Bahaya yang terkandung dalam perdebatan

بَيَانُ آفَاتِ الْمُنَاظَرَةِ وَمَا يَتَوَلَّدُ مِنْهَا مِنْ مُهْلِكَاتِ الْأَخْلَاقِ

Penjelasan tentang penyakit-penyakit perdebatan dan apa yang lahir darinya berupa akhlak-akhlak yang membinasakan.

اِعْلَمْ وَتَحَقَّقْ أَنَّ الْمُنَاظَرَةَ الْمَوْضُوعَةَ لِقَصْدِ الْغَلَبَةِ وَالْإِفْحَامِ وَإِظْهَارِ الْفَضْلِ وَالشَّرَفِ وَالتَّشَدُّقِ عِنْدَ النَّاسِ وَقَصْدِ الْمُبَاهَاةِ وَالْمِرَاءِ وَاسْتِمَالَةِ وُجُوهِ النَّاسِ، هِيَ مَنْبَعُ جَمِيعِ الْأَخْلَاقِ الْمَذْمُومَةِ عِنْدَ اللَّهِ، الْمَحْمُودَةِ عِنْدَ عَدُوِّ اللَّهِ إِبْلِيسَ.

Ketahuilah dan yakinilah bahwa perdebatan yang dilakukan dengan tujuan mengalahkan lawan, membungkamnya, menampakkan keutamaan dan kehormatan diri, berbicara indah di hadapan manusia, mencari kebanggaan, bertengkar, dan menarik perhatian manusia, adalah sumber dari seluruh akhlak tercela di sisi Allah, yang justru dipuji oleh musuh Allah, yaitu Iblis.

وَنِسْبَتُهَا إِلَى الْفَوَاحِشِ الْبَاطِنَةِ مِنَ الْكِبْرِ وَالْعُجْبِ وَالْحَسَدِ وَالْمُنَافَسَةِ وَتَزْكِيَةِ النَّفْسِ وَحُبِّ الْجَاهِ وَغَيْرِهَا، كَنِسْبَةِ شُرْبِ الْخَمْرِ إِلَى الْفَوَاحِشِ الظَّاهِرَةِ مِنَ الزِّنَا وَالْقَذْفِ وَالْقَتْلِ وَالسَّرِقَةِ.

Hubungannya dengan dosa-dosa batin seperti sombong, ujub, hasad, persaingan, memuji diri sendiri, cinta kedudukan, dan yang semisalnya, sama seperti hubungan minum khamar dengan dosa-dosa lahir seperti zina, tuduhan keji, pembunuhan, dan pencurian.

وَكَمَا أَنَّ الَّذِي خُيِّرَ بَيْنَ الشُّرْبِ وَالْفَوَاحِشِ وَسَائِرِ الْفَوَاحِشِ اسْتَصْغَرَ الشُّرْبَ فَأَقْدَمَ عَلَيْهِ، فَدَعَاهُ ذٰلِكَ إِلَى ارْتِكَابِ بَقِيَّةِ الْفَوَاحِشِ فِي سُكْرِهِ.

Sebagaimana orang yang diberi pilihan antara minum khamar dan berbagai kekejian lain lalu menganggap remeh minum khamar dan melakukannya, kemudian khamar itu menyeretnya kepada sisa kekejian lain ketika mabuk.

فَكَذٰلِكَ مَنْ غَلَبَ عَلَيْهِ حُبُّ الْإِفْحَامِ وَالْغَلَبَةِ فِي الْمُنَاظَرَةِ وَطَلَبُ الْجَاهِ وَالْمُبَاهَاةِ، دَعَاهُ ذٰلِكَ إِلَى إِضْمَارِ الْخَبَائِثِ كُلِّهَا فِي النَّفْسِ، وَهَيَّجَ فِيهِ جَمِيعَ الْأَخْلَاقِ الْمَذْمُومَةِ.

Demikian pula orang yang dikuasai kecintaan untuk membungkam lawan dan menang dalam perdebatan, serta mencari kedudukan dan kebanggaan, maka hal itu akan mendorongnya menyimpan seluruh keburukan dalam dirinya dan membangkitkan padanya semua akhlak tercela.

وَهٰذِهِ الْأَخْلَاقُ سَتَأْتِي أَدِلَّةُ مَذَمَّتِهَا مِنَ الْأَخْبَارِ وَالْآيَاتِ فِي رُبْعِ الْمُهْلِكَاتِ.

Nanti akan datang dalil-dalil tentang tercelanya akhlak-akhlak ini dari hadis-hadis dan ayat-ayat dalam bagian Rub‘ al-Muhlikāt.

وَلٰكِنَّا نُشِيرُ الْآنَ إِلَى مَجَامِعِ مَا تُهَيِّجُهُ الْمُنَاظَرَةُ.

Akan tetapi, sekarang kami hanya akan menunjukkan pokok-pokok apa saja yang dibangkitkan oleh perdebatan.

فَمِنْهَا الْحَسَدُ.

Di antaranya adalah hasad.

وَقَدْ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: الْحَسَدُ يَأْكُلُ الْحَسَنَاتِ كَمَا تَأْكُلُ النَّارُ الْحَطَبَ.

Rasulullah bersabda, “Hasad memakan kebaikan-kebaikan sebagaimana api memakan kayu bakar.”

وَلَا يَنْفَكُّ الْمُنَاظِرُ عَنِ الْحَسَدِ، فَإِنَّهُ تَارَةً يَغْلِبُ، وَتَارَةً يُغْلَبُ، وَتَارَةً يُحْمَدُ كَلَامُهُ، وَأُخْرَى يُحْمَدُ كَلَامُ غَيْرِهِ.

Seorang pendebat hampir tidak mungkin bebas dari hasad, karena kadang ia menang, kadang ia kalah, kadang ucapannya dipuji, dan di waktu lain ucapan orang lainlah yang dipuji.

فَمَا دَامَ يَبْقَى فِي الدُّنْيَا وَاحِدٌ يَذْكُرُهُ بِقُوَّةِ الْعِلْمِ وَالنَّظَرِ، أَوْ يَظُنُّ أَنَّهُ أَحْسَنُ مِنْهُ كَلَامًا وَأَقْوَى نَظَرًا، فَلَا بُدَّ أَنْ يَحْسُدَهُ، وَيُحِبَّ زَوَالَ النِّعَمِ عَنْهُ، وَانْصِرَافَ الْقُلُوبِ وَالْوُجُوهِ عَنْهُ إِلَيْهِ.

Selama masih ada di dunia satu orang yang disebut-sebut memiliki kekuatan ilmu dan pandangan, atau yang dianggap lebih baik darinya dalam berbicara dan lebih kuat pemikirannya, maka pasti ia akan menghasadinya, menyukai hilangnya nikmat darinya, dan berpalingnya hati serta perhatian manusia dari orang itu kepada dirinya.

وَالْحَسَدُ نَارٌ مُحْرِقَةٌ، فَمَنْ بُلِيَ بِهِ فَهُوَ فِي الْعَذَابِ فِي الدُّنْيَا، وَلَعَذَابُ الْآخِرَةِ أَشَدُّ وَأَعْظَمُ.

Hasad adalah api yang membakar. Siapa yang tertimpa olehnya, maka ia berada dalam siksaan di dunia, sedangkan siksa akhirat lebih keras dan lebih besar.

وَلِذٰلِكَ قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا: خُذُوا الْعِلْمَ حَيْثُ وَجَدْتُمُوهُ، وَلَا تَقْبَلُوا قَوْلَ الْفُقَهَاءِ بَعْضِهِمْ عَلَى بَعْضٍ، فَإِنَّهُمْ يَتَغَايَرُونَ كَمَا تَتَغَايَرُ التُّيُوسُ فِي الزَّرِيبَةِ.

