Penjelasan tentang tugas-tugas pembimbing dan pengajar.

بَيَانُ وَظَائِفِ الْمُرْشِدِ الْمُعَلِّمِ

Penjelasan tentang tugas-tugas pembimbing dan pengajar.

اِعْلَمْ أَنَّ لِلْإِنْسَانِ فِي عِلْمِهِ أَرْبَعَةَ أَحْوَالٍ، كَحَالَاتِهِ فِي اقْتِنَاءِ الْأَمْوَالِ.

Ketahuilah bahwa manusia memiliki empat keadaan dalam ilmunya, sebagaimana ia juga memiliki keadaan-keadaan dalam memperoleh harta.

إِذْ لِصَاحِبِ الْمَالِ حَالُ اسْتِفَادَةٍ فَيَكُونُ مُكْتَسِبًا، وَحَالُ ادِّخَارٍ لِمَا اكْتَسَبَهُ فَيَكُونُ بِهِ غَنِيًّا عَنِ السُّؤَالِ، وَحَالُ إِنْفَاقٍ عَلَى نَفْسِهِ فَيَكُونُ مُنْتَفِعًا، وَحَالُ بَذْلٍ لِغَيْرِهِ فَيَكُونُ بِهِ سَخِيًّا مُتَفَضِّلًا، وَهُوَ أَشْرَفُ أَحْوَالِهِ.

Karena pemilik harta memiliki keadaan memperoleh, sehingga ia menjadi pencari; keadaan menyimpan apa yang telah diperolehnya, sehingga ia kaya dan tidak perlu meminta; keadaan membelanjakannya untuk dirinya, sehingga ia mengambil manfaat; dan keadaan memberikannya kepada orang lain, sehingga ia menjadi dermawan dan mulia. Dan inilah keadaan yang paling mulia.

فَكَذٰلِكَ الْعِلْمُ يُقْتَنَى كَمَا يُقْتَنَى الْمَالُ.

Demikian pula ilmu, ia diperoleh sebagaimana harta diperoleh.

فَلَهُ حَالُ طَلَبٍ وَاكْتِسَابٍ، وَحَالُ تَحْصِيلٍ يُغْنِي عَنِ السُّؤَالِ، وَحَالُ اسْتِبْصَارٍ، وَهُوَ التَّفَكُّرُ فِي الْمُحَصَّلِ وَالتَّمَتُّعُ بِهِ، وَحَالُ تَبْصِيرٍ، وَهُوَ أَشْرَفُ الْأَحْوَالِ.

Ia memiliki keadaan mencari dan memperoleh, keadaan menguasai sehingga tidak perlu bertanya, keadaan memahami dengan mendalam, yaitu merenungkan ilmu yang telah diperoleh dan menikmati manfaatnya, dan keadaan memberi pencerahan kepada orang lain, dan inilah keadaan yang paling mulia.

فَمَنْ عَلِمَ وَعَمِلَ وَعَلَّمَ فَهُوَ الَّذِي يُدْعَى عَظِيمًا فِي مَلَكُوتِ السَّمَاوَاتِ.

Barang siapa berilmu, beramal, dan mengajar, maka dialah yang disebut agung di kerajaan langit.

فَإِنَّهُ كَالشَّمْسِ تُضِيءُ لِغَيْرِهَا وَهِيَ مُضِيئَةٌ فِي نَفْسِهَا، وَكَالْمِسْكِ الَّذِي يُطَيِّبُ غَيْرَهُ وَهُوَ طَيِّبٌ.

Sebab ia seperti matahari yang menerangi selainnya sementara ia sendiri bercahaya, dan seperti kasturi yang mengharumkan selainnya sementara ia sendiri harum.

وَالَّذِي يُعَلِّمُ وَلَا يَعْمَلُ بِهِ كَالدَّفْتَرِ الَّذِي يُفِيدُ غَيْرَهُ وَهُوَ خَالٍ عَنِ الْعِلْمِ، وَكَالْمِسَنِّ الَّذِي يَشْحَذُ غَيْرَهُ وَلَا يَقْطَعُ، وَالْإِبْرَةِ الَّتِي تَكْسُو غَيْرَهَا وَهِيَ عَارِيَةٌ، وَذُبَالَةِ الْمِصْبَاحِ تُضِيءُ لِغَيْرِهَا وَهِيَ تَحْتَرِقُ.

Sedangkan orang yang mengajar tetapi tidak mengamalkannya seperti buku catatan yang memberi manfaat kepada orang lain, padahal ia sendiri kosong dari ilmu; seperti batu asah yang menajamkan selainnya tetapi ia sendiri tidak memotong; seperti jarum yang memberi pakaian kepada selainnya padahal ia sendiri telanjang; dan seperti sumbu lampu yang menerangi selainnya sementara ia sendiri terbakar.

كَمَا قِيلَ: مَا هُوَ إِلَّا ذُبَالَةٌ وَقَدَتْ، تُضِيءُ لِلنَّاسِ وَهِيَ تَحْتَرِقُ.

Sebagaimana dikatakan: “Ia tak lain hanyalah sumbu yang menyala, menerangi orang-orang sementara ia sendiri terbakar.”

وَمَهْمَا اشْتَغَلَ بِالتَّعْلِيمِ فَقَدْ تَقَلَّدَ أَمْرًا عَظِيمًا وَخَطَرًا جَسِيمًا، فَلْيَحْفَظْ آدَابَهُ وَوَظَائِفَهُ.

Siapa pun yang menyibukkan diri dengan mengajar berarti ia telah memikul perkara besar dan bahaya yang berat. Karena itu, hendaklah ia menjaga adab dan tugas-tugasnya.

اَلْوَظِيفَةُ الْأُولَى: الشَّفَقَةُ عَلَى الْمُتَعَلِّمِينَ، وَأَنْ يُجْرِيَهُمْ مَجْرَى بَنِيهِ.

Tugas pertama: memiliki kasih sayang kepada para murid dan memperlakukan mereka seperti anak-anaknya sendiri.

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنَّمَا أَنَا لَكُمْ مِثْلُ الْوَالِدِ لِوَلَدِهِ.

Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya aku bagi kalian seperti seorang ayah bagi anaknya.”

بِأَنْ يَقْصِدَ إِنْقَاذَهُمْ مِنْ نَارِ الْآخِرَةِ، وَهُوَ أَهَمُّ مِنْ إِنْقَاذِ الْوَالِدَيْنِ وَلَدَهُمَا مِنْ نَارِ الدُّنْيَا.

Yaitu dengan maksud menyelamatkan mereka dari api akhirat, dan hal ini lebih penting daripada kedua orang tua menyelamatkan anak mereka dari api dunia.

وَلِذٰلِكَ صَارَ حَقُّ الْمُعَلِّمِ أَعْظَمَ مِنْ حَقِّ الْوَالِدَيْنِ، فَإِنَّ الْوَالِدَ سَبَبُ الْوُجُودِ الْحَاضِرِ وَالْحَيَاةِ الْفَانِيَةِ، وَالْمُعَلِّمَ سَبَبُ الْحَيَاةِ الْبَاقِيَةِ.

Karena itu, hak guru menjadi lebih besar daripada hak kedua orang tua. Sebab orang tua adalah sebab adanya kehidupan sekarang yang fana, sedangkan guru adalah sebab kehidupan yang kekal.

وَلَوْلَا الْمُعَلِّمُ لَانْسَاقَ مَا حَصَلَ مِنْ جِهَةِ الْأَبِ إِلَى الْهَلَاكِ الدَّائِمِ.

Kalau bukan karena guru, maka apa yang diperoleh dari pihak ayah akan terseret menuju kebinasaan yang abadi.

