Sa'i

اَلْجُمْلَةُ الْخَامِسَةُ فِي السَّعْيِ

Bagian kelima tentang sa’i.

فَإِذَا فَرَغَ مِنَ الطَّوَافِ فَلْيَخْرُجْ مِنْ بَابِ الصَّفَا، وَهُوَ فِي مُحَاذَاةِ الضِّلْعِ الَّذِي بَيْنَ الرُّكْنِ الْيَمَانِيِّ وَالْحَجَرِ.
Apabila ia telah selesai dari thawaf, maka hendaklah ia keluar melalui pintu Shafa, yaitu yang sejajar dengan sisi antara Rukun Yamani dan Hajar Aswad.

فَإِذَا خَرَجَ مِنْ ذَلِكَ الْبَابِ وَانْتَهَى إِلَى الصَّفَا، وَهُوَ جَبَلٌ، فَيَرْقَى فِيهِ دَرَجَاتٍ فِي حَضِيضِ الْجَبَلِ بِقَدْرِ قَامَةِ الرَّجُلِ.
Apabila ia telah keluar dari pintu itu dan sampai di Shafa, yaitu sebuah bukit, maka hendaklah ia naik beberapa anak tangga di kaki bukit setinggi kira-kira tinggi seorang laki-laki.

رَقِيَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَتَّى بَدَتْ لَهُ الْكَعْبَةُ.
Rasulullah saw. dahulu naik hingga Ka’bah tampak oleh beliau.

وَابْتِدَاءُ السَّعْيِ مِنْ أَصْلِ الْجَبَلِ كَافٍ، وَهَذِهِ الزِّيَادَةُ مُسْتَحَبَّةٌ.
Memulai sa’i dari dasar bukit saja sudah mencukupi, sedangkan tambahan naik itu hukumnya sunah.

وَلَكِنَّ بَعْضَ تِلْكَ الدَّرَجِ مُسْتَحْدَثَةٌ، فَيَنْبَغِي أَنْ لَا يُخَلِّفَهَا وَرَاءَ ظَهْرِهِ، فَلَا يَكُونُ مُتِمًّا لِلسَّعْيِ.
Akan tetapi, sebagian anak tangga itu merupakan tambahan baru, maka hendaknya ia tidak meninggalkannya di belakang punggungnya, agar ia tidak dianggap belum menyempurnakan sa’i.

وَإِذَا ابْتَدَأَ مِنْ هَهُنَا سَعَى بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْمَرْوَةِ سَبْعَ مَرَّاتٍ.
Apabila ia memulai dari sini, maka ia bersa’i antara Shafa dan Marwah sebanyak tujuh kali.

وَعِنْدَ رُقِيِّهِ فِي الصَّفَا يَنْبَغِي أَنْ يَسْتَقْبِلَ الْبَيْتَ وَيَقُولَ: اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ.
Ketika ia naik ke Shafa, hendaknya ia menghadap ke Ka’bah dan mengucapkan: “Allah Mahabesar, Allah Mahabesar.”

الْحَمْدُ لِلَّهِ عَلَى مَا هَدَانَا، الْحَمْدُ لِلَّهِ بِمَحَامِدِهِ كُلِّهَا عَلَى جَمِيعِ نِعَمِهِ كُلِّهَا.
“Segala puji bagi Allah atas petunjuk yang telah Dia berikan kepada kami. Segala puji bagi Allah dengan seluruh pujian-Nya atas semua nikmat-Nya.”

لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ، يُحْيِي وَيُمِيتُ، بِيَدِهِ الْخَيْرُ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ.
“Tidak ada tuhan selain Allah Yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya. Milik-Nya kerajaan dan milik-Nya segala puji. Dia menghidupkan dan mematikan. Di tangan-Nya segala kebaikan. Dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu.”

لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ، صَدَقَ وَعْدَهُ، وَنَصَرَ عَبْدَهُ، وَأَعَزَّ جُنْدَهُ، وَهَزَمَ الْأَحْزَابَ وَحْدَهُ.
“Tidak ada tuhan selain Allah Yang Maha Esa. Dia menepati janji-Nya, menolong hamba-Nya, memuliakan tentara-Nya, dan mengalahkan golongan-golongan musuh sendirian.”

لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ.
“Tidak ada tuhan selain Allah, dengan memurnikan agama hanya untuk-Nya, walaupun orang-orang kafir membencinya.”

لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ، الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ.
“Tidak ada tuhan selain Allah, dengan memurnikan agama hanya untuk-Nya. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.”

فَسُبْحَانَ اللَّهِ حِينَ تُمْسُونَ وَحِينَ تُصْبِحُونَ.
“Maka Mahasuci Allah pada waktu kamu berada di sore hari dan pada waktu kamu berada di pagi hari.”

وَلَهُ الْحَمْدُ فِي السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ وَعَشِيًّا وَحِينَ تُظْهِرُونَ.
“Dan bagi-Nya segala puji di langit dan di bumi, pada waktu petang dan pada waktu kamu berada di tengah hari.”

يُخْرِجُ الْحَيَّ مِنَ الْمَيِّتِ وَيُخْرِجُ الْمَيِّتَ مِنَ الْحَيِّ وَيُحْيِي الْأَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا وَكَذَلِكَ تُخْرَجُونَ.
“Dia mengeluarkan yang hidup dari yang mati, dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup, serta menghidupkan bumi setelah matinya. Demikian pula kamu akan dikeluarkan.”

وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَكُمْ مِنْ تُرَابٍ، ثُمَّ إِذَا أَنْتُمْ بَشَرٌ تَنْتَشِرُونَ.
“Dan di antara tanda-tanda-Nya ialah Dia menciptakan kamu dari tanah, kemudian tiba-tiba kamu menjadi manusia yang berkembang biak.”

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ إِيمَانًا دَائِمًا، وَيَقِينًا صَادِقًا، وَعِلْمًا نَافِعًا، وَقَلْبًا خَاشِعًا، وَلِسَانًا ذَاكِرًا.
“Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu iman yang langgeng, keyakinan yang benar, ilmu yang bermanfaat, hati yang khusyuk, dan lisan yang selalu berzikir.”

وَأَسْأَلُكَ الْعَفْوَ وَالْعَافِيَةَ وَالْمُعَافَاةَ الدَّائِمَةَ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ.
“Dan aku memohon kepada-Mu ampunan, keselamatan, dan kesejahteraan yang terus-menerus di dunia dan di akhirat.”

وَيُصَلِّي عَلَى مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَيَدْعُو اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ بِمَا شَاءَ مِنْ حَاجَتِهِ عَقِيبَ هَذَا الدُّعَاءِ.
Lalu ia bersalawat kepada Muhammad saw. dan berdoa kepada Allah عز وجل dengan apa saja yang ia kehendaki dari kebutuhannya setelah doa ini.

ثُمَّ يَنْزِلُ وَيَبْتَدِئُ السَّعْيَ، وَهُوَ يَقُولُ: رَبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَتَجَاوَزْ عَمَّا تَعْلَمُ، إِنَّكَ أَنْتَ الْأَعَزُّ الْأَكْرَمُ.
Kemudian ia turun dan memulai sa’i sambil mengucapkan: “Wahai Tuhanku, ampunilah, rahmatilah, dan maafkanlah apa yang Engkau ketahui. Sesungguhnya Engkaulah Yang Mahaperkasa lagi Mahamulia.”

اللَّهُمَّ آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
“Ya Allah, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, serta peliharalah kami dari azab neraka.”

وَيَمْشِي عَلَى هِينَةٍ حَتَّى يَنْتَهِيَ إِلَى الْمِيلِ الْأَخْضَرِ، وَهُوَ أَوَّلُ مَا يَلْقَاهُ إِذَا نَزَلَ مِنَ الصَّفَا، وَهُوَ عَلَى زَاوِيَةِ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ.
Dan ia berjalan dengan tenang sampai mencapai tanda hijau, yaitu yang pertama kali ia temui ketika turun dari Shafa, dan tanda itu berada di sudut Masjidil Haram.

