Bersuci dari Najis
اَلْقِسْمُ الْأَوَّلُ فِي طَهَارَةِ الْخَبَثِ، وَالنَّظَرُ فِيهِ يَتَعَلَّقُ بِالْمُزَالِ، وَالْمُزَالِ بِهِ، وَالْإِزَالَةِ.
Bagian pertama tentang bersuci dari najis. Pembahasannya berkaitan dengan benda
yang dihilangkan, alat yang digunakan untuk menghilangkannya, dan cara
penghilangannya.
اَلطَّرَفُ
الْأَوَّلُ فِي الْمُزَالِ.
Sisi pertama adalah tentang benda yang dihilangkan.
وَهِيَ
النَّجَاسَةُ.
Yaitu najis.
وَالْأَعْيَانُ
ثَلَاثَةٌ: جَمَادَاتٌ، وَحَيَوَانَاتٌ، وَأَجْزَاءُ حَيَوَانَاتٍ.
Benda-benda itu terbagi menjadi tiga: benda mati, hewan, dan bagian-bagian dari
hewan.
أَمَّا
الْجَمَادَاتُ فَطَاهِرَةٌ كُلُّهَا، إِلَّا الْخَمْرَ وَكُلَّ مُنْتَبَذٍ
مُسْكِرٍ.
Adapun benda-benda mati, maka semuanya suci, kecuali khamar dan setiap minuman
rendaman yang memabukkan.
وَالْحَيَوَانَاتُ
طَاهِرَةٌ كُلُّهَا، إِلَّا الْكَلْبَ وَالْخِنْزِيرَ، وَمَا تَوَلَّدَ مِنْهُمَا
أَوْ مِنْ أَحَدِهِمَا.
Dan semua hewan itu suci, kecuali anjing, babi, dan apa pun yang lahir dari
keduanya atau dari salah satunya.
فَإِذَا
مَاتَتْ فَكُلُّهَا نَجِسَةٌ، إِلَّا خَمْسَةً: الْآدَمِيُّ، وَالسَّمَكُ،
وَالْجَرَادُ، وَدُودُ التُّفَّاحِ، وَفِي مَعْنَاهُ كُلُّ مَا يَسْتَحِيلُ مِنَ
الْأَطْعِمَةِ، وَكُلُّ مَا لَيْسَ لَهُ نَفْسٌ سَائِلَةٌ، كَالذُّبَابِ
وَالْخُنْفُسَاءِ وَغَيْرِهِمَا، فَلَا يَنْجُسُ الْمَاءُ بِوُقُوعِ شَيْءٍ
مِنْهَا فِيهِ.
Apabila hewan-hewan itu mati, maka semuanya najis, kecuali lima macam: manusia,
ikan, belalang, ulat apel, dan yang semakna dengannya dari makhluk yang
terbentuk dari makanan, serta semua yang tidak memiliki darah yang mengalir,
seperti lalat, kumbang, dan selain keduanya. Maka air tidak menjadi najis
karena jatuhnya sesuatu dari jenis itu ke dalamnya.
وَأَمَّا
أَجْزَاءُ الْحَيَوَانَاتِ فَقِسْمَانِ.
Adapun bagian-bagian hewan, maka terbagi menjadi dua.
أَحَدُهُمَا:
مَا يُقْطَعُ مِنْهُ، وَحُكْمُهُ حُكْمُ الْمَيِّتِ.
Yang pertama: bagian yang dipotong darinya, dan hukumnya sama dengan bangkai.
وَالشَّعْرُ
لَا يَنْجُسُ بِالْجَزِّ وَالْمَوْتِ، وَالْعَظْمُ يَنْجُسُ.
Rambut tidak menjadi najis karena dicukur atau karena kematian hewan, sedangkan
tulang menjadi najis.
اَلثَّانِي:
الرُّطُوبَاتُ الْخَارِجَةُ مِنْ بَاطِنِهِ.
Yang kedua: cairan-cairan yang keluar dari bagian dalam tubuh hewan.
فَكُلُّ
مَا لَيْسَ مُسْتَحِيلًا وَلَا لَهُ مَقَرٌّ فَهُوَ طَاهِرٌ، كَالدَّمْعِ
وَالْعَرَقِ وَاللُّعَابِ وَالْمُخَاطِ.
Setiap cairan yang bukan hasil perubahan dari makanan dan tidak memiliki tempat
menetap, maka ia suci, seperti air mata, keringat, air liur, dan ingus.
وَمَا
لَهُ مَقَرٌّ وَهُوَ مُسْتَحِيلٌ فَنَجِسٌ، إِلَّا مَا هُوَ مَادَّةُ
الْحَيَوَانِ، كَالْمَنِيِّ وَالْبَيْضِ.
Adapun yang memiliki tempat menetap dan merupakan hasil perubahan, maka ia
najis, kecuali apa yang menjadi bahan pembentukan hewan, seperti mani dan
telur.
وَالْقَيْحُ
وَالدَّمُ وَالرَّوْثُ وَالْبَوْلُ نَجِسٌ مِنَ الْحَيَوَانَاتِ كُلِّهَا.
Nanah, darah, tahi, dan air kencing adalah najis dari seluruh hewan.
وَلَا
يُعْفَى عَنْ شَيْءٍ مِنْ هٰذِهِ النَّجَاسَاتِ، قَلِيلِهَا وَكَثِيرِهَا، إِلَّا
عَنْ خَمْسَةٍ.
Tidak ada yang dimaafkan dari najis-najis ini, baik sedikit maupun banyak,
kecuali lima perkara.
اَلْأَوَّلُ:
أَثَرُ النَّجْوِ بَعْدَ الِاسْتِجْمَارِ بِالْأَحْجَارِ، يُعْفَى عَنْهُ مَا لَمْ
يَعْدُ الْمَخْرَجَ.
