Penjelasan tentang tipu daya dalam menyamakan perdebatan-perdebatan ini dengan musyawarah para sahabat dan pembahasan para salaf.
بَيَانُ التَّلْبِيسِ فِي تَشْبِيهِ هٰذِهِ الْمُنَاظَرَاتِ بِمُشَاوَرَاتِ الصَّحَابَةِ وَمُفَاوَضَاتِ السَّلَفِ
Penjelasan tentang tipu daya dalam menyamakan
perdebatan-perdebatan ini dengan musyawarah para sahabat dan pembahasan para
salaf.
اِعْلَمْ
أَنَّ هٰؤُلَاءِ قَدْ يَسْتَدْرِجُونَ النَّاسَ إِلَى ذٰلِكَ بِأَنْ يَقُولُوا:
غَرَضُنَا مِنَ الْمُنَاظَرَاتِ الْمُبَاحَثَةُ عَنِ الْحَقِّ لِيَتَّضِحَ،
فَإِنَّ الْحَقَّ مَطْلُوبٌ، وَالتَّعَاوُنُ عَلَى النَّظَرِ فِي الْعِلْمِ
وَتَوَارُدُ الْخَوَاطِرِ مُفِيدٌ وَمُؤَثِّرٌ.
Ketahuilah bahwa mereka terkadang menjerumuskan manusia
kepada hal itu dengan berkata, “Tujuan kami dari perdebatan adalah
mendiskusikan kebenaran agar menjadi jelas. Sebab kebenaran itu memang dicari,
dan saling membantu dalam menelaah ilmu serta bertemunya berbagai pemikiran itu
bermanfaat dan berpengaruh.”
هٰكَذَا
كَانَتْ عَادَةُ الصَّحَابَةِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ فِي مُشَاوَرَاتِهِمْ،
كَتَشَاوُرِهِمْ فِي مَسْأَلَةِ الْجَدِّ وَالْإِخْوَةِ، وَحَدِّ شُرْبِ
الْخَمْرِ، وَوُجُوبِ الْغُرْمِ عَلَى الْإِمَامِ إِذَا أَخْطَأَ، كَمَا نُقِلَ
مِنْ إِجْهَاضِ الْمَرْأَةِ جَنِينَهَا خَوْفًا مِنْ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ
عَنْهُ، وَكَمَا نُقِلَ مِنْ مَسَائِلِ الْفَرَائِضِ وَغَيْرِهَا.
“Demikianlah dahulu kebiasaan para sahabat radhiyallahu
‘anhum dalam musyawarah mereka, seperti musyawarah mereka tentang masalah kakek
dan saudara-saudara, batas hukuman minum khamar, wajibnya ganti rugi atas imam
jika ia salah, sebagaimana diriwayatkan tentang keguguran seorang wanita karena
takut kepada ‘Umar radhiyallahu ‘anhu, dan sebagaimana diriwayatkan pula dalam
masalah-masalah faraidh dan selainnya.”
وَمَا
نُقِلَ عَنِ الشَّافِعِيِّ وَأَحْمَدَ وَمُحَمَّدِ بْنِ الْحَسَنِ وَمَالِكٍ
وَأَبِي يُوسُفَ وَغَيْرِهِمْ مِنَ الْعُلَمَاءِ رَحِمَهُمُ اللَّهُ تَعَالَى.
“Demikian juga apa yang dinukil dari Asy-Syafi‘i, Ahmad,
Muhammad bin Al-Hasan, Malik, Abu Yusuf, dan selain mereka dari kalangan ulama,
semoga Allah Ta‘ala merahmati mereka.”
وَيُطْلِعُكَ
عَلَى هٰذَا التَّلْبِيسِ مَا أَذْكُرُهُ، وَهُوَ أَنَّ التَّعَاوُنَ عَلَى طَلَبِ
الْحَقِّ مِنَ الدِّينِ، وَلٰكِنْ لَهُ شُرُوطٌ وَعَلَامَاتٌ ثَمَانٍ.
Yang akan menyingkap kepadamu tipuan ini adalah apa yang
akan kusebutkan berikut. Yaitu bahwa saling membantu dalam mencari kebenaran
memang termasuk agama, tetapi ia memiliki delapan syarat dan tanda.
الْأَوَّلُ:
أَنْ لَا يَشْتَغِلَ بِهِ وَهُوَ مِنْ فُرُوضِ الْكِفَايَاتِ مَنْ لَمْ
يَتَفَرَّغْ مِنْ فُرُوضِ الْأَعْيَانِ.
Syarat pertama: orang yang belum selesai dari fardu ‘ain
tidak boleh menyibukkan diri dengan hal itu, karena hal tersebut termasuk fardu
kifayah.
وَمَنْ
عَلَيْهِ فَرْضُ عَيْنٍ فَاشْتَغَلَ بِفَرْضِ كِفَايَةٍ وَزَعَمَ أَنَّ
مَقْصُودَهُ الْحَقُّ فَهُوَ كَذَّابٌ.
Siapa yang masih memiliki kewajiban fardu ‘ain lalu
menyibukkan diri dengan fardu kifayah, sementara ia mengaku bahwa tujuannya
adalah kebenaran, maka ia adalah pendusta.
وَمِثَالُهُ
مَنْ يَتْرُكُ الصَّلَاةَ فِي نَفْسِهِ، وَيَتَجَرَّدُ فِي تَحْصِيلِ الثِّيَابِ
وَنَسْجِهَا، وَيَقُولُ: غَرَضِي أَسْتُرُ عَوْرَةَ مَنْ يُصَلِّي عُرْيَانًا
وَلَا يَجِدُ ثَوْبًا.
Perumpamaannya adalah seperti orang yang meninggalkan salat
bagi dirinya sendiri, lalu sibuk membuat pakaian dan menenunnya, sambil
berkata, “Tujuanku adalah menutup aurat orang yang salat telanjang karena tidak
menemukan pakaian.”
فَإِنَّ
ذٰلِكَ رُبَّمَا يَتَّفِقُ، وَوُقُوعُهُ مُمْكِنٌ، كَمَا يَزْعُمُ الْفَقِيهُ
أَنَّ وُقُوعَ النَّوَادِرِ الَّتِي عَنْهَا الْبَحْثُ فِي الْخِلَافِ مُمْكِنٌ.
