَا
بُدَّ مِنْ إِرَادَةٍ صَارِفَةٍ لِلْقُدْرَةِ إِلَى أَحَدِ الْمَقْدُورَيْنِ.
Karena itu harus ada kehendak yang mengarahkan kekuasaan kepada salah satu dari
dua hal yang mungkin diwujudkan.
وَلَوْ
أَغْنَى الْعِلْمُ عَنِ الْإِرَادَةِ فِي تَخْصِيصِ الْمَعْلُومِ، حَتَّى يُقَالَ:
إِنَّمَا وُجِدَ فِي الْوَقْتِ الَّذِي سَبَقَ بِوُجُودِهِ، لَجَازَ أَنْ يُغْنِيَ
عَنِ الْقُدْرَةِ، حَتَّى يُقَالَ: وُجِدَ بِغَيْرِ قُدْرَةٍ لِأَنَّهُ سَبَقَ
الْعِلْمُ بِوُجُودِهِ فِيهِ.
Seandainya ilmu sudah cukup tanpa iradah dalam menentukan sesuatu yang
diketahui, sehingga dapat dikatakan: sesuatu itu ada pada waktu yang telah
didahului oleh ilmu tentang keberadaannya, maka niscaya ilmu juga cukup tanpa
qudrah, sehingga dapat dikatakan: sesuatu itu ada tanpa kekuasaan, karena ilmu
telah mendahului tentang keberadaannya pada waktu itu.
اَلْأَصْلُ
الْخَامِسُ: الْعِلْمُ بِأَنَّهُ تَعَالَى سَمِيعٌ بَصِيرٌ.
Pokok kelima: mengetahui bahwa Allah Ta‘ala Maha Mendengar lagi Maha Melihat.
لَا
يَعْزُبُ عَنْ رُؤْيَتِهِ هَوَاجِسُ الضَّمِيرِ وَخَفَايَا الْوَهْمِ
وَالتَّفْكِيرِ.
Tidak tersembunyi dari penglihatan-Nya lintasan hati dan rahasia khayalan serta
pikiran.
وَلَا
يَشُذُّ عَنْ سَمْعِهِ صَوْتُ دَبِيبِ النَّمْلَةِ السَّوْدَاءِ فِي اللَّيْلَةِ
الظَّلْمَاءِ عَلَى الصَّخْرَةِ الصَّمَّاءِ.
Dan tidak luput dari pendengaran-Nya suara langkah semut hitam di malam yang
gelap di atas batu yang keras.
وَكَيْفَ
لَا يَكُونُ سَمِيعًا بَصِيرًا، وَالسَّمْعُ وَالْبَصَرُ كَمَالٌ لَا مَحَالَةَ،
وَلَيْسَا بِنَقْصٍ؟
Bagaimana mungkin Dia tidak Maha Mendengar dan Maha Melihat, padahal mendengar
dan melihat adalah kesempurnaan, bukan kekurangan?
فَكَيْفَ
يَكُونُ الْمَخْلُوقُ أَكْمَلَ مِنَ الْخَالِقِ، وَالْمَصْنُوعُ أَسْنَى وَأَتَمَّ
مِنَ الصَّانِعِ؟
Bagaimana mungkin makhluk lebih sempurna daripada Pencipta, dan yang dibuat
lebih tinggi dan lebih sempurna daripada pembuatnya?
وَكَيْفَ
تَعْتَدِلُ الْقِسْمَةُ مَهْمَا وَقَعَ النَّقْصُ فِي جِهَتِهِ وَالْكَمَالُ فِي
خَلْقِهِ وَصَنْعَتِهِ؟
Bagaimana mungkin pembagian itu dianggap adil jika kekurangan disandarkan
kepada-Nya, sedangkan kesempurnaan ada pada makhluk dan ciptaan-Nya?
أَوْ
كَيْفَ تَسْتَقِيمُ حُجَّةُ إِبْرَاهِيمَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى
أَبِيهِ، إِذْ كَانَ يَعْبُدُ الْأَصْنَامَ جَهْلًا وَغَيًّا، فَقَالَ لَهُ: لِمَ
تَعْبُدُ مَا لَا يَسْمَعُ وَلَا يُبْصِرُ وَلَا يُغْنِي عَنْكَ شَيْئًا؟
Atau bagaimana hujah Ibrahim عليه
السلام terhadap ayahnya bisa benar, ketika ayahnya menyembah berhala
karena kebodohan dan kesesatan, lalu Ibrahim berkata kepadanya: “Mengapa engkau
menyembah sesuatu yang tidak mendengar, tidak melihat, dan tidak dapat
menolongmu sedikit pun?”
وَلَوِ
انْقَلَبَ ذٰلِكَ عَلَيْهِ فِي مَعْبُودِهِ لَأَضْحَتْ حُجَّتُهُ دَاحِضَةً
وَدِلَالَتُهُ سَاقِطَةً.
Seandainya sifat itu kembali kepada Tuhan yang ia sembah, niscaya hujah Ibrahim
akan gugur dan dalilnya menjadi batal.
وَلَمْ
يَصْدُقْ قَوْلُهُ تَعَالَى: وَتِلْكَ حُجَّتُنَا آتَيْنَاهَا إِبْرَاهِيمَ عَلَى
قَوْمِهِ.
Dan firman Allah Ta‘ala: “Itulah hujah Kami yang Kami berikan kepada Ibrahim
untuk menghadapi kaumnya,” tidak akan benar.
وَكَمَا
عُقِلَ كَوْنُهُ فَاعِلًا بِلَا جَارِحَةٍ، وَعَالِمًا بِلَا قَلْبٍ وَلَا
دِمَاغٍ، فَلْيُعْقَلْ كَوْنُهُ بَصِيرًا بِلَا حَدَقَةٍ وَسَمِيعًا بِلَا أُذُنٍ،
إِذْ لَا فَرْقَ بَيْنَهُمَا.
Sebagaimana dapat dipahami bahwa Allah berbuat tanpa anggota tubuh, dan
mengetahui tanpa jantung maupun otak, maka hendaklah dipahami pula bahwa Dia
melihat tanpa bola mata dan mendengar tanpa telinga, karena tidak ada perbedaan
antara keduanya.
اَلْأَصْلُ
السَّادِسُ: أَنَّهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى مُتَكَلِّمٌ بِكَلَامٍ، وَهُوَ وَصْفٌ
قَائِمٌ بِذَاتِهِ، لَيْسَ بِصَوْتٍ وَلَا حَرْفٍ.
Pokok keenam: bahwa Allah سبحانه
وتعالى berfirman dengan kalam, dan kalam itu adalah sifat yang berdiri
pada zat-Nya, bukan suara dan bukan huruf.
بَلْ
لَا يُشْبِهُ كَلَامُهُ كَلَامَ غَيْرِهِ، كَمَا لَا يُشْبِهُ وُجُودُهُ وُجُودَ
غَيْرِهِ.
Bahkan kalam-Nya tidak menyerupai kalam selain-Nya, sebagaimana wujud-Nya tidak
menyerupai wujud selain-Nya.
وَالْكَلَامُ
بِالْحَقِيقَةِ كَلَامُ النَّفْسِ، وَإِنَّمَا الْأَصْوَاتُ قُطِّعَتْ حُرُوفًا
لِلدَّلَالَاتِ، كَمَا يَدُلُّ عَلَيْهَا تَارَةً بِالْحَرَكَاتِ وَالْإِشَارَاتِ.
Kalam pada hakikatnya adalah kalam jiwa. Adapun suara hanyalah dipotong-potong
menjadi huruf untuk menjadi penunjuk makna, sebagaimana terkadang makna juga
ditunjukkan dengan gerak dan isyarat.
وَكَيْفَ
الْتَبَسَ هٰذَا عَلَى طَائِفَةٍ مِنَ الْأَغْبِيَاءِ، وَلَمْ يَلْتَبِسْ عَلَى
جُهَّالِ الشُّعَرَاءِ، حَيْثُ قَالَ قَائِلُهُمْ:
Bagaimana hal ini bisa samar bagi sekelompok orang dungu, padahal tidak samar
bagi para penyair yang awam, ketika salah seorang mereka berkata:
إِنَّ
الْكَلَامَ لَفِي الْفُؤَادِ وَإِنَّمَا ... جُعِلَ اللِّسَانُ عَلَى الْفُؤَادِ
دَلِيلًا
“Sesungguhnya kalam itu benar-benar berada di dalam hati, dan lidah hanyalah
dijadikan sebagai penunjuk terhadap apa yang ada di dalam hati.”
وَمَنْ
لَمْ يَعْقِلْهُ عَقْلُهُ، وَلَمْ يَنْهَهُ نُهَاهُ عَنْ أَنْ يَقُولَ: لِسَانِي
حَادِثٌ، وَلٰكِنْ مَا يَحْدُثُ فِيهِ بِقُدْرَتِي الْحَادِثَةِ قَدِيمٌ،
فَاقْطَعْ عَنْ عُقْلِهِ طَمَعَكَ، وَكُفَّ عَنْ خِطَابِهِ لِسَانَكَ.
Barang siapa akalnya tidak memahaminya, dan nalarnya tidak mencegahnya dari
ucapan: “Lidahku baru, tetapi apa yang muncul di dalamnya dengan kekuasaanku
yang baru itu qadim,” maka putuskanlah harapanmu terhadap akalnya dan tahanlah
lidahmu dari berbicara dengannya.
وَمَنْ
لَمْ يَفْهَمْ أَنَّ الْقَدِيمَ عِبَارَةٌ عَمَّا لَيْسَ قَبْلَهُ شَيْءٌ، وَأَنَّ
الْبَاءَ قَبْلَ السِّينِ فِي قَوْلِكَ: بِسْمِ اللهِ، فَلَا يَكُونُ السِّينُ
الْمُتَأَخِّرُ عَنِ الْبَاءِ قَدِيمًا، فَنَزِّهْ عَنِ الِالْتِفَاتِ إِلَيْهِ
قَلْبَكَ.
Dan barang siapa tidak memahami bahwa qadim berarti sesuatu yang tidak
didahului oleh apa pun, sedangkan huruf ba didahulukan atas sin dalam ucapanmu
“bismillah”, maka huruf sin yang datang setelah ba tidak mungkin qadim. Maka
sucikan hatimu dari menoleh kepada orang semacam itu.
فَلِلَّهِ
سُبْحَانَهُ سِرٌّ فِي إِبْعَادِ بَعْضِ الْعِبَادِ، وَمَنْ يُضْلِلِ اللهُ فَمَا
لَهُ مِنْ هَادٍ.
Allah سبحانه
memiliki rahasia dalam menjauhkan sebagian hamba. Barang siapa disesatkan oleh
Allah, maka tidak ada baginya seorang pemberi petunjuk pun.
وَمَنِ
اسْتَبْعَدَ أَنْ يَسْمَعَ مُوسَى عَلَيْهِ السَّلَامُ فِي الدُّنْيَا كَلَامًا
لَيْسَ بِصَوْتٍ وَلَا حَرْفٍ، فَلْيَسْتَنْكِرْ أَنْ يُرَى فِي الْآخِرَةِ
مَوْجُودٌ لَيْسَ بِجِسْمٍ وَلَا لَوْنٍ.
Barang siapa menganggap jauh kemungkinan Musa عليه السلام mendengar di dunia
kalam yang bukan suara dan bukan huruf, maka hendaklah ia juga menganggap aneh
bahwa di akhirat nanti dapat dilihat sesuatu yang ada tetapi bukan jisim dan
bukan warna.
وَإِنْ
عَقَلَ أَنْ يُرَى مَا لَيْسَ بِلَوْنٍ وَلَا جِسْمٍ وَلَا قَدْرٍ وَلَا
كَمِّيَّةٍ، وَهُوَ إِلَى الْآنِ لَمْ يَرَ غَيْرَهُ، فَلْيَعْقِلْ فِي حَاسَّةِ
السَّمْعِ مَا عَقَلَهُ فِي حَاسَّةِ الْبَصَرِ.
Jika ia dapat memahami bahwa sesuatu yang bukan warna, bukan jisim, bukan
ukuran, dan bukan kuantitas dapat dilihat, padahal sampai sekarang ia belum
pernah melihat selain yang demikian, maka hendaklah ia memahami pada indera
pendengaran apa yang telah ia pahami pada indera penglihatan.
وَإِنْ
عَقَلَ أَنْ يَكُونَ لَهُ عِلْمٌ وَاحِدٌ، هُوَ عِلْمٌ بِجَمِيعِ الْمَوْجُودَاتِ،
فَلْيَعْقِلْ صِفَةً وَاحِدَةً لِلذَّاتِ، هِيَ كَلَامٌ بِجَمِيعِ مَا دَلَّ
عَلَيْهِ مِنَ الْعِبَارَاتِ.
Jika ia dapat memahami adanya satu ilmu yang mencakup seluruh yang ada, maka
hendaklah ia memahami adanya satu sifat bagi zat, yaitu kalam yang mencakup
seluruh makna yang ditunjukkan oleh berbagai ungkapan.
وَإِنْ
عَقَلَ كَوْنَ السَّمٰوَاتِ السَّبْعِ وَكَوْنَ الْجَنَّةِ وَالنَّارِ مَكْتُوبَةً
فِي وَرَقَةٍ صَغِيرَةٍ، وَمَحْفُوظَةً فِي مِقْدَارِ ذَرَّةٍ مِنَ الْقَلْبِ،
وَأَنَّ كُلَّ ذٰلِكَ مَرْئِيٌّ فِي مِقْدَارِ عَدَسَةٍ مِنَ الْحَدَقَةِ، مِنْ
غَيْرِ أَنْ تَحِلَّ ذَاتُ السَّمٰوَاتِ وَالْأَرْضِ وَالْجَنَّةِ وَالنَّارِ فِي
الْحَدَقَةِ وَالْقَلْبِ وَالْوَرَقَةِ، فَلْيَعْقِلْ كَوْنَ الْكَلَامِ
مَقْرُوءًا بِالْأَلْسُنَةِ، مَحْفُوظًا فِي الْقُلُوبِ، مَكْتُوبًا فِي
الْمَصَاحِفِ، مِنْ غَيْرِ حُلُولِ ذَاتِ الْكَلَامِ فِيهَا.
Jika ia dapat memahami bahwa tujuh langit, surga, dan neraka dapat tertulis
pada selembar kertas kecil, tersimpan dalam ruang sekecil zarrah di dalam hati,
dan semua itu dapat terlihat dalam ukuran sebiji lentil pada bola mata, tanpa
harus zat langit, bumi, surga, dan neraka benar-benar menempati bola mata,
hati, dan kertas itu, maka hendaklah ia memahami bahwa kalam dapat dibaca
dengan lidah, dihafal dalam hati, dan ditulis dalam mushaf, tanpa zat kalam itu
sendiri menempati semuanya.
إِذْ
لَوْ حَلَّتْ بِكِتَابِ اللهِ ذَاتُ الْكَلَامِ فِي الْوَرَقِ، لَحَلَّتْ ذَاتُ
اللهِ تَعَالَى بِكِتَابَةِ اسْمِهِ فِي الْوَرَقِ، وَحَلَّتْ ذَاتُ النَّارِ
بِكِتَابَةِ اسْمِهَا فِي الْوَرَقِ، وَلَاحْتَرَقَ.
Sebab, jika dengan ditulisnya Kitab Allah zat kalam itu benar-benar menempati
kertas, maka zat Allah Ta‘ala juga akan menempati kertas dengan ditulisnya
nama-Nya, dan zat api juga akan menempati kertas dengan ditulisnya nama api,
lalu kertas itu pasti terbakar.
اَلْأَصْلُ
السَّابِعُ: أَنَّ الْكَلَامَ الْقَائِمَ بِنَفْسِهِ قَدِيمٌ، وَكَذٰلِكَ جَمِيعُ
صِفَاتِهِ.
Pokok ketujuh: bahwa kalam yang berdiri pada zat-Nya adalah qadim, demikian
pula seluruh sifat-sifat-Nya.
