Bersuci dari Hadas : Wudhu, Mandi, dan Tayamum
اَلْقِسْمُ الثَّانِي طَهَارَةُ الْأَحْدَاثِ، وَمِنْهَا الْوُضُوءُ وَالْغُسْلُ وَالتَّيَمُّمُ، وَيَتَقَدَّمُهَا الِاسْتِنْجَاءُ.
Bagian kedua adalah bersuci dari hadas. Termasuk di dalamnya wudu, mandi, dan
tayamum. Sebelum semuanya itu didahului dengan istinja.
فَلْنُورِدْ
كَيْفِيَّتَهَا عَلَى التَّرْتِيبِ، مَعَ آدَابِهَا وَسُنَنِهَا، مُبْتَدِئِينَ
بِسَبَبِ الْوُضُوءِ وَآدَابِ قَضَاءِ الْحَاجَةِ، إِنْ شَاءَ اللهُ تَعَالَى.
Maka marilah kita uraikan tata caranya secara berurutan, beserta adab-adab dan
sunah-sunahnya, dengan memulai dari sebab wudu dan adab buang hajat, insya
Allah Ta‘ala.
بَابُ
آدَابِ قَضَاءِ الْحَاجَةِ.
Bab adab buang hajat.
يَنْبَغِي
أَنْ يَبْعُدَ عَنْ أَعْيُنِ النَّاظِرِينَ فِي الصَّحْرَاءِ.
Seseorang sebaiknya menjauh dari pandangan orang lain ketika berada di tempat
terbuka.
وَأَنْ
يَسْتَتِرَ بِشَيْءٍ إِنْ وَجَدَهُ.
Dan hendaknya ia berlindung di balik sesuatu jika menemukannya.
وَأَنْ
لَا يَكْشِفَ عَوْرَتَهُ قَبْلَ الِانْتِهَاءِ إِلَى مَوْضِعِ الْجُلُوسِ.
Dan hendaknya ia tidak membuka auratnya sebelum sampai ke tempat duduknya.
وَأَنْ
لَا يَسْتَقْبِلَ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ.
Dan hendaknya ia tidak menghadap matahari dan bulan.
وَأَنْ
لَا يَسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةَ وَلَا يَسْتَدْبِرَهَا، إِلَّا إِذَا كَانَ فِي
بِنَاءٍ.
Dan hendaknya ia tidak menghadap kiblat dan tidak pula membelakanginya, kecuali
jika ia berada di dalam bangunan.
وَالْعُدُولُ
أَيْضًا عَنْهَا فِي الْبِنَاءِ أَحَبُّ.
Bahkan berpaling darinya juga di dalam bangunan lebih disukai.
وَإِنِ
اسْتَتَرَ فِي الصَّحْرَاءِ بِرَاحِلَتِهِ جَازَ، وَكَذٰلِكَ بِذَيْلِهِ.
Jika di tempat terbuka ia berlindung dengan hewan tunggangannya, maka itu
boleh. Demikian pula jika ia berlindung dengan ujung pakaiannya.
وَأَنْ
يَتَّقِيَ الْجُلُوسَ فِي مُتَحَدَّثِ النَّاسِ.
Dan hendaknya ia menghindari duduk di tempat orang-orang biasa bercakap-cakap.
وَأَنْ
لَا يَبُولَ فِي الْمَاءِ الرَّاكِدِ.
Dan hendaknya ia tidak kencing di air yang diam.
وَلَا
تَحْتَ الشَّجَرَةِ الْمُثْمِرَةِ.
Dan tidak pula di bawah pohon yang berbuah.
وَلَا
فِي الْجُحْرِ.
Dan tidak pula di lubang.
وَأَنْ
يَتَّقِيَ الْمَوْضِعَ الصُّلْبَ وَمَهَابَّ الرِّيَاحِ فِي الْبَوْلِ،
اسْتِنْزَاهًا مِنْ رَشَاشِهِ.
Dan hendaknya ia menghindari tempat yang keras dan arah datangnya angin ketika
buang air kecil, agar terjaga dari percikan air kencing.
وَأَنْ
يَتَّكِئَ فِي جُلُوسِهِ عَلَى الرِّجْلِ الْيُسْرَى.
Dan hendaknya ketika duduk ia bertumpu pada kaki kirinya.
وَإِنْ
كَانَ فِي بُنْيَانٍ يُقَدِّمُ الرِّجْلَ الْيُسْرَى فِي الدُّخُولِ، وَالْيُمْنَى
فِي الْخُرُوجِ.
Jika ia berada di dalam bangunan, maka hendaknya ia mendahulukan kaki kiri
ketika masuk dan kaki kanan ketika keluar.
وَلَا
يَبُولُ قَائِمًا.
Dan janganlah ia buang air kecil sambil berdiri.
قَالَتْ
عَائِشَةُ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا: مَنْ حَدَّثَكُمْ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَبُولُ قَائِمًا فَلَا تُصَدِّقُوهُ.
Aisyah رضي
الله عنها berkata: “Barang siapa menceritakan kepada kalian bahwa Nabi صلى الله عليه
وسلم pernah buang air kecil sambil berdiri, maka janganlah kalian
membenarkannya.”
وَقَالَ
عُمَرُ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ: رَآنِي رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ وَأَنَا أَبُولُ قَائِمًا، فَقَالَ: يَا عُمَرُ، لَا تَبُلْ قَائِمًا.
Umar رضي الله عنه
berkata: “Rasulullah صلى
الله عليه وسلم melihatku ketika aku buang air kecil sambil berdiri, lalu
beliau bersabda: ‘Wahai Umar, janganlah engkau buang air kecil sambil
berdiri.’”
قَالَ
عُمَرُ: فَمَا بُلْتُ قَائِمًا بَعْدُ.
Umar berkata: “Maka setelah itu aku tidak pernah buang air kecil sambil
berdiri.”
وَفِيهِ
رُخْصَةٌ، إِذْ رُوِيَ عَنْ حُذَيْفَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّهُ عَلَيْهِ
الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ بَالَ قَائِمًا، فَأَتَيْتُهُ بِوُضُوءٍ فَتَوَضَّأَ
وَمَسَحَ عَلَى خُفَّيْهِ.
Namun dalam hal ini ada keringanan, karena diriwayatkan dari Hudzaifah رضي الله عنه
bahwa beliau عليه
الصلاة والسلام pernah buang air kecil sambil berdiri, lalu aku datang membawa
air wudu kepadanya, kemudian beliau berwudu dan mengusap kedua khufnya.
وَلَا
يَبُولُ فِي الْمُغْتَسَلِ.
Dan janganlah ia buang air kecil di tempat mandi.
قَالَ
صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: عَامَّةُ الْوَسْوَاسِ مِنْهُ.
Beliau صلى
الله عليه وسلم bersabda: “Kebanyakan waswas berasal dari hal itu.”
وَقَالَ
ابْنُ الْمُبَارَكِ: قَدْ وُسِّعَ فِي الْبَوْلِ فِي الْمُغْتَسَلِ إِذَا جَرَى
الْمَاءُ عَلَيْهِ.
Ibnul Mubarak berkata: “Diberi kelonggaran untuk buang air kecil di tempat
mandi jika air mengalir di atasnya.”
وَقَالَ
صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لَا يَبُولَنَّ أَحَدُكُمْ فِي مُسْتَحَمِّهِ
ثُمَّ يَتَوَضَّأُ فِيهِ، فَإِنَّ عَامَّةَ الْوَسْوَاسِ مِنْهُ.
Dan Nabi صلى
الله عليه وسلم bersabda: “Janganlah salah seorang dari kalian buang air kecil
di tempat mandinya, lalu berwudu di situ, karena kebanyakan waswas berasal dari
hal itu.”
وَقَالَ
ابْنُ الْمُبَارَكِ: إِنْ كَانَ الْمَاءُ جَارِيًا فَلَا بَأْسَ بِهِ.
Dan Ibnul Mubarak berkata: “Jika airnya mengalir, maka tidak mengapa.”
وَلَا
يَسْتَصْحِبْ شَيْئًا عَلَيْهِ اسْمُ اللهِ تَعَالَى أَوْ رَسُولِهِ صَلَّى اللهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.
Dan janganlah ia membawa sesuatu yang padanya tertulis nama Allah Ta‘ala atau
nama Rasul-Nya صلى
الله عليه وسلم.
وَلَا
يَدْخُلْ بَيْتَ الْمَاءِ حَاسِرَ الرَّأْسِ.
Dan janganlah ia masuk ke tempat buang hajat dengan kepala terbuka.
وَأَنْ
يَقُولَ عِنْدَ الدُّخُولِ: بِسْمِ اللهِ، أَعُوذُ بِاللهِ مِنَ الرِّجْسِ
النَّجِسِ، الْخَبِيثِ الْمُخْبِثِ، الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ.
Dan ketika masuk hendaknya ia mengucapkan: “Dengan nama Allah. Aku berlindung
kepada Allah dari kotoran yang najis, yang buruk dan memburukkan, yaitu setan
yang terkutuk.”
وَعِنْدَ
الْخُرُوجِ: الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَذْهَبَ عَنِّي مَا يُؤْذِينِي، وَأَبْقَى
عَلَيَّ مَا يَنْفَعُنِي.
Dan ketika keluar hendaknya ia mengucapkan: “Segala puji bagi Allah yang telah
menghilangkan dariku apa yang menyakitiku dan tetap mengekalkan padaku apa yang
bermanfaat bagiku.”
وَيَكُونُ
ذٰلِكَ خَارِجًا عَنْ بَيْتِ الْمَاءِ.
Dan ucapan itu dilakukan setelah keluar dari tempat buang hajat.
وَأَنْ
يُعِدَّ النَّبْلَ قَبْلَ الْجُلُوسِ.
Dan hendaknya ia menyiapkan batu-batu istinja sebelum duduk.
وَأَنْ
لَا يَسْتَنْجِيَ بِالْمَاءِ فِي مَوْضِعِ الْحَاجَةِ.
Dan hendaknya ia tidak beristinja dengan air di tempat buang hajat itu sendiri.
وَأَنْ
يَسْتَبْرِئَ مِنَ الْبَوْلِ بِالتَّنَحْنُحِ وَالنَّثْرِ ثَلَاثًا وَإِمْرَارِ
الْيَدِ عَلَى أَسْفَلِ الْقَضِيبِ.
Dan hendaknya ia membersihkan sisa air kencing dengan berdeham, mengibaskan,
dan mengusap bagian bawah kemaluan tiga kali.
وَلَا
يُكْثِرُ التَّفَكُّرَ فِي الِاسْتِبْرَاءِ، فَيَتَوَسْوَسَ وَيَشُقَّ عَلَيْهِ
الْأَمْرُ.
Dan janganlah ia terlalu banyak memikirkan istibra’, sehingga ia menjadi waswas
dan perkara itu menjadi sulit baginya.
وَمَا
يُحِسُّ بِهِ مِنْ بَلَلٍ فَلْيُقَدِّرْ أَنَّهُ بَقِيَّةُ الْمَاءِ.
