Pendahuluan

كِتَابُ أَسْرَارِ الطَّهَارَةِ، وَهُوَ الْكِتَابُ الثَّالِثُ مِنْ رُبْعِ الْعِبَادَاتِ.

Kitab Rahasia-Rahasia Bersuci, dan ini adalah kitab ketiga dari rubu‘ ibadah.

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيمِ.
Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي تَلَطَّفَ بِعِبَادِهِ فَتَعَبَّدَهُمْ بِالنَّظَافَةِ، وَأَفَاضَ عَلَى قُلُوبِهِمْ تَزْكِيَةً لِسَرَائِرِهِمْ أَنْوَارَهُ وَأَلْطَافَهُ، وَأَعَدَّ لِظَوَاهِرِهِمْ تَطْهِيرًا لَهَا الْمَاءَ الْمَخْصُوصَ بِالرِّقَّةِ وَاللَّطَافَةِ.
Segala puji bagi Allah yang dengan kelembutan-Nya kepada para hamba mewajibkan mereka beribadah dengan kebersihan, melimpahkan cahaya-cahaya dan kelembutan-kelembutan-Nya ke dalam hati mereka sebagai penyucian bagi batin mereka, dan menyediakan bagi lahiriah mereka air yang khusus dengan sifat lembut dan halus sebagai sarana penyuciannya.

وَصَلَّى اللهُ عَلَى النَّبِيِّ مُحَمَّدٍ الْمُسْتَغْرِقِ بِنُورِ الْهُدَى أَطْرَافَ الْعَالَمِ وَأَكْنَافَهُ، وَعَلَى آلِهِ الطَّيِّبِينَ الطَّاهِرِينَ، صَلَاةً تُنَجِّينَا بَرَكَاتُهَا يَوْمَ الْمَخَافَةِ، وَتَنْتَصِبُ جُنَّةً بَيْنَنَا وَبَيْنَ كُلِّ آفَةٍ.
Semoga Allah melimpahkan salawat kepada Nabi Muhammad, yang cahaya petunjuknya meliputi seluruh penjuru dan pelosok alam, serta kepada keluarganya yang baik dan suci, suatu salawat yang dengan berkahnya menyelamatkan kita pada hari ketakutan dan menjadi perisai antara kita dengan setiap bencana.

أَمَّا بَعْدُ.
Amma ba‘du.

فَقَدْ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: بُنِيَ الدِّينُ عَلَى النَّظَافَةِ.
Sungguh Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda: “Agama dibangun di atas kebersihan.”

وَقَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مِفْتَاحُ الصَّلَاةِ الطُّهُورُ.
Dan beliau صلى الله عليه وسلم bersabda: “Kunci salat adalah bersuci.”

وَقَالَ اللهُ تَعَالَى: فِيهِ رِجَالٌ يُحِبُّونَ أَنْ يَتَطَهَّرُوا وَاللهُ يُحِبُّ الْمُطَّهِّرِينَ.
Dan Allah Ta‘ala berfirman: “Di dalamnya ada orang-orang yang suka menyucikan diri, dan Allah mencintai orang-orang yang menyucikan diri.”

وَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: الطُّهُورُ نِصْفُ الْإِيمَانِ.
Dan Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda: “Bersuci adalah separuh dari iman.”

وَقَالَ اللهُ تَعَالَى: مَا يُرِيدُ اللهُ لِيَجْعَلَ عَلَيْكُمْ مِنْ حَرَجٍ وَلٰكِنْ يُرِيدُ لِيُطَهِّرَكُمْ.
Dan Allah Ta‘ala berfirman: “Allah tidak hendak menjadikan kesempitan atas kalian, tetapi Dia hendak menyucikan kalian.”

فَتَفَطَّنَ ذَوُو الْبَصَائِرِ بِهٰذِهِ الظَّوَاهِرِ أَنَّ أَهَمَّ الْأُمُورِ تَطْهِيرُ السَّرَائِرِ.
Maka orang-orang yang memiliki mata hati memahami dari makna-makna lahiriah ini bahwa perkara yang paling penting adalah menyucikan batin.

إِذْ يَبْعُدُ أَنْ يَكُونَ الْمُرَادُ بِقَوْلِهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: الطُّهُورُ نِصْفُ الْإِيمَانِ، عِمَارَةُ الظَّاهِرِ بِالتَّنْظِيفِ بِإِفَاضَةِ الْمَاءِ وَإِلْقَائِهِ، وَتَخْرِيبُ الْبَاطِنِ وَإِبْقَاؤُهُ مَشْحُونًا بِالْأَخْبَاثِ وَالْأَقْذَارِ.
Sebab sangat jauh kemungkinan bahwa yang dimaksud dengan sabda beliau صلى الله عليه وسلم: “Bersuci adalah separuh dari iman,” hanyalah merawat bagian lahir dengan membersihkannya melalui menuangkan dan memakai air, sementara bagian batin dibiarkan rusak dan tetap penuh dengan kekotoran serta najis-najis maknawi.

هَيْهَاتَ، هَيْهَاتَ.
Sangat jauh, sangat jauh.

وَالطَّهَارَةُ لَهَا أَرْبَعُ مَرَاتِبَ.
Bersuci itu memiliki empat tingkatan.

اَلْمَرْتَبَةُ الْأُولَى: تَطْهِيرُ الظَّاهِرِ عَنِ الْأَحْدَاثِ وَعَنِ الْأَخْبَاثِ وَالْفَضَلَاتِ.
Tingkatan pertama: menyucikan lahiriah dari hadas, najis, dan kotoran-kotoran sisa.

اَلْمَرْتَبَةُ الثَّانِيَةُ: تَطْهِيرُ الْجَوَارِحِ عَنِ الْجَرَائِمِ وَالْآثَامِ.
Tingkatan kedua: menyucikan anggota badan dari kejahatan dan dosa.

