Penjelasan Tentang Penyakit-Penyakit Ilmu, Tanda-Tanda Ulama Akhirat, dan Ulama yang Buruk
اَلْبَابُ السَّادِسُ فِي آفَاتِ الْعِلْمِ وَبَيَانِ عَلَامَاتِ عُلَمَاءِ الْآخِرَةِ وَعُلَمَاءِ السُّوءِ
Bab keenam tentang penyakit-penyakit ilmu, penjelasan
tanda-tanda ulama akhirat, dan ulama yang buruk.
قَدْ
ذَكَرْنَا مَا وَرَدَ مِنْ فَضَائِلِ الْعِلْمِ وَالْعُلَمَاءِ، وَقَدْ وَرَدَ فِي
الْعُلَمَاءِ السُّوءِ تَشْدِيدَاتٌ عَظِيمَةٌ دَلَّتْ عَلَى أَنَّهُمْ أَشَدُّ
الْخَلْقِ عَذَابًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ.
Kami telah menyebutkan apa yang datang tentang keutamaan
ilmu dan para ulama. Dan telah datang pula ancaman-ancaman keras terhadap ulama
yang buruk, yang menunjukkan bahwa mereka adalah makhluk yang paling keras
azabnya pada hari kiamat.
فَمِنَ
الْمُهِمَّاتِ الْعَظِيمَةِ مَعْرِفَةُ الْعَلَامَاتِ الْفَارِقَةِ بَيْنَ
عُلَمَاءِ الدُّنْيَا وَعُلَمَاءِ الْآخِرَةِ.
Maka termasuk perkara yang sangat penting adalah mengetahui
tanda-tanda yang membedakan antara ulama dunia dan ulama akhirat.
وَنَعْنِي
بِعُلَمَاءِ الدُّنْيَا عُلَمَاءَ السُّوءِ الَّذِينَ قَصْدُهُمْ مِنَ الْعِلْمِ
التَّنَعُّمُ بِالدُّنْيَا وَالتَّوَصُّلُ إِلَى الْجَاهِ وَالْمَنْزِلَةِ عِنْدَ
أَهْلِهَا.
Yang kami maksud dengan ulama dunia adalah ulama yang buruk,
yaitu orang-orang yang tujuan mereka dari ilmu adalah menikmati dunia dan
mencapai kedudukan serta status di tengah para pencintanya.
قَالَ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنَّ أَشَدَّ النَّاسِ عَذَابًا يَوْمَ
الْقِيَامَةِ عَالِمٌ لَمْ يَنْفَعْهُ اللَّهُ بِعِلْمِهِ.
Nabi ﷺ
bersabda, “Sesungguhnya manusia yang paling keras azabnya pada hari kiamat
adalah seorang alim yang Allah tidak memberinya manfaat dengan ilmunya.”
وَعَنْهُ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ: لَا يَكُونُ الْمَرْءُ عَالِمًا
حَتَّى يَكُونَ بِعِلْمِهِ عَامِلًا.
Dan dari beliau ﷺ juga diriwayatkan bahwa beliau bersabda, “Seseorang tidak
dianggap alim hingga ia mengamalkan ilmunya.”
وَقَالَ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: الْعِلْمُ عِلْمَانِ: عِلْمٌ عَلَى
اللِّسَانِ، فَذٰلِكَ حُجَّةُ اللَّهِ تَعَالَى عَلَى خَلْقِهِ، وَعِلْمٌ فِي
الْقَلْبِ، فَذٰلِكَ الْعِلْمُ النَّافِعُ.
Dan Nabi ﷺ
bersabda, “Ilmu itu ada dua: ilmu pada lisan, maka itulah hujah Allah Ta‘ala
atas makhluk-Nya; dan ilmu di dalam hati, maka itulah ilmu yang bermanfaat.”
وَقَالَ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: يَكُونُ فِي آخِرِ الزَّمَانِ عُبَّادٌ
جُهَّالٌ وَعُلَمَاءُ فُسَّاقٌ.
Dan Nabi ﷺ
bersabda, “Pada akhir zaman akan ada ahli ibadah yang bodoh dan ulama yang
fasik.”
وَقَالَ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لَا تَتَعَلَّمُوا الْعِلْمَ لِتُبَاهُوا بِهِ
الْعُلَمَاءَ، وَلِتُمَارُوا بِهِ السُّفَهَاءَ، وَلِتَصْرِفُوا بِهِ وُجُوهَ
النَّاسِ إِلَيْكُمْ، فَمَنْ فَعَلَ ذٰلِكَ فَهُوَ فِي النَّارِ.
Dan Nabi ﷺ
bersabda, “Janganlah kalian mempelajari ilmu untuk membanggakan diri di hadapan
para ulama, atau untuk berdebat dengan orang-orang bodoh, atau agar wajah-wajah
manusia tertuju kepada kalian. Barang siapa melakukan itu, maka ia berada di
neraka.”
وَقَالَ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَنْ كَتَمَ عِلْمًا عِنْدَهُ أُلْجِمَ يَوْمَ
الْقِيَامَةِ بِلِجَامٍ مِنْ نَارٍ.
Dan Nabi ﷺ
bersabda, “Barang siapa menyembunyikan ilmu yang ada padanya, ia akan diberi
kekang dari api pada hari kiamat.”
وَقَالَ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لَأَنَا مِنْ غَيْرِ الدَّجَّالِ أَخْوَفُ
عَلَيْكُمْ مِنَ الدَّجَّالِ.
Dan Nabi ﷺ
bersabda, “Sungguh aku lebih mengkhawatirkan atas kalian selain Dajjal daripada
Dajjal itu sendiri.”
فَقِيلَ:
وَمَا ذٰلِكَ؟
Lalu ditanyakan, “Apakah itu?”
فَقَالَ:
مِنَ الْأَئِمَّةِ الْمُضِلِّينَ.
Beliau menjawab, “Yaitu para pemimpin yang menyesatkan.”
وَقَالَ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَنْ ازْدَادَ عِلْمًا وَلَمْ يَزْدَدْ هُدًى
لَمْ يَزْدَدْ مِنَ اللَّهِ إِلَّا بُعْدًا.
Dan Nabi ﷺ
bersabda, “Barang siapa bertambah ilmunya tetapi tidak bertambah petunjuknya,
maka ia tidak bertambah dari Allah kecuali semakin jauh.”
وَقَالَ
عِيسَى عَلَيْهِ السَّلَامُ: إِلَى مَتَى تَصِفُونَ الطَّرِيقَ لِلْمُدْلِجِينَ
وَأَنْتُمْ مُقِيمُونَ مَعَ الْمُتَحَيِّرِينَ؟
Dan Isa ‘alaihis-salam berkata, “Sampai kapan kalian
menjelaskan jalan bagi orang-orang yang berjalan di malam hari, padahal kalian
sendiri tetap tinggal bersama orang-orang yang bingung?”
فَهٰذَا
وَغَيْرُهُ مِنَ الْأَخْبَارِ يَدُلُّ عَلَى عَظِيمِ خَطَرِ الْعِلْمِ، وَأَنَّ
الْعَالِمَ إِمَّا مُتَعَرِّضٌ لِهَلَاكِ الْأَبَدِ أَوْ لِسَعَادَةِ الْأَبَدِ،
وَأَنَّهُ بِالْخَوْضِ فِي الْعِلْمِ قَدْ حُرِمَ السَّلَامَةَ إِنْ لَمْ يُدْرِكِ
السَّعَادَةَ.
Semua ini dan riwayat-riwayat lainnya menunjukkan besarnya
bahaya ilmu, dan bahwa seorang alim berada di antara dua keadaan: terancam
kebinasaan abadi atau kebahagiaan abadi. Dengan terjun ke dalam ilmu, ia telah
keluar dari wilayah aman; jika ia tidak meraih kebahagiaan, maka ia akan
binasa.
وَأَمَّا
الْآثَارُ فَقَدْ قَالَ عُمَرُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: إِنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ
عَلَى هٰذِهِ الْأُمَّةِ الْمُنَافِقُ الْعَلِيمُ.
Adapun atsar-atsar, maka ‘Umar radhiyallahu ‘anhu berkata,
“Hal yang paling aku takutkan atas umat ini adalah orang munafik yang berilmu.”
قَالُوا:
وَكَيْفَ يَكُونُ مُنَافِقًا عَلِيمًا؟
Orang-orang bertanya, “Bagaimana bisa seseorang menjadi
munafik sekaligus berilmu?”
قَالَ:
عَلِيمُ اللِّسَانِ، جَاهِلُ الْقَلْبِ وَالْعَمَلِ.
Ia menjawab, “Lidahnya berilmu, tetapi hatinya dan amalnya
bodoh.”
وَقَالَ
الْحَسَنُ رَحِمَهُ اللَّهُ: لَا تَكُنْ مِمَّنْ يَجْمَعُ عِلْمَ الْعُلَمَاءِ
وَطَرَائِفَ الْحُكَمَاءِ، وَيَجْرِي فِي الْعَمَلِ مَجْرَى السُّفَهَاءِ.
Al-Hasan rahimahullah berkata, “Janganlah engkau termasuk
orang yang menghimpun ilmu para ulama dan mutiara hikmah para bijak, tetapi
dalam amal berjalan seperti orang-orang bodoh.”
وَقَالَ
رَجُلٌ لِأَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: أُرِيدُ أَنْ أَتَعَلَّمَ
الْعِلْمَ وَأَخَافُ أَنْ أُضَيِّعَهُ.
Seseorang berkata kepada Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu,
“Aku ingin mempelajari ilmu, tetapi aku takut akan menyia-nyiakannya.”
فَقَالَ:
كَفَى بِتَرْكِ الْعِلْمِ إِضَاعَةً لَهُ.
Maka Abu Hurairah menjawab, “Cukuplah meninggalkan ilmu itu
sebagai bentuk menyia-nyiakannya.”
وَقِيلَ
لِإِبْرَاهِيمَ بْنِ عُيَيْنَةَ: أَيُّ النَّاسِ أَطْوَلُ نَدَمًا؟
Pernah ditanyakan kepada Ibrahim bin ‘Uyainah, “Siapakah
manusia yang paling panjang penyesalannya?”
قَالَ:
أَمَّا فِي عَاجِلِ الدُّنْيَا فَصَانِعُ الْمَعْرُوفِ إِلَى مَنْ لَا يَشْكُرُهُ،
وَأَمَّا عِنْدَ الْمَوْتِ فَعَالِمٌ مُفَوَّتٌ.
Ia menjawab, “Adapun di dunia, maka orang yang berbuat baik
kepada orang yang tidak bersyukur kepadanya. Dan adapun saat menjelang mati,
maka seorang alim yang menyia-nyiakan ilmunya.”
وَقَالَ
الْخَلِيلُ بْنُ أَحْمَدَ: الرِّجَالُ أَرْبَعَةٌ: رَجُلٌ يَدْرِي وَيَدْرِي
أَنَّهُ يَدْرِي، فَذٰلِكَ عَالِمٌ فَاتَّبِعُوهُ.
Al-Khalil bin Ahmad berkata, “Manusia itu ada empat macam:
seseorang yang tahu dan tahu bahwa ia tahu, maka itulah orang alim, ikutilah
dia.”
وَرَجُلٌ
يَدْرِي وَلَا يَدْرِي أَنَّهُ يَدْرِي، فَذٰلِكَ نَائِمٌ فَأَيْقِظُوهُ.
“Dan seseorang yang tahu tetapi tidak tahu bahwa ia tahu,
maka ia seperti orang yang tidur, bangunkanlah dia.”
وَرَجُلٌ
لَا يَدْرِي وَيَدْرِي أَنَّهُ لَا يَدْرِي، فَذٰلِكَ مُسْتَرْشِدٌ فَأَرْشِدُوهُ.
“Dan seseorang yang tidak tahu tetapi tahu bahwa ia tidak
tahu, maka ia adalah orang yang mencari petunjuk, maka tunjukilah dia.”
وَرَجُلٌ
لَا يَدْرِي وَلَا يَدْرِي أَنَّهُ لَا يَدْرِي، فَذٰلِكَ جَاهِلٌ فَارْفُضُوهُ.
“Dan seseorang yang tidak tahu dan tidak tahu bahwa ia tidak
tahu, maka ia adalah orang bodoh, tinggalkanlah dia.”
وَقَالَ
سُفْيَانُ الثَّوْرِيُّ رَحِمَهُ اللَّهُ: يَهْتِفُ الْعِلْمُ بِالْعَمَلِ، فَإِنْ
أَجَابَهُ وَإِلَّا ارْتَحَلَ.
Sufyan Ats-Tsauri rahimahullah berkata, “Ilmu memanggil
amal. Jika amal menjawabnya, ilmu tetap tinggal. Jika tidak, ilmu akan pergi.”
وَقَالَ
ابْنُ الْمُبَارَكِ: لَا يَزَالُ الْمَرْءُ عَالِمًا مَا طَلَبَ الْعِلْمَ،
فَإِذَا ظَنَّ أَنَّهُ قَدْ عَلِمَ فَقَدْ جَهِلَ.
Ibnu Al-Mubarak berkata, “Seseorang terus menjadi alim
selama ia terus menuntut ilmu. Jika ia mengira bahwa ia sudah mengetahui, maka
sungguh ia telah bodoh.”
وَقَالَ
الْفُضَيْلُ بْنُ عِيَاضٍ رَحِمَهُ اللَّهُ: إِنِّي لَأَرْحَمُ ثَلَاثَةً: عَزِيزَ
قَوْمٍ ذَلَّ، وَغَنِيَّ قَوْمٍ افْتَقَرَ، وَعَالِمًا تَلْعَبُ بِهِ الدُّنْيَا.
Al-Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah berkata, “Aku sungguh
merasa iba kepada tiga orang: orang mulia dari suatu kaum yang menjadi hina,
orang kaya dari suatu kaum yang menjadi miskin, dan seorang alim yang
dipermainkan oleh dunia.”
وَقَالَ
الْحَسَنُ: عُقُوبَةُ الْعُلَمَاءِ مَوْتُ الْقَلْبِ، وَمَوْتُ الْقَلْبِ طَلَبُ
الدُّنْيَا بِعَمَلِ الْآخِرَةِ.
Al-Hasan berkata, “Hukuman bagi para ulama adalah matinya
hati, dan matinya hati itu adalah mencari dunia dengan amal akhirat.”
وَأَنْشَدُوا:
عَجِبْتُ لِمُبْتَاعِ الضَّلَالَةِ بِالْهُدَى، وَمَنْ يَشْتَرِي دُنْيَاهُ
بِالدِّينِ أَعْجَبُ.
Mereka juga bersyair, “Aku heran kepada orang yang membeli
kesesatan dengan petunjuk, tetapi yang lebih mengherankan adalah orang yang
membeli dunianya dengan agamanya.”
وَأَعْجَبُ
مِنْ هٰذَيْنِ مَنْ بَاعَ دِينَهُ بِدُنْيَا سِوَاهُ، فَهُوَ مِنْ ذَيْنِ أَعْجَبُ.
“Dan yang lebih mengherankan daripada keduanya adalah orang
yang menjual agamanya demi dunia orang lain, maka ia lebih mengherankan
daripada dua golongan itu.”
وَقَالَ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنَّ الْعَالِمَ لَيُعَذَّبُ عَذَابًا
يَطِيفُ بِهِ أَهْلُ النَّارِ اسْتِعْظَامًا لِشِدَّةِ عَذَابِهِ.
Nabi ﷺ
bersabda, “Sesungguhnya seorang alim akan disiksa dengan siksaan yang membuat
para penghuni neraka berputar mengelilinginya karena merasa takjub akan
beratnya siksanya.”
أَرَادَ
بِهِ الْعَالِمَ الْفَاجِرَ.
Yang dimaksud dengan ini adalah alim yang fajir.
وَقَالَ
أُسَامَةُ بْنُ زَيْدٍ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ يَقُولُ: يُؤْتَى بِالْعَالِمِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَيُلْقَى فِي
النَّارِ، فَتَنْدَلِقُ أَقْتَابُهُ، فَيَدُورُ بِهَا كَمَا يَدُورُ الْحِمَارُ
بِالرَّحَى، فَيُطِيفُ بِهِ أَهْلُ النَّارِ، فَيَقُولُونَ: مَا لَكَ؟
Usamah bin Zaid berkata, “Aku mendengar Rasulullah ﷺ
bersabda: ‘Seorang alim akan didatangkan pada hari kiamat lalu dilemparkan ke
dalam neraka. Maka usus-usus perutnya terburai, lalu ia berputar-putar
dengannya sebagaimana keledai berputar mengelilingi penggilingan. Maka para
penghuni neraka mengelilinginya dan berkata: Apa yang terjadi padamu?’”
فَيَقُولُ:
كُنْتُ آمُرُ بِالْخَيْرِ وَلَا آتِيهِ، وَأَنْهَى عَنِ الشَّرِّ وَآتِيهِ.
Maka ia menjawab, ‘Dahulu aku menyuruh kepada kebaikan
tetapi aku sendiri tidak melakukannya, dan aku melarang dari keburukan tetapi
aku sendiri melakukannya.’”
وَإِنَّمَا
يُضَاعَفُ عَذَابُ الْعَالِمِ فِي مَعْصِيَتِهِ لِأَنَّهُ عَصَى عَنْ عِلْمٍ.
Azab seorang alim dilipatgandakan dalam maksiatnya karena ia
bermaksiat dengan pengetahuan.
وَلِذٰلِكَ
قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ: {إِنَّ الْمُنَافِقِينَ فِي الدَّرْكِ الْأَسْفَلِ
مِنَ النَّارِ} لِأَنَّهُمْ جَحَدُوا بَعْدَ الْعِلْمِ.
Karena itu Allah ‘Azza wa Jalla berfirman, “Sesungguhnya
orang-orang munafik berada pada tingkat paling bawah dari neraka,” karena
mereka mengingkari setelah mengetahui.
وَجَعَلَ
الْيَهُودَ شَرًّا مِنَ النَّصَارَى، مَعَ أَنَّهُمْ مَا جَعَلُوا لِلَّهِ
سُبْحَانَهُ وَلَدًا وَلَا قَالُوا إِنَّهُ ثَالِثُ ثَلَاثَةٍ، إِلَّا أَنَّهُمْ
أَنْكَرُوا بَعْدَ الْمَعْرِفَةِ.
Dan Allah menjadikan orang-orang Yahudi lebih buruk daripada
orang-orang Nasrani, meskipun mereka tidak menjadikan anak bagi Allah Subhanahu
wa Ta‘ala dan tidak mengatakan bahwa Dia adalah satu dari tiga, hanya karena
mereka mengingkari setelah mengetahui.
إِذْ
قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: {يَعْرِفُونَهُ كَمَا يَعْرِفُونَ أَبْنَاءَهُمْ}.
Sebab Allah Ta‘ala berfirman, “Mereka mengenalnya
sebagaimana mereka mengenal anak-anak mereka sendiri.”
وَقَالَ
تَعَالَى: {فَلَمَّا جَاءَهُمْ مَا عَرَفُوا كَفَرُوا بِهِ فَلَعْنَةُ اللَّهِ
عَلَى الْكَافِرِينَ}.
Dan Allah Ta‘ala berfirman, “Tatkala datang kepada mereka
apa yang telah mereka ketahui, mereka pun kafir kepadanya. Maka laknat Allah
atas orang-orang kafir.”
وَقَالَ
تَعَالَى فِي قِصَّةِ بَلْعَامِ بْنِ بَاعُورَاءَ: {وَاتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَأَ
الَّذِي آتَيْنَاهُ آيَاتِنَا فَانْسَلَخَ مِنْهَا فَأَتْبَعَهُ الشَّيْطَانُ
فَكَانَ مِنَ الْغَاوِينَ}.
Dan Allah Ta‘ala berfirman tentang kisah Bal‘am bin Ba‘ura’:
“Dan bacakanlah kepada mereka kisah orang yang Kami beri ayat-ayat Kami, lalu
ia melepaskan diri darinya, maka setan pun mengikutinya, lalu ia termasuk
orang-orang yang sesat.”
حَتَّى
قَالَ: {فَمَثَلُهُ كَمَثَلِ الْكَلْبِ، إِنْ تَحْمِلْ عَلَيْهِ يَلْهَثْ أَوْ
تَتْرُكْهُ يَلْهَثْ}.
Sampai Allah berfirman, “Maka perumpamaannya seperti anjing;
jika engkau menghalaunya, ia menjulurkan lidah, dan jika engkau membiarkannya,
ia tetap menjulurkan lidah.”
فَكَذٰلِكَ
الْعَالِمُ الْفَاجِرُ، فَإِنَّ بَلْعَامَ أُوتِيَ كِتَابَ اللَّهِ تَعَالَى،
فَأَخْلَدَ إِلَى الشَّهَوَاتِ، فَشُبِّهَ بِالْكَلْبِ.
Demikian pula alim yang fajir. Sebab Bal‘am telah diberi
Kitab Allah Ta‘ala, tetapi ia condong kepada syahwat, lalu ia diserupakan
dengan anjing.
أَيْ:
سَوَاءٌ أُوتِيَ الْحِكْمَةَ أَوْ لَمْ يُؤْتَهَا، فَهُوَ يَلْهَثُ إِلَى
الشَّهَوَاتِ.
Artinya: baik ia diberi hikmah maupun tidak, ia tetap
menjulurkan lidah kepada syahwat.
وَقَالَ
عِيسَى عَلَيْهِ السَّلَامُ: مَثَلُ عُلَمَاءِ السُّوءِ كَمَثَلِ صَخْرَةٍ
وَقَعَتْ عَلَى فَمِ النَّهْرِ، لَا هِيَ تَشْرَبُ الْمَاءَ، وَلَا هِيَ تَتْرُكُ
الْمَاءَ يَخْلُصُ إِلَى الزَّرْعِ.
Isa ‘alaihis-salam berkata, “Perumpamaan ulama yang buruk
seperti batu besar yang jatuh di mulut sungai; ia sendiri tidak meminum air,
dan tidak pula membiarkan air itu sampai kepada tanaman.”
وَمَثَلُ
عُلَمَاءِ السُّوءِ مَثَلُ قَنَاةِ الْحَشِّ، ظَاهِرُهَا جِصٌّ وَبَاطِنُهَا
نَتْنٌ.
“Dan perumpamaan ulama yang buruk seperti saluran jamban;
luarnya diplester indah, tetapi dalamnya busuk.”
وَمَثَلُ
الْقُبُورِ، ظَاهِرُهَا عَامِرٌ وَبَاطِنُهَا عِظَامُ الْمَوْتَى.
“Dan seperti kuburan; luarnya tampak terbangun, tetapi
dalamnya hanyalah tulang-belulang mayat.”
فَهٰذِهِ
الْأَخْبَارُ وَالْآثَارُ تُبَيِّنُ أَنَّ الْعَالِمَ الَّذِي هُوَ مِنْ أَبْنَاءِ
الدُّنْيَا أَخَسُّ حَالًا وَأَشَدُّ عَذَابًا مِنَ الْجَاهِلِ.
Maka hadis-hadis dan atsar-atsar ini menjelaskan bahwa orang
alim yang termasuk anak-anak dunia lebih rendah keadaannya dan lebih keras
azabnya daripada orang bodoh.
وَأَنَّ
الْفَائِزِينَ الْمُقَرَّبِينَ هُمْ عُلَمَاءُ الْآخِرَةِ، وَلَهُمْ عَلَامَاتٌ.
Dan bahwa orang-orang yang beruntung dan didekatkan kepada
Allah adalah ulama akhirat, dan mereka memiliki tanda-tanda.
فَمِنْهَا
أَنْ لَا يَطْلُبَ الدُّنْيَا بِعِلْمِهِ.
Di antara tanda-tanda itu ialah ia tidak mencari dunia
dengan ilmunya.
فَإِنَّ
أَقَلَّ دَرَجَاتِ الْعَالِمِ أَنْ يُدْرِكَ حَقَارَةَ الدُّنْيَا وَخِسَّتَهَا
وَكَدُورَتَهَا وَانْصِرَامَهَا، وَعِظَمَ الْآخِرَةِ وَدَوَامَهَا وَصَفَاءَ
نَعِيمِهَا وَجَلَالَةَ مُلْكِهَا.
Sebab tingkatan paling rendah dari seorang alim ialah bahwa
ia menyadari hinanya dunia, rendahnya, keruhnya, cepat lenyapnya, serta
besarnya akhirat, kekalnya, jernihnya kenikmatannya, dan agungnya kerajaannya.
وَيَعْلَمَ
أَنَّهُمَا مُتَضَادَّتَانِ، وَأَنَّهُمَا كَالضَّرَّتَيْنِ، مَهْمَا أَرْضَيْتَ
إِحْدَاهُمَا أَسْخَطْتَ الْأُخْرَى.
Dan ia mengetahui bahwa keduanya saling berlawanan, serta
seperti dua madu dalam satu rumah; kapan pun engkau membuat salah satunya
senang, engkau membuat yang lain marah.
وَأَنَّهُمَا
كَكَفَّتَيِ الْمِيزَانِ، مَهْمَا رَجَحَتْ إِحْدَاهُمَا خَفَّتِ الْأُخْرَى.
Dan keduanya seperti dua daun timbangan; kapan pun salah
satunya berat, yang lain akan ringan.
وَأَنَّهُمَا
كَالْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ، مَهْمَا قَرُبْتَ مِنْ أَحَدِهِمَا بَعُدْتَ عَنِ
الْآخَرِ.
Dan keduanya seperti timur dan barat; kapan pun engkau
mendekat ke salah satunya, engkau akan menjauh dari yang lain.
وَأَنَّهُمَا
كَقَدَحَيْنِ، أَحَدُهُمَا مَمْلُوءٌ وَالْآخَرُ فَارِغٌ، فَبِقَدْرِ مَا تَصُبُّ
مِنْهُ فِي الْآخَرِ حَتَّى يَمْتَلِئَ يَفْرُغُ الْآخَرُ.
Dan keduanya seperti dua bejana; salah satunya penuh dan
yang lainnya kosong. Sebanyak apa pun engkau tuangkan dari yang satu ke yang
lain hingga ia penuh, maka yang satu lagi akan kosong.
فَإِنَّ
مَنْ لَا يَعْرِفُ حَقَارَةَ الدُّنْيَا وَكَدُورَتَهَا وَامْتِزَاجَ لَذَّاتِهَا
بِأَلَمِهَا، ثُمَّ انْصِرَامَ مَا يَصْفُو مِنْهَا، فَهُوَ فَاسِدُ الْعَقْلِ.
Sebab siapa yang tidak mengetahui hinanya dunia, keruhnya,
bercampurnya kelezatannya dengan rasa sakit, lalu cepat hilangnya apa yang
tampak jernih darinya, maka ia adalah orang yang rusak akalnya.
فَإِنَّ
الْمُشَاهَدَةَ وَالتَّجْرِبَةَ تُرْشِدُ إِلَى ذٰلِكَ، فَكَيْفَ يَكُونُ مِنَ
الْعُلَمَاءِ مَنْ لَا عَقْلَ لَهُ؟
Karena pengamatan dan pengalaman sama-sama menunjukkan hal
itu. Maka bagaimana mungkin orang yang tidak berakal termasuk golongan ulama?
وَمَنْ
لَا يَعْلَمُ عِظَمَ أَمْرِ الْآخِرَةِ وَدَوَامَهَا، فَهُوَ كَافِرٌ مَسْلُوبُ
الْإِيمَانِ، فَكَيْفَ يَكُونُ مِنَ الْعُلَمَاءِ مَنْ لَا إِيمَانَ لَهُ؟
Dan siapa yang tidak mengetahui besarnya urusan akhirat dan
kekalnya, maka ia adalah kafir yang tercabut imannya. Maka bagaimana mungkin
orang yang tidak beriman termasuk golongan ulama?
وَمَنْ
لَا يَعْلَمُ مُضَادَّةَ الدُّنْيَا لِلْآخِرَةِ، وَأَنَّ الْجَمْعَ بَيْنَهُمَا
طَمَعٌ فِي غَيْرِ مَطْمَعٍ، فَهُوَ جَاهِلٌ بِشَرَائِعِ الْأَنْبِيَاءِ
كُلِّهِمْ، بَلْ هُوَ كَافِرٌ بِالْقُرْآنِ كُلِّهِ مِنْ أَوَّلِهِ إِلَى آخِرِهِ،
فَكَيْفَ يُعَدُّ مِنْ زُمْرَةِ الْعُلَمَاءِ؟
Dan siapa yang tidak mengetahui pertentangan antara dunia
dan akhirat, serta bahwa menghimpun keduanya adalah menginginkan sesuatu yang
tidak mungkin diraih, maka ia bodoh terhadap seluruh syariat para nabi. Bahkan
ia kafir terhadap seluruh Al-Qur’an dari awal sampai akhir. Maka bagaimana
mungkin ia dihitung dalam golongan ulama?
وَمَنْ
عَلِمَ هٰذَا كُلَّهُ ثُمَّ لَمْ يُؤْثِرِ الْآخِرَةَ عَلَى الدُّنْيَا، فَهُوَ
أَسِيرُ الشَّيْطَانِ، قَدْ أَهْلَكَتْهُ شَهْوَتُهُ وَغَلَبَتْ عَلَيْهِ
شِقْوَتُهُ، فَكَيْفَ يُعَدُّ مِنْ حِزْبِ الْعُلَمَاءِ مَنْ هٰذِهِ دَرَجَتُهُ؟
Dan siapa yang mengetahui semua ini lalu tetap tidak
mengutamakan akhirat atas dunia, maka ia adalah tawanan setan. Syahwatnya telah
membinasakannya dan kesengsaraannya telah menguasainya. Maka bagaimana mungkin
orang yang seperti ini keadaannya termasuk golongan ulama?
وَفِي
أَخْبَارِ دَاوُدَ عَلَيْهِ السَّلَامُ حِكَايَةٌ عَنِ اللَّهِ تَعَالَى: إِنَّ
أَدْنَى مَا أَصْنَعُ بِالْعَالِمِ إِذَا آثَرَ شَهْوَتَهُ عَلَى مَحَبَّتِي أَنْ
أَحْرِمَهُ لَذِيذَ مُنَاجَاتِي.
Dalam kisah-kisah tentang Dawud ‘alaihis-salam, terdapat
riwayat dari Allah Ta‘ala: “Hal paling ringan yang Aku lakukan kepada seorang
alim apabila ia mengutamakan syahwatnya atas kecintaan kepada-Ku ialah Aku
haramkan baginya lezatnya bermunajat kepada-Ku.”
يَا
دَاوُدُ، لَا تَسْأَلْ عَنِّي عَالِمًا قَدْ أَسْكَرَتْهُ الدُّنْيَا، فَيَصُدَّكَ
عَنْ طَرِيقِ مَحَبَّتِي، أُولٰئِكَ قُطَّاعُ الطَّرِيقِ عَلَى عِبَادِي.
“Wahai Dawud, janganlah engkau bertanya tentang-Ku kepada
seorang alim yang telah dimabukkan oleh dunia, karena ia akan menghalangimu
dari jalan cinta kepada-Ku. Mereka itulah para perampok di jalan
hamba-hamba-Ku.”
يَا
دَاوُدُ، إِذَا رَأَيْتَ لِي طَالِبًا فَكُنْ لَهُ خَادِمًا.
“Wahai Dawud, jika engkau melihat seorang pencari-Ku, maka
jadilah pelayannya.”
يَا
دَاوُدُ، مَنْ رَدَّ إِلَيَّ هَارِبًا كَتَبْتُهُ جَهْبَذًا، وَمَنْ كَتَبْتُهُ
جَهْبَذًا لَمْ أُعَذِّبْهُ أَبَدًا.
“Wahai Dawud, siapa yang mengembalikan kepada-Ku seorang
yang lari, Aku akan menuliskannya sebagai orang yang cerdas pilihan. Dan siapa
yang Aku tulis demikian, Aku tidak akan menyiksanya selamanya.”
وَلِذٰلِكَ
قَالَ الْحَسَنُ رَحِمَهُ اللَّهُ: عُقُوبَةُ الْعُلَمَاءِ مَوْتُ الْقَلْبِ،
وَمَوْتُ الْقَلْبِ طَلَبُ الدُّنْيَا بِعَمَلِ الْآخِرَةِ.
Karena itu Al-Hasan rahimahullah berkata, “Hukuman bagi para
ulama adalah matinya hati, dan matinya hati itu adalah mencari dunia dengan
amal akhirat.”
وَلِذٰلِكَ
قَالَ يَحْيَى بْنُ مُعَاذٍ: إِنَّمَا يَذْهَبُ بَهَاءُ الْعِلْمِ وَالْحِكْمَةِ
إِذَا طُلِبَ بِهِمَا الدُّنْيَا.
Dan karena itu pula Yahya bin Mu‘adz berkata, “Keindahan
ilmu dan hikmah hanya akan hilang apabila keduanya dijadikan sarana mencari
dunia.”
وَقَالَ
سَعِيدُ بْنُ الْمُسَيِّبِ رَحِمَهُ اللَّهُ: إِذَا رَأَيْتُمُ الْعَالِمَ يَغْشَى
الْأُمَرَاءَ فَهُوَ لِصٌّ.
Sa‘id bin Al-Musayyib rahimahullah berkata, “Apabila kalian
melihat seorang alim mendatangi para penguasa, maka ia adalah pencuri.”
وَقَالَ
عُمَرُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: إِذَا رَأَيْتُمْ لِلْعَالِمِ مُحِبًّا لِلدُّنْيَا
فَاتَّهِمُوهُ عَلَى دِينِكُمْ، فَإِنَّ كُلَّ مُحِبٍّ يَخُوضُ فِيمَا أَحَبَّ.
‘Umar radhiyallahu ‘anhu berkata, “Apabila kalian melihat
seorang alim mencintai dunia, maka curigailah dia atas agama kalian, karena
setiap pencinta akan tenggelam dalam apa yang ia cintai.”
وَقَالَ
مَالِكُ بْنُ دِينَارٍ رَحِمَهُ اللَّهُ: قَرَأْتُ فِي بَعْضِ الْكُتُبِ
السَّالِفَةِ أَنَّ اللَّهَ تَعَالَى يَقُولُ: إِنَّ أَهْوَنَ مَا أَصْنَعُ
بِالْعَالِمِ إِذَا أَحَبَّ الدُّنْيَا أَنْ أُخْرِجَ حَلَاوَةَ مُنَاجَاتِي مِنْ
قَلْبِهِ.
Malik bin Dinar rahimahullah berkata, “Aku membaca dalam
sebagian kitab terdahulu bahwa Allah Ta‘ala berfirman: ‘Sesungguhnya hal paling
ringan yang Aku lakukan kepada seorang alim apabila ia mencintai dunia adalah
Aku keluarkan manisnya bermunajat kepada-Ku dari hatinya.’”
وَكَتَبَ
رَجُلٌ إِلَى أَخٍ لَهُ: إِنَّكَ قَدْ أُوتِيتَ عِلْمًا، فَلَا تُطْفِئْ نُورَ
عِلْمِكَ بِظُلْمَةِ الذُّنُوبِ، فَتَبْقَى فِي الظُّلْمَةِ يَوْمَ يَسْعَى أَهْلُ
الْعِلْمِ فِي نُورِ عِلْمِهِمْ.
Seseorang menulis kepada saudaranya, “Sesungguhnya engkau
telah diberi ilmu. Maka janganlah engkau padamkan cahaya ilmumu dengan gelapnya
dosa-dosa, sehingga engkau tetap berada dalam kegelapan pada hari ketika para
pemilik ilmu berjalan dengan cahaya ilmu mereka.”
وَكَانَ
يَحْيَى بْنُ مُعَاذٍ الرَّازِيُّ رَحِمَهُ اللَّهُ يَقُولُ لِعُلَمَاءِ
الدُّنْيَا: يَا أَصْحَابَ الْعِلْمِ، قُصُورُكُمْ قَيْصَرِيَّةٌ، وَبُيُوتُكُمْ
كِسْرَوِيَّةٌ، وَأَثْوَابُكُمْ ظَاهِرِيَّةٌ، وَأَخْفَافُكُمْ جَالُوتِيَّةٌ،
وَمَرَاكِبُكُمْ قَارُونِيَّةٌ، وَأَوَانِيكُمْ فِرْعَوْنِيَّةٌ، وَمَآثِمُكُمْ
جَاهِلِيَّةٌ، وَمَذَاهِبُكُمْ شَيْطَانِيَّةٌ، فَأَيْنَ الشَّرِيعَةُ
الْمُحَمَّدِيَّةُ؟
Yahya bin Mu‘adz Ar-Razi rahimahullah pernah berkata kepada
para ulama dunia, “Wahai para pemilik ilmu, istana-istana kalian bergaya
Kaisar, rumah-rumah kalian bergaya Kisra, pakaian-pakaian kalian bergaya
kemewahan lahiriah, alas kaki kalian bergaya Jalut, kendaraan-kendaraan kalian
bergaya Qarun, bejana-bejana kalian bergaya Fir‘aun, dosa-dosa kalian bergaya
jahiliah, dan jalan-jalan kalian bersifat setaniah. Lalu di manakah syariat
Muhammadiyah itu?”
قَالَ
الشَّاعِرُ: وَرَاعِي الشَّاةِ يَحْمِي الذِّئْبَ عَنْهَا، فَكَيْفَ إِذَا
الرُّعَاةُ لَهَا ذِئَابٌ؟
Seorang penyair berkata, “Penggembala kambing melindunginya
dari serigala. Maka bagaimana jadinya jika para penggembalanya sendiri adalah
serigala?”
وَقَالَ
الْآخَرُ: يَا مَعْشَرَ الْقُرَّاءِ يَا مِلْحَ الْبَلَدِ، مَا يُصْلِحُ الْمِلْحَ
إِذَا الْمِلْحُ فَسَدَ؟
Penyair lain berkata, “Wahai para pembaca Al-Qur’an, wahai
garam negeri, apa yang akan memperbaiki garam jika garam itu sendiri telah
rusak?”
وَقِيلَ
لِبَعْضِ الْعَارِفِينَ: أَتَرَى أَنَّ مَنْ تَكُونُ الْمَعَاصِي قُرَّةَ عَيْنِهِ
لَا يَعْرِفُ اللَّهَ؟
Dikatakan kepada salah seorang arif, “Apakah engkau
berpendapat bahwa orang yang maksiat menjadi penyejuk matanya berarti tidak
mengenal Allah?”
قَالَ:
لَا شَكَّ أَنَّ مَنْ تَكُونُ الدُّنْيَا عِنْدَهُ آثَرَ مِنَ الْآخِرَةِ أَنَّهُ
لَا يَعْرِفُ اللَّهَ تَعَالَى.
Ia menjawab, “Tidak diragukan lagi bahwa siapa yang dunia
lebih ia utamakan daripada akhirat, maka sesungguhnya ia tidak mengenal Allah
Ta‘ala.”
وَهٰذَا
دُونَ ذٰلِكَ بِكَثِيرٍ.
Dan yang ditanyakan itu masih jauh lebih ringan daripada
keadaan tersebut.
وَلَا
تَظُنَّنَّ أَنَّ تَرْكَ الْمَالِ يَكْفِي فِي اللُّحُوقِ بِعُلَمَاءِ الْآخِرَةِ،
فَإِنَّ الْجَاهَ أَضَرُّ مِنَ الْمَالِ.
Jangan sekali-kali engkau mengira bahwa meninggalkan harta
saja sudah cukup untuk menyusul derajat ulama akhirat, karena kedudukan itu
lebih berbahaya daripada harta.
وَلِذٰلِكَ
قَالَ بِشْرٌ: حَدَّثَنَا بَابٌ مِنْ أَبْوَابِ الدُّنْيَا، فَإِذَا سَمِعْتَ
الرَّجُلَ يَقُولُ: حَدَّثَنَا، فَإِنَّمَا يَقُولُ: أَوْسِعُوا لِي.
Karena itu Bisyr berkata, “Bab ‘telah menceritakan kepada
kami’ adalah salah satu pintu dunia. Maka jika engkau mendengar seseorang
berkata, ‘Telah menceritakan kepada kami,’ seakan-akan ia sedang berkata,
‘Luaskanlah tempat untukku.’”
وَدَفَنَ
بِشْرُ بْنُ الْحَارِثِ بِضْعَةَ عَشَرَ مَا بَيْنَ قِمَطْرَةٍ وَقُوصَرَةٍ مِنَ
الْكُتُبِ.
Bisyr bin Al-Harits menguburkan belasan peti dan tempat
penyimpanan berisi kitab-kitab.
وَكَانَ
يَقُولُ: أَنَا أَشْتَهِي أَنْ أُحَدِّثَ، وَلَوْ ذَهَبَتْ عَنِّي شَهْوَةُ
الْحَدِيثِ لَحَدَّثْتُ.
Ia berkata, “Aku sebenarnya memiliki keinginan untuk
meriwayatkan hadis. Seandainya syahwat untuk meriwayatkan itu hilang dariku,
niscaya aku akan meriwayatkan.”
وَقَالَ
هُوَ وَغَيْرُهُ: إِذَا اشْتَهَيْتَ أَنْ تُحَدِّثَ فَاسْكُتْ، فَإِذَا لَمْ
تَشْتَهِ فَحَدِّثْ.
Ia dan selainnya berkata, “Jika engkau berkeinginan untuk
meriwayatkan, maka diamlah. Dan jika engkau tidak lagi berkeinginan, maka
barulah meriwayatkanlah.”
وَهٰذَا
لِأَنَّ التَّلَذُّذَ بِجَاهِ الْإِفَادَةِ وَمَنْصِبِ الْإِرْشَادِ أَعْظَمُ
لَذَّةً مِنْ كُلِّ تَنَعُّمٍ فِي الدُّنْيَا.
Hal itu karena kenikmatan merasakan kedudukan memberi
manfaat dan posisi membimbing manusia lebih besar daripada seluruh kenikmatan
dunia.
فَمَنْ
أَجَابَ شَهْوَتَهُ فِيهِ فَهُوَ مِنْ أَبْنَاءِ الدُّنْيَا.
Maka siapa yang menuruti syahwatnya dalam hal itu, ia
termasuk anak-anak dunia.
وَلِذٰلِكَ
قَالَ الثَّوْرِيُّ: فِتْنَةُ الْحَدِيثِ أَشَدُّ مِنْ فِتْنَةِ الْأَهْلِ
وَالْمَالِ وَالْوَلَدِ.
Karena itulah Ats-Tsauri berkata, “Fitnah hadis lebih berat
daripada fitnah keluarga, harta, dan anak.”
وَكَيْفَ
لَا تُخَافُ فِتْنَتُهُ، وَقَدْ قِيلَ لِسَيِّدِ الْمُرْسَلِينَ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: {وَلَوْلَا أَنْ ثَبَّتْنَاكَ لَقَدْ كِدْتَ تَرْكَنُ
إِلَيْهِمْ شَيْئًا قَلِيلًا}.
Bagaimana mungkin fitnah itu tidak dikhawatirkan, padahal
kepada penghulu para rasul ﷺ
pernah difirmankan, “Dan seandainya Kami tidak meneguhkanmu, sungguh engkau
hampir condong sedikit kepada mereka.”
وَقَالَ
سَهْلٌ رَحِمَهُ اللَّهُ: الْعِلْمُ كُلُّهُ دُنْيَا، وَالْآخِرَةُ مِنْهُ
الْعَمَلُ بِهِ، وَالْعَمَلُ كُلُّهُ هَبَاءٌ إِلَّا الْإِخْلَاصَ.
Sahl rahimahullah berkata, “Seluruh ilmu itu dunia,
sedangkan bagian akhirat darinya adalah mengamalkannya. Dan seluruh amal itu
sia-sia kecuali yang disertai ikhlas.”
وَقَالَ:
النَّاسُ كُلُّهُمْ مَوْتَى إِلَّا الْعُلَمَاءَ، وَالْعُلَمَاءُ سُكَارَى إِلَّا
الْعَامِلِينَ، وَالْعَامِلُونَ كُلُّهُمْ مَغْرُورُونَ إِلَّا الْمُخْلِصِينَ،
وَالْمُخْلِصُ عَلَى وَجَلٍ حَتَّى يَدْرِيَ بِمَاذَا يُخْتَمُ لَهُ.
Ia juga berkata, “Manusia semuanya mati kecuali para ulama,
dan para ulama semuanya mabuk kecuali orang-orang yang beramal, dan orang-orang
yang beramal semuanya tertipu kecuali orang-orang yang ikhlas, dan orang yang
ikhlas itu tetap berada dalam rasa takut sampai ia mengetahui dengan apa ia
akan ditutup hidupnya.”
وَقَالَ
أَبُو سُلَيْمَانَ الدَّارَانِيُّ رَحِمَهُ اللَّهُ: إِذَا طَلَبَ الرَّجُلُ
الْحَدِيثَ، أَوْ تَزَوَّجَ، أَوْ سَافَرَ فِي طَلَبِ الْمَعَاشِ، فَقَدْ رَكَنَ
إِلَى الدُّنْيَا.
Abu Sulaiman Ad-Darani rahimahullah berkata, “Apabila
seseorang mencari hadis, atau menikah, atau bepergian untuk mencari
penghidupan, maka ia telah condong kepada dunia.”
وَإِنَّمَا
أَرَادَ بِهِ طَلَبَ الْأَسَانِيدِ الْعَالِيَةِ، أَوْ طَلَبَ الْحَدِيثِ الَّذِي
لَا يُحْتَاجُ إِلَيْهِ فِي طَلَبِ الْآخِرَةِ.
Yang ia maksud dengan ucapan itu adalah mencari sanad-sanad
yang tinggi atau mencari hadis yang tidak dibutuhkan dalam pencarian akhirat.
وَقَالَ
عِيسَى عَلَيْهِ السَّلَامُ: كَيْفَ يَكُونُ مِنْ أَهْلِ الْعِلْمِ مَنْ مَسِيرُهُ
إِلَى آخِرَتِهِ وَهُوَ مُقْبِلٌ عَلَى طَرِيقِ دُنْيَاهُ؟
Isa ‘alaihis-salam berkata, “Bagaimana mungkin seseorang
termasuk ahli ilmu, padahal perjalanannya menuju akhirat sementara ia justru
menghadap ke jalan dunianya?”
وَكَيْفَ
يَكُونُ مِنْ أَهْلِ الْعِلْمِ مَنْ يَطْلُبُ الْكَلَامَ لِيُخْبِرَ بِهِ لَا
لِيَعْمَلَ بِهِ؟
“Dan bagaimana mungkin seseorang termasuk ahli ilmu, padahal
ia mencari ilmu hanya untuk diceritakan kepada orang lain, bukan untuk
diamalkan?”
وَقَالَ
صَالِحُ بْنُ كَيْسَانَ الْبَصْرِيُّ: أَدْرَكْتُ الشُّيُوخَ وَهُمْ
يَتَعَوَّذُونَ بِاللَّهِ مِنَ الْفَاجِرِ الْعَالِمِ بِالسُّنَّةِ.
Shalih bin Kaisan Al-Bashri berkata, “Aku mendapati para
masyayikh berlindung kepada Allah dari orang fajir yang mengetahui sunnah.”
وَرَوَى
أَبُو هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَنْ طَلَبَ عِلْمًا مِمَّا يُبْتَغَى بِهِ وَجْهُ
اللَّهِ تَعَالَى لِيُصِيبَ بِهِ عَرَضًا مِنَ الدُّنْيَا لَمْ يَجِدْ عَرْفَ
الْجَنَّةِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ.
Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa
Rasulullah ﷺ
bersabda, “Barang siapa menuntut suatu ilmu yang seharusnya dicari demi wajah
Allah Ta‘ala, tetapi ia menuntutnya untuk memperoleh bagian dari dunia, maka ia
tidak akan mencium aroma surga pada hari kiamat.”
وَقَدْ
وَصَفَ اللَّهُ عُلَمَاءَ السُّوءِ بِأَكْلِ الدُّنْيَا بِالْعِلْمِ، وَوَصَفَ
عُلَمَاءَ الْآخِرَةِ بِالْخُشُوعِ وَالزُّهْدِ.
Allah telah menggambarkan ulama yang buruk sebagai
orang-orang yang memakan dunia dengan ilmu, dan Allah menggambarkan ulama
akhirat dengan kekhusyukan dan kezuhudan.
فَقَالَ
عَزَّ وَجَلَّ فِي عُلَمَاءِ الدُّنْيَا: {وَإِذْ أَخَذَ اللَّهُ مِيثَاقَ
الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ لَتُبَيِّنُنَّهُ لِلنَّاسِ وَلَا تَكْتُمُونَهُ،
فَنَبَذُوهُ وَرَاءَ ظُهُورِهِمْ، وَاشْتَرَوْا بِهِ ثَمَنًا قَلِيلًا}.
Allah ‘Azza wa Jalla berfirman tentang ulama dunia, “Dan
ketika Allah mengambil perjanjian dari orang-orang yang diberi Kitab,
‘Hendaklah kalian menjelaskannya kepada manusia dan jangan menyembunyikannya,’
lalu mereka melemparkannya ke belakang punggung mereka dan menukarnya dengan
harga yang sedikit.”
وَقَالَ
تَعَالَى فِي عُلَمَاءِ الْآخِرَةِ: {وَإِنَّ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ لَمَنْ
يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَمَا أُنْزِلَ إِلَيْكُمْ وَمَا أُنْزِلَ إِلَيْهِمْ
خَاشِعِينَ لِلَّهِ لَا يَشْتَرُونَ بِآيَاتِ اللَّهِ ثَمَنًا قَلِيلًا،
أُولَٰئِكَ لَهُمْ أَجْرُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ}.
Dan Allah Ta‘ala berfirman tentang ulama akhirat, “Dan
sesungguhnya di antara Ahli Kitab ada yang beriman kepada Allah dan kepada apa
yang diturunkan kepada kalian dan kepada apa yang diturunkan kepada mereka,
dalam keadaan khusyuk kepada Allah, mereka tidak menjual ayat-ayat Allah dengan
harga yang sedikit. Mereka itulah yang mendapat pahala di sisi Tuhan mereka.”
وَقَالَ
بَعْضُ السَّلَفِ: الْعُلَمَاءُ يُحْشَرُونَ فِي زُمْرَةِ الْأَنْبِيَاءِ،
وَالْقُضَاةُ يُحْشَرُونَ فِي زُمْرَةِ السَّلَاطِينِ.
Sebagian salaf berkata, “Para ulama akan dibangkitkan
bersama para nabi, sedangkan para hakim akan dibangkitkan bersama para
penguasa.”
وَفِي
مَعْنَى الْقُضَاةِ كُلُّ فَقِيهٍ قَصْدُهُ طَلَبُ الدُّنْيَا بِعِلْمِهِ.
Dan yang dimaksud dengan para hakim di sini adalah setiap
fakih yang tujuannya mencari dunia dengan ilmunya.
