Adab Menghadiri Undangan

أَمَّا الْحُضُورُ فَأَدَبُهُ أَنْ يَدْخُلَ الدَّارَ، وَلَا يَتَصَدَّرَ فَيَأْخُذَ أَحْسَنَ الْأَمَاكِنِ، بَلْ يَتَوَاضَعَ.

Adapun kehadiran, adabnya ialah masuk ke rumah dan tidak menduduki bagian paling depan untuk mengambil tempat terbaik, tetapi hendaknya bersikap tawaduk.

وَلَا يُطَوِّلَ الِانْتِظَارَ عَلَيْهِمْ، وَلَا يُعَجِّلَ حَتَّىٰ يُفَاجِئَهُمْ قَبْلَ تَمَامِ الِاسْتِعْدَادِ.

Jangan pula ia terlalu lama menunggu mereka, dan jangan tergesa-gesa sampai mengejutkan mereka sebelum persiapan selesai.

وَلَا يُضَيِّقَ الْمَكَانَ عَلَى الْحَاضِرِينَ بِالزَّحْمَةِ.

Dan jangan ia menyempitkan tempat bagi orang-orang yang hadir dengan berdesakan.

بَلْ إِنْ أَشَارَ إِلَيْهِ صَاحِبُ الْمَكَانِ بِمَوْضِعٍ لَا يُخَالِفُهُ الْبَتَّةَ، فَإِنَّهُ قَدْ يَكُونُ رَتَّبَ فِي نَفْسِهِ مَوْضِعَ كُلِّ وَاحِدٍ، فَمُخَالَفَتُهُ تُشَوِّشُ عَلَيْهِ.

Bahkan, jika tuan rumah menunjukkan kepadanya tempat tertentu yang sama sekali tidak bertentangan, maka janganlah ia menyelisihinya. Bisa jadi tuan rumah telah menata dalam pikirannya tempat masing-masing orang, sehingga menyelisihinya akan mengacaukan pikirannya.

وَإِنْ أَشَارَ إِلَيْهِ بَعْضُ الضُّيُوفِ بِالِارْتِفَاعِ إِكْرَامًا فَلْيَتَوَاضَعْ.

Jika sebagian tamu mempersilakannya duduk lebih tinggi sebagai bentuk penghormatan, hendaknya ia tetap tawaduk.

قَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنَّ مِنَ التَّوَاضُعِ لِلَّهِ الرِّضَا بِالدُّونِ مِنَ الْمَجْلِسِ.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: sesungguhnya termasuk tawaduk kepada Allah adalah ridha duduk di tempat yang lebih rendah.

وَلَا يَنْبَغِي أَنْ يَجْلِسَ فِي مُقَابَلَةِ بَابِ الْحُجْرَةِ الَّتِي لِلنِّسَاءِ وَسِتْرِهِنَّ.

Hendaknya ia tidak duduk berhadapan dengan pintu kamar yang khusus untuk para wanita dan tabir mereka.

وَلَا يُكْثِرُ النَّظَرَ إِلَى الْمَوْضِعِ الَّذِي يَخْرُجُ مِنْهُ الطَّعَامُ، فَإِنَّهُ دَلِيلٌ عَلَى الشَّرَهِ.

Jangan pula ia terlalu sering memandang tempat keluarnya makanan, karena itu tanda kerakusan.

وَيَخُصُّ بِالتَّحِيَّةِ وَالسُّؤَالِ مَنْ يَقْرُبُ مِنْهُ إِذَا جَلَسَ.

Dan hendaknya ia mengkhususkan salam dan sapaan kepada orang yang dekat dengannya ketika ia duduk.

وَإِذَا دَخَلَ ضَيْفٌ لِلْمَبِيتِ فَلْيُعَرِّفْهُ صَاحِبُ الْمَنْزِلِ عِنْدَ الدُّخُولِ الْقِبْلَةَ، وَبَيْتَ الْمَاءِ، وَمَوْضِعَ الْوُضُوءِ.

Jika ada tamu yang datang untuk bermalam, hendaklah tuan rumah memperkenalkannya ketika masuk kepada arah kiblat, kamar air, dan tempat wudu.

