Berbagai Pendapat Madzhab Mengenai Uzlah
الْبَابُ الْأَوَّلُ فِي نَقْلِ الْمَذَاهِبِ وَالْأَقَاوِيلِ وَذِكْرِ حُجَجِ الْفَرِيقَيْنِ فِي ذَلِكَ
Bab Pertama: Tentang Menukil Mazhab-mazhab dan
Pendapat-pendapat, serta Menyebutkan Argumen Kedua Belah Pihak dalam Masalah
Ini.
أَمَّا
الْمَذَاهِبُ فَقَدِ اخْتُلِفَ فِيهَا وَظَهَرَ هَذَا الِاخْتِلَافُ بَيْنَ
التَّابِعِينَ
Adapun mazhab-mazhab, telah terjadi perbedaan pendapat
tentangnya, dan perbedaan ini tampak di kalangan para Tabi'in.
فَذَهَبَ
إِلَى اخْتِيَارِ الْعُزْلَةِ وَتَفْضِيلِهَا عَلَى الْمُخَالَطَةِ سُفْيَانُ
الثَّوْرِيُّ وَإِبْرَاهِيمُ بْنُ أَدْهَمَ وَدَاوُدُ الطَّائِيُّ وَفُضَيْلُ بْنُ
عِيَاضٍ وَسُلَيْمَانُ الْخَوَّاصُ وَيُوسُفُ بْنُ أَسْبَاطٍ وَحُذَيْفَةُ
الْمَرْعَشِيُّ وَبِشْرٌ الْحَافِي
Yang berpendapat memilih 'uzlah (mengasingkan diri) dan
mengutamakannya di atas bergaul adalah: Sufyan Ats-Tsauri, Ibrahim bin Adham,
Dawud Ath-Tha'i, Fudhail bin 'Iyadh, Sulaiman Al-Khawwash, Yusuf bin Asbath,
Hudzaifah Al-Mar'asyi, dan Bisyr Al-Hafi.
وَقَالَ
أَكْثَرُ التَّابِعِينَ بِاسْتِحْبَابِ الْمُخَالَطَةِ وَاسْتِكْثَارِ
الْمَعَارِفِ وَالْإِخْوَانِ وَالتَّآلُفِ وَالتَّحَبُّبِ إِلَى الْمُؤْمِنِينَ
وَالِاسْتِعَانَةِ بِهِمْ فِي الدِّينِ تَعَاوُنًا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى
Mayoritas Tabi'in berpendapat tentang dianjurkannya bergaul,
memperbanyak kenalan dan saudara, menjalin keakraban, dan mencari kecintaan
kaum mukminin, serta meminta bantuan mereka dalam urusan agama sebagai bentuk
tolong-menolong dalam kebaikan dan ketakwaan.
وَمَالَ
إِلَى هَذَا سَعِيدُ بْنُ الْمُسَيَّبِ وَالشَّعْبِيُّ وَابْنُ أَبِي لَيْلَى
وَهِشَامُ بْنُ عُرْوَةَ وَابْنُ شُبْرُمَةَ وَشُرَيْحٌ وَشَرِيكُ بْنُ عَبْدِ
اللَّهِ وَابْنُ عُيَيْنَةَ وَابْنُ الْمُبَارَكِ وَالشَّافِعِيُّ وَأَحْمَدُ بْنُ
حَنْبَلٍ وَجَمَاعَةٌ
Yang cenderung pada pendapat ini adalah: Sa'id bin
Al-Musayyib, Asy-Sya'bi, Ibnu Abi Laila, Hisyam bin 'Urwah, Ibnu Syubrumah,
Syuraih, Syarik bin Abdullah, Ibnu 'Uyainah, Ibnu Al-Mubarak, Asy-Syafi'i,
Ahmad bin Hanbal, dan sejumlah ulama lainnya.
وَالْمَأْثُورُ
عَنِ الْعُلَمَاءِ مِنَ الْكَلِمَاتِ يَنْقَسِمُ إِلَى كَلِمَاتٍ مُطْلَقَةٍ
تَدُلُّ عَلَى الْمَيْلِ إِلَى أَحَدِ الرَّأْيَيْنِ وَإِلَى كَلِمَاتٍ
مَقْرُونَةٍ بِمَا يُشِيرُ إِلَى عِلَّةِ الْمَيْلِ
Ucapan-ucapan yang diriwayatkan dari para ulama terbagi
menjadi ucapan-ucapan mutlak yang menunjukkan kecenderungan pada salah satu
dari dua pendapat, dan ucapan-ucapan yang disertai dengan isyarat tentang
alasan kecenderungan tersebut.
فَلْنَنْقُلِ
الْآنَ مُطْلَقَاتِ تِلْكَ الْكَلِمَاتِ لِنُبَيِّنَ الْمَذَاهِبَ فِيهَا
Maka, marilah kita menukil sekarang ucapan-ucapan mutlak itu
untuk menjelaskan mazhab-mazhab yang ada.
وَمَا
هُوَ مَقْرُونٌ بِذِكْرِ الْعِلَّةِ نُورِدُهُ عِنْدَ التَّعَرُّضِ لِلْغَوَائِلِ
وَالْفَوَائِدِ
Dan apa yang disertai dengan penyebutan alasan, akan kami
kemukakan ketika membahas bahaya-bahaya dan manfaat-manfaatnya.
فَنَقُولُ
قَدْ رُوِيَ عَنْ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّهُ قَالَ خُذُوا بِحَظِّكُمْ
مِنَ الْعُزْلَةِ
Maka kami katakan, telah diriwayatkan dari Umar radhiyallahu
'anhu bahwa ia berkata, "Ambillah bagian kalian dari 'uzlah (mengasingkan
diri)."
وَقَالَ
ابْنُ سِيرِينَ الْعُزْلَةُ عِبَادَةٌ
Ibnu Sirin berkata, "'Uzlah adalah ibadah."
وَقَالَ
الْفُضَيْلُ كَفَى بِاللَّهِ مُحِبًّا وَبِالْقُرْآنِ مُؤْنِسًا وَبِالْمَوْتِ
وَاعِظًا
Al-Fudhail berkata, "Cukuplah Allah sebagai kekasih,
Al-Qur'an sebagai teman, dan kematian sebagai penasihat."
وَقِيلَ
اتَّخِذِ اللَّهَ صَاحِبًا وَدَعِ النَّاسَ جَانِبًا
Dikatakan, "Jadikanlah Allah sebagai sahabat, dan
tinggalkanlah manusia di samping."
وَقَالَ
أَبُو الرَّبِيعِ الزَّاهِدُ لِدَاوُدَ الطَّائِيِّ عِظْنِي
Abu Ar-Rabi' Az-Zahid berkata kepada Dawud Ath-Tha'i,
"Nasihatilah aku."
قَالَ
صُمْ عَنِ الدُّنْيَا وَاجْعَلْ فِطْرَكَ الْآخِرَةَ وَفِرَّ مِنَ النَّاسِ
فِرَارَكَ مِنَ الْأَسَدِ
Ia menjawab, "Berpuasalah dari dunia dan jadikanlah
akhirat sebagai waktu berbukamu. Dan larilah dari manusia sebagaimana engkau
lari dari singa."
وَقَالَ
الْحَسَنُ رَحِمَهُ اللَّهُ كَلِمَاتٌ أَحْفَظُهُنَّ مِنَ التَّوْرَاةِ قَنِعَ
ابْنُ آدَمَ فَاسْتَغْنَى
Al-Hasan rahimahullah berkata, "Ada beberapa kalimat
yang aku hafal dari Taurat: Anak Adam merasa cukup, maka ia menjadi kaya."
اعْتَزَلَ
النَّاسَ فَسَلِمَ
"Ia mengasingkan diri dari manusia, maka ia
selamat."