اَلْمَرْتَبَةُ الثَّالِثَةُ: تَطْهِيرُ الْقَلْبِ عَنِ الْأَخْلَاقِ الْمَذْمُومَةِ وَالرَّذَائِلِ الْمَمْقُوتَةِ.
Tingkatan ketiga: menyucikan hati dari akhlak yang tercela dan sifat-sifat hina yang dibenci.

اَلْمَرْتَبَةُ الرَّابِعَةُ: تَطْهِيرُ السِّرِّ عَمَّا سِوَى اللهِ تَعَالَى، وَهِيَ طَهَارَةُ الْأَنْبِيَاءِ صَلَوَاتُ اللهِ عَلَيْهِمْ وَالصِّدِّيقِينَ.
Tingkatan keempat: menyucikan rahasia batin dari segala sesuatu selain Allah Ta‘ala. Inilah kesucian para nabi, semoga salawat Allah tercurah kepada mereka, dan para shiddiqin.

وَالطَّهَارَةُ فِي كُلِّ رُتْبَةٍ نِصْفُ الْعَمَلِ الَّذِي فِيهَا.
Kesucian pada setiap tingkatan adalah separuh dari amal yang ada pada tingkatan itu.

فَإِنَّ الْغَايَةَ الْقُصْوَى فِي عَمَلِ السِّرِّ أَنْ يَنْكَشِفَ لَهُ جَلَالُ اللهِ تَعَالَى وَعَظَمَتُهُ.
Sebab tujuan tertinggi dalam amal rahasia batin adalah tersingkapnya keagungan dan kebesaran Allah Ta‘ala baginya.

وَلَنْ تَحِلَّ مَعْرِفَةُ اللهِ تَعَالَى بِالْحَقِيقَةِ فِي السِّرِّ مَا لَمْ يَرْتَحِلْ مَا سِوَى اللهِ تَعَالَى عَنْهُ.
Dan ma‘rifat kepada Allah Ta‘ala yang sejati tidak akan menetap dalam rahasia batin selama segala sesuatu selain Allah belum pergi darinya.

وَلِذٰلِكَ قَالَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ: قُلِ اللهُ ثُمَّ ذَرْهُمْ فِي خَوْضِهِمْ يَلْعَبُونَ.
Karena itu Allah عز وجل berfirman: “Katakanlah: Allah, kemudian biarkanlah mereka larut dalam kesia-siaan mereka bermain-main.”

لِأَنَّهُمَا لَا يَجْتَمِعَانِ فِي قَلْبٍ.
Sebab keduanya tidak akan berkumpul dalam satu hati.

وَمَا جَعَلَ اللهُ لِرَجُلٍ مِنْ قَلْبَيْنِ فِي جَوْفِهِ.
Dan Allah tidak menjadikan bagi seseorang dua hati dalam rongganya.

وَأَمَّا عَمَلُ الْقَلْبِ فَالْغَايَةُ الْقُصْوَى عِمَارَتُهُ بِالْأَخْلَاقِ الْمَحْمُودَةِ وَالْعَقَائِدِ الْمَشْرُوعَةِ.
Adapun amal hati, maka tujuan tertingginya adalah menghiasinya dengan akhlak yang terpuji dan akidah yang disyariatkan.

وَلَنْ يَتَّصِفَ بِهَا مَا لَمْ يُنَظَّفْ عَنْ نَقَائِضِهَا مِنَ الْعَقَائِدِ الْفَاسِدَةِ وَالرَّذَائِلِ الْمَمْقُوتَةِ.
Hati tidak akan dapat memiliki semua itu selama belum dibersihkan dari lawan-lawannya, yaitu keyakinan-keyakinan yang rusak dan sifat-sifat hina yang dibenci.

فَتَطْهِيرُهُ أَحَدُ الشَّطْرَيْنِ، وَهُوَ الشَّطْرُ الْأَوَّلُ الَّذِي هُوَ شَرْطٌ فِي الثَّانِي.
Maka penyuciannya adalah salah satu dari dua bagian, yaitu bagian pertama yang menjadi syarat bagi bagian kedua.

فَكَانَ الطُّهُورُ شَطْرَ الْإِيمَانِ بِهٰذَا الْمَعْنَى.
Dengan makna inilah bersuci menjadi separuh dari iman.

وَكَذٰلِكَ تَطْهِيرُ الْجَوَارِحِ عَنِ الْمَنَاهِي أَحَدُ الشَّطْرَيْنِ، وَهُوَ الشَّطْرُ الْأَوَّلُ الَّذِي هُوَ شَرْطٌ فِي الثَّانِي.
Demikian pula menyucikan anggota badan dari larangan-larangan adalah salah satu dari dua bagian, yaitu bagian pertama yang menjadi syarat bagi bagian kedua.

وَعِمَارَتُهَا بِالطَّاعَاتِ الشَّطْرُ الثَّانِي.
Sedangkan menghiasinya dengan ketaatan adalah bagian kedua.

فَهٰذِهِ مَقَامَاتُ الْإِيمَانِ، وَلِكُلِّ مَقَامٍ طَبَقَةٌ.
Inilah tingkatan-tingkatan iman, dan setiap tingkatan memiliki lapisannya.

وَلَنْ يَنَالَ الْعَبْدُ الطَّبَقَةَ الْعَالِيَةَ إِلَّا أَنْ يُجَاوِزَ الطَّبَقَةَ السَّافِلَةَ.
Seorang hamba tidak akan mencapai lapisan yang tinggi kecuali setelah melewati lapisan yang rendah.

فَلَا يَصِلُ إِلَى طَهَارَةِ السِّرِّ عَنِ الصِّفَاتِ الْمَذْمُومَةِ وَعِمَارَتِهِ بِالْمَحْمُودَةِ مَا لَمْ يَفْرَغْ مِنْ طَهَارَةِ الْقَلْبِ عَنِ الْخُلُقِ الْمَذْمُومِ وَعِمَارَتِهِ بِالْخُلُقِ الْمَحْمُودِ.
Ia tidak akan sampai pada kesucian rahasia batin dari sifat-sifat tercela dan penghiasannya dengan sifat-sifat terpuji, selama belum selesai menyucikan hati dari akhlak tercela dan menghiasinya dengan akhlak terpuji.

