Bermalamdi Mina, Melempar Jumrah, Menyembelih, Mencukur Rambut, dan Thawaf

اَلْجُمْلَةُ السَّابِعَةُ فِي بَقِيَّةِ أَعْمَالِ الْحَجِّ بَعْدَ الْوُقُوفِ مِنَ الْمَبِيتِ وَالرَّمْيِ وَالنَّحْرِ وَالْحَلْقِ وَالطَّوَافِ

Bagian ketujuh tentang sisa amalan-amalan haji setelah wuquf, yaitu bermalam, melempar jumrah, menyembelih, mencukur rambut, dan thawaf.

فَإِذَا أَفَاضَ مِنْ عَرَفَةَ بَعْدَ غُرُوبِ الشَّمْسِ فَيَنْبَغِي أَنْ يَكُونَ عَلَى السَّكِينَةِ وَالْوَقَارِ.
Apabila ia bertolak dari Arafah setelah matahari terbenam, maka hendaklah ia tetap tenang dan penuh wibawa.

وَلْيَجْتَنِبْ وَجِيفَ الْخَيْلِ وَإِيضَاعَ الْإِبِلِ كَمَا يَعْتَادُهُ بَعْضُ النَّاسِ.
Dan hendaklah ia menjauhi memacu kuda dengan keras dan mempercepat unta secara berlebihan sebagaimana kebiasaan sebagian orang.

فَإِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى عَنْ وَجِيفِ الْخَيْلِ وَإِيضَاعِ الْإِبِلِ.
Sesungguhnya Rasulullah saw. melarang memacu kuda dan mempercepat unta secara berlebihan.

وَقَالَ: اتَّقُوا اللَّهَ وَسِيرُوا سَيْرًا جَمِيلًا، لَا تَطَئُوا ضَعِيفًا وَلَا تُؤْذُوا مُسْلِمًا.
Beliau bersabda: “Bertakwalah kepada Allah dan berjalanlah dengan perjalanan yang baik. Jangan menginjak orang yang lemah dan jangan menyakiti seorang muslim.”

فَإِذَا بَلَغَ الْمُزْدَلِفَةَ اغْتَسَلَ لَهَا، لِأَنَّ الْمُزْدَلِفَةَ مِنَ الْحَرَمِ، فَلْيَدْخُلْهَا بِغُسْلٍ.
Apabila ia sampai di Muzdalifah, hendaknya ia mandi untuk memasukinya, karena Muzdalifah termasuk tanah haram. Maka hendaklah ia memasukinya dalam keadaan telah mandi.

وَإِنْ قَدَرَ عَلَى دُخُولِهَا مَاشِيًا فَهُوَ أَفْضَلُ وَأَقْرَبُ إِلَى تَوْقِيرِ الْحَرَمِ.
Jika ia mampu memasukinya dengan berjalan kaki, maka itu lebih utama dan lebih dekat kepada penghormatan terhadap tanah haram.

وَيَكُونُ فِي الطَّرِيقِ رَافِعًا صَوْتَهُ بِالتَّلْبِيَةِ.
Dan selama di perjalanan, hendaknya ia mengeraskan suaranya dengan talbiyah.

فَإِذَا بَلَغَ الْمُزْدَلِفَةَ قَالَ: اللَّهُمَّ إِنَّ هَذِهِ مُزْدَلِفَةُ، جُمِعَتْ فِيهَا أَلْسِنَةٌ مُخْتَلِفَةٌ تَسْأَلُكَ حَوَائِجَ مُؤْتَنَفَةً، فَاجْعَلْنِي مِمَّنْ دَعَاكَ فَاسْتَجَبْتَ لَهُ، وَتَوَكَّلَ عَلَيْكَ فَكَفَيْتَهُ.
Apabila ia sampai di Muzdalifah, hendaknya ia mengucapkan: “Ya Allah, sesungguhnya ini adalah Muzdalifah. Di dalamnya berkumpul berbagai lisan yang berbeda-beda memohon kepada-Mu berbagai kebutuhan yang baru. Maka jadikanlah aku termasuk orang yang berdoa kepada-Mu lalu Engkau kabulkan, dan orang yang bertawakal kepada-Mu lalu Engkau cukupi.”

ثُمَّ يَجْمَعُ بَيْنَ الْمَغْرِبِ وَالْعِشَاءِ بِمُزْدَلِفَةَ فِي وَقْتِ الْعِشَاءِ، قَاصِرًا لَهُ، بِأَذَانٍ وَإِقَامَتَيْنِ، لَيْسَ بَيْنَهُمَا نَافِلَةٌ.
Kemudian ia menjamak Magrib dan Isya di Muzdalifah pada waktu Isya, dengan qasar, satu azan dan dua iqamah, tanpa salat sunah di antara keduanya.

وَلَكِنْ يَجْمَعُ نَافِلَةَ الْمَغْرِبِ وَالْعِشَاءِ وَالْوِتْرَ بَعْدَ الْفَرِيضَتَيْنِ.
Akan tetapi, ia menggabungkan salat sunah Magrib, salat sunah Isya, dan witir setelah dua salat fardu itu.

