Adab-Adab Memasuki Makkah Sampai Thawaf
اَلْجُمْلَةُ الثَّالِثَةُ فِي آدَابِ دُخُولِ مَكَّةَ إِلَى الطَّوَافِ.
Bagian ketiga tentang adab-adab memasuki Makkah sampai thawaf.
وَهِيَ
سِتَّةٌ.
Bagian ini terdiri atas enam perkara.
الْأَوَّلُ
أَنْ يَغْتَسِلَ بِذِي طُوًى لِدُخُولِ مَكَّةَ.
Yang pertama, hendaknya ia mandi di Dzi Tuwa untuk memasuki Makkah.
وَالِاغْتِسَالَاتُ
الْمُسْتَحَبَّةُ الْمَسْنُونَةُ فِي الْحَجِّ تِسْعَةٌ.
Mandi-mandi yang dianjurkan dan disunahkan dalam haji ada sembilan.
الْأَوَّلُ
لِلْإِحْرَامِ مِنَ الْمِيقَاتِ.
Yang pertama ialah mandi untuk ihram dari miqat.
ثُمَّ
لِدُخُولِ مَكَّةَ.
Kemudian mandi untuk memasuki Makkah.
ثُمَّ
لِطَوَافِ الْقُدُومِ.
Kemudian mandi untuk thawaf qudum.
ثُمَّ
لِلْوُقُوفِ بِعَرَفَةَ.
Kemudian mandi untuk wuquf di Arafah.
ثُمَّ
لِلْوُقُوفِ بِمُزْدَلِفَةَ.
Kemudian mandi untuk hadir di Muzdalifah.
ثُمَّ
ثَلَاثَةُ أَغْسَالٍ لِرَمْيِ الْجِمَارِ الثَّلَاثِ.
Kemudian tiga kali mandi untuk melempar tiga jumrah.
وَلَا
غُسْلَ لِرَمْيِ جَمْرَةِ الْعَقَبَةِ.
Dan tidak ada mandi khusus untuk melempar Jumrah Aqabah.
ثُمَّ
لِطَوَافِ الْوَدَاعِ.
Kemudian mandi untuk thawaf wada’.
وَلَمْ
يَرَ الشَّافِعِيُّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ فِي الْجَدِيدِ الْغُسْلَ لِطَوَافِ
الزِّيَارَةِ وَلِطَوَافِ الْوَدَاعِ، فَتَعُودُ إِلَى سَبْعَةٍ.
Imam Syafi’i رضي
الله عنه dalam qaul jadid tidak memandang adanya mandi untuk thawaf
ziarah dan thawaf wada’, sehingga jumlahnya kembali menjadi tujuh.
الثَّانِي
أَنْ يَقُولَ عِنْدَ الدُّخُولِ فِي أَوَّلِ الْحَرَمِ، وَهُوَ خَارِجُ مَكَّةَ:
اللَّهُمَّ هَذَا حَرَمُكَ وَأَمْنُكَ، فَحَرِّمْ لَحْمِي وَدَمِي وَشَعْرِي
وَبَشَرِي عَلَى النَّارِ، وَآمِنِّي مِنْ عَذَابِكَ يَوْمَ تَبْعَثُ عِبَادَكَ،
وَاجْعَلْنِي مِنْ أَوْلِيَائِكَ وَأَهْلِ طَاعَتِكَ.
Yang kedua, hendaknya ketika memasuki awal wilayah tanah haram, yaitu di luar
Makkah, ia mengucapkan: “Ya Allah, ini adalah tanah haram-Mu dan tanah aman-Mu.
Maka haramkanlah dagingku, darahku, rambutku, dan kulitku dari api neraka.
Amankanlah aku dari azab-Mu pada hari Engkau membangkitkan hamba-hamba-Mu, dan
jadikanlah aku termasuk para wali-Mu dan ahli ketaatan kepada-Mu.”
الثَّالِثُ
أَنْ يَدْخُلَ مَكَّةَ مِنْ جَانِبِ الْأَبْطَحِ، وَهُوَ ثَنِيَّةُ كَدَاءَ
بِفَتْحِ الْكَافِ.
Yang ketiga, hendaknya ia memasuki Makkah dari arah al-Abthah, yaitu Tsaniyyah
Kada’ dengan fathah pada huruf kaf.
عَدَلَ
رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ جَادَّةِ الطَّرِيقِ
إِلَيْهَا، فَالتَّأَسِّي بِهِ أَوْلَى.
