Hal-Hal Yang Harus Diperhatikan Oleh Orang Yang Makan Sendirian

الْبَابُ الْأَوَّلُ فِيمَا لَا بُدَّ لِلْمُنْفَرِدِ مِنْهُ.

Bab pertama: hal-hal yang harus diperhatikan oleh orang yang makan sendirian.

وَهُوَ ثَلَاثَةُ أَقْسَامٍ.

Bab ini terdiri dari tiga bagian.

قِسْمٌ قَبْلَ الْأَكْلِ، وَقِسْمٌ مَعَ الْأَكْلِ، وَقِسْمٌ بَعْدَ الْفَرَاغِ مِنْهُ.

Bagian sebelum makan, bagian saat makan, dan bagian setelah selesai darinya.

الْقِسْمُ الْأَوَّلُ فِي الْآدَابِ الَّتِي تَتَقَدَّمُ عَلَى الْأَكْلِ، وَهِيَ:

Bagian pertama adalah adab-adab yang didahulukan sebelum makan, yaitu:

الْأَوَّلُ: أَنْ يَكُونَ الطَّعَامُ حَلَالًا فِي نَفْسِهِ، طَيِّبًا فِي جِهَةِ مَكْسَبِهِ، مُوَافِقًا لِلسُّنَّةِ وَالْوَرَعِ.

Pertama: makanan itu harus halal pada zatnya, baik dari cara memperolehnya, dan sesuai dengan sunnah serta sikap wara’.

وَلَمْ يُكْتَسَبْ بِسَبَبٍ مَكْرُوهٍ فِي الشَّرْعِ، وَلَا بِحُكْمِ هَوًى وَمُدَاهَنَةٍ فِي دِينٍ.

Makanan itu tidak diperoleh melalui sebab yang dibenci syariat, dan tidak pula karena mengikuti hawa nafsu atau kompromi dalam agama.

وَقَدْ أَمَرَ اللَّهُ تَعَالَى بِأَكْلِ الطَّيِّبِ، وَهُوَ الْحَلَالُ.

Allah Ta’ala telah memerintahkan untuk memakan yang baik, yaitu yang halal.

وَقَدَّمَ النَّهْيَ عَنِ الْأَكْلِ بِالْبَاطِلِ عَلَى الْقَتْلِ، تَفْخِيمًا لِأَمْرِ الْحَرَامِ وَتَعْظِيمًا لِبَرَكَةِ الْحَلَالِ.

Dan Dia mendahulukan larangan memakan dengan cara batil atas larangan membunuh, sebagai penegasan terhadap urusan haram dan pengagungan terhadap berkah yang halal.

فَالْأَصْلُ فِي الطَّعَامِ كَوْنُهُ طَيِّبًا، وَهُوَ مِنَ الْفَرَائِضِ وَأُصُولِ الدِّينِ.

Maka, asal makanan adalah harus baik. Ini termasuk kewajiban dan pokok agama.

الثَّانِي: غَسْلُ الْيَدِ.

Kedua: mencuci tangan.

قَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: الْوُضُوءُ قَبْلَ الطَّعَامِ يَنْفِي الْفَقْرَ، وَبَعْدَهُ يَنْفِي اللَّمَمَ.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: berwudu sebelum makan menghilangkan kefakiran, dan setelahnya menghilangkan gangguan-gangguan kecil.

وَلِأَنَّ الْيَدَ لَا تَخْلُو عَنْ لَوْثٍ فِي تَعَاطِي الْأَعْمَالِ.

Karena tangan tidak lepas dari kotoran ketika dipakai dalam berbagai pekerjaan.

فَغَسْلُهَا أَقْرَبُ إِلَى النَّظَافَةِ وَالنَّزَاهَةِ.

Maka mencucinya lebih dekat kepada kebersihan dan kesucian.

وَلِأَنَّ الْأَكْلَ لِقَصْدِ الِاسْتِعَانَةِ عَلَى الدِّينِ عِبَادَةٌ.

Karena makan dengan niat membantu urusan agama adalah ibadah.

فَهُوَ جَدِيرٌ بِأَنْ يُقَدَّمَ عَلَيْهِ مَا يَجْرِي مِنْهُ مَجْرَى الطَّهَارَةِ مِنَ الصَّلَاةِ.

Maka layak didahului oleh sesuatu yang kedudukannya seperti bersuci dalam salat.

الثَّالِثُ: أَنْ يُوضَعَ الطَّعَامُ عَلَى السُّفْرَةِ الْمَوْضُوعَةِ عَلَى الْأَرْضِ.

Ketiga: makanan diletakkan di atas alas makan yang dibentangkan di tanah.

فَهُوَ أَقْرَبُ إِلَى فِعْلِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ رَفْعِهِ عَلَى الْمَائِدَةِ.

Hal itu lebih dekat kepada perbuatan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam daripada meletakkannya di atas meja makan.

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا أُتِيَ بِطَعَامٍ وَضَعَهُ عَلَى الْأَرْضِ.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bila didatangkan makanan, beliau meletakkannya di atas tanah.

وَمَا يُقَالُ إِنَّهُ أُبْدِعَ بَعْدَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَلَيْسَ كُلُّ مَا أُبْدِعَ مَنْهِيًّا.

Apa yang dikatakan sebagai perkara baru setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, tidaklah setiap hal baru itu terlarang.

