Pembagian Harta Haram

وَنَحْنُ الْآنَ نُشِيرُ إِلَىٰ مَجَامِعِهِ فِي سِيَاقٍ تَقْسِيمٍ، وَهُوَ أَنَّ الْمَالَ إِنَّمَا يَحْرُمُ إِمَّا لِمَعْنًى فِي عَيْنِهِ، أَوْ لِخَلَلٍ فِي جِهَةِ اكْتِسَابِهِ. الْقِسْمُ الْأَوَّلُ: الْحَرَامُ لِصِفَةٍ فِي عَيْنِهِ، كَالْخَمْرِ وَالْخِنْزِيرِ وَغَيْرِهِمَا.

Sekarang kami akan menunjukkan pokok-pokoknya dalam susunan pembagian, yaitu bahwa harta itu haram karena salah satu dari dua sebab: karena sifat yang ada pada zatnya sendiri, atau karena cacat pada cara memperolehnya. Bagian pertama ialah yang haram karena sifat pada zatnya, seperti khamar, babi, dan selain keduanya.

وَتَفْصِيلُهُ أَنَّ الْأَعْيَانَ الْمَأْكُولَةَ عَلَىٰ وَجْهِ الْأَرْضِ لَا تَعْدُو ثَلَاثَةَ أَقْسَامٍ؛ فَإِنَّهَا إِمَّا أَنْ تَكُونَ مِنَ الْمَعَادِنِ، كَالْمِلْحِ وَالطِّينِ وَغَيْرِهِمَا، أَوْ مِنَ النَّبَاتِ، أَوْ مِنَ الْحَيَوَانَاتِ.

Rincinya, benda-benda yang dapat dimakan di muka bumi tidak keluar dari tiga jenis: ada yang termasuk mineral, seperti garam dan tanah liat serta selain keduanya; ada yang termasuk tumbuh-tumbuhan; dan ada yang termasuk hewan.

أَمَّا الْمَعَادِنُ فَهِيَ أَجْزَاءُ الْأَرْضِ وَجَمِيعُ مَا يَخْرُجُ مِنْهَا، فَلَا يَحْرُمُ أَكْلُهُ إِلَّا مِنْ حَيْثُ إِنَّهُ يَضُرُّ بِالْآكِلِ. وَفِي بَعْضِهَا مَا يَجْرِي مَجْرَى السُّمِّ. وَلَوْ كَانَ الْخُبْزُ مُضِرًّا لَحَرُمَ أَكْلُهُ، وَالطِّينُ الَّذِي يُعْتَادُ أَكْلُهُ لَا يَحْرُمُ إِلَّا مِنْ حَيْثُ الضَّرَرِ.

Adapun mineral, itu adalah bagian-bagian bumi dan segala sesuatu yang keluar darinya. Maka tidak haram memakannya kecuali jika membahayakan orang yang memakannya. Di antara mineral itu ada yang berfungsi seperti racun. Kalau roti itu membahayakan, tentu memakannya haram. Tanah liat yang biasa dimakan pun tidak haram kecuali bila membawa mudarat.

وَفَائِدَةُ قَوْلِنَا إِنَّهُ لَا يَحْرُمُ مَعَ أَنَّهُ لَا يُؤْكَلُ: أَنَّهُ لَوْ وَقَعَ شَيْءٌ مِنْهَا فِي مَرَقَةٍ أَوْ طَعَامٍ مَائِعٍ لَمْ يَصِرْ بِهِ مُحَرَّمًا.

Faedah dari ucapan kami bahwa ia tidak haram meskipun tidak dimakan ialah: apabila sesuatu darinya jatuh ke dalam kuah atau makanan cair, maka makanan itu tidak menjadi haram karenanya.

وَأَمَّا النَّبَاتُ فَلَا يَحْرُمُ مِنْهُ إِلَّا مَا يُزِيلُ الْعَقْلَ، أَوْ يُزِيلُ الْحَيَاةَ، أَوِ الصِّحَّةَ. فَمُزِيلُ الْعَقْلِ الْبَنْجُ وَالْخَمْرُ وَسَائِرُ الْمُسْكِرَاتِ، وَمُزِيلُ الْحَيَاةِ السُّمُومُ، وَمُزِيلُ الصِّحَّةِ الْأَدْوِيَةُ فِي غَيْرِ وَقْتِهَا.

Adapun tumbuh-tumbuhan, maka tidak ada yang haram darinya kecuali yang menghilangkan akal, menghilangkan nyawa, atau menghilangkan kesehatan. Yang menghilangkan akal ialah bang, khamar, dan segala minuman memabukkan. Yang menghilangkan nyawa ialah racun. Yang menghilangkan kesehatan ialah obat-obatan yang digunakan bukan pada waktunya.

وَكَأَنَّ مَجْمُوعَ هَذَا يَرْجِعُ إِلَى الضَّرَرِ، إِلَّا الْخَمْرَ وَالْمُسْكِرَاتِ، فَإِنَّ الَّذِي لَا يُسْكِرُ مِنْهَا أَيْضًا حَرَامٌ مَعَ قِلَّتِهِ لِعَيْنِهِ وَلِصِفَتِهِ، وَهِيَ الشِّدَّةُ الْمُطْرِبَةُ.

Seakan-akan seluruhnya kembali kepada unsur bahaya, kecuali khamar dan minuman memabukkan. Sebab yang tidak memabukkan darinya pun tetap haram, walau sedikit, karena zatnya dan sifatnya, yaitu kekuatan yang memabukkan dan menggelisahkan.

وَأَمَّا السُّمُّ فَإِذَا خَرَجَ عَنْ كَوْنِهِ مُضِرًّا لِقِلَّتِهِ أَوْ لِعَجْنِهِ بِغَيْرِهِ فَلَا يَحْرُمُ.

Adapun racun, jika karena sedikitnya atau karena telah bercampur dengan yang lain ia tidak lagi membahayakan, maka ia tidak haram.

وَأَمَّا الْحَيَوَانَاتُ فَتَنْقَسِمُ إِلَىٰ مَا يُؤْكَلُ وَإِلَىٰ مَا لَا يُؤْكَلُ، وَتَفْصِيلُهُ فِي كِتَابِ الْأَطْعِمَةِ. وَالنَّظَرُ يَطُولُ فِي تَفْصِيلِهِ، لَا سِيَّمَا فِي الطُّيُورِ الْغَرِيبَةِ وَحَيَوَانَاتِ الْبَرِّ وَالْبَحْرِ، وَمَا يَحِلُّ أَكْلُهُ مِنْهَا.

Adapun hewan, maka terbagi menjadi yang boleh dimakan dan yang tidak boleh dimakan. Rinciannya ada dalam Kitab al-Aṭ‘imah. Pembahasannya akan panjang jika dirinci, khususnya tentang burung-burung yang asing, hewan-hewan darat dan laut, serta apa saja yang halal dimakan darinya.

فَإِنَّمَا يَحِلُّ إِذَا ذُبِحَ ذَبْحًا شَرْعِيًّا رُوعِيَ فِيهِ شُرُوطُ الذَّابِحِ وَالْآلَةِ وَالذَّبْحِ، وَذَلِكَ مَذْكُورٌ فِي كِتَابِ الصَّيْدِ وَالذَّبَائِحِ.

Sesungguhnya ia halal bila disembelih dengan penyembelihan yang syar‘i, dengan memperhatikan syarat penyembelih, alat sembelih, dan tata cara penyembelihan. Hal ini disebutkan dalam Kitab al-Ṣayd wa al-Dzaba’iḥ.

وَمَا لَمْ يُذْبَحْ ذَبْحًا شَرْعِيًّا أَوْ مَاتَ فَهُوَ حَرَامٌ، وَلَا يَحِلُّ إِلَّا مَيْتَتَانِ: السَّمَكُ وَالْجَرَادُ.

Apa yang tidak disembelih secara syar‘i atau mati sendiri, maka ia haram. Tidak ada bangkai yang halal kecuali dua: ikan dan belalang.

وَفِي مَعْنَاهُمَا مَا يَسْتَحِيلُ مِنَ الْأَطْعِمَةِ، كَدُودِ التُّفَّاحِ وَالْخَلِّ وَالْجُبْنِ، فَإِنَّ الِاحْتِرَازَ مِنْهُمَا غَيْرُ مُمْكِنٍ.

Dan yang semakna dengan keduanya ialah makhluk yang berubah dari makanan, seperti ulat dalam apel, cuka, dan keju. Sebab menghindarinya tidak mungkin.

فَأَمَّا إِذَا أُفْرِدَتْ وَأُكِلَتْ فَحُكْمُهَا حُكْمُ الذُّبَابِ وَالْخَنَافِسِ وَالْعَقْرَبِ، وَكُلِّ مَا لَيْسَ لَهُ نَفْسٌ سَائِلَةٌ.

Adapun jika ia dipisahkan lalu dimakan, maka hukumnya seperti lalat, kumbang, kalajengking, dan semua yang tidak memiliki darah yang mengalir.

لَا سَبَبَ فِي تَحْرِيمِهَا إِلَّا الِاسْتِقْذَارُ، وَلَوْ لَمْ يَكُنْ لَكَانَ لَا يُكْرَهُ. فَإِنْ وَجَدَ شَخْصٌ لَا يَسْتَقْذِرُهُ لَمْ يُلْتَفَتْ إِلَىٰ خُصُوصِ طَبْعِهِ، فَإِنَّهُ الْتَحَقَ بِالْخَبَائِثِ لِعُمُومِ الِاسْتِقْذَارِ، فَيُكْرَهُ أَكْلُهُ، كَمَا لَوْ جُمِعَ الْمُخَاطُ وَشُرِبَ كُرِهَ.

Tidak ada sebab pengharamannya kecuali karena rasa jijik. Seandainya bukan karena itu, ia tidak dimakruhkan. Jika ada seseorang yang secara pribadi tidak merasa jijik terhadapnya, maka sifat pribadinya itu tidak diperhitungkan, karena ia telah masuk ke dalam golongan yang kotor menurut kebiasaan umum, maka memakannya menjadi makruh; seperti halnya jika ingus dikumpulkan lalu diminum, tentu itu dibenci.

وَلَيْسَتِ الْكَرَاهَةُ لِنَجَاسَتِهَا، فَإِنَّ الصَّحِيحَ أَنَّهَا لَا تَنْجُسُ بِالْمَوْتِ، إِذْ أَمَرَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم بِأَنْ يُمَقَّلَ الذُّبَابُ فِي الطَّعَامِ إِذَا وَقَعَ فِيهِ.

Dan kemakruhannya itu bukan karena najisnya, sebab pendapat yang benar ialah bahwa ia tidak menjadi najis karena mati. Nabi memerintahkan agar lalat dicelupkan ke dalam makanan apabila jatuh ke dalamnya.

وَرُبَّمَا يَكُونُ حَارًّا وَيَكُونُ ذَلِكَ سَبَبَ مَوْتِهِ، وَلَوْ مَاتَتْ نَمْلَةٌ أَوْ ذُبَابَةٌ فِي قِدْرٍ لَمْ يَجِبْ إِرَاقَتُهَا، إِذِ الْمُسْتَقْذَرُ هُوَ جِرْمُهَا إِذَا بَقِيَ لَهَا جِرْمٌ، وَلَمْ يَنْجُسْ حَتَّىٰ يُحَرَّمَ بِالنَّجَاسَةِ.

Bisa jadi makanan itu panas sehingga itulah sebab matinya. Jika seekor semut atau lalat mati di dalam panci, panci itu tidak wajib dibuang. Sebab yang dianggap menjijikkan adalah jasadnya selama masih tampak jasadnya. Ia tidak menjadi najis sehingga haram karena najis itu.

وَهَذَا يَدُلُّ عَلَىٰ أَنَّ تَحْرِيمَهُ لِلِاسْتِقْذَارِ. وَلِذَلِكَ نَقُولُ: لَوْ وَقَعَ جُزْءٌ مِنْ آدَمِيٍّ مَيِّتٍ فِي قِدْرٍ، وَلَوْ وَزْنَ دَانِقٍ، حَرُمَ الْكُلُّ، لَا لِنَجَاسَتِهِ، فَإِنَّ الصَّحِيحَ أَنَّ الْآدَمِيَّ لَا يَنْجُسُ بِالْمَوْتِ، وَلَكِنْ لِأَنَّ أَكْلَهُ مُحَرَّمٌ احْتِرَامًا لَا اسْتِقْذَارًا.

