Tentang Iman dan Islam, Hubungan di antara Keduanya, Kemungkinan Bertambah dan Berkurangnya

اَلْفَصْلُ الرَّابِعُ مِنْ قَوَاعِدِ الْعَقَائِدِ، فِي الْإِيمَانِ وَالْإِسْلَامِ وَمَا بَيْنَهُمَا مِنَ الِاتِّصَالِ، وَمَا يَتَطَرَّقُ إِلَيْهِ مِنَ الزِّيَادَةِ وَالنُّقْصَانِ، وَوَجْهِ اسْتِثْنَاءِ السَّلَفِ فِيهِ، وَفِيهِ ثَلَاثُ مَسَائِلَ.

Fasal keempat dari Kaidah-Kaidah Akidah, tentang iman dan Islam, hubungan di antara keduanya, kemungkinan bertambah dan berkurangnya, serta alasan para salaf memberi pengecualian dalam hal itu. Di dalamnya terdapat tiga masalah.

مَسْأَلَةٌ: اخْتَلَفُوا فِي أَنَّ الْإِسْلَامَ هُوَ الْإِيمَانُ أَوْ غَيْرُهُ، وَإِنْ كَانَ غَيْرَهُ فَهَلْ هُوَ مُنْفَصِلٌ عَنْهُ يُوجَدُ دُونَهُ، أَوْ مُرْتَبِطٌ بِهِ يُلَازِمُهُ؟
Masalah: Para ulama berbeda pendapat, apakah Islam itu sama dengan iman atau selainnya. Jika ia selainnya, maka apakah ia terpisah darinya sehingga dapat ada tanpa iman, ataukah ia terikat dengannya dan selalu menyertainya?

فَقِيلَ: إِنَّهُمَا شَيْءٌ وَاحِدٌ.
Ada yang mengatakan bahwa keduanya adalah satu hal yang sama.

وَقِيلَ: إِنَّهُمَا شَيْئَانِ لَا يَتَوَاصَلَانِ.
Dan ada yang mengatakan bahwa keduanya adalah dua hal yang tidak saling berkaitan.

وَقِيلَ: إِنَّهُمَا شَيْئَانِ، وَلٰكِنْ يَرْتَبِطُ أَحَدُهُمَا بِالْآخَرِ.
Dan ada pula yang mengatakan bahwa keduanya adalah dua hal, tetapi salah satunya berkaitan dengan yang lain.

وَقَدْ أَوْرَدَ أَبُو طَالِبٍ الْمَكِّيُّ فِي هٰذَا كَلَامًا شَدِيدَ الِاضْطِرَابِ كَثِيرَ التَّطْوِيلِ.
Abu Thalib al-Makki telah menyebutkan dalam persoalan ini pembicaraan yang sangat kacau dan terlalu panjang.

فَلْنَهْجُمْ الآنَ عَلَى التَّصْرِيحِ بِالْحَقِّ مِنْ غَيْرِ تَعْرِيجٍ عَلَى نَقْلِ مَا لَا تَحْصِيلَ لَهُ.
Maka sekarang marilah kita langsung menjelaskan kebenaran tanpa menyinggung riwayat-riwayat yang tidak memberi hasil yang jelas.

فَنَقُولُ: فِي هٰذَا ثَلَاثَةُ مَبَاحِثَ: بَحْثٌ عَنْ مُوجِبِ اللَّفْظَيْنِ فِي اللُّغَةِ، وَبَحْثٌ عَنِ الْمُرَادِ بِهِمَا فِي إِطْلَاقِ الشَّرْعِ، وَبَحْثٌ عَنْ حُكْمِهِمَا فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ.
Kami katakan: dalam persoalan ini ada tiga pembahasan: pembahasan tentang makna dua lafaz itu menurut bahasa, pembahasan tentang maksud keduanya dalam penggunaan syariat, dan pembahasan tentang hukum keduanya di dunia dan akhirat.

وَالْبَحْثُ الْأَوَّلُ لُغَوِيٌّ، وَالثَّانِي تَفْسِيرِيٌّ، وَالثَّالِثُ فِقْهِيٌّ شَرْعِيٌّ.
Pembahasan pertama bersifat kebahasaan, yang kedua bersifat penafsiran, dan yang ketiga bersifat fikih syar‘i.

اَلْبَحْثُ الْأَوَّلُ فِي مُوجِبِ اللُّغَةِ، وَالْحَقُّ فِيهِ أَنَّ الْإِيمَانَ عِبَارَةٌ عَنِ التَّصْدِيقِ.
Pembahasan pertama adalah tentang makna menurut bahasa. Yang benar dalam hal ini adalah bahwa iman berarti pembenaran.

قَالَ اللهُ تَعَالَى: وَمَا أَنْتَ بِمُؤْمِنٍ لَنَا، أَيْ بِمُصَدِّقٍ.
Allah Ta‘ala berfirman: “Dan engkau tidak akan beriman kepada kami,” maksudnya: tidak akan membenarkan kami.

وَالْإِسْلَامُ عِبَارَةٌ عَنِ التَّسْلِيمِ وَالِاسْتِسْلَامِ بِالْإِذْعَانِ وَالِانْقِيَادِ وَتَرْكِ التَّمَرُّدِ وَالْإِبَاءِ وَالْعِنَادِ.
Sedangkan Islam berarti penyerahan diri dan kepatuhan, dengan tunduk, patuh, serta meninggalkan pembangkangan, penolakan, dan keras kepala.

وَلِلتَّصْدِيقِ مَحَلٌّ خَاصٌّ، وَهُوَ الْقَلْبُ، وَاللِّسَانُ تَرْجُمَانٌ.
Pembenaran memiliki tempat khusus, yaitu hati, sedangkan lisan hanyalah penerjemahnya.

وَأَمَّا التَّسْلِيمُ فَإِنَّهُ عَامٌّ فِي الْقَلْبِ وَاللِّسَانِ وَالْجَوَارِحِ.
Adapun penyerahan diri, maka ia bersifat umum, mencakup hati, lisan, dan anggota badan.

فَإِنَّ كُلَّ تَصْدِيقٍ بِالْقَلْبِ فَهُوَ تَسْلِيمٌ وَتَرْكُ الْإِبَاءِ وَالْجُحُودِ.
Sebab setiap pembenaran dengan hati adalah penyerahan diri dan meninggalkan penolakan serta pengingkaran.

وَكَذٰلِكَ الِاعْتِرَافُ بِاللِّسَانِ، وَكَذٰلِكَ الطَّاعَةُ وَالِانْقِيَادُ بِالْجَوَارِحِ.
Demikian pula pengakuan dengan lisan, dan demikian pula ketaatan serta kepatuhan dengan anggota badan.

فَمُوجَبُ اللُّغَةِ أَنَّ الْإِسْلَامَ أَعَمُّ وَالْإِيمَانَ أَخَصُّ.
Maka konsekuensi bahasa adalah bahwa Islam lebih umum, sedangkan iman lebih khusus.

فَكَانَ الْإِيمَانُ عِبَارَةً عَنْ أَشْرَفِ أَجْزَاءِ الْإِسْلَامِ.
Dengan demikian, iman merupakan ungkapan bagi bagian Islam yang paling mulia.

فَإِذًا كُلُّ تَصْدِيقٍ تَسْلِيمٌ، وَلَيْسَ كُلُّ تَسْلِيمٍ تَصْدِيقًا.
Jadi, setiap pembenaran adalah penyerahan diri, tetapi tidak setiap penyerahan diri adalah pembenaran.

اَلْبَحْثُ الثَّانِي عَنْ إِطْلَاقِ الشَّرْعِ، وَالْحَقُّ فِيهِ أَنَّ الشَّرْعَ قَدْ وَرَدَ بِاسْتِعْمَالِهِمَا عَلَى سَبِيلِ التَّرَادُفِ وَالتَّوَارُدِ، وَوَرَدَ عَلَى سَبِيلِ الِاخْتِلَافِ، وَوَرَدَ عَلَى سَبِيلِ التَّدَاخُلِ.
Pembahasan kedua adalah tentang penggunaan syariat. Yang benar adalah bahwa syariat menggunakan kedua istilah itu kadang secara sinonim dan bergantian, kadang secara berbeda, dan kadang secara saling mencakup.

أَمَّا التَّرَادُفُ فَفِي قَوْلِهِ تَعَالَى: فَأَخْرَجْنَا مَنْ كَانَ فِيهَا مِنَ الْمُؤْمِنِينَ ۝ فَمَا وَجَدْنَا فِيهَا غَيْرَ بَيْتٍ مِنَ الْمُسْلِمِينَ.
Adapun penggunaan secara sinonim, terdapat dalam firman Allah Ta‘ala: “Lalu Kami keluarkan orang-orang yang beriman yang ada di dalamnya. Maka Kami tidak mendapati di dalamnya selain satu rumah dari orang-orang Muslim.”

وَلَمْ يَكُنْ بِالِاتِّفَاقِ إِلَّا بَيْتٌ وَاحِدٌ.
Dan menurut kesepakatan, yang dimaksud hanyalah satu rumah yang sama.

وَقَالَ تَعَالَى: يَا قَوْمِ إِنْ كُنْتُمْ آمَنْتُمْ بِاللهِ فَعَلَيْهِ تَوَكَّلُوا إِنْ كُنْتُمْ مُسْلِمِينَ.
Dan Allah Ta‘ala berfirman: “Wahai kaumku, jika kalian telah beriman kepada Allah, maka bertawakallah kepada-Nya jika kalian memang Muslim.”

وَقَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: بُنِيَ الْإِسْلَامُ عَلَى خَمْسٍ.
Dan Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda: “Islam dibangun di atas lima perkara.”

وَسُئِلَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَرَّةً عَنِ الْإِيمَانِ، فَأَجَابَ بِهٰذِهِ الْخَمْسِ.
Dan pada suatu ketika Rasulullah صلى الله عليه وسلم ditanya tentang iman, lalu beliau menjawab dengan lima perkara tersebut.

وَأَمَّا الِاخْتِلَافُ فَقَوْلُهُ تَعَالَى: قَالَتِ الْأَعْرَابُ آمَنَّا، قُلْ لَمْ تُؤْمِنُوا وَلٰكِنْ قُولُوا أَسْلَمْنَا.
Adapun penggunaan secara berbeda, terdapat dalam firman Allah Ta‘ala: “Orang-orang Arab Badui berkata: kami telah beriman. Katakanlah: kalian belum beriman, tetapi katakanlah: kami telah Islam.”

وَمَعْنَاهُ: اسْتَسْلَمْنَا فِي الظَّاهِرِ.
Maknanya adalah: kami telah tunduk secara lahir.

فَأَرَادَ بِالْإِيمَانِ هٰهُنَا التَّصْدِيقَ بِالْقَلْبِ فَقَطْ، وَبِالْإِسْلَامِ الِاسْتِسْلَامَ ظَاهِرًا بِاللِّسَانِ وَالْجَوَارِحِ.
Di sini Allah menghendaki dengan “iman” pembenaran hati semata, dan dengan “Islam” penyerahan diri secara lahir dengan lisan dan anggota badan.

وَفِي حَدِيثِ جِبْرِيلَ عَلَيْهِ السَّلَامُ لَمَّا سَأَلَهُ عَنِ الْإِيمَانِ، فَقَالَ: أَنْ تُؤْمِنَ بِاللهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَبِالْبَعْثِ بَعْدَ الْمَوْتِ وَبِالْحِسَابِ وَبِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ.
Dan dalam hadis Jibril عليه السلام, ketika ia bertanya kepada Nabi tentang iman, beliau menjawab: “Yaitu engkau beriman kepada Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari akhir, kebangkitan setelah mati, hisab, dan takdir baik maupun buruknya.”

فَقَالَ: فَمَا الْإِسْلَامُ؟ فَأَجَابَ بِذِكْرِ الْخِصَالِ الْخَمْسِ.
Kemudian Jibril bertanya: “Lalu apa itu Islam?” Maka Nabi menjawab dengan menyebut lima perkara.

فَعَبَّرَ بِالْإِسْلَامِ عَنْ تَسْلِيمِ الظَّاهِرِ بِالْقَوْلِ وَالْعَمَلِ.
Dengan demikian, beliau menggunakan istilah Islam untuk menunjukkan ketundukan lahiriah dengan ucapan dan perbuatan.

وَفِي الْحَدِيثِ عَنْ سَعْدٍ أَنَّهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَعْطَى رَجُلًا عَطَاءً وَلَمْ يُعْطِ الْآخَرَ.
Dan dalam hadis dari Sa‘d disebutkan bahwa Nabi صلى الله عليه وسلم memberi seseorang suatu pemberian, tetapi tidak memberi yang lain.

فَقَالَ لَهُ سَعْدٌ: يَا رَسُولَ اللهِ، تَرَكْتَ فُلَانًا لَمْ تُعْطِهِ، وَهُوَ مُؤْمِنٌ.
Sa‘d berkata kepada beliau: “Wahai Rasulullah, engkau meninggalkan si fulan dan tidak memberinya, padahal ia seorang mukmin.”

فَقَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَوْ مُسْلِمٌ.
Maka beliau صلى الله عليه وسلم menjawab: “Atau seorang Muslim.”

فَأَعَادَ عَلَيْهِ، فَأَعَادَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَوْ مُسْلِمٌ.
Lalu Sa‘d mengulanginya, dan Rasulullah صلى الله عليه وسلم pun mengulangi jawabannya: “Atau seorang Muslim.”

وَأَمَّا التَّدَاخُلُ فَمَا رُوِيَ أَيْضًا أَنَّهُ سُئِلَ، فَقِيلَ: أَيُّ الْأَعْمَالِ أَفْضَلُ؟
Adapun penggunaan secara saling mencakup, terdapat pula dalam riwayat bahwa Nabi ditanya: “Amal apakah yang paling utama?”

فَقَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: الْإِسْلَامُ.
Beliau صلى الله عليه وسلم menjawab: “Islam.”

فَقِيلَ: أَيُّ الْإِسْلَامِ أَفْضَلُ؟
Lalu ditanya lagi: “Islam yang mana yang paling utama?”

فَقَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: الْإِيمَانُ.
Beliau صلى الله عليه وسلم menjawab: “Iman.”

وَهٰذَا دَلِيلٌ عَلَى الِاخْتِلَافِ وَعَلَى التَّدَاخُلِ.
Ini adalah dalil atas adanya perbedaan sekaligus saling mencakup.

وَهُوَ أَوْفَقُ الِاسْتِعْمَالَاتِ فِي اللُّغَةِ، لِأَنَّ الْإِيمَانَ عَمَلٌ مِنَ الْأَعْمَالِ وَهُوَ أَفْضَلُهَا، وَالْإِسْلَامُ هُوَ تَسْلِيمٌ إِمَّا بِالْقَلْبِ وَإِمَّا بِاللِّسَانِ وَإِمَّا بِالْجَوَارِحِ، وَأَفْضَلُهَا الَّذِي بِالْقَلْبِ وَهُوَ التَّصْدِيقُ الَّذِي يُسَمَّى إِيمَانًا.
Penggunaan ini paling sesuai dengan bahasa, karena iman adalah salah satu amal, bahkan yang paling utama. Sedangkan Islam adalah penyerahan diri, baik dengan hati, lisan, maupun anggota badan. Yang paling utama di antaranya adalah yang dengan hati, yaitu pembenaran yang disebut iman.

وَالِاسْتِعْمَالُ لَهُمَا عَلَى سَبِيلِ الِاخْتِلَافِ، وَعَلَى سَبِيلِ التَّدَاخُلِ، وَعَلَى سَبِيلِ التَّرَادُفِ، كُلُّهُ غَيْرُ خَارِجٍ عَنْ طَرِيقِ التَّجَوُّزِ فِي اللُّغَةِ.
Penggunaan keduanya secara berbeda, secara saling mencakup, dan secara sinonim, semuanya masih berada dalam batas penggunaan majazi yang dibenarkan dalam bahasa.

أَمَّا الِاخْتِلَافُ فَهُوَ أَنْ يُجْعَلَ الْإِيمَانُ عِبَارَةً عَنِ التَّصْدِيقِ بِالْقَلْبِ فَقَطْ، وَهُوَ مُوَافِقٌ لِلُّغَةِ.
Adapun penggunaan secara berbeda, yaitu ketika iman dijadikan sebagai pembenaran hati semata, dan ini sesuai dengan bahasa.

وَالْإِسْلَامُ عِبَارَةٌ عَنِ التَّسْلِيمِ ظَاهِرًا، وَهُوَ أَيْضًا مُوَافِقٌ لِلُّغَةِ.
Sedangkan Islam dijadikan sebagai penyerahan diri secara lahiriah, dan ini juga sesuai dengan bahasa.

فَإِنَّ التَّسْلِيمَ بِبَعْضِ مَحَالِّ التَّسْلِيمِ يُنْطَلَقُ عَلَيْهِ اسْمُ التَّسْلِيمِ.
Sebab penyerahan diri dengan sebagian tempat penyerahan diri sudah dapat dinamai penyerahan diri.

فَلَيْسَ مِنْ شَرْطِ حُصُولِ الِاسْمِ عُمُومُ الْمَعْنَى لِكُلِّ مَحَلٍّ يُمْكِنُ أَنْ يُوجَدَ الْمَعْنَى فِيهِ.
Tidak disyaratkan bagi berlakunya suatu nama bahwa maknanya harus mencakup seluruh tempat yang mungkin menerima makna itu.

فَإِنَّ مَنْ لَمَسَ غَيْرَهُ بِبَعْضِ بَدَنِهِ يُسَمَّى لَامِسًا، وَإِنْ لَمْ يَسْتَغْرِقْ جَمِيعَ بَدَنِهِ.
Sebab orang yang menyentuh orang lain dengan sebagian tubuhnya tetap disebut menyentuh, meskipun tidak menggunakan seluruh tubuhnya.

فَإِطْلَاقُ اسْمِ الْإِسْلَامِ عَلَى التَّسْلِيمِ الظَّاهِرِ عِنْدَ عَدَمِ تَسْلِيمِ الْبَاطِنِ مُطَابِقٌ لِلِّسَانِ.
Maka penggunaan nama Islam untuk penyerahan diri lahiriah ketika tidak ada penyerahan batin tetap sesuai dengan bahasa.

وَعَلَى هٰذَا الْوَجْهِ جَرَى قَوْلُهُ تَعَالَى: قَالَتِ الْأَعْرَابُ آمَنَّا، قُلْ لَمْ تُؤْمِنُوا وَلٰكِنْ قُولُوا أَسْلَمْنَا.
Dengan cara inilah dipahami firman Allah Ta‘ala: “Orang-orang Arab Badui berkata: kami telah beriman. Katakanlah: kalian belum beriman, tetapi katakanlah: kami telah Islam.”

وَقَوْلُهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي حَدِيثِ سَعْدٍ: أَوْ مُسْلِمٌ.
Dan demikian pula sabda Nabi صلى الله عليه وسلم dalam hadis Sa‘d: “Atau seorang Muslim.”

لِأَنَّهُ فَضَّلَ أَحَدَهُمَا عَلَى الْآخَرِ، وَيُرِيدُ بِالِاخْتِلَافِ تَفَاضُلَ الْمُسَمَّيَيْنِ.
Karena beliau membedakan salah satunya dari yang lain, dan yang dimaksud dengan perbedaan di sini adalah perbedaan tingkat antara dua hal yang dinamai itu.