وَلَنْ يَصِلَ إِلَى ذٰلِكَ مَنْ لَمْ يَفْرُغْ عَنْ طَهَارَةِ الْجَوَارِحِ عَنِ الْمَنَاهِي وَعِمَارَتِهَا بِالطَّاعَاتِ.
Dan ia tidak akan sampai ke sana selama belum selesai menyucikan anggota badan dari larangan-larangan dan menghiasinya dengan ketaatan.

وَكُلَّمَا عَزَّ الْمَطْلُوبُ وَشَرُفَ صَعُبَ مَسْلَكُهُ وَطَالَ طَرِيقُهُ وَكَثُرَتْ عَقَبَاتُهُ.
Semakin mulia dan tinggi sesuatu yang dicari, semakin sulit jalannya, semakin panjang perjalanannya, dan semakin banyak rintangannya.

فَلَا تَظُنَّ أَنَّ هٰذَا الْأَمْرَ يُدْرَكُ وَيُنَالُ بِالْهُوَيْنَى.
Maka janganlah engkau mengira bahwa perkara ini dapat dicapai dengan santai dan mudah.

نَعَمْ، مَنْ عَمِيَتْ بَصِيرَتُهُ عَنْ تَفَاوُتِ هٰذِهِ الطَّبَقَاتِ لَمْ يَفْهَمْ مِنْ مَرَاتِبِ الطَّهَارَةِ إِلَّا الدَّرَجَةَ الْأَخِيرَةَ الَّتِي هِيَ كَالْقِشْرَةِ الْأَخِيرَةِ الظَّاهِرَةِ بِالْإِضَافَةِ إِلَى اللُّبِّ الْمَطْلُوبِ.
Benar, orang yang buta mata hatinya dari perbedaan lapisan-lapisan ini tidak akan memahami tingkatan-tingkatan bersuci kecuali tingkatan yang terakhir, yang hanya seperti kulit terluar jika dibandingkan dengan inti yang dicari.

فَصَارَ يُمْعِنُ فِيهَا وَيَسْتَقْصِي فِي مَجَارِيهَا، وَيَسْتَوْعِبُ جَمِيعَ أَوْقَاتِهِ فِي الِاسْتِنْجَاءِ وَغَسْلِ الثِّيَابِ وَتَنْظِيفِ الظَّاهِرِ وَطَلَبِ الْمِيَاهِ الْجَارِيَةِ الْكَثِيرَةِ.
Akibatnya, ia tenggelam dalam urusan itu, sangat mendalami rincian-rinciannya, dan menghabiskan seluruh waktunya untuk istinja, mencuci pakaian, membersihkan lahiriah, dan mencari air mengalir yang banyak.

ظَنًّا مِنْهُ بِحُكْمِ الْوَسْوَسَةِ وَتَخَيُّلِ الْعَقْلِ أَنَّ الطَّهَارَةَ الْمَطْلُوبَةَ الشَّرِيفَةَ هِيَ هٰذِهِ فَقَطْ.
Ia mengira, karena bisikan waswas dan khayalan pikirannya, bahwa kesucian mulia yang dituntut hanyalah itu saja.

وَجَهَالَةً بِسِيرَةِ الْأَوَّلِينَ، وَاسْتِغْرَاقِهِمْ جَمِيعَ الْهَمِّ وَالْفِكَرِ فِي تَطْهِيرِ الْقَلْبِ، وَتَسَاهُلِهِمْ فِي أَمْرِ الظَّاهِرِ.
Ia juga tidak tahu tentang perjalanan hidup orang-orang terdahulu, yang mencurahkan seluruh perhatian dan pikiran mereka untuk menyucikan hati, serta bersikap longgar dalam perkara lahiriah.

حَتَّى إِنَّ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ مَعَ عُلُوِّ مَنْصِبِهِ تَوَضَّأَ مِنْ مَاءٍ فِي جَرَّةِ نَصْرَانِيَّةٍ.
Bahkan Umar رضي الله عنه, meskipun kedudukannya sangat tinggi, pernah berwudu dengan air dari kendi milik seorang wanita Nasrani.

وَحَتَّى إِنَّهُمْ مَا كَانُوا يَغْسِلُونَ الْيَدَ مِنَ الدُّسُومَاتِ وَالْأَطْعِمَةِ، بَلْ كَانُوا يَمْسَحُونَ أَصَابِعَهُمْ بِأَخْمَصِ أَقْدَامِهِمْ.
Bahkan mereka tidak biasa mencuci tangan dari lemak dan bekas makanan, tetapi hanya mengusap jari-jari mereka pada telapak kaki.

وَعَدُّوا الْأُشْنَانَ مِنَ الْبِدَعِ الْمُحْدَثَةِ.
Dan mereka menganggap penggunaan asynan sebagai bid‘ah yang baru muncul.

وَلَقَدْ كَانُوا يُصَلُّونَ عَلَى الْأَرْضِ فِي الْمَسَاجِدِ، وَيَمْشُونَ حُفَاةً فِي الطُّرُقَاتِ.
Mereka benar-benar salat di atas tanah di masjid-masjid, dan berjalan tanpa alas kaki di jalan-jalan.

وَمَنْ كَانَ لَا يَجْعَلُ بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْأَرْضِ حَاجِزًا فِي مَضْجَعِهِ كَانَ مِنْ أَكَابِرِهِمْ.
Dan orang yang tidak membuat penghalang antara dirinya dan tanah saat berbaring termasuk orang-orang besar di antara mereka.

وَكَانُوا يَقْتَصِرُونَ عَلَى الْحِجَارَةِ فِي الِاسْتِنْجَاءِ.
Mereka pun hanya mencukupkan diri dengan batu dalam istinja.