Ini menunjukkan bahwa pengharamannya karena rasa jijik. Oleh sebab itu kami katakan: jika sepotong anggota tubuh manusia yang telah mati jatuh ke dalam panci, walau seberat satu daniq, maka seluruhnya haram. Bukan karena najisnya, sebab pendapat yang benar ialah bahwa manusia tidak najis karena mati. Akan tetapi, karena memakannya haram sebagai bentuk penghormatan, bukan karena menjijikkan.

وَأَمَّا الْحَيَوَانَاتُ الْمَأْكُولَةُ إِذَا ذُبِحَتْ بِشَرْطِ الشَّرْعِ فَلَا تَحِلُّ جَمِيعُ أَجْزَائِهَا، بَلْ يَحْرُمُ مِنْهَا الدَّمُ وَالْفَرْثُ وَكُلُّ مَا يُقْضَىٰ بِنَجَاسَتِهِ مِنْهَا، بَلْ تَنَاوُلُ النَّجَاسَةِ مُطْلَقًا حَرَامٌ، وَلَكِنْ لَيْسَ فِي الْأَعْيَانِ شَيْءٌ مُحَرَّمٌ نَجِسٌ إِلَّا مِنَ الْحَيَوَانَاتِ.

Adapun hewan yang boleh dimakan, jika disembelih dengan syarat syariat, maka tidak semua bagiannya menjadi halal. Justru darah, kotoran, dan segala bagian yang diputuskan najis darinya adalah haram. Bahkan mengonsumsi najis secara mutlak adalah haram. Namun tidak ada benda yang secara zatnya haram dan najis kecuali yang berasal dari hewan.

وَأَمَّا مِنَ النَّبَاتِ فَالْمُسْكِرَاتُ فَقَطْ دُونَ مَا يُزِيلُ الْعَقْلَ وَلَا يُسْكِرُ، كَالْبَنْجِ. فَإِنَّ نَجَاسَةَ الْمُسْكِرِ تَغْلِيظٌ لِلزَّجْرِ عَنْهُ لِكَوْنِهِ فِي مَظِنَّةِ التَّشَوُّفِ.

Adapun dari tumbuh-tumbuhan, yang haram hanyalah yang memabukkan, bukan yang sekadar menghilangkan akal tetapi tidak memabukkan, seperti bang. Karena najisnya minuman memabukkan merupakan bentuk penegasan untuk mencegahnya, sebab ia sangat rawan diminati.

وَمَهْمَا وَقَعَتْ قَطْرَةٌ مِنَ النَّجَاسَةِ أَوْ جُزْءٌ مِنْ نَجَاسَةٍ جَامِدَةٍ فِي مَرَقَةٍ أَوْ طَعَامٍ أَوْ دُهْنٍ حَرُمَ أَكْلُ جَمِيعِهِ، وَلَا يَحْرُمُ الِانْتِفَاعُ بِهِ لِغَيْرِ الْأَكْلِ، فَيَجُوزُ الِاسْتِصْبَاحُ بِالدُّهْنِ النَّجِسِ، وَكَذَلِكَ طِلَاءُ السُّفُنِ وَالْحَيَوَانَاتِ وَغَيْرِهَا.

Jika setetes najis atau sepotong najis yang padat jatuh ke dalam kuah, makanan, atau minyak, maka memakan semuanya haram. Namun memanfaatkannya untuk selain dimakan tidak haram. Maka boleh menyalakan lampu dengan minyak najis, demikian juga menggunakannya untuk melapisi kapal, hewan, dan selainnya.

فَهَذِهِ مَجَامِعُ مَا يَحْرُمُ لِصِفَةٍ فِي ذَاتِهِ.

Inilah pokok-pokok yang haram karena sifat yang melekat pada zatnya.

الْقِسْمُ الثَّانِي: مَا يَحْرُمُ لِخَلَلٍ فِي جِهَةِ إِثْبَاتِ الْيَدِ عَلَيْهِ.

Bagian kedua ialah yang haram karena cacat pada cara menetapkan penguasaan atasnya.

وَفِيهِ يَتَّسِعُ النَّظَرُ، فَنَقُولُ: أَخْذُ الْمَالِ إِمَّا أَنْ يَكُونَ بِاخْتِيَارِ الْمَالِكِ أَوْ بِغَيْرِ اخْتِيَارِهِ. فَالَّذِي يَكُونُ بِغَيْرِ اخْتِيَارِهِ كَالْإِرْثِ، وَالَّذِي يَكُونُ بِاخْتِيَارِهِ إِمَّا أَنْ لَا يَكُونَ مِنْ مَالِكٍ كَنَيْلِ الْمَعَادِنِ، أَوْ يَكُونَ مِنْ مَالِكٍ.

Dalam hal ini pembahasannya meluas. Maka kami katakan: mengambil harta bisa terjadi dengan pilihan pemiliknya atau tanpa pilihannya. Yang tanpa pilihan pemiliknya seperti warisan. Yang dengan pilihannya bisa jadi bukan dari pemilik, seperti mengambil hasil tambang; atau dari seorang pemilik.

وَالْمَأْخُوذُ مِنْ مَالِكٍ فَإِمَّا أَنْ يُؤْخَذَ قَهْرًا أَوْ يُؤْخَذَ تَرَاضِيًا. وَالْمَأْخُوذُ قَهْرًا إِمَّا أَنْ يَكُونَ لِسُقُوطِ عِصْمَةِ الْمَالِكِ، كَالْغَنَائِمِ، أَوْ لِاسْتِحْقَاقِ الْأَخْذِ، كَزَكَاةِ الْمُمْتَنِعِينَ وَالنَّفَقَاتِ الْوَاجِبَةِ عَلَيْهِمْ.

Apa yang diambil dari pemilik bisa diambil secara paksa atau secara rela. Yang diambil secara paksa bisa karena hilangnya perlindungan harta pemilik, seperti harta rampasan perang; atau karena adanya hak untuk mengambilnya, seperti zakat dari orang yang menolak, dan nafkah yang wajib atas mereka.

وَالْمَأْخُوذُ تَرَاضِيًا إِمَّا أَنْ يُؤْخَذَ بِعِوَضٍ، كَالْبَيْعِ وَالصَّدَاقِ وَالْأُجْرَةِ، وَإِمَّا أَنْ يُؤْخَذَ بِغَيْرِ عِوَضٍ، كَالْهِبَةِ وَالْوَصِيَّةِ. فَيَحْصُلُ مِنْ هَذَا السِّيَاقِ سِتَّةُ أَقْسَامٍ.

Adapun yang diambil secara rela, bisa dengan imbalan, seperti jual beli, mahar, dan upah; atau tanpa imbalan, seperti hibah dan wasiat. Maka dari susunan ini terdapat enam bagian.

الْأَوَّلُ: مَا يُؤْخَذُ مِنْ غَيْرِ مَالِكٍ، كَنَيْلِ الْمَعَادِنِ وَإِحْيَاءِ الْمَوَاتِ وَالِاصْطِيَادِ وَالِاحْتِطَابِ وَالِاسْتِقَاءِ مِنَ الْأَنْهَارِ وَالِاحْتِشَاشِ، فَهَذَا حَلَالٌ بِشَرْطِ أَنْ لَا يَكُونَ الْمَأْخُوذُ مُخْتَصًّا بِذِي حُرْمَةٍ مِنَ الْآدَمِيِّينَ. فَإِذَا انْفَكَّ مِنَ الِاخْتِصَاصَاتِ مَلَكَهُ آخِذُهُ.

Pertama, yang diambil dari bukan pemilik, seperti mengambil hasil tambang, menghidupkan tanah mati, berburu, mencari kayu bakar, mengambil air dari sungai, dan mencari rumput. Ini halal, dengan syarat apa yang diambil itu tidak menjadi milik khusus seseorang yang terhormat dari kalangan manusia. Jika ia lepas dari hak-hak khusus itu, maka pengambilnya menjadi pemiliknya.

وَتَفْصِيلُ ذَٰلِكَ فِي كِتَابِ إِحْيَاءِ الْمَوَاتِ.

Rinciannya ada dalam Kitab Ihyā’ al-Mawāt.

الثَّانِي: الْمَأْخُوذُ قَهْرًا مِمَّنْ لَا حُرْمَةَ لَهُ، وَهُوَ الْفَيْءُ وَالْغَنِيمَةُ وَسَائِرُ أَمْوَالِ الْكُفَّارِ وَالْمُحَارِبِينَ. وَذَلِكَ حَلَالٌ لِلْمُسْلِمِينَ إِذَا أَخْرَجُوا مِنْهَا الْخُمُسَ وَقَسَّمُوهَا بَيْنَ الْمُسْتَحِقِّينَ بِالْعَدْلِ، وَلَمْ يَأْخُذُوهَا مِنْ كَافِرٍ لَهُ حُرْمَةٌ وَأَمَانٌ وَعَهْدٌ.

Kedua, yang diambil secara paksa dari pihak yang tidak memiliki kehormatan perlindungan, yaitu fay’, ghanimah, dan seluruh harta orang-orang kafir dan para pejuang musuh. Itu halal bagi kaum muslimin, bila mereka mengeluarkan seperlima darinya dan membaginya kepada yang berhak secara adil, serta tidak mengambilnya dari kafir yang memiliki kehormatan perlindungan, aman, dan perjanjian.

وَتَفْصِيلُ هَذِهِ الشُّرُوطِ فِي كِتَابِ السِّيَرِ مِنْ كِتَابِ الْفَيْءِ وَالْغَنِيمَةِ وَكِتَابِ الْجِزْيَةِ.

Rincian syarat-syarat ini ada dalam Kitab al-Siyar, pada pembahasan fay’, ghanimah, dan kitab jizyah.

الثَّالِثُ: مَا يُؤْخَذُ قَهْرًا بِاسْتِحْقَاقٍ عِنْدَ امْتِنَاعِ مَنْ وَجَبَ عَلَيْهِ، فَيُؤْخَذُ دُونَ رِضَاهُ. وَذَلِكَ حَلَالٌ إِذَا تَمَّ سَبَبُ الِاسْتِحْقَاقِ، وَتَمَّ وَصْفُ الْمُسْتَحِقِّ الَّذِي بِهِ اسْتِحْقَاقُهُ، وَاقْتُصِرَ عَلَى الْقَدْرِ الْمُسْتَحَقِّ، وَاسْتُوفِيَ مِمَّنْ يَمْلِكُ الِاسْتِيفَاءَ مِنْ قَاضٍ أَوْ سُلْطَانٍ أَوْ مُسْتَحِقٍّ.

Ketiga, yang diambil secara paksa berdasarkan hak, ketika orang yang wajib memberikannya menolak, lalu diambil tanpa kerelaannya. Itu halal bila sebab hak tersebut telah sempurna, sifat pihak yang berhak juga sempurna, lalu hanya diambil sekadar yang memang menjadi hak, dan diambil melalui pihak yang berwenang menagih, seperti hakim, penguasa, atau si pemilik hak sendiri.

وَتَفْصِيلُ ذَٰلِكَ فِي كِتَابِ تَفْرِيقِ الصَّدَقَاتِ وَكِتَابِ الْوَقْفِ وَكِتَابِ النَّفَقَاتِ، إِذْ فِيهَا النَّظَرُ فِي صِفَةِ الْمُسْتَحِقِّينَ لِلزَّكَاةِ وَالْوَقْفِ وَالنَّفَقَةِ وَغَيْرِهَا مِنَ الْحُقُوقِ. فَإِذَا اسْتُوْفِيَتْ شَرَائِطُهَا كَانَ الْمَأْخُوذُ حَلَالًا.

Rinciannya ada dalam Kitab Pembagian Zakat, Kitab Wakaf, dan Kitab Nafkah. Di sana dibahas sifat-sifat orang yang berhak atas zakat, wakaf, nafkah, dan hak-hak lainnya. Jika syarat-syaratnya terpenuhi, maka apa yang diambil itu menjadi halal.

الرَّابِعُ: مَا يُؤْخَذُ تَرَاضِيًا بِمُعَاوَضَةٍ، وَذَلِكَ حَلَالٌ إِذَا رُوعِيَ شَرْطُ الْعِوَضَيْنِ، وَشَرْطُ الْعَاقِدَيْنِ، وَشَرْطُ اللَّفْظَيْنِ، أَعْنِي الْإِيجَابَ وَالْقَبُولَ، مَعَ مَا تَعَبَّدَ الشَّرْعُ بِهِ مِنِ اجْتِنَابِ الشُّرُوطِ الْمُفْسِدَةِ.

Keempat, yang diambil secara saling rela melalui transaksi timbal balik. Itu halal bila syarat dua barang yang dipertukarkan, syarat dua pihak yang berakad, dan syarat dua lafaz, yaitu ijab dan kabul, dipenuhi, beserta larangan-larangan syariat terhadap syarat-syarat yang merusak akad.