فَإِذَا بَقِيَ بَيْنَهُ وَبَيْنَ مُحَاذَاةِ الْمِيلِ سِتَّةُ أَذْرُعٍ أَخَذَ فِي السَّيْرِ السَّرِيعِ، وَهُوَ الرَّمَلُ، حَتَّى يَنْتَهِيَ إِلَى الْمِيلَيْنِ الْأَخْضَرَيْنِ.
Apabila antara dirinya dan garis sejajar dengan tanda itu tinggal enam hasta, maka ia mulai berjalan cepat, yaitu ramal, sampai ia mencapai dua tanda hijau.

ثُمَّ يَعُودُ إِلَى الْهِينَةِ.
Kemudian ia kembali berjalan dengan tenang.

فَإِذَا انْتَهَى إِلَى الْمَرْوَةِ صَعِدَهَا كَمَا صَعِدَ الصَّفَا، وَأَقْبَلَ بِوَجْهِهِ عَلَى الصَّفَا، وَدَعَا بِمِثْلِ ذَلِكَ الدُّعَاءِ.
Apabila ia sampai di Marwah, ia naik ke atasnya sebagaimana ia naik ke Shafa, lalu menghadapkan wajahnya ke arah Shafa dan berdoa dengan doa yang sama.

وَقَدْ حَصَلَ السَّعْيُ مَرَّةً وَاحِدَةً.
Dengan itu, terhitunglah satu kali sa’i.

فَإِذَا عَادَ إِلَى الصَّفَا حَصَلَتْ مَرَّتَانِ.
Jika ia kembali ke Shafa, maka terhitung dua kali.

يَفْعَلُ ذَلِكَ سَبْعًا، وَيَرْمُلُ فِي مَوْضِعِ الرَّمَلِ فِي كُلِّ مَرَّةٍ، وَيَسْكُنُ فِي مَوْضِعِ السُّكُونِ كَمَا سَبَقَ.
Ia melakukan hal itu sebanyak tujuh kali, berlari-lari kecil pada tempat ramal setiap kali, dan berjalan tenang pada tempat yang memang untuk berjalan tenang sebagaimana telah disebutkan.

وَفِي كُلِّ نَوْبَةٍ يَصْعَدُ الصَّفَا وَالْمَرْوَةَ.
Dan pada setiap putaran ia naik ke Shafa dan Marwah.

فَإِذَا فَعَلَ ذَلِكَ فَقَدْ فَرَغَ مِنْ طَوَافِ الْقُدُومِ وَالسَّعْيِ، وَهُمَا سُنَّتَانِ.
Apabila ia telah melakukan demikian, berarti ia telah selesai dari thawaf qudum dan sa’i, dan keduanya adalah dua amalan sunah.

وَالطَّهَارَةُ مُسْتَحَبَّةٌ لِلسَّعْيِ وَلَيْسَتْ بِوَاجِبَةٍ، بِخِلَافِ الطَّوَافِ.
Bersuci disunahkan untuk sa’i, tetapi tidak wajib, berbeda dengan thawaf.

وَإِذَا سَعَى فَيَنْبَغِي أَنْ لَا يُعِيدَ السَّعْيَ بَعْدَ الْوُقُوفِ، وَيَكْتَفِيَ بِهَذَا رُكْنًا.
Apabila ia telah melakukan sa’i, maka sebaiknya ia tidak mengulang sa’i setelah wuquf, dan cukup menjadikan sa’i ini sebagai rukun yang telah terlaksana.

فَإِنَّهُ لَيْسَ مِنْ شُرُوطِ السَّعْيِ أَنْ يَتَأَخَّرَ عَنِ الْوُقُوفِ، وَإِنَّمَا ذَلِكَ شَرْطٌ فِي طَوَافِ الرُّكْنِ.
Karena tidak termasuk syarat sa’i bahwa ia harus dilakukan setelah wuquf. Yang demikian itu hanyalah syarat bagi thawaf rukun.

نَعَمْ، شَرْطُ كُلِّ سَعْيٍ أَنْ يَقَعَ بَعْدَ طَوَافٍ، أَيُّ طَوَافٍ كَانَ.
Ya, syarat setiap sa’i ialah ia dilakukan setelah suatu thawaf, thawaf apa pun itu.