تَرَكَ
الشَّهَوَاتِ فَصَارَ حُرًّا
"Ia meninggalkan syahwat, maka ia menjadi
merdeka."
وَتَرَكَ
الْحَسَدَ فَظَهَرَتْ مُرُوءَتُهُ
"Ia meninggalkan hasad, maka tampaklah
kemuliaannya."
صَبَرَ
قَلِيلًا فَتَمَتَّعَ طَوِيلًا
"Ia bersabar sebentar, maka ia menikmati (kesenangan)
yang panjang."
وَقَالَ
وُهَيْبُ ابْنُ الْوَرْدِ بَلَغَنَا أَنَّ الْحِكْمَةَ عَشَرَةُ أَجْزَاءٍ
تِسْعَةٌ مِنْهَا فِي الصَّمْتِ وَالْعَاشِرُ فِي عُزْلَةِ النَّاسِ
Wuhaib bin Al-Ward berkata, "Telah sampai kepada kami
bahwa hikmah itu ada sepuluh bagian. Sembilan di antaranya ada pada diam, dan
yang kesepuluh ada pada mengasingkan diri dari manusia."
وَقَالَ
يُوسُفُ بْنُ مُسْلِمٍ لِعَلِيِّ بْنِ بَكَّارٍ مَا أَصْبَرَكَ عَلَى الْوَحْدَةِ
Yusuf bin Muslim berkata kepada Ali bin Bakkar, "Betapa
sabarnya engkau dalam kesendirian."
وَقَدْ
كَانَ لَزِمَ الْبَيْتَ فَقَالَ كُنْتُ وَأَنَا شَابٌّ أَصْبَرُ عَلَى أَكْثَرَ
مِنْ هَذَا
Dan ia memang selalu berada di rumah. Ia menjawab,
"Dulu ketika aku masih muda, aku lebih sabar dari ini."
كُنْتُ
أُجَالِسُ النَّاسَ وَلَا أُكَلِّمُهُمْ
"Aku biasa duduk bersama manusia, namun tidak berbicara
dengan mereka."
وَقَالَ
سُفْيَانُ الثَّوْرِيُّ هَذَا وَقْتُ السُّكُوتِ وَمُلَازَمَةِ الْبُيُوتِ
Sufyan Ats-Tsauri berkata, "Ini adalah waktunya diam
dan menetap di rumah."
وَقَالَ
بَعْضُهُمْ كُنْتُ فِي سَفِينَةٍ وَمَعَنَا شَابٌّ مِنَ الْعَلَوِيَّةِ فَمَكَثَ
مَعَنَا سَبْعًا لَا نَسْمَعُ لَهُ كَلَامًا
Sebagian orang berkata, "Aku berada di sebuah kapal,
dan bersama kami ada seorang pemuda dari keturunan Ali. Ia tinggal bersama kami
selama tujuh (hari), kami tidak mendengar ia berbicara."
فَقُلْنَا
لَهُ يَا هَذَا قَدْ جَمَعَنَا اللَّهُ وَإِيَّاكَ مُنْذُ سَبْعٍ وَلَا نَرَاكَ
تُخَالِطُنَا وَلَا تُكَلِّمُنَا
Kami berkata kepadanya, "Wahai fulan, Allah telah
mengumpulkan kami bersamamu selama tujuh (hari), namun kami tidak melihatmu
bergaul atau berbicara dengan kami."
فَأَنْشَأَ
يَقُولُ قَلِيلُ الْهَمِّ لَا وَلَدٌ يَمُوتُ … وَلَا أَمْرٌ يُحَاذِرُهُ يَفُوتُ
Lalu ia mulai bersyair: "Sedikit kesusahannya, tak ada
anak yang akan mati... Tak ada urusan yang ia takutkan akan luput."
قَضَى
وَطَرَ الصِّبَا وَأَفَادَ عِلْمًا … فَغَايَتُهُ التَّفَرُّدُ وَالسُّكُوتُ
"Ia telah menuntaskan hasrat masa mudanya dan meraih
ilmu... Maka tujuannya adalah menyendiri dan diam."
وَقَالَ
إِبْرَاهِيمُ النَّخَعِيُّ لِرَجُلٍ تَفَقَّهْ ثُمَّ اعْتَزِلْ
Ibrahim An-Nakha'i berkata kepada seorang laki-laki,
"Pelajarilah fikih, kemudian mengasingkan dirilah."
وَكَذَا
قَالَ الرَّبِيعُ بْنُ خُثَيْمٍ
Demikian pula yang dikatakan oleh Ar-Rabi' bin Khutsaim.
وَقِيلَ
كَانَ مَالِكُ بْنُ أَنَسٍ يَشْهَدُ الْجَنَائِزَ وَيَعُودُ الْمَرْضَى وَيُعْطِي
الْإِخْوَانَ حُقُوقَهُمْ
Dikatakan bahwa Malik bin Anas dahulu menghadiri jenazah,
menjenguk orang sakit, dan menunaikan hak-hak saudaranya.
فَتَرَكَ
ذَلِكَ وَاحِدًا وَاحِدًا حَتَّى تَرَكَهَا كُلَّهَا
Lalu ia meninggalkannya satu per satu, hingga ia
meninggalkan semuanya.
وَكَانَ
يَقُولُ لَا يَتَهَيَّأُ لِلْمَرْءِ أَنْ يُحْبِرَ كُلَّ عُذْرٍ لَهُ
Dan ia biasa berkata, "Tidaklah mudah bagi seseorang
untuk menjelaskan setiap alasannya."
وَقِيلَ
لِعُمَرَ بْنِ عَبْدِ الْعَزِيزِ لَوْ تَفَرَّغْتَ لَنَا
Dikatakan kepada Umar bin Abdul Aziz, "Seandainya
engkau meluangkan waktu untuk kami."
فَقَالَ
ذَهَبَ الْفَرَاغُ فَلَا فَرَاغَ إِلَّا عِنْدَ اللَّهِ تَعَالَى
Ia menjawab, "Waktu luang telah pergi. Tidak ada waktu
luang kecuali di sisi Allah Ta'ala."
وَقَالَ
الْفُضَيْلُ إِنِّي لَأَجِدُ لِلرَّجُلِ عِنْدِي يَدًا إِذَا لَقِيَنِي أَنْ لَا
يُسَلِّمَ عَلَيَّ وَإِذَا مَرِضْتُ أَنْ لَا يَعُودَنِي
Al-Fudhail berkata, "Sungguh aku merasa seseorang telah
berjasa kepadaku jika saat bertemu ia tidak memberi salam kepadaku, dan jika
aku sakit ia tidak menjengukku."
وَقَالَ
أَبُو سُلَيْمَانَ الدَّارَانِيُّ بَيْنَمَا الرَّبِيعُ ابْنُ خُثَيْمٍ جَالِسٌ
عَلَى بَابِ دَارِهِ إِذْ جَاءَهُ حَجَرٌ فَصَكَّ جَبْهَتَهُ فَشَجَّهُ
Abu Sulaiman Ad-Darani berkata, "Ketika Ar-Rabi' bin
Khutsaim sedang duduk di depan pintu rumahnya, tiba-tiba sebuah batu datang dan
mengenai keningnya hingga terluka."
فَجَعَلَ
يَمْسَحُ الدَّمَ وَيَقُولُ لَقَدْ وُعِظْتَ يَا رَبِيعُ
Ia pun mulai mengusap darahnya dan berkata, "Sungguh
engkau telah diberi nasihat, wahai Rabi'."
فَقَامَ
وَدَخَلَ دَارَهُ فَمَا جَلَسَ بَعْدَ ذَلِكَ عَلَى بَابِ دَارِهِ حَتَّى
أُخْرِجَتْ جِنَازَتُهُ
Lalu ia berdiri dan masuk ke rumahnya. Setelah itu, ia tidak
pernah lagi duduk di depan pintu rumahnya hingga jenazahnya dikeluarkan.
