Thawaf
اَلْجُمْلَةُ الرَّابِعَةُ فِي الطَّوَافِ.
Bagian keempat tentang thawaf.
فَإِذَا
أَرَادَ افْتِتَاحَ الطَّوَافِ، إِمَّا لِلْقُدُومِ وَإِمَّا لِغَيْرِهِ،
فَيَنْبَغِي أَنْ يُرَاعِيَ أُمُورًا سِتَّةً.
Apabila seseorang hendak memulai thawaf, baik thawaf qudum maupun thawaf yang
lain, maka hendaklah ia memperhatikan enam perkara.
الْأَوَّلُ
أَنْ يُرَاعِيَ شُرُوطَ الصَّلَاةِ مِنْ طَهَارَةِ الْحَدَثِ وَالْخَبَثِ فِي
الثَّوْبِ وَالْبَدَنِ وَالْمَكَانِ وَسَتْرِ الْعَوْرَةِ.
Yang pertama, hendaknya ia memperhatikan syarat-syarat salat, yaitu suci dari
hadas dan najis pada pakaian, badan, dan tempat, serta menutup aurat.
فَالطَّوَافُ
بِالْبَيْتِ صَلَاةٌ، وَلَكِنَّ اللَّهَ سُبْحَانَهُ أَبَاحَ فِيهِ الْكَلَامَ.
Sebab thawaf di Baitullah itu seperti salat, hanya saja Allah سبحانه membolehkan berbicara
di dalamnya.
وَلْيَضْطَبِعْ
قَبْلَ ابْتِدَاءِ الطَّوَافِ.
Dan hendaknya ia melakukan idhthiba’ sebelum memulai thawaf.
وَهُوَ
أَنْ يَجْعَلَ وَسَطَ رِدَائِهِ تَحْتَ إِبِطِهِ الْيُمْنَى، وَيَجْمَعَ
طَرَفَيْهِ عَلَى مَنْكِبِهِ الْأَيْسَرِ، فَيُرْخِيَ طَرَفًا وَرَاءَ ظَهْرِهِ
وَطَرَفًا عَلَى صَدْرِهِ.
Yaitu dengan meletakkan bagian tengah selendangnya di bawah ketiak kanan, lalu
mengumpulkan kedua ujungnya di atas bahu kiri, sehingga satu ujung terjulur ke
belakang punggung dan satu ujung lagi berada di atas dada.
وَيَقْطَعَ
التَّلْبِيَةَ عِنْدَ ابْتِدَاءِ الطَّوَافِ، وَيَشْتَغِلَ بِالْأَدْعِيَةِ
الَّتِي سَنَذْكُرُهَا.
Dan hendaknya ia menghentikan talbiyah ketika mulai thawaf, lalu menyibukkan
diri dengan doa-doa yang akan kami sebutkan.
الثَّانِي
إِذَا فَرَغَ مِنَ الِاضْطِبَاعِ فَلْيَجْعَلِ الْبَيْتَ عَلَى يَسَارِهِ،
وَلْيَقِفْ عِنْدَ الْحَجَرِ الْأَسْوَدِ.
Yang kedua, apabila ia telah selesai melakukan idhthiba’, hendaknya ia
menjadikan Ka’bah berada di sebelah kirinya dan berdiri di sisi Hajar Aswad.
وَلْيَتَنَحَّ
عَنْهُ قَلِيلًا لِيَكُونَ الْحَجَرُ قُدَّامَهُ، فَيَمُرَّ بِجَمِيعِ الْحَجَرِ
بِجَمِيعِ بَدَنِهِ فِي ابْتِدَاءِ طَوَافِهِ.
Dan hendaknya ia sedikit menjauh darinya agar Hajar Aswad berada tepat di
hadapannya, sehingga seluruh tubuhnya melewati seluruh bagian Hajar Aswad pada
awal thawafnya.
وَلْيَجْعَلْ
بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْبَيْتِ قَدْرَ ثَلَاثِ خُطُوَاتٍ لِيَكُونَ قَرِيبًا مِنَ
الْبَيْتِ، فَإِنَّهُ أَفْضَلُ.
Dan hendaknya ia memberi jarak antara dirinya dan Ka’bah kira-kira tiga
langkah, agar ia dekat dengan Ka’bah, karena itu lebih utama.