وَيَبْدَأُ بِنَافِلَةِ الْمَغْرِبِ ثُمَّ بِنَافِلَةِ الْعِشَاءِ كَمَا فِي الْفَرِيضَتَيْنِ.
Dan ia memulai dengan salat sunah Magrib kemudian salat sunah Isya, sebagaimana urutan pada dua salat fardunya.

فَإِنَّ تَرْكَ النَّوَافِلِ فِي السَّفَرِ خُسْرَانٌ ظَاهِرٌ، وَتَكْلِيفَ إِيقَاعِهَا فِي الْأَوْقَاتِ إِضْرَارٌ وَقَطْعٌ لِلتَّبَعِيَّةِ بَيْنَهَا وَبَيْنَ الْفَرَائِضِ.
Sebab meninggalkan salat-salat sunah dalam perjalanan merupakan kerugian yang nyata, sedangkan mewajibkan pelaksanaannya pada waktu-waktu masing-masing akan memberatkan dan memutus keterkaitannya dengan salat-salat fardu.

فَإِذَا جَازَ أَنْ تُؤَدَّى النَّوَافِلُ مَعَ الْفَرَائِضِ بِتَيَمُّمٍ وَاحِدٍ بِحُكْمِ التَّبَعِيَّةِ، فَبِأَنْ يَجُوزَ أَدَاؤُهُمَا عَلَى حُكْمِ الْجَمْعِ بِالتَّبَعِيَّةِ أَوْلَى.
Jika diperbolehkan menunaikan salat-salat sunah bersama salat fardu dengan satu tayamum berdasarkan sifat pengikutannya, maka lebih utama lagi diperbolehkan menunaikannya dengan hukum jamak berdasarkan pengikutan itu.

وَلَا يَمْنَعُ مِنْ هَذَا مُفَارَقَةُ النَّفْلِ لِلْفَرْضِ فِي جَوَازِ أَدَائِهِ عَلَى الرَّاحِلَةِ، لِمَا أَوْمَأْنَا إِلَيْهِ مِنَ التَّبَعِيَّةِ وَالْحَاجَةِ.
Dan tidak terhalang oleh perbedaan hukum antara salat sunah dan salat fardu dalam hal bolehnya salat sunah di atas kendaraan, karena sebagaimana telah kami isyaratkan, pertimbangannya adalah sifat pengikutan dan kebutuhan.

ثُمَّ يَمْكُثُ تِلْكَ اللَّيْلَةَ بِمُزْدَلِفَةَ، وَهُوَ مَبِيتُ نُسُكٍ.
Kemudian ia bermalam pada malam itu di Muzdalifah, dan itu adalah bermalam yang termasuk nusuk.

وَمَنْ خَرَجَ مِنْهَا فِي النِّصْفِ الْأَوَّلِ مِنَ اللَّيْلِ وَلَمْ يَبِتْ فَعَلَيْهِ دَمٌ.
Siapa yang keluar darinya pada paruh pertama malam dan tidak bermalam di sana, maka ia wajib membayar dam.

وَإِحْيَاءُ هَذِهِ اللَّيْلَةِ الشَّرِيفَةِ مِنْ مَحَاسِنِ الْقُرُبَاتِ لِمَنْ يَقْدِرُ عَلَيْهِ.
Menghidupkan malam yang mulia ini dengan ibadah termasuk amal pendekatan yang indah bagi orang yang mampu melakukannya.

ثُمَّ إِذَا انْتَصَفَ اللَّيْلُ أَخَذَ فِي التَّأَهُّبِ لِلرَّحِيلِ، وَيَتَزَوَّدُ الْحَصَى مِنْهَا.
Kemudian apabila malam telah lewat pertengahannya, ia mulai bersiap-siap untuk berangkat dan mengambil kerikil dari sana.

فَفِيهَا أَحْجَارٌ رَخْوَةٌ، فَلْيَأْخُذْ سَبْعِينَ حَصَاةً، فَإِنَّهَا قَدْرُ الْحَاجَةِ.
Karena di sana terdapat batu-batu kecil yang lunak, maka hendaklah ia mengambil tujuh puluh butir kerikil, sebab itulah jumlah yang dibutuhkan.

وَلَا بَأْسَ بِأَنْ يَسْتَظْهِرَ بِزِيَادَةٍ، فَرُبَّمَا سَقَطَ مِنْهُ بَعْضُهَا.
Tidak mengapa jika ia mengambil lebih sebagai cadangan, karena boleh jadi sebagian kerikil itu jatuh darinya.

وَلْتَكُنِ الْحَصَى خِفَافًا بِحَيْثُ يَحْتَوِي عَلَيْهَا أَطْرَافُ الْبَرَاجِمِ.
Dan hendaklah kerikil itu ringan, sekira dapat digenggam oleh ujung-ujung jari.

