Tingkatan-Tingkatan Syubhat, dan Sebab Sebab Kemunculannya.
الْبَابُ الثَّانِي فِي مَرَاتِبِ الشُّبُهَاتِ وَمُثَارَاتِهَا وَتَمْيِيزِهَا عَنِ الْحَلَالِ وَالْحَرَامِ
Bab kedua tentang tingkatan-tingkatan syubhat, sebab-sebab
kemunculannya, dan pembedaan antara syubhat dengan yang halal dan haram.
قَالَ
رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم: الْحَلَالُ بَيِّنٌ، وَالْحَرَامُ بَيِّنٌ،
وَبَيْنَهُمَا أُمُورٌ مُشْتَبِهَاتٌ لَا يَعْلَمُهَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ،
فَمَنِ اتَّقَى الشُّبُهَاتِ فَقَدِ اسْتَبْرَأَ لِعِرْضِهِ وَدِينِهِ، وَمَنْ
وَقَعَ فِي الشُّبُهَاتِ وَقَعَ فِي الْحَرَامِ، كَالرَّاعِي حَوْلَ الْحِمَىٰ
يُوشِكُ أَنْ يَقَعَ فِيهِ.
Rasulullah ﷺ
bersabda: “Yang halal itu jelas, dan yang haram itu jelas. Di antara keduanya
ada perkara-perkara yang samar, yang tidak diketahui oleh banyak orang. Siapa
yang menjaga diri dari syubhat, maka ia telah menjaga kehormatan dan agamanya.
Siapa yang terjatuh ke dalam syubhat, ia akan jatuh ke dalam haram, sebagaimana
penggembala di sekitar kawasan larangan hampir-hampir jatuh ke dalamnya.”
فَهَذَا
الْحَدِيثُ نَصٌّ فِي إِثْبَاتِ الْأَقْسَامِ الثَّلَاثَةِ، وَالْمُشْكِلُ مِنْهَا
الْقِسْمُ الْمُتَوَسِّطُ الَّذِي لَا يَعْرِفُهُ كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ، وَهُوَ
الشُّبْهَةُ، فَلَا بُدَّ مِنْ بَيَانِهَا وَكَشْفِ الْغِطَاءِ عَنْهَا، فَإِنَّ
مَا لَا يَعْرِفُهُ الْكَثِيرُ فَقَدْ يَعْرِفُهُ الْقَلِيلُ، فَنَقُولُ.
Hadis ini tegas menunjukkan adanya tiga bagian. Yang sulit
ialah bagian tengah, yang tidak diketahui oleh banyak orang, yaitu syubhat.
Maka harus dijelaskan dan disingkap tabirnya, sebab apa yang tidak diketahui
banyak orang bisa jadi diketahui oleh sebagian kecil. Maka kami katakan:
الْحَلَالُ
الْمُطْلَقُ هُوَ الَّذِي خَلَا عَنْ ذَاتِهِ الصِّفَاتُ الْمُوجِبَةُ
لِلتَّحْرِيمِ فِي عَيْنِهِ، وَانْحَلَّ عَنْ أَسْبَابِهِ مَا تَطَرَّقَ إِلَيْهِ
تَحْرِيمٌ أَوْ كَرَاهَةٌ. وَمِثَالُهُ الْمَاءُ الَّذِي يَأْخُذُهُ الْإِنْسَانُ
مِنَ الْمَطَرِ قَبْلَ أَنْ يَقَعَ عَلَىٰ مِلْكِ أَحَدٍ، أَوْ يَكُونَ هُوَ
وَاقِفًا عِنْدَ جَمْعِهِ، وَأَخْذُهُ مِنَ الْهَوَاءِ فِي مِلْكِ نَفْسِهِ أَوْ
فِي أَرْضٍ مُبَاحَةٍ.
Yang halal mutlak ialah sesuatu yang zatnya bebas dari
sifat-sifat yang mengharuskan haram pada dirinya, dan sebab-sebabnya pun lepas
dari kemungkinan terkena haram atau makruh. Contohnya ialah air hujan yang
diambil seseorang sebelum jatuh menjadi milik siapa pun, atau ketika ia sendiri
berdiri menampungnya, atau ia mengambilnya dari udara di tanah miliknya sendiri
atau di tanah yang mubah.
وَالْحَرَامُ
الْمَحْضُ هُوَ مَا فِيهِ صِفَةٌ مُحَرَّمَةٌ لَا يُشَكُّ فِيهَا، كَالشِّدَّةِ
الْمُطْرِبَةِ فِي الْخَمْرِ، وَالنَّجَاسَةِ فِي الْبَوْلِ.
Adapun haram murni ialah sesuatu yang di dalam zatnya
terdapat sifat yang haram dan tidak diragukan, seperti sifat memabukkan yang
kuat pada khamar, dan kenajisan pada air kencing.
أَوْ
حَصَلَ بِسَبَبٍ مَنْهِيٍّ عَنْهُ قَطْعًا، كَالْمُحَصَّلِ بِالظُّلْمِ وَالرِّبَا
وَنَظَائِرِهِمَا. فَهَذَانِ طَرَفَانِ ظَاهِرَانِ، وَيَلْتَحِقُ بِالطَّرَفَيْنِ
مَا تَحَقَّقَ أَمْرُهُ، وَلَكِنَّهُ احْتَمَلَ تَغَيُّرَهُ، وَلَمْ يَكُنْ
لِذَلِكَ الِاحْتِمَالِ سَبَبٌ يَدُلُّ عَلَيْهِ.
Atau sesuatu itu diperoleh melalui sebab yang secara pasti
dilarang, seperti harta yang didapat dengan kezaliman, riba, dan yang semisal
dengannya. Maka kedua ujung ini jelas. Yang masuk ke dalam kedua ujung itu
adalah sesuatu yang keadaannya pasti, tetapi masih mungkin berubah, dan
kemungkinan itu tidak didukung oleh suatu sebab yang menunjukkan hal tersebut.
فَإِنَّ
صَيْدَ الْبَرِّ وَالْبَحْرِ حَلَالٌ، وَمَنْ أَخَذَ ظَبْيَةً فَيُحْتَمَلُ أَنْ
يَكُونَ قَدْ مَلَكَهَا صَيَّادٌ ثُمَّ أَفْلَتَتْ مِنْهُ، وَكَذَلِكَ السَّمَكُ
يُحْتَمَلُ أَنْ يَكُونَ قَدْ تَزَلَّقَ مِنَ الصَّيَّادِ بَعْدَ وُقُوعِهِ فِي
يَدِهِ وَخَرِيطَتِهِ، فَمِثْلُ هَذَا الِاحْتِمَالِ لَا يَتَطَرَّقُ إِلَىٰ مَاءِ
الْمَطَرِ الْمُخْتَطَفِ مِنَ الْهَوَاءِ، وَلَكِنَّهُ فِي مَعْنَىٰ مَاءِ
الْمَطَرِ.
Sebab buruan darat dan laut itu halal. Jika seseorang
mengambil seekor rusa, maka bisa jadi rusa itu sebelumnya telah dimiliki
pemburu lalu lepas darinya. Demikian pula ikan, bisa jadi ia terlepas dari
tangan pemburu setelah masuk ke tangannya dan ke kantongnya. Kemungkinan
seperti ini tidak berlaku pada air hujan yang ditangkap dari udara, tetapi ia
tetap berada dalam makna air hujan.
وَالِاحْتِرَازُ
مِنْهُ وَسْوَاسٌ، وَلْنُسَمِّ هَذَا الْفَنَّ وَرَعَ الْمُوَسْوِسِينَ، حَتَّىٰ
تَلْتَحِقَ بِهِ أَمْثَالُهُ، وَذَلِكَ لِأَنَّ هَذَا وَهْمٌ مَجَرَّدٌ لَا
دَلَالَةَ عَلَيْهِ.
Berhati-hati dari hal seperti ini adalah waswas. Maka kita
sebut cabang ini sebagai wara'nya orang-orang yang waswas, agar yang semisal
dengannya ikut masuk ke dalamnya. Sebab ini hanyalah dugaan kosong yang tidak
mempunyai tanda apa pun.
نَعَمْ،
لَوْ دَلَّ عَلَيْهِ دَلِيلٌ، فَإِنْ كَانَ قَاطِعًا كَمَا لَوْ وُجِدَتْ حَلْقَةٌ
فِي أُذُنِ السَّمَكَةِ، أَوْ كَانَ مُحْتَمَلًا كَمَا لَوْ وُجِدَ عَلَى
الظَّبْيَةِ جِرَاحَةٌ يُحْتَمَلُ أَنْ تَكُونَ كَيًّا لَا يَقْدِرُ عَلَيْهِ
إِلَّا بَعْدَ الضَّبْطِ، وَيُحْتَمَلُ أَنْ تَكُونَ جِرَاحًا، فَهَذَا مَوْضِعُ
الْوَرَعِ.
Ya, jika ada dalil yang menunjukkan hal itu, maka bila dalil
itu pasti, seperti bila ditemukan cincin di telinga ikan; atau bila dalilnya
hanya kemungkinan, seperti pada rusa ditemukan luka yang bisa jadi bekas
sengatan api yang tidak mungkin diketahui kecuali setelah diteliti, dan bisa
jadi hanya luka biasa, maka di situlah letak wara'.