وَلِكَيْلَا
يَكُونَ طَائِفًا عَلَى الشَّاذْرَوَانِ، فَإِنَّهُ مِنَ الْبَيْتِ، وَعِنْدَ
الْحَجَرِ الْأَسْوَدِ قَدْ يَتَّصِلُ الشَّاذْرَوَانُ بِالْأَرْضِ وَيَلْتَبِسُ
بِهِ.
Dan agar ia tidak thawaf di atas syadzarwan, karena syadzarwan itu termasuk
bagian dari Ka’bah. Di dekat Hajar Aswad, syadzarwan kadang menyatu dengan
tanah sehingga sulit dibedakan.
وَالطَّائِفُ
عَلَيْهِ لَا يَصِحُّ طَوَافُهُ، لِأَنَّهُ طَائِفٌ فِي الْبَيْتِ.
Orang yang thawaf di atasnya tidak sah thawafnya, karena berarti ia thawaf di
dalam Ka’bah.
وَالشَّاذْرَوَانُ
هُوَ الَّذِي فَضَلَ عَنْ عَرْضِ جِدَارِ الْبَيْتِ بَعْدَ أَنْ ضُيِّقَ أَعْلَى
الْجِدَارِ.
Syadzarwan ialah bagian yang menonjol dari lebar dinding Ka’bah setelah bagian
atas dinding itu dibuat lebih sempit.
ثُمَّ
مِنْ هَذَا الْمَوْقِفِ يَبْتَدِئُ الطَّوَافَ.
Kemudian dari posisi inilah ia memulai thawaf.
الثَّالِثُ
أَنْ يَقُولَ قَبْلَ مُجَاوَزَةِ الْحَجَرِ، بَلْ فِي ابْتِدَاءِ الطَّوَافِ:
بِسْمِ اللَّهِ، وَاللَّهُ أَكْبَرُ.
Yang ketiga, sebelum melewati Hajar Aswad, bahkan pada awal thawaf, hendaknya
ia mengucapkan: “Dengan nama Allah, dan Allah Maha Besar.”
اللَّهُمَّ
إِيمَانًا بِكَ، وَتَصْدِيقًا بِكِتَابِكَ، وَوَفَاءً بِعَهْدِكَ، وَاتِّبَاعًا
لِسُنَّةِ نَبِيِّكَ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.
“Ya Allah, sebagai bentuk iman kepada-Mu, pembenaran terhadap kitab-Mu,
pemenuhan terhadap janji-Mu, dan mengikuti sunah nabi-Mu Muhammad saw.”
وَيَطُوفُ.
Lalu ia mulai thawaf.
فَأَوَّلَ
مَا يُجَاوِزُ الْحَجَرَ يَنْتَهِي إِلَى بَابِ الْبَيْتِ، فَيَقُولُ: اللَّهُمَّ
هَذَا الْبَيْتُ بَيْتُكَ، وَهَذَا الْحَرَمُ حَرَمُكَ، وَهَذَا الْأَمْنُ
أَمْنُكَ، وَهَذَا مَقَامُ الْعَائِذِ بِكَ مِنَ النَّارِ.
Ketika pertama kali melewati Hajar Aswad, ia sampai di pintu Ka’bah, lalu
mengucapkan: “Ya Allah, rumah ini adalah rumah-Mu, tanah haram ini adalah tanah
haram-Mu, keamanan ini adalah keamanan-Mu, dan ini adalah tempat orang yang
berlindung kepada-Mu dari api neraka.”
وَعِنْدَ
ذِكْرِ الْمَقَامِ يُشِيرُ بِعَيْنِهِ إِلَى مَقَامِ إِبْرَاهِيمَ عَلَيْهِ
السَّلَامُ.
Ketika menyebut kata “maqam”, hendaknya ia memberi isyarat dengan pandangannya
ke Maqam Ibrahim عليه
السلام.
اللَّهُمَّ
إِنَّ بَيْتَكَ عَظِيمٌ، وَوَجْهَكَ كَرِيمٌ، وَأَنْتَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ.
“Ya Allah, sesungguhnya rumah-Mu agung, wajah-Mu mulia, dan Engkau adalah Yang
Maha Pengasih di antara para pengasih.”
فَأَعِذْنِي
مِنَ النَّارِ، وَمِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ، وَحَرِّمْ لَحْمِي وَدَمِي عَلَى
النَّارِ، وَآمِنِّي مِنْ أَهْوَالِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ، وَاكْفِنِي مَؤُونَةَ
الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ.
