Adab Murid dan Guru

 اَلْبَابُ الْخَامِسُ فِي آدَابِ الْمُتَعَلِّمِ وَالْمُعَلِّمِ، أَمَّا الْمُتَعَلِّمُ فَآدَابُهُ وَوَظَائِفُهُ الظَّاهِرَةُ كَثِيرَةٌ، وَلٰكِنْ تَنْتَظِمُ تَفَارِيقُهَا عَشْرَ جُمَلٍ.

Bab kelima tentang adab murid dan guru. Adapun murid, maka adab dan tugas lahiriahnya banyak, tetapi rincian-rinciannya dapat dihimpun dalam sepuluh pokok.

اَلْوَظِيفَةُ الْأُولَى: تَقْدِيمُ طَهَارَةِ النَّفْسِ عَنْ رَذَائِلِ الْأَخْلَاقِ وَمَذْمُومِ الْأَوْصَافِ، إِذِ الْعِلْمُ عِبَادَةُ الْقَلْبِ، وَصَلَاةُ السِّرِّ، وَقُرْبَةُ الْبَاطِنِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى.

Tugas pertama: mendahulukan penyucian jiwa dari akhlak-akhlak tercela dan sifat-sifat yang buruk. Sebab ilmu adalah ibadah hati, salatnya rahasia batin, dan pendekatan batin kepada Allah Ta‘ala.

وَكَمَا لَا تَصِحُّ الصَّلَاةُ الَّتِي هِيَ وَظِيفَةُ الْجَوَارِحِ الظَّاهِرَةِ إِلَّا بِتَطْهِيرِ الظَّاهِرِ عَنِ الْأَحْدَاثِ وَالْأَخْبَاثِ، فَكَذٰلِكَ لَا تَصِحُّ عِبَادَةُ الْبَاطِنِ وَعِمَارَةُ الْقَلْبِ بِالْعِلْمِ إِلَّا بَعْدَ طَهَارَتِهِ عَنْ خَبَائِثِ الْأَخْلَاقِ وَأَنْجَاسِ الْأَوْصَافِ.

Sebagaimana salat — yang merupakan tugas anggota badan lahiriah — tidak sah kecuali dengan membersihkan lahiriah dari hadas dan najis, demikian pula ibadah batin dan penghidupan hati dengan ilmu tidak sah kecuali setelah hati disucikan dari kotoran akhlak dan najis sifat-sifat buruk.

قَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: بُنِيَ الدِّينُ عَلَى النَّظَافَةِ.

Nabi bersabda, “Agama dibangun di atas kebersihan.”

وَهُوَ كَذٰلِكَ بَاطِنًا وَظَاهِرًا.

Memang demikian adanya, baik secara lahir maupun batin.

قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: {إِنَّمَا الْمُشْرِكُونَ نَجَسٌ}، تَنْبِيهًا لِلْعُقُولِ عَلَى أَنَّ الطَّهَارَةَ وَالنَّجَاسَةَ غَيْرُ مَقْصُورَتَيْنِ عَلَى الظَّوَاهِرِ بِالْحِسِّ.

Allah Ta‘ala berfirman, “Sesungguhnya orang-orang musyrik itu najis,” sebagai peringatan bagi akal bahwa kebersihan dan kenajisan tidak terbatas hanya pada lahiriah yang dapat diindra.

فَالْمُشْرِكُ قَدْ يَكُونُ نَظِيفَ الثَّوْبِ مَغْسُولَ الْبَدَنِ، وَلٰكِنَّهُ نَجِسُ الْجَوْهَرِ، أَيْ بَاطِنُهُ مُلَطَّخٌ بِالْخَبَائِثِ.

Seorang musyrik bisa saja bersih pakaiannya dan tubuhnya terbasuh, tetapi hakikat dirinya najis, yakni batinnya dilumuri berbagai kotoran.

وَالنَّجَاسَةُ عِبَارَةٌ عَمَّا يُجْتَنَبُ وَيُطْلَبُ الْبُعْدُ مِنْهُ، وَخَبَائِثُ صِفَاتِ الْبَاطِنِ أَهَمُّ بِالِاجْتِنَابِ، فَإِنَّهَا مَعَ خُبْثِهَا فِي الْحَالِ مُهْلِكَاتٌ فِي الْمَآلِ.

Najis adalah sesuatu yang harus dijauhi dan dihindari. Dan kotoran sifat-sifat batin lebih utama untuk dijauhi, karena selain kotor saat ini, ia juga membinasakan di kemudian hari.

وَلِذٰلِكَ قَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لَا تَدْخُلُ الْمَلَائِكَةُ بَيْتًا فِيهِ كَلْبٌ.

Karena itu Nabi bersabda, “Para malaikat tidak masuk ke rumah yang di dalamnya terdapat anjing.”

وَالْقَلْبُ بَيْتٌ، وَهُوَ مَنْزِلُ الْمَلَائِكَةِ وَمَهْبِطُ أَثَرِهِمْ وَمَحَلُّ اسْتِقْرَارِهِمْ.

Hati adalah sebuah rumah. Ia adalah tempat tinggal para malaikat, tempat turunnya pengaruh mereka, dan tempat mereka menetap.

وَالصِّفَاتُ الرَّدِيئَةُ مِثْلَ الْغَضَبِ وَالشَّهْوَةِ وَالْحِقْدِ وَالْحَسَدِ وَالْكِبْرِ وَالْعُجْبِ وَأَخَوَاتِهَا كِلَابٌ نَابِحَةٌ.

Sifat-sifat buruk seperti marah, syahwat, dendam, hasad, sombong, ujub, dan yang semisalnya adalah anjing-anjing yang menggonggong.

فَأَنَّى تَدْخُلُهُ الْمَلَائِكَةُ وَهُوَ مَشْحُونٌ بِالْكِلَابِ؟

Lalu bagaimana mungkin para malaikat masuk ke dalam hati yang penuh dengan anjing-anjing itu?

وَنُورُ الْعِلْمِ لَا يَقْذِفُهُ اللَّهُ تَعَالَى فِي الْقَلْبِ إِلَّا بِوَاسِطَةِ الْمَلَائِكَةِ.

Cahaya ilmu tidak dilemparkan Allah Ta‘ala ke dalam hati kecuali melalui perantaraan para malaikat.

وَمَا كَانَ لِبَشَرٍ أَنْ يُكَلِّمَهُ اللَّهُ إِلَّا وَحْيًا أَوْ مِنْ وَرَاءِ حِجَابٍ أَوْ يُرْسِلَ رَسُولًا فَيُوحِيَ بِإِذْنِهِ مَا يَشَاءُ.

Dan tidak patut bagi seorang manusia bahwa Allah berbicara kepadanya kecuali dengan wahyu, atau dari balik tabir, atau dengan mengutus seorang rasul, lalu rasul itu mewahyukan dengan izin-Nya apa yang Dia kehendaki.

وَهٰكَذَا مَا يُرْسَلُ مِنْ رَحْمَةِ الْعُلُومِ إِلَى الْقُلُوبِ، إِنَّمَا تَتَوَلَّاهُ الْمَلَائِكَةُ الْمُوَكَّلُونَ بِهَا.

Demikian pula rahmat ilmu yang dikirimkan ke dalam hati, yang menanganinya hanyalah para malaikat yang ditugaskan untuk itu.

وَهُمْ الْمُقَدَّسُونَ الْمُطَهَّرُونَ الْمُبَرَّءُونَ عَنِ الصِّفَاتِ الْمَذْمُومَاتِ.

Mereka adalah makhluk yang disucikan, dibersihkan, dan dibebaskan dari sifat-sifat tercela.

فَلَا يُلَاحِظُونَ إِلَّا طَيِّبًا، وَلَا يُعَمِّرُونَ بِمَا عِنْدَهُمْ مِنْ خَزَائِنِ رَحْمَةِ اللَّهِ تَعَالَى إِلَّا طَيِّبًا طَاهِرًا.

Mereka tidak memandang kecuali kepada yang baik, dan tidak memenuhi dengan apa yang ada pada mereka dari perbendaharaan rahmat Allah Ta‘ala kecuali sesuatu yang baik dan suci.

وَلَسْتُ أَقُولُ: الْمُرَادُ بِلَفْظِ الْبَيْتِ هُوَ الْقَلْبُ، وَبِالْكَلْبِ هُوَ الْغَضَبُ وَالصِّفَاتُ الْمَذْمُومَةُ، وَلٰكِنِّي أَقُولُ: هُوَ تَنْبِيهٌ عَلَيْهِ.

Aku tidak mengatakan bahwa yang dimaksud dengan lafaz rumah adalah hati, dan yang dimaksud dengan anjing adalah kemarahan serta sifat-sifat tercela. Akan tetapi, aku mengatakan bahwa hadis itu merupakan isyarat dan peringatan ke arah makna tersebut.

وَفَرْقٌ بَيْنَ تَعْبِيرِ الظَّوَاهِرِ إِلَى الْبَوَاطِنِ، وَبَيْنَ التَّنْبِيهِ لِلْبَوَاطِنِ مِنْ ذِكْرِ الظَّوَاهِرِ مَعَ تَقْرِيرِ الظَّوَاهِرِ.

Ada perbedaan antara menafsirkan makna-makna lahiriah menjadi makna batiniah, dengan memberi isyarat kepada makna batin melalui penyebutan makna lahiriah sambil tetap menetapkan makna lahiriahnya.

فَفَارَقَ الْبَاطِنِيَّةَ بِهٰذِهِ الدَّقِيقَةِ.

Dengan rincian halus inilah kita berbeda dari kaum Bathiniyah.

فَإِنَّ هٰذِهِ طَرِيقُ الِاعْتِبَارِ، وَهُوَ مَسْلَكُ الْعُلَمَاءِ وَالْأَبْرَارِ.

Sebab yang kami tempuh ini adalah jalan mengambil pelajaran, dan itulah jalan para ulama dan orang-orang saleh.

إِذْ مَعْنَى الِاعْتِبَارِ أَنْ يَعْبُرَ مَا ذُكِرَ إِلَى غَيْرِهِ، فَلَا يَقْتَصِرَ عَلَيْهِ.

Makna mengambil pelajaran ialah menyeberangkan makna dari sesuatu yang disebut kepada selainnya, dan tidak berhenti pada lahiriahnya saja.

كَمَا يَرَى الْعَاقِلُ مُصِيبَةً لِغَيْرِهِ فَتَكُونُ فِيهَا لَهُ عِبْرَةٌ، بِأَنْ يَعْبُرَ مِنْهَا إِلَى التَّنَبُّهِ لِكَوْنِهِ أَيْضًا عُرْضَةً لِلْمَصَائِبِ، وَكَوْنِ الدُّنْيَا بِصَدَدِ الِانْقِلَابِ.

Sebagaimana orang berakal melihat musibah yang menimpa orang lain, lalu ia mengambil pelajaran darinya dengan berpindah dari musibah itu kepada kesadaran bahwa dirinya juga rentan terhadap musibah, dan bahwa dunia ini selalu berada dalam keadaan berubah.

فَعُبُورُهُ مِنْ غَيْرِهِ إِلَى نَفْسِهِ، وَمِنْ نَفْسِهِ إِلَى أَصْلِ الدُّنْيَا، عِبْرَةٌ مَحْمُودَةٌ.

Perpindahannya dari melihat orang lain kepada dirinya, lalu dari dirinya kepada hakikat dunia, adalah pelajaran yang terpuji.

فَاعْبُرْ أَنْتَ أَيْضًا مِنَ الْبَيْتِ الَّذِي هُوَ بِنَاءُ الْخَلْقِ إِلَى الْقَلْبِ الَّذِي هُوَ بَيْتٌ مِنْ بِنَاءِ اللَّهِ تَعَالَى، وَمِنَ الْكَلْبِ الَّذِي ذُمَّ لِصِفَتِهِ لَا لِصُورَتِهِ، وَهُوَ مَا فِيهِ مِنْ سَبُعِيَّةٍ وَنَجَاسَةٍ، إِلَى الرُّوحِ الْكَلْبِيَّةِ، وَهِيَ السَّبُعِيَّةُ.

Maka ambillah pelajaran juga: berpindahlah dari rumah yang merupakan bangunan makhluk kepada hati yang merupakan rumah dari bangunan Allah Ta‘ala; dan berpindahlah dari anjing yang dicela karena sifatnya, bukan semata karena bentuknya — yaitu sifat kebuasan dan kenajisannya — kepada ruh keanjingan, yaitu sifat kebuasan itu.

وَاعْلَمْ أَنَّ الْقَلْبَ الْمَشْحُونَ بِالْغَضَبِ وَالشَّرَهِ إِلَى الدُّنْيَا وَالتَّكَلُّبِ عَلَيْهَا وَالْحِرْصِ عَلَى التَّمْزِيقِ لِأَعْرَاضِ النَّاسِ، كَلْبٌ فِي الْمَعْنَى وَقَلْبٌ فِي الصُّورَةِ.

Ketahuilah bahwa hati yang dipenuhi kemarahan, kerakusan terhadap dunia, keganasan dalam merebutnya, dan kegigihan merobek kehormatan manusia, adalah anjing dalam maknanya, meskipun ia tetap disebut hati dalam bentuk lahiriahnya.

فَنُورُ الْبَصِيرَةِ يُلَاحِظُ الْمَعَانِي لَا الصُّوَرَ.

Cahaya bashirah memperhatikan makna-makna, bukan sekadar bentuk-bentuk.

وَالصُّوَرُ فِي هٰذَا الْعَالَمِ غَالِبَةٌ عَلَى الْمَعَانِي، وَالْمَعَانِي بَاطِنَةٌ فِيهَا.

Di dunia ini, bentuk-bentuk lahiriah lebih tampak daripada makna-makna, dan makna-makna tersembunyi di dalamnya.

وَفِي الْآخِرَةِ تَتْبَعُ الصُّوَرُ الْمَعَانِي، وَتَغْلِبُ الْمَعَانِي.

Sedangkan di akhirat, bentuk-bentuk akan mengikuti makna-makna, dan makna-makna itulah yang akan tampak dominan.

فَلِذٰلِكَ يُحْشَرُ كُلُّ شَخْصٍ عَلَى صُورَتِهِ الْمَعْنَوِيَّةِ.

Karena itu, setiap orang akan dibangkitkan sesuai dengan bentuk maknawinya.

فَيُحْشَرُ الْمُمَزِّقُ لِأَعْرَاضِ النَّاسِ كَلْبًا ضَارِيًا، وَالشَّرِهُ إِلَى أَمْوَالِهِمْ ذِئْبًا عَادِيًا، وَالْمُتَكَبِّرُ عَلَيْهِمْ فِي صُورَةِ نَمِرٍ، وَطَالِبُ الرِّيَاسَةِ فِي صُورَةِ أَسَدٍ.

Maka orang yang merobek kehormatan manusia akan dibangkitkan dalam rupa anjing buas, orang yang rakus terhadap harta mereka dalam rupa serigala liar, orang yang sombong atas mereka dalam rupa harimau, dan pencari kepemimpinan dalam rupa singa.

