Membersihkan Diri dari Kotoran-Kotoran Lahiriah (1)
اَلْقِسْمُ الثَّالِثُ مِنَ النَّظَافَةِ: التَّنْظِيفُ عَنِ الْفَضَلَاتِ الظَّاهِرَةِ.
Bagian ketiga dari kebersihan adalah membersihkan diri dari kotoran-kotoran
lahiriah.
وَهِيَ
نَوْعَانِ: أَوْسَاخٌ وَأَجْزَاءٌ.
Kotoran lahiriah itu ada dua macam: kotoran dan bagian-bagian tubuh.
اَلنَّوْعُ
الْأَوَّلُ: الْأَوْسَاخُ وَالرُّطُوبَاتُ الْمُتَرَشِّحَةُ.
Macam pertama ialah kotoran dan cairan-cairan yang merembes.
وَهِيَ
ثَمَانِيَةٌ.
Jumlahnya ada delapan.
اَلْأَوَّلُ:
مَا يَجْتَمِعُ فِي شَعْرِ الرَّأْسِ مِنَ الدَّرَنِ وَالْقَمْلِ.
Yang pertama: apa yang berkumpul pada rambut kepala berupa kotoran dan kutu.
فَالتَّنْظِيفُ
عَنْهُ مُسْتَحَبٌّ بِالْغَسْلِ وَالتَّرْجِيلِ وَالتَّدْهِينِ، إِزَالَةً
لِلشَّعَثِ عَنْهُ.
Membersihkannya disunahkan dengan mencuci, menyisir, dan memberi minyak, untuk
menghilangkan kusut darinya.
وَكَانَ
صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُدْهِنُ الشَّعْرَ وَيُرَجِّلُهُ غِبًّا،
وَيَأْمُرُ بِهِ.
Nabi صلى الله عليه
وسلم biasa memberi minyak pada rambutnya, menyisirnya selang-seling,
dan memerintahkan hal itu.
وَيَقُولُ
صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ادْهَنُوا غِبًّا.
Dan beliau صلى
الله عليه وسلم bersabda: “Berilah minyak secara selang-seling.”
وَقَالَ
صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَنْ كَانَ لَهُ شَعْرٌ فَلْيُكْرِمْهُ.
Dan beliau صلى
الله عليه وسلم bersabda: “Barang siapa memiliki rambut, hendaklah ia
memuliakannya.”
أَيْ
لِيَصُنْهُ عَنِ الْأَوْسَاخِ.
Maksudnya, hendaknya ia menjaganya dari kotoran.
وَدَخَلَ
عَلَيْهِ رَجُلٌ ثَائِرُ الرَّأْسِ أَشْعَثُ اللِّحْيَةِ.
Pernah seorang lelaki masuk menemui beliau dengan rambut kepala yang berantakan
dan janggut yang kusut.
فَقَالَ:
أَمَا كَانَ لِهٰذَا دُهْنٌ يُسَكِّنُ بِهِ شَعْرَهُ؟
Maka beliau bersabda: “Tidakkah orang ini memiliki minyak untuk merapikan
rambutnya?”
ثُمَّ
قَالَ: يَدْخُلُ أَحَدُكُمْ كَأَنَّهُ شَيْطَانٌ.
Kemudian beliau bersabda: “Salah seorang dari kalian datang seakan-akan seperti
setan.”
اَلثَّانِي:
مَا يَجْتَمِعُ مِنَ الْوَسَخِ فِي مَعَاطِفِ الْأُذُنِ.
Yang kedua: kotoran yang berkumpul di lekukan-lekukan telinga.
وَالْمَسْحُ
يُزِيلُ مَا يَظْهَرُ مِنْهُ.
Mengusap telinga dapat menghilangkan bagian yang tampak darinya.
وَمَا
يَجْتَمِعُ فِي قَعْرِ الصِّمَاخِ فَيَنْبَغِي أَنْ يُنَظَّفَ بِرِفْقٍ عِنْدَ
الْخُرُوجِ مِنَ الْحَمَّامِ.
Adapun yang berkumpul di bagian dalam lubang telinga, hendaknya dibersihkan
dengan lembut ketika keluar dari kamar mandi.
فَإِنَّ
كَثْرَةَ ذٰلِكَ رُبَّمَا تَضُرُّ بِالسَّمْعِ.
Karena terlalu banyak membersihkannya kadang dapat membahayakan pendengaran.
اَلثَّالِثُ:
مَا يَجْتَمِعُ فِي دَاخِلِ الْأَنْفِ مِنَ الرُّطُوبَاتِ الْمُنْعَقِدَةِ
الْمُلْتَصِقَةِ بِجَوَانِبِهِ.
Yang ketiga: apa yang berkumpul di dalam hidung berupa cairan kental yang
menempel pada sisi-sisinya.
وَيُزِيلُهَا
بِالِاسْتِنْشَاقِ وَالِاسْتِنْثَارِ.
Ia menghilangkannya dengan istinsyaq dan istintsar.
اَلرَّابِعُ:
مَا يَجْتَمِعُ عَلَى الْأَسْنَانِ وَطَرَفِ اللِّسَانِ مِنَ الْقَلَحِ.
Yang keempat: apa yang berkumpul pada gigi dan ujung lidah berupa kotoran dan
kusam.
فَيُزِيلُهُ
السِّوَاكُ وَالْمَضْمَضَةُ، وَقَدْ ذَكَرْنَاهُمَا.
Hal itu dihilangkan dengan siwak dan berkumur, dan keduanya telah kami
jelaskan.
اَلْخَامِسُ:
مَا يَجْتَمِعُ فِي اللِّحْيَةِ مِنَ الْوَسَخِ وَالْقَمْلِ إِذَا لَمْ
يُتَعَهَّدْ.
Yang kelima: apa yang berkumpul pada janggut berupa kotoran dan kutu jika tidak
dirawat.
وَيُسْتَحَبُّ
إِزَالَةُ ذٰلِكَ بِالْغَسْلِ وَالتَّسْرِيحِ بِالْمُشْطِ.
Menghilangkannya disunahkan dengan mencuci dan menyisir dengan sisir.
وَفِي
الْخَبَرِ الْمَشْهُورِ أَنَّهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ لَا
يُفَارِقُهُ الْمُشْطُ وَالْمِدْرَى وَالْمِرْآةُ فِي سَفَرٍ وَلَا حَضَرٍ.
Dalam riwayat yang masyhur disebutkan bahwa beliau صلى الله عليه وسلم tidak pernah berpisah
dari sisir, alat penggaruk kepala, dan cermin, baik ketika safar maupun ketika
mukim.
وَهِيَ
سُنَّةُ الْعَرَبِ.
Dan itu merupakan kebiasaan bangsa Arab.
وَفِي
خَبَرٍ غَرِيبٍ أَنَّهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يُسَرِّحُ
لِحْيَتَهُ فِي الْيَوْمِ مَرَّتَيْنِ.