وَقَالَ أَبُو هُرَيْرَةَ وَغَيْرُهُ مِنْ أَهْلِ الصُّفَّةِ: كُنَّا نَأْكُلُ الشِّوَاءَ، فَتُقَامُ الصَّلَاةُ، فَنُدْخِلُ أَصَابِعَنَا فِي الْحَصَى، ثُمَّ نَفْرُكُهَا بِالتُّرَابِ، وَنُكَبِّرُ.
Abu Hurairah dan selainnya dari ahlush-shuffah berkata: “Kami biasa makan daging panggang, lalu salat ditegakkan. Maka kami memasukkan jari-jari kami ke dalam kerikil, lalu kami gosok dengan tanah, kemudian kami bertakbir.”

وَقَالَ عُمَرُ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ: مَا كُنَّا نَعْرِفُ الْأُشْنَانَ فِي عَصْرِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَإِنَّمَا كَانَتْ مَنَادِيلُنَا بُطُونَ أَرْجُلِنَا.
Umar رضي الله عنه berkata: “Kami tidak mengenal asynan pada masa Rasulullah صلى الله عليه وسلم. Sungguh sapu tangan kami hanyalah telapak kaki kami.”

كُنَّا إِذَا أَكَلْنَا الْغَمْرَ مَسَحْنَا بِهَا.
Apabila kami memakan sesuatu yang berlemak, kami mengusap bekasnya dengan itu.

وَيُقَالُ: أَوَّلُ مَا ظَهَرَ مِنَ الْبِدَعِ بَعْدَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَرْبَعٌ: الْمَنَاخِلُ، وَالْأُشْنَانُ، وَالْمَوَائِدُ، وَالشِّبَعُ.
Dikatakan: empat hal pertama yang muncul sebagai bid‘ah setelah Rasulullah صلى الله عليه وسلم adalah ayakan, asynan, meja makan, dan kenyang berlebihan.

فَكَانَتْ عِنَايَتُهُمْ كُلُّهَا بِنَظَافَةِ الْبَاطِنِ.
Maka perhatian mereka seluruhnya tertuju pada kebersihan batin.

حَتَّى قَالَ بَعْضُهُمُ: الصَّلَاةُ فِي النَّعْلَيْنِ أَفْضَلُ.
Bahkan sebagian mereka berkata: salat dengan memakai sandal lebih utama.

لِأَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَمَّا نَزَعَ نَعْلَيْهِ فِي صَلَاتِهِ بِإِخْبَارِ جِبْرِيلَ عَلَيْهِ السَّلَامُ لَهُ أَنَّ بِهِمَا نَجَاسَةً، وَخَلَعَ النَّاسُ نِعَالَهُمْ، قَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لِمَ خَلَعْتُمْ نِعَالَكُمْ؟
Sebab ketika Rasulullah صلى الله عليه وسلم melepaskan kedua sandalnya dalam salat setelah diberi tahu oleh Jibril عليه السلام bahwa keduanya terkena najis, lalu orang-orang ikut melepas sandal mereka, beliau bersabda: “Mengapa kalian melepaskan sandal-sandal kalian?”

وَقَالَ النَّخَعِيُّ فِي الَّذِينَ يَخْلَعُونَ نِعَالَهُمْ: وَدِدْتُ لَوْ أَنَّ مُحْتَاجًا جَاءَ إِلَيْهَا فَأَخَذَهَا، مُنْكِرًا لِخَلْعِ النِّعَالِ.
An-Nakha‘i berkata tentang orang-orang yang melepaskan sandal mereka: “Aku berharap seandainya ada orang yang membutuhkan datang lalu mengambilnya,” sebagai bentuk pengingkaran terhadap kebiasaan melepas sandal.

فَهٰكَذَا كَانَ تَسَاهُلُهُمْ فِي هٰذِهِ الْأُمُورِ.
Demikianlah longgarnya sikap mereka dalam perkara-perkara seperti ini.

بَلْ كَانُوا يَمْشُونَ فِي طِينِ الشَّوَارِعِ حُفَاةً، وَيَجْلِسُونَ عَلَيْهَا، وَيُصَلُّونَ فِي الْمَسَاجِدِ عَلَى الْأَرْضِ.
Bahkan mereka berjalan tanpa alas kaki di lumpur jalan-jalan, duduk di atasnya, dan salat di masjid di atas tanah.

وَيَأْكُلُونَ مِنْ دَقِيقِ الْبُرِّ وَالشَّعِيرِ، وَهُوَ يُدَاسُ بِالدَّوَابِّ وَتَبُولُ عَلَيْهِ.
Mereka juga makan dari tepung gandum dan jelai yang diinjak-injak hewan dan dikencinginya.

وَلَا يَحْتَرِزُونَ مِنْ عَرَقِ الْإِبِلِ وَالْخَيْلِ، مَعَ كَثْرَةِ تَمَرُّغِهَا فِي النَّجَاسَاتِ.
Dan mereka tidak menghindari keringat unta dan kuda, meskipun hewan-hewan itu sering berguling dalam najis.

وَلَمْ يُنْقَلْ قَطُّ عَنْ أَحَدٍ مِنْهُمْ سُؤَالٌ فِي دَقَائِقِ النَّجَاسَاتِ.
Dan sama sekali tidak dinukil dari seorang pun di antara mereka pertanyaan tentang rincian halus masalah najis.

فَهٰكَذَا كَانَ تَسَاهُلُهُمْ فِيهَا.
Demikianlah sikap longgar mereka dalam masalah itu.

وَقَدِ انْتَهَتِ النُّوبَةُ الْآنَ إِلَى طَائِفَةٍ يُسَمُّونَ الرُّعُونَةَ نَظَافَةً، فَيَقُولُونَ: هِيَ مَبْنَى الدِّينِ.
Kini giliran telah sampai kepada sekelompok orang yang menamai sikap berlebihan dan cerewet itu sebagai kebersihan, lalu mereka berkata: itulah fondasi agama.

