Adab dalam Mengundang
أَمَّا الدَّعْوَةُ، فَيَنْبَغِي لِلدَّاعِي أَنْ يَعْمِدَ بِدَعْوَتِهِ الْأَتْقِيَاءَ دُونَ الْفُسَّاقِ.
Adapun undangan, hendaknya orang yang mengundang mengarahkan
undangannya kepada orang-orang bertakwa, bukan kepada orang-orang fasik.
قَالَ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لِيَأْكُلْ طَعَامَكَ الْأَبْرَارُ.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: hendaklah
orang-orang saleh memakan makananmu.
وَقَالَ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لَا تَأْكُلْ إِلَّا طَعَامَ تَقِيٍّ، وَلَا
يَأْكُلْ طَعَامَكَ إِلَّا تَقِيٌّ.
Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
janganlah engkau makan kecuali makanan orang yang bertakwa, dan janganlah
makananmu dimakan kecuali oleh orang yang bertakwa.
وَيَقْصِدُ
الْفُقَرَاءَ دُونَ الْأَغْنِيَاءِ عَلَى الْخُصُوصِ.
Dan hendaknya ia secara khusus mengutamakan orang-orang
fakir, bukan orang-orang kaya.
قَالَ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: شَرُّ الطَّعَامِ طَعَامُ الْوَلِيمَةِ،
يُدْعَىٰ إِلَيْهَا الْأَغْنِيَاءُ دُونَ الْفُقَرَاءِ.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
seburuk-buruk makanan adalah makanan walimah, ketika orang-orang kaya diundang
kepadanya, sedangkan orang-orang fakir tidak.
وَيَنْبَغِي
أَنْ لَا يُهْمِلَ أَقَارِبَهُ فِي ضِيَافَتِهِ.
Hendaknya ia tidak mengabaikan kerabatnya dalam jamuannya.
فَإِنَّ
إِهْمَالَهُمْ إِيحَاشٌ وَقَطْعُ رَحِمٍ.
Sebab mengabaikan mereka menimbulkan rasa tersisih dan
memutus silaturahmi.
وَكَذٰلِكَ
يُرَاعِي التَّرْتِيبَ فِي أَصْدِقَائِهِ وَمَعَارِفِهِ.
Demikian pula hendaknya ia menjaga urutan dalam mengundang
sahabat dan orang-orang yang dikenalnya.
فَإِنَّ
فِي تَخْصِيصِ الْبَعْضِ إِيحَاشًا لِقُلُوبِ الْبَاقِينَ.
Sebab mengkhususkan sebagian dapat menimbulkan rasa
tersinggung pada hati yang lain.
وَيَنْبَغِي
أَنْ لَا يَقْصِدَ بِدَعْوَتِهِ الْمُبَاهَاةَ وَالتَّفَاخُرَ.
Hendaknya ia tidak bermaksud pamer dan berbangga diri
melalui undangannya.
بَلِ
اسْتِمَالَةَ قُلُوبِ الْإِخْوَانِ.
Tetapi hendaknya ia bermaksud menarik hati
saudara-saudaranya.
وَالتَّسَنُّنَ
بِسُنَّةِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي إِطْعَامِ
الطَّعَامِ، وَإِدْخَالَ السُّرُورِ عَلَىٰ قُلُوبِ الْمُؤْمِنِينَ.
Dan meneladani sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam dalam memberi makan, serta memasukkan kebahagiaan ke dalam hati
orang-orang beriman.
وَيَنْبَغِي
أَنْ لَا يَدْعُوَ مَنْ يَعْلَمُ أَنَّهُ يَشُقُّ عَلَيْهِ الْإِجَابَةُ.
Hendaknya ia tidak mengundang orang yang ia tahu akan merasa
berat untuk memenuhi undangannya.
وَإِذَا
حَضَرَ تَأَذَّى بِالْحَاضِرِينَ بِسَبَبٍ مِنَ الْأَسْبَابِ.
Dan jika ia hadir, ia justru merasa terganggu oleh
orang-orang yang hadir karena suatu sebab.
وَيَنْبَغِي
أَنْ لَا يَدْعُوَ إِلَّا مَنْ يُحِبُّ إِجَابَتَهُ.
Hendaknya ia hanya mengundang orang yang ia senang jika
undangannya dipenuhi.
قَالَ
سُفْيَانُ: مَنْ دَعَا أَحَدًا إِلَىٰ طَعَامٍ وَهُوَ يَكْرَهُ الْإِجَابَةَ،
فَعَلَيْهِ خَطِيئَةٌ.