بَلِ الْمَنْهِيُّ بِدْعَةٌ تُضَادُّ سُنَّةً ثَابِتَةً، وَتَرْفَعُ أَمْرًا مِنَ الشَّرْعِ مَعَ بَقَاءِ عِلَّتِهِ.

Yang terlarang adalah bid’ah yang bertentangan dengan sunnah yang sudah tetap, dan menghapus hukum syariat padahal sebab hukumnya masih ada.

بَلِ الْإِبْدَاعُ قَدْ يَجِبُ فِي بَعْضِ الْأَحْوَالِ إِذَا تَغَيَّرَتِ الْأَسْبَابُ.

Bahkan, sesuatu yang baru kadang wajib pada keadaan tertentu jika sebab-sebabnya berubah.

وَلَيْسَ فِي الْمَائِدَةِ إِلَّا رَفْعُ الطَّعَامِ عَنِ الْأَرْضِ لِتَيْسِيرِ الْأَكْلِ.

Pada meja makan itu tidak ada selain mengangkat makanan dari tanah agar makan menjadi lebih mudah.

وَأَمْثَالُ ذٰلِكَ مِمَّا لَا كَرَاهَةَ فِيهِ.

Hal semacam itu tidak mengandung kemakruhan.

وَالْأَرْبَعُ الَّتِي جُمِعَتْ فِي أَنَّهَا مُبْدَعَةٌ لَيْسَتْ مُتَسَاوِيَةً.

Empat hal yang disebut sebagai hal baru itu tidak sama kedudukannya.

بَلِ الْأُشْنَانُ حَسَنٌ لِمَا فِيهِ مِنَ النَّظَافَةِ.

Adapun ashnan itu baik karena mengandung kebersihan.

فَإِنَّ الْغَسْلَ مُسْتَحَبٌّ لِلنَّظَافَةِ، وَالْأُشْنَانَ أَتَمُّ فِي التَّنْظِيفِ.

Sebab mencuci memang dianjurkan untuk kebersihan, dan ashnan lebih sempurna dalam membersihkan.

وَأَمَّا الْمَائِدَةُ فَتَيْسِيرٌ لِلْأَكْلِ، وَهُوَ أَيْضًا مُبَاحٌ مَا لَمْ يَنْتَهِ إِلَى الْكِبْرِ وَالتَّعَاظُمِ.

Adapun meja makan, itu hanya memudahkan makan, dan itu juga mubah selama tidak membawa kepada kesombongan dan bermegah-megahan.

وَأَمَّا الشِّبَعُ فَهُوَ أَشَدُّ هٰذِهِ الْأَرْبَعَةِ.

Adapun makan sampai kenyang berlebihan, itu yang paling berat di antara empat hal tersebut.

فَإِنَّهُ يَدْعُو إِلَى تَهْيِيجِ الشَّهَوَاتِ وَتَحْرِيكِ الْأَدْوَاءِ فِي الْبَدَنِ.

Sebab hal itu mendorong bangkitnya syahwat dan menggerakkan penyakit dalam tubuh.

فَلْتُدْرَكِ التَّفْرِقَةُ بَيْنَ هٰذِهِ الْمُبْتَدَعَاتِ.

Maka bedakanlah di antara hal-hal baru ini.

الرَّابِعُ: أَنْ يُحْسِنَ الْجِلْسَةَ عَلَى السُّفْرَةِ فِي أَوَّلِ جُلُوسِهِ، وَيَسْتَدِيمَهَا كَذٰلِكَ.

Keempat: hendaknya ia memperbagus cara duduk di atas alas makan pada saat pertama duduk, lalu mempertahankannya demikian.

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رُبَّمَا جَثَا لِلْأَكْلِ عَلَىٰ رُكْبَتَيْهِ، وَجَلَسَ عَلَىٰ ظَهْرِ قَدَمَيْهِ.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam terkadang duduk berlutut saat makan, dan duduk di atas punggung kedua kakinya.

وَرُبَّمَا نَصَبَ رِجْلَهُ الْيُمْنَىٰ وَجَلَسَ عَلَى الْيُسْرَىٰ.

Dan terkadang beliau menegakkan kaki kanannya dan duduk di atas kaki kirinya.

وَكَانَ يَقُولُ: لَا آكُلُ مُتَّكِئًا.

Beliau bersabda: aku tidak makan dengan bersandar.

إِنَّمَا أَنَا عَبْدٌ، آكُلُ كَمَا يَأْكُلُ الْعَبْدُ، وَأَجْلِسُ كَمَا يَجْلِسُ الْعَبْدُ.

Aku hanyalah seorang hamba. Aku makan sebagaimana seorang hamba makan, dan aku duduk sebagaimana seorang hamba duduk.

وَمِنْ ضَرُورَةِ هٰذِهِ النِّيَّةِ أَنْ لَا يَمُدَّ يَدَهُ إِلَى الطَّعَامِ إِلَّا وَهُوَ جَائِعٌ.

Konsekuensi dari niat ini ialah ia tidak mengulurkan tangan kepada makanan kecuali ketika ia lapar.

فَيَكُونُ الْجُوعُ أَحَدَ مَا لَا بُدَّ مِنْ تَقْدِيمِهِ عَلَى الْأَكْلِ.