Dalam riwayat yang asing disebutkan bahwa beliau صلى الله عليه وسلم menyisir janggutnya
dua kali dalam sehari.
وَكَانَ
صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَثَّ اللِّحْيَةِ.
Dan beliau صلى
الله عليه وسلم berjanggut lebat.
وَكَذٰلِكَ
كَانَ أَبُو بَكْرٍ.
Demikian pula Abu Bakar.
وَكَانَ
عُثْمَانُ طَوِيلَ اللِّحْيَةِ رَقِيقَهَا.
Utsman memiliki janggut yang panjang namun tipis.
وَكَانَ
عَلِيٌّ عَرِيضَ اللِّحْيَةِ، قَدْ مَلَأَتْ مَا بَيْنَ مَنْكِبَيْهِ.
Ali memiliki janggut yang lebar, sampai-sampai memenuhi ruang antara kedua
bahunya.
وَفِي
حَدِيثٍ أَغْرَبَ مِنْهُ قَالَتْ عَائِشَةُ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا: اجْتَمَعَ
قَوْمٌ بِبَابِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَخَرَجَ
إِلَيْهِمْ، فَرَأَيْتُهُ يَطَّلِعُ فِي الْحُبِّ يُسَوِّي مِنْ رَأْسِهِ
وَلِحْيَتِهِ.
Dalam hadis yang lebih asing lagi, Aisyah رضي الله عنها berkata: “Sekelompok
orang berkumpul di depan pintu Rasulullah صلى الله عليه وسلم, lalu beliau keluar
menemui mereka. Aku melihat beliau bercermin pada bejana air sambil merapikan
rambut kepala dan janggutnya.”
فَقُلْتُ:
أَوَتَفْعَلُ ذٰلِكَ يَا رَسُولَ اللهِ؟
Lalu aku berkata: “Apakah engkau melakukan itu, wahai Rasulullah?”
فَقَالَ:
نَعَمْ، إِنَّ اللهَ يُحِبُّ مِنْ عَبْدِهِ أَنْ يَتَجَمَّلَ لِإِخْوَانِهِ إِذَا
خَرَجَ إِلَيْهِمْ.
Beliau menjawab: “Ya, sesungguhnya Allah menyukai seorang hamba yang berhias
untuk saudara-saudaranya ketika ia keluar menemui mereka.”
وَالْجَاهِلُ
رُبَّمَا يَظُنُّ أَنَّ ذٰلِكَ مِنْ حُبِّ التَّزَيُّنِ لِلنَّاسِ، قِيَاسًا عَلَى
أَخْلَاقِ غَيْرِهِ، وَتَشْبِيهًا لِلْمَلَائِكَةِ بِالْحَدَّادِينَ.
Orang bodoh mungkin mengira bahwa hal itu termasuk cinta berhias demi manusia,
dengan mengqiyaskannya kepada akhlak selain beliau dan menyerupakan para
malaikat dengan tukang-tukang besi.
وَهَيْهَاتَ.
Sangat jauh dugaan itu.
فَقَدْ
كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَأْمُورًا بِالدَّعْوَةِ.
Karena Rasulullah صلى
الله عليه وسلم diperintahkan untuk berdakwah.
وَكَانَ
مِنْ وَظَائِفِهِ أَنْ يَسْعَى فِي تَعْظِيمِ أَمْرِ نَفْسِهِ فِي قُلُوبِهِمْ
كَيْلَا تَزْدَرِيَهُ نُفُوسُهُمْ.
Dan termasuk tugas beliau ialah berusaha agar kedudukannya diagungkan dalam
hati mereka, supaya jiwa mereka tidak meremehkannya.
وَيُحَسِّنَ
صُورَتَهُ فِي أَعْيُنِهِمْ كَيْلَا تَسْتَصْغِرَهُ أَعْيُنُهُمْ، فَيُنَفِّرَهُمْ
ذٰلِكَ.
Dan agar beliau memperindah penampilannya di mata mereka supaya pandangan
mereka tidak meremehkannya, yang kemudian membuat mereka menjauh.
وَيَتَعَلَّقَ
الْمُنَافِقُونَ بِذٰلِكَ فِي تَنْفِيرِهِمْ.
Dan agar orang-orang munafik tidak menjadikan hal itu sebagai alasan untuk
menjauhkan manusia.
وَهٰذَا
الْقَصْدُ وَاجِبٌ عَلَى كُلِّ عَالِمٍ تَصَدَّى لِدَعْوَةِ الْخَلْقِ إِلَى اللهِ
عَزَّ وَجَلَّ.
Tujuan seperti ini wajib bagi setiap alim yang tampil mengajak manusia kepada
Allah عز وجل.
وَهُوَ
أَنْ يُرَاعِيَ مِنْ ظَاهِرِهِ مَا لَا يُوجِبُ نُفْرَةَ النَّاسِ عَنْهُ.
Yaitu hendaknya ia menjaga penampilan lahiriahnya agar tidak menyebabkan
manusia menjauh darinya.
وَالِاعْتِمَادُ
فِي مِثْلِ هٰذِهِ الْأُمُورِ عَلَى النِّيَّةِ.
Patokan dalam perkara-perkara semacam ini terletak pada niat.
فَإِنَّهَا
أَعْمَالٌ فِي أَنْفُسِهَا تَكْتَسِبُ الْأَوْصَافَ مِنَ الْمَقْصُودِ.
Karena amal-amal seperti ini pada dirinya netral, lalu sifat hukumnya
bergantung pada tujuan yang dimaksud.
فَالتَّزَيُّنُ
عَلَى هٰذَا الْقَصْدِ مَحْبُوبٌ.
Maka berhias dengan tujuan seperti ini adalah sesuatu yang dicintai.
وَتَرْكُ
الشَّعَثِ فِي اللِّحْيَةِ إِظْهَارًا لِلزُّهْدِ وَقِلَّةِ الْمُبَالَاةِ
بِالنَّفْسِ مَحْذُورٌ.
Adapun membiarkan janggut kusut demi menampakkan kezuhudan dan ketidakpedulian
terhadap diri sendiri adalah sesuatu yang terlarang.
وَتَرْكُهُ
شُغْلًا بِمَا هُوَ أَهَمُّ مِنْهُ مَحْبُوبٌ.
Tetapi meninggalkan perawatan itu karena sibuk dengan sesuatu yang lebih
penting darinya adalah sesuatu yang terpuji.
وَهٰذِهِ
أَحْوَالٌ بَاطِنَةٌ بَيْنَ الْعَبْدِ وَبَيْنَ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ.
Semua ini adalah keadaan-keadaan batin antara hamba dan Allah عز وجل.
وَالنَّاقِدُ
بَصِيرٌ، وَالتَّلْبِيسُ غَيْرُ رَائِجٍ عَلَيْهِ بِحَالٍ.
Sang Penilai adalah Mahatahu, dan tipu daya sama sekali tidak laku di
hadapan-Nya.