Sufyan berkata: siapa yang mengundang seseorang ke makanan,
padahal ia tidak suka undangan itu dipenuhi, maka ia menanggung dosa.
فَإِنْ
أَجَابَ الْمَدْعُوُّ فَعَلَيْهِ خَطِيئَتَانِ.
Jika yang diundang tetap memenuhi undangan itu, maka ia
menanggung dua dosa.
لِأَنَّهُ
حَمَلَهُ عَلَى الْأَكْلِ مَعَ كَرَاهَةٍ.
Karena ia telah mendorongnya makan dalam keadaan tidak suka.
وَلَوْ
عَلِمَ ذٰلِكَ لَمَا كَانَ يَأْكُلُهُ.
Seandainya ia tahu hal itu, niscaya ia tidak akan
memakannya.
وَإِطْعَامُ
التَّقِيِّ إِعَانَةٌ عَلَى الطَّاعَةِ، وَإِطْعَامُ الْفَاسِقِ تَقْوِيَةٌ عَلَى
الْفِسْقِ.
Memberi makan orang yang bertakwa adalah membantu ketaatan,
sedangkan memberi makan orang fasik adalah memperkuat kefasikan.
قَالَ
رَجُلٌ خَيَّاطٌ لِابْنِ الْمُبَارَكِ: أَنَا أَخِيطُ ثِيَابَ السَّلَاطِينِ،
فَهَلْ تَخَافُ أَنْ أَكُونَ مِنْ أَعْوَانِ الظَّلَمَةِ؟
Seorang penjahit berkata kepada Ibnu al-Mubarak: aku
menjahit pakaian para sultan. Apakah engkau khawatir aku termasuk pembantu
orang-orang zalim?
فَقَالَ:
لَا، إِنَّمَا أَعْوَانُ الظَّلَمَةِ مَنْ يَبِيعُ مِنْكَ الْخَيْطَ وَالْإِبْرَةَ.
Ia menjawab: tidak. Pembantu orang-orang zalim hanyalah
orang yang menjual kepadamu benang dan jarum.
أَمَّا
أَنْتَ فَمِنَ الظَّلَمَةِ نَفْسِهِمْ.
Adapun engkau, maka engkau termasuk dari para zalim itu
sendiri.
وَأَمَّا
الْإِجَابَةُ فَهِيَ سُنَّةٌ مُؤَكَّدَةٌ.
Adapun memenuhi undangan, itu adalah sunnah yang sangat
ditekankan.
وَقَدْ
قِيلَ بِوُجُوبِهَا فِي بَعْضِ الْمَوَاضِعِ.
Bahkan, pada sebagian keadaan dikatakan hukumnya wajib.
قَالَ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لَوْ دُعِيتُ إِلَىٰ كُرَاعٍ لَأَجَبْتُ،
وَلَوْ أُهْدِيَ إِلَيَّ ذِرَاعٌ لَقَبِلْتُ.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
seandainya aku diundang ke kaki kambing, niscaya aku akan memenuhinya. Dan
seandainya dihadiahkan kepadaku sepotong lengan, niscaya aku akan menerimanya.
وَلِلْإِجَابَةِ
خَمْسَةُ آدَابٍ.
Untuk memenuhi undangan, ada lima adab.
الْأَوَّلُ:
أَنْ لَا يُمَيِّزَ الْغَنِيَّ بِالْإِجَابَةِ عَنِ الْفَقِيرِ.
Pertama: jangan membedakan orang kaya dalam memenuhi
undangan sehingga ia diutamakan atas orang miskin.
فَذٰلِكَ
هُوَ التَّكَبُّرُ الْمَنْهِيُّ عَنْهُ.
Sebab itu adalah kesombongan yang dilarang.
وَلِأَجْلِ
ذٰلِكَ امْتَنَعَ بَعْضُهُمْ عَنْ أَصْلِ الْإِجَابَةِ.
Karena itu, sebagian orang bahkan menolak pada asalnya untuk
memenuhi undangan.
وَقَالَ:
انْتِظَارُ الْمَرَقَةِ ذُلٌّ.
Ia berkata: menunggu kuah makanan adalah kehinaan.
وَقَالَ
آخَرُ: إِذَا وُضِعَتْ يَدِي فِي قَصْعَةِ غَيْرِي فَقَدْ ذَلَّتْ لَهُ رَقَبَتِي.
Yang lain berkata: jika tanganku dimasukkan ke dalam mangkuk
milik orang lain, maka tengkukku telah tunduk kepadanya.
