Penjelasan tentang kadar yang terpuji dari ilmu-ilmu yang terpuji
بَيَانُ الْقَدْرِ الْمَحْمُودِ مِنَ الْعُلُومِ الْمَحْمُودَةِ
Penjelasan tentang kadar yang terpuji dari ilmu-ilmu yang
terpuji.
اِعْلَمْ
أَنَّ الْعِلْمَ بِهٰذَا الِاعْتِبَارِ ثَلَاثَةُ أَقْسَامٍ.
Ketahuilah bahwa ilmu, ditinjau dari sisi ini, terbagi
menjadi tiga bagian.
قِسْمٌ
هُوَ مَذْمُومٌ قَلِيلُهُ وَكَثِيرُهُ.
Satu bagian adalah ilmu yang tercela, baik sedikit maupun
banyaknya.
وَقِسْمٌ
هُوَ مَحْمُودٌ قَلِيلُهُ وَكَثِيرُهُ، وَكُلَّمَا كَانَ أَكْثَرَ كَانَ أَحْسَنَ
وَأَفْضَلَ.
Satu bagian lagi adalah ilmu yang terpuji, baik sedikit
maupun banyaknya. Semakin banyak ilmu itu, maka semakin baik dan semakin utama.
وَقِسْمٌ
يُحْمَدُ مِنْهُ مِقْدَارُ الْكِفَايَةِ، وَلَا يُحْمَدُ الْفَاضِلُ عَلَيْهِ
وَالِاسْتِقْصَاءُ فِيهِ.
Dan satu bagian yang lain adalah ilmu yang dipuji hanya
dalam kadar yang mencukupi, sedangkan kelebihan dari kadar itu dan mendalaminya
secara berlebihan tidak dipuji.
وَهُوَ
مِثْلُ أَحْوَالِ الْبَدَنِ.
Hal ini serupa dengan keadaan tubuh.
فَإِنَّ
مِنْهَا مَا يُحْمَدُ قَلِيلُهُ وَكَثِيرُهُ كَالصِّحَّةِ وَالْجَمَالِ.
Karena pada keadaan tubuh, ada sesuatu yang dipuji sedikit
maupun banyaknya, seperti kesehatan dan keindahan.
وَمِنْهَا
مَا يُذَمُّ قَلِيلُهُ وَكَثِيرُهُ كَالْقُبْحِ وَسُوءِ الْخُلُقِ.
Dan ada pula yang tercela sedikit maupun banyaknya, seperti
keburukan rupa dan akhlak yang buruk.
وَمِنْهَا
مَا يُحْمَدُ الِاقْتِصَادُ فِيهِ كَبَذْلِ الْمَالِ، فَإِنَّ التَّبْذِيرَ لَا
يُحْمَدُ فِيهِ وَهُوَ بَذْلٌ.
Dan ada pula yang dipuji jika berada pada kadar pertengahan,
seperti mengeluarkan harta. Sebab pemborosan tidaklah terpuji, padahal ia juga
bentuk pengeluaran harta.
وَكَالشَّجَاعَةِ،
فَإِنَّ التَّهَوُّرَ لَا يُحْمَدُ فِيهَا، وَإِنْ كَانَ مِنْ جِنْسِ الشَّجَاعَةِ.
Demikian pula keberanian, karena nekad yang berlebihan
tidaklah terpuji, meskipun ia sejenis dengan keberanian.
فَكَذٰلِكَ
الْعِلْمُ.
Begitu pula halnya dengan ilmu.
فَالْقِسْمُ
الْمَذْمُومُ مِنْهُ قَلِيلُهُ وَكَثِيرُهُ هُوَ مَا لَا فَائِدَةَ فِيهِ فِي
دِينٍ وَلَا دُنْيَا، إِذْ فِيهِ ضَرَرٌ يَغْلِبُ نَفْعَهُ، كَعِلْمِ السِّحْرِ
وَالطَّلَسْمَاتِ وَالنُّجُومِ.
Adapun bagian ilmu yang tercela, baik sedikit maupun
banyaknya, ialah ilmu yang tidak memiliki manfaat bagi agama maupun dunia,
karena mudaratnya lebih dominan daripada manfaatnya, seperti ilmu sihir,
jimat-jimat, dan ilmu nujum.
فَبَعْضُهُ
لَا فَائِدَةَ فِيهِ أَصْلًا، وَصَرْفُ الْعُمُرِ الَّذِي هُوَ أَنْفَسُ مَا
يَمْلِكُهُ الْإِنْسَانُ إِلَيْهِ إِضَاعَةٌ، وَإِضَاعَةُ النَّفِيسِ مَذْمُومَةٌ.
Sebagian darinya sama sekali tidak bermanfaat. Menghabiskan
umur — yang merupakan harta paling berharga yang dimiliki manusia — untuk hal
itu adalah penyia-nyiaan, dan menyia-nyiakan sesuatu yang berharga adalah
tercela.
وَمِنْهُ
مَا فِيهِ ضَرَرٌ يَزِيدُ عَلَى مَا يُظَنُّ أَنَّهُ يَحْصُلُ بِهِ مِنْ قَضَاءِ
وَطَرٍ فِي الدُّنْيَا، فَإِنَّ ذٰلِكَ لَا يُعْتَدُّ بِهِ بِالْإِضَافَةِ إِلَى
الضَّرَرِ الْحَاصِلِ عَنْهُ.
Dan di antaranya ada yang mudaratnya lebih besar daripada
kepuasan duniawi yang diduga dapat diperoleh darinya. Kepuasan itu tidak
dianggap berarti bila dibandingkan dengan mudarat yang timbul darinya.
وَأَمَّا
الْقِسْمُ الْمَحْمُودُ إِلَى أَقْصَى غَايَاتِ الِاسْتِقْصَاءِ، فَهُوَ الْعِلْمُ
بِاللَّهِ تَعَالَى وَبِصِفَاتِهِ وَأَفْعَالِهِ وَسُنَّتِهِ فِي خَلْقِهِ
وَحِكْمَتِهِ فِي تَرْتِيبِ الْآخِرَةِ عَلَى الدُّنْيَا.
Adapun bagian yang terpuji hingga puncak pendalaman, maka ia
adalah ilmu tentang Allah Ta‘ala, sifat-sifat-Nya, perbuatan-perbuatan-Nya,
sunnah-Nya pada makhluk-Nya, dan hikmah-Nya dalam menata akhirat berdasarkan
dunia.
فَإِنَّ
هٰذَا عِلْمٌ مَطْلُوبٌ لِذَاتِهِ، وَلِلتَّوَصُّلِ بِهِ إِلَى سَعَادَةِ
الْآخِرَةِ.
Sebab ilmu ini adalah ilmu yang dicari karena dirinya
sendiri, dan juga sebagai sarana untuk mencapai kebahagiaan akhirat.
وَبَذْلُ
الْمَقْدُورِ فِيهِ إِلَى أَقْصَى الْجُهْدِ قُصُورٌ عَنْ حَدِّ الْوَاجِبِ.
Mengerahkan kemampuan di dalamnya hingga puncak usaha pun
masih belum mencapai batas kewajiban yang seharusnya.
