Faidah Kelima
الْفَائِدَةُ الْخَامِسَةُ: مُجَاهَدَةُ النَّفْسِ وَرِيَاضَتُهَا بِالرِّعَايَةِ وَالْوِلَايَةِ، وَالْقِيَامِ بِحُقُوقِ الْأَهْلِ، وَالصَّبْرِ عَلَىٰ أَخْلَاقِهِنَّ، وَاحْتِمَالِ الْأَذَىٰ مِنْهُنَّ، وَالسَّعْيِ فِي إِصْلَاحِهِنَّ وَإِرْشَادِهِنَّ إِلَىٰ طَرِيقِ الدِّينِ، وَالِاجْتِهَادِ فِي كَسْبِ الْحَلَالِ لِأَجْلِهِنَّ، وَالْقِيَامِ بِتَرْبِيَتِهِ لِأَوْلَادِهِ.
Manfaat kelima adalah melatih dan mendidik jiwa dengan
pemeliharaan dan tanggung jawab, menunaikan hak keluarga, bersabar atas akhlak
mereka, menanggung gangguan dari mereka, berusaha memperbaiki dan membimbing
mereka ke jalan agama, bersungguh-sungguh mencari rezeki halal demi mereka,
serta mengurus pendidikan anak-anaknya.
فَكُلُّ
هٰذِهِ أَعْمَالٌ عَظِيمَةُ الْفَضْلِ.
Semua itu adalah amal-amal yang sangat besar keutamaannya.
فَإِنَّهَا
رِعَايَةٌ وَوِلَايَةٌ، وَالْأَهْلُ وَالْوَلَدُ رَعِيَّةٌ.
Sebab semuanya merupakan pemeliharaan dan tanggung jawab,
sedangkan istri dan anak adalah amanah yang dipelihara.
وَفَضْلُ
الرِّعَايَةِ عَظِيمٌ.
Keutamaan pemeliharaan itu sangat besar.
إِنَّمَا
يَحْتَرِزُ مِنْهَا مَنْ يَحْتَرِزُ خِيفَةً مِنَ الْقُصُورِ عَنْ الْقِيَامِ
بِحَقِّهَا.
Yang menghindar darinya hanyalah orang yang takut tidak
mampu menunaikan hak-haknya.
وَإِلَّا
فَقَدْ قَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: يَوْمُ وَالٍ عَادِلٍ أَفْضَلُ
مِنْ عِبَادَةِ سَبْعِينَ سَنَةً.
Kalau bukan karena itu, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi
wa sallam telah bersabda: satu hari bagi pemimpin yang adil lebih utama
daripada ibadah tujuh puluh tahun.
ثُمَّ
قَالَ: أَلَا كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ.
Kemudian beliau bersabda: ingatlah, setiap kalian adalah
pemelihara, dan setiap kalian akan ditanya tentang yang dipeliharanya.
وَلَيْسَ
مَنْ اشْتَغَلَ بِإِصْلَاحِ نَفْسِهِ وَغَيْرِهِ كَمَنْ اشْتَغَلَ بِإِصْلَاحِ
نَفْسِهِ فَقَطْ.
Orang yang sibuk memperbaiki dirinya dan juga orang lain
tidak sama dengan orang yang hanya sibuk memperbaiki dirinya sendiri.
وَلَا
مَنْ صَبَرَ عَلَى الْأَذَىٰ كَمَنْ رَفَّهَ نَفْسَهُ وَأَرَاحَهَا.
Dan orang yang bersabar atas gangguan tidak sama dengan
orang yang memanjakan dirinya dan memberinya kenyamanan.
فَمُقَاسَاةُ
الْأَهْلِ وَالْوَلَدِ بِمَنْزِلَةِ الْجِهَادِ فِي سَبِيلِ اللَّهِ.
Menderita bersama keluarga dan anak adalah seperti jihad di
jalan Allah.
وَلِذٰلِكَ
قَالَ بِشْرٌ: فَضَلَ عَلَيَّ أَحْمَدُ بْنُ حَنْبَلٍ بِثَلَاثٍ.
Karena itu Bishr berkata: Ahmad bin Hanbal lebih utama
dariku dalam tiga hal.