وَأَمَّا التَّدَاخُلُ فَمُوَافِقٌ أَيْضًا لِلُّغَةِ فِي خُصُوصِ الْإِيمَانِ، وَهُوَ أَنْ يُجْعَلَ الْإِسْلَامُ عِبَارَةً عَنِ التَّسْلِيمِ بِالْقَلْبِ وَالْقَوْلِ وَالْعَمَلِ جَمِيعًا، وَالْإِيمَانُ عِبَارَةً عَنْ بَعْضِ مَا دَخَلَ فِي الْإِسْلَامِ، وَهُوَ التَّصْدِيقُ بِالْقَلْبِ.
Adapun penggunaan secara saling mencakup juga sesuai dengan bahasa, khususnya pada sisi kekhususan iman, yaitu ketika Islam dijadikan sebagai penyerahan diri dengan hati, ucapan, dan perbuatan seluruhnya, sedangkan iman dijadikan sebagai sebagian dari apa yang tercakup dalam Islam, yaitu pembenaran hati.

وَهُوَ الَّذِي عَنَيْنَاهُ بِالتَّدَاخُلِ.
Inilah yang kami maksud dengan saling mencakup.

وَهُوَ مُوَافِقٌ لِلُّغَةِ فِي خُصُوصِ الْإِيمَانِ وَعُمُومِ الْإِسْلَامِ لِلْكُلِّ.
Hal ini sesuai dengan bahasa, karena iman memang khusus, sedangkan Islam bersifat umum bagi semuanya.

وَعَلَى هٰذَا خَرَجَ قَوْلُهُ: الْإِيمَانُ، فِي جَوَابِ قَوْلِ السَّائِلِ: أَيُّ الْإِسْلَامِ أَفْضَلُ؟
Dengan dasar ini dipahami jawaban Nabi: “Iman,” ketika penanya bertanya: “Islam yang mana yang paling utama?”

لِأَنَّهُ جَعَلَ الْإِيمَانَ خُصُوصًا مِنَ الْإِسْلَامِ فَأَدْخَلَهُ فِيهِ.
Karena beliau menjadikan iman sebagai bagian khusus dari Islam, lalu memasukkannya ke dalam Islam.

وَأَمَّا اسْتِعْمَالُهُ فِيهِ عَلَى سَبِيلِ التَّرَادُفِ بِأَنْ يُجْعَلَ الْإِسْلَامُ عِبَارَةً عَنِ التَّسْلِيمِ بِالْقَلْبِ وَالظَّاهِرِ جَمِيعًا، فَإِنَّ كُلَّ ذٰلِكَ تَسْلِيمٌ، وَكَذٰلِكَ الْإِيمَانُ.
Adapun penggunaan secara sinonim, yaitu dengan menjadikan Islam sebagai penyerahan diri dengan hati dan lahiriah sekaligus, maka semua itu adalah penyerahan diri, demikian pula iman.

وَيَكُونُ التَّصَرُّفُ فِي الْإِيمَانِ عَلَى الْخُصُوصِ بِتَعْمِيمِهِ وَإِدْخَالِ الظَّاهِرِ فِي مَعْنَاهُ، وَهُوَ جَائِزٌ.
Dengan demikian, terjadi perluasan makna pada kata iman secara khusus, dengan memasukkan sisi lahiriah ke dalam maknanya, dan hal ini dibolehkan.

لِأَنَّ تَسْلِيمَ الظَّاهِرِ بِالْقَوْلِ وَالْعَمَلِ ثَمَرَةُ تَصْدِيقِ الْبَاطِنِ وَنَتِيجَتُهُ.
Sebab penyerahan diri lahiriah melalui ucapan dan perbuatan adalah buah dan hasil dari pembenaran batin.

وَقَدْ يُطْلَقُ اسْمُ الشَّجَرِ وَيُرَادُ بِهِ الشَّجَرُ مَعَ ثَمَرِهِ عَلَى سَبِيلِ التَّسَامُحِ.
Kadang-kadang nama “pohon” digunakan dan yang dimaksud adalah pohon beserta buahnya, sebagai bentuk kelonggaran dalam bahasa.

فَيَصِيرُ بِهٰذَا الْقَدْرِ مِنَ التَّعْمِيمِ مُرَادِفًا لِاسْمِ الْإِسْلَامِ وَمُطَابِقًا لَهُ، فَلَا يَزِيدُ عَلَيْهِ وَلَا يَنْقُصُ.
Dengan kadar perluasan seperti ini, istilah iman menjadi sinonim dengan istilah Islam dan sesuai dengannya, tidak lebih dan tidak kurang.

وَعَلَيْهِ خَرَجَ قَوْلُهُ: فَمَا وَجَدْنَا فِيهَا غَيْرَ بَيْتٍ مِنَ الْمُسْلِمِينَ.
Dengan cara inilah dipahami firman Allah: “Maka Kami tidak mendapati di dalamnya selain satu rumah dari orang-orang Muslim.”

اَلْبَحْثُ الثَّالِثُ عَنِ الْحُكْمِ الشَّرْعِيِّ.
Pembahasan ketiga adalah tentang hukum syar‘i.

وَالْإِسْلَامُ وَالْإِيمَانُ حُكْمَانِ: أُخْرَوِيٌّ وَدُنْيَوِيٌّ.
Islam dan iman memiliki dua jenis hukum: hukum ukhrawi dan hukum duniawi.

أَمَّا الْأُخْرَوِيُّ فَهُوَ الْإِخْرَاجُ مِنَ النَّارِ وَمَنْعُ التَّخْلِيدِ.
Adapun hukum ukhrawi, maka ia adalah keluarnya seseorang dari neraka dan tercegahnya ia dari kekekalan di dalamnya.

إِذْ قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: يَخْرُجُ مِنَ النَّارِ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ إِيمَانٍ.
Karena Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda: “Akan keluar dari neraka orang yang di dalam hatinya terdapat seberat zarrah dari iman.”

وَقَدِ اخْتَلَفُوا فِي أَنَّ هٰذَا الْحُكْمَ عَلَى مَاذَا يَتَرَتَّبُ، وَعَبَّرُوا عَنْهُ بِأَنَّ الْإِيمَانَ مَاذَا هُوَ.
Para ulama berbeda pendapat tentang atas dasar apa hukum ini ditetapkan, dan mereka mengungkapkannya dengan pertanyaan: “Apakah hakikat iman itu?”

فَمِنْ قَائِلٍ إِنَّهُ مُجَرَّدُ الْعَقْدِ.
Ada yang mengatakan bahwa iman hanyalah sekadar ikatan hati.

وَمِنْ قَائِلٍ يَقُولُ: إِنَّهُ عَقْدٌ بِالْقَلْبِ وَشَهَادَةٌ بِاللِّسَانِ.
Ada pula yang mengatakan bahwa iman adalah ikatan hati dan kesaksian dengan lisan.

وَمِنْ قَائِلٍ يَزِيدُ ثَالِثًا، وَهُوَ الْعَمَلُ بِالْأَرْكَانِ.
Dan ada pula yang menambahkan unsur ketiga, yaitu amal dengan anggota badan.

وَنَحْنُ نَكْشِفُ الْغِطَاءَ عَنْهُ وَنَقُولُ: مَنْ جَمَعَ بَيْنَ هٰذِهِ الثَّلَاثَةِ فَلَا خِلَافَ فِي أَنَّ مُسْتَقَرَّهُ الْجَنَّةُ، وَهٰذِهِ دَرَجَةٌ.
Kami akan menyingkap persoalan ini dan berkata: siapa yang menghimpun ketiga unsur ini, maka tidak ada perselisihan bahwa tempat akhirnya adalah surga. Ini satu tingkatan.

اَلدَّرَجَةُ الثَّانِيَةُ أَنْ يُوجَدَ اثْنَانِ وَبَعْضُ الثَّالِثِ، وَهُوَ الْقَوْلُ وَالْعَقْدُ وَبَعْضُ الْأَعْمَالِ، وَلٰكِنِ ارْتَكَبَ صَاحِبُهُ كَبِيرَةً أَوْ بَعْضَ الْكَبَائِرِ.
Tingkatan kedua: terdapat dua unsur dan sebagian dari unsur ketiga, yaitu ucapan, keyakinan hati, dan sebagian amal, tetapi orang itu melakukan satu dosa besar atau beberapa dosa besar.

فَعِنْدَ هٰذَا قَالَتِ الْمُعْتَزِلَةُ: خَرَجَ بِهٰذَا عَنِ الْإِيمَانِ وَلَمْ يَدْخُلْ فِي الْكُفْرِ، بَلِ اسْمُهُ فَاسِقٌ، وَهُوَ عَلَى مَنْزِلَةٍ بَيْنَ الْمَنْزِلَتَيْنِ، وَهُوَ مُخَلَّدٌ فِي النَّارِ.
Dalam hal ini Mu‘tazilah berkata: dengan demikian ia telah keluar dari iman, tetapi belum masuk ke dalam kufur. Namanya adalah fasik, berada pada posisi di antara dua posisi, dan ia kekal di neraka.

وَهٰذَا بَاطِلٌ كَمَا سَنَذْكُرُهُ.
Ini batil, sebagaimana akan kami jelaskan nanti.

اَلدَّرَجَةُ الثَّالِثَةُ أَنْ يُوجَدَ التَّصْدِيقُ بِالْقَلْبِ وَالشَّهَادَةُ بِاللِّسَانِ دُونَ الْأَعْمَالِ بِالْجَوَارِحِ.
Tingkatan ketiga: terdapat pembenaran dengan hati dan kesaksian dengan lisan, tetapi tanpa amal anggota badan.

وَقَدِ اخْتَلَفُوا فِي حُكْمِهِ.
Para ulama berbeda pendapat tentang hukumnya.

فَقَالَ أَبُو طَالِبٍ الْمَكِّيُّ: الْعَمَلُ بِالْجَوَارِحِ مِنَ الْإِيمَانِ، وَلَا يَتِمُّ دُونَهُ، وَادَّعَى الْإِجْمَاعَ فِيهِ.
Abu Thalib al-Makki berkata: amal dengan anggota badan termasuk iman dan iman tidak sempurna tanpanya. Ia bahkan mengklaim adanya ijmak dalam hal ini.

وَاسْتَدَلَّ بِأَدِلَّةٍ تُشْعِرُ بِنَقِيضِ غَرَضِهِ، كَقَوْلِهِ تَعَالَى: الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ.
Ia berdalil dengan dalil-dalil yang justru menunjukkan kebalikan dari maksudnya, seperti firman Allah Ta‘ala: “Orang-orang yang beriman dan beramal saleh.”

إِذْ هٰذَا يَدُلُّ عَلَى أَنَّ الْعَمَلَ وَرَاءَ الْإِيمَانِ، لَا مِنْ نَفْسِ الْإِيمَانِ.
Karena ayat ini menunjukkan bahwa amal itu berada setelah iman, bukan bagian dari hakikat iman itu sendiri.

وَإِلَّا فَيَكُونُ الْعَمَلُ فِي حُكْمِ الْمُعَادِ.
Kalau tidak demikian, maka penyebutan amal menjadi seperti pengulangan makna yang sama.

وَالْعَجَبُ أَنَّهُ ادَّعَى الْإِجْمَاعَ فِي هٰذَا، وَهُوَ مَعَ ذٰلِكَ يَنْقُلُ قَوْلَهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لَا يَكْفُرُ أَحَدٌ إِلَّا بَعْدَ جُحُودِهِ لِمَا أَقَرَّ بِهِ.
Yang mengherankan, ia mengklaim adanya ijmak dalam masalah ini, padahal pada saat yang sama ia juga meriwayatkan sabda Nabi صلى الله عليه وسلم: “Tidaklah seseorang menjadi kafir kecuali setelah mengingkari apa yang sebelumnya ia akui.”

وَيُنْكِرُ عَلَى الْمُعْتَزِلَةِ قَوْلَهُمْ بِالتَّخْلِيدِ فِي النَّارِ بِسَبَبِ الْكَبَائِرِ.
Dan ia mengingkari pendapat Mu‘tazilah yang mengatakan kekal di neraka karena dosa-dosa besar.

وَالْقَائِلُ بِهٰذَا قَائِلٌ بِنَفْسِ مَذْهَبِ الْمُعْتَزِلَةِ.
Padahal orang yang berpendapat demikian pada hakikatnya telah mengikuti mazhab Mu‘tazilah itu sendiri.

إِذْ يُقَالُ لَهُ: مَنْ صَدَّقَ بِقَلْبِهِ وَشَهِدَ بِلِسَانِهِ وَمَاتَ فِي الْحَالِ، فَهَلْ هُوَ فِي الْجَنَّةِ؟
Karena dapat dikatakan kepadanya: seseorang yang membenarkan dengan hatinya dan bersaksi dengan lisannya lalu mati seketika, apakah ia masuk surga?

فَلَا بُدَّ أَنْ يَقُولَ: نَعَمْ.
Ia pasti harus menjawab: ya.

وَفِيهِ حُكْمٌ بِوُجُودِ الْإِيمَانِ دُونَ الْعَمَلِ.
Dan dalam jawaban itu terdapat pengakuan bahwa iman ada meskipun tanpa amal.

فَنَزِيدُ وَنَقُولُ: لَوْ بَقِيَ حَيًّا حَتَّى دَخَلَ عَلَيْهِ وَقْتُ صَلَاةٍ وَاحِدَةٍ فَتَرَكَهَا، ثُمَّ مَاتَ، أَوْ زَنَى ثُمَّ مَاتَ، فَهَلْ يُخَلَّدُ فِي النَّارِ؟
Lalu kami tambahkan dan bertanya: seandainya ia tetap hidup hingga datang waktu satu salat lalu ia meninggalkannya, kemudian mati, atau ia berzina lalu mati, apakah ia kekal di neraka?

فَإِنْ قَالَ: نَعَمْ، فَهُوَ مُرَادُ الْمُعْتَزِلَةِ.
Jika ia menjawab: ya, maka itulah pendapat Mu‘tazilah.

وَإِنْ قَالَ: لَا، فَهُوَ تَصْرِيحٌ بِأَنَّ الْعَمَلَ لَيْسَ رُكْنًا مِنْ نَفْسِ الْإِيمَانِ، وَلَا شَرْطًا فِي وُجُودِهِ، وَلَا فِي اسْتِحْقَاقِ الْجَنَّةِ بِهِ.
Dan jika ia menjawab: tidak, maka itu adalah pernyataan tegas bahwa amal bukanlah rukun dari hakikat iman, bukan pula syarat adanya iman, dan bukan pula syarat untuk berhak masuk surga karena iman itu.

وَإِنْ قَالَ: أَرَدْتُ بِهِ أَنْ يَعِيشَ مُدَّةً طَوِيلَةً وَلَا يُصَلِّيَ وَلَا يُقْدِمَ عَلَى شَيْءٍ مِنَ الْأَعْمَالِ الشَّرْعِيَّةِ، فَنَقُولُ: فَمَا ضَبْطُ تِلْكَ الْمُدَّةِ؟
Dan jika ia berkata: yang kumaksud adalah orang itu hidup lama, tetapi tidak salat dan tidak melakukan amal-amal syariat sedikit pun, maka kami bertanya: lalu bagaimana batas waktu lamanya itu?

وَمَا عَدَدُ تِلْكَ الطَّاعَاتِ الَّتِي بِتَرْكِهَا يَبْطُلُ الْإِيمَانُ؟
Dan berapa jumlah ketaatan yang bila ditinggalkan menyebabkan iman batal?

وَمَا عَدَدُ الْكَبَائِرِ الَّتِي بِارْتِكَابِهَا يَبْطُلُ الْإِيمَانُ؟
Dan berapa jumlah dosa besar yang jika dikerjakan menyebabkan iman batal?

وَهٰذَا لَا يُمْكِنُ التَّحَكُّمُ بِتَقْدِيرِهِ، وَلَمْ يَصِرْ إِلَيْهِ صَائِرٌ أَصْلًا.
Hal ini tidak mungkin ditentukan secara sewenang-wenang, dan tidak ada seorang pun yang benar-benar menetapkannya.

اَلدَّرَجَةُ الرَّابِعَةُ أَنْ يُوجَدَ التَّصْدِيقُ بِالْقَلْبِ قَبْلَ أَنْ يَنْطِقَ بِاللِّسَانِ أَوْ يَشْتَغِلَ بِالْأَعْمَالِ، وَمَاتَ.
Tingkatan keempat: terdapat pembenaran di hati sebelum sempat mengucapkannya dengan lisan atau melakukan amal, lalu ia meninggal dunia.

فَهَلْ نَقُولُ: مَاتَ مُؤْمِنًا بَيْنَهُ وَبَيْنَ اللهِ تَعَالَى؟
Lalu apakah kita mengatakan bahwa ia mati sebagai orang beriman antara dirinya dengan Allah Ta‘ala?

وَهٰذَا مِمَّا اخْتُلِفَ فِيهِ.
Ini termasuk perkara yang diperselisihkan.

وَمَنْ شَرَطَ الْقَوْلَ لِتَمَامِ الْإِيمَانِ يَقُولُ: هٰذَا مَاتَ قَبْلَ الْإِيمَانِ.
Orang yang mensyaratkan ucapan untuk kesempurnaan iman akan berkata: orang ini mati sebelum beriman.

وَهُوَ فَاسِدٌ.
Pendapat ini rusak.

إِذْ قَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: يَخْرُجُ مِنَ النَّارِ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنَ الْإِيمَانِ.
Karena Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda: “Akan keluar dari neraka orang yang di dalam hatinya ada seberat zarrah dari iman.”

وَهٰذَا قَلْبُهُ طَافِحٌ بِالْإِيمَانِ.
Padahal hati orang ini penuh dengan iman.

فَكَيْفَ يُخَلَّدُ فِي النَّارِ؟
Lalu bagaimana mungkin ia kekal di neraka?

وَلَمْ يَشْتَرِطْ فِي حَدِيثِ جِبْرِيلَ عَلَيْهِ السَّلَامُ لِلْإِيمَانِ إِلَّا التَّصْدِيقَ بِاللهِ تَعَالَى وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ، كَمَا سَبَقَ.
Dan dalam hadis Jibril عليه السلام, Nabi tidak mensyaratkan bagi iman kecuali pembenaran kepada Allah Ta‘ala, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, dan hari akhir, sebagaimana telah disebutkan.

اَلدَّرَجَةُ الْخَامِسَةُ أَنْ يُصَدِّقَ بِالْقَلْبِ، وَيُسَاعِدَهُ مِنَ الْعُمُرِ مُهْلَةُ النُّطْقِ بِكَلِمَتَيِ الشَّهَادَةِ، وَعَلِمَ وُجُوبَهَا، وَلٰكِنَّهُ لَمْ يَنْطِقْ بِهَا.
Tingkatan kelima: seseorang membenarkan dengan hatinya, usianya masih memungkinkan untuk mengucapkan dua kalimat syahadat, ia mengetahui kewajibannya, tetapi ia tidak mengucapkannya.

فَيُحْتَمَلُ أَنْ يُجْعَلَ امْتِنَاعُهُ عَنِ النُّطْقِ كَامْتِنَاعِهِ عَنِ الصَّلَاةِ، وَنَقُولُ: هُوَ مُؤْمِنٌ غَيْرُ مُخَلَّدٍ فِي النَّارِ، وَالْإِيمَانُ هُوَ التَّصْدِيقُ الْمَحْضُ، وَاللِّسَانُ تَرْجُمَانُ الْإِيمَانِ.
Mungkin saja keengganannya untuk mengucapkannya disamakan dengan keengganannya untuk salat. Lalu kita katakan: ia adalah orang beriman dan tidak kekal di neraka. Sebab iman adalah pembenaran murni, dan lisan hanyalah penerjemah iman.