Karena itu Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata, “Ambillah ilmu di mana pun kalian mendapatkannya, dan jangan kalian terima ucapan sebagian fuqaha tentang sebagian yang lain, karena mereka saling cemburu sebagaimana kambing-kambing jantan saling cemburu di kandang.”

وَمِنْهَا التَّكَبُّرُ وَالتَّرَفُّعُ عَلَى النَّاسِ.

Di antaranya juga adalah kesombongan dan merasa lebih tinggi dari manusia.

فَقَدْ قَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَنْ تَكَبَّرَ وَضَعَهُ اللَّهُ، وَمَنْ تَوَاضَعَ رَفَعَهُ اللَّهُ.

Nabi bersabda, “Barang siapa sombong, Allah akan merendahkannya; dan barang siapa tawaduk, Allah akan mengangkatnya.”

وَقَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حِكَايَةً عَنِ اللَّهِ تَعَالَى: الْعَظَمَةُ إِزَارِي، وَالْكِبْرِيَاءُ رِدَائِي، فَمَنْ نَازَعَنِي فِيهِمَا قَصَمْتُهُ.

Dan Nabi bersabda dalam riwayat dari Allah Ta‘ala, “Keagungan adalah sarung-Ku, dan kebesaran adalah selendang-Ku. Barang siapa menyaingi-Ku dalam keduanya, Aku akan menghancurkannya.”

وَلَا يَنْفَكُّ الْمُنَاظِرُ عَنِ التَّكَبُّرِ عَلَى الْأَقْرَانِ وَالْأَمْثَالِ، وَالتَّرَفُّعِ إِلَى فَوْقَ قَدْرِهِ.

Seorang pendebat hampir tidak mungkin bebas dari kesombongan terhadap teman sejawat dan orang-orang semisalnya, serta dari upaya meninggikan diri melebihi kadarnya.

حَتَّى إِنَّهُمْ لَيَتَقَاتَلُونَ عَلَى مَجْلِسٍ مِنَ الْمَجَالِسِ، يَتَنَافَسُونَ فِيهِ فِي الِارْتِفَاعِ وَالِانْخِفَاضِ، وَالْقُرْبِ مِنْ وِسَادَةِ الصَّدْرِ وَالْبُعْدِ مِنْهَا، وَالتَّقَدُّمِ فِي الدُّخُولِ عِنْدَ مُضَايَقِ الطُّرُقِ.

Bahkan mereka saling berkelahi demi suatu tempat duduk di sebuah majelis. Mereka saling bersaing dalam tinggi rendahnya tempat, dekat jauhnya dengan bantal kehormatan, dan siapa yang lebih dahulu masuk ketika jalan sempit.

وَرُبَّمَا يَتَعَلَّلُ الْغَبِيُّ وَالْمَكَّارُ الْخَدَّاعُ مِنْهُمْ بِأَنَّهُ يَبْغِي صِيَانَةَ عِزِّ الْعِلْمِ، وَأَنَّ الْمُؤْمِنَ مَنْهِيٌّ عَنِ الْإِذْلَالِ لِنَفْسِهِ.

Terkadang orang yang bodoh, licik, dan penipu di antara mereka berdalih bahwa ia hanya ingin menjaga kemuliaan ilmu, dan bahwa seorang mukmin dilarang merendahkan dirinya sendiri.

فَتُعَبِّرُ عَنِ التَّوَاضُعِ الَّذِي أَثْنَى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَائِرُ أَنْبِيَائِهِ بِالذُّلِّ، وَعَنِ التَّكَبُّرِ الْمَمْقُوتِ عِنْدَ اللَّهِ بِعِزِّ الدِّينِ، تَحْرِيفًا لِلِاسْمِ وَإِضْلَالًا لِلْخَلْقِ بِهِ، كَمَا فُعِلَ فِي اسْمِ الْحِكْمَةِ وَالْعِلْمِ وَغَيْرِهِمَا.

Lalu ia menamakan tawaduk — yang dipuji Allah dan seluruh nabi-Nya — sebagai kehinaan, dan menamakan kesombongan — yang dibenci Allah — sebagai kemuliaan agama. Itu adalah penyimpangan nama dan penyesatan terhadap manusia dengannya, sebagaimana telah dilakukan terhadap nama hikmah, ilmu, dan selain keduanya.

وَمِنْهَا الْحِقْدُ، فَلَا يَكَادُ الْمُنَاظِرُ يَخْلُو عَنْهُ.

Di antaranya juga adalah dendam. Seorang pendebat hampir tidak mungkin bebas darinya.

وَقَدْ قَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: الْمُؤْمِنُ لَيْسَ بِحَقُودٍ.

Nabi bersabda, “Seorang mukmin bukanlah orang yang pendendam.”

وَوَرَدَ فِي ذَمِّ الْحِقْدِ مَا لَا يَخْفَى.

Tentang celaan terhadap dendam, telah datang dalil-dalil yang sudah sangat jelas.

وَلَا تَرَى مُنَاظِرًا يَقْدِرُ عَلَى أَنْ لَا يُضْمِرَ حِقْدًا عَلَى مَنْ يُحَرِّكُ رَأْسَهُ مِنْ كَلَامِ خَصْمِهِ، وَيَتَوَقَّفُ فِي كَلَامِهِ، فَلَا يُقَابِلُهُ بِحُسْنِ الْإِصْغَاءِ.

Engkau tidak akan melihat seorang pendebat mampu menahan dirinya dari menyimpan dendam kepada orang yang menganggukkan kepala membenarkan ucapan lawannya, atau kepada orang yang ragu terhadap ucapannya dan tidak menyambutnya dengan pendengaran yang baik.

بَلْ يَضْطَرُّ إِذَا شَاهَدَ ذٰلِكَ إِلَى إِضْمَارِ الْحِقْدِ وَتَرْبِيَتِهِ فِي نَفْسِهِ، وَغَايَةُ تَمَاسُكِهِ الْإِخْفَاءُ بِالنِّفَاقِ.

Bahkan ketika ia melihat hal itu, ia terpaksa menyimpan dendam dan memeliharanya dalam dirinya. Paling jauh yang bisa ia lakukan hanyalah menyembunyikannya dengan kemunafikan.

وَيَتَرَشَّحُ مِنْهُ إِلَى الظَّاهِرِ لَا مَحَالَةَ فِي غَالِبِ الْأَمْرِ.

Dan dalam kebanyakan keadaan, dendam itu pasti merembes keluar ke dalam perilaku lahiriahnya.

وَكَيْفَ يَنْفَكُّ عَنْ هٰذَا وَلَا يُتَصَوَّرُ اتِّفَاقُ جَمِيعِ الْمُسْتَمِعِينَ عَلَى تَرْجِيحِ كَلَامِهِ وَاسْتِحْسَانِ جَمِيعِ أَحْوَالِهِ فِي إِيرَادِهِ وَإِصْدَارِهِ؟

Bagaimana mungkin ia bisa terbebas dari hal itu, sementara mustahil seluruh pendengar selalu sepakat mengunggulkan ucapannya dan memandang baik seluruh caranya dalam berbicara dan menjawab?

بَلْ لَوْ صَدَرَ مِنْ خَصْمِهِ أَدْنَى سَبَبٍ فِيهِ قِلَّةُ مُبَالَاةٍ بِكَلَامِهِ، انْغَرَسَ فِي صَدْرِهِ حِقْدٌ لَا يَقْلَعُهُ مَدَى الدَّهْرِ إِلَى آخِرِ الْعُمُرِ.

Bahkan seandainya muncul dari lawannya sedikit saja sikap tidak peduli terhadap ucapannya, niscaya akan tertanam dalam dadanya dendam yang tidak tercabut sepanjang masa hingga akhir umurnya.

