Hal-hal yang oleh orang awam dianggap sebagai ilmu-ilmu yang terpuji, padahal sebenarnya bukan.
اَلْبَابُ الثَّالِثُ فِيمَا يَعُدُّهُ الْعَامَّةُ مِنَ الْعُلُومِ الْمَحْمُودَةِ وَلَيْسَ مِنْهَا.
Bab ketiga tentang hal-hal yang oleh orang awam dianggap sebagai ilmu-ilmu yang terpuji, padahal sebenarnya bukan termasuk di dalamnya.
وَفِيهِ بَيَانُ الْوَجْهِ الَّذِي قَدْ يَكُونُ بِهِ بَعْضُ الْعُلُومِ مَذْمُومًا، وَبَيَانُ تَبْدِيلِ أَسَامِي الْعُلُومِ، وَهُوَ الْفِقْهُ وَالْعِلْمُ وَالتَّوْحِيدُ وَالتَّذْكِيرُ وَالْحِكْمَةُ، وَبَيَانُ الْقَدْرِ الْمَحْمُودِ مِنَ الْعُلُومِ الشَّرْعِيَّةِ وَالْقَدْرِ الْمَذْمُومِ مِنْهَا.
Di dalam bab ini terdapat penjelasan tentang sisi yang
menyebabkan sebagian ilmu bisa menjadi tercela, penjelasan tentang perubahan
nama-nama ilmu, yaitu fikih, ilmu, tauhid, peringatan, dan hikmah, serta
penjelasan tentang kadar yang terpuji dari ilmu-ilmu syar‘i dan kadar yang
tercela darinya.
بَيَانُ
عِلَّةِ ذَمِّ الْعِلْمِ الْمَذْمُومِ.
Penjelasan tentang sebab tercelanya ilmu yang tercela.
لَعَلَّكَ
تَقُولُ: الْعِلْمُ هُوَ مَعْرِفَةُ الشَّيْءِ عَلَى مَا هُوَ بِهِ، وَهُوَ مِنْ
صِفَاتِ اللَّهِ تَعَالَى، فَكَيْفَ يَكُونُ الشَّيْءُ عِلْمًا، وَيَكُونُ مَعَ
كَوْنِهِ عِلْمًا مَذْمُومًا؟
Boleh jadi engkau berkata, “Ilmu adalah mengetahui sesuatu
sebagaimana adanya, dan ilmu termasuk sifat Allah Ta‘ala. Maka bagaimana
mungkin sesuatu itu disebut ilmu, tetapi pada saat yang sama menjadi tercela?”
فَاعْلَمْ
أَنَّ الْعِلْمَ لَا يُذَمُّ لِعَيْنِهِ، وَإِنَّمَا يُذَمُّ فِي حَقِّ الْعِبَادِ
لِأَحَدِ أَسْبَابٍ ثَلَاثَةٍ.
Maka ketahuilah, ilmu tidak dicela karena zatnya sendiri.
Ilmu hanya dicela dalam kaitannya dengan manusia karena salah satu dari tiga
sebab.
الْأَوَّلُ:
أَنْ يَكُونَ مُؤَدِّيًا إِلَى ضَرَرٍ مَا، إِمَّا لِصَاحِبِهِ أَوْ لِغَيْرِهِ.
Pertama, jika ilmu itu mengantarkan kepada suatu bahaya,
baik bagi pemiliknya maupun bagi orang lain.
كَمَا
يُذَمُّ عِلْمُ السِّحْرِ وَالطَّلَسْمَاتِ.
Seperti tercelanya ilmu sihir dan jimat-jimat.
وَهُوَ
حَقٌّ، إِذْ شَهِدَ الْقُرْآنُ لَهُ، وَأَنَّهُ سَبَبٌ يُتَوَصَّلُ بِهِ إِلَى
التَّفْرِقَةِ بَيْنَ الزَّوْجَيْنِ.
Hal itu memang nyata adanya, sebab Al-Qur’an telah
menegaskannya dan bahwa sihir itu merupakan sebab yang dapat dipakai untuk
memisahkan suami dan istri.
وَقَدْ
سُحِرَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَمَرِضَ بِسَبَبِهِ،
حَتَّى أَخْبَرَهُ جِبْرِيلُ عَلَيْهِ السَّلَامُ بِذٰلِكَ، وَأُخْرِجَ السِّحْرُ
مِنْ تَحْتِ حَجَرٍ فِي قَعْرِ بِئْرٍ.
Rasulullah ﷺ
pun pernah disihir dan jatuh sakit karenanya, hingga Jibril ‘alaihis-salam
memberitahukan hal itu kepada beliau, dan sihir itu kemudian dikeluarkan dari
bawah batu di dasar sebuah sumur.
وَهُوَ
نَوْعٌ يُسْتَفَادُ مِنَ الْعِلْمِ بِخَوَاصِّ الْجَوَاهِرِ، وَبِأُمُورٍ
حِسَابِيَّةٍ فِي مَطَالِعِ النُّجُومِ.
Sihir itu merupakan suatu jenis ilmu yang diperoleh dari
pengetahuan tentang sifat-sifat khusus benda-benda serta dari hal-hal
perhitungan yang berkaitan dengan terbitnya bintang-bintang.
فَيُتَّخَذُ
مِنْ تِلْكَ الْجَوَاهِرِ هَيْكَلٌ عَلَى صُورَةِ الشَّخْصِ الْمَسْحُورِ،
وَيُرْصَدُ بِهِ وَقْتٌ مَخْصُوصٌ مِنَ الْمَطَالِعِ، وَتُقْرَنُ بِهِ كَلِمَاتٌ
يُتَلَفَّظُ بِهَا مِنَ الْكُفْرِ وَالْفُحْشِ الْمُخَالِفِ لِلشَّرْعِ.
Lalu dibuatlah dari benda-benda itu sebuah bentuk menyerupai
orang yang disihir, kemudian dipilih waktu tertentu dari kemunculan
bintang-bintang, dan digabungkan dengannya kata-kata yang diucapkan berupa
kekufuran dan ucapan keji yang menyelisihi syariat.