Memang hal seperti itu mungkin saja terjadi, sebagaimana
seorang fakih mengklaim bahwa kejadian-kejadian langka yang dibahas dalam
khilafiyah itu mungkin saja terjadi.
وَالْمُشْتَغِلُونَ
بِالْمُنَاظَرَةِ مُهْمِلُونَ لِأُمُورٍ هِيَ فَرْضُ عَيْنٍ بِالِاتِّفَاقِ.
Padahal orang-orang yang sibuk berdebat justru mengabaikan
perkara-perkara yang secara sepakat merupakan fardu ‘ain.
وَمَنْ
تَوَجَّهَ عَلَيْهِ رَدُّ وَدِيعَةٍ فِي الْحَالِ، فَقَامَ وَأَحْرَمَ
بِالصَّلَاةِ الَّتِي هِيَ أَقْرَبُ الْقُرُبَاتِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى، عَصَى
بِهِ.
Siapa yang saat itu wajib segera mengembalikan titipan, lalu
ia justru berdiri untuk salat — padahal salat adalah bentuk pendekatan diri
yang paling agung kepada Allah Ta‘ala — maka ia berdosa dengan salatnya itu.
فَلَا
يَكْفِي فِي كَوْنِ الشَّخْصِ مُطِيعًا كَوْنُ فِعْلِهِ مِنْ جِنْسِ الطَّاعَاتِ،
مَا لَمْ يُرَاعَ فِيهِ الْوَقْتُ وَالشُّرُوطُ وَالتَّرْتِيبُ.
Maka tidak cukup untuk menjadikan seseorang itu taat hanya
karena perbuatannya termasuk jenis ketaatan, selama waktu, syarat, dan
urutannya tidak diperhatikan.
الثَّانِي:
أَنْ لَا يَرَى فَرْضَ كِفَايَةٍ أَهَمَّ مِنَ الْمُنَاظَرَةِ، فَإِنْ رَأَى مَا
هُوَ أَهَمُّ وَفَعَلَ غَيْرَهُ عَصَى بِفِعْلِهِ.
Syarat kedua: ia tidak boleh melihat ada fardu kifayah lain
yang lebih penting daripada perdebatan. Jika ia mengetahui ada yang lebih
penting lalu tetap melakukan selainnya, maka ia berdosa dengan perbuatannya
itu.
وَكَانَ
مِثَالُهُ مِثَالَ مَنْ يَرَى جَمَاعَةً مِنَ الْعِطَاشِ أَشْرَفُوا عَلَى
الْهَلَاكِ، وَقَدْ أَهْمَلَهُمُ النَّاسُ، وَهُوَ قَادِرٌ عَلَى إِحْيَائِهِمْ
بِأَنْ يَسْقِيَهُمُ الْمَاءَ، فَاشْتَغَلَ بِتَعَلُّمِ الْحِجَامَةِ وَزَعَمَ
أَنَّهَا مِنْ فُرُوضِ الْكِفَايَاتِ.
Contohnya adalah seperti seseorang yang melihat sekelompok
orang kehausan hampir mati, sementara manusia telah mengabaikan mereka, dan ia
mampu menyelamatkan mereka dengan memberi mereka air, tetapi malah sibuk
mempelajari bekam dengan alasan bahwa bekam termasuk fardu kifayah.
وَلَوْ
خَلَا الْبَلَدُ عَنْهَا لَهَلَكَ النَّاسُ.
Ia berkata bahwa jika negeri itu kosong dari tukang bekam,
maka manusia akan binasa.
وَإِذَا
قِيلَ لَهُ: فِي الْبَلَدِ جَمَاعَةٌ مِنَ الْحَجَّامِينَ وَفِيهِمْ غُنْيَةٌ،
يَقُولُ: هٰذَا لَا يُخْرِجُ هٰذَا الْفِعْلَ عَنْ كَوْنِهِ فَرْضَ كِفَايَةٍ.
Jika dikatakan kepadanya, “Di negeri itu ada sejumlah tukang
bekam yang sudah mencukupi,” ia menjawab, “Itu tidak mengeluarkan perbuatan ini
dari statusnya sebagai fardu kifayah.”
فَحَالُ
مَنْ يَفْعَلُ هٰذَا وَيُهْمِلُ الِاشْتِغَالَ بِالْوَاقِعَةِ الْمُلِمَّةِ
بِجَمَاعَةِ الْعِطَاشِ مِنَ الْمُسْلِمِينَ، كَحَالِ الْمُشْتَغِلِ
بِالْمُنَاظَرَةِ وَفِي الْبَلَدِ فُرُوضُ كِفَايَاتٍ مُهْمَلَةٌ لَا قَائِمَ
بِهَا.
Keadaan orang yang berbuat demikian dan mengabaikan kejadian
nyata yang menimpa sekelompok kaum muslimin yang kehausan, sama seperti orang
yang sibuk berdebat, padahal di negerinya ada fardu-fardu kifayah yang
terbengkalai dan tidak ada yang mengerjakannya.
فَأَمَّا
الْفُتْيَا فَقَدْ قَامَ بِهَا جَمَاعَةٌ، وَلَا يَخْلُو بَلَدٌ مِنْ جُمْلَةِ
الْفُرُوضِ الْمُهْمَلَةِ، وَلَا يَلْتَفِتُ الْفُقَهَاءُ إِلَيْهَا.
Adapun fatwa, maka telah ada banyak orang yang menanganinya.
Dan tidak ada satu negeri pun yang kosong dari fardu-fardu yang terbengkalai,
tetapi para fuqaha tidak menoleh kepadanya.
وَأَقْرَبُهَا
الطِّبُّ، إِذْ لَا يُوجَدُ فِي أَكْثَرِ الْبِلَادِ طَبِيبٌ مُسْلِمٌ يَجُوزُ
اعْتِمَادُ شَهَادَتِهِ فِيمَا يُعَوَّلُ فِيهِ عَلَى قَوْلِ الطَّبِيبِ شَرْعًا.
Yang paling dekat contohnya adalah kedokteran, karena di
kebanyakan negeri tidak ditemukan dokter muslim yang boleh dijadikan pegangan
kesaksiannya dalam perkara-perkara yang secara syariat bergantung pada pendapat
dokter.
وَلَا
يَرْغَبُ أَحَدٌ مِنَ الْفُقَهَاءِ فِي الِاشْتِغَالِ بِهِ.