Apa pun kelembapan yang ia rasakan, hendaknya ia menganggapnya sebagai sisa
air.
فَإِنْ
كَانَ يُؤْذِيهِ ذٰلِكَ فَلْيَرُشَّ عَلَيْهِ الْمَاءَ، حَتَّى يَقْوَى فِي
نَفْسِهِ ذٰلِكَ، وَلَا يَتَسَلَّطَ عَلَيْهِ الشَّيْطَانُ بِالْوَسْوَاسِ.
Jika hal itu masih mengganggunya, hendaknya ia memercikkan air padanya, agar
keyakinan itu menguat dalam dirinya dan setan tidak menguasainya dengan waswas.
وَفِي
الْخَبَرِ أَنَّهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَعَلَهُ، أَعْنِي رَشَّ
الْمَاءِ.
Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa beliau صلى الله عليه وسلم melakukan hal itu,
yaitu memercikkan air.
وَقَدْ
كَانَ أَخَفُّهُمْ اسْتِبْرَاءً أَفْقَهُهُمْ، فَتَدُلُّ الْوَسْوَسَةُ فِيهِ
عَلَى قِلَّةِ الْفِقْهِ.
Dan orang yang paling sedikit berlebihan dalam istibra’ di antara mereka justru
adalah yang paling faqih. Maka waswas dalam masalah ini menunjukkan sedikitnya
pemahaman agama.
وَفِي
حَدِيثِ سَلْمَانَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ: عَلَّمَنَا رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كُلَّ شَيْءٍ حَتَّى الْخِرَاءَةَ، فَأَمَرَنَا أَنْ لَا
نَسْتَنْجِيَ بِعَظْمٍ وَلَا رَوْثٍ، وَنَهَانَا أَنْ نَسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةَ
بِغَائِطٍ أَوْ بَوْلٍ.
Dan dalam hadis Salman رضي
الله عنه disebutkan: “Rasulullah صلى الله عليه وسلم mengajarkan kepada
kami segala sesuatu, sampai urusan buang hajat. Beliau memerintahkan kami agar
tidak beristinja dengan tulang dan tahi, dan melarang kami menghadap kiblat
ketika buang air besar atau kecil.”
وَقَالَ
رَجُلٌ لِبَعْضِ الصَّحَابَةِ مِنَ الْأَعْرَابِ، وَقَدْ خَاصَمَهُ: لَا
أَحْسَبُكَ تُحْسِنُ الْخِرَاءَ.
Seseorang berkata kepada salah seorang sahabat dari kalangan Arab Badui ketika
berdebat dengannya: “Aku kira engkau tidak tahu cara buang hajat dengan baik.”
قَالَ:
بَلَى وَأَبِيكَ، إِنِّي لَأُحْسِنُهَا، وَإِنِّي بِهَا لَحَاذِقٌ.
Ia menjawab: “Tidak, demi ayahmu, sungguh aku melakukannya dengan baik, dan aku
memang mahir dalam hal itu.”
أُبْعِدُ
الْأَثَرَ، وَأُعِدُّ الْمَدَرَ، وَأَسْتَقْبِلُ الشِّيحَ، وَأَسْتَدْبِرُ
الرِّيحَ، وَأُقْعِي إِقْعَاءَ الظَّبْيِ، وَأُجْفِلُ إِجْفَالَ النَّعَامِ.
“Aku menjauh dari bekas pandangan, menyiapkan batu-batu, menghadap ke arah
tanaman syih, membelakangi arah angin, duduk seperti duduk kijang, dan
mengangkat bagian belakang seperti burung unta.”
اَلشِّيحُ
نَبْتٌ طَيِّبُ الرَّائِحَةِ بِالْبَادِيَةِ.
Syih adalah tanaman yang harum baunya di padang pasir.
وَالْإِقْعَاءُ
هٰهُنَا أَنْ يَسْتَوْفِزَ عَلَى صُدُورِ قَدَمَيْهِ.
Iq‘a’ di sini berarti duduk bertumpu di atas bagian depan kedua telapak kaki.
وَالْإِجْفَالُ
أَنْ يَرْفَعَ عَجُزَهُ.
Sedangkan ijfal berarti mengangkat pantatnya.
وَمِنَ
الرُّخْصَةِ أَنْ يَبُولَ الْإِنْسَانُ قَرِيبًا مِنْ صَاحِبِهِ مُسْتَتِرًا
عَنْهُ.
Dan termasuk keringanan adalah seseorang boleh buang air kecil dekat temannya,
selama ia tetap tertutup darinya.
فَعَلَ
ذٰلِكَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَعَ شِدَّةِ حَيَائِهِ،
لِيُبَيِّنَ لِلنَّاسِ ذٰلِكَ.
Rasulullah صلى
الله عليه وسلم pernah melakukan hal itu, meskipun rasa malunya sangat besar,
agar menjelaskan kepada manusia kebolehan tersebut.
كَيْفِيَّةُ
الِاسْتِنْجَاءِ.
Tata cara istinja.
ثُمَّ
يَسْتَنْجِي لِمَقْعَدَتِهِ بِثَلَاثَةِ أَحْجَارٍ، فَإِنْ أَنْقَى وَإِلَّا
اسْتَعْمَلَ رَابِعًا، فَإِنْ أَنْقَى وَإِلَّا اسْتَعْمَلَ خَامِسًا، لِأَنَّ
الْإِنْقَاءَ وَاجِبٌ وَالْإِيتَارَ مُسْتَحَبٌّ.
Kemudian ia beristinja pada duburnya dengan tiga batu. Jika telah bersih maka
cukup, jika belum maka memakai batu keempat, lalu jika belum juga maka memakai
batu kelima. Sebab membersihkan itu wajib, sedangkan bilangan ganjil itu sunah.
قَالَ
صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَنِ اسْتَجْمَرَ فَلْيُوتِرْ.
Nabi صلى الله عليه
وسلم bersabda: “Barang siapa beristijmar, hendaklah ia menjadikannya
ganjil.”
وَيَأْخُذُ
الْحَجَرَ بِيَسَارِهِ، وَيَضَعُهُ عَلَى مُقَدَّمِ الْمَقْعَدَةِ قَبْلَ مَوْضِعِ
النَّجَاسَةِ، وَيُمِرُّهُ بِالْمَسْحِ وَالْإِدَارَةِ إِلَى الْمُؤَخَّرِ.
Ia mengambil batu dengan tangan kirinya, lalu meletakkannya pada bagian depan
dubur sebelum tempat najis, kemudian menggeserkannya sambil mengusap dan
memutarnya ke arah belakang.
وَيَأْخُذُ
الثَّانِيَ وَيَضَعُهُ عَلَى الْمُؤَخَّرِ كَذٰلِكَ، وَيُمِرُّهُ إِلَى
الْمُقَدِّمَةِ.
Lalu ia mengambil batu kedua, meletakkannya pada bagian belakang seperti itu
juga, lalu menggeserkannya ke arah depan.
وَيَأْخُذُ
الثَّالِثَ فَيُدِيرُهُ حَوْلَ الْمَسْرُبَةِ إِدَارَةً.
Kemudian ia mengambil batu ketiga lalu memutarnya mengelilingi lubang dubur.
فَإِنْ
عَسُرَتِ الْإِدَارَةُ وَمَسَحَ مِنَ الْمُقَدِّمَةِ إِلَى الْمُؤَخَّرَةِ
أَجْزَأَهُ.
Jika sulit memutarnya dan ia hanya mengusap dari depan ke belakang, maka hal
itu sudah mencukupinya.
ثُمَّ
يَأْخُذُ حَجَرًا كَبِيرًا بِيَمِينِهِ، وَالْقَضِيبَ بِيَسَارِهِ، وَيَمْسَحُ
الْحَجَرَ بِقَضِيبِهِ، وَيُحَرِّكُ الْيُسْرَى، فَيَمْسَحُ ثَلَاثًا فِي
ثَلَاثَةِ مَوَاضِعَ، أَوْ فِي ثَلَاثَةِ أَحْجَارٍ، أَوْ فِي ثَلَاثَةِ مَوَاضِعَ
مِنْ جِدَارٍ، إِلَى أَنْ لَا تُرَى الرُّطُوبَةُ فِي مَحَلِّ الْمَسْحِ.
Lalu ia mengambil batu besar dengan tangan kanannya dan memegang kemaluannya
dengan tangan kirinya, lalu mengusap batu pada kemaluannya sambil menggerakkan
tangan kiri, sehingga ia mengusap tiga kali pada tiga tempat, atau dengan tiga
batu, atau pada tiga tempat di dinding, sampai tidak tampak lagi kelembapan
pada tempat yang diusap.
فَإِنْ
حَصَلَ ذٰلِكَ بِمَرَّتَيْنِ أَتَى بِالثَّالِثَةِ، وَوَجَبَ ذٰلِكَ إِنْ أَرَادَ
الِاقْتِصَارَ عَلَى الْحَجَرِ.
Jika kebersihan itu telah tercapai dengan dua kali usapan, ia tetap melakukan
yang ketiga. Dan hal itu wajib jika ia ingin mencukupkan diri dengan batu.
وَإِنْ
حَصَلَ بِالرَّابِعَةِ اسْتُحِبَّتِ الْخَامِسَةُ لِلْإِيتَارِ.
Jika kebersihan baru tercapai pada usapan keempat, maka disunahkan usapan
kelima agar jumlahnya ganjil.
ثُمَّ
يَنْتَقِلُ مِنْ ذٰلِكَ الْمَوْضِعِ إِلَى مَوْضِعٍ آخَرَ، وَيَسْتَنْجِي
بِالْمَاءِ، بِأَنْ يُفِيضَهُ بِالْيُمْنَى عَلَى مَحَلِّ النَّجْوِ، وَيُدَلِّكَ
بِالْيُسْرَى حَتَّى لَا يُبْقَى أَثَرٌ يُدْرِكُهُ الْكَفُّ بِحِسِّ اللَّمْسِ.
Kemudian ia berpindah dari tempat itu ke tempat lain, lalu beristinja dengan
air, yaitu dengan menuangkannya menggunakan tangan kanan ke tempat kotoran dan
menggosoknya dengan tangan kiri sampai tidak tersisa bekas yang dapat dirasakan
oleh tangan saat menyentuh.
وَلَا
يَدْرُكُ الِاسْتِقْصَاءَ فِيهِ بِالتَّعَرُّضِ لِلْبَاطِنِ، فَإِنَّ ذٰلِكَ
مَنْبَعُ الْوَسْوَاسِ.
Dan janganlah ia mencari kebersihan yang berlebihan dengan membongkar bagian
dalam, karena itulah sumber waswas.
وَلْيَعْلَمْ
أَنَّ كُلَّ مَا لَا يَصِلُ إِلَيْهِ الْمَاءُ فَهُوَ بَاطِنٌ.
Hendaknya ia tahu bahwa segala bagian yang tidak dijangkau air adalah bagian
dalam.
