Hal-Hal Yang Bertambah Karena Berkumpul Dan Berbagi Dalam Makan

الْبَابُ الثَّانِي فِيمَا يَزِيدُ بِسَبَبِ الِاجْتِمَاعِ وَالْمُشَارَكَةِ فِي الْأَكْلِ، وَهِيَ سَبْعَةٌ.

Bab kedua: hal-hal yang bertambah karena berkumpul dan berbagi dalam makan. Jumlahnya ada tujuh.

الْأَوَّلُ أَنْ لَا يَبْتَدِئَ بِالطَّعَامِ وَمَعَهُ مَنْ يَسْتَحِقُّ التَّقْدِيمَ بِكِبَرِ سِنٍّ أَوْ زِيَادَةِ فَضْلٍ، إِلَّا أَنْ يَكُونَ هُوَ الْمَتْبُوعَ وَالْمُقْتَدَىٰ بِهِ.

Pertama: jangan memulai makan jika bersamanya ada orang yang lebih berhak didahulukan karena lebih tua atau lebih utama, kecuali jika ia memang orang yang diikuti dan dijadikan teladan.

فَحِينَئِذٍ يَنْبَغِي أَنْ لَا يُطَوِّلَ عَلَيْهِمُ الِانْتِظَارَ إِذَا اشْرَأَبُّوا لِلْأَكْلِ وَاجْتَمَعُوا لَهُ.

Namun, jika demikian, janganlah ia memperpanjang penantian mereka ketika mereka sudah siap makan dan berkumpul untuk itu.

الثَّانِي أَنْ لَا يَسْكُتُوا عَلَى الطَّعَامِ.

Kedua: jangan diam saat makan.

فَإِنَّ ذٰلِكَ مِنْ سِيرَةِ الْعَجَمِ.

Sebab itu termasuk kebiasaan orang-orang non-Arab.

وَلَكِنْ يَتَكَلَّمُونَ بِالْمَعْرُوفِ.

Tetapi berbicaralah dengan ucapan yang baik.

وَيَتَحَدَّثُونَ بِحِكَايَاتِ الصَّالِحِينَ فِي الْأَطْعِمَةِ وَغَيْرِهَا.

Dan berbincanglah tentang kisah-kisah orang saleh, baik tentang makanan maupun selainnya.

الثَّالِثُ أَنْ يَرْفُقَ بِرَفِيقِهِ فِي الْقَصْعَةِ.

Ketiga: hendaknya ia bersikap lembut kepada temannya dalam satu wadah makanan.

فَلَا يَقْصِدْ أَنْ يَأْكُلَ زِيَادَةً عَلَىٰ مَا يَأْكُلُهُ.

Jangan ia sengaja makan lebih banyak daripada yang dimakan temannya.

فَإِنَّ ذٰلِكَ حَرَامٌ إِنْ لَمْ يَكُنْ مُوَافِقًا لِرِضَا رَفِيقِهِ.

Sebab hal itu haram jika tidak sesuai dengan kerelaan temannya.

مَهْمَا كَانَ الطَّعَامُ مُشْتَرَكًا.

Apalagi jika makanan itu memang dimakan bersama-sama.

بَلْ يَنْبَغِي أَنْ يَقْصِدَ الْإِيثَارَ.

Bahkan, hendaknya ia berniat mengutamakan orang lain.

وَلَا يَأْكُلَ تَمْرَتَيْنِ فِي دُفْعَةٍ إِلَّا إِذَا فَعَلُوا ذٰلِكَ أَوِ اسْتَأْذَنَهُمْ.

Jangan ia makan dua butir kurma sekaligus, kecuali jika mereka juga melakukannya, atau ia meminta izin kepada mereka.

فَإِنْ قَلَّلَ رَفِيقُهُ نَشَّطَهُ وَرَغَّبَهُ فِي الْأَكْلِ.

Jika temannya makan sedikit, hendaknya ia menyemangatinya dan mendorongnya untuk makan.

وَقَالَ لَهُ: كُلْ.

Dan ia berkata kepadanya: makanlah.

وَلَا يُكْثِرِ الْقَوْلَ: كُلْ، ثَلَاثَ مَرَّاتٍ.

Jangan ia terlalu sering mengatakan, “makanlah,” sampai tiga kali.

فَإِنَّ ذٰلِكَ إِلْحَاحٌ وَإِفْرَاطٌ.

Sebab itu termasuk desakan dan berlebihan.