إِحْدَاهَا
أَنَّهُ يَطْلُبُ الْحَلَالَ لِنَفْسِهِ وَلِغَيْرِهِ.
Salah satunya adalah ia mencari yang halal untuk dirinya dan
untuk orang lain.
وَقَدْ
قَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَا أَنْفَقَهُ الرَّجُلُ عَلَىٰ
أَهْلِهِ فَهُوَ صَدَقَةٌ.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: apa yang
diinfakkan seseorang kepada keluarganya adalah sedekah.
وَإِنَّ
الرَّجُلَ لَيُؤْجَرُ فِي اللُّقْمَةِ يَرْفَعُهَا إِلَىٰ فِي امْرَأَتِهِ.
Sesungguhnya seseorang diberi pahala pada suapan yang ia
angkat ke mulut istrinya.
وَقَالَ
بَعْضُهُمْ لِبَعْضِ الْعُلَمَاءِ: مِنْ كُلِّ عَمَلٍ أَعْطَانِيَ اللَّهُ
نَصِيبًا، حَتَّىٰ ذَكَرَ الْحَجَّ وَالْجِهَادَ وَغَيْرَهُمَا.
Sebagian orang berkata kepada seorang ulama: dari setiap
amal, Allah telah memberiku bagian, hingga ia menyebut haji, jihad, dan selain
keduanya.
فَقَالَ
لَهُ: أَيْنَ أَنْتَ مِنْ عَمَلِ الْأَبْدَانِ؟
Maka ulama itu bertanya kepadanya: di mana kedudukanmu dari
amal badan?
قَالَ:
وَمَا هُوَ؟
Orang itu bertanya: apa itu?
قَالَ:
كَسْبُ الْحَلَالِ وَالنَّفَقَةُ عَلَى الْعِيَالِ.
Ia menjawab: mencari rezeki halal dan menafkahi keluarga.
وَقَالَ
ابْنُ الْمُبَارَكِ وَهُوَ مَعَ إِخْوَانِهِ فِي الْغَزْوِ: تَعَلَّمُونَ عَمَلًا
أَفْضَلَ مِمَّا نَحْنُ فِيهِ؟
Ibnu al-Mubarak berkata ketika bersama saudara-saudaranya
dalam peperangan: tahukah kalian suatu amal yang lebih utama daripada yang
sedang kita lakukan?
قَالُوا:
مَا نَعْلَمُ ذٰلِكَ.
Mereka menjawab: kami tidak mengetahuinya.
قَالَ:
أَنَا أَعْلَمُ.
Ia berkata: aku mengetahuinya.
قَالُوا:
فَمَا هُوَ؟
Mereka bertanya: apakah itu?
قَالَ:
رَجُلٌ مُتَعَفِّفٌ ذُو عِيَالٍ قَامَ مِنَ اللَّيْلِ فَنَظَرَ إِلَىٰ صِبْيَانِهِ
نِيَامًا مُتَكَشِّفِينَ فَسَتَرَهُمْ وَغَطَّاهُمْ بِثَوْبِهِ، فَعَمَلُهُ
أَفْضَلُ مِمَّا نَحْنُ فِيهِ.
Ia menjawab: seorang yang menjaga kehormatan, memiliki
tanggungan keluarga, bangun malam lalu melihat anak-anaknya tidur dalam keadaan
tersingkap, lalu ia menutupi mereka dengan pakaiannya. Amal orang itu lebih
utama daripada yang sedang kita lakukan.
وَقَالَ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَنْ حَسُنَتْ صَلَاتُهُ، وَكَثُرَ عِيَالُهُ،
وَقَلَّ مَالُهُ، وَلَمْ يَغْتَبِ الْمُسْلِمِينَ، كَانَ مَعِي فِي الْجَنَّةِ
كَهَاتَيْنِ.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: siapa
yang salatnya baik, keluarganya banyak, hartanya sedikit, dan tidak menggunjing
kaum Muslimin, ia akan bersamaku di surga seperti dua jari ini.
وَفِي
حَدِيثٍ آخَرَ: إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْفَقِيرَ الْمُتَعَفِّفَ أَبَا الْعِيَالِ.