وَلَا
يَثْبُتُ حُكْمُ النَّجَاسَةِ لِلْفَضَلَاتِ الْبَاطِنَةِ مَا لَمْ تَظْهَرْ.
Dan hukum najis tidak berlaku pada kotoran-kotoran yang masih berada di bagian
dalam selama belum tampak keluar.
وَكُلُّ
مَا هُوَ ظَاهِرٌ وَثَبَتَ لَهُ حُكْمُ النَّجَاسَةِ، فَحَدُّ ظُهُورِهِ أَنْ
يَصِلَ الْمَاءُ إِلَيْهِ فَيُزِيلَهُ.
Dan setiap yang termasuk bagian luar serta telah tetap baginya hukum najis,
maka batas lahiriahnya adalah sejauh air dapat menjangkaunya dan
menghilangkannya.
وَلَا
مَعْنَى لِلْوَسْوَاسِ.
Dan tidak ada tempat bagi waswas dalam hal ini.
وَيَقُولُ
عِنْدَ الْفَرَاغِ مِنَ الِاسْتِنْجَاءِ: اللَّهُمَّ طَهِّرْ قَلْبِي مِنَ
النِّفَاقِ، وَحَصِّنْ فَرْجِي مِنَ الْفَوَاحِشِ.
Dan ketika selesai istinja hendaknya ia berdoa: “Ya Allah, sucikanlah hatiku
dari nifak, dan jagalah kemaluanku dari perbuatan keji.”
وَيَدْلُكُ
يَدَهُ بِحَائِطٍ أَوْ بِالْأَرْضِ إِزَالَةً لِلرَّائِحَةِ إِنْ بَقِيَتْ.
Dan ia menggosok tangannya ke dinding atau tanah untuk menghilangkan bau jika
masih tersisa.
وَالْجَمْعُ
بَيْنَ الْمَاءِ وَالْحَجَرِ مُسْتَحَبٌّ.
Menggabungkan penggunaan air dan batu itu disunahkan.
فَقَدْ
رُوِيَ أَنَّهُ لَمَّا نَزَلَ قَوْلُهُ تَعَالَى: فِيهِ رِجَالٌ يُحِبُّونَ أَنْ
يَتَطَهَّرُوا وَاللهُ يُحِبُّ الْمُطَّهِّرِينَ، قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى
اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِأَهْلِ قُبَاءَ: مَا هٰذِهِ الطَّهَارَةُ الَّتِي
أَثْنَى اللهُ بِهَا عَلَيْكُمْ؟
Diriwayatkan bahwa ketika turun firman Allah Ta‘ala: “Di dalamnya ada
orang-orang yang suka menyucikan diri dan Allah mencintai orang-orang yang
menyucikan diri,” Rasulullah صلى
الله عليه وسلم bertanya kepada penduduk Quba’: “Apa bentuk kesucian yang
karena itu Allah memuji kalian?”
قَالُوا:
كُنَّا نَجْمَعُ بَيْنَ الْمَاءِ وَالْحَجَرِ.
Mereka menjawab: “Kami menggabungkan penggunaan air dan batu.”
كَيْفِيَّةُ
الْوُضُوءِ.
Tata cara wudu.
إِذَا
فَرَغَ مِنَ الِاسْتِنْجَاءِ اشْتَغَلَ بِالْوُضُوءِ، فَلَمْ يُرَ رَسُولُ اللهِ
صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَطُّ خَارِجًا مِنَ الْغَائِطِ إِلَّا تَوَضَّأَ.
Apabila telah selesai dari istinja, ia mulai berwudu. Rasulullah صلى الله عليه
وسلم tidak pernah terlihat keluar dari buang hajat kecuali beliau
berwudu.
وَيَبْتَدِئُ
بِالسِّوَاكِ.
Dan ia memulai dengan bersiwak.
فَقَدْ
قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنَّ أَفْوَاهَكُمْ طُرُقُ
الْقُرْآنِ، فَطَيِّبُوهَا بِالسِّوَاكِ.
Sungguh Rasulullah صلى
الله عليه وسلم bersabda: “Sesungguhnya mulut-mulut kalian adalah jalan bagi
Al-Qur’an, maka wangikanlah ia dengan siwak.”
فَيَنْبَغِي
أَنْ يَنْوِيَ عِنْدَ السِّوَاكِ تَطْهِيرَ فَمِهِ لِقِرَاءَةِ الْقُرْآنِ
وَذِكْرِ اللهِ تَعَالَى فِي الصَّلَاةِ.
Maka hendaknya ia berniat saat bersiwak untuk membersihkan mulutnya demi
membaca Al-Qur’an dan berzikir kepada Allah Ta‘ala dalam salat.
وَقَالَ
صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: صَلَاةٌ عَلَى أَثَرِ سِوَاكٍ أَفْضَلُ مِنْ
خَمْسٍ وَسَبْعِينَ صَلَاةً بِغَيْرِ سِوَاكٍ.
Dan beliau صلى
الله عليه وسلم bersabda: “Salat setelah bersiwak lebih utama daripada tujuh
puluh lima salat tanpa siwak.”
وَقَالَ
صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لَوْلَا أَنْ أَشُقَّ عَلَى أُمَّتِي
لَأَمَرْتُهُمْ بِالسِّوَاكِ عِنْدَ كُلِّ صَلَاةٍ.
Dan beliau صلى
الله عليه وسلم bersabda: “Seandainya tidak memberatkan umatku, niscaya aku
perintahkan mereka bersiwak setiap kali salat.”
وَقَالَ
صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَا لِي أَرَاكُمْ تَدْخُلُونَ عَلَيَّ قُلْحًا؟
اسْتَاكُوا.
Dan beliau صلى
الله عليه وسلم bersabda: “Mengapa aku melihat kalian datang kepadaku dengan
gigi kusam? Bersiwaklah.”
وَكَانَ
صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَسْتَاكُ فِي اللَّيْلَةِ مِرَارًا.
Dan beliau صلى
الله عليه وسلم biasa bersiwak beberapa kali dalam semalam.
وَعَنِ
ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا أَنَّهُ قَالَ: لَمْ يَزَلْ رَسُولُ اللهِ
صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَأْمُرُنَا بِالسِّوَاكِ، حَتَّى ظَنَنَّا
أَنَّهُ سَيَنْزِلُ عَلَيْهِ فِيهِ شَيْءٌ.
Dan dari Ibnu Abbas رضي
الله عنهما, ia berkata: “Rasulullah صلى الله عليه وسلم terus-menerus
memerintahkan kami bersiwak, sampai-sampai kami mengira akan turun wahyu
tentangnya.”
وَقَالَ
عَلَيْهِ السَّلَامُ: عَلَيْكُمْ بِالسِّوَاكِ، فَإِنَّهُ مَطْهَرَةٌ لِلْفَمِ،
مَرْضَاةٌ لِلرَّبِّ.
Dan beliau عليه
السلام bersabda: “Hendaklah kalian bersiwak, karena ia membersihkan
mulut dan mendatangkan keridaan Tuhan.”
وَقَالَ
عَلِيُّ بْنُ أَبِي طَالِبٍ كَرَّمَ اللهُ وَجْهَهُ: السِّوَاكُ يَزِيدُ فِي
الْحِفْظِ وَيُذْهِبُ الْبَلْغَمَ.
Ali bin Abi Thalib كرم
الله وجهه berkata: “Siwak menambah daya hafal dan menghilangkan dahak.”
وَكَانَ
أَصْحَابُ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَرُوحُونَ وَالسِّوَاكُ
عَلَى آذَانِهِمْ.
Para sahabat Nabi صلى
الله عليه وسلم biasa pergi pada sore hari sementara siwak mereka terselip di
telinga mereka.
وَكَيْفِيَّتُهُ
أَنْ يَسْتَاكَ بِخَشَبِ الْأَرَاكِ أَوْ غَيْرِهِ مِنْ قُضْبَانِ الْأَشْجَارِ
مِمَّا يُخَشِّنُ وَيُزِيلُ الْقَلَحَ.
Cara bersiwak adalah menggunakan kayu arak atau selainnya dari ranting pohon
yang dapat membersihkan dan menghilangkan kusam gigi.
وَيَسْتَاكُ
عَرْضًا وَطُولًا، وَإِنِ اقْتَصَرَ فَعَرْضًا.
Ia menggosok secara melintang dan memanjang. Jika hanya memilih satu, maka
secara melintang.
وَيُسْتَحَبُّ
السِّوَاكُ عِنْدَ كُلِّ صَلَاةٍ، وَعِنْدَ كُلِّ وُضُوءٍ وَإِنْ لَمْ يُصَلِّ
عَقِيبَهُ، وَعِنْدَ تَغَيُّرِ النَّكْهَةِ بِالنَّوْمِ أَوْ طُولِ الْأَزْمِ أَوْ
كُلِّ مَا تُكْرَهُ رَائِحَتُهُ.
Bersiwak disunahkan pada setiap salat, pada setiap wudu meskipun tidak
dilanjutkan dengan salat, dan ketika bau mulut berubah karena tidur, lama diam,
atau segala sesuatu yang menyebabkan bau tidak sedap.
ثُمَّ
عِنْدَ الْفَرَاغِ مِنَ السِّوَاكِ يَجْلِسُ لِلْوُضُوءِ مُسْتَقْبِلَ
الْقِبْلَةِ، وَيَقُولُ: بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيمِ.
Setelah selesai bersiwak, ia duduk untuk berwudu menghadap kiblat, lalu
mengucapkan: “Bismillāhir-Rahmānir-Rahīm.”
قَالَ
صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لَا وُضُوءَ لِمَنْ لَمْ يُسَمِّ اللهَ تَعَالَى.
Nabi صلى الله عليه
وسلم bersabda: “Tidak ada wudu bagi orang yang tidak menyebut nama
Allah Ta‘ala.”
أَيْ
لَا وُضُوءَ كَامِلٌ.
Maksudnya: tidak ada wudu yang sempurna.
وَيَقُولُ
عِنْدَ ذٰلِكَ: أَعُوذُ بِكَ مِنْ هَمَزَاتِ الشَّيَاطِينِ، وَأَعُوذُ بِكَ رَبِّ
أَنْ يَحْضُرُونِ.
Dan saat itu ia mengucapkan: “Aku berlindung kepada-Mu dari bisikan-bisikan
setan, dan aku berlindung kepada-Mu, wahai Tuhanku, agar mereka tidak mendekat
kepadaku.”
ثُمَّ
يَغْسِلُ يَدَيْهِ ثَلَاثًا قَبْلَ أَنْ يُدْخِلَهُمَا الْإِنَاءَ.
Kemudian ia mencuci kedua tangannya tiga kali sebelum memasukkannya ke dalam
bejana.
وَيَقُولُ:
اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْيُمْنَ وَالْبَرَكَةَ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنَ
الشُّؤْمِ وَالْهَلَكَةِ.
Dan ia berdoa: “Ya Allah, aku memohon kepada-Mu keberuntungan dan keberkahan,
dan aku berlindung kepada-Mu dari kesialan dan kebinasaan.”
