Faidah Keempat

الْفَائِدَةُ الرَّابِعَةُ: تَفْرِيغُ الْقَلْبِ عَنْ تَدْبِيرِ الْمَنْزِلِ، وَالتَّكَلُّفِ بِشُغْلِ الطَّبْخِ وَالْكَنْسِ وَالْفَرْشِ وَتَنْظِيفِ الْأَوَانِي، وَتَهْيِئَةِ أَسْبَابِ الْمَعِيشَةِ.

Manfaat keempat adalah melapangkan hati dari urusan mengatur rumah, dan dari beban memasak, menyapu, menata perlengkapan, membersihkan peralatan, serta menyiapkan sarana kehidupan.

فَإِنَّ الْإِنْسَانَ لَوْ لَمْ يَكُنْ لَهُ شَهْوَةُ الْوِقَاعِ لَتَعَذَّرَ عَلَيْهِ الْعَيْشُ فِي مَنْزِلِهِ وَحْدَهُ.

Sebab, seandainya manusia tidak memiliki syahwat terhadap hubungan suami istri, niscaya akan sulit baginya hidup di rumah sendirian.

إِذْ لَوِ اكْتَفَلَ بِجَمِيعِ أَشْغَالِ الْمَنْزِلِ لَضَاعَ أَكْثَرُ أَوْقَاتِهِ، وَلَمْ يَتَفَرَّغْ لِلْعِلْمِ وَالْعَمَلِ.

Karena jika ia harus menanggung semua pekerjaan rumah, maka sebagian besar waktunya akan habis, dan ia tidak akan sempat untuk ilmu dan amal.

فَالْمَرْأَةُ الصَّالِحَةُ لِلْمَنْزِلِ عَوْنٌ عَلَى الدِّينِ بِهٰذِهِ الطَّرِيقِ.

Maka wanita salehah untuk rumah tangga adalah penolong agama melalui jalan ini.

وَاخْتِلَالُ هٰذِهِ الْأَسْبَابِ شَوَاغِلُ وَمُشَوِّشَاتٌ لِلْقَلْبِ وَمُنَغِّصَاتٌ لِلْعَيْشِ.

Rusaknya urusan-urusan ini menjadi pengganggu, pengacau hati, dan penyempit kehidupan.

وَلِذٰلِكَ قَالَ أَبُو سُلَيْمَانَ الدَّارَانِيُّ رَحِمَهُ اللَّهُ: الزَّوْجَةُ الصَّالِحَةُ لَيْسَتْ مِنَ الدُّنْيَا.

Karena itu Abu Sulaiman ad-Darani rahimahullah berkata: istri yang salehah bukanlah termasuk urusan dunia.

فَإِنَّهَا تُفَرِّغُكَ لِلْآخِرَةِ.

Sebab ia membebaskanmu untuk urusan akhirat.

وَإِنَّمَا تَفْرِيغُهَا بِتَدْبِيرِ الْمَنْزِلِ وَبِقَضَاءِ الشَّهْوَةِ جَمِيعًا.

Dan pembebasan itu terjadi dengan mengatur rumah tangga dan memenuhi syahwat sekaligus.

وَقَالَ مُحَمَّدُ بْنُ كَعْبٍ الْقُرَظِيُّ فِي مَعْنَىٰ قَوْلِهِ تَعَالَىٰ: رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً: الْمَرْأَةُ الصَّالِحَةُ.

Muhammad bin Ka‘b al-Qurazhi berkata tentang makna firman Allah Ta’ala: “Wahai Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia,” yaitu istri yang salehah.

وَقَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لِيَتَّخِذْ أَحَدُكُمْ قَلْبًا شَاكِرًا، وَلِسَانًا ذَاكِرًا، وَزَوْجَةً مُؤْمِنَةً صَالِحَةً تُعِينُهُ عَلَىٰ آخِرَتِهِ.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: hendaklah salah seorang dari kalian memiliki hati yang bersyukur, lisan yang selalu berzikir, dan istri mukminah yang salehah yang membantunya dalam urusan akhiratnya.

فَانْظُرْ كَيْفَ جَمَعَ بَيْنَهَا وَبَيْنَ الذِّكْرِ وَالشُّكْرِ.

Perhatikanlah bagaimana beliau menggabungkannya dengan zikir dan syukur.

وَفِي بَعْضِ التَّفَاسِيرِ فِي قَوْلِهِ تَعَالَىٰ: فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً، قَالَ: الزَّوْجَةُ الصَّالِحَةُ.

Dalam sebagian tafsir tentang firman-Nya Ta’ala: “Maka sungguh Kami akan memberinya kehidupan yang baik,” dikatakan bahwa yang dimaksud adalah istri yang salehah.