“Maka lindungilah aku dari api neraka dan dari setan yang terkutuk. Haramkanlah
daging dan darahku dari api neraka. Amankanlah aku dari kedahsyatan hari
kiamat, dan cukupkanlah bagiku kebutuhan dunia dan akhirat.”
ثُمَّ
يُسَبِّحُ اللَّهَ تَعَالَى وَيَحْمَدُهُ حَتَّى يَبْلُغَ الرُّكْنَ
الْعِرَاقِيَّ، فَعِنْدَهُ يَقُولُ: اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ
الشِّرْكِ وَالشَّكِّ وَالْكُفْرِ وَالنِّفَاقِ وَالشِّقَاقِ وَسُوءِ الْأَخْلَاقِ
وَسُوءِ الْمَنْظَرِ فِي الْأَهْلِ وَالْمَالِ وَالْوَلَدِ.
Kemudian ia bertasbih dan memuji Allah Ta’ala sampai ia mencapai Rukun Iraqi.
Di sana ia mengucapkan: “Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari
syirik, keraguan, kekufuran, kemunafikan, perpecahan, akhlak yang buruk, dan
pemandangan buruk pada keluarga, harta, dan anak.”
فَإِذَا
بَلَغَ الْمِيزَابَ قَالَ: اللَّهُمَّ أَظِلَّنَا تَحْتَ عَرْشِكَ يَوْمَ لَا
ظِلَّ إِلَّا ظِلُّكَ، اللَّهُمَّ اسْقِنِي بِكَأْسِ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ شَرْبَةً لَا أَظْمَأُ بَعْدَهَا أَبَدًا.
Ketika ia sampai di bawah Mizab, ia mengucapkan: “Ya Allah, naungilah kami di
bawah arasy-Mu pada hari yang tidak ada naungan selain naungan-Mu. Ya Allah,
berilah aku minum dari telaga Muhammad saw. satu minuman yang setelah itu aku
tidak akan haus selamanya.”
فَإِذَا
بَلَغَ الرُّكْنَ الشَّامِيَّ قَالَ: اللَّهُمَّ اجْعَلْهُ حَجًّا مَبْرُورًا،
وَسَعْيًا مَشْكُورًا، وَذَنْبًا مَغْفُورًا، وَتِجَارَةً لَنْ تَبُورَ، يَا
عَزِيزُ يَا غَفُورُ.
Ketika ia sampai di Rukun Syami, ia mengucapkan: “Ya Allah, jadikanlah ini haji
yang mabrur, usaha yang disyukuri, dosa yang diampuni, dan perdagangan yang
tidak akan merugi, wahai Yang Mahaperkasa, wahai Yang Maha Pengampun.”
رَبِّ
اغْفِرْ وَارْحَمْ، وَتَجَاوَزْ عَمَّا تَعْلَمُ، إِنَّكَ أَنْتَ الْأَعَزُّ
الْأَكْرَمُ.
“Wahai Tuhanku, ampunilah dan rahmatilah. Maafkanlah apa yang Engkau ketahui.
Sesungguhnya Engkaulah Yang Mahaperkasa lagi Mahamulia.”
فَإِذَا
بَلَغَ الرُّكْنَ الْيَمَانِيَّ قَالَ: اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ
الْكُفْرِ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنَ الْفَقْرِ، وَمِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ، وَمِنْ
فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنَ الْخِزْيِ فِي الدُّنْيَا
وَالْآخِرَةِ.
Ketika ia sampai di Rukun Yamani, ia mengucapkan: “Ya Allah, sesungguhnya aku
berlindung kepada-Mu dari kekufuran, aku berlindung kepada-Mu dari kefakiran,
dari azab kubur, dari fitnah kehidupan dan kematian, dan aku berlindung
kepada-Mu dari kehinaan di dunia dan akhirat.”
وَيَقُولُ
بَيْنَ الرُّكْنِ الْيَمَانِيِّ وَالْحَجَرِ الْأَسْوَدِ: اللَّهُمَّ رَبَّنَا
آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا بِرَحْمَتِكَ
فِتْنَةَ الْقَبْرِ وَعَذَابَ النَّارِ.