ثُمَّ
يَنْوِي رَفْعَ الْحَدَثِ أَوِ اسْتِبَاحَةَ الصَّلَاةِ، وَيَسْتَدِيمُ النِّيَّةَ
إِلَى غَسْلِ الْوَجْهِ، فَإِنْ نَسِيَهَا عِنْدَ الْوَجْهِ لَمْ يُجْزِهِ.
Kemudian ia berniat mengangkat hadas atau menghalalkan salat, dan terus menjaga
niat itu sampai membasuh wajah. Jika ia lupa berniat saat membasuh wajah, maka
tidak sah.
ثُمَّ
يَأْخُذُ غُرْفَةً لِفِيهِ بِيَمِينِهِ، فَيَتَمَضْمَضُ بِهَا ثَلَاثًا،
وَيُغَرْغِرُ بِأَنْ يَرُدَّ الْمَاءَ إِلَى الْغَلْصَمَةِ، إِلَّا أَنْ يَكُونَ
صَائِمًا فَيَرْفُقُ.
Lalu ia mengambil satu cidukan air untuk mulutnya dengan tangan kanan, kemudian
berkumur tiga kali, dan berkumur sampai ke tenggorokan, kecuali jika ia sedang
berpuasa maka ia melakukannya dengan lembut.
وَيَقُولُ:
اللَّهُمَّ أَعِنِّي عَلَى تِلَاوَةِ كِتَابِكَ وَكَثْرَةِ الذِّكْرِ لَكَ.
Dan ia berdoa: “Ya Allah, bantulah aku untuk membaca kitab-Mu dan banyak
berzikir kepada-Mu.”
ثُمَّ
يَأْخُذُ غُرْفَةً لِأَنْفِهِ، وَيَسْتَنْشِقُ ثَلَاثًا، وَيُصْعِدُ الْمَاءَ
بِالنَّفَسِ إِلَى خَيَاشِيمِهِ، وَيَسْتَنْثِرُ مَا فِيهَا.
Kemudian ia mengambil satu cidukan air untuk hidungnya, lalu memasukkan air ke
dalam hidung tiga kali, menaikkannya dengan napas ke pangkal hidung, lalu
mengeluarkannya.
وَيَقُولُ
فِي الِاسْتِنْشَاقِ: اللَّهُمَّ أَوْجِدْ لِي رَائِحَةَ الْجَنَّةِ وَأَنْتَ
عَنِّي رَاضٍ.
Dan ketika istinsyaq ia berdoa: “Ya Allah, karuniakanlah kepadaku bau surga,
dalam keadaan Engkau rida kepadaku.”
وَفِي
الِاسْتِنْثَارِ: اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ رَوَائِحِ النَّارِ وَمِنْ
سُوءِ الدَّارِ.
Dan ketika istintsar ia berdoa: “Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari
bau-bau neraka dan dari buruknya tempat kembali.”
لِأَنَّ
الِاسْتِنْشَاقَ إِيصَالٌ، وَالِاسْتِنْثَارَ إِزَالَةٌ.
Sebab istinsyaq adalah memasukkan, sedangkan istintsar adalah mengeluarkan.
ثُمَّ
يَغْرِفُ غُرْفَةً لِوَجْهِهِ، فَيَغْسِلُهُ مِنْ مَبْدَإِ سَطْحِ الْجَبْهَةِ
إِلَى مُنْتَهَى مَا يُقْبِلُ مِنَ الذَّقَنِ فِي الطُّولِ، وَمِنَ الْأُذُنِ
إِلَى الْأُذُنِ فِي الْعَرْضِ.
Kemudian ia mengambil satu cidukan air untuk wajahnya, lalu membasuhnya dari
awal permukaan dahi sampai ujung dagu yang menghadap ke depan secara panjang,
dan dari telinga ke telinga secara lebar.
وَلَا
يَدْخُلُ فِي حَدِّ الْوَجْهِ النَّزْعَتَانِ اللَّتَانِ عَلَى طَرَفَيِ
الْجَبِينَيْنِ، فَهُمَا مِنَ الرَّأْسِ.
Dua bagian cekung di ujung dahi tidak termasuk batas wajah, karena keduanya
termasuk kepala.
وَيُوصِلُ
الْمَاءَ إِلَى مَوْضِعِ التَّحْذِيفِ، وَهُوَ مَا يَعْتَادُ النِّسَاءُ
تَنْحِيَةَ الشَّعْرِ عَنْهُ، وَهُوَ الْقَدْرُ الَّذِي يَقَعُ فِي جَانِبِ
الْوَجْهِ مَهْمَا وُضِعَ طَرَفُ الْخَيْطِ عَلَى رَأْسِ الْأُذُنِ وَالطَّرَفُ
الثَّانِي عَلَى زَاوِيَةِ الْجَبِينِ.
Ia harus menyampaikan air ke tempat tahdzif, yaitu bagian yang biasanya para
wanita menyingkirkan rambut darinya. Itu adalah bagian pada sisi wajah yang
terbentang jika salah satu ujung benang diletakkan pada atas telinga dan ujung
lainnya pada sudut dahi.
وَيُوصِلُ
الْمَاءَ إِلَى مَنَابِتِ الشُّعُورِ الْأَرْبَعَةِ: الْحَاجِبَانِ
وَالشَّارِبَانِ وَالْعِذَارَانِ وَالْأَهْدَابِ، لِأَنَّهَا خَفِيفَةٌ فِي
الْغَالِبِ.
Ia juga menyampaikan air ke pangkal empat jenis rambut: kedua alis, kedua
kumis, dua jambang, dan bulu mata, karena semuanya biasanya tipis.
وَالْعِذَارَانِ
هُمَا مَا يُوَازِيَانِ الْأُذُنَيْنِ مِنْ مَبْدَإِ اللِّحْيَةِ.
Dua ‘idzar adalah rambut yang sejajar dengan dua telinga sejak awal tumbuhnya
janggut.
وَيَجِبُ
إِيصَالُ الْمَاءِ إِلَى مَنَابِتِ اللِّحْيَةِ الْخَفِيفَةِ، أَعْنِي مَا
يُقْبِلُ مِنَ الْوَجْهِ.
Wajib menyampaikan air ke pangkal janggut yang tipis, yaitu yang tampak dari
bagian wajah.
وَأَمَّا
الْكَثِيفَةُ فَلَا.
Adapun janggut yang lebat, maka tidak wajib sampai ke pangkalnya.
وَحُكْمُ
الْعَنْفَقَةِ حُكْمُ اللِّحْيَةِ فِي الْكَثَافَةِ وَالْخِفَّةِ.
Hukum rambut ‘anfaqah sama dengan hukum janggut, tergantung lebat atau
tipisnya.
ثُمَّ
يَفْعَلُ ذٰلِكَ ثَلَاثًا، وَيُفِيضُ الْمَاءَ عَلَى ظَاهِرِ مَا اسْتَرْسَلَ مِنَ
اللِّحْيَةِ.
Kemudian ia melakukan itu tiga kali, dan menuangkan air ke bagian luar janggut
yang menjuntai.
وَيُدْخِلُ
الْأَصَابِعَ فِي مَحَاجِرِ الْعَيْنَيْنِ وَمَوْضِعِ الرَّمَصِ وَمُجْتَمَعِ
الْكُحْلِ وَيُنَقِّيهِمَا.
Ia memasukkan jari-jari ke sudut-sudut mata, tempat kotoran mata, dan tempat
berkumpulnya celak, lalu membersihkannya.
فَقَدْ
رُوِيَ أَنَّهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَعَلَ ذٰلِكَ.
Sebab diriwayatkan bahwa beliau صلى الله عليه وسلم melakukan hal itu.
وَيَتَأَمَّلُ
عِنْدَ ذٰلِكَ خُرُوجَ الْخَطَايَا مِنْ عَيْنَيْهِ، وَكَذٰلِكَ عِنْدَ كُلِّ
عُضْوٍ.
Pada saat itu hendaknya ia merenungkan keluarnya dosa-dosa dari kedua matanya,
demikian pula pada setiap anggota badan.
وَيَقُولُ
عِنْدَهُ: اللَّهُمَّ بَيِّضْ وَجْهِي بِنُورِكَ يَوْمَ تَبْيَضُّ وُجُوهُ
أَوْلِيَائِكَ، وَلَا تُسَوِّدْ وَجْهِي بِظُلُمَاتِكَ يَوْمَ تَسْوَدُّ وُجُوهُ
أَعْدَائِكَ.
Dan ia berdoa: “Ya Allah, putihkanlah wajahku dengan cahaya-Mu pada hari wajah
para wali-Mu menjadi putih, dan jangan Engkau hitamkan wajahku dengan
kegelapan-Mu pada hari wajah para musuh-Mu menjadi hitam.”
وَيُخَلِّلُ
اللِّحْيَةَ الْكَثِيفَةَ عِنْدَ غَسْلِ الْوَجْهِ، فَإِنَّهُ مُسْتَحَبٌّ.
Dan ia menyela-nyelai janggut yang lebat ketika membasuh wajah, karena itu
disunahkan.
ثُمَّ
يَغْسِلُ يَدَيْهِ إِلَى مِرْفَقَيْهِ ثَلَاثًا، وَيُحَرِّكُ الْخَاتَمَ،
وَيُطِيلُ الْغُرَّةَ، وَيَرْفَعُ الْمَاءَ إِلَى أَعْلَى الْعَضُدِ.
Kemudian ia membasuh kedua tangannya sampai siku tiga kali, menggerakkan
cincin, memanjangkan bagian cahaya wudu, dan mengangkat air sampai ke bagian
atas lengan.
فَإِنَّهُمْ
يُحْشَرُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ غُرًّا مُحَجَّلِينَ مِنْ آثَارِ الْوُضُوءِ،
كَذٰلِكَ وَرَدَ الْخَبَرُ.
Sebab mereka akan dibangkitkan pada hari kiamat dalam keadaan bercahaya pada
wajah dan anggota-anggota wudu mereka, sebagaimana disebutkan dalam hadis.
قَالَ
صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَنِ اسْتَطَاعَ أَنْ يُطِيلَ غُرَّتَهُ
فَلْيَفْعَلْ.
Nabi صلى الله عليه
وسلم bersabda: “Barang siapa mampu memanjangkan ghurrah-nya, maka
hendaklah ia melakukannya.”
وَرُوِيَ
أَنَّ الْحِلْيَةَ تَبْلُغُ مَوَاضِعَ الْوُضُوءِ.
Dan diriwayatkan bahwa perhiasan di surga akan mencapai tempat-tempat wudu.
وَيَبْدَأُ
بِالْيُمْنَى، وَيَقُولُ: اللَّهُمَّ أَعْطِنِي كِتَابِي بِيَمِينِي وَحَاسِبْنِي
حِسَابًا يَسِيرًا.
Ia memulai dengan tangan kanan dan berdoa: “Ya Allah, berikanlah kitabku dengan
tangan kananku dan hisablah aku dengan hisab yang mudah.”