Yang pertama: bekas kotoran setelah istijmar dengan batu, maka hal itu
dimaafkan selama tidak melampaui tempat keluarnya.
وَالثَّانِي:
طِينُ الشَّوَارِعِ وَغُبَارُ الرَّوْثِ فِي الطَّرِيقِ، يُعْفَى عَنْهُ مَعَ
تَيَقُّنِ النَّجَاسَةِ بِقَدْرِ مَا يَتَعَذَّرُ الِاحْتِرَازُ عَنْهُ.
Yang kedua: lumpur jalanan dan debu tahi di jalan, maka hal itu dimaafkan
meskipun najisnya diyakini, sebatas yang sulit dihindari.
وَهُوَ
الَّذِي لَا يُنْسَبُ الْمُتَلَطِّخُ بِهِ إِلَى تَفْرِيطٍ أَوْ سَقْطَةٍ.
Yaitu apabila orang yang terkena najis itu tidak dianggap ceroboh atau lalai.
اَلثَّالِثُ:
مَا عَلَى أَسْفَلِ الْخُفِّ مِنْ نَجَاسَةٍ لَا يَخْلُو الطَّرِيقُ عَنْهَا،
فَيُعْفَى عَنْهُ بَعْدَ الدَّلْكِ لِلْحَاجَةِ.
Yang ketiga: najis yang menempel pada bagian bawah khuf dari jenis najis yang
sulit dihindari di jalan, maka hal itu dimaafkan setelah digosok karena
kebutuhan.
اَلرَّابِعُ:
دَمُ الْبَرَاغِيثِ، مَا قَلَّ مِنْهُ أَوْ كَثُرَ، إِلَّا إِذَا جَاوَزَ حَدَّ
الْعَادَةِ، سَوَاءٌ كَانَ فِي ثَوْبِكَ أَوْ فِي ثَوْبِ غَيْرِكَ فَلَبِسْتَهُ.
Yang keempat: darah kutu, baik sedikit maupun banyak, kecuali jika melebihi
batas yang biasa. Hal itu sama saja, baik terdapat pada pakaianmu ataupun pada
pakaian orang lain yang engkau pakai.
اَلْخَامِسُ:
دَمُ الْبَثَرَاتِ، وَمَا يَنْفَصِلُ مِنْهَا مِنْ قَيْحٍ وَصَدِيدٍ.
Yang kelima: darah bisul-bisul kecil dan apa yang keluar darinya berupa nanah
dan cairan busuk.
وَدَلَكَ
ابْنُ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ بَثْرَةً عَلَى وَجْهِهِ، فَخَرَجَ مِنْهَا
الدَّمُ، وَصَلَّى وَلَمْ يَغْسِلْهُ.
Ibnu Umar رضي
الله عنه pernah memencet bisul kecil di wajahnya, lalu keluar darah
darinya, kemudian ia salat dan tidak mencucinya.
وَفِي
مَعْنَاهُ مَا يَتَرَشَّحُ مِنْ لَطَخَاتِ الدَّمَامِيلِ الَّتِي تَدُومُ غَالِبًا.
Dan yang semakna dengannya adalah apa yang merembes dari luka-luka bisul yang
biasanya berlangsung lama.
وَكَذٰلِكَ
أَثَرُ الْفَصْدِ.
Demikian pula bekas bekam atau pengeluaran darah.
إِلَّا
مَا يَقَعُ نَادِرًا مِنْ خُرَّاجٍ أَوْ غَيْرِهِ، فَيَلْحَقُ بِدَمِ
الِاسْتِحَاضَةِ، وَلَا يَكُونُ فِي مَعْنَى الْبَثَرَاتِ الَّتِي لَا يَخْلُو
الْإِنْسَانُ عَنْهَا فِي أَحْوَالِهِ.
Kecuali yang terjadi jarang dari abses atau selainnya, maka itu disamakan
dengan darah istihadhah dan tidak termasuk dalam makna bisul-bisul kecil yang
biasanya tidak lepas dari manusia dalam berbagai keadaannya.
وَمُسَامَحَةُ
الشَّرْعِ فِي هٰذِهِ النَّجَاسَاتِ الْخَمْسِ تُعَرِّفُكَ أَنَّ أَمْرَ
الطَّهَارَةِ عَلَى التَّسَاهُلِ، وَمَا ابْتُدِعَ فِيهَا وَسْوَسَةٌ لَا أَصْلَ
لَهَا.
Sikap syariat yang memberi kelonggaran pada lima jenis najis ini memberitahumu
bahwa urusan bersuci dibangun atas kemudahan, dan segala waswas yang
dibuat-buat dalam hal ini tidak memiliki dasar.
اَلطَّرَفُ
الثَّانِي فِي الْمُزَالِ بِهِ.
Sisi kedua adalah tentang alat yang digunakan untuk menghilangkan najis.
وَهُوَ
إِمَّا جَامِدٌ وَإِمَّا مَائِعٌ.
Alat itu ada yang padat dan ada yang cair.
أَمَّا
الْجَامِدُ فَحَجَرُ الِاسْتِنْجَاءِ، وَهُوَ مُطَهِّرٌ تَطْهِيرَ تَخْفِيفٍ،
بِشَرْطِ أَنْ يَكُونَ صُلْبًا، طَاهِرًا، مُنَشِّفًا، غَيْرَ مُحْتَرَمٍ.
Adapun yang padat ialah batu istinja. Ia dapat menyucikan sebagai bentuk
penyucian yang meringankan, dengan syarat batu itu keras, suci, dapat
mengeringkan, dan bukan sesuatu yang dimuliakan.
وَأَمَّا
الْمَائِعَاتُ فَلَا تُزَالُ النَّجَاسَاتُ بِشَيْءٍ مِنْهَا إِلَّا الْمَاءَ.
Adapun benda-benda cair, maka najis tidak dapat dihilangkan dengan sesuatu pun
darinya selain air.