فَإِنَّهُ
الْبَحْرُ الَّذِي لَا يُدْرَكُ غَوْرُهُ، وَإِنَّمَا يَحُومُ الْحَائِمُونَ عَلَى
سَوَاحِلِهِ وَأَطْرَافِهِ بِقَدْرِ مَا يُسِّرَ لَهُمْ.
Ilmu ini adalah lautan yang kedalamannya tidak dapat
dijangkau. Orang-orang yang berkeliling di sekitarnya hanya berputar di pesisir
dan tepinya, sesuai kadar yang dimudahkan bagi mereka.
وَمَا
خَاضَ أَطْرَافَهُ إِلَّا الْأَنْبِيَاءُ وَالْأَوْلِيَاءُ وَالرَّاسِخُونَ فِي
الْعِلْمِ، عَلَى اخْتِلَافِ دَرَجَاتِهِمْ بِحَسَبِ اخْتِلَافِ قُوَّتِهِمْ
وَتَفَاوُتِ تَقْدِيرِ اللَّهِ تَعَالَى فِي حَقِّهِمْ.
Tidak ada yang memasuki tepi-tepinya selain para nabi, para
wali, dan orang-orang yang kokoh ilmunya, dengan tingkatan yang berbeda-beda
sesuai perbedaan kekuatan mereka dan sesuai perbedaan ketetapan Allah Ta‘ala
terhadap mereka.
وَهٰذَا
هُوَ الْعِلْمُ الْمَكْنُونُ الَّذِي لَا يُسَطَّرُ فِي الْكُتُبِ.
Inilah ilmu yang tersimpan, yang tidak dituliskan di dalam
kitab-kitab.
وَيُعِينُ
عَلَى التَّنَبُّهِ لَهُ التَّعَلُّمُ وَمُشَاهَدَةُ أَحْوَالِ عُلَمَاءِ
الْآخِرَةِ، كَمَا سَيَأْتِي فِي عَلَامَتِهِمْ.
Yang membantu untuk tersadar kepadanya adalah belajar dan
menyaksikan keadaan para ulama akhirat, sebagaimana akan dijelaskan nanti dalam
tanda-tanda mereka.
هٰذَا
فِي أَوَّلِ الْأَمْرِ، وَيُعِينُ عَلَيْهِ فِي الْآخِرِ الْمُجَاهَدَةُ
وَالرِّيَاضَةُ وَتَصْفِيَةُ الْقَلْبِ وَتَفْرِيغُهُ عَنْ عَلَائِقِ الدُّنْيَا
وَالتَّشَبُّهُ فِيهَا بِالْأَنْبِيَاءِ وَالْأَوْلِيَاءِ.
Ini pada permulaannya. Adapun pada akhirnya, yang membantu
untuk mencapainya ialah mujahadah, latihan jiwa, penyucian hati,
mengosongkannya dari keterikatan kepada dunia, dan meneladani para nabi dan
para wali dalam hal itu.
لِيَتَّضِحَ
مِنْهُ لِكُلِّ سَاعٍ إِلَى طَلَبِهِ بِقَدْرِ الرِّزْقِ، لَا بِقَدْرِ الْجُهْدِ.
Agar ilmu itu menjadi jelas bagi setiap orang yang berusaha
mencarinya sesuai kadar rezeki yang diberikan kepadanya, bukan semata-mata
sesuai kadar usahanya.
وَلٰكِنْ
لَا غِنَى فِيهِ عَنِ الِاجْتِهَادِ، فَالْمُجَاهَدَةُ مِفْتَاحُ الْهِدَايَةِ،
وَلَا مِفْتَاحَ لَهَا سِوَاهَا.
Akan tetapi, tetap tidak mungkin tanpa kesungguhan.
Mujahadah adalah kunci hidayah, dan tidak ada kunci bagi hidayah selain itu.
وَأَمَّا
الْعُلُومُ الَّتِي لَا يُحْمَدُ مِنْهَا إِلَّا مِقْدَارٌ مَخْصُوصٌ، فَهِيَ
الْعُلُومُ الَّتِي أَوْرَدْنَاهَا فِي فُرُوضِ الْكِفَايَاتِ.
Adapun ilmu-ilmu yang tidak dipuji kecuali dalam kadar
tertentu, maka itulah ilmu-ilmu yang telah kami sebutkan dalam pembahasan fardu
kifayah.
فَإِنَّ
فِي كُلِّ عِلْمٍ مِنْهَا اقْتِصَارًا، وَهُوَ الْأَقَلُّ، وَاقْتِصَادًا، وَهُوَ
الْوَسَطُ، وَاسْتِقْصَاءً وَرَاءَ ذٰلِكَ الِاقْتِصَادِ لَا مَرَدَّ لَهُ إِلَى
آخِرِ الْعُمُرِ.
Karena pada setiap ilmu darinya ada kadar minimum, yaitu
yang paling sedikit, ada kadar pertengahan, yaitu yang sedang, dan ada
pendalaman yang melampaui kadar pertengahan itu yang tidak akan habis hingga
akhir umur.
فَكُنْ
أَحَدَ رَجُلَيْنِ: إِمَّا مَشْغُولًا بِنَفْسِكَ، وَإِمَّا مُتَفَرِّغًا
لِغَيْرِكَ بَعْدَ الْفَرَاغِ مِنْ نَفْسِكَ.
Maka jadilah engkau salah satu dari dua orang: либо sibuk
memperbaiki dirimu sendiri, atau sibuk mengurus orang lain setelah selesai dari
urusan dirimu.
وَإِيَّاكَ
أَنْ تَشْتَغِلَ بِمَا يُصْلِحُ غَيْرَكَ قَبْلَ إِصْلَاحِ نَفْسِكَ.
Jangan sekali-kali engkau menyibukkan diri dengan sesuatu
yang memperbaiki orang lain sebelum memperbaiki dirimu sendiri.
فَإِنْ
كُنْتَ الْمَشْغُولَ بِنَفْسِكَ، فَلَا تَشْتَغِلْ إِلَّا بِالْعِلْمِ الَّذِي
هُوَ فَرْضٌ عَلَيْكَ بِحَسَبِ مَا يَقْتَضِيهِ حَالُكَ.
Jika engkau termasuk orang yang sedang sibuk dengan dirinya
sendiri, maka janganlah engkau menyibukkan diri kecuali dengan ilmu yang wajib
atasmu sesuai keadaanmu.
وَمَا
يَتَعَلَّقُ مِنْهُ بِالْأَعْمَالِ الظَّاهِرَةِ، مِنْ تَعَلُّمِ الصَّلَاةِ
وَالطَّهَارَةِ وَالصَّوْمِ.
Di antara ilmu itu ialah yang berkaitan dengan amalan
lahiriah, seperti mempelajari salat, bersuci, dan puasa.
وَإِنَّمَا
الْأَهَمُّ الَّذِي أَهْمَلَهُ الْكُلُّ عِلْمُ صِفَاتِ الْقَلْبِ، وَمَا يُحْمَدُ
مِنْهَا وَمَا يُذَمُّ.
