Adab-Adab Ihram Dari Miqat Sampai Memasuki Makkah
اَلْجُمْلَةُ الثَّانِيَةُ فِي آدَابِ الْإِحْرَامِ مِنَ الْمِيقَاتِ إِلَى دُخُولِ مَكَّةَ.
Bagian kedua tentang adab-adab ihram dari miqat sampai memasuki Makkah.
وَهِيَ
خَمْسَةٌ.
Bagian ini terdiri atas lima perkara.
الْأَوَّلُ
أَنْ يَغْتَسِلَ وَيَنْوِيَ بِهِ غُسْلَ الْإِحْرَامِ، أَعْنِي إِذَا انْتَهَى
إِلَى الْمِيقَاتِ الْمَشْهُورِ الَّذِي يُحْرِمُ النَّاسُ مِنْهُ.
Yang pertama, hendaknya ia mandi dan meniatkan mandi itu sebagai mandi ihram,
yaitu ketika ia telah sampai di miqat yang dikenal, tempat manusia berihram
darinya.
وَيُتِمَّ
غُسْلَهُ بِالتَّنْظِيفِ، وَيُسَرِّحَ لِحْيَتَهُ وَرَأْسَهُ، وَيُقَلِّمَ
أَظْفَارَهُ، وَيُقُصَّ شَارِبَهُ، وَيَسْتَكْمِلَ النَّظَافَةَ الَّتِي
ذَكَرْنَاهَا فِي الطَّهَارَةِ.
Dan hendaknya ia menyempurnakan mandinya dengan membersihkan diri, menyisir
janggut dan rambut kepalanya, memotong kuku-kukunya, memendekkan kumisnya, dan
menyempurnakan kebersihan yang telah kami sebutkan dalam bab thaharah.
الثَّانِي
أَنْ يُفَارِقَ الثِّيَابَ الْمَخِيطَةَ، وَيَلْبَسَ ثَوْبَيِ الْإِحْرَامِ،
فَيَرْتَدِي وَيَتَّزِرَ بِثَوْبَيْنِ أَبْيَضَيْنِ.
Yang kedua, hendaknya ia meninggalkan pakaian berjahit dan memakai dua helai
kain ihram, yaitu berselendang dan berkain dengan dua kain putih.
فَالْأَبْيَضُ
هُوَ أَحَبُّ الثِّيَابِ إِلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ.
Sebab warna putih adalah pakaian yang paling dicintai oleh Allah عز وجل.
وَيَتَطَيَّبُ
فِي ثِيَابِهِ وَبَدَنِهِ، وَلَا بَأْسَ بِطِيبٍ يَبْقَى جِرْمُهُ بَعْدَ
الْإِحْرَامِ.
Dan hendaknya ia memakai wewangian pada pakaian dan badannya. Tidak mengapa
apabila bekas zat wewangian itu masih tertinggal setelah ihram.
فَقَدْ
رُئِيَ بَعْضُ الْمِسْكِ عَلَى مَفْرِقِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ بَعْدَ الْإِحْرَامِ، مِمَّا كَانَ اسْتَعْمَلَهُ قَبْلَ الْإِحْرَامِ.
Karena pernah terlihat sisa minyak kasturi di belahan rambut Rasulullah saw.
setelah beliau berihram, yaitu dari wewangian yang beliau pakai sebelum ihram.
الثَّالِثُ
أَنْ يَصْبِرَ بَعْدَ لُبْسِ الثِّيَابِ حَتَّى تَنْبَعِثَ بِهِ رَاحِلَتُهُ إِنْ
كَانَ رَاكِبًا، أَوْ يَبْدَأَ بِالسَّيْرِ إِنْ كَانَ رَاجِلًا.
Yang ketiga, hendaknya ia menunggu setelah memakai pakaian ihram sampai
tunggangannya mulai berjalan jika ia berkendaraan, atau sampai ia mulai
berjalan jika ia berjalan kaki.
فَعِنْدَ
ذَلِكَ يَنْوِي الْإِحْرَامَ بِالْحَجِّ أَوْ بِالْعُمْرَةِ، قِرَانًا أَوْ
إِفْرَادًا، كَمَا أَرَادَ.
Pada saat itulah ia berniat ihram untuk haji atau umrah, baik dengan cara qiran
maupun ifrad, sesuai dengan yang ia kehendaki.