وَكَانَ
سَعْدُ بْنُ أَبِي وَقَّاصٍ وَسَعِيدُ بْنُ زَيْدٍ لَزِمَا بُيُوتَهُمَا
بِالْعَقِيقِ
Sa'ad bin Abi Waqqash dan Sa'id bin Zaid menetap di rumah
mereka di 'Aqiq.
فَلَمْ
يَكُونَا يَأْتِيَانِ الْمَدِينَةَ لِجُمْعَةٍ وَلَا غَيْرِهَا حَتَّى مَاتَا
بِالْعَقِيقِ
Keduanya tidak pernah datang ke Madinah untuk shalat Jum'at
atau lainnya, hingga keduanya wafat di 'Aqiq.
وَقَالَ
يُوسُفُ بْنُ أَسْبَاطٍ سَمِعْتُ سُفْيَانَ الثَّوْرِيَّ يَقُولُ وَاللَّهِ
الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ لَقَدْ حَلَّتِ الْعُزْلَةُ
Yusuf bin Asbath berkata, "Aku mendengar Sufyan
Ats-Tsauri berkata, 'Demi Allah yang tiada tuhan selain Dia, sungguh 'uzlah
telah menjadi halal.'"
وَقَالَ
بِشْرُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ أَقِلَّ مِنْ مَعْرِفَةِ النَّاسِ
Bisyr bin Abdullah berkata, "Kurangilah mengenal
manusia."
فَإِنَّكَ
لَا تَدْرِي مَا يَكُونُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
"Karena engkau tidak tahu apa yang akan terjadi pada
hari kiamat."
فَإِنْ
تَكُنْ فَضِيحَةٌ كَانَ مَنْ يَعْرِفُكَ قَلِيلًا
"Jika terjadi aib, maka orang yang mengenalmu
sedikit."
وَدَخَلَ
بَعْضُ الْأُمَرَاءِ عَلَى حَاتِمٍ الْأَصَمِّ فَقَالَ لَهُ أَلَكَ حَاجَةٌ
Salah seorang penguasa masuk menemui Hatim Al-Asham, lalu
berkata kepadanya, "Apakah engkau punya keperluan?"
قَالَ
نَعَمْ
Ia menjawab, "Ya."
قَالَ
وَمَا هِيَ
Penguasa itu bertanya, "Apa itu?"
قَالَ
أَنْ لَا تَرَانِي وَلَا أَرَاكَ وَلَا تَعْرِفَنِي
Ia menjawab, "Agar engkau tidak melihatku, aku tidak
melihatmu, dan engkau tidak mengenalku."
وَقَالَ
رَجُلٌ لِسَهْلٍ أُرِيدُ أَنْ أَصْحَبَكَ
Seorang laki-laki berkata kepada Sahl, "Aku ingin
menemanimu."
فَقَالَ
إِذَا مَاتَ أَحَدُنَا فَمَنْ يَصْحَبُ الْآخَرَ
Sahl menjawab, "Jika salah satu dari kita mati, siapa
yang akan menemani yang lain?"
قَالَ
اللَّهُ
Laki-laki itu berkata, "Allah."
قَالَ
فَلْيَصْحَبْهُ الْآنَ
Sahl berkata, "Maka temanilah Dia sekarang."
وَقِيلَ
لِلْفُضَيْلِ إِنَّ عَلِيًّا ابْنَكَ يَقُولُ لَوَدِدْتُ أَنِّي فِي مَكَانٍ أَرَى
النَّاسَ وَلَا يَرَوْنِي
Dikatakan kepada Al-Fudhail, "Sesungguhnya Ali,
putramu, berkata, 'Aku berharap berada di suatu tempat di mana aku bisa melihat
manusia, tetapi mereka tidak bisa melihatku.'"
فَبَكَى
الْفُضَيْلُ وَقَالَ يَا وَيْحَ عَلِيٍّ أَفَلَا أَتَمَّهَا فَقَالَ لَا أَرَاهُمْ
وَلَا يَرَوْنِي
Al-Fudhail menangis dan berkata, "Celakalah Ali!
Mengapa ia tidak menyempurnakannya dengan mengatakan, 'Aku tidak melihat mereka
dan mereka tidak melihatku.'"
وَقَالَ
الْفُضَيْلُ أَيْضًا مِنْ سَخَافَةِ عَقْلِ الرَّجُلِ كَثْرَةُ مَعَارِفِهِ
Al-Fudhail juga berkata, "Termasuk kedangkalan akal
seseorang adalah banyaknya kenalannya."
وَقَالَ
ابْنُ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا أَفْضَلُ الْمَجَالِسِ مَجْلِسٌ فِي
قَعْرِ بَيْتِكَ لَا تَرَى وَلَا تُرَى
Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma berkata, "Majelis yang
paling utama adalah majelis di sudut rumahmu, di mana engkau tidak melihat dan
tidak terlihat."
فَهَذِهِ
أَقَاوِيلُ الْمَائِلِينَ إِلَى الْعُزْلَةِ
Inilah pendapat-pendapat orang yang cenderung kepada 'uzlah.
ذِكْرُ
حُجَجِ الْمَائِلِينَ إِلَى الْمُخَالَطَةِ وَوَجْهُ ضَعْفِهَا
Penyebutan Argumen-argumen Orang yang Cenderung kepada
Bergaul dan Sisi Kelemahannya.
احْتَجَّ
هَؤُلَاءِ بِقَوْلِهِ تَعَالَى {وَلَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ تَفَرَّقُوا
وَاخْتَلَفُوا} الْآيَةَ
Mereka ini berargumen dengan firman Allah Ta'ala, "{Dan
janganlah kamu menyerupai orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih}"
(dan seterusnya).
وَبِقَوْلِهِ
تَعَالَى {فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ} أَمْتَنَّ عَلَى النَّاسِ بِالسَّبَبِ
الْمُؤَلِّفِ
Dan dengan firman-Nya Ta'ala, "{lalu Dia mempersatukan
hatimu}", di mana Dia menganugerahkan nikmat kepada manusia dengan sebab
yang mempersatukan.
وَهَذَا
ضَعِيفٌ لِأَنَّ الْمُرَادَ بِهِ تَفَرُّقُ الْآرَاءِ وَاخْتِلَافُ الْمَذَاهِبِ
فِي مَعَانِي كِتَابِ اللَّهِ وَأُصُولِ الشَّرِيعَةِ
Ini adalah argumen yang lemah, karena yang dimaksud dengan
perpecahan itu adalah perpecahan pendapat dan perbedaan mazhab dalam
makna-makna Kitabullah dan dasar-dasar syariat.
وَالْمُرَادُ
بِالْأُلْفَةِ نَزْعُ الْغَوَائِلِ مِنَ الصُّدُورِ وَهِيَ الْأَسْبَابُ
الْمُثِيرَةُ لِلْفِتَنِ الْمُحَرِّكَةُ لِلْخُصُومَاتِ
Dan yang dimaksud dengan persatuan adalah menghilangkan
penyakit hati, yaitu sebab-sebab yang memicu fitnah dan menggerakkan
perselisihan.
وَالْعُزْلَةُ
لَا تُنَافِي ذَلِكَ
Dan 'uzlah tidak bertentangan dengan hal itu.
وَاحْتَجُّوا
بِقَوْلِهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمُؤْمِنُ آلِفٌ مَأْلُوفٌ وَلَا
خَيْرَ فِيمَنْ لَا يَأْلَفُ وَلَا يُؤْلَفُ
Mereka berargumen dengan sabda Nabi shallallahu 'alaihi
wasallam, "Seorang mukmin itu akrab dan diakrabi, dan tidak ada kebaikan
pada orang yang tidak akrab dan tidak diakrabi."