وَإِنَّمَا الْمُعَلِّمُ هُوَ الْمُفِيدُ لِلْحَيَاةِ الْأُخْرَوِيَّةِ الدَّائِمَةِ، أَعْنِي مُعَلِّمَ عُلُومِ الْآخِرَةِ، أَوْ عُلُومَ الدُّنْيَا عَلَى قَصْدِ الْآخِرَةِ لَا عَلَى قَصْدِ الدُّنْيَا.

Sesungguhnya guru itulah yang memberi manfaat berupa kehidupan akhirat yang kekal, yaitu guru ilmu-ilmu akhirat, atau ilmu-ilmu dunia yang diajarkan dengan niat akhirat, bukan dengan niat dunia.

فَأَمَّا التَّعْلِيمُ عَلَى قَصْدِ الدُّنْيَا فَهُوَ هَلَاكٌ وَإِهْلَاكٌ، نَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْهُ.

Adapun mengajar dengan tujuan dunia, maka itu adalah kebinasaan dan membinasakan orang lain. Kita berlindung kepada Allah darinya.

وَكَمَا أَنَّ حَقَّ أَبْنَاءِ الرَّجُلِ الْوَاحِدِ أَنْ يَتَحَابُّوا وَيَتَعَاوَنُوا عَلَى الْمَقَاصِدِ كُلِّهَا، فَكَذٰلِكَ حَقُّ تَلَامِذَةِ الرَّجُلِ الْوَاحِدِ التَّحَابُّ وَالتَّوَادُّ.

Sebagaimana anak-anak dari satu orang ayah semestinya saling mencintai dan saling membantu dalam semua tujuan, demikian pula para murid dari satu guru semestinya saling mencintai dan saling berkasih sayang.

وَلَا يَكُونُ إِلَّا كَذٰلِكَ إِنْ كَانَ مَقْصُودُهُمُ الْآخِرَةَ، وَلَا يَكُونُ إِلَّا التَّحَاسُدُ وَالتَّبَاغُضُ إِنْ كَانَ مَقْصُودُهُمُ الدُّنْيَا.

Mereka hanya akan demikian jika tujuan mereka adalah akhirat. Tetapi jika tujuan mereka adalah dunia, yang ada hanyalah saling dengki dan saling membenci.

فَإِنَّ الْعُلَمَاءَ وَأَبْنَاءَ الْآخِرَةِ مُسَافِرُونَ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى وَسَالِكُونَ إِلَيْهِ الطَّرِيقَ، وَالدُّنْيَا وَسِنُوهَا وَشُهُورُهَا مَنَازِلُ الطَّرِيقِ.

Sebab para ulama dan para pencari akhirat itu adalah musafir menuju Allah Ta‘ala dan penempuh jalan kepada-Nya, sementara dunia beserta tahun-tahun dan bulan-bulannya adalah persinggahan-persinggahan di sepanjang jalan itu.

وَالتَّرَافُقُ فِي الطَّرِيقِ بَيْنَ الْمُسَافِرِينَ إِلَى الْأَمْصَارِ سَبَبُ التَّوَادِّ وَالتَّحَابِّ.

Kebersamaan di jalan antara para musafir yang menuju suatu negeri adalah sebab tumbuhnya kasih sayang dan cinta.

فَكَيْفَ السَّفَرُ إِلَى الْفِرْدَوْسِ الْأَعْلَى وَالتَّرَافُقُ فِي طَرِيقِهِ؟

Lalu bagaimana jika perjalanan itu menuju Firdaus yang tertinggi dan mereka bersama-sama menempuh jalannya?

وَلَا ضِيقَ فِي سَعَادَةِ الْآخِرَةِ، فَلِذٰلِكَ لَا يَكُونُ بَيْنَ أَبْنَاءِ الْآخِرَةِ تَنَازُعٌ.

Tidak ada kesempitan dalam kebahagiaan akhirat. Karena itulah tidak akan terjadi pertengkaran di antara anak-anak akhirat.

وَلَا سَعَةَ فِي سَعَادَاتِ الدُّنْيَا، فَلِذٰلِكَ لَا يَنْفَكُّ عَنْ ضِيقِ التَّزَاحُمِ.

Sedangkan kebahagiaan-kebahagiaan dunia tidak luas. Karena itu ia selalu disertai sempitnya perebutan.

وَالْعَادِلُونَ إِلَى طَلَبِ الرِّيَاسَةِ بِالْعُلُومِ خَارِجُونَ عَنْ مُوجِبِ قَوْلِهِ تَعَالَى: {إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ}، وَدَاخِلُونَ فِي مُقْتَضَى قَوْلِهِ تَعَالَى: {الْأَخِلَّاءُ يَوْمَئِذٍ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ إِلَّا الْمُتَّقِينَ}.

Orang-orang yang beralih kepada pencarian kepemimpinan dengan ilmu telah keluar dari kandungan firman Allah Ta‘ala, “Sesungguhnya orang-orang beriman itu bersaudara,” dan masuk ke dalam makna firman-Nya, “Teman-teman akrab pada hari itu sebagian mereka menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali orang-orang yang bertakwa.”

اَلْوَظِيفَةُ الثَّانِيَةُ: أَنْ يَقْتَدِيَ بِصَاحِبِ الشَّرْعِ صَلَوَاتُ اللَّهِ عَلَيْهِ وَسَلَامُهُ، فَلَا يَطْلُبَ عَلَى إِفَادَةِ الْعِلْمِ أَجْرًا، وَلَا يَقْصِدَ بِهِ جَزَاءً وَلَا شُكْرًا، بَلْ يُعَلِّمَ لِوَجْهِ اللَّهِ تَعَالَى وَطَلَبًا لِلتَّقَرُّبِ إِلَيْهِ.

Tugas kedua: hendaknya guru meneladani pembawa syariat, semoga salawat dan salam Allah tercurah kepadanya, sehingga ia tidak meminta upah atas penyampaian ilmu, tidak mengharapkan balasan ataupun ucapan terima kasih, tetapi mengajar karena wajah Allah Ta‘ala dan untuk mendekatkan diri kepada-Nya.

وَلَا يَرَى لِنَفْسِهِ مِنَّةً عَلَيْهِمْ، وَإِنْ كَانَتِ الْمِنَّةُ لَازِمَةً عَلَيْهِمْ، بَلْ يَرَى الْفَضْلَ لَهُمْ، إِذْ هَذَّبُوا قُلُوبَهُمْ لِأَنْ تَتَقَرَّبَ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى بِزِرَاعَةِ الْعُلُومِ فِيهَا.

Ia tidak memandang bahwa dirinya memiliki jasa atas mereka, meskipun secara lahiriah jasa itu memang ada atas mereka. Sebaliknya, ia melihat bahwa keutamaan justru ada pada mereka, karena mereka telah mempersiapkan hati-hati mereka untuk mendekat kepada Allah Ta‘ala dengan menanamkan ilmu di dalamnya.

كَالَّذِي يُعِيرُكَ الْأَرْضَ لِتَزْرَعَ فِيهَا لِنَفْسِكَ زِرَاعَةً، فَمَنْفَعَتُكَ بِهَا تَزِيدُ عَلَى مَنْفَعَةِ صَاحِبِ الْأَرْضِ.

Hal itu seperti orang yang meminjamkan tanah kepadamu agar engkau menanaminya untuk kepentingan dirimu sendiri, sehingga manfaatmu dari tanah itu lebih besar daripada manfaat pemilik tanah.

فَكَيْفَ تُقَلِّدُهُ مِنْهُ، وَثَوَابُكَ فِي التَّعْلِيمِ أَكْثَرُ مِنْ ثَوَابِ الْمُتَعَلِّمِ عِنْدَ اللَّهِ تَعَالَى؟

Lalu bagaimana mungkin engkau merasa berjasa atasnya, padahal pahala mengajarmu di sisi Allah Ta‘ala lebih besar daripada pahala muridmu?

