Membersihkan Diri dari Kotoran-Kotoran Lahiriah (2)

اَلنَّوْعُ الثَّانِي فِيمَا يَحْدُثُ فِي الْبَدَنِ مِنَ الْأَجْزَاءِ.

Macam kedua adalah bagian-bagian tubuh yang tumbuh atau muncul pada badan.

وَهِيَ ثَمَانِيَةٌ.
Jumlahnya ada delapan.

اَلْأَوَّلُ شَعْرُ الرَّأْسِ، وَلَا بَأْسَ بِحَلْقِهِ لِمَنْ أَرَادَ التَّنْظِيفَ، وَلَا بَأْسَ بِتَرْكِهِ لِمَنْ يُدْهِنُهُ وَيُرَجِّلُهُ.
Yang pertama adalah rambut kepala. Tidak mengapa mencukurnya bagi orang yang menginginkan kebersihan, dan tidak mengapa pula membiarkannya bagi orang yang memberi minyak dan menyisirnya.

إِلَّا إِذَا تَرَكَهُ قَزَعًا، أَيْ قِطَعًا، وَهُوَ دَأْبُ أَهْلِ الشَّطَارَةِ.
Kecuali jika ia membiarkannya dalam bentuk qaza‘, yaitu dicukur sebagian-sebagian, dan itu adalah kebiasaan orang-orang yang berperangai buruk.

أَوْ أَرْسَلَ الذَّوَائِبَ عَلَى هَيْئَةِ أَهْلِ الشَّرَفِ، حَيْثُ صَارَ ذٰلِكَ شِعَارًا لَهُمْ، فَإِنَّهُ إِذَا لَمْ يَكُنْ شَرِيفًا كَانَ ذٰلِكَ تَلْبِيسًا.
Atau jika ia membiarkan rambut terurai seperti gaya orang-orang terhormat, sementara hal itu telah menjadi ciri khas mereka, maka jika ia bukan termasuk golongan mereka, hal itu merupakan penipuan.

اَلثَّانِي شَعْرُ الشَّارِبِ.
Yang kedua adalah rambut kumis.

وَقَدْ قَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: قُصُّوا الشَّارِبَ.
Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda: “Potonglah kumis.”

وَفِي لَفْظٍ آخَرَ: جُزُّوا الشَّوَارِبَ.
Dalam lafaz lain: “Pangkaslah kumis-kumis.”

وَفِي لَفْظٍ آخَرَ: أَحْفُوا الشَّوَارِبَ وَأَعْفُوا اللِّحَى.
Dan dalam lafaz lain: “Tipiskanlah kumis-kumis dan biarkanlah janggut-janggut.”

أَيْ اجْعَلُوهَا حَفَافَ الشَّفَةِ، أَيْ حَوْلَهَا، وَحَفَافُ الشَّيْءِ حَوْلُهُ.
Maksudnya, jadikan kumis itu sebatas pinggir bibir, yakni di sekelilingnya. Dan “hafaf” sesuatu berarti sekelilingnya.

وَمِنْهُ قَوْلُهُ تَعَالَى: وَتَرَى الْمَلَائِكَةَ حَافِّينَ مِنْ حَوْلِ الْعَرْشِ.
Di antaranya adalah firman Allah Ta‘ala: “Dan engkau akan melihat para malaikat melingkari ‘Arsy dari sekelilingnya.”

وَفِي لَفْظٍ آخَرَ: أَحْفُوا.
Dan dalam lafaz lain disebutkan: “Tipiskanlah.”

وَهٰذَا يُشْعِرُ بِالِاسْتِئْصَالِ.
Lafaz ini memberi kesan mendekati penghabisan.

وَقَوْلُهُ: حَفُّوا، يَدُلُّ عَلَى مَا دُونَ ذٰلِكَ.
Sedangkan lafaz “haffu” menunjukkan makna yang lebih ringan dari itu.

وَقَالَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ: أَنْ يُسْأَلْكُمُوهَا فَيُحْفِكُمْ تَبْخَلُوا.
Dan Allah عز وجل berfirman: “Jika Dia memintanya kepada kalian lalu mendesak kalian, niscaya kalian akan kikir.”

أَيْ يُسْتَقْصَى عَلَيْكُمْ.
Maksudnya, kalian akan dibebani sampai batas yang sangat jauh.

وَأَمَّا الْحَلْقُ فَلَمْ يَرِدْ.
Adapun mencukurnya sampai habis, maka itu tidak disebutkan.

وَالْإِحْفَاءُ الْقَرِيبُ مِنَ الْحَلْقِ نُقِلَ عَنِ الصَّحَابَةِ.
Akan tetapi, menipiskannya hingga mendekati cukur habis dinukil dari para sahabat.

نَظَرَ بَعْضُ التَّابِعِينَ إِلَى رَجُلٍ أَحْفَى شَارِبَهُ، فَقَالَ: ذَكَّرْتَنِي أَصْحَابَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.
Sebagian tabi‘in melihat seorang lelaki yang sangat menipiskan kumisnya, lalu berkata: “Engkau mengingatkanku kepada para sahabat Rasulullah صلى الله عليه وسلم.”

وَقَالَ الْمُغِيرَةُ بْنُ شُعْبَةَ: نَظَرَ إِلَى رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَدْ طَالَ شَارِبِي، فَقَالَ: تَعَالَ فَقُصَّهُ لِي عَلَى سِوَاكٍ.
Al-Mughirah bin Syu‘bah berkata: Rasulullah صلى الله عليه وسلم melihat kumisku telah panjang, lalu beliau bersabda: “Kemarilah, biar aku potongkan dengan bantuan siwak.”

وَلَا بَأْسَ بِتَرْكِ سِبَالَيْهِ، وَهُمَا طَرَفَا الشَّارِبِ.
Dan tidak mengapa membiarkan dua ujung kumis, yaitu kedua sisinya.

فَعَلَ ذٰلِكَ عُمَرُ وَغَيْرُهُ.
Hal itu pernah dilakukan oleh Umar dan yang lainnya.

لِأَنَّ ذٰلِكَ لَا يَسْتُرُ الْفَمَ، وَلَا يَبْقَى فِيهِ غَمْرُ الطَّعَامِ، إِذْ لَا يَصِلُ إِلَيْهِ.
Karena bagian itu tidak menutupi mulut, dan tidak tersisa padanya lemak makanan, sebab makanan tidak sampai ke sana.

وَقَوْلُهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَعْفُوا اللِّحَى، أَيْ كَثِّرُوهَا.
Dan sabda Nabi صلى الله عليه وسلم: “Biarkanlah janggut-janggut,” maksudnya adalah lebatkanlah.

وَفِي الْخَبَرِ: إِنَّ الْيَهُودَ يُعْفُونَ شَوَارِبَهُمْ وَيَقُصُّونَ لِحَاهُمْ، فَخَالِفُوهُمْ.
Dalam sebuah hadis disebutkan: “Sesungguhnya orang-orang Yahudi membiarkan kumis mereka dan memotong janggut mereka, maka selisihilah mereka.”

وَكَرِهَ بَعْضُ الْعُلَمَاءِ الْحَلْقَ، وَرَآهُ بِدْعَةً.
Sebagian ulama memakruhkan mencukur habis janggut dan menganggapnya sebagai bid‘ah.

اَلثَّالِثُ شَعْرُ الْإِبْطِ، وَيُسْتَحَبُّ نَتْفُهُ فِي كُلِّ أَرْبَعِينَ يَوْمًا مَرَّةً.
Yang ketiga adalah bulu ketiak, dan disunahkan mencabutnya sekali setiap empat puluh hari.

وَذٰلِكَ سَهْلٌ عَلَى مَنْ تَعَوَّدَ نَتْفَهُ فِي الِابْتِدَاءِ.
Hal itu mudah bagi orang yang sejak awal membiasakan diri mencabutnya.

فَأَمَّا مَنْ تَعَوَّدَ الْحَلْقَ فَيَكْفِيهِ الْحَلْقُ، إِذْ فِي النَّتْفِ تَعْذِيبٌ وَإِيلَامٌ.
Adapun orang yang terbiasa mencukurnya, maka mencukur sudah mencukupi, karena mencabut dapat menimbulkan rasa sakit dan menyiksa.

وَالْمَقْصُودُ النَّظَافَةُ وَأَنْ لَا يَجْتَمِعَ الْوَسَخُ فِي خِلَالِهَا، وَيَحْصُلُ ذٰلِكَ بِالْحَلْقِ.
Tujuan utamanya adalah kebersihan dan agar kotoran tidak berkumpul di sela-selanya, dan hal itu dapat tercapai dengan mencukur.

اَلرَّابِعُ شَعْرُ الْعَانَةِ، وَيُسْتَحَبُّ إِزَالَةُ ذٰلِكَ إِمَّا بِالْحَلْقِ أَوِ النُّورَةِ.
Yang keempat adalah bulu kemaluan, dan disunahkan menghilangkannya, baik dengan mencukur maupun dengan nūrah.

وَلَا يَنْبَغِي أَنْ تَتَأَخَّرَ عَنْ أَرْبَعِينَ يَوْمًا.
Dan tidak sepatutnya dibiarkan lebih dari empat puluh hari.

اَلْخَامِسُ الْأَظْفَارُ، وَتَقْلِيمُهَا مُسْتَحَبٌّ لِشَنَاعَةِ صُورَتِهَا إِذَا طَالَتْ، وَلِمَا يَجْتَمِعُ فِيهَا مِنَ الْوَسَخِ.
Yang kelima adalah kuku, dan memotongnya disunahkan karena bentuknya menjadi jelek jika panjang, dan karena kotoran berkumpul di dalamnya.

قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: يَا أَبَا هُرَيْرَةَ، أَقْلِمْ أَظْفَارَكَ، فَإِنَّ الشَّيْطَانَ يَقْعُدُ عَلَى مَا طَالَ مِنْهَا.
Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda: “Wahai Abu Hurairah, potonglah kuku-kukumu, karena setan duduk pada bagian yang panjang darinya.”

وَلَوْ كَانَ تَحْتَ الظُّفْرِ وَسَخٌ، فَلَا يَمْنَعُ ذٰلِكَ صِحَّةَ الْوُضُوءِ، لِأَنَّهُ لَا يَمْنَعُ وُصُولَ الْمَاءِ.
Kalaupun ada kotoran di bawah kuku, hal itu tidak menghalangi sahnya wudu, karena tidak menghalangi sampainya air.

وَلِأَنَّهُ يُتَسَاهَلُ فِيهِ لِلْحَاجَةِ، لَا سِيَّمَا فِي أَظْفَارِ الرَّجُلِ، وَفِي الْأَوْسَاخِ الَّتِي تَجْتَمِعُ عَلَى الْبَرَاجِمِ وَظُهُورِ الْأَرْجُلِ وَالْأَيْدِي مِنَ الْعَرَبِ وَأَهْلِ السَّوَادِ.
Juga karena dalam hal itu diberi kelonggaran karena kebutuhan, terutama pada kuku laki-laki dan kotoran yang biasanya berkumpul pada ruas jari, punggung kaki, dan tangan orang Arab maupun penduduk daerah Irak.

وَكَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَأْمُرُهُمْ بِالْقَلْمِ وَيُنْكِرُ عَلَيْهِمْ مَا يَرَى تَحْتَ أَظْفَارِهِمْ مِنَ الْأَوْسَاخِ.
Rasulullah صلى الله عليه وسلم memerintahkan mereka memotong kuku dan mengingkari kotoran yang beliau lihat berada di bawah kuku mereka.

وَلَمْ يَأْمُرْهُمْ بِإِعَادَةِ الصَّلَاةِ.
Namun beliau tidak memerintahkan mereka untuk mengulangi salat.

وَلَوْ أَمَرَ بِهِ لَكَانَ فِيهِ فَائِدَةٌ أُخْرَى، وَهِيَ التَّغْلِيظُ وَالزَّجْرُ عَنْ ذٰلِكَ.
Seandainya beliau memerintahkan hal itu, tentu akan ada faedah tambahan, yaitu penegasan dan peringatan keras dari perbuatan itu.

وَلَمْ أَرَ فِي الْكُتُبِ خَبَرًا مَرْوِيًّا فِي تَرْتِيبِ قَلْمِ الْأَظْفَارِ.
Aku tidak melihat dalam kitab-kitab sebuah hadis yang diriwayatkan tentang urutan memotong kuku.

وَلٰكِنْ سَمِعْتُ أَنَّهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَدَأَ بِمُسَبِّحَتِهِ الْيُمْنَى وَخَتَمَ بِإِبْهَامِهِ الْيُمْنَى، وَابْتَدَأَ فِي الْيُسْرَى بِالْخِنْصِرِ إِلَى الْإِبْهَامِ.
Namun aku pernah mendengar bahwa Nabi صلى الله عليه وسلم memulai dari jari telunjuk tangan kanan dan mengakhiri dengan ibu jari tangan kanan, sedangkan pada tangan kiri beliau memulai dari jari kelingking sampai ibu jari.

وَلَمَّا تَأَمَّلْتُ فِي هٰذَا خَطَرَ لِي مِنَ الْمَعْنَى مَا يَدُلُّ عَلَى أَنَّ الرِّوَايَةَ فِيهِ صَحِيحَةٌ.
Ketika aku merenungkan hal ini, terlintas dalam benakku makna yang menunjukkan bahwa riwayat tersebut tampaknya benar.

إِذْ مِثْلُ هٰذَا الْمَعْنَى لَا يَنْكَشِفُ ابْتِدَاءً إِلَّا بِنُورِ النُّبُوَّةِ.
Sebab makna seperti ini tidak akan tersingkap sejak awal kecuali dengan cahaya kenabian.

وَأَمَّا الْعَالِمُ ذُو الْبَصِيرَةِ فَغَايَتُهُ أَنْ يَسْتَنْبِطَهُ مِنَ الْعَقْلِ بَعْدَ نَقْلِ الْفِعْلِ إِلَيْهِ.
Adapun seorang alim yang memiliki mata hati, maka paling jauh ia hanya dapat menyimpulkannya lewat akal setelah perbuatan itu dinukil kepadanya.

فَالَّذِي لَاحَ لِي فِيهِ، وَالْعِلْمُ عِنْدَ اللهِ سُبْحَانَهُ، أَنَّهُ لَا بُدَّ مِنْ قَلْمِ أَظْفَارِ الْيَدِ وَالرِّجْلِ.
Yang tampak bagiku dalam masalah ini, dan ilmu yang sebenarnya ada pada Allah سبحانه, ialah bahwa kuku tangan dan kaki memang harus dipotong.

وَالْيَدُ أَشْرَفُ مِنَ الرِّجْلِ، فَيَبْدَأُ بِهَا.
Tangan lebih mulia daripada kaki, maka dimulai darinya.

ثُمَّ الْيُمْنَى أَشْرَفُ مِنَ الْيُسْرَى، فَيَبْدَأُ بِهَا.
Kemudian tangan kanan lebih mulia daripada tangan kiri, maka dimulai darinya.

ثُمَّ عَلَى الْيُمْنَى خَمْسَةُ أَصَابِعَ، وَالْمُسَبِّحَةُ أَشْرَفُهَا، إِذْ هِيَ الْمُشِيرَةُ فِي كَلِمَتَيِ الشَّهَادَةِ مِنْ جُمْلَةِ الْأَصَابِعِ.
Pada tangan kanan ada lima jari, dan telunjuk adalah yang paling mulia, karena dialah jari yang menunjuk dalam dua kalimat syahadat.

ثُمَّ بَعْدَهَا يَنْبَغِي أَنْ يُبْتَدَأَ بِمَا عَلَى يَمِينِهَا، إِذِ الشَّرْعُ يَسْتَحِبُّ إِدَارَةَ الطُّهُورِ وَغَيْرِهِ عَلَى الْيَمِينِ.
Setelah itu, semestinya dimulai dengan jari yang berada di kanannya, karena syariat menyukai mendahulukan bagian kanan dalam bersuci dan selainnya.

وَإِنْ وُضِعَ ظَهْرُ الْكَفِّ عَلَى الْأَرْضِ فَالْإِبْهَامُ هُوَ الْيَمِينُ.
Jika punggung telapak tangan diletakkan di tanah, maka ibu jari adalah yang berada di sisi kanan.

وَإِنْ وُضِعَ بَطْنُ الْكَفِّ فَالْوُسْطَى هِيَ الْيَمِينُ.
Dan jika telapak tangan yang bagian dalam diletakkan, maka jari tengah adalah yang berada di sisi kanan.

وَالْيَدُ إِذَا تُرِكَتْ بِطَبْعِهَا كَانَ الْكَفُّ مَائِلًا إِلَى جِهَةِ الْأَرْضِ.
Tangan, jika dibiarkan sesuai keadaan alaminya, maka telapak akan cenderung ke arah tanah.

إِذْ جِهَةُ حَرَكَةِ الْيَمِينِ إِلَى الْيَسَارِ، وَاسْتِتْمَامُ الْحَرَكَةِ إِلَى الْيَسَارِ يَجْعَلُ ظَهْرَ الْكَفِّ عَالِيًا.
Karena arah gerak tangan kanan menuju ke kiri, dan kesempurnaan gerak ke kiri menjadikan punggung telapak tangan berada di atas.

فَمَا يَقْتَضِيهِ الطَّبْعُ أَوْلَى.
Maka yang sesuai dengan tabiat lebih utama.

ثُمَّ إِذَا وُضِعَتِ الْكَفُّ عَلَى الْكَفِّ صَارَتِ الْأَصَابِعُ فِي حُكْمِ حَلْقَةِ دَائِرَةٍ.
Kemudian jika satu telapak diletakkan di atas telapak yang lain, maka jari-jari itu seakan-akan membentuk lingkaran.

فَيَقْتَضِي تَرْتِيبُ الدَّوْرِ الذَّهَابَ عَنْ يَمِينِ الْمُسَبِّحَةِ إِلَى أَنْ يَعُودَ إِلَى الْمُسَبِّحَةِ.
Maka urutan putaran itu menuntut bergerak dari sisi kanan telunjuk hingga kembali lagi kepadanya.

فَتَقَعُ الْبِدَايَةُ بِخِنْصِرِ الْيُسْرَى، وَالْخَتْمُ بِإِبْهَامِهَا، وَيَبْقَى إِبْهَامُ الْيُمْنَى، فَيُخْتَمُ بِهِ التَّقْلِيمُ.
Maka awalnya jatuh pada jari kelingking tangan kiri, dan akhirnya pada ibu jari tangan kiri, lalu tersisa ibu jari tangan kanan, sehingga dengannya pemotongan kuku diakhiri.

وَإِنَّمَا قَدَّرْتُ الْكَفَّ مَوْضُوعَةً عَلَى الْكَفِّ حَتَّى تَصِيرَ الْأَصَابِعُ كَأَشْخَاصٍ فِي حَلْقَةٍ، لِيَظْهَرَ تَرْتِيبُهَا.
Aku membayangkan satu telapak di atas telapak yang lain agar jari-jari itu seperti orang-orang dalam satu lingkaran, sehingga urutannya tampak.

