Berlaku Adil dan Menjauhi Kezaliman Dalam Muamalah
الْبَابُ الثَّالِثُ فِي بَيَانِ الْعَدْلِ وَاجْتِنَابِ الظُّلْمِ فِي الْمُعَامَلَةِ.
Bab ketiga tentang penjelasan keadilan dan menjauhi
kezaliman dalam muamalah.
اعْلَمْ
أَنَّ الْمُعَامَلَةَ قَدْ تَجْرِي عَلَى وَجْهٍ يَحْكُمُ الْمُفْتِي بِصِحَّتِهَا
وَانْعِقَادِهَا.
Ketahuilah bahwa suatu transaksi bisa terjadi dalam bentuk
yang diputuskan sah dan terjalin oleh mufti.
وَلَكِنَّهَا
تَشْتَمِلُ عَلَى ظُلْمٍ يَتَعَرَّضُ بِهِ الْمُعَامِلُ لِسُخْطِ اللَّهِ تَعَالَى.
Akan tetapi, transaksi itu dapat mengandung kezaliman yang
menyebabkan pelakunya terancam murka Allah Ta‘ala.
إِذْ
لَيْسَ كُلُّ نَهْيٍ يَقْتَضِي فَسَادَ الْعَقْدِ.
Karena tidak setiap larangan mengharuskan batalnya akad.
وَهَذَا
الظُّلْمُ يَعْنِي بِهِ مَا اسْتَضَرَّ بِهِ الْغَيْرُ.
Dan yang dimaksud kezaliman di sini adalah segala sesuatu
yang merugikan orang lain.
وَهُوَ
مُنْقَسِمٌ إِلَى مَا يَعُمُّ ضَرَرُهُ وَإِلَى مَا يَخُصُّ الْمُعَامِلَ.
Ia terbagi menjadi yang bahayanya umum dan yang bahayanya
khusus bagi lawan transaksi.
الْقِسْمُ
الْأَوَّلُ فِيمَا يَعُمُّ ضَرَرُهُ، وَهُوَ أَنْوَاعٌ.
Bagian pertama adalah yang bahayanya umum, dan ia terdiri
dari beberapa jenis.
النَّوْعُ
الْأَوَّلُ: الِاحْتِكَارُ.
Jenis pertama ialah penimbunan barang.
فَبَائِعُ
الطَّعَامِ يَدَّخِرُ الطَّعَامَ يَنْتَظِرُ بِهِ غَلَاءَ الْأَسْعَارِ.
Yaitu penjual makanan menyimpan makanan, lalu menunggu
sampai harga-harga naik.
وَهُوَ
ظُلْمٌ عَامٌّ، وَصَاحِبُهُ مَذْمُومٌ فِي الشَّرْعِ.
Ini adalah kezaliman umum, dan pelakunya dicela dalam
syariat.
قَالَ
رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَنِ احْتَكَرَ الطَّعَامَ
أَرْبَعِينَ يَوْمًا ثُمَّ تَصَدَّقَ بِهِ لَمْ تَكُنْ صَدَقَتُهُ كَفَّارَةً
لِاحْتِكَارِهِ.
Rasulullah صلى
الله عليه وسلم bersabda: “Siapa yang menimbun makanan selama empat puluh hari,
lalu mensedekahkannya, maka sedekahnya itu tidak menjadi penebus bagi
penimbunannya.”
وَرَوَى
ابْنُ عُمَرَ عَنْهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ: مَنِ
احْتَكَرَ الطَّعَامَ أَرْبَعِينَ يَوْمًا فَقَدْ بَرِئَ مِنَ اللَّهِ وَبَرِئَ
اللَّهُ مِنْهُ.
Ibnu Umar meriwayatkan dari beliau صلى الله عليه وسلم bahwa beliau
bersabda: “Siapa yang menimbun makanan selama empat puluh hari, sungguh ia
telah lepas dari Allah dan Allah pun lepas darinya.”
وَقِيلَ:
فَكَأَنَّمَا قَتَلَ النَّاسَ جَمِيعًا.
Dikatakan: seolah-olah ia telah membunuh manusia seluruhnya.
وَعَنْ
عَلِيٍّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: مَنِ احْتَكَرَ الطَّعَامَ أَرْبَعِينَ يَوْمًا
قَسَا قَلْبُهُ.
Dari Ali رضي
الله عنه: “Siapa yang menimbun makanan selama empat puluh hari, hatinya
menjadi keras.”
وَعَنْهُ
أَيْضًا أَنَّهُ أَحْرَقَ طَعَامَ مُحْتَكِرٍ بِالنَّارِ.
Dan dari beliau juga diriwayatkan bahwa beliau membakar
makanan milik seorang penimbun dengan api.
وَرُوِيَ
فِي فَضْلِ تَرْكِ الِاحْتِكَارِ عَنْهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَن
جَلَبَ طَعَامًا فَبَاعَهُ بِسِعْرِ يَوْمِهِ فَكَأَنَّمَا تَصَدَّقَ بِهِ.
Dan diriwayatkan dalam keutamaan meninggalkan penimbunan
dari beliau صلى
الله عليه وسلم: “Siapa yang membawa makanan lalu menjualnya dengan harga hari
itu, seakan-akan ia telah menyedekahkannya.”
وَفِي
لَفْظٍ آخَرَ: فَكَأَنَّمَا أَعْتَقَ رَقَبَةً.
Dalam lafaz lain: “Seakan-akan ia telah memerdekakan seorang
budak.”
وَقِيلَ
فِي قَوْلِهِ تَعَالَى: {وَمَنْ يُرِدْ فِيهِ بِإِلْحَادٍ بِظُلْمٍ نُذِقْهُ مِنْ
عَذَابٍ أَلِيمٍ}.
Dan dikatakan tentang firman-Nya: “Barang siapa yang
bermaksud di dalamnya melakukan kejahatan secara zalim, niscaya Kami akan
merasakan kepadanya azab yang pedih.”
إِنَّ
الِاحْتِكَارَ مِنَ الظُّلْمِ وَدَاخِلٌ تَحْتَهُ فِي الْوَعِيدِ.
Sesungguhnya penimbunan termasuk kezaliman dan masuk dalam
ancaman ayat itu.
وَعَنْ
بَعْضِ السَّلَفِ أَنَّهُ كَانَ بِوَاسِطٍ، فَجَهَّزَ سَفِينَةَ حِنْطَةٍ إِلَى
الْبَصْرَةِ.
Dari sebagian salaf diriwayatkan bahwa ia berada di Wasith,
lalu menyiapkan kapal bermuatan gandum ke Basrah.
وَكَتَبَ
إِلَى وَكِيلِهِ: بِعْ هَذَا الطَّعَامَ يَوْمَ يَدْخُلُ الْبَصْرَةَ، وَلَا
تُؤَخِّرْهُ إِلَى غَدٍ.
Ia menulis kepada wakilnya: “Jual makanan ini pada hari
masuk ke Basrah, dan jangan kau tunda sampai besok.”
فَوَافَقَ
سَعَةً فِي السِّعْرِ.
Lalu saat itu harga sedang tinggi.
فَقَالَ
لَهُ التُّجَّارُ: لَوْ أَخَّرْتَهُ جُمُعَةً لَرَبِحْتَ فِيهِ أَضْعَافَهُ.
Para pedagang berkata kepadanya: “Seandainya engkau
menundanya seminggu, engkau akan memperoleh berlipat-lipat keuntungan.”
فَأَخَّرَهُ
جُمُعَةً فَرَبِحَ فِيهِ أَمْثَالَهُ.
Maka ia menundanya seminggu, lalu memperoleh keuntungan yang
sepadan.
وَكَتَبَ
إِلَى صَاحِبِهِ بِذَلِكَ.
Ia lalu menulis kepada pemilik barang tentang hal itu.
فَكَتَبَ
إِلَيْهِ صَاحِبُ الطَّعَامِ: يَا هَذَا، إِنَّا كُنَّا قَنِعْنَا بِرِبْحٍ
يَسِيرٍ مَعَ سَلَامَةِ دِينِنَا.
Pemilik makanan itu menulis kepadanya: “Wahai ini, kami
dahulu sudah rela dengan keuntungan sedikit, selama agama kami selamat.”
وَإِنَّكَ
قَدْ خَالَفْتَ.
“Dan engkau telah menyelisihi kami.”
وَمَا
نُحِبُّ أَنْ نَرْبَحَ أَضْعَافَهُ بِذَهَابِ شَيْءٍ مِنَ الدِّينِ.
“Dan kami tidak suka memperoleh berlipat-lipat keuntungan
dengan hilangnya sebagian agama.”
فَقَدْ
جَنَيْتَ عَلَيْنَا جِنَايَةً.
“Engkau telah berbuat jahat terhadap kami.”
فَإِذَا
أَتَاكَ كِتَابِي هَذَا فَخُذِ الْمَالَ كُلَّهُ فَتَصَدَّقْ بِهِ عَلَى فُقَرَاءِ
الْبَصْرَةِ.
“Maka jika suratku ini sampai kepadamu, ambillah seluruh
harta itu lalu sedekahkan kepada fakir miskin Basrah.”
وَلَيْتَنِي
أَنْجُو مِنْ إِثْمِ الِاحْتِكَارِ كِفَافًا لَا عَلَيَّ وَلَا لِي.
“Dan semoga aku selamat dari dosa penimbunan, sekadar tidak
memberatiku dan tidak pula menguntungkanku.”
وَاعْلَمْ
أَنَّ النَّهْيَ مُطْلَقٌ، وَيَتَعَلَّقُ النَّظَرُ بِهِ فِي الْوَقْتِ
وَالْجِنْسِ.
Ketahuilah, larangan itu bersifat umum. Namun
pertimbangannya berkaitan dengan waktu dan jenis barang.
أَمَّا
الْجِنْسُ فَيَطَّرِدُ النَّهْيُ فِي أَجْنَاسِ الْأَقْوَاتِ.
Adapun jenis barang, larangan itu berlaku pada semua jenis
makanan pokok.
أَمَّا
مَا لَيْسَ بِقُوتٍ وَلَا هُوَ مُعِينٌ عَلَى الْقُوتِ كَالْأَدْوِيَةِ
وَالْعَقَاقِيرِ وَالزَّعْفَرَانِ وَأَمْثَالِهِ فَلَا يَتَعَدَّى النَّهْيُ
إِلَيْهِ.
Adapun yang bukan makanan pokok dan juga bukan penunjang
makanan pokok, seperti obat-obatan, ramuan, saffron, dan semisalnya, maka
larangan tidak meluas kepadanya.
وَإِنْ
كَانَ مَطْعُومًا.
Meskipun benda itu bisa dimakan.
وَأَمَّا
مَا يُعِينُ عَلَى الْقُوتِ كَاللَّحْمِ وَالْفَوَاكِهِ وَمَا يَسُدُّ مَسَدًّا
يُغْنِي عَنِ الْقُوتِ فِي بَعْضِ الْأَحْوَالِ وَإِنْ كَانَ لَا يُمْكِنُ
الْمُدَاوَمَةُ عَلَيْهِ فَهَذَا فِي مَحَلِّ النَّظَرِ.
Adapun yang menunjang makanan pokok, seperti daging dan
buah-buahan, atau yang dapat menggantikan makanan pokok pada sebagian keadaan
walaupun tidak bisa terus-menerus dijadikan sandaran, maka ini berada dalam
wilayah ijtihad.
فَمِنَ
الْعُلَمَاءِ مَنْ طَرَدَ التَّحْرِيمَ فِي السَّمْنِ وَالْعَسَلِ وَالشِّيرِجِ
وَالْجُبْنِ وَالزَّيْتِ وَمَا يَجْرِي مَجْرَاهُ.
Sebagian ulama memperluas pengharaman pada samin, madu,
minyak wijen, keju, minyak zaitun, dan yang semisalnya.
وَأَمَّا
الْوَقْتُ فَيَحْتَمِلُ أَيْضًا طَرْدَ النَّهْيِ فِي جَمِيعِ الْأَوْقَاتِ.
Adapun waktu, juga mungkin larangan itu berlaku pada semua
waktu.
وَعَلَى
ذَلِكَ تَدُلُّ الْحِكَايَةُ الَّتِي ذَكَرْنَا فِي الطَّعَامِ الَّذِي صَادَفَ
بِالْبَصْرَةِ سَعَةً فِي السِّعْرِ.
Hal ini ditunjukkan oleh kisah yang telah kami sebutkan
tentang makanan yang di Basrah kebetulan sedang mahal.
وَيَحْتَمِلُ
أَنْ يُخَصَّصَ بِوَقْتِ قِلَّةِ الْأَطْعِمَةِ وَحَاجَةِ النَّاسِ إِلَيْهِ
حَتَّى يَكُونَ فِي تَأْخِيرِ بَيْعِهِ ضَرَرٌ.
Dan mungkin juga larangan itu dikhususkan pada waktu makanan
langka dan manusia membutuhkannya, sehingga menunda penjualannya menimbulkan
bahaya.
فَأَمَّا
إِذَا اتَّسَعَتِ الْأَطْعِمَةُ وَكَثُرَتْ وَاسْتَغْنَى النَّاسُ عَنْهَا وَلَمْ
يَرْغَبُوا فِيهَا إِلَّا بِقِيمَةٍ قَلِيلَةٍ، فَانْتَظَرَ صَاحِبُ الطَّعَامِ
ذَلِكَ وَلَمْ يَنْتَظِرْ قَحْطًا، فَلَيْسَ فِي هَذَا إِضْرَارٌ.
Adapun jika makanan melimpah, banyak, manusia tidak
membutuhkannya, dan tidak berminat kecuali dengan harga murah, lalu pemilik
makanan menunggu keadaan itu dan bukan menunggu paceklik, maka dalam hal ini
tidak ada unsur merugikan.
وَإِذَا
كَانَ الزَّمَانُ زَمَانَ قَحْطٍ كَانَ فِي ادِّخَارِ الْعَسَلِ وَالسَّمْنِ
وَالشِّيرِجِ وَأَمْثَالِهَا إِضْرَارٌ.
Jika masa itu adalah masa paceklik, maka menyimpan madu,
samin, minyak wijen, dan semisalnya menjadi tindakan merugikan.