وَلَا
كُلَّ مَاءٍ، بَلِ الطَّاهِرُ الَّذِي لَمْ يَتَفَاحَشْ تَغَيُّرُهُ بِمُخَالَطَةِ
مَا يُسْتَغْنَى عَنْهُ.
Dan bukan setiap air, melainkan air suci yang tidak mengalami perubahan
mencolok karena bercampur dengan sesuatu yang sebenarnya tidak diperlukan
keberadaannya.
وَيَخْرُجُ
الْمَاءُ عَنِ الطَّهُورِيَّةِ بِأَنْ يَتَغَيَّرَ بِمُلَاقَاةِ النَّجَاسَةِ
طَعْمُهُ أَوْ لَوْنُهُ أَوْ رِيحُهُ.
Air keluar dari sifatnya sebagai alat penyuci apabila rasanya, warnanya, atau
baunya berubah karena bersentuhan dengan najis.
فَإِنْ
لَمْ يَتَغَيَّرْ، وَكَانَ قَرِيبًا مِنْ مِائَتَيْنِ وَخَمْسِينَ مَنًّا، وَهُوَ
خَمْسُمِائَةِ رِطْلٍ بِرِطْلِ الْعِرَاقِ، لَمْ يَنْجُسْ، لِقَوْلِهِ صَلَّى
اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِذَا بَلَغَ الْمَاءُ قُلَّتَيْنِ لَمْ يَحْمِلْ
خَبَثًا.
Jika air itu tidak berubah dan jumlahnya mendekati dua ratus lima puluh man,
yaitu lima ratus rithl menurut ukuran Irak, maka ia tidak menjadi najis,
berdasarkan sabda Nabi صلى
الله عليه وسلم: “Apabila air telah mencapai dua qullah, ia tidak membawa
najis.”
وَإِنْ
كَانَ دُونَهُ صَارَ نَجِسًا عِنْدَ الشَّافِعِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ.
Dan jika kurang dari itu, maka menurut Imam asy-Syafi‘i رضي الله عنه air itu menjadi
najis.
هٰذَا
فِي الْمَاءِ الرَّاكِدِ.
Ini berlaku pada air yang diam.
وَأَمَّا
الْمَاءُ الْجَارِي، فَإِذَا تَغَيَّرَ بِالنَّجَاسَةِ فَالْجَرْيَةُ
الْمُتَغَيِّرَةُ نَجِسَةٌ، دُونَ مَا فَوْقَهَا وَمَا تَحْتَهَا، لِأَنَّ
جَرَيَاتِ الْمَاءِ مُتَفَاصِلَاتٌ.
Adapun air yang mengalir, jika berubah karena najis, maka aliran yang berubah
itu najis, sedangkan yang di atas dan di bawahnya tidak najis, karena
aliran-aliran air itu terpisah satu sama lain.
وَكَذٰلِكَ
النَّجَاسَةُ الْجَارِيَةُ إِذَا جَرَتْ بِمَجْرَى الْمَاءِ، فَالنَّجِسُ
مَوْقِعُهَا مِنَ الْمَاءِ، وَمَا عَنْ يَمِينِهَا وَشِمَالِهَا إِذَا تَقَاصَرَ
عَنْ قُلَّتَيْنِ.
Demikian pula najis yang mengalir bersama aliran air. Maka yang najis adalah
bagian air yang terkena tempat alirannya, juga bagian di kanan dan kirinya jika
jumlahnya kurang dari dua qullah.
وَإِنْ
كَانَ جَرْيُ الْمَاءِ أَقْوَى مِنْ جَرْيِ النَّجَاسَةِ، فَمَا فَوْقَ
النَّجَاسَةِ طَاهِرٌ، وَمَا سَفَلَ عَنْهَا فَنَجِسٌ، وَإِنْ تَبَاعَدَ وَكَثُرَ،
إِلَّا إِذَا اجْتَمَعَ فِي حَوْضٍ قَدْرُ قُلَّتَيْنِ.
Jika aliran air lebih kuat daripada aliran najis, maka bagian air yang berada
di atas najis itu suci, sedangkan bagian di bawahnya najis, meskipun jauh dan
banyak, kecuali jika berkumpul dalam suatu kolam sebesar dua qullah.
وَإِذَا
اجْتَمَعَتْ قُلَّتَانِ مِنْ مَاءٍ نَجِسٍ طَهُرَ، وَلَا يَعُودُ نَجِسًا
بِالتَّفْرِيقِ.
Jika berkumpul dua qullah dari air najis, maka air itu menjadi suci, dan tidak
kembali najis karena dipisah-pisahkan.
هٰذَا
هُوَ مَذْهَبُ الشَّافِعِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ.
Inilah mazhab Imam asy-Syafi‘i رضي الله عنه.
وَكُنْتُ
أَوَدُّ أَنْ يَكُونَ مَذْهَبُهُ كَمَذْهَبِ مَالِكٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ فِي
أَنَّ الْمَاءَ وَإِنْ قَلَّ لَا يَنْجُسُ إِلَّا بِالتَّغَيُّرِ، إِذِ الْحَاجَةُ
مَاسَّةٌ إِلَيْهِ، وَمَثَارُ الْوَسْوَاسِ اشْتِرَاطُ الْقُلَّتَيْنِ،
وَلِأَجْلِهِ شَقَّ عَلَى النَّاسِ ذٰلِكَ، وَهُوَ لَعَمْرِي سَبَبُ الْمَشَقَّةِ،
وَيَعْرِفُهُ مَنْ يُجَرِّبُهُ وَيَتَأَمَّلُهُ.
Aku sebenarnya ingin agar mazhab beliau seperti mazhab Malik رضي الله عنه, yaitu bahwa air,
meskipun sedikit, tidak menjadi najis kecuali karena berubah. Sebab kebutuhan
terhadap air itu sangat besar, dan sumber waswas adalah syarat dua qullah.