Maka lapar menjadi salah satu hal yang harus didahulukan sebelum makan.

ثُمَّ يَنْبَغِي أَنْ يَرْفَعَ الْيَدَ قَبْلَ الشِّبَعِ.

Kemudian hendaknya ia berhenti sebelum kenyang.

وَمَنْ فَعَلَ ذٰلِكَ اسْتَغْنَى عَنِ الطَّبِيبِ.

Siapa yang melakukan itu, ia tidak memerlukan dokter.

وَسَتَأْتِي فَائِدَةُ قِلَّةِ الْأَكْلِ وَكَيْفِيَّةُ التَّدْرِيجِ فِي التَّقْلِيلِ مِنْهُ.

Manfaat sedikit makan dan cara bertahap untuk menguranginya akan datang penjelasannya.

السَّادِسُ: أَنْ يَرْضَى بِالْمَوْجُودِ مِنَ الرِّزْقِ وَالْحَاضِرِ مِنَ الطَّعَامِ.

Keenam: hendaknya ia ridha dengan rezeki yang ada dan makanan yang tersedia.

وَلَا يَجْتَهِدَ فِي التَّنَعُّمِ وَطَلَبِ الزِّيَادَةِ وَانْتِظَارِ الْأُدُمِ.

Ia tidak bersusah payah mengejar kenikmatan, mencari tambahan, atau menunggu lauk.

بَلْ مِنْ كَرَامَةِ الْخُبْزِ أَنْ لَا يَنْتَظِرَ بِهِ الْأُدُمَ.

Justru, memuliakan roti ialah dengan tidak menunggu lauk karenanya.

وَقَدْ وَرَدَ الْأَمْرُ بِإِكْرَامِ الْخُبْزِ.

Telah datang anjuran untuk memuliakan roti.

فَكُلُّ مَا يُدِيمُ الرَّمَقَ وَيُقَوِّي عَلَى الْعِبَادَةِ فَهُوَ خَيْرٌ كَثِيرٌ.

Segala yang menjaga hidup dan menguatkan ibadah adalah kebaikan besar.

لَا يَنْبَغِي أَنْ يُسْتَحْقَرَ.

Hal itu tidak layak diremehkan.

بَلْ لَا يَنْتَظِرْ بِالْخُبْزِ الصَّلَاةَ إِنْ حَضَرَ وَقْتُهَا إِذَا كَانَ فِي الْوَقْتِ مَتَّسَعٌ.

Bahkan, jangan menunda salat demi roti jika waktunya telah tiba dan masih ada kelonggaran waktu.

قَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِذَا حَضَرَ الْعَشَاءُ وَالْعِشَاءُ فَابْدَءُوا بِالْعَشَاءِ.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: jika makan malam telah dihidangkan dan salat telah ditegakkan, maka mulailah dengan makan malam.

وَكَانَ ابْنُ عُمَرَ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا، رُبَّمَا سَمِعَ قِرَاءَةَ الْإِمَامِ وَلَا يَقُومُ مِنْ عَشَائِهِ.

Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma terkadang mendengar bacaan imam, tetapi ia tidak berdiri dari makan malamnya.

وَمَهْمَا كَانَتِ النَّفْسُ لَا تَتَوَقَّ إِلَى الطَّعَامِ، وَلَمْ يَكُنْ فِي تَأْخِيرِ الطَّعَامِ ضَرَرٌ، فَالْأَوْلَىٰ تَقْدِيمُ الصَّلَاةِ.

Selama jiwa tidak terlalu menginginkan makanan dan tidak ada bahaya dalam menunda makan, maka yang lebih utama adalah mendahulukan salat.

فَأَمَّا إِذَا حَضَرَ الطَّعَامُ وَأُقِيمَتِ الصَّلَاةُ، وَكَانَ فِي التَّأْخِيرِ مَا يُبَرِّدُ الطَّعَامَ أَوْ يُشَوِّشُ أَمْرَهُ.

Namun, jika makanan telah hadir dan salat telah ditegakkan, sedangkan penundaan membuat makanan menjadi dingin atau mengacaukan keadaannya,

فَتَقْدِيمُهُ أَحَبُّ عِنْدَ اتِّسَاعِ الْوَقْتِ، تَاقَتِ النَّفْسُ أَوْ لَمْ تَتُقْ.

maka mendahulukan makanan lebih disukai bila waktu masih lapang, baik jiwa menginginkannya maupun tidak.

لِعُمُومِ الْخَبَرِ، وَلِأَنَّ الْقَلْبَ لَا يَخْلُو عَنِ الِالْتِفَاتِ إِلَى الطَّعَامِ الْمَوْضُوعِ.

Sebab hadis itu bersifat umum, dan karena hati tidak lepas dari perhatian terhadap makanan yang telah terhidang.

وَإِنْ لَمْ يَكُنِ الْجُوعُ غَالِبًا.

Meskipun lapar tidak sedang kuat.

السَّابِعُ: أَنْ يَجْتَهِدَ فِي تَكْثِيرِ الْأَيْدِي عَلَى الطَّعَامِ، وَلَوْ مِنْ أَهْلِهِ وَوَلَدِهِ.

Ketujuh: hendaknya ia berusaha memperbanyak tangan yang ikut makan, walaupun dari keluarga dan anak-anaknya.

قَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: اجْتَمِعُوا عَلَىٰ طَعَامِكُمْ يُبَارَكْ لَكُمْ فِيهِ.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: berkumpullah kalian pada makanan kalian, niscaya kalian diberkahi padanya.

وَقَالَ أَنَسٌ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يَأْكُلُ وَحْدَهُ.

Anas radhiyallahu ‘anhu berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak makan sendirian.

وَقَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: خَيْرُ الطَّعَامِ مَا كَثُرَتْ عَلَيْهِ الْأَيْدِي.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: sebaik-baik makanan adalah yang banyak disentuh tangan.

الْقِسْمُ الثَّانِي فِي آدَابِ حَالَةِ الْأَكْلِ.

Bagian kedua adalah adab-adab saat makan.

وَهُوَ أَنْ يَبْدَأَ بِبِسْمِ اللَّهِ فِي أَوَّلِهِ، وَبِالْحَمْدُ لِلَّهِ فِي آخِرِهِ.

Yaitu, hendaknya ia memulai dengan bismillah di awalnya, dan dengan alhamdulillah di akhirnya.

وَلَوْ قَالَ مَعَ كُلِّ لُقْمَةٍ: بِسْمِ اللَّهِ، فَهُوَ حَسَنٌ.

Jika ia mengucapkan “bismillah” pada setiap suapan, itu baik.

حَتَّىٰ لَا يَشْغَلَهُ الشَّرَهُ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ تَعَالَىٰ.

Agar kerakusan tidak melalaikannya dari mengingat Allah Ta’ala.

وَيَقُولُ مَعَ اللُّقْمَةِ الْأُولَىٰ: بِسْمِ اللَّهِ.

Pada suapan pertama, ia membaca “bismillah”.

وَمَعَ الثَّانِيَةِ: بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمٰنِ.

Pada suapan kedua, “bismillāhirraḥmān”.

وَمَعَ الثَّالِثَةِ: بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيمِ.

Pada suapan ketiga, “bismillāhirraḥmānirraḥīm”.

وَيَجْهَرُ بِهِ لِيَذْكُرَ غَيْرَهُ.

Ia mengucapkannya dengan suara yang terdengar agar mengingatkan orang lain.

وَيَأْكُلُ بِالْيُمْنَىٰ، وَيَبْدَأُ بِالْمِلْحِ وَيَخْتِمُ بِهِ.

Ia makan dengan tangan kanan. Ia memulai dengan garam dan menutupnya dengan garam.

وَيُصَغِّرَ اللُّقْمَةَ وَيُجَوِّدَ مَضْغَهَا.

Ia membuat suapan kecil dan mengunyahnya dengan baik.

وَمَا لَمْ يَبْتَلِعْهَا لَا يَمُدُّ الْيَدَ إِلَى الْأُخْرَىٰ.

Selama belum ditelannya, ia tidak mengulurkan tangan ke suapan lain.

فَإِنَّ ذٰلِكَ عَجَلَةٌ فِي الْأَكْلِ.

Sebab itu berarti tergesa-gesa dalam makan.

وَأَنْ لَا يَذُمَّ مَأْكُولًا.

Hendaknya ia tidak mencela makanan apa pun.

كَانَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يَعِيبُ مَأْكُولًا.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah mencela makanan.

كَانَ إِذَا أَعْجَبَهُ أَكَلَهُ، وَإِلَّا تَرَكَهُ.

Jika beliau menyukainya, beliau memakannya. Jika tidak, beliau meninggalkannya.

وَأَنْ يَأْكُلَ مِمَّا يَلِيهِ، إِلَّا الْفَاكِهَةَ.

Hendaknya ia makan dari bagian yang dekat dengannya, kecuali buah-buahan.

فَإِنَّ لَهُ أَنْ يُجِيلَ يَدَهُ فِيهَا.

Karena pada buah-buahan ia boleh menggerakkan tangannya ke sana-sini.

قَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: كُلْ مِمَّا يَلِيكَ.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: makanlah dari yang dekat denganmu.

وَلَا يُوضَعُ عَلَى الْخُبْزِ قَصْعَةٌ وَلَا غَيْرُهَا إِلَّا مَا يُؤْكَلُ بِهِ.

Jangan meletakkan mangkuk atau apa pun di atas roti, kecuali sesuatu yang dimakan bersamanya.

قَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَكْرِمُوا الْخُبْزَ، فَإِنَّ اللَّهَ تَعَالَى أَنْزَلَهُ مِنْ بَرَكَاتِ السَّمَاءِ.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: hormatilah roti, karena Allah Ta’ala menurunkannya dari berkah langit.

وَلَا يَمْسَحْ يَدَهُ بِالْخُبْزِ.

Dan jangan mengusap tangan dengan roti.

وَقَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِذَا وَقَعَتْ لُقْمَةُ أَحَدِكُمْ فَلْيَأْخُذْهَا.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: jika suapan salah seorang dari kalian jatuh, hendaklah ia mengambilnya.

وَلْيُمِطْ مَا كَانَ بِهَا مِنْ أَذًى.

Dan hendaklah ia membersihkan apa yang menempel padanya.

وَلَا يَدَعْهَا لِلشَّيْطَانِ.

Janganlah ia membiarkannya untuk setan.

وَلَا يَمْسَحْ يَدَهُ بِالْمِنْدِيلِ حَتَّىٰ يَلْعَقَ أَصَابِعَهُ.