وَرَوَى
أَبُو الدَّرْدَاءِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ: أَوْحَى اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ إِلَى بَعْضِ
الْأَنْبِيَاءِ: قُلْ لِلَّذِينَ يَتَفَقَّهُونَ لِغَيْرِ الدِّينِ،
وَيَتَعَلَّمُونَ لِغَيْرِ الْعَمَلِ، وَيَطْلُبُونَ الدُّنْيَا بِعَمَلِ
الْآخِرَةِ، يَلْبَسُونَ لِلنَّاسِ مَسُوكَ الْكِبَاشِ، وَقُلُوبُهُمْ كَقُلُوبِ
الذِّئَابِ، أَلْسِنَتُهُمْ أَحْلَى مِنَ الْعَسَلِ، وَقُلُوبُهُمْ أَمَرُّ مِنَ
الصَّبِرِ، إِيَّايَ يُخَادِعُونَ وَبِي يَسْتَهْزِئُونَ، لَأَفْتَحَنَّ لَهُمْ
فِتْنَةً تَذَرُ الْحَلِيمَ حَيْرَانَ.
Abu Ad-Darda’ radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan dari Nabi ﷺ
bahwa beliau bersabda, “Allah ‘Azza wa Jalla mewahyukan kepada salah seorang
nabi: ‘Katakanlah kepada orang-orang yang mendalami agama bukan untuk agama,
yang belajar bukan untuk diamalkan, dan yang mencari dunia dengan amal akhirat:
mereka mengenakan kulit-kulit domba di hadapan manusia, sementara hati mereka
seperti hati serigala. Lisan mereka lebih manis daripada madu, tetapi hati
mereka lebih pahit daripada tanaman shabr. Apakah kepada-Ku mereka menipu?
Apakah kepada-Ku mereka memperolok? Sungguh Aku akan membuka bagi mereka fitnah
yang membiarkan orang yang santun menjadi bingung.’”
وَرَوَى
الضَّحَّاكُ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ: قَالَ رَسُولُ
اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: عُلَمَاءُ هٰذِهِ الْأُمَّةِ
رَجُلَانِ.
Adh-Dhahhak meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu
‘anhuma, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda, “Ulama umat ini ada dua golongan.”
رَجُلٌ
آتَاهُ اللَّهُ عِلْمًا فَبَذَلَهُ لِلنَّاسِ، وَلَمْ يَأْخُذْ عَلَيْهِ طَمَعًا،
وَلَمْ يَشْتَرِ بِهِ ثَمَنًا، فَذٰلِكَ يُصَلِّي عَلَيْهِ طَيْرُ السَّمَاءِ،
وَحِيتَانُ الْمَاءِ، وَدَوَابُّ الْأَرْضِ، وَالْكِرَامُ الْكَاتِبُونَ، يَقْدُمُ
عَلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ يَوْمَ الْقِيَامَةِ سَيِّدًا شَرِيفًا حَتَّى
يُوَافِقَ الْمُرْسَلِينَ.
Golongan pertama ialah seorang laki-laki yang Allah beri
ilmu, lalu ia memberikannya kepada manusia, tidak mengambil imbalan darinya
karena tamak, dan tidak menjualnya dengan harga. Maka orang seperti ini
didoakan oleh burung-burung langit, ikan-ikan di air, hewan-hewan bumi, dan
para malaikat pencatat yang mulia. Ia datang kepada Allah ‘Azza wa Jalla pada
hari kiamat sebagai seorang pemimpin yang mulia, hingga sederajat bersama para
rasul.
وَرَجُلٌ
آتَاهُ اللَّهُ عِلْمًا فِي الدُّنْيَا فَضَنَّ بِهِ عَلَى عِبَادِ اللَّهِ،
وَأَخَذَ عَلَيْهِ طَمَعًا، وَاشْتَرَى بِهِ ثَمَنًا، فَذٰلِكَ يَأْتِي يَوْمَ
الْقِيَامَةِ مُلْجَمًا بِلِجَامٍ مِنْ نَارٍ، يُنَادِي مُنَادٍ عَلَى رُءُوسِ
الْخَلَائِقِ: هٰذَا فُلَانُ بْنُ فُلَانٍ، آتَاهُ اللَّهُ عِلْمًا فِي الدُّنْيَا
فَضَنَّ بِهِ عَلَى عِبَادِهِ، وَأَخَذَ بِهِ طَمَعًا، وَاشْتَرَى بِهِ ثَمَنًا،
فَيُعَذَّبُ حَتَّى يُفْرَغَ مِنْ حِسَابِ النَّاسِ.
Golongan kedua ialah seorang laki-laki yang Allah beri ilmu
di dunia, tetapi ia kikir memberikannya kepada hamba-hamba Allah, mengambil
keuntungan darinya karena tamak, dan menjualnya dengan harga. Maka orang
seperti ini datang pada hari kiamat dalam keadaan diberi kekang dari api, dan
ada penyeru di hadapan seluruh makhluk yang berseru, “Inilah si fulan bin si
fulan. Allah memberinya ilmu di dunia, tetapi ia kikir memberikannya kepada
hamba-hamba-Nya, mengambil keuntungan darinya karena tamak, dan menjualnya
dengan harga.” Maka ia terus disiksa hingga seluruh manusia selesai dihisab.
وَأَشَدُّ
مِنْ هٰذَا مَا رُوِيَ أَنَّ رَجُلًا كَانَ يَخْدِمُ مُوسَى عَلَيْهِ السَّلَامُ،
فَجَعَلَ يَقُولُ: حَدَّثَنِي مُوسَى صَفِيُّ اللَّهِ، حَدَّثَنِي مُوسَى نَجِيُّ
اللَّهِ، حَدَّثَنِي مُوسَى كَلِيمُ اللَّهِ، حَتَّى أَثْرَى وَكَثُرَ مَالُهُ.
Yang lebih keras dari itu adalah riwayat bahwa ada seorang
laki-laki yang dahulu melayani Musa ‘alaihis-salam. Ia kemudian selalu berkata,
“Musa, kekasih Allah, telah menceritakan kepadaku; Musa, orang yang diajak
bicara secara rahasia oleh Allah, telah menceritakan kepadaku; Musa, yang
diajak bicara oleh Allah, telah menceritakan kepadaku,” hingga ia menjadi kaya
dan hartanya banyak.
فَفَقَدَهُ
مُوسَى عَلَيْهِ السَّلَامُ، فَجَعَلَ يَسْأَلُ عَنْهُ، وَلَا يَحِسُّ لَهُ
خَبَرًا.
Lalu Musa ‘alaihis-salam kehilangan jejaknya, lalu terus
bertanya tentangnya, tetapi tidak mendapatkan kabar.
حَتَّى
جَاءَهُ رَجُلٌ ذَاتَ يَوْمٍ وَفِي يَدِهِ خِنْزِيرٌ وَفِي عُنُقِهِ حَبْلٌ
أَسْوَدُ، فَقَالَ لَهُ مُوسَى عَلَيْهِ السَّلَامُ: أَتَعْرِفُ فُلَانًا؟
Sampai suatu hari datang seseorang kepada Musa sambil
membawa seekor babi yang di lehernya ada tali hitam. Maka Musa ‘alaihis-salam
berkata kepadanya, “Apakah engkau mengenal si fulan itu?”
قَالَ:
نَعَمْ، هُوَ هٰذَا الْخِنْزِيرُ.
Orang itu menjawab, “Ya, dialah babi ini.”
فَقَالَ
مُوسَى: يَا رَبِّ، أَسْأَلُكَ أَنْ تَرُدَّهُ إِلَى حَالِهِ حَتَّى أَسْأَلَهُ
بِمَ أَصَابَهُ هٰذَا.
Maka Musa berkata, “Wahai Tuhanku, aku memohon kepada-Mu
agar Engkau mengembalikannya ke keadaannya semula, hingga aku bisa bertanya
kepadanya apa yang menyebabkan ia tertimpa keadaan ini.”
فَأَوْحَى
اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ إِلَيْهِ: لَوْ دَعَوْتَنِي بِالَّذِي دَعَانِي بِهِ آدَمُ
فَمَنْ دُونَهُ مَا أَجَبْتُكَ فِيهِ.
Maka Allah ‘Azza wa Jalla mewahyukan kepadanya, “Sekalipun
engkau memohon kepada-Ku dengan doa yang dipanjatkan Adam dan orang-orang
setelahnya, Aku tidak akan mengabulkan permintaanmu tentangnya.”
وَلٰكِنْ
أُخْبِرُكَ لِمَ صَنَعْتُ هٰذَا بِهِ، لِأَنَّهُ كَانَ يَطْلُبُ الدُّنْيَا
بِالدِّينِ.
“Akan tetapi, Aku akan memberitahumu mengapa Aku
memperlakukannya seperti ini: karena ia mencari dunia dengan agama.”
وَأَغْلَظُ
مِنْ هٰذَا مَا رُوِيَ عَنْ مُعَاذٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ مَوْقُوفًا
وَمَرْفُوعًا فِي رِوَايَةٍ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
قَالَ: مِنْ فِتْنَةِ الْعَالِمِ أَنْ يَكُونَ الْكَلَامُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنَ
الِاسْتِمَاعِ.
Yang lebih berat lagi daripada ini adalah riwayat dari
Mu‘adz radhiyallahu ‘anhu, baik secara mauquf maupun dalam riwayat marfu‘ dari
Nabi ﷺ,
bahwa beliau bersabda, “Termasuk fitnah bagi seorang alim adalah apabila
berbicara lebih ia sukai daripada mendengarkan.”
وَفِي
الْكَلَامِ تَنْمِيقٌ وَزِيَادَةٌ، وَلَا يُؤْمَنُ عَلَى صَاحِبِهِ الْخَطَأُ،
وَفِي الصَّمْتِ سَلَامَةٌ وَعِلْمٌ.
Dalam berbicara terdapat hiasan dan tambahan-tambahan, dan
orang yang berbicara tidak aman dari kesalahan. Sedangkan dalam diam terdapat
keselamatan dan ilmu.
وَمِنَ
الْعُلَمَاءِ مَنْ يَخْزُنُ عِلْمَهُ، فَلَا يُحِبُّ أَنْ يُوجَدَ عِنْدَ
غَيْرِهِ، فَذٰلِكَ فِي الدَّرْكِ الْأَوَّلِ مِنَ النَّارِ.
Di antara para ulama ada yang menyimpan ilmunya dan tidak
suka bila ilmu itu ada pada orang lain. Orang seperti ini berada pada tingkatan
pertama dari neraka.
وَمِنَ
الْعُلَمَاءِ مَنْ يَكُونُ فِي عِلْمِهِ بِمَنْزِلَةِ السُّلْطَانِ، إِنْ رُدَّ
عَلَيْهِ شَيْءٌ مِنْ عِلْمِهِ أَوْ تُهُوِّنَ بِشَيْءٍ مِنْ حَقِّهِ غَضِبَ،
فَذٰلِكَ فِي الدَّرْكِ الثَّانِي مِنَ النَّارِ.
Di antara para ulama ada yang dalam ilmunya bersikap seperti
penguasa: jika ada sesuatu dari ilmunya dibantah atau sedikit saja haknya
diremehkan, ia marah. Orang seperti ini berada pada tingkatan kedua dari
neraka.
وَمِنَ
الْعُلَمَاءِ مَنْ يَجْعَلُ عِلْمَهُ وَغَرَائِبَ حَدِيثِهِ لِأَهْلِ الشَّرَفِ
وَالْيَسَارِ، وَلَا يَرَى أَهْلَ الْحَاجَةِ لَهُ أَهْلًا، فَذٰلِكَ فِي
الدَّرْكِ الثَّالِثِ مِنَ النَّارِ.
Di antara para ulama ada yang menjadikan ilmunya dan
hadis-hadis anehnya hanya untuk orang-orang terpandang dan kaya, dan tidak
melihat orang-orang yang membutuhkan sebagai orang yang layak baginya. Orang
seperti ini berada pada tingkatan ketiga dari neraka.
وَمِنَ
الْعُلَمَاءِ مَنْ يَنْصِبُ نَفْسَهُ لِلْفُتْيَا، فَيُفْتِي بِالْخَطَإِ،
وَاللَّهُ تَعَالَى يُبْغِضُ الْمُتَكَلِّفِينَ، فَذٰلِكَ فِي الدَّرْكِ
الرَّابِعِ مِنَ النَّارِ.
Di antara para ulama ada yang menempatkan dirinya untuk
berfatwa, lalu ia berfatwa dengan kesalahan. Padahal Allah Ta‘ala membenci
orang-orang yang memaksakan diri. Orang seperti ini berada pada tingkatan
keempat dari neraka.
وَمِنَ
الْعُلَمَاءِ مَنْ يَتَكَلَّمُ بِكَلَامِ الْيَهُودِ وَالنَّصَارَى لِيُغْزِرَ
بِهِ عِلْمَهُ، فَذٰلِكَ فِي الدَّرْكِ الْخَامِسِ مِنَ النَّارِ.
Di antara para ulama ada yang berbicara dengan perkataan
orang Yahudi dan Nasrani untuk memperkaya ilmunya dengannya. Orang seperti ini
berada pada tingkatan kelima dari neraka.
وَمِنَ
الْعُلَمَاءِ مَنْ يَتَّخِذُ عِلْمَهُ مُرُوءَةً وَنُبْلًا وَذِكْرًا فِي
النَّاسِ، فَذٰلِكَ فِي الدَّرْكِ السَّادِسِ مِنَ النَّارِ.
Di antara para ulama ada yang menjadikan ilmunya sebagai
sarana menjaga kehormatan, kemuliaan, dan popularitas di tengah manusia. Orang
seperti ini berada pada tingkatan keenam dari neraka.
وَمِنَ
الْعُلَمَاءِ مَنْ يَسْتَفِزُّهُ الزَّهْوُ وَالْعُجْبُ، فَإِنْ وَعَظَ عَنَّفَ،
وَإِنْ وُعِظَ أَنِفَ، فَذٰلِكَ فِي الدَّرْكِ السَّابِعِ مِنَ النَّارِ.
Di antara para ulama ada yang mudah dipancing oleh rasa
bangga dan ujub. Jika ia memberi nasihat, ia bersikap keras, dan jika
dinasihati, ia merasa sombong. Orang seperti ini berada pada tingkatan ketujuh
dari neraka.
فَعَلَيْكَ
يَا أَخِي بِالصَّمْتِ، فِيهِ تَغْلِبُ الشَّيْطَانَ.
Karena itu, wahai saudaraku, peganglah diam, karena
dengannya engkau akan mengalahkan setan.
وَإِيَّاكَ
أَنْ تَضْحَكَ مِنْ غَيْرِ عَجَبٍ، أَوْ تَمْشِيَ فِي غَيْرِ أَرَبٍ.
Dan jauhilah tertawa tanpa sebab yang mengherankan, atau
berjalan tanpa keperluan.
وَفِي
خَبَرٍ آخَرَ: إِنَّ الْعَبْدَ لَيُنْشَرُ لَهُ مِنَ الثَّنَاءِ مَا يَمْلَأُ مَا
بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ، وَمَا يَزِنُ عِنْدَ اللَّهِ جَنَاحَ بَعُوضَةٍ.
Dalam riwayat lain disebutkan, “Sesungguhnya bagi seorang
hamba tersebar pujian yang memenuhi antara timur dan barat, padahal di sisi
Allah ia tidak seberat sayap nyamuk.”
وَرُوِيَ
أَنَّ الْحَسَنَ حُمِلَ إِلَيْهِ رَجُلٌ مِنْ خُرَاسَانَ كِيسًا بَعْدَ
انْصِرَافِهِ مِنْ مَجْلِسِهِ، فِيهِ خَمْسَةُ آلَافِ دِرْهَمٍ وَعَشَرَةُ
أَثْوَابٍ مِنْ رَقِيقِ الْبَزِّ، وَقَالَ: يَا أَبَا سَعِيدٍ، هٰذِهِ نَفَقَةٌ
وَهٰذِهِ كِسْوَةٌ.
Diriwayatkan bahwa setelah Al-Hasan selesai dari majelisnya,
seorang laki-laki dari Khurasan membawa sebuah kantong kepadanya yang berisi
lima ribu dirham dan sepuluh helai pakaian halus, lalu berkata, “Wahai Abu
Sa‘id, ini biaya hidup dan ini pakaian.”
فَقَالَ
الْحَسَنُ: عَافَاكَ اللَّهُ تَعَالَى، ضُمَّ إِلَيْكَ نَفَقَتَكَ وَكِسْوَتَكَ،
فَلَا حَاجَةَ لَنَا بِذٰلِكَ.
Maka Al-Hasan berkata, “Semoga Allah Ta‘ala menyehatkanmu.
Ambillah kembali biaya hidup dan pakaianmu. Kami tidak memerlukan itu.”
إِنَّهُ
مَنْ جَلَسَ مِثْلَ مَجْلِسِي هٰذَا، وَقَبِلَ مِنَ النَّاسِ مِثْلَ هٰذَا، لَقِيَ
اللَّهَ تَعَالَى يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَلَا خَلَاقَ لَهُ.
“Sesungguhnya siapa yang duduk dalam majelis seperti
majelisku ini, lalu menerima pemberian semacam ini dari manusia, maka ia akan
bertemu Allah Ta‘ala pada hari kiamat dalam keadaan tidak memiliki bagian
kebaikan.”
وَعَنْ
جَابِرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ مَوْقُوفًا وَمَرْفُوعًا قَالَ: قَالَ رَسُولُ
اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لَا تَجْلِسُوا عِنْدَ كُلِّ عَالِمٍ
إِلَّا إِلَى عَالِمٍ يَدْعُوكُمْ مِنْ خَمْسٍ إِلَى خَمْسٍ: مِنَ الشَّكِّ إِلَى
الْيَقِينِ، وَمِنَ الرِّيَاءِ إِلَى الْإِخْلَاصِ، وَمِنَ الرَّغْبَةِ إِلَى
الزُّهْدِ، وَمِنَ الْكِبْرِ إِلَى التَّوَاضُعِ، وَمِنَ الْعَدَاوَةِ إِلَى
النَّصِيحَةِ.
Dari Jabir radhiyallahu ‘anhu secara mauquf dan marfu‘
diriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ
bersabda, “Janganlah kalian duduk di hadapan setiap alim, kecuali di hadapan
alim yang mengajak kalian dari lima perkara kepada lima perkara: dari keraguan
kepada keyakinan, dari riya kepada ikhlas, dari keinginan dunia kepada zuhud,
dari kesombongan kepada tawaduk, dan dari permusuhan kepada nasihat.”
وَقَالَ
تَعَالَى: {فَخَرَجَ عَلَىٰ قَوْمِهِ فِي زِينَتِهِ قَالَ الَّذِينَ يُرِيدُونَ
الْحَيَاةَ الدُّنْيَا يَا لَيْتَ لَنَا مِثْلَ مَا أُوتِيَ قَارُونُ إِنَّهُ
لَذُو حَظٍّ عَظِيمٍ وَقَالَ الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ وَيْلَكُمْ ثَوَابُ
اللَّهِ خَيْرٌ لِمَنْ آمَنَ...}.
Allah Ta‘ala berfirman, “Lalu ia keluar kepada kaumnya dalam
kemegahannya. Berkatalah orang-orang yang menginginkan kehidupan dunia:
‘Aduhai, seandainya kita mempunyai seperti apa yang diberikan kepada Qarun;
sesungguhnya ia benar-benar mempunyai keberuntungan yang besar.’ Dan berkatalah
orang-orang yang diberi ilmu: ‘Celakalah kalian, pahala Allah lebih baik bagi
orang yang beriman…’”
فَعَرَفَ
أَهْلَ الْعِلْمِ بِإِيثَارِ الْآخِرَةِ عَلَى الدُّنْيَا.
Maka Allah mengenalkan ahli ilmu dengan sifat mengutamakan
akhirat atas dunia.
وَمِنْهَا
أَنْ لَا يُخَالِفَ فِعْلُهُ قَوْلَهُ، بَلْ لَا يَأْمُرُ بِالشَّيْءِ مَا لَمْ
يَكُنْ هُوَ أَوَّلَ عَامِلٍ بِهِ.
Dan di antara tanda-tanda ulama akhirat ialah bahwa
perbuatannya tidak menyelisihi ucapannya. Bahkan ia tidak memerintahkan suatu
hal sampai ia sendiri menjadi orang pertama yang mengamalkannya.
قَالَ
اللَّهُ تَعَالَى: {أَتَأْمُرُونَ النَّاسَ بِالْبِرِّ وَتَنْسَوْنَ أَنْفُسَكُمْ}.
Allah Ta‘ala berfirman, “Apakah kalian memerintahkan manusia
berbuat kebajikan, sedangkan kalian melupakan diri kalian sendiri?”
وَقَالَ
تَعَالَى: {كَبُرَ مَقْتًا عِنْدَ اللَّهِ أَنْ تَقُولُوا مَا لَا تَفْعَلُونَ}.
Dan Allah Ta‘ala berfirman, “Sangat besar kemurkaan di sisi
Allah bahwa kalian mengatakan apa yang tidak kalian lakukan.”
وَقَالَ
تَعَالَى فِي قِصَّةِ شُعَيْبٍ عَلَيْهِ السَّلَامُ: {وَمَا أُرِيدُ أَنْ
أُخَالِفَكُمْ إِلَىٰ مَا أَنْهَاكُمْ عَنْهُ}.
Dan Allah Ta‘ala berfirman dalam kisah Syu‘aib
‘alaihis-salam, “Aku tidak bermaksud menyelisihi kalian dengan mengerjakan apa
yang aku larang kalian darinya.”
وَقَالَ
تَعَالَى: {وَاتَّقُوا اللَّهَ وَيُعَلِّمُكُمُ اللَّهُ}.
Dan Allah Ta‘ala berfirman, “Bertakwalah kepada Allah,
niscaya Allah mengajarkan kepada kalian.”
وَقَالَ
تَعَالَى: {وَاتَّقُوا اللَّهَ وَاعْلَمُوا}.
Dan Allah Ta‘ala berfirman, “Bertakwalah kepada Allah dan
ketahuilah.”
وَقَالَ
تَعَالَى: {وَاتَّقُوا اللَّهَ وَاسْمَعُوا}.
Dan Allah Ta‘ala berfirman, “Bertakwalah kepada Allah dan
dengarkanlah.”
وَقَالَ
تَعَالَى لِعِيسَى عَلَيْهِ السَّلَامُ: يَا ابْنَ مَرْيَمَ، عِظْ نَفْسَكَ،
فَإِنِ اتَّعَظْتَ فَعِظِ النَّاسَ، وَإِلَّا فَاسْتَحْيِ مِنِّي.
Dan Allah Ta‘ala berfirman kepada Isa ‘alaihis-salam, “Wahai
putra Maryam, nasihatilah dirimu sendiri. Jika engkau telah mengambil
pelajaran, maka nasihatilah manusia. Jika tidak, maka malulah kepada-Ku.”
وَقَالَ
رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَرَرْتُ لَيْلَةَ أُسْرِيَ
بِي بِأَقْوَامٍ تُقْرَضُ شِفَاهُهُمْ بِمَقَارِيضَ مِنْ نَارٍ، فَقُلْتُ: مَنْ
أَنْتُمْ؟
Rasulullah ﷺ
bersabda, “Pada malam aku diisra’kan, aku melewati suatu kaum yang bibir-bibir
mereka digunting dengan gunting-gunting dari api. Maka aku bertanya, ‘Siapakah
kalian?’”
فَقَالُوا:
كُنَّا نَأْمُرُ بِالْخَيْرِ وَلَا نَأْتِيهِ، وَنَنْهَى عَنِ الشَّرِّ
وَنَأْتِيهِ.
Mereka menjawab, “Dahulu kami memerintahkan kepada kebaikan
tetapi tidak melakukannya, dan kami melarang dari keburukan tetapi
melakukannya.”
وَقَالَ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: هَلَاكُ أُمَّتِي عَالِمٌ فَاجِرٌ وَعَابِدٌ
جَاهِلٌ، وَشَرُّ الشِّرَارِ شِرَارُ الْعُلَمَاءِ، وَخَيْرُ الْخِيَارِ خِيَارُ
الْعُلَمَاءِ.
Dan Nabi ﷺ
bersabda, “Kebinasaan umatku ada pada alim yang fajir dan ahli ibadah yang
bodoh. Seburuk-buruk yang buruk adalah ulama yang buruk, dan sebaik-baik yang
baik adalah ulama yang baik.”
وَقَالَ
الْأَوْزَاعِيُّ رَحِمَهُ اللَّهُ: شَكَتِ النَّوَاوِيسُ مَا تَجِدُ مِنْ نَتْنِ
جِيَفِ الْكُفَّارِ، فَأَوْحَى اللَّهُ تَعَالَى إِلَيْهَا: بُطُونُ عُلَمَاءِ
السُّوءِ أَنْتَنُ مِمَّا أَنْتُمْ فِيهِ.
Al-Auza‘i rahimahullah berkata, “Kuburan-kuburan mengeluhkan
bau busuk bangkai orang-orang kafir yang mereka rasakan. Maka Allah Ta‘ala
mewahyukan kepada mereka: ‘Perut ulama yang buruk lebih busuk daripada apa yang
kalian rasakan.’”
وَقَالَ
الْفُضَيْلُ بْنُ عِيَاضٍ رَحِمَهُ اللَّهُ: بَلَغَنِي أَنَّ الْفُسَّاقَ مِنَ
الْعُلَمَاءِ يُبْدَأُ بِهِمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ قَبْلَ عَبَدَةِ الْأَوْثَانِ.
Al-Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah berkata, “Telah sampai
kepadaku bahwa para ulama yang fasik akan didahulukan pada hari kiamat sebelum
para penyembah berhala.”
وَقَالَ
أَبُو الدَّرْدَاءِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: وَيْلٌ لِمَنْ لَا يَعْلَمُ مَرَّةً،
وَوَيْلٌ لِمَنْ يَعْلَمُ وَلَا يَعْمَلُ سَبْعَ مَرَّاتٍ.
Abu Ad-Darda’ radhiyallahu ‘anhu berkata, “Celaka sekali
bagi orang yang tidak tahu — satu kali celaka. Dan celaka tujuh kali bagi orang
yang tahu tetapi tidak mengamalkan.”
وَقَالَ
الشَّعْبِيُّ: يَطَّلِعُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ قَوْمٌ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ عَلَى
قَوْمٍ مِنْ أَهْلِ النَّارِ، فَيَقُولُونَ لَهُمْ: مَا أَدْخَلَكُمُ النَّارَ،
وَإِنَّمَا أَدْخَلَنَا اللَّهُ الْجَنَّةَ بِفَضْلِ تَأْدِيبِكُمْ
وَتَعْلِيمِكُمْ؟
Asy-Sya‘bi berkata, “Pada hari kiamat, sekelompok penghuni
surga melihat sekelompok penghuni neraka. Lalu mereka bertanya, ‘Apa yang
memasukkan kalian ke dalam neraka, padahal Allah memasukkan kami ke surga
berkat pendidikan dan pengajaran kalian?’”
فَيَقُولُونَ:
إِنَّا كُنَّا نَأْمُرُ بِالْخَيْرِ وَلَا نَفْعَلُهُ، وَنَنْهَى عَنِ الشَّرِّ
وَنَفْعَلُهُ.
Mereka menjawab, ‘Kami dahulu memerintahkan kebaikan tetapi
tidak melakukannya, dan kami melarang keburukan tetapi justru melakukannya.’”
وَقَالَ
حَاتِمُ الْأَصَمُّ رَحِمَهُ اللَّهُ: لَيْسَ فِي الْقِيَامَةِ أَشَدُّ حَسْرَةً
مِنْ رَجُلٍ عَلَّمَ النَّاسَ عِلْمًا فَعَمِلُوا بِهِ، وَلَمْ يَعْمَلْ هُوَ
بِهِ، فَفَازُوا بِسَبَبِهِ وَهَلَكَ هُوَ.
Hatim Al-Ashamm rahimahullah berkata, “Pada hari kiamat
tidak ada orang yang lebih besar penyesalannya daripada seorang laki-laki yang
mengajarkan ilmu kepada manusia, lalu mereka mengamalkannya sedangkan ia
sendiri tidak mengamalkannya. Mereka beruntung karena sebab dirinya, sementara
ia sendiri binasa.”
وَقَالَ
مَالِكُ بْنُ دِينَارٍ: إِنَّ الْعَالِمَ إِذَا لَمْ يَعْمَلْ بِعِلْمِهِ زَلَّتْ
مَوْعِظَتُهُ عَنِ الْقُلُوبِ كَمَا يَزِلُّ الْقَطْرُ عَنِ الصَّفَا.
Malik bin Dinar berkata, “Sesungguhnya seorang alim apabila
tidak mengamalkan ilmunya, nasihatnya akan tergelincir dari hati-hati
sebagaimana air hujan tergelincir dari batu licin.”
وَأَنْشَدُوا:
يَا وَاعِظَ النَّاسِ قَدْ أَصْبَحْتَ مُتَّهَمًا، إِذْ عِبْتَ مِنْهُمْ أُمُورًا
أَنْتَ تَأْتِيهَا.
Mereka bersyair, “Wahai orang yang menasihati manusia,
engkau kini justru menjadi tertuduh, karena engkau mencela dari mereka
perkara-perkara yang engkau sendiri melakukannya.”
أَصْبَحْتَ
تَنْصَحُهُمْ بِالْوَعْظِ مُجْتَهِدًا، فَالْمُوبِقَاتُ لَعَمْرِي أَنْتَ
جَانِيهَا.
“Engkau bersungguh-sungguh menasihati mereka dengan nasihat,
padahal demi umurku, engkaulah yang memetik dosa-dosa besar itu.”
تَعِيبُ
دُنْيَا وَنَاسًا رَاغِبِينَ لَهَا، وَأَنْتَ أَكْثَرُ مِنْهُمْ رَغْبَةً فِيهَا.
“Engkau mencela dunia dan orang-orang yang menginginkannya,
padahal engkau lebih besar keinginanmu terhadap dunia daripada mereka.”
وَقَالَ
آخَرُ: لَا تَنْهَ عَنْ خُلُقٍ وَتَأْتِيَ مِثْلَهُ، عَارٌ عَلَيْكَ إِذَا
فَعَلْتَ عَظِيمُ.
Penyair lain berkata, “Janganlah engkau melarang suatu
akhlak lalu engkau sendiri melakukannya. Sungguh besar aib atasmu jika engkau
melakukannya.”
وَقَالَ
إِبْرَاهِيمُ بْنُ أَدْهَمَ رَحِمَهُ اللَّهُ: مَرَرْتُ بِحَجَرٍ بِمَكَّةَ
مَكْتُوبٌ عَلَيْهِ: اقْلِبْنِي تَعْتَبِرْ.
Ibrahim bin Adham rahimahullah berkata, “Aku melewati sebuah
batu di Makkah yang tertulis di atasnya: ‘Baliklah aku, niscaya engkau akan
mengambil pelajaran.’”
فَقَلَبْتُهُ،
فَإِذَا عَلَيْهِ مَكْتُوبٌ: أَنْتَ بِمَا تَعْلَمُ لَا تَعْمَلُ، فَكَيْفَ
تَطْلُبُ عِلْمَ مَا لَمْ تَعْلَمْ؟
“Maka aku membaliknya, lalu di baliknya tertulis: ‘Engkau
tidak mengamalkan apa yang telah engkau ketahui. Lalu bagaimana engkau masih
mencari ilmu tentang sesuatu yang belum engkau ketahui?’”
وَقَالَ
ابْنُ السَّمَّاكِ رَحِمَهُ اللَّهُ: كَمْ مِنْ مُذَكِّرٍ بِاللَّهِ نَاسٍ
لِلَّهِ، وَكَمْ مِنْ مُخَوِّفٍ بِاللَّهِ جَرِيءٍ عَلَى اللَّهِ، وَكَمْ مِنْ
مُقَرِّبٍ إِلَى اللَّهِ بَعِيدٍ مِنَ اللَّهِ، وَكَمْ مِنْ دَاعٍ إِلَى اللَّهِ
فَارٍّ مِنَ اللَّهِ، وَكَمْ مِنْ تَالٍ لِكِتَابِ اللَّهِ مُنْسَلِخٍ عَنْ آيَاتِ
اللَّهِ.
Ibnu As-Sammak rahimahullah berkata, “Betapa banyak orang
yang mengingatkan manusia kepada Allah, padahal ia sendiri lalai dari Allah.
Betapa banyak orang yang menakut-nakuti manusia dengan Allah, padahal ia
sendiri berani terhadap Allah. Betapa banyak orang yang mendekatkan orang lain
kepada Allah, padahal ia sendiri jauh dari Allah. Betapa banyak orang yang
mengajak kepada Allah, padahal ia sendiri lari dari Allah. Dan betapa banyak
orang yang membaca Kitab Allah, padahal ia telah terlepas dari ayat-ayat Allah.”
وَقَالَ
إِبْرَاهِيمُ بْنُ أَدْهَمَ رَحِمَهُ اللَّهُ: لَقَدْ أَعْرَبْنَا فِي كَلَامِنَا
فَلَمْ نَلْحَنْ، وَلَحَنَّا فِي أَعْمَالِنَا فَلَمْ نُعْرِبْ.
Ibrahim bin Adham rahimahullah berkata, “Sungguh kami telah
berbahasa dengan benar dalam ucapan kami hingga kami tidak salah i‘rab, tetapi
kami telah salah dalam amal kami, maka kami tidak mampu ‘meng-i‘rab’-kannya.”
وَقَالَ
الْأَوْزَاعِيُّ: إِذَا جَاءَ الْإِعْرَابُ ذَهَبَ الْخُشُوعُ.
Al-Auza‘i berkata, “Apabila perhatian kepada i‘rab datang,
maka kekhusyukan pergi.”
وَرَوَى
مَكْحُولٌ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ غَنْمٍ أَنَّهُ قَالَ: حَدَّثَنِي
عَشَرَةٌ مِنْ أَصْحَابِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ،
قَالُوا: كُنَّا نَدْرُسُ الْعِلْمَ فِي مَسْجِدِ قُبَاءَ، إِذْ خَرَجَ عَلَيْنَا
رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.
Makhul meriwayatkan dari ‘Abdurrahman bin Ghanm bahwa ia
berkata, “Sepuluh orang dari sahabat Rasulullah ﷺ bercerita kepadaku, mereka berkata: ‘Kami
dahulu mempelajari ilmu di Masjid Quba’, lalu Rasulullah ﷺ keluar menemui
kami.’”
فَقَالَ:
تَعَلَّمُوا مَا شِئْتُمْ أَنْ تَعْلَمُوا، فَلَنْ يَأْجُرَكُمُ اللَّهُ حَتَّى
تَعْمَلُوا.
Maka beliau bersabda, “Pelajarilah apa saja yang kalian
ingin pelajari, tetapi Allah tidak akan memberi pahala kepada kalian sampai
kalian mengamalkannya.”
وَقَالَ
عِيسَى عَلَيْهِ السَّلَامُ: مَثَلُ الَّذِي يَتَعَلَّمُ الْعِلْمَ وَلَا يَعْمَلُ
بِهِ كَمَثَلِ امْرَأَةٍ زَنَتْ فِي السِّرِّ فَحَمَلَتْ، فَظَهَرَ حَمْلُهَا
فَافْتُضِحَتْ.
Isa ‘alaihis-salam berkata, “Perumpamaan orang yang
mempelajari ilmu tetapi tidak mengamalkannya seperti seorang wanita yang
berzina secara sembunyi-sembunyi lalu ia hamil. Ketika kehamilannya tampak,
terbukalah aibnya.”
فَكَذٰلِكَ
مَنْ لَا يَعْمَلُ بِعِلْمِهِ يَفْضَحُهُ اللَّهُ تَعَالَى يَوْمَ الْقِيَامَةِ
عَلَى رُءُوسِ الْأَشْهَادِ.
Demikian pula orang yang tidak mengamalkan ilmunya, Allah
Ta‘ala akan mempermalukannya pada hari kiamat di hadapan seluruh makhluk.
وَقَالَ
مُعَاذٌ رَحِمَهُ اللَّهُ: احْذَرُوا زَلَّةَ الْعَالِمِ، لِأَنَّ قَدْرَهُ عِنْدَ
الْخَلْقِ عَظِيمٌ، فَيَتْبَعُونَهُ عَلَى زَلَّتِهِ.
Mu‘adz rahimahullah berkata, “Waspadalah terhadap
ketergelinciran seorang alim, karena kedudukannya di mata manusia sangat besar,
sehingga mereka akan mengikutinya dalam ketergelincirannya.”
وَقَدْ
كَتَبَ رَجُلٌ إِلَى أَخٍ لَهُ: إِنَّكَ قَدْ أُوتِيتَ عِلْمًا، فَلَا تُطْفِئْ
نُورَ عِلْمِكَ بِظُلْمَةِ الذُّنُوبِ، فَتَبْقَى فِي الظُّلْمَةِ يَوْمَ يَسْعَى
أَهْلُ الْعِلْمِ فِي نُورِ عِلْمِهِمْ.
Ada seorang laki-laki menulis kepada saudaranya,
“Sesungguhnya engkau telah diberi ilmu. Maka janganlah engkau memadamkan cahaya
ilmumu dengan gelapnya dosa-dosa, sehingga engkau tetap berada dalam kegelapan
pada hari ketika para pemilik ilmu berjalan dengan cahaya ilmu mereka.”
وَكَانَ
يَحْيَى بْنُ مُعَاذٍ الرَّازِيُّ رَحِمَهُ اللَّهُ يَقُولُ لِعُلَمَاءِ
الدُّنْيَا: يَا أَصْحَابَ الْعِلْمِ، قُصُورُكُمْ قَيْصَرِيَّةٌ، وَبُيُوتُكُمْ
كِسْرَوِيَّةٌ، وَأَثْوَابُكُمْ ظَاهِرِيَّةٌ، وَأَخْفَافُكُمْ جَالُوتِيَّةٌ،
وَمَرَاكِبُكُمْ قَارُونِيَّةٌ، وَأَوَانِيكُمْ فِرْعَوْنِيَّةٌ، وَمَآثِمُكُمْ
جَاهِلِيَّةٌ، وَمَذَاهِبُكُمْ شَيْطَانِيَّةٌ، فَأَيْنَ الشَّرِيعَةُ
الْمُحَمَّدِيَّةُ؟
Yahya bin Mu‘adz Ar-Razi rahimahullah berkata kepada para
ulama dunia, “Wahai para pemilik ilmu, istana-istana kalian seperti istana
Kaisar, rumah-rumah kalian seperti rumah Kisra, pakaian-pakaian kalian bersifat
lahiriah dan mewah, alas-alas kaki kalian seperti milik Jalut,
kendaraan-kendaraan kalian seperti milik Qarun, bejana-bejana kalian seperti
milik Fir‘aun, dosa-dosa kalian seperti masa jahiliah, dan jalan-jalan hidup
kalian seperti jalan setan. Lalu di manakah syariat Muhammadiyah itu?”
قَالَ
الشَّاعِرُ: وَرَاعِي الشَّاةِ يَحْمِي الذِّئْبَ عَنْهَا، فَكَيْفَ إِذَا
الرُّعَاةُ لَهَا ذِئَابٌ؟
Seorang penyair berkata, “Penggembala kambing melindunginya
dari serigala. Maka bagaimana jika para penggembalanya justru serigala?”
وَقَالَ
الْآخَرُ: يَا مَعْشَرَ الْقُرَّاءِ يَا مِلْحَ الْبَلَدِ، مَا يُصْلِحُ الْمِلْحَ
إِذَا الْمِلْحُ فَسَدَ؟
Penyair lain berkata, “Wahai para pembaca Al-Qur’an, wahai
garam negeri, apa yang akan memperbaiki garam jika garam itu sendiri telah
rusak?”
وَقِيلَ
لِبَعْضِ الْعَارِفِينَ: أَتَرَى أَنَّ مَنْ تَكُونُ الْمَعَاصِي قُرَّةَ عَيْنِهِ
لَا يَعْرِفُ اللَّهَ؟
Dikatakan kepada salah seorang arif, “Apakah engkau
berpandangan bahwa orang yang maksiat menjadi penyejuk matanya berarti tidak
mengenal Allah?”
قَالَ:
لَا شَكَّ أَنَّ مَنْ تَكُونُ الدُّنْيَا عِنْدَهُ آثَرَ مِنَ الْآخِرَةِ أَنَّهُ
لَا يَعْرِفُ اللَّهَ تَعَالَى.
Ia menjawab, “Tidak diragukan lagi bahwa siapa yang dunia
lebih diutamakan di sisinya daripada akhirat, maka sesungguhnya ia tidak
mengenal Allah Ta‘ala.”
وَهٰذَا
دُونَ ذٰلِكَ بِكَثِيرٍ.
Dan keadaan yang ditanyakan tadi masih jauh lebih ringan
daripada itu.
وَلَا
تَظُنَّنَّ أَنَّ تَرْكَ الْمَالِ يَكْفِي فِي اللُّحُوقِ بِعُلَمَاءِ الْآخِرَةِ،
فَإِنَّ الْجَاهَ أَضَرُّ مِنَ الْمَالِ.
Jangan sekali-kali engkau menyangka bahwa meninggalkan harta
saja sudah cukup untuk mengejar derajat ulama akhirat, sebab kedudukan itu
lebih berbahaya daripada harta.
وَلِذٰلِكَ
قَالَ بِشْرٌ: حَدَّثَنَا بَابٌ مِنْ أَبْوَابِ الدُّنْيَا، فَإِذَا سَمِعْتَ
الرَّجُلَ يَقُولُ: حَدَّثَنَا، فَإِنَّمَا يَقُولُ: أَوْسِعُوا لِي.
Karena itulah Bisyr berkata, “Telah menceritakan kepada kami
adalah salah satu pintu dunia. Maka apabila engkau mendengar seseorang berkata,
‘Telah menceritakan kepada kami,’ sesungguhnya ia sedang berkata, ‘Berilah aku
keluasan tempat dan kedudukan.’”
وَدَفَنَ
بِشْرُ بْنُ الْحَارِثِ بِضْعَةَ عَشَرَ مَا بَيْنَ قِمَطْرَةٍ وَقُوصَرَةٍ مِنَ
الْكُتُبِ.
Bisyr bin Al-Harits pernah mengubur belasan peti dan
keranjang berisi kitab-kitab.
وَكَانَ
يَقُولُ: أَنَا أَشْتَهِي أَنْ أُحَدِّثَ، وَلَوْ ذَهَبَتْ عَنِّي شَهْوَةُ
الْحَدِيثِ لَحَدَّثْتُ.
Ia berkata, “Aku sebenarnya berkeinginan untuk meriwayatkan
hadis. Seandainya syahwat untuk meriwayatkan itu hilang dariku, niscaya aku
akan meriwayatkan.”
وَقَالَ
هُوَ وَغَيْرُهُ: إِذَا اشْتَهَيْتَ أَنْ تُحَدِّثَ فَاسْكُتْ، فَإِذَا لَمْ
تَشْتَهِ فَحَدِّثْ.
Ia dan selainnya berkata, “Apabila engkau berkeinginan untuk
meriwayatkan, maka diamlah. Jika engkau tidak berkeinginan, maka
riwayatkanlah.”
وَهٰذَا
لِأَنَّ التَّلَذُّذَ بِجَاهِ الْإِفَادَةِ وَمَنْصِبِ الْإِرْشَادِ أَعْظَمُ
لَذَّةً مِنْ كُلِّ تَنَعُّمٍ فِي الدُّنْيَا.
Hal itu karena kenikmatan kedudukan dalam memberi manfaat
dan posisi sebagai pembimbing lebih besar daripada segala bentuk kenikmatan
dunia.
فَمَنْ
أَجَابَ شَهْوَتَهُ فِيهِ فَهُوَ مِنْ أَبْنَاءِ الدُّنْيَا.
Maka siapa yang memenuhi syahwatnya dalam hal itu, ia
termasuk anak-anak dunia.
وَلِذٰلِكَ
قَالَ الثَّوْرِيُّ: فِتْنَةُ الْحَدِيثِ أَشَدُّ مِنْ فِتْنَةِ الْأَهْلِ
وَالْمَالِ وَالْوَلَدِ.
Karena itulah Ats-Tsauri berkata, “Fitnah hadis lebih berat
daripada fitnah keluarga, harta, dan anak.”
وَكَيْفَ
لَا تُخَافُ فِتْنَتُهُ، وَقَدْ قِيلَ لِسَيِّدِ الْمُرْسَلِينَ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: {وَلَوْلَا أَنْ ثَبَّتْنَاكَ لَقَدْ كِدْتَ تَرْكَنُ
إِلَيْهِمْ شَيْئًا قَلِيلًا}.
Dan bagaimana mungkin fitnahnya tidak ditakuti, padahal
kepada penghulu para rasul ﷺ
telah dikatakan, “Dan kalau bukan karena Kami meneguhkanmu, sungguh engkau
hampir condong sedikit kepada mereka.”
وَقَالَ
سَهْلٌ رَحِمَهُ اللَّهُ: الْعِلْمُ كُلُّهُ دُنْيَا، وَالْآخِرَةُ مِنْهُ
الْعَمَلُ بِهِ، وَالْعَمَلُ كُلُّهُ هَبَاءٌ إِلَّا الْإِخْلَاصَ.
Sahl rahimahullah berkata, “Ilmu seluruhnya adalah dunia,
sedangkan bagian akhirat darinya adalah mengamalkannya. Dan seluruh amal itu
sia-sia kecuali ikhlas.”
وَقَالَ:
النَّاسُ كُلُّهُمْ مَوْتَى إِلَّا الْعُلَمَاءَ، وَالْعُلَمَاءُ سُكَارَى إِلَّا
الْعَامِلِينَ، وَالْعَامِلُونَ كُلُّهُمْ مَغْرُورُونَ إِلَّا الْمُخْلِصِينَ،
وَالْمُخْلِصُ عَلَى وَجَلٍ حَتَّى يَدْرِيَ بِمَاذَا يُخْتَمُ لَهُ.
Ia juga berkata, “Seluruh manusia itu mati kecuali para
ulama. Dan para ulama itu mabuk kecuali orang-orang yang beramal. Dan
orang-orang yang beramal itu semuanya tertipu kecuali orang-orang yang ikhlas.
Dan orang yang ikhlas tetap berada dalam kegelisahan sampai ia mengetahui
dengan apa akhir hidupnya ditutup.”
وَقَالَ
أَبُو سُلَيْمَانَ الدَّارَانِيُّ رَحِمَهُ اللَّهُ: إِذَا طَلَبَ الرَّجُلُ
الْحَدِيثَ أَوْ تَزَوَّجَ أَوْ سَافَرَ فِي طَلَبِ الْمَعَاشِ فَقَدْ رَكَنَ
إِلَى الدُّنْيَا.
Abu Sulaiman Ad-Darani rahimahullah berkata, “Apabila
seseorang mencari hadis, atau menikah, atau bepergian untuk mencari
penghidupan, maka ia telah condong kepada dunia.”
وَإِنَّمَا
أَرَادَ بِهِ طَلَبَ الْأَسَانِيدِ الْعَالِيَةِ أَوْ طَلَبَ الْحَدِيثِ الَّذِي
لَا يُحْتَاجُ إِلَيْهِ فِي طَلَبِ الْآخِرَةِ.
Yang ia maksud dengan itu adalah mencari sanad-sanad yang
tinggi, atau mencari hadis yang tidak dibutuhkan dalam pencarian akhirat.
وَقَالَ
عِيسَى عَلَيْهِ السَّلَامُ: كَيْفَ يَكُونُ مِنْ أَهْلِ الْعِلْمِ مَنْ مَسِيرُهُ
إِلَى آخِرَتِهِ وَهُوَ مُقْبِلٌ عَلَى طَرِيقِ دُنْيَاهُ؟
Isa ‘alaihis-salam berkata, “Bagaimana mungkin seseorang
termasuk ahli ilmu, padahal perjalanannya menuju akhirat tetapi ia justru
menghadap ke jalan dunianya?”
وَكَيْفَ
يَكُونُ مِنْ أَهْلِ الْعِلْمِ مَنْ يَطْلُبُ الْكَلَامَ لِيُخْبِرَ بِهِ لَا
لِيَعْمَلَ بِهِ؟
“Dan bagaimana mungkin seseorang termasuk ahli ilmu, padahal
ia mencari ucapan-ucapan untuk diceritakan, bukan untuk diamalkan?”
وَقَالَ
صَالِحُ بْنُ كَيْسَانَ الْبَصْرِيُّ: أَدْرَكْتُ الشُّيُوخَ وَهُمْ
يَتَعَوَّذُونَ بِاللَّهِ مِنَ الْفَاجِرِ الْعَالِمِ بِالسُّنَّةِ.
Shalih bin Kaisan Al-Bashri berkata, “Aku mendapati para
masyayikh berlindung kepada Allah dari orang fajir yang mengetahui sunnah.”
وَرَوَى
أَبُو هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَنْ طَلَبَ عِلْمًا مِمَّا يُبْتَغَى بِهِ وَجْهُ
اللَّهِ تَعَالَى لِيُصِيبَ بِهِ عَرَضًا مِنَ الدُّنْيَا لَمْ يَجِدْ عَرْفَ
الْجَنَّةِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ.
Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa
Rasulullah ﷺ
bersabda, “Barang siapa menuntut ilmu yang seharusnya dicari demi wajah Allah
Ta‘ala untuk memperoleh keuntungan duniawi, maka ia tidak akan mencium aroma
surga pada hari kiamat.”
وَقَدْ
وَصَفَ اللَّهُ عُلَمَاءَ السُّوءِ بِأَكْلِ الدُّنْيَا بِالْعِلْمِ، وَوَصَفَ
عُلَمَاءَ الْآخِرَةِ بِالْخُشُوعِ وَالزُّهْدِ.
Allah telah menggambarkan ulama yang buruk sebagai
orang-orang yang memakan dunia dengan ilmu, dan menggambarkan ulama akhirat
dengan kekhusyukan dan kezuhudan.
فَقَالَ
عَزَّ وَجَلَّ فِي عُلَمَاءِ الدُّنْيَا: {وَإِذْ أَخَذَ اللَّهُ مِيثَاقَ
الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ لَتُبَيِّنُنَّهُ لِلنَّاسِ وَلَا تَكْتُمُونَهُ،
فَنَبَذُوهُ وَرَاءَ ظُهُورِهِمْ وَاشْتَرَوْا بِهِ ثَمَنًا قَلِيلًا}.
Allah ‘Azza wa Jalla berfirman tentang ulama dunia, “Dan
ketika Allah mengambil perjanjian dari orang-orang yang diberi Kitab,
‘Hendaklah kalian menjelaskannya kepada manusia dan jangan kalian
menyembunyikannya,’ lalu mereka melemparkannya ke belakang punggung mereka dan
menjualnya dengan harga yang sedikit.”
وَقَالَ
تَعَالَى فِي عُلَمَاءِ الْآخِرَةِ: {وَإِنَّ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ لَمَنْ
يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَمَا أُنْزِلَ إِلَيْكُمْ وَمَا أُنْزِلَ إِلَيْهِمْ
خَاشِعِينَ لِلَّهِ لَا يَشْتَرُونَ بِآيَاتِ اللَّهِ ثَمَنًا قَلِيلًا أُولَٰئِكَ
لَهُمْ أَجْرُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ}.
Dan Allah Ta‘ala berfirman tentang ulama akhirat, “Dan
sesungguhnya di antara Ahli Kitab ada yang beriman kepada Allah dan kepada apa
yang diturunkan kepada kalian dan kepada apa yang diturunkan kepada mereka,
dalam keadaan khusyuk kepada Allah, mereka tidak menjual ayat-ayat Allah dengan
harga yang sedikit. Mereka itulah yang memperoleh pahala mereka di sisi Tuhan
mereka.”