وَهَذَا
ضَعِيفٌ لِأَنَّهُ إِشَارَةٌ إِلَى مَذَمَّةِ سُوءِ الْخُلُقِ تَمْتَنِعُ
بِسَبَبِهِ الْمُؤَالَفَةُ
Ini adalah argumen yang lemah, karena hadis ini
mengisyaratkan celaan terhadap akhlak yang buruk, yang menjadi penghalang
terjalinnya keakraban.
وَلَا
يَدْخُلُ تَحْتَهُ الْحَسَنُ الْخُلُقِ الَّذِي إِنْ خَالَطَ أَلِفَ وَأُلِفَ
وَلَكِنَّهُ تَرَكَ الْمُخَالَطَةَ اشْتِغَالًا بِنَفْسِهِ وَطَلَبًا
لِلسَّلَامَةِ مِنْ غَيْرِهِ
Dan tidak termasuk di dalamnya orang yang berakhlak baik,
yang jika bergaul ia akan akrab dan diakrabi, namun ia meninggalkan pergaulan
karena sibuk dengan dirinya sendiri dan mencari keselamatan dari orang lain.
وَاحْتَجُّوا
بِقَوْلِهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ فَارَقَ الْجَمَاعَةَ شِبْرًا
خَلَعَ رِبْقَةَ الْإِسْلَامِ مِنْ عُنُقِهِ
Mereka berargumen dengan sabda Nabi shallallahu 'alaihi
wasallam, "Barangsiapa memisahkan diri dari jama'ah sejengkal, maka ia
telah melepaskan ikatan Islam dari lehernya."
وَقَالَ
مَنْ فَارَقَ الْجَمَاعَةَ فَمَاتَ فَمِيتَتُهُ جَاهِلِيَّةٌ
Dan beliau bersabda, "Barangsiapa memisahkan diri dari
jama'ah lalu ia mati, maka matinya adalah mati jahiliyah."
وَبِقَوْلِهِ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ شَقَّ عَصَا الْمُسْلِمِينَ
وَالْمُسْلِمُونَ فِي إِسْلَامٍ دَامِجٍ فَقَدْ خَلَعَ رِبْقَةَ الْإِسْلَامِ مِنْ
عُنُقِهِ
Dan dengan sabda beliau shallallahu 'alaihi wasallam,
"Barangsiapa memecah belah persatuan kaum muslimin, sementara kaum
muslimin dalam keadaan bersatu, maka ia telah melepaskan ikatan Islam dari
lehernya."
وَهَذَا
ضَعِيفٌ لِأَنَّ الْمُرَادَ بِهِ الْجَمَاعَةُ الَّتِي اتَّفَقَتْ آرَاؤُهُمْ
عَلَى إِمَامٍ بِعَقْدِ الْبَيْعَةِ
Ini adalah argumen yang lemah, karena yang dimaksud dengan
jama'ah adalah kelompok yang telah sepakat pendapatnya atas seorang pemimpin
melalui akad bai'at.
فَالْخُرُوجُ
عَلَيْهِمْ بَغْيٌ وَذَلِكَ مُخَالَفَةٌ بِالرَّأْيِ وَخُرُوجٌ عَلَيْهِمْ
Maka keluar dari (ketaatan) mereka adalah pemberontakan. Itu
adalah penyelisihan pendapat dan pembangkangan terhadap mereka.
وَذَلِكَ
مَحْظُورٌ لِاضْطِرَارِ الْخَلْقِ إِلَى إِمَامٍ مُطَاعٍ يَجْمَعُ رَأْيَهُمْ
Dan hal itu dilarang karena manusia sangat membutuhkan
seorang pemimpin yang ditaati yang dapat menyatukan pendapat mereka.
وَلَا
يَكُونُ ذَلِكَ إِلَّا بِالْبَيْعَةِ مِنَ الْأَكْثَرِ
Dan itu tidak akan terjadi kecuali dengan bai'at dari
mayoritas.
فَالْمُخَالَفَةُ
تَشْوِيشٌ مُثِيرٌ لِلْفِتْنَةِ
Maka, penyelisihan adalah kekacauan yang memicu fitnah.
فَلَيْسَ
فِي هَذَا تَعَرُّضٌ لِلْعُزْلَةِ
Maka dalam hal ini tidak ada sangkut pautnya dengan 'uzlah.
وَاحْتَجُّوا
بِنَهْيِهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنِ الْهَجْرِ فَوْقَ ثَلَاثٍ
Mereka berargumen dengan larangan Nabi shallallahu 'alaihi
wasallam untuk mendiamkan (saudara) lebih dari tiga hari.
إِذْ
قَالَ مَنْ هَجَرَ أَخَاهُ فَوْقَ ثَلَاثٍ فَمَاتَ دَخَلَ النَّارَ
Karena beliau bersabda, "Barangsiapa mendiamkan
saudaranya lebih dari tiga hari lalu ia mati, maka ia masuk neraka."
وَقَالَ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يَحِلُّ لِامْرِئٍ مُسْلِمٍ أَنْ يَهْجُرَ
أَخَاهُ فَوْقَ ثَلَاثٍ
Beliau shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Tidak
halal bagi seorang muslim untuk mendiamkan saudaranya lebih dari tiga
hari."
وَالسَّابِقُ
بِالصُّلْحِ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ
"Dan yang lebih dahulu berdamai akan masuk surga."
وَقَالَ
مَنْ هَجَرَ أَخَاهُ سَنَةً فَهُوَ كَسَافِكِ دَمِهِ
Dan beliau bersabda, "Barangsiapa mendiamkan saudaranya
selama setahun, maka itu seperti menumpahkan darahnya."
قَالُوا
وَالْعُزْلَةُ هَجْرُهُ بِالْكُلِّيَّةِ
Mereka berkata, "Dan 'uzlah adalah mendiamkannya secara
total."
وَهَذَا
ضَعِيفٌ لِأَنَّ الْمُرَادَ بِهِ الْغَضَبُ عَلَى النَّاسِ وَاللِّجَاجُ فِيهِ
بِقَطْعِ الْكَلَامِ وَالسَّلَامِ وَالْمُخَالَطَةِ الْمُعْتَادَةِ
Ini adalah argumen yang lemah, karena yang dimaksud dengan
mendiamkan itu adalah marah kepada orang lain dan terus-menerus memutus
pembicaraan, salam, dan pergaulan yang biasa.
فَلَا
يَدْخُلُ فِيهِ تَرْكُ الْمُخَالَطَةِ أَصْلًا مِنْ غَيْرِ غَضَبٍ
Maka tidak termasuk di dalamnya meninggalkan pergaulan sama
sekali tanpa adanya rasa marah.
مَعَ
أَنَّ الْهَجْرَ فَوْقَ ثَلَاثٍ جَائِزٌ فِي مَوْضِعَيْنِ
Selain itu, mendiamkan lebih dari tiga hari diperbolehkan
dalam dua keadaan.
أَحَدُهُمَا
أَنْ يَرَى فِيهِ إِصْلَاحًا لِلْمَهْجُورِ فِي الزِّيَادَةِ
Pertama, jika ia melihat di dalamnya ada perbaikan bagi
orang yang didiamkan.
الثَّانِي
أَنْ يَرَى لِنَفْسِهِ سَلَامَةً فِيهِ
Kedua, jika ia melihat ada keselamatan bagi dirinya di
dalamnya.
وَالنَّهْيُ
وَإِنْ كَانَ عَامًّا فَهُوَ مَحْمُولٌ عَلَى مَا وَرَاءَ الْمَوْضِعَيْنِ
الْمَخْصُوصَيْنِ
Dan larangan itu, meskipun bersifat umum, namun dipahami
berlaku di luar dua keadaan khusus ini.