وَبَيَانُ ذَٰلِكَ فِي كِتَابِ الْبَيْعِ وَالسَّلَمِ وَالْإِجَارَةِ وَالْحَوَالَةِ وَالضَّمَانِ وَالْقِرَاضِ وَالشِّرْكَةِ وَالْمُسَاقَاةِ وَالشُّفْعَةِ وَالصُّلْحِ وَالْخُلْعِ وَالْكِتَابَةِ وَالصَّدَاقِ وَسَائِرِ الْمُعَاوَضَاتِ.

Penjelasannya ada dalam kitab jual beli, salam, ijarah, hawalah, penjaminan, qiradh, syirkah, musaqah, syuf‘ah, sulh, khul‘, mukatabah, mahar, dan seluruh bentuk transaksi timbal balik.

الْخَامِسُ: مَا يُؤْخَذُ عَنْ رِضًا مِنْ غَيْرِ عِوَضٍ، وَهُوَ حَلَالٌ إِذَا رُوعِيَ فِيهِ شَرْطُ الْمَعْقُودِ عَلَيْهِ وَشَرْطُ الْعَاقِدَيْنِ وَشَرْطُ الْعَقْدِ، وَلَمْ يُؤَدِّ إِلَىٰ ضَرَرٍ بِوَارِثٍ أَوْ غَيْرِهِ، وَذَلِكَ مَذْكُورٌ فِي كِتَابِ الْهِبَاتِ وَالْوَصَايَا وَالصَّدَقَاتِ.

Kelima, yang diambil secara rela tanpa imbalan. Itu halal bila syarat objek yang diakadkan, syarat dua pihak yang berakad, dan syarat akad diperhatikan, serta tidak menimbulkan mudarat bagi ahli waris atau selainnya. Hal ini disebutkan dalam kitab hibah, wasiat, dan sedekah.

السَّادِسُ: مَا يَحْصُلُ بِغَيْرِ اخْتِيَارٍ، كَالْمِيرَاثِ، وَهُوَ حَلَالٌ إِذَا كَانَ الْمُورَّثُ قَدِ اكْتَسَبَ الْمَالَ مِنْ بَعْضِ الْجِهَاتِ الْخَمْسِ عَلَىٰ وَجْهٍ حَلَالٍ، ثُمَّ كَانَ ذَلِكَ بَعْدَ قَضَاءِ الدَّيْنِ وَتَنْفِيذِ الْوَصَايَا وَتَعْدِيلِ الْقِسْمَةِ بَيْنَ الْوَرَثَةِ وَإِخْرَاجِ الزَّكَاةِ وَالْحَجِّ وَالْكَفَّارَةِ إِنْ كَانَتْ وَاجِبَةً، وَذَلِكَ مَذْكُورٌ فِي كِتَابِ الْوَصَايَا وَالْفَرَائِضِ.

Keenam, yang diperoleh tanpa pilihan, seperti warisan. Itu halal bila orang yang diwarisi itu telah memperoleh hartanya dari salah satu dari lima jalur tadi dengan cara yang halal. Kemudian itu harus dilakukan setelah pelunasan utang, pelaksanaan wasiat, pembagian yang adil di antara para ahli waris, dan pengeluaran zakat, haji, serta kafarat bila wajib. Hal ini disebutkan dalam Kitab Wasiat dan Faraid.

فَهَذِهِ مَجَامِعُ مَدَاخِلِ الْحَلَالِ وَالْحَرَامِ، أَوْمَأْنَا إِلَىٰ جُمْلَتِهَا لِيَعْلَمَ الْمُرِيدُ أَنَّهُ إِنْ كَانَتْ طُعْمَتُهُ مُتَفَرِّقَةً لَا مِنْ جِهَةٍ مُعَيَّنَةٍ فَلَا يَسْتَغْنِي عَنْ عِلْمِ هَذِهِ الْأُمُورِ.

Inilah pokok-pokok jalan masuk halal dan haram. Kami menunjuk kepada keseluruhannya agar pencari ilmu mengetahui bahwa jika sumber makanannya beraneka dan tidak berasal dari satu jalur tertentu, maka ia tidak bisa cukup tanpa mengetahui masalah-masalah ini.

فَكُلُّ مَا يَأْكُلُهُ مِنْ جِهَةٍ مِنَ الْجِهَاتِ يَنْبَغِي أَنْ يَسْتَفْتِيَ فِيهِ أَهْلَ الْعِلْمِ، وَلَا يُقْدِمَ عَلَيْهِ بِالْجَهْلِ، فَإِنَّهُ كَمَا يُقَالُ لِلْعَالِمِ: لِمَ خَالَفْتَ عِلْمَكَ، يُقَالُ لِلْجَاهِلِ: لِمَ لَازَمْتَ جَهْلَكَ وَلَمْ تَتَعَلَّمْ، بَعْدَ أَنْ قِيلَ لَكَ إِنَّ طَلَبَ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَىٰ كُلِّ مُسْلِمٍ؟

Maka apa pun yang ia makan dari jalur mana pun, hendaklah ia meminta fatwa kepada ahli ilmu, dan jangan berani melakukannya dengan kebodohan. Sebab sebagaimana kepada orang alim dikatakan: mengapa engkau menyelisihi ilmumu? Maka kepada orang bodoh dikatakan: mengapa engkau terus bersama kebodohanmu dan tidak belajar, padahal telah dikatakan kepadamu bahwa menuntut ilmu adalah kewajiban setiap muslim?

دَرَجَاتُ الْحَلَالِ وَالْحَرَامِ.

Tingkatan halal dan haram.

اعْلَمْ أَنَّ الْحَرَامَ كُلَّهُ خَبِيثٌ، وَلَكِنَّ بَعْضَهُ أَخْبَثُ مِنْ بَعْضٍ، وَالْحَلَالَ كُلَّهُ طَيِّبٌ، وَلَكِنَّ بَعْضَهُ أَطْيَبُ مِنْ بَعْضٍ وَأَصْفَىٰ مِنْ بَعْضٍ. وَكَمَا أَنَّ الطَّبِيبَ يَحْكُمُ عَلَىٰ كُلِّ حُلْوٍ بِالْحَرَارَةِ، وَلَكِنْ يَقُولُ: بَعْضُهَا حَارٌّ فِي الدَّرَجَةِ الْأُولَىٰ كَالسُّكَّرِ، وَبَعْضُهَا فِي الثَّانِيَةِ كَالْفَانِيدِ، وَبَعْضُهَا فِي الثَّالِثَةِ كَالدِّبْسِ، وَبَعْضُهَا فِي الرَّابِعَةِ كَالْعَسَلِ.

Ketahuilah bahwa seluruh yang haram itu buruk, tetapi sebagian lebih buruk daripada yang lain. Seluruh yang halal itu baik, tetapi sebagian lebih baik dan lebih jernih daripada yang lain. Sebagaimana dokter menilai semua yang manis sebagai bersifat panas, namun berkata: sebagian panas pada derajat pertama seperti gula, sebagian pada derajat kedua seperti permen, sebagian pada derajat ketiga seperti sirup tebu, dan sebagian pada derajat keempat seperti madu.

كَذَلِكَ الْحَرَامُ، بَعْضُهُ خَبِيثٌ حَارٌّ فِي الدَّرَجَةِ الْأُولَىٰ، وَبَعْضُهُ فِي الثَّانِيَةِ أَوِ الثَّالِثَةِ أَوِ الرَّابِعَةِ. وَكَذَلِكَ الْحَلَالُ تَتَفَاوَتُ دَرَجَاتُ صِفَاتِهِ وَطِيبِهِ، فَلْنَقْتَدِ بِأَهْلِ الطِّبِّ فِي الِاصْطِلَاحِ عَلَىٰ أَرْبَعِ دَرَجَاتٍ تَقْرِيبًا.

Demikian pula dengan yang haram; sebagian darinya buruk pada derajat pertama, sebagian pada derajat kedua, ketiga, atau keempat. Begitu pula yang halal, derajat sifat dan kebaikannya berbeda-beda. Maka mari kita mengikuti ahli kedokteran dalam istilah empat derajat ini secara pendekatan.

وَإِنْ كَانَ التَّحْقِيقُ لَا يُوجِبُ هَذَا الْحَصْرَ، إِذْ يَتَطَرَّقُ إِلَىٰ كُلِّ دَرَجَةٍ مِنَ الدَّرَجَاتِ أَيْضًا تَفَاوُتٌ لَا يَنْحَصِرُ، فَإِنَّ مِنَ السُّكَّرِ مَا هُوَ أَشَدُّ حَرَارَةً مِنْ سُكَّرٍ آخَرَ. وَكَذَلِكَ غَيْرُهُ، فَلِذَلِكَ نَقُولُ: الْوَرَعُ عَنِ الْحَرَامِ عَلَىٰ أَرْبَعِ دَرَجَاتٍ.

Walaupun jika diteliti secara cermat pembatasan ini tidaklah mutlak, karena pada setiap derajat pun masih ada perbedaan yang tak terhitung. Sebab ada gula yang lebih panas daripada gula yang lain, dan demikian pula selainnya. Karena itu kami katakan: wara' dalam menjauhi haram ada empat tingkatan.

الْأُولَىٰ: وَرَعُ الْعُدُولِ، وَهُوَ الَّذِي يَجِبُ الْفِسْقُ بِاقْتِحَامِهِ، وَتَسْقُطُ الْعَدَالَةُ بِهِ، وَيَثْبُتُ اسْمُ الْعِصْيَانِ وَالتَّعَرُّضُ لِلنَّارِ بِسَبَبِهِ، وَهُوَ الْوَرَعُ عَنْ كُلِّ مَا تُحَرِّمُهُ فَتَاوَى الْفُقَهَاءِ.

Tingkat pertama: wara' orang-orang yang lurus. Ini adalah perkara yang bila diterjang maka pelakunya menjadi fasik, keadilannya gugur, dan ia mendapatkan nama durhaka serta terancam neraka. Ini ialah wara' dari segala sesuatu yang difatwakan haram oleh para fuqaha.

الثَّانِيَةُ: وَرَعُ الصَّالِحِينَ، وَهُوَ الِامْتِنَاعُ عَمَّا يَتَطَرَّقُ إِلَيْهِ احْتِمَالُ التَّحْرِيمِ، وَلَكِنَّ الْمُفْتِيَ يُرَخِّصُ فِي تَنَاوُلِهِ بِنَاءً عَلَى الظَّاهِرِ، فَهُوَ مِنْ مَوَاقِعِ الشُّبْهَةِ عَلَى الْجُمْلَةِ. فَلْنَسَمِّ التَّحَرُّجَ عَنْ ذَلِكَ وَرَعَ الصَّالِحِينَ، وَهُوَ فِي الدَّرَجَةِ الثَّانِيَةِ.

Tingkat kedua: wara' orang-orang saleh. Yaitu menahan diri dari sesuatu yang ada kemungkinan haramnya, meskipun mufti membolehkannya berdasarkan zahir. Ia termasuk wilayah syubhat secara umum. Maka kita sebut kehati-hatian dari hal itu sebagai wara' orang-orang saleh, dan ia berada pada derajat kedua.

الثَّالِثَةُ: مَا لَا تُحَرِّمُهُ الْفَتْوَىٰ وَلَا شُبْهَةَ فِي حِلِّهِ، وَلَكِنْ يُخَافُ مِنْهُ أَدَاؤُهُ إِلَىٰ مُحَرَّمٍ، وَهُوَ تَرْكُ مَا لَا بَأْسَ بِهِ مَخَافَةَ مَا بِهِ بَأْسٌ. وَهَذَا وَرَعُ الْمُتَيَقِّنِ.

Tingkat ketiga: sesuatu yang tidak diharamkan oleh fatwa dan tidak ada syubhat dalam halalnya, tetapi dikhawatirkan akan menuntun kepada yang haram. Ini ialah meninggalkan sesuatu yang sebenarnya tidak apa-apa karena takut kepada sesuatu yang mengandung bahaya. Inilah wara' orang yang meyakini.

قَالَ صلى الله عليه وسلم: لَا يَبْلُغُ الْعَبْدُ دَرَجَةَ الْمُتَّقِينَ حَتَّىٰ يَدَعَ مَا لَا بَأْسَ بِهِ مَخَافَةَ مَا بِهِ بَأْسٌ.

Nabi bersabda: “Seorang hamba tidak akan mencapai derajat orang-orang bertakwa sampai ia meninggalkan apa yang tidak apa-apa baginya karena takut kepada apa yang ada bahayanya.”