وَمِنَ
الْمُتَكَبِّرِينَ مَنْ يُجِيبُ الْأَغْنِيَاءَ دُونَ الْفُقَرَاءِ، وَهُوَ
خِلَافُ السُّنَّةِ.
Di antara orang yang sombong ada yang memenuhi undangan
orang kaya dan tidak memenuhi undangan orang miskin. Ini bertentangan dengan
sunnah.
كَانَ
رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُجِيبُ دَعْوَةَ الْعَبْدِ
وَدَعْوَةَ الْمِسْكِينِ.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memenuhi undangan
seorang budak dan undangan orang miskin.
وَمَرَّ
الْحَسَنُ بْنُ عَلِيٍّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا بِقَوْمٍ مِنَ الْمَسَاكِينِ
يَسْأَلُونَ النَّاسَ عَلَى الطَّرِيقِ، وَقَدْ نَشَرُوا كِسَرًا عَلَى الْأَرْضِ
فِي الرَّمْلِ وَهُمْ يَأْكُلُونَ وَهُوَ عَلَىٰ بَغْلَتِهِ.
Al-Hasan bin Ali radhiyallahu ‘anhuma pernah melewati
sekelompok orang miskin yang meminta-minta di jalan. Mereka menghamparkan
potongan-potongan roti di atas pasir dan sedang makan, sementara beliau berada
di atas baghalnya.
فَسَلَّمَ
عَلَيْهِمْ.
Maka beliau mengucapkan salam kepada mereka.
فَقَالُوا
لَهُ: هَلُمَّ إِلَى الْغَدَاءِ يَا ابْنَ بِنْتِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.
Mereka berkata kepadanya: marilah makan siang, wahai putra
putri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
فَقَالَ:
نَعَمْ، إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُسْتَكْبِرِينَ.
Beliau menjawab: ya, sesungguhnya Allah tidak menyukai
orang-orang yang sombong.
فَنَزَلَ
وَقَعَدَ مَعَهُمْ عَلَى الْأَرْضِ، وَأَكَلَ.
Beliau turun, lalu duduk bersama mereka di atas الأرض,
dan makan.
ثُمَّ
سَلَّمَ عَلَيْهِمْ، وَرَكِبَ.
Kemudian beliau mengucapkan salam kepada mereka, lalu
menaiki tunggangannya.
وَقَالَ:
قَدْ أَجَبْتُكُمْ، فَأَجِيبُونِي.
Beliau berkata: aku telah memenuhi undangan kalian, maka
penuhilah undanganku.
قَالُوا:
نَعَمْ.
Mereka berkata: baik.
فَوَعَدَهُمْ
وَقْتًا مَعْلُومًا، فَحَضَرُوا.
Maka beliau menjanjikan kepada mereka waktu tertentu, lalu
mereka pun datang.
فَقَدَّمَ
إِلَيْهِمْ فَاخِرَ الطَّعَامِ، وَجَلَسَ يَأْكُلُ مَعَهُمْ.
Beliau menghidangkan makanan terbaik kepada mereka dan duduk
makan bersama mereka.
وَأَمَّا
قَوْلُ الْقَائِلِ: إِنَّ مَنْ وُضِعَتْ يَدِي فِي قَصْعَتِهِ فَقَدْ ذَلَّتْ لَهُ
رَقَبَتِي.
Adapun perkataan seseorang: jika tanganku dimasukkan ke
dalam mangkuknya, maka tengkukku telah tunduk kepadanya,
فَقَدْ
قَالَ بَعْضُهُمْ: هٰذَا خِلَافُ السُّنَّةِ.
sebagian ulama berkata: ini bertentangan dengan sunnah.
وَلَيْسَ
كَذٰلِكَ، فَإِنَّهُ ذُلٌّ إِذَا كَانَ الدَّاعِي لَا يَفْرَحُ بِالْإِجَابَةِ
وَلَا يَتَقَلَّدُ مِنَّةً.
Namun tidak demikian. Itu menjadi kehinaan jika orang yang
mengundang tidak bergembira dengan dipenuhinya undangannya dan tidak merasa
telah memberi jasa.
وَكَانَ
يَرَىٰ ذٰلِكَ يَدًا لَهُ عَلَى الْمَدْعُوِّ.
Dan ia memandang hal itu sebagai jasa dari dirinya kepada
orang yang diundang.
وَرَسُولُ
اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَحْضُرُ لِعِلْمِهِ أَنَّ
الدَّاعِيَ لَهُ يَتَقَلَّدُ مِنَّةً.
