Adab-Adab Menghidangkan Makanan Kepada Saudara-Saudara Yang Berkunjung
الْبَابُ الثَّالِثُ فِي آدَابِ تَقْدِيمِ الطَّعَامِ إِلَى الْإِخْوَانِ الزَّائِرِينَ.
Bab ketiga: adab-adab menghidangkan makanan kepada
saudara-saudara yang berkunjung.
تَقْدِيمُ
الطَّعَامِ إِلَى الْإِخْوَانِ فِيهِ فَضْلٌ كَثِيرٌ.
Menghidangkan makanan kepada saudara-saudara mengandung
keutamaan yang besar.
قَالَ
جَعْفَرُ بْنُ مُحَمَّدٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا: إِذَا قَعَدْتُمْ مَعَ
الْإِخْوَانِ عَلَى الْمَائِدَةِ فَأَطِيلُوا الْجُلُوسَ، فَإِنَّهَا سَاعَةٌ لَا
تُحْسَبُ عَلَيْكُمْ مِنْ أَعْمَارِكُمْ.
Ja’far bin Muhammad radhiyallahu ‘anhuma berkata: jika
kalian duduk bersama saudara-saudara di meja makan, panjangkanlah duduk kalian.
Sebab, itu adalah waktu yang tidak dihitung dari umur kalian.
وَقَالَ
الْحَسَنُ رَحِمَهُ اللَّهُ: كُلُّ نَفَقَةٍ يُنْفِقُهَا الرَّجُلُ عَلَى نَفْسِهِ
وَأَبَوَيْهِ فَمَنْ دُونَهُمَا يُحَاسَبُ عَلَيْهَا بَتَّةً، إِلَّا نَفَقَةَ
الرَّجُلِ عَلَى إِخْوَانِهِ فِي الطَّعَامِ، فَإِنَّ اللَّهَ يَسْتَحِي أَنْ
يُسْأَلَ عَنْ ذٰلِكَ.
Al-Hasan rahimahullah berkata: setiap nafkah yang
dikeluarkan seseorang untuk dirinya, kedua orang tuanya, dan orang-orang di
bawah mereka pasti akan dihisab, kecuali nafkah seseorang untuk
saudara-saudaranya dalam makanan. Sebab, Allah malu untuk menanyakan hal itu.
هٰذَا
مَعَ مَا وَرَدَ مِنَ الْأَخْبَارِ فِي الْإِطْعَامِ.
Ini ditambah dengan riwayat-riwayat tentang memberi makan.
قَالَ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لَا تَزَالُ الْمَلَائِكَةُ تُصَلِّي عَلَىٰ
أَحَدِكُمْ مَا دَامَتْ مَائِدَتُهُ مَوْضُوعَةً بَيْنَ يَدَيْهِ حَتَّىٰ تُرْفَعَ.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: para
malaikat senantiasa bershalawat atas salah seorang dari kalian selama
hidangannya masih terhampar di hadapannya, hingga diangkat.
وَرُوِيَ
عَنْ بَعْضِ عُلَمَاءِ خُرَاسَانَ أَنَّهُ كَانَ يُقَدِّمُ إِلَى إِخْوَانِهِ
طَعَامًا كَثِيرًا لَا يَقْدِرُونَ عَلَىٰ أَكْلِ جَمِيعِهِ.
Diriwayatkan dari sebagian ulama Khurasan bahwa ia biasa
menghidangkan kepada saudara-saudaranya makanan yang banyak, sehingga mereka
tidak mampu menghabiskan semuanya.
وَكَانَ
يَقُولُ: بَلَغَنَا عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
أَنَّهُ قَالَ: إِنَّ الْإِخْوَانَ إِذَا رَفَعُوا أَيْدِيَهُمْ عَنِ الطَّعَامِ
لَمْ يُحَاسَبْ مَنْ أَكَلَ فَضْلَ ذٰلِكَ.
Ia berkata: telah sampai kepada kami dari Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda, apabila saudara-saudara
telah mengangkat tangan mereka dari makanan, maka tidak dihisab orang yang
memakan kelebihan makanan itu.
فَإِنَّنِي
أُحِبُّ أَنْ أَسْتَكْثِرَ مِمَّا أُقَدِّمُهُ إِلَيْكُمْ لِنَأْكُلَ فَضْلَ
ذٰلِكَ.
Maka aku suka memperbanyak apa yang kuhidangkan kepada
kalian, agar kita dapat memakan sisanya.
وَفِي
الْخَبَرِ: لَا يُحَاسَبُ الْعَبْدُ عَلَىٰ مَا يَأْكُلُهُ مَعَ إِخْوَانِهِ.
Dalam riwayat disebutkan: seorang hamba tidak dihisab atas
apa yang dimakannya bersama saudara-saudaranya.
وَكَانَ
بَعْضُهُمْ يُكْثِرُ الْأَكْلَ مَعَ الْجَمَاعَةِ لِذٰلِكَ، وَيُقَلِّلُ إِذَا
أَكَلَ وَحْدَهُ.
Sebagian mereka memperbanyak makan bersama jamaah karena
itu, dan menguranginya ketika ia makan sendirian.
وَفِي
الْخَبَرِ: ثَلَاثَةٌ لَا يُحَاسَبُ عَلَيْهَا الْعَبْدُ: أَكْلَةُ السُّحُورِ،
وَمَا أَفْطَرَ عَلَيْهِ، وَمَا أَكَلَ مَعَ الْإِخْوَانِ.
Dalam riwayat disebutkan: ada tiga hal yang tidak dihisab
atas seorang hamba, yaitu makan sahur, makanan yang ia berbuka dengannya, dan
apa yang ia makan bersama saudara-saudaranya.
وَقَالَ
عَلِيٌّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: لَأَنْ أَجْمَعَ إِخْوَانِي عَلَىٰ صَاعٍ مِنْ
طَعَامٍ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ أَنْ أُعْتِقَ رَقَبَةً.
Ali radhiyallahu ‘anhu berkata: mengumpulkan
saudara-saudaraku di atas satu sha’ makanan lebih aku sukai daripada
memerdekakan seorang budak.
وَكَانَ
ابْنُ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا يَقُولُ: مِنْ كَرَمِ الْمَرْءِ طِيبُ
زَادِهِ فِي سَفَرِهِ وَبَذْلُهُ لِأَصْحَابِهِ.
Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma berkata: termasuk kemuliaan
seseorang adalah baiknya bekal yang ia bawa dalam perjalanannya dan kesediannya
memberikannya kepada teman-temannya.
وَكَانَ
الصَّحَابَةُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ يَقُولُونَ: الِاجْتِمَاعُ عَلَى الطَّعَامِ
مِنْ مَكَارِمِ الْأَخْلَاقِ.
Para sahabat radhiyallahu ‘anhum berkata: berkumpul di atas
makanan termasuk akhlak yang mulia.
وَكَانُوا
يَجْتَمِعُونَ عَلَىٰ قِرَاءَةِ الْقُرْآنِ، وَلَا يَتَفَرَّقُونَ إِلَّا عَنْ
ذَوَاقٍ.
Mereka juga berkumpul untuk membaca Al-Qur’an, dan tidak
berpisah kecuali setelah mencicipi makanan.
وَقِيلَ:
اجْتِمَاعُ الْإِخْوَانِ عَلَى الْكِفَايَةِ مَعَ الْأُنْسِ وَالْأُلْفَةِ لَيْسَ
هُوَ مِنَ الدُّنْيَا.
Dikatakan: berkumpulnya saudara-saudara dalam kecukupan,
disertai keakraban dan kasih sayang, bukanlah urusan dunia.
وَفِي
الْخَبَرِ أَنَّ اللَّهَ تَعَالَىٰ يَقُولُ لِلْعَبْدِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ: يَا
ابْنَ آدَمَ، جُعْتُ فَلَمْ تُطْعِمْنِي.
Dalam riwayat disebutkan bahwa Allah Ta’ala berfirman kepada
hamba pada hari kiamat: “Wahai anak Adam, Aku lapar, tetapi engkau tidak
memberi-Ku makan.”
فَيَقُولُ:
كَيْفَ أُطْعِمُكَ وَأَنْتَ رَبُّ الْعَالَمِينَ؟
Ia pun berkata: “Bagaimana aku memberi-Mu makan, padahal
Engkau adalah Tuhan semesta alam?”
فَيَقُولُ:
جَاعَ أَخُوكَ الْمُسْلِمُ فَلَمْ تُطْعِمْهُ.
Lalu Allah berfirman: “Saudaramu sesama Muslim lapar, tetapi
engkau tidak memberinya makan.”
وَلَوْ
أَطْعَمْتَهُ كُنْتَ أَطْعَمْتَنِي.
“Seandainya engkau memberinya makan, sungguh engkau telah
memberi-Ku makan.”
وَقَالَ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِذَا جَاءَكُمُ الزَّائِرُ فَأَكْرِمُوهُ.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: jika
seorang tamu datang kepada kalian, maka muliakanlah dia.
وَقَالَ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنَّ فِي الْجَنَّةِ غُرَفًا يُرَىٰ
ظَاهِرُهَا مِنْ بَاطِنِهَا، وَبَاطِنُهَا مِنْ ظَاهِرِهَا.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:
sesungguhnya di surga ada kamar-kamar, bagian luarnya terlihat dari dalamnya,
dan bagian dalamnya terlihat dari luarnya.
هِيَ
لِمَنْ أَلَانَ الْكَلَامَ، وَأَطْعَمَ الطَّعَامَ، وَصَلَّى بِاللَّيْلِ
وَالنَّاسُ نِيَامٌ.
Kamar-kamar itu untuk orang yang bertutur kata lembut,
memberi makan, dan salat malam ketika manusia sedang tidur.
وَقَالَ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: خَيْرُكُمْ مَنْ أَطْعَمَ الطَّعَامَ.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
sebaik-baik kalian adalah yang memberi makan.
وَقَالَ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَنْ أَطْعَمَ أَخَاهُ حَتَّىٰ يُشْبِعَهُ،
وَسَقَاهُ حَتَّىٰ يُرْوِيهِ، بَعَّدَهُ اللَّهُ مِنَ النَّارِ بِسَبْعِ خَنَادِقَ.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: siapa
yang memberi makan saudaranya hingga kenyang dan memberinya minum hingga puas,
Allah akan menjauhkannya dari neraka dengan tujuh parit.
بَيْنَ
كُلِّ خَنْدَقَيْنِ مَسِيرَةُ خَمْسِمِائَةِ عَامٍ.
Jarak antara setiap dua parit adalah perjalanan lima ratus
tahun.
وَأَمَّا
آدَابُهُ فَبَعْضُهَا فِي الدُّخُولِ، وَبَعْضُهَا فِي تَقْدِيمِ الطَّعَامِ.
Adapun adab-adabnya, sebagiannya terkait dengan masuk, dan
sebagiannya terkait dengan menghidangkan makanan.
أَمَّا
الدُّخُولُ، فَلَيْسَ مِنَ السُّنَّةِ أَنْ يَقْصِدَ قَوْمًا مُتَرَبِّصًا
لِوَقْتِ طَعَامِهِمْ، فَيَدْخُلَ عَلَيْهِمْ وَقْتَ الْأَكْلِ.
Adapun masuk, bukanlah sunnah seseorang sengaja mendatangi
suatu kaum sambil menunggu waktu makan mereka, lalu masuk kepada mereka saat
mereka sedang makan.
فَإِنَّ
ذٰلِكَ مِنَ الْمُفَاجَأَةِ، وَقَدْ نُهِيَ عَنْهَا.
Sebab itu termasuk tindakan mengejutkan, dan telah dilarang
darinya.
قَالَ
اللَّهُ تَعَالَىٰ: لَا تَدْخُلُوا بُيُوتَ النَّبِيِّ إِلَّا أَنْ يُؤْذَنَ
لَكُمْ إِلَىٰ طَعَامٍ غَيْرَ نَاظِرِينَ إِنَاهُ.
Allah Ta’ala berfirman: “Janganlah kalian masuk ke
rumah-rumah Nabi kecuali jika diizinkan kepada kalian untuk makan, tanpa
menunggu kematangannya.”
يَعْنِي
مُنْتَظِرِينَ حِينَهُ وَنُضْجَهُ.
Maksudnya, menunggu waktu dan kematangannya.
وَفِي
الْخَبَرِ: مَنْ مَشَىٰ إِلَىٰ طَعَامٍ لَمْ يُدْعَ إِلَيْهِ، مَشَىٰ فَاسِقًا
وَأَكَلَ حَرَامًا.