الرَّابِعَةُ: مَا لَا بَأْسَ بِهِ أَصْلًا وَلَا يُخَافُ مِنْهُ أَنْ يُؤَدِّيَ إِلَىٰ مَا بِهِ بَأْسٌ، وَلَكِنَّهُ يُتَنَاوَلُ لِغَيْرِ اللَّهِ وَعَلَىٰ غَيْرِ نِيَّةِ التَّقَوِّي بِهِ عَلَىٰ عِبَادَةِ اللَّهِ، أَوْ تَتَطَرَّقُ إِلَىٰ أَسْبَابِهِ الْمُسَهِّلَةِ لَهُ كَرَاهِيَةٌ أَوْ مَعْصِيَةٌ، وَالِامْتِنَاعُ مِنْهُ وَرَعُ الصِّدِّيقِينَ.

Tingkat keempat: sesuatu yang sama sekali tidak apa-apa, dan tidak dikhawatirkan akan menuntun kepada bahaya apa pun, tetapi dikonsumsi bukan karena Allah dan bukan dengan niat memperkuat diri untuk beribadah kepada Allah; atau karena ada sebab-sebab yang memudahkan kepada hal itu berupa kebencian atau maksiat. Meninggalkannya adalah wara'nya para shiddiqin.

فَهَذِهِ دَرَجَاتُ الْحَلَالِ جُمْلَةً إِلَىٰ أَنْ نُفَصِّلَهَا بِالْأَمْثِلَةِ وَالشَّوَاهِدِ.

Demikianlah tingkatan halal secara garis besar, sampai nanti kami jelaskan dengan contoh-contoh dan dalil-dalil.

وَأَمَّا الْحَرَامُ الَّذِي ذَكَرْنَاهُ فِي الدَّرَجَةِ الْأُولَىٰ فَهُوَ الَّذِي يُشْتَرَطُ التَّوَرُّعُ عَنْهُ فِي الْعَدَالَةِ وَإِطْرَاحِ سِمَةِ الْفِسْقِ. وَهُوَ أَيْضًا عَلَىٰ دَرَجَاتٍ فِي الْخُبْثِ.

Adapun yang haram yang kami sebut pada derajat pertama, ialah yang disyaratkan untuk dijauhi demi tegaknya keadilan dan gugurnya label kefasikan. Ia juga bertingkat-tingkat dalam keburukannya.

فَالْمَأْخُوذُ بِعَقْدٍ فَاسِدٍ، كَالْمُعَاطَاةِ مَثَلًا فِيمَا لَا يَجُوزُ فِيهِ الْمُعَاطَاةُ، حَرَامٌ وَلَكِنْ لَيْسَ فِي دَرَجَةِ الْمَغْصُوبِ عَلَى سَبِيلِ الْقَهْرِ، بَلِ الْمَغْصُوبُ أَغْلَظُ، إِذْ فِيهِ تَرْكُ طَرِيقِ الشَّرْعِ فِي الِاكْتِسَابِ وَإِيذَاءُ الْغَيْرِ.

Barang yang diambil dengan akad rusak, seperti mu‘āṭāh misalnya pada sesuatu yang tidak boleh dilakukan dengan mu‘āṭāh, adalah haram. Tetapi tingkatnya tidak sama dengan barang rampasan secara paksa. Barang rampasan lebih berat, karena di situ ada meninggalkan jalan syariat dalam mencari harta dan menyakiti orang lain.

وَلَيْسَ فِي الْمُعَاطَاةِ إِيذَاءٌ، وَإِنَّمَا فِيهِ تَرْكُ طَرِيقِ التَّعَبُّدِ فَقَطْ، ثُمَّ تَرْكُ طَرِيقِ التَّعَبُّدِ بِالْمُعَاطَاةِ أَهْوَنُ مِنْ تَرْكِهِ بِالرِّبَا.

Dalam mu‘āṭāh tidak ada unsur menyakiti, yang ada hanya meninggalkan jalan ibadah saja. Dan meninggalkan jalan ibadah dengan mu‘āṭāh lebih ringan daripada meninggalkannya dengan riba.

وَهَذَا التَّفَاوُتُ يُدْرَكُ بِتَشْدِيدِ الشَّرْعِ وَوَعِيدِهِ وَتَأْكِيدِهِ فِي بَعْضِ الْمَنَاهِي، عَلَىٰ مَا سَيَأْتِي فِي كِتَابِ التَّوْبَةِ عِنْدَ ذِكْرِ الْفَرْقِ بَيْنَ الْكَبِيرَةِ وَالصَّغِيرَةِ.

Perbedaan ini dipahami dari kerasnya syariat, ancamannya, dan penegasannya pada sebagian larangan, sebagaimana akan datang dalam Kitab Taubat ketika disebutkan perbedaan antara dosa besar dan dosa kecil.

بَلِ الْمَأْخُوذُ ظُلْمًا مِنْ فَقِيرٍ أَوْ صَالِحٍ أَوْ مِنْ يَتِيمٍ أَخْبَثُ وَأَعْظَمُ مِنَ الْمَأْخُوذِ مِنْ قَوِيٍّ أَوْ غَنِيٍّ أَوْ فَاسِقٍ؛ لِأَنَّ دَرَجَاتِ الْإِيذَاءِ تَخْتَلِفُ بِاخْتِلَافِ دَرَجَاتِ الْمُؤْذِي.

Bahkan harta yang diambil secara zalim dari orang miskin, orang saleh, atau anak yatim, lebih buruk dan lebih besar dosanya daripada yang diambil dari orang kuat, orang kaya, atau orang fasik. Sebab tingkat penyakitan berbeda-beda sesuai tingkat orang yang disakiti.

فَهَذِهِ دَقَائِقُ فِي تَفَاصِيلِ الْخَبَائِثِ لَا يَنْبَغِي أَنْ يُذْهَلَ عَنْهَا. فَلَوْلَا اخْتِلَافُ دَرَجَاتِ الْعُصَاةِ لَمَا اخْتَلَفَتْ دَرَجَاتُ النَّارِ.

Inilah rincian-rincian hal buruk yang tidak patut dilupakan. Seandainya derajat para pelaku maksiat tidak berbeda-beda, tentu derajat neraka pun tidak akan berbeda.

وَإِذَا عَرَفْتَ مُثِيرَاتِ التَّغْلِيظِ فَلَا حَاجَةَ إِلَىٰ حَصْرِهِ فِي ثَلَاثِ دَرَجَاتٍ أَوْ أَرْبَعٍ، فَإِنَّ ذَلِكَ جَارٍ مَجْرَى التَّحَكُّمِ وَالتَّشَهِّي، وَهُوَ طَلَبُ حَصْرٍ فِيمَا لَا حَاصِرَ لَهُ.

Jika engkau telah mengetahui sebab-sebab yang menjadikannya lebih berat, maka tidak perlu membatasinya pada tiga atau empat derajat. Sebab pembatasan seperti itu hanyalah semacam penetapan sesuka hati, yaitu memaksa membatasi sesuatu yang memang tidak terbatas.

وَيَدُلُّكَ عَلَىٰ اخْتِلَافِ دَرَجَاتِ الْحَرَامِ فِي الْخُبْثِ مَا سَيَأْتِي فِي تَعَارُضِ الْمَحْذُورَاتِ وَتَرْجِيحِ بَعْضِهَا عَلَىٰ بَعْضٍ، حَتَّىٰ إِذَا اضْطُرَّ إِلَىٰ أَكْلِ مَيْتَةٍ أَوْ أَكْلِ طَعَامِ غَيْرِهِ أَوْ أَكْلِ صَيْدِ الْحَرَمِ، فَإِنَّا نُقَدِّمُ بَعْضَ هَذَا عَلَىٰ بَعْضٍ.

Bukti bahwa haram itu berbeda-beda dalam keburukannya ialah apa yang akan datang dalam bab pertentangan larangan-larangan dan mengutamakan sebagian atas sebagian. Ketika seseorang terpaksa memakan bangkai, atau makanan milik orang lain, atau hasil buruan di tanah haram, maka kami akan mendahulukan sebagian atas sebagian.

أَمْثِلَةُ الدَّرَجَاتِ الْأَرْبَعِ فِي الْوَرَعِ وَشَوَاهِدُهَا.

Contoh-contoh empat derajat wara' dan dalil-dalilnya.

أَمَّا الدَّرَجَةُ الْأُولَىٰ، وَهِيَ وَرَعُ الْعُدُولِ، فَكُلُّ مَا اقْتَضَتِ الْفَتْوَىٰ تَحْرِيمَهُ مِمَّا يَدْخُلُ فِي الْمَدَاخِلِ السِّتَّةِ الَّتِي ذَكَرْنَاهَا مِنْ مَدَاخِلِ الْحَرَامِ لِفَقْدِ شَرْطٍ مِنَ الشُّرُوطِ، فَهُوَ الْحَرَامُ الْمُطْلَقُ الَّذِي يُنْسَبُ مُقْتَحِمُهُ إِلَى الْفِسْقِ وَالْمَعْصِيَةِ، وَهُوَ الَّذِي نُرِيدُ بِالْحَرَامِ الْمُطْلَقِ، وَلَا يَحْتَاجُ إِلَىٰ أَمْثِلَةٍ وَشَوَاهِدَ.

Adapun derajat pertama, yaitu wara' orang-orang lurus, maka setiap perkara yang menurut fatwa haram di antara enam jalan masuk yang telah kami sebutkan, karena tidak terpenuhinya salah satu syarat, itulah haram mutlak yang pelakunya dinisbatkan kepada kefasikan dan maksiat. Itulah yang kami maksud dengan haram mutlak, dan ia tidak memerlukan contoh dan dalil.

وَأَمَّا الدَّرَجَةُ الثَّانِيَةُ فَأَمْثِلَتُهَا كُلُّ شُبْهَةٍ لَا تُوجِبُ اجْتِنَابَهَا، وَلَكِنْ يُسْتَحَبُّ اجْتِنَابُهَا، كَمَا سَيَأْتِي فِي بَابِ الشُّبُهَاتِ. إِذْ مِنَ الشُّبُهَاتِ مَا يَجِبُ اجْتِنَابُهَا فَتَلْحَقُ بِالْحَرَامِ، وَمِنْهَا مَا يُكْرَهُ اجْتِنَابُهَا، فَالْوَرَعُ عَنْهَا وَرَعُ الْمَوْسُوسِينَ.

Adapun derajat kedua, contohnya ialah setiap syubhat yang tidak mewajibkan untuk dijauhi, tetapi dianjurkan untuk dijauhi, sebagaimana akan datang dalam bab syubhat. Sebab ada syubhat yang wajib dijauhi sehingga masuk ke dalam haram, dan ada yang makruh dijauhi. Maka wara' terhadapnya adalah wara' orang-orang yang waswas.

كَمَنْ يَمْتَنِعُ مِنَ الِاصْطِيَادِ خَوْفًا مِنْ أَنْ يَكُونَ الصَّيْدُ قَدْ أَفْلَتَ مِنْ إِنْسَانٍ أَخَذَهُ وَمَلَكَهُ، وَهَذَا وَسْوَاسٌ.

Seperti orang yang enggan berburu karena khawatir hewan buruan itu pernah lepas dari seseorang yang telah menangkap dan memilikinya. Ini adalah waswas.

وَمِنْهَا مَا يُسْتَحَبُّ اجْتِنَابُهَا وَلَا يَجِبُ، وَهُوَ الَّذِي يَنْزِلُ عَلَيْهِ قَوْلُهُ صلى الله عليه وسلم: دَعْ مَا يَرِيبُكَ إِلَىٰ مَا لَا يَرِيبُكَ.

Di antaranya ada yang dianjurkan untuk dijauhi tetapi tidak wajib. Inilah yang dimaksud oleh sabda Nabi : “Tinggalkan apa yang meragukanmu kepada apa yang tidak meragukanmu.”

وَنَحْمِلُهُ عَلَىٰ نَهْيِ التَّنْزِيهِ، وَكَذَٰلِكَ قَوْلُهُ صلى الله عليه وسلم: كُلْ مَا أَصْمَيْتَ وَدَعْ مَا أَنْمَيْتَ.

Kami memahaminya sebagai larangan yang bersifat penyucian diri, dan demikian pula sabda beliau : “Makanlah apa yang engkau bunuh secara langsung, dan tinggalkan apa yang engkau biarkan terluka hingga mati kemudian.”