Rasulullah saw. telah berbelok dari jalan utama menuju arah itu, maka
meneladaninya lebih utama.
وَإِذَا
خَرَجَ خَرَجَ مِنْ ثَنِيَّةِ كُدًى بِضَمِّ الْكَافِ، وَهِيَ الثَّنِيَّةُ
السُّفْلَى، وَالْأُولَى هِيَ الْعُلْيَا.
Dan apabila ia keluar dari Makkah, hendaknya ia keluar melalui Tsaniyyah Kuda
dengan dhammah pada huruf kaf. Itulah jalan menurun, sedangkan yang pertama
adalah jalan yang lebih tinggi.
الرَّابِعُ
إِذَا دَخَلَ مَكَّةَ وَانْتَهَى إِلَى رَأْسِ الرَّدْمِ، فَعِنْدَهُ يَقَعُ
بَصَرُهُ عَلَى الْبَيْتِ.
Yang keempat, apabila ia telah masuk ke Makkah dan sampai di Ra’s ar-Radm, maka
pada saat itu pandangannya akan jatuh kepada Baitullah.
فَلْيَقُلْ:
لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ.
Maka hendaklah ia mengucapkan: “Tidak ada tuhan selain Allah, dan Allah
Mahabesar.”
اللَّهُمَّ
أَنْتَ السَّلَامُ وَمِنْكَ السَّلَامُ وَدَارُكَ دَارُ السَّلَامِ، تَبَارَكْتَ
يَا ذَا الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ.
“Ya Allah, Engkaulah Yang Maha Sejahtera, dari-Mulah kesejahteraan, dan
negeri-Mu adalah negeri keselamatan. Mahasuci dan Mahaberkah Engkau, wahai
Pemilik keagungan dan kemuliaan.”
اللَّهُمَّ
إِنَّ هَذَا بَيْتُكَ، عَظَّمْتَهُ وَكَرَّمْتَهُ وَشَرَّفْتَهُ.
“Ya Allah, sesungguhnya ini adalah rumah-Mu. Engkau telah membesarkannya,
memuliakannya, dan memuliakannya dengan kehormatan.”
اللَّهُمَّ
فَزِدْهُ تَعْظِيمًا، وَزِدْهُ تَشْرِيفًا وَتَكْرِيمًا، وَزِدْهُ مَهَابَةً.
“Ya Allah, maka tambahkanlah baginya kemuliaan, tambahkanlah baginya kehormatan
dan pemuliaan, dan tambahkanlah baginya kewibawaan.”
وَزِدْ
مَنْ حَجَّهُ بِرًّا وَكَرَامَةً.
“Dan tambahkanlah kebaikan dan kemuliaan bagi orang yang menghajinya.”
اللَّهُمَّ
افْتَحْ لِي أَبْوَابَ رَحْمَتِكَ، وَأَدْخِلْنِي جَنَّتَكَ، وَأَعِذْنِي مِنَ
الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ.
“Ya Allah, bukakanlah bagiku pintu-pintu rahmat-Mu, masukkanlah aku ke dalam
surga-Mu, dan lindungilah aku dari setan yang terkutuk.”
الْخَامِسُ
إِذَا دَخَلَ الْمَسْجِدَ الْحَرَامَ فَلْيَدْخُلْ مِنْ بَابِ بَنِي شَيْبَةَ.
Yang kelima, apabila ia memasuki Masjidil Haram, hendaknya ia masuk melalui
pintu Bani Syaibah.
وَلْيَقُلْ:
بِسْمِ اللَّهِ وَبِاللَّهِ وَمِنَ اللَّهِ وَإِلَى اللَّهِ وَفِي سَبِيلِ اللَّهِ
وَعَلَى مِلَّةِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.
Dan hendaknya ia mengucapkan: “Dengan nama Allah, dengan pertolongan Allah,
dari Allah, menuju Allah, di jalan Allah, dan di atas agama Rasulullah saw.”
فَإِذَا
قَرُبَ مِنَ الْبَيْتِ قَالَ: الْحَمْدُ لِلَّهِ، وَسَلَامٌ عَلَى عِبَادِهِ
الَّذِينَ اصْطَفَى.
Apabila ia telah mendekati Baitullah, ia mengucapkan: “Segala puji bagi Allah,
dan salam atas hamba-hamba-Nya yang telah Dia pilih.”
اللَّهُمَّ
صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ عَبْدِكَ وَرَسُولِكَ، وَعَلَى إِبْرَاهِيمَ خَلِيلِكَ،
وَعَلَى جَمِيعِ أَنْبِيَائِكَ وَرُسُلِكَ.
