Wuquf
اَلْجُمْلَةُ السَّادِسَةُ فِي الْوُقُوفِ وَمَا قَبْلَهُ
Bagian keenam tentang wuquf dan hal-hal yang mendahuluinya.
اَلْحَاجُّ
إِذَا انْتَهَى يَوْمَ عَرَفَةَ إِلَى عَرَفَاتٍ يَتَفَرَّغُ لِطَوَافِ الْقُدُومِ
وَدُخُولِ مَكَّةَ قَبْلَ الْوُقُوفِ.
Seorang jamaah haji, apabila pada hari Arafah ia telah sampai di Arafat, maka
sebelumnya ia menyelesaikan thawaf qudum dan memasuki Makkah sebelum wuquf.
وَإِذَا
وَصَلَ قَبْلَ ذَلِكَ بِأَيَّامٍ فَطَافَ طَوَافَ الْقُدُومِ، فَيَمْكُثُ
مُحْرِمًا إِلَى الْيَوْمِ السَّابِعِ مِنْ ذِي الْحِجَّةِ.
Jika ia tiba beberapa hari sebelumnya lalu telah melakukan thawaf qudum, maka
ia tetap dalam keadaan ihram sampai hari ketujuh bulan Zulhijah.
فَيَخْطُبُ
الْإِمَامُ بِمَكَّةَ خُطْبَةً بَعْدَ الظُّهْرِ عِنْدَ الْكَعْبَةِ، وَيَأْمُرُ
النَّاسَ بِالِاسْتِعْدَادِ لِلْخُرُوجِ إِلَى مِنًى يَوْمَ التَّرْوِيَةِ
وَالْمَبِيتِ بِهَا.
Lalu imam berkhutbah di Makkah setelah zuhur di dekat Ka’bah, dan memerintahkan
manusia untuk bersiap keluar menuju Mina pada hari Tarwiyah dan bermalam di
sana.
وَبِالْغُدُوِّ
مِنْهَا إِلَى عَرَفَةَ لِإِقَامَةِ فَرْضِ الْوُقُوفِ بَعْدَ الزَّوَالِ.
Dan agar berangkat dari sana pada pagi hari menuju Arafah untuk menunaikan
kewajiban wuquf setelah tergelincir matahari.
إِذْ
وَقْتُ الْوُقُوفِ مِنَ الزَّوَالِ إِلَى طُلُوعِ الْفَجْرِ الصَّادِقِ مِنْ
يَوْمِ النَّحْرِ.
Sebab waktu wuquf itu dimulai sejak tergelincir matahari sampai terbit fajar
yang benar pada hari Nahar.
فَيَنْبَغِي
أَنْ يَخْرُجَ إِلَى مِنًى مُلَبِّيًا.
Karena itu, hendaknya ia berangkat ke Mina sambil bertalbiyah.
وَيُسْتَحَبُّ
لَهُ الْمَشْيُ مِنْ مَكَّةَ فِي الْمَنَاسِكِ إِلَى انْقِضَاءِ حَجَّتِهِ إِنْ
قَدَرَ عَلَيْهِ.
Dan disunahkan baginya untuk berjalan kaki dari Makkah dalam pelaksanaan
manasik sampai hajinya selesai, jika ia mampu.
وَالْمَشْيُ
مِنْ مَسْجِدِ إِبْرَاهِيمَ عَلَيْهِ السَّلَامُ إِلَى الْمَوْقِفِ أَفْضَلُ
وَآكَدُ.
Dan berjalan kaki dari Masjid Ibrahim عليه السلام menuju tempat wuquf
adalah lebih utama dan lebih ditekankan.
فَإِذَا
انْتَهَى إِلَى مِنًى قَالَ: اللَّهُمَّ هَذِهِ مِنًى فَامْنُنْ عَلَيَّ بِمَا
مَنَنْتَ بِهِ عَلَى أَوْلِيَائِكَ وَأَهْلِ طَاعَتِكَ.
Apabila ia sampai di Mina, hendaknya ia mengucapkan: “Ya Allah, inilah Mina,
maka anugerahkanlah kepadaku sebagaimana Engkau telah menganugerahkan kepada
para wali-Mu dan ahli ketaatan kepada-Mu.”
وَلْيَمْكُثْ
هَذِهِ اللَّيْلَةَ بِمِنًى، وَهُوَ مَبِيتُ مَنْزِلٍ لَا يَتَعَلَّقُ بِهِ نُسُكٌ.
Dan hendaknya ia bermalam pada malam itu di Mina. Itu adalah bermalam untuk
singgah, yang tidak berkaitan langsung dengan suatu nusuk tertentu.
فَإِذَا
أَصْبَحَ يَوْمَ عَرَفَةَ صَلَّى الصُّبْحَ.
Ketika pagi hari Arafah tiba, ia menunaikan salat Subuh.
فَإِذَا
طَلَعَتِ الشَّمْسُ عَلَى ثَبِيرٍ سَارَ إِلَى عَرَفَاتٍ.
Maka apabila matahari telah terbit di atas Tsabir, ia berjalan menuju Arafat.
وَيَقُولُ:
اللَّهُمَّ اجْعَلْهَا خَيْرَ غَدْوَةٍ غَدَوْتُهَا قَطُّ، وَأَقْرَبَهَا مِنْ
رِضْوَانِكَ، وَأَبْعَدَهَا مِنْ سَخَطِكَ.
Dan ia mengucapkan: “Ya Allah, jadikanlah pagi keberangkatanku ini sebagai pagi
keberangkatan terbaik yang pernah aku lalui, yang paling dekat kepada
keridaan-Mu, dan yang paling jauh dari kemurkaan-Mu.”
اللَّهُمَّ
إِلَيْكَ غَدَوْتُ، وَإِيَّاكَ رَجَوْتُ، وَعَلَيْكَ اعْتَمَدْتُ، وَوَجْهَكَ
أَرَدْتُ.