وَكَمْ
مِنْ جَاهِلٍ يَتَعَاطَى هٰذِهِ الْأُمُورَ الْتِفَاتًا إِلَى الْخَلْقِ، وَهُوَ
يُلَبِّسُ عَلَى نَفْسِهِ وَعَلَى غَيْرِهِ، وَيَزْعُمُ أَنَّ قَصْدَهُ الْخَيْرُ.
Betapa banyak orang bodoh melakukan hal-hal ini demi pandangan makhluk, lalu
menipu dirinya dan orang lain, sambil mengira bahwa tujuannya adalah kebaikan.
فَتَرَى
جَمَاعَةً مِنَ الْعُلَمَاءِ يَلْبَسُونَ الثِّيَابَ الْفَاخِرَةَ، وَيَزْعُمُونَ
أَنَّ قَصْدَهُمْ إِرْغَامُ الْمُبْتَدِعَةِ وَالْمُجَادِلِينَ، وَالتَّقَرُّبُ
إِلَى اللهِ تَعَالَى بِهِ.
Engkau melihat sekelompok orang alim memakai pakaian mewah, lalu mereka
mengklaim bahwa tujuan mereka adalah untuk membuat para ahli bid‘ah dan para
pembantah tunduk, serta untuk mendekatkan diri kepada Allah Ta‘ala dengan hal
itu.
وَهٰذَا
أَمْرٌ يَنْكَشِفُ يَوْمَ تُبْلَى السَّرَائِرُ، وَيَوْمَ يُبْعْثَرُ مَا فِي
الْقُبُورِ، وَيُحَصَّلُ مَا فِي الصُّدُورِ.
Perkara seperti ini akan tersingkap pada hari ketika rahasia-rahasia diuji,
ketika apa yang ada di dalam kubur dibangkitkan, dan apa yang tersimpan di
dalam dada dimunculkan.
فَعِنْدَ
ذٰلِكَ تَتَمَيَّزُ السَّبِيكَةُ الْخَالِصَةُ مِنَ الْبَهْرَجَةِ.
Pada saat itulah akan tampak jelas mana emas murni dan mana emas palsu.
فَنَعُوذُ
بِاللهِ مِنَ الْخِزْيِ يَوْمَ الْعَرْضِ الْأَكْبَرِ.
Maka kita berlindung kepada Allah dari kehinaan pada hari penampakan yang
agung.
اَلسَّادِسُ:
وَسَخُ الْبَرَاجِمِ، وَهِيَ مَعَاطِفُ ظُهُورِ الْأَنَامِلِ.
Yang keenam: kotoran pada barājim, yaitu lipatan-lipatan ruas jari bagian luar.
كَانَتِ
الْعَرَبُ لَا تُكْثِرُ غَسْلَ ذٰلِكَ لِتَرْكِهَا غَسْلَ الْيَدِ عَقِيبَ
الطَّعَامِ.
Orang-orang Arab dahulu tidak terlalu sering mencuci bagian itu karena mereka
biasa tidak mencuci tangan sesudah makan.
فَيَجْتَمِعُ
فِي تِلْكَ الْغُضُونِ وَسَخٌ.
Akibatnya, kotoran berkumpul di lipatan-lipatan itu.
فَأَمَرَهُمْ
رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِغَسْلِ الْبَرَاجِمِ.
Maka Rasulullah صلى
الله عليه وسلم memerintahkan mereka untuk mencuci barājim.
اَلسَّابِعُ:
تَنْظِيفُ الرَّوَاجِبِ.
Yang ketujuh: membersihkan rawājib.
أَمَرَ
رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْعَرَبَ بِتَنْظِيفِهَا.
Rasulullah صلى
الله عليه وسلم memerintahkan orang-orang Arab untuk membersihkannya.
وَهِيَ
رُءُوسُ الْأَنَامِلِ وَمَا تَحْتَ الْأَظْفَارِ مِنَ الْوَسَخِ.
Yaitu ujung-ujung jari dan kotoran yang berada di bawah kuku.
لِأَنَّهَا
كَانَتْ لَا يَحْضُرُهَا الْمِقْرَاضُ فِي كُلِّ وَقْتٍ، فَتَجْتَمِعُ فِيهَا
أَوْسَاخٌ.
Sebab mereka dahulu tidak selalu memiliki pemotong kuku setiap waktu, sehingga
kotoran berkumpul di sana.
فَوَقَّتَ
لَهُمْ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَلْمَ الْأَظْفَارِ
وَنَتْفَ الْإِبْطِ وَحَلْقَ الْعَانَةِ أَرْبَعِينَ يَوْمًا.
Lalu Rasulullah صلى
الله عليه وسلم menetapkan batas waktu bagi mereka untuk memotong kuku,
mencabut bulu ketiak, dan mencukur bulu kemaluan, yaitu empat puluh hari.
لٰكِنَّهُ
أَمَرَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِتَنْظِيفِ مَا تَحْتَ
الْأَظْفَارِ.
Namun Rasulullah صلى
الله عليه وسلم juga memerintahkan agar membersihkan bagian bawah kuku.
وَجَاءَ
فِي الْأَثَرِ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اسْتَبْطَأَ
الْوَحْيَ، فَلَمَّا هَبَطَ عَلَيْهِ جِبْرِيلُ عَلَيْهِ السَّلَامُ قَالَ لَهُ:
كَيْفَ نَنْزِلُ عَلَيْكُمْ وَأَنْتُمْ لَا تَغْسِلُونَ بَرَاجِمَكُمْ، وَلَا
تُنَظِّفُونَ رَوَاجِبَكُمْ، وَقُلْحًا لَا تَسْتَاكُونَ، مُرْ أُمَّتَكَ بِذٰلِكَ.
Dalam sebuah atsar disebutkan bahwa wahyu terlambat turun kepada Nabi صلى الله عليه
وسلم. Ketika Jibril عليه السلام turun, ia berkata kepada beliau:
“Bagaimana kami akan turun kepada kalian, sementara kalian tidak mencuci
barājim kalian, tidak membersihkan rawājib kalian, dan gigi kalian kusam karena
tidak bersiwak? Perintahkanlah umatmu akan hal itu.”
وَالْأُفُّ
وَسَخُ الظُّفُرِ، وَالتُّفُّ وَسَخُ الْأُذُنِ.
Kata “uf” berarti kotoran kuku, dan “tuff” berarti kotoran telinga.
وَقَوْلُهُ
عَزَّ وَجَلَّ: فَلَا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ، تَعْبِهُمَا.
Dan firman Allah عز وجل:
“Maka janganlah engkau mengatakan kepada keduanya ‘uf’,” yaitu janganlah engkau
membuat keduanya merasa jijik.
أَيْ
بِمَا تَحْتَ الظُّفْرِ مِنَ الْوَسَخِ.
Yakni dengan kotoran yang berada di bawah kuku.