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا خُوطِبَ فِي شَيْءٍ ثَلَاثًا لَمْ يُرَاجِعْ بَعْدَ ثَلَاثٍ.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, jika sesuatu disampaikan kepadanya tiga kali, beliau tidak menanggapinya lagi setelah tiga kali.

فَلَيْسَ مِنَ الْأَدَبِ الزِّيَادَةُ عَلَيْهِ.

Maka, bukan adab jika menambahnya melebihi itu.

فَأَمَّا الْحَلِفُ عَلَيْهِ بِالْأَكْلِ فَمَمْنُوعٌ.

Adapun bersumpah agar ia makan, itu terlarang.

قَالَ الْحَسَنُ بْنُ عَلِيٍّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا: الطَّعَامُ أَهْوَنُ مِنْ أَنْ يُحْلَفَ عَلَيْهِ.

Al-Hasan bin Ali radhiyallahu ‘anhuma berkata: makanan itu lebih ringan daripada harus dijadikan bahan sumpah.

الرَّابِعُ أَنْ لَا يُحْوِجَ رَفِيقَهُ إِلَى أَنْ يَقُولَ لَهُ: كُلْ.

Keempat: jangan membuat temannya terpaksa berkata kepadanya, “makanlah.”

قَالَ بَعْضُ الْأَدَبَاءِ: أَحْسَنُ الْآكِلِينَ أَكْلًا مَنْ لَا يُحْوِجُ صَاحِبَهُ إِلَىٰ أَنْ يَتَفَقَّدَهُ فِي الْأَكْلِ، وَحَمَلَ عَنْ أَخِيهِ مُؤْنَةَ الْقَوْلِ.

Sebagian ahli adab berkata: sebaik-baik orang yang makan adalah orang yang tidak membuat temannya perlu mengajaknya makan, sehingga ia telah mengangkat beban ucapan itu dari saudaranya.

وَلَا يَنْبَغِي أَنْ يَدَعَ شَيْئًا مِمَّا يَشْتَهِيهِ لِأَجْلِ نَظَرِ الْغَيْرِ إِلَيْهِ.

Hendaknya ia tidak meninggalkan sesuatu yang ia sukai hanya karena dilihat orang lain.

فَإِنَّ ذٰلِكَ تَصَنُّعٌ.

Sebab itu adalah kepura-puraan.

بَلْ يَجْرِي عَلَى الْمُعْتَادِ.

Tetapi hendaknya ia berjalan sesuai kebiasaan yang biasa ia lakukan.

وَلَا يَنْقُصُ مِنْ عَادَتِهِ شَيْئًا فِي الْوَحْدَةِ.

Dan ia tidak mengurangi kebiasaannya saat sendirian.

وَلَكِنْ يُعَوِّدُ نَفْسَهُ حُسْنَ الْأَدَبِ فِي الْوَحْدَةِ.

Akan tetapi, ia membiasakan dirinya beradab dengan baik saat sendirian.

حَتَّىٰ لَا يَحْتَاجَ إِلَى التَّصَنُّعِ عِنْدَ الِاجْتِمَاعِ.

Sehingga ia tidak perlu berpura-pura ketika bersama orang lain.

نَعَمْ، لَوْ قَلَّلَ مِنْ أَكْلِهِ إِيثَارًا لِإِخْوَانِهِ وَنَظَرًا لَهُمْ عِنْدَ الْحَاجَةِ إِلَىٰ ذٰلِكَ فَهُوَ حَسَنٌ.

Ya, jika ia mengurangi makan demi mengutamakan saudara-saudaranya dan mempertimbangkan keadaan mereka ketika dibutuhkan, itu baik.

وَإِنْ زَادَ فِي الْأَكْلِ عَلَىٰ نِيَّةِ الْمُسَاعَدَةِ وَتَحْرِيكِ نَشَاطِ الْقَوْمِ فِي الْأَكْلِ فَلَا بَأْسَ بِهِ، بَلْ هُوَ حَسَنٌ.

Dan jika ia menambah makan dengan niat membantu dan membangkitkan semangat orang-orang untuk makan, tidak mengapa; bahkan itu baik.

وَكَانَ ابْنُ الْمُبَارَكِ يُقَدِّمُ فَاخِرَ الرُّطَبِ إِلَىٰ إِخْوَانِهِ.

Ibnu al-Mubarak biasa menghidangkan kurma pilihan kepada saudara-saudaranya.