فَلَا بُدَّ أَنْ يَكُونَ الْإِيمَانُ مَوْجُودًا بِتَمَامِهِ قَبْلَ اللِّسَانِ حَتَّى يُتَرْجِمَهُ اللِّسَانُ.
Maka iman harus telah ada secara sempurna sebelum lisan, agar lisan dapat menerjemahkannya.

وَهٰذَا هُوَ الْأَظْهَرُ.
Inilah pendapat yang lebih jelas.

إِذْ لَا مُسْتَنَدَ إِلَّا اتِّبَاعُ مُوجَبِ الْأَلْفَاظِ وَوَضْعِ اللِّسَانِ أَنَّ الْإِيمَانَ هُوَ عِبَارَةٌ عَنِ التَّصْدِيقِ بِالْقَلْبِ.
Sebab tidak ada sandaran selain mengikuti konsekuensi lafaz dan penggunaan bahasa, bahwa iman berarti pembenaran dengan hati.

وَقَدْ قَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: يَخْرُجُ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ.
Dan Nabi صلى الله عليه وسلم telah bersabda: “Akan keluar orang yang di dalam hatinya ada seberat zarrah.”

وَلَا يَنْعَدِمُ الْإِيمَانُ مِنَ الْقَلْبِ بِالسُّكُوتِ عَنِ النُّطْقِ الْوَاجِبِ، كَمَا لَا يَنْعَدِمُ بِالسُّكُوتِ عَنِ الْفِعْلِ الْوَاجِبِ.
Iman tidak hilang dari hati hanya karena diam dari ucapan yang wajib, sebagaimana ia juga tidak hilang karena diam dari perbuatan yang wajib.

وَقَالَ قَائِلُونَ: الْقَوْلُ رُكْنٌ، إِذْ لَيْسَتْ كَلِمَتَا الشَّهَادَةِ إِخْبَارًا عَنِ الْقَلْبِ، بَلْ هُوَ إِنْشَاءُ عَقْدٍ آخَرَ وَابْتِدَاءُ شَهَادَةٍ وَالْتِزَامٍ.
Sebagian ulama berkata: ucapan adalah rukun, sebab dua kalimat syahadat bukan sekadar pemberitahuan tentang isi hati, tetapi merupakan pembentukan akad lain dan permulaan kesaksian serta komitmen.

وَالْأَوَّلُ أَظْهَرُ.
Namun pendapat pertama lebih kuat.

وَقَدْ غَلَا فِي هٰذَا طَائِفَةُ الْمُرْجِئَةِ، فَقَالُوا: هٰذَا لَا يَدْخُلُ النَّارَ أَصْلًا.
Dalam masalah ini golongan Murji’ah berlebih-lebihan, lalu mereka berkata: orang seperti ini sama sekali tidak akan masuk neraka.

وَقَالُوا: إِنَّ الْمُؤْمِنَ وَإِنْ عَصَى فَلَا يَدْخُلُ النَّارَ.
Mereka juga berkata: seorang mukmin, meskipun bermaksiat, tidak akan masuk neraka.

وَسَنُبْطِلُ ذٰلِكَ عَلَيْهِمْ.
Dan nanti kami akan membantah pendapat mereka.

اَلدَّرَجَةُ السَّادِسَةُ أَنْ يَقُولَ بِلِسَانِهِ: لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللهِ، وَلٰكِنْ لَمْ يُصَدِّقْ بِقَلْبِهِ.
Tingkatan keenam: seseorang mengucapkan dengan lisannya, “Lā ilāha illallāh Muhammadur Rasūlullāh,” tetapi tidak membenarkannya dalam hatinya.

فَلَا نَشُكُّ فِي أَنَّ هٰذَا فِي حُكْمِ الْآخِرَةِ مِنَ الْكُفَّارِ، وَأَنَّهُ مُخَلَّدٌ فِي النَّارِ.
Kita tidak ragu bahwa orang ini, dalam hukum akhirat, termasuk orang-orang kafir dan kekal di neraka.

وَلَا نَشُكُّ فِي أَنَّهُ فِي حُكْمِ الدُّنْيَا، فِيمَا يَتَعَلَّقُ بِالْأَئِمَّةِ وَالْوُلَاةِ، مِنَ الْمُسْلِمِينَ.
Dan kita juga tidak ragu bahwa ia dalam hukum dunia, dalam hal yang berkaitan dengan para imam dan penguasa, termasuk Muslim.

لِأَنَّ قَلْبَهُ لَا يُطَّلَعُ عَلَيْهِ، وَعَلَيْنَا أَنْ نَظُنَّ بِهِ أَنَّهُ مَا قَالَهُ بِلِسَانِهِ إِلَّا وَهُوَ مُنْطَوٍ عَلَيْهِ فِي قَلْبِهِ.
Sebab hati seseorang tidak dapat diketahui, dan kita wajib berprasangka bahwa apa yang ia ucapkan dengan lisannya sesuai dengan apa yang ada di dalam hatinya.

وَإِنَّمَا نَشُكُّ فِي أَمْرٍ ثَالِثٍ، وَهُوَ الْحُكْمُ الدُّنْيَوِيُّ فِيمَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ اللهِ تَعَالَى.
Yang masih menjadi perenungan hanyalah perkara ketiga, yaitu hukum duniawi dalam kaitannya antara dirinya dan Allah Ta‘ala.

وَذٰلِكَ بِأَنْ يَمُوتَ لَهُ فِي الْحَالِ قَرِيبٌ مُسْلِمٌ، ثُمَّ يُصَدِّقَ بَعْدَ ذٰلِكَ بِقَلْبِهِ، ثُمَّ يَسْتَفْتِيَ وَيَقُولَ: كُنْتُ غَيْرَ مُصَدِّقٍ بِالْقَلْبِ حَالَةَ الْمَوْتِ، وَالْمِيرَاثُ الْآنَ فِي يَدِي، فَهَلْ يَحِلُّ لِي بَيْنِي وَبَيْنَ اللهِ تَعَالَى؟
Contohnya, seorang kerabat Muslimnya meninggal saat itu juga, lalu setelah itu ia baru membenarkan dalam hatinya. Kemudian ia meminta fatwa dan berkata: “Saat kematian kerabatku itu aku belum membenarkan dengan hati, sedangkan warisan sekarang sudah berada di tanganku. Apakah warisan itu halal bagiku antara diriku dan Allah Ta‘ala?”

أَوْ نَكَحَ مُسْلِمَةً، ثُمَّ صَدَّقَ بِقَلْبِهِ، فَهَلْ تَلْزَمُهُ إِعَادَةُ النِّكَاحِ؟
Atau ia menikahi seorang Muslimah, lalu setelah itu baru membenarkan dengan hati. Apakah ia wajib mengulangi akad nikah?

هٰذَا مَحَلُّ نَظَرٍ.
Ini adalah tempat perenungan.

فَيُحْتَمَلُ أَنْ يُقَالَ: أَحْكَامُ الدُّنْيَا مَنُوطَةٌ بِالْقَوْلِ الظَّاهِرِ ظَاهِرًا وَبَاطِنًا.
Mungkin saja dikatakan: hukum-hukum dunia terkait dengan ucapan lahiriah, baik secara lahir maupun batin.

وَيُحْتَمَلُ أَنْ يُقَالَ: تُنَاطُ بِالظَّاهِرِ فِي حَقِّ غَيْرِهِ، لِأَنَّ بَاطِنَهُ غَيْرُ ظَاهِرٍ لِغَيْرِهِ، وَبَاطِنُهُ ظَاهِرٌ لَهُ فِي نَفْسِهِ بَيْنَهُ وَبَيْنَ اللهِ تَعَالَى.
Dan mungkin pula dikatakan: hukum dunia dikaitkan dengan yang lahir dalam pandangan orang lain, karena batinnya tidak tampak bagi orang lain. Tetapi batinnya tampak bagi dirinya sendiri antara dirinya dan Allah Ta‘ala.

وَالْأَظْهَرُ، وَاللهُ أَعْلَمُ، أَنَّهُ لَا يَحِلُّ لَهُ ذٰلِكَ الْمِيرَاثُ، وَيَلْزَمُهُ إِعَادَةُ النِّكَاحِ.
Pendapat yang lebih kuat, والله أعلم, adalah bahwa warisan itu tidak halal baginya dan ia wajib mengulangi akad nikah.

وَلِذٰلِكَ كَانَ حُذَيْفَةُ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ لَا يَحْضُرُ جَنَازَةَ مَنْ يَمُوتُ مِنَ الْمُنَافِقِينَ.
Karena itu Hudzaifah رضي الله عنه tidak menghadiri jenazah orang-orang munafik yang meninggal.

وَعُمَرُ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ كَانَ يُرَاعِي ذٰلِكَ مِنْهُ، فَلَا يَحْضُرُ إِذَا لَمْ يَحْضُرْ حُذَيْفَةُ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ.
Dan Umar رضي الله عنه memperhatikan hal itu dari Hudzaifah, sehingga ia tidak menghadiri suatu jenazah jika Hudzaifah tidak menghadirinya.

وَالصَّلَاةُ فِعْلٌ ظَاهِرٌ فِي الدُّنْيَا، وَإِنْ كَانَتْ مِنَ الْعِبَادَاتِ.
Sedangkan salat adalah perbuatan lahiriah di dunia, meskipun termasuk ibadah.

وَالتَّوَقِّي عَنِ الْحَرَامِ أَيْضًا مِنْ جُمْلَةِ مَا يَجِبُ لِلَّهِ كَالصَّلَاةِ، لِقَوْلِهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: طَلَبُ الْحَلَالِ فَرِيضَةٌ بَعْدَ فَرِيضَةٍ.
Dan menjauhi yang haram juga termasuk bagian dari hal-hal yang wajib karena Allah, sebagaimana salat, berdasarkan sabda Nabi صلى الله عليه وسلم: “Mencari yang halal adalah kewajiban setelah kewajiban.”

وَلَيْسَ هٰذَا مُنَاقِضًا لِقَوْلِنَا: إِنَّ الْإِرْثَ حُكْمُ الْإِسْلَامِ، وَهُوَ الِاسْتِسْلَامُ.
Ini tidak bertentangan dengan ucapan kami bahwa warisan termasuk hukum Islam, yaitu penyerahan diri.

بَلِ الِاسْتِسْلَامُ التَّامُّ هُوَ مَا يَشْمَلُ الظَّاهِرَ وَالْبَاطِنَ.
Bahkan penyerahan diri yang sempurna adalah yang mencakup sisi lahir dan batin.

وَهٰذِهِ مَبَاحِثُ فِقْهِيَّةٌ ظَنِّيَّةٌ تُبْنَى عَلَى ظَوَاهِرِ الْأَلْفَاظِ وَالْعُمُومَاتِ وَالْأَقْيِسَةِ.
Dan ini adalah pembahasan-pembahasan fikih yang bersifat zhanni, yang dibangun di atas lahiriah lafaz, keumuman nash, dan qiyas.

فَلَا يَنْبَغِي أَنْ يَظُنَّ الْقَاصِرُ فِي الْعُلُومِ أَنَّ الْمَطْلُوبَ فِيهِ الْقَطْعُ، مِنْ حَيْثُ جَرَتِ الْعَادَةُ بِإِيرَادِهِ فِي فَنِّ الْكَلَامِ الَّذِي يُطْلَبُ فِيهِ الْقَطْعُ.
Maka orang yang terbatas ilmunya tidak sepatutnya mengira bahwa dalam masalah ini yang dituntut adalah kepastian mutlak, hanya karena biasanya masalah ini dibahas dalam ilmu kalam yang memang menuntut kepastian.

فَمَا أَفْلَحَ مَنْ نَظَرَ إِلَى الْعَادَاتِ وَالْمَرَاسِمِ فِي الْعُلُومِ.
Tidak akan beruntung orang yang hanya memandang kebiasaan dan formalitas dalam ilmu-ilmu.

فَإِنْ قُلْتَ: فَمَا شُبْهَةُ الْمُعْتَزِلَةِ وَالْمُرْجِئَةِ؟ وَمَا حُجَّةُ بُطْلَانِ قَوْلِهِمْ؟
Jika engkau bertanya: apa syubhat Mu‘tazilah dan Murji’ah, dan apa hujah atas batalnya pendapat mereka?

فَأَقُولُ: شُبْهَتُهُمْ عُمُومَاتُ الْقُرْآنِ.
Maka aku menjawab: syubhat mereka bersumber dari ayat-ayat Al-Qur’an yang bersifat umum.

أَمَّا الْمُرْجِئَةُ فَقَالُوا: لَا يَدْخُلُ الْمُؤْمِنُ النَّارَ وَإِنْ أَتَى بِكُلِّ الْمَعَاصِي.
Adapun Murji’ah, mereka berkata: orang mukmin tidak akan masuk neraka, meskipun ia melakukan semua maksiat.

لِقَوْلِهِ عَزَّ وَجَلَّ: فَمَنْ يُؤْمِنْ بِرَبِّهِ فَلَا يَخَافُ بَخْسًا وَلَا رَهَقًا.
Mereka berdalil dengan firman Allah عز وجل: “Maka barang siapa beriman kepada Tuhannya, ia tidak takut akan pengurangan dan tidak pula kezhaliman.”

وَلِقَوْلِهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى: وَالَّذِينَ آمَنُوا بِاللهِ وَرُسُلِهِ أُولٰئِكَ هُمُ الصِّدِّيقُونَ، الْآيَةَ.
Dan dengan firman-Nya سبحانه وتعالى: “Dan orang-orang yang beriman kepada Allah dan rasul-rasul-Nya, mereka itulah orang-orang yang sangat benar,” sampai akhir ayat.

وَلِقَوْلِهِ تَعَالَى: كُلَّمَا أُلْقِيَ فِيهَا فَوْجٌ سَأَلَهُمْ خَزَنَتُهَا... إِلَى قَوْلِهِ: فَكَذَّبْنَا وَقُلْنَا مَا نَزَّلَ اللهُ مِنْ شَيْءٍ.
Dan dengan firman-Nya Ta‘ala: “Setiap kali dilemparkan ke dalamnya suatu rombongan, para penjaganya bertanya kepada mereka...” sampai firman-Nya: “Lalu kami mendustakan dan berkata: Allah tidak menurunkan apa pun.”

فَقَوْلُهُ: كُلَّمَا أُلْقِيَ فِيهَا فَوْجٌ، عَامٌّ، فَيَنْبَغِي أَنْ يَكُونَ مَنْ أُلْقِيَ فِي النَّارِ مُكَذِّبًا.
Menurut mereka, firman-Nya: “Setiap kali dilemparkan ke dalamnya suatu rombongan,” adalah umum, sehingga siapa pun yang dilemparkan ke neraka seharusnya adalah orang yang mendustakan.

وَلِقَوْلِهِ تَعَالَى: لَا يَصْلَاهَا إِلَّا الْأَشْقَى ۝ الَّذِي كَذَّبَ وَتَوَلَّى.
Dan dengan firman Allah Ta‘ala: “Tidak ada yang memasukinya kecuali orang yang paling celaka, yaitu orang yang mendustakan dan berpaling.”

وَهٰذَا حَصْرٌ وَإِثْبَاتٌ وَنَفْيٌ.
Ini menurut mereka adalah bentuk pembatasan, penetapan, dan penafian.

وَلِقَوْلِهِ تَعَالَى: مَنْ جَاءَ بِالْحَسَنَةِ فَلَهُ خَيْرٌ مِنْهَا وَهُمْ مِنْ فَزَعٍ يَوْمَئِذٍ آمِنُونَ.
Dan dengan firman-Nya Ta‘ala: “Barang siapa datang dengan kebaikan, maka baginya balasan yang lebih baik darinya, dan mereka pada hari itu aman dari ketakutan.”

فَالْإِيمَانُ رَأْسُ الْحَسَنَاتِ.
Padahal iman adalah pokok segala kebaikan.

وَلِقَوْلِهِ تَعَالَى: وَاللهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ.
Dan dengan firman Allah Ta‘ala: “Dan Allah mencintai orang-orang yang berbuat baik.”

وَقَالَ تَعَالَى: إِنَّا لَا نُضِيعُ أَجْرَ مَنْ أَحْسَنَ عَمَلًا.
Dan Allah Ta‘ala berfirman: “Sesungguhnya Kami tidak menyia-nyiakan pahala orang yang beramal baik.”

وَلَا حُجَّةَ لَهُمْ فِي ذٰلِكَ.
Namun semua itu tidak menjadi hujah bagi mereka.

فَإِنَّهُ حَيْثُ ذُكِرَ الْإِيمَانُ فِي هٰذِهِ الْآيَاتِ أُرِيدَ بِهِ الْإِيمَانُ مَعَ الْعَمَلِ.
Sebab, setiap kali iman disebut dalam ayat-ayat tersebut, yang dimaksud adalah iman beserta amal.

إِذْ بَيَّنَّا أَنَّ الْإِيمَانَ قَدْ يُطْلَقُ وَيُرَادُ بِهِ الْإِسْلَامُ، وَهُوَ الْمُوَافَقَةُ بِالْقَلْبِ وَالْقَوْلِ وَالْعَمَلِ.
Karena kami telah menjelaskan bahwa iman terkadang digunakan dengan makna Islam, yaitu kesesuaian hati, ucapan, dan perbuatan.

وَدَلِيلُ هٰذَا التَّأْوِيلِ أَخْبَارٌ كَثِيرَةٌ فِي مُعَاقَبَةِ الْعَاصِينَ وَمَقَادِيرِ الْعِقَابِ.
Dalil atas penakwilan ini adalah banyaknya hadis tentang penyiksaan para pelaku maksiat dan kadar siksa mereka.

وَقَوْلُهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: يَخْرُجُ مِنَ النَّارِ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ إِيمَانٍ.
Di antaranya sabda Nabi صلى الله عليه وسلم: “Akan keluar dari neraka orang yang di dalam hatinya ada seberat zarrah dari iman.”

فَكَيْفَ يَخْرُجُ إِذَا لَمْ يَدْخُلْ؟
Lalu bagaimana mungkin ia keluar jika sebelumnya tidak masuk?

وَمِنَ الْقُرْآنِ قَوْلُهُ تَعَالَى: إِنَّ اللهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذٰلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ.
Dan dari Al-Qur’an ada firman Allah Ta‘ala: “Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni selain itu bagi siapa yang Dia kehendaki.”

وَالِاسْتِثْنَاءُ بِالْمَشِيئَةِ يَدُلُّ عَلَى الِانْقِسَامِ.
Pengecualian dengan kehendak menunjukkan adanya pembagian kemungkinan.

وَقَوْلُهُ تَعَالَى: وَمَنْ يَعْصِ اللهَ وَرَسُولَهُ فَإِنَّ لَهُ نَارَ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَا.
Dan firman-Nya Ta‘ala: “Barang siapa durhaka kepada Allah dan Rasul-Nya, maka baginya neraka Jahannam, mereka kekal di dalamnya.”

وَتَخْصِيصُهُ بِالْكُفْرِ تَحَكُّمٌ.
Menjadikan ayat ini khusus untuk orang kafir tanpa dalil adalah sikap sewenang-wenang.

وَقَوْلُهُ تَعَالَى: أَلَا إِنَّ الظَّالِمِينَ فِي عَذَابٍ مُقِيمٍ.
Dan firman-Nya Ta‘ala: “Ingatlah, sesungguhnya orang-orang zalim berada dalam azab yang menetap.”