وَقِيلَ:
لَا تَتَأَذَّ بِهِمَا كَمَا تَتَأَذَّى بِمَا تَحْتَ الظُّفْرِ.
Dan dikatakan: maksudnya ialah janganlah engkau merasa terganggu oleh keduanya
sebagaimana engkau merasa terganggu oleh kotoran di bawah kuku.
اَلثَّامِنُ:
الدَّرَنُ الَّذِي يَجْتَمِعُ عَلَى جَمِيعِ الْبَدَنِ بِرَشْحِ الْعَرَقِ
وَغُبَارِ الطَّرِيقِ.
Yang kedelapan: daki yang berkumpul pada seluruh tubuh karena keringat dan debu
jalan.
وَذٰلِكَ
يُزِيلُهُ الْحَمَّامُ.
Hal itu dihilangkan dengan mandi di pemandian.
وَلَا
بَأْسَ بِدُخُولِ الْحَمَّامِ.
Dan tidak mengapa masuk ke pemandian umum.
دَخَلَ
أَصْحَابُ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَمَّامَاتِ الشَّامِ.
Para sahabat Rasulullah صلى
الله عليه وسلم pernah masuk ke pemandian-pemandian di Syam.
وَقَالَ
بَعْضُهُمْ: نِعْمَ الْبَيْتُ بَيْتُ الْحَمَّامِ، يُطَهِّرُ الْبَدَنَ
وَيُذَكِّرُ النَّارَ.
Sebagian mereka berkata: “Sebaik-baik tempat adalah pemandian, karena ia
membersihkan tubuh dan mengingatkan kepada api neraka.”
رُوِيَ
ذٰلِكَ عَنْ أَبِي الدَّرْدَاءِ وَأَبِي أَيُّوبَ الْأَنْصَارِيِّ رَضِيَ اللهُ
عَنْهُمَا.
Hal itu diriwayatkan dari Abu ad-Darda’ dan Abu Ayyub al-Anshari رضي الله عنهما.
وَقَالَ
بَعْضُهُمْ: بِئْسَ الْبَيْتُ بَيْتُ الْحَمَّامِ، يُبْدِي الْعَوْرَةَ وَيُذْهِبُ
الْحَيَاءَ.
Dan sebagian yang lain berkata: “Seburuk-buruk tempat adalah pemandian, karena
ia menampakkan aurat dan menghilangkan rasa malu.”
فَهٰذَا
تَعَرُّضٌ لِآفَتِهِ، وَذَاكَ تَعَرُّضٌ لِفَائِدَتِهِ.
Yang pertama menyoroti bahayanya, sedangkan yang kedua menyoroti manfaatnya.
وَلَا
بَأْسَ بِطَلَبِ فَائِدَتِهِ عِنْدَ الِاحْتِرَازِ مِنْ آفَتِهِ.
Dan tidak mengapa mengambil manfaatnya jika berhati-hati dari bahayanya.
وَلٰكِنْ
عَلَى دَاخِلِ الْحَمَّامِ وَظَائِفُ مِنَ السُّنَنِ وَالْوَاجِبَاتِ.
Akan tetapi, bagi orang yang masuk ke pemandian ada beberapa tugas berupa sunah
dan kewajiban.
فَعَلَيْهِ
وَاجِبَانِ فِي عَوْرَتِهِ، وَوَاجِبَانِ فِي عَوْرَةِ غَيْرِهِ.
Ada dua kewajiban terkait aurat dirinya sendiri, dan dua kewajiban terkait
aurat orang lain.
أَمَّا
الْوَاجِبَانِ فِي عَوْرَتِهِ فَهُوَ أَنْ يَصُونَهَا عَنْ نَظَرِ الْغَيْرِ،
وَيَصُونَهَا عَنْ مَسِّ الْغَيْرِ.
Adapun dua kewajiban terkait aurat dirinya ialah menjaga aurat itu dari
pandangan orang lain dan menjaganya dari sentuhan orang lain.
فَلَا
يَتَعَاطَى أَمْرَهَا وَإِزَالَةَ وَسَخِهَا إِلَّا بِيَدِهِ.
Maka ia tidak boleh mengurus auratnya dan membersihkan kotorannya kecuali
dengan tangannya sendiri.
وَيَمْنَعُ
الدَّلَّاكَ مِنْ مَسِّ الْفَخِذِ وَمَا بَيْنَ السُّرَّةِ إِلَى الْعَانَةِ.
Dan ia harus mencegah tukang gosok dari menyentuh paha dan bagian antara pusar
sampai kemaluan.
وَفِي
إِبَاحَةِ مَسِّ مَا لَيْسَ بِسَوْءَةٍ لِإِزَالَةِ الْوَسَخِ احْتِمَالٌ.
Dalam kebolehan menyentuh bagian selain kemaluan demi membersihkan kotoran
memang ada kemungkinan pendapat yang membolehkan.
وَلٰكِنِ
الْأَقْيَسُ التَّحْرِيمُ، إِذْ أُلْحِقَ مَسُّ السَّوْأَتَيْنِ فِي التَّحْرِيمِ
بِالنَّظَرِ.
Namun yang lebih qiyas adalah keharamannya, sebab menyentuh dua kemaluan
disamakan hukumnya dengan melihatnya dalam hal keharaman.
فَكَذٰلِكَ
يَنْبَغِي أَنْ تَكُونَ بَقِيَّةُ الْعَوْرَةِ، أَعْنِي الْفَخِذَيْنِ.
Demikian pula semestinya sisa aurat yang lain, yakni kedua paha.
وَالْوَاجِبَانِ
فِي عَوْرَةِ الْغَيْرِ أَنْ يَغُضَّ بَصَرَ نَفْسِهِ عَنْهَا، وَأَنْ يَنْهَى
عَنْ كَشْفِهَا.
Adapun dua kewajiban terkait aurat orang lain adalah menundukkan pandangan dari
aurat itu dan melarang agar aurat itu tidak dibuka.
لِأَنَّ
النَّهْيَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَاجِبٌ.
Sebab mencegah kemungkaran itu wajib.
وَعَلَيْهِ
ذِكْرُ ذٰلِكَ، وَلَيْسَ عَلَيْهِ الْقَبُولُ.
Ia wajib mengingatkan, tetapi tidak dibebani agar orang lain pasti menerimanya.
وَلَا
يَسْقُطُ عَنْهُ وُجُوبُ الذِّكْرِ إِلَّا لِخَوْفِ ضَرْبٍ أَوْ شَتْمٍ أَوْ مَا
يَجْرِي عَلَيْهِ مِمَّا هُوَ حَرَامٌ فِي نَفْسِهِ.
Kewajiban mengingatkan tidak gugur kecuali jika ia khawatir akan dipukul,
dicaci, atau tertimpa sesuatu yang haram pada dirinya.
فَلَيْسَ
عَلَيْهِ أَنْ يُنْكِرَ حَرَامًا يُرْهِقُ الْمُنْكِرَ عَلَيْهِ إِلَى مُبَاشَرَةِ
حَرَامٍ آخَرَ.