وَتَقْدِيرُ ذٰلِكَ أَوْلَى مِنْ تَقْدِيرِ وَضْعِ الْكَفِّ عَلَى ظَهْرِ الْكَفِّ، أَوْ وَضْعِ ظَهْرِ الْكَفِّ عَلَى ظَهْرِ الْكَفِّ، فَإِنَّ ذٰلِكَ لَا يَقْتَضِيهِ الطَّبْعُ.
Dan membayangkannya seperti itu lebih baik daripada membayangkan telapak di atas punggung tangan atau punggung tangan di atas punggung tangan, karena itu tidak sesuai dengan keadaan alami.

وَأَمَّا أَصَابِعُ الرِّجْلِ فَالْأَوْلَى عِنْدِي، إِنْ لَمْ يَثْبُتْ فِيهَا نَقْلٌ، أَنْ يُبْدَأَ بِخِنْصِرِ الْيُمْنَى وَيُخْتَمَ بِخِنْصِرِ الْيُسْرَى، كَمَا فِي التَّخْلِيلِ.
Adapun jari-jari kaki, maka menurutku yang lebih utama—jika tidak ada riwayat khusus tentangnya—adalah memulai dari jari kelingking kaki kanan dan mengakhiri dengan jari kelingking kaki kiri, sebagaimana dalam menyela-nyelai jari kaki.

فَإِنَّ الْمَعَانِيَ الَّتِي ذَكَرْنَاهَا فِي الْيَدِ لَا تَتَّجِهُ هٰهُنَا، إِذْ لَا مُسَبِّحَةَ فِي الرِّجْلِ.
Karena makna-makna yang kami sebutkan pada tangan tidak berlaku di sini, sebab pada kaki tidak ada telunjuk yang memiliki keistimewaan sebagaimana pada tangan.

وَهٰذِهِ الْأَصَابِعُ فِي حُكْمِ صَفٍّ وَاحِدٍ ثَابِتٍ عَلَى الْأَرْضِ، فَيُبْدَأُ مِنْ جَانِبِ الْيَمِينِ.
Jari-jari kaki itu seperti satu baris yang tetap di atas tanah, maka dimulai dari sisi kanan.

فَإِنَّ تَقْدِيرَهَا حَلْقَةً بِوَضْعِ الْأَخْمَصِ عَلَى الْأَخْمَصِ يَأْبَاهُ الطَّبْعُ، بِخِلَافِ الْيَدَيْنِ.
Karena membayangkannya sebagai lingkaran dengan mempertemukan telapak kaki bagian dalam bertentangan dengan tabiat, berbeda dengan kedua tangan.

وَهٰذِهِ الدَّقَائِقُ فِي التَّرْتِيبِ تَنْكَشِفُ بِنُورِ النُّبُوَّةِ فِي لَحْظَةٍ وَاحِدَةٍ، وَإِنَّمَا يَطُولُ التَّعَبُ عَلَيْنَا.
Rincian-rincian halus dalam urutan ini tersingkap dengan cahaya kenabian dalam satu saat, sedangkan pada kita membutuhkan usaha yang panjang.

ثُمَّ لَوْ سُئِلْنَا ابْتِدَاءً عَنِ التَّرْتِيبِ فِي ذٰلِكَ، رُبَّمَا لَمْ يَخْطُرْ لَنَا.
Bahkan seandainya kita ditanya sejak awal tentang urutan itu, boleh jadi hal itu tidak terlintas dalam benak kita.

وَإِذَا ذَكَرْنَا فِعْلَهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَتَرْتِيبَهُ، رُبَّمَا تَيَسَّرَ لَنَا مِمَّا عَايَنَهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِشَهَادَةِ الْحُكْمِ وَتَنْبِيهِهِ عَلَى الْمَعْنَى، اسْتِنْبَاطُ الْمَعْنَى.
Tetapi jika telah disebutkan perbuatan beliau صلى الله عليه وسلم dan urutannya, mungkin kita menjadi mudah memahami maknanya dari apa yang beliau lihat dengan cahaya hukum dan petunjuk beliau terhadap makna itu.

وَلَا تَظُنَّ أَنَّ أَفْعَالَهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي جَمِيعِ حَرَكَاتِهِ كَانَتْ خَارِجَةً عَنْ وَزْنٍ وَقَانُونٍ وَتَرْتِيبٍ.
Janganlah engkau mengira bahwa perbuatan-perbuatan beliau صلى الله عليه وسلم dalam seluruh geraknya keluar dari ukuran, kaidah, dan keteraturan.

بَلْ جَمِيعُ الْأُمُورِ الِاخْتِيَارِيَّةِ الَّتِي ذَكَرْنَاهَا يَتَرَدَّدُ فِيهَا الْفَاعِلُ بَيْنَ قِسْمَيْنِ أَوْ أَقْسَامٍ.
Sebaliknya, semua perkara pilihan yang telah kami sebutkan membuat pelakunya berada di antara dua pilihan atau beberapa pilihan.

كَانَ لَا يُقْدِمُ عَلَى وَاحِدٍ مُعَيَّنٍ بِالِاتِّفَاقِ، بَلْ بِمَعْنًى يَقْتَضِي الْإِقْدَامَ وَالتَّقْدِيمَ.
Beliau tidak memilih salah satunya secara kebetulan, tetapi berdasarkan makna yang menuntut dipilih dan didahulukan.

فَإِنَّ الِاسْتِرْسَالَ مُهْمَلًا كَمَا يَتَّفِقُ سَجِيَّةُ الْبَهَائِمِ.
Sebab bertindak secara lepas tanpa pertimbangan itu adalah sifat kebinatangan.

وَضَبْطُ الْحَرَكَاتِ بِمَوَازِينِ الْمَعَانِي سَجِيَّةُ أَوْلِيَاءِ اللهِ تَعَالَى.
Sedangkan menata gerak dengan timbangan makna adalah karakter para wali Allah Ta‘ala.

وَكُلَّمَا كَانَتْ حَرَكَاتُ الْإِنْسَانِ وَخَطَرَاتُهُ إِلَى الضَّبْطِ أَقْرَبَ، وَعَنِ الْإِهْمَالِ وَتَرْكِهِ سُدًى أَبْعَدَ، كَانَتْ مَرْتَبَتُهُ إِلَى رُتْبَةِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْأَوْلِيَاءِ أَكْثَرَ، وَكَانَ قُرْبُهُ مِنَ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ أَظْهَرَ.
Semakin gerak dan lintasan hati seseorang dekat kepada keteraturan, dan semakin jauh dari kesia-siaan serta kelalaian, maka semakin tinggi martabatnya menuju martabat para nabi dan wali, dan semakin nyata kedekatannya kepada Allah عز وجل.

إِذِ الْقَرِيبُ مِنَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ هُوَ الْقَرِيبُ مِنَ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ.
Sebab orang yang dekat dengan Nabi صلى الله عليه وسلم adalah orang yang dekat dengan Allah عز وجل.

وَالْقَرِيبُ مِنَ اللهِ لَا بُدَّ أَنْ يَكُونَ قَرِيبًا.
Dan orang yang dekat kepada Allah pasti benar-benar dekat.

فَالْقَرِيبُ مِنَ الْقَرِيبِ قَرِيبٌ بِالْإِضَافَةِ إِلَى غَيْرِهِ.
Maka orang yang dekat dengan orang dekat, juga dekat jika dibandingkan dengan yang lain.

فَنَعُوذُ بِاللهِ أَنْ يَكُونَ زِمَامُ حَرَكَاتِنَا وَسَكَنَاتِنَا فِي يَدِ الشَّيْطَانِ بِوَاسِطَةِ الْهَوَى.
Maka kita berlindung kepada Allah agar kendali gerak dan diam kita tidak berada di tangan setan melalui perantaraan hawa nafsu.

وَاعْتَبِرْ فِي ضَبْطِ الْحَرَكَاتِ بِاكْتِحَالِهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَإِنَّهُ كَانَ يَكْتَحِلُ فِي عَيْنِهِ الْيُمْنَى ثَلَاثًا وَفِي الْيُسْرَى اثْنَيْنِ.
Perhatikanlah keteraturan gerak melalui cara beliau صلى الله عليه وسلم bercelak, karena beliau bercelak tiga kali pada mata kanan dan dua kali pada mata kiri.

فَيَبْدَأُ بِالْيُمْنَى لِشَرَفِهَا.
Beliau memulai dari kanan karena kemuliaannya.

وَتَفَاوُتُهُ بَيْنَ الْعَيْنَيْنِ لِتَكُونَ الْجُمْلَةُ وِتْرًا، فَإِنَّ لِلْوِتْرِ فَضْلًا عَلَى الزَّوْجِ.
Perbedaan jumlah antara dua mata itu agar keseluruhannya menjadi ganjil, karena bilangan ganjil memiliki keutamaan dibanding genap.

فَإِنَّ اللهَ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وِتْرٌ يُحِبُّ الْوِتْرَ.
Sesungguhnya Allah سبحانه وتعالى itu ganjil dan mencintai yang ganjil.

فَلَا يَنْبَغِي أَنْ يَخْلُوَ فِعْلُ الْعَبْدِ مِنْ مُنَاسَبَةٍ لِوَصْفٍ مِنْ أَوْصَافِ اللهِ تَعَالَى.
Maka tidak sepatutnya suatu perbuatan hamba kosong dari kesesuaian dengan salah satu sifat Allah Ta‘ala.

وَلِذٰلِكَ اسْتُحِبَّ الْإِيتَارُ فِي الِاسْتِجْمَارِ.
Karena itu bilangan ganjil disunahkan dalam istijmar.