ثُمَّ لِيُغَلِّسْ بِصَلَاةِ الصُّبْحِ، وَلْيَأْخُذْ فِي الْمَسِيرِ.
Kemudian hendaklah ia melaksanakan salat Subuh pada waktu ghalas, yakni masih gelap di awal waktu, lalu berangkat.

حَتَّى إِذَا انْتَهَى إِلَى الْمَشْعَرِ الْحَرَامِ، وَهُوَ آخِرُ الْمُزْدَلِفَةِ، فَيَقِفَ وَيَدْعُوَ إِلَى الْإِسْفَارِ.
Sampai apabila ia tiba di al-Masy’ar al-Haram, yaitu ujung Muzdalifah, maka hendaklah ia berhenti dan berdoa sampai waktu mulai terang.

وَيَقُولُ: اللَّهُمَّ بِحَقِّ الْمَشْعَرِ الْحَرَامِ وَالْبَيْتِ الْحَرَامِ وَالشَّهْرِ الْحَرَامِ وَالرُّكْنِ وَالْمَقَامِ، أَبْلِغْ رُوحَ مُحَمَّدٍ مِنَّا التَّحِيَّةَ وَالسَّلَامَ، وَأَدْخِلْنَا دَارَ السَّلَامِ، يَا ذَا الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ.
Dan hendaknya ia mengucapkan: “Ya Allah, demi kehormatan Masy’ar al-Haram, Baitul Haram, bulan haram, Rukun, dan Maqam, sampaikanlah dari kami salam penghormatan kepada ruh Muhammad, dan masukkanlah kami ke negeri keselamatan, wahai Pemilik keagungan dan kemuliaan.”

ثُمَّ يَدْفَعُ مِنْهَا قَبْلَ طُلُوعِ الشَّمْسِ حَتَّى يَنْتَهِيَ إِلَى مَوْضِعٍ يُقَالُ لَهُ وَادِي مُحَسِّرٍ.
Kemudian ia bertolak dari sana sebelum matahari terbit hingga sampai ke suatu tempat yang disebut Wadi Muhassir.

فَيُسْتَحَبُّ لَهُ أَنْ يُحَرِّكَ دَابَّتَهُ حَتَّى يَقْطَعَ عَرْضَ الْوَادِي.
Maka disunahkan baginya untuk mempercepat tunggangannya hingga melewati lebar lembah itu.

وَإِنْ كَانَ رَاجِلًا أَسْرَعَ فِي الْمَشْيِ.
Dan jika ia berjalan kaki, maka hendaklah ia mempercepat jalannya.

ثُمَّ إِذَا أَصْبَحَ يَوْمَ النَّحْرِ خَلَطَ التَّلْبِيَةَ بِالتَّكْبِيرِ، فَيُلَبِّي تَارَةً وَيُكَبِّرُ أُخْرَى.
Kemudian apabila masuk pagi hari Nahar, ia menggabungkan talbiyah dengan takbir, kadang bertalbiyah dan kadang bertakbir.

فَيَنْتَهِي إِلَى مِنًى وَمَوَاضِعِ الْجَمَرَاتِ، وَهِيَ ثَلَاثَةٌ.
Lalu ia sampai di Mina dan ke tempat-tempat jumrah, yang jumlahnya ada tiga.

فَيَتَجَاوَزُ الْأُولَى وَالثَّانِيَةَ، فَلَا شُغْلَ لَهُ مَعَهُمَا يَوْمَ النَّحْرِ.
Maka ia melewati jumrah pertama dan kedua, karena pada hari Nahar ia tidak mempunyai urusan dengan keduanya.

حَتَّى يَنْتَهِيَ إِلَى جَمْرَةِ الْعَقَبَةِ، وَهِيَ عَلَى يَمِينِ مُسْتَقْبِلِ الْقِبْلَةِ فِي الْجَادَّةِ.
Sampai ia tiba di Jumrah Aqabah, yang terletak di sebelah kanan orang yang menghadap kiblat di jalan utama.

وَالْمَرْمَى مُرْتَفِعٌ قَلِيلًا فِي سَفْحِ الْجَبَلِ، وَهُوَ ظَاهِرٌ بِمَوَاقِعِ الْجَمَرَاتِ.
Tempat lemparannya agak tinggi di lereng gunung, dan hal itu tampak jelas dari posisi-posisi jumrah.

وَيَرْمِي جَمْرَةَ الْعَقَبَةِ بَعْدَ طُلُوعِ الشَّمْسِ بِقَدْرِ رُمْحٍ.
Dan ia melempar Jumrah Aqabah setelah matahari terbit setinggi tombak.

وَكَيْفِيَّتُهُ أَنْ يَقِفَ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ، وَإِنِ اسْتَقْبَلَ الْجَمْرَةَ فَلَا بَأْسَ.
Caranya ialah ia berdiri menghadap kiblat. Jika ia menghadap ke arah jumrah, maka tidak mengapa.