Adapun Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau
hadir karena beliau mengetahui bahwa orang yang mengundangnya justru menganggap
hal itu sebagai suatu kehormatan dan jasa besar.
وَيَرَىٰ
ذٰلِكَ شَرَفًا وَذُخْرًا لِنَفْسِهِ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ.
Dan ia memandangnya sebagai kemuliaan dan bekal bagi dirinya
di dunia dan akhirat.
فَهٰذَا
يَخْتَلِفُ بِاخْتِلَافِ الْحَالِ.
Maka, hal ini berbeda sesuai dengan perbedaan keadaan.
فَمَنْ
ظُنَّ بِهِ أَنَّهُ يَسْتَثْقِلُ الْإِطْعَامَ، وَإِنَّمَا يَفْعَلُ ذٰلِكَ
مُبَاهَاةً أَوْ تَكَلُّفًا، فَلَيْسَ مِنَ السُّنَّةِ إِجَابَتُهُ.
Siapa yang diduga berat baginya memberi jamuan, dan ia
melakukannya hanya untuk pamer atau memaksakan diri, maka tidak termasuk sunnah
untuk memenuhinya.
بَلِ
الْأَوْلَى التَّعَلُّلُ.
Bahkan yang lebih utama adalah mencari alasan untuk tidak
datang.
وَلِذٰلِكَ
قَالَ بَعْضُ الصُّوفِيَّةِ: لَا تُجِبْ إِلَّا دَعْوَةَ مَنْ يَرَىٰ أَنَّكَ
أَكَلْتَ رِزْقَكَ، وَأَنَّهُ سَلَّمَ إِلَيْكَ وَدِيعَةً كَانَتْ لَكَ عِنْدَهُ.
Karena itu, sebagian sufi berkata: janganlah engkau memenuhi
kecuali undangan orang yang memandang bahwa engkau telah memakan rezekimu, dan
bahwa ia telah menyerahkan kepadamu sebuah titipan yang memang menjadi hakmu
pada sisinya.
وَيَرَىٰ
لَكَ الْفَضْلَ عَلَيْهِ فِي قَبُولِ تِلْكَ الْوَدِيعَةِ مِنْهُ.
Dan ia memandang bahwa engkau memiliki keutamaan atas
dirinya ketika menerima titipan itu darinya.
وَقَالَ
سَرِيُّ السَّقَطِيِّ رَحِمَهُ اللَّهُ: آهٍ عَلَىٰ لُقْمَةٍ لَيْسَ عَلَى اللَّهِ
فِيهَا تَبِعَةٌ، وَلَا لِمَخْلُوقٍ فِيهَا مِنْهُ.
Sari as-Saqathi rahimahullah berkata: alangkah sedihnya
terhadap sebutir suapan yang di dalamnya tidak ada tanggungan di sisi Allah,
dan tidak pula hak makhluk di dalamnya darinya.
فَإِذَا
عَلِمَ الْمَدْعُوُّ أَنَّهُ لَا مِنَّةَ فِي ذٰلِكَ، فَلَا يَنْبَغِي أَنْ
يَرُدَّ.
Jika orang yang diundang mengetahui bahwa di situ tidak ada
jasa yang diklaim, maka ia tidak sepantasnya menolak.
وَقَالَ
أَبُو تُرَابٍ النَّخْشَبِيُّ رَحْمَةُ اللَّهِ عَلَيْهِ: عُرِضَ عَلَيَّ طَعَامٌ
فَامْتَنَعْتُ، فَابْتُلِيتُ بِالْجُوعِ أَرْبَعَةَ عَشَرَ يَوْمًا، فَعَلِمْتُ
أَنَّهُ عُقُوبَتُهُ.
Abu Turab an-Nakhsabi rahimahullah berkata: pernah
ditawarkan kepadaku makanan, lalu aku menolak. Maka aku diuji dengan lapar
selama empat belas hari. Aku pun mengetahui bahwa itu adalah hukumannya.
وَقِيلَ
لِمَعْرُوفِ الْكَرْخِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: كُلْ مَنْ دَعَاكَ تَمْرُ
إِلَيْهِ.
Dan pernah dikatakan kepada Ma’ruf al-Karkhi radhiyallahu
‘anhu: setiap orang yang mengundangmu, pergilah kepadanya.
فَقَالَ:
أَنَا ضَيْفٌ، أَنْزِلُ حَيْثُ أَنْزَلُونِي.
Beliau menjawab: aku ini tamu; aku singgah di tempat aku
ditempatkan.