بِدَلِيلِ
مَا رُوِيَ عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ هَجَرَهَا ذَا الْحِجَّةِ وَالْمُحَرَّمَ وَبَعْضَ
صَفَرَ
Berdasarkan dalil yang diriwayatkan dari Aisyah radhiyallahu
'anha, bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam pernah mendiamkannya pada bulan
Dzulhijjah, Muharram, dan sebagian bulan Shafar.
وَرَوَى
عَنْ عُمَرَ أَنَّهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اعْتَزَلَ نِسَاءَهُ
وَآلَى مِنْهُنَّ شَهْرًا
Dan diriwayatkan dari Umar bahwa Nabi shallallahu 'alaihi
wasallam pernah mengasingkan diri dari istri-istrinya dan bersumpah (tidak akan
mendekati) mereka selama sebulan.
وَصَعِدَ
إِلَى غُرْفَةٍ لَهُ وَهِيَ خِزَانَتُهُ فَلَبِثَ تِسْعًا وَعِشْرِينَ يَوْمًا
Beliau naik ke sebuah kamar miliknya, yang merupakan
gudangnya, lalu tinggal di sana selama dua puluh sembilan hari.
فَلَمَّا
نَزَلَ قِيلَ لَهُ إِنَّكَ كُنْتَ فِيهَا تِسْعًا وَعِشْرِينَ فَقَالَ الشَّهْرُ
قَدْ يَكُونُ تِسْعًا وَعِشْرِينَ
Ketika beliau turun, dikatakan kepadanya, "Sesungguhnya
engkau berada di sana selama dua puluh sembilan (hari)." Beliau menjawab,
"Bulan itu terkadang terdiri dari dua puluh sembilan hari."
وَرَوَتْ
عَائِشَةُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ قَالَ لَا يَحِلُّ لِمُسْلِمٍ أَنْ يَهْجُرَ أَخَاهُ فَوْقَ ثَلَاثَةِ
أَيَّامٍ إِلَّا أَنْ يَكُونَ مِمَّنْ لَا تُؤْمَنُ بَوَائِقُهُ
Aisyah radhiyallahu 'anha meriwayatkan bahwa Nabi
shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Tidak halal bagi seorang muslim
untuk mendiamkan saudaranya lebih dari tiga hari, kecuali jika ia termasuk
orang yang kejahatannya tidak bisa dijamin aman."
فَهَذَا
صَرِيحٌ فِي التَّخْصِيصِ
Ini adalah dalil yang jelas tentang adanya pengecualian.
وَعَلَى
هَذَا يُنَزَّلُ قَوْلُ الْحَسَنِ رَحِمَهُ اللَّهُ حَيْثُ قَالَ هِجْرَانُ
الْأَحْمَقِ قُرْبَةٌ إِلَى اللَّهِ
Atas dasar ini, dipahamilah ucapan Al-Hasan rahimahullah,
ketika ia berkata, "Mendiamkan orang bodoh adalah sebuah pendekatan diri
kepada Allah."
فَإِنَّ
ذَلِكَ يَدُومُ إِلَى الْمَوْتِ إِذِ الْحَمَاقَةُ لَا يُنْتَظَرُ عِلَاجُهَا
Karena hal itu bisa berlangsung hingga mati, sebab kebodohan
tidak bisa diharapkan kesembuhannya.
وَذُكِرَ
عِنْدَ مُحَمَّدِ بْنِ عُمَرَ الْوَاقِدِيِّ رَجُلٌ هَجَرَ رَجُلًا حَتَّى مَاتَ
Disebutkan di hadapan Muhammad bin Umar Al-Waqidi tentang
seorang laki-laki yang mendiamkan laki-laki lain hingga ia wafat.
فَقَالَ
هَذَا شَيْءٌ قَدْ تَقَدَّمَ فِيهِ قَوْمٌ
Ia berkata, "Ini adalah perkara yang telah dilakukan
oleh kaum sebelumnya."
سَعْدُ
بْنُ أَبِي وَقَّاصٍ كَانَ مُهَاجِرًا لِعَمَّارِ بْنِ يَاسِرٍ حَتَّى مَاتَ
"Sa'ad bin Abi Waqqash mendiamkan 'Ammar bin Yasir
hingga wafat."
وَعُثْمَانُ
بْنُ عَفَّانَ كَانَ مُهَاجِرًا لِعَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَوْفٍ
"Dan Utsman bin 'Affan mendiamkan 'Abdurrahman bin
'Auf."
وَعَائِشَةُ
كَانَتْ مُهَاجِرَةً لِحَفْصَةَ
"Dan 'Aisyah mendiamkan Hafshah."
وَكَانَ
طَاوُسٌ مُهَاجِرًا لِوَهْبِ بْنِ مُنَبِّهٍ حَتَّى مَاتَا
"Dan Thawus mendiamkan Wahb bin Munabbih hingga
keduanya wafat."
وَكُلُّ
ذَلِكَ يُحْمَلُ عَلَى رُؤْيَتِهِمْ سَلَامَتَهُمْ فِي الْمُهَاجَرَةِ
Semua itu dipahami atas dasar pandangan mereka bahwa ada
keselamatan bagi mereka dalam tindakan mendiamkan tersebut.
وَاحْتَجُّوا
بِمَا رُوِيَ أَنَّ رَجُلًا أَتَى الْجَبَلَ لِيَتَعَبَّدَ فِيهِ فَجِيءَ بِهِ
إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
Mereka berargumen dengan riwayat bahwa seorang laki-laki
pergi ke gunung untuk beribadah di sana, lalu ia dibawa ke hadapan Rasulullah
shallallahu 'alaihi wasallam.
فَقَالَ
لَا تَفْعَلْ أَنْتَ وَلَا أَحَدٌ مِنْكُمْ لَصَبْرُ أَحَدِكُمْ فِي بَعْضِ
مَوَاطِنِ الْإِسْلَامِ خَيْرٌ لَهُ مِنْ عِبَادَةِ أَحَدِكُمْ وَحْدَهُ
أَرْبَعِينَ عَامًا
Beliau bersabda, "Janganlah engkau melakukannya, dan
jangan pula seorang pun dari kalian. Sungguh, kesabaran salah seorang dari
kalian di sebagian medan Islam lebih baik baginya daripada ibadah salah seorang
dari kalian sendirian selama empat puluh tahun."
وَالظَّاهِرُ
أَنَّ هَذَا إِنَّمَا كَانَ لِمَا فِيهِ مِنْ تَرْكِ الْجِهَادِ مَعَ شِدَّةِ
وُجُوبِهِ فِي ابْتِدَاءِ الْإِسْلَامِ
Yang tampak adalah bahwa ini dikatakan karena di dalamnya
terdapat tindakan meninggalkan jihad, padahal jihad sangat diwajibkan pada
awal-awal Islam.
بِدَلِيلِ
مَا رُوِيَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّهُ قَالَ غَزَوْنَا
مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَمَرَرْنَا بِشِعْبٍ
فِيهِ عُيَيْنَةٌ طَيِّبَةُ الْمَاءِ
Berdasarkan dalil yang diriwayatkan dari Abu Hurairah
radhiyallahu 'anhu bahwa ia berkata, "Kami berperang bersama Rasulullah
shallallahu 'alaihi wasallam, lalu kami melewati sebuah lembah yang di dalamnya
ada mata air yang jernih."
فَقَالَ
وَاحِدٌ مِنَ الْقَوْمِ لَوِ اعْتَزَلْتُ النَّاسَ فِي هَذَا الشِّعْبِ وَلَنْ
أَفْعَلَ ذَلِكَ حَتَّى أَذْكُرَهُ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ
Salah seorang dari kaum itu berkata, "Seandainya aku
mengasingkan diri dari manusia di lembah ini. Namun aku tidak akan melakukannya
sampai aku menyampaikannya kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi
wasallam."