وَيَقُولُ: مَنْ أَكَلَ أَكْثَرَ أَعْطَيْتُهُ بِكُلِّ نَوَاةٍ دِرْهَمًا.

Ia berkata: siapa yang makan lebih banyak, aku beri satu dirham untuk setiap biji kurmanya.

وَكَانَ يَعُدُّ النَّوَىٰ وَيُعْطِي كُلَّ مَنْ لَهُ فَضْلُ نَوًى بِعَدَدِهِ دَرَاهِمَ.

Ia menghitung biji kurma dan memberi kepada setiap orang yang bijinya lebih banyak, dirham sebanyak jumlah biji itu.

وَذٰلِكَ لِدَفْعِ الْحَيَاءِ وَزِيَادَةِ النَّشَاطِ فِي الِانْبِسَاطِ.

Itu dilakukan untuk menghilangkan rasa malu dan menambah semangat dalam suasana santai.

وَقَالَ جَعْفَرُ بْنُ مُحَمَّدٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا: أَحَبُّ إِخْوَانِي إِلَيَّ أَكْثَرُهُمْ أَكْلًا، وَأَعْظَمُهُمْ لُقْمَةً، وَأَثْقَلُهُمْ عَلَىٰ مَنْ يُحْوِجُنِي إِلَىٰ تَعَهُّدِهِ فِي الْأَكْلِ.

Ja’far bin Muhammad radhiyallahu ‘anhuma berkata: saudara-saudaraku yang paling aku cintai adalah yang paling banyak makannya, suapannya paling besar, dan paling merepotkan orang yang harus memperhatikannya saat makan.

وَكُلُّ هٰذَا إِشَارَةٌ إِلَى الْجَرْيِ عَلَى الْمُعْتَادِ وَتَرْكِ التَّصَنُّعِ.

Semua ini menunjukkan pentingnya berjalan menurut kebiasaan dan meninggalkan kepura-puraan.

وَقَالَ جَعْفَرٌ رَحِمَهُ اللَّهُ أَيْضًا: تَتَبَيَّنُ جَوْدَةُ مَحَبَّةِ الرَّجُلِ لِأَخِيهِ بِجَوْدَةِ أَكْلِهِ فِي مَنْزِلِهِ.

Ja’far rahimahullah juga berkata: baiknya kecintaan seseorang kepada saudaranya tampak dari baiknya cara ia makan di rumah saudaranya itu.

الْخَامِسُ أَنْ لَا يَبْزُقَ فِي الطَّسْتِ.

Kelima: jangan meludah ke dalam baskom.

فَإِنَّهُ لَا بَأْسَ بِغَسْلِ الْيَدِ فِيهِ.

Namun, tidak mengapa mencuci tangan di dalamnya.

وَلَهُ أَنْ يَتَنَخَّمَ فِيهِ إِنْ أَكَلَ وَحْدَهُ.

Ia boleh meludah lendir ke dalamnya jika ia makan sendirian.

وَأَمَّا إِنْ أَكَلَ مَعَ غَيْرِهِ فَلَا يَنْبَغِي أَنْ يَفْعَلَ ذٰلِكَ.

Tetapi jika ia makan bersama orang lain, jangan ia melakukan itu.

فَإِذَا قُدِّمَ إِلَيْهِ الطَّسْتُ إِكْرَامًا فَلْيَقْبَلْهُ.

Jika baskom itu dipersembahkan kepadanya sebagai penghormatan, hendaklah ia menerimanya.

اجْتَمَعَ أَنَسُ بْنُ مَالِكٍ وَثَابِتُ الْبُنَانِيُّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا عَلَىٰ طَعَامٍ، فَقَدَّمَ أَنَسٌ الطَّسْتَ إِلَيْهِ فَامْتَنَعَ ثَابِتٌ، فَقَالَ أَنَسُ: إِذَا أَكْرَمَكَ أَخُوكَ فَاقْبَلْ كَرَامَتَهُ وَلَا تَرُدَّهَا، فَإِنَّمَا يُكْرِمُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ.

Anas bin Malik dan Tsabit al-Bunani radhiyallahu ‘anhuma pernah makan bersama. Anas lalu menyodorkan baskom kepadanya, tetapi Tsabit menolak. Anas berkata: jika saudaramu memuliakanmu, terimalah kemuliaannya dan jangan menolaknya. Sesungguhnya yang memuliakan itu hanyalah Allah ‘Azza wa Jalla.