وَيَقُولُ
عِنْدَ غَسْلِ الشِّمَالِ: اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ تُعْطِيَنِي
كِتَابِي بِشِمَالِي أَوْ مِنْ وَرَاءِ ظَهْرِي.
Dan ketika membasuh tangan kiri ia berdoa: “Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu
dari Engkau memberikan kitabku dengan tangan kiriku atau dari belakang
punggungku.”
ثُمَّ
يَسْتَوْعِبُ رَأْسَهُ بِالْمَسْحِ، بِأَنْ يُبِلَّ يَدَيْهِ، وَيُلْصِقَ رُءُوسَ
أَصَابِعِ يَدَيْهِ الْيُمْنَى بِالْيُسْرَى، وَيَضَعَهُمَا عَلَى مُقَدَّمِ
الرَّأْسِ، وَيَمُدَّهُمَا إِلَى الْقَفَا، ثُمَّ يَرُدَّهُمَا إِلَى
الْمُقَدَّمَةِ، وَهٰذِهِ مَسْحَةٌ وَاحِدَةٌ.
Kemudian ia meratakan usapan ke seluruh kepala dengan cara membasahi kedua
tangannya, menempelkan ujung jari tangan kanan ke tangan kiri, meletakkannya di
bagian depan kepala, menggerakkannya sampai tengkuk, lalu mengembalikannya ke
depan. Itu dihitung satu kali usapan.
يَفْعَلُ
ذٰلِكَ ثَلَاثًا.
Ia melakukannya tiga kali.
وَيَقُولُ:
اللَّهُمَّ اغْشَنِي بِرَحْمَتِكَ، وَأَنْزِلْ عَلَيَّ مِنْ بَرَكَاتِكَ،
وَأَظِلَّنِي تَحْتَ ظِلِّ عَرْشِكَ يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّكَ.
Dan ia berdoa: “Ya Allah, liputilah aku dengan rahmat-Mu, turunkanlah kepadaku
keberkahan-Mu, dan naungilah aku di bawah naungan ‘Arsy-Mu pada hari tiada
naungan selain naungan-Mu.”
ثُمَّ
يَمْسَحُ أُذُنَيْهِ ظَاهِرَهُمَا وَبَاطِنَهُمَا بِمَاءٍ جَدِيدٍ، بِأَنْ
يُدْخِلَ مُسَبِّحَتَيْهِ فِي صِمَاخَيْ أُذُنَيْهِ، وَيُدِيرَ إِبْهَامَيْهِ
عَلَى ظَاهِرِ أُذُنَيْهِ، ثُمَّ يَضَعَ الْكَفَّ عَلَى الْأُذُنَيْنِ
اسْتِظْهَارًا، وَيُكَرِّرَهُ ثَلَاثًا.
Lalu ia mengusap kedua telinganya, bagian luar dan dalamnya, dengan air baru,
yaitu dengan memasukkan kedua telunjuknya ke lubang telinga, memutar kedua ibu
jari di bagian luar telinga, lalu menempelkan telapak tangan ke telinga sebagai
bentuk penyempurnaan, dan mengulanginya tiga kali.
وَيَقُولُ:
اللَّهُمَّ اجْعَلْنِي مِنَ الَّذِينَ يَسْتَمِعُونَ الْقَوْلَ فَيَتَّبِعُونَ
أَحْسَنَهُ، اللَّهُمَّ أَسْمِعْنِي مُنَادِيَ الْجَنَّةِ مَعَ الْأَبْرَارِ.
Dan ia berdoa: “Ya Allah, jadikanlah aku termasuk orang-orang yang mendengarkan
perkataan lalu mengikuti yang terbaik darinya. Ya Allah, perdengarkanlah
kepadaku panggilan penyeru surga bersama orang-orang yang saleh.”
ثُمَّ
يَمْسَحُ رَقَبَتَهُ بِمَاءٍ جَدِيدٍ، لِقَوْلِهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ: مَسْحُ الرَّقَبَةِ أَمَانٌ مِنَ الْغُلِّ يَوْمَ الْقِيَامَةِ.
Kemudian ia mengusap lehernya dengan air baru, berdasarkan sabda Nabi صلى الله عليه
وسلم: “Mengusap leher adalah keamanan dari belenggu pada hari
kiamat.”
وَيَقُولُ:
اللَّهُمَّ فُكَّ رَقَبَتِي مِنَ النَّارِ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنَ السَّلَاسِلِ
وَالْأَغْلَالِ.
Dan ia berdoa: “Ya Allah, bebaskanlah leherku dari neraka, dan aku berlindung
kepada-Mu dari rantai dan belenggu.”
ثُمَّ
يَغْسِلُ رِجْلَهُ الْيُمْنَى ثَلَاثًا، وَيُخَلِّلُ بِيَدِهِ الْيُسْرَى مِنْ
أَسْفَلِ أَصَابِعِ الرِّجْلِ الْيُمْنَى.
Kemudian ia membasuh kaki kanannya tiga kali, dan menyela-nyelai jari-jarinya
dengan tangan kiri dari bagian bawah jari kaki kanan.
وَيَبْدَأُ
بِالْخِنْصِرِ مِنَ الرِّجْلِ الْيُمْنَى، وَيَخْتِمُ بِالْخِنْصِرِ مِنَ
الرِّجْلِ الْيُسْرَى.
Ia memulai dari jari kelingking kaki kanan dan mengakhiri pada jari kelingking
kaki kiri.
وَيَقُولُ:
اللَّهُمَّ ثَبِّتْ قَدَمِي عَلَى الصِّرَاطِ الْمُسْتَقِيمِ يَوْمَ تَزِلُّ
الْأَقْدَامُ فِي النَّارِ.
Dan ia berdoa: “Ya Allah, teguhkanlah kakiku di atas shirath yang lurus pada
hari kaki-kaki tergelincir ke dalam neraka.”
وَيَقُولُ
عِنْدَ غَسْلِ الْيُسْرَى: أَعُوذُ بِكَ أَنْ تَزِلَّ قَدَمِي عَنِ الصِّرَاطِ
يَوْمَ تَزِلُّ فِيهِ أَقْدَامُ الْمُنَافِقِينَ.
Dan ketika membasuh kaki kiri ia berdoa: “Aku berlindung kepada-Mu dari
tergelincirnya kakiku dari shirath pada hari tergelincirnya kaki-kaki orang
munafik.”
وَيَرْفَعُ
الْمَاءَ إِلَى أَنْصَافِ السَّاقَيْنِ.
Dan ia mengangkat air sampai pertengahan betis.
فَإِذَا
فَرَغَ رَفَعَ رَأْسَهُ إِلَى السَّمَاءِ، وَقَالَ: أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ
إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ
وَرَسُولُهُ، سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ، لَا إِلٰهَ إِلَّا أَنْتَ،
عَمِلْتُ سُوءًا وَظَلَمْتُ نَفْسِي، أَسْتَغْفِرُكَ اللَّهُمَّ وَأَتُوبُ
إِلَيْكَ، فَاغْفِرْ لِي وَتُبْ عَلَيَّ، إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ،
اللَّهُمَّ اجْعَلْنِي مِنَ التَّوَّابِينَ، وَاجْعَلْنِي مِنَ الْمُتَطَهِّرِينَ،
وَاجْعَلْنِي مِنْ عِبَادِكَ الصَّالِحِينَ، وَاجْعَلْنِي عَبْدًا صَبُورًا
شَكُورًا، وَاجْعَلْنِي أَذْكُرُكَ كَثِيرًا وَأُسَبِّحُكَ بُكْرَةً وَأَصِيلًا.
Apabila telah selesai, ia mengangkat kepala ke langit dan membaca: “Aku
bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya, dan aku
bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan rasul-Nya. Mahasuci Engkau ya Allah
dan dengan memuji-Mu, tiada tuhan selain Engkau. Aku telah berbuat buruk dan
menzalimi diriku, maka aku memohon ampun kepada-Mu ya Allah dan aku bertobat
kepada-Mu. Maka ampunilah aku dan terimalah tobatku, sesungguhnya Engkau Maha
Penerima tobat lagi Maha Penyayang. Ya Allah, jadikanlah aku termasuk
orang-orang yang bertobat, jadikanlah aku termasuk orang-orang yang bersuci,
jadikanlah aku termasuk hamba-hamba-Mu yang saleh, jadikanlah aku hamba yang
sabar dan bersyukur, dan jadikanlah aku banyak mengingat-Mu dan banyak
bertasbih kepada-Mu di waktu pagi dan petang.”
يُقَالُ:
إِنَّ مَنْ قَالَ هٰذَا بَعْدَ الْوُضُوءِ خُتِمَ عَلَى وُضُوئِهِ بِخَاتَمٍ،
وَرُفِعَ لَهُ تَحْتَ الْعَرْشِ، فَلَمْ يَزَلْ يُسَبِّحُ اللهَ تَعَالَى
وَيُقَدِّسُهُ، وَيُكْتَبُ لَهُ ثَوَابُ ذٰلِكَ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ.
Dikatakan bahwa siapa yang mengucapkan doa ini setelah wudu, maka wudunya akan
diberi cap dan diangkat untuknya ke bawah ‘Arsy, lalu terus-menerus bertasbih
dan menyucikan Allah Ta‘ala, dan pahala hal itu dituliskan baginya sampai hari
kiamat.
وَيُكْرَهُ
فِي الْوُضُوءِ أُمُورٌ.
Ada beberapa hal yang dimakruhkan dalam wudu.
مِنْهَا
أَنْ يَزِيدَ عَلَى الثَّلَاثِ، فَمَنْ زَادَ فَقَدْ ظَلَمَ.
Di antaranya adalah menambah lebih dari tiga kali. Barang siapa menambah, maka
ia telah melampaui batas.
وَأَنْ
يُسْرِفَ فِي الْمَاءِ.
Dan berlaku boros dalam penggunaan air.
تَوَضَّأَ
عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ ثَلَاثًا ثَلَاثًا، وَقَالَ: مَنْ زَادَ فَقَدْ
ظَلَمَ وَأَسَاءَ.
Beliau عليه
الصلاة والسلام berwudu tiga-tiga kali dan bersabda: “Barang siapa menambah,
maka ia telah berbuat zalim dan buruk.”
وَقَالَ:
سَيَكُونُ قَوْمٌ مِنْ هٰذِهِ الْأُمَّةِ يَعْتَدُونَ فِي الدُّعَاءِ وَالطُّهُورِ.
Dan beliau bersabda: “Akan ada suatu kaum dari umat ini yang melampaui batas
dalam doa dan bersuci.”
وَيُقَالُ:
مِنْ وَهْنِ عِلْمِ الرَّجُلِ وُلُوعُهُ بِالْمَاءِ فِي الطُّهُورِ.
Dan dikatakan: termasuk lemahnya ilmu seseorang adalah keterlaluan dalam
penggunaan air untuk bersuci.
وَقَالَ
إِبْرَاهِيمُ بْنُ أَدْهَمَ: يُقَالُ: إِنَّ أَوَّلَ مَا يُبْتَدَأُ الْوَسْوَاسُ
مِنْ قِبَلِ الطُّهُورِ.