Janganlah ia mengusap tangannya dengan serbet sampai ia menjilat jari-jarinya.

فَإِنَّهُ لَا يَدْرِي فِي أَيِّ طَعَامِهِ الْبَرَكَةُ.

Karena ia tidak tahu pada makanan yang mana letak berkah itu.

وَلَا يَنْفُخُ فِي الطَّعَامِ الْحَارِّ.

Jangan meniup makanan yang panas.

بَلْ يَصْبِرُ إِلَىٰ أَنْ يَسْهُلَ أَكْلُهُ.

Tetapi bersabarlah sampai mudah dimakan.

وَيَأْكُلُ مِنَ التَّمْرِ وِتْرًا: سَبْعًا، أَوْ إِحْدَىٰ عَشْرَةَ، أَوْ إِحْدَىٰ وَعِشْرِينَ، أَوْ مَا اتَّفَقَ.

Ia makan kurma dalam bilangan ganjil: tujuh, sebelas, dua puluh satu, atau sesuai keadaan.

وَلَا يَجْمَعُ بَيْنَ التَّمْرِ وَالنَّوَىٰ فِي طَبَقٍ، وَلَا يَجْمَعُ فِي كَفِّهِ.

Jangan mengumpulkan kurma dan bijinya dalam satu piring, dan jangan pula mengumpulkannya di telapak tangan.

بَلْ يَضَعُ النَّوَاةَ مِنْ فِيهِ عَلَىٰ ظَهْرِ كَفِّهِ، ثُمَّ يُلْقِيهَا.

Tetapi letakkan biji yang keluar dari mulut di punggung telapak tangan, lalu buanglah.

وَكَذٰلِكَ كُلُّ مَا لَهُ عَجَمٌ وَثُفْلٌ.

Demikian pula semua makanan yang memiliki biji dan ampas.

وَأَنْ لَا يَتْرُكَ مَا اسْتَرْذَلَهُ مِنَ الطَّعَامِ وَيَطْرَحَهُ فِي الْقَصْعَةِ.

Hendaknya ia tidak membuang bagian makanan yang dianggap rendah ke dalam mangkuk.

بَلْ يَتْرُكُهُ مَعَ الثُّفْلِ حَتَّىٰ لَا يَلْتَبِسَ عَلَىٰ غَيْرِهِ فَيَأْكُلَهُ.

Tetapi biarkan bersama sisa makanan, agar tidak tertukar dengan milik orang lain lalu dimakan.

وَأَنْ لَا يُكْثِرَ الشُّرْبَ فِي أَثْنَاءِ الطَّعَامِ.

Hendaknya ia tidak banyak minum di tengah makan.

إِلَّا إِذَا غَصَّ بِلُقْمَةٍ أَوْ صَدَقَ عَطَشُهُ.

Kecuali jika ia tersedak oleh suapan atau benar-benar haus.

فَقَدْ قِيلَ إِنَّ ذٰلِكَ مُسْتَحَبٌّ فِي الطِّبِّ، وَإِنَّهُ دِبَاغُ الْمَعِدَةِ.

Dikatakan bahwa hal itu dianjurkan dalam ilmu kedokteran, dan menjadi penyamak lambung.

وَأَمَّا الشُّرْبُ فَأَدَبُهُ أَنْ يَأْخُذَ الْكُوزَ بِيَمِينِهِ، وَيَقُولَ: بِسْمِ اللَّهِ.

Adapun minum, adabnya ialah mengambil gelas dengan tangan kanan dan mengucapkan bismillah.

وَيَشْرَبَهُ مَصًّا لَا عَبًّا.

Dan meminumnya dengan meneguk perlahan, bukan sekaligus.

مُصُّوا الْمَاءَ مَصًّا وَلَا تَعُبُّوهُ عَبًّا.

“Minumlah air dengan meneguk perlahan, dan jangan menelannya sekaligus.”

فَإِنَّهُ الْكَبَادُ مِنَ الْعَبِّ.

Karena itu menimbulkan gangguan pada hati/liver.

وَلَا يَشْرَبْ قَائِمًا وَلَا مُضْطَجِعًا.

Jangan minum sambil berdiri atau berbaring.

فَإِنَّهُ نَهَىٰ عَنِ الشُّرْبِ قَائِمًا.

Sebab beliau melarang minum sambil berdiri.

وَرُوِيَ أَنَّهُ شَرِبَ قَائِمًا.

Namun diriwayatkan bahwa beliau pernah minum sambil berdiri.

وَلَعَلَّهُ كَانَ لِعُذْرٍ.

Barangkali itu karena ada uzur.

وَيُرَاعِي أَسْفَلَ الْكُوزِ حَتَّىٰ لَا يَقْطُرَ عَلَيْهِ.

Ia memperhatikan bagian bawah gelas agar tidak menetes kepadanya.

وَيَنْظُرَ فِي الْكُوزِ قَبْلَ الشُّرْبِ.

Ia juga melihat ke dalam gelas sebelum minum.

وَلَا يَتَجَشَّأَ، وَلَا يَتَنَفَّسَ فِي الْكُوزِ.

Ia tidak bersendawa dan tidak bernapas di dalam gelas.