وَإِذَا
انْتَفَتِ الدَّلَالَةُ مِنْ كُلِّ وَجْهٍ فَالِاحْتِمَالُ الْمَعْدُومُ
دَلَالَتُهُ كَالِاحْتِمَالِ الْمَعْدُومِ فِي نَفْسِهِ.
Jika tanda itu sama sekali tidak ada, maka kemungkinan yang
tidak punya tanda sama nilainya dengan kemungkinan yang memang tidak ada dalam
kenyataan.
وَمِنْ
هَذَا الْجِنسِ مَنْ يَسْتَعِيرُ دَارًا فَيَغِيبُ عَنْهُ الْمُعِيرُ، فَيَخْرُجُ
وَيَقُولُ: لَعَلَّهُ مَاتَ وَصَارَ الْحَقُّ لِلْوَارِثِ. فَهَذَا وَسْوَاسٌ،
إِذْ لَمْ يَدُلَّ عَلَىٰ مَوْتِهِ سَبَبٌ قَاطِعٌ أَوْ مُشَكِّكٌ.
Termasuk jenis ini ialah orang yang meminjam rumah, lalu
pemberi pinjaman itu tidak ada. Ia pun keluar dan berkata: “Barangkali ia sudah
meninggal dan haknya berpindah kepada ahli waris.” Ini adalah waswas, karena
tidak ada sebab pasti ataupun sebab yang menimbulkan keraguan yang menunjukkan
kematiannya.
إِذْ
إِنَّ الشُّبْهَةَ الْمَحْذُورَةَ مَا تَنْشَأُ مِنَ الشَّكِّ، وَالشَّكُّ
عِبَارَةٌ عَنْ اعْتِقَادَيْنِ مُتَقَابِلَيْنِ نَشَآ عَنْ سَبَبَيْنِ.
Sebab syubhat yang terlarang itu muncul dari keraguan.
Keraguan adalah dua keyakinan yang saling berlawanan, yang lahir dari dua
sebab.
فَمَا
لَا سَبَبَ لَهُ لَا يَثْبُتُ عَقْدُهُ فِي النَّفْسِ حَتَّىٰ يُسَاوِيَ الْعَقْدَ
الْمُقَابِلَ لَهُ فَيَصِيرَ شَكًّا.
Sesuatu yang tidak mempunyai sebab tidak akan menetap
keyakinannya dalam jiwa hingga setara dengan keyakinan lawannya, lalu jadilah
ia keraguan.
وَلِهَذَا
نَقُولُ: مَنْ شَكَّ أَنَّهُ صَلَّىٰ ثَلَاثًا أَوْ أَرْبَعًا أَخَذَ
بِالثَّلَاثِ، إِذِ الْأَصْلُ عَدَمُ الزِّيَادَةِ.
Karena itu kami katakan: siapa yang ragu apakah ia salat
tiga rakaat atau empat, maka ia mengambil yang tiga, karena asalnya adalah
tidak adanya tambahan.
وَلَوْ
سُئِلَ إِنْسَانٌ: أَنَّ صَلَاةَ الظُّهْرِ الَّتِي أَدَّيْتُهَا قَبْلَ هَذَا
بِعَشْرِ سِنِينَ، كَانَتْ ثَلَاثًا أَوْ أَرْبَعًا؟ لَمْ يَتَحَقَّقْ قَطْعًا
أَنَّهَا أَرْبَعٌ، وَإِذَا لَمْ يَقْطَعْ جَوَّزَ أَنْ تَكُونَ ثَلَاثًا.
Seandainya seseorang ditanya: “Salat Zuhur yang aku kerjakan
sepuluh tahun lalu itu tiga rakaat atau empat?” maka ia tidak akan memastikan
bahwa itu empat. Jika tidak pasti, berarti boleh jadi tiga.
وَهَذَا
التَّجْوِيزُ لَا يَكُونُ شَكًّا، إِذْ لَمْ يَحْضُرْهُ سَبَبٌ أَوْجَبَ
اعْتِقَادَ كَوْنِهَا ثَلَاثًا.
Namun kemungkinan ini bukanlah keraguan, karena tidak ada
sebab yang membuatnya meyakini bahwa salat itu tiga rakaat.
فَلْيُفْهَمْ
حَقِيقَةُ الشَّكِّ حَتَّىٰ لَا يَشْتَبِهَ الْوَهْمُ وَالتَّجْوِيزُ بِغَيْرِ
سَبَبٍ.
Maka pahamilah hakikat keraguan agar dugaan kosong dan
kemungkinan tanpa sebab tidak tercampur.
فَهَذَا
يَلْتَحِقُ بِالْحَلَالِ الْمُطْلَقِ.
Maka hal ini masuk ke dalam kategori halal mutlak.
وَيَلْتَحِقُ
بِالْحَرَامِ الْمَحْضِ مَا تَحَقَّقَ تَحْرِيمُهُ وَإِنْ أَمْكَنَ طَرَأُ
مُحَلِّلٍ، وَلَكِنْ لَمْ يَدُلَّ عَلَيْهِ سَبَبٌ، كَمَنْ يَدَانُ طَعَامًا
لِمُورِّثِهِ الَّذِي لَا وَارِثَ لَهُ سِوَاهُ، فَغَابَ عَنْهُ فَقَالَ:
يَحْتَمِلُ أَنَّهُ مَاتَ وَقَدْ انْتَقَلَ الْمِلْكُ إِلَيَّ فَآكُلُهُ.
فَإِقْدَامُهُ عَلَيْهِ إِقْدَامٌ عَلَىٰ حَرَامٍ مَحْضٍ، لِأَنَّهُ احْتِمَالٌ
لَا مُسْتَنَدَ لَهُ.
Yang masuk ke kategori haram murni ialah sesuatu yang
haramnya sudah pasti, walaupun mungkin ada sebab yang bisa menghalalkannya,
tetapi tidak ada dalil yang menunjukkannya. Seperti seseorang yang menagih
makanan milik pewarisnya yang tidak memiliki ahli waris selain dia. Lalu
pewaris itu menghilang, dan ia berkata: “Mungkin ia sudah mati, dan kepemilikan
telah berpindah kepadaku, maka aku boleh memakannya.” Tindakan seperti itu
adalah terjun ke dalam haram murni, karena itu hanya dugaan tanpa dasar.
فَلَا
يَنْبَغِي أَنْ يُعَدَّ هَذَا النَّمَطُ مِنْ أَقْسَامِ الشُّبُهَاتِ، وَإِنَّمَا
الشُّبْهَةُ نَعْنِي بِهَا مَا اشْتَبَهَ عَلَيْنَا أَمْرُهُ بِأَنْ تَعَارَضَ
لَنَا فِيهِ اعْتِقَادَانِ صَدَرَا عَنْ سَبَبَيْنِ مُقْتَضِيَيْنِ
لِلِاعْتِقَادَيْنِ.
Maka jenis seperti ini tidak patut dihitung sebagai bagian
dari syubhat. Yang kami maksud dengan syubhat ialah sesuatu yang urusannya
menjadi samar bagi kita karena di dalamnya saling bertentangan dua keyakinan
yang lahir dari dua sebab yang masing-masing menuntut keyakinan itu.
وَمُثِيرَاتُ
الشُّبْهَةِ خَمْسَةٌ. الْمُثِيرُ الْأَوَّلُ: الشَّكُّ فِي السَّبَبِ
الْمُحَلِّلِ وَالْمُحَرِّمِ.
Penyebab syubhat ada lima. Penyebab pertama ialah keraguan
tentang sebab yang menghalalkan dan yang mengharamkan.
وَذَلِكَ
لَا يَخْلُو إِمَّا أَنْ يَكُونَ مُتَعَادِلًا أَوْ غَلَبَ أَحَدُ
الِاحْتِمَالَيْنِ. فَإِنْ تَعَادَلَ الِاحْتِمَالَانِ كَانَ الْحُكْمُ لِمَا
عُرِفَ قَبْلَهُ، فَيُسْتَصْحَبُ وَلَا يُتْرَكُ بِالشَّكِّ. وَإِنْ غَلَبَ أَحَدُ
الِاحْتِمَالَيْنِ عَلَيْهِ بِأَنْ صَدَرَ عَنْ دَلَالَةٍ مُعْتَبَرَةٍ كَانَ
الْحُكْمُ لِلْغَالِبِ، وَلَا يَتَبَيَّنُ هَذَا إِلَّا بِالْأَمْثِلَةِ
وَالشَّوَاهِدِ، فَلْنُقَسِّمْهُ إِلَىٰ أَقْسَامٍ أَرْبَعَةٍ.
Keadaan itu tidak lepas dari dua kemungkinan: seimbang, atau
salah satu kemungkinan lebih kuat. Jika keduanya seimbang, maka hukum mengikuti
apa yang telah diketahui sebelumnya; ia dipertahankan dan tidak ditinggalkan
karena keraguan. Jika salah satu lebih kuat karena didukung dalil yang معتبر,
maka hukum mengikuti yang kuat itu. Ini tidak akan jelas kecuali dengan contoh
dan bukti. Maka kita bagi menjadi empat bagian.