وَإِنَّمَا لَمْ يَقْتَصِرْ عَلَى الثَّلَاثِ وَهُوَ وِتْرٌ، لِأَنَّ الْيُسْرَى لَا يُخَصُّهَا إِلَّا وَاحِدَةٌ، وَالْغَالِبُ أَنَّ الْوَاحِدَةَ لَا تَسْتَوْعِبُ أُصُولَ الْأَجْفَانِ بِالْكُحْلِ.
Beliau tidak mencukupkan dengan tiga kali saja, meskipun itu ganjil, karena mata kiri hanya akan mendapat satu kali, dan biasanya satu kali tidak mencukupi untuk meratakan celak pada pangkal kelopak.

وَإِنَّمَا خُصِّصَتِ الْيُمْنَى بِالثَّلَاثِ لِأَنَّ التَّفْضِيلَ لَا بُدَّ مِنْهُ لِلْإِيتَارِ، وَالْيُمْنَى أَفْضَلُ فَهِيَ بِالزِّيَادَةِ أَحَقُّ.
Mata kanan dikhususkan dengan tiga kali karena untuk mewujudkan bilangan ganjil mesti ada pembedaan, dan kanan lebih utama, maka lebih berhak mendapat tambahan.

فَإِنْ قُلْتَ: فَلِمَ اقْتَصَرَ عَلَى اثْنَتَيْنِ لِلْيُسْرَى وَهِيَ زَوْجٌ؟
Jika engkau bertanya: lalu mengapa beliau mencukupkan dua kali pada mata kiri, padahal itu genap?

فَالْجَوَابُ أَنَّ ذٰلِكَ ضَرُورَةٌ، إِذْ لَوْ جَعَلَ لِكُلِّ وَاحِدَةٍ وِتْرًا لَكَانَ الْمَجْمُوعُ زَوْجًا، إِذِ الْوِتْرُ مَعَ الْوِتْرِ زَوْجٌ.
Jawabannya ialah karena itu suatu keharusan. Sebab jika setiap mata dijadikan ganjil, maka jumlah keseluruhannya justru menjadi genap, karena bilangan ganjil ditambah ganjil menghasilkan genap.

وَرِعَايَةُ الْإِيتَارِ فِي مَجْمُوعِ الْفِعْلِ، وَهُوَ فِي حُكْمِ الْخَصْلَةِ الْوَاحِدَةِ، أَحَبُّ مِنْ رِعَايَتِهِ فِي الْآحَادِ.
Maka menjaga ke-ganjil-an pada keseluruhan perbuatan, yang dianggap sebagai satu amal, lebih utama daripada menjaganya pada masing-masing bagian.

وَلِذٰلِكَ أَيْضًا وَجْهٌ، وَهُوَ أَنْ يَكْتَحِلَ فِي كُلِّ وَاحِدَةٍ ثَلَاثًا عَلَى قِيَاسِ الْوُضُوءِ.
Ada juga sisi lain dalam masalah ini, yaitu bercelak tiga kali pada masing-masing mata dengan qiyas kepada wudu.

وَقَدْ نُقِلَ ذٰلِكَ فِي الصَّحِيحِ، وَهُوَ الْأَوْلَى.
Dan hal itu memang dinukil dalam riwayat yang sahih, dan itulah yang lebih utama.

وَلَوْ ذَهَبْتُ أَسْتَقْصِي دَقَائِقَ مَا رَاعَاهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي حَرَكَاتِهِ لَطَالَ الْأَمْرُ.
Seandainya aku hendak menelusuri secara rinci semua kehalusan yang dijaga oleh Nabi صلى الله عليه وسلم dalam gerak-geraknya, tentu pembahasan akan menjadi sangat panjang.

فَقِسْ بِمَا سَمِعْتَ مَا لَمْ تَسْمَعْهُ.
Maka qiyaskanlah dari apa yang engkau dengar kepada apa yang belum engkau dengar.

وَاعْلَمْ أَنَّ الْعَالِمَ لَا يَكُونُ وَارِثًا لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَّا إِذَا اطَّلَعَ عَلَى جَمِيعِ مَعَانِي الشَّرِيعَةِ، حَتَّى لَا يَكُونَ بَيْنَهُ وَبَيْنَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَّا دَرَجَةٌ وَاحِدَةٌ، وَهِيَ دَرَجَةُ النُّبُوَّةِ.
Ketahuilah bahwa seorang alim tidak akan menjadi pewaris Nabi صلى الله عليه وسلم kecuali jika ia memahami seluruh makna syariat, sehingga tidak ada jarak antara dirinya dengan Nabi صلى الله عليه وسلم kecuali satu tingkatan saja, yaitu tingkatan kenabian.

وَهِيَ الدَّرَجَةُ الْفَارِقَةُ بَيْنَ الْوَارِثِ وَالْمَوْرُوثِ.
Itulah tingkatan yang membedakan antara pewaris dan yang diwarisi.

إِذِ الْمَوْرُوثُ هُوَ الَّذِي حَصَلَ الْمَالُ لَهُ وَاشْتَغَلَ بِتَحْصِيلِهِ وَاقْتَدَرَ عَلَيْهِ.
Sebab yang diwarisi adalah orang yang telah memiliki harta, berusaha memperolehnya, dan mampu menguasainya.

وَالْوَارِثُ هُوَ الَّذِي لَمْ يَحْصُلْ وَلَمْ يَقْدِرْ عَلَيْهِ، وَلٰكِنِ انْتَقَلَ إِلَيْهِ وَتَلَقَّاهُ مِنْهُ بَعْدَ حُصُولِهِ لَهُ.
Sedangkan pewaris adalah orang yang tidak memperolehnya sendiri dan tidak mampu mencapainya, tetapi harta itu berpindah kepadanya dan ia menerimanya dari orang yang telah memilikinya.

فَأَمْثَالُ هٰذِهِ الْمَعَانِي، مَعَ سُهُولَةِ أَمْرِهَا بِالْإِضَافَةِ إِلَى الْأَغْوَارِ وَالْأَسْرَارِ، لَا يَسْتَقِلُّ بِدَرْكِهَا ابْتِدَاءً إِلَّا الْأَنْبِيَاءُ.
Maka makna-makna semacam ini, meskipun tergolong ringan jika dibandingkan dengan kedalaman dan rahasia-rahasia yang lebih besar, tidak dapat dicapai secara mandiri sejak awal kecuali oleh para nabi.

وَلَا يَسْتَقِلُّ بِاسْتِنْبَاطِهَا تَلَقِّيًا بَعْدَ تَنْبِيهِ الْأَنْبِيَاءِ عَلَيْهَا إِلَّا الْعُلَمَاءُ الَّذِينَ هُمْ وَرَثَةُ الْأَنْبِيَاءِ عَلَيْهِمُ السَّلَامُ.
Dan tidak dapat menyimpulkannya secara mandiri setelah mendapat petunjuk para nabi kecuali para ulama yang merupakan pewaris para nabi عليهم السلام.

اَلسَّادِسُ وَالسَّابِعُ: زِيَادَةُ السُّرَّةِ وَقُلْفَةُ الْحَشَفَةِ.
Yang keenam dan ketujuh adalah sisa tali pusar dan kulit penutup kepala zakar.

أَمَّا السُّرَّةُ فَتُقْطَعُ فِي أَوَّلِ الْوِلَادَةِ.
Adapun tali pusar, maka ia dipotong pada awal kelahiran.

وَأَمَّا التَّطْهِيرُ بِالْخِتَانِ فَعَادَةُ الْيَهُودِ فِي الْيَوْمِ السَّابِعِ مِنَ الْوِلَادَةِ.
Adapun penyucian dengan khitan, maka kebiasaan orang Yahudi adalah melakukannya pada hari ketujuh kelahiran.

وَمُخَالَفَتُهُمْ بِالتَّأْخِيرِ إِلَى أَنْ يَثْغُرَ الْوَلَدُ أَحَبُّ وَأَبْعَدُ عَنِ الْخَطَرِ.
Menyelisihi mereka dengan menundanya sampai anak tumbuh giginya lebih disukai dan lebih jauh dari bahaya.

قَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: الْخِتَانُ سُنَّةٌ لِلرِّجَالِ، وَمَكْرُمَةٌ لِلنِّسَاءِ.
Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda: “Khitan adalah sunah bagi laki-laki dan kemuliaan bagi perempuan.”

وَيَنْبَغِي أَنْ لَا يُبَالَغَ فِي خَفْضِ الْمَرْأَةِ.
Dan hendaknya tidak berlebihan dalam khitan perempuan.

قَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِأُمِّ عَطِيَّةَ، وَكَانَتْ تَخْفِضُ: يَا أُمَّ عَطِيَّةَ، أَشِمِّي وَلَا تَنْهَكِي، فَإِنَّهُ أَسْرَى لِلْوَجْهِ وَأَحْظَى عِنْدَ الزَّوْجِ.
Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda kepada Ummu ‘Athiyyah—yang biasa mengkhitan perempuan—: “Wahai Ummu ‘Athiyyah, kurangi sedikit dan jangan berlebihan, karena itu lebih mencerahkan wajah dan lebih menyenangkan bagi suami.”

أَيْ أَكْثَرُ لِمَاءِ الْوَجْهِ وَدَمِهِ، وَأَحْسَنُ فِي جِمَاعِهَا.
Maksudnya, itu lebih menjaga darah dan kesegaran wajah, serta lebih baik dalam hubungan suami istri.

فَانْظُرْ إِلَى جَزَالَةِ لَفْظِهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الْكِنَايَةِ.
Maka perhatikanlah keindahan ungkapan beliau صلى الله عليه وسلم dalam bentuk kiasan ini.

وَإِلَى إِشْرَاقِ نُورِ النُّبُوَّةِ مِنْ مَصَالِحِ الْآخِرَةِ، وَهِيَ أَهَمُّ مَقَاصِدِ النُّبُوَّةِ، إِلَى مَصَالِحِ الدُّنْيَا.
Dan perhatikan pula bagaimana cahaya kenabian itu memancar, dari tujuan-tujuan akhirat—yang merupakan tujuan terpenting dari kenabian—hingga kepada kemaslahatan-kemaslahatan dunia.