وَقَالَ
بَعْضُ السَّلَفِ: الْعُلَمَاءُ يُحْشَرُونَ فِي زُمْرَةِ الْأَنْبِيَاءِ،
وَالْقُضَاةُ يُحْشَرُونَ فِي زُمْرَةِ السَّلَاطِينِ.
Sebagian salaf berkata, “Para ulama akan dibangkitkan
bersama para nabi, sedangkan para hakim akan dibangkitkan bersama para
penguasa.”
وَفِي
مَعْنَى الْقُضَاةِ كُلُّ فَقِيهٍ قَصْدُهُ طَلَبُ الدُّنْيَا بِعِلْمِهِ.
Dan yang dimaksud dengan para hakim di sini adalah setiap
fakih yang tujuannya mencari dunia dengan ilmunya.
وَرَوَى
أَبُو الدَّرْدَاءِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ: أَوْحَى اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ إِلَى بَعْضِ
الْأَنْبِيَاءِ: قُلْ لِلَّذِينَ يَتَفَقَّهُونَ لِغَيْرِ الدِّينِ،
وَيَتَعَلَّمُونَ لِغَيْرِ الْعَمَلِ، وَيَطْلُبُونَ الدُّنْيَا بِعَمَلِ
الْآخِرَةِ، يَلْبَسُونَ لِلنَّاسِ مَسُوكَ الْكِبَاشِ وَقُلُوبُهُمْ كَقُلُوبِ
الذِّئَابِ، أَلْسِنَتُهُمْ أَحْلَى مِنَ الْعَسَلِ وَقُلُوبُهُمْ أَمَرُّ مِنَ
الصَّبِرِ، إِيَّايَ يُخَادِعُونَ وَبِي يَسْتَهْزِئُونَ، لَأَفْتَحَنَّ لَهُمْ
فِتْنَةً تَذَرُ الْحَلِيمَ حَيْرَانَ.
Abu Ad-Darda’ radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan dari Nabi ﷺ
bahwa beliau bersabda, “Allah ‘Azza wa Jalla mewahyukan kepada salah seorang
nabi: ‘Katakanlah kepada orang-orang yang mendalami agama bukan untuk agama,
yang belajar bukan untuk diamalkan, dan yang mencari dunia dengan amal akhirat:
mereka mengenakan kulit-kulit domba di hadapan manusia, sedangkan hati mereka
seperti hati serigala. Lidah mereka lebih manis daripada madu, tetapi hati
mereka lebih pahit daripada tanaman shabr. Apakah kepada-Ku mereka menipu?
Apakah kepada-Ku mereka memperolok? Sungguh Aku akan membuka bagi mereka fitnah
yang membuat orang yang santun menjadi bingung.’”
وَرَوَى
الضَّحَّاكُ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ: قَالَ رَسُولُ
اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: عُلَمَاءُ هٰذِهِ الْأُمَّةِ
رَجُلَانِ، رَجُلٌ آتَاهُ اللَّهُ عِلْمًا فَبَذَلَهُ لِلنَّاسِ، وَلَمْ يَأْخُذْ
عَلَيْهِ طَمَعًا، وَلَمْ يَشْتَرِ بِهِ ثَمَنًا، فَذٰلِكَ تُصَلِّي عَلَيْهِ
طَيْرُ السَّمَاءِ وَحِيتَانُ الْمَاءِ وَدَوَابُّ الْأَرْضِ وَالْكِرَامُ
الْكَاتِبُونَ، يَقْدُمُ عَلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
سَيِّدًا شَرِيفًا حَتَّى يُوَافِقَ الْمُرْسَلِينَ.
Adh-Dhahhak meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu
‘anhuma, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda, “Ulama umat ini ada dua orang: seorang laki-laki yang
Allah beri ilmu lalu ia memberikannya kepada manusia, tidak mengambil imbalan
karena tamak, dan tidak menjualnya dengan harga. Maka orang seperti ini
didoakan oleh burung-burung langit, ikan-ikan air, hewan-hewan bumi, dan
malaikat-malaikat pencatat yang mulia. Ia datang kepada Allah ‘Azza wa Jalla
pada hari kiamat sebagai pemimpin yang mulia, hingga sederajat bersama para
rasul.”
وَرَجُلٌ
آتَاهُ اللَّهُ عِلْمًا فِي الدُّنْيَا فَضَنَّ بِهِ عَلَى عِبَادِ اللَّهِ،
وَأَخَذَ عَلَيْهِ طَمَعًا، وَاشْتَرَى بِهِ ثَمَنًا، فَذٰلِكَ يَأْتِي يَوْمَ
الْقِيَامَةِ مُلْجَمًا بِلِجَامٍ مِنْ نَارٍ، يُنَادِي مُنَادٍ عَلَى رُءُوسِ
الْخَلَائِقِ: هٰذَا فُلَانُ بْنُ فُلَانٍ، آتَاهُ اللَّهُ عِلْمًا فِي الدُّنْيَا
فَضَنَّ بِهِ عَلَى عِبَادِهِ، وَأَخَذَ بِهِ طَمَعًا، وَاشْتَرَى بِهِ ثَمَنًا،
فَيُعَذَّبُ حَتَّى يُفْرَغَ مِنْ حِسَابِ النَّاسِ.
“Dan seorang laki-laki yang Allah beri ilmu di dunia, tetapi
ia kikir memberikannya kepada hamba-hamba Allah, mengambil imbalan karena
tamak, dan menjualnya dengan harga, maka orang ini akan datang pada hari kiamat
dalam keadaan terkekang dengan kekang dari api. Lalu ada penyeru di hadapan
seluruh makhluk: ‘Inilah si fulan bin si fulan. Allah memberinya ilmu di dunia,
tetapi ia kikir memberikannya kepada hamba-hamba-Nya, mengambilnya demi
ketamakan, dan menjualnya dengan harga.’ Maka ia akan disiksa hingga selesai
hisab manusia.”
وَأَشَدُّ
مِنْ هٰذَا مَا رُوِيَ أَنَّ رَجُلًا كَانَ يَخْدُمُ مُوسَى عَلَيْهِ السَّلَامُ،
فَجَعَلَ يَقُولُ: حَدَّثَنِي مُوسَى صَفِيُّ اللَّهِ، حَدَّثَنِي مُوسَى نَجِيُّ
اللَّهِ، حَدَّثَنِي مُوسَى كَلِيمُ اللَّهِ، حَتَّى أَثْرَى وَكَثُرَ مَالُهُ.
Yang lebih keras daripada ini adalah riwayat bahwa ada
seorang laki-laki yang dahulu melayani Musa ‘alaihis-salam. Lalu ia mulai
berkata, “Musa, kekasih Allah, telah menceritakan kepadaku. Musa, orang yang
diajak bicara secara rahasia oleh Allah, telah menceritakan kepadaku. Musa,
yang diajak bicara oleh Allah, telah menceritakan kepadaku,” hingga ia menjadi
kaya dan hartanya bertambah banyak.
فَفَقَدَهُ
مُوسَى عَلَيْهِ السَّلَامُ، فَجَعَلَ يَسْأَلُ عَنْهُ، وَلَا يَحِسُّ لَهُ
خَبَرًا، حَتَّى جَاءَهُ رَجُلٌ ذَاتَ يَوْمٍ وَفِي يَدِهِ خِنْزِيرٌ وَفِي
عُنُقِهِ حَبْلٌ أَسْوَدُ.
Kemudian Musa ‘alaihis-salam kehilangan jejak orang itu,
lalu terus menanyakan tentangnya tetapi tidak mendapatkan kabar. Hingga suatu
hari datang kepadanya seseorang yang membawa seekor babi dan di lehernya
terdapat tali hitam.
فَقَالَ
لَهُ مُوسَى عَلَيْهِ السَّلَامُ: أَتَعْرِفُ فُلَانًا؟ قَالَ: نَعَمْ، هُوَ هٰذَا
الْخِنْزِيرُ.
Musa ‘alaihis-salam bertanya kepadanya, “Apakah engkau
mengenal si fulan?” Ia menjawab, “Ya, dialah babi ini.”
فَقَالَ
مُوسَى عَلَيْهِ السَّلَامُ: يَا رَبِّ، أَسْأَلُكَ أَنْ تَرُدَّهُ إِلَى حَالِهِ
حَتَّى أَسْأَلَهُ بِمَ أَصَابَهُ هٰذَا.
Maka Musa ‘alaihis-salam berkata, “Wahai Tuhanku, aku
memohon kepada-Mu agar Engkau mengembalikannya ke keadaan semula, sehingga aku
dapat bertanya apa yang menyebabkan ia tertimpa keadaan ini.”
فَأَوْحَى
اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ إِلَيْهِ: لَوْ دَعَوْتَنِي بِالَّذِي دَعَانِي بِهِ آدَمُ
فَمَنْ دُونَهُ مَا أَجَبْتُكَ فِيهِ.
Lalu Allah ‘Azza wa Jalla mewahyukan kepadanya, “Seandainya
engkau berdoa kepada-Ku dengan doa yang dipanjatkan Adam dan orang-orang
setelahnya, Aku tidak akan mengabulkan permintaanmu tentangnya.”
وَلٰكِنْ
أُخْبِرُكَ لِمَ صَنَعْتُ هٰذَا بِهِ، لِأَنَّهُ كَانَ يَطْلُبُ الدُّنْيَا
بِالدِّينِ.
“Akan tetapi, Aku akan memberitahumu mengapa Aku
memperlakukannya seperti ini, yaitu karena ia mencari dunia dengan agama.”
وَأَغْلَظُ
مِنْ هٰذَا مَا رُوِيَ عَنْ مُعَاذٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ مَوْقُوفًا
وَمَرْفُوعًا فِي رِوَايَةٍ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
قَالَ: مِنْ فِتْنَةِ الْعَالِمِ أَنْ يَكُونَ الْكَلَامُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنَ
الِاسْتِمَاعِ.
Yang lebih berat daripada ini adalah riwayat dari Mu‘adz
radhiyallahu ‘anhu, baik secara mauquf maupun marfu‘ dalam salah satu riwayat
dari Nabi ﷺ,
bahwa beliau bersabda, “Termasuk fitnah seorang alim adalah bila berbicara
lebih ia sukai daripada mendengarkan.”
وَفِي
الْكَلَامِ تَنْمِيقٌ وَزِيَادَةٌ، وَلَا يُؤْمَنُ عَلَى صَاحِبِهِ الْخَطَأُ،
وَفِي الصَّمْتِ سَلَامَةٌ وَعِلْمٌ.
Dalam berbicara ada hiasan dan tambahan-tambahan, dan orang
yang berbicara tidak aman dari kesalahan. Sedangkan dalam diam terdapat
keselamatan dan ilmu.
وَمِنَ
الْعُلَمَاءِ مَنْ يَخْزُنُ عِلْمَهُ فَلَا يُحِبُّ أَنْ يُوجَدَ عِنْدَ غَيْرِهِ،
فَذٰلِكَ فِي الدَّرْكِ الْأَوَّلِ مِنَ النَّارِ.
Di antara para ulama ada yang menyimpan ilmunya dan tidak
suka bila ilmu itu berada pada orang lain. Orang seperti ini berada pada
tingkat pertama dari neraka.
وَمِنَ
الْعُلَمَاءِ مَنْ يَكُونُ فِي عِلْمِهِ بِمَنْزِلَةِ السُّلْطَانِ، إِنْ رُدَّ
عَلَيْهِ شَيْءٌ مِنْ عِلْمِهِ أَوْ تُهُوِّنَ بِشَيْءٍ مِنْ حَقِّهِ غَضِبَ،
فَذٰلِكَ فِي الدَّرْكِ الثَّانِي مِنَ النَّارِ.
Di antara para ulama ada yang dalam ilmunya bersikap seperti
penguasa. Jika ada bagian dari ilmunya yang dibantah, atau sedikit saja haknya
diremehkan, ia akan marah. Orang seperti ini berada pada tingkat kedua dari
neraka.
وَمِنَ
الْعُلَمَاءِ مَنْ يَجْعَلُ عِلْمَهُ وَغَرَائِبَ حَدِيثِهِ لِأَهْلِ الشَّرَفِ
وَالْيَسَارِ، وَلَا يَرَى أَهْلَ الْحَاجَةِ لَهُ أَهْلًا، فَذٰلِكَ فِي
الدَّرْكِ الثَّالِثِ مِنَ النَّارِ.
Di antara para ulama ada yang menjadikan ilmunya dan
hadis-hadis anehnya hanya untuk orang-orang terpandang dan kaya, dan tidak
memandang orang-orang yang membutuhkan sebagai orang yang layak menerimanya.
Orang seperti ini berada pada tingkat ketiga dari neraka.
وَمِنَ
الْعُلَمَاءِ مَنْ يَنْصِبُ نَفْسَهُ لِلْفُتْيَا فَيُفْتِي بِالْخَطَإِ،
وَاللَّهُ تَعَالَى يُبْغِضُ الْمُتَكَلِّفِينَ، فَذٰلِكَ فِي الدَّرْكِ
الرَّابِعِ مِنَ النَّارِ.
Di antara para ulama ada yang menempatkan dirinya untuk
berfatwa, lalu ia berfatwa dengan kesalahan, padahal Allah Ta‘ala membenci
orang-orang yang memaksakan diri. Maka orang seperti ini berada pada tingkat
keempat dari neraka.
وَمِنَ
الْعُلَمَاءِ مَنْ يَتَكَلَّمُ بِكَلَامِ الْيَهُودِ وَالنَّصَارَى لِيُغْزِرَ
بِهِ عِلْمَهُ، فَذٰلِكَ فِي الدَّرْكِ الْخَامِسِ مِنَ النَّارِ.
Di antara para ulama ada yang berbicara dengan ucapan-ucapan
Yahudi dan Nasrani untuk memperbanyak ilmunya, maka orang seperti ini berada
pada tingkat kelima dari neraka.
وَمِنَ
الْعُلَمَاءِ مَنْ يَتَّخِذُ عِلْمَهُ مُرُوءَةً وَنُبْلًا وَذِكْرًا فِي
النَّاسِ، فَذٰلِكَ فِي الدَّرْكِ السَّادِسِ مِنَ النَّارِ.
Di antara para ulama ada yang menjadikan ilmunya sebagai
sarana menjaga kehormatan, kemuliaan, dan nama di tengah manusia. Orang seperti
ini berada pada tingkat keenam dari neraka.
وَمِنَ
الْعُلَمَاءِ مَنْ يَسْتَفِزُّهُ الزَّهْوُ وَالْعُجْبُ، فَإِنْ وَعَظَ عَنَّفَ،
وَإِنْ وُعِظَ أَنِفَ، فَذٰلِكَ فِي الدَّرْكِ السَّابِعِ مِنَ النَّارِ.
Di antara para ulama ada yang digerakkan oleh kesombongan
dan ujub. Jika ia menasihati, ia bersikap keras. Dan jika dinasihati, ia
bersikap angkuh. Maka orang seperti ini berada pada tingkat ketujuh dari
neraka.
فَعَلَيْكَ
يَا أَخِي بِالصَّمْتِ، فِيهِ تَغْلِبُ الشَّيْطَانَ، وَإِيَّاكَ أَنْ تَضْحَكَ
مِنْ غَيْرِ عَجَبٍ أَوْ تَمْشِيَ فِي غَيْرِ أَرَبٍ.
Maka peganglah diam, wahai saudaraku, karena dengan diam
engkau akan mengalahkan setan. Dan jauhilah tertawa tanpa sebab yang
mengherankan atau berjalan tanpa keperluan.
وَفِي
خَبَرٍ آخَرَ: إِنَّ الْعَبْدَ لَيُنْشَرُ لَهُ مِنَ الثَّنَاءِ مَا يَمْلَأُ مَا
بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ، وَمَا يَزِنُ عِنْدَ اللَّهِ جَنَاحَ بَعُوضَةٍ.
Dalam riwayat lain disebutkan, “Sesungguhnya seorang hamba
disebarkan untuknya pujian yang memenuhi antara timur dan barat, padahal di
sisi Allah ia tidak seberat sayap nyamuk.”
وَرُوِيَ
أَنَّ الْحَسَنَ حُمِلَ إِلَيْهِ رَجُلٌ مِنْ خُرَاسَانَ كِيسًا بَعْدَ
انْصِرَافِهِ مِنْ مَجْلِسِهِ، فِيهِ خَمْسَةُ آلَافِ دِرْهَمٍ وَعَشَرَةُ
أَثْوَابٍ مِنْ رَقِيقِ الْبَزِّ، وَقَالَ: يَا أَبَا سَعِيدٍ، هٰذِهِ نَفَقَةٌ
وَهٰذِهِ كِسْوَةٌ.
Diriwayatkan bahwa setelah Al-Hasan selesai dari majelisnya,
seorang laki-laki dari Khurasan membawakan kepadanya sebuah kantong berisi lima
ribu dirham dan sepuluh helai pakaian halus, lalu berkata, “Wahai Abu Sa‘id,
ini untuk nafkah dan ini untuk pakaian.”
فَقَالَ
الْحَسَنُ: عَافَاكَ اللَّهُ تَعَالَى، ضُمَّ إِلَيْكَ نَفَقَتَكَ وَكِسْوَتَكَ،
فَلَا حَاجَةَ لَنَا بِذٰلِكَ.
Maka Al-Hasan berkata, “Semoga Allah Ta‘ala menyehatkanmu.
Ambillah kembali nafkah dan pakaianmu itu, kami tidak memerlukannya.”
إِنَّهُ
مَنْ جَلَسَ مِثْلَ مَجْلِسِي هٰذَا، وَقَبِلَ مِنَ النَّاسِ مِثْلَ هٰذَا، لَقِيَ
اللَّهَ تَعَالَى يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَلَا خَلَاقَ لَهُ.
“Sesungguhnya siapa yang duduk di majelis seperti majelisku
ini, lalu menerima dari manusia seperti ini, maka ia akan bertemu Allah Ta‘ala
pada hari kiamat dalam keadaan tidak memiliki bagian apa pun.”
وَعَنْ
جَابِرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ مَوْقُوفًا وَمَرْفُوعًا قَالَ: قَالَ رَسُولُ
اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لَا تَجْلِسُوا عِنْدَ كُلِّ عَالِمٍ،
إِلَّا إِلَى عَالِمٍ يَدْعُوكُمْ مِنْ خَمْسٍ إِلَى خَمْسٍ: مِنَ الشَّكِّ إِلَى
الْيَقِينِ، وَمِنَ الرِّيَاءِ إِلَى الْإِخْلَاصِ، وَمِنَ الرَّغْبَةِ إِلَى
الزُّهْدِ، وَمِنَ الْكِبْرِ إِلَى التَّوَاضُعِ، وَمِنَ الْعَدَاوَةِ إِلَى
النَّصِيحَةِ.
Dari Jabir radhiyallahu ‘anhu, baik secara mauquf maupun
marfu‘, diriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, “Janganlah kalian duduk di
hadapan setiap alim, kecuali di hadapan alim yang mengajak kalian dari lima
perkara kepada lima perkara: dari keraguan menuju keyakinan, dari riya menuju
ikhlas, dari keinginan dunia menuju zuhud, dari kesombongan menuju tawaduk, dan
dari permusuhan menuju nasihat.”
وَقَالَ
تَعَالَى: {فَخَرَجَ عَلَىٰ قَوْمِهِ فِي زِينَتِهِ قَالَ الَّذِينَ يُرِيدُونَ
الْحَيَاةَ الدُّنْيَا يَا لَيْتَ لَنَا مِثْلَ مَا أُوتِيَ قَارُونُ إِنَّهُ
لَذُو حَظٍّ عَظِيمٍ وَقَالَ الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ وَيْلَكُمْ ثَوَابُ
اللَّهِ خَيْرٌ لِمَنْ آمَنَ...}.
Allah Ta‘ala berfirman, “Lalu Qarun keluar kepada kaumnya
dalam kemegahannya. Berkatalah orang-orang yang menginginkan kehidupan dunia,
‘Aduhai, seandainya kita memiliki seperti apa yang diberikan kepada Qarun.
Sesungguhnya ia benar-benar memiliki keberuntungan yang besar.’ Dan berkatalah
orang-orang yang diberi ilmu, ‘Celakalah kalian, pahala Allah lebih baik bagi
orang yang beriman…’”
فَعَرَفَ
أَهْلَ الْعِلْمِ بِإِيثَارِ الْآخِرَةِ عَلَى الدُّنْيَا.
Maka Allah mengenalkan ahli ilmu dengan sifat mengutamakan
akhirat atas dunia.
وَمِنْهَا
أَنْ لَا يُخَالِفَ فِعْلُهُ قَوْلَهُ، بَلْ لَا يَأْمُرُ بِالشَّيْءِ مَا لَمْ
يَكُنْ هُوَ أَوَّلَ عَامِلٍ بِهِ.
Dan di antara tanda-tanda mereka adalah bahwa amalnya tidak
menyelisihi ucapannya, bahkan ia tidak memerintahkan sesuatu hingga ia sendiri
menjadi orang pertama yang melakukannya.
قَالَ
اللَّهُ تَعَالَى: {أَتَأْمُرُونَ النَّاسَ بِالْبِرِّ وَتَنْسَوْنَ أَنْفُسَكُمْ}.
Allah Ta‘ala berfirman, “Apakah kalian menyuruh manusia
berbuat kebajikan, sedangkan kalian melupakan diri kalian sendiri?”
وَقَالَ
تَعَالَى: {كَبُرَ مَقْتًا عِنْدَ اللَّهِ أَنْ تَقُولُوا مَا لَا تَفْعَلُونَ}.
Dan Allah Ta‘ala berfirman, “Sangat besar kemurkaan di sisi
Allah bahwa kalian mengatakan apa yang tidak kalian kerjakan.”
وَقَالَ
تَعَالَى فِي قِصَّةِ شُعَيْبٍ عَلَيْهِ السَّلَامُ: {وَمَا أُرِيدُ أَنْ
أُخَالِفَكُمْ إِلَىٰ مَا أَنْهَاكُمْ عَنْهُ}.
Dan Allah Ta‘ala berfirman dalam kisah Syu‘aib
‘alaihis-salam, “Aku tidak bermaksud menyelisihi kalian dengan mengerjakan apa
yang aku larang kalian darinya.”
وَقَالَ
تَعَالَى: {وَاتَّقُوا اللَّهَ وَيُعَلِّمُكُمُ اللَّهُ}.
Dan Allah Ta‘ala berfirman, “Bertakwalah kepada Allah,
niscaya Allah akan mengajarkan kepada kalian.”
وَقَالَ
تَعَالَى: {وَاتَّقُوا اللَّهَ وَاعْلَمُوا}.
Dan Allah Ta‘ala berfirman, “Bertakwalah kepada Allah dan
ketahuilah.”
وَقَالَ
تَعَالَى: {وَاتَّقُوا اللَّهَ وَاسْمَعُوا}.
Dan Allah Ta‘ala berfirman, “Bertakwalah kepada Allah dan
dengarkanlah.”
وَقَالَ
تَعَالَى لِعِيسَى عَلَيْهِ السَّلَامُ: يَا ابْنَ مَرْيَمَ، عِظْ نَفْسَكَ،
فَإِنِ اتَّعَظْتَ فَعِظِ النَّاسَ، وَإِلَّا فَاسْتَحْيِ مِنِّي.
Dan Allah Ta‘ala berfirman kepada Isa ‘alaihis-salam, “Wahai
putra Maryam, nasihatilah dirimu sendiri. Jika engkau telah mengambil
pelajaran, maka nasihatilah manusia. Jika tidak, maka malulah kepada-Ku.”
وَقَالَ
رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَرَرْتُ لَيْلَةَ أُسْرِيَ
بِي بِأَقْوَامٍ تُقْرَضُ شِفَاهُهُمْ بِمَقَارِيضَ مِنْ نَارٍ، فَقُلْتُ: مَنْ
أَنْتُمْ؟
Rasulullah ﷺ
bersabda, “Pada malam aku diisra’kan, aku melewati suatu kaum yang bibir-bibir
mereka digunting dengan gunting-gunting dari api. Maka aku bertanya, ‘Siapakah
kalian?’”
فَقَالُوا:
كُنَّا نَأْمُرُ بِالْخَيْرِ وَلَا نَأْتِيهِ، وَنَنْهَى عَنِ الشَّرِّ
وَنَأْتِيهِ.
Mereka menjawab, “Kami dahulu memerintahkan kebaikan tetapi
tidak melakukannya, dan kami melarang keburukan tetapi kami sendiri
melakukannya.”
وَقَالَ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: هَلَاكُ أُمَّتِي عَالِمٌ فَاجِرٌ وَعَابِدٌ
جَاهِلٌ، وَشَرُّ الشِّرَارِ شِرَارُ الْعُلَمَاءِ، وَخَيْرُ الْخِيَارِ خِيَارُ
الْعُلَمَاءِ.
Nabi ﷺ
bersabda, “Kebinasaan umatku terletak pada alim yang fajir dan ahli ibadah yang
bodoh. Seburuk-buruk yang buruk adalah ulama yang buruk, dan sebaik-baik yang
baik adalah ulama yang baik.”
وَقَالَ
الْأَوْزَاعِيُّ رَحِمَهُ اللَّهُ: شَكَتِ النَّوَاوِيسُ مَا تَجِدُ مِنْ نَتْنِ
جِيَفِ الْكُفَّارِ، فَأَوْحَى اللَّهُ تَعَالَى إِلَيْهَا: بُطُونُ عُلَمَاءِ
السُّوءِ أَنْتَنُ مِمَّا أَنْتُمْ فِيهِ.
Al-Auza‘i rahimahullah berkata, “Kuburan-kuburan mengadukan
bau busuk bangkai orang-orang kafir yang mereka rasakan. Maka Allah Ta‘ala
mewahyukan kepada mereka, ‘Perut-perut ulama yang buruk lebih busuk daripada
apa yang kalian rasakan.’”
وَقَالَ
الْفُضَيْلُ بْنُ عِيَاضٍ رَحِمَهُ اللَّهُ: بَلَغَنِي أَنَّ الْفُسَّاقَ مِنَ
الْعُلَمَاءِ يُبْدَأُ بِهِمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ قَبْلَ عَبَدَةِ الْأَوْثَانِ.
Al-Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah berkata, “Telah sampai
kepadaku bahwa para ulama yang fasik akan didahulukan pada hari kiamat sebelum
para penyembah berhala.”
وَقَالَ
أَبُو الدَّرْدَاءِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: وَيْلٌ لِمَنْ لَا يَعْلَمُ مَرَّةً،
وَوَيْلٌ لِمَنْ يَعْلَمُ وَلَا يَعْمَلُ سَبْعَ مَرَّاتٍ.
Abu Ad-Darda’ radhiyallahu ‘anhu berkata, “Celaka sekali
bagi orang yang tidak tahu — satu kali celaka. Dan celaka tujuh kali bagi orang
yang tahu tetapi tidak beramal.”
وَقَالَ
الشَّعْبِيُّ: يَطَّلِعُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ قَوْمٌ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ عَلَى
قَوْمٍ مِنْ أَهْلِ النَّارِ، فَيَقُولُونَ لَهُمْ: مَا أَدْخَلَكُمُ النَّارَ،
وَإِنَّمَا أَدْخَلَنَا اللَّهُ الْجَنَّةَ بِفَضْلِ تَأْدِيبِكُمْ
وَتَعْلِيمِكُمْ؟
Asy-Sya‘bi berkata, “Pada hari kiamat, sekelompok penghuni
surga melihat sekelompok penghuni neraka. Lalu mereka bertanya kepada mereka,
‘Apa yang memasukkan kalian ke dalam neraka, padahal Allah memasukkan kami ke
dalam surga karena keutamaan didikan dan pengajaran kalian?’”
فَيَقُولُونَ:
إِنَّا كُنَّا نَأْمُرُ بِالْخَيْرِ وَلَا نَفْعَلُهُ، وَنَنْهَى عَنِ الشَّرِّ
وَنَفْعَلُهُ.
Mereka menjawab, “Kami dahulu memerintahkan kebaikan tetapi
tidak melakukannya, dan kami melarang keburukan tetapi justru melakukannya.”
وَقَالَ
حَاتِمُ الْأَصَمُّ رَحِمَهُ اللَّهُ: لَيْسَ فِي الْقِيَامَةِ أَشَدُّ حَسْرَةً
مِنْ رَجُلٍ عَلَّمَ النَّاسَ عِلْمًا فَعَمِلُوا بِهِ، وَلَمْ يَعْمَلْ هُوَ
بِهِ، فَفَازُوا بِسَبَبِهِ وَهَلَكَ هُوَ.
Hatim Al-Ashamm rahimahullah berkata, “Pada hari kiamat
tidak ada orang yang lebih besar penyesalannya daripada seseorang yang
mengajarkan ilmu kepada manusia lalu mereka mengamalkannya, sedangkan ia
sendiri tidak mengamalkannya. Mereka beruntung karena sebab dirinya, sementara
ia sendiri binasa.”
وَقَالَ
مَالِكُ بْنُ دِينَارٍ: إِنَّ الْعَالِمَ إِذَا لَمْ يَعْمَلْ بِعِلْمِهِ زَلَّتْ
مَوْعِظَتُهُ عَنِ الْقُلُوبِ كَمَا يَزِلُّ الْقَطْرُ عَنِ الصَّفَا.
Malik bin Dinar berkata, “Sesungguhnya seorang alim apabila
tidak mengamalkan ilmunya, maka nasihatnya akan tergelincir dari hati-hati,
sebagaimana air hujan tergelincir dari batu licin.”
وَأَنْشَدُوا:
يَا وَاعِظَ النَّاسِ قَدْ أَصْبَحْتَ مُتَّهَمًا، إِذْ عِبْتَ مِنْهُمْ أُمُورًا
أَنْتَ تَأْتِيهَا.
Mereka bersyair, “Wahai orang yang menasihati manusia,
engkau kini telah menjadi tertuduh, karena engkau mencela dari mereka
perkara-perkara yang justru engkau sendiri melakukannya.”
أَصْبَحْتَ
تَنْصَحُهُمْ بِالْوَعْظِ مُجْتَهِدًا، فَالْمُوبِقَاتُ لَعَمْرِي أَنْتَ
جَانِيهَا.
“Engkau bersungguh-sungguh menasihati mereka dengan nasihat,
padahal demi umurku, engkaulah yang memetik dosa-dosa besar itu.”
تَعِيبُ
دُنْيَا وَنَاسًا رَاغِبِينَ لَهَا، وَأَنْتَ أَكْثَرُ مِنْهُمْ رَغْبَةً فِيهَا.
“Engkau mencela dunia dan orang-orang yang tertarik
kepadanya, padahal engkau lebih tertarik kepada dunia daripada mereka.”
وَقَالَ
آخَرُ: لَا تَنْهَ عَنْ خُلُقٍ وَتَأْتِيَ مِثْلَهُ، عَارٌ عَلَيْكَ إِذَا
فَعَلْتَ عَظِيمُ.
Penyair lain berkata, “Janganlah engkau melarang suatu
akhlak lalu engkau sendiri melakukannya. Sungguh besar aib bagimu jika engkau
melakukannya.”
وَقَالَ
إِبْرَاهِيمُ بْنُ أَدْهَمَ رَحِمَهُ اللَّهُ: مَرَرْتُ بِحَجَرٍ بِمَكَّةَ
مَكْتُوبٌ عَلَيْهِ: اقْلِبْنِي تَعْتَبِرْ.
Ibrahim bin Adham rahimahullah berkata, “Aku melewati sebuah
batu di Makkah yang tertulis padanya: ‘Baliklah aku, niscaya engkau akan
mengambil pelajaran.’”
فَقَلَبْتُهُ،
فَإِذَا عَلَيْهِ مَكْتُوبٌ: أَنْتَ بِمَا تَعْلَمُ لَا تَعْمَلُ، فَكَيْفَ
تَطْلُبُ عِلْمَ مَا لَمْ تَعْلَمْ؟
“Maka aku membaliknya, lalu di baliknya tertulis: ‘Engkau
tidak mengamalkan apa yang telah engkau ketahui. Lalu bagaimana engkau masih
menuntut ilmu tentang apa yang belum engkau ketahui?’”
وَقَالَ
ابْنُ السَّمَّاكِ رَحِمَهُ اللَّهُ: كَمْ مِنْ مُذَكِّرٍ بِاللَّهِ نَاسٍ
لِلَّهِ، وَكَمْ مِنْ مُخَوِّفٍ بِاللَّهِ جَرِيءٍ عَلَى اللَّهِ، وَكَمْ مِنْ
مُقَرِّبٍ إِلَى اللَّهِ بَعِيدٍ مِنَ اللَّهِ، وَكَمْ مِنْ دَاعٍ إِلَى اللَّهِ
فَارٍّ مِنَ اللَّهِ، وَكَمْ مِنْ تَالٍ لِكِتَابِ اللَّهِ مُنْسَلِخٍ عَنْ آيَاتِ
اللَّهِ.
Ibnu As-Sammak rahimahullah berkata, “Betapa banyak orang
yang mengingatkan manusia tentang Allah, padahal ia sendiri lupa kepada Allah.
Betapa banyak orang yang menakut-nakuti manusia dengan Allah, padahal ia
sendiri berani kepada Allah. Betapa banyak orang yang mendekatkan manusia
kepada Allah, padahal ia sendiri jauh dari Allah. Betapa banyak orang yang
mengajak kepada Allah, padahal ia sendiri lari dari Allah. Dan betapa banyak
orang yang membaca Kitab Allah, padahal ia telah terlepas dari ayat-ayat Allah.”
وَقَالَ
إِبْرَاهِيمُ بْنُ أَدْهَمَ رَحِمَهُ اللَّهُ: لَقَدْ أَعْرَبْنَا فِي كَلَامِنَا
فَلَمْ نَلْحَنْ، وَلَحَنَّا فِي أَعْمَالِنَا فَلَمْ نُعْرِبْ.
Ibrahim bin Adham rahimahullah berkata, “Sungguh kami telah
benar i‘rab dalam ucapan kami sehingga tidak salah, tetapi kami telah salah
dalam amal kami, maka kami tidak membenarkannya.”
وَقَالَ
الْأَوْزَاعِيُّ: إِذَا جَاءَ الْإِعْرَابُ ذَهَبَ الْخُشُوعُ.
Al-Auza‘i berkata, “Apabila perhatian kepada i‘rab datang,
maka kekhusyukan pergi.”
وَرَوَى
مَكْحُولٌ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ غَنْمٍ أَنَّهُ قَالَ: حَدَّثَنِي
عَشَرَةٌ مِنْ أَصْحَابِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ،
قَالُوا: كُنَّا نَدْرُسُ الْعِلْمَ فِي مَسْجِدِ قُبَاءَ، إِذْ خَرَجَ عَلَيْنَا
رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.
Makhul meriwayatkan dari ‘Abdurrahman bin Ghanm bahwa ia
berkata, “Sepuluh orang sahabat Rasulullah ﷺ menceritakan kepadaku. Mereka berkata:
‘Kami sedang mempelajari ilmu di Masjid Quba’, lalu Rasulullah ﷺ
keluar menemui kami.’”
فَقَالَ:
تَعَلَّمُوا مَا شِئْتُمْ أَنْ تَعْلَمُوا، فَلَنْ يَأْجُرَكُمُ اللَّهُ حَتَّى
تَعْمَلُوا.
Maka beliau bersabda, “Pelajarilah apa yang kalian ingin
pelajari, tetapi Allah tidak akan memberi pahala kepada kalian sampai kalian
mengamalkannya.”
وَقَالَ
عِيسَى عَلَيْهِ السَّلَامُ: مَثَلُ الَّذِي يَتَعَلَّمُ الْعِلْمَ وَلَا يَعْمَلُ
بِهِ كَمَثَلِ امْرَأَةٍ زَنَتْ فِي السِّرِّ فَحَمَلَتْ، فَظَهَرَ حَمْلُهَا
فَافْتُضِحَتْ.
Isa ‘alaihis-salam berkata, “Perumpamaan orang yang
mempelajari ilmu tetapi tidak mengamalkannya seperti seorang wanita yang
berzina secara rahasia lalu hamil. Ketika kehamilannya tampak, terbukalah
aibnya.”
فَكَذٰلِكَ
مَنْ لَا يَعْمَلُ بِعِلْمِهِ يَفْضَحُهُ اللَّهُ تَعَالَى يَوْمَ الْقِيَامَةِ
عَلَى رُءُوسِ الْأَشْهَادِ.
Demikian pula orang yang tidak mengamalkan ilmunya, Allah
Ta‘ala akan mempermalukannya pada hari kiamat di hadapan seluruh makhluk.
وَقَالَ
مُعَاذٌ رَحِمَهُ اللَّهُ: احْذَرُوا زَلَّةَ الْعَالِمِ، لِأَنَّ قَدْرَهُ عِنْدَ
الْخَلْقِ عَظِيمٌ، فَيَتْبَعُونَهُ عَلَى زَلَّتِهِ.
Mu‘adz rahimahullah berkata, “Waspadalah terhadap
ketergelinciran seorang alim, karena kedudukannya besar di mata manusia,
sehingga mereka akan mengikutinya dalam ketergelinciran itu.”
وَسَيَأْتِي
مِنْ سِيرَةِ السَّلَفِ فِي الْبَذَاذَةِ وَتَرْكِ التَّجَمُّلِ مَا يَشْهَدُ
لِذٰلِكَ فِي مَوَاضِعِهِ.
Akan datang nanti dari perjalanan hidup para salaf, dalam
kesederhanaan pakaian dan meninggalkan berhias, hal-hal yang menjadi bukti atas
perkara ini pada tempatnya.
وَالتَّحْقِيقُ
فِيهِ أَنَّ التَّزَيُّنَ بِالْمُبَاحِ لَيْسَ بِحَرَامٍ، وَلٰكِنَّ الْخَوْضَ
فِيهِ يُوجِبُ الْأُنْسَ بِهِ، حَتَّى يَشُقَّ تَرْكُهُ.
Hakikat masalah ini adalah bahwa berhias dengan perkara yang
mubah bukanlah haram. Akan tetapi, terlalu menekuninya menimbulkan rasa akrab
dan keterikatan kepadanya, sampai-sampai meninggalkannya menjadi berat.
وَاسْتِدَامَةُ
الزِّينَةِ لَا تُمْكِنُ إِلَّا بِمُبَاشَرَةِ أَسْبَابٍ فِي الْغَالِبِ يَلْزَمُ
مِنْ مُرَاعَاتِهَا ارْتِكَابُ الْمَعَاصِي، مِنَ الْمُدَاهَنَةِ وَمُرَاعَاةِ
الْخَلْقِ وَمُرَاءَاتِهِمْ، وَأُمُورٍ أُخَرَ هِيَ مَحْظُورَةٌ.
Terus-menerus menjaga penampilan seperti itu pada umumnya
tidak mungkin dilakukan kecuali dengan menempuh sebab-sebab yang jika
diperhatikan akan menyeret kepada maksiat, seperti bersikap lunak demi
kepentingan, menjaga hati manusia secara tercela, riya kepada mereka, dan
perkara-perkara lain yang terlarang.
وَالْحَزْمُ
اجْتِنَابُ ذٰلِكَ، لِأَنَّ مَنْ خَاضَ فِي الدُّنْيَا لَا يَسْلَمُ مِنْهَا
أَلْبَتَّةَ.
Sikap yang bijak adalah menjauhi hal itu, karena siapa yang
terjun ke dalam dunia, ia sama sekali tidak akan selamat darinya.
وَلَوْ
كَانَتِ السَّلَامَةُ مَبْذُولَةً مَعَ الْخَوْضِ فِيهَا، لَكَانَ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يُبَالِغُ فِي تَرْكِ الدُّنْيَا، حَتَّى نَزَعَ
الْقَمِيصَ الْمُطَرَّزَ بِالْعَلَمِ، وَنَزَعَ خَاتَمَ الذَّهَبِ فِي أَثْنَاءِ
الْخُطْبَةِ، إِلَى غَيْرِ ذٰلِكَ مِمَّا سَيَأْتِي بَيَانُهُ.
Seandainya keselamatan tetap bisa diperoleh meskipun terjun
ke dalam dunia, tentu Rasulullah ﷺ tidak akan begitu kuat meninggalkannya, sampai-sampai beliau
melepaskan baju yang dihiasi corak, dan melepaskan cincin emas di tengah
khutbah, serta hal-hal lain yang akan dijelaskan nanti.
وَقَدْ
حُكِيَ أَنَّ يَحْيَى بْنَ يَزِيدَ النَّوْفَلِيَّ كَتَبَ إِلَى مَالِكِ بْنِ
أَنَسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا: بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيمِ،
وَصَلَّى اللَّهُ عَلَى رَسُولِهِ مُحَمَّدٍ فِي الْأَوَّلِينَ وَالْآخِرِينَ،
مِنْ يَحْيَى بْنِ يَزِيدَ بْنِ عَبْدِ الْمَلِكِ إِلَى مَالِكِ بْنِ أَنَسٍ.
Dikisahkan bahwa Yahya bin Yazid An-Naufali menulis surat
kepada Malik bin Anas radhiyallahu ‘anhuma: “Dengan nama Allah Yang Maha
Pengasih lagi Maha Penyayang. Semoga Allah melimpahkan salawat kepada Rasul-Nya
Muhammad di kalangan orang-orang terdahulu dan terkemudian. Dari Yahya bin
Yazid bin ‘Abdil Malik kepada Malik bin Anas.”
أَمَّا
بَعْدُ، فَقَدْ بَلَغَنِي أَنَّكَ تَلْبَسُ الدِّقَاقَ وَتَأْكُلُ الرِّقَاقَ
وَتَجْلِسُ عَلَى الْوَطِيءِ وَتَجْعَلُ عَلَى بَابِكَ حَاجِبًا، وَقَدْ جَلَسْتَ
مَجْلِسَ الْعِلْمِ، وَقَدْ ضُرِبَتْ إِلَيْكَ الْمَطِيُّ، وَارْتَحَلَ إِلَيْكَ
النَّاسُ، وَاتَّخَذُوكَ إِمَامًا وَرَضُوا بِقَوْلِكَ، فَاتَّقِ اللَّهَ تَعَالَى
يَا مَالِكُ، وَعَلَيْكَ بِالتَّوَاضُعِ.
“Amma ba‘du, telah sampai kepadaku bahwa engkau memakai
pakaian halus, memakan makanan lembut, duduk di atas alas yang empuk, dan
menempatkan penjaga di pintu rumahmu. Padahal engkau duduk di majelis ilmu,
tunggangan telah diarahkan kepadamu, manusia datang menempuh perjalanan menuju
dirimu, menjadikanmu imam, dan ridha terhadap pendapatmu. Maka bertakwalah
kepada Allah Ta‘ala, wahai Malik, dan peganglah sikap tawaduk.”
كَتَبْتُ
إِلَيْكَ بِالنَّصِيحَةِ مِنِّي كِتَابًا مَا اطَّلَعَ عَلَيْهِ غَيْرُ اللَّهِ
سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى، وَالسَّلَامُ.
“Aku menuliskan surat ini kepadamu sebagai nasihat dariku,
sebuah surat yang tidak diketahui oleh siapa pun selain Allah Subhanahu wa
Ta‘ala. Wassalam.”
فَكَتَبَ
إِلَيْهِ مَالِكٌ: بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيمِ، وَصَلَّى اللَّهُ عَلَى
سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَآلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ، مِنْ مَالِكِ بْنِ أَنَسٍ
إِلَى يَحْيَى بْنِ يَزِيدَ، سَلَامُ اللَّهِ عَلَيْكَ.
Maka Malik menulis balasan kepadanya: “Dengan nama Allah
Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Semoga Allah melimpahkan salawat dan
salam kepada junjungan kami Muhammad, keluarga beliau, dan para sahabat beliau.
Dari Malik bin Anas kepada Yahya bin Yazid. Salam Allah atasmu.”
أَمَّا
بَعْدُ، فَقَدْ وَصَلَ إِلَيَّ كِتَابُكَ، فَوَقَعَ مِنِّي مَوْقِعَ النَّصِيحَةِ
وَالشَّفَقَةِ وَالْأَدَبِ، أَمْتَعَكَ اللَّهُ بِالتَّقْوَى وَجَزَاكَ
بِالنَّصِيحَةِ خَيْرًا، وَأَسْأَلُ اللَّهَ تَعَالَى التَّوْفِيقَ، وَلَا حَوْلَ
وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيمِ.
“Amma ba‘du, telah sampai kepadaku suratmu, dan ia telah
sampai di hatiku sebagai nasihat, kasih sayang, dan adab. Semoga Allah
memberimu manfaat dengan takwa, membalasmu dengan kebaikan atas nasihatmu, dan
aku memohon taufik kepada Allah Ta‘ala. Tidak ada daya dan tidak ada kekuatan
kecuali dengan Allah Yang Mahatinggi lagi Mahaagung.”
فَأَمَّا
مَا ذَكَرْتَ لِي أَنِّي آكُلُ الرِّقَاقَ وَأَلْبَسُ الدِّقَاقَ وَأَحْتَجِبُ
وَأَجْلِسُ عَلَى الْوَطِيءِ، فَنَحْنُ نَفْعَلُ ذٰلِكَ وَنَسْتَغْفِرُ اللَّهَ
تَعَالَى.
“Adapun apa yang engkau sebutkan tentang diriku bahwa aku
memakan makanan yang lembut, memakai pakaian halus, mempunyai penjaga, dan
duduk di atas alas yang empuk, maka memang kami melakukan itu dan kami memohon
ampun kepada Allah Ta‘ala.”
فَقَدْ
قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: {قُلْ مَنْ حَرَّمَ زِينَةَ اللَّهِ الَّتِي أَخْرَجَ
لِعِبَادِهِ وَالطَّيِّبَاتِ مِنَ الرِّزْقِ}.
“Karena Allah Ta‘ala telah berfirman: ‘Katakanlah, siapakah
yang mengharamkan perhiasan Allah yang Dia keluarkan untuk hamba-hamba-Nya dan
rezeki yang baik-baik?’”
وَإِنِّي
لَأَعْلَمُ أَنَّ تَرْكَ ذٰلِكَ خَيْرٌ مِنَ الدُّخُولِ فِيهِ.
“Dan sungguh aku mengetahui bahwa meninggalkan semua itu
lebih baik daripada terjun ke dalamnya.”
وَلَا
تَدَعْنَا مِنْ كِتَابِكَ، فَلَسْنَا نَدَعُكَ مِنْ كِتَابِنَا، وَالسَّلَامُ.
“Maka janganlah engkau berhenti menulis surat kepada kami,
karena kami pun tidak akan berhenti menulis surat kepadamu. Wassalam.”
فَانْظُرْ
إِلَى إِنْصَافِ مَالِكٍ إِذِ اعْتَرَفَ أَنَّ تَرْكَ ذٰلِكَ خَيْرٌ مِنَ
الدُّخُولِ فِيهِ، وَأَفْتَى بِأَنَّهُ مُبَاحٌ، وَقَدْ صَدَقَ فِيهِمَا جَمِيعًا.
Maka perhatikanlah keadilan Malik, karena ia mengakui bahwa
meninggalkan hal itu lebih baik daripada memasukinya, dan ia juga berfatwa
bahwa hal itu mubah. Dan ia benar dalam kedua hal itu sekaligus.
وَمِثْلُ
مَالِكٍ فِي مَنْصِبِهِ إِذَا سَمَحَتْ نَفْسُهُ بِالْإِنْصَافِ وَالِاعْتِرَافِ
فِي مِثْلِ هٰذِهِ النَّصِيحَةِ، فَتَقْوَى أَيْضًا نَفْسُهُ عَلَى الْوُقُوفِ
عَلَى حُدُودِ الْمُبَاحِ، حَتَّى لَا يَحْمِلَهُ ذٰلِكَ عَلَى الْمُرَاءَاةِ
وَالْمُدَاهَنَةِ وَالتَّجَاوُزِ إِلَى الْمَكْرُوهَاتِ.
Orang seperti Malik, dengan kedudukannya, apabila jiwanya
cukup lapang untuk berlaku adil dan mengakui kebenaran dalam nasihat seperti
ini, maka jiwanya juga menjadi kuat untuk berhenti pada batas-batas yang mubah,
sehingga hal itu tidak menyeretnya kepada riya, bermudah-mudahan, dan melampaui
batas hingga masuk kepada perkara-perkara makruh.
وَأَمَّا
غَيْرُهُ فَلَا يَقْدِرُ عَلَيْهِ.
Adapun selain Malik, maka kebanyakan tidak mampu melakukan
itu.
فَالتَّعْرِيجُ
عَلَى التَّنَعُّمِ بِالْمُبَاحِ خَطَرٌ عَظِيمٌ، وَهُوَ بَعِيدٌ مِنَ الْخَوْفِ
وَالْخَشْيَةِ، وَخَاصِّيَّةُ عُلَمَاءِ اللَّهِ تَعَالَى الْخَشْيَةُ،
وَخَاصِّيَّةُ الْخَشْيَةِ التَّبَاعُدُ مِنْ مَظَانِّ الْخَطَرِ.
Karena itu, mencondongkan diri kepada kenikmatan yang mubah
tetaplah merupakan bahaya besar. Hal itu jauh dari rasa takut dan خشية,
padahal ciri khas ulama Allah Ta‘ala adalah khusyuk karena takut kepada-Nya,
dan ciri khas rasa takut itu adalah menjauh dari tempat-tempat yang rawan
bahaya.
وَمِنْهَا
أَنْ يَكُونَ مُسْتَقْصِيًا عَنِ السَّلَاطِينِ، فَلَا يَدْخُلُ عَلَيْهِمْ
أَلْبَتَّةَ مَا دَامَ يَجِدُ إِلَى الْفِرَارِ عَنْهُمْ سَبِيلًا.
Dan di antara tanda-tandanya ialah ia sangat menjaga diri
dari para penguasa, sehingga sama sekali tidak masuk kepada mereka selama ia
masih menemukan jalan untuk menjauh dari mereka.
بَلْ
يَنْبَغِي أَنْ يَحْتَرِزَ عَنْ مُخَالَطَتِهِمْ وَإِنْ جَاءُوا إِلَيْهِ.
Bahkan ia seharusnya berhati-hati dari bergaul dengan
mereka, meskipun mereka sendiri yang datang kepadanya.
فَإِنَّ
الدُّنْيَا حُلْوَةٌ خَضِرَةٌ، وَزِمَامُهَا بِأَيْدِي السَّلَاطِينِ.
Sebab dunia itu manis dan menghijau, sedangkan kendalinya
ada di tangan para penguasa.
وَالْمُخَالِطُ
لَا يَخْلُو عَنْ تَكَلُّفٍ فِي طِيبِ مَرْضَاتِهِمْ وَاسْتِمَالَةِ قُلُوبِهِمْ،
مَعَ أَنَّهُمْ ظَلَمَةٌ.
Orang yang bergaul dengan mereka hampir tidak mungkin bebas
dari upaya memaksakan diri untuk menyenangkan mereka dan menarik hati mereka,
padahal mereka adalah orang-orang zalim.