Akan tetapi, yang paling penting — yang telah diabaikan
semua orang — adalah ilmu tentang sifat-sifat hati, mana yang terpuji dan mana
yang tercela.
إِذْ
لَا يَنْفَكُّ بَشَرٌ عَنِ الصِّفَاتِ الْمَذْمُومَةِ مِثْلَ الْحِرْصِ
وَالْحَسَدِ وَالرِّيَاءِ وَالْكِبْرِ وَالْعُجْبِ وَأَخَوَاتِهَا.
Sebab tidak ada seorang manusia pun yang bebas dari
sifat-sifat tercela seperti rakus, hasad, riya, sombong, ujub, dan sifat-sifat
semisalnya.
وَجَمِيعُ
ذٰلِكَ مُهْلِكَاتٌ، وَإِهْمَالُهَا مِنَ الْوَاجِبَاتِ.
Semua itu adalah perkara-perkara yang membinasakan, dan
mengabaikannya termasuk pelanggaran terhadap kewajiban.
مَعَ
أَنَّ الِاشْتِغَالَ بِالْأَعْمَالِ الظَّاهِرَةِ يُضَاهِي الِاشْتِغَالَ
بِطِلَاءِ ظَاهِرِ الْبَدَنِ عِنْدَ التَّأَذِّي بِالْجَرَبِ وَالدَّمَامِيلِ،
وَالتَّهَاوُنِ بِإِخْرَاجِ الْمَادَّةِ بِالْفَصْدِ وَالْإِسْهَالِ.
Sementara itu, menyibukkan diri dengan amalan lahiriah saja
menyerupai orang yang sibuk mengoles bagian luar tubuh ketika terkena kudis dan
bisul, tetapi meremehkan upaya mengeluarkan bahan penyakit dari dalam tubuh
melalui pembekaman atau pencahar.
وَحَشْوِيَّةُ
الْعُلَمَاءِ يُشِيرُونَ بِالْأَعْمَالِ الظَّاهِرَةِ، كَمَا يُشِيرُ
الطُّرُقِيَّةُ مِنَ الْأَطِبَّاءِ بِطِلَاءِ ظَاهِرِ الْبَدَنِ.
Para ulama yang dangkal hanya menunjuk pada amalan lahiriah,
sebagaimana para dokter jalanan hanya menyarankan pengobatan pada bagian luar
tubuh.
وَعُلَمَاءُ
الْآخِرَةِ لَا يُشِيرُونَ إِلَّا بِتَطْهِيرِ الْبَاطِنِ، وَقَطْعِ مَوَادِّ
الشَّرِّ بِإِفْسَادِ مَنَابِتِهَا وَقَلْعِ مَغَارِسِهَا مِنَ الْقَلْبِ.
Sedangkan ulama akhirat tidak menunjukkan jalan kecuali
kepada penyucian batin, memutus bahan-bahan kejahatan dengan merusak sumber
tumbuhnya dan mencabut akarnya dari hati.
وَإِنَّمَا
فَزِعَ الْأَكْثَرُونَ إِلَى الْأَعْمَالِ الظَّاهِرَةِ عَنْ تَطْهِيرِ
الْقُلُوبِ، لِسُهُولَةِ أَعْمَالِ الْجَوَارِحِ وَاسْتِصْعَابِ أَعْمَالِ
الْقُلُوبِ.
Kebanyakan orang beralih kepada amalan lahiriah dan
meninggalkan penyucian hati, karena amalan anggota tubuh lebih mudah, sedangkan
amalan hati terasa sulit.
كَمَا
يَفْزَعُ إِلَى طِلَاءِ الظَّاهِرِ مَنْ يَسْتَصْعِبُ شُرْبَ الْأَدْوِيَةِ
الْمُرَّةِ.
Hal itu seperti orang yang beralih kepada mengoles bagian
luar tubuh karena merasa berat meminum obat yang pahit.
فَلَا
يَزَالُ يَتْعَبُ فِي الطِّلَاءِ، وَيَزِيدُ فِي الْمَوَادِّ، وَتَتَضَاعَفُ بِهِ
الْأَمْرَاضُ.
Maka ia terus bersusah payah dengan olesan itu, sementara
bahan penyakit bertambah dan penyakit pun semakin berlipat.
فَإِنْ
كُنْتَ مُرِيدًا لِلْآخِرَةِ، وَطَالِبًا لِلنَّجَاةِ، وَهَارِبًا مِنَ الْهَلَاكِ
الْأَبَدِيِّ، فَاشْتَغِلْ بِعِلْمِ الْعِلَلِ الْبَاطِنَةِ وَعِلَاجِهَا، عَلَى
مَا فَصَّلْنَاهُ فِي رُبْعِ الْمُهْلِكَاتِ.
Jika engkau menginginkan akhirat, mencari keselamatan, dan
lari dari kebinasaan abadi, maka sibukkanlah dirimu dengan ilmu tentang
penyakit-penyakit batin dan pengobatannya, sebagaimana telah kami rinci dalam
seperempat bagian tentang hal-hal yang membinasakan.
ثُمَّ
يَنْجَرُّ بِكَ ذٰلِكَ إِلَى الْمَقَامَاتِ الْمَحْمُودَةِ الْمَذْكُورَةِ فِي
رُبْعِ الْمُنْجِيَاتِ لَا مَحَالَةَ.
Sesudah itu, hal tersebut pasti akan menyeretmu kepada
maqam-maqam terpuji yang disebutkan dalam seperempat bagian tentang hal-hal
yang menyelamatkan.
فَإِنَّ
الْقَلْبَ إِذَا فَرَغَ مِنَ الْمَذْمُومِ امْتَلَأَ بِالْمَحْمُودِ.
Karena apabila hati kosong dari sifat-sifat tercela, ia akan
terisi dengan sifat-sifat terpuji.
وَالْأَرْضُ
إِذَا نُقِّيَتْ مِنَ الْحَشِيشِ نَبَتَ فِيهَا أَصْنَافُ الزَّرْعِ
وَالرَّيَاحِينِ، وَإِنْ لَمْ تُفْرَغْ مِنْ ذٰلِكَ لَمْ تَنْبُتْ ذٰكَ.
Dan tanah apabila dibersihkan dari rumput liar, maka akan
tumbuh di dalamnya berbagai tanaman dan bunga-bungaan. Tetapi jika tidak
dibersihkan, maka tanaman itu tidak akan tumbuh.
فَلَا
تَشْتَغِلْ بِفُرُوضِ الْكِفَايَةِ، لَا سِيَّمَا وَفِي زُمْرَةِ الْخَلْقِ مَنْ
قَدْ قَامَ بِهَا.
Maka janganlah engkau sibuk dengan fardu kifayah, terlebih
lagi ketika di tengah manusia sudah ada orang yang menanganinya.
فَإِنَّ
مُهْلِكَ نَفْسِهِ فِيمَا بِهِ صَلَاحُ غَيْرِهِ سَفِيهٌ.
Karena orang yang membinasakan dirinya demi sesuatu yang di
dalamnya terdapat kemaslahatan bagi orang lain adalah orang yang bodoh.