Ibrahim bin Adham berkata: “Dikatakan bahwa awal mula waswas biasanya datang
dari sisi bersuci.”
وَقَالَ
الْحَسَنُ: إِنَّ شَيْطَانًا يَضْحَكُ بِالنَّاسِ فِي الْوُضُوءِ، يُقَالُ لَهُ
الْوَلْهَانُ.
Al-Hasan berkata: “Ada setan yang mempermainkan manusia dalam wudu, namanya
al-Walhan.”
وَيُكْرَهُ
أَنْ يَنْفُضَ الْيَدَ فَيَرُشَّ الْمَاءَ.
Dimakruhkan pula mengibaskan tangan sehingga memercikkan air.
وَأَنْ
يَتَكَلَّمَ فِي أَثْنَاءِ الْوُضُوءِ.
Dan berbicara di tengah-tengah wudu.
وَأَنْ
يَلْطِمَ وَجْهَهُ بِالْمَاءِ لَطْمًا.
Dan menepuk-nepukkan air ke wajah dengan keras.
وَكَرِهَ
قَوْمٌ التَّنْشِيفَ، وَقَالُوا: الْوُضُوءُ يُوزَنُ.
Sebagian ulama memakruhkan mengeringkan anggota wudu, dan mereka berkata: “Wudu
itu ditimbang.”
قَالَهُ
سَعِيدُ بْنُ الْمُسَيَّبِ وَالزُّهْرِيُّ.
Hal ini dikatakan oleh Sa‘id bin al-Musayyib dan az-Zuhri.
لٰكِنْ
رُوِيَ عَنْ مُعَاذٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّهُ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ
وَالسَّلَامُ مَسَحَ وَجْهَهُ بِطَرَفِ ثَوْبِهِ.
Akan tetapi diriwayatkan dari Mu‘adz رضي الله عنه bahwa beliau عليه الصلاة والسلام mengusap wajahnya
dengan ujung pakaiannya.
وَرَوَتْ
عَائِشَةُ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا أَنَّهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَتْ
لَهُ مَنْشَفَةٌ.
Dan Aisyah رضي
الله عنها meriwayatkan bahwa Nabi صلى الله عليه وسلم memiliki handuk.
وَلٰكِنْ
طُعِنَ فِي هٰذِهِ الرِّوَايَةِ عَنْ عَائِشَةَ.
Namun riwayat dari Aisyah ini diperselisihkan kekuatannya.
وَيُكْرَهُ
أَنْ يَتَوَضَّأَ مِنْ إِنَاءٍ صُفْرٍ.
Dimakruhkan pula berwudu dari bejana kuningan.
وَأَنْ
يَتَوَضَّأَ بِالْمَاءِ الْمُشَمَّسِ، وَذٰلِكَ مِنْ جِهَةِ الطِّبِّ.
Dan juga berwudu dengan air yang dipanaskan oleh matahari, dan hal ini dilihat
dari sisi kesehatan.
وَقَدْ
رُوِيَ عَنِ ابْنِ عُمَرَ وَأَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا كَرَاهِيَةُ
إِنَاءِ الصُّفْرِ.
Telah diriwayatkan dari Ibnu Umar dan Abu Hurairah رضي الله عنهما bahwa keduanya
memakruhkan bejana kuningan.
وَقَالَ
بَعْضُهُمْ: أَخْرَجْتُ لِشُعْبَةَ مَاءً فِي إِنَاءٍ صُفْرٍ، فَأَبَى أَنْ
يَتَوَضَّأَ مِنْهُ.
Sebagian orang berkata: “Aku pernah membawa air kepada Syu‘bah dalam bejana
kuningan, tetapi ia enggan berwudu darinya.”
وَنُقِلَ
كَرَاهِيَةُ ذٰلِكَ عَنِ ابْنِ عُمَرَ وَأَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا.
Dan kemakruhan hal itu juga dinukil dari Ibnu Umar dan Abu Hurairah رضي الله عنهما.
وَمَهْمَا
فَرَغَ مِنْ وُضُوئِهِ وَأَقْبَلَ عَلَى الصَّلَاةِ، فَيَنْبَغِي أَنْ يَخْطُرَ
بِبَالِهِ أَنَّهُ طَهُرَ ظَاهِرُهُ، وَهُوَ مَوْضِعُ نَظَرِ الْخَلْقِ.
Setelah ia selesai dari wudunya dan menghadap kepada salat, hendaknya terlintas
dalam benaknya bahwa lahiriahnya telah suci, padahal itu hanyalah tempat
pandangan makhluk.
أَنْ
يَسْتَحْيِيَ مِنْ مُنَاجَاةِ اللهِ تَعَالَى مِنْ غَيْرِ تَطْهِيرِ قَلْبِهِ،
وَهُوَ مَوْضِعُ نَظَرِ الرَّبِّ سُبْحَانَهُ.
Maka hendaknya ia merasa malu bermunajat kepada Allah Ta‘ala tanpa menyucikan
hatinya, padahal hati itulah tempat pandangan Tuhan سبحانه.
وَلْيُحَقِّقْ
طَهَارَةَ الْقَلْبِ بِالتَّوْبَةِ.
Dan hendaknya ia mewujudkan kesucian hati dengan tobat.
وَالْخُلُوِّ
عَنِ الْأَخْلَاقِ الْمَذْمُومَةِ، وَالتَّخَلُّقِ بِالْأَخْلَاقِ الْحَمِيدَةِ
أَوْلَى.
Mengosongkan diri dari akhlak tercela dan menghiasinya dengan akhlak terpuji
adalah lebih utama.
وَأَنَّ
مَنْ يَقْتَصِرُ عَلَى طَهَارَةِ الظَّاهِرِ كَمَنْ يَدْعُو مَلِكًا إِلَى
بَيْتِهِ، فَتَرَكَهُ مَشْحُونًا بِالْقَاذُورَاتِ، وَاشْتَغَلَ بِتَجْصِيصِ
ظَاهِرِ الْبَابِ الْبَرَّانِيِّ مِنَ الدَّارِ.
Orang yang hanya mencukupkan diri pada kesucian lahir seperti orang yang
mengundang seorang raja ke rumahnya, tetapi membiarkan rumah itu penuh dengan
kotoran, sementara ia sibuk memperindah bagian luar pintu rumah.
وَمَا
أَجْدَرَ مِثْلَ هٰذَا الرَّجُلِ بِالتَّعَرُّضِ لِلْمَقْتِ وَالْبَوَارِ.
Orang seperti itu sangat layak untuk mendapat kemurkaan dan kebinasaan.
وَاللهُ
سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى أَعْلَمُ.
Dan Allah سبحانه
وتعالى lebih mengetahui.
فَضِيلَةُ
الْوُضُوءِ.
Keutamaan wudu.
قَالَ
رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَنْ تَوَضَّأَ فَأَحْسَنَ
الْوُضُوءَ، وَصَلَّى رَكْعَتَيْنِ، لَمْ يُحَدِّثْ نَفْسَهُ فِيهِمَا بِشَيْءٍ
مِنَ الدُّنْيَا، خَرَجَ مِنْ ذُنُوبِهِ كَيَوْمِ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ.
Rasulullah صلى
الله عليه وسلم bersabda: “Barang siapa berwudu lalu menyempurnakan wudunya,
kemudian salat dua rakaat tanpa berbicara dalam hatinya tentang sesuatu dari
urusan dunia, maka ia keluar dari dosa-dosanya seperti pada hari ibunya
melahirkannya.”
وَفِي
لَفْظٍ آخَرَ: وَلَمْ يَسْهُ فِيهِمَا، غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ.
Dalam lafaz lain disebutkan: “Dan tidak lalai dalam keduanya, maka diampuni
dosa-dosanya yang telah lalu.”
وَقَالَ
صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيْضًا: أَلَا أُنَبِّئُكُمْ بِمَا يُكَفِّرُ
اللهُ بِهِ الْخَطَايَا وَيَرْفَعُ بِهِ الدَّرَجَاتِ؟ إِسْبَاغُ الْوُضُوءِ عَلَى
الْمَكَارِهِ، وَنَقْلُ الْأَقْدَامِ إِلَى الْمَسَاجِدِ، وَانْتِظَارُ الصَّلَاةِ
بَعْدَ الصَّلَاةِ، فَذٰلِكُمُ الرِّبَاطُ، ثَلَاثَ مَرَّاتٍ.
Dan beliau صلى
الله عليه وسلم juga bersabda: “Maukah aku tunjukkan kepada kalian sesuatu yang
dengannya Allah menghapus kesalahan-kesalahan dan mengangkat derajat-derajat?
Menyempurnakan wudu pada saat-saat yang tidak disukai, melangkahkan kaki ke
masjid-masjid, dan menunggu salat setelah salat. Itulah ribath, itulah ribath,
itulah ribath.”
وَتَوَضَّأَ
صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَرَّةً مَرَّةً، وَقَالَ: هٰذَا وُضُوءٌ لَا
يَقْبَلُ اللهُ الصَّلَاةَ إِلَّا بِهِ.
Beliau صلى
الله عليه وسلم pernah berwudu sekali-sekali, lalu bersabda: “Ini adalah wudu
yang Allah tidak menerima salat kecuali dengannya.”
وَتَوَضَّأَ
مَرَّتَيْنِ مَرَّتَيْنِ، وَقَالَ: مَنْ تَوَضَّأَ مَرَّتَيْنِ مَرَّتَيْنِ آتَاهُ
اللهُ أَجْرَهُ مَرَّتَيْنِ.
Dan beliau pernah berwudu dua kali-dua kali, lalu bersabda: “Barang siapa
berwudu dua kali-dua kali, Allah memberinya pahala dua kali.”
وَتَوَضَّأَ
ثَلَاثًا ثَلَاثًا، وَقَالَ: هٰذَا وُضُوئِي، وَوُضُوءُ الْأَنْبِيَاءِ مِنْ
قَبْلِي، وَوُضُوءُ خَلِيلِ الرَّحْمٰنِ إِبْرَاهِيمَ عَلَيْهِ السَّلَامُ.
Dan beliau pernah berwudu tiga kali-tiga kali, lalu bersabda: “Inilah wuduku,
wudu para nabi sebelumku, dan wudu Khalil ar-Rahman Ibrahim عليه السلام.”
وَقَالَ
صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَنْ ذَكَرَ اللهَ عِنْدَ وُضُوئِهِ طَهَّرَ
اللهُ جَسَدَهُ كُلَّهُ، وَمَنْ لَمْ يَذْكُرِ اللهَ لَمْ يَطْهُرْ مِنْهُ إِلَّا
مَا أَصَابَ الْمَاءُ.
Dan Nabi صلى
الله عليه وسلم bersabda: “Barang siapa menyebut nama Allah ketika berwudu,
Allah menyucikan seluruh tubuhnya. Dan barang siapa tidak menyebut nama Allah,
maka tidak suci darinya kecuali bagian yang terkena air.”
