Penjelasan tentang lafaz-lafaz ilmu yang telah diubah maknanya

 بَيَانُ مَا بُدِّلَ مِنْ أَلْفَاظِ الْعُلُومِ

Penjelasan tentang lafaz-lafaz ilmu yang telah diubah maknanya.

اِعْلَمْ أَنَّ مَنْشَأَ الْتِبَاسِ الْعُلُومِ الْمَذْمُومَةِ بِالْعُلُومِ الشَّرْعِيَّةِ تَحْرِيفُ الْأَسَامِي الْمَحْمُودَةِ وَتَبْدِيلُهَا وَنَقْلُهَا بِالْأَغْرَاضِ الْفَاسِدَةِ إِلَى مَعَانٍ غَيْرِ مَا أَرَادَهُ السَّلَفُ الصَّالِحُ وَالْقَرْنُ الْأَوَّلُ.

Ketahuilah bahwa sumber bercampurnya ilmu-ilmu yang tercela dengan ilmu-ilmu syar‘i adalah karena adanya penyimpangan terhadap nama-nama yang terpuji, penggantian maknanya, dan pemindahannya — karena tujuan-tujuan yang rusak — kepada makna-makna yang bukan dimaksud oleh salaf saleh dan generasi pertama.

وَهِيَ خَمْسَةُ أَلْفَاظٍ: الْفِقْهُ، وَالْعِلْمُ، وَالتَّوْحِيدُ، وَالتَّذْكِيرُ، وَالْحِكْمَةُ.

Lafaz-lafaz itu ada lima: fikih, ilmu, tauhid, peringatan, dan hikmah.

فَهٰذِهِ أَسَامٍ مَحْمُودَةٌ، وَالْمُتَّصِفُونَ بِهَا أَرْبَابُ الْمَنَاصِبِ فِي الدِّينِ، وَلٰكِنَّهَا نُقِلَتِ الْآنَ إِلَى مَعَانٍ مَذْمُومَةٍ.

Nama-nama ini adalah nama-nama yang terpuji, dan orang-orang yang menyandangnya adalah para pemilik kedudukan dalam agama. Akan tetapi, sekarang nama-nama itu telah dipindahkan kepada makna-makna yang tercela.

فَصَارَتِ الْقُلُوبُ تَنْفِرُ عَنْ مَذَمَّةِ مَنْ يَتَّصِفُ بِمَعَانِيهَا، لِشُيُوعِ إِطْلَاقِ هٰذِهِ الْأَسَامِي عَلَيْهِمْ.

Akibatnya, hati-hati manusia merasa enggan untuk mencela orang-orang yang memiliki makna-makna baru itu, karena telah tersebar penyematan nama-nama terpuji tersebut kepada mereka.

اللَّفْظُ الْأَوَّلُ: الْفِقْهُ.

Lafaz pertama adalah fikih.

فَقَدْ تَصَرَّفُوا فِيهِ بِالتَّخْصِيصِ لَا بِالنَّقْلِ وَالتَّحْوِيلِ، إِذْ خَصَّصُوهُ بِمَعْرِفَةِ الْفُرُوعِ الْغَرِيبَةِ فِي الْفَتَاوَى، وَالْوُقُوفِ عَلَى دَقَائِقِ عِلَلِهَا، وَاسْتِكْثَارِ الْكَلَامِ فِيهَا، وَحِفْظِ الْمَقَالَاتِ الْمُتَعَلِّقَةِ بِهَا.

Mereka telah memperlakukan lafaz ini dengan pengkhususan, bukan dengan pemindahan total atau perubahan mutlak. Mereka mengkhususkannya pada pengetahuan tentang cabang-cabang yang rumit dalam fatwa, pemahaman terhadap rincian sebab-sebab hukumnya, memperbanyak pembicaraan tentangnya, dan menghafal pendapat-pendapat yang berkaitan dengannya.

فَمَنْ كَانَ أَشَدَّ تَعَمُّقًا فِيهَا، وَأَكْثَرَ اشْتِغَالًا بِهَا، يُقَالُ: هُوَ الْأَفْقَهُ.

Maka siapa yang lebih dalam mendalaminya dan lebih banyak menyibukkan diri dengannya, dikatakan: dialah yang paling fakih.

وَلَقَدْ كَانَ اسْمُ الْفِقْهِ فِي الْعَصْرِ الْأَوَّلِ مُطْلَقًا عَلَى عِلْمِ طَرِيقِ الْآخِرَةِ، وَمَعْرِفَةِ دَقَائِقِ آفَاتِ النُّفُوسِ، وَمُفْسِدَاتِ الْأَعْمَالِ، وَقُوَّةِ الْإِحَاطَةِ بِحَقَارَةِ الدُّنْيَا، وَشِدَّةِ التَّطَلُّعِ إِلَى نَعِيمِ الْآخِرَةِ، وَاسْتِيلَاءِ الْخَوْفِ عَلَى الْقَلْبِ.

Padahal pada masa generasi pertama, nama fikih secara mutlak digunakan untuk ilmu tentang jalan akhirat, pengetahuan tentang rincian penyakit-penyakit jiwa, perusak-perusak amal, pemahaman mendalam tentang hinanya dunia, besarnya kerinduan kepada kenikmatan akhirat, dan dominannya rasa takut dalam hati.

وَيَدُلُّكَ عَلَيْهِ قَوْلُهُ عَزَّ وَجَلَّ: {لِيَتَفَقَّهُوا فِي الدِّينِ وَلِيُنْذِرُوا قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُوا إِلَيْهِمْ}.

Yang menunjukkan hal itu kepadamu adalah firman Allah ‘Azza wa Jalla: “Agar mereka memperdalam agama dan agar mereka memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka kembali kepada mereka.”

وَمَا يَحْصُلُ بِهِ الْإِنْذَارُ وَالتَّخْوِيفُ هُوَ هٰذَا الْفِقْهُ دُونَ تَفْرِيعَاتِ الطَّلَاقِ وَالْعِتَاقِ وَاللِّعَانِ وَالسَّلَمِ وَالْإِجَارَةِ.

Yang dengannya peringatan dan rasa takut dapat terwujud ialah fikih dalam makna ini, bukan rincian-rincian hukum talak, pemerdekaan budak, li‘an, salam, dan ijarah.

فَذٰلِكَ لَا يَحْصُلُ بِهِ إِنْذَارٌ وَلَا تَخْوِيفٌ، بَلِ التَّجَرُّدُ لَهُ عَلَى الدَّوَامِ يُقَسِّي الْقَلْبَ، وَيَنْزِعُ الْخَشْيَةَ مِنْهُ، كَمَا نُشَاهِدُ الْآنَ مِنَ الْمُتَجَرِّدِينَ لَهُ.

Hal-hal itu tidak menghasilkan peringatan dan rasa takut. Bahkan, jika seseorang hanya menekuninya terus-menerus, hal itu akan mengeraskan hati dan mencabut rasa takut kepada Allah darinya, sebagaimana yang kita saksikan sekarang pada orang-orang yang hanya berkonsentrasi pada hal itu.

وَقَالَ تَعَالَى: {لَهُمْ قُلُوبٌ لَا يَفْقَهُونَ بِهَا}.

Dan Allah Ta‘ala berfirman: “Mereka mempunyai hati yang tidak mereka gunakan untuk memahami.”

وَأَرَادَ بِهِ مَعَانِيَ الْإِيمَانِ دُونَ الْفَتَاوَى.

Yang dimaksud dengan ayat itu adalah makna-makna keimanan, bukan fatwa-fatwa.

وَلَعَمْرِي، إِنَّ الْفِقْهَ وَالْفَهْمَ فِي اللُّغَةِ اسْمَانِ بِمَعْنًى وَاحِدٍ، وَإِنَّمَا يَتَكَلَّمُ فِي عَادَةِ الِاسْتِعْمَالِ بِهِ قَدِيمًا وَحَدِيثًا.

Demi umurku, sesungguhnya fikih dan faham dalam bahasa adalah dua nama dengan satu makna. Yang dibicarakan di sini hanyalah kebiasaan pemakaian lafaz itu pada masa dahulu dan sekarang.

قَالَ تَعَالَى: {لَأَنْتُمْ أَشَدُّ رَهْبَةً فِي صُدُورِهِمْ مِنَ اللَّهِ} الْآيَةَ، فَأَحَالَ قِلَّةَ خَوْفِهِمْ مِنَ اللَّهِ وَاسْتِعْظَامَهُمْ سَطْوَةَ الْخَلْقِ عَلَى قِلَّةِ الْفِقْهِ.

Allah Ta‘ala berfirman: “Sungguh kamu lebih ditakuti dalam dada mereka daripada Allah.” Dalam ayat ini Allah mengaitkan sedikitnya rasa takut mereka kepada Allah dan besarnya rasa takut mereka terhadap kekuatan makhluk dengan sedikitnya fikih.

فَانْظُرْ إِنْ كَانَ ذٰلِكَ نَتِيجَةَ عَدَمِ الْحِفْظِ لِتَفْرِيعَاتِ الْفَتَاوَى، أَوْ هُوَ نَتِيجَةُ عَدَمِ مَا ذَكَرْنَاهُ مِنَ الْعُلُومِ.

Maka perhatikanlah, apakah hal itu merupakan akibat dari tidak menghafal rincian-rincian fatwa, ataukah akibat dari tidak adanya ilmu-ilmu yang telah kami sebutkan tadi?

وَقَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: عُلَمَاءُ حُكَمَاءُ فُقَهَاءُ، لِلَّذِينَ وَفَدُوا عَلَيْهِ.

Nabi bersabda, “Mereka adalah ulama, orang-orang bijak, dan para fuqaha,” yakni kepada orang-orang yang datang sebagai rombongan kepada beliau.

وَسُئِلَ سَعْدُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ الزُّهْرِيُّ رَحِمَهُ اللَّهُ: أَيُّ أَهْلِ الْمَدِينَةِ أَفْقَهُ؟

Sa‘d bin Ibrahim Az-Zuhri rahimahullah pernah ditanya, “Siapakah penduduk Madinah yang paling fakih?”

فَقَالَ: أَتْقَاهُمْ لِلَّهِ تَعَالَى.

Ia menjawab, “Orang yang paling bertakwa kepada Allah Ta‘ala.”

فَكَأَنَّهُ أَشَارَ إِلَى ثَمَرَةِ الْفِقْهِ، وَالتَّقْوَى ثَمَرَةُ الْعِلْمِ الْبَاطِنِ، دُونَ الْفَتَاوَى وَالْأَقْضِيَةِ.

Seakan-akan ia memberi isyarat kepada buah dari fikih, sedangkan takwa adalah buah dari ilmu batin, bukan buah dari fatwa-fatwa dan keputusan-keputusan hukum.

وَقَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَلَا أُنَبِّئُكُمْ بِالْفَقِيهِ كُلِّ الْفَقِيهِ؟

Dan Nabi bersabda, “Maukah aku beritahukan kepada kalian siapa orang yang benar-benar fakih?”

قَالُوا: بَلَى.

Mereka menjawab, “Tentu.”

قَالَ: مَنْ لَمْ يُقَنِّطِ النَّاسَ مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ، وَلَمْ يُؤْمِنْهُمْ مِنْ مَكْرِ اللَّهِ، وَلَمْ يُؤَيِّسْهُمْ مِنْ رَوْحِ اللَّهِ، وَلَمْ يَدَعِ الْقُرْآنَ رَغْبَةً عَنْهُ إِلَى مَا سِوَاهُ.

Beliau bersabda, “Yaitu orang yang tidak membuat manusia putus asa dari rahmat Allah, tidak membuat mereka merasa aman dari makar Allah, tidak membuat mereka berputus asa dari pertolongan Allah, dan tidak meninggalkan Al-Qur’an karena berpaling kepada selainnya.”

وَلَمَّا رَوَى أَنَسُ بْنُ مَالِكٍ قَوْلَهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لَأَنْ أَقْعُدَ مَعَ قَوْمٍ يَذْكُرُونَ اللَّهَ تَعَالَى مِنْ غُدْوَةٍ إِلَى طُلُوعِ الشَّمْسِ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ أَنْ أُعْتِقَ أَرْبَعَ رِقَابٍ.

Ketika Anas bin Malik meriwayatkan sabda Nabi , “Sungguh aku duduk bersama sekelompok orang yang berzikir kepada Allah Ta‘ala dari pagi hingga matahari terbit lebih aku cintai daripada memerdekakan empat orang budak.”

قَالَ: فَالْتَفَتَ إِلَى زَيْدِ الرَّقَاشِيِّ وَزِيَادِ النُّمَيْرِيِّ، وَقَالَ: لَمْ تَكُنْ مَجَالِسُ الذِّكْرِ مِثْلَ مَجَالِسِكُمْ هٰذِهِ، يَقُصُّ أَحَدُكُمْ وَعْظَهُ عَلَى أَصْحَابِهِ، وَيَسْرُدُ الْحَدِيثَ سَرْدًا.

Lalu ia menoleh kepada Zaid Ar-Raqasyi dan Ziyad An-Numairi, seraya berkata, “Majelis-majelis zikir itu bukan seperti majelis-majelis kalian ini, di mana salah seorang dari kalian hanya menceritakan nasihatnya kepada teman-temannya dan membacakan hadis dengan cepat berturut-turut.”

إِنَّمَا كُنَّا نَقْعُدُ فَنَذْكُرُ الْإِيمَانَ، وَنَتَدَبَّرُ الْقُرْآنَ، وَنَتَفَقَّهُ فِي الدِّينِ، وَنَعُدُّ نِعَمَ اللَّهِ عَلَيْنَا تَفَقُّهًا.

“Sesungguhnya dahulu kami duduk, lalu kami membicarakan iman, merenungkan Al-Qur’an, memperdalam agama, dan menghitung nikmat-nikmat Allah atas kami sebagai bentuk tafaqquh.”

فَسَمَّى تَدَبُّرَ الْقُرْآنِ وَعَدَّ النِّعَمِ تَفَقُّهًا.

Maka ia menamai tadabbur Al-Qur’an dan menghitung nikmat sebagai tafaqquh.

قَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لَا يَفْقَهُ الْعَبْدُ كُلَّ الْفِقْهِ حَتَّى يَمْقُتَ النَّاسَ فِي ذَاتِ اللَّهِ، وَحَتَّى يَرَى الْقُرْآنَ وُجُوهًا كَثِيرَةً.