Dalam riwayat disebutkan: siapa yang berjalan menuju makanan
yang tidak diundang kepadanya, ia berjalan dalam keadaan durhaka dan memakan
yang haram.
وَلَكِنْ
حَقُّ الدَّاخِلِ إِذَا لَمْ يَتَرَبَّصْ وَاتَّفَقَ أَنْ صَادَفَهُمْ عَلَىٰ
طَعَامٍ أَنْ لَا يَأْكُلَ مَا لَمْ يُؤْذَنْ لَهُ.
Akan tetapi, hak orang yang masuk tanpa menunggu lalu
kebetulan mendapati mereka sedang makan ialah jangan ia makan sebelum diizinkan
kepadanya.
فَإِذَا
قِيلَ لَهُ: كُلْ، نَظَرَ.
Jika dikatakan kepadanya, “makanlah,” hendaklah ia menilai
lebih dahulu.
فَإِنْ
عَلِمَ أَنَّهُمْ يَقُولُونَهُ عَلَىٰ مَحَبَّةٍ لِمُسَاعَدَتِهِ فَلْيُسَاعِدْ.
Jika ia mengetahui bahwa mereka mengucapkannya karena
sungguh-sungguh ingin membantunya, maka hendaklah ia makan.
وَإِنْ
كَانُوا يَقُولُونَهُ حَيَاءً مِنْهُ فَلَا يَنْبَغِي أَنْ يَأْكُلَ، بَلْ
يَنْبَغِي أَنْ يَتَعَلَّلَ.
Jika mereka mengucapkannya karena sungkan kepadanya, maka
janganlah ia makan, tetapi hendaklah ia mencari alasan untuk tidak makan.
أَمَّا
إِذَا كَانَ جَائِعًا، فَقَصَدَ بَعْضَ إِخْوَانِهِ لِيُطْعِمَهُ، وَلَمْ
يَتَرَبَّصْ بِهِ وَقْتَ أَكْلِهِ، فَلَا بَأْسَ بِهِ.
Adapun jika ia lapar, lalu mendatangi sebagian saudaranya
agar memberinya makan, dan ia tidak menunggu waktu makan mereka, maka tidak
mengapa.
قَصَدَ
رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَأَبُو بَكْرٍ، وَعُمَرُ
رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا، مَنْزِلَ أَبِي الْهَيْثَمِ بْنِ التَّيَّهَانِ،
وَأَبِي أَيُّوبَ الْأَنْصَارِيِّ، لِأَجْلِ طَعَامٍ يَأْكُلُونَهُ، وَكَانُوا
جِيَاعًا.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, Abu Bakar, dan
Umar radhiyallahu ‘anhuma pernah mendatangi rumah Abu al-Haytsam bin at-Tayihan
dan Abu Ayyub al-Anshari untuk mencari makanan yang hendak mereka makan, dan
ketika itu mereka sedang lapar.
وَالدُّخُولُ
عَلَىٰ مِثْلِ هٰذِهِ الْحَالَةِ إِعَانَةٌ لِذٰلِكَ الْمُسْلِمِ عَلَىٰ حِيَازَةِ
ثَوَابِ الْإِطْعَامِ، وَهِيَ عَادَةُ السَّلَفِ.
Masuk dalam keadaan seperti ini berarti membantu Muslim itu
meraih pahala memberi makan. Itulah kebiasaan para salaf.
وَكَانَ
عَوْنُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ الْمَسْعُودِيُّ لَهُ ثَلَاثُمِائَةٍ وَسِتُّونَ
صَدِيقًا يَدُورُ عَلَيْهِمْ فِي السَّنَةِ.
Awn bin Abdullah al-Mas’udi memiliki tiga ratus enam puluh
sahabat yang ia kunjungi bergiliran dalam setahun.
وَلِآخَرَ
ثَلَاثُونَ يَدُورُ عَلَيْهِمْ فِي الشَّهْرِ.
Yang lain punya tiga puluh orang yang ia kunjungi bergiliran
dalam sebulan.
وَلِآخَرَةَ
سَبْعَةٌ يَدُورُ عَلَيْهِمْ فِي الْجُمْعَةِ.
Yang lain lagi punya tujuh orang yang ia kunjungi bergiliran
dalam sepekan.
فَكَانَ
إِخْوَانُهُمْ مَعْلُومَهُمْ بَدَلًا عَنْ كَسْبِهِمْ.
Maka jamuan dari saudara-saudara mereka menjadi pengganti
usaha mereka.
وَكَانَ
قِيَامُ أُولَئِكَ بِهِمْ عَلَىٰ قَصْدِ التَّبَرُّكِ عِبَادَةً لَهُمْ.
Dan perhatian orang-orang itu terhadap mereka, dengan niat
mencari berkah, menjadi ibadah bagi mereka.
فَإِنْ
دَخَلَ وَلَمْ يَجِدْ صَاحِبَ الدَّارِ، وَكَانَ وَاثِقًا بِصَدَاقَتِهِ، عَالِمًا
بِفَرَحِهِ إِذَا أَكَلَ مِنْ طَعَامِهِ، فَلَهُ أَنْ يَأْكُلَ بِغَيْرِ إِذْنِهِ.
Jika seseorang masuk lalu tidak menemukan pemilik rumah,
tetapi ia yakin akan persahabatan mereka dan tahu bahwa tuan rumah akan senang
bila ia memakan makanannya, maka ia boleh makan tanpa izinnya.
إِذِ
الْمُرَادُ مِنَ الْإِذْنِ الرِّضَا، لَا سِيَّمَا فِي الْأَطْعِمَةِ، وَأَمْرُهَا
عَلَى السَّعَةِ.
Sebab yang dimaksud dengan izin adalah kerelaan, terutama
dalam urusan makanan, dan urusannya luas.
فَرُبَّ
رَجُلٍ يُصَرِّحُ بِالْإِذْنِ وَيَحْلِفُ، وَهُوَ غَيْرُ رَاضٍ، فَأَكْلُ
طَعَامِهِ مَكْرُوهٌ.
Betapa banyak orang yang secara terang-terangan memberi izin
dan bersumpah, padahal ia tidak rela. Maka memakan makanannya adalah makruh.