وَقَالَ
صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَنْ تَوَضَّأَ عَلَى طُهْرٍ كَتَبَ اللهُ لَهُ
بِهِ عَشْرَ حَسَنَاتٍ.
Dan Nabi صلى
الله عليه وسلم bersabda: “Barang siapa berwudu dalam keadaan masih suci, Allah
menuliskan baginya sepuluh kebaikan.”
وَقَالَ
صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: الْوُضُوءُ عَلَى الْوُضُوءِ نُورٌ عَلَى نُورٍ.
Dan Nabi صلى
الله عليه وسلم bersabda: “Wudu di atas wudu adalah cahaya di atas cahaya.”
وَهٰذَا
كُلُّهُ حَثٌّ عَلَى تَجْدِيدِ الْوُضُوءِ.
Semua ini merupakan anjuran untuk memperbarui wudu.
وَقَالَ
عَلَيْهِ السَّلَامُ: إِذَا تَوَضَّأَ الْعَبْدُ الْمُسْلِمُ، فَتَمَضْمَضَ،
خَرَجَتِ الْخَطَايَا مِنْ فِيهِ، فَإِذَا اسْتَنْثَرَ، خَرَجَتِ الْخَطَايَا مِنْ
أَنْفِهِ، فَإِذَا غَسَلَ وَجْهَهُ، خَرَجَتِ الْخَطَايَا مِنْ وَجْهِهِ حَتَّى
تَخْرُجَ مِنْ تَحْتِ أَشْفَارِ عَيْنَيْهِ.
Dan beliau عليه
السلام bersabda: “Apabila seorang hamba Muslim berwudu lalu berkumur,
keluarlah dosa-dosa dari mulutnya. Jika ia mengeluarkan air dari hidungnya,
keluarlah dosa-dosa dari hidungnya. Jika ia membasuh wajahnya, keluarlah
dosa-dosa dari wajahnya sampai keluar dari bawah bulu mata kedua matanya.”
فَإِذَا
غَسَلَ يَدَيْهِ، خَرَجَتِ الْخَطَايَا مِنْ يَدَيْهِ حَتَّى تَخْرُجَ مِنْ تَحْتِ
أَظْفَارِهِ.
“Jika ia membasuh kedua tangannya, keluarlah dosa-dosa dari kedua tangannya
sampai keluar dari bawah kuku-kukunya.”
فَإِذَا
مَسَحَ بِرَأْسِهِ، خَرَجَتِ الْخَطَايَا مِنْ رَأْسِهِ حَتَّى تَخْرُجَ مِنْ
تَحْتِ أُذُنَيْهِ.
“Jika ia mengusap kepalanya, keluarlah dosa-dosa dari kepalanya sampai keluar
dari bawah kedua telinganya.”
وَإِذَا
غَسَلَ رِجْلَيْهِ، خَرَجَتِ الْخَطَايَا مِنْ رِجْلَيْهِ حَتَّى تَخْرُجَ مِنْ
تَحْتِ أَظْفَارِ رِجْلَيْهِ.
“Dan jika ia membasuh kedua kakinya, keluarlah dosa-dosa dari kedua kakinya
sampai keluar dari bawah kuku-kuku kakinya.”
ثُمَّ
كَانَ مَشْيُهُ إِلَى الْمَسْجِدِ وَصَلَاتُهُ نَافِلَةً لَهُ.
“Kemudian langkahnya menuju masjid dan salatnya menjadi tambahan pahala
baginya.”
وَيُرْوَى:
إِنَّ الطَّاهِرَ كَالصَّائِمِ.
Dan diriwayatkan: “Orang yang selalu dalam keadaan suci itu seperti orang yang
berpuasa.”
قَالَ
صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَنْ تَوَضَّأَ فَأَحْسَنَ الْوُضُوءَ، ثُمَّ
رَفَعَ طَرْفَهُ إِلَى السَّمَاءِ، فَقَالَ: أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا
اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ
وَرَسُولُهُ، فُتِحَتْ لَهُ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ الثَّمَانِيَةُ، يَدْخُلُ مِنْ
أَيِّهَا شَاءَ.
Nabi صلى الله عليه
وسلم bersabda: “Barang siapa berwudu lalu menyempurnakan wudunya,
kemudian mengangkat pandangannya ke langit dan berkata: ‘Aku bersaksi bahwa
tiada tuhan selain Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya, dan aku bersaksi bahwa
Muhammad adalah hamba dan rasul-Nya,’ maka dibukakan baginya delapan pintu
surga, ia masuk dari pintu mana saja yang ia kehendaki.”
وَقَالَ
عُمَرُ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ: إِنَّ الْوُضُوءَ الصَّالِحَ يَطْرُدُ عَنْكَ
الشَّيْطَانَ.
Dan Umar رضي
الله عنه berkata: “Wudu yang baik akan mengusir setan darimu.”
وَقَالَ
مُجَاهِدٌ: مَنِ اسْتَطَاعَ أَنْ لَا يَبِيتَ إِلَّا طَاهِرًا ذَاكِرًا
مُسْتَغْفِرًا فَلْيَفْعَلْ، فَإِنَّ الْأَرْوَاحَ تُبْعَثُ عَلَى مَا قُبِضَتْ
عَلَيْهِ.
Mujahid berkata: “Barang siapa mampu untuk tidak tidur malam kecuali dalam
keadaan suci, berzikir, dan beristigfar, maka lakukanlah. Sebab ruh-ruh akan
dibangkitkan sesuai dengan keadaan ketika ia dicabut.”
كَيْفِيَّةُ
الْغُسْلِ.
Tata cara mandi.
وَهُوَ
أَنْ يَضَعَ الْإِنَاءَ عَنْ يَمِينِهِ، ثُمَّ يُسَمِّيَ اللهَ تَعَالَى،
وَيَغْسِلَ يَدَيْهِ ثَلَاثًا.
Caranya ialah meletakkan bejana di sebelah kanannya, lalu membaca basmalah,
kemudian mencuci kedua tangannya tiga kali.
ثُمَّ
يَسْتَنْجِيَ كَمَا وَصَفْتُ لَكَ.
Kemudian ia beristinja sebagaimana telah aku jelaskan kepadamu.
وَيُزِيلُ
مَا عَلَى بَدَنِهِ مِنْ نَجَاسَةٍ إِنْ كَانَتْ.
Lalu ia menghilangkan najis yang ada pada tubuhnya jika memang ada.
ثُمَّ
يَتَوَضَّأُ وُضُوءَهُ لِلصَّلَاةِ كَمَا وَصَفْنَا، إِلَّا غَسْلَ الْقَدَمَيْنِ
فَإِنَّهُ يُؤَخِّرُهُمَا.
Kemudian ia berwudu seperti wudunya untuk salat sebagaimana telah dijelaskan,
kecuali membasuh kedua kaki, maka itu diakhirkan.
فَإِنْ
غَسَلَهُمَا ثُمَّ وَضَعَهُمَا عَلَى الْأَرْضِ كَانَ إِضَاعَةً لِلْمَاءِ.
Jika ia membasuh keduanya lalu meletakkannya di tanah, maka hal itu menjadi
penyia-nyiaan air.
ثُمَّ
يَصُبُّ الْمَاءَ عَلَى رَأْسِهِ ثَلَاثًا.
Kemudian ia menuangkan air ke atas kepalanya tiga kali.
ثُمَّ
عَلَى شِقِّهِ الْأَيْمَنِ ثَلَاثًا.
Lalu ke sisi kanan tubuhnya tiga kali.
ثُمَّ
عَلَى شِقِّهِ الْأَيْسَرِ ثَلَاثًا.
Lalu ke sisi kiri tubuhnya tiga kali.
ثُمَّ
يَدْلُكُ مَا أَقْبَلَ مِنْ بَدَنِهِ.
Kemudian ia menggosok bagian tubuhnya yang mudah dijangkau.
وَيُخَلِّلُ
شَعْرَ الرَّأْسِ وَاللِّحْيَةِ.
Dan ia menyela-nyelai rambut kepala dan janggut.
وَيُوصِلُ
الْمَاءَ إِلَى مَنَابِتِ مَا كَثُفَ مِنْهُ أَوْ خَفَّ.
Ia menyampaikan air ke pangkal rambut, baik yang lebat maupun yang tipis.
وَلَيْسَ
عَلَى الْمَرْأَةِ نَقْضُ الضَّفَائِرِ، إِلَّا إِذَا عَلِمَتْ أَنَّ الْمَاءَ لَا
يَصِلُ إِلَى خِلَالِ الشَّعْرِ.
Tidak wajib bagi perempuan untuk mengurai kepang rambutnya, kecuali jika ia
mengetahui bahwa air tidak sampai ke sela-sela rambut.
وَيَتَعَهَّدُ
مَعَاطِفَ الْبَدَنِ.
Dan ia memperhatikan lipatan-lipatan tubuh.
وَلْيَتَّقِ
أَنْ يَمَسَّ ذَكَرَهُ فِي أَثْنَاءِ ذٰلِكَ.
Dan hendaknya ia menghindari menyentuh kemaluannya selama melakukan itu.
فَإِنْ
فَعَلَ ذٰلِكَ فَلْيُعِدِ الْوُضُوءَ.
Jika ia melakukannya, hendaknya ia mengulangi wudunya.
وَإِنْ
تَوَضَّأَ قَبْلَ الْغُسْلِ فَلَا يُعِيدُهُ بَعْدَ الْغُسْلِ.
Dan jika ia telah berwudu sebelum mandi, maka ia tidak perlu mengulanginya
setelah mandi.
فَهٰذِهِ
سُنَنُ الْوُضُوءِ وَالْغُسْلِ.
Inilah sunah-sunah wudu dan mandi.
ذَكَرْنَا
مِنْهَا مَا لَا بُدَّ لِسَالِكِ طَرِيقِ الْآخِرَةِ مِنْ عِلْمِهِ وَعَمَلِهِ.
Kami menyebutkan darinya hal-hal yang wajib diketahui dan diamalkan oleh orang
yang menempuh jalan akhirat.
وَمَا
عَدَاهُ مِنَ الْمَسَائِلِ الَّتِي يَحْتَاجُ إِلَيْهَا فِي عَوَارِضِ
الْأَحْوَالِ، فَلْيَرْجِعْ فِيهَا إِلَى كُتُبِ الْفِقْهِ.
Adapun selain itu dari berbagai masalah yang dibutuhkan pada keadaan-keadaan
khusus, hendaklah dirujuk kepada kitab-kitab fikih.
وَالْوَاجِبُ
مِنْ جُمْلَةِ مَا ذَكَرْنَاهُ فِي الْغُسْلِ أَمْرَانِ: النِّيَّةُ وَاسْتِيعَابُ
الْبَدَنِ بِالْغُسْلِ.
Yang wajib dari apa yang kami sebutkan dalam mandi ada dua: niat dan meratakan
air ke seluruh tubuh.