Namun tidak ada seorang pun dari fuqaha yang berminat
menekuninya.
وَكَذٰلِكَ
الْأَمْرُ بِالْمَعْرُوفِ وَالنَّهْيُ عَنِ الْمُنْكَرِ، فَهُوَ مِنْ فُرُوضِ
الْكِفَايَاتِ.
Demikian pula amar makruf dan nahi mungkar, karena ia
termasuk fardu kifayah.
وَرُبَّمَا
كَانَ الْمُنَاظِرُ فِي مَجْلِسِ مُنَاظَرَتِهِ مُشَاهِدًا لِلْحَرِيرِ مَلْبُوسًا
وَمَفْرُوشًا، وَهُوَ سَاكِتٌ.
Bahkan terkadang orang yang sedang berdebat di majelisnya
melihat sutra dipakai dan dibentangkan, tetapi ia diam saja.
وَيُنَاظِرُ
فِي مَسْأَلَةٍ لَا يَتَّفِقُ وُقُوعُهَا قَطُّ، وَإِنْ وَقَعَتْ قَامَ بِهَا
جَمَاعَةٌ مِنَ الْفُقَهَاءِ.
Sebaliknya, ia malah berdebat tentang persoalan yang hampir
tidak pernah terjadi. Kalaupun terjadi, sudah ada sekelompok fuqaha yang
sanggup menanganinya.
ثُمَّ
يَزْعُمُ أَنَّهُ يُرِيدُ أَنْ يَتَقَرَّبَ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى بِفُرُوضِ
الْكِفَايَاتِ.
Lalu ia mengklaim bahwa ia ingin mendekatkan diri kepada
Allah Ta‘ala melalui fardu-fardu kifayah.
وَقَدْ
رَوَى أَنَسٌ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّهُ قِيلَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، مَتَى
يُتْرَكُ الْأَمْرُ بِالْمَعْرُوفِ وَالنَّهْيُ عَنِ الْمُنْكَرِ؟
Anas radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa pernah
ditanyakan, “Wahai Rasulullah, kapan amar makruf dan nahi mungkar itu
ditinggalkan?”
فَقَالَ
عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ: إِذَا ظَهَرَتِ الْمُدَاهَنَةُ فِي
خِيَارِكُمْ، وَالْفَاحِشَةُ فِي شِرَارِكُمْ، وَتَحَوَّلَ الْمُلْكُ فِي
صِغَارِكُمْ، وَالْفِقْهُ فِي أَرَاذِلِكُمْ.
Maka beliau ‘alaihis-shalatu was-salam menjawab, “Apabila
sikap menjilat telah tampak pada orang-orang terbaik kalian, perbuatan keji
tampak pada orang-orang jahat kalian, kekuasaan berpindah ke tangan orang-orang
kecil di antara kalian, dan fikih berada pada orang-orang hina di antara
kalian.”
الثَّالِثُ:
أَنْ يَكُونَ الْمُنَاظِرُ مُجْتَهِدًا يُفْتِي بِرَأْيِهِ لَا بِمَذْهَبِ
الشَّافِعِيِّ وَأَبِي حَنِيفَةَ وَغَيْرِهِمَا، حَتَّى إِذَا ظَهَرَ لَهُ
الْحَقُّ مِنْ مَذْهَبِ أَبِي حَنِيفَةَ تَرَكَ مَا يُوَافِقُ رَأْيَ
الشَّافِعِيِّ، وَأَفْتَى بِمَا ظَهَرَ لَهُ، كَمَا كَانَ يَفْعَلُهُ الصَّحَابَةُ
رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَالْأَئِمَّةُ.
Syarat ketiga: orang yang berdebat itu harus seorang
mujtahid yang berfatwa dengan pendapatnya sendiri, bukan sekadar dengan mazhab
Asy-Syafi‘i, Abu Hanifah, atau selain keduanya. Sehingga jika tampak baginya
kebenaran dari mazhab Abu Hanifah, ia meninggalkan apa yang sesuai dengan
pendapat Asy-Syafi‘i dan berfatwa dengan apa yang tampak benar baginya,
sebagaimana dilakukan oleh para sahabat radhiyallahu ‘anhum dan para imam.
فَأَمَّا
مَنْ لَيْسَ لَهُ رُتْبَةُ الِاجْتِهَادِ، وَهُوَ حُكْمُ كُلِّ أَهْلِ الْعَصْرِ،
وَإِنَّمَا يُفْتِي فِيمَا يُسْأَلُ عَنْهُ نَاقِلًا عَنْ مَذْهَبِ صَاحِبِهِ،
فَلَوْ ظَهَرَ لَهُ ضَعْفُ مَذْهَبِهِ لَمْ يَجُزْ لَهُ أَنْ يَتْرُكَهُ، فَأَيُّ
فَائِدَةٍ لَهُ فِي الْمُنَاظَرَةِ؟
Adapun orang yang tidak memiliki derajat ijtihad — dan
inilah keadaan seluruh orang pada masa ini — yang hanya berfatwa dengan menukil
dari mazhab imamnya dalam apa yang ditanyakan kepadanya, maka jika tampak
baginya kelemahan mazhabnya sendiri, ia tetap tidak boleh meninggalkannya. Lalu
apa faedah perdebatan baginya?
وَمَذْهَبُهُ
مَعْلُومٌ، وَلَيْسَ لَهُ الْفُتْيَا بِغَيْرِهِ.
Mazhabnya sudah diketahui, dan ia tidak boleh berfatwa
dengan selainnya.
وَمَا
يَشْكُلُ عَلَيْهِ يَلْزَمُهُ أَنْ يَقُولَ: لَعَلَّ عِنْدَ صَاحِبِ مَذْهَبِي
جَوَابًا عَنْ هٰذَا، فَإِنِّي لَسْتُ مُسْتَقِلًّا بِالِاجْتِهَادِ فِي أَصْلِ
الشَّرْعِ.
Apa pun yang terasa sulit baginya, ia harus mengatakan,
“Barangkali imam mazhabku memiliki jawaban tentang ini, karena aku tidak
mandiri dalam ijtihad pada pokok syariat.”