حَتَّى انْكَشَفَ لَهُ، وَهُوَ أُمِّيٌّ، مِنْ هٰذَا الْأَمْرِ النَّازِلِ قَدْرُهُ مَا لَوْ وَقَعَتِ الْغَفْلَةُ عَنْهُ خِيفَ ضَرَرُهُ.
Sampai tersingkap baginya—padahal beliau seorang yang ummi—dalam perkara yang tampak kecil ini, kadar pentingnya yang jika diabaikan dapat dikhawatirkan bahayanya.

فَسُبْحَانَ مَنْ أَرْسَلَهُ رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ، لِيَجْمَعَ لَهُمْ بِيُمْنِ بَعْثَتِهِ مَصَالِحَ الدُّنْيَا وَالدِّينِ، صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.
Mahasuci Allah yang mengutus beliau sebagai rahmat bagi seluruh alam, agar dengan keberkahan pengutusannya Dia menghimpunkan bagi manusia kemaslahatan dunia dan agama. Semoga salawat dan salam tercurah kepada beliau.

اَلثَّامِنَةُ: مَا طَالَ مِنَ اللِّحْيَةِ.
Yang kedelapan adalah bagian janggut yang telah panjang.

وَإِنَّمَا أَخَّرْنَاهَا لِنُلْحِقَ بِهَا مَا فِي اللِّحْيَةِ مِنَ السُّنَنِ وَالْبِدَعِ، إِذْ هٰذَا أَقْرَبُ مَوْضِعٍ يَلِيقُ بِهِ ذِكْرُهَا.
Kami mengakhirkannya agar dapat kami sertakan dengannya hal-hal terkait janggut dari sisi sunah dan bid‘ah, karena ini adalah tempat yang paling tepat untuk membahasnya.

وَقَدِ اخْتَلَفُوا فِيمَا طَالَ مِنْهَا.
Para ulama berbeda pendapat tentang janggut yang telah panjang.

فَقِيلَ: إِنَّ الرَّجُلَ إِذَا قَبَضَ عَلَى لِحْيَتِهِ وَأَخَذَ مَا فَضَلَ عَنِ الْقَبْضَةِ فَلَا بَأْسَ.
Ada yang mengatakan: jika seseorang menggenggam janggutnya lalu memotong yang lebih dari satu genggaman, maka tidak mengapa.

فَقَدْ فَعَلَهُ ابْنُ عُمَرَ وَجَمَاعَةٌ مِنَ التَّابِعِينَ.
Hal itu pernah dilakukan oleh Ibnu Umar dan sekelompok tabi‘in.

وَاسْتَحْسَنَهُ الشَّعْبِيُّ وَابْنُ سِيرِينَ.
Asy-Sya‘bi dan Ibnu Sirin memandangnya baik.

وَكَرِهَهُ الْحَسَنُ وَقَتَادَةُ، وَقَالَا: تَرْكُهَا عَافِيَةً أَحَبُّ، لِقَوْلِهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَعْفُوا اللِّحَى.
Sedangkan al-Hasan dan Qatadah memakruhkannya, dan keduanya berkata: membiarkannya apa adanya lebih disukai, berdasarkan sabda Nabi صلى الله عليه وسلم: “Biarkanlah janggut-janggut.”

وَالْأَمْرُ فِي هٰذَا قَرِيبٌ، إِنْ لَمْ يَنْتَهِ إِلَى تَقْصِيصِ اللِّحْيَةِ وَتَدْوِيرِهَا مِنَ الْجَوَانِبِ.
Masalah ini ringan, selama tidak sampai kepada membentuk-bentuk janggut secara berlebihan dan membulatkannya dari sisi-sisinya.

فَإِنَّ الطُّولَ الْمُفْرِطَ قَدْ يُشَوِّهُ الْخِلْقَةَ، وَيُطْلِقُ أَلْسِنَةَ الْمُغْتَابِينَ بِالنَّبْذِ إِلَيْهِ.
Sebab panjang yang berlebihan dapat merusak penampilan dan membuka lisan orang-orang yang suka menggunjing untuk mengejeknya.

فَلَا بَأْسَ بِالِاحْتِرَازِ عَنْهُ عَلَى هٰذِهِ النِّيَّةِ.
Karena itu tidak mengapa menghindari keadaan seperti itu dengan niat semacam ini.

وَقَالَ النَّخَعِيُّ: عَجِبْتُ لِرَجُلٍ عَاقِلٍ طَوِيلِ اللِّحْيَةِ كَيْفَ لَا يَأْخُذُ مِنْ لِحْيَتِهِ وَيَجْعَلُهَا بَيْنَ لِحْيَتَيْنِ.
An-Nakha‘i berkata: “Aku heran kepada seorang lelaki berakal yang berjanggut panjang, bagaimana ia tidak memotong janggutnya agar berada di antara dua keadaan.”

فَإِنَّ التَّوَسُّطَ فِي كُلِّ شَيْءٍ حَسَنٌ.
Sebab sikap pertengahan dalam segala sesuatu itu baik.

وَلِذٰلِكَ قِيلَ: كُلَّمَا طَالَتِ اللِّحْيَةُ تَشَمَّرَ الْعَقْلُ.
Karena itu dikatakan: semakin panjang janggut, semakin berkurang akal.

فَصْلٌ: وَفِي اللِّحْيَةِ عَشْرُ خِصَالٍ مَكْرُوهَةٍ، وَبَعْضُهَا أَشَدُّ كَرَاهَةً مِنْ بَعْضٍ.
Pasal: pada janggut terdapat sepuluh sifat yang makruh, dan sebagian di antaranya lebih kuat kemakruhannya daripada yang lain.

خِضَابُهَا بِالسَّوَادِ.
Mewarnainya dengan warna hitam.

وَتَبْيِيضُهَا بِالْكِبْرِيتِ.
Memutihkannya dengan belerang.

وَنَتْفُهَا.
Mencabut janggut.

وَنَتْفُ الشَّيْبِ مِنْهَا.
Mencabut uban darinya.

وَالنُّقْصَانُ مِنْهَا.
Menguranginya secara berlebihan.

وَالزِّيَادَةُ.
Dan menambah-nambahinya secara tidak wajar.

وَتَسْرِيحُهَا تَصَنُّعًا لِأَجْلِ الرِّيَاءِ.
Menyisirnya dengan dibuat-buat demi riya.

وَتَرْكُهَا شَعِثَةً إِظْهَارًا لِلزُّهْدِ.
Membiarkannya kusut demi menampakkan kezuhudan.

وَالنَّظَرُ إِلَى سَوَادِهَا عُجْبًا بِالشَّبَابِ.
Memandang hitamnya janggut dengan rasa kagum kepada masa muda.

وَإِلَى بَيَاضِهَا تَكَبُّرًا بِعُلُوِّ السِّنِّ.
Dan memandang putihnya dengan rasa sombong karena usia tua.

وَخِضَابُهَا بِالْحُمْرَةِ وَالصُّفْرَةِ مِنْ غَيْرِ نِيَّةٍ، تَشَبُّهًا بِالصَّالِحِينَ.
Dan mewarnainya dengan merah atau kuning tanpa niat yang benar, hanya sekadar menyerupai orang-orang saleh.

أَمَّا الْأَوَّلُ، وَهُوَ الْخِضَابُ بِالسَّوَادِ، فَهُوَ مَنْهِيٌّ عَنْهُ.
Adapun yang pertama, yaitu mewarnai dengan hitam, maka hal itu terlarang.

لِقَوْلِهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: خَيْرُ شَبَابِكُمْ مَنْ تَشَبَّهَ بِشُيُوخِكُمْ، وَشَرُّ شُيُوخِكُمْ مَنْ تَشَبَّهَ بِشَبَابِكُمْ.
Berdasarkan sabda Nabi صلى الله عليه وسلم: “Sebaik-baik pemuda kalian adalah yang menyerupai orang tua kalian, dan seburuk-buruk orang tua kalian adalah yang menyerupai pemuda kalian.”

وَالْمُرَادُ بِالتَّشَبُّهِ بِالشُّيُوخِ فِي الْوَقَارِ، لَا فِي تَبْيِيضِ الشَّعْرِ.
Maksud menyerupai orang tua adalah dalam kewibawaan, bukan dalam membuat rambut menjadi putih.

وَنَهَى عَنِ الْخِضَابِ بِالسَّوَادِ.
Dan beliau melarang pewarnaan dengan warna hitam.

وَقَالَ: هُوَ خِضَابُ أَهْلِ النَّارِ.
Beliau bersabda: “Itu adalah warna ahli neraka.”

وَفِي لَفْظٍ آخَرَ: الْخِضَابُ بِالسَّوَادِ خِضَابُ الْكُفَّارِ.
Dalam lafaz lain disebutkan: “Warna hitam adalah warna orang-orang kafir.”

وَتَزَوَّجَ رَجُلٌ عَلَى عَهْدِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، وَكَانَ يَخْضِبُ بِالسَّوَادِ.
Pada masa Umar رضي الله عنه, ada seorang lelaki menikah sementara ia mewarnai rambutnya dengan warna hitam.

فَنَصَلَ خِضَابُهُ وَظَهَرَتْ شَيْبَتُهُ.
Lalu warna semirnya luntur dan tampaklah ubannya.

فَرَفَعَهُ أَهْلُ الْمَرْأَةِ إِلَى عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ.
Keluarga pihak perempuan pun mengadukannya kepada Umar رضي الله عنه.