وَالْإِنْمَاءُ أَنْ يَجْرِيَ الصَّيْدُ فَيَغِيبَ عَنْهُ ثُمَّ يُدْرَكُ مَيِّتًا، إِذْ يُحْتَمَلُ أَنَّهُ مَاتَ بِسَقْطَةٍ أَوْ بِسَبَبٍ آخَرَ. وَالَّذِي نَخْتَارُهُ، كَمَا سَيَأْتِي، أَنَّ هَذَا لَيْسَ بِحَرَامٍ، وَلَكِنَّ تَرْكَهُ مِنْ وَرَعِ الصَّالِحِينَ.

Yang dimaksud dengan al-inmā’ ialah hewan buruan yang sempat berlari lalu hilang dari pandangan, kemudian ditemukan sudah mati, karena boleh jadi ia mati karena jatuh atau sebab lain. Yang kami pilih, sebagaimana akan datang, ialah bahwa hal ini tidak haram, tetapi meninggalkannya termasuk wara' orang-orang saleh.

وَقَوْلُهُ: دَعْ مَا يَرِيبُكَ أَمْرُ تَنْزِيهٍ، إِذْ وَرَدَ فِي بَعْضِ الرِّوَايَاتِ: كُلْهُ وَإِنْ غَابَ عَنْكَ مَا لَمْ تَجِدْ فِيهِ أَثَرًا غَيْرَ سَهْمِكَ.

Sabdanya, “Tinggalkan apa yang meragukanmu,” adalah perintah untuk penyucian diri, sebab dalam sebagian riwayat disebut: “Makanlah ia, meskipun tidak tampak bagimu, selama engkau tidak menemukan tanda selain anak panahmu.”

وَلِذَلِكَ قَالَ صلى الله عليه وسلم لِعَدِيِّ بْنِ حَاتِمٍ فِي الْكَلْبِ الْمُعَلَّمِ: وَإِنْ أَكَلَ فَلَا تَأْكُلْ، فَإِنِّي أَخَافُ أَنْ يَكُونَ إِنَّمَا أَمْسَكَ عَلَىٰ نَفْسِهِ عَلَىٰ سَبِيلِ التَّنْزِيهِ لِأَجْلِ الْخَوْفِ.

Karena itu Nabi bersabda kepada ‘Adi bin Hatim tentang anjing terlatih: “Jika ia makan, maka janganlah engkau makan.” Sebab aku khawatir ia sebenarnya hanya menahan buruan untuk dirinya sendiri, sebagai tindakan kehati-hatian karena takut.

إِذْ قَالَ لِأَبِي ثَعْلَبَةَ الْخُشَنِيِّ: كُلْهُ. فَقَالَ: وَإِنْ أَكَلَ مِنْهُ؟ فَقَالَ: وَإِنْ أَكَلَ.

Sebab beliau berkata kepada Abu Tha‘labah al-Khusyani: “Makanlah.” Lalu ia bertanya: “Walaupun ia memakannya?” Beliau menjawab: “Walaupun ia memakannya.”

وَذَلِكَ لِأَنَّ حَالَ أَبِي ثَعْلَبَةَ وَهُوَ فَقِيرٌ مُكْتَسِبٌ لَا تَحْتَمِلُ هَذَا الْوَرَعَ، وَحَالَ عَدِيٍّ كَانَ يَحْتَمِلُهُ.

Hal itu karena keadaan Abu Tha‘labah yang miskin dan mencari nafkah tidak sanggup menanggung wara' seperti itu, sedangkan keadaan ‘Adi memang mampu menanggungnya.

وَيُحْكَىٰ عَنْ ابْنِ سِيرِينَ أَنَّهُ تَرَكَ لِشَرِيكٍ لَهُ أَرْبَعَةَ آلَافِ دِرْهَمٍ لِأَنَّهُ حَاكَ فِي قَلْبِهِ شَيْءٌ، مَعَ اتِّفَاقِ الْعُلَمَاءِ عَلَىٰ أَنَّهُ لَا بَأْسَ بِهِ.

Diriwayatkan dari Ibn Sirin bahwa ia meninggalkan empat ribu dirham untuk rekannya, karena ada sesuatu yang mengganjal di hatinya, padahal para ulama sepakat bahwa hal itu sebenarnya boleh.

فَأَمْثِلَةُ هَذِهِ الدَّرَجَةِ نَذْكُرُهَا فِي التَّعَرُّضِ لِدَرَجَاتِ الشُّبْهَةِ، فَكُلُّ مَا هُوَ شُبْهَةٌ لَا يَجِبُ اجْتِنَابُهُ فَهُوَ مَثَالُ هَذِهِ الدَّرَجَةِ.

Maka contoh-contoh derajat ini akan kami sebutkan ketika membahas tingkatan syubhat. Setiap perkara syubhat yang tidak wajib dijauhi, itulah contoh derajat ini.

أَمَّا الدَّرَجَةُ الثَّالِثَةُ، وَهِيَ وَرَعُ الْمُتَّقِينَ، فَيَشْهَدُ لَهَا قَوْلُهُ صلى الله عليه وسلم: لَا يَبْلُغُ الْعَبْدُ دَرَجَةَ الْمُتَّقِينَ حَتَّىٰ يَدَعَ مَا لَا بَأْسَ بِهِ مَخَافَةَ مَا بِهِ بَأْسٌ. وَقَالَ عُمَرُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: كُنَّا نَدَعُ تِسْعَةَ أَعْشَارِ الْحَلَالِ مَخَافَةَ أَنْ نَقَعَ فِي الْحَرَامِ.

Adapun derajat ketiga, yaitu wara' orang-orang bertakwa, maka yang menjadi saksinya ialah sabda Nabi : “Seorang hamba tidak akan mencapai derajat orang-orang bertakwa sampai ia meninggalkan apa yang tidak apa-apa baginya karena takut kepada apa yang berbahaya.” Dan Umar r.a. berkata: “Kami dahulu meninggalkan sembilan persepuluh dari yang halal karena takut jatuh ke dalam yang haram.”

وَقِيلَ: إِنَّ هَذَا عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا.

Dan dikatakan bahwa ucapan itu berasal dari Ibn Abbas r.a.

وَقَالَ أَبُو الدَّرْدَاءِ: إِنَّ مِنْ تَمَامِ التَّقْوَىٰ أَنْ يَتَّقِيَ الْعَبْدُ فِي مِثَالِ ذَرَّةٍ حَتَّىٰ يَتْرُكَ بَعْضَ مَا يَرَىٰ أَنَّهُ حَلَالٌ خَشْيَةَ أَنْ يَكُونَ حَرَامًا، حَتَّىٰ يَكُونَ حِجَابًا بَيْنَهُ وَبَيْنَ النَّارِ.

Abu Darda’ berkata: “Sesungguhnya kesempurnaan takwa ialah seorang hamba menjaga diri sampai pada ukuran sebutir debu, sehingga ia meninggalkan sebagian yang ia anggap halal karena takut itu haram, agar hal itu menjadi penghalang antara dirinya dan neraka.”

وَلِهَٰذَا كَانَ لِبَعْضِهِمْ مِائَةُ دِرْهَمٍ عَلَىٰ إِنْسَانٍ، فَحَمَلَهَا إِلَيْهِ فَأَخَذَ تِسْعَةً وَتِسْعِينَ وَتَوَرَّعَ عَنْ اسْتِيفَاءِ الْكُلِّ خِيفَةَ الزِّيَادَةِ.

Karena itu, di antara mereka ada yang memiliki piutang seratus dirham atas seseorang. Ia membawanya kepadanya lalu mengambil sembilan puluh sembilan dan menahan diri dari mengambil semuanya karena khawatir ada kelebihan.

وَكَانَ بَعْضُهُمْ يَتَحَرَّزُ، فَكُلُّ مَا يَسْتَوْفِيهِ يَأْخُذُهُ نُقْصَانَ حَبَّةٍ، وَمَا يُعْطِيهِ يُوَفِّيهِ بِزِيَادَةِ حَبَّةٍ، لِيَكُونَ ذَلِكَ حَاجِزًا مِنَ النَّارِ.

Sebagian mereka sangat berhati-hati; setiap kali ia menagih haknya, ia mengurangi satu biji kecil, dan setiap kali ia memberi, ia menambahkan satu biji kecil, agar itu menjadi penghalang dari neraka.

وَمِنْ هَذِهِ الدَّرَجَةِ الِاحْتِرَازُ عَمَّا يَتَسَامَحُ بِهِ النَّاسُ، فَإِنَّ ذَلِكَ حَلَالٌ فِي الْفَتْوَىٰ، وَلَكِنْ يُخَافُ مِنْ فَتْحِ بَابِهِ أَنْ يَنْجَرَّ إِلَىٰ غَيْرِهِ، وَتَأْلَفَ النَّفْسُ الِاسْتِرْسَالَ وَتَدَعَ الْوَرَعَ.

Di antara derajat ini ialah menjauhi hal-hal yang oleh manusia ditoleransi. Sesungguhnya itu halal menurut fatwa, tetapi dikhawatirkan bila pintunya dibuka akan menyeret kepada selainnya, dan jiwa menjadi terbiasa lepas kendali lalu meninggalkan wara'.

فَمِنْ ذَلِكَ مَا رُوِيَ عَنْ عَلِيِّ بْنِ مَعْبَدٍ أَنَّهُ قَالَ: كُنْتُ سَاكِنًا فِي بَيْتٍ بِكِرَاءٍ، فَكَتَبْتُ كِتَابًا وَأَرَدْتُ أَنْ آخُذَ مِنْ تُرَابِ الْحَائِطِ لِأَتَرَبَّهُ وَأُجَفِّفَهُ، ثُمَّ قُلْتُ: الْحَائِطُ لَيْسَ لِي. فَقَالَتْ لِي نَفْسِي: وَمَا قَدْرُ تُرَابٍ مِنْ حَائِطٍ؟ فَأَخَذْتُ مِنَ التُّرَابِ حَاجَتِي.

Di antaranya ialah riwayat dari Ali bin Ma‘bad yang berkata: “Aku tinggal di rumah sewaan. Aku menulis sebuah surat dan ingin mengambil tanah dari dinding untuk menaburkannya agar kering. Lalu aku berkata: dinding itu bukan milikku.” Maka jiwaku berkata kepadaku: “Apa artinya sedikit tanah dari dinding?” Lalu aku mengambil tanah itu sesuai kebutuhanku.

فَلَمَّا نِمْتُ إِذَا أَنَا بِشَخْصٍ وَاقِفٍ يَقُولُ: يَا عَلِيُّ بْنَ مَعْبَدٍ، سَيَعْلَمُ غَدًا الَّذِي يَقُولُ: وَمَا قَدْرُ تُرَابٍ مِنْ حَائِطٍ.

Ketika aku tidur, tiba-tiba ada seseorang berdiri sambil berkata: “Wahai Ali bin Ma‘bad, besok akan diketahui oleh orang yang berkata: apa artinya sedikit tanah dari dinding?”

وَلَعَلَّ مَعْنَىٰ ذَلِكَ أَنَّهُ يَرَىٰ كَيْفَ يَحُطُّ مِنْ مَنْزِلَتِهِ، فَإِنَّ لِلتَّقْوَىٰ دَرَجَةً تَفُوتُ بِفَوَاتِ وَرَعِ الْمُتَّقِينَ، وَلَيْسَ الْمُرَادُ بِهِ أَنَّهُ يَسْتَحِقُّ عُقُوبَةً عَلَىٰ فِعْلِهِ.

Barangkali makna dari itu ialah bahwa ia melihat bagaimana ia menurunkan kedudukannya sendiri. Sebab takwa memiliki derajat yang hilang bila wara' orang-orang bertakwa hilang. Yang dimaksud bukan bahwa ia pantas mendapat hukuman atas perbuatannya.

وَمِنْ ذَلِكَ مَا رُوِيَ أَنَّ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ وَصَلَهُ مِسْكٌ مِنَ الْبَحْرَيْنِ، فَقَالَ: وَدِدْتُ لَوْ أَنَّ امْرَأَةً وَزَنَتْ حَتَّىٰ أُقَسِّمَهُ بَيْنَ الْمُسْلِمِينَ. فَقَالَتْ امْرَأَتُهُ عَاتِكَةُ: أَنَا أُجِيدُ الْوَزْنَ، فَسَكَتَ عَنْهَا ثُمَّ أَعَادَ الْقَوْلَ، فَأَعَادَتِ الْجَوَابَ. فَقَالَ: لَا أُحِبُّ أَنْ تَضَعِيهِ بِكَفَّةٍ ثُمَّ تَقُولِينَ: فِيهَا أَثَرُ الْغُبَارِ، فَتَمْسَحِينَ بِهَا عُنُقَكِ، فَأُصِيبَ بِذَلِكَ فَضْلًا عَلَى الْمُسْلِمِينَ.