الْقِسْمُ
الْأَوَّلُ: أَنْ يَكُونَ التَّحْرِيمُ مَعْلُومًا مِنْ قَبْلُ، ثُمَّ يَقَعَ
الشَّكُّ فِي الْمَحَلِّ. فَهَذِهِ شُبْهَةٌ يَجِبُ اجْتِنَابُهَا وَيَحْرُمُ
الْإِقْدَامُ عَلَيْهَا.
Bagian pertama: sebelumnya hukum haram sudah diketahui, lalu
yang diragukan adalah objeknya. Ini adalah syubhat yang wajib dijauhi dan haram
untuk didatangi.
مِثَالُهُ
أَنْ يَرْمِيَ إِلَىٰ صَيْدٍ فَيَجْرَحَهُ وَيَقَعَ فِي الْمَاءِ فَيُصَادِفَهُ
مَيِّتًا، وَلَا يَدْرِي أَنَّهُ مَاتَ بِالْغَرَقِ أَوْ بِالْجُرْحِ. فَهَذَا
حَرَامٌ، لِأَنَّ الْأَصْلَ التَّحْرِيمُ إِلَّا إِذَا مَاتَ بِطَرِيقٍ مُعَيَّنٍ،
وَقَدْ وَقَعَ الشَّكُّ فِي الطَّرِيقِ، فَلَا يُتْرَكُ الْيَقِينُ بِالشَّكِّ،
كَمَا فِي الْأَحْدَاثِ وَالنَّجَاسَاتِ وَرَكَعَاتِ الصَّلَاةِ وَغَيْرِهَا.
Contohnya, ia melempar buruan lalu melukainya, kemudian
buruan itu jatuh ke air dan didapati mati, sedangkan ia tidak tahu apakah
matinya karena tenggelam atau karena luka itu. Ini haram, karena asalnya adalah
haram kecuali bila mati dengan cara tertentu. Di sini timbul keraguan pada
sebab kematian, maka keyakinan tidak boleh ditinggalkan karena keraguan,
sebagaimana dalam hadas, najis, rakaat salat, dan selainnya.
وَعَلَىٰ
هَذَا يُنَزَّلُ قَوْلُهُ صلى الله عليه وسلم لِعَدِيِّ بْنِ حَاتِمٍ: لَا
تَأْكُلْهُ، فَلَعَلَّهُ قَتَلَهُ غَيْرُ كَلْبِكَ.
Atas dasar inilah ditafsirkan sabda Nabi ﷺ kepada ‘Adi bin
Hatim: “Janganlah engkau memakannya, barangkali ia dibunuh oleh anjing selain
anjingmu.”
فَلِذَلِكَ
كَانَ صلى الله عليه وسلم إِذَا أُتِيَ بِشَيْءٍ اشْتَبَهَ عَلَيْهِ أَنَّهُ
صَدَقَةٌ أَوْ هَدِيَّةٌ سَأَلَ عَنْهُ حَتَّىٰ يَعْلَمَ أَيُّهُمَا هُوَ.
Karena itu, bila dibawakan kepadanya sesuatu yang beliau
ragukan apakah itu sedekah atau hadiah, beliau menanyakannya sampai jelas mana
yang sebenarnya.
وَرُوِيَ
أَنَّهُ صلى الله عليه وسلم أَرِقَ لَيْلَةً، فَقَالَتْ لَهُ بَعْضُ نِسَائِهِ:
أَرِقْتَ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ فَقَالَ: أَجَلْ، وَجَدْتُ تَمْرَةً فَخَشِيتُ أَنْ
تَكُونَ مِنَ الصَّدَقَةِ.
Diriwayatkan bahwa beliau ﷺ pernah bergadang semalaman. Salah seorang
istrinya berkata, “Apakah engkau tidak bisa tidur, wahai Rasulullah?” Beliau
menjawab: “Ya, aku menemukan sebutir kurma dan aku khawatir itu berasal dari
sedekah.”
وَفِي
رِوَايَةٍ: فَأَكَلْتُهَا فَخَشِيتُ أَنْ تَكُونَ مِنَ الصَّدَقَةِ.
Dalam riwayat lain: “Aku memakannya, lalu aku khawatir itu
berasal dari sedekah.”
وَمِنْ
ذَلِكَ مَا رُوِيَ عَنْ بَعْضِهِمْ أَنَّهُ قَالَ: كُنَّا فِي سَفَرٍ مَعَ رَسُولِ
اللَّهِ صلى الله عليه وسلم، فَأَصَابَنَا الْجُوعُ، فَنَزَلْنَا مَنْزِلًا
كَثِيرَ الضَّبَابِ، فَبَيْنَمَا الْقُدُورُ تَغْلِي بِهَا إِذْ قَالَ رَسُولُ
اللَّهِ صلى الله عليه وسلم: أُمَّةٌ مُسِخَتْ مِنْ بَنِي إِسْرَائِيلَ، أَخْشَىٰ
أَنْ تَكُونَ هَذِهِ، فَأَكْفَأْنَا الْقُدُورَ.
Di antaranya ialah riwayat dari sebagian mereka yang
berkata: “Kami bepergian bersama Rasulullah ﷺ, lalu kami ditimpa kelaparan. Kami singgah
di tempat yang banyak kadalnya. Ketika periuk-periuk sedang mendidih,
Rasulullah ﷺ
bersabda: ‘Suatu kaum telah diubah dari Bani Israil; aku khawatir ini adalah
mereka.’ Maka kami pun membalikkan periuk-periuk itu.”
ثُمَّ
أَعْلَمَهُ اللَّهُ بَعْدَ ذَلِكَ أَنَّهُ لَمْ يَمْسَخِ اللَّهُ خَلْقًا فَجَعَلَ
لَهُ نَسْلًا.
Kemudian Allah memberitahukan kepadanya setelah itu bahwa
Allah tidak mengubah makhluk apa pun hingga menjadikan baginya keturunan.
وَكَانَ
امْتِنَاعُهُ أَوَّلًا لِأَنَّ الْأَصْلَ عَدَمُ الْحِلِّ، وَشَكَّ فِي كَوْنِ
الذَّبْحِ مُحَلِّلًا.
Penolakan beliau pada awalnya karena asalnya adalah belum
halal, dan ada keraguan apakah penyembelihannya telah menjadikannya halal.
الْقِسْمُ
الثَّانِي: أَنْ يُعْرَفَ الْحِلُّ وَيُشَكَّ فِي الْمُحَرِّمِ، فَالْأَصْلُ
الْحِلُّ، وَلَهُ الْحُكْمُ.
Bagian kedua: diketahui kebolehannya, sedangkan yang
diharamkan masih diragukan. Maka hukum kembali kepada asalnya, yaitu halal.
كَمَا
إِذَا نَكَحَ امْرَأَتَيْنِ رَجُلَانِ وَطَارَ طَائِرٌ، فَقَالَ أَحَدُهُمَا: إِنْ
كَانَ هَذَا غُرَابًا فَامْرَأَتِي طَالِقٌ. وَقَالَ الْآخَرُ: إِنْ لَمْ يَكُنْ
غُرَابًا فَامْرَأَتِي طَالِقٌ. وَالتَبَسَ أَمْرُ الطَّائِرِ، فَلَا يُقْضَىٰ
بِالتَّحْرِيمِ فِي وَاحِدَةٍ مِنْهُمَا، وَلَا يَلْزَمُهُمَا اجْتِنَابُهُمَا،
وَلَكِنَّ الْوَرَعَ اجْتِنَابُهُمَا وَتَطْلِيقُهُمَا حَتَّىٰ يَحِلَّ لِسَائِرِ
الْأَزْوَاجِ.
Seperti dua lelaki yang masing-masing memiliki istri, lalu
seekor burung terbang. Salah satunya berkata: “Jika ini gagak, maka istriku
tertalak.” Yang lain berkata: “Jika ini bukan gagak, maka istriku tertalak.”
Lalu urusan burung itu menjadi samar. Maka tidak diputuskan haram atas salah
satu dari keduanya, dan tidak wajib bagi keduanya untuk menjauhinya. Tetapi
wara' ialah menjauhi keduanya dan menceraikannya hingga masing-masing halal
bagi suami yang lain.
وَقَدْ
أُمِرَ مَكْحُولٌ بِالِاجْتِنَابِ فِي هَذِهِ الْمَسْأَلَةِ، وَأَفْتَى
الشَّعْبِيُّ بِالِاجْتِنَابِ فِي رَجُلَيْنِ كَانَا قَدِ انْتَزَعَا، فَقَالَ
أَحَدُهُمَا لِلْآخَرِ: أَنْتَ حَسُودٌ، فَقَالَ الْآخَرُ: أَحْسَدُ نَا
زَوْجَتُهُ طَالِقٌ ثَلَاثًا. فَقَالَ الْآخَرُ: نَعَمْ، وَأَشْكَلَ الْأَمْرُ.
وَهَذَا إِنْ أَرَادَ بِهِ اجْتِنَابَ الْوَرَعِ فَصَحِيحٌ، وَإِنْ أَرَادَ
التَّحْرِيمَ الْمُحَقَّقَ فَلَا وَجْهَ لَهُ.