وَمِنْهَا الْغِيبَةُ، وَقَدْ شَبَّهَهَا اللَّهُ تَعَالَى بِأَكْلِ الْمَيْتَةِ، وَلَا يَزَالُ الْمُنَاظِرُ مُثَابِرًا عَلَى أَكْلِ الْمَيْتَةِ.

Di antaranya juga adalah ghibah. Allah Ta‘ala telah menyerupakannya dengan memakan bangkai, dan seorang pendebat terus-menerus tekun memakan bangkai itu.

فَإِنَّهُ لَا يَنْفَكُّ عَنْ حِكَايَةِ كَلَامِ خَصْمِهِ وَمَذَمَّتِهِ.

Sebab ia hampir tidak bisa lepas dari menceritakan ucapan lawannya dan mencelanya.

وَغَايَةُ تَحَفُّظِهِ أَنْ يَصْدُقَ فِيمَا يَحْكِيهِ عَلَيْهِ، وَلَا يَكْذِبَ فِي الْحِكَايَةِ عَنْهُ، فَيَحْكِي عَنْهُ لَا مَحَالَةَ مَا يَدُلُّ عَلَى قُصُورِ كَلَامِهِ وَعَجْزِهِ وَنُقْصَانِ فَضْلِهِ، وَهُوَ الْغِيبَةُ.

Paling jauh kehati-hatiannya adalah ia benar dalam apa yang dikisahkannya tentang lawannya dan tidak berdusta dalam penyampaiannya. Namun ia pasti akan menceritakan tentang lawannya hal-hal yang menunjukkan kelemahan ucapannya, ketidakmampuannya, dan kurangnya keutamaannya, dan itulah ghibah.

فَأَمَّا الْكَذِبُ فَبُهْتَانٌ.

Adapun jika ia berdusta, maka itu menjadi buhtan atau fitnah keji.

وَكَذٰلِكَ لَا يَقْدِرُ عَلَى أَنْ يَحْفَظَ لِسَانَهُ عَنِ التَّعَرُّضِ لِعِرْضِ مَنْ يُعْرِضُ عَنْ كَلَامِهِ وَيُصْغِي إِلَى خَصْمِهِ وَيُقْبِلُ عَلَيْهِ، حَتَّى يَنْسِبَهُ إِلَى الْجَهْلِ وَالْحَمَاقَةِ وَقِلَّةِ الْفَهْمِ وَالْبَلَادَةِ.

Demikian pula ia tidak mampu menjaga lisannya dari menyerang kehormatan orang yang berpaling dari ucapannya, lalu mendengarkan lawannya dan memperhatikannya, sehingga ia menisbatkan orang itu kepada kebodohan, kedunguan, kurang paham, dan ketumpulan akal.

وَمِنْهَا تَزْكِيَةُ النَّفْسِ.

Di antaranya juga adalah memuji diri sendiri.

قَالَ اللَّهُ سُبْحَانَهُ: {فَلَا تُزَكُّوا أَنْفُسَكُمْ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقَى}.

Allah Subhanahu wa Ta‘ala berfirman, “Maka janganlah kalian menyucikan diri kalian sendiri. Dia lebih mengetahui siapa yang bertakwa.”

وَقِيلَ لِحَكِيمٍ: مَا الصِّدْقُ الْقَبِيحُ؟

Pernah ditanyakan kepada seorang bijak, “Apakah kebenaran yang buruk itu?”

فَقَالَ: ثَنَاءُ الْمَرْءِ عَلَى نَفْسِهِ.

Ia menjawab, “Seseorang memuji dirinya sendiri.”

وَلَا يَخْلُو الْمُنَاظِرُ مِنَ الثَّنَاءِ عَلَى نَفْسِهِ بِالْقُوَّةِ وَالْغَلَبَةِ وَالتَّقَدُّمِ عَلَى الْأَقْرَانِ.

Seorang pendebat hampir tidak pernah bebas dari memuji dirinya dengan kekuatan, kemenangan, dan keunggulan atas teman-teman sejawatnya.

وَلَا يَنْفَكُّ فِي أَثْنَاءِ الْمُنَاظَرَةِ عَنْ قَوْلِهِ: لَسْتُ مِمَّنْ يَخْفَى عَلَيْهِ أَمْثَالُ هٰذِهِ الْأُمُورِ، وَأَنَا الْمُتَفَنِّنُ فِي الْعُلُومِ، وَالْمُسْتَقِلُّ بِالْأُصُولِ، وَحِفْظِ الْأَحَادِيثِ، وَغَيْرِ ذٰلِكَ مِمَّا يَتَمَدَّحُ بِهِ.

Dalam perdebatan, ia hampir tak bisa lepas dari ucapan seperti, “Aku bukan orang yang samar baginya perkara-perkara semacam ini,” atau, “Aku orang yang menguasai berbagai cabang ilmu, yang mandiri dalam usul, yang hafal hadis,” dan lain-lain yang dengannya ia memuji dirinya.

تَارَةً عَلَى سَبِيلِ الصَّلَفِ، وَتَارَةً لِلْحَاجَةِ إِلَى تَرْوِيجِ كَلَامِهِ.

Kadang hal itu dilakukan karena kesombongan, dan kadang dengan alasan agar ucapannya laku diterima.

وَمَعْلُومٌ أَنَّ الصَّلَفَ وَالتَّمَدُّحَ مَذْمُومَانِ شَرْعًا وَعَقْلًا.

Sudah jelas bahwa kesombongan dan memuji diri sendiri adalah tercela menurut syariat dan akal.

وَمِنْهَا التَّجَسُّسُ وَتَتَبُّعُ عَوْرَاتِ النَّاسِ.

Di antaranya lagi adalah memata-matai dan mencari-cari aib orang lain.

وَقَدْ قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: {وَلَا تَجَسَّسُوا}.

Allah Ta‘ala berfirman, “Dan janganlah kalian mencari-cari kesalahan orang lain.”

وَالْمُنَاظِرُ لَا يَنْفَكُّ عَنْ طَلَبِ عَثَرَاتِ أَقْرَانِهِ، وَتَتَبُّعِ عَوْرَاتِ خُصُومِهِ.

Seorang pendebat hampir tidak pernah lepas dari upaya mencari ketergelinciran teman sejawatnya dan melacak aib-aib lawannya.

حَتَّى إِنَّهُ لَيُخْبَرُ بِوُرُودِ مُنَاظِرٍ إِلَى بَلَدِهِ، فَيَطْلُبُ مَنْ يُخْبِرُهُ بَوَاطِنَ أَحْوَالِهِ، وَيَسْتَخْرِجُ بِالسُّؤَالِ مَقَابِحَهُ، حَتَّى يَعُدَّهَا ذُخِيرَةً لِنَفْسِهِ فِي إِفْضَاحِهِ وَتَخْجِيلِهِ إِذَا مَسَّتْ إِلَيْهِ حَاجَةٌ.

Bahkan jika ia diberi tahu bahwa seorang pendebat akan datang ke negerinya, ia akan mencari orang yang dapat memberitahunya keadaan-keadaan tersembunyi orang itu, lalu dengan bertanya-tanya ia mengeluarkan kekurangan-kekurangannya, agar ia simpan sebagai senjata untuk membuka aib dan mempermalukannya bila diperlukan.

حَتَّى إِنَّهُ لَيَسْتَكْشِفُ عَنْ أَحْوَالِ صِبَاهُ، وَعَنْ عُيُوبِ بَدَنِهِ، فَعَسَاهُ يَعْثُرُ عَلَى هَفْوَةٍ أَوْ عَلَى عَيْبٍ بِهِ مِنْ قَرَعٍ أَوْ غَيْرِهِ.

Bahkan ia sampai menelusuri keadaan masa kecil lawannya dan cacat-cacat tubuhnya, dengan harapan ia menemukan suatu ketergelinciran atau cacat seperti kebotakan atau yang lain.