الثَّانِي:
أَنْ لَا يَنْبَغِي أَنْ يَمْتَنِعَ عَنِ الْإِجَابَةِ لِبُعْدِ الْمَسَافَةِ.
Kedua: janganlah ia menolak undangan karena jauhnya jarak.
كَمَا
لَا يَمْتَنِعُ لِفَقْرِ الدَّاعِي وَعَدَمِ جَاهِهِ.
Sebagaimana ia juga tidak menolak karena kemiskinan atau
tidak adanya kedudukan pada pihak yang mengundang.
بَلْ
كُلُّ مَسَافَةٍ يُمْكِنُ احْتِمَالُهَا فِي الْعَادَةِ لَا يَنْبَغِي أَنْ
يَمْتَنِعَ لِأَجْلِ ذٰلِكَ.
Bahkan, setiap jarak yang secara kebiasaan masih mungkin
ditempuh, tidak sepantasnya ia menolak karena hal itu.
وَيُقَالُ
فِي التَّوْرَاةِ أَوْ بَعْضِ الْكُتُبِ: سِرْ مِيلًا عُدْ مَرِيضًا، وَسِرْ
مِيلَيْنِ شَيِّعْ جَنَازَةً، وَسِرْ ثَلَاثَةَ أَمْيَالٍ أَجِبْ دَعْوَةً، وَسِرْ
أَرْبَعَةَ أَمْيَالٍ زُرْ أَخًا فِي اللَّهِ.
Dikatakan dalam Taurat atau sebagian kitab: berjalanlah satu
mil untuk menjenguk orang sakit, dua mil untuk mengiringi جنازة, tiga mil untuk
memenuhi undangan, dan empat mil untuk mengunjungi saudara karena Allah.
وَلِأَنَّهُ
إِنَّمَا قُدِّمَتْ إِجَابَةُ الدَّعْوَةِ وَالزِّيَارَةُ لِأَنَّ فِيهِ قَضَاءَ
حَقِّ الْحَيِّ، فَهُوَ أَوْلَىٰ مِنَ الْمَيِّتِ.
Sebab, memenuhi undangan dan berkunjung itu didahulukan
karena di dalamnya ada pemenuhan hak orang yang masih hidup, maka ia lebih
utama daripada yang telah wafat.
قَالَ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لَوْ دُعِيتُ إِلَىٰ كُرَاعٍ بِالْغَمِيمِ
لَأَجَبْتُ.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
seandainya aku diundang ke Kura’ al-Ghamim, niscaya aku akan memenuhinya.
وَهُوَ
مَوْضِعٌ عَلَىٰ أَمْيَالٍ مِنَ الْمَدِينَةِ.
Itu adalah sebuah tempat yang berjarak beberapa mil dari
Madinah.
أَفْطَرَ
فِيهِ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي رَمَضَانَ لَمَّا
بَلَغَهُ.
Di tempat itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
berbuka pada bulan Ramadan ketika beliau sampai di sana.
وَقَصَرَ
عِنْدَهُ فِي سَفَرِهِ.
Dan beliau meng-qashar salat di sana dalam perjalanannya.
الثَّالِثُ:
أَنْ لَا يَمْتَنِعَ لِكَوْنِهِ صَائِمًا.
Ketiga: jangan menolak karena ia sedang berpuasa.
بَلْ
يَحْضُرْ.
Tetapi hendaklah ia tetap hadir.
فَإِنْ
كَانَ يَسُرُّ أَخَاهُ إِفْطَارُهُ، فَلْيُفْطِرْ.
Jika berbuka itu membuat saudaranya senang, maka hendaklah
ia berbuka.
وَلْيَحْتَسِبْ
فِي إِفْطَارِهِ بِنِيَّةِ إِدْخَالِ السُّرُورِ عَلَىٰ قَلْبِ أَخِيهِ مَا
يَحْتَسِبُ فِي الصَّوْمِ.
Dan hendaknya ia mengharap pahala dalam berbukanya dengan
niat membahagiakan hati saudaranya, sebagaimana ia mengharap pahala dalam
puasanya.
وَذٰلِكَ
فِي صَوْمِ التَّطَوُّعِ.
Hal itu berlaku terutama pada puasa sunnah.
وَإِنْ
لَمْ يَتَحَقَّقْ سُرُورُ قَلْبِهِ، فَلْيُصَدِّقْهُ بِالظَّاهِرِ وَلْيُفْطِرْ.