فَيَنْبَغِي
أَنْ يُقْضَى بِتَحْرِيمِهِ.
Karena itu semestinya diputuskan haram.
وَيُعَوَّلُ
فِي نَفْيِ التَّحْرِيمِ وَإِثْبَاتِهِ عَلَى الضَّرَارِ.
Dan penetapan serta penafian pengharamannya bergantung pada
ada atau tidaknya unsur membahayakan.
فَإِنَّهُ
مَفْهُومٌ قَطْعًا مِنْ تَخْصِيصِ الطَّعَامِ.
Karena makna itu dipahami dengan jelas dari pengkhususan
pada makanan.
وَإِذَا
لَمْ يَكُنْ ضَرَارٌ فَلَا يَخْلُو احْتِكَارُ الْأَقْوَاتِ عَنْ كَرَاهِيَةٍ.
Dan jika tidak ada bahaya, maka penimbunan makanan pokok
tetap tidak lepas dari kemakruhan.
فَإِنَّهُ
يَنْتَظِرُ مَبَادِئَ الضَّرَارِ وَهُوَ ارْتِفَاعُ الْأَسْعَارِ.
Karena ia menunggu awal timbulnya bahaya, yaitu naiknya
harga.
وَانْتِظَارُ
مَبَادِئِ الضَّرَارِ مَحْذُورٌ كَانْتِظَارِ عَيْنِ الضَّرَرِ.
Menunggu awal timbulnya bahaya adalah tindakan tercela,
seperti menunggu terjadinya bahaya itu sendiri.
وَلَكِنَّهُ
دُونَهُ.
Hanya saja tingkatnya di bawah itu.
وَانْتِظَارُ
عَيْنِ الضَّرَرِ أَيْضًا هُوَ دُونَ الْإِضْرَارِ.
Dan menunggu bahaya yang nyata juga di bawah tindakan
membahayakan secara langsung.
فَبِقَدْرِ
دَرَجَاتِ الْإِضْرَارِ تَتَفَاوَتُ دَرَجَاتُ الْكَرَاهِيَةِ وَالتَّحْرِيمِ.
Maka sesuai dengan tingkat bahaya, bertingkat pula hukum
makruh dan haram.
وَبِالْجُمْلَةِ،
التِّجَارَةُ فِي الْأَقْوَاتِ مِمَّا لَا يُسْتَحَبُّ.
Secara umum, berdagang makanan pokok adalah perkara yang
tidak dianjurkan.
لِأَنَّهُ
طَلَبُ رِبْحٍ، وَالْأَقْوَاتُ أُصُولٌ خُلِقَتْ قِوَامًا.
Karena itu adalah mencari laba, sedangkan makanan pokok
adalah dasar kehidupan yang diciptakan sebagai penopang.
وَالرِّبْحُ
مِنَ الْمَزَايَا.
Sedangkan laba termasuk perkara tambahan.
فَيَنْبَغِي
أَنْ يُطْلَبَ الرِّبْحُ فِيمَا خُلِقَ مِنْ جُمْلَةِ الْمَزَايَا الَّتِي لَا
ضَرُورَةَ لِلْخَلْقِ إِلَيْهَا.
Maka laba seharusnya dicari pada hal-hal yang diciptakan
sebagai pelengkap, yang tidak menjadi kebutuhan pokok manusia.
وَلِذَلِكَ
أَوْصَى بَعْضُ التَّابِعِينَ رَجُلًا وَقَالَ: لَا تُسْلِمْ وَلَدَكَ فِي
بَيْعَتَيْنِ وَلَا فِي صِنْعَتَيْنِ: بَيْعِ الطَّعَامِ وَبَيْعِ الْأَكْفَانِ.
Karena itu sebagian tabi‘in menasihati seorang lelaki dan
berkata: “Jangan kau jadikan anakmu terjun ke dua jenis usaha dan dua jenis
pekerjaan: berdagang makanan dan menjual kain kafan.”
فَإِنَّهُ
يَتَمَنَّى الْغَلَاءَ وَمَوْتَ النَّاسِ.
Karena ia akan berharap harga naik dan manusia mati.
وَالصِّنْعَتَانِ
أَنْ يَكُونَ جَزَّارًا، فَإِنَّهَا صِنْعَةٌ تُقَسِّي الْقَلْبَ.
Adapun dua pekerjaan itu ialah menjadi tukang jagal, karena
pekerjaan itu mengeraskan hati.
أَوْ
صَوَّاغًا، فَإِنَّهُ يُزَخْرِفُ الدُّنْيَا بِالذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ.
Atau menjadi tukang emas, karena ia menghias dunia dengan
emas dan perak.
النَّوْعُ
الثَّانِي: تَرْوِيجُ الزَّيْفِ مِنَ الدَّرَاهِمِ فِي أَثْنَاءِ النَّقْدِ.
Jenis kedua: mengedarkan uang palsu di tengah-tengah mata
uang yang berlaku.
فَهُوَ
ظُلْمٌ، إِذْ يَسْتَضِرُّ بِهِ الْمُعَامِلُ إِنْ لَمْ يَعْرِفْ.
Itu adalah kezaliman, karena lawan transaksi akan dirugikan
jika ia tidak tahu.
وَإِنْ
عَرَفَ فَسَيُرَوِّجُهُ عَلَى غَيْرِهِ.
Dan jika ia tahu, maka ia akan mengedarkannya kepada orang
lain.
فَكَذَلِكَ
الثَّالِثُ وَالرَّابِعُ.
Begitu pula yang ketiga dan keempat.
وَلَا
يَزَالُ يَتَرَدَّدُ فِي الْأَيْدِي وَيَعُمُّ الضَّرَرُ وَيَتَّسِعُ الْفَسَادُ.
Ia akan terus berpindah dari tangan ke tangan, bahaya pun
meluas, dan kerusakan pun bertambah.
وَيَكُونُ
وِزْرُ الْكُلِّ وَوَبَالُهُ رَاجِعًا عَلَيْهِ.
Dan dosa semuanya serta akibat buruknya akan kembali
kepadanya.
فَإِنَّهُ
هُوَ الَّذِي فَتَحَ هَذَا الْبَابَ.
Karena dialah yang membuka pintu keburukan ini.
قَالَ
رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَنْ سَنَّ سُنَّةً سَيِّئَةً
فَعُمِلَ بِهَا مِنْ بَعْدِهِ كَانَ عَلَيْهِ وِزْرُهَا وَمِثْلُ وِزْرِ مَنْ
عَمِلَ بِهَا لَا يَنْقُصُ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَيْئًا.
Rasulullah صلى
الله عليه وسلم bersabda: “Siapa yang memulai suatu kebiasaan buruk lalu
diamalkan setelahnya, maka atasnya dosa kebiasaan itu dan dosa seperti dosa
orang yang mengamalkannya, tanpa mengurangi dosa mereka sedikit pun.”
وَقَالَ
بَعْضُهُمْ: إِنْفَاقُ دِرْهَمٍ زَيْفٍ أَشَدُّ مِنْ سَرِقَةِ مِائَةِ دِرْهَمٍ.
Sebagian ulama berkata: “Mengeluarkan satu dirham palsu
lebih berat daripada mencuri seratus dirham.”
لِأَنَّ
السَّرِقَةَ مَعْصِيَةٌ وَاحِدَةٌ وَقَدْ تَمَّتْ وَانْقَطَعَتْ.
Karena pencurian itu satu maksiat yang telah selesai dan
terputus.
وَإِنْفَاقُ
الزَّيْفِ بِدْعَةٌ أَظْهَرَهَا فِي الدِّينِ وَسُنَّةٌ سَيِّئَةٌ يُعْمَلُ بِهَا
مِنْ بَعْدِهِ.
Sedangkan membelanjakan uang palsu adalah bid‘ah yang ia
munculkan dalam agama dan kebiasaan buruk yang terus diamalkan setelahnya.
فَيَكُونُ
عَلَيْهِ وِزْرُهَا بَعْدَ مَوْتِهِ إِلَى مِائَةِ سَنَةٍ أَوْ مِائَتَيْ سَنَةٍ،
إِلَى أَنْ يَفْنَى ذَلِكَ الدِّرْهَمُ.
Maka ia menanggung dosanya sesudah mati, selama seratus
tahun atau dua ratus tahun, sampai dirham itu sendiri lenyap.
وَيَكُونُ
عَلَيْهِ مَا فَسَدَ مِنْ أَمْوَالِ النَّاسِ بِسُنَّتِهِ.
Dan ia menanggung kerusakan harta manusia yang timbul karena
kebiasaannya itu.
وَطُوبَى
لِمَنْ إِذَا مَاتَ مَاتَتْ مَعَهُ ذُنُوبُهُ.
Beruntunglah orang yang bila ia mati, maka dosanya ikut mati
bersamanya.
وَالْوَيْلُ
الطَّوِيلُ لِمَنْ يَمُوتُ وَتَبْقَى ذُنُوبُهُ مِائَةَ سَنَةٍ وَمِائَتَيْ سَنَةٍ
أَوْ أَكْثَرَ.
Dan celakalah orang yang mati, sementara dosanya tetap hidup
seratus tahun, dua ratus tahun, atau lebih.
يُعَذَّبُ
بِهَا فِي قَبْرِهِ وَيُسْأَلُ عَنْهَا إِلَى آخِرِ انْقِرَاضِهَا.
Ia disiksa karenanya di dalam kuburnya dan ditanya
tentangnya hingga keburukan itu benar-benar lenyap.
وَقَالَ
تَعَالَى: {وَنَكْتُبُ مَا قَدَّمُوا وَآثَارَهُمْ}.
Allah Ta‘ala berfirman: “Dan Kami tulis apa yang telah
mereka kerjakan dan آثار
mereka.”
أَيْ
نَكْتُبُ أَيْضًا مَا أَخَّرُوهُ مِنْ آثَارِ أَعْمَالِهِمْ كَمَا نَكْتُبُ مَا
قَدَّمُوهُ.
Artinya, Kami juga mencatat apa yang mereka tinggalkan dari
jejak-jejak amal mereka, sebagaimana Kami mencatat apa yang mereka lakukan di
depan.
وَفِي
مِثْلِهِ قَوْلُهُ تَعَالَى: {يُنَبَّأُ الْإِنْسَانُ يَوْمَئِذٍ بِمَا قَدَّمَ
وَأَخَّرَ}.
Seperti firman-Nya: “Pada hari itu manusia diberitahu
tentang apa yang telah ia kerjakan dan apa yang ia tinggalkan.”
وَإِنَّمَا
أَخَّرَ آثَارَ أَعْمَالِهِ مِنْ سُنَّةٍ سَيِّئَةٍ عَمِلَ بِهَا غَيْرُهُ.
Dan yang menjadi bekas amalnya yang tertunda itu ialah
kebiasaan buruk yang diamalkan oleh orang lain.
وَلْيُعْلَمْ
أَنَّ فِي الزَّيْفِ خَمْسَةَ أُمُورٍ.
Ketahuilah bahwa dalam uang palsu ada lima hal.
الْأَوَّلُ:
أَنَّهُ إِذَا رُدَّ عَلَيْهِ شَيْءٌ مِنْهُ فَيَنْبَغِي أَنْ يَطْرَحَهُ فِي
بِئْرٍ بِحَيْثُ لَا تَمْتَدُّ إِلَيْهِ الْيَدُ.
Pertama: jika sesuatu darinya kembali kepadanya, maka
sebaiknya ia melemparkannya ke dalam sumur yang tidak dapat dijangkau tangan.
وَإِيَّاهُ
أَنْ يُرَوِّجَهُ فِي بَيْعٍ آخَرَ.
Dan jangan sekali-kali ia mengedarkannya dalam jual beli
lain.
وَإِنْ
أَفْسَدَهُ بِحَيْثُ لَا يُمْكِنُ التَّعَامُلُ بِهِ جَازَ.
Dan jika ia merusaknya sehingga tidak mungkin dipakai
bertransaksi, maka boleh.
الثَّانِي:
أَنَّهُ يَجِبُ عَلَى التَّاجِرِ تَعَلُّمُ النَّقْدِ.
Kedua: pedagang wajib mempelajari mata uang.
لَا
لِيَسْتَقْصِيَ لِنَفْسِهِ، وَلَكِنْ لِئَلَّا يُسَلِّمَ إِلَى مُسْلِمٍ زَيْفًا
وَهُوَ لَا يَدْرِي.
Bukan untuk mencari untung bagi dirinya, tetapi agar tidak
menyerahkan uang palsu kepada seorang Muslim sementara ia tidak tahu.
فَيَكُونَ
آثِمًا بِتَقْصِيرِهِ فِي تَعَلُّمِ ذَلِكَ الْعِلْمِ.
Sehingga ia berdosa karena lalai mempelajari ilmu itu.
فَكُلُّ
عِلْمٍ عُمِلَ بِهِ يَتِمُّ نُصْحُ الْمُسْلِمِينَ.
Maka setiap ilmu yang diamalkan akan menyempurnakan nasihat
kepada kaum Muslimin.
فَيَجِبُ
تَحْصِيلُهُ.
Karena itu, ilmu tersebut wajib dipelajari.
وَلِمِثْلِ
هَذَا كَانَ السَّلَفُ يَتَعَلَّمُونَ عَلَامَاتِ النَّقْدِ نَظَرًا لِدِينِهِمْ
لَا لِدُنْيَاهُمْ.
Untuk sebab semacam inilah para salaf mempelajari
tanda-tanda mata uang demi agama mereka, bukan demi dunia mereka.
الثَّالِثُ:
أَنَّهُ إِنْ سُلِّمَ وَعَرَفَ الْمُعَامِلُ أَنَّهُ زَيْفٌ لَمْ يَخْرُجْ عَنِ
الْإِثْمِ.
Ketiga: jika uang itu diserahkan, dan pihak lawan transaksi
mengetahui bahwa itu palsu, maka pemberi itu belum bebas dari dosa.
لِأَنَّهُ
لَيْسَ يَأْخُذُهُ إِلَّا لِيُرَوِّجَهُ عَلَى غَيْرِهِ.
Karena ia mengambilnya hanya untuk mengedarkannya kepada
orang lain.
وَلَا
يُخْبِرُهُ.
Dan ia tidak memberitahukan hal itu kepadanya.