Dalam hadis lain disebutkan: sesungguhnya Allah mencintai
orang miskin yang menjaga kehormatan, yang menjadi ayah bagi keluarganya.
وَفِي
الْحَدِيثِ: إِذَا كَثُرَتْ ذُنُوبُ الْعَبْدِ ابْتَلَاهُ اللَّهُ بِهِمِّ
الْعِيَالِ لِيُكَفِّرَهَا عَنْهُ.
Dalam hadis disebutkan: jika dosa seorang hamba banyak,
Allah mengujinya dengan beban keluarga agar dosa-dosanya terhapus.
وَقَالَ
بَعْضُ السَّلَفِ: مِنَ الذُّنُوبِ ذُنُوبٌ لَا يُكَفِّرُهَا إِلَّا الْغَمُّ
بِالْعِيَالِ.
Sebagian salaf berkata: di antara dosa-dosa itu ada dosa
yang tidak terhapus kecuali oleh kesedihan karena keluarga.
وَفِيهِ
أَثَرٌ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مِنَ الذُّنُوبِ
ذُنُوبٌ لَا يُكَفِّرُهَا إِلَّا الْهَمُّ بِطَلَبِ الْمَعِيشَةِ.
Dan ada atsar dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:
dari dosa-dosa itu ada dosa yang tidak terhapus kecuali oleh kesedihan dalam
mencari nafkah.
وَقَالَ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَنْ كَانَ لَهُ ثَلَاثُ بَنَاتٍ فَأَنْفَقَ
عَلَيْهِنَّ وَأَحْسَنَ إِلَيْهِنَّ حَتَّىٰ يُغْنِيَهُنَّ اللَّهُ عَنْهُ
أَوْجَبَ اللَّهُ لَهُ الْجَنَّةَ أَلْبَتَّةَ.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: siapa
yang memiliki tiga anak perempuan, lalu ia menafkahi mereka dan berbuat baik
kepada mereka hingga Allah mencukupkan mereka darinya, maka Allah mewajibkan
surga baginya.
إِلَّا
أَنْ يَعْمَلَ عَمَلًا لَا يُغْفَرُ لَهُ.
Kecuali jika ia melakukan amal yang tidak diampuni baginya.
وَكَانَ
ابْنُ عَبَّاسٍ إِذَا حَدَّثَ بِهٰذَا قَالَ: وَاللَّهِ هُوَ مِنْ غَرَائِبِ
الْحَدِيثِ وَغَرَرِهِ.
Ibnu عباس
ketika menceritakan hadis ini berkata: demi Allah, itu termasuk hadis yang
sangat langka dan menakjubkan.
وَرُوِيَ
أَنَّ بَعْضَ الْمُتَعَبِّدِينَ كَانَ يُحْسِنُ الْقِيَامَ عَلَىٰ زَوْجَتِهِ
حَتَّىٰ مَاتَتْ.
Diriwayatkan bahwa seorang ahli ibadah dahulu sangat baik
memperhatikan istrinya hingga istrinya wafat.
فَعُرِضَ
عَلَيْهِ التَّزْوِيجُ فَامْتَنَعَ.
Lalu ditawarkan kepadanya untuk menikah lagi, tetapi ia
menolak.
وَقَالَ:
الْوَحْدَةُ أَرْوَحُ لِقَلْبِي وَأَجْمَعُ لِهَمِّي.
Ia berkata: kesendirian lebih melegakan hatiku dan lebih
menghimpun perhatianku.
ثُمَّ
قَالَ: رَأَيْتُ فِي الْمَنَامِ بَعْدَ جُمْعَةٍ مِنْ وَفَاتِهَا كَأَنَّ
أَبْوَابَ السَّمَاءِ فُتِحَتْ.
Kemudian ia berkata: aku bermimpi, seminggu setelah
wafatnya, seakan-akan pintu-pintu langit dibuka.
وَكَأَنَّ
رِجَالًا يَنْزِلُونَ وَيَمْشُونَ فِي الْهَوَاءِ يَتْبَعُ بَعْضُهُمْ بَعْضًا.