Nabi bersabda, “Seorang hamba tidak akan mencapai seluruh fikih hingga ia membenci manusia karena Allah, dan hingga ia melihat banyak sisi makna dalam Al-Qur’an.”

وَرُوِيَ أَيْضًا مَوْقُوفًا عَلَى أَبِي الدَّرْدَاءِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ مَعَ قَوْلِهِ: ثُمَّ يُقْبِلُ عَلَى نَفْسِهِ فَيَكُونُ لَهَا أَشَدَّ مَقْتًا.

Riwayat ini juga dinukil sebagai ucapan Abu Ad-Darda’ radhiyallahu ‘anhu, dengan tambahan: “Kemudian ia menghadapkan dirinya kepada dirinya sendiri, lalu ia lebih membenci dirinya daripada orang lain.”

وَقَدْ سَأَلَ فَرْقَدٌ السَّبَخِيُّ الْحَسَنَ عَنْ شَيْءٍ فَأَجَابَهُ، فَقَالَ: إِنَّ الْفُقَهَاءَ يُخَالِفُونَكَ.

Farqad As-Sabakhi pernah bertanya kepada Al-Hasan tentang suatu perkara, lalu Al-Hasan menjawabnya. Maka Farqad berkata, “Para fuqaha menyelisihimu.”

فَقَالَ الْحَسَنُ رَحِمَهُ اللَّهُ: ثَكِلَتْكَ أُمُّكَ يَا فُرَيْقِدُ، وَهَلْ رَأَيْتَ فَقِيهًا بِعَيْنِكَ؟

Maka Al-Hasan rahimahullah berkata, “Ibumu kehilangan dirimu, wahai Furaiqid! Apakah engkau pernah melihat fakih dengan matamu?”

إِنَّمَا الْفَقِيهُ الزَّاهِدُ فِي الدُّنْيَا، الرَّاغِبُ فِي الْآخِرَةِ، الْبَصِيرُ بِدِينِهِ، الْمُدَاوِمُ عَلَى عِبَادَةِ رَبِّهِ، الْوَرِعُ، الْكَافُّ نَفْسَهُ عَنْ أَعْرَاضِ الْمُسْلِمِينَ، الْعَفِيفُ عَنْ أَمْوَالِهِمْ، النَّاصِحُ لِجَمَاعَتِهِمْ.

Sesungguhnya yang disebut fakih adalah orang yang zuhud terhadap dunia, sangat menginginkan akhirat, memiliki pandangan yang tajam terhadap agamanya, terus-menerus beribadah kepada Tuhannya, wara‘, menahan dirinya dari kehormatan kaum muslimin, menjaga diri dari harta-harta mereka, dan tulus kepada jamaah mereka.

وَلَمْ يَقُلْ فِي جَمِيعِ ذٰلِكَ: الْحَافِظُ لِفُرُوعِ الْفَتَاوَى.

Ia tidak mengatakan dalam semua itu: “orang yang hafal cabang-cabang fatwa.”

وَلَسْتُ أَقُولُ إِنَّ اسْمَ الْفِقْهِ لَمْ يَكُنْ مُتَنَاوِلًا لِلْفَتَاوَى فِي الْأَحْكَامِ الظَّاهِرَةِ، وَلٰكِنْ كَانَ بِطَرِيقِ الْعُمُومِ وَالشُّمُولِ، أَوْ بِطَرِيقِ الِاسْتِتْبَاعِ.

Aku tidak mengatakan bahwa nama fikih dahulu sama sekali tidak mencakup fatwa-fatwa tentang hukum-hukum lahiriah. Akan tetapi, hal itu tercakup secara umum dan luas, atau sebagai sesuatu yang mengikuti.

فَكَانَ إِطْلَاقُهُمْ لَهُ عَلَى عِلْمِ الْآخِرَةِ أَكْثَرَ.

Namun, penyebutan mereka terhadap fikih untuk ilmu akhirat lebih banyak.

فَبَانَ مِنْ هٰذَا التَّخْصِيصِ تَلْبِيسٌ بَعَثَ النَّاسَ عَلَى التَّجَرُّدِ لَهُ، وَالْإِعْرَاضِ عَنْ عِلْمِ الْآخِرَةِ وَأَحْكَامِ الْقُلُوبِ.

Dari pengkhususan ini tampak adanya penyesatan yang mendorong manusia untuk hanya menekuni hal itu dan berpaling dari ilmu akhirat serta hukum-hukum hati.

وَوَجَدُوا عَلَى ذٰلِكَ مُعِينًا مِنَ الطَّبْعِ، فَإِنَّ عِلْمَ الْبَاطِنِ غَامِضٌ، وَالْعَمَلُ بِهِ عَسِيرٌ، وَالتَّوَصُّلُ بِهِ إِلَى طَلَبِ الْوِلَايَةِ وَالْقَضَاءِ وَالْجَاهِ وَالْمَالِ مُتَعَذِّرٌ.

Mereka mendapati dorongan tabiat yang membantu hal itu, karena ilmu batin itu dalam, amal dengannya sulit, dan tidak mudah menjadikannya sebagai jalan untuk mendapatkan kekuasaan, jabatan hakim, kedudukan, dan harta.

فَوَجَدَ الشَّيْطَانُ مَجَالًا لِتَحْسِينِ ذٰلِكَ فِي الْقُلُوبِ بِوَاسِطَةِ تَخْصِيصِ اسْمِ الْفِقْهِ الَّذِي هُوَ اسْمٌ مَحْمُودٌ فِي الشَّرْعِ.

Maka setan menemukan jalan untuk memperindah hal itu dalam hati manusia melalui pengkhususan nama “fikih”, padahal nama itu adalah nama yang terpuji dalam syariat.

اللَّفْظُ الثَّانِي: الْعِلْمُ.

Lafaz kedua adalah ilmu.

وَقَدْ كَانَ يُطْلَقُ ذٰلِكَ عَلَى الْعِلْمِ بِاللَّهِ تَعَالَى، وَبِآيَاتِهِ، وَبِأَفْعَالِهِ فِي عِبَادِهِ وَخَلْقِهِ.

Kata ini dahulu digunakan untuk ilmu tentang Allah Ta‘ala, ayat-ayat-Nya, dan perbuatan-perbuatan-Nya pada hamba-hamba-Nya dan makhluk-Nya.

حَتَّى إِنَّهُ لَمَّا مَاتَ عُمَرُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ ابْنُ مَسْعُودٍ رَحِمَهُ اللَّهُ: لَقَدْ مَاتَ تِسْعَةُ أَعْشَارِ الْعِلْمِ.

Bahkan ketika ‘Umar radhiyallahu ‘anhu wafat, Ibnu Mas‘ud rahimahullah berkata, “Sungguh telah mati sembilan persepuluh ilmu.”

فَعَرَّفَهُ بِالْأَلِفِ وَاللَّامِ، ثُمَّ فَسَّرَهُ بِالْعِلْمِ بِاللَّهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى.

Ia menyebutkannya dengan alif-lam ma‘rifah, kemudian menafsirkannya sebagai ilmu tentang Allah Subhanahu wa Ta‘ala.

وَقَدْ تَصَرَّفُوا فِيهِ أَيْضًا بِالتَّخْصِيصِ، حَتَّى شَهَّرُوهُ فِي الْأَكْثَرِ بِمَنْ يَشْتَغِلُ بِالْمُنَاظَرَةِ مَعَ الْخُصُومِ فِي الْمَسَائِلِ الْفِقْهِيَّةِ وَغَيْرِهَا.

Mereka juga memperlakukan lafaz ini dengan pengkhususan, hingga kebanyakan orang memasyhurkannya untuk orang yang sibuk berdebat dengan lawan dalam masalah-masalah fikih dan selainnya.

فَيُقَالُ: هُوَ الْعَالِمُ عَلَى الْحَقِيقَةِ، وَهُوَ الْفَحْلُ فِي الْعِلْمِ.

Lalu dikatakan, “Dialah orang alim yang sesungguhnya,” dan “dialah jantan dalam ilmu.”

وَمَنْ لَا يُمَارِسُ ذٰلِكَ وَلَا يَشْتَغِلُ بِهِ يُعَدُّ مِنْ جُمْلَةِ الضُّعَفَاءِ، وَلَا يَعُدُّونَهُ فِي زُمْرَةِ أَهْلِ الْعِلْمِ.

Sedangkan orang yang tidak menekuni atau tidak menyibukkan diri dengan hal itu dianggap termasuk orang-orang lemah, dan tidak dimasukkan ke dalam golongan ahli ilmu.

وَهٰذَا أَيْضًا تَصَرُّفٌ بِالتَّخْصِيصِ.

Ini pun merupakan pengkhususan makna.

وَلٰكِنَّ مَا وَرَدَ مِنْ فَضَائِلِ الْعِلْمِ وَالْعُلَمَاءِ أَكْثَرُهُ فِي الْعُلَمَاءِ بِاللَّهِ تَعَالَى وَبِأَحْكَامِهِ وَبِأَفْعَالِهِ وَصِفَاتِهِ.

Padahal, kebanyakan nash yang berbicara tentang keutamaan ilmu dan para ulama adalah tentang orang-orang yang berilmu tentang Allah Ta‘ala, hukum-hukum-Nya, perbuatan-perbuatan-Nya, dan sifat-sifat-Nya.

وَقَدْ صَارَ الْآنَ مُطْلَقًا عَلَى مَنْ لَا يُحِيطُ مِنْ عُلُومِ الشَّرْعِ بِشَيْءٍ سِوَى رُسُومٍ جَدَلِيَّةٍ فِي مَسَائِلَ خِلَافِيَّةٍ.

Sekarang kata “ilmu” dipakai secara mutlak untuk orang yang tidak menguasai ilmu-ilmu syariat selain bentuk-bentuk perdebatan dalam masalah-masalah khilafiyah.

فَيُعَدُّ بِذٰلِكَ مِنْ فُحُولِ الْعُلَمَاءِ، مَعَ جَهْلِهِ بِالتَّفْسِيرِ وَالْأَخْبَارِ وَعِلْمِ الْمَذْهَبِ وَغَيْرِهِ.

Dengan itu ia dianggap sebagai salah satu tokoh besar ulama, padahal ia tidak tahu tafsir, hadis-hadis, ilmu mazhab, dan selainnya.

وَصَارَ ذٰلِكَ سَبَبًا مُهْلِكًا لِخَلْقٍ كَثِيرٍ مِنْ أَهْلِ الطَّلَبِ لِلْعِلْمِ.

Hal ini menjadi sebab kebinasaan bagi banyak penuntut ilmu.

اللَّفْظُ الثَّالِثُ: التَّوْحِيدُ.

Lafaz ketiga adalah tauhid.

وَقَدْ جُعِلَ الْآنَ عِبَارَةً عَنْ صَنْعَةِ الْكَلَامِ، وَمَعْرِفَةِ طَرِيقِ الْمُجَادَلَةِ، وَالْإِحَاطَةِ بِطُرُقِ مُنَاقَضَاتِ الْخُصُومِ، وَالْقُدْرَةِ عَلَى التَّشَدُّقِ فِيهَا بِتَكْثِيرِ الْأَسْئِلَةِ، وَإِثَارَةِ الشُّبُهَاتِ، وَتَأْلِيفِ الْإِلْزَامَاتِ.

Sekarang tauhid dijadikan istilah untuk seni ilmu kalam, mengetahui cara berdebat, menguasai metode membantah lawan, dan kemampuan berpidato dalam hal itu dengan memperbanyak pertanyaan, menimbulkan syubhat, dan menyusun sanggahan.

حَتَّى لُقِّبَ طَوَائِفُ مِنْهُمْ أَنْفُسَهُمْ بِأَهْلِ الْعَدْلِ وَالتَّوْحِيدِ، وَسَمَّى الْمُتَكَلِّمُونَ أَنْفُسَهُمْ عُلَمَاءَ بِالتَّوْحِيدِ.

Bahkan sebagian kelompok di antara mereka menamakan diri mereka “Ahlul ‘Adl wat Tauhid”, dan para ahli kalam menamakan diri mereka sebagai ulama tauhid.

مَعَ أَنَّ جَمِيعَ مَا هُوَ خَاصَّةُ هٰذِهِ الصَّنْعَةِ لَمْ يَكُنْ يُعْرَفُ مِنْهَا شَيْءٌ فِي الْعَصْرِ الْأَوَّلِ.

Padahal semua hal yang menjadi ciri khusus seni ini sama sekali tidak dikenal pada masa generasi pertama.

بَلْ كَانَ يَشْتَدُّ مِنْهُمُ النَّكِيرُ عَلَى مَنْ كَانَ يَفْتَحُ بَابًا مِنَ الْجَدَلِ وَالْمِرَاءِ.

Bahkan mereka sangat mengingkari siapa pun yang membuka pintu debat dan pertengkaran.

فَأَمَّا مَا يَشْتَمِلُ عَلَيْهِ الْقُرْآنُ مِنَ الْأَدِلَّةِ الظَّاهِرَةِ الَّتِي تَسْبِقُ الْأَذْهَانَ إِلَى قَبُولِهَا فِي أَوَّلِ السَّمَاعِ، فَلَقَدْ كَانَ ذٰلِكَ مَعْلُومًا لِلْكُلِّ، وَكَانَ الْعِلْمُ بِالْقُرْآنِ هُوَ الْعِلْمَ كُلَّهُ.

Adapun dalil-dalil yang jelas yang terkandung dalam Al-Qur’an, yang pikiran langsung menerimanya ketika pertama kali mendengarnya, maka hal itu dahulu diketahui oleh semua orang, dan ilmu tentang Al-Qur’an itulah seluruh ilmu.

وَكَانَ التَّوْحِيدُ عِنْدَهُمْ عِبَارَةً عَنْ أَمْرٍ آخَرَ لَا يَفْهَمُهُ أَكْثَرُ الْمُتَكَلِّمِينَ، وَإِنْ فَهِمُوهُ لَمْ يَتَّصِفُوا بِهِ.

Tauhid menurut mereka adalah sesuatu yang lain, yang kebanyakan ahli kalam tidak memahaminya, dan kalaupun memahaminya, mereka tidak memilikinya sebagai sifat.