وَرُبَّ
غَائِبٍ لَمْ يَأْذَنْ، وَأَكْلُ طَعَامِهِ مَحْبُوبٌ.
Dan betapa banyak orang yang sedang tidak ada, tidak memberi
izin secara lahiriah, namun makanannya justru disukai untuk dimakan.
وَقَدْ
قَالَ تَعَالَىٰ: أَوْ صَدِيقِكُمْ.
Dan Allah Ta’ala telah berfirman: “atau sahabat kalian.”
وَدَخَلَ
رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَارَ بَرِيرَةَ، وَأَكَلَ
طَعَامَهَا وَهِيَ غَائِبَةٌ، وَكَانَ الطَّعَامُ مِنَ الصَّدَقَةِ، فَقَالَ:
بَلَغَتِ الصَّدَقَةُ مَحِلَّهَا.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah masuk ke
rumah Barirah dan memakan makanannya ketika ia sedang tidak ada, padahal
makanan itu berasal dari sedekah. Beliau bersabda: “Sedekah itu telah sampai ke
tempatnya.”
وَذٰلِكَ
لِعِلْمِهِ بِسُرُورِهَا بِذٰلِكَ.
Hal itu karena beliau mengetahui bahwa ia akan senang
karenanya.
لِذٰلِكَ
يَجُوزُ أَنْ يَدْخُلَ الدَّارَ بِغَيْرِ اسْتِئْذَانٍ اكْتِفَاءً بِعِلْمِهِ
بِالْإِذْنِ.
Karena itu, boleh masuk ke rumah tanpa meminta izin jika
sudah cukup yakin bahwa pemilik rumah mengizinkannya.
فَإِنْ
لَمْ يَعْلَمْ فَلَا بُدَّ مِنَ الِاسْتِئْذَانِ أَوَّلًا، ثُمَّ الدُّخُولِ.
Jika tidak yakin, maka harus meminta izin terlebih dahulu,
baru kemudian masuk.
وَكَانَ
مُحَمَّدُ بْنُ وَاسِعٍ وَأَصْحَابُهُ يَدْخُلُونَ مَنْزِلَ الْحَسَنِ
فَيَأْكُلُونَ مَا يَجِدُونَ بِغَيْرِ إِذْنٍ.
Muhammad bin Wasi’ dan teman-temannya dahulu masuk ke rumah
al-Hasan, lalu memakan apa yang mereka dapati tanpa izin.
وَكَانَ
الْحَسَنُ يَدْخُلُ وَيَرَىٰ ذٰلِكَ فَيَسُرُّ بِهِ وَيَقُولُ: هٰكَذَا كُنَّا.
Al-Hasan datang lalu melihat hal itu. Ia pun bergembira
karenanya dan berkata: demikianlah dahulu kami.
وَرُوِيَ
عَنِ الْحَسَنِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّهُ كَانَ قَائِمًا يَأْكُلُ مِنْ
مَتَاعِ بَقَّالٍ فِي السُّوقِ.
Diriwayatkan dari al-Hasan radhiyallahu ‘anhu bahwa ia
pernah berdiri sambil makan dari barang dagangan seorang penjual sayur di
pasar.
يَأْخُذُ
مِنْ هٰذِهِ الْجُونَةِ تِينَةً، وَمِنْ هٰذِهِ قِسْبَةً.
Ia mengambil dari keranjang ini sebutir buah tin, dan dari
yang itu sebutir kurma matang kering.
فَقَالَ
لَهُ هِشَامٌ: مَا بَدَا لَكَ يَا أَبَا سَعِيدٍ فِي الْوَرَعِ، تَأْكُلُ مَتَاعَ
الرَّجُلِ بِغَيْرِ إِذْنِهِ؟
Hisham berkata kepadanya: wahai Abu Sa’id, apa yang
mendorongmu dalam sikap wara’ sehingga engkau memakan barang milik orang itu
tanpa izinnya?
فَقَالَ:
يَا لَكَعُ، اتْلُ عَلَيَّ آيَةَ الْأَكْلِ.
Ia menjawab: wahai orang bodoh, bacakan kepadaku ayat
tentang makan.
فَتَلَا
إِلَىٰ قَوْلِهِ تَعَالَىٰ: أَوْ صَدِيقِكُمْ.
Lalu dibacakan hingga firman Allah Ta’ala: “atau sahabat
kalian.”
فَقَالَ:
فَمَنِ الصَّدِيقُ يَا أَبَا سَعِيدٍ؟
Ia bertanya: siapa yang dimaksud sahabat itu, wahai Abu
Sa’id?
قَالَ:
مَنْ اسْتَرْوَحَتْ إِلَيْهِ النَّفْسُ وَاطْمَأَنَّ إِلَيْهِ الْقَلْبُ.
Ia menjawab: orang yang jiwa merasa tenang kepadanya dan
hati merasa tenteram bersamanya.
وَمَشَىٰ
قَوْمٌ إِلَىٰ مَنْزِلِ سُفْيَانَ الثَّوْرِيِّ فَلَمْ يَجِدُوهُ.
Sekelompok orang berjalan ke rumah Sufyan ats-Tsauri, tetapi
mereka tidak menemukannya.
فَفَتَحُوا
الْبَابَ، وَأَنْزَلُوا السُّفْرَةَ، وَجَعَلُوا يَأْكُلُونَ.
Maka mereka membuka pintu, menggelar alas makan, lalu mulai
makan.
فَدَخَلَ
الثَّوْرِيُّ، وَجَعَلَ يَقُولُ: ذَكَّرْتُمُونِي أَخْلَاقَ السَّلَفِ، هٰكَذَا
كَانُوا.
Lalu ats-Tsauri masuk dan berkata: kalian telah
mengingatkanku pada akhlak para salaf. Demikianlah kebiasaan mereka.
وَزَارَ
قَوْمٌ بَعْضَ التَّابِعِينَ، وَلَمْ يَكُنْ عِنْدَهُ مَا يُقَدِّمُهُ إِلَيْهِمْ.
Sekelompok orang mengunjungi salah seorang tabi’in, tetapi
ia tidak mempunyai apa pun untuk dihidangkan kepada mereka.
فَذَهَبَ
إِلَىٰ مَنْزِلِ بَعْضِ إِخْوَانِهِ، فَلَمْ يُصَادِفْهُ فِي الْمَنْزِلِ.
