Bahaya dalam Pernikahan

أَمَّا آفَاتُ النِّكَاحِ فَثَلَاثٌ.

Adapun bahaya-bahaya nikah ada tiga.

الْأُولَىٰ، وَهِيَ أَقْوَاهَا، الْعَجْزُ عَنْ طَلَبِ الْحَلَالِ.

Yang pertama, dan itulah yang paling kuat, ialah ketidakmampuan mencari rezeki halal.

فَإِنَّ ذٰلِكَ لَا يَتَيَسَّرُ لِكُلِّ أَحَدٍ، لَا سِيَّمَا فِي هٰذِهِ الْأَوْقَاتِ مَعَ اضْطِرَابِ الْمَعَايِشِ.

Hal itu tidak mudah bagi setiap orang, terutama pada zaman ini dengan kehidupan yang tidak stabil.

فَيَكُونُ النِّكَاحُ سَبَبًا فِي التَّوَسُّعِ لِلطَّلَبِ وَالْإِطْعَامِ مِنَ الْحَرَامِ.

Maka nikah bisa menjadi sebab meluasnya usaha mencari nafkah dan memberi makan dari yang haram.

وَفِيهِ هَلَاكُهُ وَهَلَاكُ أَهْلِهِ.

Dan di situ ada kebinasaan dirinya dan keluarganya.

وَالْمُتَعَزِّبُ فِي أَمْنٍ مِنْ ذٰلِكَ.

Orang yang membujang berada dalam keamanan dari hal itu.

وَأَمَّا الْمُتَزَوِّجُ فَفِي الْأَغْلَبِ يَدْخُلُ فِي مَدَاخِلِ السُّوءِ.

Adapun orang yang menikah, pada umumnya ia masuk ke dalam jalan-jalan keburukan.

فَيَتَّبِعُ هَوَىٰ زَوْجَتِهِ، وَيَبِيعُ آخِرَتَهُ بِدُنْيَاهُ.

Ia mengikuti hawa nafsu istrinya dan menjual akhiratnya demi dunia.

وَفِي الْخَبَرِ: إِنَّ الْعَبْدَ لَيُوقَفُ عِنْدَ الْمِيزَانِ، وَلَهُ مِنَ الْحَسَنَاتِ أَمْثَالُ الْجِبَالِ.

Dalam riwayat disebutkan: seorang hamba akan ditahan di hadapan timbangan, dan ia memiliki pahala sebesar gunung-gunung.

فَيُسْأَلُ عَنْ رِعَايَةِ عَائِلَتِهِ وَالْقِيَامِ بِهِمْ، وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ، وَفِيمَ أَنْفَقَهُ.

Lalu ia ditanya tentang pemeliharaannya terhadap keluarga, tentang hartanya dari mana ia memperolehnya, dan untuk apa ia menginfakkannya.

حَتَّىٰ يَسْتَغْرِقَ بِتِلْكَ الْمُطَالَبَاتِ كُلُّ أَعْمَالِهِ، فَلَا تَبْقَىٰ لَهُ حَسَنَةٌ.

Hingga semua amalnya habis karena pertanyaan-pertanyaan itu, dan tidak tersisa baginya satu pun kebaikan.

فَتُنَادِي الْمَلَائِكَةُ: هٰذَا الَّذِي أَكَلَ عِيَالُهُ حَسَنَاتِهِ فِي الدُّنْيَا، وَارْتَهَنَ الْيَوْمَ بِأَعْمَالِهِ.

Maka para malaikat menyeru: inilah orang yang keluarganya telah memakan kebaikan-kebaikannya di dunia, dan hari ini ia tergadai oleh amalnya.

وَيُقَالُ: إِنَّ أَوَّلَ مَا يَتَعَلَّقُ بِالرَّجُلِ فِي الْقِيَامَةِ أَهْلُهُ وَوَلَدُهُ.

Dikatakan: hal pertama yang melekat pada seseorang pada hari kiamat adalah keluarga dan anak-anaknya.

فَيُوقِفُونَهُ بَيْنَ يَدَيْ اللَّهِ تَعَالَىٰ، وَيَقُولُونَ: يَا رَبَّنَا، خُذْ لَنَا بِحَقِّنَا مِنْهُ.

Mereka menahannya di hadapan Allah Ta’ala, lalu berkata: wahai Tuhan kami, ambillah hak kami darinya.

فَإِنَّهُ مَا عَلِمْنَا مَا نَجْهَلُ، وَكَانَ يُطْعِمُنَا الْحَرَامَ وَنَحْنُ لَا نَعْلَمُ.

Sebab ia telah memberi kami makan dari yang haram, sementara kami tidak mengetahuinya.

فَيُقْتَصُّ لَهُمْ مِنْهُ.

Maka diambilkan hak mereka darinya.

وَقَالَ بَعْضُ السَّلَفِ: إِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِعَبْدٍ شَرًّا، سَلَّطَ عَلَيْهِ فِي الدُّنْيَا أَنْيَابًا تَنْهَشُهُ.

Sebagian salaf berkata: jika Allah menghendaki keburukan bagi seorang hamba, Dia menundukkan kepadanya taring-taring di dunia yang menggerogotinya.

يَعْنِي الْعِيَالَ.

Maksudnya adalah keluarga.

وَقَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لَا يَلْقَى اللَّهَ أَحَدٌ بِذَنْبٍ أَعْظَمَ مِنْ جَهَالَةِ أَهْلِهِ.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: tidak ada seorang pun yang menghadap Allah dengan dosa yang lebih besar daripada kebodohan keluarganya.

فَهٰذِهِ آفَةٌ عَامَّةٌ.

Maka ini adalah bahaya yang umum.

قَلَّ مَنْ يَتَخَلَّصُ مِنْهَا إِلَّا مَنْ لَهُ مَالٌ مَوْرُوثٌ أَوْ مُكْتَسَبٌ مِنْ حَلَالٍ يَفِي بِهِ وَبِأَهْلِهِ.

Sedikit sekali yang selamat darinya, kecuali orang yang memiliki harta warisan atau harta halal yang cukup untuk dirinya dan keluarganya.