Jika ia tidak yakin bahwa hal itu benar-benar membahagiakan
hatinya, maka hendaklah ia membenarkannya secara lahir dan berbuka.
وَإِنْ
تَحَقَّقَ أَنَّهُ مُتَكَلِّفٌ، فَلْيَتَعَلَّلْ.
Jika ia yakin bahwa orang itu hanya memaksakan diri, maka
hendaklah ia mencari alasan untuk tidak berbuka.
وَقَدْ
قَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِمَنْ امْتَنَعَ بِعُذْرِ الصَّوْمِ:
تَكَلَّفَ لَكَ أَخُوكَ، وَتَقُولُ: إِنِّي صَائِمٌ.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda
kepada orang yang menolak dengan alasan puasa: saudaramu telah bersusah payah
untukmu, lalu engkau berkata: sesungguhnya aku sedang berpuasa.
وَقَدْ
قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا: مِنْ أَفْضَلِ الْحَسَنَاتِ
إِكْرَامُ الْجُلَسَاءِ بِالْإِفْطَارِ.
Ibnu عباس
radhiyallahu ‘anhuma berkata: di antara amal kebaikan yang paling utama adalah
memuliakan orang-orang yang duduk bersamamu dengan memberi mereka berbuka.
فَالْإِفْطَارُ
عِبَادَةٌ بِهٰذِهِ النِّيَّةِ، وَحُسْنُ خُلُقٍ.
Maka berbuka menjadi ibadah dengan niat ini, dan menjadi
akhlak yang baik.
فَثَوَابُهُ
فَوْقَ ثَوَابِ الصَّوْمِ.
Karena itu pahalanya lebih besar daripada pahala puasa.
وَمَهْمَا
لَمْ يُفْطِرْ فَضِيَافَتُهُ الطِّيبُ وَالْمَجْمَرَةُ وَالْحَدِيثُ الطَّيِّبُ.
Jika ia tidak berbuka, maka jamuannya adalah wewangian,
tempat dupa, dan percakapan yang baik.
وَقَدْ
قِيلَ: الْكُحْلُ وَالدُّهْنُ أَحَدُ الْقَرَاءَيْنِ.
Dan dikatakan: celak mata dan minyak rambut adalah salah
satu bentuk penghormatan.
الرَّابِعُ:
أَنْ يَمْتَنِعَ مِنَ الْإِجَابَةِ إِنْ كَانَ الطَّعَامُ طَعَامَ شُبْهَةٍ.
Keempat: hendaknya ia menolak undangan jika makanan itu
syubhat.
أَوِ
الْمَوْضِعُ أَوِ الْبِسَاطُ الْمَفْرُوشُ مِنْ غَيْرِ حَلَالٍ.
Atau jika tempatnya, atau hamparannya, berasal dari yang
tidak halal.
أَوْ
كَانَ يُقَامُ فِي الْمَوْضِعِ مُنْكَرٌ مِنْ فِرَاشِ دِيبَاجٍ، أَوْ إِنَاءِ
فِضَّةٍ، أَوْ تَصْوِيرِ حَيَوَانٍ عَلَى السَّقْفِ أَوِ الْحَائِطِ.
Atau di tempat itu ada kemungkaran, seperti hamparan sutra,
bejana perak, atau gambar makhluk di langit-langit atau dinding.
أَوْ
سَمَاعِ شَيْءٍ مِنَ الْمَزَامِيرِ وَالْمَلَاهِي.
Atau mendengar seruling dan berbagai hiburan.
أَوِ
التَّشَاغُلِ بِنَوْعٍ مِنَ اللَّهْوِ وَالْعَزْفِ وَالْهَزْلِ وَاللَّعِبِ.
Atau sibuk dengan berbagai bentuk permainan, musik, senda
gurau, dan permainan-main.
أَوِ
اسْتِمَاعِ الْغِيبَةِ وَالنَّمِيمَةِ وَالزُّورِ وَالْبُهْتَانِ وَالْكَذِبِ
وَشِبْهِ ذٰلِكَ.
Atau mendengarkan ghibah, namimah, kesaksian dusta, tuduhan
palsu, kebohongan, dan yang semisalnya.
مِمَّا
يَمْنَعُ الْإِجَابَةَ وَاسْتِحْبَابَهَا، وَيُوجِبُ تَحْرِيمَهَا أَوْ
كَرَاهَتَهَا.
Semua itu menghalangi diterimanya undangan dan anjuran
memenuhinya, bahkan mewajibkan haram atau makruh.