Karena syarat itulah perkara ini menjadi berat bagi manusia. Demi umurku,
inilah sebab kesulitan, dan hal ini diketahui oleh orang yang mencobanya dan
merenungkannya.
وَمِمَّا
لَا أَشُكُّ فِيهِ أَنَّ ذٰلِكَ لَوْ كَانَ مَشْرُوطًا، لَكَانَ أَوْلَى
الْمَوَاضِعِ بِتَعَسُّرِ الطَّهَارَةِ مَكَّةَ وَالْمَدِينَةَ، إِذْ لَا يَكْثُرُ
فِيهِمَا الْمِيَاهُ الْجَارِيَةُ وَلَا الرَّاكِدَةُ الْكَثِيرَةُ.
Di antara hal yang tidak aku ragukan ialah: seandainya syarat itu benar-benar
berlaku secara ketat, tentu tempat yang paling layak mengalami kesulitan
bersuci adalah Makkah dan Madinah, karena di sana tidak banyak air mengalir dan
tidak pula banyak air diam yang besar.
وَمِنْ
أَوَّلِ عَصْرِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَى آخِرِ عَصْرِ
أَصْحَابِهِ، لَمْ تُنْقَلْ وَاقِعَةٌ فِي الطَّهَارَةِ وَلَا سُؤَالٌ عَنْ
كَيْفِيَّةِ حِفْظِ الْمَاءِ عَنِ النَّجَاسَاتِ.
Sejak awal masa Rasulullah صلى
الله عليه وسلم hingga akhir masa para sahabatnya, tidak pernah dinukil satu
peristiwa pun tentang masalah bersuci, dan tidak pula pertanyaan tentang
bagaimana menjaga air dari najis.
وَكَانَتْ
أَوَانِي مِيَاهِهِمْ يَتَعَاطَاهَا الصِّبْيَانُ وَالْإِمَاءُ الَّذِينَ لَا
يَحْتَرِزُونَ عَنِ النَّجَاسَاتِ.
Bejana-bejana air mereka biasa dipakai oleh anak-anak kecil dan budak-budak
perempuan yang tidak berhati-hati dari najis.
وَقَدْ
تَوَضَّأَ عُمَرُ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ بِمَاءٍ فِي جَرَّةِ نَصْرَانِيَّةٍ.
Dan Umar رضي
الله عنه pernah berwudu dengan air dari kendi milik seorang wanita
Nasrani.
وَهٰذَا
كَالصَّرِيحِ فِي أَنَّهُ لَمْ يُعَوِّلْ إِلَّا عَلَى عَدَمِ تَغَيُّرِ الْمَاءِ.
Ini hampir secara tegas menunjukkan bahwa beliau hanya berpegang pada tidak
berubahnya air.
وَإِلَّا
فَنَجَاسَةُ النَّصْرَانِيَّةِ وَإِنَائِهَا غَالِبَةٌ تُعْلَمُ بِظَنٍّ قَرِيبٍ.
Kalau bukan demikian, maka najisnya wanita Nasrani dan bejananya merupakan hal
yang kuat diduga dengan prasangka yang dekat.
فَإِذَا
عَسُرَ الْقِيَامُ بِهٰذَا الْمَذْهَبِ، وَعَدَمُ وُقُوعِ السُّؤَالِ فِي تِلْكَ
الْأَعْصَارِ دَلِيلٌ أَوَّلٌ.
Jika berpegang pada mazhab ini terasa sulit, maka tidak adanya pertanyaan pada
masa-masa itu adalah dalil pertama.
وَفِعْلُ
عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ دَلِيلٌ ثَانٍ.
Dan perbuatan Umar رضي
الله عنه adalah dalil kedua.
وَالدَّلِيلُ
الثَّالِثُ إِصْغَاءُ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْإِنَاءَ
لِلْهِرَّةِ، وَعَدَمُ تَغْطِيَةِ الْأَوَانِي مِنْهَا بَعْدَ أَنْ يُرَى أَنَّهَا
تَأْكُلُ الْفَأْرَةَ.
Dalil ketiga adalah Rasulullah صلى الله عليه وسلم pernah memiringkan bejana untuk kucing,
dan mereka tidak menutup bejana-bejana dari kucing, padahal terlihat bahwa
kucing itu memakan tikus.
وَلَمْ
يَكُنْ فِي بِلَادِهِمْ حِيَاضٌ تَلَغُ السَّنَانِيرُ فِيهَا، وَكَانَتْ لَا
تَنْزِلُ الْآبَارَ.
Di negeri mereka tidak ada kolam-kolam besar tempat kucing menjilat, dan kucing
juga tidak turun ke sumur.
وَالرَّابِعُ
أَنَّ الشَّافِعِيَّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ نَصَّ عَلَى أَنَّ غُسَالَةَ
النَّجَاسَةِ طَاهِرَةٌ إِذَا لَمْ تَتَغَيَّرْ، وَنَجِسَةٌ إِنْ تَغَيَّرَتْ.
Dalil keempat adalah bahwa Imam asy-Syafi‘i رضي الله عنه sendiri menegaskan
bahwa air bekas cucian najis itu suci jika tidak berubah, dan najis jika
berubah.
وَأَيُّ
فَرْقٍ بَيْنَ أَنْ يُلَاقِيَ الْمَاءُ النَّجَاسَةَ بِالْوُرُودِ عَلَيْهَا، أَوْ
بِوُرُودِهَا عَلَيْهِ؟
Lalu apa bedanya antara air yang mengenai najis karena dituangkan kepadanya,
dengan najis yang mengenai air?