وَهُوَ أَنْ يَرَى الْأُمُورَ كُلَّهَا مِنَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ رُؤْيَةً تَقْطَعُ الْتِفَاتَهُ عَنِ الْأَسْبَابِ وَالْوَسَائِطِ، فَلَا يَرَى الْخَيْرَ وَالشَّرَّ كُلَّهُ إِلَّا مِنْهُ جَلَّ جَلَالُهُ.

Yaitu bahwa seseorang melihat seluruh perkara berasal dari Allah ‘Azza wa Jalla, dengan pandangan yang memutus perhatiannya dari sebab-sebab dan perantara-perantara, sehingga ia tidak melihat seluruh kebaikan dan keburukan kecuali berasal dari-Nya, Mahamulia keagungan-Nya.

فَهٰذَا مَقَامٌ شَرِيفٌ، إِحْدَى ثَمَرَاتِهِ التَّوَكُّلُ، كَمَا سَيَأْتِي بَيَانُهُ فِي كِتَابِ التَّوَكُّلِ.

Ini adalah maqam yang mulia, dan salah satu buahnya adalah tawakal, sebagaimana akan dijelaskan nanti dalam Kitab At-Tawakkul.

وَمِنْ ثَمَرَاتِهِ أَيْضًا تَرْكُ شِكَايَةِ الْخَلْقِ، وَتَرْكُ الْغَضَبِ عَلَيْهِمْ، وَالرِّضَا وَالتَّسْلِيمُ لِحُكْمِ اللَّهِ تَعَالَى.

Di antara buahnya juga ialah meninggalkan keluhan terhadap makhluk, meninggalkan kemarahan kepada mereka, serta ridha dan pasrah terhadap keputusan Allah Ta‘ala.

وَكَانَتْ إِحْدَى ثَمَرَاتِهِ قَوْلَ أَبِي بَكْرٍ الصِّدِّيقِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، لَمَّا قِيلَ لَهُ فِي مَرَضِهِ: أَنَطْلُبُ لَكَ طَبِيبًا؟ فَقَالَ: الطَّبِيبُ أَمْرَضَنِي.

Salah satu buahnya juga tampak pada ucapan Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu, ketika dikatakan kepadanya saat sakit, “Apakah kami akan memanggilkan dokter untukmu?” Maka ia menjawab, “Dokter itu sendiri yang membuatku sakit.”

وَقَوْلُ آخَرَ لَمَّا مَرِضَ، فَقِيلَ لَهُ: مَاذَا قَالَ لَكَ الطَّبِيبُ فِي مَرَضِكَ؟ فَقَالَ: قَالَ لِي: إِنِّي فَعَّالٌ لِمَا أُرِيدُ.

Demikian pula ucapan orang lain ketika ia sakit, lalu ditanya, “Apa yang dikatakan dokter kepadamu tentang penyakitmu?” Ia menjawab, “Ia berkata kepadaku: sesungguhnya Aku Mahaberbuat apa yang Aku kehendaki.”

وَسَيَأْتِي فِي كِتَابِ التَّوَكُّلِ وَكِتَابِ التَّوْحِيدِ شَوَاهِدُ ذٰلِكَ.

Dalil-dalil tentang hal ini akan disebutkan nanti dalam Kitab At-Tawakkul dan Kitab At-Tauhid.

وَالتَّوْحِيدُ جَوْهَرٌ نَفِيسٌ، وَلَهُ قِشْرَانِ، أَحَدُهُمَا أَبْعَدُ عَنِ اللُّبِّ مِنَ الْآخَرِ.

Tauhid adalah permata yang berharga, dan ia memiliki dua lapisan kulit; salah satunya lebih jauh dari inti dibanding yang lain.

فَخَصَّصَ النَّاسُ الِاسْمَ بِالْقِشْرِ، وَبِصَنْعَةِ الْحِرَاسَةِ لِلْقِشْرِ، وَأَهْمَلُوا اللُّبَّ بِالْكُلِّيَّةِ.

Akan tetapi, manusia mengkhususkan nama itu pada kulitnya saja, serta pada pekerjaan menjaga kulit itu, dan mereka mengabaikan inti sama sekali.

فَالْقِشْرُ الْأَوَّلُ هُوَ أَنْ تَقُولَ بِلِسَانِكَ: لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ.

Kulit yang pertama adalah engkau mengucapkan dengan lisanmu, “Lā ilāha illallāh.”

وَهٰذَا يُسَمَّى تَوْحِيدًا مُنَاقِضًا لِلتَّثْلِيثِ الَّذِي صَرَّحَ بِهِ النَّصَارَى، وَلٰكِنَّهُ قَدْ يَصْدُرُ مِنَ الْمُنَافِقِ الَّذِي يُخَالِفُ سِرُّهُ جَهْرَهُ.

Ini disebut tauhid sebagai lawan dari trinitas yang diyakini secara terang-terangan oleh orang Nasrani. Akan tetapi, ucapan ini bisa saja keluar dari seorang munafik yang batinnya menyelisihi lahiriahnya.

وَالْقِشْرُ الثَّانِي أَنْ لَا يَكُونَ فِي الْقَلْبِ مُخَالَفَةٌ وَإِنْكَارٌ لِمَفْهُومِ هٰذَا الْقَوْلِ، بَلْ يَشْتَمِلُ ظَاهِرُ الْقَلْبِ عَلَى اعْتِقَادِهِ وَكَذٰلِكَ التَّصْدِيقِ بِهِ.

Kulit yang kedua ialah bahwa di dalam hati tidak ada penentangan dan pengingkaran terhadap makna ucapan tersebut, bahkan lahiriah hati memuat keyakinan dan pembenaran terhadapnya.

وَهٰذَا تَوْحِيدُ عَوَامِّ الْخَلْقِ، وَالْمُتَكَلِّمُونَ كَمَا سَبَقَ حُرَّاسُ هٰذَا الْقِشْرِ عَنْ تَشْوِيشِ الْمُبْتَدِعَةِ.

Inilah tauhid orang-orang awam, dan para ahli kalam, sebagaimana telah dijelaskan, adalah para penjaga kulit ini dari gangguan ahli bid‘ah.

وَالثَّالِثُ، وَهُوَ اللُّبَابُ، أَنْ يَرَى الْأُمُورَ كُلَّهَا مِنَ اللَّهِ تَعَالَى رُؤْيَةً تَقْطَعُ الْتِفَاتَهُ عَنِ الْوَسَائِطِ، وَأَنْ يَعْبُدَهُ عِبَادَةً يُفْرِدُهُ بِهَا، فَلَا يَعْبُدُ غَيْرَهُ.

Adapun yang ketiga, yaitu inti tauhid, ialah bahwa ia melihat seluruh perkara berasal dari Allah Ta‘ala dengan pandangan yang memutus perhatiannya dari perantara-perantara, dan bahwa ia menyembah-Nya dengan ibadah yang mengkhususkan-Nya semata, sehingga ia tidak menyembah selain-Nya.

وَيَخْرُجُ عَنْ هٰذَا التَّوْحِيدِ اتِّبَاعُ الْهَوَى، فَكُلُّ مُتَّبِعِ هَوًى فَقَدِ اتَّخَذَ هَوَاهُ مَعْبُودَهُ.

Yang bertentangan dengan tauhid ini adalah mengikuti hawa nafsu. Maka setiap orang yang mengikuti hawa nafsunya berarti telah menjadikan hawa nafsunya sebagai sesembahannya.

قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: {أَفَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلٰهَهُ هَوَاهُ}.

Allah Ta‘ala berfirman, “Tidakkah engkau melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya?”

وَقَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَبْغَضُ إِلٰهٍ عُبِدَ فِي الْأَرْضِ عِنْدَ اللَّهِ تَعَالَى هُوَ الْهَوَى.

Dan Nabi bersabda, “Sesembahan yang paling dibenci Allah Ta‘ala di bumi adalah hawa nafsu.”

وَعَلَى التَّحْقِيقِ، مَنْ تَأَمَّلَ عَرَفَ أَنَّ عَابِدَ الصَّنَمِ لَيْسَ يَعْبُدُ الصَّنَمَ، وَإِنَّمَا يَعْبُدُ هَوَاهُ، إِذْ نَفْسُهُ مَائِلَةٌ إِلَى دِينِ آبَائِهِ، فَيَتَّبِعُ ذٰلِكَ الْمَيْلَ.

Pada hakikatnya, siapa yang merenungkan akan mengetahui bahwa penyembah berhala sebenarnya tidak menyembah berhala itu, melainkan menyembah hawa nafsunya, sebab jiwanya cenderung kepada agama nenek moyangnya, lalu ia mengikuti kecenderungan itu.

وَمَيْلُ النَّفْسِ إِلَى الْمَأْلُوفَاتِ أَحَدُ الْمَعَانِي الَّتِي يُعَبَّرُ عَنْهَا بِالْهَوَى.

Kecenderungan jiwa kepada hal-hal yang telah terbiasa adalah salah satu makna yang disebut hawa nafsu.

وَيَخْرُجُ مِنْ هٰذَا التَّوْحِيدِ التَّسَخُّطُ عَلَى الْخَلْقِ وَالِالْتِفَاتُ إِلَيْهِمْ، فَإِنَّ مَنْ يَرَى الْكُلَّ مِنَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ كَيْفَ يَتَسَخَّطُ عَلَى غَيْرِهِ؟

Yang keluar dari tauhid ini juga adalah rasa marah kepada makhluk dan ketergantungan hati kepada mereka. Sebab orang yang melihat segala sesuatu berasal dari Allah ‘Azza wa Jalla, bagaimana mungkin ia marah kepada selain-Nya?

فَلَقَدْ كَانَ التَّوْحِيدُ عِبَارَةً عَنْ هٰذَا الْمَقَامِ، وَهُوَ مَقَامُ الصِّدِّيقِينَ.

Sesungguhnya tauhid dahulu merupakan ungkapan untuk maqam ini, yaitu maqam orang-orang shiddiq.

فَانْظُرْ إِلَى مَاذَا حُوِّلَ، وَبِأَيِّ قِشْرٍ قَنِعُوا مِنْهُ، وَكَيْفَ اتَّخَذُوا هٰذَا مُعْتَصَمًا فِي التَّمَدُّحِ وَالتَّفَاخُرِ بِمَا اسْمُهُ مَحْمُودٌ، مَعَ الْإِفْلَاسِ عَنِ الْمَعْنَى الَّذِي يَسْتَحِقُّ الْحَمْدَ الْحَقِيقِيَّ.

Maka perhatikanlah kepada apa nama itu telah dialihkan, dan dengan kulit yang manakah mereka merasa puas darinya, serta bagaimana mereka menjadikannya sarana untuk membanggakan diri dan saling bermegah dengan sesuatu yang namanya terpuji, padahal mereka kosong dari makna yang pantas mendapat pujian yang sebenarnya.

وَذٰلِكَ كَإِفْلَاسِ مَنْ يُصْبِحُ بُكْرَةً وَيَتَوَجَّهُ إِلَى الْقِبْلَةِ وَيَقُولُ: وَجَّهْتُ وَجْهِيَ لِلَّذِي فَطَرَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ حَنِيفًا، وَهُوَ أَوَّلُ كَذِبٍ يُفَاتِحُ اللَّهَ بِهِ كُلَّ يَوْمٍ، إِنْ لَمْ يَكُنْ وَجْهُ قَلْبِهِ مُتَوَجِّهًا إِلَى اللَّهِ تَعَالَى عَلَى الْخُصُوصِ.

Keadaan itu seperti kefakiran orang yang setiap pagi menghadap kiblat lalu berkata, “Aku menghadapkan wajahku kepada Zat yang menciptakan langit dan bumi dengan lurus,” padahal itu adalah dusta pertama yang ia gunakan untuk membuka harinya bersama Allah setiap hari, jika wajah hatinya tidak sungguh-sungguh menghadap hanya kepada Allah Ta‘ala.

فَإِنْ أَرَادَ بِالْوَجْهِ وَجْهَ الظَّاهِرِ، فَمَا وَجْهُهُ إِلَّا إِلَى الْكَعْبَةِ، وَمَا صَرَفَهُ إِلَّا عَنْ سَائِرِ الْجِهَاتِ، وَالْكَعْبَةُ لَيْسَتْ جِهَةً لِلَّذِي فَطَرَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ، تَعَالَى عَنْ أَنْ تَحُدَّهُ الْجِهَاتُ وَالْأَقْطَارُ.

Jika yang dimaksud dengan wajah adalah wajah lahiriah, maka wajahnya tidaklah menghadap kecuali ke Ka‘bah, dan ia hanya berpaling dari arah-arah lain. Padahal Ka‘bah bukanlah arah bagi Zat yang menciptakan langit dan bumi. Mahasuci Dia dari dibatasi oleh arah dan penjuru.

وَإِنْ أَرَادَ بِهِ وَجْهَ الْقَلْبِ، وَهُوَ الْمَطْلُوبُ الْمُتَعَبَّدُ بِهِ، فَكَيْفَ يَصْدُقُ فِي قَوْلِهِ وَقَلْبُهُ مُتَرَدِّدٌ فِي أَوْطَارِهِ وَحَاجَاتِهِ الدُّنْيَوِيَّةِ، وَمُتَصَرِّفٌ فِي طَلَبِ الْحِيَلِ فِي جَمْعِ الْأَمْوَالِ وَالْجَاهِ وَاسْتِكْثَارِ الْأَسْبَابِ، وَمُتَوَجِّهٌ بِالْكُلِّيَّةِ إِلَيْهَا؟

Jika yang dimaksud adalah wajah hati, dan memang itulah yang dituntut dalam ibadah, maka bagaimana ia dapat jujur dalam ucapannya, sementara hatinya masih sibuk dengan keinginan-keinginannya, kebutuhan-kebutuhan dunianya, memikirkan berbagai cara untuk mengumpulkan harta dan kedudukan, memperbanyak sebab-sebab duniawi, dan sepenuhnya menghadap kepada semua itu?

فَمَتَى وَجَّهَ وَجْهَهُ لِلَّذِي فَطَرَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ؟

Lalu kapan sebenarnya ia telah menghadapkan wajahnya kepada Zat yang menciptakan langit dan bumi?

وَهٰذِهِ الْكَلِمَةُ خَبَرٌ عَنْ حَقِيقَةِ التَّوْحِيدِ، فَالْمُوَحِّدُ هُوَ الَّذِي لَا يَرَى إِلَّا الْوَاحِدَ، وَلَا يُوَجِّهُ وَجْهَهُ إِلَّا إِلَيْهِ.

