Faidah Ketiga

الْفَائِدَةُ الثَّالِثَةُ: تَرْوِيحُ النَّفْسِ وَإِينَاسُهَا بِالْمُجَالَسَةِ وَالنَّظَرِ وَالْمُلَاعَبَةِ.

Manfaat ketiga adalah menghibur jiwa dan mengakrabkannya melalui duduk bersama, memandang, dan bercanda.

إِرَاحَةً لِلْقَلْبِ، وَتَقْوِيَةً لَهُ عَلَى الْعِبَادَةِ.

Itu menjadi istirahat bagi hati, dan menguatkannya untuk beribadah.

فَإِنَّ النَّفْسَ مَلُولٌ، وَهِيَ عَنِ الْحَقِّ نَفُورٌ.

Sebab jiwa itu mudah bosan, dan cenderung menjauh dari kebenaran.

لِأَنَّهُ عَلَىٰ خِلَافِ طَبْعِهَا.

Karena kebenaran itu bertentangan dengan tabiatnya.

فَلَوْ كُلِّفَتِ الْمُدَاوَمَةَ بِالْإِكْرَاهِ عَلَىٰ مَا يُخَالِفُهَا جَمَحَتْ وَثَابَتْ.

Seandainya jiwa dipaksa terus-menerus melakukan apa yang bertentangan dengannya, niscaya ia akan memberontak dan melawan.

وَإِذَا رُوِّحَتْ بِاللَّذَّاتِ فِي بَعْضِ الْأَوْقَاتِ قَوِيَتْ وَنَشِطَتْ.

Tetapi bila ia diberi sedikit kenikmatan pada waktu-waktu tertentu, ia menjadi kuat dan bersemangat.

وَفِي الِاسْتِينَاسِ بِالنِّسَاءِ مِنَ الِاسْتِرَاحَةِ مَا يُزِيلُ الْكَرْبَ وَيُرَوِّحُ الْقَلْبَ.

Dalam keakraban dengan para wanita terdapat istirahat yang menghilangkan kesusahan dan melegakan hati.

وَيَنْبَغِي أَنْ يَكُونَ لِنُفُوسِ الْمُتَّقِينَ اسْتِرَاحَاتٌ بِالْمُبَاحَاتِ.

Hendaknya jiwa orang-orang bertakwa juga memiliki waktu-waktu istirahat dengan perkara-perkara yang mubah.

وَلِذٰلِكَ قَالَ اللَّهُ تَعَالَىٰ: لِيَسْكُنَ إِلَيْهَا.

Karena itu Allah Ta’ala berfirman: “Agar ia merasa tenteram kepadanya.”

وَقَالَ عَلِيٌّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: رَوِّحُوا الْقُلُوبَ سَاعَةً، فَإِنَّهَا إِذَا أُكْرِهَتْ عَمِيَتْ.

Dan Ali radhiyallahu ‘anhu berkata: berilah hati istirahat sesaat, karena bila dipaksa ia akan menjadi buta.

وَفِي الْخَبَرِ: عَلَى الْعَاقِلِ أَنْ يَكُونَ لَهُ ثَلَاثُ سَاعَاتٍ.

Dalam sebuah riwayat disebutkan: seorang yang berakal hendaknya memiliki tiga waktu.

سَاعَةٌ يُنَاجِي فِيهَا رَبَّهُ.

Satu waktu untuk bermunajat kepada Tuhannya.

وَسَاعَةٌ يُحَاسِبُ فِيهَا نَفْسَهُ.

Satu waktu untuk menghisab dirinya sendiri.

وَسَاعَةٌ يَخْلُو فِيهَا بِمَطْعَمِهِ وَمَشْرَبِهِ.

Dan satu waktu untuk menyendiri dengan makanan dan minumannya.

فَإِنَّ فِي هٰذِهِ السَّاعَةِ عَوْنًا عَلَىٰ تِلْكَ السَّاعَاتِ.

Sebab pada waktu ini ada pertolongan bagi waktu-waktu yang lain.

وَمِثْلُهُ بِلَفْظٍ آخَرَ: لَا يَكُونُ الْعَاقِلُ ظَاعِنًا إِلَّا فِي ثَلَاثٍ.

Dalam lafaz lain disebutkan semakna: seorang berakal tidak bepergian kecuali untuk tiga hal.

تَزَوُّدٍ لِمَعَادٍ، أَوْ مَرْمَةٍ لِمَعَاشٍ، أَوْ لَذَّةٍ فِي غَيْرِ مُحَرَّمٍ.

Bekal untuk akhirat, atau perbaikan penghidupan, atau kenikmatan dalam perkara yang tidak haram.

وَقَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لِكُلِّ عَامِلٍ شِرَّةٌ، وَلِكُلِّ شِرَّةٍ فَتْرَةٌ.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: setiap orang yang beramal memiliki masa semangat yang kuat, dan setiap semangat itu memiliki masa kendur.