وَلَوْ
كَانَتْ مُبَاحَثَتُهُ عَنِ الْمَسَائِلِ الَّتِي فِيهَا وَجْهَانِ أَوْ قَوْلَانِ
لِصَاحِبِهِ، لَكَانَ أَشْبَهَ.
Seandainya perbahasannya hanya berkaitan dengan
masalah-masalah yang dalam mazhab imamnya sendiri ada dua pendapat atau dua
wajah, tentu itu lebih mendekati kebenaran.
فَإِنَّهُ
رُبَّمَا يُفْتِي بِأَحَدِهِمَا، فَيَسْتَفِيدُ مِنَ الْبَحْثِ مَيْلًا إِلَى
أَحَدِ الْجَانِبَيْنِ.
Sebab mungkin saja ia akan berfatwa dengan salah satunya,
sehingga dari pembahasan itu ia bisa mendapatkan kecenderungan kepada salah
satu sisi.
وَلَا
نَرَى الْمُنَاظَرَاتِ جَارِيَةً فِيهَا قَطُّ، بَلْ رُبَّمَا تَرَكُوا
الْمَسْأَلَةَ الَّتِي فِيهَا وَجْهَانِ أَوْ قَوْلَانِ، وَطَلَبُوا مَسْأَلَةً
يَكُونُ الْخِلَافُ فِيهَا مَبْتُوتًا.
Namun kita sama sekali tidak melihat perdebatan berlangsung
dalam masalah seperti itu. Bahkan, mereka justru meninggalkan masalah yang di
dalamnya ada dua wajah atau dua pendapat, dan mencari masalah yang
perselisihannya sudah pasti antara dua kubu.
الرَّابِعُ:
أَنْ لَا يُنَاظِرَ إِلَّا فِي مَسْأَلَةٍ وَاقِعَةٍ أَوْ قَرِيبَةِ الْوُقُوعِ
غَالِبًا.
Syarat keempat: janganlah ia berdebat kecuali dalam masalah
yang benar-benar terjadi atau yang kemungkinan terjadinya dekat menurut
kebiasaan.
فَإِنَّ
الصَّحَابَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ مَا تَشَاوَرُوا إِلَّا فِيمَا تَجَدَّدَ
مِنَ الْوَقَائِعِ أَوْ مَا يَغْلِبُ وُقُوعُهُ، كَالْفَرَائِضِ.
Sebab para sahabat radhiyallahu ‘anhum tidaklah
bermusyawarah kecuali dalam perkara-perkara yang benar-benar terjadi atau yang
besar kemungkinan akan terjadi, seperti masalah faraidh.
وَلَا
نَرَى الْمُنَاظِرِينَ يَهْتَمُّونَ بِانْتِقَادِ الْمَسَائِلِ الَّتِي تَعُمُّ
الْبَلْوَى بِالْفُتْيَا فِيهَا، بَلْ يَطْلُبُونَ الطُّبُولِيَّاتِ الَّتِي
تُسْمَعُ، فَيَتَّسِعُ مَجَالُ الْجَدَلِ فِيهَا كَيْفَمَا كَانَ الْأَمْرُ.
Kita tidak melihat para pendebat memperhatikan pembahasan
masalah-masalah yang umum dibutuhkan fatwanya. Sebaliknya, mereka mencari
masalah-masalah yang ramai dibicarakan dan dapat ditabuh seperti genderang,
agar medan debat menjadi luas baginya bagaimanapun keadaannya.
وَرُبَّمَا
يَتْرُكُونَ مَا يَكْثُرُ وُقُوعُهُ، وَيَقُولُونَ: هٰذِهِ مَسْأَلَةٌ
خَبَرِيَّةٌ، أَوْ هِيَ مِنَ الزَّوَايَا، وَلَيْسَتْ مِنَ الطُّبُولِيَّاتِ.
Bahkan terkadang mereka meninggalkan masalah yang sering
terjadi, lalu berkata, “Ini hanya masalah khabariyyah,” atau “Ini termasuk
masalah sudut-sudut kecil,” dan “bukan masalah yang pantas ditabuh dan
diramaikan.”
فَمِنَ
الْعَجَائِبِ أَنْ يَكُونَ الْمَطْلَبُ هُوَ الْحَقَّ، ثُمَّ يَتْرُكُوا
الْمَسْأَلَةَ لِأَنَّهَا خَبَرِيَّةٌ، وَمَدْرَكُ الْحَقِّ فِيهَا هُوَ
الْإِخْبَارُ، أَوْ لِأَنَّهَا لَيْسَتْ مِنَ الطُّبُولِ، فَلَا نُطِيلُ فِيهَا
الْكَلَامَ.
Sungguh mengherankan bila tujuan yang mereka akui adalah
kebenaran, tetapi mereka meninggalkan suatu masalah hanya karena ia termasuk
masalah khabariyyah, yang jalan mengetahui kebenaran di dalamnya justru melalui
berita, atau karena ia bukan termasuk masalah yang ramai ditabuh, sehingga
menurut mereka tidak perlu dipanjangkan pembahasannya.
وَالْمَقْصُودُ
فِي الْحَقِّ أَنْ يَقْصُرَ الْكَلَامُ وَيَبْلُغَ الْغَايَةَ عَلَى الْقُرْبِ،
لَا أَنْ يَطُولَ.
Padahal tujuan dalam mencari kebenaran itu adalah agar
pembicaraan dipersingkat namun sampai kepada hasil dengan cepat, bukan agar ia
dipanjangkan.
الْخَامِسُ:
أَنْ تَكُونَ الْمُنَاظَرَةُ فِي الْخَلْوَةِ أَحَبَّ إِلَيْهِ وَأَهَمَّ مِنَ
الْمَحَافِلِ وَبَيْنَ أَظْهُرِ الْأَكَابِرِ وَالسَّلَاطِينِ.
Syarat kelima: hendaknya perdebatan dalam suasana tertutup
lebih ia sukai dan lebih ia anggap penting daripada perdebatan di hadapan
keramaian, para pembesar, dan para penguasa.
فَإِنَّ
الْخَلْوَةَ أَجْمَعُ لِلْفَهْمِ، وَأَحْرَى بِصَفَاءِ الذِّهْنِ وَالْفِكْرِ
وَدَرْكِ الْحَقِّ.
Sebab suasana tertutup lebih menghimpun pemahaman, lebih
dekat kepada kejernihan pikiran dan perenungan, serta lebih memungkinkan untuk
mencapai kebenaran.