فَرَدَّ نِكَاحَهُ وَأَوْجَعَهُ ضَرْبًا، وَقَالَ: غَرَرْتَ الْقَوْمَ بِالشَّبَابِ، وَلَبَّسْتَ عَلَيْهِمْ شَيْبَتَكَ.
Maka Umar membatalkan nikahnya, memukulnya dengan keras, dan berkata: “Engkau telah menipu orang-orang dengan tampilan muda dan menyamarkan ubanmu dari mereka.”

وَيُقَالُ: أَوَّلُ مَنْ خَضَبَ بِالسَّوَادِ فِرْعَوْنُ، لَعَنَهُ اللهُ.
Dan dikatakan bahwa orang pertama yang mewarnai rambut dengan hitam adalah Fir‘aun, semoga laknat Allah atasnya.

وَعَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ: يَكُونُ فِي آخِرِ الزَّمَانِ قَوْمٌ يَخْضِبُونَ بِالسَّوَادِ كَحَوَاصِلِ الْحَمَامِ، لَا يَرِيحُونَ رَائِحَةَ الْجَنَّةِ.
Dan dari Ibnu Abbas رضي الله عنهما, dari Nabi صلى الله عليه وسلم, beliau bersabda: “Akan ada pada akhir zaman kaum yang mewarnai rambut mereka dengan hitam seperti tembolok burung merpati. Mereka tidak akan mencium bau surga.”

اَلثَّانِي: الْخِضَابُ بِالصُّفْرَةِ وَالْحُمْرَةِ، وَهُوَ جَائِزٌ تَلْبِيسًا لِلشَّيْبِ عَلَى الْكُفَّارِ فِي الْغَزْوِ وَالْجِهَادِ.
Yang kedua: mewarnai dengan kuning atau merah, dan itu boleh untuk menyamarkan uban di hadapan orang-orang kafir saat perang dan jihad.

فَإِنْ لَمْ يَكُنْ عَلَى هٰذِهِ النِّيَّةِ، بَلْ لِلتَّشَبُّهِ بِأَهْلِ الدِّينِ، فَهُوَ مَذْمُومٌ.
Jika bukan dengan niat seperti itu, melainkan sekadar meniru orang-orang beragama, maka hal itu tercela.

وَقَدْ قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: الصُّفْرَةُ خِضَابُ الْمُسْلِمِينَ، وَالْحُمْرَةُ خِضَابُ الْمُؤْمِنِينَ.
Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda: “Warna kuning adalah pewarna kaum Muslimin, dan warna merah adalah pewarna kaum mukminin.”

وَكَانُوا يَخْضِبُونَ بِالْحِنَّاءِ لِلْحُمْرَةِ، وَبِالْخَلُوقِ وَالْكَتَمِ لِلصُّفْرَةِ.
Mereka biasa mewarnai dengan pacar untuk warna merah, dan dengan khaluq serta katam untuk warna kuning.

وَخَضَبَ بَعْضُ الْعُلَمَاءِ بِالسَّوَادِ لِأَجْلِ الْغَزْوِ.
Dan sebagian ulama pernah mewarnai dengan hitam karena alasan perang.

وَذٰلِكَ لَا بَأْسَ بِهِ إِذَا صَحَّتِ النِّيَّةُ وَلَمْ يَكُنْ فِيهِ هَوًى وَلَا شَهْوَةٌ.
Hal itu tidak mengapa jika niatnya benar dan tidak didorong oleh hawa nafsu atau syahwat.

اَلثَّالِثُ: تَبْيِيضُهَا بِالْكِبْرِيتِ اسْتِعْجَالًا لِإِظْهَارِ عُلُوِّ السِّنِّ، تَوَصُّلًا إِلَى التَّوْقِيرِ، وَقَبُولِ الشَّهَادَةِ، وَالتَّصْدِيقِ بِالرِّوَايَةِ عَنِ الشُّيُوخِ، وَتَرَفُّعًا عَنِ الشَّبَابِ، وَإِظْهَارًا لِكَثْرَةِ الْعِلْمِ، ظَنًّا بِأَنَّ كَثْرَةَ الْأَيَّامِ تُعْطِيهِ فَضْلًا.
Yang ketiga: memutihkannya dengan belerang agar tampak tua lebih cepat, dengan tujuan memperoleh kewibawaan, diterimanya kesaksian, dipercaya dalam periwayatan dari para syekh, merasa lebih tinggi dari kaum muda, dan menampakkan banyaknya ilmu, dengan sangkaan bahwa banyaknya umur memberi kelebihan.

وَهَيْهَاتَ.
Sangat jauh anggapan itu.

فَلَا يَزِيدُ كِبَرُ السِّنِّ لِلْجَاهِلِ إِلَّا جَهْلًا.
Usia tua tidak menambah apa pun bagi orang bodoh selain kebodohan.

فَالْعِلْمُ ثَمَرَةُ الْعَقْلِ، وَهِيَ غَرِيزَةٌ، وَلَا يُؤَثِّرُ الشَّيْبُ فِيهَا.
Ilmu adalah buah akal, dan akal itu bersifat pembawaan; uban tidak berpengaruh padanya.

وَمَنْ كَانَتْ غَرِيزَتُهُ الْحُمْقَ، فَطُولُ الْمُدَّةِ يُؤَكِّدُ حَمَاقَتَهُ.
Barang siapa pembawaannya adalah kebodohan, maka panjangnya umur hanya akan meneguhkan kebodohannya.

وَقَدْ كَانَ الشُّيُوخُ يُقَدِّمُونَ الشَّبَابَ بِالْعِلْمِ.
Para orang tua dahulu justru mendahulukan para pemuda karena ilmunya.

كَانَ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ يُقَدِّمُ ابْنَ عَبَّاسٍ، وَهُوَ حَدِيثُ السِّنِّ، عَلَى أَكَابِرِ الصَّحَابَةِ، وَيَسْأَلُهُ دُونَهُمْ.
Umar bin al-Khattab رضي الله عنه mendahulukan Ibnu Abbas, padahal usianya masih muda, atas para sahabat senior, dan bertanya kepadanya di hadapan mereka.

وَقَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا: مَا آتَى اللهُ عَزَّ وَجَلَّ عَبْدًا عِلْمًا إِلَّا شَابًّا، وَالْخَيْرُ كُلُّهُ فِي الشَّبَابِ.
Ibnu Abbas رضي الله عنهما berkata: “Allah عز وجل tidak memberikan ilmu kepada seorang hamba kecuali ketika ia masih muda, dan seluruh kebaikan ada pada masa muda.”

ثُمَّ تَلَا قَوْلَهُ عَزَّ وَجَلَّ: قَالُوا سَمِعْنَا فَتًى يَذْكُرُهُمْ يُقَالُ لَهُ إِبْرَاهِيمُ.
Kemudian ia membaca firman Allah عز وجل: “Mereka berkata: kami mendengar seorang pemuda yang menyebut-nyebut mereka, namanya Ibrahim.”

وَقَوْلَهُ تَعَالَى: إِنَّهُمْ فِتْيَةٌ آمَنُوا بِرَبِّهِمْ وَزِدْنَاهُمْ هُدًى.
Dan firman-Nya Ta‘ala: “Sesungguhnya mereka adalah para pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka, dan Kami tambahkan petunjuk kepada mereka.”

وَقَوْلَهُ تَعَالَى: وَآتَيْنَاهُ الْحُكْمَ صَبِيًّا.
Dan firman-Nya Ta‘ala: “Dan Kami berikan kepadanya hikmah ketika masih kecil.”

وَكَانَ أَنَسٌ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ يَقُولُ: قُبِضَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَلَيْسَ فِي رَأْسِهِ وَلِحْيَتِهِ عِشْرُونَ شَعْرَةً بَيْضَاءَ.
Anas رضي الله عنه berkata: “Rasulullah صلى الله عليه وسلم wafat, sementara pada kepala dan janggut beliau tidak terdapat dua puluh helai rambut putih.”

فَقِيلَ لَهُ: يَا أَبَا حَمْزَةَ، فَقَدْ أَسَنَّ.
Lalu dikatakan kepadanya: “Wahai Abu Hamzah, bukankah beliau telah berusia tua?”

فَقَالَ: لَمْ يَشِنْهُ اللهُ بِالشَّيْبِ.
Ia menjawab: “Allah tidak menjadikan uban sebagai sesuatu yang merusak penampilan beliau.”

فَقِيلَ: أَهُوَ شَيْنٌ؟
Lalu ditanya: “Apakah uban itu suatu keburukan?”

فَقَالَ: كُلُّكُمْ يَكْرَهُهُ.
Ia menjawab: “Kalian semua tidak menyukainya.”

وَيُقَالُ: إِنَّ يَحْيَى بْنَ أَكْثَمَ وُلِّيَ الْقَضَاءَ وَهُوَ ابْنُ إِحْدَى وَعِشْرِينَ سَنَةً.
Dikatakan bahwa Yahya bin Aktsam diangkat menjadi qadhi pada usia dua puluh satu tahun.

فَقَالَ لَهُ رَجُلٌ فِي مَجْلِسِهِ يُرِيدُ أَنْ يُخْجِلَهُ بِصِغَرِ سِنِّهِ: كَمْ سِنُّ الْقَاضِي أَيَّدَهُ اللهُ؟
Maka seorang lelaki berkata kepadanya dalam majelisnya, dengan maksud mempermalukannya karena usianya yang muda: “Berapa usia sang qadhi, semoga Allah meneguhkannya?”

فَقَالَ: مِثْلُ سِنِّ عَتَّابِ بْنِ أَسِيدٍ حِينَ وَلَّاهُ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِمَارَةَ مَكَّةَ وَقَضَاءَهَا.
Ia menjawab: “Seusia ‘Attab bin Asid ketika Rasulullah صلى الله عليه وسلم mengangkatnya sebagai pemimpin Makkah dan qadhinya.”