Kalimat ini adalah berita tentang hakikat tauhid. Maka orang yang benar-benar bertauhid adalah orang yang tidak melihat kecuali Yang Satu, dan tidak mengarahkan wajahnya kecuali kepada-Nya.

وَهُوَ امْتِثَالُ قَوْلِهِ تَعَالَى: {قُلِ اللَّهُ ثُمَّ ذَرْهُمْ فِي خَوْضِهِمْ يَلْعَبُونَ}.

Itulah pelaksanaan firman Allah Ta‘ala, “Katakanlah: Allah, kemudian biarkanlah mereka tenggelam dalam kesesatannya bermain-main.”

وَلَيْسَ الْمُرَادُ بِهِ الْقَوْلَ بِاللِّسَانِ، فَإِنَّمَا اللِّسَانُ تُرْجُمَانٌ يَصْدُقُ مَرَّةً وَيَكْذِبُ أُخْرَى.

Yang dimaksud bukanlah sekadar ucapan lisan, karena lisan hanyalah penerjemah yang kadang benar dan kadang dusta.

وَإِنَّمَا مَوْقِعُ نَظَرِ اللَّهِ تَعَالَى الْمُتَرْجَمُ عَنْهُ هُوَ الْقَلْبُ، وَهُوَ مَعْدِنُ التَّوْحِيدِ وَمَنْبَعُهُ.

Tempat pandangan Allah Ta‘ala yang diterjemahkan oleh lisan itu adalah hati, dan hati itulah tambang serta sumber tauhid.

اللَّفْظُ الرَّابِعُ: الذِّكْرُ وَالتَّذْكِيرُ.

Lafaz keempat adalah zikir dan peringatan.

فَقَدْ قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: {وَذَكِّرْ فَإِنَّ الذِّكْرَى تَنْفَعُ الْمُؤْمِنِينَ}.

Allah Ta‘ala berfirman, “Dan berilah peringatan, karena sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang beriman.”

وَقَدْ وَرَدَ فِي الثَّنَاءِ عَلَى مَجَالِسِ الذِّكْرِ أَخْبَارٌ كَثِيرَةٌ، كَقَوْلِهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِذَا مَرَرْتُمْ بِرِيَاضِ الْجَنَّةِ فَارْتَعُوا.

Banyak hadis yang memuji majelis-majelis zikir, seperti sabda Nabi , “Apabila kalian melewati taman-taman surga, maka singgahlah dan bersenang-senanglah di dalamnya.”

قِيلَ: وَمَا رِيَاضُ الْجَنَّةِ؟

Lalu ditanyakan, “Apakah taman-taman surga itu?”

قَالَ: مَجَالِسُ الذِّكْرِ.

Beliau menjawab, “Majelis-majelis zikir.”

وَفِي الْحَدِيثِ: إِنَّ لِلَّهِ تَعَالَى مَلَائِكَةً سَيَّاحِينَ فِي الدُّنْيَا سِوَى مَلَائِكَةِ الْخَلْقِ، إِذَا رَأَوْا مَجَالِسَ الذِّكْرِ نَادَى بَعْضُهُمْ بَعْضًا: أَلَا هَلُمُّوا إِلَى بُغْيَتِكُمْ.

Dan dalam hadis disebutkan, “Sesungguhnya Allah Ta‘ala memiliki malaikat-malaikat yang berkeliling di bumi selain malaikat pencatat amal. Apabila mereka melihat majelis-majelis zikir, mereka saling memanggil, ‘Kemarilah kepada tujuan kalian.’”

فَيَأْتُونَهُمْ وَيَحُفُّونَ بِهِمْ وَيَسْتَمِعُونَ.

Maka mereka datang kepada majelis itu, mengelilinginya, dan mendengarkannya.

أَلَا فَاذْكُرُوا اللَّهَ وَذَكِّرُوا أَنْفُسَكُمْ.

Karena itu, berzikirlah kepada Allah dan ingatkanlah diri kalian sendiri.

فَنُقِلَ ذٰلِكَ إِلَى مَا تَرَى أَكْثَرَ الْوُعَّاظِ فِي هٰذَا الزَّمَانِ يُوَاظِبُونَ عَلَيْهِ، وَهُوَ الْقَصَصُ وَالْأَشْعَارُ وَالشَّطَحُ وَالطَّامَّاتُ.

Akan tetapi, semua itu telah dipindahkan maknanya kepada apa yang engkau lihat dilakukan oleh kebanyakan para penceramah pada zaman ini, yaitu kisah-kisah, syair-syair, ungkapan-ungkapan melampaui batas, dan hal-hal yang mengada-ada.

أَمَّا الْقَصَصُ فَهِيَ بِدْعَةٌ، وَقَدْ وَرَدَ نَهْيُ السَّلَفِ عَنِ الْجُلُوسِ إِلَى الْقُصَّاصِ.

Adapun kisah-kisah model ini, maka ia adalah bid‘ah. Telah datang larangan dari para salaf untuk duduk mendengarkan para pencerita semacam itu.

وَقَالُوا: لَمْ يَكُنْ ذٰلِكَ فِي زَمَنِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَلَا فِي زَمَنِ أَبِي بَكْرٍ وَلَا عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا، حَتَّى ظَهَرَتِ الْفِتْنَةُ وَظَهَرَ الْقُصَّاصُ.

Mereka berkata, “Hal seperti itu tidak ada pada masa Rasulullah , tidak pula pada masa Abu Bakar dan ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, hingga fitnah muncul dan para pencerita model itu pun bermunculan.”

وَرُوِيَ أَنَّ ابْنَ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا خَرَجَ مِنَ الْمَسْجِدِ، فَقَالَ: مَا أَخْرَجَنِي إِلَّا الْقَاصُّ، وَلَوْلَاهُ لَمَا خَرَجْتُ.

Diriwayatkan bahwa Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma keluar dari masjid lalu berkata, “Tidak ada yang membuatku keluar selain si pencerita itu. Kalau bukan karena dia, aku tidak akan keluar.”

وَقَالَ ضَمْرَةُ: قُلْتُ لِسُفْيَانَ الثَّوْرِيِّ: نَسْتَقْبِلُ الْقَاصَّ بِوُجُوهِنَا؟

Dhamrah berkata, “Aku berkata kepada Sufyan Ats-Tsauri: ‘Apakah kami boleh menghadap kepada si pencerita itu dengan wajah-wajah kami?’”

فَقَالَ: وَلُّوا الْبِدَعَ ظُهُورَكُمْ.

Maka Sufyan menjawab, “Belakangilah bid‘ah-bid‘ah itu.”

وَقَالَ ابْنُ عَوْنٍ: دَخَلْتُ عَلَى ابْنِ سِيرِينَ، فَقَالَ: مَا كَانَ الْيَوْمَ مِنْ خَبَرٍ؟

Ibnu ‘Aun berkata, “Aku masuk menemui Ibnu Sirin, lalu ia bertanya: ‘Apa berita hari ini?’”

فَقُلْتُ: نَهَى الْأَمِيرُ الْقُصَّاصَ أَنْ يَقُصُّوا.

Aku menjawab, “Sang amir telah melarang para pencerita itu untuk bercerita.”

فَقَالَ: وُفِّقَ لِلصَّوَابِ.

Maka ia berkata, “Ia telah diberi taufik kepada kebenaran.”

وَدَخَلَ الْأَعْمَشُ جَامِعَ الْبَصْرَةِ، فَرَأَى قَاصًّا يَقُصُّ وَيَقُولُ: حَدَّثَنَا الْأَعْمَشُ.

Al-A‘masy masuk ke masjid jami‘ Bashrah, lalu ia melihat seorang pencerita sedang bercerita sambil berkata, “Al-A‘masy telah meriwayatkan kepada kami.”

فَتَوَسَّطَ الْحَلْقَةَ، وَجَعَلَ يَنْتِفُ شَعْرَ إِبْطِهِ.

Maka Al-A‘masy masuk ke tengah lingkaran majelis itu dan mulai mencabut bulu ketiaknya.

فَقَالَ الْقَاصُّ: يَا شَيْخُ، أَلَا تَسْتَحْيِي؟

Si pencerita berkata, “Wahai syekh, tidakkah engkau malu?”

فَقَالَ: لِمَ؟ أَنَا فِي سُنَّةٍ، وَأَنْتَ فِي كَذِبٍ.

Maka Al-A‘masy menjawab, “Mengapa? Aku berada di atas sunnah, sedangkan engkau berada dalam kedustaan.”

أَنَا الْأَعْمَشُ، وَمَا حَدَّثْتُكَ.

“Aku inilah Al-A‘masy, dan aku tidak pernah meriwayatkan itu kepadamu.”

وَقَالَ أَحْمَدُ: أَكْثَرُ النَّاسِ كَذِبًا الْقُصَّاصُ وَالسُّؤَّالُ.

Ahmad berkata, “Manusia yang paling banyak berdusta adalah para pencerita dan para pengemis.”

وَأَخْرَجَ عَلِيٌّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ الْقُصَّاصَ مِنْ مَسْجِدِ جَامِعِ الْبَصْرَةِ.

Dan ‘Ali radhiyallahu ‘anhu mengusir para pencerita dari masjid jami‘ Bashrah.

فَلَمَّا سَمِعَ كَلَامَ الْحَسَنِ الْبَصْرِيِّ لَمْ يُخْرِجْهُ، إِذَا كَانَ يَتَكَلَّمُ فِي عِلْمِ الْآخِرَةِ، وَالتَّفَكُّرِ بِالْمَوْتِ، وَالتَّنْبِيهِ عَلَى عُيُوبِ النَّفْسِ، وَآفَاتِ الْأَعْمَالِ، وَخَوَاطِرِ الشَّيْطَانِ، وَوَجْهِ الْحَذَرِ مِنْهَا، وَيَذْكُرُ بِآلَاءِ اللَّهِ وَنِعَمَائِهِ، وَتَقْصِيرِ الْعَبْدِ فِي شُكْرِهِ، وَيُعَرِّفُ حَقَارَةَ الدُّنْيَا وَعُيُوبَهَا وَتَصَرُّمَهَا وَنَكْثَ عَهْدِهَا، وَخَطَرَ الْآخِرَةِ وَأَهْوَالَهَا.

Maka ketika ia mendengar ucapan Al-Hasan Al-Bashri, ia tidak mengusirnya, selama Al-Hasan berbicara tentang ilmu akhirat, merenungkan kematian, mengingatkan tentang aib-aib jiwa, penyakit-penyakit amal, bisikan-bisikan setan, cara berhati-hati darinya, mengingatkan tentang karunia-karunia Allah dan nikmat-nikmat-Nya, kelalaian hamba dalam bersyukur kepada-Nya, menjelaskan hinanya dunia, cacat-cacatnya, kefanaannya, pengingkarannya terhadap janji, serta bahaya akhirat dan kengerian-kengeriannya.

فَهٰذَا هُوَ التَّذْكِيرُ الْمَحْمُودُ شَرْعًا، الَّذِي رُوِيَ الْحَثُّ عَلَيْهِ فِي حَدِيثِ أَبِي ذَرٍّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، حَيْثُ قَالَ: حُضُورُ مَجْلِسِ ذِكْرٍ أَفْضَلُ مِنْ صَلَاةِ أَلْفِ رَكْعَةٍ، وَحُضُورُ مَجْلِسِ عِلْمٍ أَفْضَلُ مِنْ عِيَادَةِ أَلْفِ مَرِيضٍ، وَحُضُورُ مَجْلِسِ عِلْمٍ أَفْضَلُ مِنْ شُهُودِ أَلْفِ جَنَازَةٍ.

Inilah peringatan yang terpuji menurut syariat, yang disebutkan dorongan kepadanya dalam hadis Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu, ketika ia berkata, “Menghadiri majelis zikir lebih utama daripada salat seribu rakaat. Menghadiri majelis ilmu lebih utama daripada menjenguk seribu orang sakit. Menghadiri majelis ilmu lebih utama daripada menghadiri seribu jenazah.”

فَقِيلَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، وَمِنْ قِرَاءَةِ الْقُرْآنِ؟

Lalu ditanyakan, “Wahai Rasulullah, bagaimana dengan membaca Al-Qur’an?”

قَالَ: وَهَلْ تَنْفَعُ قِرَاءَةُ الْقُرْآنِ إِلَّا بِالْعِلْمِ؟

Beliau menjawab, “Bukankah membaca Al-Qur’an hanya bermanfaat dengan ilmu?”

وَقَالَ عَطَاءٌ رَحِمَهُ اللَّهُ: مَجْلِسُ ذِكْرٍ يُكَفِّرُ سَبْعِينَ مَجْلِسًا مِنْ مَجَالِسِ اللَّهْوِ.

‘Atha’ rahimahullah berkata, “Satu majelis zikir dapat menghapus pengaruh tujuh puluh majelis senda gurau.”

فَقَدِ اتَّخَذَ الْمُزَخْرِفُونَ هٰذِهِ الْأَحَادِيثَ حُجَّةً عَلَى تَزْكِيَةِ أَنْفُسِهِمْ، وَنَقَلُوا اسْمَ التَّذْكِيرِ إِلَى خُرَافَاتِهِمْ، وَذَهَلُوا عَنْ طَرِيقِ الذِّكْرِ الْمَحْمُودِ.

Akan tetapi, orang-orang yang suka berhias dengan kebatilan menjadikan hadis-hadis ini sebagai alasan untuk mensucikan diri mereka sendiri. Mereka memindahkan nama “peringatan” kepada khurafat-khurafat mereka, dan lalai dari jalan zikir yang terpuji.

وَاشْتَغَلُوا بِالْقَصَصِ الَّتِي تَتَطَرَّقُ إِلَيْهَا الِاخْتِلَافَاتُ وَالزِّيَادَةُ وَالنُّقْصَانُ، وَتَخْرُجُ عَنِ الْقَصَصِ الْوَارِدَةِ فِي الْقُرْآنِ، وَتَزِيدُ عَلَيْهَا.

Mereka sibuk dengan kisah-kisah yang dapat dimasuki perbedaan, penambahan, dan pengurangan, yang keluar dari kisah-kisah yang disebutkan dalam Al-Qur’an dan bahkan menambah-nambahinya.