ثُمَّ إِذَا أَحَسَّ بِأَدْنَى غَلَبَةٍ مِنْ جِهَتِهِ عَرَّضَ بِهِ إِنْ كَانَ مُتَمَاسِكًا، وَيَسْتَحْسِنُ ذٰلِكَ مِنْهُ وَيَعُدُّهُ مِنْ لَطَائِفِ التَّسَبُّبِ.

Lalu jika ia merasa sedikit saja lebih unggul darinya, ia akan menyindirnya bila ia masih menjaga diri, dan ia menganggap itu baik serta termasuk kehalusan cara menyerang.

وَلَا يَمْتَنِعُ عَنِ الْإِفْصَاحِ بِهِ إِنْ كَانَ مُتَبَجِّحًا بِالسَّفَاهَةِ وَالِاسْتِهْزَاءِ، كَمَا حُكِيَ عَنْ قَوْمٍ مِنْ أَكَابِرِ الْمُنَاظِرِينَ الْمَعْدُودِينَ مِنْ فُحُولِهِمْ.

Bahkan ia tidak segan mengungkapkannya secara terang-terangan jika ia termasuk orang yang bangga dengan kebodohan dan ejekan, sebagaimana dikisahkan dari sebagian tokoh besar para pendebat yang dianggap sebagai jagoan di bidang mereka.

وَمِنْهَا الْفَرَحُ لِمَسَاءَةِ النَّاسِ، وَالْغَمُّ لِمَسَرَّتِهِمْ.

Di antaranya juga adalah bergembira atas musibah orang lain dan bersedih atas kebahagiaan mereka.

وَمَنْ لَا يُحِبُّ لِأَخِيهِ الْمُسْلِمِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ فَهُوَ بَعِيدٌ مِنْ أَخْلَاقِ الْمُؤْمِنِينَ.

Barang siapa tidak menyukai bagi saudaranya sesama muslim apa yang ia sukai bagi dirinya, maka ia jauh dari akhlak orang-orang beriman.

فَكُلُّ مَنْ طَلَبَ الْمُبَاهَاةَ بِإِظْهَارِ الْفَضْلِ يَسُرُّهُ لَا مَحَالَةَ مَا يَسُوءُ أَقْرَانَهُ وَأَشْكَالَهُ الَّذِينَ يُسَامُونَهُ فِي الْفَضْلِ.

Setiap orang yang mencari kebanggaan dengan menampakkan kelebihan, pasti akan merasa senang dengan apa yang membuat sedih teman sejawat dan orang-orang yang setingkat dengannya dalam keutamaan.

وَيَكُونُ التَّبَاغُضُ بَيْنَهُمْ كَمَا بَيْنَ الضَّرَائِرِ.

Permusuhan di antara mereka pun seperti permusuhan di antara para istri yang saling dimadu.

فَكَمَا أَنَّ إِحْدَى الضَّرَائِرِ إِذَا رَأَتْ صَاحِبَتَهَا مِنْ بَعِيدٍ ارْتَعَدَتْ فَرَائِصُهَا وَاصْفَرَّ لَوْنُهَا، فَكَذٰلِكَ تَرَى الْمُنَاظِرَ إِذَا رَأَى مُنَاظِرًا تَغَيَّرَ لَوْنُهُ وَاضْطَرَبَ عَلَيْهِ فِكْرُهُ، فَكَأَنَّهُ يُشَاهِدُ شَيْطَانًا مَارِدًا أَوْ سَبُعًا ضَارِيًا.

Sebagaimana salah satu istri yang dimadu jika melihat madunya dari jauh, tubuhnya gemetar dan wajahnya pucat, demikian pula engkau lihat seorang pendebat jika melihat pendebat lain, wajahnya berubah dan pikirannya kacau, seakan-akan ia melihat setan yang durhaka atau binatang buas yang liar.

فَأَيْنَ الِاسْتِئْنَاسُ وَالِاسْتِرْوَاحُ الَّذِي كَانَ يَجْرِي بَيْنَ عُلَمَاءِ الدِّينِ عِنْدَ اللِّقَاءِ، وَمَا نُقِلَ عَنْهُمْ مِنَ الْمُؤَاخَاةِ وَالتَّنَاصُرِ وَالتَّسَاهُمِ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ؟

Lalu di manakah rasa akrab dan rasa lapang yang dahulu ada di antara para ulama agama ketika bertemu, dan di manakah apa yang dinukil dari mereka berupa persaudaraan, saling menolong, dan saling berbagi dalam suka maupun duka?

حَتَّى قَالَ الشَّافِعِيُّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: الْعِلْمُ بَيْنَ أَهْلِ الْفَضْلِ وَالْعَقْلِ رَحِمٌ مُتَّصِلٌ.

Bahkan Asy-Syafi‘i radhiyallahu ‘anhu berkata, “Ilmu di antara orang-orang yang memiliki keutamaan dan akal adalah tali rahim yang tersambung.”

فَلَا أَدْرِي كَيْفَ يَدَّعِي الِاقْتِدَاءَ بِمَذْهَبِهِ جَمَاعَةٌ صَارَ الْعِلْمُ بَيْنَهُمْ عَدَاوَةً قَاطِعَةً.

Maka aku tidak tahu bagaimana mungkin sekelompok orang mengaku mengikuti mazhabnya, padahal ilmu di antara mereka justru telah menjadi permusuhan yang memutus hubungan.

فَهَلْ يُتَصَوَّرُ أَنْ يُنْسَبَ الْأُنْسُ بَيْنَهُمْ مَعَ طَلَبِ الْغَلَبَةِ وَالْمُبَاهَاةِ؟ هَيْهَاتَ هَيْهَاتَ.

Apakah mungkin rasa akrab di antara mereka dapat dibayangkan, padahal yang mereka cari adalah kemenangan dan kebanggaan? Jauh, sangat jauh.

وَنَاهِيكَ بِالشَّرِّ شَرًّا أَنْ يُلْزِمَكَ أَخْلَاقَ الْمُنَافِقِينَ وَيُبَرِّئَكَ عَنْ أَخْلَاقِ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُتَّقِينَ.

Dan cukuplah suatu keburukan disebut keburukan apabila ia menempelkan kepadamu akhlak orang-orang munafik dan melepaskanmu dari akhlak orang-orang beriman dan bertakwa.

وَمِنْهَا النِّفَاقُ، فَلَا يَحْتَاجُ إِلَى ذِكْرِ الشَّوَاهِدِ فِي ذَمِّهِ، وَهُمْ مُضْطَرُّونَ إِلَيْهِ.

Di antaranya juga adalah kemunafikan. Tidak perlu lagi disebutkan dalil-dalil yang mencelanya, dan para pendebat itu memang terpaksa jatuh ke dalamnya.

فَإِنَّهُمْ يَلْقَوْنَ الْخُصُومَ وَمُحِبِّيهِمْ وَأَشْيَاعَهُمْ، وَلَا يَجِدُونَ بُدًّا مِنَ التَّوَدُّدِ إِلَيْهِمْ بِاللِّسَانِ، وَإِظْهَارِ الشَّوْقِ وَالِاعْتِدَادِ بِمَكَانِهِمْ وَأَحْوَالِهِمْ.

Mereka bertemu dengan lawan-lawan mereka, para pencintanya, dan para pengikutnya, lalu mereka tidak menemukan jalan lain selain menampakkan keramahan dengan lisan, menunjukkan kerinduan, dan mengakui kedudukan serta keadaan mereka.

وَيَعْلَمُ ذٰلِكَ الْمُخَاطَبُ وَالْمُخَاطِبُ وَكُلُّ مَنْ يَسْمَعُ مِنْهُمْ أَنَّ ذٰلِكَ كَذِبٌ وَزُورٌ وَنِفَاقٌ وَفُجُورٌ.