وَيُتَوَصَّلُ
بِسَبَبِهَا إِلَى الِاسْتِعَانَةِ بِالشَّيَاطِينِ، وَيَحْصُلُ مِنْ مَجْمُوعِ
ذٰلِكَ بِحُكْمِ إِجْرَاءِ اللَّهِ تَعَالَى الْعَادَةَ أَحْوَالٌ غَرِيبَةٌ فِي
الشَّخْصِ الْمَسْحُورِ.
Dengan sebab semua itu, orang tersebut sampai kepada meminta
bantuan setan, dan dari keseluruhan proses itu, menurut kebiasaan yang Allah
Ta‘ala jalankan, timbullah keadaan-keadaan aneh pada orang yang disihir.
وَمَعْرِفَةُ
هٰذِهِ الْأَسْبَابِ مِنْ حَيْثُ إِنَّهَا مَعْرِفَةٌ لَيْسَتْ بِمَذْمُومَةٍ،
وَلٰكِنَّهَا لَيْسَتْ تَصْلُحُ إِلَّا لِلْإِضْرَارِ بِالْخَلْقِ، وَالْوَسِيلَةُ
إِلَى الشَّرِّ شَرٌّ.
Mengetahui sebab-sebab ini, dari sisi bahwa ia adalah
pengetahuan, sebenarnya tidak tercela. Akan tetapi, karena ilmu itu tidak cocok
kecuali untuk mencelakai makhluk, dan sarana menuju keburukan juga merupakan
keburukan, maka ia menjadi tercela.
فَكَانَ
ذٰلِكَ هُوَ السَّبَبَ فِي كَوْنِهِ عِلْمًا مَذْمُومًا.
Itulah sebab mengapa ilmu tersebut menjadi ilmu yang
tercela.
بَلْ
مَنْ اتَّبَعَ وَلِيًّا مِنْ أَوْلِيَاءِ اللَّهِ لِيَقْتُلَهُ، وَقَدِ اخْتَفَى
مِنْهُ فِي مَوْضِعٍ حَرِيزٍ، إِذَا سَأَلَ الظَّالِمُ عَنْ مَحَلِّهِ، لَمْ
يَجُزْ تَنْبِيهُهُ عَلَيْهِ، بَلْ وَجَبَ الْكَذِبُ فِيهِ.
Bahkan, jika seseorang mengejar seorang wali Allah untuk
dibunuh, dan wali itu bersembunyi darinya di tempat yang aman, lalu si zalim
bertanya tentang tempat persembunyiannya, maka tidak boleh memberitahukannya.
Bahkan wajib berdusta dalam hal itu.
وَذِكْرُ
مَوْضِعِهِ إِرْشَادٌ وَإِفَادَةُ عِلْمٍ بِالشَّيْءِ عَلَى مَا هُوَ عَلَيْهِ،
وَلٰكِنَّهُ مَذْمُومٌ لِأَدَائِهِ إِلَى الضَّرَرِ.
Menyebutkan tempatnya berarti memberi petunjuk dan
memberikan pengetahuan tentang sesuatu sebagaimana adanya. Namun demikian, hal
itu tetap tercela karena mengantarkan kepada bahaya.
الثَّانِي:
أَنْ يَكُونَ مُضِرًّا بِصَاحِبِهِ فِي غَالِبِ الْأَمْرِ، كَعِلْمِ النُّجُومِ.
Kedua, apabila ilmu itu pada umumnya membahayakan
pemiliknya, seperti ilmu nujum atau astrologi.
فَإِنَّهُ
فِي نَفْسِهِ غَيْرُ مَذْمُومٍ لِذَاتِهِ، إِذْ هُوَ قِسْمَانِ: قِسْمٌ حِسَابِيٌّ.
Ilmu itu pada dirinya sendiri tidak tercela karena zatnya,
sebab ia terbagi menjadi dua bagian. Salah satunya adalah bagian perhitungan.
وَقَدْ
نَطَقَ الْقُرْآنُ بِأَنَّ مَسِيرَ الشَّمْسِ وَالْقَمَرِ مَحْسُوبٌ، إِذْ قَالَ
عَزَّ وَجَلَّ: {الشَّمْسُ وَالْقَمَرُ بِحُسْبَانٍ}.
Al-Qur’an telah menyatakan bahwa peredaran matahari dan
bulan itu terhitung, sebagaimana firman-Nya ‘Azza wa Jalla, “Matahari dan bulan
beredar menurut perhitungan.”
وَقَالَ
عَزَّ وَجَلَّ: {وَالْقَمَرَ قَدَّرْنَاهُ مَنَازِلَ حَتَّىٰ عَادَ كَالْعُرْجُونِ
الْقَدِيمِ}.
Dan Allah ‘Azza wa Jalla berfirman, “Dan bulan telah Kami
tetapkan manzilah-manzilahnya, hingga ia kembali seperti pelepah kurma yang
tua.”
وَالثَّانِي:
الْأَحْكَامُ، وَحَاصِلُهُ يَرْجِعُ إِلَى الِاسْتِدْلَالِ عَلَى الْحَوَادِثِ
بِالْأَسْبَابِ.
Bagian kedua adalah ramalan hukum-hukum bintang, dan intinya
kembali kepada penarikan kesimpulan tentang kejadian-kejadian berdasarkan
sebab-sebab.
وَهُوَ
يُضَاهِي اسْتِدْلَالَ الطَّبِيبِ بِالنَّبْضِ عَلَى مَا سَيَحْدُثُ مِنَ
الْمَرَضِ.
Hal ini menyerupai seorang dokter yang menyimpulkan melalui
denyut nadi tentang penyakit yang akan terjadi.
وَهُوَ
مَعْرِفَةٌ لِمَجَارِي سُنَّةِ اللَّهِ تَعَالَى وَعَادَتِهِ فِي خَلْقِهِ،
وَلٰكِنْ قَدْ ذَمَّهُ الشَّرْعُ.
Ia merupakan pengetahuan tentang berlakunya sunnatullah dan
kebiasaan-Nya dalam makhluk. Akan tetapi, syariat telah mencelanya.
قَالَ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِذَا ذُكِرَ الْقَدَرُ فَأَمْسِكُوا، وَإِذَا
ذُكِرَتِ النُّجُومُ فَأَمْسِكُوا، وَإِذَا ذُكِرَ أَصْحَابِي فَأَمْسِكُوا.