Dan di antara Rukun Yamani dan Hajar Aswad ia mengucapkan: “Ya Allah, wahai
Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan
peliharalah kami dengan rahmat-Mu dari fitnah kubur dan azab neraka.”
فَإِذَا
بَلَغَ الْحَجَرَ الْأَسْوَدَ قَالَ: اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي بِرَحْمَتِكَ،
أَعُوذُ بِرَبِّ هَذَا الْحَجَرِ مِنَ الدَّيْنِ وَالْفَقْرِ وَضِيقِ الصَّدْرِ
وَعَذَابِ الْقَبْرِ.
Ketika ia sampai di Hajar Aswad, ia mengucapkan: “Ya Allah, ampunilah aku
dengan rahmat-Mu. Aku berlindung kepada Tuhan batu ini dari utang, kefakiran,
kesempitan dada, dan azab kubur.”
وَعِنْدَ
ذَلِكَ قَدْ تَمَّ شَوْطٌ وَاحِدٌ، فَيَطُوفُ كَذَلِكَ سَبْعَةَ أَشْوَاطٍ،
فَيَدْعُو بِهَذِهِ الْأَدْعِيَةِ فِي كُلِّ شَوْطٍ.
Dengan itu selesailah satu putaran. Maka ia melakukan thawaf demikian hingga
tujuh putaran, dengan membaca doa-doa ini pada setiap putaran.
الرَّابِعُ
أَنْ يَرْمُلَ فِي ثَلَاثَةِ أَشْوَاطٍ، وَيَمْشِيَ فِي الْأَرْبَعَةِ الْأُخَرِ
عَلَى الْهَيْئَةِ الْمُعْتَادَةِ.
Yang keempat, hendaknya ia berlari-lari kecil pada tiga putaran pertama, dan
berjalan biasa pada empat putaran sisanya.
وَمَعْنَى
الرَّمَلِ الْإِسْرَاعُ فِي الْمَشْيِ مَعَ تَقَارُبِ الْخُطَا، وَهُوَ دُونَ
الْعَدْوِ وَفَوْقَ الْمَشْيِ الْمُعْتَادِ.
Yang dimaksud dengan ramal ialah mempercepat langkah dengan langkah-langkah
yang berdekatan. Gerakan ini berada di bawah lari dan di atas jalan biasa.
وَالْمَقْصُودُ
مِنْهُ وَمِنَ الِاضْطِبَاعِ إِظْهَارُ الشَّطَارَةِ وَالْجَلَادَةِ وَالْقُوَّةِ.
Tujuan dari ramal dan idhthiba’ adalah menampakkan ketangkasan, kekuatan, dan
keteguhan.
هَكَذَا
كَانَ الْقَصْدُ أَوَّلًا قَطْعًا لِطَمَعِ الْكُفَّارِ، وَبَقِيَتْ تِلْكَ
السُّنَّةُ.
Demikianlah tujuan awalnya dahulu, yaitu untuk memutus harapan orang-orang
kafir, dan sunah itu tetap berlangsung.
وَالْأَفْضَلُ
الرَّمَلُ مَعَ الدُّنُوِّ مِنَ الْبَيْتِ، فَإِنْ لَمْ يُمْكِنْهُ لِلزَّحْمَةِ
فَالرَّمَلُ مَعَ الْبُعْدِ أَفْضَلُ.
Yang lebih utama ialah melakukan ramal sambil tetap dekat dengan Ka’bah. Jika
hal itu tidak memungkinkan karena padatnya orang, maka ramal dari jarak yang
lebih jauh lebih utama.
فَيَخْرُجُ
إِلَى حَاشِيَةِ الْمَطَافِ، وَلْيَرْمُلْ ثَلَاثًا، ثُمَّ لِيَقْرُبْ إِلَى
الْبَيْتِ فِي الْمُزْدَحَمِ، وَلْيَمْشِ أَرْبَعًا.
Maka hendaknya ia bergeser ke pinggir tempat thawaf, lalu melakukan ramal tiga
putaran. Setelah itu hendaknya ia mendekat ke Ka’bah di tengah keramaian dan
berjalan biasa empat putaran.
وَإِنْ
أَمْكَنَهُ اسْتِلَامُ الْحَجَرِ فِي كُلِّ شَوْطٍ فَهُوَ الْأَحَبُّ.