فَأَكْثَرُ أَوْقَاتِهِمْ فِي تَزْيِينِهِمُ الظَّوَاهِرَ كَفِعْلِ الْمَاشِطَةِ بِعَرُوسِهَا.
Sebagian besar waktu mereka habis untuk memperindah lahiriah mereka, seperti seorang perias yang mendandani pengantin.

وَالْبَاطِنُ خَرَابٌ مَشْحُونٌ بِخَبَائِثِ الْكِبْرِ وَالْعُجْبِ وَالْجَهْلِ وَالرِّيَاءِ وَالنِّفَاقِ.
Sementara batinnya hancur, penuh dengan kebusukan kesombongan, ujub, kebodohan, riya, dan nifak.

وَلَا يَسْتَنْكِرُونَ ذٰلِكَ وَلَا يَتَعَجَّبُونَ مِنْهُ.
Mereka tidak mengingkari hal itu dan tidak merasa heran terhadapnya.

وَلَوِ اقْتَصَرَ مُقْتَصِرٌ عَلَى الِاسْتِنْجَاءِ بِالْحَجَرِ، أَوْ مَشَى عَلَى الْأَرْضِ حَافِيًا، أَوْ صَلَّى عَلَى الْأَرْضِ أَوْ عَلَى بَوَارِي الْمَسْجِدِ مِنْ غَيْرِ سَجَّادَةٍ مَفْرُوشَةٍ، أَوْ مَشَى عَلَى الْفُرُشِ مِنْ غَيْرِ غِلَافٍ لِلْقَدَمِ مِنْ أَدَمٍ، أَوْ تَوَضَّأَ مِنْ آنِيَةِ عَجُوزٍ أَوْ رَجُلٍ غَيْرِ مُتَقَشِّفٍ، أَقَامُوا عَلَيْهِ الْقِيَامَةَ، وَشَدُّوا عَلَيْهِ النَّكِيرَ، وَلَقُوهُ بِالْقَذَرِ، وَأَخْرَجُوهُ مِنْ زُمْرَتِهِمْ، وَاسْتَنْكَفُوا عَنْ مُؤَاكَلَتِهِ وَمُخَالَطَتِهِ.
Padahal jika ada orang yang hanya mencukupkan diri dengan istinja menggunakan batu, atau berjalan di tanah tanpa alas kaki, atau salat di tanah atau di tikar-tikar masjid tanpa sajadah yang dibentangkan, atau berjalan di atas hamparan tanpa penutup kaki dari kulit, atau berwudu dari bejana milik seorang wanita tua atau laki-laki yang tidak hidup asketis, maka mereka akan membuat keributan besar, sangat mengingkarinya, menuduhnya kotor, mengeluarkannya dari kelompok mereka, dan merasa enggan makan serta bergaul dengannya.

فَسَمَّوُا الْبَذَاذَةَ الَّتِي هِيَ مِنَ الْإِيمَانِ قَذَارَةً، وَالرُّعُونَةَ نَظَافَةً.
Mereka menamai kesederhanaan yang termasuk bagian dari iman sebagai kekotoran, dan menamai sikap berlebihan yang bodoh sebagai kebersihan.

فَانْظُرْ كَيْفَ صَارَ الْمُنْكَرُ مَعْرُوفًا، وَالْمَعْرُوفُ مُنْكَرًا.
Maka lihatlah bagaimana yang mungkar menjadi dianggap ma‘ruf, dan yang ma‘ruf menjadi dianggap mungkar.

وَكَيْفَ انْدَرَسَ مِنَ الدِّينِ رَسْمُهُ، كَمَا انْدَرَسَتْ حَقِيقَتُهُ وَعِلْمُهُ.
Dan bagaimana jejak agama itu pun hilang, sebagaimana hilang pula hakikat dan ilmunya.

فَإِنْ قُلْتَ: أَفَتَقُولُ إِنَّ هٰذِهِ الْعَادَاتِ الَّتِي أَحْدَثَهَا الصُّوفِيَّةُ فِي هَيْئَاتِهِمْ وَنَظَافَتِهِمْ مِنَ الْمَحْظُورَاتِ أَوِ الْمُنْكَرَاتِ؟
Jika engkau berkata: “Apakah engkau hendak mengatakan bahwa kebiasaan-kebiasaan yang dibuat-buat oleh kaum sufi dalam penampilan dan kebersihan mereka termasuk yang terlarang atau mungkar?”

فَأَقُولُ: حَاشَا لِلَّهِ أَنْ أُطْلِقَ الْقَوْلَ فِيهِ مِنْ غَيْرِ تَفْصِيلٍ.
Maka aku berkata: Maha Suci Allah, aku tidak akan mengucapkan hukum umum tentang hal itu tanpa perincian.

وَلٰكِنِّي أَقُولُ: إِنَّ هٰذَا التَّنْظِيفَ وَالتَّكَلُّفَ وَإِعْدَادَ الْأَوَانِي وَالْآلَاتِ وَاسْتِعْمَالَ غِلَافِ الْقَدَمِ وَالْإِزَارِ الْمُقَنَّعِ بِهِ لِدَفْعِ الْغُبَارِ وَغَيْرَ ذٰلِكَ مِنْ هٰذِهِ الْأَسْبَابِ، إِنْ وَقَعَ النَّظَرُ إِلَى ذَاتِهَا عَلَى سَبِيلِ التَّجَرُّدِ، فَهِيَ مِنَ الْمُبَاحَاتِ.
Akan tetapi aku mengatakan: membersihkan diri secara berlebihan, bersikap mempersulit, menyiapkan bejana-bejana dan alat-alat, memakai pelapis kaki, memakai sarung yang menutupi untuk menolak debu, dan hal-hal lain semacam itu, apabila dipandang pada zatnya secara terpisah, maka semuanya termasuk perkara mubah.

وَقَدْ يَقْتَرِنُ بِهَا أَحْوَالٌ وَنِيَّاتٌ تُلْحِقُهَا تَارَةً بِالْمَعْرُوفَاتِ وَتَارَةً بِالْمُنْكَرَاتِ.
Namun terkadang ada keadaan dan niat yang menyertainya, sehingga kadang membuatnya termasuk ma‘ruf dan kadang menjadikannya termasuk mungkar.