إِذْ
يَسْتَحِيلُ أَنْ يَكُونَ مَحَلًّا لِلْحَوَادِثِ، دَاخِلًا تَحْتَ التَّغَيُّرِ.
Sebab mustahil Allah menjadi tempat bagi hal-hal baru dan masuk dalam
perubahan.
بَلْ
يَجِبُ لِلصِّفَاتِ مِنْ نُعُوتِ الْقِدَمِ مَا يَجِبُ لِلذَّاتِ.
Bahkan bagi sifat-sifat berlaku sifat-sifat qadim sebagaimana yang berlaku bagi
zat.
فَلَا
تَعْتَرِيهِ التَّغَيُّرَاتُ، وَلَا تَحُلُّهُ الْحَادِثَاتُ.
Karena itu perubahan tidak menimpa-Nya dan hal-hal baru tidak menempati-Nya.
بَلْ
لَمْ يَزَلْ فِي قِدَمِهِ مَوْصُوفًا بِمَحَامِدِ الصِّفَاتِ، وَلَا يَزَالُ فِي
أَبَدِهِ كَذٰلِكَ، مُنَزَّهًا عَنْ تَغَيُّرِ الْحَالَاتِ.
Bahkan sejak azali Dia selalu disifati dengan sifat-sifat terpuji, dan akan
tetap demikian selama-lamanya, Mahasuci dari perubahan keadaan.
لِأَنَّ
مَا كَانَ مَحَلَّ الْحَوَادِثِ لَا يَخْلُو عَنْهَا، وَمَا لَا يَخْلُو عَنِ
الْحَوَادِثِ فَهُوَ حَادِثٌ.
Sebab apa yang menjadi tempat bagi hal-hal baru tidak akan lepas darinya, dan
apa yang tidak lepas dari hal-hal baru berarti ia sendiri baru.
وَإِنَّمَا
ثَبَتَ نَعْتُ الْحُدُوثِ لِلْأَجْسَامِ مِنْ حَيْثُ تَعَرُّضُهَا لِلتَّغَيُّرِ
وَتَقَلُّبِ الْأَوْصَافِ.
Sifat kebaruan hanya ditetapkan pada benda-benda karena ia mengalami perubahan
dan pergantian sifat.
فَكَيْفَ
يَكُونُ خَالِقُهَا مُشَارِكًا لَهَا فِي قَبُولِ التَّغَيُّرِ؟
Maka bagaimana mungkin Penciptanya ikut serupa dengannya dalam menerima
perubahan?
وَيَنْبَنِي
عَلَى هٰذَا أَنَّ كَلَامَهُ قَدِيمٌ قَائِمٌ بِذَاتِهِ، وَإِنَّمَا الْحَادِثُ
هِيَ الْأَصْوَاتُ الدَّالَّةُ عَلَيْهِ.
Atas dasar ini, kalam Allah adalah qadim dan berdiri pada zat-Nya, sedangkan
yang baru hanyalah suara-suara yang menunjukkan kepada kalam itu.
وَكَمَا
عُقِلَ قِيَامُ طَلَبِ التَّعَلُّمِ وَإِرَادَتِهِ بِذَاتِ الْوَالِدِ لِلْوَلَدِ
قَبْلَ أَنْ يُخْلَقَ وَلَدُهُ، حَتَّى إِذَا خُلِقَ وَلَدُهُ وَعَقَلَ، وَخَلَقَ
اللهُ لَهُ عِلْمًا مُتَعَلِّقًا بِمَا فِي قَلْبِ أَبِيهِ مِنَ الطَّلَبِ، صَارَ
مَأْمُورًا بِذٰلِكَ الطَّلَبِ الَّذِي قَامَ بِذَاتِ أَبِيهِ وَدَامَ وُجُودُهُ
إِلَى وَقْتِ مَعْرِفَةِ وَلَدِهِ لَهُ.
Sebagaimana dapat dipahami adanya keinginan dan kehendak seorang ayah agar
anaknya belajar, yang telah ada pada diri ayah itu sebelum anaknya diciptakan.
Lalu ketika anaknya telah diciptakan, berakal, dan Allah menciptakan baginya
pengetahuan yang berkaitan dengan apa yang ada dalam hati ayahnya dari
keinginan itu, maka si anak menjadi orang yang diperintah oleh kehendak
tersebut, yaitu kehendak yang telah ada pada diri ayahnya dan tetap ada sampai
saat anak itu mengetahuinya.
فَلْيُعْقَلْ
قِيَامُ الطَّلَبِ الَّذِي دَلَّ عَلَيْهِ قَوْلُهُ عَزَّ وَجَلَّ: اخْلَعْ
نَعْلَيْكَ، بِذَاتِ اللهِ، وَمَصِيرُ مُوسَى عَلَيْهِ السَّلَامُ مُخَاطَبًا بِهِ
بَعْدَ وُجُودِهِ، إِذْ خُلِقَتْ لَهُ مَعْرِفَةٌ بِذٰلِكَ الطَّلَبِ، وَسَمِعَ
لِذٰلِكَ الْكَلَامِ الْقَدِيمِ.
Maka hendaklah dipahami adanya tuntutan yang ditunjukkan oleh firman Allah عز وجل:
“Lepaskanlah kedua sandalmu,” yang berdiri pada zat Allah, dan bahwa Musa عليه السلام
menjadi orang yang diajak bicara dengan tuntutan itu setelah keberadaannya,
ketika diciptakan baginya pengetahuan tentang tuntutan tersebut dan ia
mendengar kalam yang qadim itu.
اَلْأَصْلُ
الثَّامِنُ: أَنَّ عِلْمَهُ قَدِيمٌ، فَلَمْ يَزَلْ عَالِمًا بِذَاتِهِ
وَصِفَاتِهِ وَمَا يُحْدِثُهُ مِنْ مَخْلُوقَاتِهِ.
Pokok kedelapan: bahwa ilmu Allah itu qadim. Dia senantiasa mengetahui zat-Nya,
sifat-sifat-Nya, dan apa yang akan Dia adakan dari makhluk-makhluk-Nya.
وَمَهْمَا
حَدَثَتِ الْمَخْلُوقَاتُ لَمْ يَحْدُثْ لَهُ عِلْمٌ بِهَا، بَلْ حَصَلَتْ
مَكْشُوفَةً لَهُ بِالْعِلْمِ الْأَزَلِيِّ.
Seberapa pun makhluk-makhluk itu menjadi ada, tidaklah muncul ilmu baru bagi
Allah tentangnya. Akan tetapi semua itu tersingkap bagi-Nya dengan ilmu azali.
إِذْ
لَوْ خُلِقَ لَنَا عِلْمٌ بِقُدُومِ زَيْدٍ عِنْدَ طُلُوعِ الشَّمْسِ، وَدَامَ
ذٰلِكَ الْعِلْمُ تَقْدِيرًا حَتَّى طَلَعَتِ الشَّمْسُ، لَكَانَ قُدُومُ زَيْدٍ
عِنْدَ طُلُوعِ الشَّمْسِ مَعْلُومًا لَنَا بِذٰلِكَ الْعِلْمِ مِنْ غَيْرِ
تَجَدُّدِ عِلْمٍ آخَرَ.
Sebab, seandainya diciptakan bagi kita pengetahuan tentang kedatangan Zaid saat
terbit matahari, lalu pengetahuan itu tetap ada hingga matahari terbit, maka
kedatangan Zaid saat terbit matahari akan diketahui oleh kita dengan ilmu itu
tanpa perlu muncul ilmu lain yang baru.
فَهٰكَذَا
يَنْبَغِي أَنْ يُفْهَمَ قِدَمُ عِلْمِ اللهِ تَعَالَى.
Demikianlah seharusnya dipahami qadimnya ilmu Allah Ta‘ala.
اَلْأَصْلُ
التَّاسِعُ: أَنَّ إِرَادَتَهُ قَدِيمَةٌ، وَهِيَ فِي الْقِدَمِ تَعَلَّقَتْ
بِإِحْدَاثِ الْحَوَادِثِ فِي أَوْقَاتِهَا اللَّائِقَةِ بِهَا عَلَى وَفْقِ
سَبْقِ الْعِلْمِ الْأَزَلِيِّ.
Pokok kesembilan: bahwa kehendak Allah itu qadim, dan sejak azali kehendak itu
telah berkaitan dengan pengadaan hal-hal baru pada waktu-waktu yang layak
baginya, sesuai dengan ilmu azali yang telah mendahuluinya.
إِذْ
لَوْ كَانَتْ حَادِثَةً لَصَارَ مَحَلًّا لِلْحَوَادِثِ.
Sebab, jika kehendak itu baru, maka Allah akan menjadi tempat bagi hal-hal
baru.
وَلَوْ
حَدَثَتْ فِي غَيْرِ ذَاتِهِ لَمْ يَكُنْ هُوَ مُرِيدًا لَهَا، كَمَا لَا تَكُونُ
أَنْتَ مُتَحَرِّكًا بِحَرَكَةٍ لَيْسَتْ فِي ذَاتِكَ.
Dan jika kehendak itu terjadi pada selain zat-Nya, maka Allah tidaklah menjadi
Dzat yang berkehendak dengannya, sebagaimana engkau tidak disebut bergerak
dengan gerak yang tidak ada pada dirimu.
وَكَيْفَمَا
قَدَّرْتَ فَيَفْتَقِرُ حُدُوثُهَا إِلَى إِرَادَةٍ أُخْرَى، وَكَذٰلِكَ
الْإِرَادَةُ الْأُخْرَى تَفْتَقِرُ إِلَى أُخْرَى، وَيَتَسَلْسَلُ الْأَمْرُ
إِلَى غَيْرِ نِهَايَةٍ.
Bagaimanapun engkau membayangkannya, munculnya kehendak itu akan membutuhkan
kehendak lain. Kehendak yang lain itu pun membutuhkan kehendak lain lagi,
sehingga urusannya akan berantai tanpa akhir.
وَلَوْ
جَازَ أَنْ تَحْدُثَ إِرَادَةٌ بِغَيْرِ إِرَادَةٍ، لَجَازَ أَنْ يَحْدُثَ
الْعَالَمُ بِغَيْرِ إِرَادَةٍ.
Seandainya boleh suatu kehendak muncul tanpa kehendak, maka boleh pula alam
muncul tanpa kehendak.
اَلْأَصْلُ
الْعَاشِرُ: أَنَّ اللهَ تَعَالَى عَالِمٌ بِعِلْمٍ، حَيٌّ بِحَيَاةٍ، قَادِرٌ
بِقُدْرَةٍ، وَمُرِيدٌ بِإِرَادَةٍ، وَمُتَكَلِّمٌ بِكَلَامٍ، وَسَمِيعٌ بِسَمْعٍ،
وَبَصِيرٌ بِبَصَرٍ، وَلَهُ هٰذِهِ الْأَوْصَافُ مِنْ هٰذِهِ الصِّفَاتِ
الْقَدِيمَةِ.
Pokok kesepuluh: bahwa Allah Ta‘ala Maha Mengetahui dengan ilmu, Maha Hidup
dengan hayat, Maha Kuasa dengan qudrah, Maha Berkehendak dengan iradah, Maha
Berfirman dengan kalam, Maha Mendengar dengan pendengaran, dan Maha Melihat
dengan penglihatan. Allah memiliki sifat-sifat ini melalui sifat-sifat-Nya yang
qadim.
وَقَوْلُ
الْقَائِلِ: عَالِمٌ بِلَا عِلْمٍ، كَقَوْلِهِ: غَنِيٌّ بِلَا مَالٍ، وَعِلْمٌ
بِلَا عَالِمٍ، وَعَالِمٌ بِلَا مَعْلُومٍ.
Ucapan orang yang mengatakan: “Maha Mengetahui tanpa ilmu,” sama seperti
ucapannya: “Kaya tanpa harta,” atau “ilmu tanpa orang yang mengetahui,” atau
“orang yang mengetahui tanpa sesuatu yang diketahui.”
فَإِنَّ
الْعِلْمَ وَالْمَعْلُومَ وَالْعَالِمَ مُتَلَازِمَةٌ، كَالْقَتْلِ وَالْمَقْتُولِ
وَالْقَاتِلِ.
Sebab ilmu, yang diketahui, dan yang mengetahui adalah saling berkaitan,
sebagaimana pembunuhan, yang dibunuh, dan pembunuh.
وَكَمَا
لَا يُتَصَوَّرُ قَاتِلٌ بِلَا قَتْلٍ وَلَا قَتِيلٍ، وَلَا يُتَصَوَّرُ قَتِيلٌ
بِلَا قَاتِلٍ وَلَا قَتْلٍ، كَذٰلِكَ لَا يُتَصَوَّرُ عَالِمٌ بِلَا عِلْمٍ،
وَلَا عِلْمٌ بِلَا مَعْلُومٍ، وَلَا مَعْلُومٌ بِلَا عَالِمٍ.
Sebagaimana tidak dapat dibayangkan adanya pembunuh tanpa pembunuhan dan tanpa
yang dibunuh, dan tidak dapat dibayangkan adanya yang dibunuh tanpa pembunuh
dan tanpa pembunuhan, demikian pula tidak dapat dibayangkan adanya yang
mengetahui tanpa ilmu, ilmu tanpa yang diketahui, dan yang diketahui tanpa yang
mengetahui.
بَلْ
هٰذِهِ الثَّلَاثَةُ مُتَلَازِمَةٌ فِي الْعَقْلِ، لَا يَنْفَكُّ بَعْضُهَا عَنِ
الْبَعْضِ.
Bahkan ketiga hal ini saling terkait dalam akal, tidak terpisah satu sama lain.
فَمَنْ
جَوَّزَ انْفِكَاكَ الْعَالِمِ عَنِ الْعِلْمِ فَلْيُجَوِّزْ انْفِكَاكَهُ عَنِ
الْمَعْلُومِ، وَانْفِكَاكَ الْعِلْمِ عَنِ الْعَالِمِ، إِذْ لَا فَرْقَ بَيْنَ
هٰذِهِ الْأَوْصَافِ.
Maka barang siapa membolehkan terpisahnya yang mengetahui dari ilmu, hendaklah
ia juga membolehkan terpisahnya yang mengetahui dari yang diketahui, dan
terpisahnya ilmu dari yang mengetahui, karena tidak ada perbedaan antara
sifat-sifat ini.
اَلرُّكْنُ
الثَّالِثُ: الْعِلْمُ بِأَفْعَالِ اللهِ تَعَالَى، وَمَدَارُهُ عَلَى عَشَرَةِ
أُصُولٍ.
Rukun ketiga: mengetahui perbuatan-perbuatan Allah Ta‘ala, dan rukun ini
berporos pada sepuluh pokok.
اَلْأَصْلُ
الْأَوَّلُ: الْعِلْمُ بِأَنَّ كُلَّ حَادِثٍ فِي الْعَالَمِ فَهُوَ فِعْلُهُ
وَخَلْقُهُ وَاخْتِرَاعُهُ، لَا خَالِقَ لَهُ سِوَاهُ، وَلَا مُحْدِثَ لَهُ إِلَّا
إِيَّاهُ.
Pokok pertama: mengetahui bahwa setiap sesuatu yang baru di alam ini adalah
perbuatan-Nya, ciptaan-Nya, dan pengadaan-Nya. Tidak ada pencipta selain Dia,
dan tidak ada yang mengadakan selain Dia.
خَلَقَ
الْخَلْقَ وَصَنَعَهُمْ، وَأَوْجَدَ قُدْرَتَهُمْ وَحَرَكَتَهُمْ.
Dia menciptakan makhluk dan membentuk mereka, serta mengadakan kemampuan dan
gerak mereka.
فَجَمِيعُ
أَفْعَالِ عِبَادِهِ مَخْلُوقَةٌ لَهُ، وَمُتَعَلِّقَةٌ بِقُدْرَتِهِ.
Maka seluruh perbuatan hamba-hamba-Nya adalah ciptaan-Nya dan terkait dengan
kekuasaan-Nya.
تَصْدِيقًا
لَهُ فِي قَوْلِهِ تَعَالَى: اللهُ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ.
Ini sebagai pembenaran terhadap firman Allah Ta‘ala: “Allah adalah Pencipta
segala sesuatu.”