Nabi ﷺ
bersabda, “Apabila qadar disebut, maka tahanlah diri kalian. Apabila
bintang-bintang disebut, maka tahanlah diri kalian. Dan apabila para sahabatku
disebut, maka tahanlah diri kalian.”
وَقَالَ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَخَافُ عَلَى أُمَّتِي بَعْدِي ثَلَاثًا:
حَيْفَ الْأَئِمَّةِ، وَالْإِيمَانَ بِالنُّجُومِ، وَالتَّكْذِيبَ بِالْقَدَرِ.
Dan Nabi ﷺ
bersabda, “Aku mengkhawatirkan atas umatku setelahku tiga perkara: kezaliman
para pemimpin, percaya kepada bintang-bintang, dan mendustakan qadar.”
وَقَالَ
عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: تَعَلَّمُوا مِنَ النُّجُومِ مَا
تَهْتَدُونَ بِهِ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ، ثُمَّ أَمْسِكُوا.
‘Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu berkata,
“Pelajarilah dari ilmu bintang apa yang dapat kalian gunakan untuk petunjuk di
darat dan di laut, kemudian berhentilah.”
وَإِنَّمَا
زُجِرَ عَنْهُ مِنْ ثَلَاثَةِ أَوْجُهٍ.
Larangan terhadapnya datang dari tiga sisi.
أَحَدُهَا:
أَنَّهُ مُضِرٌّ بِأَكْثَرِ الْخَلْقِ، فَإِنَّهُ إِذَا أُلْقِيَ إِلَيْهِمْ أَنَّ
هٰذِهِ الْآثَارَ تَحْدُثُ عَقِيبَ سَيْرِ الْكَوَاكِبِ، وَقَعَ فِي نُفُوسِهِمْ
أَنَّ الْكَوَاكِبَ هِيَ الْمُؤَثِّرَةُ، وَأَنَّهَا الْآلِهَةُ الْمُدَبِّرَةُ،
لِأَنَّهَا جَوَاهِرُ شَرِيفَةٌ سَمَاوِيَّةٌ، وَيَعْظُمُ وَقْعُهَا فِي
الْقُلُوبِ.
Pertama, karena ilmu ini membahayakan kebanyakan manusia.
Sebab apabila kepada mereka disampaikan bahwa kejadian-kejadian itu terjadi
setelah peredaran bintang-bintang, akan tertanam dalam jiwa mereka bahwa
bintang-bintang itulah yang memengaruhi, dan bahwa bintang-bintang itu
seolah-olah tuhan-tuhan pengatur, karena ia adalah benda-benda langit yang
mulia, dan pengaruhnya besar dalam hati.
فَيَبْقَى
الْقَلْبُ مُلْتَفِتًا إِلَيْهَا، وَيَرَى الْخَيْرَ وَالشَّرَّ مَحْذُورًا أَوْ
مَرْجُوًّا مِنْ جِهَتِهَا.
Akibatnya, hati menjadi terpaut kepadanya, dan melihat
kebaikan serta keburukan sebagai sesuatu yang ditakuti atau diharapkan datang
dari arahnya.
وَيَنْطَمِسُ
ذِكْرُ اللَّهِ سُبْحَانَهُ مِنَ الْقَلْبِ، فَإِنَّ الضَّعِيفَ يَقْصُرُ نَظَرُهُ
عَلَى الْوَسَائِطِ.
Lalu hilanglah ingatan kepada Allah Subhanahu wa Ta‘ala dari
hati, sebab orang yang lemah hanya memandang pada perantara-perantara.
وَالْعَالِمُ
الرَّاسِخُ هُوَ الَّذِي يَطَّلِعُ عَلَى أَنَّ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ
وَالنُّجُومَ مُسَخَّرَاتٌ بِأَمْرِهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى.
Sedangkan orang alim yang kokoh adalah orang yang memahami
bahwa matahari, bulan, dan bintang-bintang itu tunduk dan diatur oleh perintah
Allah Subhanahu wa Ta‘ala.
وَمِثَالُ
نَظَرِ الضَّعِيفِ إِلَى حُصُولِ ضَوْءِ الشَّمْسِ عَقِيبَ طُلُوعِ الشَّمْسِ،
مِثَالُ النَّمْلَةِ لَوْ خُلِقَ لَهَا عَقْلٌ، وَكَانَتْ عَلَى سَطْحِ قِرْطَاسٍ،
وَهِيَ تَنْظُرُ إِلَى سَوَادِ الْخَطِّ يَتَجَدَّدُ، فَتَعْتَقِدُ أَنَّهُ فِعْلُ
الْقَلَمِ.
Perumpamaan pandangan orang lemah yang melihat cahaya
matahari muncul sesudah matahari terbit adalah seperti seekor semut, seandainya
ia diberi akal, lalu berada di atas selembar kertas dan melihat hitamnya
tulisan muncul sedikit demi sedikit, maka ia akan mengira bahwa itulah
perbuatan pena.
وَلَا
تَتَرَقَّى فِي نَظَرِهَا إِلَى مُشَاهَدَةِ الْأَصَابِعِ، ثُمَّ مِنْهَا إِلَى
الْيَدِ، ثُمَّ مِنْهَا إِلَى الْإِرَادَةِ الْمُحَرِّكَةِ لِلْيَدِ، ثُمَّ
مِنْهَا إِلَى الْكَاتِبِ الْقَادِرِ الْمُرِيدِ، ثُمَّ مِنْهُ إِلَى خَالِقِ
الْيَدِ وَالْقُدْرَةِ وَالْإِرَادَةِ.
Ia tidak akan naik pandangannya untuk melihat jari-jari,
lalu dari jari-jari kepada tangan, dari tangan kepada kehendak yang
menggerakkan tangan, dari kehendak kepada penulis yang berkuasa dan
berkehendak, lalu dari penulis kepada Pencipta tangan, kekuatan, dan kehendak
itu.
فَأَكْثَرُ
نَظَرِ الْخَلْقِ مَقْصُورٌ عَلَى الْأَسْبَابِ الْقَرِيبَةِ السَّافِلَةِ،
مَقْطُوعٌ عَنِ التَّرَقِّي إِلَى مُسَبِّبِ الْأَسْبَابِ.