كَذٰلِكَ فَعَلَ مَالِكٌ بِالشَّافِعِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا.

Demikianlah yang dilakukan Malik kepada asy-Syafi’i radhiyallahu ‘anhuma.

وَغَسَلَ مَالِكٌ يَدَهُ قَبْلَ الطَّعَامِ قُدَّامَ الْقَوْمِ.

Dan Malik mencuci tangannya sebelum makan di hadapan orang banyak.

وَقَالَ: الْغَسْلُ قَبْلَ الطَّعَامِ لِرَبِّ الْبَيْتِ أَوْلَىٰ، لِأَنَّهُ يَدْعُو النَّاسَ إِلَىٰ كَرَمِهِ.

Beliau berkata: mencuci tangan sebelum makan lebih utama bagi tuan rumah, karena ia mengundang orang-orang kepada kemurahannya.

فَحُكْمُهُ أَنْ يَتَقَدَّمَ بِالْغَسْلِ.

Maka, hukumnya adalah ia mendahului cuci tangan.

وَفِي آخِرِ الطَّعَامِ يَتَأَخَّرُ بِالْغَسْلِ لِيَنْتَظِرَ أَنْ يَدْخُلَ مَنْ يَأْكُلُ، فَيَأْكُلَ مَعَهُ.

Adapun di akhir makanan, ia menunda cuci tangan, agar menunggu orang yang akan datang makan, lalu ia makan bersamanya.

وَإِذَا دَخَلَ فَرَأَىٰ مُنْكَرًا غَيَّرَهُ إِنْ قَدَرَ، وَإِلَّا أَنْكَرَ بِلِسَانِهِ وَانْصَرَفَ.

Jika ia masuk lalu melihat kemungkaran, hendaklah ia mengubahnya jika mampu. Jika tidak, ia mengingkarinya dengan lisannya lalu pergi.

وَالْمُنْكَرُ: فِرَاشُ الدِّيبَاجِ، وَاسْتِعْمَالُ آنِيَةِ الْفِضَّةِ وَالذَّهَبِ، وَالتَّصْوِيرُ عَلَى الْحِيطَانِ، وَسَمَاعُ الْمَلَاهِي وَالْمَزَامِيرِ، وَحُضُورُ النِّسْوَةِ الْمُتَكَشِّفَاتِ الْوُجُوهِ، وَغَيْرُ ذٰلِكَ مِنَ الْمُحَرَّمَاتِ.

Kemungkaran itu seperti alas dari sutra, penggunaan bejana perak dan emas, gambar-gambar di dinding, mendengar hiburan dan seruling, hadirnya perempuan yang menampakkan wajah, dan selain itu dari perkara-perkara haram.

حَتَّىٰ قَالَ أَحْمَدُ رَحِمَهُ اللَّهُ: إِذَا رَأَىٰ مِكْحَلَةً رَأْسُهَا مُفَضَّضٌ، يَنْبَغِي أَنْ يَخْرُجَ.

Sampai-sampai Ahmad rahimahullah berkata: jika ia melihat wadah celak yang bagian atasnya berlapis perak, hendaknya ia keluar.

وَلَمْ يَأْذَنْ فِي الْجُلُوسِ إِلَّا فِي ضَبَّةٍ.

Beliau tidak memberi izin untuk duduk kecuali pada sesuatu yang bertambal logam.

وَقَالَ: إِذَا رَأَىٰ كِلَّةً فَيَنْبَغِي أَنْ يَخْرُجَ، فَإِنَّ ذٰلِكَ تَكَلُّفٌ لَا فَائِدَةَ فِيهِ، وَلَا تَدْفَعُ حَرًّا وَلَا بَرْدًا، وَلَا تَسْتُرُ شَيْئًا.

Beliau juga berkata: jika ia melihat tirai atau kelambu, hendaknya ia keluar, karena itu adalah kemewahan yang tidak berguna, tidak menahan panas atau dingin, dan tidak menutupi sesuatu.