“Ya Allah, kepada-Mu aku berangkat pagi ini, kepada-Mu aku berharap, kepada-Mu
aku bersandar, dan wajah-Mu yang aku tuju.”
فَاجْعَلْنِي
مِمَّنْ تُبَاهِي بِهِ الْيَوْمَ مَنْ هُوَ خَيْرٌ مِنِّي وَأَفْضَلُ.
“Maka jadikanlah aku termasuk orang yang pada hari ini Engkau banggakan di
hadapan mereka yang lebih baik dan lebih utama dariku.”
فَإِذَا
أَتَى عَرَفَاتٍ فَلْيَضْرِبْ خِبَاءَهُ بِنَمِرَةَ قَرِيبًا مِنَ الْمَسْجِدِ،
فَثَمَّ ضَرَبَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قُبَّتَهُ.
Apabila ia sampai di Arafat, hendaknya ia memasang tendanya di Namirah dekat
masjid, karena di situlah Rasulullah saw. dahulu memasang kemah beliau.
وَنَمِرَةُ
هِيَ بَطْنُ عُرَنَةَ دُونَ الْمَوْقِفِ وَدُونَ عَرَفَةَ.
Dan Namirah itu adalah bagian lembah Uranah, berada sebelum tempat wuquf dan
sebelum wilayah Arafah.
وَلْيَغْتَسِلْ
لِلْوُقُوفِ.
Dan hendaknya ia mandi untuk wuquf.
فَإِذَا
زَالَتِ الشَّمْسُ خَطَبَ الْإِمَامُ خُطْبَةً وَجِيزَةً، وَقَعَدَ.
Ketika matahari telah tergelincir, imam menyampaikan khutbah singkat, lalu
duduk.
وَأَخَذَ
الْمُؤَذِّنُ فِي الْأَذَانِ، وَالْإِمَامُ فِي الْخُطْبَةِ الثَّانِيَةِ.
Lalu muazin mulai mengumandangkan azan, sementara imam memulai khutbah kedua.
وَوَصَلَ
الْإِقَامَةَ بِالْأَذَانِ، وَفَرَغَ الْإِمَامُ مَعَ تَمَامِ إِقَامَةِ
الْمُؤَذِّنِ.
Dan iqamah disambungkan dengan azan, serta imam selesai bersamaan dengan
selesainya iqamah muazin.
ثُمَّ
جَمَعَ بَيْنَ الظُّهْرِ وَالْعَصْرِ بِأَذَانٍ وَإِقَامَتَيْنِ وَقَصْرِ
الصَّلَاةِ.
Kemudian ia menjamak salat Zuhur dan Asar dengan satu azan, dua iqamah, dan
dengan mengqasar salat.
وَرَاحَ
إِلَى الْمَوْقِفِ، فَلْيَقِفْ بِعَرَفَةَ، وَلَا يَقِفْ فِي وَادِي عُرَنَةَ.
Setelah itu ia menuju tempat wuquf. Maka hendaklah ia wuquf di Arafah dan
jangan wuquf di lembah Uranah.
وَأَمَّا
مَسْجِدُ إِبْرَاهِيمَ عَلَيْهِ السَّلَامُ فَصَدْرُهُ فِي الْوَادِي
وَأُخْرِيَاتُهُ مِنْ عَرَفَةَ، فَمَنْ وَقَفَ فِي صَدْرِ الْمَسْجِدِ لَمْ
يَحْصُلْ لَهُ الْوُقُوفُ بِعَرَفَةَ.
Adapun Masjid Ibrahim عليه
السلام, maka bagian depannya berada di lembah, sedangkan bagian
belakangnya termasuk Arafah. Maka siapa yang wuquf di bagian depan masjid itu,
tidak sah baginya wuquf di Arafah.
وَيَتَمَيَّزُ
مَكَانُ عَرَفَةَ مِنَ الْمَسْجِدِ بِصَخَرَاتٍ كِبَارٍ فُرِشَتْ ثَمَّ.
Tempat Arafah dapat dibedakan dari masjid dengan batu-batu besar yang
dihamparkan di sana.
وَالْأَفْضَلُ
أَنْ يَقِفَ عِنْدَ الصَّخَرَاتِ بِقُرْبِ الْإِمَامِ، مُسْتَقْبِلًا لِلْقِبْلَةِ
رَاكِبًا.
Dan yang lebih utama ialah ia wuquf di dekat batu-batu besar itu, dekat imam,
menghadap kiblat, sambil berkendaraan.
وَلْيُكْثِرْ
مِنْ أَنْوَاعِ التَّحْمِيدِ وَالتَّسْبِيحِ وَالتَّهْلِيلِ وَالثَّنَاءِ عَلَى
اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَالدُّعَاءِ وَالتَّوْبَةِ.
Dan hendaknya ia memperbanyak berbagai bentuk tahmid, tasbih, tahlil, pujian
kepada Allah عز وجل,
doa, dan tobat.
وَلَا
يَصُومُ فِي هَذَا الْيَوْمِ لِيَقْوَى عَلَى الْمُوَاظَبَةِ عَلَى الدُّعَاءِ.
Dan hendaknya ia tidak berpuasa pada hari ini agar kuat terus-menerus berdoa.
وَلَا
يَقْطَعُ التَّلْبِيَةَ يَوْمَ عَرَفَةَ، بَلِ الْأَحَبُّ أَنْ يُلَبِّيَ تَارَةً
وَيَكُبَّ عَلَى الدُّعَاءِ أُخْرَى.
Dan janganlah ia memutus talbiyah pada hari Arafah. Bahkan yang lebih disukai
ialah sesekali bertalbiyah dan pada waktu lain bersungguh-sungguh dalam berdoa.