وَلَوْ
لَمْ يَعْزِمْ عَلَى ذَلِكَ لَمْ يَكُنْ لَا يَرْغَبُ فِي أَخْذِهِ أَصْلًا.
Seandainya ia tidak berniat demikian, tentu ia tidak akan
mau mengambilnya sejak awal.
فَإِنَّمَا
يَتَخَلَّصُ مِنْ إِثْمِ الضَّرَرِ الَّذِي يَخُصُّ مُعَامِلَهُ فَقَطْ.
Maka ia hanya terbebas dari dosa kerugian yang khusus
menimpa lawan transaksinya saja.
الرَّابِعُ:
أَنْ يَأْخُذَ الزَّيْفَ لِيَعْمَلَ بِقَوْلِهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ: رَحِمَ اللَّهُ امْرَأً سَهَّلَ الْبَيْعَ وَسَهَّلَ الشِّرَاءَ
وَسَهَّلَ الْقَضَاءَ وَسَهَّلَ الِاقْتِضَاءَ.
Keempat: ia mengambil uang palsu dengan alasan ingin
mengamalkan sabda Nabi صلى
الله عليه وسلم: “Semoga Allah merahmati orang yang memudahkan jual beli,
memudahkan pembelian, memudahkan pembayaran, dan memudahkan penagihan.”
فَهُوَ
دَاخِلٌ فِي بَرَكَةِ هَذَا الدُّعَاءِ إِنْ عَزَمَ عَلَى طَرْحِهِ فِي بِئْرٍ.
Maka ia termasuk dalam keberkahan doa ini jika ia berniat
membuangnya ke dalam sumur.
وَإِنْ
كَانَ عَازِمًا عَلَى أَنْ يُرَوِّجَهُ فِي مُعَامَلَةٍ فَهَذَا شَرٌّ رَوَّجَهُ
الشَّيْطَانُ عَلَيْهِ فِي مَعْرِضِ الْخَيْرِ.
Namun jika ia berniat mengedarkannya dalam transaksi, maka
itu adalah kejahatan yang diperindah setan kepadanya dalam rupa kebaikan.
فَلَا
يَدْخُلُ تَحْتَ مَنْ تَسَاهَلَ فِي الِاقْتِضَاءِ.
Maka hal itu tidak termasuk orang yang dimaksud oleh hadits
tentang memudahkan penagihan.
الْخَامِسُ:
أَنَّ الزَّيْفَ نَعْنِي بِهِ مَا لَا نُقِرُّ فِيهِ أَصْلًا بَلْ هُوَ مُمَوَّهٌ.
Kelima: yang dimaksud uang palsu ialah yang sama sekali
tidak kami akui sebagai uang, bahkan hanya tampak seperti uang saja.
أَوْ
مَا لَا ذَهَبَ فِيهِ، أَعْنِي فِي الدَّنَانِيرِ.
Atau sesuatu yang tidak mengandung emas, khususnya pada
dinar.
أَمَّا
مَا فِيهِ نُقْرَةٌ، فَإِنْ كَانَ مَخْلُوطًا بِالنُّحَاسِ وَهُوَ نَقْدُ
الْبَلَدِ فَقَدِ اخْتَلَفَ الْعُلَمَاءُ فِي الْمُعَامَلَةِ عَلَيْهِ.
Adapun jika di dalamnya ada perak, lalu bercampur tembaga
dan itu menjadi mata uang negeri, para ulama berbeda pendapat tentang
bertransaksi dengannya.
وَجُلُّ
رَأْيِنَا الرُّخْصَةُ فِيهِ إِذَا كَانَ ذَلِكَ نَقْدَ الْبَلَدِ.
Dan pendapat kami pada umumnya adalah memberi keringanan
bila itu memang mata uang yang berlaku di negeri tersebut.
سَوَاءٌ
عُلِمَ قَدْرُ النُّقْرَةِ أَوْ لَمْ يُعْلَمْ.
Baik kadar peraknya diketahui maupun tidak.
وَإِنْ
لَمْ يَكُنْ هُوَ نَقْدَ الْبَلَدِ لَمْ يَجُزْ إِلَّا إِذَا عُلِمَ قَدْرُ
النُّقْرَةِ.
Jika itu bukan mata uang negeri, maka tidak boleh kecuali
bila kadar peraknya diketahui.
فَإِنْ
كَانَ فِي مَالِهِ قِطْعَةٌ نُقْرَتُهَا نَاقِصَةٌ عَنْ نَقْدِ الْبَلَدِ
فَعَلَيْهِ أَنْ يُخْبِرَ بِهِ مُعَامِلَهُ.
Jika di hartanya ada keping yang kadar peraknya kurang dari
mata uang negeri, maka ia wajib memberi tahu lawan transaksinya.
وَأَنْ
لَا يُعَامِلَ بِهِ إِلَّا مَنْ لَا يَسْتَحِلُّ التَّرْوِيجَ فِي جُمْلَةِ
النَّقْدِ بِطَرِيقِ التَّلْبِيسِ.
Dan ia tidak boleh bertransaksi dengannya kecuali dengan
orang yang tidak menghalalkan mengedarkan uang palsu di tengah mata uang dengan
cara menipu.
فَأَمَّا
مَنْ يَسْتَحِلُّ ذَلِكَ فَتَسْلِيمُهُ إِلَيْهِ تَسْلِيطٌ لَهُ عَلَى الْفَسَادِ.
Adapun orang yang menghalalkan hal itu, maka menyerahkannya
kepadanya berarti memberinya kekuasaan untuk berbuat kerusakan.
فَهُوَ
كَبَيْعِ الْعِنَبِ مِمَّنْ يَعْلَمُ أَنَّهُ يَتَّخِذُهُ خَمْرًا.
Itu seperti menjual anggur kepada orang yang diketahui akan
menjadikannya khamr.
وَذَلِكَ
مَحْظُورٌ وَإِعَانَةٌ عَلَى الشَّرِّ وَمُشَارَكَةٌ فِيهِ.
Itu terlarang, membantu keburukan, dan ikut serta di
dalamnya.
وَسُلُوكُ
طَرِيقِ الْحَقِّ بِمِثَالِ هَذَا فِي التِّجَارَةِ أَشَدُّ مِنَ الْمُوَاظَبَةِ
عَلَى نَوَافِلِ الْعِبَادَاتِ وَالتَّخَلِّي لَهَا.
Menempuh jalan benar dalam perdagangan seperti ini lebih
berat daripada tekun dalam ibadah-ibadah sunnah dan mengosongkan diri untuknya.
وَلِذَلِكَ
قَالَ بَعْضُهُمْ: التَّاجِرُ الصَّدُوقُ أَفْضَلُ عِنْدَ اللَّهِ مِنَ
الْمُتَعَبِّدِ.
Karena itu sebagian orang berkata: pedagang yang jujur lebih
utama di sisi Allah daripada ahli ibadah.
وَقَدْ
كَانَ السَّلَفُ يَحْتَاطُونَ فِي مِثْلِ ذَلِكَ.
Dan para salaf dahulu sangat berhati-hati dalam perkara
semacam itu.
حَتَّى
رُوِيَ عَنْ بَعْضِ الْغُزَاةِ فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَنَّهُ قَالَ: حَمَلْتُ عَلَى
فَرَسِي لِأَقْتُلَ عَلْجًا.
Sampai diriwayatkan dari salah seorang mujahid bahwa ia
berkata: “Aku menunggang kudaku untuk membunuh seorang musuh.”
فَقَصُرَ
بِي فَرَسِي، فَرَجَعْتُ.
Namun kudaku terhenti, maka aku kembali.
ثُمَّ
دَنَا مِنِّي الْعَلْجُ، فَحَمَلْتُ ثَانِيَةً، فَقَصُرَ فَرَسِي، فَرَجَعْتُ.
Lalu musuh itu mendekat, maka aku menyerang lagi untuk kedua
kali, tetapi kudaku kembali terhenti, lalu aku pulang.
ثُمَّ
حَمَلْتُ الثَّالِثَةَ، فَنَفَرَ مِنِّي فَرَسِي، وَكُنْتُ لَا أَعْتَادُ ذَلِكَ
مِنْهُ.
Lalu aku menyerang untuk ketiga kali, tetapi kudaku justru
lari dariku, padahal aku tidak pernah mengalaminya seperti itu.
فَرَجَعْتُ
حَزِينًا.
Maka aku kembali dengan sedih.
وَجَلَسْتُ
مُنْكِسَ الرَّأْسِ مُنْكَسِرَ الْقَلْبِ لِمَا فَاتَنِي مِنَ الْعَلْجِ وَمَا
ظَهَرَ لِي مِنْ خُلُقِ الْفَرَسِ.
Aku duduk menunduk dengan hati hancur karena target musuh
gagal dan karena tampak bagiku keadaan kuda itu.
فَوَضَعْتُ
رَأْسِي عَلَى عَمُودِ الْفُسْطَاطِ وَفَرَسِي قَائِمٌ.
Lalu aku meletakkan kepalaku di tiang tenda, sementara
kudaku berdiri.
فَرَأَيْتُ
فِي النَّوْمِ كَأَنَّ الْفَرَسَ يُخَاطِبُنِي وَيَقُولُ لِي: بِاللَّهِ عَلَيْكَ،
أَرَدْتَ أَنْ تَأْخُذَ عَلَى الْعَلْجِ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ، وَأَنْتَ بِالْأَمْسِ
اشْتَرَيْتَ لِي عُلَفًا وَدَفَعْتَ فِي ثَمَنِهِ دِرْهَمًا زَيْفًا، لَا يَكُونُ
هَذَا أَبَدًا.
Maka dalam mimpi aku melihat seakan-akan kuda itu berbicara
kepadaku dan berkata: “Aku bersumpah kepadamu, engkau hendak menyerang musuh
tiga kali, padahal kemarin engkau membelikanku pakan dan membayar harganya
dengan satu dirham palsu. Itu sama sekali tidak pantas.”
قَالَ:
فَانْتَبَهْتُ فَزِعًا، فَذَهَبْتُ إِلَى الْعَلَّافِ وَأَبْدَلْتُ ذَلِكَ
الدِّرْهَمَ.
Ia berkata: “Maka aku terbangun dengan terkejut, lalu aku
mendatangi penjual pakan dan menukar dirham itu.”
فَهَذَا
مِثَالُ مَا يَعُمُّ ضَرَرُهُ، وَلْيُقَسْ عَلَيْهِ أَمْثَالُهُ.
Ini adalah contoh sesuatu yang bahayanya umum, dan yang
semisal dengannya dapat diqiyaskan kepadanya.
الْقِسْمُ
الثَّانِي: مَا يَخُصُّ ضَرَرُهُ الْمُعَامِلَ.
Bagian kedua: yang bahayanya khusus menimpa lawan transaksi.
فَكُلُّ
مَا يَسْتَضِرُّ بِهِ الْمُعَامِلُ فَهُوَ ظُلْمٌ.
Maka setiap perkara yang merugikan lawan transaksi adalah
kezaliman.
وَإِنَّمَا
الْعَدْلُ أَنْ لَا يَضُرَّ بِأَخِيهِ الْمُسْلِمِ.
Keadilan adalah tidak merugikan saudaranya sesama Muslim.
وَالضَّابِطُ
الْكُلِّيُّ فِيهِ: أَنْ لَا يُحِبَّ لِأَخِيهِ إِلَّا مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ.
Kaedah umumnya adalah: ia tidak mencintai untuk saudaranya
kecuali apa yang ia cintai untuk dirinya sendiri.
فَكُلُّ
مَا لَوْ عُومِلَ بِهِ شَقَّ عَلَيْهِ وَثَقُلَ عَلَى قَلْبِهِ فَيَنْبَغِي أَنْ
لَا يُعَامِلَ غَيْرَهُ بِهِ.
Segala sesuatu yang jika dilakukan kepadanya akan terasa
berat dan menyusahkan hatinya, maka janganlah ia memperlakukan orang lain
dengan hal itu.
بَلْ
يَنْبَغِي أَنْ يَسْتَوِيَ عِنْدَهُ دِرْهَمُهُ وَدِرْهَمُ غَيْرِهِ.
Bahkan hendaklah di sisinya dirham miliknya dan dirham milik
orang lain sama nilainya.
قَالَ
بَعْضُهُمْ: مَنْ بَاعَ أَخَاهُ شَيْئًا بِدِرْهَمٍ وَلَيْسَ يَصْلُحُ لَهُ لَوِ
اشْتَرَاهُ لِنَفْسِهِ إِلَّا بِخَمْسَةِ دَوَانِيقَ.
Sebagian ulama berkata: “Siapa yang menjual sesuatu kepada
saudaranya seharga satu dirham, padahal jika ia membelinya untuk dirinya
sendiri ia tidak rela kecuali dengan lima dawaniq.”
فَإِنَّهُ
قَدْ تَرَكَ النُّصْحَ الْمَأْمُورَ بِهِ فِي الْمُعَامَلَةِ.
Maka ia telah meninggalkan nasihat yang diperintahkan dalam
muamalah.
وَلَمْ
يُحِبَّ لِأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ.
Dan ia tidak mencintai untuk saudaranya apa yang ia cintai
untuk dirinya.
هَذِهِ
جُمْلَتُهُ.
Itulah ringkasannya.
فَأَمَّا
تَفْصِيلُهُ فَفِي أَرْبَعَةِ أُمُورٍ.
Adapun rinciannya ada pada empat perkara.
أَنْ
لَا يُثْنِيَ عَلَى السِّلْعَةِ بِمَا لَيْسَ فِيهَا.
Yaitu tidak memuji barang dengan sesuatu yang tidak ada
padanya.
وَأَنْ
لَا يَكْتُمَ مِنْ عُيُوبِهَا وَخَفَايَا صِفَاتِهَا شَيْئًا أَصْلًا.
Dan tidak menyembunyikan sedikit pun dari cacat atau
sifat-sifat tersembunyinya.
وَأَنْ
لَا يَكْتُمَ فِي وَزْنِهَا وَمِقْدَارِهَا شَيْئًا.
Dan tidak menyembunyikan apa pun dari berat dan ukurannya.
وَأَنْ
لَا يَكْتُمَ مِنْ سِعْرِهَا مَا لَوْ عَلِمَهُ الْمُعَامِلُ لَامْتَنَعَ عَنْهُ.