فَقَالَ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا تَفْعَلْ فَإِنَّ مَقَامَ أَحَدِكُمْ فِي
سَبِيلِ اللَّهِ خَيْرٌ مِنْ صَلَاتِهِ فِي أَهْلِهِ سِتِّينَ عَامًا
Beliau shallallahu 'alaihi wasallam bersabda,
"Janganlah engkau melakukannya. Karena sesungguhnya keberadaan salah
seorang dari kalian di jalan Allah lebih baik daripada shalatnya di tengah
keluarganya selama enam puluh tahun."
أَلَا
تُحِبُّونَ أَنْ يَغْفِرَ اللَّهُ لَكُمْ وَتَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ
"Tidakkah kalian suka jika Allah mengampuni kalian dan
kalian masuk surga?"
اغْزُوا
فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَإِنَّهُ مَنْ قَاتَلَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَوَاقَ نَاقَةٍ
أَدْخَلَهُ اللَّهُ الْجَنَّةَ
"Berperanglah di jalan Allah. Karena sesungguhnya
barangsiapa berperang di jalan Allah sekejap seperti waktu memerah susu unta,
niscaya Allah akan memasukkannya ke dalam surga."
وَاحْتَجُّوا
بِمَا رَوَى مُعَاذُ بْنُ جَبَلٍ أَنَّهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ
إِنَّ الشَّيْطَانَ ذِئْبُ الْإِنْسَانِ كَذِئْبِ الْغَنَمِ يَأْخُذُ الْقَاصِيَةَ
وَالنَّاحِيَةَ وَالشَّارِدَةَ
Mereka berargumen dengan riwayat Mu'adz bin Jabal bahwa Nabi
shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Sesungguhnya setan adalah serigala
bagi manusia, seperti serigala bagi domba. Ia akan memangsa yang jauh, yang
menyendiri, dan yang tersesat."
وَإِيَّاكُمْ
وَالشِّعَابَ وَعَلَيْكُمْ بِالْعَامَّةِ وَالْجَمَاعَةِ وَالْمَسَاجِدِ
"Dan jauhilah oleh kalian lembah-lembah (tempat
menyendiri). Hendaklah kalian bersama orang banyak, jama'ah, dan
masjid-masjid."
وَهَذَا
إِنَّمَا أَرَادَ بِهِ مَنِ اعْتَزَلَ قَبْلَ تَمَامِ الْعِلْمِ
Ini hanya ditujukan bagi orang yang mengasingkan diri
sebelum ilmunya sempurna.
وَسَيَأْتِي
بَيَانُ ذَلِكَ وَأَنَّ ذَلِكَ يُنْهَى عَنْهُ إِلَّا لِضَرُورَةٍ
Dan penjelasannya akan datang, bahwa hal itu dilarang
kecuali karena darurat.
ذِكْرُ
حُجَجِ الْمَائِلِينَ إِلَى تَفْضِيلِ الْعُزْلَةِ
Penyebutan Argumen-argumen Orang yang Cenderung Mengutamakan
'Uzlah.
احْتَجُّوا
بِقَوْلِهِ تَعَالَى حِكَايَةً عَنْ إِبْرَاهِيمَ عَلَيْهِ السَّلَامُ
{وَأَعْتَزِلُكُمْ وَمَا تَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ وَأَدْعُو رَبِّي} الْآيَةَ
Mereka berargumen dengan firman Allah Ta'ala yang
mengisahkan tentang Ibrahim 'alaihissalam, "{Dan aku akan menjauhkan diri
darimu dan dari apa yang kamu seru selain Allah, dan aku akan berdoa kepada
Tuhanku}" (dan seterusnya).
ثُمَّ
قَالَ تَعَالَى {فَلَمَّا اعْتَزَلَهُمْ وَمَا يَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ
وَهَبْنَا لَهُ إِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ وَكُلًّا جَعَلْنَا نَبِيًّا}
Kemudian Allah Ta'ala berfirman, "{Maka ketika Ibrahim
telah menjauhkan diri dari mereka dan dari apa yang mereka sembah selain Allah,
Kami anugerahkan kepadanya Ishak dan Ya'qub. Dan masing-masingnya Kami angkat
menjadi nabi}."
إِشَارَةً
إِلَى أَنَّ ذَلِكَ بِبَرَكَةِ الْعُزْلَةِ
Ini sebagai isyarat bahwa hal itu terjadi berkat 'uzlah.
وَهَذَا
ضَعِيفٌ لِأَنَّ مُخَالَطَةَ الْكُفَّارِ لَا فَائِدَةَ فِيهَا إِلَّا
دَعْوَتَهُمْ إِلَى الدِّينِ
Ini adalah argumen yang lemah, karena bergaul dengan
orang-orang kafir tidak ada manfaatnya kecuali untuk mendakwahi mereka kepada
agama.
وَعِنْدَ
الْيَأْسِ مِنْ إِجَابَتِهِمْ فَلَا وَجْهَ إِلَّا هَجْرُهُمْ
Dan ketika sudah putus asa dari sambutan mereka, maka tidak
ada jalan lain kecuali mendiamkan mereka.
وَإِنَّمَا
الْكَلَامُ فِي مُخَالَطَةِ الْمُسْلِمِينَ وَمَا فِيهَا مِنَ الْبَرَكَةِ
Sedangkan pembicaraan kita adalah tentang bergaul dengan
kaum muslimin dan keberkahan yang ada di dalamnya.
لِمَا
رُوِيَ أَنَّهُ قِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ الْوُضُوءُ مِنْ جَرٍّ مُخَمَّرٍ
أَحَبُّ إِلَيْكَ أَوْ مِنْ هَذِهِ الْمَطَاهِرِ الَّتِي يَتَطَهَّرُ مِنْهَا
النَّاسُ
Berdasarkan riwayat bahwa pernah ditanyakan, "Wahai
Rasulullah, apakah berwudhu dari bejana yang tertutup lebih engkau sukai, atau
dari tempat-tempat bersuci ini yang digunakan oleh orang banyak?"
فَقَالَ
بَلْ مِنْ هَذِهِ الْمَطَاهِرِ الْتِمَاسًا لِبَرَكَةِ أَيْدِي الْمُسْلِمِينَ
Beliau menjawab, "Bahkan dari tempat-tempat bersuci
ini, untuk mencari berkah dari tangan-tangan kaum muslimin."
وَرُوِيَ
أَنَّهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَمَّا طَافَ بِالْبَيْتِ عَدَلَ إِلَى
زَمْزَمَ لِيَشْرَبَ مِنْهَا
Diriwayatkan bahwa ketika Nabi shallallahu 'alaihi wasallam
selesai thawaf di Ka'bah, beliau menuju ke sumur Zamzam untuk minum darinya.
فَإِذَا
التَّمْرُ الْمُنَقَّعُ فِي حِيَاضِ الْأَدَمِ وَقَدْ مَغَثَهُ النَّاسُ
بِأَيْدِيهِمْ وَهُمْ يَتَنَاوَلُونَ مِنْهُ وَيَشْرَبُونَ
Di sana terdapat kurma yang direndam dalam wadah-wadah
kulit, dan orang-orang telah mengaduknya dengan tangan mereka saat mereka
mengambil dan meminumnya.
فَاسْتَسْقَى
مِنْهُ وَقَالَ أَسْقُونِي
Beliau meminta minum darinya dan berkata, "Berilah aku
minum."
فَقَالَ
الْعَبَّاسُ إِنَّ هَذَا النَّبِيذَ شَرَابٌ قَدْ مُغِثَ وَخِيضَ بِالْأَيْدِي
Al-Abbas berkata, "Sesungguhnya nabidz (rendaman kurma)
ini adalah minuman yang telah diaduk dan dicampur dengan tangan."