فَإِنَّ مِنَ الْقَصَصِ مَا يَنْفَعُ سَمَاعُهُ، وَمِنْهَا مَا يَضُرُّ، وَإِنْ كَانَ صِدْقًا.

Sebab ada kisah yang bermanfaat didengar, dan ada pula yang membahayakan, meskipun kisah itu benar.

وَمَنْ فَتَحَ ذٰلِكَ الْبَابَ عَلَى نَفْسِهِ اخْتَلَطَ عَلَيْهِ الصِّدْقُ بِالْكَذِبِ، وَالنَّافِعُ بِالضَّارِّ.

Barang siapa membuka pintu itu untuk dirinya, maka kebenaran akan bercampur baginya dengan kedustaan, dan yang bermanfaat bercampur dengan yang membahayakan.

فَمِنْ هٰذَا نُهِيَ عَنْهُ.

Karena itulah hal tersebut dilarang.

وَلِذٰلِكَ قَالَ أَحْمَدُ بْنُ حَنْبَلٍ رَحْمَةُ اللَّهِ عَلَيْهِ: مَا أَحْوَجَ النَّاسَ إِلَى قَاصٍّ صَادِقٍ.

Karena itu Ahmad bin Hanbal rahmatullahi ‘alaihi berkata, “Betapa manusia sangat membutuhkan seorang pencerita yang jujur.”

فَإِنْ كَانَتِ الْقِصَّةُ مِنْ قِصَصِ الْأَنْبِيَاءِ عَلَيْهِمُ السَّلَامُ فِيمَا يَتَعَلَّقُ بِأُمُورِ دِينِهِمْ، وَكَانَ الْقَاصُّ صَادِقًا صَحِيحَ الرِّوَايَةِ، فَلَسْتُ أَرَى بِهَا بَأْسًا.

Jika kisah itu termasuk kisah para nabi ‘alaihimus-salam yang berkaitan dengan urusan agama mereka, dan si pencerita itu jujur serta benar riwayatnya, maka aku tidak memandang ada masalah dengannya.

فَلْيُحْذَرِ الْكَذِبَ وَحِكَايَاتِ أَحْوَالٍ تُومِئُ إِلَى هَفَوَاتٍ أَوْ مُسَاهَلَاتٍ، يَقْصُرُ فَهْمُ الْعَوَامِّ عَنْ دَرْكِ مَعَانِيهَا، أَوْ عَنْ كَوْنِهَا هَفْوَةً نَادِرَةً مُرْدَفَةً بِتَفَكُّرَاتٍ مُتَدَارَكَةٍ بِحَسَنَاتٍ تُغَطِّي عَلَيْهَا.

Maka hendaklah dihindari dusta dan kisah-kisah keadaan yang mengisyaratkan kepada ketergelinciran atau sikap mempermudah, yang pemahaman orang awam tidak mampu menangkap maknanya, atau tidak mampu memahami bahwa itu hanyalah kesalahan langka yang kemudian disusul oleh perenungan dan ditebus dengan kebaikan-kebaikan yang menutupinya.

فَإِنَّ الْعَامِّيَّ يَعْتَصِمُ بِذٰلِكَ فِي مُسَاهَلَاتِهِ وَهَفَوَاتِهِ، وَيُمَهِّدُ لِنَفْسِهِ عُذْرًا فِيهِ، وَيَحْتَجُّ بِأَنَّهُ حُكِيَ كَيْتَ وَكَيْتَ عَنْ بَعْضِ الْمَشَايِخِ وَبَعْضِ الْأَكَابِرِ.

Karena orang awam akan menjadikan hal itu sebagai pegangan untuk pembiaran dan ketergelincirannya, serta akan menyiapkan alasan bagi dirinya, dengan berdalih bahwa telah diriwayatkan begini dan begitu dari sebagian syekh dan sebagian tokoh besar.

فَكُلُّنَا بِصَدَدِ الْمَعَاصِي، فَلَا غَرْوَ إِنْ عَصَيْتُ اللَّهَ تَعَالَى، فَقَدْ عَصَاهُ مَنْ هُوَ أَكْبَرُ مِنِّي.

Lalu ia berkata, “Kita semua berpotensi melakukan maksiat. Maka tidak mengherankan jika aku durhaka kepada Allah Ta‘ala, karena orang yang lebih besar dariku pun pernah durhaka kepada-Nya.”

وَيُفِيدُهُ ذٰلِكَ جُرْأَةً عَلَى اللَّهِ تَعَالَى مِنْ حَيْثُ لَا يَدْرِي.

Hal ini akan menimbulkan keberanian terhadap Allah Ta‘ala pada dirinya, tanpa ia sadari.

فَبَعْدَ الِاحْتِرَازِ عَنْ هٰذَيْنِ الْمَحْذُورَيْنِ فَلَا بَأْسَ بِهِ، وَعِنْدَ ذٰلِكَ يَرْجِعُ إِلَى الْقَصَصِ الْمَحْمُودَةِ، وَإِلَى مَا يَشْتَمِلُ عَلَيْهِ الْقُرْآنُ، وَيَصِحُّ فِي الْكُتُبِ الصَّحِيحَةِ مِنَ الْأَخْبَارِ.

Maka setelah berhati-hati dari dua bahaya ini, tidak mengapa melakukannya. Dan pada saat itu ia kembali kepada kisah-kisah yang terpuji, kepada apa yang terkandung dalam Al-Qur’an, dan kepada hadis-hadis yang sahih dalam kitab-kitab yang sahih.

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَسْتَجِيزُ وَضْعَ الْحِكَايَاتِ الْمُرَغِّبَةِ فِي الطَّاعَاتِ، وَيَزْعُمُ أَنَّ قَصْدَهُ فِيهَا دَعْوَةُ الْخَلْقِ إِلَى الْحَقِّ.

Di antara manusia ada yang membolehkan membuat-buat kisah yang mendorong kepada ketaatan, dan mengklaim bahwa maksudnya adalah mengajak manusia kepada kebenaran.

فَهٰذِهِ مِنْ نَزَغَاتِ الشَّيْطَانِ، فَإِنَّ فِي الصِّدْقِ مَنْدُوحَةً عَنِ الْكَذِبِ، وَفِيمَا ذَكَرَ اللَّهُ تَعَالَى وَرَسُولُهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ غُنْيَةً عَنِ الِاخْتِرَاعِ فِي الْوَعْظِ.

Ini termasuk bisikan setan. Sebab dalam kejujuran sudah ada kecukupan dari dusta, dan dalam apa yang telah disebutkan oleh Allah Ta‘ala dan Rasul-Nya sudah ada kekayaan yang cukup tanpa perlu mengada-ada dalam nasihat.

كَيْفَ وَقَدْ كُرِهَ تَكَلُّفُ السَّجْعِ، وَعُدَّ ذٰلِكَ مِنَ التَّصَنُّعِ.

Apalagi, bersusah payah membuat kalimat berima telah dibenci dan dianggap sebagai bentuk kepura-puraan.

قَالَ سَعْدُ بْنُ أَبِي وَقَّاصٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ لِابْنِهِ عُمَرَ وَقَدْ سَمِعَهُ يَسْجَعُ: هٰذَا الَّذِي يُبَغِّضُكَ إِلَيَّ، لَا قَضَيْتُ حَاجَتَكَ أَبَدًا حَتَّى تَتُوبَ.

Sa‘d bin Abi Waqqash radhiyallahu ‘anhu berkata kepada putranya, ‘Umar, ketika mendengarnya berbicara dengan sajak, “Inilah yang membuatmu aku benci. Aku tidak akan memenuhi kebutuhanmu selamanya sampai engkau bertobat.”

وَقَدْ كَانَ جَاءَهُ فِي حَاجَةٍ.

Padahal saat itu putranya datang kepadanya untuk suatu keperluan.

وَقَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِعَبْدِ اللَّهِ بْنِ رَوَاحَةَ فِي سَجْعٍ مِنْ ثَلَاثِ كَلِمَاتٍ: إِيَّاكَ وَالسَّجْعَ يَا ابْنَ رَوَاحَةَ.

Dan Nabi bersabda kepada ‘Abdullah bin Rawahah dalam satu ucapan sajak yang terdiri dari tiga kata, “Jauhilah sajak, wahai Ibnu Rawahah.”

فَكَأَنَّ السَّجْعَ الْمَحْذُورَ الْمُتَكَلَّفَ مَا زَادَ عَلَى كَلِمَتَيْنِ.

Seakan-akan sajak yang terlarang dan dibuat-buat adalah yang lebih dari dua kata.

وَلِذٰلِكَ لَمَّا قَالَ الرَّجُلُ فِي دِيَةِ الْجَنِينِ: كَيْفَ نَدِي مَنْ لَا شَرِبَ وَلَا أَكَلَ وَلَا صَاحَ وَلَا اسْتَهَلَّ، وَمِثْلُ ذٰلِكَ يُطَلُّ؟

Karena itulah, ketika seseorang berkata tentang diyat janin, “Bagaimana kita membayar diyat bagi makhluk yang tidak minum, tidak makan, tidak menangis, dan tidak menangis saat lahir, lalu yang semacam ini dituntutkan diyat?”

فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَسَجْعٌ كَسَجْعِ الْأَعْرَابِ؟

Maka Nabi bersabda, “Apakah ini sajak seperti sajak orang-orang Arab Badui?”

وَأَمَّا الْأَشْعَارُ فَتَكْثِيرُهَا فِي الْمَوَاعِظِ مَذْمُومٌ.

Adapun syair-syair, maka memperbanyaknya dalam nasihat-nasihat adalah tercela.

قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: {وَالشُّعَرَاءُ يَتَّبِعُهُمُ الْغَاوُونَ ۝ أَلَمْ تَرَ أَنَّهُمْ فِي كُلِّ وَادٍ يَهِيمُونَ}.

Allah Ta‘ala berfirman, “Dan para penyair itu diikuti oleh orang-orang yang sesat. Tidakkah engkau melihat bahwa mereka mengembara di setiap lembah?”

وَقَالَ تَعَالَى: {وَمَا عَلَّمْنَاهُ الشِّعْرَ وَمَا يَنْبَغِي لَهُ}.

Dan Allah Ta‘ala berfirman, “Dan Kami tidak mengajarkan syair kepadanya, dan itu tidak patut baginya.”

وَأَكْثَرُ مَا اعْتَادَهُ الْوُعَّاظُ مِنَ الْأَشْعَارِ مَا يَتَعَلَّقُ بِالتَّوَاصُفِ فِي الْعِشْقِ، وَجَمَالِ الْمَعْشُوقِ، وَرُوحِ الْوِصَالِ، وَأَلَمِ الْفِرَاقِ.

Kebanyakan syair yang biasa dipakai oleh para penceramah adalah yang berkaitan dengan gambaran cinta, keindahan kekasih, kenikmatan pertemuan, dan pedihnya perpisahan.

وَالْمَجْلِسُ لَا يَحْوِي إِلَّا أَجْلَافَ الْعَوَامِّ، وَبَوَاطِنُهُمْ مَشْحُونَةٌ بِالشَّهَوَاتِ، وَقُلُوبُهُمْ غَيْرُ مُنْفَكَّةٍ عَنِ الِالْتِفَاتِ إِلَى الصُّوَرِ الْمَلِيحَةِ.

Padahal majelis itu biasanya tidak berisi kecuali orang-orang awam yang kasar, sementara batin mereka dipenuhi syahwat, dan hati mereka belum lepas dari keterikatan kepada rupa-rupa yang indah.

فَلَا تُحَرِّكُ الْأَشْعَارُ مِنْ قُلُوبِهِمْ إِلَّا مَا هُوَ مُسْتَكِنٌّ فِيهَا.

Karena itu, syair-syair itu tidak akan menggerakkan hati mereka kecuali apa yang memang telah tersembunyi di dalamnya.

فَتَشْتَعِلُ فِيهَا نِيرَانُ الشَّهَوَاتِ، فَيَزْعَقُونَ وَيَتَوَاجَدُونَ، وَأَكْثَرُ ذٰلِكَ أَوْ كُلُّهُ يَرْجِعُ إِلَى نَوْعِ فَسَادٍ.

Maka api syahwat pun menyala dalam hati mereka, lalu mereka berteriak-teriak dan berpura-pura hanyut. Kebanyakan itu, atau bahkan seluruhnya, kembali kepada sejenis kerusakan.

فَلَا يَنْبَغِي أَنْ يُسْتَعْمَلَ مِنَ الشِّعْرِ إِلَّا مَا فِيهِ مَوْعِظَةٌ أَوْ حِكْمَةٌ عَلَى سَبِيلِ اسْتِشْهَادٍ وَاسْتِئْنَاسٍ.

Maka tidak sepatutnya digunakan dari syair kecuali apa yang mengandung nasihat atau hikmah, sekadar sebagai penguat dan penghibur.

وَقَدْ قَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنَّ مِنَ الشِّعْرِ لَحِكْمَةً.

Dan Nabi bersabda, “Sesungguhnya sebagian syair itu mengandung hikmah.”

وَلَوْ حَوَى الْمَجْلِسُ الْخَوَاصَّ الَّذِينَ وَقَعَ الِاطِّلَاعُ عَلَى اسْتِغْرَاقِ قُلُوبِهِمْ بِحُبِّ اللَّهِ تَعَالَى، وَلَمْ يَكُنْ مَعَهُمْ غَيْرُهُمْ، فَإِنَّ أُولٰئِكَ لَا يَضُرُّ مَعَهُمُ الشِّعْرُ الَّذِي يُشِيرُ ظَاهِرُهُ إِلَى الْخَلْقِ.

Seandainya sebuah majelis hanya berisi orang-orang khusus yang diketahui hati mereka telah tenggelam dalam cinta kepada Allah Ta‘ala, dan tidak ada selain mereka, maka syair yang zahirnya mengisyaratkan kepada makhluk tidak akan membahayakan mereka.

فَإِنَّ الْمُسْتَمِعَ يُنَزِّلُ كُلَّ مَا يَسْمَعُهُ عَلَى مَا يَسْتَوْلِي عَلَى قَلْبِهِ، كَمَا سَيَأْتِي تَحْقِيقُ ذٰلِكَ فِي كِتَابِ السَّمَاعِ.