وَيَكْفِي
مُجَرَّدُ النِّيَّةِ لِانْعِقَادِ الْإِحْرَامِ.
Niat semata sudah cukup untuk terjadinya ihram.
وَلَكِنِ
السُّنَّةُ أَنْ يَقْرِنَ بِالنِّيَّةِ لَفْظَ التَّلْبِيَةِ.
Akan tetapi, yang sunah ialah mengiringi niat itu dengan lafaz talbiyah.
فَيَقُولَ:
لَبَّيْكَ اللَّهُمَّ لَبَّيْكَ، لَبَّيْكَ لَا شَرِيكَ لَكَ لَبَّيْكَ، إِنَّ
الْحَمْدَ وَالنِّعْمَةَ لَكَ وَالْمُلْكَ، لَا شَرِيكَ لَكَ.
Lalu ia mengucapkan: “Labbaikallāhumma labbaik, labbaika lā syarīka laka
labbaik, innal-hamda wan-ni‘mata laka wal-mulk, lā syarīka lak.”
وَإِنْ
زَادَ قَالَ: لَبَّيْكَ وَسَعْدَيْكَ، وَالْخَيْرُ كُلُّهُ بِيَدَيْكَ،
وَالرَّغْبَاءُ إِلَيْكَ، لَبَّيْكَ بِحَجَّةٍ حَقًّا تَعَبُّدًا وَرِقًّا،
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ.
Dan jika ia menambah, ia mengucapkan: “Labbaika wa sa‘daik, wal-khairu kulluhu
biyadaik, war-raghbā’u ilaik, labbaika bihajjah haqqan ta‘abbudan wa riqqan,
allāhumma shalli ‘alā Muhammad wa ‘alā āli Muhammad.”
Artinya: “Aku penuhi panggilan-Mu dan aku bahagiakan diri dalam ketaatan
kepada-Mu. Segala kebaikan seluruhnya berada di tangan-Mu, segala harapan
tertuju kepada-Mu. Aku penuhi panggilan-Mu dengan haji yang benar, sebagai
ibadah dan penghambaan. Ya Allah, limpahkanlah salawat kepada Muhammad dan keluarga
Muhammad.”
الرَّابِعُ
إِذَا انْعَقَدَ إِحْرَامُهُ بِالتَّلْبِيَةِ الْمَذْكُورَةِ فَيُسْتَحَبُّ أَنْ
يَقُولَ: اللَّهُمَّ إِنِّي أُرِيدُ الْحَجَّ فَيَسِّرْهُ لِي، وَأَعِنِّي عَلَى
أَدَاءِ فَرْضِهِ، وَتَقَبَّلْهُ مِنِّي.
Yang keempat, apabila ihramnya telah sah dengan talbiyah yang disebutkan tadi,
maka disunahkan baginya untuk mengucapkan: “Ya Allah, sesungguhnya aku hendak
menunaikan haji, maka mudahkanlah ia bagiku, bantulah aku untuk menunaikan
kewajibannya, dan terimalah ia dariku.”
اللَّهُمَّ
إِنِّي نَوَيْتُ أَدَاءَ فَرِيضَتِكَ فِي الْحَجِّ، فَاجْعَلْنِي مِنَ الَّذِينَ
اسْتَجَابُوا لَكَ، وَآمَنُوا بِوَعْدِكَ، وَاتَّبَعُوا أَمْرَكَ.
“Ya Allah, sesungguhnya aku berniat menunaikan kewajiban-Mu dalam haji, maka
jadikanlah aku termasuk orang-orang yang memenuhi panggilan-Mu, beriman kepada
janji-Mu, dan mengikuti perintah-Mu.”
وَاجْعَلْنِي
مِنْ وَفْدِكَ الَّذِينَ رَضِيتَ عَنْهُمْ وَارْتَضَيْتَ، وَقَبِلْتَ مِنْهُمْ.
“Dan jadikanlah aku termasuk tamu-tamu-Mu yang Engkau ridhai, Engkau pilih, dan
Engkau terima amal mereka.”
اللَّهُمَّ
فَيَسِّرْ لِي أَدَاءَ مَا نَوَيْتُ مِنَ الْحَجِّ.