Padahal yang diajak bicara, yang berbicara, dan semua yang mendengar mereka mengetahui bahwa semua itu adalah dusta, kepalsuan, kemunafikan, dan kefasikan.

فَإِنَّهُمْ مُتَوَدِّدُونَ بِالْأَلْسِنَةِ، مُتَبَاغِضُونَ بِالْقُلُوبِ، نَعُوذُ بِاللَّهِ الْعَظِيمِ مِنْهُ.

Karena mereka saling menunjukkan kasih sayang dengan lisan, padahal hati mereka saling membenci. Kita berlindung kepada Allah Yang Mahaagung dari hal itu.

فَقَدْ قَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِذَا تَعَلَّمَ النَّاسُ الْعِلْمَ، وَتَرَكُوا الْعَمَلَ، وَتَحَابُّوا بِالْأَلْسِنَةِ، وَتَبَاغَضُوا بِالْقُلُوبِ، وَتَقَاطَعُوا فِي الْأَرْحَامِ، لَعَنَهُمُ اللَّهُ عِنْدَ ذٰلِكَ، فَأَصَمَّهُمْ وَأَعْمَى أَبْصَارَهُمْ.

Nabi bersabda, “Apabila manusia mempelajari ilmu, tetapi meninggalkan amal, saling mencintai dengan lisan, saling membenci dengan hati, dan memutuskan silaturahim, maka Allah melaknat mereka pada saat itu, lalu menjadikan mereka tuli dan membutakan penglihatan mereka.”

رَوَاهُ الْحَسَنُ، وَقَدْ صَحَّ ذٰلِكَ بِمُشَاهَدَةِ هٰذِهِ الْحَالِ.

Riwayat ini dibawakan oleh Al-Hasan, dan maknanya terbukti nyata melalui pengamatan terhadap keadaan ini.

وَمِنْهَا الِاسْتِكْبَارُ عَنِ الْحَقِّ وَكَرَاهَتُهُ، وَالْحِرْصُ عَلَى الْمِرَاءِ فِيهِ.

Di antaranya juga adalah sombong terhadap kebenaran, membencinya, dan sangat berkeinginan untuk terus membantahnya.

حَتَّى إِنَّ أَبْغَضَ شَيْءٍ إِلَى الْمُنَاظِرِ أَنْ يَظْهَرَ عَلَى لِسَانِ خَصْمِهِ الْحَقُّ.

Bahkan, hal yang paling dibenci oleh seorang pendebat adalah jika kebenaran tampak melalui lisan lawannya.

وَمِنْ ثَمَّ إِذَا ظَهَرَ تَشَمَّرَ لِجَحْدِهِ وَإِنْكَارِهِ بِأَقْصَى جُهْدِهِ، وَبَذَلَ غَايَةَ إِمْكَانِهِ فِي الْمُخَادَعَةِ وَالْمَكْرِ وَالْحِيلَةِ لِدَفْعِهِ.

Karena itu, jika kebenaran tampak, ia segera bersungguh-sungguh untuk mengingkari dan menolaknya dengan sekuat tenaganya, serta mengerahkan seluruh kemampuan dalam tipu daya, makar, dan rekayasa untuk menolaknya.

حَتَّى تَصِيرَ الْمِرَاءُ فِيهِ عَادَةً طَبِيعِيَّةً، فَلَا يَسْمَعُ كَلَامًا إِلَّا وَيَنْبَعِثُ مِنْ طَبْعِهِ دَاعِيَةُ الِاعْتِرَاضِ عَلَيْهِ.

Sampai-sampai membantah kebenaran itu menjadi kebiasaan alami baginya. Ia tidak mendengar ucapan apa pun kecuali tabiatnya langsung bangkit untuk menolaknya.

حَتَّى يَغْلِبَ ذٰلِكَ عَلَى قَلْبِهِ فِي أَدِلَّةِ الْقُرْآنِ وَأَلْفَاظِ الشَّرْعِ، فَيَضْرِبُ الْبَعْضَ مِنْهَا بِالْبَعْضِ.

Sampai hal ini menguasai hatinya dalam menghadapi dalil-dalil Al-Qur’an dan lafaz-lafaz syariat, sehingga ia membenturkan sebagian dengan sebagian yang lain.

وَالْمِرَاءُ فِي مُقَابَلَةِ الْبَاطِلِ مَحْذُورٌ، إِذْ نَدَبَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَى تَرْكِ الْمِرَاءِ بِالْحَقِّ عَلَى الْبَاطِلِ.

Membantah dengan kebenaran demi menghadapi kebatilan pun tetap berbahaya, karena Rasulullah justru menganjurkan untuk meninggalkan perdebatan, meskipun seseorang berada di pihak yang benar terhadap lawan yang batil.

قَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَنْ تَرَكَ الْمِرَاءَ وَهُوَ مُبْطِلٌ بَنَى اللَّهُ لَهُ بَيْتًا فِي رَبَضِ الْجَنَّةِ، وَمَنْ تَرَكَ الْمِرَاءَ وَهُوَ مُحِقٌّ بَنَى اللَّهُ لَهُ بَيْتًا فِي أَعْلَى الْجَنَّةِ.

Nabi bersabda, “Barang siapa meninggalkan perdebatan padahal ia batil, Allah bangunkan baginya sebuah rumah di pinggiran surga. Dan barang siapa meninggalkan perdebatan padahal ia benar, Allah bangunkan baginya sebuah rumah di tempat tertinggi surga.”

وَقَدْ سَوَّى اللَّهُ تَعَالَى بَيْنَ مَنِ افْتَرَى عَلَى اللَّهِ كَذِبًا وَبَيْنَ مَنْ كَذَّبَ بِالْحَقِّ.

Allah Ta‘ala telah menyamakan antara orang yang berdusta atas nama Allah dan orang yang mendustakan kebenaran.

فَقَالَ تَعَالَى: {وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنِ افْتَرَى عَلَى اللَّهِ كَذِبًا أَوْ كَذَّبَ بِالْحَقِّ لَمَّا جَاءَهُ}.

Allah Ta‘ala berfirman, “Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang mengada-adakan dusta terhadap Allah atau mendustakan kebenaran ketika datang kepadanya?”

وَقَالَ تَعَالَى: {فَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنْ كَذَبَ عَلَى اللَّهِ وَكَذَّبَ بِالصِّدْقِ إِذْ جَاءَهُ}.

Dan Allah Ta‘ala berfirman, “Maka siapakah yang lebih zalim daripada orang yang berdusta atas nama Allah dan mendustakan kebenaran ketika ia datang kepadanya?”

وَمِنْهَا الرِّيَاءُ وَمُلَاحَظَةُ الْخَلْقِ وَالْجُهْدُ فِي اسْتِمَالَةِ قُلُوبِهِمْ وَصَرْفِ وُجُوهِهِمْ.

Di antaranya juga adalah riya, memperhatikan manusia, dan bersungguh-sungguh menarik hati mereka serta mengarahkan perhatian mereka kepadanya.

وَالرِّيَاءُ هُوَ الدَّاءُ الْعُضَالُ الَّذِي يَدْعُو إِلَى أَكْبَرِ الْكَبَائِرِ، كَمَا سَيَأْتِي فِي كِتَابِ الرِّيَاءِ.

Riya adalah penyakit kronis yang menyeret kepada dosa-dosa besar yang paling besar, sebagaimana nanti akan dijelaskan dalam Kitab Ar-Riya’.

وَالْمُنَاظِرُ لَا يَقْصِدُ إِلَّا الظُّهُورَ عِنْدَ الْخَلْقِ، وَانْطِلَاقَ أَلْسِنَتِهِمْ بِالثَّنَاءِ عَلَيْهِ.

Seorang pendebat biasanya tidak menginginkan apa-apa selain tampil di hadapan manusia dan agar lisan-lisan mereka memujinya.