Makhul pernah diperintahkan untuk menjauhi kasus seperti
ini, dan asy-Sya‘bi memberi fatwa agar menjauhi dua orang yang bertengkar.
Salah satu dari mereka berkata kepada yang lain: “Engkau pendengki.” Lalu yang
lain berkata: “Istri kita tertalak tiga.” Maka yang satu berkata: “Ya.” Urusan
pun menjadi rumit. Jika yang dimaksud ialah wara' dengan menjauh, maka itu
benar. Tetapi jika dimaksudkan haram yang pasti, maka tidak ada dasarnya.
إِذْ
ثَبَتَ فِي الْمِيَاهِ وَالنَّجَاسَاتِ وَالْأَحْدَاثِ وَالصَّلَوَاتِ أَنَّ
الْيَقِينَ لَا يَجِبُ تَرْكُهُ بِالشَّكِّ، وَهَذَا فِي مَعْنَاهُ.
Karena dalam masalah air, najis, hadas, dan salat telah ثابت
bahwa keyakinan tidak boleh ditinggalkan karena keraguan. Hal ini berada dalam
makna yang sama.
فَإِنْ
قِيلَ: وَأَيُّ مُنَاسَبَةٍ بَيْنَ هَذَا وَبَيْنَ ذَاكَ؟ فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا
يَحْتَاجُ إِلَى الْمُنَاسَبَةِ، فَإِنَّهُ لَازِمٌ مِنْ غَيْرِ ذَلِكَ فِي بَعْضِ
الصُّوَرِ.
Jika dikatakan: apa hubungan antara ini dan itu? Maka
ketahuilah bahwa tidak diperlukan keserasian khusus, karena hal itu sudah
berlaku dengan sendirinya dalam sebagian keadaan.
فَإِنَّهُ
مَهْمَا تَيَقَّنَ طَهَارَةُ الْمَاءِ ثُمَّ شَكَّ فِي نَجَاسَتِهِ جَازَ لَهُ
أَنْ يَتَوَضَّأَ بِهِ، فَكَيْفَ لَا يَجُوزُ أَنْ يَشْرَبَهُ؟ وَإِذَا جَوَّزَ
الشُّرْبَ فَقَدْ سَلِمَ أَنَّ الْيَقِينَ لَا يُزَالُ بِالشَّكِّ.
Sebab jika seseorang yakin akan kesucian air lalu ragu
tentang kenajisannya, boleh baginya berwudu dengan air itu. Kalau begitu,
bagaimana mungkin tidak boleh meminumnya? Jika meminum saja dibolehkan, berarti
telah tetap bahwa keyakinan tidak hilang karena keraguan.
إِلَّا
أَنَّ هُنَا دَقِيقَةً، وَهِيَ أَنَّ وِزَانَ الْمَاءِ أَنْ يُشَكَّ فِي أَنَّهُ
طَلَّقَ زَوْجَتَهُ أَمْ لَا، فَيُقَالُ: الْأَصْلُ أَنَّهُ مَا طَلَّقَ.
Akan tetapi di sini ada rincian halus, yaitu perumpamaan air
adalah seperti orang yang ragu apakah ia telah menalak istrinya atau belum.
Maka dikatakan: asalnya ia belum menalak.
وَوِزَانُ
مَسْأَلَةِ الطَّائِرِ أَنْ يَتَحَقَّقَ نَجَاسَةُ أَحَدِ الْإِنَاءَيْنِ
وَيَشْتَبِهَ عَيْنُهَا، فَلَا يَجُوزُ أَنْ يُسْتَعْمَلَ أَحَدُهُمَا بِغَيْرِ
اجْتِهَادٍ، لِأَنَّهُ قَابَلَ يَقِينَ النَّجَاسَةِ بِيَقِينِ الطَّهَارَةِ
فَيَبْطُلُ الِاسْتِصْحَابُ.
Adapun perumpamaan kasus burung ialah: najisnya salah satu
dari dua bejana benar-benar diketahui, tetapi bendanya tidak diketahui mana.
Maka tidak boleh memakai salah satunya tanpa ijtihad, karena keyakinan najis
berhadapan dengan keyakinan suci, sehingga hukum asal yang dipertahankan
menjadi gugur.
فَكَذَلِكَ
هُنَا قَدْ وَقَعَ الطَّلَاقُ عَلَىٰ إِحْدَى الزَّوْجَتَيْنِ قَطْعًا،
وَالْتَبَسَتْ عَيْنُ الْمُطَلَّقَةِ بِغَيْرِ الْمُطَلَّقَةِ.
Demikian pula di sini, talak telah jatuh atas salah satu
dari dua istri secara pasti, tetapi siapa yang tertalak bercampur dengan yang
tidak tertalak.
فَنَقُولُ:
اخْتَلَفَ أَصْحَابُ الشَّافِعِيِّ فِي الْإِنَاءَيْنِ عَلَىٰ ثَلَاثَةِ أَوْجُهٍ:
فَقَالَ قَوْمٌ: يُسْتَصْحَبُ بِغَيْرِ اجْتِهَادٍ. وَقَالَ قَوْمٌ: بَعْدَ
حُصُولِ يَقِينِ النَّجَاسَةِ فِي مُقَابِلَةِ يَقِينِ الطَّهَارَةِ يَجِبُ
الِاجْتِنَابُ وَلَا يُغْنِي الِاجْتِهَادُ. وَقَالَ الْمُقْتَصِدُونَ:
يَجْتَهِدُ، وَهُوَ الصَّحِيحُ.
Maka kami katakan: para pengikut Syafi‘i berbeda pendapat
tentang dua bejana itu dalam tiga pendapat. Sebagian mengatakan: hukum asal
tetap dipakai tanpa ijtihad. Sebagian mengatakan: setelah keyakinan najis
berhadapan dengan keyakinan suci, wajib menjauhinya dan ijtihad tidak berguna.
Sedangkan kelompok pertengahan mengatakan: hendaklah berijtihad, dan inilah
yang benar.
وَلَكِنْ
وِزَانُهُ أَنْ تَكُونَ لَهُ زَوْجَتَانِ فَيَقُولَ: إِنْ كَانَ غُرَابًا
فَزَيْنَبُ طَلَّقَ، وَإِنْ لَمْ يَكُنْ فَعَمْرَةُ طَالِقٌ.
Namun perumpamaannya ialah bila seseorang memiliki dua
istri, lalu ia berkata: “Jika burung ini gagak, maka Zainab tertalak. Jika
bukan, maka ‘Amrah tertalak.”
فَلَا
جُرْمَ لَا يَجُوزُ لَهُ مُغَاشَانَتُهُمَا بِالِاسْتِصْحَابِ، وَلَا يَجُوزُ
الِاجْتِهَادُ إِذْ لَا عَلامَةَ، وَنُحَرِّمُهُمَا عَلَيْهِ، لِأَنَّهُ لَوْ
وَطِئَهُمَا لَكَانَ مُقْتَحِمًا لِلْحَرَامِ قَطْعًا، وَإِنْ وَطِئَ إِحْدَاهُمَا
وَقَالَ: أَقْتَصِرُ عَلَىٰ هَذِهِ كَانَ مُتَحَكِّمًا بِتَعْيِينِهَا مِنْ غَيْرِ
تَرْجِيحٍ.
Maka jelas tidak boleh baginya menggauli keduanya dengan
dalih mempertahankan hukum asal, dan ijtihad pun tidak bisa dilakukan karena
tidak ada tanda. Kita haramkan keduanya atasnya, sebab jika ia menyetubuhi
keduanya berarti ia pasti terjun ke dalam haram. Jika ia hanya menyetubuhi
salah satunya dan berkata: “Aku cukup dengan yang ini,” berarti ia menentukan
sendiri tanpa alasan yang menguatkan.
فَفِي
هَذَا افْتَرَقَ حُكْمُ شَخْصٍ وَاحِدٍ أَوْ شَخْصَيْنِ، لِأَنَّ التَّحْرِيمَ
عَلَىٰ شَخْصٍ وَاحِدٍ مُتَحَقِّقٌ بِخِلَافِ الشَّخْصَيْنِ، إِذْ كُلُّ وَاحِدٍ
شَكَّ فِي التَّحْرِيمِ فِي حَقِّ نَفْسِهِ.
Dalam hal ini hukum bagi satu orang dan dua orang menjadi
berbeda. Karena pengharaman pada satu orang itu pasti, berbeda dengan dua
orang; sebab masing-masing hanya ragu atas hukum haram bagi dirinya sendiri.
فَإِنْ
قِيلَ: فَلَوْ كَانَ الْإِنَاءُ لِشَخْصَيْنِ فَيَنْبَغِي أَنْ يَسْتَغْنِيَ عَنِ
الِاجْتِهَادِ، وَيَتَوَضَّأَ كُلُّ وَاحِدٍ بِإِنَائِهِ، لِأَنَّهُ تَيَقَّنَ
طَهَارَتَهُ وَقَدْ شَكَّ الْآنَ فِيهِ.
Jika dikatakan: seandainya bejana itu milik dua orang, maka
semestinya tidak perlu ijtihad, dan masing-masing berwudu dengan bejananya
sendiri, karena ia yakin dahulu air itu suci dan kini hanya ragu.