وَقَدْ وَرَدَتْ بِذٰلِكَ الْأَخْبَارُ، وَشَهِدَ بِهِ الِاعْتِبَارُ عِنْدَ ذَوِي الْبَصَائِرِ وَالْأَبْصَارِ.

Tentang hal itu telah datang hadis-hadis, dan pengambilan pelajaran yang benar juga membenarkannya menurut orang-orang yang memiliki pandangan batin dan lahir.

فَإِنْ قُلْتَ: كَمْ مِنْ طَالِبٍ رَدِيءِ الْأَخْلَاقِ حَصَّلَ الْعُلُومَ؟

Jika engkau berkata, “Betapa banyak pencari ilmu yang berakhlak buruk tetapi tetap memperoleh ilmu?”

فَهَيْهَاتَ، مَا أَبْعَدَهُ عَنِ الْعِلْمِ الْحَقِيقِيِّ النَّافِعِ فِي الْآخِرَةِ الْجَالِبِ لِلسَّعَادَةِ.

Maka sungguh jauh ia dari ilmu yang hakiki, yang bermanfaat di akhirat dan membawa kebahagiaan.

فَإِنَّ مِنْ أَوَائِلِ ذٰلِكَ الْعِلْمِ أَنْ يَظْهَرَ لَهُ أَنَّ الْمَعَاصِيَ سُمُومٌ قَاتِلَةٌ مُهْلِكَةٌ.

Karena salah satu awal dari ilmu itu adalah tampaknya baginya bahwa maksiat-maksiat itu racun-racun yang mematikan dan membinasakan.

وَهَلْ رَأَيْتَ مَنْ يَتَنَاوَلُ سُمًّا مَعَ عِلْمِهِ بِكَوْنِهِ سُمًّا قَاتِلًا؟

Pernahkah engkau melihat seseorang memakan racun padahal ia tahu bahwa itu racun yang mematikan?

إِنَّمَا الَّذِي تَسْمَعُهُ مِنَ الْمُتَرَسِّمِينَ حَدِيثٌ يُلَفِّقُونَهُ بِأَلْسِنَتِهِمْ مَرَّةً، وَيُرَدِّدُونَهُ بِقُلُوبِهِمْ أُخْرَى، وَلَيْسَ ذٰلِكَ مِنَ الْعِلْمِ فِي شَيْءٍ.

Apa yang engkau dengar dari orang-orang yang hanya berpura-pura berilmu itu hanyalah ucapan yang mereka susun di lisan mereka pada satu waktu, lalu mereka ulang-ulang di hati mereka pada waktu yang lain, padahal itu sama sekali bukan ilmu.

قَالَ ابْنُ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: لَيْسَ الْعِلْمُ بِكَثْرَةِ الرِّوَايَةِ، إِنَّمَا الْعِلْمُ نُورٌ يُقْذَفُ فِي الْقَلْبِ.

Ibnu Mas‘ud radhiyallahu ‘anhu berkata, “Ilmu itu bukan dengan banyaknya riwayat. Sesungguhnya ilmu itu adalah cahaya yang dilemparkan ke dalam hati.”

وَقَالَ بَعْضُهُمْ: إِنَّمَا الْعِلْمُ الْخَشْيَةُ، لِقَوْلِهِ تَعَالَى: {إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ}.

Sebagian ulama berkata, “Sesungguhnya ilmu itu adalah rasa takut kepada Allah,” berdasarkan firman-Nya: “Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah para ulama.”

وَكَأَنَّهُ أَشَارَ إِلَى أَخَصِّ ثَمَرَاتِ الْعِلْمِ.

Seakan-akan ia menunjuk kepada buah ilmu yang paling khusus.

وَلِذٰلِكَ قَالَ بَعْضُ الْمُحَقِّقِينَ: مَعْنَى قَوْلِهِمْ: تَعَلَّمْنَا الْعِلْمَ لِغَيْرِ اللَّهِ فَأَبَى الْعِلْمُ أَنْ يَكُونَ إِلَّا لِلَّهِ، أَنَّ الْعِلْمَ أَبَى وَامْتَنَعَ عَلَيْنَا، فَلَمْ تَنْكَشِفْ لَنَا حَقِيقَتُهُ، وَإِنَّمَا حَصَلَ لَنَا حَدِيثُهُ وَأَلْفَاظُهُ.

Karena itulah sebagian ulama yang mendalam berkata, “Makna ucapan mereka, ‘Kami mempelajari ilmu bukan karena Allah, tetapi ilmu menolak kecuali untuk Allah,’ adalah bahwa hakikat ilmu itu menolak dan enggan datang kepada kami, sehingga hakikatnya tidak tersingkap bagi kami; yang kami peroleh hanyalah cerita tentangnya dan lafaz-lafaznya.”

فَإِنْ قُلْتَ: أَرَى جَمَاعَةً مِنَ الْعُلَمَاءِ وَالْفُقَهَاءِ الْمُحَقِّقِينَ بَرَزُوا فِي الْفُرُوعِ وَالْأُصُولِ، وَعُدُّوا مِنْ جُمْلَةِ الْفُحُولِ، وَأَخْلَاقُهُمْ ذَمِيمَةٌ لَمْ يَتَطَهَّرُوا مِنْهَا.

Jika engkau berkata, “Aku melihat sekelompok ulama dan fuqaha yang mendalam, unggul dalam ilmu cabang dan usul, dan dihitung sebagai tokoh-tokoh besar, tetapi akhlak mereka buruk dan tidak suci darinya.”

فَيُقَالُ: إِذَا عَرَفْتَ مَرَاتِبَ الْعُلُومِ، وَعَرَفْتَ عِلْمَ الْآخِرَةِ، اسْتَبَانَ لَكَ أَنَّ مَا اشْتَغَلُوا بِهِ قَلِيلُ الْغَنَاءِ مِنْ حَيْثُ كَوْنُهُ عِلْمًا.

Maka jawabannya: jika engkau mengetahui tingkatan ilmu-ilmu dan mengetahui ilmu akhirat, akan jelas bagimu bahwa apa yang mereka sibukkan diri dengannya sedikit sekali nilainya dari sisi bahwa ia adalah ilmu.

وَإِنَّمَا غِنَاؤُهُ مِنْ حَيْثُ كَوْنُهُ عَمَلًا لِلَّهِ تَعَالَى إِذَا قُصِدَ بِهِ التَّقَرُّبُ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى.

Nilainya hanya ada dari sisi bahwa ia menjadi amal untuk Allah Ta‘ala, jika dengannya dimaksudkan pendekatan diri kepada Allah Ta‘ala.

وَقَدْ سَبَقَتْ إِلَى هٰذَا إِشَارَةٌ.

Hal ini telah kami singgung sebelumnya.

وَسَيَأْتِيكَ فِيهِ مَزِيدُ بَيَانٍ وَإِيضَاحٍ إِنْ شَاءَ اللَّهُ تَعَالَى.

Dan nanti akan datang penjelasan serta pemaparan yang lebih rinci tentang hal ini, insyaallah Ta‘ala.

اَلْوَظِيفَةُ الثَّانِيَةُ: أَنْ يُقَلِّلَ عَلَائِقَهُ مِنَ الِاشْتِغَالِ بِالدُّنْيَا، وَيَبْعُدَ عَنِ الْأَهْلِ وَالْوَطَنِ، فَإِنَّ الْعَلَائِقَ شَاغِلَةٌ وَصَارِفَةٌ، مَا جَعَلَ اللَّهُ لِرَجُلٍ مِنْ قَلْبَيْنِ فِي جَوْفِهِ.

Tugas kedua: hendaknya ia mengurangi keterikatan-keterikatan dengan kesibukan dunia, menjauh dari keluarga dan kampung halaman, karena keterikatan-keterikatan itu menyibukkan dan memalingkan. Allah tidak menjadikan bagi seseorang dua hati dalam rongganya.

وَمَهْمَا تَوَزَّعَتِ الْفِكْرَةُ قَصُرَتْ عَنْ دَرْكِ الْحَقَائِقِ.

Sejauh mana pikiran terbagi-bagi, sejauh itu pula ia lemah untuk menangkap hakikat-hakikat.

وَلِذٰلِكَ قِيلَ: الْعِلْمُ لَا يُعْطِيكَ بَعْضَهُ حَتَّى تُعْطِيَهُ كُلَّكَ، فَإِذَا أَعْطَيْتَهُ كُلَّكَ فَأَنْتَ مِنْ إِعْطَائِهِ إِيَّاكَ بَعْضَهُ عَلَى خَطَرٍ.

Karena itu dikatakan, “Ilmu tidak akan memberimu sebagian dirinya hingga engkau memberikan seluruh dirimu kepadanya. Maka jika engkau telah memberikan seluruh dirimu, engkau pun masih dalam bahaya, apakah ia akan memberimu sebagian dirinya atau tidak.”

وَالْفِكْرَةُ الْمُتَوَزِّعَةُ عَلَى أُمُورٍ مُتَفَرِّقَةٍ كَجَدْوَلٍ تَفَرَّقَ مَاؤُهُ، فَنَشِفَتِ الْأَرْضُ بَعْضَهُ، وَاخْتَطَفَ الْهَوَاءُ بَعْضَهُ، فَلَا يَبْقَى مِنْهُ مَا يَجْتَمِعُ وَيَبْلُغُ الْمُزْدَرَعَ.

Pikiran yang terbagi kepada banyak urusan yang beraneka ragam bagaikan saluran air yang airnya terpencar, lalu sebagiannya diserap tanah dan sebagiannya diterbangkan angin, sehingga tidak tersisa cukup air yang dapat berkumpul dan sampai ke tempat tanam.

اَلْوَظِيفَةُ الثَّالِثَةُ: أَنْ لَا يَتَكَبَّرَ عَلَى الْعِلْمِ، وَلَا يَتَأَمَّرَ عَلَى مُعَلِّمِهِ، بَلْ يُلْقِيَ إِلَيْهِ زِمَامَ أَمْرِهِ بِالْكُلِّيَّةِ فِي كُلِّ تَفْصِيلٍ، وَيُذْعِنَ لِنَصِيحَتِهِ إِذْعَانَ الْمَرِيضِ الْجَاهِلِ لِلطَّبِيبِ الْمُشْفِقِ الْحَاذِقِ.

Tugas ketiga: janganlah ia sombong terhadap ilmu, dan jangan merasa lebih tinggi dari gurunya. Sebaliknya, hendaknya ia menyerahkan kendali urusannya sepenuhnya kepada gurunya dalam setiap rinciannya, dan tunduk kepada nasihatnya seperti orang sakit yang bodoh tunduk kepada dokter ahli yang penuh kasih.

وَيَنْبَغِي أَنْ يَتَوَاضَعَ لِمُعَلِّمِهِ، وَيَطْلُبَ الثَّوَابَ وَالشَّرَفَ بِخِدْمَتِهِ.

Seorang murid seharusnya bersikap rendah hati kepada gurunya, dan mencari pahala serta kemuliaan dengan melayaninya.

قَالَ الشَّعْبِيُّ: صَلَّى زَيْدُ بْنُ ثَابِتٍ عَلَى جَنَازَةٍ، فَقُرِّبَتْ إِلَيْهِ بَغْلَتُهُ لِيَرْكَبَهَا، فَجَاءَ ابْنُ عَبَّاسٍ فَأَخَذَ بِرِكَابِهِ.

Asy-Sya‘bi berkata, “Zaid bin Tsabit pernah menyalati jenazah. Lalu bighalnya didekatkan agar ia menungganginya. Maka datanglah Ibnu ‘Abbas dan memegang sanggurdi tunggangannya.”

فَقَالَ زَيْدٌ: خَلِّ عَنْهُ يَا ابْنَ عَمِّ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.

Maka Zaid berkata, “Lepaskanlah itu, wahai sepupu Rasulullah .”

فَقَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ: هٰكَذَا أُمِرْنَا أَنْ نَفْعَلَ بِالْعُلَمَاءِ وَالْكُبَرَاءِ.

Ibnu ‘Abbas berkata, “Beginilah kami diperintahkan untuk berbuat kepada para ulama dan orang-orang besar.”

فَقَبَّلَ زَيْدُ بْنُ ثَابِتٍ يَدَهُ، وَقَالَ: هٰكَذَا أُمِرْنَا أَنْ نَفْعَلَ بِأَهْلِ بَيْتِ نَبِيِّنَا صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.

Lalu Zaid bin Tsabit mencium tangannya dan berkata, “Dan beginilah kami diperintahkan untuk berbuat kepada ahli bait Nabi kami .”

وَقَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لَيْسَ مِنْ أَخْلَاقِ الْمُؤْمِنِ التَّمَلُّقُ إِلَّا فِي طَلَبِ الْعِلْمِ.

Nabi bersabda, “Bukan termasuk akhlak seorang mukmin menjilat, kecuali dalam mencari ilmu.”

فَلَا يَنْبَغِي لِطَالِبِ الْعِلْمِ أَنْ يَتَكَبَّرَ عَلَى الْمُعَلِّمِ.

Maka tidak sepantasnya bagi pencari ilmu bersikap sombong kepada guru.

وَمِنْ تَكَبُّرِهِ عَلَى الْمُعَلِّمِ أَنْ يَسْتَنْكِفَ عَنِ الِاسْتِفَادَةِ إِلَّا مِنَ الْمَرْمُوقِينَ الْمَشْهُورِينَ، وَهُوَ عَيْنُ الْحَمَاقَةِ.

Termasuk kesombongannya kepada guru ialah bila ia enggan mengambil manfaat kecuali dari orang-orang yang berpangkat tinggi dan terkenal. Padahal itu adalah kebodohan yang nyata.

فَإِنَّ الْعِلْمَ سَبَبُ النَّجَاةِ وَالسَّعَادَةِ، وَمَنْ يَطْلُبُ مَهْرَبًا مِنْ سَبُعٍ ضَارٍ يَفْتَرِسُهُ لَمْ يُفَرِّقْ بَيْنَ أَنْ يُرْشِدَهُ إِلَى الْهَرَبِ مَشْهُورٌ أَوْ خَامِلٌ.

Karena ilmu adalah sebab keselamatan dan kebahagiaan. Siapa yang mencari jalan lari dari binatang buas yang akan menerkamnya, tentu ia tidak akan membedakan apakah yang menunjukkan jalan selamat kepadanya adalah orang terkenal atau orang biasa yang tidak terkenal.

وَضَرَاوَةُ سِبَاعِ النَّارِ بِالْجُهَّالِ بِاللَّهِ تَعَالَى أَشَدُّ مِنْ ضَرَاوَةِ كُلِّ سَبُعٍ.

Dan keganasan binatang-binatang buas neraka terhadap orang-orang yang bodoh tentang Allah Ta‘ala lebih dahsyat daripada keganasan semua binatang buas.