وَيَنْبَغِي
أَنْ لَا يَنْفَصِلَ مِنْ طَرَفِ عَرَفَةَ إِلَّا بَعْدَ الْغُرُوبِ، لِيَجْمَعَ
فِي عَرَفَةَ بَيْنَ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ.
Dan hendaknya ia tidak meninggalkan batas Arafah kecuali setelah matahari
terbenam, agar di Arafah ia menggabungkan antara siang dan malam.
وَإِنْ
أَمْكَنَهُ الْوُقُوفُ يَوْمَ الثَّامِنِ سَاعَةً عِنْدَ إِمْكَانِ الْغَلَطِ فِي
الْهِلَالِ فَهُوَ الْحَزْمُ، وَبِهِ الْأَمْنُ مِنَ الْفَوَاتِ.
Jika ia memungkinkan untuk wuquf sebentar pada hari kedelapan ketika ada
kemungkinan kesalahan dalam penetapan hilal, maka itu adalah sikap hati-hati,
dan dengannya ia aman dari luputnya haji.
وَمَنْ
فَاتَهُ الْوُقُوفُ حَتَّى طَلَعَ الْفَجْرُ يَوْمَ النَّحْرِ فَقَدْ فَاتَهُ
الْحَجُّ.
Siapa yang luput dari wuquf hingga terbit fajar pada hari Nahar, maka hajinya
telah luput.
فَعَلَيْهِ
أَنْ يَتَحَلَّلَ عَنْ إِحْرَامِهِ بِأَعْمَالِ الْعُمْرَةِ، ثُمَّ يُرِيقَ دَمًا
لِأَجْلِ الْفَوَاتِ، ثُمَّ يَقْضِيَ الْعَامَ الْآتِيَ.
Maka ia harus bertahallul dari ihramnya dengan amalan-amalan umrah, kemudian
menyembelih dam karena luput itu, lalu menggantinya pada tahun berikutnya.
وَلْيَكُنْ
أَهَمَّ اشْتِغَالِهِ فِي هَذَا الْيَوْمِ الدُّعَاءُ، فَفِي مِثْلِ تِلْكَ
الْبُقْعَةِ وَمِثْلِ ذَلِكَ الْجَمْعِ تُرْجَى إِجَابَةُ الدَّعَوَاتِ.
Dan hendaknya kesibukan terpentingnya pada hari ini adalah berdoa, karena di
tempat seperti itu dan di tengah kumpulan seperti itu diharapkan doa-doa akan
dikabulkan.
وَالدُّعَاءُ
الْمَأْثُورُ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَنِ
السَّلَفِ فِي يَوْمِ عَرَفَةَ أَوَّلُ مَا يَدْعُو بِهِ فَلْيَقُلْ: لَا إِلَهَ
إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ،
يُحْيِي وَيُمِيتُ، وَهُوَ حَيٌّ لَا يَمُوتُ، بِيَدِهِ الْخَيْرُ، وَهُوَ عَلَى
كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ.
Doa yang diriwayatkan dari Rasulullah saw. dan dari para salaf pada hari
Arafah, yang pertama kali hendaknya ia baca adalah: “Tidak ada tuhan selain
Allah Yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya. Milik-Nya kerajaan dan
milik-Nya segala puji. Dia menghidupkan dan mematikan. Dan Dia hidup, tidak
akan mati. Di tangan-Nya segala kebaikan. Dan Dia Mahakuasa atas segala
sesuatu.”
اللَّهُمَّ
اجْعَلْ فِي قَلْبِي نُورًا وَفِي سَمْعِي نُورًا وَفِي بَصَرِي نُورًا وَفِي
لِسَانِي نُورًا.
“Ya Allah, jadikanlah cahaya di dalam hatiku, cahaya pada pendengaranku, cahaya
pada penglihatanku, dan cahaya pada lisanku.”
اللَّهُمَّ
اشْرَحْ لِي صَدْرِي وَيَسِّرْ لِي أَمْرِي.
“Ya Allah, lapangkanlah dadaku dan mudahkanlah urusanku.”
وَلْيَقُلْ:
اللَّهُمَّ رَبَّ الْحَمْدِ، لَكَ الْحَمْدُ كَمَا تَقُولُ وَخَيْرًا مِمَّا
نَقُولُ، لَكَ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي، وَإِلَيْكَ مَآبِي
وَإِلَيْكَ ثَوَابِي.
Dan hendaknya ia mengucapkan: “Ya Allah, Tuhan segala puji. Bagi-Mu segala puji
sebagaimana Engkau memuji diri-Mu, bahkan lebih baik daripada pujian kami.
Untuk-Mu salatku, ibadahku, hidupku, dan matiku. Kepada-Mu tempat kembaliku dan
kepada-Mu pahalaku.”
اللَّهُمَّ
إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ وَسَاوِسِ الصَّدْرِ وَشَتَاتِ الْأَمْرِ وَعَذَابِ
الْقَبْرِ.
“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari bisikan-bisikan dada,
kegoncangan urusan, dan azab kubur.”
اللَّهُمَّ
إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا يَلِجُ فِي اللَّيْلِ، وَمِنْ شَرِّ مَا
يَلِجُ فِي النَّهَارِ، وَمِنْ شَرِّ مَا تَهُبُّ بِهِ الرِّيَاحُ، وَمِنْ شَرِّ
بَوَائِقِ الدَّهْرِ.
“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari keburukan apa yang masuk
pada malam hari, dari keburukan apa yang masuk pada siang hari, dari keburukan
apa yang dibawa oleh angin, dan dari keburukan bencana-bencana masa.”
اللَّهُمَّ
إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ تَحَوُّلِ عَافِيَتِكَ وَفَجْأَةِ نِقْمَتِكَ وَجَمِيعِ
سَخَطِكَ.