وَكَذٰلِكَ
إِذَا كَانَ الدَّاعِي ظَالِمًا، أَوْ مُبْتَدِعًا، أَوْ فَاسِقًا، أَوْ شِرِّيرًا.
Demikian pula jika yang mengundang adalah orang zalim, ahli
bid’ah, fasik, atau jahat.
أَوْ
مُتَكَلِّفًا طَلَبًا لِلْمُبَاهَاةِ وَالْفَخْرِ.
Atau orang yang memaksakan diri demi pamer dan kesombongan.
الْخَامِسُ:
أَنْ لَا يَقْصِدَ بِالْإِجَابَةِ قَضَاءَ شَهْوَةِ الْبَطْنِ.
Kelima: janganlah ia memaksudkan memenuhi undangan hanya
untuk memuaskan syahwat perut.
فَيَكُونُ
عَامِلًا فِي أَبْوَابِ الدُّنْيَا.
Karena itu ia hanya bekerja untuk urusan dunia.
بَلْ
يُحَسِّنُ نِيَّتَهُ، لِيَصِيرَ بِالْإِجَابَةِ عَامِلًا لِلْآخِرَةِ.
Tetapi hendaknya ia memperbaiki niatnya, agar dengan
memenuhi undangan ia menjadi orang yang bekerja untuk akhirat.
وَذٰلِكَ
بِأَنْ تَكُونَ نِيَّتُهُ الِاقْتِدَاءَ بِسُنَّةِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.
Yaitu dengan meniatkan mengikuti sunnah Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam.
فِي
قَوْلِهِ: لَوْ دُعِيتُ إِلَىٰ كُرَاعٍ لَأَجَبْتُ.
Dalam sabdanya: seandainya aku diundang ke kaki kambing,
niscaya aku akan memenuhinya.
وَيَنْوِي
الْحَذَرَ مِنْ مَعْصِيَةِ اللَّهِ تَعَالَىٰ.
Ia juga berniat menjauhi maksiat kepada Allah Ta’ala.
لِقَوْلِهِ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَنْ لَمْ يُجِبِ الدَّاعِيَ فَقَدْ عَصَى
اللَّهَ وَرَسُولَهُ.
Karena sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam: siapa
yang tidak memenuhi undangan, maka ia telah durhaka kepada Allah dan Rasul-Nya.
وَيَنْوِي
إِكْرَامَ أَخِيهِ الْمُؤْمِنِ.
Ia juga berniat memuliakan saudaranya yang beriman.
اتِّبَاعًا
لِقَوْلِهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَنْ أَكْرَمَ أَخَاهُ الْمُؤْمِنَ
فَكَأَنَّمَا أَكْرَمَ اللَّهَ.
Sebagai mengikuti sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa
sallam: siapa yang memuliakan saudaranya yang beriman, seakan-akan ia telah
memuliakan Allah.
وَيَنْوِي
إِدْخَالَ السُّرُورِ عَلَىٰ قَلْبِهِ.
Ia juga berniat memasukkan kebahagiaan ke dalam hatinya.
امْتِثَالًا
لِقَوْلِهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَنْ سَرَّ مُؤْمِنًا فَقَدْ سَرَّ
اللَّهَ.
Sebagai pelaksanaan sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa
sallam: siapa yang membahagiakan seorang mukmin, maka sungguh ia telah
membahagiakan Allah.
وَيَنْوِي
مَعَ ذٰلِكَ زِيَارَتَهُ، لِيَكُونَ مِنَ الْمُتَحَابِّينَ فِي اللَّهِ.
Ia juga berniat mengunjunginya, agar mereka menjadi
orang-orang yang saling mencintai karena Allah.
إِذْ
شَرَطَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِيهِ التَّزَاوُرَ
وَالتَّبَاذُلَ لِلَّهِ.
Karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mensyaratkan
di dalamnya saling berkunjung dan saling memberi karena Allah.
وَقَدْ
حَصَلَ الْبَذْلُ مِنْ أَحَدِ الْجَانِبَيْنِ، فَتَحَصَّلَتِ الزِّيَارَةُ مِنْ
جَانِبِهِ أَيْضًا.
Jika pemberian sudah terjadi dari salah satu pihak, maka
kunjungan dari pihaknya pun turut terwujud.
وَيَنْوِي
صِيَانَةَ نَفْسِهِ عَنْ أَنْ يُسَاءَ بِهِ الظَّنُّ فِي امْتِنَاعِهِ.
Ia juga berniat menjaga dirinya agar tidak disangka buruk
karena menolak undangan.