فَالْحِكْمَةُ ضَالَّةُ الْمُؤْمِنِ، يَغْتَنِمُهَا حَيْثُ يَظْفَرُ بِهَا، وَيَتَقَلَّدُ الْمِنَّةَ لِمَنْ سَاقَهَا إِلَيْهِ كَائِنًا مَنْ كَانَ.

Hikmah adalah barang hilang milik seorang mukmin. Ia mengambilnya di mana pun ia mendapatkannya, dan ia merasa berutang budi kepada orang yang menyampaikannya kepadanya, siapa pun orang itu.

فَلِذٰلِكَ قِيلَ: الْعِلْمُ حَرْبٌ لِلْفَتَى الْمُتَعَالِي، كَالسَّيْلِ حَرْبٌ لِلْمَكَانِ الْعَالِي.

Karena itu dikatakan: “Ilmu adalah musuh bagi pemuda yang sombong, sebagaimana banjir adalah musuh bagi tempat yang tinggi.”

فَلَا يُنَالُ الْعِلْمُ إِلَّا بِالتَّوَاضُعِ وَإِلْقَاءِ السَّمْعِ.

Ilmu tidak akan diperoleh kecuali dengan kerendahan hati dan kesediaan mendengarkan.

قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: {إِنَّ فِي ذٰلِكَ لَذِكْرَىٰ لِمَنْ كَانَ لَهُ قَلْبٌ أَوْ أَلْقَى السَّمْعَ وَهُوَ شَهِيدٌ}.

Allah Ta‘ala berfirman, “Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat pelajaran bagi orang yang mempunyai hati atau yang menggunakan pendengarannya, sedang ia hadir.”

وَمَعْنَى كَوْنِهِ ذَا قَلْبٍ أَنْ يَكُونَ قَابِلًا لِلْعِلْمِ فَهْمًا، ثُمَّ لَا تُعِينُهُ الْقُدْرَةُ عَلَى الْفَهْمِ حَتَّى يُلْقِيَ السَّمْعَ وَهُوَ شَهِيدٌ، حَاضِرُ الْقَلْبِ، لِيَسْتَقْبِلَ كُلَّ مَا أُلْقِيَ إِلَيْهِ بِحُسْنِ الْإِصْغَاءِ وَالضَّرَاعَةِ وَالشُّكْرِ وَالْفَرَحِ وَقَبُولِ الْمِنَّةِ.

Makna bahwa ia memiliki hati ialah bahwa ia memiliki kemampuan memahami ilmu. Kemudian kemampuan itu tidak akan menolongnya untuk memahami, hingga ia mau memasang pendengarannya dengan sungguh-sungguh sementara hatinya hadir, agar ia menerima setiap yang disampaikan kepadanya dengan baik melalui pendengaran yang baik, kerendahan hati, rasa syukur, kegembiraan, dan penerimaan terhadap jasa orang lain.

فَلْيَكُنِ الْمُتَعَلِّمُ لِمُعَلِّمِهِ كَأَرْضٍ دَمِثَةٍ نَالَهَا مَطَرٌ غَزِيرٌ، فَتَشَرَّبَتْ جَمِيعَ أَجْزَائِهَا، وَأَذْعَنَتْ بِالْكُلِّيَّةِ لِقَبُولِهِ.

Hendaknya seorang murid terhadap gurunya seperti tanah yang lembut yang terkena hujan lebat, lalu seluruh bagiannya menyerap air itu, dan sepenuhnya tunduk untuk menerimanya.

وَمَهْمَا أَشَارَ عَلَيْهِ الْمُعَلِّمُ بِطَرِيقٍ فِي التَّعَلُّمِ فَلْيُقَلِّدْهُ، وَلْيَدَعْ رَأْيَهُ.

Apa pun jalan belajar yang ditunjukkan oleh guru kepadanya, hendaklah ia mengikutinya dan meninggalkan pendapatnya sendiri.

فَإِنَّ خَطَأَ مُرْشِدِهِ أَنْفَعُ لَهُ مِنْ صَوَابِهِ فِي نَفْسِهِ، إِذِ التَّجْرِبَةُ تُطْلِعُ عَلَى دَقَائِقَ يُسْتَغْرَبُ سَمَاعُهَا مَعَ أَنَّهُ يَعْظُمُ نَفْعُهَا.

Sebab kesalahan pembimbingnya lebih bermanfaat baginya daripada kebenarannya sendiri, karena pengalaman membuka rincian-rincian halus yang terasa asing bila didengar, padahal manfaatnya besar.

فَكَمْ مِنْ مَرِيضٍ مَحْرُورٍ يُعَالِجُهُ الطَّبِيبُ فِي بَعْضِ أَوْقَاتِهِ بِالْحَرَارَةِ، لِيَزِيدَ فِي قُوَّتِهِ إِلَى حَدٍّ يَحْتَمِلُ صَدْمَةَ الْعِلَاجِ، فَيَعْجَبُ مِنْهُ مَنْ لَا خِبْرَةَ لَهُ بِهِ.

Betapa banyak orang yang sedang demam panas justru diobati oleh dokter pada waktu tertentu dengan sesuatu yang panas, agar kekuatannya bertambah sampai pada batas ia sanggup menahan kerasnya pengobatan. Hal ini akan terasa aneh bagi orang yang tidak memiliki pengalaman.

وَقَدْ نَبَّهَ اللَّهُ تَعَالَى بِقِصَّةِ الْخَضِرِ وَمُوسَى عَلَيْهِمَا السَّلَامُ، حَيْثُ قَالَ الْخَضِرُ: {إِنَّكَ لَنْ تَسْتَطِيعَ مَعِيَ صَبْرًا ۝ وَكَيْفَ تَصْبِرُ عَلَىٰ مَا لَمْ تُحِطْ بِهِ خُبْرًا}.

Allah Ta‘ala telah memberi peringatan melalui kisah Khidir dan Musa ‘alaihimassalam, ketika Khidir berkata, “Sesungguhnya engkau tidak akan sanggup sabar bersamaku. Dan bagaimana engkau dapat sabar terhadap sesuatu yang belum engkau ketahui hakikatnya?”

ثُمَّ شَرَطَ عَلَيْهِ السُّكُوتَ وَالتَّسْلِيمَ، فَقَالَ: {فَإِنِ اتَّبَعْتَنِي فَلَا تَسْأَلْنِي عَنْ شَيْءٍ حَتَّىٰ أُحْدِثَ لَكَ مِنْهُ ذِكْرًا}.

Kemudian Khidir mensyaratkan kepadanya diam dan pasrah. Ia berkata, “Jika engkau mengikutiku, maka janganlah engkau bertanya kepadaku tentang sesuatu hingga aku sendiri menerangkannya kepadamu.”

ثُمَّ لَمْ يَصْبِرْ، وَلَمْ يَزَلْ فِي مُرَاوَدَتِهِ، حَتَّى كَانَ ذٰلِكَ سَبَبَ الْفِرَاقِ بَيْنَهُمَا.

Namun Musa tidak sabar dan terus bertanya, hingga hal itu menjadi sebab perpisahan antara keduanya.

وَبِالْجُمْلَةِ، كُلُّ مُتَعَلِّمٍ اسْتَبْقَى لِنَفْسِهِ رَأْيًا وَاخْتِيَارًا دُونَ اخْتِيَارِ الْمُعَلِّمِ، فَاحْكُمْ عَلَيْهِ بِالْإِخْفَاقِ وَالْخُسْرَانِ.

Secara umum, setiap murid yang masih mempertahankan pendapat dan pilihannya sendiri di samping pilihan gurunya, maka putuskanlah bahwa ia akan gagal dan rugi.

فَإِنْ قُلْتَ: فَقَدْ قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: {فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ}، فَالسُّؤَالُ مَأْمُورٌ بِهِ.

Jika engkau berkata, “Allah Ta‘ala telah berfirman: ‘Maka bertanyalah kepada ahli zikir jika kalian tidak mengetahui,’ sehingga bertanya itu diperintahkan.”

فَاعْلَمْ أَنَّهُ كَذٰلِكَ، وَلٰكِنْ فِيمَا يَأْذَنُ الْمُعَلِّمُ فِي السُّؤَالِ عَنْهُ.

Maka ketahuilah, memang demikian. Akan tetapi, itu berlaku pada sesuatu yang guru mengizinkan untuk ditanyakan.

فَإِنَّ السُّؤَالَ عَمَّا لَمْ تَبْلُغْ مَرْتَبَتُكَ إِلَى فَهْمِهِ مَذْمُومٌ.

Sebab bertanya tentang sesuatu yang tingkatmu belum sampai untuk memahaminya adalah tercela.

وَلِذٰلِكَ مَنَعَ الْخَضِرُ مُوسَى عَلَيْهِمَا السَّلَامُ مِنَ السُّؤَالِ، أَيْ دَعِ السُّؤَالَ قَبْلَ أَوَانِهِ.

Karena itulah Khidir melarang Musa ‘alaihimassalam bertanya, yakni tinggalkanlah pertanyaan sebelum waktunya.

فَالْمُعَلِّمُ أَعْلَمُ بِمَا أَنْتَ أَهْلٌ لَهُ، وَبِأَوَانِ الْكَشْفِ.

Guru lebih mengetahui apa yang layak bagimu, dan kapan waktu penyingkapan ilmu itu.

وَمَا لَمْ يَدْخُلْ أَوَانُ الْكَشْفِ فِي كُلِّ دَرَجَةٍ مِنْ مَرَاقِي الدَّرَجَاتِ، لَا يَدْخُلْ أَوَانُ السُّؤَالِ عَنْهُ.

Selama belum masuk waktu tersingkapnya ilmu pada setiap tingkatan dari tangga-tangga ilmu, maka belum masuk pula waktu untuk bertanya tentangnya.

وَقَدْ قَالَ عَلِيٌّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: إِنَّ مِنْ حَقِّ الْعَالِمِ أَنْ لَا تُكْثِرَ عَلَيْهِ بِالسُّؤَالِ، وَلَا تُعْنِتَهُ فِي الْجَوَابِ، وَلَا تُلِحَّ عَلَيْهِ إِذَا كَسِلَ، وَلَا تَأْخُذْ بِثَوْبِهِ إِذَا نَهَضَ، وَلَا تُفْشِيَ لَهُ سِرًّا، وَلَا تَغْتَبَنَّ أَحَدًا عِنْدَهُ، وَلَا تَطْلُبَنَّ عَثْرَتَهُ، وَإِنْ زَلَّ قَبِلْتَ مَعْذِرَتَهُ، وَعَلَيْكَ أَنْ تُوَقِّرَهُ وَتُعَظِّمَهُ لِلَّهِ تَعَالَى مَا دَامَ يَحْفَظُ أَمْرَ اللَّهِ تَعَالَى، وَلَا تَجْلِسْ أَمَامَهُ، وَإِنْ كَانَتْ لَهُ حَاجَةٌ سَبَقْتَ الْقَوْمَ إِلَى خِدْمَتِهِ.

Ali radhiyallahu ‘anhu berkata, “Termasuk hak seorang alim adalah engkau tidak banyak bertanya kepadanya, tidak menyulitkannya dalam menjawab, tidak mendesaknya ketika ia letih, tidak menarik bajunya ketika ia berdiri pergi, tidak membongkar rahasianya, tidak menggunjing seseorang di hadapannya, tidak mencari-cari ketergelincirannya, dan jika ia keliru engkau menerima alasannya. Engkau wajib menghormatinya dan mengagungkannya karena Allah Ta‘ala selama ia menjaga perintah Allah Ta‘ala. Jangan duduk di depannya dengan sikap kurang hormat. Dan jika ia memiliki suatu kebutuhan, hendaklah engkau mendahului orang lain dalam melayaninya.”

اَلْوَظِيفَةُ الرَّابِعَةُ: أَنْ يَحْتَرِزَ الْخَائِضُ فِي الْعِلْمِ فِي مُبْتَدَإِ الْأَمْرِ عَنِ الْإِصْغَاءِ إِلَى اخْتِلَافِ النَّاسِ، سَوَاءٌ كَانَ مَا خَاضَ فِيهِ مِنْ عُلُومِ الدُّنْيَا أَوْ مِنْ عُلُومِ الْآخِرَةِ.

Tugas keempat: orang yang baru menekuni ilmu hendaknya pada awal mulanya berhati-hati dari mendengarkan perbedaan-perbedaan pendapat manusia, baik dalam ilmu dunia maupun ilmu akhirat yang sedang ia pelajari.

فَإِنَّ ذٰلِكَ يُدْهِشُ عَقْلَهُ، وَيُحَيِّرُ ذِهْنَهُ، وَيُفَتِّرُ رَأْيَهُ، وَيُؤْيِسُهُ عَنِ الْإِدْرَاكِ وَالِاطِّلَاعِ.

Karena hal itu akan mengacaukan akalnya, membingungkan pikirannya, melemahkan pandangannya, dan membuatnya putus asa dari memahami dan mencapai ilmu.

بَلْ يَنْبَغِي أَنْ يُتْقِنَ أَوَّلًا الطَّرِيقَ الْحَمِيدَةَ الْوَاحِدَةَ الْمَرْضِيَّةَ عِنْدَ أُسْتَاذِهِ، ثُمَّ بَعْدَ ذٰلِكَ يُصْغِي إِلَى الْمَذَاهِبِ وَالشُّبَهِ.

Sebaliknya, ia seharusnya terlebih dahulu menguasai satu jalan yang baik dan diridhai menurut gurunya, lalu setelah itu barulah mendengarkan mazhab-mazhab dan syubhat-syubhat.

وَإِنْ لَمْ يَكُنْ أُسْتَاذُهُ مُسْتَقِلًّا بِاخْتِيَارِ رَأْيٍ وَاحِدٍ، وَإِنَّمَا عَادَتُهُ نَقْلُ الْمَذَاهِبِ وَمَا قِيلَ فِيهَا، فَلْيَحْذَرْ مِنْهُ.

Jika gurunya tidak mandiri dalam memilih satu pendapat, dan hanya terbiasa menukil mazhab-mazhab serta apa yang dikatakan tentangnya, maka hendaklah murid waspada terhadap guru semacam itu.

فَإِنَّ إِضْلَالَهُ أَكْثَرُ مِنْ إِرْشَادِهِ، فَلَا يَصْلُحُ الْأَعْمَى لِقَوْدِ الْعُمْيَانِ وَإِرْشَادِهِمْ.

Karena kesesatan yang ditimbulkannya lebih besar daripada petunjuk yang diberikannya. Orang buta tidak layak menuntun dan membimbing orang-orang buta.

وَمِنْ هٰذَا حَالُهُ يُعَدُّ فِي عَمَى الْحَيْرَةِ وَتِيهِ الْجَهْلِ.

Orang seperti ini termasuk orang yang berada dalam kebutaan kebingungan dan kesesatan kebodohan.

وَمَنْعُ الْمُبْتَدِئِ عَنِ الشُّبَهِ يُضَاهِي مَنْعَ الْحَدِيثِ الْعَهْدِ بِالْإِسْلَامِ عَنْ مُخَالَطَةِ الْكُفَّارِ، وَنَدْبُ الْقَوِيِّ إِلَى النَّظَرِ فِي الِاخْتِلَافَاتِ يُضَاهِي حَثَّ الْقَوِيِّ عَلَى مُخَالَطَةِ الْكُفَّارِ.