Dan seakan-akan ada orang-orang turun dan berjalan di udara,
saling mengikuti satu sama lain.
فَكُلَّمَا
نَزَلَ وَاحِدٌ نَظَرَ إِلَيَّ وَقَالَ لِمَنْ وَرَاءَهُ: هٰذَا هُوَ الْمَشْئُومُ.
Setiap kali satu orang turun, ia menatapku dan berkata
kepada yang di belakangnya: inilah orang yang celaka.
فَيَقُولُ
الْآخَرُ: نَعَمْ.
Maka yang lain menjawab: ya.
وَيَقُولُ
الثَّالِثُ كَذٰلِكَ.
Dan yang ketiga berkata demikian pula.
وَيَقُولُ
الرَّابِعُ: نَعَمْ.
Dan yang keempat berkata: ya.
فَخِفْتُ
أَنْ أَسْأَلَهُمْ هَيْبَةً مِنْ ذٰلِكَ.
Maka aku takut bertanya kepada mereka karena wibawa yang aku
rasakan.
حَتَّىٰ
مَرَّ بِي آخِرُهُمْ، وَكَانَ غُلَامًا.
Hingga lewat di hadapanku yang terakhir, dan ia seorang
pemuda.
فَقُلْتُ
لَهُ: يَا هٰذَا، مَنْ هٰذَا الْمَشْئُومُ الَّذِي تُؤْمِئُونَ إِلَيْهِ؟
Maka aku bertanya kepadanya: wahai ini, siapakah orang
celaka yang kalian maksud itu?
فَقَالَ:
أَنْتَ.
Ia menjawab: engkau.
فَقُلْتُ:
وَلِمَ ذٰلِكَ؟
Aku bertanya: mengapa begitu?
قَالَ:
كُنَّا نَرْفَعُ عَمَلَكَ فِي أَعْمَالِ الْمُجَاهِدِينَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ.
Ia berkata: kami dahulu mengangkat amalmu ke dalam amal para
mujahid di jalan Allah.
فَمُنْذُ
جُمْعَةٍ أُمِرْنَا أَنْ نَضَعَ عَمَلَكَ مَعَ الْخَالِفِينَ، فَمَا نَدْرِي مَا
أَحْدَثْتَ.
Namun sejak seminggu ini kami diperintahkan meletakkan
amalmu bersama orang-orang yang tertinggal. Maka kami tidak tahu apa yang telah
engkau lakukan.
فَقَالَ
لِإِخْوَانِهِ: زَوِّجُونِي، زَوِّجُونِي.
Maka ia berkata kepada saudara-saudaranya: nikahkanlah aku,
nikahkanlah aku.
فَلَمْ
يَكُنْ تُفَارِقُهُ زَوْجَتَانِ أَوْ ثَلَاثٌ.
Maka ia pun tidak pernah lepas dari dua atau tiga istri.
وَفِي
أَخْبَارِ الْأَنْبِيَاءِ عَلَيْهِمُ السَّلَامُ أَنَّ قَوْمًا دَخَلُوا عَلَىٰ
يُونُسَ النَّبِيِّ عَلَيْهِ السَّلَامُ فَأَضَافَهُمْ.
Dalam kisah para nabi عليهم السلام disebutkan bahwa
suatu kaum pernah masuk menemui Nabi Yunus عليه السلام, lalu beliau menjamu
mereka.
فَكَانَ
يَدْخُلُ وَيَخْرُجُ إِلَىٰ مَنْزِلِهِ، فَتُؤْذِيهِ امْرَأَتُهُ وَتَسْتَطِيلُ
عَلَيْهِ وَهُوَ سَاكِتٌ.
Beliau masuk dan keluar menuju rumahnya, lalu istrinya
menyakiti beliau dan bersikap kasar kepada beliau, sedangkan beliau diam.
فَتَعَجَّبُوا
مِنْ ذٰلِكَ.
Maka mereka heran melihat itu.
فَقَالَ:
لَا تَعْجَبُوا، فَإِنِّي سَأَلْتُ اللَّهَ تَعَالَىٰ وَقُلْتُ: مَا أَنْتَ
مُعَاقِبِي بِهِ فِي الْآخِرَةِ فَعَجِّلْهُ لِي فِي الدُّنْيَا.