فَنَقُولُ:
هَذَا مُحْتَمَلٌ فِي الْفِقْهِ، وَالْأَرْجَحُ فِي ظَنِّي الْمَنْعُ، وَأَنَّ
تَعَدُّدَ الشَّخْصَيْنِ هُنَا كَاتِّحَادِهِمَا؛ لِأَنَّ صِحَّةَ الْوُضُوءِ لَا
تَسْتَدْعِي مِلْكًا، بَلْ وُضُوءُ الْإِنْسَانِ بِمَاءِ غَيْرِهِ فِي رَفْعِ
الْحَدَثِ كَوُضُوئِهِ بِمَاءِ نَفْسِهِ، فَلَا يَتَبَيَّنُ لِاخْتِلَافِ
الْمِلْكِ وَاتِّحَادِهِ أَثَرٌ، بِخِلَافِ الْوَطْءِ لِزَوْجَةِ الْغَيْرِ
فَإِنَّهُ لَا يَحِلُّ.
Kami katakan: ini mungkin dalam fikih, tetapi menurut dugaan
saya yang lebih kuat ialah larangan. Banyaknya orang di sini sama seperti satu
orang, karena sahnya wudu tidak mensyaratkan kepemilikan. Wudu seseorang dengan
air milik orang lain dalam menghilangkan hadas sama seperti wudunya dengan air
miliknya sendiri. Maka perbedaan kepemilikan dan kesatuannya tidak tampak
pengaruhnya. Berbeda dengan menyetubuhi istri orang lain, karena itu tidak
halal.
وَلِأَنَّ
لِلْعَلَامَاتِ مَدْخَلًا فِي النَّجَاسَاتِ وَالِاجْتِهَادُ فِيهِ مُمْكِنٌ،
بِخِلَافِ الطَّلَاقِ، فَوَجَبَ تَقْوِيَةُ الِاسْتِصْحَابِ بِعَلَامَةٍ
لِيُدْفَعَ بِهَا قُوَّةُ يَقِينِ النَّجَاسَةِ الْمُقَابِلَةِ لِيَقِينِ
الطَّهَارَةِ.
Karena tanda-tanda punya peran dalam masalah najis, dan
ijtihad di sana mungkin dilakukan, berbeda dengan talak. Maka hukum asal perlu
diperkuat dengan suatu tanda agar dengannya dapat didorong kekuatan keyakinan
najis yang berhadapan dengan keyakinan suci.
وَأَبْوَابُ
الِاسْتِصْحَابِ وَالتَّرْجِيحَاتِ مِنْ غَوَامِضِ الْفِقْهِ وَدَقَائِقِهِ،
وَقَدِ اسْتَقْصَيْنَاهُ فِي كُتُبِ الْفِقْهِ، وَلَسْنَا نَقْصِدُ الْآنَ إِلَّا
التَّنْبِيهَ عَلَىٰ قَوَاعِدِهَا.
Bab-bab istishhab dan tarjih termasuk perkara-perkara yang
rumit dan halus dalam fikih. Kami telah membahasnya secara rinci dalam
kitab-kitab fikih, dan sekarang kami hanya bermaksud memberi isyarat kepada
kaidah-kaidahnya.
الْقِسْمُ
الثَّالِثُ: أَنْ يَكُونَ الْأَصْلُ التَّحْرِيمَ، وَلَكِنْ طَرَأَ مَا أَوْجَبَ
تَحْلِيلَهُ بِظَنٍّ غَالِبٍ، فَهُوَ مَشْكُوكٌ فِيهِ وَالْغَالِبُ حِلُّهُ.
فَهَذَا يُنْظَرُ فِيهِ، فَإِنِ اسْتَنَدَ غَلَبَةُ الظَّنِّ إِلَىٰ سَبَبٍ
مُعْتَبَرٍ شَرْعًا فَالَّذِي نَخْتَارُهُ فِيهِ أَنَّهُ يَحِلُّ، وَاجْتِنَابُهُ
مِنَ الْوَرَعِ.
Bagian ketiga: asalnya haram, tetapi datang sesuatu yang
dengan dugaan kuat menjadikannya halal. Jadi ia masih diragukan, tetapi yang
lebih kuat adalah kehalalannya. Dalam hal ini dilihat dulu. Jika kuatnya dugaan
itu bersandar pada sebab yang diakui syariat, maka yang kami pilih ialah bahwa
ia halal, sementara menjauhinya termasuk wara'.
مِثَالُهُ
أَنْ يَرْمِيَ إِلَىٰ صَيْدٍ فَيَغِيبَ ثُمَّ يُدْرِكَهُ مَيِّتًا، وَلَيْسَ
عَلَيْهِ أَثَرٌ سِوَىٰ سَهْمِهِ، وَلَكِنْ يُحْتَمَلُ أَنَّهُ مَاتَ بِسَقْطَةٍ
أَوْ بِسَبَبٍ آخَرَ. فَإِنْ ظَهَرَ عَلَيْهِ أَثَرُ صَدْمَةٍ أَوْ جِرَاحَةٍ
أُخْرَىٰ الْتَحَقَ بِالْقِسْمِ الْأَوَّلِ.
Contohnya ialah ia melempar buruan, lalu buruan itu hilang,
kemudian ditemukan sudah mati, dan tidak ada tanda pada tubuhnya selain bekas
anak panahnya. Tetapi masih mungkin ia mati karena jatuh atau sebab lain. Jika
tampak bekas hantaman atau luka lain, maka ia masuk ke bagian pertama.
وَقَدِ
اخْتَلَفَ قَوْلُ الشَّافِعِيِّ رَحِمَهُ اللَّهُ فِي هَذَا الْقِسْمِ،
وَالْمُخْتَارُ أَنَّهُ حَلَالٌ، لِأَنَّ الْجُرْحَ سَبَبٌ ظَاهِرٌ وَقَدْ
تَحَقَّقَ، وَالْأَصْلَ أَنَّهُ لَمْ يَطْرَأْ غَيْرُهُ عَلَيْهِ، فَطُرُوؤُهُ
مَشْكُوكٌ فِيهِ، فَلَا يُدَعُ الْيَقِينُ بِالشَّكِّ.
Dalam bagian ini ada perbedaan pendapat asy-Syafi‘i
rahimahullah. Yang dipilih ialah bahwa ia halal, karena luka adalah sebab yang
tampak dan telah pasti ada. Asalnya tidak ada sebab lain yang datang kepadanya.
Maka datangnya sebab lain itu masih diragukan, sehingga keyakinan tidak boleh
ditinggalkan karena keraguan.
فَإِنْ
قِيلَ: فَقَدْ قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ: كُلْ مَا أَصْمَيْتَ وَدَعْ مَا أَنْمَيْتَ.
وَرَوَتْ عَائِشَةُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا أَنَّ رَجُلًا أَتَى النَّبِيَّ صلى
الله عليه وسلم بِأَرْنَبٍ، فَقَالَ: رَمَيْتُهَا فَعَرَفْتُ فِيهَا سُمِّي.
فَقَالَ: أَصْمَيْتَ أَوْ أَنْمَيْتَ؟ فَقَالَ: بَلْ أَنْمَيْتُ. قَالَ: إِنَّ
اللَّيْلَ خَلْقٌ مِنْ خَلْقِ اللَّهِ لَا يَقْدِرُ قَدْرَهُ إِلَّا الَّذِي
خَلَقَهُ، فَلَعَلَّهُ أَعَانَ عَلَىٰ قَتْلِهِ شَيْءٌ.
Jika dikatakan: Ibn Abbas telah berkata, “Makanlah apa yang
engkau bunuh langsung, dan tinggalkan apa yang engkau biarkan terluka.” Dan
Aisyah r.a. meriwayatkan bahwa seorang lelaki datang kepada Nabi ﷺ
membawa seekor kelinci. Ia berkata: “Aku telah melemparnya dan aku melihat di
dalamnya ada bekas bisulanku.” Beliau bertanya: “Apakah engkau membunuh
langsung atau membiarkannya terluka?” Ia menjawab: “Aku membiarkannya terluka.”
Beliau bersabda: “Malam adalah salah satu makhluk Allah, dan tidak ada yang
mengetahui ukurannya kecuali Penciptanya. Barangkali ada sesuatu yang membantu
membunuhnya.”
وَكَذَلِكَ
قَالَ صلى الله عليه وسلم لِعَدِيِّ بْنِ حَاتِمٍ فِي كَلْبِهِ الْمُعَلَّمِ:
وَإِنْ أَكَلَ فَلَا تَأْكُلْ، فَإِنِّي أَخَافُ أَنْ يَكُونَ إِنَّمَا أَمْسَكَ
عَلَىٰ نَفْسِهِ.
Demikian pula Nabi ﷺ bersabda kepada ‘Adi bin Hatim tentang
anjing latihannya: “Jika ia makan, maka janganlah engkau makan. Sebab aku
khawatir ia hanya menangkap untuk dirinya sendiri.”
وَالْغَالِبُ
أَنَّ الْكَلْبَ الْمُعَلَّمَ لَا يُسِئُ خُلُقُهُ وَلَا يَمْسِكُ إِلَّا عَلَىٰ
صَاحِبِهِ، وَمَعَ ذَلِكَ نَهَىٰ عَنْهُ.