وَكَانَ لَهُ مِنَ الْقَنَاعَةِ مَا يَمْنَعُهُ مِنَ الزِّيَادَةِ.

Dan ia memiliki sifat qana’ah yang mencegahnya dari mencari tambahan.

فَإِنَّ ذٰلِكَ يَتَخَلَّصُ مِنْ هٰذِهِ الْآفَةِ.

Maka orang seperti itu selamat dari bahaya ini.

أَوْ مَنْ هُوَ مُحْتَرِفٌ، وَمُقْتَدِرٌ عَلَىٰ كَسْبِ حَلَالٍ مِنَ الْمُبَاحَاتِ.

Atau orang yang punya keterampilan, mampu mencari nafkah halal dari perkara yang mubah.

بِاحْتِطَابٍ أَوْ اصْطِيَادٍ.

Seperti mencari kayu bakar atau berburu.

أَوْ كَانَ فِي صِنَاعَةٍ لَا تَتَعَلَّقُ بِالسَّلَاطِينِ.

Atau ia memiliki pekerjaan yang tidak berkaitan dengan para penguasa.

وَيَقْدِرُ عَلَىٰ أَنْ يُعَامِلَ بِهِ أَهْلَ الْخَيْرِ، وَمَنْ ظَاهِرُهُ السَّلَامَةُ، وَغَالِبُ مَالِهِ الْحَلَالُ.

Dan ia mampu berusaha bersama orang-orang baik, orang yang lahiriahnya selamat, dan mayoritas hartanya halal.

وَقَالَ ابْنُ سَالِمٍ رَحِمَهُ اللَّهُ، وَقَدْ سُئِلَ عَنِ التَّزْوِيجِ: هُوَ أَفْضَلُ فِي زَمَانِنَا هٰذَا لِمَنْ أَدْرَكَهُ شَبَقٌ غَالِبٌ مِثْلَ الْحِمَارِ عَلَى الْأَتَانِ.

Ibnu Salim rahimahullah berkata ketika ditanya tentang menikah: itu lebih utama pada zaman kita bagi orang yang dikuasai syahwat kuat, seperti keledai jantan terhadap keledai betina.

فَلَا يَنْتَهِي عَنْهَا بِالضَّرْبِ، وَلَا يَمْلِكُ نَفْسَهُ.

Ia tidak berhenti darinya dengan dipukul, dan ia pun tidak mampu menguasai dirinya.

فَإِنْ مَلَكَ نَفْسَهُ فَتَرْكُهُ أَوْلَىٰ.

Namun jika ia mampu menguasai dirinya, maka meninggalkannya lebih utama.

الْآفَةُ الثَّانِيَةُ: الْقُصُورُ عَنْ الْقِيَامِ بِحَقِّهِنَّ، وَالصَّبْرِ عَلَىٰ أَخْلَاقِهِنَّ، وَاحْتِمَالِ الْأَذَىٰ مِنْهُنَّ.

Bahaya kedua ialah ketidakmampuan menunaikan hak mereka, bersabar atas akhlak mereka, dan menanggung gangguan dari mereka.

وَهٰذِهِ دُونَ الْأُولَىٰ فِي الْعُمُومِ.

Bahaya ini lebih rendah daripada yang pertama dalam hal umum.

فَإِنَّ الْقُدْرَةَ عَلَىٰ هٰذَا أَيْسَرُ مِنَ الْقُدْرَةِ عَلَى الْأُولَىٰ.

Sebab kemampuan untuk yang ini lebih mudah daripada kemampuan untuk yang pertama.

وَتَحْسِينُ الْخُلُقِ مَعَ النِّسَاءِ وَالْقِيَامُ بِحُظُوظِهِنَّ أَهْوَنُ مِنْ طَلَبِ الْحَلَالِ.

Memperbaiki akhlak bersama wanita dan menunaikan hak-hak mereka lebih ringan daripada mencari yang halal.

وَفِي هٰذَا أَيْضًا خَطَرٌ، لِأَنَّهُ رَاعٍ وَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ.

Namun dalam hal ini juga ada bahaya, sebab ia adalah pemelihara dan akan ditanya tentang yang dipeliharanya.

وَقَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: كَفَىٰ بِالْمَرْءِ إِثْمًا أَنْ يُضَيِّعَ مَنْ يَعُولُ.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: cukuplah seseorang dianggap berdosa jika ia menelantarkan orang yang menjadi tanggungannya.

وَرُوِيَ أَنَّ الْهَارِبَ مِنْ عِيَالِهِ بِمَنْزِلَةِ الْعَبْدِ الْهَارِبِ الْآبِقِ.

Diriwayatkan bahwa orang yang lari dari tanggungannya seperti budak yang melarikan diri.

لَا تُقْبَلُ لَهُ صَلَاةٌ وَلَا صِيَامٌ حَتَّىٰ يَرْجِعَ إِلَيْهِمْ.

Salat dan puasanya tidak diterima sampai ia kembali kepada mereka.

وَمَنْ يُقَصِّرْ عَنْ الْقِيَامِ بِحُقُوقِهِنَّ، وَإِنْ كَانَ حَاضِرًا، فَهُوَ بِمَنْزِلَةِ هَارِبٍ.

Siapa yang lalai menunaikan hak mereka, meskipun ia hadir, maka ia seperti orang yang lari.

فَقَدْ قَالَ تَعَالَىٰ: قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا.

Allah Ta’ala berfirman: peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.

أُمِرْنَا أَنْ نَقِيَهُمْ النَّارَ كَمَا نَقِي أَنْفُسَنَا.

Kita diperintahkan melindungi mereka dari neraka sebagaimana kita melindungi diri kita sendiri.

وَالْإِنْسَانُ قَدْ يَعْجِزُ عَنْ الْقِيَامِ بِحَقِّ نَفْسِهِ.

Padahal manusia kadang tidak mampu menunaikan hak dirinya sendiri.

فَإِذَا تَزَوَّجَ تَضَاعَفَ عَلَيْهِ الْحَقُّ، وَانْضَمَّتْ إِلَىٰ نَفْسِهِ نَفْسٌ أُخْرَىٰ.