Maka ia pergi ke rumah salah seorang saudaranya, tetapi
tidak menjumpainya di rumah.
فَدَخَلَ،
فَنَظَرَ إِلَىٰ قِدْرٍ قَدْ طَبَخَهَا، وَإِلَىٰ خُبْزٍ قَدْ خَبَزَهُ، وَغَيْرِ
ذٰلِكَ.
Ia pun masuk, lalu melihat sebuah periuk yang telah
dimasaknya, roti yang telah dipanggangnya, dan lainnya.
فَحَمَلَ
ذٰلِكَ كُلَّهُ، فَقَدَّمَهُ إِلَىٰ أَصْحَابِهِ.
Ia membawa semuanya, lalu menghidangkannya kepada para
sahabatnya.
وَقَالَ:
كُلُوا.
Ia berkata: makanlah.
فَجَاءَ
رَبُّ الْمَنْزِلِ فَلَمْ يَرَ شَيْئًا.
Kemudian pemilik rumah datang dan tidak melihat apa-apa.
فَقِيلَ
لَهُ: قَدْ أَخَذَ فُلَانٌ.
Maka dikatakan kepadanya: fulan telah mengambilnya.
فَقَالَ:
قَدْ أَحْسَنَ.
Ia berkata: ia telah berbuat baik.
فَلَمَّا
لَقِيَهُ قَالَ: يَا أَخِي، إِنْ عَادُوا فَعُدْ.
Ketika ia bertemu dengannya, ia berkata: wahai saudaraku,
jika mereka datang lagi, maka ulangilah.
فَهٰذِهِ
آدَابُ الدُّخُولِ.
Inilah adab-adab dalam memasuki rumah.
وَأَمَّا
آدَابُ التَّقْدِيمِ فَتَرْكُ التَّكَلُّفِ أَوَّلًا، وَتَقْدِيمُ مَا حَضَرَ.
Adapun adab menghidangkan makanan, pertama-tama adalah
meninggalkan kepura-puraan, lalu menghidangkan apa yang tersedia.
فَإِنْ
لَمْ يَحْضُرْهُ شَيْءٌ وَلَمْ يَمْلِكْ، فَلَا يَسْتَقْرِضْ لِأَجْلِ ذٰلِكَ،
فَيُشَوِّشَ عَلَىٰ نَفْسِهِ.
Jika ia tidak memiliki apa pun dan tidak mampu, janganlah ia
berutang demi hal itu, lalu membebani dirinya sendiri.
وَإِنْ
حَضَرَهُ مَا هُوَ مُحْتَاجٌ إِلَيْهِ لِقُوَّتِهِ، وَلَمْ تُسَامِحْ نَفْسُهُ
بِالتَّقْدِيمِ، فَلَا يَنْبَغِي أَنْ يُقَدِّمَ.
Jika ia mempunyai sesuatu yang memang dibutuhkan untuk
kekuatannya sendiri dan jiwanya tidak rela memberikannya, maka janganlah ia
menghidangkannya.
دَخَلَ
بَعْضُهُمْ عَلَىٰ زَاهِدٍ وَهُوَ يَأْكُلُ، فَقَالَ: لَوْلَا أَنِّي أَخَذْتُهُ
بِدَيْنٍ لَأَطْعَمْتُكَ مِنْهُ.
Sebagian orang masuk menemui seorang zahid ketika ia sedang
makan. Ia berkata: seandainya aku tidak membelinya dengan utang, niscaya akan
kuberikan kepadamu.
وَقَالَ
بَعْضُ السَّلَفِ فِي تَفْسِيرِ التَّكَلُّفِ: أَنْ تُطْعِمَ أَخَاكَ مَا لَا
تَأْكُلُهُ أَنْتَ، بَلْ تَقْصِدَ زِيَادَةً عَلَيْهِ فِي الْجَوْدَةِ
وَالْقِيمَةِ.
Sebagian salaf berkata dalam menjelaskan makna takalluf:
engkau memberi makan saudaramu dengan sesuatu yang tidak engkau makan sendiri,
bahkan engkau sengaja memilih yang lebih baik dan lebih mahal darinya.
وَكَانَ
الْفُضَيْلُ يَقُولُ: إِنَّمَا تَقَاطَعَ النَّاسُ بِالتَّكَلُّفِ.
Al-Fudail berkata: sesungguhnya manusia saling terputus
karena takalluf.
يَدْعُو
أَحَدُهُمْ أَخَاهُ، فَيَتَكَلَّفُ لَهُ، فَيَقْطَعُهُ عَنِ الرُّجُوعِ إِلَيْهِ.
Salah seorang dari mereka mengundang saudaranya, lalu ia
memaksakan diri untuknya, sehingga saudaranya itu enggan datang lagi.
وَقَالَ
بَعْضُهُمْ: مَا أُبَالِي بِمَنْ أَتَانِي مِنْ إِخْوَانِي، فَإِنِّي لَا
أَتَكَلَّفُ لَهُ.
Sebagian mereka berkata: aku tidak peduli siapa pun dari
saudaraku yang datang kepadaku, sebab aku tidak memaksakan diri untuknya.
إِنَّمَا
أُقَرِّبُ مَا عِنْدِي.
Aku hanya menyajikan apa yang ada padaku.
وَلَوْ
تَكَلَّفْتُ لَهُ لَكَرِهْتُ مَجِيئَهُ وَمَلِلْتُهُ.
Kalau aku memaksakan diri untuknya, niscaya aku akan
membenci kedatangannya dan menjadi bosan terhadapnya.
وَقَالَ
بَعْضُهُمْ: كُنْتُ أَدْخُلُ عَلَىٰ أَخٍ لِي فَيَتَكَلَّفُ لِي، فَقُلْتُ لَهُ:
إِنَّكَ لَا تَأْكُلُ وَحْدَكَ هٰذَا، وَلَا أَنَا.
Sebagian mereka berkata: aku pernah masuk ke rumah seorang
saudaraku, lalu ia memaksakan diri untukku. Maka aku berkata kepadanya: engkau
tidak akan makan ini sendirian, dan aku pun tidak.
فَمَا
بَالُنَا إِذَا اجْتَمَعْنَا أَكَلْنَاهُ؟
Kalau begitu, mengapa bila kita berkumpul justru kita
memakannya?
فَإِمَّا
أَنْ تَقْطَعَ هٰذَا التَّكَلُّفَ، وَإِمَّا أَنْ أَقْطَعَ الْمَجِيءَ.