فَمَا
أَشَدَّ حَمَاقَةَ مَنْ دَخَلَتِ الْأَفَاعِي وَالْعَقَارِبُ تَحْتَ ثِيَابِهِ
وَهَمَّتْ بِقَتْلِهِ، وَهُوَ يَطْلُبُ مِذَبَّةً يَدْفَعُ بِهَا الذُّبَابَ عَنْ
غَيْرِهِ، مِمَّنْ لَا يُغْنِيهِ وَلَا يُنْجِيهِ مِمَّا يُلَاقِيهِ مِنْ تِلْكَ
الْحَيَّاتِ وَالْعَقَارِبِ إِذَا هَمَّتْ بِهِ.
Betapa sangat bodohnya orang yang di dalam pakaiannya telah
masuk ular-ular dan kalajengking-kalajengking yang siap membunuhnya, tetapi ia
malah sibuk mencari kipas untuk mengusir lalat dari orang lain, padahal orang
itu tidak dapat menolong dan menyelamatkannya dari ular-ular dan kalajengking
itu ketika semuanya menyerangnya.
وَإِنْ
تَفَرَّغْتَ مِنْ نَفْسِكَ وَتَطْهِيرِهَا، وَقَدَرْتَ عَلَى تَرْكِ ظَاهِرِ
الْإِثْمِ وَبَاطِنِهِ، وَصَارَ ذٰلِكَ دَيْدَنًا لَكَ وَعَادَةً مُتَيَسِّرَةً
فِيكَ، وَمَا أَبْعَدَ ذٰلِكَ مِنْكَ، فَاشْتَغِلْ بِفُرُوضِ الْكِفَايَاتِ،
وَرَاعِ التَّدْرِيجَ فِيهَا.
Jika engkau telah selesai dari urusan dirimu dan
penyuciannya, serta mampu meninggalkan dosa lahir dan batin, dan hal itu telah
menjadi kebiasaan tetap yang mudah bagimu — meskipun hal itu sungguh jauh
darimu — maka sibukkanlah dirimu dengan fardu kifayah, dan perhatikanlah
tahapan-tahapan di dalamnya.
فَابْتَدِئْ
بِكِتَابِ اللَّهِ تَعَالَى، ثُمَّ بِسُنَّةِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، ثُمَّ بِعِلْمِ التَّفْسِيرِ وَسَائِرِ عُلُومِ الْقُرْآنِ،
مِنْ عِلْمِ النَّاسِخِ وَالْمَنْسُوخِ، وَالْمَفْصُولِ وَالْمَوْصُولِ،
وَالْمُحْكَمِ وَالْمُتَشَابِهِ، وَكَذٰلِكَ فِي السُّنَّةِ.
Mulailah dengan Kitab Allah Ta‘ala, kemudian dengan Sunnah
Rasulullah ﷺ,
kemudian dengan ilmu tafsir dan ilmu-ilmu Al-Qur’an lainnya, seperti ilmu
nasikh dan mansukh, yang terpisah dan yang tersambung, yang muhkam dan yang
mutasyabih, dan demikian pula pada Sunnah.
ثُمَّ
اشْتَغِلْ بِالْفُرُوعِ، وَهُوَ عِلْمُ الْمَذْهَبِ مِنْ عِلْمِ الْفِقْهِ دُونَ
الْخِلَافِ، ثُمَّ بِأُصُولِ الْفِقْهِ، وَهٰكَذَا إِلَى بَقِيَّةِ الْعُلُومِ
عَلَى مَا يَتَّسِعُ لَهُ الْعُمُرُ وَيُسَاعِدُ فِيهِ الْوَقْتُ.
Kemudian sibukkanlah diri dengan cabang-cabang ilmu, yaitu
ilmu mazhab dalam fikih tanpa masuk ke dalam khilaf-khilaf, lalu dengan usul
fikih, dan begitulah seterusnya kepada ilmu-ilmu yang lain sesuai keluasan umur
dan kesempatan waktu.
وَلَا
تَسْتَغْرِقْ عُمُرَكَ فِي فَنٍّ وَاحِدٍ مِنْهَا طَلَبًا لِلِاسْتِقْصَاءِ،
فَإِنَّ الْعِلْمَ كَثِيرٌ وَالْعُمُرَ قَصِيرٌ.
Janganlah engkau menghabiskan umurmu pada satu cabang ilmu
saja demi mengejar pendalaman yang sempurna, karena ilmu itu banyak sedangkan
umur itu singkat.
وَهٰذِهِ
الْعُلُومُ آلَاتٌ وَمُقَدِّمَاتٌ، وَلَيْسَتْ مَطْلُوبَةً لِعَيْنِهَا بَلْ
لِغَيْرِهَا.
Ilmu-ilmu ini adalah alat dan pendahuluan, dan bukan dicari
karena zatnya sendiri, tetapi karena sesuatu yang lain.
وَكُلُّ
مَا يُطْلَبُ لِغَيْرِهِ فَلَا يَنْبَغِي أَنْ يُنْسَى فِيهِ الْمَطْلُوبُ، وَلَا
يُسْتَكْثَرُ مِنْهُ.
Setiap sesuatu yang dicari karena selain dirinya, maka
jangan sampai yang dicari sesungguhnya dilupakan karenanya, dan jangan pula
berlebihan di dalamnya.
فَاقْتَصِرْ
مِنْ شَائِعِ عِلْمِ اللُّغَةِ عَلَى مَا تَفْهَمُ مِنْهُ كَلَامَ الْعَرَبِ
وَتَنْطِقُ بِهِ، وَمِنْ غَرِيبِهِ عَلَى غَرِيبِ الْقُرْآنِ وَغَرِيبِ
الْحَدِيثِ، وَدَعِ التَّعَمُّقَ فِيهِ.
Maka cukuplah bagimu dari bahasa yang umum dengan apa yang
membuatmu memahami ucapan orang Arab dan mampu menggunakannya, dan dari
kosakata asing dengan apa yang diperlukan untuk memahami lafaz-lafaz asing
dalam Al-Qur’an dan hadis, serta tinggalkan pendalaman yang berlebihan di
dalamnya.
وَاقْتَصِرْ
مِنَ النَّحْوِ عَلَى مَا يَتَعَلَّقُ بِالْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ.
Dan cukuplah dari ilmu nahwu sebatas yang berkaitan dengan
Al-Kitab dan As-Sunnah.
فَمَا
مِنْ عِلْمٍ إِلَّا وَلَهُ اقْتِصَارٌ وَاقْتِصَادٌ وَاسْتِقْصَاءٌ.
Tidak ada satu ilmu pun kecuali padanya ada kadar minimum,
kadar pertengahan, dan kadar pendalaman.
وَنَحْنُ
نُشِيرُ إِلَيْهَا فِي الْحَدِيثِ وَالتَّفْسِيرِ وَالْفِقْهِ وَالْكَلَامِ،
لِتَقِيسَ بِهَا غَيْرَهَا.
Kami akan memberi isyarat tentang hal itu dalam hadis,
tafsir, fikih, dan kalam, agar engkau bisa mengukurnya pada ilmu-ilmu lainnya.