Padahal yang umum ialah anjing terlatih tidak berubah
perangainya dan tidak menangkap kecuali untuk pemiliknya. Namun demikian beliau
tetap melarangnya.
وَهَذَا
التَّحْقِيقُ، وَهُوَ أَنَّ الْحِلَّ إِنَّمَا يَتَحَقَّقُ إِذَا تَحَقَّقَ
تَمَامُ السَّبَبِ، وَتَمَامُ السَّبَبِ بِأَنْ يُفْضِيَ إِلَى الْمَوْتِ سَلِيمًا
مِنْ طَرْيَانِ غَيْرِهِ عَلَيْهِ، وَقَدْ شُكَّ فِيهِ، فَهُوَ شَكٌّ فِي تَمَامِ
السَّبَبِ، حَتَّىٰ اشْتَبَهَ أَنَّ مَوْتَهُ عَلَى الْحِلِّ أَوْ عَلَى
الْحُرْمَةِ.
Penjelasannya ialah bahwa kehalalan baru terwujud bila
sebabnya sempurna. Sempurnanya sebab ialah sampai membawa kepada kematian tanpa
ada sebab lain yang datang bersamanya. Di sini hal itu diragukan. Maka keraguan
itu adalah keraguan dalam kesempurnaan sebab, sehingga menjadi samar apakah
matinya atas dasar halal atau haram.
فَلَا
يَكُونُ هَذَا فِي مَعْنَىٰ مَا تَحَقَّقَ مَوْتُهُ عَلَى الْحِلِّ فِي سَاعَتِهِ
ثُمَّ شُكَّ فِيمَا يَطْرَأُ عَلَيْهِ.
Maka hal ini tidak sama dengan sesuatu yang sejak saat
kematiannya telah pasti halal, lalu baru kemudian diragukan apa yang
menimpanya.
فَالْجَوَابُ
أَنَّ نَهْيَ ابْنِ عَبَّاسٍ وَنَهْيَ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم
مَحْمُولٌ عَلَى الْوَرَعِ وَالتَّنْزِيهِ، بِدَلِيلِ مَا رُوِيَ فِي بَعْضِ
الرِّوَايَاتِ: كُلْهُ وَإِنْ غَابَ عَنْكَ مَا لَمْ تَجِدْ فِيهِ أَثَرًا غَيْرَ
سَهْمِكَ.
Jawabannya ialah bahwa larangan Ibn Abbas dan larangan
Rasulullah ﷺ
itu dibawa kepada makna wara' dan penyucian diri, berdasarkan riwayat lain:
“Makanlah ia, walaupun ia telah hilang dari pandanganmu, selama engkau tidak
menemukan bekas lain selain anak panahmu.”
وَهَذَا
تَنْبِيهٌ عَلَى الْمَعْنَى الَّذِي ذَكَرْنَاهُ، وَهُوَ أَنَّهُ إِنْ وُجِدَ
أَثَرٌ آخَرُ فَقَدْ تَعَارَضَ السَّبَبَانِ بِتَعَارُضِ الظَّنِّ، وَإِنْ لَمْ
يُوجَدْ سِوَى جُرْحِهِ حَصَلَ غَلَبَةُ الظَّنِّ فَيُحْكَمُ بِهِ عَلَى
الْاسْتِصْحَابِ، كَمَا يُحْكَمُ عَلَى الْاسْتِصْحَابِ بِخَبَرِ الْوَاحِدِ
وَالْقِيَاسِ الْمَظْنُونِ وَالْعُمُومَاتِ الْمَظْنُونَةِ وَغَيْرِهَا.
Ini mengisyaratkan makna yang kami sebutkan, yaitu bahwa
jika ada tanda lain, maka dua sebab saling berhadapan melalui saling
berhadapannya dugaan. Tetapi jika tidak ada selain lukanya, maka kuatlah
dugaan, lalu dihukumi berdasarkan dugaan itu di atas hukum asal. Sebagaimana
hukum asal bisa dikalahkan oleh khabar ahad, qiyas yang diduga kuat, dan
keumuman yang diduga kuat, dan yang semisalnya.
وَأَمَّا
قَوْلُ الْقَائِلِ: إِنَّهُ لَمْ يَتَحَقَّقْ مَوْتُهُ عَلَى الْحِلِّ فِي سَاعَةٍ
فَيَكُونُ شَكًّا فِي السَّبَبِ، فَلَيْسَ كَذَلِكَ، بَلِ السَّبَبُ قَدْ
تَحَقَّقَ، إِذِ الْجُرْحُ سَبَبُ الْمَوْتِ، فَطُرُوءَ الْغَيْرِ شَكٌّ.
Adapun perkataan bahwa matinya tidak pasti halal pada saat
itu sehingga menjadi ragu pada sebabnya, bukan demikian. Sebab sebab kematian
telah ada, karena luka memang menjadi sebab kematian. Masuknya sebab lain
hanyalah keraguan.
وَيَدُلُّ
عَلَىٰ صِحَّةِ هَذَا الْإِجْمَاعُ عَلَىٰ أَنَّ مَنْ جَرَحَ وَغَابَ فَوُجِدَ
مَيِّتًا وَجَبَ الْقِصَاصُ عَلَىٰ جَارِحِهِ.
Bukti benarnya hal ini ialah ijmak bahwa siapa melukai lalu
orang itu menghilang kemudian ditemukan mati, maka qisas wajib atas pelukanya.
بَلْ
إِنْ لَمْ يَغِبْ، يَحْتَمِلُ أَنْ يَكُونَ مَوْتُهُ بِهَيَجَانِ خَلَطٍ فِي
بَاطِنِهِ، كَمَا يَمُوتُ الْإِنْسَانُ فَجْأَةً، فَيَنْبَغِي أَلَّا يَجِبَ
الْقِصَاصُ إِلَّا بِحَزِّ الرَّقَبَةِ وَالْجُرْحِ الْمُذَفِّفِ، لِأَنَّ
الْعِلَلَ الْقَاتِلَةَ فِي الْبَاطِنِ لَا تُؤْمَنُ، وَلِأَجْلِهَا يَمُوتُ
الصَّحِيحُ فَجْأَةً، وَلَا قَائِلَ بِذَلِكَ، مَعَ أَنَّ الْقِصَاصَ مَبْنَاهُ
عَلَى الشُّبْهَةِ.
Bahkan jika ia tidak hilang, tetap mungkin mati karena
gangguan di dalam tubuhnya, sebagaimana seseorang mati mendadak. Maka
semestinya qisas tidak wajib kecuali pada penggorokan leher atau luka yang
mematikan, karena sebab-sebab pembunuhan yang tersembunyi tidak aman. Karena
sebab itulah orang sehat bisa mati mendadak, padahal tidak ada seorang pun yang
berpendapat demikian. Namun qisas memang dibangun di atas syubhat.
وَكَذَلِكَ
جَنِينُ الْمُذَكَّاةِ حَلَالٌ، وَلَعَلَّهُ مَاتَ قَبْلَ ذَبْحِ الْأَصْلِ أَوْ
لَمْ يُنْفَخْ فِيهِ الرُّوحُ، وَغُرَّةُ الْجَنِينِ تَجِبُ، وَلَعَلَّ الرُّوحَ
لَمْ يُنْفَخْ فِيهِ أَوْ كَانَ قَدْ مَاتَ قَبْلَ الْجِنَايَةِ بِسَبَبٍ آخَرَ،
وَلَكِنَّ الْأَصْلَ يُبْنَىٰ عَلَى الْأَسْبَابِ الظَّاهِرَةِ.
Demikian pula janin hewan sembelihan adalah halal, padahal
mungkin ia mati sebelum induknya disembelih atau belum ditiupkan ruh ke
dalamnya. Ghurrah janin wajib dibayar, padahal mungkin ruh belum ditiupkan atau
ia telah mati sebelum tindak pidana itu karena sebab lain. Namun hukum dibangun
di atas sebab-sebab yang tampak.
فَإِنَّ
الِاحْتِمَالَ الْآخَرَ إِذَا لَمْ يَسْتَنِدْ إِلَىٰ دَلَالَةٍ تَدُلُّ عَلَيْهِ
الْتَحَقَ بِالْوَهْمِ وَالْوَسْوَاسِ، كَمَا ذَكَرْنَاهُ.
Sebab kemungkinan lain jika tidak bersandar pada dalil yang
menunjukkan kepadanya, maka ia menjadi sekadar dugaan dan waswas, sebagaimana
telah kami sebutkan.
فَكَذَلِكَ
هَذَا.
Demikian pula hal ini.