وَفِي
قَوْلِهِ تَعَالَى: وَاللهُ خَلَقَكُمْ وَمَا تَعْمَلُونَ.
Dan firman-Nya Ta‘ala: “Allah menciptakan kalian dan apa yang kalian perbuat.”
وَفِي
قَوْلِهِ تَعَالَى: وَأَسِرُّوا قَوْلَكُمْ أَوِ اجْهَرُوا بِهِ إِنَّهُ عَلِيمٌ
بِذَاتِ الصُّدُورِ أَلَا يَعْلَمُ مَنْ خَلَقَ وَهُوَ اللَّطِيفُ الْخَبِيرُ.
Dan firman-Nya Ta‘ala: “Rahasiakanlah perkataan kalian atau tampakkanlah,
sesungguhnya Dia Maha Mengetahui isi dada. Apakah tidak mengetahui Allah yang
menciptakan, padahal Dia Maha Halus lagi Maha Mengetahui?”
أَمَرَ
الْعِبَادَ بِالتَّحَرُّزِ فِي أَقْوَالِهِمْ وَأَفْعَالِهِمْ وَإِسْرَارِهِمْ
وَإِضْمَارِهِمْ، لِعِلْمِهِ بِمَوَارِدِ أَفْعَالِهِمْ.
Allah memerintahkan para hamba untuk berhati-hati dalam perkataan, perbuatan,
rahasia, dan isi hati mereka, karena Dia mengetahui sumber-sumber perbuatan
mereka.
وَاسْتَدَلَّ
عَلَى الْعِلْمِ بِالْخَلْقِ.
Dan Dia menjadikan penciptaan sebagai dalil atas ilmu.
وَكَيْفَ
لَا يَكُونُ خَالِقًا لِفِعْلِ الْعَبْدِ، وَقُدْرَتُهُ تَامَّةٌ لَا قُصُورَ
فِيهَا، وَهِيَ مُتَعَلِّقَةٌ بِحَرَكَةِ أَبْدَانِ الْعِبَادِ، وَالْحَرَكَاتُ
مَتَمَاثِلَةٌ، وَتَعَلُّقُ الْقُدْرَةِ بِهَا لِذَاتِهَا؟
Bagaimana mungkin Allah tidak menjadi pencipta perbuatan hamba, padahal
kekuasaan-Nya sempurna tanpa kekurangan, kekuasaan itu berkaitan dengan gerak
tubuh para hamba, gerak-gerak itu serupa, dan keterkaitan kekuasaan dengan
gerak-gerak itu berdasarkan hakikat gerak itu sendiri?
فَمَا
الَّذِي يُقَصِّرُ تَعَلُّقَهَا عَنْ بَعْضِ الْحَرَكَاتِ دُونَ الْبَعْضِ مَعَ
تَمَاثُلِهَا؟
Lalu apa yang menyebabkan kekuasaan itu tidak berkaitan dengan sebagian gerak
dan hanya dengan sebagian yang lain, padahal semuanya serupa?
أَوْ
كَيْفَ يَكُونُ الْحَيَوَانُ مُسْتَبِدًّا بِالِاخْتِرَاعِ، وَيَصْدُرُ مِنَ
الْعَنْكَبُوتِ وَالنَّحْلِ وَسَائِرِ الْحَيَوَانَاتِ مِنْ لَطَائِفِ
الصَّنَائِعِ مَا يَتَحَيَّرُ فِيهِ عُقُولُ ذَوِي الْأَلْبَابِ؟
Atau bagaimana mungkin hewan dianggap mandiri dalam mencipta, padahal dari
laba-laba, lebah, dan hewan-hewan lainnya muncul berbagai karya halus yang
membuat akal orang-orang berakal merasa takjub?
فَكَيْفَ
انْفَرَدَتْ هِيَ بِاخْتِرَاعِهَا دُونَ رَبِّ الْأَرْبَابِ، وَهِيَ غَيْرُ
عَالِمَةٍ بِتَفْصِيلِ مَا يَصْدُرُ مِنْهَا مِنَ الِاكْتِسَابِ؟
Maka bagaimana mungkin hewan-hewan itu sendiri yang mandiri menciptakan hal
tersebut, bukan Tuhan segala tuan, padahal hewan-hewan itu sendiri tidak
mengetahui secara rinci apa yang muncul dari mereka dalam usaha-usaha itu?
هَيْهَاتَ
هَيْهَاتَ، ذَلَّتِ الْمَخْلُوقَاتُ، وَتَفَرَّدَ بِالْمُلْكِ وَالْمَلَكُوتِ
جَبَّارُ الْأَرْضِ وَالسَّمٰوَاتِ.
Sungguh jauh, sungguh jauh anggapan itu. Seluruh makhluk adalah lemah, dan
hanya Penguasa bumi dan langit sajalah yang sendiri memiliki kerajaan dan
kekuasaan mutlak.
اَلْأَصْلُ
الثَّانِي أَنَّ انْفِرَادَ اللهِ سُبْحَانَهُ بِاخْتِرَاعِ حَرَكَاتِ الْعِبَادِ
لَا يُخْرِجُهَا عَنْ كَوْنِهَا مَقْدُورَةً لِلْعِبَادِ عَلَى سَبِيلِ
الِاكْتِسَابِ، بَلِ اللهُ تَعَالَى خَلَقَ الْقُدْرَةَ وَالْمَقْدُورَ جَمِيعًا،
وَخَلَقَ الِاخْتِيَارَ وَالْمُخْتَارَ جَمِيعًا.
Pokok kedua: sesungguhnya hanya Allah سبحانه yang menciptakan
gerak-gerak para hamba, namun hal itu tidak mengeluarkannya dari sifat bahwa
gerak-gerak itu berada dalam kemampuan para hamba dalam bentuk perolehan
(kasb). Bahkan Allah Ta‘ala menciptakan kemampuan dan yang mampu dilakukan
sekaligus, serta menciptakan pilihan dan yang dipilih sekaligus.
فَأَمَّا
الْقُدْرَةُ فَوَصْفٌ لِلْعَبْدِ وَخَلْقٌ لِلرَّبِّ سُبْحَانَهُ، وَلَيْسَتْ
بِكَسْبٍ لَهُ.
Adapun kemampuan, maka ia adalah sifat bagi hamba dan ciptaan bagi Tuhan سبحانه,
serta bukan hasil usaha hamba.
وَأَمَّا
الْحَرَكَةُ فَخَلْقٌ لِلرَّبِّ تَعَالَى وَوَصْفٌ لِلْعَبْدِ وَكَسْبٌ لَهُ،
فَإِنَّهَا خُلِقَتْ مَقْدُورَةً بِقُدْرَةٍ هِيَ وَصْفُهُ، وَكَانَتْ
لِلْحَرَكَةِ نِسْبَةٌ إِلَى صِفَةٍ أُخْرَى تُسَمَّى قُدْرَةً، فَتُسَمَّى
بِاعْتِبَارِ تِلْكَ النِّسْبَةِ كَسْبًا.
Adapun gerak, maka ia adalah ciptaan Tuhan Ta‘ala, menjadi sifat bagi hamba,
dan merupakan hasil usaha baginya. Sebab gerak itu diciptakan sebagai sesuatu
yang berada dalam jangkauan kemampuan, dengan kemampuan yang menjadi sifat
hamba. Gerak itu memiliki nisbah kepada sifat lain yang disebut kemampuan. Maka
dengan mempertimbangkan nisbah itulah gerak disebut kasb.
وَكَيْفَ
تَكُونُ جَبْرًا مَحْضًا، وَهُوَ بِالضَّرُورَةِ يُدْرِكُ التَّفْرِقَةَ بَيْنَ
الْحَرَكَةِ الْمَقْدُورَةِ وَالرَّعْدَةِ الضَّرُورِيَّةِ؟
Bagaimana mungkin hal itu merupakan paksaan murni, padahal manusia secara pasti
dapat membedakan antara gerak yang berada dalam kemampuannya dan gemetar yang
terjadi secara terpaksa?
أَوْ
كَيْفَ يَكُونُ خَلْقًا لِلْعَبْدِ، وَهُوَ لَا يُحِيطُ عِلْمًا بِتَفَاصِيلِ
أَجْزَاءِ الْحَرَكَاتِ الْمُكْتَسَبَةِ وَأَعْدَادِهَا؟
Atau bagaimana mungkin gerak itu menjadi ciptaan hamba, padahal ia sendiri
tidak mengetahui secara menyeluruh rincian bagian-bagian gerak yang
diusahakannya dan jumlahnya?
وَإِذَا
بَطَلَ الطَّرَفَانِ لَمْ يَبْقَ إِلَّا الِاقْتِصَادُ فِي الِاعْتِقَادِ، وَهُوَ
أَنَّهَا مَقْدُورَةٌ بِقُدْرَةِ اللهِ تَعَالَى اخْتِرَاعًا، وَبِقُدْرَةِ
الْعَبْدِ عَلَى وَجْهٍ آخَرَ مِنَ التَّعَلُّقِ يُعَبَّرُ عَنْهُ بِالِاكْتِسَابِ.
Apabila kedua sisi itu batal, maka tidak tersisa kecuali sikap pertengahan
dalam keyakinan, yaitu bahwa gerak-gerak itu berada dalam kekuasaan Allah
Ta‘ala dari sisi penciptaan, dan berada dalam kemampuan hamba dari sisi
keterkaitan lain yang diungkapkan dengan istilah kasb.
وَلَيْسَ
مِنْ ضَرُورَةِ تَعَلُّقِ الْقُدْرَةِ بِالْمَقْدُورِ أَنْ يَكُونَ
بِالِاخْتِرَاعِ فَقَطْ، إِذْ قُدْرَةُ اللهِ تَعَالَى فِي الْأَزَلِ قَدْ كَانَتْ
مُتَعَلِّقَةً بِالْعَالَمِ، وَلَمْ يَكُنِ الِاخْتِرَاعُ حَاصِلًا بِهَا، وَهِيَ
عِنْدَ الِاخْتِرَاعِ مُتَعَلِّقَةٌ بِهِ نَوْعًا آخَرَ مِنَ التَّعَلُّقِ، فِيهِ
يَظْهَرُ أَنَّ تَعَلُّقَ الْقُدْرَةِ لَيْسَ مَخْصُوصًا بِحُصُولِ الْمَقْدُورِ
بِهَا.
Bukanlah suatu keharusan bahwa keterkaitan kekuasaan dengan sesuatu yang
dikuasai hanya dalam bentuk penciptaan semata. Sebab kekuasaan Allah Ta‘ala
sejak azali telah berkaitan dengan alam, namun penciptaan belum terjadi dengan
keterkaitan itu. Ketika penciptaan terjadi, kekuasaan itu berkaitan dengannya
dengan jenis keterkaitan lain. Di situlah tampak bahwa keterkaitan kekuasaan
tidak hanya khusus pada terwujudnya sesuatu dengannya.
اَلْأَصْلُ
الثَّالِثُ أَنَّ فِعْلَ الْعَبْدِ وَإِنْ كَانَ كَسْبًا لِلْعَبْدِ فَلَا
يَخْرُجُ عَنْ كَوْنِهِ مُرَادًا لِلَّهِ سُبْحَانَهُ.
Pokok ketiga: perbuatan hamba, sekalipun merupakan kasb bagi hamba, tetap tidak
keluar dari sifat bahwa ia dikehendaki oleh Allah سبحانه.
فَلَا
يَجْرِي فِي الْمُلْكِ وَالْمَلَكُوتِ طَرْفَةُ عَيْنٍ، وَلَا لَفْتَةُ خَاطِرٍ،
وَلَا فَلْتَةُ نَاظِرٍ، إِلَّا بِقَضَاءِ اللهِ وَقَدَرِهِ، وَبِإِرَادَتِهِ
وَمَشِيئَتِهِ.
Tidak terjadi di alam kekuasaan dan kerajaan Allah sekejap mata pun, tidak pula
lintasan hati, dan tidak pula lirikan pandangan, kecuali dengan qadha dan qadar
Allah, serta dengan iradah dan kehendak-Nya.
وَمِنْهُ
الشَّرُّ وَالْخَيْرُ، وَالنَّفْعُ وَالضَّرُّ، وَالْإِسْلَامُ وَالْكُفْرُ،
وَالْعِرْفَانُ وَالنُّكْرُ، وَالْفَوْزُ وَالْخُسْرَانُ، وَالْغَوَايَةُ
وَالرُّشْدُ، وَالطَّاعَةُ وَالْعِصْيَانُ، وَالشِّرْكُ وَالْإِيمَانُ.
Termasuk di dalamnya keburukan dan kebaikan, manfaat dan mudarat, Islam dan
kufur, pengenalan dan pengingkaran, keberuntungan dan kerugian, kesesatan dan
petunjuk, ketaatan dan kemaksiatan, syirik dan iman.
لَا
رَادَّ لِقَضَائِهِ، وَلَا مُعَقِّبَ لِحُكْمِهِ، يُضِلُّ مَنْ يَشَاءُ وَيَهْدِي
مَنْ يَشَاءُ، لَا يُسْأَلُ عَمَّا يَفْعَلُ وَهُمْ يُسْأَلُونَ.
Tidak ada yang dapat menolak qadha-Nya, dan tidak ada yang dapat membatalkan
hukum-Nya. Dia menyesatkan siapa yang Dia kehendaki dan memberi petunjuk kepada
siapa yang Dia kehendaki. Dia tidak ditanya tentang apa yang Dia perbuat,
sedangkan mereka lah yang akan ditanya.
وَيَدُلُّ
عَلَيْهِ مِنَ النَّقْلِ قَوْلُ الْأُمَّةِ قَاطِبَةً: مَا شَاءَ كَانَ وَمَا لَمْ
يَشَأْ لَمْ يَكُنْ.
Dalil naqli atas hal ini adalah perkataan seluruh umat: “Apa yang Allah
kehendaki pasti terjadi, dan apa yang tidak Dia kehendaki tidak akan terjadi.”
وَقَوْلُ
اللهِ عَزَّ وَجَلَّ: أَنْ لَوْ يَشَاءُ اللهُ لَهَدَى النَّاسَ جَمِيعًا.
Dan firman Allah عز وجل:
“Seandainya Allah menghendaki, niscaya Dia memberi petunjuk kepada seluruh
manusia.”
وَقَوْلُهُ
تَعَالَى: وَلَوْ شِئْنَا لَآتَيْنَا كُلَّ نَفْسٍ هُدَاهَا.
Dan firman-Nya Ta‘ala: “Dan jika Kami menghendaki, pasti Kami berikan kepada
setiap jiwa petunjuknya.”
وَيَدُلُّ
عَلَيْهِ مِنْ جِهَةِ الْعَقْلِ أَنَّ الْمَعَاصِيَ وَالْجَرَائِمَ إِنْ كَانَ
اللهُ يَكْرَهُهَا وَلَا يُرِيدُهَا، وَإِنَّمَا هِيَ جَارِيَةٌ عَلَى وَفْقِ
إِرَادَةِ الْعَدُوِّ إِبْلِيسَ لَعَنَهُ اللهُ، مَعَ أَنَّهُ عَدُوٌّ لِلَّهِ
سُبْحَانَهُ، وَالْجَارِي عَلَى وَفْقِ إِرَادَةِ الْعَدُوِّ أَكْثَرُ مِنَ
الْجَارِي عَلَى وَفْقِ إِرَادَتِهِ تَعَالَى، فَلَيْتَ شِعْرِي كَيْفَ
يَسْتَجِيزُ الْمُسْلِمُ أَنْ يَرُدَّ مُلْكَ الْجَبَّارِ ذِي الْجَلَالِ
وَالْإِكْرَامِ إِلَى رُتْبَةٍ لَوْ رُدَّتْ إِلَيْهَا رِيَاسَةُ زَعِيمِ ضَيْعَةٍ
لَاسْتَنْكَفَ مِنْهَا؟
Dalil akal atas hal ini ialah: jika maksiat dan kejahatan itu dibenci Allah dan
tidak dikehendaki-Nya, lalu semuanya justru berjalan sesuai kehendak musuh-Nya,
yaitu Iblis yang terlaknat, padahal ia adalah musuh Allah سبحانه, dan ternyata yang
berjalan sesuai kehendak musuh lebih banyak daripada yang berjalan sesuai
kehendak Allah Ta‘ala, maka sungguh mengherankan bagaimana seorang Muslim
berani menurunkan kerajaan Allah Yang Mahaperkasa dan Mahamulia kepada
tingkatan yang seandainya kepemimpinan kepala suatu desa disamakan dengannya,
niscaya ia akan merasa hina.