فَأَفْحَمَهُ.
Maka orang itu pun terdiam tak berkutik.

وَرُوِيَ عَنْ مَالِكٍ رَحِمَهُ اللهُ أَنَّهُ قَالَ: قَرَأْتُ فِي بَعْضِ الْكُتُبِ: لَا تَغُرَّنَّكُمُ اللِّحَى، فَإِنَّ التَّيْسَ لَهُ لِحْيَةٌ.
Diriwayatkan dari Malik رحمه الله bahwa ia berkata: “Aku membaca dalam sebagian kitab: janganlah janggut-janggut itu menipu kalian, karena kambing jantan pun memiliki janggut.”

وَقَالَ أَبُو عَمْرِو بْنُ الْعَلَاءِ: إِذَا رَأَيْتَ الرَّجُلَ طَوِيلَ الْقَامَةِ صَغِيرَ الْهَامَةِ عَرِيضَ اللِّحْيَةِ، فَاقْضِ عَلَيْهِ بِالْحُمْقِ، وَلَوْ كَانَ أُمَيَّةَ بْنَ عَبْدِ شَمْسٍ.
Abu ‘Amr bin al-‘Ala’ berkata: “Jika engkau melihat seorang lelaki bertubuh tinggi, berkepala kecil, dan berjanggut lebar, maka putuskanlah bahwa ia bodoh, walaupun ia Umayyah bin ‘Abd Syams.”

وَقَالَ أَيُّوبُ السِّخْتِيَانِيُّ: أَدْرَكْتُ الشَّيْخَ ابْنَ ثَمَانِينَ سَنَةً يَتْبَعُ الْغُلَامَ يَتَعَلَّمُ مِنْهُ.
Ayyub as-Sikhtiyani berkata: “Aku pernah melihat seorang syekh berusia delapan puluh tahun mengikuti seorang pemuda untuk belajar darinya.”

وَقَالَ عَلِيُّ بْنُ الْحُسَيْنِ: مَنْ سَبَقَكَ فِيهِ الْعِلْمُ فَهُوَ إِمَامُكَ فِيهِ، وَإِنْ كَانَ أَصْغَرَ سِنًّا مِنْكَ.
Ali bin al-Husain berkata: “Barang siapa mendahuluimu dalam ilmu, maka ia adalah imam bagimu dalam ilmu itu, meskipun usianya lebih muda darimu.”

وَقِيلَ لِأَبِي عَمْرِو بْنِ الْعَلَاءِ: أَيَحْسُنُ مِنَ الشَّيْخِ أَنْ يَتَعَلَّمَ مِنَ الصَّغِيرِ؟
Dan ditanyakan kepada Abu ‘Amr bin al-‘Ala’: “Apakah pantas bagi seorang tua belajar dari orang muda?”

فَقَالَ: إِنْ كَانَ الْجَهْلُ يُقَبَّحُ بِهِ، فَالتَّعَلُّمُ يُحَسَّنُ بِهِ.
Ia menjawab: “Jika kebodohan itu membuat seseorang menjadi buruk, maka belajar membuatnya menjadi baik.”

وَقَالَ يَحْيَى بْنُ مَعِينٍ لِأَحْمَدَ بْنِ حَنْبَلٍ، وَقَدْ رَآهُ يَمْشِي خَلْفَ بَغْلَةِ الشَّافِعِيِّ: يَا أَبَا عَبْدِ اللهِ، تَرَكْتَ حَدِيثَ سُفْيَانَ بِعُلُوِّهِ، وَتَمْشِي خَلْفَ بَغْلَةِ هٰذَا الْفَتَى وَتَسْمَعُ مِنْهُ؟
Yahya bin Ma‘in berkata kepada Ahmad bin Hanbal ketika melihatnya berjalan di belakang bagal asy-Syafi‘i: “Wahai Abu ‘Abdillah, engkau meninggalkan hadis Sufyan yang sanadnya lebih tinggi, tetapi justru berjalan di belakang bagal pemuda ini dan mendengar darinya?”

فَقَالَ لَهُ أَحْمَدُ: لَوْ عَرَفْتَ لَكُنْتَ تَمْشِي مِنَ الْجَانِبِ الْآخَرِ.
Ahmad menjawab: “Seandainya engkau tahu, niscaya engkau akan berjalan di sisi yang lain pula.”

إِنَّ عِلْمَ سُفْيَانَ إِنْ فَاتَنِي بِعُلُوٍّ أَدْرَكْتُهُ بِنُزُولٍ، وَإِنَّ عِلْمَ هٰذَا الشَّابِّ إِنْ فَاتَنِي لَمْ أُدْرِكْهُ بِعُلُوٍّ وَلَا نُزُولٍ.
“Ilmu Sufyan, jika luput dariku dalam sanad yang tinggi, masih bisa aku dapatkan melalui sanad yang lebih rendah. Tetapi ilmu pemuda ini, jika luput dariku, aku tidak akan dapat lagi, baik dengan sanad tinggi maupun rendah.”

اَلرَّابِعُ: نَتْفُ بَيَاضِهَا اسْتِنْكَافًا مِنَ الشَّيْبِ، وَقَدْ نَهَى عَلَيْهِ السَّلَامُ عَنْ نَتْفِ الشَّيْبِ، وَقَالَ: هُوَ نُورُ الْمُؤْمِنِ.
Yang keempat: mencabut uban dari janggut karena merasa enggan dengan uban. Nabi عليه السلام telah melarang mencabut uban dan bersabda: “Uban itu adalah cahaya orang mukmin.”

وَهُوَ فِي مَعْنَى الْخِضَابِ بِالسَّوَادِ، وَعِلَّةُ الْكَرَاهَةِ مَا سَبَقَ.
Hal ini semakna dengan mewarnai hitam, dan sebab kemakruhannya sama dengan yang telah disebutkan.

وَالشَّيْبُ نُورُ اللهِ تَعَالَى، وَالرَّغْبَةُ عَنْهُ رَغْبَةٌ عَنِ النُّورِ.
Uban adalah cahaya dari Allah Ta‘ala, dan tidak menyukainya berarti tidak menyukai cahaya itu.

اَلْخَامِسُ: نَتْفُهَا أَوْ نَتْفُ بَعْضِهَا بِحُكْمِ الْعَبَثِ وَالْهَوَسِ، وَذٰلِكَ مَكْرُوهٌ وَمُشَوِّهٌ لِلْخِلْقَةِ.
Yang kelima: mencabut janggut atau sebagian darinya sebagai bentuk main-main dan tingkah aneh. Hal itu makruh dan merusak penampilan.

وَنَتْفُ الْفَنِيكَيْنِ بِدْعَةٌ، وَهُمَا جَانِبَا الْعَنْفَقَةِ.
Dan mencabut dua sisi bawah bibir yang disebut fanikain adalah bid‘ah. Keduanya adalah dua sisi rambut ‘anfaqah.

شَهِدَ عِنْدَ عُمَرَ بْنِ عَبْدِ الْعَزِيزِ رَجُلٌ كَانَ يَنْتِفُ فَنِيكَيْهِ، فَرَدَّ شَهَادَتَهُ.
Pernah seorang lelaki bersaksi di hadapan Umar bin ‘Abd al-‘Aziz, sedangkan ia mencabut fanikain-nya, maka Umar menolak kesaksiannya.

وَرَدَّ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ وَابْنُ أَبِي لَيْلَى قَاضِي الْمَدِينَةِ شَهَادَةَ مَنْ كَانَ يَنْتِفُ لِحْيَتَهُ.
Dan Umar bin al-Khattab رضي الله عنه serta Ibnu Abi Laila, qadhi Madinah, juga menolak kesaksian orang yang mencabut janggutnya.

وَأَمَّا نَتْفُهَا فِي أَوَّلِ النَّبَاتِ تَشَبُّهًا بِالْمُرْدِ، فَمِنَ الْمُنْكَرَاتِ الْكِبَارِ.
Adapun mencabut janggut pada awal pertumbuhannya demi menyerupai pemuda tampan yang belum berjanggut, maka itu termasuk kemungkaran besar.

فَإِنَّ اللِّحْيَةَ زِينَةُ الرِّجَالِ.
Sebab janggut adalah perhiasan laki-laki.

فَإِنَّ لِلَّهِ سُبْحَانَهُ مَلَائِكَةً يَقْسِمُونَ: وَالَّذِي زَيَّنَ بَنِي آدَمَ بِاللِّحَى.
Karena ada malaikat Allah سبحانه yang bersumpah: “Demi Dzat yang menghiasi anak Adam dengan janggut.”

وَهُوَ مِنْ تَمَامِ الْخَلْقِ.
Janggut itu termasuk kesempurnaan ciptaan.

وَبِهَا يَتَمَيَّزُ الرِّجَالُ عَنِ النِّسَاءِ.
Dengan janggut itulah laki-laki dibedakan dari perempuan.

وَقِيلَ فِي غَرِيبِ التَّأْوِيلِ: اللِّحْيَةُ هِيَ الْمُرَادُ بِقَوْلِهِ تَعَالَى: يَزِيدُ فِي الْخَلْقِ مَا يَشَاءُ.
Dalam penafsiran yang ganjil disebutkan bahwa janggut adalah yang dimaksud dalam firman Allah Ta‘ala: “Dia menambahkan pada ciptaan apa yang Dia kehendaki.”

قَالَ أَصْحَابُ الْأَحْنَفِ بْنِ قَيْسٍ: وَدِدْنَا أَنَّا نَشْتَرِي لِلْأَحْنَفِ لِحْيَةً وَلَوْ بِعِشْرِينَ أَلْفًا.
Sahabat-sahabat al-Ahnaf bin Qais berkata: “Kami ingin bisa membeli janggut untuk al-Ahnaf walaupun dengan harga dua puluh ribu.”