وَرُوِيَ أَنَّ هَارُونَ الرَّشِيدَ دَعَا أَبَا مُعَاوِيَةَ الضَّرِيرَ، فَصَبَّ الرَّشِيدُ عَلَىٰ يَدِهِ فِي الطَّسْتِ.

Diriwayatkan bahwa Harun ar-Rasyid memanggil Abu Mu’awiyah al-Darir, lalu ar-Rasyid menuangkan air ke tangannya di dalam baskom.

فَلَمَّا فَرَغَ قَالَ: يَا أَبَا مُعَاوِيَةَ، أَتَدْرِي مَنْ صَبَّ عَلَىٰ يَدِكَ؟

Ketika selesai, ia berkata: “Wahai Abu Mu’awiyah, tahukah engkau siapa yang menuangkan air ke tanganmu?”

فَقَالَ: لَا.

Ia menjawab: “Tidak.”

قَالَ: صَبَّهُ أَمِيرُ الْمُؤْمِنِينَ.

Ia berkata: “Yang menuangkannya adalah Amirul Mukminin.”

فَقَالَ: يَا أَمِيرَ الْمُؤْمِنِينَ، إِنَّمَا أَكْرَمْتَ الْعِلْمَ وَأَجْلَلْتَهُ، فَأَجَلَّكَ اللَّهُ وَأَكْرَمَكَ، كَمَا أَجْلَلْتَ الْعِلْمَ وَأَهْلَهُ.

Ia berkata: “Wahai Amirul Mukminin, sesungguhnya engkau telah memuliakan ilmu dan mengagungkannya. Maka semoga Allah mengagungkan dan memuliakanmu, sebagaimana engkau telah memuliakan ilmu dan para ahlinya.”

وَلَا بَأْسَ أَنْ يَجْتَمِعُوا عَلَىٰ غَسْلِ الْيَدِ فِي الطَّسْتِ فِي حَالَةٍ وَاحِدَةٍ.

Tidak mengapa mereka berkumpul untuk mencuci tangan dalam satu baskom pada saat yang sama.

فَهُوَ أَقْرَبُ إِلَى التَّوَاضُعِ وَأَبْعَدُ عَنْ طُولِ الِانْتِظَارِ.

Itu lebih dekat kepada kerendahan hati dan lebih jauh dari lamanya menunggu.

فَإِنْ لَمْ يَفْعَلُوهُ فَلَا يَنْبَغِي أَنْ يُصَبَّ مَاءُ كُلِّ وَاحِدٍ، بَلْ يُجْمَعُ الْمَاءُ فِي الطَّسْتِ.

Jika mereka tidak melakukannya, janganlah air setiap orang dituangkan terpisah; tetapi kumpulkan air itu dalam satu baskom.

قَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: اجْمَعُوا وُضُوءَكُمْ، جَمَعَ اللَّهُ شَمْلَكُمْ.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Satukanlah cara bersuci kalian, niscaya Allah menyatukan urusan kalian.”

وَقِيلَ: إِنَّ الْمُرَادَ هٰذَا.

Dikatakan bahwa yang dimaksud memang demikian.

وَكَتَبَ عُمَرُ بْنُ عَبْدِ الْعَزِيزِ إِلَى الْأَمْصَارِ: لَا يُرْفَعُ الطَّسْتُ مِنْ بَيْنِ يَدَيْ قَوْمٍ إِلَّا مَمْلُوءَةً، وَلَا تُشَبَّهُوا بِالْعَجَمِ.

Umar bin Abdul Aziz menulis kepada negeri-negeri: janganlah baskom diangkat dari hadapan suatu kaum kecuali dalam keadaan penuh, dan janganlah kalian menyerupai orang-orang non-Arab.

وَقَالَ ابْنُ مَسْعُودٍ: اجْتَمِعُوا عَلَىٰ غَسْلِ الْيَدِ فِي طَسْتٍ وَاحِدٍ، وَلَا تَسْتَنُّوا بِسُنَّةِ الْأَعَاجِمِ.

Ibnu Mas’ud berkata: berkumpullah untuk mencuci tangan dalam satu baskom, dan jangan mengikuti kebiasaan orang-orang asing.

وَالْخَادِمُ الَّذِي يَصُبُّ الْمَاءَ عَلَى الْيَدِ كَرِهَ بَعْضُهُمْ أَنْ يَكُونَ قَائِمًا، وَأَحَبَّ أَنْ يَكُونَ جَالِسًا، لِأَنَّهُ أَقْرَبُ إِلَى التَّوَاضُعِ.