إِذْ
لَوْ كَانَ مَا يَسْتَمِرُّ لِعَدُوِّ الزَّعِيمِ فِي الْقَرْيَةِ أَكْثَرَ مِمَّا
يَسْتَقِيمُ لَهُ لَاسْتَنْكَفَ مِنْ زَعَامَتِهِ وَتَبَرَّأَ عَنْ وِلَايَتِهِ.
Sebab jika apa yang berjalan bagi musuh seorang pemimpin di suatu kampung lebih
banyak daripada yang berjalan baginya, tentu ia akan malu dengan
kepemimpinannya dan melepaskan diri dari kekuasaannya.
وَالْمَعْصِيَةُ
هِيَ الْغَالِبَةُ عَلَى الْخَلْقِ، وَكُلُّ ذٰلِكَ جَارٍ عِنْدَ الْمُبْتَدِعَةِ
عَلَى خِلَافِ إِرَادَةِ الْحَقِّ تَعَالَى، وَهٰذَا غَايَةُ الضَّعْفِ
وَالْعَجْزِ، تَعَالَى رَبُّ الْأَرْبَابِ عَنْ قَوْلِ الظَّالِمِينَ عُلُوًّا
كَبِيرًا.
Padahal kemaksiatan lebih dominan pada makhluk. Namun semua itu, menurut ahli
bid‘ah, berjalan bertentangan dengan kehendak Allah Ta‘ala. Ini adalah puncak
kelemahan dan ketidakberdayaan. Mahatinggi Tuhan segala tuan dari ucapan
orang-orang zalim itu setinggi-tingginya.
ثُمَّ
مَهْمَا ظَهَرَ أَنَّ أَفْعَالَ الْعِبَادِ مَخْلُوقَةٌ لِلَّهِ صَحَّ أَنَّهَا
مُرَادَةٌ لَهُ.
Kemudian, apabila telah jelas bahwa perbuatan para hamba diciptakan oleh Allah,
maka benarlah bahwa semuanya dikehendaki oleh-Nya.
فَإِنْ
قِيلَ: فَكَيْفَ يَنْهَى عَمَّا يُرِيدُ وَيَأْمُرُ بِمَا لَا يُرِيدُ؟ قُلْنَا:
الْأَمْرُ غَيْرُ الْإِرَادَةِ.
Jika dikatakan: “Lalu bagaimana mungkin Allah melarang sesuatu yang Dia
kehendaki dan memerintahkan sesuatu yang tidak Dia kehendaki?” Kami jawab:
perintah itu berbeda dari kehendak.
وَلِذٰلِكَ
إِذَا ضَرَبَ السَّيِّدُ عَبْدَهُ فَعَاتَبَهُ السُّلْطَانُ عَلَيْهِ، فَاعْتَذَرَ
بِتَمَرُّدِ عَبْدِهِ عَلَيْهِ، فَكَذَّبَهُ السُّلْطَانُ، فَأَرَادَ إِظْهَارَ
حُجَّتِهِ بِأَنْ يَأْمُرَ الْعَبْدَ بِفِعْلٍ وَيُخَالِفَهُ بَيْنَ يَدَيْهِ،
فَقَالَ لَهُ: أَسْرِجْ هٰذِهِ الدَّابَّةَ بِمَشْهَدٍ مِنَ السُّلْطَانِ، فَهُوَ
يَأْمُرُهُ بِمَا لَا يُرِيدُ امْتِثَالَهُ.
Karena itu, apabila seorang tuan memukul hambanya lalu raja menegurnya,
kemudian ia beralasan bahwa hambanya telah membangkang kepadanya, tetapi raja
mendustakannya, maka si tuan hendak menampakkan bukti atas alasannya dengan
cara memerintah hamba itu melakukan sesuatu lalu hamba itu membangkangnya di
hadapan raja. Maka ia berkata kepadanya: “Pasanglah pelana pada hewan ini,” di
hadapan raja. Dalam hal ini ia memerintahkan sesuatu yang sebenarnya tidak ia
kehendaki untuk ditaati.
وَلَوْ
لَمْ يَكُنْ آمِرًا لَمَا كَانَ عُذْرُهُ عِنْدَ السُّلْطَانِ مُمَهَّدًا.
Seandainya ia bukan benar-benar memberi perintah, maka alasannya di hadapan
raja tidak akan terbukti.
وَلَوْ
كَانَ مُرِيدًا لِامْتِثَالِهِ لَكَانَ مُرِيدًا لِهَلَاكِ نَفْسِهِ، وَهُوَ
مُحَالٌ.
Dan seandainya ia benar-benar menghendaki ketaatan hamba itu, berarti ia
menghendaki kebinasaan dirinya sendiri, dan itu mustahil.
اَلْأَصْلُ
الرَّابِعُ أَنَّ اللهَ تَعَالَى مُتَفَضِّلٌ بِالْخَلْقِ وَالِاخْتِرَاعِ،
وَمُتَطَوِّلٌ بِتَكْلِيفِ الْعِبَادِ، وَلَمْ يَكُنِ الْخَلْقُ وَالتَّكْلِيفُ
وَاجِبًا عَلَيْهِ.
Pokok keempat: sesungguhnya Allah Ta‘ala berbuat karunia dengan penciptaan dan
pengadaan, serta bermurah hati dengan pembebanan kepada para hamba. Penciptaan
dan taklif itu tidaklah wajib atas-Nya.
وَقَالَتِ
الْمُعْتَزِلَةُ: وَجَبَ عَلَيْهِ ذٰلِكَ لِمَا فِيهِ مِنْ مَصْلَحَةِ الْعِبَادِ.
Golongan Mu‘tazilah berkata: hal itu wajib atas Allah, karena di dalamnya
terdapat maslahat bagi para hamba.
وَهٰذَا
مُحَالٌ، إِذْ هُوَ الْمُوجِبُ وَالْآمِرُ وَالنَّاهِي، وَكَيْفَ يَتَهَدَّفُ
لِإِيجَابٍ أَوْ يَتَعَرَّضُ لِلُزُومٍ وَخِطَابٍ؟
Ini mustahil, sebab Dialah yang mewajibkan, memerintah, dan melarang. Maka
bagaimana mungkin Dia dikenai kewajiban atau terkena tuntutan dan perintah?
وَالْمُرَادُ
بِالْوَاجِبِ أَحَدُ أَمْرَيْنِ.
Yang dimaksud dengan “wajib” itu biasanya salah satu dari dua hal.
إِمَّا
الْفِعْلُ الَّذِي فِي تَرْكِهِ ضَرَرٌ، إِمَّا آجِلٌ، كَمَا يُقَالُ: يَجِبُ
عَلَى الْعَبْدِ أَنْ يُطِيعَ اللهَ حَتَّى لَا يُعَذِّبَهُ فِي الْآخِرَةِ
بِالنَّارِ، أَوْ ضَرَرٌ عَاجِلٌ، كَمَا يُقَالُ: يَجِبُ عَلَى الْعَطْشَانِ أَنْ
يَشْرَبَ حَتَّى لَا يَمُوتَ.
Pertama, perbuatan yang apabila ditinggalkan akan menimbulkan mudarat, baik
mudarat yang tertunda, seperti dikatakan: “Hamba wajib taat kepada Allah agar
tidak diazab di akhirat dengan neraka,” maupun mudarat yang segera, seperti
dikatakan: “Orang yang kehausan wajib minum agar tidak mati.”
وَإِمَّا
أَنْ يُرَادَ بِهِ الَّذِي يُؤَدِّي عَدَمُهُ إِلَى مُحَالٍ، كَمَا يُقَالُ:
وُجُودُ الْمَعْلُومِ وَاجِبٌ، إِذْ عَدَمُهُ يُؤَدِّي إِلَى مُحَالٍ، وَهُوَ أَنْ
يَصِيرَ الْعِلْمُ جَهْلًا.
Kedua, yang dimaksud adalah sesuatu yang ketiadaannya mengantarkan pada
kemustahilan, seperti dikatakan: “Adanya sesuatu yang diketahui itu wajib,”
karena ketiadaannya akan membawa kepada kemustahilan, yaitu berubahnya ilmu
menjadi kebodohan.
فَإِنْ
أَرَادَ الْخَصْمُ بِأَنَّ الْخَلْقَ وَاجِبٌ عَلَى اللهِ بِالْمَعْنَى
الْأَوَّلِ، فَقَدْ عَرَّضَهُ لِلضَّرَرِ.
Jika lawan bicara bermaksud bahwa penciptaan wajib atas Allah dengan makna yang
pertama, maka berarti ia telah menisbatkan kemungkinan mudarat kepada Allah.
وَإِنْ
أَرَادَ بِهِ الْمَعْنَى الثَّانِي فَهُوَ مُسَلَّمٌ، إِذْ بَعْدَ سَبْقِ
الْعِلْمِ لَا بُدَّ مِنْ وُجُودِ الْمَعْلُومِ.
Dan jika ia bermaksud makna yang kedua, maka itu kami terima. Sebab setelah
ilmu mendahului, pasti sesuatu yang diketahui itu ada.
وَإِنْ
أَرَادَ بِهِ مَعْنًى ثَالِثًا فَهُوَ غَيْرُ مَفْهُومٍ.
Dan jika ia menghendaki makna ketiga, maka itu tidak dapat dipahami.
وَقَوْلُهُ:
يَجِبُ لِمَصْلَحَةِ عِبَادِهِ، كَلَامٌ فَاسِدٌ.
Ucapannya: “Hal itu wajib demi maslahat para hamba,” adalah perkataan yang
rusak.
فَإِنَّهُ
إِذَا لَمْ يَتَضَرَّرْ بِتَرْكِ مَصْلَحَةِ الْعِبَادِ، لَمْ يَكُنْ لِلْوُجُوبِ
فِي حَقِّهِ مَعْنًى.
Sebab jika Allah tidak dirugikan dengan meninggalkan maslahat para hamba, maka
istilah kewajiban pada hak-Nya tidak memiliki makna.
ثُمَّ
إِنَّ مَصْلَحَةَ الْعِبَادِ فِي أَنْ يَخْلُقَهُمْ فِي الْجَنَّةِ.
Kemudian, sesungguhnya maslahat para hamba adalah jika Allah menciptakan mereka
langsung di surga.
فَأَمَّا
أَنْ يَخْلُقَهُمْ فِي دَارِ الْبَلَايَا وَيُعَرِّضَهُمْ لِلْخَطَايَا، ثُمَّ
يُهَدِّفَهُمْ لِخَطَرِ الْعِقَابِ وَهَوْلِ الْعَرْضِ وَالْحِسَابِ، فَمَا فِي
ذٰلِكَ غِبْطَةٌ عِنْدَ ذَوِي الْأَلْبَابِ.
Adapun menciptakan mereka di negeri ujian, menempatkan mereka pada kemungkinan
dosa, lalu menghadapkan mereka pada bahaya siksa dan kengerian hisab serta
penampakan amal, maka dalam hal itu tidak ada keberuntungan menurut orang-orang
berakal.
اَلْأَصْلُ
الْخَامِسُ أَنَّهُ يَجُوزُ عَلَى اللهِ سُبْحَانَهُ أَنْ يُكَلِّفَ الْخَلْقَ مَا
لَا يُطِيقُونَهُ، خِلَافًا لِلْمُعْتَزِلَةِ.
Pokok kelima: boleh bagi Allah سبحانه membebani makhluk dengan sesuatu yang
tidak sanggup mereka lakukan, berbeda dengan pendapat Mu‘tazilah.
وَلَوْ
لَمْ يَجُزْ ذٰلِكَ لَاسْتَحَالَ سُؤَالُ دَفْعِهِ، وَقَدْ سَأَلُوا ذٰلِكَ
فَقَالُوا: رَبَّنَا وَلَا تَحْمِلْنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهِ.
Seandainya hal itu tidak boleh, tentu mustahil memohon agar ia dijauhkan.
Padahal mereka telah memohon demikian dengan berkata: “Ya Tuhan kami, janganlah
Engkau pikulkan kepada kami apa yang tidak sanggup kami memikulnya.”
وَلِأَنَّ
اللهَ تَعَالَى أَخْبَرَ نَبِيَّهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِأَنَّ أَبَا
جَهْلٍ لَا يُصَدِّقُهُ، ثُمَّ أَمَرَهُ بِأَنْ يَأْمُرَهُ بِأَنْ يُصَدِّقَهُ فِي
جَمِيعِ أَقْوَالِهِ.
Dan karena Allah Ta‘ala memberitahu Nabi-Nya صلى الله عليه وسلم bahwa Abu Jahl tidak
akan membenarkannya, lalu Allah memerintahkan Nabi untuk memerintahkan Abu Jahl
agar membenarkannya dalam semua ucapannya.
وَكَانَ
مِنْ جُمْلَةِ أَقْوَالِهِ أَنَّهُ لَا يُصَدِّقُهُ.
Padahal termasuk bagian dari ucapan Nabi adalah bahwa Abu Jahl tidak akan
membenarkannya.
فَكَيْفَ
يُصَدِّقُهُ فِي أَنَّهُ لَا يُصَدِّقُهُ؟
Lalu bagaimana mungkin Abu Jahl membenarkannya dalam hal bahwa ia tidak akan
membenarkannya?
وَهَلْ
هٰذَا إِلَّا مَحَالٌ وُجُودُهُ؟
Bukankah ini adalah sesuatu yang mustahil terjadi?
اَلْأَصْلُ
السَّادِسُ أَنَّ لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ إِيلَامَ الْخَلْقِ وَتَعْذِيبَهُمْ مِنْ
غَيْرِ جُرْمٍ سَابِقٍ وَمِنْ غَيْرِ ثَوَابٍ لَاحِقٍ، خِلَافًا لِلْمُعْتَزِلَةِ.
Pokok keenam: bahwa Allah عز وجل
berhak menyakiti makhluk dan mengazab mereka tanpa dosa yang lebih dahulu dan
tanpa pahala yang akan datang, berbeda dengan pendapat Mu‘tazilah.
لِأَنَّهُ
مُتَصَرِّفٌ فِي مُلْكِهِ، وَلَا يُتَصَوَّرُ أَنْ يَعْدُوَ تَصَرُّفُهُ مُلْكَهُ.
Sebab Dia bertindak pada milik-Nya sendiri, dan tidak mungkin tindakan-Nya
melampaui milik-Nya.
وَالظُّلْمُ
هُوَ عِبَارَةٌ عَنِ التَّصَرُّفِ فِي مُلْكِ الْغَيْرِ بِغَيْرِ إِذْنِهِ، وَهُوَ
مُحَالٌ عَلَى اللهِ تَعَالَى، فَإِنَّهُ لَا يُصَادِفُ لِغَيْرِهِ مُلْكًا حَتَّى
يَكُونَ تَصَرُّفُهُ فِيهِ ظُلْمًا.
Kezaliman adalah bertindak atas milik orang lain tanpa izinnya. Hal ini
mustahil bagi Allah Ta‘ala, karena Dia tidak mendapati adanya milik orang lain
sehingga tindakan-Nya di dalamnya dapat disebut zalim.
وَيَدُلُّ
عَلَى جَوَازِ ذٰلِكَ وُجُودُهُ، فَإِنَّ ذَبْحَ الْبَهَائِمِ إِيلَامٌ لَهَا،
وَمَا صُبَّ عَلَيْهَا مِنْ أَنْوَاعِ الْعَذَابِ مِنْ جِهَةِ الْآدَمِيِّينَ لَمْ
تَتَقَدَّمْهَا جَرِيمَةٌ.