Mencegah seorang pemula dari syubhat itu serupa dengan mencegah orang yang baru masuk Islam dari bergaul dengan orang-orang kafir. Sedangkan menganjurkan orang yang kuat untuk menelaah perbedaan-perbedaan pendapat itu serupa dengan menganjurkan orang yang kuat untuk bergaul dengan orang-orang kafir.

وَلِهٰذَا يُمْنَعُ الْجَبَانُ عَنِ التَّهَجُّمِ عَلَى صَفِّ الْكُفَّارِ، وَيُنْدَبُ الشُّجَاعُ لَهُ.

Karena itulah, orang yang pengecut dilarang menyerang barisan orang-orang kafir, sedangkan orang yang berani dianjurkan melakukannya.

وَمِنَ الْغَفْلَةِ عَنْ هٰذِهِ الدَّقِيقَةِ ظَنُّ بَعْضِ الضُّعَفَاءِ أَنَّ الِاقْتِدَاءَ بِالْأَقْوِيَاءِ فِيمَا يُنْقَلُ عَنْهُمْ مِنَ الْمُسَاهَلَاتِ جَائِزٌ، وَلَمْ يَدْرِ أَنَّ وَظَائِفَ الْأَقْوِيَاءِ تُخَالِفُ وَظَائِفَ الضُّعَفَاءِ.

Termasuk kelalaian terhadap rincian halus ini adalah anggapan sebagian orang lemah bahwa boleh meniru orang-orang kuat dalam hal-hal yang dinukil dari mereka berupa sikap-sikap longgar. Padahal ia tidak sadar bahwa tugas orang-orang kuat berbeda dengan tugas orang-orang lemah.

وَفِي ذٰلِكَ قَالَ بَعْضُهُمْ: مَنْ رَآنِي فِي الْبِدَايَةِ صَارَ صِدِّيقًا، وَمَنْ رَآنِي فِي النِّهَايَةِ صَارَ زِنْدِيقًا.

Tentang hal ini, sebagian mereka berkata, “Siapa yang melihatku pada permulaan jalan, ia akan menjadi orang yang sangat membenarkan. Dan siapa yang melihatku pada akhirnya, ia akan menjadi zindik.”

إِذِ النِّهَايَةُ تَرُدُّ الْأَعْمَالَ إِلَى الْبَاطِنِ، وَتُسَكِّنُ الْجَوَارِحَ إِلَّا عَنْ رَوَاتِبِ الْفَرَائِضِ، فَيَتَرَاءَى لِلنَّاظِرِينَ أَنَّهَا بَطَالَةٌ وَكَسَلٌ وَإِهْمَالٌ.

Karena pada akhir perjalanan, amal-amal dikembalikan kepada batin, dan anggota badan menjadi tenang kecuali untuk kewajiban-kewajiban yang tetap, sehingga bagi orang yang melihatnya hal itu tampak seperti pengangguran, kemalasan, dan kelalaian.

وَهَيْهَاتَ، فَذٰلِكَ مُرَابَطَةُ الْقَلْبِ فِي عَيْنِ الشُّهُودِ وَالْحُضُورِ، وَمُلَازَمَةُ الذِّكْرِ الَّذِي هُوَ أَفْضَلُ الْأَعْمَالِ عَلَى الدَّوَامِ.

Padahal jauh dari itu. Sebenarnya itu adalah berjaganya hati di hadapan penyaksian dan kehadiran, serta terus-menerus melekat pada zikir yang merupakan amal paling utama sepanjang waktu.

وَتَشَبُّهُ الضَّعِيفِ بِالْقَوِيِّ فِيمَا يُرَى مِنْ ظَاهِرِهِ أَنَّهُ هَفْوَةٌ، يُضَاهِي اعْتِذَارَ مَنْ يُلْقِي نَجَاسَةً يَسِيرَةً فِي كُوزِ مَاءٍ وَيَتَعَلَّلُ بِأَنَّ أَضْعَافَ هٰذِهِ النَّجَاسَةِ قَدْ يُلْقَى فِي الْبَحْرِ، وَالْبَحْرُ أَعْظَمُ مِنَ الْكُوزِ، فَمَا جَازَ لِلْبَحْرِ فَهُوَ لِلْكُوزِ أَجْوَزُ.

Orang lemah yang meniru orang kuat pada sesuatu yang secara lahir tampak seperti kelonggaran, itu seperti orang yang melempar najis sedikit ke dalam kendi air lalu beralasan bahwa najis yang lebih banyak pun bisa saja jatuh ke laut, padahal laut lebih besar daripada kendi. Maka menurutnya, apa yang berlaku untuk laut tentu lebih berlaku lagi untuk kendi.

وَلَا يَدْرِي الْمِسْكِينُ أَنَّ الْبَحْرَ بِقُوَّتِهِ يُحِيلُ النَّجَاسَةَ مَاءً، فَتَنْقَلِبُ عَيْنُ النَّجَاسَةِ بِاسْتِيلَائِهِ إِلَى صِفَتِهِ، وَالْقَلِيلُ مِنَ النَّجَاسَةِ يَغْلِبُ عَلَى الْكُوزِ وَيُحِيلُهُ إِلَى صِفَتِهِ.

Orang miskin ini tidak tahu bahwa laut, karena kekuatannya, dapat menjadikan najis itu berubah menjadi air, sehingga hakikat najis itu berubah karena dominasi laut kepada sifat laut. Sedangkan najis sedikit saja akan menguasai kendi dan mengubahnya kepada sifat najis itu.

وَلِمِثْلِ هٰذَا جُوِّزَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا لَمْ يُجَوَّزْ لِغَيْرِهِ، حَتَّى أُبِيحَ لَهُ تِسْعُ نِسْوَةٍ.

Karena alasan semacam inilah dibolehkan bagi Nabi sesuatu yang tidak dibolehkan bagi selain beliau, sampai-sampai beliau dibolehkan memiliki sembilan istri.

إِذْ كَانَ لَهُ مِنَ الْقُوَّةِ مَا يَتَعَدَّى مِنْهُ صِفَةُ الْعَدْلِ إِلَى نِسَائِهِ وَإِنْ كَثُرْنَ.

Karena beliau memiliki kekuatan yang dengannya sifat adil dapat menjangkau para istri beliau meskipun mereka banyak.

وَأَمَّا غَيْرُهُ فَلَا يَقْدِرُ عَلَى بَعْضِ الْعَدْلِ، بَلْ يَتَعَدَّى مَا بَيْنَهُنَّ مِنَ الضِّرَارِ إِلَيْهِ، حَتَّى يَنْجَرَّ إِلَى مَعْصِيَةِ اللَّهِ تَعَالَى فِي طَلَبِ رِضَاهُنَّ.

Adapun selain beliau, maka ia tidak mampu mencapai sebagian keadilan itu. Bahkan, mudarat yang terjadi di antara para istrinya akan menimpanya, hingga ia terseret kepada maksiat kepada Allah Ta‘ala demi mencari keridaan mereka.

فَمَا أَفْلَحَ مَنْ قَاسَ الْمَلَائِكَةَ بِالْحَدَّادِينَ.

Tidak akan beruntung orang yang menyamakan malaikat dengan tukang besi.

اَلْوَظِيفَةُ الْخَامِسَةُ: أَنْ لَا يَدَعَ طَالِبُ الْعِلْمِ فَنًّا مِنَ الْعُلُومِ الْمَحْمُودَةِ وَلَا نَوْعًا مِنْ أَنْوَاعِهِ إِلَّا وَيَنْظُرُ فِيهِ نَظَرًا يَطَّلِعُ بِهِ عَلَى مَقْصِدِهِ وَغَايَتِهِ.

Tugas kelima: seorang penuntut ilmu jangan meninggalkan satu cabang dari ilmu-ilmu yang terpuji, dan jangan pula meninggalkan satu jenis dari jenis-jenisnya, kecuali ia meninjaunya sekilas sehingga mengetahui tujuan dan puncaknya.

ثُمَّ إِنْ سَاعَدَهُ الْعُمُرُ طَلَبَ التَّبَحُّرَ فِيهِ، وَإِلَّا اشْتَغَلَ بِالْأَهَمِّ مِنْهُ وَاسْتَوْفَاهُ، وَتَطَرَّفَ مِنَ الْبَقِيَّةِ.

Kemudian jika umur membantunya, ia dapat memperdalamnya. Jika tidak, maka ia menyibukkan diri dengan yang lebih penting darinya dan menunaikannya secara sempurna, serta mengambil bagian seperlunya dari yang lain.

فَإِنَّ الْعُلُومَ مُتَعَاوِنَةٌ، وَبَعْضُهَا مُرْتَبِطٌ بِبَعْضٍ.

Sebab ilmu-ilmu itu saling membantu, dan sebagian darinya terkait dengan sebagian yang lain.

وَيَسْتَفِيدُ مِنْهُ فِي الْحَالِ الِانْفِكَاكَ عَنْ عَدَاوَةِ ذٰلِكَ الْعِلْمِ بِسَبَبِ جَهْلِهِ، فَإِنَّ النَّاسَ أَعْدَاءُ مَا جَهِلُوا.

Dan pada saat itu ia juga akan memperoleh manfaat berupa terlepas dari permusuhan terhadap ilmu tersebut karena kebodohannya, sebab manusia adalah musuh bagi apa yang tidak mereka ketahui.

قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: {وَإِذَا لَمْ يَهْتَدُوا بِهِ فَسَيَقُولُونَ هٰذَا إِفْكٌ قَدِيمٌ}.

Allah Ta‘ala berfirman, “Dan apabila mereka tidak mendapat petunjuk dengannya, maka mereka akan berkata, ‘Ini adalah dusta yang lama.’”

قَالَ الشَّاعِرُ: وَمَنْ يَكُ ذَا فَمٍ مُرٍّ مَرِيضٍ، يَجِدْ مُرًّا بِهِ الْمَاءَ الزُّلَالَا.

Seorang penyair berkata, “Barang siapa memiliki mulut yang pahit karena sakit, maka air yang jernih pun akan terasa pahit baginya.”

فَالْعُلُومُ عَلَى دَرَجَاتِهَا، إِمَّا سَالِكَةٌ بِالْعَبْدِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى، وَإِمَّا مُعِينَةٌ عَلَى السُّلُوكِ نَوْعًا مِنَ الْإِعَانَةِ.

Ilmu-ilmu itu menurut tingkatannya ada yang secara langsung menuntun seorang hamba kepada Allah Ta‘ala, dan ada pula yang membantu perjalanan itu dengan bentuk bantuan tertentu.

وَلَهَا مَنَازِلُ مُرَتَّبَةٌ فِي الْقُرْبِ وَالْبُعْدِ مِنَ الْمَقْصُودِ، وَالْقَوَّامُ بِهَا حَفَظَةٌ كَحُفَّاظِ الرِّبَاطَاتِ وَالثُّغُورِ.

Ilmu-ilmu itu mempunyai tingkatan yang tersusun dalam hal dekat dan jauhnya dari tujuan utama, dan orang-orang yang menegakkannya ibarat para penjaga pos-pos pertahanan dan perbatasan.

وَلِكُلِّ وَاحِدٍ رُتْبَةٌ، وَلَهُ بِحَسَبِ دَرَجَتِهِ أَجْرٌ فِي الْآخِرَةِ إِذَا قَصَدَ بِهِ وَجْهَ اللَّهِ تَعَالَى.

Setiap orang memiliki tingkatannya masing-masing, dan baginya pahala di akhirat sesuai tingkatannya itu, apabila ia bermaksud dengannya mencari wajah Allah Ta‘ala.


اَلْوَظِيفَةُ السَّادِسَةُ: أَنْ لَا يَخُوضَ فِي فَنٍّ مِنْ فُنُونِ الْعِلْمِ دَفْعَةً، بَلْ يُرَاعِيَ التَّرْتِيبَ وَيَبْتَدِئَ بِالْأَهَمِّ.

Tugas keenam: janganlah seorang penuntut ilmu terjun ke dalam banyak cabang ilmu sekaligus, tetapi hendaklah ia memperhatikan urutan dan memulai dari yang paling penting.

فَإِنَّ الْعُمُرَ إِذَا كَانَ لَا يَتَّسِعُ لِجَمِيعِ الْعُلُومِ غَالِبًا، فَالْحَزْمُ أَنْ يَأْخُذَ مِنْ كُلِّ شَيْءٍ أَحْسَنَهُ، وَيَكْتَفِيَ مِنْهُ بِشَمِّهِ، وَيَصْرِفَ جُمَامَ قُوَّتِهِ فِي الْمَيْسُورِ مِنْ عِلْمِهِ إِلَى اسْتِكْمَالِ الْعِلْمِ الَّذِي هُوَ أَشْرَفُ الْعُلُومِ، وَهُوَ عِلْمُ الْآخِرَةِ، أَعْنِي قِسْمَيِ الْمُعَامَلَةِ وَالْمُكَاشَفَةِ.

Sebab umur pada umumnya tidak cukup untuk menghimpun seluruh ilmu. Maka sikap yang bijak adalah mengambil yang terbaik dari setiap ilmu, merasa cukup dengan sekadar mencicipi sebagian darinya, lalu mengarahkan seluruh kekuatan yang tersedia untuk menyempurnakan ilmu yang paling mulia, yaitu ilmu akhirat, yakni dua bagiannya: ilmu muamalah dan ilmu mukasyafah.

فَغَايَةُ الْمُعَامَلَةِ الْمُكَاشَفَةُ، وَغَايَةُ الْمُكَاشَفَةِ مَعْرِفَةُ اللَّهِ تَعَالَى.

Puncak ilmu muamalah adalah mukasyafah, dan puncak ilmu mukasyafah adalah ma‘rifat kepada Allah Ta‘ala.

وَلَسْتُ أَعْنِي بِهِ الِاعْتِقَادَ الَّذِي يَتَلَقَّفُهُ الْعَامِّيُّ وِرَاثَةً أَوْ تَلَقُّفًا، وَلَا طَرِيقَ تَحْرِيرِ الْكَلَامِ وَالْمُجَادَلَةِ فِي تَحْصِينِ الْكَلَامِ عَنْ مُرَاوَغَاتِ الْخُصُومِ كَمَا هُوَ غَايَةُ الْمُتَكَلِّمِ.

Yang aku maksud dengan ma‘rifat ini bukanlah keyakinan yang diterima oleh orang awam sekadar warisan atau ikut-ikutan, dan bukan pula cara menyusun ilmu kalam serta berdebat demi mempertahankan ucapan dari tipu daya lawan, sebagaimana itulah puncak tujuan ahli kalam.