Karena pendengar akan menafsirkan semua yang didengarnya menurut apa yang menguasai hatinya, sebagaimana akan dijelaskan dalam Kitab As-Sama‘.

وَلِذٰلِكَ كَانَ الْجُنَيْدُ رَحِمَهُ اللَّهُ يَتَكَلَّمُ عَلَى بِضْعَةَ عَشَرَ رَجُلًا، فَإِنْ كَثُرُوا لَمْ يَتَكَلَّمْ.

Karena itulah Al-Junaid rahimahullah hanya berbicara di hadapan belasan orang. Jika yang hadir terlalu banyak, ia tidak berbicara.

وَمَا تَمَّ أَهْلُ مَجْلِسِهِ قَطُّ عِشْرِينَ.

Jumlah peserta majelisnya tidak pernah sampai dua puluh orang.

وَحَضَرَ جَمَاعَةٌ بَابَ دَارِ ابْنِ سَالِمٍ، فَقِيلَ لَهُ: تَكَلَّمْ، فَقَدْ حَضَرَ أَصْحَابُكَ.

Sekelompok orang pernah hadir di depan pintu rumah Ibnu Salim, lalu dikatakan kepadanya, “Berbicaralah, karena para sahabatmu telah hadir.”

فَقَالَ: لَا، مَا هٰؤُلَاءِ أَصْحَابِي، إِنَّمَا هُمْ أَصْحَابُ الْمَجْلِسِ، إِنَّ أَصْحَابِي هُمُ الْخَوَاصُّ.

Ia menjawab, “Tidak, mereka ini bukan sahabat-sahabatku. Mereka hanyalah hadirin majelis. Sahabat-sahabatku adalah orang-orang khusus.”

وَأَمَّا الشَّطَحُ فَنَعْنِي بِهِ صِنْفَيْنِ مِنَ الْكَلَامِ أَحْدَثَهُمَا بَعْضُ الصُّوفِيَّةِ.

Adapun syathahat, maka yang kami maksud dengannya adalah dua jenis ucapan yang diada-adakan oleh sebagian kaum sufi.

أَحَدُهُمَا: الدَّعَاوَى الطَّوِيلَةُ الْعَرِيضَةُ فِي الْعِشْقِ مَعَ اللَّهِ تَعَالَى وَالْوِصَالِ الْمُغْنِي عَنِ الْأَعْمَالِ الظَّاهِرَةِ، حَتَّى يَنْتَهِيَ قَوْمٌ إِلَى دَعْوَى الِاتِّحَادِ، وَارْتِفَاعِ الْحِجَابِ، وَالْمُشَاهَدَةِ بِالرُّؤْيَةِ، وَالْمُشَافَهَةِ بِالْخِطَابِ.

Salah satunya ialah klaim-klaim panjang dan luas tentang cinta kepada Allah Ta‘ala, tentang sampai kepada-Nya yang dianggap tidak lagi membutuhkan amal-amal lahiriah, hingga sebagian orang berakhir pada pengakuan hulul atau penyatuan, terangkatnya hijab, menyaksikan secara langsung, dan bercakap-cakap dengan Allah secara langsung.

فَيَقُولُونَ: قِيلَ لَنَا كَذَا، وَقُلْنَا كَذَا.

Lalu mereka berkata, “Dikatakan kepada kami begini, dan kami berkata begini.”

وَيَتَشَبَّهُونَ فِيهِ بِالْحُسَيْنِ بْنِ مَنْصُورٍ الْحَلَّاجِ الَّذِي صُلِبَ لِأَجْلِ إِطْلَاقِهِ كَلِمَاتٍ مِنْ هٰذَا الْجِنْسِ.

Dalam hal ini mereka meniru Al-Husain bin Manshur Al-Hallaj, yang disalib karena melontarkan kata-kata semacam itu.

وَيَسْتَشْهِدُونَ بِقَوْلِهِ: أَنَا الْحَقُّ، وَبِمَا حُكِيَ عَنْ أَبِي يَزِيدَ الْبُسْطَامِيِّ أَنَّهُ قَالَ: سُبْحَانِي، سُبْحَانِي.

Mereka berdalil dengan ucapannya, “Aku adalah Al-Haqq,” dan dengan apa yang dinukil dari Abu Yazid Al-Busthami bahwa ia berkata, “Mahasuci aku, Mahasuci aku.”

وَهٰذَا فَنٌّ مِنَ الْكَلَامِ عَظِيمُ ضَرَرُهُ فِي الْعَوَامِّ.

Ini adalah jenis ucapan yang sangat besar bahayanya bagi orang-orang awam.

حَتَّى تَرَكَ جَمَاعَةٌ مِنْ أَهْلِ الْفِلَاحَةِ فِلَاحَتَهُمْ، وَأَظْهَرُوا مِثْلَ هٰذِهِ الدَّعَاوَى.

Bahkan sekelompok orang dari kalangan petani pun meninggalkan pekerjaannya dan menampakkan klaim-klaim semacam itu.

فَإِنَّ هٰذَا الْكَلَامَ يَسْتَلِذُّهُ الطَّبْعُ، إِذْ فِيهِ الْبَطَالَةُ مِنَ الْأَعْمَالِ مَعَ تَزْكِيَةِ النَّفْسِ بِدَرْكِ الْمَقَامَاتِ وَالْأَحْوَالِ.

Karena tabiat manusia menyukai ucapan seperti ini, sebab di dalamnya ada kemalasan dari beramal, tetapi pada saat yang sama jiwa merasa suci karena mengira telah mencapai maqam dan keadaan yang tinggi.

فَلَا تَعْجَزُ الْأَغْبِيَاءُ عَنْ دَعْوَى ذٰلِكَ لِأَنْفُسِهِمْ، وَلَا عَنْ تَلَقُّفِ كَلِمَاتٍ مُخَبَّطَةٍ مُزَخْرَفَةٍ.

Maka orang-orang bodoh tidak akan kesulitan untuk mengklaim hal itu bagi diri mereka sendiri dan mencomot kata-kata kacau yang dihias-hiasi.

وَمَهْمَا أُنْكِرَ عَلَيْهِمْ ذٰلِكَ لَمْ يَعْجِزُوا عَنْ أَنْ يَقُولُوا: هٰذَا إِنْكَارٌ مَصْدَرُهُ الْعِلْمُ وَالْجِدَالُ، وَالْعِلْمُ حِجَابٌ، وَالْجَدَلُ عَمَلُ النَّفْسِ، وَهٰذَا الْحَدِيثُ لَا يَلُوحُ إِلَّا مِنَ الْبَاطِنِ بِمُكَاشَفَةِ نُورِ الْحَقِّ.

Dan setiap kali hal itu diingkari atas mereka, mereka tidak akan kesulitan untuk berkata, “Ini hanyalah pengingkaran yang bersumber dari ilmu dan perdebatan. Ilmu adalah hijab, debat adalah kerja jiwa, dan pembicaraan ini tidak tampak kecuali dari batin dengan tersingkapnya cahaya kebenaran.”

فَهٰذَا وَمِثْلُهُ مِمَّا قَدِ اسْتَطَارَ فِي الْبِلَادِ شَرَرُهُ، وَعَظُمَ فِي الْعَوَامِّ ضَرَرُهُ.

Hal seperti ini dan yang semisalnya telah menyebar bara bahayanya ke berbagai negeri, dan telah besar mudaratnya bagi orang-orang awam.

حَتَّى مَنْ نَطَقَ بِشَيْءٍ مِنْهُ فَقَتْلُهُ أَفْضَلُ فِي دِينِ اللَّهِ مِنْ إِحْيَاءِ عَشَرَةٍ.

Bahkan orang yang mengucapkan hal semacam itu, membunuhnya lebih utama dalam agama Allah daripada menghidupkan sepuluh orang.

وَأَمَّا أَبُو يَزِيدَ الْبُسْطَامِيُّ رَحِمَهُ اللَّهُ، فَلَا يَصِحُّ عَنْهُ مَا يُحْكَى.

Adapun Abu Yazid Al-Busthami rahimahullah, maka tidak sah apa yang dinukil tentang dirinya.

وَإِنْ سُمِعَ ذٰلِكَ مِنْهُ، فَلَعَلَّهُ كَانَ يَحْكِيهِ عَنِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ فِي كَلَامٍ يُرَدِّدُهُ فِي نَفْسِهِ.

Kalaupun ucapan itu benar-benar terdengar darinya, maka boleh jadi ia sedang mengutip firman Allah ‘Azza wa Jalla dalam kalam yang ia ulang-ulang dalam dirinya.

كَمَا لَوْ سُمِعَ وَهُوَ يَقُولُ: {إِنَّنِي أَنَا اللَّهُ لَا إِلٰهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدْنِي}، فَإِنَّهُ مَا كَانَ يَنْبَغِي أَنْ يُفْهَمَ مِنْهُ ذٰلِكَ إِلَّا عَلَى سَبِيلِ الْحِكَايَةِ.

Sebagaimana jika ia terdengar sedang membaca firman Allah, “Sesungguhnya Aku adalah Allah, tidak ada tuhan selain Aku, maka sembahlah Aku,” maka tidak sepatutnya dipahami darinya kecuali sebagai kutipan.

الصِّنْفُ الثَّانِي مِنَ الشَّطَحِ: كَلِمَاتٌ غَيْرُ مَفْهُومَةٍ، لَهَا ظَوَاهِرُ رَائِقَةٌ، وَفِيهَا عِبَارَاتٌ هَائِلَةٌ، وَلَيْسَ وَرَاءَهَا طَائِلٌ.

Jenis kedua dari syathahat adalah kata-kata yang tidak dapat dipahami, yang zahirnya indah, mengandung ungkapan-ungkapan yang menggetarkan, tetapi sebenarnya tidak ada isi yang bermanfaat di baliknya.

إِمَّا أَنْ تَكُونَ غَيْرَ مَفْهُومَةٍ عِنْدَ قَائِلِهَا، بَلْ يُصْدِرُهَا عَنْ خَبْطٍ فِي عَقْلِهِ وَتَشْوِيشٍ فِي خَيَالِهِ، لِقِلَّةِ إِحَاطَتِهِ بِمَعْنَى كَلَامٍ قَرَعَ سَمْعَهُ، وَهٰذَا هُوَ الْأَكْثَرُ.

Adakalanya kata-kata itu bahkan tidak dipahami oleh pengucapnya sendiri. Ia hanya mengeluarkannya dari kekacauan akalnya dan kerusakan khayalnya, karena sedikitnya pemahamannya terhadap makna ucapan yang sempat didengarnya. Dan inilah yang paling banyak terjadi.

وَإِمَّا أَنْ تَكُونَ مَفْهُومَةً لَهُ، وَلٰكِنَّهُ لَا يَقْدِرُ عَلَى تَفْهِيمِهَا وَإِيرَادِهَا بِعِبَارَةٍ تَدُلُّ عَلَى ضَمِيرِهِ، لِقِلَّةِ مُمَارَسَتِهِ لِلْعِلْمِ، وَعَدَمِ تَعَلُّمِهِ طَرِيقَ التَّعْبِيرِ عَنِ الْمَعَانِي بِالْأَلْفَاظِ الرَّشِيقَةِ.

Atau kata-kata itu memang dipahami olehnya, tetapi ia tidak mampu menjelaskannya dan mengungkapkannya dengan kalimat yang benar-benar menunjukkan apa yang ada dalam batinnya, karena sedikitnya penguasaannya terhadap ilmu dan tidak terlatihnya ia dalam mengungkapkan makna dengan lafaz yang tepat.

وَلَا فَائِدَةَ لِهٰذَا الْجِنْسِ مِنَ الْكَلَامِ إِلَّا أَنَّهُ يُشَوِّشُ الْقُلُوبَ، وَيُدْهِشُ الْعُقُولَ، وَيُحَيِّرُ الْأَذْهَانَ، أَوْ يَحْمِلُ عَلَى أَنْ يُفْهَمَ مِنْهَا مَعَانٍ مَا أُرِيدَتْ بِهَا، وَيَكُونُ فَهْمُ كُلِّ وَاحِدٍ عَلَى مُقْتَضَى هَوَاهُ وَطَبْعِهِ.

Tidak ada manfaat dari jenis ucapan ini selain mengacaukan hati, mengejutkan akal, membingungkan pikiran, atau mendorong orang memahami darinya makna-makna yang sebenarnya tidak dimaksudkan, dan setiap orang pun memahaminya sesuai hawa nafsu dan tabiatnya masing-masing.

وَقَدْ قَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَا حَدَّثَ أَحَدُكُمْ قَوْمًا بِحَدِيثٍ لَا يَفْقَهُونَهُ إِلَّا كَانَ فِتْنَةً عَلَيْهِمْ.

Nabi bersabda, “Tidaklah salah seorang dari kalian menceritakan suatu ucapan kepada suatu kaum yang mereka tidak memahaminya, melainkan hal itu akan menjadi fitnah bagi mereka.”

وَقَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: كَلِّمُوا النَّاسَ بِمَا يَعْرِفُونَ، وَدَعُوا مَا يُنْكِرُونَ، أَتُرِيدُونَ أَنْ يُكَذَّبَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ؟

Dan Nabi bersabda, “Berbicaralah kepada manusia dengan apa yang mereka kenal, dan tinggalkanlah apa yang mereka ingkari. Apakah kalian ingin Allah dan Rasul-Nya didustakan?”

وَهٰذَا فِيمَا يَفْهَمُهُ صَاحِبُهُ، وَلَا يَبْلُغُهُ عَقْلُ الْمُسْتَمِعِ، فَكَيْفَ فِيمَا لَا يَفْهَمُهُ قَائِلُهُ؟

Ini berlaku pada ucapan yang dipahami oleh pengucapnya, tetapi tidak sanggup dijangkau oleh akal pendengarnya. Maka bagaimana lagi jika ucapan itu bahkan tidak dipahami oleh pengucapnya sendiri?

فَإِنْ كَانَ يَفْهَمُهُ الْقَائِلُ دُونَ الْمُسْتَمِعِ، فَلَا يَحِلُّ ذِكْرُهُ.

Jika si pengucap memahaminya sedangkan pendengar tidak memahaminya, maka tidak halal menyebutkannya.