فَالِاقْتِصَارُ
فِي التَّفْسِيرِ مَا يَبْلُغُ ضِعْفَ الْقُرْآنِ فِي الْمِقْدَارِ، كَمَا
صَنَّفَهُ عَلِيُّ الْوَاحِدِيُّ النَّيْسَابُورِيُّ، وَهُوَ الْوَجِيزُ.
Kadar minimum dalam tafsir adalah yang ukurannya kira-kira
dua kali ukuran Al-Qur’an, seperti yang disusun oleh ‘Ali Al-Wahidi
An-Naisaburi, yaitu Al-Wajiz.
وَالِاقْتِصَادُ
مَا يَبْلُغُ ثَلَاثَةَ أَضْعَافِ الْقُرْآنِ، كَمَا صَنَّفَ مِنَ الْوَسِيطِ
فِيهِ.
Kadar pertengahannya adalah yang mencapai tiga kali ukuran
Al-Qur’an, seperti kitab Al-Wasith yang ia susun.
وَمَا
وَرَاءَ ذٰلِكَ اسْتِقْصَاءٌ مُسْتَغْنًى عَنْهُ، لَا مَرَدَّ لَهُ إِلَى
انْتِهَاءِ الْعُمُرِ.
Adapun yang lebih dari itu adalah pendalaman yang tidak
diperlukan, dan tidak akan habis hingga akhir umur.
وَأَمَّا
الْحَدِيثُ، فَالِاقْتِصَارُ فِيهِ تَحْصِيلُ مَا فِي الصَّحِيحَيْنِ، بِتَصْحِيحِ
نُسْخَةٍ عَلَى رَجُلٍ خَبِيرٍ بِعِلْمِ مَتْنِ الْحَدِيثِ.
Adapun hadis, maka kadar minimumnya ialah memperoleh apa
yang ada dalam dua kitab sahih, dengan membenarkan naskahnya di hadapan seorang
ahli yang mengetahui ilmu matan hadis.
وَأَمَّا
حِفْظُ أَسْمَاءِ الرِّجَالِ فَقَدْ كُفِيتَ فِيهِ بِمَا تَحْمِلُهُ عَنْكَ مَنْ
قَبْلَكَ، وَلَكَ أَنْ تُعَوِّلَ عَلَى كُتُبِهِمْ.
Adapun menghafal nama-nama para perawi, maka engkau telah
dicukupi di dalamnya oleh apa yang telah dipikul oleh orang-orang sebelummu,
dan engkau boleh bersandar kepada kitab-kitab mereka.
وَلَيْسَ
يَلْزَمُكَ حِفْظُ مُتُونِ الصَّحِيحَيْنِ، وَلٰكِنْ تُحَصِّلُهُ تَحْصِيلًا
تَقْدِرُ مِنْهُ عَلَى طَلَبِ مَا تَحْتَاجُ إِلَيْهِ عِنْدَ الْحَاجَةِ.
Engkau tidak diwajibkan menghafal matan-matan dua kitab
sahih itu, tetapi cukup bagimu memilikinya dengan penguasaan yang
memungkinkanmu mengambil apa yang engkau perlukan saat dibutuhkan.
وَأَمَّا
الِاقْتِصَادُ فِيهِ فَأَنْ تُضِيفَ إِلَيْهِمَا مَا خَرَجَ عَنْهُمَا مِمَّا
وَرَدَ فِي الْمُسْنَدَاتِ الصَّحِيحَةِ.
Adapun kadar pertengahan dalam hadis adalah menambahkan
kepada keduanya hadis-hadis yang tidak ada di dalamnya dari riwayat-riwayat
bersanad yang sahih.
وَأَمَّا
الِاسْتِقْصَاءُ فَمَا وَرَاءَ ذٰلِكَ إِلَى اسْتِيعَابِ كُلِّ مَا نُقِلَ مِنَ
الضَّعِيفِ وَالْقَوِيِّ وَالصَّحِيحِ وَالسَّقِيمِ، مَعَ مَعْرِفَةِ الطُّرُقِ
الْكَثِيرَةِ فِي النَّقْلِ، وَمَعْرِفَةِ أَحْوَالِ الرِّجَالِ وَأَسْمَائِهِمْ
وَأَوْصَافِهِمْ.
Adapun pendalaman dalam hadis ialah melampaui itu hingga
mencakup seluruh yang dinukil dari hadis lemah, kuat, sahih, dan cacat, beserta
mengetahui banyak jalur periwayatan dan mengetahui keadaan para perawi,
nama-nama, dan sifat-sifat mereka.
وَأَمَّا
الْفِقْهُ، فَالِاقْتِصَارُ فِيهِ عَلَى مَا يَحْوِيهِ مُخْتَصَرُ الْمُزَنِيِّ
رَحِمَهُ اللَّهُ، وَهُوَ الَّذِي رَتَّبْنَاهُ فِي خُلَاصَةِ الْمُخْتَصَرِ.
Adapun fikih, maka kadar minimumnya adalah pada apa yang
termuat dalam Mukhtashar Al-Muzani rahimahullah, dan itulah
yang telah kami susun dalam Khulashat al-Mukhtashar.
وَالِاقْتِصَادُ
فِيهِ مَا يَبْلُغُ ثَلَاثَةَ أَمْثَالِهِ، وَهُوَ الْقَدْرُ الَّذِي
أَوْرَدْنَاهُ فِي الْوَسِيطِ مِنَ الْمَذْهَبِ.
Adapun kadar pertengahannya adalah yang mencapai tiga kali
lipat dari itu, yaitu kadar yang telah kami sebutkan dalam kitab Al-Wasith dari
mazhab.
وَالِاسْتِقْصَاءُ
مَا أَوْرَدْنَاهُ فِي الْبَسِيطِ، إِلَى مَا وَرَاءَ ذٰلِكَ مِنَ الْمُطَوَّلَاتِ.
Sedangkan pendalamannya adalah apa yang kami tuliskan
dalam Al-Basith, dan sesudah itu kitab-kitab panjang lainnya.
وَأَمَّا
الْكَلَامُ، فَمَقْصُودُهُ حِمَايَةُ الْمُعْتَقَدَاتِ الَّتِي نَقَلَهَا أَهْلُ
السُّنَّةِ مِنَ السَّلَفِ الصَّالِحِ لَا غَيْرُ.
Adapun ilmu kalam, maka tujuannya adalah menjaga
akidah-akidah yang dinukil oleh Ahlus Sunnah dari salaf saleh, dan tidak lebih
dari itu.
وَمَا
وَرَاءَ ذٰلِكَ طَلَبٌ لِكَشْفِ حَقَائِقِ الْأُمُورِ مِنْ غَيْرِ طَرِيقِهَا.
Adapun yang melampaui itu hanyalah upaya mencari
hakikat-hakikat perkara melalui jalan yang bukan jalannya.