فَأَمَّا كَوْنُهَا مُبَاحَةً فِي نَفْسِهَا، فَلَا يَخْفَى أَنَّ صَاحِبَهَا مُتَصَرِّفٌ بِهَا فِي مَالِهِ وَبَدَنِهِ وَثِيَابِهِ، فَيَفْعَلُ بِهَا مَا يُرِيدُ إِذَا لَمْ يَكُنْ فِيهِ إِضَاعَةٌ وَلَا إِسْرَافٌ.
Adapun bahwa semua itu mubah pada asalnya, maka jelas bahwa pelakunya sedang menggunakan hartanya, tubuhnya, dan pakaiannya. Ia boleh berbuat sesukanya selama tidak ada pemborosan dan penyia-nyiaan.

وَأَمَّا صَيْرُورَتُهَا مُنْكَرًا، فَبِأَنْ يُجْعَلَ ذٰلِكَ أَصْلَ الدِّينِ، وَيُفَسَّرَ بِهِ قَوْلُهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: بُنِيَ الدِّينُ عَلَى النَّظَافَةِ، حَتَّى يُنْكَرَ بِهِ عَلَى مَنْ يَتَسَاهَلُ فِيهِ مِنَ الْأَوَّلِينَ.
Adapun berubahnya menjadi mungkar, maka hal itu terjadi jika semua itu dijadikan sebagai pokok agama, lalu sabda Nabi صلى الله عليه وسلم: “Agama dibangun di atas kebersihan” ditafsirkan dengannya, sampai-sampai orang-orang terdahulu yang longgar dalam hal itu justru diingkari karenanya.

أَوْ يَكُونَ الْقَصْدُ بِهِ تَزْيِينَ الظَّاهِرِ لِلْخَلْقِ وَتَحْسِينَ مَوْقِعِ نَظَرِهِمْ، فَإِنَّ ذٰلِكَ هُوَ الرِّيَاءُ الْمَحْظُورُ.
Atau jika tujuannya adalah memperindah lahiriah di hadapan makhluk dan mempercantik kesan dalam pandangan mereka, maka itu adalah riya yang terlarang.

فَيَصِيرُ مُنْكَرًا بِهٰذَيْنِ الِاعْتِبَارَيْنِ.
Dengan dua pertimbangan inilah ia menjadi mungkar.

وَأَمَّا كَوْنُهُ مَعْرُوفًا، فَبِأَنْ يَكُونَ الْقَصْدُ مِنْهُ الْخَيْرَ دُونَ التَّزَيُّنِ، وَأَنْ لَا يُنْكَرَ عَلَى مَنْ تَرَكَ ذٰلِكَ، وَلَا يُؤَخَّرَ بِسَبَبِهِ الصَّلَاةُ عَنْ أَوَائِلِ الْأَوْقَاتِ، وَلَا يُشْتَغَلَ بِهِ عَنْ عَمَلٍ هُوَ أَفْضَلُ مِنْهُ، أَوْ عَنْ عِلْمٍ أَوْ غَيْرِهِ.
Adapun berubahnya menjadi ma‘ruf, maka itu jika tujuannya adalah kebaikan, bukan berhias; tidak mengingkari orang yang meninggalkannya; tidak menunda salat dari awal waktunya karenanya; dan tidak sibuk dengannya sehingga meninggalkan amal yang lebih utama, atau ilmu, atau selain itu.

فَإِذَا لَمْ يَقْتَرِنْ بِهِ شَيْءٌ مِنْ ذٰلِكَ فَهُوَ مُبَاحٌ، يُمْكِنُ أَنْ يُجْعَلَ قُرْبَةً بِالنِّيَّةِ.
Jika tidak disertai sesuatu dari hal-hal tersebut, maka ia tetap mubah dan bisa dijadikan sebagai ibadah dengan niat.

وَلٰكِنْ لَا يَتَيَسَّرُ ذٰلِكَ إِلَّا لِلْبَطَّالِينَ الَّذِينَ لَوْ لَمْ يَشْتَغِلُوا بِصَرْفِ الْأَوْقَاتِ فِيهِ لَاشْتَغَلُوا بِنَوْمٍ أَوْ حَدِيثٍ فِيمَا لَا يَعْنِي.
Akan tetapi hal ini biasanya hanya cocok bagi orang-orang yang tidak memiliki kesibukan penting, yang jika tidak menggunakan waktu untuk hal itu, mereka justru akan menghabiskannya dalam tidur atau obrolan yang tidak berguna.

فَيَصِيرُ شُغْلُهُمْ بِهِ أَوْلَى، لِأَنَّ الِاشْتِغَالَ بِالطَّهَارَاتِ يُجَدِّدُ ذِكْرَ اللهِ تَعَالَى وَذِكْرَ الْعِبَادَاتِ.
Maka kesibukan mereka dengan hal itu menjadi lebih baik, karena bersibuk dengan urusan bersuci memperbarui ingatan kepada Allah Ta‘ala dan kepada ibadah.

فَلَا بَأْسَ بِهِ إِذَا لَمْ يَخْرُجْ إِلَى مُنْكَرٍ أَوْ إِسْرَافٍ.
Karena itu tidak mengapa, selama tidak berubah menjadi kemungkaran atau pemborosan.

وَأَمَّا أَهْلُ الْعِلْمِ وَالْعَمَلِ فَلَا يَنْبَغِي أَنْ يَصْرِفُوا مِنْ أَوْقَاتِهِمْ إِلَيْهِ إِلَّا قَدْرَ الْحَاجَةِ.
Adapun orang-orang yang berilmu dan beramal, maka tidak patut mereka menghabiskan waktunya untuk hal itu kecuali sebatas kebutuhan.

فَالزِّيَادَةُ عَلَيْهِ مُنْكَرٌ فِي حَقِّهِمْ.
Tambahan di atas kebutuhan itu menjadi mungkar bagi mereka.