وَيَرْمِي سَبْعَ حَصَيَاتٍ، رَافِعًا يَدَهُ، وَيُبَدِّلُ التَّلْبِيَةَ بِالتَّكْبِيرِ.
Ia melempar tujuh butir kerikil sambil mengangkat tangannya, dan mengganti talbiyah dengan takbir.

وَيَقُولُ مَعَ كُلِّ حَصَاةٍ: اللَّهُ أَكْبَرُ عَلَى طَاعَةِ الرَّحْمَنِ وَرَغْمِ الشَّيْطَانِ، اللَّهُمَّ تَصْدِيقًا بِكِتَابِكَ وَاتِّبَاعًا لِسُنَّةِ نَبِيِّكَ.
Dan pada setiap lemparan kerikil ia mengucapkan: “Allah Mahabesar, sebagai bentuk ketaatan kepada ar-Rahman dan penghinaan bagi setan. Ya Allah, sebagai pembenaran terhadap kitab-Mu dan mengikuti sunah nabi-Mu.”

فَإِذَا رَمَى قَطَعَ التَّلْبِيَةَ وَالتَّكْبِيرَ، إِلَّا التَّكْبِيرَ عَقِيبَ فَرَائِضِ الصَّلَوَاتِ مِنْ ظُهْرِ يَوْمِ النَّحْرِ إِلَى عَقِيبِ الصُّبْحِ مِنْ آخِرِ أَيَّامِ التَّشْرِيقِ.
Apabila ia telah melempar, ia menghentikan talbiyah dan takbir, kecuali takbir yang dibaca setelah salat-salat fardu, mulai dari Zuhur hari Nahar sampai setelah Subuh pada hari terakhir Tasyriq.

وَلَا يَقِفْ فِي هَذَا الْيَوْمِ لِلدُّعَاءِ، بَلْ يَدْعُو فِي مَنْزِلِهِ.
Dan pada hari ini ia tidak berhenti di tempat jumrah untuk berdoa, tetapi berdoa di tempat tinggalnya.

وَصِفَةُ التَّكْبِيرِ أَنْ يَقُولَ: اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيرًا، وَسُبْحَانَ اللَّهِ بُكْرَةً وَأَصِيلًا.
Bentuk takbirnya ialah mengucapkan: “Allah Mahabesar, Allah Mahabesar, Allah Mahabesar dengan sebesar-besarnya. Segala puji bagi Allah dengan sebanyak-banyaknya. Mahasuci Allah pada pagi dan petang.”

لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ.
“Tidak ada tuhan selain Allah Yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya, dengan memurnikan agama hanya untuk-Nya, walaupun orang-orang kafir membencinya.”

لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ، صَدَقَ وَعْدَهُ، وَنَصَرَ عَبْدَهُ، وَهَزَمَ الْأَحْزَابَ وَحْدَهُ، لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ.
“Tidak ada tuhan selain Allah semata. Dia menepati janji-Nya, menolong hamba-Nya, dan mengalahkan golongan-golongan musuh sendirian. Tidak ada tuhan selain Allah, dan Allah Mahabesar.”

ثُمَّ لِيَذْبَحِ الْهَدْيَ إِنْ كَانَ مَعَهُ، وَالْأَوْلَى أَنْ يَذْبَحَ بِنَفْسِهِ.
Kemudian hendaknya ia menyembelih hadyu jika ia membawanya, dan yang lebih utama ialah ia menyembelihnya sendiri.

وَلْيَقُلْ: بِسْمِ اللَّهِ وَاللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُمَّ مِنْكَ وَبِكَ وَإِلَيْكَ، تَقَبَّلْ مِنِّي كَمَا تَقَبَّلْتَ مِنْ خَلِيلِكَ إِبْرَاهِيمَ.
Dan hendaknya ia mengucapkan: “Dengan nama Allah, Allah Mahabesar. Ya Allah, dari-Mu, dengan-Mu, dan untuk-Mu. Terimalah dariku sebagaimana Engkau menerima dari kekasih-Mu Ibrahim.”

وَالتَّضْحِيَةُ بِالْبُدْنِ أَفْضَلُ، ثُمَّ بِالْبَقَرِ، ثُمَّ بِالشَّاةِ.
Berkurban dengan unta lebih utama, kemudian dengan sapi, kemudian dengan kambing.

وَالشَّاةُ أَفْضَلُ مِنْ مُشَارَكَةِ سِتَّةٍ فِي الْبَدَنَةِ أَوِ الْبَقَرَةِ.
Seekor kambing lebih utama daripada ikut berserikat berenam pada seekor unta atau sapi.

وَالضَّأْنُ أَفْضَلُ مِنَ الْمَعْزِ.
Domba lebih utama daripada kambing biasa.

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: خَيْرُ الْأُضْحِيَّةِ الْكَبْشُ الْأَقْرَنُ، وَالْبَيْضَاءُ أَفْضَلُ مِنَ الْغَبْرَاءِ وَالسَّوْدَاءِ.
Rasulullah saw. bersabda: “Sebaik-baik hewan kurban adalah domba jantan yang bertanduk, dan yang putih lebih utama daripada yang kelabu dan hitam.”