Begitulah, kebanyakan pandangan makhluk hanya terbatas pada
sebab-sebab yang dekat dan rendah, dan terputus dari naik menuju Zat yang
menyebabkan segala sebab.
فَهٰذَا
أَحَدُ أَسْبَابِ النَّهْيِ عَنِ النُّجُومِ.
Inilah salah satu sebab larangan terhadap ilmu nujum.
وَثَانِيهَا:
أَنَّ أَحْكَامَ النُّجُومِ تَخْمِينٌ مَحْضٌ، لَيْسَ يُدْرَكُ فِي حَقِّ آحَادِ
الْأَشْخَاصِ لَا يَقِينًا وَلَا ظَنًّا.
Sebab kedua, hukum-hukum bintang itu hanyalah tebak-tebakan
semata, yang dalam kaitannya dengan individu-individu tertentu tidak dapat
diketahui secara pasti dan bahkan tidak pula secara dugaan yang kuat.
فَالْحُكْمُ
بِهِ حُكْمٌ يُجْهَلُ، فَيَكُونُ ذَمُّهُ عَلَى هٰذَا مِنْ حَيْثُ إِنَّهُ جَهْلٌ،
لَا مِنْ حَيْثُ إِنَّهُ عِلْمٌ.
Karena itu, berhukum dengannya adalah berhukum atas sesuatu
yang tidak diketahui. Maka celaannya dari sisi ini adalah karena ia kebodohan,
bukan karena ia ilmu.
فَلَقَدْ
كَانَ ذٰلِكَ مُعْجِزَةً لِإِدْرِيسَ عَلَيْهِ السَّلَامُ فِيمَا يُحْكَى، وَقَدِ
انْدَرَسَ وَانْمَحَى ذٰلِكَ الْعِلْمُ وَانْمَحَقَ.
Konon, hal semacam itu dahulu merupakan mukjizat Nabi Idris
‘alaihis-salam. Akan tetapi, ilmu tersebut telah punah dan lenyap.
وَمَا
يَتَّفِقُ مِنْ إِصَابَةِ الْمُنَجِّمِ عَلَى نُدُورٍ، فَهُوَ اتِّفَاقٌ.
Kalaupun kadang-kadang seorang ahli nujum benar dalam
ramalannya, itu hanyalah kebetulan.
لِأَنَّهُ
قَدْ يَطَّلِعُ عَلَى بَعْضِ الْأَسْبَابِ، وَلَا يَحْصُلُ الْمُسَبَّبُ
عَقِيبَهَا إِلَّا بَعْدَ شُرُوطٍ كَثِيرَةٍ، لَيْسَ فِي قُدْرَةِ الْبَشَرِ
الِاطِّلَاعُ عَلَى حَقَائِقِهَا.
Sebab mungkin saja ia mengetahui sebagian sebab, tetapi
akibatnya tidak akan terjadi setelah itu kecuali setelah terpenuhi
syarat-syarat yang banyak, yang hakikatnya tidak mampu diketahui oleh manusia.
فَإِنِ
اتَّفَقَ أَنْ قَدَّرَ اللَّهُ تَعَالَى بَقِيَّةَ الْأَسْبَابِ وَقَعَتِ
الْإِصَابَةُ، وَإِنْ لَمْ يُقَدِّرْ أَخْطَأَ.
Jika kebetulan Allah Ta‘ala menakdirkan sebab-sebab lainnya
terpenuhi, maka ramalannya bisa benar. Jika tidak, maka ia salah.
وَيَكُونُ
ذٰلِكَ كَتَخْمِينِ الْإِنْسَانِ فِي أَنَّ السَّمَاءَ تُمْطِرُ الْيَوْمَ،
مَهْمَا رَأَى الْغَيْمَ يَجْتَمِعُ وَيَنْبَعِثُ مِنَ الْجِبَالِ، فَيَتَحَرَّكُ
ظَنُّهُ بِذٰلِكَ.
Hal ini seperti seseorang menebak bahwa hari ini langit akan
menurunkan hujan, ketika ia melihat awan berkumpul dan bergerak dari
pegunungan, sehingga timbullah dugaan demikian dalam dirinya.
وَرُبَّمَا
يَحْمَى النَّهَارُ بِالشَّمْسِ وَيَذْهَبُ الْغَيْمُ، وَرُبَّمَا يَكُونُ
بِخِلَافِهِ.
Padahal bisa jadi siang hari malah menjadi panas oleh
matahari dan awan pun hilang, dan bisa jadi juga sebaliknya.
وَمُجَرَّدُ
الْغَيْمِ لَيْسَ كَافِيًا فِي مَجِيءِ الْمَطَرِ، وَبَقِيَّةُ الْأَسْبَابِ لَا
تُدْرَى.
Awan semata tidak cukup untuk memastikan datangnya hujan,
karena sebab-sebab lainnya tidak diketahui.
وَكَذٰلِكَ
تَخْمِينُ الْمَلَّاحِ أَنَّ السَّفِينَةَ تَسْلَمُ، اعْتِمَادًا عَلَى مَا
أَلِفَهُ مِنَ الْعَادَةِ فِي الرِّيَاحِ، وَلِتِلْكَ الرِّيَاحِ أَسْبَابٌ
خَفِيَّةٌ هُوَ لَا يَطَّلِعُ عَلَيْهَا، فَتَارَةً يُصِيبُ فِي تَخْمِينِهِ
وَتَارَةً يُخْطِئُ.
Demikian juga dugaan seorang pelaut bahwa kapal akan
selamat, berdasarkan kebiasaan yang ia kenal tentang angin. Padahal angin itu
memiliki sebab-sebab tersembunyi yang tidak ia ketahui. Karena itu, kadang ia
tepat dalam dugaannya, dan kadang ia salah.
وَلِهٰذِهِ
الْعِلَّةِ يُمْنَعُ الْقَوْلُ عَنِ النُّجُومِ أَيْضًا.
Karena alasan inilah ucapan tentang ilmu nujum juga
dilarang.