أَفَلَا
آتِيكَ بِشَرَابٍ أَنْظَفَ مِنْ هَذَا مِنْ جَرٍّ مُخَمَّرٍ فِي الْبَيْتِ
"Maukah aku ambilkan untukmu minuman yang lebih bersih
dari ini, dari bejana yang tertutup di rumah?"
فَقَالَ
أَسْقُونِي مِنْ هَذَا الَّذِي يَشْرَبُ مِنْهُ النَّاسُ أَلْتَمِسُ بَرَكَةَ
أَيْدِي الْمُسْلِمِينَ فَشَرِبَ مِنْهُ
Beliau menjawab, "Berilah aku minum dari (air) yang
diminum oleh orang-orang ini. Aku mencari berkah dari tangan-tangan kaum
muslimin." Lalu beliau meminumnya.
فَإِذَنْ
كَيْفَ يُسْتَدَلُّ بِاعْتِزَالِ الْكُفَّارِ وَالْأَصْنَامِ عَلَى اعْتِزَالِ
الْمُسْلِمِينَ مَعَ كَثْرَةِ الْبَرَكَةِ فِيهِمْ
Maka dari itu, bagaimana bisa berdalil dengan tindakan
mengasingkan diri dari orang-orang kafir dan berhala-berhala, untuk
(menguatkan) tindakan mengasingkan diri dari kaum muslimin, padahal banyak
sekali keberkahan di antara mereka?
وَاحْتَجُّوا
أَيْضًا بِقَوْلِ مُوسَى عَلَيْهِ السَّلَامُ {وَإِنْ لَمْ تُؤْمِنُوا لِي
فَاعْتَزِلُونِ}
Mereka juga berargumen dengan ucapan Musa 'alaihissalam,
"{Dan jika kamu tidak beriman kepadaku, maka biarkanlah aku (dan jangan
menggangguku)}."
وَأَنَّهُ
فَزِعَ إِلَى الْعُزْلَةِ عِنْدَ الْيَأْسِ مِنْهُمْ
Dan bahwa ia berlindung pada 'uzlah ketika putus asa dari
mereka.
وَقَالَ
تَعَالَى فِي أَصْحَابِ الْكَهْفِ {وَإِذِ اعْتَزَلْتُمُوهُمْ وَمَا يَعْبُدُونَ
إِلَّا اللَّهَ فَأْوُوا إِلَى الْكَهْفِ يَنْشُرْ لَكُمْ رَبُّكُمْ مِنْ
رَحْمَتِهِ} أَمَرَهُمْ بِالْعُزْلَةِ
Dan Allah Ta'ala berfirman tentang Ashabul Kahfi, "{Dan
apabila kamu telah mengasingkan diri dari mereka dan dari apa yang mereka
sembah selain Allah, maka carilah tempat berlindung ke dalam gua itu, niscaya
Tuhanmu akan melimpahkan rahmat-Nya kepadamu}." Allah memerintahkan mereka
untuk 'uzlah.
وَقَدِ
اعْتَزَلَ نَبِيُّنَا صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قُرَيْشًا لَمَّا آذَوْهُ
وَجَفَوْهُ وَدَخَلَ الشِّعْبَ
Dan Nabi kita shallallahu 'alaihi wasallam telah
mengasingkan diri dari kaum Quraisy ketika mereka menyakiti dan memusuhinya,
lalu beliau masuk ke dalam lembah (Syi'b).
وَأَمَرَ
أَصْحَابَهُ بِاعْتِزَالِهِمْ وَالْهِجْرَةِ إِلَى أَرْضِ الْحَبَشَةِ
Dan beliau memerintahkan para sahabatnya untuk mengasingkan
diri dari mereka dan berhijrah ke negeri Habasyah.
ثُمَّ
تَلَاحَقُوا بِهِ إِلَى الْمَدِينَةِ بَعْدَ أَنْ أَعْلَى اللَّهُ كَلِمَتَهُ
Kemudian mereka menyusul beliau ke Madinah setelah Allah
meninggikan kalimat-Nya.
وَهَذَا
أَيْضًا اعْتِزَالٌ عَنِ الْكُفَّارِ بَعْدَ الْيَأْسِ مِنْهُمْ
Ini juga merupakan pengasingan diri dari orang-orang kafir
setelah putus asa dari mereka.
فَإِنَّهُ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَمْ يَعْتَزِلِ الْمُسْلِمِينَ وَلَا مَنْ
تَوَقَّعَ إِسْلَامَهُ مِنَ الْكُفَّارِ
Karena beliau shallallahu 'alaihi wasallam tidak
mengasingkan diri dari kaum muslimin, tidak pula dari orang-orang kafir yang
diharapkan keislamannya.
وَأَهْلُ
الْكَهْفِ لَمْ يَعْتَزِلْ بَعْضُهُمْ بَعْضًا وَهُمْ مُؤْمِنُونَ
Dan Ashabul Kahfi tidak saling mengasingkan diri satu sama
lain, karena mereka adalah orang-orang beriman.
وَإِنَّمَا
اعْتَزَلُوا الْكُفَّارَ
Mereka hanya mengasingkan diri dari orang-orang kafir.
وَإِنَّمَا
النَّظَرُ فِي الْعُزْلَةِ مِنَ الْمُسْلِمِينَ
Sedangkan yang menjadi pembahasan adalah 'uzlah dari kaum
muslimin.
وَاحْتَجُّوا
بِقَوْلِهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِعَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَامِرٍ
الْجُهَنِيِّ لَمَّا قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا النَّجَاةُ
Mereka berargumen dengan sabda Nabi shallallahu 'alaihi
wasallam kepada Abdullah bin 'Amir Al-Juhani ketika ia bertanya, "Wahai
Rasulullah, apa itu keselamatan?"
قَالَ
لِيَسَعْكَ بَيْتُكَ وَأَمْسِكْ عَلَيْكَ لِسَانَكَ وَابْكِ عَلَى خَطِيئَتِكَ
Beliau menjawab, "Hendaklah rumahmu terasa lapang
bagimu, jagalah lisanmu, dan tangisilah kesalahanmu."
وَرُوِيَ
أَنَّهُ قِيلَ لَهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّ النَّاسِ أَفْضَلُ
Dan diriwayatkan bahwa ditanyakan kepada beliau shallallahu
'alaihi wasallam, "Siapakah manusia yang paling utama?"
قَالَ
مُؤْمِنٌ مُجَاهِدٌ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ فِي سَبِيلِ اللَّهِ تَعَالَى
Beliau menjawab, "Seorang mukmin yang berjihad dengan
jiwa dan hartanya di jalan Allah Ta'ala."
قِيلَ
ثُمَّ مَنْ
Ditanyakan, "Kemudian siapa?"
قَالَ
رَجُلٌ مُعْتَزِلٌ فِي شِعْبٍ مِنَ الشِّعَابِ يَعْبُدُ رَبَّهُ وَيَدَعُ النَّاسَ
مِنْ شَرِّهِ
Beliau menjawab, "Seorang laki-laki yang mengasingkan
diri di sebuah lembah, ia menyembah Tuhannya dan meninggalkan manusia dari
keburukannya."
وَقَالَ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْعَبْدَ التَّقِيَّ
النَّقِيَّ الْخَفِيَّ
Beliau shallallahu 'alaihi wasallam bersabda,
"Sesungguhnya Allah mencintai hamba yang bertakwa, yang suci, dan yang
tidak menonjolkan diri."
وَفِي
الِاحْتِجَاجِ بِهَذِهِ الْأَحَادِيثِ نَظَرٌ
Dalam berargumen dengan hadis-hadis ini, ada hal yang perlu
ditinjau.