Pelayan yang menuangkan air ke tangan, sebagian ulama tidak menyukai jika ia berdiri, dan lebih suka jika ia duduk, karena itu lebih dekat kepada kerendahan hati.

وَكَرِهَ بَعْضُهُمْ جُلُوسَهُ.

Sebagian ulama justru tidak menyukai ia duduk.

فَرُوِيَ أَنَّهُ صَبَّ الْمَاءَ عَلَىٰ يَدِ وَاحِدٍ خَادِمٌ جَالِسًا، فَقَامَ الْمَصْبُوبُ عَلَيْهِ.

Diriwayatkan bahwa seorang pelayan yang duduk menuangkan air ke tangan seseorang, lalu orang yang dituangi itu berdiri.

فَقِيلَ لَهُ: لِمَ قُمْتَ؟

Lalu ditanya kepadanya: “Mengapa engkau berdiri?”

فَقَالَ: أَحَدُنَا لَا بُدَّ وَأَنْ يَكُونَ قَائِمًا.

Ia menjawab: “Salah satu dari kita pasti harus berdiri.”

وَهٰذَا أَوْلَىٰ، لِأَنَّهُ أَيْسَرُ لِلصَّبِّ وَلِلْغَسْلِ، وَأَقْرَبُ إِلَىٰ تَوَاضُعِ الَّذِي يَصُبُّ.

Ini lebih baik, karena lebih mudah untuk menuangkan dan mencuci, serta lebih dekat kepada kerendahan hati orang yang menuang.

وَإِذَا كَانَ لَهُ نِيَّةٌ فِيهِ فَتَمْكِينُهُ مِنَ الْخِدْمَةِ لَيْسَ فِيهِ تَكَبُّرٌ.

Jika ia berniat baik dalam hal itu, memberi kesempatan kepadanya untuk melayani bukanlah kesombongan.

فَإِنَّ الْعَادَةَ جَارِيَةٌ بِذٰلِكَ.

Sebab kebiasaan memang berjalan demikian.

فَفِي الطَّسْتِ إِذًا سَبْعَةُ آدَابٍ.

Maka, dalam urusan baskom itu ada tujuh adab.

أَنْ لَا يَبْزُقَ فِيهِ.

Yaitu, jangan meludah di dalamnya.

وَأَنْ يُقَدَّمَ بِهِ الْمَتْبُوعُ.

Hendaknya didahulukan orang yang menjadi panutan.

وَأَنْ يُقْبَلَ الْإِكْرَامُ بِالتَّقْدِيمِ.

Hendaknya penghormatan dengan cara didahulukan itu diterima.

وَأَنْ يُدَارَ يَمْنَةً.

Hendaknya baskom itu diedarkan ke arah kanan.

وَأَنْ يَجْتَمِعَ فِيهِ جَمَاعَةٌ.

Hendaknya beberapa orang berkumpul memakainya.

وَأَنْ يُجْمَعَ الْمَاءُ فِيهِ.

Hendaknya air dikumpulkan di dalamnya.

وَأَنْ يَكُونَ الْخَادِمُ قَائِمًا.

Hendaknya pelayan berdiri.

وَأَنْ يَمُجَّ الْمَاءَ مِنْ فِيهِ وَيُرْسِلَهُ مِنْ يَدِهِ بِرِفْقٍ، حَتَّىٰ لَا يَرُشَّ عَلَى الْفِرَاشِ وَعَلَىٰ أَصْحَابِهِ.

Dan hendaknya ia memuntahkan air dari mulutnya lalu menuangkannya dari tangannya dengan lembut, agar tidak memercik ke alas duduk dan kepada para sahabatnya.

وَلْيَصُبَّ صَاحِبُ الْمَنْزِلِ بِنَفْسِهِ الْمَاءَ عَلَىٰ يَدِ ضَيْفِهِ.

Hendaklah tuan rumah sendiri menuangkan air ke tangan tamunya.

هٰكَذَا فَعَلَ مَالِكٌ بِالشَّافِعِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا فِي أَوَّلِ نُزُولِهِ عَلَيْهِ.

Demikianlah yang dilakukan Malik kepada asy-Syafi’i radhiyallahu ‘anhuma ketika beliau pertama kali singgah padanya.

وَقَالَ: لَا يَرُوعُكَ مَا رَأَيْتَ مِنِّي، فَخِدْمَةُ الضَّيْفِ فَرْضٌ.

Ia berkata: “Janganlah engkau heran dengan apa yang engkau lihat dariku. Karena melayani tamu itu wajib.”