Dan tidak menyembunyikan harga yang jika diketahui oleh
lawan transaksi, ia akan menolak membelinya.
أَمَّا
الْأَوَّلُ فَهُوَ تَرْكُ الثَّنَاءِ.
Adapun yang pertama ialah meninggalkan pujian.
فَإِنْ
وَصَفَ السِّلْعَةَ بِمَا لَيْسَ فِيهَا فَهُوَ كَذِبٌ.
Jika ia وصف
barang dengan sesuatu yang tidak ada padanya, maka itu dusta.
فَإِنْ
قَبِلَ الْمُشْتَرِي ذَلِكَ فَهُوَ تَلْبِيسٌ وَظُلْمٌ مَعَ كَوْنِهِ كَذِبًا.
Jika pembeli menerimanya, maka itu menjadi penipuan dan
kezaliman, selain sebagai dusta.
وَإِنْ
لَمْ يَقْبَلْ فَهُوَ كَذِبٌ وَإِسْقَاطُ مُرُوءَةٍ.
Dan jika tidak diterima, maka itu tetap dusta dan
menjatuhkan wibawa dirinya.
إِذِ
الْكَذِبُ الَّذِي لَا يَرُوجُ قَدْ لَا يَقْدَحُ فِي ظَاهِرِ الْمُرُوءَةِ.
Karena dusta yang tidak laku pun kadang tidak langsung
merusak tampilan wibawa lahiriah.
وَإِنْ
أَثْنَى عَلَى السِّلْعَةِ بِمَا فِيهَا فَهُوَ هَذَيَانٌ وَتَكَلُّمٌ بِكَلَامٍ
لَا يَعْنِيهِ.
Dan jika ia memuji barang dengan apa yang memang ada
padanya, maka itu sekadar omong kosong dan berkata-kata tentang sesuatu yang
tidak penting baginya.
وَهُوَ
مُحَاسَبٌ عَلَى كُلِّ كَلِمَةٍ تَصْدُرُ مِنْهُ.
Dan ia akan dimintai pertanggungjawaban atas setiap kata
yang keluar darinya.
قَالَ
اللَّهُ تَعَالَى: {مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ}.
Allah Ta‘ala berfirman: “Tidak ada suatu kata pun yang
diucapkannya melainkan di sisinya ada malaikat pengawas yang selalu siap.”
إِلَّا
أَنْ يَثْنِيَ عَلَى السِّلْعَةِ بِمَا فِيهَا مِمَّا لَا يَعْرِفُهُ الْمُشْتَرِي
مَا لَمْ يَذْكُرْهُ.
Kecuali jika ia memuji barang dengan sifat yang memang ada
padanya, tetapi belum diketahui pembeli selama ia tidak menjelaskannya secara
berlebihan.
كَمَا
يَصِفُهُ مِنْ خَفِيَّ أَخْلَاقِ الْعَبِيدِ وَالْجَوَارِي وَالدَّوَابِّ.
Sebagaimana ia menjelaskan sifat-sifat tersembunyi dari
budak, budak perempuan, dan hewan tunggangan.
فَلَا
بَأْسَ بِذِكْرِ الْقَدْرِ الْمَوْجُودِ مِنْهُ مِنْ غَيْرِ مُبَالَغَةٍ وَلَا
إِطْنَابٍ.
Maka tidak mengapa menyebut kadar yang ada tanpa
berlebih-lebihan dan tanpa panjang lebar.
وَلْيَكُنْ
قَصْدُهُ مِنْهُ أَنْ يَعْرِفَهُ أَخُوهُ الْمُسْلِمُ فَيَرْغَبَ فِيهِ
وَتَنْقَضِيَ بِسَبَبِهِ حَاجَتُهُ.
Hendaklah tujuannya agar saudaranya sesama Muslim mengenal
barang itu lalu tertarik membelinya dan kebutuhannya pun terpenuhi.
وَلَا
يَنْبَغِي أَنْ يَحْلِفَ عَلَيْهِ الْبَتَّةَ.
Dan sama sekali tidak pantas ia bersumpah atasnya.
فَإِنَّهُ
إِنْ كَانَ كَاذِبًا فَقَدْ جَاءَ بِالْيَمِينِ الْغَمُوسِ.
Karena jika ia dusta, ia telah membawa sumpah palsu yang
menenggelamkan pelakunya dalam dosa.
وَهِيَ
مِنَ الْكَبَائِرِ الَّتِي تَذَرُ الدِّيَارَ بَلَاقِعَ.
Itu termasuk dosa besar yang meninggalkan rumah-rumah
menjadi kosong.
وَإِنْ
كَانَ صَادِقًا فَقَدْ جَعَلَ اللَّهَ تَعَالَى عُرْضَةً لِأَيْمَانِهِ.
Dan jika ia benar, maka ia telah menjadikan nama Allah
sebagai sasaran sumpahnya.
وَقَدْ
أَسَاءَ فِيهِ.
Dan ia telah berbuat buruk dalam hal itu.
إِذِ
الدُّنْيَا أَخَسُّ مِنْ أَنْ يُقْصَدَ تَرْوِيجُهَا بِذِكْرِ اسْمِ اللَّهِ مِنْ
غَيْرِ ضَرُورَةٍ.
Karena dunia terlalu rendah untuk dijadikan sarana
melariskan barang dengan menyebut nama Allah tanpa kebutuhan.
وَفِي
الْخَبَرِ: وَيْلٌ لِلتَّاجِرِ مِنْ بَلَى وَاللَّهِ وَلَا وَاللَّهِ.
Dalam hadis disebutkan: “Celakalah pedagang karena ‘ya, demi
Allah’ dan ‘tidak, demi Allah’.”
وَوَيْلٌ
لِلصَّانِعِ مِنْ غَدٍ وَبَعْدَ.
Dan celakalah tukang karena berkata: “besok” dan “setelah
itu.”
وَفِي
الْخَبَرِ: الْيَمِينُ الْكَاذِبَةُ مُنْفِقَةٌ لِلسِّلْعَةِ مُمْحِقَةٌ
لِلْبَرَكَةِ.
Dalam hadis disebutkan: “Sumpah palsu memang melariskan
barang, tetapi menghapus berkah.”
وَرَوَى
أَبُو هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ: ثَلَاثَةٌ لَا يَنْظُرُ اللَّهُ إِلَيْهِمْ يَوْمَ
الْقِيَامَةِ: عَتُلٌّ مُسْتَكْبِرٌ، وَمَنَّانٌ بِعَطِيَّتِهِ، وَمُنَفِّقٌ
سِلْعَتَهُ بِيَمِينِهِ.
Abu Hurairah رضي الله عنه meriwayatkan dari Nabi صلى الله عليه وسلم
bahwa beliau bersabda: “Ada tiga golongan yang Allah tidak akan memandang
mereka pada hari kiamat: orang keras lagi sombong, orang yang mengungkit-ungkit
pemberiannya, dan orang yang melariskan barang dagangannya dengan sumpahnya.”
فَإِذَا
كَانَ الثَّنَاءُ عَلَى السِّلْعَةِ مَعَ الصِّدْقِ مَكْرُوهًا مِنْ حَيْثُ
إِنَّهُ فُضُولٌ لَا يَزِيدُ فِي الرِّزْقِ.
Maka jika memuji barang dengan jujur saja sudah makruh
karena itu berlebihan dan tidak menambah rezeki,
فَلَا
يَخْفَى التَّغْلِيظُ فِي أَمْرِ الْيَمِينِ.
maka jelaslah betapa berat persoalan sumpah.
وَقَدْ
رُوِيَ عَنْ يُونُسَ بْنِ عُبَيْدٍ وَكَانَ خَزَّازًا أَنَّهُ طُلِبَ مِنْهُ خَزٌّ
لِلشِّرَاءِ.
Diriwayatkan tentang Yunus bin Ubaid, yang berjualan kain
sutra, bahwa ia dimintai kain untuk dibeli.
فَأَخْرَجَ
غُلَامُهُ سَقْطَ الْخَزِّ وَنَشَرَهُ وَنَظَرَ إِلَيْهِ.
Maka budaknya mengeluarkan kain sutra itu, membentangkannya,
dan melihatnya.
وَقَالَ:
اللَّهُمَّ ارْزُقْنَا الْجَنَّةَ.
Lalu ia berkata: “Ya Allah, karuniakanlah surga kepada
kami.”
فَقَالَ
لِغُلَامِهِ: رُدَّهُ إِلَى مَوْضِعِهِ وَلَمْ يَبِعْهُ.
Maka ia berkata kepada budaknya: “Kembalikan ke tempatnya,”
lalu ia tidak menjualnya.
وَخَافَ
أَنْ يَكُونَ ذَلِكَ تَعْرِيضًا بِالثَّنَاءِ عَلَى السِّلْعَةِ.
Ia takut hal itu menjadi isyarat pujian terselubung terhadap
barang.
فَمِثْلُ
هَؤُلَاءِ الَّذِينَ اتَّجَرُوا فِي الدُّنْيَا وَلَمْ يُضَيِّعُوا دِينَهُمْ فِي
تِجَارَاتِهِمْ.
Mereka semisal orang-orang yang berdagang di dunia tetapi
tidak menyia-nyiakan agama mereka dalam perdagangan mereka.
بَلْ
عَلِمُوا أَنَّ رِبْحَ الْآخِرَةِ أَوْلَى بِالطَّلَبِ مِنْ رِبْحِ الدُّنْيَا.
Bahkan mereka tahu bahwa keuntungan akhirat lebih layak
dicari daripada keuntungan dunia.
الثَّانِي:
أَنْ يُظْهِرَ جَمِيعَ عُيُوبِ الْمَبِيعِ، خَفِيَّهَا وَجَلِيَّهَا، وَلَا
يَكْتُمَ مِنْهَا شَيْئًا.
Kedua: ia harus menampakkan semua cacat barang jualan, baik
yang tersembunyi maupun yang tampak, dan tidak menyembunyikan apa pun.
فَذَلِكَ
وَاجِبٌ.
Itu wajib.
فَإِنْ
أَخْفَاهُ كَانَ ظَالِمًا غَاشًّا.
Jika ia menyembunyikannya, ia menjadi zalim dan penipu.
وَالْغِشُّ
حَرَامٌ.
Dan penipuan adalah haram.
وَكَانَ
تَارِكًا لِلنُّصْحِ فِي الْمُعَامَلَةِ، وَالنُّصْحُ وَاجِبٌ.
Ia juga meninggalkan nasihat dalam muamalah, padahal nasihat
itu wajib.
وَمَهْمَا
أَظْهَرَ أَحْسَنَ وَجْهَيِ الثَّوْبِ وَأَخْفَى الثَّانِيَ كَانَ غَاشًّا.
Jika ia menampilkan sisi kain yang terbaik dan
menyembunyikan sisi lainnya, maka ia adalah penipu.
وَكَذَلِكَ
إِذَا عَرَضَ الثِّيَابَ فِي الْمَوَاضِعِ الْمُظْلِمَةِ.
Demikian pula bila ia memajang pakaian di tempat yang gelap.
وَكَذَلِكَ
إِذَا عَرَضَ أَحْسَنَ فَرْدَيِ الْخُفِّ أَوِ النَّعْلِ وَأَمْثَالِهِ.
Dan demikian pula jika ia memamerkan sebelah sepatu atau
sandal yang paling bagus, dan yang semisalnya.
وَيَدُلُّ
عَلَى تَحْرِيمِ الْغِشِّ مَا رُوِيَ: أَنَّهُ مَرَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ بِرَجُلٍ يَبِيعُ طَعَامًا فَأَعْجَبَهُ، فَأَدْخَلَ يَدَهُ فِيهِ
فَرَأَى بَلَلًا.
Dan yang menunjukkan haramnya penipuan ialah riwayat bahwa
Nabi صلى الله عليه
وسلم melewati seorang lelaki yang menjual makanan, lalu beliau
tertarik kepadanya. Maka beliau memasukkan tangannya ke dalam makanan itu dan
mendapati ada bagian yang basah.
فَقَالَ:
مَا هَذَا؟
Beliau bersabda: “Apa ini?”
قَالَ:
أَصَابَتْهُ السَّمَاءُ.
Orang itu menjawab: “Ia terkena hujan.”
فَقَالَ:
فَهَلَّا جَعَلْتَهُ فَوْقَ الطَّعَامِ حَتَّى يَرَاهُ النَّاسُ؟ مَنْ غَشَّنَا
فَلَيْسَ مِنَّا.
Beliau bersabda: “Mengapa tidak engkau letakkan di atas
makanan agar orang-orang melihatnya? Siapa yang menipu kami maka ia bukan
golongan kami.”
وَيَدُلُّ
عَلَى وُجُوبِ النُّصْحِ بِإِظْهَارِ الْعُيُوبِ مَا رُوِيَ أَنَّ النَّبِيَّ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَمَّا بَايَعَ جَرِيرًا عَلَى الْإِسْلَامِ
ذَهَبَ لِيَنْصَرِفَ فَجَذَبَ ثَوْبَهُ وَاشْتَرَطَ عَلَيْهِ النُّصْحَ لِكُلِّ
مُسْلِمٍ.
Yang menunjukkan wajibnya nasihat dengan menampakkan cacat
ialah riwayat bahwa Nabi صلى
الله عليه وسلم ketika membaiat Jarir atas Islam, beliau hendak pergi, lalu
Jarir menarik pakaian beliau dan mensyaratkan beliau agar menasihati setiap
Muslim.
فَكَانَ
جَرِيرٌ إِذَا قَامَ إِلَى السِّلْعَةِ يَبِيعُهَا بَصَّرَ عُيُوبَهَا.
Jarir, bila berdiri di hadapan barang yang hendak ia jual,
ia jelaskan cacat-cacatnya.
ثُمَّ
خَيَّرَهُ وَقَالَ: إِنْ شِئْتَ فَخُذْ، وَإِنْ شِئْتَ فَاتْرُكْ.
Lalu ia memberi pilihan dan berkata: “Jika engkau mau,
ambillah; dan jika engkau mau, tinggalkanlah.”
فَقِيلَ
لَهُ: إِنَّكَ إِذَا فَعَلْتَ مِثْلَ هَذَا لَمْ يَنْفُذْ لَكَ بَيْعٌ.