وَقَالَ تَعَالَى: وَمَنْ جَاءَ بِالسَّيِّئَةِ فَكُبَّتْ وُجُوهُهُمْ فِي النَّارِ.
Dan Allah Ta‘ala berfirman: “Dan barang siapa datang dengan keburukan, maka wajah mereka akan dilemparkan ke dalam neraka.”

فَهٰذِهِ الْعُمُومَاتُ فِي مُعَارَضَةِ عُمُومَاتِهِمْ.
Maka ayat-ayat umum ini berhadapan dengan ayat-ayat umum yang mereka gunakan.

وَلَا بُدَّ مِنْ تَسْلِيطِ التَّخْصِيصِ وَالتَّأْوِيلِ عَلَى الْجَانِبَيْنِ.
Karena itu, takhsis dan takwil harus diterapkan pada kedua sisi.

لِأَنَّ الْأَخْبَارَ مُصَرِّحَةٌ بِأَنَّ الْعُصَاةَ يُعَذَّبُونَ.
Sebab hadis-hadis dengan tegas menyatakan bahwa para pelaku maksiat akan disiksa.

بَلْ قَوْلُهُ تَعَالَى: وَإِنْ مِنْكُمْ إِلَّا وَارِدُهَا، كَالصَّرِيحِ فِي أَنَّ ذٰلِكَ لَا بُدَّ مِنْهُ لِلْكُلِّ.
Bahkan firman Allah Ta‘ala: “Dan tidak ada seorang pun di antara kalian melainkan akan mendatanginya,” hampir tegas bahwa hal itu pasti terjadi pada semua.

إِذْ لَا يَخْلُو مُؤْمِنٌ عَنْ ذَنْبٍ يَرْتَكِبُهُ.
Karena tidak ada seorang mukmin pun yang luput dari dosa yang ia lakukan.

وَقَوْلُهُ تَعَالَى: لَا يَصْلَاهَا إِلَّا الْأَشْقَى الَّذِي كَذَّبَ وَتَوَلَّى، أَرَادَ بِهِ مَنْ جَمَاعَةٍ مَخْصُوصِينَ، أَوْ أَرَادَ بِالْأَشْقَى شَخْصًا مُعَيَّنًا أَيْضًا.
Adapun firman-Nya Ta‘ala: “Tidak ada yang memasukinya kecuali orang yang paling celaka, yaitu yang mendustakan dan berpaling,” maka yang dimaksud bisa jadi adalah sekelompok orang tertentu, atau mungkin juga yang dimaksud dengan “orang yang paling celaka” adalah sosok tertentu.

وَقَوْلُهُ تَعَالَى: كُلَّمَا أُلْقِيَ فِيهَا فَوْجٌ سَأَلَهُمْ خَزَنَتُهَا، أَيْ فَوْجٌ مِنَ الْكُفَّارِ.
Dan firman-Nya Ta‘ala: “Setiap kali dilemparkan ke dalamnya suatu rombongan, para penjaganya bertanya kepada mereka,” maksudnya adalah rombongan dari orang-orang kafir.

وَتَخْصِيصُ الْعُمُومَاتِ قَرِيبٌ.
Dan men-takhsis lafaz-lafaz umum seperti ini adalah hal yang dekat dan mudah diterima.

وَمِنْ هٰذِهِ الْآيَةِ وَقَعَ لِلْأَشْعَرِيِّ وَطَائِفَةٍ مِنَ الْمُتَكَلِّمِينَ إِنْكَارُ صِيَغِ الْعُمُومِ، وَأَنَّ هٰذِهِ الْأَلْفَاظَ يُتَوَقَّفُ فِيهَا إِلَى ظُهُورِ قَرِينَةٍ تَدُلُّ عَلَى مَعْنَاهَا.
Dari ayat seperti ini, Imam al-Asy‘ari dan sekelompok ahli kalam sampai menolak kepastian bentuk-bentuk lafaz umum, dan mereka berpendapat bahwa lafaz seperti ini harus ditangguhkan pemahamannya sampai tampak qarinah yang menunjukkan maknanya.

وَأَمَّا الْمُعْتَزِلَةُ فَشُبْهَتُهُمْ قَوْلُهُ تَعَالَى: وَإِنِّي لَغَفَّارٌ لِمَنْ تَابَ وَآمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا ثُمَّ اهْتَدَى.
Adapun Mu‘tazilah, syubhat mereka adalah firman Allah Ta‘ala: “Dan sungguh Aku Maha Pengampun bagi orang yang bertobat, beriman, beramal saleh, kemudian tetap mendapat petunjuk.”

وَقَوْلُهُ تَعَالَى: وَالْعَصْرِ ۝ إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ ۝ إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ.
Dan firman-Nya Ta‘ala: “Demi masa. Sesungguhnya manusia benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan beramal saleh.”

وَقَوْلُهُ تَعَالَى: وَإِنْ مِنْكُمْ إِلَّا وَارِدُهَا كَانَ عَلَى رَبِّكَ حَتْمًا مَقْضِيًّا، ثُمَّ قَالَ: ثُمَّ نُنَجِّي الَّذِينَ اتَّقَوْا.
Dan firman-Nya Ta‘ala: “Dan tidak ada seorang pun di antara kalian melainkan akan mendatanginya, hal itu bagi Tuhanmu adalah suatu ketetapan yang pasti dilaksanakan.” Kemudian Dia berfirman: “Lalu Kami menyelamatkan orang-orang yang bertakwa.”

وَقَوْلُهُ تَعَالَى: وَمَنْ يَعْصِ اللهَ وَرَسُولَهُ فَإِنَّ لَهُ نَارَ جَهَنَّمَ.
Dan firman-Nya Ta‘ala: “Barang siapa durhaka kepada Allah dan Rasul-Nya, maka baginya neraka Jahannam.”

وَكُلُّ آيَةٍ ذَكَرَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ الْعَمَلَ الصَّالِحَ فِيهَا مَقْرُونًا بِالْإِيمَانِ.
Dan juga setiap ayat yang di dalamnya Allah عز وجل menyebut amal saleh berdampingan dengan iman.

وَقَوْلُهُ تَعَالَى: وَمَنْ يَقْتُلْ مُؤْمِنًا مُتَعَمِّدًا فَجَزَاؤُهُ جَهَنَّمُ خَالِدًا فِيهَا.
Dan firman-Nya Ta‘ala: “Barang siapa membunuh seorang mukmin dengan sengaja, maka balasannya adalah Jahannam, kekal di dalamnya.”

وَهٰذِهِ الْعُمُومَاتُ أَيْضًا مُخَصَّصَةٌ بِدَلِيلِ قَوْلِهِ تَعَالَى: وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذٰلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ.
Namun ayat-ayat umum ini juga harus dikhususkan dengan dalil firman Allah Ta‘ala: “Dan Dia mengampuni dosa selain itu bagi siapa yang Dia kehendaki.”

فَيَنْبَغِي أَنْ تَبْقَى لَهُ مَشِيئَةٌ فِي مَغْفِرَةِ مَا سِوَى الشِّرْكِ.
Maka harus tetap diakui adanya kehendak Allah dalam mengampuni dosa selain syirik.

وَكَذٰلِكَ قَوْلُهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: يَخْرُجُ مِنَ النَّارِ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ إِيمَانٍ.
Demikian pula sabda Nabi صلى الله عليه وسلم: “Akan keluar dari neraka orang yang di dalam hatinya ada seberat zarrah dari iman.”

وَقَوْلُهُ تَعَالَى: إِنَّا لَا نُضِيعُ أَجْرَ مَنْ أَحْسَنَ عَمَلًا.
Dan firman-Nya Ta‘ala: “Sesungguhnya Kami tidak menyia-nyiakan pahala orang yang beramal baik.”

وَقَوْلُهُ تَعَالَى: إِنَّ اللهَ لَا يُضِيعُ أَجْرَ الْمُحْسِنِينَ.
Dan firman-Nya Ta‘ala: “Sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik.”

فَكَيْفَ يُضِيعُ أَجْرَ أَصْلِ الْإِيمَانِ وَجَمِيعِ الطَّاعَاتِ بِمَعْصِيَةٍ وَاحِدَةٍ؟
Lalu bagaimana mungkin Allah menyia-nyiakan pahala pokok iman dan seluruh ketaatan hanya karena satu kemaksiatan?

وَقَوْلُهُ تَعَالَى: وَمَنْ يَقْتُلْ مُؤْمِنًا مُتَعَمِّدًا، أَيْ لِإِيمَانِهِ.
Dan firman-Nya Ta‘ala: “Barang siapa membunuh seorang mukmin dengan sengaja,” maksudnya: membunuhnya karena keimanannya.

وَقَدْ وَرَدَ عَلَى مِثْلِ هٰذَا السَّبَبِ.
Dan ayat ini datang pada sebab yang semacam itu.

فَإِنْ قُلْتَ: فَقَدْ مَالَ الِاخْتِيَارُ إِلَى أَنَّ الْإِيمَانَ حَاصِلٌ دُونَ الْعَمَلِ.
Jika engkau berkata: tampaknya pilihan yang kuat mengarah kepada bahwa iman tetap ada tanpa amal.

وَقَدِ اشْتَهَرَ عَنِ السَّلَفِ قَوْلُهُمْ: الْإِيمَانُ عَقْدٌ وَقَوْلٌ وَعَمَلٌ، فَمَا مَعْنَاهُ؟
Padahal telah masyhur dari para salaf ucapan mereka: “Iman adalah keyakinan, ucapan, dan amal.” Lalu apa maknanya?

قُلْنَا: لَا يَبْعُدُ أَنْ يُعَدَّ الْعَمَلُ مِنَ الْإِيمَانِ، لِأَنَّهُ مُكَمِّلٌ لَهُ وَمُتِمٌّ.
Kami jawab: tidak mustahil amal dihitung sebagai bagian dari iman, karena ia menyempurnakan dan melengkapinya.

كَمَا يُقَالُ: الرَّأْسُ وَالْيَدَانِ مِنَ الْإِنْسَانِ.
Sebagaimana dikatakan: kepala dan dua tangan termasuk bagian dari manusia.

وَمَعْلُومٌ أَنَّهُ يَخْرُجُ عَنْ كَوْنِهِ إِنْسَانًا بِعَدَمِ الرَّأْسِ، وَلَا يَخْرُجُ عَنْهُ بِكَوْنِهِ مَقْطُوعَ الْيَدِ.
Dan diketahui bahwa seseorang keluar dari hakikat manusia jika tidak memiliki kepala, tetapi tidak keluar darinya hanya karena tangannya terpotong.

وَكَذٰلِكَ يُقَالُ: التَّسْبِيحَاتُ وَالتَّكْبِيرَاتُ مِنَ الصَّلَاةِ، وَإِنْ كَانَتْ لَا تَبْطُلُ بِفَقْدِهَا.
Demikian pula dikatakan: tasbih-tasbih dan takbir-takbir termasuk bagian dari salat, meskipun salat tidak batal dengan ketiadaannya.

فَالتَّصْدِيقُ بِالْقَلْبِ مِنَ الْإِيمَانِ كَالرَّأْسِ مِنْ وُجُودِ الْإِنْسَانِ، إِذْ يَنْعَدِمُ بِعَدَمِهِ.
Maka pembenaran dengan hati dalam iman seperti kepala dalam keberadaan manusia, karena hakikat itu hilang dengan ketiadaannya.

وَبَقِيَّةُ الطَّاعَاتِ كَالْأَطْرَافِ، بَعْضُهَا أَعْلَى مِنْ بَعْضٍ.
Sedangkan sisa ketaatan lainnya seperti anggota-anggota tubuh, sebagian lebih tinggi daripada sebagian yang lain.

وَقَدْ قَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لَا يَزْنِي الزَّانِي حِينَ يَزْنِي وَهُوَ مُؤْمِنٌ.
Dan Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda: “Tidaklah seorang pezina berzina saat ia berzina dalam keadaan beriman.”

وَالصَّحَابَةُ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ مَا اعْتَقَدُوا مَذْهَبَ الْمُعْتَزِلَةِ فِي الْخُرُوجِ عَنِ الْإِيمَانِ بِالزِّنَا.
Para sahabat رضي الله عنهم tidak meyakini mazhab Mu‘tazilah bahwa zina mengeluarkan seseorang dari iman.

وَلٰكِنْ مَعْنَاهُ: غَيْرُ مُؤْمِنٍ حَقًّا، إِيمَانًا تَامًّا كَامِلًا.
Akan tetapi maknanya ialah: ia bukan mukmin yang sejati, yaitu dengan iman yang sempurna dan lengkap.

كَمَا يُقَالُ لِلْعَاجِزِ الْمَقْطُوعِ الْأَطْرَافِ: هٰذَا لَيْسَ بِإِنْسَانٍ، أَيْ لَيْسَ لَهُ الْكَمَالُ الَّذِي هُوَ وَرَاءَ حَقِيقَةِ الْإِنْسَانِيَّةِ.
Sebagaimana dikatakan kepada orang yang lemah dan terpotong anggota tubuhnya: “Ini bukan manusia,” maksudnya bukan bahwa ia keluar dari kemanusiaan, tetapi bahwa ia tidak memiliki kesempurnaan yang berada di atas hakikat kemanusiaan.

مَسْأَلَةٌ: فَإِنْ قُلْتَ: فَقَدِ اتَّفَقَ السَّلَفُ عَلَى أَنَّ الْإِيمَانَ يَزِيدُ وَيَنْقُصُ، يَزِيدُ بِالطَّاعَةِ وَيَنْقُصُ بِالْمَعْصِيَةِ، فَإِذَا كَانَ التَّصْدِيقُ هُوَ الْإِيمَانَ فَلَا يُتَصَوَّرُ فِيهِ زِيَادَةٌ وَلَا نُقْصَانٌ.
Masalah: jika engkau berkata, para salaf telah sepakat bahwa iman bertambah dan berkurang, bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan kemaksiatan. Maka jika pembenaran itu adalah iman, bagaimana mungkin ada pertambahan dan pengurangan padanya?

فَأَقُولُ: السَّلَفُ هُمُ الشُّهُودُ الْعُدُولُ، وَمَا لِأَحَدٍ عَنْ قَوْلِهِمْ عُدُولٌ.
Maka aku jawab: para salaf adalah saksi-saksi yang adil, dan tidak seorang pun boleh berpaling dari ucapan mereka.

فَمَا ذَكَرُوهُ حَقٌّ.
Apa yang mereka sebutkan adalah benar.

وَإِنَّمَا الشَّأْنُ فِي فَهْمِهِ.
Persoalannya hanyalah pada bagaimana memahaminya.

وَفِيهِ دَلِيلٌ عَلَى أَنَّ الْعَمَلَ لَيْسَ مِنْ أَجْزَاءِ الْإِيمَانِ وَأَرْكَانِ وُجُودِهِ، بَلْ هُوَ مَزِيدٌ عَلَيْهِ يَزِيدُ بِهِ.
Di dalamnya terdapat dalil bahwa amal bukan bagian dari unsur-unsur hakikat iman dan bukan pula rukun adanya iman, tetapi ia adalah tambahan atas iman yang menjadikannya bertambah.

وَالزَّائِدُ مَوْجُودٌ، وَالنَّاقِصُ مَوْجُودٌ، وَالشَّيْءُ لَا يَزِيدُ بِذَاتِهِ.
Sesuatu yang bertambah itu tetap ada, dan sesuatu yang berkurang itu juga tetap ada. Suatu hal tidak dikatakan bertambah dengan zatnya sendiri.

فَلَا يَجُوزُ أَنْ يُقَالَ: الْإِنْسَانُ يَزِيدُ بِرَأْسِهِ، بَلْ يُقَالُ: يَزِيدُ بِلِحْيَتِهِ وَسِمَنِهِ.
Karena itu tidak boleh dikatakan: manusia bertambah dengan kepalanya, tetapi dikatakan: ia bertambah dengan janggutnya atau dengan kegemukannya.

وَلَا يَجُوزُ أَنْ يُقَالَ: الصَّلَاةُ تَزِيدُ بِالرُّكُوعِ وَالسُّجُودِ، بَلْ تَزِيدُ بِالْآدَابِ وَالسُّنَنِ.
Dan tidak boleh dikatakan: salat bertambah dengan ruku‘ dan sujud, tetapi dikatakan: salat bertambah dengan adab-adab dan sunnah-sunnahnya.

فَهٰذَا تَصْرِيحٌ بِأَنَّ الْإِيمَانَ لَهُ وُجُودٌ، ثُمَّ بَعْدَ الْوُجُودِ يَخْتَلِفُ حَالُهُ بِالزِّيَادَةِ وَالنُّقْصَانِ.
Ini merupakan pernyataan tegas bahwa iman itu memiliki keberadaan, lalu setelah ada, keadaannya dapat berbeda dengan adanya pertambahan dan pengurangan.

فَإِنْ قُلْتَ: فَالْإِشْكَالُ قَائِمٌ فِي أَنَّ التَّصْدِيقَ كَيْفَ يَزِيدُ وَيَنْقُصُ وَهُوَ خَصْلَةٌ وَاحِدَةٌ؟
Jika engkau berkata: kesulitan tetap ada, yaitu bagaimana pembenaran bisa bertambah dan berkurang, padahal ia hanya satu sifat?

فَأَقُولُ: إِذَا تَرَكْنَا الْمُدَاهَنَةَ وَلَمْ نَكْتَرِثْ بِتَشْغِيبِ مَنْ تَشَغَّبَ، وَكَشَفْنَا الْغِطَاءَ، ارْتَفَعَ الْإِشْكَالُ.
Aku jawab: bila kita tinggalkan sikap basa-basi, tidak memedulikan gangguan orang yang suka mempersulit, dan kita singkap tabir persoalannya, niscaya masalah itu akan hilang.

فَنَقُولُ: الْإِيمَانُ اسْمٌ مُشْتَرَكٌ يُطْلَقُ مِنْ ثَلَاثَةِ أَوْجُهٍ.
Kami katakan: iman adalah nama musytarak yang dipakai dalam tiga makna.

اَلْأَوَّلُ: أَنَّهُ يُطْلَقُ لِلتَّصْدِيقِ بِالْقَلْبِ عَلَى سَبِيلِ الِاعْتِقَادِ وَالتَّقْلِيدِ مِنْ غَيْرِ كَشْفٍ وَانْشِرَاحِ صَدْرٍ.
Pertama, iman digunakan untuk pembenaran hati dalam bentuk keyakinan dan taklid, tanpa penyingkapan dan kelapangan dada.

وَهُوَ إِيمَانُ الْعَوَامِّ، بَلْ إِيمَانُ الْخَلْقِ كُلِّهِمْ إِلَّا الْخَوَاصَّ.
Inilah iman orang-orang awam, bahkan iman seluruh makhluk kecuali orang-orang khusus.

وَهٰذَا الِاعْتِقَادُ عُقْدَةٌ عَلَى الْقَلْبِ، تَارَةً تَشْتَدُّ وَتَقْوَى، وَتَارَةً تَضْعُفُ وَتَسْتَرْخِي، كَالْعُقْدَةِ عَلَى الْخَيْطِ مَثَلًا.
Keyakinan ini adalah ikatan pada hati. Kadang ia menguat dan mengeras, kadang ia melemah dan mengendur, seperti simpul pada tali.