فَهٰذِهِ عَشْرُ خِصَالٍ مِنْ أُمَّهَاتِ الْفَوَاحِشِ الْبَاطِنَةِ، سِوَى مَا يَتَّفِقُ لِغَيْرِ الْمُتَمَاسِكِينَ مِنْهُمْ مِنَ الْخِصَامِ الْمُؤَدِّي إِلَى الضَّرْبِ وَاللَّكْمِ وَاللَّطْمِ وَتَمْزِيقِ الثِّيَابِ وَالْأَخْذِ بِاللِّحَى وَسَبِّ الْوَالِدَيْنِ وَشَتْمِ الْأُسْتَاذِينَ وَالْقَذْفِ الصَّرِيحِ.

Maka itulah sepuluh sifat yang menjadi pokok kekejian-kekejian batin, belum termasuk hal-hal yang terkadang terjadi pada orang-orang di antara mereka yang tidak mampu menahan diri, berupa pertengkaran yang berujung pada pukulan, tinju, tamparan, merobek pakaian, menarik janggut, mencaci kedua orang tua, menghina guru-guru, dan tuduhan keji secara terang-terangan.

فَإِنَّ أُولٰئِكَ لَيْسُوا مَعْدُودِينَ فِي زُمْرَةِ النَّاسِ الْمُعْتَبَرِينَ.

Sebab orang-orang seperti itu bahkan tidak lagi terhitung dalam golongan manusia yang layak diperhitungkan.

وَإِنَّمَا الْأَكَابِرُ وَالْعُقَلَاءُ مِنْهُمْ هُمُ الَّذِينَ لَا يَنْفَكُّونَ عَنْ هٰذِهِ الْخِصَالِ الْعَشْرِ.

Adapun para tokoh besar dan orang-orang yang dianggap berakal di antara mereka pun tetap tidak lepas dari sepuluh sifat tersebut.

نَعَمْ، قَدْ يَسْلَمُ بَعْضُهُمْ مِنْ بَعْضِهَا مَعَ مَنْ هُوَ ظَاهِرُ الِانْحِطَاطِ عَنْهُ أَوْ ظَاهِرُ الِارْتِفَاعِ عَلَيْهِ، أَوْ هُوَ بَعِيدٌ عَنْ بَلَدِهِ وَأَسْبَابِ مَعِيشَتِهِ.

Benar, sebagian mereka mungkin selamat dari sebagian sifat itu ketika berhadapan dengan orang yang jelas lebih rendah darinya, atau jelas lebih tinggi darinya, atau orang yang jauh dari negerinya dan dari faktor-faktor kehidupannya.

وَلَا يَنْفَكُّ أَحَدٌ مِنْهُمْ عَنْهُ مَعَ أَشْكَالِهِ الْمُقَارِنِينَ لَهُ فِي الدَّرَجَةِ.

Tetapi tidak ada seorang pun di antara mereka yang bebas darinya ketika berhadapan dengan teman sejawat yang setara dengannya.

ثُمَّ يَتَشَعَّبُ مِنْ كُلِّ وَاحِدَةٍ مِنْ هٰذِهِ الْخِصَالِ الْعَشْرِ عَشْرٌ أُخْرَى مِنَ الرَّذَائِلِ، لَمْ نُطَوِّلْ بِذِكْرِهَا وَتَفْصِيلِ آحَادِهَا.

Kemudian dari masing-masing sepuluh sifat ini bercabang lagi sepuluh keburukan lain, yang tidak kami perpanjang dengan menyebut dan merinci masing-masingnya.

مِثْلُ الْأَنَفَةِ وَالْغَضَبِ وَالْبَغْضَاءِ وَالطَّمَعِ وَحُبِّ طَلَبِ الْمَالِ وَالْجَاهِ لِلتَّمَكُّنِ مِنَ الْغَلَبَةِ وَالْمُبَاهَاةِ، وَالْأَشَرِ وَالْبَطَرِ وَتَعْظِيمِ الْأَغْنِيَاءِ وَالسَّلَاطِينِ وَالتَّرَدُّدِ إِلَيْهِمْ وَالْأَخْذِ مِنْ حَرَامِهِمْ.

Seperti angkuh, marah, benci, tamak, cinta mencari harta dan kedudukan demi memungkinkan diri untuk menang dan berbangga diri, sombong karena nikmat, pongah, mengagungkan orang-orang kaya dan penguasa, mondar-mandir kepada mereka, dan mengambil harta haram dari mereka.

وَالتَّجَمُّلِ بِالْخُيُولِ وَالْمَرَاكِبِ وَالثِّيَابِ الْمَحْظُورَةِ، وَالِاسْتِحْقَارِ لِلنَّاسِ بِالْفَخْرِ وَالْخُيَلَاءِ، وَالْخَوْضِ فِيمَا لَا يَعْنِي، وَكَثْرَةِ الْكَلَامِ، وَخُرُوجِ الْخَشْيَةِ وَالْخَوْفِ وَالرَّحْمَةِ مِنَ الْقَلْبِ، وَاسْتِيلَاءِ الْغَفْلَةِ عَلَيْهِ.

Juga berhias dengan kuda-kuda, kendaraan, dan pakaian-pakaian terlarang, meremehkan manusia dengan kebanggaan dan kesombongan, berbicara tentang hal-hal yang tidak penting, banyak bicara, keluarnya rasa takut, rasa gentar, dan kasih sayang dari hati, serta dikuasainya hati oleh kelalaian.

حَتَّى لَا يَدْرِي الْمُصَلِّي مِنْهُمْ فِي صَلَاتِهِ مَا صَلَّى، وَمَا الَّذِي يَقْرَأُ، وَمَنْ الَّذِي يُنَاجِيهِ، وَلَا يُحِسُّ بِالْخُشُوعِ مِنْ قَلْبِهِ.

Sampai-sampai salah seorang dari mereka ketika salat tidak tahu apa yang ia salatkan, apa yang ia baca, dan siapa yang sedang ia ajak bermunajat, serta tidak merasakan kekhusyukan sama sekali dalam hatinya.

مَعَ اسْتِغْرَاقِ الْعُمُرِ فِي الْعُلُومِ الَّتِي تُعِينُ فِي الْمُنَاظَرَةِ، مَعَ أَنَّهَا لَا تَنْفَعُ فِي الْآخِرَةِ، مِنْ تَحْسِينِ الْعِبَارَةِ وَتَسْجِيعِ اللَّفْظِ وَحِفْظِ النَّوَادِرِ إِلَى غَيْرِ ذٰلِكَ مِنْ أُمُورٍ لَا تُحْصَى.

Padahal ia telah menghabiskan umur dalam ilmu-ilmu yang membantu dalam perdebatan, tetapi tidak bermanfaat di akhirat, seperti memperindah susunan kalimat, membuat ucapan berima, menghafal hal-hal langka, dan perkara-perkara lain yang tak terhitung banyaknya.

وَالْمُنَاظِرُونَ يَتَفَاوَتُونَ فِيهَا عَلَى حَسَبِ دَرَجَاتِهِمْ، وَلَهُمْ دَرَجَاتٌ شَتَّى.

Para pendebat itu berbeda-beda dalam hal tersebut sesuai tingkatan mereka, dan mereka memang memiliki tingkatan yang beragam.

وَلَا يَنْفَكُّ أَعْظَمُهُمْ دِينًا وَأَكْثَرُهُمْ عَقْلًا عَنْ جُمَلٍ مِنْ مَوَادِّ هٰذِهِ الْأَخْلَاقِ.

Namun orang yang paling besar agamanya dan paling banyak akalnya di antara mereka pun tidak akan bebas dari sejumlah unsur akhlak-akhlak ini.