Maka, entah engkau menghentikan takalluf ini, atau aku yang
berhenti datang.
فَقَطَعَ.
Maka ia pun menghentikannya.
وَمِنَ
التَّكَلُّفِ أَنْ يُقَدِّمَ جَمِيعَ مَا عِنْدَهُ، فَيُجْحِفَ بِعِيَالِهِ
وَيُؤْذِيَ قُلُوبَهُمْ.
Termasuk takalluf ialah bila ia mengeluarkan semua yang ia
miliki, sehingga merugikan keluarganya dan menyakiti hati mereka.
رُوِيَ
أَنَّ رَجُلًا دَعَا عَلِيًّا رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، فَقَالَ عَلِيٌّ: أُجِيبُكَ
عَلَىٰ ثَلَاثِ شَرَائِطَ: لَا تُدْخِلْ مِنَ السُّوقِ شَيْئًا، وَلَا تَدَّخِرْ
مَا فِي الْبَيْتِ، وَلَا تُجْحِفْ بِعِيَالِكَ.
Diriwayatkan bahwa seorang laki-laki mengundang Ali
radhiyallahu ‘anhu. Ali berkata: aku datang dengan tiga syarat; jangan membeli
apa pun dari pasar, jangan menyembunyikan apa yang ada di rumah, dan jangan
menelantarkan keluargamu.
وَكَانَ
بَعْضُهُمْ يُقَدِّمُ مِنْ كُلِّ مَا فِي الْبَيْتِ، فَلَا يَتْرُكُ نَوْعًا
إِلَّا وَأَحْضَرَ شَيْئًا مِنْهُ.
Sebagian mereka biasa menghidangkan dari setiap apa yang ada
di rumah, sehingga tidak ada satu jenis pun kecuali ia menyajikan sesuatu
darinya.
وَقَالَ
بَعْضُهُمْ: دَخَلْنَا عَلَىٰ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ فَقَدَّمَ إِلَيْنَا
خُبْزًا وَخَلًّا، وَقَالَ: لَوْلَا أَنَّا نُهِينَا عَنِ التَّكَلُّفِ
لَتَكَلَّفْتُ لَكُمْ.
Sebagian mereka berkata: kami masuk menemui Jabir bin
Abdullah, lalu ia menghidangkan roti dan cuka kepada kami, dan berkata:
seandainya kami tidak dilarang dari takalluf, niscaya aku akan memaksakan diri
untuk kalian.
وَقَالَ
بَعْضُهُمْ: إِذَا قَصَدْتَ لِلزِّيَارَةِ فَقَدِّمْ مَا حَضَرَ.
Sebagian mereka berkata: jika engkau berniat berkunjung,
maka hidangkanlah apa yang tersedia.
وَإِنِ
اسْتَزَرْتَ فَلَا تَبْقَ وَلَا تَذَرْ.
Dan jika engkau meminta untuk dijamu, maka jangan
berlebih-lebihan dan jangan pula lalai.
وَقَالَ
سَلْمَانُ: أَمَرَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ لَا
نَتَكَلَّفَ لِلضَّيْفِ مَا لَيْسَ عِنْدَنَا، وَأَنْ نُقَدِّمَ إِلَيْهِ مَا
حَضَرَنَا.
Salman berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
memerintahkan kami agar tidak memaksakan diri untuk tamu dengan sesuatu yang
tidak ada pada kami, dan agar kami menghidangkan kepadanya apa yang ada pada
kami.
وَفِي
حَدِيثِ يُونُسَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ زَارَهُ
إِخْوَانُهُ، فَقَدَّمَ إِلَيْهِمْ كِسَرًا، وَجَزَّ لَهُمْ بَقْلًا كَانَ
يَزْرَعُهُ.
Dalam kisah Nabi Yunus disebutkan bahwa saudara-saudaranya
datang mengunjunginya. Ia lalu menghidangkan kepada mereka potongan-potongan
roti dan memetikkan untuk mereka sayuran yang ia tanam sendiri.
ثُمَّ
قَالَ لَهُمْ: كُلُوا.
Lalu ia berkata kepada mereka: makanlah.
لَوْلَا
أَنَّ اللَّهَ لَعَنَ الْمُتَكَلِّفِينَ لَتَكَلَّفْتُ لَكُمْ.
Seandainya Allah tidak melaknat orang-orang yang memaksakan
diri, niscaya aku akan memaksakan diri untuk kalian.
وَعَنْ
أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ وَغَيْرِهِ مِنَ الصَّحَابَةِ
أَنَّهُمْ كَانُوا يُقَدِّمُونَ مَا حَضَرَ مِنَ الْكِسَرِ الْيَابِسَةِ وَحَشَفِ
التَّمْرِ.
Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu dan para sahabat
lainnya, diriwayatkan bahwa mereka biasa menghidangkan apa yang ada, berupa
potongan roti kering dan kurma yang jelek.
وَكَانُوا
يَقُولُونَ: لَا نَدْرِي أَيُّهُمَا أَعْظَمُ وَزْرًا؛ الَّذِي يَحْتَقِرُ مَا
يُقَدَّمُ إِلَيْهِ، أَوِ الَّذِي يَحْتَقِرُ مَا عِنْدَهُ أَنْ يُقَدِّمَهُ.
Mereka berkata: kami tidak tahu, mana yang dosanya lebih
besar; orang yang meremehkan apa yang dihidangkan kepadanya, atau orang yang
meremehkan apa yang ia miliki untuk dihidangkan.
الْأَدَبُ
الثَّانِي: وَهُوَ لِلزَّائِرِ أَنْ لَا يَقْتَرِحَ وَلَا يَتَحَكَّمَ بِشَيْءٍ
بِعَيْنِهِ.
Adab kedua: bagi tamu, jangan mengusulkan atau menentukan
suatu makanan tertentu.
فَرُبَّمَا
يَشُقُّ عَلَى الْمَزُورِ إِحْضَارُهُ.
Sebab, kadang-kadang hal itu menyulitkan tuan rumah untuk
menyediakannya.
فَإِنْ
خَيَّرَهُ أَخُوهُ بَيْنَ طَعَامَيْنِ فَلْيَتَخَيَّرْ أَيْسَرَهُمَا عَلَيْهِ.