Di antaranya ialah riwayat bahwa Umar r.a. mendapat kiriman minyak kesturi dari Bahrain. Ia berkata: “Aku ingin ada seorang perempuan yang menimbangnya agar aku bisa membagikannya kepada kaum muslimin.” Istrinya, ‘Atikah, berkata: “Aku pandai menimbang.” Maka ia diam. Lalu ia mengulangi ucapannya, dan ia mengulangi jawabannya. Umar berkata: “Aku tidak suka engkau meletakkannya di timbangan lalu engkau berkata ada bekas debu padanya, lalu engkau mengusapnya ke lehermu, sehingga aku mendapat sesuatu yang lebih dari hak kaum muslimin.”

وَكَانَ يُوزَنُ بَيْنَ يَدَيْ عُمَرَ بْنِ عَبْدِ الْعَزِيزِ مِسْكٌ لِلْمُسْلِمِينَ، فَأَخَذَ بِأَنْفِهِ حَتَّىٰ لَا تُصِيبَهُ الرَّائِحَةُ، وَقَالَ: وَهَلْ يُنْتَفَعُ مِنْهُ إِلَّا بِرِيحِهِ؟ لِمَا اسْتَعْبَدَ ذَلِكَ مِنْهُ.

Dihadapkan di hadapan Umar bin Abdul Aziz minyak kesturi milik kaum muslimin untuk ditimbang. Ia menutup hidungnya agar baunya tidak mengenainya, lalu berkata: “Bukankah ia hanya bermanfaat karena aromanya? Mengapa aku harus memperbudak diri karenanya?”

وَأَخَذَ الْحَسَنُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ تَمْرَةً مِنْ تَمْرِ الصَّدَقَةِ وَكَانَ صَغِيرًا، فَقَالَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم: كَخْ كَخْ، أَلْقِهَا.

Al-Hasan r.a. pernah mengambil sebutir kurma dari kurma sedekah ketika masih kecil. Nabi bersabda: “Kakh, kakh, buanglah itu.”

وَمِنْ ذَلِكَ مَا رُوِيَ عَنْ بَعْضِهِمْ أَنَّهُ كَانَ عِنْدَ مُحْتَضَرٍ فَمَاتَ لَيْلًا، فَقَالَ: أَطْفِئُوا السِّرَاجَ، قَدْ حَدَثَ لِلْوَرَثَةِ حَقٌّ فِي الدُّهْنِ.

Di antaranya diriwayatkan bahwa seseorang sedang berada di sisi orang yang hampir meninggal, lalu orang itu wafat pada malam hari. Ia berkata: “Padamkan lampu, karena para ahli waris kini memiliki hak pada minyaknya.”

وَرَوَىٰ سُلَيْمَانُ التَّيْمِيُّ عَنْ نُعَيْمَةَ الْعَطَّارَةِ قَالَتْ: كَانَ عُمَرُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ يَدْفَعُ إِلَىٰ امْرَأَتِهِ طِيبًا مِنْ طِيبِ الْمُسْلِمِينَ لِتَبِيعَهُ، فَبَاعَتْنِي طِيبًا، فَجَعَلَتْ تَقُومُ وَتَزِيدُ وَتَنْقُصُ وَتَكْسِرُ بِأَسْنَانِهَا، فَتَعَلَّقَ بِإِصْبَعِهَا شَيْءٌ مِنْهُ، فَقَالَتْ: بِهَكَذَا بِإِصْبَعِهَا، ثُمَّ مَسَحَتْ بِهِ خِمَارَهَا. فَدَخَلَ عُمَرُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ فَقَالَ: مَا هَذِهِ الرَّائِحَةُ؟ فَأَخْبَرَتْهُ، فَقَالَ: طِيبُ الْمُسْلِمِينَ تَأْخُذِينَ؟ فَانْتَزَعَ الْخِمَارَ مِنْ رَأْسِهَا، وَأَخَذَ جَرَّةً مِنَ الْمَاءِ فَجَعَلَ يَصُبُّ عَلَى الْخِمَارِ ثُمَّ يَدْلُكُهُ فِي التُّرَابِ، ثُمَّ يَشُمُّهُ، ثُمَّ يَصُبُّ الْمَاءَ، ثُمَّ يَدْلُكُهُ فِي التُّرَابِ وَيَشُمُّهُ حَتَّىٰ لَمْ يَبْقَ لَهُ رِيحٌ.

Sulaiman at-Taimi meriwayatkan dari Nuaimah al-‘Aththarah, katanya: Umar r.a. pernah memberi kepada istrinya parfum dari parfum kaum muslimin untuk dijual. Ia menjualkan parfum itu kepadaku. Ia lalu menakar, menambah, mengurangi, dan memecahnya dengan giginya. Ada sesuatu darinya yang melekat pada jarinya. Ia berkata demikian sambil menunjuk dengan jarinya, lalu mengusapkannya pada kerudungnya. Umar masuk dan berkata: “Apa bau ini?” Ia pun memberitahunya. Umar berkata: “Parfum kaum muslimin kau ambil?” Maka ia mencabut kerudung dari kepalanya, mengambil bejana berisi air, lalu menuangkannya pada kerudung itu, menggosoknya dengan tanah, lalu mencium baunya, kemudian menuangkan air lagi, menggosoknya lagi dengan tanah, dan menciumnya hingga tidak tersisa aromanya.

قَالَتْ: ثُمَّ أَتَيْتُهَا مَرَّةً أُخْرَىٰ، فَلَمَّا وَزَنَتْ عَلِقَ مِنْهُ شَيْءٌ بِإِصْبَعِهَا، فَأَدْخَلَتْ إِصْبَعَهَا فِي فِيهَا ثُمَّ مَسَحَتْ بِهِ التُّرَابَ.

Ia berkata: “Kemudian aku datang lagi kepadanya. Saat ia menimbang, ada sesuatu darinya yang melekat di jarinya. Maka ia memasukkan jarinya ke mulutnya lalu mengusapkannya ke tanah.”

فَهَذَا مِنْ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ وَرَعُ التَّقْوَىٰ لِخَوْفِ أَدَاءِ ذَلِكَ إِلَىٰ غَيْرِهِ، وَإِلَّا فَغَسْلُ الْخِمَارِ مَا كَانَ يُعِيدُ الطِّيبَ إِلَى الْمُسْلِمِينَ، وَلَكِنَّهُ أَتْلَفَهُ عَلَيْهَا زَجْرًا وَرَدْعًا وَاتِّقَاءً مِنْ أَنْ يَتَعَدَّىٰ الْأَمْرُ إِلَىٰ غَيْرِهِ.

Ini merupakan wara' takwa dari Umar r.a., karena takut hal itu akan menuntun kepada yang lain. Jika tidak, mencuci kerudung itu tidak akan mengembalikan parfum kepada kaum muslimin. Tetapi ia merusaknya pada istrinya sebagai peringatan, pengekangan, dan agar perkara itu tidak meluas kepada yang lain.

وَمِنْ ذَلِكَ مَا سُئِلَ أَحْمَدُ بْنُ حَنْبَلٍ رَحْمَةُ اللَّهِ عَنْ رَجُلٍ يَكُونُ فِي الْمَسْجِدِ يَحْمِلُ مِجْمَرَةً لِبَعْضِ السَّلَاطِينِ وَيُبَخِّرُ الْمَسْجِدَ بِالْعُودِ، فَقَالَ: يَنْبَغِي أَنْ يُخْرَجَ مِنَ الْمَسْجِدِ، فَإِنَّهُ لَا يُنْتَفَعُ مِنَ الْعُودِ إِلَّا بِرِيحِهِ.

Di antaranya Ahmad bin Hanbal rahimahullah ditanya tentang seseorang yang berada di masjid sambil membawa tempat pembakaran untuk sebagian penguasa lalu mengharumkan masjid dengan kayu gaharu. Ia berkata: “Seyogianya ia dikeluarkan dari masjid, karena yang bermanfaat dari gaharu hanyalah aromanya.”

وَهَذَا قَدْ يُقَارِبُ الْحَرَامَ، فَإِنَّ الْقَدْرَ الَّذِي يَعْبَقُ بِثَوْبِهِ مِنْ رَائِحَةِ الطِّيبِ قَدْ يُقْصَدُ وَقَدْ يُبْخَلُ بِهِ، فَلَا يُدْرَىٰ أَنَّهُ يَتَسَامَحُ بِهِ أَمْ لَا.

Ini bisa mendekati haram, sebab kadar harum yang melekat pada pakaiannya mungkin memang diinginkan, dan mungkin pula menjadi hak yang tidak boleh diambil begitu saja. Karena itu tidak diketahui apakah ia rela terhadapnya atau tidak.

وَسُئِلَ أَحْمَدُ بْنُ حَنْبَلٍ عَمَّنْ سَقَطَتْ مِنْهُ وَرَقَةٌ فِيهَا أَحَادِيثُ، فَهَلْ لِمَنْ وَجَدَهَا أَنْ يَكْتُبَ مِنْهَا ثُمَّ يَرُدَّهَا؟ فَقَالَ: لَا، بَلْ يَسْتَأْذِنُ ثُمَّ يَكْتُبُ.

Ahmad bin Hanbal ditanya tentang seseorang yang jatuh darinya lembaran berisi hadis: apakah orang yang menemukannya boleh menyalinnya lalu mengembalikannya? Ia menjawab: “Tidak, tetapi hendaklah ia meminta izin terlebih dahulu baru menyalin.”

وَهَذَا أَيْضًا قَدْ يُشَكُّ فِي أَنَّ صَاحِبَهَا هَلْ يَرْضَىٰ بِهِ أَمْ لَا. فَمَا هُوَ فِي مَحَلِّ الشَّكِّ وَالْأَصْلُ تَحْرِيمُهُ فَهُوَ حَرَامٌ، وَتَرْكُهُ مِنَ الدَّرَجَةِ الْأُولَىٰ.

Ini juga diragukan apakah pemiliknya rela atau tidak. Maka sesuatu yang berada di tempat syak, sedangkan asalnya adalah haram, maka ia haram. Meninggalkannya termasuk derajat pertama.

وَمِنْ ذَلِكَ التَّوَرُّعُ عَنِ الزِّينَةِ، لِأَنَّهُ يُخَافُ مِنْهَا أَنْ تَدْعُوَ إِلَىٰ غَيْرِهَا، وَإِنْ كَانَتِ الزِّينَةُ مُبَاحَةً فِي نَفْسِهَا.

Di antaranya ialah menjauhi perhiasan, karena dikhawatirkan ia akan menuntun kepada selainnya, walaupun perhiasan itu sendiri mubah.

وَقَدْ سُئِلَ أَحْمَدُ بْنُ حَنْبَلٍ عَنِ النِّعَالِ السَّبْتِيَّةِ فَقَالَ: أَمَّا أَنَا فَلَا أَسْتَعْمِلُهَا، وَلَكِنْ إِنْ كَانَ لِلطِّينِ فَأَرْجُو، وَأَمَّا مَنْ أَرَادَ الزِّينَةَ فَلَا.

Ahmad bin Hanbal ditanya tentang sandal sabtiyyah. Ia berkata: “Adapun aku, aku tidak memakainya. Tetapi jika untuk lumpur, aku berharap itu boleh. Adapun orang yang menginginkan perhiasan, maka tidak.”

وَمِنْ ذَلِكَ أَنَّ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ لَمَّا وَلِيَ الْخِلَافَةَ كَانَتْ لَهُ زَوْجَةٌ يُحِبُّهَا، فَطَلَّقَهَا خِفْيَةً أَنْ تُشِيرَ عَلَيْهِ بِشَفَاعَةٍ فِي بَاطِلٍ فَيُعْطِيَهَا وَيَطْلُبَ رِضَاهَا.

Di antaranya ialah bahwa ketika Umar r.a. memegang kekhalifahan, ia memiliki seorang istri yang dicintainya. Lalu ia menceraikannya secara diam-diam, karena khawatir ia akan mengusulkan syafaat dalam perkara batil, lalu ia mengabulkannya demi mencari kerelaannya.

وَهَذَا مِنْ تَرْكِ مَا لَا بَأْسَ بِهِ مَخَافَةَ مِمَّا بِهِ الْبَأْسُ، أَيْ مَخَافَةَ أَنْ يُفْضِيَ إِلَيْهِ.

Ini adalah meninggalkan sesuatu yang tidak apa-apa karena takut kepada sesuatu yang berbahaya, yakni takut ia menuntun kepadanya.