“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari berubahnya nikmat
sehat-Mu, dari datangnya siksa-Mu secara tiba-tiba, dan dari seluruh
kemurkaan-Mu.”
اللَّهُمَّ
اهْدِنِي بِالْهُدَى، وَاغْفِرْ لِي فِي الْآخِرَةِ وَالْأُولَى، يَا خَيْرَ
مَقْصُودٍ، وَأَسْنَى مَنْزُولٍ بِهِ، وَأَكْرَمَ مَسْئُولٍ مَا لَدَيْهِ.
“Ya Allah, berilah aku petunjuk dengan petunjuk-Mu, dan ampunilah aku di
akhirat dan di dunia. Wahai sebaik-baik tujuan, seagung-agung tempat
berlindung, dan semulia-mulia yang diminta apa yang ada di sisi-Nya.”
أَعْطِنِي
الْعَشِيَّةَ أَفْضَلَ مَا أَعْطَيْتَ أَحَدًا مِنْ خَلْقِكَ وَحُجَّاجِ بَيْتِكَ،
يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ.
“Berikanlah kepadaku pada petang hari ini sesuatu yang paling utama dari apa
yang pernah Engkau berikan kepada salah seorang dari makhluk-Mu dan para jamaah
haji rumah-Mu, wahai Yang Maha Penyayang di antara para penyayang.”
اللَّهُمَّ
يَا رَفِيعَ الدَّرَجَاتِ، وَمُنْزِلَ الْبَرَكَاتِ، وَيَا فَاطِرَ الْأَرَضِينَ
وَالسَّمَوَاتِ، ضَجَّتْ إِلَيْكَ الْأَصْوَاتُ بِصُنُوفِ اللُّغَاتِ،
يَسْأَلُونَكَ الْحَاجَاتِ.
“Ya Allah, wahai Yang Mahatinggi derajat, Yang menurunkan keberkahan, wahai
Pencipta bumi dan langit, suara-suara telah berseru kepada-Mu dengan berbagai
macam bahasa, semuanya memohon kebutuhan-kebutuhan kepada-Mu.”
وَحَاجَتِي
إِلَيْكَ أَنْ لَا تَنْسَانِي فِي دَارِ الْبَلَاءِ إِذَا نَسِينِي أَهْلُ
الدُّنْيَا.
“Dan kebutuhanku kepada-Mu adalah agar Engkau tidak melupakanku di negeri
cobaan ketika penduduk dunia telah melupakanku.”
اللَّهُمَّ
إِنَّكَ تَسْمَعُ كَلَامِي، وَتَرَى مَكَانِي، وَتَعْلَمُ سِرِّي وَعَلَانِيَتِي،
وَلَا يَخْفَى عَلَيْكَ شَيْءٌ مِنْ أَمْرِي.
“Ya Allah, sesungguhnya Engkau mendengar perkataanku, melihat tempatku,
mengetahui rahasiaku dan keteranganku, dan tidak ada sesuatu pun dari urusanku
yang tersembunyi dari-Mu.”
أَنَا
الْبَائِسُ الْفَقِيرُ، الْمُسْتَغِيثُ الْمُسْتَجِيرُ، الْوَجِلُ الْمُشْفِقُ،
الْمُعْتَرِفُ بِذَنْبِهِ.
“Aku adalah orang yang sengsara dan fakir, yang meminta pertolongan dan
perlindungan, yang takut dan cemas, yang mengakui dosanya.”
أَسْأَلُكَ
مَسْأَلَةَ الْمِسْكِينِ، وَأَبْتَهِلُ إِلَيْكَ ابْتِهَالَ الْمُذْنِبِ
الذَّلِيلِ، وَأَدْعُوكَ دُعَاءَ الْخَائِفِ الضَّرِيرِ.
“Aku memohon kepada-Mu sebagaimana permohonan orang miskin. Aku bermunajat
kepada-Mu seperti munajat seorang pendosa yang hina. Aku berdoa kepada-Mu
seperti doa orang yang takut dan lemah.”
دُعَاءَ
مَنْ خَضَعَتْ لَكَ رَقَبَتُهُ، وَفَاضَتْ لَكَ عَبْرَتُهُ، وَذَلَّ لَكَ
جَسَدُهُ، وَرَغِمَ لَكَ أَنْفُهُ.
“Yaitu doa orang yang tengkuknya tunduk kepada-Mu, air matanya mengalir
karena-Mu, tubuhnya hina di hadapan-Mu, dan hidungnya merendah untuk-Mu.”
اللَّهُمَّ
لَا تَجْعَلْنِي بِدُعَائِكَ رَبِّ شَقِيًّا، وَكُنْ بِي رَءُوفًا رَحِيمًا، يَا
خَيْرَ الْمَسْئُولِينَ وَأَكْرَمَ الْمُعْطِينَ.
“Ya Allah, wahai Tuhanku, jangan jadikan aku celaka karena berdoa kepada-Mu.
Bersikaplah kepadaku dengan penuh kasih dan rahmat, wahai sebaik-baik tempat
meminta dan semulia-mulia pemberi.”
إِلَهِي،
مَنْ مَدَحَ لَكَ نَفْسَهُ فَإِنِّي لَائِمُ نَفْسِي.
“Tuhanku, jika ada orang yang memuji dirinya di hadapan-Mu, maka sesungguhnya
aku justru mencela diriku.”
إِلَهِي،
أَخْرَسَتِ الْمَعَاصِي لِسَانِي، فَمَا لِي وَسِيلَةٌ عَنْ عَمَلٍ وَلَا شَفِيعٌ
سِوَى الْأَمَلِ.
“Tuhanku, kemaksiatan telah membungkam lisanku, maka aku tidak memiliki jalan
melalui amal, dan tidak pula pemberi syafaat selain harapan.”