وَلَوْلَا الْمُتَعَلِّمُ مَا نِلْتَ هٰذَا الثَّوَابَ.

Kalau bukan karena murid, engkau tidak akan memperoleh pahala ini.

فَلَا تَطْلُبِ الْأَجْرَ إِلَّا مِنَ اللَّهِ تَعَالَى، كَمَا قَالَ عَزَّ وَجَلَّ: {وَيَا قَوْمِ لَا أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ مَالًا إِنْ أَجْرِيَ إِلَّا عَلَى اللَّهِ}.

Maka janganlah engkau meminta upah kecuali dari Allah Ta‘ala, sebagaimana firman-Nya ‘Azza wa Jalla, “Wahai kaumku, aku tidak meminta harta kepada kalian atas seruanku ini. Upahku tidak lain hanyalah dari Allah.”

فَإِنَّ الْمَالَ وَمَا فِي الدُّنْيَا خَادِمُ الْبَدَنِ، وَالْبَدَنُ مَرْكَبُ النَّفْسِ وَمَطِيَّتُهَا، وَالْمَخْدُومُ هُوَ الْعِلْمُ، إِذْ بِهِ شَرَفُ النَّفْسِ.

Karena harta dan segala yang ada di dunia adalah pelayan bagi badan, badan adalah kendaraan jiwa dan tunggangannya, sedangkan yang dilayani sesungguhnya adalah ilmu, sebab dengan ilmulah jiwa menjadi mulia.

فَمَنْ طَلَبَ بِالْعِلْمِ الْمَالَ كَانَ كَمَنْ مَسَحَ أَسْفَلَ مِدَاسِهِ بِوَجْهِهِ لِيُنَظِّفَهُ، فَجَعَلَ الْمَخْدُومَ خَادِمًا وَالْخَادِمَ مَخْدُومًا، وَذٰلِكَ هُوَ الِانْتِكَاسُ عَلَى أُمِّ الرَّأْسِ.

Barang siapa mencari harta dengan ilmu, maka ia seperti orang yang mengusap bagian bawah sandalnya dengan wajahnya agar sandal itu bersih. Ia telah menjadikan yang semestinya dilayani sebagai pelayan, dan pelayan sebagai yang dilayani. Itulah keterbalikan yang sangat parah.

وَمِثْلُهُ هُوَ الَّذِي يَقُومُ فِي الْعَرْضِ الْأَكْبَرِ مَعَ الْمُجْرِمِينَ نَاكِسِي رُءُوسِهِمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ.

Dan orang semacam itu kelak akan berdiri pada hari عرض الأكبر bersama orang-orang berdosa dalam keadaan menundukkan kepala di hadapan Tuhan mereka.

وَعَلَى الْجُمْلَةِ، فَالْفَضْلُ وَالْمِنَّةُ لِلْمُعَلِّمِ.

Secara umum, keutamaan dan jasa sejati justru ada pada murid bagi gurunya.

فَانْظُرْ كَيْفَ انْتَهَى أَمْرُ الدِّينِ إِلَى قَوْمٍ يَزْعُمُونَ أَنَّ مَقْصُودَهُمْ التَّقَرُّبُ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى بِمَا هُمْ فِيهِ مِنْ عِلْمِ الْفِقْهِ وَالْكَلَامِ وَالتَّدْرِيسِ فِيهِمَا وَفِي غَيْرِهِمَا، فَإِنَّهُمْ يَبْذُلُونَ الْمَالَ وَالْجَاهَ، وَيَتَحَمَّلُونَ أَصْنَافَ الذُّلِّ فِي خِدْمَةِ السَّلَاطِينِ لِاسْتِطْلَاقِ الْجَرَايَاتِ، وَلَوْ تَرَكُوا ذٰلِكَ لَتُرِكُوا وَلَمْ يُخْتَلَفْ إِلَيْهِمْ.

Perhatikanlah bagaimana keadaan agama telah sampai kepada suatu kaum yang mengklaim bahwa tujuan mereka adalah mendekatkan diri kepada Allah Ta‘ala dengan apa yang mereka tekuni berupa ilmu fikih, kalam, dan mengajar keduanya serta ilmu lainnya, padahal mereka mengorbankan harta dan kedudukan, menanggung berbagai macam kehinaan dalam melayani para penguasa demi lancarnya gaji-gaji. Seandainya mereka meninggalkan itu, mereka sendiri akan ditinggalkan dan orang-orang tidak akan datang kepada mereka.

ثُمَّ يَتَوَقَّعُ الْمُعَلِّمُ مِنَ الْمُتَعَلِّمِ أَنْ يَقُومَ لَهُ فِي كُلِّ نَائِبَةٍ، وَيَنْصُرَ وَلِيَّهُ، وَيُعَادِيَ عَدُوَّهُ، وَيَنْهَضَ جِهَارًا لَهُ فِي حَاجَاتِهِ، وَمُسَخَّرًا بَيْنَ يَدَيْهِ فِي أَوْطَارِهِ.

Kemudian guru itu berharap dari muridnya agar berdiri untuk membantunya dalam setiap urusan, membela orang yang ia cintai, memusuhi orang yang ia musuhi, bangkit terang-terangan untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhannya, dan menjadi pelayan di hadapannya untuk segala kepentingannya.

فَإِنْ قَصَّرَ فِي حَقِّهِ ثَارَ عَلَيْهِ وَصَارَ مِنْ أَعْدَى أَعْدَائِهِ.

Jika murid itu kurang memenuhi hak-haknya, ia akan marah kepadanya dan menjadikannya salah satu musuh terbesarnya.

فَأَخْسَسْ بِعَالِمٍ يَرْضَى لِنَفْسِهِ بِهٰذِهِ الْمَنْزِلَةِ ثُمَّ يَفْرَحُ بِهَا، ثُمَّ لَا يَسْتَحْيِي مِنْ أَنْ يَقُولَ: غَرَضِي مِنَ التَّدْرِيسِ نَشْرُ الْعِلْمِ تَقَرُّبًا إِلَى اللَّهِ تَعَالَى وَنُصْرَةً لِدِينِهِ.

Betapa hina seorang alim yang rela bagi dirinya kedudukan seperti ini lalu bergembira dengannya, kemudian tidak malu mengatakan, “Tujuanku mengajar adalah menyebarkan ilmu demi mendekat kepada Allah Ta‘ala dan membela agama-Nya.”

فَانْظُرْ إِلَى الْأَمَارَاتِ حَتَّى تَرَى ضُرُوبَ الِاغْتِرَارِ.

Perhatikanlah tanda-tanda itu, niscaya engkau akan melihat berbagai bentuk ketertipuan.

اَلْوَظِيفَةُ الثَّالِثَةُ: أَنْ لَا يَدَعَ مِنْ نُصْحِ الْمُتَعَلِّمِ شَيْئًا، وَذٰلِكَ بِأَنْ يَمْنَعَهُ مِنَ التَّصَدِّي لِرُتْبَةٍ قَبْلَ اسْتِحْقَاقِهَا، وَالتَّشَاغُلِ بِعِلْمٍ خَفِيٍّ قَبْلَ الْفَرَاغِ مِنَ الْجَلِيِّ.

Tugas ketiga: hendaknya guru tidak meninggalkan sedikit pun nasihat untuk murid, yaitu dengan mencegahnya dari menempati suatu tingkatan sebelum layak baginya, dan mencegahnya menyibukkan diri dengan ilmu yang samar sebelum selesai dari ilmu yang jelas.