Jika ia mampu menyentuh Hajar Aswad pada setiap putaran, maka itulah yang lebih
disukai.
وَإِنْ
مَنَعَهُ الزِّحَامُ أَشَارَ بِالْيَدِ وَقَبَّلَ يَدَهُ.
Jika keramaian menghalanginya, maka ia memberi isyarat dengan tangan dan
mencium tangannya.
وَكَذَلِكَ
اسْتِلَامُ الرُّكْنِ الْيَمَانِيِّ يُسْتَحَبُّ مِنْ سَائِرِ الْأَرْكَانِ.
Demikian pula menyentuh Rukun Yamani, hal itu disunahkan tidak seperti
rukun-rukun lainnya.
وَرُوِيَ
أَنَّهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَسْتَلِمُ الرُّكْنَ
الْيَمَانِيَّ، وَيُقَبِّلُهُ، وَيَضَعُ خَدَّهُ عَلَيْهِ.
Diriwayatkan bahwa Nabi saw. dahulu menyentuh Rukun Yamani, menciumnya, dan
meletakkan pipinya padanya.
وَمَنْ
أَرَادَ تَخْصِيصَ الْحَجَرِ بِالتَّقْبِيلِ، وَاقْتَصَرَ فِي الرُّكْنِ
الْيَمَانِيِّ عَلَى الِاسْتِلَامِ أَغْنَى عَنِ اللَّمْسِ بِالْيَدِ، فَهُوَ
أَوْلَى.
Dan siapa yang ingin mengkhususkan ciuman hanya pada Hajar Aswad, lalu pada
Rukun Yamani cukup dengan menyentuh saja tanpa mencium, maka itu lebih utama.
الْخَامِسُ
إِذَا تَمَّ الطَّوَافُ سَبْعًا فَلْيَأْتِ الْمُلْتَزَمَ، وَهُوَ بَيْنَ
الْحَجَرِ وَالْبَابِ، وَهُوَ مَوْضِعُ اسْتِجَابَةِ الدَّعْوَةِ.
Yang kelima, apabila thawaf telah selesai tujuh putaran, hendaknya ia
mendatangi Multazam, yaitu tempat antara Hajar Aswad dan pintu Ka’bah, dan
itulah tempat yang diharapkan sebagai tempat terkabulnya doa.
وَلْيَلْتَزِقْ
بِالْبَيْتِ، وَلْيَتَعَلَّقْ بِالْأَسْتَارِ، وَلْيُلْصِقْ بَطْنَهُ بِالْبَيْتِ،
وَلْيَضَعْ عَلَيْهِ خَدَّهُ الْأَيْمَنَ.
Hendaknya ia menempelkan dirinya ke Ka’bah, bergantung pada tirai-tirainya,
menempelkan perutnya pada Ka’bah, dan meletakkan pipi kanannya padanya.
وَلْيَبْسُطْ
عَلَيْهِ ذِرَاعَيْهِ وَكَفَّيْهِ، وَلْيَقُلْ: اللَّهُمَّ يَا رَبَّ الْبَيْتِ
الْعَتِيقِ، أَعْتِقْ رَقَبَتِي مِنَ النَّارِ، وَأَعِذْنِي مِنَ الشَّيْطَانِ
الرَّجِيمِ، وَأَعِذْنِي مِنْ كُلِّ سُوءٍ.
Dan hendaknya ia menghamparkan kedua lengannya dan kedua telapak tangannya
padanya, lalu mengucapkan: “Ya Allah, wahai Tuhan Baitul Atiq, bebaskanlah
leherku dari api neraka, lindungilah aku dari setan yang terkutuk, dan
lindungilah aku dari segala keburukan.”
وَقَنِّعْنِي
بِمَا رَزَقْتَنِي، وَبَارِكْ لِي فِيمَا آتَيْتَنِي.
“Jadikanlah aku merasa cukup dengan rezeki yang Engkau berikan kepadaku, dan
berkahilah apa yang telah Engkau anugerahkan kepadaku.”
اللَّهُمَّ
إِنَّ هَذَا الْبَيْتَ بَيْتُكَ، وَالْعَبْدَ عَبْدُكَ، وَهَذَا مَقَامُ
الْعَائِذِ بِكَ مِنَ النَّارِ.
“Ya Allah, sesungguhnya rumah ini adalah rumah-Mu, hamba ini adalah hamba-Mu,
dan ini adalah tempat orang yang berlindung kepada-Mu dari api neraka.”