وَتَضْيِيعُ الْعُمُرِ الَّذِي هُوَ أَنْفَسُ الْجَوَاهِرِ وَأَعَزُّهَا فِي حَقِّ مَنْ قَدَرَ عَلَى الِانْتِفَاعِ بِهِ.
Sebab itu termasuk menyia-nyiakan umur, padahal umur adalah permata yang paling berharga dan paling mulia bagi orang yang mampu memanfaatkannya.

وَلَا يُتَعَجَّبُ مِنْ ذٰلِكَ، فَإِنَّ حَسَنَاتِ الْأَبْرَارِ سَيِّئَاتُ الْمُقَرَّبِينَ.
Tidak perlu heran terhadap hal ini, karena kebaikan orang-orang saleh biasa bisa menjadi keburukan bagi orang-orang yang dekat kepada Allah.

وَلَا يَنْبَغِي لِلْبَطَّالِ أَنْ يَتْرُكَ النَّظَافَةَ وَيُنْكِرَ عَلَى الْمُتَصَوِّفَةِ وَيَزْعُمَ أَنَّهُ يَتَشَبَّهُ بِالصَّحَابَةِ.
Dan tidak patut pula bagi orang yang tidak memiliki kesibukan penting untuk meninggalkan kebersihan lalu mengingkari kaum sufi, sambil mengklaim bahwa ia sedang meniru para sahabat.

إِذِ التَّشَبُّهُ بِهِمْ فِي أَنْ لَا يَتَفَرَّغَ إِلَّا لِمَا هُوَ أَهَمُّ مِنْهُ.
Sebab meniru mereka itu ialah dalam hal tidak mengosongkan diri kecuali untuk sesuatu yang lebih penting daripada itu.

كَمَا قِيلَ لِدَاوُدَ الطَّائِيِّ: لِمَ لَا تُسَرِّحُ لِحْيَتَكَ؟
Sebagaimana pernah dikatakan kepada Dawud ath-Tha’i: “Mengapa engkau tidak merapikan janggutmu?”

قَالَ: إِنِّي إِذًا لَفَارِغٌ.
Ia menjawab: “Kalau begitu, berarti aku benar-benar orang yang sedang kosong dari urusan penting.”

فَلِهٰذَا لَا أَرَى لِلْعَالِمِ وَلَا لِلْمُتَعَلِّمِ وَلَا لِلْعَامِلِ أَنْ يُضَيِّعَ وَقْتَهُ فِي غَسْلِ الثِّيَابِ، احْتِرَازًا مِنْ أَنْ يَلْبَسَ الثِّيَابَ الْمَقْصُورَةَ، وَتَوَهُّمًا بِالْقَصَّارِ تَقْصِيرًا فِي الْغَسْلِ.
Karena itu, aku tidak memandang patut bagi orang alim, penuntut ilmu, maupun orang yang beramal untuk menyia-nyiakan waktunya dalam mencuci pakaian hanya karena ingin menghindari mengenakan pakaian yang dicuci oleh tukang cuci, dengan prasangka bahwa tukang cuci itu mungkin kurang sempurna dalam mencucinya.

فَقَدْ كَانُوا فِي الْعَصْرِ الْأَوَّلِ يُصَلُّونَ فِي الْفِرَاءِ الْمَدْبُوغَةِ.
Sebab pada masa generasi awal, mereka biasa salat dengan memakai kulit yang telah disamak.

وَلَمْ يُعْلَمْ مِنْهُمْ مَنْ فَرَّقَ بَيْنَ الْمَقْصُورَةِ وَالْمَدْبُوغَةِ فِي الطَّهَارَةِ وَالنَّجَاسَةِ.
Dan tidak diketahui dari mereka ada yang membedakan antara pakaian yang dicuci tukang cuci dan kulit yang disamak dalam urusan suci dan najis.

بَلْ كَانُوا يَجْتَنِبُونَ النَّجَاسَةَ إِذَا شَاهَدُوهَا.
Bahkan mereka hanya menghindari najis apabila mereka benar-benar melihatnya.

وَلَا يُدَقِّقُونَ نَظَرَهُمْ فِي اسْتِنْبَاطِ الِاحْتِمَالَاتِ الدَّقِيقَةِ.
Mereka tidak menajamkan perhatian untuk menggali kemungkinan-kemungkinan halus semacam itu.

بَلْ كَانُوا يَتَأَمَّلُونَ فِي دَقَائِقِ الرِّيَاءِ وَالظُّلْمِ.
Sebaliknya, mereka justru merenungkan rincian halus tentang riya dan kezaliman.

حَتَّى قَالَ سُفْيَانُ الثَّوْرِيُّ لِرَفِيقٍ لَهُ كَانَ يَمْشِي مَعَهُ، فَنَظَرَ إِلَى بَابِ دَارٍ مَرْفُوعٍ مَعْمُورٍ: لَا تَفْعَلْ ذٰلِكَ.
Sampai-sampai Sufyan ats-Tsauri berkata kepada temannya yang berjalan bersamanya, ketika temannya memandang ke sebuah pintu rumah yang tinggi dan indah: “Jangan lakukan itu.”

فَإِنَّ النَّاسَ لَوْ لَمْ يَنْظُرُوا إِلَيْهِ لَكَانَ صَاحِبُهُ لَا يَتَعَاطَى هٰذَا الْإِسْرَافَ.
“Sebab jika manusia tidak melihatnya, pemilik rumah itu tidak akan terdorong melakukan pemborosan seperti ini.”

فَالنَّاظِرُ إِلَيْهِ مُعِينٌ لَهُ عَلَى الْإِسْرَافِ.
“Orang yang memandanginya berarti membantu dia dalam pemborosan itu.”

فَكَانُوا يَعُدُّونَ جِمَامَ الذِّهْنِ لِاسْتِنْبَاطِ مِثْلِ هٰذِهِ الدَّقَائِقِ، لَا فِي احْتِمَالَاتِ النَّجَاسَةِ.
Mereka menggunakan seluruh kejernihan pikiran untuk menangkap rincian halus semacam ini, bukan untuk meneliti berbagai kemungkinan najis.