Bukti bolehnya hal itu adalah kenyataannya sendiri. Menyembelih hewan adalah
menyakitinya, dan berbagai macam penderitaan yang ditimpakan manusia kepada
hewan-hewan itu tidak didahului oleh dosa dari hewan-hewan tersebut.
فَإِنْ
قِيلَ: إِنَّ اللهَ تَعَالَى يَحْشُرُهَا وَيُجَازِيهَا عَلَى قَدْرِ مَا قَاسَتْ
مِنَ الْآلَامِ، وَيَجِبُ ذٰلِكَ عَلَى اللهِ سُبْحَانَهُ.
Jika dikatakan: “Sesungguhnya Allah Ta‘ala akan mengumpulkan hewan-hewan itu
dan memberi balasan kepada mereka sesuai kadar penderitaan yang mereka alami,
dan hal itu wajib atas Allah سبحانه.”
فَقَوْلُ
مَنْ زَعَمَ أَنَّهُ يَجِبُ عَلَى اللهِ إِحْيَاءُ كُلِّ نَمْلَةٍ وُطِئَتْ
وَكُلِّ بَقَّةٍ عُرِكَتْ حَتَّى يُثِيبَهَا عَلَى آلَامِهَا، فَقَدْ خَرَجَ عَنِ
الشَّرْعِ وَالْعَقْلِ.
Maka orang yang beranggapan bahwa wajib atas Allah menghidupkan kembali setiap
semut yang terinjak dan setiap kutu yang diremas agar diberi pahala atas rasa
sakitnya, sungguh telah keluar dari batas syariat dan akal.
إِذْ
يُقَالُ: وَصْفُ الثَّوَابِ وَالْحَشْرِ بِكَوْنِهِ وَاجِبًا عَلَيْهِ، إِنْ كَانَ
الْمُرَادُ بِهِ أَنَّهُ يَتَضَرَّرُ بِتَرْكِهِ، فَهُوَ مُحَالٌ.
Sebab dikatakan: menyifati pahala dan pengumpulan itu sebagai sesuatu yang
wajib atas Allah, jika yang dimaksud adalah bahwa Allah akan dirugikan jika
meninggalkannya, maka itu mustahil.
وَإِنْ
أُرِيدَ بِهِ غَيْرُهُ، فَقَدْ سَبَقَ أَنَّهُ غَيْرُ مَفْهُومٍ، إِذْ خَرَجَ عَنِ
الْمَعَانِي الْمَذْكُورَةِ لِلْوَاجِبِ.
Dan jika yang dimaksud selain itu, maka telah dijelaskan sebelumnya bahwa itu
tidak dapat dipahami, karena telah keluar dari makna-makna “wajib” yang telah
disebutkan.
اَلْأَصْلُ
السَّابِعُ أَنَّهُ تَعَالَى يَفْعَلُ بِعِبَادِهِ مَا يَشَاءُ، فَلَا يَجِبُ
عَلَيْهِ رِعَايَةُ الْأَصْلَحِ لِعِبَادِهِ، لِمَا ذَكَرْنَاهُ مِنْ أَنَّهُ لَا
يَجِبُ عَلَيْهِ سُبْحَانَهُ شَيْءٌ، بَلْ لَا يُعْقَلُ فِي حَقِّهِ الْوُجُوبُ،
فَإِنَّهُ لَا يُسْأَلُ عَمَّا يَفْعَلُ وَهُمْ يُسْأَلُونَ.
Pokok ketujuh: sesungguhnya Allah Ta‘ala berbuat terhadap hamba-hamba-Nya apa
yang Dia kehendaki. Tidak wajib atas-Nya memperhatikan yang paling maslahat
bagi mereka, sebagaimana telah kami jelaskan bahwa tidak ada sesuatu pun yang
wajib atas-Nya. Bahkan konsep wajib itu sendiri tidak dapat diterapkan pada
hak-Nya. Dia tidak ditanya tentang apa yang Dia perbuat, sedangkan merekalah
yang ditanya.
وَلَيْتَ
شِعْرِي بِمَاذَا يُجِيبُ الْمُعْتَزِلِيُّ فِي قَوْلِهِ: إِنَّ الْأَصْلَحَ
وَاجِبٌ عَلَيْهِ، فِي مَسْأَلَةٍ نَعْرِضُهَا عَلَيْهِ؟
Aku ingin tahu, dengan apa seorang Mu‘tazili akan menjawab ketika ia berkata:
“Yang paling maslahat wajib atas Allah,” pada persoalan yang kami ajukan
kepadanya?
وَهُوَ
أَنْ يُفْرَضَ مُنَاظَرَةٌ فِي الْآخِرَةِ بَيْنَ صَبِيٍّ وَبَالِغٍ مَاتَا
مُسْلِمَيْنِ.
Yaitu andaikan terjadi perdebatan di akhirat antara seorang anak kecil dan
seorang dewasa, keduanya meninggal dalam keadaan Muslim.
فَإِنَّ
اللهَ سُبْحَانَهُ يَزِيدُ فِي دَرَجَاتِ الْبَالِغِ وَيُفَضِّلُهُ عَلَى
الصَّبِيِّ، لِأَنَّهُ تَعِبَ بِالْإِيمَانِ وَالطَّاعَاتِ بَعْدَ الْبُلُوغِ،
وَيَجِبُ عَلَيْهِ ذٰلِكَ عِنْدَ الْمُعْتَزِلِيِّ.
Sesungguhnya Allah سبحانه
meninggikan derajat orang dewasa dan melebihkannya atas anak kecil, karena
orang dewasa itu telah bersusah payah dengan iman dan ketaatan setelah balig.
Menurut Mu‘tazili, hal itu wajib bagi Allah.
فَلَوْ
قَالَ الصَّبِيُّ: يَا رَبِّ، لِمَ رَفَعْتَ مَنْزِلَتَهُ عَلَيَّ؟
Seandainya si anak kecil berkata: “Ya Tuhanku, mengapa Engkau meninggikan
kedudukannya di atasku?”
فَيَقُولُ:
لِأَنَّهُ بَلَغَ وَاجْتَهَدَ فِي الطَّاعَاتِ.
Maka dijawab: “Karena ia telah balig dan bersungguh-sungguh dalam ketaatan.”
وَيَقُولُ
الصَّبِيُّ: أَنْتَ أَمَتَّنِي فِي الصِّبَا، فَكَانَ يَجِبُ عَلَيْكَ أَنْ
تُدِيمَ حَيَاتِي حَتَّى أَبْلُغَ فَأَجْتَهِدَ، فَقَدْ عَدَلْتَ عَنِ الْعَدْلِ
فِي التَّفَضُّلِ عَلَيْهِ بِطُولِ الْعُمُرِ لَهُ دُونِي، فَلِمَ فَضَّلْتَهُ؟
Lalu si anak berkata: “Engkau mematikanku saat kecil. Seharusnya Engkau
membiarkan aku hidup sampai balig agar aku dapat bersungguh-sungguh juga.
Engkau telah meninggalkan keadilan dengan memberi kelebihan kepadanya berupa
umur panjang, bukan kepadaku. Maka mengapa Engkau mengutamakannya?”
فَيَقُولُ
اللهُ تَعَالَى: لِأَنِّي عَلِمْتُ أَنَّكَ لَوْ بَلَغْتَ لَأَشْرَكْتَ أَوْ
عَصَيْتَ، فَكَانَ الْأَصْلَحُ لَكَ الْمَوْتُ فِي الصِّبَا.
Maka Allah Ta‘ala menjawab: “Karena Aku mengetahui bahwa jika engkau balig,
engkau akan berbuat syirik atau maksiat. Maka yang paling maslahat bagimu
adalah mati saat kecil.”
هٰذَا
عُذْرُ الْمُعْتَزِلِيِّ عَنِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ.
Inilah jawaban Mu‘tazili atas nama Allah عز وجل.
وَعِنْدَ
هٰذَا يُنَادِي الْكُفَّارُ مِنْ دَرَكَاتِ لَظَى وَيَقُولُونَ: يَا رَبِّ، أَمَا
عَلِمْتَ أَنَّا إِذَا بَلَغْنَا أَشْرَكْنَا، فَهَلَّا أَمَتَّنَا فِي الصِّبَا؟
Pada saat itu orang-orang kafir dari lapisan-lapisan neraka Jahannam berseru:
“Ya Tuhan kami, bukankah Engkau juga mengetahui bahwa jika kami balig, kami
akan berbuat syirik? Maka mengapa Engkau tidak mematikan kami saat kecil?”
فَإِنَّا
رَضِينَا بِمَا دُونَ مَنْزِلَةِ الصَّبِيِّ الْمُسْلِمِ.
Karena kami rela dengan kedudukan di bawah anak kecil Muslim itu.
فَبِمَاذَا
يُجَابُ عَنْ ذٰلِكَ؟
Lalu dengan apa hal itu akan dijawab?
وَهَلْ
يَجِبُ عِنْدَ هٰذَا إِلَّا الْقَطْعُ بِأَنَّ الْأُمُورَ الْإِلٰهِيَّةَ
تَتَعَالَى بِحُكْمِ الْجَلَالِ عَنْ أَنْ تُوزَنَ بِمِيزَانِ أَهْلِ
الِاعْتِزَالِ؟
Bukankah dalam keadaan seperti ini wajib dipastikan bahwa urusan-urusan ilahi
itu, dengan hukum keagungan-Nya, terlalu tinggi untuk ditimbang dengan neraca
kaum Mu‘tazilah?
فَإِنْ
قِيلَ: مَهْمَا قَدَرَ عَلَى رِعَايَةِ الْأَصْلَحِ لِلْعِبَادِ ثُمَّ سَلَّطَ
عَلَيْهِمْ أَسْبَابَ الْعَذَابِ، كَانَ ذٰلِكَ قُبْحًا لَا يَلِيقُ بِالْحِكْمَةِ.
Jika dikatakan: “Bila Allah mampu memperhatikan yang paling maslahat bagi para
hamba lalu tetap menimpakan kepada mereka sebab-sebab azab, maka itu buruk dan
tidak sesuai dengan hikmah.”
قُلْنَا:
الْقُبْحُ مَا لَا يُوَافِقُ الْغَرَضَ.
Kami jawab: keburukan adalah sesuatu yang tidak sesuai dengan tujuan.
حَتَّى
إِنَّهُ قَدْ يَكُونُ الشَّيْءُ قَبِيحًا عِنْدَ شَخْصٍ حَسَنًا عِنْدَ غَيْرِهِ،
إِذَا وَافَقَ غَرَضَ أَحَدِهِمَا دُونَ الْآخَرِ.
Bahkan suatu hal bisa dianggap buruk oleh seseorang tetapi baik oleh orang
lain, bila ia sesuai dengan tujuan salah satunya dan tidak sesuai dengan tujuan
yang lain.
حَتَّى
يُسْتَقْبَحَ قَتْلُ الشَّخْصِ أَوْلِيَاؤُهُ وَيَسْتَحْسِنُهُ أَعْدَاؤُهُ.
Sampai-sampai pembunuhan seseorang dianggap buruk oleh para walinya, tetapi
dianggap baik oleh musuh-musuhnya.
فَإِنْ
أُرِيدَ بِالْقَبِيحِ مَا لَا يُوَافِقُ غَرَضَ الْبَارِي سُبْحَانَهُ، فَهُوَ
مُحَالٌ، إِذْ لَا غَرَضَ لَهُ، فَلَا يُتَصَوَّرُ مِنْهُ قُبْحٌ، كَمَا لَا
يُتَصَوَّرُ مِنْهُ ظُلْمٌ، إِذْ لَا يُتَصَوَّرُ مِنْهُ التَّصَرُّفُ فِي مُلْكِ
الْغَيْرِ.
Jika yang dimaksud dengan buruk adalah sesuatu yang tidak sesuai dengan tujuan
Allah سبحانه,
maka itu mustahil, karena Allah tidak memiliki tujuan dalam pengertian seperti
itu. Maka keburukan tidak dapat dibayangkan pada-Nya, sebagaimana kezaliman pun
tidak dapat dibayangkan pada-Nya, karena tidak mungkin Dia bertindak pada milik
orang lain.
وَإِنْ
أُرِيدَ بِالْقَبِيحِ مَا لَا يُوَافِقُ غَرَضَ الْغَيْرِ، فَلِمَ قُلْتُمْ إِنَّ
ذٰلِكَ عَلَيْهِ مُحَالٌ؟
Dan jika yang dimaksud dengan buruk adalah sesuatu yang tidak sesuai dengan
tujuan pihak lain, lalu mengapa kalian berkata bahwa hal itu mustahil bagi
Allah?
وَهَلْ
هٰذَا إِلَّا مُجَرَّدُ تَشَهٍّ، يَشْهَدُ بِخِلَافِهِ مَا قَدْ فَرَضْنَاهُ مِنْ
مُخَاصَمَةِ أَهْلِ النَّارِ؟
Bukankah ini sekadar mengikuti selera belaka, padahal yang kami andaikan tadi
tentang bantahan penghuni neraka justru menjadi bukti sebaliknya?
ثُمَّ
الْحَكِيمُ مَعْنَاهُ الْعَالِمُ بِحَقَائِقِ الْأَشْيَاءِ، الْقَادِرُ عَلَى
إِحْكَامِ فِعْلِهَا عَلَى وَفْقِ إِرَادَتِهِ.
Kemudian, makna “al-Hakim” adalah Dzat yang mengetahui hakikat segala sesuatu
dan mampu menyempurnakan perbuatan-Nya sesuai kehendak-Nya.
وَهٰذَا
مِنْ أَيْنَ يُوجِبُ رِعَايَةَ الْأَصْلَحِ؟
Dari mana makna ini mengharuskan perhatian terhadap yang paling maslahat?
وَأَمَّا
الْحَكِيمُ مِنَّا فَيُرَاعِي الْأَصْلَحَ نَظَرًا لِنَفْسِهِ، لِيَسْتَفِيدَ بِهِ
فِي الدُّنْيَا ثَنَاءً، وَفِي الْآخِرَةِ ثَوَابًا، أَوْ يَدْفَعَ بِهِ عَنْ
نَفْسِهِ آفَةً.
Adapun orang yang disebut bijak di antara kita, ia memperhatikan yang paling
maslahat demi kepentingan dirinya sendiri, agar mendapatkan pujian di dunia,
pahala di akhirat, atau menolak bahaya dari dirinya.
وَكُلُّ
ذٰلِكَ مُحَالٌ عَلَى اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى.
Semua itu mustahil bagi Allah سبحانه
وتعالى.
اَلْأَصْلُ
الثَّامِنُ أَنَّ مَعْرِفَةَ اللهِ سُبْحَانَهُ وَطَاعَتَهُ وَاجِبَةٌ بِإِيجَابِ
اللهِ تَعَالَى وَشَرْعِهِ، لَا بِالْعَقْلِ، خِلَافًا لِلْمُعْتَزِلَةِ.
Pokok kedelapan: sesungguhnya mengenal Allah سبحانه dan menaati-Nya itu
wajib karena Allah Ta‘ala mewajibkannya melalui syariat-Nya, bukan karena akal,
berbeda dengan Mu‘tazilah.
لِأَنَّ
الْعَقْلَ وَإِنْ أَوْجَبَ الطَّاعَةَ، فَلَا يَخْلُو إِمَّا أَنْ يُوجِبَهَا
لِغَيْرِ فَائِدَةٍ، وَهُوَ مُحَالٌ، فَإِنَّ الْعَقْلَ لَا يُوجِبُ الْعَبَثَ.
Sebab, jika akal mewajibkan ketaatan, maka tidak lepas dari dua kemungkinan:
apakah ia mewajibkannya tanpa faedah, dan itu mustahil, karena akal tidak
mewajibkan sesuatu yang sia-sia.