ثُمَّ يُنَبِّهَهُ عَلَى أَنَّ الْغَرَضَ بِطَلَبِ الْعُلُومِ الْقُرْبُ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى دُونَ الرِّيَاسَةِ وَالْمُبَاهَاةِ وَالْمُنَافَسَةِ، وَيُقَدِّمُ تَقْبِيحَ ذٰلِكَ فِي نَفْسِهِ بِأَقْصَى مَا يُمْكِنُ.

Kemudian guru mengingatkannya bahwa tujuan menuntut ilmu adalah mendekat kepada Allah Ta‘ala, bukan mencari kepemimpinan, kebanggaan, atau persaingan. Dan hendaknya guru menanamkan sekuat mungkin keburukan tujuan-tujuan itu dalam jiwa murid.

فَلَيْسَ مَا يُصْلِحُهُ الْعَالِمُ الْفَاجِرُ بِأَكْثَرَ مِمَّا يُفْسِدُهُ.

Sebab apa yang diperbaiki oleh seorang alim yang fasik tidaklah lebih besar daripada apa yang dirusaknya.

فَإِنْ عَلِمَ مِنْ بَاطِنِهِ أَنَّهُ لَا يَطْلُبُ الْعِلْمَ إِلَّا لِلدُّنْيَا، نَظَرَ إِلَى الْعِلْمِ الَّذِي يَطْلُبُهُ.

Jika guru mengetahui dari batin murid bahwa ia tidak menuntut ilmu kecuali demi dunia, maka ia harus memperhatikan ilmu apa yang sedang dituntut murid itu.

فَإِنْ كَانَ هُوَ عِلْمَ الْخِلَافِ فِي الْفِقْهِ، وَالْجَدَلَ فِي الْكَلَامِ، وَالْفَتَاوَى فِي الْخُصُومَاتِ وَالْأَحْكَامِ، فَلْيَمْنَعْهُ مِنْ ذٰلِكَ.

Jika ilmu yang dituntut adalah ilmu khilaf dalam fikih, debat dalam kalam, atau fatwa-fatwa dalam sengketa dan hukum, maka guru hendaknya mencegahnya dari hal itu.

فَإِنَّ هٰذِهِ الْعُلُومَ لَيْسَتْ مِنْ عُلُومِ الْآخِرَةِ، وَلَا مِنَ الْعُلُومِ الَّتِي قِيلَ فِيهَا: تَعَلَّمْنَا الْعِلْمَ لِغَيْرِ اللَّهِ فَأَبَى الْعِلْمُ أَنْ يَكُونَ إِلَّا لِلَّهِ.

Karena ilmu-ilmu ini bukan termasuk ilmu akhirat, dan bukan pula termasuk ilmu yang tentangnya dikatakan, “Kami mempelajari ilmu bukan karena Allah, tetapi ilmu menolak kecuali untuk Allah.”

وَإِنَّمَا ذٰلِكَ عِلْمُ التَّفْسِيرِ وَعِلْمُ الْحَدِيثِ، وَمَا كَانَ الْأَوَّلُونَ يَشْتَغِلُونَ بِهِ مِنْ عِلْمِ الْآخِرَةِ، وَمَعْرِفَةِ أَخْلَاقِ النَّفْسِ وَكَيْفِيَّةِ تَهْذِيبِهَا.

Yang dimaksud dengan ilmu yang menolak selain Allah itu adalah ilmu tafsir, ilmu hadis, dan apa yang dahulu ditekuni oleh generasi awal berupa ilmu akhirat, pengetahuan tentang akhlak jiwa, dan cara mendidiknya.

فَإِذَا تَعَلَّمَهُ الطَّالِبُ وَقَصَدَ بِهِ الدُّنْيَا فَلَا بَأْسَ أَنْ يُتْرَكَ، فَإِنَّهُ يُثْمِرُ لَهُ طَمَعًا فِي الْوَعْظِ وَالِاسْتِتْبَاعِ.

Jika murid mempelajari ilmu-ilmu ini dengan tujuan dunia, maka tidak mengapa dibiarkan belajar, karena ilmu itu dapat menumbuhkan keinginan dalam dirinya untuk memberi nasihat dan mengumpulkan pengikut.

وَلٰكِنْ قَدْ يَتَنَبَّهُ فِي أَثْنَاءِ الْأَمْرِ أَوْ آخِرِهِ، إِذْ فِيهِ الْعُلُومُ الْمُخَوِّفَةُ مِنَ اللَّهِ تَعَالَى، الْمُحَقِّرَةُ لِلدُّنْيَا، الْمُعَظِّمَةُ لِلْآخِرَةِ.

Akan tetapi, bisa jadi ia tersadar di tengah jalan atau pada akhirnya, karena dalam ilmu itu terdapat pengetahuan-pengetahuan yang menakutkan kepada Allah Ta‘ala, merendahkan dunia, dan membesarkan akhirat.

وَذٰلِكَ يُوشِكُ أَنْ يُؤَدِّيَ إِلَى الصَّوَابِ فِي الْآخِرَةِ، حَتَّى يَتَّعِظَ بِمَا يَعِظُ بِهِ غَيْرَهُ.

Ilmu semacam ini dekat untuk menghantarkannya kepada kebaikan akhirat, hingga akhirnya ia sendiri mengambil pelajaran dari apa yang ia nasihatkan kepada orang lain.

وَيَجْرِي حُبُّ الْقَبُولِ وَالْجَاهِ مَجْرَى الْحَبِّ الَّذِي يُنْثَرُ حَوَالَيِ الْفَخِّ لِيُقْتَنَصَ بِهِ الطَّيْرُ.

Kecintaan kepada penerimaan manusia dan kedudukan itu dalam kasus ini seperti biji-bijian yang ditebar di sekitar perangkap untuk menangkap burung.

وَقَدْ فَعَلَ اللَّهُ تَعَالَى ذٰلِكَ بِعِبَادِهِ، إِذْ جَعَلَ الشَّهْوَةَ لِيَصِلَ الْخَلْقُ بِهَا إِلَى بَقَاءِ النَّسْلِ.

Allah Ta‘ala juga melakukan hal yang serupa kepada hamba-hamba-Nya, dengan menjadikan syahwat agar makhluk dapat dengannya menjaga kelangsungan keturunan.

وَخَلَقَ أَيْضًا حُبَّ الْجَاهِ لِيَكُونَ سَبَبًا لِإِحْيَاءِ الْعُلُومِ، وَهٰذَا مُتَوَقَّعٌ فِي هٰذِهِ الْعُلُومِ.

Dan Allah juga menciptakan kecintaan kepada kedudukan agar menjadi sebab hidupnya ilmu-ilmu. Dan hal ini masih mungkin terjadi pada ilmu-ilmu tersebut.

فَأَمَّا الْخِلَافِيَّاتُ الْمَحْضَةُ وَمُجَادَلَاتُ الْكَلَامِ وَمَعْرِفَةُ التَّفْرِيعَاتِ الْغَرِيبَةِ، فَلَا يَزِيدُ التَّجَرُّدُ لَهَا مَعَ الْإِعْرَاضِ عَنْ غَيْرِهَا إِلَّا قَسْوَةَ الْقَلْبِ وَغَفْلَةً عَنِ اللَّهِ تَعَالَى وَتَمَادِيًا فِي الضَّلَالِ وَطَلَبًا لِلْجَاهِ، إِلَّا مَنْ تَدَارَكَهُ اللَّهُ تَعَالَى بِرَحْمَتِهِ أَوْ مَزَجَ بِهِ غَيْرَهُ مِنَ الْعُلُومِ الدِّينِيَّةِ.