Maka jika ia menikah, hak yang harus ia penuhi menjadi berlipat, dan bergabung dengan dirinya satu jiwa lagi.

وَالنَّفْسُ أَمَّارَةٌ بِالسُّوءِ.

Dan jiwa itu memang sangat mendorong kepada keburukan.

إِنْ كَثُرَتْ عَلَيْهَا الْحُقُوقُ، كَثُرَ الْأَمْرُ بِالسُّوءِ غَالِبًا.

Jika hak-hak yang menimpanya banyak, maka dorongan kepada keburukan biasanya makin kuat.

وَلِذٰلِكَ اعْتَذَرَ بَعْضُهُمْ مِنَ التَّزْوِيجِ، وَقَالَ: أَنَا مُبْتَلًىٰ بِنَفْسِي، وَكَيْفَ أُضِيفُ إِلَيْهَا نَفْسًا أُخْرَىٰ؟

Karena itu sebagian orang beralasan menolak menikah, lalu berkata: aku sudah diuji dengan diriku sendiri, bagaimana aku menambahkan satu jiwa lagi?

كَمَا قِيلَ:

Sebagaimana dikatakan:

لَنْ يَسَعَ الْفَأْرَةَ جُحْرُهَا ... عَلِقَتِ الْمَكْنَسُ فِي دُبُرِهَا.

“Lubang tikus tidak akan cukup baginya ... bila sapu tersangkut di belakangnya.”

وَكَذٰلِكَ اعْتَذَرَ إِبْرَاهِيمُ بْنُ أَدْهَمَ رَحِمَهُ اللَّهُ.

Demikian pula Ibrahim bin Adham rahimahullah beralasan.

وَقَالَ: لَا أُغَرُّ امْرَأَةً بِنَفْسِي، وَلَا حَاجَةَ لِي فِيهِنَّ.

Ia berkata: aku tidak ingin menipu seorang perempuan dengan diriku, dan aku tidak butuh mereka.

يَعْنِي مِنَ الْقِيَامِ بِحُقُوقِهِنَّ وَتَحْصِينِهِنَّ وَإِمْتَاعِهِنَّ، وَأَنَا عَاجِزٌ عَنْهُ.

Maksudnya, dari menunaikan hak mereka, menjaga mereka, dan membahagiakan mereka, padahal aku tidak sanggup melakukannya.

وَكَذٰلِكَ اعْتَذَرَ بِشْرٌ، فَقَالَ: يَمْنَعُنِي مِنَ النِّكَاحِ قَوْلُهُ تَعَالَىٰ: وَلَهُنَّ مِثْلُ الَّذِي عَلَيْهِنَّ.

Demikian pula Bisyr beralasan, ia berkata: yang menghalangiku dari nikah adalah firman-Nya Ta’ala: “Dan bagi mereka hak yang seimbang dengan kewajibannya.”

وَكَانَ يَقُولُ: لَوْ كُنْتُ أَعُولُ دَجَاجَةً لَخِفْتُ أَنْ أَصِيرَ جَلَّادًا عَلَى الْجِسْرِ.

Ia juga berkata: seandainya aku menanggung seekor ayam, aku khawatir akan menjadi algojo di jembatan.

وَرُئِيَ سُفْيَانُ بْنُ عُيَيْنَةَ رَحِمَهُ اللَّهُ عَلَىٰ بَابِ السُّلْطَانِ.

Sufyan bin ‘Uyainah rahimahullah pernah terlihat di pintu penguasa.

فَقِيلَ لَهُ: مَا هٰذَا مَوْقِفُكَ؟

Lalu dikatakan kepadanya: apa ini posisimu?

فَقَالَ: وَهَلْ رَأَيْتَ ذَا عِيَالٍ أَفْلَحَ؟

Ia menjawab: apakah engkau pernah melihat orang yang memiliki tanggungan lalu beruntung?

وَكَانَ سُفْيَانُ يَقُولُ:

Sufyan biasa berkata:

يَا حَبَّذَا الْعُزْبَةُ وَالْمِفْتَاحُ ... وَمَسْكَنٌ تَخْرُقُهُ الرِّيَاحُ ... لَا صَخَبَ فِيهِ وَلَا صِيَاحُ.

“Alangkah indahnya membujang dan memiliki kunci ... serta rumah yang ditembus angin ... tidak ada gaduh dan teriakan di dalamnya.”

فَهٰذِهِ آفَةٌ عَامَّةٌ أَيْضًا.

Ini juga adalah bahaya yang umum.

وَإِنْ كَانَتْ دُونَ عُمُومِ الْأُولَىٰ.

Meski lebih ringan daripada bahaya yang pertama dari segi keumuman.

لَا يَسْلَمُ مِنْهَا إِلَّا حَكِيمٌ عَاقِلٌ حَسَنُ الْأَخْلَاقِ.

Tidak selamat darinya kecuali orang bijak, berakal, dan baik akhlaknya.

بَصِيرٌ بِعَادَاتِ النِّسَاءِ، صَبُورٌ عَلَىٰ لِسَانِهِنَّ، وَقَّافٌ عَنْ اتِّبَاعِ شَهَوَاتِهِنَّ.

Yang memahami kebiasaan wanita, sabar terhadap lisan mereka, dan menahan diri dari mengikuti hawa nafsu mereka.

حَرِيصٌ عَلَى الْوَفَاءِ بِحُقُوقِهِنَّ.

Ia bersungguh-sungguh menunaikan hak-hak mereka.

يَتَغَافَلُ عَنْ زَلَلِهِنَّ، وَيُدَارِي بِعَقْلِهِ أَخْلَاقَهُنَّ.

Ia mengabaikan kesalahan-kesalahan kecil mereka, dan dengan akalnya ia mengelola akhlak mereka.

وَالْأَغْلَبُ عَلَى النَّاسِ السَّفَهُ وَالْفَظَاظَةُ وَالْحِدَّةُ وَالطَّيْشُ وَسُوءُ الْخُلُقِ وَعَدَمُ الْإِنْصَافِ مَعَ طَلَبِ تَمَامِ الْإِنْصَافِ.