اللَّهُمَّ
اجْعَلْنِي مِنْ أَكْرَمِ وَفْدِكَ عَلَيْكَ.
“Ya Allah, jadikanlah aku termasuk tamu-Mu yang paling mulia di sisi-Mu.”
ثُمَّ
لِيَحْمَدِ اللَّهَ كَثِيرًا فِي هَذَا الْمَوْضِعِ، وَلْيُصَلِّ عَلَى رَسُولِهِ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى جَمِيعِ الرُّسُلِ كَثِيرًا،
وَلْيَدْعُ بِحَوَائِجِهِ الْخَاصَّةِ، وَلْيَسْتَغْفِرْ مِنْ ذُنُوبِهِ.
Kemudian hendaknya ia banyak memuji Allah di tempat itu, banyak bersalawat
kepada Rasul-Nya saw. dan kepada seluruh rasul, berdoa untuk
kebutuhan-kebutuhannya sendiri, dan memohon ampunan atas dosa-dosanya.
كَانَ
بَعْضُ السَّلَفِ فِي هَذَا الْمَوْضِعِ يَقُولُ لِمَوَالِيهِ: تَنَحَّوْا عَنِّي
حَتَّى أُقِرَّ لِرَبِّي بِذُنُوبِي.
Sebagian salaf di tempat ini berkata kepada para pelayannya: Menjauhlah dariku,
agar aku mengakui dosa-dosaku kepada Tuhanku.
السَّادِسُ
إِذَا فَرَغَ مِنْ ذَلِكَ يَنْبَغِي أَنْ يُصَلِّيَ خَلْفَ الْمَقَامِ
رَكْعَتَيْنِ، يَقْرَأُ فِي الْأُولَى: قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ، وَفِي
الثَّانِيَةِ: الْإِخْلَاصَ، وَهُمَا رَكْعَتَا الطَّوَافِ.
Yang keenam, apabila ia telah selesai dari itu, hendaknya ia salat dua rakaat
di belakang Maqam Ibrahim. Pada rakaat pertama ia membaca “Qul yā
ayyuhal-kāfirūn” dan pada rakaat kedua membaca surah al-Ikhlas. Itulah dua
rakaat thawaf.
قَالَ
الزُّهْرِيُّ: مَضَتِ السُّنَّةُ أَنْ يُصَلِّيَ لِكُلِّ سَبْعٍ رَكْعَتَيْنِ.
Az-Zuhri berkata: Telah berlaku sunah bahwa untuk setiap tujuh putaran thawaf
dilakukan dua rakaat salat.
وَإِنْ
قَرَنَ بَيْنَ أَسَابِيعَ وَصَلَّى رَكْعَتَيْنِ جَازَ، فَعَلَ ذَلِكَ رَسُولُ
اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَكُلُّ أُسْبُوعٍ طَوَافٌ.
Jika seseorang menggabungkan beberapa putaran thawaf lalu hanya salat dua
rakaat, maka itu boleh. Rasulullah saw. pernah melakukan hal itu, dan setiap
tujuh putaran adalah satu thawaf.
وَلْيَدْعُ
بَعْدَ رَكْعَتَيِ الطَّوَافِ، وَلْيَقُلْ: اللَّهُمَّ يَسِّرْ لِيَ الْيُسْرَى،
وَجَنِّبْنِي الْعُسْرَى، وَاغْفِرْ لِي فِي الْآخِرَةِ وَالْأُولَى.
Dan hendaknya ia berdoa setelah dua rakaat thawaf, seraya mengucapkan: “Ya
Allah, mudahkanlah bagiku segala yang mudah, jauhkanlah aku dari kesulitan, dan
ampunilah aku di akhirat dan di dunia.”
وَاعْصِمْنِي
بِأَلْطَافِكَ حَتَّى لَا أَعْصِيَكَ، وَأَعِنِّي عَلَى طَاعَتِكَ بِتَوْفِيقِكَ،
وَجَنِّبْنِي مَعَاصِيَكَ.
“Jagalah aku dengan kelembutan-Mu agar aku tidak durhaka kepada-Mu, bantulah
aku untuk taat kepada-Mu dengan taufik-Mu, dan jauhkanlah aku dari maksiat
kepada-Mu.”