وَثَالِثُهَا:
أَنَّهُ لَا فَائِدَةَ فِيهِ.
Sebab ketiga, karena tidak ada manfaat di dalamnya.
فَأَقَلُّ
أَحْوَالِهِ أَنَّهُ خَوْضٌ فِي فُضُولٍ لَا يُغْنِي، وَتَضْيِيعُ الْعُمُرِ
الَّذِي هُوَ أَنْفَسُ بِضَاعَةِ الْإِنْسَانِ فِي غَيْرِ فَائِدَةٍ، وَذٰلِكَ
غَايَةُ الْخُسْرَانِ.
Paling ringan keadaannya adalah bahwa ia merupakan
keterlibatan dalam hal-hal berlebih yang tidak berguna, dan menyia-nyiakan umur
— yang merupakan harta paling berharga milik manusia — untuk sesuatu yang tidak
bermanfaat. Dan itu adalah puncak kerugian.
فَقَدْ
مَرَّ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِرَجُلٍ وَالنَّاسُ
مُجْتَمِعُونَ عَلَيْهِ، فَقَالَ: مَا هٰذَا؟
Rasulullah ﷺ
pernah melewati seorang laki-laki, sementara orang-orang berkumpul di
sekelilingnya, lalu beliau bertanya, “Apa ini?”
فَقَالُوا:
رَجُلٌ عَلَّامَةٌ.
Mereka menjawab, “Seorang yang sangat berilmu.”
فَقَالَ:
بِمَاذَا؟
Beliau bertanya, “Dalam hal apa?”
قَالُوا:
بِالشِّعْرِ وَأَنْسَابِ الْعَرَبِ.
Mereka menjawab, “Dalam syair dan nasab-nasab Arab.”
فَقَالَ:
عِلْمٌ لَا يَنْفَعُ، وَجَهْلٌ لَا يَضُرُّ.
Beliau bersabda, “Itu ilmu yang tidak bermanfaat, dan
kebodohan terhadapnya tidak membahayakan.”
وَقَالَ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنَّمَا الْعِلْمُ آيَةٌ مُحْكَمَةٌ، أَوْ
سُنَّةٌ قَائِمَةٌ، أَوْ فَرِيضَةٌ عَادِلَةٌ.
Dan Nabi ﷺ
bersabda, “Sesungguhnya ilmu itu hanyalah ayat yang muhkam, sunnah yang tegak,
atau kewajiban yang adil.”
فَإِذَنْ،
الْخَوْضُ فِي النُّجُومِ وَمَا يُشْبِهُهُ اقْتِحَامُ خَطَرٍ، وَخَوْضٌ فِي
جَهَالَةٍ مِنْ غَيْرِ فَائِدَةٍ.
Dengan demikian, terjun dalam ilmu nujum dan yang semisalnya
adalah memasuki bahaya dan tenggelam dalam kebodohan tanpa faedah.
فَإِنَّ
مَا قُدِّرَ كَائِنٌ، وَالِاحْتِرَازُ مِنْهُ غَيْرُ مُمْكِنٍ.
Karena apa yang telah ditakdirkan pasti akan terjadi, dan
menghindar darinya tidaklah mungkin.
بِخِلَافِ
الطِّبِّ، فَإِنَّ الْحَاجَةَ مَاسَّةٌ إِلَيْهِ، وَأَكْثَرُ أَدِلَّتِهِ بِمَا
يُطَّلَعُ عَلَيْهِ.
Berbeda dengan ilmu kedokteran, karena kebutuhan terhadapnya
sangat mendesak, dan kebanyakan dalil-dalilnya dapat diamati.
وَبِخِلَافِ
التَّعْبِيرِ، وَإِنْ كَانَ تَخْمِينًا، لِأَنَّهُ جُزْءٌ مِنْ سِتَّةٍ
وَأَرْبَعِينَ جُزْءًا مِنَ النُّبُوَّةِ، وَلَا خَطَرَ فِيهِ.
Demikian pula berbeda dengan ilmu takwil mimpi. Meskipun ia
mengandung unsur perkiraan, ia merupakan satu bagian dari empat puluh enam
bagian kenabian, dan tidak ada bahaya di dalamnya.
السَّبَبُ
الثَّالِثُ: الْخَوْضُ فِي عِلْمٍ لَا يَسْتَفِيدُ الْخَائِضُ فِيهِ فَائِدَةَ
عِلْمٍ، فَهُوَ مَذْمُومٌ فِي حَقِّهِ.
Sebab ketiga ialah terlibat dalam ilmu yang tidak memberikan
manfaat ilmu kepada orang yang menekuninya; maka hal itu tercela baginya.
كَتَعَلُّمِ
دَقِيقِ الْعُلُومِ قَبْلَ جَلِيلِهَا، وَخَفِيِّهَا قَبْلَ جَلِيِّهَا.
Seperti mempelajari rincian ilmu yang halus sebelum
pokok-pokoknya yang besar, dan mempelajari yang tersembunyi sebelum yang jelas.
وَكَالْبَحْثِ
عَنِ الْأَسْرَارِ الْإِلٰهِيَّةِ، إِذْ يَطَّلِعُ الْفَلَاسِفَةُ
وَالْمُتَكَلِّمُونَ إِلَيْهَا، وَلَمْ يَسْتَقِلُّوا بِهَا، وَلَمْ يَسْتَقِلَّ
بِهَا وَبِالْوُقُوفِ عَلَى طُرُقِ بَعْضِهَا إِلَّا الْأَنْبِيَاءُ
وَالْأَوْلِيَاءُ.
Dan seperti meneliti rahasia-rahasia ilahiah, yang para
filsuf dan ahli kalam mencoba mengetahuinya, tetapi mereka tidak mampu berdiri
sendiri dalam hal itu. Bahkan tidak ada yang mampu berdiri sendiri dalam
memahami dan mengetahui jalan menuju sebagian darinya kecuali para nabi dan
wali.
فَيَجِبُ
كَفُّ النَّاسِ عَنِ الْبَحْثِ عَنْهَا، وَرَدُّهُمْ إِلَى مَا نَطَقَ بِهِ
الشَّرْعُ، فَفِي ذٰلِكَ مُقْنِعٌ لِلْمُوَفَّقِ.