بَلْ يُنَحِّيهِ عَنْ فَمِهِ بِالْحَمْدِ، وَيُرِدُّهُ بِالتَّسْمِيَةِ.

Tetapi ia menjauhkan gelas dari mulutnya sambil memuji Allah, lalu mengembalikannya sambil membaca basmalah.

وَقَدْ قَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَعْدَ الشُّرْبِ: الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي جَعَلَهُ عَذْبًا فُرَاتًا بِرَحْمَتِهِ، وَلَمْ يَجْعَلْهُ مِلْحًا أُجَاجًا بِذُنُوبِنَا.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda setelah minum: “Segala puji bagi Allah yang menjadikannya tawar dan segar dengan rahmat-Nya, dan tidak menjadikannya asin lagi pahit karena dosa-dosa kami.”

وَالْكُوزُ وَكُلُّ مَا يُدَارُ عَلَى الْقَوْمِ يُدَارُ يَمْنَةً.

Gelas, dan semua yang diedarkan di antara orang-orang, hendaknya diedarkan dari arah kanan.

وَيَشْرَبُ فِي ثَلَاثَةِ أَنْفَاسٍ.

Ia minum dalam tiga tarikan napas.

يَحْمَدُ اللَّهَ فِي أَوَاخِرِهَا، وَيُسَمِّي اللَّهَ فِي أَوَائِلِهَا.

Ia memuji Allah di akhir-akhirnya, dan membaca basmalah di awal-awalnya.

وَيَقُولُ فِي آخِرِ النَّفَسِ الْأَوَّلِ: الْحَمْدُ لِلَّهِ.

Pada akhir tarikan pertama, ia mengucapkan: alhamdulillah.

وَفِي الثَّانِي: رَبِّ الْعَالَمِينَ.

Pada tarikan kedua: rabbil ‘alamin.

وَفِي الثَّالِثِ يَزِيدُ: الرَّحْمٰنِ الرَّحِيمِ.

Pada tarikan ketiga, ia menambah: ar-Rahman ar-Rahim.

فَهٰذَا قَرِيبٌ مِنْ عِشْرِينَ أَدَبًا فِي حَالَةِ الْأَكْلِ وَالشُّرْبِ.

Ini hampir dua puluh adab dalam keadaan makan dan minum.

الْقِسْمُ الثَّالِثُ: مَا يُسْتَحَبُّ بَعْدَ الطَّعَامِ.

Bagian ketiga: hal-hal yang dianjurkan setelah makan.

وَهُوَ أَنْ يَمْسِكَ قَبْلَ الشِّبَعِ.

Yaitu, hendaknya ia berhenti sebelum kenyang.

وَيَلْعَقَ أَصَابِعَهُ، ثُمَّ يَمْسَحَ بِالْمِنْدِيلِ، ثُمَّ يَغْسِلَهَا.

Ia menjilat jari-jarinya, lalu mengusapnya dengan serbet, kemudian mencucinya.

وَيَلْتَقِطَ فُتَاتَ الطَّعَامِ.

Ia juga memungut remah-remah makanan.

قَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَنْ أَكَلَ مَا يَسْقُطُ مِنَ الْمَائِدَةِ عَاشَ فِي سَعَةٍ وَعُوفِيَ فِي وَلَدِهِ.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: siapa yang memakan apa yang jatuh dari meja makan, ia akan hidup dalam kelapangan dan anak-anaknya dijaga.

وَيَتَخَلَّلُ.

Ia juga membersihkan sela-sela giginya dengan tusuk gigi.

وَلَا يَبْتَلِعُ كُلَّ مَا يَخْرُجُ مِنْ بَيْنِ أَسْنَانِهِ بِالْخِلَالِ.

Ia tidak menelan semua yang keluar dari sela-sela giginya dengan tusuk gigi.

إِلَّا مَا يُجْمَعُ مِنْ أُصُولِ أَسْنَانِهِ بِلِسَانِهِ.

Kecuali sesuatu yang terkumpul di pangkal giginya dengan lidahnya.

أَمَّا الْمُخْرَجُ بِالْخِلَالِ فَيَرْمِيهِ.

Adapun yang dikeluarkan dengan tusuk gigi, ia membuangnya.

وَلْيَتَمَضْمَضْ بَعْدَ الْخِلَالِ.

Dan hendaknya ia berkumur setelah memakai tusuk gigi.

فَفِيهِ أَثَرٌ عَنْ أَهْلِ الْبَيْتِ عَلَيْهِمُ السَّلَامُ.

Karena hal itu memiliki riwayat dari Ahlul Bait عليهم السلام.

وَأَنْ يَلْعَقَ الْقَصْعَةَ وَيَشْرَبَ مَاءَهَا.

Hendaknya ia menjilati mangkuk dan meminum airnya.

وَيُقَالُ: مَنْ لَعَقَ الْقَصْعَةَ وَغَسَلَهَا وَشَرِبَ مَاءَهَا كَانَ لَهُ عِتْقُ رَقَبَةٍ.

Dikatakan: siapa yang menjilati mangkuk, mencucinya, dan meminum airnya, baginya pahala memerdekakan seorang budak.

وَأَنَّ الْتِقَاطَ الْفُتَاتِ مَهُورُ الْحُورِ الْعِينِ.

Mengambil remah-remah makanan itu adalah mahar para bidadari.