فَلَوْ وَجَدَ الْعَالِمُ عَامِّيًّا يَتَعَاطَى لَهُ غَسْلَ الثِّيَابِ مُحْتَاطًا، فَهُوَ أَفْضَلُ، فَإِنَّهُ بِالْإِضَافَةِ إِلَى التَّسَاهُلِ خَيْرٌ.
Apabila seorang alim mendapati orang awam bersungguh-sungguh mencuci pakaiannya demi kehati-hatian, maka itu lebih baik baginya. Sebab dibandingkan sikap serba longgar, hal itu tetap lebih baik.

وَذٰلِكَ الْعَامِّيُّ يَنْتَفِعُ بِتَعَاطِيهِ، إِذْ يَشْغَلُ نَفْسَهُ الْأَمَّارَةَ بِالسُّوءِ بِعَمَلٍ مُبَاحٍ فِي نَفْسِهِ، فَيَمْتَنِعُ عَلَيْهِ الْمَعَاصِي فِي تِلْكَ الْحَالِ.
Orang awam itu mendapat manfaat dari kesibukannya itu, karena ia menyibukkan jiwa yang selalu mendorong kepada keburukan dengan suatu perbuatan yang pada dasarnya mubah, sehingga pada saat itu ia tercegah dari maksiat.

وَالنَّفْسُ إِنْ لَمْ تُشْغَلْ بِشَيْءٍ شَغَلَتْ صَاحِبَهَا.
Jiwa, jika tidak disibukkan dengan sesuatu, justru akan menyibukkan pemiliknya.

وَإِذَا قَصَدَ بِهِ التَّقَرُّبَ إِلَى اللهِ تَعَالَى صَارَ ذٰلِكَ عِنْدَهُ مِنْ أَفْضَلِ الْقُرُبَاتِ.
Dan jika ia meniatkannya untuk mendekatkan diri kepada Allah Ta‘ala, maka hal itu menjadi salah satu bentuk pendekatan yang terbaik baginya.

فَوَقْتُ الْعَالِمِ أَشْرَفُ مِنْ أَنْ يُصْرَفَ إِلَى مِثْلِهِ، فَيَبْقَى مَحْفُوظًا عَلَيْهِ.
Adapun waktu seorang alim terlalu mulia untuk dihabiskan pada hal seperti itu, sehingga waktunya harus tetap terjaga.

وَأَشْرَفُ وَقْتِ الْعَامِّيِّ أَنْ يَشْتَغِلَ بِمِثْلِهِ، فَيَتَوَفَّرُ الْخَيْرُ عَلَيْهِ مِنَ الْجَوَانِبِ كُلِّهَا.
Sedangkan waktu terbaik orang awam ialah ketika ia sibuk dengan hal semacam itu, sehingga kebaikan datang kepadanya dari berbagai sisi.

وَلْيَتَفَطَّنْ بِهٰذَا الْمَثَلِ لِنَظَائِرِهِ مِنَ الْأَعْمَالِ وَتَرْتِيبِ فَضَائِلِهَا وَوَجْهِ تَقْدِيمِ الْبَعْضِ مِنْهَا عَلَى بَعْضٍ.
Hendaklah orang memahami melalui contoh ini berbagai amal lain yang serupa, urutan keutamaannya, dan alasan mengapa sebagian didahulukan atas sebagian yang lain.

فَتَدْقِيقُ الْحِسَابِ فِي حِفْظِ لَحَظَاتِ الْعُمُرِ بِصَرْفِهَا إِلَى الْأَفْضَلِ أَهَمُّ مِنَ التَّدْقِيقِ فِي أُمُورِ الدُّنْيَا بِحَذَافِيرِهَا.
Maka ketelitian dalam menjaga setiap saat umur dengan mengarahkannya kepada yang paling utama jauh lebih penting daripada ketelitian dalam seluruh urusan dunia secara rinci.

وَإِذَا عَرَفْتَ هٰذِهِ الْمُقَدِّمَةَ، وَاسْتَبَنْتَ أَنَّ الطَّهَارَةَ لَهَا أَرْبَعُ مَرَاتِبَ، فَاعْلَمْ أَنَّا فِي هٰذَا الْكِتَابِ لَسْنَا نَتَكَلَّمُ إِلَّا فِي الْمَرْتَبَةِ الرَّابِعَةِ، وَهِيَ نَظَافَةُ الظَّاهِرِ، لِأَنَّا فِي الشَّطْرِ الْأَوَّلِ مِنَ الْكِتَابِ لَا نَتَعَرَّضُ قَصْدًا إِلَّا لِلظَّوَاهِرِ.
Jika engkau telah memahami pendahuluan ini dan mengetahui bahwa bersuci memiliki empat tingkatan, maka ketahuilah bahwa dalam kitab ini kita hanya membahas tingkatan lahiriah, yaitu kebersihan bagian luar, karena pada bagian pertama kitab ini kita memang sengaja hanya membahas perkara-perkara lahiriah.

فَنَقُولُ: طَهَارَةُ الظَّاهِرِ ثَلَاثَةُ أَقْسَامٍ: طَهَارَةٌ عَنِ الْخَبَثِ، وَطَهَارَةٌ عَنِ الْحَدَثِ، وَطَهَارَةٌ عَنْ فَضَلَاتِ الْبَدَنِ، وَهِيَ الَّتِي تَحْصُلُ بِالتَّقْلِيمِ وَالِاسْتِحْدَادِ وَاسْتِعْمَالِ النُّورَةِ وَالْخِتَانِ وَغَيْرِهِ.
Maka kami katakan: kesucian lahiriah itu ada tiga macam: kesucian dari najis, kesucian dari hadas, dan kesucian dari kotoran-kotoran tubuh, yaitu yang diperoleh dengan memotong kuku, mencukur rambut kemaluan, memakai kapur perontok rambut, khitan, dan lainnya.