Beliau berkata: jangan heran. Sesungguhnya aku telah memohon
kepada Allah Ta’ala dan berkata: apa yang Engkau hendak siksa aku dengannya di
akhirat, maka segerakanlah untukku di dunia.
فَقَالَ:
إِنَّ عُقُوبَتَكَ بِنْتُ فُلَانٍ تَتَزَوَّجُ بِهَا.
Maka dikatakan: siksa buatmu adalah menikah dengan putri si
fulan.
فَتَزَوَّجْتُ
بِهَا، وَأَنَا صَابِرٌ عَلَىٰ مَا تَرَوْنَ مِنْهَا.
Maka aku pun menikah dengannya, dan aku bersabar atas apa
yang kalian lihat darinya.
وَفِي
الصَّبْرِ عَلَىٰ ذٰلِكَ رِيَاضَةُ النَّفْسِ وَكَسْرُ الْغَضَبِ.
Dalam bersabar atas itu terdapat latihan jiwa dan pemecahan
amarah.
وَتَحْسِينُ
الْخُلُقِ.
Serta memperindah akhlak.
فَإِنَّ
الْمُنْفَرِدَ بِنَفْسِهِ أَوِ الْمُشَارِكَ لِمَنْ حَسُنَ خُلُقُهُ لَا
تَتَرَشَّحُ مِنْهُ خَبَائِثُ النَّفْسِ الْبَاطِنَةُ، وَلَا تَنْكَشِفُ بَوَاطِنُ
عُيُوبِهِ.
Sebab orang yang sendirian atau yang bersama orang yang baik
akhlaknya tidak akan menampakkan keburukan-keburukan batinnya, dan tidak
terbuka aib-aib tersembunyinya.
فَحَقٌّ
عَلَىٰ سَالِكِ الطَّرِيقِ إِلَى الْآخِرَةِ أَنْ يُجَرِّبَ نَفْسَهُ
بِالتَّعَرُّضِ لِأَمْثَالِ هٰذِهِ الْمُحَرِّكَاتِ، وَاعْتِيَادِ الصَّبْرِ
عَلَيْهَا.
Maka pantas bagi penempuh jalan akhirat untuk menguji
dirinya dengan menghadapi hal-hal yang menggerakkan seperti ini, dan
membiasakan diri bersabar atasnya.
لِتَعْتَدِلَ
أَخْلَاقُهُ وَتَرْتَاضَ نَفْسُهُ، وَيَصْفُوَ عَنِ الصِّفَاتِ الذَّمِيمَةِ
بَاطِنُهُ.
Agar akhlaknya menjadi seimbang, jiwanya terlatih, dan
batinnya bersih dari sifat-sifat tercela.
وَالصَّبْرُ
عَلَى الْعِيَالِ مَعَ أَنَّهُ رِيَاضَةٌ وَمُجَاهَدَةٌ، تَكَلُّلٌ لَهُمْ
وَقِيَامٌ بِهِمْ، وَعِبَادَةٌ فِي نَفْسِهَا.
Sabar terhadap keluarga, meskipun itu latihan jiwa dan
perjuangan, adalah bentuk menanggung mereka, memelihara mereka, dan ibadah pada
dirinya sendiri.
فَهٰذِهِ
أَيْضًا مِنَ الْفَوَائِدِ.
Maka ini juga termasuk manfaat nikah.
وَلَكِنَّهُ
لَا يَنْتَفِعُ بِهَا إِلَّا أَحَدُ رَجُلَيْنِ.
Namun yang mengambil manfaat darinya hanya salah satu dari
dua orang.
إِمَّا
رَجُلٌ قَصَدَ الْمُجَاهَدَةَ وَالرِّيَاضَةَ وَتَهْذِيبَ الْأَخْلَاقِ لِكَوْنِهِ
فِي بَدَايَةِ الطَّرِيقِ.
Yaitu orang yang berniat berjihad melawan hawa nafsu,
melatih jiwa, dan memperbaiki akhlak, karena ia masih berada di awal
perjalanan.