Dikatakan kepadanya: “Jika engkau melakukan seperti ini,
niscaya tidak akan laku daganganmu.”
فَقَالَ:
إِنَّا بَايَعْنَا رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى
النُّصْحِ لِكُلِّ مُسْلِمٍ.
Ia menjawab: “Kami telah berbaiat kepada Rasulullah صلى الله عليه
وسلم untuk menasihati setiap Muslim.”
وَكَانَ
وَاثِلَةُ بْنُ الْأَسْقَعِ وَاقِفًا، فَبَاعَ رَجُلٌ نَاقَةً لَهُ
بِثَلَاثِمِائَةِ دِرْهَمٍ.
Watsilah bin al-Asqa‘ sedang berdiri. Lalu seorang lelaki
menjual seekor unta miliknya seharga tiga ratus dirham.
فَغَفَلَ
وَاثِلَةُ، وَقَدْ ذَهَبَ الرَّجُلُ بِالنَّاقَةِ.
Watsilah lalai, dan lelaki itu sudah pergi membawa untanya.
فَسَعَى
وَرَاءَهُ وَجَعَلَ يَصِيحُ بِهِ: يَا هَذَا، أَاشْتَرَيْتَهَا لِلَّحْمِ أَوْ
لِلظَّهْرِ؟
Maka ia berlari mengejarnya dan berseru: “Wahai ini, apakah
engkau membelinya untuk daging atau untuk ditunggangi?”
فَقَالَ:
بَلْ لِلظَّهْرِ.
Ia menjawab: “Untuk ditunggangi.”
فَقَالَ:
إِنَّ بِخُفِّهَا نَقْبًا قَدْ رَأَيْتُهُ، وَإِنَّهَا لَا تُتَابِعُ السَّيْرَ.
Ia berkata: “Pada telapak kakinya ada lubang yang aku lihat,
dan ia tidak kuat berjalan terus.”
فَعَادَ
فَرَدَّهَا.
Maka lelaki itu kembali dan mengembalikannya.
فَنَقَصَهَا
الْبَائِعُ مِائَةَ دِرْهَمٍ.
Lalu penjual mengurangi harganya seratus dirham.
وَقَالَ
لِوَاثِلَةَ: رَحِمَكَ اللَّهُ، أَفْسَدْتَ عَلَيَّ بَيْعِي.
Ia berkata kepada Watsilah: “Semoga Allah merahmatimu,
engkau telah merusak jual beliku.”
فَقَالَ:
إِنَّا بَايَعْنَا رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى
النُّصْحِ لِكُلِّ مُسْلِمٍ.
Ia menjawab: “Kami telah berbaiat kepada Rasulullah صلى الله عليه
وسلم untuk menasihati setiap Muslim.”
وَقَالَ:
سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: لَا يَحِلُّ
لِأَحَدٍ يَبِيعُ بَيْعًا إِلَّا أَنْ يُبَيِّنَ آفَتَهُ، وَلَا يَحِلُّ لِمَنْ
يَعْلَمُ ذَلِكَ إِلَّا تَبْيِينُهُ.
Ia juga berkata: “Aku mendengar Rasulullah صلى الله عليه وسلم
bersabda: tidak halal bagi seseorang yang menjual sesuatu kecuali ia
menjelaskan cacatnya. Dan bagi orang yang mengetahuinya, tidak halal baginya
kecuali menjelaskannya.”
فَقَدْ
فَهِمُوا مِنَ النُّصْحِ أَنْ لَا يَرْضَى لِأَخِيهِ إِلَّا مَا يَرْضَاهُ
لِنَفْسِهِ.
Mereka memahami nasihat sebagai tidak meridhai untuk
saudaranya kecuali apa yang ia ridhai untuk dirinya sendiri.
وَلَمْ
يَعْتَقِدُوا أَنَّ ذَلِكَ مِنَ الْفَضَائِلِ وَزِيَادَةِ الْمَقَامَاتِ.
Mereka tidak menganggap hal itu sekadar keutamaan tambahan
dan peningkatan derajat.
بَلِ
اعْتَقَدُوا أَنَّهُ مِنْ شُرُوطِ الْإِسْلَامِ الدَّاخِلَةِ تَحْتَ بَيْعَتِهِمْ.
Bahkan mereka meyakini bahwa itu termasuk syarat Islam yang
tercakup dalam baiat mereka.
وَهَذَا
أَمْرٌ يَشُقُّ عَلَى أَكْثَرِ الْخَلْقِ.
Hal ini berat bagi kebanyakan manusia.
فَلِذَلِكَ
يَخْتَارُونَ التَّخَلِّيَ لِلْعِبَادَةِ وَالِاعْتِزَالَ عَنِ النَّاسِ.
Karena itu mereka memilih mengosongkan diri untuk ibadah dan
menjauh dari manusia.
لِأَنَّ
الْقِيَامَ بِحُقُوقِ اللَّهِ مَعَ الْمُخَالَطَةِ وَالْمُعَامَلَةِ مُجَاهَدَةٌ
لَا يَقُومُ بِهَا إِلَّا الصِّدِّيقُونَ.
Karena menunaikan hak-hak Allah sambil bergaul dan
bermuamalah adalah perjuangan besar yang tidak mampu dilakukan kecuali
orang-orang sangat jujur.
وَلَنْ
يَتَيَسَّرَ ذَلِكَ عَلَى الْعَبْدِ إِلَّا بِأَنْ يَعْتَقِدَ أَمْرَيْنِ.
Dan hal itu tidak akan mudah bagi seorang hamba kecuali bila
ia meyakini dua hal.
أَحَدُهُمَا:
أَنَّ تَلْبِيسَهُ الْعُيُوبَ وَتَرْوِيجَهُ السِّلَعَ لَا يَزِيدُ فِي رِزْقِهِ
بَلْ يَمْحَقُهُ وَيَذْهَبُ بِبَرَكَتِهِ.
Pertama: bahwa menyembunyikan cacat dan melariskan barang
dengan tipu daya tidak akan menambah rezekinya, bahkan justru menghapus dan
melenyapkan berkahnya.
وَمَا
يَجْمَعُهُ مِنْ مُفَرَّقَاتِ التَّلْبِيسَاتِ يُهْلِكُهُ اللَّهُ دَفْعَةً
وَاحِدَةً.
Apa yang ia kumpulkan dari berbagai tipu daya itu akan
dibinasakan Allah sekaligus.
فَقَدْ
حُكِيَ أَنَّ وَاحِدًا كَانَ لَهُ بَقَرَةٌ يَحْلِبُهَا وَيَخْلِطُ بِلَبَنِهَا
الْمَاءَ وَيَبِيعُهُ.
Dikisahkan bahwa ada seseorang yang mempunyai seekor sapi
perah; ia memerahnya, lalu mencampur susunya dengan air dan menjualnya.
فَجَاءَ
سَيْلٌ فَغَرَّقَ الْبَقَرَةَ.
Lalu datang banjir dan menenggelamkan sapinya.
فَقَالَ
بَعْضُ أَوْلَادِهِ: إِنَّ تِلْكَ الْمِيَاهَ الْمُتَفَرِّقَةَ الَّتِي
صَبَبْنَاهَا فِي اللَّبَنِ اجْتَمَعَتْ دَفْعَةً وَاحِدَةً وَأَخَذَتِ
الْبَقَرَةَ.
Sebagian anaknya berkata: “Air-air yang dulu kita campur ke
dalam susu itu telah berkumpul sekaligus dan menenggelamkan sapi itu.”
كَيْفَ
وَقَدْ قَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: الْبَيِّعَانِ إِذَا صَدَقَا
وَنَصَحَا بُورِكَ لَهُمَا فِي بَيْعِهِمَا، وَإِذَا كَتَمَا وَكَذَبَا نُزِعَتْ
بَرَكَةُ بَيْعِهِمَا.
Padahal Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda: “Dua orang
yang berjual beli, jika keduanya jujur dan saling menasihati, diberkahilah jual
beli mereka; dan jika keduanya menyembunyikan dan berdusta, dicabutlah berkah
jual beli mereka.”
وَفِي
الْحَدِيثِ: يَدُ اللَّهِ عَلَى الشَّرِيكَيْنِ مَا لَمْ يَتَخَاوَنَا، فَإِذَا
تَخَاوَنَا رَفَعَ يَدَهُ عَنْهُمَا.
Dalam hadis disebutkan: “Tangan Allah bersama dua orang yang
berserikat selama keduanya tidak saling mengkhianati. Jika keduanya saling
mengkhianati, Allah mengangkat tangan-Nya dari keduanya.”
فَإِذَنْ
لَا يَزِيدُ مَالٌ مِنْ خِيَانَةٍ.
Maka tidak ada harta yang bertambah karena khianat.
كَمَا
لَا يَنْقُصُ مِنْ صَدَقَةِ مَنْ لَا يَعْرِفُ الزِّيَادَةَ وَالنُّقْصَانَ إِلَّا
بِالْمِيزَانِ لَمْ يُصَدِّقْ بِهَذَا الْحَدِيثِ.
Sebagaimana tidak berkurang dari sedekah orang yang tidak
memahami tambahan dan pengurangan kecuali dengan timbangan, maka ia tidak akan
membenarkan hadis ini.
وَمَنْ
عَرَفَ أَنَّ الدِّرْهَمَ الْوَاحِدَ قَدْ يُبَارَكُ فِيهِ حَتَّى يَكُونَ سَبَبًا
لِسَعَادَةِ الْإِنْسَانِ فِي الدُّنْيَا وَالدِّينِ.
Siapa yang mengetahui bahwa satu dirham pun bisa diberkahi
sehingga menjadi sebab kebahagiaan manusia di dunia dan agama,
وَالْآلَافَ
الْمُؤَلَّفَةَ قَدْ يَنْزِعُ اللَّهُ الْبَرَكَةَ مِنْهَا حَتَّى تَكُونَ سَبَبًا
لِهَلَاكِ مَالِكِهَا.
dan bahwa ribuan yang banyak pun bisa Allah cabut berkahnya
sampai menjadi sebab kehancuran pemiliknya,
بِحَيْثُ
يَتَمَنَّى الْإِفْلَاسَ مِنْهَا وَيَرَاهُ أَصْلَحَ لَهُ فِي بَعْضِ أَحْوَالِهِ.
sehingga ia justru berharap bangkrut darinya dan menganggap
itu lebih baik baginya dalam sebagian keadaan,
فَيَعْرِفُ
مَعْنَى قَوْلِنَا: إِنَّ الْخِيَانَةَ لَا تَزِيدُ فِي الْمَالِ وَالصَّدَقَةَ
لَا تَنْقُصُ مِنْهُ.
maka ia akan memahami makna ucapan kami bahwa khianat tidak
menambah harta dan sedekah tidak menguranginya.
وَالْمَعْنَى
الثَّانِي الَّذِي لَا بُدَّ مِنِ اعْتِقَادِهِ لِيَتِمَّ لَهُ النُّصْحُ
وَيَتَيَسَّرَ عَلَيْهِ.
Makna kedua yang harus diyakininya agar nasihat itu sempurna
dan menjadi mudah baginya ialah:
أَنْ
يَعْلَمَ أَنَّ رِبْحَ الْآخِرَةِ وَغِنَاهَا خَيْرٌ مِنْ رِبْحِ الدُّنْيَا.
bahwa keuntungan akhirat dan kekayaannya lebih baik daripada
keuntungan dunia.
وَأَنَّ
فَوَائِدَ أَمْوَالِ الدُّنْيَا تَنْقَضِي بِانْقِضَاءِ الْعُمْرِ، وَتَبْقَى
مَظَالِمُهَا وَأَوْزَارُهَا.
Dan manfaat harta dunia lenyap bersama berakhirnya عمر,
sedangkan kezalimannya dan bebannya tetap tinggal.
فَكَيْفَ
يَسْتَجِيزُ الْعَاقِلُ أَنْ يَسْتَبْدِلَ الَّذِي هُوَ أَدْنَى بِالَّذِي هُوَ
خَيْرٌ؟
Bagaimana mungkin orang berakal rela menukar yang lebih
rendah dengan yang lebih baik?
وَالْخَيْرُ
كُلُّهُ فِي سَلَامَةِ الدِّينِ.
Dan seluruh kebaikan ada pada selamatnya agama.
قَالَ
رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لَا تَزَالُ لَا إِلَهَ
إِلَّا اللَّهُ تَدْفَعُ عَنِ الْخَلْقِ سَخَطَ اللَّهِ مَا لَمْ يُؤْثِرُوا
صَفْقَةَ دُنْيَاهُمْ عَلَى آخِرَتِهِمْ.
Rasulullah صلى
الله عليه وسلم bersabda: “Kalimat ‘Lā ilāha illallāh’ akan terus menolak murka
Allah dari makhluk selama mereka tidak lebih memilih transaksi dunia mereka
daripada akhirat mereka.”
وَفِي
لَفْظٍ آخَرَ: مَا لَمْ يُبَالُوا مَا نَقَصَ مِنْ دُنْيَاهُمْ بِسَلَامَةِ
دِينِهِمْ.
Dalam lafaz lain: “Selama mereka tidak mempedulikan apa yang
berkurang dari dunia mereka demi selamatnya agama mereka.”
فَإِذَا
فَعَلُوا ذَلِكَ وَقَالُوا لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ قَالَ اللَّهُ تَعَالَى:
كَذَبْتُمْ، لَسْتُمْ بِهَا صَادِقِينَ.
Jika mereka melakukan itu lalu berkata “Lā ilāha illallāh”,
Allah Ta‘ala berfirman: “Kalian dusta, kalian tidak jujur dalam ucapan itu.”
وَفِي
حَدِيثٍ آخَرَ: مَنْ قَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ مُخْلِصًا دَخَلَ الْجَنَّةَ.
Dalam hadis lain: “Siapa yang mengucapkan ‘Lā ilāha
illallāh’ dengan ikhlas, ia masuk surga.”
قِيلَ:
وَمَا إِخْلَاصُهُ؟
Ditanyakan: “Apa ikhlasnya?”
قَالَ:
أَنْ يُحْرِزَهُ عَمَّا حَرَّمَ اللَّهُ.