وَقَالَ أَبُو هُرَيْرَةَ: الْبَيْضَاءُ أَفْضَلُ فِي الْأُضْحَى مِنْ دَمِ سَوْدَاوَيْنِ.
Abu Hurairah berkata: “Hewan kurban yang putih lebih utama daripada darah dua hewan yang hitam.”

وَلْيَأْكُلْ مِنْهُ إِنْ كَانَ مِنْ هَدْيِ التَّطَوُّعِ.
Dan hendaknya ia memakan sebagian darinya jika hewan itu termasuk hadyu sunah.

وَلَا يُضَحِّيَنَّ بِالْعَرْجَاءِ وَالْجَدْعَاءِ وَالْعَضْبَاءِ وَالْجَرْبَاءِ وَالشَّرْقَاءِ وَالْخَرْقَاءِ وَالْمُقَابَلَةِ وَالْمُدَابَرَةِ وَالْعَجْفَاءِ.
Dan janganlah ia berkurban dengan hewan yang pincang, terpotong hidung atau telinganya, patah tanduknya, berpenyakit kudis, telinganya terbelah dari atas, terbelah dari bawah, berlubang di bagian depan, berlubang di bagian belakang, atau yang sangat kurus.

وَالْجَدْعُ فِي الْأَنْفِ وَالْأُذُنِ لِلْقَطْعِ مِنْهُمَا، وَالْعَضْبُ فِي الْقَرْنِ وَفِي نُقْصَانِ الْقَوَائِمِ.
Yang dimaksud jad’ ialah terpotong pada hidung atau telinga. Dan yang dimaksud ‘adhb ialah cacat pada tanduk atau kekurangan pada kaki.

وَالشَّرْقَاءُ الْمَشْقُوقَةُ الْأُذُنِ مِنْ فَوْقُ، وَالْخَرْقَاءُ مِنْ أَسْفَلُ، وَالْمُقَابَلَةُ الْمَخْرُوقَةُ فِي الْأُذُنِ مِنْ قُدَّامٍ، وَالْمُدَابَرَةُ مِنْ خَلْفٍ.
Asy-Syarqā’ ialah hewan yang telinganya terbelah dari atas. Al-Kharqā’ ialah yang terbelah dari bawah. Al-Muqābalah ialah yang telinganya berlubang dari bagian depan. Al-Mudābarah ialah yang berlubang dari bagian belakang.

وَالْعَجْفَاءُ الْمَهْزُولَةُ الَّتِي لَا تُنْقِي، أَيْ لَا مُخَّ فِيهَا مِنَ الْهُزَالِ.
Adapun al-‘Ajfā’ ialah hewan yang kurus kering, yang tidak memiliki sumsum karena sangat kurus.

ثُمَّ لْيَحْلِقْ بَعْدَ ذَلِكَ.
Kemudian setelah itu hendaklah ia mencukur rambut.

وَالسُّنَّةُ أَنْ يَسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةَ، وَيَبْتَدِئَ بِمُقَدَّمِ رَأْسِهِ، فَيَحْلِقَ الشِّقَّ الْأَيْمَنَ إِلَى الْعَظْمَيْنِ الْمُشْرِفَيْنِ عَلَى الْقَفَا، ثُمَّ لِيَحْلِقِ الْبَاقِيَ.
Dan sunahnya ialah menghadap kiblat serta memulai dari bagian depan kepala. Ia mencukur bagian kanan sampai ke dua tulang yang menonjol di dekat tengkuk, kemudian mencukur sisanya.

وَيَقُولُ: اللَّهُمَّ أَثْبِتْ لِي بِكُلِّ شَعْرَةٍ حَسَنَةً، وَامْحُ عَنِّي بِهَا سَيِّئَةً، وَارْفَعْ لِي بِهَا عِنْدَكَ دَرَجَةً.
Dan ia mengucapkan: “Ya Allah, tetapkanlah bagiku dengan setiap helai rambut satu kebaikan, hapuskan dariku dengan sebabnya satu keburukan, dan angkatlah bagiku dengan sebabnya satu derajat di sisi-Mu.”

وَالْمَرْأَةُ تُقَصِّرُ الشَّعْرَ، وَالْأَصْلَعُ يُسْتَحَبُّ لَهُ إِمْرَارُ الْمُوسَى عَلَى رَأْسِهِ.
Adapun perempuan, maka ia memendekkan rambut. Sedangkan orang yang botak, disunahkan baginya menjalankan pisau cukur di atas kepalanya.

وَمَهْمَا حَلَقَ بَعْدَ رَمْيِ الْجَمْرَةِ فَقَدْ حَصَلَ لَهُ التَّحَلُّلُ الْأَوَّلُ، وَحَلَّ لَهُ كُلُّ الْمَحْظُورَاتِ إِلَّا النِّسَاءَ وَالصَّيْدَ.
Dan kapan saja ia mencukur setelah melempar jumrah, maka ia telah memperoleh tahallul pertama. Dengan itu halal baginya semua larangan ihram kecuali perempuan dan berburu.