وَإِنَّمَا غَايَتُهُ إِخْفَاؤُهَا وَمُجَاهَدَةُ النَّفْسِ بِهَا.

Paling jauh yang dapat ia lakukan hanyalah menyembunyikannya dan melawan dirinya sendiri dalam hal itu.

وَاعْلَمْ أَنَّ هٰذِهِ الرَّذَائِلَ لَازِمَةٌ لِلْمُشْتَغِلِ بِالتَّذْكِيرِ وَالْوَعْظِ أَيْضًا، إِذَا كَانَ قَصْدُهُ طَلَبَ الْقَبُولِ وَإِقَامَةَ الْجَاهِ وَنَيْلَ الثَّرْوَةِ وَالْعِزَّةِ.

Ketahuilah bahwa akhlak-akhlak buruk ini juga akan melekat pada orang yang sibuk berceramah dan menasihati, jika tujuannya adalah mencari penerimaan manusia, menegakkan kedudukan, memperoleh kekayaan, dan meraih kemuliaan.

وَهِيَ لَازِمَةٌ أَيْضًا لِلْمُشْتَغِلِ بِعِلْمِ الْمَذْهَبِ وَالْفَتَاوَى، إِذَا كَانَ قَصْدُهُ طَلَبَ الْقَضَاءِ وَوِلَايَةَ الْأَوْقَافِ وَالتَّقَدُّمَ عَلَى الْأَقْرَانِ.

Ia juga akan melekat pada orang yang sibuk dengan ilmu mazhab dan fatwa, jika maksudnya adalah mencari jabatan hakim, pengelolaan wakaf, dan ingin lebih unggul dari teman-teman sejawatnya.

وَبِالْجُمْلَةِ، هِيَ لَازِمَةٌ لِكُلِّ مَنْ يَطْلُبُ بِالْعِلْمِ غَيْرَ ثَوَابِ اللَّهِ تَعَالَى فِي الْآخِرَةِ.

Secara umum, semua akhlak ini akan melekat pada setiap orang yang menuntut ilmu dengan tujuan selain pahala Allah Ta‘ala di akhirat.

فَالْعِلْمُ لَا يُهْمِلُ الْعَالِمَ، بَلْ يُهْلِكُهُ هَلَاكَ الْأَبَدِ أَوْ يُحْيِيهِ حَيَاةَ الْأَبَدِ.

Ilmu tidak akan membiarkan pemiliknya begitu saja. Ia bisa membinasakannya dengan kebinasaan abadi, atau menghidupkannya dengan kehidupan abadi.

وَلِذٰلِكَ قَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَشَدُّ النَّاسِ عَذَابًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَالِمٌ لَا يَنْفَعُهُ اللَّهُ بِعِلْمِهِ.

Karena itu Nabi bersabda, “Manusia yang paling berat azabnya pada hari kiamat adalah seorang alim yang Allah tidak memberi manfaat kepadanya dengan ilmunya.”

فَلَقَدْ ضَرَّهُ مَعَ أَنَّهُ لَمْ يَنْفَعْهُ، وَلَيْتَهُ نَجَا مِنْهُ رَأْسًا بِرَأْسٍ.

Sungguh ilmu itu telah membahayakannya, sementara ia sendiri tidak mendapat manfaat darinya. Seandainya ia selamat saja darinya tanpa untung dan rugi, itu sudah merupakan keberuntungan.

وَهَيْهَاتَ هَيْهَاتَ، فَخَطَرُ الْعِلْمِ عَظِيمٌ، وَطَالِبُهُ طَالِبُ الْمُلْكِ الْمُؤَبَّدِ وَالنَّعِيمِ السَّرْمَدِ.

Tetapi sungguh jauh, sangat jauh. Bahaya ilmu itu sangat besar, sedangkan penuntutnya pada hakikatnya sedang mencari kerajaan yang abadi dan kenikmatan yang terus-menerus.

فَلَا يَنْفَكُّ عَنِ الْمُلْكِ أَوِ الْهُلْكِ، وَهُوَ كَطَالِبِ الْمُلْكِ فِي الدُّنْيَا، فَإِنْ لَمْ يَتَّفِقْ لَهُ الْإِصَابَةُ فِي الْأَمْوَالِ لَمْ يَطْمَعْ فِي السَّلَامَةِ مِنَ الْإِذْلَالِ، بَلْ لَا بُدَّ مِنْ لُزُومِ أَفْضَحِ الْأَحْوَالِ.

Karena itu, ia tidak akan lepas dari dua hal: kerajaan atau kebinasaan. Halnya seperti orang yang mencari kekuasaan dunia; jika ia tidak berhasil meraih harta, ia tidak bisa berharap selamat dari kehinaan, bahkan pasti jatuh pada keadaan yang paling memalukan.

فَإِنْ قُلْتَ: فِي الرُّخْصَةِ فِي الْمُنَاظَرَةِ فَائِدَةٌ، وَهِيَ تَرْغِيبُ النَّاسِ فِي طَلَبِ الْعِلْمِ، إِذْ لَوْلَا حُبُّ الرِّيَاسَةِ لَانْدَرَسَتِ الْعُلُومُ.

Jika engkau berkata, “Membolehkan perdebatan itu ada manfaatnya, yaitu mendorong manusia untuk mencari ilmu. Kalau bukan karena cinta kepemimpinan, niscaya ilmu-ilmu akan hilang.”

فَقَدْ صَدَقْتَ فِيمَا ذَكَرْتَ مِنْ وَجْهٍ، وَلٰكِنَّهُ غَيْرُ مُفِيدٍ.

Maka engkau benar dari satu sisi, tetapi hal itu tidak bermanfaat sebagai pembenaran.

إِذْ لَوْلَا الْوَعْدُ بِالْكُرَةِ وَالصَّوْلَجَانِ وَاللَّعِبِ بِالْعَصَافِيرِ مَا رَغِبَ الصِّبْيَانُ فِي الْمَكْتَبِ.

Sebab kalau bukan karena dijanjikan bola, tongkat permainan, dan bermain dengan burung-burung kecil, niscaya anak-anak tidak akan suka pergi ke tempat belajar.

وَذٰلِكَ لَا يَدُلُّ عَلَى أَنَّ الرَّغْبَةَ فِيهِ مَحْمُودَةٌ.

Akan tetapi, itu tidak menunjukkan bahwa motivasi seperti itu adalah sesuatu yang terpuji.

وَلَوْلَا حُبُّ الرِّيَاسَةِ لَانْدَرَسَ الْعِلْمُ، وَلَا يَدُلُّ ذٰلِكَ عَلَى أَنَّ طَالِبَ الرِّيَاسَةِ نَاجٍ.

Dan kalau bukan karena cinta kedudukan, mungkin ilmu akan lenyap. Namun hal itu tidak menunjukkan bahwa pencari kedudukan akan selamat.

بَلْ هُوَ مِنَ الَّذِينَ قَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِيهِمْ: إِنَّ اللَّهَ لَيُؤَيِّدُ هٰذَا الدِّينَ بِأَقْوَامٍ لَا خَلَاقَ لَهُمْ.

Bahkan ia termasuk orang-orang yang dimaksud dalam sabda Nabi , “Sesungguhnya Allah benar-benar menolong agama ini dengan kaum yang tidak memiliki bagian di sisi Allah.”

وَقَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنَّ اللَّهَ لَيُؤَيِّدُ هٰذَا الدِّينَ بِالرَّجُلِ الْفَاجِرِ.

Dan Nabi bersabda, “Sesungguhnya Allah benar-benar menolong agama ini dengan orang yang fajir.”

فَطَالِبُ الرِّيَاسَةِ فِي نَفْسِهِ هَالِكٌ، وَقَدْ يَصْلُحُ بِسَبَبِهِ غَيْرُهُ إِنْ كَانَ يَدْعُو إِلَى تَرْكِ الدُّنْيَا.