وَأَيُّ
مَعْنًى لِقَوْلِ الْقَائِلِ: إِنَّ قُوَّةَ الْوُرُودِ تَدْفَعُ النَّجَاسَةَ،
مَعَ أَنَّ الْوُرُودَ لَمْ يَمْنَعْ مُخَالَطَةَ النَّجَاسَةِ؟
Dan apa makna ucapan orang yang mengatakan bahwa kekuatan tuangan air menolak
najis, padahal tuangan itu sendiri tidak mencegah bercampurnya najis dengan
air?
وَإِنْ
أُحِيلَ ذٰلِكَ عَلَى الْحَاجَةِ، فَالْحَاجَةُ أَيْضًا مَاسَّةٌ إِلَى هٰذَا.
Jika hal itu dikembalikan kepada alasan kebutuhan, maka kebutuhan pada kasus
ini juga sama besarnya.
فَلَا
فَرْقَ بَيْنَ طَرْحِ الْمَاءِ فِي إِجَانَةٍ فِيهَا ثَوْبٌ نَجِسٌ، أَوْ طَرْحِ
الثَّوْبِ النَّجِسِ فِي الْإِجَانَةِ وَفِيهَا مَاءٌ.
Tidak ada perbedaan antara menuangkan air ke dalam baskom yang di dalamnya ada
pakaian najis, dengan memasukkan pakaian najis ke dalam baskom yang berisi air.
وَكُلُّ
ذٰلِكَ مُعْتَادٌ فِي غَسْلِ الثِّيَابِ وَالْأَوَانِي.
Semua itu adalah hal yang biasa dalam mencuci pakaian dan bejana.
وَالْخَامِسُ
أَنَّهُمْ كَانُوا يَسْتَنْجُونَ عَلَى أَطْرَافِ الْمِيَاهِ الْجَارِيَةِ
الْقَلِيلَةِ.
Dalil kelima ialah bahwa mereka biasa beristinja di tepi aliran air yang
sedikit.
وَلَا
خِلَافَ فِي مَذْهَبِ الشَّافِعِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّهُ إِذَا وَقَعَ
بَوْلٌ فِي مَاءٍ جَارٍ وَلَمْ يَتَغَيَّرْ أَنَّهُ يَجُوزُ الْوُضُوءُ بِهِ
وَإِنْ كَانَ قَلِيلًا.
Dan tidak ada perbedaan dalam mazhab asy-Syafi‘i رضي الله عنه bahwa apabila air
kencing jatuh ke air yang mengalir dan air itu tidak berubah, maka boleh
berwudu dengannya meskipun airnya sedikit.
وَأَيُّ
فَرْقٍ بَيْنَ الْجَارِي وَالرَّاكِدِ؟
Lalu apa bedanya antara air mengalir dan air diam?
وَلَيْتَ
شِعْرِي، هَلِ الْحَوَالَةُ عَلَى عَدَمِ التَّغَيُّرِ أَوْلَى، أَوْ عَلَى
قُوَّةِ الْمَاءِ بِسَبَبِ الْجَرَيَانِ؟
Aku ingin tahu, apakah lebih tepat mengembalikannya pada tidak berubahnya air,
atau pada kekuatan air karena alirannya?
ثُمَّ
مَا حَدُّ تِلْكَ الْقُوَّةِ؟
Lalu di manakah batas kekuatan itu?
أَتَجْرِي
فِي الْمِيَاهِ الْجَارِيَةِ فِي أَنَابِيبِ الْحَمَّامَاتِ أَمْ لَا؟
Apakah hukum itu juga berlaku pada air yang mengalir di pipa-pipa pemandian
atau tidak?
فَإِنْ
لَمْ تَجْرِ، فَمَا الْفَرْقُ؟
Jika tidak berlaku, lalu apa bedanya?
وَإِنْ
جَرَتْ، فَمَا الْفَرْقُ بَيْنَ مَا يَقَعُ فِيهَا وَبَيْنَ مَا يَقَعُ فِي
مَجْرَى الْمَاءِ مِنَ الْأَوَانِي عَلَى الْأَبْدَانِ، وَهِيَ أَيْضًا جَارِيَةٌ؟
Dan jika berlaku, lalu apa bedanya antara sesuatu yang jatuh ke air itu dengan
sesuatu yang mengenai aliran air dari bejana ketika dituangkan ke badan,
padahal keduanya sama-sama mengalir?
ثُمَّ
الْبَوْلُ أَشَدُّ اخْتِلَاطًا بِالْمَاءِ الْجَارِي مِنْ نَجَاسَةٍ جَامِدَةٍ
ثَابِتَةٍ.
Kemudian air kencing lebih kuat bercampur dengan air yang mengalir daripada
najis padat yang tetap di tempat.
إِذَا
قُضِيَ بِأَنَّ مَا يَجْرِي عَلَيْهَا وَإِنْ لَمْ يَتَغَيَّرْ نَجِسٌ، أَنْ
يَجْتَمِعَ فِي مُسْتَنْقَعٍ قُلَّتَانِ، فَأَيُّ فَرْقٍ بَيْنَ الْجَامِدِ
وَالْمَائِعِ، وَالْمَاءُ وَاحِدٌ، وَالِاخْتِلَاطُ أَشَدُّ مِنَ الْمُجَاوَرَةِ؟
Jika diputuskan bahwa air yang mengalir di atas najis padat itu najis meskipun
tidak berubah, kecuali bila berkumpul di genangan sebesar dua qullah, maka apa
bedanya antara najis padat dan cair? Padahal airnya satu, dan pencampuran jelas
lebih kuat daripada sekadar berdekatan.
وَالسَّادِسُ
أَنَّهُ إِذَا وَقَعَ رِطْلٌ مِنَ الْبَوْلِ فِي قُلَّتَيْنِ ثُمَّ فُرِّقَتَا،
فَكُلُّ كُوزٍ يُغْتَرَفُ مِنْهُ طَاهِرٌ.