وَقَالَ عِيسَى عَلَيْهِ السَّلَامُ: لَا تَضَعُوا الْحِكْمَةَ عِنْدَ غَيْرِ أَهْلِهَا فَتَظْلِمُوهَا، وَلَا تَمْنَعُوهَا أَهْلَهَا فَتَظْلِمُوهُمْ، كُونُوا كَالطَّبِيبِ الرَّفِيقِ يَضَعُ الدَّوَاءَ فِي مَوْضِعِ الدَّاءِ.

Isa ‘alaihis-salam berkata, “Janganlah kalian meletakkan hikmah pada selain ahlinya sehingga kalian menzaliminya, dan jangan pula kalian menahannya dari ahlinya sehingga kalian menzalimi mereka. Jadilah seperti tabib yang lembut, yang meletakkan obat tepat pada tempat penyakit.”

وَفِي لَفْظٍ آخَرَ: مَنْ وَضَعَ الْحِكْمَةَ فِي غَيْرِ أَهْلِهَا فَقَدْ جَهِلَ، وَمَنْ مَنَعَهَا أَهْلَهَا فَقَدْ ظَلَمَ، إِنَّ لِلْحِكْمَةِ حَقًّا، وَإِنَّ لَهَا أَهْلًا، فَأَعْطِ كُلَّ ذِي حَقٍّ حَقَّهُ.

Dalam redaksi lain disebutkan, “Barang siapa meletakkan hikmah pada selain ahlinya, maka sungguh ia telah bodoh. Dan barang siapa menahannya dari ahlinya, maka sungguh ia telah zalim. Sesungguhnya hikmah memiliki hak, dan ia memiliki ahli. Maka berikanlah kepada setiap yang berhak haknya.”

وَأَمَّا الطَّامَّاتُ، فَيَدْخُلُهَا مَا ذَكَرْنَاهُ فِي الشَّطَحِ، وَأَمْرٌ آخَرُ يَخُصُّهَا، وَهُوَ صَرْفُ أَلْفَاظِ الشَّرْعِ عَنْ ظَوَاهِرِهَا الْمَفْهُومَةِ إِلَى أُمُورٍ بَاطِنَةٍ لَا يَسْبِقُ مِنْهَا إِلَى الْأَفْهَامِ فَائِدَةٌ، كَدَأْبِ الْبَاطِنِيَّةِ فِي التَّأْوِيلَاتِ.

Adapun ucapan-ucapan besar yang mengada-ada, maka di dalamnya masuk apa yang telah kami sebutkan tentang syathahat, ditambah satu hal lain yang khusus baginya, yaitu memalingkan lafaz-lafaz syariat dari makna zahirnya yang dapat dipahami kepada makna-makna batin yang sama sekali tidak memberikan faedah kepada pemahaman, seperti kebiasaan kaum Bathiniyah dalam takwil-takwil mereka.

فَهٰذَا أَيْضًا حَرَامٌ، وَضَرَرُهُ عَظِيمٌ.

Ini juga haram, dan bahayanya sangat besar.

فَإِنَّ الْأَلْفَاظَ إِذَا صُرِفَتْ عَنْ مُقْتَضَى ظَوَاهِرِهَا بِغَيْرِ اعْتِصَامٍ فِيهِ بِنَقْلٍ عَنْ صَاحِبِ الشَّرْعِ، وَمِنْ غَيْرِ ضَرُورَةٍ تَدْعُو إِلَيْهِ مِنْ دَلِيلِ الْعَقْلِ، اقْتَضَى ذٰلِكَ بُطْلَانَ الثِّقَةِ بِالْأَلْفَاظِ، وَسَقَطَ بِهِ مَنْفَعَةُ كَلَامِ اللَّهِ تَعَالَى وَكَلَامِ رَسُولِهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.

Karena jika lafaz-lafaz dipalingkan dari makna zahirnya tanpa berpegang pada riwayat dari pembawa syariat, dan tanpa adanya kebutuhan yang menuntutnya berdasarkan dalil akal, maka hal itu akan merusak kepercayaan kepada lafaz-lafaz, dan akan menggugurkan manfaat kalam Allah Ta‘ala dan sabda Rasul-Nya .

فَإِنَّ مَا يَسْبِقُ مِنْهُ إِلَى الْفَهْمِ لَا يُوثَقُ بِهِ، وَالْبَاطِنُ لَا ضَبْطَ لَهُ، بَلْ تَتَعَارَضُ فِيهِ الْخَوَاطِرُ، وَيُمْكِنُ تَنْزِيلُهُ عَلَى وُجُوهٍ شَتَّى.

Sebab makna yang pertama kali dipahami dari lafaz itu tidak lagi dapat dipercaya, sedangkan makna batin tidak memiliki batas yang jelas. Bahkan, pikiran-pikiran akan saling bertentangan di dalamnya, dan ia bisa diarahkan kepada banyak kemungkinan.

وَهٰذَا أَيْضًا مِنَ الْبِدَعِ الشَّائِعَةِ الْعَظِيمَةِ الضَّرَرِ.

Ini juga termasuk bid‘ah yang tersebar luas dan sangat besar bahayanya.

وَإِنَّمَا قَصَدَ أَصْحَابُهَا الْإِغْرَابَ، لِأَنَّ النُّفُوسَ مَائِلَةٌ إِلَى الْغَرِيبِ وَمُسْتَلِذَّةٌ لَهُ.

Para pelakunya sebenarnya hanya menginginkan keanehan, karena jiwa manusia cenderung kepada hal-hal yang ganjil dan merasa nikmat dengannya.

وَبِهٰذَا الطَّرِيقِ تَوَصَّلَ الْبَاطِنِيَّةُ إِلَى هَدْمِ جَمِيعِ الشَّرِيعَةِ بِتَأْوِيلِ ظَوَاهِرِهَا وَتَنْزِيلِهَا عَلَى رَأْيِهِمْ، كَمَا حَكَيْنَاهُ مِنْ مَذَاهِبِهِمْ فِي كِتَابِ الْمُسْتَظْهِرِ الْمُصَنَّفِ فِي الرَّدِّ عَلَى الْبَاطِنِيَّةِ.

Dengan jalan inilah kaum Bathiniyah sampai kepada upaya meruntuhkan seluruh syariat, dengan menakwilkan makna-makna zahirnya dan menundukkannya kepada pendapat mereka, sebagaimana telah kami ceritakan mazhab-mazhab mereka dalam kitab Al-Mustazhiri yang disusun untuk membantah kaum Bathiniyah.

وَمِثَالُ تَأْوِيلِ أَهْلِ الطَّامَّاتِ قَوْلُ بَعْضِهِمْ فِي تَأْوِيلِ قَوْلِهِ تَعَالَى: {اذْهَبْ إِلَى فِرْعَوْنَ إِنَّهُ طَغَى}، أَنَّهُ إِشَارَةٌ إِلَى قَلْبِهِ، وَقَالَ: هُوَ الْمُرَادُ بِفِرْعَوْنَ، وَهُوَ الطَّاغِي عَلَى كُلِّ إِنْسَانٍ.

Contoh takwil orang-orang yang mengada-ada ini adalah ucapan sebagian mereka dalam menafsirkan firman Allah Ta‘ala, “Pergilah kepada Fir‘aun, sesungguhnya dia telah melampaui batas.” Mereka mengatakan bahwa itu isyarat kepada hati seseorang, dan bahwa yang dimaksud dengan Fir‘aun adalah hati yang melampaui batas pada setiap manusia.

وَفِي قَوْلِهِ تَعَالَى: {وَأَنْ أَلْقِ عَصَاكَ}، أَيْ مَا يَتَوَكَّأُ عَلَيْهِ وَيَعْتَمِدُهُ مِمَّا سِوَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ، فَيَنْبَغِي أَنْ يُلْقِيَهُ.

Dan dalam firman-Nya, “Dan lemparkanlah tongkatmu,” mereka menakwilkannya sebagai segala sesuatu selain Allah ‘Azza wa Jalla yang dijadikan sandaran dan tempat bergantung, yang menurut mereka harus dilemparkan.

وَفِي قَوْلِهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: تَسَحَّرُوا، فَإِنَّ فِي السَّحُورِ بَرَكَةً، أَرَادَ بِهِ الِاسْتِغْفَارَ فِي الْأَسْحَارِ.

Dan dalam sabda Nabi , “Bersahurlah kalian, karena pada sahur itu terdapat berkah,” mereka mengatakan bahwa yang dimaksud adalah beristigfar pada waktu sahur.

وَأَمْثَالُ ذٰلِكَ، حَتَّى يُحَرِّفُوا الْقُرْآنَ مِنْ أَوَّلِهِ إِلَى آخِرِهِ عَنْ ظَاهِرِهِ وَعَنْ تَفْسِيرِهِ الْمَنْقُولِ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ وَسَائِرِ الْعُلَمَاءِ.

Dan demikian seterusnya, hingga mereka memalingkan Al-Qur’an dari awal hingga akhir dari makna zahirnya dan dari tafsir yang dinukil dari Ibnu ‘Abbas serta ulama-ulama lainnya.

وَبَعْضُ هٰذِهِ التَّأْوِيلَاتِ يُعْلَمُ بُطْلَانُهُ قَطْعًا، كَتَنْزِيلِ فِرْعَوْنَ عَلَى الْقَلْبِ، فَإِنَّ فِرْعَوْنَ شَخْصٌ مَحْسُوسٌ، تَوَاتَرَ إِلَيْنَا النَّقْلُ بِوُجُودِهِ وَدَعْوَةِ مُوسَى لَهُ، كَأَبِي جَهْلٍ وَأَبِي لَهَبٍ وَغَيْرِهِمَا مِنَ الْكُفَّارِ.

Sebagian takwil ini dengan pasti diketahui kebatilannya, seperti menafsirkan Fir‘aun sebagai hati. Sebab Fir‘aun adalah sosok nyata, yang berita tentang keberadaannya dan dakwah Musa kepadanya sampai kepada kita secara mutawatir, sebagaimana Abu Jahl, Abu Lahab, dan orang-orang kafir lainnya.

وَلَيْسَ مِنْ جِنْسِ الشَّيَاطِينِ وَالْمَلَائِكَةِ مِمَّا لَمْ يُدْرَكْ بِالْحِسِّ حَتَّى يَتَطَرَّقَ التَّأْوِيلُ إِلَى أَلْفَاظِهِ.

Ia bukan dari jenis setan atau malaikat, yang memang tidak dapat diindra sehingga memungkinkan adanya takwil pada lafaz-lafaznya.

وَكَذٰلِكَ حَمْلُ السَّحُورِ عَلَى الِاسْتِغْفَارِ، فَإِنَّهُ كَانَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَتَنَاوَلُ الطَّعَامَ وَيَقُولُ: تَسَحَّرُوا، وَهَلُمُّوا إِلَى الْغِذَاءِ الْمُبَارَكِ.

Demikian pula menafsirkan sahur sebagai istigfar, padahal Nabi dahulu makan dan bersabda, “Bersahurlah kalian,” dan “Kemarilah kepada makanan yang diberkahi.”

فَهٰذِهِ أُمُورٌ يُدْرَكُ بِالتَّوَاتُرِ وَالْحِسِّ بُطْلَانُهَا نَقْلًا.

Ini adalah perkara-perkara yang kebatilannya dapat diketahui secara riwayat mutawatir dan secara inderawi.

وَبَعْضُهَا يُعْلَمُ بِغَالِبِ الظَّنِّ، وَذٰلِكَ فِي أُمُورٍ لَا يَتَعَلَّقُ بِهَا الْإِحْسَاسُ.

Sebagian lainnya diketahui kebatilannya dengan dugaan kuat, yaitu pada perkara-perkara yang tidak bisa disentuh oleh penginderaan.

فَكُلُّ ذٰلِكَ حَرَامٌ وَضَلَالَةٌ وَإِفْسَادٌ لِلدِّينِ عَلَى الْخَلْقِ.

Semua itu haram, sesat, dan merusak agama bagi manusia.

وَلَمْ يُنْقَلْ شَيْءٌ مِنْ ذٰلِكَ عَنِ الصَّحَابَةِ وَلَا عَنِ التَّابِعِينَ، وَلَا عَنِ الْحَسَنِ الْبَصْرِيِّ، مَعَ إِكْبَابِهِ عَلَى دَعْوَةِ الْخَلْقِ وَوَعْظِهِمْ.

Tidak ada satu pun dari hal itu yang dinukil dari para sahabat, para tabi‘in, maupun dari Al-Hasan Al-Bashri, padahal beliau sangat tekun dalam mengajak dan menasihati manusia.

فَلَا يَظْهَرُ لِقَوْلِهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَنْ فَسَّرَ الْقُرْآنَ بِرَأْيِهِ فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ، مَعْنًى إِلَّا هٰذَا النَّمَطُ.

Maka tidak tampak makna bagi sabda Nabi , “Barang siapa menafsirkan Al-Qur’an dengan pendapatnya sendiri, hendaklah ia menempati tempat duduknya di neraka,” kecuali model penafsiran seperti inilah yang dimaksud.

وَهُوَ أَنْ يَكُونَ غَرَضُهُ وَرَأْيُهُ تَقْرِيرَ أَمْرٍ وَتَحْقِيقَهُ، فَيَسْتَجِرُّ شَهَادَةَ الْقُرْآنِ إِلَيْهِ، وَيَحْمِلَهُ عَلَيْهِ، مِنْ غَيْرِ أَنْ يَشْهَدَ لِتَنْزِيلِهِ عَلَيْهِ دَلَالَةٌ لَفْظِيَّةٌ لُغَوِيَّةٌ أَوْ نَقْلِيَّةٌ.

Yaitu seseorang sudah memiliki maksud dan pendapat tertentu untuk meneguhkan dan membenarkan suatu hal, lalu ia menarik kesaksian Al-Qur’an kepada pendapat itu dan memaksakan Al-Qur’an kepadanya, padahal tidak ada dalil lafaz secara bahasa ataupun dalil riwayat yang mendukung penafsiran itu.

وَلَا يَنْبَغِي أَنْ يُفْهَمَ مِنْهُ أَنَّهُ يَجِبُ أَنْ لَا يُفَسَّرَ الْقُرْآنُ بِالِاسْتِنْبَاطِ وَالْفِكْرِ.

Dan tidak patut dipahami dari hadis itu bahwa Al-Qur’an sama sekali tidak boleh ditafsirkan dengan istinbath dan pemikiran.