وَلَا تَسْتَبْعِدْ هٰذَا، وَاعْتَبِرْهُ بِالْيَهُودِيِّ وَصَلَابَتِهِ فِي عَقِيدَتِهِ الَّتِي لَا يُمْكِنُ نَزْعُهُ عَنْهَا بِتَخْوِيفٍ وَتَحْذِيرٍ، وَلَا بِتَخْيِيلٍ وَوَعْظٍ، وَلَا تَحْقِيقٍ وَبُرْهَانٍ.
Janganlah engkau menganggap hal ini jauh. Coba perhatikan orang Yahudi dan kekokohannya dalam keyakinannya, yang tidak dapat dicabut dengan ancaman dan peringatan, tidak pula dengan nasihat dan penggambaran, bahkan tidak juga dengan penjelasan dan dalil.

وَكَذٰلِكَ النَّصْرَانِيُّ وَالْمُبْتَدِعَةُ.
Demikian pula orang Nasrani dan para ahli bid‘ah.

وَفِيهِمْ مَنْ يُمْكِنُ تَشْكِيكُهُ بِأَدْنَى كَلَامٍ، وَيُمْكِنُ اسْتِنْزَالُهُ عَنْ اعْتِقَادِهِ بِأَدْنَى اسْتِمَالَةٍ أَوْ تَخْوِيفٍ، مَعَ أَنَّهُ غَيْرُ شَاكٍّ فِي عَقْدِهِ كَالْأَوَّلِ، وَلٰكِنَّهُمَا مُتَفَاوِتَانِ فِي شِدَّةِ التَّصْمِيمِ.
Di antara mereka ada yang dapat dibuat ragu dengan sedikit ucapan saja, dan dapat dipalingkan dari keyakinannya dengan sedikit rayuan atau ancaman, meskipun ia pada dasarnya tidak ragu dalam ikatannya seperti orang pertama. Akan tetapi keduanya berbeda dalam kuatnya keteguhan.

وَهٰذَا مَوْجُودٌ فِي الِاعْتِقَادِ الْحَقِّ أَيْضًا.
Hal ini juga ada pada keyakinan yang benar.

وَالْعَمَلُ يُؤَثِّرُ فِي نَمَاءِ هٰذَا التَّصْمِيمِ وَزِيَادَتِهِ، كَمَا يُؤَثِّرُ سَقْيُ الْمَاءِ فِي نَمَاءِ الْأَشْجَارِ.
Amal berpengaruh terhadap pertumbuhan dan bertambahnya keteguhan ini, sebagaimana air berpengaruh terhadap tumbuhnya pepohonan.

وَلِذٰلِكَ قَالَ اللهُ تَعَالَى: فَزَادَتْهُمْ إِيمَانًا.
Karena itu Allah Ta‘ala berfirman: “Lalu hal itu menambah mereka iman.”

وَقَالَ تَعَالَى: لِيَزْدَادُوا إِيمَانًا مَعَ إِيمَانِهِمْ.
Dan Allah Ta‘ala berfirman: “Agar mereka bertambah imannya di samping iman mereka.”

وَقَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِيمَا يُرْوَى فِي بَعْضِ الْأَخْبَارِ: الْإِيمَانُ يَزِيدُ وَيَنْقُصُ.
Dan Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda dalam sebagian riwayat: “Iman itu bertambah dan berkurang.”

وَذٰلِكَ بِتَأْثِيرِ الطَّاعَاتِ فِي الْقَلْبِ.
Hal itu terjadi karena pengaruh ketaatan terhadap hati.

وَهٰذَا لَا يُدْرِكُهُ إِلَّا مَنْ رَاقَبَ أَحْوَالَ نَفْسِهِ فِي أَوْقَاتِ الْمُوَاظَبَةِ عَلَى الْعِبَادَةِ وَالتَّجَرُّدِ لَهَا بِحُضُورِ الْقَلْبِ، مَعَ أَوْقَاتِ الْفُتُورِ، وَإِدْرَاكِ التَّفَاوُتِ فِي السُّكُونِ إِلَى عَقَائِدِ الْإِيمَانِ فِي هٰذِهِ الْأَحْوَالِ.
Hal ini tidak dapat dirasakan kecuali oleh orang yang mengamati keadaan dirinya pada saat-saat tekun dalam ibadah dan memusatkan diri kepadanya dengan kehadiran hati, lalu membandingkannya dengan saat-saat lemah, dan menyadari perbedaan ketenangan hati terhadap keyakinan iman dalam keadaan-keadaan tersebut.

حَتَّى يَزِيدَ عَقْدُهُ اسْتِعْصَاءً عَلَى مَنْ يُرِيدُ حَلَّهُ بِالتَّشْكِيكِ.
Sampai ikatan keyakinannya menjadi lebih sulit dilepaskan oleh orang yang hendak merusaknya dengan keraguan.

بَلْ مَنْ يَعْتَقِدُ فِي الْيَتِيمِ مَعْنَى الرَّحْمَةِ إِذَا عَمِلَ بِمُوجِبِ اعْتِقَادِهِ فَمَسَحَ رَأْسَهُ وَتَلَطَّفَ بِهِ، أَدْرَكَ مِنْ بَاطِنِهِ تَأْكِيدَ الرَّحْمَةِ وَتَضَاعُفَهَا بِسَبَبِ الْعَمَلِ.
Bahkan orang yang meyakini adanya makna kasih sayang terhadap anak yatim, jika ia mengamalkan konsekuensi keyakinannya itu dengan mengusap kepalanya dan berlaku lembut kepadanya, maka ia akan merasakan dari batinnya penguatan kasih sayang dan berlipat gandanya rasa itu karena amal tersebut.

وَكَذٰلِكَ مُعْتَقَدُ التَّوَاضُعِ إِذَا عَمِلَ بِمُوجِبِهِ عَمَلًا، مُقْبِلًا أَوْ سَاجِدًا لِغَيْرِهِ، أَحَسَّ مِنْ قَلْبِهِ بِالتَّوَاضُعِ عِنْدَ إِقْدَامِهِ عَلَى الْخِدْمَةِ.
Demikian pula keyakinan tentang tawaduk, jika seseorang mengamalkan konsekuensinya dalam tindakan, seperti menghadap orang lain atau tunduk melayaninya, ia akan merasakan dalam hatinya sifat tawaduk ketika melangkah untuk melayani.

وَهٰكَذَا جَمِيعُ صِفَاتِ الْقَلْبِ تَصْدُرُ مِنْهَا أَعْمَالُ الْجَوَارِحِ، ثُمَّ يَعُودُ أَثَرُ الْأَعْمَالِ عَلَيْهَا فَيُؤَكِّدُهَا وَيَزِيدُهَا.
Demikianlah seluruh sifat hati. Dari sanalah lahir amal-amal anggota badan, kemudian pengaruh amal-amal itu kembali kepada sifat hati, lalu menguatkan dan menambahnya.

وَسَيَأْتِي هٰذَا فِي رُبْعِ الْمُنْجِيَاتِ وَالْمُهْلِكَاتِ عِنْدَ بَيَانِ وَجْهِ تَعَلُّقِ الْبَاطِنِ بِالظَّاهِرِ، وَالْأَعْمَالِ بِالْعَقَائِدِ وَالْقُلُوبِ.
Hal ini akan datang penjelasannya dalam rubu‘ al-munjiyat dan al-muhlikat, ketika dijelaskan bagaimana hubungan batin dengan lahir, dan hubungan amal dengan akidah serta hati.

فَإِنَّ ذٰلِكَ مِنْ جِنْسِ تَعَلُّقِ الْمُلْكِ بِالْمَلَكُوتِ.
Sebab hal itu sejenis dengan hubungan alam mulk dengan alam malakut.

وَأَعْنِي بِالْمُلْكِ عَالَمَ الشَّهَادَةِ الْمُدْرَكَ بِالْحَوَاسِّ، وَبِالْمَلَكُوتِ عَالَمَ الْغَيْبِ الْمُدْرَكَ بِنُورِ الْبَصِيرَةِ.
Yang aku maksud dengan mulk adalah alam nyata yang ditangkap oleh indra, sedangkan yang aku maksud dengan malakut adalah alam gaib yang ditangkap oleh cahaya mata hati.

وَالْقَلْبُ مِنْ عَالَمِ الْمَلَكُوتِ، وَالْأَعْضَاءُ وَأَعْمَالُهَا مِنْ عَالَمِ الْمُلْكِ.
Hati termasuk dari alam malakut, sedangkan anggota badan dan amal-amalnya termasuk dari alam mulk.

وَلُطْفُ الِارْتِبَاطِ وَدِقَّتُهُ بَيْنَ الْعَالَمَيْنِ انْتَهَى إِلَى حَدٍّ ظَنَّ بَعْضُ النَّاسِ اتِّحَادَ أَحَدِهِمَا بِالْآخَرِ، وَظَنَّ آخَرُونَ أَنَّهُ لَا عَالَمَ إِلَّا عَالَمُ الشَّهَادَةِ، وَهُوَ هٰذِهِ الْأَجْسَامُ الْمَحْسُوسَةُ.
Lembut dan halusnya hubungan antara dua alam itu sampai pada tingkat yang membuat sebagian orang menyangka bahwa keduanya menyatu, sementara sebagian yang lain menyangka bahwa tidak ada alam selain alam nyata ini, yaitu tubuh-tubuh yang dapat dirasakan.

وَمَنْ أَدْرَكَ الْأَمْرَيْنِ وَأَدْرَكَ تَعَدُّدَهُمَا ثُمَّ ارْتِبَاطَهُمَا عَبَّرَ عَنْهُ فَقَالَ:
Barang siapa memahami kedua hal itu, memahami perbedaan keduanya, lalu memahami pula keterkaitannya, ia akan mengungkapkannya dengan berkata:

رَقَّ الزُّجَاجُ وَرَقَّتِ الْخَمْرُ ... وَتَشَابَهَا فَتَشَاكَلَ الْأَمْرُ
Kaca menjadi bening dan khamar pun menjadi jernih ... keduanya tampak serupa sehingga keadaan pun menjadi samar.

فَكَأَنَّمَا خَمْرٌ وَلَا قَدَحٌ ... وَكَأَنَّمَا قَدَحٌ وَلَا خَمْرُ
Seakan-akan yang ada hanya khamar tanpa gelas ... dan seakan-akan yang ada hanya gelas tanpa khamar.

وَلْنَرْجِعْ إِلَى الْمَقْصُودِ، فَإِنَّ هٰذَا الْعِلْمَ خَارِجٌ عَنْ عِلْمِ الْمُعَامَلَةِ.
Marilah kita kembali kepada tujuan utama, karena ilmu ini berada di luar ruang lingkup ilmu muamalah.

وَلٰكِنْ بَيْنَ الْعِلْمَيْنِ أَيْضًا اتِّصَالٌ وَارْتِبَاطٌ.
Akan tetapi, antara dua jenis ilmu itu tetap ada hubungan dan keterkaitan.

فَلِذٰلِكَ تَرَى عُلُومَ الْمُكَاشَفَةِ تَتَسَلَّقُ كُلَّ سَاعَةٍ عَلَى عُلُومِ الْمُعَامَلَةِ إِلَى أَنْ تَنْكَشِفَ عَنْهَا بِالتَّكَلُّفِ.
Karena itu engkau melihat ilmu-ilmu mukasyafah setiap saat naik di atas ilmu-ilmu muamalah sampai tersingkap darinya melalui usaha dan pembebanan.

فَهٰذَا وَجْهُ زِيَادَةِ الْإِيمَانِ بِالطَّاعَةِ بِمُوجَبِ هٰذَا الْإِطْلَاقِ.
Inilah sisi bertambahnya iman dengan ketaatan menurut penggunaan makna yang pertama ini.

وَلِهٰذَا قَالَ عَلِيٌّ كَرَّمَ اللهُ وَجْهَهُ: إِنَّ الْإِيمَانَ لَيَبْدُو لُمْعَةً بَيْضَاءَ، فَإِذَا عَمِلَ الْعَبْدُ الصَّالِحَاتِ نَمَتْ فَزَادَتْ حَتَّى يَبْيَضَّ الْقَلْبُ كُلُّهُ.
Karena itu Ali كرم الله وجهه berkata: “Sesungguhnya iman itu mula-mula tampak sebagai kilau putih. Jika seorang hamba melakukan amal-amal saleh, maka kilau itu tumbuh dan bertambah hingga seluruh hati menjadi putih.”

وَإِنَّ النِّفَاقَ لَيَبْدُو نُكْتَةً سَوْدَاءَ، فَإِذَا انْتَهَكَ الْحُرُمَاتِ نَمَتْ وَزَادَتْ حَتَّى يَسْوَدَّ الْقَلْبُ كُلُّهُ، فَيُطْبَعَ عَلَيْهِ، فَذٰلِكَ هُوَ الْخَتْمُ.
Dan sesungguhnya nifak mula-mula tampak sebagai titik hitam. Jika seseorang melanggar larangan-larangan, maka titik itu tumbuh dan bertambah hingga seluruh hati menjadi hitam, lalu hati itu dicap. Itulah yang disebut penutupan hati.

وَتَلَا قَوْلَهُ تَعَالَى: كَلَّا بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِمْ... الْآيَةَ.
Lalu beliau membaca firman Allah Ta‘ala: “Sekali-kali tidak! Bahkan apa yang mereka kerjakan itu telah menutupi hati mereka...” sampai akhir ayat.

اَلْإِطْلَاقُ الثَّانِي أَنْ يُرَادَ بِهِ التَّصْدِيقُ وَالْعَمَلُ جَمِيعًا.
Penggunaan kedua adalah ketika yang dimaksud dengan iman ialah pembenaran dan amal sekaligus.

كَمَا قَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: الْإِيمَانُ بِضْعٌ وَسَبْعُونَ بَابًا.
Sebagaimana Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda: “Iman itu memiliki lebih dari tujuh puluh cabang.”

وَقَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لَا يَزْنِي الزَّانِي حِينَ يَزْنِي وَهُوَ مُؤْمِنٌ.
Dan Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda: “Tidaklah seorang pezina berzina saat ia berzina dalam keadaan beriman.”

وَإِذَا دَخَلَ الْعَمَلُ فِي مُقْتَضَى لَفْظِ الْإِيمَانِ لَمْ تَخْفَ زِيَادَتُهُ وَنُقْصَانُهُ.
Apabila amal masuk ke dalam cakupan makna lafaz iman, maka tidak lagi samar bagaimana iman dapat bertambah dan berkurang.

وَهَلْ يُؤَثِّرُ ذٰلِكَ فِي زِيَادَةِ الْإِيمَانِ الَّذِي هُوَ مُجَرَّدُ التَّصْدِيقِ؟ فِيهِ نَظَرٌ.
Adapun apakah hal itu juga berpengaruh pada bertambahnya iman yang hanya berupa pembenaran semata, maka itu masih perlu ditinjau.

وَقَدْ أَشَرْنَا إِلَى أَنَّهُ يُؤَثِّرُ فِيهِ.
Dan kami telah mengisyaratkan bahwa hal itu memang berpengaruh.

اَلْإِطْلَاقُ الثَّالِثُ أَنْ يُرَادَ بِهِ التَّصْدِيقُ الْيَقِينِيُّ عَلَى سَبِيلِ الْكَشْفِ وَانْشِرَاحِ الصَّدْرِ وَالْمُشَاهَدَةِ بِنُورِ الْبَصِيرَةِ.
Penggunaan ketiga adalah ketika yang dimaksud dengan iman ialah pembenaran yang yakin melalui penyingkapan, kelapangan dada, dan penyaksian dengan cahaya mata hati.

وَهٰذَا أَبْعَدُ الْأَقْسَامِ عَنْ قَبُولِ الزِّيَادَةِ.
Jenis ini adalah yang paling jauh dari kemungkinan menerima pertambahan.

وَلٰكِنِّي أَقُولُ: الْأَمْرُ الْيَقِينِيُّ الَّذِي لَا شَكَّ فِيهِ تَخْتَلِفُ طُمَأْنِينَةُ النَّفْسِ إِلَيْهِ.
Namun aku berkata: perkara yang yakin dan tidak diragukan itu tetap berbeda tingkat ketenangan jiwa terhadapnya.

فَلَيْسَ طُمَأْنِينَةُ النَّفْسِ إِلَى أَنَّ الِاثْنَيْنِ أَكْثَرُ مِنَ الْوَاحِدِ، كَطُمَأْنِينَتِهَا إِلَى أَنَّ الْعَالَمَ مَصْنُوعٌ حَادِثٌ.
Ketenangan jiwa terhadap keyakinan bahwa dua lebih banyak daripada satu tidaklah sama dengan ketenangannya terhadap keyakinan bahwa alam ini diciptakan dan bersifat baru.

وَإِنْ كَانَ لَا شَكَّ فِي وَاحِدٍ مِنْهُمَا.
Meskipun keduanya sama-sama tidak diragukan.

فَإِنَّ الْيَقِينِيَّاتِ تَخْتَلِفُ فِي دَرَجَاتِ الْإِيضَاحِ وَدَرَجَاتِ طُمَأْنِينَةِ النَّفْسِ إِلَيْهَا.
Sebab perkara-perkara yakin itu berbeda dalam tingkat kejelasan dan dalam tingkat ketenangan jiwa terhadapnya.

وَقَدْ تَعَرَّضْنَا لِهٰذَا فِي فَصْلِ الْيَقِينِ مِنْ كِتَابِ الْعِلْمِ فِي بَابِ عَلَامَاتِ عُلَمَاءِ الْآخِرَةِ، فَلَا حَاجَةَ إِلَى الْإِعَادَةِ.
Kami telah membahas hal ini dalam pembahasan tentang yakin pada Kitab Ilmu, dalam bab tanda-tanda ulama akhirat, sehingga tidak perlu mengulanginya.

وَقَدْ ظَهَرَ فِي جَمِيعِ الْإِطْلَاقَاتِ أَنَّ مَا قَالُوهُ مِنْ زِيَادَةِ الْإِيمَانِ وَنُقْصَانِهِ حَقٌّ.
Dan dari semua penggunaan makna ini jelaslah bahwa apa yang mereka katakan tentang bertambah dan berkurangnya iman adalah benar.

وَكَيْفَ، وَفِي الْأَخْبَارِ أَنَّهُ يَخْرُجُ مِنَ النَّارِ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ إِيمَانٍ، وَفِي بَعْضِ الْمَوَاضِعِ فِي خَبَرٍ آخَرَ: مِثْقَالُ دِينَارٍ؟
Bagaimana tidak, padahal dalam hadis-hadis disebutkan bahwa akan keluar dari neraka orang yang di dalam hatinya ada seberat zarrah dari iman, dan dalam riwayat lain disebutkan seberat dinar?

فَأَيُّ مَعْنًى لِاخْتِلَافِ مَقَادِيرِهِ إِنْ كَانَ مَا فِي الْقَلْبِ لَا يَتَفَاوَتُ؟
Lalu apa makna perbedaan kadar itu jika apa yang ada di dalam hati tidak bertingkat-tingkat?

مَسْأَلَةٌ: فَإِنْ قُلْتَ: مَا وَجْهُ قَوْلِ السَّلَفِ: أَنَا مُؤْمِنٌ إِنْ شَاءَ اللهُ، وَالِاسْتِثْنَاءُ شَكٌّ، وَالشَّكُّ فِي الْإِيمَانِ كُفْرٌ؟
Masalah: jika engkau bertanya, apa alasan para salaf berkata: “Aku beriman, insya Allah,” padahal istitsna’ menunjukkan keraguan, dan ragu dalam iman adalah kekufuran?