إِلَهِي،
إِنِّي أَعْلَمُ أَنَّ ذُنُوبِي لَمْ تُبْقِ لِي عِنْدَكَ جَاهًا وَلَا
لِلِاعْتِذَارِ وَجْهًا، وَلَكِنَّكَ أَكْرَمُ الْأَكْرَمِينَ.
“Tuhanku, aku tahu bahwa dosa-dosaku tidak lagi menyisakan kehormatan bagiku di
sisi-Mu, dan tidak pula wajah yang layak untuk meminta maaf. Akan tetapi,
Engkau adalah Yang Mahamulia di antara para mulia.”
إِلَهِي،
إِنْ لَمْ أَكُنْ أَهْلًا أَنْ أَبْلُغَ رَحْمَتَكَ، فَإِنَّ رَحْمَتَكَ أَهْلٌ
أَنْ تَبْلُغَنِي، وَرَحْمَتُكَ وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍ، وَأَنَا شَيْءٌ.
“Tuhanku, jika aku tidak layak untuk mencapai rahmat-Mu, maka rahmat-Mu layak
untuk mencapai diriku. Rahmat-Mu meliputi segala sesuatu, dan aku adalah
sesuatu.”
إِلَهِي،
إِنَّ ذُنُوبِي وَإِنْ كَانَتْ عِظَامًا، وَلَكِنَّهَا صِغَارٌ فِي جَنْبِ
عَفْوِكَ، فَاغْفِرْهَا لِي يَا كَرِيمُ.
“Tuhanku, sesungguhnya dosa-dosaku, walaupun besar, namun ia kecil di hadapan
ampunan-Mu. Maka ampunilah dosa-dosa itu untukku, wahai Yang Mahamulia.”
إِلَهِي،
أَنْتَ أَنْتَ وَأَنَا أَنَا، أَنَا الْعَوَّادُ إِلَى الذُّنُوبِ، وَأَنْتَ
الْعَوَّادُ إِلَى الْمَغْفِرَةِ.
“Tuhanku, Engkau tetap Engkau, dan aku tetap aku. Aku adalah yang selalu
kembali kepada dosa, sedangkan Engkau adalah Yang selalu kembali kepada
ampunan.”
إِلَهِي،
إِنْ كُنْتَ لَا تَرْحَمُ إِلَّا أَهْلَ طَاعَتِكَ، فَإِلَى مَنْ يَفْزَعُ
الْمُذْنِبُونَ؟
“Tuhanku, jika Engkau tidak merahmati kecuali orang-orang yang taat kepada-Mu,
maka kepada siapa lagi para pendosa akan berlindung?”
إِلَهِي،
تَجَنَّبْتُ عَنْ طَاعَتِكَ عَمْدًا، وَتَوَجَّهْتُ إِلَى مَعْصِيَتِكَ قَصْدًا.
“Tuhanku, aku menjauh dari ketaatan kepada-Mu dengan sengaja, dan aku menuju
kemaksiatan kepada-Mu dengan sadar.”
فَسُبْحَانَكَ،
مَا أَعْظَمَ حُجَّتَكَ عَلَيَّ، وَأَكْرَمَ عَفْوَكَ عَنِّي.
“Maha Suci Engkau, betapa agung hujah-Mu atas diriku, dan betapa mulia
ampunan-Mu kepadaku.”
فَبِوُجُوبِ
حُجَّتِكَ عَلَيَّ، وَانْقِطَاعِ حُجَّتِي عَنْكَ، وَفَقْرِي إِلَيْكَ، وَغِنَاكَ
عَنِّي، إِلَّا غَفَرْتَ لِي، يَا خَيْرَ مَنْ دَعَاهُ دَاعٍ، وَأَفْضَلَ مَنْ
رَجَاهُ رَاجٍ.
“Maka demi tegaknya hujah-Mu atasku, putusnya hujahku di hadapan-Mu,
kefakiranku kepada-Mu, dan kekayaan-Mu dariku, ampunilah aku, wahai sebaik-baik
yang diseru oleh orang yang berdoa, dan seutama-utama yang diharapkan oleh
orang yang berharap.”
بِحُرْمَةِ
الْإِسْلَامِ، وَبِذِمَّةِ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ،
أَتَوَسَّلُ إِلَيْكَ، فَاغْفِرْ لِي جَمِيعَ ذُنُوبِي، وَاصْرِفْنِي مِنْ
مَوْقِفِي هَذَا مَقْضِيَّ الْحَوَائِجِ، وَهَبْ لِي مَا سَأَلْتُ، وَحَقِّقْ
رَجَائِي فِيمَا تَمَنَّيْتُ.
“Dengan kemuliaan Islam dan dengan jaminan Muhammad saw., aku bertawassul
kepada-Mu. Maka ampunilah seluruh dosaku, pulangkanlah aku dari tempat wuqufku
ini dalam keadaan hajatku terkabul, karuniakanlah kepadaku apa yang aku minta,
dan wujudkanlah harapanku dalam apa yang aku cita-citakan.”
إِلَهِي،
دَعَوْتُكَ بِالدُّعَاءِ الَّذِي عَلَّمْتَنِيهِ، فَلَا تَحْرِمْنِي الرَّجَاءَ
الَّذِي عَرَّفْتَنِيهِ.
“Tuhanku, aku berdoa kepada-Mu dengan doa yang Engkau ajarkan kepadaku, maka
janganlah Engkau menghalangiku dari harapan yang telah Engkau kenalkan
kepadaku.”