Maka ia tidak wajib mengingkari satu kemungkaran jika hal itu justru
menyeretnya kepada melakukan kemungkaran lain.
فَأَمَّا
قَوْلُهُ: أَعْلَمُ أَنَّ ذٰلِكَ لَا يُفِيدُ وَلَا يُعْمَلُ بِهِ، فَهٰذَا لَا
يَكُونُ عُذْرًا.
Adapun ucapan seseorang: “Aku tahu itu tidak akan bermanfaat dan tidak akan
diamalkan,” maka itu bukan alasan yang sah.
بَلْ
لَا بُدَّ مِنَ الذِّكْرِ.
Tetap harus ada peringatan.
فَلَا
يَخْلُو قَلْبٌ عَنِ التَّأَثُّرِ مِنْ سَمَاعِ الْإِنْكَارِ وَاسْتِشْعَارِ
الِاحْتِرَازِ عِنْدَ التَّعْبِيرِ بِالْمَعَاصِي.
Tidak ada hati yang benar-benar kosong dari pengaruh mendengar pengingkaran dan
merasakan keharusan berhati-hati ketika maksiat disebut sebagai maksiat.
وَذٰلِكَ
يُؤَثِّرُ فِي تَقْبِيحِ الْأَمْرِ فِي عَيْنِهِ وَتَنْفِيرِ نَفْسِهِ.
Hal itu berpengaruh dalam menampakkan keburukan perbuatan itu di matanya dan
membuat jiwanya menjauh darinya.
فَلَا
يَجُوزُ تَرْكُهُ.
Karena itu, tidak boleh meninggalkannya.
وَلِمِثْلِ
هٰذَا صَارَ الْحَزْمُ تَرْكَ دُخُولِ الْحَمَّامِ فِي هٰذِهِ الْأَوْقَاتِ.
Karena alasan seperti ini, sikap yang lebih hati-hati adalah meninggalkan masuk
ke pemandian pada masa-masa seperti itu.
إِذْ
لَا تَخْلُو عَنْ عَوْرَاتٍ مَكْشُوفَةٍ، لَا سِيَّمَا مَا تَحْتَ السُّرَّةِ
إِلَى مَا فَوْقَ الْعَانَةِ.
Sebab hampir tidak pernah kosong dari aurat-aurat yang terbuka, terutama bagian
di bawah pusar sampai di atas kemaluan.
إِذِ
النَّاسُ لَا يَعُدُّونَهَا عَوْرَةً، وَقَدْ أَلْحَقَهَا الشَّرْعُ
بِالْعَوْرَةِ، وَجَعَلَهَا كَالْحَرِيمِ لَهَا.
Karena manusia sering tidak menganggap bagian itu sebagai aurat, padahal
syariat memasukkannya ke dalam aurat dan menjadikannya seperti kawasan larangan
yang dekat dengannya.
وَلِهٰذَا
يُسْتَحَبُّ تَخْلِيَةُ الْحَمَّامِ.
Karena itu, disunahkan mengosongkan pemandian.
وَقَالَ
بِشْرُ بْنُ الْحَارِثِ: مَا أَعْنَفَ رَجُلًا لَا يَمْلِكُ إِلَّا دِرْهَمًا
دَفَعَهُ لِيُخْلَى لَهُ الْحَمَّامُ.
Bisyru bin al-Harits berkata: “Betapa kasar penilaian terhadap seseorang yang
hanya memiliki satu dirham lalu memberikannya agar pemandian dikosongkan
untuknya.”
وَرُئِيَ
ابْنُ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا فِي الْحَمَّامِ وَوَجْهُهُ إِلَى الْحَائِطِ
وَقَدْ عَصَبَ عَيْنَيْهِ بِعِصَابَةٍ.
Ibnu Umar رضي
الله عنهما pernah terlihat berada di pemandian dengan wajah menghadap
dinding dan kedua matanya diikat dengan kain penutup.
وَقَالَ
بَعْضُهُمْ: لَا بَأْسَ بِدُخُولِ الْحَمَّامِ، وَلٰكِنْ بِإِزَارَيْنِ: إِزَارٌ
لِلْعَوْرَةِ، وَإِزَارٌ لِلرَّأْسِ يَتَقَنَّعُ بِهِ وَيَحْفَظُ عَيْنَيْهِ.
Sebagian orang berkata: “Tidak mengapa masuk ke pemandian, tetapi dengan dua
kain: satu kain untuk aurat, dan satu kain untuk kepala yang digunakan untuk
menutupi serta menjaga pandangannya.”
وَأَمَّا
السُّنَنُ فَعَشَرَةٌ.
Adapun sunah-sunahnya ada sepuluh.
اَلْأَوَّلُ:
النِّيَّةُ، وَهُوَ أَنْ لَا يَدْخُلَ لِعَاجِلِ دُنْيَا، وَلَا عَابِثًا لِأَجْلِ
هَوًى، بَلْ يَقْصِدُ بِهِ التَّنَظُّفَ الْمَحْبُوبَ تَزَيُّنًا لِلصَّلَاةِ.
Yang pertama adalah niat, yaitu agar ia tidak masuk hanya untuk kesenangan
duniawi yang cepat atau untuk bermain-main mengikuti hawa nafsu, tetapi ia
berniat membersihkan diri yang dicintai syariat sebagai persiapan yang baik
untuk salat.
ثُمَّ
يُعْطِي الْحَمَّامِيَّ الْأُجْرَةَ قَبْلَ الدُّخُولِ، فَإِنَّ مَا يَسْتَوْفِيهِ
مَجْهُولٌ، وَكَذٰلِكَ مَا يَنْتَظِرُهُ الْحَمَّامِيُّ.
Kemudian ia memberikan upah kepada pengelola pemandian sebelum masuk, karena
kadar manfaat yang akan diambilnya belum diketahui, demikian pula apa yang
diharapkan oleh pengelola pemandian.
فَتَسْلِيمُ
الْأُجْرَةِ قَبْلَ الدُّخُولِ دَفْعٌ لِلْجَهَالَةِ مِنْ أَحَدِ الْعِوَضَيْنِ،
وَتَطْيِيبٌ لِنَفْسِهِ.
Membayar upah sebelum masuk dapat menghilangkan ketidakjelasan dari salah satu
imbalan dan juga menyenangkan hati pengelolanya.
ثُمَّ
يُقَدِّمُ رِجْلَهُ الْيُسْرَى عِنْدَ الدُّخُولِ، وَيَقُولُ: بِسْمِ اللهِ
الرَّحْمٰنِ الرَّحِيمِ، أَعُوذُ بِاللهِ مِنَ الرِّجْسِ النَّجِسِ، الْخَبِيثِ
الْمُخْبِثِ، الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ.
Kemudian ia mendahulukan kaki kiri ketika masuk dan mengucapkan:
“Bismillāhir-Rahmānir-Rahīm. Aku berlindung kepada Allah dari kotoran yang
najis, yang buruk dan memburukkan, yaitu setan yang terkutuk.”