بَلْ ذٰلِكَ نَوْعُ يَقِينٍ هُوَ ثَمَرَةُ نُورٍ يَقْذِفُهُ اللَّهُ تَعَالَى فِي قَلْبِ عَبْدٍ طَهُرَ بِالْمُجَاهَدَةِ بَاطِنُهُ عَنِ الْخَبَائِثِ، حَتَّى يَنْتَهِيَ إِلَى رُتْبَةِ إِيمَانِ أَبِي بَكْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، الَّذِي لَوْ وُزِنَ بِإِيمَانِ الْعَالَمِينَ لَرَجَحَ، كَمَا شَهِدَ لَهُ بِهِ سَيِّدُ الْبَشَرِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.

Akan tetapi, itu adalah sejenis keyakinan yang merupakan buah dari cahaya yang Allah Ta‘ala lemparkan ke dalam hati seorang hamba yang telah disucikan batinnya dari kotoran-kotoran melalui mujahadah, hingga ia mencapai derajat iman Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu, yang jika ditimbang dengan iman seluruh manusia niscaya akan lebih berat, sebagaimana disaksikan oleh penghulu umat manusia .

فَمَا عِنْدِي أَنَّ مَا يَعْتَقِدُهُ الْعَامِّيُّ، وَيُرَتِّبُهُ الْمُتَكَلِّمُ، الَّذِي لَا يَزِيدُ عَلَى الْعَامِّيِّ إِلَّا فِي صَنْعَةِ الْكَلَامِ، وَلِأَجْلِهِ سُمِّيَتْ صَنْعَتُهُ كَلَامًا، وَكَانَ يَعْجِزُ عَنْهُ عُمَرُ وَعُثْمَانُ وَعَلِيٌّ وَسَائِرُ الصَّحَابَةِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ، حَتَّى كَانَ يَفْضُلُهُمْ أَبُو بَكْرٍ بِالسِّرِّ الَّذِي وَقَرَ فِي صَدْرِهِ.

Menurutku, keyakinan yang dimiliki orang awam dan yang disusun oleh ahli kalam — yang tidak melebihi orang awam kecuali dalam seni berdebat, dan karena itulah ilmunya dinamakan kalam — bukanlah yang dimaksud. Bahkan Umar, Utsman, Ali, dan seluruh sahabat radhiyallahu ‘anhum tidak menekuni hal itu, padahal Abu Bakar tetap lebih utama dari mereka dengan rahasia yang menetap dalam dadanya.

وَالْعَجَبُ مِمَّنْ يَسْمَعُ مِثْلَ هٰذِهِ الْأَقْوَالِ مِنْ صَاحِبِ الشَّرْعِ صَلَوَاتُ اللَّهِ وَسَلَامُهُ عَلَيْهِ، ثُمَّ يَزْدَرِي مَا يَسْمَعُهُ عَلَى وَفْقِهِ، وَيَزْعُمُ أَنَّهُ مِنْ تُرَّهَاتِ الصُّوفِيَّةِ، وَأَنَّ ذٰلِكَ غَيْرُ مَعْقُولٍ.

Sungguh mengherankan orang yang mendengar ucapan-ucapan semacam ini dari pembawa syariat, semoga salawat dan salam Allah tercurah kepadanya, tetapi kemudian meremehkan apa yang didengarnya yang sesuai dengannya, dan mengira bahwa itu hanya omong kosong kaum sufi serta sesuatu yang tidak masuk akal.

فَيَنْبَغِي أَنْ تَتَئِدَ فِي هٰذَا، فَعِنْدَهُ ضَيَّعْتَ رَأْسَ الْمَالِ.

Maka sepatutnya engkau berhati-hati dalam perkara ini, karena jika engkau keliru di sini, berarti engkau telah menyia-nyiakan modal utama.

فَكُنْ حَرِيصًا عَلَى مَعْرِفَةِ ذٰلِكَ السِّرِّ الْخَارِجِ عَنْ بَضَاعَةِ الْفُقَهَاءِ وَالْمُتَكَلِّمِينَ، وَلَا يُرْشِدُكَ إِلَيْهِ إِلَّا حِرْصُكَ فِي الطَّلَبِ.

Maka jadilah orang yang sungguh-sungguh ingin mengetahui rahasia itu, yang berada di luar jangkauan bekal para fuqaha dan ahli kalam. Dan tidak ada yang akan membimbingmu kepadanya kecuali kesungguhanmu sendiri dalam mencarinya.

وَعَلَى الْجُمْلَةِ، فَأَشْرَفُ الْعُلُومِ وَغَايَتُهَا مَعْرِفَةُ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ، وَهُوَ بَحْرٌ لَا يُدْرَكُ مُنْتَهَى غَوْرِهِ.

Secara keseluruhan, ilmu yang paling mulia dan puncaknya adalah ma‘rifat kepada Allah ‘Azza wa Jalla, dan itu adalah lautan yang tidak dapat dijangkau kedalaman ujungnya.

وَأَقْصَى دَرَجَاتِ الْبَشَرِ فِيهِ رُتْبَةُ الْأَنْبِيَاءِ، ثُمَّ الْأَوْلِيَاءِ، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ.

Puncak derajat manusia dalam ilmu itu adalah derajat para nabi, kemudian para wali, lalu orang-orang setelah mereka.

وَقَدْ رُوِيَ أَنَّهُ رُئِيَتْ صُورَةُ حَكِيمَيْنِ مِنَ الْحُكَمَاءِ الْمُتَقَدِّمِينَ فِي مَسْجِدٍ، وَفِي يَدِ أَحَدِهِمَا رُقْعَةٌ فِيهَا: إِنْ أَحْسَنْتَ كُلَّ شَيْءٍ، فَلَا تَظُنَّنَّ أَنَّكَ أَحْسَنْتَ شَيْئًا حَتَّى تَعْرِفَ اللَّهَ تَعَالَى، وَتَعْلَمَ أَنَّهُ مُسَبِّبُ الْأَسْبَابِ وَمُوجِدُ الْأَشْيَاءِ.

Diriwayatkan bahwa pernah terlihat gambar dua orang bijak dari kalangan orang-orang bijak terdahulu di sebuah masjid. Di tangan salah satu dari keduanya terdapat secarik tulisan yang berbunyi, “Sekalipun engkau telah memperbagus segala sesuatu, janganlah engkau mengira bahwa engkau telah memperbagus sesuatu pun sebelum engkau mengenal Allah Ta‘ala dan mengetahui bahwa Dialah Penyebab segala sebab dan Pencipta segala sesuatu.”

وَفِي يَدِ الْآخَرِ: كُنْتُ قَبْلَ أَنْ أَعْرِفَ اللَّهَ تَعَالَى أَشْرَبُ وَأَظْمَأُ، حَتَّى إِذَا عَرَفْتُهُ رَوِيتُ بِلَا شُرْبٍ.

Dan di tangan yang satunya tertulis, “Sebelum aku mengenal Allah Ta‘ala, aku minum tetapi tetap haus. Tatkala aku mengenal-Nya, aku menjadi puas tanpa minum.”

اَلْوَظِيفَةُ السَّابِعَةُ: أَنْ لَا يَخُوضَ فِي فَنٍّ حَتَّى يَسْتَوْفِيَ الْفَنَّ الَّذِي قَبْلَهُ.

Tugas ketujuh: janganlah seorang murid memasuki suatu cabang ilmu sebelum ia menyempurnakan cabang ilmu yang sebelumnya.

فَإِنَّ الْعُلُومَ مُرَتَّبَةٌ تَرْتِيبًا ضَرُورِيًّا، وَبَعْضُهَا طَرِيقٌ إِلَى بَعْضٍ، وَالْمُوَفَّقُ مَنْ رَاعَى ذٰلِكَ التَّرْتِيبَ وَالتَّدْرِيجَ.

Karena ilmu-ilmu itu tersusun secara bertingkat dengan susunan yang niscaya, dan sebagian darinya merupakan jalan menuju sebagian yang lain. Orang yang diberi taufik adalah orang yang memperhatikan susunan dan bertahap dalam hal itu.

قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: {الَّذِينَ آتَيْنَاهُمُ الْكِتَابَ يَتْلُونَهُ حَقَّ تِلَاوَتِهِ}.

Allah Ta‘ala berfirman, “Orang-orang yang Kami beri Kitab, mereka membacanya dengan bacaan yang sebenarnya.”

أَيْ لَا يُجَاوِزُونَ فَنًّا حَتَّى يُحْكِمُوهُ عِلْمًا وَعَمَلًا.

Artinya, mereka tidak melampaui satu cabang ilmu hingga mereka mengokohkannya baik secara ilmu maupun amal.

وَلْيَكُنْ قَصْدُهُ فِي كُلِّ عِلْمٍ يَتَحَرَّاهُ التَّرَقِّيَ إِلَى مَا هُوَ فَوْقَهُ.

Dan hendaknya tujuan seorang murid dalam setiap ilmu yang dicarinya adalah untuk naik kepada ilmu yang berada di atasnya.

فَيَنْبَغِي أَلَّا يَحْكُمَ عَلَى عِلْمٍ بِالْفَسَادِ لِوُقُوعِ الْخُلْفِ بَيْنَ أَصْحَابِهِ فِيهِ، وَلَا بِخَطَإٍ وَاحِدٍ أَوْ آحَادٍ فِيهِ، وَلَا بِمُخَالَفَتِهِمْ مُوجَبَ عِلْمِهِمْ بِالْعَمَلِ.

Karena itu, janganlah ia menghukumi suatu ilmu rusak hanya karena terdapat perbedaan di antara para ahlinya, atau karena satu atau beberapa kesalahan di dalamnya, atau karena para ahli ilmu itu tidak mengamalkan konsekuensi ilmunya.

فَتَرَى جَمَاعَةً تَرَكُوا النَّظَرَ فِي الْعَقْلِيَّاتِ وَالْفِقْهِيَّاتِ، مُتَعَلِّلِينَ فِيهَا بِأَنَّهَا لَوْ كَانَ لَهَا أَصْلٌ لَأَدْرَكَهُ أَرْبَابُهَا.

Engkau melihat sekelompok orang meninggalkan telaah terhadap ilmu-ilmu rasional dan fikih dengan alasan bahwa kalau ilmu-ilmu itu benar-benar punya dasar, tentulah para ahlinya telah memahaminya dengan tuntas.

وَقَدْ مَضَى كَشْفُ هٰذِهِ الشُّبَهِ فِي كِتَابِ مِعْيَارِ الْعِلْمِ.

Padahal penjelasan untuk menyingkap syubhat seperti ini telah lewat dalam Kitab Mi‘yar al-‘Ilm.

وَتَرَى طَائِفَةً يَعْتَقِدُونَ بُطْلَانَ الطِّبِّ لِخَطَإٍ شَاهَدُوهُ مِنْ طَبِيبٍ، وَطَائِفَةً اعْتَقَدُوا صِحَّةَ النُّجُومِ لِصَوَابٍ اتَّفَقَ لِوَاحِدٍ، وَطَائِفَةً اعْتَقَدُوا بُطْلَانَهَا لِخَطَإٍ اتَّفَقَ لِآخَرَ، وَالْكُلُّ خَطَأٌ.

Engkau juga melihat sekelompok orang meyakini batilnya kedokteran karena satu kesalahan yang mereka saksikan dari seorang dokter, dan sekelompok lain meyakini benarnya ilmu nujum karena satu kebetulan yang benar pada seseorang, dan sekelompok lain lagi meyakini batilnya ilmu nujum karena satu kesalahan yang terjadi pada orang lain. Padahal semuanya itu adalah keliru.

بَلْ يَنْبَغِي أَنْ يُعْرَفَ الشَّيْءُ فِي نَفْسِهِ، فَلَا كُلُّ عِلْمٍ يَسْتَقِلُّ بِالْإِحَاطَةِ بِهِ كُلُّ شَخْصٍ.

Yang seharusnya dilakukan adalah mengenali sesuatu pada dirinya sendiri, sebab tidak setiap ilmu dapat dikuasai secara menyeluruh oleh setiap orang.

وَلِذٰلِكَ قَالَ عَلِيٌّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: لَا تَعْرِفِ الْحَقَّ بِالرِّجَالِ، اعْرِفِ الْحَقَّ تَعْرِفْ أَهْلَهُ.

Karena itulah ‘Ali radhiyallahu ‘anhu berkata, “Janganlah engkau mengenali kebenaran melalui tokoh-tokoh. Kenalilah kebenaran, maka engkau akan mengenali siapa ahlinya.”

اَلْوَظِيفَةُ الثَّامِنَةُ: أَنْ يَعْرِفَ السَّبَبَ الَّذِي بِهِ يُدْرَكُ أَشْرَفُ الْعُلُومِ، وَأَنَّ ذٰلِكَ يُرَادُ بِهِ شَيْئَانِ: أَحَدُهُمَا شَرَفُ الثَّمَرَةِ، وَالثَّانِي وُثُوقُ الدَّلِيلِ وَقُوَّتُهُ.

Tugas kedelapan: hendaknya ia mengetahui sebab yang dengannya kemuliaan ilmu-ilmu diketahui. Hal itu bergantung pada dua perkara: pertama, kemuliaan buahnya; dan kedua, kokohnya dalil serta kuatnya dasar ilmu tersebut.

وَذٰلِكَ كَعِلْمِ الدِّينِ وَعِلْمِ الطِّبِّ، فَإِنَّ ثَمَرَةَ أَحَدِهِمَا الْحَيَاةُ الْأَبَدِيَّةُ، وَثَمَرَةَ الْآخَرِ الْحَيَاةُ الْفَانِيَةُ، فَيَكُونُ عِلْمُ الدِّينِ أَشْرَفَ.

Hal ini seperti ilmu agama dan ilmu kedokteran. Buah dari ilmu agama adalah kehidupan abadi, sedangkan buah dari ilmu kedokteran adalah kehidupan yang fana. Maka ilmu agama lebih mulia.

وَمِثْلُ عِلْمِ الْحِسَابِ وَعِلْمِ النُّجُومِ، فَإِنَّ عِلْمَ الْحِسَابِ أَشْرَفُ لِوَثَاقَةِ أَدِلَّتِهِ وَقُوَّتِهَا.

Demikian pula antara ilmu hitung dan ilmu nujum. Ilmu hitung lebih mulia karena dalil-dalilnya lebih kokoh dan lebih kuat.

وَإِنْ نُسِبَ الْحِسَابُ إِلَى الطِّبِّ كَانَ الطِّبُّ أَشْرَفَ بِاعْتِبَارِ ثَمَرَتِهِ، وَالْحِسَابُ أَشْرَفَ بِاعْتِبَارِ أَدِلَّتِهِ.

Akan tetapi jika ilmu hitung dibandingkan dengan kedokteran, maka kedokteran lebih mulia dari sisi buahnya, sedangkan ilmu hitung lebih mulia dari sisi dalil-dalilnya.

وَمُلَاحَظَةُ الثَّمَرَةِ أَوْلَى، وَلِذٰلِكَ كَانَ الطِّبُّ أَشْرَفَ، وَإِنْ كَانَ أَكْثَرُهُ بِالتَّخْمِينِ.