وَيَجِبُ
عَلَى كُلِّ مُتَدَيِّنٍ الْإِنْكَارُ عَلَيْهِمْ، وَتَضْيِيقُ صُدُورِهِمْ
بِإِظْهَارِ ظُلْمِهِمْ وَتَقْبِيحِ فِعْلِهِمْ.
Padahal setiap orang yang beragama wajib mengingkari mereka,
membuat dada mereka sempit dengan menampakkan kezaliman mereka dan menjelekkan
perbuatan mereka.
فَالدَّاخِلُ
عَلَيْهِمْ إِمَّا أَنْ يَلْتَفِتَ إِلَى تَجَمُّلِهِمْ فَيَزْدَرِيَ نِعْمَةَ
اللَّهِ عَلَيْهِ.
Orang yang masuk menemui mereka, kemungkinan pertama, akan
terpesona kepada kemewahan mereka lalu meremehkan nikmat Allah atas dirinya
sendiri.
أَوْ
يَسْكُتَ عَنِ الْإِنْكَارِ عَلَيْهِمْ فَيَكُونَ مُدَاهِنًا لَهُمْ.
Atau ia diam dari mengingkari mereka, maka ia menjadi orang
yang bermudah-mudahan kepada mereka.
أَوْ
يَتَكَلَّفَ فِي كَلَامِهِ كَلَامًا لِمَرْضَاتِهِمْ وَتَحْسِينِ حَالِهِمْ،
وَذٰلِكَ هُوَ الْبُهْتُ الصَّرِيحُ.
Atau ia memaksakan diri dalam pembicaraannya untuk
mengucapkan hal-hal yang menyenangkan mereka dan memperindah keadaan mereka,
dan itu adalah dusta yang terang-terangan.
أَوْ
أَنْ يَطْمَعَ فِي أَنْ يَنَالَ مِنْ دُنْيَاهُمْ، وَذٰلِكَ هُوَ السُّحْتُ.
Atau ia tamak ingin mendapatkan bagian dari dunia mereka,
dan itu adalah harta haram.
وَسَيَأْتِي
فِي كِتَابِ الْحَلَالِ وَالْحَرَامِ مَا يَجُوزُ أَنْ يُؤْخَذَ مِنْ أَمْوَالِ
السَّلَاطِينِ وَمَا لَا يَجُوزُ مِنَ الْإِدْرَارِ وَالْجَوَائِزِ وَغَيْرِهَا.
Nanti akan dijelaskan dalam Kitab Halal dan Haram apa yang
boleh diambil dari harta para penguasa dan apa yang tidak boleh, baik berupa
gaji, hadiah, maupun selainnya.
وَعَلَى
الْجُمْلَةِ، فَمُخَالَطَتُهُمْ مِفْتَاحٌ لِلشُّرُورِ، وَعُلَمَاءُ الْآخِرَةِ
طَرِيقُهُمُ الِاحْتِيَاطُ.
Secara umum, bergaul dengan mereka adalah kunci berbagai
keburukan, sedangkan jalan ulama akhirat adalah kehati-hatian.
وَقَالَ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَنْ بَدَا جَفَا، يَعْنِي مَنْ سَكَنَ
الْبَادِيَةَ جَفَا، وَمَنِ اتَّبَعَ الصَّيْدَ غَفَلَ، وَمَنْ أَتَى السُّلْطَانَ
افْتُتِنَ.
Nabi ﷺ
bersabda, “Barang siapa tinggal di pedalaman, ia akan menjadi keras tabiat;
barang siapa mengikuti perburuan, ia akan lalai; dan barang siapa mendatangi
penguasa, ia akan terkena fitnah.”
وَقَالَ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: سَيَكُونُ عَلَيْكُمْ أُمَرَاءُ، تَعْرِفُونَ
مِنْهُمْ وَتُنْكِرُونَ، فَمَنْ أَنْكَرَ فَقَدْ بَرِئَ، وَمَنْ كَرِهَ فَقَدْ
سَلِمَ، وَلٰكِنْ مَنْ رَضِيَ وَتَابَعَ أَبْعَدَهُ اللَّهُ تَعَالَى.
Dan Nabi ﷺ
bersabda, “Akan ada di atas kalian para penguasa. Kalian akan melihat pada
mereka hal-hal yang kalian kenal dan hal-hal yang kalian ingkari. Maka siapa
yang mengingkari, ia telah bebas. Siapa yang membenci, ia telah selamat. Akan
tetapi siapa yang ridha dan mengikuti, semoga Allah menjauhkannya.”
قِيلَ:
أَفَلَا نُقَاتِلُهُمْ؟
Lalu ditanyakan, “Tidakkah kita memerangi mereka?”
قَالَ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لَا، مَا صَلَّوْا.
Beliau ﷺ
menjawab, “Tidak, selama mereka masih menegakkan salat.”
وَقَالَ
سُفْيَانُ: فِي جَهَنَّمَ وَادٍ لَا يَسْكُنُهُ إِلَّا الْقُرَّاءُ الزَّائِرُونَ
لِلْمُلُوكِ.
Sufyan berkata, “Di Jahannam ada suatu lembah yang tidak
ditempati kecuali oleh para pembaca Al-Qur’an yang berkunjung kepada para
raja.”
وَقَالَ
حُذَيْفَةُ: إِيَّاكَ وَمَوَاقِفَ الْفِتَنِ.
Hudzaifah berkata, “Jauhilah tempat-tempat fitnah.”
قِيلَ:
وَمَا هِيَ؟
Ditanyakan, “Apakah itu?”
قَالَ:
أَبْوَابُ الْأُمَرَاءِ، يَدْخُلُ أَحَدُكُمْ عَلَى الْأَمِيرِ فَيُصَدِّقُهُ
بِالْكَذِبِ، وَيَقُولُ فِيهِ مَا لَيْسَ فِيهِ.
Ia menjawab, “Pintu-pintu para penguasa. Seseorang dari
kalian masuk menemui penguasa lalu membenarkannya dalam kebohongan, dan
mengatakan tentang dirinya sesuatu yang sebenarnya tidak ada padanya.”
وَقَالَ
رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: الْعُلَمَاءُ أُمَنَاءُ
الرُّسُلِ عَلَى عِبَادِ اللَّهِ تَعَالَى مَا لَمْ يُخَالِطُوا السَّلَاطِينِ،
فَإِذَا فَعَلُوا ذٰلِكَ فَقَدْ خَانُوا الرُّسُلَ، فَاحْذَرُوهُمْ
وَاعْتَزِلُوهُمْ.
Rasulullah ﷺ
bersabda, “Para ulama adalah para penjaga amanah para rasul atas hamba-hamba
Allah Ta‘ala selama mereka tidak bercampur dengan para penguasa. Jika mereka
melakukan itu, maka sungguh mereka telah mengkhianati para rasul. Maka
waspadalah terhadap mereka dan jauhilah mereka.”
رَوَاهُ
أَنَسٌ.
Hadis ini diriwayatkan oleh Anas.
وَقِيلَ
لِلْأَعْمَشِ: وَلَقَدْ أَحْيَيْتَ الْعِلْمَ لِكَثْرَةِ مَنْ يَأْخُذُهُ عَنْكَ.
Dikatakan kepada Al-A‘masy, “Sungguh engkau telah
menghidupkan ilmu karena banyaknya orang yang mengambil ilmu darimu.”
فَقَالَ:
لَا تَعْجَلُوا، ثُلُثٌ يَمُوتُونَ قَبْلَ الْإِدْرَاكِ، وَثُلُثٌ يَلْزَمُونَ
أَبْوَابَ السَّلَاطِينِ فَهُمْ شَرُّ الْخَلْقِ، وَالثُّلُثُ الْبَاقِي لَا
يُفْلِحُ مِنْهُ إِلَّا الْقَلِيلُ.
Maka Al-A‘masy menjawab, “Jangan tergesa-gesa. Sepertiga
dari mereka akan meninggal sebelum memahami, sepertiga lagi akan menetap di
pintu-pintu para penguasa dan mereka adalah makhluk terburuk, sedangkan
sepertiga sisanya pun yang beruntung hanya sedikit.”
وَلِذٰلِكَ
قَالَ سَعِيدُ بْنُ الْمُسَيِّبِ رَحِمَهُ اللَّهُ: إِذَا رَأَيْتُمُ الْعَالِمَ
يَغْشَى الْأُمَرَاءَ فَاحْتَرِزُوا مِنْهُ، فَإِنَّهُ لِصٌّ.
Karena itu Sa‘id bin Al-Musayyib rahimahullah berkata,
“Apabila kalian melihat seorang alim mendatangi para penguasa, maka
berhati-hatilah terhadapnya, karena ia adalah pencuri.”
وَقَالَ
الْأَوْزَاعِيُّ: مَا مِنْ شَيْءٍ أَبْغَضُ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى مِنْ عَالِمٍ
يَزُورُ عَامِلًا.
Al-Auza‘i berkata, “Tidak ada sesuatu yang lebih dibenci
Allah Ta‘ala daripada seorang alim yang mengunjungi pejabat.”
وَقَالَ
رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: شِرَارُ الْعُلَمَاءِ
الَّذِينَ يَأْتُونَ الْأُمَرَاءَ، وَخِيَارُ الْأُمَرَاءِ الَّذِينَ يَأْتُونَ
الْعُلَمَاءَ.
Rasulullah ﷺ
bersabda, “Seburuk-buruk ulama adalah mereka yang mendatangi para penguasa, dan
sebaik-baik penguasa adalah mereka yang mendatangi para ulama.”
وَقَالَ
مَكْحُولٌ الدِّمَشْقِيُّ رَحِمَهُ اللَّهُ: مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ
وَتَفَقَّهَ فِي الدِّينِ، ثُمَّ صَحِبَ السُّلْطَانَ تَمَلُّقًا إِلَيْهِ
وَطَمَعًا فِيمَا لَدَيْهِ، خَاضَ فِي بَحْرٍ مِنْ نَارِ جَهَنَّمَ بِعَدَدِ
خُطَاهُ.
Makhul Ad-Dimasyqi rahimahullah berkata, “Barang siapa
mempelajari Al-Qur’an dan memahami agama, kemudian menyertai penguasa demi
menjilatnya dan tamak terhadap apa yang ada padanya, maka ia telah menyelam ke
dalam lautan api Jahannam sebanyak langkah-langkahnya.”
وَقَالَ
سَمْنُونُ: مَا أَسْمَجَ بِالْعَالِمِ أَنْ يُؤْتَى إِلَى مَجْلِسِهِ فَلَا
يُوجَدَ، فَيُسْأَلَ عَنْهُ فَيُقَالَ: هُوَ عِنْدَ الْأَمِيرِ.
Samnun berkata, “Betapa buruknya seorang alim jika orang
datang ke majelisnya lalu tidak menemukannya, kemudian ditanya keberadaannya
lalu dijawab, ‘Ia sedang berada di sisi penguasa.’”
قَالَ:
وَكُنْتُ أَسْمَعُ أَنَّهُ يُقَالُ: إِذَا رَأَيْتُمُ الْعَالِمَ يُحِبُّ
الدُّنْيَا فَاتَّهِمُوهُ عَلَى دِينِكُمْ.
Ia berkata, “Aku dahulu sering mendengar ungkapan, ‘Apabila
kalian melihat seorang alim mencintai dunia, maka curigailah dia atas agama
kalian.’”
حَتَّى
جَرَّبْتُ ذٰلِكَ، إِذْ مَا دَخَلْتُ قَطُّ عَلَى هٰذَا السُّلْطَانِ إِلَّا
وَحَاسَبْتُ نَفْسِي بَعْدَ الْخُرُوجِ، فَأَرَى عَلَيْهَا الدَّرَكَ، وَأَنْتُمْ
تَرَوْنَ مَا أَلْقَاهُ بِهِ مِنَ الْغِلْظَةِ وَالْفَظَاظَةِ وَكَثْرَةِ
الْمُخَالَفَةِ لِهَوَاهُ.
Sampai aku sendiri mengalaminya. Setiap kali aku masuk
menemui penguasa ini, setelah keluar aku selalu menghisab diriku, dan aku
melihat diriku telah jatuh dalam kekurangan, padahal kalian melihat bagaimana
aku menemuinya dengan sikap keras, kasar, dan banyak menyelisihi hawa nafsunya.
وَلَوَدِدْتُ
أَنْ أَنْجُوَ مِنَ الدُّخُولِ عَلَيْهِ كَفَافًا، مَعَ أَنِّي لَا آخُذُ مِنْهُ
شَيْئًا، وَلَا أَشْرَبُ لَهُ شَرْبَةَ مَاءٍ.
Dan sungguh aku berharap dapat selamat dari masuk menemuinya
sekadar tanpa rugi dan tanpa untung, meskipun aku tidak mengambil apa pun
darinya dan tidak meminum seteguk air pun miliknya.
ثُمَّ
قَالَ: وَعُلَمَاءُ زَمَانِنَا شَرٌّ مِنْ عُلَمَاءِ بَنِي إِسْرَائِيلَ،
يُخْبِرُونَ السُّلْطَانَ بِالرُّخَصِ وَبِمَا يُوَافِقُ هَوَاهُ.
Kemudian ia berkata, “Ulama zaman kita lebih buruk daripada
ulama Bani Israil. Mereka memberitahu penguasa tentang rukhsah-rukhsah dan
tentang hal-hal yang sesuai dengan hawa nafsunya.”
وَلَوْ
أَخْبَرُوهُ بِالَّذِي عَلَيْهِ وَفِيهِ نَجَاتُهُ، لَاسْتَثْقَلَهُمْ وَكَرِهَ
دُخُولَهُمْ عَلَيْهِ، وَكَانَ ذٰلِكَ نَجَاةً لَهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ.
Seandainya mereka memberitahunya tentang kewajibannya dan
apa yang menjadi keselamatannya, niscaya penguasa itu akan merasa berat
terhadap mereka dan membenci kedatangan mereka. Dan justru itulah yang menjadi
keselamatan bagi mereka di sisi Tuhan mereka.
وَقَالَ
الْحَسَنُ: كَانَ فِيمَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ رَجُلٌ لَهُ قَدَمٌ فِي الْإِسْلَامِ
وَصُحْبَةٌ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.
Al-Hasan berkata, “Dahulu pada umat sebelum kalian ada
seorang laki-laki yang memiliki kedudukan dalam Islam dan pernah bersahabat
dengan Rasulullah ﷺ.”
قَالَ
عَبْدُ اللَّهِ بْنُ الْمُبَارَكِ: عَنَى بِهِ سَعْدَ بْنَ أَبِي وَقَّاصٍ رَضِيَ
اللَّهُ عَنْهُ.
‘Abdullah bin Al-Mubarak berkata, “Yang dimaksud dengannya
adalah Sa‘d bin Abi Waqqash radhiyallahu ‘anhu.”
قَالَ:
وَكَانَ لَا يَغْشَى السَّلَاطِينَ وَيَنْفِرُ عَنْهُمْ.
Al-Hasan melanjutkan, “Ia tidak mendatangi para penguasa dan
menjauh dari mereka.”
فَقَالَ
لَهُ بَنُوهُ: يَأْتِي هٰؤُلَاءِ مَنْ لَيْسَ هُوَ مِثْلَكَ فِي الصُّحْبَةِ
وَالْقَدَمِ فِي الْإِسْلَامِ، فَلَوْ أَتَيْتَهُمْ.
Lalu anak-anaknya berkata kepadanya, “Orang-orang yang tidak
seperti engkau dalam persahabatan dengan Nabi dan dalam kedudukan di Islam
tetap mendatangi mereka. Seandainya engkau juga mendatangi mereka.”
فَقَالَ:
يَا بَنِيَّ، آتِي جِيفَةً قَدْ أَحَاطَ بِهَا قَوْمٌ؟ وَاللَّهِ لَئِنِ
اسْتَطَعْتُ لَا أُشَارِكُهُمْ فِيهَا.
Maka ia menjawab, “Wahai anak-anakku, apakah aku harus
mendatangi bangkai yang telah dikerumuni oleh banyak orang? Demi Allah, jika
aku mampu, aku tidak akan ikut serta bersama mereka padanya.”
قَالُوا:
يَا أَبَانَا، إِذًا نَهْلِكُ هُزَالًا.
Mereka berkata, “Wahai ayah kami, kalau begitu kita akan
binasa karena kurus dan miskin.”
قَالَ:
يَا بَنِيَّ، لَأَنْ أَمُوتَ مُؤْمِنًا مَهْزُولًا أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ أَنْ
أَمُوتَ مُنَافِقًا سَمِينًا.
Ia menjawab, “Wahai anak-anakku, lebih aku sukai mati
sebagai seorang mukmin yang kurus daripada mati sebagai orang munafik yang
gemuk.”
قَالَ
الْحَسَنُ: خَصَمَهُمْ وَاللَّهِ، إِذْ عَلِمَ أَنَّ التُّرَابَ يَأْكُلُ
اللَّحْمَ وَالسَّمْنَ دُونَ الْإِيمَانِ.
Al-Hasan berkata, “Demi Allah, ia telah mengalahkan hujah
mereka, karena ia tahu bahwa tanah memakan daging dan lemak, tetapi tidak
memakan iman.”
وَفِي
هٰذَا إِشَارَةٌ إِلَى أَنَّ الدَّاخِلَ عَلَى السُّلْطَانِ لَا يَسْلَمُ مِنَ
النِّفَاقِ أَلْبَتَّةَ، وَهُوَ مُضَادٌّ لِلْإِيمَانِ.
Dalam kisah ini ada isyarat bahwa orang yang masuk menemui
penguasa hampir tidak mungkin selamat dari kemunafikan, padahal kemunafikan
bertentangan dengan iman.
وَقَالَ
أَبُو ذَرٍّ لِسَلَمَةَ: يَا سَلَمَةُ، لَا تَغْشَ أَبْوَابَ السَّلَاطِينِ،
فَإِنَّكَ لَا تُصِيبُ شَيْئًا مِنْ دُنْيَاهُمْ إِلَّا أَصَابُوا مِنْ دِينِكَ
أَفْضَلَ مِنْهُ.
Abu Dzar berkata kepada Salamah, “Wahai Salamah, janganlah
engkau mendatangi pintu-pintu para penguasa, karena tidaklah engkau mendapatkan
sesuatu dari dunia mereka kecuali mereka akan mengambil dari agamamu sesuatu
yang lebih berharga daripada itu.”
وَهٰذِهِ
فِتْنَةٌ عَظِيمَةٌ لِلْعُلَمَاءِ، وَذَرِيعَةٌ صَعْبَةٌ لِلشَّيْطَانِ عَلَيْهِمْ.
Ini adalah fitnah besar bagi para ulama, dan merupakan
sarana yang sangat berbahaya bagi setan untuk menjerumuskan mereka.
لَا
سِيَّمَا مَنْ لَهُ لَهْجَةٌ مَقْبُولَةٌ وَكَلَامٌ حُلْوٌ، إِذْ لَا يَزَالُ
الشَّيْطَانُ يُلْقِي إِلَيْهِ أَنَّ فِي وَعْظِكَ لَهُمْ وَدُخُولِكَ عَلَيْهِمْ
مَا يَزْجُرُهُمْ عَنِ الظُّلْمِ وَيُقِيمُ شَعَائِرَ الشَّرْعِ، حَتَّى يُخَيَّلَ
إِلَيْهِ أَنَّ الدُّخُولَ عَلَيْهِمْ مِنَ الدِّينِ.
Terlebih lagi bagi orang yang memiliki ucapan yang enak
didengar dan kata-kata manis. Setan terus-menerus membisikkan kepadanya bahwa
dalam nasihatmu kepada mereka dan masukmu kepada mereka ada manfaat untuk
mencegah mereka dari kezaliman dan menegakkan syiar-syiar syariat, hingga
akhirnya ia membayangkan bahwa mendatangi mereka adalah bagian dari agama.
ثُمَّ
إِذَا دَخَلَ لَمْ يَلْبَثْ أَنْ يَتَلَطَّفَ فِي الْكَلَامِ وَيُدَاهِنَ
وَيَخُوضَ فِي الثَّنَاءِ وَالْإِطْرَاءِ، وَفِيهِ هَلَاكُ الدِّينِ.
Namun ketika ia benar-benar masuk menemui mereka, ia tidak
lama kemudian akan melembutkan ucapannya, bersikap lunak, dan tenggelam dalam
pujian serta sanjungan. Di situlah kehancuran agama.
وَكَانَ
يُقَالُ: الْعُلَمَاءُ إِذَا عَلِمُوا عَمِلُوا، فَإِذَا عَمِلُوا شُغِلُوا،
فَإِذَا شُغِلُوا فُقِدُوا، فَإِذَا فُقِدُوا طُلِبُوا، فَإِذَا طُلِبُوا هَرَبُوا.
Dahulu dikatakan, “Para ulama apabila mengetahui, mereka
mengamalkan. Jika mereka mengamalkan, mereka akan sibuk. Jika mereka sibuk,
mereka akan hilang dari perhatian manusia. Jika mereka hilang, mereka akan
dicari. Dan jika mereka dicari, mereka akan lari.”
وَكَتَبَ
عُمَرُ بْنُ عَبْدِ الْعَزِيزِ رَحِمَهُ اللَّهُ إِلَى الْحَسَنِ: أَمَّا بَعْدُ،
فَأَشِرْ عَلَيَّ بِأَقْوَامٍ أَسْتَعِينُ بِهِمْ عَلَى أَمْرِ اللَّهِ تَعَالَى.
‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz rahimahullah menulis kepada Al-Hasan,
“Amma ba‘du, tunjukkanlah kepadaku orang-orang yang dapat aku minta bantuannya
dalam menjalankan urusan Allah Ta‘ala.”
فَكَتَبَ
إِلَيْهِ: أَمَّا أَهْلُ الدِّينِ فَلَا يُرِيدُونَكَ، وَأَمَّا أَهْلُ الدُّنْيَا
فَلَنْ تُرِيدَهُمْ، وَلٰكِنْ عَلَيْكَ بِالْأَشْرَافِ، فَإِنَّهُمْ يَصُونُونَ
شَرَفَهُمْ أَنْ يُدَنِّسُوهُ بِالْخِيَانَةِ.
Maka Al-Hasan menulis kepadanya, “Adapun ahli agama, mereka
tidak menginginkan dirimu. Dan adapun ahli dunia, engkau pun tidak akan
menginginkan mereka. Akan tetapi, hendaklah engkau memilih orang-orang
terhormat, karena mereka menjaga kehormatan diri mereka dari ternodai oleh
pengkhianatan.”
هٰذَا
فِي عُمَرَ بْنِ عَبْدِ الْعَزِيزِ رَحِمَهُ اللَّهُ، وَكَانَ أَزْهَدَ أَهْلِ
زَمَانِهِ.
Ini dikatakan tentang ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz rahimahullah,
padahal ia adalah orang yang paling zuhud pada zamannya.
فَإِذَا
كَانَ شَرْطُ أَهْلِ الدِّينِ الْهَرَبَ مِنْهُ، فَكَيْفَ يُسْتَحْسَنُ طَلَبُ
غَيْرِهِ وَمُخَالَطَتُهُ؟
Jika terhadap dirinya saja sikap ahli agama adalah lari
darinya, maka bagaimana mungkin dianggap baik mencari selainnya dan bergaul
dengannya?
وَلَمْ
يَزَلِ السَّلَفُ الْعُلَمَاءُ مِثْلُ الْحَسَنِ وَالثَّوْرِيِّ وَابْنِ
الْمُبَارَكِ وَالْفُضَيْلِ وَإِبْرَاهِيمَ بْنِ أَدْهَمَ وَيُوسُفَ بْنِ
أَسْبَاطٍ يَتَكَلَّمُونَ فِي عُلَمَاءِ الدُّنْيَا مِنْ أَهْلِ مَكَّةَ
وَالشَّامِ وَغَيْرِهِمْ، إِمَّا لِمَيْلِهِمْ إِلَى الدُّنْيَا، وَإِمَّا
لِمُخَالَطَتِهِمُ السَّلَاطِينَ.
Para ulama salaf seperti Al-Hasan, Ats-Tsauri,
Ibnul-Mubarak, Al-Fudhail, Ibrahim bin Adham, dan Yusuf bin Asbath senantiasa
berbicara tentang ulama dunia dari penduduk Makkah, Syam, dan selainnya, baik
karena kecenderungan mereka kepada dunia maupun karena pergaulan mereka dengan
para penguasa.
وَمِنْهَا
أَنْ لَا يَكُونَ مُسَارِعًا إِلَى الْفُتْيَا، بَلْ يَكُونَ مُتَوَقِّفًا
وَمُحْتَرِزًا مَا وَجَدَ إِلَى الْخَلَاصِ سَبِيلًا.
Dan di antara tandanya lagi ialah bahwa seorang alim tidak
tergesa-gesa dalam berfatwa, tetapi bersikap menahan diri dan berhati-hati
selama ia masih menemukan jalan untuk selamat.
فَإِنْ
سُئِلَ عَمَّا يَعْلَمُهُ تَحْقِيقًا بِنَصِّ كِتَابِ اللَّهِ تَعَالَى أَوْ
بِنَصِّ حَدِيثٍ أَوْ إِجْمَاعٍ أَوْ قِيَاسٍ جَلِيٍّ أَفْتَى.
Jika ia ditanya tentang sesuatu yang benar-benar
diketahuinya secara pasti berdasarkan nash Kitab Allah Ta‘ala, nash hadis,
ijmak, atau qiyas yang jelas, maka ia berfatwa.
وَإِنْ
سُئِلَ عَمَّا يَشُكُّ فِيهِ قَالَ: لَا أَدْرِي.
Dan jika ia ditanya tentang sesuatu yang ia ragukan, maka ia
berkata, “Aku tidak tahu.”
وَإِنْ
سُئِلَ عَمَّا يَظُنُّهُ بِاجْتِهَادٍ وَتَخْمِينٍ احْتَاطَ وَدَفَعَ عَنْ
نَفْسِهِ وَأَحَالَ عَلَى غَيْرِهِ إِنْ كَانَ فِي غَيْرِهِ غُنْيَةٌ.
Jika ia ditanya tentang sesuatu yang hanya ia duga melalui
ijtihad dan perkiraan, maka ia berhati-hati, menolak dari dirinya, dan
merujukkan kepada orang lain jika ada orang lain yang cukup untuk menjawabnya.
هٰذَا
هُوَ الْحَزْمُ، لِأَنَّ تَقَلُّدَ خَطَرِ الِاجْتِهَادِ عَظِيمٌ.
Inilah sikap hati-hati yang benar, karena memikul bahaya
ijtihad itu sangat besar.
وَفِي
الْخَبَرِ: الْعِلْمُ ثَلَاثَةٌ: كِتَابٌ نَاطِقٌ، وَسُنَّةٌ قَائِمَةٌ، وَلَا
أَدْرِي.
Dalam sebuah riwayat disebutkan, “Ilmu itu ada tiga: kitab
yang berbicara, sunnah yang tegak, dan ‘aku tidak tahu’.”
قَالَ
الشَّعْبِيُّ: لَا أَدْرِي نِصْفُ الْعِلْمِ.
Asy-Sya‘bi berkata, “‘Aku tidak tahu’ adalah setengah dari
ilmu.”
وَمَنْ
سَكَتَ حَيْثُ لَا يَدْرِي لِلَّهِ تَعَالَى فَلَيْسَ بِأَقَلَّ أَجْرًا مِمَّنْ
نَطَقَ، لِأَنَّ الِاعْتِرَافَ بِالْجَهْلِ أَشَدُّ عَلَى النَّفْسِ.
Orang yang diam karena Allah Ta‘ala ketika ia tidak tahu,
tidak lebih sedikit pahalanya daripada orang yang berbicara, karena mengakui
kebodohan lebih berat bagi jiwa.
فَهٰكَذَا
كَانَتْ عَادَةُ الصَّحَابَةِ وَالسَّلَفِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ.
Demikianlah kebiasaan para sahabat dan salaf radhiyallahu
‘anhum.
كَانَ
ابْنُ عُمَرَ إِذَا سُئِلَ عَنِ الْفُتْيَا قَالَ: اذْهَبْ إِلَى هٰذَا الْأَمِيرِ
الَّذِي تَقَلَّدَ أُمُورَ النَّاسِ، فَضَعَهَا فِي عُنُقِهِ.
Ibnu ‘Umar jika ditanya tentang fatwa, ia berkata, “Pergilah
kepada amir ini yang telah memikul urusan manusia, lalu letakkan urusan itu di
lehernya.”
وَقَالَ
ابْنُ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: إِنَّ الَّذِي يُفْتِي النَّاسَ فِي كُلِّ
مَا يَسْتَفْتُونَهُ لَمَجْنُونٌ.
Ibnu Mas‘ud radhiyallahu ‘anhu berkata, “Sesungguhnya orang
yang selalu memberi fatwa kepada manusia dalam setiap hal yang mereka tanyakan
adalah orang gila.”
وَقَالَ:
جُنَّةُ الْعَالِمِ لَا أَدْرِي، فَإِنْ أَخْطَأَهَا فَقَدْ أُصِيبَتْ مَقَاتِلُهُ.
Dan ia berkata, “Perisai seorang alim adalah ‘aku tidak
tahu’. Jika ia kehilangan perisai itu, maka titik-titik kematiannya telah
terkena.”
وَقَالَ
إِبْرَاهِيمُ بْنُ أَدْهَمَ رَحِمَهُ اللَّهُ: لَيْسَ شَيْءٌ أَشَدَّ عَلَى
الشَّيْطَانِ مِنْ عَالِمٍ يَتَكَلَّمُ بِعِلْمٍ وَيَسْكُتُ بِعِلْمٍ، يَقُولُ:
انْظُرُوا إِلَى هٰذَا، سُكُوتُهُ أَشَدُّ عَلَيَّ مِنْ كَلَامِهِ.
Ibrahim bin Adham rahimahullah berkata, “Tidak ada sesuatu
yang lebih berat bagi setan daripada seorang alim yang berbicara dengan ilmu
dan diam dengan ilmu. Setan berkata: ‘Lihatlah orang ini, diamnya lebih berat
bagiku daripada bicaranya.’”
وَوَصَفَ
بَعْضُهُمُ الْأَبْدَالَ فَقَالَ: أَكْلُهُمْ فَاقَةٌ، وَنَوْمُهُمْ غَلَبَةٌ،
وَكَلَامُهُمْ ضَرُورَةٌ.
Sebagian mereka menggambarkan para abdal dengan berkata,
“Makan mereka karena kebutuhan, tidur mereka karena dikuasai rasa kantuk, dan
bicara mereka hanya karena darurat.”
أَيْ
لَا يَتَكَلَّمُونَ حَتَّى يُسْأَلُوا، فَإِذَا سُئِلُوا وَوَجَدُوا مَنْ
يَكْفِيهِمْ سَكَتُوا، فَإِنِ اضْطُرُّوا أَجَابُوا.
Artinya, mereka tidak berbicara sampai ditanya. Jika mereka
ditanya dan mendapati ada orang lain yang cukup untuk menjawab, mereka diam.
Dan jika mereka terpaksa, barulah mereka menjawab.
وَكَانُوا
يَعُدُّونَ الِابْتِدَاءَ قَبْلَ السُّؤَالِ مِنَ الشَّهْوَةِ الْخَفِيَّةِ
لِلْكَلَامِ.
Mereka memandang memulai bicara sebelum ditanya sebagai
bagian dari syahwat tersembunyi untuk berbicara.
وَمَرَّ
عَلِيٌّ وَعَبْدُ اللَّهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا بِرَجُلٍ يَتَكَلَّمُ عَلَى
النَّاسِ، فَقَالَا: هٰذَا يَقُولُ اعْرِفُونِي.
Ali dan ‘Abdullah radhiyallahu ‘anhuma pernah melewati
seorang laki-laki yang sedang berbicara di hadapan manusia, lalu keduanya
berkata, “Orang ini sebenarnya sedang berkata: ‘Kenalilah aku.’”
وَقَالَ
بَعْضُهُمْ: إِنَّمَا الْعَالِمُ الَّذِي إِذَا سُئِلَ عَنِ الْمَسْأَلَةِ
فَكَأَنَّمَا يُقْلَعُ ضِرْسُهُ.
Sebagian mereka berkata, “Seorang alim sejati adalah orang
yang jika ditanya tentang suatu masalah, seolah-olah giginya sedang dicabut.”
وَكَانَ
ابْنُ عُمَرَ يَقُولُ: تُرِيدُونَ أَنْ تَجْعَلُونَا جِسْرًا تَعْبُرُونَ
عَلَيْنَا إِلَى جَهَنَّمَ.
Dan Ibnu ‘Umar berkata, “Kalian ingin menjadikan kami
jembatan yang kalian lewati menuju Jahannam.”
وَقَالَ
أَبُو حَفْصٍ النَّيْسَابُورِيُّ: الْعَالِمُ هُوَ الَّذِي يَخَافُ عِنْدَ
السُّؤَالِ أَنْ يُقَالَ لَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ: مِنْ أَيْنَ أَجَبْتَ؟
Abu Hafsh An-Naisaburi berkata, “Orang alim adalah orang
yang takut ketika ditanya, jangan-jangan pada hari kiamat dikatakan kepadanya:
‘Dari mana engkau menjawab?’”
وَكَانَ
إِبْرَاهِيمُ التَّيْمِيُّ إِذَا سُئِلَ عَنْ مَسْأَلَةٍ يَبْكِي وَيَقُولُ: لَمْ
تَجِدُوا غَيْرِي حَتَّى احْتَجْتُمْ إِلَيَّ؟
Ibrahim At-Taimi apabila ditanya tentang suatu masalah, ia
menangis dan berkata, “Apakah kalian tidak menemukan selain aku sampai kalian
membutuhkan diriku?”
وَكَانَ
أَبُو الْعَالِيَةِ الرِّيَاحِيُّ وَإِبْرَاهِيمُ بْنُ أَدْهَمَ وَالثَّوْرِيُّ
يَتَكَلَّمُونَ عَلَى الِاثْنَيْنِ وَالثَّلَاثَةِ وَالنَّفَرِ الْيَسِيرِ،
فَإِذَا كَثُرُوا انْصَرَفُوا.
Abu Al-‘Aliyah Ar-Riyahi, Ibrahim bin Adham, dan Ats-Tsauri
biasa berbicara hanya di hadapan dua orang, tiga orang, atau sejumlah kecil
orang. Jika yang hadir banyak, mereka pun berhenti dan pergi.
وَقَالَ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَا أَدْرِي أَعُزَيْرٌ نَبِيٌّ أَمْ لَا،
وَمَا أَدْرِي أَتُبَّعٌ مَلْعُونٌ أَمْ لَا، وَمَا أَدْرِي ذُو الْقَرْنَيْنِ
نَبِيٌّ أَمْ لَا.
Nabi ﷺ
bersabda, “Aku tidak tahu apakah ‘Uzair seorang nabi atau bukan, aku tidak tahu
apakah Tubba‘ itu dilaknat atau bukan, dan aku tidak tahu apakah Dzul-Qarnain
seorang nabi atau bukan.”
وَلَمَّا
سُئِلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ خَيْرِ الْبِقَاعِ
فِي الْأَرْضِ وَشَرِّهَا، قَالَ: لَا أَدْرِي، حَتَّى نَزَلَ عَلَيْهِ جِبْرِيلُ
عَلَيْهِ السَّلَامُ، فَسَأَلَهُ، فَقَالَ: لَا أَدْرِي، إِلَى أَنْ أَعْلَمَهُ
اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ أَنَّ خَيْرَ الْبِقَاعِ الْمَسَاجِدُ وَشَرَّهَا
الْأَسْوَاقُ.
Ketika Rasulullah ﷺ ditanya tentang tempat terbaik di bumi dan tempat terburuknya,
beliau menjawab, “Aku tidak tahu,” sampai Jibril ‘alaihis-salam turun kepada
beliau. Lalu beliau bertanya kepadanya, dan Jibril pun berkata, “Aku tidak
tahu,” hingga Allah ‘Azza wa Jalla mengajarkannya bahwa tempat terbaik adalah
masjid-masjid, dan tempat terburuk adalah pasar-pasar.
وَكَانَ
ابْنُ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا يُسْأَلُ عَنْ عَشْرِ مَسَائِلَ فَيُجِيبُ
عَنْ وَاحِدَةٍ وَيَسْكُتُ عَنْ تِسْعٍ.
Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma pernah ditanya tentang
sepuluh masalah, lalu ia menjawab satu saja dan diam terhadap sembilan yang
lain.
وَكَانَ
ابْنُ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا يُجِيبُ عَنْ تِسْعٍ وَيَسْكُتُ عَنْ
وَاحِدَةٍ.
Sedangkan Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma menjawab sembilan
dan diam terhadap satu.
وَكَانَ
فِي الْفُقَهَاءِ مَنْ يَقُولُ لَا أَدْرِي أَكْثَرَ مِمَّا يَقُولُ أَدْرِي،
مِنْهُمْ سُفْيَانُ الثَّوْرِيُّ وَمَالِكُ بْنُ أَنَسٍ وَأَحْمَدُ بْنُ حَنْبَلٍ
وَالْفُضَيْلُ بْنُ عِيَاضٍ وَبِشْرُ بْنُ الْحَارِثِ.
Di antara para fuqaha ada yang lebih sering mengatakan “Aku
tidak tahu” daripada “Aku tahu”, seperti Sufyan Ats-Tsauri, Malik bin Anas,
Ahmad bin Hanbal, Al-Fudhail bin ‘Iyadh, dan Bisyr bin Al-Harits.
وَقَالَ
عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ أَبِي لَيْلَى: أَدْرَكْتُ فِي هٰذَا الْمَسْجِدِ مِائَةً
وَعِشْرِينَ مِنْ أَصْحَابِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ،
مَا مِنْهُمْ أَحَدٌ يُسْأَلُ عَنْ حَدِيثٍ أَوْ فُتْيَا إِلَّا وَدَّ أَنَّ
أَخَاهُ كَفَاهُ ذٰلِكَ.
‘Abdurrahman bin Abi Laila berkata, “Aku menjumpai di masjid
ini seratus dua puluh orang sahabat Rasulullah ﷺ. Tidak ada seorang pun dari mereka yang
ditanya tentang hadis atau fatwa, kecuali ia berharap saudaranya yang lain
mencukupi urusan itu.”
وَفِي
لَفْظٍ آخَرَ: كَانَتِ الْمَسْأَلَةُ تُعْرَضُ عَلَى أَحَدِهِمْ فَيَرُدُّهَا
إِلَى الْآخَرِ، وَيَرُدُّهَا الْآخَرُ إِلَى الْآخَرِ، حَتَّى تَعُودَ إِلَى
الْأَوَّلِ.
Dalam lafaz lain disebutkan, “Suatu masalah diajukan kepada
salah seorang dari mereka, lalu ia mengalihkannya kepada yang lain, dan yang
lain mengalihkannya lagi kepada yang lain, hingga akhirnya masalah itu kembali
kepada orang pertama.”
وَرُوِيَ
أَنَّ أَصْحَابَ الصُّفَّةِ أُهْدِيَ إِلَى وَاحِدٍ مِنْهُمْ رَأْسٌ مَشْوِيٌّ
وَهُوَ فِي غَايَةِ الضُّرِّ، فَأَهْدَاهُ إِلَى الْآخَرِ، وَأَهْدَاهُ الْآخَرُ
إِلَى الْآخَرِ، هٰكَذَا دَارَ بَيْنَهُمْ حَتَّى رَجَعَ إِلَى الْأَوَّلِ.
Diriwayatkan bahwa pernah dihadiahkan kepala kambing
panggang kepada salah seorang Ahlus-Shuffah, padahal ia sendiri sedang sangat
membutuhkan. Lalu ia menghadiahkannya kepada yang lain, dan orang itu
menghadiahkannya lagi kepada yang lain. Demikian terus berputar di antara
mereka hingga akhirnya kembali kepada orang pertama.
فَانْظُرِ
الْآنَ كَيْفَ انْعَكَسَ أَمْرُ الْعُلَمَاءِ، فَصَارَ الْمَهْرُوبُ مِنْهُ
مَطْلُوبًا، وَالْمَطْلُوبُ مَهْرُوبًا عَنْهُ.
Maka lihatlah sekarang bagaimana keadaan para ulama telah
berbalik: sesuatu yang dahulu dihindari kini dicari, dan sesuatu yang dahulu
dicari kini dihindari.
وَيَشْهَدُ
لِحُسْنِ الِاحْتِرَازِ مِنْ تَقَلُّدِ الْفَتَاوَى مَا رُوِيَ مُسْنَدًا عَنْ
بَعْضِهِمْ أَنَّهُ قَالَ: لَا يُفْتِي النَّاسَ إِلَّا ثَلَاثَةٌ: أَمِيرٌ، أَوْ
مَأْمُورٌ، أَوْ مُتَكَلِّفٌ.
Yang menjadi bukti baiknya sikap berhati-hati dari memikul
beban fatwa adalah riwayat bersanad dari sebagian mereka yang berkata, “Tidak
ada yang berfatwa kepada manusia kecuali tiga orang: pemimpin, wakilnya, atau
orang yang memaksakan diri.”
وَقَالَ
بَعْضُهُمْ: كَانَ الصَّحَابَةُ يَتَدَافَعُونَ أَرْبَعَةَ أَشْيَاءَ:
الْإِمَامَةَ، وَالْوَصِيَّةَ، وَالْوَدِيعَةَ، وَالْفُتْيَا.
Sebagian mereka berkata, “Para sahabat dahulu saling menolak
empat perkara: kepemimpinan, wasiat, titipan, dan fatwa.”
وَقَالَ
بَعْضُهُمْ: كَانَ أَسْرَعُهُمْ إِلَى الْفُتْيَا أَقَلَّهُمْ عِلْمًا،
وَأَشَدُّهُمْ دَفْعًا لَهَا أَوْرَعَهُمْ.
Sebagian yang lain berkata, “Orang yang paling cepat
berfatwa di antara mereka adalah yang paling sedikit ilmunya, sedangkan yang
paling kuat menolaknya adalah yang paling wara‘.”
وَكَانَ
شُغْلُ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِينَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ فِي خَمْسَةِ
أَشْيَاءَ: قِرَاءَةِ الْقُرْآنِ، وَعِمَارَةِ الْمَسَاجِدِ، وَذِكْرِ اللَّهِ
تَعَالَى، وَالْأَمْرِ بِالْمَعْرُوفِ، وَالنَّهْيِ عَنِ الْمُنْكَرِ.
Kesibukan para sahabat dan tabi‘in radhiyallahu ‘anhum ada
pada lima perkara: membaca Al-Qur’an, memakmurkan masjid, berzikir kepada Allah
Ta‘ala, amar makruf, dan nahi mungkar.
وَذٰلِكَ
لِمَا سَمِعُوهُ مِنْ قَوْلِهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: كُلُّ كَلَامِ
ابْنِ آدَمَ عَلَيْهِ لَا لَهُ، إِلَّا ثَلَاثَةً: أَمْرٌ بِمَعْرُوفٍ، أَوْ
نَهْيٌ عَنْ مُنْكَرٍ، أَوْ ذِكْرُ اللَّهِ تَعَالَى.
Hal itu karena mereka mendengar sabda Nabi ﷺ, “Setiap ucapan anak
Adam itu merugikannya, bukan menguntungkannya, kecuali tiga hal: perintah
kepada kebaikan, larangan dari kemungkaran, atau zikir kepada Allah Ta‘ala.”
وَقَالَ
تَعَالَى: {لَا خَيْرَ فِي كَثِيرٍ مِنْ نَجْوَاهُمْ إِلَّا مَنْ أَمَرَ
بِصَدَقَةٍ أَوْ مَعْرُوفٍ أَوْ إِصْلَاحٍ بَيْنَ النَّاسِ}.
Allah Ta‘ala berfirman, “Tidak ada kebaikan dalam banyak
bisikan-bisikan mereka, kecuali orang yang menyuruh bersedekah, atau berbuat
makruf, atau mengadakan perbaikan di antara manusia.”
وَرَأَى
بَعْضُ الْعُلَمَاءِ بَعْضَ أَصْحَابِ الرَّأْيِ مِنْ أَهْلِ الْكُوفَةِ فِي
الْمَنَامِ، فَقَالَ: مَا رَأَيْتَ فِيمَا كُنْتَ عَلَيْهِ مِنَ الْفُتْيَا
وَالرَّأْيِ؟
Sebagian ulama melihat salah seorang pemilik ra’yu dari
Kufah dalam mimpi, lalu berkata kepadanya, “Apa yang engkau lihat tentang apa
yang dahulu engkau tekuni berupa fatwa dan ra’yu?”
فَكَرِهَ
وَجْهُهُ وَأَعْرَضَ عَنْهُ، وَقَالَ: مَا وَجَدْنَاهُ شَيْئًا، وَمَا حَمِدْنَا
عَافِيَتَهُ.
Maka wajah orang itu berubah tidak suka dan berpaling
darinya, lalu berkata, “Kami tidak mendapati hal itu sebagai sesuatu yang
berarti, dan kami tidak memuji akibat keselamatannya.”
وَقَالَ
ابْنُ حُصَيْنٍ: إِنَّ أَحَدَهُمْ لَيُفْتِي فِي الْمَسْأَلَةِ، وَلَوْ وَرَدَتْ
عَلَى عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ لَجَمَعَ لَهَا أَهْلَ
بَدْرٍ.
Ibnu Hushain berkata, “Sungguh salah seorang dari mereka
berfatwa dalam suatu masalah, padahal seandainya masalah itu datang kepada
‘Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu, niscaya ia akan mengumpulkan para
sahabat Badar untuk membahasnya.”
فَلَمْ
يَزَلِ السُّكُوتُ دَأْبَ أَهْلِ الْعِلْمِ إِلَّا عِنْدَ الضَّرُورَةِ.
Diam senantiasa menjadi kebiasaan ahli ilmu, kecuali ketika
darurat.
وَفِي
الْحَدِيثِ: إِذَا رَأَيْتُمُ الرَّجُلَ قَدْ أُوتِيَ صَمْتًا وَزُهْدًا،
فَاقْتَرِبُوا مِنْهُ، فَإِنَّهُ يُلَقَّنُ الْحِكْمَةَ.
Dalam hadis disebutkan, “Apabila kalian melihat seseorang
telah diberi karunia banyak diam dan zuhud, maka dekatilah dia, karena ia
diajari hikmah.”
وَقِيلَ:
الْعَالِمُ إِمَّا عَالِمُ عَامَّةٍ، وَهُوَ الْمُفْتِي، وَهُمْ أَصْحَابُ
السَّلَاطِينِ، أَوْ عَالِمُ خَاصَّةٍ، وَهُوَ الْعَالِمُ بِالتَّوْحِيدِ
وَأَعْمَالِ الْقُلُوبِ، وَهُمْ أَصْحَابُ الزَّوَايَا الْمُتَفَرِّقُونَ
الْمُنْفَرِدُونَ.
Dikatakan, “Ulama itu ada dua: ulama untuk orang banyak,
yaitu mufti, dan mereka adalah para pengikut para penguasa; atau ulama untuk
kalangan khusus, yaitu orang yang mengetahui tauhid dan amal-amal hati, dan
mereka adalah para penghuni zawiyah yang terpencar dan menyendiri.”
وَكَانَ
يُقَالُ: مَثَلُ أَحْمَدَ بْنِ حَنْبَلٍ مَثَلُ دِجْلَةَ، كُلُّ أَحَدٍ يَغْتَرِفُ
مِنْهَا، وَمَثَلُ بِشْرِ بْنِ الْحَارِثِ مَثَلُ بِئْرٍ عَذْبَةٍ مُغَطَّاةٍ، لَا
يَقْصِدُهَا إِلَّا وَاحِدٌ بَعْدَ وَاحِدٍ.
Dahulu dikatakan, “Perumpamaan Ahmad bin Hanbal seperti
sungai Tigris, setiap orang mengambil darinya. Dan perumpamaan Bisyr bin
Al-Harits seperti sumur yang manis yang tertutup, yang tidak didatangi kecuali
satu per satu.”
وَكَانُوا
يَقُولُونَ: فُلَانٌ عَالِمٌ، وَفُلَانٌ مُتَكَلِّمٌ، وَفُلَانٌ أَكْثَرُ
كَلَامًا، وَفُلَانٌ أَكْثَرُ عَمَلًا.
Mereka biasa berkata, “Si fulan itu alim, si fulan itu ahli
kalam, si fulan itu paling banyak bicara, dan si fulan itu paling banyak amal.”
وَقَالَ
أَبُو سُلَيْمَانَ: الْمَعْرِفَةُ إِلَى السُّكُوتِ أَقْرَبُ مِنْهَا إِلَى
الْكَلَامِ.
Abu Sulaiman berkata, “Ma‘rifat itu lebih dekat kepada diam
daripada kepada banyak bicara.”
وَقِيلَ:
إِذَا كَثُرَ الْعِلْمُ قَلَّ الْكَلَامُ، وَإِذَا كَثُرَ الْكَلَامُ قَلَّ
الْعِلْمُ.
Dikatakan, “Apabila ilmu banyak, bicara menjadi sedikit. Dan
apabila bicara banyak, ilmu menjadi sedikit.”
وَكَتَبَ
سَلْمَانُ إِلَى أَبِي الدَّرْدَاءِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا، وَكَانَ قَدْ آخَى
بَيْنَهُمَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: يَا أَخِي،
بَلَغَنِي أَنَّكَ قَعَدْتَ طَبِيبًا تُدَاوِي الْمَرْضَى، فَانْظُرْ، فَإِنْ
كُنْتَ طَبِيبًا فَتَكَلَّمْ، فَإِنَّ كَلَامَكَ شِفَاءٌ، وَإِنْ كُنْتَ
مُتَطَبِّبًا، فَاللَّهَ اللَّهَ لَا تَقْتُلْ مُسْلِمًا.
Salman menulis surat kepada Abu Ad-Darda’ radhiyallahu
‘anhuma — padahal Rasulullah ﷺ
telah mempersaudarakan keduanya — “Wahai saudaraku, telah sampai kepadaku bahwa
engkau telah duduk sebagai dokter yang mengobati orang-orang sakit. Maka
perhatikanlah: jika engkau benar-benar dokter, maka berbicaralah, karena
ucapanmu adalah obat. Tetapi jika engkau hanya berpura-pura sebagai dokter,
maka demi Allah, jangan engkau membunuh seorang muslim.”
فَكَانَ
أَبُو الدَّرْدَاءِ يَتَوَقَّفُ بَعْدَ ذٰلِكَ إِذَا سُئِلَ.
Sejak itu Abu Ad-Darda’ berhati-hati dan menahan diri ketika
ditanya.
وَكَانَ
أَنَسٌ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ إِذَا سُئِلَ يَقُولُ: سَلُوا مَوْلَانَا الْحَسَنَ.
Anas radhiyallahu ‘anhu jika ditanya, ia berkata, “Tanyalah
tuan kami Al-Hasan.”
وَكَانَ
ابْنُ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا إِذَا سُئِلَ يَقُولُ: سَلُوا حَارِثَةَ
بْنَ زَيْدٍ.
Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma jika ditanya, ia berkata,
“Tanyalah Haritsah bin Zaid.”