وَإِمَّا
أَنْ يُوجِبَهَا لِفَائِدَةٍ وَغَرَضٍ، وَذٰلِكَ لَا يَخْلُو إِمَّا أَنْ يَرْجِعَ
إِلَى الْمَعْبُودِ، وَذٰلِكَ مُحَالٌ فِي حَقِّهِ تَعَالَى، فَإِنَّهُ
يَتَقَدَّسُ عَنِ الْأَغْرَاضِ وَالْفَوَائِدِ، بَلِ الْكُفْرُ وَالْإِيمَانُ
وَالطَّاعَةُ وَالْعِصْيَانُ فِي حَقِّهِ تَعَالَى سِيَّانِ.
Atau akal mewajibkannya karena suatu faedah dan tujuan. Maka itu pun tidak
lepas dari dua kemungkinan: kembali kepada Tuhan yang disembah, dan ini
mustahil pada hak-Nya Ta‘ala, sebab Dia Mahasuci dari tujuan-tujuan dan
faedah-faedah. Bahkan kufur dan iman, taat dan maksiat, pada hak Allah Ta‘ala
adalah sama dalam arti tidak memberi manfaat atau mudarat kepada-Nya.
وَإِمَّا
أَنْ يَرْجِعَ ذٰلِكَ إِلَى غَرَضِ الْعَبْدِ، وَهُوَ أَيْضًا مُحَالٌ، لِأَنَّهُ
لَا غَرَضَ لَهُ فِي الْحَالِ، بَلْ يَتْعَبُ بِهِ وَيَنْصَرِفُ عَنِ الشَّهَوَاتِ
لِسَبَبِهِ، وَلَيْسَ فِي الْمَآلِ إِلَّا الثَّوَابُ وَالْعِقَابُ.
Atau faedah itu kembali kepada kepentingan hamba, dan ini juga tidak tepat.
Sebab pada saat ini hamba tidak mendapatkan tujuan langsung darinya, bahkan ia
justru letih karenanya dan berpaling dari syahwat disebabkan olehnya. Dan pada
akhirnya tidak ada selain pahala atau siksa.
وَمِنْ
أَيْنَ يُعْلَمُ أَنَّ اللهَ تَعَالَى يُثِيبُ عَلَى الطَّاعَةِ وَيُعَاقِبُ عَلَى
الْمَعْصِيَةِ، مَعَ أَنَّ الطَّاعَةَ وَالْمَعْصِيَةَ فِي حَقِّهِ
يَتَسَاوَيَانِ، إِذْ لَيْسَ لَهُ إِلَى أَحَدِهِمَا مَيْلٌ وَلَا بِهِ
لِأَحَدِهِمَا اخْتِصَاصٌ؟
Lalu dari mana diketahui bahwa Allah Ta‘ala memberi pahala atas ketaatan dan
memberi siksa atas kemaksiatan, padahal ketaatan dan kemaksiatan dalam hak-Nya
sama saja, karena Dia tidak memiliki kecenderungan kepada salah satunya dan
tidak ada kekhususan bagi salah satunya pada-Nya?
وَإِنَّمَا
عُرِفَ تَمْيِيزُ ذٰلِكَ بِالشَّرْعِ.
Pembedaan hal itu hanya diketahui melalui syariat.
وَلَقَدْ
زَلَّ مَنْ أَخَذَ هٰذَا مِنَ الْمُقَايَسَةِ بَيْنَ الْخَالِقِ وَالْمَخْلُوقِ،
حَيْثُ يُفَرِّقُ بَيْنَ الشُّكْرِ وَالْكُفْرَانِ لِمَا لَهُ مِنَ الِارْتِيَاحِ
وَالِاهْتِزَازِ وَالتَّلَذُّذِ بِأَحَدِهِمَا دُونَ الْآخَرِ.
Sungguh telah sesat orang yang mengambil hal ini dari qiyas antara Khalik dan
makhluk, karena manusia membedakan antara syukur dan kufur nikmat berdasarkan
rasa senang, kecenderungan, dan kenikmatan yang ia rasakan pada salah satunya,
tidak pada yang lain.
فَإِنْ
قِيلَ: فَإِذَا لَمْ يَجِبِ النَّظَرُ وَالْمَعْرِفَةُ إِلَّا بِالشَّرْعِ،
وَالشَّرْعُ لَا يَسْتَقِرُّ مَا لَمْ يَنْظُرِ الْمُكَلَّفُ فِيهِ، فَإِذَا قَالَ
الْمُكَلَّفُ لِلنَّبِيِّ: إِنَّ الْعَقْلَ لَيْسَ يُوجِبُ عَلَيَّ النَّظَرَ،
وَالشَّرْعُ لَا يَثْبُتُ عِنْدِي إِلَّا بِالنَّظَرِ، وَلَسْتُ أُقْدِمُ عَلَى
النَّظَرِ، أَدَّى ذٰلِكَ إِلَى إِفْحَامِ الرَّسُولِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ.
Jika dikatakan: “Kalau meneliti dan mengenal kebenaran itu tidak wajib kecuali
dengan syariat, sementara syariat tidak akan tetap kecuali jika orang yang
dibebani mau menelitinya, maka apabila orang itu berkata kepada Nabi: ‘Akal
tidak mewajibkan aku meneliti, dan syariat menurutku tidak terbukti kecuali
dengan penelitian, sedangkan aku tidak akan meneliti,’ maka hal itu akan
membuat Rasul صلى
الله عليه وسلم tidak dapat menjawab.”
قُلْنَا:
هٰذَا يُضَاهِي قَوْلَ الْقَائِلِ لِلْوَاقِفِ فِي مَوْضِعٍ مِنَ الْمَوَاضِعِ:
إِنَّ وَرَاءَكَ سَبُعًا ضَارِيًا، فَإِنْ لَمْ تَبْرَحْ عَنِ الْمَكَانِ
قَتَلَكَ، وَإِنِ الْتَفَتَّ وَرَاءَكَ وَنَظَرْتَ عَرَفْتَ صِدْقِي.
Kami jawab: ini serupa dengan ucapan seseorang kepada orang yang sedang berdiri
di suatu tempat: “Di belakangmu ada binatang buas yang ganas. Jika engkau tidak
pergi dari tempat itu, ia akan membunuhmu. Jika engkau menoleh ke belakang dan
melihat, engkau akan tahu bahwa aku benar.”
فَيَقُولُ
الْوَاقِفُ: لَا يَثْبُتُ صِدْقُكَ مَا لَمْ أَلْتَفِتْ وَرَائِي، وَلَا
أَلْتَفِتُ وَرَائِي وَلَا أَنْظُرُ مَا لَمْ يَثْبُتْ صِدْقُكَ.
Lalu orang itu berkata: “Kebenaran ucapanmu tidak terbukti bagiku sebelum aku
menoleh ke belakang. Dan aku tidak akan menoleh ke belakang serta tidak akan
melihat sebelum kebenaran ucapanmu terbukti.”
فَيَدُلُّ
هٰذَا عَلَى حَمَاقَةِ هٰذَا الْقَائِلِ وَتَهَدُّفِهِ لِلْهَلَاكِ، وَلَا ضَرَرَ
فِيهِ عَلَى الْهَادِي الْمُرْشِدِ.
Sikap ini menunjukkan kebodohan orang tersebut dan bahwa ia menjerumuskan
dirinya kepada kebinasaan. Dan hal itu tidak membahayakan sang penunjuk jalan
sedikit pun.
فَكَذٰلِكَ
النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: إِنَّ وَرَاءَكُمُ
الْمَوْتَ، وَدُونَهُ السِّبَاعُ الضَّارِيَةُ وَالنِّيرَانُ الْمُحْرِقَةُ، إِنْ
لَمْ تَأْخُذُوا مِنْهَا حَذَرَكُمْ وَتَعْرِفُوا لِي صِدْقِي بِالِالْتِفَاتِ
إِلَى مُعْجِزَتِي، وَإِلَّا هَلَكْتُمْ.
Demikian pula Nabi صلى
الله عليه وسلم berkata: “Di hadapan kalian ada kematian, dan setelahnya ada
binatang-binatang buas yang ganas serta api yang membakar. Jika kalian tidak
berhati-hati darinya dan tidak mengetahui kebenaranku dengan melihat
mukjizatku, niscaya kalian akan binasa.”
فَمَنِ
الْتَفَتَ عَرَفَ وَاحْتَرَزَ وَنَجَا، وَمَنْ لَمْ يَلْتَفِتْ وَأَصَرَّ هَلَكَ
وَتَرَدَّى.
Siapa yang menoleh, ia akan mengetahui, waspada, dan selamat. Dan siapa yang
tidak menoleh serta tetap keras kepala, ia akan binasa dan jatuh celaka.
وَلَا
ضَرَرَ عَلَيْهِ إِنْ هَلَكَ النَّاسُ كُلُّهُمْ أَجْمَعُونَ، وَإِنَّمَا عَلَيْهِ
الْبَلَاغُ الْمُبِينُ.
Tidak ada mudarat bagi Nabi jika seluruh manusia binasa, karena kewajiban
beliau hanyalah menyampaikan dengan jelas.
فَالشَّرْعُ
يُعَرِّفُ وُجُودَ السِّبَاعِ الضَّارِيَةِ بَعْدَ الْمَوْتِ، وَالْعَقْلُ يُفِيدُ
فَهْمَ كَلَامِهِ وَالْإِحَاطَةَ بِإِمْكَانِ مَا يَقُولُهُ فِي الْمُسْتَقْبَلِ.
Syariat memberitahukan adanya binatang-binatang buas yang ganas setelah
kematian, sedangkan akal memberi kemampuan untuk memahami ucapan Nabi dan
menangkap kemungkinan apa yang beliau kabarkan tentang masa depan.
وَالطَّبْعُ
يَسْتَحِثُّ عَلَى الْحَذَرِ مِنَ الضَّرَرِ.
Dan tabiat mendorong manusia untuk berhati-hati dari bahaya.
وَمَعْنَى
كَوْنِ الشَّيْءِ وَاجِبًا أَنَّ فِي تَرْكِهِ ضَرَرًا.
Makna sesuatu disebut wajib adalah bahwa meninggalkannya menimbulkan bahaya.
وَمَعْنَى
كَوْنِ الشَّرْعِ مُوجِبًا أَنَّهُ مُعَرِّفٌ لِلضَّرَرِ الْمُتَوَقَّعِ.
Dan makna syariat mewajibkan adalah bahwa syariat memberitahukan adanya bahaya
yang diperkirakan akan datang.
فَإِنَّ
الْعَقْلَ لَا يَهْدِي إِلَى التَّهَدُّفِ لِلضَّرَرِ بَعْدَ الْمَوْتِ عِنْدَ
اتِّبَاعِ الشَّهَوَاتِ.
Sebab akal tidak dapat dengan sendirinya menunjukkan bahaya setelah mati yang
timbul akibat mengikuti hawa nafsu.
فَهٰذَا
مَعْنَى الشَّرْعِ وَالْعَقْلِ وَتَأْثِيرِهِمَا فِي تَقْدِيرِ الْوَاجِبِ.
Inilah makna syariat dan akal serta pengaruh keduanya dalam menetapkan
kewajiban.
وَلَوْلَا
خَوْفُ الْعِقَابِ عَلَى تَرْكِ مَا أُمِرَ بِهِ لَمْ يَكُنِ الْوُجُوبُ ثَابِتًا،
إِذْ لَا مَعْنَى لِلْوَاجِبِ إِلَّا مَا يَرْتَبِطُ بِتَرْكِهِ ضَرَرٌ فِي
الْآخِرَةِ.
Seandainya tidak ada rasa takut akan siksa karena meninggalkan apa yang
diperintahkan, maka kewajiban itu tidak akan tetap. Sebab tidak ada makna
“wajib” kecuali sesuatu yang meninggalkannya berkaitan dengan bahaya di
akhirat.
اَلْأَصْلُ
التَّاسِعُ أَنَّهُ لَيْسَ يَسْتَحِيلُ بَعْثُهُ الْأَنْبِيَاءَ عَلَيْهِمُ
السَّلَامُ، خِلَافًا لِلْبَرَاهِمَةِ، حَيْثُ قَالُوا: لَا فَائِدَةَ فِي
بَعْثَتِهِمْ، إِذْ فِي الْعَقْلِ مَنْدُوحَةٌ عَنْهُمْ.
Pokok kesembilan: sesungguhnya pengutusan para nabi عليهم السلام oleh Allah tidak
mustahil, berbeda dengan kaum Barahimah yang berkata: “Tidak ada faedah dalam
pengutusan para nabi, karena akal sudah cukup tanpa mereka.”
لِأَنَّ
الْعَقْلَ لَا يَهْدِي إِلَى الْأَفْعَالِ الْمُنْجِيَةِ فِي الْآخِرَةِ، كَمَا
لَا يَهْدِي إِلَى الْأَدْوِيَةِ الْمُفِيدَةِ لِلصِّحَّةِ.
Sebab akal tidak dapat menunjukkan amal-amal yang menyelamatkan di akhirat,
sebagaimana akal juga tidak dapat menunjukkan obat-obatan yang bermanfaat bagi
kesehatan.
فَحَاجَةُ
الْخَلْقِ إِلَى الْأَنْبِيَاءِ كَحَاجَتِهِمْ إِلَى الْأَطِبَّاءِ.
Maka kebutuhan makhluk kepada para nabi sama seperti kebutuhan mereka kepada
para tabib.
وَلٰكِنْ
يُعْرَفُ صِدْقُ الطَّبِيبِ بِالتَّجْرِبَةِ، وَيُعْرَفُ صِدْقُ النَّبِيِّ
بِالْمُعْجِزَةِ.
Hanya saja, kebenaran tabib diketahui melalui pengalaman, sedangkan kebenaran
nabi diketahui melalui mukjizat.
اَلْأَصْلُ
الْعَاشِرُ أَنَّ اللهَ سُبْحَانَهُ قَدْ أَرْسَلَ مُحَمَّدًا صَلَّى اللهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَاتَمًا لِلنَّبِيِّينَ، وَنَاسِخًا لِمَا قَبْلَهُ مِنْ
شَرَائِعِ الْيَهُودِ وَالنَّصَارَى وَالصَّابِئِينَ.
Pokok kesepuluh: sesungguhnya Allah سبحانه telah mengutus Muhammad صلى الله عليه وسلم
sebagai penutup para nabi dan penghapus syariat-syariat sebelumnya dari kaum
Yahudi, Nasrani, dan Shabi’in.
وَأَيَّدَهُ
بِالْمُعْجِزَاتِ الظَّاهِرَةِ وَالْآيَاتِ الْبَاهِرَةِ، كَانْشِقَاقِ الْقَمَرِ،
وَتَسْبِيحِ الْحَصَى، وَإِنْطَاقِ الْعَجْمَاءِ، وَمَا تَفَجَّرَ مِنْ بَيْنِ
أَصَابِعِهِ مِنَ الْمَاءِ.
Allah menguatkannya dengan mukjizat-mukjizat yang nyata dan tanda-tanda yang
menakjubkan, seperti terbelahnya bulan, bertasbihnya batu kerikil, berbicaranya
hewan yang bisu, dan memancarnya air dari sela-sela jari beliau.
وَمِنْ
آيَاتِهِ الظَّاهِرَةِ الَّتِي تَحَدَّى بِهَا مَعَ كَافَّةِ الْعَرَبِ الْقُرْآنُ
الْعَظِيمُ.
Dan di antara tanda-tanda beliau yang nyata, yang dengannya beliau menantang
seluruh orang Arab, adalah Al-Qur’an yang agung.
فَإِنَّهُمْ
مَعَ تَمَيُّزِهِمْ بِالْفَصَاحَةِ وَالْبَلَاغَةِ تَهَدَّفُوا لِسَبِّهِ
وَنَهْيِهِ وَقَتْلِهِ وَإِخْرَاجِهِ، كَمَا أَخْبَرَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ
عَنْهُمْ، وَلَمْ يَقْدِرُوا عَلَى مُعَارَضَتِهِ بِمِثْلِ الْقُرْآنِ.
Sebab mereka, meskipun terkenal dengan kefasihan dan kebalaghahan, justru
berusaha mencaci beliau, menghalangi dakwahnya, membunuhnya, dan mengusirnya,
sebagaimana Allah عز وجل
kabarkan tentang mereka, tetapi mereka tetap tidak mampu menandinginya dengan
sesuatu yang semisal Al-Qur’an.