Memperhatikan buah lebih utama, dan karena itulah kedokteran lebih mulia, meskipun kebanyakannya didasarkan pada perkiraan.

وَبِهٰذَا تَبَيَّنَ أَنَّ أَشْرَفَ الْعُلُومِ الْعِلْمُ بِاللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ، وَالْعِلْمُ بِالطَّرِيقِ الْمُوَصِّلِ إِلَى هٰذِهِ الْعُلُومِ.

Dengan demikian menjadi jelas bahwa ilmu yang paling mulia adalah ilmu tentang Allah ‘Azza wa Jalla, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para rasul-Nya, dan ilmu tentang jalan yang mengantarkan kepada semua ilmu itu.

فَإِيَّاكَ أَنْ تَرْغَبَ إِلَّا فِيهِ، وَأَنْ تَحْرِصَ إِلَّا عَلَيْهِ.

Karena itu, janganlah engkau mengarahkan keinginan kecuali kepadanya, dan janganlah engkau bersungguh-sungguh kecuali untuknya.

اَلْوَظِيفَةُ التَّاسِعَةُ: أَنْ يَكُونَ قَصْدُ الْمُتَعَلِّمِ فِي الْحَالِ تَحْلِيَةَ بَاطِنِهِ وَتَجْمِيلَهُ بِالْفَضِيلَةِ، وَفِي الْمَآلِ الْقُرْبَ مِنَ اللَّهِ سُبْحَانَهُ، وَالتَّرَقِّيَ إِلَى جِوَارِ الْمَلَإِ الْأَعْلَى مِنَ الْمَلَائِكَةِ وَالْمُقَرَّبِينَ.

Tugas kesembilan: hendaknya tujuan seorang murid pada saat sekarang adalah menghiasi batinnya dan memperindahnya dengan keutamaan, dan pada akhirnya adalah mendekat kepada Allah Subhanahu wa Ta‘ala serta naik menuju kedekatan dengan golongan tertinggi, yakni para malaikat dan orang-orang yang didekatkan kepada Allah.

وَلَا يَقْصِدْ بِهِ الرِّيَاسَةَ وَالْمَالَ وَالْجَاهَ وَمِرَاءَ السُّفَهَاءِ وَمُبَاهَاةَ الْأَقْرَانِ.

Janganlah ia menjadikan ilmunya sebagai sarana untuk mencari kepemimpinan, harta, kedudukan, berdebat dengan orang-orang bodoh, dan berbangga di hadapan teman-teman sejawat.

وَإِنْ كَانَ هٰذَا مَقْصُودَهُ طَلَبَ لَا مَحَالَةَ الْأَقْرَبَ إِلَى مَقْصُودِهِ، وَهُوَ عِلْمُ الْآخِرَةِ.

Jika tujuan akhirnya memang itu, maka mau tidak mau ia harus mencari ilmu yang paling dekat kepada tujuannya itu, yaitu ilmu akhirat.

وَمَعَ هٰذَا فَلَا يَنْبَغِي لَهُ أَنْ يَنْظُرَ بِعَيْنِ الْحَقَارَةِ إِلَى سَائِرِ الْعُلُومِ، أَعْنِي عِلْمَ الْفَتَاوَى وَعِلْمَ النَّحْوِ وَاللُّغَةِ الْمُتَعَلِّقَيْنِ بِالْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ، وَغَيْرَ ذٰلِكَ مِمَّا أَوْرَدْنَاهُ فِي الْمُقَدِّمَاتِ وَالْمُتَمِّمَاتِ مِنْ ضُرُوبِ الْعُلُومِ الَّتِي هِيَ فَرْضُ كِفَايَةٍ.

Meskipun demikian, ia tidak seharusnya memandang hina ilmu-ilmu lainnya, seperti ilmu fatwa, ilmu nahwu, bahasa yang berkaitan dengan Al-Kitab dan As-Sunnah, dan ilmu-ilmu lain yang telah kami sebutkan dalam bagian pendahuluan dan penyempurna, dari macam-macam ilmu yang termasuk fardu kifayah.

وَلَا تَفْهَمَنَّ مِنْ غُلُوِّنَا فِي الثَّنَاءِ عَلَى عِلْمِ الْآخِرَةِ تَهْجِينَ هٰذِهِ الْعُلُومِ.

Jangan sampai engkau memahami dari kuatnya pujian kami terhadap ilmu akhirat bahwa kami sedang merendahkan ilmu-ilmu tersebut.

فَالْمُتَكَفِّلُونَ بِالْعُلُومِ كَالْمُتَكَفِّلِينَ بِالثُّغُورِ وَالْمُرَابِطِينَ بِهَا وَالْغُزَاةِ الْمُجَاهِدِينَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ.

Karena orang-orang yang menangani ilmu-ilmu itu seperti orang-orang yang menjaga benteng-benteng perbatasan, orang-orang yang berjaga di sana, dan para pejuang yang berjihad di jalan Allah.

فَمِنْهُمُ الْمُقَاتِلُ، وَمِنْهُمُ الرِّدْءُ، وَمِنْهُمُ الَّذِي يَسْقِيهِمُ الْمَاءَ، وَمِنْهُمُ الَّذِي يَحْفَظُ دَوَابَّهُمْ وَيَتَعَهَّدُهُمْ.

Di antara mereka ada yang bertempur, ada yang menjadi pendukung, ada yang memberi mereka minum, dan ada yang menjaga serta merawat kendaraan mereka.

وَلَا يَنْفَكُّ أَحَدٌ مِنْهُمْ عَنْ أَجْرٍ إِذَا كَانَ قَصْدُهُ إِعْلَاءَ كَلِمَةِ اللَّهِ تَعَالَى دُونَ حِيَازَةِ الْغَنَائِمِ.

Tidak seorang pun dari mereka yang kehilangan pahala, selama tujuannya adalah meninggikan kalimat Allah Ta‘ala, bukan sekadar memperoleh rampasan perang.

فَكَذٰلِكَ الْعُلَمَاءُ.

Demikian pula para ulama.

قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: {يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ}.

Allah Ta‘ala berfirman, “Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kalian dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.”

وَقَالَ تَعَالَى: {هُمْ دَرَجَاتٌ عِنْدَ اللَّهِ}.

Dan Allah Ta‘ala berfirman, “Mereka itu bertingkat-tingkat di sisi Allah.”

وَالْفَضِيلَةُ نِسْبِيَّةٌ.

Keutamaan itu bersifat relatif.

وَاسْتِحْقَارُنَا لِلصَّيَارِفَةِ عِنْدَ قِيَاسِهِمْ بِالْمُلُوكِ لَا يَدُلُّ عَلَى حَقَارَتِهِمْ إِذَا قِيسُوا بِالْكَنَّاسِينَ.

Ketika kita merendahkan para penukar uang saat dibandingkan dengan para raja, itu tidak berarti mereka hina jika dibandingkan dengan para penyapu jalan.

فَلَا تَظُنَّ أَنَّ مَا نَزَلَ عَنِ الرُّتْبَةِ الْقُصْوَى سَاقِطُ الْقَدْرِ.

Maka janganlah engkau mengira bahwa apa yang berada di bawah derajat tertinggi pasti jatuh nilainya.

بَلِ الرُّتْبَةُ الْعُلْيَا لِلْأَنْبِيَاءِ، ثُمَّ الْأَوْلِيَاءِ، ثُمَّ الْعُلَمَاءِ الرَّاسِخِينَ فِي الْعِلْمِ، ثُمَّ لِلصَّالِحِينَ عَلَى تَفَاوُتِ دَرَجَاتِهِمْ.

Bahkan derajat tertinggi adalah untuk para nabi, kemudian para wali, kemudian para ulama yang kokoh ilmunya, lalu orang-orang saleh sesuai tingkatan mereka masing-masing.

وَبِالْجُمْلَةِ: {فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ ۝ وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ}.

Secara umum, “Barang siapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah, niscaya ia akan melihatnya; dan barang siapa mengerjakan keburukan seberat zarrah, niscaya ia akan melihatnya.”

وَمَنْ قَصَدَ اللَّهَ تَعَالَى بِالْعِلْمِ، أَيَّ عِلْمٍ كَانَ، نَفَعَهُ وَرَفَعَهُ لَا مَحَالَةَ.

Dan siapa yang menghendaki Allah Ta‘ala dengan ilmu — ilmu apa pun itu — niscaya ilmu itu akan memberinya manfaat dan mengangkat derajatnya.

اَلْوَظِيفَةُ الْعَاشِرَةُ: أَنْ يَعْلَمَ نِسْبَةَ الْعُلُومِ إِلَى الْمَقْصِدِ، كَيْمَا يُؤْثِرَ الرَّفِيعَ الْقَرِيبَ عَلَى الْبَعِيدِ، وَالْمُهِمَّ عَلَى غَيْرِهِ.

Tugas kesepuluh: hendaknya seorang murid mengetahui hubungan ilmu-ilmu dengan tujuan akhirnya, agar ia mendahulukan ilmu yang tinggi dan dekat kepada tujuan daripada yang jauh, serta yang penting daripada yang tidak penting.

وَمَعْنَى الْمُهِمِّ مَا يَهُمُّكَ، وَلَا يَهُمُّكَ إِلَّا شَأْنُكَ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ.

Makna “yang penting” adalah sesuatu yang penting bagimu, dan yang penting bagimu hanyalah urusanmu di dunia dan akhirat.

وَإِذَا لَمْ يُمْكِنْكَ الْجَمْعُ بَيْنَ مَلَاذِّ الدُّنْيَا وَنَعِيمِ الْآخِرَةِ، كَمَا نَطَقَ بِهِ الْقُرْآنُ وَشَهِدَ لَهُ مِنْ نُورِ الْبَصَائِرِ مَا يَجْرِي مَجْرَى الْعِيَانِ، فَالْأَهَمُّ مَا يَبْقَى أَبَدَ الْآبَادِ.

Dan jika engkau tidak dapat menghimpun antara kenikmatan dunia dan kenikmatan akhirat, sebagaimana dinyatakan oleh Al-Qur’an dan disaksikan oleh cahaya bashirah seperti penyaksian langsung, maka yang lebih penting adalah sesuatu yang kekal selama-lamanya.

وَعِنْدَ ذٰلِكَ تَصِيرُ الدُّنْيَا مَنْزِلًا، وَالْبَدَنُ مَرْكَبًا، وَالْأَعْمَالُ سَعْيًا إِلَى الْمَقْصِدِ، وَلَا مَقْصِدَ إِلَّا لِقَاءُ اللَّهِ تَعَالَى.

Pada saat itu dunia menjadi tempat singgah, tubuh menjadi kendaraan, amal menjadi perjalanan menuju tujuan, dan tidak ada tujuan selain perjumpaan dengan Allah Ta‘ala.

فَفِيهِ النَّعِيمُ كُلُّهُ، وَإِنْ كَانَ لَا يُعْرَفُ فِي هٰذَا الْعَالَمِ قَدْرُهُ إِلَّا الْأَقَلُّونَ.

Di dalam perjumpaan itulah seluruh kenikmatan, meskipun di dunia ini nilainya tidak diketahui kecuali oleh sedikit orang.

وَالْعُلُومُ بِالْإِضَافَةِ إِلَى سَعَادَةِ لِقَاءِ اللَّهِ سُبْحَانَهُ وَالنَّظَرِ إِلَى وَجْهِهِ الْكَرِيمِ، أَعْنِي النَّظَرَ الَّذِي طَلَبَهُ الْأَنْبِيَاءُ وَفَهِمُوهُ دُونَ مَا سَبَقَ إِلَى فَهْمِ الْعَوَامِّ وَالْمُتَكَلِّمِينَ، عَلَى ثَلَاثِ مَرَاتِبَ.

Ilmu-ilmu, jika dilihat dari kaitannya dengan kebahagiaan bertemu Allah Subhanahu wa Ta‘ala dan memandang wajah-Nya yang mulia — yaitu pandangan yang diminta dan dipahami oleh para nabi, bukan seperti pemahaman orang awam dan ahli kalam — terbagi kepada tiga tingkatan.

تَفْهَمُهَا بِالْمُوَازَنَةِ بِمِثَالٍ، وَهُوَ أَنَّ الْعَبْدَ الَّذِي عُلِّقَ عِتْقُهُ وَتَمْكِينُهُ مِنَ الْمُلْكِ بِالْحَجِّ، وَقِيلَ لَهُ: إِنْ حَجَجْتَ وَأَتْمَمْتَ، وَصَلْتَ إِلَى الْعِتْقِ وَالْمُلْكِ جَمِيعًا، وَإِنِ ابْتَدَأْتَ بِطَرِيقِ الْحَجِّ وَالِاسْتِعْدَادِ لَهُ، وَعَافَكَ فِي الطَّرِيقِ مَانِعٌ ضَرُورِيٌّ، فَلَكَ الْعِتْقُ وَالْخَلَاصُ مِنْ شَقَاءِ الرِّقِّ فَقَطْ، دُونَ سَعَادَةِ الْمُلْكِ.

Engkau dapat memahaminya dengan membandingkannya pada satu contoh, yaitu seorang budak yang kemerdekaan dan kekuasaannya digantungkan pada haji. Dikatakan kepadanya: “Jika engkau berhaji dan menyempurnakannya, maka engkau akan memperoleh kemerdekaan dan kerajaan sekaligus. Namun jika engkau baru memulai perjalanan haji dan persiapannya, lalu di tengah jalan engkau terhalang oleh penghalang yang tidak dapat dihindari, maka bagimu kemerdekaan dan keselamatan dari sengsara perbudakan saja, tanpa kebahagiaan memperoleh kerajaan.”

فَلَهُ ثَلَاثَةُ أَصْنَافٍ مِنَ الشُّغْلِ.

Maka ia memiliki tiga macam pekerjaan.

الْأَوَّلُ: تَهْيِئَةُ الْأَسْبَابِ بِشِرَاءِ النَّاقَةِ وَخَرْزِ الرَّاوِيَةِ وَإِعْدَادِ الزَّادِ وَالرَّاحِلَةِ.

Pertama: menyiapkan sarana-sarana dengan membeli unta, menjahit kantong air, dan menyiapkan bekal serta kendaraan.

وَالثَّانِي: السُّلُوكُ وَمُفَارَقَةُ الْوَطَنِ بِالتَّوَجُّهِ إِلَى الْكَعْبَةِ مَنْزِلًا بَعْدَ مَنْزِلٍ.

Kedua: menempuh jalan dan meninggalkan kampung halaman dengan menuju Ka‘bah dari satu persinggahan ke persinggahan berikutnya.

وَالثَّالِثُ: الِاشْتِغَالُ بِأَعْمَالِ الْحَجِّ رُكْنًا بَعْدَ رُكْنٍ.

Ketiga: melakukan amalan-amalan haji satu rukun demi satu rukun.

ثُمَّ بَعْدَ الْفَرَاغِ وَالنُّزُوعِ عَنْ هَيْئَةِ الْإِحْرَامِ وَطَوَافِ الْوَدَاعِ، اسْتَحَقَّ التَّعَرُّضَ لِلْمُلْكِ وَالسُّلْطَانِ.