وَأَنْ يَشْكُرَ اللَّهَ تَعَالَى بِقَلْبِهِ عَلَىٰ مَا أَطْعَمَهُ.

Hendaknya ia bersyukur kepada Allah Ta’ala dengan hatinya atas makanan yang telah Dia berikan.

فَيَرَى الطَّعَامَ نِعْمَةً مِنْهُ.

Ia memandang makanan itu sebagai nikmat dari-Nya.

قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ وَاشْكُرُوا لِلَّهِ.

Allah Ta’ala berfirman: “Makanlah dari yang baik-baik dari rezeki yang Kami karuniakan kepada kalian, dan bersyukurlah kepada Allah.”

وَمَهْمَا أَكَلَ حَلَالًا قَالَ: الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي بِنِعْمَتِهِ تَتِمُّ الصَّالِحَاتُ وَتَنْزِلُ الْبَرَكَاتُ.

Setiap kali ia makan yang halal, hendaklah ia berkata: “Segala puji bagi Allah yang dengan nikmat-Nya kebaikan-kebaikan menjadi sempurna dan berkah-berkah turun.”

اللَّهُمَّ أَطْعِمْنَا طَيِّبًا، وَاسْتَعْمِلْنَا صَالِحًا.

“Ya Allah, berilah kami makanan yang baik dan gunakanlah kami untuk amal yang saleh.”

وَإِنْ أَكَلَ شُبْهَةً فَلْيَقُلْ: الْحَمْدُ لِلَّهِ عَلَىٰ كُلِّ حَالٍ.

Jika ia memakan sesuatu yang syubhat, hendaklah ia berkata: “Segala puji bagi Allah dalam segala keadaan.”

اللَّهُمَّ لَا تَجْعَلْهُ قُوَّةً لَنَا عَلَىٰ مَعْصِيَتِكَ.

“Ya Allah, jangan jadikan ini kekuatan bagi kami untuk bermaksiat kepada-Mu.”

وَيَقْرَأُ بَعْدَ الطَّعَامِ: قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ، وَلِإِيلَافِ قُرَيْشٍ.

Setelah makan, ia membaca surah Al-Ikhlas dan surah Li-Ilāfi Quraisy.

وَلَا يَقُومُ عَنِ الْمَائِدَةِ حَتَّىٰ تُرْفَعَ أَوَّلًا.

Ia tidak berdiri dari meja makan sebelum meja itu diangkat terlebih dahulu.

فَإِنْ أَكَلَ طَعَامَ الْغَيْرِ فَلْيَدْعُ لَهُ.

Jika ia makan makanan milik orang lain, hendaklah ia mendoakannya.

وَلْيَقُلْ: اللَّهُمَّ أَكْثِرْ خَيْرَهُ، وَبَارِكْ لَهُ فِيمَا رَزَقْتَهُ.

Dan hendaklah ia berkata: “Ya Allah, perbanyaklah kebaikannya, dan berkahilah apa yang Engkau rezekikan kepadanya.”

وَيَسِّرْ لَهُ أَنْ يَفْعَلَ فِيهِ خَيْرًا، وَقَنِّعْهُ بِمَا أَعْطَيْتَهُ.

“Mudahkanlah baginya untuk berbuat baik dengannya, dan buatlah ia merasa cukup dengan apa yang Engkau berikan.”

وَاجْعَلْنَا وَإِيَّاهُ مِنَ الشَّاكِرِينَ.

“Dan jadikanlah kami dan dia termasuk orang-orang yang bersyukur.”

وَإِنْ أَفْطَرَ عِنْدَ قَوْمٍ فَلْيَقُلْ: أَفْطَرَ عِنْدَكُمُ الصَّائِمُونَ.

Jika ia berbuka di rumah suatu kaum, hendaklah ia berkata: “Orang-orang yang berpuasa telah berbuka di tempat kalian.”

وَأَكَلَ طَعَامَكُمُ الْأَبْرَارُ، وَصَلَّتْ عَلَيْكُمُ الْمَلَائِكَةُ.

“Orang-orang saleh telah makan makanan kalian, dan para malaikat telah mendoakan kalian.”

وَلْيُكْثِرِ الِاسْتِغْفَارَ وَالْحُزْنَ عَلَىٰ مَا أَكَلَ مِنْ شُبْهَةٍ.

Hendaknya ia memperbanyak istighfar dan bersedih atas makanan syubhat yang telah ia makan.

لِيُطْفِئَ بِدُمُوعِهِ وَحُزْنِهِ حَرَّ النَّارِ الَّتِي تَعَرَّضَ لَهَا.

Agar dengan air mata dan kesedihannya, ia memadamkan panas api yang telah ia hadapi.

لِقَوْلِهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: كُلُّ لَحْمٍ نَبَتَ مِنْ حَرَامٍ فَالنَّارُ أَوْلَىٰ بِهِ.

Karena sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Setiap daging yang tumbuh dari yang haram, maka neraka lebih berhak atasnya.”

وَلَيْسَ مَنْ يَأْكُلُ وَيَبْكِي كَمَنْ يَأْكُلُ وَيَلْهُو.

Orang yang makan sambil menangis tidak sama dengan orang yang makan sambil bermain-main.

وَلْيَقُلْ إِذَا أَكَلَ لَبَنًا: اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيمَا رَزَقْتَنَا وَزِدْنَا مِنْهُ.