Adapun khilafiyah murni, debat kalam, dan mengetahui rincian-rincian aneh, maka menekuni hal-hal itu sambil berpaling dari yang lain tidak akan menambah apa-apa selain kerasnya hati, lalai dari Allah Ta‘ala, terus-menerus dalam kesesatan, dan keinginan mencari kedudukan; kecuali bila Allah Ta‘ala menyelamatkannya dengan rahmat-Nya, atau ia mencampurkannya dengan ilmu-ilmu agama lainnya.

وَلَا بُرْهَانَ عَلَى هٰذَا كَالتَّجْرِبَةِ وَالْمُشَاهَدَةِ.

Tidak ada bukti atas hal ini yang lebih nyata daripada pengalaman dan pengamatan langsung.

فَانْظُرْ وَاعْتَبِرْ وَاسْتَبْصِرْ، لِتُشَاهِدَ تَحْقِيقَ ذٰلِكَ فِي الْعِبَادِ وَالْبِلَادِ، وَاللَّهُ الْمُسْتَعَانُ.

Maka lihatlah, ambillah pelajaran, dan gunakan bashirahmu, agar engkau menyaksikan kebenaran hal ini pada manusia dan negeri-negeri. Dan Allah-lah tempat meminta pertolongan.

وَقَدْ رُؤِيَ سُفْيَانُ الثَّوْرِيُّ رَحِمَهُ اللَّهُ حَزِينًا، فَقِيلَ لَهُ: مَا لَكَ؟

Sufyan Ats-Tsauri rahimahullah pernah terlihat bersedih, lalu ditanyakan kepadanya, “Ada apa denganmu?”

فَقَالَ: صِرْنَا مَتْجَرًا لِأَبْنَاءِ الدُّنْيَا، يَلْزَمُنَا أَحَدُهُمْ حَتَّى إِذَا تَعَلَّمَ جُعِلَ قَاضِيًا أَوْ عَامِلًا أَوْ قَهْرَمَانًا.

Ia menjawab, “Kita telah menjadi tempat dagang bagi anak-anak dunia. Salah seorang dari mereka akan selalu bersama kami hingga ketika ia telah belajar, ia dijadikan hakim, pejabat, atau pengurus harta.”

اَلْوَظِيفَةُ الرَّابِعَةُ، وَهِيَ مِنْ دَقَائِقِ صِنَاعَةِ التَّعْلِيمِ: أَنْ يَزْجُرَ الْمُتَعَلِّمَ عَنْ سُوءِ الْأَخْلَاقِ بِطَرِيقِ التَّعْرِيضِ مَا أَمْكَنَ، وَلَا يُصَرِّحَ، وَبِطَرِيقِ الرَّحْمَةِ لَا بِطَرِيقِ التَّوْبِيخِ.

Tugas keempat — dan ini termasuk rincian halus dalam seni mengajar — ialah bahwa guru hendaknya mencegah murid dari akhlak buruk dengan cara sindiran selama mungkin, bukan dengan terang-terangan, dan dengan jalan kasih sayang, bukan dengan cara mencela.

فَإِنَّ التَّصْرِيحَ يَهْتِكُ حِجَابَ الْهَيْبَةِ، وَيُورِثُ الْجُرْأَةَ عَلَى الْهُجُومِ بِالْخِلَافِ، وَيُهَيِّجُ الْحِرْصَ عَلَى الْإِصْرَارِ.

Sebab ucapan yang terus terang akan merobek tirai kewibawaan, menimbulkan keberanian untuk melawan, dan membangkitkan semangat untuk tetap keras kepala.

إِذْ قَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَهُوَ مُرْشِدُ كُلِّ مُعَلِّمٍ: لَوْ مُنِعَ النَّاسُ عَنْ فَتِّ الْبَعْرِ لَفَتُّوهُ، وَقَالُوا: مَا نُهِينَا عَنْهُ إِلَّا وَفِيهِ شَيْءٌ.

Karena Nabi — yang merupakan pembimbing setiap guru — bersabda, “Seandainya manusia dilarang dari mengorek kotoran hewan, niscaya mereka akan tetap mengoreknya dan berkata: ‘Kita hanya dilarang darinya karena di dalamnya ada sesuatu yang menarik.’”

وَيُنَبِّهُكَ عَلَى هٰذَا قِصَّةُ آدَمَ وَحَوَّاءَ عَلَيْهِمَا السَّلَامُ وَمَا نُهِيَا عَنْهُ.

Yang juga mengingatkanmu kepada hal ini adalah kisah Adam dan Hawa ‘alaihimassalam serta apa yang dilarang bagi keduanya.

فَمَا ذُكِرَتِ الْقِصَّةُ مَعَكَ لِتَكُونَ سَمَرًا، بَلْ لِتَتَنَبَّهَ بِهَا عَلَى سَبِيلِ الْعِبْرَةِ.

Kisah itu tidak disebutkan kepadamu untuk sekadar menjadi cerita malam, tetapi agar engkau sadar dan mengambil pelajaran darinya.

وَلِأَنَّ التَّعْرِيضَ أَيْضًا يُمِيلُ النُّفُوسَ الْفَاضِلَةَ وَالْأَذْهَانَ الذَّكِيَّةَ إِلَى اسْتِنْبَاطِ مَعَانِيهِ، فَيُفِيدُ فَرَحَ التَّفَطُّنِ لِمَعْنَاهُ رَغْبَةً فِي الْعِلْمِ بِهِ، لِيَعْلَمَ أَنَّ ذٰلِكَ مِمَّا لَا يَعْزُبُ عَنْ فِطْنَتِهِ.

Dan karena sindiran itu juga mendorong jiwa-jiwa yang baik dan pikiran-pikiran yang cerdas untuk menangkap sendiri maknanya, sehingga menimbulkan kegembiraan karena mampu memahaminya, lalu mendorong keinginan untuk mengetahui makna itu, dan membuatnya merasa bahwa hal itu tidak luput dari kecerdasannya.

اَلْوَظِيفَةُ الْخَامِسَةُ: أَنَّ الْمُتَكَفِّلَ بِبَعْضِ الْعُلُومِ يَنْبَغِي أَنْ لَا يُقَبِّحَ فِي نَفْسِ الْمُتَعَلِّمِ الْعُلُومَ الَّتِي وَرَاءَهُ.

Tugas kelima: orang yang menangani sebagian cabang ilmu tidak sepatutnya menanamkan dalam diri murid kebencian terhadap ilmu-ilmu lain di luar bidangnya.

كَمُعَلِّمِ اللُّغَةِ إِذْ عَادَتُهُ تَقْبِيحُ عِلْمِ الْفِقْهِ.

Seperti guru bahasa yang biasanya mencela ilmu fikih.

وَمُعَلِّمِ الْفِقْهِ عَادَتُهُ تَقْبِيحُ عِلْمِ الْحَدِيثِ وَالتَّفْسِيرِ، وَأَنَّ ذٰلِكَ نَقْلٌ مَحْضٌ وَسَمَاعٌ، وَهُوَ شَأْنُ الْعَجَائِزِ، وَلَا نَظَرَ لِلْعَقْلِ فِيهِ.

Dan guru fikih yang biasanya mencela ilmu hadis dan tafsir, sambil berkata bahwa itu hanyalah نقل semata dan pendengaran saja, yang merupakan urusan para nenek-nenek, dan tidak ada peran akal di dalamnya.

وَمُعَلِّمُ الْكَلَامِ يُنَفِّرُ عَنِ الْفِقْهِ، وَيَقُولُ: ذٰلِكَ فُرُوعٌ، وَهُوَ كَلَامٌ فِي حَيْضِ النِّسْوَانِ، فَأَيْنَ ذٰلِكَ مِنَ الْكَلَامِ فِي صِفَةِ الرَّحْمَنِ؟

Dan guru ilmu kalam menjauhkan murid dari fikih sambil berkata, “Itu hanya cabang-cabang, pembicaraan tentang haid perempuan, lalu di mana itu dibandingkan dengan pembicaraan tentang sifat Ar-Rahman?”