وَمَقْصُودُ
حِفْظِ السُّنَّةِ تَحْصِيلُ رُتْبَةِ الِاقْتِصَارِ مِنْهُ بِمُعْتَقَدٍ
مُخْتَصَرٍ، وَهُوَ الْقَدْرُ الَّذِي أَوْرَدْنَاهُ فِي كِتَابِ قَوَاعِدِ
الْعَقَائِدِ مِنْ جُمْلَةِ هٰذَا الْكِتَابِ.
Tujuan menjaga sunnah dari ilmu kalam itu adalah memperoleh
kadar minimalnya melalui akidah yang ringkas, yaitu kadar yang telah kami
cantumkan dalam Kitab Qawa‘id al-‘Aqa’id dalam kitab ini.
وَالِاقْتِصَادُ
فِيهِ مَا يَبْلُغُ قَدْرَ مِائَةِ وَرَقَةٍ، وَهُوَ الَّذِي أَوْرَدْنَاهُ فِي
كِتَابِ الِاقْتِصَادِ فِي الِاعْتِقَادِ.
Adapun kadar pertengahannya ialah sekitar seratus lembar,
yaitu yang telah kami susun dalam Kitab Al-Iqtishad fi al-I‘tiqad.
وَيُحْتَاجُ
إِلَيْهِ لِمُنَاظَرَةِ مُبْتَدِعٍ وَمُعَارَضَةِ بِدْعَتِهِ بِمَا يُفْسِدُهَا
وَيَنْزِعُهَا عَنْ قَلْبِ الْعَامِّيِّ.
Ilmu ini dibutuhkan untuk berdebat dengan ahli bid‘ah dan
menghadapi bid‘ahnya dengan sesuatu yang dapat merusaknya dan mencabutnya dari
hati orang awam.
وَذٰلِكَ
لَا يَنْفَعُ إِلَّا مَعَ الْعَوَامِّ قَبْلَ اشْتِدَادِ تَعَصُّبِهِمْ.
Hal itu tidak bermanfaat kecuali pada orang awam sebelum
fanatisme mereka menguat.
وَأَمَّا
الْمُبْتَدِعُ بَعْدَ أَنْ يَعْلَمَ مِنَ الْجَدَلِ وَلَوْ شَيْئًا يَسِيرًا،
فَقَلَّمَا يَنْفَعُ مَعَهُ الْكَلَامُ.
Adapun ahli bid‘ah, setelah ia mengetahui ilmu debat walau
sedikit, maka ilmu kalam hampir tidak bermanfaat lagi terhadapnya.
فَإِنَّكَ
إِنْ أَفْحَمْتَهُ لَمْ يَتْرُكْ مَذْهَبَهُ، وَأَحَالَ بِالْقُصُورِ عَلَى
نَفْسِهِ، وَقَدَّرَ أَنَّ عِنْدَ غَيْرِهِ جَوَابًا مَا وَهُوَ عَاجِزٌ عَنْهُ،
وَإِنَّمَا أَنْتَ مُلَبِّسٌ عَلَيْهِ بِقُوَّةِ الْمُجَادَلَةِ.
Sebab jika engkau mengalahkannya, ia tidak akan meninggalkan
mazhabnya. Ia hanya akan menyalahkan kelemahan dirinya sendiri dan mengira
bahwa orang lain dari golongannya pasti memiliki jawaban yang belum dapat ia
kemukakan, dan ia akan menilai bahwa engkau hanya memperdayanya dengan kekuatan
debat.
وَأَمَّا
الْعَامِّيُّ إِذَا صُرِفَ عَنِ الْحَقِّ بِنَوْعِ جَدَلٍ، فَيُمْكِنُ أَنْ
يُرَدَّ إِلَيْهِ بِمِثْلِهِ، قَبْلَ أَنْ يَشْتَدَّ التَّعَصُّبُ لِلْأَهْوَاءِ.
Adapun orang awam, jika ia dipalingkan dari kebenaran oleh
suatu bentuk debat, maka masih mungkin ia dikembalikan kepada kebenaran dengan
cara yang serupa, sebelum fanatisme kepada hawa nafsu menjadi kuat.
فَإِذَا
اشْتَدَّ تَعَصُّبُهُمْ وَقَعَ الْيَأْسُ مِنْهُمْ، إِذِ التَّعَصُّبُ سَبَبٌ
يَرْسُخُ الْعَقَائِدَ فِي النُّفُوسِ.
Tetapi jika fanatisme mereka sudah menguat, maka harapan
terhadap mereka pun hilang, karena fanatisme adalah sebab yang menancapkan
keyakinan-keyakinan dalam jiwa.
وَهُوَ
مِنْ آفَاتِ عُلَمَاءِ السُّوءِ، فَإِنَّهُمْ يُبَالِغُونَ فِي التَّعَصُّبِ
لِلْحَقِّ، وَيَنْظُرُونَ إِلَى الْمُخَالِفِينَ بِعَيْنِ الِازْدِرَاءِ
وَالِاسْتِحْقَارِ.
Ini termasuk penyakit ulama yang buruk, karena mereka
berlebihan dalam fanatisme terhadap apa yang mereka anggap benar, dan memandang
orang-orang yang berbeda dengan mata penghinaan dan perendahan.
فَتَنْبَعِثُ
مِنْهُمُ الدَّعْوَى بِالْمُكَافَأَةِ وَالْمُقَابَلَةِ وَالْمُعَامَلَةِ،
وَتَتَوَفَّرُ بَوَاعِثُهُمْ عَلَى طَلَبِ نُصْرَةِ الْبَاطِلِ، وَيَقْوَى
غَرَضُهُمْ فِي التَّمَسُّكِ بِمَا نُسِبُوا إِلَيْهِ.
Akibatnya, bangkitlah dalam diri para lawan dorongan untuk
membalas, menghadapi, dan memperlakukan dengan cara yang sama. Maka dorongan
mereka untuk membela kebatilan menjadi kuat, dan keinginan mereka untuk
berpegang teguh pada apa yang telah dinisbahkan kepada mereka pun semakin
besar.
وَلَوْ
جَاءُوهُمْ مِنْ جَانِبِ اللُّطْفِ وَالرَّحْمَةِ وَالنُّصْحِ فِي الْخَلْوَةِ،
لَا فِي مَعْرِضِ التَّعَصُّبِ وَالتَّحْقِيرِ، لَنَجَحُوا فِيهِ.
Seandainya mereka mendatangi mereka dengan kelembutan, kasih
sayang, dan nasihat secara pribadi, bukan dalam suasana fanatisme dan
penghinaan, niscaya mereka akan berhasil.
وَلٰكِنْ
لَمَّا كَانَ الْجَاهُ لَا يَقُومُ إِلَّا بِالِاسْتِتْبَاعِ، وَلَا يَسْتَمِيلُ
الْأَتْبَاعَ مِثْلُ التَّعَصُّبِ وَاللَّعْنِ وَالشَّتْمِ لِلْخُصُومِ،
اتَّخَذُوا التَّعَصُّبَ عَادَتَهُمْ وَآلَتَهُمْ، وَسَمَّوْهُ ذَبًّا عَنِ
الدِّينِ وَنِضَالًا عَنِ الْمُسْلِمِينَ.