وَقَدْ كَانُوا كُلُّهُمْ يَمْتَنِعُونَ عَنْ جَزْمِ الْجَوَابِ بِالْإِيمَانِ، وَيَحْتَرِزُونَ عَنْهُ.
Padahal mereka semua menghindari memberikan jawaban tegas tentang iman dan sangat berhati-hati darinya.

فَقَالَ سُفْيَانُ الثَّوْرِيُّ رَحِمَهُ اللهُ: مَنْ قَالَ: أَنَا مُؤْمِنٌ عِنْدَ اللهِ، فَهُوَ مِنَ الْكَاذِبِينَ، وَمَنْ قَالَ: أَنَا مُؤْمِنٌ حَقًّا، فَهُوَ بِدْعَةٌ.
Sufyan ats-Tsauri رحمه الله berkata: “Barang siapa berkata: ‘Aku seorang mukmin di sisi Allah,’ maka ia termasuk para pendusta. Dan barang siapa berkata: ‘Aku benar-benar seorang mukmin,’ maka itu adalah bid‘ah.”

فَكَيْفَ يَكُونُ كَاذِبًا وَهُوَ يَعْلَمُ أَنَّهُ مُؤْمِنٌ فِي نَفْسِهِ؟
Lalu bagaimana ia disebut pendusta, padahal ia tahu bahwa dirinya beriman?

وَمَنْ كَانَ مُؤْمِنًا فِي نَفْسِهِ كَانَ مُؤْمِنًا عِنْدَ اللهِ، كَمَا أَنَّ مَنْ كَانَ طَوِيلًا وَسَخِيًّا فِي نَفْسِهِ وَعَلِمَ ذٰلِكَ، كَانَ كَذٰلِكَ عِنْدَ اللهِ.
Dan siapa yang beriman dalam dirinya, maka ia juga beriman di sisi Allah, sebagaimana orang yang tinggi atau dermawan dalam dirinya dan mengetahui hal itu, maka ia pun demikian di sisi Allah.

وَكَذٰلِكَ مَنْ كَانَ مَسْرُورًا أَوْ حَزِينًا أَوْ سَمِيعًا أَوْ بَصِيرًا.
Demikian pula orang yang sedang gembira, sedih, mendengar, atau melihat.

وَلَوْ قِيلَ لِلْإِنْسَانِ: هَلْ أَنْتَ حَيَوَانٌ؟ لَمْ يَحْسُنْ أَنْ يَقُولَ: أَنَا حَيَوَانٌ إِنْ شَاءَ اللهُ.
Bahkan seandainya seseorang ditanya: “Apakah engkau makhluk hidup?” maka tidak pantas ia menjawab: “Aku makhluk hidup, insya Allah.”

وَلَمَّا قَالَ سُفْيَانُ ذٰلِكَ قِيلَ لَهُ: فَمَاذَا نَقُولُ؟
Ketika Sufyan mengatakan hal itu, ditanyakan kepadanya: “Lalu apa yang harus kami katakan?”

قَالَ: قُولُوا: آمَنَّا بِاللهِ وَمَا أُنْزِلَ إِلَيْنَا.
Ia menjawab: “Katakanlah: kami beriman kepada Allah dan kepada apa yang diturunkan kepada kami.”

وَأَيُّ فَرْقٍ بَيْنَ أَنْ يَقُولَ: آمَنَّا بِاللهِ وَمَا أُنْزِلَ إِلَيْنَا، وَبَيْنَ أَنْ يَقُولَ: أَنَا مُؤْمِنٌ؟
Lalu apa perbedaan antara seseorang berkata: “Kami beriman kepada Allah dan kepada apa yang diturunkan kepada kami,” dengan ia berkata: “Aku seorang mukmin”?

وَقِيلَ لِلْحَسَنِ: أَمُؤْمِنٌ أَنْتَ؟
Dan ditanyakan kepada al-Hasan: “Apakah engkau seorang mukmin?”

فَقَالَ: إِنْ شَاءَ اللهُ.
Ia menjawab: “Insya Allah.”

فَقِيلَ لَهُ: لِمَ تَسْتَثْنِي يَا أَبَا سَعِيدٍ فِي الْإِيمَانِ؟
Lalu ditanyakan kepadanya: “Mengapa engkau memberi pengecualian, wahai Abu Sa‘id, dalam urusan iman?”

فَقَالَ: أَخَافُ أَنْ أَقُولَ: نَعَمْ، فَيَقُولَ اللهُ سُبْحَانَهُ: كَذَبْتَ يَا حَسَنُ، فَتَحِقَّ عَلَيَّ الْكَلِمَةُ.
Ia menjawab: “Aku takut jika aku berkata: ‘Ya,’ lalu Allah سبحانه berfirman: ‘Engkau berdusta, wahai Hasan,’ sehingga keputusan itu pasti berlaku atasku.”

وَكَانَ يَقُولُ: مَا يُؤْمِنُنِي أَنْ يَكُونَ اللهُ سُبْحَانَهُ قَدِ اطَّلَعَ عَلَيَّ فِي بَعْضِ مَا يَكْرَهُ فَمَقَتَنِي، وَقَالَ: اذْهَبْ، لَا قَبِلْتُ لَكَ عَمَلًا، فَأَنَا أَعْمَلُ فِي غَيْرِ مَعْمَلٍ؟
Dan ia biasa berkata: “Apa yang menjaminku bahwa Allah سبحانه tidak melihat pada diriku sesuatu yang Dia benci, lalu Dia murka kepadaku dan berfirman: ‘Pergilah, Aku tidak menerima satu amal pun darimu,’ sehingga aku ternyata beramal bukan pada tempat amal yang diterima?”

وَقَالَ إِبْرَاهِيمُ بْنُ أَدْهَمَ: إِذَا قِيلَ لَكَ: أَمُؤْمِنٌ أَنْتَ؟ فَقُلْ: لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ.
Ibrahim bin Adham berkata: “Jika ditanyakan kepadamu: ‘Apakah engkau seorang mukmin?’ maka jawablah: ‘Lā ilāha illallāh.’”

وَقَالَ مَرَّةً: قُلْ: أَنَا لَا أَشُكُّ فِي الْإِيمَانِ، وَسُؤَالُكَ إِيَّايَ بِدْعَةٌ.
Dan pada suatu kali ia berkata: “Katakan: aku tidak ragu tentang iman, dan pertanyaanmu kepadaku itu bid‘ah.”

وَقِيلَ لِعَلْقَمَةَ: أَمُؤْمِنٌ أَنْتَ؟
Dan ditanyakan kepada ‘Alqamah: “Apakah engkau seorang mukmin?”

قَالَ: أَرْجُو إِنْ شَاءَ اللهُ.
Ia menjawab: “Aku berharap, insya Allah.”

وَقَالَ الثَّوْرِيُّ: نَحْنُ مُؤْمِنُونَ بِاللهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ، وَمَا نَدْرِي مَا نَحْنُ عِنْدَ اللهِ تَعَالَى.
Dan ats-Tsauri berkata: “Kami beriman kepada Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, dan rasul-rasul-Nya, tetapi kami tidak tahu bagaimana keadaan kami di sisi Allah Ta‘ala.”

فَمَا مَعْنَى هٰذِهِ الِاسْتِثْنَاءَاتِ؟
Lalu apa makna berbagai bentuk pengecualian ini?

فَالْجَوَابُ أَنَّ هٰذَا الِاسْتِثْنَاءَ صَحِيحٌ، وَلَهُ أَرْبَعَةُ أَوْجُهٍ.
Jawabannya adalah bahwa pengecualian ini benar, dan ia memiliki empat sisi makna.

وَجْهَانِ مُسْتَنِدَانِ إِلَى الشَّكِّ، لَا فِي أَصْلِ الْإِيمَانِ، وَلٰكِنْ فِي خَاتِمَتِهِ أَوْ كَمَالِهِ، وَوَجْهَانِ لَا يَسْتَنِدَانِ إِلَى الشَّكِّ.
Dua sisi bersandar pada keraguan, bukan pada pokok iman, melainkan pada akhirnya atau kesempurnaannya. Dan dua sisi lainnya tidak bersandar pada keraguan.

اَلْوَجْهُ الْأَوَّلُ الَّذِي لَا يَسْتَنِدُ إِلَى مُعَارَضَةِ الشَّكِّ: الِاحْتِرَازُ مِنَ الْجَزْمِ خِيفَةَ مَا فِيهِ مِنْ تَزْكِيَةِ النَّفْسِ.
Sisi pertama, yang tidak bersandar pada unsur keraguan, adalah berhati-hati untuk tidak menyatakan secara tegas, karena khawatir di dalamnya terdapat pensucian diri sendiri.

قَالَ اللهُ تَعَالَى: فَلَا تُزَكُّوا أَنْفُسَكُمْ.
Allah Ta‘ala berfirman: “Maka janganlah kalian menyucikan diri kalian sendiri.”

وَقَالَ: أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ يُزَكُّونَ أَنْفُسَهُمْ.
Dan Allah berfirman: “Tidakkah engkau melihat orang-orang yang menyucikan diri mereka sendiri?”

وَقَالَ تَعَالَى: انْظُرْ كَيْفَ يَفْتَرُونَ عَلَى اللهِ الْكَذِبَ.
Dan Allah Ta‘ala berfirman: “Lihatlah bagaimana mereka mengada-adakan kebohongan terhadap Allah.”

وَقِيلَ لِحَكِيمٍ: مَا الصِّدْقُ الْقَبِيحُ؟
Dan ditanyakan kepada seorang bijak: “Apakah kejujuran yang buruk itu?”

فَقَالَ: ثَنَاءُ الْمَرْءِ عَلَى نَفْسِهِ.
Ia menjawab: “Pujian seseorang terhadap dirinya sendiri.”

وَالْإِيمَانُ مِنْ أَعْلَى صِفَاتِ الْمَجْدِ، وَالْجَزْمُ تَزْكِيَةٌ مُطْلَقَةٌ.
Iman adalah salah satu sifat kemuliaan yang paling tinggi, dan penegasan mutlak terhadapnya adalah bentuk pensucian diri.

وَصِيغَةُ الِاسْتِثْنَاءِ كَأَنَّهَا ثِقَلٌ مِمَّنْ عَرَفَ التَّزْكِيَةَ.
Bentuk pengecualian seolah-olah merupakan sikap berhati-hati dari orang yang memahami bahaya pensucian diri.

كَمَا يُقَالُ لِلْإِنْسَانِ: أَنْتَ طَبِيبٌ أَوْ فَقِيهٌ أَوْ مُفَسِّرٌ، فَيَقُولُ: نَعَمْ، إِنْ شَاءَ اللهُ، لَا فِي مَعْرِضِ التَّشْكِيكِ، وَلٰكِنْ لِإِخْرَاجِ نَفْسِهِ عَنْ تَزْكِيَةِ نَفْسِهِ.
Seperti ketika seseorang dikatakan: “Engkau seorang dokter, ahli fikih, atau ahli tafsir,” lalu ia menjawab: “Ya, insya Allah,” bukan dalam rangka meragukan, melainkan untuk menjauhkan dirinya dari memuji diri sendiri.

فَالصِّيغَةُ صِيغَةُ التَّرْدِيدِ وَالتَّضْعِيفِ لِنَفْسِ الْخَبَرِ، وَمَعْنَاهَا التَّضْعِيفُ اللَّازِمُ مِنْ لَوَازِمِ الْخَبَرِ، وَهُوَ التَّزْكِيَةُ.
Maka bentuk kalimat itu memang bentuk yang memberi kesan pengurangan dan pelemahan pada berita itu sendiri, tetapi maknanya adalah pelemahan terhadap konsekuensi berita tersebut, yaitu pensucian diri.

وَبِهٰذَا التَّأْوِيلِ لَوْ سُئِلَ عَنْ وَصْفِ ذَمٍّ لَمْ يَحْسُنِ الِاسْتِثْنَاءُ.
Dengan penafsiran ini, jika seseorang ditanya tentang sifat yang tercela, maka tidak pantas baginya menggunakan pengecualian seperti itu.

اَلْوَجْهُ الثَّانِي: التَّأَدُّبُ بِذِكْرِ اللهِ تَعَالَى فِي كُلِّ حَالٍ، وَإِحَالَةُ الْأُمُورِ كُلِّهَا إِلَى مَشِيئَةِ اللهِ سُبْحَانَهُ.
Sisi kedua adalah beradab dengan selalu menyebut Allah Ta‘ala dalam setiap keadaan, dan mengembalikan semua urusan kepada kehendak Allah سبحانه.

فَقَدْ أَدَّبَ اللهُ سُبْحَانَهُ نَبِيَّهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ تَعَالَى: وَلَا تَقُولَنَّ لِشَيْءٍ إِنِّي فَاعِلٌ ذٰلِكَ غَدًا ۝ إِلَّا أَنْ يَشَاءَ اللهُ.
Allah سبحانه telah mendidik Nabi-Nya صلى الله عليه وسلم dengan firman-Nya: “Jangan sekali-kali engkau mengatakan terhadap sesuatu: sesungguhnya aku akan melakukannya besok, kecuali dengan mengatakan: jika Allah menghendaki.”

ثُمَّ لَمْ يَقْتَصِرْ عَلَى ذٰلِكَ فِيمَا لَا يُشَكُّ فِيهِ، بَلْ قَالَ تَعَالَى: لَتَدْخُلُنَّ الْمَسْجِدَ الْحَرَامَ إِنْ شَاءَ اللهُ آمِنِينَ مُحَلِّقِينَ رُءُوسَكُمْ وَمُقَصِّرِينَ.
Lalu Allah tidak membatasi adab ini hanya pada perkara yang diragukan. Bahkan Dia berfirman: “Sungguh kalian akan memasuki Masjidil Haram, insya Allah, dalam keadaan aman, dengan mencukur rambut kepala kalian atau memendekkannya.”

وَكَانَ اللهُ سُبْحَانَهُ عَالِمًا بِأَنَّهُمْ يَدْخُلُونَ لَا مَحَالَةَ، وَأَنَّهُ شَاءَهُ.
Padahal Allah سبحانه telah mengetahui bahwa mereka pasti akan memasukinya dan bahwa Dia memang telah menghendakinya.

وَلٰكِنَّ الْمَقْصُودَ تَعْلِيمُهُمُ ذٰلِكَ.
Akan tetapi, maksudnya adalah mengajari mereka adab tersebut.

فَتَأَدَّبَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي مَا كَانَ يُخْبِرُ عَنْهُ، مَعْلُومًا كَانَ أَوْ مَشْكُوكًا.
Maka Rasulullah صلى الله عليه وسلم pun beradab dalam setiap hal yang beliau kabarkan, baik yang sudah pasti maupun yang masih mungkin.

حَتَّى قَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَمَّا دَخَلَ الْمَقَابِرَ: السَّلَامُ عَلَيْكُمْ دَارَ قَوْمٍ مُؤْمِنِينَ، وَإِنَّا إِنْ شَاءَ اللهُ بِكُمْ لَلَاحِقُونَ.
Sampai-sampai ketika beliau masuk ke pekuburan, beliau bersabda: “Salam sejahtera atas kalian, wahai penghuni negeri orang-orang beriman. Dan sesungguhnya kami, insya Allah, akan menyusul kalian.”

وَاللُّحُوقُ بِهِمْ غَيْرُ مَشْكُوكٍ فِيهِ.
Padahal menyusul mereka itu tidak diragukan.

وَلٰكِنَّ مُقْتَضَى الْأَدَبِ ذِكْرُ اللهِ تَعَالَى وَرَبْطُ الْأُمُورِ بِهِ.
Akan tetapi, tuntutan adab ialah menyebut Allah Ta‘ala dan mengaitkan segala urusan dengan-Nya.

وَهٰذِهِ الصِّيغَةُ دَالَّةٌ عَلَيْهِ، حَتَّى صَارَتْ بِعُرْفِ الِاسْتِعْمَالِ عِبَارَةً عَنْ إِظْهَارِ الرَّغْبَةِ وَالتَّمَنِّي.
Bentuk kalimat ini menunjukkan makna tersebut, sampai dalam kebiasaan penggunaan, ia menjadi ungkapan untuk menunjukkan harapan dan keinginan.

فَإِذَا قِيلَ لَكَ: إِنَّ فُلَانًا يَمُوتُ سَرِيعًا، فَتَقُولُ: إِنْ شَاءَ اللهُ، فَيُفْهَمُ مِنْهُ رَغْبَتُكَ لَا تَشْكِيكُكَ.
Jika dikatakan kepadamu: “Si fulan akan segera mati,” lalu engkau menjawab: “Insya Allah,” maka yang dipahami adalah kehendak atau keinginanmu, bukan keraguanmu.

وَإِذَا قِيلَ لَكَ: فُلَانٌ سَيَزُولُ مَرَضُهُ وَيَصِحُّ، فَتَقُولُ: إِنْ شَاءَ اللهُ، بِمَعْنَى الرَّغْبَةِ.
Dan jika dikatakan kepadamu: “Penyakit si fulan akan hilang dan ia akan sehat,” lalu engkau menjawab: “Insya Allah,” maka itu bermakna harapan.

فَقَدْ صَارَتِ الْكَلِمَةُ مَعْدُولَةً عَنْ مَعْنَى التَّشْكِيكِ إِلَى مَعْنَى الرَّغْبَةِ.
Dengan demikian, ungkapan itu telah beralih dari makna keraguan kepada makna harapan.

وَكَذٰلِكَ الْعُدُولُ إِلَى مَعْنَى التَّأَدُّبِ لِذِكْرِ اللهِ تَعَالَى كَيْفَ كَانَ الْأَمْرُ.
Demikian pula ia dapat dialihkan kepada makna beradab dengan menyebut Allah Ta‘ala dalam keadaan apa pun.

اَلْوَجْهُ الثَّالِثُ مُسْتَنَدُهُ الشَّكُّ، وَمَعْنَاهُ: أَنَا مُؤْمِنٌ حَقًّا إِنْ شَاءَ اللهُ.
Sisi ketiga memang bersandar pada unsur keraguan, dan maknanya adalah: “Aku benar-benar seorang mukmin, insya Allah.”

إِذْ قَالَ اللهُ تَعَالَى لِقَوْمٍ مَخْصُوصِينَ بِأَعْيَانِهِمْ: أُولٰئِكَ هُمُ الْمُؤْمِنُونَ حَقًّا.
Sebab Allah Ta‘ala berfirman tentang kaum tertentu secara khusus: “Mereka itulah orang-orang yang benar-benar beriman.”

فَانْقَسَمُوا إِلَى قِسْمَيْنِ.
Maka dengan demikian, orang beriman terbagi menjadi dua golongan.

وَيَرْجِعُ هٰذَا إِلَى الشَّكِّ فِي كَمَالِ الْإِيمَانِ لَا فِي أَصْلِهِ.
Hal ini kembali kepada keraguan tentang kesempurnaan iman, bukan tentang pokok iman itu sendiri.

وَكُلُّ إِنْسَانٍ شَاكٌّ فِي كَمَالِ إِيمَانِهِ، وَذٰلِكَ لَيْسَ بِكُفْرٍ.
Setiap orang patut merasa ragu tentang kesempurnaan imannya, dan hal itu bukan kekufuran.

وَالشَّكُّ فِي كَمَالِ الْإِيمَانِ حَقٌّ مِنْ وَجْهَيْنِ.
Keraguan tentang kesempurnaan iman itu benar dari dua sisi.