إِلَهِي،
مَا أَنْتَ صَانِعُ الْعَشِيَّةَ بِعَبْدٍ مُقِرٍّ لَكَ بِذَنْبِهِ، خَاشِعٍ لَكَ
بِذِلَّتِهِ، مُسْتَكِينٍ بِجُرْمِهِ، مُتَضَرِّعٍ إِلَيْكَ مِنْ عَمَلِهِ،
تَائِبٍ إِلَيْكَ مِنِ اقْتِرَافِهِ، مُسْتَغْفِرٍ لَكَ مِنْ ظُلْمِهِ، مُبْتَهِلٍ
إِلَيْكَ فِي الْعَفْوِ عَنْهُ، طَالِبٍ إِلَيْكَ نَجَاحَ حَوَائِجِهِ، رَاجٍ
إِلَيْكَ فِي مَوْقِفِهِ مَعَ كَثْرَةِ ذُنُوبِهِ؟
“Tuhanku, apakah yang akan Engkau lakukan pada petang ini terhadap seorang
hamba yang mengakui dosanya kepada-Mu, khusyuk karena kehinaannya di
hadapan-Mu, tunduk karena kejahatannya, merendah kepada-Mu karena amalnya,
bertobat kepada-Mu dari pelanggarannya, memohon ampun kepada-Mu atas
kezalimannya, bersungguh-sungguh memohon ampunan-Mu untuknya, memohon kepada-Mu
keberhasilan berbagai hajatnya, dan berharap kepada-Mu di tempat wuqufnya ini
meskipun dosanya banyak?”
فَيَا
مَلْجَأَ كُلِّ حَيٍّ، وَوَلِيَّ كُلِّ مُؤْمِنٍ، مَنْ أَحْسَنَ فَبِرَحْمَتِكَ
يَفُوزُ، وَمَنْ أَخْطَأَ فَبِخَطِيئَتِهِ يَهْلِكُ.
“Maka wahai tempat berlindung setiap yang hidup, wahai pelindung setiap orang
beriman, siapa yang berbuat baik maka dengan rahmat-Mu ia akan beruntung, dan
siapa yang bersalah maka dengan kesalahannya ia akan binasa.”
اللَّهُمَّ
إِلَيْكَ خَرَجْنَا، وَبِفِنَائِكَ أَنَخْنَا، وَإِيَّاكَ أَمَلْنَا، وَمَا
عِنْدَكَ طَلَبْنَا، وَلِإِحْسَانِكَ تَعَرَّضْنَا، وَرَحْمَتَكَ رَجَوْنَا،
وَمِنْ عَذَابِكَ أَشْفَقْنَا، وَإِلَيْكَ بِأَثْقَالِ الذُّنُوبِ هَرَبْنَا،
وَلِبَيْتِكَ الْحَرَامِ حَجَجْنَا.
“Ya Allah, kepada-Mu kami keluar, di halaman-Mu kami singgah, kepada-Mu kami
berharap, apa yang ada di sisi-Mu kami cari, kepada kebaikan-Mu kami
menghadapkan diri, rahmat-Mu kami harapkan, dari azab-Mu kami takut, kepada-Mu
kami lari membawa beban dosa-dosa, dan ke rumah-Mu yang suci kami berhaji.”
يَا
مَنْ يَمْلِكُ حَوَائِجَ السَّائِلِينَ، وَيَعْلَمُ ضَمَائِرَ الصَّامِتِينَ، يَا
مَنْ لَيْسَ مَعَهُ رَبٌّ يُدْعَى، وَيَا مَنْ لَيْسَ فَوْقَهُ خَالِقٌ يُخْشَى،
وَيَا مَنْ لَيْسَ لَهُ وَزِيرٌ يُؤْتَى، وَلَا حَاجِبٌ يُرْشَى، يَا مَنْ لَا
يَزْدَادُ عَلَى كَثْرَةِ السُّؤَالِ إِلَّا جُودًا وَكَرَمًا، وَعَلَى كَثْرَةِ
الْحَوَائِجِ إِلَّا تَفَضُّلًا وَإِحْسَانًا.
“Wahai Dzat yang memiliki kebutuhan orang-orang yang meminta, dan mengetahui
isi hati orang-orang yang diam. Wahai Dzat yang tidak ada tuhan lain
bersama-Nya untuk diseru, tidak ada pencipta di atas-Nya untuk ditakuti, tidak
ada menteri bagi-Nya yang harus didatangi, dan tidak ada penjaga pintu yang
perlu disuap. Wahai Dzat yang tidak bertambah karena banyaknya permintaan
kecuali kemurahan dan kemuliaan, dan tidak bertambah karena banyaknya kebutuhan
kecuali karunia dan kebaikan.”
اللَّهُمَّ
إِنَّكَ جَعَلْتَ لِكُلِّ ضَيْفٍ قِرًى، وَنَحْنُ أَضْيَافُكَ، فَاجْعَلْ قِرَانَا
مِنْكَ الْجَنَّةَ.
“Ya Allah, sesungguhnya Engkau telah menjadikan bagi setiap tamu suatu jamuan,
dan kami adalah tamu-tamu-Mu. Maka jadikanlah jamuan kami dari-Mu berupa
surga.”
اللَّهُمَّ
إِنَّ لِكُلِّ وَفْدٍ جَائِزَةً، وَلِكُلِّ زَائِرٍ كَرَامَةً، وَلِكُلِّ سَائِلٍ
عَطِيَّةً، وَلِكُلِّ رَاجٍ ثَوَابًا، وَلِكُلِّ مُلْتَمِسٍ لِمَا عِنْدَكَ
جَزَاءً، وَلِكُلِّ مُسْتَرْحِمٍ عِنْدَكَ رَحْمَةً، وَلِكُلِّ رَاغِبٍ إِلَيْكَ
زُلْفَى، وَلِكُلِّ مُتَوَسِّلٍ إِلَيْكَ عَفْوًا.
“Ya Allah, sesungguhnya bagi setiap rombongan ada hadiah, bagi setiap peziarah
ada kemuliaan, bagi setiap peminta ada pemberian, bagi setiap orang yang
berharap ada pahala, bagi setiap pencari apa yang ada di sisi-Mu ada balasan,
bagi setiap orang yang memohon rahmat kepada-Mu ada kasih sayang, bagi setiap
orang yang mendambakan-Mu ada kedekatan, dan bagi setiap orang yang bertawassul
kepada-Mu ada ampunan.”