Jika saudaranya memberi pilihan antara dua makanan,
hendaklah ia memilih yang paling mudah bagi tuan rumah.
كَذٰلِكَ
السُّنَّةُ.
Demikianlah sunnahnya.
فِي
الْخَبَرِ أَنَّهُ مَا خُيِّرَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
بَيْنَ شَيْئَيْنِ إِلَّا اخْتَارَ أَيْسَرَهُمَا.
Dalam riwayat disebutkan bahwa Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam tidak pernah diberi pilihan antara dua perkara, kecuali
beliau memilih yang lebih mudah di antaranya.
رَوَى
الْأَعْمَشُ عَنْ أَبِي وَائِلٍ أَنَّهُ قَالَ: مَضَيْتُ مَعَ صَاحِبٍ لِي نَزُورُ
سَلْمَانَ، فَقَدَّمَ إِلَيْنَا خُبْزَ شَعِيرٍ وَمِلْحًا جَرِيشًا.
Al-A’masy meriwayatkan dari Abu Wa’il bahwa ia berkata: aku
pergi bersama seorang temanku mengunjungi Salman. Lalu ia menghidangkan roti
gandum kasar dan garam kasar kepada kami.
فَقَالَ
صَاحِبِي: لَوْ كَانَ فِي هٰذَا الْمِلْحِ سَعْتَرٌ لَكَانَ أَطْيَبَ.
Temanku berkata: seandainya pada garam ini ada za’atar,
tentu akan lebih enak.
فَخَرَجَ
سَلْمَانُ، فَرَهَنَ مُطَهَّرَتَهُ، وَأَخَذَ سَعْتَرًا.
Maka Salman keluar, menggadaikan kendi airnya, dan membeli
za’atar.
فَلَمَّا
أَكَلْنَا قَالَ صَاحِبِي: الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي قَنَّعَنَا بِمَا رَزَقَنَا.
Setelah kami makan, temanku berkata: segala puji bagi Allah
yang telah membuat kami merasa cukup dengan rezeki yang diberikan kepada kami.
فَقَالَ
سَلْمَانُ: لَوْ قَنَعْتَ بِمَا رُزِقْتَ، لَمْ تَكُنْ مُطَهَّرَتِي مَرْهُونَةً.
Salman berkata: seandainya engkau merasa cukup dengan apa
yang diberikan kepadamu, tentu kendi airku tidak akan tergadai.
هٰذَا
إِذَا تَوَهَّمَ تَعَذُّرَ ذٰلِكَ عَلَىٰ أَخِيهِ أَوْ كَرَاهَتَهُ لَهُ.
Ini berlaku jika ia menduga hal itu sulit bagi saudaranya
atau saudaranya tidak menyukainya.
فَإِنْ
عَلِمَ أَنَّهُ يُسَرُّ بِاقْتِرَاحِهِ، وَيَتَيَسَّرُ عَلَيْهِ ذٰلِكَ، فَلَا
يَكْرَهُ لَهُ الِاقْتِرَاحُ.
Tetapi jika ia mengetahui bahwa saudaranya senang dengan
usul itu dan mudah baginya untuk memenuhinya, maka tidak mengapa ia
mengusulkan.
فَعَلَ
الشَّافِعِيُّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ ذٰلِكَ مَعَ الزَّعْفَرَانِيِّ إِذْ كَانَ
نَازِلًا عِنْدَهُ بِبَغْدَادَ.
Asy-Syafi’i radhiyallahu ‘anhu pernah melakukan itu bersama
az-Zafaranī ketika ia tinggal di rumahnya di Baghdad.
وَكَانَ
الزَّعْفَرَانِيُّ يَكْتُبُ كُلَّ يَوْمٍ رِقْعَةً بِمَا يُطْبَخُ مِنَ
الْأَلْوَانِ، وَيُسَلِّمُهَا إِلَى الْجَارِيَةِ.
Az-Zafaranī setiap hari menulis secarik kertas berisi
makanan yang akan dimasak, lalu menyerahkannya kepada pelayan perempuan.
فَأَخَذَ
الشَّافِعِيُّ الرِّقْعَةَ فِي بَعْضِ الْأَيَّامِ، وَأَلْحَقَ بِهَا لَوْنًا
آخَرَ بِخَطِّهِ.
Pada suatu hari, asy-Syafi’i mengambil kertas itu dan
menambahkan satu jenis makanan lain dengan tulisannya sendiri.
فَلَمَّا
رَأَى الزَّعْفَرَانِيُّ ذٰلِكَ اللَّوْنَ أَنْكَرَ.
Ketika az-Zafaranī melihat makanan tambahan itu, ia pun
mengingkarinya.
وَقَالَ:
مَا أُمِرْتُ بِهٰذَا.
Ia berkata: aku tidak diperintah untuk ini.
فَعُرِضَتْ
عَلَيْهِ الرِّقْعَةُ مُلْحَقًا فِيهَا خَطُّ الشَّافِعِيِّ.
Lalu kertas itu diperlihatkan kepadanya, dengan tambahan
tulisan tangan asy-Syafi’i.
فَلَمَّا
وَقَعَتْ عَيْنُهُ عَلَىٰ خَطِّهِ فَرِحَ بِذٰلِكَ، وَأَعْتَقَ الْجَارِيَةَ
سُرُورًا بِاقْتِرَاحِ الشَّافِعِيِّ عَلَيْهِ.
Ketika matanya melihat tulisan tangan asy-Syafi’i, ia pun
bergembira karenanya, lalu memerdekakan pelayan perempuan itu karena senangnya
terhadap usul asy-Syafi’i.
وَقَالَ
أَبُو بَكْرٍ الْكُتَّانِيُّ: دَخَلْتُ عَلَى السَّرِيِّ، فَجَاءَ بِفُتَيْتٍ،
وَأَخَذَ يَجْعَلُ نِصْفَهُ فِي الْقَدَحِ.
Abu Bakar al-Kuttani berkata: aku masuk menemui as-Sari,
lalu ia datang membawa bubur roti hancur, dan mulai memasukkan setengahnya ke
dalam cawan.
فَقُلْتُ
لَهُ: أَيُّ شَيْءٍ تَصْنَعُ؟ وَأَنَا أَشْرَبُهُ كُلَّهُ فِي مَرَّةٍ وَاحِدَةٍ.