فَهٰذِهِ أَخْلَاقٌ مَذْمُومَةٌ لِلْمُعَلِّمِينَ يَنْبَغِي أَنْ تُجْتَنَبَ.

Semua itu adalah akhlak buruk bagi para pengajar yang wajib dijauhi.

بَلِ الْمُتَكَفِّلُ بِعِلْمٍ وَاحِدٍ يَنْبَغِي أَنْ يُوَسِّعَ عَلَى الْمُتَعَلِّمِ طَرِيقَ التَّعَلُّمِ فِي غَيْرِهِ.

Bahkan, orang yang menangani satu ilmu seharusnya melapangkan jalan bagi murid untuk mempelajari ilmu-ilmu lain.

وَإِنْ كَانَ مُتَكَفِّلًا بِعُلُومٍ، فَيَنْبَغِي أَنْ يُرَاعِيَ التَّدْرِيجَ فِي تَرْقِيَةِ الْمُتَعَلِّمِ مِنْ رُتْبَةٍ إِلَى رُتْبَةٍ.

Dan jika ia menguasai banyak ilmu, maka ia seharusnya memperhatikan proses bertahap dalam menaikkan murid dari satu tingkat ke tingkat berikutnya.

اَلْوَظِيفَةُ السَّادِسَةُ: أَنْ يَقْتَصِرَ بِالْمُتَعَلِّمِ عَلَى قَدْرِ فَهْمِهِ، فَلَا يُلْقِيَ إِلَيْهِ مَا لَا يَبْلُغُهُ عَقْلُهُ، فَيُنَفِّرَهُ أَوْ يُخَبِّطَ عَلَيْهِ عَقْلَهُ، اقْتِدَاءً فِي ذٰلِكَ بِسَيِّدِ الْبَشَرِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.

Tugas keenam: hendaknya guru menyampaikan kepada murid sesuai kadar pemahamannya, dan tidak melemparkan kepadanya sesuatu yang tidak sanggup dijangkau oleh akalnya, sehingga membuatnya lari atau mengacaukan akalnya. Dalam hal ini ia meneladani penghulu umat manusia .

حَيْثُ قَالَ: نَحْنُ مَعَاشِرَ الْأَنْبِيَاءِ أُمِرْنَا أَنْ نُنْزِلَ النَّاسَ مَنَازِلَهُمْ وَنُكَلِّمَهُمْ عَلَى قَدْرِ عُقُولِهِمْ.

Beliau bersabda, “Kami, para nabi, diperintahkan untuk menempatkan manusia sesuai kedudukan mereka dan berbicara kepada mereka sesuai kadar akal mereka.”

فَلْيَبُثَّ إِلَيْهِ الْحَقِيقَةَ إِذَا عَلِمَ أَنَّهُ يَسْتَقِلُّ بِفَهْمِهَا.

Maka guru hendaknya menyampaikan hakikat suatu ilmu jika ia mengetahui bahwa murid itu sanggup memahaminya.

وَقَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَا أَحَدٌ يُحَدِّثُ قَوْمًا بِحَدِيثٍ لَا تَبْلُغُهُ عُقُولُهُمْ إِلَّا كَانَ فِتْنَةً عَلَى بَعْضِهِمْ.

Nabi bersabda, “Tidaklah seseorang berbicara kepada suatu kaum dengan pembicaraan yang akal mereka tidak mampu mencapainya, melainkan hal itu akan menjadi fitnah bagi sebagian mereka.”

وَقَالَ عَلِيٌّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، وَأَشَارَ إِلَى صَدْرِهِ: إِنَّ هٰهُنَا لَعُلُومًا جَمَّةً، لَوْ وَجَدْتُ لَهَا حَمَلَةً.

Ali radhiyallahu ‘anhu berkata, sambil menunjuk ke dadanya, “Sesungguhnya di sini ada ilmu-ilmu yang banyak, seandainya aku mendapatkan orang-orang yang sanggup memikulnya.”

وَصَدَقَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، فَقُلُوبُ الْأَبْرَارِ قُبُورُ الْأَسْرَارِ.

Dan beliau benar. Hati orang-orang baik adalah kuburan bagi rahasia-rahasia.

فَلَا يَنْبَغِي أَنْ يُفْشِيَ الْعَالِمُ كُلَّ مَا يَعْلَمُ إِلَى كُلِّ أَحَدٍ.

Karena itu, tidak sepantasnya seorang alim menyebarkan semua yang ia ketahui kepada setiap orang.

هٰذَا إِذَا كَانَ يَفْهَمُهُ الْمُتَعَلِّمُ وَلَمْ يَكُنْ أَهْلًا لِلِانْتِفَاعِ بِهِ، فَكَيْفَ فِيمَا لَا يَفْهَمُهُ؟

Ini jika murid itu sebenarnya mampu memahaminya tetapi belum layak mengambil manfaat darinya. Lalu bagaimana lagi bila murid itu bahkan tidak memahaminya?

وَقَالَ عِيسَى عَلَيْهِ السَّلَامُ: لَا تُعَلِّقُوا الْجَوَاهِرَ فِي أَعْنَاقِ الْخَنَازِيرِ، فَإِنَّ الْحِكْمَةَ خَيْرٌ مِنَ الْجَوْهَرِ، وَمَنْ كَرِهَهَا فَهُوَ شَرٌّ مِنَ الْخَنَازِيرِ.

Isa ‘alaihis-salam berkata, “Janganlah kalian menggantungkan permata pada leher-leher babi. Sebab hikmah lebih baik daripada permata, dan siapa yang membencinya maka ia lebih buruk daripada babi.”

وَلِذٰلِكَ قِيلَ: كُلْ لِكُلِّ عَبْدٍ بِمِعْيَارِ عَقْلِهِ، وَزِنْ لَهُ بِمِيزَانِ فَهْمِهِ، حَتَّى تَسْلَمَ مِنْهُ وَيَنْتَفِعَ بِكَ، وَإِلَّا وَقَعَ الْإِنْكَارُ لِتَفَاوُتِ الْمِعْيَارِ.

Karena itu dikatakan, “Berilah setiap hamba sesuai ukuran akalnya, dan timbanglah untuknya dengan timbangan pemahamannya, agar engkau selamat darinya dan ia dapat mengambil manfaat darimu. Jika tidak, maka pengingkaran akan terjadi karena perbedaan ukuran.”

وَسُئِلَ بَعْضُ الْعُلَمَاءِ عَنْ شَيْءٍ فَلَمْ يُجِبْ.

Sebagian ulama pernah ditanya tentang suatu hal, lalu ia tidak menjawab.

فَقَالَ السَّائِلُ: أَمَا سَمِعْتَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: مَنْ كَتَمَ عِلْمًا نَافِعًا جَاءَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مُلْجَمًا بِلِجَامٍ مِنْ نَارٍ؟

Maka si penanya berkata, “Apakah engkau tidak mendengar Rasulullah bersabda, ‘Barang siapa menyembunyikan ilmu yang bermanfaat, pada hari kiamat ia akan datang dalam keadaan diberi kekang dari api’?”

فَقَالَ: اتْرُكِ اللِّجَامَ وَاذْهَبْ، فَإِنْ جَاءَ مَنْ يَفْقَهُ وَكَتَمْتُهُ فَلْيُلْجِمْنِي.