فَمَنْ كَانَتْ فَتْرَتُهُ إِلَى سُنَّتِي فَقَدِ اهْتَدَىٰ.

Barang siapa masa kendurnya tetap kembali kepada sunnahku, sungguh ia telah mendapat petunjuk.

وَالشِّرَّةُ: الْجِدُّ وَالْمُكَابَدَةُ بِحِدَّةٍ وَقُوَّةٍ.

Syirah adalah kesungguhan dan perjuangan dengan semangat yang kuat.

وَذٰلِكَ فِي ابْتِدَاءِ الْإِرَادَةِ.

Itu terjadi pada awal mula keinginan.

وَالْفَتْرَةُ: الْوُقُوفُ لِلِاسْتِرَاحَةِ.

Adapun fatrah ialah berhenti untuk beristirahat.

وَكَانَ أَبُو الدَّرْدَاءِ يَقُولُ: إِنِّي لَأَسْتَجِمُّ نَفْسِي بِشَيْءٍ مِنَ اللَّهْوِ، لِأَتَقَوَّىٰ بِذٰلِكَ فِيمَا بَعْدُ عَلَى الْحَقِّ.

Abu Darda’ berkata: aku sungguh menenangkan jiwaku dengan sedikit hiburan, agar dengannya aku kuat kemudian untuk menegakkan kebenaran.

وَفِي بَعْضِ الْأَخْبَارِ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ: شَكَوْتُ إِلَى جِبْرِيلَ عَلَيْهِ السَّلَامُ ضَعْفِي عَنِ الْوِقَاعِ فَدَلَّنِي عَلَى الْهَرِيسَةِ.

Dalam sebagian riwayat dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam disebutkan bahwa beliau bersabda: aku mengadukan kepada Jibril عليه السلام kelemahanku dalam hubungan suami istri, lalu ia menunjukkan kepadaku hidangan harisah.

فَهٰذِهِ أَيْضًا فَائِدَةٌ لَا يُنْكِرُهَا مَنْ جَرَّبَ إِتْعَابَ نَفْسِهِ فِي الْأَفْكَارِ وَالْأَذْكَارِ وَصُنُوفِ الْأَعْمَالِ.

Ini juga merupakan manfaat yang tidak diingkari oleh orang yang telah mencoba melelahkan dirinya dengan berbagai pikiran, zikir, dan macam-macam amal.

وَهِيَ خَارِجَةٌ عَنِ الْفَائِدَتَيْنِ السَّابِقَتَيْنِ.

Manfaat ini berada di luar dua manfaat sebelumnya.

حَتَّىٰ إِنَّهَا تَطَّرِدُ فِي حَقِّ الْمَمْسُوحِ وَمَنْ لَا شَهْوَةَ لَهُ.

Bahkan ia berlaku juga bagi orang yang dikebiri dan orang yang tidak memiliki syahwat.

إِلَّا أَنَّ هٰذِهِ الْفَائِدَةَ تَجْعَلُ لِلنِّكَاحِ فَضِيلَةً بِالْإِضَافَةِ إِلَىٰ هٰذِهِ النِّيَّةِ.

Namun manfaat ini memberi keutamaan bagi nikah bila diniatkan untuk tujuan ini.

وَقَلَّ مَنْ يَقْصِدُ بِالنِّكَاحِ ذٰلِكَ.

Dan sangat sedikit orang yang berniat menikah karena tujuan ini.

وَأَمَّا قَصْدُ الْوَلَدِ، وَقَصْدُ دَفْعِ الشَّهْوَةِ، وَأَمْثَالُهَا، فَهُوَ مِمَّا يَكْثُرُ.

Adapun niat mendapatkan anak, menolak syahwat, dan yang semisal itu, maka itu lebih banyak dijumpai.

ثُمَّ رُبَّ شَخْصٍ يَسْتَأْنِسُ بِالنَّظَرِ إِلَى الْمَاءِ الْجَارِي وَالْخُضْرَةِ وَأَمْثَالِهَا.

Bahkan ada orang yang merasa tenteram dengan memandang air yang mengalir, hijaunya pepohonan, dan yang semisalnya.

وَلَا يَحْتَاجُ إِلَىٰ تَرْوِيحِ النَّفْسِ بِمُحَادَثَةِ النِّسَاءِ وَمُلَاعَبَتِهِنَّ.

Ia tidak membutuhkan hiburan jiwa dengan berbincang dan bercanda bersama wanita.

فَيَخْتَلِفُ هٰذَا بِاخْتِلَافِ الْأَحْوَالِ وَالْأَشْخَاصِ.

Hal ini berbeda-beda menurut keadaan dan pribadi masing-masing.

فَلْيَتَنَبَّهْ لَهُ.

Maka hendaknya ini diperhatikan.