ثُمَّ يُفِيضُ إِلَى مَكَّةَ وَيَطُوفُ كَمَا وَصَفْنَاهُ، وَهَذَا الطَّوَافُ طَوَافُ رُكْنٍ فِي الْحَجِّ، وَيُسَمَّى طَوَافَ الزِّيَارَةِ.
Kemudian ia bertolak ke Makkah lalu thawaf sebagaimana telah kami jelaskan. Thawaf ini adalah thawaf rukun dalam haji, dan disebut thawaf ziyarah.

وَأَوَّلُ وَقْتِهِ بَعْدَ نِصْفِ اللَّيْلِ مِنْ لَيْلَةِ النَّحْرِ، وَأَفْضَلُ وَقْتِهِ يَوْمُ النَّحْرِ.
Awal waktunya ialah setelah pertengahan malam pada malam Nahar, dan waktu yang paling utama adalah hari Nahar.

وَلَا آخِرَ لِوَقْتِهِ، بَلْ لَهُ أَنْ يُؤَخِّرَهُ إِلَى أَيِّ وَقْتٍ شَاءَ.
Dan tidak ada batas akhir waktunya. Bahkan ia boleh menundanya sampai waktu yang ia kehendaki.

وَلَكِنْ يَبْقَى مُقَيَّدًا بِعُلْقَةِ الْإِحْرَامِ، فَلَا تَحِلُّ لَهُ النِّسَاءُ إِلَى أَنْ يَطُوفَ.
Akan tetapi, ia tetap masih terikat dengan sisa hubungan ihram, sehingga perempuan belum halal baginya sampai ia thawaf.

فَإِذَا طَافَ تَمَّ التَّحَلُّلُ، وَحَلَّ الْجِمَاعُ، وَارْتَفَعَ الْإِحْرَامُ بِالْكُلِّيَّةِ.
Apabila ia telah thawaf, sempurnalah tahallul, jima’ pun menjadi halal, dan ihram terangkat sepenuhnya.

وَلَمْ يَبْقَ إِلَّا رَمْيُ أَيَّامِ التَّشْرِيقِ وَالْمَبِيتُ بِمِنًى، وَهِيَ وَاجِبَاتٌ بَعْدَ زَوَالِ الْإِحْرَامِ عَلَى سَبِيلِ الِاتِّبَاعِ لِلْحَقِّ.
Tidak tersisa lagi kecuali melempar jumrah pada hari-hari Tasyriq dan bermalam di Mina. Keduanya adalah kewajiban setelah ihram selesai, sebagai bentuk mengikuti ketentuan yang benar.

وَكَيْفِيَّةُ هَذَا الطَّوَافِ مَعَ الرَّكْعَتَيْنِ كَمَا سَبَقَ فِي طَوَافِ الْقُدُومِ.
Tata cara thawaf ini beserta dua rakaatnya sama seperti yang telah dijelaskan pada thawaf qudum.

فَإِذَا فَرَغَ مِنَ الرَّكْعَتَيْنِ فَلْيَسْعَ كَمَا وَصَفْنَا، إِنْ لَمْ يَكُنْ سَعَى بَعْدَ طَوَافِ الْقُدُومِ.
Maka apabila ia telah selesai dari dua rakaat itu, hendaklah ia bersa’i sebagaimana telah kami jelaskan, jika sebelumnya ia belum bersa’i setelah thawaf qudum.

وَإِنْ كَانَ قَدْ سَعَى فَقَدْ وَقَعَ ذَلِكَ رُكْنًا، فَلَا يَنْبَغِي أَنْ يُعِيدَ السَّعْيَ.
Dan jika ia sudah pernah bersa’i, maka sa’i itu telah terhitung sebagai rukun, sehingga ia tidak perlu mengulanginya.

وَأَسْبَابُ التَّحَلُّلِ ثَلَاثَةٌ: الرَّمْيُ، وَالْحَلْقُ، وَالطَّوَافُ الَّذِي هُوَ رُكْنٌ.
Sebab-sebab tahallul ada tiga: melempar jumrah, mencukur rambut, dan thawaf yang merupakan rukun.

وَمَهْمَا أَتَى بِاثْنَيْنِ مِنْ هَذِهِ الثَّلَاثَةِ فَقَدْ تَحَلَّلَ أَحَدَ التَّحَلُّلَيْنِ، وَلَا حَرَجَ عَلَيْهِ فِي التَّقْدِيمِ وَالتَّأْخِيرِ بِهَذِهِ الثَّلَاثِ مَعَ الذَّبْحِ.
Kapan saja seseorang telah melakukan dua dari tiga hal ini, maka ia telah memperoleh salah satu dari dua tahallul. Tidak ada dosa atasnya jika ia mendahulukan atau mengakhirkan ketiga hal itu bersama penyembelihan.