Karena itu, manusia harus dicegah dari meneliti hal-hal
tersebut, dan dikembalikan kepada apa yang telah dinyatakan oleh syariat, sebab
di dalamnya telah terdapat kecukupan bagi orang yang diberi taufik.
فَكَمْ
مِنْ شَخْصٍ خَاضَ فِي الْعُلُومِ وَاسْتُضِرَّ بِهَا، وَلَوْ لَمْ يَخُضْ فِيهَا
لَكَانَ حَالُهُ أَحْسَنَ فِي الدِّينِ مِمَّا صَارَ إِلَيْهِ.
Betapa banyak orang yang tenggelam dalam ilmu-ilmu tertentu
lalu justru terkena mudarat karenanya. Seandainya ia tidak menekuninya, tentu
keadaan agamanya akan lebih baik daripada yang akhirnya ia alami.
وَلَا
يُنْكَرُ كَوْنُ الْعِلْمِ ضَارًّا لِبَعْضِ النَّاسِ، كَمَا يَضُرُّ لَحْمُ
الطَّيْرِ وَأَنْوَاعُ الْحَلْوَى اللَّطِيفَةِ بِالصَّبِيِّ الرَّضِيعِ.
Tidak dapat diingkari bahwa ilmu dapat membahayakan sebagian
orang, sebagaimana daging burung dan berbagai jenis makanan manis yang lembut
dapat membahayakan bayi yang masih menyusu.
بَلْ
رُبَّ شَخْصٍ يَنْفَعُهُ الْجَهْلُ بِبَعْضِ الْأُمُورِ.
Bahkan bisa jadi seseorang justru lebih baik bila tidak
mengetahui sebagian perkara.
فَلَقَدْ
حُكِيَ أَنَّ بَعْضَ النَّاسِ شَكَا إِلَى طَبِيبٍ عُقْمَ امْرَأَتِهِ وَأَنَّهَا
لَا تَلِدُ.
Dikisahkan bahwa seorang laki-laki mengadu kepada seorang
tabib tentang mandulnya istrinya dan bahwa ia tidak dapat melahirkan.
فَجَسَّ
الطَّبِيبُ نَبْضَهَا، وَقَالَ: لَا حَاجَةَ لَكَ إِلَى دَوَاءِ الْوِلَادَةِ،
فَإِنَّكِ سَتَمُوتِينَ إِلَى أَرْبَعِينَ يَوْمًا، وَقَدْ دَلَّ النَّبْضُ عَلَى
ذٰلِكَ.
Tabib itu memeriksa denyut nadinya lalu berkata, “Engkau
tidak memerlukan obat agar bisa melahirkan, karena engkau akan mati dalam empat
puluh hari, dan denyut nadi menunjukkan hal itu.”
فَاسْتَشْعَرَتِ
الْمَرْأَةُ الْخَوْفَ الْعَظِيمَ، وَتَنَغَّصَ عَلَيْهَا عَيْشُهَا، وَأَخْرَجَتْ
أَمْوَالَهَا وَفَرَّقَتْهَا، وَأَوْصَتْ، وَبَقِيَتْ لَا تَأْكُلُ وَلَا تَشْرَبُ
حَتَّى انْقَضَتِ الْمُدَّةُ فَلَمْ تَمُتْ.
Maka perempuan itu diliputi rasa takut yang sangat besar.
Hidupnya menjadi sempit, lalu ia mengeluarkan hartanya dan membagikannya,
berwasiat, dan terus hidup tanpa makan dan minum dengan baik hingga masa itu
berlalu, tetapi ternyata ia tidak mati.
فَجَاءَ
زَوْجُهَا إِلَى الطَّبِيبِ وَقَالَ لَهُ: لَمْ تَمُتْ.
Lalu suaminya datang kepada tabib itu dan berkata, “Ia tidak
mati.”
فَقَالَ
الطَّبِيبُ: قَدْ عَلِمْتُ ذٰلِكَ، فَجَامِعْهَا الْآنَ فَإِنَّهَا تَلِدُ.
Tabib itu menjawab, “Aku memang sudah tahu. Sekarang
gaulilah dia, karena ia akan melahirkan.”
فَقَالَ:
كَيْفَ ذٰلِكَ؟
Suaminya bertanya, “Bagaimana bisa begitu?”
قَالَ:
رَأَيْتُهَا سَمِينَةً، وَقَدِ انْعَقَدَ الشَّحْمُ عَلَى فَمِ رَحِمِهَا،
فَعَلِمْتُ أَنَّهَا لَا تَهْزَلُ إِلَّا بِخَوْفِ الْمَوْتِ، فَخَوَّفْتُهَا
بِذٰلِكَ حَتَّى هَزَلَتْ، وَزَالَ الْمَانِعُ مِنَ الْوِلَادَةِ.
Tabib itu menjawab, “Aku melihat tubuhnya gemuk dan lemak
telah menutup mulut rahimnya. Aku tahu bahwa ia tidak akan kurus kecuali jika
takut mati. Maka aku menakutinya dengan itu hingga ia menjadi kurus, dan
penghalang untuk melahirkan pun hilang.”
فَهٰذَا
يُنَبِّهُكَ عَلَى اسْتِشْعَارِ خَطَرِ بَعْضِ الْعُلُومِ، وَيُفْهِمُكَ مَعْنَى
قَوْلِهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: نَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ عِلْمٍ لَا
يَنْفَعُ.
Kisah ini menyadarkanmu akan bahaya sebagian ilmu, dan
menjelaskan kepadamu makna sabda Nabi ﷺ, “Kami berlindung kepada Allah dari ilmu
yang tidak bermanfaat.”
فَاعْتَبِرْ
بِهٰذِهِ الْحِكَايَةِ، وَلَا تَكُنْ بَحَّاثًا عَنْ عُلُومٍ ذَمَّهَا الشَّرْعُ
وَزَجَرَ عَنْهَا.
Maka ambillah pelajaran dari kisah ini, dan janganlah engkau
menjadi orang yang sangat gemar meneliti ilmu-ilmu yang dicela dan dilarang
oleh syariat.