وَفِي
حُضُورِ الْجَمْعِ مَا يُحَرِّكُ دَوَاعِيَ الرِّيَاءِ، وَيُوجِبُ الْحِرْصَ عَلَى
نُصْرَةِ كُلِّ وَاحِدٍ نَفْسَهُ، مُحِقًّا كَانَ أَوْ مُبْطِلًا.
Sedangkan hadirnya banyak orang membangkitkan dorongan riya
dan menimbulkan keinginan kuat agar masing-masing orang membela dirinya
sendiri, baik ia berada di pihak yang benar maupun yang batil.
وَأَنْتَ
تَعْلَمُ أَنَّ حِرْصَهُمْ عَلَى الْمَحَافِلِ وَالْمَجَامِعِ لَيْسَ لِلَّهِ.
Engkau mengetahui bahwa semangat mereka untuk hadir di
forum-forum besar dan perkumpulan-perkumpulan bukanlah karena Allah.
وَأَنَّ
الْوَاحِدَ مِنْهُمْ يَخْلُو بِصَاحِبِهِ مُدَّةً طَوِيلَةً فَلَا يُكَلِّمُهُ،
وَرُبَّمَا يَقْتَرِحُ عَلَيْهِ فَلَا يُجِيبُهُ.
Masing-masing dari mereka kadang berduaan dengan temannya
dalam waktu lama, tetapi tidak mengajaknya berdiskusi. Bahkan terkadang
temannya mengusulkan pembahasan, tetapi ia tidak menjawabnya.
وَإِذَا
ظَهَرَ مُقَدَّمٌ أَوِ انْتَظَمَ مَجْمَعٌ لَمْ يُغَادِرْ فِي قَوْسِ
الِاحْتِيَالِ مَنْزَعًا حَتَّى يَكُونَ هُوَ الْمُتَخَصِّصَ بِالْكَلَامِ.
Tetapi jika ada seorang pembesar datang atau sebuah forum
besar tersusun, ia tidak akan meninggalkan satu celah pun dari berbagai siasat
agar dialah yang secara khusus tampil berbicara.
السَّادِسُ:
أَنْ يَكُونَ فِي طَلَبِ الْحَقِّ كَنَاشِدِ ضَالَّةٍ، لَا يُفَرِّقُ بَيْنَ أَنْ
تَظْهَرَ الضَّالَّةُ عَلَى يَدِهِ أَوْ عَلَى يَدِ مَنْ يُعَاوِنُهُ، وَيَرَى
رَفِيقَهُ مُعِينًا لَا خَصْمًا، وَيَشْكُرُهُ إِذَا عَرَّفَهُ الْخَطَأَ
وَأَظْهَرَ لَهُ الْحَقَّ.
Syarat keenam: hendaknya dalam mencari kebenaran ia seperti
orang yang mencari barang hilang. Ia tidak membedakan apakah barang hilang itu
ditemukan melalui tangannya sendiri atau melalui tangan orang yang membantunya.
Ia memandang temannya sebagai penolong, bukan lawan, dan berterima kasih jika
temannya menunjukkan kesalahannya dan menampakkan kebenaran kepadanya.
كَمَا
لَوْ أَخَذَ طَرِيقًا فِي طَلَبِ ضَالَّتِهِ، فَنَبَّهَهُ صَاحِبُهُ عَلَى
ضَالَّتِهِ فِي طَرِيقٍ آخَرَ، فَإِنَّهُ كَانَ يَشْكُرُهُ وَلَا يَذُمُّهُ،
وَيُكْرِمُهُ وَيَفْرَحُ بِهِ.
Sebagaimana orang yang menempuh suatu jalan untuk mencari
barangnya yang hilang, lalu temannya menunjukkan bahwa barang itu ada di jalan
lain. Tentu ia akan berterima kasih kepadanya, bukan mencelanya. Ia akan
memuliakannya dan bergembira karenanya.
فَهٰكَذَا
كَانَتْ مُشَاوَرَاتُ الصَّحَابَةِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ، حَتَّى إِنَّ
امْرَأَةً رَدَّتْ عَلَى عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ وَنَبَّهَتْهُ عَلَى
الْحَقِّ وَهُوَ فِي خُطْبَتِهِ عَلَى مَلَإٍ مِنَ النَّاسِ، فَقَالَ: أَصَابَتِ
امْرَأَةٌ وَأَخْطَأَ رَجُلٌ.
Begitulah musyawarah para sahabat radhiyallahu ‘anhum.
Bahkan pernah seorang wanita membantah ‘Umar radhiyallahu ‘anhu dan
mengingatkannya kepada kebenaran saat beliau sedang berkhutbah di hadapan
banyak orang, lalu beliau berkata, “Seorang wanita benar, dan seorang laki-laki
salah.”
وَسَأَلَ
رَجُلٌ عَلِيًّا رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ فَأَجَابَهُ، فَقَالَ: لَيْسَ كَذٰلِكَ يَا
أَمِيرَ الْمُؤْمِنِينَ، وَلٰكِنْ كَذَا وَكَذَا.
Seseorang pernah bertanya kepada ‘Ali radhiyallahu ‘anhu,
lalu beliau menjawabnya. Orang itu berkata, “Bukan demikian, wahai Amirul
Mukminin, tetapi begini dan begini.”
فَقَالَ:
أَصَبْتَ وَأَخْطَأْتُ، وَفَوْقَ كُلِّ ذِي عِلْمٍ عَلِيمٌ.
Maka ‘Ali menjawab, “Engkau benar dan aku salah, dan di atas
setiap orang yang berilmu ada Yang Maha Mengetahui.”
وَاسْتَدْرَكَ
ابْنُ مَسْعُودٍ عَلَى أَبِي مُوسَى الْأَشْعَرِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا،
فَقَالَ أَبُو مُوسَى: لَا تَسْأَلُونِي عَنْ شَيْءٍ وَهٰذَا الْحَبْرُ بَيْنَ
أَظْهُرِكُمْ.
Ibnu Mas‘ud pernah mengoreksi Abu Musa Al-Asy‘ari
radhiyallahu ‘anhuma, lalu Abu Musa berkata, “Janganlah kalian bertanya
kepadaku tentang sesuatu selama ulama besar ini masih ada di tengah-tengah
kalian.”