“Ya Allah, limpahkanlah salawat kepada Muhammad, hamba-Mu dan rasul-Mu, kepada
Ibrahim, kekasih-Mu, dan kepada seluruh nabi serta rasul-Mu.”
وَلْيَرْفَعْ
يَدَيْهِ وَلْيَقُلْ: اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ فِي مَقَامِي هَذَا فِي
أَوَّلِ مَنَاسِكِي أَنْ تَتَقَبَّلَ تَوْبَتِي، وَأَنْ تَتَجَاوَزَ عَنْ
خَطِيئَتِي، وَتَضَعَ عَنِّي وِزْرِي.
Dan hendaknya ia mengangkat kedua tangannya lalu mengucapkan: “Ya Allah,
sesungguhnya aku memohon kepada-Mu pada tempatku ini, pada awal manasikku ini,
agar Engkau menerima tobatku, memaafkan kesalahanku, dan meringankan bebanku.”
الْحَمْدُ
لِلَّهِ الَّذِي بَلَّغَنِي بَيْتَهُ الْحَرَامَ، الَّذِي جَعَلَهُ مَثَابَةً
لِلنَّاسِ وَأَمْنًا، وَجَعَلَهُ مُبَارَكًا وَهُدًى لِلْعَالَمِينَ.
“Segala puji bagi Allah yang telah menyampaikan aku ke rumah-Nya yang suci,
yang Dia jadikan sebagai tempat kembali bagi manusia dan tempat yang aman, dan
Dia jadikan penuh berkah serta petunjuk bagi semesta alam.”
اللَّهُمَّ
إِنِّي عَبْدُكَ، وَالْبَلَدُ بَلَدُكَ، وَالْحَرَمُ حَرَمُكَ، وَالْبَيْتُ
بَيْتُكَ.
“Ya Allah, sesungguhnya aku adalah hamba-Mu, negeri ini adalah negeri-Mu, tanah
haram ini adalah tanah haram-Mu, dan rumah ini adalah rumah-Mu.”
جِئْتُكَ
أَطْلُبُ رَحْمَتَكَ، وَأَسْأَلُكَ مَسْأَلَةَ الْمُضْطَرِّ الْخَائِفِ مِنْ
عُقُوبَتِكَ، الرَّاجِي لِرَحْمَتِكَ، الطَّالِبِ مَرْضَاتِكَ.
“Aku datang kepada-Mu untuk mencari rahmat-Mu, dan aku memohon kepada-Mu
sebagaimana permohonan orang yang terdesak, yang takut akan hukuman-Mu, yang
mengharap rahmat-Mu, dan yang mencari keridaan-Mu.”
السَّادِسُ
أَنْ تَقْصِدَ الْحَجَرَ الْأَسْوَدَ بَعْدَ ذَلِكَ، وَتَمَسَّهُ بِيَدِكَ
الْيُمْنَى وَتُقَبِّلَهُ.
Yang keenam, setelah itu hendaknya engkau menuju Hajar Aswad, menyentuhnya
dengan tangan kananmu, dan menciumnya.
وَتَقُولَ:
اللَّهُمَّ أَمَانَتِي أَدَّيْتُهَا، وَمِيثَاقِي وَفَّيْتُهُ، اشْهَدْ لِي
بِالْمُوَافَاةِ.
Dan engkau mengucapkan: “Ya Allah, amanahku telah aku tunaikan, janjiku telah
aku penuhi, maka saksikanlah untukku dengan kesetiaan.”
فَإِنْ
لَمْ يَسْتَطِعِ التَّقْبِيلَ وَقَفَ فِي مُقَابَلَتِهِ وَيَقُولُ ذَلِكَ.
Jika ia tidak mampu menciumnya, maka ia berdiri di hadapannya dan mengucapkan
doa itu.
ثُمَّ
لَا يُعَرِّجُ عَلَى شَيْءٍ دُونَ الطَّوَافِ، وَهُوَ طَوَافُ الْقُدُومِ.
Kemudian ia tidak menyibukkan diri dengan sesuatu pun sebelum thawaf, yaitu
thawaf qudum.
إِلَّا
أَنْ يَجِدَ النَّاسَ فِي الْمَكْتُوبَةِ، فَيُصَلِّيَ مَعَهُمْ، ثُمَّ يَطُوفُ.
Kecuali jika ia mendapati orang-orang sedang melaksanakan salat fardu, maka ia
salat bersama mereka terlebih dahulu, kemudian baru thawaf.