وَلَازِمِ
الِاقْتِدَاءَ بِالصَّحَابَةِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ، وَاقْتَصِرْ عَلَى
اتِّبَاعِ السُّنَّةِ، فَالسَّلَامَةُ فِي الِاتِّبَاعِ، وَالْخَطَرُ فِي
الْبَحْثِ عَنِ الْأَشْيَاءِ وَالِاسْتِقْلَالِ.
Dan tetaplah mengikuti para sahabat radhiyallahu ‘anhum,
serta cukuplah bagimu mengikuti Sunnah. Keselamatan ada pada ittiba‘, sedangkan
bahaya ada pada terlalu jauh meneliti sesuatu dan merasa mampu berdiri sendiri.
وَلَا
تُكْثِرِ اللَّجَجَ بِرَأْيِكَ وَمَعْقُولِكَ وَدَلِيلِكَ وَبُرْهَانِكَ،
وَزَعْمِكَ أَنِّي أَبْحَثُ عَنِ الْأَشْيَاءِ لِأَعْرِفَهَا عَلَى مَا هِيَ
عَلَيْهِ، فَأَيُّ ضَرَرٍ فِي التَّفَكُّرِ فِي الْعِلْمِ؟
Janganlah engkau terlalu banyak berdebat dengan pendapatmu,
akalmu, dalilmu, bukti-buktimu, dan dengan anggapanmu, “Aku meneliti segala
sesuatu agar aku mengenalnya sebagaimana adanya. Apa bahayanya berpikir tentang
ilmu?”
فَإِنَّ
مَا يَعُودُ عَلَيْكَ مِنْ ضَرَرِهِ أَكْثَرُ.
Sesungguhnya bahaya yang kembali kepadamu darinya lebih
banyak.
وَكَمْ
مِنْ شَيْءٍ تَطَّلِعُ عَلَيْهِ فَيَضُرُّكَ اطِّلَاعُكَ عَلَيْهِ ضَرَرًا يَكَادُ
يُهْلِكُكَ فِي الْآخِرَةِ إِنْ لَمْ يَتَدَارَكْكَ اللَّهُ بِرَحْمَتِهِ.
Betapa banyak perkara yang bila engkau mengetahuinya,
pengetahuanmu tentangnya justru membahayakanmu dengan bahaya yang hampir
membinasakanmu di akhirat, jika Allah tidak segera menolongmu dengan
rahmat-Nya.
وَاعْلَمْ
أَنَّهُ كَمَا يَطَّلِعُ الطَّبِيبُ الْحَاذِقُ عَلَى أَسْرَارٍ فِي
الْمُعَالَجَاتِ يَسْتَبْعِدُهَا مَنْ لَا يَعْرِفُهَا، فَكَذٰلِكَ الْأَنْبِيَاءُ
أَطِبَّاءُ الْقُلُوبِ، وَالْعُلَمَاءُ بِأَسْبَابِ الْحَيَاةِ الْأُخْرَوِيَّةِ.
Ketahuilah, sebagaimana seorang dokter ahli mengetahui
rahasia-rahasia dalam pengobatan yang dianggap aneh oleh orang yang tidak
mengenalnya, demikian pula para nabi adalah dokter hati dan orang-orang yang
paling mengetahui sebab-sebab kehidupan akhirat.
فَلَا
تَتَحَكَّمْ عَلَى سُنَنِهِمْ بِمَعْقُولِكَ فَتَهْلِكَ.
Maka janganlah engkau menghakimi sunnah-sunnah mereka dengan
akalmu sendiri, nanti engkau binasa.
فَكَمْ
مِنْ شَخْصٍ يُصِيبُهُ عَارِضٌ فِي أُصْبُعِهِ، فَيَقْتَضِي عَقْلُهُ أَنْ
يَطْلِيَهُ، حَتَّى يُنَبِّهَهُ الطَّبِيبُ الْحَاذِقُ أَنَّ عِلَاجَهُ أَنْ
يُطْلَى الْكَفُّ مِنَ الْجَانِبِ الْآخَرِ مِنَ الْبَدَنِ.
Betapa banyak orang yang mengalami gangguan pada salah satu
jarinya, lalu akalnya menuntut agar jari itulah yang diobati dengan baluran,
hingga seorang dokter ahli memberi tahu bahwa pengobatannya justru dengan
membalur telapak tangan pada sisi tubuh yang lain.
فَيَسْتَبْعِدُ
ذٰلِكَ غَايَةَ الِاسْتِبْعَادِ، مِنْ حَيْثُ لَا يَعْلَمُ كَيْفِيَّةَ انْشِعَابِ
الْأَعْصَابِ وَمَنَابِتِهَا وَوَجْهَ الْتِفَافِهَا عَلَى الْبَدَنِ.
Ia akan menganggap itu sangat jauh dari masuk akal, karena
ia tidak mengetahui bagaimana saraf-saraf bercabang, dari mana asal tumbuhnya,
dan bagaimana arah perjalinannya pada tubuh.
فَهٰكَذَا
الْأَمْرُ فِي طَرِيقِ الْآخِرَةِ، وَفِي دَقَائِقِ سُنَنِ الشَّرْعِ وَآدَابِهِ،
وَفِي عَقَائِدِهِ الَّتِي تُعُبِّدَ النَّاسُ بِهَا، أَسْرَارٌ وَلَطَائِفُ
لَيْسَتْ فِي سَعَةِ الْعَقْلِ وَقُوَّتِهِ الْإِحَاطَةُ بِهَا.
Demikian pula urusan jalan akhirat, rincian sunnah syariat
dan adab-adabnya, serta akidah-akidah yang manusia dibebani untuk meyakininya,
semuanya mengandung rahasia dan kelembutan makna yang tidak dapat dijangkau
sepenuhnya oleh keluasan dan kekuatan akal.
كَمَا
أَنَّ فِي خَوَاصِّ الْأَحْجَارِ أُمُورًا عَجَائِبَ غَابَ عَنْ أَهْلِ
الصَّنْعَةِ عِلْمُهَا، حَتَّى لَمْ يَقْدِرْ أَحَدٌ عَلَى أَنْ يَعْرِفَ
السَّبَبَ الَّذِي بِهِ يَجْذِبُ الْمِغْنَاطِيسُ الْحَدِيدَ.