Namun yang lebih umum pada manusia ialah kebodohan, kekasaran, ketajaman emosi, kecerobohan, buruk akhlak, dan tidak adil, padahal mereka menuntut keadilan yang sempurna.

وَمِثْلُ هٰذَا يَزْدَادُ بِالنِّكَاحِ فَسَادًا مِنْ هٰذَا الْوَجْهِ لَا مَحَالَةَ.

Orang seperti ini pasti akan semakin rusak dengan menikah dari sisi ini.

فَالْوَحْدَةُ أَسْلَمُ لَهُ.

Maka menyendiri lebih aman baginya.

الْآفَةُ الثَّالِثَةُ، وَهِيَ دُونَ الْأُولَىٰ وَالثَّانِيَةِ، أَنْ يَكُونَ الْأَهْلُ وَالْوَلَدُ شَاغِلًا لَهُ عَنْ اللَّهِ تَعَالَىٰ.

Bahaya ketiga, dan ini di bawah bahaya pertama dan kedua, ialah bahwa keluarga dan anak menjadi pengalih dirinya dari Allah Ta’ala.

وَجَاذِبًا لَهُ إِلَىٰ طَلَبِ الدُّنْيَا وَحُسْنِ تَدْبِيرِ الْمَعِيشَةِ لِلْأَوْلَادِ.

Mereka menariknya kepada pencarian dunia dan pengaturan kehidupan demi anak-anak.

بِكَثْرَةِ جَمْعِ الْمَالِ وَادِّخَارِهِ لَهُمْ، وَطَلَبِ التَّفَاخُرِ وَالتَّكَاثُرِ بِهِمْ.

Dengan memperbanyak mengumpulkan harta dan menyimpannya untuk mereka, serta mencari kebanggaan dan bermegah dengan mereka.

وَكُلُّ مَا شَغَلَ عَنْ اللَّهِ مِنْ أَهْلٍ وَمَالٍ وَوَلَدٍ فَهُوَ مَشْئُومٌ عَلَىٰ صَاحِبِهِ.

Segala sesuatu yang menyibukkan dari Allah, baik keluarga, harta, maupun anak, adalah kesialan bagi pemiliknya.

وَلَسْتُ أَعْنِي بِهٰذَا أَنْ يَدْعُوَ إِلَىٰ مَحْظُورٍ.

Namun maksudku bukanlah bahwa ia menyeru kepada sesuatu yang terlarang.

فَإِنَّ ذٰلِكَ مِمَّا انْدَرَجَ تَحْتَ الْآفَةِ الْأُولَىٰ وَالثَّانِيَةِ.

Sebab hal itu sudah termasuk di bawah bahaya pertama dan kedua.

بَلْ أَنْ يَدْعُوَهُ إِلَى التَّنَعُّمِ بِالْمُبَاحِ، بَلْ إِلَى الْإِغْرَاقِ فِي مُلَاعَبَةِ النِّسَاءِ وَمُؤَانَسَتِهِنَّ، وَالْإِمْعَانِ فِي التَّمَتُّعِ بِهِنَّ.

Yang kumaksud ialah ia menyerunya kepada kenikmatan yang mubah, bahkan kepada tenggelam dalam bercanda dengan wanita, bergaul akrab dengan mereka, dan berlebihan dalam bersenang-senang bersama mereka.

وَيَثُورُ مِنَ النِّكَاحِ أَنْوَاعٌ مِنَ الشَّوَاغِلِ مِنْ هٰذَا الْجِنْسِ، تَسْتَغْرِقُ الْقَلْبَ.

Dari nikah muncul berbagai kesibukan semacam ini yang memenuhi hati.

فَيَنْقَضِي اللَّيْلُ وَالنَّهَارُ وَلَا يَتَفَرَّغُ الْمَرْءُ فِيهِمَا لِلتَّفَكُّرِ فِي الْآخِرَةِ وَالِاسْتِعْدَادِ لَهَا.

Maka siang dan malam berlalu, sementara orang itu tidak sempat merenungkan akhirat dan bersiap untuknya.

وَلِذٰلِكَ قَالَ إِبْرَاهِيمُ بْنُ أَدْهَمَ رَحِمَهُ اللَّهُ: مَنْ تَعَوَّدَ أَفْخَادَ النِّسَاءِ لَمْ يَجِئْ مِنْهُ شَيْءٌ.

Karena itu Ibrahim bin Adham rahimahullah berkata: siapa yang terbiasa dengan pangkuan perempuan, tidak akan datang darinya sesuatu pun.

وَقَالَ أَبُو سُلَيْمَانَ رَحِمَهُ اللَّهُ: مَنْ تَزَوَّجَ فَقَدْ رَكَنَ إِلَى الدُّنْيَا.

Abu Sulaiman rahimahullah berkata: siapa yang menikah, maka ia telah condong kepada dunia.

أَيْ: يَدْعُوهُ ذٰلِكَ إِلَى الرُّكُونِ إِلَى الدُّنْيَا.

Maksudnya: hal itu akan mendorongnya untuk bersandar kepada dunia.

فَهٰذِهِ مَجَامِعُ الْآفَاتِ وَالْفَوَائِدِ.

Inilah kumpulan bahaya dan manfaatnya.

فَالْحُكْمُ عَلَىٰ شَخْصٍ وَاحِدٍ بِأَنَّ الْأَفْضَلَ لَهُ النِّكَاحُ أَوِ الْعُزْبَةُ مُطْلَقًا قُصُورٌ عَنْ الْإِحَاطَةِ بِمَجَامِعِ هٰذِهِ الْأُمُورِ.

Maka menetapkan secara mutlak kepada seseorang bahwa yang lebih utama baginya adalah menikah atau membujang adalah sikap yang kurang mampu mencakup seluruh persoalan ini.

بَلْ تُتَّخَذُ هٰذِهِ الْفَوَائِدُ وَالْآفَاتُ مُعْتَبَرًا وَمُحَكَّمًا.

Akan tetapi, manfaat dan bahaya ini dijadikan pertimbangan dan patokan.

وَيُعْرَضُ الْمُرِيدُ عَلَيْهَا نَفْسَهُ.