Dalil keenam ialah bahwa apabila satu rithl air kencing jatuh ke dalam dua
qullah air lalu air itu dipisah-pisah, maka setiap kendi yang diambil darinya
tetap dihukumi suci.
وَمَعْلُومٌ
أَنَّ الْبَوْلَ مُنْتَشِرٌ فِيهِ، وَهُوَ قَلِيلٌ.
Padahal diketahui bahwa air kencing itu tersebar di dalamnya, meskipun sedikit.
وَلَيْتَ
شِعْرِي، هَلْ تَعْلِيلُ طَهَارَتِهِ بِعَدَمِ التَّغَيُّرِ أَوْلَى، أَوْ
بِقُوَّةِ الْمَاءِ بَعْدَ انْقِطَاعِ الْكَثْرَةِ وَزَوَالِهَا، مَعَ تَحَقُّقِ
بَقَاءِ أَجْزَاءِ النَّجَاسَةِ فِيهَا؟
Aku ingin tahu, apakah lebih tepat menjelaskan sucinya air itu karena tidak
berubah, atau karena kekuatan air meskipun jumlah banyaknya telah hilang dan
terpisah, padahal bagian-bagian najis tetap ada di dalamnya?
وَالسَّابِعُ
أَنَّ الْحَمَّامَاتِ لَمْ تَزَلْ فِي الْأَعْصَارِ الْخَالِيَةِ يَتَوَضَّأُ
فِيهَا الْمُتَقَشِّفُونَ، وَيَغْمِسُونَ الْأَيْدِيَ وَالْأَوَانِيَ فِي تِلْكَ
الْحِيَاضِ، مَعَ قِلَّةِ الْمَاءِ، وَمَعَ الْعِلْمِ بِأَنَّ الْأَيْدِيَ
النَّجِسَةَ وَالطَّاهِرَةَ كَانَتْ تَتَوَارَدُ عَلَيْهَا.
Dalil ketujuh ialah bahwa pemandian-pemandian umum sejak masa lampau selalu
digunakan oleh orang-orang yang zuhud untuk berwudu, dan mereka mencelupkan
tangan serta bejana mereka ke kolam-kolam itu meskipun airnya sedikit,
sementara diketahui bahwa tangan-tangan yang najis maupun suci silih berganti
masuk ke dalamnya.
فَهٰذِهِ
الْأُمُورُ مَعَ الْحَاجَةِ الشَّدِيدَةِ تُقَوِّي فِي النَّفْسِ أَنَّهُمْ
كَانُوا يَنْظُرُونَ إِلَى عَدَمِ التَّغَيُّرِ، مُعَوِّلِينَ عَلَى قَوْلِهِ
صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: خُلِقَ الْمَاءُ طَهُورًا، لَا يُنَجِّسُهُ
شَيْءٌ إِلَّا مَا غَيَّرَ طَعْمَهُ أَوْ لَوْنَهُ أَوْ رِيحَهُ.
Semua perkara ini, bersama kuatnya kebutuhan, menguatkan dalam jiwa bahwa
mereka memandang kepada tidak berubahnya air, dengan bersandar pada sabda Nabi صلى الله عليه
وسلم: “Air diciptakan dalam keadaan suci dan menyucikan. Tidak ada
sesuatu pun yang menajiskannya kecuali yang mengubah rasa, warna, atau baunya.”
وَهٰذَا
فِيهِ تَحْقِيقٌ، وَهُوَ أَنَّ طَبْعَ كُلِّ مَائِعٍ أَنْ يَقْلِبَ إِلَى صِفَةِ
نَفْسِهِ كُلَّ مَا يَقَعُ فِيهِ، وَكَانَ مَغْلُوبًا مِنْ جِهَتِهِ.
Dalam hal ini terdapat penjelasan yang tepat, yaitu bahwa tabiat setiap benda
cair ialah mengubah segala sesuatu yang jatuh ke dalamnya menjadi sesuai dengan
sifatnya sendiri, apabila benda yang jatuh itu dikalahkan olehnya.
فَكَمَا
تَرَى الْكَلْبَ يَقَعُ فِي الْمَمْلَحَةِ فَيَسْتَحِيلُ مِلْحًا، وَيُحْكَمُ
بِطَهَارَتِهِ بِصَيْرُورَتِهِ مِلْحًا وَزَوَالِ صِفَةِ الْكَلْبِيَّةِ عَنْهُ.
Sebagaimana engkau melihat anjing jatuh ke dalam tempat garam lalu berubah
menjadi garam, dan dihukumi suci karena telah menjadi garam dan hilangnya sifat
keanjingan darinya.
فَكَذٰلِكَ
الْخَلُّ يَقَعُ فِي الْمَاءِ، وَكَذٰلِكَ اللَّبَنُ يَقَعُ فِيهِ وَهُوَ قَلِيلٌ،
فَتَبْطُلُ صِفَتُهُ وَيَتَصَوَّرُ بِصِفَةِ الْمَاءِ وَيَنْطَبِعُ بِطَبْعِهِ،
إِلَّا إِذَا كَثُرَ وَغَلَبَ.
Demikian pula cuka yang jatuh ke dalam air, demikian juga susu jika jatuh ke
dalamnya dalam jumlah sedikit, maka sifat aslinya hilang, berubah mengikuti
sifat air, dan terbentuk sesuai tabiat air, kecuali jika benda itu banyak dan
lebih dominan.
وَتُعْرَفُ
غَلَبَتُهُ بِغَلَبَةِ طَعْمِهِ أَوْ لَوْنِهِ أَوْ رِيحِهِ.
Dominasi itu diketahui dengan dominannya rasa, warna, atau baunya.
فَهٰذَا
هُوَ الْمِعْيَارُ.
Inilah ukuran yang semestinya.