إِذْ
لَمْ يَكُنْ فِي قُدْرَةِ الْبَشَرِ الْجَمْعُ بَيْنَ جَزَالَةِ الْقُرْآنِ
وَنَظْمِهِ.
Karena tidak termasuk kemampuan manusia untuk menggabungkan kekuatan bahasa
Al-Qur’an dan susunan ungkapannya.
هٰذَا
مَعَ مَا فِيهِ مِنْ أَخْبَارِ الْأَوَّلِينَ، مَعَ كَوْنِهِ أُمِّيًّا غَيْرَ
مُمَارِسٍ لِلْكُتُبِ.
Itu pun ditambah dengan kandungan berita-berita umat terdahulu, padahal beliau
adalah seorang yang ummi dan tidak pernah mempelajari kitab-kitab.
وَالْإِنْبَاءُ
عَنِ الْغَيْبِ فِي أُمُورٍ تَحَقَّقَ صِدْقُهُ فِيهَا فِي الِاسْتِقْبَالِ،
كَقَوْلِهِ تَعَالَى: لَتَدْخُلُنَّ الْمَسْجِدَ الْحَرَامَ إِنْ شَاءَ اللهُ
آمِنِينَ مُحَلِّقِينَ رُءُوسَكُمْ وَمُقَصِّرِينَ.
Dan juga pemberitaan tentang hal-hal gaib dalam perkara-perkara yang kemudian
terbukti benar di masa depan, seperti firman Allah Ta‘ala: “Sungguh kalian akan
memasuki Masjidil Haram, insya Allah, dalam keadaan aman, dengan kepala dicukur
dan dipendekkan rambut.”
وَكَقَوْلِهِ:
الم غُلِبَتِ الرُّومُ فِي أَدْنَى الْأَرْضِ وَهُمْ مِنْ بَعْدِ غَلَبِهِمْ
سَيَغْلِبُونَ فِي بِضْعِ سِنِينَ.
Dan seperti firman-Nya: “Alif Lam Mim. Telah dikalahkan bangsa Romawi di negeri
yang terdekat, dan setelah kekalahan mereka itu, mereka akan menang dalam
beberapa tahun.”
وَوَجْهُ
دَلَالَةِ الْمُعْجِزَةِ عَلَى صِدْقِ الرُّسُلِ أَنَّ كُلَّ مَا عَجَزَ عَنْهُ
الْبَشَرُ لَمْ يَكُنْ إِلَّا فِعْلًا لِلَّهِ تَعَالَى.
Sisi pendalilan mukjizat atas kebenaran para rasul adalah bahwa setiap hal yang
tidak mampu dilakukan oleh manusia tidak lain hanyalah perbuatan Allah Ta‘ala
فَمَهْمَا
كَانَ مَقْرُونًا بِتَحَدِّي النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَنْزِلُ
مَنْزِلَةَ قَوْلِهِ: صَدَقْتَ.
Maka apa pun yang disertai dengan tantangan Nabi صلى الله عليه وسلم, kedudukannya sama
seperti firman Allah: “Engkau benar.”
وَذٰلِكَ
مِثْلُ الْقَائِلِ بَيْنَ يَدَيِ الْمَلِكِ الْمُدَّعِي عَلَى رَعِيَّتِهِ أَنَّهُ
رَسُولُ الْمَلِكِ إِلَيْهِمْ.
Hal itu seperti seseorang yang berdiri di hadapan raja lalu mengaku kepada
rakyat bahwa ia adalah utusan raja kepada mereka.
فَإِنَّهُ
مَهْمَا قَالَ لِذٰلِكَ: إِنْ كُنْتَ صَادِقًا فَقُمْ عَلَى سَرِيرِكَ ثَلَاثًا
وَاقْعُدْ عَلَى خِلَافِ عَادَتِكَ، فَفَعَلَ الْمَلِكُ ذٰلِكَ، حَصَلَ
لِلْحَاضِرِينَ عِلْمٌ ضَرُورِيٌّ بِأَنَّ ذٰلِكَ نَازِلٌ مَنْزِلَةَ قَوْلِهِ:
صَدَقْتَ.
Apabila orang itu berkata kepada sang raja: “Jika engkau membenarkanku, maka
berdirilah di singgasanamu tiga kali dan duduklah dengan cara yang tidak
biasa,” lalu raja melakukan hal itu, maka para hadirin akan memperoleh
pengetahuan yang pasti bahwa tindakan itu berkedudukan seperti ucapan raja:
“Engkau benar.”
اَلرُّكْنُ
الرَّابِعُ فِي السَّمْعِيَّاتِ وَتَصْدِيقِهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
فِيمَا أَخْبَرَ عَنْهُ، وَمَدَارُهُ عَلَى عَشَرَةِ أُصُولٍ.
Rukun keempat adalah tentang perkara-perkara sam‘iyyat dan membenarkan beliau صلى الله عليه
وسلم dalam apa yang beliau kabarkan. Rukun ini berporos pada sepuluh
pokok.
اَلْأَصْلُ
الْأَوَّلُ: الْحَشْرُ وَالنَّشْرُ، وَقَدْ وَرَدَ بِهِمَا الشَّرْعُ، وَهُوَ
حَقٌّ، وَالتَّصْدِيقُ بِهِمَا وَاجِبٌ، لِأَنَّهُ فِي الْعَقْلِ مُمْكِنٌ.
Pokok pertama: kebangkitan dan pengumpulan manusia. Keduanya telah ditetapkan
oleh syariat, keduanya adalah benar, dan membenarkan keduanya adalah wajib,
karena menurut akal keduanya mungkin.
وَمَعْنَاهُ
الْإِعَادَةُ بَعْدَ الْإِفْنَاءِ، وَذٰلِكَ مَقْدُورٌ لِلَّهِ تَعَالَى
كَابْتِدَاءِ الْإِنْشَاءِ.
Maknanya adalah pengembalian setelah pemusnahan, dan hal itu berada dalam
kekuasaan Allah Ta‘ala, sebagaimana permulaan penciptaan.
قَالَ
اللهُ تَعَالَى: قَالَ مَنْ يُحْيِي الْعِظَامَ وَهِيَ رَمِيمٌ قُلْ يُحْيِيهَا
الَّذِي أَنْشَأَهَا أَوَّلَ مَرَّةٍ.
Allah Ta‘ala berfirman: “Ia berkata: siapakah yang dapat menghidupkan
tulang-belulang yang telah hancur luluh? Katakanlah: yang akan menghidupkannya
adalah Dzat yang menciptakannya pertama kali.”
فَاسْتَدَلَّ
بِالِابْتِدَاءِ عَلَى الْإِعَادَةِ.
Maka Allah menjadikan penciptaan pertama sebagai dalil atas pengembalian.
وَقَالَ
عَزَّ وَجَلَّ: مَا خَلْقُكُمْ وَلَا بَعْثُكُمْ إِلَّا كَنَفْسٍ وَاحِدَةٍ.
Dan Allah عز وجل
berfirman: “Tidaklah penciptaan kalian dan tidak pula kebangkitan kalian
melainkan seperti satu jiwa saja.”
وَالْإِعَادَةُ
ابْتِدَاءٌ ثَانٍ، فَهِيَ مُمْكِنَةٌ كَالِابْتِدَاءِ الْأَوَّلِ.
Pengembalian itu adalah permulaan yang kedua, maka ia mungkin sebagaimana
penciptaan yang pertama.
اَلْأَصْلُ
الثَّانِي: سُؤَالُ مُنْكَرٍ وَنَكِيرٍ، وَقَدْ وَرَدَتْ بِهِ الْأَخْبَارُ،
فَيَجِبُ التَّصْدِيقُ بِهِ، لِأَنَّهُ مُمْكِنٌ.
Pokok kedua: pertanyaan Munkar dan Nakir. Berita-berita tentang hal ini telah
datang, maka wajib membenarkannya, karena hal itu mungkin.
إِذْ
لَيْسَ يَسْتَدْعِي إِلَّا إِعَادَةَ الْحَيَاةِ إِلَى جُزْءٍ مِنَ الْأَجْزَاءِ
الَّذِي بِهِ فَهْمُ الْخِطَابِ، وَذٰلِكَ مُمْكِنٌ فِي نَفْسِهِ.
Sebab hal itu hanya menuntut dikembalikannya kehidupan pada sebagian bagian
tubuh yang dengannya dapat dipahami pembicaraan, dan hal itu pada dirinya
sendiri adalah mungkin.
وَلَا
يَدْفَعُ ذٰلِكَ مَا يُشَاهَدُ مِنْ سُكُونِ أَجْزَاءِ الْمَيِّتِ وَعَدَمِ
سَمَاعِنَا لِلسُّؤَالِ لَهُ.
Hal ini tidak dapat ditolak dengan alasan bahwa kita melihat bagian-bagian
tubuh mayit diam dan kita tidak mendengar adanya pertanyaan kepadanya.
فَإِنَّ
النَّائِمَ سَاكِنٌ بِظَاهِرِهِ، وَيُدْرِكُ بِبَاطِنِهِ مِنَ الْآلَامِ
وَاللَّذَّاتِ مَا يَحِسُّ بِتَأْثِيرِهِ عِنْدَ التَّنَبُّهِ.
Sebab orang yang tidur tampak diam secara lahiriah, namun secara batin ia
merasakan rasa sakit dan kenikmatan yang pengaruhnya ia rasakan ketika
terbangun.
وَقَدْ
كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَسْمَعُ كَلَامَ جِبْرِيلَ
عَلَيْهِ السَّلَامُ وَيُشَاهِدُهُ، وَمَنْ حَوْلَهُ لَا يَسْمَعُونَهُ وَلَا
يَرَوْنَهُ.
Dan Rasulullah صلى
الله عليه وسلم dahulu mendengar ucapan Jibril عليه السلام dan melihatnya,
sementara orang-orang di sekitarnya tidak mendengarnya dan tidak melihatnya.
وَلَا
يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِنْ عِلْمِهِ إِلَّا بِمَا شَاءَ.
Mereka tidak mengetahui sedikit pun dari ilmu-Nya kecuali apa yang Dia
kehendaki.
فَإِذَا
لَمْ يُخْلَقْ لَهُمُ السَّمْعُ وَالرُّؤْيَةُ لَمْ يُدْرِكُوهُ.
Apabila pendengaran dan penglihatan untuk menangkap hal itu tidak diciptakan
pada mereka, maka mereka tidak dapat menjangkaunya.
اَلْأَصْلُ
الثَّالِثُ: عَذَابُ الْقَبْرِ، وَقَدْ وَرَدَ الشَّرْعُ بِهِ.
Pokok ketiga: azab kubur, dan syariat telah menetapkannya.
قَالَ
اللهُ تَعَالَى: النَّارُ يُعْرَضُونَ عَلَيْهَا غُدُوًّا وَعَشِيًّا، وَيَوْمَ
تَقُومُ السَّاعَةُ أَدْخِلُوا آلَ فِرْعَوْنَ أَشَدَّ الْعَذَابِ.
Allah Ta‘ala berfirman: “Kepada mereka diperlihatkan neraka pada pagi dan
petang, dan pada hari terjadinya kiamat dikatakan: masukkanlah keluarga Fir‘aun
ke dalam azab yang paling keras.”
وَاشْتَهَرَ
عَنْ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالسَّلَفِ الصَّالِحِ
الِاسْتِعَاذَةُ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ.
Dan telah masyhur dari Rasulullah صلى الله عليه وسلم serta para salaf yang saleh, doa
perlindungan dari azab kubur.
وَهُوَ
مُمْكِنٌ فَيَجِبُ التَّصْدِيقُ بِهِ.
Dan hal itu mungkin, maka wajib membenarkannya.
وَلَا
يَمْنَعُ مِنَ التَّصْدِيقِ بِهِ تَفَرُّقُ أَجْزَاءِ الْمَيِّتِ فِي بُطُونِ
السِّبَاعِ وَحَوَاصِلِ الطُّيُورِ.
Tidak terhalang untuk membenarkannya oleh tercerai-berainya bagian-bagian mayit
di perut binatang buas dan tembolok burung-burung.
فَإِنَّ
الْمُدْرِكَ لِأَلَمِ الْعَذَابِ مِنَ الْحَيَوَانِ أَجْزَاءٌ مَخْصُوصَةٌ،
يَقْدِرُ اللهُ تَعَالَى عَلَى إِعَادَةِ الْإِدْرَاكِ إِلَيْهَا.
Sebab bagian yang merasakan sakitnya azab pada makhluk hidup adalah
bagian-bagian tertentu, dan Allah Ta‘ala berkuasa mengembalikan kemampuan
merasa itu kepadanya.
اَلْأَصْلُ
الرَّابِعُ: الْمِيزَانُ، وَهُوَ حَقٌّ.
Pokok keempat: mizan, dan itu adalah benar.
قَالَ
اللهُ تَعَالَى: وَنَضَعُ الْمَوَازِينَ الْقِسْطَ لِيَوْمِ الْقِيَامَةِ.
Allah Ta‘ala berfirman: “Dan Kami akan memasang timbangan-timbangan yang adil
pada hari kiamat.”
وَقَالَ
تَعَالَى: فَمَنْ ثَقُلَتْ مَوَازِينُهُ فَأُولٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ وَمَنْ
خَفَّتْ مَوَازِينُهُ... الْآيَةَ.
Dan Allah Ta‘ala berfirman: “Maka barang siapa berat timbangan-timbangannya,
mereka itulah orang-orang yang beruntung. Dan barang siapa ringan
timbangan-timbangannya...” sampai akhir ayat.
وَوَجْهُهُ
أَنَّ اللهَ تَعَالَى يُحْدِثُ فِي صُحُفِ الْأَعْمَالِ وَزْنًا بِحَسَبِ
دَرَجَاتِ الْأَعْمَالِ عِنْدَ اللهِ تَعَالَى، فَتَصِيرُ مَقَادِيرُ أَعْمَالِ
الْعِبَادِ مَعْلُومَةً لِلْعِبَادِ.
Penjelasannya ialah bahwa Allah Ta‘ala menjadikan pada lembaran-lembaran amal
suatu bobot sesuai dengan derajat amal di sisi Allah Ta‘ala, sehingga kadar
amal para hamba menjadi diketahui oleh para hamba.
حَتَّى
يَظْهَرَ لَهُمُ الْعَدْلُ فِي الْعِقَابِ، أَوِ الْفَضْلُ فِي الْعَفْوِ
وَتَضْعِيفِ الثَّوَابِ.
Dengan demikian, tampaklah bagi mereka keadilan dalam hukuman, atau karunia
dalam pengampunan dan pelipatgandaan pahala.
اَلْأَصْلُ
الْخَامِسُ: الصِّرَاطُ، وَهُوَ جِسْرٌ مَمْدُودٌ عَلَى مَتْنِ جَهَنَّمَ، أَرَقُّ
مِنَ الشَّعْرَةِ وَأَحَدُّ مِنَ السَّيْفِ.
Pokok kelima: shirath, yaitu jembatan yang dibentangkan di atas punggung
Jahannam, lebih halus daripada rambut dan lebih tajam daripada pedang.
قَالَ
اللهُ تَعَالَى: فَاهْدُوهُمْ إِلَى صِرَاطِ الْجَحِيمِ وَقِفُوهُمْ إِنَّهُمْ
مَسْئُولُونَ.
Allah Ta‘ala berfirman: “Maka tunjukkanlah mereka ke jalan Jahim, dan tahanlah
mereka, sesungguhnya mereka akan ditanya.”
وَهٰذَا
مُمْكِنٌ فَيَجِبُ التَّصْدِيقُ بِهِ.
Hal ini mungkin, maka wajib membenarkannya.
فَإِنَّ
الْقَادِرَ عَلَى أَنْ يُطَيِّرَ الطَّيْرَ فِي الْهَوَاءِ قَادِرٌ عَلَى أَنْ
يُسَيِّرَ الْإِنْسَانَ عَلَى الصِّرَاطِ.