فَإِنَّ مِنَ الْآيَاتِ مَا نُقِلَ فِيهَا عَنِ الصَّحَابَةِ وَالْمُفَسِّرِينَ خَمْسَةُ مَعَانٍ وَسِتَّةٌ وَسَبْعَةٌ.

Karena ada ayat-ayat yang dinukil dari para sahabat dan ahli tafsir tentangnya lima, enam, atau tujuh makna.

وَنَعْلَمُ أَنَّ جَمِيعَهَا غَيْرُ مَسْمُوعٍ مِنَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.

Dan kita mengetahui bahwa tidak semua makna itu didengar langsung dari Nabi .

فَإِنَّهَا قَدْ تَكُونُ مُتَنَافِيَةً لَا تَقْبَلُ الْجَمْعَ، فَيَكُونُ ذٰلِكَ مُسْتَنْبَطًا بِحُسْنِ الْفَهْمِ وَطُولِ الْفِكْرِ.

Sebab bisa jadi makna-makna itu saling berbeda dan tidak dapat dipadukan, sehingga berarti sebagian darinya merupakan hasil istinbath dengan pemahaman yang baik dan pemikiran yang mendalam.

وَلِهٰذَا قَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: اللَّهُمَّ فَقِّهْهُ فِي الدِّينِ وَعَلِّمْهُ التَّأْوِيلَ.

Karena itulah Nabi berdoa untuk Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhu, “Ya Allah, pahamkanlah dia dalam agama dan ajarkanlah kepadanya takwil.”

وَمَنْ يَسْتَجِيزُ مِنْ أَهْلِ الطَّامَّاتِ مِثْلَ هٰذِهِ التَّأْوِيلَاتِ، مَعَ عِلْمِهِ بِأَنَّهَا غَيْرُ مُرَادَةٍ بِالْأَلْفَاظِ، وَيَزْعُمُ أَنَّهُ يَقْصِدُ بِهَا دَعْوَةَ الْخَلْقِ إِلَى الْخَالِقِ، يُضَاهِي مَن يَسْتَجِيزُ الِاخْتِرَاعَ وَالْوَضْعَ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، لِمَا هُوَ فِي نَفْسِهِ حَقٌّ، وَلَكِنْ لَمْ يَنْطِقْ بِهِ الشَّرْعُ.

Barang siapa dari kalangan orang-orang yang suka melontarkan ucapan-ucapan besar dan berlebihan membolehkan takwil-takwil semacam ini, padahal ia tahu bahwa makna-makna itu bukan yang dimaksud oleh lafaz-lafaz tersebut, dan ia mengklaim bahwa tujuannya adalah mengajak makhluk kepada Sang Pencipta, maka ia menyerupai orang yang membolehkan mengada-ada dan membuat-buat ucapan atas nama Rasulullah tentang sesuatu yang pada dirinya benar, tetapi tidak pernah dinyatakan oleh syariat.

كَمَنْ يَضَعُ فِي كُلِّ مَسْأَلَةٍ يَرَاهَا حَقًّا حَدِيثًا عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.

Ia seperti orang yang membuat hadis atas nama Nabi pada setiap persoalan yang menurutnya benar.

فَذٰلِكَ ظُلْمٌ وَضَلَالٌ، وَدُخُولٌ فِي الْوَعِيدِ الْمَفْهُومِ مِنْ قَوْلِهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا، فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ.

Perbuatan itu adalah kezaliman, kesesatan, dan termasuk ke dalam ancaman yang dipahami dari sabda Nabi , “Barang siapa berdusta atas namaku dengan sengaja, maka hendaklah ia menempati tempat duduknya di neraka.”

بَلِ الشَّرُّ فِي تَأْوِيلِ هٰذِهِ الْأَلْفَاظِ أَطَمُّ وَأَعْظَمُ، لِأَنَّهَا مُبَدِّلَةٌ لِلثِّقَةِ بِالْأَلْفَاظِ، وَقَاطِعَةٌ طَرِيقَ الِاسْتِفَادَةِ وَالْفَهْمِ مِنَ الْقُرْآنِ بِالْكُلِّيَّةِ.

Bahkan, keburukan dalam menakwilkan lafaz-lafaz ini lebih besar dan lebih berat, karena hal itu merusak kepercayaan terhadap lafaz-lafaz, dan memutus jalan untuk mengambil manfaat serta memahami Al-Qur’an sama sekali.

فَقَدْ عَرَفْتَ كَيْفَ صَرَفَ الشَّيْطَانُ دَوَاعِيَ الْخَلْقِ عَنِ الْعُلُومِ الْمَحْمُودَةِ إِلَى الْمَذْمُومَةِ، فَكُلُّ ذٰلِكَ مِنْ تَلْبِيسِ عُلَمَاءِ السُّوءِ بِتَبْدِيلِ الْأَسَامِي.

Dengan demikian, engkau telah mengetahui bagaimana setan memalingkan dorongan manusia dari ilmu-ilmu yang terpuji kepada ilmu-ilmu yang tercela. Semua itu termasuk tipu daya ulama yang buruk melalui pengubahan nama-nama.

فَإِنِ اتَّبَعْتَ هٰؤُلَاءِ اعْتِمَادًا عَلَى الِاسْمِ الْمَشْهُورِ، مِنْ غَيْرِ الْتِفَاتٍ إِلَى مَا عُرِفَ فِي الْعَصْرِ الْأَوَّلِ، كُنْتَ كَمَنْ طَلَبَ الشَّرَفَ بِالْحِكْمَةِ بِاتِّبَاعِ مَنْ يُسَمَّى حَكِيمًا.

Jika engkau mengikuti mereka hanya karena bergantung pada nama yang telah terkenal, tanpa menoleh kepada makna yang dikenal pada masa generasi pertama, maka engkau seperti orang yang mencari kemuliaan melalui “hikmah” dengan mengikuti orang yang disebut “hakim” atau “bijak.”

فَإِنَّ اسْمَ الْحَكِيمِ صَارَ يُطْلَقُ عَلَى الطَّبِيبِ وَالشَّاعِرِ وَالْمُنَجِّمِ فِي هٰذَا الْعَصْرِ، وَذٰلِكَ بِالْغَفْلَةِ عَنْ تَبْدِيلِ الْأَلْفَاظِ.

Sebab nama “hakim” pada masa ini telah diberikan kepada dokter, penyair, dan ahli nujum, dan itu terjadi karena kelalaian terhadap perubahan makna lafaz-lafaz.

اللَّفْظُ الْخَامِسُ: وَهُوَ الْحِكْمَةُ.

Lafaz kelima adalah hikmah.

فَإِنَّ اسْمَ الْحَكِيمِ صَارَ يُطْلَقُ عَلَى الطَّبِيبِ وَالشَّاعِرِ وَالْمُنَجِّمِ، حَتَّى عَلَى الَّذِي يُدَحْرِجُ الْقُرْعَةَ عَلَى أَكُفِّ السَّوَادِيَّةِ فِي شَوَارِعِ الطُّرُقِ.

Sesungguhnya nama “hakim” sekarang dipakai untuk dokter, penyair, ahli nujum, bahkan untuk orang yang memainkan undian di atas telapak tangan orang-orang awam di jalan-jalan.

وَالْحِكْمَةُ هِيَ الَّتِي أَثْنَى اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ عَلَيْهَا، فَقَالَ تَعَالَى: {يُؤْتِي الْحِكْمَةَ مَنْ يَشَاءُ، وَمَنْ يُؤْتَ الْحِكْمَةَ فَقَدْ أُوتِيَ خَيْرًا كَثِيرًا}.

Padahal hikmah adalah sesuatu yang dipuji oleh Allah ‘Azza wa Jalla, sebagaimana firman-Nya: “Dia memberikan hikmah kepada siapa yang Dia kehendaki, dan barang siapa diberi hikmah, sungguh ia telah diberi kebaikan yang banyak.”

وَقَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: كَلِمَةٌ مِنَ الْحِكْمَةِ يَتَعَلَّمُهَا الرَّجُلُ خَيْرٌ لَهُ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا.

Dan Nabi bersabda, “Satu kalimat hikmah yang dipelajari seseorang lebih baik baginya daripada dunia dan seluruh isinya.”

فَانْظُرْ مَا الَّذِي كَانَتِ الْحِكْمَةُ عِبَارَةً عَنْهُ، وَإِلَى مَاذَا نُقِلَتْ.

Maka perhatikanlah apa sebenarnya yang dimaksud dengan hikmah itu, dan kepada makna apa ia telah dipindahkan.

وَقِسْ بِهِ بَقِيَّةَ الْأَلْفَاظِ، وَاحْتَرِزْ عَنِ الِاغْتِرَارِ بِتَلْبِيسَاتِ عُلَمَاءِ السُّوءِ.

Dan ukurlah dengan itu lafaz-lafaz yang lain, serta berhati-hatilah agar tidak tertipu oleh tipu daya ulama yang buruk.

فَإِنَّ شَرَّهُمْ عَلَى الدِّينِ أَعْظَمُ مِنْ شَرِّ الشَّيَاطِينِ، إِذِ الشَّيْطَانُ بِوَاسِطَتِهِمْ يَتَدَرَّجُ إِلَى انْتِزَاعِ الدِّينِ مِنْ قُلُوبِ الْخَلْقِ.

Sebab keburukan mereka terhadap agama lebih besar daripada keburukan setan, karena setan melalui perantaraan mereka masuk sedikit demi sedikit untuk mencabut agama dari hati manusia.

وَلِهٰذَا لَمَّا سُئِلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ شَرِّ الْخَلْقِ أَبَى، وَقَالَ: اللَّهُمَّ اغْفِرْ، حَتَّى كَرَّرُوا عَلَيْهِ، فَقَالَ: هُمْ عُلَمَاءُ السُّوءِ.

Karena itulah ketika Rasulullah ditanya tentang makhluk yang paling buruk, beliau enggan menjawab dan berkata, “Ya Allah, ampunilah,” hingga mereka mengulang-ulang pertanyaan itu, lalu beliau bersabda, “Mereka adalah ulama yang buruk.”

فَقَدْ عَرَفْتَ الْعِلْمَ الْمَحْمُودَ وَالْمَذْمُومَ، وَمَثَارَ الِالْتِبَاسِ.

Dengan demikian, engkau telah mengetahui ilmu yang terpuji dan ilmu yang tercela, serta sumber terjadinya kekaburan antara keduanya.

وَإِلَيْكَ الْخِيَرَةُ فِي أَنْ تَنْظُرَ لِنَفْسِكَ، فَتَقْتَدِيَ بِالسَّلَفِ، أَوْ تَتَدَلَّى بِحَبْلِ الْغُرُورِ، وَتَتَشَبَّهَ بِالْخَلَفِ.

Sekarang pilihan ada di tanganmu: apakah engkau akan melihat dirimu sendiri lalu meneladani para salaf, ataukah engkau akan bergelantungan dengan tali tipuan dan menyerupai orang-orang belakangan.

فَكُلُّ مَا ارْتَضَاهُ السَّلَفُ مِنَ الْعُلُومِ قَدِ انْدَرَسَ، وَمَا أَكَبَّ النَّاسُ عَلَيْهِ فَأَكْثَرُهُ مُبْتَدَعٌ وَمُحْدَثٌ.

Seluruh ilmu yang dahulu diridhai oleh para salaf kini telah pudar, sedangkan apa yang sekarang ditekuni oleh kebanyakan manusia, maka kebanyakannya adalah bid‘ah dan perkara yang diada-adakan.

وَقَدْ صَحَّ قَوْلُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: بَدَأَ الْإِسْلَامُ غَرِيبًا، وَسَيَعُودُ غَرِيبًا كَمَا بَدَأَ، فَطُوبَى لِلْغُرَبَاءِ.

Dan telah sah sabda Rasulullah , “Islam bermula dalam keadaan asing, dan akan kembali asing sebagaimana awal mulanya. Maka beruntunglah orang-orang yang asing.”

فَقِيلَ: وَمَنِ الْغُرَبَاءُ؟

Lalu ditanyakan, “Siapakah orang-orang asing itu?”

قَالَ: الَّذِينَ يُصْلِحُونَ مَا أَفْسَدَ النَّاسُ مِنْ سُنَّتِي، وَالَّذِينَ يُحْيُونَ مَا أَمَاتُوا مِنْ سُنَّتِي.

Beliau menjawab, “Mereka adalah orang-orang yang memperbaiki apa yang telah dirusak manusia dari sunnahku, dan orang-orang yang menghidupkan apa yang telah mereka matikan dari sunnahku.”

وَفِي آخَرَ: هُمُ الْمُتَمَسِّكُونَ بِمَا أَنْتُمْ عَلَيْهِ الْيَوْمَ.

Dalam riwayat lain disebutkan, “Mereka adalah orang-orang yang berpegang teguh pada apa yang kalian pegang hari ini.”

وَفِي حَدِيثٍ آخَرَ: الْغُرَبَاءُ نَاسٌ قَلِيلٌ صَالِحُونَ بَيْنَ نَاسٍ كَثِيرٍ، وَمَنْ يُبْغِضُهُمْ فِي الْخَلْقِ أَكْثَرُ مِمَّنْ يُحِبُّهُمْ.

Dan dalam hadis lain disebutkan, “Orang-orang asing adalah sekelompok kecil orang saleh di tengah banyak manusia, dan jumlah orang yang membenci mereka lebih banyak daripada yang mencintai mereka.”

وَقَدْ صَارَتْ تِلْكَ الْعُلُومُ غَرِيبَةً بِحَيْثُ يُمْقَتُ ذَاكِرُهَا.

Ilmu-ilmu itu kini telah menjadi asing, sampai-sampai orang yang menyebutkannya dibenci.

وَلِذٰلِكَ قَالَ الثَّوْرِيُّ رَحِمَهُ اللَّهُ: إِذَا رَأَيْتَ الْعَالِمَ كَثِيرَ الْأَصْدِقَاءِ فَاعْلَمْ أَنَّهُ مُخَلِّطٌ، لِأَنَّهُ إِنْ نَطَقَ بِالْحَقِّ أَبْغَضُوهُ.

Karena itulah Ats-Tsauri rahimahullah berkata, “Jika engkau melihat seorang alim mempunyai banyak sahabat, maka ketahuilah bahwa ia adalah orang yang mencampuradukkan, karena seandainya ia berbicara dengan kebenaran, niscaya mereka akan membencinya.”