وَذٰلِكَ
لَمَّا سُئِلَ أَبُو مُوسَى عَنْ رَجُلٍ قَاتَلَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَقُتِلَ،
فَقَالَ: هُوَ فِي الْجَنَّةِ، وَكَانَ أَمِيرَ الْكُوفَةِ.
Hal itu terjadi ketika Abu Musa — yang saat itu menjadi
gubernur Kufah — ditanya tentang seseorang yang berperang di jalan Allah lalu
terbunuh, maka ia menjawab, “Ia berada di surga.”
فَقَامَ
ابْنُ مَسْعُودٍ فَقَالَ: أَعِدْهُ عَلَى الْأَمِيرِ، فَلَعَلَّهُ لَمْ يَفْهَمْ.
Lalu Ibnu Mas‘ud berdiri dan berkata, “Ulangilah pertanyaan
itu kepada sang amir, barangkali ia belum memahami maksudnya.”
فَأَعَادُوا
عَلَيْهِ، فَأَعَادَ الْجَوَابَ.
Mereka pun mengulanginya, dan Abu Musa mengulang jawaban
yang sama.
فَقَالَ
ابْنُ مَسْعُودٍ: وَأَنَا أَقُولُ: إِنْ قُتِلَ فَأَصَابَ الْحَقَّ فَهُوَ فِي
الْجَنَّةِ.
Maka Ibnu Mas‘ud berkata, “Aku mengatakan: jika ia terbunuh
dalam keadaan berada di atas kebenaran, maka ia di surga.”
فَقَالَ
أَبُو مُوسَى: الْحَقُّ مَا قَالَ.
Abu Musa pun berkata, “Yang benar adalah apa yang ia
katakan.”
وَهٰكَذَا
يَكُونُ إِنْصَافُ طَلَبِ الْحَقِّ.
Demikianlah seharusnya keadilan dalam mencari kebenaran.
وَلَوْ
ذُكِرَ مِثْلُ هٰذَا الْيَوْمَ لِأَقَلِّ فَقِيهٍ لَأَنْكَرَهُ وَاسْتَبْعَدَهُ،
وَقَالَ: لَا يَحْتَاجُ إِلَى أَنْ يُقَالَ أَصَابَ الْحَقَّ، فَإِنَّ ذٰلِكَ
مَعْلُومٌ لِكُلِّ أَحَدٍ.
Seandainya hal seperti ini disebutkan hari ini kepada
seorang fakih yang paling rendah sekalipun, niscaya ia akan mengingkarinya dan
menganggapnya mustahil, lalu berkata, “Tidak perlu dikatakan ‘ia benar dalam
mencapai kebenaran’, karena itu sudah diketahui oleh semua orang.”
فَانْظُرْ
إِلَى مُنَاظِرِي زَمَانِكَ الْيَوْمَ كَيْفَ يَسْوَدُّ وَجْهُ أَحَدِهِمْ إِذَا
اتَّضَحَ الْحَقُّ عَلَى لِسَانِ خَصْمِهِ، وَكَيْفَ يَخْجَلُ بِهِ، وَكَيْفَ
يَجْهَدُ فِي مُجَاحَدَتِهِ بِأَقْصَى قُدْرَتِهِ، وَكَيْفَ يَذُمُّ مَنْ
أَفْحَمَهُ طُولَ عُمُرِهِ.
Maka lihatlah para pendebat pada zamanmu sekarang: bagaimana
wajah salah seorang dari mereka menjadi hitam ketika kebenaran tampak melalui
lisan lawannya, bagaimana ia merasa malu karenanya, bagaimana ia mengerahkan
seluruh tenaganya untuk menolaknya, dan bagaimana ia terus mencela orang yang
telah mengalahkannya sepanjang hidupnya.
ثُمَّ
لَا يَسْتَحْيِي مِنْ تَشْبِيهِ نَفْسِهِ بِالصَّحَابَةِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ
فِي تَعَاوُنِهِمْ عَلَى النَّظَرِ فِي الْحَقِّ.
Kemudian ia tetap tidak malu untuk menyamakan dirinya dengan
para sahabat radhiyallahu ‘anhum dalam hal saling membantu menelaah kebenaran.
السَّابِعُ:
أَنْ لَا يَمْنَعَ مُعِينَهُ فِي النَّظَرِ مِنَ الِانْتِقَالِ مِنْ دَلِيلٍ إِلَى
دَلِيلٍ، وَمِنْ إِشْكَالٍ إِلَى إِشْكَالٍ.
Syarat ketujuh: ia tidak boleh menghalangi orang yang
menolongnya dalam penelitian untuk berpindah dari satu dalil ke dalil yang
lain, dan dari satu persoalan ke persoalan yang lain.
فَهٰكَذَا
كَانَتْ مُنَاظَرَاتُ السَّلَفِ.
Demikianlah dahulu perdebatan para salaf.
وَيَخْرُجُ
مِنْ كَلَامِهِ جَمِيعُ دَقَائِقِ الْجَدَلِ الْمُبْتَدَعَةِ فِيمَا لَهُ
وَعَلَيْهِ، كَقَوْلِهِ: هٰذَا لَا يَلْزَمُنِي ذِكْرُهُ، وَهٰذَا يُنَاقِضُ
كَلَامَكَ الْأَوَّلَ، فَلَا يُقْبَلُ مِنْكَ.
Dengan syarat ini, gugurlah seluruh rincian debat yang
diada-adakan tentang apa yang menguntungkannya dan merugikannya, seperti
ucapannya, “Aku tidak wajib menyebut ini,” atau “Ini bertentangan dengan
ucapanmu yang pertama, maka tidak bisa diterima darimu.”
فَإِنَّ
الرُّجُوعَ إِلَى الْحَقِّ مُنَاقِضٌ لِلْبَاطِلِ، وَيَجِبُ قَبُولُهُ.
Sebab kembali kepada kebenaran memang bertentangan dengan
kebatilan, dan itu justru wajib diterima.