وَقَدْ
وَفَدْنَا إِلَى بَيْتِكَ الْحَرَامِ، وَوَقَفْنَا بِهَذِهِ الْمَشَاعِرِ
الْعِظَامِ، وَشَهِدْنَا هَذِهِ الْمَشَاهِدَ الْكِرَامَ، رَجَاءً لِمَا عِنْدَكَ،
فَلَا تُخَيِّبْ رَجَاءَنَا.
“Dan sungguh kami telah datang ke rumah-Mu yang suci, berdiri di syiar-syiar
agung ini, dan menyaksikan tempat-tempat mulia ini, dengan harapan terhadap apa
yang ada di sisi-Mu. Maka janganlah Engkau kecewakan harapan kami.”
إِلَهَنَا،
تَابَعْتَ النِّعَمَ حَتَّى اطْمَأَنَّتِ الْأَنْفُسُ بِتَتَابُعِ نِعَمِكَ،
وَأَظْهَرْتَ الْعِبَرَ حَتَّى نَطَقَتِ الصَّوَامِتُ بِحُجَّتِكَ، وَظَاهَرْتَ
الْمِنَنَ حَتَّى اعْتَرَفَ أَوْلِيَاؤُكَ بِالتَّقْصِيرِ عَنْ حَقِّكَ.
“Wahai Tuhan kami, Engkau telah melimpahkan nikmat demi nikmat hingga jiwa-jiwa
menjadi tenteram dengan datangnya nikmat-Mu. Engkau menampakkan
pelajaran-pelajaran hingga yang diam pun berbicara tentang hujah-Mu. Engkau
menampakkan karunia-karunia hingga para wali-Mu mengakui kekurangan mereka
dalam menunaikan hak-Mu.”
وَأَظْهَرْتَ
الْآيَاتِ حَتَّى أَفْصَحَتِ السَّمَوَاتُ وَالْأَرَضُونَ بِأَدِلَّتِكَ،
وَقَهَرْتَ بِقُدْرَتِكَ حَتَّى خَضَعَ كُلُّ شَيْءٍ لِعِزَّتِكَ، وَعَنَتِ
الْوُجُوهُ لِعَظَمَتِكَ.
“Engkau menampakkan tanda-tanda hingga langit dan bumi menjelaskan
dalil-dalil-Mu. Engkau menundukkan dengan kekuasaan-Mu hingga segala sesuatu
tunduk kepada kemuliaan-Mu, dan semua wajah merendah kepada keagungan-Mu.”
إِذَا
أَسَاءَ عِبَادُكَ حَلُمْتَ وَأَمْهَلْتَ، وَإِنْ أَحْسَنُوا تَفَضَّلْتَ
وَقَبِلْتَ، وَإِنْ عَصَوْا سَتَرْتَ، وَإِنْ أَذْنَبُوا عَفَوْتَ وَغَفَرْتَ،
وَإِذَا دَعَوْنَا أَجَبْتَ، وَإِذَا نَادَيْنَا سَمِعْتَ، وَإِذَا أَقْبَلْنَا
إِلَيْكَ قَرَّبْتَ، وَإِذَا وَلَّيْنَا عَنْكَ دَعَوْتَ.
“Jika hamba-hamba-Mu berbuat buruk, Engkau tetap bersabar dan menangguhkan.
Jika mereka berbuat baik, Engkau memberi karunia dan menerima. Jika mereka
durhaka, Engkau menutupi. Jika mereka berdosa, Engkau memaafkan dan mengampuni.
Jika kami berdoa, Engkau mengabulkan. Jika kami memanggil, Engkau mendengar.
Jika kami mendekat kepada-Mu, Engkau mendekatkan. Dan jika kami berpaling
dari-Mu, Engkau tetap memanggil.”
إِلَهَنَا،
إِنَّكَ قُلْتَ فِي كِتَابِكَ الْمُبِينِ لِمُحَمَّدٍ خَاتَمِ النَّبِيِّينَ:
﴿قُلْ لِلَّذِينَ كَفَرُوا إِنْ يَنْتَهُوا يُغْفَرْ لَهُمْ مَا قَدْ سَلَفَ﴾.
“Wahai Tuhan kami, sesungguhnya Engkau telah berfirman dalam kitab-Mu yang
jelas kepada Muhammad, penutup para nabi: ‘Katakanlah kepada orang-orang kafir,
jika mereka berhenti, niscaya akan diampuni bagi mereka apa yang telah lalu.’”
فَأَرْضَاكَ
عَنْهُمْ بِالْإِقْرَارِ بِكَلِمَةِ التَّوْحِيدِ بَعْدَ الْجُحُودِ.
“Maka Engkau meridhai mereka dengan pengakuan terhadap kalimat tauhid setelah
sebelumnya mengingkari.”
وَإِنَّا
نَشْهَدُ لَكَ بِالتَّوْحِيدِ مُخْبِتِينَ، وَلِمُحَمَّدٍ بِالرِّسَالَةِ
مُخْلِصِينَ، فَاغْفِرْ لَنَا بِهَذِهِ الشَّهَادَةِ سَوَالِفَ الْإِجْرَامِ،
وَلَا تَجْعَلْ حَظَّنَا فِيهِ أَنْقَصَ مِنْ حَظِّ مَنْ دَخَلَ فِي الْإِسْلَامِ.
“Dan kami bersaksi untuk-Mu dengan tauhid dalam keadaan tunduk, dan untuk
Muhammad dengan risalah dalam keadaan ikhlas. Maka ampunilah bagi kami, dengan
persaksian ini, dosa-dosa yang telah lalu, dan janganlah bagian kami dalam hal
ini lebih sedikit daripada bagian orang yang baru masuk Islam.”