Kemudian setelah selesai, melepaskan keadaan ihram, dan melakukan thawaf wada‘, ia layak untuk memperoleh kerajaan dan kekuasaan.

وَلَهُ فِي كُلِّ مَقَامٍ مَنَازِلُ، مِنْ أَوَّلِ إِعْدَادِ الْأَسْبَابِ إِلَى آخِرِهِ، وَمِنْ أَوَّلِ سُلُوكِ الْبَوَادِي إِلَى آخِرِهِ، وَمِنْ أَوَّلِ أَرْكَانِ الْحَجِّ إِلَى آخِرِهِ.

Dan pada setiap maqam itu ia memiliki tingkatan-tingkatan, sejak awal menyiapkan sarana hingga akhirnya, sejak awal menempuh padang-padang pasir hingga akhirnya, dan sejak awal rukun-rukun haji hingga akhirnya.

وَلَيْسَ قُرْبُ مَنْ ابْتَدَأَ بِأَرْكَانِ الْحَجِّ مِنَ السَّعَادَةِ كَقُرْبِ مَنْ هُوَ بَعْدُ فِي إِعْدَادِ الزَّادِ وَالرَّاحِلَةِ، وَلَا كَقُرْبِ مَنْ ابْتَدَأَ بِالسُّلُوكِ، بَلْ هُوَ أَقْرَبُ مِنْهُ.

Kedekatan orang yang telah memulai rukun-rukun haji dengan kebahagiaan tentu tidak sama dengan kedekatan orang yang masih menyiapkan bekal dan kendaraan, dan juga tidak sama dengan orang yang baru memulai perjalanan. Ia lebih dekat daripada mereka semua.

فَالْعُلُومُ أَيْضًا ثَلَاثَةُ أَقْسَامٍ.

Demikian pula ilmu, ada tiga macam.

قِسْمٌ يَجْرِي مَجْرَى إِعْدَادِ الزَّادِ وَالرَّاحِلَةِ وَشِرَاءِ النَّاقَةِ، وَهُوَ عِلْمُ الطِّبِّ وَالْفِقْهِ وَمَا يَتَعَلَّقُ بِمَصَالِحِ الْبَدَنِ فِي الدُّنْيَا.

Satu bagian berfungsi seperti menyiapkan bekal dan kendaraan serta membeli unta, yaitu ilmu kedokteran, fikih, dan apa saja yang berkaitan dengan kemaslahatan tubuh di dunia.

وَقِسْمٌ يَجْرِي مَجْرَى سُلُوكِ الْبَوَادِي وَقَطْعِ الْعَقَبَاتِ، وَهُوَ تَطْهِيرُ الْبَاطِنِ عَنْ كُدُورَاتِ الصِّفَاتِ، وَطُلُوعُ تِلْكَ الْعَقَبَاتِ الشَّامِخَةِ الَّتِي عَجَزَ عَنْهَا الْأَوَّلُونَ وَالْآخِرُونَ إِلَّا الْمُوَفَّقِينَ.

Satu bagian lagi berfungsi seperti menempuh padang-padang pasir dan melintasi rintangan-rintangan, yaitu membersihkan batin dari kekotoran sifat-sifat, dan mendaki halangan-halangan tinggi yang tidak sanggup ditembus oleh orang-orang terdahulu dan belakangan kecuali yang diberi taufik.

فَهٰذَا سُلُوكُ الطَّرِيقِ، وَتَحْصِيلُ عِلْمِهِ كَتَحْصِيلِ عِلْمِ جِهَاتِ الطَّرِيقِ وَمَنَازِلِهِ.

Inilah perjalanan menempuh jalan, dan memperoleh ilmunya sama seperti memperoleh pengetahuan tentang arah perjalanan dan tempat-tempat persinggahannya.

وَكَمَا لَا يُغْنِي عِلْمُ الْمَنَازِلِ وَطُرُقِ الْبَوَادِي دُونَ سُلُوكِهَا، فَكَذٰلِكَ لَا يُغْنِي عِلْمُ تَهْذِيبِ الْأَخْلَاقِ دُونَ مُبَاشَرَةِ التَّهْذِيبِ، وَلٰكِنِ الْمُبَاشَرَةُ دُونَ الْعِلْمِ غَيْرُ مُمْكِنَةٍ.

Sebagaimana ilmu tentang persinggahan dan jalan-jalan padang pasir tidak berguna tanpa benar-benar menempuhnya, demikian pula ilmu tentang penyucian akhlak tidak berguna tanpa benar-benar melaksanakannya. Akan tetapi, pelaksanaan tanpa ilmu juga tidak mungkin.

وَقِسْمٌ ثَالِثٌ يَجْرِي مَجْرَى نَفْسِ الْحَجِّ وَأَرْكَانِهِ، وَهُوَ الْعِلْمُ بِاللَّهِ تَعَالَى وَصِفَاتِهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَأَفْعَالِهِ وَجَمِيعِ مَا ذَكَرْنَاهُ فِي تَرَاجِمِ الْمُكَاشَفَةِ.

Bagian ketiga berfungsi seperti hakikat haji itu sendiri dan rukun-rukunnya, yaitu ilmu tentang Allah Ta‘ala, sifat-sifat-Nya, para malaikat-Nya, perbuatan-perbuatan-Nya, dan semua yang telah kami sebutkan dalam judul-judul ilmu mukasyafah.

وَهٰهُنَا نَجَاةٌ وَفَوْزٌ بِالسَّعَادَةِ، وَالنَّجَاةُ حَاصِلَةٌ لِكُلِّ سَالِكٍ لِلطَّرِيقِ إِذَا كَانَ غَرَضُهُ الْمَقْصِدَ الْحَقَّ، وَهُوَ السَّلَامَةُ.

Di sinilah terdapat keselamatan dan kemenangan meraih kebahagiaan. Adapun keselamatan, ia diperoleh oleh setiap orang yang menempuh jalan itu apabila tujuannya adalah tujuan yang benar, yaitu selamat.

وَأَمَّا الْفَوْزُ بِالسَّعَادَةِ فَلَا يَنَالُهُ إِلَّا الْعَارِفُونَ بِاللَّهِ تَعَالَى، وَهُمُ الْمُقَرَّبُونَ الْمُنَعَّمُونَ فِي جِوَارِ اللَّهِ تَعَالَى بِالرُّوحِ وَالرَّيْحَانِ وَجَنَّةِ النَّعِيمِ.

Adapun kemenangan mendapatkan kebahagiaan yang sempurna, maka tidak akan diperoleh kecuali oleh orang-orang yang mengenal Allah Ta‘ala, yaitu orang-orang yang didekatkan dan diberi kenikmatan di sisi Allah Ta‘ala dengan ruh, rayhan, dan surga kenikmatan.

وَأَمَّا الْمَمْنُوعُونَ دُونَ ذُرْوَةِ الْكَمَالِ فَلَهُمُ النَّجَاةُ وَالسَّلَامَةُ، كَمَا قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ: {فَأَمَّا إِنْ كَانَ مِنَ الْمُقَرَّبِينَ ۝ فَرَوْحٌ وَرَيْحَانٌ وَجَنَّتُ نَعِيمٍ ۝ وَأَمَّا إِنْ كَانَ مِنْ أَصْحَابِ الْيَمِينِ ۝ فَسَلَامٌ لَكَ مِنْ أَصْحَابِ الْيَمِينِ}.

Adapun orang-orang yang terhalang dari puncak kesempurnaan, maka mereka mendapatkan keselamatan dan keamanan, sebagaimana firman Allah ‘Azza wa Jalla, “Adapun jika ia termasuk orang-orang yang didekatkan, maka baginya ruh, rayhan, dan surga kenikmatan. Dan adapun jika ia termasuk golongan kanan, maka keselamatan bagimu dari golongan kanan.”

وَكُلُّ مَنْ لَمْ يَتَوَجَّهْ إِلَى الْمَقْصِدِ وَلَمْ يَنْهَضْ لَهُ، أَوِ انْتَهَضَ إِلَى جِهَتِهِ لَا عَلَى قَصْدِ الِامْتِثَالِ وَالْعُبُودِيَّةِ بَلْ لِغَرَضٍ عَاجِلٍ، فَهُوَ مِنْ أَصْحَابِ الشِّمَالِ وَمِنَ الضَّالِّينَ، فَلَهُ نُزُلٌ مِنْ حَمِيمٍ وَتَصْلِيَةُ جَحِيمٍ.

Setiap orang yang tidak mengarahkan diri kepada tujuan itu dan tidak bangkit untuk mencapainya, atau bangkit ke arahnya tetapi bukan dengan maksud taat dan beribadah melainkan demi tujuan duniawi yang segera, maka ia termasuk golongan kiri dan orang-orang yang sesat. Baginya hidangan dari air yang sangat panas dan dibakar di dalam neraka.

وَاعْلَمْ أَنَّ هٰذَا هُوَ حَقُّ الْيَقِينِ عِنْدَ الْعُلَمَاءِ الرَّاسِخِينَ، أَعْنِي أَنَّهُمْ أَدْرَكُوهُ بِمُشَاهَدَةٍ مِنَ الْبَاطِنِ هِيَ أَقْوَى وَأَجْلَى مِنْ مُشَاهَدَةِ الْأَبْصَارِ، وَتَرَقَّوْا فِيهِ عَنْ حَدِّ التَّقْلِيدِ لِمُجَرَّدِ السَّمَاعِ.

Ketahuilah bahwa inilah hakikat haqqul-yaqin menurut para ulama yang kokoh ilmunya, yaitu bahwa mereka mencapainya melalui penyaksian batin yang lebih kuat dan lebih jelas daripada penyaksian mata, dan mereka telah naik melampaui batas taklid yang hanya berdasarkan mendengar.

وَحَالُهُمْ حَالُ مَنْ أُخْبِرَ فَصَدَّقَ، ثُمَّ شَاهَدَ فَحَقَّقَ.

Keadaan mereka seperti orang yang diberi berita lalu membenarkannya, kemudian ia menyaksikan sendiri lalu meyakininya dengan sebenar-benarnya.

وَحَالُ غَيْرِهِمْ حَالُ مَنْ قَبِلَ بِحُسْنِ التَّصْدِيقِ وَالْإِيمَانِ، وَلَمْ يَحْظَ بِالْمُشَاهَدَةِ وَالْعِيَانِ.

Sedangkan keadaan selain mereka seperti orang yang menerima dengan pembenaran dan keimanan yang baik, tetapi belum memperoleh penyaksian langsung dan penglihatan yang nyata.

فَالسَّعَادَةُ وَرَاءَ عِلْمِ الْمُكَاشَفَةِ، وَعِلْمُ الْمُكَاشَفَةِ وَرَاءَ عِلْمِ الْمُعَامَلَةِ الَّتِي هِيَ سُلُوكُ طَرِيقِ الْآخِرَةِ وَقَطْعُ عَقَبَاتِ الصِّفَاتِ.

Maka kebahagiaan sejati berada di balik ilmu mukasyafah, dan ilmu mukasyafah berada di balik ilmu muamalah, yaitu menempuh jalan akhirat dan melintasi rintangan-rintangan sifat-sifat jiwa.

وَسُلُوكُ طَرِيقِ مَحْوِ الصِّفَاتِ الْمَذْمُومَةِ وَرَاءَ عِلْمِ الصِّفَاتِ، وَعِلْمُ طَرِيقِ الْمُعَالَجَةِ وَكَيْفِيَّةِ السُّلُوكِ فِي ذٰلِكَ وَرَاءَ عِلْمِ سَلَامَةِ الْبَدَنِ وَمُسَاعَدَةِ أَسْبَابِ الصِّحَّةِ.

Sedangkan menempuh jalan untuk menghapus sifat-sifat tercela berada setelah ilmu tentang sifat-sifat itu, dan ilmu tentang cara pengobatan serta tata cara menempuh jalan itu berada setelah ilmu tentang keselamatan badan dan tersedianya sebab-sebab kesehatan.

وَسَلَامَةُ الْبَدَنِ بِالِاجْتِمَاعِ وَالتَّظَاهُرِ وَالتَّعَاوُنِ الَّذِي يُتَوَصَّلُ بِهِ إِلَى الْمَلْبَسِ وَالْمَطْعَمِ وَالْمَسْكَنِ، وَهُوَ مَنُوطٌ بِالسُّلْطَانِ وَقَانُونِهِ فِي ضَبْطِ النَّاسِ عَلَى مَنْهَجِ الْعَدْلِ.

Keselamatan badan terwujud melalui kebersamaan, saling mendukung, dan kerja sama yang dengannya diperoleh pakaian, makanan, dan tempat tinggal. Semua itu bergantung kepada penguasa dan aturan-aturannya dalam menertibkan manusia di atas jalan keadilan.

وَالسِّيَاسَةُ فِي نَاصِيَةِ الْفَقِيهِ، وَأَمَّا أَسْبَابُ الصِّحَّةِ فَفِي نَاصِيَةِ الطَّبِيبِ.

Sedangkan pengaturan kehidupan itu berada dalam genggaman fakih, dan sebab-sebab kesehatan berada dalam genggaman dokter.

وَمَنْ قَالَ: الْعِلْمُ عِلْمَانِ، عِلْمُ الْأَبْدَانِ وَعِلْمُ الْأَدْيَانِ، وَأَشَارَ بِهِ إِلَى الْفِقْهِ، أَرَادَ بِهِ الْعُلُومَ الظَّاهِرَةَ الشَّائِعَةَ، لَا لِلْعُلُومِ الْعَزِيزَةِ الْبَاطِنَةِ.

Orang yang berkata, “Ilmu itu ada dua: ilmu badan dan ilmu agama,” lalu dengan itu ia menunjuk kepada fikih, maka yang ia maksud adalah ilmu-ilmu lahiriah yang umum, bukan ilmu-ilmu batin yang luhur dan langka.

فَإِنْ قُلْتَ: لِمَ شَبَّهْتَ عِلْمَ الطِّبِّ وَالْفِقْهِ بِإِعْدَادِ الزَّادِ وَالرَّاحِلَةِ؟

Jika engkau bertanya, “Mengapa engkau menyerupakan ilmu kedokteran dan fikih dengan menyiapkan bekal dan kendaraan?”

فَاعْلَمْ أَنَّ السَّاعِيَ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى لِيَنَالَ قُرْبَهُ هُوَ الْقَلْبُ دُونَ الْبَدَنِ.

Maka ketahuilah bahwa yang berjalan menuju Allah Ta‘ala untuk memperoleh kedekatan kepada-Nya adalah hati, bukan tubuh.

وَلَسْتُ أَعْنِي بِالْقَلْبِ اللَّحْمَ الْمَحْسُوسَ، بَلْ هُوَ مِنْ أَسْرَارِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ لَا يُدْرِكُهُ الْحِسُّ، وَلَطِيفَةٌ مِنْ لَطَائِفِهِ.