وَقَالَ شُرَيْحُ الْقَاضِي: وَدِدْتُ أَنَّ لِي لِحْيَةً وَلَوْ بِعَشَرَةِ آلَافٍ.
Syuraih al-Qadhi berkata: “Aku berharap punya janggut, meskipun harus dengan sepuluh ribu.”

وَكَيْفَ تُكْرَهُ اللِّحْيَةُ وَفِيهَا تَعْظِيمُ الرَّجُلِ، وَالنَّظَرُ إِلَيْهِ بِعَيْنِ الْعِلْمِ وَالْوَقَارِ، وَالرَّفْعُ فِي الْمَجَالِسِ، وَإِقْبَالُ الْوُجُوهِ إِلَيْهِ، وَالتَّقْدِيمُ عَلَى الْجَمَاعَةِ، وَوِقَايَةُ الْعِرْضِ.
Bagaimana mungkin janggut dibenci, padahal di dalamnya terdapat pengagungan terhadap lelaki, dipandang dengan mata ilmu dan kewibawaan, diangkat kedudukannya dalam majelis, wajah-wajah tertuju kepadanya, ia didahulukan di tengah jamaah, dan kehormatannya terlindungi?

فَإِنَّ مَنْ يُشْتَمُ يُعَرَّضُ بِاللِّحْيَةِ إِنْ كَانَ لِلْمَشْتُومِ لِحْيَةٌ.
Sebab orang yang dicela sering kali dicela melalui janggutnya jika ia memang memilikinya.

وَقِيلَ: إِنَّ أَهْلَ الْجَنَّةِ مُرْدٌ إِلَّا هَارُونَ أَخَا مُوسَى صَلَّى اللهُ عَلَيْهِمَا وَسَلَّمَ، فَإِنَّ لَهُ لِحْيَةً إِلَى سُرَّتِهِ، تَخْصِيصًا لَهُ وَتَفْضِيلًا.
Dan dikatakan bahwa penghuni surga semuanya tidak berjanggut kecuali Harun saudara Musa عليهما السلام, karena ia memiliki janggut sampai pusarnya, sebagai kekhususan dan kemuliaan baginya.

اَلسَّادِسُ: تَقْصِيصُهَا كَالتَّعْبِيَةِ طَاقَةً عَلَى طَاقَةٍ، لِلتَّزَيُّنِ لِلنِّسَاءِ وَالتَّصَنُّعِ.
Yang keenam: membentuk-bentuk janggut, seperti menjadikannya bertingkat-tingkat, demi berhias untuk perempuan dan bersikap dibuat-buat.

قَالَ كَعْبٌ: يَكُونُ فِي آخِرِ الزَّمَانِ أَقْوَامٌ يُقَصُّونَ لِحَاهُمْ كَذَنَبِ الْحَمَامَةِ، وَيُعَرْقِبُونَ نِعَالَهُمْ كَالْمَنَاجِلِ، أُولٰئِكَ لَا خَلَاقَ لَهُمْ.
Ka‘b berkata: “Akan ada pada akhir zaman suatu kaum yang memotong janggut mereka seperti ekor merpati, dan melengkungkan sandal mereka seperti sabit. Mereka itu tidak memiliki bagian kebaikan.”

اَلسَّابِعُ: الزِّيَادَةُ فِيهَا، وَهُوَ أَنْ يَزِيدَ فِي شَعْرِ الْعَارِضَيْنِ مِنَ الصُّدْغَيْنِ، وَهُوَ مِنْ شَعْرِ الرَّأْسِ، حَتَّى يُجَاوِزَ عَظْمَ اللِّحْيَةِ وَيَنْتَهِيَ إِلَى نِصْفِ الْخَدِّ.
Yang ketujuh: menambah pada janggut, yaitu dengan membiarkan rambut pada dua sisi pipi dari bagian pelipis—yang sebenarnya termasuk rambut kepala—hingga melewati tulang janggut dan sampai ke pertengahan pipi.

وَذٰلِكَ يُبَايِنُ هَيْئَةَ أَهْلِ الصَّلَاحِ.
Hal itu berbeda dari penampilan orang-orang saleh.

اَلثَّامِنُ: تَسْرِيحُهَا لِأَجْلِ النَّاسِ.
Yang kedelapan: menyisir janggut demi pandangan manusia.

قَالَ بِشْرٌ: فِي اللِّحْيَةِ شِرْكَانِ، تَسْرِيحُهَا لِأَجْلِ النَّاسِ، وَتَرْكُهَا مُتَفَتِّلَةً لِإِظْهَارِ الزُّهْدِ.
Bisyru berkata: “Pada janggut ada dua bentuk syirik: menyisirnya demi manusia, dan membiarkannya kusut demi menampakkan kezuhudan.”

اَلتَّاسِعُ وَالْعَاشِرُ: النَّظَرُ فِي سَوَادِهَا أَوْ فِي بَيَاضِهَا بِعَيْنِ الْعُجْبِ.
Yang kesembilan dan kesepuluh: memandang hitamnya atau putihnya janggut dengan pandangan ujub.

وَذٰلِكَ مَذْمُومٌ فِي جَمِيعِ أَجْزَاءِ الْبَدَنِ، بَلْ فِي جَمِيعِ الْأَخْلَاقِ وَالْأَفْعَالِ، عَلَى مَا سَيَأْتِي بَيَانُهُ.
Hal itu tercela pada seluruh bagian tubuh, bahkan pada seluruh akhlak dan perbuatan, sebagaimana akan dijelaskan nanti.

فَهٰذَا مَا أَرَدْنَا أَنْ نَذْكُرَهُ مِنْ أَنْوَاعِ التَّزَيُّنِ وَالنَّظَافَةِ.
Inilah yang ingin kami sebutkan dari macam-macam berhias dan kebersihan.

وَقَدْ حَصَلَ مِنْ ثَلَاثَةِ أَحَادِيثَ مِنْ سُنَنِ الْجَسَدِ اثْنَتَا عَشْرَةَ خَصْلَةً.
Dan dari tiga hadis telah terkumpul dua belas perkara dari sunah-sunah tubuh.

خَمْسٌ مِنْهَا فِي الرَّأْسِ، وَهِيَ: فَرْقُ شَعْرِ الرَّأْسِ، وَالْمَضْمَضَةُ، وَالِاسْتِنْشَاقُ، وَقَصُّ الشَّارِبِ، وَالسِّوَاكُ.
Lima di antaranya berkaitan dengan kepala, yaitu: membelah rambut kepala, berkumur, istinsyaq, memotong kumis, dan bersiwak.

وَثَلَاثَةٌ فِي الْيَدِ وَالرِّجْلِ، وَهِيَ: الْقَلْمُ، وَغَسْلُ الْبَرَاجِمِ، وَتَنْظِيفُ الرَّوَاجِبِ.
Tiga berkaitan dengan tangan dan kaki, yaitu: memotong kuku, mencuci barājim, dan membersihkan rawājib.

وَأَرْبَعَةٌ فِي الْجَسَدِ، وَهِيَ: نَتْفُ الْإِبْطِ، وَالِاسْتِحْدَادُ، وَالْخِتَانُ، وَالِاسْتِنْجَاءُ بِالْمَاءِ.
Empat berkaitan dengan tubuh, yaitu: mencabut bulu ketiak, mencukur bulu kemaluan, khitan, dan istinja dengan air.

فَقَدْ وَرَدَتِ الْأَخْبَارُ بِمَجْمُوعِ ذٰلِكَ.
Semua itu telah datang keterangannya dalam hadis-hadis.

وَإِذْ كَانَ غَرَضُ هٰذَا الْكِتَابِ التَّعَرُّضَ لِلطَّهَارَةِ الظَّاهِرَةِ دُونَ الْبَاطِنَةِ، فَلْنَقْتَصِرْ عَلَى هٰذَا.
Karena tujuan kitab ini adalah membahas kesucian lahiriah, bukan batiniah, maka cukuplah kita membatasi pembahasan sampai di sini.

وَلْيُتَحَقَّقْ أَنَّ فَضَلَاتِ الْبَاطِنِ وَأَوْسَاخَهُ الَّتِي يَجِبُ التَّنْظِيفُ مِنْهَا أَكْثَرُ مِنْ أَنْ تُحْصَى.
Dan hendaklah diyakini bahwa kotoran dan sisa-sisa batin yang wajib dibersihkan jauh lebih banyak daripada yang dapat dihitung.

وَسَيَأْتِي تَفْصِيلُهَا فِي رُبْعِ الْمُهْلِكَاتِ، مَعَ تَعْرِيفِ الطُّرُقِ فِي إِزَالَتِهَا وَتَطْهِيرِ الْقَلْبِ مِنْهَا، إِنْ شَاءَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ.
Rinciannya akan datang pada rubu‘ al-muhlikat, beserta penjelasan jalan-jalan untuk menghilangkannya dan menyucikan hati darinya, insya Allah عز وجل.

تَمَّ كِتَابُ أَسْرَارِ الطَّهَارَةِ بِحَمْدِ اللهِ تَعَالَى وَعَوْنِهِ.
Selesailah Kitab Rahasia-Rahasia Bersuci dengan puji Allah Ta‘ala dan pertolongan-Nya.

وَيَتْلُوهُ إِنْ شَاءَ اللهُ تَعَالَى كِتَابُ أَسْرَارِ الصَّلَاةِ.
Dan sesudah ini, insya Allah Ta‘ala, akan diikuti oleh Kitab Rahasia-Rahasia Salat.

وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَحْدَهُ، وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى كُلِّ عَبْدٍ مُصْطَفًى.
Segala puji bagi Allah semata. Semoga Allah melimpahkan salawat kepada junjungan kami Muhammad dan kepada setiap hamba pilihan-Nya.