Lalu orang yang hendak memilih menimbang dirinya di atasnya.

فَإِنِ انْتَفَتْ فِي حَقِّهِ الْآفَاتُ، وَاجْتَمَعَتِ الْفَوَائِدُ.

Jika pada dirinya tidak ada bahaya-bahaya itu dan manfaat-manfaatnya terkumpul,

بِأَنْ كَانَ لَهُ مَالٌ حَلَالٌ، وَخُلُقٌ حَسَنٌ، وَجِدٌّ فِي الدِّينِ تَامٌّ، لَا يَشْغَلُهُ النِّكَاحُ عَنِ اللَّهِ.

yakni ia memiliki harta halal, akhlak yang baik, kesungguhan penuh dalam agama, dan nikah tidak akan menyibukkannya dari Allah,

وَهُوَ مَعَ ذٰلِكَ شَابٌّ مُحْتَاجٌ إِلَىٰ تَسْكِينِ الشَّهْوَةِ، وَمُنْفَرِدٌ يَحْتَاجُ إِلَىٰ تَدْبِيرِ الْمَنْزِلِ وَالِاحْتِصَانِ بِالْعَشِيرَةِ.

dan ia juga masih muda serta butuh menenangkan syahwat, dan ia sendirian sehingga butuh mengatur rumah dan berlindung dengan keluarga,

فَلَا يُمَارِي فِي أَنَّ النِّكَاحَ أَفْضَلُ لَهُ.

maka tidak perlu diragukan bahwa nikah lebih utama baginya.

مَعَ مَا فِيهِ مِنَ السَّعْيِ فِي تَحْصِيلِ الْوَلَدِ.

Ditambah lagi ia berusaha mendapatkan keturunan.

وَإِنِ انْتَفَتِ الْفَوَائِدُ وَاجْتَمَعَتِ الْآفَاتُ، فَالْعُزْبَةُ أَفْضَلُ لَهُ.

Jika manfaat-manfa’at itu tidak ada dan bahaya-bahayanya terkumpul, maka membujang lebih baik baginya.

وَإِنْ تَقَابَلَ الْأَمْرَانِ، وَهُوَ الْغَالِبُ، فَيَنْبَغِي أَنْ يُوزَنَ بِالْمِيزَانِ الْقِسْطِ حَظُّ تِلْكَ الْفَائِدَةِ فِي الزِّيَادَةِ مِنْ دِينِهِ، وَحَظُّ تِلْكَ الْآفَاتِ فِي النُّقْصَانِ مِنْهُ.

Jika keduanya seimbang, dan itulah yang sering terjadi, maka hendaknya ditimbang dengan timbangan adil: seberapa besar manfaatnya dalam menambah agamanya, dan seberapa besar bahaya itu dalam mengurangi agamanya.

فَإِذَا غَلَبَ عَلَى الظَّنِّ رَجْحَانُ أَحَدِهِمَا حُكِمَ بِهِ.

Jika kuat sangkaan bahwa salah satunya lebih unggul, maka itulah yang diputuskan.

وَأَظْهَرُ الْفَوَائِدِ الْوَلَدُ وَتَسْكِينُ الشَّهْوَةِ.

Manfaat yang paling menonjol ialah anak dan penenang syahwat.

وَأَظْهَرُ الْآفَاتِ الْحَاجَةُ إِلَىٰ كَسْبِ الْحَرَامِ وَالِاشْتِغَالُ عَنِ اللَّهِ.

Sedangkan bahaya yang paling menonjol ialah kebutuhan kepada penghasilan haram dan tersibuk dari Allah.

فَلْنَفْرِضْ تَقَابُلَ هٰذِهِ الْأُمُورِ.

Maka andaikan kita misalkan perkara-perkara ini seimbang.

فَنَقُولُ: مَنْ لَمْ يَكُنْ فِي أَذًى مِنَ الشَّهْوَةِ، وَكَانَتْ فَائِدَةُ نِكَاحِهِ فِي السَّعْيِ لِتَحْصِيلِ الْوَلَدِ.

Kami katakan: siapa yang tidak terganggu oleh syahwat, dan manfaat nikah baginya hanya untuk berusaha mendapatkan anak,

وَكَانَتِ الْآفَةُ الْحَاجَةَ إِلَىٰ كَسْبِ الْحَرَامِ وَالِاشْتِغَالَ عَنِ اللَّهِ، فَالْعُزْبَةُ لَهُ أَوْلَىٰ.

sementara bahayanya adalah kebutuhan kepada penghasilan haram dan tersibuk dari Allah, maka membujang lebih utama baginya.

فَلَا خَيْرَ فِيمَا يَشْغَلُ عَنِ اللَّهِ.

Tidak ada kebaikan pada sesuatu yang menyibukkan dari Allah.

وَلَا خَيْرَ فِي كَسْبِ الْحَرَامِ.

Dan tidak ada kebaikan pada penghasilan haram.

وَلَا يَفِي نَقْصَ هٰذَيْنِ الْأَمْرَيْنِ أَمْرُ الْوَلَدِ.

Dan manfaat anak tidak bisa menutup kekurangan dua hal itu.

فَإِنَّ النِّكَاحَ لِلْوَلَدِ سَعْيٌ فِي طَلَبِ حَيَاةٍ لِلْوَلَدِ مَوْهُومَةٍ.

Sebab nikah demi anak hanyalah usaha mencari kehidupan yang masih bersifat dugaan bagi anak.

وَهٰذَا نُقْصَانٌ فِي الدِّينِ نَاجِزٌ.

Sedangkan ini adalah kerugian nyata dalam agama.

فَحِفْظُهُ لِحَيَاةِ نَفْسِهِ وَصَوْنُهَا عَنِ الْهَلَاكِ أَهَمُّ مِنَ السَّعْيِ فِي الْوَلَدِ.

Maka menjaga hidupnya sendiri dan melindunginya dari kebinasaan lebih penting daripada berusaha demi anak.

وَذٰلِكَ رِبْحٌ، وَالدِّينُ رَأْسُ مَالٍ.

Itu adalah keuntungan, sedangkan agama adalah modal pokok.