وَكَانَ
ابْنُ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا يَقُولُ: سَلُوا سَعِيدَ بْنَ الْمُسَيِّبِ.
Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma biasa berkata, “Tanyalah
Sa‘id bin Al-Musayyib.”
وَحُكِيَ
أَنَّهُ رَوَى صَحَابِيٌّ فِي حَضْرَةِ الْحَسَنِ عِشْرِينَ حَدِيثًا، فَسُئِلَ
عَنْ تَفْسِيرِهَا، فَقَالَ: مَا عِنْدِي إِلَّا مَا رَوَيْتُ.
Dikisahkan bahwa seorang sahabat meriwayatkan dua puluh
hadis di hadapan Al-Hasan, lalu ia ditanya tentang penafsirannya, maka ia
menjawab, “Aku tidak memiliki selain apa yang telah aku riwayatkan.”
فَأَخَذَ
الْحَسَنُ فِي تَفْسِيرِهَا حَدِيثًا حَدِيثًا، فَتَعَجَّبُوا مِنْ حُسْنِ
تَفْسِيرِهِ وَحِفْظِهِ.
Kemudian Al-Hasan mulai menjelaskan makna hadis-hadis itu
satu per satu. Maka mereka pun kagum kepada baiknya penjelasan dan hafalannya.
فَأَخَذَ
الصَّحَابِيُّ كَفًّا مِنْ حَصًى فَرَمَاهُمْ بِهِ، وَقَالَ: تَسْأَلُونَنِي عَنِ
الْعِلْمِ وَهٰذَا الْحَبْرُ بَيْنَ أَظْهُرِكُمْ!
Maka sahabat itu mengambil segenggam kerikil lalu
melemparkannya kepada mereka seraya berkata, “Kalian bertanya kepadaku tentang
ilmu, padahal ulama besar ini masih ada di tengah-tengah kalian!”
وَمِنْهَا
أَنْ يَكُونَ أَكْثَرُ اهْتِمَامِهِ بِعِلْمِ الْبَاطِنِ وَمُرَاقَبَةِ الْقَلْبِ
وَمَعْرِفَةِ طَرِيقِ الْآخِرَةِ وَسُلُوكِهِ وَصِدْقِ الرَّجَاءِ فِي انْكِشَافِ
ذٰلِكَ مِنَ الْمُجَاهَدَةِ وَالْمُرَاقَبَةِ.
Dan di antara tanda ulama akhirat ialah bahwa perhatian
terbesarnya tertuju kepada ilmu batin, pengawasan terhadap hati, pengetahuan
tentang jalan akhirat dan menempuhnya, serta harapan yang jujur agar tersingkap
baginya hal itu melalui mujahadah dan muraqabah.
فَإِنَّ
الْمُجَاهَدَةَ تُفْضِي إِلَى الْمُشَاهَدَةِ، وَدَقَائِقُ عُلُومِ الْقَلْبِ
تَنْفَجِرُ بِهَا يَنَابِيعُ الْحِكْمَةِ مِنَ الْقَلْبِ.
Karena mujahadah mengantarkan kepada musyahadah, dan dengan
mujahadah itu memancar mata air hikmah dari hati melalui rincian ilmu-ilmu
hati.
وَأَمَّا
الْكُتُبُ وَالتَّعْلِيمُ فَلَا تَفِي بِذٰلِكَ.
Adapun kitab-kitab dan pengajaran biasa tidak cukup untuk
menghasilkan hal itu.
بَلِ
الْحِكْمَةُ الْخَارِجَةُ عَنِ الْحَصْرِ وَالْعَدِّ إِنَّمَا تَتَفَتَّحُ
بِالْمُجَاهَدَةِ وَالْمُرَاقَبَةِ وَمُبَاشَرَةِ الْأَعْمَالِ الظَّاهِرَةِ
وَالْبَاطِنَةِ وَالْجُلُوسِ مَعَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ فِي الْخَلْوَةِ، مَعَ
حُضُورِ الْقَلْبِ بِصَافِي الْفِكْرَةِ، وَالِانْقِطَاعِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى
عَمَّا سِوَاهُ.
Bahkan hikmah yang tidak terbatas dan tidak terhitung itu
hanya terbuka dengan mujahadah, muraqabah, melakukan amal-amal lahir dan batin,
duduk menyendiri bersama Allah ‘Azza wa Jalla dalam khalwat, dengan hati yang
hadir melalui pikiran yang jernih, dan memutuskan diri kepada Allah Ta‘ala dari
selain-Nya.
فَذٰلِكَ
مِفْتَاحُ الْإِلْهَامِ وَمَنْبَعُ الْكَشْفِ.
Itulah kunci ilham dan sumber tersingkapnya hakikat.
فَكَمْ
مِنْ مُتَعَلِّمٍ طَالَ تَعَلُّمُهُ وَلَمْ يَقْدِرْ عَلَى مُجَاوَزَةِ
مَسْمُوعِهِ بِكَلِمَةٍ.
Betapa banyak orang yang lama belajar tetapi tidak mampu
melampaui apa yang didengarnya walau dengan satu kata pun.
وَكَمْ
مِنْ مُقْتَصِرٍ عَلَى الْمُهِمِّ فِي التَّعَلُّمِ، وَمُتَوَفِّرٍ عَلَى
الْعَمَلِ وَمُرَاقَبَةِ الْقَلْبِ، فَتَحَ اللَّهُ لَهُ مِنْ لَطَائِفِ
الْحِكْمَةِ مَا تَحَارُ فِيهِ عُقُولُ ذَوِي الْأَلْبَابِ.
Dan betapa banyak orang yang hanya mencukupkan diri pada
ilmu yang penting, lalu memusatkan dirinya pada amal dan مراقبة hati, sehingga Allah
membukakan baginya berbagai kehalusan hikmah yang membuat akal orang-orang
cerdas menjadi takjub.
وَلِذٰلِكَ
قَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَنْ عَمِلَ بِمَا عَلِمَ وَرَّثَهُ
اللَّهُ عِلْمَ مَا لَمْ يَعْلَمْ.
Karena itu Nabi ﷺ bersabda, “Barang siapa mengamalkan apa yang telah ia ketahui,
Allah akan mewariskan kepadanya ilmu tentang apa yang belum ia ketahui.”
فَكَمْ
مِنْ مَعَانٍ دَقِيقَةٍ مِنْ أَسْرَارِ الْقُرْآنِ تَخْطُرُ عَلَى قَلْبِ
الْمُتَجَرِّدِينَ لِلذِّكْرِ وَالْفِكْرِ، تَخْلُو عَنْهَا كُتُبُ التَّفَاسِيرِ،
وَلَا يَطَّلِعُ عَلَيْهَا أَفَاضِلُ الْمُفَسِّرِينَ.
Betapa banyak makna halus dari rahasia-rahasia Al-Qur’an
yang terlintas dalam hati orang-orang yang mengosongkan diri untuk zikir dan
pikir, yang tidak terdapat dalam kitab-kitab tafsir, dan tidak diketahui oleh
para mufasir besar.
وَإِذَا
انْكَشَفَ ذٰلِكَ لِلْمُرِيدِ الْمُرَاقِبِ وَعُرِضَ عَلَى الْمُفَسِّرِينَ
اسْتَحْسَنُوهُ، وَعَلِمُوا أَنَّ ذٰلِكَ مِنْ تَنْبِيهَاتِ الْقُلُوبِ
الزَّكِيَّةِ وَأَلْطَافِ اللَّهِ تَعَالَى بِالْهِمَمِ الْعَالِيَةِ
الْمُتَوَجِّهَةِ إِلَيْهِ.
Dan apabila makna-makna itu tersingkap bagi seorang murid
yang selalu mengawasi hatinya lalu ditampilkan kepada para mufasir, mereka akan
memandangnya baik dan mengetahui bahwa hal itu termasuk ilham hati-hati yang
suci dan kelembutan karunia Allah Ta‘ala kepada jiwa-jiwa yang tinggi
cita-citanya dan tertuju kepada-Nya.
وَكَذٰلِكَ
فِي عُلُومِ الْمُكَاشَفَةِ وَأَسْرَارِ عُلُومِ الْمُعَامَلَةِ وَدَقَائِقِ
خَوَاطِرِ الْقُلُوبِ، فَإِنَّ كُلَّ عِلْمٍ مِنْ هٰذِهِ الْعُلُومِ بَحْرٌ لَا
يُدْرَكُ عُمْقُهُ، وَإِنَّمَا يَخُوضُهُ كُلُّ طَالِبٍ بِقَدْرِ مَا رُزِقَ
مِنْهُ، وَبِحَسَبِ مَا وُفِّقَ لَهُ مِنْ حُسْنِ الْعَمَلِ.
Demikian pula halnya dalam ilmu mukasyafah, rahasia-rahasia
ilmu muamalah, dan rincian lintasan-lintasan hati. Setiap ilmu dari ilmu-ilmu
ini adalah lautan yang tidak dapat dijangkau kedalamannya. Setiap pencari hanya
menyelam ke dalamnya sesuai kadar rezeki yang diberikan kepadanya dan sesuai
kadar taufik yang ia peroleh dalam baiknya amal.
وَفِي
وَصْفِ هٰؤُلَاءِ الْعُلَمَاءِ قَالَ عَلِيٌّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ فِي حَدِيثٍ
طَوِيلٍ: الْقُلُوبُ أَوْعِيَةٌ، وَخَيْرُهَا أَوْعَاهَا لِلْخَيْرِ، وَالنَّاسُ
ثَلَاثَةٌ: عَالِمٌ رَبَّانِيٌّ، وَمُتَعَلِّمٌ عَلَى سَبِيلِ النَّجَاةِ،
وَهَمَجٌ رَعَاعٌ، أَتْبَاعُ كُلِّ نَاعِقٍ، يَمِيلُونَ مَعَ كُلِّ رِيحٍ، لَمْ
يَسْتَضِيئُوا بِنُورِ الْعِلْمِ، وَلَمْ يَلْجَئُوا إِلَى رُكْنٍ وَثِيقٍ.
Dalam menggambarkan para ulama seperti ini, ‘Ali
radhiyallahu ‘anhu berkata dalam hadis yang panjang, “Hati itu wadah-wadah, dan
yang terbaik adalah yang paling mampu menampung kebaikan. Manusia itu ada tiga:
alim rabbani, pelajar yang berada di jalan keselamatan, dan orang-orang
rendahan yang mengikuti setiap penyeru, condong bersama setiap angin. Mereka
tidak bercahaya dengan cahaya ilmu dan tidak berlindung kepada tiang yang
kokoh.”
الْعِلْمُ
خَيْرٌ مِنَ الْمَالِ، الْعِلْمُ يَحْرُسُكَ وَأَنْتَ تَحْرُسُ الْمَالَ،
وَالْعِلْمُ يَزْكُو عَلَى الْإِنْفَاقِ، وَالْمَالُ يَنْقُصُهُ الْإِنْفَاقُ،
وَالْعِلْمُ دِينٌ يُدَانُ بِهِ، تُكْتَسَبُ بِهِ الطَّاعَةُ فِي حَيَاتِهِ،
وَجَمِيلُ الْأُحْدُوثَةِ بَعْدَ وَفَاتِهِ، الْعِلْمُ حَاكِمٌ، وَالْمَالُ
مَحْكُومٌ عَلَيْهِ، وَمَنْفَعَةُ الْمَالِ تَزُولُ بِزَوَالِهِ، مَاتَ خُزَّانُ
الْأَمْوَالِ وَهُمْ أَحْيَاءٌ، وَالْعُلَمَاءُ أَحْيَاءٌ بَاقُونَ ��َا بَقِيَ الدَّهْرُ.
“Ilmu lebih baik daripada harta. Ilmu menjagamu, sedangkan
engkau yang menjaga harta. Ilmu bertambah dengan dibelanjakan, sedangkan harta
berkurang bila dibelanjakan. Ilmu adalah agama yang dengannya manusia tunduk.
Dengan ilmu ketaatan diperoleh selama hidup, dan nama baik tersisa setelah
wafat. Ilmu itu memerintah, sedangkan harta diperintah. Manfaat harta hilang
bersama hilangnya harta itu. Para penjaga harta telah mati walaupun mereka
masih hidup, sedangkan para ulama tetap hidup selama masa masih berlangsung.”
ثُمَّ
تَنَفَّسَ الصُّعَدَاءَ وَقَالَ: هَاهِ، إِنَّ هٰهُنَا لَعِلْمًا جَمًّا لَوْ
وَجَدْتُ لَهُ حَمَلَةً، بَلْ أَجِدُ طَالِبًا غَيْرَ مَأْمُونٍ، يَسْتَعْمِلُ
آلَةَ الدِّينِ فِي طَلَبِ الدُّنْيَا، وَيَسْتَطِيلُ بِنِعَمِ اللَّهِ عَلَى
أَوْلِيَائِهِ، وَيَسْتَظْهِرُ بِحُجَّتِهِ عَلَى خَلْقِهِ.
Kemudian beliau menghela napas panjang dan berkata, “Ah,
sesungguhnya di sini ada ilmu yang sangat banyak, seandainya aku mendapatkan
orang-orang yang mampu memikulnya. Akan tetapi, aku justru menemukan pencari
ilmu yang tidak dapat dipercaya, yang menggunakan alat agama untuk mencari
dunia, yang menyombongkan nikmat Allah di hadapan para wali-Nya, dan menjadikan
hujah Allah sebagai sarana untuk mengungguli makhluk-Nya.”
أَوْ
مُنْقَادًا لِأَهْلِ الْحَقِّ، لَكِنْ يَنْزَرِعُ الشَّكُّ فِي قَلْبِهِ بِأَوَّلِ
عَارِضٍ مِنْ شُبْهَةٍ، لَا بَصِيرَةَ لَهُ، لَا ذَا وَلَا ذَاكَ.
“Atau aku temukan orang yang tunduk kepada ahli kebenaran,
tetapi keraguan tertanam di hatinya hanya dengan sentuhan pertama dari syubhat,
karena ia tidak memiliki bashirah. Ia bukan golongan ini dan bukan pula
golongan itu.”
أَوْ
مَنْهُومًا بِاللَّذَّاتِ، سَلِسَ الْقِيَادِ فِي طَلَبِ الشَّهَوَاتِ.
“Atau aku temukan orang yang sangat rakus terhadap
kenikmatan, mudah dikendalikan dalam mengejar syahwat.”
أَوْ
مُغْرًى بِجَمْعِ الْأَمْوَالِ وَالِادِّخَارِ، مُنْقَادًا لِهَوَاهُ، أَقْرَبُ
شَبَهًا بِهِمُ الْأَنْعَامُ السَّائِمَةُ.
“Atau aku temukan orang yang tergila-gila mengumpulkan harta
dan menimbunnya, tunduk kepada hawa nafsunya, dan lebih mirip dengan binatang
ternak yang dilepas merumput.”
اللَّهُمَّ
هٰكَذَا يَمُوتُ الْعِلْمُ إِذَا مَاتَ حَمَلَتُهُ.
“Ya Allah, beginilah ilmu mati ketika para pemikulnya mati.”
ثُمَّ
لَا تَخْلُو الْأَرْضُ مِنْ قَائِمٍ لِلَّهِ بِحُجَّةٍ، إِمَّا ظَاهِرٌ مَكْشُوفٌ،
وَإِمَّا خَائِفٌ مَقْهُورٌ، كَيْلَا تَبْطُلَ حُجَجُ اللَّهِ تَعَالَى
وَبَيِّنَاتُهُ.
“Akan tetapi bumi tidak pernah kosong dari seseorang yang
menegakkan hujah untuk Allah, baik ia tampak jelas maupun takut dan tertindas,
agar hujah-hujah Allah Ta‘ala dan bukti-bukti-Nya tidak hilang.”
وَكَمْ
وَأَيْنَ أُولٰئِكَ؟ هُمُ الْأَقَلُّونَ عَدَدًا، الْأَعْظَمُونَ قَدْرًا،
أَعْيَانُهُمْ مَفْقُودَةٌ، وَأَمْثَالُهُمْ فِي الْقُلُوبِ مَوْجُودَةٌ.
“Betapa sedikit dan di manakah mereka? Mereka adalah
orang-orang yang paling sedikit jumlahnya, tetapi paling besar nilainya.
Sosok-sosok mereka tidak tampak, tetapi teladan mereka hidup di dalam hati.”
يَحْفَظُ
اللَّهُ تَعَالَى بِهِمْ حُجَجَهُ حَتَّى يُودِعُوهَا مَنْ وَرَاءَهُمْ،
وَيَزْرَعُوهَا فِي قُلُوبِ أَشْبَاهِهِمْ.
“Allah Ta‘ala menjaga hujah-hujah-Nya melalui mereka, hingga
mereka menitipkannya kepada generasi setelah mereka dan menanamkannya dalam
hati orang-orang yang serupa dengan mereka.”
هَجَمَ
بِهِمُ الْعِلْمُ عَلَى حَقِيقَةِ الْأَمْرِ، فَبَاشَرُوا رُوحَ الْيَقِينِ،
فَاسْتَلَانُوا مَا اسْتَوْعَرَ مِنْهُ الْمُتْرَفُونَ، وَأَنِسُوا بِمَا
اسْتَوْحَشَ مِنْهُ الْغَافِلُونَ، صَحِبُوا الدُّنْيَا بِأَبْدَانٍ، أَرْوَاحُهَا
مُعَلَّقَةٌ بِالْمَحَلِّ الْأَعْلَى.
“Ilmu menyerbu mereka hingga kepada hakikat urusan, maka
mereka menyentuh ruh keyakinan. Mereka merasa lunak terhadap apa yang terasa
keras bagi orang-orang yang hidup mewah, dan mereka merasa akrab dengan apa
yang ditakuti oleh orang-orang lalai. Mereka hidup bersama dunia dengan
jasad-jasad mereka, tetapi ruh-ruh mereka tergantung di tempat yang tertinggi.”
أُولٰئِكَ
أَوْلِيَاءُ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ مِنْ خَلْقِهِ، وَأُمَنَاؤُهُ وَعُمَّالُهُ فِي
أَرْضِهِ، وَالدُّعَاةُ إِلَى دِينِهِ.
“Mereka itulah para wali Allah ‘Azza wa Jalla di antara
makhluk-Nya, para pemegang amanat-Nya, para pekerja-Nya di bumi-Nya, dan para
penyeru kepada agama-Nya.”
ثُمَّ
بَكَى وَقَالَ: وَاشَوْقَاهُ إِلَى رُؤْيَتِهِمْ.
Kemudian beliau menangis dan berkata, “Betapa rinduku untuk
melihat mereka.”
فَهٰذَا
الَّذِي ذَكَرَهُ أَخِيرًا هُوَ وَصْفُ عُلَمَاءِ الْآخِرَةِ، وَهُوَ الْعِلْمُ
الَّذِي يُسْتَفَادُ أَكْثَرُهُ مِنَ الْعَمَلِ وَالْمُوَاظَبَةِ عَلَى
الْمُجَاهَدَةِ.
Apa yang beliau sebutkan pada bagian akhir itu adalah وصف
ulama akhirat, dan itulah ilmu yang sebagian besarnya diperoleh melalui amal
dan ketekunan dalam mujahadah.
وَمِنْهَا
أَنْ يَكُونَ شَدِيدَ الْعِنَايَةِ بِتَقْوِيَةِ الْيَقِينِ، فَإِنَّ الْيَقِينَ
هُوَ رَأْسُ مَالِ الدِّينِ.
Dan di antara tanda-tandanya ialah bahwa seorang alim sangat
memperhatikan penguatan keyakinan, karena keyakinan adalah modal pokok agama.
قَالَ
رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: الْيَقِينُ الْإِيمَانُ
كُلُّهُ.
Rasulullah ﷺ
bersabda, “Yakin adalah seluruh iman.”
فَلَا
بُدَّ مِنْ تَعَلُّمِ عِلْمِ الْيَقِينِ، أَعْنِي أَوَائِلَهُ، ثُمَّ يَنْفَتِحُ
لِلْقَلْبِ طَرِيقُهُ.
Karena itu, ilmu tentang yakin harus dipelajari, maksudnya
permulaan-permulaannya, lalu sesudah itu jalan menuju yakin akan terbuka bagi
hati.
وَلِذٰلِكَ
قَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: تَعَلَّمُوا الْيَقِينَ.
Karena itulah Nabi ﷺ bersabda, “Pelajarilah yakin.”
وَمَعْنَاهُ:
جَالِسُوا الْمُوقِنِينَ، وَاسْتَمِعُوا مِنْهُمْ عِلْمَ الْيَقِينِ، وَوَاظِبُوا
عَلَى الِاقْتِدَاءِ بِهِمْ، لِيَقْوَى يَقِينُكُمْ كَمَا قَوِيَ يَقِينُهُمْ.
Maknanya adalah: duduklah bersama orang-orang yang memiliki
keyakinan, dengarkan dari mereka ilmu yakin, dan tekunlah meneladani mereka
agar keyakinan kalian menjadi kuat sebagaimana kuatnya keyakinan mereka.
وَقَلِيلٌ
مِنَ الْيَقِينِ خَيْرٌ مِنْ كَثِيرٍ مِنَ الْعَمَلِ.
Sedikit yakin lebih baik daripada banyak amal.
وَقَالَ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَمَّا قِيلَ لَهُ: رَجُلٌ حَسَنُ الْيَقِينِ
كَثِيرُ الذُّنُوبِ، وَرَجُلٌ مُجْتَهِدٌ فِي الْعِبَادَةِ قَلِيلُ الْيَقِينِ.
Dan Nabi ﷺ
ketika diberitahu tentang seorang laki-laki yang baik keyakinannya tetapi
banyak dosanya, dan seorang laki-laki yang sungguh-sungguh dalam ibadah tetapi
sedikit keyakinannya,
فَقَالَ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَا مِنْ آدَمِيٍّ إِلَّا وَلَهُ ذُنُوبٌ،
وَلٰكِنْ مَنْ كَانَ غَرِيزَتُهُ الْعَقْلَ وَسَجِيَّتُهُ الْيَقِينَ لَمْ
تَضُرَّهُ الذُّنُوبُ، لِأَنَّهُ كُلَّمَا أَذْنَبَ تَابَ وَاسْتَغْفَرَ وَنَدِمَ،
فَتُكَفَّرُ ذُنُوبُهُ، وَيَبْقَى لَهُ فَضْلٌ يَدْخُلُ بِهِ الْجَنَّةَ.
maka beliau ﷺ bersabda, “Tidak ada manusia kecuali memiliki dosa. Akan
tetapi, siapa yang tabiatnya adalah akal dan wataknya adalah yakin, maka
dosa-dosanya tidak membahayakannya, karena setiap kali ia berdosa, ia bertobat,
beristigfar, dan menyesal, lalu dosa-dosanya dihapuskan, dan tetap tersisa
baginya keutamaan yang dengannya ia masuk surga.”
وَلِذٰلِكَ
قَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مِنْ أَقَلِّ مَا أُوتِيتُمْ الْيَقِينُ
وَعَزِيمَةُ الصَّبْرِ، وَمَنْ أُعْطِيَ حَظَّهُ مِنْهُمَا لَمْ يُبَالِ مَا
فَاتَهُ مِنْ قِيَامِ اللَّيْلِ وَصِيَامِ النَّهَارِ.
Karena itu Nabi ﷺ bersabda, “Di antara hal yang paling sedikit kalian diberi
adalah yakin dan tekad sabar. Barang siapa diberi bagian dari keduanya, maka ia
tidak perlu terlalu menyesali apa yang luput darinya dari salat malam dan puasa
siang.”
وَفِي
وَصِيَّةٍ لِلُقْمَانَ لِابْنِهِ: يَا بُنَيَّ، لَا يُسْتَطَاعُ الْعَمَلُ إِلَّا
بِالْيَقِينِ، وَلَا يَعْمَلُ الْمَرْءُ إِلَّا بِقَدْرِ يَقِينِهِ، وَلَا
يَقْصُرُ عَامِلٌ حَتَّى يَنْقُصَ يَقِينُهُ.
Dalam wasiat Luqman kepada anaknya disebutkan, “Wahai
anakku, amal tidak mungkin dilakukan kecuali dengan yakin, dan seseorang tidak
akan beramal kecuali sesuai kadar keyakinannya, dan seorang yang beramal tidak
akan berkurang amalnya kecuali ketika keyakinannya berkurang.”
وَقَالَ
يَحْيَى بْنُ مُعَاذٍ: إِنَّ لِلتَّوْحِيدِ نُورًا، وَلِلشِّرْكِ نَارًا، وَإِنَّ
نُورَ التَّوْحِيدِ أَحْرَقُ لِسَيِّئَاتِ الْمُوَحِّدِينَ مِنْ نَارِ الشِّرْكِ
لِحَسَنَاتِ الْمُشْرِكِينَ.
Yahya bin Mu‘adz berkata, “Tauhid memiliki cahaya, dan
syirik memiliki api. Cahaya tauhid lebih kuat membakar keburukan orang-orang
yang bertauhid daripada api syirik membakar kebaikan orang-orang musyrik.”
وَأَرَادَ
بِهِ الْيَقِينَ.
Yang ia maksud dengan itu adalah yakin.
وَقَدْ
أَشَارَ اللَّهُ تَعَالَى فِي الْقُرْآنِ إِلَى ذِكْرِ الْمُوقِنِينَ فِي
مَوَاضِعَ، دَلَّ بِهَا عَلَى أَنَّ الْيَقِينَ هُوَ الرَّابِطَةُ لِلْخَيْرَاتِ
وَالسَّعَادَاتِ.
Allah Ta‘ala telah menyinggung tentang orang-orang yang
memiliki keyakinan dalam banyak tempat di Al-Qur’an, yang menunjukkan bahwa
yakin adalah pengikat seluruh kebaikan dan kebahagiaan.
فَإِنْ
قُلْتَ: فَمَا مَعْنَى الْيَقِينِ، وَمَا مَعْنَى قُوَّتِهِ وَضَعْفِهِ؟ فَلَا
بُدَّ مِنْ فَهْمِهِ أَوَّلًا، ثُمَّ الِاشْتِغَالِ بِطَلَبِهِ وَتَعَلُّمِهِ،
فَإِنَّ مَا لَا تَفْهَمُ صُورَتَهُ لَا يُمْكِنُ طَلَبُهُ.
Jika engkau berkata, “Lalu apakah makna yakin, dan apa makna
kuat serta lemahnya?” Maka harus terlebih dahulu dipahami hakikatnya, kemudian
baru sibuk mencarinya dan mempelajarinya, karena sesuatu yang bentuknya tidak
engkau pahami tidak mungkin engkau cari.
فَاعْلَمْ
أَنَّ الْيَقِينَ لَفْظٌ مُشْتَرَكٌ يُطْلِقُهُ فَرِيقَانِ لِمَعْنَيَيْنِ
مُخْتَلِفَيْنِ.
Maka ketahuilah bahwa yakin adalah lafaz musytarak yang
dipakai oleh dua golongan untuk dua makna yang berbeda.
أَمَّا
النُّظَّارُ وَالْمُتَكَلِّمُونَ فَيُعَبِّرُونَ بِهِ عَنْ عَدَمِ الشَّكِّ.
Adapun para ahli nazhar dan ahli kalam, mereka
mengartikannya sebagai tidak adanya keraguan.
إِذْ
مَيْلُ النَّفْسِ إِلَى التَّصْدِيقِ بِالشَّيْءِ لَهُ أَرْبَعُ مَقَامَاتٍ.
Karena kecenderungan jiwa untuk membenarkan sesuatu memiliki
empat tingkatan.
الْأَوَّلُ:
أَنْ يَعْتَدِلَ التَّصْدِيقُ وَالتَّكْذِيبُ، وَيُعَبَّرُ عَنْهُ بِالشَّكِّ.
Tingkat pertama: pembenaran dan pendustaan berada pada
posisi seimbang, dan ini disebut syak.
كَمَا
إِذَا سُئِلْتَ عَنْ شَخْصٍ مُعَيَّنٍ: أَنَّ اللَّهَ تَعَالَى يُعَذِّبُهُ أَمْ
لَا، وَهُوَ مَجْهُولُ الْحَالِ عِنْدَكَ.
Misalnya jika engkau ditanya tentang seseorang secara
tertentu: apakah Allah Ta‘ala akan mengazabnya atau tidak, sementara keadaan
orang itu tidak engkau ketahui.
فَإِنَّ
نَفْسَكَ لَا تَمِيلُ إِلَى الْحُكْمِ فِيهِ بِإِثْبَاتٍ وَلَا نَفْيٍ، بَلْ
يَسْتَوِي عِنْدَكَ إِمْكَانُ الْأَمْرَيْنِ، فَيُسَمَّى هٰذَا شَكًّا.
Maka jiwamu tidak cenderung memutuskan tentang dirinya
dengan penetapan ataupun penafian. Kedua kemungkinan sama saja bagimu, dan
keadaan ini disebut keraguan
الثَّانِي
أَنْ تَمِيلَ نَفْسُكَ إِلَى أَحَدِ الْأَمْرَيْنِ مَعَ الشُّعُورِ بِإِمْكَانِ
نَقِيضِهِ، وَلٰكِنَّهُ إِمْكَانٌ لَا يَمْنَعُ تَرْجِيحَ الْأَوَّلِ.
Tingkatan kedua adalah ketika jiwamu cenderung kepada salah
satu dari dua kemungkinan, tetapi masih merasa bahwa lawannya mungkin saja
terjadi. Hanya saja kemungkinan lawannya itu tidak menghalangi kuatnya
kecenderungan kepada kemungkinan yang pertama.
كَمَا
إِذَا سُئِلْتَ عَنْ رَجُلٍ تَعْرِفُهُ بِالصَّلَاحِ وَالتَّقْوَى أَنَّهُ
بِعَيْنِهِ لَوْ مَاتَ عَلَى هٰذِهِ الْحَالَةِ هَلْ يُعَاقَبُ، فَإِنَّ نَفْسَكَ
تَمِيلُ إِلَى أَنَّهُ لَا يُعَاقَبُ أَكْثَرَ مِنْ مَيْلِهَا إِلَى الْعِقَابِ،
وَذٰلِكَ لِظُهُورِ عَلَامَاتِ الصَّلَاحِ.
Seperti jika engkau ditanya tentang seseorang yang engkau
kenal sebagai orang saleh dan bertakwa: jika ia mati dalam keadaan seperti itu,
apakah ia akan disiksa? Maka jiwamu lebih condong kepada keyakinan bahwa ia
tidak akan disiksa daripada kepada kemungkinan bahwa ia akan disiksa, karena
tampak padanya tanda-tanda kesalehan.
وَمَعَ
هٰذَا فَأَنْتَ تُجَوِّزُ اخْتِفَاءَ أَمْرٍ مُوجِبٍ لِلْعِقَابِ فِي بَاطِنِهِ
وَسَرِيرَتِهِ.
Meskipun demikian, engkau masih membolehkan adanya sesuatu
yang tersembunyi dalam batin dan rahasianya yang dapat menyebabkan ia pantas
disiksa.
فَهٰذَا
التَّجْوِيزُ مُسَاوٍ لِذٰلِكَ الْمَيْلِ، وَلٰكِنَّهُ غَيْرُ دَافِعٍ
لِرُجْحَانِهِ.
Kemungkinan itu ada bersama kecenderungan tadi, tetapi ia
tidak menghilangkan kuatnya kecenderungan tersebut.
فَهٰذِهِ
الْحَالَةُ تُسَمَّى ظَنًّا.
Keadaan ini disebut zhan atau dugaan kuat.
الثَّالِثُ
أَنْ تَمِيلَ النَّفْسُ إِلَى التَّصْدِيقِ بِشَيْءٍ بِحَيْثُ يَغْلِبُ عَلَيْهَا،
وَلَا يَخْطُرُ بِالْبَالِ غَيْرُهُ، وَلَوْ خَطَرَ بِالْبَالِ تَأْبَى النَّفْسُ
عَنْ قَبُولِهِ، وَلٰكِنْ لَيْسَ ذٰلِكَ مَعَ مَعْرِفَةٍ مُحَقَّقَةٍ.
Tingkatan ketiga adalah ketika jiwa cenderung membenarkan
sesuatu dengan sangat kuat sehingga hal itu menguasainya, dan lawannya hampir
tidak terlintas dalam pikiran. Kalaupun terlintas, jiwa menolak untuk
menerimanya. Namun keadaan ini belum merupakan pengetahuan yang benar-benar
pasti.
إِذْ
لَوْ أَحْسَنَ صَاحِبُ هٰذَا الْمَقَامِ التَّأَمُّلَ وَالْإِصْغَاءَ إِلَى
التَّشْكِيكِ وَالتَّجْوِيزِ لَاتَّسَعَتْ نَفْسُهُ لِلتَّجْوِيزِ.
Sebab seandainya orang yang berada pada tingkatan ini mau
merenung dengan baik dan mau mendengarkan kemungkinan keraguan dan
kebolehjadian lawannya, jiwanya akan terbuka untuk mengakui kemungkinan itu.
وَهٰذَا
يُسَمَّى اعْتِقَادًا مُقَارِبًا لِلْيَقِينِ، وَهُوَ اعْتِقَادُ الْعَوَامِّ فِي
الشَّرْعِيَّاتِ كُلِّهَا، إِذْ رَسَخَ فِي نُفُوسِهِمْ بِمُجَرَّدِ السَّمَاعِ.
Keadaan ini disebut keyakinan yang mendekati yakin, dan
itulah keyakinan orang-orang awam dalam seluruh perkara syariat, karena ia
tertanam dalam jiwa mereka hanya melalui pendengaran semata.
حَتَّى
إِنَّ كُلَّ فِرْقَةٍ تَثِقُ بِصِحَّةِ مَذْهَبِهَا وَإِصَابَةِ إِمَامِهَا
وَمَتْبُوعِهَا، وَلَوْ ذُكِرَ لِأَحَدِهِمْ إِمْكَانُ خَطَإِ إِمَامِهِ نَفَرَ
عَنْ قَبُولِهِ.
Sampai-sampai setiap golongan percaya akan kebenaran
mazhabnya, benarnya imamnya, dan benarnya orang yang mereka ikuti. Jika kepada
salah seorang dari mereka disebutkan kemungkinan bahwa imamnya bisa salah, ia
akan lari dari menerima kemungkinan itu.
الرَّابِعُ
الْمَعْرِفَةُ الْحَقِيقِيَّةُ الْحَاصِلَةُ بِطَرِيقِ الْبُرْهَانِ الَّذِي لَا
يُشَكُّ فِيهِ، وَلَا يُتَصَوَّرُ الشَّكُّ فِيهِ.
Tingkatan keempat adalah pengetahuan hakiki yang diperoleh
melalui jalan burhan atau pembuktian yang tidak ada keraguan di dalamnya, dan
bahkan keraguan terhadapnya pun tidak dapat dibayangkan.
فَإِذَا
امْتَنَعَ وُجُودُ الشَّكِّ وَإِمْكَانُهُ سُمِّيَ يَقِينًا عِنْدَ هٰؤُلَاءِ.
Jika keberadaan keraguan dan kemungkinan keraguan sudah
tertolak, maka itulah yang disebut yakin menurut golongan ini.
وَمِثَالُهُ
أَنَّهُ إِذَا قِيلَ لِلْعَاقِلِ: هَلْ فِي الْوُجُودِ شَيْءٌ هُوَ قَدِيمٌ؟ فَلَا
يُمْكِنُهُ التَّصْدِيقُ بِهِ بِالْبَدِيهَةِ، لِأَنَّ الْقَدِيمَ غَيْرُ
مَحْسُوسٍ، لَا كَالشَّمْسِ وَالْقَمَرِ فَإِنَّهُ يُصَدِّقُ بِوُجُودِهِمَا
بِالْحِسِّ.
Contohnya ialah jika kepada orang berakal dikatakan, “Apakah
dalam wujud ini ada sesuatu yang qadim?” Maka ia tidak bisa langsung
membenarkannya secara spontan, karena yang qadim tidak dapat diindra, tidak
seperti matahari dan bulan yang keberadaannya dibenarkan melalui pancaindra.
وَلَيْسَ
الْعِلْمُ بِوُجُودِ شَيْءٍ قَدِيمٍ أَزَلِيٍّ ضَرُورِيًّا، مِثْلَ الْعِلْمِ
بِأَنَّ الِاثْنَيْنِ أَكْثَرُ مِنَ الْوَاحِدِ، وَمِثْلَ الْعِلْمِ بِأَنَّ
حُدُوثَ حَادِثٍ بِلَا سَبَبٍ مُحَالٌ، فَإِنَّ هٰذَا أَيْضًا ضَرُورِيٌّ.
Mengetahui adanya sesuatu yang qadim azali bukanlah
pengetahuan daruri, seperti pengetahuan bahwa dua lebih banyak daripada satu,
atau pengetahuan bahwa terjadinya sesuatu yang baru tanpa sebab adalah
mustahil. Yang terakhir ini termasuk pengetahuan daruri.
فَحَقُّ
غَرِيزَةِ الْعَقْلِ أَنْ تَتَوَقَّفَ عَنِ التَّصْدِيقِ بِوُجُودِ الْقَدِيمِ
عَلَى الِارْتِجَالِ وَالْبَدِيهَةِ.
Maka tabiat akal sewajarnya berhenti dari langsung
membenarkan adanya yang qadim hanya dengan spontanitas dan tanpa penalaran.
ثُمَّ
مِنَ النَّاسِ مَنْ يَسْمَعُ ذٰلِكَ وَيُصَدِّقُ بِالسَّمَاعِ تَصْدِيقًا جَزْمًا
وَيَسْتَمِرُّ عَلَيْهِ، وَذٰلِكَ هُوَ الِاعْتِقَادُ، وَهُوَ حَالُ جَمِيعِ
الْعَوَامِّ.
Kemudian di antara manusia ada yang mendengar persoalan itu
lalu membenarkannya hanya dengan mendengar, secara mantap, dan tetap berada di
atasnya. Itulah i‘tiqad atau keyakinan biasa, dan itulah keadaan seluruh orang
awam.
وَمِنَ
النَّاسِ مَنْ يُصَدِّقُ بِهِ بِالْبُرْهَانِ، وَهُوَ أَنْ يُقَالَ لَهُ: إِنْ
لَمْ يَكُنْ فِي الْوُجُودِ قَدِيمٌ، فَالْمَوْجُودَاتُ كُلُّهَا حَادِثَةٌ.
Dan di antara manusia ada yang membenarkannya melalui
burhan, yaitu dengan dikatakan kepadanya: “Jika dalam wujud ini tidak ada
sesuatu yang qadim, maka seluruh yang ada berarti baru.”
فَإِنْ
كَانَتْ كُلُّهَا حَادِثَةً، فَهِيَ حَادِثَةٌ بِلَا سَبَبٍ، أَوْ فِيهَا حَادِثٌ
بِلَا سَبَبٍ، وَذٰلِكَ مُحَالٌ.
Jika semuanya baru, maka semuanya menjadi ada tanpa sebab,
atau setidaknya ada satu yang baru tanpa sebab, dan itu mustahil.
فَالْمُؤَدِّي
إِلَى الْمُحَالِ مُحَالٌ، فَيَلْزَمُ فِي الْعَقْلِ التَّصْدِيقُ بِوُجُودِ
شَيْءٍ قَدِيمٍ بِالضَّرُورَةِ، لِأَنَّ الْأَقْسَامَ ثَلَاثَةٌ: إِمَّا أَنْ
تَكُونَ الْمَوْجُودَاتُ كُلُّهَا قَدِيمَةً، أَوْ كُلُّهَا حَادِثَةً، أَوْ
بَعْضُهَا قَدِيمَةً وَبَعْضُهَا حَادِثَةٌ.
Karena sesuatu yang mengantar kepada kemustahilan adalah
mustahil. Maka akal pun secara niscaya mewajibkan pembenaran adanya sesuatu
yang qadim, sebab kemungkinan hanya ada tiga: seluruh yang ada qadim,
seluruhnya baru, atau sebagiannya qadim dan sebagiannya baru.
فَإِنْ
كَانَتْ كُلُّهَا قَدِيمَةً فَقَدْ حَصَلَ الْمَطْلُوبُ، إِذْ ثَبَتَ عَلَى
الْجُمْلَةِ قَدِيمٌ.
Jika semuanya qadim, maka tujuan telah tercapai, karena
secara umum sudah tetap adanya sesuatu yang qadim.
وَإِنْ
كَانَ الْكُلُّ حَادِثًا فَهُوَ مُحَالٌ، إِذْ يُؤَدِّي إِلَى حَادِثٍ بِلَا
سَبَبٍ.
Dan jika semuanya baru, maka itu mustahil, karena akan
mengantar kepada adanya sesuatu yang baru tanpa sebab.
فَيَثْبُتُ
الْقِسْمُ الثَّالِثُ أَوِ الْأَوَّلُ.
Maka yang tersisa adalah kemungkinan pertama atau ketiga.
وَكُلُّ
عِلْمٍ حَصَلَ عَلَى هٰذَا الْوَجْهِ يُسَمَّى يَقِينًا عِنْدَ هٰؤُلَاءِ، سَوَاءٌ
حَصَلَ بِنَظَرٍ مِثْلَ مَا ذَكَرْنَاهُ، أَوْ حَصَلَ بِحِسٍّ، أَوْ بِغَرِيزَةِ
الْعَقْلِ، كَالْعِلْمِ بِاسْتِحَالَةِ حَادِثٍ بِلَا سَبَبٍ، أَوْ بِتَوَاتُرٍ
كَالْعِلْمِ بِوُجُودِ مَكَّةَ، أَوْ بِتَجْرِبَةٍ كَالْعِلْمِ بِأَنَّ
السَّقَمُونِيَا الْمَطْبُوخَ مُسْهِلٌ، أَوْ بِدَلِيلٍ كَمَا ذَكَرْنَا.
Setiap ilmu yang diperoleh dengan cara seperti ini disebut
yakin menurut golongan tersebut, baik diperoleh melalui penalaran seperti yang
kami sebutkan, atau melalui indera, atau melalui naluri akal seperti
pengetahuan tentang mustahilnya sesuatu yang baru tanpa sebab, atau melalui
tawatur seperti pengetahuan tentang adanya Makkah, atau melalui pengalaman
seperti pengetahuan bahwa saqmuniya yang dimasak dapat melancarkan buang air,
ataupun melalui dalil seperti yang telah disebutkan.
فَشَرْطُ
إِطْلَاقِ هٰذَا الِاسْمِ عِنْدَهُمْ عَدَمُ الشَّكِّ، فَكُلُّ عِلْمٍ لَا شَكَّ
فِيهِ يُسَمَّى يَقِينًا عِنْدَ هٰؤُلَاءِ.
Maka syarat penggunaan nama ini menurut mereka adalah tidak
adanya keraguan. Jadi, setiap ilmu yang tidak diragukan disebut yakin menurut
mereka.
وَعَلَى
هٰذَا لَا يُوصَفُ الْيَقِينُ بِالضَّعْفِ، إِذْ لَا تَفَاوُتَ فِي نَفْيِ
الشَّكِّ.
Berdasarkan pengertian ini, yakin tidak disebut kuat atau
lemah, karena tidak ada tingkatan dalam hal meniadakan keraguan.
الِاصْطِلَاحُ
الثَّانِي: اصْطِلَاحُ الْفُقَهَاءِ وَالْمُتَصَوِّفَةِ وَأَكْثَرِ الْعُلَمَاءِ،
وَهُوَ أَنْ لَا يُلْتَفَتَ فِيهِ إِلَى اعْتِبَارِ التَّجْوِيزِ وَالشَّكِّ، بَلْ
إِلَى اسْتِيلَائِهِ وَغَلَبَتِهِ عَلَى الْعَقْلِ.
Istilah kedua adalah istilah para fuqaha, para sufi, dan
kebanyakan ulama, yaitu bahwa dalam pengertian yakin ini perhatian tidak
tertuju pada ada atau tidaknya kemungkinan keraguan, tetapi pada sejauh mana
keyakinan itu menguasai dan mendominasi akal serta hati.
حَتَّى
يُقَالَ: فُلَانٌ ضَعِيفُ الْيَقِينِ بِالْمَوْتِ، مَعَ أَنَّهُ لَا شَكَّ فِيهِ.
Sehingga dikatakan, “Si fulan lemah keyakinannya terhadap
kematian,” padahal kematian itu sendiri tidak diragukan.
وَيُقَالَ:
فُلَانٌ قَوِيُّ الْيَقِينِ فِي إِتْيَانِ الرِّزْقِ، مَعَ أَنَّهُ قَدْ يُجَوِّزُ
أَنَّهُ لَا يَأْتِيهِ.
Dan dikatakan pula, “Si fulan kuat keyakinannya tentang
datangnya rezeki,” padahal ia sendiri masih mungkin membayangkan bahwa rezeki
itu mungkin tidak datang.
فَمَهْمَا
مَالَتِ النَّفْسُ إِلَى التَّصْدِيقِ بِشَيْءٍ، وَغَلَبَ ذٰلِكَ عَلَى الْقَلْبِ
وَاسْتَوْلَى، حَتَّى صَارَ هُوَ الْمُتَحَكِّمَ وَالْمُتَصَرِّفَ فِي النَّفْسِ
بِالتَّجْوِيزِ وَالْمَنْعِ، سُمِّيَ ذٰلِكَ يَقِينًا.
Maka kapan pun jiwa condong kepada pembenaran sesuatu, lalu
hal itu menguasai hati dan mendominasinya hingga menjadi pengendali dan
pengarah jiwa dalam menerima atau menolak, maka keadaan itu disebut yakin.
وَلَا
شَكَّ فِي أَنَّ النَّاسَ يَشْتَرِكُونَ فِي الْقَطْعِ بِالْمَوْتِ
وَالِانْفِكَاكِ عَنِ الشَّكِّ فِيهِ، وَلٰكِنْ فِيهِمْ مَنْ لَا يَلْتَفِتُ
إِلَيْهِ وَلَا إِلَى الِاسْتِعْدَادِ لَهُ، وَكَأَنَّهُ غَيْرُ مُوقِنٍ بِهِ.
Tidak diragukan bahwa manusia sama-sama pasti akan kematian
dan tidak meragukannya. Akan tetapi, di antara mereka ada yang tidak
memperhatikannya dan tidak mempersiapkan diri untuknya, seolah-olah ia tidak
yakin kepadanya.
وَمِنْهُمْ
مَنْ اسْتَوْلَى ذٰلِكَ عَلَى قَلْبِهِ حَتَّى اسْتَغْرَقَ جَمِيعَ هَمِّهِ
بِالِاسْتِعْدَادِ لَهُ، وَلَمْ يُغَادِرْ فِيهِ مُتَّسَعًا لِغَيْرِهِ،
فَيُعَبَّرُ عَنْ مِثْلِ هٰذِهِ الْحَالَةِ بِقُوَّةِ الْيَقِينِ.
Dan di antara mereka ada yang keyakinan tentang kematian itu
telah menguasai hatinya, sehingga seluruh perhatian dirinya terserap untuk
mempersiapkan diri menghadapinya, dan tidak menyisakan ruang bagi selain itu.
Keadaan seperti ini disebut kuatnya yakin.
وَلِذٰلِكَ
قَالَ بَعْضُهُمْ: مَا رَأَيْتُ يَقِينًا لَا شَكَّ فِيهِ أَشْبَهَ بِشَكٍّ لَا
يَقِينَ فِيهِ مِنَ الْمَوْتِ.
Karena itu sebagian mereka berkata, “Aku tidak pernah
melihat sesuatu yang diyakini tanpa keraguan, tetapi perilakunya lebih mirip
dengan sesuatu yang diragukan tanpa keyakinan, seperti kematian.”
وَعَلَى
هٰذَا الِاصْطِلَاحِ يُوصَفُ الْيَقِينُ بِالضَّعْفِ وَالْقُوَّةِ.
Berdasarkan istilah inilah, yakin dapat disifati lemah atau
kuat.
وَنَحْنُ
إِنَّمَا أَرَدْنَا بِقَوْلِنَا إِنَّ مِنْ شَأْنِ عُلَمَاءِ الْآخِرَةِ صَرْفَ
الْعِنَايَةِ إِلَى تَقْوِيَةِ الْيَقِينِ بِالْمَعْنَيَيْنِ جَمِيعًا، وَهُوَ
نَفْيُ الشَّكِّ، ثُمَّ تَسْلِيطُ الْيَقِينِ عَلَى النَّفْسِ حَتَّى يَكُونَ هُوَ
الْغَالِبَ الْمُتَحَكِّمَ عَلَيْهَا الْمُتَصَرِّفَ فِيهَا.
Yang kami maksud ketika mengatakan bahwa termasuk ciri ulama
akhirat ialah memusatkan perhatian pada penguatan yakin dengan kedua makna tadi
sekaligus, yaitu meniadakan keraguan, lalu menjadikan yakin menguasai jiwa
hingga ia menjadi yang dominan, yang mengendalikan, dan yang mengaturnya.
فَإِذَا
فَهِمْتَ هٰذَا عَلِمْتَ أَنَّ الْمُرَادَ مِنْ قَوْلِنَا إِنَّ الْيَقِينَ
يَنْقَسِمُ ثَلَاثَةَ أَقْسَامٍ بِالْقُوَّةِ وَالضَّعْفِ وَالْكَثْرَةِ
وَالْقِلَّةِ وَالْخَفَاءِ وَالْجَلَاءِ.
Jika engkau telah memahami ini, maka engkau akan mengetahui
maksud ucapan kami bahwa yakin terbagi dalam beberapa keadaan dari sisi kuat
dan lemahnya, banyak dan sedikitnya, serta samar dan jelasnya.
فَأَمَّا
بِالْقُوَّةِ وَالضَّعْفِ فَعَلَى الِاصْطِلَاحِ الثَّانِي، وَذٰلِكَ فِي
الْغَلَبَةِ وَالِاسْتِيلَاءِ عَلَى الْقَلْبِ.
Adapun kuat dan lemahnya, maka itu menurut istilah yang
kedua, yaitu dalam hal dominasi dan penguasaannya atas hati.
وَدَرَجَاتُ
مَعَانِي الْيَقِينِ فِي الْقُوَّةِ وَالضَّعْفِ لَا تَتَنَاهَى، وَتَفَاوُتُ
الْخَلْقِ فِي الِاسْتِعْدَادِ لِلْمَوْتِ بِحَسَبِ تَفَاوُتِ الْيَقِينِ بِهٰذِهِ
الْمَعَانِي.
Tingkatan-tingkatan makna yakin dalam kuat dan lemahnya
tidak ada batasnya, dan perbedaan manusia dalam mempersiapkan diri menghadapi
kematian sesuai dengan perbedaan yakin mereka dalam makna ini.
وَأَمَّا
التَّفَاوُتُ بِالْخَفَاءِ وَالْجَلَاءِ فِي الِاصْطِلَاحِ الْأَوَّلِ، فَلَا
يُنْكَرُ أَيْضًا.
Adapun perbedaan dari sisi samar dan jelas menurut istilah
pertama, maka itu pun tidak dapat diingkari.
أَمَّا
فِيمَا يَتَطَرَّقُ إِلَيْهِ التَّجْوِيزُ فَلَا يُنْكَرُ، أَعْنِي الِاصْطِلَاحَ
الثَّانِي.