السَّادِسُ أَنْ لَا يَنْظُرَ إِلَىٰ أَصْحَابِهِ وَلَا يُرَاقِبَ أَكْلَهُمْ فَيَسْتَحْيُونَ.

Keenam: jangan melihat para sahabatnya dan jangan mengawasi cara mereka makan sehingga mereka malu.

بَلْ يَغُضَّ بَصَرَهُ عَنْهُمْ وَيَشْتَغِلَ بِنَفْسِهِ.

Tetapi tundukkan pandangannya dari mereka dan sibukkan dirinya sendiri.

وَلَا يُمْسِكَ قَبْلَ إِخْوَانِهِ إِذَا كَانُوا يَحْتَشِمُونَ الْأَكْلَ بَعْدَهُ.

Jangan ia berhenti makan sebelum saudara-saudaranya jika mereka merasa sungkan untuk makan sesudahnya.

بَلْ يَمُدَّ الْيَدَ وَيَقْبِضَهَا وَيَتَنَاوَلَ قَلِيلًا قَلِيلًا إِلَىٰ أَنْ يَسْتَوْفُوا.

Tetapi ia terus mengulurkan dan menarik tangannya, lalu makan sedikit demi sedikit sampai mereka selesai.

فَإِنْ كَانَ قَلِيلَ الْأَكْلِ تَوَقَّفَ فِي الِابْتِدَاءِ وَقَلَّلَ الْأَكْلَ.

Jika ia memang sedikit makannya, hendaknya ia berhenti di awal dan mengurangi makan.

حَتَّىٰ إِذَا تَوَسَّعُوا فِي الطَّعَامِ أَكَلَ مَعَهُمْ آخِرًا.

Sehingga ketika mereka sudah lebih leluasa dalam makan, ia makan bersama mereka pada akhirnya.

فَقَدْ فَعَلَ ذٰلِكَ كَثِيرٌ مِنَ الصَّحَابَةِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ.

Banyak sahabat radhiyallahu ‘anhum pernah melakukan hal itu.

فَإِنِ امْتَنَعَ لِسَبَبٍ فَلْيَعْتَذِرْ إِلَيْهِمْ دَفْعًا لِلْخَجْلَةِ عَنْهُمْ.

Jika ia menahan diri karena suatu alasan, hendaklah ia meminta maaf kepada mereka agar rasa malu tidak timbul pada mereka.

السَّابِعُ أَنْ لَا يَفْعَلَ مَا يَسْتَقْذِرُهُ غَيْرُهُ.

Ketujuh: jangan melakukan sesuatu yang dianggap menjijikkan oleh orang lain.

فَلَا يَنْفُضْ يَدَهُ فِي الْقَصْعَةِ.

Jangan mengibaskan tangannya di dalam wadah makanan.

وَلَا يُقَدِّمْ إِلَيْهَا رَأْسَهُ عِنْدَ وَضْعِ اللُّقْمَةِ فِي فِيهِ.

Dan jangan mendekatkan kepalanya ke wadah ketika memasukkan suapan ke mulut.

وَإِنْ أَخْرَجَ شَيْئًا مِنْ فِيهِ صَرَفَ وَجْهَهُ عَنِ الطَّعَامِ وَأَخَذَهُ بِيَسَارِهِ.

Jika ia mengeluarkan sesuatu dari mulutnya, hendaklah ia memalingkan wajahnya dari makanan dan mengambilnya dengan tangan kiri.

وَلَا يَغْمِسَ اللُّقْمَةَ الدَّسِمَةَ فِي الْخَلِّ، وَلَا الْخَلَّ فِي الدُّسُومَةِ.

Jangan mencelupkan suapan yang berminyak ke dalam cuka, dan jangan pula cuka ke dalam makanan yang berminyak.

فَقَدْ يَكْرَهُهُ غَيْرُهُ.

Karena orang lain mungkin membencinya.

وَاللُّقْمَةُ الَّتِي قَطَعَهَا بِسِنِّهِ لَا يَغْمِسْ بَقِيَّتَهَا فِي الْمَرَقَةِ وَالْخَلِّ.

Suapan yang telah ia potong dengan giginya jangan sisa bagiannya dicelupkan lagi ke dalam kuah dan cuka.

وَلَا يَتَكَلَّمُ بِمَا يَذْكُرُ الْمُسْتَقْذَرَاتِ.

Dan jangan berbicara tentang hal-hal yang menimbulkan rasa jijik.