Sebagaimana pada sifat-sifat khusus batu terdapat
perkara-perkara menakjubkan yang tidak diketahui bahkan oleh para ahli, sampai
tidak ada seorang pun yang mampu mengetahui sebab mengapa magnet menarik besi.
فَالْعَجَائِبُ
وَالْغَرَائِبُ فِي الْعَقَائِدِ وَالْأَعْمَالِ، وَإِفَادَتِهَا لِصَفَاءِ
الْقُلُوبِ وَنَقَائِهَا وَطَهَارَتِهَا وَتَزْكِيَتِهَا وَإِصْلَاحِهَا
لِلتَّرَقِّي إِلَى جِوَارِ اللَّهِ تَعَالَى، وَتَعَرُّضِهَا لِنَفَحَاتِ
فَضْلِهِ، أَكْثَرُ وَأَعْظَمُ مِمَّا فِي الْأَدْوِيَةِ وَالْعَقَاقِيرِ.
Maka keajaiban dan hal-hal yang menakjubkan dalam akidah dan
amal, serta pengaruhnya dalam menjernihkan, memurnikan, membersihkan,
menyucikan, dan memperbaiki hati agar naik mendekat ke sisi Allah Ta‘ala dan
siap menerima hembusan karunia-Nya, jauh lebih banyak dan lebih agung daripada
apa yang terdapat dalam obat-obatan dan ramuan.
وَكَمَا
أَنَّ الْعُقُولَ تَقْصُرُ عَنْ إِدْرَاكِ مَنَافِعِ الْأَدْوِيَةِ، مَعَ أَنَّ
التَّجْرِبَةَ سَبِيلٌ إِلَيْهَا، فَالْعُقُولُ تَقْصُرُ عَنْ إِدْرَاكِ مَا
يَنْفَعُ فِي حَيَاةِ الْآخِرَةِ، مَعَ أَنَّ التَّجْرِبَةَ غَيْرُ مُتَطَرِّقَةٍ
إِلَيْهَا.
Sebagaimana akal tidak mampu sepenuhnya memahami manfaat
obat-obatan, padahal pengalaman dapat mengarah kepadanya, maka akal lebih tidak
mampu lagi memahami apa yang bermanfaat bagi kehidupan akhirat, padahal
pengalaman tidak dapat menjangkau hal itu.
وَإِنَّمَا
كَانَتِ التَّجْرِبَةُ تَتَطَرَّقُ إِلَيْهَا لَوْ رَجَعَ إِلَيْنَا بَعْضُ
الْأَمْوَاتِ، فَأَخْبَرَنَا عَنِ الْأَعْمَالِ الْمَقْبُولَةِ النَّافِعَةِ
الْمُقَرِّبَةِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى زُلْفَى، وَعَنِ الْأَعْمَالِ
الْمُبْعِدَةِ عَنْهُ، وَكَذٰلِكَ عَنِ الْعَقَائِدِ، وَذٰلِكَ مِمَّا لَا
يُطْمَعُ فِيهِ.
Pengalaman hanya mungkin menjangkau perkara akhirat
seandainya ada orang mati yang kembali kepada kita lalu memberitahukan tentang
amal-amal yang diterima, bermanfaat, dan mendekatkan kepada Allah Ta‘ala, serta
amal-amal yang menjauhkan dari-Nya, demikian pula tentang akidah-akidah. Dan
hal seperti itu tidak mungkin diharapkan.
فَيَكْفِيكَ
مِنْ مَنْفَعَةِ الْعَقْلِ أَنْ يَهْدِيَكَ إِلَى صِدْقِ النَّبِيِّ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَيُفَهِّمَكَ مَوَارِدَ إِشَارَاتِهِ.
Maka cukuplah bagimu dari manfaat akal bahwa ia
menunjukkanmu kepada kebenaran Nabi ﷺ dan membuatmu memahami arah isyarat-isyarat beliau.
فَاعْزِلِ
الْعَقْلَ بَعْدَ ذٰلِكَ عَنِ التَّصَرُّفِ، وَلَازِمِ الِاتِّبَاعَ، فَلَا
تَسْلَمُ إِلَّا بِهِ، وَالسَّلَامُ.
Setelah itu, hentikanlah campur tangan akal dalam hal-hal
tersebut, dan tetaplah mengikuti. Engkau tidak akan selamat kecuali dengannya.
Itulah keselamatan.
وَلِذٰلِكَ
قَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنَّ مِنَ الْعِلْمِ جَهْلًا، وَإِنَّ
مِنَ الْقَوْلِ عِيًّا.
Karena itulah Nabi ﷺ bersabda, “Sesungguhnya sebagian ilmu
adalah kebodohan, dan sebagian ucapan adalah ketidakmampuan.”
وَمَعْلُومٌ
أَنَّ الْعِلْمَ لَا يَكُونُ جَهْلًا، وَلٰكِنَّهُ يُؤَثِّرُ تَأْثِيرَ الْجَهْلِ
فِي الْإِضْرَارِ.
Sudah diketahui bahwa ilmu pada dirinya bukan kebodohan,
tetapi terkadang ia memberi pengaruh seperti kebodohan dalam hal menimbulkan
bahaya.
وَقَالَ
أَيْضًا صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: قَلِيلٌ مِنَ التَّوْفِيقِ خَيْرٌ
مِنْ كَثِيرٍ مِنَ الْعِلْمِ.
Dan beliau ﷺ
juga bersabda, “Sedikit taufik lebih baik daripada banyak ilmu.”
وَقَالَ
عِيسَى عَلَيْهِ السَّلَامُ: مَا أَكْثَرَ الشَّجَرَ وَلَيْسَ كُلُّهَا
بِمُثْمِرٍ، وَلَيْسَ كُلُّهَا بِطَيِّبٍ، وَمَا أَكْثَرَ الْعُلُومَ وَلَيْسَ
كُلُّهَا بِنَافِعٍ.
Dan Isa ‘alaihis-salam berkata, “Betapa banyak pohon, tetapi
tidak semuanya berbuah, dan tidak semuanya baik. Betapa banyak ilmu, tetapi
tidak semuanya bermanfaat.”