وَفِي فَسَادِ الدِّينِ بَطَلَانُ الْحَيَاةِ الْآخِرَةِ وَذَهَابُ رَأْسِ الْمَالِ.

Jika agama rusak, maka kehidupan akhirat binasa dan modal pokok lenyap.

وَلَا تُقَاوِمُ هٰذِهِ الْفَائِدَةُ إِحْدَىٰ هٰذِهِ الْآفَتَيْنِ.

Manfaat ini tidak sebanding dengan salah satu dari dua bahaya itu.

وَأَمَّا إِذَا انْضَمَّ إِلَىٰ أَمْرِ الْوَلَدِ حَاجَةُ كَسْرِ الشَّهْوَةِ لِتَوَقَانِ النَّفْسِ إِلَى النِّكَاحِ، نَظَرْنَا.

Adapun jika urusan anak ditambah dengan kebutuhan mematahkan syahwat karena jiwa sangat menginginkan nikah, maka kita pertimbangkan.

فَإِنْ لَمْ يَقْوَ لِجَامُ التَّقْوَىٰ فِي رَأْسِهِ، وَخَافَ عَلَىٰ نَفْسِهِ الزِّنَا، فَالنِّكَاحُ لَهُ أَوْلَىٰ.

Jika kendali takwa tidak kuat pada dirinya dan ia takut jatuh ke zina, maka nikah lebih utama baginya.

لِأَنَّهُ مُتَرَدِّدٌ بَيْنَ أَنْ يَقْتَحِمَ الزِّنَا أَوْ يَأْكُلَ الْحَرَامَ.

Sebab ia berada di antara dua pilihan: terjerumus ke zina atau memakan yang haram.

وَكَسْبُ الْحَرَامِ أَهْوَنُ الشَّرَّيْنِ.

Dan penghasilan haram adalah keburukan yang lebih ringan dari dua keburukan.

وَإِنْ كَانَ يَثِقُ بِنَفْسِهِ أَنَّهُ لَا يَزْنِي، وَلَكِنْ لَا يَقْدِرُ مَعَ ذٰلِكَ عَلَىٰ غَضِّ الْبَصَرِ عَنِ الْحَرَامِ، فَتَرْكُ النِّكَاحِ أَوْلَىٰ.

Jika ia yakin dirinya tidak akan berzina, tetapi tetap tidak mampu menundukkan pandangan dari yang haram, maka meninggalkan nikah lebih utama.

لِأَنَّ النَّظَرَ حَرَامٌ، وَالْكَسْبَ مِنْ غَيْرِ وَجْهِهِ حَرَامٌ.

Sebab pandangan itu haram, dan mencari rezeki dari jalur yang bukan jalurnya juga haram.

وَالْكَسْبُ يَقَعُ دَائِمًا، وَفِيهِ عِصْيَانُهُ وَعِصْيَانُ أَهْلِهِ.

Penghasilan itu terjadi terus-menerus, dan di dalamnya ada dosanya dan dosa keluarganya.

وَالنَّظَرُ يَقَعُ أَحْيَانًا، وَهُوَ يَخُصُّهُ وَيَنْصَرِمُ عَلَىٰ قُرْبٍ.

Sedangkan pandangan itu terjadi sesekali, hanya mengenai dirinya, dan cepat berlalu.

وَالنَّظَرُ زِنَا الْعَيْنِ.

Pandangan adalah zina mata.

وَلَكِنْ إِذَا لَمْ يُصَدِّقْهُ الْفَرْجُ فَهُوَ إِلَى الْعَفْوِ أَقْرَبُ مِنْ أَكْلِ الْحَرَامِ.

Namun bila kemaluan tidak menuruti pandangan itu, maka itu lebih dekat kepada maaf daripada memakan yang haram.

إِلَّا أَنْ يَخَافَ إِفْضَاءَ النَّظَرِ إِلَىٰ مَعْصِيَةِ الْفَرْجِ، فَيَرْجِعُ ذٰلِكَ إِلَىٰ خَوْفِ الْعَنَتِ.

Kecuali jika ia khawatir pandangan itu membawa kepada kemaksiatan kemaluan, maka hal itu kembali kepada kekhawatiran akan kesulitan besar.

وَإِذَا ثَبَتَ هٰذَا، فَالْحَالَةُ الثَّالِثَةُ، وَهِيَ أَنْ يَقْوَىٰ عَلَىٰ غَضِّ الْبَصَرِ وَلَكِنْ لَا يَقْوَىٰ عَلَىٰ دَفْعِ الْأَفْكَارِ الشَّاغِلَةِ لِلْقَلْبِ.

Jika ini telah jelas, maka keadaan ketiga ialah ia mampu menundukkan pandangan, tetapi tidak mampu menolak pikiran-pikiran yang mengganggu hati.

فَذٰلِكَ أَوْلَىٰ بِتَرْكِ النِّكَاحِ.

Dalam keadaan itu, meninggalkan nikah lebih utama.

لِأَنَّ عَمَلَ الْقَلْبِ إِلَى الْعَفْوِ أَقْرَبُ.

Karena pekerjaan hati lebih dekat kepada maaf.

إِنَّمَا يُرَادُ فَرَاغُ الْقَلْبِ لِلْعِبَادَةِ.

Yang diinginkan hanyalah kosongnya hati untuk ibadah.

وَلَا تَتِمُّ عِبَادَةٌ مَعَ الْكَسْبِ الْحَرَامِ وَأَكْلِهِ وَإِطْعَامِهِ.

Dan ibadah tidak sempurna bersama penghasilan haram, memakannya, dan memberikannya.

فَهٰكَذَا يَنْبَغِي أَنْ تُوزَنَ هٰذِهِ الْآفَاتُ بِالْفَوَائِدِ، وَيُحْكَمَ بِحَسَبِهَا.

Maka begitulah hendaknya bahaya-bahaya ini ditimbang dengan manfaat-manfa’atnya, lalu diputuskan berdasarkan itu.

وَمَنْ أَحَاطَ بِهٰذَا لَمْ يُشْكِلْ عَلَيْهِ شَيْءٌ مِمَّا نَقَلْنَا عَنِ السَّلَفِ مِنْ تَرْغِيبٍ فِي النِّكَاحِ مَرَّةً، وَرَغْبَةٍ عَنْهُ أُخْرَىٰ.