Beliau menjawab: “Yaitu menjaga dirinya dari apa yang Allah
haramkan.”
وَقَالَ
أَيْضًا: مَا آمَنَ بِالْقُرْآنِ مَنْ اسْتَحَلَّ مَحَارِمَهُ.
Dan beliau juga bersabda: “Tidaklah beriman kepada Al-Qur’an
orang yang menghalalkan hal-hal yang diharamkannya.”
وَمَنْ
عَلِمَ أَنَّ هَذِهِ الْأُمُورَ قَادِحَةٌ فِي إِيمَانِهِ وَأَنَّ إِيمَانَهُ
رَأْسُ مَالِهِ فِي الْآخِرَةِ.
Siapa yang mengetahui bahwa perkara-perkara ini mencederai
imannya, dan bahwa imannya adalah modalnya di akhirat,
لَمْ
يُضَيِّعْ رَأْسَ مَالِهِ الْمُعَدَّ لِعُمْرٍ لَا آخِرَ لَهُ بِسَبَبِ رِبْحٍ
يَنْتَفِعُ بِهِ أَيَّامًا مَعْدُودَةً.
maka ia tidak akan menyia-nyiakan modal yang disiapkan untuk
kehidupan yang tiada akhirnya demi keuntungan yang hanya bermanfaat beberapa
hari saja.
وَعَنْ
بَعْضِ التَّابِعِينَ أَنَّهُ قَالَ: لَوْ دَخَلْتُ الْجَامِعَ وَهُوَ غَاصٌّ
بِأَهْلِهِ، وَقِيلَ لِي: مَنْ خَيْرُ هَؤُلَاءِ؟
Diriwayatkan dari sebagian tabi‘in bahwa ia berkata:
“Seandainya aku masuk ke masjid jami‘ yang penuh sesak dengan orang-orangnya,
lalu ditanyakan kepadaku: siapa yang paling baik di antara mereka?”
لَقُلْتُ:
مِنْ أَنْصَحِهِمْ لَهُمْ.
Niscaya aku menjawab: “Yang paling tulus nasihatnya kepada
mereka.”
فَإِذَا
قَالُوا هَذَا قُلْتُ: هُوَ خَيْرُهُمْ.
Maka jika mereka mengatakan itu, aku akan berkata: “Dialah
yang paling baik di antara mereka.”
وَلَوْ
قِيلَ لِي: مَنْ شَرُّهُمْ؟
Dan jika ditanyakan: “Siapa yang paling buruk di antara
mereka?”
لَقُلْتُ:
مَنْ أَغَشُّهُمْ لَهُمْ.
Niscaya aku menjawab: “Yang paling menipu mereka.”
فَإِذَا
قِيلَ: هَذَا قُلْتُ: هُوَ شَرُّهُمْ.
Maka jika dikatakan itu, aku akan berkata: “Dialah yang
paling buruk di antara mereka.”
وَالْغِشُّ
حَرَامٌ فِي الْبُيُوعِ وَالصَّنَائِعِ جَمِيعًا.
Penipuan itu haram dalam jual beli dan dalam semua
pekerjaan.
وَلَا
يَنْبَغِي أَنْ يَتَهَاوَنَ الصَّانِعُ بِعَمَلِهِ.
Dan tidak sepatutnya seorang pembuat meremehkan
pekerjaannya.
عَلَى
وَجْهٍ لَوْ عَامَلَهُ بِهِ غَيْرُهُ لَمَا ارْتَضَاهُ لِنَفْسِهِ.
Dengan cara yang jika orang lain memperlakukannya demikian,
ia sendiri tidak akan rela menerimanya.
بَلْ
يَنْبَغِي أَنْ يُحْسِنَ الصَّنْعَةَ وَيُحْكِمَهَا.
Justru ia harus memperbagus kerajinannya dan
menyempurnakannya.
ثُمَّ
يُبَيِّنَ عَيْبَهَا إِنْ كَانَ فِيهَا عَيْبٌ.
Lalu menjelaskan cacatnya jika memang ada.
فَبِذَلِكَ
يَتَخَلَّصُ.
Dengan begitu ia akan selamat.
وَسَأَلَ
رَجُلٌ حَدَّاءَ بْنَ سَالِمٍ فَقَالَ: كَيْفَ لِي أَنْ أُسْلِمَ فِي بَيْعِ
النِّعَالِ؟
Seorang lelaki bertanya kepada Hadda’ bin Salim: “Bagaimana
caranya aku melakukan salam dalam jual beli sandal?”
فَقَالَ:
اجْعَلِ الْوَجْهَيْنِ سَوَاءً، وَلَا تُفَضِّلِ الْيُمْنَى عَلَى الْأُخْرَى.
Ia menjawab: “Buatlah kedua sisi sama, dan jangan melebihkan
yang kanan atas yang kiri.”
وَجَوِّدِ
الْحَشْوَ، وَلْيَكُنْ شَيْئًا وَاحِدًا تَامًّا.
Dan baguskan isinya, dan hendaklah ia menjadi satu barang
yang sempurna.
وَقَارِبْ
بَيْنَ الْخُرُزِ، وَلَا تُطْبِقْ إِحْدَى النَّعْلَيْنِ عَلَى الْأُخْرَى.
Dan rapatkan jahitannya, dan jangan menempelkan satu sandal
pada sandal yang lain.
وَمِنْ
هَذَا الْفَنِّ مَا سُئِلَ عَنْهُ أَحْمَدُ بْنُ حَنْبَلٍ رَحِمَهُ اللَّهُ مِنَ
الرَّفْوِ بِحَيْثُ لَا يَتَبَيَّنُ.
Dan termasuk dalam jenis ini adalah pertanyaan kepada Ahmad
bin Hanbal رحمه
الله tentang menambal kain secara tersembunyi.
فَقَالَ:
لَا يَجُوزُ لِمَنْ يَبِيعُهُ أَنْ يُخْفِيَهُ.
Beliau berkata: “Tidak boleh bagi orang yang menjualnya
untuk menyembunyikannya.”
وَإِنَّمَا
يَحِلُّ لِلرَّفَّاءِ إِذَا عَلِمَ أَنَّهُ يُظْهِرُهُ أَوْ أَنَّهُ لَا يُرِيدُهُ
لِلْبَيْعِ.
Dan menambal itu hanya boleh jika diketahui bahwa ia akan
menampakkannya, atau ia memang tidak menghendakinya untuk dijual.
فَإِنْ
قُلْتَ: فَلَا تَتِمُّ الْمُعَامَلَةُ مَهْمَا وَجَبَ عَلَى الْإِنْسَانِ أَنْ
يَذْكُرَ عُيُوبَ الْمَبِيعِ؟
Jika engkau berkata: “Kalau begitu, transaksi tidak akan
sempurna selama manusia wajib menyebutkan cacat barang jualan?”
فَأَقُولُ:
لَيْسَ كَذَلِكَ.
Aku jawab: “Bukan demikian.”
إِذْ
شَرْطُ التَّاجِرِ أَنْ لَا يَشْتَرِيَ لِلْبَيْعِ إِلَّا الْجِيِّدَ الَّذِي
يَرْتَضِيهِ لِنَفْسِهِ لَوِ امْتَسَكَهُ.
Karena syarat seorang pedagang ialah tidak membeli untuk
dijual kembali kecuali yang baik, yang rela ia pakai sendiri jika ia
menahannya.
ثُمَّ
يَقْنَعَ فِي بَيْعِهِ بِرِبْحٍ يَسِيرٍ فَيُبَارِكَ اللَّهُ لَهُ فِيهِ وَلَا
يَحْتَاجَ إِلَى تَلْبِيسٍ.
Lalu ia cukup dengan keuntungan yang sedikit dalam
penjualannya, maka Allah memberkahinya di dalamnya dan ia tidak memerlukan tipu
daya.
وَإِنَّمَا
تَعَذَّرَ هَذَا لِأَنَّهُمْ لَا يَقْنَعُونَ بِالرِّبْحِ الْيَسِيرِ.
Hal ini sulit karena mereka tidak rela dengan keuntungan
sedikit.
وَلَيْسَ
يَسْلَمُ الْكَثِيرُ إِلَّا بِتَلْبِيسٍ.
Dan keuntungan banyak tidak selamat kecuali dengan tipu
daya.
فَمَنْ
تَعَوَّدَ هَذَا لَمْ يَشْتَرِ الْمَعِيبَ.
Maka siapa yang terbiasa demikian tidak akan membeli barang
cacat.
فَإِنْ
وَقَعَ فِي يَدِهِ مَعِيبٌ نَادِرًا فَلْيَذْكُرْهُ وَلْيَقْنَعْ بِقِيمَتِهِ.
Jika sesekali ia memperoleh barang cacat, maka hendaklah ia
menyebutkannya dan cukup dengan nilainya.
بَاعَ
ابْنُ سِيرِينَ شَاةً، فَقَالَ لِلْمُشْتَرِي: أَبْرَأُ إِلَيْكَ مِنْ عَيْبٍ
فِيهَا أَنَّهَا تُقَلِّبُ الْعَلَفَ بِرِجْلِهَا.
Ibnu Sirin menjual seekor kambing, lalu berkata kepada
pembeli: “Aku beritahu kepadamu ada cacatnya, yaitu ia mengais pakan dengan
kakinya.”
وَبَاعَ
الْحَسَنُ بْنُ صَالِحٍ جَارِيَةً فَقَالَ لِلْمُشْتَرِي: إِنَّهَا تَنَخَّمَتْ
مَرَّةً عِنْدَنَا دَمًا.
Dan al-Hasan bin Shalih menjual seorang budak perempuan,
lalu berkata kepada pembeli: “Ia pernah meludah darah sekali di tempat kami.”
فَهَكَذَا
كَانَتْ سِيرَةُ أَهْلِ الدِّينِ.
Demikianlah kebiasaan orang-orang yang beragama.
فَمَنْ
لَا يَقْدِرُ عَلَيْهِ فَلْيَتْرُكِ الْمُعَامَلَةَ أَوْ لِيُوَطِّنْ نَفْسَهُ
عَلَى عَذَابِ الْآخِرَةِ.
Siapa yang tidak mampu melakukannya, hendaklah ia
meninggalkan muamalah itu, atau menyiapkan dirinya untuk azab akhirat.
الثَّالِثُ:
أَنْ لَا يَكْتُمَ فِي الْمِقْدَارِ شَيْئًا.
Ketiga: jangan menyembunyikan sedikit pun dalam ukuran.
وَذَلِكَ
بِتَعْدِيلِ الْمِيزَانِ وَالِاحْتِيَاطِ فِيهِ وَفِي الْكَيْلِ.
Yaitu dengan menegakkan timbangan secara adil dan
berhati-hati dalam menimbang serta menakar.
فَيَنْبَغِي
أَنْ يَكِيلَ كَمَا يَكْتَالُ.
Maka hendaklah ia menakar sebagaimana ia ditakar.
قَالَ
اللَّهُ تَعَالَى: {وَيْلٌ لِلْمُطَفِّفِينَ}.
Allah Ta‘ala berfirman: “Celakalah orang-orang yang curang
dalam takaran.”
{الَّذِينَ
إِذَا اكْتَالُوا عَلَى النَّاسِ يَسْتَوْفُونَ وَإِذَا كَالُوهُمْ أَوْ
وَزَنُوهُمْ يُخْسِرُونَ}.
“Yaitu orang-orang yang jika menakar untuk orang lain
meminta penuh, tetapi jika menakar atau menimbang untuk mereka, mereka
mengurangi.”
وَلَا
يَخْلُصُ مِنْ هَذَا إِلَّا بِأَنْ يَرْجِعَ إِذَا أَعْطَى وَيَنْقُصَ إِذَا
أَخَذَ.
Dan tidak ada jalan selamat dari ini kecuali dengan memberi
lebih saat ia memberi, dan mengambil lebih sedikit saat ia menerima.
إِذِ
الْعَدْلُ الْحَقِيقِيُّ قَلَّمَا يُتَصَوَّرُ.
Karena keadilan yang benar-benar sempurna jarang sekali
terwujud.
فَلْيُسْتَظْهَرْ
بِظُهُورِ الزِّيَادَةِ وَالنُّقْصَانِ.
Maka hendaklah ia berhati-hati dengan memperhatikan sisi
kelebihan dan kekurangan.
فَإِنَّ
مَنِ اسْتَقْصَى حَقَّهُ بِكَمَالِهِ يُوشِكُ أَنْ يَتَعَدَّاهُ.
Karena siapa yang menuntut haknya dengan sempurna,
hampir-hampir ia melampaui batas.
وَكَانَ
بَعْضُهُمْ يَقُولُ: لَا أَشْتَرِي الْوَيْلَ مِنَ اللَّهِ بِحَبَّةٍ.
Sebagian mereka berkata: “Aku tidak mau membeli celaka dari
Allah dengan sebutir biji.”
فَكَانَ
إِذَا أَخَذَ نَقَصَ نِصْفَ حَبَّةٍ، وَإِذَا أَعْطَى زَادَ حَبَّةً.
Maka jika ia menerima, ia mengurangi setengah butir; dan
jika ia memberi, ia menambah satu butir.
وَكَانَ
يَقُولُ: وَيْلٌ لِمَنْ بَاعَ بِحَبَّةٍ جَنَّةً عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ
وَالْأَرْضُ.
Dan ia berkata: “Celakalah orang yang menjual dengan sebutir
biji surga yang luasnya seluas langit dan bumi.”
وَمَا
أَخْسَرَ مَنْ بَاعَ طُوبَى بِوَيْلٍ.
Betapa rugilah orang yang menjual kebahagiaan dengan celaka.
وَإِنَّمَا
بَالَغُوا فِي الِاحْتِرَازِ مِنْ هَذَا وَشِبْهِهِ لِأَنَّهَا مَظَالِمُ لَا
يُمْكِنُ التَّوْبَةُ مِنْهَا.
Mereka sangat berhati-hati terhadap hal ini dan yang
semisalnya karena itu adalah kezaliman yang tidak mudah ditaubati.
إِذْ
لَا يُعْرَفُ أَصْحَابُ الْحَبَّاتِ حَتَّى يُجْمَعُوا وَيُؤَدَّى حُقُوقُهُمْ.
Karena pemilik-pemilik butir itu tidak diketahui sampai
mereka dikumpulkan dan hak mereka ditunaikan.