Sebab Dzat yang mampu menerbangkan burung di udara, mampu pula menjalankan
manusia di atas shirath.
اَلْأَصْلُ
السَّادِسُ: أَنَّ الْجَنَّةَ وَالنَّارَ مَخْلُوقَتَانِ.
Pokok keenam: bahwa surga dan neraka telah diciptakan.
قَالَ
اللهُ تَعَالَى: وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا
السَّمٰوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ.
Allah Ta‘ala berfirman: “Dan bersegeralah kalian menuju ampunan dari Tuhan
kalian dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang telah disediakan
bagi orang-orang bertakwa.”
فَقَوْلُهُ
تَعَالَى: أُعِدَّتْ، دَلِيلٌ عَلَى أَنَّهَا مَخْلُوقَةٌ.
Maka firman-Nya Ta‘ala: “telah disediakan” adalah dalil bahwa surga itu sudah
diciptakan.
فَيَجِبُ
إِجْرَاؤُهُ عَلَى الظَّاهِرِ إِذْ لَا اسْتِحَالَةَ فِيهِ.
Karena itu, ayat tersebut wajib dipahami menurut makna lahirnya, sebab tidak
ada kemustahilan di dalamnya.
وَلَا
يُقَالُ: لَا فَائِدَةَ فِي خَلْقِهِمَا قَبْلَ يَوْمِ الْجَزَاءِ، لِأَنَّ اللهَ
تَعَالَى لَا يُسْأَلُ عَمَّا يَفْعَلُ وَهُمْ يُسْأَلُونَ.
Dan tidak boleh dikatakan: “Tidak ada faedah menciptakan keduanya sebelum hari
pembalasan,” karena Allah Ta‘ala tidak ditanya tentang apa yang Dia perbuat,
sedangkan merekalah yang ditanya.
اَلْأَصْلُ
السَّابِعُ: أَنَّ الْإِمَامَ الْحَقَّ بَعْدَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَبُو بَكْرٍ، ثُمَّ عُمَرُ، ثُمَّ عُثْمَانُ، ثُمَّ عَلِيٌّ
رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ.
Pokok ketujuh: bahwa imam yang benar setelah Rasulullah صلى الله عليه وسلم
adalah Abu Bakar, kemudian Umar, kemudian Utsman, lalu Ali رضي الله عنهم.
وَلَمْ
يَكُنْ نَصُّ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى إِمَامٍ
أَصْلًا.
Dan tidak ada penunjukan tegas dari Rasulullah صلى الله عليه وسلم terhadap seorang imam
tertentu sama sekali.
إِذْ
لَوْ كَانَ لَكَانَ أَوْلَى بِالظُّهُورِ مِنْ نَصْبِهِ آحَادَ الْوُلَاةِ
وَالْأُمَرَاءِ عَلَى الْجُنُودِ فِي الْبِلَادِ.
Sebab seandainya ada, tentu penunjukan itu lebih layak untuk tampak jelas
daripada penunjukan beliau terhadap para gubernur dan komandan pasukan di
berbagai negeri.
وَلَمْ
يَخْفَ ذٰلِكَ.
Dan perkara semacam itu tidaklah tersembunyi.
فَكَيْفَ
خَفِيَ هٰذَا؟
Lalu bagaimana mungkin urusan sebesar ini justru tersembunyi?
وَإِنْ
ظَهَرَ فَكَيْفَ انْدَرَسَ حَتَّى لَمْ يُنْقَلْ إِلَيْنَا؟
Dan jika memang pernah tampak, bagaimana mungkin ia lenyap sehingga tidak
sampai kepada kita?
فَلَمْ
يَكُنْ أَبُو بَكْرٍ إِمَامًا إِلَّا بِالِاخْتِيَارِ وَالْبَيْعَةِ.
Maka Abu Bakar menjadi imam hanya melalui pilihan dan baiat.
وَأَمَّا
تَقْدِيرُ النَّصِّ عَلَى غَيْرِهِ فَهُوَ نِسْبَةٌ لِلصَّحَابَةِ كُلِّهِمْ إِلَى
مُخَالَفَةِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَخَرْقِ الْإِجْمَاعِ.
Adapun anggapan bahwa ada nash untuk selain Abu Bakar, maka itu berarti
menisbatkan seluruh sahabat kepada penentangan terhadap Rasulullah صلى الله عليه
وسلم dan pelanggaran terhadap ijmak.
وَذٰلِكَ
مِمَّا لَا يَسْتَجْرِئُ عَلَى اخْتِرَاعِهِ إِلَّا الرَّوَافِضُ.
Dan hal seperti itu tidak berani diada-adakan kecuali oleh kaum Rafidhah.
وَاعْتَادَ
أَهْلُ السُّنَّةِ تَزْكِيَةَ جَمِيعِ الصَّحَابَةِ وَالثَّنَاءَ عَلَيْهِمْ،
كَمَا أَثْنَى اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَرَسُولُهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ.
Ahlusunah terbiasa menyatakan keadilan seluruh sahabat dan memuji mereka,
sebagaimana Allah سبحانه
وتعالى dan Rasul-Nya صلى
الله عليه وسلم telah memuji mereka.
وَمَا
جَرَى بَيْنَ مُعَاوِيَةَ وَعَلِيٍّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا كَانَ مَبْنِيًّا
عَلَى الِاجْتِهَادِ، لَا مُنَازَعَةً مِنْ مُعَاوِيَةَ فِي الْإِمَامَةِ.
Dan apa yang terjadi antara Muawiyah dan Ali رضي الله عنهما dibangun di atas
ijtihad, bukan karena Muawiyah memperebutkan imamah.
إِذْ
ظَنَّ عَلِيٌّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ تَسْلِيمَ قَتَلَةِ عُثْمَانَ مَعَ
كَثْرَةِ عَشَائِرِهِمْ وَاخْتِلَاطِهِمْ بِالْعَسْكَرِ يُؤَدِّي إِلَى اضْطِرَابِ
أَمْرِ الْإِمَامَةِ فِي بَدَايَتِهَا، فَرَأَى التَّأْخِيرَ أَصْوَبَ.
Sebab Ali رضي
الله عنه berpendapat bahwa menyerahkan para pembunuh Utsman, sementara
kabilah mereka banyak dan mereka bercampur dengan pasukan, akan menyebabkan
kegoncangan pada urusan imamah di awal masanya. Karena itu beliau memandang
penundaan sebagai langkah yang lebih tepat.
وَظَنَّ
مُعَاوِيَةُ أَنَّ تَأْخِيرَ أَمْرِهِمْ مَعَ عِظَمِ جِنَايَتِهِمْ يُوجِبُ
الْإِغْرَاءَ بِالْأَئِمَّةِ وَيُعَرِّضُ الدِّمَاءَ لِلسَّفْكِ.
Sedangkan Muawiyah berpendapat bahwa menunda urusan mereka, padahal kejahatan
mereka sangat besar, akan mendorong orang untuk meremehkan para imam dan
membuka pintu penumpahan darah.
وَقَدْ
قَالَ أَفَاضِلُ الْعُلَمَاءِ: كُلُّ مُجْتَهِدٍ مُصِيبٌ.
Dan para ulama terkemuka telah berkata: setiap mujtahid itu benar.
وَقَالَ
قَائِلُونَ: الْمُصِيبُ وَاحِدٌ.
Dan sebagian yang lain berkata: yang benar hanya satu.
وَلَمْ
يَذْهَبْ إِلَى تَخْطِئَةِ عَلِيٍّ ذُو تَحْصِيلٍ أَصْلًا.
Dan tidak ada orang berilmu yang benar-benar mendalam yang berpendapat bahwa
Ali itu salah secara mutlak.
اَلْأَصْلُ
الثَّامِنُ: أَنَّ فَضْلَ الصَّحَابَةِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ عَلَى تَرْتِيبِهِمْ
فِي الْخِلَافَةِ.
Pokok kedelapan: bahwa keutamaan para sahabat رضي الله عنهم sesuai dengan urutan
mereka dalam khilafah.
إِذْ
حَقِيقَةُ الْفَضْلِ مَا هُوَ فَضْلٌ عِنْدَ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ، وَذٰلِكَ لَا
يَطَّلِعُ عَلَيْهِ إِلَّا رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.
Sebab hakikat keutamaan adalah apa yang benar-benar menjadi keutamaan di sisi
Allah عز وجل,
dan hal itu tidak diketahui kecuali oleh Rasulullah صلى الله عليه وسلم.
وَقَدْ
وَرَدَ فِي الثَّنَاءِ عَلَى جَمِيعِهِمْ آيَاتٌ وَأَخْبَارٌ كَثِيرَةٌ.
Dan telah datang banyak ayat dan hadis yang memuji seluruh mereka.
وَإِنَّمَا
يُدْرِكُ دَقَائِقَ الْفَضْلِ وَالتَّرْتِيبَ فِيهِ الْمُشَاهِدُونَ لِلْوَحْيِ
وَالتَّنْزِيلِ بِقَرَائِنِ الْأَحْوَالِ وَدَقَائِقِ التَّفْصِيلِ.
Yang dapat mengetahui rincian keutamaan dan urutannya hanyalah mereka yang
menyaksikan wahyu dan turunnya Al-Qur’an, melalui berbagai keadaan yang
menyertainya dan rinciannya yang halus.
فَلَوْلَا
فَهْمُهُمْ ذٰلِكَ لَمَا رَتَّبُوا الْأَمْرَ كَذٰلِكَ، إِذْ كَانُوا لَا
تَأْخُذُهُمْ فِي اللهِ لَوْمَةُ لَائِمٍ، وَلَا يَصْرِفُهُمْ عَنِ الْحَقِّ
صَارِفٌ.
Seandainya mereka tidak memahami hal itu, tentu mereka tidak akan menata urusan
demikian. Sebab mereka adalah orang-orang yang tidak takut celaan siapa pun
dalam menegakkan kebenaran, dan tidak ada sesuatu pun yang memalingkan mereka
dari kebenaran.
اَلْأَصْلُ
التَّاسِعُ: أَنَّ شَرَائِطَ الْإِمَامَةِ بَعْدَ الْإِسْلَامِ وَالتَّكْلِيفِ
خَمْسَةٌ: الذُّكُورَةُ، وَالْوَرَعُ، وَالْعِلْمُ، وَالْكِفَايَةُ، وَنِسْبَةُ
قُرَيْشٍ.
Pokok kesembilan: bahwa syarat-syarat imamah setelah Islam dan taklif ada lima,
yaitu laki-laki, wara‘, ilmu, kecakapan, dan berasal dari Quraisy.
لِقَوْلِهِ
صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: الْأَئِمَّةُ مِنْ قُرَيْشٍ.
Hal ini berdasarkan sabda Nabi صلى الله عليه وسلم: “Para imam itu dari Quraisy.”
وَإِذَا
اجْتَمَعَ عَدَدٌ مِنَ الْمَوْصُوفِينَ بِهٰذِهِ الصِّفَاتِ، فَالْإِمَامُ مَنْ
انْعَقَدَتْ لَهُ الْبَيْعَةُ مِنْ أَكْثَرِ الْخَلْقِ.
Jika berkumpul sejumlah orang yang memiliki sifat-sifat tersebut, maka imam
adalah orang yang baiatnya dipegang oleh mayoritas manusia.
وَالْمُخَالِفُ
لِلْأَكْثَرِ بَاغٍ يَجِبُ رَدُّهُ إِلَى الِانْقِيَادِ إِلَى الْحَقِّ.
Dan orang yang menentang mayoritas adalah pemberontak yang wajib dikembalikan
kepada ketaatan terhadap kebenaran.
اَلْأَصْلُ
الْعَاشِرُ: أَنَّهُ لَوْ تَعَذَّرَ وُجُودُ الْوَرَعِ وَالْعِلْمِ فِيمَنْ
يَتَصَدَّى لِلْإِمَامَةِ، وَكَانَ فِي صَرْفِهِ إِثَارَةُ فِتْنَةٍ لَا تُطَاقُ،
حَكَمْنَا بِانْعِقَادِ إِمَامَتِهِ.
Pokok kesepuluh: apabila tidak mungkin ditemukan sifat wara‘ dan ilmu pada
orang yang tampil memegang imamah, dan menyingkirkannya justru akan menimbulkan
fitnah yang tidak sanggup ditanggung, maka kita menetapkan sahnya imamahnya.
لِأَنَّا
بَيْنَ أَنْ نُحَرِّكَ فِتْنَةً بِالِاسْتِبْدَالِ، فَمَا يَلْقَى الْمُسْلِمُونَ
فِيهِ مِنَ الضَّرَرِ يَزِيدُ عَلَى مَا يَفُوتُهُمْ مِنْ نُقْصَانِ هٰذِهِ
الشُّرُوطِ الَّتِي أُثْبِتَتْ لِمَزِيَّةِ الْمَصْلَحَةِ، فَلَا يُهْدَمُ أَصْلُ
الْمَصْلَحَةِ شَغَفًا بِمَزَايَاهَا، كَالَّذِي يَبْنِي قَصْرًا وَيَهْدِمُ
مِصْرًا.
Sebab kita berada di antara dua pilihan: menyalakan fitnah dengan mengganti
penguasa, padahal bahaya yang akan menimpa kaum Muslimin karenanya lebih besar
daripada kekurangan yang terjadi akibat tidak terpenuhinya syarat-syarat itu,
yang pada dasarnya ditetapkan demi tambahan maslahat. Maka pokok maslahat tidak
boleh dihancurkan hanya demi mengejar kelebihannya, seperti orang yang
membangun sebuah istana tetapi menghancurkan sebuah kota.
وَبَيْنَ
أَنْ نَحْكُمَ بِخُلُوِّ الْبِلَادِ عَنِ الْإِمَامِ وَبِفَسَادِ الْأَقْضِيَةِ،
وَذٰلِكَ مُحَالٌ.
Atau kita memutuskan bahwa negeri-negeri kosong dari imam dan seluruh keputusan
hukum menjadi rusak, dan ini mustahil.
وَنَحْنُ
نَقْضِي بِنُفُوذِ قَضَاءِ أَهْلِ الْبَغْيِ فِي بِلَادِهِمْ لِمَسِيسِ
حَاجَتِهِمْ، فَكَيْفَ لَا نَقْضِي بِصِحَّةِ الْإِمَامَةِ عِنْدَ الْحَاجَةِ
وَالضَّرُورَةِ؟
Kita saja menetapkan berlakunya putusan hukum orang-orang pemberontak di
wilayah mereka karena kebutuhan mendesak. Maka bagaimana mungkin kita tidak
menetapkan sahnya imamah ketika ada kebutuhan dan keadaan darurat?
فَهٰذِهِ
الْأَرْكَانُ الْأَرْبَعَةُ الْحَاوِيَةُ لِلْأُصُولِ الْأَرْبَعِينَ هِيَ
قَوَاعِدُ الْعَقَائِدِ.
Maka empat rukun yang mencakup empat puluh pokok ini adalah dasar-dasar akidah.
فَمَنِ
اعْتَقَدَهَا كَانَ مُوَافِقًا لِأَهْلِ السُّنَّةِ وَمُبَايِنًا لِرَهْطِ
الْبِدْعَةِ.
Siapa yang meyakininya, maka ia sesuai dengan Ahlusunah dan berbeda dari
golongan ahli bid‘ah.
فَاللهُ
تَعَالَى يُسَدِّدُنَا بِتَوْفِيقِهِ، وَيَهْدِينَا إِلَى الْحَقِّ وَتَحْقِيقِهِ،
بِمَنِّهِ وَسَعَةِ جُودِهِ وَفَضْلِهِ.
Semoga Allah Ta‘ala meneguhkan kita dengan taufik-Nya dan memberi petunjuk
kepada kita menuju kebenaran dan pemahamannya yang benar, dengan karunia-Nya,
keluasan kemurahan-Nya, dan keutamaan-Nya.
وَصَلَّى
اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَكُلِّ عَبْدٍ مُصْطَفًى.
Semoga Allah melimpahkan salawat kepada junjungan kami Muhammad, kepada
keluarganya, dan kepada setiap hamba pilihan-Nya.