Maka pencari kedudukan itu pada dirinya sendiri binasa. Namun bisa jadi orang lain memperoleh kebaikan karenanya, jika ia mengajak untuk meninggalkan dunia.

وَذٰلِكَ فِيمَنْ كَانَ ظَاهِرُ حَالِهِ فِي ظَاهِرِ الْأَمْرِ ظَاهِرَ حَالِ عُلَمَاءِ السَّلَفِ، وَلٰكِنَّهُ يُضْمِرُ قَصْدَ الْجَاهِ.

Hal itu berlaku pada orang yang lahiriahnya, secara tampak, menyerupai lahiriah ulama salaf, tetapi dalam batinnya ia menyimpan tujuan mencari kedudukan.

فَمِثَالُهُ مِثَالُ الشَّمْعِ الَّذِي يَحْتَرِقُ فِي نَفْسِهِ وَيَسْتَضِيءُ بِهِ غَيْرُهُ، فَصَلَاحُ غَيْرِهِ فِي هَلَاكِهِ.

Perumpamaannya seperti lilin yang terbakar pada dirinya sendiri, sementara orang lain mendapatkan cahaya darinya. Kebaikan orang lain didapat melalui kebinasaannya.

فَأَمَّا إِذَا كَانَ يَدْعُو إِلَى طَلَبِ الدُّنْيَا فَمِثَالُهُ مِثَالُ النَّارِ الْمُحْرِقَةِ الَّتِي تَأْكُلُ نَفْسَهَا وَغَيْرَهَا.

Namun jika ia mengajak kepada pencarian dunia, maka perumpamaannya seperti api yang membakar, yang memakan dirinya sendiri dan orang lain.

فَالْعُلَمَاءُ ثَلَاثَةٌ: إِمَّا مُهْلِكُ نَفْسِهِ وَغَيْرِهِ، وَهُمْ الْمُصَرِّحُونَ بِطَلَبِ الدُّنْيَا وَالْمُقْبِلُونَ عَلَيْهَا.

Maka para ulama itu ada tiga golongan: ada yang membinasakan dirinya dan orang lain, yaitu mereka yang terang-terangan mencari dunia dan berpaling kepadanya.

وَإِمَّا مُسْعِدُ نَفْسِهِ وَغَيْرِهِ، وَهُمْ الدَّاعُونَ الْخَلْقَ إِلَى اللَّهِ سُبْحَانَهُ ظَاهِرًا وَبَاطِنًا.

Ada pula yang membahagiakan dirinya dan orang lain, yaitu mereka yang mengajak manusia kepada Allah Subhanahu wa Ta‘ala lahir dan batin.

وَإِمَّا مُهْلِكُ نَفْسِهِ مُسْعِدُ غَيْرِهِ، وَهُوَ الَّذِي يَدْعُو إِلَى الْآخِرَةِ، وَقَدْ رَفَضَ الدُّنْيَا فِي ظَاهِرِهِ، وَقَصْدُهُ فِي الْبَاطِنِ قَبُولُ الْخَلْقِ وَإِقَامَةُ الْجَاهِ.

Dan ada pula yang membinasakan dirinya tetapi membahagiakan orang lain, yaitu orang yang mengajak kepada akhirat, tampak meninggalkan dunia secara lahiriah, tetapi dalam batinnya ia menginginkan penerimaan manusia dan tegaknya kedudukan baginya.

فَانْظُرْ إِلَى نَفْسِكَ، أَتَكُونُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فِي حِزْبِ عُلَمَاءِ اللَّهِ وَعُمَّالِ اللَّهِ تَعَالَى، أَوْ فِي حِزْبَيْهِمَا، فَتَضْرِبَ بِسَهْمِكَ مَعَ كُلِّ فَرِيقٍ مِنْهُمَا؟

Maka lihatlah dirimu sendiri: apakah pada hari kiamat engkau akan berada dalam golongan ulama Allah dan para pengamal karena Allah Ta‘ala, ataukah engkau akan memperoleh bagian dalam dua golongan itu?

فَهٰذَا أَهَمُّ عَلَيْكَ مِنَ التَّقْلِيدِ لِمُجَرَّدِ الِاشْتِهَارِ.

Hal ini lebih penting bagimu daripada sekadar bertaklid kepada sesuatu yang hanya terkenal namanya.

كَمَا قِيلَ: خُذْ مَا تَرَاهُ، وَدَعْ شَيْئًا سَمِعْتَ بِهِ، فِي طُلْعَةِ الشَّمْسِ مَا يُغْنِيكَ عَنْ زُحَلٍ.

Sebagaimana dikatakan, “Ambillah apa yang engkau lihat sendiri, dan tinggalkan sesuatu yang hanya engkau dengar. Pada terbitnya matahari ada yang membuatmu tidak butuh kepada bintang Zuhal.”

عَلَى أَنَّا سَنَنْقُلُ مِنْ سِيرَةِ فُقَهَاءِ السَّلَفِ مَا تَعْلَمُ بِهِ أَنَّ الَّذِينَ انْتَحَلُوا مَذَاهِبَهُمْ ظَلَمُوهُمْ، وَأَنَّهُمْ مِنْ أَشَدِّ خُصَمَائِهِمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ.

Selain itu, kami akan menukil dari perjalanan fuqaha salaf sesuatu yang akan membuatmu tahu bahwa orang-orang yang mengaku mengikuti mazhab mereka sebenarnya telah menzalimi mereka, dan mereka termasuk lawan terkeras mereka pada hari kiamat.

فَإِنَّهُمْ مَا قَصَدُوا بِالْعِلْمِ إِلَّا وَجْهَ اللَّهِ تَعَالَى.

Karena sesungguhnya para salaf itu tidak mencari ilmu kecuali demi wajah Allah Ta‘ala.

وَقَدْ شُوهِدَ مِنْ أَحْوَالِهِمْ مَا هُوَ مِنْ عَلَامَاتِ عُلَمَاءِ الْآخِرَةِ، كَمَا سَيَأْتِي بَيَانُهُ فِي بَابِ عَلَامَاتِ عُلَمَاءِ الْآخِرَةِ.

Dan dari keadaan mereka telah tampak hal-hal yang termasuk tanda-tanda ulama akhirat, sebagaimana nanti akan dijelaskan dalam bab tanda-tanda ulama akhirat.

فَإِنَّهُمْ مَا كَانُوا مُتَجَرِّدِينَ لِعِلْمِ الْفِقْهِ، بَلْ كَانُوا مُشْتَغِلِينَ بِعِلْمِ الْقُلُوبِ وَمُرَاقِبِينَ لَهَا.

Mereka tidaklah hanya mengkhususkan diri untuk ilmu fikih semata, tetapi mereka juga sibuk dengan ilmu hati dan mengawasinya.

وَلٰكِنْ صَرَفَهُمْ عَنِ التَّدْرِيسِ وَالتَّصْنِيفِ فِيهِ مَا صَرَفَ الصَّحَابَةَ عَنِ التَّصْنِيفِ وَالتَّدْرِيسِ فِي الْفِقْهِ، مَعَ أَنَّهُمْ كَانُوا فُقَهَاءَ مُسْتَقِلِّينَ بِعِلْمِ الْفُتْيَا، وَالصَّوَارِفُ وَالدَّوَاعِي مُتَيَقَّنَةٌ، وَلَا حَاجَةَ إِلَى ذِكْرِهَا.

Akan tetapi, yang menghalangi mereka dari mengajar dan menulis dalam ilmu hati adalah sebab-sebab yang dahulu juga menghalangi para sahabat dari menulis dan mengajar dalam fikih, padahal mereka adalah fuqaha yang mandiri dalam ilmu fatwa. Sebab-sebab dan dorongan itu sudah pasti diketahui, sehingga tidak perlu lagi disebutkan.