وَأَكْثَرُ الْمُبَاحَاتِ دَاعِيَةٌ إِلَى الْمَحْظُورَاتِ، حَتَّىٰ اسْتِكْثَارُ الْأَكْلِ وَاسْتِعْمَالُ الطِّيبِ لِلْمُتَعَزِّبِ، فَإِنَّهُ يُحَرِّكُ الشَّهْوَةَ، ثُمَّ الشَّهْوَةُ تَدْعُو إِلَى الْفِكْرِ، وَالْفِكْرُ يَدْعُو إِلَى النَّظَرِ، وَالنَّظَرُ يَدْعُو إِلَىٰ غَيْرِهِ.

Kebanyakan hal mubah menjadi pintu menuju yang terlarang. Bahkan terlalu banyak makan dan memakai parfum bagi orang yang hidup membujang bisa membangkitkan syahwat. Lalu syahwat mengundang pikiran, pikiran mengundang pandangan, dan pandangan mengundang selainnya.

وَكَذَلِكَ النَّظَرُ إِلَىٰ دُورِ الْأَغْنِيَاءِ وَتَجَمُّلِهِمْ مُبَاحٌ فِي نَفْسِهِ، وَلَكِنَّهُ يُهِيجُ الْحِرْصَ وَيَدْعُو إِلَىٰ طَلَبِ مِثْلِهِ، وَيَلْزَمُ مِنْهُ ارْتِكَابُ مَا لَا يَحِلُّ فِي تَحْصِيلِهِ.

Demikian pula memandang rumah-rumah orang kaya dan kemewahan mereka, itu mubah pada dirinya sendiri. Tetapi ia membangkitkan ketamakan dan mendorong mencari seperti itu, lalu sering menyeret kepada perbuatan yang tidak halal dalam memperolehnya.

وَهَكَذَا الْمُبَاحَاتُ كُلُّهَا إِذَا لَمْ تُؤْخَذْ بِقَدْرِ الْحَاجَةِ فِي وَقْتِ الْحَاجَةِ، مَعَ التَّحَرُّزِ مِنْ غَوَايَتِهَا بِالْمَعْرِفَةِ أَوَّلًا ثُمَّ ثَانِيًا، فَقَلَّمَا تَخْلُو عَاقِبَتُهَا عَنْ خَطَرٍ.

Begitulah semua yang mubah: bila tidak diambil secukup kebutuhan pada saat dibutuhkan, dengan kehati-hatian terhadap godaannya melalui pengetahuan lebih dahulu dan kemudian setelah itu, maka hampir tidak pernah akhir akibatnya lepas dari bahaya.

وَكَذَلِكَ كُلُّ مَا أُخِذَ بِالشَّهْوَةِ فَقَلَّمَا يَخْلُو عَنْ خَطَرٍ، حَتَّىٰ كَرِهَ أَحْمَدُ بْنُ حَنْبَلٍ تَجْصِيصَ الْحِيْطَانِ، وَقَالَ: أَمَّا تَجْصِيصُ الْأَرْضِ فَيَمْنَعُ التُّرَابَ، وَأَمَّا تَجْصِيصُ الْحِيْطَانِ فَزِينَةٌ لَا فَائِدَةَ فِيهِ.

Demikian pula segala sesuatu yang diambil karena syahwat hampir tidak lepas dari bahaya. Karena itu Ahmad bin Hanbal membenci memplester dinding. Ia berkata: “Adapun memplester tanah, itu mencegah debu. Adapun memplester dinding, itu hanya hiasan tanpa manfaat.”

حَتَّىٰ أَنْكَرَ تَجْصِيصَ الْمَسَاجِدِ وَتَزْيِينَهَا، وَاسْتَدَلَّ بِمَا رُوِيَ عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم أَنَّهُ سُئِلَ أَنْ يُكْحَلَ الْمَسْجِدُ فَقَالَ: لَا، عَرِيشٌ كَعَرِيشِ مُوسَىٰ.

Bahkan ia mengingkari memplester dan menghias masjid. Ia berdalil dengan riwayat dari Nabi ketika beliau ditanya apakah masjid boleh dihias, lalu beliau menjawab: “Tidak, biarlah sederhana seperti naungan Musa.”

وَإِنَّمَا هُوَ شَيْءٌ مِثْلُ الْكُحْلِ يُطْلَىٰ بِهِ، فَلَمْ يَرَخِّصْ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم فِيهِ. وَكَرِهَ السَّلَفُ الثَّوْبَ الرَّقِيقَ، وَقَالُوا: مَنْ رَقَّ ثَوْبُهُ رَقَّ دِينُهُ.

Itu hanyalah sesuatu seperti celak yang dipakai untuk melapisi, dan Rasulullah tidak memberikan keringanan padanya. Salaf membenci pakaian yang tipis, dan mereka berkata: “Siapa yang tipis pakaiannya, tipis pula agamanya.”

وَكُلُّ ذَلِكَ خَوْفًا مِنْ سَرَيَانِ اتِّبَاعِ الشَّهَوَاتِ فِي الْمُبَاحَاتِ إِلَىٰ غَيْرِهَا، فَإِنَّ الْمَحْظُورَ وَالْمُبَاحَ تَشْتَهِيهِمَا النَّفْسُ بِشَهْوَةٍ وَاحِدَةٍ.

Semua itu karena takut mengikuti syahwat dalam perkara mubah akan merembet ke selainnya. Sebab yang terlarang dan yang mubah sama-sama diingini jiwa dengan satu dorongan syahwat.

وَإِذَا تَعَوَّدَتِ الشَّهْوَةُ الْمُسَامَحَةَ اسْتَرْسَلَتْ، فَاقْتَضَىٰ خَوْفُ التَّقْوَىٰ الْوَرَعَ عَنْ هَذَا كُلِّهِ.

Bila syahwat sudah terbiasa dimanjakan, ia akan lepas kendali. Karena itulah rasa takut yang lahir dari takwa menuntut wara' dari semua itu.

فَكُلُّ حَلَالٍ انْفَكَّ عَنْ مِثْلِ هَذِهِ الْمَخَافَةِ فَهُوَ الْحَلَالُ الطَّيِّبُ فِي الدَّرَجَةِ الثَّالِثَةِ، وَهُوَ كُلُّ مَا لَا يُخَافُ أَدَاؤُهُ إِلَىٰ مَعْصِيَةٍ بِتَاتًا.

Maka setiap yang halal yang bebas dari semacam kekhawatiran itu adalah halal yang baik pada derajat ketiga, yaitu segala sesuatu yang sama sekali tidak dikhawatirkan akan menuntun kepada maksiat.

أَمَّا الدَّرَجَةُ الرَّابِعَةُ، وَهِيَ وَرَعُ الصِّدِّيقِينَ، فَالْحَلَالُ عِنْدَهُمْ كُلُّ مَا لَا تَتَقَدَّمُ فِي أَسْبَابِهِ مَعْصِيَةٌ، وَلَا يُسْتَعَانُ بِهِ عَلَىٰ مَعْصِيَةٍ، وَلَا يُقْصَدُ مِنْهُ فِي الْحَالِ وَالْمَالِ قَضَاءُ وَطَرٍ، بَلْ يُتَنَاوَلُ لِلَّهِ تَعَالَىٰ فَقْدٌ، وَالتَّقَوِّي عَلَىٰ عِبَادَتِهِ، وَاسْتِبْقَاءِ الْحَيَاةِ لِأَجْلِهِ.

Adapun derajat keempat, yaitu wara' para shiddiqin, maka yang halal menurut mereka ialah segala sesuatu yang dalam sebab-sebabnya tidak didahului maksiat, tidak dipakai untuk membantu maksiat, dan tidak dimaksudkan untuk memenuhi nafsu baik saat itu maupun untuk masa depan. Ia dikonsumsi semata-mata karena Allah Ta'ala, untuk menguatkan diri dalam beribadah kepada-Nya, dan untuk mempertahankan hidup demi-Nya.

وَهَؤُلَاءِ هُمُ الَّذِينَ يَرَوْنَ كُلَّ مَا لَيْسَ لِلَّهِ حَرَامًا، امْتِثَالًا لِقَوْلِهِ تَعَالَىٰ: قُلِ اللَّهُ ثُمَّ ذَرْهُمْ فِي خَوْضِهِمْ يَلْعَبُونَ.

Mereka inilah orang-orang yang memandang bahwa segala sesuatu yang bukan untuk Allah adalah haram, sebagai bentuk ketaatan kepada firman-Nya: “Katakanlah: Allah, kemudian biarkanlah mereka tenggelam dalam kesibukan mereka bermain-main.”

وَهَذِهِ رُتْبَةُ الْمُوَحِّدِينَ الْمُتَجَرِّدِينَ عَنْ حُظُوظِ أَنْفُسِهِمْ، الْمُنْفَرِدِينَ لِلَّهِ تَعَالَىٰ بِالْقَصْدِ.

Inilah derajat orang-orang yang bertauhid, yang lepas dari kepentingan hawa nafsu mereka, yang mengkhususkan niatnya hanya untuk Allah Ta'ala.

وَلَا شَكَّ فِي أَنَّ مَنْ يَتَوَرَّعُ عَمَّا يُوصِلُ إِلَيْهِ أَوْ يُسْتَعَانُ عَلَيْهِ بِمَعْصِيَةٍ، لِيَتَوَرَّعَ عَمَّا يَقْتَرِنُ بِسَبَبِ اكْتِسَابِهِ مَعْصِيَةٌ أَوْ كَرَاهِيَةٌ.

Tidak diragukan bahwa orang yang menjaga diri dari sesuatu yang dapat mengantarkannya kepada maksiat, atau dijadikan sarana untuk maksiat, akan lebih layak lagi untuk menjaga diri dari sesuatu yang pada sebab perolehannya mengandung maksiat atau kebencian.

فَمِنْ ذَلِكَ مَا رُوِيَ عَنْ يَحْيَىٰ بْنِ كَثِيرٍ أَنَّهُ شَرِبَ الدَّوَاءَ، فَقَالَتْ لَهُ امْرَأَتُهُ: لَوْ تَمَشَّيْتَ فِي الدَّارِ قَلِيلًا حَتَّىٰ يَعْمَلَ الدَّوَاءُ. فَقَالَ: هَذِهِ مَشْيَةٌ لَا أَعْرِفُهَا، وَأَنَا أُحَاسِبُ نَفْسِي مُنْذُ ثَلَاثِينَ سَنَةً.

Di antaranya ialah riwayat tentang Yahya bin Kathir yang minum obat. Lalu istrinya berkata kepadanya: “Alangkah baiknya kalau engkau berjalan sedikit di dalam rumah agar obat itu bekerja.” Ia menjawab: “Langkah seperti ini aku tidak mengenalnya, sedangkan aku telah menghisab diriku selama tiga puluh tahun.”

فَكَأَنَّهُ لَمْ تَحْضُرْهُ نِيَّةٌ فِي هَذِهِ الْمَشْيَةِ تَتَعَلَّقُ بِالدِّينِ، فَلَمْ يَجُزِ الْإِقْدَامُ عَلَيْهَا.

Seakan-akan tidak hadir pada dirinya niat dalam langkah itu yang berkaitan dengan agama, maka ia tidak berani melakukannya.

وَعَنْ سَرِيٍّ رَحِمَهُ اللَّهُ أَنَّهُ قَالَ: انْتَهَيْتُ إِلَىٰ حَشِيشٍ فِي جَبَلٍ وَمَاءٍ يَخْرُجُ مِنْهُ، فَتَنَاوَلْتُ مِنَ الْحَشِيشِ وَشَرِبْتُ مِنَ الْمَاءِ، وَقُلْتُ فِي نَفْسِي: إِنْ كُنْتُ قَدْ أَكَلْتُ يَوْمًا حَلَالًا طَيِّبًا فَهُوَ هَذَا الْيَوْمُ. فَهَتَفَ بِي هَاتِفٌ: إِنَّ الْقُوَّةَ الَّتِي أَوْصَلَتْكَ إِلَىٰ هَذَا الْمَوْضِعِ مِنْ أَيْنَ هِيَ؟ فَرَجَعْتُ وَنَدِمْتُ.

Dan dari Sari, semoga Allah merahmatinya, ia berkata: “Aku sampai pada sebidang rumput di sebuah gunung dan air yang keluar darinya. Aku mengambil rumput itu dan meminum airnya, lalu aku berkata dalam diriku: jika pernah aku makan sehari yang halal dan baik, maka inilah harinya.” Maka ada suara yang memanggilku: “Kekuatan yang membawamu ke tempat ini, dari mana asalnya?” Maka aku pun kembali dan menyesal.