فَلَا
بَعِيدَ أَنْ يَرَىٰ هٰذَا طَرِيقًا فِي الْمُجَاهَدَةِ وَتَرْتَاضَ بِهِ نَفْسُهُ.
Tidak mustahil ia memandang hal ini sebagai salah satu jalan
latihan, dan jiwanya menjadi terdidik karenanya.
وَإِمَّا
رَجُلٌ مِنَ الْعَابِدِينَ لَيْسَ لَهُ سَيْرٌ بِالْبَاطِنِ وَلَا حَرَكَةٌ
بِالْفِكْرِ وَالْقَلْبِ.
Atau orang dari kalangan ahli ibadah yang tidak memiliki
perjalanan batin dan tidak pula gerak pemikiran serta hati.
وَإِنَّمَا
عَمَلُهُ عَمَلُ الْجَوَارِحِ بِالصَّلَاةِ أَوْ حَجٍّ أَوْ غَيْرِهِ.
Amalnya hanyalah amal anggota badan seperti salat, haji,
atau yang lainnya.
فَعَمَلُهُ
لِأَهْلِهِ وَأَوْلَادِهِ بِكَسْبِ الْحَلَالِ لَهُمْ، وَالْقِيَامِ
بِتَرْبِيَتِهِمْ، أَفْضَلُ لَهُ مِنَ الْعِبَادَاتِ اللَّازِمَةِ لِبَدَنِهِ
الَّتِي لَا يَتَعَدَّىٰ خَيْرُهَا إِلَىٰ غَيْرِهَا.
Maka usahanya untuk keluarga dan anak-anaknya dengan mencari
rezeki halal bagi mereka serta mendidik mereka, lebih utama baginya daripada
ibadah-ibadah yang hanya untuk badannya dan manfaatnya tidak melampaui dirinya
sendiri.
فَأَمَّا
الرَّجُلُ الْمُهَذَّبُ الْأَخْلَاقِ، إِمَّا بِكَفَايَةٍ فِي أَصْلِ الْخِلْقَةِ،
أَوْ بِمُجَاهَدَةٍ سَابِقَةٍ، إِذَا كَانَ لَهُ سَيْرٌ فِي الْبَاطِنِ وَحَرَكَةٌ
بِفِكْرِ الْقَلْبِ فِي الْعُلُومِ وَالْمُكَاشَفَاتِ، فَلَا يَنْبَغِي أَنْ
يَتَزَوَّجَ لِهٰذَا الْغَرَضِ.
Adapun orang yang akhlaknya telah terdidik, baik karena
kecukupan yang sudah menjadi tabiat asal, atau karena latihan sebelumnya, jika
ia memiliki perjalanan batin dan gerak pemikiran hati dalam ilmu-ilmu dan
kasyf, maka janganlah ia menikah demi tujuan ini.
فَإِنَّ
الرِّيَاضَةَ هُوَ مَكْفِيٌّ فِيهَا.
Karena dalam hal latihan jiwa, ia sudah tercukupi.
وَأَمَّا
الْعِبَادَةُ فِي الْعَمَلِ بِالْكَسْبِ لَهُمْ فَالْعِلْمُ أَفْضَلُ مِنْ ذٰلِكَ.
Adapun ibadah dalam usaha mencari nafkah untuk mereka, maka
ilmu lebih utama daripada itu.
لِأَنَّهُ
أَيْضًا عَمَلٌ، وَفَائِدَتُهُ أَكْثَرُ مِنْ ذٰلِكَ وَأَعَمُّ وَأَشْمَلُ
لِسَائِرِ الْخَلْقِ مِنْ فَائِدَةِ الْكَسْبِ عَلَى الْعِيَالِ.
Karena ilmu juga merupakan amal, dan manfaatnya lebih
banyak, lebih umum, dan lebih menyeluruh bagi seluruh manusia daripada manfaat
mencari nafkah untuk keluarga.
فَهٰذِهِ
فَوَائِدُ النِّكَاحِ فِي الدِّينِ الَّتِي بِهَا يُحْكَمُ لَهُ بِالْفَضِيلَةِ.
Inilah manfaat-manfaat nikah dalam agama yang karenanya ia dihukumi memiliki keutamaan.