وَقَدْ
أَشَارَ الشَّرْعُ إِلَيْهِ فِي الْمَاءِ الْقَوِيِّ عَلَى إِزَالَةِ النَّجَاسَةِ.
Syariat telah mengisyaratkan ukuran ini pada air yang kuat untuk menghilangkan
najis.
وَهُوَ
جَدِيرٌ أَنْ يُعَوَّلَ عَلَيْهِ، فَيَنْدَفِعَ بِهِ الْحَرَجُ، وَيَظْهَرَ بِهِ
مَعْنَى كَوْنِهِ طَهُورًا، إِذْ يَغْلِبُ عَلَيْهِ فَيُطَهِّرُهُ، كَمَا صَارَ
كَذٰلِكَ فِيمَا بَعْدَ الْقُلَّتَيْنِ، وَفِي الْغُسَالَةِ، وَفِي الْمَاءِ
الْجَارِي، وَفِي إِصْغَاءِ الْإِنَاءِ لِلْهِرَّةِ.
Ukuran ini layak dijadikan pegangan, sehingga kesulitan dapat hilang dan
tampaklah makna bahwa air itu menyucikan, sebab ia mengalahkan najis lalu
menyucikannya, sebagaimana hal itu berlaku pada air dua qullah, air bekas
cucian, air mengalir, dan air yang diminum kucing dari bejana.
وَلَا
تَظُنَّ ذٰلِكَ عَفْوًا.
Jangan engkau sangka bahwa hal itu hanya sekadar keringanan tanpa dasar.
إِذْ
لَوْ كَانَ كَذٰلِكَ لَكَانَ كَأَثَرِ الِاسْتِنْجَاءِ وَدَمِ الْبَرَاغِيثِ،
حَتَّى يَصِيرَ الْمَاءُ الْمُلَاقِي لَهُ نَجِسًا، وَلَا يَنْجُسُ
بِالْغُسَالَةِ، وَلَا بِوُلُوغِ السِّنَّوْرِ فِي الْمَاءِ الْقَلِيلِ.
Sebab seandainya hanya demikian, tentu hukumnya seperti bekas istinja dan darah
kutu, sehingga air yang bersentuhan dengannya menjadi najis, padahal air tidak
menjadi najis karena air bekas cucian dan tidak pula karena jilatan kucing pada
air sedikit.
وَأَمَّا
قَوْلُهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لَا يَحْمِلْ خَبَثًا، فَهُوَ فِي
نَفْسِهِ مُبْهَمٌ، فَإِنَّهُ يَحْمِلُ إِذَا تَغَيَّرَ.
Adapun sabda Nabi صلى
الله عليه وسلم: “Ia tidak membawa najis,” maka lafaz ini pada dirinya masih
umum, sebab air tetap membawa najis jika berubah.
فَإِنْ
قِيلَ: أَرَادَ بِهِ إِذَا لَمْ يَتَغَيَّرْ، فَيُمْكِنُ أَنْ يُقَالَ: إِنَّهُ
أَرَادَ بِهِ أَنَّهُ فِي الْغَالِبِ لَا يَتَغَيَّرُ بِالنَّجَاسَاتِ
الْمُعْتَادَةِ.
Jika dikatakan: yang dimaksud adalah jika air itu tidak berubah, maka bisa juga
dikatakan: maksudnya ialah bahwa pada umumnya air sebanyak itu tidak berubah
oleh najis-najis yang biasa terjadi.
ثُمَّ
هُوَ تَمَسُّكٌ بِالْمَفْهُومِ فِيمَا إِذَا لَمْ يَبْلُغْ قُلَّتَيْنِ، وَتَرْكُ
الْمَفْهُومِ بِأَقَلِّ مِنَ الْأَدِلَّةِ الَّتِي ذَكَرْنَاهَا مُمْكِنٌ.
Lagi pula, itu hanyalah berpegang pada mafhum ketika air belum mencapai dua
qullah. Dan meninggalkan mafhum dengan dalil-dalil yang lebih ringan daripada
yang telah kami sebutkan pun sudah mungkin.
وَقَوْلُهُ:
لَا يَحْمِلْ خَبَثًا، ظَاهِرُهُ نَفْيُ الْحَمْلِ، أَيْ يُقَلِّبُهُ إِلَى صِفَةِ
نَفْسِهِ.
Sabda beliau: “tidak membawa najis,” lahirnya bermakna menafikan pengangkutan
najis, yaitu air mengubah najis itu menjadi sesuai dengan sifat dirinya.
كَمَا
يُقَالُ لِلْمَمْلَحَةِ: لَا تَحْمِلُ كَلْبًا وَلَا غَيْرَهُ، أَيْ يَنْقَلِبُ.
Sebagaimana dikatakan tentang tempat garam: “Ia tidak menanggung anjing dan
selainnya,” maksudnya, semua itu akan berubah.
وَذٰلِكَ
لِأَنَّ النَّاسَ قَدْ يَسْتَنْجُونَ فِي الْمِيَاهِ الْقَلِيلَةِ وَفِي
الْغُدْرَانِ، وَيَغْمِسُونَ الْأَوَانِيَ النَّجِسَةَ فِيهَا، ثُمَّ
يَتَرَدَّدُونَ فِي أَنَّهَا تَغَيَّرَتْ تَغَيُّرًا مُؤَثِّرًا أَمْ لَا.
Sebab manusia kadang beristinja di air sedikit dan genangan, serta mencelupkan
bejana najis ke dalamnya, lalu mereka ragu apakah air itu telah berubah dengan
perubahan yang berpengaruh atau tidak.
فَتَبَيَّنَ
أَنَّهُ إِذَا كَانَ قُلَّتَيْنِ لَا يَتَغَيَّرُ بِهٰذِهِ النَّجَاسَةِ
الْمُعْتَادَةِ.
Maka jelaslah bahwa jika air itu sebanyak dua qullah, biasanya ia tidak berubah
oleh najis-najis yang biasa terjadi seperti ini.