أَحَدُهُمَا: مِنْ حَيْثُ إِنَّ النِّفَاقَ يُزِيلُ كَمَالَ الْإِيمَانِ، وَهُوَ خَفِيٌّ لَا تَتَحَقَّقُ الْبَرَاءَةُ مِنْهُ.
Pertama, karena nifak menghilangkan kesempurnaan iman, sedangkan nifak itu tersembunyi dan seseorang tidak bisa memastikan dirinya bersih darinya.

وَالثَّانِي: أَنَّهُ يَكْمُلُ بِأَعْمَالِ الطَّاعَاتِ، وَلَا يَدْرِي وُجُودَهَا عَلَى الْكَمَالِ.
Kedua, karena iman menjadi sempurna dengan amal-amal ketaatan, sedangkan seseorang tidak tahu apakah amal-amal itu ada padanya dengan sempurna atau tidak.

أَمَّا الْعَمَلُ فَقَدْ قَالَ اللهُ تَعَالَى: إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ آمَنُوا بِاللهِ وَرَسُولِهِ ثُمَّ لَمْ يَرْتَابُوا وَجَاهَدُوا بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ فِي سَبِيلِ اللهِ أُولٰئِكَ هُمُ الصَّادِقُونَ.
Adapun amal, Allah Ta‘ala berfirman: “Sesungguhnya orang-orang mukmin itu hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu, dan mereka berjihad dengan harta dan jiwa mereka di jalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang benar.”

فَيَكُونُ الشَّكُّ فِي هٰذَا الصِّدْقِ.
Maka keraguan itu terletak pada kebenaran yang sempurna seperti ini.

وَكَذٰلِكَ قَالَ اللهُ تَعَالَى: وَلٰكِنَّ الْبِرَّ مَنْ آمَنَ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَالْمَلَائِكَةِ وَالْكِتَابِ وَالنَّبِيِّينَ.
Demikian pula Allah Ta‘ala berfirman: “Tetapi kebajikan itu adalah orang yang beriman kepada Allah, hari akhir, malaikat, kitab, dan para nabi.”

فَشَرَطَ عِشْرِينَ وَصْفًا، كَالْوَفَاءِ بِالْعَهْدِ وَالصَّبْرِ عَلَى الشَّدَائِدِ.
Lalu Allah mensyaratkan dua puluh sifat, seperti menepati janji dan sabar dalam kesulitan.

ثُمَّ قَالَ تَعَالَى: أُولٰئِكَ الَّذِينَ صَدَقُوا.
Kemudian Allah Ta‘ala berfirman: “Mereka itulah orang-orang yang benar.”

وَقَدْ قَالَ تَعَالَى: يَرْفَعِ اللهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ.
Dan Allah Ta‘ala berfirman: “Allah akan meninggikan derajat orang-orang yang beriman di antara kalian dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.”

وَقَالَ تَعَالَى: لَا يَسْتَوِي مِنْكُمْ مَنْ أَنْفَقَ مِنْ قَبْلِ الْفَتْحِ وَقَاتَلَ... الْآيَةَ.
Dan Allah Ta‘ala berfirman: “Tidak sama di antara kalian orang yang menginfakkan hartanya dan berperang sebelum penaklukan...” sampai akhir ayat.

وَقَدْ قَالَ تَعَالَى: هُمْ دَرَجَاتٌ عِنْدَ اللهِ.
Dan Allah Ta‘ala berfirman: “Mereka itu bertingkat-tingkat di sisi Allah.”

وَقَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: الْإِيمَانُ عُرْيَانٌ، وَلِبَاسُهُ التَّقْوَى.
Dan Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda: “Iman itu telanjang, dan pakaiannya adalah takwa.”

وَقَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: الْإِيمَانُ بِضْعٌ وَسَبْعُونَ بَابًا، أَدْنَاهَا إِمَاطَةُ الْأَذَى عَنِ الطَّرِيقِ.
Dan Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda: “Iman memiliki lebih dari tujuh puluh cabang, yang paling rendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan.”

فَهٰذَا مَا يَدُلُّ عَلَى ارْتِبَاطِ كَمَالِ الْإِيمَانِ بِالْأَعْمَالِ.
Ini menunjukkan bahwa kesempurnaan iman berkaitan dengan amal-amal.

وَأَمَّا ارْتِبَاطُهُ بِالْبَرَاءَةِ عَنِ النِّفَاقِ وَالشِّرْكِ الْخَفِيِّ، فَقَوْلُهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَرْبَعٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ فَهُوَ مُنَافِقٌ خَالِصٌ، وَإِنْ صَامَ وَصَلَّى وَزَعَمَ أَنَّهُ مُؤْمِنٌ: مَنْ إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ، وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ، وَإِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ، وَإِذَا خَاصَمَ فَجَرَ.
Adapun keterkaitan kesempurnaannya dengan kebersihan dari nifak dan syirik yang tersembunyi, maka dalilnya adalah sabda Nabi صلى الله عليه وسلم: “Ada empat hal, siapa yang ada pada dirinya, ia adalah munafik tulen, meskipun ia berpuasa, salat, dan mengaku sebagai mukmin: jika berbicara ia berdusta, jika berjanji ia ingkar, jika dipercaya ia berkhianat, dan jika berselisih ia melampaui batas.”

وَفِي بَعْضِ الرِّوَايَاتِ: وَإِذَا عَاهَدَ غَدَرَ.
Dan dalam sebagian riwayat disebutkan: “dan jika berjanji setia, ia berkhianat.”

وَفِي حَدِيثِ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ: الْقُلُوبُ أَرْبَعَةٌ: قَلْبٌ أَجْرَدُ، وَفِيهِ سِرَاجٌ يُزْهِرُ، فَذٰلِكَ قَلْبُ الْمُؤْمِنِ.
Dan dalam hadis Abu Sa‘id al-Khudri disebutkan: “Hati itu ada empat: hati yang polos, di dalamnya terdapat pelita yang bercahaya, itulah hati orang mukmin.”

وَقَلْبٌ مُصَفَّحٌ فِيهِ إِيمَانٌ وَنِفَاقٌ، فَمَثَلُ الْإِيمَانِ فِيهِ كَمَثَلِ الْبَقْلَةِ يَمُدُّهَا الْمَاءُ الْعَذْبُ، وَمَثَلُ النِّفَاقِ فِيهِ كَمَثَلِ الْقُرْحَةِ يَمُدُّهَا الْقَيْحُ وَالصَّدِيدُ، فَأَيُّ الْمَادَّتَيْنِ غَلَبَ عَلَيْهِ حُكِمَ لَهُ بِهَا.
Dan ada hati yang tertutup, di dalamnya ada iman dan nifak. Perumpamaan iman di dalamnya seperti tanaman yang disirami air tawar, dan perumpamaan nifak di dalamnya seperti luka yang diberi nanah dan cairan busuk. Maka mana di antara dua unsur itu yang lebih dominan, kepadanya hati itu dihukumi.”

وَفِي لَفْظٍ آخَرَ: غَلَبَتْ عَلَيْهِ ذَهَبَتْ بِهِ.
Dan dalam lafaz lain disebutkan: “Jika salah satunya lebih kuat, maka ia akan membawanya.”

وَقَالَ عَلَيْهِ السَّلَامُ: أَكْثَرُ مُنَافِقِي هٰذِهِ الْأُمَّةِ قُرَّاؤُهَا.
Dan beliau عليه السلام bersabda: “Kebanyakan orang munafik di umat ini adalah para pembacanya.”

وَفِي حَدِيثٍ: الشِّرْكُ أَخْفَى فِي أُمَّتِي مِنْ دَبِيبِ النَّمْلِ عَلَى الصَّفَا.
Dan dalam sebuah hadis disebutkan: “Syirik di umatku lebih tersembunyi daripada langkah semut di atas batu licin.”

وَقَالَ حُذَيْفَةُ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ: كَانَ الرَّجُلُ يَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصِيرُ بِهَا مُنَافِقًا إِلَى أَنْ يَمُوتَ، وَإِنِّي لَأَسْمَعُهَا مِنْ أَحَدِكُمْ فِي الْيَوْمِ عَشْرَ مَرَّاتٍ.
Hudzaifah رضي الله عنه berkata: “Dahulu pada masa Rasulullah صلى الله عليه وسلم seseorang mengucapkan satu kalimat, lalu karena itu ia menjadi munafik sampai mati. Dan sungguh aku mendengarnya dari salah seorang di antara kalian sepuluh kali dalam sehari.”

وَقَالَ بَعْضُ الْعُلَمَاءِ: أَقْرَبُ النَّاسِ مِنَ النِّفَاقِ مَنْ يَرَى أَنَّهُ بَرِيءٌ مِنَ النِّفَاقِ.
Sebagian ulama berkata: “Orang yang paling dekat kepada nifak adalah orang yang merasa dirinya bersih dari nifak.”

وَقَالَ حُذَيْفَةُ: الْمُنَافِقُونَ الْيَوْمَ أَكْثَرُ مِنْهُمْ عَلَى عَهْدِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَكَانُوا إِذْ ذَاكَ يُخْفُونَهُ، وَهُمْ الْيَوْمَ يُظْهِرُونَهُ.
Hudzaifah berkata: “Orang-orang munafik pada hari ini lebih banyak daripada pada masa Nabi صلى الله عليه وسلم. Dahulu mereka menyembunyikannya, sedangkan hari ini mereka menampakkannya.”

وَهٰذَا النِّفَاقُ يُضَادُّ صِدْقَ الْإِيمَانِ وَكَمَالَهُ، وَهُوَ خَفِيٌّ.
Nifak jenis ini bertentangan dengan kejujuran iman dan kesempurnaannya, dan ia tersembunyi.

وَأَبْعَدُ النَّاسِ مِنْهُ مَنْ يَتَخَوَّفُهُ، وَأَقْرَبُهُمْ مِنْهُ مَنْ يَرَى أَنَّهُ بَرِيءٌ مِنْهُ.
Orang yang paling jauh darinya adalah orang yang mengkhawatirkannya, dan yang paling dekat kepadanya adalah orang yang merasa dirinya bersih darinya.

فَقَدْ قِيلَ لِلْحَسَنِ الْبَصْرِيِّ: يَقُولُونَ: إِنَّهُ لَا نِفَاقَ الْيَوْمَ.
Pernah dikatakan kepada al-Hasan al-Bashri: “Mereka mengatakan bahwa sekarang tidak ada nifak lagi.”

فَقَالَ: يَا أَخِي، لَوْ هَلَكَ الْمُنَافِقُونَ لَاسْتَوْحَشْتُمْ فِي الطَّرِيقِ.
Ia menjawab: “Wahai saudaraku, seandainya orang-orang munafik binasa, niscaya kalian akan merasa sepi di jalan.”

وَقَالَ هُوَ أَوْ غَيْرُهُ: لَوْ نَبَتَتْ لِلْمُنَافِقِينَ أَذْنَابٌ مَا قَدَرْنَا أَنْ نَطَأَ عَلَى الْأَرْضِ بِأَقْدَامِنَا.
Dan ia, atau orang lain, berkata: “Seandainya orang-orang munafik memiliki ekor, niscaya kita tidak akan mampu menginjak bumi dengan kaki kita.”

وَسَمِعَ ابْنُ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ رَجُلًا يَتَعَرَّضُ لِلْحَجَّاجِ، فَقَالَ: أَرَأَيْتَ لَوْ كَانَ حَاضِرًا يَسْمَعُ، أَكُنْتَ تَتَكَلَّمُ فِيهِ؟
Ibnu Umar رضي الله عنه mendengar seseorang berbicara buruk tentang al-Hajjaj, lalu ia berkata: “Bagaimana menurutmu, seandainya ia hadir dan mendengar, apakah engkau akan tetap berbicara seperti itu?”

فَقَالَ: لَا.
Orang itu menjawab: “Tidak.”

فَقَالَ: كُنَّا نَعُدُّ هٰذَا نِفَاقًا عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.
Ibnu Umar berkata: “Dahulu kami menganggap ini sebagai nifak pada masa Rasulullah صلى الله عليه وسلم.”

وَقَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَنْ كَانَ ذَا لِسَانَيْنِ فِي الدُّنْيَا جَعَلَهُ اللهُ ذَا لِسَانَيْنِ فِي الْآخِرَةِ.
Dan Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda: “Barang siapa memiliki dua lidah di dunia, Allah akan menjadikannya memiliki dua lidah di akhirat.”

وَقَالَ أَيْضًا صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: شَرُّ النَّاسِ ذُو الْوَجْهَيْنِ، الَّذِي يَأْتِي هٰؤُلَاءِ بِوَجْهٍ وَيَأْتِي هٰؤُلَاءِ بِوَجْهٍ.
Dan beliau صلى الله عليه وسلم juga bersabda: “Sejahat-jahat manusia adalah orang yang bermuka dua, yang mendatangi satu kelompok dengan satu wajah, dan kelompok lain dengan wajah yang lain.”

وَقِيلَ لِلْحَسَنِ: إِنَّ قَوْمًا يَقُولُونَ: إِنَّا لَا نَخَافُ النِّفَاقَ.
Dan dikatakan kepada al-Hasan: “Ada suatu kaum yang berkata: kami tidak takut nifak.”

فَقَالَ: وَاللهِ، لَأَنْ أَكُونَ أَعْلَمُ أَنِّي بَرِيءٌ مِنَ النِّفَاقِ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ تِلَاعِ الْأَرْضِ ذَهَبًا.
Ia menjawab: “Demi Allah, andai aku mengetahui bahwa aku benar-benar bersih dari nifak, itu lebih aku sukai daripada memperoleh bukit-bukit bumi berupa emas.”

وَقَالَ الْحَسَنُ: إِنَّ مِنَ النِّفَاقِ اخْتِلَافَ اللِّسَانِ وَالْقَلْبِ، وَالسِّرِّ وَالْعَلَانِيَةِ، وَالْمَدْخَلِ وَالْمَخْرَجِ.
Al-Hasan berkata: “Termasuk nifak adalah berbedanya lisan dengan hati, rahasia dengan terang-terangan, jalan masuk dengan jalan keluar.”

وَقَالَ رَجُلٌ لِحُذَيْفَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ: إِنِّي أَخَافُ أَنْ أَكُونَ مُنَافِقًا.
Seseorang berkata kepada Hudzaifah رضي الله عنه: “Aku khawatir kalau-kalau aku seorang munafik.”

فَقَالَ: لَوْ كُنْتَ مُنَافِقًا مَا خِفْتَ النِّفَاقَ، إِنَّ الْمُنَافِقَ قَدْ أَمِنَ النِّفَاقَ.
Hudzaifah menjawab: “Seandainya engkau munafik, engkau tidak akan takut kepada nifak. Sesungguhnya orang munafik merasa aman dari nifak.”

وَقَالَ ابْنُ أَبِي مُلَيْكَةَ: أَدْرَكْتُ ثَلَاثِينَ وَمِائَةً، وَفِي رِوَايَةٍ: خَمْسِينَ وَمِائَةً، مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، كُلُّهُمْ يَخَافُونَ النِّفَاقَ.
Ibnu Abi Mulaikah berkata: “Aku menemui seratus tiga puluh orang sahabat Nabi صلى الله عليه وسلم,” dan dalam riwayat lain: “seratus lima puluh orang,” “semuanya takut akan nifak.”

وَرُوِيَ أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ جَالِسًا فِي جَمَاعَةٍ مِنْ أَصْحَابِهِ، فَذَكَرُوا رَجُلًا وَأَكْثَرُوا الثَّنَاءَ عَلَيْهِ.
Diriwayatkan bahwa Rasulullah صلى الله عليه وسلم sedang duduk bersama sekelompok sahabatnya. Mereka menyebut seseorang dan banyak memujinya.

فَبَيْنَمَا هُمْ كَذٰلِكَ إِذْ طَلَعَ عَلَيْهِمُ الرَّجُلُ، وَوَجْهُهُ يَقْطُرُ مَاءً مِنْ أَثَرِ الْوُضُوءِ، وَقَدْ عَلَّقَ نَعْلَيْهِ بِيَدِهِ، وَبَيْنَ عَيْنَيْهِ أَثَرُ السُّجُودِ.
Ketika mereka sedang demikian, tiba-tiba orang itu datang. Wajahnya masih meneteskan air bekas wudu, sandalnya digantung di tangannya, dan di antara kedua matanya tampak bekas sujud.

فَقَالُوا: يَا رَسُولَ اللهِ، هٰذَا هُوَ الرَّجُلُ الَّذِي وَصَفْنَاهُ.
Mereka berkata: “Wahai Rasulullah, inilah orang yang kami sebutkan tadi.”

فَقَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَرَى عَلَى وَجْهِهِ سَفْعَةً مِنَ الشَّيْطَانِ.
Maka beliau صلى الله عليه وسلم bersabda: “Aku melihat pada wajahnya ada noda dari setan.”

فَجَاءَ الرَّجُلُ حَتَّى سَلَّمَ وَجَلَسَ مَعَ الْقَوْمِ.
Orang itu pun datang, memberi salam, lalu duduk bersama kaum itu.

فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: نَشَدْتُكَ اللهَ، هَلْ حَدَّثَتْ نَفْسُكَ حِينَ أَشْرَفْتَ عَلَى الْقَوْمِ أَنَّهُ لَيْسَ فِيهِمْ خَيْرٌ مِنْكَ؟
Nabi صلى الله عليه وسلم bertanya: “Aku meminta engkau demi Allah, apakah ketika engkau datang kepada kaum ini, hatimu sempat berkata bahwa tidak ada seorang pun di antara mereka yang lebih baik daripada dirimu?”

فَقَالَ: اللّٰهُمَّ نَعَمْ.
Orang itu menjawab: “Ya Allah, benar.”

فَقَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي دُعَائِهِ: اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْتَغْفِرُكَ لِمَا عَلِمْتُ وَلِمَا لَمْ أَعْلَمْ.
Dan Nabi صلى الله عليه وسلم berdoa: “Ya Allah, sesungguhnya aku memohon ampun kepada-Mu atas apa yang aku ketahui dan apa yang tidak aku ketahui.”

فَقِيلَ لَهُ: أَتَخَافُ يَا رَسُولَ اللهِ؟
Lalu ditanyakan kepada beliau: “Apakah engkau merasa takut, wahai Rasulullah?”

فَقَالَ: وَمَا يُؤَمِّنُنِي، وَالْقُلُوبُ بَيْنَ إِصْبَعَيْنِ مِنْ أَصَابِعِ الرَّحْمٰنِ، يُقَلِّبُهَا كَيْفَ يَشَاءُ؟
Beliau menjawab: “Apa yang dapat membuatku merasa aman, padahal hati-hati itu berada di antara dua jari dari jari-jari ar-Rahman, Dia membolakkannya sebagaimana Dia kehendaki?”

وَقَدْ قَالَ سُبْحَانَهُ: وَبَدَا لَهُمْ مِنَ اللهِ مَا لَمْ يَكُونُوا يَحْتَسِبُونَ.
Dan Allah سبحانه telah berfirman: “Dan tampak bagi mereka dari Allah apa yang sebelumnya tidak pernah mereka sangka.”

قِيلَ فِي التَّفْسِيرِ: عَمِلُوا أَعْمَالًا ظَنُّوا أَنَّهَا حَسَنَاتٌ، فَكَانَتْ فِي كِفَّةِ السَّيِّئَاتِ.
Dikatakan dalam tafsirnya: mereka melakukan amal-amal yang mereka sangka sebagai kebaikan, namun ternyata amal itu masuk ke dalam timbangan keburukan.