ثُمَّ
يَدْخُلُ وَقْتَ الْخَلْوَةِ، أَوْ يَتَكَلَّفُ تَخْلِيَةَ الْحَمَّامِ.
Setelah itu ia masuk pada waktu sepi, atau berupaya agar pemandian itu
dikosongkan.
فَإِنَّهُ
إِنْ لَمْ يَكُنْ فِي الْحَمَّامِ إِلَّا أَهْلُ الدِّينِ وَالْمُحْتَاطِينَ
لِلْعَوْرَاتِ، فَالنَّظَرُ إِلَى الْأَبْدَانِ مَكْشُوفَةً فِيهِ شَائِبَةٌ مِنْ
قِلَّةِ الْحَيَاءِ، وَهُوَ مُذَكِّرٌ بِالنَّظَرِ فِي الْعَوْرَاتِ.
Sebab jika di pemandian itu hanya ada orang-orang yang beragama dan
berhati-hati terhadap aurat, sekalipun begitu memandang tubuh-tubuh telanjang
di sana tetap mengandung unsur berkurangnya rasa malu dan membiasakan diri
melihat aurat.
ثُمَّ
لَا يَخْلُو الْإِنْسَانُ فِي الْحَرَكَاتِ عَنْ انْكِشَافِ الْعَوْرَاتِ
بِانْعِطَافٍ فِي أَطْرَافِ الْإِزَارِ، فَيَقَعُ الْبَصَرُ عَلَى الْعَوْرَةِ
مِنْ حَيْثُ لَا يَدْرِي.
Lagi pula, seseorang dalam gerak-geraknya hampir tidak bisa lepas dari
terbukanya aurat karena tersingkapnya ujung kain, sehingga pandangan bisa jatuh
pada aurat tanpa disadari.
وَلِأَجْلِهِ
عَصَبَ ابْنُ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا عَيْنَيْهِ.
Karena itulah Ibnu Umar رضي
الله عنهما menutup kedua matanya.
وَيَغْسِلُ
الْجَنَاحَيْنِ عِنْدَ الدُّخُولِ.
Dan hendaknya ia mencuci kedua sisi tubuhnya ketika masuk.
وَلَا
يُعَجِّلُ بِدُخُولِ الْبَيْتِ الْحَارِّ حَتَّى يَعْرَقَ فِي الْأَوَّلِ.
Ia juga tidak segera masuk ke ruang yang sangat panas sebelum tubuhnya
berkeringat di ruangan pertama.
وَأَنْ
لَا يُكْثِرَ صَبَّ الْمَاءِ، بَلْ يَقْتَصِرَ عَلَى قَدْرِ الْحَاجَةِ، فَإِنَّهُ
الْمَأْذُونُ فِيهِ بِقَرِينَةِ الْحَالِ.
Dan hendaknya ia tidak berlebihan menuangkan air, tetapi cukup sebatas
kebutuhan, karena itulah yang diizinkan sesuai keadaan.
وَالزِّيَادَةُ
عَلَيْهِ لَوْ عَلِمَهَا الْحَمَّامِيُّ لَكَرِهَهُ، لَا سِيَّمَا الْمَاءُ
الْحَارُّ، فَلَهُ مَئُونَةٌ وَفِيهِ تَعَبٌ.
Tambahan di atas itu, jika diketahui oleh pengelola pemandian, pasti tidak
disukainya, apalagi jika airnya panas, karena ia memerlukan biaya dan usaha.
وَأَنْ
يَتَذَكَّرَ حَرَّ النَّارِ بِحَرَارَةِ الْحَمَّامِ، وَيُقَدِّرَ نَفْسَهُ
مَحْبُوسًا فِي الْبَيْتِ الْحَارِّ سَاعَةً، وَيَقِيسُهُ إِلَى جَهَنَّمَ.
Dan hendaknya ia mengingat panas neraka melalui panasnya pemandian,
membayangkan dirinya tertahan di ruang panas itu sesaat, lalu membandingkannya
dengan Jahannam.
فَإِنَّهُ
أَشْبَهُ بَيْتٍ بِجَهَنَّمَ، النَّارُ مِنْ تَحْتٍ وَالظَّلَامُ مِنْ فَوْقٍ.
Karena pemandian itu adalah tempat yang paling mirip dengan Jahannam: ada panas
dari bawah dan kegelapan dari atas.
نَعُوذُ
بِاللهِ مِنْ ذٰلِكَ.
Kita berlindung kepada Allah dari hal itu.
بَلِ
الْعَاقِلُ لَا يَغْفُلُ عَنْ ذِكْرِ الْآخِرَةِ فِي لَحْظَةٍ، فَإِنَّهَا
مَصِيرُهُ وَمُسْتَقَرُّهُ.
Bahkan orang yang berakal tidak akan lalai mengingat akhirat walau sekejap,
karena itulah tempat kembali dan tempat menetapnya.
فَيَكُونُ
لَهُ فِي كُلِّ مَا يَرَاهُ مِنْ مَاءٍ أَوْ نَارٍ أَوْ غَيْرِهِمَا عِبْرَةٌ
وَمَوْعِظَةٌ.
Maka pada setiap sesuatu yang ia lihat, baik air, api, maupun yang lainnya,
pasti ada pelajaran dan peringatan baginya.
فَإِنَّ
الْمَرْءَ يَنْظُرُ بِحَسَبِ هِمَّتِهِ.
Sebab seseorang memandang segala sesuatu sesuai dengan tinggi rendahnya
himmahnya.
فَإِذَا
دَخَلَ بَزَّازٌ وَنَجَّارٌ وَبَنَّاءٌ وَحَائِكٌ دَارًا مَعْمُورَةً مَفْرُوشَةً،
فَإِذَا تَفَقَّدْتَهُمْ رَأَيْتَ الْبَزَّازَ يَنْظُرُ إِلَى الْفُرُشِ
يَتَأَمَّلُ قِيمَتَهَا، وَالْحَائِكَ يَنْظُرُ إِلَى الثِّيَابِ يَتَأَمَّلُ
نَسْجَهَا، وَالنَّجَّارَ يَنْظُرُ إِلَى السَّقْفِ يَتَأَمَّلُ كَيْفِيَّةَ
تَرْكِيبِهَا، وَالْبَنَّاءَ يَنْظُرُ إِلَى الْحِيطَانِ يَتَأَمَّلُ كَيْفِيَّةَ
إِحْكَامِهَا وَاسْتِقَامَتِهَا.
Apabila seorang pedagang kain, tukang kayu, tukang bangunan, dan penenun masuk
ke sebuah rumah yang bagus dan berperabot, lalu engkau perhatikan mereka,
engkau akan melihat pedagang kain memandang hamparan dan menaksir nilainya,
penenun memandang kain dan memperhatikan tenunannya, tukang kayu memandang atap
dan memperhatikan cara susunannya, dan tukang bangunan memandang dinding dan
memperhatikan kekokohan serta kelurusannya.