Akan tetapi, karena kedudukan tidak akan tegak kecuali
dengan memiliki para pengikut, dan tidak ada yang lebih menarik para pengikut
seperti fanatisme, melaknat, dan mencaci para lawan, maka mereka menjadikan
fanatisme sebagai kebiasaan dan alat mereka, lalu menamakannya sebagai
pembelaan terhadap agama dan perjuangan untuk kaum muslimin.
وَفِيهِ
عَلَى التَّحْقِيقِ هَلَاكُ الْخَلْقِ وَرُسُوخُ الْبِدْعَةِ فِي النُّفُوسِ.
Padahal, pada hakikatnya, di dalamnya terdapat kebinasaan
manusia dan tertancapnya bid‘ah dalam jiwa-jiwa.
وَأَمَّا
الْخِلَافِيَّاتُ الَّتِي أُحْدِثَتْ فِي هٰذِهِ الْأَعْصَارِ الْمُتَأَخِّرَةِ،
وَأُبْدِعَ فِيهَا مِنَ التَّحْرِيرَاتِ وَالتَّصْنِيفَاتِ وَالْمُجَادَلَاتِ مَا
لَمْ يُعْهَدْ مِثْلُهُ فِي السَّلَفِ، فَإِيَّاكَ وَأَنْ تَحُومَ حَوْلَهَا،
وَاجْتَنِبْهَا اجْتِنَابَ السَّمِّ الْقَاتِلِ.
Adapun masalah-masalah khilafiyah yang diada-adakan pada
masa-masa belakangan ini, dan di dalamnya dibuat berbagai penyusunan,
penulisan, dan perdebatan yang tidak pernah dikenal semisalnya pada generasi
salaf, maka berhati-hatilah agar engkau tidak mendekatinya, dan jauhilah ia
sebagaimana menjauhi racun yang mematikan.
فَإِنَّهَا
الدَّاءُ الْعُضَالُ، وَهُوَ الَّذِي رَدَّ الْفُقَهَاءَ كُلَّهُمْ إِلَى طَلَبِ
الْمُنَافَسَةِ وَالْمُبَاهَاةِ، عَلَى مَا سَيَأْتِيكَ تَفْصِيلُ غَوَائِلِهَا
وَآفَاتِهَا.
Karena sesungguhnya ia adalah penyakit yang kronis, dan
itulah yang telah mengembalikan seluruh fuqaha kepada keinginan bersaing dan
saling membanggakan diri, sebagaimana nanti akan datang penjelasan rinci
tentang bahaya dan penyakit-penyakitnya.
وَهٰذَا
الْكَلَامُ رُبَّمَا يُسْمَعُ مِنْ قَائِلِهِ، فَيُقَالُ: النَّاسُ أَعْدَاءُ مَا
جَهِلُوا، فَلَا تَظُنَّ ذٰلِكَ، فَعَلَى الْخَبِيرِ سَقَطْتَ.
Ucapan ini barangkali jika didengar dari pengucapnya akan
dibalas dengan perkataan, “Manusia memusuhi apa yang tidak mereka ketahui.”
Maka janganlah engkau mengira demikian, sebab engkau telah datang kepada orang
yang benar-benar mengetahui persoalan ini.
فَاقْبَلْ
هٰذِهِ النَّصِيحَةَ مِمَّنْ ضَيَّعَ الْعُمُرَ فِيهِ زَمَانًا، وَزَادَ فِيهِ
عَلَى الْأَوَّلِينَ تَصْنِيفًا وَتَحْقِيقًا وَجَدَلًا وَبَيَانًا، ثُمَّ
أَلْهَمَهُ اللَّهُ رُشْدَهُ، وَأَطْلَعَهُ عَلَى عَيْبِهِ، فَهَجَرَهُ
وَاشْتَغَلَ بِنَفْسِهِ.
Terimalah nasihat ini dari orang yang telah menghabiskan
sebagian umurnya dalam bidang itu, bahkan melebihi orang-orang sebelumnya dalam
penulisan, penelitian, perdebatan, dan penjelasan, kemudian Allah
mengilhamkannya petunjuk, memperlihatkan cacatnya kepadanya, lalu ia
meninggalkannya dan sibuk memperbaiki dirinya sendiri.
فَلَا
يَغُرَّنَّكَ قَوْلُ مَنْ يَقُولُ: الْفُتْيَا عِمَادُ الشَّرْعِ، وَلَا يُعْرَفُ
عِلَلُهَا إِلَّا بِعِلْمِ الْخِلَافِ.
Maka janganlah engkau tertipu oleh ucapan orang yang
berkata, “Fatwa adalah pilar syariat, dan sebab-sebab hukumnya tidak dapat
diketahui kecuali dengan ilmu khilaf.”
فَإِنَّ
عِلَلَ الْمَذْهَبِ مَذْكُورَةٌ فِي الْمَذْهَبِ، وَالزِّيَادَةُ عَلَيْهَا
مُجَادَلَاتٌ لَمْ يَعْرِفْهَا الْأَوَّلُونَ وَلَا الصَّحَابَةُ، وَكَانُوا
أَعْلَمَ بِعِلَلِ الْفَتَاوَى مِنْ غَيْرِهِمْ.
Karena sebab-sebab hukum dalam mazhab telah disebutkan di
dalam mazhab itu sendiri. Adapun tambahan atasnya hanyalah
perdebatan-perdebatan yang tidak dikenal oleh generasi terdahulu dan para
sahabat, padahal mereka lebih mengetahui sebab-sebab fatwa daripada selain
mereka.
بَلْ
هِيَ مَعَ أَنَّهَا غَيْرُ مُفِيدَةٍ فِي عِلْمِ الْمَذْهَبِ، ضَارَّةٌ مُفْسِدَةٌ
لِذَوْقِ الْفِقْهِ.
Bahkan, selain tidak bermanfaat dalam ilmu mazhab, ia juga
membahayakan dan merusak rasa fikih.
فَإِنَّ
الَّذِي يَشْهَدُ لَهُ حَدْسُ الْمُفْتِي إِذَا صَحَّ ذَوْقُهُ فِي الْفِقْهِ، لَا
يُمْكِنُ تَمْشِيَتُهُ عَلَى شُرُوطِ الْجَدَلِ فِي أَكْثَرِ الْأَمْرِ.
Sebab sesuatu yang disaksikan oleh intuisi seorang mufti
apabila rasa fikihnya benar, sering kali tidak dapat disesuaikan dengan
syarat-syarat debat dalam kebanyakan keadaan.
فَمَنْ
أَلِفَ طَبْعُهُ رُسُومَ الْجَدَلِ أَذْعَنَ ذِهْنُهُ لِمُقْتَضَيَاتِ الْجَدَلِ،
وَجَبُنَ عَنِ الْإِذْعَانِ لِذَوْقِ الْفِقْهِ.
Maka orang yang tabiatnya telah terbiasa dengan pola-pola
perdebatan, pikirannya akan tunduk kepada tuntutan-tuntutan debat, dan menjadi
lemah untuk tunduk kepada rasa fikih.