وَلَكِنَّ الْأَحْسَنَ أَنْ يَرْمِيَ ثُمَّ يَذْبَحَ ثُمَّ يَحْلِقَ ثُمَّ يَطُوفَ.
Akan tetapi, yang lebih baik ialah ia melempar terlebih dahulu, kemudian menyembelih, lalu mencukur rambut, lalu thawaf.

وَالسُّنَّةُ لِلْإِمَامِ فِي هَذَا الْيَوْمِ أَنْ يَخْطُبَ بَعْدَ الزَّوَالِ، وَهِيَ خُطْبَةُ وَدَاعِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.
Dan sunah bagi imam pada hari ini ialah berkhutbah setelah tergelincir matahari. Itulah khutbah perpisahan Rasulullah saw.

فَفِي الْحَجِّ أَرْبَعُ خُطَبٍ: خُطْبَةُ يَوْمِ السَّابِعِ، وَخُطْبَةُ يَوْمِ عَرَفَةَ، وَخُطْبَةُ يَوْمِ النَّحْرِ، وَخُطْبَةُ يَوْمِ النَّفْرِ الْأَوَّلِ.
Dalam haji ada empat khutbah: khutbah hari ketujuh, khutbah hari Arafah, khutbah hari Nahar, dan khutbah hari Nafar Awal.

وَكُلُّهَا عَقِيبَ الزَّوَالِ، وَكُلُّهَا إِفْرَادٌ إِلَّا خُطْبَةَ يَوْمِ عَرَفَةَ، فَإِنَّهَا خُطْبَتَانِ بَيْنَهُمَا جِلْسَةٌ.
Semuanya dilakukan setelah zawal, dan semuanya satu khutbah kecuali khutbah hari Arafah, karena itu terdiri atas dua khutbah yang dipisah dengan duduk sejenak.

ثُمَّ إِذَا فَرَغَ مِنَ الطَّوَافِ عَادَ إِلَى مِنًى لِلْمَبِيتِ وَالرَّمْيِ.
Kemudian apabila ia telah selesai dari thawaf, ia kembali ke Mina untuk bermalam dan melempar jumrah.

فَيَبِيتُ تِلْكَ اللَّيْلَةَ بِمِنًى، وَتُسَمَّى لَيْلَةَ الْقَرِّ، لِأَنَّ النَّاسَ فِي غَدٍ يَقَرُّونَ بِمِنًى وَلَا يَنْفِرُونَ.
Maka ia bermalam pada malam itu di Mina. Malam itu disebut malam al-Qarr, karena pada keesokan harinya manusia tetap tinggal di Mina dan tidak berangkat meninggalkannya.

فَإِذَا أَصْبَحَ الْيَوْمُ الثَّانِي مِنَ الْعِيدِ، وَزَالَتِ الشَّمْسُ، اغْتَسَلَ لِلرَّمْيِ، وَقَصَدَ الْجَمْرَةَ الْأُولَى الَّتِي تَلِي عَرَفَةَ، وَهِيَ عَلَى يَمِينِ الْجَادَّةِ، وَيُرْمَى إِلَيْهَا بِسَبْعِ حَصَيَاتٍ.
Apabila masuk hari kedua Id dan matahari telah tergelincir, ia mandi untuk melempar jumrah, lalu menuju jumrah pertama yang dekat dengan Arafah, yaitu yang berada di sebelah kanan jalan, dan melemparnya dengan tujuh butir kerikil.

فَإِذَا تَعَدَّاهَا انْحَرَفَ قَلِيلًا عَنْ يَمِينِ الْجَادَّةِ، وَوَقَفَ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ، وَحَمِدَ اللَّهَ تَعَالَى وَهَلَّلَ وَكَبَّرَ وَدَعَا، مَعَ حُضُورِ الْقَلْبِ وَخُشُوعِ الْجَوَارِحِ.
Setelah melewatinya, ia bergeser sedikit ke kanan jalan, lalu berdiri menghadap kiblat, memuji Allah Ta’ala, bertahlil, bertakbir, dan berdoa, dengan menghadirkan hati dan kekhusyukan anggota badan.

وَوَقَفَ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ قَدْرَ قِرَاءَةِ سُورَةِ الْبَقَرَةِ مُقْبِلًا عَلَى الدُّعَاءِ.
Dan ia berdiri menghadap kiblat selama kira-kira sepanjang bacaan Surah al-Baqarah, dengan bersungguh-sungguh dalam doa.

ثُمَّ يَتَقَدَّمُ إِلَى الْجَمْرَةِ الْوُسْطَى، وَيَرْمِي كَمَا رَمَى الْأُولَى، وَيَقِفُ كَمَا وَقَفَ لِلْأُولَى.
Kemudian ia maju ke jumrah tengah, dan melempar sebagaimana ia melempar jumrah pertama, serta berhenti sebagaimana ia berhenti pada jumrah pertama.