وَأَمَّا
قَوْلُهُ صلى الله عليه وسلم: أَخَافُ أَنْ يَكُونَ إِنَّمَا أَمْسَكَ عَلَىٰ
نَفْسِهِ، فَلِلشَّافِعِيِّ رَحِمَهُ اللَّهُ فِي هَذِهِ الصُّورَةِ قَوْلَانِ،
وَالَّذِي نَخْتَارُهُ الْحُكْمُ بِالتَّحْرِيمِ، لِأَنَّ السَّبَبَ قَدْ
تَعَارَضَ، إِذِ الْكَلْبُ الْمُعَلَّمُ كَالْآلَةِ وَالْوَكِيلِ يَمْسِكُ عَلَىٰ
صَاحِبِهِ فَيَحِلُّ، وَلَوِ اسْتَرْسَلَ الْمُعَلَّمُ بِنَفْسِهِ فَأَخَذَ لَمْ
يَحِلَّ، لِأَنَّهُ يُتَصَوَّرُ مِنْهُ أَنْ يَصْطَادَ لِنَفْسِهِ.
Adapun sabda Nabi ﷺ: “Aku khawatir ia hanya menangkap untuk dirinya sendiri,” maka
dalam kasus ini asy-Syafi‘i rahimahullah memiliki dua pendapat. Yang kami pilih
ialah menghukuminya haram, karena sebabnya saling bertentangan. Anjing yang
terlatih itu seperti alat atau wakil yang menangkap untuk pemiliknya, maka
halal. Namun bila anjing terlatih itu lepas sendiri lalu menangkap, maka tidak
halal, karena mungkin saja ia menangkap untuk dirinya sendiri.
وَمَهْمَا
انْبَعَثَ بِإِشَارَتِهِ ثُمَّ أَكَلَ دَلَّ ابْتِدَاءُ انْبِعَاثِهِ عَلَىٰ
أَنَّهُ نَازِلٌ مَنْزِلَةَ آلَتِهِ وَأَنَّهُ يَسْعَىٰ فِي وَكَالَتِهِ
وَنِيَابَتِهِ، وَدَلَّ أَكْلُهُ آخِرًا عَلَىٰ أَنَّهُ أَمْسَكَ لِنَفْسِهِ لَا
لِصَاحِبِهِ، فَقَدْ تَعَارَضَ السَّبَبُ الدَّالُّ، فَتَعَارَضَ الِاحْتِمَالُ،
وَالْأَصْلُ التَّحْرِيمُ فَيُسْتَصْحَبُ وَلَا يُزَالُ بِالشَّكِّ.
Bila ia bergerak karena isyarat pemiliknya lalu makan, maka
awal gerak itu menunjukkan bahwa ia berada dalam posisi alat pemiliknya dan
bekerja sebagai wakilnya. Tetapi makannya di akhir menunjukkan bahwa ia
menangkap untuk dirinya sendiri, bukan untuk pemiliknya. Maka sebab yang
menunjukkan itu saling bertentangan, sehingga kemungkinan-kemungkinan itu
saling bertentangan pula, dan asalnya adalah haram, maka hukum asal
dipertahankan dan tidak hilang karena keraguan.
وَهُوَ
كَمَا لَوْ وَكَّلَ رَجُلًا بِأَنْ يَشْتَرِيَ لَهُ جَارِيَةً فَاشْتَرَىٰ لَهُ
جَارِيَةً وَمَاتَ قَبْلَ أَنْ يُبَيِّنَ أَنَّهَا اشْتَرَاهَا لِنَفْسِهِ أَوْ
لِمُوَكِّلِهِ، حَلَّ لِلْمُوَكِّلِ وَطْؤُهَا، لِأَنَّ لِلْوَكِيلِ قُدْرَةً
عَلَى الشِّرَاءِ لِنَفْسِهِ وَلِمُوَكِّلِهِ جَمِيعًا، وَلَا دَلِيلَ مُرَجِّحٌ،
وَالْأَصْلُ التَّحْرِيمُ، فَهَذَا يَلْتَحِقُ بِالْقِسْمِ الْأَوَّلِ لَا
بِالْقِسْمِ الثَّالِثِ.
Ini seperti bila seseorang mewakilkan orang lain untuk
membeli seorang budak perempuan baginya, lalu wakil itu membelinya dan mati
sebelum menjelaskan apakah pembelian itu untuk dirinya sendiri atau untuk
pemberi kuasa. Dalam hal ini, pemberi kuasa boleh menyetubuhinya, karena wakil
itu punya kemampuan untuk membeli bagi dirinya sendiri maupun bagi pemberi
kuasa. Tidak ada dalil yang menguatkan salah satunya, dan asalnya adalah haram.
Maka ini masuk bagian pertama, bukan bagian ketiga.
الْقِسْمُ
الرَّابِعُ: أَنْ يَكُونَ الْحِلُّ مَعْلُومًا، وَلَكِنْ يَغْلِبُ عَلَى الظَّنِّ
طَرَآنُ مُحَرِّمٍ بِسَبَبٍ مُعْتَبَرٍ فِي غَلَبَةِ الظَّنِّ شَرْعًا، فَيَرْفَعُ
الِاسْتِصْحَابَ وَيَقْضِي بِالتَّحْرِيمِ، إِذْ بَانَ لَنَا أَنَّ
الِاسْتِصْحَابَ ضَعِيفٌ وَلَا يَبْقَىٰ لَهُ حُكْمٌ مَعَ غَالِبِ الظَّنِّ.
Bagian keempat: kehalalan sudah diketahui, tetapi kuat
dugaan bahwa sesuatu yang haram telah muncul, berdasarkan sebab yang diakui
syariat dalam penentuan dugaan kuat. Maka hal itu menghapus hukum asal dan
memutuskan haram, karena telah tampak bahwa hukum asal itu lemah dan tidak
tersisa pengaruhnya bila berhadapan dengan dugaan kuat.
وَمِثَالُهُ
أَنْ يُؤَدِّيَ اجْتِهَادُهُ إِلَىٰ نَجَاسَةِ أَحَدِ الْإِنَاءَيْنِ
بِالِاعْتِمَادِ عَلَىٰ عَلامَةٍ مُعَيَّنَةٍ تُوجِبُ غَلَبَةَ الظَّنِّ،
فَتُوجِبُ تَحْرِيمَ شُرْبِهِ كَمَا أَوْجَبَتْ مَنْعَ الْوُضُوءِ بِهِ.
Contohnya ialah hasil ijtihadnya menunjukkan najisnya salah
satu dari dua bejana dengan bersandar pada tanda tertentu yang menimbulkan
dugaan kuat. Maka tanda itu mengharuskan haramnya meminum darinya, sebagaimana
ia mengharuskan larangan berwudu darinya.
وَكَذَلِكَ
إِذَا قَالَ: إِنْ قَتَلَ زَيْدٌ عَمْرًا، أَوْ قَتَلَ زَيْدٌ صَيْدًا مُنْفَرِدًا
بِقَتْلِهِ، فَامْرَأَتِي طَالِقٌ، فَجَرَحَهُ وَغَابَ عَنْهُ فَوُجِدَ مَيِّتًا
حَرُمَتْ زَوْجَتُهُ؛ لِأَنَّ الظَّاهِرَ أَنَّهُ مُنْفَرِدٌ بِقَتْلِهِ، كَمَا
سَبَقَ.
Demikian pula bila ia berkata: “Jika Zaid membunuh Amr, atau
Zaid membunuh seekor buruan sendirian, maka istriku tertalak.” Lalu Zaid
melukainya dan ia menghilang, kemudian didapati sudah mati, maka istrinya haram
baginya; karena yang tampak ialah bahwa ia sendirian membunuhnya, sebagaimana
telah disebutkan.
وَقَدْ
نَصَّ الشَّافِعِيُّ رَحِمَهُ اللَّهُ عَلَىٰ أَنَّ مَنْ وَجَدَ فِي الْغُدْرَانِ
مَاءً مُتَغَيِّرًا احْتَمَلَ أَنْ يَكُونَ تَغَيُّرُهُ بِطُولِ الْمَكْثِ أَوْ
بِالنَّجَاسَةِ فَيَسْتَعْمِلُهُ. وَلَوْ رَأَىٰ ظَبْيَةً بَالَتْ فِيهِ ثُمَّ
وَجَدَهُ مُتَغَيِّرًا، وَاحْتَمَلَ أَنْ يَكُونَ بِالْبَوْلِ أَوْ بِطُولِ
الْمَكْثِ لَمْ يَجُزْ اسْتِعْمَالُهُ، إِذْ صَارَ الْبَوْلُ الْمُشَاهَدُ
دَلَالَةً مُغَلِّبَةً لِاحْتِمَالِ النَّجَاسَةِ، وَهُوَ مِثَالُ مَا ذَكَرْنَاهُ.
Asy-Syafi‘i rahimahullah telah menegaskan bahwa siapa
menemukan air di kolam yang berubah warna, masih mungkin perubahan itu karena
lama diamnya air atau karena najis, maka ia boleh memakainya. Tetapi jika ia
melihat seekor rusa kencing di situ lalu menemukannya berubah, dan mungkin
sebabnya karena kencing itu atau karena lama diamnya, maka ia tidak boleh
memakainya, karena kencing yang tampak itu menjadi tanda yang lebih kuat atas
kemungkinan najis. Ini adalah contoh dari apa yang telah kami sebutkan.
وَهَذَا
فِي غَلَبَةِ ظَنٍّ اسْتَنَدَ إِلَىٰ عَلامَةٍ مُتَعَلِّقَةٍ بِعَيْنِ الشَّيْءِ.