وَمِنْ هَذَا مَا رُوِيَ عَنْ ذِي النُّونِ الْمِصْرِيِّ أَنَّهُ كَانَ جَائِعًا مَحْبُوسًا، فَبَعَثَتْ إِلَيْهِ امْرَأَةٌ صَالِحَةٌ طَعَامًا عَلَىٰ يَدِ السَّجَّانِ، فَلَمْ يَأْكُلْ، ثُمَّ اعْتَذَرَ وَقَالَ: جَاءَنِي عَلَىٰ طَبَقِ ظَالِمٍ.

Di antaranya ialah riwayat tentang Dzu Nun al-Mishri bahwa ia pernah lapar dan dipenjara. Lalu seorang perempuan saleh mengirimkan makanan kepadanya melalui tangan sipir penjara. Ia tidak memakannya, lalu meminta maaf dan berkata: “Makanan itu datang kepadaku di atas piring seorang zalim.”

يَعْنِي أَنَّ الْقُوَّةَ الَّتِي أَوْصَلَتِ الطَّعَامَ إِلَيَّ لَمْ تَكُنْ طَيِّبَةً. وَهَذِهِ الْغَايَةُ الْقُصْوَىٰ فِي الْوَرَعِ.

Maksudnya ialah kekuatan yang menyampaikan makanan itu kepadaku tidaklah baik. Inilah puncak tertinggi dalam wara'.

وَمِنْ ذَلِكَ أَنْ بِشْرًا رَحِمَهُ اللَّهُ كَانَ لَا يَشْرَبُ الْمَاءَ مِنَ الْأَنْهَارِ الَّتِي حَفَرَهَا الْأُمَرَاءُ، فَإِنَّ النَّهْرَ سَبَبٌ لِجَرَيَانِ الْمَاءِ وَوُصُولِهِ إِلَيْهِ، وَإِنْ كَانَ الْمَاءُ مُبَاحًا فِي نَفْسِهِ.

Di antaranya ialah bahwa Bishr, semoga Allah merahmatinya, tidak minum air dari sungai-sungai yang digali oleh para penguasa. Sebab sungai itu menjadi sebab mengalirnya air dan sampainya air kepadanya, walaupun air itu sendiri mubah pada dirinya.

فَيَكُونُ كَالْمُنْتَفِعِ بِالنَّهْرِ الْمَحْفُورِ بِأَعْمَالِ الْأُجَرَاءِ، وَقَدْ أُعْطُوا الْأُجْرَةَ مِنَ الْحَرَامِ.

Ia seperti orang yang memanfaatkan sungai yang digali dengan tenaga para pekerja upahan, sedangkan mereka diberi upah dari harta haram.

وَلِذَلِكَ امْتَنَعَ بَعْضُهُمْ مِنَ الْعِنَبِ الْحَلَالِ مِنْ كَرْمٍ حَلَالٍ، وَقَالَ لِصَاحِبِهِ: أَفْسَدْتَهُ إِذْ سَقَيْتَهُ مِنَ الْمَاءِ الَّذِي يَجْرِي فِي النَّهْرِ الَّذِي حَفَرَتْهُ الظَّلَمَةُ.

Karena itu sebagian mereka menolak anggur halal dari kebun halal. Ia berkata kepada temannya: “Engkau telah merusaknya, karena engkau menyiraminya dengan air yang mengalir di sungai yang digali oleh para zalim.”

وَهَذَا أَبْعَدُ عَنِ الظُّلْمِ مِنْ شُرْبِ نَفْسِ الْمَاءِ، لِأَنَّهُ احْتِرَازٌ مِنْ اسْتِمْدَادِ الْعِنَبِ مِنْ ذَلِكَ الْمَاءِ.

Ini lebih jauh dari kezaliman daripada meminum air itu sendiri, karena ia berhati-hati agar anggur itu tidak bergantung kepada air tersebut.

وَكَانَ بَعْضُهُمْ إِذَا مَرَّ فِي طَرِيقِ الْحَجِّ لَا يَشْرَبُ مِنَ الْمَصَانِعِ الَّتِي عَمِلَتْهَا الظَّلَمَةُ، مَعَ أَنَّ الْمَاءَ مُبَاحٌ، وَلَكِنَّهُ بَقِيَ مَحْفُوظًا بِالْمَصْنَعِ الَّذِي عُمِلَ بِمَالٍ حَرَامٍ، فَكَأَنَّهُ انْتِفَاعٌ بِهِ.

Sebagian mereka bila melewati jalan haji tidak meminum dari tempat-tempat penampungan air yang dibuat oleh para zalim, walaupun airnya mubah. Tetapi air itu tersimpan pada bangunan yang dibuat dengan harta haram, seolah-olah ia turut memanfaatkannya.

وَامْتِنَاعُ ذِي النُّونِ مِنْ تَنَاوُلِ الطَّعَامِ مِنْ يَدِ السَّجَّانِ أَعْظَمُ مِنْ هَذَا كُلِّهِ، لِأَنَّ يَدَ السَّجَّانِ لَا تُوصَفُ بِأَنَّهَا حَرَامٌ، بِخِلَافِ الطَّبَقِ الْمَغْصُوبِ إِذَا حُمِلَ عَلَيْهِ، وَلَكِنَّهُ وَصَلَ إِلَيْهِ بِقُوَّةٍ اكْتُسِبَتْ بِالْغِذَاءِ الْحَرَامِ.

Menahan diri Dzu Nun dari menerima makanan dari tangan sipir lebih besar lagi daripada semua itu. Sebab tangan sipir tidak bisa disebut haram, berbeda dengan piring yang dirampas bila dibawakan di atasnya. Akan tetapi makanan itu sampai kepadanya melalui kekuatan yang diperoleh dari makanan haram.

وَلِذَلِكَ تَقَيَّأَ الصِّدِّيقُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ مِنَ اللَّبَنِ، خِيفَةَ أَنْ يُحْدِثَ الْحَرَامُ فِيهِ قُوَّةً، مَعَ أَنَّهُ شَرِبَهُ عَنْ جَهْلٍ، وَكَانَ لَا يَجِبُ إِخْرَاجُهُ، وَلَكِنَّ تَخْلِيَةَ الْبَطْنِ عَنِ الْخَبِيثِ مِنْ وَرَعِ الصِّدِّيقِينَ.

Karena itu Abu Bakar as-Shiddiq r.a. memuntahkan susu itu, karena takut yang haram menimbulkan kekuatan darinya, padahal ia meminumnya karena tidak tahu, dan sebenarnya tidak wajib dikeluarkan. Tetapi mengosongkan perut dari sesuatu yang buruk adalah bagian dari wara' para shiddiqin.

وَمِنْ ذَلِكَ التَّوَرُّعُ مِنْ كَسْبٍ حَلَالٍ اكْتَسَبَهُ خَيَّاطٌ يَخِيطُ فِي الْمَسْجِدِ، فَإِنَّ أَحْمَدَ رَحِمَهُ اللَّهُ كَرِهَ جُلُوسَ الْخَيَّاطِ فِي الْمَسْجِدِ.

Di antaranya ialah menjaga diri dari penghasilan halal yang diperoleh seorang penjahit yang menjahit di masjid. Karena Ahmad, semoga Allah merahmatinya, membenci duduknya tukang jahit di masjid.

وَسُئِلَ عَنِ الْمَغَازِلِيِّ يَجْلِسُ فِي قُبَّةٍ فِي الْمَقَابِرِ وَفِي وَقْتٍ يُخَافُ مِنَ الْمَطَرِ، فَقَالَ: إِنَّمَا هِيَ مِنْ أَمْرِ الْآخِرَةِ، وَكَرِهَ جُلُوسَهُ فِيهَا.

Ia ditanya tentang pemintal yang duduk di sebuah kubah di pemakaman pada waktu yang dikhawatirkan hujan. Ia menjawab: “Itu hanyalah perkara akhirat,” namun ia tetap membenci duduk di sana.

وَأَطْفَأَ بَعْضُهُمْ سِرَاجًا أَسْرَجَهُ غُلَامُهُ مِنْ قَوْمٍ يَكْرَهُ مَالَهُمْ.

Sebagian mereka memadamkan pelita yang dinyalakan oleh hambanya dari orang-orang yang ia benci harta mereka.

وَامْتَنَعَ مِنْ تَسْجِيرِ تَنُّورٍ لِلْخُبْزِ، وَقَدْ بَقِيَ فِيهِ جَمْرٌ مِنْ حَطَبٍ مَكْرُوهٍ.

Ia menolak menyalakan tungku roti, padahal di dalamnya masih ada bara dari kayu bakar yang tidak disukai.

وَامْتَنَعَ بَعْضُهُمْ مِنْ أَنْ يُحْكِمَ شِسْعَ نَعْلِهِ فِي مُشْعَلِ السُّلْطَانِ.

Sebagian mereka menolak memperbaiki tali sandalnya di dekat obor sang penguasa.

فَهَذِهِ دَقَائِقُ الْوَرَعِ عِنْدَ سَالِكِي طَرِيقِ الْآخِرَةِ.

Inilah rincian-rincian wara' di kalangan para penempuh jalan akhirat.

وَالتَّحْقِيقُ فِيهِ أَنَّ الْوَرَعَ لَهُ أَوَّلٌ، وَهُوَ الِامْتِنَاعُ عَمَّا حَرَّمَتْهُ الْفَتْوَىٰ، وَهُوَ وَرَعُ الْعُدُولِ؛ وَلَهُ غَايَةٌ، وَهُوَ وَرَعُ الصِّدِّيقِينَ، وَذَلِكَ هُوَ الِامْتِنَاعُ مِنْ كُلِّ مَا لَيْسَ لَهُ، مِمَّا أُخِذَ بِشَهْوَةٍ أَوْ تُوُصِّلَ إِلَيْهِ بِمَكْرُوهٍ، أَوْ اتَّصَلَ بِسَبَبِهِ مَكْرُوهٌ. وَبَيْنَهُمَا دَرَجَاتٌ فِي الِاحْتِيَاطِ.

Hakikatnya, wara' memiliki permulaan, yaitu menahan diri dari apa yang difatwakan haram; itulah wara' orang-orang lurus. Dan wara' memiliki puncak, yaitu wara' para shiddiqin, yakni menahan diri dari segala sesuatu yang bukan miliknya, yang diambil karena syahwat, atau sampai kepadanya melalui sesuatu yang dibenci, atau terkait dengannya sebab yang dibenci. Di antara keduanya ada banyak tingkatan kehati-hatian.

فَكُلَّمَا كَانَ الْعَبْدُ أَشَدَّ تَشْدِيدًا عَلَىٰ نَفْسِهِ كَانَ أَخَفَّ ظَهْرًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ، وَأَسْرَعَ جَوَازًا عَلَى الصِّرَاطِ، وَأَبْعَدَ عَنْ أَنْ تَتَرَجَّحَ كِفَّةُ سَيِّئَاتِهِ عَلَىٰ كِفَّةِ حَسَنَاتِهِ.

Semakin keras seorang hamba menekan dirinya, semakin ringan punggungnya pada hari kiamat, semakin cepat melintasi jembatan shirath, dan semakin jauh dari kemungkinan timbangan keburukannya lebih berat daripada timbangan kebaikannya.

وَتَتَفَاوَتُ الْمَنَازِلُ فِي الْآخِرَةِ بِحَسَبِ تَفَاوُتِ هَذِهِ الدَّرَجَاتِ فِي الْوَرَعِ، كَمَا تَتَفَاوَتُ دَرَجَاتُ النَّارِ فِي حَقِّ الظَّلَمَةِ بِحَسَبِ تَفَاوُتِ دَرَجَاتِ الْحَرَامِ فِي الْخُبْثِ.

Dan kedudukan di akhirat berbeda-beda menurut perbedaan tingkatan wara' ini, sebagaimana tingkatan neraka pun berbeda-beda bagi para zalim sesuai perbedaan tingkat keburukan yang haram.

وَإِذَا عَلِمْتَ حَقِيقَةَ الْأَمْرِ فَإِلَيْكَ الْخِيَارُ، فَإِنْ شِئْتَ فَاسْتَكْثِرْ مِنَ الِاحْتِيَاطِ، وَإِنْ شِئْتَ فَرَخِّصْ لِنَفْسِكَ، تَحْتَاطُ وَعَلَىٰ نَفْسِكَ تُرَخِّصُ، وَالسَّلَامُ.

Jika engkau telah mengetahui hakikat persoalan ini, maka terserah kepadamu memilih. Jika engkau mau, perbanyaklah kehati-hatian. Jika engkau mau, berilah keringanan untuk dirimu. Engkau boleh berhati-hati, dan boleh pula memberi keringanan bagi dirimu. والسلام.