وَكَذٰلِكَ قَالَ: يَخْرُجُ إِذَا رَأَىٰ حِيطَانَ الْبَيْتِ مَسْتُورَةً بِالدِّيبَاجِ كَمَا تُسْتَرُ الْكَعْبَةُ.

Demikian pula beliau berkata: hendaknya ia keluar jika melihat dinding rumah diselimuti sutra, sebagaimana Ka’bah ditutupi.

وَقَالَ: إِذَا اكْتَرَىٰ بَيْتًا فِيهِ صُورَةٌ، أَوْ دَخَلَ الْحَمَّامَ فَرَأَىٰ صُورَةً، فَيَنْبَغِي أَنْ يَحُكَّهَا، فَإِنْ لَمْ يَقْدِرْ خَرَجَ.

Beliau juga berkata: jika ia menyewa rumah yang di dalamnya ada gambar, atau masuk ke pemandian lalu melihat gambar, hendaknya ia menghapusnya. Jika tidak mampu, maka ia keluar.

وَكُلُّ مَا ذَكَرَهُ صَحِيحٌ.

Semua yang beliau sebutkan itu benar.

وَإِنَّمَا النَّظَرُ فِي الْكِلَّةِ وَتَزْيِينِ الْحِيطَانِ بِالدِّيبَاجِ، فَإِنَّ ذٰلِكَ لَا يَنْتَهِي إِلَى التَّحْرِيمِ، إِذِ الْحَرِيرُ يُحَرَّمُ عَلَى الرِّجَالِ.

Adapun yang diperselisihkan hanyalah tirai dan menghiasi dinding dengan sutra. Itu tidak sampai pada hukum haram, karena sutra memang diharamkan bagi laki-laki.

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: هٰذَانِ حَرَامٌ عَلَىٰ ذُكُورِ أُمَّتِي، حِلٌّ لِإِنَاثِهَا.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: dua hal ini haram bagi laki-laki dari umatku, tetapi halal bagi perempuan mereka.

وَمَا عَلَى الْحَائِطِ لَيْسَ مَنْسُوبًا إِلَى الذُّكُورِ.

Sedangkan apa yang ada di dinding tidak dinisbatkan kepada kaum laki-laki.

وَلَوْ حَرُمَ هٰذَا لَحَرُمَ تَزْيِينُ الْكَعْبَةِ.

Seandainya hal ini haram, tentu menghias Ka’bah pun haram.

بَلِ الْأَوْلَىٰ إِبَاحَتُهُ لِمُوجِبِ قَوْلِهِ تَعَالَىٰ: قُلْ مَنْ حَرَّمَ زِينَةَ اللَّهِ.

Bahkan yang lebih tepat adalah membolehkannya, karena firman-Nya Ta’ala: “Katakanlah, siapakah yang mengharamkan perhiasan Allah?”

لَا سِيَّمَا فِي وَقْتِ الزِّينَةِ، إِذَا لَمْ يُتَّخَذْ عَادَةً لِلتَّفَاخُرِ.

Terutama pada waktu berhias, selama tidak dijadikan kebiasaan untuk saling berbangga diri.

وَإِنْ تُخَيِّلَ أَنَّ الرِّجَالَ يَنْتَفِعُونَ بِالنَّظَرِ إِلَيْهِ، وَلَا يَحْرُمُ عَلَى الرِّجَالِ الِانْتِفَاعُ بِالنَّظَرِ إِلَى الدِّيبَاجِ مَهْمَا لَبِسَتْهُ الْجَوَارِي وَالنِّسَاءُ.

Jika dibayangkan bahwa laki-laki mendapat manfaat dengan memandangnya, maka tidak haram bagi laki-laki mengambil manfaat dari memandang sutra, sekalipun ia dipakai oleh para hamba perempuan dan para wanita.

وَالْحِيطَانُ فِي مَعْنَى النِّسَاءِ، إِذْ لَسْنَ مَوْصُوفَاتٍ بِالذُّكُورَةِ.

Dan dinding-dinding itu dalam hukum seperti perempuan, karena ia tidak disifati dengan kelelakian.