إِلَهَنَا،
إِنَّكَ أَحْبَبْتَ التَّقَرُّبَ إِلَيْكَ بِعِتْقِ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُنَا،
وَنَحْنُ عَبِيدُكَ، وَأَنْتَ أَوْلَى بِالتَّفَضُّلِ، فَأَعْتِقْنَا.
“Wahai Tuhan kami, sesungguhnya Engkau menyukai pendekatan diri kepada-Mu
dengan memerdekakan hamba-hamba yang kami miliki, padahal kami ini adalah
hamba-hamba-Mu, dan Engkau lebih berhak untuk berbuat karunia. Maka
merdekakanlah kami.”
وَإِنَّكَ
أَمَرْتَنَا أَنْ نَتَصَدَّقَ عَلَى فُقَرَائِنَا، وَنَحْنُ فُقَرَاؤُكَ، وَأَنْتَ
أَحَقُّ بِالتَّطَوُّلِ، فَتَصَدَّقْ عَلَيْنَا.
“Dan sesungguhnya Engkau telah memerintahkan kami untuk bersedekah kepada
orang-orang fakir kami, padahal kami adalah fakir-fakir-Mu, dan Engkau lebih
berhak untuk memberi karunia. Maka bersedekahlah kepada kami.”
وَوَصَّيْتَنَا
بِالْعَفْوِ عَمَّنْ ظَلَمَنَا، وَقَدْ ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا، وَأَنْتَ أَحَقُّ
بِالْكَرَمِ، فَاعْفُ عَنَّا.
“Dan Engkau telah mewasiatkan kami agar memaafkan orang yang menzalimi kami,
padahal kami telah menzalimi diri kami sendiri, dan Engkau lebih berhak
memiliki kemurahan. Maka maafkanlah kami.”
رَبَّنَا
اغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا، أَنْتَ مَوْلَانَا، رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا
حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا بِرَحْمَتِكَ عَذَابَ النَّارِ.
“Wahai Tuhan kami, ampunilah kami dan rahmatilah kami. Engkaulah Pelindung
kami. Wahai Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat,
dan lindungilah kami dengan rahmat-Mu dari azab neraka.”
وَلْيُكْثِرْ
مِنْ دُعَاءِ الْخَضِرِ عَلَيْهِ السَّلَامُ، وَهُوَ أَنْ يَقُولَ: يَا مَنْ لَا
يَشْغَلُهُ شَأْنٌ عَنْ شَأْنٍ، وَلَا سَمْعٌ عَنْ سَمْعٍ، وَلَا تَشْتَبِهُ
عَلَيْهِ الْأَصْوَاتُ، يَا مَنْ لَا تُغَلِّطُهُ الْمَسَائِلُ، وَلَا تَخْتَلِفُ
عَلَيْهِ اللُّغَاتُ، يَا مَنْ لَا يُبْرِمُهُ إِلْحَاحُ الْمُلِحِّينَ، وَلَا
تُضْجِرُهُ مَسْأَلَةُ السَّائِلِينَ، أَذِقْنَا بَرْدَ عَفْوِكَ وَحَلَاوَةَ
مُنَاجَاتِكَ.
Dan hendaknya ia memperbanyak doa al-Khidhir عليه السلام, yaitu dengan
mengucapkan: “Wahai Dzat yang tidak disibukkan oleh suatu urusan dari urusan
yang lain, tidak terhalang satu pendengaran dari pendengaran yang lain, dan
suara-suara tidak samar bagi-Nya. Wahai Dzat yang tidak dibuat keliru oleh
banyaknya permintaan, dan tidak berbeda-beda bahasa bagi-Nya. Wahai Dzat yang
tidak dibuat bosan oleh desakan orang-orang yang terus-menerus meminta, dan
tidak dibuat jemu oleh permintaan para pemohon. Rasakanlah kepada kami
kesejukan ampunan-Mu dan manisnya bermunajat kepada-Mu.”
وَلْيَدْعُ
بِمَا بَدَا لَهُ، وَلْيَسْتَغْفِرْ لَهُ وَلِوَالِدَيْهِ وَلِجَمِيعِ
الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ.
Dan hendaknya ia berdoa dengan apa yang terlintas baginya, serta memohon ampun
untuk dirinya, kedua orang tuanya, dan seluruh kaum mukminin dan mukminat.
وَلْيُلِحَّ
فِي الدُّعَاءِ، وَلْيُعَظِّمِ الْمَسْأَلَةَ، فَإِنَّ اللَّهَ لَا يَتَعَاظَمُهُ
شَيْءٌ.
Dan hendaknya ia bersungguh-sungguh dalam berdoa serta membesarkan
permohonannya, karena tidak ada sesuatu pun yang terlalu besar bagi Allah.
وَقَالَ
مُطَرِّفُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ وَهُوَ بِعَرَفَةَ: اللَّهُمَّ لَا تَرُدَّ
الْجَمِيعَ مِنْ أَجْلِي.
Mutharrif bin Abdullah berkata ketika ia berada di Arafah: “Ya Allah, janganlah
Engkau tolak seluruh jamaah ini hanya karena diriku.”
وَقَالَ
بَكْرٌ الْمُزَنِيُّ: قَالَ رَجُلٌ: لَمَّا نَظَرْتُ إِلَى أَهْلِ عَرَفَاتٍ
ظَنَنْتُ أَنَّهُمْ قَدْ غُفِرَ لَهُمْ لَوْلَا أَنِّي كُنْتُ فِيهِمْ.
Bakr al-Muzani berkata: Seseorang berkata, “Ketika aku melihat penduduk Arafat,
aku mengira mereka semua telah diampuni, kalau bukan karena aku berada di
tengah-tengah mereka.”