وَأَنْتَ
تَرَى أَنَّ جَمِيعَ الْمَجَالِسِ تَنْقَضِي فِي الْمُدَافَعَاتِ
وَالْمُجَادَلَاتِ، حَتَّى يَقِيسَ الْمُسْتَدِلُّ عَلَى أَصْلٍ بِعِلَّةٍ
يَظُنُّهَا، فَيُقَالُ لَهُ: مَا الدَّلِيلُ عَلَى أَنَّ الْحُكْمَ فِي الْأَصْلِ
مُعَلَّلٌ بِهٰذِهِ الْعِلَّةِ؟
Dan engkau melihat bahwa seluruh majelis habis dalam
bantah-bantahan dan debat, sampai-sampai ketika orang yang berdalil melakukan
qiyas kepada satu asal dengan suatu ‘illat yang ia duga, maka dikatakan
kepadanya, “Apa dalil bahwa hukum pada asal itu memang disebabkan oleh ‘illat
ini?”
فَيَقُولُ:
هٰذَا مَا ظَهَرَ لِي، فَإِنْ ظَهَرَ لَكَ مَا هُوَ أَوْضَحُ مِنْهُ وَأَوْلَى،
فَاذْكُرْهُ حَتَّى أَنْظُرَ فِيهِ.
Lalu ia menjawab, “Inilah yang tampak bagiku. Jika tampak
bagimu sesuatu yang lebih jelas dan lebih tepat daripadanya, maka sebutkanlah
agar aku mempertimbangkannya.”
فَيُصِرُّ
الْمُعْتَرِضُ وَيَقُولُ: فِيهِ مَعَانٍ سِوَى مَا ذَكَرْتَ، وَقَدْ عَرَفْتُهَا،
وَلَا أَذْكُرُهَا إِذْ لَا يَلْزَمُنِي ذِكْرُهَا.
Namun si penyanggah bersikeras dan berkata, “Di dalamnya ada
makna-makna lain selain yang engkau sebutkan, dan aku sudah mengetahuinya,
tetapi aku tidak akan menyebutkannya, karena aku tidak wajib menyebutkannya.”
وَيَقُولُ
الْمُسْتَدِلُّ: عَلَيْكَ إِيرَادُ مَا تَدَّعِيهِ وَرَاءَ هٰذَا.
Maka orang yang berdalil berkata, “Engkau wajib menyebutkan
apa yang engkau klaim ada di balik ini.”
وَيُصِرُّ
الْمُعْتَرِضُ عَلَى أَنَّهُ لَا يَلْزَمُهُ، وَيَتَوَخَّى مَجَالِسَ
الْمُنَاظَرَةِ بِهٰذَا الْجِنْسِ مِنَ السُّؤَالِ وَأَمْثَالِهِ.
Akan tetapi, si penyanggah tetap bersikeras bahwa hal itu
tidak wajib atasnya, dan ia menjadikan jenis pertanyaan semacam ini dan yang
serupa sebagai andalannya dalam majelis-majelis debat.
وَلَا
يَعْرِفُ هٰذَا الْمِسْكِينُ أَنَّ قَوْلَهُ: إِنِّي أَعْرِفُهُ وَلَا أَذْكُرُهُ
إِذْ لَا يَلْزَمُنِي، كَذِبٌ عَلَى الشَّرْعِ.
Orang miskin ini tidak menyadari bahwa ucapannya, “Aku
mengetahuinya tetapi tidak akan menyebutkannya karena itu tidak wajib atasku,”
adalah kedustaan atas nama syariat.
فَإِنْ
كَانَ لَا يَعْرِفُ مَعْنَاهُ، وَإِنَّمَا يَدَّعِيهِ لِيُعْجِزَ خَصْمَهُ، فَهُوَ
فَاسِقٌ كَذَّابٌ، عَصَى اللَّهَ تَعَالَى، وَتَعَرَّضَ لِسَخَطِهِ بِدَعْوَاهُ
مَعْرِفَةَ مَا هُوَ خَالٍ عَنْهُ.
Jika sebenarnya ia tidak mengetahui maknanya dan hanya
mengklaimnya untuk melemahkan lawannya, maka ia adalah fasik dan pendusta. Ia
telah bermaksiat kepada Allah Ta‘ala dan menantang kemurkaan-Nya dengan mengaku
mengetahui sesuatu yang sebenarnya ia kosong darinya.
وَإِنْ
كَانَ صَادِقًا فَقَدْ فَسَقَ بِإِخْفَائِهِ مَا عَرَفَهُ مِنْ أَمْرِ الشَّرْعِ.
Dan jika ia benar-benar mengetahuinya, maka ia telah berbuat
fasik dengan menyembunyikan apa yang diketahuinya dari urusan syariat.
وَقَدْ
سَأَلَهُ أَخُوهُ الْمُسْلِمُ لِيُفَهِّمَهُ وَيَنْظُرَ فِيهِ، فَإِنْ كَانَ
قَوِيًّا رَجَعَ إِلَيْهِ، وَإِنْ كَانَ ضَعِيفًا أَظْهَرَ لَهُ ضَعْفَهُ،
وَأَخْرَجَهُ مِنْ ظُلْمَةِ الْجَهْلِ إِلَى نُورِ الْعِلْمِ.
Padahal saudaranya sesama muslim telah bertanya kepadanya
agar ia memahamkannya dan menelaahnya bersama. Jika saudaranya itu kuat, ia
akan kembali kepada kebenaran. Dan jika lemah, ia akan menunjukkan kelemahannya
serta mengeluarkannya dari kegelapan kebodohan menuju cahaya ilmu.
وَلَا
خِلَافَ أَنَّ إِظْهَارَ مَا عُلِمَ مِنْ عُلُومِ الدِّينِ بَعْدَ السُّؤَالِ
عَنْهُ وَاجِبٌ لَازِمٌ.
Tidak ada perbedaan bahwa menampakkan ilmu agama yang
diketahui setelah ditanyakan tentangnya adalah kewajiban yang mengikat.
فَمَعْنَى
قَوْلِهِ: لَا يَلْزَمُنِي، أَيْ فِي شَرْعِ الْجَدَلِ الَّذِي أَبْدَعْنَاهُ
بِحُكْمِ التَّشَهِّي وَالرَّغْبَةِ فِي طَرِيقِ الِاحْتِيَالِ وَالْمُصَارَعَةِ
بِالْكَلَامِ لَا يَلْزَمُنِي.
Maka makna ucapannya, “Itu tidak wajib atasku,” sebenarnya
adalah: “Menurut aturan debat yang kami buat-buat berdasarkan hawa nafsu,
keinginan untuk bersiasat, dan keinginan untuk bergulat dengan kata-kata, itu
tidak wajib atasku.”