فَأَمَّا
قَوْلُهُ لِعَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَامِرٍ فَلَا يُمْكِنُ تَنْزِيلُهُ إِلَّا عَلَى
مَا عَرَفَهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِنُورِ النُّبُوَّةِ مِنْ
حَالِهِ
Adapun ucapan beliau kepada Abdullah bin 'Amir, tidak
mungkin dipahami kecuali berdasarkan apa yang diketahui oleh Nabi shallallahu
'alaihi wasallam dengan cahaya kenabian tentang keadaannya.
وَأَنَّ
لُزُومَ الْبَيْتِ كَانَ أَلْيَقَ بِهِ وَأَسْلَمَ لَهُ مِنَ الْمُخَالَطَةِ
Yaitu bahwa menetap di rumah lebih pantas dan lebih selamat
baginya daripada bergaul.
فَإِنَّهُ
لَمْ يَأْمُرْ جَمِيعَ الصَّحَابَةِ بِذَلِكَ
Karena beliau tidak memerintahkan semua sahabat untuk
melakukan hal itu.
وَرُبَّ
شَخْصٍ تَكُونُ سَلَامَتُهُ فِي الْعُزْلَةِ لَا فِي الْمُخَالَطَةِ كَمَا قَدْ
تَكُونُ سَلَامَتُهُ فِي الْقُعُودِ فِي الْبَيْتِ وَأَنْ لَا يَخْرُجَ إِلَى
الْجِهَادِ
Dan bisa jadi keselamatan seseorang ada pada 'uzlah, bukan
pada pergaulan. Sebagaimana keselamatannya mungkin ada pada duduk di rumah dan
tidak keluar untuk berjihad.
وَذَلِكَ
لَا يَدُلُّ عَلَى أَنَّ تَرْكَ الْجِهَادِ أَفْضَلُ
Dan hal itu tidak menunjukkan bahwa meninggalkan jihad lebih
utama.
وَفِي
مُخَالَطَةِ النَّاسِ مُجَاهَدَةٌ وَمُقَاسَاةٌ
Dan dalam bergaul dengan manusia, terdapat perjuangan dan
kesulitan.
وَلِذَلِكَ
قَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الَّذِي يُخَالِطُ النَّاسَ وَيَصْبِرُ
عَلَى أَذَاهُمْ خَيْرٌ مِنَ الَّذِي لَا يُخَالِطُ النَّاسَ وَلَا يَصْبِرُ عَلَى
أَذَاهُمْ
Oleh karena itu, beliau shallallahu 'alaihi wasallam
bersabda, "Orang yang bergaul dengan manusia dan sabar atas gangguan
mereka lebih baik daripada orang yang tidak bergaul dengan manusia dan tidak
sabar atas gangguan mereka."
وَعَلَى
هَذَا يُنَزَّلُ قَوْلُهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَجُلٌ مُعْتَزِلٌ
يَعْبُدُ رَبَّهُ وَيَدَعُ النَّاسَ مِنْ شَرِّهِ
Atas dasar ini, dipahamilah sabda beliau shallallahu 'alaihi
wasallam, "Seorang laki-laki yang mengasingkan diri, ia menyembah Tuhannya
dan meninggalkan manusia dari keburukannya."
فَهَذَا
إِشَارَةٌ إِلَى شِرِّيرٍ بِطَبْعِهِ تَتَأَذَّى النَّاسُ بِمُخَالَطَتِهِ
Ini adalah isyarat kepada orang yang tabiatnya jahat, yang
mana manusia akan terganggu dengan pergaulannya.
وَقَوْلُهُ
إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّقِيَّ الْخَفِيَّ إِشَارَةٌ إِلَى إِيثَارِ الْخُمُولِ
وَتَوَقِّي الشُّهْرَةِ
Dan sabda beliau, "Sesungguhnya Allah mencintai (hamba)
yang bertakwa (dan) yang tidak menonjolkan diri," adalah isyarat untuk
lebih memilih tidak dikenal dan menghindari ketenaran.
وَذَلِكَ
لَا يَتَعَلَّقُ بِالْعُزْلَةِ
Dan hal itu tidak berkaitan dengan 'uzlah.
فَكَمْ
مِنْ رَاهِبٍ مُعْتَزِلٍ تَعْرِفُهُ كَافَّةُ النَّاسِ وَكَمْ مِنْ مُخَالِطٍ
خَامِلٍ لَا ذِكْرَ لَهُ وَلَا شُهْرَةَ
Betapa banyak pendeta yang mengasingkan diri namun dikenal
oleh seluruh manusia, dan betapa banyak orang yang bergaul namun tidak dikenal,
tidak disebut-sebut, dan tidak tenar.
فَهَذَا
تَعَرُّضٌ لِأَمْرٍ لَا يَتَعَلَّقُ بِالْعُزْلَةِ
Maka ini menyinggung perkara yang tidak berkaitan dengan
'uzlah.
وَاحْتَجُّوا
بِمَا رُوِيَ أَنَّهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لِأَصْحَابِهِ
أَلَا أُنَبِّئُكُمْ بِخَيْرِ النَّاسِ
Mereka berargumen dengan riwayat bahwa Nabi shallallahu
'alaihi wasallam berkata kepada para sahabatnya, "Maukah aku beritahukan
kepada kalian tentang manusia terbaik?"
قَالُوا
بَلَى يَا رَسُولَ اللَّهِ
Mereka menjawab, "Tentu saja, wahai Rasulullah."
فَأَشَارَ
بِيَدِهِ نَحْوَ الْمَغْرِبِ وَقَالَ رَجُلٌ آخِذٌ بِعِنَانِ فَرَسِهِ فِي سَبِيلِ
اللَّهِ يَنْتَظِرُ أَنْ يُغِيرَ أَوْ يُغَارَ عَلَيْهِ
Lalu beliau menunjuk dengan tangannya ke arah barat dan
bersabda, "Seorang laki-laki yang memegang tali kekang kudanya di jalan
Allah, ia menunggu untuk menyerang atau diserang."
أَلَا
أُنَبِّئُكُمْ بِخَيْرِ النَّاسِ بَعْدَهُ وَأَشَارَ بِيَدِهِ نَحْوَ الْحِجَازِ
"Maukah aku beritahukan kepada kalian tentang manusia
terbaik setelahnya?" Dan beliau menunjuk dengan tangannya ke arah Hijaz.
وَقَالَ
رَجُلٌ فِي غَنَمِهِ يُقِيمُ الصَّلَاةَ وَيُؤْتِي الزَّكَاةَ وَيَعْلَمُ حَقَّ
اللَّهِ فِي مَالِهِ اعْتَزَلَ شُرُورَ النَّاسِ
Dan beliau bersabda, "Seorang laki-laki yang
(menggembala) kambingnya, ia mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan
mengetahui hak Allah dalam hartanya. Ia mengasingkan diri dari kejahatan
manusia."
فَإِذَا
ظَهَرَ أَنَّ هَذِهِ الْأَدِلَّةَ لَا شِفَاءَ فِيهَا مِنَ الْجَانِبَيْنِ فَلَا
بُدَّ مِنْ كَشْفِ الْغِطَاءِ بِالتَّصْرِيحِ بِفَوَائِدِ الْعُزْلَةِ
وَغَوَائِلِهَا وَمُقَايَسَةِ بَعْضِهَا بِالْبَعْضِ لِيَتَبَيَّنَ الْحَقُّ
فِيهَا
Maka, jika telah jelas bahwa dalil-dalil ini tidak
memberikan jawaban yang memuaskan dari kedua belah pihak, maka tidak ada cara
lain selain menyingkap tabir dengan menjelaskan secara gamblang manfaat-manfaat
dan bahaya-bahaya 'uzlah, serta membandingkan satu dengan yang lainnya, agar
kebenaran dalam masalah ini menjadi jelas.