فَكَذٰلِكَ
سَالِكُ طَرِيقِ الْآخِرَةِ لَا يَرَى مِنَ الْأَشْيَاءِ شَيْئًا إِلَّا وَيَكُونُ
لَهُ مَوْعِظَةٌ وَذِكْرَى لِلْآخِرَةِ.
Demikian pula orang yang menempuh jalan akhirat. Ia tidak melihat sesuatu pun
kecuali menjadikannya pelajaran dan pengingat akhirat.
بَلْ
لَا يَنْظُرُ إِلَى شَيْءٍ إِلَّا وَيَفْتَحُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ لَهُ طَرِيقَ
عِبْرَةٍ.
Bahkan ia tidak memandang sesuatu pun melainkan Allah عز وجل membukakan baginya
jalan untuk mengambil ibrah darinya.
فَإِنْ
نَظَرَ إِلَى سَوَادٍ تَذَكَّرَ ظُلْمَةَ اللَّحْدِ.
Jika ia melihat kegelapan, ia teringat gelapnya kubur.
وَإِنْ
نَظَرَ إِلَى حَيَّةٍ تَذَكَّرَ أَفَاعِيَ جَهَنَّمَ.
Jika ia melihat ular, ia teringat ular-ular Jahannam.
وَإِنْ
نَظَرَ إِلَى صُورَةٍ قَبِيحَةٍ شَنِيعَةٍ تَذَكَّرَ مُنْكَرًا وَنَكِيرًا
وَالزَّبَانِيَةَ.
Jika ia melihat sesuatu yang buruk dan menakutkan, ia teringat Munkar dan Nakir
serta para malaikat zabaniyah.
وَإِنْ
سَمِعَ صَوْتًا هَائِلًا تَذَكَّرَ نَفْخَةَ الصُّورِ.
Jika ia mendengar suara yang dahsyat, ia teringat tiupan sangkakala.
وَإِنْ
رَأَى شَيْئًا حَسَنًا تَذَكَّرَ نَعِيمَ الْجَنَّةِ.
Jika ia melihat sesuatu yang indah, ia teringat kenikmatan surga.
وَإِنْ
سَمِعَ كَلِمَةَ رَدٍّ أَوْ قَبُولٍ فِي سُوقٍ أَوْ دَارٍ، تَذَكَّرَ مَا
يَنْكَشِفُ مِنْ آخِرِ أَمْرِهِ بَعْدَ الْحِسَابِ مِنَ الرَّدِّ وَالْقَبُولِ.
Jika ia mendengar kata penolakan atau penerimaan di pasar atau di rumah, ia
teringat apa yang akan tersingkap dari akhir nasibnya setelah hisab berupa
penolakan atau penerimaan.
وَمَا
أَجْدَرَ أَنْ يَكُونَ هٰذَا هُوَ الْغَالِبَ عَلَى قَلْبِ الْعَاقِلِ.
Betapa pantas keadaan seperti ini menjadi sesuatu yang dominan dalam hati orang
yang berakal.
إِلَّا
أَنْ يَصْرِفَهُ عَنْهُ مُهِمَّاتُ الدُّنْيَا.
Kecuali jika ia dipalingkan darinya oleh urusan-urusan penting dunia.
فَإِذَا
نَسَبَ مُدَّةَ الْمَقَامِ فِي الدُّنْيَا إِلَى مُدَّةِ الْمَقَامِ فِي
الْآخِرَةِ اسْتَحْقَرَهَا، إِنْ لَمْ يَكُنْ مِمَّنْ أُغْفِلَ قَلْبُهُ
وَأُعْمِيَتْ بَصِيرَتُهُ.
Jika ia membandingkan lamanya tinggal di dunia dengan lamanya tinggal di
akhirat, niscaya ia akan menganggap dunia itu kecil, selama ia bukan termasuk
orang yang hatinya dibuat lalai dan mata hatinya dibutakan.
وَمِنَ
السُّنَنِ أَنْ لَا يُسَلِّمَ عِنْدَ الدُّخُولِ.
Dan termasuk sunah adalah tidak mengucapkan salam ketika masuk ke pemandian.
وَإِنْ
سُلِّمَ عَلَيْهِ لَمْ يُجِبْ بِلَفْظِ السَّلَامِ، بَلْ يَسْكُتُ إِنْ أَجَابَ
غَيْرَهُ.
Jika ada yang mengucapkan salam kepadanya, maka ia tidak menjawab dengan lafaz
salam, bahkan diam, jika memang ia hendak membalas.
وَإِنْ
أَحَبَّ قَالَ: عَافَاكَ اللهُ.
Jika ia mau, ia bisa berkata: “Semoga Allah menyehatkanmu.”
وَلَا
بَأْسَ بِأَنْ يُصَافِحَ الدَّاخِلَ وَيَقُولَ: عَافَاكَ اللهُ، لِابْتِدَاءِ
الْكَلَامِ.
Dan tidak mengapa ia berjabat tangan dengan orang yang masuk dan berkata:
“Semoga Allah menyehatkanmu,” sebagai bentuk pembukaan percakapan.
ثُمَّ
لَا يُكْثِرُ الْكَلَامَ فِي الْحَمَّامِ.
Kemudian ia tidak banyak berbicara di pemandian.
وَلَا
يَقْرَأُ الْقُرْآنَ إِلَّا سِرًّا.
Dan tidak membaca Al-Qur’an kecuali dengan pelan.
وَلَا
بَأْسَ بِإِظْهَارِ الِاسْتِعَاذَةِ مِنَ الشَّيْطَانِ.
Dan tidak mengapa mengeraskan isti‘adzah dari setan.
وَيُكْرَهُ
دُخُولُ الْحَمَّامِ بَيْنَ الْعِشَاءَيْنِ وَقَرِيبًا مِنَ الْغُرُوبِ، فَإِنَّ
ذٰلِكَ وَقْتُ انْتِشَارِ الشَّيَاطِينِ.
Dimakruhkan masuk pemandian antara Magrib dan Isya serta mendekati waktu
terbenam matahari, karena itu adalah waktu bertebarnya setan-setan.
وَلَا
بَأْسَ أَنْ يُدَلِّكَهُ غَيْرُهُ.
Dan tidak mengapa jika orang lain menggosok tubuhnya.
فَقَدْ
نُقِلَ ذٰلِكَ عَنْ يُوسُفَ بْنِ أَسْبَاطٍ، أَوْصَى بِأَنْ يَغْسِلَهُ إِنْسَانٌ
لَمْ يَكُنْ مِنْ أَصْحَابِهِ.
Hal itu dinukil dari Yusuf bin Asbath, bahwa ia pernah berwasiat agar seorang
yang bukan termasuk sahabat dekatnya memandikannya.