وَإِنَّمَا
يَشْتَغِلُ بِهِ مَنْ يَشْتَغِلُ لِطَلَبِ الصِّيتِ وَالْجَاهِ، وَيَتَعَلَّلُ
بِأَنَّهُ يَطْلُبُ عِلَلَ الْمَذْهَبِ.
Biasanya yang menekuninya hanyalah orang yang mencarinya
demi reputasi dan kedudukan, lalu berdalih bahwa ia sedang mencari sebab-sebab
hukum mazhab.
وَقَدْ
يَنْقَضِي عَلَيْهِ الْعُمُرُ، وَلَا تَنْصَرِفُ هِمَّتُهُ إِلَى عِلْمِ
الْمَذْهَبِ.
Bahkan bisa jadi umurnya habis, sementara semangatnya tidak
pernah sungguh-sungguh tertuju kepada ilmu mazhab itu sendiri.
فَكُنْ
مِنْ شَيَاطِينِ الْجِنِّ فِي أَمَانٍ، وَاحْتَرِزْ مِنْ شَيَاطِينِ الْإِنْسِ،
فَإِنَّهُمْ أَرَاحُوا شَيَاطِينَ الْجِنِّ مِنَ التَّعَبِ فِي الْإِغْوَاءِ
وَالْإِضْلَالِ.
Maka jadilah engkau aman dari setan-setan jin, dan
berhati-hatilah terhadap setan-setan manusia, karena mereka telah meringankan
pekerjaan setan-setan jin dalam menyesatkan dan menjerumuskan manusia.
وَبِالْجُمْلَةِ،
فَالْمَرْضِيُّ عِنْدَ الْعُقَلَاءِ أَنْ تُقَدِّرَ نَفْسَكَ فِي الْعَالَمِ
وَحْدَكَ مَعَ اللَّهِ، وَبَيْنَ يَدَيْكَ الْمَوْتُ وَالْعَرْضُ وَالْحِسَابُ
وَالْجَنَّةُ وَالنَّارُ.
Secara keseluruhan, hal yang diridhai oleh orang-orang
berakal adalah agar engkau membayangkan dirimu di alam ini sendirian bersama
Allah, sementara di hadapanmu ada kematian, pertanggungjawaban, hisab, surga,
dan neraka.
وَتَأَمَّلْ
فِيمَا يَعْنِيكَ مِمَّا بَيْنَ يَدَيْكَ، وَدَعْ عَنْكَ مَا سِوَاهُ،
وَالسَّلَامُ.
Renungkanlah perkara yang benar-benar penting bagimu dari
apa yang ada di hadapanmu itu, dan tinggalkanlah selainnya. Cukuplah demikian.
وَقَدْ
رَأَى بَعْضُ الشُّيُوخِ بَعْضَ الْعُلَمَاءِ فِي الْمَنَامِ، فَقَالَ لَهُ: مَا
خَبَرُ تِلْكَ الْعُلُومِ الَّتِي كُنْتَ تُجَادِلُ فِيهَا وَتُنَاظِرُ عَلَيْهَا؟
Sebagian syekh pernah melihat salah seorang ulama dalam
mimpi, lalu berkata kepadanya, “Bagaimana keadaan ilmu-ilmu yang dahulu engkau
perdebatkan dan engkau jadikan bahan perdebatan?”
فَبَسَطَ
يَدَهُ وَنَفَخَ فِيهَا، وَقَالَ: طَاحَتْ كُلُّهَا هَبَاءً مَنْثُورًا، وَمَا
انْتَفَعْتُ إِلَّا بِرَكْعَتَيْنِ خَلَصَتَا لِي فِي جَوْفِ اللَّيْلِ.
Maka orang itu mengulurkan tangannya dan meniupnya, lalu
berkata, “Semua itu telah beterbangan menjadi debu yang berhamburan. Aku tidak
memperoleh manfaat kecuali dari dua rakaat yang ikhlas bagiku di tengah malam.”
وَفِي
الْحَدِيثِ: مَا ضَلَّ قَوْمٌ بَعْدَ هُدًى كَانُوا عَلَيْهِ إِلَّا أُوتُوا
الْجَدَلَ.
Dalam hadis disebutkan, “Tidaklah suatu kaum tersesat
setelah sebelumnya berada di atas petunjuk, kecuali mereka diberi sifat suka
berdebat.”
ثُمَّ
قَرَأَ: {مَا ضَرَبُوهُ لَكَ إِلَّا جَدَلًا بَلْ هُمْ قَوْمٌ خَصِمُونَ}.
Kemudian beliau membaca firman Allah, “Mereka tidak membuat
perumpamaan itu kepadamu melainkan untuk membantah saja; bahkan mereka adalah
kaum yang sangat suka bertengkar.”
وَفِي
الْحَدِيثِ فِي مَعْنَى قَوْلِهِ تَعَالَى: {فَأَمَّا الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ
زَيْغٌ} الْآيَةَ، هُمْ أَهْلُ الْجَدَلِ الَّذِينَ عَنَاهُمُ اللَّهُ بِقَوْلِهِ
تَعَالَى: {فَاحْذَرْهُمْ}.
Dalam hadis lain, tentang makna firman Allah Ta‘ala, “Adapun
orang-orang yang di dalam hatinya ada penyimpangan,” disebutkan bahwa mereka
adalah orang-orang yang suka berdebat, yang dimaksud oleh Allah dalam
firman-Nya, “Maka waspadalah terhadap mereka.”
وَقَالَ
بَعْضُ السَّلَفِ: يَكُونُ فِي آخِرِ الزَّمَانِ قَوْمٌ يُغْلَقُ عَلَيْهِمْ بَابُ
الْعَمَلِ، وَيُفْتَحُ لَهُمْ بَابُ الْجَدَلِ.
Sebagian salaf berkata, “Pada akhir zaman akan ada suatu
kaum yang tertutup bagi mereka pintu amal, dan dibukakan bagi mereka pintu
perdebatan.”
وَفِي
بَعْضِ الْأَخْبَارِ: إِنَّكُمْ فِي زَمَانٍ أُلْهِمْتُمْ فِيهِ الْعَمَلَ،
وَسَيَأْتِي قَوْمٌ يُلْهَمُونَ الْجَدَلَ.
Dalam sebagian riwayat disebutkan, “Sesungguhnya kalian
berada pada suatu zaman yang diilhamkan di dalamnya amal. Dan akan datang suatu
kaum yang diilhamkan perdebatan.”
وَفِي
الْخَبَرِ الْمَشْهُورِ: أَبْغَضُ الْخَلْقِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى الْأَلَدُّ
الْخَصِمُ.
Dalam hadis yang masyhur disebutkan, “Makhluk yang paling
dibenci Allah Ta‘ala adalah orang yang sangat keras dalam perdebatan.”
وَفِي
الْخَبَرِ: مَا أُوتِيَ قَوْمٌ الْمَنْطِقَ إِلَّا مُنِعُوا الْعَمَلَ.
Dan dalam satu riwayat disebutkan, “Tidaklah suatu kaum
diberi banyak kemampuan berlogika dan berdebat, kecuali mereka dihalangi dari
amal.”
وَاللَّهُ
أَعْلَمُ.
Dan Allah lebih mengetahui.