ثُمَّ يَتَقَدَّمُ إِلَى جَمْرَةِ الْعَقَبَةِ، وَيَرْمِي سَبْعًا، وَلَا يُعَرِّجُ عَلَى شُغْلٍ، بَلْ يَرْجِعُ إِلَى مَنْزِلِهِ.
Kemudian ia maju ke Jumrah Aqabah, lalu melempar tujuh butir kerikil, dan tidak berhenti untuk urusan lain, melainkan segera kembali ke tempat tinggalnya.

وَيَبِيتُ تِلْكَ اللَّيْلَةَ بِمِنًى، وَتُسَمَّى هَذِهِ اللَّيْلَةُ لَيْلَةَ النَّفْرِ الْأَوَّلِ.
Dan ia bermalam pada malam itu di Mina. Malam ini disebut malam Nafar Awal.

وَيُصْبِحُ، فَإِذَا صَلَّى الظُّهْرَ فِي الْيَوْمِ الثَّانِي مِنْ أَيَّامِ التَّشْرِيقِ رَمَى فِي هَذَا الْيَوْمِ إِحْدَى وَعِشْرِينَ حَصَاةً كَالْيَوْمِ الَّذِي قَبْلَهُ.
Kemudian ia memasuki pagi hari. Maka apabila ia telah menunaikan salat Zuhur pada hari kedua dari hari-hari Tasyriq, ia melempar pada hari itu dua puluh satu butir kerikil sebagaimana pada hari sebelumnya.

ثُمَّ هُوَ مُخَيَّرٌ بَيْنَ الْمُقَامِ بِمِنًى وَبَيْنَ الْعَوْدِ إِلَى مَكَّةَ.
Kemudian ia diberi pilihan antara tetap tinggal di Mina atau kembali ke Makkah.

فَإِنْ خَرَجَ مِنْ مِنًى قَبْلَ غُرُوبِ الشَّمْسِ فَلَا شَيْءَ عَلَيْهِ.
Jika ia keluar dari Mina sebelum matahari terbenam, maka tidak ada kewajiban apa pun atasnya.

وَإِنْ صَبَرَ إِلَى اللَّيْلِ فَلَا يَجُوزُ لَهُ الْخُرُوجُ، بَلْ لَزِمَهُ الْمَبِيتُ حَتَّى يَرْمِيَ فِي يَوْمِ النَّفْرِ الثَّانِي إِحْدَى وَعِشْرِينَ حَجَرًا كَمَا سَبَقَ.
Dan jika ia tetap tinggal sampai malam, maka tidak boleh baginya keluar. Bahkan ia wajib bermalam sampai melempar pada hari Nafar Tsani sebanyak dua puluh satu butir kerikil sebagaimana telah disebutkan.

وَفِي تَرْكِ الْمَبِيتِ وَالرَّمْيِ إِرَاقَةُ دَمٍ، وَلْيَتَصَدَّقْ بِاللَّحْمِ.
Dalam meninggalkan bermalam dan melempar jumrah ada kewajiban menyembelih dam, dan hendaknya ia menyedekahkan dagingnya.

وَلَهُ أَنْ يَزُورَ الْبَيْتَ فِي لَيَالِي مِنًى بِشَرْطِ أَنْ لَا يَبِيتَ إِلَّا بِمِنًى.
Ia boleh mengunjungi Baitullah pada malam-malam Mina dengan syarat ia tetap bermalam hanya di Mina.

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَفْعَلُ ذَلِكَ.
Rasulullah saw. dahulu melakukan hal itu.

وَلَا يَتْرُكَنَّ حُضُورَ الْفَرَائِضِ مَعَ الْإِمَامِ فِي مَسْجِدِ الْخَيْفِ، فَإِنَّ فَضْلَهُ عَظِيمٌ.
Dan jangan sekali-kali ia meninggalkan menghadiri salat-salat fardu bersama imam di Masjid al-Khaif, karena keutamaannya sangat besar.

فَإِذَا أَفَاضَ مِنْ مِنًى فَالْأَوْلَى أَنْ يُقِيمَ بِالْمُحَصَّبِ مِنْ مِنًى، وَيُصَلِّيَ الْعَصْرَ وَالْمَغْرِبَ وَالْعِشَاءَ، وَيَرْقُدَ رَقْدَةً، فَهُوَ السُّنَّةُ.
Maka apabila ia telah bertolak dari Mina, yang lebih utama ialah ia singgah di al-Muhassab dekat Mina, lalu menunaikan salat Asar, Magrib, dan Isya, serta berbaring sejenak. Itulah sunah.

رَوَاهُ جَمَاعَةٌ مِنَ الصَّحَابَةِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ، فَإِنْ لَمْ يَفْعَلْ ذَلِكَ فَلَا شَيْءَ عَلَيْهِ.
Hal itu diriwayatkan oleh sekelompok sahabat رضي الله عنهم. Jika ia tidak melakukannya, maka tidak ada kewajiban apa pun atasnya.