“Ya Allah, mudahkanlah bagiku pelaksanaan haji yang telah aku niatkan.”
اللَّهُمَّ
قَدْ أَحْرَمَ لَكَ لَحْمِي وَشَعْرِي وَدَمِي وَعَصَبِي وَمُخِّي وَعِظَامِي.
“Ya Allah, sungguh demi-Mu dagingku, rambutku, darahku, uratku, sumsumsumku,
dan tulang-tulangku telah masuk dalam ihram.”
وَحَرَّمْتُ
عَلَى نَفْسِي النِّسَاءَ وَالطِّيبَ وَلُبْسَ الْمَخِيطِ، ابْتِغَاءَ وَجْهِكَ
وَالدَّارِ الْآخِرَةِ.
“Dan aku haramkan atas diriku perempuan, wewangian, dan pakaian berjahit, demi
mencari wajah-Mu dan negeri akhirat.”
وَمِنْ
وَقْتِ الْإِحْرَامِ حَرُمَ عَلَيْهِ الْمَحْظُورَاتُ السِّتَّةُ الَّتِي
ذَكَرْنَاهَا مِنْ قَبْلُ، فَلْيَجْتَنِبْهَا.
Sejak waktu ihram itu, haramlah atasnya enam larangan yang telah kami sebutkan
sebelumnya. Maka hendaklah ia menjauhinya.
الْخَامِسُ
يُسْتَحَبُّ تَجْدِيدُ التَّلْبِيَةِ فِي دَوَامِ الْإِحْرَامِ، خُصُوصًا عِنْدَ
اصْطِدَامِ الرِّفَاقِ، وَعِنْدَ اجْتِمَاعِ النَّاسِ، وَعِنْدَ كُلِّ صُعُودٍ
وَهُبُوطٍ، وَعِنْدَ كُلِّ رُكُوبٍ وَنُزُولٍ.
Yang kelima, disunahkan untuk memperbarui talbiyah selama masih dalam keadaan
ihram, terutama ketika bertemu dengan para rombongan, ketika orang-orang
berkumpul, ketika setiap naik dan turun, serta ketika setiap kali naik
kendaraan dan turun darinya.
رَافِعًا
بِهَا صَوْتَهُ بِحَيْثُ لَا يُبَحُّ حَلْقُهُ وَلَا يَنْبَهِرُ.
Dengan mengeraskan suaranya ketika bertalbiyah, tetapi tidak sampai membuat
tenggorokannya serak dan tidak pula membuatnya terengah-engah.
فَإِنَّهُ
لَا يُنَادِي أَصَمَّ وَلَا غَائِبًا، كَمَا وَرَدَ فِي الْخَبَرِ.
Karena sesungguhnya ia tidak sedang memanggil zat yang tuli dan tidak pula yang
jauh, sebagaimana disebutkan dalam hadis.
وَلَا
بَأْسَ بِرَفْعِ الصَّوْتِ بِالتَّلْبِيَةِ فِي الْمَسَاجِدِ الثَّلَاثَةِ،
فَإِنَّهَا مَظِنَّةُ الْمَنَاسِكِ، أَعْنِي الْمَسْجِدَ الْحَرَامَ وَمَسْجِدَ
الْخَيْفِ وَمَسْجِدَ الْمِيقَاتِ.
Tidak mengapa mengeraskan suara dengan talbiyah di tiga masjid, karena
tempat-tempat itu merupakan tempat manasik, yaitu Masjidil Haram, Masjid
al-Khaif, dan masjid miqat.
وَأَمَّا
سَائِرُ الْمَسَاجِدِ فَلَا بَأْسَ فِيهَا بِالتَّلْبِيَةِ مِنْ غَيْرِ رَفْعِ
صَوْتٍ.
Adapun di masjid-masjid selain itu, tidak mengapa bertalbiyah di dalamnya tanpa
meninggikan suara.
وَكَانَ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا أَعْجَبَهُ شَيْءٌ قَالَ: لَبَّيْكَ،
إِنَّ الْعَيْشَ عَيْشُ الْآخِرَةِ.
Dan Nabi saw., apabila ada sesuatu yang mengagumkannya, beliau mengucapkan:
“Labbaik, sesungguhnya kehidupan yang sesungguhnya adalah kehidupan akhirat.”