Aku berkata kepadanya: apa yang sedang engkau lakukan?
Padahal aku meminumnya semuanya sekaligus.
فَضَحِكَ،
وَقَالَ: هٰذَا أَفْضَلُ لَكَ مِنْ حَجَّةٍ.
Ia pun tertawa dan berkata: ini lebih baik bagimu daripada
sebuah haji.
وَقَالَ
بَعْضُهُمْ: الْأَكْلُ عَلَىٰ ثَلَاثَةِ أَنْوَاعٍ: مَعَ الْفُقَرَاءِ
بِالْإِيثَارِ، وَمَعَ الْإِخْوَانِ بِالِانْبِسَاطِ، وَمَعَ أَبْنَاءِ الدُّنْيَا
بِالْأَدَبِ.
Sebagian mereka berkata: makan itu ada tiga macam; bersama
orang-orang fakir dengan mengutamakan mereka, bersama saudara-saudara dengan
sikap akrab, dan bersama orang-orang dunia dengan sopan santun.
الْأَدَبُ
الثَّالِثُ: أَنْ يُشَهِّيَ الْمَزُورُ أَخَاهُ الزَّائِرَ، وَيَلْتَمِسَ مِنْهُ
الِاقْتِرَاحَ.
Adab ketiga: tuan rumah hendaknya membuat saudaranya yang
berkunjung berhasrat, dan meminta usulan darinya.
مَهْمَا
كَانَتْ نَفْسُهُ طَيِّبَةً بِفِعْلِ مَا يَقْتَرِحُ، فَذٰلِكَ حَسَنٌ، وَفِيهِ
أَجْرٌ وَفَضْلٌ جَزِيلٌ.
Selama hatinya senang melakukan apa yang diusulkan itu, maka
hal itu baik, dan di dalamnya ada pahala serta keutamaan yang besar.
قَالَ
رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَنْ صَادَفَ مِنْ أَخِيهِ
شَهْوَةً غُفِرَ لَهُ، وَمَنْ سَرَّ أَخَاهُ الْمُؤْمِنَ فَقَدْ سَرَّ اللَّهَ
تَعَالَىٰ.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: siapa
yang memenuhi keinginan saudaranya, ia akan diampuni; dan siapa yang
membahagiakan saudaranya yang beriman, sungguh ia telah membahagiakan Allah
Ta’ala.
وَقَالَ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِيمَا رَوَاهُ جَابِرٌ: مَنْ لَذَّذَ أَخَاهُ
بِمَا يَشْتَهِي، كَتَبَ اللَّهُ لَهُ أَلْفَ أَلْفِ حَسَنَةٍ، وَمَحَا عَنْهُ
أَلْفَ أَلْفِ سَيِّئَةٍ.
Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam
riwayat Jabir: siapa yang membahagiakan saudaranya dengan apa yang ia sukai,
Allah mencatat untuknya satu juta kebaikan dan menghapus darinya satu juta
keburukan.
وَرَفَعَ
لَهُ أَلْفَ أَلْفِ دَرَجَةٍ، وَأَطْعَمَهُ اللَّهُ مِنْ ثَلَاثِ جَنَّاتٍ:
جَنَّةِ الْفِرْدَوْسِ، وَجَنَّةِ عَدْنٍ، وَجَنَّةِ الْخُلْدِ.
Dan Allah mengangkatnya satu juta derajat, serta memberinya
makanan dari tiga surga: Surga Firdaus, Surga ‘Adn, dan Surga Khulud.
الْأَدَبُ
الرَّابِعُ: أَنْ لَا يَقُولَ لَهُ: هَلْ أُقَدِّمُ لَكَ طَعَامًا؟ بَلْ يَنْبَغِي
أَنْ يُقَدِّمَ إِنْ كَانَ.
Adab keempat: jangan berkata kepadanya, “Apakah aku perlu
menghidangkan makanan untukmu?” Sebaliknya, hendaknya ia langsung menghidangkan
jika memang ada.
قَالَ
الثَّوْرِيُّ: إِذَا زَارَكَ أَخُوكَ فَلَا تَقُلْ لَهُ: أَتَأْكُلُ، أَوْ
أُقَدِّمُ إِلَيْكَ؟ وَلَكِنْ قَدِّمْ، فَإِنْ أَكَلَ وَإِلَّا فَارْفَعْ.
As-Tsauri berkata: jika saudaramu berkunjung kepadamu,
jangan berkata kepadanya: “Apakah engkau mau makan?” atau “Bolehkah aku
menghidangkan sesuatu untukmu?” Tetapi hidangkanlah. Jika ia makan, baik; jika
tidak, angkatlah.
وَإِنْ
كَانَ يُرِيدُ أَنْ يُطْعِمَهُمْ طَعَامًا فَلَا يَنْبَغِي أَنْ يُظْهِرَهُمْ
عَلَيْهِ أَوْ يَصِفَهُ لَهُمْ.
Jika ia ingin memberi mereka makanan, janganlah ia
menampakkannya secara berlebihan atau menjelaskannya kepada mereka.
قَالَ
الثَّوْرِيُّ: إِذَا أَرَدْتَ أَنْ لَا تُطْعِمَ عِيَالَكَ مِمَّا تَأْكُلُهُ،
فَلَا تُحَدِّثْهُمْ بِهِ وَلَا يَرَوْنَهُ مَعَكَ.
As-Tsauri berkata: jika engkau tidak ingin memberi
keluargamu sesuatu dari makanan yang engkau makan, maka jangan bicarakan itu
kepada mereka dan jangan pula mereka melihatnya bersamamu.
وَقَالَ
بَعْضُ الصُّوفِيَّةِ: إِذَا دَخَلَ عَلَيْكُمُ الْفُقَرَاءُ فَقَدِّمُوا
إِلَيْهِمْ طَعَامًا، وَإِذَا دَخَلَ الْفُقَهَاءُ فَسَلُوهُمْ عَنْ مَسْأَلَةٍ،
فَإِذَا دَخَلَ الْقُرَّاءُ فَدُلُّوهُمْ عَلَى الْمِحْرَابِ.
Sebagian sufi berkata: jika orang-orang fakir datang kepada
kalian, hidangkanlah makanan kepada mereka. Jika para ahli fikih datang,
tanyakanlah kepada mereka suatu masalah. Jika para qari datang, tunjukkanlah
mereka ke mihrab.