وَلِذَلِكَ
لَمَّا اشْتَرَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ شَيْئًا قَالَ
لِلْوَزَّانِ لَمَّا كَانَ يَزِنُ ثَمَنَهُ: زِنْ وَأَرْجِحْ.
Karena itu, ketika Rasulullah صلى الله عليه وسلم membeli sesuatu,
beliau bersabda kepada penimbang ketika ia menimbang harganya: “Timbanglah dan
lebihkanlah.”
وَنَظَرَ
فُضَيْلٌ إِلَى ابْنِهِ وَهُوَ يَغْسِلُ دِينَارًا يُرِيدُ أَنْ يَصْرِفَهُ
وَيُزِيلَ تَكْحِيلَهُ وَيُنَقِّيَهُ حَتَّى لَا يَزِيدَ وَزْنُهُ بِذَلِكَ.
Fudail memandang anaknya yang sedang mencuci dinar, hendak
menukarkannya serta menghilangkan warna dan membersihkannya agar beratnya tidak
bertambah karenanya.
فَقَالَ:
يَا بُنَيَّ، فِعْلُكَ هَذَا أَفْضَلُ مِنْ حَجَّتَيْنِ وَعِشْرِينَ عُمْرَةً.
Maka ia berkata: “Wahai anakku, perbuatanmu ini lebih baik
daripada dua haji dan dua puluh umrah.”
وَقَالَ
بَعْضُ السَّلَفِ: عَجِبْتُ لِلتَّاجِرِ وَالْبَائِعِ كَيْفَ يَنْجُو، يَزِنُ
وَيَحْلِفُ بِالنَّهَارِ وَيَنَامُ بِاللَّيْلِ.
Sebagian salaf berkata: “Aku heran pada pedagang dan
penjual, bagaimana ia akan selamat; ia menimbang dan bersumpah di siang hari,
lalu tidur di malam hari.”
وَقَالَ
سُلَيْمَانُ عَلَيْهِ السَّلَامُ لِابْنِهِ: يَا بُنَيَّ، كَمَا تَدْخُلُ
الْحَبَّةُ بَيْنَ الْحَجَرَيْنِ كَذَلِكَ تَدْخُلُ الْخَطِيئَةُ بَيْنَ
الْمُتَبَايِعَيْنِ.
Sulaiman عليه
السلام berkata kepada putranya: “Wahai anakku, sebagaimana butir biji
masuk di antara dua batu, demikian pula dosa masuk di antara dua orang yang
berjual beli.”
وَصَلَّى
بَعْضُ الصَّالِحِينَ عَلَى مُخَنَّثٍ، فَقِيلَ لَهُ: إِنَّهُ كَانَ فَاسِقًا.
Seorang saleh pernah menshalati jenazah seorang banci. Lalu
dikatakan kepadanya: “Dia dulu fasik.”
فَسَكَتَ.
Maka ia diam.
فَأُعِيدَ
عَلَيْهِ، فَقَالَ: كَأَنَّكَ قُلْتَ لِي: كَانَ صَاحِبَ مِيزَانَيْنِ، يُعْطِي
بِأَحَدِهِمَا وَيَأْخُذُ بِالْآخَرِ.
Lalu diulang lagi kepadanya, maka ia berkata: “Seakan-akan
engkau berkata kepadaku bahwa ia punya dua timbangan; dengan yang satu ia
memberi, dan dengan yang lain ia mengambil.”
أَشَارَ
بِهِ إِلَى أَنَّ فِسْقَهُ مُظْلِمَةٌ بَيْنَهُ وَبَيْنَ اللَّهِ تَعَالَى.
Ia mengisyaratkan bahwa kefasikannya adalah urusan antara
dia dan Allah Ta‘ala.
وَهَذَا
مِنْ مَظَالِمِ الْعِبَادِ، وَالْمُسَامَحَةُ وَالْعَفْوُ فِيهِ أَبْعَدُ.
Dan ini termasuk kezaliman terhadap hamba-hamba Allah;
sementara toleransi dan maaf dalam hal ini lebih jauh sulit.
وَالتَّشْدِيدُ
فِي أَمْرِ الْمِيزَانِ عَظِيمٌ.
Dan penegasan dalam urusan timbangan itu sangat besar.
وَالْخُلُوصُ
مِنْهُ يَحْصُلُ بِحَبَّةٍ وَنِصْفِ حَبَّةٍ.
Dan keselamatannya diperoleh dengan sebutir biji dan
setengah biji.
وَفِي
قِرَاءَةِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: لَا تَطْغَوْا
فِي الْمِيزَانِ وَأَقِيمُوا الْوَزْنَ بِاللِّسَانِ وَلَا تُخْسِرُوا الْمِيزَانَ.
Dalam bacaan Abdullah bin Mas‘ud رضي الله عنه disebutkan: “Jangan
melampaui batas dalam timbangan, dan tegakkanlah timbangan dengan lisan, dan
jangan mengurangi timbangan.”
أَيْ
لِسَانَ الْمِيزَانِ.
Maksudnya, lidah timbangan.
فَإِنَّ
النُّقْصَانَ وَالرُّجْحَانَ يَظْهَرَانِ بِمَيْلِهِ.
Karena kurang dan lebih tampak dari kemiringannya.
وَبِالْجُمْلَةِ،
كُلُّ مَنْ يَنْتَصِفُ لِنَفْسِهِ مِنْ غَيْرِهِ وَلَوْ فِي كَلِمَةٍ، وَلَا
يَنْتَصِفُ بِمِثْلِ مَا يَنْتَصِفُ فَهُوَ دَاخِلٌ تَحْتَ قَوْلِهِ تَعَالَى:
{وَيْلٌ لِلْمُطَفِّفِينَ}.
Secara umum, siapa yang mencari keadilan untuk dirinya dari
orang lain, walaupun hanya dalam satu kata, tetapi tidak memberi keadilan yang
sama, maka ia termasuk dalam firman Allah Ta‘ala: “Celakalah orang-orang yang
curang.”
إِذَا
اكْتَالُوا عَلَى النَّاسِ يَسْتَوْفُونَ.
“Jika mereka menakar untuk orang lain, mereka minta
dipenuhi.”
فَإِنَّ
تَحْرِيمَ ذَلِكَ فِي الْمَكِيلِ لَيْسَ لِكَوْنِهِ مَكِيلًا.
Sesungguhnya pengharaman itu pada benda takaran bukan karena
ia semata-mata berupa takaran.
بَلْ
لِكَوْنِهِ أَمْرًا مَقْصُودًا تُرِكَ الْعَدْلُ وَالْإِنْصَافُ فِيهِ.
Melainkan karena itu adalah perkara yang dituju, lalu
keadilan dan sifat fair ditinggalkan di dalamnya.
فَهُوَ
جَارٍ فِي جَمِيعِ الْأَعْمَالِ.
Maka ia berlaku pada semua pekerjaan.
فَصَاحِبُ
الْمِيزَانِ فِي خَطَرِ الْوَيْلِ.
Pemilik timbangan berada dalam ancaman celaka.
وَكُلُّ
مُكَلَّفٍ فَهُوَ صَاحِبُ مَوَازِينِ فِي أَفْعَالِهِ وَأَقْوَالِهِ وَخَطَرَاتِهِ.
Dan setiap mukallaf adalah pemilik timbangan dalam
perbuatan, ucapan, dan lintasan hatinya.
فَالْوَيْلُ
لَهُ إِنْ عَدَلَ عَنِ الْعَدْلِ وَمَالَ عَنِ الِاسْتِقَامَةِ.
Maka celakalah ia jika berpaling dari keadilan dan
menyimpang dari jalan lurus.
وَلَوْلَا
تَعَذُّرُ هَذَا وَاسْتِحَالَتُهُ لَمَا وَرَدَ قَوْلُهُ تَعَالَى: {وَإِنْ
مِنْكُمْ إِلَّا وَارِدُهَا}.
Seandainya hal ini tidak sulit dan mustahil, niscaya tidak
akan datang firman-Nya: “Tidak ada seorang pun di antara kalian melainkan pasti
mendatanginya.”
كَانَ
عَلَى رَبِّكَ حَتْمًا مَقْضِيًّا.
“Itu adalah ketetapan yang pasti dari Tuhanmu.”
فَلَا
يَنْفَكُّ عَبْدٌ لَيْسَ بِمَعْصُومٍ عَنِ الْمَيْلِ عَنِ الِاسْتِقَامَةِ.
Maka tidak ada seorang hamba yang tidak ma‘shum kecuali ia
pasti punya kemungkinan menyimpang dari jalan lurus.
إِلَّا
أَنَّ دَرَجَاتِ الْمَيْلِ تَتَفَاوَتُ تَفَاوُتًا عَظِيمًا.
Hanya saja tingkat penyimpangan itu berbeda-beda secara
sangat besar.
فَلِذَلِكَ
تَتَفَاوَتُ مُدَّةُ مَقَامِهِمْ فِي النَّارِ إِلَى أَوَانِ الْخُلُوصِ.
Karena itu lama tinggal mereka di neraka juga berbeda-beda
sampai waktu selamat.
حَتَّى
لَا يَبْقَى بَعْضُهُمْ إِلَّا بِقَدْرِ تَحِلَّةِ الْقَسَمِ.
Sampai ada di antara mereka yang tinggal hanya selama
sekadar memenuhi sumpah.
وَيَبْقَى
بَعْضُهُمْ أَلْفًا وَأُلُوفَ سِنِينَ.
Dan ada pula yang tinggal seribu, bahkan ribuan tahun.
فَنَسْأَلُ
اللَّهَ تَعَالَى أَنْ يُقَرِّبَنَا مِنَ الِاسْتِقَامَةِ وَالْعَدْلِ.
Maka kami memohon kepada Allah Ta‘ala agar mendekatkan kami
kepada istiqamah dan keadilan.
فَإِنَّ
الِاشْتِدَادَ عَلَى مَتْنِ الصِّرَاطِ الْمُسْتَقِيمِ مِنْ غَيْرِ مَيْلٍ عَنْهُ
غَيْرُ مَطْمُوعٍ فِيهِ.
Karena bersikap teguh di atas punggung jalan lurus tanpa
menyimpang darinya bukanlah sesuatu yang mudah diharapkan.
فَإِنَّهُ
أَدَقُّ مِنَ الشَّعَرَةِ وَأَحَدُّ مِنَ السَّيْفِ.
Karena ia lebih halus daripada rambut dan lebih tajam
daripada pedang.
وَلَوْلَاهُ
لَكَانَ الْمُسْتَقِيمُ عَلَيْهِ لَا يَقْدِرُ عَلَى جَوَازِ الصِّرَاطِ
الْمَمْدُودِ عَلَى مَتْنِ النَّارِ.
Seandainya bukan karena itu, niscaya orang yang tegak di
atasnya tidak akan mampu melewati jembatan yang terbentang di atas neraka.
الَّذِي
مِنْ صِفَتِهِ أَنَّهُ أَدَقُّ مِنَ الشَّعَرَةِ وَأَحَدُّ مِنَ السَّيْفِ.
Yang sifatnya lebih halus daripada rambut dan lebih tajam
daripada pedang.
وَبِقَدْرِ
الِاسْتِقَامَةِ عَلَى هَذَا الصِّرَاطِ الْمُسْتَقِيمِ يَخِفُّ الْعَبْدُ يَوْمَ
الْقِيَامَةِ عَلَى الصِّرَاطِ.
Sesuai kadar istiqamah di atas jalan lurus ini, seorang
hamba akan terasa ringan pada hari kiamat ketika melewati shirath.
وَكُلُّ
مَنْ خَلَطَ بِالطَّعَامِ تُرَابًا أَوْ غَيْرَهُ ثُمَّ كَالَهُ فَهُوَ مِنَ
الْمُطَفِّفِينَ فِي الْكَيْلِ.
Siapa pun yang mencampur makanan dengan tanah atau
selainnya, lalu menakarnya, maka ia termasuk orang yang curang dalam takaran.
وَكُلُّ
قَصَّابٍ وَزَنَ مَعَ اللَّحْمِ عَظْمًا لَمْ تَجْرِ الْعَادَةُ بِمِثْلِهِ فَهُوَ
مِنَ الْمُطَفِّفِينَ فِي الْوَزْنِ.
Dan setiap tukang jagal yang menimbang bersama daging itu
tulang yang tidak biasa disertakan menurut adat, maka ia termasuk orang curang
dalam timbangan.
وَقِسْ
عَلَى هَذَا سَائِرَ التَّقْدِيرَاتِ.
Dan qiyaskanlah semua ukuran lainnya dengan hal ini.
حَتَّى
فِي الذَّرْعِ الَّذِي يَتَعَاطَاهُ الْبَزَّازُ.
Bahkan dalam pengukuran kain yang dilakukan penjual kain.
فَإِنَّهُ
إِذَا اشْتَرَى أَرْسَلَ الثَّوْبَ فِي وَقْتِ الذَّرْعِ وَلَمْ يَمُدَّهُ مَدًّا.
Karena jika ia membeli, ia membiarkan kain itu sesuai saat
diukur dan tidak menariknya.
وَإِذَا
بَاعَهُ مَدَّهُ فِي الذَّرْعِ لِيُظْهِرَ تَفَاوُتًا فِي الْقَدْرِ.
Tetapi jika ia menjualnya, ia merentangkannya saat diukur
agar tampak ada perbedaan ukuran.
فَكُلُّ
ذَلِكَ مِنَ التَّطْفِيفِ الْمُعَرِّضِ صَاحِبَهُ لِلْوَيْلِ.
Semua itu termasuk kecurangan yang mengancam pelakunya
dengan celaka.
الرَّابِعُ:
أَنْ يَصْدُقَ فِي سِعْرِ الْوَقْتِ وَلَا يُخْفِيَ مِنْهُ شَيْئًا.
Keempat: ia harus jujur tentang harga pada waktu itu, dan
tidak menyembunyikan apa pun darinya.
فَقَدْ
نَهَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ تَلَقِّي
الرُّكْبَانِ.
Rasulullah صلى
الله عليه وسلم telah melarang menyongsong rombongan pedagang.
وَنَهَى
عَنِ النَّجْشِ.
Dan beliau melarang najasy.