Jika ia minum susu, hendaklah ia berkata: “Ya Allah, berkahilah kami dalam apa yang Engkau rezekikan kepada kami dan tambahkanlah kepada kami darinya.”

فَذٰلِكَ الدُّعَاءُ مِمَّا خُصَّ بِهِ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اللَّبَنَ لِعُمُومِ نَفْعِهِ.

Doa itu memang dikhususkan untuk susu, karena manfaatnya yang luas.

وَيُسْتَحَبُّ عَقِبَ الطَّعَامِ أَنْ يَقُولَ: الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَطْعَمَنَا وَسَقَانَا وَكَفَانَا وَآوَانَا.

Setelah makan, dianjurkan pula untuk berkata: “Segala puji bagi Allah yang telah memberi kami makan, memberi kami minum, mencukupi kami, dan melindungi kami.”

سَيِّدَنَا وَمَوْلَانَا، يَا كَافِيَ مِنْ كُلِّ شَيْءٍ وَلَا يُكْفَىٰ مِنْهُ شَيْءٌ.

“Wahai Tuhan dan Penguasa kami, wahai Dzat yang mencukupi segala sesuatu, sedangkan tidak ada sesuatu pun yang mencukupi-Nya.”

أَطْعَمْتَ مِنْ جُوعٍ، وَآمَنْتَ مِنْ خَوْفٍ، فَلَكَ الْحَمْدُ.

“Engkau memberi makan ketika lapar, dan memberi rasa aman dari ketakutan; maka bagi-Mulah segala puji.”

آوَيْتَ مِنْ يَتَمٍ، وَهَدَيْتَ مِنْ ضَلَالَةٍ، وَأَغْنَيْتَ مِنْ عَيْلَةٍ، فَلَكَ الْحَمْدُ.

“Engkau memberi perlindungan dari yatim, memberi petunjuk dari kesesatan, dan mencukupkan dari kekurangan; maka bagi-Mulah segala puji.”

حَمْدًا كَثِيرًا دَائِمًا طَيِّبًا نَافِعًا مُبَارَكًا فِيهِ، كَمَا أَنْتَ أَهْلُهُ وَمُسْتَحِقُّهُ.

“Pujian yang banyak, terus-menerus, baik, bermanfaat, dan diberkahi di dalamnya, sebagaimana Engkau memang berhak menerimanya.”

اللَّهُمَّ أَطْعَمْتَنَا طَيِّبًا فَاسْتَعْمِلْنَا صَالِحًا.

“Ya Allah, Engkau telah memberi kami makanan yang baik, maka gunakanlah kami untuk amal yang saleh.”

وَاجْعَلْهُ عَوْنًا لَنَا عَلَىٰ طَاعَتِكَ.

“Jadikanlah ia penolong bagi kami dalam ketaatan kepada-Mu.”

وَنَعُوذُ بِكَ أَنْ نَسْتَعِينَ بِهِ عَلَىٰ مَعْصِيَتِكَ.

“Kami berlindung kepada-Mu agar tidak menjadikannya sarana untuk bermaksiat kepada-Mu.”

وَأَمَّا غَسْلُ الْيَدَيْنِ بِالْأُشْنَانِ فَكَيْفِيَّتُهُ أَنْ يَجْعَلَ الْأُشْنَانَ فِي كَفِّهِ الْيُسْرَىٰ.

Adapun mencuci tangan dengan ashnan, caranya ialah meletakkan ashnan di telapak tangan kiri.

وَيَغْسِلَ الْأَصَابِعَ الثَّلَاثَ مِنَ الْيَدِ الْيُمْنَىٰ أَوَّلًا.

Lalu mencuci tiga jari tangan kanan terlebih dahulu.

وَيَضْرِبَ أَصَابِعَهُ عَلَى الْأُشْنَانِ الْيَابِسِ، فَيَمْسَحَ بِهِ شَفَتَيْهِ.

Kemudian ia menggosokkan jari-jarinya pada ashnan yang kering, lalu mengusap bibir dengannya.

ثُمَّ يُنْعِمَ غَسْلَ الْفَمِ بِإِصْبَعِهِ.

Lalu ia menyempurnakan pembersihan mulut dengan jarinya.

وَيَدْلُكَ ظَاهِرَ أَسْنَانِهِ وَبَاطِنَهَا، وَالْحَنَكَ وَاللِّسَانَ.

Ia menggosok bagian luar dan dalam giginya, langit-langit mulut, dan lidahnya.

ثُمَّ يَغْسِلُ أَصَابِعَهُ مِنْ ذٰلِكَ بِالْمَاءِ.

Setelah itu, ia mencuci jarinya dari bekas itu dengan air.

ثُمَّ يَدْلُكَ بِبَقِيَّةِ الْأُشْنَانِ الْيَابِسِ أَصَابِعَهُ ظَهْرًا وَبَطْنًا.

Lalu ia menggosok sisa ashnan yang kering pada jari-jarinya, bagian luar dan dalam.

وَيَسْتَغْنِيَ بِذٰلِكَ عَنْ إِعَادَةِ الْأُشْنَانِ إِلَى الْفَمِ وَإِعَادَةِ غَسْلِهِ.

Dengan cara itu, ia tidak perlu memasukkan ashnan kembali ke mulut dan mengulangi pencuciannya.