وَيُطْلَقَ
اللِّسَانُ فِيهِ بِأَنْ يُحْمَلَ عَلَى التَّكَبُّرِ، أَوْ سُوءِ الْخُلُقِ، أَوِ
اسْتِحْقَارِ أَخٍ مُسْلِمٍ، أَوْ مَا يَجْرِي مَجْرَاهُ.
Dan agar lisan tidak mengarahkannya kepada tuduhan sombong,
buruk akhlak, meremehkan saudara Muslim, atau hal-hal serupa.
فَهٰذِهِ
سِتُّ نِيَّاتٍ تُلْحِقُ إِجَابَتَهُ بِالْقُرُبَاتِ، فَآحَادُهَا فَكَيْفَ
مَجْمُوعُهَا.
Inilah enam niat yang menjadikan memenuhi undangan termasuk
amal-amal pendekatan diri. Jika masing-masing saja demikian, bagaimana pula
jika semuanya dikumpulkan.
وَكَانَ
بَعْضُ السَّلَفِ يَقُولُ: أَنَا أُحِبُّ أَنْ يَكُونَ لِي فِي كُلِّ عَمَلٍ
نِيَّةٌ، حَتَّىٰ فِي الطَّعَامِ وَالشَّرَابِ.
Sebagian salaf berkata: aku senang bila pada setiap amal ada
niat bagiku, bahkan dalam makan dan minum.
وَفِي
مِثْلِ هٰذَا قَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنَّمَا الْأَعْمَالُ
بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَىٰ.
Dalam hal seperti ini, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam bersabda: sesungguhnya amal itu tergantung niatnya, dan setiap orang
hanya memperoleh sesuai dengan apa yang diniatkannya.
فَمَنْ
كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ
وَرَسُولِهِ.
Siapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, maka
hijrahnya memang kepada Allah dan Rasul-Nya.
وَمَنْ
كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَىٰ دُنْيَا يُصِيبُهَا أَوِ امْرَأَةٍ يَتَزَوَّجُهَا
فَهِجْرَتُهُ إِلَىٰ مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ.
Dan siapa yang hijrahnya kepada dunia yang ingin ia peroleh,
atau kepada perempuan yang ingin ia nikahi, maka hijrahnya kepada apa yang ia
tuju itu.
وَالنِّيَّةُ
إِنَّمَا تُؤَثِّرُ فِي الْمُبَاحَاتِ وَالطَّاعَاتِ، أَمَّا الْمَنْهِيَّاتُ
فَلَا.
Niat itu hanya berpengaruh pada perkara mubah dan ketaatan.
Adapun perkara yang dilarang, maka tidak.
فَإِنَّهُ
لَوْ نَوَىٰ أَنْ يُسِرَّ إِخْوَانَهُ بِمُسَاعَدَتِهِمْ عَلَىٰ شُرْبِ الْخَمْرِ
أَوْ حَرَامٍ آخَرَ، لَمْ تَنْفَعْهُ النِّيَّةُ.
Sebab, jika seseorang berniat membahagiakan
saudara-saudaranya dengan membantu mereka minum khamar atau melakukan keharaman
lain, maka niat itu tidak berguna baginya.
وَلَمْ
يَجُزْ أَنْ يُقَالَ: الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ.
Dan tidak boleh dikatakan dalam hal itu bahwa amal
tergantung niat.
بَلْ
لَوْ قَصَدَ بِالْغَزْوِ، وَهُوَ طَاعَةٌ، الْمُبَاهَاةَ وَطَلَبَ الْمَالِ،
انْصَرَفَ عَنْ جِهَةِ الطَّاعَةِ.
Bahkan, jika seseorang berniat dalam jihad yang merupakan
ketaatan, untuk pamer dan mencari harta, maka ia telah keluar dari arah
ketaatan itu.
وَكَذٰلِكَ
الْمُبَاحُ الْمُرَدَّدُ بَيْنَ وُجُوهِ الْخَيْرَاتِ وَغَيْرِهَا يَلْتَحِقُ
بِوُجُوهِ الْخَيْرَاتِ بِالنِّيَّةِ.
Demikian pula perkara mubah yang bisa diarahkan ke berbagai
bentuk kebaikan dan selainnya, akan bergabung dengan bentuk-bentuk kebaikan
karena niat.
فَتُؤَثِّرُ
النِّيَّةُ فِي هٰذَيْنِ الْقِسْمَيْنِ، لَا فِي الْقِسْمِ الثَّالِثِ.
Maka niat berpengaruh pada dua kelompok ini, bukan pada
kelompok ketiga.