Siapa yang memahami ini, tidak akan bingung terhadap apa yang kami nukil dari salaf, yaitu kadang menganjurkan nikah dan kadang mendorong untuk tidak menikah.

إِذْ ذٰلِكَ بِحَسَبِ الْأَحْوَالِ صَحِيحٌ.

Karena itu benar sesuai keadaan masing-masing.

فَإِنْ قُلْتَ: فَمَنْ أَمِنَ الْآفَاتِ، فَمَا الْأَفْضَلُ لَهُ، التَّخَلِّي لِعِبَادَةِ اللَّهِ أَوِ النِّكَاحُ؟

Jika engkau bertanya: bila seseorang aman dari bahaya-bahaya itu, mana yang lebih utama baginya, menyendiri untuk ibadah kepada Allah atau menikah?

فَأَقُولُ: يَجْمَعُ بَيْنَهُمَا.

Aku jawab: hendaknya ia menggabungkan keduanya.

لِأَنَّ النِّكَاحَ لَيْسَ مَانِعًا مِنَ التَّخَلِّي لِعِبَادَةِ اللَّهِ مِنْ حَيْثُ إِنَّهُ عَقْدٌ.

Sebab nikah tidak menghalangi menyendiri untuk ibadah kepada Allah dari sisi akad itu sendiri.

وَلَكِنْ مِنْ حَيْثُ الْحَاجَةُ إِلَى الْكَسْبِ.

Akan tetapi, penghalang datang dari kebutuhan mencari nafkah.

فَإِنْ قَدَرَ عَلَى الْكَسْبِ الْحَلَالِ، فَالنِّكَاحُ أَيْضًا أَفْضَلُ.

Jika ia mampu mencari nafkah halal, maka nikah juga lebih utama.

لِأَنَّ اللَّيْلَ وَسَائِرَ أَوْقَاتِ النَّهَارِ يُمْكِنُ التَّخَلِّي فِيهَا لِلْعِبَادَةِ.

Karena malam dan waktu-waktu siang lainnya masih dapat dipakai untuk menyendiri dalam ibadah.

وَالْمُوَاظَبَةُ عَلَى الْعِبَادَةِ مِنْ غَيْرِ اسْتِرَاحَةٍ غَيْرُ مُمْكِنَةٍ.

Dan terus-menerus beribadah tanpa istirahat adalah sesuatu yang tidak mungkin.

فَإِنْ فُرِضَ كَوْنُهُ مُسْتَغْرَقًا بِالْكَسْبِ حَتَّىٰ لَا يَبْقَىٰ لَهُ وَقْتٌ سِوَىٰ أَوْقَاتِ الْمَكْتُوبَةِ وَالنَّوْمِ وَالْأَكْلِ وَقَضَاءِ الْحَاجَةِ.

Namun jika ia tersita oleh mencari nafkah sampai tidak tersisa baginya waktu selain waktu salat wajib, tidur, makan, dan buang hajat.

فَإِنْ كَانَ الرَّجُلُ مِمَّنْ لَا يَسْلُكُ سَبِيلَ الْآخِرَةِ إِلَّا بِالصَّلَاةِ النَّافِلَةِ أَوِ الْحَجِّ، وَمَا يَجْرِي مَجْرَاهُ مِنَ الْأَعْمَالِ الْبَدَنِيَّةِ، فَالنِّكَاحُ لَهُ أَفْضَلُ.

Jika orang itu tidak menempuh jalan akhirat kecuali dengan salat sunnah atau haji dan semisal amalan jasmani, maka nikah lebih utama baginya.

لِأَنَّ فِي كَسْبِ الْحَلَالِ وَالْقِيَامِ بِالْأَهْلِ وَالسَّعْيِ فِي تَحْصِيلِ الْوَلَدِ وَالصَّبْرِ عَلَىٰ أَخْلَاقِ النِّسَاءِ أَنْوَاعًا مِنَ الْعِبَادَاتِ.

Sebab dalam mencari rezeki halal, menafkahi keluarga, berusaha mendapatkan anak, dan bersabar atas akhlak wanita terdapat banyak bentuk ibadah.

لَا يَقْصُرُ فَضْلُهَا عَنْ نَوَافِلِ الْعِبَادَاتِ.

Keutamaannya tidak kurang dari ibadah-ibadah sunnah.

وَإِنْ كَانَتْ عِبَادَتُهُ بِالْعِلْمِ وَالْفِكْرِ وَسَيْرِ الْبَاطِنِ، وَالْكَسْبُ يُشَوِّشُ عَلَيْهِ ذٰلِكَ، فَتَرْكُ النِّكَاحِ أَفْضَلُ.

Namun jika ibadahnya berupa ilmu, pemikiran, dan perjalanan batin, sedangkan mencari nafkah justru mengacaukan itu, maka meninggalkan nikah lebih utama.

فَإِنْ قُلْتَ: فَلِمَ تَرَكَ عِيسَىٰ عَلَيْهِ السَّلَامُ النِّكَاحَ مَعَ فَضْلِهِ، وَإِنْ كَانَ الْأَفْضَلُ التَّخَلِّي لِعِبَادَةِ اللَّهِ؟

Jika engkau bertanya: mengapa Isa عليه السلام meninggalkan nikah padahal beliau memiliki keutamaan, jika memang yang lebih utama adalah menyendiri untuk ibadah kepada Allah?

وَلِمَ اسْتَكْثَرَ رَسُولُنَا صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنَ الْأَزْوَاجِ؟

Dan mengapa Rasul kita shallallahu ‘alaihi wa sallam justru memiliki banyak istri?

فَاعْلَمْ أَنَّ الْأَفْضَلَ الْجَمْعُ بَيْنَهُمَا فِي حَقِّ مَنْ قَدَرَ.

Ketahuilah bahwa yang lebih utama adalah menggabungkan keduanya bagi orang yang mampu.

وَمَنْ قَوِيَتْ مِنَّتُهُ وَعَلَتْ هِمَّتُهُ فَلَا يَشْغَلُهُ عَنِ اللَّهِ شَاغِلٌ.