Maka ulama itu menjawab, “Biarkan saja kekang itu dan pergilah. Jika datang orang yang benar-benar paham lalu aku menyembunyikannya darinya, maka silakan aku dikekang.”

فَقَدْ قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: {وَلَا تُؤْتُوا السُّفَهَاءَ أَمْوَالَكُم}.

Allah Ta‘ala telah berfirman, “Dan janganlah kalian berikan harta kalian kepada orang-orang yang bodoh.”

تَنْبِيهًا عَلَى أَنَّ حِفْظَ الْعِلْمِ مِمَّنْ يُفْسِدُهُ وَيَضُرُّهُ أَوْلَى، وَلَيْسَ الظُّلْمُ فِي إِعْطَاءِ غَيْرِ الْمُسْتَحِقِّ بِأَقَلَّ مِنَ الظُّلْمِ فِي مَنْعِ الْمُسْتَحِقِّ.

Ini memberi isyarat bahwa menjaga ilmu dari orang yang akan merusaknya dan menjadikannya berbahaya lebih utama. Dan kezaliman dalam memberi kepada yang tidak berhak tidaklah lebih ringan daripada kezaliman dalam menahan dari yang berhak.

أَأَنْثُرُ دُرًّا بَيْنَ سَارِحَةِ النَّعَمِ، فَأُصْبِحَ مَخْزُونًا بِرَاعِيَةِ الْغَنَمِ؟

“Apakah aku akan menebarkan mutiara di tengah hewan-hewan ternak yang merumput, lalu mutiara itu akhirnya tersimpan di tangan penggembala kambing?”

لِأَنَّهُمْ أَمْسَوْا بِجَهْلٍ لِقَدْرِهِ، فَلَا أَنَا أَضْحَى أَنْ أُطَوِّقَهُ الْبُهَمُ.

“Karena mereka tidak mengetahui nilainya, maka aku tidak patut menjadikannya sebagai kalung bagi hewan-hewan ternak.”

فَإِنْ لَطُفَ اللَّهُ اللَّطِيفُ بِلُطْفِهِ، وَصَادَفْتُ أَهْلًا لِلْعُلُومِ وَلِلْحِكَمِ، نَشَرْتُ مُفِيدًا وَاسْتَفَدْتُ مَوَدَّةً، وَإِلَّا فَمَخْزُونٌ لَدَيَّ وَمُكْتَتَمٌ.

“Jika Allah Yang Maha Lembut berlembut dengan kelembutan-Nya, dan aku menemukan orang yang memang layak bagi ilmu dan hikmah, maka aku akan menyebarkannya dengan manfaat dan memperoleh kasih sayang. Jika tidak, maka ilmu itu tetap tersimpan dan terpendam padaku.”

فَمَنْ مَنَحَ الْجُهَّالَ عِلْمًا أَضَاعَهُ، وَمَنْ مَنَعَ الْمُسْتَوْجِبِينَ فَقَدْ ظَلَمَ.

“Maka barang siapa memberikan ilmu kepada orang-orang bodoh, ia telah menyia-nyiakannya. Dan barang siapa menahannya dari orang-orang yang berhak, sungguh ia telah berbuat zalim.”

اَلْوَظِيفَةُ السَّابِعَةُ: أَنَّ الْمُتَعَلِّمَ الْقَاصِرَ يَنْبَغِي أَنْ يُلْقَى إِلَيْهِ الْجَلِيُّ اللَّائِقُ بِهِ، وَلَا يُذْكَرُ لَهُ وَرَاءَ هٰذَا تَدْقِيقٌ، وَهُوَ يَدَّخِرُهُ عَنْهُ.

Tugas ketujuh: murid yang masih terbatas pemahamannya seharusnya hanya diberi ilmu-ilmu yang jelas dan sesuai dengannya, dan tidak disebutkan kepadanya rincian-rincian halus di balik itu sementara guru sengaja menyimpannya untuk nanti.

فَإِنَّ ذٰلِكَ يُفَتِّرُ رَغْبَتَهُ فِي الْجَلِيِّ، وَيُشَوِّشُ عَلَيْهِ قَلْبَهُ، وَيُوهِمُ إِلَيْهِ الْبُخْلَ بِهِ عَنْهُ، إِذْ يَظُنُّ كُلُّ أَحَدٍ أَنَّهُ أَهْلٌ لِكُلِّ عِلْمٍ دَقِيقٍ.

Sebab hal itu akan melemahkan minatnya terhadap ilmu yang jelas, mengacaukan hatinya, dan membuatnya menduga bahwa gurunya kikir dalam memberinya ilmu, karena setiap orang cenderung mengira dirinya layak untuk setiap ilmu yang halus.

فَمَا مِنْ أَحَدٍ إِلَّا وَهُوَ رَاضٍ عَنِ اللَّهِ سُبْحَانَهُ فِي كَمَالِ عَقْلِهِ، وَأَشَدُّهُمْ حَمَاقَةً وَأَضْعَفُهُمْ عَقْلًا هُوَ أَفْرَحُهُمْ بِكَمَالِ عَقْلِهِ.

Tidak ada seorang pun kecuali ia merasa puas dengan dirinya sendiri dalam hal kesempurnaan akalnya, dan justru orang yang paling bodoh serta paling lemah akalnya adalah yang paling gembira dengan kesempurnaan akalnya menurut anggapannya.

وَبِهٰذَا يُعْلَمُ أَنَّ مَنْ تَقَيَّدَ مِنَ الْعَوَامِّ بِقَيْدِ الشَّرْعِ، وَرَسَخَتْ فِي نَفْسِهِ الْعَقَائِدُ الْمَأْثُورَةُ عَنِ السَّلَفِ مِنْ غَيْرِ تَشْبِيهٍ وَمِنْ غَيْرِ تَأْوِيلٍ، وَحَسُنَ مَعَ ذٰلِكَ سَرِيرَتُهُ، وَلَمْ يَحْتَمِلْ عَقْلُهُ أَكْثَرَ مِنْ ذٰلِكَ، فَلَا يَنْبَغِي أَنْ يُشَوَّشَ عَلَيْهِ اعْتِقَادُهُ، بَلْ يَنْبَغِي أَنْ يُخَلَّى وَحِرْفَتُهُ.

Dengan ini diketahui bahwa orang awam yang telah terikat dengan syariat, tertanam kuat dalam dirinya akidah-akidah yang dinukil dari salaf tanpa tasybih dan tanpa takwil, baik pula batinnya, serta akalnya tidak sanggup menanggung lebih dari itu, maka keyakinannya tidak boleh dikacaukan. Sebaliknya, ia harus dibiarkan bersama pekerjaan dan keadaannya.

فَإِنَّهُ لَوْ ذُكِرَ لَهُ تَأْوِيلَاتُ الظَّاهِرِ انْحَلَّ عَنْهُ قَيْدُ الْعَوَامِّ، وَلَمْ يَتَيَسَّرْ قَيْدُهُ بِقَيْدِ الْخَوْضِ، فَيَرْتَفِعُ عَنْهُ السَّدُّ الَّذِي بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْمَعَاصِي، وَيَنْقَلِبُ شَيْطَانًا مَرِيدًا بِهَلَاكِ نَفْسِهِ وَغَيْرِهِ.

Sebab jika takwil-takwil atas makna zahir disebutkan kepadanya, maka lepaslah darinya ikatan orang awam, sementara ia belum mungkin diikat dengan ikatan pembahasan yang lebih dalam. Maka hilanglah penghalang antara dirinya dan maksiat, lalu ia bisa berubah menjadi setan durhaka yang membinasakan dirinya dan orang lain.