Adapun pada sesuatu yang masih mungkin dimasuki kemungkinan
lain, maka hal itu tidak dapat diingkari, yaitu menurut istilah kedua.
وَفِيمَا
انْتَفَى الشَّكُّ أَيْضًا عَنْهُ لَا سَبِيلَ إِلَى إِنْكَارِهِ.
Bahkan pada sesuatu yang keraguan telah hilang darinya pun,
hal itu juga tidak dapat diingkari.
فَإِنَّكَ
تُدْرِكُ تَفْرِقَةً بَيْنَ تَصْدِيقِكَ بِوُجُودِ مَكَّةَ وَوُجُودِ فَدَكٍ
مَثَلًا، وَبَيْنَ تَصْدِيقِكَ بِوُجُودِ مُوسَى وَوُجُودِ يُوشَعَ عَلَيْهِمَا
السَّلَامُ، مَعَ أَنَّكَ لَا تَشُكُّ فِي الْأَمْرَيْنِ جَمِيعًا.
Sebab engkau dapat merasakan perbedaan antara keyakinanmu
terhadap وجود
Makkah dan وجود
Fadak, misalnya, serta antara keyakinanmu terhadap وجود Musa dan وجود Yusya‘ ‘alaihimassalam, padahal engkau
tidak meragukan kedua-duanya.
فَمُسْتَنَدُهُمَا
جَمِيعًا التَّوَاتُرُ، وَلٰكِنَّكَ تَرَى أَحَدَهُمَا أَجْلَى وَأَوْضَحَ فِي
قَلْبِكَ مِنَ الثَّانِي، لِأَنَّ السَّبَبَ فِي أَحَدِهِمَا أَقْوَى، وَهُوَ
كَثْرَةُ الْمُخْبِرِينَ.
Padahal dasar keduanya adalah tawatur. Akan tetapi, engkau
melihat salah satunya lebih jelas dan lebih terang dalam hatimu daripada yang
lain, karena sebab pada salah satunya lebih kuat, yaitu banyaknya orang yang
mengabarkannya.
وَكَذٰلِكَ
يُدْرِكُ النَّاظِرُ هٰذَا فِي النَّظَرِيَّاتِ الْمَعْرُوفَةِ بِالْأَدِلَّةِ،
فَإِنَّهُ لَيْسَ وُضُوحُ مَا لَاحَ لَهُ بِدَلِيلٍ وَاحِدٍ كَوُضُوحِ مَا لَاحَ
لَهُ بِالْأَدِلَّةِ الْكَثِيرَةِ، مَعَ تَسَاوِيهِمَا فِي نَفْيِ الشَّكِّ.
Demikian pula seorang penalar akan merasakan hal ini pada
perkara-perkara nazhar yang diketahui melalui dalil. Kejelasan sesuatu yang
tampak baginya melalui satu dalil tidak sama dengan kejelasan sesuatu yang
tampak baginya melalui banyak dalil, meskipun keduanya sama-sama meniadakan
keraguan.
وَهٰذَا
قَدْ يُنْكِرُهُ الْمُتَكَلِّمُ الَّذِي يَأْخُذُ الْعِلْمَ مِنَ الْكُتُبِ
وَالسَّمَاعِ، وَلَا يُرَاجِعُ نَفْسَهُ فِيمَا يُدْرِكُهُ مِنْ تَفَاوُتِ
الْأَحْوَالِ.
Hal ini mungkin diingkari oleh ahli kalam yang mengambil
ilmu hanya dari buku dan pendengaran, serta tidak menelaah dirinya sendiri
dalam perbedaan-perbedaan keadaan yang sebenarnya ia rasakan.
وَأَمَّا
الْقِلَّةُ وَالْكَثْرَةُ فَذٰلِكَ بِكَثْرَةِ مُتَعَلَّقَاتِ الْيَقِينِ، كَمَا
يُقَالُ: فُلَانٌ أَكْثَرُ عِلْمًا مِنْ فُلَانٍ، أَيْ مَعْلُومَاتُهُ أَكْثَرُ.
Adapun sedikit dan banyaknya yakin, maka itu kembali kepada
banyaknya objek-objek yakin. Sebagaimana dikatakan, “Si fulan lebih banyak
ilmunya daripada si fulan,” artinya informasi atau hal-hal yang diketahuinya
lebih banyak.
وَلِذٰلِكَ
قَدْ يَكُونُ الْعَالِمُ قَوِيَّ الْيَقِينِ فِي جَمِيعِ مَا وَرَدَ بِهِ
الشَّرْعُ، وَقَدْ يَكُونُ قَوِيَّ الْيَقِينِ فِي بَعْضِهِ.
Karena itu, seorang alim bisa saja kuat keyakinannya dalam
seluruh hal yang dibawa syariat, dan bisa juga kuat keyakinannya hanya pada
sebagian darinya.
فَإِنْ
قُلْتَ: قَدْ فَهِمْتُ الْيَقِينَ وَقُوَّتَهُ وَضَعْفَهُ وَكَثْرَتَهُ
وَقِلَّتَهُ وَجَلَاءَهُ وَخَفَاءَهُ بِمَعْنَى نَفْيِ الشَّكِّ أَوْ بِمَعْنَى
الِاسْتِيلَاءِ عَلَى الْقَلْبِ، فَمَا مَعْنَى مُتَعَلَّقَاتِ الْيَقِينِ
وَمَجَارِيهِ، وَفِيمَاذَا يُطْلَبُ الْيَقِينُ؟ فَإِنِّي مَا لَمْ أَعْرِفْ مَا
يُطْلَبُ فِيهِ الْيَقِينُ لَمْ أَقْدِرْ عَلَى طَلَبِهِ.
Jika engkau berkata, “Aku telah memahami yakin, kuat dan
lemahnya, banyak dan sedikitnya, jelas dan samarnya, baik dalam arti hilangnya
keraguan maupun dalam arti penguasaan hati. Lalu apakah makna objek-objek yakin
dan jalur-jalurnya? Dan dalam perkara apa yakin itu dicari? Sebab selama aku
belum mengetahui dalam perkara apa yakin itu dicari, aku tidak akan mampu
mencarinya.”
فَاعْلَمْ
أَنَّ جَمِيعَ مَا وَرَدَ بِهِ الْأَنْبِيَاءُ صَلَوَاتُ اللَّهِ وَسَلَامُهُ
عَلَيْهِمْ مِنْ أَوَّلِهِ إِلَى آخِرِهِ هُوَ مِنْ مَجَارِي الْيَقِينِ.
Maka ketahuilah bahwa seluruh hal yang dibawa oleh para
nabi, semoga salawat dan salam Allah tercurah kepada mereka, dari awal sampai
akhir, termasuk dalam jalur-jalur yakin.
فَإِنَّ
الْيَقِينَ عِبَارَةٌ عَنْ مَعْرِفَةٍ مَخْصُوصَةٍ، وَمُتَعَلِّقَةُ
الْمَعْلُومَاتِ الَّتِي وَرَدَتْ بِهَا الشَّرَائِعُ، فَلَا مَطْمَعَ فِي
إِحْصَائِهَا.
Karena yakin adalah pengetahuan tertentu, dan objeknya
adalah berbagai hal yang dibawa oleh syariat. Dan tidak ada harapan untuk dapat
menghitung semuanya.
وَلٰكِنِّي
أُشِيرُ إِلَى بَعْضِهَا، وَهِيَ أُمَّهَاتُهَا.
Akan tetapi, aku akan menunjuk kepada sebagiannya, yaitu
pokok-pokoknya.
فَمِنْ
ذٰلِكَ التَّوْحِيدُ، وَهُوَ أَنْ يَرَى الْأَشْيَاءَ كُلَّهَا مِنْ مُسَبِّبِ
الْأَسْبَابِ، وَلَا يَلْتَفِتَ إِلَى الْوَسَائِطِ، بَلْ يَرَى الْوَسَائِطَ
مُسَخَّرَةً لَا حُكْمَ لَهَا.
Di antaranya ialah tauhid, yaitu bahwa seseorang melihat
segala sesuatu berasal dari Musabbibul-Asbab, dan tidak menoleh kepada
perantara-perantara, tetapi melihat bahwa semua perantara itu ditundukkan dan
tidak memiliki kuasa sendiri.
فَالْمُصَدِّقُ
بِهٰذَا مُوقِنٌ.
Orang yang membenarkan hal ini adalah orang yang memiliki
yakin.
فَإِنِ
انْتَفَى عَنْ قَلْبِهِ مَعَ الْإِيمَانِ إِمْكَانُ الشَّكِّ، فَهُوَ مُوقِنٌ
بِأَحَدِ الْمَعْنَيَيْنِ.
Jika bersama imannya telah hilang dari hatinya kemungkinan
keraguan, maka ia adalah orang yang memiliki yakin menurut salah satu dari dua
pengertian tadi.
فَإِنْ
غَلَبَ عَلَى قَلْبِهِ مَعَ الْإِيمَانِ غَلَبَةً أَزَالَتْ عَنْهُ الْغَضَبَ
عَلَى الْوَسَائِطِ وَالرِّضَا عَنْهُمْ وَالشُّكْرَ لَهُمْ، وَنَزَّلَ
الْوَسَائِطَ فِي قَلْبِهِ مَنْزِلَةَ الْقَلَمِ وَالْيَدِ فِي حَقِّ الْمُنْعِمِ
بِالتَّوْقِيعِ، فَإِنَّهُ لَا يَشْكُرُ الْقَلَمَ وَلَا الْيَدَ وَلَا يَغْضَبُ
عَلَيْهِمَا، بَلْ يَرَاهُمَا آلَتَيْنِ مُسَخَّرَتَيْنِ وَوَاسِطَتَيْنِ، فَقَدْ
صَارَ مُوقِنًا بِالْمَعْنَى الثَّانِي، وَهُوَ الِاسْتِيلَاءُ، وَهُوَ ثَمَرَةُ
الْيَقِينِ الْأَوَّلِ وَرُوحُهُ وَفَائِدَتُهُ.
Jika keyakinan itu menguasai hatinya bersama imannya sampai
menghilangkan kemarahan kepada perantara-perantara, menghilangkan kerelaan dan
rasa syukur kepadanya sebagai pelaku mandiri, dan menjadikan
perantara-perantara di hatinya seperti pena dan tangan dalam kaitannya dengan
pemberi nikmat yang menulis tanda tangan — sebab seseorang tidak berterima
kasih kepada pena dan tangan, dan tidak marah kepada keduanya, tetapi memandang
keduanya hanya sebagai alat yang ditundukkan dan perantara — maka ia telah menjadi
orang yang memiliki yakin menurut pengertian kedua, yaitu penguasaan. Inilah
buah, ruh, dan faedah dari yakin yang pertama.
وَمَهْمَا
تَحَقَّقَ أَنَّ الشَّمْسَ وَالنُّجُومَ وَالْجَمَادَاتِ وَالنَّبَاتَ
وَالْحَيَوَانَ وَكُلَّ مَخْلُوقٍ فَهِيَ مُسَخَّرَاتٌ بِأَمْرِهِ سُبْحَانَهُ
حَسَبَ تَسْخِيرِ الْقَلَمِ فِي يَدِ الْكَاتِبِ، وَأَنَّ الْقُدْرَةَ
الْأَزَلِيَّةَ هِيَ الْمَصْدَرُ لِلْكُلِّ، اسْتَوْلَى عَلَى قَلْبِهِ غَلَبَةُ
التَّوَكُّلِ وَالرِّضَا وَالتَّسْلِيمِ، وَصَارَ مُوقِنًا بَرِيئًا مِنَ
الْغَضَبِ وَالْحِقْدِ وَالْحَسَدِ وَسُوءِ الْخُلُقِ.
Apabila ia benar-benar mengetahui bahwa matahari,
bintang-bintang, benda mati, tumbuhan, hewan, dan seluruh makhluk adalah
makhluk-makhluk yang ditundukkan oleh perintah-Nya, sebagaimana pena
ditundukkan di tangan penulis, dan bahwa kekuasaan azali adalah sumber dari
semuanya, maka dalam hatinya akan menguasai tawakal, ridha, dan pasrah. Ia pun
menjadi orang yang memiliki yakin dan terbebas dari marah, dendam, hasad, dan
buruk akhlak.
فَهٰذَا
أَحَدُ أَبْوَابِ الْيَقِينِ.
Maka ini adalah salah satu pintu yakin.
وَمِنْ
ذٰلِكَ الثِّقَةُ بِضَمَانِ اللَّهِ سُبْحَانَهُ بِالرِّزْقِ فِي قَوْلِهِ
تَعَالَى: {وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ إِلَّا عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا}.
Di antaranya juga adalah kepercayaan kepada jaminan Allah
Subhanahu wa Ta‘ala atas rezeki, sebagaimana firman-Nya: “Dan tidak ada satu
pun makhluk melata di bumi melainkan Allah yang menjamin rezekinya.”
وَالْيَقِينُ
بِأَنَّ ذٰلِكَ يَأْتِيهِ، وَأَنَّ مَا قُدِّرَ لَهُ سَيُسَاقُ إِلَيْهِ.
Dan yakin bahwa rezeki itu akan datang kepadanya, serta
bahwa apa yang telah ditakdirkan baginya pasti akan disampaikan kepadanya.
وَمَهْمَا
غَلَبَ ذٰلِكَ عَلَى قَلْبِهِ كَانَ مُجْمِلًا فِي الطَّلَبِ، وَلَمْ يَشْتَدَّ
حِرْصُهُ وَشَرَهُ وَتَأَسُّفُهُ عَلَى مَا فَاتَهُ.
Jika keyakinan ini menguasai hatinya, maka ia akan bersikap
sederhana dalam mencari rezeki, dan tidak terlalu kuat kerakusannya,
ketamakannya, serta penyesalannya terhadap apa yang luput darinya.
وَأَثْمَرَ
هٰذَا الْيَقِينُ أَيْضًا جُمْلَةً مِنَ الطَّاعَاتِ وَالْأَخْلَاقِ الْحَمِيدَةِ.
Yakin ini juga membuahkan sejumlah ketaatan dan akhlak
terpuji.
وَمِنْ
ذٰلِكَ أَنْ يَغْلِبَ عَلَى قَلْبِهِ أَنَّ مَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ
خَيْرًا يَرَهُ، وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ، وَهُوَ
الْيَقِينُ بِالثَّوَابِ وَالْعِقَابِ.
Di antaranya pula ialah bahwa menguasai hatinya keyakinan
bahwa siapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarrah akan melihatnya, dan siapa
yang mengerjakan keburukan seberat zarrah akan melihatnya. Inilah yakin
terhadap pahala dan hukuman.
حَتَّى
يَرَى نِسْبَةَ الطَّاعَاتِ إِلَى الثَّوَابِ كَنِسْبَةِ الْخُبْزِ إِلَى
الشِّبَعِ، وَنِسْبَةَ الْمَعَاصِي إِلَى الْعِقَابِ كَنِسْبَةِ السُّمُومِ
وَالْأَفَاعِي إِلَى الْهَلَاكِ.
Sampai ia memandang hubungan ketaatan dengan pahala seperti
hubungan roti dengan kenyang, dan hubungan maksiat dengan hukuman seperti
hubungan racun dan ular dengan kebinasaan.
فَكَمَا
يَحْرِصُ عَلَى التَّحْصِيلِ لِلْخُبْزِ طَلَبًا لِلشِّبَعِ، فَيَحْفَظُ قَلِيلَهُ
وَكَثِيرَهُ، فَكَذٰلِكَ يَحْرِصُ عَلَى الطَّاعَاتِ كُلِّهَا قَلِيلِهَا
وَكَثِيرِهَا.
Sebagaimana seseorang bersemangat mencari roti demi kenyang,
lalu menjaga yang sedikit maupun yang banyak darinya, demikian pula ia akan
bersemangat terhadap seluruh ketaatan, baik yang sedikit maupun yang banyak.
وَكَمَا
يَجْتَنِبُ قَلِيلَ السُّمُومِ وَكَثِيرَهَا، فَكَذٰلِكَ يَجْتَنِبُ الْمَعَاصِيَ
قَلِيلَهَا وَكَثِيرَهَا وَصَغِيرَهَا وَكَبِيرَهَا.
Dan sebagaimana ia menjauhi racun, baik sedikit maupun
banyak, demikian pula ia menjauhi maksiat, baik yang sedikit maupun yang
banyak, yang kecil maupun yang besar.
فَالْيَقِينُ
بِالْمَعْنَى الْأَوَّلِ قَدْ يُوجَدُ لِعُمُومِ الْمُؤْمِنِينَ، أَمَّا
بِالْمَعْنَى الثَّانِي فَيَخْتَصُّ بِهِ الْمُقَرَّبُونَ.
Yakin dalam pengertian pertama mungkin dimiliki oleh seluruh
kaum mukminin. Adapun yakin dalam pengertian kedua, maka itu khusus bagi
orang-orang yang didekatkan kepada Allah.
وَثَمَرَةُ
هٰذَا الْيَقِينِ صِدْقُ الْمُرَاقَبَةِ فِي الْحَرَكَاتِ وَالسَّكَنَاتِ
وَالْخَطَرَاتِ، وَالْمُبَالَغَةُ فِي التَّقْوَى وَالتَّحَرُّزُ عَنْ كُلِّ
السَّيِّئَاتِ.
Buah dari yakin ini adalah benar-benar muraqabah dalam
gerak, diam, dan lintasan hati, bersungguh-sungguh dalam takwa, serta sangat
berhati-hati dari seluruh keburukan.
وَكُلَّمَا
كَانَ الْيَقِينُ أَغْلَبَ كَانَ الِاحْتِرَازُ أَشَدَّ وَالتَّشْمِيرُ أَبْلَغَ.
Semakin besar dominasi yakin, maka semakin kuat
kehati-hatian dan semakin besar kesungguhan.
وَمِنْ
ذٰلِكَ الْيَقِينُ بِأَنَّ اللَّهَ تَعَالَى مُطَّلِعٌ عَلَيْكَ فِي كُلِّ حَالٍ،
وَمُشَاهِدٌ لِهَوَاجِسِ ضَمِيرِكَ وَخَفَايَا خَوَاطِرِكَ وَفِكْرِكَ.
Dan di antaranya ialah yakin bahwa Allah Ta‘ala senantiasa
melihatmu dalam setiap keadaan, menyaksikan bisikan-bisikan hatimu, rahasia
lintasanmu, dan pikiranmu.
فَهٰذَا
مُتَيَقَّنٌ عِنْدَ كُلِّ مُؤْمِنٍ بِالْمَعْنَى الْأَوَّلِ، وَهُوَ عَدَمُ
الشَّكِّ.
Hal ini diyakini oleh setiap mukmin dalam pengertian
pertama, yaitu tidak adanya keraguan.
وَأَمَّا
بِالْمَعْنَى الثَّانِي وَهُوَ الْمَقْصُودُ فَهُوَ عَزِيزٌ يَخْتَصُّ بِهِ
الصِّدِّيقُونَ.
Adapun dalam pengertian kedua — dan inilah yang dimaksud —
maka ia adalah sesuatu yang langka, khusus bagi para shiddiqin.
وَثَمَرَتُهُ
أَنْ يَكُونَ الْإِنْسَانُ فِي خَلْوَتِهِ مُتَأَدِّبًا فِي جَمِيعِ أَحْوَالِهِ،
كَالْجَالِسِ بِمَشْهَدِ مَلِكٍ مُعَظَّمٍ يَنْظُرُ إِلَيْهِ، فَإِنَّهُ لَا
يَزَالُ مُطْرِقًا مُتَأَدِّبًا فِي جَمِيعِ أَعْمَالِهِ، مُتَمَاسِكًا
مُحْتَرِزًا عَنْ كُلِّ حَرَكَةٍ تُخَالِفُ هَيْئَةَ الْأَدَبِ.
Buahnya adalah bahwa seseorang dalam kesendiriannya tetap
menjaga adab dalam seluruh keadaannya, seperti orang yang duduk di hadapan
seorang raja agung yang sedang memandangnya. Maka ia akan selalu menunduk,
beradab dalam semua gerak-geriknya, tenang, dan berhati-hati dari setiap
gerakan yang bertentangan dengan adab.
وَيَكُونُ
فِي فِكْرَتِهِ الْبَاطِنَةِ كَهُوَ فِي أَعْمَالِهِ الظَّاهِرَةِ، إِذْ
يَتَحَقَّقُ أَنَّ اللَّهَ تَعَالَى مُطَّلِعٌ عَلَى سَرِيرَتِهِ كَمَا يَطَّلِعُ
الْخَلْقُ عَلَى ظَاهِرِهِ.
Dan ia akan demikian pula dalam pikiran batinnya sebagaimana
dalam amal-amal lahiriahnya, karena ia meyakini bahwa Allah Ta‘ala melihat
batinnya sebagaimana makhluk melihat lahiriahnya.
فَتَكُونُ
مُبَالَغَتُهُ فِي عِمَارَةِ بَاطِنِهِ وَتَطْهِيرِهِ وَتَزْيِينِهِ بِعَيْنِ
اللَّهِ تَعَالَى الْكَائِنَةِ أَشَدَّ مِنْ مُبَالَغَتِهِ فِي تَزْيِينِ
ظَاهِرِهِ لِسَائِرِ النَّاسِ.
Karena itu, kesungguhannya dalam memperbaiki, membersihkan,
dan memperindah batinnya di hadapan pandangan Allah Ta‘ala akan lebih besar
daripada kesungguhannya dalam memperindah lahiriahnya di hadapan manusia.
وَهٰذَا
الْمَقَامُ فِي الْيَقِينِ يُورِثُ الْحَيَاءَ وَالْخَوْفَ وَالِانْكِسَارَ
وَالذُّلَّ وَالِاسْتِكَانَةَ وَالْخُضُوعَ وَجُمْلَةً مِنَ الْأَخْلَاقِ
الْمَحْمُودَةِ.
Maqam dalam yakin ini melahirkan rasa malu, takut, pecah
hati, rendah diri, tunduk, khusyuk, dan berbagai akhlak terpuji lainnya.
وَهٰذِهِ
الْأَخْلَاقُ تُورِثُ أَنْوَاعًا مِنَ الطَّاعَاتِ رَفِيعَةً.
Dan akhlak-akhlak ini melahirkan berbagai jenis ketaatan
yang tinggi.
فَالْيَقِينُ
فِي كُلِّ بَابٍ مِنْ هٰذِهِ الْأَبْوَابِ مِثْلُ الشَّجَرَةِ، وَهٰذِهِ
الْأَخْلَاقُ فِي الْقَلْبِ مِثْلُ الْأَغْصَانِ الْمُتَفَرِّعَةِ مِنْهَا،
وَهٰذِهِ الْأَعْمَالُ وَالطَّاعَاتُ الصَّادِرَةُ مِنَ الْأَخْلَاقِ كَالثِّمَارِ
وَكَالْأَنْوَارِ الْمُتَفَرِّعَةِ مِنَ الْأَغْصَانِ.
Maka yakin dalam setiap bab ini seperti pohon. Akhlak-akhlak
di dalam hati seperti cabang-cabang yang tumbuh darinya. Dan amal-amal serta
ketaatan yang lahir dari akhlak itu seperti buah-buahan dan cahaya-cahaya yang
muncul dari cabang-cabang tersebut.
فَالْيَقِينُ
هُوَ الْأَصْلُ وَالْأَسَاسُ، وَلَهُ مَجَارٍ وَأَبْوَابٌ أَكْثَرُ مِمَّا
عَدَدْنَاهُ، وَسَيَأْتِي ذٰلِكَ فِي رُبْعِ الْمُنْجِيَاتِ إِنْ شَاءَ اللَّهُ
تَعَالَى.
Yakin itulah pokok dan fondasi, dan ia memiliki jalur-jalur
serta pintu-pintu yang lebih banyak daripada yang telah kami sebutkan. Hal itu
akan dijelaskan lagi dalam seperempat bagian Al-Munjiyāt,
insyaallah Ta‘ala.
وَهٰذَا
الْقَدْرُ كَافٍ فِي مَعْنَى اللَّفْظِ الْآنَ.
Kadar penjelasan ini sudah cukup untuk menjelaskan makna
istilah ini sekarang.
وَمِنْهَا
أَنْ يَكُونَ حَزِينًا مُنْكَسِرًا مُطْرِقًا صَامِتًا، يَظْهَرُ أَثَرُ
الْخَشْيَةِ عَلَى هَيْئَتِهِ وَكِسْوَتِهِ وَسِيرَتِهِ وَحَرَكَتِهِ وَسُكُونِهِ
وَنُطْقِهِ وَسُكُوتِهِ، لَا يَنْظُرُ إِلَيْهِ نَاظِرٌ إِلَّا وَكَانَ نَظَرُهُ
مُذَكِّرًا بِاللَّهِ تَعَالَى، وَكَانَتْ صُورَتُهُ دَلِيلًا عَلَى عَمَلِهِ.
Dan di antara tanda-tanda ulama akhirat ialah bahwa ia
tampak sedih, rendah hati, menunduk, dan banyak diam. Bekas rasa takut kepada
Allah terlihat pada penampilannya, pakaiannya, jalannya, geraknya, diamnya,
bicaranya, dan diamnya. Tidak ada seorang pun yang memandangnya melainkan
pandangan itu mengingatkan kepada Allah Ta‘ala, dan penampilannya menjadi
petunjuk atas amalnya.
فَالْجَوَادُ
عَيْنُهُ مِرْآتُهُ.
Sebab mata seseorang adalah cermin dirinya.
وَعُلَمَاءُ
الْآخِرَةِ يُعْرَفُونَ بِسِيمَاهُمْ فِي السَّكِينَةِ وَالذِّلَّةِ
وَالتَّوَاضُعِ.
Ulama akhirat dikenal dari tanda-tanda mereka berupa
ketenangan, kerendahan diri, dan tawaduk.
وَقَدْ
قِيلَ: مَا أَلْبَسَ اللَّهُ عَبْدًا لِبْسَةً أَحْسَنَ مِنْ خُشُوعٍ فِي
سَكِينَةٍ، فَهِيَ لِبْسَةُ الْأَنْبِيَاءِ وَسِيمَا الصَّالِحِينَ
وَالصِّدِّيقِينَ وَالْعُلَمَاءِ.
Dikatakan, “Allah tidak mengenakan suatu pakaian kepada
hamba yang lebih indah daripada kekhusyukan dalam ketenangan. Itulah pakaian
para nabi, tanda orang-orang saleh, para shiddiqin, dan para ulama.”
وَأَمَّا
التَّهَافُتُ فِي الْكَلَامِ وَالتَّشَدُّقُ وَالِاسْتِغْرَاقُ فِي الضَّحِكِ
وَالْحِدَّةُ فِي الْحَرَكَةِ وَالنُّطْقِ، فَكُلُّ ذٰلِكَ مِنْ آثَارِ الْبَطَرِ
وَالْأَمْنِ وَالْغَفْلَةِ عَنْ عَظِيمِ عِقَابِ اللَّهِ تَعَالَى وَشَدِيدِ
سَخَطِهِ، وَهُوَ دَأْبُ أَبْنَاءِ الدُّنْيَا الْغَافِلِينَ عَنِ اللَّهِ
تَعَالَى، دُونَ الْعُلَمَاءِ بِهِ.
Adapun terlalu cepat dalam bicara, berbicara dengan
membesar-besarkan ucapan, tenggelam dalam banyak tertawa, dan sikap berlebihan
dalam gerak dan ucapan, semua itu termasuk bekas dari kesombongan karena
nikmat, rasa aman, dan kelalaian dari besarnya siksa Allah Ta‘ala dan kerasnya
murka-Nya. Itu adalah kebiasaan anak-anak dunia yang lalai dari Allah Ta‘ala,
bukan kebiasaan orang-orang yang mengenal-Nya.
وَهٰذَا
لِأَنَّ الْعُلَمَاءَ ثَلَاثَةٌ، كَمَا قَالَ سَهْلُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ
التُّسْتَرِيُّ رَحْمَةُ اللَّهِ عَلَيْهِ: عَالِمٌ بِأَمْرِ اللَّهِ تَعَالَى لَا
بِأَيَّامِ اللَّهِ، وَهُمُ الْمُفْتُونَ فِي الْحَلَالِ وَالْحَرَامِ، وَهٰذَا
الْعِلْمُ لَا يُورِثُ الْخَشْيَةَ.
Hal ini karena ulama itu ada tiga, sebagaimana Sahl bin
‘Abdillah At-Tustari rahmatullah ‘alaihi berkata: “Ada orang yang berilmu
tentang perintah Allah Ta‘ala tetapi tidak tentang hari-hari Allah, yaitu para
mufti dalam halal dan haram. Ilmu ini tidak melahirkan rasa takut.”
وَعَالِمٌ
بِاللَّهِ تَعَالَى لَا بِأَمْرِ اللَّهِ وَلَا بِأَيَّامِ اللَّهِ، وَهُمْ
عُمُومُ الْمُؤْمِنِينَ.
“Ada pula orang yang mengenal Allah Ta‘ala tetapi tidak
mengetahui perintah Allah dan tidak mengetahui hari-hari Allah, dan mereka
adalah kaum mukminin secara umum.”
وَعَالِمٌ
بِاللَّهِ تَعَالَى وَبِأَمْرِ اللَّهِ تَعَالَى وَبِأَيَّامِ اللَّهِ تَعَالَى،
وَهُمُ الصِّدِّيقُونَ، وَالْخَشْيَةُ وَالْخُشُوعُ إِنَّمَا تَغْلِبُ عَلَيْهِمْ.
“Dan ada orang yang berilmu tentang Allah Ta‘ala, perintah
Allah Ta‘ala, dan hari-hari Allah Ta‘ala, dan mereka itulah para shiddiqin.
Rasa takut dan kekhusyukan itu hanya mendominasi mereka.”
وَأَرَادَ
بِأَيَّامِ اللَّهِ أَنْوَاعَ عُقُوبَاتِهِ الْغَامِضَةِ وَنِعَمِهِ الْبَاطِنَةِ
الَّتِي أَفَاضَهَا عَلَى الْقُرُونِ السَّالِفَةِ وَاللَّاحِقَةِ.
Yang ia maksud dengan “hari-hari Allah” adalah berbagai
macam hukuman-Nya yang samar dan nikmat-nikmat-Nya yang batin, yang telah Dia
curahkan kepada generasi-generasi terdahulu dan yang akan datang.
فَمَنْ
أَحَاطَ عِلْمُهُ بِذٰلِكَ عَظُمَ خَوْفُهُ وَظَهَرَ خُشُوعُهُ.
Maka siapa yang ilmunya mencakup hal itu, akan besarlah rasa
takutnya dan tampaklah kekhusyukannya.
وَقَالَ
عُمَرُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: تَعَلَّمُوا الْعِلْمَ، وَتَعَلَّمُوا لِلْعِلْمِ
السَّكِينَةَ وَالْوَقَارَ وَالْحِلْمَ، وَتَوَاضَعُوا لِمَنْ تَتَعَلَّمُونَ
مِنْهُ، وَلْيَتَوَاضَعْ لَكُمْ مَنْ يَتَعَلَّمُ مِنْكُمْ، وَلَا تَكُونُوا مِنْ
جَبَابِرَةِ الْعُلَمَاءِ، فَلَا يَقُومُ عِلْمُكُمْ بِجَهْلِكُمْ.
‘Umar radhiyallahu ‘anhu berkata, “Pelajarilah ilmu, dan
pelajarilah bersama ilmu itu ketenangan, kewibawaan, kesantunan, serta
kerendahan hati kepada orang yang kalian ambil ilmunya darinya. Dan hendaknya
orang yang belajar dari kalian juga bersikap rendah hati kepada kalian.
Janganlah kalian menjadi ulama yang keras dan sombong, karena ilmu kalian tidak
akan tegak dengan kebodohan kalian.”
وَيُقَالُ:
مَا آتَى اللَّهُ عَبْدًا عِلْمًا إِلَّا آتَاهُ مَعَهُ حِلْمًا وَتَوَاضُعًا
وَحُسْنَ خُلُقٍ وَرِفْقًا، فَذٰلِكَ هُوَ الْعِلْمُ النَّافِعُ.
Dikatakan, “Allah tidak memberikan ilmu kepada seorang hamba
kecuali Dia berikan bersamanya kesantunan, tawaduk, akhlak yang baik, dan
kelembutan. Itulah ilmu yang bermanfaat.”
وَفِي
الْأَثَرِ: مَنْ آتَاهُ اللَّهُ عِلْمًا وَزُهْدًا وَتَوَاضُعًا وَحُسْنَ خُلُقٍ
فَهُوَ إِمَامُ الْمُتَّقِينَ.
Dalam atsar disebutkan, “Barang siapa diberi Allah ilmu,
zuhud, tawaduk, dan akhlak yang baik, maka ia adalah imam bagi orang-orang
bertakwa.”
وَفِي
الْخَبَرِ: إِنَّ مِنْ خِيَارِ أُمَّتِي قَوْمًا يَضْحَكُونَ جَهْرًا مِنْ سَعَةِ
رَحْمَةِ اللَّهِ، وَيَبْكُونَ سِرًّا مِنْ خَوْفِ عَذَابِهِ، أَبْدَانُهُمْ فِي
الْأَرْضِ وَقُلُوبُهُمْ فِي السَّمَاءِ، أَرْوَاحُهُمْ فِي الدُّنْيَا
وَعُقُولُهُمْ فِي الْآخِرَةِ، يَتَمَشَّوْنَ بِالسَّكِينَةِ وَيَتَقَرَّبُونَ
بِالْوَسِيلَةِ.
Dalam riwayat disebutkan, “Sesungguhnya di antara
orang-orang terbaik dari umatku ada kaum yang tertawa terang-terangan karena
luasnya rahmat Allah, tetapi menangis diam-diam karena takut akan azab-Nya.
Jasmani mereka di bumi, tetapi hati mereka di langit. Ruh mereka di dunia,
tetapi akal mereka di akhirat. Mereka berjalan dengan tenang dan mendekatkan
diri kepada Allah dengan berbagai wasilah.”
وَقَالَ
الْحَسَنُ: الْحِلْمُ وَزِيرُ الْعِلْمِ، وَالرِّفْقُ أَبُوهُ، وَالتَّوَاضُعُ
سِرْبَالُهُ.
Al-Hasan berkata, “Kesantunan adalah menteri ilmu,
kelembutan adalah ayahnya, dan tawaduk adalah pakaiannya.”
وَقَالَ
بِشْرُ بْنُ الْحَارِثِ: مَنْ طَلَبَ الرِّيَاسَةَ بِالْعِلْمِ فَتَقَرَّبْ إِلَى
اللَّهِ تَعَالَى بِبُغْضِهِ، فَإِنَّهُ مَمْقُوتٌ فِي السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ.
Bisyr bin Al-Harits berkata, “Barang siapa mencari
kepemimpinan dengan ilmu, maka dekatkanlah dirimu kepada Allah Ta‘ala dengan
membencinya, karena ia adalah orang yang dibenci di langit dan di bumi.”
وَيُرْوَى
فِي الْإِسْرَائِيلِيَّاتِ أَنَّ حَكِيمًا صَنَّفَ ثَلَاثَمِائَةٍ وَسِتِّينَ
مُصَنَّفًا فِي الْحِكْمَةِ حَتَّى وُصِفَ بِالْحَكِيمِ.
Diriwayatkan dalam kisah-kisah Bani Israil bahwa seorang
bijak telah menyusun tiga ratus enam puluh kitab tentang hikmah, sampai ia
dikenal sebagai seorang bijak.
فَأَوْحَى
اللَّهُ تَعَالَى إِلَى نَبِيِّهِمْ: قُلْ لِفُلَانٍ: قَدْ مَلَأْتَ الْأَرْضَ
نِفَاقًا، وَلَمْ تُرِدْنِي مِنْ ذٰلِكَ بِشَيْءٍ، وَإِنِّي لَا أَقْبَلُ مِنْ
نِفَاقِكَ شَيْئًا.
Maka Allah Ta‘ala mewahyukan kepada nabi mereka, “Katakanlah
kepada si fulan itu: ‘Engkau telah memenuhi bumi dengan kemunafikan, dan engkau
sama sekali tidak menghendaki-Ku dari semua itu. Aku tidak menerima sedikit pun
dari kemunafikanmu.’”
فَنَدِمَ
الرَّجُلُ وَتَرَكَ ذٰلِكَ، وَخَالَطَ الْعَامَّةَ فِي الْأَسْوَاقِ، وَوَاكَلَ
بَنِي إِسْرَائِيلَ، وَتَوَاضَعَ فِي نَفْسِهِ.
Maka orang itu menyesal, meninggalkan semua itu, bergaul
dengan orang-orang awam di pasar, makan bersama Bani Israil, dan merendahkan
dirinya.
فَأَوْحَى
اللَّهُ تَعَالَى إِلَى نَبِيِّهِمْ: قُلْ لَهُ: الْآنَ وَفَّقْتَ لِرِضَايَ.
Lalu Allah Ta‘ala mewahyukan kepada nabi mereka, “Katakanlah kepadanya: ‘Sekarang engkau telah diberi taufik menuju keridaan-Ku.’”
وَحَكَى
الْأَوْزَاعِيُّ رَحِمَهُ اللَّهُ عَنْ بِلَالِ بْنِ سَعْدٍ أَنَّهُ كَانَ
يَقُولُ: يَنْظُرُ أَحَدُكُمْ إِلَى الشُّرْطِيِّ فَيَسْتَعِيذُ بِاللَّهِ مِنْهُ،
وَيَنْظُرُ إِلَى عُلَمَاءِ الدُّنْيَا الْمُتَصَنِّعِينَ لِلْخَلْقِ
الْمُتَشَوِّفِينَ إِلَى الرِّيَاسَةِ فَلَا يَمْقُتُهُمْ، وَهُمْ أَحَقُّ
بِالْمَقْتِ مِنْ ذٰلِكَ الشُّرْطِيِّ.
Al-Auza‘i rahimahullah meriwayatkan dari Bilal bin Sa‘d
bahwa ia berkata, “Salah seorang dari kalian melihat seorang polisi lalu
berlindung kepada Allah darinya, tetapi ia melihat ulama dunia yang
berpura-pura di hadapan manusia dan sangat menginginkan kepemimpinan, namun ia
tidak membenci mereka, padahal mereka lebih berhak untuk dibenci daripada
polisi itu.”
وَرُوِيَ
أَنَّهُ قِيلَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَيُّ الْأَعْمَالِ أَفْضَلُ؟
Diriwayatkan bahwa pernah ditanyakan, “Wahai Rasulullah,
amal apakah yang paling utama?”
قَالَ:
اجْتِنَابُ الْمَحَارِمِ، وَلَا يَزَالُ فُوكَ رَطْبًا مِنْ ذِكْرِ اللَّهِ
تَعَالَى.
Beliau menjawab, “Menjauhi hal-hal yang diharamkan, dan
hendaklah mulutmu senantiasa basah dengan zikir kepada Allah Ta‘ala.”
قِيلَ:
فَأَيُّ الْأَصْحَابِ خَيْرٌ؟
Ditanyakan lagi, “Lalu sahabat seperti apa yang paling
baik?”
قَالَ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: صَاحِبٌ إِنْ ذَكَرْتَ اللَّهَ أَعَانَكَ،
وَإِنْ نَسِيتَهُ ذَكَّرَكَ.
Nabi ﷺ
menjawab, “Sahabat yang jika engkau berzikir kepada Allah, ia membantumu, dan
jika engkau lalai, ia mengingatkanmu.”
قِيلَ:
فَأَيُّ الْأَصْحَابِ شَرٌّ؟
Ditanyakan lagi, “Lalu sahabat seperti apa yang paling
buruk?”
قَالَ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: صَاحِبٌ إِنْ نَسِيتَ لَمْ يُذَكِّرْكَ،
وَإِنْ ذَكَرْتَ لَمْ يُعِنْكَ.
Beliau bersabda, “Sahabat yang jika engkau lalai ia tidak
mengingatkanmu, dan jika engkau berzikir ia tidak membantumu.”
قِيلَ:
فَأَيُّ النَّاسِ أَعْلَمُ؟
Ditanyakan lagi, “Lalu siapakah manusia yang paling
berilmu?”
قَالَ:
أَشَدُّهُمْ لِلَّهِ خَشْيَةً.
Beliau menjawab, “Orang yang paling kuat rasa takutnya
kepada Allah.”
قِيلَ:
فَأَخْبِرْنَا بِخِيَارِنَا نُجَالِسُهُمْ.
Ditanyakan lagi, “Beritahukan kepada kami siapa orang-orang
terbaik di antara kami agar kami duduk bersama mereka.”
قَالَ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: الَّذِينَ إِذَا رُؤُوا ذُكِرَ اللَّهُ.
Beliau menjawab, “Mereka adalah orang-orang yang jika
dilihat, orang akan teringat kepada Allah.”
قِيلَ:
فَأَيُّ النَّاسِ شَرٌّ؟
Ditanyakan lagi, “Lalu siapakah manusia yang paling buruk?”
قَالَ:
اللَّهُمَّ غُفْرًا.
Beliau berkata, “Ya Allah, ampunilah.”
قَالُوا:
أَخْبِرْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ.
Mereka berkata, “Beritahukan kepada kami, wahai Rasulullah.”
قَالَ:
الْعُلَمَاءُ إِذَا فَسَدُوا.
Beliau menjawab, “Para ulama apabila mereka rusak.”
وَقَالَ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ أَمَانًا يَوْمَ
الْقِيَامَةِ أَكْثَرُهُمْ فِكْرًا فِي الدُّنْيَا، وَأَكْثَرَ النَّاسِ ضَحِكًا
فِي الْآخِرَةِ أَكْثَرُهُمْ بُكَاءً فِي الدُّنْيَا، وَأَشَدَّ النَّاسِ فَرَحًا
فِي الْآخِرَةِ أَطْوَلُهُمْ حُزْنًا فِي الدُّنْيَا.
Nabi ﷺ
bersabda, “Sesungguhnya manusia yang paling aman pada hari kiamat adalah yang
paling banyak berpikir di dunia. Dan manusia yang paling banyak tertawa di
akhirat adalah yang paling banyak menangis di dunia. Dan manusia yang paling
besar kegembiraannya di akhirat adalah yang paling panjang kesedihannya di
dunia.”
وَقَالَ
عَلِيٌّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ فِي خُطْبَةٍ لَهُ: ذِمَّتِي رَهِينَةٌ، وَأَنَا
بِهِ زَعِيمٌ، إِنَّهُ لَا يَهِيجُ عَلَى التَّقْوَى زَرْعُ قَوْمٍ، وَلَا
يَظْمَأُ عَلَى الْهُدَى سَنَخُ أَصْلٍ.
Ali radhiyallahu ‘anhu berkata dalam salah satu khutbahnya,
“Jiwaku menjadi jaminan dan aku penanggung atasnya: sesungguhnya tanaman suatu
kaum tidak akan tumbuh di atas takwa, dan akar suatu pokok tidak akan kering di
atas petunjuk.”
وَإِنَّ
أَجْهَلَ النَّاسِ مَنْ لَا يَعْرِفُ قَدْرَهُ.
Dan manusia yang paling bodoh adalah orang yang tidak
mengetahui kadar dirinya.
وَإِنَّ
أَبْغَضَ الْخَلْقِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى رَجُلٌ قَمَشَ عِلْمًا، أَغَارَ بِهِ
فِي أَغْبَاشِ الْفِتْنَةِ، سَمَّاهُ أَشْبَاهٌ لَهُ مِنَ النَّاسِ
وَأَرَاذِلُهُمْ عَالِمًا، وَلَمْ يَعِشْ فِي الْعِلْمِ يَوْمًا سَالِمًا.
Dan makhluk yang paling dibenci Allah Ta‘ala adalah seorang
laki-laki yang mencuri sedikit ilmu lalu menggunakannya di tengah kegelapan
fitnah. Orang-orang yang serupa dengannya dan orang-orang rendahan menyebutnya
sebagai alim, padahal ia tidak pernah hidup dalam ilmu satu hari pun dengan
selamat.
تَكَثَّرَ
وَاسْتَكْثَرَ، فَمَا قَلَّ مِنْهُ وَكَفَى خَيْرٌ مِمَّا كَثُرَ وَأَلْهَى.
Ia berusaha menjadi banyak dan merasa banyak. Padahal
sedikit ilmu yang cukup lebih baik daripada banyak ilmu yang melalaikan.
حَتَّى
إِذَا ارْتَوَى مِنْ مَاءٍ آجِنٍ، وَأَكْثَرَ مِنْ غَيْرِ طَائِلٍ، جَلَسَ
لِلنَّاسِ مُعَلِّمًا لِتَخْلِيصِ مَا الْتَبَسَ عَلَى غَيْرِهِ.
Sampai ketika ia merasa puas dengan air yang busuk dan
memperbanyak sesuatu yang tidak bermanfaat, ia pun duduk di hadapan manusia
sebagai guru, seolah-olah hendak menjelaskan apa yang telah rancu bagi orang
lain.
فَإِنْ
نَزَلَتْ بِهِ إِحْدَى الْمُهِمَّاتِ هَيَّأَ لَهَا مِنْ رَأْيِهِ حَشْوَ
الرَّأْيِ، فَهُوَ وَمَنْ قَطَعَ الشُّبُهَاتِ فِي مِثْلِ نَسْجِ الْعَنْكَبُوتِ.
Lalu jika datang kepadanya suatu persoalan besar, ia
menyiapkan untuknya tumpukan pendapat dari pikirannya sendiri. Maka ia dan
orang yang memutuskan syubhat dengan cara itu hanyalah seperti sarang
laba-laba.
لَا
يَدْرِي أَخَطَأَ أَمْ أَصَابَ، رَكَّابُ جَهَالَاتٍ خَبَّاطُ عَشَوَاتٍ.
Ia sendiri tidak tahu apakah ia salah atau benar. Ia adalah
penunggang kebodohan, peraba-raba dalam kegelapan.
لَا
يَعْتَذِرُ مِمَّا لَا يَعْلَمُ فَيَسْلَمَ، وَلَا يَعَضُّ عَلَى الْعِلْمِ
بِضِرْسٍ قَاطِعٍ فَيَغْنَمَ.
Ia tidak mau meminta maaf atas apa yang tidak diketahuinya
sehingga selamat, dan tidak pula menggigit ilmu dengan gigi geraham yang kuat
sehingga mendapatkan manfaat.
تَبْكِي
مِنْهُ الدِّمَاءُ، وَتُسْتَحَلُّ بِقَضَائِهِ الْفُرُوجُ الْحَرَامُ.
Darah-darah menangis karenanya, dan dengan keputusannya
kemaluan yang haram menjadi dianggap halal.
لَا
مَلِيءٌ وَاللَّهِ بِإِصْدَارِ مَا وَرَدَ عَلَيْهِ، وَلَا هُوَ أَهْلٌ لِمَا
فُوِّضَ إِلَيْهِ.
Demi Allah, ia tidak mampu mengeluarkan keputusan atas apa
yang datang kepadanya, dan ia juga bukan orang yang layak untuk amanah yang
diserahkan kepadanya.
أُولٰئِكَ
الَّذِينَ حَلَّتْ عَلَيْهِمُ الْمَثُلَاتُ، وَحَقَّتْ عَلَيْهِمُ النِّيَاحَةُ
وَالْبُكَاءُ أَيَّامَ حَيَاةِ الدُّنْيَا.
Mereka itulah orang-orang yang telah pantas ditimpa
hukuman-hukuman berat, dan yang layak ditangisi dan diratapi selama hidup di
dunia.
وَقَالَ
عَلِيٌّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: إِذَا سَمِعْتُمُ الْعِلْمَ فَاكْظِمُوا عَلَيْهِ،
وَلَا تَخْلِطُوهُ بِهَزْلٍ فَتَمُجَّهُ الْقُلُوبُ.
Ali radhiyallahu ‘anhu berkata, “Jika kalian mendengar ilmu,
maka jagalah baik-baik, dan jangan campurkan ia dengan senda gurau sehingga
hati-hati memuntahkannya.”
وَقَالَ
بَعْضُ السَّلَفِ: الْعَالِمُ إِذَا ضَحِكَ ضَحْكَةً مَجَّ مِنَ الْعِلْمِ مَجَّةً.
Sebagian salaf berkata, “Seorang alim apabila tertawa satu
kali saja, maka ia telah mengeluarkan satu bagian ilmu dari dirinya.”
وَقِيلَ:
إِذَا جَمَعَ الْمُعَلِّمُ ثَلَاثًا تَمَّتِ النِّعْمَةُ بِهَا عَلَى
الْمُتَعَلِّمِ: الصَّبْرُ، وَالتَّوَاضُعُ، وَحُسْنُ الْخُلُقِ.
Dikatakan, “Jika seorang guru menghimpun tiga sifat, maka
sempurnalah nikmat bagi murid karenanya: sabar, tawaduk, dan akhlak yang baik.”
وَإِذَا
جَمَعَ الْمُتَعَلِّمُ ثَلَاثًا تَمَّتِ النِّعْمَةُ بِهَا عَلَى الْمُعَلِّمِ:
الْعَقْلُ، وَالْأَدَبُ، وَحُسْنُ الْفَهْمِ.
Dan jika seorang murid menghimpun tiga sifat, maka
sempurnalah nikmat bagi guru karenanya: akal, adab, dan baiknya pemahaman.
وَعَلَى
الْجُمْلَةِ فَالْأَخْلَاقُ الَّتِي وَرَدَ بِهَا الْقُرْآنُ لَا يَنْفَكُّ
عَنْهَا عُلَمَاءُ الْآخِرَةِ، لِأَنَّهُمْ يَتَعَلَّمُونَ الْقُرْآنَ لِلْعَمَلِ
لَا لِلرِّيَاسَةِ.
Secara umum, akhlak-akhlak yang dibawa oleh Al-Qur’an tidak
akan terpisah dari ulama akhirat, karena mereka mempelajari Al-Qur’an untuk
diamalkan, bukan untuk meraih kedudukan.
وَقَالَ
ابْنُ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا: لَقَدْ عِشْنَا بُرْهَةً مِنَ الدَّهْرِ،
وَإِنَّ أَحَدَنَا يُؤْتَى الْإِيمَانَ قَبْلَ الْقُرْآنِ، وَتَنْزِلُ السُّورَةُ
فَيَتَعَلَّمُ حَلَالَهَا وَحَرَامَهَا وَأَوَامِرَهَا وَزَوَاجِرَهَا وَمَا
يَنْبَغِي أَنْ يَقِفَ عِنْدَهُ مِنْهَا.
Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma berkata, “Sungguh kami
pernah hidup pada suatu masa, ketika salah seorang dari kami diberi iman
sebelum Al-Qur’an. Lalu turun suatu surah, maka ia mempelajari halal dan
haramnya, perintah-perintahnya, larangan-larangannya, dan apa yang harus ia
berhenti padanya dari surah itu.”
وَلَقَدْ
رَأَيْتُ رِجَالًا يُؤْتَى أَحَدُهُمُ الْقُرْآنَ قَبْلَ الْإِيمَانِ، فَيَقْرَأُ
مَا بَيْنَ فَاتِحَةِ الْكِتَابِ إِلَى خَاتِمَتِهِ، لَا يَدْرِي مَا آمِرُهُ
وَمَا زَاجِرُهُ وَمَا يَنْبَغِي أَنْ يَقِفَ عِنْدَهُ، يَنْثُرُهُ نَثْرَ
الدَّقَلِ.