Yang aku maksud dengan hati bukanlah daging yang dapat diindra, tetapi ia adalah salah satu rahasia Allah ‘Azza wa Jalla yang tidak dijangkau oleh indera, dan suatu kelembutan dari kelembutan ciptaan-Nya.

تَارَةً يُعَبَّرُ عَنْهُ بِالرُّوحِ، وَتَارَةً بِالنَّفْسِ الْمُطْمَئِنَّةِ، وَالشَّرْعُ يُعَبِّرُ عَنْهُ بِالْقَلْبِ، لِأَنَّهُ الْمَطِيَّةُ الْأُولَى لِذٰلِكَ السِّرِّ، وَبِوَاسِطَتِهِ صَارَ جَمِيعُ الْبَدَنِ مَطِيَّةً وَآلَةً لِتِلْكَ اللَّطِيفَةِ.

Kadang ia disebut ruh, kadang disebut النفس المطمئنة, dan syariat menamakannya hati, karena ia adalah tunggangan pertama bagi rahasia itu, dan melalui perantaraannya seluruh badan menjadi tunggangan dan alat bagi kelembutan itu.

وَكَشْفُ الْغِطَاءِ عَنْ ذٰلِكَ السِّرِّ مِنْ عِلْمِ الْمُكَاشَفَةِ، وَهُوَ مَضْنُونٌ بِهِ، بَلْ لَا رُخْصَةَ فِي ذِكْرِهِ.

Menyingkap tabir tentang rahasia ini termasuk ilmu mukasyafah, dan ilmu ini sangat dijaga. Bahkan tidak ada izin untuk mengungkapkannya secara rinci.

وَغَايَةُ الْمَأْذُونِ فِيهِ أَنْ يُقَالَ: هُوَ جَوْهَرٌ نَفِيسٌ، وَدُرٌّ عَزِيزٌ، أَشْرَفُ مِنْ هٰذِهِ الْأَجْرَامِ الْمَرْئِيَّةِ، وَإِنَّمَا هُوَ أَمْرٌ إِلٰهِيٌّ، كَمَا قَالَ تَعَالَى: {وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الرُّوحِ قُلِ الرُّوحُ مِنْ أَمْرِ رَبِّي}.

Batas yang diizinkan untuk disebut tentangnya hanyalah bahwa ia adalah permata berharga dan mutiara mulia, lebih mulia daripada benda-benda yang terlihat ini. Ia adalah perkara ilahi, sebagaimana firman Allah Ta‘ala, “Mereka bertanya kepadamu tentang ruh. Katakanlah: ruh itu termasuk urusan Tuhanku.”

وَكُلُّ الْمَخْلُوقَاتِ مَنْسُوبَةٌ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى، وَلٰكِنَّ نِسْبَتَهُ أَشْرَفُ مِنْ نِسْبَةِ سَائِرِ أَعْضَاءِ الْبَدَنِ.

Semua makhluk dinisbahkan kepada Allah Ta‘ala, tetapi nisbah ruh ini lebih mulia daripada nisbah anggota-anggota badan lainnya.

فَلِلَّهِ الْخَلْقُ وَالْأَمْرُ جَمِيعًا، وَالْأَمْرُ أَعْلَى مِنَ الْخَلْقِ.

Milik Allah seluruh ciptaan dan urusan, dan urusan itu lebih tinggi daripada sekadar ciptaan.

وَهٰذِهِ الْجَوْهَرَةُ النَّفِيسَةُ الْحَامِلَةُ لِأَمَانَةِ اللَّهِ تَعَالَى، الْمُتَقَدِّمَةُ بِهٰذِهِ الرُّتْبَةِ عَلَى السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِينَ وَالْجِبَالِ، إِذْ أَبَيْنَ أَنْ يَحْمِلْنَهَا وَأَشْفَقْنَ مِنْهَا، مِنْ عَالَمِ الْأَمْرِ، وَلَا يُفْهَمُ مِنْ هٰذَا أَنَّهُ تَعْرِيضٌ بِقِدَمِهَا.

Permata berharga ini, yang memikul amanat Allah Ta‘ala dan dengan kedudukan ini lebih tinggi daripada langit, bumi, dan gunung-gunung — karena semuanya enggan memikulnya dan merasa takut darinya — termasuk dari alam perintah. Namun jangan dipahami dari hal ini bahwa ia menunjukkan ruh itu qadim.

فَإِنَّ الْقَائِلَ بِقِدَمِ الْأَرْوَاحِ مَغْرُورٌ جَاهِلٌ لَا يَدْرِي مَا يَقُولُ.

Sebab orang yang mengatakan ruh-ruh itu qadim adalah orang yang tertipu dan bodoh, yang tidak tahu apa yang ia ucapkan.

فَلْنَقْبِضْ عِنَانَ الْبَيَانِ عَنْ هٰذَا الْفَنِّ، فَهُوَ وَرَاءَ مَا نَحْنُ بِصَدَدِهِ.

Maka marilah kita menahan penjelasan lebih jauh tentang cabang ini, karena ia berada di luar pembahasan kita saat ini.

وَالْمَقْصُودُ أَنَّ هٰذِهِ اللَّطِيفَةَ هِيَ السَّاعِيَةُ إِلَى قُرْبِ الرَّبِّ، لِأَنَّهَا مِنْ أَمْرِ الرَّبِّ، فَمِنْهُ مَصْدَرُهَا وَإِلَيْهِ مَرْجِعُهَا.

Tujuan yang dimaksud adalah bahwa kelembutan inilah yang berjalan menuju kedekatan dengan Tuhan, karena ia berasal dari urusan Tuhan. Dari-Nya asalnya, dan kepada-Nya pula kembalinya.

وَأَمَّا الْبَدَنُ فَمَطِيَّتُهَا الَّتِي تَرْكَبُهَا وَتَسْعَى بِوَاسِطَتِهَا.

Adapun badan, maka ia adalah tunggangannya yang dipakai oleh ruh ini untuk menempuh perjalanan.

فَالْبَدَنُ لَهَا فِي طَرِيقِ اللَّهِ تَعَالَى كَالنَّاقَةِ لِلْبَدَنِ فِي طَرِيقِ الْحَجِّ، وَكَالرَّاوِيَةِ الْخَازِنَةِ لِلْمَاءِ الَّذِي يَفْتَقِرُ إِلَيْهِ الْبَدَنُ.

Maka badan bagi ruh dalam perjalanan menuju Allah Ta‘ala itu seperti unta bagi tubuh dalam perjalanan haji, dan seperti kantong air yang menyimpan air yang dibutuhkan tubuh.

فَكُلُّ عِلْمٍ مَقْصُودُهُ مَصْلَحَةُ الْبَدَنِ، فَهُوَ مِنْ جُمْلَةِ مَصَالِحِ الْمَطِيَّةِ.

Karena itu, setiap ilmu yang tujuannya adalah kemaslahatan badan, termasuk bagian dari kemaslahatan tunggangan.

وَلَا يَخْفَى أَنَّ الطِّبَّ كَذٰلِكَ، فَإِنَّهُ قَدْ يُحْتَاجُ إِلَيْهِ فِي حِفْظِ الصِّحَّةِ عَلَى الْبَدَنِ، وَلَوْ كَانَ الْإِنْسَانُ وَحْدَهُ لَاحْتَاجَ إِلَيْهِ.

Sudah jelas bahwa kedokteran termasuk jenis ini, karena ia dibutuhkan untuk menjaga kesehatan badan. Bahkan seandainya manusia hidup sendirian pun, ia tetap membutuhkannya.

وَالْفِقْهُ يُفَارِقُهُ فِي أَنَّهُ لَوْ كَانَ الْإِنْسَانُ وَحْدَهُ رُبَّمَا كَانَ يَسْتَغْنِي عَنْهُ.

Adapun fikih, ia berbeda dari kedokteran dalam hal bahwa jika manusia hidup sendirian, barangkali ia tidak akan membutuhkannya.

وَلٰكِنَّهُ خُلِقَ عَلَى وَجْهٍ لَا يُمْكِنُهُ أَنْ يَعِيشَ وَحْدَهُ، إِذْ لَا يَسْتَقِلُّ بِالسَّعْيِ وَحْدَهُ فِي تَحْصِيلِ طَعَامِهِ بِالْحِرَاثَةِ وَالزَّرْعِ وَالْخَبْزِ وَالطَّبْخِ، وَفِي تَحْصِيلِ الْمَلْبَسِ وَالْمَسْكَنِ، وَفِي إِعْدَادِ آلَاتِ ذٰلِكَ كُلِّهِ.

Akan tetapi, manusia diciptakan dalam keadaan tidak mungkin hidup sendirian, karena ia tidak mampu secara mandiri mengusahakan sendiri makanannya melalui membajak, menanam, memanggang, dan memasak; demikian pula dalam mendapatkan pakaian, tempat tinggal, dan menyiapkan seluruh alat untuk itu.

فَاضْطُرَّ إِلَى الْمُخَالَطَةِ وَالِاسْتِعَانَةِ.

Karena itu, ia terpaksa hidup bermasyarakat dan saling meminta bantuan.

وَمَهْمَا اخْتَلَطَ النَّاسُ وَثَارَتْ شَهَوَاتُهُمْ، تَجَاذَبُوا أَسْبَابَ الشَّهَوَاتِ، وَتَنَازَعُوا وَتَقَاتَلُوا، وَحَصَلَ مِنْ قِتَالِهِمْ هَلَاكُهُمْ بِسَبَبِ التَّنَافُسِ مِنْ خَارِجٍ، كَمَا يَحْصُلُ هَلَاكُهُمْ بِسَبَبِ تَضَادِّ الْأَخْلَاطِ مِنْ دَاخِلٍ.

Apabila manusia bercampur dan syahwat mereka bangkit, mereka akan saling berebut sebab-sebab syahwat, berselisih, dan bertikai. Dari pertikaian itu timbul kebinasaan mereka karena persaingan dari luar, sebagaimana kebinasaan juga dapat terjadi karena bertentangannya unsur-unsur tubuh dari dalam.

وَبِالطِّبِّ يُحْفَظُ الِاعْتِدَالُ فِي الْأَخْلَاطِ الْمُتَنَازِعَةِ مِنْ دَاخِلٍ، وَبِالسِّيَاسَةِ وَالْعَدْلِ يُحْفَظُ الِاعْتِدَالُ فِي التَّنَافُسِ مِنْ خَارِجٍ.

Dengan kedokteran, keseimbangan unsur-unsur yang saling bertentangan di dalam tubuh terjaga. Dan dengan politik serta keadilan, keseimbangan persaingan di luar diri manusia dapat dijaga.

وَعِلْمُ طَرِيقِ اعْتِدَالِ الْأَخْلَاطِ طِبٌّ، وَعِلْمُ طَرِيقِ اعْتِدَالِ أَحْوَالِ النَّاسِ فِي الْمُعَامَلَاتِ وَالْأَفْعَالِ فِقْهٌ.

Ilmu tentang cara menjaga keseimbangan unsur-unsur tubuh adalah kedokteran, sedangkan ilmu tentang cara menjaga keseimbangan keadaan manusia dalam muamalah dan perbuatan adalah fikih.

وَكُلُّ ذٰلِكَ لِحِفْظِ الْبَدَنِ الَّذِي هُوَ مَطِيَّةٌ.

Semua itu dilakukan demi menjaga badan, padahal badan hanyalah kendaraan.

فَالْمُتَجَرِّدُ لِعِلْمِ الْفِقْهِ أَوِ الطِّبِّ إِذَا لَمْ يُجَاهِدْ نَفْسَهُ وَلَمْ يُصْلِحْ قَلْبَهُ كَالْمُتَجَرِّدِ لِشِرَاءِ النَّاقَةِ وَعَلَفِهَا وَشِرَاءِ الرَّاوِيَةِ وَخَرْزِهَا إِذَا لَمْ يَسْلُكْ بَادِيَةَ الْحَجِّ.

Maka orang yang hanya sibuk dengan ilmu fikih atau kedokteran, tetapi tidak bermujahadah melawan dirinya dan tidak memperbaiki hatinya, seperti orang yang sibuk membeli unta, memberi makannya, membeli kantong air, dan menjahitnya, tetapi tidak pernah menempuh perjalanan haji.

وَالْمُسْتَغْرِقُ عُمْرَهُ فِي دَقَائِقِ الْكَلِمَاتِ الَّتِي تَجْرِي فِي مُجَادَلَاتِ الْفِقْهِ، كَالْمُسْتَغْرِقِ عُمْرَهُ فِي دَقَائِقِ الْأَسْبَابِ الَّتِي بِهَا تَسْتَحْكِمُ الْخُيُوطُ الَّتِي تُخْرَزُ بِهَا الرَّاوِيَةُ لِلْحَجِّ.

Dan orang yang menghabiskan umurnya dalam rincian kata-kata halus yang dipakai dalam perdebatan fikih, seperti orang yang menghabiskan umurnya dalam rincian sebab-sebab yang membuat kuat benang-benang yang dipakai untuk menjahit kantong air haji.

وَنِسْبَةُ هٰؤُلَاءِ مِنَ السَّالِكِينَ لِطَرِيقِ إِصْلَاحِ الْقَلْبِ الْمُوصِلِ إِلَى عِلْمِ الْمُكَاشَفَةِ، كَنِسْبَةِ أُولٰئِكَ إِلَى سَالِكِي طَرِيقِ الْحَجِّ أَوْ مُلَابِسِي أَرْكَانِهِ.

Perbandingan orang-orang seperti itu terhadap orang-orang yang menempuh jalan perbaikan hati yang mengantarkan kepada ilmu mukasyafah, sama seperti perbandingan orang-orang tadi terhadap para penempuh jalan haji atau para pelaksana rukun-rukunnya.

فَتَأَمَّلْ هٰذَا أَوَّلًا، وَاقْبَلِ النَّصِيحَةَ مَجَّانًا مِمَّنْ قَامَ عَلَيْهِ ذٰلِكَ غَالِبًا، وَلَمْ يَصِلْ إِلَيْهِ إِلَّا بَعْدَ جُهْدٍ جَهِيدٍ وَجَرَاءَةٍ تَامَّةٍ عَلَى مُبَايَنَةِ الْخَلْقِ الْعَامَّةِ وَالْخَاصَّةِ فِي النُّزُوعِ مِنْ تَقْلِيدِهِمْ بِمُجَرَّدِ الشَّهْوَةِ.

Maka renungkanlah hal ini terlebih dahulu, dan terimalah nasihat secara cuma-cuma dari orang yang hal itu telah tampak nyata baginya, dan ia tidak sampai kepadanya kecuali setelah usaha yang sangat berat dan keberanian sempurna untuk menyelisihi manusia, baik awam maupun kalangan khusus, dengan melepaskan diri dari taklid mereka yang semata-mata didorong oleh hawa nafsu.

فَهٰذَا الْقَدْرُ كَافٍ فِي وَظَائِفِ الْمُتَعَلِّمِ.

Kadar penjelasan ini sudah cukup dalam menerangkan tugas-tugas seorang pelajar.