وَاجْعَلْنِي
مِمَّنْ يُحِبُّكَ، وَيُحِبُّ مَلَائِكَتَكَ وَرُسُلَكَ، وَيُحِبُّ عِبَادَكَ
الصَّالِحِينَ.
“Dan jadikanlah aku termasuk orang yang mencintai-Mu, mencintai para
malaikat-Mu dan rasul-rasul-Mu, serta mencintai hamba-hamba-Mu yang saleh.”
اللَّهُمَّ
حَبِّبْنِي إِلَى مَلَائِكَتِكَ وَرُسُلِكَ وَإِلَى عِبَادِكَ الصَّالِحِينَ.
“Ya Allah, jadikanlah aku dicintai oleh para malaikat-Mu, para rasul-Mu, dan
hamba-hamba-Mu yang saleh.”
اللَّهُمَّ
فَكَمَا هَدَيْتَنِي إِلَى الْإِسْلَامِ فَثَبِّتْنِي عَلَيْهِ بِأَلْطَافِكَ
وَوِلَايَتِكَ، وَاسْتَعْمِلْنِي لِطَاعَتِكَ وَطَاعَةِ رَسُولِكَ، وَأَجِرْنِي
مِنْ مُضِلَّاتِ الْفِتَنِ.
“Ya Allah, sebagaimana Engkau telah memberi petunjuk kepadaku kepada Islam,
maka teguhkanlah aku di atasnya dengan kelembutan-Mu dan perlindungan-Mu.
Gunakanlah aku untuk taat kepada-Mu dan taat kepada rasul-Mu, dan lindungilah
aku dari fitnah-fitnah yang menyesatkan.”
ثُمَّ
لِيَعُدْ إِلَى الْحَجَرِ وَلْيَسْتَلِمْهُ، وَلْيَخْتِمْ بِهِ الطَّوَافَ.
Kemudian hendaknya ia kembali kepada Hajar Aswad, lalu menyentuhnya, dan
menutup thawaf dengan itu.
قَالَ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَنْ طَافَ بِالْبَيْتِ أُسْبُوعًا وَصَلَّى
رَكْعَتَيْنِ، فَلَهُ مِنَ الْأَجْرِ كَعِتْقِ رَقَبَةٍ.
Nabi saw. bersabda: “Barang siapa thawaf di Baitullah tujuh putaran lalu salat
dua rakaat, maka baginya pahala seperti memerdekakan seorang budak.”
وَهَذِهِ
كَيْفِيَّةُ الطَّوَافِ.
Demikianlah tata cara thawaf.
وَالْوَاجِبُ
مِنْ جُمْلَتِهِ بَعْدَ شُرُوطِ الصَّلَاةِ أَنْ يَسْتَكْمِلَ عَدَدَ الطَّوَافِ
سَبْعًا بِجَمِيعِ الْبَيْتِ.
Dan yang wajib dalam thawaf, setelah terpenuhi syarat-syarat salat, ialah
menyempurnakan jumlah tujuh putaran mengelilingi seluruh Ka’bah.
وَأَنْ
يَبْتَدِئَ بِالْحَجَرِ الْأَسْوَدِ، وَيَجْعَلَ الْبَيْتَ عَلَى يَسَارِهِ،
وَأَنْ يَطُوفَ دَاخِلَ الْمَسْجِدِ وَخَارِجَ الْبَيْتِ، لَا عَلَى
الشَّاذْرَوَانِ وَلَا فِي الْحِجْرِ.
Dan hendaknya ia memulai dari Hajar Aswad, menjadikan Ka’bah di sebelah
kirinya, serta thawaf di dalam masjid dan di luar bangunan Ka’bah, tidak di
atas syadzarwan dan tidak pula di dalam Hijr Ismail.
وَأَنْ
يُوَالِيَ بَيْنَ الْأَشْوَاطِ، وَلَا يُفَرِّقَهَا تَفْرِيقًا خَارِجًا عَنِ
الْمُعْتَادِ.
Dan hendaknya ia berurutan antara putaran-putaran thawaf, serta tidak
memisah-misahkannya dengan pemisahan yang keluar dari kebiasaan.
وَمَا
عَدَا هَذَا فَهُوَ سُنَنٌ وَهَيْئَاتٌ.
Adapun selain itu, maka semuanya termasuk sunah-sunah dan tata cara pelengkap.