بَلْ لَا يَنْبَغِي أَنْ يُخَاضَ مَعَ الْعَوَامِّ فِي حَقَائِقِ الْعُلُومِ الدَّقِيقَةِ، بَلْ يُقْتَصَرُ مَعَهُمْ عَلَى تَعْلِيمِ الْعِبَادَاتِ، وَتَعْلِيمِ الْأَمَانَةِ فِي الصَّنَائِعِ الَّتِي هُمْ بِصَدَدِهَا، وَيُمْلَأُ قُلُوبُهُمْ مِنَ الرَّغْبَةِ وَالرَّهْبَةِ فِي الْجَنَّةِ وَالنَّارِ كَمَا نَطَقَ بِهِ الْقُرْآنُ.

Karena itu, tidak sepatutnya dibicarakan kepada orang awam hakikat-hakikat ilmu yang halus, tetapi cukup diajarkan kepada mereka ibadah-ibadah, amanah dalam pekerjaan yang sedang mereka tekuni, dan hati mereka dipenuhi dengan harapan dan ketakutan terhadap surga dan neraka sebagaimana Al-Qur’an menyatakannya.

وَلَا يُحَرَّكُ عَلَيْهِمْ شُبْهَةٌ، فَإِنَّهَا رُبَّمَا تَعَلَّقَتْ بِقَلْبِهِ، وَيَعْسُرُ عَلَيْهِ حَلُّهَا، فَيَشْقَى وَيَهْلِكُ.

Jangan dibangkitkan syubhat pada diri mereka, karena syubhat itu mungkin melekat pada hatinya, lalu sulit baginya untuk melepaskannya, sehingga ia celaka dan binasa.

وَبِالْجُمْلَةِ، لَا يَنْبَغِي أَنْ يُفْتَحَ لِلْعَوَامِّ بَابُ الْبَحْثِ، فَإِنَّهُ يُعَطِّلُ عَلَيْهِمْ صَنَائِعَهُمْ الَّتِي بِهَا قِوَامُ الْخَلْقِ وَدَوَامُ عَيْشِ الْخَوَاصِّ.

Secara umum, tidak sepatutnya dibukakan pintu perdebatan dan penelitian mendalam bagi orang awam, karena hal itu akan mengganggu pekerjaan-pekerjaan mereka yang dengannya kehidupan manusia tegak dan keberlangsungan hidup kalangan khusus pun berjalan.

اَلْوَظِيفَةُ الثَّامِنَةُ: أَنْ يَكُونَ الْمُعَلِّمُ عَامِلًا بِعِلْمِهِ، فَلَا يُكَذِّبَ قَوْلُهُ فِعْلَهُ، لِأَنَّ الْعِلْمَ يُدْرَكُ بِالْبَصَائِرِ، وَالْعَمَلَ يُدْرَكُ بِالْأَبْصَارِ، وَأَرْبَابُ الْأَبْصَارِ أَكْثَرُ.

Tugas kedelapan: guru harus mengamalkan ilmunya, sehingga perbuatannya tidak mendustakan ucapannya. Sebab ilmu ditangkap dengan mata hati, sedangkan amal terlihat dengan mata kepala, dan orang yang menilai dengan penglihatan lahir lebih banyak.

فَإِذَا خَالَفَ الْعَمَلُ الْعِلْمَ مَنَعَ الرُّشْدَ.

Maka apabila amal bertentangan dengan ilmu, hal itu akan menghalangi datangnya petunjuk.

وَكُلُّ مَنْ تَنَاوَلَ شَيْئًا وَقَالَ لِلنَّاسِ: لَا تَتَنَاوَلُوهُ فَإِنَّهُ سُمٌّ مُهْلِكٌ، سَخِرَ النَّاسُ بِهِ وَاتَّهَمُوهُ، وَزَادَ حِرْصُهُمْ عَلَى مَا نُهُوا عَنْهُ، فَيَقُولُونَ: لَوْلَا أَنَّهُ أَطْيَبُ الْأَشْيَاءِ وَأَلَذُّهَا لَمَا كَانَ يَسْتَأْثِرُ بِهِ.

Setiap orang yang memakan sesuatu lalu berkata kepada manusia, “Jangan kalian makan ini, karena ini racun mematikan,” maka manusia akan mengejeknya, menuduhnya dusta, dan semakin ingin pada apa yang dilarang itu. Mereka akan berkata, “Kalau bukan karena ini adalah sesuatu yang paling enak dan paling lezat, tentu ia tidak akan menikmatinya sendiri.”

وَمَثَلُ الْمُعَلِّمِ الْمُرْشِدِ مِنَ الْمُسْتَرْشِدِينَ مِثْلُ النَّقْشِ مِنَ الطِّينِ وَالظِّلِّ مِنَ الْعُودِ، فَكَيْفَ يَنْتَقِشُ الطِّينُ بِمَا لَا نَقْشَ فِيهِ، وَمَتَى اسْتَوَى الظِّلُّ وَالْعُودُ أَعْوَجَ؟

Perumpamaan guru pembimbing bagi orang yang ingin dibimbing adalah seperti cap terhadap tanah liat dan seperti bayangan terhadap tongkat. Bagaimana mungkin tanah liat akan bercap dengan sesuatu yang tidak memiliki cap? Dan kapan bayangan akan lurus jika tongkatnya sendiri bengkok?

وَلِذٰلِكَ قِيلَ فِي الْمَعْنَى: لَا تَنْهَ عَنْ خُلُقٍ وَتَأْتِيَ مِثْلَهُ، عَارٌ عَلَيْكَ إِذَا فَعَلْتَ عَظِيمُ.

Karena itu dikatakan dalam syair: “Janganlah engkau melarang suatu akhlak lalu engkau sendiri melakukannya. Sungguh besar aib atasmu jika engkau melakukannya.”

وَقَالَ اللَّهُ تَعَالَى: {أَتَأْمُرُونَ النَّاسَ بِالْبِرِّ وَتَنْسَوْنَ أَنْفُسَكُمْ}.

Allah Ta‘ala berfirman, “Apakah kalian menyuruh manusia berbuat kebajikan, sedangkan kalian melupakan diri kalian sendiri?”

وَلِذٰلِكَ كَانَ وِزْرُ الْعَالِمِ فِي مَعَاصِيهِ أَكْثَرَ مِنْ وِزْرِ الْجَاهِلِ، إِذْ يَزِلُّ بِزَلَّتِهِ عَالَمٌ كَثِيرٌ وَيَقْتَدُونَ بِهِ.

Karena itu, dosa seorang alim dalam maksiat-maksiatnya lebih besar daripada dosa orang bodoh, sebab dengan ketergelincirannya banyak orang ikut tergelincir dan menjadikannya teladan.

وَمَنْ سَنَّ سُنَّةً سَيِّئَةً فَعَلَيْهِ وِزْرُهَا وَوِزْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا.

Barang siapa membuat suatu kebiasaan buruk, maka atasnya dosanya dan dosa orang yang mengamalkannya.

وَلِذٰلِكَ قَالَ عَلِيٌّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: قَصَمَ ظَهْرِي رَجُلَانِ: عَالِمٌ مُتَهَتِّكٌ، وَجَاهِلٌ مُتَنَسِّكٌ، فَالْجَاهِلُ يَغُرُّ النَّاسَ بِتَنَسُّكِهِ، وَالْعَالِمُ يَغُرُّهُمْ بِتَهَتُّكِهِ.

Karena itu Ali radhiyallahu ‘anhu berkata, “Dua orang telah mematahkan punggungku: seorang alim yang rusak akhlaknya, dan seorang bodoh yang tampak rajin beribadah. Orang bodoh menipu manusia dengan ibadahnya, sedangkan orang alim menipu mereka dengan kerusakan dirinya.”

وَاللَّهُ أَعْلَمُ.

Dan Allah lebih mengetahui.