Dan sungguh aku telah melihat orang-orang yang salah seorang
dari mereka diberi Al-Qur’an sebelum iman. Lalu ia membaca dari Al-Fatihah
sampai akhir Al-Qur’an, tetapi ia tidak tahu apa yang diperintahkannya, apa
yang dilarangnya, dan apa yang seharusnya ia berhenti padanya. Ia menebarkannya
seperti orang menebar kurma buruk.
وَفِي
خَبَرٍ آخَرَ بِمِثْلِ مَعْنَاهُ: كُنَّا أَصْحَابَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، أُوتِينَا الْإِيمَانَ قَبْلَ الْقُرْآنِ،
وَسَتَأْتِي بَعْدَكُمْ قَوْمٌ يُؤْتَوْنَ الْقُرْآنَ قَبْلَ الْإِيمَانِ،
يُقِيمُونَ حُرُوفَهُ وَيُضَيِّعُونَ حُدُودَهُ وَحُقُوقَهُ، يَقُولُونَ:
قَرَأْنَا، فَمَنْ أَقْرَأُ مِنَّا؟ وَعَلِمْنَا، فَمَنْ أَعْلَمُ مِنَّا؟
فَذٰلِكَ حَظُّهُمْ.
Dalam riwayat lain dengan makna yang sama disebutkan, “Kami
adalah sahabat Rasulullah ﷺ.
Kami diberi iman sebelum Al-Qur’an. Dan sesudah kalian akan datang suatu kaum
yang diberi Al-Qur’an sebelum iman. Mereka menegakkan huruf-hurufnya, tetapi
menyia-nyiakan batas-batas dan hak-haknya. Mereka berkata, ‘Kami telah membaca,
maka siapa yang lebih pandai membaca daripada kami? Kami telah mengetahui, maka
siapa yang lebih berilmu daripada kami?’ Itulah bagian mereka.”
وَفِي
لَفْظٍ: أُولٰئِكَ شِرَارُ هٰذِهِ الْأُمَّةِ.
Dalam lafaz lain disebutkan, “Mereka itulah orang-orang
terburuk dari umat ini.”
وَقِيلَ:
خَمْسٌ مِنَ الْأَخْلَاقِ هِيَ مِنْ عَلَامَاتِ عُلَمَاءِ الْآخِرَةِ، مَفْهُومَةٌ
مِنْ خَمْسِ آيَاتٍ مِنْ كِتَابِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ: الْخَشْيَةُ،
وَالْخُشُوعُ، وَالتَّوَاضُعُ، وَحُسْنُ الْخُلُقِ، وَإِيثَارُ الْآخِرَةِ عَلَى
الدُّنْيَا، وَهُوَ الزُّهْدُ.
Dikatakan bahwa ada lima akhlak yang merupakan tanda-tanda
ulama akhirat, yang dipahami dari lima ayat dalam Kitab Allah ‘Azza wa Jalla:
rasa takut kepada Allah, kekhusyukan, tawaduk, akhlak yang baik, dan
mengutamakan akhirat atas dunia, yaitu zuhud.
فَأَمَّا
الْخَشْيَةُ فَمِنْ قَوْلِهِ تَعَالَى: {إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ
الْعُلَمَاءُ}.
Adapun rasa takut kepada Allah, maka ia dipahami dari
firman-Nya: “Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya
hanyalah para ulama.”
وَأَمَّا
الْخُشُوعُ فَمِنْ قَوْلِهِ تَعَالَى: {خَاشِعِينَ لِلَّهِ لَا يَشْتَرُونَ
بِآيَاتِ اللَّهِ ثَمَنًا قَلِيلًا}.
Adapun kekhusyukan, maka ia dipahami dari firman-Nya: “Dalam
keadaan khusyuk kepada Allah, mereka tidak menjual ayat-ayat Allah dengan harga
yang sedikit.”
وَأَمَّا
التَّوَاضُعُ فَمِنْ قَوْلِهِ تَعَالَى: {وَاخْفِضْ جَنَاحَكَ لِلْمُؤْمِنِينَ}.
Adapun tawaduk, maka ia dipahami dari firman-Nya: “Dan
rendahkanlah sayapmu kepada orang-orang yang beriman.”
وَأَمَّا
حُسْنُ الْخُلُقِ فَمِنْ قَوْلِهِ تَعَالَى: {فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ
لِنْتَ لَهُمْ}.
Adapun akhlak yang baik, maka ia dipahami dari firman-Nya:
“Maka dengan rahmat dari Allah engkau bersikap lemah lembut kepada mereka.”
وَأَمَّا
الزُّهْدُ فَمِنْ قَوْلِهِ تَعَالَى: {وَقَالَ الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ
وَيْلَكُمْ ثَوَابُ اللَّهِ خَيْرٌ لِمَنْ آمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا}.
Adapun zuhud, maka ia dipahami dari firman-Nya: “Dan
berkatalah orang-orang yang diberi ilmu, ‘Celakalah kalian, pahala Allah itu
lebih baik bagi orang yang beriman dan beramal saleh.’”
وَلَمَّا
تَلَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَوْلَهُ تَعَالَى:
{فَمَنْ يُرِدِ اللَّهُ أَنْ يَهْدِيَهُ يَشْرَحْ صَدْرَهُ لِلْإِسْلَامِ}، قِيلَ
لَهُ: مَا هٰذَا الشَّرْحُ؟
Ketika Rasulullah ﷺ membaca firman Allah Ta‘ala, “Maka barang siapa Allah kehendaki
untuk memberinya petunjuk, Dia melapangkan dadanya untuk Islam,” beliau
ditanya, “Apakah kelapangan itu?”
فَقَالَ:
إِنَّ النُّورَ إِذَا قُذِفَ فِي الْقَلْبِ انْشَرَحَ لَهُ الصَّدْرُ وَانْفَسَحَ.
Beliau menjawab, “Apabila cahaya dilemparkan ke dalam hati,
maka dada akan lapang dan terbuka karenanya.”
قِيلَ:
فَهَلْ لِذٰلِكَ مِنْ عَلَامَةٍ؟
Ditanyakan lagi, “Apakah hal itu memiliki tanda?”
قَالَ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: نَعَمْ، التَّجَافِي عَنْ دَارِ الْغُرُورِ،
وَالْإِنَابَةُ إِلَى دَارِ الْخُلُودِ، وَالِاسْتِعْدَادُ لِلْمَوْتِ قَبْلَ
نُزُولِهِ.
Beliau ﷺ
menjawab, “Ya, yaitu menjauh dari negeri tipuan, kembali kepada negeri
kekekalan, dan bersiap menghadapi kematian sebelum ia datang.”
وَمِنْهَا
أَنْ يَكُونَ أَكْثَرُ بَحْثِهِ عَنْ عِلْمِ الْأَعْمَالِ وَعَمَّا يُفْسِدُهَا
وَيُشَوِّشُ الْقُلُوبَ وَيُهَيِّجُ الْوَسْوَاسَ وَيُثِيرُ الشَّرَّ، فَإِنَّ
أَصْلَ الدِّينِ التَّوَقِّي مِنَ الشَّرِّ.
Dan di antara tanda-tanda ulama akhirat adalah bahwa
kebanyakan penelitiannya tertuju pada ilmu amal dan hal-hal yang merusaknya,
mengacaukan hati, membangkitkan waswas, dan memunculkan keburukan, karena pokok
agama adalah menjaga diri dari keburukan.
وَلِذٰلِكَ
قِيلَ: عَرَفْتُ الشَّرَّ لَا لِلشَّرِّ، لٰكِنْ لِتَوَقِّيهِ، وَمَنْ لَا
يَعْرِفِ الشَّرَّ مِنَ النَّاسِ يَقَعْ فِيهِ.
Karena itu dikatakan, “Aku mengenal keburukan bukan untuk
keburukan itu sendiri, tetapi untuk menjauhinya. Dan siapa yang tidak mengenal
keburukan, ia akan jatuh ke dalamnya.”
وَلِأَنَّ
الْأَعْمَالَ الْفِعْلِيَّةَ قَرِيبَةٌ، وَأَقْصَاهَا بَلْ أَعْلَاهَا
الْمُوَاظَبَةُ عَلَى ذِكْرِ اللَّهِ تَعَالَى بِالْقَلْبِ وَاللِّسَانِ.
Dan juga karena amal-amal lahiriah itu dekat dan tampak, dan
puncaknya bahkan yang tertingginya adalah terus-menerus berzikir kepada Allah
Ta‘ala dengan hati dan lisan.
وَإِنَّمَا
الشَّأْنُ فِي مَعْرِفَةِ مَا يُفْسِدُهَا وَيُشَوِّشُهَا.
Yang menjadi persoalan besar justru adalah mengenal apa yang
merusaknya dan mengacaukannya.
وَهٰذَا
مِمَّا تَكْثُرُ شُعَبُهُ وَيَطُولُ تَفْرِيعُهُ، وَكُلُّ ذٰلِكَ مِمَّا يَغْلِبُ
مَسِيسُ الْحَاجَةِ إِلَيْهِ، وَتَعُمُّ بِهِ الْبَلْوَى فِي سُلُوكِ طَرِيقِ
الْآخِرَةِ.
Dan hal ini memiliki banyak cabang serta rincian yang
panjang. Semua itu termasuk perkara yang sangat besar kebutuhannya dan umum
menimpa orang-orang yang menempuh jalan akhirat.
وَأَمَّا
عُلَمَاءُ الدُّنْيَا فَإِنَّهُمْ يَتْبَعُونَ غَرَائِبَ التَّفْرِيعَاتِ فِي
الْحُكُومَاتِ وَالْأَقْضِيَةِ، وَيَتْعَبُونَ فِي وَضْعِ صُوَرٍ تَنْقَضِي
الدُّهُورُ وَلَا تَقَعُ أَبَدًا.
Adapun ulama dunia, mereka justru mengejar rincian-rincian
aneh dalam perkara hukum dan peradilan, serta bersusah payah menyusun
gambaran-gambaran kasus yang waktu berabad-abad pun tidak akan menjadikannya
benar-benar terjadi.
وَإِنْ
وَقَعَتْ فَإِنَّمَا تَقَعُ لِغَيْرِهِمْ لَا لَهُمْ، وَإِذَا وَقَعَتْ كَانَ فِي
الْقَائِمِينَ بِهَا كَثْرَةٌ.
Kalaupun terjadi, ia biasanya terjadi pada orang lain, bukan
pada mereka sendiri. Dan bila terjadi, banyak orang lain yang mampu
menanganinya.
وَيَتْرُكُونَ
مَا يُلَازِمُهُمْ وَيَتَكَرَّرُ عَلَيْهِمْ آنَاءَ اللَّيْلِ وَأَطْرَافَ
النَّهَارِ فِي خَوَاطِرِهِمْ وَوَسَاوِسِهِمْ وَأَعْمَالِهِمْ.
Sementara itu, mereka meninggalkan hal-hal yang
terus-menerus menyertai mereka dan berulang pada siang dan malam dalam lintasan
hati, waswas, dan amal-amal mereka.
وَمَا
أَبْعَدَ عَنِ السَّعَادَةِ مَنْ بَاعَ مُهِمَّ نَفْسِهِ اللَّازِمَ بِمُهِمِّ
غَيْرِهِ النَّادِرِ، إِيثَارًا لِلتَّقَرُّبِ وَالْقَبُولِ مِنَ الْخَلْقِ عَلَى
التَّقَرُّبِ مِنَ اللَّهِ سُبْحَانَهُ.
Betapa jauh dari kebahagiaan orang yang menjual perkara
penting bagi dirinya yang selalu menyertainya, dengan perkara penting milik
orang lain yang jarang terjadi, demi mendahulukan pendekatan dan penerimaan
dari makhluk daripada pendekatan kepada Allah Subhanahu wa Ta‘ala.
وَشَرُّهَا
فِي أَنْ يُسَمِّيَهُ الْبَطَّالُونَ مِنْ أَبْنَاءِ الدُّنْيَا فَاضِلًا
مُحَقِّقًا عَالِمًا بِالدَّقَائِقِ.
Dan keburukan tambahannya adalah bahwa orang-orang yang
sia-sia dari kalangan pencinta dunia akan menamakannya sebagai orang mulia,
peneliti, dan alim yang menguasai rincian-rincian halus.
وَجَزَاؤُهُ
مِنَ اللَّهِ أَنْ لَا يَنْتَفِعَ فِي الدُّنْيَا بِقَبُولِ الْخَلْقِ، بَلْ
يَتَكَدَّرُ عَلَيْهِ صَفْوُهُ بِنَوَائِبِ الزَّمَانِ، ثُمَّ يَرِدُ الْقِيَامَةَ
مُفْلِسًا مُتَحَسِّرًا عَلَى مَا يُشَاهِدُهُ مِنْ رِبْحِ الْعَامِلِينَ وَفَوْزِ
الْمُقَرَّبِينَ، وَذٰلِكَ هُوَ الْخُسْرَانُ الْمُبِينُ.
Balasannya dari Allah adalah bahwa ia tidak mendapat manfaat
di dunia dari penerimaan manusia, bahkan kejernihan hidupnya akan keruh karena
berbagai musibah zaman, lalu pada hari kiamat ia datang dalam keadaan bangkrut
dan menyesal ketika melihat keuntungan orang-orang yang beramal dan kemenangan
orang-orang yang didekatkan kepada Allah. Itulah kerugian yang nyata.
وَلَقَدْ
كَانَ الْحَسَنُ الْبَصْرِيُّ رَحِمَهُ اللَّهُ أَشْبَهَ النَّاسِ كَلَامًا
بِكَلَامِ الْأَنْبِيَاءِ عَلَيْهِمُ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ، وَأَقْرَبَهُمْ
هَدْيًا مِنَ الصَّحَابَةِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ، اتَّفَقَتِ الْكَلِمَةُ فِي
حَقِّهِ عَلَى ذٰلِكَ.
Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah adalah orang yang paling
mirip ucapannya dengan ucapan para nabi ‘alaihimus-shalatu was-salam, dan
paling dekat petunjuknya dengan para sahabat radhiyallahu ‘anhum. Semua orang
sepakat dalam hal itu tentang dirinya.
وَكَانَ
أَكْثَرُ كَلَامِهِ فِي خَوَاطِرِ الْقُلُوبِ وَفَسَادِ الْأَعْمَالِ وَوَسَاوِسِ
النُّفُوسِ وَالصِّفَاتِ الْخَفِيَّةِ الْغَامِضَةِ مِنْ شَهَوَاتِ النَّفْسِ.
Kebanyakan ucapannya berkisar pada lintasan-lintasan hati,
rusaknya amal, bisikan-bisikan jiwa, serta sifat-sifat tersembunyi dan samar
dari syahwat النفس.
وَقَدْ
قِيلَ لَهُ: يَا أَبَا سَعِيدٍ، إِنَّكَ تَتَكَلَّمُ بِكَلَامٍ لَا يُسْمَعُ مِنْ
غَيْرِكَ، فَمِنْ أَيْنَ أَخَذْتَهُ؟
Pernah dikatakan kepadanya, “Wahai Abu Sa‘id, engkau
berbicara dengan ucapan yang tidak terdengar dari selainmu. Dari mana engkau
mengambilnya?”
قَالَ:
مِنْ حُذَيْفَةَ بْنِ الْيَمَانِ.
Ia menjawab, “Dari Hudzayfah bin Al-Yaman.”
وَقِيلَ
لِحُذَيْفَةَ: نَرَاكَ تَتَكَلَّمُ بِكَلَامٍ لَا يُسْمَعُ مِنْ غَيْرِكَ مِنَ
الصَّحَابَةِ، فَمِنْ أَيْنَ أَخَذْتَهُ؟
Dan pernah dikatakan kepada Hudzayfah, “Kami melihatmu
berbicara dengan ucapan yang tidak kami dengar dari sahabat lain. Dari mana
engkau mengambilnya?”
فَقَالَ:
خَصَّنِي بِهِ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. كَانَ النَّاسُ
يَسْأَلُونَهُ عَنِ الْخَيْرِ، وَكُنْتُ أَسْأَلُهُ عَنِ الشَّرِّ، مَخَافَةَ أَنْ
أَقَعَ فِيهِ، وَعَلِمْتُ أَنَّ الْخَيْرَ لَا يَسْبِقُنِي عِلْمُهُ.
Ia menjawab, “Rasulullah ﷺ mengkhususkanku dengannya. Manusia biasa
bertanya kepada beliau tentang kebaikan, sedangkan aku bertanya kepada beliau
tentang keburukan karena takut terjatuh ke dalamnya, dan aku tahu bahwa
pengetahuan tentang kebaikan tidak akan luput dariku.”
وَقَالَ
مَرَّةً: فَعَلِمْتُ أَنَّ مَنْ لَا يَعْرِفُ الشَّرَّ لَا يَعْرِفُ الْخَيْرَ.
Pada kesempatan lain ia berkata, “Maka aku mengetahui bahwa
orang yang tidak mengenal keburukan tidak akan mengenal kebaikan.”
وَفِي
لَفْظٍ آخَرَ: كَانُوا يَقُولُونَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، مَا لِمَنْ عَمِلَ كَذَا
وَكَذَا؟ يَسْأَلُونَهُ عَنْ فَضَائِلِ الْأَعْمَالِ، وَكُنْتُ أَقُولُ: يَا
رَسُولَ اللَّهِ، مَا يُفْسِدُ كَذَا وَكَذَا؟
Dalam redaksi lain, Hudzayfah berkata, “Mereka biasa
berkata, ‘Wahai Rasulullah, apakah pahala bagi orang yang melakukan ini dan
itu?’ Mereka bertanya kepada beliau tentang keutamaan amal-amal. Sedangkan aku
berkata, ‘Wahai Rasulullah, apa yang merusak ini dan itu?’”
فَلَمَّا
رَآنِي أَسْأَلُهُ عَنْ آفَاتِ الْأَعْمَالِ خَصَّنِي بِهٰذَا الْعِلْمِ.
Maka ketika beliau melihatku bertanya tentang
penyakit-penyakit amal, beliau pun mengkhususkanku dengan ilmu ini.
وَكَانَ
حُذَيْفَةُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَيْضًا قَدْ خُصَّ بِعِلْمِ الْمُنَافِقِينَ،
وَأُفْرِدَ بِمَعْرِفَةِ عِلْمِ النِّفَاقِ وَأَسْبَابِهِ وَدَقَائِقِ الْفِتَنِ.
Hudzayfah radhiyallahu ‘anhu juga dikhususkan dengan
pengetahuan tentang orang-orang munafik, dan ia secara khusus mengetahui ilmu
tentang nifak, sebab-sebabnya, dan rincian fitnah.
فَكَانَ
عُمَرُ وَعُثْمَانُ وَأَكَابِرُ الصَّحَابَةِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ
يَسْأَلُونَهُ عَنِ الْفِتَنِ الْعَامَّةِ وَالْخَاصَّةِ.
Maka ‘Umar, ‘Utsman, dan para sahabat besar lainnya
radhiyallahu ‘anhum biasa bertanya kepadanya tentang fitnah-fitnah yang umum
dan yang khusus.
وَكَانَ
يُسْأَلُ عَنِ الْمُنَافِقِينَ فَيُخْبِرُ بِعَدَدِ مَنْ بَقِيَ مِنْهُمْ، وَلَا
يُخْبِرُ بِأَسْمَائِهِمْ.
Ia juga ditanya tentang orang-orang munafik, lalu ia
memberitahukan jumlah mereka yang masih tersisa, tetapi tidak memberitahukan
nama-nama mereka.
وَكَانَ
عُمَرُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ يَسْأَلُ عَنْ نَفْسِهِ: هَلْ يَعْلَمُ فِيهِ
شَيْئًا مِنَ النِّفَاقِ؟ فَبَرَّأَهُ مِنْ ذٰلِكَ.
Bahkan ‘Umar radhiyallahu ‘anhu pernah bertanya tentang
dirinya sendiri: apakah Hudzayfah mengetahui adanya nifak pada dirinya? Maka
Hudzayfah menyatakan bahwa ia bersih dari hal itu.
وَكَانَ
عُمَرُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ إِذَا دُعِيَ إِلَى جَنَازَةٍ لِيُصَلِّيَ عَلَيْهَا
نَظَرَ، فَإِنْ حَضَرَ حُذَيْفَةُ صَلَّى عَلَيْهَا، وَإِلَّا تَرَكَهَا.
Dan ‘Umar radhiyallahu ‘anhu apabila diajak untuk
menyalatkan jenazah, ia akan melihat: jika Hudzayfah hadir, ia menyalatkannya;
jika tidak, ia meninggalkannya.
وَكَانَ
يُسَمَّى صَاحِبَ السِّرِّ.
Karena itu Hudzayfah disebut sebagai “pemegang rahasia”.
فَالْعِنَايَةُ
بِمَقَامَاتِ الْقَلْبِ وَأَحْوَالِهِ دَأْبُ عُلَمَاءِ الْآخِرَةِ، لِأَنَّ
الْقَلْبَ هُوَ السَّاعِي إِلَى قُرْبِ اللَّهِ تَعَالَى.
Maka perhatian kepada maqam-maqam hati dan keadaannya adalah
kebiasaan ulama akhirat, karena hati itulah yang berjalan menuju kedekatan
dengan Allah Ta‘ala.
وَقَدْ
صَارَ هٰذَا الْفَنُّ غَرِيبًا مُنْدَرِسًا.
Dan kini cabang ilmu ini telah menjadi asing dan hampir
hilang.
وَإِذَا
تَعَرَّضَ الْعَالِمُ لِشَيْءٍ مِنْهُ اسْتُغْرِبَ وَاسْتُبْعِدَ، وَقِيلَ: هٰذَا
تَزْوِيقُ الْمُذَكِّرِينَ، فَأَيْنَ التَّحْقِيقُ؟
Apabila seorang alim menyentuh sesuatu dari ilmu ini,
orang-orang merasa aneh dan menganggapnya jauh, lalu berkata, “Ini hanyalah
hiasan para penceramah. Di manakah letak penelitiannya?”
وَيَرَوْنَ
أَنَّ التَّحْقِيقَ فِي دَقَائِقِ الْمُجَادَلَاتِ.
Mereka mengira bahwa penelitian yang sesungguhnya justru ada
pada rincian-rincian perdebatan.
وَلَقَدْ
صَدَقَ مَنْ قَالَ: الطُّرُقُ شَتَّى، وَطَرِيقُ الْحَقِّ مُفْرَدَةٌ،
وَالسَّالِكُونَ طَرِيقَ الْحَقِّ أَفْرَادُ.
Benarlah orang yang berkata, “Jalan-jalan itu banyak, tetapi
jalan kebenaran hanya satu, dan orang-orang yang menempuh jalan kebenaran itu
sedikit.”
لَا
يُعْرَفُونَ، وَلَا تُدْرَى مَقَاصِدُهُمْ، فَهُمْ عَلَى مَهَلٍ يَمْشُونَ قَصْدًا.
Mereka tidak dikenal, dan tujuan-tujuan mereka pun tidak
diketahui. Mereka berjalan perlahan dengan lurus.
وَالنَّاسُ
فِي غَفْلَةٍ عَمَّا يُرَادُ بِهِمْ، فَجُلُّهُمْ عَنْ سَبِيلِ الْحَقِّ رُقَادٌ.
Sedangkan manusia berada dalam kelalaian terhadap apa yang
diinginkan dari mereka, dan kebanyakan mereka tertidur dari jalan kebenaran.
وَعَلَى
الْجُمْلَةِ فَلَا يَمِيلُ أَكْثَرُ الْخَلْقِ إِلَّا إِلَى الْأَسْهَلِ
وَالْأَوْفَقِ لِطِبَاعِهِمْ.
Secara umum, kebanyakan manusia tidak condong kecuali kepada
yang paling mudah dan paling sesuai dengan tabiat mereka.
فَإِنَّ
الْحَقَّ مُرٌّ، وَالْوُقُوفَ عَلَيْهِ صَعْبٌ، وَإِدْرَاكَهُ شَدِيدٌ،
وَطَرِيقَهُ مُسْتَوْعِرٌ.
Karena kebenaran itu pahit, berdiri di atasnya sulit,
meraihnya berat, dan jalannya terjal.
وَلَا
سِيَّمَا مَعْرِفَةُ صِفَاتِ الْقَلْبِ وَتَطْهِيرُهُ عَنِ الْأَخْلَاقِ
الْمَذْمُومَةِ، فَإِنَّ ذٰلِكَ نَزْعٌ لِلرُّوحِ عَلَى الدَّوَامِ، وَصَاحِبُهُ
يَنْزِلُ مَنْزِلَةَ الشَّارِبِ لِلدَّوَاءِ، يَصْبِرُ عَلَى مَرَارَتِهِ رَجَاءَ
الشِّفَاءِ.
Terlebih lagi pengetahuan tentang sifat-sifat hati dan
penyuciannya dari akhlak-akhlak tercela, karena hal itu seperti mencabut ruh
terus-menerus. Orang yang menempuhnya seperti orang yang meminum obat pahit dan
bersabar atas kepahitannya demi mengharap kesembuhan.
وَيَنْزِلُ
مَنْزِلَةَ مَنْ جَعَلَ مُدَّةَ الْعُمْرِ صَوْمَهُ، فَهُوَ يُقَاسِي الشَّدَائِدَ
لِيَكُونَ فِطْرُهُ عِنْدَ الْمَوْتِ.
Ia juga seperti orang yang menjadikan seluruh masa hidupnya
sebagai puasa, sehingga ia menanggung berbagai kesulitan agar buka puasanya
terjadi saat kematian.
وَمَتَى
تَكْثُرُ الرَّغْبَةُ فِي هٰذَا الطَّرِيقِ؟
Lalu kapan banyak orang akan menginginkan jalan seperti ini?
وَلِذٰلِكَ
قِيلَ: إِنَّهُ كَانَ فِي الْبَصْرَةِ مِائَةٌ وَعِشْرُونَ مُتَكَلِّمًا فِي
الْوَعْظِ وَالتَّذْكِيرِ، وَلَمْ يَكُنْ مَنْ يَتَكَلَّمُ فِي عِلْمِ الْيَقِينِ
وَأَحْوَالِ الْقُلُوبِ وَصِفَاتِ الْبَاطِنِ إِلَّا ثَلَاثَةٌ: سَهْلُ
التُّسْتَرِيُّ، وَالصُّبَيْحِيُّ، وَعَبْدُ الرَّحِيمِ.
Karena itulah pernah dikatakan bahwa di Bashrah ada seratus
dua puluh orang yang berbicara dalam nasihat dan peringatan, tetapi yang
berbicara tentang ilmu yakin, keadaan hati, dan sifat-sifat batin hanya tiga
orang: Sahl At-Tustari, Ash-Subaihi, dan ‘Abdurrahim.
وَكَانَ
يَجْلِسُ إِلَى أُولٰئِكَ الْخَلْقُ الْكَثِيرُ الَّذِي لَا يُحْصَى، وَإِلَى
هٰؤُلَاءِ عَدَدٌ يَسِيرٌ، قَلَّمَا يُجَاوِزُ الْعَشَرَةَ.
Banyak sekali manusia yang tak terhitung jumlahnya duduk
mendengarkan kelompok pertama, sedangkan yang duduk bersama tiga orang ini
hanyalah sedikit, dan jarang sekali melebihi sepuluh orang.
لِأَنَّ
النَّفِيسَ الْعَزِيزَ لَا يَصْلُحُ إِلَّا لِأَهْلِ الْخُصُوصِ، وَمَا يُبْذَلُ
لِلْعُمُومِ فَأَمْرُهُ قَرِيبٌ.
Karena sesuatu yang bernilai tinggi dan langka hanya pantas
bagi orang-orang khusus, sedangkan apa yang disebarkan untuk umum biasanya
bernilai lebih rendah dan lebih mudah.
وَمِنْهَا
أَنْ يَكُونَ اعْتِمَادُهُ فِي عُلُومِهِ عَلَى بَصِيرَتِهِ وَإِدْرَاكِهِ
بِصَفَاءِ قَلْبِهِ، لَا عَلَى الصُّحُفِ وَالْكُتُبِ، وَلَا عَلَى تَقْلِيدِ مَا
يَسْمَعُهُ مِنْ غَيْرِهِ.
Dan di antara tandanya juga ialah bahwa sandarannya dalam
ilmunya adalah bashirah dan penangkapannya dengan kejernihan hati, bukan
semata-mata pada lembaran-lembaran, kitab-kitab, dan bukan pula pada taklid
terhadap apa yang ia dengar dari orang lain.
وَإِنَّمَا
الْمُقَلَّدُ صَاحِبُ الشَّرْعِ صَلَوَاتُ اللَّهِ عَلَيْهِ وَسَلَامُهُ فِيمَا
أَمَرَ بِهِ وَقَالَهُ.
Yang layak diikuti secara taklid hanyalah pembawa syariat,
semoga salawat dan salam Allah tercurah kepadanya, dalam apa yang beliau
perintahkan dan beliau katakan.
وَإِنَّمَا
يُقَلَّدُ الصَّحَابَةُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ مِنْ حَيْثُ إِنَّ فِعْلَهُمْ
يَدُلُّ عَلَى سَمَاعِهِمْ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ.
Adapun para sahabat radhiyallahu ‘anhum diikuti karena
perbuatan mereka menunjukkan bahwa mereka mendengarnya dari Rasulullah ﷺ.
ثُمَّ
إِذَا قَلَّدَ صَاحِبَ الشَّرْعِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي تَلَقِّي
أَقْوَالِهِ وَأَفْعَالِهِ بِالْقَبُولِ، فَيَنْبَغِي أَنْ يَكُونَ حَرِيصًا عَلَى
فَهْمِ أَسْرَارِهِ.
Kemudian apabila seseorang menerima dengan pasrah
ucapan-ucapan dan perbuatan-perbuatan pembawa syariat ﷺ, maka seharusnya ia sungguh-sungguh
berusaha memahami rahasia-rahasianya.
فَإِنَّ
الْمُقَلِّدَ إِنَّمَا يَفْعَلُ الْفِعْلَ لِأَنَّ صَاحِبَ الشَّرْعِ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَعَلَهُ، وَفِعْلُهُ لَا بُدَّ وَأَنْ يَكُونَ
لِسِرٍّ فِيهِ.
Karena orang yang mengikuti itu melakukan suatu perbuatan
hanya karena pembawa syariat ﷺ
melakukannya, dan perbuatan beliau pasti memiliki rahasia di dalamnya.
فَيَنْبَغِي
أَنْ يَكُونَ شَدِيدَ الْبَحْثِ عَنْ أَسْرَارِ الْأَعْمَالِ وَالْأَقْوَالِ.
Karena itu, ia harus sangat bersungguh-sungguh meneliti
rahasia amal-amal dan ucapan-ucapan.
فَإِنَّهُ
إِنِ اكْتَفَى بِحِفْظِ مَا يُقَالُ كَانَ وِعَاءً لِلْعِلْمِ، وَلَا يَكُونُ
عَالِمًا.
Jika ia hanya merasa cukup dengan menghafal apa yang
dikatakan, maka ia hanyalah wadah ilmu, bukan orang yang benar-benar alim.
وَلِذٰلِكَ
كَانَ يُقَالُ: فُلَانٌ مِنْ أَوْعِيَةِ الْعِلْمِ، فَلَا يُسَمَّى عَالِمًا إِذَا
كَانَ شَأْنُهُ الْحِفْظَ مِنْ غَيْرِ اطِّلَاعٍ عَلَى الْحِكَمِ وَالْأَسْرَارِ.
Karena itu dahulu dikatakan, “Si fulan termasuk wadah-wadah
ilmu,” dan ia tidak disebut alim apabila tugasnya hanya menghafal tanpa
mengetahui hikmah dan rahasia-rahasianya.
وَمَنْ
كُشِفَ عَنْ قَلْبِهِ الْغِطَاءُ وَاسْتَنَارَ بِنُورِ الْهِدَايَةِ صَارَ فِي
نَفْسِهِ مَتْبُوعًا مُقَلَّدًا، فَلَا يَنْبَغِي أَنْ يُقَلِّدَ غَيْرَهُ.
Barang siapa tabir telah tersingkap dari hatinya dan ia
bercahaya dengan نور
hidayah, maka dalam dirinya ia menjadi orang yang diikuti dan dijadikan
panutan. Maka tidak pantas baginya bertaklid kepada selainnya.
وَلِذٰلِكَ
قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا: مَا مِنْ أَحَدٍ إِلَّا يُؤْخَذُ
مِنْ عِلْمِهِ وَيُتْرَكُ إِلَّا رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ.
Karena itu Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata, “Tidak
ada seorang pun kecuali ada bagian dari ilmunya yang diambil dan ada bagian
yang ditinggalkan, kecuali Rasulullah ﷺ.”
وَقَدْ
كَانَ تَعَلَّمَ مِنْ زَيْدِ بْنِ ثَابِتٍ الْفِقْهَ، وَقَرَأَ عَلَى أُبَيِّ بْنِ
كَعْبٍ، ثُمَّ خَالَفَهُمَا فِي الْفِقْهِ وَالْقِرَاءَةِ جَمِيعًا.
Padahal ia pernah belajar fikih dari Zaid bin Tsabit dan membaca Al-Qur’an kepada Ubay bin Ka‘b, kemudian setelah itu ia menyelisihi keduanya dalam fikih dan juga dalam qiraah.
وَقَالَ
بَعْضُ السَّلَفِ: مَا جَاءَنَا عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ قَبِلْنَاهُ عَلَى الرَّأْسِ وَالْعَيْنِ، وَمَا جَاءَنَا عَنِ
الصَّحَابَةِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ فَنَأْخُذُ مِنْهُ وَنَتْرُكُ، وَمَا
جَاءَنَا عَنِ التَّابِعِينَ فَهُمْ رِجَالٌ وَنَحْنُ رِجَالٌ.
Sebagian salaf berkata, “Apa yang datang kepada kami dari
Rasulullah ﷺ
kami terima di atas kepala dan mata kami. Apa yang datang kepada kami dari para
sahabat radhiyallahu ‘anhum, maka kami ambil darinya dan kami tinggalkan
sebagiannya. Adapun yang datang kepada kami dari para tabi‘in, maka mereka
adalah laki-laki dan kami juga laki-laki.”
وَإِنَّمَا
فَضْلُ الصَّحَابَةِ لِمُشَاهَدَتِهِمْ قَرَائِنَ أَحْوَالِ رَسُولِ اللَّهِ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَاعْتِلَاقِ قُلُوبِهِمْ أُمُورًا أُدْرِكَتْ
بِالْقَرَائِنِ، فَسَدَّدَهُمْ ذٰلِكَ إِلَى الصَّوَابِ مِنْ حَيْثُ لَا يَدْخُلُ
فِي الرِّوَايَةِ وَالْعِبَارَةِ، إِذْ فَاضَ عَلَيْهِمْ مِنْ نُورِ النُّبُوَّةِ
مَا يَحْرُسُهُمْ فِي الْأَكْثَرِ عَنِ الْخَطَإِ.
Keutamaan para sahabat hanyalah karena mereka menyaksikan
berbagai petunjuk keadaan Rasulullah ﷺ, dan hati mereka terikat dengan berbagai makna yang dipahami
melalui petunjuk-petunjuk itu. Maka hal itu menuntun mereka kepada kebenaran,
dalam sisi-sisi yang tidak tertampung oleh riwayat dan ungkapan, karena cahaya
kenabian telah melimpah kepada mereka dengan sesuatu yang pada umumnya menjaga
mereka dari kesalahan.
وَإِذَا
كَانَ الِاعْتِمَادُ عَلَى الْمَسْمُوعِ مِنَ الْغَيْرِ تَقْلِيدًا غَيْرَ
مَرْضِيٍّ، فَالِاعْتِمَادُ عَلَى الْكُتُبِ وَالتَّصَانِيفِ أَبْعَدُ.
Jika bersandar pada apa yang didengar dari orang lain saja
merupakan bentuk taklid yang tidak diridhai, maka bersandar hanya pada buku dan
karya tulis lebih jauh lagi dari kebenaran.
بَلِ
الْكُتُبُ وَالتَّصَانِيفُ مُحْدَثَةٌ، لَمْ يَكُنْ شَيْءٌ مِنْهَا فِي زَمَنِ
الصَّحَابَةِ وَصَدْرِ التَّابِعِينَ.
Bahkan kitab-kitab dan karangan-karangan itu adalah sesuatu
yang baru, yang tidak ada sedikit pun darinya pada masa para sahabat dan
generasi awal tabi‘in.
وَإِنَّمَا
حَدَثَتْ بَعْدَ سَنَةِ عِشْرِينَ وَمِائَةٍ مِنَ الْهِجْرَةِ، وَبَعْدَ وَفَاةِ
جَمِيعِ الصَّحَابَةِ وَجُمْلَةِ التَّابِعِينَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ، وَبَعْدَ
وَفَاةِ سَعِيدِ بْنِ الْمُسَيِّبِ وَالْحَسَنِ وَخِيَارِ التَّابِعِينَ.
Semua itu baru muncul setelah tahun seratus dua puluh
Hijriah, setelah wafatnya seluruh sahabat dan sebagian besar tabi‘in
radhiyallahu ‘anhum, serta setelah wafatnya Sa‘id bin Al-Musayyib, Al-Hasan,
dan tokoh-tokoh terbaik tabi‘in.
بَلْ
كَانَ الْأَوَّلُونَ يَكْرَهُونَ كُتُبَ الْأَحَادِيثِ وَتَصْنِيفَ الْكُتُبِ،
لِئَلَّا يَشْتَغِلَ النَّاسُ بِهَا عَنِ الْحِفْظِ وَعَنِ الْقُرْآنِ وَعَنِ
التَّدَبُّرِ وَالتَّذَكُّرِ.
Bahkan orang-orang terdahulu membenci penulisan hadis dan
penyusunan kitab-kitab, agar manusia tidak sibuk dengannya sehingga lalai dari
hafalan, dari Al-Qur’an, dari tadabbur, dan dari peringatan.
وَقَالُوا:
احْفَظُوا كَمَا كُنَّا نَحْفَظُ.
Mereka berkata, “Hafalkanlah sebagaimana kami dahulu
menghafal.”
وَلِذٰلِكَ
كَرِهَ أَبُو بَكْرٍ وَجَمَاعَةٌ مِنَ الصَّحَابَةِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ
تَصْحِيفَ الْقُرْآنِ فِي مُصْحَفٍ، وَقَالُوا: كَيْفَ نَفْعَلُ شَيْئًا مَا
فَعَلَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ؟
Karena itulah Abu Bakar dan sekelompok sahabat radhiyallahu
‘anhum semula tidak menyukai pengumpulan Al-Qur’an dalam satu mushaf, dan
mereka berkata, “Bagaimana kita melakukan sesuatu yang tidak pernah dilakukan
Rasulullah ﷺ?”
وَخَافُوا
اتِّكَالَ النَّاسِ عَلَى الْمَصَاحِفِ، وَقَالُوا: نَتْرُكُ الْقُرْآنَ
يَتَلَقَّاهُ بَعْضُهُمْ مِنْ بَعْضٍ بِالتَّلْقِينِ وَالْإِقْرَاءِ، لِيَكُونَ
هٰذَا شُغْلَهُمْ وَهَمَّهُمْ.
Mereka khawatir manusia akan bergantung pada mushaf-mushaf,
lalu berkata, “Biarkan Al-Qur’an diterima oleh sebagian mereka dari sebagian
yang lain melalui talaqqi dan pengajaran langsung, agar itu menjadi kesibukan
dan perhatian utama mereka.”
حَتَّى
أَشَارَ عُمَرُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ وَبَقِيَّةُ الصَّحَابَةِ بِكِتَابَةِ
الْقُرْآنِ، خَوْفًا مِنْ تَخَاذُلِ النَّاسِ وَتَكَاسُلِهِمْ، وَحَذَرًا مِنْ
أَنْ يَقَعَ نِزَاعٌ فَلَا يُوجَدَ أَصْلٌ يُرْجَعُ إِلَيْهِ فِي كَلِمَةٍ أَوْ
قِرَاءَةٍ مِنَ الْمُتَشَابِهَاتِ.
Hingga ‘Umar radhiyallahu ‘anhu dan para sahabat lainnya
mengusulkan penulisan Al-Qur’an, karena khawatir manusia akan lemah dan malas,
serta karena takut akan terjadi perselisihan lalu tidak ada naskah pokok yang
dapat dijadikan rujukan pada suatu kata atau qiraah dari ayat-ayat
mutasyabihat.
فَانْشَرَحَ
صَدْرُ أَبِي بَكْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ لِذٰلِكَ، فَجُمِعَ الْقُرْآنُ فِي
مُصْحَفٍ وَاحِدٍ.
Maka lapanglah dada Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu untuk itu,
lalu Al-Qur’an dikumpulkan dalam satu mushaf.
وَكَانَ
أَحْمَدُ بْنُ حَنْبَلٍ يُنْكِرُ عَلَى مَالِكٍ فِي تَصْنِيفِهِ الْمُوَطَّأَ،
وَيَقُولُ: ابْتَدَعَ مَا لَمْ تَفْعَلْهُ الصَّحَابَةُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ.
Ahmad bin Hanbal pernah mengingkari Malik karena
menyusun Al-Muwaththa’, dan berkata, “Ia telah membuat sesuatu yang
tidak dilakukan oleh para sahabat radhiyallahu ‘anhum.”
وَقِيلَ:
أَوَّلُ كِتَابٍ صُنِّفَ فِي الْإِسْلَامِ كِتَابُ ابْنِ جُرَيْجٍ فِي الْآثَارِ
وَحُرُوفِ التَّفَاسِيرِ عَنْ مُجَاهِدٍ وَعَطَاءٍ وَأَصْحَابِ ابْنِ عَبَّاسٍ
رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ بِمَكَّةَ.
Dikatakan bahwa kitab pertama yang disusun dalam Islam
adalah kitab Ibn Juraij tentang atsar dan bagian-bagian tafsir dari Mujahid,
‘Atha’, dan murid-murid Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhum di Makkah.
ثُمَّ
كِتَابُ مَعْمَرِ بْنِ رَاشِدٍ الصَّنْعَانِيِّ بِالْيَمَنِ، جَمَعَ فِيهِ سُنَنًا
مَأْثُورَةً نَبَوِيَّةً.
Kemudian kitab Ma‘mar bin Rasyid Ash-Shan‘ani di Yaman, yang
di dalamnya ia menghimpun sunnah-sunnah Nabi yang diriwayatkan.
ثُمَّ
كِتَابُ الْمُوَطَّأِ بِالْمَدِينَةِ لِمَالِكِ بْنِ أَنَسٍ، ثُمَّ جَامِعُ
سُفْيَانَ الثَّوْرِيِّ.
Lalu kitab Al-Muwaththa’ di Madinah karya
Malik bin Anas, kemudian Jami‘ karya Sufyan Ats-Tsauri.
ثُمَّ
فِي الْقَرْنِ الرَّابِعِ حَدَثَتْ مُصَنَّفَاتُ الْكَلَامِ، وَكَثُرَ الْخَوْضُ
فِي الْجَدَلِ، وَالْغَوْصُ فِي إِبْطَالِ الْمَقَالَاتِ.
Kemudian pada abad keempat muncullah karya-karya ilmu kalam,
semakin banyak keterlibatan dalam perdebatan, dan semakin dalam pembahasan
dalam membatalkan berbagai pendapat.
ثُمَّ
مَالَ النَّاسُ إِلَيْهِ وَإِلَى الْقَصَصِ وَالْوَعْظِ بِهَا، فَأَخَذَ عِلْمُ
الْيَقِينِ فِي الِانْدِرَاسِ مِنْ ذٰلِكَ الزَّمَانِ.
Lalu manusia condong kepada semua itu, juga kepada
kisah-kisah dan nasihat dengan kisah itu, sehingga ilmu yakin mulai pudar sejak
masa itu.
فَصَارَ
بَعْدَ ذٰلِكَ يُسْتَغْرَبُ عِلْمُ الْقُلُوبِ وَالتَّفْتِيشُ عَنْ صِفَاتِ
النَّفْسِ وَمَكَائِدِ الشَّيْطَانِ.
Sesudah itu, ilmu tentang hati dan penelusuran sifat-sifat
jiwa serta tipu daya setan pun menjadi sesuatu yang dianggap aneh.
وَأَعْرَضَ
عَنْ ذٰلِكَ إِلَّا الْأَقَلُّونَ.
Dan tidak ada yang menaruh perhatian kepadanya kecuali
sedikit orang.
فَصَارَ
يُسَمَّى الْمُجَادِلُ الْمُتَكَلِّمُ عَالِمًا، وَالْقَاصُّ الْمُزَخْرِفُ
كَلَامَهُ بِالْعِبَارَاتِ الْمُسَجَّعَةِ عَالِمًا.
Maka akhirnya orang yang suka berdebat dan ahli kalam
disebut alim, dan pencerita yang menghiasi ucapannya dengan kalimat-kalimat
bersajak pun disebut alim.
وَهٰذَا
لِأَنَّ الْعَوَامَّ هُمُ الْمُسْتَمِعُونَ إِلَيْهِمْ، فَكَانَ لَا يَتَمَيَّزُ
لَهُمْ حَقِيقَةُ الْعِلْمِ مِنْ غَيْرِهِ.
Hal ini karena orang-orang awam lah yang mendengarkan
mereka, sehingga mereka tidak mampu membedakan hakikat ilmu dari selainnya.
وَلَمْ
تَكُنْ سِيرَةُ الصَّحَابَةِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَعُلُومُهُمْ ظَاهِرَةً
عِنْدَهُمْ، حَتَّى كَانُوا يَعْرِفُونَ بِهَا مُبَايَنَةَ هٰؤُلَاءِ لَهُمْ.
Sedangkan kehidupan dan ilmu para sahabat radhiyallahu
‘anhum tidak tampak jelas bagi mereka, sehingga mereka tidak mengenali dengan
itu bahwa orang-orang ini berbeda jauh dari para sahabat.
فَاسْتَمَرَّ
عَلَيْهِمُ اسْمُ الْعُلَمَاءِ، وَتَوَارَثَ اللَّقَبَ خَلَفٌ عَنْ سَلَفٍ.
Akhirnya nama “ulama” terus melekat pada mereka, dan gelar
itu diwarisi oleh generasi belakang dari generasi sebelumnya.
وَأَصْبَحَ
عِلْمُ الْآخِرَةِ مَطْوِيًّا، وَغَابَ عَنْهُمُ الْفَرْقُ بَيْنَ الْعِلْمِ
وَالْكَلَامِ إِلَّا عَنِ الْخَوَاصِّ مِنْهُمْ.
Maka ilmu akhirat menjadi tersembunyi, dan perbedaan antara
ilmu dan ilmu kalam pun hilang dari mereka, kecuali dari kalangan khusus.
كَانُوا
إِذَا قِيلَ لَهُمْ: فُلَانٌ أَعْلَمُ أَمْ فُلَانٌ؟ يَقُولُونَ: فُلَانٌ أَكْثَرُ
عِلْمًا، وَفُلَانٌ أَكْثَرُ كَلَامًا.
Mereka dahulu jika ditanya, “Si fulan lebih berilmu atau si
fulan?” mereka menjawab, “Si fulan lebih banyak ilmunya, dan si fulan lebih
banyak bicaranya.”
فَكَانَ
الْخَوَاصُّ يُدْرِكُونَ الْفَرْقَ بَيْنَ الْعِلْمِ وَبَيْنَ الْقُدْرَةِ عَلَى
الْكَلَامِ.
Dengan demikian, orang-orang khusus mengetahui perbedaan
antara ilmu dan sekadar kemampuan berbicara.
هٰكَذَا
ضَعُفَ الدِّينُ فِي قُرُونٍ سَالِفَةٍ، فَكَيْفَ الظَّنُّ بِزَمَانِكَ هٰذَا،
وَقَدِ انْتَهَى الْأَمْرُ إِلَى أَنَّ مُظْهِرَ الْإِنْكَارِ يُسْتَهْدَفُ
لِنِسْبَتِهِ إِلَى الْجُنُونِ، فَالْأَوْلَى أَنْ يَشْتَغِلَ الْإِنْسَانُ
بِنَفْسِهِ وَيَسْكُتَ.
Demikianlah agama menjadi lemah pada abad-abad yang lalu.
Maka bagaimana lagi dugaanmu tentang zamanmu ini, sementara keadaannya telah
sampai pada titik bahwa orang yang menampakkan pengingkaran justru menjadi
sasaran tuduhan gila. Maka yang lebih utama adalah seseorang menyibukkan diri
dengan dirinya sendiri dan diam.
وَمِنْهَا
أَنْ يَكُونَ شَدِيدَ التَّوَقِّي مِنْ مُحْدَثَاتِ الْأُمُورِ وَإِنِ اتَّفَقَ
عَلَيْهَا الْجُمْهُورُ.
Dan di antara tandanya juga ialah bahwa ia sangat
berhati-hati dari perkara-perkara baru dalam agama, meskipun mayoritas manusia
sepakat atasnya.
فَلَا
يَغُرَّنَّهُ إِطْبَاقُ الْخَلْقِ عَلَى مَا أُحْدِثَ بَعْدَ الصَّحَابَةِ رَضِيَ
اللَّهُ عَنْهُمْ.
Janganlah ia tertipu oleh kesepakatan manusia terhadap apa
yang diada-adakan setelah masa para sahabat radhiyallahu ‘anhum.
وَلْيَكُنْ
حَرِيصًا عَلَى التَّفْتِيشِ عَنْ أَحْوَالِ الصَّحَابَةِ وَسِيَرِهِمْ
وَأَعْمَالِهِمْ، وَمَا كَانَ فِيهِ أَكْثَرُ هَمِّهِمْ.
Hendaklah ia sungguh-sungguh meneliti keadaan para sahabat,
perjalanan hidup mereka, amal-amal mereka, dan hal-hal yang paling banyak
menyibukkan perhatian mereka.
أَكَانَ
فِي التَّدْرِيسِ وَالتَّصْنِيفِ وَالْمُنَاظَرَةِ وَالْقَضَاءِ وَالْوِلَايَةِ
وَتَوَلِّي الْأَوْقَافِ وَالْوَصَايَا وَأَكْلِ مَالِ الْأَيْتَامِ وَمُخَالَطَةِ
السَّلَاطِينِ وَمُجَامَلَتِهِمْ فِي الْعِشْرَةِ؟
Apakah kesibukan utama mereka berada pada mengajar, menulis
kitab, berdebat, menjadi hakim, memegang jabatan, mengurus wakaf dan wasiat,
mengambil harta anak yatim, bergaul dengan penguasa, dan bersikap manis kepada
mereka dalam pergaulan?