وَفُرُوضُ
الْوُضُوءِ: النِّيَّةُ، وَغَسْلُ الْوَجْهِ، وَغَسْلُ الْيَدَيْنِ إِلَى
الْمِرْفَقَيْنِ، وَمَسْحُ مَا يُنْطَلَقُ عَلَيْهِ الِاسْمُ مِنَ الرَّأْسِ،
وَغَسْلُ الرِّجْلَيْنِ إِلَى الْكَعْبَيْنِ، وَالتَّرْتِيبُ.
Fardu-fardu wudu ialah: niat, membasuh wajah, membasuh kedua tangan sampai
siku, mengusap bagian kepala yang sah disebut sebagai kepala, membasuh kedua
kaki sampai mata kaki, dan tertib.
وَأَمَّا
الْمُوَالَاةُ فَلَيْسَتْ بِوَاجِبَةٍ.
Adapun muwalah, maka itu tidak wajib.
وَالْغُسْلُ
الْوَاجِبُ بِأَرْبَعَةٍ: بِخُرُوجِ الْمَنِيِّ، وَالْتِقَاءِ الْخِتَانَيْنِ،
وَالْحَيْضِ، وَالنِّفَاسِ.
Mandi wajib terjadi karena empat hal: keluarnya mani, bertemunya dua khitan,
haid, dan nifas.
وَمَا
عَدَاهُ مِنَ الْأَغْسَالِ سُنَّةٌ.
Adapun mandi selain itu hukumnya sunah.
كَغُسْلِ
الْعِيدَيْنِ وَالْجُمُعَةِ وَالْأَعْيَادِ وَالْإِحْرَامِ وَالْوُقُوفِ
بِعَرَفَةَ وَمُزْدَلِفَةَ وَلِدُخُولِ مَكَّةَ وَثَلَاثَةِ أَغْسَالِ أَيَّامِ
التَّشْرِيقِ وَلِطَوَافِ الْوَدَاعِ عَلَى قَوْلٍ.
Seperti mandi untuk dua hari raya, hari Jumat, hari-hari raya lainnya, ihram,
wukuf di Arafah dan Muzdalifah, untuk masuk Makkah, tiga kali mandi pada
hari-hari tasyrik, dan untuk thawaf wada‘ menurut salah satu pendapat.
وَالْكَافِرُ
إِذَا أَسْلَمَ غَيْرَ جُنُبٍ، وَالْمَجْنُونُ إِذَا أَفَاقَ، وَلِمَنْ غَسَّلَ
مَيِّتًا، فَكُلُّ ذٰلِكَ مُسْتَحَبٌّ.
Demikian pula bagi orang kafir yang masuk Islam dalam keadaan tidak junub,
orang gila yang sadar kembali, dan orang yang memandikan mayit. Semua itu
hukumnya sunah.
كَيْفِيَّةُ
التَّيَمُّمِ.
Tata cara tayamum.
مَنْ
تَعَذَّرَ عَلَيْهِ اسْتِعْمَالُ الْمَاءِ لِفَقْدِهِ بَعْدَ الطَّلَبِ، أَوْ
بِمَانِعٍ لَهُ عَنِ الْوُصُولِ إِلَيْهِ مِنْ سَبُعٍ أَوْ حَابِسٍ، أَوْ كَانَ
الْمَاءُ الْحَاضِرُ يَحْتَاجُ إِلَيْهِ لِعَطَشِهِ أَوْ لِعَطَشِ رَفِيقِهِ، أَوْ
كَانَ مِلْكًا لِغَيْرِهِ وَلَمْ يَبِعْهُ إِلَّا بِأَكْثَرَ مِنْ ثَمَنِ
الْمِثْلِ، أَوْ كَانَ بِهِ جِرَاحَةٌ أَوْ مَرَضٌ وَخَافَ مِنِ اسْتِعْمَالِهِ
فَسَادَ الْعُضْوِ أَوْ شِدَّةَ الضَّنَى.
Barang siapa tidak dapat menggunakan air karena tidak mendapatkannya setelah
mencarinya, atau karena ada penghalang untuk mencapainya seperti binatang buas
atau orang yang menahan, atau air yang ada dibutuhkannya untuk menghilangkan
dahaganya atau dahaga temannya, atau air itu milik orang lain dan tidak dijual
kecuali dengan harga lebih tinggi dari harga wajar, atau ia memiliki luka atau
penyakit dan khawatir penggunaan air akan merusak anggota tubuhnya atau
menambah parah sakitnya.
فَيَنْبَغِي
أَنْ يَصْبِرَ حَتَّى يَدْخُلَ عَلَيْهِ وَقْتُ الْفَرِيضَةِ.
Maka hendaknya ia menunggu sampai masuk waktu salat fardu.
ثُمَّ
يَقْصِدُ صَعِيدًا طَيِّبًا، عَلَيْهِ تُرَابٌ طَاهِرٌ خَالِصٌ لَيِّنٌ، بِحَيْثُ
يَثُورُ مِنْهُ غُبَارٌ.
Kemudian ia menuju tanah yang baik, yang di atasnya terdapat debu suci, murni,
dan lembut, sehingga debunya dapat beterbangan.
وَيَضْرِبُ
عَلَيْهِ كَفَّيْهِ ضَامًّا بَيْنَ أَصَابِعِهِ.
Lalu ia menepukkan kedua telapak tangannya ke tanah itu dengan merapatkan
jari-jarinya.
وَيَمْسَحُ
بِهِمَا جَمِيعَ وَجْهِهِ مَرَّةً وَاحِدَةً.
Kemudian ia mengusap seluruh wajahnya dengan keduanya satu kali.
وَيَنْوِي
عِنْدَ ذٰلِكَ اسْتِبَاحَةَ الصَّلَاةِ.
Dan saat itu ia berniat menghalalkan salat.
وَلَا
يُكَلَّفُ إِيصَالَ الْغُبَارِ إِلَى مَا تَحْتَ الشُّعُورِ، خَفَّتْ أَوْ
كَثُفَتْ.
Ia tidak dibebani untuk menyampaikan debu ke bagian bawah rambut, baik rambut
itu tipis maupun lebat.
وَيَجْتَهِدُ
أَنْ يَسْتَوْعِبَ بَشَرَةَ وَجْهِهِ بِالْغُبَارِ.
Ia harus bersungguh-sungguh agar debu itu merata ke seluruh kulit wajah.
وَيَحْصُلُ
ذٰلِكَ بِالضَّرْبَةِ الْوَاحِدَةِ، فَإِنَّ عَرْضَ الْوَجْهِ لَا يَزِيدُ عَلَى
عَرْضِ الْكَفَّيْنِ.
Hal itu bisa diperoleh dengan satu tepukan, karena lebar wajah tidak melebihi
lebar kedua telapak tangan.
وَيَكْفِي
فِي الِاسْتِيعَابِ غَالِبُ الظَّنِّ.
Dan dalam meratakan debu, cukup dengan dugaan yang kuat.
ثُمَّ
يَنْزِعُ خَاتَمَهُ، وَيَضْرِبُ ضَرْبَةً ثَانِيَةً، يُفَرِّجُ فِيهَا بَيْنَ
أَصَابِعِهِ.
Lalu ia melepaskan cincinnya, kemudian menepuk sekali lagi, kali ini dengan
merenggangkan jari-jarinya.
ثُمَّ
يُلْصِقُ ظُهُورَ يَدِهِ الْيُمْنَى بِبُطُونِ أَصَابِعِ يَدِهِ الْيُسْرَى،
بِحَيْثُ لَا يُجَاوِزُ أَطْرَافُ الْأَنَامِلِ مِنْ إِحْدَى الْجِهَتَيْنِ عَرْضَ
الْمُسَبِّحَةِ مِنَ الْأُخْرَى.
Kemudian ia menempelkan punggung tangan kanannya pada bagian dalam jari-jari
tangan kirinya, sehingga ujung jari-jari salah satu tangan tidak melebihi lebar
jari telunjuk tangan yang lain.
ثُمَّ
يُمِرُّ يَدَهُ الْيُسْرَى مِنْ حَيْثُ وَضَعَهَا عَلَى ظَاهِرِ سَاعِدِهِ
الْأَيْمَنِ إِلَى الْمِرْفَقِ.
Lalu ia menggerakkan tangan kirinya dari tempat ia meletakkannya di atas lengan
kanan bagian luar sampai siku.
ثُمَّ
يَقْلِبُ بَطْنَ كَفِّهِ الْيُسْرَى عَلَى بَاطِنِ سَاعِدِهِ الْأَيْمَنِ،
وَيُمِرُّهَا إِلَى الْكُوعِ.
Kemudian ia membalik telapak tangan kirinya ke bagian dalam lengan kanan, lalu
menggerakkannya sampai pergelangan tangan.
وَيُمِرُّ
بَطْنَ إِبْهَامِهِ الْيُسْرَى عَلَى ظَاهِرِ إِبْهَامِهِ الْيُمْنَى.
Dan ia mengusap bagian dalam ibu jari tangan kiri pada bagian luar ibu jari
tangan kanan.
ثُمَّ
يَفْعَلُ بِالْيُسْرَى كَذٰلِكَ.
Kemudian ia melakukan hal yang sama pada tangan kiri.
ثُمَّ
يَمْسَحُ كَفَّيْهِ وَيُخَلِّلُ بَيْنَ أَصَابِعِهِ.
Setelah itu ia mengusap kedua telapak tangannya dan menyela-nyelai
jari-jarinya.
وَغَرَضُ
هٰذَا التَّكْلِيفِ تَحْصِيلُ الِاسْتِيعَابِ إِلَى الْمِرْفَقَيْنِ بِضَرْبَةٍ
وَاحِدَةٍ.
Tujuan cara ini adalah agar debu merata sampai siku dengan satu tepukan.
فَإِنْ
عَسُرَ عَلَيْهِ ذٰلِكَ، فَلَا بَأْسَ بِأَنْ يَسْتَوْعِبَ بِضَرْبَتَيْنِ
وَزِيَادَةٍ.
Jika hal itu sulit baginya, maka tidak mengapa ia meratakannya dengan dua
tepukan atau lebih.
وَإِذَا
صَلَّى بِهِ الْفَرْضَ، فَلَهُ أَنْ يَتَنَفَّلَ كَيْفَ شَاءَ.
Apabila ia telah melakukan tayamum lalu salat fardu dengannya, maka ia boleh
melakukan salat sunah sesukanya.
فَإِنْ
جَمَعَ بَيْنَ فَرِيضَتَيْنِ، فَيَنْبَغِي أَنْ يُعِيدَ التَّيَمُّمَ
لِلثَّانِيَةِ.
Jika ia hendak menggabungkan dua salat fardu, maka sebaiknya ia mengulangi
tayamum untuk salat yang kedua.
وَهٰكَذَا
يُفْرِدُ كُلَّ فَرِيضَةٍ بِتَيَمُّمٍ.
Demikianlah, setiap salat fardu sebaiknya dilakukan dengan satu tayamum
tersendiri.
وَاللهُ
أَعْلَمُ.
Dan Allah lebih mengetahui.