وَقَالَ سَرِيُّ السَّقَطِيُّ: لَوْ أَنَّ إِنْسَانًا دَخَلَ بُسْتَانًا فِيهِ مِنْ جَمِيعِ الْأَشْجَارِ، عَلَيْهَا مِنْ جَمِيعِ الطُّيُورِ، فَخَاطَبَهُ كُلُّ طَيْرٍ مِنْهَا بِلُغَةٍ، فَقَالَ: السَّلَامُ عَلَيْكَ يَا وَلِيَّ اللهِ، فَسَكَنَتْ نَفْسُهُ إِلَى ذٰلِكَ، كَانَ أَسِيرًا فِي يَدِهَا.
Sari as-Saqathi berkata: “Seandainya seseorang masuk ke sebuah kebun yang terdapat berbagai macam pohon dan berbagai macam burung di atasnya, lalu setiap burung berbicara kepadanya dalam bahasanya dan berkata: ‘Salam atasmu, wahai wali Allah,’ lalu jiwanya merasa tenang dengan ucapan itu, maka sesungguhnya ia telah menjadi tawanan di tangan ucapan-ucapan itu.”

فَهٰذِهِ الْأَخْبَارُ وَالْآثَارُ تُعَرِّفُكَ خَطَرَ الْأَمْرِ بِسَبَبِ دَقَائِقِ النِّفَاقِ وَالشِّرْكِ الْخَفِيِّ، وَأَنَّهُ لَا يُؤْمَنُ مِنْهُ.
Maka berita-berita dan atsar-atsar ini memberitahukan kepadamu betapa berbahayanya perkara ini karena halusnya nifak dan syirik tersembunyi, dan bahwa seseorang tidak boleh merasa aman darinya.

حَتَّى كَانَ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ يَسْأَلُ حُذَيْفَةَ عَنْ نَفْسِهِ: هَلْ ذُكِرَ فِي الْمُنَافِقِينَ؟
Sampai-sampai Umar bin al-Khattab رضي الله عنه bertanya kepada Hudzaifah tentang dirinya: “Apakah aku termasuk yang disebut di antara orang-orang munafik?”

وَقَالَ أَبُو سُلَيْمَانَ الدَّارَانِيُّ: سَمِعْتُ مِنْ بَعْضِ الْأُمَرَاءِ شَيْئًا، فَأَرَدْتُ أَنْ أُنْكِرَهُ، فَخِفْتُ أَنْ يَأْمُرَ بِقَتْلِي.
Abu Sulaiman ad-Darani berkata: “Aku mendengar sesuatu dari salah seorang penguasa, lalu aku ingin mengingkarinya. Tetapi aku takut ia akan memerintahkan pembunuhanku.”

وَلَمْ أَخَفْ مِنَ الْمَوْتِ، وَلٰكِنْ خَشِيتُ أَنْ يَعْرِضَ لِقَلْبِي التَّزَيُّنُ لِلْخَلْقِ عِنْدَ خُرُوجِ رُوحِي، فَكَفَفْتُ.
Aku tidak takut pada kematian, tetapi aku khawatir akan muncul di hatiku rasa ingin terlihat baik di hadapan makhluk saat ruhku keluar, maka aku pun menahan diri.”

وَهٰذَا مِنَ النِّفَاقِ الَّذِي يُضَادُّ حَقِيقَةَ الْإِيمَانِ وَصِدْقَهُ وَكَمَالَهُ وَصَفَاءَهُ، لَا أَصْلَهُ.
Ini termasuk nifak yang bertentangan dengan hakikat iman, kejujurannya, kesempurnaannya, dan kemurniannya, bukan dengan pokok iman itu sendiri.

فَالنِّفَاقُ نِفَاقَانِ.
Maka nifak itu ada dua macam.

أَحَدُهُمَا يُخْرِجُ مِنَ الدِّينِ، وَيُلْحِقُ بِالْكَافِرِينَ، وَيَسْلُكُ فِي زُمْرَةِ الْمُخَلَّدِينَ فِي النَّارِ.
Salah satunya mengeluarkan seseorang dari agama, memasukkannya ke golongan orang-orang kafir, dan menjadikannya termasuk rombongan yang kekal di neraka.

وَالثَّانِي يُفْضِي بِصَاحِبِهِ إِلَى النَّارِ مُدَّةً، أَوْ يُنَقِّصُ مِنْ دَرَجَاتِ عِلِّيِّينَ، وَيَحُطُّ مِنْ رُتْبَةِ الصِّدِّيقِينَ.
Yang kedua menyebabkan pelakunya masuk neraka untuk suatu masa, atau mengurangi derajatnya dari kedudukan ‘Illiyyin, dan menurunkannya dari martabat para shiddiqin.

وَذٰلِكَ مَشْكُوكٌ فِيهِ، وَلِذٰلِكَ حَسُنَ الِاسْتِثْنَاءُ فِيهِ.
Perkara inilah yang masih mengandung kekhawatiran, dan karena itu pengecualian dalam masalah iman menjadi baik dan tepat.

وَأَصْلُ هٰذَا النِّفَاقِ تَفَاوُتٌ بَيْنَ السِّرِّ وَالْعَلَانِيَةِ، وَالْأَمْنِ مِنْ مَكْرِ اللهِ، وَالْعُجْبِ، وَأُمُورٍ أُخَرَ لَا يَخْلُو عَنْهَا إِلَّا الصِّدِّيقُونَ.
Pangkal nifak ini adalah adanya perbedaan antara batin dan lahir, merasa aman dari makar Allah, ujub, dan perkara-perkara lain yang tidak benar-benar terbebas darinya kecuali para shiddiqin.

اَلْوَجْهُ الرَّابِعُ، وَهُوَ أَيْضًا مُسْتَنِدٌ إِلَى الشَّكِّ، وَذٰلِكَ مِنْ خَوْفِ الْخَاتِمَةِ.
Sisi keempat juga bersandar pada unsur keraguan, yaitu karena takut terhadap akhir kehidupan.

فَإِنَّهُ لَا يَدْرِي أَيَسْلَمُ لَهُ الْإِيمَانُ عِنْدَ الْمَوْتِ أَمْ لَا.
Sebab seseorang tidak tahu apakah imannya akan tetap selamat sampai mati atau tidak.

فَإِنْ خُتِمَ لَهُ بِالْكُفْرِ حَبِطَ عَمَلُهُ السَّابِقُ، لِأَنَّهُ مَوْقُوفٌ عَلَى سَلَامَةِ الْآخِرِ.
Jika hidupnya ditutup dengan kekufuran, maka seluruh amal sebelumnya akan gugur, karena nilainya bergantung pada keselamatan akhir hidupnya.

وَلَوْ سُئِلَ الصَّائِمُ ضُحْوَةَ النَّهَارِ عَنْ صِحَّةِ صَوْمِهِ، فَقَالَ: أَنَا صَائِمٌ قَطْعًا، فَلَوْ أَفْطَرَ فِي أَثْنَاءِ نَهَارِهِ بَعْدَ ذٰلِكَ لَتَبَيَّنَ كَذِبُهُ.
Seandainya seorang yang berpuasa ditanya pada waktu dhuha tentang sahnya puasanya, lalu ia menjawab: “Aku pasti sedang berpuasa,” kemudian ia membatalkan puasanya di tengah hari setelah itu, maka tampaklah bahwa ucapannya tadi tidak tepat.

إِذْ كَانَتِ الصِّحَّةُ مَوْقُوفَةً عَلَى التَّمَامِ إِلَى غُرُوبِ الشَّمْسِ مِنْ آخِرِ النَّهَارِ.
Sebab sahnya puasa bergantung pada sempurnanya puasa itu hingga matahari terbenam di akhir siang.

وَكَمَا أَنَّ النَّهَارَ مِيقَاتُ تَمَامِ الصَّوْمِ، فَالْعُمُرُ مِيقَاتُ تَمَامِ صِحَّةِ الْإِيمَانِ.
Sebagaimana siang adalah batas sempurnanya puasa, maka umur adalah batas sempurnanya sahnya iman.

وَوَصْفُهُ بِالصِّحَّةِ قَبْلَ آخِرِهِ بِنَاءٌ عَلَى الِاسْتِصْحَابِ، وَهُوَ مَشْكُوكٌ فِيهِ.
Menyifati iman itu sah sebelum akhir hayat hanyalah berdasarkan istishhab, dan hal itu masih mengandung kemungkinan.

وَالْعَاقِبَةُ مَخُوفَةٌ.
Dan kesudahan hidup itu menakutkan.

وَلِهٰذَا كَانَ بُكَاءُ أَكْثَرِ الْخَائِفِينَ لِأَجْلِهَا، لِأَنَّهَا ثَمَرَةُ الْقَضِيَّةِ السَّابِقَةِ وَالْمَشِيئَةِ الْأَزَلِيَّةِ الَّتِي لَا تَظْهَرُ إِلَّا بِظُهُورِ الْمَقْضِيِّ بِهِ.
Karena itulah kebanyakan orang yang takut kepada Allah menangis karena memikirkan akhir hidup, sebab akhir hidup adalah buah dari ketetapan terdahulu dan kehendak azali yang tidak tampak kecuali ketika yang ditetapkan itu telah terjadi.

وَلَا مَطْلَعَ عَلَيْهِ لِأَحَدٍ مِنَ الْبَشَرِ.
Dan tidak ada seorang manusia pun yang dapat mengetahui hal itu sebelumnya.

فَخَوْفُ الْخَاتِمَةِ كَخَوْفِ السَّابِقَةِ.
Maka takut terhadap akhir hayat sama seperti takut terhadap ketetapan sebelumnya.

وَرُبَّمَا يَظْهَرُ فِي الْحَالِ مَا سَبَقَتِ الْكَلِمَةُ بِنَقِيضِهِ.
Boleh jadi pada saat akhir itu tampak sesuatu yang sebelumnya telah ditetapkan kebalikannya.

فَمَنِ الَّذِي يَدْرِي أَنَّهُ مِنَ الَّذِينَ سَبَقَتْ لَهُمْ مِنَ اللهِ الْحُسْنَى؟
Siapakah yang tahu bahwa dirinya termasuk orang-orang yang telah ditetapkan baginya kebaikan dari Allah?

وَقِيلَ فِي مَعْنَى قَوْلِهِ تَعَالَى: وَجَاءَتْ سَكْرَةُ الْمَوْتِ بِالْحَقِّ، أَيْ بِالسَّابِقَةِ، يَعْنِي أَظْهَرَتْهَا.
Dikatakan dalam makna firman Allah Ta‘ala: “Dan datanglah sakaratul maut dengan kebenaran,” yaitu dengan ketetapan terdahulu; maksudnya, sakaratul maut menampakkannya.

وَقَالَ بَعْضُ السَّلَفِ: إِنَّمَا يُوزَنُ مِنَ الْأَعْمَالِ خَوَاتِيمُهَا.
Sebagian salaf berkata: “Yang menjadi ukuran dari amal hanyalah penutup-penutupnya.”

وَكَانَ أَبُو الدَّرْدَاءِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ يَحْلِفُ بِاللهِ: مَا مِنْ أَحَدٍ يَأْمَنُ أَنْ يُسْلَبَ إِيمَانَهُ إِلَّا سُلِبَهُ.
Abu ad-Darda’ رضي الله عنه bersumpah demi Allah: “Tidak ada seorang pun yang merasa aman dari dicabut imannya, kecuali ia benar-benar akan dicabut imannya.”

وَقِيلَ: مِنَ الذُّنُوبِ ذُنُوبٌ عُقُوبَتُهَا سُوءُ الْخَاتِمَةِ، نَعُوذُ بِاللهِ مِنْ ذٰلِكَ.
Dan dikatakan: “Di antara dosa-dosa ada dosa yang hukumannya adalah buruknya akhir hayat. Kita berlindung kepada Allah dari hal itu.”

وَقِيلَ: هِيَ عُقُوبَاتُ دَعْوَى الْوِلَايَةِ وَالْكَرَامَةِ بِالِافْتِرَاءِ.
Dan dikatakan pula: itu adalah hukuman atas pengakuan kewalian dan karamah secara dusta.

وَقَالَ بَعْضُ الْعَارِفِينَ: لَوْ عُرِضَتْ عَلَيَّ الشَّهَادَةُ عِنْدَ بَابِ الدَّارِ، وَالْمَوْتُ عَلَى التَّوْحِيدِ عِنْدَ بَابِ الْحُجْرَةِ، لَاخْتَرْتُ الْمَوْتَ عَلَى التَّوْحِيدِ عِنْدَ بَابِ الْحُجْرَةِ، لِأَنِّي لَا أَدْرِي مَا يَعْرِضُ لِقَلْبِي مِنَ التَّغْيِيرِ عَنِ التَّوْحِيدِ إِلَى بَابِ الدَّارِ.
Sebagian orang arif berkata: “Seandainya ditawarkan kepadaku syahid di depan pintu rumah, dan mati di atas tauhid di depan pintu kamar, niscaya aku lebih memilih mati di atas tauhid di depan pintu kamar. Sebab aku tidak tahu apa yang mungkin menimpa hatiku berupa perubahan dari tauhid dalam jarak antara pintu kamar sampai pintu rumah.”

وَقَالَ بَعْضُهُمْ: لَوْ عَرَفْتُ وَاحِدًا بِالتَّوْحِيدِ خَمْسِينَ سَنَةً، ثُمَّ حَالَ بَيْنِي وَبَيْنَهُ سَارِيَةٌ وَمَاتَ، لَمْ أَحْكُمْ أَنَّهُ مَاتَ عَلَى التَّوْحِيدِ.
Sebagian yang lain berkata: “Seandainya aku mengenal seseorang di atas tauhid selama lima puluh tahun, lalu ada sebuah tiang menghalangi antara aku dan dia, lalu ia meninggal, maka aku tidak akan memastikan bahwa ia mati di atas tauhid.”

وَفِي الْحَدِيثِ: مَنْ قَالَ: أَنَا مُؤْمِنٌ، فَهُوَ كَافِرٌ، وَمَنْ قَالَ: أَنَا عَالِمٌ، فَهُوَ جَاهِلٌ.
Dan dalam hadis disebutkan: “Barang siapa berkata: ‘Aku seorang mukmin,’ maka ia kafir. Dan barang siapa berkata: ‘Aku seorang alim,’ maka ia bodoh.”

وَقِيلَ فِي قَوْلِهِ تَعَالَى: وَتَمَّتْ كَلِمَاتُ رَبِّكَ صِدْقًا وَعَدْلًا، صِدْقًا لِمَنْ مَاتَ عَلَى الْإِيمَانِ، وَعَدْلًا لِمَنْ مَاتَ عَلَى الشِّرْكِ.
Dan dikatakan tentang firman Allah Ta‘ala: “Dan telah sempurnalah kalimat Tuhanmu dengan benar dan adil,” maksudnya “benar” bagi orang yang mati di atas iman, dan “adil” bagi orang yang mati di atas syirik.

وَقَدْ قَالَ تَعَالَى: وَلِلَّهِ عَاقِبَةُ الْأُمُورِ.
Dan Allah Ta‘ala berfirman: “Dan milik Allah-lah kesudahan segala urusan.”

فَمَهْمَا كَانَ الشَّكُّ بِهٰذِهِ الْمَثَابَةِ كَانَ الِاسْتِثْنَاءُ وَاجِبًا.
Selama keraguan berada pada tingkat seperti ini, maka pengecualian menjadi layak, bahkan wajib.

لِأَنَّ الْإِيمَانَ عِبَارَةٌ عَمَّا يُفِيدُ الْجَنَّةَ، كَمَا أَنَّ الصَّوْمَ عِبَارَةٌ عَمَّا يُبْرِئُ الذِّمَّةَ.
Sebab iman adalah sesuatu yang menghasilkan surga, sebagaimana puasa adalah sesuatu yang membebaskan tanggungan kewajiban.

وَمَا فَسَدَ قَبْلَ الْغُرُوبِ لَا يُبْرِئُ الذِّمَّةَ، فَيَخْرُجُ عَنْ كَوْنِهِ صَوْمًا، فَكَذٰلِكَ الْإِيمَانُ.
Apa yang rusak sebelum matahari terbenam tidak membebaskan tanggungan kewajiban, sehingga ia keluar dari hakikat puasa. Demikian pula halnya dengan iman.

بَلْ لَا يَبْعُدُ أَنْ يُسْأَلَ عَنِ الصَّوْمِ الْمَاضِي الَّذِي لَا شَكَّ فِيهِ بَعْدَ الْفَرَاغِ مِنْهُ، فَيُقَالَ: أَصُمْتَ بِالْأَمْسِ؟ فَيَقُولُ: نَعَمْ، إِنْ شَاءَ اللهُ تَعَالَى.
Bahkan tidak jauh kemungkinan seseorang ditanya tentang puasa yang telah berlalu, yang secara lahir tidak diragukan setelah selesai dikerjakan, lalu ditanya: “Apakah engkau berpuasa kemarin?” Maka ia menjawab: “Ya, insya Allah Ta‘ala.”

إِذِ الصَّوْمُ الْحَقِيقِيُّ هُوَ الْمَقْبُولُ، وَالْمَقْبُولُ غَائِبٌ عَنْهُ لَا يَطَّلِعُ عَلَيْهِ إِلَّا اللهُ تَعَالَى.
Sebab puasa yang hakiki adalah puasa yang diterima, sedangkan diterima atau tidaknya puasa itu tersembunyi darinya, dan tidak ada yang mengetahuinya selain Allah Ta‘ala.

فَمِنْ هٰذَا حَسُنَ الِاسْتِثْنَاءُ فِي جَمِيعِ أَعْمَالِ الْبِرِّ.
Dari sini tampak baiknya pengecualian dalam seluruh amal kebajikan.

وَيَكُونُ ذٰلِكَ شَكًّا فِي الْقَبُولِ.
Dan hal itu merupakan bentuk keraguan tentang diterima atau tidaknya amal.

إِذْ يَمْنَعُ مِنَ الْقَبُولِ بَعْدَ جَرَيَانِ ظَاهِرِ شُرُوطِ الصِّحَّةِ أَسْبَابٌ خَفِيَّةٌ لَا يَطَّلِعُ عَلَيْهَا إِلَّا رَبُّ الْأَرْبَابِ جَلَّ جَلَالُهُ.
Sebab setelah terpenuhi syarat-syarat sah secara lahir, masih ada sebab-sebab halus yang dapat menghalangi diterimanya amal, dan itu tidak diketahui kecuali oleh Tuhan segala tuan, Mahamulia dan Mahatinggi.

فَيَحْسُنُ الشَّكُّ فِيهِ.
Karena itu, keraguan dalam hal diterima atau tidaknya amal memang patut.

فَهٰذِهِ وُجُوهُ حُسْنِ الِاسْتِثْنَاءِ فِي الْجَوَابِ عَنِ الْإِيمَانِ.
Inilah berbagai sisi yang menjelaskan baiknya pengecualian dalam menjawab pertanyaan tentang iman.

وَهِيَ آخِرُ مَا نَخْتِمُ بِهِ كِتَابَ قَوَاعِدِ الْعَقَائِدِ.
Dan inilah bagian terakhir yang kami jadikan penutup Kitab Kaidah-Kaidah Akidah.

تَمَّ الْكِتَابُ بِحَمْدِ اللهِ تَعَالَى، وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى كُلِّ عَبْدٍ مُصْطَفًى.
Selesailah kitab ini dengan puji bagi Allah Ta‘ala. Semoga Allah melimpahkan salawat kepada junjungan kami Muhammad dan kepada setiap hamba pilihan-Nya.