فَأَمَّا غَلَبَةُ الظَّنِّ لَا مِنْ جِهَةِ عَلامَةٍ تَتَعَلَّقُ بِعَيْنِ
الشَّيْءِ، فَقَدِ اخْتَلَفَ قَوْلُ الشَّافِعِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ فِي
أَنَّ أَصْلَ الْحِلِّ هَلْ يُزَالُ بِهِ إِذَا اخْتَلَفَ قَوْلُهُ فِي
التَّوَضُّؤِ مِنْ أَوَانِي الْمُشْرِكِينَ وَمُدْمِنِ الْخَمْرِ، وَالصَّلَاةِ
فِي الْمَقَابِرِ الْمَنْبُوشَةِ، وَالصَّلَاةِ مَعَ طِينِ الشَّوَارِعِ، أَعْنِي
الْمِقْدَارَ الزَّائِدَ عَلَىٰ مَا يَتَعَذَّرُ الِاحْتِرَازُ عَنْهُ.
Ini adalah dugaan kuat yang bersandar pada tanda yang
berhubungan dengan benda itu sendiri. Adapun dugaan kuat yang tidak bersandar
pada tanda yang berkaitan dengan benda itu, maka berbeda pendapat asy-Syafi‘i
r.a. tentang apakah hukum asal halal hilang karenanya, seperti dalam masalah
berwudu dari bejana orang musyrik dan peminum khamar, salat di kuburan yang
digali, dan salat dengan tanah jalanan, yaitu kadar yang melebihi batas yang
sulit dihindari.
وَعَبَّرَ
الْأَصْحَابُ عَنْهُ بِأَنَّهُ إِذَا تَعَارَضَ الْأَصْلُ وَالْغَالِبُ
فَأَيُّهُمَا يُعْتَبَرُ؟ وَهَذَا جَارٍ فِي حِلِّ الشُّرْبِ مِنْ أَوَانِي
مُدْمِنِ الْخَمْرِ وَالْمُشْرِكِينَ، لِأَنَّ النَّجِسَ لَا يَحِلُّ شُرْبُهُ،
فَإِذَنْ مَأْخَذُ النَّجَاسَةِ وَالْحِلِّ وَاحِدٌ، فَالتَّرَدُّدُ فِي
أَحَدِهِمَا يُوجِبُ التَّرَدُّدَ فِي الْآخَرِ.
Para sahabat ahli fikih merumuskannya dengan pertanyaan:
jika asal dan yang dominan bertentangan, manakah yang dipegang? Ini berlaku
dalam hukum minum dari bejana peminum khamar dan orang musyrik, karena yang
najis tidak halal diminum. Maka sumber penetapan najis dan halal itu satu; ragu
pada salah satunya menyebabkan ragu pada yang lain.
وَالَّذِي
أَخْتَارُهُ أَنَّ الْأَصْلَ هُوَ الْمُعْتَبَرُ، وَأَنَّ الْعَلامَةَ إِذَا لَمْ
تَتَعَلَّقْ بِعَيْنِ الْمُتَنَاوَلِ لَمْ تُوجِبْ رَفْعَ الْأَصْلِ. وَسَيَأْتِي
بَيَانُ ذَلِكَ وَبُرْهَانُهُ فِي الْمُثِيرِ الثَّانِي لِلشُّبْهَةِ، وَهِيَ
شُبْهَةُ الْخَلْطِ.
Yang saya pilih ialah bahwa yang dijadikan pegangan tetaplah
hukum asal, dan tanda yang tidak berkaitan dengan zat yang diambil tidaklah
menghapus hukum asal. Penjelasan dan buktinya akan datang pada penyebab kedua
syubhat, yaitu syubhat karena percampuran.
فَقَدِ
اتَّضَحَ مِنْ هَذَا حُكْمُ حَلالٍ شُكَّ فِي طُرُوِّ مُحَرَّمٍ عَلَيْهِ أَوْ
ظُنَّ، وَحُكْمُ حَرَامٍ شُكَّ فِي طُرُوِّ مُحَلِّلٍ عَلَيْهِ أَوْ ظُنَّ،
وَبَانَ الْفَرْقُ بَيْنَ ظَنٍّ يَسْتَنِدُ إِلَىٰ عَلامَةٍ فِي عَيْنِ الشَّيْءِ
وَبَيْنَ مَا لَا يَسْتَنِدُ إِلَيْهِ.
Maka telah jelas hukum sesuatu yang halal yang diragukan
telah tersentuh yang haram atau diduga kuat demikian, dan hukum sesuatu yang
haram yang diragukan telah tersentuh yang menghalalkan atau diduga kuat
demikian. Juga jelas perbedaan antara dugaan yang bersandar pada tanda dalam
benda itu sendiri dan dugaan yang tidak bersandar pada tanda tersebut.
وَكُلُّ
مَا حَكَمْنَا فِي هَذِهِ الْأَقْسَامِ الْأَرْبَعَةِ بِحِلِّهِ فَهُوَ حَلَالٌ
فِي الدَّرَجَةِ الْأُولَىٰ، وَالِاحْتِيَاطُ تَرْكُهُ، فَالْمُقْدِمُ عَلَيْهِ
لَا يَكُونُ مِنْ زُمْرَةِ الْمُتَّقِينَ وَالصَّالِحِينَ، بَلْ مِنْ زُمْرَةِ
الْعُدُولِ الَّذِينَ لَا يُقْضَىٰ فِي فَتْوَى الشَّرْعِ بِفِسْقِهِمْ
وَعِصْيَانِهِمْ وَاسْتِحْقَاقِهِمُ الْعُقُوبَةَ إِلَّا مَا أَلْحَقْنَاهُ
بِرُتْبَةِ الْوَسْوَاسِ، فَإِنَّ الِاحْتِرَازَ عَنْهُ لَيْسَ مِنَ الْوَرَعِ
أَصْلًا.
Segala sesuatu yang kami putuskan halal dalam empat keadaan
ini adalah halal pada derajat pertama, sementara sikap hati-hati ialah
meninggalkannya. Maka orang yang melakukannya tidak termasuk golongan orang
bertakwa dan saleh, tetapi termasuk golongan orang-orang lurus yang dalam fatwa
syariat tidak diputus fasik, durhaka, atau berhak dihukum, kecuali perkara yang
kami masukkan dalam tingkat waswas; sebab menghindarinya sama sekali bukan
wara'.
الْمُثِيرُ
الثَّانِي لِلشُّبْهَةِ: شَكٌّ مَنْشَؤُهُ الِاخْتِلَاطُ.
Penyebab kedua syubhat ialah keraguan yang timbul karena
percampuran.
وَذَلِكَ
بِأَنْ يَخْتَلِطَ الْحَرَامُ بِالْحَلَالِ وَيَشْتَبِهَ الْأَمْرُ وَلَا
يَتَمَيَّزَ. وَالْخَلْطُ لَا يَخْلُو إِمَّا أَنْ يَقَعَ بِعَدَدٍ لَا يُحْصَرُ
مِنَ الْجَانِبَيْنِ أَوْ مِنْ أَحَدِهِمَا، أَوْ بِعَدَدٍ مَحْصُورٍ.
Yaitu ketika yang haram bercampur dengan yang halal sehingga
urusannya menjadi samar dan tidak bisa dibedakan. Campurannya itu tidak lepas
dari dua kemungkinan: jumlahnya tidak terhitung dari kedua sisi atau dari salah
satunya, atau jumlahnya terbatas.
فَإِنِ
اخْتَلَطَ بِمَحْصُورٍ فَلَا يَخْلُو إِمَّا أَنْ يَكُونَ اخْتِلَاطَ امْتِزَاجٍ
حَتَّىٰ لَا يَتَمَيَّزُ بِالْإِشَارَةِ، كَاخْتِلَاطِ الْمَائِعَاتِ، أَوْ
يَكُونَ اخْتِلَاطَ اسْتِبْهَامٍ مَعَ التَّمَيُّزِ لِلْأَعْيَانِ، كَاخْتِلَاطِ
الْعَبِيدِ وَالدُّورِ وَالْأَفْرَاسِ.
Jika bercampur dengan jumlah yang terbatas, maka tidak lepas
dari dua keadaan: pencampuran yang menyatu sehingga tidak bisa dibedakan dengan
isyarat, seperti campurannya cairan; atau pencampuran yang menimbulkan
kebingungan tetapi benda-bendanya tetap terbedakan, seperti campurnya budak,
rumah, dan kuda.
وَالَّذِي
يَخْتَلِطُ بِالِاسْتِبْهَامِ فَلَا يَخْلُو إِمَّا أَنْ يَكُونَ مِمَّا يُقْصَدُ
عَيْنُهُ كَالْعُرُوضِ، أَوْ لَا يُقْصَدُ كَالنُّقُودِ.
Adapun yang bercampur secara membingungkan tetapi
benda-bendanya tetap terbedakan, maka tidak lepas dari dua kemungkinan: sesuatu
yang memang dituju zatnya, seperti barang dagangan; atau sesuatu yang tidak
dituju zatnya, seperti uang logam.
فَيَخْرُجُ
مِنْ هَذَا التَّقْسِيمِ ثَلَاثَةُ أَقْسَامٍ.
Maka dari pembagian ini keluarlah tiga bagian.