Siapa yang kekuatannya besar dan semangatnya tinggi, tidak ada kesibukan yang melalaikannya dari Allah.

وَرَسُولُنَا صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَخَذَ بِالْقُوَّةِ، وَجَمَعَ بَيْنَ فَضْلِ الْعِبَادَةِ وَالنِّكَاحِ.

Rasul kita shallallahu ‘alaihi wa sallam mengambil jalan yang kuat, dan menggabungkan keutamaan ibadah dan nikah.

وَلَقَدْ كَانَ مَعَ تِسْعٍ مِنَ النِّسْوَةِ.

Beliau bahkan hidup bersama sembilan istri.

مُتَخَلِّيًا لِعِبَادَةِ اللَّهِ.

Tetap menyendiri untuk beribadah kepada Allah.

وَكَانَ قَضَاءُ الْوَطَرِ بِالنِّكَاحِ فِي حَقِّهِ غَيْرَ مَانِعٍ.

Pemenuhan kebutuhan dengan nikah baginya bukanlah penghalang.

كَمَا لَا يَكُونُ قَضَاءُ الْحَاجَةِ فِي حَقِّ الْمَشْغُولِينَ بِتَدْبِيرَاتِ الدُّنْيَا مَانِعًا لَهُمْ عَنِ التَّدْبِيرِ.

Sebagaimana buang hajat bagi orang-orang yang sibuk mengatur urusan dunia tidak menghalangi mereka dari mengatur dunia.

حَتَّىٰ يَشْتَغِلُونَ فِي الظَّاهِرِ بِقَضَاءِ الْحَاجَةِ، وَقُلُوبُهُمْ مَشْغُوفَةٌ بِهِمَمِهِمْ، غَيْرُ غَافِلَةٍ عَنْ مُهِمَّاتِهِمْ.

Mereka tampak sibuk dengan buang hajat, tetapi hati mereka tetap terpaut pada urusan-urusan besar mereka.

وَكَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِعُلُوِّ دَرَجَتِهِ لَا يَمْنَعُهُ أَمْرُ هٰذَا الْعَالَمِ عَنْ حُضُورِ الْقَلْبِ مَعَ اللَّهِ تَعَالَىٰ.

Dan karena tingginya derajat beliau, urusan dunia tidak menghalangi hadirnya hati beliau bersama Allah Ta’ala.

فَكَانَ يَنْزِلُ عَلَيْهِ الْوَحْيُ وَهُوَ فِي فِرَاشِ امْرَأَتِهِ.

Wahyu turun kepadanya ketika beliau berada di ranjang istrinya.

وَمَتَىٰ سَلِمَ مِثْلُ هٰذَا الْمَنْصِبِ لِغَيْرِهِ، فَلَا يَبْعُدُ أَنْ يُغَيِّرَ السَّوَاقِي مَا لَا يُغَيِّرُ الْبَحْرُ الْخِضَمُّ.

Jika kedudukan seperti ini diberikan kepada selain beliau, tidak mustahil aliran kecil mengubah sesuatu yang tidak diubah oleh laut yang luas.

فَلَا يَنْبَغِي أَنْ يُقَاسَ عَلَيْهِ غَيْرُهُ.

Maka janganlah selain beliau diqiyaskan kepadanya.

وَأَمَّا عِيسَىٰ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَإِنَّهُ أَخَذَ بِالْحَزْمِ لَا بِالْقُوَّةِ.

Adapun Isa صلى الله عليه وسلم, beliau mengambil jalan hati-hati, bukan jalan kekuatan.

وَاحْتَاطَ لِنَفْسِهِ.

Beliau berhati-hati untuk dirinya.

وَلَعَلَّ حَالَتَهُ كَانَتْ حَالَةً يُؤْثَرُ فِيهَا الِاشْتِغَالُ بِالْأَهْلِ، أَوْ يَتَعَذَّرُ مَعَهَا طَلَبُ الْحَلَالِ، أَوْ لَا يَتَيَسَّرُ فِيهَا الْجَمْعُ بَيْنَ النِّكَاحِ وَالتَّخَلِّي لِلْعِبَادَةِ.

Barangkali keadaan beliau adalah keadaan yang pada saat itu lebih diutamakan kesibukan dengan keluarga, atau sukar mencari yang halal, atau tidak mudah menggabungkan nikah dengan menyendiri untuk ibadah.

فَآثَرَ التَّخَلِّي لِلْعِبَادَةِ.

Maka beliau memilih menyendiri untuk ibadah.

وَهُمْ أَعْلَمُ بِأَسْرَارِ أَحْوَالِهِمْ وَأَحْكَامِ أَعْصَارِهِمْ.

Dan para nabi itu lebih mengetahui rahasia keadaan mereka sendiri dan hukum-hukum zamannya.

فِي طِيبِ الْمَكَاسِبِ وَأَخْلَاقِ النِّسَاءِ، وَمَا عَلَى النَّاكِحِ مِنْ غَوَائِلِ النِّكَاحِ وَمَا لَهُ فِيهِ.

Tentang baiknya penghasilan, akhlak wanita, apa yang harus dihadapi oleh orang yang menikah, dan apa yang ada baginya dalam nikah.

وَمَهْمَا كَانَتِ الْأَحْوَالُ مُنْقَسِمَةً حَتَّىٰ يَكُونَ النِّكَاحُ فِي بَعْضِهَا أَفْضَلَ، وَتَرْكُهُ فِي بَعْضِهَا أَفْضَلَ.

Selama keadaan manusia terbagi-bagi, sehingga nikah pada sebagian keadaan lebih utama dan meninggalkannya pada keadaan lain lebih utama,

فَحَقُّنَا أَنْ نُنَزِّلَ أَفْعَالَ الْأَنْبِيَاءِ عَلَى الْأَفْضَلِ فِي كُلِّ حَالٍ.

maka kewajiban kita ialah menafsirkan perbuatan para nabi sebagai yang terbaik dalam setiap keadaan.

وَاللَّهُ أَعْلَمُ.

Dan Allah lebih mengetahui.