وَإِلَّا
فَهُوَ لَازِمٌ بِالشَّرْعِ.
Kalau menurut syariat, maka hal itu jelas wajib.
فَإِنَّهُ
بِامْتِنَاعِهِ عَنِ الذِّكْرِ إِمَّا كَاذِبٌ وَإِمَّا فَاسِقٌ.
Sebab dengan enggannya ia menyebutkannya, ia pasti salah
satu dari dua: pendusta atau fasik.
فَتَفَحَّصْ
عَنْ مُشَاوَرَاتِ الصَّحَابَةِ وَمُفَاوَضَاتِ السَّلَفِ رَضِيَ اللَّهُ
عَنْهُمْ، هَلْ سَمِعْتَ فِيهَا مَا يُضَاهِي هٰذَا الْجِنْسَ؟
Maka telitilah musyawarah para sahabat dan pembahasan para
salaf radhiyallahu ‘anhum: pernahkah engkau mendengar di dalamnya sesuatu yang
menyerupai jenis perdebatan seperti ini?
وَهَلْ
مَنَعَ أَحَدٌ مِنَ الِانْتِقَالِ مِنْ دَلِيلٍ إِلَى دَلِيلٍ، وَمِنْ قِيَاسٍ
إِلَى أَثَرٍ، وَمِنْ خَبَرٍ إِلَى آيَةٍ؟
Apakah pernah ada seseorang yang menghalangi perpindahan
dari satu dalil ke dalil lain, dari qiyas ke atsar, atau dari hadis ke ayat?
بَلْ
جَمِيعُ مُنَاظَرَاتِهِمْ مِنْ هٰذَا الْجِنْسِ، إِذْ كَانُوا يَذْكُرُونَ كُلَّ
مَا يَخْطُرُ لَهُمْ كَمَا يَخْطُرُ، وَكَانُوا يَنْظُرُونَ فِيهِ.
Bahkan seluruh perdebatan mereka justru termasuk jenis yang
seperti itu, karena mereka menyebutkan setiap hal yang terlintas dalam pikiran
mereka sebagaimana adanya, lalu mereka menelitinya bersama.
الثَّامِنُ:
أَنْ يُنَاظِرَ مَنْ يُتَوَقَّعُ الِاسْتِفَادَةُ مِنْهُ، مِمَّنْ هُوَ مُشْتَغِلٌ
بِالْعِلْمِ.
Syarat kedelapan: hendaknya ia berdebat dengan orang yang
diharapkan dapat diambil manfaat darinya, yaitu orang yang memang sibuk dengan
ilmu.
وَالْغَالِبُ
أَنَّهُمْ يَحْتَرِزُونَ مِنْ مُنَاظَرَةِ الْفُحُولِ وَالْأَكَابِرِ، خَوْفًا
مِنْ ظُهُورِ الْحَقِّ عَلَى أَلْسِنَتِهِمْ.
Biasanya mereka justru menghindari berdebat dengan
orang-orang besar dan para tokoh yang unggul, karena takut kebenaran akan
tampak melalui lisan orang-orang itu.
فَيَرْغَبُونَ
فِيمَنْ دُونَهُمْ، طَمَعًا فِي تَرْوِيجِ الْبَاطِلِ عَلَيْهِمْ.
Maka mereka lebih suka berdebat dengan orang-orang yang
berada di bawah mereka, dengan harapan dapat melariskan kebatilan di hadapan
mereka.
وَوَرَاءَ
هٰذِهِ شُرُوطٌ دَقِيقَةٌ كَثِيرَةٌ، وَلٰكِنْ فِي هٰذِهِ الشُّرُوطِ
الثَّمَانِيَةِ مَا يَهْدِيكَ إِلَى مَنْ يُنَاظِرُ لِلَّهِ وَمَنْ يُنَاظِرُ
لِعِلَّةٍ.
Di balik ini masih ada banyak syarat lain yang halus. Akan
tetapi, dalam delapan syarat ini sudah terdapat petunjuk yang cukup bagimu
untuk membedakan siapa yang berdebat karena Allah dan siapa yang berdebat
karena motif lain.
وَاعْلَمْ
بِالْجُمْلَةِ أَنَّ مَنْ لَا يُنَاظِرُ الشَّيْطَانَ وَهُوَ مُسْتَوْلٍ عَلَى
قَلْبِهِ، وَهُوَ أَعْدَى عَدُوٍّ لَهُ، وَلَا يَزَالُ يَدْعُوهُ إِلَى هَلَاكِهِ،
ثُمَّ يَشْتَغِلُ بِمُنَاظَرَةِ غَيْرِهِ فِي الْمَسَائِلِ الَّتِي الْمُجْتَهِدُ
فِيهَا مُصِيبٌ أَوْ مُسَاهِمٌ لِلْمُصِيبِ فِي الْأَجْرِ، فَهُوَ ضُحْكَةُ
الشَّيْطَانِ وَعِبْرَةٌ لِلْمُخْلِصِينَ.
Ketahuilah secara umum bahwa orang yang tidak “berdebat”
melawan setan, padahal setan sedang menguasai hatinya, sementara setan adalah
musuh yang paling keras baginya dan terus-menerus menyerunya menuju
kebinasaannya, lalu ia justru sibuk berdebat dengan orang lain dalam
masalah-masalah yang seorang mujtahid di dalamnya bisa benar atau setidaknya
mendapat bagian pahala bersama orang yang benar, maka orang seperti itu adalah
bahan tertawaan setan dan pelajaran bagi orang-orang yang ikhlas.
وَلِذٰلِكَ
شَمِتَ الشَّيْطَانُ بِهِ لَمَّا غَمَسَهُ فِيهِ مِنْ ظُلُمَاتِ الْآفَاتِ الَّتِي
نُعَدِّدُهَا وَنَذْكُرُ تَفَاصِيلَهَا.
Karena itu, setan bergembira dan mengejeknya, sebab ia telah
menenggelamkannya ke dalam kegelapan berbagai penyakit yang nanti akan kami
sebutkan dan kami rincikan.
فَنَسْأَلُ
اللَّهَ حُسْنَ الْعَوْنِ وَالتَّوْفِيقِ.
Maka kami memohon kepada Allah pertolongan yang baik dan
taufik.