أَمَّا
تَلَقِّي الرُّكْبَانِ فَهُوَ أَنْ يَسْتَقْبِلَ الرُّفْقَةَ وَيَتَلَقَّى
الْمَتَاعَ وَيَكْذِبَ فِي سِعْرِ الْبَلَدِ.
Adapun menyongsong rombongan pedagang ialah ia mencegat
rombongan, menerima barang dagangan, dan berdusta tentang harga pasar di negeri
itu.
فَقَدْ
قَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لَا تَتَلَقَّوُا الرُّكْبَانَ.
Beliau bersabda: “Jangan kalian menyongsong rombongan
pedagang.”
وَمَنْ
تَلَقَّاهَا فَصَاحِبُ السِّلْعَةِ بِالْخِيَارِ بَعْدَ أَنْ يَقْدَمَ السُّوقَ.
Barang siapa menyongsong mereka, maka pemilik barang
memiliki hak memilih setelah tiba di pasar.
وَهَذَا
الشِّرَاءُ مُنْعَقِدٌ.
Jual beli itu tetap sah terjalin.
وَلَكِنَّهُ
إِنْ ظَهَرَ كَذِبُهُ ثَبَتَ لِلْبَائِعِ الْخِيَارُ.
Akan tetapi jika dustanya tampak, maka hak خيار tetap bagi penjual.
وَإِنْ
كَانَ صَادِقًا فَفِي الْخِيَارِ خِلَافٌ لِتَعَارُضِ عُمُومِ الْخَبَرِ مَعَ
زَوَالِ التَّلْبِيسِ.
Jika ia jujur, maka ada perbedaan pendapat tentang hak
memilih karena bertentangan antara keumuman hadis dengan hilangnya unsur
penipuan.
وَنَهَى
أَيْضًا أَنْ يَبِيعَ حَاضِرٌ لِبَادٍ.
Dan beliau juga melarang orang kota menjualkan barang untuk
orang desa.
وَهُوَ
أَنْ يَقْدَمَ الْبَدَوِيُّ الْبَلَدَ وَمَعَهُ قُوتٌ يُرِيدُ أَنْ يَتَسَارَعَ
إِلَى بَيْعِهِ.
Yaitu bila orang desa datang ke kota membawa makanan, lalu
ingin segera menjualnya.
فَيَقُولَ
لَهُ الْحَضَرِيُّ: اتْرُكْهُ عِنْدِي حَتَّى أُغَالِيَ فِي ثَمَنِهِ وَأَنْتَظِرَ
ارْتِفَاعَ سِعْرِهِ.
Lalu orang kota berkata kepadanya: “Tinggalkan di tanganku
agar aku bisa menaikkan harganya dan menunggu harga naik.”
وَهَذَا
فِي الْقُوتِ مُحَرَّمٌ، وَفِي سَائِرِ السِّلَعِ خِلَافٌ.
Hal ini haram pada bahan makanan pokok, sedangkan pada
barang lain ada perbedaan pendapat.
وَالْأَظْهَرُ
تَحْرِيمُهُ لِعُمُومِ النَّهْيِ.
Yang lebih kuat adalah haramnya, karena umum larangan.
وَلِأَنَّهُ
تَأْخِيرٌ لِلتَّضْيِيقِ عَلَى النَّاسِ عَلَى الْجُمْلَةِ مِنْ غَيْرِ فَائِدَةٍ
لِلْفُضُولِيِّ الْمُضَيِّقِ.
Dan karena itu berarti menunda untuk menyempitkan keadaan
manusia secara umum tanpa faedah bagi perantara yang ikut campur.
وَنَهَى
رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنِ النَّجْشِ.
Rasulullah صلى
الله عليه وسلم juga melarang najasy.
وَهُوَ
أَنْ يَتَقَدَّمَ إِلَى الْبَائِعِ بَيْنَ يَدَيِ الرَّاغِبِ الْمُشْتَرِي
وَيَطْلُبَ السِّلْعَةَ بِزِيَادَةٍ وَهُوَ لَا يُرِيدُهَا.
Yaitu seseorang maju kepada penjual di hadapan pembeli yang
berminat, lalu menawar barang dengan harga lebih tinggi padahal ia tidak
menginginkannya.
وَإِنَّمَا
يُرِيدُ تَحْرِيكَ رَغْبَةِ الْمُشْتَرِي فِيهَا.
Ia hanya ingin membangkitkan minat pembeli terhadap barang
itu.
فَهَذَا
إِنْ لَمْ تَجْرِ مُوَاطَأَةٌ مَعَ الْبَائِعِ فَهُوَ فِعْلٌ حَرَامٌ مِنْ
صَاحِبِهِ، وَالْبَيْعُ مُنْعَقِدٌ.
Jika tidak ada kesepakatan dengan penjual, maka perbuatan
itu haram bagi pelakunya, tetapi jual belinya tetap sah.
وَإِنْ
جَرَتْ مُوَاطَأَةً فَفِي ثُبُوتِ الْخِيَارِ خِلَافٌ.
Jika ada kesepakatan sebelumnya, maka ada perbedaan pendapat
tentang tetapnya hak memilih.
وَالْأَوْلَى
إِثْبَاتُ الْخِيَارِ.
Yang lebih utama ialah menetapkan hak memilih.
لِأَنَّهُ
تَغْرِيرٌ بِفِعْلٍ يُضَاهِي التَّغْرِيرَ فِي الْمُصَرَّاةِ وَتَلَقِّي
الرُّكْبَانِ.
Karena itu termasuk penipuan, yang menyerupai penipuan dalam
kasus hewan susu yang ditahan susunya dan dalam kasus menyongsong rombongan.
فَهَذِهِ
الْمَنَاهِي تَدُلُّ عَلَى أَنَّهُ لَا يَجُوزُ أَنْ يُلَبِّسَ عَلَى الْبَائِعِ
وَالْمُشْتَرِي فِي سِعْرِ الْوَقْتِ.
Larangan-larangan ini menunjukkan bahwa tidak boleh menipu
penjual dan pembeli dalam harga pasar saat itu.
وَيَكْتُمَ
مِنْهُ أَمْرًا لَوْ عَلِمَهُ لَمَا أَقْدَمَ عَلَى الْعَقْدِ.
Dan tidak boleh menyembunyikan sesuatu yang bila ia ketahui,
ia tidak akan berani melakukan akad.
فَفِعْلُ
هَذَا مِنَ الْغِشِّ الْحَرَامِ الْمُضَادِّ لِلنُّصْحِ الْوَاجِبِ.
Tindakan seperti ini adalah penipuan haram yang bertentangan
dengan nasihat yang wajib.
فَقَدْ
حُكِيَ عَنْ رَجُلٍ مِنَ التَّابِعِينَ أَنَّهُ كَانَ بِالْبَصْرَةِ، وَلَهُ
غُلَامٌ بِالسُّوسِ يُجَهِّزُ إِلَيْهِ السُّكَّرَ.
Dikisahkan tentang seorang tabi‘in yang tinggal di Basrah,
sedangkan ia memiliki seorang budak di Sus yang mengirimkan gula kepadanya.
فَكَتَبَ
إِلَيْهِ غُلَامُهُ: إِنَّ قَصَبَ السُّكَّرِ قَدْ أَصَابَتْهُ آفَةٌ فِي هَذِهِ
السَّنَةِ فَاشْتَرِ السُّكَّرَ.
Budaknya menulis kepadanya: “Tebu gula terkena musibah pada
tahun ini, maka belilah gula.”
قَالَ:
فَاشْتَرَى سُكَّرًا كَثِيرًا.
Lalu ia membeli gula dalam jumlah besar.
فَلَمَّا
جَاءَ وَقْتُهُ رَبِحَ فِيهِ ثَلَاثِينَ أَلْفًا.
Ketika waktunya tiba, ia memperoleh keuntungan tiga puluh
ribu.
فَانْصَرَفَ
إِلَى مَنْزِلِهِ فَأَفْكَرَ لَيْلَتَهُ.
Lalu ia pulang ke rumahnya dan merenungkan semalaman.
وَقَالَ:
رَبِحْتُ ثَلَاثِينَ أَلْفًا وَخَسِرْتُ نُصْحَ رَجُلٍ مِنَ الْمُسْلِمِينَ.
Ia berkata: “Aku memperoleh untung tiga puluh ribu, tetapi
kehilangan nasihat untuk seorang Muslim.”
فَلَمَّا
أَصْبَحَ غَدَا إِلَى بَائِعِ السُّكَّرِ فَدَفَعَ إِلَيْهِ ثَلَاثِينَ أَلْفًا
وَقَالَ: بَارَكَ اللَّهُ لَكَ فِيهَا.
Ketika pagi tiba, ia mendatangi penjual gula itu, lalu
menyerahkan kepadanya tiga puluh ribu dan berkata: “Semoga Allah memberkahinya
untukmu.”
فَقَالَ:
وَمِنْ أَيْنَ صَارَتْ لِي؟
Penjual itu bertanya: “Dari mana itu menjadi milikku?”
فَقَالَ:
إِنِّي كَتَمْتُكَ حَقِيقَةَ الْحَالِ، وَكَانَ السُّكَّرُ قَدْ غَلَا فِي ذَلِكَ
الْوَقْتِ.
Ia menjawab: “Aku telah menyembunyikan keadaan yang
sebenarnya darimu, padahal saat itu gula sedang mahal.”
فَقَالَ:
رَحِمَكَ اللَّهُ، قَدْ أَعْلَمْتَنِي الْآنَ، وَقَدْ طَيَّبْتَهَا لَكَ.
Penjual itu berkata: “Semoga Allah merahmatimu, sekarang
engkau telah memberitahuku, dan aku telah menghalalkannya untukmu.”
قَالَ:
فَرَجَعَ بِهَا إِلَى مَنْزِلِهِ وَتَفَكَّرَ وَبَاتَ سَاهِرًا.
Ia berkata: “Maka ia pulang dengan uang itu, lalu berpikir
dan bermalam tanpa tidur.”
وَقَالَ:
مَا نَصَحْتُهُ، فَلَعَلَّهُ اسْتَحْيَا مِنِّي فَتَرَكَهَا لِي.
Ia berkata: “Aku belum benar-benar menasihatinya; barangkali
ia malu kepadaku lalu membiarkannya untukku.”
فَبَكَّرَ
إِلَيْهِ مِنَ الْغَدِ وَقَالَ: عَافَاكَ اللَّهُ، خُذْ مَالَكَ إِلَيْكَ فَهُوَ
أَطْيَبُ لِقَلْبِي.
Maka keesokan harinya ia datang lebih pagi dan berkata:
“Semoga Allah memberimu keselamatan, ambillah hartamu kembali, itu lebih baik
bagi hatiku.”
فَأَخَذَ
مِنْهُ ثَلَاثِينَ أَلْفًا.
Maka ia mengambil darinya tiga puluh ribu.
فَهَذِهِ
الْأَخْبَارُ فِي الْمَنَاهِي وَالْحِكَايَاتِ تَدُلُّ عَلَى أَنَّهُ لَيْسَ لَهُ
أَنْ يَغْتَنِمَ فُرْصَةً.
Kabar-kabar dan kisah-kisah tentang larangan ini menunjukkan
bahwa ia tidak boleh memanfaatkan kesempatan.
وَيَنْتَهِزَ
غَفْلَةَ صَاحِبِ الْمَتَاعِ.
Atau memanfaatkan kelengahan pemilik barang.
وَيُخْفِيَ
مِنَ الْبَائِعِ غَلَاءَ السِّعْرِ، أَوْ مِنَ الْمُشْتَرِي تَرَاجُعَ
الْأَسْعَارِ.
Dan ia menyembunyikan dari penjual bahwa harga sedang naik,
atau dari pembeli bahwa harga sedang turun.
فَإِنْ
فَعَلَ ذَلِكَ كَانَ ظَالِمًا، تَارِكًا لِلْعَدْلِ وَالنُّصْحِ لِلْمُسْلِمِينَ.
Jika ia melakukan itu, maka ia zalim, meninggalkan keadilan
dan nasihat kepada kaum Muslimin.
وَمَهْمَا
بَاعَ مُرَابَحَةً بِأَنْ يَقُولَ: بِعْتُ بِمَا قَامَ عَلَيَّ أَوْ بِمَا
اشْتَرَيْتُهُ.
Kapan pun ia menjual secara murabahah dengan berkata: “Aku
menjual dengan modal yang menjadi bebanku,” atau “dengan harga belianya,”
فَعَلَيْهِ
أَنْ يَصْدُقَ.
maka ia wajib jujur.
ثُمَّ
يَجِبُ عَلَيْهِ أَنْ يُخْبِرَ بِمَا حَدَثَ بَعْدَ الْعَقْدِ مِنْ عَيْبٍ أَوْ
نُقْصَانٍ.
Kemudian ia wajib mengabarkan apa yang terjadi sesudah akad
berupa cacat atau kekurangan.
وَلَوِ
اشْتَرَى إِلَى أَجَلٍ وَجَبَ ذِكْرُهُ.
Kalau ia membeli dengan tempo pembayaran, maka tempo itu
wajib disebutkan.
وَلَوِ
اشْتَرَى مُسَامَحَةً مِنْ صَدِيقِهِ أَوْ وَلَدِهِ يَجِبُ ذِكْرُهُ.
Kalau ia membeli dengan harga khusus karena toleransi dari
sahabatnya atau anaknya, maka itu pun wajib disebutkan.
لِأَنَّ
الْمُعَامِلَ يَعْوِلُ عَلَى عَادَتِهِ فِي الِاسْتِقْصَاءِ أَنَّهُ لَا يَتْرُكُ
النَّظَرَ لِنَفْسِهِ.
Karena lawan transaksi biasanya bergantung pada kebiasaan
pemeriksaan bahwa ia tidak akan meninggalkan kehati-hatian untuk dirinya.
فَإِذَا
تَرَكَهُ بِسَبَبٍ مِنَ الْأَسْبَابِ فَيَجِبُ إِخْبَارُهُ إِذِ الِاعْتِمَادُ
فِيهِ عَلَى أَمَانَتِهِ.
Maka jika ia meninggalkannya karena suatu sebab, wajib
memberitahukannya, karena dalam hal itu sandarannya adalah amanahnya.