فَإِنْ
قُلْتَ: فَقَدْ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لَا يَحْمِلْ
خَبَثًا، وَمَهْمَا كَثُرَتْ حَمَلَهَا.
Jika engkau berkata: Nabi صلى
الله عليه وسلم telah bersabda: “Ia tidak membawa najis,” padahal kapan pun air
banyak, ia tetap membawa najis itu.
فَهٰذَا
يَنْقَلِبُ عَلَيْكَ، فَإِنَّهَا مَهْمَا كَثُرَتْ حَمَلَهَا حُكْمًا، كَمَا
حَمَلَهَا حِسًّا.
Maka hujah ini justru berbalik atas dirimu, sebab meskipun air banyak, ia tetap
membawa najis itu secara hukum, sebagaimana secara indrawi juga membawanya.
فَلَا
بُدَّ مِنَ التَّخْصِيصِ بِالنَّجَاسَاتِ الْمُعْتَادَةِ عَلَى الْمَذْهَبَيْنِ
جَمِيعًا.
Maka pada kedua mazhab sekalipun, tetap harus ada pengkhususan pada najis-najis
yang biasa terjadi.
وَعَلَى
الْجُمْلَةِ فَمَيْلِي فِي أُمُورِ النَّجَاسَاتِ الْمُعْتَادَةِ إِلَى
التَّسَاهُلِ، فَهُمَا مِنْ سِيرَةِ الْأَوَّلِينَ، وَحَسْمًا لِمَادَّةِ
الْوَسْوَاسِ.
Secara umum, kecenderunganku dalam perkara najis-najis yang biasa terjadi
adalah kepada kelonggaran, karena hal itu termasuk jalan hidup orang-orang
terdahulu, dan demi memutus sumber waswas.
وَبِذٰلِكَ
أَفْتَيْتُ بِالطَّهَارَةِ فِيمَا وَقَعَ الْخِلَافُ فِيهِ فِي مِثْلِ هٰذِهِ
الْمَسَائِلِ.
Dan atas dasar itulah aku berfatwa dengan kesucian pada perkara-perkara yang
diperselisihkan dalam masalah-masalah semacam ini.
اَلطَّرَفُ
الثَّالِثُ فِي كَيْفِيَّةِ الْإِزَالَةِ.
Sisi ketiga adalah tentang cara menghilangkan najis.
وَالنَّجَاسَةُ
إِنْ كَانَتْ حُكْمِيَّةً، وَهِيَ الَّتِي لَيْسَ لَهَا جِرْمٌ مَحْسُوسٌ،
فَيَكْفِي إِجْرَاءُ الْمَاءِ عَلَى جَمِيعِ مَوَارِدِهَا.
Jika najis itu bersifat hukmiyyah, yaitu yang tidak memiliki benda nyata yang
dapat dirasakan, maka cukup mengalirkan air ke seluruh tempat yang terkena.
وَإِنْ
كَانَتْ عَيْنِيَّةً، فَلَا بُدَّ مِنْ إِزَالَةِ الْعَيْنِ.
Dan jika najis itu berupa ‘ainiyyah, maka bendanya sendiri harus dihilangkan.
وَبَقَاءُ
الطَّعْمِ يَدُلُّ عَلَى بَقَاءِ الْعَيْنِ، وَكَذٰلِكَ بَقَاءُ اللَّوْنِ، إِلَّا
فِيمَا يَلْتَصِقُ بِهِ، فَهُوَ مَعْفُوٌّ عَنْهُ بَعْدَ الْحَتِّ وَالْقَرْصِ.
Masih tersisanya rasa menunjukkan masih adanya zat najis. Demikian pula
tersisanya warna, kecuali jika warna itu sangat melekat, maka hal itu dimaafkan
setelah digosok dan dikerik.
أَمَّا
الرَّائِحَةُ فَبَقَاؤُهَا يَدُلُّ عَلَى بَقَاءِ الْعَيْنِ.
Adapun bau, maka tersisanya juga menunjukkan masih adanya benda najis.
وَلَا
يُعْفَى عَنْهَا إِلَّا إِذَا كَانَ الشَّيْءُ لَهُ رَائِحَةٌ فَائِحَةٌ يَعْسُرُ
إِزَالَتُهَا.
Bau itu tidak dimaafkan kecuali jika benda tersebut memang memiliki bau yang
sangat kuat dan sulit dihilangkan.
فَالدَّلْكُ
وَالْعَصْرُ مَرَّاتٍ مُتَوَالِيَاتٍ يَقُومُ مَقَامَ الْحَتِّ وَالْقَرْصِ فِي
اللَّوْنِ.
Maka menggosok dan memerasnya berulang kali secara berturut-turut menempati
posisi mengerik dan menggosok pada kasus warna yang sulit hilang.
وَالْمُزِيلُ
لِلْوَسْوَاسِ أَنْ يَعْلَمَ أَنَّ الْأَشْيَاءَ خُلِقَتْ طَاهِرَةً بِيَقِينٍ.
Hal yang menghilangkan waswas ialah mengetahui bahwa segala sesuatu pada
asalnya diciptakan dalam keadaan suci secara pasti.
فَمَا
لَا يُشَاهَدُ عَلَيْهِ نَجَاسَةٌ وَلَا يُعْلَمُهَا يَقِينًا يُصَلَّى مَعَهُ.
Maka apa saja yang tidak terlihat ada najis padanya dan tidak diketahui dengan
pasti kenajisannya, boleh dipakai untuk salat.
وَلَا
يَنْبَغِي أَنْ يُتَوَصَّلَ بِالِاسْتِنْبَاطِ إِلَى تَقْدِيرِ النَّجَاسَاتِ.
Dan tidak patut menggunakan dugaan-dugaan hasil penalaran untuk menetapkan
adanya najis.