وَقَالَ:
إِنَّهُ دَلَّكَنِي فِي الْحَمَّامِ مَرَّةً، فَأَرَدْتُ أَنْ أُكَافِئَهُ بِمَا
يَفْرَحُ بِهِ، وَإِنَّهُ لَيَفْرَحُ بِذٰلِكَ.
Ia berkata: “Sebab orang itu pernah menggosok tubuhku di pemandian suatu kali,
lalu aku ingin membalasnya dengan sesuatu yang ia senangi, dan sesungguhnya ia
senang dengan hal itu.”
وَيَدُلُّ
عَلَى جَوَازِهِ مَا رُوِيَ عَنْ بَعْضِ الصَّحَابَةِ أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى
اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَزَلَ مَنْزِلًا فِي بَعْضِ أَسْفَارِهِ، فَنَامَ عَلَى
بَطْنِهِ، وَعَبْدٌ أَسْوَدُ يَغْمِزُ ظَهْرَهُ، فَقُلْتُ: مَا هٰذَا يَا رَسُولَ
اللهِ؟ فَقَالَ: إِنَّ النَّاقَةَ تَقَحَّمَتْ بِي.
Yang menunjukkan bolehnya hal itu adalah riwayat dari sebagian sahabat bahwa
Rasulullah صلى
الله عليه وسلم singgah di suatu tempat dalam salah satu safarnya, lalu beliau
tidur tengkurap, sementara seorang budak hitam memijat punggung beliau. Maka
aku bertanya: “Apa ini, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab: “Unta tadi
membuatku terhempas.”
ثُمَّ
مَهْمَا فَرَغَ مِنَ الْحَمَّامِ شَكَرَ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ عَلَى هٰذِهِ
النِّعْمَةِ.
Setelah ia selesai dari pemandian, hendaknya ia bersyukur kepada Allah عز وجل
atas nikmat ini.
فَقَدْ
قِيلَ: الْمَاءُ الْحَارُّ فِي الشِّتَاءِ مِنَ النَّعِيمِ الَّذِي يُسْأَلُ
عَنْهُ.
Dikatakan bahwa air panas pada musim dingin termasuk kenikmatan yang akan
ditanya tentangnya.
وَقَالَ
ابْنُ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا: الْحَمَّامُ مِنَ النَّعِيمِ الَّذِي
أُحْدِثَ.
Ibnu Umar رضي
الله عنهما berkata: “Pemandian umum termasuk bentuk kenikmatan yang baru
diadakan.”
هٰذَا
مِنْ جِهَةِ الشَّرْعِ.
Ini dari sisi syariat.
أَمَّا
مِنْ جِهَةِ الطِّبِّ، فَقَدْ قِيلَ: الْحَمَّامُ بَعْدَ النُّورَةِ أَمَانٌ مِنَ
الْجُذَامِ.
Adapun dari sisi kesehatan, dikatakan bahwa masuk pemandian setelah memakai
nūrah dapat menjadi penjaga dari penyakit kusta.
وَقِيلَ:
النُّورَةُ فِي كُلِّ شَهْرٍ مَرَّةً تُطْفِئُ الْمِرَّةَ الصَّفْرَاءَ،
وَتُنَقِّي اللَّوْنَ، وَتَزِيدُ فِي الْجِمَاعِ.
Dan dikatakan: memakai nūrah sekali setiap bulan dapat meredakan empedu kuning,
membersihkan warna kulit, dan menambah gairah jima‘.
وَقِيلَ:
بَوْلَةٌ فِي الْحَمَّامِ قَائِمًا فِي الشِّتَاءِ أَنْفَعُ مِنْ شَرْبَةِ دَوَاءٍ.
Dan dikatakan: buang air kecil sambil berdiri di pemandian pada musim dingin
lebih bermanfaat daripada seteguk obat.
وَقِيلَ:
نَوْمَةٌ فِي الصَّيْفِ بَعْدَ الْحَمَّامِ تَعْدِلُ شَرْبَةَ دَوَاءٍ.
Dan dikatakan: tidur sejenak pada musim panas setelah mandi di pemandian
sebanding dengan minum obat.
وَغَسْلُ
الْقَدَمَيْنِ بِمَاءٍ بَارِدٍ بَعْدَ الْخُرُوجِ مِنَ الْحَمَّامِ أَمَانٌ مِنَ
النِّقْرِسِ.
Membasuh kedua kaki dengan air dingin setelah keluar dari pemandian adalah
penjaga dari penyakit encok.
وَيُكْرَهُ
صَبُّ الْمَاءِ الْبَارِدِ عَلَى الرَّأْسِ عِنْدَ الْخُرُوجِ، وَكَذٰلِكَ
شُرْبُهُ.
Dimakruhkan menuangkan air dingin ke kepala ketika keluar dari pemandian,
demikian pula meminumnya.
هٰذَا
حُكْمُ الرِّجَالِ.
Ini adalah hukum bagi laki-laki.
وَأَمَّا
النِّسَاءُ فَقَدْ قَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لَا يَحِلُّ لِلرَّجُلِ
أَنْ يُدْخِلَ حَلِيلَتَهُ الْحَمَّامَ.
Adapun perempuan, Nabi صلى
الله عليه وسلم bersabda: “Tidak halal bagi seorang laki-laki memasukkan
istrinya ke pemandian umum.”
وَفِي
الْبَيْتِ مُسْتَحَمٌّ.
Padahal di rumah ada tempat mandi.
وَالْمَشْهُورُ
أَنَّهُ حَرَامٌ عَلَى الرِّجَالِ دُخُولُ الْحَمَّامِ إِلَّا بِمِئْزَرٍ.
Pendapat yang masyhur menyatakan bahwa haram bagi laki-laki masuk pemandian
kecuali dengan memakai kain penutup.
وَحَرَامٌ
عَلَى الْمَرْأَةِ دُخُولُ الْحَمَّامِ إِلَّا نُفَسَاءَ أَوْ مَرِيضَةً.
Dan haram bagi perempuan masuk pemandian kecuali jika ia sedang nifas atau
sakit.
وَدَخَلَتْ
عَائِشَةُ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا حَمَّامًا مِنْ سُقْمٍ بِهَا.
Aisyah رضي
الله عنها pernah masuk pemandian karena sakit yang dideritanya.
فَإِنْ
دَخَلَتْ لِضَرُورَةٍ فَلَا تَدْخُلْ إِلَّا بِمِئْزَرٍ سَابِغٍ.
Jika seorang perempuan masuk karena darurat, maka ia tidak boleh masuk kecuali
dengan kain penutup yang lebar.
وَيُكْرَهُ
لِلرَّجُلِ أَنْ يُعْطِيَهَا أُجْرَةَ الْحَمَّامِ، فَيَكُونَ مُعِينًا لَهَا
عَلَى الْمَكْرُوهِ.
Dan dimakruhkan bagi seorang laki-laki membayarkan biaya pemandian untuknya,
karena itu berarti membantu pada sesuatu yang makruh.