أَمْ
كَانَ فِي الْخَوْفِ وَالْحُزْنِ وَالتَّفَكُّرِ وَالْمُجَاهَدَةِ وَمُرَاقَبَةِ
الظَّاهِرِ وَالْبَاطِنِ وَاجْتِنَابِ دَقِيقِ الْإِثْمِ وَجَلِيلِهِ وَالْحِرْصِ
عَلَى إِدْرَاكِ خَفَايَا شَهَوَاتِ النُّفُوسِ وَمَكَائِدِ الشَّيْطَانِ، إِلَى
غَيْرِ ذٰلِكَ مِنْ عُلُومِ الْبَاطِنِ؟
Ataukah kesibukan utama mereka berada pada rasa takut,
kesedihan, perenungan, mujahadah, pengawasan lahir dan batin, menjauhi
dosa-dosa yang halus maupun besar, dan bersemangat mengetahui rahasia syahwat
jiwa serta tipu daya setan, dan selain itu dari ilmu-ilmu batin?
وَاعْلَمْ
تَحْقِيقًا أَنَّ أَعْلَمَ أَهْلِ الزَّمَانِ وَأَقْرَبَهُمْ إِلَى الْحَقِّ
أَشْبَهُهُمْ بِالصَّحَابَةِ وَأَعْرَفُهُمْ بِطَرِيقِ السَّلَفِ، فَمِنْهُمْ
أُخِذَ الدِّينُ.
Ketahuilah dengan sebenar-benarnya bahwa orang yang paling
berilmu pada zamannya dan paling dekat kepada kebenaran adalah orang yang
paling menyerupai para sahabat dan paling mengenal jalan salaf, karena dari
merekalah agama ini diambil.
وَلِذٰلِكَ
قَالَ عَلِيٌّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: خَيْرُنَا أَتْبَعُنَا لِهٰذَا الدِّينِ.
Karena itu Ali radhiyallahu ‘anhu berkata, “Yang terbaik di
antara kita adalah yang paling mengikuti agama ini.”
لَمَّا
قِيلَ لَهُ: خَالَفْتَ فُلَانًا.
Ucapan itu beliau sampaikan ketika dikatakan kepadanya,
“Engkau telah menyelisihi si fulan.”
فَلَا
يَنْبَغِي أَنْ يَكْتَرِثَ بِمُخَالَفَةِ أَهْلِ الْعَصْرِ فِي مُوَافَقَةِ أَهْلِ
عَصْرِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.
Maka tidak sepantasnya seseorang peduli dengan penyelisihan
orang-orang sezaman terhadapnya, selama ia sedang menyesuaikan diri dengan أهل
zaman Rasulullah ﷺ.
فَإِنَّ
النَّاسَ رَأَوْا رَأْيًا فِيمَا هُمْ فِيهِ لِمَيْلِ طِبَاعِهِمْ إِلَيْهِ،
وَلَمْ تَسْمَحْ أَنْفُسُهُمْ بِالِاعْتِرَافِ بِأَنَّ ذٰلِكَ سَبَبُ الْحِرْمَانِ
مِنَ الْجَنَّةِ، فَادَّعَوْا أَنَّهُ لَا سَبِيلَ إِلَى الْجَنَّةِ سِوَاهُ.
Karena manusia telah mengambil suatu pendapat dalam perkara
yang mereka tekuni karena tabiat mereka memang condong kepadanya, dan jiwa
mereka tidak rela mengakui bahwa hal itu dapat menjadi sebab terhalangnya
mereka dari surga. Maka mereka pun mengklaim bahwa tidak ada jalan menuju surga
selain melalui apa yang mereka jalani itu.
وَلِذٰلِكَ
قَالَ الْحَسَنُ: مُحْدَثَانِ أُحْدِثَا فِي الْإِسْلَامِ: رَجُلٌ ذُو رَأْيٍ
سَيِّئٍ زَعَمَ أَنَّ الْجَنَّةَ لِمَنْ رَأَى مِثْلَ رَأْيِهِ، وَمُتْرَفٌ
يَعْبُدُ الدُّنْيَا، لَهَا يَغْضَبُ وَلَهَا يَرْضَى وَإِيَّاهَا يَطْلُبُ،
فَارْفُضُوهُمَا إِلَى النَّارِ.
Karena itu Al-Hasan berkata, “Ada dua perkara baru yang
diada-adakan dalam Islam: seorang lelaki yang memiliki pendapat buruk, lalu
mengira bahwa surga hanya untuk orang yang berpendapat seperti dirinya; dan
seorang yang hidup mewah lalu menyembah dunia, marah karenanya, ridha
karenanya, dan hanya mencarinya. Maka lemparkanlah keduanya ke neraka.”
وَإِنَّ
رَجُلًا أَصْبَحَ فِي هٰذِهِ الدُّنْيَا بَيْنَ مُتْرَفٍ يَدْعُوهُ إِلَى
دُنْيَاهُ، وَصَاحِبِ هَوًى يَدْعُوهُ إِلَى هَوَاهُ، وَقَدْ عَصَمَهُ اللَّهُ
تَعَالَى مِنْهُمَا، يَحِنُّ إِلَى السَّلَفِ الصَّالِحِ، يَسْأَلُ عَنْ
أَفْعَالِهِمْ، وَيَقْتَفِي آثَارَهُمْ، مُتَعَرِّضٌ لِأَجْرٍ عَظِيمٍ، فَكَذٰلِكَ
كُونُوا.
Sungguh, seseorang yang hidup di dunia ini di antara orang
mewah yang mengajaknya kepada dunianya, dan pengikut hawa nafsu yang
mengajaknya kepada hawa nafsunya, lalu Allah Ta‘ala menjaganya dari keduanya,
kemudian ia rindu kepada salaf saleh, bertanya tentang amal-amal mereka, dan
mengikuti jejak mereka, maka ia sedang menjemput pahala yang besar. Maka
jadilah kalian seperti itu.
وَقَدْ
رُوِيَ عَنِ ابْنِ مَسْعُودٍ مَوْقُوفًا وَمُسْنَدًا أَنَّهُ قَالَ: إِنَّمَا
هُمَا اثْنَتَانِ: الْكَلَامُ وَالْهُدَى، فَأَحْسَنُ الْكَلَامِ كَلَامُ اللَّهِ
تَعَالَى، وَأَحْسَنُ الْهُدَى هُدَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ.
Diriwayatkan dari Ibnu Mas‘ud, baik secara mauquf maupun
marfu‘, bahwa ia berkata, “Sesungguhnya hanya ada dua perkara: ucapan dan
petunjuk. Maka sebaik-baik ucapan adalah كلام Allah Ta‘ala, dan sebaik-baik petunjuk
adalah petunjuk Rasulullah ﷺ.”
أَلَا
وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الْأُمُورِ، فَإِنَّ شَرَّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا،
وَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ، وَإِنَّ كُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ.
“Ketahuilah, jauhilah perkara-perkara yang diada-adakan,
karena seburuk-buruk perkara adalah yang diada-adakan, setiap yang diada-adakan
adalah bid‘ah, dan setiap bid‘ah adalah kesesatan.”
أَلَا
لَا يُطَوِّلَنَّ عَلَيْكُمُ الْأَمَدُ فَتَقْسُوَ قُلُوبُكُمْ، أَلَا كُلُّ مَا
هُوَ آتٍ قَرِيبٌ، أَلَا إِنَّ الْبَعِيدَ مَا لَيْسَ بِآتٍ.
“Ketahuilah, jangan sampai masa terasa panjang bagi kalian
hingga hati kalian menjadi keras. Ketahuilah, setiap yang pasti datang itu
dekat. Dan ketahuilah, yang jauh itu hanyalah apa yang tidak akan datang.”
وَفِي
خُطْبَةِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: طُوبَى لِمَنْ
شَغَلَهُ عَيْبُهُ عَنْ عُيُوبِ النَّاسِ، وَأَنْفَقَ مِنْ مَالٍ اكْتَسَبَهُ مِنْ
غَيْرِ مَعْصِيَةٍ، وَخَالَطَ أَهْلَ الْفِقْهِ وَالْحِكَمِ، وَجَانَبَ أَهْلَ
الزَّلَلِ وَالْمَعْصِيَةِ.
Dalam salah satu khutbah Rasulullah ﷺ disebutkan,
“Berbahagialah orang yang disibukkan oleh aib dirinya sendiri dari aib-aib
manusia, menginfakkan harta yang diperolehnya tanpa maksiat, bergaul dengan
orang-orang yang memiliki fikih dan hikmah, serta menjauhi orang-orang yang
tergelincir dan ahli maksiat.”
طُوبَى
لِمَنْ ذَلَّ فِي نَفْسِهِ، وَحَسُنَتْ خَلِيقَتُهُ، وَصَلَحَتْ سَرِيرَتُهُ،
وَعَزَلَ عَنِ النَّاسِ شَرَّهُ.
“Berbahagialah orang yang merendahkan dirinya, baik
perangainya, baik batinnya, dan menjauhkan keburukannya dari manusia.”
طُوبَى
لِمَنْ عَمِلَ بِعِلْمِهِ، وَأَنْفَقَ الْفَضْلَ مِنْ مَالِهِ، وَأَمْسَكَ
الْفَضْلَ مِنْ قَوْلِهِ، وَوَسِعَتْهُ السُّنَّةُ، وَلَمْ يَعْدُهَا إِلَى
بِدْعَةٍ.
“Berbahagialah orang yang mengamalkan ilmunya, menginfakkan
kelebihan hartanya, menahan kelebihan ucapannya, dicukupi oleh sunnah, dan
tidak melampauinya menuju bid‘ah.”
وَكَانَ
ابْنُ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ يَقُولُ: حُسْنُ الْهُدَى فِي آخِرِ
الزَّمَانِ خَيْرٌ مِنْ كَثِيرٍ مِنَ الْعَمَلِ.
Ibnu Mas‘ud radhiyallahu ‘anhu berkata, “Baiknya petunjuk
pada akhir zaman lebih baik daripada banyak amal.”
وَقَالَ:
أَنْتُمْ فِي زَمَانٍ خَيْرُكُمْ فِيهِ الْمُسَارِعُ فِي الْأُمُورِ، وَسَيَأْتِي
بَعْدَكُمْ زَمَانٌ يَكُونُ خَيْرُهُمْ فِيهِ الْمُتَثَبِّتُ الْمُتَوَقِّفُ،
لِكَثْرَةِ الشُّبُهَاتِ.
Dan ia berkata, “Kalian berada pada suatu zaman, yang
terbaik di antara kalian adalah yang cepat bertindak dalam urusan-urusan. Dan
akan datang setelah kalian suatu zaman, yang terbaik di antara mereka adalah
yang teliti dan menahan diri, karena banyaknya syubhat.”
وَقَدْ
صَدَقَ.
Dan ia benar.
فَمَنْ
لَمْ يَتَوَقَّفْ فِي هٰذَا الزَّمَانِ، وَوَافَقَ الْجَمَاهِيرَ فِيمَا هُمْ
عَلَيْهِ، وَخَاضَ فِيمَا خَاضُوا فِيهِ، هَلَكَ كَمَا هَلَكُوا.
Maka siapa yang tidak menahan diri pada zaman ini, lalu
mengikuti mayoritas manusia dalam apa yang mereka tekuni dan terjun dalam apa
yang mereka geluti, maka ia akan binasa sebagaimana mereka binasa.
وَقَالَ
حُذَيْفَةُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: أَعْجَبُ مِنْ هٰذَا أَنَّ مَعْرُوفَكُمُ
الْيَوْمَ مُنْكَرُ زَمَانٍ قَدْ مَضَى، وَأَنَّ مُنْكَرَكُمُ الْيَوْمَ مَعْرُوفُ
زَمَانٍ قَدْ أَتَى، وَإِنَّكُمْ لَا تَزَالُونَ بِخَيْرٍ مَا عَرَفْتُمُ الْحَقَّ
وَكَانَ الْعَالِمُ فِيكُمْ غَيْرَ مُسْتَخَفٍّ بِهِ.
Hudzayfah radhiyallahu ‘anhu berkata, “Yang lebih
mengherankan dari ini ialah bahwa hal yang menurut kalian makruf hari ini
adalah mungkar pada masa yang telah berlalu, dan apa yang kalian anggap mungkar
hari ini dahulu adalah makruf pada suatu masa. Dan kalian akan tetap berada
dalam kebaikan selama kalian masih mengenal kebenaran dan selama orang alim di
antara kalian tidak direndahkan.”
وَلَقَدْ
صَدَقَ، فَإِنَّ أَكْثَرَ مَعْرُوفَاتِ هٰذِهِ الْأَعْصَارِ مِنْكَرَاتٌ فِي
عَصْرِ الصَّحَابَةِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ.
Dan sungguh ia benar, karena kebanyakan hal yang dianggap
makruf pada zaman-zaman ini adalah mungkar pada zaman para sahabat radhiyallahu
‘anhum.
إِذْ
مِنْ غُرَرِ الْمَعْرُوفَاتِ فِي زَمَانِنَا تَزْيِينُ الْمَسَاجِدِ
وَتَنْجِيدُهَا، وَإِنْفَاقُ الْأَمْوَالِ الْعَظِيمَةِ فِي دَقَائِقِ
عِمَارَاتِهَا، وَفَرْشُ الْبُسُطِ الرَّفِيعَةِ فِيهَا.
Karena di antara hal-hal yang paling menonjol yang dianggap
makruf pada zaman kita adalah menghias masjid, memperindahnya, mengeluarkan
harta yang besar untuk rincian pembangunannya, dan membentangkan karpet-karpet
mewah di dalamnya.
وَلَقَدْ
كَانَ يُعَدُّ فَرْشُ الْبَوَارِي فِي الْمَسْجِدِ بِدْعَةً، وَقِيلَ إِنَّهُ مِنْ
مُحْدَثَاتِ الْحَجَّاجِ.
Padahal dahulu membentangkan tikar di dalam masjid saja
dianggap bid‘ah, dan dikatakan bahwa itu termasuk perkara yang diada-adakan
oleh Al-Hajjaj.
فَقَدْ
كَانَ الْأَوَّلُونَ قَلَّمَا يَجْعَلُونَ بَيْنَهُمْ وَبَيْنَ التُّرَابِ
حَاجِزًا.
Karena orang-orang terdahulu jarang sekali membuat pembatas
antara diri mereka dan tanah.
وَكَذٰلِكَ
الِاشْتِغَالُ بِدَقَائِقِ الْجَدَلِ وَالْمُنَاظَرَةِ مِنْ أَجَلِّ عُلُومِ
أَهْلِ الزَّمَانِ، وَيَزْعُمُونَ أَنَّهُ مِنْ أَعْظَمِ الْقُرُبَاتِ، وَقَدْ
كَانَ مِنَ الْمُنْكَرَاتِ.
Demikian pula sibuk dengan rincian debat dan perdebatan
dianggap sebagai ilmu paling agung oleh manusia zaman ini, dan mereka mengira
bahwa itu termasuk bentuk pendekatan diri yang paling besar, padahal dahulu itu
termasuk hal yang mungkar.
وَمِنْ
ذٰلِكَ التَّلْحِينُ فِي الْقُرْآنِ وَالْأَذَانِ.
Dan termasuk hal itu pula ialah berlebihan dalam melagukan
Al-Qur’an dan azan.
وَمِنْ
ذٰلِكَ التَّعَسُّفُ فِي النَّظَافَةِ، وَالْوَسْوَسَةُ فِي الطَّهَارَةِ،
وَتَقْدِيرُ الْأَسْبَابِ الْبَعِيدَةِ فِي نَجَاسَةِ الثِّيَابِ، مَعَ
التَّسَاهُلِ فِي حِلِّ الْأَطْعِمَةِ وَحُرْمَتِهَا، إِلَى نَظَائِرِ ذٰلِكَ.
Dan termasuk pula sikap berlebihan dalam kebersihan, waswas
dalam bersuci, memperhitungkan sebab-sebab yang sangat jauh dalam menilai
najisnya pakaian, sementara mereka justru bermudah-mudahan dalam soal halal dan
haramnya makanan, serta hal-hal serupa lainnya.
وَلَقَدْ
صَدَقَ ابْنُ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ حَيْثُ قَالَ: أَنْتُمْ الْيَوْمَ
فِي زَمَانٍ الْهَوَى فِيهِ تَابِعٌ لِلْعِلْمِ، وَسَيَأْتِي عَلَيْكُمْ زَمَانٌ
يَكُونُ الْعِلْمُ فِيهِ تَابِعًا لِلْهَوَى.
Dan sungguh benar Ibnu Mas‘ud radhiyallahu ‘anhu ketika
berkata, “Kalian hari ini berada pada zaman ketika hawa nafsu tunduk kepada
ilmu. Dan akan datang suatu masa atas kalian ketika ilmu justru tunduk kepada
hawa nafsu.”
وَقَدْ
كَانَ أَحْمَدُ بْنُ حَنْبَلٍ يَقُولُ: تَرَكُوا الْعِلْمَ وَأَقْبَلُوا عَلَى
الْغَرَائِبِ، مَا أَقَلَّ الْعِلْمَ فِيهِمْ، وَاللَّهُ الْمُسْتَعَانُ.
Ahmad bin Hanbal pernah berkata, “Mereka telah meninggalkan
ilmu dan beralih kepada hal-hal aneh. Betapa sedikit ilmu pada mereka. Dan
Allah-lah tempat meminta pertolongan.”
وَقَالَ
مَالِكُ بْنُ أَنَسٍ رَحِمَهُ اللَّهُ: لَمْ تَكُنِ النَّاسُ فِيمَا مَضَى
يَسْأَلُونَ عَنْ هٰذِهِ الْأُمُورِ كَمَا يَسْأَلُ النَّاسُ الْيَوْمَ، وَلَمْ
يَكُنِ الْعُلَمَاءُ يَقُولُونَ: حَرَامٌ وَلَا حَلَالٌ، وَلٰكِنْ أَدْرَكْتُهُمْ
يَقُولُونَ: مُسْتَحَبٌّ وَمَكْرُوهٌ.
Malik bin Anas rahimahullah berkata, “Dahulu manusia tidak
bertanya tentang perkara-perkara ini sebagaimana manusia bertanya hari ini. Dan
para ulama dahulu tidak biasa mengatakan: ‘Ini haram’ atau ‘ini halal’. Akan
tetapi, aku mendapati mereka berkata: ‘Ini dianjurkan’ dan ‘ini dibenci.’”
وَمَعْنَاهُ
أَنَّهُمْ كَانُوا يَنْظُرُونَ فِي دَقَائِقِ الْكَرَاهَةِ وَالِاسْتِحْبَابِ،
فَأَمَّا الْحَرَامُ فَكَانَ فُحْشُهُ ظَاهِرًا.
Maknanya ialah bahwa mereka dahulu memperhatikan
rincian-rincian perkara yang makruh dan yang dianjurkan, sedangkan perkara
haram sudah jelas keburukannya.
وَكَانَ
هِشَامُ بْنُ عُرْوَةَ يَقُولُ: لَا تَسْأَلُوهُمْ الْيَوْمَ عَمَّا أَحْدَثُوهُ
بِأَنْفُسِهِمْ، فَإِنَّهُمْ قَدْ أَعَدُّوا لَهُ جَوَابًا، وَلٰكِنْ سَلُوهُمْ
عَنِ السُّنَّةِ، فَإِنَّهُمْ لَا يَعْرِفُونَهَا.
Hisyam bin ‘Urwah berkata, “Janganlah kalian bertanya kepada
mereka hari ini tentang apa yang mereka ada-adakan sendiri, karena mereka telah
menyiapkan jawaban untuknya. Akan tetapi, tanyalah mereka tentang sunnah,
karena mereka tidak mengetahuinya.”
وَكَانَ
أَبُو سُلَيْمَانَ الدَّارَانِيُّ رَحِمَهُ اللَّهُ يَقُولُ: لَا يَنْبَغِي لِمَنْ
أُلْهِمَ شَيْئًا مِنَ الْخَيْرِ أَنْ يَعْمَلَ بِهِ حَتَّى يَسْمَعَ بِهِ فِي
الْأَثَرِ، فَيَحْمَدُ اللَّهَ تَعَالَى إِذَا وَافَقَ مَا فِي نَفْسِهِ.
Abu Sulaiman Ad-Darani rahimahullah berkata, “Tidak
sepatutnya bagi orang yang diilhamkan suatu kebaikan untuk segera
mengamalkannya sampai ia mendengar dasarnya dalam atsar, lalu ia memuji Allah
Ta‘ala jika hal itu sesuai dengan apa yang ada dalam dirinya.”
وَإِنَّمَا
قَالَ هٰذَا لِأَنَّ مَا قَدْ أُبْدِعَ مِنَ الْآرَاءِ قَدْ قَرَعَ الْأَسْمَاعَ
وَعَلِقَ بِالْقُلُوبِ، وَرُبَّمَا يُشَوِّشُ صَفَاءَ الْقَلْبِ، فَيُتَخَيَّلُ
بِسَبَبِهِ الْبَاطِلُ حَقًّا، فَيَحْتَاطُ فِيهِ بِالِاسْتِظْهَارِ بِشَهَادَةِ
الْآثَارِ.
Ia mengatakan itu karena berbagai pendapat yang diada-adakan
telah masuk ke telinga dan melekat di hati, dan terkadang mengacaukan
kejernihan hati, sehingga kebatilan dibayangkan sebagai kebenaran. Karena itu,
seseorang perlu berhati-hati dengan menguatkan dirinya melalui kesaksian atsar.
وَلِهٰذَا
لَمَّا أَحْدَثَ مَرْوَانُ الْمِنْبَرَ فِي صَلَاةِ الْعِيدِ عِنْدَ الْمُصَلَّى،
قَامَ إِلَيْهِ أَبُو سَعِيدٍ الْخُدْرِيُّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ فَقَالَ: يَا
مَرْوَانُ، مَا هٰذِهِ الْبِدْعَةُ؟
Karena itu, ketika Marwan membuat mimbar untuk salat Id di
tanah lapang, Abu Sa‘id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu berdiri menegurnya dan
berkata, “Wahai Marwan, bid‘ah apa ini?”
فَقَالَ:
إِنَّهَا لَيْسَتْ بِبِدْعَةٍ، إِنَّهَا خَيْرٌ مِمَّا تَعْلَمُ، إِنَّ النَّاسَ
قَدْ كَثُرُوا فَأَرَدْتُ أَنْ يَبْلُغَهُمُ الصَّوْتُ.
Marwan menjawab, “Ini bukan bid‘ah. Ini lebih baik daripada
yang engkau ketahui. Orang-orang sudah banyak, dan aku ingin agar suara sampai
kepada mereka.”
فَقَالَ
أَبُو سَعِيدٍ: وَاللَّهِ لَا تَأْتُونَ بِخَيْرٍ مِمَّا أَعْلَمُ أَبَدًا،
وَاللَّهِ لَا صَلَّيْتُ وَرَاءَكَ الْيَوْمَ.
Abu Sa‘id berkata, “Demi Allah, kalian tidak akan pernah
datang dengan sesuatu yang lebih baik daripada yang aku ketahui. Demi Allah,
aku tidak akan salat di belakangmu hari ini.”
وَإِنَّمَا
أَنْكَرَ ذٰلِكَ عَلَيْهِ لِأَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ كَانَ يَتَوَكَّأُ فِي خُطْبَةِ الْعِيدِ وَالِاسْتِسْقَاءِ عَلَى
قَوْسٍ أَوْ عَصًا، لَا عَلَى الْمِنْبَرِ.
Ia mengingkari hal itu karena Rasulullah ﷺ dahulu bersandar
ketika khutbah Id dan istisqa’ pada busur atau tongkat, bukan pada mimbar.
وَفِي
الْحَدِيثِ الْمَشْهُورِ: مَنْ أَحْدَثَ فِي دِينِنَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ
رَدٌّ.
Dalam hadis yang masyhur disebutkan, “Barang siapa
mengada-adakan dalam urusan agama kami sesuatu yang bukan darinya, maka ia
tertolak.”
وَفِي
خَبَرٍ آخَرَ: مَنْ غَشَّ أُمَّتِي فَعَلَيْهِ لَعْنَةُ اللَّهِ وَالْمَلَائِكَةِ
وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ.
Dalam riwayat lain disebutkan, “Barang siapa menipu umatku,
maka عليه
laknat Allah, para malaikat, dan seluruh manusia.”
قِيلَ:
يَا رَسُولَ اللَّهِ، وَمَا غِشُّ أُمَّتِكَ؟
Ditanyakan, “Wahai Rasulullah, apa yang dimaksud menipu
umatmu?”
قَالَ:
أَنْ يَبْتَدِعَ بِدْعَةً يُحْمَلُ النَّاسُ عَلَيْهَا.
Beliau menjawab, “Yaitu ketika seseorang membuat suatu
bid‘ah lalu manusia dipaksa atau diarahkan untuk mengikutinya.”
وَقَالَ
رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنَّ لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ
مَلَكًا يُنَادِي كُلَّ يَوْمٍ: مَنْ خَالَفَ سُنَّةَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَمْ تَنَلْهُ شَفَاعَتُهُ.
Rasulullah ﷺ
bersabda, “Sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla memiliki seorang malaikat yang
berseru setiap hari: ‘Barang siapa menyelisihi sunnah Rasulullah ﷺ,
maka ia tidak akan mendapatkan syafaat beliau.’”
وَمِثَالُ
الْجَانِي عَلَى الدِّينِ بِإِبْدَاعِ مَا يُخَالِفُ السُّنَّةَ بِالنِّسْبَةِ
إِلَى مَنْ يُذْنِبُ ذَنْبًا، مِثَالُ مَنْ عَصَى الْمَلِكَ فِي قَلْبِ دَوْلَتِهِ
بِالنِّسْبَةِ إِلَى مَنْ خَالَفَ أَمْرَهُ فِي خِدْمَةٍ مُعَيَّنَةٍ.
Perumpamaan orang yang merusak agama dengan mengada-adakan
sesuatu yang menyelisihi sunnah, dibandingkan dengan orang yang hanya berbuat
satu dosa, seperti orang yang durhaka kepada raja di pusat kerajaannya
dibandingkan dengan orang yang sekadar melanggar perintahnya dalam satu urusan
pelayanan tertentu.
وَذٰلِكَ
قَدْ يُغْفَرُ لَهُ، فَأَمَّا فِي قَلْبِ الدَّوْلَةِ فَلَا.
Pelanggaran yang kedua mungkin masih dapat diampuni, tetapi
yang terjadi di pusat negara tidak demikian.
وَقَالَ
بَعْضُ الْعُلَمَاءِ: مَا تَكَلَّمَ فِيهِ السَّلَفُ فَالسُّكُوتُ عَنْهُ جَفَاءٌ،
وَمَا سَكَتَ عَنْهُ السَّلَفُ فَالْكَلَامُ فِيهِ تَكَلُّفٌ.
Sebagian ulama berkata, “Apa yang telah dibicarakan oleh
salaf, maka diam darinya adalah kekasaran. Dan apa yang didiamkan oleh salaf,
maka berbicara tentangnya adalah sikap memaksakan diri.”
وَقَالَ
غَيْرُهُ: الْحَقُّ ثَقِيلٌ، مَنْ جَاوَزَهُ ظَلَمَ، وَمَنْ قَصَرَ عَنْهُ عَجَزَ،
وَمَنْ وَقَفَ مَعَهُ اكْتَفَى.
Yang lain berkata, “Kebenaran itu berat. Siapa yang
melampauinya, ia berbuat zalim. Siapa yang kurang darinya, ia lemah. Dan siapa
yang berdiri teguh bersamanya, ia telah mencukupi.”
وَقَالَ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: عَلَيْكُمْ بِالنَّمَطِ الْأَوْسَطِ الَّذِي
يَرْجِعُ إِلَيْهِ الْعَالِي وَيَرْتَفِعُ إِلَيْهِ التَّالِي.
Nabi ﷺ
bersabda, “Peganglah jalan pertengahan, yang kepadanya orang yang di atas akan
kembali dan yang ke arahnya orang yang di bawah akan naik.”
وَقَالَ
ابْنُ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا: الضَّلَالَةُ لَهَا حَلَاوَةٌ فِي
قُلُوبِ أَهْلِهَا.
Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata, “Kesesatan itu
memiliki rasa manis di dalam hati para pengikutnya.”
قَالَ
اللَّهُ تَعَالَى: {وَذَرِ الَّذِينَ اتَّخَذُوا دِينَهُمْ لَعِبًا وَلَهْوًا}.
Allah Ta‘ala berfirman, “Biarkanlah orang-orang yang
menjadikan agama mereka sebagai permainan dan senda gurau.”
وَقَالَ
تَعَالَى: {أَفَمَنْ زُيِّنَ لَهُ سُوءُ عَمَلِهِ فَرَآهُ حَسَنًا}.
Dan Allah Ta‘ala berfirman, “Apakah orang yang dihiasi
keburukan amalnya sehingga ia melihatnya baik?”
فَكُلُّ
مَا أُحْدِثَ بَعْدَ الصَّحَابَةِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ مِمَّا جَاوَزَ قَدْرَ
الضَّرُورَةِ وَالْحَاجَةِ فَهُوَ مِنَ اللَّعِبِ وَاللَّهْوِ.
Maka setiap perkara yang diada-adakan setelah para sahabat
radhiyallahu ‘anhum, yang melampaui kadar kebutuhan dan keperluan mendesak,
termasuk permainan dan senda gurau.
وَحُكِيَ
عَنْ إِبْلِيسَ لَعَنَهُ اللَّهُ أَنَّهُ بَثَّ جُنُودَهُ فِي وَقْتِ الصَّحَابَةِ
رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ، فَرَجَعُوا إِلَيْهِ مَحْسُورِينَ، فَقَالَ: مَا
شَأْنُكُمْ؟
Dikisahkan dari Iblis — semoga Allah melaknatnya — bahwa ia
mengirim pasukannya pada masa para sahabat radhiyallahu ‘anhum, lalu mereka
kembali kepadanya dalam keadaan gagal. Maka ia berkata, “Ada apa dengan
kalian?”
قَالُوا:
مَا رَأَيْنَا مِثْلَ هٰؤُلَاءِ، مَا نُصِيبُ مِنْهُمْ شَيْئًا، وَقَدْ
أَتْعَبُونَا.
Mereka menjawab, “Kami belum pernah melihat yang seperti
mereka. Kami tidak mendapatkan apa-apa dari mereka, dan mereka telah membuat
kami letih.”
فَقَالَ:
إِنَّكُمْ لَا تَقْدِرُونَ عَلَيْهِمْ، قَدْ صَحِبُوا نَبِيَّهُمْ وَشَهِدُوا
تَنْزِيلَ رَبِّهِمْ، وَلٰكِنْ سَيَأْتِي بَعْدَهُمْ قَوْمٌ تَنَالُونَ مِنْهُمْ
حَاجَتَكُمْ.
Lalu Iblis berkata, “Kalian tidak akan mampu terhadap
mereka. Mereka telah menemani nabi mereka dan menyaksikan turunnya wahyu Tuhan
mereka. Akan tetapi, setelah mereka akan datang kaum yang terhadap mereka
kalian akan dapat mencapai apa yang kalian inginkan.”
فَلَمَّا
جَاءَ التَّابِعُونَ بَثَّ جُنُودَهُ، فَرَجَعُوا إِلَيْهِ مُنْكَسِينَ،
فَقَالُوا: مَا رَأَيْنَا أَعْجَبَ مِنْ هٰؤُلَاءِ، نُصِيبُ مِنْهُمُ الشَّيْءَ
بَعْدَ الشَّيْءِ مِنَ الذُّنُوبِ، فَإِذَا كَانَ آخِرُ النَّهَارِ أَخَذُوا فِي
الِاسْتِغْفَارِ، فَيُبَدِّلُ اللَّهُ سَيِّئَاتِهِمْ حَسَنَاتٍ.
Kemudian ketika masa tabi‘in datang, Iblis mengirim lagi
pasukannya. Mereka kembali dengan kepala tertunduk dan berkata, “Kami belum
pernah melihat yang lebih mengherankan daripada mereka. Kami memang berhasil
membuat mereka sedikit demi sedikit jatuh dalam dosa, tetapi ketika petang tiba
mereka segera beristigfar, lalu Allah mengganti dosa-dosa mereka dengan
kebaikan.”
فَقَالَ:
إِنَّكُمْ لَنْ تَنَالُوا مِنْ هٰؤُلَاءِ شَيْئًا لِصِحَّةِ تَوْحِيدِهِمْ
وَاتِّبَاعِهِمْ سُنَّةَ نَبِيِّهِمْ، وَلٰكِنْ سَيَأْتِي بَعْدَ هٰؤُلَاءِ قَوْمٌ
تَقَرُّ أَعْيُنُكُمْ بِهِمْ، تَلْعَبُونَ بِهِمْ لَعِبًا، وَتَقُودُونَهُمْ
بِأَزِمَّةِ أَهْوَائِهِمْ كَيْفَ شِئْتُمْ، إِنِ اسْتَغْفَرُوا لَمْ يُغْفَرْ
لَهُمْ، وَلَا يَتُوبُونَ فَيُبَدِّلَ اللَّهُ سَيِّئَاتِهِمْ حَسَنَاتٍ.
Iblis berkata, “Kalian tidak akan bisa memperoleh apa-apa
dari mereka karena lurusnya tauhid mereka dan kuatnya mereka dalam mengikuti
sunnah nabi mereka. Akan tetapi, setelah mereka akan datang kaum yang membuat
mata kalian sejuk. Kalian akan mempermainkan mereka habis-habisan dan menuntun
mereka dengan tali-tali hawa nafsu mereka sesuka kalian. Jika mereka
beristigfar, mereka tidak akan diampuni, dan mereka tidak bertobat sehingga
Allah mengganti dosa-dosa mereka dengan kebaikan.”
قَالَ:
فَجَاءَ قَوْمٌ بَعْدَ الْقَرْنِ الْأَوَّلِ، فَبَثَّ فِيهِمُ الْأَهْوَاءَ،
وَزَيَّنَ لَهُمُ الْبِدَعَ، فَاسْتَحَلُّوهَا وَاتَّخَذُوهَا دِينًا، لَا
يَسْتَغْفِرُونَ اللَّهَ مِنْهَا وَلَا يَتُوبُونَ عَنْهَا، فَسُلِّطَ عَلَيْهِمُ
الْأَعْدَاءُ وَقَادُوهُمْ أَيْنَ شَاءُوا.
Ia berkata, “Maka datanglah suatu kaum setelah generasi
pertama. Iblis menebarkan hawa nafsu di kalangan mereka dan menghiasi
bid‘ah-bid‘ah bagi mereka. Mereka menghalalkannya dan menjadikannya sebagai
agama. Mereka tidak beristigfar kepada Allah darinya dan tidak pula bertobat
darinya. Maka musuh-musuh pun dikuasakan atas mereka dan menuntun mereka ke
mana saja yang dikehendaki.”
فَإِنْ
قُلْتَ: مِنْ أَيْنَ عَرَفَ قَائِلُ هٰذَا مَا قَالَهُ إِبْلِيسُ، وَلَمْ
يُشَاهِدْ إِبْلِيسَ وَلَمْ يُحَدِّثْهُ بِذٰلِكَ؟
Jika engkau berkata, “Dari mana orang yang menceritakan
kisah ini mengetahui apa yang dikatakan Iblis, padahal ia tidak melihat Iblis
dan Iblis pun tidak menceritakannya kepadanya?”
فَاعْلَمْ
أَنَّ أَرْبَابَ الْقُلُوبِ يُكَاشَفُونَ بِأَسْرَارِ الْمَلَكُوتِ تَارَةً عَلَى
سَبِيلِ الْإِلْهَامِ، بِأَنْ يَخْطُرَ لَهُمْ عَلَى سَبِيلِ الْوُرُودِ
عَلَيْهِمْ مِنْ حَيْثُ لَا يَعْلَمُونَ.
Maka ketahuilah bahwa para pemilik hati tersingkap bagi
mereka rahasia-rahasia alam malakut, kadang melalui ilham, yaitu dengan cara
sesuatu melintas dalam hati mereka sebagai pemberian yang datang tanpa mereka
ketahui dari mana datangnya.
وَتَارَةً
عَلَى سَبِيلِ الرُّؤْيَا الصَّادِقَةِ.
Kadang pula melalui mimpi yang benar.
وَتَارَةً
فِي الْيَقَظَةِ عَلَى سَبِيلِ كَشْفِ الْمَعَانِي بِمُشَاهَدَةِ الْأَمْثَالِ،
كَمَا يَكُونُ فِي الْمَنَامِ.
Dan kadang pula ketika terjaga, melalui tersingkapnya
makna-makna dengan menyaksikan permisalan-permisalan, sebagaimana yang terjadi
dalam mimpi.
وَهٰذَا
أَعْلَى الدَّرَجَاتِ، وَهِيَ مِنْ دَرَجَاتِ النُّبُوَّةِ الْعَالِيَةِ، كَمَا
أَنَّ الرُّؤْيَا الصَّادِقَةَ جُزْءٌ مِنْ سِتَّةٍ وَأَرْبَعِينَ جُزْءًا مِنَ
النُّبُوَّةِ.
Ini adalah derajat yang paling tinggi, dan termasuk
derajat-derajat kenabian yang luhur, sebagaimana mimpi yang benar merupakan
satu bagian dari empat puluh enam bagian kenabian.
فَإِيَّاكَ
أَنْ يَكُونَ حَظُّكَ مِنْ هٰذَا الْعِلْمِ إِنْكَارَ مَا جَاوَزَ حَدَّ
قُصُورِكَ، فَفِيهِ هَلَكَ الْمُتَحَذْلِقُونَ مِنَ الْعُلَمَاءِ الزَّاعِمُونَ
أَنَّهُمْ أَحَاطُوا بِعُلُومِ الْعُقُولِ.
Karena itu, jangan sampai bagianmu dari ilmu ini hanyalah
mengingkari apa yang melampaui batas kekuranganmu sendiri. Dalam hal inilah
binasa para ulama yang sok cerdas, yang mengira bahwa mereka telah menguasai
seluruh ilmu rasional.
فَالْجَهْلُ
خَيْرٌ مِنْ عَقْلٍ يَدْعُو إِلَى إِنْكَارِ مِثْلِ هٰذِهِ الْأُمُورِ
لِأَوْلِيَاءِ اللَّهِ تَعَالَى.
Kebodohan lebih baik daripada akal yang mendorong kepada
pengingkaran hal-hal semacam ini atas para wali Allah Ta‘ala.
وَمَنْ
أَنْكَرَ ذٰلِكَ لِلْأَوْلِيَاءِ لَزِمَهُ إِنْكَارُهُ لِلْأَنْبِيَاءِ، وَكَانَ
خَارِجًا عَنِ الدِّينِ بِالْكُلِّيَّةِ.
Dan siapa yang mengingkari hal ini pada para wali, ia pada
akhirnya akan harus mengingkarinya pula pada para nabi, dan dengan demikian ia
keluar dari agama secara keseluruhan.
قَالَ
بَعْضُ الْعَارِفِينَ: إِنَّمَا انْقَطَعَ الْأَبْدَالُ فِي أَطْرَافِ الْأَرْضِ
وَاسْتَتَرُوا عَنْ أَعْيُنِ الْجُمْهُورِ، لِأَنَّهُمْ لَا يُطِيقُونَ النَّظَرَ
إِلَى عُلَمَاءِ الْوَقْتِ، لِأَنَّهُمْ عِنْدَهُمْ جُهَّالٌ بِاللَّهِ تَعَالَى،
وَهُمْ عِنْدَ أَنْفُسِهِمْ وَعِنْدَ الْجَاهِلِينَ عُلَمَاءُ.
Sebagian orang arif berkata, “Sesungguhnya para abdal tersebar di berbagai penjuru bumi dan bersembunyi dari pandangan umum karena mereka tidak sanggup memandang para ulama zaman itu. Sebab menurut mereka, para ulama itu sebenarnya bodoh tentang Allah Ta‘ala, meskipun menurut diri mereka sendiri dan menurut orang-orang bodoh mereka dianggap sebagai ulama.”
قَالَ
سَهْلُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ التُّسْتَرِيُّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: إِنَّ مِنْ
أَعْظَمِ الْمَعَاصِي الْجَهْلَ بِالْجَهْلِ، وَالنَّظَرَ إِلَى الْعَامَّةِ،
وَاسْتِمَاعَ كَلَامِ أَهْلِ الْغَفْلَةِ.
Sahl bin ‘Abdullah At-Tustari radhiyallahu ‘anhu berkata,
“Sesungguhnya di antara maksiat yang paling besar adalah bodoh terhadap
kebodohan diri sendiri, memandang kepada orang-orang awam, dan mendengarkan
ucapan orang-orang yang lalai.”
وَكُلُّ
عَالِمٍ خَاضَ فِي الدُّنْيَا فَلَا يَنْبَغِي أَنْ يُصْغَى إِلَى قَوْلِهِ، بَلْ
يَنْبَغِي أَنْ يُتَّهَمَ فِي كُلِّ مَا يَقُولُ، لِأَنَّ كُلَّ إِنْسَانٍ يَخُوضُ
فِيمَا أَحَبَّ، وَيَدْفَعُ مَا لَا يُوَافِقُ مَحْبُوبَهُ.
Setiap alim yang terjun ke dalam urusan dunia, maka tidak
sepatutnya ucapannya didengarkan begitu saja. Bahkan, patut dicurigai dalam
setiap yang ia katakan, karena setiap manusia akan tenggelam dalam apa yang ia
cintai dan menolak apa yang tidak sesuai dengan apa yang dicintainya.
وَلِذٰلِكَ
قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ: {وَلَا تُطِعْ مَنْ أَغْفَلْنَا قَلْبَهُ عَنْ
ذِكْرِنَا وَاتَّبَعَ هَوَاهُ وَكَانَ أَمْرُهُ فُرُطًا}.
Karena itu Allah ‘Azza wa Jalla berfirman, “Dan janganlah
engkau menaati orang yang telah Kami lalaikan hatinya dari mengingat Kami, yang
mengikuti hawa nafsunya, dan keadaannya telah melampaui batas.”
وَالْعَوَامُّ
الْعُصَاةُ أَسْعَدُ حَالًا مِنَ الْجُهَّالِ بِطَرِيقِ الدِّينِ الْمُعْتَقِدِينَ
أَنَّهُمْ مِنَ الْعُلَمَاءِ.
Orang-orang awam yang bermaksiat lebih baik keadaannya
daripada orang-orang bodoh tentang jalan agama yang mengira bahwa diri mereka
termasuk golongan ulama.
لِأَنَّ
الْعَامِّيَّ الْعَاصِيَ مُعْتَرِفٌ بِتَقْصِيرِهِ فَيَسْتَغْفِرُ وَيَتُوبُ.
Sebab orang awam yang bermaksiat masih mengakui
kekurangannya, lalu ia beristigfar dan bertobat.
وَهٰذَا
الْجَاهِلُ الظَّانُّ أَنَّهُ عَالِمٌ، وَأَنَّ مَا هُوَ مُشْتَغِلٌ بِهِ مِنَ
الْعُلُومِ الَّتِي هِيَ وَسَائِلُهُ إِلَى الدُّنْيَا عَيْنُ سُلُوكِ طَرِيقِ
الدِّينِ، فَلَا يَتُوبُ وَلَا يَسْتَغْفِرُ، بَلْ لَا يَزَالُ مُسْتَمِرًّا
عَلَيْهِ إِلَى الْمَوْتِ.
Adapun orang bodoh yang mengira dirinya alim, dan mengira
bahwa ilmu-ilmu yang ia tekuni — yang sebenarnya hanya menjadi sarana baginya
menuju dunia — adalah inti dari menempuh jalan agama, maka ia tidak bertobat
dan tidak beristigfar. Bahkan ia terus-menerus berada dalam keadaan itu hingga
mati.
وَإِذْ
غَلَبَ هٰذَا عَلَى أَكْثَرِ النَّاسِ إِلَّا مَنْ عَصَمَهُ اللَّهُ تَعَالَى،
وَانْقَطَعَ الطَّمَعُ مِنْ إِصْلَاحِهِمْ، فَالْأَسْلَمُ لِذِي الدِّينِ
الْمُحْتَاطِ الْعُزْلَةُ وَالِانْفِرَادُ عَنْهُمْ، كَمَا سَيَأْتِي فِي كِتَابِ
الْعُزْلَةِ بَيَانُهُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ تَعَالَى.
Dan karena keadaan ini telah menguasai kebanyakan manusia,
kecuali orang yang Allah Ta‘ala jaga, serta hampir putus harapan untuk
memperbaiki mereka, maka yang paling selamat bagi orang yang menjaga agamanya
adalah beruzlah dan menyendiri dari mereka, sebagaimana akan dijelaskan nanti
dalam Kitab Al-‘Uzlah, insyaallah Ta‘ala.
وَلِذٰلِكَ
كَتَبَ يُوسُفُ بْنُ أَسْبَاطٍ إِلَى حُذَيْفَةَ الْمَرْعَشِيِّ: مَا ظَنُّكَ
بِمَنْ بَقِيَ لَا يَجِدُ أَحَدًا يَذْكُرُ اللَّهَ تَعَالَى مَعَهُ إِلَّا كَانَ
آثِمًا، أَوْ كَانَتْ مُذَاكَرَتُهُ مَعْصِيَةً؟
Karena itulah Yusuf bin Asbath menulis kepada Hudzayfah
Al-Mar‘asyi, “Bagaimana pendapatmu tentang orang yang hidup pada masa ketika ia
tidak menemukan seorang pun yang berzikir kepada Allah Ta‘ala bersamanya,
kecuali orang itu berdosa, atau perbincangan ilmu dengannya sendiri justru
menjadi maksiat?”
وَذٰلِكَ
أَنَّهُ لَا يَجِدُ أَهْلَهُ.
Hal itu karena ia tidak menemukan orang yang memang layak
untuk itu.
وَلَقَدْ
صَدَقَ، فَإِنَّ مُخَالَطَةَ النَّاسِ لَا تَنْفَكُّ عَنْ غِيبَةٍ أَوْ سَمَاعِ
غِيبَةٍ أَوْ سُكُوتٍ عَلَى مُنْكَرٍ.
Dan sungguh ia benar, karena bergaul dengan manusia hampir
tidak pernah lepas dari ghibah, mendengar ghibah, atau diam terhadap
kemungkaran.
وَأَنَّ
أَحْسَنَ أَحْوَالِهِ أَنْ يُفِيدَ عِلْمًا أَوْ يَسْتَفِيدَهُ.
Keadaan terbaik dari pergaulan itu paling jauh hanyalah
bahwa seseorang memberi ilmu atau mengambil manfaat ilmu.
وَلَوْ
تَأَمَّلَ هٰذَا الْمِسْكِينُ وَعَلِمَ أَنَّ إِفَادَتَهُ لَا تَخْلُو عَنْ
شَوَائِبِ الرِّيَاءِ وَطَلَبِ الْجَمْعِ وَالرِّيَاسَةِ، عَلِمَ أَنَّ
الْمُسْتَفِيدَ إِنَّمَا يُرِيدُ أَنْ يَجْعَلَ ذٰلِكَ آلَةً إِلَى طَلَبِ
الدُّنْيَا وَوَسِيلَةً إِلَى الشَّرِّ، فَيَكُونُ هُوَ مُعِينًا لَهُ عَلَى
ذٰلِكَ وَرِدْءًا وَظَهِيرًا وَمُهَيِّئًا لِأَسْبَابِهِ، كَالَّذِي يَبِيعُ
السَّيْفَ مِنْ قُطَّاعِ الطَّرِيقِ.
Seandainya orang miskin ini merenung dan tahu bahwa
pemberian ilmunya tidak lepas dari campuran riya, keinginan mengumpulkan
pengikut, dan mencari kepemimpinan, niscaya ia akan tahu bahwa orang yang
mengambil manfaat darinya sebenarnya hanya ingin menjadikan ilmu itu alat untuk
mencari dunia dan sarana menuju keburukan. Dengan demikian, ia menjadi
penolong, pendukung, dan penyedia sebab bagi keburukan itu, seperti orang yang
menjual pedang kepada para penyamun.
فَالْعِلْمُ
كَالسَّيْفِ، وَصَلَاحُهُ لِلْخَيْرِ كَصَلَاحِ السَّيْفِ لِلْغَزْوِ.
Ilmu itu seperti pedang. Kelayakannya untuk kebaikan seperti
layaknya pedang untuk berjihad.
وَلِذٰلِكَ
لَا يُرَخَّصُ لَهُ فِي الْبَيْعِ مِمَّنْ يَعْلَمُ بِقَرَائِنِ أَحْوَالِهِ
أَنَّهُ يُرِيدُ بِهِ الِاسْتِعَانَةَ عَلَى قَطْعِ الطَّرِيقِ.
Karena itu, tidak dibolehkan menjual pedang kepada orang
yang diketahui melalui keadaan-keadaannya bahwa ia ingin menggunakannya untuk
merampok di jalan.
فَهٰذِهِ
اثْنَتَا عَشْرَةَ عَلَامَةً مِنْ عَلَامَاتِ عُلَمَاءِ الْآخِرَةِ، تَجْمَعُ
كُلُّ وَاحِدَةٍ مِنْهَا جُمْلَةً مِنْ أَخْلَاقِ عُلَمَاءِ السَّلَفِ.
Maka inilah dua belas tanda dari tanda-tanda ulama akhirat.
Setiap satu darinya mencakup sejumlah akhlak para ulama salaf.
فَكُنْ
أَحَدَ رَجُلَيْنِ: إِمَّا مُتَّصِفًا بِهٰذِهِ الصِّفَاتِ، وَإِمَّا مُعْتَرِفًا
بِالتَّقْصِيرِ مَعَ الْإِقْرَارِ بِهِ.
Karena itu, jadilah salah satu dari dua golongan: entah
engkau memiliki sifat-sifat ini, atau engkau mengakui kekuranganmu dengan
pengakuan yang jujur.
وَإِيَّاكَ
أَنْ تَكُونَ الثَّالِثَ، فَتُلَبِّسَ عَلَى نَفْسِكَ بِأَنْ تُبَدِّلَ آلَةَ
الدُّنْيَا بِالدِّينِ، وَتُشَبِّهَ سِيرَةَ الْبَطَّالِينَ بِسِيرَةِ
الْعُلَمَاءِ الرَّاسِخِينَ، وَتَلْتَحِقَ بِجَهْلِكَ وَإِنْكَارِكَ بِزُمْرَةِ
الْهَالِكِينَ الْآيِسِينَ.
Dan jauhilah menjadi golongan ketiga, yaitu engkau menipu
dirimu sendiri dengan menukar alat-alat dunia memakai nama agama, menyamakan
jalan para penganggur dengan jalan para ulama yang kokoh ilmunya, lalu dengan
kebodohan dan pengingkaranmu engkau bergabung dengan golongan orang-orang yang
binasa dan putus asa.
نَعُوذُ
بِاللَّهِ مِنْ خُدَعِ الشَّيْطَانِ، فَبِهَا هَلَكَ الْجُمْهُورُ.
Kita berlindung kepada Allah dari tipu daya setan, karena
dengan tipu dayanya itulah mayoritas manusia binasa.
فَنَسْأَلُ
اللَّهَ تَعَالَى أَنْ يَجْعَلَنَا مِمَّنْ لَا تَغُرُّهُ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا،
وَلَا يَغُرُّهُ بِاللَّهِ الْغَرُورُ.
Maka kami memohon kepada Allah Ta‘ala agar menjadikan kami
termasuk orang-orang yang tidak tertipu oleh kehidupan dunia, dan tidak ditipu
terhadap Allah oleh si penipu.