وَكَانَ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ يَقُولُ: مَا أُعْطِيَ الْعَبْدُ بَعْدَ الْإِيمَانِ بِاللَّهِ خَيْرًا مِنْ امْرَأَةٍ صَالِحَةٍ.

Umar bin al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu berkata: tidak ada yang diberikan kepada seorang hamba sesudah iman kepada Allah yang lebih baik daripada istri yang salehah.

وَإِنَّ مِنْهُنَّ غَنَمًا لَا يُحْذَىٰ مِنْهُ، وَمِنْهُنَّ غِلَالًا يُفْدَىٰ مِنْهُ.

Di antara mereka ada yang seperti kambing ternak yang darinya tidak diperoleh manfaat, dan ada pula yang seperti belenggu yang harus ditebus darinya.

وَقَوْلُهُ: لَا يُحْذَىٰ، أَنْ يُعْتَاضَ عَنْهُ بِعَطَاءٍ.

Maksud ucapan “lā yuḥdā” ialah tidak dapat diganti dengan pemberian.

وَقَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: فُضِّلْتُ عَلَىٰ آدَمَ بِخَصْلَتَيْنِ.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: aku diutamakan atas Adam dengan dua sifat.

كَانَتْ زَوْجَتُهُ عَوْنًا لَهُ عَلَى الْمَعْصِيَةِ، وَأَزْوَاجِي أَعْوَانٌ لِي عَلَى الطَّاعَةِ.

Istri Adam menjadi penolong baginya dalam maksiat, sedangkan istri-istriku menjadi penolong bagiku dalam ketaatan.

وَكَانَ شَيْطَانُهُ كَافِرًا، وَشَيْطَانِي مُسْلِمٌ لَا يَأْمُرُ إِلَّا بِخَيْرٍ.

Setannya kafir, sedangkan setanku telah tunduk, dan ia tidak memerintah kecuali kepada kebaikan.

فَعَدَّ مُعَاوَنَتَهَا عَلَى الطَّاعَةِ فَضِيلَةً.

Maka beliau menghitung bantuannya kepada ketaatan sebagai suatu keutamaan.

فَهٰذِهِ أَيْضًا مِنَ الْفَوَائِدِ الَّتِي يُقْصَدُهَا الصَّالِحُونَ.

Ini juga termasuk manfaat yang dicari oleh orang-orang saleh.

إِلَّا أَنَّهَا تَخُصُّ بَعْضَ الْأَشْخَاصِ الَّذِينَ لَا كَافِلَ لَهُمْ وَلَا مُدَبِّرَ.

Namun hal ini khusus bagi sebagian orang yang tidak punya penanggung jawab dan pengatur urusan mereka.

وَلَا تَدْعُو إِلَى امْرَأَتَيْنِ.

Dan hal ini tidak berarti harus menuju kepada dua istri.

بَلِ الْجَمْعُ رُبَّمَا يُنَغِّصُ الْمَعِيشَةَ وَيَضْطَرِبُ بِهِ أَمْرُ الْمَنْزِلِ.

Bahkan banyaknya istri justru kadang menyempitkan kehidupan dan mengacaukan urusan rumah tangga.

وَيَدْخُلُ فِي هٰذِهِ الْفَائِدَةِ قَصْدُ الِاسْتِكْثَارِ بِعَشِيرَتِهَا.

Dan dalam manfaat ini juga termasuk maksud memperbanyak hubungan dengan kerabat istri.

وَمَا يَحْصُلُ مِنَ الْقُوَّةِ بِسَبَبِ تَدَاخُلِ الْعَشَائِرِ.

Serta kekuatan yang muncul karena terjalinnya berbagai kekerabatan.

فَإِنَّ ذٰلِكَ مِمَّا يُحْتَاجُ إِلَيْهِ فِي دَفْعِ الشُّرُورِ وَطَلَبِ السَّلَامَةِ.

Sebab hal itu dibutuhkan untuk menolak keburukan dan mencari keselamatan.

وَلِذٰلِكَ قِيلَ: ذَلَّ مَنْ لَا نَاصِرَ لَهُ.

Karena itu dikatakan: hina orang yang tidak punya penolong.

وَمَنْ وَجَدَ مَنْ يَدْفَعُ عَنْهُ الشُّرُورَ سَلِمَ حَالُهُ، وَتَفَرَّغَ قَلْبُهُ لِلْعِبَادَةِ.

Siapa yang menemukan orang yang menolak keburukan darinya, maka keadaannya selamat dan hatinya lapang untuk beribadah.

فَإِنَّ الذُّلَّ مُشَوِّشٌ لِلْقَلْبِ، وَالْعِزَّ بِالْكَثْرَةِ دَافِعٌ بِالذُّلِّ.

Sebab kehinaan mengacaukan hati, sedangkan kekuatan karena banyaknya penolong dapat mencegah kehinaan.